Anda di halaman 1dari 2

RESUME: KUNJUNGAN INDUSTRI KE GMF Hari Selasa, tanggal 8 November 2011, kami mahasiswa Metalurgi dan Material 2011

melakukan kunjungan industry ke GMF (Garuda Maintenance Facility). Pemberangkatan dilaksanakan pada pukul 07.00. Kami telah berkumpul di halte teknik sekitar pukul 06.00. Setelah diabsen, kami masuk ke bis kuning yang akan mengantar kami ke GMF. GMF terletak di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng. Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam, karena kami terjebak macet di jalan tol. Sesampainya di GMF, kami masuk ke workshop. Disana banyak area untuk perbaikan pesawat. Komponen pesawat yang akan diperbaiki ditempatkan di area yang berkaitan dengan proses perbaikan yang diinginkan. Pertama, kami ke tempat Production Sheet Metal and Component. Disini, Pak Hary Adi dan Pak Bambang menjelaskan sekilas tentang workshop GMF. Area tersebut menjadi tempat untuk menangani perbaikan komponen yang berkaitan dengan sheet metal atau logam dalam bentuk lembaran. Dijelaskan pula bahwa komponen pesawat terdiri dari metal components dan non-metal components seperti komposit. Setelah itu, kami menuju ke tempat Production Machining. Disitu terdapat banyak alat-alat seperti mesin welding, bubut, grinding, dan alat forming lainnya. Menurut penanggung jawab area tersebut, dalam memperbaiki komponen pesawat tidak boleh asal merekayasa. Segala hal yang akan dikerjakan terhadap komponen pesawat, yang mana berbeda dengan permintaan customer, harus dikonsultasikan terlebih dahulu. Jika rekayasa disetujui, baru boleh dikerjakan. Disitu terdapat TIG welding, yang bisa mengelas berbagai macam material, mulai dari aluminium, magnesium, sampai titanium. Dijelaskan juga bahwa tiap komponen pesawat mempunyai umur yang dilihat dari jam terbang. Setelah melewati usia jam terbangnya, komponen tersebut harus diinspeksi untuk menentukan apakah akan diganti atau diperbaiki. Semua material untuk perbaikan komponen diimpor dari supplier yang telah terjamin kualitasnya. Semua alat ukur dikalibrasi bertingkat-tingkat sehingga sangat akurat. Segala hal di GMF juga direcord, yang mana record tersebut akan disimpan setidaknya dua tahun, dan setelah itu baru boleh disimpan di tempat yang jauh. Karena standar perawatan pesawat yang ketat, rasio penerbangan yang berakhir celaka senantiasa berkurang seiring dengan waktu. Selanjutnya, kami menuju ke suatu area yang disitu sedang mengerjakan perbaikan nose pesawat. Tampak bahwa nose itu ditambal dengan lembaran kain komposit. Penanggung jawab area, Pak Zaki, mengantar kami ke ruangan yang terdapat raw materials berupa gulungan-gulungan komposit. Ada yang seperti kain biasa, ada juga yang berwarna abu-abu yang merupakan komposit karbon, material yang ringan namun kuat. Di samping ruang itu ada ruang yang mempunyai semacam pendingin. Pendingin itu berfungsi untuk membantu proses penempelan material. Di sebelah ruang itu ada ruang chemical. Disitu ada lemari untuk menyimpan berbagai zat kimia. Ada juga semacam cerobong untuk mengalirkan asap keluar, manakala disitu dipakai untuk mereaksikan zat kimia yang menghasilkan gas.

Setelah itu, kami melihat proses pemasangan rivet. Rivet bentuknya seperti baut namun tidak berulir. Rivet digunakan untuk menyambungkan lembaran body pesawat. Proses pemasangannya pertama-tama lubang body yang akan dirivet harus diinklinasi dulu agar bentuknya sesuai dengan kepala rivot. Lalu rivetdibor dulu, lalu dari sisi belakangnya ditembak, agar permukaan bawah rivet tersebut melebar dan mengunci lubang. Rivet digunakan untuk menyambungkan body pesawat karena membuat body tersebut fleksibel. Fleksibilitas itu diperlukan ketika pesawat sedang terbang. Teknik welding tidak digunakan dalam menyambung body pesawat karena akan membuat keseluruhan body menjadi terlalu kaku dan memudahkan terjadinya patahan atau retakan. Rivet ada yang round head dan flat heat. Kedua jenis rivet itu digunakan untuk lokasi yang berbeda, tergantung pada jenis stress yang akan diterimanya. Setelah itu kami masuk ke ruang C19 yang menangani sliding window. Menurut penanggung jawab ruangan itu, untuk menguji apakah suatu window masih layak atau tidak, dilakukan tes konduktivitas panas. Caranya, sliding window itu didiamkan di ruang tersebut selama 2 jam. Setelah itu dites dengan suatu alat. Jika ditemukan fluktuasi suhu pada sliding window tersebut, maka dapat dikatakan window itu sudah reject dan harus diganti yang baru. Dijelaskan pula bahwa tim yang bekerja di ruangan itu pernah menemukan kesalahan pada buku pegangan pesawat yang dikeluarkan Boeing. Mereka lalu mengkomplain pihak Boeing, dan Boeing berterimakasih terhadap mereka karena telah melaporkan adanya kesalahan yang tidak terdeteksi selama lebih dari 20 tahun. Setelah itu Boeing merevisi buku pegangannya. Setelah itu kami ke hangar pesawat. Disitu terdapat beberapa pesawat yang sedang menjalani perawatan. Ada pesawat berukuran sedang, ada juga Airbus yang berukuran besar dan mempunyai dua lantai. Kami masuk ke dalamnya dan melihat-lihat isinya. Guide menjelaskan bahwa segala hal yang berkaitan dengan kondisi pesawat selalu diinformasikan secara real time ke hangar itu. Sehingga, jika terjadi kerusakan, pihak GMF bisa segera menyediakan material yang sesuai untuk memperbaikinya begitu pesawat itu landing. Pilot, jadwal penerbangan, dan jadwal perawatan juga semuanya didata disini. Hangar itu adalah tujuan terakhir kami di GMF dan setelah itu kami kembali ke Fakultas Teknik.