Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah member

ikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga kami berhasil menyelesaikan m akalah ini tepat pada waktunya yang berjudul PENGAWETAN IKAN DENGAN METODE PENGGA RAMAN & PENGERINGAN Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang pengawetan pangan .Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh da ri sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat mem bangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, saya sam paikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusuna n makalah ini dari awal samapai akhir.

Badung, Penyusun

April 2012

DAFTAR ISI Kata pengantar .. 1 Daftar isi 2 Bab I 1.1 Latar Belakang ................ 3 1.2 Tujuan Penulisan.................. 4 1.3 Rumusan Masalah .. 4 Bab II Tinajuan Pustaka .. 5 Bab III Pembahasan.. 8 Bab IV Penutup.................... 14 Daftar Pustaka 15 Lampiran ........................ 16

PENGAWETAN IKAN DENGAN METODE PENGGARAMAN & PENGERINGAN 1.1 Latar Belakang Ikan merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat selain sebagai komoditi ekspor. Ikan cepat mengalami proses pembusukan dibandingkan den gan bahan makanan lain. Bakteri dan perubahan kimiawi pada ikan mati menyebabkan pembusukan. Mutu olahan ikan sangat tergantung pada mutu bahan mentahnya. Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi masyarakat, mu dah didapat, dan harganya murah. Namun ikan cepat mengalami proses pembusukan. O leh sebab itu dilakukan pengawetan yang bertujuan untuk mengurangi kadar air dal am tubuh ikan, sehingga tidak memberikan kesempatan bagi bakteri untuk berkemban g biak. Pengeringan merupakan salah satu cara pengawetan pangan yang paling tua dan pali ng luas digunakan. Cara ini merupakan suatu proses yang ditiru dari alam. Pengaw etan pangan dengan pengeringan dapat dilakukan pada semua biji-bijian serelia, d

an proses alami tersebut sedemikian efisien sehingga hampir tidak memerlukan ten aga tambahan dari manusia. Ada periode-periode tertentu dalam sejarah dengan fak tor iklim yang dapat menyebabkan biji-bijian tidak dapat kering sebagaimana mest inya. Dengan keadaan ini, orang berusaha untuk membantu kegiatan alami ini denga n menyediakan panas agar biji-bijian tersebut tidak rusak. Biji-bijian, legumino sa, kacang-kacangan dan buah-buahan tertentu matang di pohon dan mengering akiba t angin dan panas. Buah-buahan lebih banyak yang diawetkan dengan pengeringan da ri pada dengan cara pengawetan pangan yang lain.Pengeringan bahan pangan dengan matahari dapat menghasilkan bahan dengan kepekatan tinggi dengan kualitas yang l ebih tahan. Namun peradaban yang lebih kompleks tidak demikian saja bergantung p ada unsur-unsur yang tidak diramalkan sebelumnya. Pengeringan dengan matahari te tap merupakan cara pengawetan pangan yang terbesar. Pengeringan yang akan dibahas adalah pengeringan denagn proses penggaraman pada ikan. Pengeringan dilakukan setelah proses penggaraman. Pengeringan pada ikan da pat dilakukan dengan penggaraman/pengasinan. pengasinan merupakan cara pengaweta n ikan yang produknya paling gampang ditemui diseluruh pelosok Indonesia. Penger ingan ikan sebenarnya tidak harus dilakukan dengan bantuan sinar matahari secara langsung (penjemuran) karena ikan dapat dikeringkan tanpa bantuan sinar matahar i secara langsung contohnya melalui pengasapan ataupun pengovenan. Teknologi pen geringan tanpa sinar matahari ini dapat digunakan pada semua jenis ikan air tawa r maupun ikan air laut. Yang harus diperhatikan justru kesamaan ketebalan daging ikan dalam proses pengeringan tersebut. Karena semakin tebal daging ikan akan m embuat kecepatan pengeringan semakin lambat dan justru dapat mengurangi kualitas dari ikan yang dikeringkan tersebut. Ikan hasil pengeringan tanpa bantuan sinar matahari secara langsung justru memil iki kelebihan dibanding dengan ikan yang dikeringkan secara langsung dengan mata hari. Karena pada ikan-ikan yang dikeringkan secara langsung (dijemur) sangat ra wan terhadap serangan lalat dan kontaminasi kotoran selama penjemuran sehingga h al ini justru dapat mempengaruhi daya simpan ikan. Bila pengeringan dengan dijem ur itu tidak sempurna justru dapat menyebabkan ikan mudah busuk terutama karena serangan jamur, belatung dan kutu. 1.2 Tujuan Penulisan Untuk mengetahui Untuk mengetahui Untuk mengetahui Untuk mengetahui

pengertian pengeringan dan penggaraman proses dan prinsip pengawetan dan penggaraman metode yang digunakan dalam pengeringan dan penggaraman tahapan dari proses pengeringan dan penggaraman

1.3 Rumusan masalah Apa yang dimaksud dengan pengeringan dan penggaraman? Bagaimana proses dan prinsip pengawetan dengan penggaraman ikan? Apa saja metode yang digunakan dalam pengeringan dan penggaraman? Sebutkan dan jelaska tahapan dari proses pengeringan !

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pengeringan dan Penggaraman Pengeringan merupakan suatu proses metode pengawetan produk yang pertama dilakuk an oleh manusia. Selama proses pengeringan, ikan akan mengalami pengurangan kada r air yang mengakibatkan proses metabolisme bakteri pembusuk dalam tubuh ikan me njadi terganggu. Sehingga proses kemunduran mutu ikan dapat dihambat atau dihent

ikan. Kegiatan pengeringan dan penggaraman ikan merupakan salah satu cara menga wetkan ikan dan sekaligus memberi cita rasa tertentu yang disenangi konsumen (Er izal Jamal, 1991). Proses pengeringan disini dapat menggunakan sistem pengasapan dan pengovenan. Pr oses pengeringan dilakukan setelah proses penggaraman. Penggaraman adalah suatu proseskegiatan yang bertujuan untuk mengawetkan produk hasil perikanan dengan me nggunakan garam. Kadar air yang dicapai kira-kira 25%-30% agar ikan hasil penger ingan dapat awet untuk disimpan. Hal yang harus dilakukan agar dapat menghasilka n ikan dengan kadar air 25%-30% yaitu jangan mengeringkan ikan secara utuh tetap i belah ikan dengan modelbutterfly (belah jadi 2) dengan ketebalan 3 cm lalu dik eringkan pada suhu maksimal 45 derajat dengan kecepatan angin 1-2 m per detik se lama 8-12 jam. Sebaiknya digunakan garam murni agar diperoleh produk ikan asin y ang berkualitas baik dari segi warna aroma, dan rasa (Eddy Afrianto dan Evi Livi awaty, 1989). Alat-alat yang dibutuhkan untuk proses pengeringan tidak terlalu rumit. Alat-ala t tersebut berupa kompor berbahan bakar minyak tanah atau batu bara dan rak peng ering dalam berbagai bentuk dan ukuran yang dapat juga dibuat sendiri dengan uku ran yang dibutuhkan. Selain beberapa alat yang telah disebutkan tadi ada juga al at yang lebih modern dan canggih yaitu pengering yang dilengkapi dengan sel pena ngkap sinar matahari. 2.2 Metode Penggaraman/pengasinan dan pengeringan Teknologi penggaraman biasanya tidak digunakan sebagai metode pengawetan tunggal , biasanya masih dilanjutkan dengan proses pengawetan lain seperti pengeringan a taupun dengan perebusan. Pada dasarnya, metode penggaraman ikan dapat dikelompok kan menjadi tiga macam Eddy Afrianto dan Evi Liviawaty,1989) yaitu penggaraman k ering (Dry Salting), penggraman basah (WetSalting) dan Penggaraman Kering Tanpa Kedap Air (Kench Salting). a) Penggaraman Kering (Dry Salting) Metode penggaraman kering menggunakan kristal garam yang dicampurkan dengan ikan . Pada umumnya, ikan yang berukuran besar dibuang isi perut dan badannya dibelah dua. Dalam proses penggaraman ikan ditempatkan didalam wadah yang kedap air. Ik an disusun rapi dalam wadah selapis demi selapis dengan setiap lapisan ikan dita buri garam. Lapisan paling atas dan paling bawah wadah merupakan lapisan garam. Garam yang digunakan pada proses penggaraman umumnya berjumlah 10 % - 35 % dari berat ikan yangdigarami. Pada waktu ikan bersentuhan dengan kulit / daging ikan (yang basah/berair), garam itu mula-mula akan membentuk larutan pekat. Larutan i ni kemudian akan meresap kedalam daging ikan melalui proses osmosa. Jadi, krista l garam tidak langsung menyerap air, tetapi terlebih dahulu berubah jadi larutan . Semakin lama larutan akan semakin banyak dan ini berarti kandungan air dalam t ubuh ikan semakin berkurang. b) Penggaraman Basah (Wet Salting) Penggaraman basah menggunakan larutan garam 30 - 35 % (dalam 1liter air terdapat 30 35 gram garam). Ikan yang akan digaramidimasukkan kedalam larutan garam ters ebut, kemudian bagian atas wadah ditutup dan diberi pemberat agar semua ikan ter endam. Lama waktu perendaman tergantung pada ukuran ketebalan tubuh ikan dan der ajat keasinan yang diinginkan. Dalam proses osmosa, kepekatan larutan garam akan semakin berkurang karena adanya kandungan air yang keluar dari tubuh ikan, seme ntara itu molekul garam masuk kedalam tubuh ikan. Proses osmosa akan berhenti ap abila kepekatan larutan diluar dan didalam tubuh ikan sudah seimbang. c) Penggaraman Kering Tanpa Kedap Air Kench Salting Pada dasarnya, teknik penggaraman ini sama dengan pengaraman kering (dry salting ) tetapi tidak mengunakan bak /wadah penyimpanan. Ikan dicampur dengan garam dan

dibiarkan diataslantai atau geladak kapal, larutan air yang terbentuk dibiarkan mengalir dan terbuang. Kelemahan dari cara ini adalah memerlukanjumlah garam ya ng lebih banyak dan proses penggaramanberlangsung sangat lambat. Sebaiknya digun akan garam murni agar diperoleh produk ikan asin yang berkualitas baik dari segi warna aroma, dan rasa (Eddy Afrianto dan Evi Liviawaty, 1989). Ada dua metode pengeringan yang biasa dilakukan yaitu : Pengeringan alami dan pe ngeringan mekanis. Keuntungan pengeringan alami antara lain adalah tidak memerlu kan peralatan dan keterampilan khusus tetapi memiliki kelemahan yaitu membutuhka n tempat yang luas serta waktu pengeringan (suhu) sulit dikendalikan. Keuntungan pengeringan mekanis antara lain : waktu pengeringan (suhu) dapat dikendalikan d an tidak memerlukan tempat yang luas. Kelemahanpengeringan mekanis antara lain m embutuhkan sarana dan keterampilan khusus. 2.2 Tahapan Proses Pengeringan Pengawetan secara pengeringan dilakukan setelah dilakukan proses penggaraman. Ta hapan dari proses pengeringan terdiri dari pengangkatan ikan dari wadah yang mem bedakan pengeringan ikan dengan sinar matahari langsung dan tanpa sinar matahari langsung adalah sumber panas yang digunakan. Kita dapat menggunakan kompor berb ahan minyak tanah, batu bara ataupun listrik. Sedangkan prosesnya meliputi pencu cian bahan mentah, penggaraman, pembilasan, penggeringan, pendinginan (diangin-a nginkan) dan diikuti pengepakan sesuai kebutuhan.

BAB III PEMBAHASAN Pengeringan adalah suatu proses pengawetan pangan yang sudah lama dilakukan oleh manusia. Metode pengeringan ada dua, yaitu metode pengeringan secara alami dan metode pengeringan buatan / mekanis). Metode pengeringan secara alami adalah suatu proses pengeringan yang dilakukan d engan menggunakan media angin dan sinar matahari. Dalam pengeringan alam, ikan d ijemur diatas rak-rak yang dipasang miring (+15o) kearah datangnya angin dan dil etakkan ditempat terbuka supaya terkena sinar matahari dan hembusan angin secara langsung. Keunggulan pengeringan alami adalah proses sangat sederhana, murah da n tidak memerlukan peralatan khusus sehingga gampang dilakukan oleh semua orang. Pada proses pengeringan ini, angin berfungsi untuk memindahkan uap air yang ter lepas dari ikan, dari atas ikan ke tempat lain sehingga penguapan berlangsung le bih cepat. Tanpa adanya pergerakan udara, misalnya jika penjemuran ditempat tert utup (tanpa adanya hembusan angin), pengeringan akan berjalan lambat. Selain tiu pan angin, pengeringan alami juga dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari pa da saat penjemuran berlangsung. Makin tinggi intensitasnya maka proses pengering an akan semakin cepat berlangsung begitupun sebaliknya.Oleh karena itu, proses p engeringan alami sering terhambat pada saat musim penghujan karena intensitas ca haya matahari sangat kurang. Karena lambatnya pengeringan, proses pembusukan kem ungkinan tetap berlangsung selama proses pengeringan. Pada metode pengeringan secara mekanis, ikan disusun diatas rak-rak penyimpanan didalam ruangan tertutup yang dilengkapi dengan beberapa lubang ventilasi. Kedal am ruangan tersebut, ditiupkan hawa panas yang dihasilkan dari elemen pemanas li

strik. Hawa panas ditiupkan dengan sebuah kipas angin atau blower supaya mengali r ke arah rak-rak ikan. angin yang membawa uap air dari tubuh ikan akan keluar d ari lubang-lubang ventilasi. Pengeringan mekanis memiliki beberapa keunggulan se bagai berikut : 1. Ketinggian suhu, kelembaban dan kecepatan udara mudah diatur 2. Sanitasi dan higiene lebih mudah dikendalikan 3. Tidak memerlukan tempat yang luas 4. Waktu pengeringan menjadi lebih teratur (tidak terpengaruh oleh adanya m usim hujan Penggaraman adalah suatu rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mengawetkan pro duk hasil perikanan dengan menggunakan garam. Garam yang digunakan adalah jenis garam dapur (NaCl), baik berupa kristal maupun larutan. Penggaraman adalah suatu rangkaian proses pengawetan ikan dengan cara mencampurk an garam dengan ikan baik dalam bentuk kristal maupun larutan garam. Garam yang dicampurkan dengan ikan akan menyerap kandungan air dalam tubuh ikan sehingga ke giatan metabolsme bakteri didalam tubuh ikan akan dapat dihambat atau dihentikan . Untuk menghasilkan produk penggaraman yang baik maka harus memperhatikan hal-h al sebagai : pemilihan bahan baku, garam, wadah/alat/tempat yang digunakan, sert a memprhatikan aspek sanitasi dan higiene. Tahapan proses penggaraman terdiri da ri : persiapan peralatan, pemilihan bahan baku, penyortiran, pencucian, penirisa n, dan penggaraman. Metode penggaraman dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam yaitu dry salting (pen ggaraman kering), wet salting (penggaraman basah) dan kench salting (penggaraman kering tanpa wadah). Penggaraman/pengasinan dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Persiapan 1) Penyediaan bahan baku. - Ikan yang akan diproses sebaiknya dipisahkan berdasarkan jenis, tingkat kesega ran dan ukuran ikannya. Hal ini dilakukan untuk penyeragaman penetrasi garam pad a saat penggaramanberlangsung - Sediakan garam sebanyak 10 35 % dari berat total ikan yang akan diproses, terg antung tingkat keasinan yang diinginkan. Sebaiknya, gunakan garam murni (NaCl 99 %) agar ikan asin berkualitas baik 2) Penyediaan peralatan 1. Siapkan wadah bak kedap air yang terbuat dari semen, kayu, fiber atau p lastik. Bila proses penggaraman menggunakan metode kench salting, wadah bak peng garaman tidak diperlukan- Siapkan penutup bak sesuai ukuran bak dilengkapi denga n pemberat untuk membantu agar semua ikan terendam dalam larutan garam. b. Pisai atau golok yang tajam untuk membersihkan dan menyiangi ikan c. Timbangan untuk menimbang ikan yang telah dibersihkan serta jumlah garam yan g dibutuhkan d. Keranjang plastik atau bambu untuk mengangkut ikan sebelum dan setelah proses penggaraman e. Tempat penjemuran atau para-para yang tingginya kurang lebih 1 meter diatas permukaan tanah. Sebaiknya para-para dibuat miring 15 derajat ke arah datangnya angin untuk mempercepat proses pengeringan. 3) Penanganan dan penyiangan a. Untuk mempermudah proses penanganan, tempatkan ikan diwadah terpisah sesuai u kuran, jenis dan tingkat kesegaran b. Pada ikan berukuran besar, perlu dilakukan penyiangan dengan membuang isi per ut, insang dan sisik. Kemudian tubuh ikan dibelah menjadi dua sepanjang garis pu nggung kearah perut. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses penggaraman c. Pada ikan yang berukuran sedang, cukup dibersihkan insang, sisik dan isi peru t.Bagian badan tidak perlu dibelah d. Pada ikan kecil seperti teri atau petek, cukup dicuci dengan air bersih saja,

tidak perlu disiangi. e. Proses pencucian dilakukan dengan air bersih yang mengalir, agar ikan benar-b enar bersih f. Tiriskan ikan yang telah dicuci bersih dalam wadah keranjang plastik atau bam bu yang telah disediakan. Pada proses penirisan ini, ikan disusun rapi dengan pe rut menghadap ke bawah agar tidak ada air yang menggenang dirongga perutnya g. Setelah ikan agak kering, timbanglah ikan agar dapat mengetahui jumlah garam yang diperlukan dalam proses penggaraman

b. Tahapan proses penggaraman 1) Metode dry salting Kemudian ditiriskan dan selanjutnya ikan dijemur dengan disusun diatas para-para yang sudah disiapkan- Sediakan kristal garam sesuai dengan jumlah ikan yang aka n diproses. Untuk ikan besar sediakan garam 20 30 % dari berat ikan, ikan ukuran sedang 15 20 % sedangkan ikan berukuran cukup 5 %. Gunakan garam murni agar has il olahannya berkualitas baik. 1. Taburkan garam ke dasar bak setebal 1 5 cm tergantung jumlah ikan yang d iolah. Lapisan ini berfungsi sebagai alas ikan pada saatproses penggaraman 2. Susunlah ikan dengan rapi diatas lapisan garam tadi. Usahakan bagian per ut ikan menghadap kebawah. Diatas lapisan ikan yang sudah tersusun, taburkan kem bali garam secukupnya. Lakukan itusampai semua ikan tertampung didalam wadah, se tiap lapisan ikan selalu diselingi oleh lapisan garam. Pada lapisan atas ditebar kan 3. Garam setebal 5 cm agar tidak dihinggapi lalat. 4. Tutuplah bak atau wadah dengan papan yang telah diberi pemberat agar pro ses penggaraman dapat berlangsung dengan baik. Ikan dengan tingkat keasinan tert entu dapat diperoleh sebagai hasil akhir proses penggaraman. 5. Selesainya proses penggaraman ditandai dengan adanya perubahan tekstur, daging ikan menjadi kencang dan padat. Lamanya penggaraman tergantung jenis, uku ran dan tingkat kesegaran ikan. Walau demikian, umumnya proses penggaraman dapat berlangsung 1 3 hari untuk ikan ukuran besar, 12 24 jam untuk ikan ukuran sedan g dan 6 12 jam untuk ikan ukuran kecil 6. Langkah selanjutnya, ikan diangkat dari tempat penggaraman. Ikan dicuci dan dibersihkan dari kotoran yang menempel. PROSEDUR PENGGARAMAN 1. Ikan dipisahkan berdasarkan jenis,ukuran dan tingkat kesegaranrannya 2. Ikan disiangi bagian sisik, isi perut dan insang.Kemudian dicuci sampai bersih 3. Ikan digarami dengan metode wet salting,dry salting, ataupun kench salti ng 4. Lama penggaraman dipengaruhi oleh metode yang digunakan, ukuran dan ting kat kesegaran ikan Setelah dilakukan proses penggaraman dilakukan proses pengeringan. Cara yang umu m digunakan untuk mengeringkan ikan adalah dengan menguapkan air dari tubuh ikan , yaitu dengan menggunakan hembusan udara panas. Dengan hawa panas ini, akan ter jadi penguapan air dari tubuh ikan dari mulai permukaan hingga ke bagian dalam t ubuh ikan. Kecepatan penguapan atau pengeringan dipen garuhi beberapa faktor ant ara lain : 1) 2) 3) Kecepatan udara. Semakin cepat udara maka ikan akan semakin cepat kering Suhu udara. Makin tinggi suhu udara maka penguapan akan semakin cepat Kelembaban udara. Makin lembab udara, proses penguapan akan semakin lamb

at 4) Ketebalan daging ikan. Makin tebal daging ikan, proses pengeringan makin berjalan lambat 5) Arah aliran udara terhadap tubuh ikan. Makin kecil sudut arah udara terh adap posisi tubuh ikan maka ikan semakin cepat kering 6) Sifat / kandungan tubuh ikan. Ikan yang berkadar lemak tinggi akan lebih sulit dikeringkan.

PROSEDUR PENGERINGAN 1. Setelah selesai proses penggaraman, keluarkan ikan dari wadah penggarama n 2. Cuci dan bersihkan ikan dari kotoran serta sisa-sisa garam yang menempel ditubuhnya 3. Masukkan ikan ketempat pengeringan pengeringan alami atau pengeringan me kanis 4. Lama pengeringan dipengaruhi oleh jenis pengeringan yang digunakan serta ukuran ikan yang dikeringkan 5. Setelah kering, ikan disortir berdasarkan kualitasnya dan dikemas dengan baik untuk menghindari kerusakan selama penyimpanan

Penyimpanan dan Pengemasan Produk ikan asin kering yang sudah jadi perlu dijaga kualitasnya selama proses p enyimpanan, transportasi dan distribusi sehingga harga jual bisa tidak menurun. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengepakan dan pengemasan yang baik supaya kual itasnya tidak menurun. Pengemasan bisa dilakukan dengan menggunakan bahan kayu, kertas, kardus ataupun plastik. Bahan-bahan yang digunakan selama proses pengema san dan pengepakan disesuaikan dengan keperluan. Beberapa hal yang perlu diperha tikan dalam tahap penyimpanan adalah : 1). Ruang penyimpan harus bersih, kering dan sejuk 2). Sirkulasi udara lancar, sehingga menghilangkan bau-bau yang tidak sedap 3). Ikan kering dibongkar dan dijemur kembali bila terjadi kelembaban yang ting gi 4). Bahan lain yang dapat menjadi bahan pencemar seperti pestisida, minyak tanah dan sebagainya, tidak disimpan didekat ikan asin.

BAB IV PENUTUP Kesimpulan

Pengeringan adalah suatu proses pengawetan yang telah lama dilakukan, pengeringa n pada ikan biasanya dengan menguapkan air dari tubuh ikan, yaitu dengan menggun akan hembusan udara panas. Penggaraman adalah suatu rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mengawetkan pro duk hasil perikanan dengan menggunakan garam. Metode penggaraman dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam yaitu dry salting (pen ggaraman kering), wet salting (penggaraman basah) dan kench salting (penggaraman campuran). Metode pengeringan ada dua, yaitu pengeringan secara alami dan pengeringan secar a mekanis Pengeringan dilakukan setelah dilakukannya proses penggaraman Proses s ecara keseluruhan dalam pembuatan ikan asin: pencucian bahan mentah, penggaraman , pembilasan, penggeringan, pendinginan (diangin-anginkan) dan diikuti pengepaka n sesuai kebutuhan

DAFTAR PUSTAKA Jay,James M.1992.Modern Food Microbiology. Chapman&hall: London Sasi, M,dkk.2000. Chilling Fresh Fish in Dry and Wet Ice. http:// biophyspal jo urnal. com (diakses 20 mei 2010) Desroirer,Norman W. 2008. Pengawetan dan Pengolahan Bahan Pangan .Uip: Jakarta Sumber: Premy Puspitawati Rahayu berbagi ilmu. http://perpustakaandinaskelautandanperikanan.blogspot.com/2011/05/pengawetan-ika n-dengan-metode.html http://www.scribd.com/doc/80104313/buku-Info-1-th-2008111 http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17227/4/Chapter%20II.pdf http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/45796/Bab%20II%20Tipus%20 C85ffg-4.pdf?sequence=6 http://id.wikipedia.org/wiki/Higroskopi http://lordbroken.wordpress.com/2010/03/22/pengeringan-ikan/ http://www.scribd.com/doc/44672480/Bab-1

LAMPIRAN :

Gambar 1.1 Metode Dry Salting Gambar 1.2 Metode Wet Salting Gambar 1.3 Metode Kench Salting pengeringan secara alami pengeringan secra mekanis/buatan