Anda di halaman 1dari 20

PEMICU Alloanamnese : Seorang ibu membawa anaknya R, perempuan 3 tahun dengan keluhan hidung R berbau 1 minggu, keluar cairan

n kental dari sebelah hidung (+), bersin-bersin tidak begitu sering dan kadang-kadang berdarah sedikit, batuk (-). Dari pemeriksaan didapat : Telinga : normal Hidung : cavum nasi kanan sekret (+) mukopurulen, cavum nasi kiri : normal Tenggorokan : normal Temperatur : 36,8C Berat badan : 15 kg

Apa yang terjadi pada R ? MORE INFO Hasil pemeriksaan foto sinus paranasal : tampak gambaran semi opaque bentuk bulat di daerah cavum nasi kanan. Dari autoanamnese OS tidak pernah memasukkan sesuatu ke dalam hidungnya. Ibu R seorang penjahit baju acesories dengan perhiasan dan payet.

UNFAMILIAR TERMS (-) MASALAH Hidung berbau 1 minggu Keluar sekret kental dari sebelah hidung (+) Bersin-bersin tidak begitu sering dan kadang-kadang sedikit berdarah Cavum nasi kanan sekret (+) mukopurulen

ANALISA MASALAH

Benda asing masuk ke dalam kavum nasi

Lesi pada lapisan hidung

berdarah Respon tubuh untuk mengeluarkan benda asing

Sekresi oleh sel goblet dan kel seromusinosa meningkat

bersin

Menumpuk di kavum nasi

berbau

Menyumbat oleh karena benda asing (-) dapat dikeluarkan berdarah Upaya mengeluarkan benda asing dengan tangan anak

(-) Higienis

Memungkinkan infeksi bakteri

(+) sekret mukopurulen

HIPOTESIS Nasal corpus alienum LEARNING ISSUE 1. 2. 3. 4. 5. 6. Anatomi hidung ( perdarahan dan persarafan ) Histologi rongga hidung Fisiologi ( mekanisme pertahanan di hidung) DD dari pemicu Patogenesis dan patofisiologi ( organik dan anorganik ) Nasal corpus alienum : a. definisi b. epidemiologi c. etiologi d. penegakan diagnosis e. penatalaksanaan f. komplikasi dan prognosis

LEARNING ISSUE 1 ANATOMI HIDUNG

Hidung terdiri atas nasus externus (hidung luar) dan cavum nasi. NASUS EXTERNUS Nasus externus mempunyai ujung bebas, yang dilekatkan ke dahi melalui radix nasi atau jembatan hidung. Lubang luar hidung adalah kedua nares atau lubang hidung. Setiap naris dibatasi di lateral oleh ala nasi dan di medial oleh septum nasi. Rangka nasus externus di bentuk di atas oleh os nasale, processus frontalis ossis maxillaries, dan pars nasalis ossis frontalis. Di bawah, rangka ini dibentuk oleh lempeng-lempeng tulang rawan, yaitu cartilago nasi superior dan inferior, dan cartilago septa nasi. CAVUM NASI Cavum nasi terletak dari nares di depan sampai choane di belakang. Rongga ini dibagi oleh septum nasi atas belahan kiri dan kanan. Setiap belahan mempunyai dasar, atap, dinding lateral, dan dinding medial. Dasar di bentuk oleh processus palatinus maxillae dan lamina horizontalis ossis paltini, yaitu permukaan atas paltum durum. Bagian atap sempit dan di bentuk dari belakang ke depan oleh corpus ossis sphenoidalis, lamina cribrosa ossis ethmoidalis, os frontal, os nasal, dan cartilagines nasi. Dinding lateral ditandai dengan tiga tonjolan disebut concha nasalis superior, medial, dan inferior. Area di bawah setiap chonca disebut meatus. Recessus sphenoethmoidalis adalah daerah kecil yang terletak diatas chonca nasalis superior dan di depan corpus ossis sphenoidalis. Di daerah ini terdapat muara sinus sphenoidalis. Meatus nasi superior terletak di bawah dan lateral chonca nasalis superior. Disini terdapat muara dari sinus ethmoidalis posterior. Meatus nasi media terletak di bawah dan lateral chonca media. Pada dinding lateralnya terdapat prominentia bulat, bulla ethmoidalis, yang disebabkan oleh penonjolan sinus ethmoidalis medii yang terletak di bawahnya. Sinus ini bermuara pada pinggir atas meatus. Sebuah celah melengkung, disebut hiatus semilunaris, terletak tepat dibawah bulla. Ujung anterior hiatus masuk ke dalam saluran berbentuk corng disebut infundibulum. Sinus maxillaris bermuara pada meatua nasi media melalui hiatus semilunaris. Sinus frontalis bermuara dan dilanjutkan oleh infundibulum. Sinus ethmoidales anteriores juga bermuara pada infundibulum.

Meatus nasi media dilanjutkan ke depan oleh sebuah lekukan disebut atrium. Atrium ini dibatasi di atas oleh sebuah gigi, disebut agger nasi. Di bawah dan depan atrium, dan sedikit di dalam naris, terdapat vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang telah bermodifikasi dan mempunyai rambut-rambut melengkung dan pendek, atau vibrissae. Meatus nasi inferior terletak di bawah dan lateral chonca inferior dan padanya terdapat muara ductus nasolacrimalis. Suatu lipatan membaran mukosa membentuk katup yang tidak sempurna, yang melindungi muara ductus. Dinding medial atau septum nasi adalah sekat ostoecartilago yang ditutupi membarana mukosa. Bagian atas dibentuk oleh lamina perpendicularis ossis ethmoidalis dan bagian posteriornya di bentuk oleh cartilago septi. Septum ini jarang sekali terletak pada bagian medial. Membrana mucosa melapisi cavum nasi, kecuali vestibulum, yang dilapisi oleh kulit yang telah mengalami modifikasi. Terdapat dua jenis membrana mucosa, yaitu : 1. membran mucosa olfaktorius melapisi permukaan atas concha nasalis superior dan recessus sphenoethmoidalis; juga melapisi daerah septum nasi yang berdekatan dan atap. Fungsinyan adalah menerima rangsangan penghidu dan untuk fungsi ini mucosa memiliki sel-sel penghidu khusus. Akson sel-sel ini (serabut n.olfaktorius) berjalan melalui lubanglubang pada lamina cribrosa ossis ethmoidalis dan berakhir pada bulbus olfaktorius. Permukaan membran mucosa tetap basah oleh sekret kelenjar serosa yang berjumlah banyak. 2. Membran mucosa respiratorius Melapisi bagian bawah cavum nasi. Fungsinya adalah menghangatkan, melembabkan, dan membersihkan udara inspirasi. Proses menghangatkan terjadi oleh adanya plexus venosus di dalam jaringan submucosa. Proses melembabkan berasal dari banyaknya mucus yang diproduksi oleh kelenjar-kelenjar dan sel-sel goblet. Partikel debu yang terinspirasi akan menempel pada permukaan mucosa yang basah dan lengket. Mukus yang tercemar ini terus-menerus terdorong ke belakang oleh kerja cilia dari sel-sel silindris bersilia yang meliputi permukaan. Sesampainya di pharynx mucus ini ditelan.

PERSARFAN CAVUM NASI N. olfaktorius berasal dari sel-sel olfaktorius khusus yang terdapat pada membrana mucosa yang telah dibicarakan sebelumnya. Saraf ini naik ke atas melalui lamina cribsosa dan mencapai bulbus olfaktorius. Saraf-saraf sensasi umum berasal dari divisi ophtalmica dan maxillaris n. trigeminus. Persarafan bagian anterior cavum nasi berasal dari n. ethmoidalis anterior. Persarafan bagian posterior cavum nasi berasal dari ramus nasalis, ramus nasopalatinus, ramus nasopalatinus ganglion pterygopaltinum.

PERDARAHAN CAVUM NASI Suplai arteri untuk cavum nasi terutama berasal dari cabang-cabang a. Maxilaris. Cabang yang terpenting adalah a. sphenoplatina. Arteri sphenoplatina beranastomosis dengan cabang septalis a. labialis superior yang merupakan cabang dari a. facialis di daerah vestibulum. Daerah ini sering terjadi perdarahan (epistaxis). Vena-vena membentuk plexus yang luas di dalam submucosa. Plexus ini dialirkan oleh venavena yang menyertai arteri. ALIRAN LIMFE CAVUM NASI Pembuluh limfe mengalirkan limfe dari vestibulum ke nodi submandibulares. Bagian lain dari cavum nasi mengalirkan limfenya ke nodi cervicales profundi superior.

LEARNING ISSUE 2 HISTOLOGI RONGGA HIDUNG

VestIbulum Vestubulum adalah bagian paling anterior dan paling lebar dari rongga hidung. Kulit luar hidung memasuki nares (cuping hidung) dan berlanjut ke dalam vestibulum. Disekitar permukaan dalam nares, terdapat banyak kelenjar sebase dan kelenjar keringat, selain rambut pendek tebal, atau vibrisa, yang menahan dan menyaring partikel-partikel besar dari udara inspirasi. Di dalam vestibulum, epitelnya tidak berlapis tanduk lagi dan beralih menjadi epitel respirasi sebelum memasuki fossa nasalis. Fosa nasalis (kavum nasi) Di dalam tengkorak terletak 2 bilik kavernosa yang dipisahkan oleh septum nasi oseosa. Dari masing-masing dinding lateral, keluar 3 tonjolan bertulang mirip rak yang dikenal sebagai konka. Di antara konka superior, media, dan inferior, hanya konka media dan inferior yang ditutupi oleh epitel respiratorius. Konka superior ditutupi epitel olfaktorius khusus. Celahcelah sempit yang terjadi akibat adanya konka memudahkan pengkondisian udara inspirasi dengan menambah luas permukaan epitel respirasi dan dengan menimbulkan turbulensi aliran udara. Hasilnya adalah bertambahnya kontak antara aliran udara dan lapisan mukosanya. Di dalam lamina propia konka terdapat terdapat plexus vena besar yang di kenal sebagai badan pengembang (sweel bodies). Setiap 20-30 menit, badan pengembang pada satu sisi fossa nasalis akan penuh terisi darah sehingga mukosa konka membengkak dan mengurangi aliran udara. Sementara itu, sebagian besar udara diarahkan lewat fossa nasalis lain. Interval penutupan periodik ini mengurangi aliran udara sehingga epitel respirasi dapat pulih dari kekeringan. Selain badan-badan pengembang, rongga hidung memiliki sistem vaskular yang rumit dan luas. Pembuluh-pembuluh besar membentuk jalinan-jalinan rapat dekat dengan periosteum, dan dari tempat ini, cabang-cabang pembuluh meluas ke permukaan. Darah dari belakang mengalir ke depan dalam arah yang berlawanan dengan aliran udara inspirasi. Akibatnya, udara yang masuk dihangatkan secara efisien oleh sistem arus balik.

Menghidu ( olfaction ) Kemoreseptor olfaktorius terletak pada epitel olfaktorius, yaitu daerah khusus membran mukosa konka superior yang terletak di atap rongga hidung. Pada manusia, luasnya sekitar 10 cm2 dengan tebal sampai 100 m. Epitel ini merupakan epitel bertingkat silindris yang terdiri atas 3 jenis sel. Sel penyokong memiliki apeks silindris yang lebar dan basis yang lebih sempit. Pada pemukaan bebasnya terdapat mikrovili, yang terendam dalam selapis cairan. Kompleks tautan yang berkembang baik mengikat sel-sel penyokong pada sel-sel olfaktori di sebelahnya. Selsel ini mengandung pigmen kuning muda yang menimbulkan warna mukosa olfaktorius ini. Sel-sel basal berukuran kecil; bentuknya bulat atau kerucut dan membentuk suatu lapisan pada basis epitel. Diantara sel-sel basal dan sel penyokong terdapat sel-sel olfaktorius- neuron bipolar yang dapat dibedakan dari sel-sel penyokong oleh letak intinya, yang terletak dibawah inti sel penyokong. Apeksnya (dendrit) memiliki daerah yang meninggi dan melebar, tempat 6-8 silia berasal. Silia ini sangat panjang dan nonmotil, dan berespon terhadap zat pembau dengan membangkitkan suatu potensial reseptor. Silia ini sangat memperluas reseptor. Akson aferen darin neuron bipolar ini bergabung dalam berkas kecil yang mengarah ke susunan saraf pusat, tempat akson tersebut bersinaps dengan neuron dari lobus olfaktorius otak. Lamina propia di epitel oilfaktorius memiliki kelenjar Bowman, sekretnya menghasilkan suatu medium cair di sekitar sel-sel olfaktorius yang mampu membersihkan silia, yang memudahkan akses zat pembau yang baru.

LEARNING ISSUE 3 FISIOLOGI ( MEKANISME PERTAHANAN HIDUNG)

A. REFLEKS BERSIN Refleks bersin sangat mirip dengan refleks batuk kecuali bahwa refleks ini berlangsung pada saluran hidung, bukan pada saluran nafas bawah. Rangsangan awal yang menimbulkan refleks bersin adalah iritasi dalam saluran hidung, impuls aferen berjalan dalam nervus kelima menuju medula, tempat refleks ini cetuskan, terjadi serangkaian reaksi yang mirip dengan refleks batuk; tetapi uvula ditekan, sehingga sejumlah besar udara dengan cepat melalui hidung, dengan demikian membantu membersihkan saluran hidung dari benda asing.

B. FUNGSI PENYARINGAN HIDUNG Rambut-rambut pada pintu masuk lubang hidung penting untuk menyaring partikelpartikel besar. Walaupun demikian, jauh lebih penting untuk mengeluarkan partikel melaui presipitasi turbulen. Artinya, udara yang mengalir melalui saluran hidung membentur banyak dinding penghalang: konka ( disebut juga turbinates sebab konka menimbulkan turbulensi udara), septum, dan dinding faring. Tiap kali udara membentur penghalang ini, udara harus mengubah arah alirannya. Partikel-partikel yang tersuspensi dalam udara, mempunyai momentum dan massa yang jauh lebih besar daripada udara. Sehingga tidak dapat mengubah arah perjalanannya secepat udara. Oleh karena itu, partikel-partikel tersebut terus maju ke depan, membentur permukaan penghalang-penghalang ini, dan kemudian di jerat oleh mukus pelapis dan diangkut oleh silia ke faring untuk ditelan. C. MUKUS DAN KERJA SILIA Seluruh saluran nafas, dari hidung sampai bronkiolus terminalis, agar tetap lembab oleh lapisan mukus yang melapisi seluruh permukaan. Mukus ini disekresikan sebagian oleh sel goblet mukosa dalam lapisan epitel saluran nafas, dan sebagian lagi oleh kelenjar sobmukosa yang kecil. Selain untuk mempertahankan kelembaban permukaan, mukus juga menangkap partikel-partikel kecil dari udara inspirasi dan menahannya agar tidak sampai ke alveoli. Mukus itu sendiri dikeluarkan dari saluran nafas dengan cara sebagai berikut. Seluruh permukaan saluran nafas, baik dalam hidung maupun dalam sluran nafas bagian bawah sampai sejauh bronkiolus terminalis, dilapisi epitel bersilia, dengan kira-kira 200 silia pada setiap sel epitel. Silia ini terus-menerus memukul dengan kecepatan 10-20 kali per detik, dan arah kekuatan memukulnya selalu mengarah ke faring. Dengan demikian, silia dalam paru memukul ke arah atas, sedangkan silia dalam hidung memukul ke arah bawah. Pukulan yang terus menerus ini menyebabkan selubung mukus ini mengalir dengan lambat, pada kecepatan beberapa milimeter per menit, ke arah faring. Kemudian mukus dan partikel-pertikel yang dijeratnya ditelan atau di bersinkan atau dibatukkan keluar.

LEARNING ISSUE 4 DIAGNOSA BANDING DARI PEMICU

Berdasarkan adanya macam-macam kelainan/penyakit yang dapat menimbulkan gejala foetor, dapatlah disusun diagnosis banding sebagai berikut : Korpus alienum Rinolit Difteri hidung Sinusitis Rinitis atrofi (Ozaena) Nasofaringitis kronis Rinitis kaseosa Radang kronis spesifik : sifilis tertier, tuberkulosis Neoplasma maligna

Korpus alienum Kebanyakan benda-benda kecil misalnya biji buah, manik-manik, kancing, karet penghapus, kelereng, kacang polong, batu dan kacang tanah. Kebanyakan ditemukan pada anak-anak dan biasanya unilateral. Bila benda tersebut belum lama dimasukkan, maka tidak atau hanya sedikit mengganggu, kecuali bila benda yang dimasukkan tajam atau sangat besar. Gejala yang muncul antara lain obstruksi yang bersifat unilateral dan sekret yang berbau. Benda asing umumnya ditemukan pada bagian anterior vestibulum atau pada meatus inferior sepanjang dasar hidung. Karena penderita kebanyakan adalah anak-anak.

Rinolit Rinolit juga dianggap sebagai benda asing tipe khusus yang biasanya terdapat pada orang dewasa. Garam-garam tak larut dalam sekret hidung membentuk suatu masa berkapur sebesar benda asing yang tertahan lama atau bekuan darah. Warna sedikit abu-abu, agak coklat atau hitam kehijau-hijauan. Konsistensi dapat lunak sampai keras dan rapuh atau porus. Seperti halnya dengan korpus alienum, biasanya terdapat unilateral. Sekret sinus kronik dapat mengawali terbentuknya masa seperti itu di dalam hidung.

Difteri hidung Ada 2 tipe difteri hidung yaitu: (1) primer: terbatas dalam hidung, bersifat benigna, 2%, (2) sekunder: berasal atau bersama-sama dengan difteri faring, bersifat maligna karena biasanya disertai gejala konstitusional. Discharge biasanya bilateral, sanguinous, sering disertai ekskoriasi vestibulum nasi. Berdasarkan adanya difteri hidung benigna dan maligna, maka jangan lupa memeriksa keadaan faring. Bila masih ragu, sebaiknya dilakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sekret hidung dan tenggorok.

Sinusitis Dapat terjadi pada anak-anak ataupun dewasa, dapat unilateral, atau bilateral. Pada anak-anak, discharge yang banyak sering disertai infeksi pada adenoid dan alergi hidung. Pada anak-anak gejala yang sering ditemukan ialah: nasal obstruction, persistent mucopurulent discharge, frequent colds. Berdasarkan adanya infeksi adenoid dan alergi hidung, maka pada anak-anak gejala discharge tentunya lebih sering bilateral. Pada anak-anak diragukan apakah penderita sendiri membau atau tidak, jadi penderita sendiri (), orang lain (+). Penderita dewasa sering menyadari adanya bau yang tidak enak dalam hidungnya, tetapi kadang-kadang hiposmia bila ada obstruksi dan bersifat temporer.

Ozaena Disebut juga rhinitis chronica atrophicans cum foetida. Karakteristiknya adalah adanya atropi mukosa dan jaringan pengikat submukosa struktur fossa nasalis, disertai adanya krusta yang berbau khas. Untuk kepentingan klinis perlu ditetapkan derajat ozaena sebelum diobati, yaitu ringan, sedang atau berat, karena derajat ozaena menentukan terapi dan prognosisnya. Biasanya diagnosis ozaena secara klinis tidak sulit. Adanya discharge yang berbau, bersifat bilateral, terdapat krusta kuning kehijau-hijauan. Penyakit ini lebih banyak menyerang wanita dari pada pria, terutama pada umur sekitar pubertas. Penderita sendiri mengalami anosmia, sedang orang lain tidak tahan baunya.

Nasofaringitis kronis Di nasofaring terdapat jaringan limpoid, kadang-kadang adenoid, dimana banyak tinggal bakteri-bakteri didalam kripti. Bila ada infeksi virus maka bakteri tersebut menjadi virulen dan dapat meluas ke semua arah. Pada kebanyakan kasus penyakit ini bersifat self limiting, bila daya tahan tubuh baik penyakit segera sembuh. Tetapi dapat juga penyakit menjadi kronis dan discharge nasofaring menjadi purulen serta mulai timbul bau, hal ini mulai dirasakan oleh penderita sendiri. Penderita sering berusaha mengeluarkan discharge di nasofaring yang dirasakan sangat mengganggu. Discharge pada nasofaringitis kronis bersifat bilateral.

Rinitis kaseosa

Adalah perubahan kronis inflamatoar dalam hidung dengan adanya pembentukan jaringan granulasi dan akumulasi massa seperti keju yang menyerupai kolesteatoma. Ada banyak teori tentang etiologi penyakit ini, diantaranya bahwa penyakit ini adalah akibat radang kronis dan nasal stenosis sekunder yang menyumbat nasal discharge. Oleh perubahan mekanis dan kimiawi dan deskuamasi mukosa secara terus-menerus, terjadilah penumpukan massa seperti keju yang menyerupai kolesteatoma. Kebanyakan bersifat unilateral, dapat terjadi pada segala umur, tetapi terbanyak antara 30-40 tahun. Karena kelainan ini adalah akibat sinusitis, penderita sendiri membau (+), orang lain (+). Radang kronis spesifik a. Sifilis tertier Berupa gumma yang sering mengenai septum bagian tulang, yaitu pada vomer dan sering mencapai palatum durum. Bila terjadi nekrosis yang mengenai tulang dan meluas ke kartilago septum terjadilah perforasi septum. Foetor bersifat bilateral. Penyakit ini sekarang jarang dijumpai. b. Tuberkulosis Dalam hidung sebagai tuberkuloma yang banyak mengenai septum bagian kartilago. Untuk membedakan sifilis tertier dari tuberkulosis lebih baik dilakukan pemeriksaan darah lengkap dan biopsi. Pada tuberkulosis perlu dilakukan foto rontgen toraks dan nasal swab. Pada tuberkulosis, bila tuberkuloma pada septum bagian kartilago mengalami nekrosis, dapat juga terjadi perforasi septum, foetor dapat dirasakan bilateral. Penyakit itu sekarang juga jarang dijumpai. Neoplasma maligna Gejala yang menyolok ialah nasal obstruction yang bersifat unilateral dan nasal bleeding. Kadang-kadang ulserasi awal dan nasal bleeding terlihat lebih dulu sebelum nasal obstruction, terutama pada tumor kavum nasi yang anaplastik. Diagnosis ditegakkan dengan biopsi yang diambil dari bagian yang tidak nekrotis. Perlu diagnosis sedini mungkin, maka bila ada kecurigaan kearah malignansi, biopsi perlu segera dilakukan.

LEARNING ISSUE 5 PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI a. Benda organik


Respon pertahanan pada hidung

Benda organik ( contoh : lintah )

Sel goblet epitel respiratorius

Masuk ke dalam cavum nasi

Respon pertahanan pada hidung ( refleks bersin )

mukus

Bertahan di cavum nasi

iritasi

Mukus + benda asing (+) saliva Medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri

Kerusakan dan kematian sel

1.(+) Hirudin 2.(+) Histamin Like-Substance

Pembusukan sel-sel jaringan yang nekrosis oleh bakteri

(+)Sekret mukopurulen 1.(+) sifat antikoagulan 2.(+) vasodilator

Foetor Ex Nasi

Memfasilitasi adanya Epistaxis berulang yang tidak masif

b. Benda organik
Respon pertahanan pada hidung

Benda anorganik

Sel goblet epitel respiratorius

Masuk ke dalam cavum nasi

mukus

Bertahan di cavum nasi

Epistaxis berulang yang tidak masif

Mukus + benda asing Respon pertahanan pada hidung ( refleks bersin )

iritasi

Medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri

Kerusakan dan kematian sel

(+)Sekret mukopurulen

Pembusukan sel-sel jaringan yang nekrosis oleh bakteri

Foetor Ex Nasi

LEARNING ISSUE 6 CORPUS ALIENUM a. Definisi Benda asing adalah benda yang berasal dari luar atau dalam tubuh yang dalam keadaan normal tidak ada pada tubuh. b. Epidemiologi Kasus benda asing di hidung paling sering terjadi pada anak, terutama pada usia 1 4 tahun. Pada usia ini anak cenderung mengeksplorasi tubuhnya, terutama daerah yang berlubang, termasuk hidung. Mereka dapat pula memasukkan benda asing sebagai upaya mengeluarkan sekret atau benda asing yang sebelumnya ada di hidung, atau untuk mengurangi rasa gatal atau perih akibat iritasi yang sebelumnya sudah terjadi. Benda asing yang tersering ditemukan yaitu sisa makanan, permen, manik-manik dan kertas. Benda asing seperti plastik dapat pula bertahan lama karena sukar didiagnosis akibat sifatnya yang noniritatif dan radiolusen sehingga tidak tampak dari pemeriksaan radiologik. Meskipun jarang, kasus ini dapat pula terjadi pada orang dewasa, terutama pada pasien- pasien gangguan jiwa atau retardasi mental. Faktor yang mempermudah terjadinya aspirasi benda asing di hidung antara lain faktor personal (umur, jenis kelamin, pekerjaan, kondisi sosial dan tempat tinggal), kegagalan mekanisme proteksi normal (keadaan tidur, kesadaran menurun,alkoholisme, dan epilepsi), ukuran, bentuk, serta sifat benda asing, serta faktor kecerobohan. Benda asing, meskipun tampak bukan menjadi masalah yang tidak serius juga dapat menimbulkan morbiditas bahkan mortalitas bila masuk ke saluran nafas bawah. Pada usia di bawah 1 tahun, aspirasi benda sing merupakan penyebab utama kematian. c. Etiologi Berdasarkan jenis bendanya, etiologi nasal corpus alienum dibagi menjadi : 1. Benda asing hidup a. Lalat Beberapa kasus miasis hidung yang pernah ditemukan di hidung manusia dan hewan di Indonesia disebabkan oleh larva lalat dari spesies Chryssomya bezziana. Chrysomya bezziana adalah serangga yang termasuk dalam famili Calliphoridae, ordo diptera, subordo Cyclorrapha, kelas Insecta. Lalat dewasa berukuran sedang berwarna biru atau biru kehijauan dan berukuran 8-10 mm, bergaris gelap pada toraks dan pada abdomen bergaris melintang. Larva mempunyai kait-kait di bagian mulutnya berwarna coklat tua atau coklat orange. Lalat dewasa meletakkan telurnya pada jaringan hidup dan hewan berdarah panas yang

hidup liar dan juga pada manusia misalnya pada luka, lubang-lubang pada tubuh seperti mata, telinga, hidung, mulut dan traktus urogenital. b. Lintah Lintah (Hirudinaria javanica) merupakan spesies dari kelas hirudinae. Hirudinea adalah kelas dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum annelida. Anggota jenis cacing ini tidak mempunyai rambut, parapodia, dan seta. Tempat hidup hewan ini ada yang berada di air tawar, air laut, dan di darat. Lintah merupakan hewan pengisap darah. Pada tubuhnya terdapat alat pengisap di kedua ujungnya yang digunakan untuk menempel pada tubuh inangnya. Pada saat mengisap, lintah ini mengeluarkan zat penghilang rasa sakit dan mengeluarkan zat anti pembekuan darah sehingga darah korban tidak akan membeku. Setelah kenyang mengisap darah, lintah itu akan menjatuhkan dirinya ke dalam air. Bentuk tubuh lintah ini pipih, bersegmen, mempunyai warna kecokelatan, dan bersifat hemaprodit. c. Cacing Ascaris lumbricoides merupakan nematoda usus yang masih menjadi masalah di negara berkembang seperti Indonesia. Hidung dapat menjadi Port dentry atau tempat cacing tersebut bermigrasi dari usus untuk mendapatkan oksigen yang lebih banyak. 2. Benda asing tidak hidup Benda asing mati yang tersering yaitu manik-manik, baterai logam, kancing baju. Kapur barus merupakan kasus yang jarang namun mengandung naftalen yang bersifat sangat mengiritasi. Kasus baterai logam di hidung juga harus diperlakukan sebagai kasus gawat darurat yang harus dikeluarkan segera, karena kandungan zat kimianya yang dapat bereaksi terhadap mukosa hidung.

d. Penegakan diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis ( gejala ), pemeriksaan fisik (tanda ) dan pemeriksaan penunjang. Benda asing di hidung pada anak sering luput dari perhatian orangtua karena kebanyakan asimptomatik sehingga dapat bertahan untuk waktu yang lama. Gejala yang paling sering adalah hidung tersumbat, rinore unilateral dengan cairan kental dan berbau. Kadang-kadang terdapat rasa nyeri, demam dan bersin. Gejala lainnya bervariasi sesuai patogenesisnya. Misalnya, benda asing seperti karet busa sangat cepat menimbulkan sekret yang berbau busuk. Baterai logam di

hidung akan menimbulkan keluhan rasa terbakar atau panas di hidung. Begitu pula kapur barus. Benda asing hidup kebanyakan menimbulkan sensasi benda yang bergerak-gerak di dalam hidung. Epistaksis tanpa rasa nyeri sering merupakan keluhan utama pasien dengan lintah di hidung. Pada miasis hidung pasien sering mengeluhkan sakit kepala, terutama daerah sekitar hidung. Hidung tersumbat diikuti rasa sesuatu bergerak-gerak di dalam rongga hidung. Kadang-kadang disertai epistaksis. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior, selain benda asing yang dapat dilihat langsung, akan tampak edema dengan inflamasi mukosa hidung unilateral, dan dapat terjadi ulserasi. Benda asing biasanya tertutup oleh mukopus, sehingga disangka sinusitis. Lintah sulit dilihat dengan rinoskopi anterior, sehingga kadang memerlukan pemeriksaan endoskopi. Bila terlihat, akan tampak berupa benda asing berwarna coklat tua, perabaan lunak dan melekat pada mukosa. Pada miasis hidung tampak hidung bengkak, kemerahan sekitar mata dan sebagian muka bagian atas. Pada kavum nasi tampak keropeng-keropeng dan ulat bergerakgerak. Mukosa hidung nekrotik, kadang-kadang perforasi septum nasi. Hidung berbau busuk. Pemeriksaan yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis pemeriksaan radiologis foto kepala dan CT-Scan kepala.Gambaran radiologis radioopak pada foto kepala biasanya letaknya di dasar cavum nasi. Pada CT-scan di dapatkan massa hiperdens.

e. Penatalaksanaan Benda asing yang harus diperlakukan sebagai kasus gawat darurat sehingga harus dikeluarkan secepatnya antara lain baterai dan kapur barus (naftalen). Cara mengeluarkan benda asing di hidung ialah dengan memakai pengait (haak) yang dimasukkan kedalam hidung bagian atas, menyusuri atap kavum nasi sampai menyentuh nasofaring. Setelah itu pengait diturunkan sedikit dan ditarik kedepan. Dengan cara ini benda asing akan ikut terbawa keluar. Dapat pula menggunakan forsep aligator, cunam Nortman atau wire loop. Bila benda asing berbentuk bulat, maka sebaiknya digunakan pengait yang ujungnya tumpul. Cara lain yaitu dengan menggunakan kateter dengan balon ukuran 5 atau 6 F yang dimasukkan ke hidung melewati benda asing yang terperangkap, kemudian balon dikembangkan, sehingga diharapkan benda asing akan keluar ke nares anterior sehingga dapat dengan mudah diekstraksi. Sebelum tindakan dapat terlebih dahulu diberikan fenilefrin 0,5% untuk mengurangi edema mukosa dan lidokain topikal atau spray sebagai analgesia. Sebaiknya jangan mendorong benda asing dari hidung kearah nasofaring dengan maksud agar masuk ke dalam mulut, karena malah dapat menyebabkan benda asing tersebut malah terus

masuk ke laring dan saluran nafas bagian bawah, sehingga menimbulkan keadaan gawat nafas. Benda asing hidup sebaiknya dimatikan terlebih dahulu dengan meneteskan minyak, parafin atau alkohol sebelum diangkat. Untuk lintah dapat diteteskan tembakau. Untuk miasis hidung, sebagian penulis menganjurkan pemberian reagen tertentu (misalnya kloroform, premium) yang dapat melumpuhkan larva, kemudian larva tersebut diambil satu persatu. Pendapat lain mengemukakan tindakan pengambilan larva yang masih hidup tanpa pemberian reagen tertentu. Ada pula pendapat untuk tindakan irigasi perhidrol 3% setiap hari dan pemberian analgetik kuat. Perhidrol merubah homeostasis sekitar larva sehingga larva berusaha keluar. Tindakan operatif dengan melakukan nekrotomi merupakan tindakan alternatif lain dengan sebelumnya daerah tersebut ditetesi kloroform. Untuk memastikan terapi yang tepat terhadap miasis perlu suatu penelitian in vitro yang mampu membunuh larva miasis tetapi tidak toksik terhadap tubuh manusia. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh balai penelitian veteriner Bogor menyimpulkan bahwa pemberian ekstrak heksan daging biji srikaya (Annona squamosa L) berpengaruh terhadap pertumbuhan larva C. bezziana. Pemberian antibiotika sistemik selama 5-7 hari hanya diberikan pada kasus benda asing di hidung yang telah menimbulkan infeksi hidung maupun sinus. f. Komplikasi Edema pada mukosa dapat menyebabkan obstruksi pada drainase sinus dan tuba eustachius sehingga mengakibatkan sinusitis dan otitis media. Rinolith, seperti yang telah disebutkan diatas dapat timbul bila benda asing bertahan selama bertahun-tahun. Infeksi struktur disekitarnya juga dapat terjadi, seperti selulitis periorbital, meningitis, epiglotitis, difteri dan tetanus. g. Prognosis

KESIMPULAN Kelompok kami menyimpulkan bahwa R, perempuan 3 tahun mengalami masuknya benda asing ke dalam hidung atau nasal corpus alienum, berdasarkan keluhan yaitu dengan keluhan hidung R berbau 1 minggu, keluar cairan kental dari sebelah hidung (+), bersin-bersin tidak begitu sering dan kadang-kadang berdarah sedikit, batuk (-). Pada pemeriksaan didapati : Telinga : normal Hidung : cavum nasi kanan sekret (+) mukopurulen, cavum nasi kiri : normal Tenggorokan : normal Temperatur : 36,8C Berat badan : 15 kg

Telinga dan tenggorokan yang normal menunjukkan tak adanya kemungkinan tempat asal keluhan. Temperatur yang tidak meningkat menyingkirkan kemungkinan terjadinya infeksi. Hasil pemeriksaan foto sinus paranasal yang tampak gambaran semi opaque bentuk bulat di daerah cavum nasi kanan, memperbesar kemungkinan adanya benda asing pada cavum nasi. Pekerjaan ibu pasien yang merupakan seorang penjahit baju acesories dengan perhiasan dan payet, memungkinkan masuknya benda-benda tersebut. Yang pertama kali harus di lakukan yaitu mengeluarkan benda asing.Cara mengeluarkan benda asing di hidungnya ialah dengan memakai pengait (haak) yang dimasukkan kedalam hidung bagian atas, menyusuri atap kavum nasi sampai menyentuh nasofaring. Setelah itu pengait diturunkan sedikit dan ditarik kedepan. Dengan cara ini benda asing akan ikut terbawa keluar. Dapat pula menggunakan forsep aligator, cunam Nortman atau wire loop. Bila benda asing berbentuk bulat, maka sebaiknya digunakan pengait yang ujungnya tumpul. Tergantung pada bentuk bendanya.

DAFTAR PUSTAKA o Guyton & hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta : EGC,2006 o Junizaf MH. Benda Asing di Saluran Napas. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher. Edisi ke 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2008. Hal. 259-265. o Junqueira, liuz carlos, Jose Carneiro. Histologi Dasar. Edisi 10. Jakarta : EGC, 2007. o Medical dictionary. Corpus Alienum. Diunduh dari : http://medicaldictionary. thefreedictionary.com/Corpus+alienum. [diakses tanggal 29 Juli 2012] o Snell RS, MD, PhD. Kepala dan leher. Dalam: Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran edisi ke 6. Alih bahasa: Sugiharto L. Jakarta: EGC. 2000. Hal. 803-805.