Anda di halaman 1dari 216

KEBIJAKAN ALOKASI DANA DESA (ADD) DIKABUPATEN

SUMBAWA BARAT
ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN

Penulis

Syahrul Mustofa, S.H.,MH

Dipublikasikan Oleh :

Lembaga Penelitian Dan Advokasi Masyarakat Desa (Legitimid)


Office : Jl. Lingkar Selatan, RT 07 Desa Sekongkang Atas Kecamatan Sekongkang Kabupaten Sumbawa Barat-NTB 84355 Email : legitimid_sumbawabarat@yahoo.com /syahrulmustofa@yahoo.com
(Kontak : 085253830001) Atas Dukungan Kerjasama

The Asia Foundation & Pemda KSB


Tahun 2010

Legitimid KSB __________________________________________________________________________1

RINGKASAN
Kabupaten Sumbawa Barat adalah Kabupaten pertama yang menetapkan adanya Alokasi Dana Desa, dimulai sejak tahun 2006. Pada tahun 2009 Pemerintah Daerah telah menetapkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2009 tentang Penetapan Alokasi Dana Desa. Proses iniasi kebijakan tersebut merupakan proses yang panjang, muncul pro dan kontra dari berbagai kalangan. Pelaksanaan ADD telah berjalan 5 tahun. Selama 5 tahun tersebut muncul pertanyaan, apakah kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa telah meningkat?. Apakah kebijakan dan implementasi kebijakan ADD sudah sejalan dengan semangat dan tujuan ADD serta berjalan sesuai dengan koridor hukum yang telah ditetapkan? Bagaimanakah pengelolaan ADD di desa? Apa faktor-faktor pendorong dan penghambat pengelolaan ADD? Bagaimanakah kecendrungankecendrungan yang muncul dalam pengalokasikan ADD selama kurun waktu lima tahun? Penelitian ini berusaha untuk menjawab pertanyaan diatas dengan melakukan pengumpulan data-data kuantitatif maupun kualitatif, dilakukan evaluasi atas implementasi kebijakan ADD yang dilakukan secara partisipatif, dengan metode Tehknologi of partisipatoris (TOP), RRA, dan metode partisipatif lainnya. Seluruh data-data kuantitatif dikumpulkan, diolah dan dianalisis serta dalam proses pengembangan analisis dilakukan dengan cara melibatkan para stakeholders para pemegang kebijakan serta kelompok masyarakat sipil yang mengetahui dan selama ini peduli terhadap tatakelola pengelolaan ADD Desa. Hasil studi ini selain memberikan gambaran mengenai perjalanan pelaksanaan ADD di Kabupaten Sumbawa Barat selama lima tahun juga memerbikan gambaran secara lengkap mengenai data-data dan informasi secara menyeluruh atas penetapan kebijakan ADD di KSB selama ini, serta perkembangan dan kecendrungan yang muncul, distribusi pemanfaatan maupun peta alokasi ADD pada masing-masing kecamatan dan desa dipotret secara keseluruhan terhadap desa yang ada di Kabupaten Sumbawa barat. Sedangkan mengenai gambaran secara mendalam bagaimana desa mengelola ADD dan keuangan desa selama ini kajian memfokuskan pada ADD dan pengelolaan keuangan desa dalam APBDesa Tahun 2009 karena tahun 2009 merupakan ADD tertinggi selama kurun waktu 5 tahun, sehingga cukup tepat jika dijadikan sebagai entry point untuk melihat bagaimana keuangan desa, khususnya terkait dengan pendapatan desa dari ADD dan pendapatan lainnya serta bagaimana desa membelanjakan uangnya selama ini. Manfaat dari studi ini selain sebagai bahan untuk perbaikan kebijakan dan penyusunan agenda program pengembangan ADD di KSB bagi para pemegang kebijakan, diharapkan pula dapat mendukung upaya masyarakat sipil dalam melakukan intervensi dalam pengelolaan ADD. Bagi Pemerintahan desa diharapkan hasil studi ini dapat menjadi otokritik sekaligus referensi untuk perbaikan pengelolaan ADD di masa mendatang.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________2

KATA PENGANTAR

Program Civil Society Inisiatif Againts Poverty (CSIAP) di Kabupaten Sumbawa Barat-NTB adalah sebuah program yang berusaha untuk mengentaskan kemiskinan di daerah. Salah satu agenda kegiatan pada Tahun ke II program CSIAP II adalah mendorong kebijakan dan pengembangan pengelolaan ADD yang pro-poor. LEGITIMID sebagai Mitra The Asia Foundation telah melaksanakan evaluasi pelaksanaan pengelolaan ADD di KSB selama kurun waktu 5 Tahun dan telah melakukan kajian di 20 desa mengenai bagaimana pengelolaan ADD berlangsung. Hasil studi ini telah dipresentasikan dihadapan Pemerintah Daerah (para pemagang kebijakan) Pada bulan September 2010 dan telah memperoleh feedback dari para stakeholders di daerah. Dalam buku ini memberikan gambaran tentang trend kebijakan dan perkembangan ADD, proporsi keberpihakan ADD dimasing-masing desa, permasalahan dan tantangan Pengelolaan ADD. Dari hasil studi ini, kami berharap dapat bermanfaat bagi Pemerintah Daerah, Para Pegiat Advokasi ADD/Kebijakan, Akademisi, Pemerintah Desa, dan para stakeholder lainnya. Kami ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada : 1. Alam Surya, Hanna Satrio, Hari Kusdaryanto, dan rekan-rekan dari The Asia Foundation dan DFID 2. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Ir.H. Amri Rahman, Msi serta seluruh jajaran Bappeda KSB yang telah membantu memberikan ketersediaan data dan informasi, serta para Kepala Desa dan BPD serta Toga, Toma dan Topa dari seluruh Desa di KSB serta Para narasumber, yang telah banyak membantu selama proses penelitian hingga akhir studi ini. 3. Seluruh rekan-rekan pekerja Program CSIAP II-TAF di seluruh Indonesia yang juga telah banyak memberikan masukan, saran dan kritik untuk penyempurnaan hasil kajian ini, khususnya rekan-rekan jaringan NTB (DPA NTB, Lensa, LSBH, Somasi, dan YPKM), serta teman-teman dari Lembaga Bantuan Hukum Nusa Tenggara Barat (LBH-NTB)

kami menyadari dengan sepenuhnya bahwa substansi hasil kajian ini masih jauh dari yang diharapkan, karenanya kritik dan saran demi kesempurnaan kajian ini sangat diharapkan. Semoga setitik karya ini dapat bermanfaat. KSB, September 2010 Team Pengkaji/Peneliti LEGITIMID KSB

Legitimid KSB __________________________________________________________________________3

BAB I PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang Kelahiran UU No.32/2004 yang kemudian diperkuat dengan PP.72/2005 memberikan kepastian hukum terhadap perimbangan keuangan desa dan kabupaten/kota. Berdasarkan PP. 72/2005 pasal 68 ayat 1 huruf c, desa memperoleh jatah Alokasi Dana Desa (ADD). ADD yang diberikan ke desa merupakan hak desa. Sebelumnya, desa tidak memperoleh kejelasan anggaran untuk mengelola pembangunan, pemerintahan dan sosial kemasyarakatan desa. Saat ini, melalui ADD desa berpeluang untuk mengelola pembangunan, pemerintahan dan sosial kemasyarakatan desa secara otonom. Menteri Dalam Negeri tertanggal 17 Agustus 2006 mengeluarkan Surat Kawat bernomor 140/1841/SJ yang ditujukan kepada Gubernur dan Bupati/Walikota di seluruh Indonesia untuk segera merealisasikan ADD, terutama kepada kabupaten/kota yang sama sekali belum melaksanakan ADD. Dalam Surat Kawat tersebut, Menteri Dalam Negeri dengan jelas menyebutkan bahwa percepatan ADD dilakukan untuk mendukung peningkatan kinerja pemerintahan desa. Pengelolaan keuangan dan ekonomi desa yang senantiasa

berorientasi pada pemerataan pembangunan dalam memenuhi prinsipprinsip demokrasi, keadilan, dan akuntabilitas tidaklah mudah. Sekalipun demikian, dengan tersusunnya formula ADD, misalnya, maka pembangunan di setiap desa ke depan diharapkan berimplikasi penting terhadap beberapa hal, yaitu: (a) terwujudnya hubungan pemerintahan yang lebih harmonis antara Pemerintah Kabupaten dengan Pemerintah desa (terutama dalam kaitannya dengan pembagian kewenangan); (b) terjaminnya kepastian sumber-sumber pendanaan untuk pembangunan desa yang bertanggungjawab; dan (c) terjaminnya kepastian pembangunan desa secara mandiri dan dapat dipertanggungjawabkan. Tiga implikasi tersebut di atas selanjutnya diperkirakan akan dapat memacu peningkatan kinerja pembangunan pemerintah kabupaten dan pemerintah desa, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan

Legitimid KSB __________________________________________________________________________4

partisipasi

mereka

dalam

pembangunan.

Ke

depan,

dampak

yang

diharapkan, adalah: (a) frekuensi dan beban tuntutan pemerintah desa kepada pemerintah kabupaten tentang alokasi dana pembangunan desa semakin berkurang, (b) intensitas kegiatan ekonomi produktif masyarakat desa (terciptanya multiplier effect) meningkat bersamaan dengan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan, yang antara lain diwujudkan melalui pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), retribusi, dan pajak lainnya. Dalam konteks penyelenggaraan pembangunan ekonomi di tingkat desa, pengalaman menunjukkan bahwa partisipasi multi-sta/certo/der telah mengalami fase yang stagnan. Hal ini tampak erat hubungan dengan "good will maupun political will". Selama ini, pembangunan dimensi sosial, ekonomi, dan politik yang terangkai dalam bingkai relasi sosial, menjadi sebuah rutinitas yang dijalankan oleh Pemerintah Desa dengan sangat minimnya dukungan partisipasi publik (terutama anggota masyarakat lokal). Dalam kacamata makro, kondisi ini belum menawarkan suatu relasi kohesifitas yang erat antara masyarakat dan Pemerintah Desa maupun Pemerintah Kabupaten. Secara lebih mendalam, partisipasi masyarakat luas di era desentralisasi merupakan unsur mutlak bagi pelaksanaan pembangunan desa. Rakyat mestinya tidak lagi ditempatkan dalam posisi sebagai obyek pembangunan, namun sebagai subyek yang secara aktif turut merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi pembangunan, disamping menikmati hasilnya. Konsekuensinya, sekali lagi, masih diperlukan adanya political will dari pengambil kebijakan (pemerintah) yang sesuai dengan misi perubahan yang demikian pesat. Sehubungan dengan itu, ketika perubahan yang dimaksud dimaknai secara positif, maka harus diimbangi pula dengan perubahan dalam tata kelola pemerintahan lokal yang baik (good local governance) - dalam konteks desa - yang lebih demokratis, transparan dan akuntabel. "Ketergantungan" pemerintah desa kepada pemerintah kabupaten yang demikian mengakar, telah membentuk suatu budaya ketergantungan struktural, sehingga potensi-potensi ekonomi daerah tidak sepenuhnya dapat dikenali, sehingga tidak termanfaatkan secara optimal. Bahkan, sebagai

Legitimid KSB __________________________________________________________________________5

akibat sentralisasi perencanaan pembangunan oleh pusat, seringkali kesulitan dalam melakukan "distribusi" sumberdaya secara adil dan merata. 1.2. Tujuan dan Ruang lingkup Kajian Tujuan kajian Evaluasi Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) di Kabupaten Sumbawa Barat adalah pertama, mengetahui dinamika, perkembangan dan trend kebijakan Alokasi Dana Desa di Kabupaten Sumbawa Barat selama kurun waktu lima tahun serta pengelolaan ADD di masing-masing desa. Kedua, sebagai bahan untuk mendorong adanya perubahan kebijakan di daerah sekaligus bahan evaluasi, refleksi dan referensi untuk pengembangan kebijakan dan pengelolaan ADD bagi para stakeholders di daerah. Ruang lingkup kajian meliputi ; Pertama, Dinamika inisiasi dan perkembangan kebijakan ADD ; ide/gagasan, perjalanan dan tantangan pelaksanaan kebijakan. Kedua, proporsi keberpihakan ADD selama kurun waktu lima tahun serta perkembangannya di masing-masing kecamatan dan desa. Ketiga, pengelolaan keuangan desa (ADD) serta arah keberpihakan desa dalam mengalokasikan ADD bagi warga miskin. Keempat, rekomendasi perbaikan kebijakan ADD di KSB di masa mendatang. 1.4. Metode Penyusunan dan Sistematika Penyusunan Sistematika Penulisan Penyusunan Kajian Pelayanan Publik di Bidang Pemerintahan Evaluasi Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) di Kabupaten Sumbawa Barat adalah sebagai berikut : Cover Daftar Isi Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Lampiran PENDAHULUAN

BAB I

1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan 1.3. Ruang Lingkup dan Sumber Dana

Legitimid KSB __________________________________________________________________________6

1.4. Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) di Kabupaten Sumbawa Barat 1.2. Landasan Teori BAB III METODOLOGI

1.1. Hasil Kajian Pelayanan Publik di Bidang Pemerintahan Evaluasi

1.1. Desaign Penelitian 1.2. Lokasi dan Subyek Penelitian 1.3. Metode Pengumpulan Data 1.4 Metode Analisis Data BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1.1. Hasil Penelitian 1.2. Pembahasan BAB V PENUTUP

1.1. Kesimpulan 1.2. Rekomendasi Daftar Pustaka Lampiran-lampiran

Legitimid KSB __________________________________________________________________________7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penelitian Terdahulu Yayasan Serikat Serikat Tani Pembangunan (YSTP) telah melakukan penelitian t pada tahun (2006) dan 2007 untuk melihat implementasi pengelolaan ADD Tahun 2006 dan 2007 di Kabupaten Sumbawa Barat. Penelitian ini menemukan bahwa penyusunan kebijakan ADD di Kabupaten Sumbawa Barat tidak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun2005 tentang Desa dan Surat Edaran Mendagri No. 140/640/SJ tentang Pedoman Alokasi Dana Desa (ADD). Penyusunan kebijakan ADD di Kabupaten Sumbawa Barat masih menggunakan beberapa produk hukum Kabupaten Sumbawa Tahun 2001. Penggunaan dasar hukum yang bersumber dari Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa (Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Nomor 6 Tahun 2001 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa; Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Nomor 8 Tahun 2001 tentang Kedudukan Keuangan Kepala Desa dan Perangkat Desa; dan Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Nomor 9 Tahun 2001 tentang Sumber-Sumber Pendapatan Desa) dalam penetapan kebijakan ADD tidak relevan karena sesungguhnya Kabupaten Sumbawa Barat telah menjadi daerah yang otonom termasuk dalam menyusun peraturan daerah sejenis yang dirujuknya. Selain itu, dasar hukum penyusunan kebijakan ADD yang bersumber dari peraturan daerah Kabupaten Sumbawa masih didasarkan pada Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 yang telah direvisi dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor 32 tentang Pemerintahan Daerah. Fenomena ini menunjukkan bahwa aparatur Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat tidak mempunyai kapasitas yang cukup dan telah berlaku lalai dalam menyusun kebijakan ADD. Penetapan regulasi penyelenggaraan ADD di Sumbawa Barat dengan

Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 219 Tahun 2006 tentang Penetapan Alokasi Dana Bantuan Kepada Desa masih kurang strategis. Status hukum surat keputusan sewaktu-waktu dapat berubah tergantung pada selera bupati dan elit kabupaten lainnya. Ini tidak sejalan dengan ketentuan dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 140/640/SJ tertanggal 22 Maret 2005 Tentang
Legitimid KSB __________________________________________________________________________8

Pedoman Alokasi Dana Desa (ADD) yang menegaskan bahwa pengaturan ADD dilakukan setidak-tidaknya melalui peraturan bupati/walikota. Pemikiran untuk memperkuat status hukum ADD dengan peraturan daerah sebenarnya sudah ada yang dapat ditemukan dalam dokumen RPJM Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2006-2010 yang menyebutkan bahwa salah satu kegiatan dalam Program SKPD bidang Pemerintahan dan Pelayanan Umum adalah Program Pembuatan Peraturan Daerah (Perda), Keputusan Bupati dan Peraturan Lainnnya. Salah satu kegiatan yang direncanakan dalam bidang ini adalah Pembuatan Perda tentang dana abadi desa. Pemerintah kabupaten Sumbawa Barat belum mempunyai rumusan yang jelas tentang penetapan besarnya ADD proporsional untuk setiap desa. Sehingga ADD setiap desa dilakukan penyeragaman dan tidak memenuhi asas keadilan anggaran. Dalam hal kelembagaan ADD di Sumbawa Barat belum menyentuh aspek tata kerja pengelolaan. Pemanfaatan ADD di Sumbawa Barat diperuntukkan untuk 3 jenis bantuan, meliputi: a. Dana Abadi Desa (DAD); b. ADD Rutin (ADDr) yang terdiri dari TPAPD, Biaya Operasional dan Biaya Barang; c. ADD Pembangunan (ADDp) yang merupakan biaya pembangunan fisik untuk prasarana Pemerintahan Desa, Prasarana Produksi, Prasarana Sosial, Prasarana Pemasaran, Prasarana Perhubungan dan pembangunan Lain-lain. Pengelolaan DAD sebagai salah satu komponen bantuan ADD yang telah diputuskan dikelola oleh KJKS tidak sejalan dengan ketentuan hukum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa khususnya Pasal 68 ayat (2) dan (3) dan berarti Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat telah merenggut wewenang desa dalam mengelola ADD sebagai salah satu sumber Anggaran pendapatan dan belanja Desa (APBDes). Selain itu wewenang desa untuk mentukan secara mandiri mitra kerjanya dalam mengelola Dana Abadi Desa telah dipangkas. Ini merupkan bentuk pemaksaan kepada desa yang berbenturan dengan ide dasar otonomi desa dalam hal desentralisasi fiskal dan desentralisasi ekonomi desa. Penyaluran keseluruhan ADD di Sumbawa Barat dilakukan melalui rekening desa yang terdaftar di PT. Bank NTB sudah berjalan sesuai dengan ketentuan peraturan yang ada. Mekanisme penyaluran secara teknis yang menyangkut penyimpanan, nomor rekening, tranfer, Surat Permintaan

Legitimid KSB __________________________________________________________________________9

Pembayaran, mekanisme pengajuan dan lain-lain di Sumbawa Barat telah berjalan baik dan sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Pengawasan terhadap ADD beserta kegiatan pelaksanaanya belum dilakukan secara fungsional oleh pejabat yang berwenang dan oleh masyarakat sehingga belum mampu mewujudkan akuntabilitas publik. Pengelolaan ADD belum dapat diakses dan dikomunikasikan secara vertikal maupun horizontal dengan baik. Monitoring pengelolaan ADD belum dilakukan secara maksimal dengan melibatkan partisipasi masyarakat. 2.2. Landasan Teori 2.2.1. Demokrasi Modern, Lokal dan Desa Demokrasi modern berkembang seiring terbentuknya negara modern setelah diterimanya Perdamaian Westphalia tahun 1648.1 Demokrasi modern lahir sebagai reaksi atas kekuasaan raja yang absolut, raja sebagai representasi negara cenderung bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Kehadiran kelas menengah serta meningkatnya kesadaran rakyat, mendorong kritik atas kekuasaan raja yang absolut selama ini. Rakyat mulai berani menunjukkan sikap berlawanan dengan kekuasaan raja yang yang dianggap tidak sah dan penuh dengan manipulasi. Sebab, rakyat merasakan adanya hak mereka sebagai manusia yang tidak dilaksanakan oleh raja, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan mereka. Rakyat menuntut agar kekuasaan raja menjalankan negara itu dibatasi, dengan cara melibatkan masyarakat dalam menyelenggarakan kekuasaan negara. Rakyat beranggapan kekuasaan negara yang dilaksanakan itu, seharusnya berada di tangan rakyat dan bukannya di tangan raja yang cenderung menyalahgunakan untuk kepentingannya sendiri. Munculnya kesadaran rakyat ini mencetuskan lahirnya revolusi Perancis tahun 1789. Dari segi konsep, demokrasi modern dan demokrasi lokal tidak jauh berbeda. Keduanya sama-sama mempunyai pengertian pemerintahan dari rakyat (demos-cratos/cratein), perbedaanya lebih terletak pada waktu, jika demokrasi modern merujuk kepada waktu pelaksanaan terutama sejak lahirnya

1 Sebelum terjadinya Perdamaian Westphalia berlaku perang selama 30 tahun yang terkait dengan munculnya isu-isu agama. Perang ini termasuk sejarah perang yang paling buruk berlaku dan dianggap telah menghancurkan peradaban manusia yang melibatkan Kerajaan Suci Roma dengan raja Perancis beserta sekutu-sekutunya. Untuk keterangan lanjut lihat Shimko (2005).

Legitimid KSB __________________________________________________________________________10

revolusi Perancis, maka demokrasi lokal terkait dengan cakupan atau batas pelaksanaannnya. Praktik demokrasi lokal yang dilaksanakan sekarang ini adalah bentuk penyelenggaraan demokrasi modern yang memperluas ruang masyarakat untuk terlibat. Malah masyarakat dapat melaksanakan demokrasi sebagai sebuah proses pengambilan keputusan sesuai dengan kepentingan mereka. Lalu apa yang dimaksud dengan demokrasi lokal itu? Gellner & Hachhethu (2007:14) menjelaskan, demokrasi lokal adalah sebuah proses dan sekaligus sebuah nilai dalam kehidupan sosial masyarakat. Gambaran demokrasi sebagai sebuah proses dan nilai ini sebenarnya bisa dilihat dalam kepemerintahan (governance) yang tidak hanya terkait dengan negara, tetapi juga kewujudan masyarakat lokal. lokal. Bagaimanapun, salah satu aspek penting dalam membahas eksistensi masyarakat lokal ini adalah keberadaan sistem sosiobudaya masyarakat Biasanya pelaksanaan demokrasi lokal ini terkait dengan sistem sosiobudaya ini. Namun, bukanlah hal mudah melaksanakan demokrasi lokal ini karena praktiknya bergantung kepada sikap masyarakat. Artinya, pelaksanaan demokrasi lokal ini dipengaruhi oleh sistem nilai masyarakatnya. Kecenderungan ini digambarkan dalam kajian Almond & Verba tentang The civic culture (1963), yaitu adanya budaya kewargaan (civic culture) dalam mendukung terwujudnya sistem demokrasi yang dilaksanakan di seluruh negara.2 Hasil kajian Almond & Verba ini seolah-olah mengilhami sarjana lain untuk mengetahui lebih jauh hubungan budaya politik dengan demokrasi ini. Misalnya, kajian yang dilakukan oleh Inglehart (1988), Putnam (1993), La Palombara (1993), dan Laitin (1995). Inglehart (1988) menjelaskan kelangsungan proses demokrasi dalam masyarakat dalam jangka panjang dipengaruhi oleh perubahan yang berlangsung dalam budaya masyarakat. Inglehart menulis, these cultural factors have an important bearing on the durability of democracy, which seems to result from a complex interplay of economic, cultural, and institutional factors (1988:1229).

Kajian Almond & Verba (1963) ini berangkat dari pertanyaan, mengapa demokrasi dapat dilaksanakan di sebuah negara, namun ia menemui kegagalan di negara lain? Kajian ini dilakukan di negara yang mereka asumsikan memiliki sistem politik yang demokratis seperti Amerika Serikat dan Inggris, negara dengan sistem politik yang semi-demokratis, yaitu Italia dan Jerman, serta negara dengan sistem politik yang otoriter, yaitu Mexico. Kesimpulan kajian mereka mendapatkan bahwa terlaksananya sistem demokrasi yang baik di Amerika Serikat dan Inggris ini karena didukung oleh budaya politik masyarakatnya yang partisipatif. Sebaliknya, Italia dan Jerman cenderung bersifat semi demokratis karena budaya kewargaannya tidak mencukupi terbentuknya sistem demokrasi yang baik. Mexico sama sekali tidak memiliki civic culture sehingga cenderung otoriter. Jadi, budaya partisipasi ini wujud karena adanya budaya kewargaan (civic culture). Legitimid KSB __________________________________________________________________________11

Putnam (1993) juga menjelaskan budaya masyarakat merupakan faktor yang sangat menentukan kinerja institusi pemerintahan. Menurut Putnam, masyarakat yang memiliki modal sosial (social capital)manifestasi kebajikan warga (civic virtue) yang tinggi dapat membantu terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Modal sosial ini meliputi adanya nilai-nilai saling percaya, toleransi, kerja sama, saling menghormati, dan tanggung jawab bersama sehingga membantu terwujudnya pemerintahan yang lebih demokratis. Pertanyaannya sekarang, bagaimana hubungan modal sosial ini dengan fungsi pemerintahan yang demokratis? Menurut Putnam (1993:175-176), melalui melalui modal sosial, yang merupakan manifestasi budaya kewargaan individuindividu, dapat mendorong mereka terlibat secara bersama mewujudkan pemerintahan yang baik. Malah, dengan terbentuknya infrastruktur yang kuat berdasarkan sikap saling percaya dan rasa tanggung jawab bersama, dapat mendorong terbentuknya kerja sama antara individu-individu masyarakat, dan antara masyarakat dengan pemerintah dalam melaksanakan kebijakan yang ada. Dalam praktiknya, demokrasi lokal yang dilaksanakan dapat menjadi mekanisme penyelesaian konflik yang terjadi dalam masyarakat, terutama yang melibatkan etnik, agama dan kepentingan. Misalnya, dengan menguatkan rasa saling percaya, toleransi, dan kerja sama dan masyarakat, maka ketegangan dalam masyarakat dapat dikurangi. Namun yang terpenting dalam praktik demokrasi lokal itu adalah bagaimana masyarakat bisa mendesain sistem demokrasi (lokal) yang lebih kondusif melalui keberagaman yang masyarakat yang ada (cf. Sisk 2002). Menurut Sisk (2002), demokrasi lokal memiliki ciri-ciri adanya

pemerintahan yang otonom (self-government) dan demokratis, dimana dalam penyelenggaraan pemerintahan tersebut masyarakat mendapatkan hak dan tanggungjawabnya untuk membuat kebijakan untuk diri mereka sendiri. Dengan demikian, akan terjalinlah hubungan yang kuat antara demokrasi lokal dengan pemerintahan lokal. Praktik demokrasi lokal akan memperkuat penyelenggaraan pemerintahan lokal yang efektif, efisien dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Secara teori, pemerintahan yang dekat dengan masyarakat cenderung lebih responsif karena ia dapat memenuhi aspirasi warganya secara langsung (Stoker, 1988; Morphet, 2008). Sejalan dengan itu, Gellner & Hachhethu (2008:15) menjelaskan demokrasi lokal sebagai bentuk penglibatan kelompok sosial yang berbeda dalam struktur politik yang diikuti oleh partisipasi aktif

Legitimid KSB __________________________________________________________________________12

masyarakat dalam tata kelola pemerintahan di tingkat lokal. Menurut mereka, demokrasi memerlukan ruang promosi untuk warganya berpartisipasi. It is local government which is more likely than centralized structures to provide citizens with the opportunity to participate actively and directly in the decisions that affect them closely. Bahkan Sisk (2002:15) juga mengingatkanyang terpenting dalam pelaksanaan demokrasi lokal tersebut adalah munculnya budaya masyarakat setempat yang dapat mendorong mereka terlibat dalam proses politik. Bagaimanakah dengan otonomi dan demokrasi desa? Menurut Suhartono W.Parnoto perkembangan otonomi desa dapai dilihat dari 3 periode perkembangan sejarah desa (Suhartono W. Parnoto ,2000 : 19). Pertama, Kedudukan Desa di Jaman Feodal. Pada masa ini rakyat dibawah sistem feodal, pada dasarnya hanya sebagai hamba sahaya. Posisi yang demikian, berkait erat dengan teori milik raja (voestendomein), dimana dikatakan bahwa raja adalah pemilik tanah seluruh kerajaan, dan dalam pemerintahannya dibantu oleh birokrat yang terdiri dari sentana dan narapraja. Mereka diangkat oleh raja berdasarkan status dan askripsi. Mereka diberi tanah apanege atau tanah lungguh sebagai gaji yang merupakan jasanya3. pada masa feodal, warga desa (petani) tidak cukup memiliki akses terhadap hasil produksi, karena hasil produksi sebagain besar diserahkan pada raja dan pejabat kerajaan. Pada umumnya para petani menyewa tanah dari bangsawan atau raja, mereka bekerja bukan berdasarkan kebutuhan dan selera mereka melainkan atas dasar selera dan kebutuhan raja yang menguasai tanah desa. Dalam hal ini, rakyat harus mempunyai kepatuhan yang tinggi, sebab raja adalah pemilik kehidupan mereka. Agar rakyat bisa patuh ( menuruti apa yang dikehendaki raja) dan tidak memberontak akibat ketidakadilan yang ditanggungnya, Raja membentuk penguasa lokal (elite lokal), sampai ketingkat desa (Kepala desa atau Lurah), berfungsi sebagai organ kontrol untuk mengawasi petani, agar setia dan bersedia membayar pajak. Fungsi Kepala Desa bukan saja pengumpul pajak (tax collector), tetapi juga power holder. Kepala desa berhak mengeluarkan petani dari desa.Kepala Desa berhalk mengeluarkan petani dari desa. Desa merupakan wilayah kekuasaan raja yang berfungsi sebagai : pertama, penyedia kebutuhan material, sebagai penyetor pajak-dari hasil kerja petani. Kedua, sebagai penyedia tenaga kerja dan sekaligus pasukan, bila sewaktu-waktu
3

Tanah untuk gaji Kepala Desa di Lombok dikenal dengan tanah pecatu.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________13

raja membutuhkan. Elite lokal, bukan berfungsi sebagai wahana penyalur kehendak rakyat, sebaliknya menjadi kaki tangan penguasa (raja), yang justru menekan rakyat4. Kedua, di Masa Kolonial. Perkembangan desa dimasa kolonial, tentu saja tidak lepas dari watak kolonial sendiri. Ciri pokok hubungan kolonial pada dasarnya berpangkal pada prinisip dominasi, eksploitasi, diskriminasi dan depedensi. Pokok pikiran yang dibawa oleh penjajah adalah penduduk jajahan, khususnya desa, adalah komunitas yang memiliki watak statis, yang perkembangannya akan sangat tergantung pada adanya intervensi pihak eksternal. Masuknya penguasa kolonial tentu tidak menjadi momentum pembaruan desa, terutama mengangkat tata hidup yang lebih baik, justeru sebaliknya. Dibawah penguasa Vereeninging Oost Indsche Companie (V.O.C) dibungkus dalam bentuk perdagangan. Dalam menjalankan misinya V.O.C.menggunakan strategi menyesuaikan diri atau tidak mengadakan konfrontasi dengan sistem lokal yang ada baik dalam soal perdagangan, maupun pemerintahan. Akar feodal dalam masyarakat (lokal), dimanfaatkan sebaik mungkin oleh V.O.C, dengan menjalin hubungan harmonis dengan elit lokal-raja atau bupati, dengan maksud agar dapat mengendalikan desa. Dalam rangka produksi rempah-rempah oleh V.O.Cpengaturan dan pengendalian desa dilakukan dengan memanfaatkan struktur kekuasaan yang ada. V.O.C. memberikan semacam kewenangan bagi kepala desa, untuk menetapkan kebijakan pajak dan kerja, namun dengan target tertentu untuk keperluan V.O.C. Model ini menekan elit lokal, dan akibatnya elit lokal melakukan tekanan pada rakyat. Sehingga rakyat mengenyam penderitaan ganda. Pada masa V.O.C, tidak terlalu mencampuri urusan internal masyarakat (pribumi), kecuali pada sejumlah kewajiban yang dibebankan untuk keperluan perdagangan. Kondisi ini memungkinkan berbagai macam bentuk sistem pemerintahan desa, sesuai dengan relasi desa dengan kekuatan supra desa. Struktur feodal tidak mengalami transformasi, bahkan terjadi intensifikasi. Ketiga, Desa di Masa Pemerintah Belanda. Bila sebelumnya penguasa berasal dari organisasi ekonomi (V.O.C), maka sekarang (masa belanda) adalah
Studi yang dilakukan Lapera Yogyakarta menunjukan bahwa pertumbuhan dan perkembangan desa sangat dipengaruhi oleh kekuatan eksternal. Lihat, Suhartono, 2000, Parlemen Desa Dinamika DPR Kalurahan dan DPRK Gorong Royong, Lapera Pusata, Yogyakarta.
4

kerangka penjajahan

Legitimid KSB __________________________________________________________________________14

merupakan organisasi politik. Elit lokal yang pada masa feodal mendapatkan gaji berupa lungguh, telah digantikan dengan gaji tetapdalam mana gaji tersebut lebih rendah dari hasil pemungutan pajak, hasil tanah lungguh, upeti dan lain-lain. Pola hubungan yang baru ini, membuat elit lokal lebih bergantung pada penguasa kolonial, dan berjarak dengan rakyat-terutama juga karena ikatan tradisionalnya telah diputuskan melalui ideology liberal. Kedudukan pemerintah desa, khususnya Kepala desa, tidak lebih sebagai perantara antara pemerintah kolonial dengan rakyat pribumi. rakyat desa dijadikan alat kekuasaan. Karenanya, masyarakat desa mengalami kemunduran, khsusunya sesudah tahun 1830, rakyat tidak mempunyai waktu lagi untuk mengerjakan tanahnya dengan baik, karena harus melakukan pekerjaan paksa (culturstelsel,1825-1830) untuk keperluan pemerintah kolonial. Meski demikian, dipenghujung masa jajahannya pada tahun 1941 pemerintah kolonial Beanda mempertinggi status dengan mengeluarkan sebuah Ordonantie atau dikenal dengan sebutan Desa Ordonantie. Dimasa penjajahan Belanda pula otonomi desa diperkenalkan, berdasarkan konsitusi Kerajaan Belanda tahun 1848 diterbitkanlah Indische Staatsregeling yang berlaku mulai tahun 1854. Adapun ketentuan mengenai desa diatur dalam pasal 128. Dimana desa-desa bumiputera dibiarkan memilih anggota pemerintahan desanya sendiri, dengan persetujuan penguasa yang ditunjuk untuk itu menurut ordonansi. Gubernur Jenderal menjaga hak tersebut terhadap segala pelanggarannya. Dengan ordonansi itu dapat ditentukan keadaan dimana Kepala desa dan anggota pemerintah desa diangkat oleh penguasa yang ditunjuk untuk itu. Kepala Desa bumiputera diberikan hak mengatur dan mengurus rumah tangganya dengan memperhatikan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal, pemerintah wilayah dan residen atau pemerintah otonom yang ditunjuk dengan ordonansi. Namun, bila hal tersebut diatas, tidak sesuai dengan lembaga masyarakat atau dengan hak-hak yang diperkenankan dimiliki, maka berlakunya ditangguhkan. dengan ordonansi Kepala desa bumiputera memiliki wewenang untuk (a) memungut pajak dibawah pengawasan tertentu didalam batas-batas tertentu menatapkan hukuman terhadap pelanggaran atas aturan yang diadakan oleh desa. Kleintjes (sebagaimana dikutip Surianingrat, 1992) menuliskan :
.Desa dibiarkan mempunyai wewenang untuk mengurus rumah tangga menurut kehendaknya, dibidang kepolisian maupun pengaturan tetapi dalam penyelenggaraannya Desa tidak bebas sepenuhnya. Desa diberi otonomi dengan memperhatikan peraturan yang dibuat oleh Gubernur Jenderal, Kepala Wilayah atau pemerintah dari kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri, yang ditunjuk dengan ordonansi...

Legitimid KSB __________________________________________________________________________15

Dapat dikatakan bahwa penghujung kekuasaan kolonial, terdapat proses otonomisasi desa. Dalam mana desa tidak lagi ditempatkan sebagai sub-ordinat dari kekuasaan diatasnya, melainkan diakui haknya untuk mengelola rumah tangganya sendiri. Namun demikian, pengaturan tersebut tidak bersifat umum, melainkan parsial, legalistik dan untuk keperluan menjaga status quo, bukan dalam arti menstransformasi desa melalui proses demokratisasi. Oleh sebab itu realisasi proses otonomi tidak atau belum berjalan sepenuhnya, sampai kemudian kekuatan Jepang masuk. Keempat, Desa di masa Pemerintahan Jepang. Pada masa Pemerintahan Jepang, desa ditempatkan sebagai institusi diatas aza (kampung, dusun) yang merupakan institusi terbawah. Sebuah desa dibagi dalam beberapa kampung. Jika pada masa pemerintah Belanda, desa berusaha dibebaskan dari berbagai intervensi dan diberikan hak otonomnya, maka dibawah kekuasaan Jepang justeru sebaliknya, seperti masa feodal, pengaturan dan pengendalian desa. Rakyat desa dimobilisasi untuk keperluan perang, menjadi satuan-satuan milisi, seperti Heiho, Kaibodan, Seinendan, dan lain-lain. kepala Desa difungsikan sebagai pengawas rakyat untuk menanam tanaman yang dikehendaki Jepang. Pemerintah desa terdiri dari 9 (sembilan) pejabat : luarh, carik, 5 (lima) orang mandor, polisi desa dan amir (mengerjakan urusan agama). Dimasa Jepang, Perangkat desa hanya menjalankan fungsi pengawasan dan tidak mengandung unsure pembangunanperbaikan nasib rakyat. Posisi penguasa lokal yang demikian, menjadikan ketegangan antara rakyat dan penguasa lokal menjadi sangat tinggi. Berbagai perubahan yang dijalankan oleh penguasa kolonial, dari model penjajahan yang konservatif ke liberal, hingga penjajahan Jepang pada dasarnya hanya merupakan perubahan dalam pendekatan, pola dan pelaku, akan tetapi esensi dasarnya tidak berubah : eksploitasi penduduk pribumi. Hal ini dapat ditunjukkan dari kenyataan hidup rakyat yang tidak banyak bergeser : tetap menderita. Dari uraian singkat sejarah diatas ada tiga (tiga) pelajaran penting. Pertama, situasi dan kondisi desa, sangat ditentukan oleh sistem kekuasaan negeri (institusi supra desa). Bentuk dan struktur pemerintahan, hubungan antara perangkat desa dan rakyat, dan hubungan antara desa dengan kalangan penguasa, ditentukan pula oleh kepentingan dari pihak penjah. meskipun ada nuansa otonomi, namun hal tersebut tidak lepas dari (skenam) eksploitasi.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________16

Kedua, elit desa atau penguasa desa, pada dasarnya lebih menunjukkan kedekatannya dengan penguasa supra desa ketimbang dengan rakyat desa. Hal ini menunjukkan bahwa elit lokal lebih berfungsi sebagai mediator, perantara atau bahkan alat politik dari penguasa jajahan, dan tidak menjaankan fungsi memberikan perlindungan ataupun sebagai wahana memperjuangkan aspirasi rakyat. Ketiga, dikalangan rakyat sendiri menghadapi skema kekuasaan yang demikian, dan mengalami kondisi kehidupan yang tidak menguntungkan sebagai akibat dari struktur kekuasaan yang menampatkan rakyat dalam posisi subordinat, pada dasarnya tidak dapat berbuat banyak. Kalaupun gerakan untuk melawan struktur keadilan, dibeberapa tempat, maka hal tersebut tidak lepas dari peran elit lokal yang menjadi elemen penggerak. Perubahan skema kekuasaan sendiri, tidak disebabkan oleh desakan arus bawah, melainkan sebagai akibat dari pergeseran atau perubahan konfigurasi kekuasaan. Dengan demikian, ketergantungan rakyat desa dengan kekuatan supra desa, elit, pada dasarnya sangat besar ( Suhartono, 2000 : 55)

2.2.2. Pengertian Desa dan Desentralisasi Desa, atau nama lain, adalah kesatuan masyarakat yang tergabung berdasarkan garis keturunan (genealogi) yang mendiami wilayah (teritori) tertentu. Orang tidak bisa mengukur berapa luas wilayah yang mereka diami, tetapi selalu ada kearifan lokal untuk mengukur batas-batas wilayah berdasarkan prinsip sejauh mata memandang atau sejauh batu dilempar. Semuanya merupakan organisasi masyarakat lokal yang mempunyai kepemerintahan atau kepengurusan sendiri (self governing community) yang berdasar pada adat-istiadat setempat. Adat mengandung jati diri, norma, nilai dan tata aturan untuk mengelola tanah, sumberdaya alam, warga maupun hubungan-hubungan sosial (pernikahan, kematian, sengketa, pembagian tanah, dan sebagainya). Setiap masyarakat adat mempunyai tatacara adat untuk mengelola (merawat dan membagi) tanah (kekayaan) secara komunal (bersama) dengan prinsip kesejahteraan (welfare society), keseimbangan dan berkelanjutan. Pemimpin adat ditentukan secara turun-temurun melalui jalan musyawarah tanpa pergolakan kekuasaan (politik) di dalam lingkup keluarga atau masyarakat. Pemimpin adat bukanlah jabatan yang sarat dengan kekuasaan dan kekayaan, tetapi posisi kehormatan yang sarat dengan

Legitimid KSB __________________________________________________________________________17

tanggungjawab untuk mengurus dan melindungi tanah, penduduk, keamanan, hubungan-hubungan sosial, dan sebagainya (Sutoro, 2006). Di Sumatera Barat, nagari mempunyai aturan hukum adat yang sangat kuat dalam hal pengelolaan (terutama aturan tentang pembatasan penjualan) tanah pusako. Masyarakat adat Atoin Meto di Timur Tengah Selatan (NTT) mempunyai aturan yang kuat dalam mengelola kayu cendana. Kayu cendana boleh ditebang kalau umurnya sudah tua dan harus melalui upacara adat. Suku Amungme di Timika (Papua) juga mempunyai hukum adat untuk merawat secara seimbang dan keberlanjutan terhadap S-3 (sungai, sampan dan sagu). Sungai tidak boleh dikotori, sagu tidak boleh ditebang sembarangan. Demikian juga dengan suku Dayak Kanayatn yang mendiami binua. Mereka memiliki sejumlah norma, kearifan lokal dan kesantunan yang menjunjung tinggi prinsip keteladanan, keadilan, kebersamaan, keseimbangan dan keberlanjutan dalam mengelola warga, sumberdaya alam dan hubungan sosial. Desentralisasi dapat dimaknai sebagai suatu bentuk transfer kewenangan dan tanggung jawab dari Pemerintah Pusat kepada level pemerintahan yang lebih rendah, atau sektor privat untuk menjalankan fungsi-fungsi publik. Pengertian desentralisasi menurut Rondinelli dalam Adnan (2001) adalah transfer tanggungjawab dalam perencanaan, manajemen dan alokasi sumber-sumber dari pemerintah pusat, unit yang berada di bawah level pemerintah, otoritas atau korporasi publik semi otonomi, otoritas regional atau fungsional dalam wilayah yang luas atau lembaga privat non pemerintah dan organisasi nirlaba. Berdasarkan konsep tersebut, Rondinelli (dalam Litvack et al, 1999) membagi desentralisasi dalam empat bentuk yaitu Desentralisasi Politik (Political Decentralization); Desentraliasi Administratif (Administrative Decentralization); Desentralisasi Fiskal (Fiscal Decentralization); dan Desentralisasi Ekonomi (Economic or Market Decentralization). Desentralisasi politik merupakan pemberian hak kepada warga negara melalui perwakilan yang dipilih suatu kekuasaan untuk mengambil keputusan publik. Dengan kata lain desentralisasi politik memberikan ruang kewenangan yang lebih luas kepada lembaga perwakilan rakyat untuk lebih berperan dalam memformulasikan dan melaksanakan kebijakan publik. Desentralisasi administratif merupakan pelimpahan wewenang yang dimaksudkan untuk mendistribusikan kewenangan, tanggung jawab, dan sumber-

Legitimid KSB __________________________________________________________________________18

sumber keuangan dalam upaya penyediaan pelayanan publik. Pelimpahan tanggung jawab tersebut berkaitan dengan perencanaan, pendanaan, dan pelimpahan manajemen fungsi-fungsi pemerintahan dari Pemerintah Pusat kepada aparatnya di level administratif yang lebih rendah, badan otoritas tertentu, atau perusahaan tertentu. Tiga bentuk desentralisasi administratif, yaitu (i) Dekonsentrasi (Deconcentration), pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada pejabat yang berada dalam garis hirarki dengan Pemerintah Pusat di daerah; (ii) Devolusi (Devolution), pelimpahan wewenang kepada tingkat pemerintahan yang lebih rendah dalam bidang keuangan atau tugas pemerintahandan pihak Pemerintah Daerah mendapat keleluasaan yang tidak terkontrol oleh Pemerintah Pusat. Dalam hal tertentu dimana Pemerintah Pusat akan memberikan suvervisi secara tidak langsung atas pelaksanaan tugas tersebut. Dalam pelaksanaan tugasnya, Pemerintah daerah memiliki daerah administratif yang jelas dan legal, serta diberikan kewenangan sepenuhnya untuk melaksanakan fungsi publik, menggali sumbersumber penerimaan serta mengukur penggunaannya. Dekonsentrasi dan devolusi dilihat dari konsepsi pemikiran hierarki organisasi dikenal sebagai distributed institutional monopoly of administrative decentralization; dan (iii) Pendelegasian (delegation or institutional pluralism) yang merupakan pelimpahan wewenang untuk tugas tertentu kepada organisasi yang berada di luar struktur birokrasi reguler yang dikontrol secara tidak langsung oleh Pemerintah Pusat. Pendelagasian wewenang ini biasanya diatur dengan ketentuan perundang-undangan. Pihak yang menerima wewenang mempunyai keleluasaan dalam penyelenggaraan pendelagasian tersebut, walaupun wewenang terakhir tetap pada pemberi wewenang (sovereign-authority). Desentralisasi fiskal merupakan pelimpahan wewenang kepada level pemerintahan yang lebih rendah untuk melakukan self financing atau cost recovery dalam pelayanan publik terutama melalui pemungutan pajak dan retribusi daerah. Dalam Desentralisasi fiskal pengguna jasa berpartisipasi dalam bentuk pembayaran jasa atau kontribusi tenaga kerja yang dikenal dengan istilah cofinancing atau coproduction. Peleimpahan kewenangan fiskal berimplikasi pula terhadap peningkatan PAD, dimana daerah dapat memungut pajak properti, pajak penjualan, pajak penghasilan perorangan, dan berbagai jenis retribusi. Selain itu desentralisasi fiskal mengenai adanya trasnfer dari pemerintah pusat yang berupa sumbangan umum, sumbangan khsusus, sumbangan darurat, dan bagi hasil pajak atau penghasilan negara bukan pajak. Daerah juga memperoleh kewenangan untuk melakukan pinjaman.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________19

Desentralisasi ekonomi merupakan pelimpahan fungsi pelayanan kepada masyarakat, dari pemerintah kepada sektor privat melalui liberalisasi, privatisasi, dan deregulasi dengan tujuan menciptakan efisiensi ekonomi dalam hal penyediaan barang publik. Desentralisasi, menurut Sidik (2002), dapat menjadi alat untuk mencapai salah satu tujuan bernegara, yaitu memberikan pelayanan publik yang lebih demokratis. Dengan desentralisasi akan diwujudkan dalam pelimpahan kewenangan kepada tingkat pemerintahan yang lebih rendah (provinsi/kabupaten/kota/desa) untuk melakukan pembelanjaan, kewenangan untuk memungut pajak dan retribusi (taxing power), terbentuknya DPRD/BPD yang diplih oleh rakyat, Kepala daerah atau kepala desa yang dipilih langsung oleh rakyat, dan adanya bantuan dalam bentuk transfer dari pemerintah pusat. Dalam konteks Indonesia, desentralisasi merupakan suatu bentuk pemindahan tanggung jawab, wewenang dan sumber daya antara lain keuangan, personil dan aset dari Pemerintah Pusat kepada level Kata pemerintahan kunci dari yang lebih rendah adalah (provinsi/kabupaten/kota/desa). desentralisasi

memindahkan proses pengambilan keputusan ke tingkat pemerintahan yang lebih dekat dengan masyarakat. Dasar pemikirannya adalah karena masyarakatlah yang akan merasakan langsung dampak program pelayanan yang dirancang dan dilaksanakan oleh pemerintah. Gerakan kebangkitan otonomi dalam wujud desentralisasi di Indonesia lebih sebagai respon atas kegagalan model pembangunan sebelumnya yang cenderung sentralistik dan otoritarian. Walaupun ide-ide federalisme ditolak banyak pihak, ide-ide otonomi diadopsi sebagai salah satu agenda penting reformasi. Kebijakan pemerintah otonomi daerah dan desentralisasi yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah merupakan langkah strategis dalam dua hal. Pertama, otonomi daerah dan desentralisasi merupakan jawaban atas permasalahan lokal bangsa Indonesia berupa ancaman disintegrasi bangsa, kemiskinan, ketidakmerataan pembangunan, rendahnya kualitas hidup masyarakat, dan masalah pembangunan sumber daya manusia (SDM). Kedua, otonomi daerah dan desentralisasi fiskal merupakan langkah strategis bangsa Indonesia untuk menyongsong era globalisasi ekonomi dengan memperkuat basis perekonomian daerah (Mardiasmo, 2004). Desentralisasi menyangkut berbagai bentuk dimensi yang beragam, terutama aspek fiskal, politik, perubahan administrasi dan sistem pemerintahan, dan pembangunan sosial dan ekonomi. Dengan demikian prinsip-prinsip utama desentralisasi adalah mempromosikan otonomi daerah/desa, perencanaan
Legitimid KSB __________________________________________________________________________20

bottom-up, partisipasi penuh seluruh masyarakat dalam proses yang demokratis, kendali pemerintahan yang lebih rendah yang lebih besar terhadap sumbersumber keuangan, serta pembagian sumberdaya yang lebih berimbang antar pemerintahan secara vertikal. Desentralisasi telah menawarkan suatu kesadaran (consiousness) kepada kita bahwa ke depan, pembangunan harus dijiwai dan mengakomodasikan nilainilai lokal, kultural, dan sejarah masyarakat setempat ke dalam bentuk partisipasi yang seluas-luasnya. Proses percepatan desentralisasi dan otonomi daerah hingga hari ini masih dihadapkan banyak kendala yang menjadi beban bagi pemerintah, hingga menyentuh pada tataran pemerintahan di tingkat desa. Dalam memahami desentralisiasi desa sebagai sebuah proses untuk menemukan dan merumuskan langkah-langkah konkrit yang harus ditempuh agar pemahaman desentralisiasi desa dengan berbagai konsekwensinya (keuntungan dan kerugian) dapat dipahami dan segera diantisipasi oleh seluruh lapisan masyarakat (Maryunani, 2006). Desentralisasi desa pada prinsipnya merupakan pelimpahan sebagian urusan atau kewenangan pemerintah pada tingkat yang lebih tinggi kepada desa yang diikuti pula dengan adanya pembiayaan. Desa sesungguhnya telah memiliki kewenangan berdasarkan asal usul desa, namun demikian saat ini desa juga mempunyai kewenangan tambahan yang merupakan bagian dari desentralisasi pemerintahan, antara lain: a. urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota yang diserahkan pengaturannya kepada desa; b. tugas pembantuan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota; dan c. urusan pemerintahan lainnya yang oleh peraturan perundangundangan diserahkan kepada desa. Kewenangan yang beragam dimiliki desa bukan tidak menimbulkan permasalahan. Dengan adanya masalah-masalah tersebut, maka desa sesungguhnya membutuhkan kejelasan ruang lingkup kewenangan yang nyata dalam hal pengelolaan keuangan dan ekonomi. Ketersediaan regulasi atau kebijakan yang berpihak kepada upaya realisasi desentralisasi desa akan sangat membantu.

2.2.3. Pengertian Angggaran

Legitimid KSB __________________________________________________________________________21

Secara umum anggaran dapat diartikan sebagai rencana keuangan yang mencerminkan pilihan kebijakan suatu institusi atau lembaga tertentu untuk suatu periode di masa yang akan datang. Anggaran juga dipahami sebagai pernyataan yang berisi perincian penerimaan dan belanja operasional maupun belanja modal, bersama dengan rencana untuk tahun yang akan datang (Tony Byrne dalam Rinusu, 2003:1). Menurut Syamsi dalam Basri (2003:33) mendefiniskan, anggaran adalah hasil perencanaan yang berkaitan dengan bermacam-macam kegiatan secara terpadu yang dinyatakan dalam satuan uang dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan Munandar (2001:1) mengatakan bahwa anggaran (budget) adalah suatu rencana yang disusun secara sistematis, yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan yang dinyatakan unit (kesatuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang. Pengertian anggaran negara sebagaimana dikemukakan oleh John F Due dalam Rinusu (2003:1), yaitu: Anggaran Negara adalah suatu pernyataan tentang perkiraan pengeluaran dan penerimaan yang diharapkan akan terjadi dalam suatu periode di masa depan, serta data dari pengeluaran dan penerimaan yang sungguh-sungguh terjadi di masa yang lalu. Sedangkan menurut Sabeni dan Gozali dalam Burhanuddin (1999:13) anggaran pemerintah atau negara didefinisikan sebagai pedoman bagi segala tindakan yang akan dilaksanakan dan di dalam anggaran disajikan rencana-rencana penerimaan dan pengeluaran dalam satuan rupiah yang disusun menurut klasifikasinya secara sistematis. Masih berkaitan dengan anggaran negara Suparmoko dalam Basri (2003:33) mendefiniskan, anggaran (budget) adalah suatu daftar atau pernyataan yang terperinci tentang penerimaan dan pengeluaran negara yang diharapkan dalam jangka waktu satu tahun. Sedangkan pengertian mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) dapat dilihat dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa, Pasal 1 ayat 3 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, selanjutnya disingkat APBDesa adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan desa yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah desa dan Badan Permusyawaratan Desa, dan ditetapkan dengan peraturan desa. Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 2 Tahun 2009 disebutkan dalam Pasal 1 ayat 15 bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa selanjutnya disingkat APB Desa adalah rencana keuangan tahunan

Legitimid KSB __________________________________________________________________________22

Pemerintahan Desa yang dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Desa dan BPD yang ditetapkan dengan Peraturan Desa. Sedangkan yang dimaksud dengan Keuangan desa dapat diartikan sebagai semua hak dan kewajiban desa yang dapat dinilai dengan uang dan segala sesuatu berupa uang dan barang yang dapat dijadikan milik desa yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Keuangan desa merupakan hak dan sekaligus kewajiban desa sebagai konsekuensi adanya pelimpahan kewenangan dari pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota kepada desa. Pelimpahan kewenangan kepada desa yang disertai dengan pembiayaan ini berkaitan dengan prinsip money follow functions yang tercermin dalam undangundang tentang perimbangan keuangan pusat daerah atau di beberapa daerah dikuatkan dengan peraturan daerah tentang perimbangan keuangan kabupatendesa. Prinsip money follow function mengacu pada prinsip bahwa setiap penyerahan atau pelimpahan wewenang pemerintahan membawa konsekuensi pada anggaran yang diperlukan untuk melaksanakan kewenangan tersebut (Bahl dalam Saragih, 2003). Dalam konteks Indonesia, realisasi prinsip ini tampak dalam kebijakan sumber pembiayaan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan desa. Penyelenggaraan urusan pemerintahan desa yang menjadi kewenangan desa didanai dari anggaran pendapatan dan belanja desa, bantuan pemerintah dan bantuan pemerintah daerah. Untuk penyelenggaraan urusan pemerintah daerah yang diselenggarakan oleh pemerintah desa didanai dari anggaran pendapatan dan belanja daerah. Sedangkan penyelenggaraan urusan pemerintah yang diselenggarakan oleh pemerintah desa didanai dari anggaran pendapatan dan belanja negara. Wewenang pengelolaan keuangan desa berada di tangan kepala desa yang perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan dan pelaporannya dapat dilimpahkan kepada perangkat desa. Pengelolaan keuangan desa dapat diatur dengan peraturan desa dengan berpedoman pada peraturan bupati/walikota yang tersedia. Berbagai aspek pengelolaan keuangan desa diwujudkan dalam bentuk anggaran yaitu estimasi atau rencana penggunaan sejumlah uang oleh suatu institusi untuk mendukung kinerja kegiatan yang terpilih dengan sumber tertentu dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Anggaran mempunyai nilai strategis dalam penyelenggaraan pemerintah.
Legitimid KSB __________________________________________________________________________23

Terutama dalam anggaran pemerintah ini, nilai strategis ini terkandung dalam fungsinya. Menurut Mardiasmo (2004) anggaran sektor publik mempunyai beberapa fungsi utama, yaitu pertama, sebagai alat perencanaan; kedua, sebagai alat pengendalian, ketiga, sebagai alat kebijakan fiskal, keempat, sebagai alat politik, kelima, sebagai alat koordinasi dan komunikasi, keenam, sebagai alat penilaian kinerja, ketujuh, sebagai alat motivasi, dan ke delapan, sebagai alat menciptakan ruang publik. Sebagai alat perencanaan, anggaran dibuat untuk merencanakan tindakan apa yang akan dilakukan oleh pemerintah, berapa biaya yang dibutuhkan, dan berapa hasil yang diperoleh dari belanja pemerintah tersebut. Sebagai alat pengendalian, anggaran memberikan rencana detail atas pendapatan dan pengeluaran pemerintah agar pembelanjaan yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Tanpa anggaran, pemerintah tidak dapat mengendalikan pemborosan-pemborosan pengeluaran. Anggaran sebagai instrumen pengendalian digunakan untuk menghindari adanya overspending, underspending dan salah sasaran (misapropriation) dalam pengalokasian anggaran pada bidang lain yang bukan merupakan prioritas. Sebagai alat kebijakan fiskal, anggaran digunakan untuk menstabilkan ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Melalui anggaran publik tersebut dapat diketahui arah kebijakan fiskal pemerintah, sehingga dapat dilakukan prediksi-prediksi dan estimasi ekonomi. Anggaran dapat digunakan untuk mendorong, memfasilitasi dan mengkoordinasikan kegiatan ekonomi masyarakat sehingga dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi. Sebagai alat politik, anggaran digunakan untuk memutuskan prioritasprioritas dan kebutuhan keuangan terhadap prioritas tersebut. Pada sektor publik, anggaran merupakan dokumen politik sebagai bentuk komitmen eksekutif dan kesepakatan legialatif atas penggunaan dana publik untuk kepentingan tertentu. Sebagai alat koordinasi dan komunikasi, anggaran merupakan alat koordinasi antar bagian dalam pemerintahan. Anggaran publik disusun dengan baik akan mampu mendeteksi terjadinya inkonsistensi suatu unit kerja dalam pencapaian tujuan organisasi. Disamping itu anggaran juga berfungsi sebagai alat komunikasi antar unit kerja dalam lingkungan eksekutif, anggaran harus dikomunikasikan seluruh bagian organisasi untuk dilaksanakan. Sebagai alat penilaian kinerja, anggaran merupakan wujud komitmen dari
Legitimid KSB __________________________________________________________________________24

budget holder (eksekutif) kepada pemberi wewenang (legislatif). Kinerja eksekutif akan dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran dan efisiensi pelaksanaan anggaran. Kinerja manajer publik dinilai berdasarkan berapa yang berhasil ia capai dikaitkan dengan anggaran yang telah ditetapkan. Anggaran merupakan alat yang efektif untuk pengendalian dan penilaian kinerja. Sebagai alat motivasi, anggaran dapat digunakan untuk memotivasi manajer dan stafnya agar bekerja secara ekonomis, efektif dan efisien dalam mencapai target dan tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Agar dapat memotivasi pegawai, anggaran hendaknya bersifat challenging but attainable atau demanding but achievable. Maksudnya adalah target anggaran hendaknya jangan terlalu tinggi sehingga dapat dipenuhi, namun juga jangan terlalu rendah sehingga terlalu mudah untuk dicapai. Sebagai alat menciptakan ruang publik, anggaran tidak boleh diabaikan oleh stakeholders yang terlibat dalam anggaran. Kelompok masyarakat yang terorganisir akan coba mempengaruhi anggaran pemerintah untuk kepentingan mereka. Kelompok lain dari masyarakat yang kurang terorganisasi akan mempercayakan aspirasinya melalui proses politik yang ada. dengan disusunnya anggaran, yaitu: a. sebagai suatu bantuan dalam membuat dan mengkoordinasikan perencanaan jangka pendek; b. sebagai suatu alat untuk mengkomunikasikan rencana-rencana kepada berbagai manajer pusat pertanggungjawaban; c. sebagai suatu cara pemberian motivasi kepada manajer untuk mencapai tujuan pusat pertanggungjawaban; d. sebagai tolok ukur untuk mengendalikan kegiatan secara kontiniu; e. sebagai suatu pedoman untuk mengevaluasi prestasi pusat pertanggungjawaban dan manajernya; f. sebagai suatu cara mendidik manajer. Dari keenam butir di atas dapat diketahui bahwa keberadaan anggaran mampu memberikan dampak positif bagi semua pihak. Hal ini tampak pula dari manfaat-manfaat yang disebutkan oleh Garrison (1985:298) yang menyatakan manfaat penyusunan anggaran adalah: 1. Manajer diharuskan untuk lebih memprioritaskan penyusunan rencana dari pada kewajiban lainnya; 2. Memungkinkan manajer untuk memformulasikan upaya perencanaannya; 3. Menyajikan sasaran dan tujuan dengan pasti yang berfungsi sebagai benchmarks, untuk mengevaluasi prestasi berikutnya; 4. Dapat menemukan gejala kemacetan yang potensial sebelum kemacetan tersebut terjadi; Menurut Anthony and Reece (1979:819) menyebut enam manfaat yang dapat diperoleh perusahaan

Legitimid KSB __________________________________________________________________________25

5. Dapat mengkoordinasikan aktivitas organisasi secara menyeluruh melalui integrasi rencana dan sasaran berbagai bagian dalam organisasi. Sedangkan menurut Agus Ahyarai (1988:5-7) penggunaan anggaran di dalam perusahaan mendapatkan beberapa manfaat yang cukup besar, antara lain sebagai berikut: a. b. c. d. e. terdapatnya perencanaan terpadu; terdapatnya pedoman pelaksanaan kegiatan perusahaan; terdapatnya alat koordinasi dalam perusahaan; terdapatnya alat pengawasan yang baik; dan terdapatnya alat evaluasi kegiatan perusahaan. Sementara itu, bagi negara menurut Djamaluddin (1982:15) paling tidak

ada dua manfaat yang bisa diambil dari anggaran, yaitu: a. sebagai alat dan media bagi pemerintah untuk membangun peri kehidupan masyarakat yang tuntutannya semakin berkembang dan dinamis sepanjang masa yang tercermin dalam jenis-jenis kegiatan yang dianggarkan; b. sebagai alat atau media untuk mendorong rakyat dalam memenuhi kewajibannya sebagai warga negara yang baik yang tercermin dalam kegiatan penerimaan pemerintah dalam bentuk pajak-pajak dan retribusi di samping sumber-sumber penerimaan lainnya. Anggaran daerah menurut Rinusu (2003:3), paling tidak memiliki 3 (tiga) fungsi, yaitu: (1). Sebagai pedoman bagi pemerintah daerah dalam mengelola daerah, terutama keuangan daerah untuk satu periode di masa yang akan datang; (2). Sebagai instrument pengawasan pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan daerah; dan (3). suatu anggaran yaitu: a. Fungsi alokasi, mengandung arti kegiatan penyusunan anggaran merupakan sarana untuk penyediaan barang dan jasa sosial dalam rangka pemenuhan pelayanan publik. b. Fungsi distribusi, yaitu penyusunan anggaran merupakan mekanisme pembagian secara merata dan berkeadilan atas berbagai sumber daya dan pemanfaatannya. c. Fungsi stabilisasi, pajak dan pengeluaran akan mempengaruhi permintaan agregat dan kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Untuk pengaturan pajak dan pengeluaran tersebut sangat penting artinya untuk menjaga stabilitas ekonomi, seperti penciptaan lapangan kerja dan pengendalian laju inflasi. Sebagai instrument untuk menilai kinerja

pemerintah.Sedangkan menurut Musgrave (1991:6-12) ada 3 fungsi utama dari

Anggaran negara/daerah (desa) pada hakikatnya bersumber dari rakyat dan harus dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Karena itu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) harus miskin dan responsif gender. bercermin pada kebutuhan riil dan keadilan. Berkeadilan dimaknai sebagai berpihak pada orang

Legitimid KSB __________________________________________________________________________26

2.2.4. Struktur Anggaran dan APBDesa Pada umunya di Indonesia, struktur anggaran pemerintah merupakan satu kesatuan yang terdiri atas pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Oleh karena itu, berdasarkan PP 72 Tahun 2005 maka struktur APBDesa juga merupakan satu kesatuan yang terdiri atas (1) pendapatan desa, (2) belanja desa, dan (3) pembiayaan. Bagian pertama yang menjadi komponen APBDes adalah pendapatan, yaitu semua penerimaan desa baik dalam bentuk uang dalam periode anggaran tertentu yang maupun barang yang menjadi hak desa. Adapun sumber pendapatan desa menurut Undang-undang 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005, terdiri dari: a. Pendapatan asli desa, terdiri dari hasil usaha desa, hasil kekayaan desa, hasil swadaya dan partisipasi, hasil gotong-royong, dan lain-lain pendapatan asli desa yang sah; b. Bagi hasil pajak daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) untuk desa dan dari retribusi Kabupaten/Kota sebagian diperuntukkan bagi desa; c. Bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa paling sedikit 10% (sepuluh per seratus), yang pembagiannya untuk setiap Desa secara proporsional yang merupakan alokasi dana desa; d. Bantuan keuangan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan; e. Hibah dan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat. Bagian kedua dari APBDes adalah belanja desa yang pada prinsipnya merupakan semua pengeluaran kas dalam periode tahun anggaran tertentu yang menjadi beban desa. Bagian ketiga dari APBDes adalah pembiayaan, yaitu transaksi keuangan yang dimaksudkan untuk menutup selisih antara pendapatan dan belanja desa. Menurut UU Nomor 33 Tahun 2004, pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan atau pengeluaran yang diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun berikutnya.

2.2.5. Proses Penganggaran di Desa Penganggaran adalah suatu proses menyusun rencana keuangan yaitu pendapatan dan pembelanjaan, dan pendapatan tersebut dialokasikan kepada masing-masing kegiatan sesuai dengan fungsi dan sasaran yang hendak dicapai. Di dalam pemerintahan tahap-tahap penganggaran atau lebih dikenal sebagai siklus anggaran menurut Sabeni dalam Burhanuddin (1999:24) merupakan masa atau jangka waktu mulai saat disusun sampai dengan saat perhitungan anggaran
Legitimid KSB __________________________________________________________________________27

disahkan dengan undang-undang. Selanjutnya dikatakan bahwa siklus anggaran terdiri dari beberapa tahap, yaitu: a. b. c. d. e. Tahap penyusunan anggaran; Tahap pengesahan anggaran; Tahap pelaksanaan anggaran; Tahap pengawasan pelaksanaan anggaran; Tahap pengesahan perhitungan anggaran.

Senada dengan pendapatan di atas, Menurut Mardiasmo (2004) siklus anggaran terdiri dari beberapa tahap, yaitu (a) Tahap persiapan anggaran (preparation), (b) Tahap ratifikasi (approval/ratification), (c) Tahap implementasi (implementation) dan Tahap pelaporan dan evaluasi (reporting and evaluation). Senada dengan pendapat di atas, Rinusu (2003) mengatakan bahwa proses penganggaran untuk pemerintah daerah terdiri dari empat tahapan, yaitu tahap perencanaan, tahap pembahasan, tahap pelaksanaan, dan tahap pengawasandan evaluasi. Tahap perencanaan merupakan penyiapan seperangkat rujukan yang ingin dicapai pada masa yang akan datang atau pada waktu tertentu. Tahap ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu:

1. Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbang Desa) yang dikikuti


peserta dari Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), tokoh masyarakat. Musrenbang Desa adalah forum musyawarah tahunan stakeholders desa (pihak yang berkepentingan untuk mengatasi permasalahan desanya dan pihak yang akan terkena dampak hasil musyawarah) untuk menyepakati rencana kegiatan tahun anggaran berikutnya. Dalam Surat Edaran Bersama Kepala BAPPENAS/Menteri Koordinator Perencanaan Pembangunan Nasional dan Menteri Dalam Negeri Tahun 2006 Nomor 1181/M.PPN/02/2006-050/244/SJ/2006 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Tahun 2006 dikatakan bahwa Musrenbang Desa dilaksanakan dengan memperhatikan rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJM Desa), kinerja implementasi rencana tahun berjalan serta masukan dari nara sumber dan peserta yang menggambarkan permasalahan nyata yang sedang dihadapi. Musrenbang Desa diselenggarakan dengan tujuan antara lain sebagai berikut: a. Menampung dan menetapkan prioritas kebutuhan masyarakat yang diperoleh dari musyawarah perencanaan pada tingkat di bawahnya.
Legitimid KSB __________________________________________________________________________28

b. Menetapkan prioritas kegiatan desa yang akan dibiayai melalui Alokasi Dana Desa yang berasal dari APBD Kabupaten maupun sumber pendanaan lainnya. c. Menetapkan prioritas kegiatan yang akan diajukan untuk dibahas pada Musrenbang Kecamatan. Salah satu hasil Musrenbang Desa adalah prioritas kegiatan yang akan dilakukan oleh pemerintah desa pada tahun berikutnya. Prioritas kegiatan tersebut menjadi pertimbangan pemerintah desa dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa). RKPDesa dijadikan bahan acuan oleh pemerintah desa untuk menyusun Rancangan APBDesa.

2. Rancangan APBDesa yang disusun oleh pemerintah desa kemudian diajukan


kepada BPD untuk dibahas dalam Musyawarah Badan Permusyarawatan Desa (BPD). Selama proses pembahasan ini BPD diperbolehkan untuk mencari masukan dari masyarakat melalui mekanisme hearing.

3. RAPBDesa kemudian ditetapkan menjadi APBDesa dengan Peraturan Desa. 4. Tahap terakhir adalah tahap pengawasan dan evaluasi. Pengawasan keuangan
desa adalah segala tindakan untuk menjamin agar pengelolaan keuangan desa berlangsung sesuai dengan rencana, aturan-aturan, dan tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan ini penting untuk mendeteksi penyimpangan anggaran. Adanya partisipasi masyarakat akan sangat membantu mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pemerintah desa dalam pelaksanaan peraturan desa tentang APBDesa.

2.2.6. Prinisip-prinisip penyusunan anggaran

Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa dalam pasal 2 disebutkan bahwa Keuangan desa dikelola berdasarkan azas-azas transparan, akuntabel, partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran. Menurut Rinusu (2003:4-6), ada beberapa prinsip dasar yang harus diakomodir, dalam penyusunan anggara yaitu: a. Transaparan Anggaran hendaknya dapat memberikan informasi tentang tujuan, sasaran, hasil dan manfaat yang diperoleh masyarakat dari suatu kegiatan atau proyek yang dianggarkan. Oleh karena itu, dalam setiap proses penganggaran harus dilakukan secara transparan.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________29

b. Partisipatif Masyarakat harus dilibatkan dalam setiap proses penganggaran, demi menjamin adanya kesesuaian antara kebutuhan dan aspirasi masyarakat dengan peruntukan anggaran. Selain itu juga untuk memainkan peran kontrol masyarakat sehingga dapat mencegah dan menemukan praktek korupsi. c. Disiplin Penyusunan anggaran harus berorientasi pada kebutuhan masyarakat, tanpa harus meninggalkan keseimbangan antara pembiayaan penyelenggaraan pemerintah, pembangunan dan pelayanan masyarakat. Disiplin penting untuk mencegah terjadinya pencampuradukan dan duplikasi anggaran di samping juga berkaitan dengan ketepatan waktu dalam pengimplementasian untuk menghindari kebocoran maupun pemborosan. d. Keadilan Pembiayaan pemerintah dilakukan melalui mekanisme pajak dan retribusi yang dibebankan kepada segenap lapisan masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah wajib mengalokasikan penggunaannya secara adil sehingga bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat tanpa diskriminasi dalam pemberian pelayanan. e. Efisiensi dan Efektivitas Dana yang tersedia harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk menghasilkan peningkatan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat secara maksimal. Untuk itu dalam perencanaan perlu ditetapkan secara jelas, sasaran, hasil dan manfaat yang akan diperoleh masyarakat dari setiap proyek yang diprogramkan. f. Rasional dan Terukur Dalam menyusun anggaran baik menyangkut sisi pendapatan maupun pengeluaran harus memperhatikan aspek rasionalitas anggaran dan dapat diukur, yaitu (1). Jumlah pendapatan yang dianggarkan merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan; (2). Jumlah belanja yang dianggarkan merupakan batas tertinggi untuk setiap jenis belanja. Latar Belakang dan Kedudukan ADD dalam APBDesa Pada prinsipnya kebijakan ADD merupakan upaya yang dilakukan Pemerintah Pusat dalam mewujudkan adanya desentralisasi desa yang luas, nyata dan bertanggungjawab sesuai dengan spirit Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa. Desentralisasi desa ini pada prinsipnya juga merupakan pelimpahan sebagian urusan atau kewenangan pemerintah pada tingkat yang lebih tinggi kepada desa. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa. Desa mendapatkan kembali kewenangannya yang tidak hanya sebatas pada kewenangan yang bersumber dari asal usul, tetapi desa juga memperoleh kewenangan
Legitimid KSB __________________________________________________________________________30

2.2.7.

tambahan yang bersumber dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. Berbagai kewenangan tersebut tentunya akan berjalan baik jika diikuti pula dengan adanya pengalokasian pembiayaan. Oleh sebab itulah, maka Menteri Dalam negeri melalui Surat Menteri Dalam Negeri Nomor: 140/537/SJ tanggal Jakarta, 17 Maret 2006 perihal Pemantapan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa meminta perhatian gubernur, bupati/walikota, dan pimpinan DPRD seluruh Indonesia agar mengupayakan peningkatan dan pemantapan sumber-sumber keuangan Desa melalui penetapan kebijakan Alokasi Dana Desa, dengan berpedoman pada Surat Menteri Dalam Negeri Nomor: 140/640/SJ tanggal 22 Maret 2005 perihal Pedoman Alokasi Dana Desa dari Pemerintah Kabupaten/Kota kepada Pemerintah Desa. Secara ekplisit setidaknya ada lima alasan atau dasar pemikiran yang melatarbelakangi lahirnya kebijakan ADD secara nasional, , antara lain: 1. Melaksanakan amanat Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakankebijakan tentang desa, terutama dalam memberi pelayanan, peningkatan peranserta, peningkatan prakarsa dan pemberdayaan masyarakat desa yang ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat. 2. UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah menegaskan bahwa keseluruhan belanja daerah diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah. 3. Hasil penelitian Tim Studi Alokasi Dana Desa di beberapa Kabupaten menunjukkan bahwa pelaksanaan alokasi dana desa dapat meningkatkan peran pemerintah desa dalam memberikan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat. 4. Dalam rangka meningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat, desa mempunyai hak untuk memperoleh bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah kabupaten/kota, dan bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota. 5. Pemberian Alokasi Dana Desa merupakan wujud dari pemenuhan hak desa untuk menyelenggarakan otonominya agar tumbuh dan berkembang mengikuti pertumbuhan dari desa otonomi itu asli, sendiri berdasarkan dan keanekaragaman, partisipasi, demokratisasi

pemberdayaan masyarakat. Berdasarkan hasil Penelitian FPPD, menyebutkan bahwa ada lima faktor
Legitimid KSB __________________________________________________________________________31

yang melatarbelakangi lahirnya kebijakan ADD, yakni ;(1) Romantisme dan semangat mengisi OTDA, (2) Kebijakan memanfaatkan UU No. 22/1999 sebagai landasan mewujudkan OTDES yang ideal, (3) Merespon tuntutan proposal pembangunan desa yang banyak, (4) Tuntutan dari masyarakat sipil dan LSM, dan (5) Kebijakan populis bupati. Kelima faktor itu tidak muncul semuanya di setiap kabupaten dan setiap kabupaten mempunyai memiliki konteks kelahiran yang khas (Hudayana, 2005). Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa Pasal 68 ayat 1 poin c dikatakan bahwa alokasi dana desa adalah dana yang dialokasikan oleh Pemerintah kabupaten/Kota untuk desa, yang bersumber dari bagian dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota. Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 2 Tahun 2009 Tentang Alokasi Dana desa pasal 1 ayat 15 disebutkan bahwa Alokasi Dana Desa yang selanjutnya disingkat ADD adalah dana yang dialokasikan oleh Pemerintah Daerah untuk Desa, yang bersumber dari bagian dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Daerah. Dalam struktur APBDesa, ADD merupakan salah satu sumber pendapatan desa. ADD merupakan bagian dari sumber pendapatan desa yang cukup memberikan sumbangan yang signifikan terhadap APBDesa. Selain karena ketersediannya bersifat pasti, ADD juga merupakan komponen utama dari belanja rutin dan belanja pembangunan desa. 2.2.8. Arah dan Tujuan ADD dalam Pembangunan Desa Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 2 Tahun 2009 tentang Alokasi Dana Desa di Kabupaten Sumbawa Barat, pasal 2 disebutkan bahwa Alokasi Dana Desa dimaksudkan untuk membiayai program Pemerintahan Desa dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan dan pemberdayaan masyarakat. Adapun tujuan dari Alokasi Dana Desa (ADD), pasal 3 adalah ; a. Meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan desa dalam melaksanakan pelayanan pemerintah, pembangunan dan kemasyaratan sesuai dengan kewenangan ; b. meningkatkan kemampuan lembaga kemasyaratan di desa dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan secara partisipatif sesuai dengan potensi desa ; c. memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat di desa ; d. mendorong peningkatan swadaya gotong royong masyarakat.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________32

Pada prinsipnya kebijakan ADD merupakan bentuk komitmen pemerintah pusat dalam upaya mewujudkan otonomi desa dan pemberdayaan masyarakat desa. Sedangkan yang dimaksud dengan Pembangunan adalah merupakan suatu proses pembaharuan yang kontinu dan terus menerus dari suatu keadaan tertentu kepada suatu keadaan yang dianggap lebih baik. Dan di negara-negara baru berkembang usaha pembaharuan ini pada umumnya dilakukan dengan peranan pemerintah yang aktif dan dengan usaha secara berencana. Pembangunan yang meliputi segala segi kehidupan politik, ekonomi dan sosial budaya itu baru akan berhasil apabila merupakan kegiatan yang melibatkan partisipasi dari seluruh masyarakat. Tidak saja dari pengambil kebijakan tertinggi, perencana, pemimpin pelaksanaan operasional, tetapi juga dari petani-petani yang masih tradisional, nelayan, buruh dan pedagang kecil (Tjokroamidjojo, 1996 :206). Pemikiran tersebut dapat dimaknai bahwa bahwasanya partisipasi masyarakat setempat sangat menentukan keberhasilan pembangunan yang dilaksanakan, termasuk didalamnya pembangunan desa. Ndraha (1990 : 100) mengungkapkan bahwa pembangunan masyarakat pedesaan lazim disebut pembangunan pedesaan (rural development) atau pembangunan desa (village development). Namun demikian perlu ditarik perbedaan antara permbangunan di pedesaan (desa) dengan pembangunan pedesaan. Pengertian yang pertama berarti pembangunan nasional yang berlokasi di desa, sedangkan pengertian yang kedua berarti pembangunan desa yang diselenggarakan berdasarkan prinsip-prinsip dan jiwa pembangunan masyarakat. Lebih lanjut dikatakan, bahwa kendatipun pembangunan masyarakat di Indonesia diberi nama pembangunan masyarakat desa, yang dilaksanakan baik di pedesaan maupun di daerah perkotaan. Namun yang dimaksud dengan masyarakat desa atau desa di dalam pembangunan masyarakat desa adalah community juga. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembangunan desa dimulai dengan membangun masyarakat. Pembangunan masyarakat yang berpusat pada sumber daya manusia (SDM) dengan pendekatan derivatifnya yang berbentuk pengelolaan sumber yang bertumpu pada komunitas, diharapkan dapat ikut mewujudkan sustainable development (pembangunan yang berkelanjutan). Namun hal ini tidaklah mudah, karena menyangkut reformasi struktur, reorientasi nilai dan perubahan sikap, prilaku birokrasi dan masyarakat. Sumodiningrat (1999) menjelaskan bahwa pembangunan masyarakat merupakan program sektoral yang umumnya berorientasi pada peningkatan produksi dan pembangunan prasarana serta sarana fisik yang secara langsung
Legitimid KSB __________________________________________________________________________33

menunjang pemenuhan kebutuhan dasar : pangan, sandang, perumahan, pendidikan dan kesehatan. Pelaksanaan program sektoral pada umumnya dikelola secara terpusat yang dimasukkan dalam program daerah. Salah satu program pembangunan daerah itu sendiri adalah pembangunan desa. Pembangunan desa ini diarahkan pada perluasan kesempatan kerja, pengembangan potensi desa dan peningkatan kemampuan masyarakat dan warga desa. Pemerintah dalam hal ini masih memberikan bantuan dalam bentuk bantuan pembangunan yang diberikan kepada suatu desa sebagai stimulan untuk meningkatkan kemampuan desa dalam pengerahan sumber daya yang dimilikinya. Bantuan pembangunan ini dilakukan untuk mempercepat upaya pemberdayaan masyarakat yang pada gilirannya akan dapat mewujudkan pembangunan desa itu sendiri. Dalam kebijakan pembangunan nasional di Indonesia, pembangunan desa merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang mencakup semua aspek kehidupan masyarakat. Maka pembangunan desa oleh Mubyarto (1988) didefinisikan sebagai pembangunan yang berlangsung di pedesaan dan meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat yang dilaksanakan secara terpadu dengan mengembangkan swadaya gotong royong. Secara empirik pembangunan desa menggunakan tiga model, yaitu : pembangunan desa berbantuan, pembangunan desa sektoral, dan pembangunan desa berswadaya. Pembangunan desa berbantuan adalah pembangunan desa yang diarahkan untuk pembangunan prasarana desa dengan mendapat bantuan dana dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan mendorong partisipasi masyarakat, baik dalam bentuk dana, bahan dan tenaga maupun dalam bentuk pemikiran. Pembangunan sektoral adalah pembangunan yang dibiayai dan dilaksanakan oleh instansi vertikal dengan mengikutsertakan masyarakat secara terbatas. Sedangkan pembangunan desa berswadaya adalah pembangunan desa yang dilaksanakan berdasarkan swadaya masyarakat dan pemerintah desa melalui LKMD atau sebutan lainnya. Pembangunan desa adalah pembangunan yang berlangsung di pedesaan dan diselenggarakan berdasarkan prinsip-prinsip dan jiwa pembangunan masyarakat serta diarahkan pada perluasan kesempatan kerja, pengembangan potensi desa dan peningkatan kemampuan masyarakat desa. Paradigma pembangunan berwawasan manusia harus dimaknai bahwa manusia (rakyat) merupakan tujuan utama dari pembangunan dan kapasitas manusia merupakan sumber daya yang paling penting. Penempatan manusia sebagai subyek
Legitimid KSB __________________________________________________________________________34

pembangunan menekankan pada pentingnya pemberdayaan (empowerment) manusia, yaitu kemampuan manusia untuk mengaktualisasikan segala potensinya (Kuncoro, 1997:168). Menurut Tampubolon (2005:7) bahwa pembangunan masyarakat

(community development) adalah sebagai berikut: a. Pembangunan masyarakat merupakan suatu proses pembangunan yang berkesinambungan. Artinya kegiatan itu dilaksanakan secara terorganiser dan dilaksanakan tahap demi tahap dimulai dari tahap permulaan sampai pada tahap kegiatan tindak lanjut dan evaluasi (follow-up activity and evaluation). b. Pembangunan masyarakat bertujuan memperbaiki (to improve) kondisi ekonomi, sosial, dan kebudayaan masyarakat untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. c. Pembangunan masyarakat memfokuskan kegiatannya melalui pemberdayaan potensi-potensi yang dimiliki masyarakat untuk memenuhi kebutuhankebutuhan mereka, sehingga prinsip to help the community to help themselve dapat menjadi kenyataan. d. Pembangunan masyarakat memberikan penekanan pada prinsip kemandirian. Artinya partisipasi aktif dalam bentuk aksi bersama (group action) di dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dilakukan berdasarkan potensi-potensi yang dimiliki masyarakat. Kawasan pedesaan sendiri selama ini dicirikan oleh rendahnya

produktivitas tenaga kerja, tingginya tingkat kemiskinan serta rendahnya kualitas permukiman. Sensus penduduk tahun 2000 mencatat 60 persen penduduk Indonesia tinggal di pedesaan. Rendahnya produktivitas tenaga kerja ditunjukkan besarnya tenaga kerja yang ditampung sektor pertanian (46,26 persen dari 90,8 juta penduduk yang bekerja), padahal sumbangan sektor pertanian dalam perekonomian nasional menurun menjadi 15,9 persen. Sementara tingginya tingkat kemiskinan ditunjukkan dengan jumlah penduduk miskin (head count) (Tahun 2003 jumlah penduduk miskin 37,3 juta jiwa, 20,2 persen diantaranya ada di pedesaan) (RPJM Nasional 2004-2009, 2005:252). Beberapa masalah yang dihadapi pedesaan dan perlu segera direspons oleh para pemegang kebijakan saat ini diantaranya: (1) Terbatasnya lapangan kerja; (2) Lemahnya kegiatan ekonomi; (3) Hambatan distribusi dan perdagangan; (4) Kerentanan petani dan pelaku usaha di pedesaan; (5) Rendahnya penguasaan aset oleh masyarakat pedesaan; (6) Rendahnya pelayanan sarana dan prasarana; (7) Rendahnya kualitas SDM; (8) Meningkatnya konversi lahan pertanian subur bagi peruntukan lain; (9) Degradasi SDA dan lingkungan hidup; (10) Lemahnya kelembagaan dan organisasi berbasis masyarakat; (11) Lemahnya koordinasi lintas bidang dalam pengembangan kawasan pedesaan.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________35

Mencermati berbagai persoalan yang muncul sebagaimana di atas, maka pilihan pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat menjadi sangatlah penting. Wahyono et. al. (2001:8) menyatakan bahwa pendekatan pemberdayaan masyarakat dengan penekanan pada pentingnya masyarakat lokal yang mandiri (self-reliant communities) sebagai suatu sistem yang mengorganisir diri mereka sendiri. Pendekatan pemberdayaan masyarakat yang demikian diharapkan memberikan peranan kepada individu bukan sebagai obyek, tetapi sebagai pelaku (aktor) yang menentukan hidup mereka. Pendekatan pemberdayaan masyarakat yang berpusat pada manusia (people-centered development) ini kemudian melandasi wawasan pengelolaan sumber daya lokal (community-based resources management) yang merupakan mekanisme perencanaan people-centered development yang menekankan pada teknologi pembelajaran sosial (social learning) dan strategi perumusan program. Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengaktualisasikan dirinya (empowernment). Soegijono dkk dalam Soekamto (2004) menyatakan: Terdapat tiga pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat miskin, (1) pendekatan yang terarah, artinya pemberdayaan masyarakat harus terarah yakni berpihak kepada orang miskin, (2) pendekatan kelompok, artinya secara bersama-sama untuk memudahkan pemecahan masalah yang dihadapi, dan (3) pendekatan pendampingan, artinya selama proses pembentukan dan penyelenggaraan kelompok masyarakat miskin perlu didampingi oleh pendamping yang profesional sebagai fasilitator, komunikator dan dinamisator terhadap kelompok untuk mempercepat tercapainya kemandirian.

Dalam Prijono dan Pranarka (1996:3), kata empowerment dan empower diterjemahkan menjadi pemberdayaan dan memberdayakan yang harus diucapkan secara hati-hati, agar tidak terpeleset menjadi memperdayakan. Menurut Webster dan Oxford English Dicyionery kata empower mengandung dua arti yaitu (1) to give power or authority to, diartikan sebagai memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain, dan (2) to give ability to or enable, diartikan sebagai upaya untuk memberi kemampuan atau keberdayaan. Pada dasarnya pemberdayaan masyarakat merupakan suatu proses dimana masyarakat khususnya yang kurang memiliki akses kepada sumber daya
Legitimid KSB __________________________________________________________________________36

pembangunan

didorong

untuk

meningkatkan

kemandirian

dalam

mengembangkan perikehidupan mereka. Terdapat empat strategi yang dapat ditawarkan dalam memberdayakan masyarakat di tingkat kelurahan/desa, yaitu (1) memberdayakan masyarakat dengan mensosialisasikan peran masyarakat sebagai subyek, (2) mendayagunakan mekanisme penyelenggaraan pembangunan/ pemberdayaan masyarakat secara lebih aspiratif/demokratis, efektif dan efisien, (3) mobilisasi sumber daya manusia seperti tenaga, pikiran dan kemampuan sesuai dengan profesionalismenya, dan (4) memaksimalkan peran pemerintah khususnya pemerintahan kelurahan dalam memfasilitasi dan mengatur guna kelancaran penyelenggaraan pembangunan/pemberdayaan masyarakat. (Prasojo: 2004).

Selanjutnya untuk memberdayakan masyarakat tentunya harus melalui proses pendekatan yang tidak membuat aneh dan kaget serta curiga masyarakat sehingga pemberdayaan dapat diterima oleh masyarakat. Seperti yang dikemukakan tokoh gerakan pembangunan masyarakat China, Y.C. Yen (1920) dalam Islamy (2004) yang mengatakan bahwa setiap penggerak pembangunan yang akan memberdayakan masyarakat harus: 1) 2) Go to people, mendatangi masyarakat yang hendak diberdayakan; Live among the people, hidup dan tinggallah dengan mereka agar kita mengenal dengan baik kepentingan dan kebutuhannya; Learn from the people, belajarlah dari mereka supaya dapat dipahami apa yang ada di benak mereka, potensi apa yang mereka miliki; Plan with the people, ajak dan ikutkan masyarakat dalam proses perencanaan; Work with the people, ajak dan libatkan mereka dalam proses pelaksanaan rencana; Start with what the people know, mulailah dari apa yang masyarakat telah tahu dan pahami; Build on what the people have, bangunlah sesuatu dari modal apa yang masyarakat punyai; Teach by showing, learn by doing, ajarilah masyarakat dengan contoh konkrit/nyata; Not a showcase, but a pattern, jangan dipameri mereka dengan sesuatu yang menyilaukan, tetapi berikanlah kepada mereka suatu pola;

3)

4)

5)

6)

7)

8)

9)

Legitimid KSB __________________________________________________________________________37

10) Not odds and ends, but a system, jangan tunjukkan kepada mereka sesuatu yang aneh dan akhir dari segalanya, tetapi berikanlah kepada mereka suatu sistem yang baik dan benar; 11) Not piecemeal, but integrated approach, jangan menggunakan pendekatan yang sepotong-sepotong, tetapi pendekatan menyeluruh dan terpadu; 12) Not to conform, but to transform, bukan penyesuaian cara/model, tetapi transformasi model; 13) Not relief, but release, jangan berikan penyelesaian akhir kepada mereka, tetapi beri kebebasan kepada mereka sendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Konsep pemberdayaan dalam wacana pembangunan biasanya selalu dikaitkan dengan konsep kemandirian, partisipasi, jaringan kerja dan keadilan. Craig dan Mayo dalam Prasojo (2004) menyatakan: Partisipasi merupakan komponen terpenting dalam upaya pertumbuhan kemandirian dan proses pemberdayaan. Strategi pemberdayaan menempatkan partisipasi masyarakat sebagai isu utama pembangunan saat ini. Partisipasi aktif masyarakat di Dunia Ketiga dinilai sebagai strategi aktif untuk meningkatkan ekonomi, sosial dan transformasi budaya. Dengan partisipasi, pembangunan dapat menjangkau masyarakat terlemah melalui upaya membangkitkan semangat hidup untuk menolong diri sendiri. Dalam hal ini, partisipasi aktif masyarakat terkait dengan efektivitas, efisiensi, kemandirian dan jaminan bagi pembangunan yang berkelanjutan. Adapun bentuk partisipasi yang dapat dilakukan oleh masyarakat penerima program pembangunan, menurut Cohen dalam Syamsi (1986:114) terdiri dari partisipasi dalam pengambilan keputusan (decision making), implementasi, pemanfaatan (benefit) dan evaluasi program pembangunan. Keempat macam partisipasi tersebut merupakan suatu siklus yang dimulai dari decision making, implementasi, benefit dan evaluasi, kemudian merupakan umpan-balik bagi decision making yang akan datang. Namun dapat pula dari decision making langsung ke benefit atau pada evaluasi, begitu pula mengenai umpan baliknya. Di samping keempat bentuk partisipasi dari Cohen tersebut, Conyers (1992:154) perlu menambahkan satu lagi, yaitu masyarakat sebagai penerima program perlu dilibatkan dalam identifikasi masalah pembangunan dan dalam proses perencanaan program pembangunan. Sementara Ndraha (1990:103-104) membagi bentuk atau tahap partisipasi menjadi 6 (enam) bentuk/tahapan, yaitu:

Legitimid KSB __________________________________________________________________________38

a. partisipasi dalam/melalui kontak dengan pihak lain (contact change) sebagai salah satu titik awal perubahan sosial; b. patisipasi dalam memperhatikan/menyerap dan memberi tanggapan terhadap informasi, baik dalam arti menerima (mentaati, memenuhi, melaksanakan), mengiyakan, menerima dengan syarat, maupun dalam arti menolaknya; c. partisipasi dalam perencanaan pembangunan, termasuk pengambilan keputusan; d. partisipasi dalam pelaksanaan operasional pembangunan; e. partisipasi dalam menerima, memelihara dan mengembangkan hasil pembangunan; dan f. partisipasi dalam menilai pembangunan, yaitu keterlibatan masyarakat dalam menilai sejauh mana pelaksanaan pembangunan sesuai dengan rencana dan sejauh mana hasilnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Terjadinya partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah menurut Cohen dalam Syamsi (1986:122-123) disebabkan karena empat hal. Pertama, dari segi basisnya, yaitu partisipasi karena desakan (impetus) dan partisipasi karena adanya insentif. Kedua, segi bentuk yaitu partisipasi terjadi secara terorganisasi, ada pengarahan dari pimpinan kelompok, dan partisipasi yang dilakukan secara langsung oleh individu itu sendiri. Ketiga, segi keluasannya, yaitu partisipasi terjadi dengan mengorbankan waktu dan dengan menambah kesibukan di luar untuk kepentingan pribadinya. Keempat, dari segi efektivitasnya, yaitu dengan menjadi partisipan berharap bisa memberikan masukan/saran atau kontribusi yang tentunya pada akhirnya akan memberi manfaat terhadap dirinya. Dilihat dari keempat segi partisipasi tersebut di atas bila dilihat dari prakarsa terjadinya partisipasi maka bisa digolongkan menjadi dua bentuk, yaitu partisipasi yang datang dari atas (with initiative coming from the top down), dan partisipasi yang datang dari bawah (with initiative coming from the bottom up). Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan desa menjadi sangat penting. Ada tiga alasan utama menurut Conyers (1992:154-155) mengapa partisipasi masyarakat mempunyai sifat sangat penting, yaitu: pertama, partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat, yang tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan gagal. Kedua, masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses, persiapan dan perencanaannya, karena mereka akan lebih mengetahui seluk-beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap proyek tersebut. Ketiga, timbul anggapan bahwa merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka sendiri. Demikian pula Goulet dalam Supriatna (2000:211), tanpa partisipasi pembangunan justru akan mengganggu manusia dalam upayanya untuk memperoleh martabat dan kemerdekaannya.
Legitimid KSB __________________________________________________________________________39

Menurut Tjokrowinoto (1993) terdapat beberapa alasan pembenar bagi partisipasi masyarakat dalam pembangunan, yaitu: a. Rakyat adalah fokus sentral dan tujuan terakhir pembangunan, partisipasi merupakan akibat logis dari dalil tersebut; b. Partisipasi menimbulkan harga diri dan kemampuan pribadi untuk dapat turut serta dalam keputusan penting yang menyangkut masyarakat; c. Partisipasi menciptakan suatu lingkungan umpan balik arus informasi tentang sikap, aspirasi, kebutuhan dan kondisi daerah yang tanpa keberadaannya akan tidak terungkap. Arus informasi ini tidak dapat dihindari untuk berhasilnya pembangunan; d. Partisipasi dilaksanakan lebih baik dengan dimulai dari di mana rakyat berada dan dari apa yang mereka miliki; e. partisipasi memperluas zone (wawasan) penerima proyek pembangunan; f. Ia akan memperluas jangkauan pelayanan pemerintah kepada seluruh masyarakat; g. Partisipasi menopang pembangunan; h. Partisipasi menyediakan lingkungan yang kondusif baik bagi aktualisasi potensi manusia maupun pertumbuhan manusia; i. Partisipasi merupakan cara yang efektif membangun kemampuan masyarakat untuk pengelolaan program pembangunan guna memenuhi kebutuhan khas daerah; j. Terakhir, tetapi tidak kalah pentingnya, partisipasi dipandang sebagai pencerminan hak-hak demokratis individu untuk dilibatkan dalam pembangunan mereka. Perencanaan pembangunan yang berkiblat dan melibatkan kelompok sasaran pada akhirnya akan dapat diciptakan proyek-proyek pembangunan yang sesuai dengan sumber daya, kondisi, kebutuhan dan potensi kelompok sasaran tersebut. Dengan kesesuaian ini, maka partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program pembangunan akan tinggi dan pada tingkat selanjutnya proyek pembangunan itu akan bermanfaat dan dimanfaatkan kelompok sasaran. Dengan demikian tujuan pembangunan kualitas manusia melalui partisipasi masyarakat ini hanya akan tercapai apabila masyarakat melalui kelompok swadaya masyarakat memiliki kesempatan yang lebih besar untuk terlibat dalam setiap proses pembangunan.

2.2.9 Keberpihakan Anggaran dan Efektivitas Penggunaan ADD bagi pembangunan desa dan pengentasan kemiskinan Anggaran daerah/desa pada hakikatnya bersumber dari rakyat dan harus dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Karena itu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDesa) harus bercermin pada kebutuhan riil dan keadilan. Berkeadilan dimaknai sebagai berpihak pada orang miskin dan responsif Keberpihakan anggaran terhadap kelompok masyarakat miskin gender. karena

Legitimid KSB __________________________________________________________________________40

Kemiskinan merupakan salah satu persoalan laten di Indonesia, khususnya di Kabupaten Sumbawa Barat. Setelah lebih dari 60 tahun merdeka, angka kemiskinan di Indonesia dapat dikatakan masih cukup tinggi. Menurut Biro Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2007 jumlah orang miskin masih sekitar 35 juta orang atau lebih dari 15% penduduk Indonesia. Permasalahan ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi stakeholders untuk bisa menekan angka kemiskinan. Urgensi keberpihakan Anggaran terhadap Orang Miskin, para ahli menyepakai bahwa memang banyak penyebab kemiskinan namun salah satu penyebab terjadinya kemiskinan adalah keterbatasan, bahkan ketiadaan, akses dan kontrol terhadap sumber daya (baca anggaran). Artinya, kebijakan anggaran yang tidak responsif terhadap upaya mengatasi keterbatasan atau ketiadaan akses dan kontrol oleh orang miskin akan berdampak melanggengkan persoalan kemiskinan itu sendiri. Di sisi lain, hal tersebut juga dapat dimaknai bahwa anggaran menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengatasi persoalan kemiskinan. Oleh karenanya anggaran perlu berpihak kepada orang miskin. Terdapat beberapa alasan perlunya keberpihakan anggaran kepada orang miskin: Pertama, anggaran merupakan entry point untuk mewujudkan keadilan, melalui salah satu fungsi anggaran yaitu distribusi. Melalui fungsi ini, anggaran menjadi sarana untuk mendistribusikan sumber daya, terutama kepada para pihak yang membutuhkannya. Harapannya, fungsi ini dapat berkontribusi untuk mengatasi kesenjangan akses dan kontrol terhadap sumber daya yang menjadi salah satu penyebab kemiskinan. Kedua, anggaran dapat menjadi alat untuk implementasi program atau kegiatan penanggulangan kemiskinan yang telah direncanakan, baik yang sifatnya jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Ketiga, Orang miskin juga pembayar pajak dan retribusi yang menjadi sumber pendapatan anggaran negara dan daerah. Anggaran yang berpihak pada orang miskin menjadi sebuah keniscayaan, sebagai salah satu wujud implementasi fungsi negara untuk mewujudkan kesejahteraan rakyatnya. Setidaknya ada tiga landasan hak bagi warga miskin menuntut hal ini, yaitu: hak asasi manusia, hak warga negara, hak ekonomi sosial dan budaya. Meski hingga saat ini belum terdapat kesepakatan tentang konsep dari anggaran yang berpihak pada orang miskin. Namun secara umum anggaran yang berpihak pada orang miskin sering dimaknai sebagai anggaran yang responsif terhadap kebutuhan dasar orang miskin. Konsep kebutuhan dasar sendiri diinterpretasikan sebagai kebutuhan minimum dari sebuah keluarga untuk konsumsi, seperti makanan, tempat tinggal (shelter), dan pakaian, Essential
Legitimid KSB __________________________________________________________________________41

services untuk konsumsi kolektif

yang ditujukan kepada masyarakat, yaitu

ketersediaan air bersih, sanitasi, listrik, transportasi publik, kesehatan dan fasilitas pendidikan, adanya partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan yang berdampak kepada mereka. Selain untuk memenuhi kebutuhan dasar, berikut terdapat beberapa pengertian lain tentang anggaran yang berpihak pada orang miskin, yaitu: (a). anggaran yang berpihak pada orang miskin dapat diterjemahkan sebagai praktek penyusunan dan pelaksanaan kebijakan di bidang anggaran yang sengaja ditujukan untuk membuat kebijakan, program, dan proyek yang berpihak kepada kepentingan orang miskin. (b). anggaran yang berpihak pada orang miskin adalah kebijakan anggaran yang dampaknya dapat meningkatkan kesejahteraan dan atau terpenuhinya kebutuhan hak-hak dasar orang miskin. (b). substansi pengertian anggaran yang berpihak pada orang miskin mempunyai kesamaan dengan konsep anggaran yang berorientasi pada pemenuhan hak-hak dasar rakyat. ADD merupakan salah sumber pendapatan desa dalam APBD yang harus dipertanggungjawabkan pengelolaan dan pemanfaatannya oleh pemerintah desa. Mardiasmo menyebutkan 5 prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan keuangan pada umumnya antara lain: Akuntabilitas, Value for Money, Kejujuran dalam Pengelolaan Keuangan Publik, Transparansi dan Pengendalian. Akuntabilitas berkaitan dengan prinsip pertanggungjawaban publik yang berarti bahwa proses penganggaran mulai dari perencanaan, penyusunan dan pelaksanaan harus benar-benar dapat dilaporkan dan dipertanggungjawabkan kepada lembaga legislatif dan masyarakat. Akuntabilitas mensyaratkan bahwa pengambil keputusan berperilaku sesuai dengan mandat yang diterimanya. Untuk ini, perumusan kebijakan, bersama-sama dengan cara dan hasil kebijakan tersebut harus dapat diakses dan dikomunikasikan secara vertikal maupun horizontal dengan baik. Value for money berarti diterapkannya tiga prinsip dalam proses penganggaran yaitu ekonomi, efisiensi, dan efektivitas. Ekonomi berkaitan dengan pemilihan dan penggunaan sumber daya dalam jumlah dan kualitas tertentu pada harga yang paling murah. Efisiensi berarti bahwa penggunaan dana masyarakat (publik money) tersebut dapat menghasilkan output yang maksimal (berdaya guna). Efektivitas berarti bahwa penggunaan anggaran tersebut harus mencapai target-target atau tujuan kepentingan publik. Indikasi keberhasilan otonomi desa dan desentralisasi adalah terjadinya peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat (social welfare) yang
Legitimid KSB __________________________________________________________________________42

semakin baik, kehidupan demokrasi yang semakin maju, keadilan, pemerataan, serta adanya hubungan yang serasi antara pusat dan daerah-desa serta antar daerah dan antar-desa. Keadaan tersebut hanya akan tercapai apabila lembaga sektor publik dikelola dengan memperhatikan konsep value for money. Dalam konteks otonomi desa, value for money merupakan jembatan untuk menghantarkan pemerintah desa mencapai good governance. Value for money tersebut harus dioperasionalkan dalam pengelolaan keuangan desa dan anggaran desa. Untuk mendukung dilakukannya pengelolaan dana publik (publik money) yang mendasarkan konsep value for money, maka diperlukan sistem pengelolaan keuangan desa dan anggaran desa yang baik. Hal tersebut dapat tercapai apabila pemerintah desa memiliki sistem akuntansi yang baik. Kejujuran dalam Pengelolaan Keuangan Publik (Probity) berarti bahwa pengelolaan keuangan pemerintah harus dipercayakan kepada staf yang memiliki integritas dan kejujuran yang tinggi, sehingga kesempatan untuk korupsi dapat diminimalkan. Transparansi adalah keterbukaan pemerintah dalam membuat kebijakankebijakan keuangan desa sehingga dapat diketahui dan diawasi oleh DPRD dan masyarakat. Transparansi pengelolaan keuangan desa pada akhirnya akan menciptakan horizontal accountability antara pemerintah desa dengan masyarakatnya sehingga tercipta pemerintahan desa yang bersih, efektif, efisien, akuntabel, dan responsif terhadap aspirasi dan kepentingan masyarakat. Dalam hal pengendalian, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) harus selalu dimonitor, yaitu dibandingkan antara yang dianggarkan dengan yang dicapai. Untuk itu perlu dilakukan analisis varians (selisih) terhadap penerimaan dan pengeluaran desa agar dapat sesegera mungkin dicari penyebab timbulnya varians dan tindakan antisipasi ke depan. Prinsip-prinsip yang mendasari pengelolaan keuangan tersebut harus senantiasa dipegang teguh dan dilaksanakan oleh penyelenggara pemerintahan desa, karena pada dasarnya masyarakat (publik) memiliki hak dasar terhadap pemerintah, yaitu: 1. Hak untuk mengetahui (right to know), yaitu: a. Mengetahui kebijakan pemerintah. b. Mengetahui keputusan yang diambil pemerintah. c. Mengetahui alasan dilakukannya suatu kebijakan dan keputusan tertentu.
Legitimid KSB __________________________________________________________________________43

2. Hak untuk diberi informasi (right to be informed) yang meliputi hak untuk diberi penjelasan secara terbuka atas permasalahan-permasalahan tertentu yang menjadi perdebatan publik. 3. Hak untuk didengar aspirasinya (right to be heard and to be listened to). Dalam upaya pemberdayaan pemerintahan desa, maka pengelolaan keuangan desa hendaknya bertumpu pada kepentingan publik (public oriented). Hal ini tidak saja terlihat pada besarnya porsi pengalokasian anggaran untuk kepentingan publik, tetapi juga terlihat pada besarnya partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan/pengendalian keuangan desa. Pengembangan sistem informasi keuangan desa untuk menyediakan informasi anggaran yang akurat dan pengembangan komitmen pemerintah desa terhadap penyebarluasan informasi sehingga memudahkan pelaporan dan pengendalian, serta mempermudahkan publik mendapatkan informasi tentang pengelolaan keuangan desa. Korupsi yang berlangsung saat ini bukan hanya terjadi pada tingkat atas, melainkan pula pada kehidupan sosial masyarakat desa. Pemerintahan desa mulai terbelit dan terjerambah dengan penyakit korupsi. Alokasi Dana Desa dalam jumlah yang besar berpotensi terjadi peyimpangan. Menurut Hongren dalam Burhanuddin (1999:47), ada 5 (lima) kategori terjadinya penyimpangan, yaitu: a. Implementation deviation, penyimpangan disebabkan kesalahan manusia atau peralatan; b. Prediction deviation, penyimpangan disebabkan kesalahan menaksir nilai parameter dalam suatu model keputusan; c. Measurement deviation, penyimpangan disebabkan kesalahan menghitung biaya aktual; d. Model deviation, penyimpangan disebabkan kesalahan formulasi model; dan e. Random deviation, penyimpangan yang disebabkan kesalahan karena fluktuasi yang inheren dengan parameter, sehingga tidak perlu dilakukan.

Penyimpangan yang menguntungkan (favorable) harus diberi perhatian dan penghargaan, sedangkan yang tidak menguntungkan (unfavorable) perlu dianalisis apa penyebabnya, sehingga dapat diperbaiki untuk mencegah tidak terulangnya kembali kesalahan yang sama di masa yang akan datang. Hanson dalam Burhanuddin (1999:47) menyatakan bahwa tujuan dari setiap sistem pengendalian adalah untuk mengurangi serendah-rendahnya perbedaan antara kondisi aktual dengan yang diinginkan. kemajuan yang dicapai dalam program anggaran. Laporan anggaran periodik adalah alat untuk memberitahu pihak-pihak yang berkepentingan tentang

Legitimid KSB __________________________________________________________________________44

BAB III METODE PENELITIAN


3.1. Desain Penelitian Penelitian ini adalah bersifat penelitian evaluatif dengan melakukan analisis data-data kuantitatif maupun kualitatif. Data kuantitatif yang dianalisis adalah terkait dengan dokumen kebijakan Alokasi Dana Desa yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah sejak tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 serta perkembangan atau trend kebijakan yang berkembang selama kurun waktu lima tahun. Kajian ini juga berusaha untuk menemukan

Legitimid KSB __________________________________________________________________________45

model pengelolaan ADD yang terbaik (best practices) dan yang terburuk (bad practices) yang berkembang selama ini, menggali dan menganalisis faktorfaktor pendukung maupun faktor-faktor penghambat dalam implementasi pengelolaan ADD serta memformulasikan rekomendasi bagi keberlangsungan ADD di masa mendatang. Unit analisis yang di evaluasi antaralain, meliputi ; a. b. c. d. e. Trend kebijakan jumlah Alokasi Dana Desa ; Trend kebijakan jumlah Alokasi pemanfaatan/peruntukkan ADD ; Trend kebijakan jumlah ADD pada masing-masing Kecamatan ; Trend kebijakan jumlah ADD pada masing-masing Desa ; Trend Perbadingan pengelolaan ADD pada masing-masing desa; Adapun tujuan penelitian evaluasi dan trend kebijakan ini adalah untuk ; pertama, memperoleh gambaran yang komprehensif, mendalam, dan sistematis mengenai perkembangan maupun kecendrungan (trend) kebijakan Alokasi Dana Desa yang berkembang sejak diberlakukannya kebijakan penetapan Alokasi Dana Desa di Kabupaten Sumbawa Barat yang telah dilaksanakan mulai tahun 2006 sampai dengan 2010 serta prospek dimasa mendatang dengan melakukan analisis time series serta melakukan analisis perbandingan ADD, maka dapat diperoleh gambaran yang detail mengenai perkembangan kebijakan ADD dari tahun ke tahun. Kedua, adalah untuk memperoleh gambaran secara komperehensif, mendalam dan alamiah (sistematis) mengenai pelaksanaan atau pengelolaan ADD di masing-masing desa. Ketiga, menemukan faktor-faktor pendorong maupun faktor-faktor penghambat dalam pengelolaan ADD serta formulasi kebijakan di masa mendatang. Keempat, menemukan model atau pola pengembangan ADD yang terbaik dan terburuk yang berkembang selama ini. Seluruh hasil dari penelitian ini ditujukan untuk memberikan umpan balik (feedback) bagi perkembangan kebijakan ADD di Kabupaten Sumbawa
Legitimid KSB __________________________________________________________________________46

Barat sehingga penyesuaian kebijakan dapat dilakukan oleh Pemerintah daerah dan para stakeholders untuk mengarahkan usaha-usaha menuju Kabupaten Sumbawa Barat sebagai Kabupaten Percontohan yang dicakup dalam visi, misi serta program prioritas daerah. Penelitian ini dirancang untuk menghasilkan penilaian yang tidak bias serta diakui kredibelitasnya. Penelitian secara khusus mencermati melalui pemaparan pengalaman sebelumnya dan pengalaman aktual pemerintah daerah da pemerintahan dalam mengelola dan menjalankan tanggung jawab dan wewenang baru dalam pengelolaan ADD. Oleh karena itu, kajian ini menekankan pada persfektif multistakeholders dan menandai kebijakan yang diambil oleh daerah dan desa dalam menginterprestasikan regulasi dan impelementasi regulasi ADD. Karena impelementasi pengelolaan ADD dilaksanakan di desa, pandangan pelaku kebijakan di desalah yang merupakan fokus utama untuk memaparkan perkembangan pengelolaan ADD. Proses penelitian ini melibatkan sebuah tim analisis, yang terdiri dari berbagai disipilin ilmu pengetahun yang berpengalaman serta memahami permasalahan otonomi desa dan pengelolaan ADD. 3.2. Tahapan-tahapan dalam kajian ADD Untuk mencapai tujuan dan hasil sebagaimana di harapkan di atas, maka serangkaian kegiatan kajian akah dilakukan dengan tahapan alur proses sebagai berikut ;

Legitimid KSB __________________________________________________________________________47

Pengumpulan Data

Briefing Team Peneliti

Analisis Data dan Workshop Exit Data

Perumusan Masalah/Materi (Wawancara dan diskusi)

Penulisan Lapran Sementara

Penyusunan Tahapan/Agenda Penelitian

Workhshop Syentesis

Finalisasi Laporan Akhir dan Publikasi

(a). Penyusunan Tahapan/Agenda Penelitian. Fase ini merupakan tahap penyusunan agenda penelitian dan penentuan tema yang akan dicakup dalam penelitian/kajian. Ini mencakup kegiatan pengumpulan informasi secara partisipatif tentang isu isu-isu yang sebaiknya di sorot dalam kajian ADD, berdasarkan kepentingan pihak-pihak terkait (Pemda KSB). pihak (b). Perumusan Materi Wawancara dan Diskusi. Sekelompok teman sejawat atau kelompok kecil yang mewakili pemerintah KSB, pemerintah desa, masyarakat madani, dan sektor swasta, bersama-sama dengan LEGITIMID KSB sama dan beberapa kelompok kerja lainnya mengamati tentang pengelolaan ADD, menyaring berbagai tema dan isu guna merumuskan materi pertanyaan wawancara dan diskusi. (c). Briefing Team. Pengarahan bagi team peneliti untuk membe memberikan adanya persamaan presepsi sekaligus untuk menjamin bahwa semua pelaksana dalam penelitian ini mempunyai pemahaman yang sama tentang parameter penilaian, agenda penelitian, materi wawancara, dan metode pengumpulan data. (d). Pengumpulan dan Analisis data. LEGITIMID mengumpulkan data dan informasi dengan melakukan serangkaian kegiatan yang bersifat partisipatif, data dan informasi yang dikumpulkan tersebut berupa data kuantitatif maupun kualititatif yang dillakukan secara partisipatif dengan melibatkan banyak pihak

Legitimid KSB __________________________________________________________________________48 _________________________________________________________________________

yang berkepntingan, dan juga menggunakan diskusi kelompok yang menjadi sasaran sebagai metode pengumpulan data primer. Data yang dihimpun dari data dokumen maupun data yang dihimpun dari dialog-dialog yang berpautan satu sama lain itu divalidasi dan diperkuat melalui wawancara dengan pihak-pihak utama serta analisis data sekunder, seperti misalnya Dokumen Penetapan ADD, APBDesa dan peraturan daerah maupun peraturan desa yang disahkan. (e). Workshop exit data Workshop exit data dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh data dan informasi yang diperoleh baik melalui FGD, Indept interview maupun dokumendokumen yang resmi yang telah ada dan diperoleh memiliki tingkat validitas yang tinggi, melalui kegiatan exit data ini seluruh data dan informasi yang telah berhasil dikumpulkan dipresentasikan kepada para stakeholders untuk mengecek kebenaran/validasi data tersebut, klarifikasi serta masukan perbaikan atas datadata menjadi fokus utama dalam kegiatan ini. (f). Penulisan Laporan Sementara LEGITIMID menyiapkan laporan menyeluruh tentang semua data yang berhasil dikumpulkan. Data sekunder yang mendukung temuan penelitian dilampirkan ke dalam laporan (g). Workshop Sintesis Sasaran dari workshop sintesis ini adalah hasil analisis dari semua pihak secara bersama-sama tentang data yang berhasil dikumpulkan serta pengembangan konsensus berdasarkan hasil pengamatan empiris yang dilakukan oleh LEGITIMID. (h). Presentasi Hasil Kajian Temuan-temuan hasil kajian kemudian dipresentasikan ke Bapppeda KSB, dimana diskusi tersebut membahas tentang hasil-hasil temuan kajian dan pandanganpandangan yang berkembang selama ini. (i). Finalisasi Laporan Akhir dan Publikasi Seluruh hasil kajian didokumentasikan dalam laporan akhir kajian, dan hasil kajian tersebut kemudian dipublikasikan dengan harapan agar publik mengetahui perkembangan pengelolaan ADD.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________49

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Sumber-Sumber Pendapatan Desa Sebelum membahas lebih jauh tentang impementasi kebijakan ADD di Kabupaten Sumbawa Barat, perkembangan dan trend kecendrungannya, penting untuk dibahas terlebih dahulu adalah sumber-sumber pendapatan desa serta keadaan dan perkembangan keuangan daerah kabupaten sumbawa barat selama kurun waktu lima tahun. Dengan melihat keadaan umum keuangan daerah Kabupaten Sumbawa Barat, diharapkan nantinya kita dapat memperoleh gambaran secara komprehensif apakah kebijakan dan impelemntasi atas kebijakan ADD di KSB sudah cukup tepat, faktor-faktor apasajakah yang mempengaruhi penetapan ADD, bagaimanakah proporsi dan kecendrungan ADD selama ini disamping itu kita juga dapat memahami konsteks lahirnya penetapan jumlah ADD di KSB.
Legitimid KSB __________________________________________________________________________50

Bila kita mengadi pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa disebutkan bahwa sumber pendapatan desa selain berasal dari Pendapatan Asli Desa adalah bersumber dari bantuan keuangan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, hibah dan sumbangan dari pihak ketiga. Adapun proporsi yang diterima sebagai pendapata desa tersebut adalah bersumber dari bagi hasil pajak daerah Kabupaten/Kota, ditentukan bahwa paling sedikit adalah 10% (sepuluh perseratus) sumber pendapatan desa dari hasil retribusi Kabupaten/Kota disebutkan adalah sebagian diperuntukkan bagi desa sedangkan sumber pendapatan desa yang berasal dari bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa adalah paling sedikit 10% (sepuluh perseratus) yang pembagiannya untuk setiap Desa dilakukan secara proporsional yang merupakan Alokasi Dana Desa (ADD). 4.1.1. Gambaran Umum Keuangan Daerah Bila dilihat dari proporsi perkembangan belanja maupun pendapatan daerah, maka secara umum kurun waktu 5 tahun (2006 s.d 2010) belanja daerah maupun pendapatan daerah mengalami peningkatan yang signifikan. Dari sisi pendapatan daerah. Peningkatan Pendapatan Daerah terjadi pada dana perimbangan keuangan pusat dan daerah serta Pendapatan Asli daerah. Pada tahun 2006 dana perimbangan pusat-daerah hanya sebesar Rp.201.631.048.248,dan pada tahun 2010 meningkat menjadi sebesar Rp. 317.923.384.684,-. Peningkatan signifikan berlangsung pula pada Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pada tahun 2006, dan PAD Kabupaten tahun Sumbawa 2010 Barat hanya sebesar sebesar Rp.11.123.778.238, pada telah mencapai

Rp.36.526.314.535,-. Berikut gambaran perkembangan pendapatan daerah:


Grafik 1 : Trend Perkembangan PAD KSB Tahun 2006 s.d. 2010

Legitimid KSB __________________________________________________________________________51

PAD dan Dana Perimbangan (2006 s.d. 2010)

329.088.429.087 317.923.384.684 294.743.448.468,00 271.660.741.349 201.631.048.248

11.123.776.236 8.937.266.483 16.558.210.902 18.103.931.295

36.526.314.535

2006

2007

2008

2009

2010

PENDAPATAN ASLI DAERAH

PEMERINTAH PUSAT-DANA PERIMBANGAN DANA

Sumber : Data diolah dari APBD KSB 2006 s.d. 2010 dalam LPJ Akhir Masa Jabatan Bupati 2010

Kenaikan Pendapatan Daerah di atas ternyata tidak memiliki implikasi yang signifikan terhadap peningkatan jumlah Alokasi Anggaran Desa (ADD) karena dalam waktu bersamaan terjadi peningkatan jumlah pegawai dan jumlah desa, pada tahun 2006, jumlah desa hanya 38 desa sedangkan pada tahun 2010 jumlah desa menjadi 57 desa. Sehingga meskipun jumlah ADD meningkat namun apabila didistribusikan kepada seluruh desa yang menerima ADD justeru jumlah ADD cenderung mengalami penurunan. Berikut gambaran kenaikan Pendapatan APBD (realisasi) dengan ADD:

Grafik 2 : Perbandingan Kenaikan Pendapatan Daerah dengan ADD (2006 s.d.2009)

ADD Vs Pendapatan Daerah (2006 s.d.2010)


487.451.583.095 395.515.088.553 321.926.172.885 219.007.101.868 345.165.134.202,00

5.700.000.000 2006

9.212.351.253 2007

9.831.134.296 2008

13.000.000.000

13.000.000.000

2009

2010

TOTAL ALOKASI DANA DESA

TOTAL PENDAPATAN DAERAH

Sumber : Data diolah dari APBD KSB 2006 s.d. 2010 dalam LPJ Akhir Masa Jabatan Bupati 2010 dan kumpulan peraturan Bupati tentang penepatan ADD 2006 s.d.2010

Legitimid KSB __________________________________________________________________________52 _________________________________________________________________________

Berikut tabel gambaran perkembangan dana perimbangan dan belanja pegawai daerah :
Tabel 1 : Perkembangan Dana Perimbangan dan Belanja Pegawai KSB Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 Dana Perimbangan (DP) 205,360,136,794 255,747,353,208 296,444,073,771 314,597,599,788 317,923,384,684 Belanja Pegawai (BP) 73,049,609,532 104,999,229,503 137,798,087,070 146,877,683,003 125,999,481,870 DP-BP 132,310,527,262 150,748,123,705 158,645,986,701 167,719,916,785 191,923,902,814 Prosentase BP atas DP (%) 35.57 41.06 46.48 46.69 39.63

Sumber : Data diolah dari APBD KSB 2006 s.d. 2010 dalam LPJ Akhir Masa Jabatan Bupati 2010

Peningkatan dana perimbangan dan belaja pegawai berimpliasi pula terhadap alokasi ADD yang turut pula mengalami peningkatan. Berikut gambaran perkembangan dan perbandingan jumlah ADD dan jumlah belanja daerah :
Tabel 2 : Perkembangan dan Persentase jumlah ADD terhadap Belanja Daerah kurun waktu 2006 s.d. 2010 Persentase ADD terhadap Tahun Jumlah ADD Jumlah Belanja Daerah Belanja Derah (%) 2006 5,700,000,000 276,339,765,710 2.06 2007 2008 2009 2010 9,958,751,253 9,831,134,296 13,000,000,000 13,000,000,000 345,874,274,503 437,837,679,158 524,190,027,419 525,351,583,095

2.88 2.25 2.48 2.47

Sumber : data diolah dari laporan Akhir Pertanggungjawaban Bupati KSB dan kumpulan peraturan bupati tentang penetapan ADD 2006 s/d 2010

Secara nominal, trend jumlah ADD dari tahun ke tahun memang mengalami peningkatan akan tetapi persentase ADD terhadap jumlah belanja daerah tidak mengalami perubahan yakni berkisar 2% dari jumlah belanja daerah. Bahkan, pada tahun 2010 mengalami penurunan. Trend kenaikan belanja pegawai yang terus meningkat menyebabkan dana perimbangan terserap untuk belanja pegawai hampir setengah (35-46%). Sebaliknya persentase jumlah ADD terhadap dana perimbangan cenderung statis, yakni berkisar antara 2-4% dari jumlah dana perimbangan5. Artinya, kedantipun dana perimbangan dari tahun ke tahun meningkat, namun peningkatan tersebut
Pada tahun 2006 misalnya, dana perimbangan KSB mencapai Rp.205.360.136.794 (dua ratus lima milyar tiga ratus enam puluh juta seratus tiga puluh enam ribu tujuh ratus sembilan puluh empat rupiah), namun dari jumlah tersebut sebesar Rp.73,049,609,532 terserap untuk belanja pegawai atau sekitar 35% dari total dana perimbangan. Pada tahun 2007 terjadi kenaikan Dana Perimbangan menjadi Rp.255.747.353.208, namun belanja pegawai mengalami pula kenaikan yang sangat siginifikan mencapai sebesar Rp.18.437.596.443 sehingga belanja pegawai pada tahun 2007 mencapai Rp.104.999.229.503 atau 41% dari total dana perimbangan dan kecendrungan dalam dua tahun terakhir adalah terjadinya kenaikan belanja pegawai bahkan saat ini hampir setengah dari dana perimbangan (46%) terserap untuk belanja pegawai. Legitimid KSB __________________________________________________________________________53
5

tidaklah berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan jumlah ADD. Berikut gambaran persentase perhitungan jumlah ADD terhadap dana perimbangan :
Tabel 3 : Persentase ADD terhadap Dana Perimbangan Pusat dan Daerah Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 Dana Perimbangan 205,360,136,794 255,747,353,208 296,444,073,771 314,597,599,788 317,923,384,684 Jumlah ADD 5,700,000,000 9,212,351,253 9,831,134,296 13,000,000,000 13,000,000,000 % ADD dari total DP 2.78 3.60 3.32 4.13 4.09

Sumber : Data diolah dari APBD KSB 2006 s.d. 2010 dalam LPJ Akhir Masa Jabatan Bupati 2010 dan kumpulan peraturan Bupati tentang penepatan ADD 2006 s.d.2010

Berikut adalah grafik perbandingan antara kenaikan ADD dengan belanja pegawai:
Grafik 3: Perbandingan Kenaikan ADD dengan Belanja Pegawai
PERBANDINGAN KENAIKAN ADD DENGAN BELANJA PEGAWAI (2006 s.d.2010)
40.000.000.000 35.000.000.000 30.000.000.000 25.000.000.000 20.000.000.000 15.000.000.000 10.000.000.000

34.203.986.029

18.437.596.443

7.897.862.996
5.000.000.000 0 -5.000.000.000

3.512.351.253 0 2006 2007 2008 618.783.043 2009

3.168.865.704 0 -926.069.916 2010

kenaikan ADD

kenaikan belanja pegawai

Legitimid KSB __________________________________________________________________________54

Sumber : Data diolah dari APBD KSB 2006 s.d. 2010 dalam LPJ Akhir Masa Jabatan Bupati 2010 dan kumpulan peraturan Bupati tentang penepatan ADD 2006 s.d.2010

Berdasarkan data di atas terlihat bahwa kenaikan belanja pegawai jauh lebih besar bila dibandingkan dengan kenaikan jumlah ADD. Dengan kondisi tersebut, maka berpotensi mengancam proporsi jumlah ADD untuk mengalami penurunan. 4.1.2. Pendapatan Desa dari Dana Perimbangan Daerah Jumlah Alokasi Dana Desa selama ini ternyata sangat dipengaruhi dari jumlah Dana Perimbangan Pusat dan Daerah. Semnetara, besarnya jumlah ADD yang diterima setiap desa/tahun tersebut sangat tergantung dari formulasi kebijakan daerah. Secara yuridis, ada dua landasan yang digunakan dalam menentukan besarnya ADD. Pertama adalah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa, pasal 68 ayat (1) butir c dikatakan bahwa bagian dari dana perimbangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa paling sedikit 10% ( sepuluh per seratus) yang pembagiannya untuk setiap Desa secara proporsional yang merupakan Alokasi Dana Desa6. Kedua adalah berdasarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 140/640/SJ tanggal 22 Maret 2005 yang ditujukan kepada para Gubernur & Bupati/Walikota serta Pimpinan DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota di Seluruh Indonesia tentang Pedoman Alokasi Dana Desa dari Pemerintah Kabupaten/Kota Kepada Pemerintah Desa disebutkan bahwa Bantuan Keuangan yang merupakan bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota antara 5 persen s.d 10 persen dan prosentase tersebut tidak termasuk Dana Alokasi Khusus (DAK). Merujuk pada dua ketentuan di atas, nampak terdapat perbedaan mengenai ketentuan besaran jumlah dana perimbangan dari daerah kabupaten/kota ke desa. Bila merujuk pada PP No.72 Tahun 2005, dana perimbangan dari kabupaten/kota ke desa adalah sebesar minimal 10%, sedangkan dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 140/640/SJ tanggal 22 Maret 2005, adalah antara 5 persen s/d 10%, meskipun dalam Surat Edaran ini tidak termasuk DAK. Bila mengacu pada PP 72 tahun 2005 atau disebut pendekatan pertama (10%) maka jumlah ADD yang diterima oleh setiap desa di KSB masih mengalami
6 Bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah ini terdiri dari ; dana bagi hasil pajak dan sumberdaya alam ditambah dana alokasi umum dikurangi belanja pegawai.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________55

kekurangan. Berikut gambaran rincian mengenai perhitungan proporsi dana ADD jika digunakan berdasarkan PP 72 Tahun 2005 (10% ) dari dana perimbangan setelah dikurangi belanja pegawai :
Tabel 4: Perhitungan jumlah ADD 10% dari dana perimbangan setelah dikurangi belanja pegawai
Jml Dana Perimbangan setelah dikurangi Belanja Pegawai 132,310,527,262 150,748,123,705 158,645,986,701 167,719,916,785 191,923,902,814 Kekurangan ADD untuk Desa 7,531,052,726 5,862,461,118 6,033,464,374 3,771,991,679 6,192,390,281 68 Persentase ADD dari 10% 43 61 62 78

Tahun 2006 2007 2008 2009 2010

Dana Perimbangan 205,360,136,794 255,747,353,208 296,444,073,771 314,597,599,788 317,923,384,684

Belanja Pegawai 73,049,609,532 104,999,229,503 137,798,087,070 146,877,683,003 125,999,481,87 0

10% ke desa untuk ADD 13,231,052,726 15,074,812,371 15,864,598,670 16,771,991,679 19,192,390,281

Jumlah ADD yang telah ditetapkan 5,700,000,000 9,212,351,253 9,831,134,296 13,000,000,000 13,000,000,000

Sumber : Data diolah dari APBD KSB 2006 s.d. 2010 dalam LPJ Akhir Masa Jabatan Bupati 2010 dan kumpulan peraturan Bupati tentang penepatan ADD 2006 s.d.2010

Pada tahun 2006 jumlah ADD di KSB adalah sebesar Rp.13,231,052,726,-. Namun, jumlah ADD yang dialokasikan hanyalah sebesar Rp.5,700,000,000,sehingga terdapat kekurangan sebesar Rp.7,351,052,762 atau sekitar 43%. Begitupun pada tahun 2007 terdapat kekurangan sebesar Rp.5,862,461,118 atau 61% dan tahun 2008 s/d 2010 sekitar 68%7. Namun, jika mengacu pada SE Mendagri Nomor 140/640/SJ tanggal 22 Maret 2005, dengan ketentuan persentase minimal jumlah ADD adalah 5% dari dana perimbangan setelah dikurangi belanja pegawai, maka kekurangan alokasi ADD hanya berlangsung pada tahun 2006, yakni kekurangan sebesar Rp.915,526,363, seharusnya tahun 2006 jumlah ADD yang diterima desa adalah sebesar Rp.6,615,526,363,- akan tetapi pada tahun 2006 jumlah ADD yang ditetapkan hanya sebesar Rp.5,700,000,000,- atau 86%. Sedangkan pada tahun 2007 s.d 2009 justeru terdapat kelebihan. Tahun 2007 jumlah kelebihan ADD sebesar Rp.1,674,945,068,(atau 122%) dan tahun 2008 sebesar Rp.1,898,834,961,-, tahun 2009 sebesar Rp.4,614,004,161 dan tahun 2010 kelebihan sebesar Rp.3,403,804,849. Berikut perhitungan ADD 5% dari dana perimbangan setelah dikurangi belanja pegawai :
Pada awal masa pelaksanaan kebijakan ADD telah menimbulkan polemik atau kontroversial ditengah-tengah masyarakat (khususnya pemerintahan desa dan LSM) mengenai besarnya jumlah ADD yang harus diberikan Pemda kepada desa. Dalam presfektif Pemerintah Daerah dengan mengacu pada SE Mendagri Nomor 140/640/SJ tanggal 22 Maret 2005 yang membolehkan penetapan jumlah ADD 5%, maka kebijakan penetapan jumlah ADD yang selama ini dilakukan oleh pemerintah daerah KSB tidaklah melanggar aturan yang berlaku. Sebaliknya, sejumlah LSM dan Pemerintahan Desa beranggapan bahwa jumlah penetapan ADD minimal adalah 10% dari dana perimbangan Pusat-Daerah setelah dikurangi belanja pegawai sehingga atas dasar perhitungan tersebut, pemerintahan desa dan LSM beranggapan bahwa masih terdapat kekurangan jumlah ADD untuk setiap desa. Legitimid KSB __________________________________________________________________________56
7

Tabel 5 : Perhitungan jumlah ADD 10% dari dana perimbangan setelah dikurangi belanja pegawai
Tahu n 2006 2007 2008 2009 2010 Dana Perimbangan 205,360,136,794 255,747,353,208 296,444,073,771 314,597,599,788 317,923,384,684 Belanja Pegawai 73,049,609,532 104,999,229,503 137,798,087,070 146,877,683,003 125,999,481,870 Jml DP setelah dikurangi BP 132,310,527,262 150,748,123,705 158,645,986,701 167,719,916,785 191,923,902,814 5% dari Dana Perimbangan 6,615,526,363 7,537,406,185 7,932,299,335 8,385,995,839 9,596,195,141 ADD yg ditetapkan (Rp) 5,700,000,000 9,212,351,253 9,831,134,296 13,000,000,00 0 13,000,000,00 0 Total Kelebihan/ Kekurangan (Rp) 915,526,363 -1,674,945,068 -1,898,834,961 -4,614,004,161 -3,403,804,859 ADD setelah DP-BP (%) 86.16 122.22 123.94 155.02 135.47

Sumber : Data diolah dari APBD KSB 2006 s.d. 2010 dalam LPJ Akhir Masa Jabatan Bupati 2010 dan kumpulan peraturan Bupati tentang penepatan ADD 2006 s.d.2010

4.1.3. Pendapatan Desa dari Hasil Bagi Pajak Daerah Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa Pasal 68 huruf b disebutkan bahwa sumber pendapatan desa adalah dari bagi hasil pajak daerah kabupaten/kota paling sedikit 10% ( sepuluh per seratus) untuk desa dan dari retribusi kabupaten/kota sebagian diperuntukkan bagi desa. Berdasarkan hasil studi menunjukkan bahwa pendapatan daerah dari sektor pajak daerah masih sangatlah minim. Pada tahun 2006 misalnya, jumlah Pajak Daerah Kabupaten Sumbawa Barat hanya Rp.789,350,000,- tahun 2007 meningkat menjadi sebesar Rp.890,043,000,- atau naik Rp.110 juta, hingga tahun 2010 pendapatan daerah dari hasil pajak daerah hanya sebesar Rp.1,864,515,654,Berikut gambaran perkembangan jumlah Pajak Daerah di Kabupaten Sumbawa Barat sejak Tahun Anggaran 2006 s.d. 2010 :
Tabel 6 : Perkembangan Jumlah Pajak Daerah (2006 s.d. 2010) Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 Pajak Daerah 789,350,000 890,043,000 1,665,043,000 1,665,043,000 1,864,515,654 10% ke desa 78,935,000 89,004,300 166,504,300 166,504,300 186,451,565 Jumlah Desa 38 49 49 49 57 Rata-rata Desa/tahun 2,077,237 1,816,414 3,398,047 3,398,047 3,271,080

Sumber : Data diolah dari APBD KSB 2006 s.d. 2010 dalam LPJ Akhir Masa Jabatan Bupati 2010

Berdasarkan data di atas pendapatan desa dari hasil bagi pajak daerah masih sangat rendah. Pada tahun 2006 dari bagi hasil pajak setiap desa hanya menerima rata-rata penerimaan pendapatan desa sebesar Rp.2,077,237,-/tahun dan hingga tahun 2010 menerima bagi hasil sebesar Rp.3,585,607/tahun. Rendahnya pendapatan dari sektor pajak daerah ini selain dikarenakan minimnya potensi pajak daerah disebabkan pula karena belum optimalnya upaya

Legitimid KSB __________________________________________________________________________57

intensifikasi dan ekstensifikasi pajak daerah, kondisi ini sejalan pula dengan komitmen politik Kepala Daerah untuk tidak membebani masyarakat KSB dengan melakukan ekstensifikasi pajak daerah sehingga beberapa pajak daerah dihapuskan, seperti ; pajak rumah makan, pajak bumi bangunan dan beberapa pajak lainnya. Implikasinya tentu saja berdampak pula terhadap penerimaan pendapatan desa.

4.1.4. Pendapatan Desa Dari Bagi Hasil Retribusi Daerah Dalam PP 72 tahun 2005 pendapatan daerah dari retribusi daerah sebagian diperuntukkan untuk penerimaan pendapatan desa. Namun, tidak ada penjelasan dalam ketentuan tersebut apakah jumlah sebagian tersebut diambil dari jumlah keseluruhan penerimaan pendapatan retribusi daerah ataukah jumlah penerimaan tersebut setelah dikurangi dengan biaya operasional. Terlepas dari permasalahan tersebut jumlah pendapatan daerah dari retribusi daerah selama kurun waktu lima tahun tidak jauh berbeda dengan pendapatan daerah dari sektor pajak daerah. Bahkan, jumlah pendapatan daerah dari retribusi daerah ini lebih kecil dari pendapatan dari sektor pejak daerah. Pada tahun 2006, jumlah pendapatan daerah dari hasil retribusi daerah hanya Rp.80,254,200,-/tahun dan hingga tahun 2010 baru mencapai sebesar Rp. Rp.1,086,962,534,-. Artinya, jika pendapatan daerah dari hasil retribusi daerah ini dibagi setengah dari jumlah hasil retribusi daerah ke desa (pendaatan desa) maka setiap desa akan memperoleh pendapatan sebagaimana tergambar pada tabel sebagai berikut ;
Tabe 7 : Pendapatan Desa dari bagi hasil retribusi daerah Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 Retribusi Daerah 802,542,000 910,296,000 957,300,000 1,020,580,000 1,086,962,534 1/2 untuk desa 401,271,000 455,148,000 478,650,000 510,290,000 543,481,267 Jumlah Desa 38 49 49 49 57 Rata-rata desa/tahun 10,559,763 9,288,735 9,768,367 10,414,082 9,534,759

Sumber : Data diolah dari APBD KSB 2006 s.d. 2010 dalam LPJ Akhir Masa Jabatan Bupati 2010

Dari data di atas, terlihat bahwa pendapatan desa dari hasil retribusi daerah relatif lebih besar jika dibandingkan dengan pendapatan desa dari bagi hasil pajak daerah.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________58

4.2. Dinamika Perjalanan Kebijakan ADD di KSB


Pada tahun 2009, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat telah menetapkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2009 Tentang Alokasi Dana Desa. Lahirnya Perda tersebut telah memberikan kepastian sekaligus jaminan atas keberlangsungan ADD bagi setiap desa. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimanakah dinamika proses perjalanan lahirnya kebijakan Alokasi Dana Desa di KSB?

Kabupaten Sumbawa Barat adalah Kabupaten Pertama (2006) di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang memberikan ADD untuk masing-masing desa dan jumlah ADD di Kabpaten Sumbawa Barat adalah tertinggi dari Kabupaten/Kota lainnya di NTB. Padahal, pada Tahun 2006 DAU (Dana Alokasi Umum) KSB adalah terendah dari Kabupaten/Kota lainnya di NTB.

Pada tanggal 13 Agustus tahun 2005, Dr.KH.Zulkifli Muhadli, SH.MM dan Drs. Malarahman dilantik sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (periode 2005-2010)8. Seiring dengan itu pada tanggal 30 Desember 2005 diundangkan Peraturan Pemerintah No 72 Tahun 2005 tentang Desa . Tahun 2006 merupakan tahun pertama masa jabatan Bupati dan Wakil Bupati KSB sekaligus tahun pertama pula pelaksanaan PP No.72 Tahun 2005. Di tahun inilah Pemda KSB berinisiatif untuk mencari formulasi kebijakan yang tepat untuk menetapkan besarnya jumlah ADD.
8 Kabupaten Sumbawa Barat yang terbentuk pada tahun 2003 untuk pertama kali pada tahun 2005 memiliki Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Definitif melalui Pemilihan Kepala Daerah secara langsung. Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung pada tahun 2005, diikuti oleh 5 pasangan calon dan terpilih dpasagangan KH. Zulkifli Muhadli & Drs.Malarhaman dengan perolehan total suara mencapai sekitar 30% total suara sah. Pasangan ini dilantik pada bulan Agustus 2005.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________59

Maka diterbitkanlah Surat Keputusan Bupati Nomor 219 tahun 20069 yang menetapkan besanya jumlah ADD pada masing-masing desa. Berdasarkan Keputusan tersebut jumlah ADD untuk 38 desa diberlakukan secara merata atau seragam, yakni sebesar Rp. 250.000.000/desa atau sebesar Rp 9,5 miliar/tahun, terdiri dari ADD merata sebesar Rp. 150 juta dan DAD (Dana Alokasi Desa) sebesar Rp.100 juta. Penyeragaman jumlah ADD tersebut karena belum ada formulasi perhitungan ADD secara proporsional sehingga desa kaya maupun desa miskin, desa yang berpenduduk tinggi maupun rendah, desa yang terpencil maupun tidak memperoleh ADD dalam jumlah yang sama sehingga menimbulkan dampak berupa kecemburuan antar desa. Desa-desa yang terpencil dan merupakan desa miskin merasa kebijakan tersebut tidak mencerminkan keadilan dan cenderung menegasikan keberadaan desa terpencil dan miskin. Selain menimbulkan ekses tersebut dampak lainnya adalah berupa terjadi gap atau kesenjangan antar wilayah atau antar desa, dimana desa yang telah maju semakin maju dan sebaliknya desa yang miskin tetap menjadi desa miskin. Dari sisi kebijakan peruntukkan atau pemanfataannya, pada tahun 2006 peruntukkan ADD (Alokasi Dana Desa) dibagi kedalam dua bagian, pertama adalah sebesar Rp 150 juta dan untuk DAD (Dana Abadi Desa) sebesar Rp 100 juta yang diinvestasikan pada PT. Bank NTB. Jumlah ADD tersebut didasarkan atas formulasi rumus sebagai berikut:
ADD = (DBHP + DBH SDA + DAU Belanja Pegawai) x 10/100 =(20.744.797.902+47.541.674.848+103.759.000.000 118.420.611.375)x10/100 =5.362.486.137,50 oleh Pemerintah dibulatkan menjadi Rp. 6 miliar Jadi ADD untuk 38 desa = Rp 6.000.000.000/38 = Rp 157.894.737 dibulatkan menjadi Rp 150 juta

Dari jumlah ADD sebesar Rp. 150 juta tersebut, mengenai arah pemanfaatan atau pengguunaannya sesungguhnya telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah. Pemanfaatan atau peruntukkan tersebut adalah berupa ADD yang diperuntukkkan bagi Anggaran untuk Belanja Rutin atau disebut dengan Alokasi Dana Desa Rutin (ADDr) dengan persentase 70% adalah untuk operasional dan 30% adalah untuk belanja pemberdayaan masyarakat. Artinya, kewenangan untuk menentukan ADD adalah bukan bersumber dari desa melainkan dari Pemerintah Daerah. Proporsi peruntukkan ADD tersebut ternyata menimbulkan beberapa kelemahan, antara lain adalah pertama proporsi peruntukkan ADD ternyata kurang sejalan dengan amanah yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa yang mengharuskan agar dana
Istilah yang digunakan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Bupati No.219 Tahun 2006 adalah Alokasi Dana Bantuan Kepada Desa.
9

Legitimid KSB __________________________________________________________________________60

ADD 70% untuk pembangunan masyarakat dan 30% untuk belanja rutin atau biaya operasional pemerintahan desa Rp. 75 juta dan pemberdayaan masyarakat sebesar Rp.175 juta. Akibat proporsi peruntukkan ADD yang lebih besar untuk belanja operasional dariada belanja pembangunan masyarakat, maka dapat dipastikan bahwa potensi untuk menggerakan pemberdayaan masyarakat desa melalui dana ADD kurang cukup signfikan dan efektif, karena dana-dana ADD pemanfaatannya lebih banyak dimanfaatkan untuk operasional desa. Mengenai besarnya ADD di masing-masing desa akan dibahas pada bagian berikutnya. Pada tahun ini memang otoritas penetapan maupun peruntukkan ADD berasal dari Pemerintah Daerah, karena pada masa ini merupakan tahun pertama pengelolaan ADD. Pemerintah daerah masih cukup khawatir untuk menyerahkan pengelolaan ADD sepenuhnya pada Pemerintahan Desa, mengingat kapasitas pemerintahan desa untuk mengelola ADD masih sangat terbatas, disamping berbagai regulasi dan intsrumen pendukung lainnya belum cukup tersedia untuk menjamin pengelolaan ADD dapat berlangsung dengan baik. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan bila kemudian Pemerintah Daerah KSB berinisiatif dari jumlah bantuan keuangan desa sebesar Rp.250 juta/desa hanya sebesar Rp 150 juta yang dikelola langsung oleh pemerintahan desa, sedangkan sebesar Rp.100 juta diperuntukkan sebagai DAD (Dana Abadi Desa) yang mana pengelolaannya dikelola oleh KJKS (Koperasi Jasa Keuangan Syariah) sebagai lembaga keuangan yang diharapkan dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi di desa. ADD untuk ADDP. Peruntukkan atau pemanfaatan dari ADD yang kedua adalah untuk Pembangunan atau dikenal dengan Alokasi Dana Desa Proporsional (ADDP). ADDP diperuntukkan untuk membiayai pembangunan (fisik), antara lain, meliputi : a. Prasarana pemerintahan desa b. Prasarana produksi c. Prasarana sosial d. Prasarana pemasaran e. Prasarana perhubungan f. Pembangunan lain-lain

Tahun 2006 masing-masing desa di KSB memperoleh ADD sebesar Rp.250 juta, yang diperuntukkan untuk ADD Rutin (ADDr) dan ADD Pembangunan (ADDP) sebesar Rp.150 juta, sebanyak Rp.100 juta di peruntukkan untuk Dana Abadi Desa (DAD)yang merupakan dana investasi desa jangka panjang

Legitimid KSB __________________________________________________________________________61

Mengenai besarnya jumlah ADDP tersebut ternyata sangat beragam dan sangat tergantung dari sisa ADD yang dialokasikan untuk DAD dan ADD Rutin di masing-masing desa. Artinya, semakin kecil ADD rutin untuk desa, maka berarti ADD untuk ADDP di desa tersebut semakin tinggi. Sebaliknya, semakin besar ADD rutin maka semakin kecil ADD untuk ADDP. Dari hasil kajian, mengenai desa yang mengalokasikan ADD untuk ADDP tertinggi dan terendah tercatat, ternyata jumlah ADD untuk ADDP tertinggi pada tahun 2006 adalah sebesar Rp. 59,900,000,-. Desa tertinggi yang mengalokasikan jumlah ADD untuk ADDP tertinggi tersebut adalah Desa Tongo, Desa UPT Talonang, Desa Kelanir dan UPT Tambak Sari. Bila ditilik lebih jauh besarnya ADDP di desa tersebut, karena jumlah perangkat desa yang ada di wilayah tersebut sangatlah rendah. Sedangkan jumlah lokasi ADD untuk ADDP terendah adalah sebesar Rp. 35,900,000, yakni Desa Menala, Desa Dalam dan Desa Labuhan Lalar ketiganya adalah merupakan Desa dalam Kecamatan Taliwang yang merupakan desa yang memiliki perangkat desa dalam jumlah yang besar. Berdasarkan kajian tersebut di atas, nampak terlihat bahwa besarnya alokasi ADD untuk ADDP bukan dikarenakan inisiasi ataupun merupakan komitmen atau politicall will dari pemerintahan desa setempat, melainkan semata-mata adalah ditentukan dari besarnya jumlah perangkat desa yang ada. Sehingga untuk mengukur apakah desa tersebut memiliki keberpihakan terhadap masyarakat miskin dalam mengalokasikan anggaran, sulit untuk diukur secara obyektif. Namun, demikian sebagai catatan penting adalah bahwa semakin minim struktur (perangkat desa) maka semakin kecil dana ADD yang terserap untuk belanja operasional desa dan pada akhirnya jumlah ADD untuk ADDP semakin tinggi. (Mengenai jumlah ADD pembangunan untuk masing-masing desa akan dibahas pada bab berikutnya). Peruntukkan ADD yang Ketiga, adalah ADD untuk Dana Abadi Desa (DAD). Dana Abadi Desa (DAD) adalah merupakan dana bantuan dari Pemerintah Daerah KSB yang diberikan pada masing-masing desa. Besarnya jumlah DAD adalah sebesar Rp.100,000,000,-/desa yang pengelolaannya dikelola langsung oleh KJKS. Dana ini bertujuan untuk ; pertama, investasi desa di masa mendatang. Kedua, modal untuk mengembangkan usaha ekonomi desa. Ketiga, menumbuhkan enterpreunership desa untuk mengembangkan ekonomi pedesaan. Keempat, mengantisipasi agar desa tidak menghabiskan anggaran setiap tahunnya. Kelima, mendorong agar penggunaan keuangan desa lebih efektif dan efisien. Namun, kebijakan ini melahirkan resistensi dari sejumlah pemerintahan
Legitimid KSB __________________________________________________________________________62

desa dan masyarakat10. Hal ini dilatarbelakangi oleh dua hal, pertama adalah terjadinya perbedaaan pemahaman antara Pemerintah Desa dengan Pemerintah Daerah mengenai konsepsi atas Dana Abadi Desa. Para Kepala Desa beranggapan bahwa Dana Abadi Desa adalah merupakan bagian dari ADD. Oleh karenanya, pengelolaan dana DAD haruslah dikelola oleh Pemerintahan Desa, bukan di kelola oleh Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS). Sedangkan Pemerintah Daerah beranggapan bahwa DAD bukanlah merupakan bagian dari ADD, melainkan dana bantuan keuangan yang diberikan Pemerintah Daerah kepada Pemerintah Desa, yang mekanisme dari dana bantuan tersebut dimasukkan dalam formulasi perhitungan ADD, namun dalam hal pengelolaannya di kelola oleh KJKS sebagai lembaga keuangan yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah untuk mengelola dana DAD tersebut, karena dana DAD juga diperuntukkan untuk usaha bantuan bagi sosial kemasyaratan, dan seperti sumbangan kematian untuk warga, bantuan modal warga miskin sebagainya. Keberadaan DAD tidak mempengaruhi jumlah ADD yang diterima oleh desa. Perdebatan mengenai dana DAD terus mengelinding, para kepala desa yang tidak setuju DAD dimasukkan dalam ADD menolak untuk menadatangi kerjasama
10 Beberapa kepala desa yang diwawancara dalam penelitian ini menyatakan berkeberatan dengan kondisi kerjasama desa dengan KJKS Paleba yang cenderung dipaksakan tersebut. Mashud Yusuf, S.Si Kepala Desa Goa Kecamatan Jereweh misalnya mengungkapkan bahwa dalam konteks kerjasama dalam pengelolaan Dana Abadi Desa ini diperlukan adanya partisipasi publik dalam penentuan mitra desa dalam pengelolaan DAD. Adanya partisipasi masyarakat akan memperkuat legitimasi terhadap kerjasama/kemitraan antara Desa dengan Pihak Lain dalam pengelolaan DAD. Partisipasi masyarakat juga akan mendorong adanya transparansi dalam penentuan badan usaha/lembaga keuangan non-bank yang mengelola DAD. Pada akhirnya, akan ada pengakuan publik bahwa pemerintah telah memenuhi prinsip akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Sumbawa Barat. Mashud juga mengungkapkan bahwa andaipun pengelolaan DAD tetap harus dilakukan oleh desa dengan bermitra dengan KJKS, Paleba seharusnya dimulai dari proses perencanaan, penyusunan dan ratifikasi nota kesepahaman (Memorandum of Understanding-MoU) yang saling menguntungkan antara KJKS Paleba dengan pemerintah Desa yang disahkan dengan Peraturan Desa. Karena status hukum kerjasama desa dengan KJKS Paleba ini diikat oleh Peraturan Desa sesuai dengan aturan Pasal 82 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2007, maka wajib diketahui dan disetujui oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) masing-masing desa (Wawancara dengan Mashud Yusuf, S.Si pada Tanggal 12 Juni 2010). Senada dengan Mashud, Syarifuddin Kepala Desa Sekongkang Atas Kecamatan Sekongkang juga mengungkapkan pendapat yang sama bahwa MoU antara Desa dan KJKS Paleba seharusnya dapat memberikan jaminan adanya kepastian bahwa DAD tetap aman dan dapat dikembangkan menjadi sumber pendapat asli desa (PADes). Paling tidak MoU harus memuat ruang lingkup kerjasama; tugas dan tanggung jawab atau hak dan kewajiban masing-masing pihak; pembagian manfaat dan resiko kerjasama, mekanisme pelaksanaan; penyelesaian perselisihan; tenggang waktu kerjasama; dan sumber pembiayaan kerjasama. Dengan tersedianya MoU tersebut akan menjamin adanya rasa aman bagi desa-desa dalam berinvestasi di KJKS Paleba. Langkah ini akan meminimalkan resiko yang harus ditanggung desa ketika KJKS gagal dalam pengelolaan DAD (wawancara dengan Kepala Desa Sekongkang Atas pada Tanggal 26 Juni 2010).

Dana Abadi Desa (DAD) secara prinsipil sesungguhnya adalah dimaksudkan untuk melahirkan percepatan pembangunan kemandirian keuangan dan ekonomi desa. Namun, perangkat untuk menuju tujuan tersebut terbentur dengan minimnya perangkat suprastuktur maupun infastuktur untuk mendukung pelaksanaan DAD. Di tingkat arus bawah (desa) terjadi perbedaan persepsi bahkan banyak yang tidak mengetahui tujuan maupun manfaat DAD, karena minimnya sosialiasi dan informasi tentang DAD disamping perangkat hukum yang mengatur masih terkesan simpang siur

Legitimid KSB __________________________________________________________________________63

dengan KJKS, mereka mengkritik mengenai status dan

kedudukan KJKS

(Koperasi Jasa Keuangan Syariah) sebagai badan hukum swasta, para pendiri dan pengawas berasal dari kalangan pejabat/birokrat, mereka menilai KJKS tidak mencerminkan sebagai institusi keuangan desa yang merupakan milik bersama desa serta mereka juga mengkhawatirkan dalam pengelolaan dana DAD oleh KJKS dapat menimbulkan konflik kepentingan (conflict of interest)11 disamping karena belum adanya kejelasan mengenai mekanisme pengelolaan dana ADD di KJKS, seperti ; mekanisme pertanggungjawaban keuangan, pembagian hasil dan resiko, mekanisme pencairan anggaran, dan sebagainya. Terlepas dari pro-kontra di atas bila ditelusuri lebih jauh permasalahan terkait dengan pengalokasian dan pengelolaan DAD, sesungguhnya adalah terletak pada landasan yuridis yang digunakan sebagai dasar inisiasi kebijakan daerah tersebut, dimana Pemda KSB tidak membuat atau menetapkan payung hukum (membentuk peraturan daerah) yang mengatur secara khusus mengenai DAD, sehingga terkesan bahwa kebijakan DAD tidak memiliki alas hukum, dinilai bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan terkesan bahwa kebijakan tersebut hanyalah sebuah keinginan semata dari penguasa. Padahal, bila ditelusuri lebih jauh maksud dan tujuan dari DAD sesungguhnya cukup baik karena ingin mendorong agar desa di masa mendatang menjadi maju dan mandiri serta inisiasi ini sesungguhnya dapat menjadi salah satu model kebijakan inovatif yang dapat dikembangkan oleh pemerintah daerah lainya di Indonesia, khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Akan tetapi, karena belum adanya aturan yang tegas dan jelas, maka kebijakan DAD oleh sebagian pemerintahan desa dan LSM di KSB di persoalkan, bahkan kebijakan ini dinilai sebagai salah satu bentuk penyimpangan kekuasaan (korupsi). Pelaksanaan ADD selama satu tahun (2006), ternyata tidak banyak merubah wajah pemerintahan desa yang lebih efektif dalam memberikan pelayanan publik maupun peningkatan percepatan pembangunan desa. Yang terlihat justeru adalah efouria pemerintahan desa, dengan jumlah ADD yang besar, maka APBDesa meningkat. Peningkatan jumlah APBDesa ini ternyata tidaklah signifikan bagi masyarakat desa setempat, karena alokasi peruntukkan ADD tersebut 70% adalah untuk operasional desa. Belajar dari pengalaman tersebut, maka pada tahun 2007, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat berinisiatif untuk melakukan perubahan kebijakan penetapan jumlah ADD untuk masing-masing desa. Penetapan ADD yang dilakukan secara seragam sebesar Rp. 250 juta/desa yang diberlakukan tahun
11

Rizal Muhammad, Laporan Studi Implementasi ADD 2006 dan 2007, diterbitkan oleh YSTP KSB.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________64

2006 disadari selain kurang sejalan dengan semangat PP 72 Pasal 68 (2c) yang menyarankan agar ada ADD proporsional juga dikarenakan adanya kecemburuan sosial dan protes dari sejumlah desa karena diangggap tidak mencerminkan keadilan bagi desa. Beranjak dari permasalahan tersebut, maka pada tahun 2007 Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat membentuk Tim Pengkajian ADD di bawah koordinasi Sekretariat Daerah12. Salah satu tugas Tim tersebut adalah merumuskan formulasi kebijakan ADD yang tepat13. Akhirnya Tim berhasil menetapkan formulasi penetapan jumlah ADD/desa dengan rumus sebagai berikut : ADD = (DBHP + DBH SDA + DAU Belanja Pegawai) x 10 % Sedangkan untuk perhitungan besaran jumlah ADDP, dihitung dengan rumus :

Formulasi tersebut ternyata tidak berbeda dengan formulasi yang ada dalam PP Nomor 72 Tahun 2005 maupun SE Mendagri Nomor 140/1841/SJ Tahun 2006. Artinya, rumus perhitungan ADD yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah atau Tim Pengkaji hanyalah mengadopsi rumus yang telah ada dari aturan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dan dalam proses penetapan formulasi perhitungan tersebut ternyata tidak dilakukan proses penggalian secara mendalam dari masing-masing desa serta minimnya konsultasi publik. Berdasarkan rumus yang telah ditetapkan sebagaimana di atas, maka pada tahun 2007 jumlah ADD yang ditetapkan adalah sebesar Rp. 14 miliar. Besarnya jumlah tersebut serta proses pendistribusiannya dilakukan berdasarkan atas perhitungan atau pertimbangan secara proporsional14. Jika dibandingkan kebijakan ADD tahun 2007 dengan 2006, maka memang terlihat pada tahun 2007 dari sisi formulasi dan pendistribusian jumlah ADD pada masing-masing desa meningkat. Kondisi ini seiring dengan adanya kemajuan yang cukup signifikan dalam proporsi ADD dengan dimasukkannya sejumlah i variabel untuk menentukan jumlah proporsionalitas anggaran pada masing-masing desa, diantaranya adalah jumlah penduduk, jumlah penduduk miskin, jarak keterjangkauan, luas wilayah, dan jumlah unit komunitas (RT). Dengan

Peraturan Bupati Sumbawa Barat Nomor 10 Tahun 2007 Pasal 3. Peraturan Bupati Sumbawa Barat Nomor 10 Tahun 2007 Pasal 4. (Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 274 Tahun 2007 tentang Penetapan Alokasi Dana Desa Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun Anggaran 2007)
13 14

12

Legitimid KSB __________________________________________________________________________65

dimasukkannya beberapa variabel tersebut, maka proporsi ADD untuk masingmasing desa tidaklah seragam seperti pada tahun sebelumnya, melainkan berdasarkan atas besaran jumlah variabel dan koofeisien dari masing-masing variabel yang diperoleh. Peningkatan jumlah ADD cukup signifikan dimana jumlah ADD tertinggi yang diterima desa mencapai sebesar Rp.401,074,029,-. Jumlah ADD tersebut diterima oleh Desa Talonang Baru Kecamatan Sekongkang, hal ini diskarenakan Desa Talonang Baru selain memiliki jumlah penduduk miskin terbesar, wilayah luas dan jarak keterjangkauan desa tersebut dengan Ibu Kota Kabupaten sangat jauh (desa terluar) juga merupakan desa terpencil sehingga sangatlah wajar bila penetapan jumlah ADD tertinggi adalah Desa Talonang Baru. Dampak atas adanya kebijakan proporsional tersebut, selain telah mendorong meningkatnya penerimaan desa dari ADD bagi desa-desa terpencil, ternyata juga telah melahirkan desa persoalan baru bagi desa-desa tertentu yang disebabkan adanya perubahan formulasi ADD, misalnya adalah Desa Tambak Sari, Kecamatan Poto Tano sebelumnya menerima ADD sebesar Rp.250 juta, pada tahun 2007 desa tersebut hanya menerima dana ADD sebesar Rp.228,722,400,-. (Rincian Jumlah ADD Tahun 2007 dibahas pada bagian selanjutnya). Namun demikian, apabila dilihat secara umum trend perbandingan jumlah ADD yang diterima pada tahun 2007 dengan Tahun 2006, maka terlihat bahwa pada tahun 2007 secara umum terlihat adanya peningkatan jumlah penerimaan ADD bagi masing-masing desa. Seluruh desa pada tahun ini mengalami peningkatan volume ADD maupun APBDesa. Akan tetapi, terkait dengan bagaimanakah peruntukkan atau pemanfaatan dana ADD di masing-masing desa, tidaklah terjadi perubahan yang signifikan, karena peruntukkan mengenai besarnya proporsi pemanfaatan ADD telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah. Artinya otoritas atau kewenangan desa untuk mengelola kebijakan pemanfaatan ADD belum ada. Meski demikian, dari sisi kebijakan mengenai peruntukkan terdapat kemajuan, karena arah kebijakan pemanfaatan ADD yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah mengharuskan agar proporsi ADD adalah diperuntukkan 70% untuk ADDP (ADD Pembangunan) dan 30% ADD diperuntukkan untuk ADDM (ADD Merata/Rutin). Dengan kebijakan tersebut, maka ADD akan lebih banyak akan diterima oleh masyarakat dalam bentuk pembangunan desa. Selain perubahan sebagaimana di atas, pada tahun 2007, Pemerintah Daerah KSB juga telah menetapkan sejumlah desa baru (desa definitif). Keberadaan desa definitif ini selain untuk merespons dinamika sosial masyarakat juga diharapkan dapat mendekatkan dan meningkatkan pelayanan publik. Alokasi
Legitimid KSB __________________________________________________________________________66

mengenai besarya Dana Abadi Desa (DAD)15 desa definitif (lama) yang ditetapkan adalah sebesar Rp. 75.000.000,- sedangkan desa yang merupakan hasil pemekaran (desa baru) ditetapkan oleh Pemda KSB sebesar Rp. 100.000.000. Pada tahun ini, Pemerintah Daerah KSB menetapkan besarnya jumlah ADD untuk DAD adalah sebesar Rp. 3,950.000.000. Pemerintah Daerah juga mempertegas mengenai keberadaan DAD yang dikelola oleh Koperasi jasa keuangan Syariah Pariri Lema Bariri (KJKS Paleba) dan menetapkan bahwa besarnya jumlah DAD untuk seluruh desa tahun 2006 sampai dengan 2009 adalah sebesar Rp. 250.000.000,untuk masing-masing desa, sebagai upaya untuk invetasi permanen jangka panjang sehingga dengan model tersebut di atas, maka diperkirakan nantinya pada tahun 2009 jummlah Dana Abadi Desa yang tersimpan di KJKS Paleba adalah sebesar Rp. 12.250.000.000,-. Namun, kritik atas kebijakan mengenai DAD pada tahun 2007 semakin meluas dan resistensi atas kebijakan tersebut semakin meningkat, bahkan telah menimbulkan ketegangan antara pemerintahan desa dengan Pemerintah Kabupaten. Ketegangan itu terlihat dari meningkatnya gerakan-gerakan aksi yang dilakukan oleh pemerintah desa melalui Forum Kepala Desa (FK2D) maupun LSM yang menuntut agar Pemda KSB menyerahkan pengelolaan DAD kepada Pemerintah Desa setempat, keinginan desa tersebut ternyata didukung pula oleh sejumlah organisasi kemasyarakatan yang ada di desa, seperti Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa dan organisasi yang ada didesa lainnya, mereka mendesak agar Pemerintah Daerah melakukan perubahan kebijakan pengelolaan DAD. Karena dinilai kebijakan DAD tidak mendorong berlangsungnya proses desentralisasi ekonomi desa, bahkan justeru adalah sebagai bentuk upaya untuk merenggut kewenangan desa (otonomi desa) untuk secara mandiri dalam mengelola dana ADD.16.
Ketetapan kebijakan ini didasarkan pada Peraturan Bupati Sumbawa Barat Nomor 10 Tahun 2007 dan Peraturan Bupati Sumbawa Barat Nomor 12 Tahun 2007. 16 Beberapa kepala desa yang diwawancara dalam penelitian ini menyatakan berkeberatan dengan kondisi kerjasama desa dengan KJKS Paleba yang cenderung dipaksakan tersebut. Mashud Yusuf, S.Si Kepala Desa Goa Kecamatan Jereweh misalnya mengungkapkan bahwa dalam konteks kerjasama dalam pengelolaan Dana Abadi Desa ini diperlukan adanya partisipasi publik dalam penentuan mitra desa dalam pengelolaan DAD. Adanya partisipasi masyarakat akan memperkuat legitimasi terhadap kerjasama/kemitraan antara Desa dengan Pihak Lain dalam pengelolaan DAD. Partisipasi masyarakat juga akan mendorong adanya transparansi dalam penentuan badan usaha/lembaga keuangan non-bank yang mengelola DAD. Pada akhirnya, akan ada pengakuan publik bahwa pemerintah telah memenuhi prinsip akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Sumbawa Barat. Mashud juga mengungkapkan bahwa andaipun pengelolaan DAD tetap harus dilakukan oleh desa dengan bermitra dengan KJKS, Paleba seharusnya dimulai dari proses perencanaan, penyusunan dan ratifikasi nota kesepahaman (Memorandum of Understanding-MoU) yang saling menguntungkan antara KJKS Paleba dengan pemerintah Desa yang disahkan dengan Peraturan Desa. Karena status hukum kerjasama desa dengan KJKS Paleba ini diikat oleh Peraturan Desa sesuai dengan aturan Pasal 82 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2007, maka wajib diketahui dan disetujui oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) masing-masing desa (Wawancara dengan Mashud Yusuf, S.Si pada Tanggal 12 Juni 2010). Senada dengan Mashud, Syarifuddin Kepala Desa Sekongkang Atas Kecamatan Sekongkang dan Mukhlis H. Mukhtar Kepala Desa Maluk Kecamatan Maluk juga mengungkapkan pendapat yang sama bahwa MoU antara Desa dan KJKS Paleba seharusnya dapat memberikan jaminan adanya kepastian bahwa DAD tetap aman dan dapat dikembangkan menjadi sumber pendapat asli desa (PADes). Paling
15

Legitimid KSB __________________________________________________________________________67

Meningkatnya penolakan atas kebijakan DAD yang dilakukan oleh Pemerintah Desa dipicu oleh karena Dana Abadi Desa (DAD) diduga telah menjadi salah faktor penyebab berkurangnya dana ADD yang diterima oleh masing-masing desa. Sementara itu MOU (kesepakatan kerjasama) antara Pemerintah Desa dengan KJKS Paleba yang tertuang dalam Surat Perjanjian Modal Penyertaan Koperasi Jasa Keuangan Syariah (SPMPKJKS) yang ditetapkan pada tanggal 5 Januari 2007 dinilai Pemerintah Desa tidak menguntungkan dan memberikan manfaat bagi Desa-desa karena selain menempatkan posisi atau kedudukan desa yang lemah sebagai pemegang saham, hal ini disebabkan pula dari besarnya kekuasaan yang dimiliki KJKS dalam pengelolan DAD17. Relasi berupa ketegangan antara pemda dan desa semakin meningkat seiring dengan lahirnya kebijakan pengalihan pengelolaan dana ADD desa dalam DAD ke KJKS Paleba yang dikeluarkan oleh Wakil Bupati Sumbawa Barat No. 140/004/PEM/2007 tertanggal 16 Januari 2007 tentang Pengelolaan Dana Abdi Desa yang isinya Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat mengalihkkan pengelolaan DAD yang semula diinvestasikan di Bank NTB menjadi dikelola oleh KJKS Paleba. Sementara, proses pengalihan dana investasi (DAD) dari Bank NTB kepada KJKS baru diketahui oleh Pemerintah Desa pada tahun 2007, sebelumnya para Kepala Desa beranggapan bahwa dana tersebut disimpan di Bank NTB, kedudukan dan KJKS hanya sebagai pengelolayang menggerakkkan ekonomi desa, sedangkan mengenai DAD tetap berada di Bank NTB. Setelah adanya proses pengalihan ini, para kepala desa semakin curiga, bahwa dana DAD yang telah diberikan oleh Pemerintah Daerah kepada Pemerintah Desa akan hilang, bahkan kebijakan ini dianggap sebagai akalakalan pemerintah daerah untuk menarik dana desa ke kabupaten, melalui strategi mencantumkan dana ADD masuk dalam penerimaan perimbangan desa sehingga terkesan jumlah ADD atau bantuan keuangan desa dari kabupaten kepada desa terlihat tinggi. Padahal, dalam realitanya dana DAD tersebut hanya numpang parkir atau lewat saja ke desa. Para kepala desa merasa kecewa, karena proses pengalihan dana DAD dari PT.Bank NTB ke KJKS dilakukan tanpa melalui proses dialog dan kesepakatan atau persetujuan terlebih dahulu antara Pemerintah Kabupaten dengan

tidak MoU harus memuat ruang lingkup kerjasama; tugas dan tanggung jawab atau hak dan kewajiban masingmasing pihak; pembagian manfaat dan resiko kerjasama, mekanisme pelaksanaan; penyelesaian perselisihan; tenggang waktu kerjasama; dan sumber pembiayaan kerjasama. Dengan tersedianya MoU tersebut akan menjamin adanya rasa aman bagi desa-desa dalam berinvestasi di KJKS Paleba. Langkah ini akan meminimalkan resiko yang harus ditanggung desa ketika KJKS gagal dalam pengelolaan DAD (wawancara dengan Kepala Desa Sekongkang Atas pada Tanggal 26 Juni 2010). 17 Beberapa pasal perjanjian yang melemahkan posisi pemerintah desa tersebut, antara lain: Pasal 1 ayat (2) yang menyatakan bahwa SPMPKJKS dapat dialihkan kepada pemodal lainnya dengan persetujuan Pihak Pertama (KJKS Paleba). Pasal 5 ayat (2) poin (d) yang menyatakan bahwa Pihak Kedua (Pemerintah Desa) berhak dan berkewajiban bertanggungjawab atas kerugian yang terjadi pada kegiatan usaha yang dibiayai tersebut sebatas modal penyertaan yang diserahkan kepada Pihak Pertama (KJKS Paleba).

Legitimid KSB __________________________________________________________________________68

pemerintahan desa. Proses pengalihan dana ADD dari PT.Bank NTB ke KJKS tanpa persetujuan dari pemerintah desa dinilai illegal. Perdebatan mengenai peruntukkan dana bantuan desa untuk DAD menjadi polemik yang sangat berkepanjangan, berbagai media massa cetak mengungkap berbagai permasalahan yang muncul terkait dengan DAD. Bahkan, beberapa kali pada tahun 2007, sejumlah Kepala Desa melakukan publik hearing dengan DPRD maupun Pemerintah Daerah (eksekutif) mempertanyakan kejelasan mengenai dasar hukum atau kebijakan DAD di Kabupaten Sumbawa Barat. Karena menurut para Kepala Desa, hanya satu-satunya di Kabupaten Sumbawa Barat inilah ada Dana Abadi Desa. Tarik menarik kepentingan antara Pemerintah Desa dengan Pemerintah Kabupaten memang sangat terlihat jelas dalam kasus pengelolaan DAD. Namun, perdebatan tersebut ternyata tidaklah berujung pada hasil atau kesepakatan, baik Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Desa masih berpegang pada prinsip atau keyakinan masing-masing. Langkah Pemerintah Daerah untuk mendorong terjadinya peningkatan kesejahteraan masyarakat desa melalui ADD ternyata tidak sebatas meningkatkan jumlah ADD pada tahun 2007, melainkan pula mendorong adaya sejumlah program prioritas yang mendukung lahirnya peningkatan percepatan pembangunan desa melalui peningkatan partisipasi masyarakat. Salah satu kebijakan yang lahir pada tahun 2007 adalah Program Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga. Program ini adalah bertujuan untuk membangun keberdayaan masyarakat desa, khususnya warga miskin yang ada pada masing-masing komunitas Rukun Tetangga (RT). Untuk mendukung kebijakan tersebut, maka pada tahun 2007, untuk pertama kali Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat mengalokasikan ADD untuk tunjangan bagi para Ketua Rukun Tetangga (RT) dengan diterbitkannya Surat Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 274 Tahun 2007. Jumlah tunjangan yang diberikan adalah sebesar Rp. 746,400,000/tahun atau Rp.100.000,-/bulan yang diperuntukkan bagi 622 Ketua RT18. Adapun tujuan pemberian tunjangan tersebut adalah untuk ; (a) meningkatkan kinerja RT dalam

Kabupaten Sumbawa Barat adalah Kabupaten Pertama di Provinsi NTB yang mengalokasikan tunjangan untuk para Ketua RT. Melalui pemberian tunjangan RT ini diharapkan RT dapat menggerakkan partisipasi warga dalam proses pembangunan di lingkungan desa dan komunitas mereka

Dalam PBRT kedudukan dan peran RT meningkat, diantaranya melakukan pendataan kependudukan, peningkatan sumberdaya manusia, sumberdaya ekonomi dan derajat kesehatan masyarakat; mengidentifikasi potensi desa di tingkat RT meningkatkan partisipasi warga miskin dan perempuan dalam proses pembangunan dan lainnya

18

Legitimid KSB __________________________________________________________________________69

pemberdayaan masyarakat (b) mendorong partisipasi warga dalam proses pembangunan dilingkungan RT (c) memotivasi warga untuk turut memberikan konstribusi terhadap proses pembangunan di desa serta meningkatkan berbagai kegiatan sosial kemasyaratan desa. Alokasi tunjangan RT tersebut dalam formulasi kebijakan ADD dimasukkan dalam komponen belanja ADDrutin. Jumlah ADD untuk tunjangan RT sangat tergantung dari besar kecilnya jumlah RT yang ada di masing-masing desa. Lahirnya kebijakan tunjangan RT ini disambut positif bagi sebagian besar para pengurus RT, khususnya para ketua RT. Pasalnya, baru pertama kali dalam perjalanan sejarah, RT di Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat diberikan tunjangan. Namun, kebijakan ini kurang memperoleh apresiasi dari sebagian pemerintahan desa karena keberadaan tunjangan RT dinilai telah menjadi salah satu faktor berkurangnya jumlah ADD bagi pemerintah desa. Saat ini, tantangan yang dihadapi oleh pemerintah daerah adalah menahan laju pertumbuhan jumlah RT. Sebab, sejak diberikannya tunjangan untuk para Ketua RT, trend yang berkembang jumlah RT diseluruh desa meningkat sehingga ADD menjadi tersedot untuk membiayai tunjangan RT. Kemajuan lainnya dari kebijakan ADD di tahun 2007 adalah dari sisi peruntukkannya, dimana jumlah ADDM untuk 49 desa ditetapkan sebesar Rp. 2,963,000,000 atau 21,16% dari jumlah ADD Tahun 2007 atau bila dirata-ratakan adalah Rp. 61.800.000 sampai dengan Rp. 67.800.000,-/desa. Artinya, dengan proporsi ADDM yang hanya 21,16%, maka berarti jumlah alokasi ADD untuk ADDP mencapai 79% dari jumlah ADD. Dengan komposisi yang demikian, maka besar peluang terjadinya proses percepatan pembangunan desa, jika halnya jumlah ADDP tersebut diperuntukkan benar-benar untuk pemenuhan hak-hak dasar warga masyarakat maupun pembangunan infrastuktur desa. ADD Merata adalah merupakan komponen untuk Belanja Tidak Langsung dalam APBDesa yang memang digunakan untuk memenuhi kebutuhan belanja pegawai desa atau disebut dengan Tunjangan Penghasilan Aparat Pemerintah Desa (TPAPD). Adapun mengenai besar kecilnya TPAPD tersebut sangat ditentukan dari jumlah perangkat desa. Sedangkan ADD proporsional (ADDP) sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Bupati Sumbawa Barat Nomor 10 tahun 2007 pembagiannya dan penetapan mengenai besarnya didasarkan atas koefisien dari 5 variabel yang telah ditetapkan, yaitu: (a). Luas wilayah; (b). Jumlah penduduk; (c). Jumlah keluarga miskin; (d). Jarak keterjangkauan; dan (e). Jumlah unit

Legitimid KSB __________________________________________________________________________70

komunitas (rukun tetangga)19. Sesuai dengan rumus perhitungan tersebut maka diperoleh besaran ADDP masing-masing desa pada tahun 2007 adalah antara Rp. 56,890,257 sampai dengan Rp. 251,074,029. Pada tahun 2007 jumlah ADDP yang ditetapkan untuk 49 desa adalah sebesar Rp. 6,340,600,000,- atau setara dengan 45,29% dari total ADD Tahun 2007. Bila dibandingkan dengan kebijakan sebelumnya, maka kebijakan ADD tahun 2007 lebih baik karena ; (a) Pemerintah telah menetapkan formulasi perhitungan penetapan jumlah ADD untuk masing-masing desa dilakukan secara proporsional dengan mempertimbangkan aspek kewilayahan, jumlah penduduk, jumlah keluarga miskin, jarak keterjangkauan, dan jumlah unit komunitas (rukun tetangga). (b). Dari sisi peruntukkan, alokasi ADD lebih banyak diperuntukkan untuk ADDP. (c). Adanya dukungan dari Pemerintah Daerah untuk mengalokasikan anggaran bagi tunjangan RT. Adapun kelemahan dan tantangan yang dihadapi, antara lain adalah ; (a). Meningkatnya jumlah desa dan jumlah RT sehingga distribusi alokasi ADD bagi desa semakin berkurang. (b). Desa-desa yang merupakan desa hasil pemekaran memperoleh alokasi ADD dalam jumlah yang relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan desa definitif yang telah ada sebelumnya. Padahal, desa hasil pemekaran (baru) tersebut membutuhkan anggaran dalam jumlah yang relatif lebih besar jika dibandingkan dengan desa sebelumnya, karena mereka harus membangun berbagai fasilitas dan infrastuktur desa, seperti pembangunan kantor desa, pengadaan sarana dan prasarana desa dan lain sebagainya. (c). Meningkatnya dinamika hubungan desa dengan kabupaten yang mengarah pada konflik terbuka antara kabupaten dengan desa karena adanya perbedaan pemahaman dan kepentingan terkait dengan distribusi dan pengelolaan ADD, khususnya adalah DAD. Memasuki tahun ketiga, tahun 2008, situasi mulai kondusif, relasi antara desa dengan kabupaten mulai mereda, setelah mulai terbangunnaya pemahaman dan kesepakatan-kesepakatan bersama mengenai pengelolaan keuangan desa, khususnya adalah pengelolaan ADD untuk DAD. Pemerintah Daerah dapat memberikan kepastian dan jaminan kepada seluruh desa yang ada di KSB, bahwa DAD merupakan hak desa dan dana tersebut, semata-mata dimaksudkan untuk meningkatkan kemajuan pembangunan desa. Dari aspek regulasi, pemerintah daerah juga mulai melengkapi dengan diterbitkannya sejumlah peraturan daerah mengenai pedoman pengelolaan keuangan desa. Meskipun dalam konteks penetapan jumlah ADD masih ditetapkan

19 Rumusan ini adalah merupakan formulasi perhitungan yang disarankan dalam Surat Menteri Dalam Negeri Nomor: 140/640/SJ tanggal 22 Maret 2005 perihal Pedoman Alokasi Dana Desa dari Pemerintah Kabupaten/Kota kepada Pemerintah Desa.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________71

melalui Surat Keputusan Bupati, namun dari sisi muatan materi yang diatur dalam Keputusan Bupati tersebut lebih komprehensif. Pada tahun 2008, ADD ditetapkan dengan Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 20 B Tahun 2008 Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa Tahun Anggaran 2008. Bila dibandingkan dengan regulasi sebelumnya dari penggunaan nomenklatur sudah berbeda, jika sebelumnya menggunakan nomenklatur Bantuan Keuangan Desa, maka pada Tahun 2008 secara eksplisit ditegaskan adalah Alokasi Dana Desa. Perubahan nomenklatur ini bukan sekedar perubahan nama atau istilah, karena dari nomenklatur ini tercermin muatan politis yang terkandung bahwa ADD tersebut memang merupakan hak desa dan berbeda halnya jika menggunakan istilah bantuan mengandung makna bahwa seakan-akan ADD adalah bukan merupakan hak desa, melainkan adalah merupakan kebaikan atau kemurahan hati Pemerintah Daerah terhadap desa. Perubahan ini merubah pula pola relasi dalam pengelolaan keuangan desa, selama ini cenderung didominasi oleh pemerintah daerah, maka pada tahun ini secara perlahan-lahan, desentraliasi pengelolaan keuangan desa mulai diberikan oleh pemerintah daerah. Pada tahun 2008 ini, jumlah Anggaran ke Desa secara keseluruhan adalah sebesar Rp.12,556,134,296,-. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp.9,831,134,296,- adalah merupakan ADD yang diperuntukkan untuk ADDP sebesar Rp.6,502,334,296,- dan ADDM sebesar Rp. 2,684,400,000,- , tunjangan RT sebesar Rp.644,400,000 dan TPAPD sebesar Rp. 2,684,400,000. Sedangkan sebanyak Rp.2,725,000,000,adalah diperuntukkan untuk DAD (Dana Abadi Desa). Secara umum, dari sisi kebijakan maupun implementasi ADD tidak banyak perubahan. Yang nampak perubahan terjadi adalah pada aspek relasi dan dinamika antara pemerintah daerah dengan pemerintah desa dan LSM. Jika pada tahun-tahun sebelumnya, seringkali terjadi aksi protes yang dilakukan oleh pemerintah desa dan LSM, maka pada tahun ini protes maupun kritik atas kebijakan dan pengelolaan ADD mulai berkurang. Ada beberapa faktor yang menjadi pendorong situasi ini, antara lain adalah ; (a). Pemerintah desa dan kelompok LSM yang selama ini memperjuangkan ADD mulai merasa keletihan karena selama kurun waktu dua tahun, mereka telah banyak menguras energi untuk melakukan presure perubahan kebijakan kepada pemerintah daerah maupun DPRD. (b). Dipenuhinya/diakomodirnya tuntutan dan desakan tersebut oleh pemerintah daerah. Persoalan dan tantangan yang muncul justeru dari masyarakat terhadap pemerintah desa setempat. Pada tahun ini, justeru banyak kalangan warga desa yang mulai mempertanyakan kinerja pemerintahan desa dalam proses

Legitimid KSB __________________________________________________________________________72

pemberdayaan masyarakat, karena selama kurun waktu 2 tahun pelaksanaan ADD, ternyata pengelolaan ADD tidak menyentuh pada persoalan dan kebutuhan masyarakat, tidak ada perubahan kemajuan desa yang signifikan sebelum adanya ADD maupun setelah adanya ADD. Bahkan, yang mulai terlihat adalah perilaku kepemimpinan para kepala desa yang cenderung menjadi sangat elitis serta cenderung menghabiskan anggaran desa untuk kepentingan mereka semata, berbagai fasilitas desa meningkat, sementara pembangunan infstaruktur pedesaan maupun pemberdayaan masyarakat tidak nampak. Sejalan dengan meningkatnya ADD, juga mulai terlihat pertarungan dan eskalasi politik dalam pemilihan kepala desa semakin meningkat, jabatan kepala desa menjadi jabatan yang cukup seksi yang diperebutkan oleh para elite di tingkat desa. Pilkades tidak ubahnya dengan Pemilukada, Pemilu gubernur maupun Pemilu Legislative. Sangat meriah, berbagai spanduk, stiker, dan alat peraga kampanye lainnya menyebar dimanamana, bahkan praktek money politik pun diduga kuat mewarnai proses Pilkades dihampir seluruh desa yang berlangsung pada masa kurun waktu ini maupun masa akhir tahun 2007. Tidak lain salah satu pemicunya adalah karena APBDesa dengan adanya ADD jumlahnya menjadi sangat besar, diatas Rp 300 juta bahkan dibeberapa desa APBDesa mencapai lebih dari Rp 500 juta. Sementara jumlah penduduk maupun luas wilayah masing-masing desa di KSB sangatlah kecil. Belum lagi fasilitas-fasilitas lainnya yang diberikan oleh salah satu perusahaan tambang swasta yang ada di KSB selama ini yang seringkali memanjakan para kepala desa dengan berbagai fasilitas, mulai dari kunjungan ke daerah lain hingga fasilitas berupa kendaraan dinas. Seiring dengan itupula, maka pada tahun 2008 gerakan untuk melakukan pemekaran sejumlah desa pun semakin meningkat di berbagai wilayah kecamatan yang ada di KSB. Situasi dan kondisi ini tentu saja semakin menyulitkan pemerintah daerah dalam mendistribusikan ADD secara adil. Disisilain, secara politis, tuntutan pemekaran desa menjadi salah satu keniscayaan yang perlu direspons oleh pemerintah daerah maupun para politis yang ada di parlemen, mengingat ada dua agenda politik besar yang akan berlangsung di daerah, yakni Pemilu Legislative 2009 dan Pemilukada 2010. Maka, pembentukan desa-desa sesungguhnya adalah tidak semata-mata untuk mendekatkan pelayanan publik, melainkan pula mendekatkan kepentingan politis baik pada tingkat elite
Legitimid KSB __________________________________________________________________________73

Pada tahun 2009, Pemerintah Daerah KSB menetapkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2009 Tentang Alokasi Dana Desa. Tujuan ditetapkannya Perda ini adalah untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa, mempercepat kesejahteraan dan pemerataan pembangunan

kabupaten maupun elite desa. Perjalanan pelaksanaan ADD selama kurun waktu tiga tahun tersebut, telah cukup memberikan banyak pembelajaran (lesson learned) bagi pemerintah daerah maupun para stakholders lainnya. Maka, pada tahun tahun 2009 inilah Pemerintah Daerah, akhirnya berhasil menetapkan produk hukum berupa Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2009 Tentang Alokasi Dana Desa. Ada dua hal yang menjadi dasar sekaligus tujuan ditetapkannya peraturan daerah ini, pertama, adalah dalam ranngka pemerataan pembangunan desa menuju kemandirian desa dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan dalam skala desa; kedua, adalah untuk mendukung pelaksanaan pembangunan desa, sehingga dipandang perlu dialokasikan dana bantuan kepala desa dalam bentuk Alokasi Dana Desa yang merupakan dana perimbangan dan diharapkan menjadi penyangga utama pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Secara khusus pemberian ADD selain untuk membiayai program Pemerintah Desa dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan dan pemberdayaan masyarakat, secara khusus dimaksudkan untuk; a. meningkatkan melaksanakan penyelenggaraan pelayanan pemerintahan desa dalam dan

pemerintah,

pembangunan

kemasyarakatan sesuai dengan kewenangan; b. meningkatkan kemampuan lembaga kemasyarakatan di desa dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan secara partisipatif sesuai dengan potensi desa; c. memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat di desa d. mendorong peningkatan swadaya gotong royong masyarakat. Penegasan atas maksud dan tujuan pemberian ADD di atas, adalah untuk menguatkan arah kebijakan pengelolaan ADD agar lebih partisipatif, efektif dan efisisn dalam mencapai proses percepatan pembangunan desa. Sekaligus memberikan panduan bagi pemerintah desa yang ada di KSB agar dapat mengelola ADD secara baik dan benar sehingga penyimpangan atas pengelolaan ADD yang berlangsung selama ini semakin berkurang. Disamping mempertegas mengenai tujuan ADD, dalam Peraturan Daerah tersebut, pemerintah Daerah juga menegaskan mengenai formulasi perhitungan atau rumus yang digunakan sebagai dasar dalam penetapan Alokasi Dana Desa, dengan ketentuan adalah sebagai berikut :

Legitimid KSB __________________________________________________________________________74

1. ADD dihitung berdasarkan hasil penjumlahan antara jumlah Alokasi Dana Desa Minimal ditambah dengan jumlah Alokasi Dana Desa Proporsional atau dengan rumus ADD = ADM + ADP 2. Jumlah ADD untuk masing-masing desa yang selanjutnya disebut ADD x (x nama desa) dihitung berdasarkan hasil penjumlahan antara jumlah Alokasi Dana Desa Minimal ditambah jumlah Alokasi Dana Desa Proporsiona atau dengan rumus ADD x = ADM x + ADP x; 3. Jumlah Alokasi Dana Desa Minimal untuk setiap desa yang selanjutnya disebut ADM x adalah 60% (enam puluh perseratus) dari ADD sebagaimana dimaksud pada point 1 dibagi dengan jumlah desa atau dinyatakan ADD Minimal dengan rumus ADD x (60% x ADD) x Jumlah Desa ; 4. Jumlah Alokasi Dana Desa Proporsional untuk setiap desa yang selanjutnya disebut ADP x dihitung berdasarkan hasil perkalian antara 40% (empat puluh per seratus) dari jumlah ADD sebagaimana dimaksud pada point 1 dikalikan bobot desa. Atau dengan kata lain Bobot Desa dinyatakan dengan rumus BDx al.KV1 =a2. KV3 + a3. KV3 + a4.KV4. sebagai catatan (penjelasan) yang dimaksud dengan a1, a2, a3, a4 adalah indeks bobot variable. Sedangkan KV1, KV2, KV3, KV4 adalah koefisien variable. Angka bobot indeks bobot variable = jumlah angka bobot. Koefisien Variabel = Angka Variabel (V1 s.d. V4) x 100%

Jumlah Angka Variabel (V1 s.d V4) Eksistensi Peraturan Daerah sebagai payung hukum dalam penetapan ADD. Sedangkan secara teknis mengenai pengelolaan ADD diatur melalui Peraturan Bupati. Pada tahun 2010, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat telah menetapkan Peraturan Bupati Nomor 6 Tahun 2010 Tentang Pedoman Pengalokasian dan Pelaksanaan Alokasi Dana Desa (ADD) Tahun Anggaran 2010.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________75

Dalam Peraturan tersebut Pemerintah Daerah (Bupati) telah menegaskan bahwa peruntukkan ADD adalah untuk ADDM sebesar 60% ( enam puluh perseratus) dari jumlah ADD dan ADD untuk ADDP adalah 40% (empat puluh per seratus) dari jumlah ADD. Dilihat dari sisi muatan materi yang terkandung dalam Peraturan Daerah maupun Peraturan Bupati khususnya menyangkut proporsi peruntukkan ADD dilihat dari persfektif anggaran pro-poor mencerminkan bahwa peruntukkan ADD mulai tahun 2009 menunjukkan kecendrungan ADD merata atau belanja rutin desa menjadi lebih besar daripada ADD untuk ADDP. Dengan pola peruntukkan seperti ini, maka muncul kecendrungan sekaligus persoalan sebagai berikut; (a). Faktor dominan besar kecilnya penerimaan ADD sangat ditentukan dari besarnya perangkat desa, sementara variabel ADDP tidaklagi signifikan dalam mempengaruhi jumlah ADD. Sehingga, berpotensi bagi desa-desa terpencil yang memiliki jumlah perangkat desa sedikit dan penduduk miskin banyak mengalami penurunan jumlah ADD. Karena pada saat yang bersamaan pada tahun ini terjadi perubahan variabel dimana kategori penduduk miskin tidak lagi masuk sebagai salah satu variabel dalam menentukan besarnya ADD. (b). Desa-desa akan termotivasi untuk melakukan penambahan/pemekaran jumlah dusun, RT maupun perangkat desa lainnya. (c). Desa desa terpencil dan desa-desa baru (hasil pemekaran) akan semakin tertinggal dari desa lainnya karena memperoleh proporsi ADD yang semakin kecil. Selain perubahan sebagaimana di atas, pada tahun 2010 terjadi pula perubahan mengenai ; pertama, variable utama yang digunakan sebagai dasar pertimbangan prioritas dalam menentukan besarnya ADD untuk ADDP, komponen-komponen variabel yang mengalami perubahan tersebut adalah sebagai berikut : jumlah penduduk dengan bobot variabel 0.35, jumlah unit komunitas (Jumlah RT) dengan bobot variabel 0,25, jarak keterjangkuan dari Ibukota dengan bobot variable 0,25 ; dan luas wilayah dengan bobot variable 0,15 sehingga angka bobot seluruh variable berjumlah 1 (satu). Sebagai catatan, sejak tahun 2009 variable jumlah KK miskin telah dihapuskan
Legitimid KSB __________________________________________________________________________76

Alokasi dan Peruntukkan ADD untuk ADDM 60% dan ADD untuk ADDP 40% telah memicu lahirnya ADD yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan aparat desa daripada masyarakat. Kondisi semakin menjauhkan pencapaian tujuan pemberian ADD. Persoalan lainnya kebijakan ini semakin memperkokoh nafsu desa untuk melakukan pemekaran desa, dusun, RT dan perangkat desa lainnya. ADD untuk warga miskin terasa semakin jauh seiring dengan dihapuskannya variabel jumlah penduduk miskin dalam penetapan besarnya ADDP. Akhirnya , Desa miskin akan tetap miskin?

oleh Pemerintah Daerah dengan alasan antara lain karena pemerintah daerah telah menyediakan program pendidikan dan kesehatan gratis sehingga persoalan akses pendidikan dan kesehatan bagi warga miskin bukan lagi menjadi masalah yang krusial yang dihadapi oleh warga miskin. Kedua, sejak tahun 2009 dan 2010, alokasi kebijakan mengenai peruntukkan ADD dikhususkan hanya untuk ADDM dan ADDP. Sedangkan kebijakan menyangkut ADD untuk DAD dihapuskan atau tidak lagi dimasukkan sebagai alokasi anggaran desa, hal ini sejalan dengan meningkatnya berbagai protes dan kritik pemerintahan desa, LSM dan beberapa stakaholders lainnya terkait kebijakan DAD. Ketiga, dilihat dari jumlah dan proporsi ADD pada Tahun 2009 dan tahun 2010, jumlah ADD yang diberikan adalah sebesar Rp.13 milyar yang diperuntukkan untuk sebesar Rp.5,200,000,000,-. Dari uraian di atas, tegambar bahwa proses penetapan ADD merupakan proses yang panjang, penuh dengan dinamika, dan dibutuhkan adanya upaya untuk dilakukan evaluasi secara terus menerus agar dapat dilihat sejauhmankah perkembangan kemajuan pengelolaan ADD dan apa yang perlu dilakukan untuk melakukan penyempurnaan atas kebijakan tersebut di masa mendatang. ADDM sebesar Rp. 7,800,000,000,dan ADDP

4.3. Trend Perkembangan dan Proporsi ADD dari Waktu ke Waktu 4.3.1. Perkembangan dan Proporsi ADDM dan ADDP Kajian ini dimaksudkan untuk melihat bagaimanakah arah kebijakan proporsi peruntukkan ADD yang berkembang selama ini. Apakah meningkatnya jumlah ADD berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa ataukah sebaliknya hanya mensejahterakan aparat desa?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, asumsi yang digunakan adalah jika proporsi ADD untuk ADDM lebih besar daripada ADDP, maka berarti kecendrungan peruntukkan ADD untuk kepentingan aparatur pemerintahan desa lebih besar dibandingkan dengan pembangunan desa (masyarakat) dan sebaliknya. Berdasarkan skala waktu, ditemukan bahwa selama kurun waktu tahun
Legitimid KSB __________________________________________________________________________77

2006 s.d. 2008 kecendrungan jumlah ADD untuk ADDM mengalami penurunan. Tahun 2006 ADD untuk ADDM sebesar Rp. 3,900,800,000,- atau 1,41% dari jumlah belanja daerah. Tahun 2007 berkurang menjadi 3,709,400,000,- atau 1,07% dari jumlah belanja daerah dan berkurang kembali pada tahun 2008 menjadi 3,328,800,000,- atau 0,76% dari jumlah belanja daerah. Namun, situasi tersebut kemudian berubah selama kurun waktu 2 tahun terakhir yakni tahun 2009 dan 2010. terjadi peningkatan yang sangat signifikan peruntukkan ADD untuk ADDM meningkat menjadi sebesar Rp.7,800,000,000,- atau naik 100% dari jumlah ADDM tahun sebelumnya atau mengalami peningkatan 0,5 % dari jumlah belanja daerah. Gambaran mengenai perkembangan jumlah ADDM dan persentase atas belanja daerah dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 8 : Persentase Jumlah ADDM terhadap Belanja Daerah
No Tahun Belanja Daerah ADDM ADDM terhadap Total Belanja (%) 1.41 1.07 0.76 1.49

1 2 3 4 5

2006 2007 2008 2009

276,339,765,710 345,874,274,503 437,837,679,158 524,190,027,419 525,351,583,095

3,900,800,000 3,709,400,000 3,328,800,000 7,800,000,000

2010 7,800,000,000 1.48 Sumber : data diolah dari laporan Akhir Pertanggungjawaban Bupati KSB dan kumpulan peraturan bupati tentang penetapan ADD 2006 s/d 2010

Berdarkan data di atas terlihat kecendrungan proporsi ADD untuk ADDM lebih tinggi dibandingkan dengan ADDP. Kecendrungan ADDM terus meningkat dari tahun ke tahun, peningkatan telah mencapai 100% atau mengalami kenaikan dua kali lipat dari tahun pertama dilaksanakannya kebijakan mengenai ADD. Sebaliknya, ADD untuk ADDP justeru cenderung terus mengalami penurunan/pengurangan. Jumlah ADDP pada tahun 2009 dan 2010 hanya sebesar Rp.5,200,000,000,- atau 0,99% dari jumlah belanja daerah atau mengalami penurunan dari tahun sebelumnya mencapai 0,50%. Berikut ini adalah tebel mengenai perkembangan proporsi ADD untuk ADDP dan persentase terhadap belanja daerah :

Tabel 9 : Persentase jumlah ADD (ADDP) terhadap belanja daerah


No 1 2 3 Tahun 2006 2007 2008 Belanja Daerah 276,339,765,710 345,874,274,503 437,837,679,158 ADDP 1,799,200,000 6,249,351,253 6,502,334,296 ADDP terhadap Belanja Daerah (%) 0.65 1.81 1.49

Legitimid KSB __________________________________________________________________________78

4 5

2009 2010

524,190,027,419 525,351,583,095

5,200,000,000 5,200,000,000

0.99 0.99

Sumber : data diolah dari laporan Akhir Pertanggungjawaban Bupati KSB dan kumpulan peraturan bupati tentang penetapan ADD 2006 s/d 2010

Pada tahun 2008 ADD untuk ADDP sebesar Rp.6,502,334,296, dan tahun Rp.6,502,334,296,2009 dan 2009 ADD untuk ADDP hanya sebesar Rp.5,200,000,000, Berikut Rp.5,200,000,000,grafik 2 perbandingan perkembangan jumlah ADD untuk ADDM dan ADDP :
Grafik 4 : Kecendrungan perkembangan ADDM dan ADDP

Sumber : data diolah dari laporan Akhir Pertanggungjawaban Bupati KSB dan kumpulan peraturan bupati tentang penetapan ADD 2006 s/d 2010

Dari grafik di atas terlihat jelas bahwa jumlah ADD untuk ADDM terus meningkat. Meningkatnya ADD untuk ADDM dan berkurangnya ADD untuk untuk ADDP ini memiliki implikasi cukup luas bagi pembangunan desa, diantaranya adalah sebagai berikut ; Pertama, berkurangnya kemampuan desa dalam mengakselerasi upaya program pembangunan dan pengentasan kemiskinan di desa. Kedua, banyak usulan program masyarakat untuk pembangunan desa yang tidak dapat diakomodir dan dilaksanakan oleh pemerintah desa. Ketiga, akses warga miskin untuk memperoleh peningkatan kesejahteraan melalui pembangunan di tingkat desa semakin minim. Keempat, berkurangnya partisipasi warga dan keswadayaan warga desa karena beranggapan ADD diperuntukkan untuk ADDM, khususnya TPAPD (gaji pemerintah dan perangkat desa). Dampak lebih jauh adalah berkurangnya derajat legitimasi pemerintahan desa dalam penyelengaraan pemerintahan, sehingga menyulitkan pemerintahan penyelengaraan desa itu sendiri dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan yang ada di desa, menimbulkan kecemburuan, kesenjangan dan gejolak sosial di desa.
Legitimid KSB __________________________________________________________________________79 _________________________________________________________________________

Untuk lebih komprehensif melihat bagaimana pemanfaatan atau peruntukkan ADD di Kabupaten Sumbawa Barat, selanjutnya akan dijelaskan pemanfaatan ADD dari tahun ke tahun.

4.3.1.1. Tahun Pertama kebijakan ADD(2006)


Secara yuridis peruntukkan ADD untuk ADDM dan ADDP didasarkan atas Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 219 Tahun 2006 tentang Penetapan Alokasi Dana Bantuan Kepada Desa. Pada tahun 2006, jumlah ADD yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah adalah sebesar Rp.5,700,000,000,- jumlah tersebut diperuntukkan bagi 38 desa. Dari jumlah ADD yang telah ditetapkan ADD untuk ADD rata-rata (ADDr) atau ADDM adalah sebesar Rp. 3,900,800,000,- atau sekitar 68% dari jumlah ADD dan ADD untuk ADDproporsional (ADDp) sebesar Rp.1,799,200,000 atau sekitar 32% dari jumlah ADD. Sedangkan selebihnya sebesar Rp.3,800,000,000,- adalah diperuntukkan untuk Dana Abadi Desa (DAD). Adapun rincian jumlah ADD untuk setiap desa tahun 2006 dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 10: Jumlah ADD dan Rincian Peruntukkan ADD


NO
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

NAMA DESA
Sekongkang Bawah Sekongkang Atas Tongo Ai Kangkung Tatar UPT Talonang Belo Beru Goa Benete Maluk Sapugara Bree Beru Tepas Bangkat Monte Mura Kalimantong Menala Kuang Bugis Dalam Sampir

ADD Rata-rata ADDr


105,100,000 105,100,000 90,100,000 93,100,000 93,100,000 90,100,000 108,100,000 105,100,000 111,100,000 93,100,000 93,100,000 105,100,000 105,100,000 111,100,000 108,100,000 105,100,000 108,100,000 114,100,000 111,100,000 108,100,000 114,100,000 108,100,000

ADD proporsional ADDp


44,900,000 44,900,000 59,900,000 56,900,000 56,900,000 59,900,000 41,900,000 44,900,000 38,900,000 56,900,000 56,900,000 44,900,000 44,900,000 38,900,000 41,900,000 44,900,000 41,900,000 35,900,000 38,900,000 41,900,000 35,900,000 41,900,000

JML
150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000

Legitimid KSB __________________________________________________________________________80

23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Labuhan Lalar Lalar Liang Labuhan Kertasari Seloto Meraran Ai Suning Rempe Seteluk Atas Seteluk Tengah Senayan Mantar Kelanir Poto Tano UPT Tambaksari Tapir Kiantar JUMLAH

114,100,000 93,100,000 93,100,000 93,100,000 105,100,000 105,100,000 108,100,000 105,100,000 108,100,000 105,100,000 108,100,000 90,100,000 93,100,000 90,100,000 93,100,000 111,100,000 3,900,800,000

35,900,000 56,900,000 56,900,000 56,900,000 44,900,000 44,900,000 41,900,000 44,900,000 41,900,000 44,900,000 41,900,000 59,900,000 56,900,000 59,900,000 56,900,000 38,900,000 1,799,200,000

150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 150,000,000 5,700,000,000

Sumber : Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 219 Tahun 2006 tentang Penetapan Alokasi Dana Bantuan Kepada Desa.

Dari data di atas menunjukkan bahwa ternyata terdapat 15 desa yang proporsi ADD untuk ADDr melebihi 70% dari jumlah ADD. Adapun nama-nama Desa tersebut adalah Desa Kiantar, Desa Mantar, Desa Seteluk Tengah, Desa Rempe, Desa Labuan Lalar, Desa Dalam, Desa Bugis, Desa Sampir, Desa Kuang, Desa Menala, Desa Kalimantong, Desa Bangkat Monteh, Desa Tepas, Desa Goa, Desa Belo. Sedangkan desa yang ADD untuk ADDr dibawah 60% dari jumlah ADD yang diterima hanya ada 4 desa, yakni ; Desa UPT Tambak Sari, Desa Kelanir, Desa UPT Talonang dan Desa Tongo. Beikut adalah grafik perbandingan alokasi ADD perdesa :

Grafik 5 ; Perbadingan Proporsi ADD untuk ADDM dan ADDP Tahun 2006

Legitimid KSB __________________________________________________________________________81

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 219 Tahun 2006 tentang Penetapan Alokasi Dana Bantuan Kepada Desa.

Peruntukkan ADD untuk ADDr tertinggi adalah sebesar Rp.114,000,000, Rp.114,000,000,yakni Desa Labuhan Lalar, Desa Dalam dan Desa Menala. Sedangkan ADD untuk ADDr terendah adalah sebesar Rp.90,000,000, yakni terdapat pada Desa Tongo, Rp.90,000,000,Desa UPT Talonang (Kecamatan Sekongkang), UPT Tambak Sari dan Desa Kelanir (Kecamatan Poto Tano dan Seteluk). Untuk alokasi ADD untuk ADDp tertinggi adalah sebesar Rp.59,000,000, sebesar Rp.59,000,000,sebanyak 4 desa, yaitu ; Desa Tongo, Desa UPT Talonang, Desa UPT Tambak Sari dan Desa Kelanir. Sedangkan ADD untuk ADDp terendah sebesar Rp. 35,900,000,-, yakni ; Desa Menala dan Desa Dalam (Kecamatan Taliwang). , Pada tahun 2006 peruntukkan ADD untuk ADDM memang jauh lebih peruntukkan tinggi dibandingkan dengan ADD untuk ADDP. Tingginya ADD untuk ADDM tersebut sangat tergantung dari jumlah perangkat desa yang ada pada masing masingmasing desa sehingga sejumlah desa yang memiliki jumah perangkat desa dal dalam
Legitimid KSB __________________________________________________________________________82 _________________________________________________________________________

jumlah yang besar akan semakin besar untuk mengalokasikan ADD untuk ADDM dan sebaliknya desa yang jumlah perangkatnya kecil maka akan semakin kecil untuk mengalokasikan ADD untuk ADDM. Tingginya jumlah ADD untuk ADDP yang terjadi di beberapa desa bukanlah merupakan wujud dari komitmen Pemerintahan Desa setempat untuk melahirkan kebijakan ADD yang pro masyarakat, melainkan lebih disebabkan karena faktor kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah, begitupun dengan desa yang jumlah ADD untuk ADDMnya tinggi. Pada tahun 2006, memang kebijakan penepatan jumlah ADD secara seragam kurang mencerminkan keadilan bagi desa, khususnya desa yang memiliki wilayah yang luas, penduduk yang besar, jumlah perangkat desa yang banyak dan sebagainya, karena tentu saja desa ADD untuk ADDM akan lebih besar dibandingkan dengan ADDP. Sehingga untuk menilai apakah kebijakan peruntukkan ADD yang dirumuskan oleh pemerintah desa sudah cukup baik atau tidak sulit untuk dinilai secara obyetif.

4.3.1.2. Tahun Kedua kebijakan ADD (2007)


Pada tahun 2007 kebijakan penetapan jumlah ADD ditetapkan melalui Keputusan Bupati Sumbawa Barat No. 274 Tahun 2007. Jumlah ADD mengalami kenaikan dari semula sebesar Rp. Rp.5,700,000,000,menjadi sebesar Rp.9,958,751,253,- atau mengalami kenaikan sebesar Rp.3,512,351,253,- pada tahun ini terjadi pula perubahan sekaligus kemajuan kebijakan dalam pemanfaatan atau peruntukkan ADD. Pertama, selain adanya TPAPD juga dialokasikan tunjangan untuk RT pada masing-masing desa. Kedua, kebijakan penetapan jumlah ADD untuk masing-masing desa tidak diberlakukan secara seragam atau merata melainkan di dasarkan pula pada aspek pertimbangan proporsionalitas. Ketiga, adanya penegasan pemanfaatan ADD agar proporsi ADD untuk ADDP adalah 60% dari jumlah ADD dan ADD untuk ADDM 40%. Kebijakan ini ternyata cukup mempengaruhi peruntukkan atau pemanfaatan ADD di setiap desa. Salah satunya adalah terjadinya kenaikan

terhadap jumlah ADD untuk ADDP. Sebelumnya jumlah ADD untuk ADDP adalah sebesar Rp.1,799,200,000 atau sekitar 32% dari jumlah ADD, maka pada tahun 2007, ADD untuk ADDP adalah sebanyak Rp.6,249,351,253 atau 63% dari jumlah ADD. Sebaliknya, ADD untuk ADDM hanya sebesar Rp.3,709,400,000 atau 37% dari jumlah ADD. Adapun mengenai rincian pemanfaatan atau peruntukkan ADD dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini :
Tabel 11 : Peruntukkan ADD untuk ADDM dan ADD untuk ADDP
Legitimid KSB __________________________________________________________________________83

ADD NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 NAMA DESA/KELURAHAN Goa Belo Dasan Anyar (Ds. Persiapan) Beru Benete Maluk Mantun (Ds. Persiapan) Bukit Damai (Ds. Persiapan) Pasir Putih (Ds. Persiapan) Sekongkang Bawah Sekongkang Atas Ai' Kangkung Tatar Tongo Talonang Baru Lalar Liang Labuhan Lalar Banjar Batu Putih Labuhan Kertasari Seloto Tamekan Menala (Kelurahan Persiapan) Sampir (Kelurahan Persiapan) Dalam (Kelurahan Persiapan) Kuang (Kelurahan Persiapan) Bugis (Kelurahan Persiapan) Telaga Bertong (Kel. Persiapan) Meraran Kelanir Rempe Air Suning Tapir Seteluk Atas Seteluk Tengah Senayan Mantar Kiantar Tambak Sari Poto tano Bangkat Monteh Tepas Sapugara Bree Desa Beru Manemeng (Ds. Persiapan) Mura Lampok (Ds. Persiapan) Mujahiddin (Ds. Persiapan) Kalimantong ADDM TUNJANGAN RT 8 9 8 12 8 8 6 11 7 6 10 12 7 8 11 9 18 12 9 11 14 6 32 17 29 27 20 21 12 11 10 14 12 15 19 12 5 14 5 22 15 24 16 17 9 9 9 8 8 622 9,600,000 10,800,000 9,600,000 14,400,000 9,600,000 9,600,000 7,200,000 13,200,000 8,400,000 7,200,000 12,000,000 14,400,000 8,400,000 9,600,000 13,200,000 10,800,000 21,600,000 14,400,000 10,800,000 13,200,000 16,800,000 7,200,000 38,400,000 20,400,000 34,800,000 32,400,000 24,000,000 25,200,000 14,400,000 13,200,000 12,000,000 16,800,000 14,400,000 18,000,000 22,800,000 14,400,000 6,000,000 16,800,000 6,000,000 26,400,000 18,000,000 28,800,000 19,200,000 20,400,000 10,800,000 10,800,000 10,800,000 9,600,000 9,600,000 746,400,00 0 TPAPD 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 64,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 64,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 51,200,000 48,200,000 51,200,000 48,200,000 48,200,000 31,600,000 61,800,000 61,800,000 64,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 64,800,000 61,800,000 61,800,000 64,800,000 61,800,000 64,800,000 64,800,000 67,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 2,963,000,000 ADDP 115,672,911 161,016,925 91,248,747 172,409,849 142,803,535 131,096,789 99,142,473 108,259,038 101,265,177 137,777,226 164,190,628 207,197,998 189,291,885 194,725,701 251,074,029 133,854,510 133,906,807 83,173,506 75,582,569 106,987,223 116,458,625 56,890,257 166,976,482 136,514,694 170,735,163 156,987,795 118,378,907 115,472,663 113,527,573 119,357,785 137,396,774 120,869,532 101,717,216 150,453,251 140,840,549 131,024,036 104,565,273 143,298,286 85,922,400 184,381,887 170,468,824 168,367,576 117,085,733 119,135,219 56,922,963 90,192,695 65,015,419 61,231,038 119,733,859 6,340,600,000 JUMLAH ADD 187,072,911 233,616,925 162,648,747 248,609,849 217,203,535 202,496,789 168,142,473 183,259,038 171,465,177 206,777,226 237,990,628 283,397,998 259,491,885 266,125,701 326,074,029 206,454,510 220,306,807 159,373,506 148,182,569 181,987,223 195,058,625 125,890,257 256,576,482 205,114,694 256,735,163 237,587,795 190,578,907 172,272,663 189,727,573 194,357,785 214,196,774 199,469,532 177,917,216 230,253,251 228,440,549 207,224,036 172,365,273 224,898,286 153,722,400 275,581,887 253,268,824 264,967,576 198,085,733 201,335,219 129,522,963 162,792,695 137,615,419 132,631,038 191,133,859 10,050,000,000

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat No. 274 Tahun 2007.

Adapun secara rinci proporsi dapat di lihat pada grafik 4 perbandingan proporsi distribusi ADD Tahun 2007 :

Grafik 6 : Perbandingan Proporsi Alokasi ADD Tahun 2007

Legitimid KSB __________________________________________________________________________84

Pada tahun 2007 Desa yang memperoleh ADD tertinggi adalah Desa Talonang Baru Kecamatan Sekongkang yakni sebesar Rp.325,074,029, dan secara Rp.325,074,029,umum desa di Kecamatan Sekongkang menerima ADD dalam jumlah yang relatif lebih besar jika dibandingkan desa dari kecamatan lainnya. Hal ini tercermin dari kecamatan 9 desa terbesar penerima ADD tahun 2007, empat diantaranya adalah berasal dari desa yang berada di Kecamatan Sekongkang, keempat desa tersebut selain Desa Talonang Baru adalah Desa Sekongkang Atas jumlah ADD yang dit diterima sebesar

Legitimid KSB __________________________________________________________________________85 _________________________________________________________________________

Rp.283, 397,998, Desa Tongo sebesar Rp.266,125,701, dan Desa Tatar sebesar Rp.266,125,701,Rp.259,491,885,-. Diluar kecamatan sekongkang hanya ada 6 desa yang menerima . ADD di atas Rp.250 juta, keenam desa tersebut adalah Desa Poto Tano Kecamatan Poto Tano sebesar Rp.275,581,887, Desa Tepas Kecamatan Brang Rea, sebesar Rp.275,581,887,Rp.264,967,576,- Desa Bangkat Monteh, Desa Dalam dan Desa Manala Kecamatan Taliwang. Sedangkan penerima ADD terendah adalah Desa Tamekan Kecamatan Taliwang yakni sebesar Rp.125,890,257, Selain Desa Tamekan, desa Rp.125,890,257,-. elain desa-desa lainnya yang menerima ADD dibawah Rp.150 juta adalah Desa Batu Putih, Desa Manameng, dan Desa Lampok. Keempat desa penerima ADD rendah tersebut adalah merupakan desa hasil pemekaran. Berikut di bawah ini adalah grafik 5 perbandingan jumlah ADD antar desa : dingan
Grafik 7 : Perbandingan jumlah ADD antar Desa 2007

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat No. 274 Tahun 2007

Tingginya jumlah ADD yang diterima oleh Desa Talonang, Desa Sekongkang Atas, Desa Tongo, Desa Tatar, Desa Aikangkung, Desa Tatar, Desa Poto Tano, Desa Tepas, Desa dan Bangkat Monteh adalah bersumber dari ADD Proporsional. Secara rinci dapat dilihat pada data grafik 6 perbandingan ADD proporsional antar desa:
Grafik 8 : Perbandingan ADD proporsional antar desa ional

Legitimid KSB __________________________________________________________________________86 _________________________________________________________________________

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat No. 274 Tahun 2007

Desa Tepas adalah desa yang paling tinggi mengalokasikan jumlah TPAPD yakni sebesar Rp.67,800,000, tunjangan untuk RT didesa ini sebanyak 24 RT Rp.67,800,000,sebesar Rp.28,800,000, sehingga jumlah keseluruhan TPAPD dengan tunjangan 800,000,RT sebesar Rp.96,600,000, . Tingginya alokasi ADD untuk TPAPD di Desa Tepas Rp.96,600,000,-. patut untuk dipertanyakan karena jika dibandingkan dengan beberapa desa yang memiliki jumlah RT jauh lebih banyak seperti, Desa Dalam (29 RT) Desa Kuang seperti, (27 RT), dan Desa Menala (32 RT) ternyata jumlah keseluruhan alokasi untuk tunjangan RT dan TPAPD di tiga desa ini hanya sebesar Rp. 80 s.d.90 juta. Secara rinci dapat dilihat pada grafik 7 perbandingan jumlah ADD yang di diperuntukkan untuk tunjangan RT dan TPAPD :

Grafik 9 : Perbandingan jumlah ADD yang diperuntukkan untuk tunjangan RT dan


Legitimid KSB __________________________________________________________________________87 _________________________________________________________________________

TPAPD

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49

Kalimantong Mujahiddin (Ds. Persiapan) Lampok (Ds. Persiapan) Mura Manemeng (Ds. Persiapan) Desa Beru Sapugara Bree Tepas Bangkat Monteh Poto tano Tambak Sari Kiantar Mantar Senayan Seteluk Tengah Seteluk Atas Tapir Air Suning Rempe Kelanir Meraran Telaga Bertong (Kel. Persiapan) Bugis (Kelurahan Persiapan) Kuang (Kelurahan Persiapan) Dalam (Kelurahan Persiapan) Sampir (Kelurahan Persiapan) Menala (Kelurahan Persiapan) Tamekan Seloto Labuhan Kertasari Batu Putih Banjar Labuhan Lalar Lalar Liang Talonang Baru Tongo Tatar Ai' Kangkung Sekongkang Atas Sekongkang Bawah Pasir Putih (Ds. Persiapan) Bukit Damai (Ds. Persiapan) Mantun (Ds. Persiapan) Maluk Benete Beru Dasan Anyar (Ds. Persiapan) Belo Goa

71.400.000 71.400.000 72.600.000 72.600.000 72.600.000 82.200.000 81.000.000 96.600.000 82.800.000 91.200.000 67.800.000 81.600.000 67.800.000 76.200.000 87.600.000 79.800.000 76.200.000 78.600.000 76.800.000 75.000.000 76.200.000 56.800.000 72.200.000 80.600.000 86.000.000 68.600.000 89.600.000 69.000.000 78.600.000 75.000.000 72.600.000 76.200.000 86.400.000 72.600.000 75.000.000 71.400.000 70.200.000 76.200.000 73.800.000 69.000.000 70.200.000 75.000.000 69.000.000 71.400.000 74.400.000 76.200.000 71.400.000 72.600.000 71.400.000 0 10.000.000 20.000.000 30.000.000 40.000.000 50.000.000 60.000.000 70.000.000 80.000.000 90.000.000 100.000.000

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat No. 274 Tahun 2007

4.3.1.3. Tahun Ketiga kebijakan ADD (2008)


Kebijakan penetapan jumlah ADD pada tahun 2008 ditetapkan

berdasarkan Keputusan Bupati Nomor 20 B Tahun 2008, tanggal 21 Febuari 2008. Jumlah bantuan keuangan ke Desa adalah sebesar 12,606,134,296, (dua belas 12,606,134,296,milyar enam ratus enam juta seratus tiga puluh empat dua ratus Sembilan puluh puluh enam rupiah). Pada tahun ini pagu untuk ADD ditetapkan sebesar Rp.9,831,134,296, Rp.9,831,134,296,(Sembilan milyar delapan ratus tiga puluh satu juta seratus tiga puluh empat dua ratus Sembilan enam rupiah). ADD ini diperuntukkan untuk 49 Desa. Dari jumlah 49 tersebut, sebanyak Rp.3,328,800.000 (tiga milyar tiga ratus dua puluh delapan juta delapan ratus rupiah) atau 34% dari total ADD diperuntukkan untuk ADDM (ADD Merata Setiap Desa), dan sebanyak 6.502.334.296 (Enam Milyar Lima Ratus Dua Juta Tiga Ratus Tiga Puluh Empat Dua Ratus Sembilan Puluh Enam Rupiah) uta atau 66% dari total ADD diperuntukkan untuk ADDP (Alokasi Dana Desa Proporsional). Sedangkan sebanyak Rp. 2,725,000,000 dialokasikan untuk Dana Abadi Desa (DAD). Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, maka jumlah n

Legitimid KSB __________________________________________________________________________88 _________________________________________________________________________

ADD sebesar Rp.9,831,134,296 tersebut mengalami penurunan sebesar Rp. 218,865,704,- dari jumlah ADD sebelumnya. Secara lebih rinci mengenai rincian jumlah ADD setiap desa tahun 2008 dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini:
Tabel 12 : Rincian Jumlah ADD/Desa Tahun 2008
NO NAMA DESA/KELURAHAN Goa Belo Dasan Anyar Beru Benete Maluk Mantun Bukit Damai Pasir Putih Sekongkang Bawah Sekongkang Atas Ai Kangkung Tatar Tongo Talonang Baru Lalar Liang Labuhan Lalar Banjar Batu Putih Labuhan Kertasari Seloto Tamekan Menala Sampir Dalam Kuang Bugis Telaga Bertong Meraran Kelanir Rempe Air Suning Tapir Seteluk Atas Seteluk Tengah Senayan Mantar Kiantar ALOKASI DANA DESA ADDM TUNJANGAN RT 8 10 9 12 8 11 9 13 13 5 10 12 7 9 12 9 19 12 21 16 14 6 32 19 34 27 22 26 12 12 18 24 12 15 19 12 10 14 9,600,000 12,000,000 10,800,000 14,400,000 9,600,000 13,200,000 10,800,000 15,600,000 15,600,000 6,000,000 12,000,000 14,400,000 8,400,000 10,800,000 14,400,000 10,800,000 22,800,000 14,400,000 25,200,000 19,200,000 16,800,000 7,200,000 14,400,000 14,400,000 21,600,000 28,800,000 14,400,000 18,000,000 22,800,000 14,400,000 12,000,000 16,800,000 TPAPD 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 64,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 64,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 ADDP 134,379,674 189,249,436 107,672,016 202,542,252 162,667,070 163,704,486 119,454,334 129,773,897 130,127,462 150,662,232 184,787,776 228,429,910 206,459,886 216,891,726 277,496,408 155,148,685 164,372,237 98,505,502 119,236,737 138,791,055 139,141,264 67,826,257 JUMLAH ADD 205,779,674 263,049,436 180,272,016 278,742,252 237,067,070 238,704,486 192,054,334 207,173,897 207,527,462 218,462,232 258,587,776 304,629,910 276,659,886 289,491,726 353,696,408 227,748,685 251,972,237 174,705,502 206,236,737 219,791,055 217,741,264 136,826,257 210,517,776 219,139,985 267,842,207 260,033,567 194,186,599 255,788,266 258,293,432 228,921,205 208,072,971 247,203,773

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

61,800,000 61,800,000 64,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 64,800,000 61,800,000 61,800,000 64,800,000

134,317,776 142,939,985 181,442,207 169,433,567 117,986,599 175,988,266 170,693,432 152,721,205 134,272,971 165,603,773

Legitimid KSB __________________________________________________________________________89

39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49

Tambak Sari Poto tano Bangkat Monteh Tepas Sapugara Bree Desa Beru Manemeng Mura Lampok Mujahiddin Kalimantong JUMLAH

6 19 16 25 16 17 9 9 9 9 9 697

7,200,000 22,800,000 19,200,000 30,000,000 19,200,000 20,400,000 10,800,000 10,800,000 10,800,000 10,800,000 10,800,000 644,400,000

61,800,000 64,800,000 64,800,000 67,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 61,800,000 2,684,400,000

100,968,524 209,278,112 203,558,961 203,354,284 141,141,896 143,969,676 67,899,513 106,560,097 76,188,711 74,638,451 142,055,989 6,502,334,296

169,968,524 296,878,112 287,558,961 301,154,284 222,141,896 226,169,676 140,499,513 179,160,097 148,788,711 147,238,451 214,655,989 9,831,134,296

Sumber : Keputusan Bupati Nomor 20 B Tahun 2008, tanggal 21 Febuari 2008.

Pada tahun 2008 jumlah penerima ADD hanya 44 desa, karena 5 desa, yakni Desa Menala, Desa Sampir, Desa Dalam, Desa Kuang, Desa Bugis, dan Desa Telaga Bertong berubah statusnya menjadi Kelurahan. Pada tahun 2008, ADD tertinggi adalah sebesar Rp. 353,696,904,- diterima oleh Desa Talonang Baru, jumlah ADD tersebut meningkat jika dibandingkan dari tahun sebelumnya yang diterima sebesar Rp.325,074,029,-. Selain Desa Talonang, Desa yang ADDnya melebihi Rp.300 juta (3 besar tertinggi) dan mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun sebelumnya adalah Desa Tepas dari semula sebesar Rp.264,967,576,- meningkat menjadi Rp.301,154,284,- dan Desa AiKankung dari semula Rp.283,397,998,- naik menjadi Rp.304,629,910,- .Pada tahun 2008 jumlah ADD terendah adalah sebesar Rp.138,826,257,- yakni Desa Tamekan. Secara rinci perbandingan jumlah ADD antar Desa dapat dilihat pada .
Grafik 10 : Perbandingan rincian Jumlah ADD Antar Desa Tahun 2008

Legitimid KSB __________________________________________________________________________90

Perbandingan Jumlah ADD Antar Desa 2008


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 Kalimantong Mujahiddin Lampok Mura Manemeng Desa Beru Sapugara Bree Tepas Bangkat Monteh Poto tano Tambak Sari Kiantar Mantar Senayan Seteluk Tengah Seteluk Atas Tapir Air Suning Rempe Kelanir Meraran Telaga Bertong Bugis Kuang Dalam Sampir Menala Tamekan Seloto Labuhan Kertasari Batu Putih Banjar Labuhan Lalar Lalar Liang Talonang Baru Tongo Tatar Ai' Kangkung Sekongkang Atas Sekongkang Bawah Pasir Putih Bukit Damai Mantun Maluk Benete Beru Dasan Anyar Belo Goa

214.655.989 147.238.451 148.788.711 179.160.097 140.499.513 226.169.676 222.141.896 301.154.284 287.558.961 296.878.112 169.968.524 247.203.773 208.072.971 228.921.205 258.293.432 255.788.266 194.186.599 260.033.567 267.842.207 219.139.985 210.517.776 0 0 0 0 0 0 136.826.257 217.741.264 219.791.055 206.236.737 174.705.502 251.972.237 227.748.685 353.696.408 289.491.726 276.659.886 304.629.910 258.587.776 218.462.232 207.527.462 207.173.897 192.054.334 238.704.486 237.067.070 278.742.252 180.272.016 263.049.436 205.779.674

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 20 B Tahun 2008, tanggal 21 Febuari 2008.

ADDP tertinggi sebesar Rp.277,496,408, yakni Desa Talonang Baru, Rp.277,496,408,diikuti Desa AiKankung sebesar Rp.228,429,910, dan Desa Tongo. Sedangkan Rp.228,429,910,Desa Tepas yang jumlah ADD tertinggi ketiga ternyata ADDP hanya sebesar Rp.203,558,961,-. Artinya, kenaikan jumlah ADD Desa Tepas adalah lebih banyak . berasal dari ADDM. ADDP terendah pada tahun 2008 adalah sebesar Rp.67,826,257, yakni Rp.67,826,257,Desa Tamekan sebelumnya pada tahun 2007 ADDP terendah juga Desa Tamekan dengan jumlah ADDP sebesar Rp.125,890,257, jika dibandingkan antara ADDP Rp.125,890,257,tahun 2008 dan 2007 Desa Tamekan terlihat jelas terjadi penurunan jumlah ADDP. Padahal disisilain, Desa Tamekan adalah merupakan Desa baru (hasil pemekaran) yang membutuhkan berbagai sarana dan prasarana untuk mendukung pembangunan di tingkat desa.
Grafik 11 : perbandingkan jumlah ADDP antar Desa Tahun 2008 :

Legitimid KSB __________________________________________________________________________91 _________________________________________________________________________

PERBANDINGAN JUMLAH ADDP ANTAR DESA 2008

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49

Kalimantong Mujahiddin Lampok Mura Manemeng Desa Beru Sapugara Bree Tepas Bangkat Monteh Poto tano Tambak Sari Kiantar Mantar Senayan Seteluk Tengah Seteluk Atas Tapir Air Suning Rempe Kelanir Meraran Telaga Bertong Bugis Kuang Dalam Sampir Menala Tamekan Seloto Labuhan Kertasari Batu Putih Banjar Labuhan Lalar Lalar Liang Talonang Baru Tongo Tatar Ai' Kangkung Sekongkang Atas Sekongkang Bawah Pasir Putih Bukit Damai Mantun Maluk Benete Beru Dasan Anyar Belo Goa

142.055.989 74.638.451 76.188.711 106.560.097 67.899.513 143.969.676 141.141.896 203.354.284 203.558.961 209.278.112 100.968.524 165.603.773 134.272.971 152.721.205 170.693.432 175.988.266 117.986.599 169.433.567 181.442.207 142.939.985 134.317.776

67.826.257 139.141.264 138.791.055 119.236.737 98.505.502 164.372.237 155.148.685 277.496.408 216.891.726 206.459.886 228.429.910 184.787.776 150.662.232 130.127.462 129.773.897 119.454.334 163.704.486 162.667.070 202.542.252 107.672.016 189.249.436 134.379.674

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 20 B Tahun 2008, tanggal 21 Febuari 2008.

TPAPD tertinggi adalah sebesar Rp.67,800,000 dan tunjang RT tertinggi sebesar Rp.30,000,000, yakni Desa Tepas pada tahun sebelumnya Desa Tepas Rp.30,000,000,-yakni juga Desa Tertinggi TPADP dan tunjangan RT, diikuti Desa Poto Tano Tunjangan RT sebesar Rp.22,800,000, dan TPAPD sebesar Rp.64,800,000, Tunjangan RT Rp.22,800,000,Rp.64,800,000,-. terendah sebesar Rp.6,000,000/tahun yakni Desa Sekongkang Bawah diikuti Desa Tambak Sari dan Desa Tamekan sebesar Rp.7,200,000, /tahun. Sedangkan untuk Rp.7,200,000,-/tahun. TPAPD terendah adalah Rp.61,800,000, diantaranya adalah Desa Kalimantong, Rp.61,800,000,Desa Mujahidin, Desa Sekongkang Atas, Desa Sekongkang Bawah, Desa Belo, Desa n, Goa, Desa Mantun, Desa Bukit Damai, Desa Air Suning, Desa Seteluk Atas, Desa Mura, Desa Manameng dan beberapa desa lainnya. Berikut rincian Tunjangan RT dan TPAPD tiap desa :
Grafik 12 : Perbandingan Tunjangan RT dan TPAPD

Legitimid KSB __________________________________________________________________________92 _________________________________________________________________________

TUNJANGAN RT DAN TPADP


10.800.000 10.800.000 10.800.000 10.800.000 10.800.000 20.400.000 19.200.000 30.000.000 19.200.000 22.800.000 7.200.000 16.800.000 12.000.000 14.400.000 22.800.000 18.000.000 14.400.000 28.800.000 21.600.000 14.400.000 14.400.000 0 0 0 0 0 0 7.200.000 16.800.000 19.200.000 25.200.000 14.400.000 22.800.000 10.800.000 14.400.000 10.800.000 8.400.000 14.400.000 12.000.000 6.000.000 15.600.000 15.600.000 10.800.000 13.200.000 9.600.000 14.400.000 10.800.000 12.000.000 9.600.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 64.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 64.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 67.800.000 64.800.000 64.800.000 61.800.000 64.800.000 61.800.000 61.800.000 64.800.000 61.800.000 61.800.000 61.800.000 64.800.000 61.800.000 61.800.000

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Kalimantong Lampok Manemeng Sapugara Bree Bangkat Monteh Tambak Sari Mantar Seteluk Tengah Tapir Rempe Meraran Bugis Dalam Menala Seloto Batu Putih Labuhan Lalar Talonang Baru Tatar Sekongkang Atas Pasir Putih Mantun Benete Dasan Anyar Goa

0%

10%

20%

30%

40%

50% TPADP

60%

70%

80%

90%

100%

TUNJANGAN RT

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 20 B Tahun 2008, tanggal 21 Febuari 2008.

Dilihat dari persentase pemanfataan ADDM untuk tunjangan RT terendah adalah Desa Tamekan dan Desa Sekongkang Bawah yakni kurang da 10% dari dari jumlah ADDM dan tertinggi adalah Desa Air Suning mencapai lebih dari 30% dari jumlah ADDM. Sedangkan untuk proprsi ADDM untuk TPAPD terendah adalah Desa Tepas dan Desa Air Suning yakni mencapai 70%, sedangkan desa desa-desa lainnya melebihi 70% da jumlah ADDM. dari

4.3.1.4. Tahun Keempat kebijakan ADD (2009)


Pada tahun 2009 kebijakan penetapan jumlah ADD adalah berdasarkan Keputusan Bupati Nomor 127 Tahun 2009, tanggal 17 Maret 2009 ditetapkan Pagu untuk ADD sebesar Rp.13.000.000.000 (tiga belas milyar rupiah) yang diperuntukkan untuk 49 Desa. Dari jumlah tersebut, ters sebanyak Rp.7.800.000.000,-(tujuh Rp.7.800.000.000, (tujuh milyar delapan ratus juta rupiah) atau 60% dari total
Legitimid KSB __________________________________________________________________________93 _________________________________________________________________________

ADD dialokasikan untuk ADDM (ADD Merata Setiap Desa), dan sebanyak 5.200.000.000 (Lima Milyar Dua Ratus Juta) atau 60% diperuntukkan untuk ADDP (Alokasi Dana Desa Proporsional). Adapun mengenai rincian peruntukkan ADD untuk ADDM dan ADD untuk ADDP untuk masing-masing desa dapat di lihat pada table di bawah ini:
Tabel 7 : Rincian Jumlah ADD/Desa Tahun 2008
NO NAMA DESA Goa Belo Dasan Anyar Beru Benete Maluk Mantun Bukit Damai Pasir Putih Sekongkang Bawah Sekongkang Atas Ai' Kangkung Tatar Tongo Talonang Baru Lalar Liang Labuhan Lalar Banjar Batu Putih Labuhan Kertasari Seloto Tamekan Meraran Kelanir Rempe Air Suning Tapir Seteluk Atas Seteluk Tengah Senayan Mantar Kiantar UPT. Tambak Sari Poto tano Bangkat Monteh Tepas Sapugara Bree Desa Beru Manemeng Mura Lampok Mujahiddin Kalimantong JUMLAH TUNJANGAN RT JML RT 8 10 9 12 8 11 10 13 13 5 10 12 7 9 12 9 19 12 21 16 14 6 12 12 18 24 12 15 19 12 10 14 6 19 16 25 16 17 9 9 9 9 9 538 JML DANA 9,600,000 12,000,000 10,800,000 14,400,000 9,600,000 13,200,000 12,000,000 15,600,000 15,600,000 6,000,000 12,000,000 14,400,000 8,400,000 10,800,000 14,400,000 10,800,000 22,800,000 14,400,000 25,200,000 19,200,000 16,800,000 7,200,000 14,400,000 14,400,000 21,600,000 28,800,000 14,400,000 18,000,000 22,800,000 14,400,000 12,000,000 16,800,000 7,200,000 22,800,000 19,200,000 30,000,000 19,200,000 20,400,000 10,800,000 10,800,000 10,800,000 10,800,000 10,800,000 645,600,000 ADDM 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 96,780,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 105,840,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 96,780,000 87,720,000 87,720,000 87,720,000 96,780,000 87,720,000 87,720,000 96,780,000 87,720,000 3,826,320,000 ADDP 192,470,251 244,939,052 138,843,691 263,974,343 212,865,810 167,231,192 164,338,486 182,841,189 178,483,281 188,113,513 240,717,766 296,382,607 267,997,728 281,394,550 361,730,038 200,211,293 213,833,134 126,815,222 153,597,073 178,520,678 178,662,838 87,014,684 173,165,226 183,538,967 233,681,657 219,801,453 152,291,098 226,706,915 222,957,768 198,891,524 197,841,822 213,656,268 131,941,064 270,590,779 262,546,538 286,484,761 182,864,268 187,597,990 87,135,620 134,471,736 98,070,545 95,914,011 201,651,574 8,482,780,000 TOTAL ADD 289,790,251 344,659,052 237,363,691 366,094,343 319,245,810 268,151,192 264,058,486 286,161,189 281,803,281 281,833,513 340,437,766 398,502,607 364,117,728 379,914,550 463,850,038 298,731,293 333,413,134 228,935,222 284,637,073 285,440,678 283,182,838 181,934,684 275,285,226 285,658,967 352,061,657 336,321,453 254,411,098 332,426,915 342,537,768 301,011,524 297,561,822 327,236,268 226,861,064 390,170,779 378,526,538 422,324,761 289,784,268 295,717,990 185,655,620 232,991,736 196,590,545 194,434,011 300,171,574 13,000,000,000

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49

Sumber : Keputusan Bupati Nomor 127 Tahun 2009, tanggal 17 Maret 2009

Pada tahun 2009 jumlah ADD tertinggi adalah sebesar Rp.463,850,038,yakni Desa Talonang jumlah ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp.353,696,408. Urutan kedua terbesar jika pada tahun 2008 adalah Desa AiKankung, maka pada tahun 2009 adalah Desa Tepas, yakni sebesar Rp.422,324,762,- meningkat dari ADD sebelumnya yang hanya sebesar Rp.301,154,284,-.Sedangkan penerima ADD terendah adalah sebesar Rp.181,934,684,- yakni Desa Tamekan, namun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya jumlah ADD yang diterima tahun 2009 lebih besar daripada tahun 2008 yang hanya sebesar Rp.136,826,684,-. Jumlah ADDP terbesar adalah Rp.361,730,038,- yakni Desa Talonang dan terendah adalah sebesar Rp.87,014,684,- yaitu Desa Tamekan. Sedangkan untuk ADDM tertinggi adalah Desa Meraran sebesar Rp.105,840,000,- dan terendah adalah Rp.87, 720,000,- sebagaian besar berlaku di seluruh desa. Untuk tunjangan
Legitimid KSB __________________________________________________________________________94

RT terbesar adalah Rp. 30,000,000,- yakni Desa Air Suning, sedangkan terendah adalah sebesar Rp.7,200,000,- yakni Desa UPT Tambak Sari dan Desa Tamekan. Berikut grafik rincian perbandingan ADD antar desa :

Grafik 13: Perbandingan ADD antar Desa tahun 2009

Legitimid KSB __________________________________________________________________________95

PERBANDINGAN ADD DESA 2009

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49

Kalimantong10.800.00087.720.000 96.780.000 Mujahiddin 10.800.000 Lampok 10.800.000 87.720.000 Mura 10.800.000 87.720.000 96.780.000 Manemeng 10.800.000 Desa Beru 20.400.000 87.720.000 Sapugara Bree 19.200.000 87.720.000 Tepas
30.000.000 87.720.000

201.651.574 95.914.011 98.070.545 134.471.736 87.135.620 187.597.990 182.864.268 286.484.761 262.546.538 270.590.779 131.941.064 213.656.268 197.841.822 198.891.524 222.957.768 226.706.915 152.291.098 219.801.453 233.681.657 183.538.967 173.165.226 87.014.684 178.662.838 178.520.678 153.597.073 126.815.222 213.833.134 200.211.293 361.730.038 281.394.550 267.997.728 296.382.607 240.717.766 188.113.513 178.483.281 182.841.189 164.338.486 167.231.192 212.865.810 263.974.343 138.843.691 244.939.052 192.470.251

300.171.574 194.434.011 196.590.545 232.991.736 185.655.620 295.717.990 289.784.268 422.324.761 378.526.538 390.170.779 226.861.064 327.236.268 297.561.822 301.011.524 342.537.768 332.426.915 254.411.098 336.321.453 352.061.657 285.658.967 275.285.226 181.934.684 283.182.838 285.440.678 284.637.073 228.935.222 333.413.134 298.731.293 463.850.038 379.914.550 364.117.728 398.502.607 340.437.766 281.833.513 281.803.281 286.161.189 264.058.486 268.151.192 319.245.810 366.094.343 237.363.691 344.659.052 289.790.251

96.780.000 Bangkat Monteh 19.200.000 87.720.000 Poto tano 22.800.000 UPT. Tambak Sari 7.200.000 87.720.000 Kiantar 16.800.00087.720.000 Mantar 12.000.000 87.720.000 Senayan 14.400.000 87.720.000 Seteluk Tengah 22.800.00087.720.000 Seteluk Atas 18.000.00087.720.000 Tapir 14.400.000 87.720.000 Air Suning Rempe
28.800.000 87.720.000 21.600.000 87.720.000

Kelanir 14.400.000 87.720.000 Meraran 14.400.000 105.840.000 87.720.000 Tamekan 7.200.000 Labuhan Kertasari Batu Putih Banjar Labuhan Lalar Seloto 16.800.000 87.720.000 19.200.000 87.720.000
25.200.000 14.400.000

87.720.000 87.720.000

22.800.000 87.720.000

Lalar Liang10.800.00087.720.000 96.780.000 Talonang Baru14.400.000 87.720.000 Tongo10.800.000 87.720.000 Tatar8.400.000 87.720.000 Ai' Kangkung14.400.000 87.720.000 Sekongkang Atas12.000.000 Sekongkang Bawah6.000.000 87.720.000 Pasir Putih Bukit Damai Mantun
15.600.000 15.600.000 12.000.000

87.720.000 87.720.000 87.720.000

Maluk 13.200.000 87.720.000 Benete 9.600.00087.720.000 87.720.000 Beru 14.400.000 Dasan Anyar
10.800.000

87.720.000

87.720.000 Belo12.000.000 Goa 9.600.000 87.720.000

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

90%

100%

JUMLAH TUNJANGAN RT

JUMLAH ADDM

JUMLAH ADDP

JUMLAH ADD

Sumber :Data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 127 Tahun 2009, tanggal 17 Maret 2009

4.3.1.5. Tahun Keempat kebijakan ADD (2010)


Kebijakan penetapan jumlah ADD ditetapkan melalui Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 225 Tahun 2010 Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana Desa Kabupaten Sumbawa Barat Tahun Anggaran 2010. Pada tahun 2010 jumlah ADD ditetapkan sebesar Rp. 3.000.000.000, . ADD ini diperuntukkan bagi 3.000.000.000,-. 57 Desa. Proporsi pada tahun ini sama dengan tahun 2009, yakni sebesar Rp.7.800.000.000,-(tujuh milyar delapan ratus juta rupiah) atau 60% dari total -(tujuh ADD dialokasikan untuk ADDM (ADD Merata Setiap Desa), dan sebanyak 5.200.000.000 (Lima Milyar Dua Ratus Juta) atau 60% diperuntukkan untuk 0.000 ADDP (Alokasi Dana Desa Proporsional). Mengenai rincian penerimaan ADD
Legitimid KSB __________________________________________________________________________96 _________________________________________________________________________

pada setiap desa dapat dilihat pada tabel 8 di bawah ini :


Tabel 8 : Rincian Peneriman ADD Perdesa Tahun 2010
Jumlah ADDM/Desa 3 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 Rp 136.842.105 7.800.000.000 Jumlah ADDP/Desa 4 Rp 82.116.089 Rp 89.230.808 Rp 74.486.058 Rp 142.359.371 Rp 123.151.052 Rp 116.724.480 Rp 110.518.761 Rp 140.289.491 Rp 143.088.622 Rp 103.913.970 Rp 131.486.623 Rp 139.632.550 Rp 130.901.537 Rp 142.884.314 Rp 155.159.476 Rp 87.213.244 Rp 90.715.622 Rp 117.319.250 Rp 75.267.052 Rp 125.135.019 Rp 110.675.626 Rp 92.762.894 Rp 47.501.125 Rp 42.896.470 Rp 85.791.220 Rp 88.197.991 Rp 73.453.408 Rp 87.313.348 Rp 77.400.381 Rp 110.862.383 Rp 161.233.619 Rp 61.630.737 Rp 52.159.990 Rp 66.350.389 Rp 82.015.401 Rp 79.310.992 Rp 87.897.899 Rp 56.126.778 Rp 90.687.334 Rp 97.008.138 Rp 61.187.391 Rp 78.990.309 Rp 89.429.759 Rp 117.488.198 Rp 72.955.147 Rp 73.248.000 Rp 59.782.783 Rp 60.189.379 Rp 84.186.577 Rp 85.792.479 Rp 53.762.482 Rp 55.249.784 Rp 57.495.335 Rp 55.436.726 Rp 72.998.981 Rp 63.614.829 Rp 85.322.327 5.200.000.000 Jumah ADD per Desa 2010 5 Rp 218.958.194 Rp 226.072.913 Rp 211.328.163 Rp 279.201.476 Rp 259.993.157 Rp 253.566.585 Rp 247.360.866 Rp 277.131.596 Rp 279.930.728 Rp 240.756.075 Rp 268.328.728 Rp 276.474.655 Rp 267.743.642 Rp 279.726.419 Rp 292.001.349 Rp 224.055.349 Rp 227.557.728 Rp 254.557.728 Rp 212.109.158 Rp 261.977.124 Rp 247.517.731 Rp 229.604.999 Rp 184.343.231 Rp 179.738.575 Rp 222.633.325 Rp 225.040.096 Rp 210.295.513 Rp 224.155.453 Rp 214.242.478 Rp 247.704.488 Rp 298.075.724 Rp 198.472.842 Rp 189.002.095 Rp 203.192.494 Rp 218.857.507 Rp 216.153.097 Rp 224.740.004 Rp 192.968.883 Rp 227.529.439 Rp 233.850.244 Rp 198.029.496 Rp 215.832.414. Rp 226.271.865 Rp 254.330.304 Rp 209.797.252 Rp 210.090.105 Rp 196.624.888 Rp 197.031.485 Rp 221.028.682 Rp 222.634.585 Rp 190.604.587 Rp 192.091.889 Rp 194.337.440 Rp 192.278.832 Rp 209.841.086 Rp 200.456.935 Rp 222.164.432 13.000.000.000

NAMA DESA 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 2 Goa Belo Dasan Anyar Beru Benete Maluk Mantun Bukit Damai Pasir putih Sekongkang Bawah Sekongkang Atas Ai' Kangkung Tatar Tongo Talonang Baru Kemuning Lalar liang Labuhan lalar Banjar Batu putih Labuhan kertasari Seloto Temekan Sermong Meraran Kelanir Rempe Air suning Tapir Seteluk Atas Seteluk tengah Desa loka Seran Lamusung Senayan Mantar Kiantar UPT.Tambak Sari Poto tano Kokarlian Tebo Bangkat munteh Tepas sapugara Bree Desa Beru Seminar Salit Moteng Lamuntet Rarak Rongis Tepas Sepakat Menemeng Mura Lampok Mujahidin Kalimantong Mataiyang Desa Tua Nanga jumlah

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 225 Tahun 2010 Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana

Jika pada tahun sebelumnya Desa Talonang sebagai penerima ADD tertinggi maka pada tahun 2010 jumlah ADD tertinggi adalah sebesar
Legitimid KSB __________________________________________________________________________97

dan Rp.298,075,724,-dan penerima ADD tertinggi adalah Desa Seteluk Atas Kecamatan Seteluk. Sedangkan jumlah ADD terendah jika sebelumnya Desa Tamekan pada tahun 2010 jumlah penerima ADD terendah adalah Desa Sermong sebesar Rp.179,738,575, Berikut grafik perbandingan jumlah ADD setiap desa : Rp.179,738,575,ndingan
Grafik 14: Perbandingan ADD antar Desa tahun 2010
PERBANDINGAN ADD ANTAR DESA

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57

Desa Tua Nanga Mataiyang Kalimantong Mujahidin Lampok Mura Menemeng Tepas Sepakat Rarak Rongis Lamuntet Moteng Seminar Salit Desa Beru sapugara Bree Tepas Bangkat munteh Tebo Kokarlian Poto tano UPT.Tambak Sari Kiantar Mantar Senayan Lamusung Seran Desa loka Seteluk tengah Seteluk Atas Tapir Air suning Rempe Kelanir Meraran Sermong Temekan Seloto Labuhan kertasari Batu putih Banjar Labuhan lalar Lalar liang Kemuning Talonang Baru Tongo Tatar Ai' Kangkung Sekongkang Atas Sekongkang Bawah Pasir putih Bukit Damai Mantun Maluk Benete Beru Dasan Anyar Belo Goa

222.164.432,00 200.456.935,00 209.841.086,00 192.278.832,00 194.337.440,00 192.091.889,00 190.604.587,00 222.634.585,00 221.028.682,00 197.031.485,00 196.624.888,00 210.090.105,00 209.797.252,00 254.330.304,00 226.271.865,00 215.832.414,00 198.029.496,00 233.850.244,00 227.529.439,00 192.968.883,00 224.740.004,00 216.153.097,00 218.857.507,00 203.192.494,00 189.002.095,00 198.472.842,00 298.075.724,00 247.704.488,00 214.242.478,00 224.155.453,00 210.295.513,00 225.040.096,00 222.633.325,00 179.738.575,00 184.343.231,00 229.604.999,00 247.517.731,00 261.977.124,00 212.109.158,00 254.557.728,00 227.557.728,00 224.055.349,00 292.001.349,00 279.726.419,00 267.743.642,00 276.474.655,00 268.328.728,00 240.756.075,00 279.930.728,00 277.131.596,00 247.360.866,00 253.566.585,00 259.993.157,00 279.201.476,00 211.328.163,00 226.072.913,00 218.958.194,00

Sumber :data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 225 Tahun 2010 Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana

Jika dilihat perbandingan dan pemanfaaatan ADD untuk ADDP dan ADDM. Pada tahun 2010 ADDP tertinggi sebesar Rp.161,233,619, yakni desa Rp.161,233,619,Seteluk Tengah. Sedangkan ADDP terendah sebesar Rp.42,896,470, Rp.42,896,470,-Desa
Legitimid KSB __________________________________________________________________________98 _________________________________________________________________________

Sermong.

Sedangkan ADDM diberlakukan secara merata disemua desa yakni disemua

sebesar Rp.136,842,105, Rp.136,842,105,-.


Grafik 15: Perbandingan dan proporsi ADD antar Desa tahun 2010
PERBANDINGAN ADD ANTAR DESA

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57

Desa Tua Nanga Mataiyang Kalimantong Mujahidin Lampok Mura Menemeng Tepas Sepakat Rarak Rongis Lamuntet Moteng Seminar Salit Desa Beru sapugara Bree Tepas Bangkat munteh Tebo Kokarlian Poto tano UPT.Tambak Sari Kiantar Mantar Senayan Lamusung Seran Desa loka Seteluk tengah Seteluk Atas Tapir Air suning Rempe Kelanir Meraran Sermong Temekan Seloto Labuhan kertasari Batu putih Banjar Labuhan lalar Lalar liang Kemuning Talonang Baru Tongo Tatar Ai' Kangkung Sekongkang Atas Sekongkang Bawah Pasir putih Bukit Damai Mantun Maluk Benete Beru Dasan Anyar Belo Goa

136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105 136.842.105

85.322.327 63.614.829 72.998.981 55.436.726 57.495.335 55.249.784 53.762.482 85.792.479 84.186.577 60.189.379 59.782.783 73.248.000 72.955.147 117.488.198 89.429.759 78.990.309 61.187.391 97.008.138 90.687.334 56.126.778 87.897.899 79.310.992 82.015.401 66.350.389 52.159.990 61.630.737 161.233.619 110.862.383 77.400.381 87.313.348 73.453.408 88.197.991 85.791.220 42.896.470 47.501.125 92.762.894 110.675.626 125.135.019 75.267.052 117.319.250 90.715.622 87.213.244 155.159.476 142.884.314 130.901.537 139.632.550 131.486.623 103.913.970 143.088.622 140.289.491 110.518.761 116.724.480 123.151.052 142.359.371 74.486.058 89.230.808 82.116.089

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

90%

100%

ADDM

ADDP

Dari data di atas terlihat persentase tertinggi peruntuntukkan ADD untuk ADDM mencapai 75% yakni Desa Sermong, sedangkan terendah sekitar 45% yakni Desa Seteluk Tengah dan Desa Talonang Baru. Secara umum pada tahun 2010 terjadi pengurangan terhadap jumlah ADD yang diterima oleh setiap desa. Berikut jumlah pengurangan ADD dari tahun sebelumnya :

Legitimid KSB __________________________________________________________________________99 _________________________________________________________________________

Tabel : Data jumlah ADD/Desa yang berkurang pada tahun 2010


JUMLAH ADD Tahun 2010 (Rp) JUMLAH ADD 2009 (Rp) JUMLAH ADD BERKURANG (Rp) Persentase pengurangan (%) 25.13 31.56 21.40 19.64 18.96 13.72 12.57 10.29 7.18 21.43 22.89 26.20 26.29 25.76 30.59 19.52 20.92 17.84 4.94 14.15 15.43 19.93 18.92 23.26 32.01 30.73 19.03 18.21 10.37 25.63 27.30 24.25 23.89 34.09 37.19 37.30 14.09 28.47 17.86

N O

NAMA DESA

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

Goa Belo Dasan Anyar Beru Benete Maluk Mantun Bukit Damai Pasir putih Sekongkang Bawah Sekongkang Atas Ai' Kangkung Tatar Tongo Talonang Baru Lalar liang Labuhan lalar Banjar Batu putih Labuhan kertasari Seloto Temekan Meraran Kelanir Rempe Air suning Tapir Seteluk Atas Seteluk tengah Senayan Mantar Kiantar UPT.Tambak Sari Poto tano Bangkat munteh Tepas sapugara Bree Desa Beru Menemeng

Rp 218.958.194 Rp 226.072.913 Rp 211.328.163 Rp 279.201.476 Rp 259.993.157 Rp 253.566.585 Rp 247.360.866 Rp 277.131.596 Rp 279.930.728 Rp 240.756.075 Rp 268.328.728 Rp 276.474.655 Rp 267.743.642 Rp 279.726.419 Rp 292.001.349 Rp 227.557.728 Rp 254.557.728 Rp 212.109.158 Rp 261.977.124 Rp 247.517.731 Rp 229.604.999 Rp 184.343.231 Rp 222.633.325 Rp 225.040.096 Rp 210.295.513 Rp 224.155.453 Rp 214.242.478 Rp 247.704.488 Rp 298.075.724 Rp 218.857.507 Rp 216.153.097 Rp 224.740.004 Rp 192.968.883 Rp 227.529.439 Rp 215.832.414. Rp 226.271.865 Rp 254.330.304 Rp 209.797.252 Rp 190.604.587

292,462,697 330,300,401 268,849,896 347,435,369 320,836,060 293,879,363 282,923,307 308,935,889 301,591,005 306,421,230 348,004,181 374,635,415 363,263,419 376,806,155 420,702,819 282,736,071 321,395,207 258,176,400 275,602,975 288,328,344 271,504,502 230,227,929 274,574,825 293,266,086 309,293,377 323,601,534 264,588,256 302,856,487 332,574,708 294,287,812 297,306,999 296,679,851 253,546,695 345,222,354 343,610,209 360,860,633 296,026,403 293,281,108 253,964,855

73,504,503 104,227,488 57,521,732 68,233,892 60,842,903 40,312,777 35,562,441 31,804,293 21,660,277 65,665,154 79,675,453 98,160,760 95,519,777 97,079,736 128,701,238 55,178,343 67,233,852 46,067,242 13,625,851 40,810,613 41,899,503 45,884,699 51,941,499 68,225,990 98,997,864 99,446,081 50,345,269 55,151,998 34,498,984 75,430,306 81,159,901 71,939,847 60,577,812 117,692,915 127,777,795 134,588,768.00 41,696,100.00 83,483,855.00 45,360,268.00

Legitimid KSB __________________________________________________________________________100

41 42 43 44

Mura Lampok Mujahidin Kalimantong Jumlah

Rp 192.091.889 Rp 194.337.440 Rp 192.278.832 Rp 209.841.086

236,914,415 240,884,448 242,873,443 296,766,869

44,822,526.00 46,547,008.00 50,594,611.00 86,925,783.00 2,896,377,707.0 0

18.92 19.32 20.83 29.29

Sumber :data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 225 Tahun 2010 Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana

4.3.2. Kecendrungan Umum dan Persentase Perkembangan ADD


Pada tahun 2006 jumlah penerima ADD tertinggi adalah sebesar Rp.150,000,000,- jumlah ADD tersebut berlaku untuk seluruh desa. Pada tahun 2007, kebijakan penetapan jumlah ADD tidak lagi diberlakukan secara seragam, pada tahun ini jumlah penerima ADD tertinggi adalah sebesar Rp. 325,074,029,-, jumlah tersebut meningkat pada tahun 2008 menjadi Rp.353,696,904,- dan pada tahun 2009 meningkat menjadi Rp.463,850,038. Namun pada tahun 2010 terjadi penurunan jumlah yang sangat drastis hampir 100% sehingga ADD tertinggi yang diterima desa pada tahun 2010 hanya menjadi Rp.298,075,724,Jumlah ADD yang diterima desa terendah pada tahun 2007 adalah sebesar Rp.125,890,000,- meningkat pada tahun 2008 menjadi Rp.138,826,257,meningkat kembali pada tahun 2009 sebesar Rp.181,934,684,-. Akan tetapi pada tahun 2010 mengalami penurunan menjadi Rp.179,738,575,-. Untuk lebih jelasnya mengenai perkembangan jumlah penerima ADD tertinggi dan terendah kurun waktu 5 tahun dapat dilihat pada grafik di bawah ini:

Grafik 16 : Perkembangan Jumlah ADD tertinggi dan terendah selama kurun waktu 5 tahun

Legitimid KSB __________________________________________________________________________101

GRAFIK PERTUMBUHAN ADD (TERTINGGI DAN TERENDAH) KURUN 5 TAHUN


500.000.000 450.000.000 400.000.000 350.000.000

463.850.038

353.696.904 325.074.029 298.075.724

300.000.000 250.000.000 200.000.000 150.000.000 100.000.000 50.000.000 0

181.934.684 150.000.000 125.890.257 138.826.257 179.738.575

2006

2007
ADD TERTINGGI

2008

2009
ADD TERENDAH

2010

Sumber :data diolah dari kumpulan Keputusan Bupati Sumbawa Barat Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana (2006-2010)

Selama kurun waktu 2006 s.d. 2009 ADDP tertinggi meningkat dari semula tahun 2006 sebesar Rp.59,900,000,- meningkat pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp.361,730,038,- dan pada tahun 2010 mengalami penurunan menjadi Rp.161.233,619,-. Hal yang sama juga terjadi pada penerima ADDP terendah. Pada tahun 2006 sebesar Rp. 35,900,000,- meningkat Rp.87,014,684,-dan Pada tahun 2010 menurun menjadi Rp.42,896,470,-. Berikut grafik mengenai perkembangan dari alokasi jumlah ADDP tertinggi selama kurun waktu 5 tahun :

Grafik 17 : Perkembangan Jumlah ADDP Tertinggi Selama kurun waktu 5 tahun

Legitimid KSB __________________________________________________________________________102

GRAFIK PERKEMBANGAN ADDP (TERTINGGI-TRENDAH)


400.000.000 350.000.000 300.000.000

361.730.038

277.496.408
250.000.000 200.000.000 150.000.000 100.000.000 50.000.000 0

251.074.029

161.233.619

87.014.684 59.900.000 35.900.000 2006 2007 Jumlah ADDP Tertinggi 56.922.963 67.826.257 42.896.470

2008

2009 Jumah ADDP Terendah

2010

Sumber :data diolah dari kumpulan Keputusan Bupati Sumbawa Barat Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana (2006-2010)

ADDM tertinggi pada tahun 2006 adalah sebesar Rp.111,000,000,- dan terendah sebesar Rp.90,100,000,- jumlah tersebut menurun pada tahun 2007 dan 2008. Pada tahun 2009 meningkat menjadi Rp.105,840,000,- dan ADDM terendah menjadi Rp.87,720,000,-. Pada tahun 2010 jumlah ADDM meningkat dan merata disemua desa menjadi sebesar Rp.136,842,105,-. Untuk lebih jelasnya mengenai perkembangan jumlah ADDM dapat dilihat pada grafik perkembangan ADDM kurun waktu lima tahun di bawah ini :

Grafik 18 : Perkembangan Jumlah ADDM Selama kurun waktu 5 tahun

Legitimid KSB __________________________________________________________________________103

GRAFIK PERKEMBANGAN JUMLAH ADDM TERTINGGI DAN TERENDAH


160.000.000 140.000.000 120.000.000

136.842.105

111.100.000
100.000.000

105.840.000 96.600.000 97.800.000 87.720.000 69.000.000 69.000.000

90.100.000
80.000.000 60.000.000 40.000.000 20.000.000 0

2006

2007 Jumlah ADDM Tertinggi

2008

2009 Jumlah ADDM Terendah

2010

Sumber :data diolah dari kumpulan Keputusan Bupati Sumbawa Barat Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana (2006-2010)

Jika dilihat dari perbandingan antara ADDM dengan ADDP maka terlihat bahwa ADDP cenderung mengalami penurunan dan sebaliknya ADDM cenderung mengalami peningkatan. Berikut grafik perbandingan Pertumbuhan antara ADD untuk ADDP dan ADD untuk ADDM :

Grafik 19 : Perbandingan Perkembangan antara ADDM dan APPD kurun waktu lima tahun

Legitimid KSB __________________________________________________________________________104

ADDM Vs ADDP (2006 sd 2010)


9.000.000.000

7.800.000.000
8.000.000.000 7.000.000.000 6.000.000.000 5.000.000.000

7.800.000.000

6.249.351.253

6.502.334.296

3.900.800.000
4.000.000.000 3.000.000.000 2.000.000.000 1.000.000.000 0

5.200.000.000 3.709.400.000 3.328.800.000

5.200.000.000

1.799.200.000

2 ADDM

3 ADDP

Sumber :data diolah dari kumpulan Keputusan Bupati Sumbawa Barat Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana (2006-2010)

Idealnya jika ADD diorientasikan untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa, maka jumlah ADD untuk ADDP dari tahun ke tahun haruslah meningkat dan sebaliknya jumlah ADD untuk ADDM haruslah menurun. Namun, kondisi yang terjadi justeru sebaliknya, ADD untuk ADDM meningkat dan ADD untuk ADDP menurun. Berikut grafik persentase perkembangan pemafaatan ADD untuk ADDM dan ADDP :
Grafik 20 : Persentase Perkembangan antara ADDM dan APPD kurun waktu lima tahun
PERBANDINGAN PERSENTASE PEMANFAATAN ADD UNTUK ADDP DAN ADDM 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 2006 2007 ADDP 2008 ADDM 2009 2010 32% 37% 40% 34% 40% 68% 63% 66% 60% 60%

Sumber :data diolah dari kumpulan Keputusan Bupati Sumbawa Barat Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana (2006-2010)

Berdasarkan uraian di atas, dapat simpulkan bahwa ; Pertama, pada tahun 2006 kebijakan penetapan jumlah ADD untuk masing-masing desa dilakukan secara seragam, peruntukkan ADD 68% adalah untuk ADDM dan hanya 32%

Legitimid KSB __________________________________________________________________________105

untuk ADDP sehingga sulit untuk mendorong tercapainya tujuan ADD. Kedua, pada tahun 2007 Pemerintah Daerah melakukan perbaikan formulasi kebijakan penetapan ADD dengan tidak lagi menseragamkan ADD pada semua desa, aspek proporsionalitas dimasukkan sebagai variabel dalam menentukan besarnya ADD bagi setiap desa. Pemerintah Daerah juga merubah proporsi peruntukkan ADD untuk ADDP mencapai 63% dari jumlah ADD dan sebaliknya ADD untuk ADDM sebesar 37% dari jumlah ADD. Tahun 2008 proporsi ADD untuk ADDP meningkat menjadi 66%. Namun, dalam perkembanganya pada dua tahun terakhir (tahun 2009 dan 2010), peruntukkan ADD untuk ADDM mencapai 60% dari jumlah ADD dan sebaliknya ADD untuk ADDP hanya 40%. Kreasi dan inovasi daerah mulai terbentur dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2007 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa. Dalam ketentuan pasal 20 ayat (3) secara eksplisit dikatakan bahwa besarnya ADDM adalah 60% dari jumlah ADD dan ADDP adalah 40% dari jumlah ADD. Lahirnya kebijakan dari Pemerintah Pusat tersebut, telah merubah proporsi peruntukkan ADD untuk ADDM menjadi lebih besar daripada ADD untuk ADDP. kebijakan tersebut menguntungkan aparat pemerintahan desa, sehingga seluruh Pemerintahan Desa mendukung keberadaan PP tersebut, mendesak agar pemda patuh terhadap PP tersebut. Kebijakan di atas, berpengaruh pula terhadap pemafataan jumlah ADD. Kenaikan jumlah ADD setiap desa/tahun tmenjadi idak signifikan bagi warga miskin maupun proses percepatan pembangunan di desa dikarenakan kenaikan jumlah ADD lebih banyak diperuntukkan atau penerima manfaatnya adalah pemerintahan desa. Sementara disisilain pula meningkatnya jumlah ADD di KSB diiringi pula dengan meningkatnya jumlah desa sehingga distrbusi ADD pada masing-masing desa semakin berkurang. Pada tahun 2009, jumlah ADD Rp. 13 milyar namun jumlah desa yang menerima ADD hanya 49 desa sementara pada tahun 2010 jumlah penerima ADD sebanyak 57 desa sehingga bila didistribusikan jumlah yang diterima di masing-masing desa di tahun 2010 lebih kecil jika dibandingkan degan tahun 2009. bahkan

Rekomendasi : Berdasarkan uraian di atas direkomendasikan sebagai berikut ; 1. Perlu ada pengkajian ulang terhadap kebijakan peruntukkan ADD untuk ADDM dan ADPP agar ADD lebih diarahkan peruntukkannya pada upaya pengentasan kemiskinan dan percepatan pembangunan desa. Oleh sebab itu
Legitimid KSB __________________________________________________________________________106

proporsi ADD untuk ADDP dan ADDM setidak-tidaknya adalah 50 : 50. Hal ini dikarenakan dalam ADDP terhadap komponen Belanja Langsung yang diperuntukkan pula untuk Belanja Pegawai Desa. Sehingga jika ADD untuk ADDM 60% sedangkan ADD untuk ADPP adalah 40% dari jumlah ADD, maka tidaklah mencerminkan keadilan bagi masyarakat, khususnya warga miskin. 2. Inisiasi dan inovasi kebijakan Pemerintah Daerah KSB dengan menempatkan proporsi ADD untuk ADDP 63-70% pada tahun 2007 dan 2008 sesungguhnya lebih tepat dan lebih inovatif dibandingkan dengan kebijakan pada tahun 2009 dan 2010, karena pada tahun 2007 dan 2008 proporsi ADD untuk ADPP cukup besar dan dengan menempatkan kebijakan proporsi ADD seperti ini, maka akan mendorong peruntukkan ADD kearah percepatan pembangunan dn pengentasan kemiskinan yang ada di desa. 3. Perlu ada pengkajian khusus dari Pemerintah Daerah terhadap proses pemekaran desa, karena kebijakan pemekaran desa berpengaruh terhadap penetapan besarnya jumlah ADD bagi masing-masing desa. Pemerintah Daerah perlu untuk masing-masing desa sesuai dengan situasi dan kondisi dari masing-masing desa yang ada saat ini.

4.4. Perkembangan ADD berdasarkan wilayah Kecamatan dan Desa Pada bagian ini akan dibahas mengenai perkembangan dan trend proporsi dan distribusi ADD pada masing-masing desa dalam Kecamatan, perbandingan dan perkembangan jumlah ADD antar desa, perbandingan jumlah ADD antar kecamatan serta kecendrungan-kecendrungan perkembangan dan proporsi ADD pada masing-masing desa maupun kecamatan. Pembahasan ini bertujuan untuk melihat bagaimanakah proporsi penerimaan ADD dari masing-masing wilayah kecamatan maupun desa serta trend perkembangannya sekaligus melihat desaLegitimid KSB __________________________________________________________________________107

desa manakah yang memiliki kapasitas ADD yang tinggi maupun yang rendah. 4.4.1. Kecamatan Sekongkang Sejak tahun 2006 s.d. 2009 jumlah Desa di Kecamatan Sekongkang sebanyak 6 Desa, yakni Desa Sekongkang Bawah, Desa Sekongkang Atas, Desa Tongo, Desa AiKangkung, Desa Tatar, Desa Talonang Baru dan pada Tahun 2010 terbentuk Desa Kemuning. Selama kurun waktu lima tahun jumlah keseluruhan ADD untuk seluruh desa di Kecamatan Sekongkang mencapai Rp. 8,259,127,824,Pada tahun 2006 jumlah ADD untuk 6 desa sebanyak Rp.900,000,000,meningkat tahun 2007 menjadi Rp.1,579,857,467, tahun 2008 meningkat menjadi 1,701,527,938,- dan tahun 2009 jumlah ADD yang diterima 6 desa mencapai Rp.2,228,655,202,- . Pada tahun 2010 jumlah ADD yang diterima adalah untuk 7 desa dan menurun menjadi Rp.1,849,086,217,-. Keseluruhan jumlah penerimaan ADD untuk desa/tahun dalam kecamatan Sekongkang dapat dilihat pada grafik 19 di bawah ini:

Grafik 21 : Perkembangan Penerimaan ADD untuk desa dalam Kecamatan Sekongkang

Legitimid KSB __________________________________________________________________________108

Sumber : Data diolah dari kumpulan Peraturan Bupati Sumbawa Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa (2006 s.d.2010)

Dilihat dari jumlahdesa penerima ADD tertingi selama kurun waktu 2006 s.d. 2010 untuk kecamatan sekongkang diurutkan sebagai berikut ; (1) Desa Talonang, yakni sebesar Rp.1,585,621,824, (2). Desa Ai Kangkung sebesar Rp. Rp.1,585,621,824,1,385,035,146,- (3). Desa Tongo sebesar Rp. 1,380,396,580, (4). Desa Tatar 1,380,396,580,Rp.1,330,844,981,- (5). Desa Sekongkang Atas sebesar Rp. 1,255,344,898, 1,255,344,898,-(6). Desa Sekongkang Bawah sebesar Rp. 1,097,829,046,-. Sedangkan Desa Kemuning . baru menerima ADD pada tahun 2010 dengan jumlah Rp.224,055,349, Berikut Rp.224,055,349,grafik perbandingan jumlah ADD yang diterima setiap desa selama kurun waktu 5 tahun :
Grafik 22 : Perkembangan Penerimaan ADD ma masing-desa di desa Kecamatan Sekongkang

Sumber : Data diolah dari kumpulan Peraturan Bupati Sumbawa Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa (2006 s.d.2010)

Pada tahun 2006 jumlah ADD yang diterima diseluruh desa adalah seragam yakni sebesar Rp.150,000,000, Pada tahun 2007 kebijakan ADD tidak Rp.150,000,000,-. lagi diberlakukan secara seragam. Jumlah ADD yang diterima untuk 6 Desa di
Legitimid KSB __________________________________________________________________________109 _________________________________________________________________________

Kecamatan Sekongkang pada tahun 2007 adalah sebesar Rp. 1,579,876,467, Dari 1,579,876,467,-. jumlah tersebut sebanyak Rp.326,074,029, atau 21% dari jumlah ADD dalam Rp.326,074,029,Kecamatan Sekongkang untuk Desa Talonang Baru. Sedangkan desa terendah penerima ADD adalah Desa Sekongkang Bawah, yakni sebesar Rp. 206,777,226, 206,777,226,-. Berikut grafik persentase perbandingan ADD antar desa dalam Kecamatan Sekongkang pada tahun 2007 :
Grafik 23 : Perkembangan dan Perbandingan Penerimaan ADD masing masing-desa di Kecamatan Sekongkang Tahun 2007

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat No. 274 Tahun 2007.

Pada tahun 2008 jumlah ADD untuk Desa di Kecamatan Sekongkang meningkat menjadi sebesar Rp.1,701,527,938, . Jika dilihat dari jumlah persentase Rp.1,701,527,938,-. ADD untuk Desa Talonang pada tahun 2008 sama halnya dengan tahun sebelumnya yakni 21% dari jumlah ADD. Namun, secara nominal jumlah ADD secara untuk Desa Talonang meningkat menjadi Rp.353,696,408, . Pada tahun 2008 Rp.353,696,408,-. pergeseran jumlah persentase terjadi pada tiga desa, yakni Desa Tatar tahun sebelumnya 16% dari jumlah ADD meningkat menjadi 17%, begitupun dengan Desa Tongo meningkat dari 17% menjadi 18%. Sementara Desa Ai Kangkung ningkat mengalami penurunan dari sebelumnya 18% menjadi 16%. Sedangkan Desa Sekongkang dan Desa Sekongkang Bawah presentase jumlah ADD tetap tidak mengalami perubahan. Berikut grafik perbandingan ADD antar d desa dalam Kecamatan Sekongkang tahun 2008 :
Grafik 24 : Perkembangan dan Perbandingan Penerimaan ADD masing masing-desa di Kecamatan Sekongkang Tahun 2008

Legitimid KSB __________________________________________________________________________110 _________________________________________________________________________

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 20 B Tahun 2008, tanggal 21 Febuari 2008.

Pada Tahun 2009 jumlah ADD sebesar Rp.2,228,656,202. Pada tahun ini adalah tahun terbesar desa dalam Kecamatan Sekongkang menerima ADD. Desa Talonang baru memperoleh sebesar Rp.463,850,038, atau 21% dari jumlah ADD Rp.463,850,038,Desa dalam Kecamatan Sekongkang. Pada tahun ini Desa AiKankung yang sebelumnya memperoleh 16% dari jumlah ADD meningkat menjadi 18%. Sebaliknya Desa Tongo dan Desa Tatar menurun 1% dari jumlah sebelumnya. Berikut grafik perbandingan ADD antar desa dalam Kecamatan Sekongkang tahun 2009 :
Grafik 25 : Perkembangan dan Perbandingan Penerimaan ADD masing masing-desa di Kecamatan Sekongkang Tahun 2009

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 127 Tahun 2009, tanggal 17 Maret 2009

Pada Tahun 2010 jumlah ADD yang diterima untuk seluruh de dalam desa Kecamatan Sekongkang adalah sebesar Rp. 1,849,086,217, . Pada tahun ini 1,849,086,217,terdapat penambahan jumlah desa sebanyak 1 desa, yakni Desa Kemuning. Jumlah
Legitimid KSB __________________________________________________________________________111 _________________________________________________________________________

ADD tersebut secara nominal maupun persentase ADD pada tahun 2010 mengalami penurunan yang sangat tajam. Desa Talonang meski masih tertinggi menerima ADD untuk tingkat Kecamatan Sekongkang, pada tahun 2010 hanya memperoleh ADD sebesar Rp.292,001,349, atau berkurang sekitar 90% dari Rp.292,001,349,jumlah ADD sebelumnya begitupun dengan desa desa lainnya. Berikut gra desa-desa grafik perbandingan jumlah ADD antar desa dalam Kecamatan Sekongkang tahun 2010:
Grafik 26 : Perkembangan dan Perbandingan Penerimaan ADD masing masing-desa di Kecamatan Sekongkang Tahun 2010

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 225 Tahun 2010 Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pertama selama kurun waktu 2006 sampai dengan 2009. Kecendrungan ADD untuk seluruh desa di Kecamatan Sekongkang meningkat dan jumlah ADD dari sisi nomina maupun nominal persentase yang diterima desa mengalami penurunan yang signifikan pada tahun 2010. Kedua, Desa Talonang adalah Desa yang tertinggi menerima ADD dan Desa Sekongkang Bawah adalah desa terendah penerima ADD dalam Kecamatan Sekongkang selama kurun wa waktu 2006 s.d. 2010. Ketiga, terjadi perubahan persentase jumlah ADD pada tiga desa yakni Desa Tatar, Desa AiKankung dan Desa Tongo.

4.4.2. Kecamatan Maluk ADD yang diterima untuk Desa di Kecamatan Maluk dimulai pada tahun 2007 seiring dengan terbentuknya Kecamatan Maluk sebagai Kecamatan baru terbentuknya hasil pemekaran dari Kecamatan Jereweh. Jumlah Desa di Kecamatan ini
Legitimid KSB __________________________________________________________________________112 _________________________________________________________________________

sebanyak 5 Desa. Selama kurun waktu tahun 2007 s.d.2010 jumlah ADD yang diterima keseluruhan desa adalah sebesar Rp.4,762,497,151, Dengan rincian Rp.4,762,497,151,jumlah pertahun tergambar pada grafik sebagai berikut :
Grafik 27 : Perkembangan Penerimaan ADD Kecamatan Maluk Tahun 2006 s.d.2010

Sumber : Data diolah dari kumpulan Peraturan Bupati Sumbawa Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa (2006 s.d.2010)

Desa terbesar yang menerima ADD selama kurun waktu 2007 s.d.2010 adalah sebagai berikut ; (1) Desa Benete sebesar Rp.1,033,509,572. (2) Desa Maluk sebesar Rp.962,919,052, (3). Desa Bukit Damai sebesar Rp. 953,725,720. (4). Rp.962,919,052,Desa tahun : Pasir Putih sebesar Rp.940,726,648,Rp.940,726 (5). Desa Mantun sebesar Rp.871,616,159,- berikut grafik perbandingan jumlah ADD antar desa selama 4

Grafik 28 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Maluk Tahun 2007 s.d. 2010

Legitimid KSB __________________________________________________________________________113 _________________________________________________________________________

Sumber : Data diolah dari kumpulan Peraturan Bupati Sumbawa Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa (2006 s.d.2010)

Pada Tahun 2006 Kecamatan Maluk belum terbentuk. Desa di Kecamatan Maluk baru menerima ADD pada tahun 2007. Jumlah ADD untuk 5 desa di Kecamatan Maluk pada Tahun 2007 sebesar Rp.942,567,012, . Desa tertinggi yang tan Rp.942,567,012,-. memperoleh ADD adalah Desa Benete yakni sebesar Rp.217,203,535 atau sekitar 23% dari jumlah ADD Kecamatan Maluk. Sedangkan terendah adalah Desa Mantun sebesar Rp.168,142,473 atau sekitar 18%. Berikut grafik perbandingan sekitar jumlah ADD antar desa dalam Kecamatan Maluk tahun 2007 :
Grafik 29 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Maluk Tahun 2007

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat No. 274 Tahun 2007.

Pada Tahun 2008 jumlah ADD yang diterima Kecamatan Maluk meningkat menjadi sebesar Rp.1,082,527,249, . Pada tahun ini penerima ADD tertinggi Rp.1,082,527,249,Legitimid KSB __________________________________________________________________________114 _________________________________________________________________________

adalah Desa Maluk sebesar Rp.238,704,486, atau sekitar 22% dari jumlah ADD Rp.238,704,486,Kecamatan Maluk. Sedangkan Sedangkan terendah adalah Desa Mantun sebesar Rp.192,054,334,- atau sekitar 18%. Berikut grafik perbandingan jumlah ADD antar desa dalam Kecamatan Maluk tahun 2008 :
Grafik 30 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Maluk Tahun 2008

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 20 B Tahun 2008, tanggal 21 Febuari 2008.

Pada Tahun 2009 jumlah ADD kembali meningkat menjadi sebesar Rp.1,419,419,958,-. Pada tahun ini jumlah ADD tertinggi kembali ke Desa Benete . yakni sebesar Rp.319,245,810, atau sekitar 22% dari jumlah ADD yang diterima Rp.319,245,810,untuk desa dalam Kecamatan Maluk. Sedangkan terendah adalah sebesar Rp. 264,058,486,- atau sekitar 19% dan yang cukup menarik adalah jumlah ADD yang diterima Desa Maluk, jika sebelumnya pada tahun 2008 Desa Maluk merupakan uk, Desa tertinggi penerima ADD, maka pada tahun 2009, jumlah ADD yang diterima Desa Maluk tidak jauh berbeda dengan Desa Mantun, desa dalam Kecamatan Maluk tahun 2009 : yakni sebesar Rp.268,151,192 atau sekitar 19%. Berikut grafik perbandingan jumlah ADD antar perbandingan

Grafik 31 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Maluk Tahun 2009

Legitimid KSB __________________________________________________________________________115 _________________________________________________________________________

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 127 Tahun 2009, tanggal 17 Maret 2009

Pada Tahun 2010 jumlah ADD yang diterima untuk desa dalam Kecamatan Maluk berjumlah sebesar Rp.1,317,982,932, atau menurun dari jumlah ADD Rp.1,317,982,932,tahun sebelumnya. Pada tahun ini, perkembangan yang cukup menarik dari adalah Desa tertinggi penerima ADD, tidak lagi Desa Benete atau Desa Maluk, melainkan lagi Desa Pasir Putih yakni sebesar Rp.279,930,728, . Sedangkan terendah adalah Desa Rp.279,930,728,-. Mantun yakni sebesar Rp.247,360,866, atau sekitar 19% dan Desa Maluk kembali Rp.247,360,866,berada pada posisi kedua terendah yakni sebesar Rp.253,566,585,- atau sekitar Rp.253,566,585, 19%. Berikut grafik perbandingan jumlah ADD antar desa dalam Kecamatan Maluk tahun 2009 :

Grafik 32 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Maluk Tahun 2010

Legitimid KSB __________________________________________________________________________116 _________________________________________________________________________

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 225 Tahun 2010 Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pertama Desa penerima ADD tertinggi di Kecamatan Maluk tidak didominasi oleh satu desa, seperti halnya Desa di Kecamatan Sekongkang yang didominasi oleh Desa Talonang. Jika melihat n kecendrungan perkembangan penerimaan ADD untuk setiap desa terlihat bahwa Desa Benete menjadi Desa tertinggi penerima ADD pada tahun 2007 dan 2009, sedangkan Desa Maluk tertinggi pada tahun 2008 dan Desa Pasir Putih pada 2008 tahun 2010. Kedua, penerima ADD tertinggi dapat berubah menjadi penerima ADD terendah. Hal ini terjadi pada kasus Desa Maluk. Pada tahun 2008 menjadi Desa tertinggi penerima ADD, namun pada tahun 2009 dan 2010 menjadi Desa terendah penerima ADD. Sebaliknya Desa Pasir putih yang sebelumnya ndah merupakan Desa yang tergolong rendah menerima ADD pada tahun 2010 menjadi Desa tertinggi penerima ADD. Ketiga, persentase jumlah ADD yang diterima oleh masing-masing desa tidak mengalami perbedaan yang signifikan, yakni antara masing perbedaan 18% sampai dengan 22%. Kondisi ini sangat bereda dengan desa dalam Kecamatan Sekongkang, penerima ADD terendah mencapai 13% dan tertinggi 22% dari jumlah ADD di Kecamatan tersebut.

4.4.3. Kecamatan Jereweh Pada tahun 2006 Desa Beneta dan Desa Maluk merupakan bagian dari desa dalam Kecamatan Jereweh. Jumlah desa di Kecamatan Jereweh pada tahun 2006 berjumlah 5 Desa, yakni ; (1) Desa Maluk (2) Desa Benete (3) Desa Beru (4)
Legitimid KSB __________________________________________________________________________117 _________________________________________________________________________

Desa Belo (5) Desa Goa. Pada tahun 2007, Desa Beneta dan Desa Maluk menjadi Beneta Desa dalam Kecamatan Maluk dan pada tahun tersebut terbentuk pula Desa Dasan Anyar, sehingga jumlah Desa di Kecamatan Jereweh menjadi 4 Desa, yakni : (1) Desa Beru (2) Desa Belo (3) Desa Goa dan (4) Desa Dasan Anyar. Jumlah ADD selama kurun waktu 2006. s.d 2010 untuk seluruh desa se sekecamatan Jereweh berjumlah Rp.4,833,259,893, . Pada tahun 2006 jumlah ADD Rp.4,833,259,893,sebesar Rp.900,000,000, yang diperuntukkan untuk 5 Desa. Sejak tahun 2007 Rp.900,000,000,jumlah desa di Kecamatan Jereweh menjadi 4 desa, di tahun 2007 terjadi desa, pengurangan jumlah ADD menjadi Rp.831,948,432, . Jumlah ADD meningkat Rp.831,948,432,-. pada tahun 2008 menjadi Rp.927,843,378, dan kembali meningkat menjadi Rp.927,843,378,Rp.1,237,907,337,- dan mengalami penurunan di tahun 2010 menjadi sebesar Rp. 935,560,746,- berikut grafik jumlah ADD untuk Kecamatan Jereweh :
Grafik 33 : Perkembangan Penerimaan ADD Kecamatan Jereweh Tahun 2006 s.d.2010

Sumber : Data diolah dari kumpulan Peraturan Bupati Sumbawa Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa (2006 s.d.2010)

Desa tertinggi penerima ADD selama kurun waktu 2006 s.d. 2010 di Kecamatan Jereweh adalah ; (1) Desa Beru yakni sebesar Rp.1,322,647,920, Rp.1,322,647,920,-(2). Desa Belo sebesar Rp. 1,217,398,326, (3) Desa Goa sebesar Rp.1,051,601,030, (4). 1,217,398,326,-(3) Rp.1,051,601,030,-. Desa Dasan Anyar sebesar Rp.941,612 Rp.941,612,617,-20. Berikut grafik perbandinan jumlah penerima ADD antar desa di Kecamatan Jereweh :
Grafik 34 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Jereweh Tahun 2006 s.d. 2010

20

Khusus Desa Dasan Anyar mulai menerima ADD sejak tahun 2007.
Legitimid KSB __________________________________________________________________________118 _________________________________________________________________________

Sumber : Data diolah dari kumpulan Peraturan Bupati Sumbawa Tentang Penetapan Alokasi Sumbawa Dana Desa (2006 s.d.2010)

Pada tahun 2006 jumlah ADD diperuntukkan untuk 6 desa dengan jumlah sebesar Rp.900,000,000, masing-masing desa memperoleh anggaran sebesar Rp.900,000,000,masing Rp.150,000,000,-. Pada tahun 2007 jumlah ADD yang diterima adalah sebesar . Rp.831,948,432,- yang diperuntukkan untuk 4 desa karena 2 desa, yakni Desa Benete dan Desa Maluk tidak lagi bergabung kedalam bagian Kecamatan Jereweh. Artinya dari sisi jumlah ADD meski jumlahny berkurang, namun tidak berarti jumlah ADD yang diterima di setiap desa di Kecamatan Jereweh berkurang, ng justeru sebaliknya jumlah ADD yang diterima oleh 4 desa meningkat dari ADD tahun sebelumnya. Pada tahun 2007 penerima ADD tertinggi adalah Desa Beru sebesar Rp.248,609,849,- atau sekitar 30% dari jumlah ADD. Sedangkan penerima ADD terendah dalah Desa Dasan Anyar sebesar Rp.162,648,747 atau sekitar 20%. Berikut perbandingan jumlah ADD antar desa dalam kecamatan jereweh tahun 2007 :

Grafik 35 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Jereweh Tahun 2007

Legitimid KSB __________________________________________________________________________119 _________________________________________________________________________

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat No. 274 Tahun 2007.

Pada tahun 2008 jumlah ADD meningkat menjadi sebesar Rp. 927,843,378,- Desa Beru masih menduduki posisi pertama sebagai penerima ADD tertinggi dengan jumlah sebesar Rp.278,742,252, atau sekitar 30% dan terendah Rp.278,742,252,adalah Desa Dasan Anyar Rp.180,272,016, atau sekitar 20%. Rp.180,272,016,Grafik 36 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Jereweh Tahun 2008

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 20 B Tahun 2008, tanggal 21 Febuari 2008.

Pada Tahun 2009 jumlah ADD meningkat menjadi Rp. 1,237,907,337, 1,237,907,337,Desa Beru masih menjadi penerima ADD tertinggi sebesar Rp.366,094,343, Rp.366,094,343,-atau sekitar 30%. Namun pada tahun ini terjadi perubahan proporsi dimana proporsi perubahan persentase Desa Dasan Anyar menurun dari 20% menjadi 19%, namun secara nominal jumlah ADD meningkat menadi sebesar Rp.237,63,691, Berikut Rp.237,63,691,perbandingan jumlah ADD antar desa dalam kecamatan jereweh tahun 2009 :
Grafik 37 :
Legitimid KSB __________________________________________________________________________120 _________________________________________________________________________

Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam andingan masing-masing Kecamatan Jereweh Tahun 2009

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 127 Tahun 2009, tanggal 17 Maret 2009

Pada Tahun 2010 jumlah ADD menurun menjadi Rp.935,560,746, Rp.935,560,746,persentase ADD untuk Desa Beru tetap sekitar 30% dari jumlah ADD kecamatan Jereweh, namun secara nominal jumlah ADD mengalami penurunan menjadi Rp.279,201,476,-. Perubahan yang cukup signifikan terjadi pada Desa Goa, . terjadi proporsi persentase ADD Desa Goa menjadi 23% atau sebesar Rp.218,958,194, Rp.218,958,194,-. Jumlah ini tidak jauh berbeda dengan Desa Dasan Anyar sebesar Rp.211,238,163, Rp.211,238,163,-. Padahal pada tahun tahun sebelumnya proporsi yang diterima oleh Desa Goa tahun-tahun mencapai 23% dari jumlah ADD. Berikut grafik perbandingan jumlah antar desa ai dalam kecamatan Jereweh pada tahun 2010 :

Grafik 38 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Jereweh Tahun 2010

Legitimid KSB __________________________________________________________________________121 _________________________________________________________________________

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 225 Tahun 2010 Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana

4.4.4. Kecamatan Brang Rea Jumlah keseluruhan ADD yang diterima untuk keseluruhan desa di Kecamatan Brang Rea sejak tahun 2006 s.d. 2010 berjumlah Rp.6,194,677,306 Rp.6,194,677,306,-. Jumlah ADD untuk Kecamatan Brang Rea cenderung meningkat. Jika sebagian besar desa di masing masing kecamatan mengalami penurunan jumlah ADD pada masing-masing Tahun 2010, justeru sebaliknya jumlah ADD untuk desa di Kecamatan Brang Rea pada tahun 2010 mengalami peningkatan peningkatan dari sebelumnya sebesar Rp.1,386,353,557,- menjadi mencapai Rp.1,953,641,580,- Berikut grafik jumlah ADD dari tahun ke tahun :
Grafik 39 : Perkembangan Penerimaan ADD Kecamatan Brang Rea Tahun 2006 s.d.2010

Sumber : Data diolah dari kumpulan Peraturan Bupati Sumbawa Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa (2006 s.d.2010)

Desa tertinggi Penerima ADD adalah ; (1) Desa Tepas sebesar Rp.1,364,718,486 (2) Desa Bangkat Monteh sebesar Rp. 1,285,186,737 (3). Desa Sapugara Bree sebesar Rp. 1,114,342,201. (4) Desa Beru sebesar

Legitimid KSB __________________________________________________________________________122 _________________________________________________________________________

. ADD Rp.1,083,020,137,-. Berikut grafik perbandingan jumlah ADD yang diterima desa :
Grafik 40 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Brang Rea Tahun 2006 s.d. 2010

Sumber : Data diolah dari kumpulan Peraturan Bupati Sumbawa Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa (2006 s.d.2010)

Sejak tahun 2007 Desa Mura dan Desa Kalimantong merupakan bagian dari desa Kecamatan Brang Ene. Sedangkan Desa Tepas Sepakat, Desa Rarak Ronges, Desa Lamuntet, Desa Moteng dan Desa Seminar Salit adalah Desa hasil pemekaran yang terbentuk pada tahun 2010. Berdasarkan data di atas, Desa Berdasarkan pemekaran yang menerima ADD terendah adalah Desa Moteng yakni sebesar Rp.196,624,888,Rp.222,634,585,-. Pada Tahun 2006 jumlah ADD untuk 6 Desa Kecamatan Brang Rea sebesar Rp.900,000,000,- ADD disetiap desa seragam, masing-masing menerima masing Rp.150,000,000,-. Pada tahun 2007 Jumlah ADD meningkat, untuk 4 Desa . sebesar Rp.917,657,352, Desa tertinggi penerima ADD adalah Desa Tepas sebesar Rp.917,657,352,Rp.264,967,576,-atau sekitar 29% dari jumlah ADD, sedangkan terendah adalah atau jumlah Desa Sapugara Bree sebesar Rp.198,085,733, atau sekitar 21%. Berikut grafik Rp.198,085,733,perbandingan penerimaan ADD tahun 2007 : dan tertinggi adalah Desa Tepas Sepakat sebesar

Grafik 41 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Brang Rea Tahun 2007

Legitimid KSB __________________________________________________________________________123 _________________________________________________________________________

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat No. 274 Tahun 2007.

Pada Tahun 2008 jumlah ADD untuk seluruh desa di Kecamatan Brang Rea meningkat menjadi Rp.1,037,024,817, Secara nominal jumlah ADD Rp.1,037,024,817,meningkat dan Desa Tepas masih menjadi Desa tertinggi penerima ADD dengan tertinggi jumlah sebesar Rp.301,154,284, sedangkan terendah sebesar Rp. 222,141,896 Rp.301,154,284,atau sekitar 21%. Proporsi persentase penerimaan ADD pada tahun ini tidak berbeda dengan tahun 2007. Berikut grafik perbandingan penerimaan ADD tahun 2008 :
Grafik 42 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Brang Rea Tahun 2008

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 20 B Tahun 2008, tanggal 21 Febuari 2008.

Pada Tahun 2009 jumlah ADD meningkat menjadi sebesar Rp.1,386,353,557, Rp.1,386,353,557,-. Pada tahun ini terjadi peningkatan persentase penerimaan ADD untuk Desa Tepas dari sebelumnya 29% meningkat menjadi 31%. Secara nominal, jumlah ADD Desa Tepas meningkat menjadi Rp.422 Rp.422,324,761,-. Sedangkangkan untuk penerima ADD . terendah masih Desa Sapugara Bree yakni sebesar Rp.289,784,268, atau sekitar Rp.289,784,268,Legitimid KSB __________________________________________________________________________124 _________________________________________________________________________

21% dari jumlah ADD yang diterima keseluruhan untuk desa dalam Kecamatan Brang Rea. Berikut grafik perbandingan penerimaan ADD tahun 2009 :
Grafik 43 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Brang Rea Tahun 2009

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 127 Tahun 2009, tanggal 17 Maret 2009

Jika beberapa Kecamatan pada tahun 2010 jumlah ADD mengalami penurunan, justeru jumlah ADD keseluruhan untuk desa dalam Kecamatan Brang Rea meningkat menjadi Rp.1,953,641,580, . Akan tetapi jumlah nominal dan Rp.1,953,641,580,-. persentase penerimaan ADD terhadap jumlah keseluruhan mengalami penurunan keseluruhan karena bertambahnya jumlah desa di Kecamatan Brang Rea. Pengurangan jumlah ADD yang diterima secara signifikan terjadi pada Desa Tepas. Selama tahun 2007 sampai dengan 2009 Desa Tepas adalah Desa yang tertinggi menerima ADD. Bahkan pada tahun 2009 jumlah ADD untuk Desa Tepas lebih dari Rp.400 juta an atau sekitar 31% dari jumlah ADD. Namun, pada tahun 2010. Jumlah ADD yang diterima untuk Desa Tepas hanya sebesar Rp.226,271,865, atau sekitar 12% dari Rp.226,271,865,-atau jumlah ADD. Pada tahun 2010 jumlah ADD tertinggi adalah sebesar Rp.254,330,304,- atau sekitar 13% yakni Desa Sapugara Bree. Sedangkan ADD terendah adalah sebesar Rp.196,624,888, atau sekitar 10% yakni Desa Moteng. Rp.196,624,888,Berikut perbandingan jumlah ADD antar desa tahun 2010 :

Grafik 44 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Brang Rea Tahun 2010

Legitimid KSB __________________________________________________________________________125 _________________________________________________________________________

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 225 Tahun 2010 Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana

Dari data di atas maka terlihat bahwa ; pertama, porsi ADD untuk masing masingmasing desa dalam wilayah Kecamatan Brang Rea relatif tidak mengalami perbedaan jumlah yang signifikan antar desa, terlihat bahwa sejak terjadinya pemekaran desa distribusi proporsi ADD untuk masing masing desa relatif masing-masing berimbang, dengan skala persentase terendah 10% dan tertingi 13%. Padahal pada gan tahun-tahun sebelumnya terjadi perbedaan proporsi jumlah penerimaan ADD tahun yang cukup tinggi antara penerima ADD terendah dan tertinggi. Kedua, jumlah ADD untuk desa dalam kecamatan Brang Rea s secara tidak mengurangi jumlah kumulatif ADD, justeru kumulatif dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Meskipun terjadi pemekaran desa ternyata sebaliknya kumulatif jumlah ADD meningkat. Ketiga, Pemekaran jumlah desa di Kecamatan Brang Rea telah memengaruhi proporsi jumlah ADD tertinggi dan terendah, khususnya Desa Tepas garuhi dan desa-desa yang dimekarkan. Pada tahun 2006 sampai dengan 2009 Desa desa Tepas merupakan penerima ADD tertinggi, namun setelah Desa Tepas dimekarkan menjadi Desa Tepas Sepakat, jumlah ADD tertinggi adalah Desa Sapugara Bree. ADD 4.4.5. Kecamatan Brang Ene Kecamatan Brang Ene adalah merupakan Kecamatan hasil pemekaran dari Kecamatan Brang Rea, terbentuk pada tahun 2007. Jumlah Desa di Kecamatan Brang Ene saat ini sebanyak 7 Desa. Jumlah ADD yang diterima oleh desa di ADD Kecamatan Brang Ene adalah sebesar Rp. 4,095, 657,442, Kecendrungan 657,442,penerimaan ADD untuk Kecamatan Brang Ene dari tahun ke tahun terus
Legitimid KSB __________________________________________________________________________126 _________________________________________________________________________

mengalami peningkatan. Pada tahun 2007, ADD untuk desa dalam kecamatang Brang Ene hanya se sebesar Rp. 753, 695, 674,- pada tahun 2010 meningkat menjadi sebesar Rp.1,401,775,201, . Berikut grafik perkembangan ADD Kecamatan Brang Rp.1,401,775,201,-. Ene :
Grafik 45 : Perkembangan Penerimaan ADD Kecamatan Brang En Tahun 2006 s.d.2010

Sumber : Data diolah dari kumpulan Peraturan Bupati Sumbawa Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa (2006 s.d.2010)

Penerima ADD tertinggi selama kurun waktu 2007 s.d. 2010 adalah ; (1) Desa Kalimantong sebesar Rp.915,802,508,Rp.915,802,508, (2) Desa Mura sebesar Rp.767,036,417,- berikut grafik perbandingaan jumlah penerimaan ADD setiap desa selama kurun waktu 2007 s.d.2010 :

Grafik 46 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Brang Ene Tahun 2007 s.d. 2010

Legitimid KSB __________________________________________________________________________127 _________________________________________________________________________

Sumber : Data diolah dari kumpulan Peraturan Bupati Sumbawa Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa (2006 s.d.2010)

Dari data di atas terlihat bahwa jika dibandingkan dengan desa lainya Desa Manemeng adalah penerima ADD yang terendah yakni sebesar Rp.646,282,683, Rp.646,282,683,-. Sedangkan untuk Desa Tua Nanga dan Desa Mataiyang merupakan desa yang uk baru menerima ADD pada tahun 2010. Desa Tua Nanga menerima ADD sebesar Rp.222,164,432,- Sedangkan Desa Mataiyang sebesar Rp.200,456,935, Rp.200,456,935,Pada Tahun 2007 desa dalam Kecamatan Brang Ene menerima ADD pertama. Jumlah ADD yang keseluruhan adalah Rp.753,695,974, Desa tertinggi Rp.753,695,974,penerima ADD adalah Desa Kalimantong, yakni sebesar Rp.191,133,859 atau sekitar 25% dari jumlah ADD, sedangkan terendah adalah Desa Manemeng dengan jumlah sebesar Rp.129,522,963, atau sikitar 17%. Berikut grafik perbandingan Rp.129,522,963,jumlah ADD antara desa dalam Kecamatan Brang Ene Tahun 2007:

Grafik 47 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Brang Ene Tahun 2007

Legitimid KSB __________________________________________________________________________128 _________________________________________________________________________

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat No. 274 Tahun 2007.

Pada Tahun 2008 jumlah ADD untuk seluruh desa dalam Kecamatan Brang Ene meningkat sehingga berjumlah Rp.803,342,761, . Pada tahun ini Desa Rp.803,342,761,Kalimantong masih menjadi desa tertinggi penerima ADD yakni sebesar Rp.214,655,989,- atau sekitar 26% dari jumlah ADD. Sedangkan penerima ADD terendah adalah Desa Manemeng yakni sebesar Rp.140,499,513, Berikut grafik Rp.140,499,513,perbandingan jumlah ADD antara desa dalam Kecamatan Brang Ene T Tahun 2008:
Grafik 48 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Brang Ene Tahun 2008

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 20 B Tahun 2008, tanggal 21 Febuari 2008.

Jumlah ADD untuk Tahun 2009 meningkat menjadi Rp.1,109,843,486, Rp.1,109,843,486,Desa Kalimantong masih menjadi Desa tertinggi penerima ADD sebesar Rp.300,171,574,- persentase meningkat dari sebelumnya sekitr 26% naik menjadi 27% dari jumlah ADD, kenaikan ini terjadi karena persentase untuk Desa Mujahidin berkurang 1% dari jumlah sebelumnya. Sedangkan penerima ADD 1% terendah tetap Desa Manemeng dengan jumlah ADD sebesar Rp. 185,655,620 atau sekitar 17%. Berikut grafik perbandingan jumlah ADD antar desa dalam Kecamatan Brang Ene Tahun 2009 :
Grafik 49 : Perbandingan Penerimaan ADD masing-masing desa dalam masing Kecamatan Brang Ene Tahun 2009

Legitimid KSB __________________________________________________________________________129 _________________________________________________________________________

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 127 Tahun 2009, tanggal 17 Maret 2009

Pada Tahun 2010 jumlah ADD meningkat dari tahun sebelumnya sehingga menjadi Rp. 1,401,775,201, . Namun untuk penerima ADD tertinggi mengalami 1,401,775,201,-. pergeseran, jika pada tahun tahun sebelumnya Desa Kalimantong sebagai desa tahun-tahun tertinggi penerima ADD, maka pada tahun 2010 penerima ADD tertinggi adalah Desa hasil pemekaran, yakni Desa Tua Nanga sebesar Rp.222,164,423, atau Rp.222,164,423,sekitar 16% dari jumlah ADD untuk Kecamatan Brang Ene. Sedangkan untuk penerima ADD terendah tetap yakni Desa Manemeng dengan jumlah ADD sebesar Rp.190,604,587,-

Grafik 50 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing-masing desa dalam g Kecamatan Brang Ene Tahun 2010

Legitimid KSB __________________________________________________________________________130 _________________________________________________________________________

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 225 Tahun 2010 Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana

Dari uraian di atas terlihat bahwa; pertama, terjadi pergeseran penerima ADD tertinggi dari sebelumnya adalah Desa Kalimantong, pada tahun 2010 bergeser ke Desa Tua Nanga yang notabennya merupakan desa baru hasil pemekaran dan Desa Tua Nanga adalah satu satunya sebagai desa baru yang satu-satunya menerima ADD tertinggi dalam satu wilayah Kecamatan. rtinggi . Kedua, secara nominal jumlah ADD yang diterima untuk setiap desa, khususnya desa-desa induk mengalami penurunan. Ketiga, proporsi persentase desa antar desa ralatif berimbang pasca pemekaran desa, terendah penerima ADD 1 13% dan tertinggi 16% dari jumlah ADD untuk desa dalam Kecamatan Brang Ene. 4.4.6. Kecamatan Seteluk Jumlah ADD keseluruhan yang diterima oleh desa di Kecamatan Seteluk selama kurun waktu 2006 s.d. 2010 adalah berjumlah sebesar Rp. 8,563,518,204, 8,563,518,204,-. Kecendrungan ADD untuk desa di Kecamatan Seteluk mengalami peningkatan dari endrungan tahun ke tahun. Jumlah ADD tertinggi yang diterima adalah pada tahun 2010 yakni mencapai Rp. 2,010,181,183, Berikut grafik perkembangan ADD untuk desa 2,010,181,183,di Kecamatan Seteluk :

Grafik 51 : Perkembangan Penerimaan ADD Kecamatan Seteluk Tahun 2006 s.d.2010

Legitimid KSB __________________________________________________________________________131 _________________________________________________________________________

Sumber : Data diolah dari kumpulan Peraturan Bupati Sumbawa Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa (2006 s.d.2010)

Penerima ADD terbesar di Kecamatan Seteluk adalah ; (1) Desa Seteluk Tengah sebesar Rp. 1,277,347,473. (2) Desa Seteluk Atas sebesar Rp.1,216,172,920 (3) Desa Rempe sebesar Rp. 1,194,396,151. (4). Desa Air Suning sebesar Rp. 1,194,396,151. (5) Desa Kelanir sebesar Rp. 1,074,196,833. Berikut grafik perkembangan pene penerimaan ADD untuk setiap desa :

Grafik 52 : Perbandingan Penerimaan ADD Antar Desa dalam Kecamatan Seteluk Tahun 2006 s.d.2010

Legitimid KSB __________________________________________________________________________132 _________________________________________________________________________

Sumber : Data diolah dari kumpulan Peraturan Bupati Sumbawa Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa (2006 s.d.2010)

Pada tahun 2007 sebanyak 6 desa, yakni ; Desa Mantar, Desa Meraran, Desa Kiantar, Desa UPT Tambak Sari, Desa Poto Tano dan Desa Senayan menjad menjadi desa dalam Kecamatan Poto Tano. Pada tahun 2009 terjadi pemekaran desa sehingga terbentuk Desa Lamusung, Desa Seran dan Desa Loka. Desa hasil pemekaran ini menerima ADD tertinggi sebesar Rp.203,192,494, dan terendah Rp.203,192,494,sebesar Rp.198,474,842, Rp.198,474,842,Kebijakan ADD, pada tahun 2006 jumlah ADD yang diterima untuk 13 desa di Kecamatan Seteluk berjumlah Rp.1,950,000,000, dan masing Rp.1,950,000,000,masing-masing desa memperoleh ADD sebesar Rp.150,000,000, . Pada tahun 2007, jumlah ADD Rp.150,000,000,-. untuk 6 Desa sebesar Rp. 1,244,635,107, Jumlah ADD tertinggi adalah Desa 1,244,635,107,-. mlah Seteluk Atas sebesar Rp.230,253,251, atau 19% dari jumlah ADD. Sedangkan Rp.230,253,251,penerima ADD terendah adalah Desa Tapir sebesar Rp.177,917,216, atau sekitar Rp.177,917,216,14%. Berikut perbandingan ADD antar desa dalam Kecamatan Seteluk Tahun 20 2007 :

Grafik 53 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Brang Ene Tahun 2007

Legitimid KSB __________________________________________________________________________133 _________________________________________________________________________

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat No. 274 Tahun 2007.

Tahun 2008 jumlah ADD meningkat menjadi sebesar Rp.1,455,284,056, Rp.1,455,284,056,-. Pada tahun ini terjadi pergeseran penerima ADD tertinggi, sebelumnya adalah Desa Seteluk Atas bergeser ke Desa Air Suning. Jumlah ADD yang diterima adalah sebesar Rp.260,033,567, atau sekitar 18% dari jumlah ADD untuk seluruh desa di Rp.260,033,567,itar Kecamatan Seteluk. Sedangkan penerima ADD terendah adalah Desa Tapir yakni sebesar Rp.194,186,599, . Diihat dari sisi persentase jumlah ADD Desa Tapir Rp.194,186,599,-. berkurag dari sebelumnya sekitar 14% pada tahun 2008 menja 13%, meskipun menjadi dari sisi nominal mengalami peneingkatan. Berikut perbandingan ADD antar desa dalam Kecamatan Seteluk Tahun 2008 :
Grafik 54 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Seteluk Tahun 2008

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 20 B Tahun 2008, tanggal 21 Febuari 2008. dari

Tahun

2009

jumlah

ADD

mengalami

peningkatan

menjadi

Rp.1,903,417,858,- pada tahun ini kembali terjadi pergeseran penerima ADD

Legitimid KSB __________________________________________________________________________134 _________________________________________________________________________

tertinggi, jika sebelumnya adalah Desa Air Suning, maka di t tahun ini jumlah penerima ADD tertinggi adalah Desa Rempe sebesar Rp.352,061,657, atau sekitar Rp.352,061,657,19%. Sedangkan Desa Air Suning berada pada posisi ketiga setelah Seteluk Tengah. Sedangkan penerima ADD terendah masih tetap yakni Desa Tapir dengan jumlah sebesar Rp.254,411,098, . Berikut perbandingan ADD antar desa dalam ar Rp.254,411,098,-. Kecamatan Seteluk Tahun 2009 :
Grafik 55 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Seteluk Tahun 2009

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 127 Tahun 2009, tanggal 17 Maret 2009

Tahun 2010 jumlah desa di Kecamatan Seteluk bertambah 3 desa sehingga menjadi 9 desa. Pada tahun ini jumlah ADD meningkat dari tahun sebelumnya menjadi Rp.2,010,181,183 . Meski mengalami peningkatan namun alokasi Rp.2,010,181,183,-. proporsi penerimaan ADD pada masing masing desa mengalami penurunan. masing-masing Jumlah penerima ADD tertinggi adalah Desa Seteluk Tengah sebesar Rp.298,075,724,- atau sekitar 15% dari jumlah ADD. Sedangkan untuk penerima ADD terendah jika sebelumnya adalah Desa Tapir, maka pada tahun 2010 penerima ADD terendah adalah Desa Lamusung yakni sebesar Rp.203,192,492, Rp.203,192,492,atau 10% dari jumlah ADD. Berikut perbandingan ADD antar desa dalam Kecamatan Seteluk Tahun 2010 :

Grafik 56 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Seteluk Tahun 2009

Legitimid KSB __________________________________________________________________________135 _________________________________________________________________________

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 225 Tahun 2010 Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana

Dari uraian di atas, terlihat bahwa ; pertama, jumlah ADD untuk desa dalam Kecamatan Seteluk mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kedua, penerima ADD tertinggi setiap tahunnya mengalami perubahan dan pada tahun 2010 perubahan terjadi pula pada penerima ADD terendah dari sebelumnya Desa Tapir bergeser ke Desa Lamusung yang merupakan desa baru hasil pemekaran. eser Ketiga, Pemekaran desa tidak menggeser kedudukan Desa Seteluk Tengah sebagai Desa penerima ADD tertinggi dalam dua tahun terakhir namun persentase dan nominal jumah ADD untuk Desa Seteluk Tengah mengalami penurunan jika Tengah dibandingkan dengan tahun tahun-tahun sebelumnya. 4.4.7. Kecamatan Poto Tano Kecamatan Poto Tano terbentuk pada tahun 2007 merupakan hasil pemekaran Kecamatan Seteluk. Jumlah Desa di Kecamatan Poto Tano saat ini berjumlah 8 desa. Jumlah ADD yang diterima untuk seluruh desa di Kecamatan Poto Tano sejak tahun 2007 s.d. 2010 sebesar Rp.6,137,970,494,- Pada tahun 2007 Rp.6,137,970,494, jumlah ADD yang diterima adalah sebesar Rp. 1,223,519,455, 1,223,519,455,-meningkat pada tahun 2008 menjadi seber Rp.1,361,562,361, meningkat kembali pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp.1,818,126,683, . Namun pada tahun 2010 terjadi penur Rp.1,818,126,683,-. penurunan menjadi sebesar Rp. 1,734,761,995, Berikut grafik perkembangan jumlah ADD 1,734,761,995,Kecamatan Poto Tano :
Grafik 57 : Perkembangan Penerimaan ADD Kecamatan Poto Tano Tahun 2007 s.d.2010

Legitimid KSB __________________________________________________________________________136 _________________________________________________________________________

Sumber : Data diolah dari kumpulan Peraturan Bupati Sumbawa Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa (2006 s.d.2010)

Penerima ADD terbesar di Kecamatan Poto Tano adalah : (1) Desa Poto Tano sebesar Rp. 1,190,160,217, (2). Desa Kiantar sebesar Rp. 1,024,078,3 1,190,160,217,1,024,078,331,-(3). Desa Senayan sebesar Rp.956,014,272,Rp.956,014,272, (4). Desa Meraran sebesar Rp.898,163,900,-(5). Desa Mantar sebesar Rp.894,153,163, (6) DesaTambak Sari (5). Rp.894,153,163,sebesar Rp.743,520,871, Berikut perkembangan jumlah ADD untuk Kecamatan Rp.743,520,871,Poto Tano :
Grafik 58 : Perbandingan Penerimaan ADD Antar Desa dalam Kecamatan Seteluk ingan Tahun 2007 s.d.2010

Sumber : Data diolah dari kumpulan Peraturan Bupati Sumbawa Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa (2006 s.d.2010)

Pada tahun 2009 terjadi pemekaran desa

yakni Desa Tebo dan Desa

Kokarlian, kedua desa ini menerima ADD pada tahun 2010. Jumlah ADD yang

Legitimid KSB __________________________________________________________________________137 _________________________________________________________________________

diterima Desa Tebo sebesar Rp.189,029,496 dan Desa Kokarlian sebesar Rp.233,850,244. Pada tahun 2007 jumlah ADD yang diterima untuk 6 desa adalah diterima sebesar Rp.1,223,519,455, . Jumlah penerima ADD tertinggi adalah Desa Poto Rp.1,223,519,455,-. Tano sebesar Rp.275,581,887, atau sekitar 23% dari jumlah ADD. Sedangkan Rp.275,581,887,penerima ADD terendah adalah Desa Tambak Sari sebesar Rp. 153,722,400, 153,722,400,-. Berikut perbandingan jumlah ADD antar desa dalam Kecamatan Poto Tano Tahu t 2007 :
Grafik 59 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Poto Tano Tahun 2007

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat No. 274 Tahun 2007.

Tahun 2008 jumlah ADD meningkat menjadi sebesar Rp.1,361,562,361, Rp.1,361,562,361,Desa tertinggi penerima ADD masih berada pada Desa Poto Tano sebesar Rp.296,878,112, dari sisi nominal jumlah tersebut meningkat namun dari persentase berkurang dari 23% menjadi 22% atau berkurang 1%, pengurangan berkurang tersebut karena persentase Desa Mantar meningkat 1%. Sedangkan Desa Terendah adalah Desa Tambak Sari dengan jumlah Rp.168,968,524, dengan Rp.168,968,524,persentase sama seperti tahun sebelumnya yakni sekitar 13% dari jumlah ADD. Berikut perbandingan jumlah ADD antar desa dalam Kecamatan Poto Tano Tahu ngan 2008 :

Grafik 60 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Poto Tano Tahun 2008

Legitimid KSB __________________________________________________________________________138 _________________________________________________________________________

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 20 B Tahun 2008, tanggal 21 Febuari 2008.

Tahun 2009 jumlah ADD meningkat tajam hampir Rp.500 juta, sehingga berjumlah Rp.1,818,126,683, . Penerima ADD tertinggi masih berada pada Desa Rp.1,818,126,683,-. Poto Tano sebesar Rp. 390,170,779, namun persentase mengalami penurunan 390,170,779,yakni menjadi 21% atau berkurang 1% dari tahun sebelumnya. Sementara Desa Mantar naik 1% sehingga menjadi Rp.297,561,822, . Sementara untuk penerima Rp.297,561,822,-. ADD terendah tetap Desa Tambak Sari yakni sebesar Rp.226,861,064 atau 13% dari jumlah ADD untuk seluruh desa Kecamatan Poto Tano. Berikut grafik perbandingan ADD antar desa tahun 2009 :
Grafik 61 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Poto Tano Tahun 2009

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 127 Tahun 2009, tanggal 17 Maret 2009

Tahun 2010 jumlah ADD mengalami penurunan menjadi hanya sebesar Rp. 1,734,761,995,- sementara disisi lain jumlah desa di Kecamatan Poto Tano bertambah dari sebelumnya hanya 6 desa meningkat menjadi 8 desa. Sehingga
Legitimid KSB __________________________________________________________________________139 _________________________________________________________________________

jumlah penerima ADD tertinggi hanya sebesar Rp.233,850,244, atau sekitar 14% sebesar Rp.233,850,244,dari jumlah ADD, yakni Desa Kokarlian yang merupakan Desa baru sekaligus menggeser kedudukan Desa Poto Tano sebagai penerima ADD tertinggi selama kurun waktu 2007 sampai dengan 2009. Sedangkan untuk penerima ADD terendah masih tetap ditempati Desa Tambak Sari dengan jumlah ADD sebesar h Rp.192,968,883,-.
Grafik 62 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Poto Tano Tahun 2010

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 225 Tahun 2010 Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana

Dari uraian di atas terlihat bahwa ; pertama, sejak tahun 2007 sampai dengan 2009 terjadi peningkatan jumlah ADD. Kedua, Penerima ADD tertinggi adalah Desa Poto Tano dan terendah adalah Desa Tambak Sari. Ketiga, pada tahun 2010 terjadi penurunan jumlah ADD disisilain jumlah desa di Kecamatan Poto Tano meningkat. Desa Poto Tano pada tahun 2010 tidak lagi sebagai desa penerima ADD tertinggi. Kedudukannya digeser dengan desa hasil pemekaran, a yakni Desa Kokarlian. Keempat, proporsi ADD untuk masing masing-masing desa mengalami penurunan baik dari sisi jumlah maupun persentase terhadap jumlah ADD untuk Kecamatan dan sejak tahun 2010 penerima ADD tertinggi adalah 14% penerima sedangkan terendah adalah 12%. Artinya, tidak ada perbedaan jumlah yang signifikan penerimaaan ADD antar desa dalam kecamatan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. tahun 4.4.8. Kecamatan Taliwang

Legitimid KSB __________________________________________________________________________140 _________________________________________________________________________

Kecamatan Taliwang adalah merupakan Ibu Kota Kabupaten Sumbawa Barat. Pada tahun 2006 hanya ada 9 Desa yang menerima ADD, yakni ; Desa Lalar Liang, Desa Labuhan Lalar, Desa Labuhan Kertasari, Desa Seloto, Desa Menala, Desa Sampir, Desa Dalam, Desa Kuang dan Desa Bugis yang menerima ADD. Jumlah ADD yang diterima keseluruhan adalah sebesar Rp.1,350,000,000, Rp.1,350,000,000,Pada tahun 2007 terjadi pemekaran desa, sehingga jumlah desa sebanyak 13 Desa dengan jumlah ADD sebesar Rp.2,556,119,201, Pada Rp.2,556,119,201,-. tahun 2008, sebanyak 6 desa berubah status nya menjadi Kelurahan. statusnya Keenam desa tersebut adalah Desa Menala, Desa Sampir, Desa Dalam, Desa Kuang, Desa Bugis dan Desa Telaga Bertong. Jumlah ADD pada tahun 2008 adalah diperuntukkan untuk pada 7 desa dengan jumlah sebesar Rp. 1,435,021,737,-. Jumlah ADD pada tahun 2009 meningkat menjadi sebesar . Rp.1,896,274,922,-.dan -.dan tahun 2010 menurun menjadi sebesar Rp.1,797,406,274,- padahal pada tahun yang sama juga terjadi penambahan jumlah desa menjadi 8 desa dengan terbentuknya Desa Sermong. Secara keseluruhan jumlah ADD yang dterima untuk desa di Kecamatan Taliwang mlah adalah sebesar Rp.9,034,822,134, berikut grafik perkembangan rincian Rp.9,034,822,134,jumlah ADD untuk Kecamatan Taliwang :
Grafik 63 : Perkembangan Penerimaan ADD Kecamatan Taliwang Tahun 2006 s.d.2010

Sumber : Data diolah dari kumpulan Peraturan Bupati Sumbawa Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa ata (2006 s.d.2010)

Jumlah penerima ADD tertinggi untuk desa di Kecamatan Taliwang adalah ; (1). Desa Labuhan Lalar sebesar Rp.1,210,249,906, (2). Desa Lalar Liang sebesar Rp.1,210,249,906,Rp. 1,110,492,216,- (3). Desa Labuhan Kertasari Rp. 1,084,736,687. Berikut grafik rincian perkembangan penerimaan ADD untuk desa di Kecamatan Taliwang :
Grafik 64 : Legitimid KSB __________________________________________________________________________141 _________________________________________________________________________

Perbandingan Penerimaan ADD/Desa Kecamatan Taliwang Tahun 2006 s.d.2010

Sumber : Data diolah dari kumpulan Peraturan Bupati Sumbawa Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa (2006 s.d.2010)

Tahun 2007 jumlah ADD untuk 13 desa termasuk kelurahan persiapan di Kecamatan Taliwang adalah sebesar Rp.2,556,119,201, . Jumlah penerima ADD Rp.2,556,119,201,-. tertinggi adalah Desa Dalam (Kelurahan Persiapan) sebesar Rp.256,735,163, atau Rp.256,735,163,sekitar 10% dari jumlah ADD yang diterima untuk seluruh desa di Kecamatan diterima Taliwang. Sedangkan terendah adalah sebesar Rp.125,890,257, Rp.125,890,257,-Berikut grafik perbandingan penerimaan ADD antar desa dalam Kecamatan Taliwang Tahun 2007:

Grafik 65 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing-masing desa dalam Kecamatan Taliwang Tahun 2007

Legitimid KSB __________________________________________________________________________142 _________________________________________________________________________

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat No. 274 Tahun 2007.

Tahun 2008 jumlah ADD menurun menjadi Rp.1,435,021,737, Namun Rp.1,435,021,737,-. penurunan jumlah ADD ini dibarengi pula dengan berkurangnya jumlah desa di Kecamatan Taliwang karena berubah statusnya menjadi kelurahan. Dari 13 Desa, pada tahun 2008 hanya tinggal 7 desa. Penerima ADD tertinggi adalah Desa Labuhan Lalar sebesar Rp. 251,972,237, atau sekitar 18% dari jumlah ADD untuk 251,972,237,seluruh desa di Kecamatan Taliwang. Sedangkan terendah adalah Desa Tamekan Kecamatan sebesar Rp.136,826,257, atau sekitar 10%. Berikut perbandingan penerimaan Rp.136,826,257,ADD antar desa dalam Kecamatan Taliwang tahun 2008 :
Grafik 66 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Taliwang Tahun 2008

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 20 B Tahun 2008, tanggal 21 Febuari 2008.

Tahun 2009 jumlah ADD meningkat menjadi Rp.1,896,274,922, atau Rp.1,896,274,922,mengalami kenaikan sekitar Rp.400 juta lebih. Penerima ADD tertinggi adala adalah Desa Labuhan Lalar sebesar Rp.333,413,134, namun dari jumlah persentase ADD Rp.333,413,134,-

Legitimid KSB __________________________________________________________________________143 _________________________________________________________________________

Desa Labuhan Lalar menurun 1% dari jumlah persentase sebelumnya karena Desa Batu Putih mengalami kenaikan persentase sebanyak 1%. Penerima ADD terendah pada tahun ini masih ditempat oleh Desa Tamekan dengan jumlah ADD sebesar ditempat Rp.181,934,684,-atau sekitar 10%. Berikut grafik perbandingan penerimaan ADD atau antar desa dalam Kecamatan Taliwang Tahun 2009 :
Grafik 67 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Taliwang Tahun 2009

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 127 Tahun 2009, tanggal 17 Maret 2009

Tahun 2010 jumlah ADD mengalami penurunan menjadi Rp.1,797,406,274, Rp.1,797,406,274,-. Sementara disisi lain terjadi penambahan jumlah desa dari sebelumnya 7 Desa menjadi 8 Desa. Secara nominal maupun persentase penerimaan ADD setiap desa mengalami penurunan sekaligus pergeseran penerima ADD tertinggi. Jika pada tahun sebelumnya Desa labuhan lalar sebagai Desa tertinggi penerima ADD, maka pada tahun 2010 adalah Desa Batu Putih dengan jumlah ADD sebesar Desa Rp.261,977,124,- atau sekitar 14% dari jumlah ADD untuk seluruh desa di Kecamatan Taliwang. Sedangkan terendah adalah Desa Sermong yang merupakan desa baru dengan jumlah ADD sebesar Rp.179,738,575 atau sekitar 10%. P Posisi ini menggeser Desa Tamekan yang sebelumnya merupakan Desa terendah penerima ADD. Berikut perbandingan penerimaan ADD antar desa dalam Kecamatan Taliwang tahun 2010 :

Grafik 68 : Perbandingan Penerimaan ADD masing masing desa dalam masing-masing Kecamatan Taliwang Tahun 2010

Legitimid KSB __________________________________________________________________________144 _________________________________________________________________________

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 225 Tahun 2010 Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana

4.4.9. Kecendrungan Perkembangan dan Perbandingan ADD Antar Kecamatan dari waktu ke waktu Bila melihat perbandingan jumlah ADD di masing-masing Kecamatan, masing maka pada tahun 2006 penerima ADD tertinggi untuk 5 Kecamatan di KSB adalah Kecamatan Seteluk dengan jumlah ADD sebesar Rp.1,950,000,000, atau sekitar Rp.1,950,000,000,33% dari jumlah ADD Kabupaten. Sedangkan terendah adalah Kecamatan Sekongkang, Jereweh dan Brang Rea masing masing sebesar Rp.900,000,000, masing-masing Rp.900,000,000,atau sekitar 15%. Berikut perbandingan jumlah ADD untuk masing masing-masing kecamatan tahun 2006 :
Grafik 69 : Perbandingan Penerimaan ADD Antar Kecamatan 2006

Pada tahun 2007 Penerima ADD tertinggi adalah (1) Kecamatan Taliwang yakni sebesar Rp.2,556,119,201, atau sekitar 16%. (2) Kecamatan Sekongkang Rp.2,556,119,201,sebesar Rp.1,579,857,467, atau sekitar 16%. (3). Kecamatan Seteluk sebesar Rp. Rp.1,579,857,467,-

Legitimid KSB __________________________________________________________________________145 _________________________________________________________________________

atau 12%. 1,244,635,107,-atau sekitar 12%. (4). Kecamatan Poto Tano sebesar Rp. 1,223,519,455,- atau sekitar 12%. (5). Kecamatan Maluk sebesar Rp. 942,567,012, 942,567,012,atau sekitar 9%. (6). Kecamatan Brang Rea sebesar Rp.917,657,352, atau sekitar Rp.917,657,352,9%. (7). Kecamatan Jereweh sebesar Rp.831,948,432, atau sekitar 8%. (8). Rp.831,948,432,Kecamatan Brang Ene sebesar Rp.753,695,974, atau sekitar 8%. Berikut grafik Rp.753,695,974,perbandingan ADD masing masing-masing Kecamatan :
Grafik 70 : Perbandingan Penerimaan ADD Antar Kecamatan 2007

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat No. 274 Tahun 2007. Barat

Pada tahun 2008 penerima ADD tertinggi adalah (1). Kecamatan Sekongkang sebesar Rp.1,701,527,938, atau sekitar 17% (2) Kecamatan Seteluk Rp.1,701,527,938,sebesar Rp.1,455,284,056, atau sekitar 15% (3) Kecamatan Taliwang sebesar Rp. Rp.1,455,284,056,1,435,021,737,atau sekitar 15%. (4). Kecamatan (5). Poto Tano Maluk sebesar sebesar Rp.1,361,562,361,atau sekitar 14%. Kecamatan

Rp.1,082,527,249 atau sekitar 11%. (6). Kecamatan Brang Rea sebesar Rp. 1,037,024,817,- atau 11%. (7). Kecamatan Jereweh sebesar Rp.927,84 Rp.927,843,378,- atau sekitar 9%. (8). Kecamatan Brang Ene sebesar Rp.830,342,761, atau sekitar 8%. Rp.830,342,761,Berikut perbandingan ADD masing masing Kecamatan Tahun 2008 : masing-masing

Grafik 71 : Perbandingan Penerimaan ADD Antar Kecamatan 2008

Legitimid KSB __________________________________________________________________________146 _________________________________________________________________________

Sumber : Data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 20 B Tahun 2008, tanggal 21 Febuari 2008. Keputusan

Pada tahun 2009 penerima ADD tertinggi adalah (1) Kecamatan Sekongkang sebesar Rp.2,228,656,202, atau sekitar 17%. (2). Kecamatan Seteluk Rp.2,228,656,202,sebesar Rp.1,903,417,858, (3).Kecamatan Taliwang sebesar Rp.1,896,274,922, Rp.1,903,417,858,-. Rp.1,896,274,922,(4). Kecamatan Poto Tano sebesar Rp.1,818,126,683, atau sekitar 14%. (5). Rp.1,818,126,683,Kecamatan Maluk sebesar Rp. 1,419,419,958, atau sekitar 11%. (6). Kecamatan 1,419,419,958,Brang Rea sebesar Rp. 1,386,353,557, atau sekitar 11%. (7). Kecamatan Jereweh 1,386,353,557,sebesar Rp.1,237,907,337, atau sekitar 9%. (8). Kecamatan Brang Ene sebesar ar Rp.1,237,907,337,Rp.1,109,843,486,- atau sekitar 8%. Berikut perbandingan ADD masing masing-masing Kecamatan Tahun 2009 :

Grafik 72 : Perbandingan Penerimaan ADD Antar Kecamatan 2009

Legitimid KSB __________________________________________________________________________147 _________________________________________________________________________

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Nomor 127 Tahun 2009, tanggal 17 Maret 2009

Penerima

ADD

tertinggi

adalah

(1)

Kecamatan

Seteluk

sebesar

Rp.2,010,181,183,- atau sekitar 16%. (2). Kecamatan Brang Rea sebesar Rp.1,953,641,580 atau sekitar 15%. (3). Kecamatan Sekongkang sebesar Rp.1,849,086,217,Rp.1,797,406,274,atau atau sekitar sekitar 14%. 14%. (4). Kecamatan Taliwang Tano sebesar sebesar (5).Kecamatan Poto

Rp.1,734,761,995,- (6). Kecamatan Brang Ene sebesar Rp.1,401,775,201 atau sekitar 11%. (7). Kecamatan Maluk sebesar Rp.1,317,982,932,- atau sekitar 10%. ar Rp.1,317,982,932,(8). Kecamatan Jereweh sebesar Rp.935,560,746, atau sekitar 7%. Berikut grafik Rp.935,560,746,perbandingan ADD masing masing-masing Kecamatan Tahun 2010 :
Grafik 73 : Perbandingan Penerimaan ADD Antar Kecamatan 2010

Sumber : data diolah dari Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 225 Tahun 2010 Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana

Dari uraian di atas, maka kecendrungan umum secara keseluruhan penerima ADD tertinggi adalah (1) Kecamatan Taliwang sebesar sebe

Legitimid KSB __________________________________________________________________________148 _________________________________________________________________________

atau Rp.9,034,822,134,-atau

sekitar

17%.

(2)

Kecamatan

Seteluk

sebesar

Rp.8,563,518,201,- atau sekitar 17%. (3). Kecamatan Sekongkang sebesar Rp.8,259,127,824,- atau sekitar 16%. (4). Kecamatan Brang Rea sebesar Rp. 6,194,677,306,Rp.6,137,970,494 atau atau sekitar 12%. (5). Kecamatan Kecamatan Poto Tano sebesar sebesar sekitar 12%. (6). Kecamatan Jereweh

Rp.4,833,259,893,- (7). Kecamatan Maluk sebesar Rp. 4,762,497,151, atau sekitar 4,762,497,151,9% dan (8) Kecamatan Brang Ene sebesar Rp. 4,095,657,422, atau sekitar 8%. 4,095,657,422,Berikut grafik perbandingan ADD masing masing Kecamatan Tahun 2010 : masing-masing
Grafik 74 : Perbandingan Penerimaan ADD Antar Kecamatan Kurun Waktu 2006 s.d. 2010

Sumber : Data diolah dari kumpulan Peraturan Bupati Sumbawa Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa (2006 s.d.2010)

4.5. Pengelolaan ADD dan Keuangan Desa

Legitimid KSB __________________________________________________________________________149 _________________________________________________________________________

Pada bagian ini akan dibahas mengenai, pertama ; sejauhmanakah kapasitas kemandirian keuangan desa, khususnya terkait pendapatan dan jenisjenis pendapatan desa yang selama ini ada di desa. Kedua; bagaimanakah desa membelanjakan keuangannya, untuk apasajakah? 4.5.1. Pendapatan Desa Dari 20 desa yang diteliti sebanyak 5 desa pendapatan desanya adalah di atas Rp.400 juta lebih. Dari jumlah tersebut tiga desa adalah merupakan desa yang berada dalam kawasan wilayah lingkar tambang, yakni; Desa Sekongkang Atas (Kecamatan Sekongkang), Desa Belo (Kecamatan Jereweh) dan Desa Maluk (Kecamatan Maluk). Sedangkan desa yang berada diluar lingkar tambang, ternyata hanya desa Tepas (Kecamatan Brang Rea) dan Desa Poto Tano (Kecamatan Poto Tano) yang APBDesa mencapai lebih dari Rp.400 juta, selebihnya APBDes ratarata berkisar diantara Rp. 300 juta. Berikut perbandingan jumlah pendapatan desa :
Grafik 75 : Perbandingan Pendapatan Desa pada 20 desa di 8 Kecamatan KSB
JUMLAH PENDAPATAN DESA (Rp)
462.504.181 411.588.401 411.064.363 417.710.633 393.210.209 386.818.708 343.966.869 341.256.999 353.843.307 334.166.086 330.729.851 329.341.812 314.710.975 296.414.415 287.739.448 292.675.443 292.177.855 260.268.682 269.019.919 405.007.354

Sumber : Data diolah dari 20 APBDes Tahun2009

Dari hasil studi ditemukan adanya kecendrungan pendapatan desa baru hasil pemekaran tahun 2006 s.d. 2009 ternyata memiliki tingkat pendapatan desa yang relative rendah, dibawah Rp.300 juta, yakni ; Desa Kiantar, Desa Mujahidin, Desa Temekan, Desa Manemeng dan Desa Rarak Ronges. Desa Rarak ronges selain merupakan desa hasil pemekaran merupakan desa yang terpencil/tersilosir. Dengan jumlah pendapatan Desa hanya sebesar Rp.260 juta, maka tentu akan menyulitkan desa tersebut dapat mengejar ketertinggalan pembangunan dari desadesa lainnya.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________150

Berdasarkan data di atas, terihat ketersediaan kapasitas pendapatan desa antara desa induk (lama) dengan desa yang baru (hasil pemekeran) terihat adanya gap kapasitas pendapatan desa. Secara umum desa induk (lama) memiliki tingkat pendapatan desa yang relative tinggi, rata-rata umumnya di atas Rp.300 juta, sedangkan desa baru (pemekaran) jumlah pendapatan desa umumnya masih berada dibawah Rp.300 juta. Beranjak dari hal tersebut di atas, maka Pemerintah Daerah perlu untuk ; menyusun hasil untuk formulasi kebijakan baru (a) pertama, yang lebih

mencerminkan keadilan bagi desa terpencil dan desa pemekaran mendorong antara sehingga adanya desa tidak kerjasama denan menimbulkan antar desa desa, hasil kesenjangan antar desa ; (b). Kedua, perlu ada upaya khususnya induk

Kecendrungan APBDesa dan Pendapatan Desa pada Desa Hasil Pemekeran (baru) rendah. Kasus Desa Rarak Ronges, selain desa baru desa ini adalah desa terpencil. Dengan volume pendapatan desa yang rendah, sulit bagi desa ini untuk dapat mengejar ketertinggalan dari desadesa lainnya yang telah lebih dulu maju
tidak

pemekaran, desa maju dengan desa terbelakang, desa lingkar tambang dengan desa diluar lingkar tambang, sehingga DAK (Dana Alokasi Khusus) untuk desa terpencil atau terbelakang ; menimbulkan adanya kesenjangan antar desa; (c). Ketiga, perlu ada kebijakan

4.5.1.1. Pendapatan Asli Desa Salah satu indikator untuk menilai kemampuan dan kemandirian keuangan desa adalah Pendapatan Asli Desa. Semakin besar PADesa semakin besar kemandirian keuangan desa, sebaliknya, semakin kecil PADesa semakin kecil pula tingkat kemandirian keuangan desa. Jika melihat Pendapatan Asli Desa (PADes) pada 20 desa di KSB, ternyata menunjukkan bahwa Pendapatan Asli Desa belum dapat menjadi sumber keuangan desa yang dapat menjadi penopang untuk membangun kemandirian keuangan desa. Hal ini tercermin dari perbandingan jumlah Pendapatan Asli Desa dengan Dana Perimbangan (ADD) sebagai berikut :

Grafik 76 : Perbandingan Persentase Pendapatan Asli Desa dengan Dana Perimbangan

Legitimid KSB __________________________________________________________________________151

348.004.181 345.222.354 296.766.869 294.287.812 297.306.999 296.679.851 293.879.363 332.574.708 360.860.633 343.610.209 330.300.401

282.923.307 293.266.086 6.000.000 275.602.975 47.185.000 236.914.415 24.788.000 12.350.000 242.873.443 235.964.855 240.884.448 4.545.000 5.100.000 11.744.000 230.227.929 221.028.682 10.120.000 2.700.000 1.450.000 1.550.000 8.400.000 2.554.000 2.608.000 3.861.000 4.213.000 10.460.000 3.055.000 1.792.000 5.240.000 462.504.181 417.710.633 411.064.363 411.588.401 405.007.354 393.210.209 386.818.708 353.843.307 343.966.869 341.256.999 334.166.086 330.729.851 329.341.812 314.710.975 296.414.415 292.675.443 292.177.855 287.739.448 269.019.919 260.268.682

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Dana Perimbangan (ADD)

Total Pendapatan desa

Pendapatan Asli Desa

Sumber : data diolah dari APBDes 2009 dan APBD 2009

Dari 20 desa ternyata hanya ada 2 (dua) desa yang Pendapatan Asli Desanya tergolong cukup baik. Kedua desa tersebut adalah Desa Maluk, Kecamatan Maluk dan Desa Belo Kecamatan Jereweh. Pada APBDesa 2009, jumlah PADesa Desa Maluk mencapai sebesar Rp.47,185,000, (dan Desa Belo Rp.47,185,000,mencapai Rp.24 juta lebih. Sedangkan desa desa-desa lainnya sebagian besar umumnya jumlah PADesa di ya bawah Rp.10 juta bahkan terdapat 3 desa, yakni ; Desa Mantar, desa Kiantar dan Temekan yang jumlah PADesa hanya mencapai Rp. 1 juta lebih. Ketiga desa tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Desa Mantar d dan Kiantar adalah merupakan Desa terpencil (terisolir), sedangkan desa Tamekan adalah merupakan desa baru yang berada di Pusat Ibukota. masing-masing desa: masing Berikut gambaran dan data perbandingan mengenai Pendapatan Asli Desa pada

Secara umum Pendapatan Asli Desa belum dapat menjadi penopang kemandirian keuangan desa. Desa masih sangat tergantung dari Dana Perimbangan Keuangan Kabupaten dan Bantuan dari Pemerintah Provinsi dan Pihak Ketiga

Grafik 77 : Perbandingan Pendapatan Asli Desa (20 Desa) Sumber : Data diolah dari APBDesa Tahun 2009 dari 20 desa Legitimid KSB __________________________________________________________________________152 _________________________________________________________________________

PENDAPATAN ASLI DESA


47.185.000

24.788.000 10.120.000 3.055.000 11.744.000 4.545.000 3.861.000 10.460.000 2.700.000 1.550.000 1.792.000 4.213.000 2.554.000 1.450.000 12.350.000 5.100.000 8.400.000 5.240.000 2.608.000 6.000.000

Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa tingkat kemampuan desa dalam menggali sumber sumber Pendapatan Asli Desa tergolong masih sangat sumber-sumber rendah. Hal ini dikarenakan; (a) belum optimalnya penggalian potensi dan sumber-sumber Pendapatan Asli Desa. (b). lemahnya kemampuan aparatur desa sumber lemahnya dalam mencari sumber-sumber sumber sumber Pendapatan Asli Desa. (c). tingginya ketergantungan dan sikap manja desa karena merasa ADD dan bantuan pihak Ketiga (PT.NNT) cukup tinggi. Daerah perlu untuk; Berdasarkan hal tersebut maka, Pemerintah Pertama, mendorong dan memfasilitasi peningkatan

kapasitas desa, khususnya terkait dengan peningkatan kreatifitas dan produktifitas pemerintahan desa dalam mencari sumber sumber pendapatan asli desa. Kedua, sumber-sumber perlu ada upaya dari Pemerintah Desa bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dan para pemangku kepentingan pembangunan di tingkat desa (stakeholders) untuk mengidentifikasi peta potensi potensial desa serta ketiga; mengembangan usaha-usaha desa yang produktif dan efektif sebagai upaya/usaha des untuk usaha desa meningkatkan pendapatan asli desa.

4.5.1.2. Hasil Usaha Desa Salah satu sumber Pendapatan Asli Desa adalah berasal Hasil Usaha Desa semakin besar hasil usaha desa, maka akan semakin besar pula Pendapatan Asli Desa. Sebaliknya, semakin kecil usaha desa maka akan semakin kecil pula peluang Pendapatan Asli Desa. Oleh sebab itu untuk melihat bagaimanakah kapasitas PADesa haruslah dilihat pula seberapa besar hasil usaha desa yang dikelola dan berkembang didesa tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ternyata dari 20 desa ternyata hanya 10 desa yang memiliki hasil usaha desa sedangkan 10 desa lainnya tidak memiliki hasil usaha desa. Kesepuluh desa yang memiliki hasil usaha dan tidak memiliki hasil usaha desa tersebut adalah sebagai berikut :
Tabel 16 : Perbandingan hasil usaha desa APBDesa Tahun 2009 an Legitimid KSB __________________________________________________________________________153 _________________________________________________________________________

No
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Belo Maluk

Nama Desa

Hasil Usaha Desa (Rp)


18,000,000 44,100,000 6,500,000 0 2,000,000 0 0 0 0 0 0 0 2,100,000 0 950,000 150,000 500,000 150,000 0 200,000

Keterangan
Kec. Jereweh Kec.Maluk Kec. Maluk Kec. Brang Rea Kec. Sekongkang Kec. Taliwang Kec. Taliwang Kec. Seteluk Kec. Seteluk Kec. Seteluk Kec. Poto Tano Kec. Poto Tano Kec. Poto Tano Kec. Brang Rea Kec. Barang Rea Kec. Brang Ene Kec. Brang Ene Kec. Brang Ene Kec. Brang Ene Kec. Barang ene

Mantun Rarak Ronges Sekongkang Atas Batu Putih Tamekan Kelanir Seteluk Tengah Senayan Mantar Kiantar Poto tano Bangkat Monteh Tepas Manemeng Mura Lampok Mujahiddin Kalimantong

Sumber : Data diolah dari APBDesa Tahun 2009 dari 20 desa

Dari 10 desa yang memiliki hasil usaha desa, sebagian besar desa yang berada diwilayah lingkar tambang memiliki pendapatan asli desa dari hasil usaha desa yang relative tinggi dibandingkan desa-desa lainnya, desa-desa diwilayah lingkat tambang tersebut adalah Desa Maluk, Desa Belo, Desa Mantun dan Desa Sekongkang Atas. Dari hasil studi juga ditemukan bahwa ternyata sebagian besar pemerintah desa dalam memperoleh pendapatan asli desa dari usaha desa terpaku dan mengandalkan pendapatan dari penyewaan barang milik desa, yakni berupa penyewaan kursi desa dan pendapatan yang berasal dari biaya administrasi dan pelayanan masyarakat dan kecendrungannya desa tersebut memiliki tingkat Pendapatan Asli Desa atau Hasil Usaha Desa yang sangat rendah.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________154

Penyewaan kursi desa ini kurang cukup potensial untuk dijadikan sumber Pendapatan Asli Desa karena beberapa faktor, antara lain; pendapatan dari hasil sewa kursi desa diperoleh pada acara atau event-event tertentu, umumnya adalah pada acara perkawinan dan sunatan sehingga tidak cukup potensial untuk dijadikan sumber banyak antara pendapatan target kasus, pemerintah desa pesta desa disamping karena dengan sulit untuk Dalam dipoyeksikan pendapatan tahunan.

hubungan warga yang atau

kekerabatan/kekeluargaan atau hubungan emosional menyelenggarakan perkawinan

khitanan/sunatan, akhirnya Pemerintah Desa tidak melakukan penarikan uang sewa kursi. Permasalahan lainnya dari sewa kursi ini adalah terjadi penyusutan barang sehingga dari pendapatan sewa kursi desa ini pemerintah desa juga harus mengalokasikan anggaran untuk pembelian kursi yang mengalami kerusakan (penyusutan barang). Begitupun dengan Pendapatan Asli Desa yang bersumber dari pungutan biaya administrasi dan pelayanan kepada masyarakat, seperti ; pembuatan surat keterangan pindah datang, pengurusan talak dan rujuk, surat keterangan nikah/kawin, surat keterangan

Secara umum pendapatan desa dari hasil usaha desa masih sangat rendah, masih banyak desa yang ternyata tidak memiliki hasil usaha. Sebagian besar desa selama ini dalam menggali pendapatan desa dari hasil usaha desa hanya mengandalkan dari hasil penyewaan kursi yang biasanya digunakan untuk acara pesta yang berlangsung di desa (perkawinan, sunatan, pertemuan-pertemuan dan sebagainya)

domisi, surat keterangan belum kawin, surat keterangan berkelakuan baik, surat keterangan janda/duda, surat keterangan warisan, surat keterangan jual belitanah, surat keterangan tempat usaha, surat ijin keramaian, pengurusan TKI/TKW dan lain sebagainya. Pendapatan Asli Desa dari hasil usaha ini selain potensi pendapatannya rendah juga berimplikasi langsung kepada masyarakat berupa beban atas pungutan biaya, sehingga dalam pelaksanaanya seringkali menimbulkan reaksi dari masyarakat berupa penolakan karena dianggap pemerintah desa tidak berhak untuk menarik biaya-biaya tersebut (membebani masyarakat) dan sebagian warga masyarakat menilai segala urusan tersebut di atas merupakan tugas dan tanggungjawab pemerintah desa terhadap warganya sehingga dalam banyak kasus masyarakat tidak mau membayar biaya administrasi. Secara umum, varian jenis-jenis usaha desa masih sangat minim, padahal disetiap desa memiliki potensi potensial desa yang dapat dikembangkan sebagai usaha desa. Idealnya, potensi potensial desa tersebut dapat digali, dikelola dan
Legitimid KSB __________________________________________________________________________155

dikembangkan oleh pemerintahan desa setempat sebagai usaha desa. Akan tetapi, sejauh ini pemerintah desa di KSB belum cukup kreatif dalam mengembangkan berbagai usaha desa untuk meningkatkan intensifikasi dan ekstensifikasi jenis usaha desa yang dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan asli desa. Akibatnya, selain PADesa yang sangat rendah tingkat ketergantungan desa terhadap ADD sangat tinggi. Dari hasil studi menunjukkan adalah bahwa terdapat 5 desa yang ternyata memiliki PADesa dan hasil usaha desa tergolong tinggi. kelima desa tersebut adalah; a) Desa Maluk. Desa Maluk adalah desa yang paling tinggi PADes. Tingginya jumlah PADes di desa tersebut berasal dari hasil usaha desa. Dari hasil usaha desa pada APBDes Tahun 2009 dan dari b) Desa Belo Desa Belo adalah desa kedua terbesar yang Pendapatan Asli Desanya berasal dai Hasil Usaha Desa. Pada APBDes 2009, tercatat hasil usaha desa sebesar Rp. 18.000.000,- (delapan belas juta rupiah). Hasil usaha desa tersebut bersumber dari hasil sewa gedung wanita sebesar Rp.3.000.000,-/ tahun, dan iuran atas pengambilan bahan galian golongan C sebesar Rp.15.000.000,-/tahun. c) Desa Mantun Desa Mantun adalah Desa ketiga yang pendapatan asli desa dari hasil usaha desa tergolong tinggi, yakni mencapai Rp.6.500.000,-. Hasil usaha desa ini diperoleh dari sewa tempat jualan (pasar). d) Desa Poto Tano Desa Poto Tano adalah Desa keempat yang memiliki hasil usaha reatif tinggi. Jumlah hasil usaha desa mencapai Rp. 2.900.000 yang diperoleh dari hasil penyewaan tanah desa sebesar Rp.2.100.000 dan pengelolaan tempat rekreasi pasir putih Rp.600.000, serta pemanfaatan jalan desa sebesar Rp.300.000,-. e) Desa Sekongkang Atas, adalah desa kelima yang memiliki hasil usaha desa, jumlah hasil usaha di desa ini mencapai Rp.2.000.000,- yang diperoleh dari sewa kursi dan hasil usaha BUMDes (air). Selain air bersih di desa ini sebelumnya juga melalui
Legitimid KSB __________________________________________________________________________156

mencapai Rp.44.100.000,-. Kegiatan hasil usaha

desa tersebut berasal dari pasar (sewa tempat) sebesar Rp.40,500,000,jasa parkir sebesar Rp. 3,600,000,-. Pengelolaan kedua jasa tersebut selama ini dikelola oleh BUMDes.

BUMDes mengela sampah, namun pendapatan usaha dari usaha sampah desa ini tidak berjalan efektif karena minimnya partisipasi warga untuk membayar sampah. masing-masing desa : masing
Grafik 78 : Perbandingan Hasil usaha Desa HASIL USAHA DESA
44.100.000

Berikut grafik pendapatan dari hasil usaha desa pendapatan

18.000.000 6.500.000 2.000.000 0 0 0 0 0 0 0 950.000 2.900.000 0 0 200.000 500.000 150.0000 150.000

S umber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Tingginya pendapatan hasil usaha di lima desa tersebut di atas, karenakan beberapa factor ; (a). adanya potensi desa dan potensi desa tersebut mampu diidentifikasi dan dikembangkan sebagai peluang usaha desa ; seperti ; pendapatan pasar desa, parkir, pengelolaan rekreasi, air minum, bahan galian C. (b). adanya Badan Usaha Milik Desa yang mengelola dan mengembangkan usaha desa secara professional, partisipatif, transparans dan akuntabel. (c). adanya komitmen Pemerintahan Desa setempat untuk mencari dan mengembangkan usaha hasil desa sebagai sumber Pendapatan Asli Desa serta dukungan masyarakat dan swasta Dari hasil penelitian ini terlihat pula bahwa sebanyak 10 desa yakni ; Desa Rarak Ronges, Desa Batu Putih, Desa Tamekan, Desa Seteluk Tengah, Desa Senayan, Desa Mantar, Desa Kiantar, Desa Bangkat Monteh dan Desa Mujahidin tidak memiliki Hasil Usaha Desa. Kondisi ini cukup memprihantikan, karena salah satu sumber pembiayaan pembangunan desa adalah berasal dari PADesa. Dari uraian di atas, Pemerintah Daerah perlu untuk ; (a). Melakukan evaluasi terhadap kapasitas PADesa dan memfasilitasi proses pemetaan potensi setiap desa secara potensi partisipatif ; (b). Menyusun Pedoman Pembentukan Badan Usaha Milik Desa dan melakukan proses pembinaan/pendampingan usaha BUMDES agar professional, partisipatif, transparan dan akuntabel ; (c). Memfasilitasi proses pengembangan jaringan hasil usaha desa ringan
Legitimid KSB __________________________________________________________________________157 _________________________________________________________________________

4.5.2. Belanja Desa Kemanakah uang ADD dalam APBDesa dibelanjakan oleh Pemerintahan Desa? Apakah Belanja Desa diorientasikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa? Ataukah uang ADD dibelanjakan untuk kepentingan Pemerintahan Desa semata?. Anggaran Desa pada hakikatnya adalah bersumber dari rakyat, karena itu sudah sepatutnya jika anggaran yang bersumber dari rakyat tersebut harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Karena itupula, maka Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) harus dapat mencerminkan kebutuhan riil masyarakat dan mencerminkan keadilan bagi

Keberadaan BUMDes di sejumlah desa di KSB ternyata telah mampu meningkatkan Pendapatan Desa. Kreasi desa untuk mencari sumber-sumber pendapatan desa lebih inovatif dan produktif dilakukan melalui BUMDes.

masyarakat, khususnya masyarakat miskin yang ada di desa tersebut. Kemiskinan sendiri merupakan salah satu persoalan laten yang hingga saat ini dihadapi di setiap desa. Kemiskinan sendiri banyak penyebabnya dan para ahli menyepakati bahwa salah satu penyebab terjadinya kemiskinan adalah keterbatasan, bahkan ketiadaan, akses dan kontrol terhadap sumber daya anggaran. Artinya, kebijakan anggaran yang tidak responsif terhadap upaya mengatasi keterbatasan atau ketiadaan akses dan kontrol oleh orang miskin akan berdampak melanggengkan persoalan kemiskinan itu sendiri. Di sisi lain, hal tersebut juga dapat dimaknai bahwa anggaran menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengatasi persoalan kemiskinan. Mengapa anggaran desa perlu berpihak kepada orang miskin?: Pertama, karena anggaran desa merupakan jalan menuju atau entry point untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat desa, karena itu dalam mendistribusikan anggaran desa Pemerintahan Desa haruslah mendistribusikan sumber daya tersebut kepada para pihak yang membutuhkannya (warga miskin) sehingga kesenjangan sosial, serta kesenjangan terhadap akses dan kontrol terhadap sumber daya yang menjadi salah satu penyebab kemiskinan di pedesaan dapat teratasi. Kedua, warga miskin juga pembayar pajak, retribusi dan pungutan lainnya yang menjadi sumber pendapatan anggaran desa, daerah dan negara. Ketiga, fungsi Negara termasuk pemerintahan desa adalah untuk mewujudkan kesejahteraan rakyatnya dan warga miskin memiliki hak untuk memperoleh anggaran, karena hak untuk anggaran bagi warga miskin tersebut merupakan hak asasi manusia, hak warga negara, hak ekonomi sosial dan budaya.
Legitimid KSB __________________________________________________________________________158

Anggaran Desa dikatakan berpihak pada warga miskin jika anggaran desa tersebut mencerminkan ; (a). adanya pemenuhan kebutuhan minimum dari sebuah keluarga (miskin) untuk konsumsi, seperti makanan, tempat tinggal (shelter), dan pakaian, serta fasilitas lainnya, seperti ; ketersediaan air bersih, sanitasi, listrik, transportasi publik, kesehatan dan fasilitas pendidikan. (b) adanya pelibatan atau partisipasi masyarakat miskin dalam pengambilan keputusan yang berdampak kepada mereka. (c). anggaran ditujukan untuk membuat kebijakan, program, dan proyek yang berpihak kepada kepentingan orang miskin dan kebijakan anggaran tersebut dampaknya dapat meningkatkan kesejahteraan dan atau terpenuhinya kebutuhan hak-hak dasar orang miskin serta dioreintasikan untuk memenuhi hak-hak dasar warga miskin. Oleh sebab itu, maka kebijakan anggaran desa seyogyanya; pertama, dialokasikan langsung untuk rakyat miskin. Misalnya, alokasi anggaran untuk program pembinaan dan bantuan panti asuhan dan panti jompo, penanggulangan gizi kurang dan gizi buruk pada balita, pemberian makanan tambahan pada anak sekolah di daerah Gakin, bantuan modal usaha bagi warga miskin, bantuan pendidikan sekolah untuk warga miskin dan lainnya. Kedua, jika alokasi anggaran tersebut tidak langsung diperuntukan bagi warga miskin, maka alokasi agar harus dapat memberikan dampak dan manfaat positif bagi warga miskin. Misalnya, alokasi anggaran untuk pendataan warga miskin dalam pembangunan berbasis Rukun Tetangga, pemelihaaraan rutin/berkala mesin air untuk pertanian, pendataan buta aksara, dan lainnya. Untuk dapat memenuhi anggaran yang berpihak pada orang miskin, maka dari sisi pendapatan dan dari sisi belanja haruslah. Pertama, dari sisi pendapatan adalah bagaimana Pemerintahan Desa sedapat mungkin tidak memungut pajak, retribusi dan pungutan lainnya yang ada didesa terhadap transaksi pemenuhan pelayanan dasar publik (seperti pungutan iuran ternak petani miskin). Kedua, Tidak menjadikan pajak dan retribusi dan pungutan lain untuk pemenuhan kebutuhan dasar orang miskin sebagai sumber pendapatan utama desa. Dan terakhir adalah tidak membebani orang miskin dengan berbagai jenis pungutan pajak dan retribusi dan punguatan lainnya di desa. Kedua, dari sisi belanja desa, harus mencerminkan adanya; (a). alokasi anggaran untuk subsidi atau mendukung terpenuhinya pemenuhan kebutuhan dasar warga miskin. Misalnya, pemenuhan bahan kebutuhan pokok, pembebasan bea pendidikan, kesehatan, pembangunan perumahan dan lain sebagainya. (b) adanya alokasi anggaran untuk mendukung ketersediaan, keterjangkauan dan kesetaraan pelayanan public, misalnya pembangunan sarana dan prasarana
Legitimid KSB __________________________________________________________________________159

pendidikan, kesehatan, pertanian, jalan, jembatan, dan lain sebagainya. (c). adanya alokasi anggaran untuk melakukan penguatan kapasitas ekonomi, sosial dan politik kelompok miskin sehingga warga miskin dapat mandiri dalam pembangunan ekonomi, social, politik mereka (d). adanya alokasi anggaran untuk memberikan ruang partisipasi dan aktualisasi diri kelompok miskin dalam berbagai kehidupan. (e). adanya alokasi anggaran untuk perencanaan, pelaksanaan dan eveluasi untuk keterlibatan warga miskin dalam proses perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi untuk menilai dampak program/kegiatan terhadap orang miskin dan beberapa alokasi belanja lainnya. Beranjak dari konsepsi di atas, maka muncul pertanyaan mendasar, apakah belanja desa telah mencerminkan anggaran yang berpihak pada warga miskin? 4.5.2.1. Belanja Desa dan keberpihakannya Salah satu indikator untuk melihat apakah belanja desa berpihak warga miskin atau tidak, adalah dengan melihat proporsi antara belanja langsung dengan belanja tidak langsung yang ada di desa. Yang dimaksud dengan belanja langsung dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan yang digunakan untuk melayani kebutuhan publik. Jenis belanja ini diukur berdasarkan hasil dari suatu program dan kegiatan yang dianggarkan, termasuk efisiensi dalam pencapaian keluaran dan hasil tersebut. Meliputi belanja pegawai tidak rutin (seperti honor kegiatan), belanja barang dan jasa (seperti ATK, perjalanan dinas, dll), serta belanja modal (seperti membangun infrastruktur ataupun pembelian kendaraan). Sedangkan Belanja Tidak Langsung adalah berbagai biaya yang tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan, seperti biaya overhead yang digunakan untuk mendukung terlaksananya program dan kegiatan. Meliputi belanja pegawai (yaitu gaji, tunjangan dan penghasilan lainnya), belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil, belanja bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga. Dalam Permendagri Nomor 37 Tahun 2007 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa pasal 4 ayat (6) dan (7) Belanja langsung, terdiri dari ; belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal. Sedangkan Belanja Tidak Langsung, terdiri dari ; Belanja Pegawai/Penghasilan Tetap, Belanja Subsidi, Belanja Hibah (Pembatasan Hibah), Belanja Bantuan Sosial, Belanja Bantuan Keuangan, dan Belanja Tak Terduga21. Selama kurun waktu tahun 2006 sampai dengan 2010, kebijakan
21

Permendagri Nomor 37 Tahun 2007 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa

Legitimid KSB __________________________________________________________________________160

penetapan jumlah ADD terbesar Kabupaten yang diterima oleh Desa adalah pada tahun 2009. Pada tahun ini seluruh desa di KSB mengalami peningkatan penerimaan ADD yang sangat signifikan rata-rata mengalami kenaikan di atas 50% dari jumlah ADD tahun sebelumnya. Bahkan beberapa desa seperti Desa Talonang Baru, Desa Sekongkang Atas, Desa Tepas, Desa Seteluk Tengah dan beberapa desa lainnya menerima ADD di atas Rp. 400 juta. Jumlah yang tentu saja tidak kecil bagi pemerintahan desa di KSB mengingat jumlah penduduk dan luas wilayah desa yang relatif kecil jika dibandingkan dengan desa lainnya yang ada di NTB. Oleh karenanya, cukup menarik untuk dilihat kemanakah arah pembelanjaan keuangan desa dari ADD, apakah porsi angggaran untuk belanja langsung lebih besar daripada belanja tidak langsung ataukah sebaliknya. Dari 20 desa yang diteliti ditemukan lima desa memiliki APBDesa dan Belanja Desa di atas Rp.400 juta dan termasuk dalam kategori sangat tinggi. Kelima desa tersebut adalah ; (1) Desa Sekongkang Atas sebesar Rp.426,504,181,(2) Desa Belo sebesar Rp.411,588,401,- (3). Desa Desa Tepas sebesar Rp.417,710,633,- (4). Desa Maluk sebesar Rp.411,064,363,- (5). Desa Poto Tano sebesar Rp.405,007,354,- . Sebanyak 3 desa memiliki APBDesa dan Belanja Desa Rp.350 sampai dengan Rp.400 juta dan termasuk kategori tinggi. Ketiga desa tersebut adalah ; (1). Desa Bangkat Monteh sebesar Rp. 393,210,209,- (2). Desa Seteluk Tengah sebesar Rp.386,818,708,- (3). Desa Mantun sebesar Rp.353,843,307,-. Sebanyak 7 desa memiliki APBDesa dan Belanja Desa antara Rp.300 sampai dengan Rp.350 juta dan termasuk kategori sedang. Ketujuh desa tersebut adalah ; (1) Desa Kalimantong sebesar Rp. 344,283,858 (2) Desa Mantar sebesar Rp.341,256,999,- (3) Desa Kelanir sebesar Rp. 338, 166,086,- (4). Desa Kiantar sebesar Rp.330,729,851,- (5). Desa Senayan sebesar Rp.329,341,812,-. (6). Desa Batu Putih sebesar Rp.316,310,975,- (7). Desa Mujahidin sebesar Rp.303,419,443,. Sebanyak 5 desa memiliki APBDesa dan Belanja Desa antara Rp.250 sampai dengan Rp.300 juta dan termasuk kategori rendah. Kelima desa tersebut adalah ; (1). Desa Mura sebesar Rp.297,726,512,- (2). Desa Lampok sebesar Rp.295,534,448,- (3). Desa Manemeng sebesar Rp.292,265,169,- (4). Desa
Legitimid KSB __________________________________________________________________________161

Hasil studi menemukan 4 tipologi atau kategori untuk mengukur ketersediaan dan kemampuan keuangan desa. Dengan adanya kategorisasi tentang kemampuan keuangan desa ini. Pemerintah daerah diharapkan dapat melakukan reformulasi dalam pengalokasikan anggaran desa

Tamekan

sebesar

Rp.269,019,929,-. Rp.269,019,929, .

(5).

Desa

Rarak

Ronges

sebesar

Rp.260,268,682,-. Berikut grafik perbandingan jumlah APBD dan Belanja Desa . Tahun 2009 :

Grafik 79 : Perbandingan Jumlah APBDesa dan Belanja Desa JUMLAH APBD dan BELANJA DESA TAHUN 2009
426.504.181 411.588.401 316.310.975 393.210.209 260.268.682 417.710.633 338.166.086 411.064.363 353.843.307 297.726.512 292.265.168 386.818.708 269.019.929 303.419.443 330.729.851 341.256.999 405.007.354 344.283.858 329.341.812 295.534.448

Sekongkang A Belo Batu Putih Bangkat Monteh Rarak Ronges Tepas Kelanir Maluk Mantun Mura Manemeng Seteluk Tengah Temekan Mujahidin Kiantar Mantar Poto Tano Kalimantong Senayan Lampok

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Legitimid KSB __________________________________________________________________________162 _________________________________________________________________________

4.5.2.2. Belanja Langsung dalam APBDesa Dari hasil studi pada 20 desa dari 8 kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat ditemukan bahwa ; pertama, kebijakan pemerintahan desa pada seluruh desa cenderung mengalokasikan anggaran untuk belanja langsung lebih besar daripada anggaran belanja tidak langsung. Kedua, dari 5 desa yang termasuk penerima ADD tinggi diatas Rp.400 juta, ternyata 4 desa mengalokasikan belanja langsung diatas 65% dari jumlah belanja desa. Keempat desa tersebut adalah Desa Maluk (67%), Desa Sekongkang Atas (67%), Desa Poto Tano (65%) dan Desa Belo (63%). Sedangkan Desa Tepas hanya mengaokasikan belanja langsung sekitar 58% dari jumlah belanja desa. Kedua, sebanyak 5 desa mengalokasikan belanja desa untuk belanja langsung di bawah 60%, kelima desa tersebut adalah Desa Bangkat Monteh 59%, Desa Tepas 58%, Desa Mura 59%, Desa Seteluk Tengah 58%, dan Desa Kalimantong sebesar 56%. Ketiga, sebanyak 1 desa mengalokasikan belanja desa untuk belanja langsung lebih kecil daripada belanja langsung. Desa tersebut adalah Desa Rarak Ronges. Jumlah belanja desa untuk belanja langsung hanya 38%. Padahal, Desa Rarak Ronges adalah desa yang tergolong terisolir (terpencil) dan merupakan desa baru terbentuk, seyogyanya dapat mengalokasikan anggaran untuk belanja langsung lebih tinggi agar tercapai percepatan pembangunan desa dan dapat mensejajarkan dengan desa-desa lainnya. Berikut perbandingan belanja langsung dengan belanja tidak langsung desa terhadap jumlah belanja desa/APBDesa:
Grafik 80 : Perbandingan Belanja Langsung dengan Belanja Tidak Langsung Dalam APBDesa

Legitimid KSB __________________________________________________________________________163

BELANJA LANGSUNG VS BELANJA TIDAK LANGSUNG

287.304.181 224.556.999 266.127.354 215.129.851 187.619.443 160.906.929 244.466.413 225.332.708 279.170.500 234.683.307 180.715.168 159.357.209 177.046.512 204.255.000 231.960.209 260.388.401

201.841.812 189.834.448

193.383.858

195.610.975

173.244.220 138.880.000 131.893.863 151.200.000 161.486.000 120.680.000 150.900.000 115.800.000 120.700.000 133.821.086 161.200.000 119.160.000 116.700.000 111.550.000 108.113.000 127.500.000 100.911.473 161.250.000 115.600.000 105.700.000

Belanja Tidak Langsung

Belanja Langsung

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Berikut adalah grafik persentase belanja langsung dan belanja tidak langsung terhadap belanja desa :

Grafik 81 : Perbandingan Persentase Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung dalam APBDesa

Legitimid KSB __________________________________________________________________________164 _________________________________________________________________________

PERSENTASE BELANJA LANGSUNG (BL) Vs BELANJA TIDAK LANGSUNG/BELANJA DESA


BL/Belanja Desa BTL/Belanja Desa

Sekongkang A Belo Batu Putih Bangkat Monteh Rarak Ronges Tepas Kelanir Maluk Mantun Mura Manemeng Seteluk Tengah Temekan Mujahidin Kiantar Mantar Poto Tano Kalimantong Senayan Lampok
32,086

37,796 36,736 38,159 41,009 38,772 41,475 39,573 61,841 58,991 61,228 58,525 60,401

67,363 63,264

67,914 66,324 40,534 38,167 41,747 40,188 38,165 59,466 61,833 58,253 59,812 61,835 65,047 65,803 65,709 43,830 38,714 56,170 61,286 64,234

33,676

34,953 34,197 34,291

35,766

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

4.5.2.3. Belanja Tidak Langsung dalam APBDesa Secara nominal, Desa Tepas dan Desa Bangkat Monteh adalah Desa tertinggi yang mengalokasikan anggaran untuk belanja tidak langsung. Kedua desa tersebut berada di Kecamatan Brang Ene. Jika dilihat dari jumlah perangkat d desa, khususnya Desa Bangkat Monteh jumlahnya sama dengan desa desa-desa lainnya. Bahkan, untuk tunjangan RT yang dialokasikan dari ADD, Desa Bangkat Monteh hanya mengalokasikan untuk 16 RT. Jumlah tersebut lebih kecil dari Desa Beru (17 RT), Desa Poto Tano (19 RT), Desa Air Suning (24 RT), Desa Batu Putih (21 RT). Artinya, Desa tersebut cenderung kurang efisien dan efektif dalam mengalokasikan anggaran untuk belanja langsung, khususnya terkait dengan pemenuhan kebutuhan warga miskin. Berikut grafik perbandingan Belanja Tidak Langsung antar desa :
Grafik 82 : Perbandingan Belanja Tidak Langsung Dalam APBDesa Legitimid KSB __________________________________________________________________________165 _________________________________________________________________________

BELANJA TIDAK LANGSUNG


173.244.220 161.486.000 150.900.000 133.821.086 138.880.000 120.680.000 131.893.863 127.500.000 116.700.000 115.800.000 119.160.000 115.600.000 108.113.000 111.550.000 105.700.000 161.250.000 161.200.000 151.200.000 120.700.000 100.911.473

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Secara nominal, Belanja Tidak Langsung (BTL) tertinggi adalah Desa Tepas sebesar Rp.173,244,220, . Besarnya alokasi belanja tidak langsung ini banyak Rp.173,244,220,-. diperuntukkan untuk belanja gaji dan tunjangan. Pada tahun 2009 jumlah gaji dan tunjangan Desa Tepas menca mencapai Rp.144,344,220,- terdiri dari ; Belanja Pegawai/Penghasilan Tetap Pemeritah Desa sebesar Rp.54,000,000, untuk gaji Rp.54,000,000,Kepala Desa sebesar Rp.1.100.000/bulan, gaji Kepala gaji Sekretaris Desa sebesar sebesar Rp.600,000,-/bulan, /bulan, Urusan masingmasing-masing

Rp.400.000/bulan/orang (1 orang) dan gaji Kepala Seksi masing .000/bulan/orang masing-masing Rp.400.000,-/bulan (4 orang). /bulan Selanjutnya adalah dana tunjangan, pimpinan dan anggota BPD sebesar Rp.45,000,000,-, dengan rincian Ketua BPD sebesar Rp.500,000, , Rp.500,000,-/bulan, tunjangan Wakil Ketua se sebesar Rp.450,000,-/bulan, tunjangan Sekretaris BPD /bulan, sebesar Rp.400,000, /bulan, dan tunjangan untuk anggota sebanyak 8 orang Rp.400,000,-/bulan, masing-masing memperoleh tunjangan sebesar Rp.300,000, /bulan. Sedangkan masing Rp.300,000,-/bulan. untuk tunjangan Kepala Dusun sebesar Rp.15,344,220/tahun. M Masing-masing Kadus (5 orang kadus) memperoleh tunjangan sebesar Rp.255,737, Rp.255,737,-/bulan dan tunjangan Ketua RT sebesar Rp.30,000,000, /tahun atau masing Rp.30,000,000,-/tahun masing-masing (25 orang) Rp.100,000, Rp.100,000,-/bulan. Sedangkan belanja tidak langsung untuk belanja bantuan sosial hanya dialokasikan sebesar Rp.28.900,000, yang diperuntukan untuk belanja kegiatan Rp.28.900,000,Peringatan Hari Besar Islam, Kegiatan Remaja Mesjid, Kegiatan PKK Desa, Kegiatan Pemuda dan Olah Raga, serta Belanja Operasional untuk LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat), PKK dan Karang Taruna. Tingginya Belanja Tidak Langsung untuk perangkat desa dan BPD ini juga terjadi pada Desa Bangkat
Legitimid KSB __________________________________________________________________________166 _________________________________________________________________________

Monteh, Desa Seteluk Tengah dan Desa Kalimantong. Dari persentase jumlah belanja tidak langsung terhadap belanja desa, ternyata desa tertinggi yang membelanjakan APBDesa untuk belanja tidak langsung adalah Desa Rarak Ronges mencapai 64%. Jumlah APBDesa Rarak Ronges pada tahun 2009 adalah sebesar Rp.260,268,682, , dari jumlah tersebut Rp.260,268,682,-, sebesar Rp.159,357,209, untuk belanja tidak langsung dan hanya sebesar Rp.159,357,209,Rp.100,911,473,- untuk belanja langsung. 4.5.2.4. Trend dan Perbandingan Belanja Langsung Antar Desa Belanja desa untuk belanja langsung tertinggi adalah ; (1) Desa

Sekongkang Atas mencapai sebesar Rp. 287,304,181, (2). Desa Maluk sebes Rp. sebesar 279,170,500,- (3) Desa Poto Tano sebesar Rp.266,127,354, (4) Desa Belo sebesar Rp.266,127,354,Rp.260,388,401,-. Sedangkan Desa Tepas yang memiliki APBDesa dalam jumlah . yang tinggi mengalokasikan belanja desa untuk belanja langsung dalam jumlah yang relatif rendah sebesar Rp.244,466,413, . Berikut grafik perbandingan jumlah h Rp.244,466,413,-. belanja langsung antar desa:
Grafik 83: Perbandingan Jumlah Belanja Langsung Antar Desa
BELANJA LANGSUNG
279.170.500 287.304.181 260.388.401

266.127.354 201.841.812 189.834.448

244.466.413 234.683.307 224.556.999 225.332.708 231.960.209 215.129.851 204.255.000 180.715.168 195.610.975 193.383.858 187.619.443 177.046.512 159.357.209 160.906.929

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Dari data sebanyak 8 desa yang mengalakasikan anggaran belanja langsung antara Rp 200 juta sampai dengan Rp.250 juta. Kedelapan desa tersebut adalah ; (1) Desa Tepas sebesar Rp.244,466,413, (2) Desa Mantun sebesar Rp. Rp.244,466,413,234,683,307,- (3) Desa Bangkat Monteh sebesar Rp.231,960,209, (4). Desa Rp.231,960,209,Seteluk Tengah sebesar Rp.225,332,708,Rp.225,332,708, (5). Desa Mantar sebesar Rp.224,556,999,- (6). Desa Kiantar sebesar Rp. 215,129,851,- (7) Desa Kelanir 215,129,851,Legitimid KSB __________________________________________________________________________167 _________________________________________________________________________

sebesar Rp. 201,255,000,- dan (8) Desa Senayan sebesar Rp.201,841,812,-. Sebanyak 8 Desa yang mengalokasikan belanja desa untuk belanja langsung di bawah Rp.200 juta. Kedelapan Desa tersebut adalah ; (1) Desa Batu Putih sebesar Rp.195,601,975,- (2). Desa Kalimantong sebesar Rp.193,383,858,(3). Desa Lampok sebesar Rp.189,834,448,- (4). Desa Mujahidin sebesar Rp.187,619,443,- (5). Desa Manameneng sebesar Rp.180,715,168,- (6).Desa Mura sebesar Rp. 177,046,512,- (7). Desa Tamekan sebesar Rp.160,906,929,- (8). Desa Rarak Ronges sebesar Rp.159,357,209,4.5.2.5. Belanja Pegawai dalam APBDesa Dari uraian singkat sebagaimana di atas tergambar bagaimana belanja langsung dan belanja tidak langsung setiap desa. Yang cukup menarik dan perlu dicermati kemudian adalah seberapa besar sesungguhnya belanja langsung untuk rakyat dan belanja pegawai desa?. Penghitungan terhadap jumlah belanja pegawai dalam belanja langsung menjadi penting untuk dicermati mengingat dalam belanja langsung tersebut terdapat pula komponen belanja pegawai. Oleh karena itu, belanja langsung yang tinggi bukan berarti APBDesa tersebut telah berpihak masyarakat. Sebab dalam kenyataannya seringkali belanja langsung tinggi namun peruntukkannya lebih besar untuk belanja pegawai daripada belanja pembangunan atau masyarakat. Bahkan, seringkali untuk kepentingan pencitraan politik anggaran agar terlihat berpihak masyarakat, sengaja jumlah belanja langsung tercatat tinggi padahal peruntukkannya sesungguhnya bukan untk kayat melainkan aparat. Beranjak dari hal tersebut , maka pada bagian ini akan dibahas mengenai jumlah belanja pegawai. Jumlah belanja pegawai dimaksud adalah jumlah belanja pegawai yang masuk dalam belanja langsung dan jumlah belanja pegawai yang masuk dalam belanja tidak langsung. Berdasarkan hasil kajian ditemukan bahwa; Pertama, sebanyak 2 desa membelanjakan APBDesa untuk belanja langsung dan belanja tidak langsung peruntukkannya adalah untuk aparat/pegawai desa mencapai di atas 70% dari jumlah belanja desa. Kedua desa tersebut adalah (1) Desa Batu Putih sebesar Rp.232,550,000,-atau 73,52% dari jumlah belanja desa sebesar Rp.316,310,975,(2) Desa Tepas sebesar Rp.295,960,000,- atau 70,85% dari jumlah belanja desa sebesar Rp.417,710,633,-

Legitimid KSB __________________________________________________________________________168

Kedua, sebanyak 9 desa mengalokasikan belanja pegawai dalam belanja langsung dan belanja tidak langsung mencapai persentase 60% sampai dengan 70% dari jumlah belanja desa. Kesembilan desa tersebut adalah ; (1) Desa Seteluk Tengah mencapai 69,74% (2) Desa Rarak Ronges mencapai 67,72%. (3). Desa Poto Tano mencapai 67,33%. (4). Desa Tamekan mencapai 64,86%. (5). Desa Bangkat Monteh mencapai 63,94%. (6). Desa Mura mencapai 61,34%. (7). Desa Kiantar mencapai 61,32%. (8). Desa Belo mencapai 60,95% dan (9) Desa Manemeng mencapai 60,77%. Ketiga, sebanyak 7 desa mengalokasikan belanja pegawai dalam belanja langsung dan belanja tidak langsung mencapai persentase 50% sampai dengan 60% dari jumlah belanja desa. Ketujuh desa tersebut adalah ; (1). Desa Senayan mencapai 54,29%. (2). Desa Sekongkang Atas mencapai 52,09% (3). Desa Mujahidin mencapai 52,03% (4). Desa Lampok mencapai 52,02%. (5). Desa Mantar mencapai 51,38%. (6). Desa Maluk mencapai 50,42%. (7). Kelanir mencapai 50,07%. Keempat, hanya ada 2 desa yang mengalokasikan belanja pegawai dalam belanja langsung dan belanja tidak langsung mencapai persentase antara 40% sampai dengan 50% dari jumlah belanja desa. Kedua desa tersebut adalah; (1) Desa Kalimantong mencapai 46,67% (2). Desa Mantun mencapai 43,45%. Berikut perbandingan dan persentase jumlah belanja pegawai dalam belanja langsung dan tidak langsung:

Meskipun Pemerintah Daerah telah menetapkan proporsi ADD 60% untuk ADDM (gaji ) dan 40% untuk ADDP (Pembangunan), ternyata masih ada desa yang ternyata mengalokasikan anggaran untuk belanja pegawai diatas 70% dari belanja desa

Tabel 17 : Jumlah Belanja Pegawai dalam Belanja Langsung dan Tidak Langsung terhadap Jumlah Belanja Desa
No 1 2 3 Nama Desa Lampok Senayan Kalimantong Jumlah Belanja Pegawai dalam BL dan BTL 153,746,500 178,800,000 160,005,000 Jumlah Belanja Desa 295,534,448 329,341,812 344,283,858 Jumlah Belanja Pegawai/Jumlah Belanja Desa (%) 52.02 54.29 46.47

Legitimid KSB __________________________________________________________________________169

4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Poto Tano Mantar Kiantar Mujahidin Temekan Seteluk Tengah Mura Maluk Mantun Menemeng Kelanir Tepas Rarak Ronges Bangkat Munteh Batu Putih Belo Sekongkang Atas

272,696,150 175,335,000 202,800,000 157,875,000 174,497,000 269,759,500 182,697,000 207,250,000 153,760,000 177,600,000 169,332,000 295,960,000 176,250,000 251,425,000 232,550,000 250,883,000 222,175,000

405,007,354 341,256,999 330,729,851 303,419,443 269,019,929 386,818,708 297,726,512 411,064,363 353,843,307 292,265,168 338,166,086 417,710,633 260,268,682 393,210,209 316,310,975 411,588,401 426,504,181

67.33 51.38 61.32 52.03 64.86 69.74 61.36 50.42 43.45 60.77 50.07 70.85 67.72 63.94 73.52 60.95 52.09

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa kecendrungan belanja pegawai tergolong tinggi, 11 desa rata-rata di atas 60% dari jumlah belanja desa, 7 desa belanja pegawai antara 50-60% dari belanja desa dan hanya 2 desa dibawah 50% belanja pegawai. Tingginya belanja pegawai tersebut ternyata terdapat dalam belanja langsung, bukan hanya belanja tidak langsung sehingga terkesan oleh publik selama ini bahwa belanja desa seakan-akan telah berpihak kepada masyarakat miskin. Padahal dalam prakteknya justeru sebaliknya, alokasi belanja yang diperuntukkan untuk masyarakat sangatlah rendah. Berikut adalah grafik perbandingan antara belanja pegawai dalam belanja langsung dan belanja pegawai dalam belanja tidak langsung pada 20 desa di KSB;

Grafik 84 : Jumlah Belanja Pegawai dalam Belanja Langsung dan Belanja Pegawai dalam Belanja Tidak Langsung

Legitimid KSB __________________________________________________________________________170

BELANJA PEGAWAI BTL DAN BELANJA PEGAWAI BL


151.615.780 137.880.000 134.816.150 117.000.000 117.000.000 137.053.500 132.706.000 112.200.000 117.000.000 113.160.000 94.680.000 93.900.000 88.017.000 83.700.000 102.000.000 90.250.000 82.975.000 67.332.000 60.975.000 71.940.000 104.310.000 144.344.220 131.400.000 143.900.000 139.200.000 129.350.000 120.025.000 103.200.000 106.933.000

86.700.000

101.400.000 101.400.000 96.900.000 89.040.000 85.457.000

67.046.500 61.800.000 43.005.000

63.135.000

40.600.000

(BTL) Belanja Pegawai

(BL) Belanja Pegawai

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Seyogyanya belanja langsung adalah diperuntukkan untuk belanja pembangunan desa, khususnya belanja modal namun ternyata belanja langsung tersebut dihabiskan untuk belanja pegawai, sehingga anggaran untuk pembangunan di desa menjadi sangat minim, dampaknya peningkatan akselerasi minim, pembangunan di desa menjadi sangat lamban, bahkan terkesan jalan di tempat. 4.5.2.6. Trend Gaji Pemerintah Desa dan Tunjangan BPD a). Trend Gaji Pemerintah Desa (Kades, Sekdes, Kadus dan Kepala Seksi) Dari 20 desa sebanyak 9 desa menetapkan gaji kepala desa di atas Rp.1,000,000,000,-/bulan. Kesembilan desa tersebut adalah sebagai berikut : -/bulan.
Tabel 18 : Perbandingan Gaji Kepala Desa

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Nama Desa Sekongkang Atas Poto Tano Kalimantong Seteluk Tengah Mantar Belo Tepas Rarak Ronges Tamekan Maluk

Jumlah Gaji (Rp) /Bulan 1,500,000,1,300,000,1,250,000,1,200,000,1,150,000,1,100,000,1,100,000,1,050,000,1,030,000,1,025,000,-

Keterangan Kec. Sekongkang Kec. Poto Tano Kec. Brang Ene Kec. Seteluk Kec. Poto Tano Kec. Jereweh Kec. Brang Rea Kec. Brang Rea Kec.Taliwang Kec.Maluk

Sumber : APBDesa Tahun Anggaran 2009, data diolah

Sebanyak 10 desa mengalokasikan gaji Kepala Desa sebesar Rp.1.000.000, Rp.1.000.000,/bulan. Kesepuluh desa tersebut adalah ; (1). Desa Mantun (2). Desa Bangkat Monteh. (3). Desa Mujahidin (4). Desa Kelanir (5) Desa Mura (6). Desa Senayan
Legitimid KSB __________________________________________________________________________171 _________________________________________________________________________

(7). Desa Lampok (8). Desa Manemeng (9). Desa Kiantar. (10). Desa Manemeng. Hanya 1 desa, yakni Desa Batu Putih Kecamatan Taliwang yang mengalokasikan gaji untuk Kepala Desa sebesar Rp.900,000,-. Selain gaji atau penghasilan tetap, beberapa desa dalam APBDesa mengalokasikan pula penghasilan tidak tetap bagi Kepala Desa dalam bentuk honorarium sebagai Tenaga Tehnis Kewilayahan atau Tim Pembina atau Pemantau Wilayah yang dialokasikan setiap bulannya. Besarnya penghasilan tidak tetap ini, masing-masing desa bervariasi yakni sebagai berikut ;
Tabel 19: Perbandingan Honorarium Tidak Tetap Kepala Desa Nama Desa Jumlah (Rp)/bulan Tepas 300.000,Mujahidin 250.000,445,000,Rarak Ronges Kelanir 250.000,Maluk 225.000,Poto Tano 200.000,Bangkat Monteh 250.000,Mantar 100.000,Senayan 250.000,Mura 350.000,Manemeng 250.000,Lampok 250.000,Kiantar 250.000,Batu Putih 350.000,Tamekan 220.000,Desa Sekongkang Atas 500,000,-

Best Practices : Dari hasil studi ternyata hanya ada 2 desa yang proporsi belanja pegawai dari belanja langsung dan belanja tidak langsung hanya 40% sampai dengan 50% (dari akumulasi). Kedua tersebut adalah Desa Kalimantong mencapai 46,67% dan Desa Mantun mencapai 43,45%.

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Berdasarkan hal tersebut di atas terlihat bahwa terjadi varian jumlah gaji kepala desa, termasuk penetapan besarnya jumlah honorarium Penghasilan Tidak Tetap Kepala Desa (Tenaga Tehnis Kewilayahan) serta nomenklatur Penghasilan Tidak Tetap Kepala Desa berbeda-beda. Disamping itu, sesungguhnya belum ada variable dan indekator atau instrument yang tepay yang digunakan dalam menentukan besarnya Penghasilan Tetap dan Penghasilan Tidak Tetap Kepala Desa, apakah didasarkan atas jumlah pendapatan desa, jumlah pendapatan asli desa, jumlah hasil usaha desa, keberhasilan pembangunan desa atau indicator lainnya. Selama ini dalam hal penentuan mengenai besarnya jumlah gaji Kepala Desa baik berupa Penghasilan Tetap (gaji) maupun Penghasilan Tidak Tetap (honorarium teknis kewilayahan) ternyata berasal dan didominasi dari inisiatif
Legitimid KSB __________________________________________________________________________172

atau usulan dari Kepala Desa sendiri. Sementara itu, sejauh ini pada tingkat pemerintahan daerah belum ada pedoman peraturan yang mengatur secara khusus mengenai penghasilan Kepala Desa tersebut sehingga di masing-masing desa melakukan penfasiran dan melakukan inisiatif sendiri sesuai dengan kebutuhan masing-masing Kepala Desa. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika ada satu desa yang penghasilan Kepala Desanya mencapai Rp. 1 juta lebih, namun adapula Kepala Desa yang penghasilannya di bawah Rp.1 juta. Kondisi inipula yang terkadang menimbulkan kecemburuan antar Kepala Desa. Bagaimanakah dengan gaji Sekretaris Desa? Beberapa desa Sekretaris Kepala Desa statusnya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS), seperti Desa Sekongkang Atas, Desa Senayan, Desa Kiantar dan beberapa desa lainnya. Namun sejauh ini, sebagian besar desa di KSB Sekretaris Kepala Desa adalah Non Pegawai Negeri Sipil. Secara umum desa yang Sekretarisnya telah berstatus sebagai PNS tidak mengalokasikan gaji untuk Sekretaris Desa di dalam APBDesa. Sebaliknya, desa yang status sekretarisnya masih dari kalangan non PNS mencantumkan anggaran gaji Sekretaris Desa dalam APBDesa. Dari hasil penelitian mengenai besarnya jumlah gaji Sekretaris Desa ternyata sama seperti halnya gaji Kepala Desa, bervariasi jumlahnya dan sangat tergantung dari kebijakan yang ada pada masing-masing desa. Berdasarkan temuan di lapangan gaji tertinggi untuk Sekretaris Desa adalah sebesar Rp.850,000,-/bulan, yakni di Desa Seteluk Tengah Kecamatan Seteluk. Sedangkan gaji untuk Sekretaris Desa terendah adalah di Desa Lampok Kecamatan Brang Ene, yakni sebesar Rp.500,000/bulan. Secara umum sebagian besar desa Berikut grafik perbandiangan gaji Sekretaris Desa pada mengalokasikan gaji Sekretaris Desa dalam APBDesa antara Rp.600,000,- s.d. Rp.650,000,-/bulan. masing-masing desa:
Grafik 85 : Perbandingan jumlah gaji Sekretaris Desa /bulan

Legitimid KSB __________________________________________________________________________173

GAJI SEKDES
850.000 670.000 650.000 580.000 600.000 640.000 600.000 600.000 575.000 525.000 525.000 500.000 520.000 600.000

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Sama seperti halnya dengan penetapan besarnya jumlah gaji Kepala Desa. Dalam hal penetapan jumlah besarnya gaji Sekretaris Desa juga sangat tergantung dari kebijakan Pemerintah Desa. Tidak ada instrument atau indikator khusus yang digunakan oleh Pemerintah Desa setempat dalam menentukan besarnya jumlah gaji Sekretaris Desa. Sementara, disisi lain supervisi dan kabijakan yang mengatur secara khusus mengenai besarnya gaji Sekretaris Desa belum tersedia dan dijalankan secara optimal. Bagimanakah dengan gaji perangkat desa? Varian mengenai besarnya jumlah gaji terjadi pula dalam penetapan jumlah gaji untuk Kepala Urusan dan Kepala Seksi di masing masing desa. Secara umum, besarnya gaji Kepala Urusan masing-masing dan Kepala Seksi Pemerintah Desa adalah sebesar Rp.500,000, s.d Rp.600,000,adalah Rp.500,000,/bulan. Namun, beberapa desa seperti Desa Mantar, Desa Poto Tano dan Desa Kalimantong mengalokasikan gaji untuk Kepala Urusan dan Seksi melebihi jumlah Rp.600,000,-/bulan. Bahkan, salah satu desa, yakni Desa Sekong /bulan. Sekongkang Atas mengalokasikan anggaran desa untuk gaji Kepala Urusan dan Kepala Seksi mencapai sebesar Rp.800,000, /bulan. Berikut grafik besarnya Gaji Kepala Rp.800,000,-/bulan. Urusan dan Kepala Seksi di masing masing-masing desa :

Grafik 86 : Perbandingan gaji Perangkat Desa (Kepala Urusan dan Seksi)/Bulan (Kepala

Legitimid KSB __________________________________________________________________________174 _________________________________________________________________________

GAJI KEPALA URUSAN DAN SEKSI DI DESA


800.000 650.000 650.000 620.000 600.000 600.000 550.000 550.000550.000 525.000 525.000 500.000 500.000 500.000 500.000 470.000 475.000 475.000 450.000 400.000

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Dari data di atas terlihat pula bahwa beberapa desa mengalokasikan gaji untuk Kepala Urusan dan Kepala Seksi di bawah Rp.500,000, Rp.500,000,-/bulan. Desa tersebut adalah ; Desa Lampok dan Manemeng sebesar Rp.475,000, Lampok Rp.475,000,-/bulan, Desa Batu Putih sebesar Rp.450,000, dan desa Tepas sebesar Rp.400,000, Rp.450,000,Rp.400,000,-/bulan. Desa Tepas, Kecamatan Brang Rea adalah merupakan desa yang paling rendah dari desa-desa lainnya. desa Bagaimana dengan gaji Kepala Dusun? Sama seperti halnya dengan gaji Dusun? Kepala Desa dan Gaji Kepala Seksi dan Kepala Urusan. Penetapan mengenai besarnya gaji Kepala Dusun juga ternyata bervariasi di masing-masing desa. Dari masinghasil studi di temukan bahwa secara umum gaji rata rata Kepala Dusun adalah rata-rata sebesar Rp.300,000, /bulan. Hanya ada dua desa yang memberikan gaji untuk Rp.300,000,-/bulan. Kepala Kepala Dusun melebihi Rp.300,000, /bulan. Kedua desa tersebut adalah Rp.300,000,-/bulan. Desa Kalimantong Kecamatan Brang Ene sebesar Rp.400,000, Rp.400,000,-/bulan dan Desa Sekongkang Atas Kecamatan Sekongkang sebesar Rp. 500,000, 500,000,-/bulan dan merupakan Desa tertinggi yang membrikan gaji untuk Kepala Dusun. Beberapa desa mengalokasikan anggaran untuk gaji Kepala Dusun dibawah Rp.300 juta. Desa tersebut adalah Desa Mantar sebesar Rp.275,000, Rp.275,000,-Desa Kelanir dan Desa Maluk masing masing-masing sebesar Rp. 250,000,-/bulan. Hanya satu desa /bulan. yakni Desa Tamekan Kecamatan Taliwang yang mengalokasikan belanja desa untuk gaji Kepala Dusun sebesar Rp.180,000/bulan dan merupakan gaji Kepala Dusun terendah. Berikut grafik ga Kepala Dusun di KSB: gaji
Grafik 87 : Perbandingan Gaji Kepala Dusun/Bulan

Legitimid KSB __________________________________________________________________________175 _________________________________________________________________________

GAJI KEPALA DUSUN


500.000

350.000 400.000 300.000 320.000 325.000 300.000 350.000 250.000 300.000 300.000 275.000 300.000 300.000 300.000 250.000 275.000 300.000 180.000 0

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

b. Trend dan Perbandingan Tunjangan BPD Tunjangan BPD yang diberikan di masing masing desa adalah untuk masing-masing Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, dan Anggota BPD. Besarnya jumlah tunjangan BPD di masing-masing desa bervariasi. Dari hasil studi tunjangan untuk jabatan masing Ketua BPD tertinggi adalah (1) Desa Rarak Ronges sebesar Rp.730,000, Rp.730,000,-/bulan. (2). Desa Sekongkang Atas dan Desa M Mantun masing-masing sebesar Rp. masing Rp.600,000,-/bulan. (3) Desa Poto Tano, Desa Senayan dan Desa Kiantar masing /bulan. masingmasing Rp.550,000, /bulan. (3) Desa Belo, Desa Tepas, Desa Mura, Desa Rp.550,000,-/bulan. Kalimantong, Desa Mantar, masing masing sebesar Rp.500,000, (4). Desa masing-masing Rp.500,000,Bangkat Monteh sebesar Rp.450,000, /bulan. (5). Batu Putih, Desa Mujahidin, t Rp.450,000,-/bulan. Desa Lampok, Desa Kelanir, Desa Manemeng masing-masing masing sebesar Rp.400,000,-/bulan. (6) Desa Tamekan, sebesar Rp.370,000, dan merupakan /bulan. Rp.370,000,desa terendah yang memberikan tunjangan untuk Ketua BPD. Berikut grafik Ketua tunjangan Ketua BPD/bulan di masing masing-masing desa :

Grafik 88 : Perbandingan Tunjangan untuk Ketua BPD/Bulan

Legitimid KSB __________________________________________________________________________176 _________________________________________________________________________

TUNJANGAN KETUA BPD/BULAN


370.000 400.000 550.000 400.000 500.000 550.000 500.000 400.000 400.000 500.000 400.000 450.000 500.000 730.000 530.000 550.000 500.000 475.000 600.000 600.000

TAMEKAN BATU PUTIH KIANTAR LAMPOK MANTAR SENAYAN MURA MANEMENG KELANIR KALIMANTONG MUJAHIDIN BANGKAT MONTEH TEPAS RARAK RONGES SETELUK TENGAH POTO TANO BELO MALUK MANTUN SEKONGKANG A

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Bagaimanakah dengan tunjangan wakil ketua BPD?Tunjangan untu Wakil untuk Ketua BPD tertinggi adalah ; (1) Desa Rarak Ronges sebesar Rp.680,000, (2). Rp.680,000,Sebanyak 2 Desa, yakni Desa Sekongkang Atas dan Desa Mantun mengalokasikan sebesar Rp.550,000, /bulan. (3). Satu desa, yakni Desa Poto Tano sebesar Rp.550,000,-/bulan. Rp.500,000,-/bulan. (4). Sebanyak 6 desa, yakni Desa Maluk, Desa Belo, Desa /bulan. (4). Senayan, Desa Tepas, Desa Bangkat Monteh, dan Desa Kalimantong mengalokasikan anggaran untuk tunjangan BPD sebesar Rp.450,000, Rp.450,000,-/bulan. (5). Sebanyak 2 desa, yakni Desa Kiantar dan Desa Mura sebesar Rp.40 Rp.400,000,-/bulan. (6) sebanyak 2 desa, yakni Desa Mujahidin dan Desa Kelanir sebesar Rp.375,000, Rp.375,000,dan (7) Desa Tamekan sebesar Rp.320,000, /bulan dan merupakan Desa terendah Rp.320,000,-/bulan yang mengalokasikan anggaran untuk tunjangan Wakil Ketua BPD. Berikut grafik tunjangan untuk Wakil Ketua BPD/bulan di masing masing desa : n masing-masing

Legitimid KSB __________________________________________________________________________177 _________________________________________________________________________

Grafik 89 : Jumlah dan Perbandingan Tunjangan untuk Wakil Ketua BPD/Bulan

TUNJANGAN WAKIL KETUA BPD/BULAN

TAMEKAN BATU PUTIH KIANTAR LAMPOK MANTAR SENAYAN MURA MANEMENG KELANIR KALIMANTONG MUJAHIDIN BANGKAT MONTEH TEPAS RARAK RONGES SETELUK TENGAH POTO TANO BELO MALUK MANTUN SEKONGKANG A

320.000 350.000 400.000 350.000 450.000 450.000 400.000 350.000 375.000 450.000 375.000 400.000 450.000 680.000 480.000 500.000 450.000 450.000 550.000 550.000

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Bagaimanakah tunjangan untuk anggota BPD?Tunjangan untuk anggota BPD tertinggi adalah (1) Desa Rarak Ronges sebesar Rp.580,000, Rp.580,000,-/bulan (2). Desa Mantun sebesar Rp.450,000, /bulan. (3). Desa Poto Tano sebesar Rp. 400,000, Rp.450,000,-/bulan. 400,000,/bulan (4) Desa Seteluk Atas sebesar Rp.380,000, /bulan. (5). Desa Sekongkang Rp.380,000,-/bulan. Atas, Desa Kalimantong, Desa Bangkat Monteh, Desa Maluk, Desa Belo, sebesar esa Rp.350,000,000,-/bulan. (5). Desa Manemeng dan Desa Kelanir sebesar /bulan. Rp.325,000,-. (6). Desa Tepas, Desa Kiantar dan senayan sebesar Rp.300,000, . Rp.300,000,/bulan. (7) Desa Tamekan sebesar Rp.270,000/bulan dan merupkan desa Rp.270,000/bulan terendah yang memberikan tunjangan untuk anggota BPD. Berikut tunjangan anggota BPD/bulan di masing masing-masing desa :

Grafik 90 : Legitimid KSB __________________________________________________________________________178 _________________________________________________________________________

Jumlah dan Perbandingan Tunjangan untuk Anggota BPD/Bulan TUNJANGAN ANGGOTA BPD/BULAN

TAMEKAN BATU PUTIH KIANTAR LAMPOK MANTAR SENAYAN MURA MANEMENG KELANIR KALIMANTONG MUJAHIDIN BANGKAT MONTEH TEPAS RARAK RONGES SETELUK TENGAH POTO TANO BELO MALUK MANTUN SEKONGKANG A

270.000 250.000 300.000 250.000 350.000 300.000 300.000 325.000 325.000 350.000 300.000 350.000 300.000 580.000 380.000 400.000 350.000 350.000 450.000 350.000

Sumber : data diolah dari APBDesa T 2009 pada 20 desa T.A.

Bagaimanakah dengan tunjangan Sekretaris Desa? Tunjangan Sekretaris BPD tertinggi adalah (1) Desa Rarak Ronges sebesar Rp. 630,000, 630,000,-/bulan (2) Desa Mantung sebesar Rp.500,000, /bulan. (3). Desa Sekongkang Atas dan Poto Tano Rp.500,000,-/bulan. sebesar Rp. 450,000/bulan. (4). Desa Seteluk Tengah sebesar Rp. 430,000, (5). . 430,000,Desa Maluk sebesar Rp.425,000, (6). Desa Belo, Desa Tepas, Desa Senayan, Desa Rp.425,000,Mantar dan Desa Kiantar sebesar Rp. 400,000, /bulan (7). Desa Mujahidin, Desa 400,000,-/bulan Kelanir, Desa Mura Rp. 350,000/bulan. (8). Desa Manemeng sebesar 350,000/bulan. Rp.325,000,- (9). Desa Batu Putih, Desa Lampok, dan Desa Bangkat Monteh sebesar Rp.300,000, /bulan. (10). Desa Tamekan sebesar Rp. 270,000, Rp.300,000,-/bulan. 270,000,-/bulan dan merupkan desa terendah yang mengalokasikan tunjangan untuk sekretaris desa. Berikut tunjangan anggota BPD/bulan di masing masing desa : masing-masing

Grafik 91 : Jumlah dan Perbandingan Tunjangan untuk Anggota BPD/Bulan

Legitimid KSB __________________________________________________________________________179 _________________________________________________________________________

TUNJANGAN SEKRETARIS DESA

TAMEKAN BATU PUTIH KIANTAR LAMPOK MANTAR SENAYAN MURA MANEMENG KELANIR KALIMANTONG MUJAHIDIN BANGKAT MONTEH TEPAS RARAK RONGES SETELUK TENGAH POTO TANO BELO MALUK MANTUN SEKONGKANG A

270.000 300.000 400.000 300.000 400.000 400.000 350.000 325.000 350.000 400.000 350.000 300.000 400.000 630.000 430.000 450.000 400.000 425.000 500.000 450.000

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

4.5.3. Trend Perbandingan Anggaran untuk Tunjangan BPD Antar Desa Dari hasil studi sebanyak 3 desa memiliki jumlah BPD sebanyak 11 orang. Ketiga Desa tersebut adalah Desa Seteluk Tengah, Desa Tepas dan Desa Bangkat Monteh. Sebanyak 6 desa jumlah anggota BPD sebanyak 9 orang, yakni ;Desa Maluk, Desa Belo, Desa Poto Tano, Desa Senayan, Desa Kiantar, dan Desa Batu Putih. Sebanyak 7 Desa memiliki jumlah anggota BPD sebanyak 7 orang. Ketujuh Desa tersebut adalah Desa Kalimantong, Desa Kelanir, Desa Mantar, Desa Tamekan, Desa Manemeng, Desa Mantun dan Desa Sekongkang Atas. Seb Sebanyak 4 desa dengan jumlah anggota BPD sebanyak 5 orang, yakni Desa Rarak Ronges, Desa Mujahidin, Desa Mura dan Desa Lampok.Berikut table jumlah dan tunjangan BPD di masing masing-masing desa ;

Tabel 20: Tunjangan BPD dalam APBDesa pada 20 Desa di KSB


NO NAMA DESA Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota Jumlah Anggota Total Tunjangan

Legitimid KSB __________________________________________________________________________180 _________________________________________________________________________

dalam APBDesa

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Maluk Belo Poto Tano Senayan Kiantar Batu Putih Seteluk Tengah Tepas Bangkat Monteh Rarak Ronges Mujahidin Mura Lampok Kalimantong Kelanir Mantar Tamekan Manemeng Sekongkang Atas Mantun

475,000 500,000 550,000 550,000 550,000 400,000 530,000 500,000 450,000 730,000 400,000 500,000 400,000 500,000 400,000 500,000 370,000 400,000 600,000 600,000

450,000 450,000 500,000 450,000 400,00 0 350,000 480,00 0 450,000 400,00 0 680,00 0 375,000 400,00 0 350,000 450,000 375,000 450,000 320,000 350,000 550,000 550,000

425,000 400,000 450,000 400,000 400,000 300,000 430,000 400,000 300,000 630,000 350,000 350,000 300,000 400,000 350,000 400,000 270,000 325,000 450,000 450,000

350,000 350,000 400,00 0 300,00 0 300,00 0 250,000 380,000 300,00 0 350,000 580,000 300,00 0 300,00 0 250,000 350,000 325,000 350,000 270,000 325,000 350,000 450,000

9 9 9 9 9 9 11 11 11 5 5 5 5 7 7 7 7 7 7 7

41,400,000 41,400,000 46,800,000 42,000,000 37,800,000 30,600,000 53,760,000 45,000,000 48,600,000 38,400,000 20,700,000 22,200,000 18,600,000 33,000,000 29,100,000 33,000,000 24,480,000 23,700,000 36,000,000 41,400,000

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Dari 20 desa, jumlah tunjangan untuk BPD tertinggi dalam satu tahun adalah ; (1) Desa Seteluk Atas yang mengalokasikan anggaran untuk tunjangan BPD yakni sebesar Rp.53,760,000,-/tahun untuk 11 orang/anggota. (2) Desa Bangkat Monteh sebesar Rp.48,600,000,-/tahun untuk 11 orang angggota BPD. (3) Desa Poto Tano sebesar Rp.46,800,000,- untuk 9 orang anggota BPD. Jumlah alokasi tunjangan BPD Desa Poto Tano tersebut cukup menarik karena jika melihat perbandingan dengan tunjangan BPD untuk Desa Tepas yang berjumlah 11 orang, alokasi untuk tunjangan BPD hanya sebesar Rp.45,000,000,-/tahun. Berikut ini adalah grafik tunjangan BPD perdesa :

Legitimid KSB __________________________________________________________________________181

Grafik 92 : Perbandingan Jumlah ADD antar desa/Tahun


JUMLAH TUNJANGAN BPD PERDESA/TAHUN

53.760.000 41.400.000 41.400.000 46.800.000 42.000.000 37.800.000 30.600.000 48.600.000 45.000.000 41.400.000 38.400.000 33.000.000 33.000.000 29.100.000 22.200.000 20.700.000 18.600.000 24.480.000 23.700.000 36.000.000

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Hal yang sama juga terjadi pada kasus Desa Kalimantong, jumlah BPD di Desa Kalimantong sebanyak 7 orang. Sementara jumlah tunjangan BPD di desa ini mencapai Rp.33,000,000, Rp.33,000,000,-/tahun. Jumlah tunjangan tersebut ternyata lebih tinggi angan dari Desa Batu Putih yang memiliki jumlah BPD sebanyak 9 orang, Desa Batu Putih hanya mengalokasikan tunjangan untuk BPD sebesar Rp.30,600,000, Rp.30,600,000,/tahun. Kondisi yang cukup memperhatinkan adalah Desa Rarak Ronges. Jumlah BPD di Desa Rarak Ronges hanya 5 orang. Akan tetapi jumlah tunjangan untuk BPD desa ini mencapai Rp.38,400,000, /tahun atau melampaui jumlah BPD desa Rp.38,400,000,-/tahun lainnya yang berjumlah 7 orang bahkan 9 orang. Bila dilihat dari jumah nominal per orang per desa untuk tu tunjangan BPD (1 orang Ketua, 1 Wakil Ketua, 1 Sekretaris dan 1 Anggata), maka terlihat bahwa Desa Rarak Ronges adalah Desa tertinggi yang memberikan jumlah Tunjangan untuk BPD/orang. Jika dirata ratakan tiap bulannya untuk 1 orang Ketua, Wakil Ketua, dirata-ratakan Sekretaris etaris dan Anggota, maka rata-rata rata rata pengeluaran adalah sebesar Rp.2,620,000,-/bulan diikuti oleh Desa Mantun mencapai Rp.2,100,000/bulan /bulan dan terendah adalah Desa Tamekan sebesar Rp. 1,230,000/bulan. Berikut garfik perbaidngan jumlah belanja rata rata-rata untuk 4 personil BPD :

Grafik 93 :

Legitimid KSB __________________________________________________________________________182 _________________________________________________________________________

Alokasi Tertinggi untuk tunjangan BPD pada APBDesa pada 20 desa

NOMINAL PERDESA /BULAN


2.620.000 2.100.000 1.950.000 1.900.000 1.700.000 1.700.000 1.700.000 1.700.000 1.820.000 1.650.000 1.650.000 1.550.000 1.700.000 1.500.000 1.450.000 1.300.000 1.425.000 1.300.000 1.400.000 1.230.000

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Selain mendapatkan Tunjangan dari Belanja Tidak Langsung, sebagain besar desa ternyata juha mengalokasikan anggaran belanja untuk BPD berupa Penghasilan Tidak Tetap sebagai Tenaga Teknis Kewilayahan. Beberapa Desa yang mengalokasikan belanja tersebut diantaranya adalah Desa Tepas, Desa Mujahidin, Desa kelanir, Desa Maluk, Desa Potani, Bangkat Monteh, Desa Mantar, Desa Mura, Monteh, Desa Manemeng dan Desa Tamekan. Adapun Besarnya jumlah Penghasilan Tidak Tetap di masing-masing desa cukup bervariasi antara Rp.100,000,/bulan hingga masing Rp.350,000,-/bulan. /bulan. Berikut talel pendapatan Penghasilan Tidak Tetap BPD/bulan dalam APBDesa Tahun 2009: an
Tabel 21: Perbandingan Tunjangan Tidak tetap BPD/Bulan diluar tunjangan penghasilan tetap

No
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Nama Desa
Tepas Mujahidin Rarak Ronges Kelanir Maluk Poto Tano Bangkat Monteh Mantar Senayan Mura Manemeng Lampok Kiantar Batu Putih Tamekan

Jumlah (Rp)/bulan
300.000,250.000,1.055.000,250.000,225.000,200.000,250.000,100.000,250.000,350.000,250.000,250.000,250.000,350.000,220.000,-

Keterangan
Termasuk anggota BPD Termasuk anggota BPD Tidak termasuk anggota Termasuk anggota BPD Termasuk BPD Termasuk BPD Termasuk BPD Termasuk BPD Tidak termasuk anggota Termasuk bpd Termasuk bpd Tidak termasuk snggota Termasuk anggota BPD

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Legitimid KSB __________________________________________________________________________183 _________________________________________________________________________

Artinya sesungguhnya jumlah tunjangan yang diterima BPD cukup tinggi jika diakumulasikan tunjangan BPD dalam belanja langsung maupun dalam belanja tidak langsung. Dan yang menjadi persoalan sekarang adalah apakah meningkatnya jumlah tunjangan BPD diikuti p pula dengan peningkatan kinerja BPD dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai lembaga Permusyawaratan di tingkat desa? Dari hasil pemantauan sela ma ini kinerja BPD dalam menjalankan tugas dan fungsinya masih sangat rendah. Di Bidang legislasi, sejauh ini secara umum belum ada satupun produk legislasi desa berupa Peraturan Desa yang dilahirkan dari hak inisiatif BPD, bahkan banyak BPD yang belum memahami tatacara pembentuan peraturan desa. Di Bidang Pengawasan, fungsi pengawasan BPD belum berjalan maksimal karena sebagain besar BPD maksimal tidak memahami mengenai fungsi pengawasan, apa saja dan bagaimanakah pengawan tersebut dilakukan. Karena memang secara umum BPD tidak menjalankan tugas dan fungsinya day to days bahkan banyak yang beranggapan bahwa tugas BPD adalah pekerjaan sampingan. Oleh karena itu tidaklah mengherankan, jika secara umum agenda kerja BPD di masing-masing desa tidak terencana bahkan banyak desa yang tidak memiliki jadwal kerja atau agenda kerja. Di Bidang Penyerapan Aspirasi. Penyerapan aspirasi masyarakat minim sekali di aspirasi lakukan oleh para anggota BPD di masing masing desa. Bahkan nyaris tidak ada masing-masing sama sekali. Dari hasil wawancara pada sejumlah masyarakat mengeluhkan keberadaan dan peran BPD dalam penyerapan aspirasi, karena banyak BPD yang tidak berada di tempat dan disisilain tidak ada mekanisme penyerapan aspirasi di desa yang berkembang dan dijalankan oleh BPD sehingga selama ini aspirasi masyarakat lebih banyak tersalurkan langsung kepada Pemerintah Desa (kepala Desa) atau Ketua RT di m masing-masing lingkungan. Keberadaan Asosiasi BPD dan Peran Asosiasi BPD dalam konteks pemberdayaan masyarakat pun saat ini mulai dipertanyakan masyarakat, apalagi Asosiasi BPD selama ini memperoleh bantuan keuangan dari masing masing-masing desa setiap tahunnya22.

Dalam APBDesa sejumlah desa mengalokasikan anggaran bantuan untu Asosiasi BPD untuk Desa dan FK2D. Jumlah bantuan untuk Asosiasi BPD besarnya beragam, Desa Lampok misalnya, mengalokasikan anggaran bantuan sebesar Rp. 1,000,000/tahun, Desa Manemeng Rp.400.000/tahun.
Legitimid KSB __________________________________________________________________________184 _________________________________________________________________________

22

4.5.4. Belanja Bantuan Sosial di Desa Berdasarkan hasil studi ternyata belanja langsung bantuan sosial dalam APBDesa merupakan belanja yang dirasakan memiliki manfaat dan dampak langsung bagi masyarakat karena sebagian besar pemanfaatan dari belanja ini diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan kolektif masyarakat desa. Secara umum ada tiga jenis peruntukkan untuk belanja sosial ; Pertama, belanja bantuan sosial organisasi keagamaan dan kegiatan keagamaan, seperti ; sumbangan untuk pembangunan mesjid, sumbangan untuk Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), bantuan untuk pendidikan TPQ, MTQ di tingkat desa, pembinaan keagamaan dan kegiatan keagamaan lainnya. Kedua, belanja sosial diperuntukkan untuk organisasi sosial kemasyaratan, seperti; dukungan untuk menyelenggarakan kegiatan peringatan hari besar nasional, musyawarah, operasional LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat), bantuan untuk organisasi PKK, kegiatan PAUD, bantuan untuk warga miskin, dan kegiatan sosial lainnya. Ketiga, belanja sosial diperuntukkan untuk organisasi dan kegiatan pemberdayaan perempuan, kepemudaan dan kegiatan lainnya seperti ; bantuan untuk sarana dan prasarana olahraga, kegiatan karang taruna, kegiatan PKK dan lainnya. Berdasarkan temuan dilapangan ternyata; pertama, belanja bantuan sosial adalah belanja yang peruntukkan dan pemanfataannya dimaksudkan untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial, dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Belanja bantuan sosial inipula biasanya menjadi belanja di tingkat desa yang relatif sangat terbuka atau transparan dan tersedia akses informasi bagi masyarakat. Bahkan, sejumlah pemerintah desa misalnya, melakukan pengumuman melalui mesjid, musyawarah desa, papan pengumuman dan lainnya terkait dengan ketersediaan dan peruntukkan belanja sosial kepada masyarakat luas. Berdasarkan hal tersebut maka untuk melihat seberapa besar dana APBDesa diperuntukkan untuk masyarakat dapat dilihat dari seberapa besar belanja bantuan sosial yang ada di desa. Berdasarkan hasil penelitian alokasi belanja sosial dalam APBDesa relatif masih sangat minim, rata-rata masih berada pada kisaran angka 0,50 % dari total belanja desa. Misalnya saja dalam kasus Desa

Belanja Bantuan Sosia ternyatal dirasakan paling bermanfaat bagi masyarakat, dan peruntukkannya langsung menyentuh masyarakat. Dari aspek pengelolaan belanja bantuan sosial adalah yang paling transparans bila dibandingkan dengan belanja lainnya dalam APBDesa

Legitimid KSB __________________________________________________________________________185

Poto Tano, jumlah Belanja Desa Poto Tano sebesar Rp. 405,007,354, namun belanja sosial dalam APBDesa tahun 2009, hanya sebesar Rp.1 jut Berikut grafik juta. perbandingan belanja sosial antar desa :
Grafik 94 : Perbandingan Belanja Bantuan Sosial Antar Desa BELANJA BANTUAN SOSIAL
33.900.000 28.780.000 19.000.000 10.500.000 4.500.000 1.000.000 6.000.000 7.300.000 35.191.097 31.821.086 29.850.000 28.900.000 22.000.000 17.500.000

22.000.000 18.900.000 17.500.000 16.650.000 14.500.000 14.200.000

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Dari grafik sebagaimana di atas terlihat bahwa desa desa yang memiliki desa-desa kapasitas APBDesa yang besar bukanlah menjadi jaminan bahwa kebijakan alokasi sitas belanja bantuan sosial akan semakin meningkat. Hal ini tercermin dari rendahnya alokasi belanja sosial di beberapa desa yang memiliki kapasitas APBDesa dalam jumlah yang cukup besar, misalnya Desa Sekongkang, Desa Belo, Desa tepas, Desa Seteluk Tengah, Desa Mantun dan sejumlah desa lainnya, justeru di desa tersebut kecendrungan belanja sosial meningkat. Namun sebagian besar kebijakan desa tidak memiliki keberpihakan kepada masyarakat. Dari hasil studi hanya Desa Rarak Ronges, Kecamatan Brang Ene yang kebijakan untuk alokasi belanja sosial tergolong tinggi sebesar Rp.35.191.097,- dan terendah atau terbutuk adalah Desa Poto Tano yang hanya mengalokasikan belanja social sebesar Rp.1.000.000, . Beberapa Desa yang Rp.1.000.000,-. jumlah APBDesa tinggi seperti Desa Sekongkang Atas ternyata hanya mengalokasikan belanja bantuan sosial sebesar Rp.22.000.000,-. Berikut ini grafik persentase belanja sosial terhadap jumlah belanja desa :
Grafik 95 : Persentase Belanja Bantuan Sosial terhadah belanja desa

rendah. Padahal disisilain alokasi jumlah ADD

meningkat, seyogyanya dengan peningkatan jumlah ADD belanja sosial pun jumlah

Legitimid KSB __________________________________________________________________________186 _________________________________________________________________________

PROSENTASE BELANJA SOSIAL/BELANJA DESA


13,52 14,00 12,00 10,00 8,00 6,00 4,00 2,00 9,85 6,43 3,19 0,25 1,32 4,29 1,70 6,23 6,51 7,44 5,70 3,53 1,77 7,39 9,41 6,92 7,59 5,53 5,16

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Dari grafik di atas, posentase belanja social terhadap belanja desa dari seluruh desa tidak ada satupun yang mencapai 20% dari jumlah belanja desa dan sejauh ini belum ada kebijakan khusus dari kabupaten maupun desa itu sendiri untuk mengatur bagaimana mengalokasikan dana belanja sosial. mengalokasikan 4.5.5. Belanja Modal Belanja modal terbesar dalam APBDesa dialokasikan oleh desa Sekongkang Atas mencapai lebih dari Rp.135 juta. Besarnya jumlah alokasi belanja modal desa sekongkang atas dapat dimafhumi karena pendapatan desa Sekongkang Atas lebih besar dari desa lainnya. Namun, ternyata tidak semua pendapatan desa yang besar berarti akan besar pula belanja modal di desa tersebut. Justeru, banyak Desa yang pendapatannya besar dan jumlahnya tidak jauh berbeda dengan Desa Sekongkang Atas, seperti Desa Tepas, Desa Belo, Desa Seteluk Tengah, dan beberapa desa lainnya, ternyata Belanja Modal dalam APB Desa sangatlah minim. Desa Tepas misalnya, Pendapatan Desa mencapai Rp.400 juta lebih ternyata dalam hal pengalokasian belanja modal, desa ini adalah paling rendah bila dibandingkan dengan desa-desa lainnya, yakni hanya Rp.26 juta. Bengitupun dengan Desa desa Seteluk Tengah, Desa Batu Putih, Desa Belo dan beberapa desa lainnya. Yang cukup menarik dan dapat dijadikan sebagai bahan pemb pembelajaran atau percontohan adalah Desa Kalimantong. Desa Kalimantong jika dilihat dari sisi pendapatannya dibandingkan dengan Desa Tepas, Desa Belo, Desa Seteluk Tengah dan beberapa desa lainnya lebih kecil, namun Desa Kalimantong telah mengalokasikan sebagian besar belanja desa untuk belanja modal yakni sebesar sebagian Rp.122,760,358 atau terbesar kedua setelah Desa Sekongkang Atas. Berikut ini perbandingan belanja modal tiap desa :

Legitimid KSB __________________________________________________________________________187 _________________________________________________________________________

Grafik 96 : Perbandingan Belanja Modal Desa BELANJA MODAL


135.628.181 122.760.358 117.242.557 95.292.801 120.000.000 90.300.000 82.380.450 86.317.000 100.000.000 82.275.000 81.163.312 58.960.168 71.730.000 66.866.651 80.000.000 53.789.249 41.813.708 60.000.000 37.048.429 36.009.512 26.750.633 27.694.975 40.000.000 19.856.112 20.000.000 140.000.000

Sumber : data diolah dari APBDesa T.A. 2009 pada 20 desa

Secara umum peruntukkan belanja modal ini tidak banyak yang diarahkan untuk pembangunan infrastuktur desa seperti, perbaikan jalan, saluran, dan sebagainya, melainkan lebih banyak dialokasikan untuk perlengkapan sarana dan untuk prasarana kantor seperti pembangunan dan pemelhiraan gedung, pengadaan meubelir, pengadaan alat alat studio, pengadaan , alat-alat televise, computer, printer, bahkan desa mura mengalokasikan untuk pembelian parabola dan AC. Dari hasil kajian, ditemukan ada dua pola yang berkembang. Pertama, kajian, adalah alokasi belanja modal untuk untuk kepentingan masyarakat yang lebih besar daripada kepentingan aparatur. Kedua, adalah belanja modal yang lebih besar peruntukkannya bagi aparatur. Beberapa desa yang termasuk dalam pola pertama adalah ; (a). Desa Mura yang Belanja Modal di desa ini mencapai Rp.36,009,512, dari jumlah tersebut belanja Rp.36,009,512,modal untuk masyarakat berupa Pengadaan Konstruksi Jaringan Air Bersih sebesar Rp.21.797.415. (b). Desa Kalimantong, jumlah belanja modal di desa ini jumlah mencapai Rp.122,760,358 dari jumlah tersebut ada 3 jenis belanja modal yang diperuntukkan untuk masyarakat, yakni belanja Pembangunan Balai Pertemuan Rp. 86, 683,011,683,011, Belanja Pembangunan Tembok Panggung Mataiyang Rp.5.000.000,- dan Pembuatan Gapura Rp.1.000.000, dan belanja konstruksi Rp.1.000.000,jaringan air sebesar Rp. 24,793,708, 24,793,708,Kedua, beberapa desa yang termasuk pola kedua, jumlah belanja modal untuk belanja perlengkapan sarana dan prasarana kantor desa lebih besar daripada belanja modal untuk public langsung adalah lanja diantaranya (a). Desa Lampok, dari jumlah Belanja Modal sebesar Rp.82.380.450, ternyata hanya ada satu program yang dituju dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, yakni
Legitimid KSB __________________________________________________________________________188 _________________________________________________________________________

peningkatan jalan sebesar Rp.2.500.000,. (b). Desa Batu Putih, Belanja Modal di Desa Batu Putih sebesar Rp.27.694.975. dari jumlah tersebut, ternyata hanya sebesar Rp.4.500.000,- yang diperuntukkan untuk public yakni berupa pengadaan tanah kuburan. (c) Desa Kiantar, hanya mengalokasikan belanja modal untuk public berupa Pembuatan atap panggung, Rp. 7.300.000 sisanya adalah untuk belanja modal aparatur. Belanja modal yang dialokasikan untuk public sangat beragam, beberapa kasus dibawah ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi desa untuk mengalokasikan belanja sosial yang lebih baik, misalnya kasus di Desa Maluk belanja modal yang diorinteasikan dan diterima langsung masyarakat adalah berupa belanja pemagaran pasar desa Rp.5.000.000, pembangunan pos ronda dan lampu penerangan pos ronda Rp.3.600.000,-, pembebasan tanah poskesdes Rp.7,000,000,-, Kontruksi Jaringan irigasi Rp.20.000,000,-, pembuatan poskamling dan pintu gerbang (gapura) Rp.26.000.000,- di Desa Belo, di Desa Mantun belanja modal public diperuntukkan dalam bentuk Pengurukan jalan di BTN Rp.5,000,000,-, pembuatan gorong-gorong jalan lingkar dan renovasi saluran jalan Rp.10,322,557,pengadaan lampu jalan Rp.15.000,000,-, pembangunan MCK Rp.17,000,000,-. Sedangkan di Poto Tano dalam bentuk Pengadaan Meja dan Kursi Paud Rp.3,360.000,-, pembuatan saluran lingkungan Rp.4,395,000,- pembangunan deker dusun Rp.3,588,000,- di Desa Rarak Ronges belanja modal yang dibelanjakan adalah dalam bentuk Pembangunan tembok depan mesjid dusun rarak Rp.13,000,000,- Dusun Ronges Rp.15.000.000,- dan Pembangunan Deker Rp.8.000.000,Belanja modal di atas adalah belanja modal yang ditetapkan di beberapa desa yang dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran penting bagi desa-desa lainnya. Namun, sayangnya belanja modal yang terkait langsung dengan kebutuhan publik ini masih sangat minim atau rendah. Bahkan, justeru ada kecendrungan pemerintah desa dan BPD dalam mengalokasikan belanja modal lebih banyak diorientasikan atau diperuntukkan dan penerima manfaat langsung adalah Pemerintahan Desa. 4.5.6. Trend Prediksi Belanja Warga Miskin Apabila belanja modal diasumsikan sebagai belanja langsung yang diperuntukkan untuk pembangunan desa atau bagi warga miskin, maka terlihat bahwa alokasi anggaran untuk belanja warga miskin sangatlah kecil. Hanya dua desa, yakni Desa Sekongkang Atas dan Desa Mujahidin yang mencapai Rp. 1 juta lebih per keluarga miskin dalam satu tahun. Diikuti Desa lampok dan Desa Maluk
Legitimid KSB __________________________________________________________________________189

Rp.900 ribu, sedangkan desa-desa lainnya rata-rata dibawah Rp.500 per KK/tahun.
Tabel 22 : Analisis keberpihak anggaran desa untuk warga miskin
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Nama Desa Belo Maluk Mantun Rarak Ronges Sekongkang Atas Batu Putih Tamekan Kelanir Seteluk Tengah Senayan Mantar Kiantar Poto tano Bangkat Monteh Tepas Manemeng Mura Lampok Mujahiddin Kalimantong jumlah KK Miskin 213 86 134 0 98 129 98 158 108 217 196 266 239 214 220 67 261 86 66 215 Belanja Modal 71,730,000 82,275,000 117,242,557 19,856,112 135,628,181 27,694,975 37,048,429 90,300,000 41,813,708 81,163,312 95,292,801 66,866,651 53,789,249 26,750,633 58,960,168 36,009,512 82,380,450 86,317,000 122,760,358 Per KK Miskin 1 tahun 336,761 956,686 874,944 #DIV/0! 1,383,961 214,690 378,045 571,519 387,164 374,024 486,188 251,378 251,352 121,594 880,003 137,967 957,912 1,307,833 570,978 20,945.97 10,132.82 73,333.54 11,497.29 79,826.02 108,986.11 47,581.53 Per KK Miskin/Bulan 28,063.38 79,723.84 72,912.04 #DIV/0! 115,330.09 17,890.81 31,503.77 47,626.58 32,263.66 31,168.71 40,515.65 20,948.20 -

Sumber : data diolah dari berbagai sumber

Dari data di atas terlihat pula bahwa desa Tepas yang memiliki pendapatan desa besar ternyata merupakan desa yang paling kecil mengalokasikan APBDesa (belanja modal) bagi warga, yakni hanya sebesar Rp.121,594 per KK/tahun. Berdasarkan data di atas pula maka akan sangat sulit kiranya percepatan pengentasan kemiskinan pedesaan dapat direalisasikan karena minimnya keberpihakan anggaran terhadap warga miskin. Berikut grafik belanja miskin per KK per tahun pada tiap desa :
Grafik 97 : Perbandingan Belanja KK Miskin Dalam APBDesa tahun 2009 pada 20 Desa

Legitimid KSB __________________________________________________________________________190

BELANJA KK MISKIN PERDESA /TAHUN 1.383.961 1.307.833 957.912 570.978 251.352 121.594 Kelanir Seteluk Tengah Poto tano Tepas Sekongkang Atas Bangkat Monteh Kalimantong 20 Senayan Mantar Kiantar Mura Batu Putih Tamekan Lampok 18 Manemeng Mujahiddin 19

956.686 874.944 571.519 486.188 387.164 374.024 251.378

880.003

336.761 Maluk Belo Rarak Ronges Mantun

378.045 214.690

137.967

10

11

12

13

14

15

16

17

Sumber : data diolah dari berbagai sumber

Begitupun halnya jika belanja bagi warga miskin di hitung dari jumlah belanja bantuan sosial. Maka, alokasi belanja bagi warga miskin akan semakin berkurang.

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1. Kesimpulan Dari hasil uraian sebagaimana yang telah dijabarkan pada bagian sebelumnya maka dapat disimpukan : 1. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2009 Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa merupakan payung hukum pelaksanaan ADD di Kabupaten Sumbawa Barat, namun substansi dari Perda tersebut belum secara komprehensif, mengatur tentang ADD sehingga memiliki kelemahan Disisilain, regulasi yang Disisilain,
Legitimid KSB __________________________________________________________________________191 _________________________________________________________________________

diharapkan mendukung

dan sinergis dengan Perda tersebut

justeru

menimbulkan persoalan baru, sepert Perda Nomor 3 Tahun 2009 Tentang Kedudukan Keuangan Kepala Desa dan Perangkat Desa. Pelaksanaan Perbup, seperti Perbup Nomor 127 Tahun 2009 maupun Perbup Nomor 225 Tahun 2010 Tentang Penetapan Besarnya Alokasi Dana Desa tidak berjalan efektik, hal ini tercermin dari masih banyaknya desa yang mengalokasikan ADD untuk ADDM melebihi proporsi yang ditentukan, Pemdes tidak menyusun RPJMDesa dan RKP Desa, prinsip-prinsip pengelolaan ADD yang tidak ditaati dan sebagainya. Persoalan lainnya adalah masih banyaknya peraturan daerah yang belum diterbitkan oleh daerah, seperti Perda tentang Pembagian/Penyerahan kewenangan/urusan antara Kabupaten dengan Desa. Padahal sesuai dengan prinsip dan asas dalam penyelenggaran otonomi adalah money follow function. 2. Munculnya sikap pro kontra dikalangan masyarakat atas kebijakan Dana Abadi Desa ternyata dipicu karena minimnya sosialiasi atas ide, gagasan serta tujuantujuan yang hendak dicapai dari DAD serta ketidakjelasan regulasi mengenai pengaturan DAD, kelembagaan maupun mekanisme tatakelola DAD. Kebijakan DAD sesungguhnya merupakan kreasi sekaligus inovasi daerah untuk mendorong lahirnya kemandirian keuangan dan ekonomi desa. Akan tetapi kebijakan ini tidak cukup didukung dengan kesiapan SDM Desa, petunuk teknis dan petunjuk pelaksana, sarana dan prasarana, mekanisme KJKS Paleba. Secara yuridis, adanya DAD tidaklah serta pertanggungjawaban, disamping persoalan keterwakilan dalam kepenguran di mempengaruhi berkurangnya dana ADD. Karena, DAD tidak masuk kedalam formulasi ADD. Hal ini terlihat dari perhitungan dan jumlah yang dihasilkan dalam perhitungan ADD yang menggunakan landasan PP 72 Tahun 2005 Tentang Desa maupun SE Mendagri/Nomor 140/640/SJ tanggal 22 Maret 2005. Karena pendekatan yang digunakan oleh Pemda adalah pada persentase 6-8% dari dana perimbangan setelah dikurangi belanja pegawai.
3. Secara umum trend kebijakan daerah untuk bantuan keuangan desa,

khususnya pemberian ADD selama kurun waktu lima tahun cenderung mengalami peningkatan. Namun, mulai Tahun 2009 formulasi dan distribusi ADD untuk ADDM mencapai 60% dan ADD untuk ADDP 40% kurang tepat, karena ADD pada akhirnya tidak mampu menggerakkan proses percepatan pembangunan desa dan cenderung hanya memenuhi belanja pegawai desa. Dalam praktek, ADDM bahkan melampaui persentase yang telah ditetapkan. Dari sisi keberpihakan anggaran pro-poor kebijakan peruntukkan ADD tahun
Legitimid KSB __________________________________________________________________________192

2006 s.d. 2008 lebih baik daripada masa sekarang, karena sebelumnya porsi ADD untuk ADDP 70%. Sayangnya kebijakan ini tidak didukung dengan petunjuk teknis mengenai pengalokasikan 70% tersebut di tingkat desa. Dengan Proporsi yang ada saat ini, ADD untuk ADDM adalah 60% dan ADD untuk ADDP 40% menimbulkan dorongan bagi desa untuk melakukan penambahan jumlah perangkat desanya maupun proses pemekaran dusun, RT dan sebagainya. Disisilain, Pemekaran desa telah mengurangi alokasi jumlah ADD bagi desa induk dan desa-desa lainnya sehingga mendorong sikap skeptis dari desa induk maupun desa lainnya terhadap kebijakan pemekaran desa. 4. Dihapuskannya variabel kemiskinan dalam formulasi penetapan ADD untuk ADDP serta meningkatnya nilai kooefisien variabel jumlah penduduk menyebabkan desa-desa terpencil, seperti ; Desa Talonang mengalami penurunan penerimaan ADD yang signifikan. Kondisi ini juga dialami oleh Desa rarak ronges, dan desa-desa yang baru definitif. Sehingga melahirkan gap atau kesenjangan. Kondisi ini dimasa datang berpotensi melahirkan kecemburuan sosial antar desa bahkan konflik yang bukan hanya berlangsung pada tingkar relasi desa-kabupaten, desa-desa, melainkan pula antar warga desa. Karena beranggapan ada desa yang diuntungkan dan dirugikan. Proses penetapan varibel dan koofeisien yang dirumuskan dalam perhitungan ADD tersebut seyogyanya dikaji secara mendalam oleh Tim yang dibentuk saat itu serta dalam prosesnya harus dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan pula desa, DPRD serta para stakeholders yang berkepentingan atas ADD sebagaimana yang disarankan dalam SE Mendagri Nomor 140/640/SJ tanggal 22 Maret 2005. 5. Keberadaan ADD bagi desa dirasakan cukup membantu pemerintahan desa, pengaruh ADD sangat signifikan terhadap kemampuan atau kapasitas fiskal desa. Hampir 90 persen Pendapatan Desa adalah bersumber dari ADD. Kebijakan ADD untuk desa terus meningkat. Dilihat dari proposi penerima ADD berbasikan wilayah kecamatan sejak tahun 2006 s.d. 2010, maka penerima ADD tertinggi adalah 17%. (1) (2) Kecamatan Kecamatan Taliwang Seteluk sebesar sebesar Rp.9,034,822,134,-atau sekitar

Rp.8,563,518,201,- atau sekitar 17%. (3). Kecamatan Sekongkang sebesar Rp.8,259,127,824,- atau sekitar 16%. (4). Kecamatan Brang Rea sebesar Rp. 6,194,677,306,- atau sekitar 12%. (5). Kecamatan Poto Tano sebesar Rp.6,137,970,494 atau sekitar 12%. (6). Kecamatan Jereweh sebesar Rp.4,833,259,893,- (7). Kecamatan Maluk sebesar Rp. 4,762,497,151,- atau sekitar 9% dan (8) Kecamatan Brang Ene sebesar Rp. 4,095,657,422,- atau
Legitimid KSB __________________________________________________________________________193

sekitar 8%. Tingginya ADD, belum dapat merubah keadaan desa, khususnya warga miskin, karena proporsi anggaran dari ADD bagi warga miskin maupun pembangunan desa sangatlah rendah. Saat ini ketergantungan desa terhadap ADD begitu tinggi, karena pendapatan desa dari hasil usaha desa sangatlah rendah, jenis usaha yang dikembangkan tidak produktif (sewa) kursi. Namun demikian, beberapa desa telah melakukan inisiasi untuk kreatif dalam mencari sumber-sumber pendapatan desa dengan membentuk BUMDES dan mengembangkan berbagai jenis usaha desa yang potensial, desa-desa tersebut umumnya adalah desa yang berada di wilayah lingkar tambang, seperti ; Desa Belo, Desa Mantun, Desa maluk, Desa Sekongkang Atas. Pendapatan desa dari hasil usaha desa tergolong tinggi di desa tersebut. Praktek bad practices juga ditemukan, seperti Desa rarak Ronges merupakan Desa terpencil dengan ADD yang rendah dan kemampuan APBDesa yang minim ternyata justeru mengalokasikan belanja tunjangan untuk BPD tertinggi dari desa-desa lainnya. 6. Faktor-faktor pendorong yang diharapkan dapat membantu pengembangan ADD dimasa mendatang adalah diantaranya menyangkut supervisi/tehnical asistensi yang lebih baik dari pemda KSB, adanya petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis yang lebih rinci, adanya penguatan kapasitas kelembagaan desa dalam pengelolaan ADD, adanya proses sosialiasi dan distribusi akses informasi atas kebijakan yang akan, sedang dan telah berlangsung di KSB terkait dengan ADD, adanya sistem pengelolaan ADD yang lebih partisipatif, transparan dan akuntabel serta pro-poor, adanya sistem pengawasan yang ketat atas penggunaan ADD serta partisipasi warga yang kuat serta kejelasan atas keberhasilan (reward)dan kegagalan (punishment) dari pengola ADD di tingkat desa. Faktor penghambat yang selama ini ditemukan begitu beragam dan banyak, mulai dari proses perencanaan penggunaan ADD yang tidak terarah dan terukur serta prosesnya tidak partisipatif dan transparans, ketiadaan wadah dan mekanisme khusus pengelolaan ADD (perencanaan, pelaksanaan dan pertanggungjawaban), lemahnya politicall will pemerintah desa serta lemahnya kapasitas dalam mengelola ADD secara baik, hingga persoalan rendahnya kepedulian warga atas pengelolaan ADD di desa. Faktor kultural, seperti peraan no nyaman rasa dalam melakukan pengawasn atas ADD juga berkonstribusi terhadap kelangengan praktek tatakelola ADD yang buruk di tingkat desa, disamping masalah-msalan struktural, seperti regulasi, peran Pemda dan DPRD. 7. Persoalan kebijakan ADD dimasa mendatang akan menghadapi tantangan berupa meningkatnya tekanan dari pemerintahan desa agar ADD terus
Legitimid KSB __________________________________________________________________________194

meningkat, tekanan ini seiring dengan kecendrungan ADD yang menurun dalam dua tahun terakhir, disisilain kebutuhan desa semakin meningkat. Dengan tingkat ketergantungan desa yang tinggi saat ini, maka sasaran pemerintah desa untuk merubah kebijakan ADD akan terfokus pada eksekutif. Padahal, pada tingkat eksekutif dihadapkan pula dengan tantangan, diiantaranya adalah peningkatan jumllah pegawai (belanja pegawai), pemenuhan infrastukur pembangunan, dan sebagainya. Reformulasi ADD perlu dilakukan untuk mengantisipasi masalah dan potensi masalah yang dihadapi di masa mendatang. 5.2. Rekomendasi-Rekomendasi Dari uraian di atas, LEGITIMID KSB merekomendasikan agar Pemda untuk ; 1. Perlu melakukan penataan Pembagian Urusan Kabupaten dan Desa Hal ini didasari para pemikiran bahwa konsepsi ideal dari otonomi desa, termasuk penyerahan/pemberian keuangan kabupaten ke desa adalah terkait dengan penyelenggaraan kewenangan atau urusan ke desa, maka sebelum Pemerintah Daerah memberikan Alokasi Dana Desa seyogyanya yang terlebih dahulu dilakukan oleh Pemerintah Daerah adalah melakukan pemetaan dan mendistribusikan (penyerahan) kewenangan yang merupakan bagian dari regulasi daerah kewenangan/urusan desa dengan menetapkannya dalam

(Peraturan Daerah/Peraturan Bupati), khusus mengatur mengenai rincian kewenangan yang diserahkan dan mampu untuk dijalankan oleh pemerintahan desa sehingga ADD diperuntukkannya untuk mendukung pelaksanaan urusan atau kewenangan yang dimiliki oleh pemerintahan desa. Hingga sekarang ini, belum ada pembagian urusan atau kewenangan antara kabupaten dengan desa, baik berupa pendelegasian (delegation) atau desentralisasi, dekosentrasi, maupun tugas pembantuan (medebewind) atau urusan lainnya. Karena itu dari hasil penelitian terbukti dan ternyata ketiadaan penataan urusan ini telah memberikan dampak pada ; (1) ketidakjelasan terhadap arah penyelenggaraan otonomi desa (urusan pemerintahan desa) yang pada akhirnya pula berdampak pada arah dan tujuan pemanfaatan ADD di desa, praktek-praktek yang muncul adalah terjadinya inefektifitas dan inefisiensi APBDesa. Bahkan, terjadi kekosongan dan atau tumpang tindih urusan maupun pembiayaan atas suatu program/kegiatan (2). Mendorong pemerintahan desa yang lamban atau kurang responsive dalam mereposn urusan yang merupakan merupakan urusan desa karena takut melampaui batas kewenangan yang dimiliknya . Secara prinsip sesungguhnya keuangan desa (APBDesa), termasuk
Legitimid KSB __________________________________________________________________________195

kebijakan penetapan ADD berhubungan erat dengan sejauhmanakah pelimpahan kewenangan/urusan dari kabupaten kepada desa. Semakin besar, pelimpahan kewenangan, maka semakin besar pula tugas dan pembiayaan yang harus dipersiapkan untuk mendukung pelaksanaan kewenangan/urusan tersebut, secara prinsipil besarnya Alokasi Dana Desa (ADD) tergantung dari besarnya kewenangan/urusan yang diserahkan dan mampu dikelola oleh Desa atau dengan kata lain money follow functions. Fakta saat ini, meski tidak ada kejelasan urusan yang ditangani oleh desa uang desa tetap mengalir. Akibatnya pemerintah desa menjadi tidak kreatif dan inovatif dalam mengelola dan mengembangan ADD. Untuk itu, penting untuk dilakukan inventarisasi mengenai urusan pemerintahan yang yang menjadi kewenangan Kabupaten dan Urusan yang menjadi kewenangan desa dengan mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 30 Tahun 2006 Tentang Tata Cara Penyerahan Urusan Pemerintahan Kabupaten/Kota Kepada Desa, maka sebaiknya kewenangan/urusan yang diserahkan dari Kabupaten ke desa adalah urusan pemerintahan yang secara langsung dapat meningkatkan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat dan secara rinci urusan-urusan yang dapat diserahkan tersebut tertuang dalam Permendagri Nomor 30 Tahun 2006. Secara teknis, langkah-langkah yang perlu dipersiapkan Pemda dalam konteks ini adalah ; (1) Membentuk Tim Pengkajian dan Evaluasi terhadap jenis urusan yang akan diserahkan kepada Desa ; (2). Menyusun Naskah Akademik dan menetapkan Peraturan Daerah tentang Urusan/kewenangan Pemerintahan Desa. (3). Meningkatkan proses fasilitasi identifikasi dan penyusunan urusan pemerintahan desa yang mampu untuk dilaksanakan di tingkat desa. (4). Mendorong setiap Pemerintahan Desa di KSB untuk segera melakukan penataan atas urusan-urusan yang mampu dilaksanakan di tingkat desa; 2. Mendorong dan Mempersiapkan RPJMDesa dan RKPDesa Secara yuridis, rekomendasi ini mengacu pada dua hal, pertama, adalah aspek regulasi, yakni ; Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, PP Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa. Secara ekplisit kedua regulasi tersebut memberikan landasan yang kuat bahkan mengharuskan adanya RPJM Desa sebagaimana diatur bahwa ; (1) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa disusun perencanaan pembangunan desa sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan daerah kabupaten/Kota.
Legitimid KSB __________________________________________________________________________196

dalam Bab VI pasal 63 menegaskan

(2) Perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun secara partisipatif oleh pemerintahan desa sesuai dengan kewenangannya. (3) Dalam menyusun perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib melibatkan lembaga kemasyarakatan desa. RPJMD ditetapkan dengan Peraturan Desa dan RKP-Desa ditetapkan dalam Keputusan Kepala Desa berpedoman pada Peraturan Daerah. Perencanaan pembangunan desa tersebut didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan yang meliputi ; penyelenggaraan pemerintahan desa, organisasi dan tata laksana pemerintahan desa, keuangan desa, profil desa, informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan desa dan pemberdayaan masyarakat. Pemerintah Ksb juga telah menetapkan Peraturan Daerah Nomor Perda No 25 Tahun 2006 Jo. Perda No....Tahun 2008 Tentang Pemilihan, Pengesahan dan Pemberhentian Kepala Desa dan Peraturan Daerah No.9 Tahun 2009 tentang Alokasi Dana Desa. Dalam Peraturan Daerah tersebut, setiap calon Kepala Desa diharuskan untuk menyusun visi dan misi sebagai calon Kepala Desa yang tertuang tertulis (naskah visi dan misi calon kades). Bahkan, dalam aturan tersebut setiap calon diharuskan untuk mempresentasikan visi dan misinya dihadapan BPD dan masyarakat desa secara terbuka. Penyampaian visi dan misi calon ini dimaksudkan selain untuk menilai kapasitas calon, visi dan misi calon adalah dimaksudkan untuk menilai apakah calon kepala desa tersebut memiliki orientasi yang jelas dalam membangun desa ketika nanti terpilih sebagai Kepala Desa. Secara tegas ketentuan ini diatur dalam pasal 32 ayat (2) Bentuk dan format visi, misi dan program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan memperhatikan dan mengintegrasikan pada sistem perencanaan pembangunan yang termuat dalam Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sumbawa Barat ataupun dokumen perencanaan pembangunan yang lainnya. Kemudian ayat (3) mengatakan apabila calon terpilih menjadi Kepala Desa, visi, misi dan program sebagaimana dimaksud ayat (1) menjadi dokumen resmi Desa dan Pemerintah Daerah. Sejak diberlakukannya Perda setiap calon kepala desa di KSB telah menyusun visi dan misi akan tetapi permasalahannya adalah setelah calon kepala desa tersebut terpilih, visi dan misi kepala desa tersebut tidak ditindaklanjuti dan ditetapkan kedalam RPJMDesa bahkan sebagian besar calon kepala desa yang
Legitimid KSB __________________________________________________________________________197

terpilih beranggapan bahwa naskah visi dan misi calon kepala desa hanyalah sebagai persyaratan administratif belaka (materi kampanye), tidak memiliki ikatan atau hubungan dengan pemerintahan desa sekarang dan kekuatan hukum yang mengikat bagi pemerintah desa sehingga dari hasil penelitian ditemukan banyak kepala desa yang terpilih saat ini tidak mengetahui apa visi dan misinya, bahkan banyak diantara mereka yang sudah tidak lagi mengetahui dimana naskah visi dan misi tersebut berada. Alasan inipula yang menjadi dasar rekomendasi di atas. Dari hasil studi memang ditemukan bahwa Pemerintah daerah KSB telah melakukan berbagai penataan dan perubahan kebijakan akan tetapi perubahan tersebut belum menyentuh pada perbaikan sistem penganggaran (perencanaan, pelaksanaan dan pertanggungjawab) pengelolaan APBDesa khususnya ADD yang baik. Disisilain, pemerintah desa terjebak pada tradisi seremonial musrenbangdes, fakta perencanaan pembangunan desa hingga sekarang masih tetap cenderung elitis, reaksioner dan tidak sistematis. Di semua desa ternyata tidak memiliki visi, misi dan program yang jelas (tidak terarah, terpadu dan terukur). Dampaknya adalah (1) APBDesa ditetapkan namun tidak tahu apa output dan capaian (goals) yang ingin dicapai oleh pemerintahan desa pada tahun tersebut, tidak ada indikator capaian atas kinerja maupun ukuran keberhasilan/kegagaln pembangunan desa, fakta dari periode ke periode pembangunan desa akhirnya berjalan di tempat. partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan desa, (2) Rendahnya karena tidak

mengetahui tujuan, sasaran maupun hasil dari program dan kegiatan yang direncakan di desa. (3). Rendahnya transparansi dan akuntabiitas pemerintahan desa mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pertanggungjawaban. Karena tidak adanya instrument untuk menilai keberhasilan/kegagalan kinerja APBDesa dampak lebih jauh muncul konflik antar lembaga di desa yang dipicu karena penggunaan instrument penilaian kinerja pembangunan desa yang subjektif. (4). Seluruh stakholders desa sesungguhnya tidak tahu kemana arah pembangunan yang mau dicapai di masa sekarang maupun masa mendatang, karena program dan kegiatan sekedar hanya untuk memenuhi perintah undang-undang atau perintah atasan semata. Dampak lainnya dari ketiadaan RPJMDesa adalah ; (1) Proses pembangunan desa menjadi cenderung hanya menguntungkan para elite di tingkat desa disatu sisi dan menegasikan kebutuhan masyarakat miskin atau kelompok marginal disisilain. Pengaruh politik, sosial dan ekonomi yang dimiliki oleh para elite di tingkat desa membuka ruang kesempatan dan peluang bagi para elite desa untuk memperoleh akses yang lebih untuk menguasai sumber daya yang ada di
Legitimid KSB __________________________________________________________________________198

setiap desa. Sebaliknya warga miskin yang tidak memiliki kekuatan dan pengaruh cenderung hanya menjadi penonton setia. Situasi ini diperkuat dengan masih kentalnya budaya paternalistik di desa dan rendahnya ruang partisipasi bagi warga miskin dalam kebijakan di desa sehingga dari periode ke priode posisi dan dominasi para elit desa begitu kokoh dalam mempengaruhi proses kebijakan desa, khususnya dalam penetapan APBDesa. (2). Ketiadaan RJMDesa telah mendorong proses pembangunan di tingkat desa dengan pembangunan di tingkat kabupaten tidak terintegrasi dengan baik cenderung terputus dan tumpang tindih, atau dengan kata lain berjalan sendiri-sendiri, kondisi ini berdampak pada efektifitas dan efeisiensi dalam pencapaian kinerja pembangunan daerah maupun desa ; (3). Ketiadaan RPJMDesa ternyata juga telah memberikan kontribusi berupa melemahnya tingkat partisipasi masyarakat desa dalam proses pembangunan desa karena masyarakat tidak mengetahui apa yang direncanakan oleh pemerintahan desa sehingga Pemerintah Desa sangat dominan dalam proses perencanaan APBDesa kondisi ini dipengaruhi pula karena lemahnya tugas dan peran BPD maupun organisasi sosial kemasyaratan lainnya (seperti LPM Desa) dalam memberdayakan partisipasi masyarakat setempat serta minimnya informasi dan data terkait dengan dokumen perencanaan pembangunan desa. Ketiadaan partisipasi masyarakat tersebut akhirnya melahirkan ketergantungan dimana tumpuhan harapan dan keberhasilan pembangunan desa diletakkan pada Pemerintah Desa. Padahal disisilain, bila melihat dari tugas pokok dan fungsi Kepala Desa itu sendiri dalam menyelenggarakan pemerintahan desa begitu luas sehingga membutuhkan bantuan dari masyarakat berupa partisipasi karena tanpda ada partisipasi masyarakat akan sangat sulit keberhasilan program dan kegiatan pembangunan desa. (5). Ketiadaan RPJMDesa di KSB ternyata telah mendorong Kinerja Pemerintahan Desa menjadi rendah dan rawan untuk terjadinya penyimpangan kekuasaan. Keberadaan Rencana Pembangunan Desa baik dalam bentuk RPJM Desa maupun RKP Desa pada dasarnya adalah sebagai pedoman sekaligus instrumen pendorong untuk peningkatan kinerja Pemerintahan Desa. Karena melalui RPJM Desa dan RKP Desa tersebut

Pemerintah Desa dituntut untuk dapat mencapai tujuan, sasaran, target, capaian dan sebagainya dari suatu program atau kegiatan yang telah direncanakan dan dilaksanakan, disamping akan mendorong adanya peningkatan kinerja bagi Pemerintah Desa, masyarakat desa dan Pemerintah Kabupaten dapat melakukan pengawasan dan evaluasi secara lebih obyektif atas keberhasilan/kegagalan suatu pembangunan desa yang dilaksanakan oleh Pemerintah Desa tersebut.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________199

Berdasarkan hasil penelitian, saat ini terlihat kinerja sebagian besar Pemerintahan Desa belumlah cukup baik, selain belum memenuhi capaian kepuasan masyarakat selama ini tingkat kerawanan terjadinya penyimpangan atas APBDesa sangat potensial berlangsung di tingkat desa sebab tidak ada dokumen perencanaan pembangunan desa yang dapat diakses publik, minimnya pengawasan publik dan rendahnya akuntabilitas APBDesa. Dalam praktek selama ini, Pemerintah Desa (kepala Desa) dapat menggeser suatu program atau kegiatan tertentu tanpa melalui musyawarah di tingkat desa bersama dengan BPD maupun lembaga kemasyaratan lainnya. Landasan yuridis lainnya, Pemerintah Daerah KSB sesunguhnya telah melakukan inisiasi yang cukup inovatif untuk mendorong perencanaan pembangunan di tingkat desa yang partisipatif dan transparans dengan menerbitkan Peraturan Daerah No.27 Tahun 2008 Tentang Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga. Akan tetapi sejauh ini, musyawarah pembangunan di tingkat RT belum berjalan efektif, begitupun partisipasi masyarakat masih sangat rendah, belum efektifnya tenaga pendamping RT (Kader Pemberdayaan Masyarakat/KPM) dalam memfasilitasi proses pembangunan desa secara partisipatif, rendahnya perhatian/kepedulian masyarakat untuk berpartisipasi dalam musyawarah, rendahnya tingkat akomodasi usulan masyarakat dalam APBDesa sehingga masyarakat merasa Musyawarah RT tidak memiliki manfaat dan dampak bagi masyarakat (sia-sia) beberapa tantangan tersebut perlu segera diatasi dengan meningkatkan peran instansi terkait yang menjadi leading sektor dari PBRT. Salah satu kelemahan yang ada saat ini, ternyata hanya ada satu wadah dan mekanisme yang tersedia untuk menyelenggarakan musyawarah perencanaan pembangunan desa, yakni Musrenbangdes. Sarana inilah yang selama ini digunakan oleh pemerintahan desa dan masyarakat setempat untuk merumuskan berbagai program dan kegiatan pembangunan tahunan desa. Padahal, wadah ini ditujukan untuk penyusunan APBD Kabupaten. Musrenbangdes tidaklah cukup memadai untuk mengcover atau menjadi dasar bagi pemerintahan desa untuk menyusun APBDesa mengingat ; (1) tujuan maupun agenda musrenbangdes adalah ditujukan untuk penyusunan APBD Kabupaten. (2). Peserta hasil-hasil Musrenbangdes cenderung perwakilan para elite desa sehingga

musrenbangdes lebih mencerminkan keterwakilan kepentingan para elite desa daripada warga miskin dan perempuan ; (3). Waktu pelaksanaan musrenbangdes yang saat terbatas (2 s.d. 3 jam) efektf, sehingga tidak dapat menggali berbagai

Legitimid KSB __________________________________________________________________________200

permasalahan komprehensif ;

dan

kebutuhan

masyarakat

secara

lebih

mendalam

dan

Kedepan, ada beberapa agenda yang perlu dillakukan pemerintah daerah. (1) Pertama, menegaskan kembali pemerintahan desa untuk menyelenggarakan Musrebangdes Khusus (Musrenbangdeskus) untuk APBDes, kegiatan ini dimulai dari tingkat RT, RW, Dusun dan Desa. Sehingga APBDesa selain partisipatif yang terpenting adalah dapat mencerminkan kebutuhan masyarakat dan mendorong terjadinya percepatan pembangunan desa. (2) Kedua, melakukan pembatasan kewenangan Kades dalam pengelolaan APBDes sekaligus mempertegas kepada para kepala desa agar mematuhi aturan yang ada serta mendorong komitmen Pemerintahan Desa untuk menyusun APBDesa secara partisipatif dan transaparans. (3) Pemerintah Daerah perlu untuk segera membentuk Team Fasilitasi Penyusunan RPJMDesa yang melibatkan berbagai unsur ; Pemda, DPRD, LSM, Akademisi, Profesi dan Perwakilan Masyarakat ; (4) Pemerintah Daerah dan DPRD perlu untuk segera menyusun Naskah Akademik dan Peraturan Daerah tentang RPJMDesa dan RKPDesa ; (5). Perlu ada pelatihan atau peningkatan kapasitas bagi Pemerintah Desa, BPD dan Lembaga Kemasyaratan Desa tentang Penyusunan RPJMDesa serta membangunkerjasama dengan LSM/Perguruan Tinggi perlu untuk melakukan pendampingan desakhususnya dalam proses penyusunan RPJMDesa di masing-masing desa . 3. Membangun BUMDES untuk Peningkatan Usaha Desa dan

Masyarakat Mengacu pada hasil studi menunjukkan bahwa usaha hasil desa Pendapatan Asli Desa sangatlah rendah dan secara umum selama ini dalam menggali PADesa hanya bertumpuh pada Hasil usaha Desa berupa Penyewaan Barang Milik Desa , khususnya penyewaan kursi desa dan dari hasil studi ditemukan pula bahwa Desa yang memiliki BUMDES dan memiliki berbagai jenis usaha lainnya ternyata memiliki hasil usaha yang relative besar, seperti Desa Maluk dari hasil usaha desa mencapai Rp.44.100.000,-. Desa Maluk dapat menjadi salah satu desa percontohan yang dapat dijadikan sebagai pembelajaran penting bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan usaha desa. Namun, selama ini belum ada upaya atau pembinaan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah terhadap BUMDes sehingga permasalahan BUMDes yang terjadi selama ini, seperti menyangkut masalah manajement pengelolaan BUMDes, Modal usaha, Jenis Usaha dan Pengembangannya, Ketersediaan Personil, Jaringan usaha dan berbagai permasalahan lainnya yang dihadapi
Legitimid KSB __________________________________________________________________________201

BUMDes belum dapat teratasi. Agenda tersebut menjadi penting pula untuk direspons Pemda. Disamping agenda-agenda lainnya, yakni ; (1). Pemerintah Daerah bekerjasama dengan Pemerintah Desa/LSM/Perguruan Tinggi perlu untuk melakukan pemetaan potensi usaha-usaha desa yang potensial di masing-masing desa ; (2) Pemda perlu untuk memfasilitasi terbentuknya BUMDES disejumlah desa untuk mengelola potensi usaha desa, khususnya bagi desa-desa yang belum terbentuk BUMDES. (3). Pemda perlu untuk segera menyusun naskah akademik dan peraturan daerah yang mengatur tentang keberadaan BUMDES serta melakukan studi mengenai BUMDES yang telah ada dibeberapa desa untuk melihat pola pengembangan BUMDes dan permasalahan BUMDes sebagai bahan pengembangan BUMDes di masa mendatang. (4). Perlu ada pilot project pendamping untuk pengembangan BUMDES di beberapa desa sebagai media pembelajaran (lesson learned) sebelum pemda membentuk seluruh BUMDES di KSB. 4. Reformulasi Kebijakan ADD Meskipun Pemerintah Daerah telah mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2009 Tentang Alokasi Dana Desa yang menegaskan bahwa peruntukkan ADD untuk ADDM adalah 60% dan ADD untuk ADDP sebesar 40% dalam implementasinya banyak desa yang mengalokasikan ADD untuk ADDM melebihi 60%. Proporsi peruntukkan ADD untuk ADDM sebesar 60% dari jumlah ADD ternyata tidak cukup mendukung upaya percepatan pembangunan desa disamping kurang mencerminkan keadilan bagi masyarakat. Dari hasil studi menemukan peruntukkan APBDesa selama ini ternyata lebih banyak dinikmati oleh aparat pemerintahan desa. Alokasi jumlah belanja pegawai berupa Penghasilan Tetap maupun Penghasilan Tidak Tetap cenderung meningkat bahkan di sejumlah desa ditemukan mencapai persentase di atas 70%. Sementara, alokasi belanja modal untuk pembangunan infastruktur pedesaan yang langsung dinikmati masyarakat sangatlah rendah. Belanja APBDesa yang selama ini cenderung diperuntukkan dan dirasakan masyarakat hanya terbatas pada belanja sosial. Akan tetapi, jumlah belanja sosial di masing-masing desa sangatlah minim dan kegiatan dalam belanja sosial tersebut bukanlah belanja yang bersifat ekonomi produktif, melainkan hanya berupa bantuan keuangan untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat insidentiil dan cenderung sermonial, seperti PHBI dan PHBN. Atas dasar itulah reformulasi kebijakan ADD diperlukan. Adapun agendaagenda yang perlu untuk direspons dalam konteks tersebut adalah ; (1)
Legitimid KSB __________________________________________________________________________202

Reformulasi AD harus diarahkan pada pencapaian tujuan dari ADD serta harus mengkedepankan kebijakan i ADD untuk masyarakat (2). Reformulasi ADD difokuskan pada aspek regulasi melakukan revisi atas Perda Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pedoman Kedudukan Kepala Desa dan Perangkat Desa. Revisi di arahkan untuk mempertegas jumlah belanja keuangan Kepala Desa, Perangkat Desa dan Tunjangan BPD serta mekanisme yang belum di atur dalam Perda tersebut dan untuk mendukung reformulasi, pemda perlu melakukan kajian atau studi secara mendalam mengenai kemampuan keuangan desa ;

5. Review Kebijakan Pemekaran Desa, Dusun dan RT Berdasarkan hasil studi pemekaran desa dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada tahun 2006 jumlah desa sebanyak 38 desa, 6 desa berubah status menjadi Kelurahan. Sehingga jumlah desa menjadi 32 Desa. Dari tahun 2006 sampai dengan 2010 jumlah desa di KSB mencapai 57 desa atau terjadi penambahan jumlah desa mencapai 27 Desa. Begitupun jumlah Dusun dan RT di masing-masing desa. Pemekaran desa berimplikasi terhadap kebijakan ADD pada masing-masing desa. Dari hasil studi ditemukan pula bahwa sebagian desa induk jumlah ADD terus berkurang dengan adanya pemekaran desa, selain itu pemekaran desa juga berdampak pada berkurangnya ADD bagi desa-desa lainnya yang notabennya bukan merupakan desa induk. Sehingga dampak dari pemekaran desa ini dirasakan bagi desa di luar dari desa induk. Meningkatnya jumlah pemekaran desa ternyata tidak dibarengi dengan ketersediaan anggaran, kesiapan SDM, sarana dan parsarana yang memadai sehingga beberapa desa pemekaran lamban dalam memenuhi berbagai sarana dan prasarana pendukung desa. Kebijakan pengelolaan ADD yang diorientasikan ternyata tidak banyak yang diarahkan untuk percepatan pembangunan desa, justeru cenderung lebih banyak diperuntukkan untuk belanja pegawai desa. Misalnya Desa Rarak Ronges, Tunjangan BPD di Desa Rarak Ronges tertinggi dari desa-desa lainnya. Padahal Desa tersebut adalah merupakan desa baru dan merupakan desa terencil yang memerlukan berbagai fasilitas infrastuktur desa. Berdasarkan hasil kajian tersebut, maka Pemda perlu untuk melakukan ; (1) evaluasi atau review atas kebijakan pemekaran desa, melakukan evaluasi dan penilaian secara onyektif atas kemampuan, keberhasilan/kendala pembangunan yang terjadi di desa, khususnya desa hasil pemekaran. (2). Perlu ada kebijakan dan kearifan secara khusus ADD bagi desa pemekaran, serta melakukan evaluasi atas dampak pemekaran terhadap desa induk, sehingga kesimbangan ADD tetap terjaga (3). Pemda perlu ada studi untuk menggali data dan informasi melalui
Legitimid KSB __________________________________________________________________________203

kajian kebijakan secara mendalam mengenai konsepsi ideal jumlah desa di Kabupaten Sumbawa Barat sehingga pemekaran desa dapat dikendalikan dan dilakukan dengan tepat atau tidak menimbulkan ekses-ekses negatif. 6. Pengelolaan Keuangan Desa Prinisip-prinsip pengelolaan Keuangan Desa belum dapat dilaksanakan oleh pemerintahan desa. Perencanaan Keuangan Desa, khususnya APBDesa selama ini cenderung di monopoli oleh Pemerintah Desa. Tidak ada wadah khusus yang tersedia ditingkat desa untuk keterlibatan warga dalam proses perumusan APBDesa. Sebagian besar desa hanya melaksanakan Musrenbangdes setahun sekali. Musrebangdes tersebut selama ini dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten. Usulan program dan kegiatan yang diajukan oleh peserta Musrenbangdes lebih ditujukan untuk penyusunan program dan kegiatan dalam APBD Kabupaten. Secara khusus tidak ada Musyawarah di tingkat desa untuk menyusun program dan kegiatan dalam APBDesa. Pada tahap pelaksanaa APBDesa, ruang dan akses keterlibatan masyarakat semakin kecil bahkan sebagian besar tidak ada keterlibatan masyarakat. Minimnya informasi APBDes juga menjadi kendala bagi masyarakat untuk berpartisipasi, disamping ketertutupan pemerintah desa. Sementara, BPD yang diharapkan dapat melakukan fungsi pengawasan sebagian besar tidak berfungsi secara optimal. Pada tahap evaluasi, tidak ada evaluasi pelaksanaan dari APBDesa setiap tahunnya yang dilakukan secara partisipatif, melibatkan masyarakat desa setempat. Bahkan, banyak desa yang tidak mengetahui bagaimana cara melakukan evaluasi terhadap program dan kegiatan dalam APBDesa. Pertanggungjawaban pelaksanaan APBDesa dilakukan hanya satu kali dan biasanya pertanggungjawaban tersebut dilakukan bersamaan dengan pembahasan

RAPBDesa dan sesungguhya hanya untuk memenuhi aspek formal semata. Selama ini supervise terhadap APBDes yang dilakukan Pemerintah Daerah kepada Desa hanya pada saat Pemerintah Desa mengajukan RAPBDesa kepada Pemerintah Daerah. Pasca penetapan RAPBDesa menjadi APBDesa tidak adalagi supervise dari Pemerintah Daerah. Penyelenggaraan pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan oleh Dinas terkait selama ini belum mengarah pada kebutuhan masing-masing desa, dan cenderung pelatihan tersebut sekedar memenuhi kewajiban untuk melaksanakan proyek. Kapasitas pemerintahan desa dalam mengelola APBDesa yang baik juga dihadapkan pada tantangan berupa minimnya Pedoman yang diberikan oleh Pemerintah Daerah serta berbagai regulasi yang

Legitimid KSB __________________________________________________________________________204

ditetapkan

masih

menimbulkan

kesimpangsiuran

sehingga

sulit

bagi

pemerintahan desa untuk mempedomani acuan yang ada. Berbagai kasus yang muncul terkait dengan inefisiensi dan inefektivitas anggaran desa juga disebabkan karena beberapa hal tersebut di atas. Untuk itulah dalam rangka pengembangan pengelolaan keuangan desa, khususnya ADD perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut ; (1). Pemda atau kelompok strategis desa untuk melakukan pendampingan desa dalam rangka mewujudkan tatakelola keuangan desa khususnya ADD yang baik. (2). Pemerintah daerah perlu untuk mendorong agar tersedia wadah dan ruang partisipasi masyarakat di tingkat desa agar dapat mengakses proses penganggaran desa, khususnya dalam proses perencanaan dan evaluasi APBDesa khususnya terkait dengan ADD (3) Untuk mendorong motivasi, maka perlu ada mekanisme reward and punishment bagi pemerintahan desa yang berhasil/gagal dalam mengelola keuangan desa (ADD) secara baik salah satunya adlaah melalui instumen Desa Budget Indeks (DEBUS) sebagai instrument untuk melakukan penilaian pengelolaan keuangan di masing-masing desa; 7. Dana Alokasi Khusus (DAK) Desa Sejak tahun 2010, kecendrungan jumlah ADD terus berkurang, khususnya pada desa-desa terpecil, seperti Desa Talonang, Desa Mantar. Hal yang sama juga terjadi pada desa hasil pemekaran yang merupakan desa terpencil, seperti Desa Mataiang, Desa Rarak Ronges. Sementara disisi lain, Desa-desa terpencil dan desa baru tersebut menghadapai berbagai kebutuhan dan tuntutan masyarakat, khususnya pemenuhan infatsruktur desa. Dengan semakin berkurangnya kapasitas APBDesa yang dimiliki oleh desa terpencil, tentu akan semakin menyulitkan mereka untuk dapat mensejajarkan dengan desa-desa lainnya. Kesejangan antar desa pun mulai terlihat, khususnya antara desa yang masuk dalam wilayah lingkar tambang (16 desa) dengan desa-desa yang berada di luar lingkar tambang (41 desa), karena pada tahun 2010-2011, desa yang berada di wilayah lingkar tambang juga akan memperoleh alokasi dana hibah divestasi saham dari PT.NNT. Pemerintah Daerah telah menetapkan 16 desa wilayah lingkar tambang akan memperoleh dana dalam bentuk program pembangunan senilai Rp. 1 milyar/desa bagi desa di wilayah lingkar tambang. Disamping itu desa di wilayah lingkar tambang juga memperoleh dana donasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan desa-desa lainnya, serta program-program community development dari PT.NNT. Sementara itu, 4 desa terpencil yang ada di KSB, 3 diantaranya adalah merupakan desa yang berada di luar wilayah lingkar tambang.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________205

Atas dasar hal tersebut di atas, maka perlu sekiranya Pemerintah Daerah untuk ; (1). Memformulasikan kebijakan untuk Dana Alokasi Khusus dan untuk saat ini difokuskan pada daerah terpencil dan terbelakang serta Desa hasil pemekaran yang tidak memiliki kapasitas APBDesa yang memadai ; (2). Perlu ada regulasi khusus yang mengatur peruntukkan dana hibah Rp 1 milyar bagi desa agar peruntukkan dana tersebut terarah dan percepatan pembangunan desa dan terukur serta dapat meningkatkan kemiskinan desa; (3). pengentasan

Menginventarisir dan melakukan kajian secara mendala terhadap desa-desa yang layak untuk menerima DAK ; (4). Pemberian DAK untuk desa juga dilakukan oleh SKPD terkait terhadap urusan atau kewenangan desa yang ada di desa yang memerlukan dukungan dari Kabupaten;

Legitimid KSB __________________________________________________________________________206

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahab, Solichin, 1997. Analisis Kebijakan: Dari Formulasi ke Implementasi Kebijakan Negara. Malang. Abe, Alexander. 2005. Perencanaan Daerah Partisipasif . Pembaruan. Yogyakarta. Abdul Wahab, Solichin, 1997, Analisis Kebijaksanaan dari Formulasi Ke Implementasi Kebijaksanaan Negara, Edisi Ke-dua, Cetakan Pertama, Bumi Aksara, Jakarta. Ambar, Sulistiyani, 2004. Kemitraan Dan Model Pemberdayaan, , Gaya Media Jogja Arsyad, Lincolin. 1999. Ekonomi Pembangunan. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN. Yogyakarta. Bappenas, 2005. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM) tahun 2004-2009. Basuni, Muhammad. 2003. Partisipasi Masyarakat dalam Implementasi Kebijakan Program Bantuan Peningkatan Pembangunan Desa (BP2D) dalam Kerangka Otonomi Daerah. Tesis pada PPS Universitas Brawijaya. Malang. Bakhit, Izzedin, et al., 2001. Menggempur Akar-Akar Kemiskinan. Diterjemahkan oleh Frederik Ruma, YAKOMA-PGI, Jakarta. Bryant, Coralie dan White, Louise G. 1987. Managing Development in Third Workd Westview Press, Boulder, Colorado. Cahyono, Eko, 2005, Perencanaan Pembangunan Berwawasan Pemberdayaan di desa Tempuran Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk, Tesis Pasca Sarjana Universitas Brawijaya, Malang. Chambers, Robert, 1998, Pembangunan Desa Mulai Dari Belakang : Rural Development Putting The Last First, LP3ES, Jakarta. Conyers, Diana. 1992, Perencanaan Sosial di Dunia Ketiga, Suatu Pengantar. Terjemahan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Dunn, William N, 1998, Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Edisi Kedua, Gadjah Mada University Press, Yoyakarta

Dye, Thomas R, 1981. Understanding Public Policy, Englewood Cliffs, Prentice Hall, New Jersey.
Legitimid KSB __________________________________________________________________________207

Hikmat, Harry, 2004. Strategi Pemberdayaan Masyarakat, Humaniora Utama Press, Bandung Islamy, M. Irfan, 2004. Membangun Masyarakat Partisipatif, Jurnal Ilmiah Administrasi Publik. 4 (2): 3-9. ________________. Metodologi Penelitian Administrasi, UM PRESS, Malang. Ismani, 2005. Modul Perkuliahan Seminar Perencanaan Pembangunan Daerah, Tidak diterbitkan, Malang. Kartasasmita, Ginanjar, 1996, Pembangunan : Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan, Cidensindo, Jakarta. ________________, 1996. Pemberdayaan Masyarakat, ITB, Bandung. Kunarjo. 2002. Perencanaan dan Pengendalian Program Pembangunan. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. Kuncoro, Mudrajad. 1997. Ekonomi Pembangunan : Teori, Masalah, dan Kebijakan. UPP AMP YKPN. Yogyakarta. ________________. 1999. Kemitraan Sebagai Strategi Pengembangan Ekonomi Rakyat, Antara Mitos dan Realitas. Hasan Basri (Editor). Pembangunan Ekonomi Rakyat di Pedesaan, Sebagai Strategi Penanggulangan Kemiskinan. Bina Rena Pariwara. Jakarta. H 94-123 Lincoln, YS dan Cuba EG, 1985, Beverly Hill Naturalistic Inquiry, Sage Publications,

Mikkelsen, Brita (trans), 2000, Metode Penelitian Partisipatoris dan Upayaupaya Pemberdayaan, Sebuah Buku Pegangan Bagi Para Praktisi Lapangan, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. Moeljarto, Vidhyandika, 1996. Pemberdayaan Kelompok Miskin Melalui Program IDT dalam Onny S. Prijono dan A.M.W. Pranarka (eds.), Pemberdayaan: Konsep, Kebijakan dan Implementasi, CSIS, Jakarta. Moleong, Lexy J., 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. Mubyarto, 1998. Peluang Kerja dan Peluang Berusaha di Pedesaan, BPFE. UGM. Yogyakarta.

Mardiasmo, 2004. Akuntansi Sektor Publik. Penerbit Andi, Yogyakarta. Meter, Donald S. Van dan Carl E Van Horn, 1978. The Policy Implementation Process: A Conceptual Framework Administration and Society. Sage Publication, New York.
Legitimid KSB __________________________________________________________________________208

Lofland, John and Lyn H. Lofland, 1984. Analyzing Social Setting: A Guide to Qualitative Observation and Analysis, Belmont, California: Wadsworth Publishing Company. Maryunani, 2006. Perspektif Pengelolaan Keuangan dan Ekonomi Desa, Tidak dipublikasikan, Malang. Mamun, Sjaefuddin, 2005. Pengaruh Implementasi Pengelolaan Jalan Terhadap Pencapaian Pemeliharaan Jalan Propinsi Di Jawa Barat. Kebijakan Efektivitas

Meter, Donald S. Van and Carl E Van Horn, 1987. The Policy Implementation Process; A Conceptual Framework Administration and Society, Sage Publication Inc, New York. Miles, B, Mathew dan A, Michall Huberman, 1992. Analisis Data Kualitatif, UI Press, Jakarta. Moloeng, Lexy J, 2004, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosdakarya, Bandung Nasution, S, 1996, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, Tarsito, Bandung. Ngatimin, 2001. Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) di Kecamatan Lowok Waru Kabupaten Malang, Tesis Pasca Sarjana Universitas Brawijaya, Malang. Ndraha, Taliziduhu. 2003. Kybernologi: Ilmu Pemerintahan Baru 1 dan 2. Jakarta: Rineka Cipta. Nugroho, Riant, 2004. Kebijakan Publik: Formulasi, Implementasi, dan Evaluasi. Jakarta: Elex Media Komputindo. Pamungkas, Sri-Bintang, 1996. Kemiskinan dan Kesenjangan di Indonesia: Suatu Evaluasi Atas Kebijaksanaan Pembangunan Pemerintah dalam Awan Setya Dewanta (eds.), Kemiskinan dan Kesenjangan di Indonesia, Aditya Media, Yogyakarta. Prasojo, Eko, 2004. People and Society Empowerment: Perspektif Membangun Partisipasi Publik, Jurnal Ilmiah Administrasi Publik. 4 (2): 10-25. Prijono, Onny S. dan A.M.W. Pranarka, 1996. Pemberdayaan: Konsep, Kebijakan dan Implementasi, CSIS, Jakarta. Rahardja, Dawam, 1996. Program-Program Aksi untuk Mengatasi Kemiskinan dan Kesenjangan pada PJP II dalam Awan Setya Dewanta (eds.), Kemiskinan dan Kesenjangan di Indonesia, Aditya Media, Yogyakarta. Riyadi dkk, 2004. Perencanaan Pembangunan Daerah, Gramedia. Jakarta Ripley, Randal B, 1985. Policy Analysis in Political Science. Chicago: Nelson-Hall Publisher

Legitimid KSB __________________________________________________________________________209

------------------, 1986. Policy Implementation and Bureaucracy. The Dorsey Press, Chicago. Saragih, Juli Panglima. 2003. Desentralisasi Fiskal dan Keuangan Daerah Dalam Otonomi. Ghalia Indonesia, Jakarta. Siagian, Sondang P, 2003, Administrasi Pembangunan : Konsep, Dimensi dan Strateginya, PT Bumi Aksara, Jakarta. Soekamto, Hadi dkk., 2004. Partisipasi Masyarakat Dalam Penanggulangan Kemiskinan, Jurnal Ilmiah Administrasi Publik. 4 (2):79-98. Strahm, Rudolf H. 1995. Kemiskinan Dunia Ketiga: Menelaah Kegagalan Pembangunan di Negara Berkembang, Pt. Pustaka Cidosendo, Jakarta Subari. Tim P3M, OTDA. 2002. Panduan Penguatan Badan Perwakilan Desa. Suyanto, Bagong. 1995. Manfaat KUT Bagi Petani Miskin. Bagong Suyanto (editor). Perangkap Kemiskinan Problem dan strategi Pengentasannya. Airlangga University Press. Surabaya. Sumodiningrat, Gunawan, 1999. Impac, Jakarta Kemiskinan; Teori, Fakta Dan Kebijakan,

Sutomo, Sumengen. 2002. Perencanaan Partisipatif. Jakarta: CV. Cipruy. Soenarko, 1998. Kebijaksanaan Pemerintah. Surabaya: Papyrus. Sutoro, Eko, 2006. Mempertegas Posisi Politik dan Kewenangan Desa. Makalah disampaikan dalam SARASEHAN NASIONAL MENGGAGAS DESA MASA DEPAN diselenggarakan oleh kerjasama Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Departemen Dalam Negeri, Forum Penembangan Pembaharuan Desa (FPPD) dan Democratic Reform Support Program (DRSP) USAID, Jakarta 3-4 Juli 2006. Tampubolon,Mangatas. 2005. Pendidikan dan Pola pemberdayaan Masyarakat dan Pemberdayaan pada masyarakat dalam pembangunan sesuai Tuntutan Otonomi Daerah, Jurnal

Tjokroamidjojo, Bintoro. 1996. Perencanaan Pembangunan. PT. Toko Gunung Agung. Jakarta. Tim Peneliti FPPD, 2005. Peluang Pengembangan Partisipasi Masyarakat melalui Kebijakan Alokasi Dana Desa. FPPD, Yogjakarta

Winarno, Budi, 2002. Teori dan Proses Kebijakan Publik, Media Pressindo, Yogyakarta.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________210

Yayasan Serikat Tani Pembangunan, 2006. Implementasi Alokasi Dana Desa di Kabupaten Sumbawa Barat. Pusat Studi Kebijakan Publik, Taliwang. Peraturan Perundang-undangan: Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa Peraturan Pemerintahi Nomor 73 tahun 2005 Tentang Kelurahan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 79 tahun 2005 Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 30 tahun 2006 Tentang tata Cara Penyerahan Urusan Pemerintahan Kabupaten/Kota Kepada Desa Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 tahun 2007 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 140/640/SJ tertanggal 22 Maret 2005 Tentang Pedoman Alokasi Dana Desa (ADD) Surat Menteri Dalam Negeri Nomor: 140/537/SJ tanggal Jakarta, 17 Maret 2006 perihal Pemantapan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Peraturan Daerah Nomor: 2 Tahun 2009 Tentang Penetapan Alokasi Dana Desa Peraturan Daerah Nomor: 3 Tahun 2009 Tentang Kedudukan Keuangan Kepala Desa dan Perangkat Desa

Peraturan Bupati Sumbawa Barat Nomor 10 Tahun 2007 tentang Alokasi Dana Desa di Kabupaten Sumbawa Barat Peraturan Bupati Sumbawa Barat Nomor 12 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Tahun Anggaran 2007 Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 219 Tahun 2006 tentang Penetapan Alokasi Dana Bantuan Kepada Desa. Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 274 Tahun 2007 tentang Penetapan Alokasi Dana Desa Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun Anggaran 2007.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________211

Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 20 B Tahun 2008 tentang Penetapan Alokasi Dana Desa Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun Anggaran 2008. Keputusan Bupati Sumbawa Barat Nomor 127 Tahun 2009 tentang Penetapan Alokasi Dana Desa Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun Anggaran 2009. Peraturan Bupati Sumbawa Barat Nomor 6 Tahun 2008 tentang pedoman pengalokasian dan pelkaksanaan Alokasi Dana Desa Tahun Anggaran 2010.

Legitimid KSB __________________________________________________________________________212

TENTANG PENULIS Curriculum Vitaee


Data Pribadi / Personal Details Nama / Name Alamat / Address Nomor Telepon / Phone Email Jenis Kelamin / Gender Tanggal Kelahiran / Date of Birth Status Marital / Marital Status Warga Negara / Nationality Agama / Religion : Syahrul Mustofa, SH.,M.H : RT 01 RW 02 Desa Sekongkang Atas Kec. Sekongkang, KSB-NTB : 085253830001 : syahrulmustofa@yahoo.com : Laki-Laki/Male : Tangerang, 15 Nop 1978 : Menikah : Indonesia : Islam

Riwayat Pendidikan Educational and Professional Qualification Pendidikan Formal : Formal Education: 1. Pasca Sarjana (S2) Ilmu Hukum-Konsentrasi Hukum Pemerintahan Daerah, Universitas Mataram, Lulus Tahun 2009 2. Sarjana (S1) Ilmu Hukum-Konsentrasi Hukum Tata Negara, Universitas Mataram, Lulus Tahun 2002 3. Sekolah Menengah Atas Negeri 2 (SMAN 2) Tangerang, Lulus Tahun 1996 4. Sekolah Menengah Pertama (SMP), PGRI Batu Ceper, Tangerang Lulus Tahun 1993 5. Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darussalam I Batu Sari-Tangerang, Lulus Tahun 1990. Pendidikan Informal : Informal Education: 1. Pelatihan Tehnology Of Parcipatoris (TOP), di selenggarakan oleh The Asia Foundation-DFID, Hotel Santika-Jakarta, 2010; 2. Pelatihan Gender Analysis Budget, diselenggarakan oleh The Asia Foundation, Hotel-Santika, Jakarta, 2009; 3. Pelatihan Analisis Anggaran dan Advokasi Anggaran Publik, diselenggarakan oleh Seknas Fitra Jakarta, Hotel Niko, Jakarta Tahun 2009 4. Traning, Legal Aid Service of Agrarian Reform, KPA-YLBHI, Jakarta, 2009 5. Training, Prinsip-prinsip Konvensi PBB menentang korupsi (UNCAC), Patnership for Governance Reform Indonesia, Surabaya, 2007 6. Traning, Pencegahan Gratifikasi di Daerah, KPK, Mataram, 2007

Legitimid KSB __________________________________________________________________________213

7. Traning, Investigasi dan Penelitian Hukum Jejaring KY, Komisi Yudisial RI, Jakarta, 2006 8. Pendidikan Fasilitator Perdamaian (Early Warning System and Early Respon System untuk pencegahan dan penanganan konflik komunitas), diselenggarakan oleh Institute Titian Perdamaian (ITP)-Jakarta bekerjasama dengan NZAID, Febuari s.d. desember tahun 2006 di Bogor. 9. Training, Legal Drafting, Departemen Hukum dan HAM - Asia Law, Jakarta, 2005 10. Pendidikan Advokat, diselenggarakan oleh Univ.Mataram kerjasama dengan IPHI-Mataram, tahun 2005 11. Pelatihan Legislative Drafting (Penyusunan Peraturan PerundangUndangan) diselenggarakan Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) Jakarta, Tahun 2003. 12. Pelatihan Investigasi Korupsi, diselenggarakan oleh Indonesia Corruption Watch, jakarta Tahun 2003 13. Pelatihan Investigasi Korupsi, diselenggarakan oleh Solidaritas Masyarakat Transparansi Nusa Tenggara Barat (SOMASI NTB, 2003 14. Strategi Planing Membangun Organisasi Massa, The Asia Foundation, Mataram, 2003 15. Pelatihan Advokasi diselenggarakan Yayasan Koslata, Tahun 1998 16. Mengiktui berbagai Seminar, Workshop, Lokakarya dan lain-lain. Karya-Karya ( Buku) yang telah di publikasikan : Works (Book) which has been published:
No 1 2 3 Judul Buku Mencabut Akar Korupsi (Panduan Untuk Pemberantasan Korupsi) Mencabut Akar Korupsi Meretas Jalan Demokrasi Lokal : Pergeseran Peta Politik Sumbawa Barat, tebal 326 hal Tahun dan penerbit Cetakan pertama tahun 2001 Diterbitkan oleh SOMASI NTB atas dukungan USAID dan The Asia Foundation Cetakan kedua tahun 2003, tebal 157 halaman Diterbitkan oleh SOMASI NTB atas dukungan USAID dan The Asia Foundation Diterbitkan LEGITIMID kerjasama dengan Bappeda KSB Tahun 2007

4 5

Pilkada Langsung Sebuah Demokrasi Lokal Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga, Scalling-up Pendidikan Gratis Kesehatan Gratis Yang Mahal Korupsi, Konspirasi Pengegakkan Hukum Pengelolaan Zakat di KSB dan

Diterbitkan Tahun 2006, Oleh LEGITIMID Bekerjasama dengan KPU KSB diterbitkan oleh LEGITIMID bekerjasama dengan The Asia Foundation dan Pemda KSB, tahun 2006, tebal 84 hal diterbitkan oleh Legitimid bekerjasama dengan Yayasan Tifa Foundation dan Bappeda tahun 2011, tebal 258 hal diterbitkan oleh Yayasan Tifa Foundation tahun 2011, tebal 258 hal Diterbitkan oleh Lembaga Bantuan Hukum Nusa Tenggara Barat, Tahun 2009, tebal 252 Diterbitkan oleh Legitimid dengan Bappeda KSB, 2011 bekerjasama

6 7 8

Legitimid KSB __________________________________________________________________________214

10 11 12

Pelimpahan Kewenangan Bupati ke Camat Sebagai usaha mendekatkan pelayanan publik) Partisipasi dan obsesi Inovasi Best Practices Kabupaten Sumbawa Barat

Diterbitkan oleh Legitimid dengan Bappeda KSB, 2011

bekerjasama

Cetakan Pertama, tahun 2002, Diterbitkan LP3ES, Mataram Di terbitkan LEGITIMID Tahun 2009 Tebal 56 hal

Riwayat Pengalaman Penelitian dan Pengkajian Experience Research and Assessment Penelitian/kajian yang telah dilakukan antara lain adalah :
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Judul Studi/Penelitian Indonesia Rapid Appraisal wilayah kabupaten Sumbawa Pola Korupsi di Pedesaan (10 desa) Studi Pola Korupsi APBD di 4 kabupaten Studi Kritis Kontrak Karya PT. Newmont Nusa Tenggara Studi Evaluasi Pemilihan Kepala Desa Studi Pemetaan Konflik di Kabupaten Sumbawa Barat Studi Dinamika politik desa Studi Sejarah Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat Studi Dinamika Sejarah Pilkada Langsung Survey Kesehatan Ibu dan Anak Studi membongkar jaringan mafia penjualan telur penyu Studi Dampak Ekonomi dan Perubahan Sosial Masy Tambang Studi Pengembangan pariwisata desa berbasis masyarakat Kajian Konsep Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga Kajian Konsep Sistem Informasi Orang Susah Kajian Konsep kedudukan dan peran RT, dulu dan sekarang Kajian Konsep Kader Pemberdayaan Masyarakat Tahun 20012003 2002 2003 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2007 2007 2007 2007 2007 2007 Mitra The asia foundation Ford foundation Ford foundation LBH-NTB Pemda KSB UNDP Pemda KSB Bappeda KSB Bappeda KSB GTZ PT.NNT Pemda KSB Mandiri Pemda KSB Pemda KSB The Asia Foundation dan Pemda KSB The Asia Foundation dan Pemda KSB UNDP dan ITP Jakarta The Asia Foundation Pemda KSB dan The Asia Fouundation Pemda KSB Pemda KSB The Asia foundation The Asia foundation

18 19 20 21 22 23 24

Studi peta konflik di wilayah lingkar tambang (10 desa) Studi Local Budget Indexs dan Local Budget Social Studi Pembentukan BUMDES Studi penyusunan RPJM Desa Studi Pembiayaan Sistem Kesehatan gratis Studi Evaluasi penyelenggaraan pendidikan gratis Pemetaan peran Ormas Islam di KSB

2008 2009 2009 2009 2009 2009 2009

Legitimid KSB __________________________________________________________________________215

25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 39 40 41 42 43

Studi pengembangan desa model di KSB Studi Pelayanan Publik Studi APBDES Evaluasi Kebijakan dan Implementasi ADD Evaluasi dan penyusunan Renstra PBRT 20102015 Evaluasi kebijakan kesehatan gratis Studi APBB 2005-2010 (Local budget Indeks 2010) Indeks Kepuasan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan Indeks kepuasan masyarakat terhadap pelayanan pendidikan Evalausi dana CSR PT.NNT Riset EWS daerah tambang Survey Jalan IKM Kesehatan IKM Pendidikan Studi dampak rokok Pemetaan LSM Sumbawa Barat Studi Penyusunan Naskah Akademik dan Raperda kesehatan Studi penyusunan naskah akademik dan raperda pendidikan

2009 2009 2009 2010 2010 2010 2010 2010 2010 2010 2009 2010 2011 2011 2010 2011 2011 2011

Bappeda KSB Bappeda KSB The Asia Foundation Pemda KSB Dinas BPM dan Pemdes Seknas Fitra dan TAF Bappeda dan Dikes The Asia Foundation Pemda KSB Tifa Foundation dan LBH NTB The Asia Foundation Tifa Foundation Tifa Foundation Bappeda KSB Bakesbanglinmas KSB Tifa Foundation Tifa Foundation

Penulis SYAHRUL MUSTOFA, S.H.,M.H

Legitimid KSB __________________________________________________________________________216

Anda mungkin juga menyukai