Anda di halaman 1dari 37

POTRET PELAKSANAAN PENDIDIKAN GRATIS DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT-NTB1

Oleh : Syahrul Mustofa, S.H.,MH2

Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah merupakan Kabupaten yang baru terbentuk pada tahun 2003, dan baru memiliki Bupati dan Wakil Bupati Definitif untuk pertama kali pada tahun 2005. Dan pada tahun 2006, Kabupaten Sumbawa Barat atau dikenal dengan KSB, meneyelenggarakan pendidikan gratis, mulai dari tingkat TK sampai dengan Pendidikan Atas (Sarjana/S1), Pemerintah juga memberikan bantuan pendidikan untuk S2. KSB adalah Kabupaten Pertama dan satu-satunya Kabupaten di Provinsi NTB yang melaksanakan program penyelenggaraan pendidikan gratis. Tulisan ini akan memberikan gambaran singkat mengenai bagaimana konsep pendidikan gratis di KSB? Bagaimana penyelenggaraan Pendidikan gratis di KSB? Kendala dan tantangan apayang dihadapi dalam pelaksanaan program pendidikan gratis di KSB? Dan kemana aArah perubahan kebijakan pendidikan yang dituju KSB dimasamendatang?

A. Konsep Pendidikan Gratis Menurut Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 1. Landasan Penyelenggaraan Program Pendidikan Gratis Landasan pelaksanaan program pendidikan gratis di KSB adalah berdasarkan Peraturan Bupati Sumbawa Barat Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Program Pendidikan Gratis di Kabupaten Sumbawa Barat, peraturan ini ditetapkan pada tanggal 2 Mei 2006 dan diberlaku surut mulai sejak tanggal 1 januari 2006. Secara umum, ada dua dasar pertimbangan utama dikeluarkannya Perbup ini, sebagaimana tercantum dalam dasar menimbang huruf a adalah dalam rangka meningkatkan cakupan sasaran pelayanan pendidikan kepada seluruh masyarakat, telah diambil suatu kebijakan Pembiayaan Sekolah melalui Program Pendidikan Gratis di Kabupaten Sumbawa Barat. Huruf b bahwa agar penyelenggaraan kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a dapat berjalan efektif, perlu ditetapkan Pedoman Pelaksanaannya.

1 Tulisan ini diambil dari buku pendidikan gratis di KSB (bab III), diterbitkan oleh Lembaga
2 Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa tahun 2012 atas dukungan dari oleh Tifa Foundation Penulis adalah Peneliti pada Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa (LEGITIMID) Kabupaten Sumbawa Barat

Merujuk pada dasar pertimbangan sebagaimana di atas, jelas bahwa Perbup Program Pendidikan Gratis adalah sebagai pedoman pelaksanaan program pelaksanaan program pendidikan gratis, kehadiran perbup ini dimaksudkan untuk meningkatkan cakupan sasaran pelayanan pendidikan kepada seluruh masyarakat. Dengan demikian, maka keberadaan/kedudukan perbup menjadi sangat strategis dalam menentukan kearahmana program dan apakah program pelayanan pendidikan gratis dapat berjalan efektif ataukah tidak. Sedangkan secara hukum, dasar hukum yang dirujuk atau dijadikan sebagai dasar mengingat adalah satau kerangka acuan hukum pembentukan Perbup ini, adalah sebanyak 13 peraturan, ke- 13 landasan peraturan itu adalah meliputi : a. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; b. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat di Provinsi Nusa Tenggara Barat; c. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah sebagiamana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah sebagai Undang-undang d. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah; e. Undang-undang nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen; f. Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 1990 tentang pendidikan Dasar sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 1998; g. Peraturan Pemerintah nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menegah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 1998; h. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional; i. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar nasional Pendidikan; j. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 036/U/1995 tentang Pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar; k. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah;

l. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 060/U/2002 tentang Pedoman Pendirian Sekolah; m. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11 Tahun 2005 tentang Buku Teks Pelajaran. 2. Tujuan dan Sasaran Program Pendidikan Gratis Tujuan dari program pendidikan gratis di KSB adalah : a. Meringankan biaya pendidikan dari tingkat TK/RA, SD/MI, SMP/MTs sampai SMA/SMK/MA baik negeri maupun swasta yang sebelumnya menjadi tanggungan orang tua/wali siswa peserta belajar; b. Memperkecil dan atau mengurangi angka putus sekolah dalam kurun waktu selama 1-5 tahun di Kabupaten Sumbawa Barat c. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Sumbawa barat; d. Meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). Sedangkan yang menjadi Sasaran dari Program Pendidikan Gratis adalah seluruh peserta didik yang terdaftar disekolahnya masing-masing dan telah dilakukan oleh pihak sekolah serta dilaporakan kepada Dinas.

3. Para Pihak Terkait Dan Fungsi Para pihak terkait untuk mendukung kelancaran dan suksenya Program Pendidikan Gratis, maka dipandang perlu keterlibatan para pihak, yakni a. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olaraga Dinas teknis ini mempunyai tugas melakukan pendataan, dan pemuktahiran data seluruh anak usia sekolah maupun tidak sekolah, sebagai dasar untuk menerapkan mekanisme kerja. Sementara fungsinya yaitu menysusn dan menetapkan mekanisme kerja dari perncanaan yang telah disusun sebelumnya b. Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Menyusun perencanaan terhadap mekanisme kerja program c. Inspektorat daerah Melakukan pembinaan dan pengawasan, serta tugas lain yang menjadi tupoksi dari Inspektorat Daerah, kaitannya dengan Pendidikan.

d. Dewan Pendidikan Tugas dari lembaga ini memberikan dorongan, motivasi dan pencerahan kepada masyarakat terhadap penyelenggaraan program. Sebagai lembaga yang merepresentasikan masyarakat, maka keberadaannya berfungsi sebagai corong untuk menyampaikan aspirasi, menampung berbagaii masukan, dan menganalisa kebutuhan tersebut, yang nantinya menjadi dasar pihak lainnya untuk menjalankan program. e. Unit Pengaduan Masyarakat (UPM) Keberadaannya berfungsi mengawasi pelaksanaan program secara informal, mengidentifikasi pelaksanaan program, dan memberikan masukan terhadap penyelenggara program f. Dinas Kehutanan, Pertanian, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan Membuat melaksanakan sistem Gerakan Sejuta Pohon sebagai syarat bagi warga untuk mendapatkan peleyanan pendidikan gratis g. Sekolah/Madrasah Menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar, dan memberikan informasi serta data yang dibutuhkan oleh Dinas sesuai dengan kebutuhan kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan setiap tahun anggaran h. Guru Melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam rangka mendukung kelancaran dan keberhasilan program i. j. Camat Membantu kelancaran pelaksanaan program diwilayahnya, memantau pelaksanaan program, untuk selanjutnya memberikan masukan kepada sekolah-sekolah dan atau Dinas dalam rangka penyempurnaan pelaksanaan program. k. Kepala Desa Membantu kelancaran pelaksanaan program diwilayah Desa/Keluharan ditempatnya, memantau pelaksanaan program, untuk selanjutnya memberikan masukan kepada sekolah-sekolah dan atau KCD dalam rangka penyempurnaan pelaksanaan program. l. Orang tua siswa Melaksanakan Gerakan Sejuta Pohon sebagai prasyarat untuk mendapatkan pelayanan pendidikan gratis, dan memberikan

dukungan secara materil maupun non materil terhadap pelaksanaan rencana program sesuai dengan persetujuan komite sekolah. m. Komite Sekolah Mengkoordinir orang tua siswa untuk dapat berparfisifasi dalam pelaksanaan program, membantu sekolah dalam menyelenggarakan program, dan memantau pelaksanaan program, untuk selanjutnya memebrikanmasukan masukan kepada sekolah guna penyempurnaan pelaksanaan program.

4. Penggunaan Pembiayaaan Program dan Mekanise Pelaksanaan Pembiayaan Program Pendidikan Gratis dipergunakan untuk : a. Biaya operasional TK/RA senilai Rp.15.000,-/siswa/bulan b. Biaya operasional SD/MI senilai Rp.5000,-/siswa/bulan sebagai tambahan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah); c. Biaya operasional SMP/MTs senilai Rp.5000,-/siswa/bulan sebagai tambahan dana BOS d. Biaya operasional SMA/MA senilai Rp.40.000,-/siswa/bulan e. Biaya operasional SMK senilai Rp.50.000,-/siswa/bulan Untuk dapat menerima biaya program pendidikan gratis, maka setiap sekolah menyampaikan Daftar Nama Peserta Belajar kepada Dinas Pendidikan dengan tembusan kepada Kepala Kantor Cabang setempat paling lama akhir bulan desember setiap tahun, nama-nama yang telah disampaikan sekolah kemudian Dinas Pendidikan melakukan verifikasi dan pemutakhiran data peserta belajar berdasarkan tingkat pendidikannya. Setelah melakukanverifikasi dan diperoleh data, Dinas Pendidikan melakukan koordinasi dengan BPKAD guna kelancaran proses administrasi keuangan. Dinas melakukan koordinasi dengan pihak sekolah, terkait syarat-syarat pengajuan pencairan keuangan maupun pertanggungjawabannya. Peserta belajar yang dapat menerima bantuan pendidikan dari program adalah siswa yang terdaftar disekolahnya masing-masing dan atau telah mempunyai sertifikat GSP (Gerakan Sejuta Pohon). Dan pada evaluasi pelaksanaan program dikaitkan dengan GSP dilaksanakan oleh Dinas bersama dengan Dinas Kehutanan, Pertanian, Perkebunan dan Ketahanan Pangan. Untuk memperlancar kegiatan evaluasi, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga dapat dibentuk Tim. Evaluasi terhadap seluruh pelaksanaan Program wajib dilakukan oleh Dinas Pendidikan untuk mengetahui keberhasilan dan kelemahan program dan

hasil evaluasi secara lengkap dilaporkan kepada Bupati.Sedangkan pihakpihak terkait lainnya diwajibkan untuk melakukan pemantauan terhadap pelaskanaan program dan hasil pementauan tersebut disampaikan kepada Bupati, Dinas, Tim dan lainnya.

B. Hasil Evaluasi Konsep dan Pelaksanaan Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 1. Kedudukan Perbup Tidak Dapat Menjamin Kepastian dan Keberlanjutan program Pendidikan Gratis Bila menilik kembali latar belakang sejarah, lahirnya Perbup maka kita tidak lepas dari dinamika dan konsteleasi politik yang berkembang ketika perbup ini dilahirkan adalah pasca pilkada langsung 2005. Ketika itu, kondisi DPRD terfragmentasi begitu kuat, relasi eksekutif dengan legislatif pada awal kepemimpinan Bupati kurang berjalan harmonis, sebagian anggota DPRD KSB periode 1999-2004 menolak rencana kebijakan program pendidikan gratis, rancangan peraturan daerah yang disiapkan oleh Pemerintah Daerah pun terpental karena sebagian besar anggota menilai kebijakan pendidikan gratis, sulit untuk dapat dilaksanakan di KSB karena sebagai Kabupaten yang baru terbentuk pada akhir tahun 2003, membutuhkan banyak anggaran untuk melaksanakan berbagai agenda program dan kegiatan, khususnya terkait dengan agenda pembangunan infrastuktur daerah yang membutuhkan proses yang cepat disisilain ketersediaan dan kemampuan APBD daerah masih sangat rendah. Sehingga dalam presfektif sebagian anggota DPRD menilai kebijakan pendidikan gratis, sulit untuk diterapkan dan bukan merupakan agenda prioritas pembangunan daerah tahun 2006. Oleh karena, tidak adanya dukungan politik yang cukup besar dikalangan legislative saat itu, sementara disisilain sosialiasi dan janji

politik bupati kepada rakyat untuk menggratiskan biaya pendidikan mulai tingkat TK sampai dengan SMA/sederajat, telah tersosialisasikan keseluruh pelosok desa dan telah memeproleh dukungan yang luas dari masyarakat , khususnya masyarakat fakir miskin Dengan adanya dukungan yang luas dan kuat dari masyarakat itulah, pada akhirnya menjadi modal bagi pemerintah daerah untuk menginisiasi dan memberanikan diri untuk menetapkan Perbup Program Pendidikan Gratis, karena rancangan peraturan daerah tidak dapat diakomodir oleh DPRD.

Masalah dan Analisis Terkait Kedudukan Perbup Secara konseptual, dalam hireraki perundang-undangan, kedudukan Peraturan Bupati ini adalah berada pada tingkatan terendah karena itu dari aspek hukum landasan dan kekuatan hukum untuk menjamin kepastian keberlangsungan terhadap program pendidikan gratis yang berkelanjutan masih belum efektif. Ancaman terhadap keberlangsungan program pendidikan gratis masih cukup potensial, karena landasan dan kekuatan hukum untuk menjamin keberlangsungan program pendidikan gratis hanya di payungi oleh perbup. Oleh karena hanya melalui perbup sementara hierarki perbup berada pada tingkatan terendah, maka : (a) Potensi peluang untuk dapat dibatalkan perbup masih terbuka lebar karena kedudukannya (perbup) yang paling rendah dalam hierarkis perundang-undangan sehingga perbup sesuai asas perundangundangan, tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi (b) tidak adanya jaminan kepastian dan keberlanjutan terhadap penyelenggraan program pendidikan gratis yang berkualitas dimasa mendatang, karena perbup hanya mencerminkan komitmen dan tanggung jawab politik yang terbatas pada lingkup Bupati, bukan merupakan cermin dari komitmen politik dan tanggung jawab Ancaman terhadap bersama seluruh pihak, khususnya DPRD.

terhentinya program pendidikan gratis akan sangat terbuka lebar untuk dihilangkan atau dihapuskan ketika pada akhir masa jabatan

Bupati 2015, dan Kepala Daerah terpilih nantinya tidak memiliki komitmen untuk melanjutkan program pendidikan gratis, maka dapat dipastikan pula pada tahun 2015, program pendidikan gratis yang selama ini dilaksanakan dapat berakhir ditengah jalan. Dan tentu, hal ini akan menjadi persoalan sosial baru bagi masyarakat KSB. Arah Penyempurnaan Bentuk produk hukum yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program pendidikan gratis adalah dalam bentuk Peraturan Daerah bukan dalam bentuk Peraturan Bupati sebagaimana yang berlangsung selama ini. Oleh karena ; (1) kedudukan PERDA merupakan salah satu jenis Peraturan Perundang-undangan dan merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. Dan pada saat ini mempunyai kedudukan yang sangat strategis karena diberikan landasan konstitusional yang jelas sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang menyatakan Pemerintahan Daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi daerah dan tugas pembantuan. Berdasarkan UU No.10 Tahun 2004 Tentang Pedoman Pembentukan Peraturan Perundangundangan serta hierarkhi perundang-undangan kedudukan Perda di atas Peraturan Bupati. Berdasarkan UU No 32 Tahun 2004 pasal 146 ayat (1) menjelaskan bahwa Materi muatan Peraturan Kepala Daerah adalah materi untuk melaksanakan Peraturan Daerah atau atas kuasa peraturan perundang-undangan. Jadi beranjak dari ketentuan tersebut akan lebih tepat, jika Program Pendidikan Gratis ditetapkan melalui Peraturan Daerah, dan terhadap materi yang memerlukan peraturan lebih lanjt/aturan pelaskaaan diatur dalam Peraturan Bupati dan Keputusan Bupati. Dengan ditetapkannya program pendidikan gratis melalui perda, maka komitmen untuk melaksanakan program pendidikan gratis bukan hanya semata dari Bupati melainkan pula DPRDsehingga Bupati dan DPRD sama-sama bertanggung jawab untuk memastikan keberlanjutan terhadap program pendidikan gratis.

2. Dasar Hukum Yang Digunakan Tidak Relevan Lagi Dengan Peraturan Perundang-Undang Yang Berlaku Saat ini. Dalam peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006, dalam dasar hukumnya (dasar mengingat), oleh perancang peraturan tidak memasukkan lembara negara/daerah dan tambahan negara dari setiap peraturan yang dicantumkannya. Padahal, persoalan ini bukanlah persoalan yang sederhana, melainkan sangat mendasar karena menyangkut keabsahan dan keberlakuan suatu produk hukum. Beberapa dasar hukum yang digunakan yang memeiliki keterterkaitan langsung dengan materi pendidikan sangat terbatas untuk dimasukkan kedalam dasar pertimbangan, justeru dasar hukum yang digunakan tidak memiliki korelasi dengan substansi yang diatur. Disamping itu, jika merujuk pada dasar hukum yang digunakan saat ini sebagai dasar dari pembentukan Peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2006, maka sudah kurang relevan lagi untuk digunakan karena berbagai perubahan kebijakan peraturan perundang-undangan baru. Oleh sebab itu, seiring dengan dinamika perkembangan dalam bidang pendidikan dan perkembangan kebijakan peraturan perundangundangan yang lahir dan berlaku saat ini, maka kiranya perlu, dasar hukum penyelenggaraan program pendidikan gratis disesuaikan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku saat ini. Perubahan Peraturan Bupati menjadi Peraturan Daerah diarahkan pula pada perubahan terhdap landasan hukum terkait program pendidikan gratis, dan untuk itu pula perubahan peraturan ini akan merespons sejumlah peraturan baru terkait dengan penyelenggaraan pendidikan gratis, diantaranya; Peraturan Pemerintah 74 Tahun 2008 tentang Guru, Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar; Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 Tentang pelayanan Publik dan beberapa peraturan terkait lainnya.

3. Masih Minimnya Cakupan Materi Yang Diatur dan Ketidakjelasan Materi Yang Diatur Dalam Peraturan Bupati Secara umum konsep atau materi Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 masih banyak terdapat kelemahan. Kelemahan tersebut adalah terkait dengan cakupan materi dan ketidakjelasan materi yang diatur dalam Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006. Secara rinci Peraturan Bupati terdiri dari 7 Bab dengan jumlah pasal sebanyak 26 pasal yang mengatur tentang ketentuan umum, tujuan dan sasaran, para pihak terkait dan tugas fungsi, penggunaan pembiaayan program, mekanisme pelaksanaan, pemantauan dan pengawasan, pendataan dan pelaporan. Dari hasil kajian terhadap muatan materi peraturan bupati serta kalimat perundang-undangan yang digunakan dalam perumusan pasal demi pasal terdapat beberapa kelemahan antara lain, sebagai berikut ini:

Pasal N o 1 Pasal 3

Subtansi yang diatur Sasaran Penerima Program Pendidikan Gratis a.

Kelemahan Tidak mengatur syarat dan perlengkapan persyaratan yang harus dipenuhi oleh penerima program pendidikan gratis b. Tidak mengatur mekanisme dan format verifikasi serta petunjuk teknis atau pedoman bagi sekolahsekolah untuk melakukan verifikasi a. Tidak ada petunjuk pelaksana maupun petunjuk teknis dari para pihak untuk melaksanakan tugas fungsinya, cakupan dan batasan lingkup tugas dan fungsi, hak dan kewajiban para pihak, sanksi dan sebagainya. b. Uraian tugas yang dijabarkan dalam perbup lebih kepada uraian fungsi dari tupoksi masing-masing dinas/badan yang berlaku selama ini yang tanpa diatur dalam perbup pun memang melaksanakan fungsi tersebut. c. Tentang Unit Pengaduan Masyarakat (UPM), tidak

Pasal 4 dan pasal 5

Para Pihak Terkait dan Tugas Fungsi

10

jelas kedudukannya dimana, personil, mekanisme dan tata kerja, hak dan kewajiban dan lain sebagainya, tidak diatur dalam perbup, dan hingga saat ini tidak ada petunjuk teknis maupun petunjuk pelaksana mengenai UPM 3 Pasal 19 Penggunaan Pembiayaan Progran a. Perbup tidak mengatur prinsip-prinsip pengelolaan biaya pendidikan, mekanisme pengelolaan, hak dan kewajiban dalam pembiayaan dan sebagainya tidak ada petunjuk teknis maupun petunjuk pelaksana terkait dengan pembiayaan program perbup tidak mengatur secara jelas mekanisme pelaksanaan apasajakah yang perlu diatur dalam perbup perbup hanya mengatur mengenai verifikasi peserta penerima program pendidikan dan tidak ada petujuk pelaksanaan lebih lanjut, seperti pemutakhiran data dan verifikasi, syarat-syarat pengajuan pencairan keuangan, pertanggungjawaban, dan lain sebagainya ketidakjelasan tentang evaluasi pelaksanaan program pendidikan gratis yang dikaitkan dengan GSP dilaksankan oleh Dinas pendidikan dan Dinas Kehutanan, pertanian dan Ketahanan pangan ketidakjelasan pengaturan mengenai pembentukan Tim ketiadaan juklak dan juknis dari pelaksanaan, termasuk format pelaporan program ketidakjelasan pihak-pihak terkait dalam melakukan pemantauan pelaksanaan program tidak diatur secara jelas pemantauan apakah yang dilakukan oleh masih-

b.

Pasal 20 s.d. pasal 24

Mekanisme pelaksanaan

a.

b.

c.

d. e. 5 Pasal 25 s.d. pasal 26 Pemantauan Pengawasan dan a.

b.

11

Pasal 27

Pendataan Pelaporan

dan

masing pihak terkait, bagaimanakah mekanisme pemantauan yang dilakukan, format pemantauan dan sebagainya. a. tidak adan petunjuk teknis dan pelaksana mengenai pendataan dan pelaporan b. tidak jelas diatur tentang pendataan dan pelaporan, misalnya siapa yang mendata, mengelola data, mendokumentasikan data, hak dan kewajiban, format pendataan, mekanisme pendataan dan sebagainya. Begitupun mengenai pelaporan pelaksanaan program, tidak ada standar pelaksanaan pelaporan program untuk masingmasing sekolah sebagai acuan bagi sekolah untuk menyusun laporan pelaksanaan program

4. Minimnya Petunjuk Pelaksana dan Petunjuk Teknis Sebagai Aturan Pelaksanaan Perbup Untuk dapat melaksanakan Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006, maka sesungguhnya dibutuhkan berbagai aturan pelaksanaan, baik berupa petunjuk pelaksana maupun petunjuk teknis. Jika merujuk pada judul Peraturan Bupati yang ada saat ini (Perbup Nomor 11 tahun 2006) adalah berjudul Pedoman Pelaksanaan Program Pendidikan Gratis di Kabupaten Sumbawa Barat. Jika merujuk pada judul Peraturan Bupati tersebut, maka seyogyanya karena yang diatur adalah pedoman, maka dalam perbup tersebut dapat menjabarkan secara rinci, terhadap para pihak yang diatur baik impelemnting agency atau pelaksana dan para pihak pelaksana terkait lainnya harus jelas begitupun dengan role occupation atau pihak-pihak yang dituju dari peraturan tersebut. Jika melihat pada aspek susbstansi yang diatur dalam Peraturan Bupati dengan materi dalam Peraturan Bupati nampak ketidaksesuaian, pedoman apa sesungguhnya yang diatur dalam Perbup itu sendiri, apakah pedoman perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, pengawasan, akuntabilitas dalam program pendidikan gratis ? Begitupun sasaran yang dituju dari pedoman tersebut masih terdapat bias. Pedoman untuk siapa?

12

Karena seluruh pihak yang dituju begitu luas dan cakupan mengenai tugas, fungsi, hak dan kewajiban masing-masing pihak yang dituju dari aturan tersebut tidak jelas. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika dalam pelaksanaanya, menimbulkan banyak penafsiran dan kebingungan, bahkan aturan tersebut sesungguhnya tidak mampu untuk mengjangkau apa yang diinginkan oleh Bupati. Persoalan lainnya adalah jika Peraturan ini adalah bersifat Pedoman, maka tentu ada peraturan diatasnya. Karena pada dasarnya pedoman ini adalah untuk melaksanakan aturan/kebijakan diatasnya. Jadi agak aneh dan timpang, peraturan mengenai pedoman ini muncul, namun yang dijadikan pedoman masih simpang siur atau belum jelas, bahkan tidak ada aturan diatasnya. Oleh karena Peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2006 bersifat pedoman, maka menjadi aneh pula jika kemudian pemerintah daerah mengeluarkan peraturan/keputusan yang mengatur pedoman pelaksana dan pedoman teknis, karena dengan demikian berari pedoman melahirkan pedoman, atau juklak diatas juklak. Dari hasil kajian, persoalan ini tidak lepas dari paradigma perancang peraturan dalam memahami legislative drafting. Untuk dapat melaksanakan Perbup Nomor 11 Tahun 2006 dengan efektif, maka setidaknya jika merujuk pada materi yang ada dalam perbup, masih membutuhkan peraturan lebih lanjut yang perlu dijabarkan dalam bentuk petunjuk pelaksana dan ataupun petunjuk teknis, sehingga para pihak yang dituju baik impelemnting agency (badan pelaksana) maupun role accupation (para pihak yang dituju dalam peraturan) dapat melaksanakan sesuai dengan peraturan. Beberapa masalah kurang efektifnya perbup, karena cakupan dan materi yang diatur yang dimaksudkan sebagai pedoman program, tidak cukup komprehensif dan sistematik. Dan jika merujuk pada perbup tersebut, maka terdapat beberapa peraturan pelaksaan yang perlu diatur lebih lanjut, antara lain adalah meliputi ; a. juklak dan juknis tentang pendataan dan verifikasi penerima program pendidikan gratis b. petunjuk teknis pelaksanaan persyaratan dan kelengkapan persyaratan penerima program pendidikan gratis c. juklak dan juknis tentang pembentukan Tim dan Tata Kerja Tim d. juklak dan juknis pelaporan program pendidikan gratis

13

e. juklak dan juknis tentang pemantauan dan pengawasan program pendidikan gratis untuk para pihak terkait f. juklak dan juknis pembentukan Unit Pengaduan Masyarakat dan Tata Kerja Unit Pengaduan Masyarakat g. Juklak dan juknis Pelaporan Program Pendidikan Gratis. h. Juklak dan Juknis Tata Cara Pengelolaan Anggaran, prosedur dan Mekanisme Pengelolaan Anggaran untuk masing-masing sekolah i. Juklak dan juknis Pelaporan program dan ; j. Juklak dan juknis mengenai para pihak dan fungsi masing-masing para pihak dalam pelaksanaan program pendidikan gratis. Selain lingkup materi peraturan yang belum cukup komprehensif untuk mendukung pelaksanaan program pendidikan gratis berjalan efektif, dari aspek teknis kalimat perundang-undangan yang dirumuskan dalam pasal-pasal juga masih menimbulkan ketidakjelasan dan berpotensi terjadi multitafsir dan kondisi ini telah menimbulkan permasalahan dalam pelaksanaan program. Beranjak dari permasalahan diatas, maka arah perubahan penyempurnaan Peraturan BupatiPenyusunan Peraturan daerah yang dituju adalah penyempurnaan terhadap judul dan materi peraturan, penyempurnaan terhadap kalimat peraturan, penyempurnaan terhadap sistematika materi, dan beberapa permasalahan lainnya agar lebih komprehensif dan sistematis.

5. Minimnya Pemahaman Masyarakat Terhadap Program Pendidikan Gratis Pemahaman masyarakat terhadap program pendidikan gratis ternyata masih sangat minim dan masih sangat beragam. Bahkan, sebagian besar masyarakat tidak mengetahui materi apasajakah yang diatur dalam Perbup Nomor 11 Tahun 2006. Pemahaman masyarakat terhadap program pendidikan gratis selama ini dari mendengar, informasi dari para guru, teman, atau warga-warga dikampung yang membicarakan tentang program pendidikan gratis. lemahnya pemahaman masyarakat terhadap program pendidikan gratis ini, karena memang sejak awal dalam proses penyusunan Peraturan tersebut keterlibatan masyarakat sangat rendah, bahkan sama sekali tidak ada. Peraturan Bupati disusun sendiri oleh bagian hukum, tanpa ada proses konsultasi publik.

14

Rendahnya keterlibatan masyarakat dalam proses ini, menurut pemda karena saat itu situasi genting dalam arti membutuhkan langkah yang cepat, karena adanya penolakan dari DPRD dan kondisi politik daerah yang kurang kondusif, hubungan eksekuitif dan legislatif tidak berjalan harmonis, dan hubungan antar warga masyarakat masih memanas karena pasca pilkada 2005, masih tersisa berbagai persoalan, termasuk penolakan atas terpilihnya Bupati saat itu. Sayangnya, pasca penetapan Peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2006 dan situasi daerah berlangsung kondusif, sosialiasi perbup secara langsung, baik dari pemerintah daerah c.q. Bagian Hukum, maupun DPRD sangat minim. Hanya kalangan tertentu saja dari masyarakat yang mendapatkan Perbup Nomor 11 tahun 2005. Bahkan, para tenaga pendidik di sekolah-sekolah banyak yang mengetahui secara komprehensif perbup Nomor 11 tahun 2006. Bahkan, membaca perbup tersebut, karena minimnya sosialiasi atas perbup itu. Distribusi perbup kepada kelompok strategis masyarakat sangat terbatas. Akibatnya, program pendidikan gratis yang dimaknai dan dipahami masyarakat program pendirikan gratis adalah gratis biaya pendidikan seluruhnya, tidak ada lagi uang untuk membayar SPP/BP3, maupun pungutan-pungutan uang lainnya dari sekolah, karena sekolah sudah digratiskan. Dan oleh karena pemahaman yang demikian, sulit bagi sekolah yang mengalami kekurangan operasional untuk menarik dana dari masyarakat atau menarik dana dari masyarakat untuk penambahan / pengembangan kegiatan yang ada disekolah, misalnya untuk kegiatan ekstrakurikuler, biaya kursus/jam tambahan mengajar diluar sekolah, dan sebagainya. Sementara disisilain, anggaran yang disediakan dari program pendidikan gratis masih sangat terbatas dan pemerintah daerah melarang kepada sekolah untuk menarik pungutan atau biaya-biaya lainnya dari siswa/orang tua murid. Salah satu penyebab masalah diatas adalah karena ; pertama, ketiadaan aturan yang jelas mengenai jenisjenis pungutan yang dilarang dan dibolehkan oleh sekolah sehingga terjadi perbedaan presepsi atau pemahaman antara masyarakat, pemda dan sekolah. kedua, adalah keterbatasan anggaran operasional untuk sekolah disisilain tuntutan terhadap peningkatan mutu pendidikan di masyarakat semakin meningkat.

Arah Perubahan Untuk mengatasi beberapa kelemahan/kendala sebagaimana diatas, maka perlu dilakukan ; pertama, pelibatan masyarakat dalam

15

proses pembentukan peraturan daerah (revisi perbup), sejak awal pemerintah daerah c.q. bagian hukum dan DPRD perlu melibatkan dan melakukan sosialiasi secara luas kepada seluruh stakeholders di daerah rancangan peraturan daerah perlu disitribusikan kepada masyarakat, khsusunya adalah sekolah (tenaga pendidik) dan para orang tua/wali. Pemerintah juga harus memberikan kesempatan dan bersikap terbuka untuk menerima saran dan masukan dari masyarakat terhadap rancangan peraturan daerah yang akan dibahas dan ditetapkan. Kedua, mengenai jumlah pembiayaan program pendidikan untuk membiayai operasional sekolah mulai dari TK/RA s.d. SMA/MA/SMK perlu dilakukan penyesuaian dan pengkajian secara mendalam dan dilakukan evaluasi secara terus menerus, karena pembiayaan operasional sekolah sangat tergantung dengan dinamika pasar, fluktuasi harga, dan faktor lainnya, pada setiap akhir tahun perlu dilakukan evaluasi dan penyesuaian terhadap biaya operasional sekolah. Mengenai jumlah pembiayaan operasional ini dapat dicantumkan dalam peraturan daerah dan atau dapat pula dicantumkan secara khusus dalam bentuk surat keputusan penetapan biaya operasional sekolah/tahun.

6. Adanya Kekhawatiran Masyarakat Atas Kepastian dan Keberlanjutan Program Pendidikan Gratis Pada dasarnya program pendidikan gratis memang sangat dibutuhkan masyarakat, terutama masyarakat miskin, dan hampir seluruh masyarakat program pendidikan gratis perlu untuk dipertahankan dan dilanjutkan di masa mendatang. Program pendidikan gratis dirasakan memiliki dampak dan manfaat langsung dirasakan masyarakat. Karena dengan adanya program pendidikan gratis selama ini sangat membantu mengurangi beban atau biaya pendidikan yang selama ini ditanggung oleh orang tua/wali murid. Saat ini dikalangan masyarakat mulai muncul kesangsian dan kekhawatiran akan kepastian dan keberlanjutan program pendidikan gratis, pasca berakhirnya masa jabatan Bupati dan Wakil Bupati tahun 2015. Kekawatiran tersebut terkait dengan pertanyaan mendasar masyarakat, apakah nantinya apabila Bupati dan Wakil Bupati sekarang berakhir masa jabatannya, akan berakhir pula program pendidikan gratis? Kekhawatiran tersebut muncul dan masyarakat beranggapan bahwa karena program pendidikan gratis yang berlangsung sekarang

16

adalah karena merupakan kebijakan Bupatiditetapkan melalui Peraturan Bupati nomor 11 tahun 2006, dan Bupati sudah 2 kali terpilih, dan karena itu adalah tidak mungkin Bupati sekarang akan kembali menjabat sebagai Bupati pada tahun 2015. Jika kemudian Bupati terpilih mendatang tidak lagi memiliki komitmen dan politicall will untuk melaksanakan program pendidikan gratis, maka akan berakhir pula program pendidikan gratis yang telah berlangsung saat ini. Tumpuhan masyarakat akan kepastian dan keberlangsungan program pendidikan gratis saat ini masih dan hanya tertuju pada sosok Bupati. Masyarakat belum menaruh harapannya kepada lembaga lain, seperti DPRD misalnya yang merupakan lembawa perawakilan masyarakat, karena politicall will dan keberpihakan DPRD terhadap masyarakat, dinilai warga masyarakat masih sangat minim. Belum ada kebijakan legislasi DPRD saat ini yang menyentuh kepada kepentingan dan kebutuhan real masyarakat.

Arah perubahan Scalling-up perbup untuk menjadi Perda adalah salah satu cara sekaligus usaha untuk menjamin kepastian dan kebrelanjutan terhadap program pendidikan gratis. Dorongan perlu pembentukan perda selain untuk menyempurnakan beberapa kelamahan perbup adalah dimaksudkan untuk mendoroong komitmen bersama seluruh stakeholders did aerah, khususnya DPRD untuk tetap melanjutkan program pendidikan gratis. Scalling-up ini juga sebagai upaya untuk mengikat DPRD agar sebagai lembaga perwakilan rakyat turut bertanggungjawab untuk memperjuangkan aspirasi yang berkembang dimasyarakat. Bertanggung jawab untuk mengalokasikan anggaran program pendidikan gartis serta sebagai upaya untuk menaikkan derajat hierarkhi produk hukum pengaturan program pendidikan gratis yang sebelumnya masih dalam bentuk perbup menjadi peraturan daerah. Arah perubahan yang penting pula yang perlu dipersiapkan saat ini adalah membangun sistem pendidikan gratis yang efektif, komprehensig dan sistematis. Sehingga, jika sistem program pendidikan gratis telah terbangun, maka diharapkan melalui sistem yang terbangun ini mampu untuk menjaga/mengawal Bupati dan Wakil Bupati maupun DPRD untuk mengikuti sistem tersebut. Untuk itupula, maka segala aspek regulasi yang bersifat mengikat untuk kesempurnaan produk hukumprogram pendidikan gratis perlu dirumuskan dan ditetapkan sejak sekarang.

17

Dengan berbagai instrumen hukum yang mengikat itupula diharapkan akan muncul komitmen dan politicall will yang sama Bupati dan Wakil bupati di masa mendatang yang terpilih dengan Bupati yang ada saat ini.

7. Pendidikan Gratis Telah Memberikan Akses, Namun Belum Menjamin Pendidikan Yang Bermutu/Berkualitas Sebagaian besar masyarakat mengakui bahwa dengan adanya program pendidikan gratis yang berlangsung saat ini, akses masyarakat untuk dapat mengikuti pendidikan dari seluruh jenjang dapat lebih terjangkau dan lebih mudah untuk dicapainya. Pendidikan gratis juga telah mendorong motivasi orang tua dan siswa untuk meraih cita-cita setinggi-tingginya, karena sudah tidak ada lagi kendala untuk mengikuti proses pendidikan di KSB mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi. Ketercapaian tujuan program pendidikan gratis pada aspek ketersediaan dan keterjangkauan sudah cukup berhasil, bahkan melebihi target yang diharapkan oleh pemerintah daerah. Indikasi ketercapain ini tercermin dari Angka Partisipasi Murni dan angka Partisipasi Kasar yang terus mengalami perbaikan, disamping meningkatnya posisi Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) KSB yang sebelumnya berada pada posisi ke 7 dari 10 kabupaten/Kota di NTB naik menjadi peringkat ke 3. Seiring dengan itu, tujuan program pendidikan gratis diharapkan dimasa mendatang, tidak lagi sebatas pada aspek, melainkan sudah harus merambah pada peningkatan mutu/kualitas pendidikan. Tuntutan terhadap peningkatan mutu/kualitas karena masyarakat menilai pendidikan yang ada saat ini masih tertinggal dengan Kabupaten/Kota lainnya di Indonesia, bahkan masih tertinggal jauh dengan Kota Mataram. Sehingga, masih banyak pula warga KSB, yang meninggalkan KSB untuk ke Kota Mataram atau Kota/Kabupaten lainnya di Pulau Jawadengan tujuan dan alasan hanya mengejar mutu pendidikan, karena mutu pendidikan yang berada di daerah tersebut relatif lebih baik dibandingkan dengan mutu/kualitas pendidikan yang ada di KSB. Dikalangan masyarakat bawah (miskin) persoalan mutu pendidikan memang tidak menjadi sorotan dan kritikan yang tajam namun demikian, bukan berartipula masyarakat miskin tidak berhak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Sesungguhnya, dalam benak merka menginginkan pula pendidikan yang bermutu. Bagi masyarakat miskin, cakupan program pendidikan gratis dimasa mendatang, bukan hanya terbatas diberikan untuk biaya operasional sekolah atau

18

pembebasan biaya SPP, cakupan pendanaan program pendidikan gratis harus pula dapat menjangkau biaya penunjang siswa antara lain seperti ; biaya baju, buku, sepatu, transportasi dan sebagainya, karena biaya operasional inilah yang dirasakan masih sangat sulit dan memebankan mereka. Terkait dengan hal tersebut, dalam pandangan dan tuntutan masyarakat miskin terhadap program pendidikan gratis dimasa mendatang, dibutuhkan adanya reformulasi ulang terhadap sasaran kebijakan pemberian dana program pendidikan gratis. formulasi kebijakan baru program pendidikan gratis haruslah dapat mengutamakan terlebih dahulu kebutuhan dan kepentingan kepada masyarakat miskin. Dan dalam konteks itu, maka perlu dilakukan peninjauan pemberian dana pendidikan terhadap siswa yang mampu/mapan, perlu ada perhitungan khusus dan proporsi khusus anggaran pendidikan gratis antara warga miskin dengan warga yang mampu, dalam arti tidak lagi diperlakukan secara seragam. Arah perubahan Salah satu kelemahan dari Peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2006 adalah tidak diaturnya mengenai standar pendidikan gratis. Persoalan lainnya adalah rendahnya kapasitas dan profesionalisme guru, masih terbatasanya sarana dan prasarana sekolah, dan faktor-faktor lainnya yang menyebabkan mutu pendidikan rendah. Perubahan revisi perbup diarahkan pada upaya perbaikan terhadap standar pendidikan dan dalam pemberian pelayanan mengacu pada UU.No.25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Sedangkan terkait dengan jumlah dan alokasi pemberian dana pendidikan yang tidak seragam perlu dilakukan kajian dan diatur secara khusus dalam surat keputusan atau ketetapan tentang besarnya proporsi anggaran bagi setiap peserta/siswa.

8. Pemberian Dana Program Pendidikan Gratis ke Sekolah Sudah Tepat, Namun Perlu Di bangun Transparansi dan Akuntabilitas Sekolah Selama ini dana program pendidikan gratis untuk siswa, tidak diberikan langsung kepada siswa melainkan kepada sekolah. Sejumlah kalangan menilai bahwa pemberian dana ke sekolah potensial terjadi penyimpangan, karena selama ini tidak ada keterbukaan informasi dan pertanggungjawaban publik terhadap pengelolaan dana program pendidikan gratis. Disamping itu, juga berpotensi terjadi manipulasi

19

terhadap jumlah data siswa. Terkait dengan itu, ada sebagian kecil kalangan masyarakat yang menginginkan agar pemberian dana pendidikan gratis diberikan secara langsung berupa uang tunai kepada para penerima (siswa), dengan alasan dana tersebut adalah merupakan hak penerima program, karena itu siswa atau orang tua siswalah yang memiliki otoritas langsung untuk mengelolanya, bukan sekolah. Keinginan sebagian kalangan ini, justeru banyak yang ditolak oleh masyarakat, khususnya dari para tenaga pendidik. Mekanisme pemberian dan pengelolaan dana langsung kepada masing-masing sekolah sudah tepat, karena dengan langsung sekoolah yang menerima dapat memberikan jaminan, dana pendidikan gratis yang diberikan oleh pemerintah daerah sesuai peruntukkanya ; membebaskan biaya operasinal siswa. Karena justeru, jika diberikan langsung dalam bentuk uang tunai kepada masing-masing siswa/orang tua siswa/wali dapat digunakan siswa/orang tua siswa/wali untuk keperluan belanja yang lainnya sehingga siswa pada akhirnya terkendala untuk mambayar uang sekolah. Dari aspek pemberian dana pendidikan gratis kepada sekolahsekolah sudah cukup tepat. Persoalannya sekarang adalah bagaimana pemerintah daerah, masyarakat dan DPRD dapat mendorong adanya transparansi dan akuntabilitas dari masing-masing sekolah penerima program pendidikan gratis, agar dana program pendidikan gratis dapat diakses publik dan dipertanggungjawabkan serta tidak disalahgunakan. Khususnya, terhadap sekolah swasta, karena pertanggungjawaban sekolah swasta tergolong rendah dan pada sekolah swasta tidak ada larangan khusus dari pemerintah daerah untuk menarik dana-dana dari siswa atau orang tua siswa, sehingga dapat terjadi doubel acount anggaran. Disatu sisi sekolah tersebut menerima program dana pendidikan gratis, juga mereka menerima dana-dana dari siswa atau orang tua murid melalui kebijakan di yayasan tersebut. Arah Perubahan Transparansi pengelolaan anggaran pendidikan di masing-masing sekolah harus dibangun di masing-masing sekolah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan atas program. Sekolah harus membuka akses dan menyampaikan secara terbuka terhadap para pemangku kepentingan yang ad di sekolah, seperti Komite Sekolah, Dewan Pendidikan, orang tua siswa/wali, dan kepada siswa. Kegiatan yang dilakukan misalnya dengan memasang papan informasi mengenai dana program pendidikan gratis, mengundang para orang tua/wali untuk

20

mensosialisasikan anggaran yang diterima sekolah dari program pendidikan gratis, mempublikasikan secara terbuka laporan penggunaan anggaran pendidikan gratis dan lain sebagainya. Pertanggungjawaban pengelolaan anggaran pendidikan gratis, tidak lagi sebatas penyampaian pelaporan sekolah kepada Dinas, melainkan pertanggungjawaban harus pula disampaikan kepada Komite Sekolah, Dewan Pendidikan dan para orang tua/wali siswa.

9. Menurunnya Partisipasi Tua/Wali dan Siswa

dan

Tanggung

Jawab

Orang

Salah satu masalah yang muncul sejak diberlakukannya program pendidikan gratis adalah adanya kecendrungan menurunnya partisipasi dan tanggungjawab orang tua/wali siswa dalam memotivasi, mengawasi dan membina anaknya (siswa), bahkan sebagian orang tua, semakin kurang peduli terhadap perkembangan dan kemajuan siswa. Mereka merasa oleh karena sekolah sudah gratis, maka berarti tanggungjawab orang tua terhadap pembiayaan sekolah sudah menjadi tanggung jawab pemerintah, karena sudah menjadi tanggungjawab pemerintah, maka kewajiban orang tua sudah tidak ada lagi, dan karena itu pula, jika ada anak siswa yang tidak naik kelas atau malas belajar tidak ada implikasinya terhadap orang tua/wali, karena orang tua tidak dirugikan, toh meskipun tidak naik kelas atau malas belajar dana pendidikan gratis tetap berjalan dan siswa tetap menerima program pendidikan gratis. Dampak dari minimnya partisipasi dan tanggungjawab orang tua terhadap siswa berpengaruh terhadap beban tugas dan fungsi para tenaga pendidik yang semakin meningkat, para tenaga pendidik, pada akhirnya harus membuat sejumlah kebijakan yang lebih kreatif dan ketat dalam pengawasan dan pembinaan siswa agar para siswa yang ada di masing-masing sekolah tetap menjalankan proses pembelajaran di sekolah dengan baik. Disamping , motivasi dan tanggungjawab dari para siswa itu sendiri yang juga cenderung menurun. Ada beberapa faktor munculnya masalah di atas ; pertama, karena kurangnya pemahaman orang tua dan siswa terhadap tujuan

21

program pendidikan gratis, bahkan siswa rata-rata belum tahu dan pernah membaca Perbup Nomor 11 Tahun 2006 (khususnya siswa SMP dan SMA). Sehingga sebagian siswa salah mensalahtafsirkan semangat dan tujuan dari program pendidikan gratis. Sehingga program pendidikan gratis, dimaknai sebagai hilangnya beban dan tanggungjawab mereka sebagai siswa kepada orang tua, guru dan sekolahmereka merasa tidak perlu lagi untuk terus belajar dan meningkatkan prestasinya. Karena toh, jikalaupun pada akhirnya mereka gagal, orang tua mereka tidak dirugikan karena tidak ada biaya yang dikeluarkan, segala tanggungjawab kembali kepada sekolah dan pemerintah daerah.

Arah Perubahan Salah satu penyebab masalah di atas adalah karena di dalam Perbup Nomor 11 Tahun 2006 tidak mengatur pembatasan waktu dan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah untuk membiaya siswa di masing-masing jenjang, misalnya ; terkait dengan jenjang pendidikan di SMP adalah 3 tahun. Disamping itu adalah tidak adanya sanksi kepada siswa atau orang tua, misalnya sanksi berupa pemutusan dana bantuan pendidikan gratis apanila siswa/anak tersebut tidak naik kelas atau malas atau melanggar peraturan tata tertib yang ada di sekolah. Ketiadaan mekanisme tersebut menjadi salah satu pemicu minimnya tingkat partisipasi dan tanggung jawab orang tua/wali murid untuk mendukung upaya pencapaian program pendidikan gratis, termasuk peningkatan mutu/kualitas pendidikan. Oleh sebab itu, maka dalam revisi Perbup saat ini perlu dirumuskan adanya ketentuan pembatasan waktu dan jumlah pembiayaan pada setiap jenjang pendidikan serta sanksi terhadap siswa. Pembatsan waktu disesuaikan dengan masa jenjang pendidikan yang harus ditempuh, jika pendidikan SMP atau SMA, normalnya ditempuh selama 3 tahun, maka selama hanya 3 tahun itulah kewajiban pembiayaan pendidikan yang ditanggung pemerintah daerah dalam program pendidikan gratis. Sedangkan terkait dengan sanksi adalah berupa pemutusan atau pencabutan pemberian dana program pendidikan gratis, misalnya apabila masa poendidikan SMA adalah 3 tahun, kemudian ternyata ditempuh oleh siswa bersangkutan selama 5 tahun, maka 2 tahun

22

kelebih masa waktu tersebut pembiayaannya menjadi tanggung jawab orang tua/wali siswa bersangkutan. Kedua pemerintah daerah melalui sekolah-sekolah perlu meningkatkan sosialiasi terhadap program pendidikan gratis. Sosialiasi tersebut, bukan hanya ditujukan kepada Komite Sekolah atau Orang Tua/Wali siswa, melainkan pula harus ditujukan langsung kepada para siswa penerima program pendidikan gratis khususnya kepada siswa SMP/Tsanawiyah dan SMA/SMK/Aliyah agar para siswa dapat memahami secara komprehensif terhadap program pendidikan gratis, dan mereka dapat berpartiispasi dan bertanggungjawab pula terhadap keberhasilan pelaksanaan program pendidikan gratis, karena keberhasilan program pendidikan gratis tergantung pula dari tingkat partisipasi siswa terhadap program.

10. Masih Terbatasnya Sarana dan Prasana Pendukung Sekolah Untuk Melahirkan Pendidikan Gratis Yang bermutu Persoalan keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan untuk dapat menunjang pendidikan gratis yang berkualitas dirasakan masih menjadi kendala yang dihadapai oleh sebagaian besar sekolah dari seluruh jenjang satuan pendidikan, mulai dari TK s.d. SMA/sederajat. Karena program pendidikan gratis yang diberikan oleh Pemerintah daerah terbatas pada subsidi untuk biaya operasional pendidikan di masing-masing sekolah. Dukungan tersebut dirasakan sekolah belum cukup untuk dapat pendidikan yang berkualitas. Beberapa permasalahan yang banyak ditemukan di masing-masing sekolah adalah terkait dengan sarana dan prasana alat peraga, alat bermain, laboratorium, perpustakaan, komputer dan sarana pendukung lainnya. Bahkan, sekolah yang sedang menuju pada sekolah standar nasional, seperti SMAN I Taliwang dan SMPN I Taliwang, sarana dan prasarana disekolah tersebut belum memenuhi standar yang dipersyaratkan sebagai standar sekolah nasional. Sarana dan prasarana yang dirasakan belum belum cukup mendukung dan memadai antara lain seperti fasilitas komputer yang masih terbatas begitupun dengan fasilitas laboratorium IPA dan IPS yang belum memenuhi standar sekolah nasional. Arah perubahan Peningkatan sarana dan prasarana merupakan masalah klasik yang masih menjadi kendala dalam upaya peningkatan mutu/kualitas

23

pendidikan. Dalam rangka peningkatan mutu, selain memberikan dana program operasional sekolah melalui program pendidikan gratis, pemerintah daerah perlu mengalokasikan secara khusus dana peningkatan sarana dan prasarana sekolah dan mendukung sekolahsekolah yang sedang menuju pada standar pendidikan nasional. Sekolah standar nasional dibutuhkan sebagai percontohan sekolah di KSB mendorong sekolah-sekolah untuk menuju pada sekolah standar nasional dan pada akhirnya sekolah standar internasional.

11. Perencanaan dan Pembiayaan Program bersifat Top Down Menghambat Kreatifitas Pengembangan Sekolah Penyusunan program dan kegiatan sekolah sangat tergantung dari pagu yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan. Sekolah harus menyesuaikan dengan anggaran yang ditetapkan dan program maupun kegiatan sekolah pada akhirnya menyesuaikan dengan anggaran yang telah dialokasikan oleh masing-masing sekolah. Perencanaan kegiatan/program sekolah pada akhirnya banyak yang terhambat atau tidak dapat dilaksanakan oleh masing-masing sekolah secara efektif, karena secara prinsipil perencanaan program dan kegiatan masing-masing sekolah tidak berdasarkan pada kebutuhan, potensi, dan karakteristik yang dimiliki masing-masing sekolah. Pada dasarnya banyak sekolah yang telah memiliki rencana strategis, visi dan misi serta agendaagenda program yang harus dilaksanakan oleh sekolah, namun menjadi terhambat pengembangnnya karena alokasi anggaran yang diberikan terbatas, item jenis kegiatan yang dapat dibiayai oleh pemerintah sudha ditetapkan. Aspek perencanaan program dan anggaran pendidikan di masingmasing sekolah oleh sebagian besar tenaga pendidik di masing-masing sekolah menilai penyusunan program dan anggaran pendidikan gratis yang berlangsung selama ini lebih bersifat top down, anggaran pendidikan untuk masing-masing sekolah telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan, dan sekolah hanya menyesuaikan dengan kebijakan dari atas. Oleh sebab itu, sangat sulit bagi sekolah untuk dapat mengembangkan program pengembangan disekolahnya, terlebih lagi untuk program peningkatan mutu atau kualitas pendidikan di masing-masing sekolah.

24

Karena jenis program dan kegiatan dimasing-masing sekolah yang harus disesaikan dengan rincian atau item anggaran yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan. Arah perubahan Perencanaan strategis atau renstra masing-masing sekolah perlu untuk dikembangkan di masing-masing sekolah. Renstra menjadi kerangka acuan bagi sekolah dan Dinas Pendidikan untuk menyusun program dan kegiatan tahunan. Pola pendekatan penyusunan anggaran untuk program pendidikan gratis perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sekolah. Pemerintah daerah (Dinas Pendidikan) perlu untuk melibatkan sekolah-sekolah dalam proses penyusunan anggaran, termasuk melibatkan Dewan Pendidikan Daerah. Kajian dan evaluasi terhadap kebutuhan masing-masing sekolah harus terus dilakukan untuk memastikan tingkat perkembangan dan kemajuan masing-masing sekolah. Disamping itu, sebelum menetapkan dan memberikan alokasi anggaran kepada masing-masing sekolah Dinas Pendidikan perlu melakukan verifikasi terhadap usulan program dan kegiatan yang diajukan oleh masing-masing sekolah. Kebijakan alokasi anggaran untuk operasional sekolah melalui program pendidikan gratis dapat diberlakukan secara seragam, namun untuk pengembangan masingmasing sekolah, pemerintah daerah perlu mempersiapkan dana khusus yang dialokasikan untuk pengembangan sekolahberdasarkan rencana strategis yang dimiliki oleh masing-masing sekolah. Sehingga proporsi anggaran untuk operasional masing-masing sekolah tidak ditentukan semata atas dasar indikator/variabel jumlah siswa yang terdaftar di masing-masing sekolah, melainkan pula didasarkan atas basis kinerja yang tertuang dalam rencana strategis masing-masing sekolah, sehingga dengan kebijakan model ini diharapkan sekolah juga menjadi kreatif dalam mengembangkan sekolahnya. Tidak tergantung dari kebijakan dan anggaran yang dialokasikan oleh Pemerintah Daerah.

12. Sasaran Penerima Program Pendidikan Gratis Untuk Semua Sekolah Memicu Pelaku Usaha Pendidikan Untuk Mendirikan Sekolah-Sekolah Baru. Kebijakan pemberian dana program pendidikan gratis yang berlaku saat ini adalah diberikan kepada seluruh siswa TK s.d. SMA dan sederajat, baik swasta maupun sekolah negeri dan berlakupula pada seluruh siswa, baik yang miskin maupun siswa kaya. Tidak ada

25

pembedaan, seluruh warga KSB memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan gratis. Dalam implementasinya pendekatan sasaran pemberian dana dengan cara seperti ini telah melahirkan persoalan antara lain adalah ; pertama, adanya kecendrungan munculnya sekolah-sekolah swasta baru, mulai dari tingkat PAUD hingga tingkat SMA sederajat, kemunculan sekolah-sekolah baru ini banyak yang motivasinya lebih kepada kepentingan usaha bisnis pendidikan. Bagi sejumlah pelaku usaha, dengan adanya program pendidikan gratis yang berlaku secara menyeluruh dipandang sebagai sebuah peluang atau bisnis baru yang relatif cukup menguntungkan. Situasi ini, kemudian dimanfaatkan dengan cara mendirikan sekolah, karena dengan sekolah baru itu, maka sekolah tersebut dapat menerima siswa, dan dengan menerima siswa itu maka akan memperoleh dana program pendidikan gratis. Fenomena kecendrungan ini dapat menjadi masukan atau isyarat penting bagi pemerintah daerah dalam rangka mengantisipasi terjadinya ledakan atau lonjakan jumlah dan jenis sekolah baru di Kabupaten Sumbawa Barat, karena memiliki konsekuensi terhadap anggaran daerah, berpotensi anggaran pendidikan akan semakin meningkat dan semakin banyak tersedot untuk mensubsidi sekolah-sekolah tersebut.

Arah perubahan Munculnya sekolah-sekolah baru disatu sisi cukup membantu pemerintah daerah dalam meningkatkan ketersediaan (akses) pendidikan bagi masyarakat, namun disilain juga menjadi beban baru bagi pemeirntah daerah karena pemerintah daerah harus pula mengalokasikan anggaran untuk sekolah tersebut. Pemerintah daerah juga tidak bisa atau boleh melarang orang atau Badan Hukum yang mendirikan sekolah karena bagian dari partisipasi masyarakat terhadap pendidikan. Dilema ini menjadi tantangan tersedniri yang dihadapi pemerintah daerah dalam program pendidikan gratis. Munculnya sekolah baru yang kemudian memperoleh dana program pendidikan gratis salah satu penyebabnya adalah ketiadaan aturan yang jelas dalam peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2006 mengenai kualifikasi dan persyaratan sekolah penrima program pendidikan gratis. Disamping minimnya verifikasi dan pengawasan. Kehadiran sekolah baru juga banyak menimbulkan masalah baru dalam masyarakat, karena banyak sekolah baru yang tidak dilengkapi dengan kelengkapan dokumen

26

perizinan yang memadai. Bahkan, terdapat sejumlah sekolah yang belum memiliki legal standing yang jelas, namun pemerintah telah memberikan dana untuk sekolah tersebut. Kondisi inipula yang menyebabkan dari hasil pemeriksaan BPK menemukan sejumlah temuan-temuan yang dinilai ebagai kesalahan. Untuk itu, maka pemerintah daerah perlu untuk melakukan perbaikan terhadap aturan main yang dijalankan dalam program pendidikan gratis dan perlu melakukan ; pertama, evaluasi terhadap keberadaan dan kinerja sekolah-sekolah baru diseluruh tingkatan mulai dari PAUD hingga SMA sederajat khususnya terhadap sekolah swasta untuk dapat memastikan apakah sekolah yang didirikan tersebut telah memenuhi persyaratan dan kelayakan untuk menyelenggarakan pendidikan, baik sarana dan prasarana, tenaga pendidik, legalitas sekolah dan sebagainya. Kedua, pemerintah daerah perlu untuk menyusun kriteria dan persyaratan, mekanisme tata kelola dana pendidikan gratis, hak maupun kewajiban, akuntabilitas penggunaan dana dan lain sebagainya kepada masing-masing sekolah yang akan menerima dana pendidikan gratis, kualifiasi sekolah yang layak dan tidak layak untuk menerima dana pendidikan gratis perlu pula dirumuskan oleh pemerintah daerah khususnya terhadap sekolah swasta, sehingga tidak semua sekolah swasta, khususnya yang tidak layak untuk menerima dana pendidikan gratis untuk menerima anggaran dari APBD daerah. Oleh sebab itu maka, arah perubahan yang dituju dari adanya Revisi Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 adalah diarahkan pada upaya untuk mengatasi beberapa permasalahan diatas.

13. Terjadi Disparitas Antara Sekolah Maju (Pavorit) Dengan Sekolah Pinggiran (Tertinggal)

Disparitas antara sekolah maju dengan sekolah pinggiran sesungguhnya terjadi bukan hanya pada masa sekarang atau sejak program pendidikan gratis diberlakukan. Sebelumnya, diparitas antar sekolah antara sekolah pavorit dengan sekolah pinggiran pun telah terjadi. Namun, kondisi disparitas antara sekolah maju dengan sekolah pinggiran semakin cenderung meningkat sejak diberlakukannya program pendidikan gratis. Salah satu penyebab pemicu terjadinya kesenjangan yang semakin jauh ini dikarenakan kebijakan program pemberian dana pendidikan gratis menjadikan indikator atau variabel jumlah siswa

27

yangterdaftar disekolah menjadi salah satu variabel yang menentukan besarnya jumlah anggaran operasional untuk masing-masing sekolah. Kebijakan ini ternyata memiliki konsekuensi sekolah pavorit (maju) semakin maju karena memiliki jumlah murid dan kelas yang semakin meningkat dan anggaran yang semakin besar. Sebaliknya, sekolah yang tertinggal, terlebih lagi sekolah baru berdiri yang notabennya bukan sekolah pavorit cenderung akan menerima jumlah siswa/murid dan kelas yang semakin minim sehingga anggaran program pendidikan gratis yang diterima oleh sekolah itupun semakin terbatas. Oleh karena, anggaran operasional yang dimiliki sekolah tertinggal sangat terbatas, maka sulit bagi sekolah tersebut untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan, hanya sekolah baru tertentu saja yang berhasil dari kemelut krisis ini yang berhasil keluar dari masalah dan berhasil mejadi sekolah pavorit, itupun sangat terbtas jumlahnya. Minimnya anggaran yang diterima oleh sekolah tertinggal jika terus menerus berlangsung sepanjang tahun, maka dapat dipastikan sekolah tersebut akan mengalami kebangkrutan karena ketiadaan peserta didik dan anggaran operasional sekolah.

Arah perubahan Untuk mengatasi masalah tersebut, maka pemerintah daerah perlu untuk melakukan perubahan. Perubahan tersebut diarahkan pada bagaimana pemerintah daerah dapat lebih memperhatikan sekolah tertinggal dan memberikan kebijakan dan anggaran khusus bagi sekolah tertinggal. Pemerintah juga harus melakukan evaluasi terhadap sistem proporsi anggaran pada masing-masing sekolah, variabel jumlah murid perlu dipertimbangkan kembali penggunaannya terhadap sekolah tertinggal. Harus ada variabel tertentu yang digunakan oleh pemerintah, seperti misalnya variabel sekolah tertinggal sebagai penilaian dan pertimbangan khusus yang dijadikan dasar untuk menentukan besarnya biaya tambahan operasional bagi sekolah tertinggal. Karena secara prinsipil, dalam penyelenggaraan pendidikan biaya operasional yang harus dikeluarkan sekolah relatif sama antar sekolah tertinggal dengan sekolah maju. Misalnya, alat tulis mengajar yang dibutuhkan untuk melaksanakn pendidikan di sekolah. Arah perubahan kebijakan pendidikan yang dibutuhkan dimasa mendatang adalah bagaimana kebijakan program pendidikan gratis mampu mengurangi terjadinya disparitas antar sekolah. Sekolah negeri

28

atau milik pemerintah khususnya, dapat berkembang maju secara bersama-sama dan dapat meningkatkan mutu dan kualitasnya, serta distribusi siswa yang merata di masing-masing sekolah, sehingga tidak terjadi penumpukan murid dan guru pada sekolah tertentu. program bantuan atau stimulus bagi sekolah tertinggal perlu untuk ditingkatkan dimasa mendatang. Oleh sebab itu, arah revisi kebijakan yang ditempuh didorong pada upaya untuk mengtasi problem disparitas antar sekolah.

14. Pencairan APBD dengan Kalender Sinkron dan Sinergis.

Pendidikan Belum

Persoalan mendasar dan merupakan persoalan yang cukup krusial dari penyelenggaraan program pendidikan gratis adalah ketiadaan singkroninasi APBD dengan kalender pendidikan. Dua kebijakan ini, mekanisme APBD dan Kalender Pendidikan adalah merupakan kebijakan ditingkat pusat, yang sulit bagi daerah untuk menerobosnya. Sejak program pendidikan gratis diberlakukan keluhan sekaligus masalah yang banyak menjadi sorotan dari Kepala Sekolah dan Para Guru adalah terkait dengan waktu pencairan/pengeluaran anggaran program karena antara waktu pengeluaran anggaran dengan kalender pendidikan yang berbeda. Hampir seluruh sekolah, baik PAUD, TK, SMP, maupun SMA/sederajat mengalami kendala untuk menyesuaikan kebutuahan anggaran sekolah dengan waktu pencairan anggaran. Sebagaimana dimafhum dalam mekanisme penyusunan dan pembahasan APBD KSB selama ini baru dapat ditetapkan pada bulan febuari s.d. april. Sementara itu, dalam kalender pendidikan, pada bulan januari s.d. bulan april sekolah sedang menhadapi persiapan ujian nasional mapun ujian sekolah. Aktifitas kegiatan sekolah pada bulan ini (januari s.d. april) begitu tinggi, dan seiring dengan itupula sekolah membutuhkan anggaran yang memadai. Sementara itu, pada masa ini APBD umumnya masih dalam tahap pembahasan. APBD baru dapat dicairkan untuk program pendidikan gratis pada bulan mei bahkan bulan juni. Akibatnya, waktu pencairan anggaran tidak sesuai dengan waktu dan kebutuhan masing-masing sekolah. Persoalan lainnya yang menjadi masalah adalah masa tenggang waktu ketika proses APBD dibahas antar DPRD dengan Pemerintah Daerah, sekolah harus menunggu, dan pada masa menunggu penetapan dan pencairan APBD inilah sebagian besar sekolah mengalami kendala dalam melaksanakan berbagai kegiatan, karena ketiadaan dana

29

operasional. Padahal, disisilain sekolah dituntut untuk terus melakukan proses belajar-mengajar, tanpa terganggu dengan pembahasan APBD. Untuk menjaga agar proses belajar-mengajar tetap berjalan efektif, sejumlah Kepala Sekolah, akhirnya terpaksa untuk mengisi kekosongan biaya operasional sekolah, mencari pinjaman atau berhutang kepada pihak tertentu. Keresahan dialami pula oleh para guru khususnya para guru yang berstatus sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) maupun Guru Kontrak Daerah (GKD) pada masa tenggang waktu ini, mereka harus berpuasa karena tidak ada gaji atau honor untuk mereka. Padahal, mereka harus tetap menjalankan aktifitas dan tugasnya mengajar, bagi guru GTT dan GKD yang jaraknya jauh dari sekolah mereka harus mengeluarkan biaya transportasi setiap hari, dan lebih parahnya lagi adalah GTT dan GKD yang statusnya tidak memiliki rumah atau mengontrak, mereka selain harus mengeluarkan biaya transportasi juga harus mengeluarkan uang bulanan kos-kosan. Situasi ini cukup memprihatinkan dan tentu dapat berdampak pada proses pembelajaran di sekolah.

Arah perubahan Untuk mengatasi permasalahan di atas, maka perlu dirumuskan formulasi kebijakan agar dana program pendidikan gratis dengan kalender pendidikan berjalan sinergis. Namun, oleh karena kedua kebijakan ini adalah merupakan kebijakan yang berlaku secara umum di tingkat pusat dan telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat, sulit bagi Pemerintah Daerah untuk dapat merubahnya. Untuk itu, maka harus ada kebijaksaan atau sebuah terobosan inovatif baru dari daerah. Terobosan inovatif tersebut, misalnya adalah dengan cara membuat kebijakan semacam dana cadangan atau DANA ABADI SEKOLAH untuk masing-masing sekolah agar pada masa tenggang waktu pembahasan APBD, proses belajar mengajar atau operasional sekolah tidak terganggu. Dana Abadi Sekolah adalah Dana yang diberikan oleh Pemerintah untuk masing-masing sekolah. Dana Abadi Sekolah ini semacam deposito yang dimiliki oleh masing-masing sekolah. Jumlahnya bervariasi sesuai dengan kebutuhan operasional masing-masing jenjang sekolah. Misalnya untuk sekolah SMA adalah Rp.50.000.000,- (lima puluh juta)/tahun. Dana ini diperuntukkan sebagai dana cadangan digunakan pada saat APBD belum dicairkan kepada masing-masing sekolah, setelah APBD ditetapkan dan diberikan kepada masing-masing sekolah, maka dana yang terpakai dari Dana Abadi Sekolah ini diganti kembali sesuai dengan

30

jumlah yang dikeluarkan pada tahun tersebut. Sumber dari Dana Abadi Sekolah ini adalah berasal dari APBD. Dan dapat pula ditarik dari sumbangan pihak ketiga dan orang tua/siswa.

15. Ruang Partisipasi Masyarakat Tetap Harus Dibuka Oleh Pemerintah, Tidak Boleh Ada Larangan Bagi Masyarakat Yang Ingin Menyumbang Tidak seluruhnya masyarakat menolak jika ada kebijakan dari sekolah untuk memungut biaya kegiatan/program sekolah dalan rangka peningkatan kualitas pendidikan. Misalnya, pungutan untuk biaya pembelian fasilitas komputer siswa, penyediaan buku-buku perpustakaan sekolah, atau kegiatan tambahan mengajar (les) dari para guru. Beberapa orang tua/wali murid yang memiliki kelebihan secara ekonomis, ternyata banyak pula yang tidak keberatan jika pungutan sekolah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Bahkan, banyak diantara para orang tua/siswa yang menginginkan untuk memberikan konstribusi langsung terhadap peningkatan mutu pendidikan disekolah. Keinginan sejumlah warga masyarakat yang memiliki perhatian dan kepedulian serta kemampuan ekonomis ini tentu harus diberikan apresiasi oleh pemerintah daerah dan sekolah. Arah perubahan Potensi ini dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah dan sekolah. Misalnya melalui penggalangan dan penyaluran Dana Abadi Sekolah (DAS). DAS ini dapat menjadi sarana atau wahana untuk penggalangan dana partisipasi masyarakat, termasuk para alumni sekolah yang bersangkutan yang memiliki kepedulian terhadap peningkattan mutu pendidikan di sekolah yang bersangkutan. Secara kelembagaan, kegiatan ini dapat dilakukan oleh Komite Sekolah di masing-masing sekolah. Sehingga, keberadaan dan peran Komite Sekolah tetap dapat berjalan dan tidak ternegasikan dengan adanya program pendidikan gratispartisipasi komite sekolah justeru semakin minim.

16. Profesionalisme Guru Perlu Ditingkatkan Untuk Menjaga Pendidikan Gratis Yang Bermutu Pfofesionalisme guru memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan. Untuk memperoleh guru yang profesional tentu dimulai sejak proses rekrutmen Pegawai Negeri Sipil. Seleksi dan Ujian yang dilakukan dalam penjaringan guru selain

31

mengacu pada ketentuan standar umum, perlu dilakukan uji kompetensi. Uji kompetensi tersebut terkait dengan program studi yang akan diajar/dilamar. Jika lowongan CPNS guru bahasa inggris, maka peserta calon pegawai negeri sipil tersebut harus diuji kemampuannya secara langsung dengan program bahasa inggris, termasuk kemampuan untuk mengajar. Karena dari hasil evaluasi, masih banyak guru yang setelah lulus menjadi PNS-Guru ternyata tidak memiliki kapasitas untuk mengajar. Bahkan, banyak yang tidak mampu berbicara dihadapan siswa. Di beberapa sekolah saat ini banyak ditemukan pula pegawai negeri, yang sesungguhnya tidak memiliki background atau basic untuk mengajar atau berasal dari program studi keguruan dan ilmu pendidikan, sebagian besar adalah berasal dari akta IV (mengajar). Sehingga ada guru yang basic pendidikannya adalah Sarjana Pertanian, kemudian mengajar fisika dan kimia. Padahal, dari aspek kemampuan dan keilmuan yang dimiliknya dengan program studi yang diajarkan tidak memiliki korelasi dan kompetensi. Beberapa kasus lainnya adalah Guru yang hanya berpendidikan SMA mengajar di Sekolah Dasar dan diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, bahkan ada tenaga administrasi yang merangkap pula sebagai guru dan sebagainya. Letak persoalan sesungguhnya bukan karena keterbatasan jumlah guru yang memiliki kompetensi karena sebenarnya banyak guru di KSB yang memiliki kompetensi di GTT atau GKD, namun karena kesempatan yang dimiliki sangat terbatas, tidak ada akses dan jaringan ke tingkat kekuasaan, akhirnya mereka tersingkirkan dari proses seleksi CPNS. Rentannya praktek kolusi dan nepotisme dalam rekrutmen pegawai diyakni banyak kelangan sebagai masalah besar yang menyebabkan minimnya mutu pendidikan. Disamping itu upaya program untuk peningkatan kapasitas para tenaga pendidik di sekolah masih sangat minim.

Arah Perubahan Beranjak dari permasalahan diatas, maka perlu dilakukan perubahan terhadap sistem rekrutmen guru, perlu ada tambahan materi dalam seleksi guru, yakni melakukan uji dan fit and propertes guru, untuk memastikan bahwa calon PNS guru tersebut benar-benar memiliki kelayakan dan kompetensi untuk mengajar, karena nasib pendidikan tersebut sangat tergantung dari para guru. Uji kalayakan tersebut harus

32

dilakukan secara terbuka dan independen serta mengkedepankan obyektivitas. Pemerintah daerah juga perlu untuk melakukan evaluasi secara khusus dan menyelruh terhadap para tenaga pendidik yang ada saat ini, khususnya adalah para guru PNS dan Guru PNS yang telah memiliki sertifikasi, apakah dengan sertifikasi yang telah dimilikinya saat ini mencerminkan kapasitas, integritas dan profesional mengajar yang cukup memadai ataukah sebaliknya. Disamping, melakulan peningkatan kapasitas kepada para guru di masing-masing sekolah, khususnya guru yang mengajar di sekolah tertinggal, perlu untuk mendapatkan perhatian dan pengembangan program kapasitas guru agar sekolah tersebut dapat sejajar dengan sekolah lainnya yang telah lebih dahulu maju. Sanksi terhadap para birokrat yang melakukan KKN dalam praktek rekrutmen CPNS guru juga perlu diberikan sanksi yang lebih beratkarena dampak yang ditimbulkan dari praktek tersebut adalah terhadap para generasi KSB dimasa mendatang, mereka diajar oleh para guru yang tidak memiliki komptensi atau berkualitas.

17. Tujuan Akses Pendidikan Telah Berhasil Dicapai, Namun Mutu Pendidikan Harus Terus Ditingkatkan Dari aspek pencapaian tujuan program, secara umum program pendidikan gratis telah menunjukkan adanya perkembangan kemajauan pencapaian. Hal ini tercermin dari meningkatkan APK (Angka Partisipasi Kasar) dan Angka Partisipasi Murni (APM) dalam bidang pendidikan yang terus mengalamai peningkatan dari tahun ketahun, begitupun dengan tujuan meringankan biaya pendidikan, dan penguarangan terhadap angka putus sekolah. Mengalami kemjuan yang signifikan sejak diberlakukannya pendidikan gratis. Agenda yang masih mendapat sorotan dan kritikan adalah pada aspek mutu/kualitas pendidikan. Untuk itu, maka pada periode pembangunan pendidikan di KSB selanjutnya yang perlu untuk mendapat perhatian sekaligus perubahan yang harus dituju adalah pada peningkatan mutu pendidikan. Standar Pendidikan Nasional perlu untuk didorong dan diberlakukan pada sejumlah sekolah yang ada di KSB.

18. Lemahnya Regulasi Program Pendidikan Gratis Saat ini, Menuntut Pentingnya dilakukan Scalling-Up Kebijakan

33

Berbagai permasalahan yang muncul terkait dengan pelaksanaan program pendidikan gratis sebagaimana di atas tidak lepas dari lemahnya regulasi yang mengatur tentang program pendidikan gratis. bahkan sejumlah materi dalam regulasi tidak dapat berjalan efektif sebagaimana mestinya. Beberapa substansi yang kurang efektif berjalan adalah sebagai berikut ; Pertama, aspek persyaratan penerima program. Secara konseptual program pendidikan gratis dihubungkan pula dengan program gerakan sejuta pohon atau dikenal dengan GSP3. Akan tetapi, Gerakan Sejuta Pohon sampai hari ini belum jelas konsepsi maupun implementasinya, serta korelasi positif antara GSP dengan Program Pendidikan Gratis. Dinas pendidikan sebagai leading sektor pelaksana program pendidikan gratis dan Dinas Kehutanan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan sebagai leading sektor dari program berjalan sendiri-sendiri, kurangnya koordinasi dan harmoniasasi program antara Dinas Pendidikan dan Dinas Kehutanan juga menjadi kendala. Disamping kendala terkait petunjuk pelaksana dan teknis pejabaran atas kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya. Begitupun dalam aspek evaluasi program pendidikan dan kesehatan gratis, dalam konsep Perbup Nomor 11 Tahun 2006 dalam pasal 23 ayat (2) dikatakan bahwa evaluasi pelaksanaan program dikaitkan dengan Gerakan Penanaman Sejuta Pohon, dilaksanakan oleh Dinas (Pendidikan-red) bersama-sama dengan Dinas Kehutanan, Pertanian, Perkebunan dan Ketahanan Pangan. Tidak ada penjabaran lebih lanjut atau ketentuan lebih lanjut mengenai materi apasajakah yang dievaluasi oleh masing-masing pihak, cakupan dan lingkup evaluasi, indikator keberhasilan program, maupun korealasi antara program GSP dan Program Pendidikan Gratis. Dua program tersebut memiliki maisntream dan sesungguhnya semangat yang berbeda. GSP sesungguhnya adalah sebuah program nasional yang berlangsung pada tahun 2004, era pemerintahan megawatisebagai bentuk respons pemerintah pusat atas kesepakatan dengan para donor asing terkait dengan upaya antisipasi pemanasan global dan perubahan iklim yang kemudian diadopsi oleh daerah. Sejauh ini belum terlihat ada keterpaduan antara kedua program tersebut. Dalam Perbup Nomor 11 Tahun 2006 pasal 23 secara eksplitit menyebutkan mengenai syarat penerima beasiswa. Bunyi pasal 23 adalah

3 GSP ditetapkan dengan Peraturan Bupati Sumbawa Barat Nomor 10 Tahun 2006 Tentang Gerakan Sejuta Pohon di Kabupaten Sumbawa Barat, Peraturan ini ditetapkan pada tanggal 2 Mei 2006.

34

sebagai berikut Peserta Belajar yang dapat menerima bantuan pendidikan dari Program adalah siswa yang terdaftar disekolahnya masing-masing dan atau telah mempunyai sertifikat GSP. Dalam rumusan pasal ini, secara implisit, mencerminkan ada dua syarat dan dua otoritas lembaga yang memiliki kewenangan untuk menentukan peserta penerima program, yakni ; Dinas Pendidikan dengan syarat siswa yang terdafat di sekolah dan Dinas Kehuatanan, Pertanian, perkebunan dan Ketahanan Pangan dengan GSP. Ketidakjelasan rumusan ini, bukan hanya membingungkan masyarakat, tetapi juga dapat membingungkan implementing agency dari pembuat dan pelaksana aturan itu sendiri. Kedua, kekaburan rumusan dalan perbup Nomor 11 tahun 2006 tercermin pula dalam pengaturan mengenai pemantauan. Dalam pasal 25 ayat (1) dikatakan bahwa pihak-pihak terkaitpsimaksud dalam pasal 4 wajib melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan program. Ayat (2) hasil pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Bupati, Dinas, Tim dan lainnya guna keberhasilan Program. Dalam rumusan ini jelas bahwa Perbup memerintahkan kepada pihak-pihak terkait yang meliputi ; a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. n. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora); Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Badan Pengeloa Keuangan Aset Daerah (BPKAD) Inspektorat Daerah; Dinas Kehutanan, Pertanian, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DISHUPPTAN) Dewan Pendidikan; Unit Pengaduan Masyarakat (UPM); Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga; Sekolah/Madrasah; Guru; Camat; Kepala Desa; Orang Tua/wali Siswa dan; Komite Sekolah

Untuk melakukan pemantauan terhadap program pendidikan gratis. oleh karena perintah dalam pasal 25 adalah merupakan wajib atau suatu keharusan, maka tentu secara hukum memiliki konsekeunsi jika dilaksanakan akan memperoleh sanksi. Namun, perintah dalam pasal 25 tersebut tidak dibarengi dengan pengaturan terhadap sanksi. Sehingga

35

perintah keharusan untuk bertindak sesuai dengan pasal 25 ayat (1) tidak memiliki kekuatan apapun karena ketiadaan atas sanksi. Begitupun terkait dengan tugas pemantauan, oleh karena dalam ketentuan peraturan tersebut (pasal 25 ayat 1) merupakan sebuah keharusan untuk bertindak atau dijalankan, maka seyogyanya implementing agency merumuskan secara jelas apa dan siapa yang dipantau (obyek pemantauan) yang dilakukan oleh masing-masing pihak, waktu dan prosedur pemantauan yang dijalankan, format pemantauan, dan sebagainya. Namun dalam regulasi maupun turunannya tidak mengatur sama sekali, sehingga seulit bagi para pihak untuk dapat melaksanakan perintah pasal 24 ayat (1) dan (2). Bahkan menjadi keanehan, jika Dinas (dikpora) memantau dirinya sendiri dan melaporkannya kepada mereka sendiri (lihat pasal 24 ayat 1 dan 2). Dari rumusan pasal-pasal yang diatur dalam Perbup Nomor 11 Tahun 2006 menunjukkan lemahnya peraturan tersebut, baik dari aspek teknis pertimbangan, landasan yuridis yang digunakan, materi pengaturan, maupun kalimat perundang-undangan yang digunakan. Sehingga sangat wajar, jika impelemnting agency maupun rule ocupation dari peratura tersebut tidak dapat dijalankan secara efektif oleh para pihak atau dengan kata lain sulit bagi setiap orang untuk berperilaku atau bertindak sesuai dengan yang diinginkan oleh peraturan tersebut, karena perintah, larangan, kebolehan maupun pengaturan tentang obyek, impelemnting agency dan rule occupation atas peraturan tersebut tidak jelas dalam pengaturannya. Beranjak dari permasalahan tersebut, maka perlu untuk dilakukannya scalling-up perbup. Scalling-up perbup tersebut, bukan hanya pada aspek penyempurnaan substansi materi pengaturan melainkan pula adalah scalling-up kedudukan perbup untuk menjadi sebuah perdasebagai landasan untuk mendorong peyelenggaraaan pendidikan yang bermutu/berkualitas di masa mendatang.

36

37

Anda mungkin juga menyukai