Anda di halaman 1dari 2

Ialah Dambaku

(terinspirasi oleh : Ialah dambaku karya Jallaludin Rumi) (terjemahan Hartoyo Andangjaya)

Ketika subuh Adzan Subuh berkumandang Ibuku mengguncang guncang tubuhku Seraya berkata bangun nak sudah subuh Merasakan teduh dan sejuknya jemari ibu Yang terbasahi air wudhu ialah dambaku. Bisa kurasakan, Pena ini bergetar menggoreskan bait demi bait puisi Tatkala jiwaku larut dalam orkestrasi pagi ini Karena menitipkan puisi pagi untukmu ialah dambaku Gairah hidupku yang lemah kembali menyala Tatkala ayahku yang tua, miskin dan sederhana menceritakan masa mudanya Menaiki mesin waktu dan menyimak kehidupan ayahku yang bergelora di masa lalu Ialah dambaku Aku mendambakan seorang istri shalehah Berparas manis madu dan berkerudung putih Yang selalu menghidangkan secangkir teh hangat di pagi hari Dan mendoakan kepergianku mencari cinta Memiliki istri shalehah di alam dan taman Imajiner ialah dambaku Hari hari kemarin serasa imaji Detik demi detik tadi serasa ilusi Aku terlarut oleh kitab kitab penyemangat Yang tertulis rapi oleh tinta hitam pekat Yang termaktub apik oleh pena ampuh tajam Kepada sang penulis yang penuh cinta Kuhaturkan doa Smoga hidayah bersilaturahmi ke dalam jiwamu atas IzinNYA Hikmah hikmah yang bertebaran ialah dambaku Kata kata adalah cinta ku Goresan goresan pena yang berarti

pun ujaran ujaran bibir yang bermakna bagaikan malaikat bersayap gagah sigap mengantar dan menjaga gejolak jiwaku Anugrah Allah yang maha dahsyat ini ialah dambaku Inginku belajar dari kaum sufi yang arif Mencintai yang seharusnya dicintai Menyayangi yang seharusnya disayangi Karena Yang Maha Pengasih lah yang menjadikan kita ada Karena Yang Maha Penyayang lah yang menjadikan kita nyata Memahami ilmu ilmu tauhid ialah dambaku Terkadang aku terlampau jengkel Tatkala berhadapan dengan penderitaan hidup Namun Yang Maha Suci menyuruh Din-NYA tuk menjewer Menjewer kuping kemalasanku dan kuping nafsuku Duhai Din yg arif, sampaikan salamku padaNYA Din yg cerewet, ialah dambaku Mataku tak bisa berhenti Menatap para perawan dari gedung megah namun rapuh. Mereka tak mengindahkan etika, pun tak menggubris estetika persetan., norma, persetan agama, mereka bilang. Apa urusan mu? Ini tubuh, tubuhku sendiri, mereka kata. Seakan aku tertolak dari dunia mereka. Seakan dunia mereka adalah ideologi samawi kiwari. Ahhh., tak apalah. Aku tetap bisa bernafas dan berjalan Tanpa memasuki dimensi hedonisme, dan narsisme macam mereka Ilmu bahagia, dan ilmu ikhlas ialah dambaku.