Anda di halaman 1dari 55

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

CATATAN DINAMIKA POLITIK ARUS BAWAH


(Sebuah Pengalaman dari Desa)

Disusun Oleh :

Team LEGITIMID

LEMBAGA PENELITIAN DAN ADVOKASI MASYARAKAT DESA


(LEGITIMID) NUSA TENGGARA BARAT

2004

(tidak dicetak dan dipublikasikan dalam bentuk buku)

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

DINAMIKA POLITIK ARUS BAWAH


Sebuah Pengalaman Dari Desa
Tulisan ini berangkat dari pertanyaan dasar Mengapa otonomi desa? Apa harapan masyarakat dengan adanya otonomi desa? Bagaimanakah respons masyarakat dalam menyikapai keberadaan UU.No.22/1999? Bagaimanakah pelaksanaan otonomi desa? Kendala apasajakah dalam pelaksanaan otonomi desa? Bagaimana prospeks dan persfektif yang harus dikembangkan dalam pelaksanaan otonomi desa masa mendatang?

Kegagalan Otonomi Desa : Refleksi dari Arus Bawah

entitasnya sebagai komunitas masyarakat hukum yang memiliki nilai-nilai sendiri. Kebijakan pemerintah Orde Baru melalui UU.No.5 tahun 1997 telah menyebabkan nilai-nilai dan institusi sosial pengemban nilai-nilai masyarakat menjadi tidak efektif, nilai-nilai kearifan local termarginalkan dan pada akhirnya desa kehilangan identitasnya. Kondisi ini semakin memburuk, karena kelembagaan social di desa diformalkan dan hanya diakui manakala tunduk dan patuh pada instrumen kekuasaan yang sifatnya formalistic yang dibentuk oleh State (negara). Karenanya, hampir seluruh institusi social desa yang lahir tumbuh dan berkembang pada masa sebelumnya, luluh lantah, lembaga adat, struktur pemerintahan desa dan lembaga lainnya tidak mampu berbuat banyak. Kehancuran ini disebabkan oleh karena ; 1) Pola dan sistem pemerintahan desa yang dibangun Pemerintah ORBA dilakukan secara seragam. Sehingga, desa kehilangan karakteristik, adat istiadat, kebiasan serta kearifan lokal; 2) Institusi sosial baru yang dibentuk sebagai tandingan: sekaligus berperan sebagai kepanjangan tangan dari pemerintahan diatas; 3) Kepala Desa didudukkan sebagai bawahan Camat dan Bupati serta bertanggungjawab kepadanya, sehingga Kepala desa lebih loyal kepada Bupati atau Camat daripada masyarakatnya. Kondisi pemerintahan desa mengalami proses pelemahan. Struktur pemerintahan yang ada tidak mampu mengakomodasikan kepentingan dan kebutuhan masyarakat desa, sehingga pemerintahan menjadi rapuh. Banyak kasus-kasus perselisihan ditingkat desa yang pada akhirnya tidak mampu terselesaikan dengan baik, oleh karena media dan perangkat desa lainnya termasuk nilai-nilai yang menjadi kebiasaan masyrakat untuk menyelesaikan persoalannya telah diberangus oleh Negara. Misalnya saja Lembaga Krama Desa yang ada di beberapa Kabupaten di Lombok Provinsi NTB. Institusi ini kehilangan entitas dan identitasnya sebagai lembaga penyelesaian sengketa ditingkat desa. Oleh karena, negara tida mengakui keberadaanya sebagai institusi social ditingkat desa. Ditingkat infrastuktur social masyarakat desa. terjadi proses pemiskinan, keterbelakangan dan pembodohan, tingkat kesadaran politik masyarakat menjadi begitu rendah, budaya permisif terhadap kekuasaaan semakin menguat, daya kritis masyarakat terhadap kekuasaan menjadi musnah. Kondisi ini dalam perkembangannya memunculkan kekuasaan yang cenderung otoriter dan korup., kearifan sosial semakin terkikis, karena harus mengintegrasikan kepada stuktur nilai yang dibangun oleh negara. Misalnya, budaya musyawarah di desa, media ini
2

elama puluhan tahun dibawah UU.No.5 tahun 1979 desa telah kehilangan

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

menjadi tumpul, karena setiap musywarah harus meminta izin dan mendapat restu dari pemerintahan diatas.. Kegagalan diatas, telah membawa para pemegang kebijakan pada era reformasi untuk melakukan perubahan paradigma pemerintahan desa dari UU.No.5 tahun 1979 menjadi UU.No.22/1999 tentang pemerintah daerah.
Perbedaan UU.No.5/1979 dan UU.No.22/1999 UU.No.5 tahun 1979 UU.No.12 tahun 1999 Desa merupakan kesatuan wilayah Desa merupakan kesatuan masyarakat hukum Desa berada dibawah Camat Desa bukan bawahan Camat (bertanggungjawab kepada Camat) (bertanggungjawab kepada BPD) Diatur oleh peraturan Mendagri dan Prakarsa masyarakat setelah disetujui Perda oleh BPD dan diusulkan oleh BPD dan diusulkan ke Bupati (diperdakan) LMD (ketua kepala Desa, anggota BPD (Ketua dan anggota dipilih oleh adalah aparat dan tokoh masyarakat masyarakat) 2 x 8 tahun 2 x 5 tahun Pendapatan Asli Daerah Diatur oleh Pejabat ditingkat atas Bupati/Walikota KDH II PADes dan BUMDes Diputuskan oleh desa sendiri BPD (Badan Perwakilan Desa)

Materi Pengertian desa Pemerintah desa Pengembangan dan penggabungan desa Lembaga Masyarakat Masa jabatan Kepala desa Keuangan Kerjasama dan pengawasan Pembinaan dan Pengawasan

Sumber : Data diolah dari Modul Pelatihan Penguatan BPD, Proda NT, 2001

Perubahan kebijakan dalam pengaturan mengenai desa ini oleh sebagian besar kalangan di daerah di pandang sebagai angin segar yang diyakini akan membawa perubahan yang cukup significan bagi perkembangan kemajuan daerah, khususnya desa. Karenanya muncul pula berbagai harapan, diantaranya adalah : 1) Secara politik; adanya jaminan kebebasan bagi masyarakat untuk menyalurkan dan meyuarakan aspirasinya, jaminan kebebasan untuk mengawasi kinerja pemerintahan, pengembangan demokrasi ditingkat 2) Kedua; secara ekonomi, adalah adanya peningkatan kesejahteraan kehidupan masyarakat, berupa peningkatan pembangunan secara merata dan adil, peningkatan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa, dan lainnya. 3) Ketiga; secara social-budaya adalah adanya perindungan terhadap nilai-nilai atau kearifan local yang mendukung pelaksanaan pembangunan di desa, berupa penghormatan atau penghargaan atas nilai yang berkembang dalam masyarakat desa, adanya jaminan atas pemberdayaan lembaga-lembaga didesa, dan diharapkan pula pemerintah sejauh mungkin menghindari praktek hegomini kekuasaan terhadap kulture masyarakat setempat.

Gerakan Otonomi Desa UU.No.22/1999 oleh sebagian besar masyarakat di daerah merupakan peluang untuk membangun desa berdasarkan karakteristik, adat istiadat, kebiasaan dan
3

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

nilai-nilai setempat. Meski demikian, masyarakat menyadari bahwa kendala dan hambatan serta ancaman untuk melakukan hal tersebut tidaklah mudah, apalagi ditingkat masyarakat desa sendiri sekarang ini masih terjadi perbedaan persepsi sehingga melahirkan pro dan konta tentang otonomi desa. Hal ini disebabkan antaralain ; Belum tersosialisasikannya UU.No.22 dan 25 tahun 1999 serta berbagai produk peraturan perundangan-undangan daerah yang mengatur tentang pemerintahan desa ke tingkat masyarakat yang berada dilevel pedesaan; Masih terjadi perbedaan persepsi ditingkat para pemegang kebijakan baik Pusat, Provinsi maupun Kabupaten tentang berbagai pengaturan mengenai desa. Masih adanya tarik ulur antara Pempus, Pemprov, Pemkab dan Pemdes; Pemerintahan dilevel atas masih setangah hati untuk memberikan otonomi kelevel desa; Lemahnya pemberdayaan pemerintahan dilevel atas terhadap pemerintahan dan masyarakat desa; Titik persoalan yang diperdebatkan mengenai pengaturan tentang desa didaerah adalah terletak pada persoalan mendasar, yakni otonomi desa seperti apakah yang diwujudkan di tiap desa sekarang ini?. Menaggapi persoalan ini kelompok pertama; berpandangan bahwa otonomi desa sekarang ini adalah otonomi modern, pandangan kelompok ini menolak pandangan bahwa otonomi asli desa adalah pemerintahan asli desa masa lalu. Karenanya, kelompok ini menolak upaya untuk merevitalisasi murni system pemerintahan seperti sediakala (masa lalu)1. Argumentasinya; (1) bila otonomi desa diartikan sebagai kembalinya system pemerintahan masa lalu berarti adalah pengulangan sejarah. Dialektika histories masa lalu dengan situasi kontemporer saat ini memiliki banyak perbedaan. Oleh karena variable-variabel yang mempengaruhinya berbeda. Sehingga revitalisasi murni dalam pandangan kelompok ini justeru akan melahirkan kontradiksi. Titik kontradiksi tersebut adalah pertama; system pemerintahan masa lalu, menguntungkan segelitir kelas-kelas social tertentu dimasyarakat desa (bangsawan, birokrat, pemangku adat,) kondisi ini lahir karena pada umumnya pemerintahan desa pada masa lalu adalah peninggalan desa pada masa kerajaan dan masa kolonialisme. Yang menempatkan masyarakat bawah sebagai kawula atau hamba dan penguasa sebagai tuan atau abdi2. Kedua; Pemerintahan masa lalu cenderung menciptakan stratifikasi social masyarakat kedalam kasta-kasta sebagai implikasi dari peninggalan kerajaan. Hal ini dipandang kontradiktif dengan alam demokrasi modern yang menempatkan seluruh masyarakat memiliki persamaan dan kesetaraan hak dan kewajiban yang sama. Ketiga; bila membangun kembali system pemerintahan masa lalu, dikhawatirkan akan memperkuat kembali feodalisme yang saat ini mulai terkikis.
Kritik yang dimunculkan oleh kelompok ini misalnya adalah pembentukan pemusungan-pemusungan di daerah Lombok Utara sebagai pengganti pemerintahan sediakala. Karena pemusungan (pemerintahan desa) yang dibentuk oleh beberapa kalangan dan dilaksanakan oleh Beberapa desa di Lombok Utara justeru menguntungkan kelas bangsawan atau kelas tertentu yang ada di desa. Pengembalian kembali system pemerintahan masa lalu ini dipandang oleh kelompok ini sebagai bentuk atau upaya menguatnya kembali system fedoalisme dan aristokrasi desa yang sebelumnya mulai terkikis. (Baca : Pemusungan Desa di Lombok Utara). 2 Kearifan lama meskipun seringkali menggambarkan bahwa desa merupakan suatu masyarakat tradisional yang hidup rukun dan demokratis, meski banyak desa yang mengalami hal ini. Namun, tidak sedikit pula bukti yang menunjukkan bahwa sebagian komunitas local lainnya di Indonesia pada masa pra-kolonial merupakan masyarakat dengan nilai komunitas yang sangat tinggi melalui system feodalisme dan aristokrasi yang sangat ketat. (lihat Makalah, Kelembagaan Politik Desa, Pratikno, pada Pertemuan Forum FPPM ke-4 1922 Juni 2001).
1

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Kelompok kedua adalah kelompok yang menginginkan revitalisasi secara penuh dan murni. Kelompok ini menginginkan agar desa-desa yang telah terbentuk kembali pada masa sebelumnya3. Argumentasinya, (1) UU.No.22/1999 bermaksud untuk membangun dan membangkitkan kembali kearifan local. Dalam pandangannya, kearifan local menjadi salah satu prasyarat menuju kemandirian masyarakat local. Dan kemandirian masyarakat local tersebut tercermin dari berlakunya nilai-nilai local dalam tatanan system pemerintahan desa. (2) Pada masa Orde Baru masyarakat local tidak diberikan kesempatan dan peluang untuk duduk dalam struktur kekuasaan karena hegemoni dan dominasi negaradimana mulai dari jabatan Gubernur sampai dengan Jabatan Bupati selalu diduduki oleh orang yang bukan asli daerah. (3) banyak keberhasilan yang dicapai dalam catatan sejarah tentang pemerintahan masa lalu. Gerakan kembali keakar otonomi asli masa lalu ini pada umumnya menguat di Pulau Lombok, khususnya lagi Lombok Barat bagian utara. Sementara di Pulau Sumbawa gerakan tidaklah begitu menggaung4. Justeru desakan yang kuat ketika UU.No.22/1999 diberlakukan adalah tuntutan pembentukan provinsi Sumbawa. Keinginan untuk membentuk Provinsi tersebut dilandasi oleh karena antara lain; 1. Secara Geografis wilayah Provinsi NTB begitu luas sehingga keterjangkauan dan ketersediaan pelayanan publik menjadi sangat terbatas ; 2. Secara administrative terjadi inefisiensi dan inefektifitas dalam proses penyelenggaraan pembangunan dan pemerintahan karena jarak, sarana, dan transportasi yang terbatas; 3. Secara social; karakteristik, adat, kebiasaan dan nilai-nilai masyarakat yang berada di Pulau Sumbawa dengan Pulau Lombok jauh berbeda; dan beberapa alasan lainnya. Pembentukan provinsi Sumbawa diharapkan akan dapat mempermudah masyarakat dalam proses pelayanan publik, penyelenggaraan pembangunan dan pemerintahan. Dan diharapkan dengan terbentuknya Provinsi Sumbawa kelak akan akan membawa peningkatan kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi tuntutan masyarakat di Pulau tersebut belum berhasil, oleh karena masih terjadi perbedaan persepsi diantara para anggota Team Pembentukan Provinsi Sumbawa, terutama mengenai kedudukan Ibu Kota Provinsi. Tuntutan dan gerakan kembali kedesapun mencuat, pada tahun 2002 misalnya, masyrakat Kelurahan Dasan Agung meminta kepada Pemkot dan DPRD Kota Mataram agar merubah kelurahan menjadi desa, dan mendesak agar pemilihan Lurah dipilih

Di Lombok Utara, gerakan untuk memunculkan kembali struktur pemerintahan masa lalu dilakukan oleh berbagai kalangan secara massif, hasilnya untuk Lombok Utara (kab.Lombok Barat) beberapa desa menerapkan sistem pemerintahan pemusungan yang berbeda dari desa lainnya, akan tetapi oleh berbagai kalangan hal ini mengembalikkan kembali sistem pemerintahan feodalisme. (Baca : Lombok Post Gerakan Masyarakat Lombok Utara, 2000-2001) 3 Demokrasi ala modern dalam pandangan aktivis NTB adalah adanya persamaan (equity), kebebasan dan kemerdekaan (freedom) , kerjasama (cooperation), demokratisasi dan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat (hasil dikusi di SOMASI NTB, 2001). 3 Rangkaian kegiatan yang dilakukan seperti melakukan pendidikan dan pelatihan pada masyarakat desa, melakukan pengorganisasian desa, kampanye dan sebagainya. Kegiatan ini pada umumnya dilakukan oleh NGO di NTB,,seperti SOMASI NTB misalnya, melakukan pengorganisasian pada 6 desa di 4 Kabupaten di NTB, Lesa Demarkasi NTB meakukan pelatihan dan pendampingan pada 20 BPD pada 3 Kabupaten di NTB, LSBH Mataram, melakukan pemberdayaan pada para petani se-NTB, Koslata Mataram melakukan dikusi demokrasi di 10 Desa pada 1 Kabpaten dan lainnya. 4 Pulau Lombok Terdiri dari 3 Kabupaten, yakni Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur dan 1 Kota Mataram. Ketiga Kabupaten dan Kota tersebut mayority didominasi oleh etnis Sasak-Lombok. Sedangkan untuk Pulau Sumbawa ada 2 etnis mayority, yakni Etnis Samawa (Kab.Sumbawa), dan Etnis Mbojo (Kab Dompu dan Bima).

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

secara langsung oleh masyarakat. Alasan masyarakat karena demokrasi di desa lebih baik daripada demokrasi di kelurahan. Mengapa ? 1. Di desa pemilihan seorang Kepala Desa dipilih secara langsung oleh masyarakat, sehingga Kepala Desa yang terpilih dan memimpin kelurahan adalah orang yang benar-benar dikenal, dekat dan didukung oleh masyarakat. Sementara, dikelurahan, Lurah dipilih dan diangkat oleh Walikota. Seringkali, orang yang diangkat oleh Walikota bukanlah orang yang dikenal dan dekat dengan mayarakat, disamping itu seringkali pula Lurah yang diangkat itu kurang emahami karakteristik, kebiasaat, adatistiadat masyarakat setempat, sehingga menyulitkan proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembagunan di keurahan tersebut; 2. Secara politik, demokrasi di level desa jauh lebih maju, kesadaran politik lebih dapat berpeluang besar tubuh dan berkebang di desa dibandingan dengan kelurahan. Selama ini masyarakat dileve pedesaan dianggap sebagai masyarakat yang terelakang atau tertinggal dari aspek politik, akan tetapi dalam realitasnya justeru masyarakat Kota yang selama ini dianggap maju, secara politik justeru tertinggal dari masyarakat desa; 3. dengan pemilihan Lurah secara langsung masyarakat berharap ada akuntabilitas dari seorang Lurah kepada masyarakat yang dipimpinnya dikelurahan, ada pengawasan, transparansi dan sebagainya karena pertanggungjawaban Lurah tidak semata pada Walikota akan tetapi pada masyarakat setempat dan hal ini akan mendorong kinerja Lurah leih baik; Untuk memperjuangkan hal tersebut diatas masyarakat di Kelurahan membentuk Forum yang diberi nama Forum Silaturahi Warga Dasan Agung, forum ini bertugas mengayomi, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat sebagai wujud penguatan demokrasi dikalangan bawah. Dari hasil dialog dan penyerapan aspirasi yang berkembang, masyarakat di Kelurahan tersebut merekomendasikan kepada Pemkot Mataram agar dalam mengangkat Lurah harus mempertimbangkan beberapa hal : 1. Calon Lurah sebaiknya adalah Putra Asli Dasan Agung dan atau orang yang memiliki komitmen dan political will yang kuat dalam mengembangkan kemajuan Kelurahan Dasan Agung ; 2. Tidak Korup dan bersedia untuk transparans dalam menjalankan pembangunan dan pemerintahan di Dasan Agung; 3. Memiliki kemampuan/kapasitas yang memadai ; 4. Mampu bersikap adil dan mau untuk menjaga dan menegakan hukum yang ada di kelurahan; 5. Dipilih secara langsung oleh masyaraat secara demokratis; Namun, keinginan masyarakat tersebut belum bisa diakomodir dalam kebijakan pemerintah daerah Kota Mataram. Oleh karena Pemkot terpaku pada berbagai peraturan yang telah ditetapkan oleh Pempus. Meski demikian, pemerintah dan sebagian anggota DPRD Kota Mataram memandang bahwa gagasan Pemilihan Langsung Lurah perlu untuk diperhatikan dan dipertimbangkan dimasa mendatang.

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

fenomena dan Perdebatan tentang konsep otonomi daerah yang berlangsung pada masa awal ini (otda) ternyata sadar atau tidak telah melahirkan kebingungan sebagian besar masyarakat yang berada di level pedesaan. Karena, tidak adanya pemahaman bersama tentang otonomi daerah, apalgi proses dialektika yang berlangsung selama ini ternyata tidak menghasilkan synthesa bersama sebagai sebuah konsesus dan atau keputusan bersama untuk menentukan arah, tujuan dan sasaran dari otonomi daerah itu sendiri Karenanya pula terkesan otonomi daerah kemudian membuat penyelenggaraan menjadi rancu, terutama dalam Otonomi Asli Desa sekarang ini baru pembangunan mengenai otonomi asli desa di NTB. sebatas wacana, belum ada satupun Sehingga masing-masing Kabupaten hingga kini daerah (desa) yang secara substansial nampaknya belum cukup optimal dalam merumuskan melaksanakan otonomi asli desa. konsep otonomi daerah dengan baik. Otonomi asli desa Hampir seluruh desa di seluruh sekarang ini dapat dikatakan merupakan trial and error. Kabupaten meski menyerahkan Berjalan sebagaimana adanya, oleh sebagian besar sepenuhnya berbagai persoalan desa untuk ditangani oleh masyarakat mereka (para pemegang kebijakan di daerah) langsung di desa menurut adat atau mengatakan bahwa otonomi desa saat ini lahir diera kebiasaan yang dimilikinya. Akan tetapi transisi, disatu sisi peerintahan baru berjalan, sementara instrumen untuk mendukung desakan perubahan dan tuntutan arus bawah begitu pelaksanaan otonomi desa belum kuat sebagai konsekuensi era keterbukaan. Karenanya, sepenuhnya dipersiapkan oleh untuk memenuhi tuntutan dan mengisi kekosongan pemerintahan Kabupaten. Bila dalam dilahirkanlah berbagai pengaturan mengenai desa, jika pelaksanaannya otonomi desa sekarang ini banyak menimbulkan dikemudian hari ditemukan masalah atau kendala, maka persoalan, hal itu bukanlah semata perlahan-lahan akan dilakukan perbaikan-perbaikan atau kelemahan aparat ditingkat desa (BPD 5 penataan kearah yang lebih baik lagi . Mewujudkan entitas desa seperti sediakala tentu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, karena para pelaku/aktor sejarah desa yang kian terbatas jumlahnya, pada sisilain pula arus globalisasi dan moderisasi terus menyelimuti dan merasuki tatanan sosial masyarakat desa. Dengan kata lain, otonomi asli desa dibawah UU.No.22/1999 adalah merupakan sebuah pergulatan peradaban sejarah, sebuah partarungan antara tradisi sistem pemerintahan tardisional dengan sistem pemerintahan modern. Dan nampaknya akan dapat menimbulkan benturan. Misalnya yang terjadi di Lombok Barat, semangat mengangkat dan menghidupkan kembali nilai-nilai setempat yang selama masa Orde Baru mengalami degradasi. Akan tetapi semangat tersebut terbentur karena (1) ketegangan pluralisme ditingkat komunitas lokal pada level agama dan etnis; (2) ketengangan kepentingan antara elite tradisional dengan elite formal yang terstruktur dibawah pengaruh Orde Baru ; (3) ketengangan antara tradisi dan nilai-nilai transformasi Orde Baru ; (4) ketengangan antara birokrasi dengan masyarakat akar rumput. Kesulitan menjembatani ketengan ini menjadi problem sendiri dalam menghidupkan demokrasi lokal, Lombok Barat ( Budi Baik Siregar dan Wahono, 2002).
Seminar Pelaksanaan Otonomi Desa, pada bulan Febuaru 2002 diseenggaraan di Desa Jurumapin Kecamatan Alas, hadir sebagai pembicara Camat Alas, M.Jabir (Anggota DPRD) dan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Sumbawa.
5

maupun Pemdes) akan tetapi juga kelemahan pemerintahan Kabupaten. Karena minimnya proses pemberdayaan kepada pemerintahan desa. Kami menyadari memang terkesan tambal sulam dalam kebijakan otonomi desa, karena situasi dan kondisi transisional seperti sekarang ini (tidak normal). Karena itu perlu ada monitoring dan evaluasi secara terusmenerus sejauhmanakah pelaksanaan otonomi asli desa

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Pertanyaan sekarang adalah apa yang terjadi secara umum dengan otonomi desa di NTB? Kebijakan Pemkab : Adposi Kebijakan Pusat Kebijakan pengaturan tentang desa pada UU.No.22/1999 diatur mulai pasal 93 s/d 111 dan untuk menindaklanjuti aturan tersebut pemerintah pusat mengeluarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri No.64 tahun 1999 tentang pedoman pengaturan mengenai desa. Mengacu pada dua ketentuan diatas Pemkab (Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Bima, dan Dompu) mengeluarkan Perda pengaturan tentang desa. Bila melihat pada dasar pertimbangan penyusunan Perda pada masing-masing Kabupaten nampak terihat bahwa hampir sebagian besar Kabupaten di NTB mengacu pada dasar pertimbangan pembentukan dalam Kepmendagri No.64 tahun 1999 ini artinya bahwa inisiasi dan inovasi daerah dalam merumuskan konsep tentang otonomi asli desa masih setengah. Atau dengan kata lain, kebijakan daerah dalam otonomi asli desa masih mengekor Pempus. Padahal, secara filosofis otonomi asli desa dimaksudkan untuk mengembalikkan kembali entitas dan identitas masyarakat yang berada di masing-masing daerah. Dengan kebijakan pengaturan desa yang demikian, maka nampak bahwa; 1) Muncul kecendrungan kuat otonomi desa sekarang ini tidaklah jauh berbeda dengan otonomi pada masa sebelumnya, oleh arena hampir seluruh desa struktur pemerintahannya seragam. Kecuali, untuk Kabupaten Lombok Barat, terutama Lombok Barat Bagian utara yang mencoba merumuskan dan mengimplemtasikan otonomi asli menurut karakteristik setempat (lihat tabel Struktur Organisasi Pemerintahan Desa pada masing-masing Kabupaten ; 2) Kreativitas, inisiasi dan inovasi masyarakat desa kurang berkembang oleh karena dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan mengacu pada Peraturan daerah mengenai desa yang telah diberlakukan; 3) Terkadang melahirkan kontradiksi ditengah-tengah masyarakat, Pelaksanaan otonomi Desa di NTB Pada bagian ini kami akan mencoba mendeskipsikan kecendrungan umum yang terjadi serta memotret beberapa fenomena di desa pada 6 Kabupaten di NTB di beberapa desa. Baik desa yang merupakan dampingan Somasi NTB (Desa Jurumapin, Kec. Alas Kabupaten Sumbawa, Desa menala, Kecamatan taliwang Kabupaten Sumbawa, Desa kabar, Kecamatan sacra Kabupaten Lombok Timur, Desa Montong Gamang, Kec.Kopang, Desa Ranggagata Kecamatan Praya Barat kabupaten Lombok Tengah ) dan desa-desa lainnya. Otonomi desa dalam UU.No.22/1999 sesungguhnya adalah dimaksudkan untuk mengembalikkan kembali kedaulatan masyarakat desa. Karenanya didesa dibentuk Badan Perwakilan Desa atau disingkat dengan BPD. BPD sebagai lembaga legislative ditingkat Desa memiliki kedudukan, tugas dan fungsi antara lain mengayomi adat istiadat, membuat Peraturan Desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Desa6.

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Bagan Hubungan Masyarakat Desa dengan BPD dan Pemerintah Desa

Pemerintahan Desa
Hub kemitraan

BPD (Badan Perwakilan Desa)

Pemdes/Kades

Hub tanggungjawab

Aspirasi

Pilih langsung

Anggota

Pengawasan

Rakyat/Masyara kat Desa

Kehadiran BPD sebagai sosok lembaga baru dilevel desa ini ternyata menimbulkan pro dan kontra. Bahkan, sebagian masyarakat desa banyak yang tidak mengetahui apa itu BPD. Memang terkesan kehadiran BPD di beberapa Kabupaten tergesa-gesa. Hal ini tercermin dari minimnya sosiliasi keberadaan, tugas dan fungsi BPD oleh Pemkab kepada masyarakat luas tentang hal tersebut. Sehingga banyak masyarakat desa yang belum atau tidak mengetahui sama sekali apa itu BPD. Padangan yang muncul dan kuat dimasyarakat bahwa BPD sama halnya dengan DPR atau DPRD. Meski adapula masyarakat yang beranggapan bahwa BPD sama halnya dengan LMD atau LKMD yang sebelumnya ada ditingkat desa. Meskipun sebenarnya antara BPD dan LMD atau LKMD memiliki banyak perbedaan.

Perbedaan pemahaman ini tentu saja membawa implikasi dalam proses pembentukan BPD ditiap desa. Sehingga tidak jarang pembentukan BPD ditingkat desa mengalami ketengan. Misalnya saja di Desa Oo Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, pemilihan BPD di desa tersebut diwarnai demonstrasi sekelompok masyarakat. Karena masyarakat tersebut menganggap salah satu calon anggota BPD tidak tinggal di desa Oo dan oleh sebgain masyarakat dianggap melanggar Perda No.1 tahun 2001 tentang pembentukan BPD, menurut ketentuan salah satu pasal dalam Perda itu calon harus dikenal dan mengenal masyarakat setempat. Dengan argumen tersebut sejumlah masyarakat merasa
6

adapun fungsi pengawasan yang dimiliki oleh BPD meliputi pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Desa, Anggaran Pendapatan dan belanja Desa, dan Keputusan Kepala Desa

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

tidak puas. Akibatnya pemilihan BPD di desa itu sempat moor dari jadwal semula pemilihan pukul 09.00 wita baru dapat dilaksanakan pukul 15.00 Wita itupun karena Camat Dompu, Seyuti Melik tutun langsung ke desa untuk negoisasi dan menenankan emosi massa. Hal yang sama juga terjadi di Desa Beleka, Kecamatan gerung Kabupaten Lombok barat, tidak kurang dari 60 warga masyarakat Dusun Bile Tepung Dengan otonomi daerah Desa Beleka melakukan aksi unjuk rasi di Kantor Kepala menjadikan masyarakat desa Desa. Aksi ini dipicu kesalahpahaman warga masyarakat semakin dinamis untuk desa aparat desa, soal pencalonan badan Perwakilan mengembangkan dan menggali Desa (BPD). Pihak Kepala Desa menentukan 4 calon sumberdaya yang ada. Dengan otonomi, hasil yang ada di desa anggota BPD yang akan dilantik. Persoalan ini mencuat justru akan memberi peluang bagi karena sebelumnya warga telah melakukan rembug di rakyat untuk memajukan potensi Mesjid Bile Tepung untuk menentukan calon anggota desanya. Otonomi juga akan BPDnya dan telah menyepakati keempat calon yang akan memberi peluang bagi rakyat untuk memajukan potensi desanya. Desa diajukan. Akan tetapi pilihan yang diusulkan atau sebagai pelaksana otonomi asli, diinginkan rupanya berbeda dengan pilihan dari Pemdes. jangan sampai tidak mampu Masyarakat kecewa dan merasa dibohongi oleh Kadus mengembangkan dirinya menjadi maupun kades, dan merekapun menuntut Kades segera semakin maju. Bila dalam otonomi mengganti anggota BPD yang telah dilantik untuk daerah ini potensi desa tidak mampu digali, desa yang digantikan oleh pilihan masyarakat berdasarkan hasil bersangkutan akan tertinggal . musywarah. Beberapa kasus yang sama juga terjadi di Otonomi, sangat tergantung dari Kabupaten lainnya di NTB. kemuan dan kerja keras masyarakat
lokal. Jangan sampai ada yang menjadi penonton. Sumber daya Persoalan ini pada umumnya muncul oleh karena manusia yang ada di desa minimnya pemahaman masyarakat desa tentang Perda hendaknya memberi masukan dan yang mengatur tentang pembentukan BPD. Hampir sumbangan pikiran demi kemajuan sebagian besar Perda ini disusun tanpa melalui need desanya. (H.Lalu Said Ruphina, assesment lebih dulu untuk mengetahui tingkat Pengamat politik dan hukum NTB kebutuhan, kepentingan, kondisi masyarakat desa, disamping itupula perda ini disusun tanpa melalui sosialisasi dan konsultasi publik pada masyarakat desa. Sehingga masyarakat terkesan hanya sebagai obyek. Hal ini diperparah setelah perda ditetapkan oleh daerah, secara tiba-tiba masyarakat di desa entah dipaksa atau terpaksa dihadapkan pada situasi untuk segera membentuk Badan Perwakilan Desa (BPD). Padahal, hampir sebagian besar masyarakat saat itu masih awam mengenai BPD dan perda yang ada7.

Meski demikian secara umum respons masyarakat atas akan adanya keberadan BPD di desa ditanggapi secara beragam, antara lain sebagai sebagai berikut. Pertama; kelompok masyarakat yang optimis. Kelompok ini melihat keberadaan
7 Dari 6 Kabupaten di NTB, Kabupaten Lombok Timur hingga saat ini belum sepenuhnya ditiap desa memiliki BPD. Menurut L.Said Ruphina salah seorang Team Ahli Perancangan Perda Kab.Lombok Timur, sengaja pembentukan BPD di Kabupaten Lombok Timur lamban, khususnya Perda Pembentukannya BPD karena; (1) ingin melihat perkembangan beberapa daerah yang telah lebih dulu membentuk BPD (2) BPD memiliki peran yang cukup strategis sehingga prosesnya harus disusun dengan cermat (3) perlu ada proses need assessment secara mendalam, sehingga kelak ketika Perda diberlakukan tidak terjadi benturan dengan realitas kebutuhan dimasyarakat , hasil wawancara dengan L.Said Ruphina, 2001. Berbeda halnya dengan Kabupaten Sumbawa, pada tahun 2001 terdapat 9 Perda yang telah diberlakukan untuk mengatur pemerintahan desa dan salah satu perda tersebut adalah tentang Pembentukan Badan Perwakilan Desa. Proses ini memang berlangsung cukup cepat, karena disebabkan arus reformasi dan desakan perubahan sistem dalam penyelenggaraan pemerintahan sehingga bola salju tuntutan harus sesegera mungkin direspons oleh pemerintah dan DPRD setempat, DPRD menyadari bahwa akibat proses ini proses sosialisasi atas perda-perda tentang pemerintahan desa belumlah dapat menyentuh seluruh lapisan pemerintahan dan masyarakat desa, sehingga wajar bila ada masyarakat yang belum mengetahui perdaperda yang telah diberlakukan tetang pemerintahan desa (Hasil Rembuk BPD se-Wilayah Buer, Febuari 2002).

10

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

BPD dipandang strategis dan diyakini akan membawa proses perbaikan kondisi masyarakat sebelumnya, khsusunya dalam proses politik kelak, keberadaan BPD dipandang merupakan langkah awal untuk mengembalikkan kedaulatan masyarakat desa yang terpasung akibat rezim otoritarian Orde Baru. Pendukung kelompok ini pada umumnya beragumentasi : Adanya lembaga BPD sebagai lembaga legislative desa merupakan cermin dari demokrasi, karena para wakil masyarakat yang duduk dilembaga legislative adalah dipilih secara langsung oleh masyarakat; BPD sebagai perwakilan masyarakat merupakan cermin dari artikulasi dan agregasi kepentingan masyarakat. Lembaga BPD cermin dari keterwakilan wilayah (territorial) dan juga cermin keterwakilan multistakeholders desa; Keberadaan BPD dipandang memiliki kedudukan dan fungsi yang strategis untuk mendorong demokrasi ditingkat desa; Didesa diperlukan lembaga pengawasa sekaligus lembaga penyalur aspirasi, karena system pengawasan yang terpusat dan penyalur aspirasi hanya melalui DPRD kurang efektif karena jangkauan pelayanan yang diberikan tidak mampu menjangkau daerah yang berada dipelosok, seperti desa. Berdasarkan argumentasi diatas, kelompok ini menyambut antusias kehadiran lembaga BPD ditingkat desa. Pada umumnya pendukung kelompok ini adalah masyarakat desa yang berada diluar struktur kekuasaan dan mengalami keterbelakangan akibat kebijakan pembangunan yang tidak berpihak kepada masyarakat bawah. Akan tetapi kelemahannya pemahaman kelompok ini terhadap aturan mengenai BPD terbatas, dan asumsi-asumsi yang dugunakan berjalan normal. Artinya Pemkab mendukung sepenuhnya keberadaan BPD baik secara finansial, kelembagaan, manajemen dan sebagainya. Kelompok inipun terfragmentasi kedalam bagian-bagian komunitas tertentu. Artinya,, tidak seluruhnya masyarakat diluar system dan kelompok termarginal sepakat dengan adanya keberadaan BPD. Ditingkat kelompok inipun terjadi perbedaan, diantarnya adalah menyangkut peran dan fungsi BPD. Titik permaslahannya adalah terletak pada sejauhmanakah peran dan fungsi BPD sekarang ini dan skalaprioritas yang harus dikedepankan dalam mendorong tugas dan fungsi BPD. Apakah menitikberatkan pada fungsi pengawasan, penyerapan aspirasi, pengayoman adat istiadat dan sebagainya. Sedangkan yang kedua adalah kelompok yang bersikap skeptis, kelompok ini melihat keberadaan BPD adalah merupakan ancaman bagi kelangsungan proses pemerintahan di tingkat desa. Pendukung kelompok ini pada umumnya adalah mereka yang berada dalam struktur kekuasaan, khususnya Kepala Desa. Sebagian besar Kepala Desa mengkhawatirkan keberadaan BPD nantinya akan menjadi hambatan bagi Kepala Desa dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Akan tetapi, tidak sedikitpula dari kelompok ini, khususnya Kepala Desa yang menyambut secara positif kehadiran lembaga BPD. Misalnya saja Kades dari Selong Belanak, Lalu Sudiartawan mengatakan kehadiran BPD di desanya, bukan sebagai pesaing justeru membantu meringankan tugas-tugasnya untuk membangun dan memajukan desanya. Menurutnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan adanya BPD. Kalau berniat baik (Kades) untuk apa takut diawasi oleh BPD. Katanya. Selama pemerintahan Orde Baru kita tahu bahwa Kepala Desa memang adalah penguasa tunggal di desa, berada dibawah perlindungan Camat dan Bupati.
11

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Kepala Desa memiliki otoritas yang luas, terutama dalam merancang dan melaksanakan program pembangunan yang ada didesa. Meskipun, program pembangunan di desa adalah merupakan titipan sejumlah elite dilevel atas untuk mencari keuntungan ekonomi-politik, akan tetapi sebagian besar Kepala Desa seringkali mendapat cipratan seperti uang dengar. Proyek-proyek pembanguan didesa praktis tidak mendapat pengawasan dari masyarakat, karena LMD, LKMD secara ex-officio dipegang oleh Kepala Desa. Kendali pembangunan ditingkat desa sepenuhnya berada pada seorang kepala Desa. Keberadaan BPD dengan tugas dan fungsinya yang begitu luas, tentu oleh sebagian Kepala Desa dipandang sebagai bentuk ancaman. Proses pembentukan BPD sendiri dimasing-masing daerah memiliki keragaman atau varian. Secara makro, kebijakan pemerintahan Kabupaten di NTB sebagian besar menyerahkan sepenuhnya proses pembentukan BPD kepada masyarakat. Akan tetapi, proses pembentukan BPD tersebut mangacu pada pedoman Perda yang telah ditetapkan. Ini artinya, meskipun masyarakat desa diberikan kebebasan dalam membentukan BPD akan tetapi, kebebasan itu sifatnya terbatas, yakni sepanjang tidak bertentangan dengan Perda yang telah ditetapkan.
No 1 2 3 4 5 6 Nama Kabupaten Kabupaten Lombok Barat Kabupaten Lombok Tengah Kabupaten Lombok Timur Kabupaten Sumbawa Kabupaten Dompu Kabupaten Bima Nomor dan Nama Perda No.3 Tahun 2001 tentang Pembentukan Badan Perwakilan Desa

No.4 tahun 2001 tentang Pembentukan badan Perwakilan Desa No.2 tahun 200 tentang pembentukan lembaga BPD No.1 tahun 2001 tentang Pembentukan Badan Perwakilan Desa

Alasan pemerintah menyerahkan proses tersebut kepada masyarakat adalah antara lain ; (1) Secara Yuridis ; dalam UU.No.22 Pasal.dikatakan bahwa otonomi desa adalah otonomi asli dan dalam penjelasan dikatakan yang dimaksud dengan otonomi asli adalah (2) Secara Politik ; demokrasi dilevel desa telah berlangsung lama pemerintahan dan masyarakat desa telah teruji untuk melaksanakan proses politik, sebagai contoh misalnya Pemilihan Kepala Desa, disamping itu secara politik dalam politik otonomi daerah sekarang ini sesungguhnya masyarakatlah yang berwenang u nt uk melaksanakannnya, karena otonomi itu terletak pada masyarakat, karenanya pula peran pemerintah hanyalah sebagai fasilitator ; (3) Secara Sosial-Budaya; Mendorong kedewasaan dan kemandirian masyarakat dalam menyelenggarakan pemerintahan ; (4) Secara Administratif; Efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pemerintahan. Karenanya dalam proses pemilihan anggota BPD ditingkat desa tidaklah seragam. Setidaknya, dalam praktek di desa ada tiga pola yang berkembang, pertama proses penjaringan melalui aspirasi masyarakat secara langsung, yakni masyarakat mencalonkan calon yang dikehendaki kemudian diajukan ke Panitia Pemilihan. Kedua; proses penjaringan melalui formatur, dimana dipilih tim formatur pada tiap-tiap Dusun atau Desa kemudian Team formatur yang akan mengajukan calon. Dan ketiga; proses penjaringan melalui ke Kadusan-Dusun, masing-masing Kadus beserta perangkatnya melakukan penjaringan untuk menentukan calon yang akan diajukan kepada Panitia Pemilihan.
12

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Meski masyarakat desa diberikan kewenangan untuk menyelenggarakan proses pembentukan BPD. Akan tetapi, masyarakat dipaksa untuk mengikuti aturan main yang telah ditentukan oleh Keberadaan BPD sebagai lembaga Pemerintahan Kabupaten (Pemkab). Padahal, perda perwakilan masyarakat desa, belakangan ini yang diberlakukan tersebut disusun tanpa melalui proses ditanggapi pro-kontra oleh masyarakat. partisipatif, masyarakat tidak pernah diajak untuk Bahkan ada Kepala desa (Kades) yang terlibat, dan dalam pelaksanaannya seringkali melihat kehadiran BPD sebagai lembaga yang akan mengancam jabatannya. Tak menimbulkan persoalan karena substansi peraturan heran bila ada Kades yang justeru daerah yang tidak mendasarkan pada kebutuhan dan melakukan intervensi terhadap personil kepentingan masyarakat di level desa. yang akan duduk menjadi pengurus dan Bila melihat suasana pemilihan anggota BPD dibeberapa desa tidak ubahnya dengan suasana pada saat Pemilihan Umum (pemilu). Sebagian besar masyarakat begitu antusias untuk mengikuti proses pemiihan anggota BPD. Baik sebagai pemilih maupun sebagai pihak yang dipilih. Bahkan dibeberapa desa menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat untuk menjadi kandidat calon anggota BPD begitu tinggi. Sehingga proses seleksi berlangsung begitu ketat. Bahkan, tidak jarang issue money politikpun muncul dalam proses pemilihan BPD. Antusias mayarakat untuk masuk menjadi anggota BPD dimotivasi oleh beragam kepentingan. Salah satunya adalah oleh karena menganggap fasilitas yang nantinya diberikan kepada anggota BPD tidaklah jauh berbeda dengan fasilitas yang diberikan seorang Kepala Desa. Dibeberapa desa bahkan proses pemilihan anggota BPD telah menimbulkan gejolak, terjadi aksi demonstrasi yang berkepanjangan, baik yang ditujukan pada panitia Pemilihan ditingkat desa, Bupati maupun DPRD.
anggota BPD. Kekhawatiran Kades itu sangat beralasan. Bila BPD benar-benar berperan mengambil sikap dan melakukan tugas dan fungsinya sebagai lembaga yang akan menilai pelaksanaan tugas Kades, tak ada alasan lagi kades untuk membela diri atau mengelak bila ada temuan penyimpangan yang dilakukannya. Itu bakal menjadi batu sandungan yang menolak tanggungjawab kades. Rumor yang berkembang, kini sejumlah desa, jabatan ketua BPD menjadi incaran disbanding Kades. Ini beralasan karena ada imingiming gaji BPD mengiurkan. Kini ajang pemilihan pengurus BPD menjadi menarik perhatian kalangan tokoh masyarakat di desa. Kalau dulu isu politik uang muncul ketika anggota dewan memilih calon bupati, kini isu serupa mencuat dari pemilihan pengurus BPD. Jabatan Ketua BPD kini justeru diincar, kata seorang tokoh masyarakat Desa Batu jai

Kondisi ini lahir oleh karena (1) meski telah terdapat kerangka acuan sebagai pedoman petunjuk pembentukan BPD, namun sebagian besar Perda yang diberlakukan daerah mereduksi penuh apa yang terkandung dalam pedoman peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat, sehingga terkadang terjadi benturan antara kebiasaan atau kemauan yang ada di masyarakat dengan peraturan yang ada. (2) sebagian besar perda yang mengatur tentang pemerintahan desa, khsusunya peraturan yang mengenai pembentukan BPD kurang dapat dipahami oleh masyarakat setempatoleh karena minimnya sosialiasi dan konsultasi publik (3) lemahnya dukungan pemerintahan diatas, berupa petunjuk pelaksana maupun petunjuk teknis, dana, sarana dan prasarana untuk melaksanakan hal diatas. Keterwakilan masyarakat dalam BPD Badan Perwakilan Desa selain merupakan representatif masyarakat juga merupakan representatif, wilayah (wakil Dusun). Karenanya secara politik, legitimasi politik BPD cukup kuat, karena dipilih dari, oleh masyarakat. Dilihat dari locus kekuasaan, anggota BPD merupakan wakil masyarakat pada tingkat Dusun yang berkuasa untuk menjalankan amanah masyarakat pada Dusun
13

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

yang diwakilnya. Oleh sebab itu territorial otoritas politik yang dimandatkan oleh masyarakat pada anggota BPD adalah merupakan konsesus wilayah, dimana anggota BPD wajib menyuarakan dan memperjuangkan aspirasi masyarakat pada Dusun yang diwakilinya dan bertanggungjawab kepada masyarakat di Dusun tersebut. Dilihat dari keterwakilan struktur social BPD merupakan cermin representatif kelas social yang ada di desa. Karena anggota BPD terdiri dari multistkaeholders dan multidisiplinier. Dengan tingkat derajat legitimasi politik tersebut, maka lembaga legislative desa, sesungguhnya adalah cermin dari stratifikasi social masyarakat setempat yang juga seringkali mencerminkan kelas dominan yang memiliki pengaruh luas dikalangan masyarakat desa. Kenyataannya, kehadiran BPD sebagai badan legislative desa, nampaknya masih bersifat elitis dan ekskusive. Produk kebijakan Kabupaten berupa perda pengaturan tentang pembentukan BPD sebagian besar meperlihatkan bahwa BPD terkesan hanya diperuntukkan untuk pemuka-pemuka masyarakat di desa atau para elite yang berada di level desa. Misalnya saja Perda No. 4 tahun 2001 kabupaten Sumbawa tentang Pembentukan badan perwakilan desa pada pasal 1 butir 9 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Badan Perwakilan Desa yang selanjutnya disebut BPD adalah badan perwakilan yang terdiri atas pemukapemuka masyarakat yang ada di desa yang berfungsi mengayomi adat istiadat, membuat Peraturan desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Begitupun dengan kabupaten lainnya di NTB, seperti Dompu, Bima. Pengertian BPD sebagaimana yang dirumuskan oleh Pemerintah daerah Kabupaten ini pada umumnya mengacu pada Kepmendagri No.64 tahun 1999 tentang pedoman umum pengaturan mengenai desa. Pengertian BPD sebagimana yang dirumuskan oleh daerah sama persis dengan apa yang dirumuskan oleh kepmendagri pada bab I pasal 1 huruf d. Begitupun dengan jumlah anggota BPD pada tiap desa. Secara yuridis mengacu pula pada aturan yang ditentukan oleh Pusat, berdasarkan ketentuan itu jumlah anggota BPD pada tiap desa ditentukan berdasarkan jumlah penduduk desa dengan ketentuan sebagai berikut ; No 1 2 3 4 5 Jumlah penduduk S/d 1500 jiwa 1501 s/d 2000 jiwa 2001 s/d 2500 jiwa 2501 s/d 3000 jiwa > 3000 jiwa Ju ml ah anggota BPD 5 orang 7 orang 9 orang 11 orang 13 orang

Dari ketentuan diatas, nampaknya pada sisi keterwakilan stakeholder di BPD masih mencerminkan belum terakomodirnya seluruh lapisan social masyarakat ditingkat desa. Pertama ; dari perspektif gender, sebagian besar dan umumnya anggota BPD adalah dominasi laki-laki. Bahkan, tidak ada satupun desa di NTB yang ketua BPDnya berasal dari kalangan perempuan. Lemahnya partisipasi politik perempuan dalam BPD disebabkan antaralain ; (1) struktur social dan konstruksi nilai pada komunitas desa di NTB masih menempatkan perempuan sebagai kelompok social yang dipandang belum cukup significan dalam struktur politik pemerintahan desa (2) terbatasnya ruang dan akses politik bagi perempuan, pada sisilain keberdayaan dan swadaya politik perempuan masih belum banyak mengambil ruang kebebasan politik yang mulai terbuka sebagai
14

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

implikasi dari reformasi (3) kuatnya patronase politik-patrimonial dalam kulture politik di level desa (4) tidak adanya jaminan dan perlindungan hukum dari perda untuk terbukanya ruang partisipasi politik perempuan. Kedua; kurang terakomodirnya masyarakat dalam lapisan social bawah (grass root), terutama petani, buruh, dan kelompok social bawah lainnya. Hal ini selain disebabkan lemahnya arus desakan politik dari lapisan social dilevel bawah juga sebagian besar mereka tidak meiliki kepercayaan diri yang cukup kuat untuk berperan secara aktif merespons keberadaan BPD. Sebagian besar kelompok social paling abwah ini menyerahkan sepenuhnya proses politik, rekruitmen hingga pemilihan BPD kepada para pemuka-pemuka masyarakat desa. Sebagai badan perwakilan masyarakat desa, BPD tentu saja bukanlah semata mengkedepankan para pemuka-pemuka masyarakat untuk duduk sebagai anggota BPD dan atau anggota masyarakat akan tetapi juga harus dapat mencerminkan keterwakilan kelompok-kelompok social yang ada didalam masyarakat desa.

Legislasi Desa
Salah satu tugas dan fungsi BPD adalah membuat legislasi desa. yakni, menyusun Peraturan Desa dan APBdes bersama-sama dengan Kepala Desa. Secara yuridis, ada dua mekanisme yang selama ini berkembang dalam konteks pelaksanaan tugas diatas; Pertama BPD yang menyusun Perdes dan membahas bersama Kepala Desa, dan yang kedua BPD membahas draf Perdes yang diajukan oleh kades. Pada bagian pertama BPD berperan aktif (pro-atif) untuk membuat kebijakan Perdes, sedangkan yang kedua sifatnya responsive dan reaktif, yakni merespons berbagai usulan draf Perdes yang diajukan Kades kepada BPD. Selama ini dalam melaksankan tugas diatas, ada kecendrungan BPD dengan kades saling lempar, BPD bepandangan bahwa sikap pro-aktif dalam menyusun Perdes adalah tugas dari Kepala Desa, sementara dari kepala Desa menanggap bahwa BPDlah yang seharusnya pro-aktif untuk menyusun Perdes. Pada tahap awal pelaksanaan tugas dan fungsi legislasi ini belum dapat berjalam maksimal. Hampir sebagian besar produk kebijakan desa yang ada sekarang ini adalah merupakan kelanjutan dari produk kebijakan desa sebelumnya, dan sebagian besar Pemerintahan desa belum memiliki inisiasi-inisiasi untuk menyusun berbagai produk peraturan desa. Meski, tuntutan dari arus bawah semakin menguat, khususnya terhadap persoalan-persoalan yang berkembangdan secepatnya harus direspons oleh Pemdes. Sehingga produk kebijakan yang lahir ditingkat desa cenderung terkesan irrasional. Hal ini dikarenakan; Rendahnya kapasitas dan kapabilitas anggota BPD maupun Kepala Desa, khsusunya dalam membuat legislasi desa, Kurangnya pembinaan atau pemberdayaan baik oleh Pemerintah, NGO, Perguruan Tinggi terhadap Pemerintahan Desa dalam proses legislasi desa Kurangnya sosialisasi berbagai peraturan perundang-undangan baik peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Pempus, Pemprov maupun Pemkab Akibatnya antaralain : BPD maupun Kades kurang mengetahui semua nilai-nilai utama yang ada pada masyarakat desa, meskipun pada umumnya anggota BPD maupun Kades adalah penduduk setempat. Sehingga hampir seluruh
15

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

kebijaksanaaan (khususnya Perdes) pada tingkat desa seringkali pada akhirnya menjiplak kebijaksasanaan pemerintahan desa sebelumnya dan atau pemerintahan Kabupaten. Padahal, berbagai kebijakan desa sebelunya sarat dengan nuansa kepentingan pemerintahan diatas. Pada sisiain pula kebijakan dari atas sarat dengan nuansa kepentingan elite tertentu. BPD maupun kades kurang memahami permasalahan sebab-akibat yang muncul di desa, karakteristik, perilaku, kebiasaan masyarakat desa; Sehingga kebijakan desa (perdes) tidak menyelesaikan akar masalah yang terjadi, akibatnya perubahan pola, kebiasaan atau perilaku negatif tidak cukup terselesaikan melalui instrumens kebijakan desa (Perdes). BPD maupun Kades kurang mengetahui semua alaternatif-alaternatif kebijaksanaan yang tersedia; sehingga alternatif atau pilihan yang dianggap benar dan tepat, seringkali dalam implementasinya justeru bertentangan dengan harapan atau cita-cita yang diinginkan semula; BPD maupun Kades kurang memperhitungkan rasio antara tujuan dan nilai-nilai sosial yang dikorbankan bagi setiap alternatif kebijaksanaan yang efisien dan efektif. Sehingga jangkauan kebijaksanaan tidak mampu mendukung harapan para pemegang kebijakan di desa. Disamping hal tersebut diatas, seringkali pula kebijakan Perdes yang dibuat tidak mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat sekarang, bahkan tujuan dan sasaran yang merupakan cita-cita atau keinginan masyarakat desa jauh dari kenyataan. Karenanya perlu ada formulasi perumusan Peraturan desa yang baik ditingkat desa sehingga pemerintahan desa dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik. Berikut ini adalah pengembangan gagasan pengembangan Perdes partisipatoris8: Melakukan survey dan identifikasi permasalahan yang muncul didesa. Hal ini dapat dilakukan melalui musyawarah antara BPD Kades bersama masyarakat. Merumuskan akar permasalahan yang ada; Untuk mermuskan diatas, BPD dan Kades bersama masyarakat dapat melakukan diagnosa secara bersama-sama, bila masalah yang dihadapi adalah A pertanyan selanjutnya apa yang menyebabkan masalah A itu muncul. Merumuskan solusi atas permasalahan ; Mengidentifikasi alternatif-alternatif solusi atas permasalahan yang ada dan rekomendasi; Merumuskan perubahan-perubahan yang diharapkan; Merumuskan draf perdes Membahas draf Perdes bersama dengan masyarakat Mengevaluasi pelaksanaan perdes

Data diolah dari Konsep Program penguatan legislasi desa, SOMASI NTB yang dilakukan pada 4 desa di 3 Kabupaten di NTB, yakni Desa Montong Gamang, Kabupaten Lombok Tengah, Desa Kabar, Kecamatan Sakra Kabupaten Lombok Timur, Desa Menala, Kecamatan taliwang, Kabupaten Sumbawa dan Desa Jurumapin Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa. 2003,

16

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Tahapan Penyusunan Perdes


Menggali dan menemukan masalah Mengkategorisasikan masalah

Survey & identifikasi

Mencari sebabsebab msalah/Akar masalah Merumuskan skala prioritas penyelesaian Mengidentifikasi solusi

Menyusun hasil survey

Merumuskan masa depan ideal

Draf Perdes (BPD dan atau Kades)

Merumuskan Formulasi kebijakan dalam draf Perdes

Draf Perdes dibahas ditingkat BPD

Draf Perdes dibahas ditingkat masyarakat

Draf Perdes dibahas ditingkat Kades dan perangkat Desa

Draf Perdes dibahas bersama

BPD mengesahkan draf Perdes menjadi Perdes

Pada tahapan pertama (survey dan identifikasi masalah), BPD bersama kades dan Tokoh Masyarakat yang ada di desa melakukan pendataan atas fenomena atau permasalahan yang muncul di desa, langkah yang dapat dilakukan BPD untuk melakukan hal diatas, dapat melalui dialog ditingkat dusun atau Desa, wawancara mendalam dengan sejumlah stakeholders, kotak suara/saran dan sebagainya. Setelah melakukan survey, hasil tersebut dirumuskan dalam bentuk laporan. Isi laporan memuat setidaknya 6 hal sebagaimana diatas. Kemudian hasil tersebut disosialisasikan dan dikonsultasikan kembali kepada masyarakat untuk memperoleh feedback dari masyarakat, setelah itu BPD dan Kades merumuskannya kedalam draf Perdes. Hasil rumusan draf Perdes kemudian dikaji oleh BPD, Kades dan masyarakat. Hasil kajian dari masing-masing komponen dibahas kembali secara bersama, kemudian Kades selaku executive desa menyampaikan kepada BPD dan masyarakat. Baru kemudian BPD mengesahkan draf Perdes menjadi APBdes. Seluruh tahapan tersebut melibatkan masyarakat
17

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

dan untuk menilai sejauhmanakah efektifitas dari pemberlakukan atas perdes yang diberlakukan, maka BPD bersama pemerintah desa melakukan evaluasi. Evaluasi dapat dilakukan secara periodic atau dalam waktu tertentu yang disepakati secara bersama. Selain proses yang harus partisipatif dalam perumusan Perdes, tak kalah pentingnya pula ada bagaimana BPD dan Kades merumuskan suatu substansi kebijakan. Suatu kebijakan yang baik pada dasarnya adalah kebijakan yang lahir atas dasar kebutuhan dan kepentingan masyarakat, Ia tidak bertentangan dengan nilai-nilai atau aturan yang ada , termasuk tidak bertentangan dengan hirarki dan prinsip-prinsip perundang-undangan. Banyak berbagai peraturan ditingkat desa yang selama ini diberlakukan akan tetapi bertentangan dengan nilai-nilai kearifan local masyarakat setempat (sebagaimana pembahasan diatas), selain disebabkan karena proses penyusunan yang dilakukan tanpa melalui pelibatan publik, biasanya dan umumnya peraturan desa dibuat hanya sebagai respons atau reaksi atas permasalahan yang ada, sifatnya sesaat dan bersifat case (kasus). Bahkan banyak Kepala Desa dan BPD yang tidak mengetahui dasar pemikiran, maksud dan tujuan, serta sasaran yang ada dalam Perdes yang telah diberlakukan. Sehingga, perdes didesa seringkali pula memunculkan multiinterprestasi yang terkadang menimbulkan konflik ditingkat desa. Padahal, suatu kebijakasanaan sesungguhnya pula adalah instrument untuk menyelsaiakan pertentangan-pertentangan yang muncul ditengah-tengah masyarakat. Penyerapan aspirasi BPD Sebagai wakil masyarakat BPD memiliki tugas dan fungsi menyerap dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Penyerapan aspirasi tersebut terdiri dari (obyeknya) ; 1) Penyusunan program pembangunan ; 2) Penyusunan Perdes, APBdes dan kebijaksanaan desa lainnya; 3) Perumusan permsalahan dan solusinya; Adapun tahapan penyerapan aspirasi secara umum dibagi dalam beberapa tahapan : Tahap perencanaan; pelaksanaan, Monitoring dan Evaluasi. Fungsi diatas merupakan konsekuensi logis dari dianutnya demokrasi perwakilan secara langsung. Pola penyerapan aspirasi dilakukan pada program pembangunan di desa. Adapaun tahapan penyerapan aspirasi dilakukan pada beberapa tingkatan. Pertama pada perencanaan, dilanjutkan masa pelaksanaan dan terakhir adalah monitoring dan evaluasi pelaksanaan program pembangunan di desa. Tahap Perencanaan Pembangunan ; penyerapan aspirasi masyarakat oleh BPD pada tahap perencanaan pembangunan desa adalah berupa penggalian keinginan dan atau kebutuhan masyarakat setempat. Penyerapan aspirasi ini pada umumnya dilakukan sebelum Daftar usulan Rencana Kerja ditingkat desa disahkan atau dengan kata lain dilakukan pada tiap tahun anggaran. Pola dan mekanisme yang berkembang selama ini, masih berupa Musyawarah Pembangunan Desa (Musbangdes) yang dilakukan setiap tahun anggaran. Model ini sebenarnya adalah lebih bersifat mobilisir, oleh karena penyerapan aspirasi oleh BPD pada umumnya baru dilakukan manakalah telah ada instruksi dari Pemkab untuk melaksanakan Musbangdes. model ini adalah kebijakan (top down planning) oleh karena inisiasi
18

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

untuk merumuskan program pembangunan desa dilaksanakan sesuai dengan petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis pemerintahan kabupaten, bukanlahir atas kesadaran, keinginan dan kebutuhan masarakat, Dan kecendrungannya pada perencanaan pembangunan seringkali masyarakat desa kebutuhan dan keinginan masyarakat desa dipaksa harus menyesuaikan dengan kebutuhan dan kepentingan pemkab. Pola penyerapan aspirasi yang muncul di tingkat desa, biasanya BPD bersama dengan kepala Desa mengundang seluruh tokoh didesa untuk rembuk bersama dan merumuskan agenda program ditingkat desa. Hal ini dinilai kalangan BPD maupun masyarakat desa kurang cukup efektif, oleh karena seringkali usulan desa tidak diakomodir oleh pemerintahan Kabupaten dalam APBD. Beberapa kendala lainnya dalam pelaksanaan perencanan pembangunan ; o Tingkat partisipasi masyarakat desa cendrung semakin menurun, meski peluang masyarakat untuk ikut terlibat semakin meluas. Akan tetapi, , ditingkat masyarakat desa mulai mengalami kejenuhan bahkan frustasi. Pasanya, Musbangdes yang diadakan setiap tahun, tidak menjawab persoalan kebutuhan masyarakat ; o Masyarakat cenderung apatis, sebab program pembangunan seringkali justeru dalam implementatifnya tidak membawa perubahan yang cukup significan bagi perbaikan kesejahteraan masyarakat; o Masyarakat kurang memahami proses perencanaan pembangunan yang baik, oleh karena minimnya proses sosialisasi dan konsultasi program pembangunan; Ditingkat BPD sebagian besar BPD merasa kesulitan untuk memformulasikan penyerapan aspirasi masyarakat dalam suatu kebijakan. Karena hal tersebut terkait dengan dukungan yang dapat diberikan oleh Pemkab. Rendahnya, dukungan pemkab sekarang ini menyebabkan BPD seringkali harus menerima hujatan dari masyarakat yang diwakilinya, BPD dianggap gagal meperjuangkan kebutuhan pembangunan desa dan sebagainya. Sehingga, sebagian besar anggota BPD pada akhirnya pula sungkan untuk menyera aspirasi masyarakat, karena tidak ada jaminan aspirasi masyarakat yang diserap dan diperjuangkan BPD akan diperjuangkan pula oleh DPRD atau Bupati. Kondisi ini membuat BPD pada akhirnya lebih suka memilih diam daripada bersuara, karena takut akan disalahkan oleh masyarakat didesanya. Pelaksanaan Pembangunan Pelaksanaan penyerapan aspirasi oleh BPD pada tahap pelaksanaan pembangunan pada umumnya dilakukan terhadapsejumlah proyek pembangunan yang dilaksanakan di desa. Baik pembangunan yang langsung ditangani oleh Pemdes dan atau APBDes maupun Pembagunan Kabupaten yang ada didesa. Pada tahap ini penyerapan aspirasi yang dilakukan oleh BPD biasanya adalah menerima keluhan, saran, kritik, masukan dan lain sebagainya atau dengan kata lain, BPD sebagain besar bersifat menunggu (bersikap pasif). Dengan pola ini biasanya BPD baru menggali aspirasi setelah adanya laporan atau pengaduan dari masyarakat. Pada tahap pelaksanaan pembangunan, khususnya pembangunan kabupaten yang dilaksanakan oleh unit teknis (Dinas daerah) ditingkat desa sebagian besar BPD sulit untuk menyerap aspirasi dan menyalurkan aspirasi masyarakat desa
19

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

pada unit kerja tersebut. Oleh karena sebagian besar formulasi kebijakan pembangunan dimonopoli oleh unit kerja teknis tersebut bersama dengan pemborong. Disamping itu, minimnya keterbukaan terhadap proyek juga menjadi hambatan besar bagi kalangan BPD untuk dapat mengetahui pelaksanaan program. Karena tidak tahu jenis, bentuk, jumlah dan sebagainya dari proyek tersebut, praktis penyerapan aspirasi BPD pun menjadi terhambat. Sorotan dan penyerapan aspirasi pada umumnya hanya terjadi terhadap pelaksanaan APBdes dan atau proyek yang langsung ditangani oleh Pemdes. Kendala lainnya hingga kini mekanisme dan prosedure aspirasi i belum terumuskan dengan baik, karena hampir sebagian besar BPD belum memiliki Tatib. Karena tidak adanya mekanisme dan prosedure penyerapan aspirasi, seringkali terjadi benturan antar kepentingan di desa. BPD dinilai lamban oleh masyrakat dalam meyikapi persoalan desa.. Dampaknya lebih jauh, BPD dapat mengalami dislegitimasi kekuasaannya dihadapan masyaraka. Evaluasi Pembangunan Penyerapan aspirasi pada tahap evaluasi pembangunan hanya dilakukan pada tingkat pelaksanaan APBDes, sementara evaluasi pelaksanaan program pembangunan Kabupaten praktis tidak dilakukan oleh BPD. Pada tingkat evaluasi pembangunan, biasanya BPD melakukan kunjungan langsung kelapangan. Menilai apakah rencana dan realisasi yang dilaporkan oleh LPJ kades sesuai dengan rencana dan realisasi masyarakat ataukah sebaliknya. Berikut contoh mekanisme penyerapan aspirasi yang dilakukan oleh BPD Desa Menala, Kecamatan Taliwang, Sumbawa.

Pembahasan BPD bersama dengan Kades dan Tokoh Masyarakat pada tiap Dusun

F E E D B A C K

Pemabahasan ditingkat BPD

Pembahasan ditingkat Dusun

F E E D B A C K

BPD turun langsung

BPD tidak turun secara langsung

Bagan diatas adalah model penyerapan aspirasi yang dilakukan oleh BPD Desa Menala, Kecamatan Taliwang dalam perencanaan Pembangunan

20

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Pada tahap pertama; BPD melakukan penyerapan aspirasi ketingkat Dusun, ada dua cara yang dilakukan, yakni turun langsung kemasyarakat pada tiap-tiap dusun dengan cara seperti; musyawarah, mempertanyakan langsung pada tiap penduduk dan yang kedua adalah tidak langsung, yakni melalui kotak surat atau kotak aspirasi. Kotak surat ini dimaksudkan agar setiap masyarakat dapat menyalurkan aspirasinya manakala ada keluhan, saran, kritik atau hal-hal yang belum terakomodir dalam musywarah (tertinggal). Disamping itu, BPD juga menyampaikan agenda-agenda kerjanya kepada masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti papan informasi kegiatan BPD. Papan informasi ini berfungsi untuk memberikan informasi atau pemahaman kepada masyarakat, terutama menyangkut kinerja yang akan, sedang dan telah dilaksankan oleh BPD dengan harapan, masyarakat dapat memberikan masukan (feedback) atas segala aktivitas yang dilaksanakan oelh BPD. Setelah itu masuk pada tahap kedua, pada tahapan ini BPD bersama masyarakat ditiap dusun membahas hasil penyerapan aspirasi. Pembahasan dilakukan dengan musyawarah mufakat. Pada umumnya tokoh-tokoh masyarakat pada tiap Dusun dilibatkan untuk menentukan dan merumuskan program prioritas pada tiap Dusun. Hasil dari musyawarah ditingkat Dusun ini akan dibawa oleh BPD dalam agenda kerja atau sidang BPD. Masing-masing anggota BPD tersebut menyampaikan hasil musyawarah yang telah dilakukan pada anggota BPD lainnnya. Sehingga, antar anggota BPD dapat mengetahui keinginan dan kebutuhan masing-masing Dusun. Setelah itu baru kemudian pada tahapan selanjutnya BPD melakukan rapat pembahasan hasil penyerapan aspirasi untuk menentukan program-program yang ada pada tiap dusun yang dilanjutkan dengan acara atau agenda akhir yakni pembahasan rumusan hasil penyerapan aspirasi BPD bersama dengan Kepala Desa. Pada agenda akhir ini BPD bersama Kades mengundang para wakil tokoh masyarakat pada tiap Dusun untuk membahasan dan selanjutnya memutuskan program-program yang akan dilaksanakan di desa dalam satu periode tertentu. Hasil rumusan dan atau kesepakatan ini kemudian di sosialisasikan kepada masyarakat melalui papan informasi yang disediakan oleh BPD. Pada tahapan sosialisasi ada dua cara yang dapat dilakukan BPD, yakni BPD langsung turun kemasyarakat dan atau yang kedua melalui media papan informasi pembangunan yang ada pada tiap Dusun, papan informasi di Mesjid dan sarana lainnya yang ada didesa untuk mensosialisasikan hasil, seperti pengumuman di Mesjid. Pada umumnya indicator yang digunakan BPD untuk memberikan penilaian adalah antara Rencana dengan Realisasi. Apakah Perdes yang dilaksanakan oleh Pemerintah Desa (Kades beserta perangkatnya) sesuai dengan rencana yang telah disahkan bersama, ataukah sebaliknya. Langkah yang ditempuh oleh BPD adalah dengan cara mendatangi langsung masyarakat, misalnya bila dalam laporan Kades menyebutkan si A memperoleh bantuan sebesar Rp. 1 juta, maka pada pihak yang menerima tersebut dimintai keterangannya oleh BPD. Apakah benar atau tidak. Jika ternyata tidak, maka BPD memanggil Kepala Desa untuk dimintai keterangan sekaligus pertanggungjawabannya. Setelah itu dilanjutkan dengan rapat pembahasan ditingkat BPD bersama masyarakat. Rapat ini dimaksudkan untuk menggali penilaian masyarakat, sejauhmanakah Kades melaksanakan program-programnya selama ini. Pada tahapan ini sebagian besar BPD pada umumnya melakukan investigasi atas dugaan-dugaan penyimpangan pelaksanaan program yang dilakukan oleh seorang Kades.
21

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Selain penyerapan aspirasi pada saat perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi pembangunan. BPD juga dan melakukan penyerapan aspirasi dalam memformulasikan kebijaksanaan desa, dianataranya adalah Peraturan Desa, Keputusan Desa, dan kebijakan lainnya. Pola penyerapan aspirasi dilakukan melalui beberapa tahapan ; Mengidentifikasi masalah desa bersama masyarakat Merumuskan masalah bersama masyarakat Menyusun prioritas penyelesaian masalah bersama masyarakat Membuat alternatif-alternatif penyelesaian masalah bersama masyarakat Menentukan pilihan kebijaksanaan penyelesaian masalah Memdialogkkan pilihan kebijaksanaan penyelesaian masalah bersama masyarakat Memformulasikan pilihan kebijaksanaan dalam peraturan desa, atau Keputusan desa,, atau keputusan BPD dan kebijaksanaan peraturan lainnya Dinamika Politik Desa UU.No.22/1999 sebenarnya telah membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatnya partisipasi, sekaligus pengembangan demokrasi local sesuai dengan kebiasaan, nilai-nilai atau adat masyarakat setempat. Akibat terbukanya ruang kebebasan masyarakat untuk berekpresi secara politik tersebut, tingkat partisipasi politik masyarakat semakin meningkat, hal ini tercermin dari proses pemilihan Badan Perwakilan Desa maupun Pemilihan Kepala desa., Hampir seluruh masyarakat desa pada saat pemilihan (menjelang maupun hari H) Kepala Desa maupun BPD berbondong-bondong datang untuk memilih wakilnya untuk duduk di BPD dan atau memilih salah seorang warganya untuk menjadi seorang Kades. Masyarakat rela meninggalkan pekerjaannya, bahkan rela berkorban untuk berlangsungnya proses pemilihan BPD atau Kades. Pemilihan Kepala Desa ini akan sangat menentukan nasib kami dan pembangunan selanjutnya di desa kami, kata salah seorang warga. Partisipasi politik seperti ini sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum UU.No.22/1999 diberlakukan. Perbedaanya terletak bila pada masa pilkades sebelumnya (UU.No.5 tahun 1979), swadaya politik masyarakat tidak berkembang oleh karena kebijakan pemerintahan Orde Baru membatasi ruang politik masyarakat, maka pada masa sekarang ini, ruang politik bagi masyarakat terbuka lebar, sehingga mulai dari proses pencalonan hingga pemilihan masyarakat leluasa untuk menentukan calon pemimpin desa secara terbuka dan bebas, tanpa ada tekanan atau intervensi dari pihak manapun. Sehingga, masyarakatpun dapat melakukan proses pemilihan BPD maupun Kades secara selektif, sesuai dengan sarat atau criteria yang ditentukan bersama ditingkat desa. Demokrasi ditingkat desa adalah demokrasi tertua yang ada di Indonesia. Salah satu cirri yang menonjol dari demokrasi dilevel desa ini adalah ; Adanya pemihan Kepala Desa secara langsung ; Adanya pemilihan BPD secara langsung,; Mengkedepankan musyawarah mufakat dalam menentukan para calon Kades dan ataupun BPD ; Mendasarkan pada ketokohan dan kedekatan hubungan dengan masyarakat; Adanya pertanggungjawaban Kades secara langsung kepada masyarakat, meski melalui BPD ;
22

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Mengkedepankan kepentingan bersama. Oleh sebab itu, pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat sebenarnya lebih nyata terlihat dalam kehidupan masyarakat dilevel desa. Tingginya tingkat partisipasi politik desa ini berlangsung seiring dengan pemberian otonomi asli desa sehingga memberikan peluang sekaligus ruang tumbuhnya partisipasi politik masyarakat desa, didisilain pula reformasiternyata, telah membuka masyarakat untuk membuka mata dan hatinya bahwa swadaya politik masyarakat memiliki fungsi dan peran yang sangat strategis dalam kerangka mengembangkan demokrasi local. Akan tetapi kelamahanya, selama ini ternyata kondisi ini tidak cukup dibarengi dengan perangkat persiapan infrastuktur maupun suprastuktur yang cukup memadai untuk mendorong terjadi proses pelembagaan politik yang berlangsung secara demokratis. Pemerintahan Kabupaten, terkesan lamban untuk merespons perkembangan politik yang berlangsung di level desa. Seperti, contohnya tidak mempersiapkan bagaimana mekanisme dan prosedur bagi partisipasi politik masyarakat, rendahnya tingkat pemberdayaan politik masyarakat desa, kurangnya DPRD memahami artikulasi dan agregasi dan lain sebagainya Sehingga dibanyak desa pesta demokrasi pun tidak sedikit yang mengalami ketegangan, bahkan konflik baik yang berlangsung secara horizontal maupun secara vertical. Berikut ini adalah beberapa contoh kasus yang muncul dalam proses Pilkades dibeberapa desa di NTB :
1 Beberapa kasus Dinamika politik Pemilihan Kepada Desa di beberapa Kabupaten di NTB Jarang sekali terjadi dalam sejarah proses Pemilihan calon kepala Desa berakhir dengan hasil perolehan suara yang sama, kali ini terjadi di Desa kanca Kecamatan Monta , Kabupaten Bima dua calon kandidat Kepala Desa, Kaharudin dan Aminunsyah memperoleh masing-masing 261 suara, Karenanya BPD (badan perwakilan desa) memutuskan untuk melakukan proses pemilihan ulang karena hasilnya draw. Namun, keputusan ini menimbulkan kerancuan, salah seorang calon melakukan penganiyaan terhadap salah seorang anggota BPD karena keputusan BPD yang kurang memuaskan, kasus inipun berakhir dengan saling melaporkan berbagai keamahan yang ada pada pihak kepolisian maupun DPRD (sumber : Lombok Post, 19/02/02). Di desa Jurumapin Kecamatan Alas Kab Sumbawa, proses pemilihan Kepala Desa berlangsung cukup menegangkan. Dua calon terkuat yang merupakan rival pada setiap proses pemilihan Kepala desa, kembali bertarung dalam pemilihan kepala desa untuk masa jabatan 2002 s/d 2007, salah seorang calon terkuat Drs. H.Darussalam pada saat bersamaan akan menenuaikan ibadah haji. Karenanya muncul pro-kontra di masyarakat, sebagian masyarakat menganggap bahwa ketidakhadiran calon pada saat pemungutan suara tidak menjadi persoalan (tidak apa-apa) namun, sebagian kelangan memandang bahwa kehadiran calon pada saat pemungutan suara mutlak harus berada di lokasi. Pro-kontra ini dipicu oleh Perda Kab.Sumbawa yang mengatur soal proses pemilihan Kepala desa.. BPD mencoba berpegang pada Perda Kabupaten akan tetapi muncul resistensi yang kuat dari masyarakat,. Kondisi ini menimbulkan ketiakpastian hukum dan instabilitas politik di desa. (Sumber : hasil wawancara dan pemantauan Pilkades, SOMASI NTB) Di desa kalabeso, Kecaatan Alas Kabupaten Sumbawa proses penyeleksian calon-calon Kepala desa dilakukan dengan cara melakukan voting mundur yakni suatu voting yang dilakukan secara tertutup, dimana pemenangnya adalah yang memiliki suara sedikit. Saat itu salah satu calon harus tersingkirkan, karena dinilai memiliki dukungan yang cukup luas dari sebagian BPD (sumber : hasil wawancara masyarakat desa Kalabeso dan Jurumapin) Di desa Ranggagata Kecamatan Praya Barat Daya pemilihan kepala desa berlangsung cukup menegangkan, Kepala Desa yang menjabat dan akan berakhir masa Jabatannya, bertekad untuk tetap mencalonkan dirinya kembali sebagai calon kepala desa, akan tetapi Ia di desak oleh BPD untuk melaporkan kenirja masa akhir jabatannya. BPD telah beberapa kali meminta pertanggungjawaban darinya, namun tidak pula direspons. Karenanya BPD kemudian menolak pencalonannya sebagai calon Kepala desa disamping karena kepemimpinannya yang dinilai gagal oleh BPD Ranggata. Keputusan BPD ini telah menimbulkan pertentangan dan ketidakpuasaan sebagian masyarakat, hingga pada akhirnya kasus ini masuk ke PTUN Mataram, namun hasil keputusan PTUN memenangkan BPD. (hasil : Wawancara dan proses pemantauan Pilkades, SOMASI NTB)

23

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

10

11

12

Dekrit Presiden Abdurrahman Wahid Gusdur, 2001 untuk membubarkan DPR/MPR ternyata telah membawa atmosfer wacana sampai ketingkat desa, Kepala Desa Plambik, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah melakukan hal yang serupa. Kasus ini bermula dari proses pemilihan Kepala Desa. BPD Plambik merasa dilangkahi kewenangannya oleh pemerintah kabupaten. Pasalnya, BAP (Berita acara pengesahan) belum disahkan oleh BPD, tiba-tiba saja pemkab (bupati) Lombok Tengah langsung melantik Kades. Kades yang kemudian menganggap bahwa seluruh proses pilkades telah final. Karenanya, biarpun BPD masih mempersoalkan kasus money politik pilkades, oleh Kades Plambik dianggap angin lalu. Karena terus dipertanyakan keabsahannya oleh BPD Kades-- Kades Plambik kemudian mengeluarkan dekrit, yang isinya : Pembubaran BPD. Tentu sikap ini telah membuat BPD menjadi garang.Karenanya, BPD pun pada akhirnya membatalkan/memberhentikan Kades Plambik yang baru terpilih. Dan mengajukan kasus ini ke PTUN, gugatannya ditujukan kepada Bupati Lombok Tengah atas keputusannya menetapkan pelatikan Kades Plambik. Keputusan pengadilan Tata Usaha Negara di mataram memenangkan gugatan BPD. Sehingga m Kades terpilih dianggap batal. Atas putusan itu kemudian Kepala Desa terpilih merasa keberatan dan tidak mau meneruima vonis hakim pengadilan negeri tata usaha Loteng. Ia kemudian mengajukan Banding. Ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha di Surabaya (Sumber : hasil wawancara masyarakat, Moh.Bintang):. Pemilihan kepala desa di desa Kelebuh, Kecamatan Praya Tengah Kabupaten Lombok Tengah menimbulkan gejolak, selasa malam 3 Oktober 2001 Kantor Desa di rusak oleh sjumlah pendukung salah satu calon kades karena merasa tidak puas dengan hasil proses pemilihan Kades. Gejolak juga terjadi didesa Kute Kecamatan Pujut kab.Lombok Tengah, massa berencana menggalkan proses pelatikan kepala Desa. Dua calon Kades Huu mengajukan tuntutan agar proses pemilihan Kepala Desa HuU Kabupaten Dompu di proses ulang karena dinilai calon terpilih tidak memenuhi criteria sebagaimana yang ditentukan dalam Perda No.4 tahun 2000 kab.Dompu pasal 10 huruf I, karena calon diduga korup (narapidana) dan ijazah yang digunakan SLTP yang digunakan kandidat terpilih adalah palsu (sumber : NTB Post, 24 September 2001, dan NTB post 3 Oktober 2001). Pemilihan kepala Desa Bonjeruk Kabupaten Lombok Tengah berhasil menempatkan Satup Spt sebagai pemenang, hasil yang diperoleh sebanyak 1.944 suara, sementara dua calon lainnya Drs. Lalu Sahwadi memperoleh 594 suara dan Lalu Antarwirya sebanyak 1.087 suara. Dua kandidat yang gagal menjadi Kades definistif bersurat ke Bupati. Mereka tidak mengakui Pilkades. Bahkan mereka bersama pendukungnya meminta agar Pilkades Bonjeruk diulang. Tidak diterimanya Satum (Kades terpilih) menjadi Kades, konon lebih disebabkan yang bersangkutan (Satum) bukan bangsawan. Sebab, sudah menjadi tradisi Desa Bonjeruk selalu dimpin bangsawan. Kasus ini dipicu oleh kelebihan jumlah suara sebanyak 3 suara. Puluhan warga desa kabar, Kecamatan Sakra Kabupaten Lombok Timur berunjuk rasa ke Kantor Bupati untuk menuntut pemilihan Kepala Desa (Kades) yang baru untuk dibatalkan, dengan alasan kelebihan suara dari jumlah warga yang memilih.Massa merobohkan tiang bendera dihalaman depan kantor Bupati. kalau tidak dibatalkan kami akan membakar kantor Kepala Desa, bila perlu Kades yang terpilih juga dibakar hidup-hidup Ancam koordinator lapangan (Sumber : NTB Post, 29 Juni 2001) Di desa Sekotong Tengah Kabupaten Lombok Barat proses pemilihan Pilkades juga telah menimbulkan pro-kontra, sebagian masyarakat melakukan aksi demonstrasi pada saat pelantikan Kepala Desa terpilih, bahkan salah seorang Warga yang juga pemimpin aksi demonstrasi melakukan pemukulan terhadap Kades terpilih pada saat pelantikan Kades. Akibat pukulan itu Kades terpilih mengalami luka, darahs egar mengucur dari hidungnya (Sumber : Lombok Post, 29 Agustus 2001) Puluhan warga Desa Wanasaba Kecamatan Pembantu Wanasaba, kabupaten Lombok Timur berunjuk rasa ke kantor Bupati menunut calonnya yang dijagokan dalam pemilihan Kepala Desa supaya diluluskan. Karena calon tersebut dinilai warga lebih dikenal dan lebih dekat dengan masyarakat. Akaan tetapi oleh karena calon masih berstatus guru yang masih aktif, maka calon tidak dilulukan oleh Tim Penilai Pilakdes Kabupaten Lombok Timur, karena dalam seleksi calon tidak lulus. Menurut Tim Penilai Pilakdes Kab.Lotim masyarakat tidak boleh semau-maunya mengangakat seorang Kades. Sumber :Lombok Post 26 Juni 2001) Lima orang anggota BPD Desa Nanga Miro Kecamatan Pekat, kabupaten Dompu tidak berani pulang ke Desa dikarenakan tiak membawa hasil yang diharapkan oleh masyarakat setempat. Hal itu terkait dengan calon kades yang dimintai pengesahan di kantor Pemkab, masyarakat meminta agar salah seorang calon dapat diberikan peluang dan kesempatan mengikuti Pilakdes, namun oleh Pemkab calon tersebut dianggap bata, karena tidak memenuhi syarat sebagaimana dalam Perda Nomor 4 tahun 2001. Kelima anggoata BPD tidak mau keluar dari ruangan kantor Bupati. Mereka tetap memilih duduk teras depan ruang tunggu utama Bupati. Mereka takut pulang karena tidak membawa hasil yang menggembirakan bagi masyarakat (Sumber :Lombok Post 5 September 2001)

24

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

13

MONEY POLITIK PILKADES


Pemilihan Kepala desa di Montong Sapah diduga adanya praktek money politik. Aroma suap pilkades sudah terasa sejak 2 bulan lalu, sebelum pilkades dimulai. Kata salah seorang warga. Salah seorang calon membagi-bagikan jajan kepada sejumlah warga setempat. Kegiatan sosial yang sebelumnya jarang/belum pernah dilakukan itu tiba-tiba menjadi kegiatan yang ramai/sering dilakukan olehnya. Curiga !!!. Itulah kemudian sikap yang muncul dikalangan warga Montong Sapah yang kritis menilainya. Termasuk salah seorang calon kades lainnnya, rival Kades. Diluar hitungan politik, calon kades yang merasa akan menang, ternyata kalah cukup telak. Ia kemudian melakukan gugatan, pasalnya selain mencium aroma money politik, dibelakang, telah siap warga untuk membeberkan kecurangan yang dilakukan oleh Kades terpilih. di Pengadilan Tata Usaha Negara Loteng, sedikitnya 60 warga desa montong sapah, Kecamatan Praya Barat Daya Lombok Tengah, telah menjadi saksi adanya praktek suap yang dilakukan oleh Kades terpilih. Hasil pemeriksaan, ternyata benar. Pengadilan pun akhirnya memvonis Kades terpilih dinyatakan bersalah. atas putusan ini Kades terpilih kemudian melakukan banding PTUN di Surabaya (hasil :wawancara dengan masyarakat) Para calon Kades Desa O0 dan Desa kalla Kabupaten Bima mengundurkan diri sebagai calon Kades. Pasalnya, untuk Desa Oo misalnya biaya pelaksanaan Pilkades sebesar Rp. 10 juta, sedangkan untuk Desa Kalla 12 Juta yang dibebankan Kepada Calkades. Misalnya Desa Oo hanya dua calon yang memenuhi syarat, maka biaya Rp.10 juta tersebut ditanggung oleh dua calon tersebut. Penetapan biaya ini dilakukan secara sepihak oleh BPD dan panitia, dengan tidak ada kejelasan, pos apasaja yang memanfaatkan alokasi dana tersebut. Akibat penetapan biaya yang dinilai emberatkan tersebut, pelaksanaan Pilkades Desa Oo yang dijadwalkan 20 Febuari 2003 terpaksa diundur, persoalan yang sama juga terjadi di desa Kalla. ( Sumber : Lombok Post, 12 Febuari 2003) BPD dan Kades Baturotok, Kecamatan Batulanteh berseteru, kasus ini diawali dengan munculnya mosi tidak percaya yang dilontarkan sebagian pengurus BPD terhadap Kades (M.Jamaluddin). BPD menilai sejak kepemimpinan jamaluddin, justru pembangunan Desa Baturotok, tidak menunjukkan perkembangan yang berarti, bahkan, BPD menuding jika Jamaluddin lebih banyak berada diluar desa mengurus bisnis pribadi sebagai pengusaha kopi. Pemkab memfasilitasi konflik antara BPD dengan Kades Sumber : gaung NTB, 4 desember 2002 Kades Pukat dinilai tidak mampu jalankan tugasnya . Indikatornya Penyusunan APBDes saja hingga saat ini belum tuntas, bagaimana program pembangunan bisa teralisasi. Karenanya Ketua BPD Pukat Arahman Sag meminta Bupati Sumbawa untuk memberhentikan.Kepala Desa Pukat, Abdullah membantah dirinya dituding tidak mampu menjalankan tugas saya sudah bekerja sesuai prosedur dan aturan yang berlaku dan tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat:. Kata Abdullah Sumber : gaung NTB, 23 Nopember 2002

14

15

16

Ketagangan atau konflik yang berlangsung ditingkat pemerintahan desa tersebut dapat diklasifikasikan kedalam dua bagian; pertama secara horizontal, yakni konflik yang terjadi pada tingkat desa, baik konfik yang sifatnya privat maupun konflik yang terjad secara kelembagaan. Pada umumnya konflik pada level ini terjadi dalam 4 arah pertama, yakni konflik antar lembaga desa, yakni antara BPD dengan kades, BPD dengan masyarakat yang diwakilinya, Kades dengan masyarakat dan pemerintahan desa (BPD dan Kades) dengan masyarakat. Konflik BPD dengan Kades Konflik antar lembaga desa, khsusunya BPD dengan Kades saat ini diwarnai dengan adanya hubungan yang kurang sinergis atau harmonis antara BPD dengan Kades. Pemicu konflik beragam, namun umumnya yang berlangsung adalah disebabkan ;
25

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

(1) Rendahnya tingkat pendidikan Kades maupun BPD pada sisilain tidak ada pembinaan/pemberdayaan dari pemerintahan Kabupaten terhadap kedua lembaga tersebut (2) Terjadi perbedaan dalam menafsirkan atau menginterprestasikan berbagai peraturan yang ada (3) Kurangnya berbagai peraturan lebih lanjut, seperti petunjuk pelaksana maupun petunjuk teknis. Oleh karena kedua lembaga tidak memahami tugas dan fungsinya masingmasing. seringkali kedua lembaga saling menyalahkan satu sama lain, manakala ada tugas yang tidak mampu dilaksanakan dengan baik. Misalnya, penyusunan APBDes atau Perdes. Kedua lembaga saling lempar tanggungjawab. BPD berpendapat bahwa tugas tersebut adalah tugas dari Kepala Desa dan sebaliknya Kepala Desa menganggap bahwa Tugas tersebut adalah Tugas dari BPD. Padahal, secara yuridis kedua lembaga berkewajiban dan bertugas melaksanakan hal tersebut. Persoalannya hanya terletak siapa yang memiliki inisiasi lebih dulu. Persoalan ini memang terkesan sederhana, akan tetapi bila kita masuk kedesa, persoalan ini menjadi persoalan yang terkesan cukup kompleks bahkan menjadi sangat rumit. Karena kerangka berpikir dari masing-masing lembaga yang masih mengkedepankan aspek-aspek hubungan personality kekeluargaan, BPD merasa tidak enak menegur Kades dan sebaliknya pula dengan Kades. Sehingga, banyak tugas dan fungsi yang tidak berjalan karena perasaan-perasaan tersebut. Di desa memang hubungan kekerabatan atau kekeluargaan begitu kuat, dan hal inipula yang seringkali membuat aparat ditingkat desa kurang memahami kedudukan dia sebagai pejabat desa. Kerjasama antara BPD dengan Kades, selama ini masih jauh dari harapan semua kalangan. Ditingkat Kepala Desa dan sebagian masyarakat masih memandang meski dibentuknya Badan Perwakilan Desa disatu sisi telah mengembalikan kedaulatan masyarakat desa dalam berdemokrasi, akan tetapi dipihak lain keberadaan BPD dipandang pula masih sebagai salah satu bentuk ancaman, khususnya bagi sebagian Kepala desa. Ketakutan atau kekhawatirn itu muncul karena BPD diberikan kewenangan yang begitu luas untuk menyelenggarakan pemerintahan ditingkat desa. Sebagai salah satu contoh adalah fungsi pengawasan. Fungsi dan tugas ini bagi para pembuat peraturan perundang-undangan adalah dimaksudkan untuk menciptakan check anda balance dalam struktur dan tatanan pemerintahan desa, menghindari monopoli dan dominasi oleh satu orang (Kades), mencegah dan menghindari korupsi dan sebagainya. Akan tetapi, Fungsi dan tugas ini bagi sebagian Kepala Desa adalah sebagai kewenangan yang dapat mengancam kekuasaannya. Apalagi, BPD juga diberikan hak untuk mengusulkan pemberhentian Kepala Desa kepada Bupati. Karenanya, banyak Kepala Desa yang berharap kewenangan BPD dalam fungsi pengawasan perlu dibatasi. Ditingkat BPD sendiri hingga kini masih mengalami ambivalensi terhadap kewenangan tersebut. Pasalnya, hingga kini Pemerintahan Kabupaten maupun Pemdes sendiri belum dapat merumuskan sejauhmnakah fungsi pengawasan BPD tersebut. Termasuk indicator dan ruang lingkup yang harus diawasi BPD dalam melakukan fungsi pengawasan. Pada sisilain kecendrungan pemerintahan diatas masih berpihak kepada Kepala desa. Dari berbagai fungsi dan tugas yang ada, nampaknya fungsi pengawasan inilah yang cukup dominan sekarang ini. Karenanya. kedua lembaga, baik BPD maupun Kades sepertinya saling memasang kuda-kuda, mengikat pingang kencangkencang untuk saling mempertanahkan kekuasaan. Bahkan, ada upaya-upaya kedua lembaga untuk saling menjatuhkan. LPJ Kades pun (Laporan pertanggung
26

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

jawaban) pada akhirnya menjadi momok yang cukup menakutkan bagi sejumlah Kepala desa. Berikut ini adalah beberapa contoh LPJ kades yang ditolak oleh BPD.

No 1 2

Nama Desa Jurumapin Menala

3 4 5

Sampir K u an g Tengah

Kerekeh

7 8 9

Lape Desa Batu Layar Desa Senteluk

Alasan Penolakan BPD Laporan LPJ Kepala desa belum lengkap - Laporan rencana dengan realisasi tidak relevan - Kades dinilai belum transparans dalam menjelaskan alokasi dandistribusi belanja keuangan desa - Sistimatika tabulasi laporan keuangan dianggap rancu dan tidak lengkap - Dll Kegiatan LPJ hanya bersifat serimonial formal saja - Diterima dengan syarat BPD menolak LPJ Kades Tengah, pemicuanya karena diduga Kades melakukan penyelewenagan dana-dana di desa Tengah, Diantaranya keuangan desa sebesar Rp.38 juta diduga dilakukan oleh Kepala desa. Sumber, Gaung, 24 Mei 2003 dan 27 Mei 2003 LPJ Kades Kerekeh (Ismail Efendi) ditolak BPD. Alasan penolakan karena dalam LPJ Kades dana sbesar Rp 8 juta belum dipertanggungjawabkan. Menurut Kades dana tersebut untuk membangun Balai Serba Guna. Akan tetapi dilapangan belum direalisasikan. Kades diberikan waktu 1 bulan untuk merevisi LPJ Diduga LPJ penuh rekayasa dan mengandung kebohongan pulik (sumber Gaung 10 Pebuari 2003) Kades dinilai tidak transparans (Sumber : Lombok Post, 23 Juni 2003) Kades dinilai tidak transaparans (Sumber : Lombok Post, 23 Juni 2003)

Sumber : data diolah dari beragai sumber

27

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Berikut ini mekanisme LPJ Kades di Desa Menala:


Kades Membuat LPJ Kades menyerahkan LJP kepada BPD untuk dipelajari BPD melakukan sidang menentukan agenda pembahasan LPJ

Sidang paripurna I Pembacaan LPJ Kades dihadapan BPD dan Tokoh Masyarakat Desa

Penyerapan aspirasi berdasrakan Bidang (pembangunan dan

Rapat Komisi

Rapat Fraksi

Penyerapan aspirasi berdasarkan wilayah (Dusun)

Komisi A (Pemerintahan) dan B (Pembangunan) menyusun pandangan/Pendapat atas LPJ Kades

Fraksi (Dusun) memberikan tanggapan/pandangan

Rapat Gabungan (Komisi dan Fraksi)

Sidang Paripurna Akhir

LPJ ditolak atau diterima

Contoh : Mekanisme yang dibangun di desa Menala Kecamatan Taiwang Kabupaten Sumbawa

28

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID


Keterangan: Pertama-tama kepala Desa beserta perangkat desa menyusun secara bersama LPJ kemudian diserahkan kepada BPD, BPD kemudian mempelajari LPJ tersebut, setelah itu BPD melakukan rapat untuk menentukan pelaksanaan LPJ Kades, setelah menentukan tempat, waktu dan agenda disang, BPD kemudian menyampaikan kepada Kades hari pelaksanaan sidang pertama, yakni pembacaan LPJ Kades. Selain, mengundang seluruh anggota BPD Kades bersama dengan Kepala Desa juga mengundang tokoh-tokoh masyarakat pada masing-masing dusun untuk hadir pada saat pembacaan LPJ Kades. Diharapkan dengan kehadiran tokoh-tokoh tersebut dapat pula memberikan penilaian atas LPJ Kades. BPD kemudian melakukan rapat atau sidang, yakni Rapat Komisi, terdiri dari Komisi A menangani Bidang Pemerintahan dan Komisi B menangani Bidang Pembangunan dan Rapat Fraksi. Fraksi ini adalah merupakan penggolongan anggota BPD berdasarkan Dusun atau daerah yang diwakilinya, sedangkan Komisi adalah Bidang-bidang yang ditanganinya di desa. Bila fraksi ditentukan dari jumlah dan wakil pada tiap Dusun, maka pada Komisi ditentukan dari kapasitas keanggotaan BPD pada masing-masing Bidang yang diyakini mampu untuk dilaksanakan. Jumlah fraksi sebanyak 3 (bila BPDnya berjumlah 9 orang) sedangkan Komisi masing-masing 4 sampai dengan 5 orang (sesuai dengan jumlah anggota BPD). Fraski maupun Komisi ini melakukan penyerapan aspirasi masyarakat atas LPJ Kades, untuk kemudian membuat/merumuskan pandangan Komisi dan pandangan fraksi. Setelah keduanya melakukan penyerapan aspirasi dan memberikan pandangan masing-masing, Komisi dan Fraksi melakukan Sidang/Rapat (gabungan) untuk kemudian menjelaskan pada anggota BPD lainnya hasil temuantemuan dilapangan dan merumuskan secara bersama-sama pendapat akhir BPD atas LPJ Kades, apakah LPJ Kades diterima atau ditolak. Pola dan mekanisme LPJ Kades sebagaimana diatas, disetiap daerah dan desa di NTB berbeda-beda. Sebagian besar adalah mengacu pada Perda yang diberlakukan oleh masing-masing Kabupaten. Mekanisme diatas merupakan rumusan yang dapat dihasilkan oleh BPD Desa Menala, karena melihat mekanisme LPJ yang diacu sebagi pedoman berdasarkan Perda memiliki banyak lemahan dan kekurangan. Sehingga BPD dan Pemdes memnadang perlu untuk merumuskan menaknisme LPJ Kades. Tentu hal ini tidaklah mesti seragam atau sama disemua desa, karena akan sangat ditentukan dari karakteristik, situasi dan kondisi yang ada pada masing-masing desa.

Penolakan LPJ Kades yang terjadi dibeberapa desa ternyata telah memiliki implikasi luas bagi perkembangan demokrasi local (desa). Diantaranya adalah sebagai berikut ; Muncul Pro dan kontra dikalangan masyarakat ; Pada umumnya para pendukung Kepala Desa merasa keberatan atas perlakuan atau sikap BPD. Aksi-aksi (demonstrasi) pun dilakukan atas keputusan BPD dan sebaliknya, kelompok yang anti Kadespun atau pendukung BPD melakukan hal yang serupa. Suasana yang nampak kemudian seakan-akan otonomi desa sekarang ini hanya melahirkan konflik antar masyarakat, kehadiran BPD oleh sebagian masyarakat dipandang sebagai pemicu konflik dan sebagainya. Kondisi ini tentu saja akan dapat menghambat pengembangan demokrasi local. Karena pada umumnya masyarakat mengambil jalur pintas dalam menyelesaikan persoalan ini. Missalnya menghakimi BPD atau Kades tertentu. Meski secara substansial desa telah melaksanakan demokrasi langsung, akan tetapi prinsip-prinsip dalam demokrasi, seperti menghargai perbedaan pendapat, anti kekerasan, kebebasan dan sebagainya belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat desa. Dengan kata lain, demokrasi dilevel desa sebenarnya masih dan hanya terbatas penerapan demokrasi dalam arti formil belum mengarah pada demokrasi secara meteriil. Jalan masuk intervensi pemerintahan diatas; Penolakan LPJ oleh BPD pun pada akhirnya seringkali menjadi pintu masuk bagi pemerintahan diatas (Kabupaten maupun Kecamatan) untuk mengintervensi otonomi asli desa. Dengan alasan bahwa untuk menjaga stabilitas dan suasana kondusif, pemerintahan diatas dapat memanfaatkan suasana yang kurang kondusif tersebut sebagai entry point untuk kembali mendominasi struktur politik ditingkat desa. Mandeknya pelayanan publik di desa;
29

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Pada umumnya LPJ Kades yang ditolak pada desa tertentu mengalami kemandekan, terutama pelayanan kepada masyarakat. Sebagian besar APBDes desa menjadi terlambat, dan kecenderungan yang kuat terjadi ketagangan yang semakin meningkat antara Kades dengan BPD. Suasana seperti ini biasanya berlangsung dalam jangka waktu yang cukup panjang. Karena, didesa pada umumnya persoalan ini adalah menyangkut kehormatan bukan hanya kehormatan seserorang semata (bersifat individual) akan tetapi juga adalah masalah kehormatan keluarga (bersifat kolektif). Oleh karena tidak adanya pembagian ranah yang jelas antara ranah privat dengan ranah publik, biasanya persoalan yang menyakut administrasi pemerintahanpun menjadi persoalan yang bersifat kolektif. Munculnya resitensi terhadap lembaga desa (Pemdes maupun BPD) Ketidakmampuan BPD maupun Kades untuk menyelesaikan persoalan yang berkembang, seperti LPJ ini seringkali pula melahirkan resistensi dikalangan masyarakat terhadap kedua lembaga. Masyarakat merasa bahwa keberadaan kedua lembaga tidak memiliki nilai dan arti yang cukup strategis bagi pengembangan demokrasi di desa, khususnya peningkatan pembangunan desa. Budaya politik yang cenderung permisif dan lebih mengkedepankan musyawarah mufakat dengan pendekatan kekeluargaan inilah yang ternyata membuat masyarakat desa melihat bahwa konflik dipandang sebagai sesuatu tindakan destruktif, pada sisilain pula realitas dilapangan seringkali lembaga desa tidak mampu membawa arus konflik kedalam suatu tindakan yang konstruktif untuk pengembangan demokrasi ditingkat desa. Sehingga resistensi muncul dimasyarakat, hal ini tentu saja menjadi kendala, karena dalam mewujudkan demokrasi localdalam situasi transisional seperti ini dibutuhkan kelembagaan desa yang kuat, mampu untuk mendongkrak legitimasi politik lembaga desa dihadapan masyarakt sekligus mampu untuk menggerakkan partisipasi politik warga. Sehingga dukunga kebijaksanaan politik ditingkat desa dapat diimplemtasikan dan didukung secara luas oleh seluruh lapisan social masyarakat.

Konflik BPD dengan masyarakat Sejak dibentuknya Badan Perwakilan Desa (BPD) banyak harapan atau asa yang digantungkan oleh masyarakat terhadap BPD. Sebagai lembaga legislative desa, yang dipilih dari, oleh dan untuk masyarakat. BPD diharapkan mampu menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat yang diwakilinya. Bahkan lebih jauh, BPD diharapkan mampu memperbaiki kondisi masyarakat desa yang terpuruk. Harapan ini bisa saja berlebihan bisa juga tidak. Persoalannya adalah bahwa BPD adalah lembaga baru dengan tuntutan yang begitu besar dari masyarakat arus bawah tentu bukanlah pekerjaan yang mudah bagi BPD. Apalagi, lembaga BPD hingga kini seperti halnya anak tiri tidak ada Bapak dan Ibu yang membinanya baik dari eksekutive maupun legislative. Bahkan, sejumlah pejabat teras dilingkungan pemerintah daerah memandang bahwa BPD perlu dibubarkan karena kinerjanya yang Cuma mengusik kepala desa. Dilikungan masyarakat desa hal yang sama juga terjadi. Banyak masyarakat yang mulai merasa kecewa dengan keberadan dan kinerja BPD desa. Resistensi ini muncul dan umumnya terjadi manakala BPD kurang pro-aktif merespons aspirasi yang berkembang ditingkat masyarakat. Sebagian besar BPD belum mampu untuk
30

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

mengartikulasikan dan mengagregasikan formulasi kebijaksanaan desa.

kepentingan

masyarakat

dalam

Dibeberapa desa juga menampakkan BPD terkesan arogan, kurang memperdulikan persoalan yang berkembang ditingkat masyarakat. Sejumlah anggotanya sibuk dengan urusan masing-masing. Bahkan, banyak pula anggota BPD yang mengundurkan diri menjadi anggota BPD. Karenan derasnya arus tuntutan, sementara dilain pihak hingga kini dukungan baik kelembagaan, dana, fasilitas, maupun dukungan lainnya dari pemerintahan Kabupaten belum jua menuai hasil yang maksimal bagi pelaksanaan tugas dan fungsi BPD. Lemahnya kinerja BPD pada akhirnya telah melahirkan adanya upaya-upaya untuk membubarkan BPD. Dilain pihak pula desakan kuat arus bawah membuat sejumlah anggota BPD pada akhirnya memilih untuk mundur dari jabatan kepala Desa. Secara umum, ada beberapa hal yang menyebabkan hubungan BPD dengan masyarakat kurang berjalan dengan baik antara lain adalah karena ;

(1) kurangnya pemahaman masyarakat dan BPD tentang tugasn dan fungsinya masing-masing ; (2) lemahnya komunikasi politik antara BPD dengan masyarakat yang diwakilinya ; (3) tidak jelasnya hubungan dan mekanisme pertanggungjawaban BPD dengan masyarakat;

Konflik Kades dengan masyarakat Meski dilevel desa proses pemilihan kepala Desa merupakan suatu tradisi politik yang berlangsung lama, akan tetapi tradisi ini tidak membawa pada perubahan perilaku politik. Ditingkat desa kekalahan seorang menjadi Kepala Desa masih dipandang sebagai bentuk kekalahan martabat atau kehormatan terhadap keturunan atau keluarga. Karena para calon biasanya adalah kelompok yang terpandang dikalangan masyarakat setempat, sehingga biasanya pula proses pemilihan Kepala desa dipandang sebagai pertaruhan kehormatan seseorang atau keluraga/keturunan. Sehingga kalah dalam Pilkades berarti hacurlah kehormatan seseorang, meski hal ini tidaklah berlaku umum. Akan tetapi dalam struktur politik dan budaya politik masyarakat tradisional yang mengkedepankan kedekatan kekeluargaan dalam proses politik meyebabkan persoalan yang sebelunya merupakan persoalan privat/personal, cenderung berkembang menjadi persoalan publik. Pada umumnya konflik konflik antara Kades dan masyarakat, yang berlangsung sekarang ini lebih banyak dipicu oleh sikap atau kinerja Kades yang buruk. Arus perubahan politik yang besar dan berlangsung cepat dalam era sekarang ini, nampaknya telah mendorong masyarakat untuk menaruh harapan besar kepada Kepala Dea. Apalagi, Kepala Desa dalam undang-undang No.22/1999 diberikan keleluasaan untuk menyelenggarakan pemerintahan desa. dengan perubahan yang besar ini, masyarakat jua menaruh harapan akan adanya perubahan yang cukup signifikan di desa. Akan tetapi, sayangnya ketersediaan pemimpin desa masih sangat terbatas. Rendahnya tingkat pendidikan Kepala Desa merupakan salah satu kendala yang dipandang cukup serius oleh masyarakat. Hampir
31

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

sebagian besar Kepala Desa pada umumnya adalah tamatan atas kebawah, jarang sekali seorang Kepala Desa berasal dari Sarjana atau memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Disamping itu, disebabkan pula politisasi birokrasi rezim Orde Barumenempatkan sejumlah aktor politiknya dilevel desa. Sehingga kepemimpinan local masyarakat setempat seringkali terpinggir. Karenanya, muncul istilah kalau tidak dekat dengan Golkar atau birokrasi diatas, maka jangan harap peluang untuk menjadi Kades terbuka. Oleh sebab itulah, seringkali seorang kadespun pada masa Orde Baru menjadi kepanjangan tangan kepentingan partai tertentu untuk memenangkan pemilu. Hal ini ternyata mebuat tradisi kepemimpinan politik local tidak memiliki kemampuan dan independesi yang kuat dalam membangun proses politik dilevel desa. bahkan, dalam perkembangannya pula desa pada akhirnya mengalami krisis kepemimpinan politik. Disisilain pula, kebiasaan tradisi politik masyarakat dalam menentukan calon Kepala Desa dan berlangsung lama selalu mendasarkan ketokohan politik hanya berdasarkan pada pengalaman dan pengaruh, bukan berdasarkan pada kapasitas dan kapabilitas calon Kades. Sehingga pola hubungan yang terbangun antara masyarakat dengan Kades, lebih dominan adalah huungan kedekatan perkawanan atau persaudaraan. Konflik antara kades dengan masyarakat, pada masa sekarang ini umumnya berlangsung tidak dalam satu arah langsung atau vis a vis, jika, sebelumnya (masa Orde Baru) vis a vis, hal ini sebenarnya adalah sebagai konsekuensi dari kedudukan Kepala Desa sebagai penguasa tunggal di desa.nya .maka, pada masa berlakunya UU.No.22/1999 kecendrungan kuat proses yang terjadi adalah melalui pihak ketiga, dalam hal ini BPD. Keluhan atas lemahnya kinerja Kades banyak disampaikan masyarakat melalui BPD. Pergeseran ini berdampak pada mekanisme dan strategi penyelesaian persoalan. Bia sebelumnya, penyelelesaian persoalan sepenuhnya ditangan Kepala Desa dan sangat tergantung dari komitmen dan political will seorang Kepala desa, maka sekarang ini ditentukan dari BPD. Konflik Pemerintahan Desa dengan masyarakat Konflik pemerintahan desa dengan masyarakat. Konflik ini ditandai dengan lahirnya krisis kepercayaan masyarakat terhadap Kades dan BPD. Konflik ini berlangsung dalam satu arah yakni Pemerintahan Desa dengan masyarakat. Pada umumnya,, hal ini berlangsung dalam suasana dimana BPD dan Pemdes semakin kolaboratif dalam membangun simbiosis mutualism, akan tetapi hubungan tersebut hanya mengkedepankan dan menguntungkan kedua lembaga tersebut. Baik BPD maupun Kades, sama-sama menunjukkan gaya kepemimpinan elitisotoritarian. Para penyelenggara pemerintahan desa itu menjadi kelas dominan, yang memonopoli seluruh proses kebijaksanaan publik ditingkat desa, tidak partisipatif, an-acountability, dan lain sebagainya. Sehingga ditingkat masyarakat melahirkan gerakan perlawanan sebagai reaksi atas ketidakpercayaannya terhadap kinerja kedua lembaga desa. Pemerintahan desa secara administrative mungkin saja dapat berjalan dengan baik, akan tetapi pemerintahan terseut berjalan tanpa legitimasi dari masyarakatnya. Sehingga, tingkat partisipasi asyarakat dalam proses pembangunan maupun pemerintahan menjadi sangat minim. Bahkan, apatis.

32

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Kecendrungan kuat munculnya resitensi masyarakat terhadap pemerintahan desa yang berlangsung sekarang ini lahir oleh karena antara BPD dan Kades selalu berkonflik dan konflik tersebut tidak mampu diselesaikan dengan baik, termasuk gagal dalam merekonstruksikannya kedalam bangunan system nilai yang posistif bagi perkembangan pembangunan dan demokrasi ditingkat bawah. Oleh karena dan seringkali konflik antara BPD dengan Kades berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, konflik kedua lembaga inipun pada akhirnya seringkali terpaksa harus mengabikan tugas dan fungsinya, karena disibukkan dengan konflik yang ada. Akhirnya dinamika politik yang berlangsung dilevel desa pada tingkatan tertentu, memang terkadang mengarah pada tindakan yang destruktif9. Hal ini tercermin dari munculnya tindakan anarkis sejumlah warga dalam berbagai proses politik yang terjadi ditingkat desa. Pemicunya beragam, mulai dari dugaan adanya money politik hingga pada persoalan rendahnya tingkat pendidikan calon tertentu. Kecendrungan ini disebabkan diantaranya ; (1) Eforia politik yang berlebihan, disisilain minimnya proses pendidikan politik bagi masyarakat desa (2) lemahnya penguatan kelembagaan politik di level desa, sementara tuntutan arus perubahan secara trasnformatiffundamental ditingkat desa semakin menguat. Padahal, institusi yang ada sekarang belum cukup memadai untuk memenuhi tuntutan tersebut. Mungkin yang harus dicatat bahwa demokrasi dilevel desa selama ini baru berlangsung pada institusionalisasi kelembagaan desa dan mekanisme formal demokrasi, seperti, pemilihan BPD dan Kades secara langsung, Sementara demokrasi dalam arti yang lebih luas, misalnya adanya institusionalisasi kelembagaan pada masyarakat sipil, adanya budaya demokrasi dan sebagainya masih belum nampak. Munculnya frustasi politik ditingkat bawah ini sebenarnya tidak terlepas dari minimnya agenda reformasi kearah perbaikan kondisi ekonomi, social, politik masyarakat di desa yang lebih baik. Kondisi ini semakin diperburuk lagi dengan lemahnya responsibilitas Pemda dan DPRD dalam merespons perkembangan persoalan yang ada ditingkat masyarakat. Hubungan Pemerintahan Desa dengan Pemerintahan Kabupaten Pada masa pemerintahan Orde Baru, locus yang menjadi sentral pemangunan lebih banyak pada daerah perkotaan. Dikota-kota, sarana dan prasarana pembangunan tersedia begitu melimpah ruah. Hasil-hasil produksi dari desa dibawa ke Kota, dan diKota pula Pusat-pusat industri dibangun, seiring dengan itupula sarana dan prasana pendukung lainnya, dibangun dengan begitu cepat. Kota seakan-akan menjadi sentral dari seluruh aktivitas pembangunan dan jalannya pemerintahan. Akibat kebijakan yang sentralistik inipula arus urbanisasi terjadi dalam jumlah yang besar, masyarakat desa berbondong-bondong datang ke Kota, khususnya Kota-Kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, bandung, Surabaya, dan Kota Besar lainnya. Meski upaya penyebaran penduduk melalui program transmigrasi gencar dilakukan, namun hal tersebut seakan tak bergeming.. Dampak social akibat ledakan arus urbanisasi, di Kota semakin nampak bertambahnya jumlah penduduk dalam jumlah yang besar ternyata telah
9Tingkatan tertentu dimaksud dalam tulisan ini adalah klimaks dalam proses politik yang terjadi ditingkat desa, misalnya dalam pemilihan Kepala Desa dan atau Pemilihan Badan Perwakilan Desa.

33

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

berakibat tingginya tingkat persaingan hidup. Kompetisi yang semakin ketat, ketersediaan lapangan kerja yang semakin terbatas, justeru ternyata telah melahirkan kemiskinan baru bagi masyarakat desa. Meski banyak masyarakat desa yang berhasil membangun pondasi ekonomi di Kota Besar, namun tidak sedikit pula fakta yang menunjukkan diantara mereka yang berada dipersimpangan jalan menadah tangan. Didesa kita juga menyaksikan bagaimana lahan-lahan produktif yang ditinggalkan itu banyak yangditumbuhi ilalang. Sawah-sawah banyak yang tak tergarap, ternak-ternak banyak yang mati dan sebagainya. Karena pemiliknya telah banyak meninggalkan kampung halaman. Desentralisasi kekuasaan dari Pusat ke Daerah dalam konteks ini nampaknya menjadi instrumen untuk membalikkan paradigma kekuasaan yang selama ini terpusat di Kota-Kota dan dikuasai oleh segelintir elite, menjadi desentralisasi kekuasaan yang terdistribusikan ketingkat desa secara merata. Desa memiliki kedudukan dan peran yang cukup strategis, karena: (1) Desa adalah basis pelayanan publik terdepan ; (2) Desa adalah ujung tombak pembangunan dan ; (3) Desa ada basis dan ujung tombak penyelenggaraan pemerintahan. Akan tetapi, persoalannya sekarang adalah sejauhmanakah pemerintah Kabupaten memiliki komitmen dan political will yang kuat untuk mendorong desa sebagaimana diatas. Ketergantungan pemerintahan desa terhadap pemerintahan diatasnya selama ini masih tergolong cukup tinggi sebagai akibat dari doinasi dan monopoli kekuasaan. Meski desa diberikan otonomi, akan tetapi dalam implemtasinya kebijakan dalam menentukan berbagai desa masih dan hanya ditentukan oleh Pemerintahan Kabupaten Sehingga masyarakat cenderung bersikap pasif, kurang berani, kritis terhadap proses pembangunan. Hampir sebagian besar masyarakat berpandangan bahwa untuk memajukan desanya bukanlah menjadi kewajiban masyarakat, melainkan pengusaha dan penguasa. Meski pandangan ini tidak sepenuhnya salah, akan tetapi kondisi ini telah melahirkan tingkat swadaya masyarakat masyarakat desa menjadi minim, kurang kreatif dan inovatif dalam melakukan perubahan yang lebih baik bagi desanya. Ada beberapa factor penyebab diantaranya oleh karena: (1) Pemerintahan Kabupaten kurang memberikan ruang dan kesempatan kepada masyarakat desa untuk melakukan inisiasiinisiasi sendiri dalam menentukan formulasi kebijakan, proses (perencaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi) pembangunan dan pemerintahan. (2) Rendahnya tingkat partisipasi masyarakat karena rendahnya tingkat pendidikan masyarakat dan kurangnya proses penyyadaran pemahaman masyarakat tentang pembangunan dari pemerintahan Kabupaten. Disamping itu kebijakan pembangunan ternyata masih bersifat sentralistik-top down planning. Pemkab masih belum transparans, terutama dalam membuka akses informasi bagi masyarakat. Banyak pemdes dan masyarakat desa yang mengeluhkan betapa sulitnya memperoleh informasi proyek pembangunan kabupaten yang ada didesanya. Banyak proyek pembangunan tanpa melalui survey kebutuhan, koordinasi, konsultasi, sosialisasi kepada Pemdes dan masyarakat desa. Sehingga, akibatnya; (1) Pembangunan tidak sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat ; (2) Rendahnya tingkat kekuatan partisipasi dan swadaya masyarakat ;
34

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Lemahnya suistanabilitas pembangunan ; Rendahnya pemahaman masyarakat tentang tujuan, sasaran, manfaat dan dampak dari proyek pembangunan ; (5) Terbukanya peluang korupsi dalam pelaksanaa proyek pembangunan di desa ; (6) Rendahnya pengawasan yang dilakukan masarakat setempat terhadap pelaksanaan proyek pembangunan. Kasus di desa Jurumapin Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa misalnya; proyek air bersih T.A. 2002 (pembangunan penampungan air) ternyata tidak dapat bermanfaat bagi masyarakat. Karena : dalam perencanaan maupun pelaksanaan proyek itu tidak dikonsultasikan kepada masyarakat, khusunya mengenai lokasi penampungan air. Masyarakat setempat sebelumnya telah menyampaikan kepada instansi terkait bahwa lpemetaan/survey instansi terkait tidak cukup strategis atau kurang tepat. Akan tetapi, masukan dan saran tersebut diabaikan begitu saja oleh pelaksana proyek karena menganggap masukan dari masyarakattidak tahu apa-apa. Akibat kesalahan ini, proyek air bersih senilai Rp.91 juta dari APBD T.A. 2002 itu tidak memiliki manfaat dan dampak bagi masyarakat sebab penampungan air bersih itu mengalami kekeringan pada musim kemarau. Padahal, proyek itu sendiri dimaksudkan untuk mengatasi kekurangan air bersih pada musim kemarau. Keberhasilan pembangunan bukan hanya terletak pada sejauhmana proyekproyek fisik itu terealisasikan, akan tetapi pula sejauhmanakah pembangunan mampu mendorong swadaya dan kemandirian masyarakat. Kesalahan selama ini, pemerintah masih memandang masyarakat sebagai obyek pembangunan, bukan sebaliknya. Pola ini tentu saja tidak akan membalikkan spectrum politik pembangunan dari sentralistik kearah desentralistik. Effect domino dari pola perubahan yang seyogyanya terjadi pada masa otonomi daerah ini, adalah melahirkan sentral-sentral pembangunan di tingkat bawah (desa), dengan adanya hal tersebut diharapkan desa akan menjadi majusehingga masyarakat desa yang tinggal di Kota atau mereka yang akan urban ke Kota akan semakin berkurang. Hubungan antara pemerintahan Kabupaten dengan Pemerintahan desa, nampaknya masih bersifat sub-ordinat dalam arti bahwa pemerintahan desa adalah bawahan dari pemerintahan diatas. Sehingga, masih nampak upaya intervensi, dominasi dan monopoli kekuasaan dari pemerintahan diatas. Desa tidak memiliki kebebasan dalam mengekpresikan kehendaknya baik dalam proses pembangunan maupun pemerintahan secara otonom dan mandiri. Tanpa ada intruksi atau komando dari atas. Rendahnya usaha pemerintah kabupaten dalam mendorong otonomisasi ditingkat desa ini tercermin dari antara lain; Adanya kecendrungan kuat pemerintahan Kabupaten untuk menguasai sumber-sumber pendapatan strategis. Sehingga berbagai kebijakan daerah (Perda, SK Bupati dan sebagainya) berupaya untuk membatasi pendapatan bagi desa. Hampir sebagian besar sumber-sumber pendapatan yang potensial telah dikuasai oleh pemerintahan Kabupaten dengan kata lain dukungan fiscal pemerintah kabupaten terhadap pemerintahan desa masih begitu rendah; Rendahnya dukungan pemkab terhadap dana operasional desa, hampir sebagian besar kecendrungan yang ada alokasi anggaran lebih banyak diperuntukkan untuk para pegawai Pemda dan DPRD. Sementara insentif
35

(3) (4)

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

bagi kades maupun BPD sangat minim. Bahkan, dibeberapa Desa BPD tidak memperoleh insentif; Rendahnya pemberdayaan pemerintah terhadap masyarakat desa. Hampir sebagian besar program pembangunan pemerintahan masih dan hanya mengoritenasikan pada penguatan pemerintahan Kabupaten. Berbagai program pembangunan banyak yang tidak mengarah pada kebutuhan real masyarakat; Berbagai produk kebijakan daerah, khususnya Perda yang mengatur tentang pemerintahan desa kurang memberikan peluang bagi Pemdes dan masyarakat untuk mengembangkan otonomi asli desa Tidak adanya desentralisasi kekuasaan dari pemerintahan Kabupaten kepada Pemerintahan dan masyarakat desa ; Rendahnya dukungan kelembagaan, kapasitas, fasilitas dari pemkab terhadap Pemdes dan lain sebagainya. Karenanya bagi pemerintahan dan masyrakat desa menilai bahwa otonomi desa hanyalah otonomi diatas kertas, karena dalam prakteknya tidak ada otonomi desa yang diberikan oleh Kabupaten kepada desa, transfer kekuasaan dalam bentuk penyerahan kewenangan pada bidang-bidang tertentu belum sepenuhnya diserahkan kepada desa, bahkan, cenderung kekuasaan pemerintahan Kabupaten semakin monopolistic, karena hampir seluruh proses kebijaksanaan publik yang dirancang dan disahkan tidak melibatkan dan memihak kepada kepentingan masyarakat desa. Sebagai contoh misalnya, PAD Desa, dalam Kepmendagri 64 tahun 1999 tentang pedoman umum pengaturan desa dikatakan bahwa desa diberikan hak atau wewenang untuk melakukan pencarian dan pemungutan sumber-sumber pendapatan untuk kemudian menjadi sumber pendapatan asli desa. Akan tetapi, pada pasal lain dikatakan bahwa sumber-sumber pendapatan yang hanya boleh dipungut oleh desa adalah sumber pendapatan yang belum dipungut oleh Kabupaten, dan terhadap sumber pendapatan desa yang telah ada dianggap batal oleh pemerintahan Kabupaten, bila kemudian pemerintahan kabupaten memberlakukan peraturan perda yang mengatur akan hal tersebut. Dengan demikian, maka posisi pemerintahan desa begitu lemah dihadapan pemerintahan Kabupaten. Pemdes seringkali kurang diperhatikan dalam berbagai bidang penyelenggaraan pemerintahan maupun pembangunan. Keraguan dan kecurigaan masyarakat terhadap pemkab sebenarnya telah terjadi sejak tahap awal pelaksanaan otonomi desa, khususnya setelah berbagai produk kebijakan yang mengatur tentang pemerintahan desa itu diberlakukan, sebab sebagian besar perda tersebut dirumuskan tanpa melalui konsultasi publik, Bagi masyarakat : (1) Melalui Perda pemerintah daerah telah memainkan perannya sebagai atasan (2) Terdapat unsur-unsur politis yang dimasukkan dalam berbagai perda pengaturan desa (3) Banyak kebijakan pemerintah daerah sebagai bentuk intervensi otonomi desa, bahkan ; (4) Pemerintah daerah oleh masyarakat dinilai melakukan proses marginalisasi terhadap pemerintahan desa ; Secara umum relasi Pemdes dengan Pemkab, yang berlangsung selama ini masih berjalan kurang sinergis. Bahkan masih terdapat berbagai persoalan diantaranya adalah antaralain; (1) Masih terjadi tarik ukur kekuasaan antara masyarakat dan pemerintahan desa dengan Pemerintahan Kabupaten ;
36

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

(2) (3)

Masih adanya upaya untuk saling mensubordinatkan kekuasaan pemerintahan Kabupaten dengan Pemerintahan desa ; Masih adanya upaya kekuatan politik tertentu untuk mencengkram pemerintahan desakarena desa sebagai basis politik .

Upaya perlawanan dan pembangkakngan terhadap pemerintahan Kabupaten oleh Pemerintahan Desa pun pada akhirnya terpaksa dilakukan oleh Pemerintahan Desa. Seperti misalnya,yang dilakukan oleh Asosiasi Kepala Desa (AKAD) Lombok Barat terhadap pemkab Lobar, Kepala Desa se-Lombok Barat mendesak agar Pemkab menaikkan insetif bagi Kades, jika hal ini tidak dipenuhi 117 Kepala Desa yang tergabung dalam AKAD akan menaggalkan jabatannya. Begitupun dengan Forum BPD Lombok Tengah, mereka secara bersamasama mendesak Pemkab Lombok Tengah untuk mengalokasikan anggaran insentif BPD dalam APBD. Gerakan-gerakan perlawanan inipun bermunculan, baik yang dilakukan melalui sendiri maupun dilakukan secara bersama-sama. Desakan arus bawah ini ternyata telah membuat sejumlah para pemgenag kebijakan di daerah pusing. Bahkan, ada sebagian diantara mereka yang menghembuskan angin agar forum-forum seperti ini dibubarkan karena dipandang akan mengancam keberlangsungan kemapanan pemerintahan Kabupaten..

Kedua; hingga saat ini pemerintahan desa masih mengalami ketergantungan yang cukup kuat terhadap pemerintahan diatasnya, ketergantungan tersebut menyangkut antara lain adalah ketergantungan pendanaan, proses formulasi kebijakan desa, dan sebagainya kondisi ini dikarenakan (1) lemahnya upaya pemerintahan Kabupaten untuk mendorong proses kemandirian desa hal ini ditandai dengan minimnya upaya pemberdayaan terhadap pemerintahan dan masyarakat desa. Sehingga BPD maupun Kades tidak memahami tugas dan fungsinya. Akibatnya penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di desa kurang berjalan maksimal (2) masih adanya kecendrungan kuat pemerintahan desa dipandang oleh pemerintahan kabupaten sebagai obyek, sehingga hubungan kesetaraan dan kemitraan (parthership) dalam proses penyelenggaraan pemerintahan tidak berjalan optimal, kecendrungan yang muncul sumber-sumber penghasilan desa terekploitasi oleh pemerintahan Kabupaten. Pada saat yang sama tidak ada desentralisasi perimbangan keuangan Kabupaten dan desa. Sehingga pemerintahan desa kering akan lahan-lahan yang dapat menghasilkan pendapatan bagi Desanya. Menuju Otonomi Desa Menuju kemandirian desa ditengah situasi dan kondisi masyarakat seperti saat ini, bukanlah pekerjaan yang mudah. Begitu banyak dan kompleksnya persoalan yang
37

Sedikitnya 117 Kepala Desa (Kades) di Lombok barat (lobar) yang tergabung dalam Asosiasi Kepala Desa (AKAD) menagancam akan menutup kantor desa, apabila tunjangan pendapatan aparatur desa (TPAD) tidak dinaikkan. Pada tahun 2002 TPAD Kades di Lombok Barat hanya Rp.180.000 bulan. Padahal Kades bekerja 24 jam perhari. Menurut Sekretris umum AKAD Lobar Drs. Arif Rahman honor yang diterima Kades dengan kerja tidak seimbang. Karenanya AKAD menunut kenaikan insentif menjadi Rp.500.000. AKAD juga meminta agar Dana Pembangunan Desa (DPD) sebelumnya Rp.10 juta pada tahun 2003 untuk naik menjadi Rp. 30 juta. Menurut Arif Rahman, sesuai UU.No.22/1999 aset keuangan pemda harus dibagi dengan desa, namun sampai saat ini desa yang merupakan ujung tombak tidak pernah diberikan hak, seperti PBB, retribusi dan pajak lainnya. Desa sebagai pondasi bangunan kabupaten, seharusnya diperhatikan dengan baik, sebab tanpa desa belum tentu kabupaten ini ada. Kalau pemerintah beralasan tidak ada dana untuk menaikkan TPAD, Arif Rahman meminta pemerintah transparans kami tidak menuntut apabila tidak ada dana, tetapi coba kita terbuka. Apakah benar dana TPAD tidak ada Kata Arif Rahman dalam pertemuan dengan Panggar DPRD Kabupaten Lombok Bara

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

berkembang saat ini didesa menghantarkan kita pada pertanyaan bagaimanakah mewujudkan kemandirian masyarakat desa? darimana harus memulainya? Perangkat apa saja yang harus dipersiapkan? Siapa yang akan melakukan perubahan? Bagaimana caranya? Dan sebagainya. Pada bagian ini saya ingin menawarkan beberapa gagasan tentang beberapa hal untuk mewujudkan otonomi desa. 1). Pertama ; bahwa desentralisasi kekuasaan kepada daerah yang disusun saat ini berdasarkan pada pluralisme daerah otonom dan pluralisme otonomi daerah. Dimana Daerah otonom tidak lagi disusun secara bertingkat, melainkan adalah pemiliahan berdasarkan jenisnya, yakni daerah otonom propinsi, daerah otonom kabupaten, daerah otonom kota dan kesatuan masyarakat adat (desa atau nama lain) sebagai daerah otonom asli. Ini artinya, kedudukan antar daerah sesungguhnya adalah sejajar dan hubungan antar daerah adalah bersifat kemitraan (pathership) karenanya yang perlu dibangun dan dikedepankan antar daerah otonom adalah kerjasama (cooperation) yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) dan bersifat sinergis serta berkelanjutan (suistanable). Dengan dasar ini, maka ; Pertama ; Peraturan perundang-undangan yang mengatur daerah otonom tertentu haruslah dirumuskan secara bersama, antar daerah otonom tidak boleh seenaknya mengatur urusan rumah tangga daerah otonom orang lain tanpa didasarkan pada kebutuhan dan atau kesepakatan bersama, misalnya Daerah Otonom Kabupaten mengatur tentang mekanisme pemilihan Kepala Desa, akan tetapi Pemerintahan desa tidak dilibatkan dalam proses perumusannya. Kecuali bila daerah otonom itu memang menyerahkan pengaturan urusan rumah tangganya kepada daerah otonom Kabupaten. Kedua; oleh karena antar daerah otonom sejajar dan mitra, yang semuanya memiliki fungsi pelayanan publik, maka sumber-sumber pendapatan harus dibagi secara merata, harus ada dana perimbangan, terutama perimbangan keuangan desa dengan kabupaten. Hal ini penting, karena tanpa ada perimbangan keuangan, daerah otonom asli (desa) yang merupakan ujung tombak pelayanan masyarakat tidak akan berfungsi maksimal dalam pelayanan publik. Rapuhnya atau buruknya pelayanan publik di desa selama ini juga merupakan cermin dari buruknya pemerintahan di level daerah otonom Kabupaten, Provinsi bahkan Pusat. Ketiga; Karena berkedudukan sejajar, maka antar daerah otonom tidak boleh untuk saling mensubordinasikan daerah otonom lainnya. Antar daerah otonom harus membangun kerjasama yang sinergis untuk menutupi berbagai kelamahan yang ada pada masing-masing daerah otonom, sehingga disparitas ekonomi, politik, social dan budaya antar daerah otonom tidak mengalami kesenjangan yang tajam. keempat; antar daerah otonom harus diberikan kekuasaan secara berimbang (proporsional), sehingga tidak ada yang mendominasi dan memonopoli antar daerah otonom dalam berbagai kebijakan pembangunan maupun pemerintahan. Hal inipula untuk menumpuknya kekuasaan pada daerah otonom tertentu, dipihak
38

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

lain terdapat daerah otonom yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan. Distribusi kekuasaan secara merata akan mendorong terjadinya check and balance dalam proses penyelenggaran pembangunan dan pemerintahan, antar daerah otonom dapat melakukan pengawasan satu sama lain, sehingga dapat meminimalisir terjadinya penyelahgunaan kekuasaan tertentu . 2. Kedua: perlu ada penguatan kelembagaan desa Penguatan kelembagaan ditingkat desa perlu dilakukan oleh semua pihak terhadap BPD maupun Pemerintah desa, terutama adalah peningkatan kapasitas untuk menjalankan tugas dan fungsinya disamping itu perlu pula dipikirkan bagaimana dilevel desa ada sebuah lembaga peradilan desa yang berfungsi untuk menyelesaikan perseleisihan yang terjadi di tingkat desa misalnya adanya Badan Peradilan Desa. Keberadaan Badan ini sudah seyogyanya mulai dibangun oleh pemerintahan di level desa, Karena : pertama; penyelesaian perseleisihan di desa kedepan tidaklah mungkin dapat ditangani oleh seorang Kepala Desa atau BPD, mengingat beban tugas yang ditangai oleh seorang Kepala Desa maupun BPD yang begitu besar10. Disamping itu, penyelesaian perselisihan dimasyarakat selama ini tidak hanya bersifat perseisihan perdata, seperti jual beli, perceraian, perkawinan, pinjam-meminjam, tetapi juga perselisihan sifatnya pidana, seperti perkelahian antar pemuda, antar kampung dan sebagainya. Tugas untuk menyelesaikan perselisihan di desa bukanlah pekerjaan yang mudah, seorang kepala Desa dituntut untuk memahami berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku, mulai dari undang-undang pidana, perdata, dagang, hukum islam, undang-undang perkawinan, anak, ketatanegaraa dan berbagai peraturan lainnya. Sungguh pekerjaan yang cukup berat, seorang Sarjana Hukum saja, belumlah tentu dapat menguasai sepenuhnya berbagai peraturan perundang-undangan yang ada/berlaku apalagi dengan seorang kepala desa yang pendidikannya hanya tamat Sekolah Lanjutan Pertama. Kedua: dengan adanya badan Peradilan desa, masyarakat dapat mengajukan yudisial review, class action, legal standing terhadap keputusan atau kebijakan pemerintahan desa (BPD maupun Kades) yang dianggap bertentang dan atau merugikan kepentingan masyarakat. Masyarakat , BPD maupun Kades tidak perlu meminta atau mendesak
10

Tugas dan Kewajiban Kepala Desa adaah memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa, membina kehidupan masyarakat desa, membina perekonomian desa, memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat desa; mendamikan perselisasihan masyarakat desa; mewakili desanya didalam dan diluar pengadilan dan menunjuk kuasa hukumnya; mengajukan Rancangan Peraturan Desa bersama BPD menetapkannya sebagai peraturan Desa; menjaga kelestarian adat istiadat yang hidup dan berkembang di desa (lihat : Kepmendagri No.64 tahun 1999 tentang pedoman umum pengaturan mengenai desa, pasal 16-19).

39

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Bupati untuk membatalkan suatu peraturan di tingkat desa yang dianggap bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi atau bertentangan dengan prinisp dan hirarki perundangan yang berlaku. Cukup melalui Badan Peradilan desa. Hal ini selain mengurangi pekerjaan seorang Bupati, DPRD atau Hakim, juga akan lebih efisien dan efektif. Pemerintahan desa atau masyarakat tidak perlu datang ke Bupati, selain akan banyak pekerjaan yang ditinggalkan juga beban biaya ekonomi yang harus ditanggung oleh masyarakat akan semakin besar.

Ketiga: Badan Peradilan desa juga dapat menjadi mediasi atau sarana untuk menyelesaikan konflik kelembagaan yang berkembang dilevel desa, seperti konflik antara BPD dengan Kades. Upaya penyelesaian kasus tersebut tidak perlu harus melibatkan seorang Bupati atau Camat, Badan Peradilan Desa sebagai lembaga peradilan di desa dapat mempertemukan kedua lembaga tersebutuntuk kemudian menyelesaikan perselisihan atau perkara yang berkembang. Selama ini konflik antara BPD dan Kades cenderung semakin akut karena tidak ada media secara kelembagaan di desa yang memang berfungsi untuk menyelesaikan persoalan ditingkat desa. Banyak manfaat atau keuntungan yang bisa dipetik dari adanya Badan Peradilan Ditingkat Desa. Mungkin ini yang perlu harus dikaji lebih mendalam adalah antaralain Ruang lingkup Badan Peradilan Desa, Struktur Kelembagaan Peradilan Desa, Tugas dan fungsi serta hubungannya dengan lembaga lain dan sebagainya hal-hal tersebut perlu pengkajian secara mendalam.
3. Ketiga ; perlu ada Renstra desa Renstra desa sebagai pedoman dan kerangka acuan pembangunan di desa. Desa sebagai basis pembangunan sudah seyogyanya memiliki Rencana Strategis. Hampir sebagian besar pembangunan didesa, termasuk pemerintahan desa (BPD dan Kades) tidak mengetahui kemana tujuan, arah dan sasaran pembangunan yang ingin dicapai didesanya. Jika ditingkat Provinsi atau Kabupaten, pemerintah memiliki dokumen pembangunan, seperti Repetada (Rencana Pembangunan Tahunan Daerah), Propeda (Program Pembangunan Daerah), AKU (arah kebijakan umum), Renstra (Rencana Strategis) dan dokumen pembangunan lainnya yang merupakan acuan untuk menyusun perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan, maka dilevel desa, dokumen-dokumen tersebut sama sekali belum ada, sehingga arah pembangunan jangka panjang, menengah maupun tahunan berikut sasaran-sasaran tidak jelas. Sehingga, wajar bila kemudian dalam proses pembangunan, pemerintahan desa bak sebuah bulu bulu yang terhelai dihembuskan anginbergerak sesuai dengan kemana arah angin itu bergerak. Kondisi seperti ini tentu saja memberikan peluang bagi para penguasa dan kelompok kepentingan tertentu untuk memanfaatkan kelemahan yang dimiliki oleh pemerintahan desa (baca : proses penyusunan APBD). Dalam proses pembangunan misalnya, Musbangdes yang dilaksanakan dari tahun ketahun (berulang-ulang) seringkali usulan atau aspirasi desa tidak terakomodir dalam kebijakan pembangunan daerah. Dengan alasan oleh karena usulan yang dijuakan pemerintahan desa tidak sesuai dengan Rencana Strategis Kabupaten, maka banyak hasil Musbangdes yang masuk kedalambak sampah. Tidak adanya Rencana strategis (renstra desa), Propedes (Program pembangunan Desa), Repetedes (rencana pembangunan tahunan desa) dan AKU (Arah kebijakan
40

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

umum) APBdes, maka kondisi ini juga menyulitkan BPD maupun masyarakat untuk menilai sejauhmanakah tingkat keberhasilan pembangunan dan kepemimpinan seorang Kepala desa. Dibanyak desa dan umumnya kasus penolak LPJ Kades juga disebabkan karena adanya perbedaan persepsi dan pemahaman baik BPD, masyarakat maupun Kepala Desa mengenai indicator dan barameter keberhasilan program pembangunan ditingkat desa. Sebagian besar desa yang saya kunjungi dan dampingi mengatakan bahwa indicator untuk menilai apakah selama ini Kepala desa berhasil atau tidak dalam melaksanakan program pembangunan dan pemerintahan di desa adalah hanya pada pelaksanaan APBDes semata, apakah sesuai dengan rencana, apakah transparans, tidak dikorup. Hanya ini yang menjadi alat ukur bagi BPD untuk menilai LPJ Kades. Kata anggota BPD di desa Jurumapin kab.Sumbawa. Rencana strategis pembangunan desa ini sesungguhnya memilki arti dan manfaat penting bagi pemerintahan dan masyarakat desa;. Pertama; Renstra Desa sebagai kerangka acuan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan di desa. Dengan adanya renstra Pemerintah desa (Kades dan perangkatnya) memiliki rel-rel yang jelas apa yang seharusnya yang boleh dan yang di larang untuk dilaksanakan. Renstra juga menjadi alat ukur bagi BPD (Badan Perwakilan Desa) untuk memberikan penilaian terhadap pelaksanaan program pembangunan di desa yang dilakukan oleh Kades. Kedua:melalui renstra desa pemerintahan desa maupun masyarakat dapat mengetahui dan memahami kemana arah, tujuan, sasaran, hasil, dampak, dan manfaat dari pembangunan yang ada didesa, tahapantahapan apasaja yang harus dilakukan untuk menuju cita-cita pembangunan yang ada di desa, pemerintahan dan masyarakat desapun terdorong untuk menggali potensi dan kendala, kelemahan dan kekuatan serta memahami akar persoalan yang dihadapi oleh desanya. Sehingga dari proses ini pemerintahan desa maupun masyarakat desa dapat mengambil peran masing-masing untuk mendorong kemajuan pembangunan di desanya. ketiga: renstra desa juga dapat dijadikan sebagai alt kontrol kebijakan pebangunan pemerintahan diatas (Kabupaten) oleh pemerintahan dan masyarakat desa , apakah pemerintahan diatas telah mengakomodir usulan atau aspirasi masyarakat ataukah sebaliknya. Renstra desa tentu saja harus disusun secara bersama, pemerintah desa (Kades beserta perangkat desa), BPD, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, lembaga-lembaga di desa harus sinergis membangun kerjasamamelalui dialog atau rembuk desa, masyarakat dapat merumuskan renstra, sekaligus menyusun masa depannya sendiri. Hal ini tentu harus didukung oleh semua pihak, dan alangkah baiknya bila pemerintah daerah mulai memfasilitasi upaya-upaya inisiasi yang lahir dari masyarakatproses ini sebagai bentuk pembelajaran untuk melahirkan kreativitas masyarakat dalam pembangunan. 4). Keempat ; Perlu ada Partai Politik Desa Masyarakat desa selama ini hanya sebagai penyumbang suara untuk para elite politik dilevel atas. Mereka hanya dimobilisasi oleh kepentingan elite atau tertentu untuk kepentingan dan kekuasaannya. Pesta demokrasi entah itu pemilu, suksesi pemilihan Kepala Daerah dan sebagainya selama ini hanya dinimkati oleh
41

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

kalangan elite politik, sementara disisilain, elite politik seringkali menamppakkan wajahnya sebagai representatif masyarakat. Padahal, masyarakat tidak pernah tahu dan diajak untuk terlibat secara langsung dalam pengambilan keputusankeputusan politik (decision making). Tidak ada satupun partai politik yang melakukan pemberdayaan (empowerment) kepada masyarakat. Dilevel desa masyarakat terus dijadikan sebagai massa mengambang (floating mass). Cermin partai politik seperti ini jelas tidak akan menghasilkan produk kepemimpinan politik yang berkualitas dan memiliki integritas moral politik dan etika yang baik. Karena hanya menjadikan partai politik sebagai kendaraan untuk menju kursi kekuasaan, bukan menjadikan partai sebagai instrument perubahan transformatif yang membebaskan dan memandirikan masyarakat. Ekploitasi politik massa dalam logika politik praktis yang dibangun oleh para elite politik tentu saja semakin menjauhkan masyarakat pada partisipasi politik yang memang masyarakat secara sadar dapat menentukan nasibnya sendiri. Pola ketergantunganpun dibangun oleh para elite politik dalam hubungan yang terpatron pada figure tertentu. Sehingga masyarakat desapun pada akhirnya terjebak untuk memberikan penilaian terhadap sejumlah partai politik, dipihak lain, partai politik sebagian besar masih menempatkan kader politik dilevel desa yang ditempatkan adalah orang yang dipandang cukup berpengaruh ditingkat desa. dengan harapan, penempatan figure tertentu yang berpengaruh ditingkat desa diharapkan akan dapat mendongkrak suara partai tersebut. Kehadiran lembaga legislative desa (BPD), sebenarnya dapat dijadikan sebagai sarana bagi masyarakat untuk belajar bersama membangun sebuah system politik yang mencerminkan keberpihakan kepada masyarakat. Aakan tetapi, rekruitmen BPD ditingkat desapun terkesan bersifat ekslusive dan elitis. Karena anggta BPD pada umumnya adalah pemuka-pemuka masyarakat. Proses pemilihannya sangat dipengaruhi oleh kelas tertentu yang dominan berpengaruh ditingkat desa. Sehingga BPDpun terkesan menjadi lembaga representative elite dtingkat desa. Meski BPD dipilih secara langsung akan tetapi pemberhentian BPDdilakukan oleh Bupati11 . Oleh karena, BPD dipilih berdasarkan performance personal, maka sulit bagi masyarakat desa yang memilihnya untuk merecall anggota BPD tertentu manakala anggota BPD tersebut tidak melaksanakan amanah yang dimandatkan oleh masyarakat. Bila, ditingkat atas, anggota DPR/DPRD dapat direcall oleh partainya. Maka, pertanyaan ditingkat BPD desa siapa yang merecall mereka? Kalau masyarakat, pertanyannya masyarakat yang mana? Berapa jumlahnya? Bagaimana mekanismenya? Dan sebagainya. Padahal, pada sisilain, BPD selama ini tidak memiliki akuntabilitas kepada masyarakat yang memilihnya. Hal inipula yang membuka peluang anggota BPD dilevel desa menjadi cenderung bersikap arogan, dan terkesan menjadi lembaga tuhan, karena tidak ada yang mengawasinya. Oleh karenanya, perlu ada partai politik desa. Partai politik desa dapat dibentuk oleh masyarakat dilevel desa sesuai dengan kepentingan, kebutuhan dan kondisi yang ada di desa. Peran partai politik dilevel desa ini adalah melakukan pemberdayaan politik dilevel desa, melakukan pendidikan dan kaderisasi pada para anggotanya, dan melakukan pengawasan
11

Lihat Perda No.4 tahun 2001 Kabupaten Sumbawa tentang Pembentukan Badan Perwakilan Desa.

42

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

serta dapat pula menjadi oposan terhadap struktur kekuasaan yang ada. Dengan adanya parati politik di desa, maka rekruitmen calon anggota legislative ditingkat desa, tidak hanya memenuhi syarat administrative sebagaimana yang ditentukan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan, akan tetapi pula adalah kader politik yang memang dipersiapkan menjadi pemimpin ditingkat lokal. Dinamika politik di level desa tentu akan berjalan semakin dinamis dan konstruktif, karena partai-partai politik desa ini melakukan proses pendidikan dan pemberdayaan kepada masyarakat dilevel desa, dan juga menjadi counter kekuasaan yang ada, karena sebagian mereka mengambil posisi oposisi, sehingga check and balance terhadap kekuasaan berjalan seimbang. Masyarakat yang kecewa terhadap calon tertentu karena gagal menjadi anggota BPD dan atau Kepala Desa dapat menyalurkan aspirasinya, tidak hanya kepada BPD tetapi juga kepada partai politik desa. Ini artinya, keberadaan partai politik ditingkat desa juga adalahsebagai sarana alternatif penyaluran aspirasi bagi masyarakat desa. asyarakat tidak harus dan terus menyampaikan aspirasinya melalui corong kekuasaan ditingkat desa, Ia dapat menyuarakan pada sarana lain yang memang benar-benar dapat mengartikulasikan dan mengagregasikan kepentingannya.

Jenis dan jumlah termasuk platform partai politik ditngkat desa tersebut sangat ditentukan oleh masyarakat itu sendiri. Misalnya saja di satu desa terdapat Partai Petani, Partai Tukang Bangunan, Partai Koperasi, Partai Pengajian dan sebagainya. Sehingga, nantinya lembaga BPD benar-benar adalah merupakan lembaga yang dapat mencerminkan seluruh stakeholders dilevel desa. Kompetisi politik ditingkat desa tentu akan berjalan semakin massif, sehingga lamban laun akan mendorong kedewasaan dan kemandirian masyarakat dalam berpolitik. Mungkin yang perlu diperhatikan adalah agar independesi dan kemandirian politik di level desa ini terjadi, maka sebaiknya partai politik desa ini bukanlah kepanjangan tangan atau anak kandung yang dilahirkan oleh partai ditingkat atas sekarang ini. Partai politik desa haruslah murni adalah partai politik yang lahir, tumbuh dan berkembang seiring dengan proses dinamisasi yang terjadi dilevel desa. Ruang lingkup keberadaannya untuk saat ini berada ditingkat desa. Keberadaan partai politik desa ini sebenarnya adalah sebagai sarana bagi masyarakat dilevel desa untuk belajar politik praktis yang konstruktif. Kedepan, jika ternyata partai politik desa ini dapat berkembang secara luas, maka tentu partai ini akan menjadi partai politik lokal yang memiliki jaringan pada tingkat kecamatan, Kabupaten, hingga provinsi dan bila dalam perkembangannya pula semakin luas dukungannya, maka partai ini dapat di desakkan sebagai partai politik ditingkat nasional. Ini artinya, partai politik memang kelahirannya haruslah berasal dari bawah (grass root) sehingga partai politik tersebut mengakar, dan masyarakat yang memilihnya memang secara sadar memahami platform dari partai politiknya. Selama ini keahiran partai politik banyak berasal dari atas (elite) Pusat kemudian kedaerah. Dan sebagian besar partai banyak kelahirannya yang tidak didasarkan pada kebutuhan, kepentingan dan kondisi masyarakat, melainkan semata karena konflik kepentingan dan kekuasaa. Sehingga sangatlah wajar bila kemudian banyak partai politik yang tidak membasis dan massa yang dimilikinya adalah massa mengambang (floating mass).

43

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

5. Perlu ada Penguatan partisipasi dan kelembagaan politik masyarakat desa Hampir sebagian besar tingkat partisipasi politik masyarakat desa di NTB sejak era otonomi daerah meningkat. Meski baru sebatas tingkat meramainkan momentum politik, seperti Pilkades, BPD dan momentum politik lainnya. Politik mobiliasi massa (political mobilization) nampak masih menjadi karakter politik ditingkat desa. Kesadaran berpolitik masyarakat yang demikian, tentu akan sangat rentan untuk dimobilisr untuk kepentingan kelompok tertentu dan sangat rawan untuk bertindak anarkhi. Apalagi pada desa yang mengalami degradasi kepemimpinan politik lokal. Dibanyak desa membuktikan bahwa proses politik l desa sangat ditentukan pula dari karakteristik ketokohan elite ditingkat desa. Hubungan politik yang terpatron dan tersentral pada figure-figur tertentu menyebabkan tokoh kepemimpinan politik di level desa sangat ditentukan dari gaya hidup tokoh tersebut. Bahkan, ucapan seorang tokoh bak sebuah suara tuhan yang harus dituruti dan diikuti. Peran dan pengaruh tokoh yang begitu besar di desa membuktikan bahwa dinamika politik dilevel desa akan sangat ditentukan dari dinamika politik yang berlangsung ditingkat para tokoh tersebut. Sejauhmanakah tokoh itu membangun proses politik yang demokratis ditingkat desanya. Kondisi demikian, tentu dapat menghambat proses demokratisasi, dimana dalam system desa yang demokratis kepemimpinan politik dan dinamika politik haruslah diwarnai oleh masyarakat itu sendiri secara kolektif, bukan figure tertentu. Selama ini partisipasi masyarakat ditingkat desa akan menguat, manakala kepemimpinan politik di desa, khsusunya kades dan BPD dianggap memberikan contoh yang positif bagi masyarakat. Misalnya, bila ada kerja bakti di desa, maka seorang kepala desa dan atau anggota BPD haruslah lebih dahulu hadir dari masyarakat. Akan tetapi bila sebaliknya, maka masyarakat akan menganggap kades dan atau BPD telah melakukan kesalahan. Dan jangan coba-coba melakukan kesalahan di desabiasanya, bila seseorang telah dianggap bersalah, maka sangat sulit untuk dapat diterima kembali oleh masyarakat seperti dahulu kala. Partisipasi masyarakat desa umumnya begitu rendah, dan umumnya hal ini terjadi pada desa yang tingkat eskalasi konflik antar kepentingannya tinggi. Pemerintahan desanya kurang akomodatif, transparans dan accountable. Partisipasi masyarakat dilevel desa sekarang ini pada umumnya mengalami penurunan, sebagian besar mereka kecewa karena kinerja BPD dan atau Kepala Desanya buruk. Sering bertikai dan sebagainya.Disilain, pemerintah diatas, kurang memberdayakan masyarakat. Kondisi ini adalah salah satu kendala sekaigus ancaman. Sebab, bila tingkat partisipasi masyarakat desa melemah. Maka, dapat dipastikan pelaksanaan otonomi desa akan terhambat. Karena dalam pelaksanaan otonomi desa dibutuhkan prasyarat utama, yakni adanya kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi. Oleh sebab itulah perlu ada penguatan partisipasi bagi masyarakat, dan pelembagaan politik bagi partisipasi masyarakat desa. Pelembagaan politik partisipasi asyarakat desa dibutuhkan sebagai sarana untuk (1) ; mendorong masyarakat untuk terlibat secara aktif dan mendorong tanggungjawab masyarakat dalam pelaksanaan otonomi desa (2) adanya kelembagaan partisipasi politik desa sebagai sarana bagi masyarakat desa untuk
44

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

mengartikulasikan kepentingan dan kebutuhannya (3) adanya kekuatan bagi masyarakat desa diluar struktur kekuasaan sebagai peyeimbang dominasi atas proses kebijakan desa oleh pemerintahan desa (4) sarana bagi masyarakt desa untuk membangun swadaya politik dalam membangun struktur dan culture politik desa secara demokratis (5) sebagai sarana bagi masyarakt desa untuk berproses menuju pada pendewasaan dan kemandirian politik (6) sebagai sarana untuk menghindari dominasi figure elite tertentu dalam proses dan dinamika politik dilevel desa. Pelembagaan partisipasi politik masyarakat ini diperlukan oleh karena sejak masa Orde Baru, masyarakat telah dibuat menjadi traumatic sejarah kepanjangan, masyarakat takut mengawasi pemerintahan, takut untuk menjadi oposisi terhadap kekuasaan, takut untuk mengkritik, memberi masukan dan sebagainya terhadap pemerintahnya. Ketakutan inipun masih berlanjut dan mewarnai kehidupan politik dilevel desa sampai hari ini. Sebagian besar mereka masih menganggap bahwa membentuk struktur organisasi independen dilevel desa, apalagi lembaga yang mengawasi pemerintahan desa adalah tindakan yang terlarang. Mereka masih menanyakan apa dasar hukumnya bila kita membentuk organisasi di desa, harus meminta izin dan persetujuan dari Desa, Camat, Bupati, babinsa dan seterusnya.Kondisi ini terjadi, khsusunya ketika penulis mendampingi 5 desa di 3 Kabupaten di NTB dalam program pengorganisasian desa untuk anti korupsi.12 Karena itulah disamping proses penyadaran secara personal kepada masyarakat secara luas adalah bagaimanakah seluruh pemerhati social, Pemerintah, Akademisi, dan kelompok strategis lainnya juga melakukan upaya-upaya pemberdayaan dan penguatan kelembagaan politik dilevel desa. Sehingga kedepan, masyarakat memang benar-benar menyadari bahwa partisipasi masyarakat dalam proses politik, pembangunan dan pemerintahan sekarang ini begitu vital dalam membangun kemajuan desa selanjutnya. Catatan Pembelajaran dari Desa untuk elite Diakhir tulisan ini penulis ingin menyampaikan pesan pada para elite politik dan para pemegang kebijakan, baik ditingkat Pusat, Provinsi maupun Kabupaten. Bahwa bila kita ingin belajar berdemokrasi, nampaknya tidak perlu lagi pergi ke Amerika, Paris, Jerman atau melakukan kunjungan kerja keluar daerah. Selain terkesan pemborosan dan hasilnya yang kurang memiliki dampak yang cukup luas bagi perbaikan masyarakat desa, juga substansi kehidupan demokrasi dinegara-negara tersebut bila dibandingkan dengan kehidupan demokrasi di level desa tidaklah jauh berbeda. Bahkan, ditingkat desa proses demokratisasi secara formil telah berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Sebuah pemerintahan terkecil dan terbawah ini dan seringkali dilihat sebelah mata oleh para elite politik dalam penerapan demokrasi formil, justeru jauh lebih maju dibandingkan dengan Pemerintahan Pusat, Provinsi atau Kabupaten.
12 Kelima Desa tersebut adalah Desa Ranggagata, Kec. Praya Barat Daya, Desa Montong Gamang Kec. Kopang Kabupaten Lombok Tengah, Desa kabar, Kecamatan Sakra di kabupaten Lombok Timur, Desa Menala Kec. Taliwang, Desa Jurumapin, Kecamatan Alas Kabupaten Sumbawa. Bahkan di daerah Kota Mataram, tepatnya di Kelurahan Dasan Agung yang juga salah satu Kelurahan dampingan yang berada di Pusat Kotadan tergolong relative lebih maju juga mengalami hal yang sama (baca : Laporan pengorgansiasian desa anti korupsi SOMASI NTB, 1999-2003).

45

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Di desa Pemilihan seorang Kepala Desa dipilih secara langsung, dan sudah berlangsung sebelum UU.No.22/199 diberlakukan, bahkan sebelum masa pemerintahan Orde Baru. Seorang kepala Desa adalah orang yang dikenal dan dekat dengan masyarakat. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, selain dituntut harus mampu memahami peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ia jugadituntut untuk memahami kehidupan keagamaan, keamaman, hukum, ekonomi, social kemasyarakatan yang tumbuhdan berkembang di desa. Tugas dan pelayanan yang diberikan selama ini tidak hanya urusa pembuatan KTP, kartu pindah semata, juga mengurusi masalah perkwaninan-perceraian, jual-beli, keamanan, konflik serta urusan kemasyarakatan lainnya. Pendeknya, seorang Kepala Desa selain kepala Pemerintah Ia juga adalah seorang Polisi, Hakim, Ekonom,Jaksa, Kyai, dan lainnya. Sehingga meskipun kedudukannya sebagai pejabat terendah, akan tetapi tugas dan fungsinya sepertin halnya seorang presiden, Gubernur, Bupati atau seorang Camat. Urusan yang ditanganinnya tidak semata bersifat publik, tetapi juga bersifat privat bahkan inter privat. Padahal, pada sisi intensif untuk menjalankan aktivitasnya begitu rendah. Perkembangan kemajuan demokrasi didesa bukan hanya karena proses pemilihan Kepala Desa yang dipilih secara langsung oleh masyarakat, akan tetapi pula tercermin dari proses pemilihan Badan Perwakilan Desa (BPD) yang dipilih dari, oleh dan untuk masyarakat. Kondisi tersebut jauh berbeda dengan proses yang berlangsung ditingkat atas (Pempus, Pemprov, Kabupaten/Kota), Presiden, Gubernur, Bupati yang dipilih oleh DPRD. Bukanmasyarakat langsung. Karenanya, secara politik legitimasi politik Kepala Desa jauh lebih legitimate daripada Gubernur atau Bupati. Akan tetapi dari sisi ekonomis sebaliknya, jabatan Gubernur, Bupati atau Walikota jauh lebih basah, bahkan bila dibandingkan seperti halnya antara langit dan bumi. Banyak keistimewaan yang diperoleh dari jabatan kepala Daerah, Ia harus terus dikawal dengan para algojo pada setiap kesempatan dan tempat, diperiksa kesehatannya oleh dokter pribadi setiap saat, dijaga menu makannya apakah telah memenuhi 4 sehat 5 sempurna, diantar kemana-mana oleh sopir pribadi, dan jadwalnya diatur sedemikian rupa dengan protokoler. Sementara, Kepala desa? hanya melayani 2 x 24 masyarakatnya. Fasilitas yang diberikan oleh pemkab, pemprov maupun pempus sagat terbatas, bahkan dapat dikatakan tidak memadai. Anda dapat bayangkan, misalnya seorang Kades di Kabupaten Sumbawa ia hanya menerima insentif sebesar Rp.350.000-bulan dan itupun diterima setiap 3 baulan bahkan terkadang 6 bulan sekali. Sungguh memprihatinkan. Akan tetapi sayangnya, sense of crisis para elite dilevel atas masih saja cenderung mengkedepankankepentingan pribadi dan kelompoknya. Inikah yang namanya keadilan bagi seluruh rakyat?

46

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Dinamika Politik Pemilihan Kepala Desa : Studi Kasus Desa Jurumapin Desa Jurumapin terletak di Kecamatan Alas Kabupaten Sumbawa, secara geografis daerah ini adalah daerah pegunungan, berbatasan langsung dengan Desa Kalabeso dan desa terussa. Jumlah penduduk sekitar 2345 Penduduk di Desa tersebut pada umumnya adalah bermata pencarian sebagai petani, Buruh migran, dan sebagian kecil sebagai PNS dengan tingkat pendapatan yang tergolong rendah. Secara Administratif, Desa Jurumapin terdiri dari Dua Dusun, yakni Dusun Atas dan Dusun Bawah dengan jumlah perangkat Rukun Tetangga sebanyak 16 unit. Secara politik, sejak Pemerintahan Orde Baru Desa jurumapin merupakan salah satu kantong basis golkar, hingga Pemilu 1999 Golkar di desa tersebut masih mendominasi perolehan suara terbanyak. Dalam kesejarahannya, desa jurumapin dikenal oleh sebagian besar desa-desa sekitarnya memiliki kemampuan dan kelebihan dibandingkan dengan desa sekitarnya, terutama dalam perkembangan politik desa. Desa ini dikenal cukup kontruktif dan dinamis dan relative masyarakatnya lebih dewasa dalam berpolitik dibandingkan desa lain disekitarnya (Desa Kalabeso, terussa, Labuhan Burung), karena dari desa inipula banyak lahir tokoh-tokoh di daerah NTB. Sebut saja imisalnya, Badrul Munir (Bapppeda NTB), Asisten III Provinsi NTB berasal dari desa ini, belum lagi pejabat teras di Kabupaten Sumbawa sebagian besar berasal dari desa ini. Karenanya pula dalam kancah, perpolitikan dilevel atas Desa ini juga menjadi perhatian dan sorotan masyarakat. Perkembangan ini terjadi seiring dengan peningkatan tingkat pendidikan di desa, banyak sarjana yang telah dicetak di desa ini, baik lulusan lokal (NTB) maupun lulusan Universitas luar daerah (UGM, Unibraw dan lain sebagainya)13. Dalam proses pebangunan Desa jurumapin juga dikenal memilii tingkat swadaya yang cukup tingggi. Banyak pembangunan yang lahir murni dari swadaya masyarakat setempat, misalnya saja pembangunan Mesjid, Pembuatan Papan Infomrasi, Pembangunan jalan setapak dan lain sebagainya. Tidalah mengherankan, bila Desa yang berada dipelosok ini seringkali menjadi juara tingkat Kecamatan, Kabupaten Provinsi sebagai Desa Teladan. Partisipasi masyarakat pun relative cukup tinggi dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan. Hal yang tentu saja dapat diteladani, selain sebagaimana yang saya gambarkan diatas, di desa inipula transparansi penyelenggaraan pemerintahan begitu terbuka. Hampir seluruh proyek pembangunan yang dilaksanakan di desa, informasinya dibuka seluas-luasnya oleh Kepala Desa, bahkan surat yang masuk untuk desapun diumumkan kepada masyarakat luas. Biasanya, Kepala Desa menggunakan sarana Mesjid, setelah Selesai Shalat Jumat untuk menyamapian perkembangan yang terjadi di desanya selama satu minggu. Dibawah kepemimpinan Drs. H. Darussala Desa Jurumapin dinilai oleh sebagian besar masyarakat setempat mengalami perkembangan kemajuan yang cukup berarti.

13 DiDesa Jurumapin inipula pertama kali ada Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Alas, yakni SMP Muhammadiyah.

47

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Politik Pemilihan kepala Desa Masa kepemimpinan Drs. H. Darusslam periode 1992-2000 telah berakhir. Oleh karena belum ada penggantinya, disamping menugggu pembentukan BPD, maka estapet kepemimpinan dilanjutkan oleh Sekretaris Desa, Bapak Syamsul Bahri yang saat itu ditunjuk pemkab dan masyarakat setempat sebagai Petugas Pelaksana Harian (PLH) Desa, sebelum terpilihnya Kepada Desa yang baru. Awalnya, tugas yang diemban oleh PLH hanya berlangsung selama 6 bulan akan tetapi oleh karena ; (1) terjadi perubahan peraturan perundang-undangan (UU.No.22/1999) dan perubahan produk peraturan daerah (Perda BPD, Pemerintahan Desa, Pemiihan Kepada desa dan lainnya) ; (2) belum adanya persiapan dan kesiapaan, maka tugas PLH Syamsul Bahri akhirnya diperpanjang hingga tahun 2002 sehingga hampir dua tahun pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan di bawah PLH Syamsul Bahri. Setelah beragai peraturan tersebut diberlakukan disatu sisi dan pada sisilain pula telah terbentuk Badan Perwakilan Desa (BPD) yang berjumlah sebanyak 9 orang di desa tersebut. Maka, pada tahun 2002, tepatnya pada bulan Febuari akan dilangsungan proses pemilihan Kepala desa. Suasana hiruk-pikuk pesta demokrasi dilevel masyarakat bawah ini mulai nampak, berbagai Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Pemuda dan masyarakat lainnya mulai mengidentifikasi Tokoh setempat yang dipandang layak untuk memimpin Desa Jurumapin. Sementara Panitia Pemilihan yang sebagian besar adalah anggota BPD mulai mempersiapkan segala perangkat untuk mensukseskan Pilkades yang juga merupakan tugas pertama yang diemban dan dilaksanakan oleh BPD. Adapun tahapan dan tugas panitia pemilihan adalah sebagai berikut : 1. Menerima persyaratan administrasi Bakal Calon untuk diajukan kepada BPD. 2. Melakukan pemeriksanaan identitas Bakal Calon berdasarkan persyaratan adinistrasi yang ditentukan; 3. Melakukan penjaringan Bakal Calon sesuai dengan persyaratan administrasi yang ditentukan; 4. Menetapkan jadwal proses pencalonan dan pelaksanaan pemilihan Kepala Desa; 5. Menyusun dan menetapkan biaya pemilihan kepala desa 6. Melaksanakan pendaftaran pemilih untuk selanjutnya disahkan oleh Ketua Panitia Pemilihan; 7. Mengumpulkan nama-nama Calon yang berhak dipilih; 8. Menetapkan surat-surat Calon yang berhak dipilih. 9. Melaksanakan pemungutan suara 10. Membuat Berita Acara pemilihan dan melaporkan hasil pelaksanaan peilihan kepada BPD yang selanjutnya ditetapkan dengan keputusan BPD dan siyahkan oleh Kepala Daerah dengan keputusan Kepaa Daerah tentang pengesyahan Calon Kepala Desa terpilih. Diluar Panitia Pilkades, para pendukung calon Kades mulai mengidentifikasi lawan dan kawan politik. Konsolidasi dan strategipun dipersiapkan oleh masingmasing kelompok untuk menggolkan calonnya masing-masing. Dari hasil sementara penjaringan yang dilakukan oleh masyarakat setempat ada dua tokoh masyarakat yang dipandang layak untuk diajukan sebagai calon, yakni Widjan, SH. Dan Drs. H. Darussalam. Ini artinya, pertarungan politik Pilkades tahun 1992 terulang kembali, ketika itu yang muncul sebagai pemenang adalah Drs. H.Darusslam. Sementara itu dari hasil proses penjaringan yang dilakukan oleh
48

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

panitia pemilihan berhasil menjaring 3 orang calon Kades yang dipandang memenuhi syarat dan ketiganya bersedia untuk menjadi Calon Kepala Desa, yakni Drs. H.Darusslam, Widjan,SH dan Zakaria M.Tahir. Relasi dan dukungan terhadap kepemimpinan politik di desa, ternyata sangat terkait dengan struktur dan relasi social yang tumbuh dan berkembang di desa. Pelajaran yang menarik dari kasus Jurumapin adalah pola hubungan kekerabatan yang erat dan dalam prakteknya ternyata sangat menentukan dukungan politik tertentu. Hampir sebagian besar dukungan politik yang diberikan oleh masyarakat terhadap calonnya adalah didorong dan lahir atas hubungan kekeluargaan. Sehingga, tidaklah mengherankan bila keluarga besar berpeuang untuk memenangkan proses Pilkades. Akan tetapi bukanlah berarti variable ini yang akan sepenuhnya menentukan kemenangan calon tertentu. Karena, sebagian kelompok masyarakat yang telah memahami struktur politik, juga memberikan penilaian terhadap para calon berdasarkan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Seperti kedekatan, kapasitas, proesionalitas dan sebagainya. Sayangnya, kelompok social yang seperti ini masih reative minim ditingkat desa. Kasus di Jurumapin menunjukkkan adanya ketarkaitan yang cukup menonjol antara kedekatan dan kekeluargaan, seperti misalnya dukungan masyarakat terhadap para calon yang ada. Karakteristik dan pola realasi politik yang demikian (di desa Jurumapin), memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut : No 1 Kelebihan Hubungan kedekatan dan kekeluargaan akan memudahkan pemerintah desa melaksanakan tugasnya karena ada dukungan dan hubungan yang erat Memiliki media/sarana untuk menyelesaikan konflik atau ketegangan berdasarkan hubungan emosional kekeluargaan Kekurangan Dukungan politik kurang rasional, karena lebih didasarkan pada hubungan kekeluargaan, sehingga seringkali mengabaikan aspek profesionalitas, kapasitas, dan sebagainya Bila konflik atau ketegangan tidak dapat diselesaikan secara kekeluargaan, dan konfliknya semakin massif, maka konflik yang berlangsung biasanya terjadi dalam jangka waktu yang berkepanjangan dan seringkali hubungan persaudaraan yang telah terangun baik menjadi terputus. Masyarakat cenderung pasif, dan memilih diam daripada konflik, meskipun konflik tersebut kontruktif dan dinamis bagi perkembangan desa Berpeluang untuk terjadi pemerintahan yang otoriter karena masyarakat cenderung permisiv terhadap kekuasaan Akan muncul dominasi dari kekuatan tertentu bila komunikasi dan sinergisitas yang dibun tidak didasarkan pada prinsip kesetaraan, persamaan dan sebagianya

Potensi untuk terjadi ditingkat warga rendah

perpecahan

Tingkat legitimasi pemerintahan tinggi karena masyarakat mendukung sepenuhnya Pemerintah desa Mudah untuk melakukan komunikasi dan membangun sinergisitas antar stakeholders

Ketiga calon yang lolos sebagai calon Kades pada umumnya masih berada dalam satu garis hubungan kekerabatan. Bahkan, antara kandidat Widjan dan H.Darusslam tergolong dekat. Pada dasarnya, pertarungan politik adalah antara keduanya, sementara salah satu calon lainnya (Zakaria M.tahir) adalah kuda hitam yang dipasang oleh kelompok Widjan untuk mengaburi proses pemilihan
49

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Kepala Desa. Munculnya calon kuda hitam itu dinilai oleh masyarakat adalah sebagai salah satu bentuk siasat yang dilakukan oleh BPD, karena ada dugaan BPD akan menggagalkan salah satu calon tertentu, karena pada saat yang bersamaan calon tersebut akan menunaikan Ibadah Haji. Resistensi Independensi dan Legitimasi Panitia Pemilihan Pilkades ( 9 anggota BPD) mengalami perpecahan, 5 anggota BPD oleh sebagian masyarakat dianggap pendukung pada Widjan.SH, 2 pendukung H.Darussalam, sementara 2 anggota lainnya selama ini tidak aktif (pergi keluar negeri dan daerah sebagai pekerja). Maka, praktis, jumlah anggota Pilkades hanya 7 orang. Secara kuantitas, nampak bahwa sebagian besar anggota BPD adalah pendukung Widjan.SH. Dan praktis, dalam pengambilan keputusan politik kelompok pendukung Widjan mendominasinya. Dan yang cukup menarik serta banyak mendapat perhatian masyarakat luas adalah sorotan terhadap polarisasi dukungan politik ditingkat anggota BPD ini yang ternyata telah menyebabkan suasana politik pemilihan Kepala Desa semakin memanas , dan terkesan diantara anggota BPD tidak solid dan sinergis dalam pengambilan keputusan. Gesekan kepentingan politik didalam tubuh Panitia Pemilihan Kepala begitu keras. Bahkan, mengarah pada konflik kepentingan yang berkepanjangan. Sebagian (2 orang pendukung) H. Darusslam misalnya, beberapakali meninggalkan persidangan (walkout) karena dinilai BPD sudah tidak mencerminkanlagi obyektifitas, indepensi dan memperhatikan kepentingan masyarakat. Sementara, dilain pihak sebagian anggota BPD pendukung Widjan beralasan bahwa proses pemilihan kepala Desa harus mengacu pada ketentuan Perda Perda No.5 tahun 2001 tata Cara pemilihan Kepala Desa. Polarisasi anggota BPD dalam Pilkades selain disebabkan anggota BPD yang tidak independen juga dikarenakan antaralain ; 1) Adanya perbedaan pemahaman/persepsi berbagai kebijakan pengaturan mengenai desa baik yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat, Provinsi maupun berbagai peraturan daerah yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten ; 2) Tidak adanya petunjuk teknis mengenai Tata Cara Pemilihan Kepala Desa, sehingga masing-masing masyarakat, anggota BPD dan stakeholders lainnya menafsirkan sendiri-sendiri sesuai dengan pemahaan dan kepentngannya masing-masing; 3) Minimnya penjelasan dalam Perda No.5 tahun 2001 sehingga beberapa pasal yang dipandang masih kabur dan perlu penjelasan tidak dapat dipahami oleh masyarakat secara komprehensif; 4) Minimnya sosialisasi Perda No.5 tahun 2001 serta pemberdayaan hukum bagi anggota BPD dan masyarakat setempat; Berikut ini adalah beberapa pasal yang dipermasalahkan :
No 1 Pasal Bab 2 tentang persyaratan Pasal 2 huruf k Bunyi Mengenal desanya dan dikenal oleh masyarakat Yang dipermasalahkan Masyarakat mempermasaahkan pencalonan Widjan,SH. Oleh karena Widjan SH tidak tinggal di Desa Jurumapin Dalam prakteknya anggoa Keterangan Dengan alasan bahwa Widjan,SH adalah orang asli Jurumapin dan dikenal oleh masyarakat BPD menerima pencalonan Widjan.SH. Pasal ini dimaknai bahwa 50

Bab 3 Pasal 1

Untuk

pencalonan

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

dan Pemilihan Kepala Desa, BPD membentuk Panitia Pemilihan yang terdiri dari unsure Anggota BPD dan Perangkat Desa 3 Bab 3 Pasal 9 Panitia Pemilihan melakukan penjaringan Bakal Calon dari warga Desa Setempat dengan memperhatikan aspirasi asyarakat BPD setelah menerima calon yang telah melalui proses penjaringan, kemudian BPD melakukan penyaringan untuk menetapkan namanama Caon yang berhak dipilih, sekurang-kurangnya 2 orang dan sebanyak-banyaknya 3 orang Rapat pemilihan calon kepala desa diua oleh Ketua BPD dengan dihadiri oleh Panitia Pemilihan, paracalon yang berhak dipilih, para saksi yang ditunjuk masing-masing Calon yang berhak dipilih dan peimilih Pada saat pemungutan suara dilaksanakan, para Calon yang berhak dipilih harus menempati tempat yang telah ditentukan oleh Panitia Pemilihan untuk mengikuti dan menyaksikan jalannya pemungutan suara, kecuali pemungutan suara dilaksanakan beberapa tempat

Panitia pemilihan adalah BPD dan perangkat desa, tidak ada keterlibatan tokoh asyarakat

BPD/Panitia pemiihan dinilai warga tidak memperhatikan aspirasi masyarakat setempat

secara otomatis BPD dan perangkat desa adalah panitia peimilihan. Dalam pasal ini tidak dijelaskan bagaimana mekanisme pemilihan anggota Panitia Pemilu, Siapa yang memilih, dan sebagainya. Ktidakpuasan masyarakat muncul karena salah satu calonnya digugurkan oleh BPD lantaran akan berangkat Haji

Pasal 10 ayat 2

Proses ini seleksi/penyaringan ini menjadi sangat subjective, karena BPD memiliki calon Kadesnya masingmasing.

Beberapa kelemahan, diantaranya adalah tidak adanya alat ukur/indicator dan instrumens yang dipakai untuk memberikan penilaian secara objective. Pembatasan julmlah minimum dan julmlah maksimal seharusnya bukan ditentukan dari hasil seleksi BPD, melainkan dari proses pemilihan secara langsung oeh masyarakat

Pasal 13

Pasal 17 ayat 3

Pasal ini dimaknai oleh BPD bahwa kehadiran Calon Kades mutlak berada dilokasi, dan apabila tidak berada dilokasi, maka dianggap gugur. Pasal inilah yang membuat pencalonan H. Darusslam dianggap gugur.

Pasal ini telah mengundang perdebatan yang cukup panjang, terutama antara pendukung Pro Widjan dengan pendukung H. Daruusalam. Bagi para pendukung H. Darussalam dalam konteks kasus (menunaikan ibadah haji), maka perlu ada pengecualian.

51

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Resitensi keberadaan BPD mulai muncul ditengah-tengah masyarakat, sebagian besar masyarakat menganggap bahwa keberadaan BPD hanyalah memperkeruh suasana di desa, BPD bukanlah Badan Perwakilan Masyarakat Desa melainkan Badan Perwakilan Kepentingan kelompok tertentu dan lain sebagainya. Cemohan dan kritikan ini bermunculan, hampir disetiap RT membicarakan dan memberikan penilaian yang kurang baik terhadap BPD, khsusunya suara dari salah satu pendukung tertentu. Bahkan, sebagian masyarakat mendesak agar BPD dibubarkan. Berikut ini adalah hasil diagnosa partisipatif masalah dan harapan masyarakat terhadap BPD : No 1 Masalah Versi Masyarakat BPD kurang menjaring aspirasi masyarakat bawah BPD terlalu kaku dan terpaku pada ketentuan Perda yang ada Harapan Masyarakat seharusnya BPD melakukan penjaringan kemasyarakat tanpa ada diskriminasi

Otonomi desa meletakkan kekuasaan sepenuhnya pada masyarakat setempat, BPD seharusnya mengacu pada apa yang enjadi kepentingan dan kebutuhan masyarakat setempat, mengkedepankan hasil keputusan bersama masyarakat BPD tidak independen Dalam pilkades, meski BPD mendukung salah satu pihak, akan tetapi anggota BPD tidak boleh memperlihatkan dihadapan publik/masyarakat Kepentingan Pribadi dan BPD seharusnyamengkedepankan epentingan masyarakat kelompok masih cukup diatas kepentingan pribadi dan kelompok, karena BPD dipilih dominan dari, oleh dan untuk masyarakat

Ditengah, desakan dan tuntutan arus bawah yang semakin menguat, konsolidasi dan solidaritas anggota BPD terhadap kelompok yang didukungnya pun semakin kental dalam proses pencalonan Kades. Bahkan, Ikrar bersama untuk mempertanggungjawabkan segala keputusan yang diambil diantaranya adalah salah satu bagian dari tekad anggota BPD untuk meneruskan agenda pemilihan Kepala Desa. Suasana politik di desapun semakin terasa memanas menjelang Pemilihan Kepala Desa, para pendukung masing-masing calon semakin massif. Karenanya, beberapa kelompok masyarakat yang relative sebagai kelompok penegah berupaya untuk memediasiketangan yang muncu ditengah masyaraat desa. Bahkan, Pemerintah kabupaten maupun Kecamatan berupaya juga ikut turun kepalapangan untuk meredakan ketengangan tersebut, baik melalui dialog maupun upaya-upaya persuasive lainnya. Penjegalan Politik Dalam Pilkades Salah satu cara BPD untuk menjegal salah satu Balon Kades (Drs. H. Darusssalam) adalah dengan menggunakan instruments hukum Perda No.5 tahun 2001 agar salah satu calon batal atau dianggap gugur karena tida memenuhi ketentuan sebagaimana yang ditetapkan dalam perda (lihat Pasal-pasal yang dipermasalahkan). Penggunaan instrumen perda atau hukum ini telah menyebabkan lahirnya reaksi keras dari masyarakat setempat untuk menolak keberlakuan perda tersebut dengan alasan, antara lain karena :
52

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

1. Perda yang disusun oleh pemerintah daerah tidak melibatkan masyarakat ; 2. Perda tersebut bertentangan dengan semangat yang tumbuh dan lahir ditingkat masyarakat desa; 3. Perda tersebut tidak mencerminan aspirasi yang berkembang dimasyarakat; 4. Perda tersebut belum disosialisasikan, masih menimbulkan multiinterprestasi dan sebagainya Akan tetapi reaksi masyarakat tersebut tidak dapat mempengaruhi Perda yang telah ditetapkan. Oleh karena, salah satu calon akan digugurkan oleh BPD, maka BPD kemudian memasang salah satu calon lain sebagai kuda hitam, yakni Zakaria M.Tahir. Sebab sebagaimana yang disyaratkan pada pasal 10 Perda No.5 tahun 2001 calon Kepala Desa minimum 2 orang, dan maksimum 3 orang. Artinya, bila H.Darusslam gugur, maka tinggal Widjan SH, dan hal ini tentu saja bertentangan dengan ketentuan perda sebagaimana dimaksud. Karenanya kemudian dipasanglah Zakaria M.Tahir sebagai calon alternatif dari kubu pendukung Widjan.SH, termasuk BPD. Disamping itu nampaknya kelompo Widjan khawatir bila hal tersebut tidak dilakukan akan melahirkan : (1) Adanya penolakan dari masyarakat terhadap hasil Pemilihan Kepala Desa; (2) adanya unsur kepentingan dan subyektifitas BPD dalam proses pemilihan Kepala desa; Menurut sebagian besar masyarakat mengatakan bahwa Zakaria M. Tahir (calon alternative) yang diajukan oleh kelompok pendukung Widjan hanyalah boneka politik, karena secara politik basis dukungan terhadap Zakaria M.Tahir sangat minim, bahkan dapat dikatakan nihil. Pada sisilain, para elite pendukung Widjan seganja memasang calon alternative yang kurang memiliki basis massa dan kapasitas yang memadai itu dengan asumsi politik dukungan politik dari massa H.Darusslam akan berpindah pada Widjan SH. Karena kapasitas dan kedekatan Widjan,SH lebih baik daripada Zakaria M.Tahir disamping dimaksudkan pula agar terlihat bahwa proses pemilihan kades kelak terlihat menjadi demokratis. Akan tetapi, asumsi tersebut salah besar. Karena dukungan politik pada saat pemilihan dan perhitungan suara yang dilaksanakan pada tanggal 7 Febuari 2002 justeru diluar perhitungan semua kalangan elite kelompok pendukung Widjan,SH. Ternyata boneka politik yang dipasang oleh mereka justeru sebaliknya, berhasil meraih kemenangan mutlak atas Widjan.SH. Kemanangan Zakaria.M.Tahir atas Widjan.SH ini diduga kuat oleh masyarakat setempat dikarenakan hampir seluruh pendukung kelompok H.Darussalam mengalihkan suaranya pada Zakaria M.Tahir, meskipun masyarakat menyadari bahwa dari sisi kualitas dan kapasitas Widjan jauh diatas Zakaria.M.Tahir. Akan tetapi oleh karena masyarakat menilai bahwa gagalnya H.Darussalam adalah disebabkan permainan Widjan, BPD dan kelompok elite lainnya, maka politik saat itu (pemilihan Kades) dimasyarakat adalah asakan tidak W (Widjan.SH). Bagi Widjan dan pendukungnya, kemenangan Zakaria M.Tahir ini dipandang sebagia kemenangannya jua, karena Zakaria M.Tahir adalah bagian dan memang sengaja dipasang untuk memenangan pertarungan politik dengan Drs.H.Darusslam. Untuk mengakomodasikan kepentingan politik Widjan.SH dalam pemerintahan desa, maka kompensasi yang diberikan adalah jabatan Sekeretaris Desa.

53

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

Baru berjalan kurang lebih selama tiga bulan, Widjan.SH. menjabat sebagai Sekretaris Desa, Kepala Desa terpilih (Zakaria. M. Tahir) kemudian memecat Widjan. SH. Pemecatan ini dilakukan menurut Kepala Desa karena Widjan.SH. tidak dapat bekerjasama dengan dirinya dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Akan tetapi, menurut sebagian masyarakat memberikan penilian lain. Sebagian besar mereka melihat langkah pemecatan Widjan.SH. dikarenakan, kapasitas yang dimiliki oleh Widjan diatas kapasitas yang dimiliki Kepala Desa, menurut masyarakat Kepala Desa takut akan posisi dan kedudukannya diambil alih oleh Widjan.SH. Karena selama ini dalam proses penyelenggaraan pemerintahan desa peran Widjan SH. Cukup strategis dan dominan . Perubahan terhadap perangkat pemerintahan desapun dilukakan, mulai dari Sekretaris, Bendahara, hingga RW dan RT yang oleh Kepala Desa dianggap sebagai proses peremajaan Jurumapin Pasca Pemilihan Kepala Desa Pasca pemilihan Kades, eskalasi politik di desa Jurumapin perlahan-lahan mulai menurun, suasana kekeluargaan mulai kembali di bangun. Akan tetapi, masyarakat saat ini cenderung apatis terhadap persoalan yang ada di desanya. Sebagian besar masyarakat bersikap masa bodoh, tidak mau tahu apa yang akan, sedang dan telah terjadi di desanya. Tingkat partisipasi masyarakat rendah. kondisi ini dirasakan pula oleh BPD dan Kepala Desa, mereka merasa kesulitan untuk mengajak masyarakat terlibat dalam pembangunan di desa. Bahkan, seringkali pihak Pemdes maupun BPD sengaja mengundang banyak masyarakat agar ikut rapat/musyawarah, namun yang datang biasanya jumlahnya sangat sedikit. Bahkan, diantara meraka berharap agar Kades dan BPD searang ini sesegera mungkin masa jabatannya diakhir. Karena keduanya dalam pandangan masyarakat di desa itu sudah tidak lagi mencerminkan kepentingan masyarakat. Nampaknya memang suasana kekecewaan Pilkades belum berakhir. Pada sisilain, kinerja Kepala Desa dan BPD juga belum menunjukkan adanya perubahan yang cukup significan bagi masyarakat di desa. bahkan yang nampak adalah adanya disharmonisasi hubungan kedua lembaga. Bila pada masa Pilkades antara BPD dengan Calon Kades (Zakaria M.Tahir) berada dalam satu barisan,dan terlihat harmonis dan sinergis dalam berbagai aktivitas di desa. maka, kondisi searang ini justeru sebaliknya. Hubungan antara BPD dengan Kepala Desa sudah tidak harmonis dan sinergis . Konflik keduanya baik secara personal maupun secara kelembagaan menjadi tontotan masyarakat dari hari-kehari. Perang urat saraf antara BPD dan Kades semakin menjadi-jadi. Kedua lembaga saling mengembosi keburukan kinerja masing-masing. Berbagai instrumen dan issue digunakan untuk melemahkan legitimasi politik lembaga dimata masyarakat. Misalnya saja, issue korupsi, beberapa kali dihembuskan oleh kedua lembaga issue korupsi. Seperti, dana bantuan desa, perbaikan jalan dan sebagainya. Konflik ini BPD dan Kepala Desa semakin mengkristal. Dan hal ini tercermin dari penolakan BPD Jurumapin atas LPJ kades tahun 2003. Beberapa alasan BPD diantaranya adalah selama menjabat Kades dinilai kurang transparans dalam pengelolaan keuangan desa. BPD kemudian meminta Kepala Desa untuk meperbaiki LPJ yang ditolak. Selama lebih dari 30 hari sejak penolakan, ternyata Kepala Desa tidak jua menyerahkan laporannya kembali kepada BPD. Hingga pada ahkhirnya BPD membuat surat keputusan yang secara garis besar isinya
54

Dinamika Politik Arus Bawah-LEGITIMID

meminta kepada Kepala Desa untuk tidak berbuat kesalahan kembali dan segera melakukan perbaiakan terhadap kinerjanya dimasa mendatang. Akan tetapi Surat ini ditolak oleh Kades karena dianggap menyudutkannya. Dinimika politik yang berkembang nampak terkesan menjadi destruktif, karena justeru budaya transparansi yang selama ini dibangun di desa tersebut cenderung berbalik arah. Kepala Desa terkesan arogan, bila masyarakat dan atau BPD memberikan masukan kepada Kepala Desa untuk perbaikan kinerjanya dipandang sebagai upaya atau langkah untuk menjatuhkan kedudukannya. Padahal, hal tersebut dilakukan oleh masyarakat atau BPD adalah agar kapasitas Kepala Desa meningkat. Legitimasi pemerintahan di desa Jurumapin menjadi sangat rendah. Sebagian masyarakat tidak percaya lagi dengan kinerja BPD dan Kepala Desa. Sementara ditingkat Pemerintahan Desa (BPD dan Kepala Desa) terus bersitegang, bahkan ketengangan juga terjadi antara Kepala Desa dengan Perangkat desa. Sebagian besar perangkat desa mengeluhkan, dominasi dan monopoli penyelenggaraan oleh pemerintah desa (Kades). Misalnya saja, Bendahara Desa, selama ini tidak diberikan peran apa-apa dalam pengelolaan keuangan desa. Begitupun dengan staf-staf lainnya. Pendeknya, kejayaan Desa Jurumapin berangsur-ansur menjadi menurun. Tak ada lagi yang dapat dibanggakan oleh masyarakat setempat.

55