Anda di halaman 1dari 12

PL 3204 Pengembangan Komunitas

Program Pengembangan Tata Kelola Sosial Ekonomi Masyarakat Dusun Sombron

Oleh: Happy Tiara Asvita Saraswati Titis Astri Mauliawati Diantha Arafia 15409001 15409043 15409053 15409055

Dosen: Tubagus Furqon Sofhani

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA SEKOLAH ARSITEKTUR, PERENCANAAN, DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2012

Program Pengembangan Tata Kelola Sosial Ekonomi Masyarakat Dusun Sombron

Abstrak Proyek pengembangan komunitas pada kawasan-kawasan tertinggal telah menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan Indonesia. Salah satu program pengembangan komunitas yang dicanangkan adalah Program Pengembangan Tata Kelola Sosial Ekonomi Masyarakat Dusun Sombron yang dilaksanakan oleh Yayasan Nawakamal bekerja sama dengan Coca Cola Foundation Indonesia. Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses air dan rumah belajar sebagai wahana saling berbagi informasi, pengetahuan serta keterampilan bagi masyarakat Dusun Sombron. Hal tersebut dicapai dengan cara membangun pompa hydram, bak distribusi, pemanfaatan teknologi bidigester dan pengelolaan rumah belajar. Strategi yang digunakan dalam keberjalanan program ini adalah organizational development, community organizing, dan organizational collaboration yang berugsi untuk memproduksi barang dan jasa secara mandiri. Outcome yang dihasilkan dari program ini adalah better service dan economic well-being. Dalam keberjalanannya, program ini telah mencapai 4 sasaran yang ada, namun masih banyak kekurangan yang membuat tujuan-tujuan yang diharapkan dan beberapa program yang akan dilakukan tidak tercapai karena berbagai kendala serta tidak menghasilkan outcome yang cukup penting dalam pengembangan komunitas yaitu influence on decision making yang menimbulkan sense of leadership dari masyarakat.

Kata kunci: dusun sombron, yayasan nawakamal, akses air

I. Pendahuluan Program Pengembangan Tata Kelola Sosial Ekonomi Masyarakat Dusun Sombron diadakan di Dusun Sombron, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Dusun Sombron memiliki masalah sulitnya mendapat air bersih. Sebenarnya, mata air sudah terdapat di Dusun Sombron namun sejak perkebunan yang dikelola PT Perkebunan Nusantara VIII merubah tanamannya dari sistem multikultur (banyak jenis tanaman) seperti kopi, cengkeh, kakao dan jenis tanaman perkebunan lain menjadi sistem monokultur (satu jenis tanaman) yakni tanaman karet, mata air jumlahnya menjadi sangat sedikit. Mata air itu terletak di atas gunung sehingga masyarakat Dusun Sombron harus berjalan sejauh 20 km untuk mendapatkan sumber air bersih. Oleh karena itu, masyarakat berinisiatif untuk membuat bak penampungan di puncak perbukitan karena mereka beranggapan air itu tidak mungkin mengalir menuruni bukit yang terjal untuk sampai ke rumah-rumah mereka sehingga mereka tetap harus berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih.

Yayasan Nawakamal yang terletak di Yogyakarta kemudian melihat bahwa bak penampungan yang dibangun warga tidak efisien dan masyarakat tetap harus berjalan jauh untuk mendapatkan air. Akhirnya, yayasan tersebut menginisiasi untuk membuat pompa yang menggunakan sistem gravitasi sehingga air dapat mengalir ke masing-masing rumah. Yayasan Nawakamal tidak hanya bekerja sendiri, tetapi yayasan tersebut juga bekerja sama dengan Coca Cola Foundation Indonesia dalam hal biaya. Yayasan Nawakamal dan Coca Cola Foundation kemudian tidak hanya membangun pompa air hydram untuk melayani rumah-rumah warga di Dusun Sombron, tetapi juga mereka melakukan program-program penngkatan kapasitas masyarakat dari segi ekonomi dan informasi. Programprogram yang yang dilakukan oleh Yayasan Nawakamal dan CCFI dilakukan dengan memaksimalkan potensi yang sudah ada di dusun tersebut, yaitu sapi jenis Brahma. Mereka juga membangun pusat informasi baru berupa Rumah Belajar karena masyarakat Dusun Sombron sulit mendapatkan informasi.

Tujuan dari program ini adalah meningkatkan akses air dan rumah belajar sebagai wahana saling berbagi informasi pengetahuan serta ketrampilan bagi masyarakat Dusun Sombron. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai dari program ini adalah sebagai berikut. Meningkatkan aksesibiltas masyarakat terhadap air bersih Pengorganisasian pengelola instalasi air Meningkatkan kapasitas masyarakat terhadap informasi dan pengetahuan Meningkatkan kapasitas masyarakat dalam usaha perekonomian alternatif

II. Karakteristik Masyarakat dan Wilayah Dusun Sombron Dusun Sombron ini memiliki banyak sumber air yang terletak di atas perbukitan. Pada awalnya, terdapat 10 mata air di dusun ini. Setelah PT Perkebunan Nusantara menerapkan sistem monokultur untuk pertanian di dusun tersebut, mata air di dusun tersebut berkurang. Saat ini jumlah mata air di dusun tersebut hanya terdapat 3 mata air. Mata air di daerah tersebut lama kelamaan mengering karena sistem pertanian yang ada di sana tidak mampu menyerap air dengan baik. Dusun Sombron ini juga letaknya terpencil. Hal ini dilihat dari tidak mampunya masyarakat Dusun Sombron mendapatkan informasi untuk meningkatkan ilmu pengetahuan mereka.

Masyarakat Dusun Sombron merupakan masyarakat kelompok rentan. Masyarakat di Dusun Sombron tidak mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan teknologi, ancaman modal, dan perubahan politik. Masyarakat Dusun Sombron juga kesulitan mendapatkan akses ke sumber daya. Masyarakatnya kesulitan mendapatkan akses untuk air bersih dan sulit mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan. Karena kurangnya pengetahuan tersebut, mereka tidak mampu mengatasi

keterbelakangan mereka. Oleh karena itu, mereka hanya mampu membangun bak penampungan air tetapi mereka tidak mengetahui teknologi untuk menyalurkan air tersebut ke masing-masing rumah mereka.

III. Fokus Dimensi Dalam pelaksanaan program community development seperti ini, terdapat beberapa fokus yang digunakan. Fokus tersebut akan tergantung dari tujuan program yang dilaksanakan. Fokus dimensi dalam program ini mencakup tiga dimensi, yaitu dimensi sosial, ekonomi, dan fisik. Dimensi sosial ini dicerminkan dari partisipasi masyarakat Dusun Sombron dalam mengembangkan kapasitas mereka sendiri. Selain itu, kegiatan sosial juga terwujud dari pertemuan-pertemuan yang dilakukan masyarakat Dusun Sombron dengan Yayasan Nawakamal. Sebenarnya mereka sudah memiliki inisiatif yang baik dalam menyediakan kebutuhan mereka sendiri namun memang karena pengetahuan yang kurang maka mereka membutuhkan bantuan dari lembaga lain. Dengan kata lain, dalam hal ini masyarakat dijadikan objek yang butuh bantuan (service development).

Dimensi lain yang menjadi fokus dalam program ini adalah ekonomi. Masyarakat diberikan ide untuk memanfaatkan berbagai hal agar menghasilkan keuntungan yang lebih optimal daripada sebelumnya. Dengan kata lain, masyarakat dijadikan lokasi dari kegiatan ekonomi. Selain itu, hal ini akan memecahkan masalah pengangguran karena menawarkan lapangan kerja yang cukup banyak, dalam program ini salah satunya adalah memanfaatkan kotoran ternak untuk dijadikan pupuk dan pengolahan menjadi biogas. Hal ini tentu saja akan mengatasi permasalahan ekonomi masyarakat yang tadinya hanya beternak hewan ternak setiap hari dan memanfaatkan susu dan daging apabila dijual.

Selain dua dimensi di atas, dimensi lain yang jelas dijadikan fokus dalam program ini adalah dimensi fisik. Dimensi fisik ini ditandai dengan pembangunan yang berbentuk fisik dilakukan untuk menambah kesejahteraan masyarakat sekitar. Dalam program ini, fokus dimensi fisik ditandai dengan adanya pembuatan pompa hydram sebagai bentuk fisik pembangunan yang dilakukan untuk membantu dalam pendistribusian air bersih. Selain itu, pembangunan fisik lainnya adalah rumah belajar yang dapat digunakan bagi masyarakat Dusun Sombron.

IV. Peran Aktor Dalam melaksanakan suatu program, terdapat beberapa aktor yang terkait. Aktor-aktor tersebut memiliki beberapa perannya masing-masing dalam melaksanakannya, termasuk dalam community

development ini. Komunitas merupakan salah satu aktor pembangunan. Aktor lain di luar komunitas antara lain: pemerintah, pihak swasta, LSM, dan sebagainya. Kolaborasi antar aktor tersebut sangat menentukan keberhasilan inisiatif dan program komunitas. Pada Program Pengembangan Tata Kelola Sosial Ekonomi Masyarakat Dusun Sombron ini beberapa peran para pelaku dapat ditinjau dalam tiga hal, yaitu individu, sosial, dan network. 1. Individu Dalam program pengembangan ini terdapat tiga jenis pengembangan yang melibatkan setiap individu masyarakat Dusun Sombron. Dalam hal penyediaan air bersih mereka telah berinisiatif untuk membuat bak penampungan air yang terletak di atas bukit. Selain itu, dalam hal pengembangan pengetahuan mereka telah sadar bahwa di Dusun Sombron mereka cukup kesulitan untuk mendapatkan informasi dan tingkat pendidikan masih rendah. Dalam hal pemanfaatan potensi ternak mereka telah berusaha untuk memiliki hewan ternak seperti sapi yang dapat diperah susunya, namun belum dapat memanfaatkan ternak tersebut untuk kebutuhan lain. 2. Sosial Sosial terbentuk dari sekumpulan masyarakat yang bergabung untuk melaksanakan tujuan tertentu. Dalam program ini berarti kumpulan masyarakat dengan Yayasan Nawakamal yang memiliki tujuan untuk membantu masyarakat Dusun Sombron untuk menyelesaikan masalah-masalahnya. Dalam ketiga hal pengembangan yang dilakukan, untuk penyediaan air Yayasan Nawakamal memberikan bantuan penerapan teknologi untuk pembuatan pompa hydram sehingga pendistribusiannya lebih optimal. Selain itu, dalam hal ternak, Yayasan Nawakamal memberikan ide untuk mengembangkan ternak dengan lebih optimal, yaitu dengan memanfaatkan kotorannya yang bisa dijadikan pupuk maupun biogas. Selain itu, dalam hal pengembangan pengetahuan, Yayasan Nawakamal juga memberikan ide untuk pembuatan rumah belajar di Desa Sombron dalam rangka penambahan pengetahuan masyarakat sekitar. 3. Network Dalam hal jaringan atau network, terjadi pengembangan jaringan ketika dan setelah program dilakukan. Ketika program dilakukan jaringan yang terkembang adalah antara Yayasan Nawakamal dengan Coca Cola Foundation Indonesia yang membantu dalam pendanaan. Selain itu, untuk jaringan masyarakat Dusun Sombron yang terjadi adalah dalam hal pendistribusian pupuk ternak. Pada awalnya pupuk hanya dimanfaatkan oleh masyarakat setempat saja, namun saat ini pendistribusian pupuk telah menyebar hingga ke masyarakat dusun lainnya. V. Fungsi Program Pengembangan Tata Kelola Sosial Ekonomi Masyarakat Dusun Sombron

Fungsi yang dijalankan pada program Pengembangan Tata Kelola Sosial Ekonomi Masyarakat Dusun Sombron ini adalah production of good and service. Program ini menghasilkan beberapa barang, seperti pada kegiatan ternak kelompok dan biodigester ternak sapi. Pada kegiatan ini terdapat

peningkatan jumlah kuantitas sapi yang dipelihara, yang semula hanya terdapat 10 ekor, setelah adanya kegiatan ini meningkat jumlahnya menjadi 15 ekor. Selain itu terdapat pula hasil produksi berupa biogas dan pupuk yang dimanfaatkan oleh warga. Produk produk yang dihasilkan dari kegiatan ini sangat berpengaruh pada peningkatan kesejahteraan ekonomi di dusun Sombron. Perubahan di tingkat komunitas dalam upaya memelihara sapi juga menunjukkan sebuah bukti perubahan upaya masyarakat dalam membangun kehidupan ekonomi yang lebih baik melalui bidang usaha peternakan. Kemudian dengan adanya biogas dapat menghemat penggunaan gas LPG sebagai sumber energi utama dalam memasak di rumah tangga, sehingga dapat menghemat pengeluaran untuk membeli gas LPJ. Selain itu dengan diproduksinya pupuk organik, masyarakat akan menggunakan pupuk tersebut untuk pertanian. Hal ini memberikan gambaran bahwa capaian program untuk menjadikan pertanian yang terintegrasi menjadi semakin terwujud.

Selain menghasilkan barang, kegiatan kegiatan di program ini juga memberikan jasa dan pelayanan, seperti pada kegiatan rumah belajar serta penyediaan dan pengelolaan air bersih. Pada kegiatan rumah belajar, masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan akses terhadap informasi dan pengetahuan melalui buku buku yang ada serta dengan menggunakan komputer. Rumah belajar ini juga sering digunakan sebagai tempat berkumpul ketika ada pertemuan rutin tingkat RT maupun pertemuan PKK, hal ini dilakukan agar mendorong keterlibatan seluruh warga dusun Sombron dalam mengelola rumah belajar ini. Dengan adanya program ini, minat dan ketertarikan warga terhadap informasi dan pengetahuan semakin meningkat, sehingga kapasitas masyarakat Dusun Sombron terhadap informasi dan pengetahuan meningkat. Hal ini ditunjukkan dengan selalu ramainya rumah belajar sehingga jam pelayanan rumah belajar tersebut bertambah.

Pada kegiatan penyediaan dan pengelolaan air bersih, masyarakat Dusun Sombron dapat dengan mudah mengakses air bersih daripada sebelumnya. Walaupun masih terdapat beberapa pompa yang belum berfungsi dengan baik, tetapi masyarakat tetap mengupayakan agar pompa tersebut dapat berfungsi kembali, salah satunya adalah masing masing warga memberikan iuran bulanan yang akan digunakan untuk membiayai perbaikan pompa hydram yang rusak.

VI. Strategi Program Pengembangan Tata Kelola Sosial Ekonomi Masyarakat Dusun Sombron Strategi strategi yang dilakukan Yayasan Nawakamal dalam melakukan pengembangan komunitas di Dusun Sombron melalui program Pengembangan Tata Kelola Sosial Ekonomi Masyarakat Dusun Sombron adalah organizational development, community organizing dan organizational collaboration. Pada strategi organizational development, Yayasan Nawakamal membuat kelompok kelompok di masyarakat sesuai dengan kegiatan yang dilakukan pada program ini, yaitu kelompok

kandang, kelompok pengelola air dan kelompok pengelola belajar. Kelompok kelompok ini dibuat untuk menunjang kegiatan kegiatan yang yang ada, untuk mencapai tujuan dari program ini dan agar kegiatan kegiatan ini dapat diteruskan setelah program ini selesai.

Kegiatan yang dilakukan kelompok kelompok ini adalah membuat mekanisme mekanisme terkait kegiatan yang ada. Contohnya adalah kelompok pengelola air, dibuat agar salah satu tujuan dari program ini tercapai yaitu meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap air bersih. Selain itu kelompok ini dibuat agar fasilitas mengenai akes air bersih seperti pompa hydram, bak penampungan dipelihara dan dikelola dengan baik. Kegiatan kegiatan yang dilakukan kelompok ini adalah pertemuan pertemuan rutin yang membahas mengenai pengelolaan, pemeliharaan, mekanisme dan sistem distribusi air. Selain pertemuan rutin juga dilakukan perbaikan pompa hydram oleh masyarakat Dusun Sombron dengan kelompok pengelola air sebagai inisiasinya.

Stategi lainnya yang dilakukan Yayasan Nawakamal adalah community organizing. Dengan strategi ini Yayasan Nawakamal mendorong tindak kolektif masyarakat Dusun Sombron dalam hal pembuatan pompa hydram, perbaikan pompa hydram, serta pembuatan rumah belajar. Dengan digunakannya strategi ini maka dapat menumbuhkan sense of community dari masyarakat Dusun Sombron, dengan begitu masalah yang ada di desa tersebut dapat terselesaikan, yaitu masalah sulitnya mendapatkan akses air bersih, serta masalah ekonomi yang ada, sehingga mencapai tujuan bersama yaitu kehidupan masyarakat yang sejahtera dan lebih baik. Strategi yang digunakan Yayasan Nawakamal dalam mendorong tindak kolektif masyarakat adalah dengan melalui organisasi atau kelompok yang telah dibuat sebelumnya.

Yayasan Nawakamal juga melakukan strategi organizational collaboration, dimana dalam program Pengembangan Tata Kelola Sosial Ekonomi Masyarakat Dusun Sombron ini terdapat kolabrorasi antara Yayasan Nawakamal dan Coca Cola Foundation Indonesia. Kerjasama ini dilakukan dalam hal pendanaan. Selain itu Coca Cola Foundation Indonesia juga melakukan evaluasi keberjalanan program ini, karena CCFI berharap dengan bantuan dana dari mereka maka program ini akan tercapai tujuan menurut indikator indikator yang mereka miliki.

VII. Outcome dari Program Pengembangan Tata Kelola Sosial Ekonomi Masyarakat Dusun Sombron Outcome atau yang didapatkan oleh sasaran utama program pengembangan komunitas (masyarakat Dusun Sombron) ini antara lain adalah economic well-being dan better service. Economic well-being menjadi outcome dari program ini karena dengan adanya program ini masyarakat bisa

meningkatkan pendapatan mereka dan membantu mereka menjadi lebih sejahtera dengan cara mendistribusikan dan menjual pupuk dan biogas buatan mereka sendiri yang menggunakan teknologi biodigester dan pengolahan kotoran ternak melalui proses composting menggunakan cacing (kascing). Sasaran penjualannya selain antar warga di Dusun Sombron sendiri, sekarang sudah mulai merambahi di daerah sekitar Dusun Sombron. Selain itu, dengan adanya produksi biogas secara mandiri, masyarakat dapat mengehemat disis ekonomi karena tidak perlu lagi menggunakan gas LPG sebagai sumber bahan bakar utama untuk memasak dalam rumah tangga. Selain itu, karena jumlah sapi ternak terus bertambah dari 40 ekor menjadi 80 ekor, beberapa sapi dijual untuk perayaan idul adha dan menambah pendapatan masyarakat.

Tim Nawakamal selaku fasilitator dari pelaksanaan program ini juga menemukan fakta bahwa debit air di sumber mata air kembang mengalami kenaikan setelah dibangunnya telaga buatan untuk menjadi sumber untuk pompa hydramp. Walau pompa tersebut belum beroperasi karena mengalami kerusakan, masyarakat Dusun Sombron terpacu untuk memanfaatkan debit air yang tinggi untuk mengembangkan usaha ekonomi berupa budidaya ikan dengan membuat kolam-kolam ikan yang terletak di sekitar area sumber mata air kembang. Hal ini jelas membantu masyarakat untuk meningkatkan pendapatan mereka dengan membuat usaha perekonomian.

Better service menjadi outcome karena masyarakat Dusun Sombron dapat dengan mudah mengakses air bersih dengan pengadaan sarana distribusi air berupa bak distribusi yang diinstalasi di tiap RT. Warga mulai membeli selang air untuk mengalirkan air dari bak distribusi menuju ke rumahnya. Dengan adanya sarana distribusi air ini, adanya organisasi pengelola air dengan pengurus dengan tugas yang cukup jelas amat membantu dalam hal pengelolaan dan penambahan jumlah penerima manfaat air serta memaksimalkan bak distribusi yang sudah terpasang sehingga air yang diperoleh dapat tersebar merata ke seluruh titik. Selain itu, masyarakat Dusun Sombron juga memiliki akses mudah untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan dengan adanya program rumah belajar yang diselenggarakan Tim Nawakamal dan dikelola oleh kaum muda. Dengan adanya rumah belajar, masyarakat dapat meminjam buku, belajar komputer, serta mengerjakan berbagai tugas sekolah dan berdiskusi mengenai informasi-informasi yang sedang merebak. Rumah belajar juga mendorong masyarakat untuk melakukan usaha ekonomi untuk mendukung keberlangsungan dan keberlanjutan dari rumah belajar ini yaitu dengan cara melakukan usaha budidaya jamur. Kegiatan budidaya jamur ini memberikan laba 60% kepada warga Dusun Sombron dan 40% untuk penambahan bibit jamur dan mendukung aktivitas rumah belajar.

VIII. Kritik Secara keseluruhan, capaian yang telah dirumuskan sebelumnya oleh pelaksana program tercapai seluruhnya per bulan Mei 2011, yaitu meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap air bersih, pengorganisasian pengelola instalasi air, meningkatkan kapasitas masyarakat terhadap informasi dan pengetahuan, serta meningkatkan kapasitas masyarakat dalam usaha perekonomian. Namun, pelaksanaan kegiatan ini tidak berlangsung lancar mengikuti dinamika yang terjadi di dalam masyarakat, meskipun jadwal telah disusun bersama dan telah disepakati dalam berbagai forum pertemuan. Seiring berjalannya waktu, beberapa program mengalami perubahan dimana perubahan tersebut disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi baik di dalam masyarakat maupun perubahan yang terjadi diluar masyarakat.

Salah satu contohnya adalah dilihat dari fakta di lapangan serta berdasarkan hasil dari evaluasi partisipatif yang dilaksanakan, dapat dikatakan bahwa secara teknis kegiatan ini belum mencapai tujuan yang diharapkan. Terlihat dari fakta yang ada bahwa sampai saat ini, dari 6 unit pompa hydramp yang terpasang, hanya 1 unit pompa yang berfungsi. Karena hanya 1 unit pompa yang berfungsi, dan jika difungsikan akan mendapatkan beban yang besar, maka pompa yang ada sampai saat ini belum dioperasikan kembali. Sehingga, capaian aksesibilitas air yang membutuhkan pompa hydramp dan bak distribusi hanya bisa dipenuhi oleh penggunaan bak. Namun, warga Dusun Sombron ternyata telah memiliki semangat dan niat yang cukup untuk mendapatkan akses air sehingga mereka berinisiatif untuk memperbaiki pompa secara bertahap dengan didampingi oleh Tim Nawakamal.

Selain itu, ada juga kegiatan-kegiatan yang tidak terlaksana, seperti training motivasi inovasi bagi pengurus organisasi pengelola sumberdaya serta pelatihan fasilitator masyarakat akibat kesulitan dalam manajemen waktu dan tidak adanya jadwal pelaksanaan training fasilitator masyarakat dari lembaga yang melayani dalam kurun waktu pelaksanaan kegiatan, baik dari Yayasan Satunama maupun Yayasan Indonesia Sejahtera serta tidak adanya fasilitator/trainer yang memiliki keahlian seperti yang diharapkan

Menurut penelitian dan disampaikan dalam artikel berjudul Community-Based and Driven Development: A Critical Review oleh Ghazala Mansuri dan Vijayendra Rao, pengembangan komunitas yang baik adalah pengembangan komunitas yang tepat sasaran, yakni masyarakat yang membutuhkan. Bukan hanya membangun infrastruktur saja, namun menambah kapasitas dari masyarakat desa tersebut agar dapat mengelola dan membuat pembangunan yang terjadi menjadi berkelanjutan. Pengembangan komunitas yang baik juga tidak boleh didominasi oleh pihak eksternal

seperti fasilitator, sponsor, maupun pemerintah dan pihak-pihak lainnya, karena tidak akan menimbulkan rasa kepemimpinan serta inisiatif dari masyarakat yang menjadi sasaran. Dalam kasus pengembangan komunitas di Dusun Sombron ini, masyarakat telah mendapatkan peningkatan kapasitas, terbukti dengan kemampuan masyarakat untuk membuat dan membetulkan pompa hydram untuk akses air bersih, mengolah kotoran ternak menjadi pupuk dan biogas yang dapat bermanfaat bagi keadaan ekonomi mereka, serta mendapat pengetahuan dari program rumah belajar yang diselenggarakan oleh fasilitator namun dikelola oleh kaum pemuda. Namun, masyarakat pada Dusun Sombron tidak mendapatkan outcome yang cukup penting berupa influence on decision making atau pengaruh masyarakat tersebut dalam pengambilan keputusan. Hampir seluruh kegiatan yang dilakukan dipimpin oleh fasilitator dari yayasan. Hal ini membuat sense of leadership masyarakat tidak berkembang. Apabila sense of leadership dari masyarakat tidak berkembang, dikhawatirkan apabila program telah berhenti maka tidak akan ada keberlanjutan dari program karena dari masyarakat tidak ada yang berinisiatif untuk mempimpin pembangunan infrastruktur lainnya dan mengelola infrastruktur yang sudah ada. Hal ini dapat diantisipasi dengan pelaksanaan program pelatihan fasilitator masyarakat yang belum dilaksanakan karena tidak mendapatkan jadwal dari trainer. Apabila program ini dilaksanakan, diharapkan masyarakat dapat menjadi fasilitator bagi dirinya sendiri dan dapat mendukung keberlanjutan dari program ini.

IX. Kesimpulan Program Pengembangan Tata Kelola Sosial Ekonomi Masyarakat Dusun Sombron diadakan di Dusun Sombron, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Program tersebut diadakan karena masyarakat di dusun tersebut kesulitan medapatkan akses ke air bersih. Kekurangan air bersih ini diakibatkan oleh perubahan sistem pertanian yang semula multikultur menjadi monokultur. Pada awalnya masyarakat sudah berinisiatif membuat bak penampungan air. Namun hal tersbut dirasa tidak efektif oleh Yayasan Nawakamal, sebuah yayasan yang terletak di Yogyakarta, karena masyarakat tetap harus berjalan jauh menaiki bukit untuk mendapatkan air. Yayasan Nawakamal bekerja sama dengan Coca Cola Foundation Indonesia membuat pompa air dengan menggunakan sistem gravitasi, yang dikenal dengan pompa hydram. Yayasan Nawakamal dan CCFI tidak hanya membuat pompa air yang dapat menyalurkan air ke rumah warga tetapi juga membuat program yang meningkatkan ekonomi dan meningkatkan informasi yang diperoleholeh masyarakat Dusun Sombron.

Pengembangan komunitas ini difokuskan dalam tiga dimensi, yaitu dimensi sosial, ekonomi, dan fisik. Dimensi sosial ini dapat dilihat dari partisipasi masyarakat Dusun Sombron dalam program ini untuk meningkatkan kapasitas mereka sendiri. Dimensi ekonomi dapat dilihat dari masyarakat yang akhirnya mampu menemukan ide untuk memaksimalkan berbagai hal agar menghasilkan

keuntungan yang lebih optimal daripada sebelumnya. Dimensi fisik dapat dilihat dari terbangunnya pompa air yang mampu menyalurkan air bersih dari mata air ke rumah warga dan rumah belajar yang mampu memberikan informasi dan ilmu pengetahuan kepada masyarakat Dusun Sombron.

Peran para aktor dalam pengembangan komunitas ini dapat dibagi tiga, yaitu individu, social, dan network. Yang dimaksud individu di sini adalah masyarakat Dusun Sombron yang sudah mulai berinisiatif membuat bendungan untuk air yang mengalir dari sumber mata air. Social di sini adalah Yayasan Nawakamal dan masyarakat di Dusun Sombron yang memiliki tujuan yang sama untuk menaikkan taraf kehidupan masyarakat di dusun tersebut dengan melakukan pertemuanpertemuan. Sedangkan network di sini ada 2, yaitu saat program dilaksanakan dan saat program selesai dilaksanakan. Saat program dilaksanaka network yang terjadi adalah antara Yayasan

Nawakamal dengan Coca Cola Foundation Indonesia. Sedangkan setelah program selesai, network yang terjadi adalah antara masyarakat Dusun Sombron dengan tempat pendistribusian produk yang dihasilkan oleh dusun tersebut, yaitu pupuk cair.

Fungsi yang dijalankan pada program Pengembangan Tata Kelola Sosial Ekonomi Masyarakat Dusun Sombron ini adalah production of good and service. Setelah diadakannya program ini, masyarakat Dusun Sombron mampu menghasilkan beberapa barang, seperti pada kegiatan ternak kelompok dan biodigester ternak sapi. Masyarakat mampu mengahsilkan gas yang dapat menghemat LPJ yang mereka gunakan. Mereka juga mampu memproduksi pupuk cair yang kemudian mereka pasarkan ke daah lain. Mereka tidak hanya mampu menghasilka produk yang dapat mereka jual, mereka juga mendapatkan pelayanan air bersih yang lebih baik dan mendapatkan ilmu pengetahuan dengan lebih mudah karena terbangunnya rumah belajar.

Strategi strategi yang dilakukan Yayasan Nawakamal dalam melakukan pengembangan komunitas ini adalah organizational development, community organizing dan organizational collaboration. Pada strategi organizational development, Yayasan Nawakamal membuat kelompok kelompok di masyarakat sesuai dengan kegiatan yang dilakukan pada program ini, yaitu kelompok kandang, kelompok pengelola air dan kelompok pengelola belajar. Kegiatan kegiatan yang dilakukan kelompok ini adalah pertemuan pertemuan rutin yang membahas mengenai pengelolaan, pemeliharaan, mekanisme dan sistem distribusi air. Stategi lainnya yang dilakukan Yayasan Nawakamal adalah community organizing. Yayasan Nawakamal mendorong tindak kolektif masyarakat Dusun Sombron. Dengan digunakannya strategi ini maka dapat menumbuhkan sense of community dari masyarakat Dusun Sombron. Strategi organizational collaboration, dimana dalam

program Pengembangan Tata Kelola Sosial Ekonomi Masyarakat Dusun Sombron ini terdapat kolabrorasi antara Yayasan Nawakamal dan Coca Cola Foundation Indonesia dalam hal pendanaan.

Outcome yang dihasilkan setelah diadakannya program ini yaitu economic well-being dan better service. Setelah ada program ini ekonomi masyarakat Dusun Sombron menjadi meningkat karena mereka mampu memproduksi barang yang dapat mereka jual ke tempat lain berupa pupuk cair dan biogas. Masyarakat Dusun Sombron juga mendapatkan pelayanan yang lebih baik dalam hal pendistribusian air bersih. Saat ini masyarakat tidak perlu berjalan jauh utnutk mendapatkan air bersih. Mereka juga mendapatkan lebih banyak informasi setelah dibangunnya rumah belajar di dusun tersebut.

Walaupun fasilitator dari program ini dan masyarakat Dusun Sombron serig mengadakan pertemuan guna membahas waktu pelaksanaan berbagai program, masih terdapat program ataupun kegiatan yang dilaksanakan tidak tepat waktu. Masih terdapat pula hasil kegiatan ataupun program yang tidak maksimal. Pompa hydram yang aktif belum mampu melayani seluruh rumah yang ada di dusun tersebut. Walaupun sudah tedapat outcone yang meningkatkan taraf kehidupan masyarakat di dusun tersebut, pengembangan komunitas ini dirasa belum cukup baik karena tidak mampu membuat masyarakat memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri karena pengembangan komunitas ini dilakukan oleh fasilitator. Sense of leadership yang kurang di dusun ini ditakutkan akan menjadi penyebab masyarakat yang nantinya tidak mampu mebangun sendiri infrastruktur ataupun mengelola hasil dari pengembangan komunitas ini. Fasilitator diharapkan memberi pelatihan lebih lanjut untuk masyarakat Dusun Sombron agar mereka benar-bensr mampu mandiri dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi.

REFERENSI Chaskin, Robert J. 2001. Building Community Capacity. Chicago: Aldine Nawakamal Foundation. 2011. Integrated Socio Economic Development in Dusun Sombron. Yogyakarta: Nawakamal Foundation. Mansuri, Ghazala and Rao, Vijayendra. 2007. Community-Based and Driven Development: A Critical Review. The World Bank Research Observer, Vol. 19, No. 1. Anonim. 2009. Pompa Dedemit di Bukit Blomdo. http://kesehatan.kompas.com/read/2009/07/19/09333113/pompa.dedemit.di.bukit.blondo . Diakses pada tanggal 18 April 2012. http://nawakamalfoundation.wordpress.com/2011/11/30/two-member-of-sombron-cbovisit-nawakamal-office-30-november-2011/. Diakses pada tanggal 18 April 2012. http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=3&id=14742. Diakses pada tanggal 19 April 2012.