Anda di halaman 1dari 4

Janji Presiden dan Sengsaranya Petani ABRA P.

G TALATTOV*

Hiruk-pikuk masalah BBM telah menyedot energi yang sangat besar bangsa ini. Sengitnya perdebatan makin menyeret jauh ingatan publik terhadap janji-janji dan kebijakan prioritas yang telah diikrarkan langsung oleh presiden. Tak terasa waktu pun seakan bergerak begitu cepat, melampaui janji-janji presiden yang belum terwujud khususnya dibidang pertanian. Masih segar dalam ingatan ketika diawal-awal kepemimpinannya, Presiden SBY pernah berjanji dan bertekad untuk membangun pertanian nasional termasuk mengangkat kesejahteraan petani, yang telah direkam dalam dokumen revitalisasi pertanian. Seketika itu pula para petani bisa sedikit menghela nafas lega setelah mendengarkan janji manis dari presiden. Namun nahas, sejak janji itu terucap hingga kini masih belum ada tanda-tanda bakal terwujudnya janji suci tersebut. Padahal sisa waktu untuk membuktikan janji-janjinya itu kian sempit. Sengsaranya Sektor Pertanian Keprihatinan terhadap kondisi sektor pertanian nasional tentu kian menyesakkan dada kita. Betapa tidak, hampir setiap hari baik media lokal maupun media nasional konsisten menguak berbagai permasalahan yang mendera kaum petani. Hal ini pula lah yang turut mendorong Indef untuk melakukan kajian diranah pertanian beberapa waktu lalu, yang juga disertai survei di berbagai daerah, menemui langsung para petani dan mendengarkan serentetan masalah yang mereka hadapi sehari-hari, disamping itu kami pun membawa pulang harapan yang mereka titipkan untuk disampaikan kepada pemerintah.

Hal pertama yang ingin kami telusuri ialah, apakah benar kondisi petani kita makin baik dari waktu ke waktu? jawaban dilapangan justru membuat air mata mengalir sebab nasib petani kita ternyata masih jauh dari kata sejahtera. Kehidupan sehari-hari, mereka lalui dengan perjuangan yang sangat keras untuk sekedar menyambung hidup diri dan keluarganya. Potret kemiskinan lah yang kami jumpai pada sebagian besar petani di Indonesia. Potret buram nasib petani ternyata terkonfirmasi dengan data BPS, yang memperlihatkan bahwa jumlah penduduk miskin Indonesia masih ada 30,02 juta jiwa dimana sebanyak 18,97 juta (63,19%) berada di pedesaan yang pada umumnya bekerja di sektor pertanian. Sementara itu, secara keseluruhan jumlah petani di Indonesia sebanyak 39,33 juta jiwa (2011) atau 33,51% dari total angkatan kerja nasional. Dengan data tersebut bisa dikatakan bahwa mayoritas petani di Indonesia berada dalam kondisi miskin. Pertanyaan berikutnya, mengapa kondisi sebagian besar petani masih jauh dari harapan? bukankah pemerintah telah mengalokasikan anggaran yang cukup besar tiap tahunnya terhadap sektor pertanian. Tahun ini saja alokasi anggaran di sektor pertanian mencapai Rp 53,89 triliun, anggaran tersebut telah mencakup subsidi untuk pupuk (Rp 16,94 triliun), benih (Rp 279,9 miliar), kredit program (Rp 469,7 miliar) dan pangan (Rp 15,6 triliun). Kenyataan dilapangan berbicara lain, besarnya anggaran tersebut tidak berbanding lurus dengan perbaikan sektor pertanian. Misalnya, subsidi pupuk yang seharusnya bisa dinikmati petani secara utuh nyatanya masih saja ditemukan peyimpangan, harga pupuk bersubsidi justru melebihi harga yang telah ditentukan oleh pemerintah, petani pun hanya bisa pasrah karena membutuhkan pupuk tersebut. Belum lagi mahalnya harga obat-obatan pertanian (seperti pestisida,insektisida,fungisida) yang juga memberatkan para petani,

padahal obat-obatan tersebut sangat dibutuhkan petani untuk menjaga kualitas tanaman hingga masa panen. Masalah lainnya yang juga menerpa petani yakni buruknya infrastruktur pertanian hampir disetiap daerah (khususnya di daerah pelosok), seperti sumber air, saluran irigasi dan drainase, serta jalan. Sebagai contoh kasus dilapangan, rusaknya bendungan dreamen yang terlekat diantara empat kecamatan di Kabupaten Blitar (Wlingi, Samben, Doko, Selopuro), padahal bendungan ini merupakan sumber air utama yang mengairi sekitar 1.163 ha lahan sawah di 11 desa. Tidak berhenti sampai disitu, kesulitan yang dialami petani bukan hanya terjadi ditingkat hulu (selama proses produksi) melainkan juga menimpa petani ditingkat hilir misalnya dalam hal pemasaran ataupun penciptaan nilai tambah produk(hilirisasi). Dalam hal pemasaran, banyak petani yang hanya bisa menjual komoditasnya dengan harga yang rendah bahkan lebih rendah dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP), hal ini disebabkan menjamurnya para tengkulak jahat yang bisa mengatur harga semau mereka. Disamping itu, membanjirnya produk-produk impor juga berimbas langsung terhadap daya tawar petani lokal dalam penjualan produknya. Seperti yang baru-baru saja ini terjadi yakni masuknya beras impor hingga ribuan ton ke dalam pasar domestik (Kompas, 22/4/2012). Dalam hal nilai tambah, pada umumnya petani langsung menjual komoditasnya tanpa diproses lebih lanjut, misalnya pada produk kakao, rotan, CPO, karet, dan lainnya. Padahal petani bisa menikmati hasil yang lebih besar jika mampu mengolah lebih lanjut komoditas-komoditas tersebut. Disamping persoalan-persoalan yang sudah dijelaskan sebelumnya, masih ada persoalan lain yang sangat fundamental yakni terkait penguasaan lahan pertanian. Sebagian besar petani hanya memiliki lahan yang luasnya sangat kecil, bahkan sebagian besar lahan

yang mereka garap merupakan lahan sewa. Fakta dilapangan ini lagi-lagi terkonfirmasi dengan data BPS yang menyatakan bahwa pada periode 1993-2003, jumlah petani gurem atau yang hanya menguasai lahan kurang dari 0,5 meningkat dari 10,8 juta (52,7 persen) menjadi 13,7 juta (56,5 persen) rumah tangga. Sedangkan, sekitar 0,2% penduduk menguasai 56% aset produktif nasional yang sebagian besarnya tanah(lahan). Data ini semakin membuktikan bahwa pemerintah memang melakukan pembiaran terjadinya ketimpangan penguasaan aset produksi (lahan). Memang betul, sudah banyak rencana yang disusun pemerintah dalam bidang pertanian. Namun, alih-alih memperbaiki nasib petani, justru selama ini petani lah yang lebih banyak menanggung derita. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin lebar, petani bukannya sejahtera tapi justru kian sengsara. Penuhilah Janji Seluruh realitas di atas tentu mengusik batin dan pikiran kita, cita-cita mewujudkan bangsa yang adil dan makmur tampaknya masih harus diperjuangkan dengan lebih keras lagi. Kendati presiden sudah pernah berjanji untuk memajukan pertanian nasional, namun fakta dilapangan membuktikan bahwa janji tersebut belum sepenuhnya terpenuhi. Dengan demikian, presiden akan dikatakan berhasil dan menepati janji jika sebelum menanggalkan jabatannya, ia mampu melepaskan petani dari belenggu kesengsaraan dan kemiskinan. Akhirnya, tugas kaum intelegensia ialah terus-menerus mengingatkan pemimpin agar mampu memenuhi janji-janjinya. Sebagaimana bunyi ayat suci berikut ini, Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya(Al-Isra:34).

*Alumnus FE Undip, Peneliti Muda INDEF dan Ketua LAZIS NU DKI Jakarta