Anda di halaman 1dari 1

Mitos Loro Blonyo untuk menjaga kemakmuran

LORO BLONYO MENJAGA KEMAKMURAN Bentuk dari loro blonyo itu berupa boneka pengantin laki-laki dan perempuan yang dipajang didepan senthong tengah (senthong: ruang tidur dibelakang pendopo). Disebelah loro blonyo terdapat kendhil yang berisi berbagai biji-bijian dan kendhi tadi ditutupi saputangan bangun tolak dan diselimutkan. Begitu juga kiri dan kanan senthong diberi lampu robyong. Lampu robyong itu lampu dari jlupak (jlupak: lampu yang dibuat dari sumbu dan minyak kelapa) yang diberi tiang penyangga, tiang penyangga itu dinamakan ajug-ajug. Tiang ajug-ajug itu dibuat dari kayu yang diukir. Pada umumnya, ajug-ajugnya dibuat dari bambu lalu bagian bawah dari bambu tadi dibelah menjadi 3 bagian untuk penyangganya. Pada jaman dahulu belum ada listrik, setiap malam hari memakai lampu minyak kelapa. Setelah ada minyak tanah baru menggunakan minyak itu.Lampunya dinamakan jlupak, tetapi ada juga yang menggunakan lampu jodhog. Lampu yang dibuat dari bleg (seng), menggunakan minyak tanah. Loro blonyo dipasang didepan, seperti penjaga pintu senthong tengah, yang isinya lambang kemakmuran. Senthong tengah itu adalah kamar yang ada ditengah ruang utama. Sebetulnya bukan ruangan untuk tidur tetapi ruang untuk sesaji. Bentuk sesaji berupa dipan untuk menyimpan beras yang dinamakan padaringan atau lumbung kecil. Tetapi kalau didesa biasanya disebut pajangan. Dipan tadi dibagian atasnya diberi bantal, diberi penyekat bergambar dua ular. Maka dari itu disebut panagan (patung ular naga). Gambar ular, karena ular dilambangkan sifat wanita (vroungeligh) maka untuk sesaji padi Dewi Sri. Bantalan untuk padaringan atau lumbung kecil tidak perlu bantal sungguhan, bisa dari keranjang yang dibungkus kain cindhe atau sutra dimodifikasi menyerupai bantal atau guling. Tetapi pada umumnya orang memakai bantal dan guling sungguhan. Ada juga yang menggunakan kayu randhu yang dilubangi tengahnya, dinamakan dhampal. Maka sebelum ada bantal, orang-orang pada jaman dulu menggunakan bantal dari randhu itu. Pada senthong itu juga ada penyekat garuda sebagai lambang sifat laki-laki (manelijk), jadi lumbung itu sebagai simbol kemakmuran. Didepan senthong tengah itu loro blonyo dipasang. Jaman dahulu ada juga yang memasang loro blonyo sebagai penjaga bahan-bahan makanan untuk orang yang punya hajat. Ada senthong yang khusus untuk menyimpan beras, bumbu dan lain sebagainya. Selain dijaga wanita tua yang dipercaya, juga diberi loro blonyo. Ini adalah adat dan kebudayaan Jawa pada jaman dahulu, yang sekarang sudah sangat jarang ditemui didalam kehidupan masyarakat Jawa. Dalam mengartikannya memang bisa berbedabeda antara satu sama lain, dan tidak perlu diperdebatkan. Karena perbedaan pengertian tersebut tidak berpengaruh apa-apa terhadap kehidupan sehari-hari. http://kusumo-dewi.blogspot.com/2010/10/mitos-loro-blonyo-untuk-menjaga.html