Anda di halaman 1dari 5

TIPS BUGAR BELAJAR BAHASA ASING DI TENGAH POLEMIK MENJAMURNYA METODE DAN KURSUS BARU Hendra Pranajaya Jonathan

seorang pengajar Bahasa Inggris berwargakenegaraan Indonesia dan sekarang sedang bekerja di salah satu sekolah bahasa asing English First di kota Samarinda. Dalam menggeluti profesinya sebagai instruktur bahasa Inggris dulunya di berbagai wadah sekolah, kampus swasta dan negeri, serta beberapa lembaga kursus terkemuka di kota Samarinda ia telah cukup menghadapi serta mengamati perkembangan berbagai jenis karakter kelas sekaligus beraneka ragam kepribadian serta perbedaan bakat dan minat belajar bahasa asing dalam kaitannya dengan penguasaan bahasa kedua (asing) atau biasanya yang disebut dengan istilah SLA (Second Language Acquisitions) di berbagai usia dan dalam berbagai status sosial di kota Samarinda sejak 14 tahun yang lalu. Menjamurnya tempat-tempat belajar bahasa asing cukup berdampak positif terhadap tersedianya lebih banyak fasilitas sarana penguasaan bahasa kedua (bahasa Inggris) di kota ini. Namun, sebaik-baiknya suatu wadah belajar sayangnya fungsi keberadaannya seringkali berbanding terbalik, atau tidak pada posisi grafik linear meningkat terhadap pencapaian penguasaan bahasa asing yang masih banyak dialami oleh pembelajar bahasa asing itu sendiri. Sangat ironis memang, tapi tanpa bermaksud mengecilkan harapan seluruh lembaga ataupun sekolah bahasa asing serta para pembelajar maupun calon pembelajar yang ada di kota tercinta ini, hal tersebut sangat dipengaruhi oleh minat, bakat serta tekad bulat yang keras yang patut mendapatkan prioritas perhatian yang lebih besar sebelum dan selama proses pembelajaran bahasa asing itu dimulai. Beberapa ganjalan ini sudah cukup menjadi polemik bagi beberapa tempat kursus bahasa asing sehingga berlomba-lomba merebut perhatian customer dengan menciptakan beberapa kreasi metode yang unik yang sangat disetujui pastinya dapat menciptakan suasana baru yang lebih menyenangkan dan menyegarkan sehingga para pembelajar bahasa asing akan terus merasa betah dan nyaman dalam menjalani proses belajar tersebut hingga pada hasil yang mereka harapkan.

Adapun

polemik

keberhasilan

pembelajaran

bahasa

asing

berdasarkan

pengamatan dan pengalaman penulis selama kurun waktu dunia pengajarannya berlangsung ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian sebelum memutuskan untuk menawarkan suatu metode atau program pembelajaran tertentu, di antaranya adalah: sebagaimana program head start yang sudah cukup terkenal, walaupun dalam programnya menawarkan suatu rumusan aplikasi pembelajaran bahasa asing sejak usia dini dengan cara memancing minat serta bakat pembelajar bahasa asing melalui mempelajari ritme lagu justru sebelum mereka disuguhkan dengan bentuk-bentuk kerumitan huruf dalam kata-kata bahasa asing yang mereka sedang pelajari, sudah cukup menjadi contoh bahwa peran minat serta bakat adalah sebagai pintu pembuka keberhasilan penguasaan bahasa asing buat penerapan langkah-langkah selanjutnya. bahkan ketika masuk ke dalam rumusan kurikulum yang sudah baku dalam program head start ini para pembelajar usia sangat dini tersebut dilibatkan langsung dalam budaya keseharian yang nyata yang pasti mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari seperti community service providers (penyedia pelayanan jasa-jasa umum) di antaranya mengenal dan menjadi petugas kepolisian, dokter, serta perawat rumah sakit. Lalu beberapa langkah kemudian mereka diperkenalkan dengan dunia binatang, sebutansebutan musim pertahun bahkan anggota-anggota tubuh dalam bahasa asing yang mereka sedang pelajari. ketika proses pembelajaran akan diterapkan kepada pembelajar usia dewasa maka kognitif serta akademis mereka sangat mempengaruhi efektifitas pengalaman

pembelajaran bahasa asing yang sedang mereka geluti sehingga timbulah kemudian kontroversi dalam pengaplikasian bahasa ibu (bahasa Indonesia) sebagai sepenuhnya bahasa pengantar dalam menyampaikan seluruh maupun sebagian besar materi pelajaran bahasa asing yang sedang dipelajari (bilingual education). Sementara para pendukung teori ini menganggap penggunaan bahasa ibu (bahasa Indonesia) dianggap sangat efektif sebagai bahasa pengantar pembelajaran bahasa asing yang kegunaannya sebagai alat komunikasi di dalam kelas mampu meningkatkan percaya piri pembelajar sebelum diperkenalkan dengan bahan-bahan ajar bahasa asing tersebut. Namun, tetap keefektifitasan suatu metode akan terus diuji sejalan dengan perkembangan emosional peserta didik serta kepentingan bahasa asing itu sendiri dan tingkat signifikansinya dalam suatu komunitas bangsa pada umumnya maupun kota Samarinda pada khususnya. Penggunaan bahasa ibu (bahasa Indonesia) yang terlalu

besar persentasenya bahkan ketika pengajar merasa cukup putus asa dan mewajibkan dirinya untuk sesekali melibatkan bahasa ibu tersebut dalam sedikitnya beberapa kali penjelasan materi dan praktek kebahasaan yang mereka ingin sampaikan, justru melemahkan daya latihan pendengaran serta memaksa para pembelajar bahasa asing untuk lebih memacu daya ingat mereka daripada membiasakan diri mereka dengan kata-kata, pengucapan, lafal, logat bahkan hingga kultur bahasa yang terkandung dan melekat pada bahasa tersebut. Hal tersebut tentunya memperlambat proses penguasaan bahasa asing yang sedang dipelajari atau paling sedikit mempengaruhi pencapaian penguasaan pada hasil yang akhirnya kurang diharapkan. Hal berikutnya adalah bagaimana tips dalam pembetulan belajar bahasa asing sebelum dan selama proses pembelajaran itu berlangsung:

menyadari sepenuhnya apapun jenis keterampilan yang kita miliki adalah hasil pengolahan bakat berdasarkan kejujuran dan kemauan pribadi yang kuat serta usaha yang maksimal

menghadirkan

kemaksimalan

dalam

pembelajaran

adalah

berdasarkan

kebulatan tekad dan mewajibkan diri untuk menyeriusi proses itu dari awal hingga mencapai hasil yang tanpa ditentukan batasnya

proses melibatkan kejujuran serta keterbukaan hati dan pikiran dalam segala jenis upaya belajar merupakan landasan kokoh yang mendasari dan mengawali kelengkapan seluruh hasil yang maksimal bahkan akhirnya tidak akan pernah terbayangkan betapa cepat dan hampir sempurna hasil yang anda peroleh setelah itu

jujur dalam memulai dan mengaplikasikan disiplin ilmu yang ditekuni dalam tingkat kemantapan yang berjenjang dari yang paling mudah dan sederhana hingga ke arah yang sedikit lebih rumit dan paling rumit sekalipun secara santai dan tidak ragu menciptakan kesalahan-kesalahan baik secara disengaja maupun tidak disengaja karena di sinilah letak penyesuaian belajar demi seterusnya tetap berlatih dengan sungguh-sungguh untuk menghindari kesalahan yang sama

menerima dan menjalankannya dengan perasaan serta minat yang antusias dan menyenangkan, jujur mengakui bahwa segala proses pembelajaran ini baik dari niat memulainya hingga selanjutnya di sepanjang proses belajar adalah dari kehendak sendiri bukan dari suruhan orang tua, anjuran teman, maupun desakan profesionalisme, semua berdasarkan ketekadan yang bulat untuk memulai dan menjalankannya dengan kekerasan kemauan yang mandiri dan

kemampuan yang terbimbing secara tepat oleh tenaga pengajar (teacher-student learning) ataupun secara otodidak oleh dan melalui diri sendiri (self-learning)

sebagian besar kegagalan SLA (Second Language Acquisitions) dan merupakan penyakit utama yang akut dalam keberhasilan menguasai suatu bahasa adalah hampanya kemauan diri sendiri untuk mempelajari disiplin ilmu tersebut, tingkat emosional kognitif yang negatif mendorong terbentuknya kebosanan, kemalasan, bahkan stigma emosional yang lebih buruk lagi yaitu timbulnya frekuentif pertanyaan mungkinkah akhirnya aku dapat menguasai bahasa ini apalagi untuk mampu menggunakannya secara baik dan benar?

bahwa niat dan minat itu adalah merupakan awal pergerakan semua jenis usaha tapi kesanggupan itu bak tertutup di seluruh penjuru jalan untuk melangkahkan kaki demi memulainya bahkan untuk menggerakkan hati saja sudah banyak terkontaminasi oleh perasaan pesimisme serta rasa takut yang berlebihan, perasaan cemas bahwa akan kehilangan serta ketinggalan legitimasi sosial dengan tidak melengkapi dirinya sendiri dengan penguasaan akan bahasa asing

urungkan niat untuk sekedar memperkenalkan mewahnya suatu wadah belajar sebagai tempat menempa hasil kepada teman sejawat, anak, maupun karyawankaryawan anda, tapi sebaiknya dengan jujur menyadari bahwa wadah tersebut adalah merupakan rumah pengetahuan yang menyenangkan yang dalam situasi kebahasaan adalah semata-mata merupakan wadah menempa dan mengasah kemampuan diri sendiri dan sekali lagi bukan hasil yang instan yang diharapkan, merupakan wadah yang tetap menyalurkan kesenangan dan lengkap dengan kulturisasi kebahasaan, merasa lebih hidup dan mewah dengan dorongandorongan belajar dari sumbernya secara langsung, bercermin dari para pelajar yang melandasi keinginan belajarnya dari kebulatan tekad dirinya sendiri terlepas dari rasa disuruh, dipaksa serta dari mimpi-mimpi untuk memperoleh hasil yang instan, merasa lebih merdeka dan jujur untuk mengekspresikan dirinya dalam lingkungan kultur bahasa yang kental sehingga proses belajar tersebut terhindar sepenuhnya dari rasa kemalasan, tekanan maupun kebosanan sampai pada saatnya rasa ketertarikan dan kedekatannya dengan para pengajar memperkaya dirinya dengan kemahiran, menerima secara baik contoh-contoh kebahasaan yang jauh lebih banyak dan merasa butuh untuk menerima keanekaragaman budaya yang lebih nyata dan disaksikan sendiri olehnya

kemahiran mengolah bakat dalam mempelajari dan mengaplikasikan bahasa asing bukan hanya diperoleh dari rutinitas belajar semata namun sebaiknya pula melibatkan kejujuran serta keterbukaan untuk terlibat langsung dalam mempelajari kebudayaan yang dianut oleh para penutur asli bahasa tersebut, menggunakan nilai-nilai kebudayaan yang mereka anut dalam takaran pemahaman budaya yang masih bisa ditolerir oleh bangsa Indonesia pada umumnya

pemilihan wadah belajar yang terbaik adalah menetapkan pilihan pada tempat ataupun pengajar yang mampu memberikan cerminan langsung kegiatan penggunaan kebahasaan itu secara nyata, yang mampu memperkenalkan budaya penutur bahasa itu dengan baik lebih dari sekedar penjelasan ataupun contoh-contoh namun pula mampu membawa anda ke dalam dunia budaya kebahasaan itu secara lebih hidup, membuat anda dapat meniru gaya serta intonasi bahasa yang bersangkutan dari sumbernya secara langsung tanpa harus membebani pikiran anda untuk hanya selalu membayangkan apa dan bagaimana seharusnya bahasa itu digunakan dan dipersembahkan dalam budaya yang seharusnya ke dalam rutinitas kehidupan sehari-hari lengkap dengan satu paket kulturasi bahasa yang dianutnya Masih banyak polemik lain yang dapat ditemukan dalam memilih cara terefektif

dan tercepat seperti apa yang dapat diterapkan baik oleh para pengajar maupun pembelajar bahasa asing, namun itu semua terpulang bukan dari mewahnya sarana dan prasarana pembelajaran walaupun keberadaannya tidak kalah pentingnya, tapi yang paling utama adalah bagaimana membawa sikap keseriusan serta membentuk watak kemandirian sejak awal berniat mempelajari dan menguasai suatu bahasa dengan kesatuan tekad yang bulat dan usaha yang gigih namun tetap bertahan kesan menyenangkan dan tidak membosankannya. Tentunya hal ini merupakan tantangan terbaru demi menghadapi keberhasilan menguasai bahasa asing yang sedang marak di tengah persaingan komersialisasi ilmu yang sudah sepatutnya menjadi bahan pertimbangan baik dalam menawarkan program pembelajaran bahasa asing maupun untuk menguasainya. Langkah yang tepat adalah wahana yang paling penting, namun sekiranya wadah hanyalah sekedar sarana belaka tapi juga tidak kalah penting dan fungsinya.