Anda di halaman 1dari 23

Revisi 26 Mei 2011

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR __ TAHUN ____ TENTANG KETAHANAN ENERGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 22 ayat (2), Pasal 23 ayat (6), dan Pasal 24 (2) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Ketahanan Energi; : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3676); 3. Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4152); 4. Undang-undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4746); 5. Undang-undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4327); 6. Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4959); 7. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 171, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5083);

Mengingat

Revisi 26 Mei 2011

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN ENERGI. PEMERINTAH TENTANG KETAHANAN

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1. Sumber daya energi, energi, energi baru, sumber energi baru, energi terbarukan, sumber energi terbarukan, sumber energi tak terbarukan, penyediaan energi, cadangan energi, cadangan penyangga energi, pemerintah pusat, pemerintah daerah, menteri, badan usaha, pengusahaan energi, pengusahaan jasa energi, rencana umum energi, adalah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi. 2. Pengeloalaan Energi adalah penyelenggaraan kegiatan penyediaan, pengusahaan, dan pemanfaatan energi serta penyediaan cadangan strategis dan konservasi sumber daya energi 3. Ketahanan Energi adalah kondisi terpenuhinya energi bagi kebutuhan rumah tangga, sarana umum, komersial, transportasi dan industri yang cukup dan merata, baik jumlah maupun mutunya, dengan harga yang terjangkau, baik dalam kondisi normal maupun krisis dan darurat energi. 4. Energi Primer adalah sumber energi yang belum mengalami proses konversi atau transformasi. 5. Energi Final adalah bentuk energi yang dapat dimanfaatkan langsung oleh pengguna dan tidak ada proses transformasi ke bentuk energi lainnya. 6. Sumber Energi Setempat adalah sumber energi baik sumber energi terbarukan maupun sumber energi tak terbarukan yang terdapat di suatu wilayah kabupaten/kota, provinsi, dan/atau pulau, yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi di wilayah tersebut, antara lain batubara muda, gas marginal, air, panas bumi, biomassa, angin dan surya 7. Cadangan Penyangga energi adalah jumlah ketersediaan sumber energi dan energi yang disimpan secara nasional yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional pada kurun waktu tertentu. 8. Neraca energi adalah laporan/data tentang keseimbangan penyediaan dan pemanfaatan energi. 9. Produksi energi adalah kegiatan atau proses menghasilkan, menyiapkan, mengolah, membuat, mengawetkan, mengemas, mengemas kembali, dan/atau mengubah bentuk energi.

Revisi 26 Mei 2011 10. Rencana Umum Energi Nasional yang selanjutnya disebut RUEN adalah rencana pengelolaan energi untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. 11. Peredaran energi adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka penyaluran energi kepada masyarakat, secara komersial maupun non komersial. 12. Pengangkutan energi adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka memindahkan energi dari satu tempat ke tempat lain dengan cara atau sarana angkutan apapun. 13. Penganekaragaman energi adalah penyediaan dan pemanfaatan energi dari berbagai sumber energy. 14. Masalah Energi adalah keadaan kelebihan energi, kekurangan energi, dan/atau ketidak mampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan energy.

BAB II KLASTERISASI ENERGI Pasal 2 (1) Sumber energi terdiri dari: a. sumber energi fosil yang tidak terbarukan; b. sumber energi terbarukan. c. Sumber energi baru (2) Sumber energi fosil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari: a. minyak bumi; b. gas alam; c. batubara; d. gambut (lihat UU no.4/2009 dalam penjelasan ayat ditambahkan batubara sebagai bahan baku energi); dan e. serpih bitumen. (3) Sumber energi terbarukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari: a. Sumber energi terbarukan hayati; dan b. Sumber energi terbarukan non-hayati. (4) Sumber energi terbarukan hayati sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a adalah bioenergi. (5) Sumber energi terbarukan non-hayati sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b terdiri dari: a. panas bumi; b. aliran dan terjunan air yang disebut tenaga air; c. energi matahari yang disebut energi surya; d. energi angin; e. energi samudera; f. nuklir; dan g. fuel cell.

Revisi 26 Mei 2011

(6) Sumber energi baru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri dari: a. Nuklir b. CBM

BAB III HAK MEMPEROLEH ENERGI Pasal 3 (1) (2) Setiap orang berhak memperoleh energi. Pengguna (pemanfaat) energi terdiri atas sektor: a. rumah tangga, b. sarana umum c. komersial, d. industri dan e. transportasi. Setiap pengguna sebagaimana dimaksud pada ayat (1) energi berhak memperoleh energi yang cukup, aman, berkualitas dengan harga terjangkau. Pengguna energi untuk sektor rumah tangga pada tingkat sosial bawah (tertentu) dan usaha-usaha kecil/mikro berhak memperoleh energi dengan harga terjangkau Harga energi yang terjangkau sebagaimana dimaksud pada pasal 1 ayat (3) disesuaikan secara bertahap sampai batas waktu tertentu menuju harga keekonomian dan berkeadilan. Pentahapan dan penyesuaian harga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan memberikan dampak optimum terhadap diversifikasi energi. Pemerintah dan pemerintah daerah menyediakan dana subsidi bagi pengguna energi untuk sektor: a. b. c. d. (8) rumah tangga tidak mampu; komersial kecil; industri kecil, dan sarana Umum

(3) (4) (5) (6) (7)

e. transportasi publik. Ketentuan lebih lanjut mengenai harga energi dan dana subsidi, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. BAB IV

Revisi 26 Mei 2011 PENGUASAAN SUMBER DAYA Bagian Kesatu Definisi Wilayah (1) (2) Pasal 4 Wilayah hukum sumber daya energi Indonesia merupakan kekayaan nasional yang meliputi seluruh wilayah daratan, perairan, udara dan landas kontinen Indonesia. Wilayah jaringan distribusi adalah wilayah tertentu dari jaringan distribusi Energi yang merupakan bagian dari Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Energi Nasional. Pasal 5 (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan kegiatan pengelolaan sumber daya energi, sumber energi dan energi. Ketentuan lebih lanjut mengenai menyelenggaraan kegiatan pengelolaan sumber daya energi, sumber energi dan energi akan di atur oleh Peraturan Menteri. Bagian Kedua Pemegang Kuasa Sumber daya Pasal 6 (1) Sumber daya energi fosil, panas bumi, hidro skala besar, dan sumber energi nuklir dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. (2) Sumber daya energi baru dan sumber daya energi terbarukan diatur oleh negara dan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. (3) Penguasaan dan pengaturan sumber daya energi oleh negara, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diselenggarakan oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (4) Semua data dan informasi yang diperoleh sesuai dengan ketentuan di bidang energi merupakan milik negara dan pengaturan pemanfaatannya dilakukan oleh Menteri. BAB V KEMUDAHAN DAN INSENTIF Pasal 7 Pemerintah dan/ atau Pemerintah daerah memberi kemudahan kepada pengguna energi dan produsen peralatan hemat energi di

(2)

Revisi 26 Mei 2011 dalam negeri yang melaksanakan pengelolaan energi untuk memperoleh: a. akses informasi mengenai teknologi hemat energi dan spesiikasinya, dan cara/langkah pengelolaan energi; dan b. layanan konsultansi mengenai cara / langkah pengelolaan energi. Pasal 8 Pemerintah dan/atau Pemerintah daerah memberi insentif kepada: a. pengelola energi yang mengelola energi lebih besar atau sama dengan .. (..) setara .. ton minyak per tahun; dan b. produsen peralatan pengelola energi di dalam negeri, yang berhasil melaksanakan pengeolaan energi pada periode tertentu. Pasal 9 (1) Kriteria keberhasilan pelaksanaan pengelolaan energi bagi pengelola energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a apabila dalam periode tertentu terjadi penurunan: a. konsumsi energi spesifik; dan/atau b. elastisitas konsumsi energi. (2) Kriteria keberhasilan pelaksanaan pengelolaan energi bagi produsen peralatan pengelola energi sebagaimana dimaksud dalarn Pasal 8 huruf b apabila dalam periode tertentu dapat: a. memproduksi peralatan pengelola energi yang efisiensi energinya lebih tinggi dari yang ditentukan; dan b. mencantumkan label tingkat efisiensi energi sesuai dengan standar yang berlaku. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria keberhasilan pelaksanaan pengelolaan energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 10 Insentif yang diberikan kepada pengelola energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a dapat berupa: a. fasilitas perpajakan untuk peralatan pengelola energi; b. pemberian pengurangan, keringanan, dan pembebasan pajak daerah untuk peralatan pengelola energi; c. fasilitas bea masuk untuk peralatan pengelola energi; d. dana suku bunga rendah untuk investasi pengelolaan energi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan; dan / atau e. audit energi dalam pola kemitraan yang dibiayai olehPemerintah.

Revisi 26 Mei 2011

BAB VI HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Kesatu Umum Pasal . (1) Penyediaan energi oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah diutamakan di daerah yang belum berkembang, daerah terpencil dan daerah pedesaan dengan menggunakan sumber energi setempat, khususnya sumber energi terbarukan.

(2) Daerah penghasil sumber energi mendapat prioritas untuk memperoleh energi dari sumber energi setempat.
Pemerintah Sebagai Pemegang Kuasa Sumber Daya Pasal 11 (1) (2) (3) (4) Pemerintah sebagai pemegang kuasa sumber daya energi berkewajiban mengelola sumber daya energi untuk terjaminnya ketahanan penyediaan energi nasional. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyediakan energi diutamakan untuk daerah yang belum berkembang, daerah terpencil, dan daerah perdesaan. Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, dan pengusaha energi di bidang energi bertanggungjawab mengupayakan ketersediaan energi. Setiap pengguna energi berkewajiban menggunakan energi secara efisien guna terjaminnya ketahanan energi

Bagian Kedua Pemerintah Sebagai Pembuat Kebijakan dan Regulator Pasal 12 (1) Tanggung jawab Pemerintah dalam penyediaan energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1), yaitu: a. menyusun kebijakan diversifikasi dan konservasi energi nasional. b. melakukan inventarisasi sumber daya energi yang meliputi pendataan dan pemetaan potensi sumber daya energi; serta roadmap pengembangan potensi sumber daya energi nasional, yang dievaluasi setiap tahun;

Revisi 26 Mei 2011 c. meningkatkan cadangan energi nasional berdasarkan status potensi sumber daya energi yang telah diinventarisasi dalam rangka intensifikasi energi; d. menyusun neraca energi nasional yang diperbarui setiap tahun; e. menjamin kelancaran transporatasi energi dengan meningkatkan jumlah dan kemampuan infrastruktur energi nasional; Tanggung jawab pemerintah daerah provinsi dalam hal penyediaan energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), yaitu: a. menyusun kebijakan diversifikasi dan konservasi energi di tingkat provinsi dengan mangacu pada kebijakan diversifikai dan konservasi energi nasional; b. melakukan inventarisasi dan evaluasi sumber daya energi yang meliputi pendataan dan pemetaan potensi sumber daya energi, serta roadmap pengembangan potensi sumber daya energi di tingkat provinsi yang dievaluasi setiap tahun; c. menyusun neraca energi provinsi yang diperbarui setiap tahun; d. menjamin kelancaran transportasi energi dengan meningkatkan jumlah dan kemampuan infrastruktur energi di tingkat provinsi; dan e. melaporkan hasil kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a sampai d kepada Menteri. Tanggung jawab pemerintah daerah kabupaten/kota dalam hal penyediaan energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), adalah: a. menyusun kebijakan diversifikasi dan konservasi energi di tingkat kabupaten/kota dengan mangacu pada kebijakan diversifikai dan konservasi energi nasional. b. melakukan inventarisasi dan evaluasi sumber daya energi yang meliputi pendataan dan pemetaan potensi sumber daya energi, serta roadmap pengembangan potensi sumber daya energi kabupaten/kota yang dievaluasi setiap tahun; c. menyusun neraca energi kabupaten/kota yang diperbarui setiap tahun; d. menjamin kelancaran penyaluran dan transmisi dengan meningkatkan jumlah dan kemampuan infrastruktur energi di tingkat kabupaten/kota; dan e. melaporkan hasil kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a sampai d kepada gubernur. Tanggung jawab masyarakat, baik perseorangan maupun kelompok dalam penyediaan energi, yaitu : a. ikut berperan aktif dalam pengembangan penyediaan dan pemanfaatan energi secara efisien guna terjaminnya ketahanan energi nasional dan setempat. b. Memberikan masukan kepada Pemerintah, Pemda

(2)

(3)

(4)

Revisi 26 Mei 2011 Provinsi/Kabupaten/Kota dalam perencanaan pengembangan energi nasional dan daerah. Bagian Ketiga Peran Masyarakat, Kewajiban dan Tanggung Jawab Pasal 13

(1) Masyarakat, baik secara perseorangan maupun kelompok, dapat berperan dalam pengembangan dan penyediaan energi untuk kepentingan umum. (2) Masyarakat, baik secara perseorangan maupun kelompok
berperan aktif dalam penggunaan energi secara efisien dan penerapan pola konservasi energi guna terjaminnya ketahanan energi. Masyarakat, baik perseorangan maupun kelompok wajib mendukung Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota dalam penyediaan energi nasional dan atau setempat. Bagian Keempat Badan Usaha Pasal 14 (1) Badan usaha yang melakukan kegiatan usaha energi berkewajiban, antara lain: a. memberdayakan masyarakat setempat; b. menjaga dan memelihara fungsi kelestarian lingkungan; c. memfasilitasi kegiatan penelitian dan pengembangan energi; dan d. memfasilitasi pendidikan dan pelatihan bidang energi. Kegiatan usaha energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan eksploitasi sumber energi dan produksi energi. Pasal 15 Dalam rangka menjaga dan memelihara fungsi kelestarian lingkungan, masyarakat dan badan usaha wajib mengikuti persyaratan dan ketentuan lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3)

(2)

BAB VII RENCANA UMUM PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN Bagian Kesatu

Revisi 26 Mei 2011 Rencana Umum Penyedian Pasal 16 (1) (2) Penyediaan energi diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam menunjang perekonomian dan kebutuhan energi masyarakat. Untuk meningkatkan ketahanan energi, Pemerintah menyusun proyeksi penyediaan dan pemanfaatan energi dengan mempertimbangkan target dan asumsi-asumsi perekonomian untuk penyusunan rencana anggaran dan pendapatan belanja negara yang akan ditetapkan Pemerintah. Penyusunan proyeksi penyediaan dan pemanfaatan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) dilakukan setiap tahun. Pasal 17 (1) Sumber penyediaan energi berasal dari : a. produksi energi dalam negeri; b. cadangan energi, dan c. impor energi. Produksi energi dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a sepenuhnya diutamakan dimanfaatkan untuk ketahanan penyediaan energi dalam negeri. Cadangan energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan untuk mengantisipasi kondisi kekurangan energi, gejolak harga , keadaan darurat energi dan/atau krisis energi. Impor energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan apabila produksi energi dalam negeri dan cadangan energi tidak mencukupi kebutuhan energi dengan tetap memperhatikan pasokan energi dalam negeri. Pelaksanaan impor energi dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 18 (1) (2) Dalam rangka pemerataan ketersediaan energi dilakukan distribusi energi ke seluruh wilayah sampai tingkat konsumen. Untuk mewujudkan pemerataan ketersediaan energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan: a. mengembangkan sistem distribusi energi yang menjangkau seluruh wilayah secara efisien; b. mengelola sistem distribusi energi yang dapat mempertahankan keamanan, pasokan energi; dan c. menjamin keamanan distribusi energi. Ketentuan lebih lanjut mengenai distribusi energi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. Pasal 19 (1) Cadangan Penyangga energi nasional terdiri dari cadangan energi pemerintah, dan cadangan energi badan usaha.

(3)

(2) (3) (4)

(5)

(3)

Revisi 26 Mei 2011 (2) Cadangan Penyangga energi pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas cadangan Penyangga energi: a. Pemerintah kabupaten/kota; b. Pemerintah propinsi; dan c. Pemerintah. Ketentuan jumlah dan lokasi cadangan penyangga energi ditetapkan dengan Peraturan Menteri. Untuk mewujudkan cadangan Penyangga energi pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan : a. melakukan prakiraan kekurangan energi dan/atau keadaan darurat; dan b. menyelenggarakan pengadaan, pengelolaan dan penyaluran cadangan energi. Cadangan Penyangga energi pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan secara berkala dan dilakukan secara terkoordinasi mulai dari penetapan cadangan Penyangga energi. Pasal 20 Pemerintah dan pemerintah daerah dapat menugaskan badan pemerintah atau badan usaha yang bergerak dibidang energi untuk mengadakan dan mengelola cadangan penyangga energi tertentu yang bersifat pokok sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Pasal 21 (1) Penyaluran cadangan penyangga energi nasional ditetapkan oleh Pemerintah. (2) Penyaluran cadangan penyangga energi daerah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah. Pasal 22 (1) (2) Penyediaan dan pemanfaatan energi berpedoman pada RUEN Penyediaan energi dilakukan melalui: a. eksplorasi dan eksploitasi sumber daya energi; b. peningkatan cadangan energi; c. penyiapan infrastruktur yang cukup; d. diversifikasi, konservasi sumber daya energi; dan e. penjaminan kelancaran penyaluran, transmisi, dan penyimpanan.

(3) (4)

(5)

Bagian Kedua Rencana Umum Pemanfaatan Pasal 23

Revisi 26 Mei 2011 (1) Pemanfaatan energi dilakukan dengan: a. mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya energi; b. mempertimbangkan aspek teknologi, sosial, ekonomi, konservasi dan lingkungan; dan c. memprioritaskan pemenuhan kebutuhan masyarakat dan peningkatan kegiatan ekonomi di daerah penghasil sumber energi. Pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan wajib ditingkatkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. Pemanfaatan energi dari sumber energi baru dan sumber energi terbarukan yang dilakukan oleh badan usaha, bentuk usaha tetap, dan perseorangan dapat memperoleh kemudahan dan/atau insentif dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya untuk jangka waktu tertentu hingga tercapai nilai keekonomiannya. Pasal 24 (1) Sektor pengguna energi adalah sektor rumah tangga, komersial, industri dan transportasi. (2) Dalam hal dipandang perlu diberlakukan mandatori pemanfaatan jenis energi tertentu kepada setiap sektor pengguna yang ditentukan melalui Peraturan Menteri. Pasal 25 (1) Pemanfaatan energi memprioritaskan penggunaan sumber daya energi dan produksi energi setempat. (2) Peningkatan pemanfaatan energi listrik dengan cara menaikkan tingkat rasio elektrifikasi, terutama di daerah perdesaan. Pasal 26 (1) Dalam rangka pemanfaatan energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal .25 ayat (1), Pemerintah: a. menyusun dan melaksanakan program pemanfaatan energi setempat, berkoordinasi dengan pemerintah daerah; dan b. menyediakan dana melalui APBN. Dalam rangka pemanfaatan energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1), Pemerintah daerah: a. melakukan inventarisasi daerah yang belum berkembang, daerah terpencil, dan daerah perdesaan, serta potensi sumber energi setempat; b. menyusun dan melaksanakan program pemanfaatan energi setempat; c. menyediakan dana melalui APBD. Sumber energi setempat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik dan non-listrik. Pasal 27

(2) (3)

(2)

(3)

Revisi 26 Mei 2011

Pemanfaatan energi mengacu pada rencana induk konservasi energi yang disusun dan ditetapkan oleh Menteri. BAB VIII INFRASTRUKTUR ENERGI Pasal 28 Dalam rangka memenuhi kebutuhan energi untuk masa datang dalam jumlah yang memadai, berkesinambungan dengan tetap memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup serta dalam upaya menyediakan akses berbagai macam jenis energi untuk segala lapisan masyarakat, maka arah kebijakan pembangunan infrastruktur energi adalah sebagai berikut : a. Pengembangan bauran energi (energy mix) untuk mendapatkan komposisi penggunaan energi yang optimum pada suatu kurun waktu tertentu bagi seluruh wilayah Indonesia ; b. Penentuan harga energi dilakukan dengan memperhitungkan biaya produksi dan kondisi ekonomi masyarakat ; c. Diversifikasi energi diarahkan untuk penganekaragaman pemanfaatan energi ; d. Pengupayaan penerapan konservasi energi pada seluruh tahap pemanfaatan ; dan e. Pengupayaan pengendalian lingkungan hidup dengan memperhatikan semua tahapan pembangunan energi. BAB IX PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN Pasal 29 (1) Penelitian dan pengembangan di sektor energi diarahkan untuk peningkatan komponen dalam negeri untuk pengadaan sarana dan prasarana dalam pengembangan penyediaan dan pemanfatan energi yang efisien melalui pembangunan industri dalam negeri dengan prinsip kerjasama melalui penerapan konsep pembelian lisensi pabrik. (2) Kegiatan penelitian, pengembangan dan penerapan teknologi di sektor energi dilakukan untuk meningkatkan penguasaan teknologi di bidang energi khususnya untuk pengembangan energi baru dan terbarukan serta konservasi energi. (3) Mendorong partisipasi swasta dalam penelitian dan pengembangan terkait kegiatan penyediaan, pemanfaatan dan konservasi energi. (4) Memberikemudahan / insentif kepada swasta dan masyarakat dalam penelitian / pengem-bangan energi di bidang penyediaan,

Revisi 26 Mei 2011 pemanfaatan, konservasi dan tercapainya ketahanan energi. Pasal 30 (1) Pemerintah wajib meningkatkan pendanaan melalui mekanisme smart funding untuk kegiatan penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi energi sampai tahap komersial khususnya untuk mempercepat pemanfaatan energi baru dan terbarukan dan efisiensi energi. (2) Menyusun roadmap, penelitian dan pengembangan serta rekayasa industri dan lokasi pemanfaatan energi baru dan terbarukan serta distribusi pembagian tugas dan tanggung jawabnya. (3) Meningkatkan pemberian insentif bagi masyarakat yang berhasil mengembangkan teknologi inti untuk pemanfaatan energi baru dan terbarukan. pengelolaan energi menuju

BAB X TATA NIAGA (PENGUSAHAAN) Bagian Kesatu Wilayah Usaha Pasal 31 (1) Pengusahaan energi meliputi pengusahaan sumber daya energi, sumber energi, dan energi. (2) Pengusahaan energi dapat dilakukan oleh badan usaha, bentuk usaha tetap, dan perseorangan. (3) Pengusahaan jasa energi hanya dapat dilakukan oleh badan usaha dan perseorangan. (4) Pengusahaan jasa energi, sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengikuti ketentuan klasifikasi jasa energi. (5) Klasifikasi jasa energi ditetapkan antara lain untuk melindungi dan memberikan kesempatan pertama dalam penggunaan jasa energi dalam negeri. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai klasifikasi jasa energi diatur dengan Peraturan Menteri.

Revisi 26 Mei 2011 (7) Pengusahaan energi dan jasa energi, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 32 (1) Badan usaha yang melakukan kegiatan usaha energi, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 berkewajiban, antara lain: a. Memberdayakan masyarakat setempat; b. Menjaga dan memelihara fungsi kelestarian lingkungan; c. Memfasilitasi kegiatan penelitian dan pengembangan energi; dan d. Memfasilitasi pendidikan dan pelatihan bidang energi. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban pengusahaan energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. Bagian Kedua Harga Jual Pasal 33 (1) Dalam rangka menjamin penyediaan energi primer dalam negeri, pengusaha energi primer wajib mendukung penyediaan energi dalam negeri, dengan cara menjual energi primer yang diproduksinya kepada pengguna energi primer dalam negeri berdasarkan kebutuhan sesuai dengan peraturan perundangundangan. Pengusaha energi primer tidak diperbolehkan menjual energi primer yang diproduksinya ke luar negeri kecuali atas izin menteri setelah kebutuhan energi primer dalam negeri terpenuhi. Pasal 34 (1) Dalam rangka kewajiban pengusaha energi untuk menyediakan energi dalam negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Menteri menetapkan Persentase Minimal Penjualan Energi Primer Dalam Negeri atas produksi energi primer dari badan usaha yang bergerak di bidang energi primer, baik secara langsung maupun melalui perusahaan niaga (trader) energi. Besarnya Persentase Minimal Penjualan Energi Primer Dalam Negeri atas produksi energi primer dari badan usaha yang bergerak di bidang energi primer ditentukan oleh Menteri dengan masukan dari : a. Menteri yang bertanggung jawab di bidang industri; b. pengguna energi primer; c. asosiasi industri; d. asosiasi badan usaha energi primer; dan e. asosiasi perusahaan niaga (trader) energi primer.

(2)

(2)

Revisi 26 Mei 2011 (3) Penetapan persentase minimal penjualan energi primer dalam negeri atas produksi primer dari badan usaha yang bergerak di bidang energi primer oleh Menteri dilakukan setiap bulan Juni tahun berjalan. Penetapan persentase minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digunakan sebagai patokan penyusunan rencana kerja dan anggaran biaya badan usaha pada tahun selanjutnya. Pasal 35 Harga energi primer yang dijual di dalam negeri mengikuti patokan harga energi primer sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Pengendalian harga energi tertentu yang bersifat pokok di tingkat masyarakat diselenggarakan untuk: a. menghindari terjadinya gejolak harga energi yang dapat menambah beban masyarakat; dan/atau b. mengurangi beban masyarakat dalam keadaan darurat karena bencana. (3) Pengendalian harga energi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan melalui: a. pengelolaan dan pemeliharaan cadangan energi pemerintah; b. pengaturan dan pengelolaan pasokan energi; c. penetapan kebijakan pajak dan/atau tarif; dan/atau d. pengaturan kelancaran distribusi energi. (4) Langkah pengendalian harga energi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek niaga yang wajar dan perlunya keberlangsungan penyediaan energi. (1) (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai patokan dan pengendalian harga energi diatur dengan Peraturan Menteri. Bagian Ketiga Perlindungan Konsumen Pasal 36 (1) Perlindungan konsumen bertujuan : a. meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri; b. mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa; c. meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut hakhaknya sebagai konsumen; d. menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi; e. menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap

(4)

Revisi 26 Mei 2011 yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha; f. meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produk barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen. Setiap kegiatan usaha di sektor energi wajib memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam peraturan perundangundangan di bidang perlindungan konsumen. Bagian Kelima Klasifikasi Jasa Energi Pasal 37 Penyelenggaraan Usaha Penunjang bertujuan untuk : a. menunjang usaha penyediaan dan pemanfaatan barang dan jasa Kegiatan Usaha Energi; b. mewujudkan tertib penyelenggaraan Usaha Penunjang Energi yang menjamin kesetaraan kedudukan antara pengguna dan penyedia barang dan jasa dalam hak dan kewajiban serta rneningkatkan kepatuhan pada ketentuan peraturan perundang undangan; c. mewujudkan kegiatan Usaha Penunjang Energi yang mandiri, andal, transparan, berdaya saing, efisien dan mendorong perkembangan potensi dan kemampuan nasional; d. membina dan mengarahkan Usaha Penunjang Energi menjadi Usaha Penunjang Energi Nasional. Pasal 38 (1) Usaha Penunjang Energi dapat dilakukan oleh Perusahaan atau Perseorangan. (2) Perusahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi a. Perusahaan Usaha Penunjang Energi Nasional; b. Perusahaan Usaha Penunjang Energi Lokal; c. Perusahaan Usaha Penunjang Energi Transnasional/ Multinasional. (3) Perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi CV, Firma dan Perseorangan yang mempunyai keahlian untuk memberikan pelayanan usaha jasa konsultasi non konstruksi Energi. Pasal 39 Usaha Penunjang Energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 diklasifikasikan sebagai berikut : a. Usaha Jasa Penunjang Energi; dan b. Usaha Industri Penunjang Energi. Pasal 40

(2)

Revisi 26 Mei 2011 (1) Usaha Jasa Penunjang Energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 huruf a terdiri dari: a. Bidang Usaha Jasa Konstruksi Energi; b. Bidang Usaha Jasa Non-Konstruksi Energi; (2) Bidang Usaha Jasa Konstruksi Energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari: a. Usaha Jasa Perencanaan Konstruksi termasuk rancang bangun dan rekayasa (design engineering); b. Usaha Jasa Pelaksanaan Konstruksi termasuk Engineering, Procurement, and Construction (EPC), usaha instalasi, dan komisioning; c. Usaha Jasa Pengawasan Konstruksi yang pelaksanaannya dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang jasa konstruksi. (3) Bidang Usaha Jasa Non-Konstruksi Energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdlri dari : a. survei seismik: b. survei non seismik; c. geologi dan geofisika; d. pemboran; e. operasi sumur pemboran; f. pengelolaan bahan peledak dan bahan berbahaya; g. logistic (catering) h. pengoperasian dan pemeliharaan; i. inspeksi teknis; j. pengujian peralatan; k. instalasi peralatan l. Sertifikasi personil m. Keselamatan dan Kesehatan Kerja n. Lembaga Inspeksi o. Lembaga Pengujian dan Sertifikasi p. Lembaga Sertifikasi Personil q. pekerjaan paska operasi (decommisioning); r. penelitian dan pengembangan; s. pendidikan dan pelatihan; t. jasa konsultan pengembangan energi (studi kelayakan, kajian pengembangan usaha, dll.) u. jasa pengelolaan efisiensi dan konservasi energi t. pengelolaan Iimbah pemboran dan produksi; dan/atau u. jasa lainnya. Pasal 41 Usaha Industri Penunjang Energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 huruf b terdiri dari : a. industri material; b. industri peralatan (equipment); dan c. industri pemanfaatan Energi. BAB XI

Revisi 26 Mei 2011 KETEKNIKAN DAN LINGKUNGAN Bagian Kesatu Pengaturan Pengendalian Emisi Karbon Pasal 42 (1) (2) (3) (4) Pengelolaan energi dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip energi bersih/rendah karbon. Pemerintah mengendalikan penurunan emisi dari energi tak terbarukan dan energi terbarukan. Menteri melakukan pengaturan pengendalian emisi karbon dari sektor energi. Ketentuan lebih lanjut akan diatur melalui keputusan menteri. Standardisasi Pasal 42 (5) (6) Setiap kegiatan pada usaha di sektor energi wajib memenuhi ketentuan keselamatan keenergian. Keselamatan keenergian mencakup keselamatan pekerja, keselamatan instalasi, keselamatan umum dan keselamatan lingkungan. Ketentuan keselamatan keenergian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk mewujudkan kondisi: a. Andal dan aman bagi instalasi;

(7)

b. Aman dari bahaya bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, dan c. (8) Ramah lingkungan.

Ketentuan keselamatan keenergian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. b. c. Pemenuhan standardisasi peralatan Pengamanan instalasi energi, Keamanan bagi masyarakat umum dan lingkungan.

(9)

Setiap instalasi keenergian yang beroperasi wajib memiliki sertifikat laik operasi,

(10) Setiap peralatan keenergian wajib memenuhi ketentuan standar nasional Indonesia,

Revisi 26 Mei 2011 (11) Setiap tenaga teknik dalam usaha keenergian wajib memiliki sertifikat kompetensi, (12) Ketentuan mengenai keselamatan keenergian, sertifikat laik operasi, standar nasional Indonesia dan standar kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (7) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 43 Tujuan kegiatan standardisasi di sektor energi adalah untuk : a. Menunjang usaha di sektor energi dalam mewujudkan penyediaan energi yang efisien, andal, aman, dan akrab lingkungan, b. Mewujudkan tertib penyelenggaraan pekerjaan pada usaha di sektor energi. Bagian Kedua Akreditasi dan Sertifikasi Pasal 44 (1) (2) (3) (4) (5) (6) Komite Akreditasi Nasional melakukan akreditasi terhadap Lembaga Sertifikasi Produk, Laboratorium Uji dan Lembaga Sertifikasi Laik Operasi, Komite Akreditasi Kompetensi melakukan akreditasi terhadap Lembaga Sertifikasi Kompetensi, Lembaga Sertifikasi Produk yang telah diakreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melakukan sertifikasi terhadap peralatan instalasi di sektor energi. Laboratorium Uji yang telah diakreditasi melakukan pengujian terhadap peralatan instalasi di sektor energi, Lembaga Sertifikasi Laik Operasi yang telah diakreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melakukan sertifikasi terhadap kelaikan operasi instalasi di sektor energi. Lembaga Sertifikasi Kompetensi yang telah diakreditasi sebagaimana dimaksud ayat (2) melakukan sertifikasi kepada tenaga teknik di sektor energi. Bagian Ketiga Peneraan Pasal 45 (1) (2) (3) Setiap peralatan meteran pada usaha di sektor energi wajib dilakukan peneraan secara berkala, Peneraan meteran pada usaha di sektor energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suatu Badan atau Lembaga yang terakreditasi yang berwenang dalam pelaksanaan peneraan. Ketentuan mengenai peneraan peralatan pada usaha di sektor energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

Revisi 26 Mei 2011

Bagian Keempat Lingkungan Pasal 46 Setiap kegiatan usaha di sektor energi wajib memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. BAB XII PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DAN KERJASAMA INTERNASIONAL Pasal 47 (1)Dalam rangka mewujudkan ketahanan energy dilakukan pengembangan sumber daya manusia dan kerjasama internasional. (2) Pengembangan sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui: a. pendidikan dan pelatihan dibidang energi; b. penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang energi; c. penyuluhan energi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengembangan sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 48 (1) Kerjasama internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (1) meliputi bidang: a. produksi, perdagangan dan distribusi energi; b. cadangan energi; c. pencegahan dan penanggulangan masalah energi; d. riset dan teknologi energi. (2) Kerjasama internasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB XIII PENCEGAHAN KONDISI KRISIS DAN DARURAT ENERGI Pasal 49 (1) Kondisi krisis energi merupakan kondisi kekurangan energi baik secara nasional dan atau per wilayah. (2) Kondisi darurat energi merupakan kondisi terganggunya pasokan energi akibat terputusnya sarana dan prasarana energi. (3) Pencegahan kondisi krisis dan darurat energi diselenggarakan untuk menghindari terjadinya kondisi krisis dan darurat energi. (4) Pencegahan kondisi krisis dan darurat energi diatur lebih lanjut

Revisi 26 Mei 2011 dengan keputusan Menteri berdasarkan ketetapan Dewan Energi Nasional tentang langkah-langkah penanggulangan kondisi krisis dan darurat energi. Dalam hal Dewan Energi Nasional belum menetapkan langkahlangkah penanggulangan kondisi krisis dan darurat energi, keputusan menteri seperti disebut dalam ayat (4) ditetapkan sebagai acuan dalam pencegahan kondisi krisis dan darurat energi.

(5)

BAB XIV PENINGKATAN KEMAMPUAN DALAM NEGERI Pasal 50 (1) (2) Tingkat kandungan dalam negeri baik barang maupun jasa, wajib dimaksimalkan dalam ketahanan energi. Pemerintah wajib mendorong kemampuan penyediaan arang dan jasa dalam negeri guna menunjang industri energi yang mandiri, efisien dan kompetitif. BAB XV PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 51 (1) (2) (3) (4) Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan pembinaan terhadap menyelengaraan kegiatan pengelolaan sumber daya energi, sumber energi, dan energi. Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat melakukan pengawasan terhadap menyelengaraan kegiatan pengelolaan sumber daya energi, sumber energi, dan energi. Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) telah diatur sesuai dengan unit kerja masing-masing. Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya masing-masing wajib melaporkan hasil pelaksanaan pembinaan dan pengawasan dalam pengelolaan Ketahanan Energi kepada Pemerintah. BAB XVI SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 52 (1) Pelanggaran terhadap Pasal 11 ayat (3), Pasal 14, Pasal 32, Pasal 42, dan Pasal 45 dikenakan sanksi administratif berupa: a. Peringatan tertulis sebanyak tiga kali; b. penghentian sementara kegiatan usaha; c. pencabutan ijin usaha

Revisi 26 Mei 2011 (2) (3) Peringatan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan paling banyak 3 (tiga) kali dalam jangka waktu peringatan masingmasing 1 (satu) bulan. Dalam hal badan usaha yang mendapat peringatan tertulis setelah berakhirnya jangka waktu peringatan tertulis ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum melaksanakan kewajibannya, Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya menghentikan sementara kegiatan usaha badan usaha yang bersangkutan. Dalam hal badan usaha dalam jangka waktu satu bulan sejak sementara kegiatan usaha tidak melaksanakan kewajibannya, Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya mencabut ijin usaha badan usaha yang bersangkutan. Ketentuan ayat (1), (2), (3), (4), dan ayat (5) ini tidak berlaku bagi Badan Usaha dan Bentuk Usaha Tetap yang melakukan kegiatan usaha hulu migas. BAB XVII KETENTUAN PENUTUP Pasal 53 Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku semua peraturan pelaksanaan yang mengatur ketahanan energi dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Pemerintah ini. Pasal 54 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

(4)

(5)