Anda di halaman 1dari 44

KONSEP DASAR PENGELOLAAN KELAS

Jamridafrizal,S.Ag.S.S.,M.Hum
A. Pengertian Pengelolaan Kelas Istilah pengelolaan dapat merupakan terjemahan dari kata management yang berarti proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Sejalan dengan pengertian tersebut, Depdikbud (1989) mengartikan pengelolaan sebagai proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan. Kemudian, kelas dalam arti umum menunjuk kepada pengertian sekelompok murid yang ada pada waktu yang sama guna menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Dengan demikian, pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai suatu upaya menciptakan suasana atau kondisi kelas yang memunginkan murid dalam kelas tersebut dapat belajar dengan efektif. Terdapat suatu kecenderungan bahwa pembicaraan mengenai pengelolaan kelas lebih difokuskan kepada pengendalian prilaku murid sehingga prilaku yang menyimpang tidak ditampilkan oleh anak. Penekanan pandangan ini mengakibatkan suasana kelas menjadi tegang dan kaku sehingga mengakibatkan anak tidak merasa senang untuk melakukan aktivitas belajar. Ini berarti bahwa pengelolaan kelas yang baik tidak hanya memfokuskan pada pengendalian perilaku anak dalam kelas, melainkan lebih luas dari itu. Hal ini diperkuat oleh apa yang dikemukakan Jones dan Jones (1998) bahwa manajemen kelas yang baik tidak hanya dapat menghasilkan kerjasama murid-murid dalam mengurangi perilaku yang salah tetapi juga terjadinya aktivitas akademik secara terus menerus dan system manajemen kelas secara keseluruhan telah dirancang untuk memaksimalkan prestasi belajar murid bukan hanya untuk meminimalkan perilaku yang salah. Di samping itu, menurut Kellough (1996) esensi dari manajemen kelas yang efektif berkaitan dengan kegiatan: (a) mengawasi perilaku anak dalam kelas, (b) mengawasi aspek mengajar yang dilakukan guru dan (c) mengawasi pengadministrasian, pengorganisasian aktivitas serta materialdengan baik. Pendapat ini menunjukan bahwa di samping mengawasi perilaku anak, kegiatan pengelolaan kelas juga mesti mencermati kegiatan mengajar yang dilakukan guru. Hal ini berarti bahwa suasana kelas yang baik juga dipengaruhi oleh perilaku mengajar yang ditampilkan guru. Selanjutnya, dalam pengelolaan kelas, pengaturan aktivitas serta material yang mendukung aktivitas belajar anak menjadi amat penting. Beberapa ahli mengemukakan pengertian pengelolaan kelas menurut sudut pandang yang berbeda. Namun jika dicermati terdapat unsur-unsur pokok yang bersamaan dalam definisi yang dimaksud. Untuk lebih mem--perjelas pemahaman mengenai pengelolaan kelas yang dapat dipakai sebagai dasar pemahaman uraianuraian selanjutnya. Husin (1985) mengemukakan lima definisi yaitu: Dilihat dari pendekatan otoriter, pengelolaan kelas diartikan sebagai proses mengendalikan tingkah laku murid. Dilihat dari pendekatan permisif, pengelolaan kelas merupakan sepe-rangkat kegiatan yang digunakan guru untuk memaksimalkan kebe-basan murid.

Pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan yang digunakan oleh guru untuk mengembangkan tingkah laku murid yang tepat dan menghilangkan tingkah laku siswa yang tidak tepat. pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru yang digunakan untuk mengembangkan hubungan-hubungan antar pribadi yang baik dan membina iklim sosioemosional kelas yang positif. pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan yang dilakukan guru untuk mengembangkan dan memelihara organisasi kelas yang efektif. Definisi yang dikemukakan di atas memandang pengelolaan kelas dengan lebih menekankan aspek pengendalian perilaku murid dengan segala aspek interaksi dan hubungan yang dibangun oleh guru dan murid dalam konteks pembelajaran di kelas. Hal ini terlihat dari peran yang dijalankan gurudalam pengelolaan kelas yang digambarkan Husin, yaitu; me-ngem--bangkan perilaku murid yang tepat dan menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan antar pribadi yang harmonis dan iklim emosional yang positif, serta mengembangkan dan memelihara organisasi kelas secara efektif. Rachman (1998/1999) menggunakan istilah manajemen kelas untuk pengelolaan kelas. Dalam hal ini Rachman mengemukakan beberapa definisi manajemen kelas sebagai berikut: Menurut konsep lama, manajemen kelas diartikan sebagai upaya mempertahankan ketertiban kelas. Menurut konsep modern, manajemen kelas diartikan sebagai proses seleksi yang menggunakan alat yang tepat terhadap problem dan situasi manajemen kelas. Berdasarkan pandangan pendekatan operasional tertentu, Weber (1986) mengemukakan manajemen kelas sebagai: Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui penggunaan disiplin. Seperangkat kegitan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui intimidasi. Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan suasan kelas dengan mengikuti petunjuk yang telah disajikan. Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan suasan kelas yang efektif melalui perencanaan pembelajaran yang bermutu dan dilaksanakan dengan baik. Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku peserta didik yang diinginkan dengan mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan, dan Seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif. Dengan mereviu definisi-definsi tersebut, akhirnya Rachman (1998/1999) mendefinisikan manajemen kelas sebagai semua usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi murid untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Dengan demikian manajemen kelas merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis. Usaha sadar itu mengarah pada penyiapan bahan

belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, perwujudan situasi/kondisi proses belajar mengajar dan pengaturan waktu sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan kurikuler dapat dicapai. Konsep yang dikemukakan rachman berkenaan dengan pengelolaan kelas tampaknya lebih komprehensif dibandingkan dengan apa yang telah dikemukakan oleh Husin. Hal ini dapat dilihat dari luasnya cakupan konsep peneglolaan kelas yang ia kemukakan, yaitu tidak hanya menyangkut pengen-dalian prilaku melainkan juga berhubungan dengan kegiatan yang secara sistematis dimulai dari penyiapan bahan, sarana, pengaturan waktu, penataan kelas dan penciptaan iklim kelas yang kondusif untuk kegiatan pembelajaran. Dengan mempedomani beberapa definisi yang dikemukakan terdahulu dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas merupakan suatu usaha yang dilakukan guru secara sistematis yang dimulai dari merencanakan aktivitas pembelarajan, menyiapkan sarana pendukung, mengatur waktu ak-tifitas anak, menata ruang kelas, serta membangun iklim kelas yang kondusif bagi pembelajaran anak secara efektif. B. Pentingnya Pengelolaan Kelas

Pembelajaran yang efektif merupkan kegiatan yang hendak dicapai oleh para pendidik. Persoalan yang muncul adalah bagaimana men-capai tujuan ini sehingga diperoleh hasil yang optimal bagi perkembangnan anak. Untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menciptakan dan mengelolan kelas yang menyenangkan bagi anak untuk melakukan berbagai aktivitas pem-belajaran. Dengan kata lain, pengelolaan kelas merupakan salah satu pra-syarat untuk mewujudkan proses pembelajaran yang dapat merangsang anak beraktivitas dengan suasana yang menyenangkan. Ini berarti pengelolaan kelas yang tidak efektif akan dapat memunculkan bebagai permasalahan dalam pembelajaran seiring dengan muncul dan mening-katnya prilaku anak yang tidak diinginkan. Ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengelolaan yang dilkukan guru dengan perilaku anak dan suasana yang terjadi dalam kelas. Oleh karena itu, agar suasana kelas menjadi kondusif, prilaku positif yang diharapkan dari anak meningkat dan prilaku yang tidak diinginkan dapat diperkecil, maka guru perlu mengelola kelas secara professional. Bagaimana keterkaitan antara prilaku anak dan iklim kelas dengan kegiatan pengelolaan kelas yang dilakukan guru, digambarkan oleh Levin dan Nolan (1996) sebagai berikut: Apabila kondisi lingkungan mendukung untuk belajar, kemungkinan pe-rilaku yang tidak diharapkan dapat diminimalisir. Murid-murid lebih mengkin untuk mengikuti pedoman kegiatan kalas bila-mana guru dapat mencontohkan perilaku yang men-dukung dan men-jelaskan pedoman tentang belajar, hubungan timbal balik guru-murid dan perindungan terhadap keamanan murid. Adanya pedoman komunikasi yang lebih jelas kepada murid-murid dan komitmen mereka untuk mengikuti kegiatan pembelajaran akan mem-pertinggi munculnya prilaku kelas yang diharapkan.

Harapan-harapan guru yang diwujudkan dengan menggunakan konsekuensi yang logis dan alami membantu murid-murid untuk belajar sehingga mereka bertanggung jawab terhadap konsekuensi perilakunya dan mengontrol prilaku mereka sendiri. Apabila pedoman dan aturan kelas cocok dengan budaya murid-murid di rumah, memungkinkan bahwa murid-murid akan dapat meningkatkan prilaku yang diharapkan. Apabila guru menciptakan norma-norma kelompok yang mendukung terhadap aturan dalam kegiatan belajar, kemungkinan murid-murid menam-pilkan perilaku yang pantas akan meningkat. Gambaran keadaan yang digambarkan tersebut berkenaan dengan pentingnya aktivitas pengelolaan kelas yang seharusnya menjadi perhatian bagi guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Selain itu pentingnya pengelolaan kelas telah dibuktikan lewat hasil-hasil penelitian yang menemukan bahwa ada hubungan yang positif antara pengelolaan kelas yang dilakukan guru dengan hasil tingkah laku murid yang diinginkan termasuk keberhasilan murid dan sikap-sikap mereka. Dari temuan tersebut dapat dikatakan bahwa perilaku murid dalam proses pembelajaran banyak dipengaruhi oleh kualitas pengelolaan kelas yang dilakukan guru. C. Tujuan Pengelolaan Kelas

Tujuan dari pengelolaan kelas adalah untuk menciptakan suasana kelas yang menyenangkan bagi anak dalam melakukan sejumlah aktivitas yang dirancang bagi kepentingan pembelajaran melalui pendekatan sambil bermain. Dengan demikian kegiatan pengelolaan kelas akan membantu proses perkembangan anak secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Berkaitan dengan ini, Arikunto (1987) mengemukakan tu-juan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas itu dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Ungkapan tertib menurut Arikunto, bukanlah suasana kaku dan tegang dalam melaksanakan aktivitas, melainkan tertib berarti adanya keteraturan yang didasarkan oleh adanya perencanaan dan peng-or-ga-nisasian kelas secara sistematis. Keadaan inilah yang menghasilkan pe-rilaku tertib yang didukung oleh rasa gembira, senang, termotivasi yang di-miliki anak untuk berinteraksi dengan lingkungan belajarnya. Secara khusus, Direktorat Jendral Pemerintahan dan Urusan Otonomi Daerah dan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah yang dikutip Rachmat (1998/1999) mengemukakan tujuan manajemen kelas sebagai berikut: Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi ter-wu-judnya interaksi pembelajaran Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang men-dukung dan memungkinkan siswa dalam kelas Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.

Empat tujuan pengelolaan yang dikemukakan Rachmat ter-sebut telah menggambarkan hasil yang diharapkan dicapai dari kegiatan pengelolaan kelas pada akhirnya ditujukan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara positif sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

KARAKTERISTIK ANAK USIA TK DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN


A. Karakteristik Anak Usia TK

Mengenal karakteristik peserta didik untuk kepentingan proses pembelajaran merupakan hal yang penting. Adanya pemahaman yang jelas tentang karakteristik peserta didik akan memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran secara efektif. Berdasarkan pemahaman yang jelas tentang karakteristik peserta didik, para guru dapat merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaransesuai perkembangan anak. Pembahasan berikut ini tidak akan mengurangi secara rinci teori-teori perkembangan anak usia ini karena hal itu perlu kajian tersendiri. Namun dalam uraian ini akan diidentifikasi sejumlah karakteridtik anak usia TK untuk kepentingan pembahasan pengelolaan kelas di TK. Menurut Mushtafa (2002) praktik pendidikan dan pengajaran anak usia dini selama beberapa dasawarsa belakangan ini sangat dipengaruhi oleh teori perkembangan Jean Piaget. Piaget mengkatagorikan empat tahapan perkembangan kognitif dan afektif yang dilalui manusia. Menurut teori ini, anak-anak berkembang secara kognitif melalui keterlibatan aktif dengan lingkungannya. Dikaitkan dengan teori ini, perkembangan anak usia dini berada pada tahap berpikir praoperasional (usia 2-7 tahun). Pada tahap ini perkembangan anak sudah ditandai dengan perkem-bangan bahasa dan berbagai bentuk representasi lainnya serta perkem-bangan konseptual yang pesat. Proses berfikir anak berpusat pada penguasaan simbolsimbol seperti kata-kata yang mampu mengung-kapkan pengalaman masa lalu. Manipulasi symbol, termasuk kata-kata, merupakan karakteristik penting dari tahap praoperasional. Hal ini tampak dalam meniru sesuatu yang tertunda sehingga menghasilkan suatu tindakan yang telah dilihat di masa lalu dan dalam imajinasi anak-anak atau pura-pura bermain (Piaget, 1951) yang dikutip Mussen, Conger, Kagen dan Huston (1984). Nalar anak-anak pada tahap ini belum tampak logis dan mereka cenderung sangat egosentris. Egosentris pada anak usia prasekolah tidak berarti ia mementingkan diri sendiri, melainkan anak usia prasekolah tidak dapat melihat sesuatu dari pandangan orang lain. Anak-anak usia 2-4 tahun menurut Musthafa (2002) mempunyai cirri sebagai berikut; Anak-anak prasekolah mempunyai kepekaan bagi perkembangan bahasanya; Mereka menyerap pengetahuan dan keterampilan berbahasa dengan cepat dan piawai dalam mengolah input dari lingkungannya; Modus belajar yang umumnya disukai adalah melalui aktivitas fisik dan berbagai situasi yang bertautan langsung dengan minat dan peng-alamannya; Walaupun mereka umumnya memiliki rentang perhatian yang pendek, mereka gandrung mengulang-ngulang kegiatan atau permainan yang sama; Anak-anak prasekolah ini sangat cocok dengan pola pembelajaran lewat pengalaman konkret dan aktivitas motorik. Sementara itu, anak-anak usia 5-7 tahun sebagai tahun-tahun awal memasuki sekolah dasar mereka mempunyai ciri sebagai berikut; Kebanyakan anak-anak usia ini masih berada pad tahap berpikir praoperasional dan cocok belajar melalui pengalaman konkret dan dengan orientasi tujuan sesaat; Mereka gandrung menyebut nama-nama benda, medefinisikan kata-kata, dan mempelajari benda-benda yang berada di lingkungan dunianya sebagai anak-anak

mereka belajar melalui bahasa lisan dan pad tahap ini bahasanya telah berkembang dengan pesat; dan pada tahap ini anak-anak sebagai pembelajar memerlukan struktur kegiatan yang jelas dan intruksi spesifik. Banyak teori perkembangan yang dihasilkan oleh para ahli; suatu teori mempunyai perbedaan dan persamaan dengan teori lainnya serta terjadinya perubahan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, Solehuddin (2002) mengidentifikasikan sejumlah karakteristik anak usia prasekolah sebagi berikut. Anak bersifat unik Anak sebagai seorang individu berbeda dengan individu lainnya. Perbedaan ini dapat dilihat dari aspek bawaan, minat, motivasi dan pengalaman yang diperoleh dari kehidupannya masing-masing. Ini berarti bahwa walaupun ada acuan pola perkembangan anak secara umum, dan kenyataan anak sebagai individu berkembang dengan potensi yanmg berbeda-beda. Anak mengekspresikan prilakunya secara relatif spontan Ekspresi perilaku secara spontan oleh anak akan menampakan bahwa perilaku yang dimunculkan anak bersifat asli atau tidak ditutup-tutupi. Dengan kata lain tidak ada penghalang yang dapat membatasi ekspresi yang dirasakan oleh anak. Anak akan membantah atau menentang kalau ia merasa tidak suka. Begitu pula halnya dengan sikap marah, senang, sedih, dan menangis kalau ia dirangsang oleh situasi yang sesuai dengan ekspresi tersebut. Anak bersifat aktif dan energik Bergerak secara aktif bagi anak usia prasekolah merupakan suatu kesenangan yang kadang kala terlihat seakan-akan tidak ada hentinya. Sikap aktif dan energik ini akan tampak lebih intens jika ia menghadapi suatu kegiatan yang baru dan menyenangkan. Anak itu egosentris Sifat egosentris yang dimiliki anak menyebabkan ia cenderung melihat dan memahami sesuatu dari sudut pandang dan kepentingan sendiri. Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal Anak pada usia ini juga mempunyai sifat banyak memper-hatikan, membicarakan den mempertanyakan berbagai hal yang dilihat dan didengarnya terutama berkenaan dengan hal-hal yang baru. Anak bersifat eksploratif dan petualang Ada dorongan rasa ingin tahu yang sangat kuat terhadap segala sesuatu, sehingga anak lebih anak lebih senang untuk mencoba, menjelajah, dan ingin mempelajari hal-hal yang baru. Sifat seperti ini misalnya, terlihat pada saat anak ingin membongkar pasang alat-alat mainan yang ada. Anak umumnya kaya dengan fantasi Anak menyenangi hal yang bersifat imajinatif. Oleh karena itu, mereka mampu untuk bercerita melebihi pengalamannya. Sifat ini memberikan implikasi terhadap pembelajaran bahwa bercerita dapat dipakai sebagai salah satu metode belajar. Anak masih mudah frustrasi

Sifat frustrasi ditunjukkan dengan marah atau menangis apabila suatu kejadian tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Sifat ini juga terkait dengan sifat lainnya seperti spontanitas dan egosentris. Anak masih kurang pertimbangan dalam melakukan sesuatu Apakah suatu aktivitas dapat berbahaya atau tidak terhadap dirinya, seorang anak bahaya belum memiliki pertimbangan yang matang untuk itu. Oleh karena itu lingkungan anak terutama untuk kepentingan pembelajaran perlu terhindar dari hal atau keadaan yang membahayakan. Anak memiliki daya perhatian yang pendek Anak umumnya memiliki daya perhatian yang pendek kecuali untuk hal-hal yang sangat disenanginya. Anak merupakan usia belajar yang paling potensial Dengan mempelajari sejumlah ciri dan potensi yang ada pada anak, misalnya rasa ingin tahu, aktif, bersifat eksploratif dan mempunyai daya ingat lebih kuat, maka dapat dikatakan bahwa pada usia anak-anak terdapat kesempatan belajar yang sangat potensial. Dikatakan potensial karena pada usia ini anak secara cepat dapat mengalami perubahan yang merupakan hakikat dari proses belajar. Oleh karena itu, lingkungan pembelajaran untuk anak perlu dikem-bangkan sesuai potensi yang dimilikinya. Anak semakin menunjukkan minat terhadap teman Anak mempunyai keinginan yang tinggi untuk berteman. Anak memiliki kemampuan untuk bergaul dan bekerjasama dengan teman lainnya. Seiring dengan pendapat diatas, Snowman (1993) yang dikutip oleh patmonodewo (2000) anak usia prasekolah atau TK memiliki sejumlah ciri yang dapat dilihat dari aspek fisik, sosial, emosi dan kognitif. 1. Ciri fisik a. Anak prasekolah umumnya sangat aktif. Anak pada usia ini sangat menyukai kegiatan yang dilakukan atas kemauan sendiri. Kegiatan mereka yang dapat diamati adalah seperti; suka berlari, memanjat dan melompat. b. Anak membutuhkan istirahat yang cukup. Dengan adanya sifat aktif, maka biasanya setelah melakukan banyak aktivitas anak me-merlukan istirahat walaupun kadangkala kebutuhan untuk ber-istirahat ini tidak disadarinya. c. Otot-otot besar anak usia prasekolah berkembang dari control jari dan tangan. Dengan demikin anak usia prasekolah belum bisa me-lakukan aktivitas yang rumit seperti mengikat tali sepatu. d. Sulit memfokuskan pandangan pada objek-objek yang kecil ukurannya sehingga koordinasi tangan dan matanya masih kurang sempurna. e. Walaupun tubuh anak ini lentur, tetapi tengkorak kepala yang me-lindungi otak masih lunak sehingga berbahaya jika terjadi benturan keras. f. Dibandingkan dengan anak laki-laki, anak perempuan lebih teram-pil dalam tugas yang bersifat praktis, khususnya dalam tugas motorik halus. 2. Ciri sosial

a. Anak pada usia ini memiliki satu atau dua sahabat tetapi sahabat ini cepat berganti. Penyesuaian diri mereka berlangsung secara cepat sehingga mudah bergaul. Umumnya mereka cenderung me-milih teman yang sama jenis kelaminnya, kemudian pemilihan teman berkembang kejenis kelamin yang berbeda. b. Anggota kelompok bermain jumlahnnya kecil dan tidak terorganisir dengan baik. Oleh karena itu kelompok tersebut tidak bertahan lama dan cepat bergantiganti. c. Anak yang lebih kecil usianya seringkali bermain bersebelahan dengan anak yang lebih besar usianya. d. Pola bermain anak usia prasekolah sangat bervariasi fungsinya sesuai dengan kelas sosial dan gender. e. Perselisihan sering terjadi, tetapi hanya berlangsung sebentar kemudian hubungannya menjadi baik kembali. Anak laki-laki lebih banyak melakukan tingkah laku agresif dan perselisihan. f. Anak usia prasekolah telah mulai mempunyai kesadaran terhadap perbedaan jenis kelamin dan peran sebagai anak laki-laki dan anak perempuan. Dampak kesadaran ini dapat dilihat dari pilihan ter-hadap alat-alat permainan. 3. Ciri emosional a. Anak usia praskolah cenderung mengekspresikan emosinya secara bebas dan terbuka. Ciri ini dapat dilihat dari sikap marah yang sering ditunjukannya. b. Sikap iri hati pada anak usia prasekolah sering terjadi, sehingga mereka berupaya untuk mendapatkan perhatian orang lain secara berebut. 4. Ciri Kognitif a. Anak prasekolah umumnya telah terampil dalam berrbahasa. Pada umumnya mereka senang berbicara, Khususnya dalam kelompoknya. b. Kompetensi anak perlu dikembangkan melalui interaksi, minat, kesempatan, mengagumi, dan kasih sayang. Sementara itu, santoso (2000) mengemukakan pula beberapa karaktrestik anak pra sekolah,yaitu:(a) suka meniru, (b) ingin mencooba , (c) spotan, (d) jujur, (e) riang, (f) suka bermain, (g) ingin tahu (suka bertanya), (h) banyak gerak, (i) suka menunjuk akunya, dan (j) unik. Sebagai indivdu yang sedang berkembang, anak memiliki sifat suka meniru tanpa mempertimbangkan kemampuan yang ada padanya. Hal ini didorong oleh rasa ingin tahu dan ingin mencoba sesuatu yang diminati, yang kadang kala muncul secara spontan. Sikap jujur yang menunjukan kepo-losan seorang anak merupakan cirri yang juga dimiliki oleh anak. Kehidupan yang dirasakan anak tanpa beban menyebabkan anak selalu tampil riang, anak dapat bergerak dan beraktivitas. Dalam aktifitas ini, anak cenderung pula menunjukkan sifat akunya, dengan mengakibatkan apa yang dimiliki oleh teman lain. Akhirnya sifat unik menunjukan bahwa anak merupakan sosok individu yang komp-leks yang memiliki perbedaan dengan individu lainnya.

Pemahaman guru tentang karakteristik anak akan bermanfaat dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkem-bangan anak. B. Implikasi terhadap Pembelajaran Praktek pembelajaran anak usia dini yang berorientasi perkembangan amatlah diperlukan. Oleh karena itu, dapat dikemukakan bahwa penye-lenggaraan pembelajaran bagi anak usia diniyang di dalamnya termasuk usia TK haruslah bertumpu atas pemahaman yang jelas atas karakteristik peserta didik sehingga proses pembelajaran memberikan dampak positif bagi perkembangan anak. Di samping perlu pemahaman tarhadap karakteristik anak, hakikat belajar yang akan dilakukan juga penting dipahami oleh pendidik. Ada dua pendangan terhadap belajar, yaiti behaviorisme dan konstruktivisme (Seniawan, 2002). Menurut pandangan behaviorisme belajar terjadi karena pengaruh lingkungan. Belajar terjadi melalui proses stimulus dan respon yang bersifat mekanis. Oleh karena itu, diperlukan lingkungan yang sistematis dan terencana sehingga dapat memberikan stimulus yang pada gilirannya manusia dapat memberikan respon terhadap rangsangan tersebut. Semen-tara itu, belajar menurut pandangan konstuktivisme adalah membangun pe-ngetahuan itu sendiri stelah dipahamai, dicernakan, dan merupakan per-buatan dari dalam diri seseorang. Dengan demikian proses pembelajaran perlu memperhatikan aspek individu anak dan factor lingkungan. Secara lebih khusus, kegiatan pengelolaan kelas yang dilakukan guru hendaknya didasarkan atas pemahaman terhadap konsep belajar dan ber-orientasi pada perkembangan serta karakteristik anak usia TK. Keadaan ini akan memberikan kontribusi bagi anak dalam belajar sehingga mereka dapat berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimilikinya. Sehubungan dengan itu, bredekamp dan rosegrant (1991/1992 dalam sholehuddin, 2002) menjelaskan bahwa anak akan belajar dengan baik dan bermakna apabila; Anak merasa aman secara psikologis serta kebutuhan-kebutuhan fisiknya terpenuhi; Anak mengkonstruksi pengetahuan; Anak belajar melalui interaksi sosial denagn orang dewasa dan anak-anak lainnya; Kegiatan belajar anak merefleksikan suatu lingkaran yang tak pernah putus yang mulai dengan kesadaran kemudian beralih ke eksplorasi, pencarian, dan akhirnya penggunaan; Anak belajar melalui bermain, Minat dan kebutuhan anak untuk mengetahui terpenuhi; dan Unsur variasi individual anak diperhatikan. Selanjutnya, Musthafa (2002) mengemukakan sejumlah prinsip pembelajaran yang dapat dipertimbangkan untuk membuat desain intervensi strategis pembelajaran anak usia dini. a. Berangkat dari yang dibawah anak-anak upaya pembelajaran yang dilakukan hendaknya bermula dan berorientasi pada perkembangan peserta didik. Dalam proses pembelajaran, suatu

10

pemahaman baru dapat dibangun kalau peserta didik mau dan mampu menghubungkan sesuatu yang baru ditemuinya itu dengan apa yang terlebih dahulu diketahui dan pahaminya. Keadaan ini mengharuskan pendidik untuk berupaya memahami apa yang pada diri peserta didik sebelum proses pembelajaran dilakukan. b. Aktivitas belajar harus menantang pemahaman anak dari waktu ke waktu. Proses belajar terjadi dalam dua arah, yaitu dari yang umum ke yang khusus dan dari yang spesifik ke yang umum. Suatu pengetahuan baru akan tersusun atas pengetahuan kasus perkasus melalui proses peninjauan ulang dan penyelarasan yang dilakukan peserta didik. Kaji ulang dan penyelarasan terjadi apabila peserta didik dihadapkan pada bukti-bukti )benda, peristiwa, konsep, penjelasan baru sehingga hal ini akan dihubungkan dengan apa yang telah ada pada peserta didik. c. Guru menyodorkan persoalan-persoalan yang relavansinya tengah dirasakan oleh anak Dalm upaya menjamin terjadinya proses belajar pada diri peserta didik guru hendaknya mampu menangkap momentum kebutuhan belajar peserta didik dengan cara menyodorkan bebagai persoalan pada saat mereka merasakan adanya relevansi terhadapa apa yang dipelajari. d. Guru membangun unit-unit pembelajaran seputar konsep-konsep dan tematema besar. Anak-anak usia dini belajar secara holistic dan terintegrasi. Oleh karena itu guru seharusnya mengupayakan agar apa yang disampaikan kepada peserta didik berbentuk konsep-konsep esensial dan tema-tema besar yang mudah untuk dikontekstualkan. Prinsip-prinsip pembelajaran anak usia dini yang telah dikemuakakan Solehuddin dan Musthafa perlu dipedomani oleh guru dalam melakukan kegiatan pengelolaan kelas di TK. Kelas sebagai wadah tempat belajar bagi anak harus merupakan lingkungan yang aman dan kondusif sehingga anak berkembang kea rah yang positif. Kelas hendaknya didesain sedemikian rupa sehingga memberikan kebebasan kepada anak untuk melakukan aktivitas belajar, berinteraksi dengan teman lainnya, belajar sambil bermain dengan penuh rasa senang dan gembira. Kelas hendaknya telah dilengkapi dengan sejumlah peralatan bermain sehingga anak secara individual dapat memilih alat permainan sesuai minat dan kegemaranya. Pengaturan peralatan dalam kelas memungkinkan guru utuk mengembangkan rangkain pola pembelajaran secara bervariasi. Perlu diketahui bahwa bermain bagi anak usia TK merupakan aktivitas yang sangat disenangi. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran yang dilkukan mengacu pada konsep belajar sambil bermain. Bermain merupakan kegiatan yang dipilih sendiri oleh anak berdasarkan kesukaanya bukan karena adanya dorongan dari luar diri anak seperti mengharapkan pujian atau hadiah. Semiawan (2002) menyatakan

11

bahwa bermain adalah salah satu alat utama yang menkadi latihan bagi anak untuk pertumbuhanya. Bermain adalah medium, dimana si anak mencoba dir untuk melatih kemampuannya. Patmonodewo (2002) mengkalasifkasikan kegiatan bermain menjadi bermain bebas, bermain di bawah bimbingan dan berman dengan di arahkan. Bermain bebas merupakan kegiatan bermain di mana anak-anak mendapat kesempatan secara bebas untuk memilih alat-alat dan bentuk permainan. Pada kegiatan bermain dengan bimbingan, guru menyediakan, memilih dan kemudian berupaya membimbing anak untuk menggunakanya sehingga anak menemukan suatu konsep. Dalam bermain yang diarahkan, guru mengajarkan kepada anak bagaimana cara menyelesaikan suatu tugas tetentu. Disamping pengaturan ruang kelas, lingkungan belajar di luar kelas pun mesti mendapat perhatian guru untuk ditata secara sistematis dan terencana. Lingkungan luar kelas yang tertata dengan baik akan memberikan dampak positif bagi anak dalam belajar, sehingga lingkungan yang demikian dapat memberikan stimulus yang tepat untuk merangsang anak dan anak pun dapat meresponnya dengan baik. Kegiatan pengelolaan kelas akan dibahas secara rinci dalam bab tersendiri termasuk pengaturan ruangan serta penataan alat-alat bermain yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Berikut ini disajikan komponen-komponen terintegrasi dari praktek pendidikan yang layak dan tidak layak diterapkan pada anak (appropriate and inanppropriote) yang erat kaitanya dengan penglolaan kelas di TK (Purnani dan Subekti, 1995). 1. Komponen Kurikulum a. Yang layak dilaksanakan Diusahakan merangsang pengalaman-pengalaman yang dibutuhkan anak dan mampu mendorong kegiatan belajar anak dalam aspek-aspek jasmani (fisik), sosial, emosioanal, dan intelektual. Setiap anak diperlukan sebagai makhluk manusia yang memiliki pola dan waktu yang berbeda untuk tumbuh dan berkembang. Rancangan kurikulum dan interaksi orang dewasa anak hendaknya sesuai dengan perbebaan minat dan kemampuan anak. b. Yang tidak layak dilaksanakan 1) Anggapan bahwa pengalaman belajar dapat direncanakan untuk satu aspek saja, misalnya aspek kognitif. Anggapan ini melupakan bahwa anak belajar secara integrative, aspek-aspek sosial, emosional, fisik dan intelektual berkembang secara interaktif. 2) Anggapan bahwa anak dievaluasi yang kriterianya telah ditetapkan sebelum dilaksanakan, misalnya standar kelompok atau norma-norma prilaku standar orang dewasa.

12

2. Komponen Strategi Mengajar a. Yang layak dilaksanakan 1) Agar guru merancang lingkungan belajar, sehingga anak dapat bereksplorasi aktif, berinteraksi dengan teman sebaya, guru dan alat-alat pelajaran. 2) Di lingkungan belajar, anak dapat dengan leluasa atas inisiatif sendiri memilih kegiatan-kegiatan belajar mana yang dilakukan, misalnya bermain drama, bermain balok, hitung menghitung, buku-buku rekaman video, seni atau musik. 3) Di lingkungan belajar, anak dapat bergerak secara aktif baim fisik maupun psikis, belajar sendiri-sendiri atau kelompok-kelompok. 4) Aktivitas belajar, pengalaman belajar, dan ala-alat pelajaran yang dirancang sesuai dengan lingkungan anak. 5) Tugas guru adalah membimbing dan mengarahkan anak. b. Yang tidak layak dilaksanakan 1) Bila rancangan pengalaman anank disusun secara terstuktur, dan berorientasi pada guru. 2) Bila guru menentukan semua atifitas belajar anak. 3) Bila anak tidak berkesempatan bergerak secara leluasa baik fisik maupun mentalnya. 4) Banyak waktu untuk belajar dalam kelompok besar yang berorientasi pada guru mengajar 5) Alat pelajaran buku-buku, kartu, dan lainya yang bersifat abstrak dan tidak sesuai minat anak 6) Kegiatan belajar banyak mengahafal dan bila anak menjawab pertanyaan guru harus setuju dengan jawaban yang benar. 3. Komponen Bimbingan Terhadap Perkembangan Sosial Emosional a. Yang layak dilaksanakan 1) Memiliki teknik bimbingan yang positif seperti modeling dan pemberian semangat agar anak berani berbuat sesuatu yang baik dan benar menurut nalurinya dan dapat diterima oleh masyarakat 2) Memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan perbuatanperbuatan sosial yang positif, seperti kerjasama, membantu orang tua, dan mendengarkan keluhan-keluhan orang lain. b. Yang tidak layak dilaksanakan 1) Guru menampilkan sikap yang emosional seperti pemarah, judes, suka menghukum 2) Tidak berlaku sebagai model yang baik untuk anak. 4. Komponen Bahasa a. Yang layak dilaksanakan

13

Sebelum anak belajar membaca dan menulis, kepda mereka dijelaskan apa manfaat bacaan dan penulisan bagi penambahan pengetahuan dan berkomunikasi dengan orang orang lain. Pengalaman yang dapat diberikan seperti melalui buku cerita, surat, memajang gambar yang bertulisan dan drama. b. Yang tidak layak dilaksanakan Hindarkan cara-cara menarik minat siswa terhadap baca tulis melalui kegitan-kegiatan belajar yang tidak menarik. Misalnya: guru memperkenalkan huruf-huruf dan angka-angka dengan terpisah atau mengerjakan setiap huruf menuliskannya satu persatu menurut akhiran menulis yang benar. 5. Komponen perkembangan Kognitif a. Yang layak dilasanakan Guru menyediakan benda-benda nyata seperti ballok-balok, pasi, kertas berwarna, lidi, air yang ada sekitar anak. Dengan benda- benda itu anak dapat membentuk, membandingkan, meng-go-longkan, menghitung, menanam, menyiram, bahkan membongkar pasang. Sambil beraktivitas anak dapat mengengarkan musik dan mengikuti iramanya. b. Yang tidak layak dilaksanakan Pengajaran mengutmakan kemampuan menghafal huruf , angka, dan namanama menirukan lagau tampa arti kata dalam lagu, menghapal perkalian. Ini hanya mengembangkan satu aspek yaitu menghafal. 6. Komponen Perkembangan Jasmani Fisik a. Yang layak dilaksanakan 1) Merancang kegiatan untuk melati otot-otot besar anak, mi-salnya melalui gerakan sewaktu berlari, melompat, mengangkat benda bersama dan tarik tambang. 2) Melati otot kecil, seperti mengayun tongkat, melempar bola, menggambar, menulis dan menggunting. b. Yang tidak layak dilakukan 1) Membatasi waktu latihan krena menilai menghabiskan waktu 2) Latihan otot kecil dimulai dengan menulis dengan pensil dan mewarnai gambar yang sudah ada 7. Komponen Perkembangan Estetik a.Yang layak dilaksanakan Guru menyediakan macam-macam media seni dan musik dalam lingkungan belajar anak. Anak menggambar, membentuk gambar dari tanahliat, kain perca, sobetan kertas, susunan balok dan pasir sambil melakuakan gerakgerakan mengikuti irama musik. b.Yang tidak layak dilasanakan

14

Pengembangan ini tidak disapkan secara teratur, hanya ada bila adawaktu sisa belajar. Kegiatan meniru model-model benda yang disediakan dan sesuai perintah guru. 8. Komponen Motivasi a. Yang layak dilaksanakan Guru merancang rasa ingin tahu dan keinginan anak untuk eksplorasi bendabenda yang ada di lingkungannya. Hal ini dapat dilakukan guru dengan cara menyediakan berbagai alat permainan yang disukai anak, misalnya mobilmobilan, balok, air atau pasir. b. Yang tidak layak dilaksanakan Guru memberikan motivasi kepada anak untuk giat belajar dengan maksud memperoleh pujian atau bentuk penghargaan yang berisifat ekstrinsik. 9. Komponen Hubungan Orang Tua Anak-Guru a. Yang layak dilaksanakan Adanya kerjasama yang baik secara berkesinambungan antara guru dan orang tua untuk keberhasilan program di sekolah. b. Yang tidak layak dilaksanakan Hubungan guru dan orang tua anak dilakukan hanya bila masalah-masalah dan konflik di sekolah. 10. Komponen Asesmen a. Yang layak dilaksanakan Menilai anak dilakukan secara terus menerus berdasarkan hasil pengamaatan dan catatan yang dibuat guru (developmental asseament). b. Yang tidak layak dilaksanakan Menggunakan tes psikomotorik saat mendaftar masuk dan selama kegiatan belajar sebagai satu-satunya ukuran yang dipercaya untuk melakukan penilain. 11. Komponen Kualifikasi Guru a. Yang layak dilaksanakan Guru telah memilih kualifikasi untuk mengajar anak taman kanak-kanak dari perguruan tinggi dan cukup berpengalaman. b. Yang tidak layak dilaksanakan Guru terdiri dari orang-orang yang telah memiliki izajah negara tanpa melihat kualitas tingkat program pendidikan. 12. Komponen Dewan Guru a. Yang layak dilaksnakan

15

Rasio guru anak yang ideal adalah 20 orang anak dengan 2 orang guru. Rasio guru-anak ini memungkinkan dilaksanakan pengelolaan dan pelayanan individual dalam proses pembelajaran. b. Yang tidak layak dilaksanakan Rasio guru-anak di TK disamakan dengan rasio guru-murid di SD. Alasan yang digunakan untuk menetapkan rasio ini adalah bahwa anak-anak lebih tua dapat mengurus diri sendiri di dalam kelompok yang besar. Senada dengan hal diatas, Kellough (1996) mengemukakan se-jum-lah kesalahan umum yang dilakukan guru pemula sehingga menye-babkan anak salah berprilaku. Sering kali perilaku anak yang tidak tepat di kelas merupakan akibat langsung dari hal yang dilakukan guru. 1. Perencanaan jangka panjang yang tidak tepat. Perencanaan pembelajaran jangka panjang perlu disusun guru dengan berorientasi pada perkembangan anak dan mempedomani prinsip-prinsip pembelajaran anak TK. Bentuk kesalahan yang dilakukan berkenaan dengan perencanaan pembelajaran jangka panjang ini dapat dilihat dari tidak jelasnya; tujuan kegiatan pembelajaran, jumlah hari dan waktu efektif untuk pelaksanaan pembelajaran dan sebaran tema-tema pembelajaran secara terintegrasi. Kesalahan guru menyusun perencanaan jangka panjang ini dapat memunculkan masalah di kelas sehingga mengganggu efektivitas pembelajaran. 2. Garis besar perencanaan harian. Garis besar perencanaan harian untuk kegiatan pembelajaran harus memperhatikan tema-tema aktifitas dan area perkembangan anak secara terpadu. Ini berarti bahwa bentuk kesalahan guru berkenaan dengan perencanaan harian adalah mengakibatkan tema-tema atau tidak mengintegrasikan tema ke dalam perencanaan yang dibuat dengan berorientasi pad perkembangan anak. Garis besar perencanaan harian yang disusun guru secara tidak tepat yang disusun guru merupakan tanda untuk pengajaran yang tidak efektif. Hal ini dapat menyebabkan munculnya masalah pengelolaan kelas,. Yang tampak dari adanya perilaku anak yang menyimpang, keadaan ini dapat berpengaruh terhadap kegagalan pencapaian tujuan pembelajaran. 3. Penekanan Negatif. Perlakuan guru yang terlalu banyak memberikan peringatan verbal pada anak terhadap perilaku positif yang dilakukan anak, merupakan tindakan guru yang tidak mendukung penciptaa suasana kelas yang kondusif. 4. Membiarkan tangan anak terangkat ke atas terlalu lama. Guru harus merespon reaksi anak dengan cepat. Kesalahan yang dilakukan guru, misalnya membiarkan anak mengacungkan tangan terlalu lama sehingga mereka kalihatan akan bermain-main. Walaupun guru tidak harus memanggil anak setelah mereka angkat tangan, namun guru harus mengenal respons mereka dengan cepat, seperti dengan anggukan atau melambaikan tangan, sehingga mereka bisa menurunkan tangannya dan kembali bekerja. Ini berarti bahwa kelengahan guru terhadap respon anak dapat mendorong anak berperilaku menyimpang sehingga aktivitas pembelajaran di kelas akan terganggu.

16

5. Berlama-lama dengan seorang anak atau kelompok sembari gagal memonitori ke sekeliling kelas. Berlama-lama dengan seorang anak atau kelompok kecil mengakibatkan anak atau kelompok lain terabaikan. Anak atau kelompok lain yang diabaikan guru dalam waktu lama, menyebabkan anak-anak akan berperilaku mengganggu aktivitas kelas. Oleh karena itu, untuk melakukan pengelolaan kelas yang baik, guru harus secara continue memonitor anak ke seluruh kelas. 6. Memulai aktivitas baru sebelum memperoleh aktivitas anak. Sebuah aktivitas baru yang akan dilakukan guru dapat dimulai apabila anak sudah memberikan perhatian penuh terhadap aktivitas tersebut. Ini berarti, memulai aktivitas baru tanpa adanya perhatian yang pennuh dari anak akan menimbulkan perilaku anak yang menyimpang. Agar anak dapat memberikan perhatian penuh terhadap aktivitas yang akan dilakukan, guru dapat melakukan kiat tertentu, misalnya dengan bertepuk tangan, menyampaikan himbauan dengan ramah, memberikan kode tertentu atau memberikan teguran dengan lunak kepada anak yang belum memusatkan perhatian kepada aktivitas baru. 7. Terlalu cepat melangkah. Anak-anak perlu waktu untuk mengikuti, memahami kata-kata yang digunakan guru, dan melakukan aktivitas yang disukainya. Oleh karena itu, guru seharusnya tidak cepat melangkah ke prosedur lain, sementara anak masih belum selesai mengerjakan prosedur sebelumnya. Guru perlu juga memahami bahwa kecepatan anak melakukan sesuatu tidak sama. Guru yang melangkah dengan cepat, dan mengabaikan anak yang tertinggal dalam suatu aktivitas dapat menyebabkan anak tersebut akan mengganggu kegiatan kelas. 8. Tingkat suara yang selalu terlalu keras atau terlalu lunak. Suara guru yang terlalu keras dari hari kehari dapat menjadi menjengkelkan bagi beberapa anak. Sebaliknya, suara guru yang terlalu lunak juga menyebabkan anak memutuskan perhatian terhadap aktivitas pembelajaran yang dilakukan. Jika ini terjadi, mereka lebih cenderung memilih kegiatan bermain yang disukai ketimbang mengikuti kegiatan kelompok yang dibimbing guru dengan suara keras atau lunak. 9. Menandai judul sebuah majalah tanpa terlebih dahulu memberikan topic pemikiran yang hati-hati. Guru perlu menimbang aktivitas belajar anak dengan penuh hati-hati. Kecerobohan guru dalam membimbing anak dapat berdampak negative terhadap aktivitas belajar dan perkembangan anak pad umumnya. Dengan kata lain, ketidakhati-hatian guru dapat mengakibatkan terjadinya salah pemahaman bagi anak. 10. Duduk sambil mengajar. Guru yang duduk sambil melakukan aktivitas pembelajaran merupakan sikap yang tidak mendukung penciptaan suasana kelas yang kondusif di TK. Pada saat bercerita, misalnya, cerita guru menjadi kurang menarik bagi anak apabila guru menyampaikan sambil duduk. Hal ini disebabkan karena anak-anak yang posisinya jauh dari guru akan memilih melakukan kegiatan lain pula yang kadang kala akan mengganggu aktivitas belajar di kelas. Berdiri dan bergerak ke segala arah untuk mendekati anak merupakan cara yang baik bagi guru yang dalam menjalankan tugas-tugas pembelajaran.

17

11. Terlalu serius, tidak menyenangkan. Tak seorangpun akan setuju dengan ungkapan bahwa pengajaran yang bagus adalah kesibukan yang serius. Anak-anak menanggapi yang terbaik, bagaimanapun, bagi guru-guru yang secara jelas menikmati dan senang bekerja bersama dan membantu anak belajar. Untuk menciptakan suasana seperti ini guru perlu bersikap humor bersama anak-anak di sela-sela aktivitas belajar yang dilakukan. Terlalu serius dapat menimbulkan kebosanan bagi anak sehingga ia akan membuat pilihan aktivitas lain di kelas sesuai dengan keinginannya. 12. Menggunakan strategi mengajar yang sama atau kombinasi strategi dari hari yang sama (itu ke itu saja). Penggunaan strategi pembelajaran bervariasi tinggi sangat dibutuhkan di TK. Kesenangan , kegembiraan, keaktifan akan ditampilkan oleh anak apabila guru menggunakan strategi pembelajaran yang bervariasi. Kebosanan anak terhadap strategi pembelajaran guru yang monoton, dapat mendorong anak untuk berperilaku yang tidak diinginkan. 13. Memanfaatkan kesenyapan yang tidak memadai (menunggu waktu) setelah menanyakan isi pertanyaan pembelajaran. Guru TK perlu memberikan waktu yang cukup bagi anak untuk merespon suatu stimulus atau pertanyaan yang diajukan guru. Alasannya adalah karena anak membutuhkan waktu untuk memahami pertanyaan guru dan melakukan aktivitas sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh guru. D. 1. Mengatur Pusat Kegiatan Bermain Beberapa prinsip yang perlu dipedomani

Pusat bermain yang diminati anak TK perlu disediakan dan ditata sedemikian rupa sehingga berfungsi efektif untuk mendukung perkembangan anak. Pusat minat hendaknya dapat merangsang dan mendorong anak untuk melakukan berbagai bentuk permainan yang diminati anak. Berbagai bentuk permainan yang dilakukan anak pada gilirannya akan dapat membantu perkembangan anak secara individu, dan membantu proses interaksi anak dengan teman lain serta dengan lingkungannya. Penyediaan berbagai jenis pusat kegiatan sifatnya sangat fleksibel dan tentative, artinya dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan program pembelajaran serta area ini dapat diubah-ubah sesuai minat dan keinginan anak. Alas an lai adalah karena pada saat-saat tertentu anak pun dapat membuat suatu keputusan untuk memilih permainan dan kegiatan spesifik apa yang mereka minati. Perlu diingat bahwa interest area merupakan tempat yang disediakan untuk anak agar mereka dapat melakukan aktivitas bermain dan belajar dengan penuh kegembiraan. Oleh karena itu interest area perlu diatur sedemikian rupa sehingga dapat merangsang anak untuk beraktivitas dengan baik. Menurut Purnami dan Subekti (1991) serta Marion (1991) terdapat sejumlah prinsip untuk mengatur interest area, yaitu :

18

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

a. Membedakan antara interest area yang memerlukan suasana tenang dan suasana ramai. Untuk dapat antara satu interest area dengan yang lainnya guru dapat membuat batasan ruangan. Pembatas ini boleh saja bersifat sementara artinya tidak dibuat permanen sehingga pada suatu ketika dapat pula diubah kembali sesuai kebutuhan. Ciptakan mana yang memerlukan rak-rak, meja-meja atau alat-alat seperti tape recorder. Perabot dan alat permainan yang ada pada masing-masing interest area hendaknya ditata sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan yang menarik dan menyenangkan. Guru perlu menetapkan perabot atau alat permainan mana yang akan disusun di rak, diletakan di meja atau disimpan dalam almari. Susun benda-benda yang digunakan untuk belajar anak dan yang diperlukan untuk mengajar oleh guru ditempat yang berbeda. Peralatan atau alat permainan yang dibutuhkan oleh anak hendaknya disusun dan disimpan oleh guru pada tempat yang berbeda dengan tempat penyimpanan peralatan atau media yang dipakai guru untuk mengajar. Keteraturan penyimpanan ini akan memudahkan guru dan anak untuk mengambil peralatan yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar. Beri petunjuk kepada anak bagaimana memilih dan menggunakan bendabenda. Karena interest area sudah dibagi dan peralatan masing-masingnya sudah ditentukan, maka guru seharusnya memberikan arahan kepada anak untuk memilih dan menggunakan benda-benda atau alat permainan yang diperlukan dalam untuk melakukan suatu aktivitas belajar. Menempatkan setiap interest area didekat tempat-tempat yang diperlukan untuk mendukung aktivitas belajar. Contoh : ruang sand and water dan art diatur berdekatan dengan kolam air. Menempatkan setiap interest area dengan tempat yang mendukung kegiatan belajar menjadi amat penting. Hal ini dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran yang dilakukan guru, dimana anak-anak dapat dengan mudah mengakses tempat yang diperlukannya untuk beraktivitas. Usahakan agar guru dapat mengamati semua ruang kegiatan interest area dengan mudah. Pembagian ruang untuk interest area hendaknya jangan menyulitkan guru untuk memantau aktivitas yang dilakukan anak, sehingga apapun kejadian dapat diketahui oleh guru dengan cepat. Buatlah dan tanamkan aturan-aturan agar anak-anak tidak saling mengganggu pada waktu belajar di interest area masing-masing. Menciptakan suasana tenang, tertib dan menyenangkan merupakan tugas guru yang amat penting dalam mengelola aktivitas dalam interest area. Oleh karena itu, guru perlu mengajak anak-anak untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat mengganggu teman lain yang sedang melaksanakan aktivitas belajar. Area aktivitas harus berisi aktivitas-aktivitas pengembangan yang sesuai. Area aktivitas yang sudah dibuat oleh guru hendaknya berisikan aktivitas pengembangan potensi potensi anak yang sesuai dengan karakteristiknya. Hal

19

i.

ini menuntut adanya upaya guru untuk mendisain aktivitas pengembangan yang sesuai dengan perkembangan anak. Area aktivitas di dalam ruang kelas yang mendukung berisi alat bermain yang sesuai. Suatu area aktivitas tidak akan ada artinya jika tidak didukung dengan alat bermain yang sesuai dengan area tersebut. Oleh karena itu, guru perlu menyediakan alat bermain yang relevan yang dibutuhkan anak pada suatu area aktivitas.

Sebagai seorang guru, anda akan dihadapkan dengan suatu ruang kelas, yang berisi bermacam-macam mebel : meja, kursi, rak buku, dan sebagainya. Pengaturan ruangan tersebut akan sepenuhnya diserahkan kepada guru. Sebagai seorang guru profesional perlu disadari bahwa suartu ruang fisik yang diatur dengan baik dan dengan batas-batas yang jelas dapat membantu anak-anak untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Oleh karena itu, guru perlu ruangan ke dalam sejumlah area yang berbeda sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. 2. Jenis-jenis Pusat Kegiatan di TK Ruangan kelas TK dapat terdiri dari suatu wilayah pribadi, beberapa pusat kegiatan belajar atau area kelompok kecil, dan suatu aera kelompok besar (Marion, 1991). Berkenaan dengan pusat kegiatan yang secara umum ada di TK, dikemukakan oleh Secfeldt dan Barbour (1986) yaitu terdiri dari : (a) pusat perpustakaan, (b) area bermain drama, (c) area bermain manipulasi, (d) area ilmu pengetahuan, (e) area geometrik, (f) area audio visual, (g) area komputer, dan (i) pusat kegiatan musik. Area-area tersebut di atas tidak akan dibahas secara keseluruhan dalam tulisan ini, namun hanya dikemukakan beberapa area saja sebagai pedoman. Alasannya adalah karena penyediaan berbagai jenis area tersebut disesuaikan dengan kemampuan atau kondisi sekolah dan kebutuhan pembelajaran yang berorientasi perkembangan anak. a. Area Pribadi area atau ruang pribadi merupakan suatu ruang dengan ukuran kecil yang disediakan guru di salah satu bagian kelas. Ruang ini dapat menampung satu atau dua orang anak maksimal. Penyediaan ruang ini dapat dilakukan dengan cara memberi pembatas sehingga anak yang berada dalam ruang ini terisolasi dengan teman-teman lainnya. Patmonodewo (2000) menyebut area ini dengan ruang tenang yaitu ruang yang diperlukan anak yang ingin menyendiri atau terpisah dari kelompok lain. Area Kelompok Kecil Dalam sebuah ruang kelas TK juga perlu disediakan sebuah area untuk melakukan aktivitas bagi kelompok kecil. Sebuah kelompok kecil terdiri dapat terdiri dari 5 atau 6 orang anak. Area ini dapat menggunakan tempat duduk

b.

20

dan tanpa tempat duduk (artinya anak dapat duduk dilantai) yang dialas dengan tikar atau permadani. Pengaturan terhadap tempat duduk ini hendaknya dapat dilakukan secara fleksibel. Area kelompok kecil ini ditata sesuai dengan tujuan pembelajaran. Agar area ini dapat berfungsi maksimal, maka segala alat permainan yang dibutuhkan sesuai tujuan pembelajaran seharusnya disediakan oleh guru dengan mempertimbangkan kemudahan memperoleh dan menggunakan bagi anak. c. Area Kelompok Besar Taman kanak-kanak memerlukan suatu ruang yang cukup besar yang dapat digunakan untuk menampung anak dalam jumlah besar. Penyediaan ruang ini ditujukan untuk melaksanakan aktivitas dari anak dalam kelompok besar. Dalam area kelompok besar ini anak dapat melakukan kegiatan bersama dengan teman-temannya seperti kegiatan : musik, seni bahasa, seni drama kreatif, bercerita, menari, dan aktivitas lain yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang dirancang guru sesuai dengan kebutuhan anak. Untuk mendukung berfungsinya ruangan secara efektif, gruru perlu menyediakan alat permainan dan perabot lainnya yang dibutuhhkan dalam kegiatan bersama pada kelompok besar. d. Pusat Seni Pusat seni merupakan suatu area yang sangat digemari oleh anak-anak. Dalam area ini anak-anak dapat mengembangkan potensinya secara kreatif sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka. Dalam area ini perlu disediakan peralatan yang mendukung pengembangan jiwa seni anak secara memadai seperti peralatan untuk menggambar. Gunting, lem, dan kertas berwarna. Semua peralatan ini diletakan pada tempat yang mudah diambil oleh anakanak. Sesuai dengan namanya, yaitu pusat seni, dalam ruangan ini hendaknya mencerminkan suasana seni sehingga menyenangkan bagi anak. Untuk menciptakan suasana seni tersebut guru dapat pula memajangkan karya seni anak yang menarik, disamping memajangkan media-media lainnya. e. Pusat Perpustakaan Perpustakaan merupakan sumber belajar yang sangat berarti bagi perkembangan anak. Oleh karena itu, kelas di TK mesti dilengkapi dengan area perpustakaan. Bagaimanapun kondisi TK yang ada penyediaan pusat perpustakaan meupakan hal yang amat penting. Jika memungkinkan area ini sebaliknya diletakan pada tempat yang tenang. Pusat perpustakaan berisi kumpulan koleksi buku, referensi dan kumpulan cerita, majalah dan bahan bacaan lainnya yang sesuai dengan perkembangan anak. Memperkenalkan sejak dini aturan penggunaan perpustakaan bagi anak

21

TK dianggap penting, sehingga dari kecil anak sudah dibimbing ke arah perilaku yang tertib dan teratur sesuai aturan yang cocok dengan perkembangannya. Sebagai contoh, bagaimana cara meminjam dan mengembalikan bahan bacaan di perpustakaan. f. Area Bermain Drama Bermain drama biasa juga disebut dengan permainan pura-pura. Area bermain drama adalah tempat yang bermanfaat bagi anak untuk menampilkan peranperan tertentu yang diminatinya. Di tempat ini, anak bebas untuk memainkan berbagai peran misalnya sebagai guru, dokter, ibu, bapak, bayi, tukang sihir wanita, atau raja. Dalam aktivitas belajar yang menggunakan area ini, guru harus memberi kebebasan kepada anak untuk memilih peran yang disukainya sesuai dengan keinginan dan tema pembelajaran. Sebagai contoh, anak usia empat tahun yang berusaha menjadi seorang koboi yang gagah menginginkan peralatan yang menonjol seperti topi yang besar, pistol dan sapu tangan pengikat leher (Hurlock, 1978). Selanjutnya dikemukakan pula oleh Hurlock, bahwa permainan drama memberikan sumbangan bagi penyesuian pribadi dan sosial. Manfaat permainan drama bagi penyesuaian diri pribadi anak, antara lain adalag : 1. menimbulkan kesenangan dan menghilangkan rasa bosan yang dialami anak jika tidak ada teman bermain. 2. anak dapat melampaui batas alam nyata dan karenanya memperoleh kesenangan dan keuntungan kreativitas. 3. memungkinkan anak-anak dapat mewujudkan keinginannya sendiri, jadi menghilangkan perasaan frustasi bila keinginannya terhalang dalam kehidupan sehari-hari 4. memungkinkan anak mengekspresikan frustasi dalam permainan pura-pura yang agresif 5. anak dapat meningkatkan perasaan pentingnya dengan memainkan perasaan yang berkaitan dengan kekuasaan dan prestise. Di samping itu, manfaat bermain drama bagi penyesuaian sosial anak adalah sebagai berikut : 1. permainan drama menunjukan betapa menyenangkan hubungan sosial bagi anak dan mendorong mereka untuk terbuka serta beroreintasi keluar 2. dalam permainan pura-pura anak belajar bekerja sama dengan memainkan peran yang sesuai dengan pola peran yang dimainkan oleh anak lain. 3. bermain drama membantu anak mempelajari melalui peniruan model nyata atau model media massa, peran sosial dan peran jenis kelamin yang direstui masyarakat 4. dalam permainan drama anak didorong untuk berbicara memberikan usul mengenai dramatisasi.

22

Berbagai perabot atau alat permainan drama hendaknya disiapkan oleh guru dan diletakan pada tempat yang mudah dijangkau anak. Dalam area ini perlu disediakan boneka dengan berbagai bentuk dan ukuran serta perlengkapan pakaian sesuai dengan peran yang dapat dimainkan. g. Area bermain manipulasi Area bermain manipulasi merupakan tempat yang sangat berharga dan menarik bagi anak. Pada area ini anak-anak dapat berlatih mengembangkan keterampilan dan daya pikirnya. Berbagai kegiatan bermain manipulasi yang dapat dilakukan pada ruang ini menurut Sudono (1995) adalah sebagai berikut : 1. boneka jari, boneka sendok berbagai kegiatan papan hitung 10 dan 5 2. berbagai kegiatan mozaik kubus, terbatas, bebas dan lain-lain 3. berbagai kegiatan puzzle yang terbuat dari karton, hardboard, triplek dengan dengan bermacam-macam tingkat kesulitan. 4. kegiatan sekrup menyekrup 5. kegiatan menyusun, memasang, cangkir dan cawan, gelas, kaleng 6. kegiatan menjahit, memasukan, meronce monte, makaroni, potongan sedotan plastik, manik-manik. 7. kegiatan mengelompokan, melaksanakan klasifikasi kancing, bici, bentuk geometri, benda-benda Cecil. 8. kegiatan lotto yang sama, lotto yang sejenis, lotto padanan. 9. kegiatan memainkan boneka, boneka tangan, boneka kaos kaki, kayu, boneka kertas, boneka tongkat, boneka kantong kertas h. Area ilmu pengetahuan Area ilmu pengetahuan merupakan tempat yang bermanfaat bagi anak-anaak untuk terlibat aktif mempelajari, mengamati, menyelidiki berbagai objek yang erat kaitannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam area ini secara sederhana guru dapat menyediakan bahan atau alat permainan yang berada di lingkungan anak dan anak-anak menyukai pemanfaatan bahan tersebut untuk bermain. Sebagai contog, dalam area ini guru dapat menyediakan pasir, tanah dan air dengan dilengkapi peralatan lainnya. i. Pusat kegiatan musik Penyediaan ruang musik di TK ditujukan untuk membantu dan merangsang perkembangan otak dan jiwa seni anak. Di pihak lain, pusat kegiatan musik diharapkan dapat membantu pertumbuhan jiwa seni anak untuk sosialisasi di masyarakat. Dalam area ini anak dapat mendengarkan rekaman musik yang

23

disuakinya, mengekspresikan dan mencobakan bakat tertentu di bidang musik, misalnya bernyanyi. Berbagai peralatan yang dapat disediakan pada pusat kegiatan musik di TK, antara lain adalah : 1. tamburin 2. organ 3. rebana 4. pianika 5. piano 6. harmonika 7. gendang tom-tom 8. tempurung 9. botol-botol bekas 10. gitar kecil E. Keamanan Kelas

Untuk menjaga keamanan dan keselamatan anak dalam kelas pada dasarnya guru harus memperhatikan; aktivitas yang dilakukan anak, peralatan yang dipakai dalam pembelajaran dan keadaan-keadaan lain yang terdapat di dalam lingkungan kelas yang dapat menyebabkan keamanan dan keselamatan anak terganggu. Kellaugh (1996) mengemukakan beberapa petunjuk yang dapat dipedomani guru. Dengan mempedomani petunjuk yang dikemukakan kellaugh, dapat diidentifikasi dan dikembangkan beberapa hal yang harus diperhatikan guru agar kemananan dan keselamatan anak di kelas dapat diwujudkan yaitu : 1. Informasikan dan sosialisasikan kepada anak peraturan-peraturan untuk menjaga kemananan kelas. Akan lebih baik apabila guru dapat memberikan keteladanan untuk mematuhi aturan dimaksud. 2. Hindari penggunaan bahan-bahan yang mudah terbakar sehingga membahayakan anak 3. waspada terhadap anak yang memiliki potensi untuk reaksi elergi terhadap tanaman, bulu binatang, debu dan sebagainya 4. secara periodik periksa semua peralatan dan kabel-kabel listrik yang dapat membahayakan anak 5. Hindari penggunaan bahan-bahan yang dapat berbahaya terhadap penyakit potensial, seperti binatang mati dan bahan tanaman yang membusuk. 6. Upayakan untuk tidak meninggalkan, tidak mengurus dan tidak mengawasi anak di kelas. Setiap anak harus tetap berada dalam pengamatan guru 7. Pada setiap kelas harus disediakan alat pemadam api 8. Alat-alat berat dan berbahaya (seperti peralatan kaca) jangan disimpan diatas kepala anak-anak 9. Peliharalah kebersihan kelas secara terus menerus 10. Jangan membiarkan anak melakukan aktivitas bermain yang dapat membahayakan dirinya

24

11. Hindari penggunaan tanaman, binatang, bahan kimia, dan perlengkapan yang beracun dikelas untuk alasan apapun. 12. Jangan meletakan atau menyimpan peralatan dan benda-benda tajam yang dapat hancur bila pecah dalam kelas 13. Guru harus mengetahui apa yang harus dilakukan bilamana menghadapi keadaan darurat 14. Jangan membawa anak-anak ke luar pekarangan sekolah dalam jumlah besar tanpa bantuan guru-guru lain F. Kebersihan Kelas

Kebersihan kelas baik di dalam maupun di luar kelas serta pekarangan sekolah pada umumnya perlu dijaga secara terus-menerus. Sebab dengan kelas yang tampak bersih, suasana pembelajaran akan dirasakan menyenangkan dan menarik sehingga suasana yang demikian dapat mendorong anak untuk aktif melakukan aktivitas bermain sambil belajar. Menjaga kebersihan kelas juga dapat melibatkan anak. Tidak ada salahnya bagi guru yang berupaya untuk membudayakan hidup bersih kepada sejak usia dini. Untuk melibatkan anak menjag kebersihan kelas guru dapat menyampaikan himbauan-himbauan kepada anak di kelas agar mereka setiap saat. Himbauan ini dapat diperkuuat oleh guru dengan cara memberikan keteladanan kepada anak dalam menjaga kebersihan kelas, misalnya dengan cara mengmbil sampah yang berserakan dan membuangnya ke dalam tempat sampah. Di samping itu, anak-anak dapat diikutsertakan dalam aktivitas ringan yang bertujuan untuk membersihkan kelas seperti memilih sampah yang ada disekitar anak dalam kelas, membersihkan debu meja dengan tisu atau kertas koran yang disediakan guru, dan mencuci peralatan-peralatan ringan yang sudah dipakai anak dalam kegiatan belajarnya berserakan dan membuangnya ke dalam tempat sampah. Disamping itu, anak-anak dapat diikutsertakan dalam aktivitas ringan yang bertujuan untuk membersihkan kelas seperti memilih sampah yang ada disekitar anak dalam kelas, membersihkan debu meja dengan tisu atau kertas koran yang disediakan guru, dan mencuci peralatan-peralatan ringan yang sudah dipakai anak dalam kegiatan belajarnya. PENGATURAN RUANG KELAS A. Pentingnya Pengaturan Ruang Kelas dalam Pembelajaran Proses pembelajaran yang efektif bagi anak usia TK akan dapat diwujudkan jika dilaksanakan pada suatu lingkungan yang mampu memberikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan lingkungan tersebut secara produktif. Dalam upaya mewujudkan hal ini guru hendaknya terampil dalam menata lingkungan belajar yang kondusif bagi anak untuk melaksanakan aktivitas belajarnya. Hal ini dapat dilakukan guru melalui kegiatan pengelolaan kelas. Dengan perkataan lain kegiatan pembelajaran yang efektif memerlukan pengelolaan kelas yang baik sehingga anak-

25

anak merasa senang, gembira, aman, dan memiliki kebebasan untuk melakukan aktivitas belajar yang diminatinya. Kelas yang baik merupakan lingkungan belajar yang bersifat menantang dan merangsang anak untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan kepada anak dalam mencapai tujuan belajarnya. Oleh karena itu guru sebagai pengelola kelas yang sekaligus pengelola lingkungan belajar anak, harus mempu menggunakan pengetahuan tentang teori belajar dan dapat memahamai anak debngan segala aspek perkembangannya sehingga memungkinkan terciptanya situasi pembelajaran yang kondusif. Proses belajar akan terjadi pada diri anak melalui pengalaman yang diperolehnya dari lingkungan. Dengan demikian kelas sebagai salah satu lingkungan belajar bagi anak di sekolah perlu dikelola dengan baik karena dapat meningkatkan minat dan keseriusan anak dalam belajar sehingga memungkinkan anak dapat melibatkan diri dalam berbagai aktivitas belajar yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal. Hal ini menunjukan bahwa bagaimanapun baiknya guru membuat persipan perencanaan yang dirancang untuk kegiatan pembelajaran, proses pembelajaran sepertinya akan tak berjalan dengan baik jika segala sesuatu yang diberikan kepada anak berlangsung dalam suatu ruangan kelas yang tidak mendukung dan tidak dikelola dengan baik. Menyusun perencanaan yang seksama dan bijaksana terhadap langkah-langkah yang akan dilakukan untuk pengelolaan kelas merupakan langkah permulaan yang amat penting dalam mewujudkan proses pembelajaran yang efektif. Untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif, faktor guru sebagai pengelola proses belajar mempunyai peran penting. Alasannya adalah karena semua aktivitas pembelajaran dirancang dan dilaksanakan oleh guru. Implementasi rancangan pembelajaran yang dibuat guru akan diterapkan di kelas dengan cara membangun interaksi dengan anak-anak yang ditujukan untuk membantu perkembangan anak ke arah yang lebih baik. Dengan demikian, di samping guru, anak juga merupakan faktor penting yang dapat mempengharuhi situasi pembelajaran yang efektif. Betdasarkan hal ini, Kellaugh (1996) menyatakan bahwa perpsepsi guru dan anak terhadap pembelajaran dapat mempengaruhi penciptaan situasi belajar yang efektif. Perpsepsi guru terhadap pembelajaran yang dimaksudkan di atas adalah sebagai berikut : 1. Kalau guru tidak percaya bahwa muridnya bisa belajar maka mereka tidak akan belajar. 2. Kalau guru tidak percaya bahwa ia bisa mengajar mereka maka guru tidak akan bisa. 3. Kalau murid-murid tidak percaya bahwa mereka bisa belajar sampai mereka mau belajar, mereka tidak akan bisa.

26

Selanjutnya dikemukakan pula bahwa untuk mendukung kesuksesan pengimplementasian rencana pembelajaran anak harus mempunyai perpsepsi berikut ini : 1. Anak merasa bahwa lingkungan kelas mendukung aktivitas belajar mereka 2. Anak merasa senang dalam kelas anda 3. Anak menganggap bahwa belajar yang diharapkan merupakan sebuah tantangan bukan merupakan sesuatu hal yang tidak memungkinkan untuk dilakukan. 4. Anak percaya bahwa hasil belajar diharapkan sebagai suatu hal yang menyenangkan sehingga mereka berusaha untuk mencapainya. Oleh karena itu, menurut Kellaugh, guru yang berhasil dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran adalah guru yaqng : 1. mengetahui bahwa semua anak dapat belajar; 2. mengharapkan yang terbaik dari setiap anak; 3. menciptakan suasana ruang kelas yabng kondusif bagi anak untuk belajar, yang akan memotivasi mereka untuk berbuat dengan cara yang terbaik; 4. mengelola kelas secara efektif sehingga waktu dapat digunakan seefektif mungkin, dengan paling sedikit gangguan terhadap proses belajar. Bertolak dari pendapat di atasa, dapat dikemukakan bahwa untuk menciptakan pembelajaran yang efektif guru harus mempunyai perpsepsi yang positif terhadap dirinya dan terhadap anak. Sebagai seorang guru professional ia mesti mempunyai keyakinan dalam diri bahwa ia akan mampu melaksanakan tugas mengajar dengan baik. Dorongan yang ada dalam diri guru ini akan sanagat mempengaruhi penampilan mengajar guru di kelas. Guru yang memiliki keyakinan tinggi dan positif akan berbeda penampilan mengajarnya dengan guru yang tidak yakin dan perpsepsi negatif terhadap dirinya, seorang guru perlu mengenal diri sendiri terlebih dahulu. Menurut Mary Underwood (1987) dalam bukunya Effective Class Management, alih bahasa oleh Purwoko (1998) mengemukakan aspek-aspek penting yang perlu dikenali oleh guru terhadap dirinya dalam melakukan tugas pembelajaran adalah ; (1) kemampuan berbahasa, (2) bakat, (3) pengetahuan khusus dan umum, (4) keterampilan mengajar, (5) sikap terhadap disiplin danm (6) kesempatan untuk mengembangkan diri. Di samping itu, anak juga mesti mempunyai perpsepsi yang tepat terhadap dirinya di mana ia akan mau dan mampu melaksanakan berbagai bentuk aktivitas belajar. Jika anak sudah memperpsepai diri bahwa ia tidak mau dan tidak mampu belajar maka ia memang tidak akan berbuat. Tugas guru adalah bagaimana merangsang minat dan kebutuhan belajar anak. Selain perpsepsi anak terhadap diri sendiri, perpsepsi anak terhadap guru juga akan mempengaruhi efektifitas pembelajaran. Artinya seorang anak juga harus mempunyai perpsepsi yang tepat terhadap guru sebagai orang dewasa yang mempunyai tugas untuk membimbing dan memfasilitasi mereka dalam berbagai kegiatan belajar.

27

Hal yang dikemukakan di atas menunjukan bahwa aktivitas belajar anak dapat dipengaruhi oleh faktor kepercayaan anak untuk menyelesaikan tugas dengan sukses dan penguatan yang diberikan terhadap hasil yang dicapai serta arti penguatan itu bagi anak. Dalam proses pembelajaran yang efektif, aspek apa yang diharapkan anak dan arti dari harapan itu seharusnya dihadirkan, dengan demikian anak dapat melihat makna atau nilai dalam pengalaman dan mereka percaya bahwa dia akan dapat mencapai hasil yang dimaksud dari pengalaman itu. Seorang anak mungkin saja kurang berminat untuk belajar bila dia mempercayai bahwa tidak ada guna atau tidak ada nilai terhadap terhadap bahan atau merasa tak mampu dalam belajar. Dengan kata lain, sebelum anak berbuat, mereka harus merasa bahwa mereka dapat melakukan dan mereka harus percaya bahwa penting untuk berbuat dalam proses belajar. Berdasarkan hal tersebut, apabila guru ingin sukses menjalankan tugas sebagai orang dewasa professional di TK, guru harus memahami dirinya dengan baik dan benar, memahami diri anak secara komprehensif dan tepat, dan mengelola kelas dengan baik sehingga tercipta suasana pembelajaran yang kondusif. Hasil pemahaman guru terhadap diri sendiri dan anak hendaknya diaplikasikan terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Demikian juga halnya dengan kegiatan pengelolaan kelas yang baik, di mana harus dilakukan atas dasar pemahaman guru secara komprehensif terhadap anak usia TK sehingga suasasan kelas merupakan tempat yang menyenangkan bagi anak untuk melaksanakan berbagai aktivitas belajar. Guna mewujudkan kondisi tersebut Underwood (1987) mengusulkan beberapa hal berkenaan dengan perilaku guru dalam pembelajaran, yaitu : 1. Memanggil setiap anak dengan namanya 2. Selalu bersikap sopan kepada anak dan mengharapkan mereka bersikap sama terhadap guru dan teman lain 3. Memastikan bahwa guru tidak menunjukan sikap pilih kasih terhadap anak tertentu 4. Merencanakan dengan apa yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran, tetapi tidak perlu kaku dalam pelaksanaannya 5. Mengungkapkan kepada anak-anak tentang apa yang ingin anda capai 6. Libatkan anak secara aktif dalam kegiatan belajar, jangan biarkan satu atau dua anak memonopoli kelas 7. Berikan kesempatan dan kebebasan kepada anak untuk melakukan aktivitas yang diminatinya. 8. Bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakan 9. Melaksanakan hal yang telah dikatakan kepada anak 10. Bersikap konsisten dalam menghadapi anak-anak. B. Menciptakan Lingkungan Kelas yang Kondusif untuk Belajar

1. Pertimbangan dalam Merencanakan dan Mengorganisasi Lingkungan Fisik.

28

Menciptakan lingkungan fisik kelas yang kondusif untuk kegiatan belajar anak adalah salah satu tugas pokok guru. Untuk mewujudkan kondisi ini guru perlu mempertimbangkan dua hal pokok, yaitu informasi tentang anak dan kegiatan yang akan dilakukan anak berkenaan dengan tujuan-tujuan pembelajaran yang hendak dicapai (Patmonodewo, 2000). Kedua hal pokok tersebut digambarkan secara rinci sebagai berikut ; (1) pertama kali yang dapat membantu perencanaan dan pengorganisasian lingkungan fisik kelas adalah informasi yang berkaitan dengan anak yang akan mengikuti kegiatan belajar, informasi tersebut berupa catatan atau laporan tertulis yang diperoleh guru beberapa waktu sebelum sekolah dimulai, dan (2) guru perlu mempersiapkan apa yang harus dilakukan anak berkaitan dengan tujuan khusus yang hendak dicapai. Apabila direncanakan agar anak menjadi kreatif maka guru harus menyediakan materi berupa balok, alat berupa cat cair, kertas berwarna yang berkaitan dengan seni perlu disediakan. Alat-alat yang diperlukan untuk mendukung perkembangan fisik adalah alat-alat yang membutuhkan ruang yangn luas perlu disediakan baik yang ada dalam kelas maupun di luar kelas. Sejalan dengan pendapat diatas, untuk menciptakan lingkungan kelas yang mendukung proses belajar, berkenaan dengan ini Kellaugh (1996) menemukakan sejumlah hal yang berkaitan dengan anak yang mesti dipertimbangkan guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, antara lain, misalnya : (a) memahami anak-anak, (b) memahami pola-pola belajar anak, (c) menghargai anak baik belajar sendiri atau kelompok, (d) anak lebih menyukai belajar melalui proses yang disenangi untuk memperoleh informasi atau ide-ide baru, (e) tugas terstruktur dan tidak terstruktur, (f) gambaran umum dan atau detail, (g) latar belakang pengalaman anak. Selanjutnya, Purwokok, 1998 (dalam Mary Underwood, 1987) menemukakan aspek penting yang perlu dikenal guru tentang anak yaitu ; (a) nama, (b) latyar belakang, dan (c) minat. a. Mengenali anak berikut ini dikemukakan beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk dapat mengenali anak : 1, Berbagi informasi di kelas selama minggu pertama sekolah. Dalam upaya memahami anak guru dapat memanfaatkan waktu pada hari-hario pertama sekolah. Guru dapat menggunakan cara dengan jalan menyuruh anak untuk bercerita tentang dirinya secara bergiliran dihadapan teman-temannya. 2. Pengamatan anak dalam kelas. Pengamatan di kelas dapat memberikan informasi berkenaan dengan perilaku anak sebagai individu, minat, motivasi, kemampuan dan social anak pada saat berinteraksi dengan teman lainnya di kelas.

29

3. Pengamatan siswa di luar kelas. Berbagai aktivitas anak di luar kelas yang dapat diamati guru antara lain misalnya kegiatan anak pada saat istirahat dan sedang bermain di lapangan bersama dengan teman-temannya. 4. Bercengkrama dengan anak. Melalui interaksi ini guru akan dapat memahami anak secara individu dan karakter anak ketika ia berinteraksi dengan temannya. 5. Pertemuan dan wawancara dengan anak. Cara ini dapat dilakukan dalam situasi formal dan dapat pula dilaksanakan dalam suasana tidak resmi dengan lebih menonjolkan suasana kekeluargaan. Dengan cara terakhir ini biasanya anak lebih terbuka untuk menceritakan dan menginformasikan tentang dirinya kepada guru. Selanjutnya guru dapat pula mengajukan sejumlah pertanyaan penting sederhana kepada anak dan anak dapat pula dengan mudah menjawab apa yang ditanyakan oleh guru. 6. Laporan dalam dokumen. Biasanya pada setiap awal tahun ajaran baru anakanak mengisi sejumlah data yang memuat tentang identitas anak. Pengisian ini dilakukan oleh orang tua mereka. Melalui laporan atau data yang ada dalam dokumen tersebut guru dapat memperoleh informasi tentang anak. 7. Diskusi dengan professional lainnya. Tidak ada salahnyanya jika guru berupaya untuk mencari informasi yang lengkap tentang anak dengan cara menghubungi tenaga professional atau guru lainnya atau orang dewasa lainnya yang mengenal anak secara lebih dekat. b. Gaya Belajar agar belajar berlangsung efektif, guru perlu mengetahui tentang gaya belajar anak. Tanpa ada pemahaman guru terhada[p aspek ini, guru akan mendapat kesulitan dalam menciptakan iklim dan interaksi belajar yang kondusif bagi anak. Gueu perlu menyadari bahwa anak memiliki gaya belajar yang berbeda antara satu abak dengan anak lainnya. Perbedaan ini menuntut adanya perlakuan yang tidak sama terhadap semua anak dalam kegiatan pembelajaran. c. Cara kerja anak

mengetahui cara kerja anak merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dengan aspek lain tentang anak. Pemahaman tentang cara kerja anak, akan dapat dimanfaatkan guru untuk mendisain aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan anak. Di samping itu guru dapat menempatkan peran dalam pembelajaran sesuai dengan keadaan anak. Dalam kenyataannya akan ditemui ada anak yang lebih suka untuk bekerja sendiri atau bekerja dengan beberapa orang teman saja. Hal ini perlu dihormati dan dihargai oleh guru. Guru tidak boleh memaksakan kehendak sehingga apa yang diinginkan guru bertentangan dengan kesukaan anak. d. Anak lebih suka belajar dengan perasaan

30

sebagai guru professional perlu menyadari bahwa salah satu karakteristik anak adalah lebih suka belajar dengan perasaan. Oleh karena itu guru hendaknya mampu memberikan stimulus yang tepat sehingga perasaan sebagai bagian aspek psikologis yang dimiliki anak dapat dimanfaatkan membantu dan membimbing perkembangan anak. e. Terstruktur versus tugas tidak terstruktur aspek ini merupakan bagian dari karakteristik yang dimiliki anak yang perlu diketaui oleh guru. Seorang anak akan ditemukan lebih menyukai tugas-tugas terstruktur, sementara anak yang lain dapat saja menyukai struktur tugas yang diinginkan sendiri. Kenyataan ini yang diterima dan dipahami oleh guru sehingga dapat menempatkan peran sesuai dengan kondisi anak. f. Rinci versus gambar menyeluruh membuat gambar secara rinci merupakan suatu hal yang disukai seorang anak, namun belum tentu diminati oleh anak yang lainnya. Sebaliknya, seorang anak akan ditemukan tidak menyenangi gambar yang rinci, tetapi ia lebih menyukai sebuah gambar yang sifatnya lebih umum dan menyeluruh. Konsekuensi bagi guru adalah bahwa guru tidak dapat memaksa anak untuk melakukan aktivitas menggambar yang bertentangan dengan kesukaannya. g. Latar belakang pengalaman anak Pembelajaran akan berlangsung efektif apabila guru mempunyai pemahaman tentang latar belakang pengalaman anak. Berkenaan dengan hal ini, Popham dan Baker (tanpa tahun) mengemukakan beberapa hal yang menyangkut dengan latar belakang anak yang perlu dikenal oleh guru, yaitu : 1. Latar belakang psikologis 2. Latar belakang kemampuan 3. Latar belakang kesehatan fisik 4. Latar belakang perhatian anak mengenai pendidikan 5. Latar belakang kehidupan anak di rumah. Hal ini dikemukakan oleh Hubbard (1986) untuk menata ruang phisik kelas guru perlu memperhatikan kemudahan pelaksanaan aktivitas belajar terutama hal yang berkaitan dengan : (a) akses ke ruang kerja, (b) akses ke alat-alat permainan dan (c) akses ke anak-anak a. Akses ke ruang bekerja Penataan ruang kelas hendaknya memberikan akses ke ruang kerja anak. Jika keadaan memungkinkan akan lebih baik disediakan ruang kerja yang berbeda untuk anak. Guru perlu memahami bahwa cara kerja anak akan berbeda antara satu

31

dengan yang lainnya. Ada saatnya anak menyukai kerja sendiri dan ada kalanya mereka ingin bekerja secara berkelompok. Oleh karena itu, guru hendaknya jangan menyediakan tempat yang kaku di mana anak ditempatkan secara tetap untuk semua jenis pekerjaan atau aktivitas yang dilakukannya. Jika ini terjadi maka jelas akan membosankan bagi anak. Penyediaan tempat yang pleksibel akan memungkinkan anak merasa senang menyelesaikan pekerjaan sendiri dan tanpa pula berinteraksi secara aktif dengan teman lain dalam suatu aktivitas kelompok. Dengan perkataan lain, di dalam penataan ruang kelas perlu diupayakan agar anakanak mempunyai fleksibiltas untuk mengubah tempat mereka bekerja tergantung pada kebutuhan dan sifat tugas mereka yang bervariasi. Apabila kondisi ini dapat diwujudkan maka kebebasan anak dalam melakukan berbagai aktivitas dapat dikembangkan sehingga mereka diharapkan dapat mencapai tingkat perkembangan yang optimal. Sebaliknya, penataan ruang kelas yang tidak mengakses ke ruang kerja sesuai dengan kebutuhan anak akan berdampak negatif terhadap aktivitas belajar anak. Hal ini dapat dilihat dari kepasifan anak untuk tetap duduk di meja dengan tanpa aktivitas, karena ia tidak melihat adanya tempat yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan keinginannya. b. Akses ke alat permainan Penataan ruang phisik kelas hendaknya memudahkan anak-anak untuk mendapat material atau alat permainan yang dibutuhkan anak dalam berb agai aktivitas belajar. Sebagai contoh, dalam kegiatan yang ditujukan untuk perkembangan emosi dan social guru hendaknya sudah menyediakan balok bangunan di suatu tempat berdekatan dengan anak. Secara rinci alat permainan yang dapat disediakan guru untuk tujuan kegiatan perkembangan emosi dan social, menurut Sudono (1995) adalah sebagai berikut : 1. Berbagai macam balok seperti balok besar, kecil, polos, warna, bentuk geometri, kubus-kubus dan prisma 2. Berbagai macam mozaik 3. Puzzel lantai yang dapat dimainkan bersama 4. Papan permainan (board games) 5. Sudut keluarga, took-tokoan, permainan rumah sakit, polisi, kantor pos dan lain-lain c. Akses ke anak-anak Penataan ruang kelas yang dilakukan guru hendaknya dapat melayani perbedaan dan kebebasan individu anak dalam belajar. Seorang anak pada suatu ketika menginginkan aktivitas yang berbeda dengan temannya. Dalam hal ini guru mestinya sudah menyediakan tempat, peralatan dan memberikan kesempatan kepada anak yang bersangkutan sehingga anak merasa senang dalam melaksanakan kegiatan belajar. Jika hal ini dapat diwujudkan, maka perkembangan anak yang optimal dapat pula tercapai.

32

2. Karakteristik Lingkungan Fisik yang Tidak Mendukung dan Mendukung Kegiatan Belajar a. Lingkungan fisik yang tidak mendukung Berkenaan dengan lingkungan belajar ini, Marion (1991) mengemukakan dua contoh kelas sebagai lingkungan belajar yang kondusif dan tidak kondusif. Kelas yang tidak kondusif untuk kegiatan dapat dilihat dari beberapa cirri berikut ini : 1. Dalam kelas terdengar suara gadus yang sangat mengganggu aktivitas belajar di kelas 2. Beberapa orang anak tampak sedang berlari-lari di dalam kelas, dan anak-anak lainnya tampak berkeluyuran tanpa tujuan 3. Ruangan kelas terkesan tidak menarik dengan penataan warna yang tidak baik dan jendela tanpa gordeng serta keadaan yang kacau balau dimana-man. 4. Ruang kelas balok-balok yang terdiri berbagai ukuran dan bentuk, tetapi belum diorganisir di atas rak sesuai dengan ukuran dan bentuk 5. Tidak ada materi aksesori (figure binatang dan orang-orang, tanda-tanda jalan, mobil-mobilan dan truk-truk yang kecil) yang bisa digunakan anak-anak untuk memperluas dan mengembangkan permainan balok 6. Penempatan perabot yang tidak mempertimbangkan penggunaan oleh anak sehingga tidak mengganggu aktivitas anak lainnya 7. Bahan-bahan di area seni bercampur aduk antara satu dan lainnya 8. Terdapat tumpukan kertas gambar dan kertas sisa 9. Peralatan di area seni berserakan dan kelihatan tidak bersih 10. Pada area perpustakaan dan teka-teki buku-buku bertumpuk di atas meja, dan sulit bagi anak-anak untuk mendapat mendapat salah satu diantaranya tanpa menyingkirkan buku yang lainnya 11. Area perpustakaan tidak dipisahkan dari area balok, sehingga suara gaduh dari area balok membuat kegiatan membaca menjadi sangan sulit 12. Potongan-potongan puzzle teki telah banyak yang hilang dan bertumpuktumpuk. Lingkungan belajar yang tidak kondusif akan menimbulkan kesan tidak menyenangkan dan tidak menantang bagi anak untuk mekakukan aktivitas belajar. Pada suatu lingkungan kelas yang tidak menarik, tidak menyenangkan dan tidak menantang bagi anak untuk melakukan kegiatan belajar berdampak terhadap pelaksanaan tugas guru. Menghadapi suasana kelas yang tidak kondusif, mengakibatkan guru juga merasakan bahwa kegiatan pembelajaran yang dilakukannya tidak efektif. Alasannya adalah karena guru merasa tidak tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan aktivitas pembelajaran dengan baik sesuai dengan perencanaan yang telah diprogramkan. Dalam situasi seperti ini waktu guru lebih banyak dihabiskan untuk mengurus perilaku anak yang menyimpang. Keadaan ini menimbulkan banyak keluhan yang muncul dari guru sebagai orang dewasa yang mempunyai tugas untuk mengelola kelas. Keluhan guru dimaksud berkenaan dengan munculnya sejumlah perilaku anak yang tidak mendukung aktivitas pembelajaran seperti berikut ini :

33

1. Anak-anak terus berlari-lari di sekeliling ruangan 2. Anak-anak tampaknya tidak mampu untuk berkonsentrasi dalam melakukan tugas tertentu 3. Mereka saling mendorong antara satu dengan yang lainnya dalam melakukan aktivitas di kelas 4. Tingkat suara yang tinggi 5. Ajakan guru tidak diindahkan oleh anak-anak 6. Anak-anak tidak mau melakukan antri secara teratur guna menunggu giliran untuk melakukan suatu aktivitas Pada kelas seperti ini guru-guru kelihatannya membuang waktu percuma waktu yang cukup banyak untuk hal-hal yang tidak menguntungkan terhadap kegiatan belajar dan perkembangan anak yaitu : 1. Memaksakan aturan kepada anak 2. Menghukum perilaku anak yang tak dapat diterima 3. Merendahkan martabat anak yang berperilaku salah 4. Memerintahkan kepada untuk duduk dan diam 5. Menghakimi beberapa orang anak yang tidak sepaham Kekurangmampuan guru untuk mengatur dan menciptakan lingkungan belajar yang tidak mendukung kegiatan pemebelajaran sehingga mengakibatkan anak merasa bosan, tidak senang, kurang gairah untuk melakukan aktivitas belajar merupakan salah satu akibat dari kurangnya pemahaman guru terhadap karakteristik dan kebutuhan anak usia TK. Sebagai konsekuensinya guru akan dihadapkan pada persoalan yang cukup rumit yaitu mengurus dan mengendalikan pergerakan anak dan perilaku anak yang menyimpang dengan ketat. Tanpa disadari penampilan mengajar guru akan cenderung lebih otoriter dengan cara memperlakukan anak sewenang-wenang dengan mengabaikan karakteristik anak. Ini berarti bahwa lingkungan belajar yang tidak kondusif akan memunculkan banyak permasalahan disiplin yang harus diselesaikan guru. Keadaan semacam ini juga akan mengundang perilaku mengajar guru yang bertentangan dengan karakteristik dan kebutuhan anak usia TK. b. Lingkungan Fisik yang Mendukung Lingkungan fisik yang kondusif dapat merangsang anak untuk lebih aktif melakukan berbagai aktivitas yang berorientasi kepada perkembangannya yang optimal. Suatu lingkungan fisik yang mendukung memudahkan anak-anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimiliki. Kelas yang menarik dan menyenangkan untuk belajar dapat pula diciptakan dari sebuah kelas yang mempunyai ukuran yang sama dengan kelas sebelumnya, terdiri dari material yang sama, mempunyai mebel yang sama, dan juga mempunyai jumlah guru dan anak-anak yang sama. Suatu kelas yang kondusif, berdasarkan kelas yang dicontohkan Marion (1991) dapat dilihat cirri-ciri berikut :

34

1. Hasil pekerjaan anak-anak dipajangkan 2. Tumbuhan hijau yang sehat di seluruh ruangan 3. Poster berwarna-warni di dinding, dan gorden baru di jendela 4. Ruangan diatur dalam area aktivitas yang berbeda 5. Terdengar senandung berbicara dan tertawa, tetapi tidak ada teriakan 6. Anak-anak sedang mengerjakan beberapa aktivitas yang diatur oleh para guru 7. Material disimpan di atas rak terbuka yang rendah, dan anak-anak dapat menjangkaunya dengan mudah 8. Fasilitas dan peralatan ditempatkan berdekatan dengan aktivitas yang akan dilakukan anak seperti kran air, ember, dan spons 9. Anak-anak tampaknya benar-benar menikmati kegiatan pembelajarn dengan senang dan gembira 10. Peran guru tampat sebagai fasilitator dan pembimbing dimana guru berupaya menasihati anak-anak dari suatu perubahan aktivitas ke bentuk aktivitas lainnya yang dirancang. Keadaan yang digambarkan di atas menimbulkan pertanyaan tentang faktorfaktor yang dapat mempengharuhi terciptanya kelas yang kondusif sehingga menarik dan menyenangkan untuk melaksanakan kegiatan belajar. Dalam lingkungan kelas seperti ini, anak-anak tampak terlihat aktif melakukan berbagai kegiatan belajar dan mereka meleksanakan dengan perasaan senang dan gembira serta guru tidak disibukan untuk mengurus perilaku anak yang menyimpang. Sebaliknya, apa pula yang menjadi penyebab suatu kelas tampak tidak menarik, gaduh, dengan anak-anak yang ribut dan guru menghabiskan waktu untuk mengurus dan menyelesaikan masalah perilaku anak yangb tidak mendukung kegiatan pembelajaran. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terciptanya suatu atmosfir kelas yang kondusif untuk melaksanakan aktivitas belajar yaitu : 1. Pengetahuan guru mengenai perkembangan anak dan tingkat dukungannya 2. Penggunaan disiplin yang positif 3. Pengaturan batas-batas yang baik 4. Kemampuan untuk berkomunikasi yang baik dengan anak-anak 5. Faktor lainnya yaitu seberapa baik guru mengatur lingkungan fisik (Marion, 1991, yang dikutif dari Bredekamp, 1986; Day, 1983; Phyfe Perkins. 1980; Prescott, 1984). Sementara itu, Purnami dan Subekti (1991) mengemukakan karakteristik ruang kelas yang baik, yaitu : 1. Setiap interst area ditempatkan dan diatur dengan jelas 2. House corner diatur letaknya berdekatan dengan Block Corner 3. Rak-rak untuk melakukan benda-benda seni mudah dicapai dari tempat duduk dan meja anak-anak 4. Ada ruangan yang cukup luas untuk kegiatan seni tanpa ada benda-benda lain yang menghalangi gerak anak

35

5. Table toy dan libraro corner, merupakan dua interest area yang menuntut ketenangan kerja, diatur atau diletakan berdekatan 6. Ruangan diusahakan diatur agar tidak menghalang-halangi anak dalam bekerja 3. Pengaturan Waktu Waktu untuk melakukan aktivitas bagi anak perlu diatur sedemikian rupa, fleksibel dan mengacu pada karakteristik anak. Hal ini dikemukakan Patmonodewo (2000). Jadual kegiatan belajar disesuaikan dengan lamanya anak berada di sekolah. Agar dapat menyusun jadual yang baik, sebaiknya guru mengenal cirri anak didiknya. Gruru sebaiknya mengenal bagaimana pola reaksi anak, bagaimana kecepatan reaksi anak, berapa lama waktu istirahat yang dibutuhkan anak. Jadual kegiatan belajar sebaiknya disusun berdasarkan hal-hal sebagai berikut 8.15-8.45 Guru melakukan perencanaan dan persiapan 8.45-9.00 Kedatangan. Anak-anak mulai berdatangan dan masuk kelas. Guru harus selalu siap memberi salam secara pribadi kepada masingmasing anak. 9.00-9.20. Waktu dalam kelompok. Guru duduk di tengah kelompok anak. Tujuannya adalah mengecek kehadiran dan menyampaikan perencanaan guru untuk hari tersebut. Dalam kesempatan tersebut antara guru dan murid berbagi pengalaman, bertanya jawab atau melakukan diskusi. 9.20-10.10. Periode melakukan kegiatan. Pada periode ini masingmasing anak boleh kesempatan memilih satu di antara beberapa kegiatan, dan mereka boleh mengganti dengan pakaian lain selama masih di dalam periode kegiatan tersebut. Guru dapat bekerja dengan kelompok kecil atau dengan anak secara individual. Aktivitas yang dilakukan anak biasanya melakukan kegiatan pekerjaan tangan, misalnya menggunting, menempel, atau bermain dengan melakukan manipulasi. Anak lain mungkin akan bermain pasir, air yang berkaitan dengan mendapatkan pengalaman ilmiah. Semua kegiatan yang dilakukan anak pada periode ini diketahui dan di bawah pengawasan guru. 10.10-10.30. Membersihkan diri, makan dan istirahat. Setelah melakukan kegiatan anaka-anak harus membersihkan ruang serta alat yang dipergunakan semula. 10.30-11.00. Musik dan bercerita. Biasanya dalam periode ini dilakukan dengan kegiatan yang diiringi musik dan ekspresi. 11.00-11.20. Kegiatan di luar ruang. Anak dapat melakukan kegiatan memanjat, berlari, berayun, melompat dapat pula bermain pasir atau air. 11.20-11.40. adalah wakru bersiap akan pulang. Anak-anak mengumpulkan barang sebelum pulang.

36

11.40-12.00. periode guru membersihkan atau membenahi kelas. Guru membutuhkan waktu selain untuk membenahi kelas juga melakukan pencatatan. Guru melakukan persiapan untuk hari berikutnya. Di dalam kelas anak-anak mempunyai waktu yang berbeda yang mereka butuhkan untuk menjangjau ke dalam pikiran mereka sendiri, mengingat kembali memori atau berkonsentrasi pada isu tertentu yang terlibat dalam aktivitas mereka. Mereka tidak kelihatan seperti melakukan tugas, melainkan mereka kelihatan seperti membuat ruang kreatif yang perlu untuk pemikiran mereka. C. Mengatur Ruang Kelas

1. Penyediaan ruang yang memadai Idealnya ruang kelas yang dipakai sebagai tempat pembelajaran di TK adalah ruangan yang dibangun secara khusus untuk itu, sehingga bangunan ruang kelas yang ada telah disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan anak usia TK. Untuk dapat menciptakan kelas yang kondusif bagi anak untuk melakukan berbagai aktivitas belajar, ruang kelas hendaknya memiliki ukuran yang memadai. Menurut Sudono (1995) dan Rachman (1998/1999) ukuran ruang kelas untuk TK adalam 7 x 8 bujur sangkar. Ukuran ruang kelas dipengaruhi oleh jenis kegiatan yang akan dilakukan anak jumlah anak yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Keterbatasan ukuran ruang kelas pada dasarnya dapat diatasi dengan menambah tempat di luar ruangan sebagai suatu upaya untuk memenuhi aktivitas belajar anak. Hal ini dapat dilakukan apabila area atau lokasi yang ada di luar kelas juga memungkinkan. Selanjutnya, kapasitas atau muatan kelas juga merupakan faktor yang mempengaruhi penciptaan suasana yang kondusif di kelas. Berkenaan dengan hal ini, studi yang dilakukan oleh Roup, Traver, Glant dan Coelen, 1970 (Patmonodewo, 2000) merekomendasikan bahwa pemanfaatan sarana jika dikaitkan dengan rasio guru dengan jumlah murid yang paling baik adalah 1 guru dengan 7 orang anak. Tetapi masih dibolehkan untuk 1 guru dengan dengan 14 orang anak usia prasekolah (3-5 tahun). Sudono (1995) berpendapat bahwa makin sedikit jumlah anak di kelas makin baik karena akan dipengaruhi oleh jenis kegiatan yang akan dilakukan dan jumlah siswa memperlancar interaksi antara guru dan murid. Selain memperhatikan ukuran, Rachman berpendapat ruang kelas harus diusahakan memenuhi syarat sebagai berikut : a. Dapat memberikan keleluasaan gerak, komunikasi, pandangan dan pendengaran b. Cukup cahaya dan sirkulasi udara c. Pengaturan perabot agar memungkinkan guru dan murid dapat bergerak leluasa

37

d.

Daun jendela tidak mengganggu lalu lintas

Berkenaan dengan ini pula, Underwood (1987) mengingatkan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan guru dalam menggunakan suatu ruang kelas yaitu : a. Apakah ruang terang dan lampu menyala tetapi tidak terlalu menyilaukan ? b. Apakah suhunya nyaman dan ada udara segar ? c. Apakah setiap anak dapat dengan mudah mendengar anda ? d. Apakah semua anak bisa melihat anda dan papan tulis atau layar dengan mudah ? e. Apakah anda bebas mengubah susunan ruang kelas ? f. Bagaimana anda mengatur pemindahan meja-kursi ? susunan seperti apa yang paling cocok ? g. Bagaimana dengan furniture lain di tempat itu ? misalnya, meja guru, tempat penyimpanan, dan tempat meletakan peralatan pada saat anda membutuhkannya ? h. Dapatkah anda merekatkan atau menggantungkan sejumlah gambar di dinding ? Sejumlah pertanyaan di atas harus dijawab oleh guru secara objektif dan guru mesti mempunyai kreativitas untuk mencari solusi apabila ditemukan keadaan yang menyulitkan. Suhu, ventilasi dan penerangan merupakan aspek penting dalam menciptakan ruang kelas yang nyaman, walaupun guru sulit untuk mengaturnya karena sudah tersedia. Untuk menjamin kesehatan murid ventilasi harus cukup, dan ukuran jendela memadai sehingga memungkinkan cahaya matahari masuk dengan bebas, udara sehat dengan ventilasi yang baik sehingga semua murid dalam kelas dapat menghirup udara segar yang cukup mengandung oksigen. 2. Mengatur tempat duduk secara fleksibel mengatur tempat duduk untuk usia TK sudah jelas tidak sama kondisinya dengan pengaturan tempat duduk pada anak usia SD. Anak-anak pada masa kanakkanak atau usia TK ini tidak dikondisikan untuk duduk di kursi mereka dalam waktu yang cukup lama. Mereka cenderung menghabiskan waktu mereka untuk beraktivitas di lantai atau selalu bergerak dengan pindah-pindah tempat. Oleh karena itu, pengaturan tempat duduk anak TK harus dilakukan secara fleksibel. Artinya guru harus mempunyai pertimbangan yang jelas kapan anak harus duduk di kursi yang dilengkapi dengan meja, berapa lama dan untuk melakukan kegiatan apa. Tempat duduk dengan memanfaatkan kursi yang dilengkapi meja hendaknya dengan mudah dapat dipindah-pindahkan. Alasannya adalah karena dalam kelas yang sama anak dapat dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan tema pembelajaran yang diminati anak.

38

Ukuran dan tinggi kursi meja juga disesuaikan dengan keadaan dan perkembangan anak. Akan lebih baik bila dapat diupayakan kursi-kursi atau meja yang bisa dilipat sehingga pada saat tidak dipakai dapat disimpan dengan tidak banyak memakan tempat. 3. Pengaturan perabot dan alat permainan Perabot dan alat permainan sangat dibutuhkan di TK guna mendukung penerapan konsep bermain sambil belajar yang merupakan aktivitas yang disenangi dan digemari oleh anak-anak usia TK. Alat permainan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan anak. Dalam hal ini sangat dituntut kreativitas guru untuk menciptakan dan mengadakan berbagai bentuk alat permainan yang mendukung aktivitas belajar anak. Alat permainan yang dapat berfungsi sebagai sumber belajar di TK sangat beragam sesuai dengan kebutuhan anak dan kreativitas guru dalam menciptakan berbagai bentuk alat permainan tersebut. Guna mendukung penyelenggaraan pembelajaran secara efektif, alat permainan yang sifatnya pokok mesti disediakan di TK. Berkaitan dengan hal ini, menurut Sudono (1995) alat permainan dan sumber belajar yang baku yang mesti ada di TK adalah : a. Pasir Untuk dapat bermain pasir perlu disediakan bak pasir yang dapat diletakan di dalam atau diluar ruangan. Untuk menjaga kebersihan, bak pasir dapat ditutup pada saat tidak digunakan. b. Air Untuk dapat bermain dengan air juga perlu disediakan bak air. Selain itu perlu juga disediakan alat permainan yang dapat dimanfaatkan di air, antara lain yaitu : 1. Gelas, mangkuk, cangkir plastik 2. Berbagai bentuk ukuran dan volume botol dari aneka bahan 3. Bebagai macam ember dan alat penyiram tanaman, gayung 4. Berbagai corong, ukuran benda cair, pipa air 5. Zat pewarna makanan c. Alat permainan balok Balok merupakan alat permainan yang sangat digemari oleh anak TK. Berbagai jenis alat permainan balok yang perlu disediakan di TK, antara lain adalah sebagai berikut : 1. Berbagai macam alat transportasi 2. Berbagai macam orang-orangan, binatang, tanaman 3. Berbagai macam tanda lalu lintas

39

4. Berbagai perabot dan rumah-rumahan d. Alat permainan manipulatif Seperti halnya alat permainan lain, alat permainan manipulatif juga sangat disukai oleh anak-anak. Bentuk-bentuk alat permainan manipulatif adalah : 1. papan hitung 2. mozaik 3. puzel 4. alat jahit 5. boneka e. Sudut rumah tangga dan tempat peyanana masyarakat Berbagai alat permainan pada sudut keluarga dan pelayanan masyarakat yang dapat disediakan di TK misalnya : 1. alat dapur 2. alat makan 3. rumah boneka lengkap dengan perabotnya 4. perabot rumah tangga 5. rumah sakit dengan segala perlengkapannya f. Perpustakaan Perpustakaan merupakan tempat sumber belajar bagi anak. Berbagai bahan yang perlu disediakan di perpustakaan ini, antara lain adalah : 1. buku untuk anak-anak 2. buku referensi 3. berbagai macam gambar

g. Alat untuk berekspresi Di TK perlu juga disediakan alat permainan untuk berekspresi. Alat permainan yang dapat disediakan misalnya peralatan pakaian dan tanda-tanda kecil yang menunjukan suatu profesi yang digemari anak. Berkaitan dengan alat permainan yang dibutuhkan anak di TK, Sudono (1995) merinci sejumlah alat permainan yang dapat diletakan di dalam dan di luar ruangan. 1. Alat permainan di dalam ruangan Alat permainan di dalam ruang kelas TK terdiri dari : a. balok besar yang [polos atau berwarna b. balok kecil yang polos atau berwarna c. balok yang dibuat dari kardus d. balok bersusun yang terdiri dari balok yang ukurannya besar sampai yang kecil e. balok cuisenaire, yaitu balok sepuluh tingkat dar 1 10 cm

40

f. balok kubus yang berukuran 2 cm persegi g. keping-keping dengan beragam bentuk geometri h. keping-keping dengan beragam bentuk dan warna i. mozaik kubus yaitu balok kubus bersisi 4 cm dengan desain di atas bidangnya j. mozaik bebas yaitu keeping yang berbentuk geometri untuk menciptakan desain k. mozaik terbatas di atas papan berukuran l. mozaik dari karton tebal m. papan pasak 25, yaitu papan yang berlubang 25 dengan 25 buah pasak n. papan pasak 25 dari rendah ke tinggi yaitu papan yang berlubang 25 dengan 25 pasak dari rendah ke tinggi o. papan geometri yaitu pada yang berisi 4 bentuk yang dibagi-bagi p. papan matematika bentuk kerucut, limas, kubus, silinder, papan hitung 1-5, dan papan hitung 1-10 q. papan warna yaitu papan dengan sembilan warna r. menara gelang lingkaran, segitiga, bujursangkar, segienam s. tangga kbus dan silinder, yaitu papan dengan lima tongkar dan butir manik-manik besar berbentuk silinder dan kubus t. meronce, berbagai bentuk butir manik-manik u. alat permainan Montessori v. puzzle dengan jumlah potongan 1-25 w. berbagai bentuk papan yang berlubang untuk menjahit x. media cetak 2. Alat permainan di luar kelas Alat permainan yang terletak di luar kelas adalah : a. papan jungkit dalam berbagai ukuran b. ayunan dengan tiang yang tinggi maupun ayunan kursi c. bak pasir dengan berbagai ukuran d. papan peluncuran e. bak air yang bervariasi f. bola dunia untuk panjatan anak g. tali untuk melompat h. terowongan yang terbuat dari gorong-gorong i. titian yang beragam tinggi dan lebar j. bola keranjang dengan bola yang terbuat dari kain k. ban mobil bekas untuk digulingkan l. kolam renang dangkal sebagai pengenalan berenang patmodewo (2000) berpendapat bahwa sebaiknya perabotan yang ada di dalam ruang kela smudah dipindah-pindahkan, tidak mudah pecah dan disesuaikan dengan ukuran anak. Meja dan kursi sebaiknya bervariasi tinggi rendahnya maupun ukurannya. Meja yang diperguanakan sebaiknya dapat dipergunakan sebagai meja

41

meja makan maupun untuk melakukan tugas kesenian. Akan sangat menarik apabila meja yang tersedia diubah-ubah bentuknya. Peralatan untuk ruang kelas sebaiknya dipertimbangkan beberapa hal, antara lain : a. Aman. Materi yang dipergunakan dalam kegiatan belajar mengajar, hendak aman. Tapi dari materi hendaknya tidak tajam, tidak ada paku yang menonjol, atau kawat yang lepas. Materi yang dipergunakan tidak mengandung racun. Alat permainan tidak menggunakan aliran listrik. Sebaiknya alat permainannya dapat dicuci, untuk menjaga kebersihannya. b. Biaya. Umumnya program pendidikan memperoleh biaya yang terbatas. Sebaiknya guru dapat menentukan mana yang lebih penting. Walaupun dana terbatas, guru juga diharapkan mampu menyelenggakan kegiatan belajar mengajar sehingga tujuan pendidikan tetap tercapai c. Kesesuaian dengan kondisi murid. Materi yang dipilih guru harus sesuai dengan minat, usia dan kemampuan murid d. Kualitas baik dan awet. Hendaknya alat yang diperguanakan di sekolah tetap dapat tahan lama tetapi relatif murah. Memilih bahan untuk sekolah tidak sama dengan yang dipergunakan di rumah. Di sekolah suatun alat akan dipergunakan oleh sejumlah anak secara bergantian dan terus menrus, sehingga harus dipilih alat yang kuat. e. Alat yang dipilih untuk sekolah harus dapat dipakai untuk berbagai penggunaan. Misalnya suatu alat harus dapat dipakai dalam kegiatan barmain dramatis, atau untuk karnaval. Mungkin suatu alat dapat untuk merangsang perkembangan kecerdasan, emosi atau untuk mengembangkan gerakan. Penyediaan alat permainan juga perlu memperhatikan area perkembangan anak secara relevan, sehingga alat permainan benar-benar dapat merangsang pertumbuhan anak sesuai area perkembangan. Sebagai contoh, Patmonodewo (2000), mengemukakan hubungan antara area perkembangan dan materi serta peralatan untuk anak usia dini. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut : Area Perkembangan - Perkembangan fisik Alat dan perlengkapan Alat panjatan, mainan yang beroda, balok-balok, ban, sepatu yang dengan tali, mute untuk dironce, kartu dengan pola, papan keseimbangan, tangga, gunting, alat perkayuan, alat-alat untuk main pasir, alat lain yang memungkinkan anak mengembangkan koordinasi otot besar dan halus

42

- Perkembangan Sosial

Alat yang berhubungan dengan kantor pos, alat yang biasa dijual di took kelontong, alat rumah tangga, pakaian alat yang mendorong anak untuk bermain atau bekerja sama Binatang, tanaman, alat untuk dimanipulasi, pasir, air, kayu, balok, papan titian, gelas, ukuran, alat mainan yang berpasangan, buku, daun, bunga, gambar, puzzle dan sebaginya Berbagai macam alat gambar/lukis, berbagai macam ukuran, bentuk dan kulitas kertas, pensil berwarna, lilin, biji-bijian, gunting, krayon, sedotan Buku, tape, kartu yang dapat mengembangkan perkembangan bahasa, cerita, bermain jari-jemari, boneka, wayang, buku buatan anak sendiri, baju, kunjungan luar situasi social, bermain pura-pura Alat yang dapat membuat anak berhasil melakukan menasntang tetapi tidak membuat frustasi mainan yang dapat membuat anak mampu.

- Perkembangan Intelektual

- Perkembangan Kreativitas

- Perkembangan Bahasa

- Perkembangan Emosional

Selanjutnya, perlu dipikirkan bagaimana penggunaan perabotan-perabot yang ada. Sebuah rak dapat difungsikan sebagai alat untuk membatasi ruangan, tempat menyimpan barang-barang atau alat untuk sandiwara boneka dan piano yang ada di kelas juga dapat digunakan sebagai alat untuk berbagai runagan dan dapat difungsiikan untuk papab bulletin. Ketika pertemuan seslasi, rak tersebut bisa diputar kembali sehingga ruang dapat dipergunakan untuk menelusuri minat anak dengan berbagai kegiatan. 4. Membagi Ruangan ruangan yang terlalu besar sangat perlu untuk dibagi. Satu bagian bisa dimanfaatkan untuk kegiatan yang menggunakan alat permainan yang berukuran besar, tapi penggunaannya tidak mungkin dilakukan di luar ruangan. Selanjutnya jarak peralatan yang ada bisa diatur untuk menjaga ketenangan ruang tersebut. Jika,

43

kita dihadapkan dengan sebuah ruangan yang sangat besar untuk dijadikan sebuah kelas, tentu kita akan membagi ruangan tersebut dimana sebagiannya akan dijadikan untuk ruangan kelas. Oleh karena itu, guru tidak perlu risau dengan ketidakcukupan ruang kelas. Sebab ruang yang tersedia dapat dimanfaatkan secara kreatif dan fleksibel sehingga proses pembelajaran yang dilakukan tetap berorientasi pada perkembangan anak.

44