P. 1
LAPORAN KINERJA KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2010

LAPORAN KINERJA KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2010

|Views: 158|Likes:
Dipublikasikan oleh Oswar Mungkasa

merupakan bagian dari upaya memenuhi prinsip kepemerintahan yang baik dan Undang Undang Keterbukaan Informasi Publik.

merupakan bagian dari upaya memenuhi prinsip kepemerintahan yang baik dan Undang Undang Keterbukaan Informasi Publik.

More info:

Published by: Oswar Mungkasa on Aug 04, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/17/2013

pdf

text

original

Sections

KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

KATA PENGANTAR

P

uji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Taufiq serta Hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Kinerja Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010. Laporan ini kami susun sebagai salah satu wujud akuntabilitas dan transparansi penyelenggaraan pemerintahan bidang perumahan rakyat. Laporan Kinerja Kementerian Perumahan Rakyat ini menyajikan Kinerja Kementerian Perumahan Rakyat atas pelaksanaan tugas membantu Presiden Republik Indonesia dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang perumahan rakyat sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian RI dan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara RI. Dalam laporan ini kami menyampaikan secara lengkap kinerja pencapaian Rencana Strategis Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010–2014 yang mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2010–2014 bidang perumahan. Kami menyadari bahwa pencapaian Kinerja Kementerian Perumahan Rakyat ini merupakan hasil kerja dan upaya bersama seluruh pemangku kepentingan pembangunan bidang perumahan. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan bagi kita sekalian, agar dapat memberikan sumbangsih terbaik bagi terwujudnya Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera. Amin. Jakarta, Maret 2011 Menteri Negara Perumahan Rakyat

Suharso Monoarfa

iii

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................... iii DAFTAR ISI.............................................................................................................. iv DAFTAR TABEL........................................................................................................ v DAFTAR GAMBAR................................................................................................... vi DAFTAR ISTILAH..................................................................................................... vii BAB I PENDAHULUAN............................................................................................. 1.1 Pentingnya Perumahan sebagai Hak Asasi Manusia................................. 1.2 Komitmen Global...................................................................................... 1.3 Tantangan yang Dihadapi.......................................................................... 1.4 Pengemban Amanat Konstitusi................................................................. 1 2 3 3 4

BAB II RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT 2010-2014...... 7 2.1 Acuan Rencana Strategis Kementerian Perumahan Rakyat....................... 7 2.2 Visi dan Misi Renstra Kemenpera 2010-2014........................................... 12 2.3 Arah Kebijakan dan Sasaran...................................................................... 12 2.4 Program dan Kegiatan.............................................................................. 15 BAB III KINERJA KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2010..................... 17 3.1 Pencapaian Anggaran............................................................................... 17 3.2 Pencapaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014................................................................................................ 22 3.3 Pencapaian Kontrak Kinerja Menteri Negara Perumahan Rakyat............ 22 3.4 Pencapaian Misi Rencana Strategis Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010-2014..................................................................................... 23 3.5 Rekapitulasi Kinerja Kemeterian Perumahan Rakyat pada Tahun 2010.............................................................................................. 49 BAB IV PENCAPAIAN LAINNYA ............................................................................... 51 4.1 Peran di Tingkat Regional......................................................................... 51 4.2 Pemasyarakatan Isu Perumahan.............................................................. 53 4.3 Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).................................. 54 4.4 Akuntabilitas dan Keterbukaan Publik...................................................... 57 BAB V PENUTUP..................................................................................................... 63 LAMPIRAN

iv

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

DAFTAR TABEL
Tabel II.1 Tabel II.2 Tabel II.3 Tabel III.1 Prioritas Nasional dalam RPJMN 2010-2014 (Buku I)....................... 9 Prioritas Bidang dalam RPJMN 2010-2014 (Buku I)......................... 10 Kontrak Kinerja Menteri Perumahan Rakyat 2010-2014................. 11 Target dan Anggaran Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010-2014 (Sesuai RPJM dan Renstra Kemenpera 2010-2014)...................................................................................... 18 Anggaran Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010................. 19 Kinerja Anggaran Pembangunan Perumahan Rakyat Tahun 2010...................................................................................... 21 Proporsi Penyerapan Bagian Anggaran 091 dan 999 terhadap Pagu (%)........................................................................... 22 Daftar Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Tahun 2010 ..................................................................................... 26 Peringkat SAKIP Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2006-2007............................................................................ 27 Opini Laporan Keuangan Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2006-2007............................................................................ 27 Lokasi Pembangunan Rusunawa Tahun Anggaran 2010................. 29 Rekapitulasi Pemberian Bantuan Stimulan Pembangunan Baru Tahun Anggaran 2010...................................................................... 32 Rekapitulasi Pemberian Bantuan Stimulan Peningkatan Kualitas Tahun Anggaran 2010...................................................................... 35 Daftar Lokasi Pembangunan PSU Rsh/Rusunawa Tahun Anggaran 2010...................................................................... 36 Rekapitulasi Pemberian Bantuan Stimulan PSU Tahun Anggaran 2010..................................................................... 38 Rekapitulasi Sertifikasi Hak Atas Tanah Bagi MBR Tahun 2010....... 41 Realisasi Daftar Hunian Rumah Khusus dan Rumah Sosial Tahun Anggaran 2010...................................................................... 42 Realisasi Penerbitan Subsidi Perumahan TA 2010........................... 44 Penerima Penghargaan Adiupaya Puritama Bidang Penyelenggaraan Perumahan Dan Permukiman Tahun 2010......... 48 Rekapitulasi Kinerja Kemenpera pada Tahun 2010......................... 49 Perbandingan antara Skim Subsidi Pola Lama dengan Skim Fasilitas Likuiditas................................................................... 56

Tabel III.2 Tabel III.3 Tabel III.4 Tabel III.5 Tabel III.6 Tabel III.7 Tabel III.8 Tabel III.9 Tabel III.10 Tabel III.11 Tabel III.12 Tabel III.13 Tabel III.14 Tabel III.15 Tabel III.16 Tabel III.17 Tabel IV.1

v

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Struktur Organisasi Kementerian Perumahan Rakyat.................... 5 Gambar 3.1 BA 091 dan BA 999 Menurut RPJMN 2010-2014 (Milyar)............ 17 Gambar 3.2 Proporsi Alokasi Anggaran Program BA 091 Menurut RPJMN 2010-2014 (Milyar)............................................ 20 Gambar 3.3 Lokasi Pembangunan Rusunawa Tahun Anggaran 2010............... 30 Gambar 3.4 Alur Pelaksanaan Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera 2010......... 46

vi

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

DAFTAR ISTILAH
APBD APBN APMCHUD : Anggaran Pendapatan Belanja Daerah : Anggaran Pendapatan Belanja Negara : Asia Pacific Ministerial Conference on Housing and Urban Development BA : Bagian Anggaran Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bappertarum : Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil Bimtek : Bimbingan Teknis BLM : Badan Layanan Masyarakat BLUD : Badan Layanan Umum Daerah BMN : Barang Milik Negara BPA : Biro Perencanaan dan Anggaran BP-FLPP : Bantuan Pembiayaan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan BPN : Badan Pertanahan Nasional BPRS : Badan Pengelola Rumah Susun BSP2S : Bantuan Stimulan Pembangunan Perumahan Swadaya BTN : Bank Tabungan Negara BUMD : Badan Usaha Milik Daerah BUMN : Badan Usaha Milik Negara CA : Certificate Authority CALK : Catatan Atas Laporan Keuangan CAP : Community Action Planning CPM : Calon Penerima Manfaat CSR : Corporate Social Responsibility DAK : Dana Alokasi Khusus DED : Detail Engineering Design DIPA : Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran DPR : Dewan Perwakilan Rakyat FGD : Focussed Group Discussion FLPP : Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan G2C : Government to Citizen G2B : Government to Business G2G : Government to Government ha : hektar HAM : Hak Asasi Manusia Hapernas : Hari Perumahan Nasional

vii

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010 ITS : Jamsostek : K/L : Kab : Kemenkeu : Kemen PAN-RB: Kemenpera KPR KTP LAKIP LAN LKM LKNB LKPP LPSE MBM MBR MCK MDGs Monev OSS PB PBB Permenpera PJU PKP PLP2K-BK PNS PP PPRS Pokja Pokmas PPK PPN PSU Renstra RLH : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Institut Teknologi 10 Nopember Jaminan Sosial Tenaga Kerja Kementerian/Lembaga Kabupaten Kementerian Keuangan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Kementerian Perumahan Rakyat Kredit Pemilikan Rumah Kartu Tanda Penduduk Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Local Area Network Lembaga Keswadayaan Masyarakat Lembaga Keuangan Non Bank Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Lembaga Pengadaan Secara Elektronik Masyarakat Berpendapatan Menengah Masyarakat Berpendapatan Rendah Mandi Cuci Kakus Milennium Development Goals Monitoring dan Evaluasi Open Source Software Pembangunan Baru Perserikatan Bangsa Bangsa Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Penerangan Jalan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman atau Peningkatan Kualitas Permukiman Penanganan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis Kawasan Pegawai Negeri Sipil Peraturan Pemerintah Perhimpunan Penghuni Rumah Susun Kelompok Kerja Kelompok Masyarakat Pejabat Pembuat Komitmen Pajak Pertambahan Nilai Prasarana, Sarana, dan Utilitas Rencana Strategis Rumah Layak Huni

viii

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010 RPJMN RPJPN Rsh RTLH Rusun Rusunami Rusunawa RUU SAI SAKIP SAKPA Sarusuna Sarusunami SDM SIMAK SIUP SKPD SPSE TA TB TDP Tupoksi UKP4 UN Univ UU UUD WTP YKPP : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rumah Sederhana Sehat Rumah Tidak Layak Huni Rumah Susun Rumah Susun Sederhana Milik Rumah Susun Sederhana Sewa Rancangan Undang-Undang Sistem Akuntansi Instansi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Sistem Akuntansi Keuangan Pengguna Anggaran Satuan Rumah Susun Sederhana Satuan Rumah Susun Sederhana Milik Sumber Daya Manusia Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Surat Izin Usaha Perdagangan Satuan Kerja Perangkat Daerah Sistem Penyedia Barang/Jasa Secara Elektronik Tahun Anggaran Twin Block Tanda Daftar Perusahaan Tugas Pokok dan Fungsi Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan United Nation Universitas Undang Undang Undang Undang Dasar Wajar Tanpa Pengecualian Yayasan Kesejahteraan Pendidikan dan Perumahan

ix

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

SUMBER FOTO: ISTIMEWA

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

BAB I PENDAHULUAN

“memang tjita-tjita itoe (perumahan rakyat) tidak akan tertjapai dalam setahoen doea tahoen, tidak akan terselenggara semoeanja dalam 10 ataoe 20 tahoen. Tetapi dalam 40 tahoen ataoe setengah abad pasti dapat ditjapai, apabila kita bersoenggoeh-soenggoeh maoe dan beroesaha dengan penoeh kepertjajaan. Djangan hendaknja ada orang jang berkata “moestahil” terpengaroeh oleh keadaan jang dihadapinja sekarang. Lima belas tahoen dahoeloe djoega rata-rata orang mengira dalam hatinja, moestahil kita akan merdeka. Tetapi sekarang! Sekarang kita telah merdeka dan berdaoelat. Apa jang kiranja moestahil dahoeloe itoe, sekarang soedah mendjadi kenjataan. Sebab itoe, tidak ada moestahil, apabila kita maoe mengamalkan dan mengerdjakan soenggoeh-soenggoeh”. (Wakil Presiden R.I. I Moh. Hatta – Kongres Perumahan Rakjat Sehat 25-30 Agustus 1950)

1

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010 1.1 Pentingnya Perumahan sebagai Hak Asasi Manusia
Hunian yang layak merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan bagian dari hak asasi manusia (HAM) yang pemenuhannya diamanatkan dalam Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pasal 40 yang menyebutkan bahwa “Setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak”. Hal ini sejalan dengan Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28H ayat 1 yang menyebutkan bahwa “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Selain itu, dalam Undang-Undang Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) yang disahkan DPR pada tanggal 17 Desember 2010 sebagai revisi dari undangundang sebelumnya yaitu Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman disebutkan bahwa setiap orang berhak menempati, menikmati, dan/atau memiliki rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur. Selain UU PKP, terdapat juga Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Ecosoc Pasal 11 yang menyebutkan bahwa negara pihak pada kovenan ini mengakui hak setiap orang atas standar kehidupan yang layak baginya dan keluarganya, termasuk pangan, sandang dan perumahan, dan atas perbaikan kondisi hidup terus menerus. Berbagai peraturan perundang-undangan seperti telah disebut di atas menegaskan pentingnya perumahan. Pembangunan perumahan sudah seharusnya mendapat perhatian sepenuhnya dengan mempertimbangkan bahwa perumahan merupakan hak asasi manusia. Pembangunan perumahan dan permukiman pada hakikatnya ditujukan untuk mendukung upaya peningkatan kualitas keluarga yang diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam pembangunan komunitas dan memperkokoh kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai konsekuensi logis, pemerintah wajib menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukan perumahan dengan menciptakan iklim yang kondusif bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) secara berkelanjutan. Tujuan ini selaras dengan amanat pembukaan UUD 1945 dan telah ditetapkan sebagai bagian dari sasaran pembangunan nasional sebagaimana tercantum dalam visi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 (Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025).

2

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010 1.2 Komitmen Global
Sebagai hak dasar yang fundamental dan sekaligus menjadi prasyarat bagi setiap orang untuk bertahan hidup dan menikmati kehidupan yang bermartabat, damai, aman, dan nyaman maka penyediaan perumahan dan permukiman yang memenuhi prinsip-prinsip layak dan terjangkau bagi semua orang juga menjadi komitmen global sebagaimana dituangkan dalam Agenda Habitat (The Habitat Agenda, Istanbul Declaration on Human Settlements) dan Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals/MDGs). Dalam Agenda Habitat yang disepakati negara-negara di dunia pada tahun 1996 di Istanbul, Turki, terdapat 2 pesan utama yaitu Adequate Shelter for All (Hunian yang Layak bagi Semua) dan Sustainable Human Settlements Development in an Urbanizing World (Permukiman yang Berkelanjutan di Dunia yang Makin Mengota). Indonesia pun turut aktif dalam mengangkat isu ini antara lain melalui peringatan Hari Habitat Dunia setiap tahunnya. Selain itu, Indonesia juga berperan aktif di tingkat internasional antara lain melalui peran serta dalam Governing Council United Nation (UN) Habitat yang diselenggarakan setiap 2 tahun sekali. Indonesia juga berpartisispasi dalam APMCHUD (Asia Pacific Ministerial Conference on Housing and Urban Development) sejak tahun 2006 hingga akhirnya menjadi tuan rumah APMCHUD yang ketiga pada 2010 di Solo. Dalam pertemuan tersebut, Menteri Negara Perumahan Rakyat terpilih mewakili Pemerintah Indonesia menjadi ketua biro APMCHUD 3, yang menjadikan Indonesia memiliki posisi yang lebih strategis dalam bidang perkotaan dan permukiman di kancah internasional. Selain Agenda Habitat, dalam Millenium Development Goals yaitu pada Tujuan 7 Target 11 disebutkan tentang meningkatkan secara signifikan kehidupan masyarakat yang hidup di permukiman kumuh. Dalam MDGs ditargetkan bahwa pada 2020, perlu ada peningkatan kondisi bagi 100 juta jiwa penduduk dunia yang tinggal di permukiman kumuh. Untuk itu, pemerintah bertanggung jawab untuk membantu masyarakat agar dapat bertempat tinggal serta melindungi dan meningkatkan kualitas permukiman dan lingkungannya.

1.3 Tantangan yang Dihadapi
Berdasar data tahun 2009, di Indonesia terdapat ‘backlog’ (kekurangan) perumahan yang mencapai jumlah sekitar 7,4 juta rumah. Jumlah backlog ini meningkat dari sebelumnya yaitu sejumlah 5,8 juta unit pada tahun 2004. Selain itu, masih terdapat sekitar 4,8 juta unit rumah yang diperkirakan dalam kondisi rusak dan permukiman kumuh yang semakin meluas diperkirakan telah mencapai 57.800 ha. Di lain pihak, proporsi jumlah rumah tangga yang belum mempunyai bukti hukum berupa sertifikat dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), girik, maupun akta jual beli masih mencapai 22,06% (2007). Secara garis besar, kondisi tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga permasalahan pokok, yaitu: (i) keterbatasan penyediaan rumah; (ii) meningkatnya

3

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
jumlah rumah tangga yang menempati rumah yang tidak layak huni dan tidak didukung oleh prasarana, dan sarana lingkungan dan utilitas umum yang memadai; serta (iii) permukiman kumuh yang semakin meluas. Beragam faktor yang menjadi penyebab permasalahan tersebut, yaitu: (i) Regulasi dan kebijakan yang belum sepenuhnya mendukung terciptanya iklim yang kondusif dalam pembangunan perumahan dan permukiman; (ii) Keterbatasan akses masyarakat berpenghasilan menengah-bawah terhadap lahan; (iii) Lemahnya kepastian bermukim (secure tenure); (iv) Belum tersedia dana murah jangka panjang untuk meningkatkan akses dan daya beli masyarakat berpenghasilan menengah-bawah; (v) Belum efisiennya pasar primer dan belum berkembangnya pasar sekunder perumahan; (vi) Belum mantapnya kelembagaan penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman; dan (vii) Belum optimalnya pemanfaatan sumber daya perumahan dan permukiman.

1.4 Pengemban Amanat Konstitusi
Sebagai pengemban amanat konstitusi dan untuk menghadapi tantangan perumahan dan permukiman, Kementerian Perumahan Rakyat berdiri di garis depan dalam penanganan perumahan dan permukiman. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu II, Kementerian Perumahan Rakyat mempunyai tugas dan fungsi sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Republik Indonesia. Berdasarkan peraturan diatas, Kementerian Perumahan Rakyat mempunyai tugas membantu Presiden Republik Indonesia dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang perumahan rakyat dengan fungsi: 1. Perumusan kebijakan nasional di bidang perumahan rakyat, 2. Koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang perumahan rakyat, 3. Pengelolaan barang/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Perumahan Rakyat, 4. Pengawasan atas pelaksanaan tugas Kementerian Negara Perumahan Rakyat; penyampaian laporan hasil evaluasi, saran, dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsi Kementarian Negara Perumahan Rakyat kepada Presiden. Untuk itu, dalam rangka menyelenggarakan tugas dan fungsinya, sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Unit Organisasi dan Tugas Kementerian Republik Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat dibantu oleh: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sekretariat Kementerian Deputi Bidang Pembiayaan Deputi Bidang Pengembangan Kawasan Deputi Bidang Perumahan Swadaya Deputi Bidang Perumahan Formal; Kelompok Staf Ahli:

4

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
a. Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan b. Staf Ahli Bidang Kemitraan dan Hubungan Antar Lembaga c. Staf Ahli Bidang Peran Serta Masyarakat dan Pemberdayaan d. Staf Ahli Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan Industri e. Staf Ahli Bidang Tata Ruang, Pertanahan, dan Permukiman 7. Inspektorat 8. Pusat Pengembangan Perumahan 9. Pusat Pembiayaan Perumahan Dengan demikian, Kementerian Perumahan Rakyat diharapkan dapat menjalankan peran perumusan kebijakan dan koordinasi di bidang perumahan rakyat yang menjadi tanggung jawabnya. Sebagai bentuk dari pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan Kementerian Perumahan Rakyat pada tahun 2010 kepada publik, maka disusunlah Laporan Kinerja Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010. Laporan ini terdiri dari lima bagian yaitu: (i) Bab I Pendahuluan; (ii) Bab II Rencana Strategis Kementerian Perumahan Rakyat 2010-2014; (iii) Bab III Kinerja Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010; (iv) Bab IV Pencapaian Lainnya; dan (v) Bab V Penutup.

Gambar 1.1 Struktur Organisasi

5

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

SUMBER FOTO: ISTIMEWA

6

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

1 2

BAB II RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT 2010 - 2014

2.1 Acuan Rencana Strategis Kementerian Perumahan Rakyat Untuk mendukung peran Kementerian Perumahan Rakyat dalam menjalankan amanahnya, telah disusun Rencana Strategis Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010-2014. Rencana Strategis (Renstra) ini disusun untuk menjadi patokan serta memberikan arah dan sasaran yang jelas serta tolok ukur kinerja dalam pelaksanaan pembangunan perumahan rakyat. Renstra tersebut juga telah disahkan melalui Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor: 02/ PERMEN/M/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010-2014. Dokumen tersebut meliputi uraian tentang Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Strategis serta Arah Kebijakan dan Strategi. Rencana Strategis Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010-2014 tersebut merupakan turunan dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 yang mencantumkan bahwa “daya saing perekonomian meningkat melalui ...; percepatan pembangunan infrastruktur dengan lebih meningkatkan kerja sama antara pemerintah dan dunia usaha...; serta pengembangan sumber daya air dan pengembangan perumahan dan permukiman”. Sebagai landasan arah pembangunan perumahan dan permukiman secara jangka panjang, RPJPN mengamanatkan tiga pokok utama yaitu: a) penyelenggaraan pembangunan perumahan yang berkelanjutan, memadai, layak, dan terjangkau oleh daya beli masyarakat serta didukung oleh prasarana dan sarana permukiman yang mencukupi dan berkualitas yang dikelola secara profesional, kredibel, mandiri, dan efisien; b) penyelenggaraan pembangunan perumahan beserta prasarana dan sarana pendukungnya yang mandiri mampu membangkitkan potensi pembiayaan yang berasal dari masyarakat dan pasar modal, menciptakan lapangan kerja,

7

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
serta meningkatkan pemerataan dan penyebaran pembangunan; dan a) pembangunan perumahan beserta prasarana dan sarana pendukungnya yang memperhatikan fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup. Amanat ini kemudian diturunkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 yang terdiri dari target-target pembangunan fisik dan non fisik. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010–2014 tersebut mengamanatkan Kementerian Perumahan Rakyat untuk ikut memastikan kegiatan dan program yang termasuk dalam prioritas Bidang Sarana dan Prasarana, sub bidang Perumahan dan Permukiman. Prioritas Nasional untuk sektor Perumahan Rakyat tersebut adalah memastikan pembangunan 685.000 Rumah Sederhana Sehat Bersubsidi, 180 Tower Rusunami dan 650 twin block Rusunawa berikut fasilitas pendukung kawasan permukiman yang dapat menampung 836.000 keluarga yang kurang mampu pada 2012. Amanat tersebut ditugaskan kepada Kementerian Perumahan Rakyat bersama-sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum. Rincian detail dari penjabaran amanat RPJMN yang dikhususkan untuk Kementerian Perumahan Rakyat dapat dilihat pada Tabel II.I dan Tabel II.2. Sasaran umum yang akan dicapai dalam pembangunan perumahan dan permukiman tersebut adalah meningkatnya akses bagi rumah tangga terhadap rumah dan lingkungan permukiman yang layak, aman, terjangkau, dan didukung oleh prasarana dan sarana dasar serta utilitas yang memadai, serta memiliki jaminan kepastian hukum dalam bermukim (secure tenure) untuk mendukung pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs). Sasaran lain yang ingin dicapai adalah meningkatnya kualitas perencanaan dan penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman di tingkat pusat dan daerah. Sedangkan, sasaran khusus untuk sektor perumahan adalah tersedianya akses bagi masyarakat terhadap perumahan baik perumahan baru maupun peningkatan kualitas perumahan dan lingkungan permukiman serta kepastian hukum bagi 5,6 juta rumah tangga. Kemudian dalam Kontrak Kinerja Menteri Perumahan Rakyat dengan Presiden terdapat target Program 100 hari dan program di luar 100 hari yaitu program 2010-2014. (lihat tabel II.3)

8

Tabel II.1 Prioritas Nasional dalam RPJMN 2010-2014 (Buku I)
Indikator 2010 2011 2012 2013 Target Indikasi Pagu 2014 (Rp Miliar) K/L

NO

Substansi Inti/ Kegiatan Prioritas

Sasaran

4. PERUMAHAN RAKYAT: Pembangunan 685.000 Rumah Sederhana Sehat Bersubsidi, 180 Rusunami dan 650 twin block berikut fasilitas pendukung kawasan permukiman yang dapat menampung 836.000 keluarga yang kurang mampu pada 2012 Jumlah rusunawa terbangun 100 100 180 0 0 4.560,0 Kemenpera

1

2

117.010 145.000 161.616 186.000 4.375,00 Kemenpera 250.000 290.000 290.000 310.000 20.700,00 Kemenpera 50.000 75.000 65.000 85.000 30.000 90.000 25.000 100.000 923,51 Kemenpera 2.145,00 Kemenpera 625,00 Kemenpera
SUMBER : RPJMN 2010-2014 (BUKU I) BIDANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

3

4

5

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

6

Pembangunan rumah susun 380 twin block sederhana sewa Fasilitasi pembangunan prasarana, sarana, dan utilitas kawasanperumahan 700.000 unit dan permukiman Bantuan subsidi perumahan 1.350.000 unit Tahun 2010-2014 Pembayaran Tunggakan 187.006 unit Subsidi Tahun 2008-2009 Fasilitasi dan stimulasi pembangunan baru 200.000 unit perumahan swadaya Fasilitasi dan stimulasi peningkatan kualitas 400.000 unit perumahan swadaya Jumlah fasilitasi dan stimulasi prasarana, sarana, dan 90.374 utilitas kawasan perumahan dan permukiman Jumlah bantuan subsidi 210.000 perumahan Jumlah bantuan subsidi 187.006 perumahan Jumlah fasilitasi dan stimulasi pembangunan baru 30.000 perumahan swadaya Jumlah fasilitasi dan stimulasi peningkatan kualitas 50.000 perumahan swadaya

9

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Tabel II.2 Prioritas Bidang dalam RPJMN 2010-2014 (Buku I)
No. I PROGRAM/KEGIATAN PRIORITAS SASARAN (Outcomes/ Output yang diharapkan) INDIKATOR TARGET 2010 PAGU 2010-2014 2010-2014 (Rp Miliar) 1.171,4 12.111,1 380 twin block 50.000 unit Jumlah rusunawa terbangun Jumlah fasilitasi dan stimulasi pembangunan baru perumahan swadaya Jumlah fasilitasi dan stimulasi peningkatan kualitas perumahan swadaya Jumlah fasilitasi dan stimulasi prasarana, sarana dan utilitas perumahan swadaya Jumlah fasilitasi dan stimulasi prasarana, sarana dan utilitas perumahan swadaya Jumlah permukiman kumuh yang terfasilitasi Jumlah unit lahan dan bangunan rumah yang terfasilitasi pra-sertifikasi dan pendampingan pasca sertifikasi Jumlah rumah khusus terbangun Jumlah revisi peraturan perundangan 100 7.500 380 50.000 4.560,0 536,3

PROGRAM DUKUNGAN DAN MANAJEMEN TUGAS TEKNIS LAINNYA II PROGRAM PENGEMBANGAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN 1 Pembangunan rumah susun sederhana sewa 2 Fasilitasi dan stimulasi pembangunan perumahan swadaya 3 Fasilitasi dan stimulasi peningkatan kualitas perumahan swadaya 4 Fasilitasi pembangunan PSU kawasan perumahan dan permukiman 5 Fasilitasi pembangunan PSU perumahan swadaya 6 Fasilitasi dan Stimulasi Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh 7 Fasilitasi pra-sertifikasi dan pendampingan pascasertifikasi

50.000 unit

7.500

50.000

286,3

700.000 unit

90.374

700.000

4.375,0

50.000 unit

7.500

50.000

236,3

655 Ha 30.000 unit

50 -

655 30.000

1.043,0 12,0

8 Fasilitasi pembangunan 5.000 unit rumah khusus 9 Pengembangan Kebijakan 20 peraturan dan Koordinasi Pelaksanaan perundangan Kebijakan Perumahan dan Permukiman III PROGRAM PENGEMBANGAN PEMBIAYAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN 1 Pengembangan Kebijakan 10 peraturan Jumlah revisi peraturan dan Koordinasi Pelaksanaan perundangan perundangan Kebijakan Pembiayaan Perumahan dan Permukiman TOTAL ALOKASI KEMENPERA 2010-2014

250 4

5.000 20

259,7 802,6

412,0 2 10 412,0

13.694,5

SUMBER : RPJMN 2010-2014 (BUKU II) BIDANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

10

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Tabel II.3 Kontrak Kinerja Menteri Perumahan Rakyat 2010-2014 NO
A. Memastikan tersusunnya Rencana Strategis Kementerian Negara Perumahan Rakyat Tahun 2010-2014 Menyusun usulan Renstra Kemenpera Tahun 2010-2014 yang terdiri dari: visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program, kegiatan pokok, indikator kinerja per Eselon II Menyempurnakan Renstra Kemenpera Tahun 2010-2014 B. Memastikan tercapai-nya target capaian program 100 hari Meningkatkan tingkat hunian rusunawa yang sudah/sedang dibangun dari sekitar 40% menjadi 80% dalam 100 hari dan melakukan kaji ulang menyeluruh atas kebijakan pembangunan dan penghunian rusunawa dan rusunami. Memastikan tercapainya prioritas nasional yang mencakup namun tidak terbatas pada Memastikan pembangunan 685.000 unit RSH Bersubsidi, 180 Tower Rusunami dan 650 TB Rusunawa berikut fasilitas pendukung kawasan permukiman yang dapat menampung 836.000 keluarga pada tahun 2012. Melaksanakan reformasi bidang pelayanan umum Mengkaji ulang dan mengusulkan perbaikan kebijakan, peraturan, dan proses pelaksanaan seluruh kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan umum yang diberikan Kementeriannya secara tuntas sebelum Juni 2010 serta memastikan efektifitas implementasi perbaikan peraturan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan oleh pejabat yang ditunjuk Presiden untuk memimpin reformasi pelayanan umum. Melaksanakan perbaikan peraturan yang mendukung investasi Mengkaji dan mengusulkan perbaikan peraturan-peraturan yang menghambat atau berpotensi menghambat investasi dengan sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas perbaikan peraturan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan.

PROGRAM

WAKTU
Paling lambat tanggal 20 November 2009 Paling lambat tanggal 31 Desember 2009 Paling lambat Januari 2010

C.

Paling lambat Oktober 2014

D.

Paling lambat Juni 2010

E.

Paling lambat Juni 2010

SUMBER: KONTRAK KINERJA MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT DENGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

11

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
2.2 Visi dan Misi Renstra Kemenpera 2010-2014

Renstra Kemenpera 2010-2014 menyatakan visi pembangunan perumahan rakyat adalah ”Setiap Keluarga Indonesia Menempati Rumah yang Layak Huni”. Pencapaian visi tersebut memerlukan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan di bidang perumahan dan permukiman mengingat intensitas dan kompleksitas permasalahan yang harus ditangani. Kementerian Perumahan Rakyat sebagai salah satu pemangku kepentingan dalam pencapaian visi tersebut memiliki kewenangan sebagai regulator, fasilitator maupun pelaksana pembangunan perumahan sehingga kebutuhan rumah yang layak huni bagi setiap keluarga Indonesia dapat terpenuhi. Visi Kementerian Perumahan Rakyat ini akan dapat dicapai melalui serangkaian misi yaitu: (i) (ii) (iii) (iv) (v) 2.3 meningkatkan iklim yang kondusif dan koordinasi pelaksanaan kebijakan pembangunan; meningkatkan ketersediaan rumah layak huni yang didukung oleh prasarana, sarana dan utilitas (PSU) mengembangkan sistem pembiayaan perumahan jangka panjang meningkatkan pendayagunaan sumber daya perumahan dan permukiman meningkatkan peran pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya. Arah Kebijakan dan Sasaran

Dalam rangka melaksanakan penugasan dari RPJM Nasional, maka disusun arah kebijakan Kementerian Perumahan Rakyat sebagai berikut: 1. Pengembangan regulasi dan kebijakan untuk menciptakan iklim yang kondusif, serta koordinasi pelaksanaan kebijakan di tingkat Pusat dan Daerah dalam rangka pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Perumahan dan Permukiman. 2. Peningkatan pemenuhan kebutuhan Rumah Layak Huni (RLH) yang didukung dengan prasarana, sarana dan utilitas (PSU) serta kepastian bermukim bagi masyarakat berpenghasilan menengah-bawah, melalui: a. Pembangunan rumah layak huni (RLH) melalui pasar formal maupun secara swadaya masyarakat baik untuk pembangunan baru maupun peningkatan kualitas; b. Pembangunan rumah susun sederhana (rusuna) baik sewa maupun milik; c. Penyediaan PSU perumahan dan permukiman yang memadai untuk pengembangan kawasan dan PSU perumahan swadaya; d. Penanganan lingkungan perumahan dan permukiman kumuh; e. Pembangunan rumah khusus, termasuk rumah sederhana sewa dan pasca bencana;

12

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Pengembangan kawasan khusus, termasuk kawasan perbatasan, daerah tertinggal dan pasca bencana; g. Fasilitasi pra sertifikasi dan pendampingan pasca sertifikasi tanah bagi MBR. 3. Pengembangan sistem pembiayaan perumahan dan permukiman bagi MBM melalui: a. Pengembangan pembiayaan perumahan melalui fasilitas likuiditas; b. Pengembangan Tabungan Perumahan Nasional; c. Peningkatan pemanfaatan sumber-sumber pembiayaan untuk pembangunan perumahan dan permukiman. 4. Peningkatan pendayagunaan sumberdaya pembangunan perumahan dan permukiman serta pengembangan dan pemanfaatan hasil-hasil penelitian dan pengembangan teknologi maupun sumber daya dan kearifan lokal. 5. Peningkatan sinergi pusat-daerah dan pemberdayaan pemangku kepentingan lainnya dalam pembangunan perumahan dan permukiman. Dalam mewujudkan visi dan misi Kementerian Perumahan Rakyat, sepanjang 2010-2014 terdapat sasaran-sasaran yang telah ditetapkan antara lain: 1. Meningkatnya pengembangan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan pembangunan perumahan dan permukiman, khususnya: (i) Revisi UU Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman, (ii) Revisi UU Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun, (iii) Revisi PP Nomor 80 Tahun 1999 tentang KASIBA/LISIBA BS, (iv) Revisi PP Nomor 41 Tahun 1996 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian bagi Orang Asing yang Berkedudukan di Indonesia, (v) Revisi PP Nomor 31 Tahun 2007 tentang tentang Perubahan Keempat Atas PP Nomor 12 Tahun 2001 tentang Impor dan Atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu Yang Bersifat Strategis Yang Dibebaskan Dari Pengenaan PPN, (vi) Revisi PP Nomor 15 Tahun 2004 tentang Perum Perumnas, (vii) Penyiapan masukan formulasi kebijakan Hak Tanggungan dalam rangka sekuritisasi KPR terkait dengan UU Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah beserta Benda-benda yang Berkaitan dengan Tanah, (viii) Revisi Keppres Nomor 22 Tahun 2006 tentang Tim Koordinasi Percepatan Pembangunan Rumah Susun di Kawasan Perkotaan, (ix) Revisi Keppres Nomor 63 Tahun 2000 tentang Badan Kebijaksanaan dan Pengendalian Pembangunan Perumahan dan Permukiman Nasional (BKP4N), (x) Revisi Keppres Nomor 14 Tahun 1993 jo. Keppres Nomor 46 Tahun 1994 tentang Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil (Taperum PNS), serta (xi) Pengembangan NSPK dalam rangka penerapan SPM bidang Perumahan Rakyat. Terlaksana penataan dan pengelolaan lahan untuk pembangunan perumahan dan permukiman. Terlaksana fasilitasi PSU Kawasan perumahan dan permukiman sebanyak 700.000 unit. f.

2. 3.

13

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Terlaksana penataan lingkungan permukiman kumuh seluas 655 Ha dengan jumlah penduduk terfasilitasi sebanyak 130.000 jiwa. Terlaksana pembangunan rumah susun sederhana berupa rusunawa sebanyak 36.480 unit. Terlaksana pembangunan Rumah Khusus sebanyak 5.000 unit termasuk rumah sederhana sewa dan rumah pasca bencana. Terlaksana fasilitasi Pembangunan Rumah Swadaya berupa pembangunan baru sebanyak 50.000 unit. Terlaksana fasilitasi Pembangunan Rumah Swadaya berupa peningkatan kualitas sebanyak 50.000 unit. Terlaksana fasilitasi penyediaan PSU Perumahan Swadaya berupa bantuan stimulan PSU Swadaya sebanyak 50.000 unit. Terlaksana fasilitasi pra-sertifikasi dan pendampingan pasca-sertifikasi lahan dan bangunan rumah bagi MBR sebanyak 30.000 unit. Meningkatnya pemanfaatan sumber daya pembangunan perumahan dan permukiman serta pengembangan dan pemanfaatan hasil-hasil penelitian dan pengembangan teknologi maupun sumber daya dan kearifan lokal. Terlaksana penyaluran bantuan subsidi perumahan sebanyak 1.350.000 unit. Meningkatnya mobilisasi dan pemanfaatan sumber pembiayaan untuk mendukung pembangunan perumahan dan permukiman. Terselenggara fungsi pelayanan bidang perumahan dan permukiman di tingkat pusat dan daerah (33 Provinsi). Terlaksana Dana Alokasi Khusus (DAK) Perumahan dan Permukiman berupa fasilitasi PSU kawasan perumahan dan permukiman sebanyak 320.000 unit. Terlaksana kewajiban pelayanan publik (Public Service Obligation) bidang perumahan dan permukiman. Terselenggara tugas dan fungsi Kementerian Perumahan Rakyat secara efektif dan efisien.

12. 13. 14. 15.

16. 17.

14

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
2.4 Program dan Kegiatan

Untuk menjalankan kebijakan-kebijakan pembangunan perumahan serta mewujudkan sasaran-sasaran yang telah disusun di atas, Kementerian Perumahan Rakyat menyiapkan program-program sebagai berikut: A. Program Dukungan dan Manajemen Tugas Teknis Lainnya Merupakan program dari Sekretariat Kementerian Perumahan Rakyat yang terdiri dari beberapa kegiatan yaitu :
• • • • •

Dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya Perencanaan dan penganggaran pembangunan perumahan dan permukiman Peningkatan produk hukum, humas dan kepegawaian Pengawasan dan peningkatan akuntabilitas aparatur Kementerian Perumahan Rakyat Dukungan pengembangan kebijakan pembangunan perumahan dan permukiman

B. Program Pengembangan Perumahan dan Permukiman Merupakan program dari Deputi Bidang Pengembangan Kawasan, Deputi Bidang Perumahan Formal dan Deputi Bidang Perumahan Swadaya yang terdiri dari beberapa kegiatan yaitu :
• • • • • • •

Fasilitasi pembangunan Prasaran, Sarana, dan Utilitas (PSU) kawasan perumahan dan permukiman Fasilitasi dan stimulasi penataan lingkungan permukiman kumuh Pembangunan rumah susun sederhana sewa Fasilitasi dan stimulasi pembangunan baru perumahan swadaya Fasilitasi dan stimulasi peningkatan kualitas perumahan swadaya Fasilitasi pembangunan PSU perumahan swadaya Fasilitasi pra-sertifikasi dan pendampingan pasca-sertifikasi

C. Program Pengembangan Pembiayaan Perumahan dan Permukiman Merupakan program dari Deputi Bidang Pembiayaan yang terdiri dari beberapa kegiatan yaitu :
• • • • •

Perencanaan dan koordinasi pengembangan pembiayaan perumahan dan permukiman Pengembangan pola bantuan pembiayaan perumahan dan permukiman Pengembangan kerjasama pembiayaan perumahan dan permukiman Pengembangan dan penggalangan sumber-sumber pembiayaan perumahan Pengembangan investasi perumahan dan permukiman

15

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

SUMBER FOTO: ISTIMEWA

16

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

BAB III KINERJA KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2010
3.1 Pencapaian Anggaran Untuk mewujudkan visi Kementerian Perumahan Rakyat yaitu “Setiap keluarga Indonesia menempati rumah yang layak huni”, telah dialokasikan dana dalam RPJMN 2010-2014 sebesar Rp 13,69 triliun dan dana subsidi sebesar Rp 21,62 triliun. Dengan demikian total anggaran dalam RPJMN 2010-2014 untuk Kemenpera adalah sebesar Rp 35,318 trilyun. (lihat tabel III.1) Anggaran Kementerian Rakyat dialokasikan melalui Bagian Anggaran (BA) 091 dan Bagian Anggaran Subsidi Perumahan 999 (BA 62 dan 69 yang kemudian berubah menjadi BA 999 mulai Tahun Anggaran/TA 2008). Sejalan dengan komitmen Pemerintah, pagu definitif baik untuk BA 091 maupun BA 999 mengalami peningkatan dari tahun 2009. Pagu yang ada untuk tahun 2010 meningkat menjadi Rp 2.395 trilyun untuk BA 091 dan menjadi Rp 4.163,51 trilyun untuk BA 999. Sepanjang periode 2010-2014, BA 999 memiliki alokasi tahunan yang Gambar 3.1 lebih tinggi dibandingkan BA BA 091 dan BA 999 091. (lihat gambar 3.1) Menurut RPJMN 2010-2014 (Milyar)

17

18
RPJMN 2010-2014 TARGET 2011 127,61 2.185,73 100 12.500 12.500 117.010 12.500 100 7.500 750 4 4 4 4 20 160,52 82,40 2 2 2 2 2 10 82,40 2.395, 7 4.163,51 250.000 290.000 290.000 310.000 1.350.000 187.006 3.240,00 923,51 4.163,5 1.050 1.350 1.600 5.000 42,87 7.500 7.500 7.500 30.000 150 175 180 655 75,00 160,00 2,25 28,88 160,52 82,40 82,40 2.759,5 3.840,00 3.840,00 3.840,0 16.250 7.500 6.250 50.000 30,00 50,00 145.000 161.616 186.000 700.000 564,84 731,31 906,25 81,25 240,00 3,00 47,25 160,52 82,40 82,40 4.199,4 4.440,00 4.440,00 4.440,0 16.250 7.500 6.250 50.000 37,50 62,50 97,50 16.250 7.500 6.250 50.000 75,00 125,00 178,75 100 180 380 1.200,00 1.200,00 2.160,00 82,50 45,00 1.010,10 37,50 280,00 3,00 60,75 160,52 82,40 82,40 2.065,1 4.440,00 4.440,00 4.440,0 2.520,46 3.874,52 1.679,37 156,63 242,46 303,33 341,35 1.851,02 75,00 43,75 1.162,50 37,50 288,00 3,75 80,00 160,52 82,40 82,40 2.274,8 4.740,00 4.740,00 4.740,0 2012 2013 2014 TOTAL 2010 2011 ALOKASI ANGGARAN (Rp. Milyar) 2012 2013 2014 TOTAL 1.171,4 12.111,1 4.560,0 536,3 286,3 4.375,0 236,3 1.043,0 12,0 259,7 802,6 412,0 412,0 13.694,5 21.623,51 20.700,00 923,51 21.623,5
SUMBER: RPJMN 2010-2014 BIDANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DAN RENSTRA KEMENPERA 2010-2014

Tabel III.1 Target dan Anggaran Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010-2014 (Sesuai RPJM dan Renstra Kemenpera 2010-2014)

NO. PROGRAM/KEGIATAN PRIORITAS

SATUAN

2010

A

I

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

II

BA 091 PROGRAM DUKUNGAN DAN MANAJEMEN TUGAS TEKNIS DAN LAINNYA PROGRAM PENGEMBANGAN PERUMAHAN DAN PEMUKIMAN

1

Pembangunan rumah susu sederhana sewa

twin block

2

7.500

3

7.500

4

90.374

5 50 250 4

7.500

6

7

8

9

III

1

B III

1

Fasilitas dan stimulasi pembangunan unit Perumahan swadaya Fasilitas dan stimulasi peningkatan kualitas unit Perumahan swadaya Fasilitas pembangunan PSU kawasan unit perumahan dan pemukiman Fasilitasi pembangunan PSU perumahan unit swadaya Fasilitasi dan stimulasi Penataan Lingkungan unit Pemukiman kumuh Fasilitasi pra-sertifikasi dan pendampingan unit pasca sertifikasi Fasilitasi pembangunan rumah khusus unit Pengembangan kebijakan dan koordinasi Peraturan pelaksanaan kebijakan perumahan perundangan pemukiman PROGRAM PENGEMBANGAN PEMBIAYAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN Pengembangan kebijakan dan koordinasi Peraturan pelaksanaan kebijakan pembiayaan perundangan perumahan dan pemukiman TOTAL ALOKASI KEMENPERA 2010-1014 (BA 091) BA 999 PROGRAM PENGEMBANGAN PEMBIAYAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN Bantuan Subsidi Perumahan unit Masa Transisi TOTAL ALOKASI KEMENPERA 2010-1014 (BA 999)

210.000 187.006

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010 Tabel III.2 Anggaran Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010
No A I II 1 2 3 4 5 6 7 8 9 III 1 PROGRAM/KEGIATAN PRIORITAS BA 091 PROGRAM DUKUNGAN DAN MANAJEMEN TUGAS TEKNIS DAN LAINNYA PROGRAM PENGEMBANGAN PERUMAHAN DAN PEMUKIMAN Pembangunan rumah susu sederhana sewa Fasilitas dan stimulasi pembangunan Perumahan swadaya Fasilitas dan stimulasi peningkatan kualitas Perumahan swadaya Fasilitas pembangunan PSU kawasan perumahan dan pemukiman Fasilitasi pembangunan PSU perumahan swadaya Fasilitasi dan stimulasi Penataan Lingkungan Pemukiman kumuh Fasilitasi pra-sertifikasi dan pendampingan pasca sertifikasi Fasilitasi pembangunan rumah khusus Pengembangan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan perumahan dan pemukiman PROGRAM PENGEMBANGAN PEMBIAYAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN Pengembangan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan pembiayaan perumahan dan pemukiman TOTAL ALOKASI KEMENPERA 2010BA 999 PROGRAM PENGEMBANGAN PEMBIAYAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN Bantuan Subsidi Perumahan Pembayaran Tunggakan 1. SSB RSH 2. SSB Resunami 3. Masa Transisi 4. Wasdal Fasilitas Likuiditas ***) 4.163,51 4.163,51 TAHUN 2010 RPJMN 2010-1014 DIPA PAGU PAGU TARGET TARGET
(Rp. Milyar)

SATUAN

(Rp. Milyar)

127,61 2.185,73 TB Unit Unit Unit Unit Ha Unit Peraturan Perundangan 100 7.500 7.500 90.374 7.500 50 250 4 1.200,00 75 37,5 564,84 30 75 42,87 160,52 82,4 Peraturan Perundangan 2 82,4 2.395,74 2 49 2.000 10.000 10.374 10.000 50 1.000 4

174,51 750,14 248,28 20 100 64,84 40 75 0 39,31 162,71 39,88 39,88 964,53

B I 1 2

4.163,51 Unit Unit 210.000 187.006 3.240,00 923,51

3.099,05

90.000

416

3

67.219

2.683,05 3.099,05 4.063,58

TOTAL ALOKASI KEMENPERA 2010-1011 (BA 999) TOTAL ALOKASI KEMENPERA 2010-2011

SUMBER: DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA) TAHUN ANGGARAN 2010

Untuk tahun 2010 telah teralokasi dana sebesar Rp 964,518 miliar (BA 091) ditambah dengan dana subsidi sebesar Rp 3,099 triliun (BA 999). Alokasi tersebut berbeda dengan alokasi dalam RPJMN 2010-2014 dikarenakan keterbatasan anggaran pada tahun 2010. Sehingga, target pada tahun 2010 pada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) berbeda dengan target yang ditetapkan dalam RPJMN 2010-2014. (lihat tabel III.2)

19

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Pada BA 091 terdapat 3 program yaitu (i) Program Dukungan dan Manajemen Tugas Teknis Lainnya, (ii) Program Pengembangan Perumahan dan Permukiman, dan (iii) Program Pengembangan Pembiayaan Perumahan dan Permukiman. Program Pengembangan Perumahan dan Permukiman memiliki alokasi terbesar dalam BA 091 (Gambar III.2) yaitu sebesar 750,24 milyar rupiah (berdasarkan DIPA).

Gambar III.2 Proporsi Alokasi Anggaran Program BA 091 Menurut RPJMN 2010-2014 (Milyar) Program Pengembangan Perumahan dan Permukiman ini memiliki 9 kegiatan prioritas. Kegiatan prioritas pembangunan rumah susun sederhana sewa memiliki alokasi anggaran yang tertinggi. Pada tahun 2010 tersebut, ditargetkan agar terbangun 49 rusunawa dengan alokasi biaya sebesar 248,28 milyar rupiah. sesuai DIPA. Alokasi tertinggi berikutnya adalah untuk pembangunan PSU kawasan perumahan dan permukiman. Pada tahun 2010 ditargetkan terbangun 10.374 unit PSU kawasan dengan alokasi anggaran sebesar 64,84 milyar rupiah. Berbeda dengan pembangunan rusunawa, pada PSU kawasan targetnya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sementara itu, BA 999 merupakan Bagian Anggaran dengan DIPA yang terintegrasikan langsung pada Kementerian Keuangan. Namun dalam realisasnya ada 2 kelompok kegiatan yang dibiayai yaitu bantuan pembiayaan perumahan berupa subsidi dan bantuan pembiayaan perumahan berupa Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Timbulnya 2 skema tersebut karena pada semester II tahun 2010, terdapat reformasi kebijakan baru dari semula subsidi menjadi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sehingga alokasi anggarannya adalah Rp 416 Milyar untuk subsidi dan Rp 2.683,05 milyar untuk FLPP.

20

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Tabel III.3 Kinerja Anggaran Pembangunan Perumahan Rakyat Tahun 2010
Total No Unit Organisasi, Satuan Kerja, Kegiatan DIPA Penyerapan S/D 31-12-2010 % 91,34 97,19 94,49 93,50 96,13

(Rp. 000.000) (Rp. 000.000) A. 1 2 3 4 5 B 1 2 C 1 2 Penyusunan Kebijakan & NSPM Sekretariat Kemenpera Pembiayaan Perumahan Pengelolaan Kawasan Pemberdayaan Perumahan Swadaya Pengembangan Perumahan Formal Operasionalisasi Kebijakan Penyediaan Perumahan Reguler Pembiayaan Perumahan Operasionalisasi Pusat Jumlah Bagian Anggaran : 091 Belanja Subsidi Pembiayaan Masa Transisi Pembiayaan Fasilitas Likuiditas Jumlah Bagian Anggaran : 999 Jumlah Bagian Anggaran : 091+999
Catatan: Penyerapan per 31 Desember 2010

179.106 39.877 41.086 36.211 38.961

163.604 38.757 38.823 33.856 37.455

618.277 11.000 964.518 416.000 3.099.049 4.063.567

592.436 10.178 915.108 415.999 3.099.048 4.014.156

95,82 92,52 94,88 100,00 100,00 98,78

2.683.049 KEUANGAN, KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT 2.683.049 100,00 SUMBER: BAGIAN

SUMBER: BAGIAN KEUANGAN, KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT

Penggunaan alokasi subsidi adalah untuk membiayai: 1. Rekonsiliasi Pembayaran dari masyarakat berpenghasilan rendah yang sudah melakukan perjanjian kredit 2008 dan 2009. Untuk sisa yang belum dibayarkan akan dikonversi dalam pembayaran dengan FLPP 2. Tunggakan merupakan pembayaran terhadap mereka yang sudah melakukan perjanjian kredit tahun 2009 namun belum menerima penyaluran pembayaran pada tahun tersebut Dalam hal kemampuan penyerapan alokasi dana untuk tahun 2010, realisasinya terlihat menggembirakan. Realisasi dana BA 091 mencapai Rp 915,108 miliar atau 94,88 % dari pagu (Rp 964,518 miliar). Sementara itu, realisasi dana subsidi (BA 999) mencapai Rp 3,099 triliun atau 100% dari pagu. Dengan demikian realisasi total pada tahun 2010 adalah sebesar Rp 4.014,156 milyar atau sebesar 98,78 % (Selengkapnya pada tabel III.3).

21

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
3.2 Pencapaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 20102014 Tabel III.4 Proporsi Penyerapan Bagian Anggaran 091 dan 999 (dalam juta) terhadap Pagu (%)

BA 091 Absolut % Dalam melaksanakan amanahnya, salah satu acuan utama Pagu 964.518.419 100,00% Kementerian Perumahan Rakyat adalah Rencana Pembangunan Realisasi 915.108.464 94,88% Jangka Menengah Nasional BA 999 Absolut % (RPJMN) 2010-2014. Pencapaian yang perlu diraih oleh Pagu 3.099.049.000 100,00% Kementerian Perumahan Rakyat berdasar RPJMN tersebut adalah Realisasi 3.099.047.563 100,00% memastikan pembangunan SUMBER: BAGIAN KEUANGAN, KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT 685.000 Rumah Sederhana Sehat Bersubsidi, 180 Tower Rusunami dan 650 twin block Rusunawa berikut fasilitas pendukung kawasan permukiman yang dapat menampung 836.000 keluarga yang kurang mampu pada 2012.

Tujuan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, kemudian diturunkan secara khusus dalam misi-misi Kementerian Perumahan Rakyat yang juga terdapat dalam Rencana Strategis Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010-2014. Pada tahun 2010, pencapaian yang cukup strategis diraih antara lain adalah pembangunan rusunawa dan pengesahan Undang Undang Perumahan dan Kawasan Permukiman di DPR. Rincian lebih detail dari pencapaian-pencapaian tersebut dapat dilihat pada sub bab 3.4 yang menguraikan pencapaian Kementerian Perumahan Rakyat berdasarkan misi dalam Rencana Strategis Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010-2014. 3.3 Pencapaian Kontrak Kinerja Menteri Negara Perumahan Rakyat Menteri Negara Perumahan Rakyat juga telah melakukan kontrak kinerja dengan Presiden terkait tujuan dan sasaran dari Kementerian Perumahan Rakyat yang perlu dicapai. Salah satu sasaran utama dari Kontrak Kinerja tersebut adalah memastikan tercapainya target capaian program 100 hari. Target program 100 hari tersebut adalah meningkatkan tingkat hunian rusunawa yang sudah atau sedang dibangun dari sekitar 40% menjadi 80% dalam 100 hari dan melakukan kaji ulang menyeluruh atas kebijakan pembangunan dan penghunian rusunawa dan rusunami. Target tersebut harus dicapai paling lambat Januari 2010. Target program 100 hari tersebut didefinisikan dengan terhuninya 124 TB Rusunawa dari 155 TB Rusunawa siap huni dan pencapaiannya mampu melebihi 100 % dengan terhuninya 132 TB dari target 124 TB pada hari ke-100. Selain itu dalam 100 hari tersebut telah juga tercapai sepenuhnya identifikasi

22

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
terhadap permasalahan dan tersusunnya substansi perubahan kebijakan pembangunan dan penghunian Rusunawa dan Rusunami terkait dengan (i) Pengelolaan Rusunawa, (ii) Perhitungan tarif sewa Rusunawa, (iii) Pedoman bantuan Rusunawa Pendidikan Tinggi dan Berasrama, (iv) Pembentukan PPRS Rusunami, (v) Penghunian dan Pengalihan Sarusunami, (vi) Revitalisasi KepPres 22 Th 2006, (vii) Revisi PP 31 Th 2007, dan (viii) Revisi PP 38 Th 2008. Beberapa target lain dalam kontrak kinerja yang perlu dicapai dalam tahun 2010 adalah tentang pelaksanaan perbaikan peraturan yang mendukung investasi. Kemenpera perlu untuk mengkaji dan mengusulkan perbaikan peraturanperaturan yang menghambat atau berpotensi menghambat investasi sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas perbaikan peraturan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan. Target berikutnya yang juga perlu dicapai pada tahun 2010 adalah melaksanakan reformasi bidang pelayanan umum. Dalam mencapai target ini perlu dikaji ulang dan diusulkan tentang perbaikan kebijakan, peraturan, dan proses pelaksanaan seluruh kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan umum yang diberikan Kementerian secara tuntas sebelum Juni 2010 serta memastikan efektivitas implementasi perbaikan peraturan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan oleh pejabat yang ditunjuk Presiden untuk memimpin reformasi pelayanan umum. Pencapaian target-target tersebut dalam Tahun 2010 adalah dengan melalui diterbitkannya peraturan-peraturan yang mendukung. Daftar dari peraturan-peraturan yang diterbitkan tersebut dapat dilihat pada Tabel III.5. Sasaran lain yang lebih bersifat jangka menengah adalah memastikan pembangunan 685.000 unit RSH Bersubsidi, 180 Tower Rusunami dan 650 TB Rusunawa berikut fasilitas pendukung kawasan permukiman yang dapat menampung 836.000 keluarga pada tahun 2012. Sasaran ini mempertegas prioritas nasional yang telah ada dalam RPJMN 2010-2014 dan pencapaian dari sasaran tersebut termasuk dalam pencapaian misi Rencana Strategis Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010-2014 (sub bab 3.4). 3.4 Pencapaian Misi Rencana Strategis Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010-2014 Memasuki akhir Desember 2010, beberapa hal siginifikan yang telah dicapai terkait misi dan target tahun 2010 sesuai dengan Renstra Kemenpera 2010-2014 yaitu: 3.4.1 Kinerja Pencapaian Misi 1: Meningkatkan iklim yang kondusif dan koordinasi pelaksanaan kebijakan pembangunan

23

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
A. Revisi UU Nomor 4 Tahun 1992 menjadi UU Perumahan dan Kawasan Permukiman Sampai akhir tahun 2010, telah disahkan Undang Undang Perumahan dan Kawasan Permukiman (UU PKP) pada tanggal 17 Desember 2010 dalam Sidang Paripurna DPR. Proses penyusunan UU PKP dalam tahun 2010 memang menjadi prioritas pembahasan Program Legislasi Nasional melalui usulan Badan Legislasi DPR RI.

Pengesahan Undang Undang Perumahan dan Kawasan Permukiman di DPR pada 17 Desember 2010.

SUMBER: BIRO HUKUM DAN KEPEGAWAIAN

Undang-Undang Perumahan dan Kawasan Permukiman yang telah disahkan ini diharapkan dapat meningkatkan penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman yang berkeadilan dan berpihak pada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Undang-Undang tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman ini secara keseluruhan mencerminkan adanya keberpihakan yang kuat sekaligus memberikan kepastian bermukim terhadap masyarakat berpenghasilan rendah Selain itu, lahirnya UU ini juga mengamanatkan dibentuknya dua UU lainnya yakni UU tentang Rumah Susun (Rusun) dan Tabungan Perumahan. UU ini juga mengamanatkan Peraturan Pemerintah atau peraturan pelaksanaan lainnya ditetapkan paling lama 1 (satu) tahun sejak Undang-undang ini berlaku. Terkait dengan semua kelembagaan yang perlu dibentuk atau yang perlu ditingkatkan statusnya harus sudah disusun paling lambat 2 (dua) tahun sejak undang-undang ini diundangkan.

24

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
B. Revisi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun Pada tahun 2010, telah tersusun rancangan revisi dari Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun dan pembahasannya telah memasuki Pembahasan tingkat I DPR-RI. Revisi UU tersebut menjadi prioritas pembahasan Program Legislasi Nasional pada tahun 2010 melalui usulan Badan Legislasi DPR RI yang tertera dalam rapat antara Pemerintah melalui Badan Legislasi Nasional dan Badan Legislasi DPR RI dengan nomor 21 untuk RUU Rumah Susun. RUU ini diharapkan akan memiliki beberapa persepektif baru seperti (i) pembangunan rumah susun sebagai instrumen untuk percepatan pemenuhan kebutuhan hunian, efisiensi pemanfaatan tanah perkotaan, dan peningkatan kualitas lingkungan dan pengembangan perkotaan; (ii) status kepemilikan satuan rumah susun, disamping hak milik satuan rumah susun kondominium (dengan tanah bersama) juga diatur hak milik satuan rumah susun strata title (tanpa tanah bersama), (iii) status penguasaan satuan rumah susun, selain dengan cara memiliki, cara sewa dan sewa beli serta jangka waktu kepemilikan, dan perspektifperspektif lain yang lebih memperkaya rancangan undang-undang ini. Untuk tahun 2011, perlu disusun substansi RUU Rumah Susun yang perlu disempurnakan. Substansi yang belum disepakati dalam tahapan pembahasan yang telah berjalan pada tahun 2010 adalah (i) tanah, berupa pemisahan horizontal antara tanah dan bangunan diatasnya, tanah sewa yang dibangun Rumah Susun (tanpa tanah bersama), sertifikat Satuan Rumah Susun (Sarusun) yang dibangun diatas tanah sewa (ii) kelembagaan, berupa tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Badan Pengelola Rumah Susun (BPRS). C. Penyusunan UU Tabungan Perumahan Rancangan Undang-Undang Tabungan Perumahan pada tahun 2010 telah mulai memasuki masa penyusunan. UU Tabungan Perumahan sendiri sudah diamanatkan dalam UU Perumahan dan Kawasan Permukiman (UU PKP) bahwa tabungan perumahan akan diatur secara tersendiri melalui Undang-Undang. D. Revisi Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 1999 tentang Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun Berdiri Sendiri Pada tahun 2010 telah disiapkan rancangan dari revisi Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 1999 tentang Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun Berdiri Sendiri. Penyiapan Revisi Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 1999 tentang Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun Berdiri Sendiri ini bertujuan untuk merumuskan kembali pengaturan tentang Badan Pengelola agar tidak rigid sehingga tidak menjadi kendala dalam pelembagaan badan pengelola. Pengaturan yang akan dikembangkan adalah bentuk badan pengelola yang lebih banyak pilihannya, proses tender yang lebih menarik minat swasta, kemudahan dan bantuan kepada Pemda. Pengaturan juga akan membedakan antara pemilikan tanah oleh Pemda dan Swasta.

25

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
E. Penerbitan Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Pada tahun 2010, telah diterbitkan juga 18 buah Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat. Peraturan Menteri tersebut bertujuan untuk lebih mendukung segi teknis dalam menciptakan iklim yang kondusif terkait pelaksanaan kebijakan pembangunan. Delapan belas Peraturan Menteri tersebut adalah sebagai berikut: Tabel III.5 Daftar Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Tahun 2010
No Nomor Permenpera 1 01/PERMEN/M/2010 2 02/PERMEN/M/2010 3 03/PERMEN/M/2010 4 04/PERMEN/M/2010 5 Nomor 5 Tahun 2010 6 Nomor 6 Tahun 2010 7 Nomor 7 Tahun 2010 8 Nomor 8 Tahun 2010 9 Nomor 10 Tahun 2010 10 Nomor 11 Tahun 2010 11 Nomor 12 Tahun 2010 12 Nomor 13 Tahun 2010 13 Nomor 14 Tahun 2010 14 Nomor 15 Tahun 2010 15 Nomor 16 Tahun 2010 16 Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Pengaduan Masyarakat di Bidang Perumahan dan Permukiman Rencana Strategis Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010-2014 Pelimpahan Sebagian Urusan Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010 melalui Dekonsentrasi Pedoman Pelaksanaan Dekonsentrasi Lingkup Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010 Pelaksanaan Pengadaan Barang-Jasa Secara Elektronik (E-Procurement) di Lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat Pola Klasifikasi Arsip Kemenpera Tata Naskah Dinas Kemenpera Tata Kearsipan Kemenpera Acuan Pengelolaan Lingkungan Perumahan Tapak Pengadaan Perumahan dan Permukiman dengan Dukungan Bantuan Pembiayaan Perumahan dalam Bentuk Fasilitas Subsidi Perumahan melalui Kredit/ Pembiayaan Pemilikan Rumah Penetapan Struktur dan Perubahan Besaran Gaji Pokok Karyawan Pelaksana Sekretariat Tetap Bapertarum-PNS Tata Cara Pelaksanaan KPR Bersubsidi dan KPR Syariah Bersubsidi Serta KPR Sarusuna Bersubsidi dan KPR Sarusuna Syariah Bersubsidi Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera dengan Dukungan Bantuan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Perumahan melalui Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera dengan Dukungan Bantuan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan Petunjuk Teknis Perencanaan Pembiayaan Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Bidang Perumahan Rakyat Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota Perubahan Atas Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 11 Tahun 2010 tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman dengan Dukungan Bantuan Pembiayaan Perumahan dalam Bentuk Fasilitas Subsidi Perumahan Melalui Kredit/ Pembiayaan Pemilikan Rumah Perubahan Atas Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 13 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan KPR Bersubsidi dan KPR Syariah Bersubsidi Serta KPR Sarusuna Bersubsidi dan KPR Sarusuna Syariah Bersubsidi Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perumahan Rakyat

17 Nomor 18 Tahun 2010

18 Nomor 21 Tahun 2010

26

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
F. Koordinasi Pemantauan dan Evaluasi Kinerja Untuk menunjang pemantauan dan evaluasi kinerja sebagai bagian dari koordinasi pelaksanaan kebijakan pembangunan, Kementerian Perumahan Rakyat telah melaksanakan beberapa kegiatan yaitu sebagai berikut: Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah mewajibkan setiap instansi pemerintah baik pusat maupun daerah untuk menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). Didasari oleh aturan tersebut setiap instansi pemerintah terlebih dahulu harus menyusun Perencanaan Strategis (Renstra) atau strategic planning. Kemenpera mengupayakan pengembangan penerapan sistem pertanggungjawaban yang tepat, jelas dan legitimate, sehingga pemerintahan dan pembangunan di bidang perumahan dapat berlangsung secara berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggung jawab, serta bebas dari KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) dalam rangka perwujudan good governance. Evaluasi penerapan Sistem AKIP telah dilaksanakan oleh KemenPAN-RB di Kemenpera sejak Tahun 2006 dimana materi yang dievaluasi adalah berbagai dokumen pendukung penerapan AKIP Kemenpera sejak Tahun 2005. Hasil penilaian/evaluasi yang diselenggarakan oleh KemenPAN-RB setiap Tabel III.6 tahunnya mengalami peningkatan. Peringkat SAKIP Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2006-2008 Dalam melaksanakan amanat Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 Tahun Peringkat tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi 2006 57 dari 63 instansi Pemerintah tersebut, Kemenpera sejak 2007 16 dari 71 instansi Tahun 2005 selalu menyampaikan 2008 13 dari 67 instansi (predikat CC) LAKIP secara tepat waktu. SUMBER: BIRO PERENCANAAN DAN ANGGARAN Sistem Akuntansi Instansi (SAI) Dalam hal keuangan, secara periodik yaitu dalam kurun waktu 6 bulan sekali, Kementerian Perumahan Rakyat mengisi SAI atau Sistem Akuntasi Instansi untuk diserahkan kepada Kementerian Tabel III.7 Keuangan. SAI ini terdiri dari dua Opini Laporan Keuangan Kementerian Perumahan bagian yaitu Sistem Akuntansi Rakyat Tahun 2006-2009 Keuangan Pengguna Anggaran Tahun Opini (SAKPA) dan (Sistem Informasi 2006 Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) Manajemen dan Akuntansi Barang 2007 Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) Milik Negara) SIMAK BMN. Selain 2008 Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) itu, disusun juga Catatan atas 2009 Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) Laporan Keuangan (CALK) untuk SUMBER: BIRO PERENCANAAN DAN ANGGARAN melengkapi SAI tersebut.

27

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Pada bulan Juli 2010, Kementerian Perumahan Rakyat memperoleh penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia berupa opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) atas keberhasilan menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan Tahun 2009 yang merupakan capaian standar tertinggi dalam Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah. Opini WTP tersebut merupakan capaian yang secara konsisten diraih oleh Kementerian Perumahan Rakyat sejak tahun 2006. Pelaporan Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4)

Dalam rangka penyusunan Laporan Inpres 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional 2010, telah dikoordinasikan Laporan tentang Rencana Aksi Kemenpera mengenai target prioritas nasional 6 bidang infrastruktur. Laporan ini penting karena merupakan penilaian terhadap kinerja Kementerian Perumahan Rakyat dan menjadi dasar pengambilan keputusan strategis Presiden. Pada tahun 2010, Kementerian Perumahan Rakyat melaporkan mengenai pembangunan rusunawa serta subsidi KPR dan fasilitas likuiditas bagi Rsh bersubsidi dan Rusunami. Pelaporan untuk UKP4 pada tahun 2010 tersebut terdiri dari 5 checkpoint yaitu pada B04 (April 2010), B06 (Juni 2010), B08 (Agustus 2010), B10 (Oktober 2010), dan B12 (Desember 2010). 3.4.2 Kinerja Pencapaian Misi 2: Meningkatkan ketersediaan rumah layak huni yang didukung oleh prasarana, sarana dan utilitas (PSU) A. Telah terbangunnya rumah susun sejahtera sewa sebanyak 49 unit Untuk pemenuhan kebutuhan rumah layak huni bagi seluruh keluarga Indonesia terutama kepada masyarakat berpenghasilan rendah yang belum mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan rumahnya melalui kepemilikan, diprogramkan pembangunan Rumah Susun (Rusun) Sejahtera yang sebelumnya dikenal dengan Rumah Susun Sederhana Sewa. Pada tahun 2010 ini telah terselesaikan 49 TB, pencapaian ini telah sesuai dengan target berdasar alokasi anggaran tahun 2010. Rusun Sejahtera yang dibangun oleh Kemenpera tersebut diprioritaskan untuk lembaga pendidikan tinggi, prajurit TNI/POLRI, pekerja industri, dan pondok pesantren.

28

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Tabel III.8 Lokasi Pembangunan Rusunawa Tahun Anggaran 2010
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 LOKASI KODAM Iskandar Muda, Kota Banda Aceh KODAM I/ Bukit Barisan, Sunggal, Kota Medan KODAM I/ Bukit Barisan, Gaperta, Kota Medan LANTAMAL I, Belawan, Kota Medan PP. Modern Daarul Muhsinin Janjimanahan Kaawat, Kab. Labuhan Batu LANTAMAL IV, Kota Tanjung Pinang Kota Pekanbaru, Pekerja Kota Batam 1, Pekerja Kabil Kota Batam 2, Pekerja Tanjung Uncang LANAL Piyambung, Kota Bandar Lampung, Lampung SATPASS SIM Polri, Kota Jakarta Barat KODAM Jaya Jatiwarna, Kota Bekasi MABES TNI Jatimakmur, Kota Bekasi BRIMOB Kelapa Dua, Kota Depok 1 BRIMOB Kelapa Dua, Kota Depok 2 Kementerian Pertahanan, Ciangsana, Kabupaten Bogor BRIMOB Kedung Halang, Kabupaten Bogor KOSTRAD Cibinong, Kabupaten Bogor Kabupaten Bandung, Pekerja Rancaekek KODAM III/ Siliwangi, Kota Bandung Kabupaten Bandung Barat, Pekerja Batujajar KODAM IV/ Diponegoro, Kota Semarang PP. Al-Anwar, Karang Mangu Sarang, Kabupaten Rembang PP. Maslakul Huda, Kabupaten Pati LANUD TNI AU Adisucipto, Kota Yogyakarta Stikes Ahmad Yani, Kabupaten Sleman PP. Tarbiyatul Mukmin / Ikhsanul Fikri, Pabelan, Kabupaten Magelang SMA Taruna Nusantara, Kabupaten Magelang KODAM V/ Brawijaya, Kota Malang Jawa Timur KOSTRAD Malang, Kota Malang Jawa Timur LANUD TNI AU Iswahjudi, Kabupaten Madiun KODAM VII/ Wirabuana, Kota Makassar KODAM XII/ Tanjung Pura, Kabupaten Sintang KODAM XII/ Tanjung Pura, Kota. Pontianak Kabupaten Sidoarjo, Pekerja PP. Al-Ghazali Dukuh Dempok Wuluhun, Kabupaten Jember PP. Tremas, Kabupaten Pacitan PP. Gontor, Kabupaten Ponorogo PP. Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai, Kabupaten Amuntai KODAM XVI/ Pattimura, Kota Ambon KODAM XVII/ Cenderawasih, Kabupaten Manokwari TOTAL UNIT 1 1 1 1 0,5 1 2 2 2 2 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 0,5 0,5 1 1 1 1 1 1 1 0,5 0,5 0,5 1 2 2 49

SUMBER: PUSAT PENGEMBANGAN PERUMAHAN

29

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

NAD (1 TB))

- Kodam Iskandar Muda ( 1 TB)
Sumatera Utara (3,5 TB)
- Kodam Bukit Barisan (1 TB) - Kodam Bukit Barisan (1 TB) - Lantamal kota Medan (1 tb) - PP Modern Daarul Mushinin Janjimanah Kawat (0,5 TB)

Kepulauan Riau(5 TB)

-Lantamal IV, Kota Tanjung Pinang (1 TB)

-Kota Batam 1, Pekerja Kobil (2TB) -Kota Batam 2, Pekerja Tanjung Uncang (2 TB)

Kaliamnatan Barat -Kodam VI/Tanjung pura, Kab Sintang 1TB - Kodam VI/Tanjungpura, Pontianak 1TB

Kalimantan Selatan - PP Rassyidah Khalidiyah Amunta 1 TB

Sulawesi Selatan 1 TB

- Kodam VII Wirabuana ( 1 TB)
Papua Barat 2 TB

Riau (2 TB)

- Kota Pekanbaru (Pekerja)

- Kodam XVII Cendrawasih (2 TB)

Lampung (2 TB)

- Lanal Piyambung, Kota Bandar Lampung (2 TB)
Jawa Barat (14 TB)

- Mabes TNI Jati Makmur (1 TB) - Kodam Jatiwarna, Kota Bekasi (1 TB) - Kemhan, Ciangsana, Kab Bogor (1 tb) - Kodam III/Siliwanggi, Kota Bandung (2 TB) - Kostrad Cibinong, Kab Bogor (1TB) - Brimob Kelapa dua, Kota Depok (2 TB) - Brimob Kelapa Dua, Kota Depok (2 TB)] - Brimob Kedung Halang, Kabupaten Bogor (2 TB) - Pekerja Batu Jajar, Kab Bandung barat (1 TB) - Pekerja Rancaekek, Kab Bandung (1 TB)

Maluku 2 TB

- SMA Taruna Nusantara (0,5 TB) - Kodam IV/Diponegoro (1 TB) - PP Maslakul Huda, Kab Pati (1 TB) - Pp Al Anwar, Kab Rembang (1 TB) - PP Tarbiyatul Mukmin, Ka Magelang ( 0,5 TB)

Jawa Tengah (4 TB)

Jogjakarta (2 TB) - Lanud TNI Adisucipto (1 TB) - Stikes Ahmad Yani, Kabupaten Sleman (1TB)

- Kostrad Malang (1 TB) - Kodam V Brawijaya ( 1 TB) - Lanud Iswahyudi (1 TB) - PP Al Ghazali, Jember (0,5 TB) - PP Tremas Kab Pacitan (0,5 TB) - PP Gontor, Kabv Ponorogo (0,5 TB) - Pekerja Sidoarjo (1 TB)

Jawa Timur 5,5 TB

- Kodam XVI/ Patimura, Kota Ambon
SUMBER: DEPUTI BIDANG PERUMAHAN FORMAL

Gambar 3.3 Lokasi Pembangunan Rusunawa Tahun Anggaran 2010

1

Pembangunan Rusun Sejahtera ini dilaksanakan secara tahun jamak karena proses mulai dari persiapan, perencanaan (Detail Engineering Design/DED), pelaksanaan konstruksi, dan masa pemeliharaan membutuhkan waktu lebih dari satu tahun, sekitar 18 bulan. Untuk pembangunan 49 TB di tahun 2010, sampai dengan akhir tahun anggaran 2010 diprogramkan untuk pelaksanaan persiapan lapangan sampai dengan maksimum substruktur (pondasi) yang diperkirakan sebesar 20% dari prestasi bangunan lengkap. Sisanya (80% dari prestasi bangunan lengkap) dilaksanakan pada tahun anggaran 2011. Berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan Rusun Sejahtera antara lain adalah: a. Keterbatasan lahan Pemda untuk pembangunan Rusun Sejahtera. Untuk itu perlu pengembangan bank tanah, kerjasama pemerintah-swasta untuk pembangunan rusunawa di lahan swasta, serta pengembangan kawasan rumah susun. b. Terbatasnya penyediaan PSU pendukung antara lain karena keterbatasan anggaran baik APBN dan APBD.

30

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
c. Masalah pengelolaan aset berupa penyerahan Barang Milik Negara (BMN) kepada Pemda. d. Lemahnya kelembagaan pengelola Rusun Sejahtera, untuk itu perlu kegiatan capacity building dan pengembangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) perumahan. e. Belum ada standarisasi tarif sewa. f. Keterbatasan anggaran untuk operasional pengelolaan dan pemeliharaan bangunan karena tarif sewa yang murah tidak mampu menutupi kebutuhan biaya tersebut.

B. Terselesaikannya fasilitasi dan stimulasi pembangunan perumahan swadaya sebanyak 2.000 unit Dalam rangka meningkatkan pembangunan perumahan swadaya, pada akhir tahun 2010, fasilitasi dan stimulasi pembangunan perumahan swadaya sebanyak 2.000 unit telah dapat terselesaikan. Pencapaian ini sesuai dengan target berdasar alokasi anggaran 2010. Stimulan ini berupa Bantuan Stimulan Pembangunan Perumahan Swadaya (BSP2S) yaitu bantuan stimulan pembangunan baru dan bantuan stimulan perbaikan rumah yang diarahkan khususnya bagi MBR di kawasan nelayan, terpencil, paska bencana dan kumuh. Kriteria penerima bantuan adalah rumah tidak layak huni (RTLH) MBR yang tersebar dan pada skala kecamatan. Stimulan dilakukan melalui proses pemberdayaan masyarakat, dilaksanakan secara swakelola, dan disalurkan berupa Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) melalui Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM). Pemberian bantuan stimulan pembangunan baru yang sebanyak 2.000 unit tersebut dilaksanakan di 18 Provinsi dan 36 Kabupaten/Kota (Tabel III.9).

Pembangunan Baru Perumahan Swadaya bagi MBR di Kabupaten Gorontalo.

SUMBER: DEPUTI BIDANG PERUMAHAN SWADAYA

31

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Tabel III.9 Rekapitulasi Pemberian Bantuan Stimulan Pembangunan Baru Tahun Anggaran 2010
No I II PB PROVINSI KABUPATEN/KOTA (Unit) NAD 1 Kabupaten Aceh Besar SUMATERA BARAT 2 Kabupaten Tanah Datar 3 Kabupaten Agam 4 Kabupaten Solok Selatan III IV SUMATERA SELATAN BANTEN 6 Kabupaten Tangerang 7 Kabupaten Serang V JAWA BARAT 8 Kota Bogor 9 Kabupaten Garut 10 Kabupaten Ciamis VI JAWA TENGAH 11 Kabupaten Sukoharjo 12 Kabupaten Magelang VII VIII JAWA TIMUR BALI 1 3 13 Kota Probolinggo 14 Kabupaten Gianyar 15 Kabupaten Tabanan 16 Kabupaten Bangli IX NUSA TENGGARA BARAT 1 17 Kabupaten Bima Keterangan: PB: Pembangunan Baru Jumlah Unit Jumlah Provinsi Jumlah Kabupaten/Kota 100 100 2 3 1 2 5 Kabupaten Musi Banyuasin 2 1 50 50 150 50 50 50 50 50 100 50 50 150 50 50 50 125 50 75 50 50 100 50 50 XI XII No X PROVINSI KABUPATEN/KOTA KALIMANTAN BARAT 18 Kabupaten Pontianak 19 Kabupaten Kubu Raya KALIMANTAN SELATAN SULAWESI UTARA 1 3 20 Kabupaten Hulu Sungai Utara 21 Kabupaten Bolang Mongondow 22 Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan 23 Kabupaten Bolaang Mongondow Timur XIII XIV SULAWESI SELATAN SULAWESI TENGGARA 1 4 24 Kota Makasar 25 Kabupaten Bombana 26 Kota Bau Bau 27 Kabupaten Buton 28 Kabupaten Koloka XV SULAWESI BARAT 2 29 Kabupaten Majene 30 Kabupaten Polewali Mandar XVI GORONTALO 2 31 Kabupaten Gorontalo Utara 32 Kabupaten Gorontalo XVII MALUKU 1 3 33 Kota Ambon XVIII PAPUA BARAT 34 Kabupaten Sorong 35 Kabupaten Sorong Selatan : 2,000 : 18 : 36 36 Kabupaten Sorong 50
SUMBER: DEPUTI BIDANG PERUMAHAN SWADAYA

PB (Unit) 150 50 100 50 50 150 50 50 50 50 50 325 100 75 50 100 100 50 50 100 50 50 100 100 100 50

2

32

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
C. Fasilitasi dan stimulasi peningkatan kualitas swadaya sebanyak 20.000 unit Sampai dengan akhir tahun 2010 fasilitasi dan stimulasi peningkatan kualitas perumahan swadaya sebanyak 20.000 unit dapat terselesaikan. Pencapaian ini melebihi target sesuai alokasi anggaran 2010 yang berjumlah 10.000 unit. Fasilitasi dan stimulasi peningkatan kualitas perumahan swadaya ini dilakukan melalui program Peningkatan Kualitas Perumahan (PKP). PKP ini memiliki kriteria pada RTLH MBR yang mengelompok, rawan masalah sosial dan lingkungan, serta ada pada skala kampung. Konsep dari PKP adalah mendukung Tridaya melalui proses pemberdayaan masyarakat Rencana Tindak Komunitas (Community Action Planning/CAP). PKP menggunakan lembaga masyarakat, dilaksanakan secara swakelola, dan disalurkan berupa Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) melalui Kelompok Masyarakat (Pokmas). Pemberian bantuan stimulan berupa peningkatan kualitas yang sebanyak 20.000 unit tersebut dilaksanakan di 33 Provinsi dan 178 Kabupaten/Kota. Rincian lokasi dari bantuan stimulan tersebut dapat dilihat pada (Tabel III.10). D. Fasilitasi pembangunan PSU kawasan sebanyak 12.470 ribu unit Upaya peningkatan penyediaan rumah layak huni, sehat, aman, serasi, teratur, dan berkelanjutan perlu didukung dengan penyediaan PSU perumahan dan permukiman. Sesuai dengan Renstra 2010-2014, pelaksanaan bantuan stimulan fisik PSU ditujukan untuk memfasilitasi pembangunan rumah sejahtera tapak dan rumah sejahtera susun. Bantuan Stimulan PSU dilaksanakan dengan pendekatan pengembangan kawasan skala besar (1.000 – 10.000 unit rumah) dan non besar (300 – 100 unit rumah), kawasan perumahan tematik dengan fungsi khusus (minimal 100 unit rumah), dan pembangunan hunian vertikal (rumah susun sejahtera sewa/milik). Komponen PSU yang diberikan adalah: (i) jalan; (ii) drainase; (iii) sanitasi, (iv) jaringan air minum; (v) persampahan; (vi) jaringan listrik; (vii) penerangan jalan umum (PJU); (viii) ground tank dan pompa air minum (untuk rusun); (ix) tempat parkir (untuk rusun); dan (x) lift (untuk rusun). Sampai dengan akhir tahun 2010 fasilitasi pembangunan PSU kawasan perumahan dan permukiman telah dapat terfasilitasi sebanyak 12.470 unit. Pencapaian ini melebihi target sesuai alokasi anggaran yang sebesar 10.374 unit. Rincian lokasi dari Pembangunan PSU Rsh/Rusunawa tersebut dapat dilihat pada tabel III.11

33

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

Kegiatan Peningkatan Kualitas (PK) rumah di Kabupaten Halmahera Barat.

Kegiatan Peningkatan Kualitas (PK) rumah di Kota Surakarta. Kegiatan Peningkatan Kualitas (PK) rumah di Kabupaten Cirebon.

Kegiatan Peningkatan Kualitas (PK) rumah di Kota Pekanbaru.
SUMBER FOTO-FOTO: ISTIMEWA

34

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Tabel III.10 Rekapitulasi Pemberian Bantuan Stimulan Peningkatan Kualitas Tahun Anggaran 2010
NO I PROVINSI KABUPATEN / KOTA NAD 1 Kabupaten Aceh Besar 1 PENINGKATAN KUALITAS BSP2S 100 100 325 200 75 50 500 200 50 50 50 50 50 50 275 175 100 50 50 150 75 75 300 150 150 200 100 100 600 150 150 150 150 150 150 150 50 50 50 1.150 150 150 100 50 75 75 75 150 50 75 50 PKP 400 200 200 100 100 100 200 100 100 200 200 300 100 100 100 600 200 100 100 100 100 200 100 100 1.100 100 100 100 100 100 100 100 400 100 20.000 XVI XV NO PROVINSI KABUPATEN / KOTA JAWA TENGAH 20 60 Kota Surakarta 61 Kabupaten Pati 62 Kabupaten Grobogan 63 Kabupaten Purworejo 64 Kabupaten Sukoharjo 65 Kabupaten Temanggung 66 Kota Pekalongan 67 Kabupaten Sragen 68 Kabupaten Klaten 69 Kabupaten Banjarnegara 70 Kabupaten Rembang 71 Kabupaten Demak 72 Kabupaten Jepara 73 Kabupaten Tegal 74 Kabupaten Magelang 75 Kabupaten Batang 76 Kabupaten Semarang 77 Kota Semarang 78 Kabupaten Kendal 79 Kabupaten Cilacap DI YOGYAKARTA 4 80 Kabupaten Bantul 81 Kabupaten Gunung Kidul 82 Kabupaten Sleman 83 Kabupaten Kulon Progo JAWA TIMUR 14 84 Kota Probolinggo 85 Kabupaten Sampang 86 Kota Madiun 87 Kabupaten Nganjuk 88 Kabupaten Jember 89 Kabupaten Lumajang 90 Kabupaten Gresik 91 Kabupaten Jombang 92 KabupatenLamongan 93 Kabupaten Malang 94 Kabupaten Ngawi 95 Kabupaten Pacitan 96 Kabupaten Tulungagung 97 Kota Blitar 4 PENINGKATAN KUALITAS BSP2S 1.600 200 100 100 150 100 150 200 100 75 75 75 75 100 50 50 275 175 100 750 100 200 100 150 100 100 500 100 100 150 150 150 50 100 200 100 50 50 PKP 1.200 200 200 100 100 100 200 100 100 100 200 100 100 900 200 100 100 100 100 100 100 100 500 200 100 100 100 200 100 100 600 100 100 100 100 100 100 200 100 100 100 100 NO PROVINSI KABUPATEN / KOTA KALIMANTAN SELATAN 3 123 Kabupaten Hulu Sungai Utara 124 Kota Banjarbaru 125 Kota Banjarmasin KALIMANTAN TIMUR 126 Kabupaten Kutai Timur 127 Kota Bontang 128 Kota Balikpapan 3 PENINGKATAN KUALITAS BSP2S 100 100 150 50 50 50 250 100 100 50 400 75 75 50 50 50 100 200 50 50 50 50 500 150 75 75 75 50 175 75 50 50 200 50 50 100 250 100 150 100 100 250 150 100 PKP 200 100 100 300 100 100 100 400 100 100 100 100 300 100 200 100 100 300 100 100 100 400 200 100 100 100 100 100 300 100 100 100 200 100 100 200 100 100 100 100

XXII

II

SUMATERA UTARA 3 2 Kabupaten Asahan 3 Kabupaten Serdang Bedagai 4 Kota Tanjung Balai SUMATERA BARAT 5 Kab. Solok 6 Kota Payakumbuh 7 Kota Pariaman 8 Kota Bukit Tinggi 9 Kab. Solok Selatan 10 Kabupaten Agam 11 Kabupaten Tanah Datar 12 Kota Sawahlunto 8

XXIII

XIV

III

SULAWESI UTARA 6 129 Kabupaten Minahasa Utara 130 Kota Manado XXIV 131 Kota Kotamobagu 132 Kabupaten Bolaang Mongondow 133 Kabupaten Minahasa Tenggara 134 Kota Bitung XXV GORONTALO 3 135 Kabupaten Gorontalo Utara 136 Kabupaten Boalemo 137 Kabupaten Gorontalo

IV

RIAU 3 13 Kota Pekan Baru 14 Kabupaten Indragirl Hulu 15 Kota Dumai KEPULAUAN RIAU 16 Kabupaten Bintan 17 Kota Tanjung Pinang 2

V

VI

JAMBI 2 18 Kabupaten Kerinci 19 Kabupaten Muaro Jambi SUMATERA SELATAN 20 Kabupaten Muara Enim 21 Kota Pagar Alam 22 Kota Palembang BENGKULU 23 Kabupaten Kaur 24 Kota Bengkulu 3

SULAWESI TENGAH 7 138 Kabupaten Donggala 139 Kota Palu XXVI 140 Kabupaten Banggai Kepulauan 141 Kabupaten Parigi Moutong 142 Kabupaten Sigi 143 Kabupaten Morowali 144 Kabupaten Buol SULAWESI TENGGARA 7 145 Kabupaten Bombana 146 Kabupaten Kolaka Utara XXVII 147 Kabupaten Konawe Selatan 148 Kabupaten Muna 149 Kabupaten Wakalobi 150 Kota Kendari 151 Kabupaten Konawe SULAWESI SELATAN 152 Kabupaten Maros 153 Kabupaten Bulukumba 154 Kabupaten Pangkep XXVIII 155 Kabupaten Barru 156 Kabupaten Bone 157 Kota Makassar 158 Kabupaten Luwu Timur 159 Kabupaten Gowa 160 Kabupaten Tana Toraja XXIX 9

VII

VII

2

IX

LAMPUNG 4 25 Kabupaten Lampung Tengah 26 Kabupaten Lampung Timur 27 Kabupaten Tulang Bawang 28 Kota Bandar Lampung BANGKA BELITUNG 3 29 Kabupaten Bangka Tengah 30 Kabupaten Belitung Timur 31 Kota Pangkal Pinang BANTEN 32 Kabupaten Serang 33 Kabupaten Tangerang 34 Kota Serang 35 Kabupaten Lebak 36 Kota Tangerang Selatan 5

X

BALI 98 Kabupaten Karangasem XVII 99 Kabupaten Bangli 100 Kabupaten Gianyar 101 Kabupaten Tabanan

XI

NUSA TENGGARA BARAT 3 XVIII 102 Kabupaten Bima 103 Kabupaten Sumbawa 104 Kabupaten Sumbawa Barat NUSA TENGGARA TIMUR 10 105 Kabupaten Timor Tengah Selatan 106 Kabupaten Belu 107 Kabupaten Alor 108 Kabupaten Sumba Barat 109 Kabupaten Manggarai 110 Kabupaten Manggarai Barat 111 Kabupaten Manggarai Timur 112 Kabupaten Sumba Barat Daya 113 Kabupaten Timor Tengah Utara 114 Kabupaten Nagekeo KALIMANTAN BARAT 115 Kabupaten Sanggau 116 Kabupaten Pontianak 117 Kota Pontianak 118 Kota Singkawang 4

SULAWESI BARAT 3 161 Kabupaten Mamuju 162 Kabupaten Majene 163 Kabupaten Polewali Mandar MALUKU 5 164 Kota Ambon 165 Kabupaten Buru 166 Kabupaten Seram Bagian Barat 167 Kabupaten Maluku Tengah 168 Kota Tual MALUKU UTARA 4 169 Kabupaten Halmahera Barat 170 Kota Ternate 171 Kabupaten Halmahera Selatan 172 Kabupaten Halmahera Utara PAPUA BARAT 3 173 Kabupaten Sorong 174 Kota Sorong 175 Kabupaten Sorong Selatan PAPUA 176 Kabupaten Waropen 177 Kabupaten Lanny Jaya 178 Kabupaten Jayapura 3

XII

DKI JAKARTA 4 37 Kota Jakarta Barat 38 Kota Jakarta Timur 39 Kota Jakarta Utara 40 Kabupaten Kepulauan Seribu JAWA BARAT 41 Kota Cimahi 42 Kabupaten Karawang 43 Kabupaten Majalengka 44 Kota Bogor 45 Kota Cirebon 46 Kabupaten Indramayu 47 Kota Sukabumi 48 Kabupaten Sukabumi 49 Kab. Bandung Barat 50 Kabupaten Garut 51 Kabupaten Ciamis 52 Kabupaten Cianjur 53 Kabupaten Cirebon 54 Kabupaten Kuningan 55 Kabupaten Bandung 56 Kabupaten Subang 57 Kabupaten Sumedang 58 Kabupaten Bogor 59 Kota Tasikmalaya 19

XXX

XIX

XXXI

XX

XXXII

XIII

XXI

KALIMANTAN TENGAH 4 119 Kabupaten Kapuas 120 Kabupaten Kotawaringin Timur 121 Kota Palangkaraya 122 Kabupaten Lamandau

XXXIII

JUMLAH UNIT

JUMLAH PROVINSI

33

JUMLAH KABUPATEN/KOTA

178

SUMBER: DEPUTI BIDANG PERUMAHAN SWADAYA

35

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Tabel III.11 Daftar Lokasi Pembangunan PSU Rsh/Rusunawa Tahun Anggaran 2010
NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 PSU Rsh/Rusunawa Mega Residence,Griya Bhakti Pratama Mangkalaya Residence,Bumi Sikembang Asri Pesona Rancaekek Indah, Griya Jingga (koperasi TNI AU) Bumi Malayu Asri 2,Griya Pamoyanan, Putri Dinar Lestari Taman Edelweiz,Griya Mutiara Asri Cibarusah Jaya,Bumi Pratama Rancana Jatisampurna dan Jatiasih Pesona Imbanagara Raya,Baitul Marhamah 4 Kelapa Gading Permai,Bumi Pagaden Permai Taman Sentosa Mega Taman Indah,Griya Bulusulur Permai Citra Bulan Indah,Griya Dlangu Indah Puri Pudak Payung Jepara Residence,Rondole Indah,Taman Sakinah Asri Bumi Tegal Besar,Puri Bunga Nirwana Anggun Sejahtera,Bumi Mondoroko Raya Graha Kota Sidoarjo,The Suam Residence The Puspa Garden,The Graha Residence The Lotus Residence,Graha Menganti 2 Green Cerme,Griya Palem Indah Persada Bhinneka Karya Griya Mapan Griya Bina Widya Unri Permata Griya Asri Putra Jaya Residence,Pesona Mantang Bengkong,Galaxy Park Pondok Bukit Lestari,Graha Wiyata Asri,Karang Joang Lestari Perum Mapancet Griya Indah III dan IV Hedam Ganda Griya,PNS Griya Dovo Baru Abadi Indah Permai Villa Bukit Mindawa Pulau Panjang Koperpu Bale endah, Melong Univ. Negeri Semarang, IAIN Walisongo, Puring Permai Pekerja Sleman,Univ. Negeri Yogyakarta Pekerja Jurug Puro Asri 2 Kandanggampang Univ. Airlangga, Pekerja Gresik,Taman Sumengko Indah Univ. Jember, Griya Wirolegi Puri Dander Asri, Graha Indah Graha Mentari Bogor Sukabumi Bandung Garut Bekasi Bekasi Ciamis dan Tasikmalaya Sumedang dan Subang Boyolali Wonogiri Klaten dan Purworejo Semarang Jepara dan Pati Jember Malang Sidoarjo Sidoarjo Gresik Gresik dan Kediri Sumenep Pekanbaru Curup, Bengkulu Batam Balikpapan Minahasa Utara Jayapura Merauke Dharmasraya Bekasi 3 Bandung dan Cimahi Semarang dan Pati Yogyakarta Surakarta Sragen Purbalingga Surabaya dan Gresik 3 Jember Bojonegoro dan Lamongan Bangkalan Lokasi Volume (Unit) 350 230 230 288 260 288 210 205 160 230 200 200 425 320 415 250 290 270 200 120 150 190 440 325 525 500 100 115 110 148 296 265 74 190 100 274 198 275 251

36

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Volume (Unit) 98 198 200 176 98 98 318 98 376 98 86 71 98 162 226 190 184 28 12.470

NO. 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57

PSU Rsh/Rusunawa Univ. Udayana IAIN Mataram, Perum La Resort Kutaraja Biluy Resort Darul Imarah Univ. Islam Negeri Medan,Univ Muhamaddiyah Sumut Univ. Andalas Univ. Lancang Kuning Tanjung Uncang, Pekerja Peserta Jamsostek (Rusunami) Univ. Jambi Pekerja Palembang, Griya Sumatera Selatan Sejahtera Univ. Lampung Politeknik Negeri Pontianak Univ. Lambung Mangkurat Univ. Palangkaraya Univ. Mulawarman, Pekerja Sepinggan Juata Permai Univ. Negeri Makassar, UIN Alauddin Univ. Tadulako, Pekerja Kayumalue Yumasses Total

Lokasi Denpasar Mataram Aceh Besar Medan Padang Pekanbaru Batam Jambi Palembang Lampung Pontianak Banjarmasin Palangkaraya Samarinda dan Balikpapan Tarakan Makassar Palu Jayapura

SUMBER: PUSAT PENGEMBANGAN PERUMAHAN

E. Fasilitasi pembangunan PSU perumahan swadaya sebanyak 13.350 unit Sampai dengan akhir tahun 2010 fasilitasi pembangunan PSU perumahan swadaya dapat terfasilitasi sebanyak 13.350 unit. Pencapaian ini melebihi target sesuai alokasi anggaran 2010 yang berjumlah 10.000 unit. Stimulan pembangunan PSU perumahan swadaya ini diberikan melalui Bantuan Stimulan Pembangunan Perumahan Swadaya (BSP2S) dengan kriteria penerima bantuan adalah seperti pada pembangunan perumahan swadaya yaitu RTLH MBR yang tersebar dan pada skala kecamatan.

PSU berupa pembangunan jalan lingkungan di Kabupaten Kuningan. Pembangunan MCK sebagai salah satu komponen PSU di Kota Tasikmalaya.

SUMBER FOTO: DEPUTI BIDANG PERUMAHAN SWADAYA

37

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Tabel III.12 Rekapitulasi Pemberian Bantuan Stimulan PSU Tahun Anggaran 2010
NO I 1 2 II 3 III 4 5 IV 6 V 7 VI 8 9 10 VII 11 12 13 14 15 VIII 16 17 IX 18 19 20 21 22 23 24 25 X 26 27 28 29 30 31 32 33 34 PROVINSI KABUPATEN / KOTA SUMATERA UTARA Kabupaten Asahan Kabupaten Serdang Bedagai RIAU Kota Dumai KEPULAUAN RIAU Kota Tanjung Pinang Kabupaten Kepulauan Riau SUMATERA BARAT Kota Sawahlunto SUMATERA SELATAN Kota Palembang KEP. BANGKA BELITUNG Kota Pangkal Pinang Kabupaten Bangka Tengah Kabupaten Belitung Timur BANTEN Kabupaten Tangerang Kabupaten Serang Kabupaten Lebak Kota Serang Kota Tangerang Selatan DKI JAKARTA Kota Jakarta Timur Kabupaten Kepulauan Seribu JAWA BARAT Kabupaten Bandung Kota Tasik Malaya Kabupaten Kuningan Kabupaten Sumedang Kabupaten Bogor Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Subang JAWA TENGAH Kota Pekalongan Kabupaten Jepara Kabupaten Rembang Kota Semarang Kota Surakarta Kabupaten Batang Kabupaten Cilacap Kabupaten Kenda Kabupaten Semarang 9 8 2 5 3 1 1 2 1 2 PSU (Unit) 400 200 200 100 100 200 100 100 100 100 200 200 300 100 100 100 600 100 200 100 100 100 200 100 100 XVI 1.100 100 100 100 100 400 100 100 100 1.200 200 100 100 100 200 100 100 100 200 XX 65 66 67 68 SULAWESI UTARA Kota Bitung Kabupaten Mbolaang Mongondow Kabupaten Minahasa Tenggara Kabupaten Minahasa Utara 4 400 100 100 100 100 XVIII 60 61 XIX 62 63 64 KALIMANTAN SELATAN Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru KALIMANTAN TIMUR Kota Bontang Kabupaten Kutai Timur Kota Balikpapan 3 2 200 100 100 300 100 100 100
SUMBER: DEPUTI BIDANG PERUMAHAN SWADAYA

NO XI 35 36 XII 37 38 39 40 41 42 43 44 XIII 45 46 47 48 XIV 49 50 XV 51 52 53 54 55 56

PROVINSI KABUPATEN / KOTA D.I. YOGYAKARTA Kabupaten Kulon Progo Kabupaten Sleman JAWA TIMUR Kabupaten Tulungagung Kabupaten Gresik Kabupaten Lamongan Kabupaten Jombang Kota Blitar Kabupaten Ngawi Kabupaten Malang Kabupaten Pacitan BALI Kabupaten Karangasem Kabupaten Gianyar Kabupaten Tabanan Kabupaten Bangli NUSA TENGGARA BARAT Kabupaten Sumbawa Barat Kabupaten Sumbawa NUSA TENGGARA TIMUR Kabupaten Sumba Barat Daya Kabupaten Manggarai Barat Kabupaten Ngagekeo Kabupaten Manggarai Kabupaten Manggarai Timur Kabupaten Timor Tengah Selatan KALIMANTAN BARAT Kota Singkawang Kota Pontianak KALIMANTAN TENGAH Kabupaten Lamadau 1 2 6 2 4 8 2

PSU (Unit) 200 100 100 900 100 200 100 100 100 100 100 100 500 200 100 100 100 200 100 100 600 100 100 100 100 100 100 200 100 100 100 100

NO XXI 69 70 XXII 71 XXIII 72 73 74

PROVINSI KABUPATEN / KOTA GORONTALO Kabupaten Gorontalo Utara Kabupaten Gorontalo SULAWESI TENGAH Kabupaten Buol SULAWESI SELATAN Kabupaten Luwu Timur Kabupaten Gowa Kabupaten Tana Toraja 1 3 1 2

PSU (Unit) 300 100 200 100 100 400 200 100 100 100 100 3 300 100 100 100 3 300 100 100 100 2 200 100 100 2 200 100 100 1 100 100

XXIV SULAWESI BARAT 75 XXV 76 77 78 Kabupaten Mamuju SULAWESI TENGGARA Kabupaten Konawe Kabupaten Wakatobi Kota Kendari

XXVI MALUKU 79 80 81 Kota Tual Kabupaten Maluku Tengah Kabupaten Buru

XXVII MALUKU UTARA 82 83 Kabupaten Halmahera Selatan Kabupaten Halmahera Utara

XXVIII PAPUA BARAT 84 85 Kabupaten Sorong Tengah Kota Sorong PAPUA Kabupaten Jayapura

57 58 XVII 59

XXIX 86

Keterangan: PSU= Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum JUMLAH UNIT JUMLAH PROVINSI JUMLAH Kabupaten/Kota 10.000 29 86

38

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
F. Fasilitasi dan simulasi penataan lingkungan permukiman kumuh seluas 30 ha Sampai dengan akhir tahun 2010, fasilitasi dan stimulasi penataan lingkungan permukiman kumuh seluas 30 ha dapat terselesaikan. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk Penanganan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis Kawasan (PLP2K-BK) yaitu konsep penataan lingkungan permukiman kumuh berbasis pemberdayaan masyarakat yang perencanaannya disusun oleh masyarakat (community action plan) dan difasilitasi oleh pemerintah daerah dengan mengacu pada arahan tata ruang kota. Karakteristik PLP2-BK ini antara lain: (1) menggunakan Pendekatan Tridaya (manusia, lingkungan, dan ekonomi); (2) menata kawasan perumahan dan kawasan permukiman yang terintegrasi dengan tata ruang; (3) mendorong pengembangan ekonomi masyarakat melalui integrasi dengan sistem kegiatan kota; (4) Melengkapi kebutuhan PSU agar terpenuhi lingkungan permukiman yang layak; dan (5) Mengintegrasikan pendekatan sektor lainnya. Kegiatan PLP2K-BK ini telah dilaksanakan di 20 lokasi yaitu : kabupaten Donggala (provinsi Sulawesi Tengah), kabupaten Bandung (provinsi Jawa Barat), kabupaten Tangerang (provinsi Banten), kabupaten Serang (provinsi Banten), kabupaten Rembang (provinsi Jawa Tengah), kota Palu (provinsi Sulawesi Tengah), kota Bau-Bau (provinsi Sulawesi Tengah), kota Jambi (provinsi Jambi), kota Singkawang (provinsi Kalimantan Barat), kota Medan (provinsi Sumatera Utara), kota Palembang (provinsi Sumatera Selatan), kota Yogyakarta (provinsi D.I. Yogyakarta), kota Banjarmasin (provinsi Kalimantan Selatan), kota Batam (provinsi Kepulauan Riau), kota Cimahi (provinsi Jawa Barat), kota Makassar (provinsi Sulawesi Selatan), dan kota Bandung (provinsi Jawa Barat). Disamping itu, kegiatan PLP2K-BK juga dilaksanakan di kota Bogor dalam rangka menindaklanjuti Rapat Koordinasi dan Konsultasi Komisi C DPRD Kota Bogor dengan Menteri Perumahan Rakyat. Lokasi penanganan perumahan dan permukiman serta kawasan kumuh di kota Bogor, yaitu : Kebon Pedes (kecamatan Tanah Sareal), Kawasan Lebak Kantin (kelurahan Sempur), dan Kawasan Pulo Geulis (kelurahan Babakan Pasar, kecamatan Bogor Tengah). Pencapaian seluas 30 ha ini masih belum memenuhi target yang seharusnya untuk 2010 yaitu seluas 50 ha. Karena adanya alokasi dana yang terbatas, lokasi penanganan pun dipilih dengan kriteria: (1) tingkat kekumuhan; (2) kesiapan lokasi; (3) kesiapan kerjasama pemda; dan (4) diprioritaskan pada pemerintah kabupaten/kota yang menerima penghargaan perumahan dan permukiman yaitu “Adiupaya Puritama”. Terdapat beberapa kendala dari pelaksanaan PLP2K-BK yaitu:

39

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
1. Perencanaan PLP2K-BK adalah proses kebijakan (komitmen dan keterpaduan pelaksanaan di lingkungan Kemenpera serta sinergitas dengan pemerintah daerah) 2. Community Action Plan (CAP) yang disusun oleh Konsultan, sulit untuk diimplementasikan, oleh sebab itu perlu melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat dalam penyusunannya. 3. Pemerintah Daerah belum sepenuhnya mengenali dan memahami program PLP2K-BK , untuk itu sosialisasi dan sinergitas program perlu ditingkatkan 4. Penanganan kumuh melalui konsep PLP2K-BK akan terus dikembangkan sejalan dengan umpan balik dalam pelaksanaan. 5. Kawasan kumuh di perkotaan umumnya berada di tanah illegal (squatter) dan luasnya cenderung meningkat pesat. Untuk itu upaya penanganannya perlu didasari oleh keputusan politik. G. Fasilitasi pra-sertifikasi dan pendampingan pasca sertifikasi sebanyak 8.159 unit Bantuan pendampingan serta fasilitasi sertifikasi rumah swadaya ini dilakukan oleh Kemenpera bekerjasama dengan Badan Pertanahan Nasional. Sertifikasi tanah dilakukan dalam upaya membantu MBR memperoleh surat tanda bukti Hak Atas Tanah sebagai salah satu instrumen untuk kepastian bermukim. Pada tahun 2010, sebenarnya belum ada target untuk fasilitasi pra sertifikasi dan pendampingan pasca sertifikasi. Meski demikian, usaha pencapaian sasaran ini pada tahun 2010 telah diawali dengan usaha identifikasi status tanah yang dipersiapkan untuk program bantuan sertifikasi tanah bagi MBR. Dalam tahun 2010 telah dilakukan identifikasi Calon Penerima Manfaat (CPM) terhadap tanah yang akan disertifikasi sebanyak 8.159 unit. Daftar lokasi identifikasi status tanah tersebut dapat dilihat pada tabel III.13. H. Fasilitasi pembangunan rumah khusus sebanyak 1.006 unit Pelaksanaan bantuan dan stimulasi pembangunan dan perbaikan rumah khusus (nelayan/terpencil/pasca bencana) sampai dengan akhir tahun 2010 dapat terfasilitasi sebanyak 1.006 unit (Tabel III.14). Pencapaian ini melampaui target sesuai alokasi anggaran 2010 yang berjumlah 1.000 unit.

40

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Tabel III.13 Rekapitulasi Sertifikasi Hak Atas Tanah Bagi MBR Tahun 2010
NO I PROVINSI KABUPATEN / KOTA SUMATERA UTARA 1. Kabupaten Asahan 2. Kabupaten Serdang Bedagai II SUMATERA BARAT 1. Kabupaten Dharmasraya 2. Kabupaten Agam 3. Kabupaten Solok III SUMATERA SELATAN 1. Kota Palembang 2. Kabupaten Muara Enim IV BANGKA BELITUNG 1. Kota Pangkal Pinang 2. Kabupaten Bangka Tengah V BANTEN 1. Kabupaten Serang 2. Kabupaten Tangerang 3. Kota Cilegon 4. Kabupaten Pendeglang VI JAWA BARAT 1. Kabupaten Bandung 2. Kabupaten Bandung Barat 3. Kota Tasikmalaya 4. Kabupaten Sumedang 5. Kabupaten Garut VII JAWA TENGAH 1. Kota Pekalongan 2. Kabupaten Pekalongan 3. Kabupaten Banjar Negara 4. Kabupaten Brebes 5. Kabupaten Rembang 6. Kabupaten Purbalingga 7. Kabupaten Pemalang 8. Kabupaten Sukoharjo VIII DI YOGYAKARTA 1. Kabupaten Bantul 2. Kabupaten Sleman 3. Kabupaten Gunung Kidul 4. Kabupaten Kulon Progo TARGET (Unit) 300 150 150 300 150 50 100 250 150 100 250 150 100 500 200 100 100 100 750 250 100 200 100 100 1.200 150 150 150 150 150 150 150 150 450 150 100 100 100 REALISASI (Unit) 348 198 150 91 91 0 0 1.111 900 211 160 83 77 472 258 109 0 105 1.204 294 122 451 237 100 761 132 14 152 74 130 61 48 150 334 98 0 150 86 % 116.0 132.0 100.0 30.0 60.7 444.4 600.0 211.0 64.0 55.3 77.0 94.4 129.0 109.0 105.0 160.5 117.6 122.0 225.5 237.0 100.0 63.4 88.0 9.3 101.3 49.3 86.7 40.7 32.0 100.0 74.2 65.3 150.0 86.0 Jumlah Unit Jumlah Provinsi Jumlah Kabupaten/Kota 8.159 27 52
SUMBER: DEPUTI BIDANG PERUMAHAN SWADAYA

NO IX

PROVINSI KABUPATEN / KOTA JAWA TIMUR 1. Kabupaten Lamongan 2. Kabupaten Tulungagung 3. Kabupaten Malang 4. Kabupaten Gresik

TARGET (Unit) 900 300 200 200 200 400 100 100 100 100 500 200 150 150 400 100 100 100 100 350 100 150 100 250 125 125 300 100 100 100 300 100 100 100 100 100

REALISASI (Unit) 903 250 212 200 241 289 0 84 33 172 558 205 153 200 337 104 100 112 21 229 22 161 46 281 121 160 628 352 135 141 346 134 57 155 107 107

% 100.3 83.3 106.0 100.0 120.5 72.3 84.0 33.0 172.0 111.6 102.5 102.0 133.3 84.3 104.0 100.0 112.0 21.0 65.4 22.0 107.3 46.0 112.4 96.8 128.0 209.3 352.0 135.0 141.0 115.3 134.0 57.0 155.0 107.0 107.0

X

SULAWESI UTARA 1. Kota Manado 2. Kabupaten Minahasa Tenggara 3. Kota Bitung 4. Kabupaten Minahasa Utara

XI

SULAWESI SELATAN 1. Kabupaten Maros 2. Kota Makasar 3. Kabupaten Goa

XII

SULAWESI TENGGARA 1. Kota Kendari 2. Kota Bau Bau 3. Kota Konawe 4. Kabupaten Konawe Selatan

XIII

BALI 1. Kabupaten Karangasem 2. Kabupaten Buleleng 3. Kabupaten Bangli

XIV

NUSA TENGGARA BARAT 1. Kabupaten Lombok Tengah 2. Kabupaten Lombok Barat

XV

NUSA TENGGARA TIMUR 1. Kabupaten Timor Tengah Utara 2. Kabupaten Belu 3. Kabupaten Manggarai

XVI

MALUKU 1. Kota Ambon 2. Kabupaten Kep Aru 3. Kabupaten Maluku Tengah

XVII MALUKU UTARA 1. Kota Ternate

41

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Tabel III.14 Realisasi Daftar Hunian Rumah Khusus dan Rumah Sosial Tahun Anggaran 2010
NO
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 28

NAMA PAKET
Rumah Sosial Rumah Sosial Rumah Sosial Rumah Khusus Daerah Tertinggal Rumah Khusus Daerah Tertinggal Rumah Khusus Daerah Tertinggal Rumah Khusus Daerah Tertinggal Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Daerah Nelayan Rumah Khusus Cagar Budaya

KAB/KOTA
Kota Tangerang Selatan, Banten Kota Semarang, Jawa Tengah Kota Salatiga, Jawa Tengah Kota Sorong, Irian Jaya Barat Kab. Sorong, Irian Jaya Barat Kab. Boven Digoel, Papua Kota Jayapura, Papua Kab. Batu Bara, Sumatera Utara Kab. Asahan, Sumatera Utara Kab. Tapanuli Tengah, Sumatera Utara Kota Batam, Kepulauan Riau Kota Bintan, Kepulauan Riau Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat Kab. Buleleng, Bali Kab. Sambas, Kalimantan Barat Kab. Bolaang Mangondow Selatan, Sulawesi Utara Kab. Bolaang Mangondow, Sulawesi Utara Kab. Poliwali Mandar, Sulawesi Barat Kab. Pangkajene, Sulawesi Selatan Kab. Bantaeng, Sulawesi Selatan Kab. Gorontalo, Gorontalo Kab. Gorontalo Utara, Gorontalo Kab. Morowali, Sulawesi Tengah Kab. Banggai, Sulawesi Tengah Kab. Sumbawa Barat, NTB Kab. Manggarai Timur,NTT Kota Surakarta, Jawa Tengah

UNIT
80 84 34 30 30 35 30 31 31 40 36 40 31 30 25 35 35 31 25 31 35 35 40 40 40 30 42 1.006

JENIS RUMAH
3 Lantai 3 Lantai 3 Lantai Tapak Tapak Tapak Panggung Panggung Panggung Tapak Panggung dan Tapak Tapak Tapak Tapak Panggung Tapak Tapak Panggung Panggung Panggung Panggung Tapak Panggung Panggung Tapak Tapak Tapak

TOTAL UNIT RUMAH

SUMBER: PUSAT PENGEMBANGAN PERUMAHAN

42

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
3.4.3 Kinerja Pencapaian Misi 3: Mengembangkan sistem pembiayaan perumahan jangka panjang Program Fasilitas Likuiditas Pembangunan Perumahan (FLPP) berlaku efektif per Oktober 2010. Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) memiliki tujuan untuk meningkatkan realisasi perumahan untuk warga kurang mampu. FLPP merupakan pengembangan pembiayaan perumahan dalam jangka panjang. Untuk mendukung pelaksanaan FLPP ditetapkan dua peraturan menteri yaitu Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 15 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera dengan dukungan bantuan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan dan juga Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 14 Tahun 2010 tentang Pengadaan Perumahan melalui Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera dengan Dukungan Bantuan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan. Kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan dana FLPP dilaksanakan oleh BLUKEMENPERA yaitu Pusat Pembiayaan Perumahan Kementerian Perumahan Rakyat. Pencapaian FLPP pada tahun 2010 yaitu telah membiayai sebanyak 20.684 rumah. Pencapaian tersebut masih berada di bawah target kontrak kinerja yang sebanyak 180.000 unit. Tidak tercapainya target penyaluran bantuan pembiayaan perumahan ini antara lain disebabkan oleh: (1) Waktu efektif yang tersedia untuk penyaluran KPR dengan dukungan dana FLPP hanya sekitar 3 (tiga) bulan; (2) Persyaratan dalam rangka tata kelola (good governance) guna penyaluran bantuan pembiayaan dengan dukungan dana FLPP tersebut belum tersosialisasikan secara komprehensif, baik kepada masyarakat, pengembang, maupun bank pelaksana; dan (3) Beberapa insentif kunci terkait fasilitas bebas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk MBM/MBR masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut dengan kementerian terkait. Sementara itu, secara total, realisasi pembiayaan yaitu penerbitan subsidi perumahan tahun anggaran 2010 mencapai 109.523 unit. Perincian dari realisasi tersebut adalah 107.685 unit KPR subisidi rumah sejahtera, 20.684 unit KPR rumah sejahtera tapak yang diterbitkan melalui skim FLPP, dan 1.838 unit KPR subsidi Rumah Sejahtera Susun (Tabel III.15). 3.4.4 Kinerja Pencapaian Misi 4: Meningkatkan pendayagunaan sumber daya perumahan dan permukiman Pendayagunaan sumber daya perumahan dan permukiman sebagai salah satu dari misi Kemenpera dilaksanakan melalui pemberdayaan lahan, dan standarisasi industri, dan penerapan teknologi tepat guna, yaitu: a. Pengembangan kawasan dengan prinsip pola hunian berimbang b. Standarisasi dan pengembangan sistem modular untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas bangunan

43

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Tabel III.15 Realisasi Penerbitan Subsidi Perumahan TA. 2010
BANK PELAKSANA I. KPR TAPAK SEJAHTERA A. KPR SUBSIDI - BANK BTN - BANK BNI - BANK BRI - BPD - BANK SYARIAH - BPD SYARIAH - BANK LAINNYA - LKNB SUB TOTAL KPR B. KPR SWADAYA - BANK BRI - BANK LAINNYA - LKNB SUB TOTAL KPR SWADAYA C. FLPP - BANK BTN SUB TOTAL FLPP SUB TOTAL I II. KPR RUSUN A. KPR SUBSIDI - BANK BTN - BANK DKI SUB TOTAL KPR SUBSIDI B. FLPP - BANK BTN SUB TOTAL FLPP SUB TOTAL II GRAND TOTAL UNIT %

80.979 2.345 699 222 2.382 368 6 87.001 -

93,08% 2,70% 0,80% 0,26% 2,74% 0,42% 0,01% 0,00% 100% 0,00% 0,00% 0,00% 0% 100% 100%

20.684 20.684 107.685

1.838 1.838 1.838 109.523

100,00% 0,00% 100% -

SUMBER:DEPUTI BIDANG PEMBIAYAAN

44

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
c. Pemanfaatan sumber daya lahan, khususnya tanah Pemerintah, BUMN, BUMD untuk pembangunan Rumah Susun Sederhana d. Penerapan teknologi tepat guna dalam rangka mendorong pemanfaatan bahan dan produksi bahan bangunan lokal yang murah serta, konstruksi bangunan tahan gempa, dan produksi bahan bangunan yang berkualitas Secara umum, misi 4 belum sepenuhnya diupayakan, mengingat berbagai kegiatan prioritas tahun 2010 sebagian besar ada pada target misi lainnya. 3.4.5 Kinerja Pencapaian Misi 5: Meningkatkan peran pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya A. Dekonsentrasi lingkup Kementerian Perumahan Rakyat Penyelenggaraan desentralisasi, sebagaimana diamanatkan dalam UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, mensyaratkan pembagian urusan pemerintahan antara Pemerintah dengan Pemerintah Daerah. Selain urusan pemerintahan yang sepenuhnya atau tetap menjadi kewenangan Pemerintah, terdapat bagian urusan Pemerintahan yang bersifat kongkuren (concurrent) atau urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan dan dikelola secara bersama antartingkatan dan susunan pemerintahan. Dengan demikian, di dalam setiap urusan yang bersifat kongkuren senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan Pemerintah, ada bagian urusan yang diserahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi, dan ada bagian urusan yang diserahkan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Sejalan dengan pembagian urusan kewenangan antara Pemerintah dengan Pemerintah Daerah, Kementerian Perumahan Rakyat melimpahkan sebagian urusan yang menjadi kewenangannya kepada Gubernur melalui Dekonsentrasi khusus untuk kegiatan pendataan dan monitoring pembangunan perumahan serta sosialisasi kebijakan bidang perumahan. Dana Dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang dilaksanakan oleh Gubernur sebagai Wakil Pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi, tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah. Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi (SKPD Provinsi) menjadi organisasi/lembaga pada pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan Dekonsentrasi lingkup Kementerian Perumahan Rakyat di provinsi. Dekonsentrasi bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan urusan pemerintahan di bidang perumahan dan permukiman. Dekonsentrasi juga memiliki sasaran berupa terlaksananya sosialisasi kebijakan bidang perumahan dan permukiman dan terlaksananya pendataan dan pemantauan

45

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
pembangunan perumahan dan permukiman. Untuk itu ruang lingkup dari Dekonsentrasi pada tahun 2010 adalah sosialiasi kebijakan bidang perumahan dan permukiman dan pendataan dan pemantauan pembangunan perumahan dan permukiman. Pelaksana Dekonsentrasi Lingkup Kementerian Perumahan Rakyat pada Tahun 2010 adalah SKPD Provinsi dan dibantu oleh 2 (dua) Tim Pelaksana. Alur pelaksanaan Dekonsentrasi dapat dilihat pada gambar 3.4

SUMBER : BIRO PERENCANAAN DAN ANGGARAN, SEKRETARIAT KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT

Gambar 3.4 Alur Pelaksanaan Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera 2010 Hasil-hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan kegiatan dekonsentrasi tahun 2010, adalah sebagai berikut: • Pada akhir tahun 2010, telah berhasil dilakukan pengembangan data awal perumahan di 33 provinsi, yang berpotensi meningkatkan kapasitas pemerintah daerah. • Melakukan pemantauan pelaksanaan Dekon di 10 SKPD Pemrov (sebagai uji sampel); • Melakukan evaluasi atas hasil kegiatan pemantauan dan evaluasi Dekon 2010; • Melakukan Monev Dekon pada 33 SKPD/Provinsi (Laporan Manajerial, Laporan Keuangan dan Simak BMN) untuk laporan ke Bappenas berdasarkan Peraturan Presiden No 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan

46

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Dalam kegiatan Dekonsentrasi ini, beberapa daerah menunjukkan minat dan inisiatifnya pada pelaksananaan kegiatan ini. Daerah-daerah juga memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap program-program bantuan perumahan insentif dari Kemenpera. Terkait evaluasi, terdapat beberapa isu dalam pelaksanaan Dekonsentrasi ini antara lain adalah materi sosialisasi yang belum terpadu, kesulitan dalam penyusunan laporan manajerial dan akuntabilitas, keterbatasan dana, keterbatasan kapasitas SDM, dan sulitnya kondisi geografis dalam pendataan dan monitoring di provinsi, serta tidak tersedianya data sekunder SKPD terkait kabupaten/kota B. Penyiapan Dana Alokasi Khusus (DAK) Dana Alokasi Khusus (DAK) bertujuan untuk meningkatkan tersedianya rumah yang layak huni dan terjangkau bagi Masyarakat Berpenghasilan Menengah dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBM/R) di dalam kawasan perumahan dan permukiman yang didukung oleh prasarana dan sarana serta utilitas yang memadai. DAK dialokasikan untuk pemenuhan prasarana, sarana dan utilitas (PSU) kawasan perumahan dan permukiman. DAK akan dijalankan pada tahun 2011 dan pada tahun 2010 telah dilakukan beberapa tahapan berupa penyiapan pedoman umum, pedoman pelaksanaan, dan petunjuk teknis. C. Kemitraan dengan pemangku kepentingan Kemitraan telah dijalin melalui pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dan kerjasama dengan perguruan tinggi. Kemitraan tersebut berupa peningkatan kerjasama, pelembagaan dan pemberdayaan keswadayaan masyarakat melalui terlaksananya kerjasama dengan forum perguruan tinggi dan kerjasama pendampingan sertifikasi tanah dengan BPN serta terbentuknya 5 Pokja Kab/Kota dan 33 Pokja Provinsi. Berbagai pertemuan dengan berbagai perguruan tinggi telah pula dilaksanakan, sebagai bentuk kerjasama dalam penyelenggaraan forum group discussion (FGD). Adanya FGD tersebut dapat memberikan inspirasi kepada perguruan tinggi untuk berpartisipasi dalam pembangunan perumahan, khususnya perumahan swadaya. D. Penghargaan Adiupaya Puritama Sejak tahun 2008, Kementerian Perumahan Rakyat bekerjasama dengan instansi terkait lainnya melaksanakan kegiatan Pemberian Penghargaan Adiupaya Puritama Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Perumahan dan Permukiman kepada Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kota, dan Pemerintah Kabupaten yang dianggap berhasil dalam menyelenggarakan pengembangan dan pembangunan perumahan dan permukiman di daerahnya. Selain Pemerintah Daerah, penghargaan Adiupaya Puritama juga diberikan kepada Pelaku Pembangunan Perumahan Sederhana Berwawasan

47

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Lingkungan, Pengelolaan dan Pemanfaatan Rusunawa, dan Lembaga Penerbit Kredit/Pembiayaan (LKPP). Tujuan adanya penghargaan ini adalah sebagai bentuk apresiasi terhadap para mitra kerja serta pemerintah daerah yang memberikan kontribusi dalam program pembangunan perumahan. Terutama bagi pemerintah daerah, pemberian penghargaan ini diharapkan dapat lebih mendorong dan memotivasi pemerintah kota dan kabupaten untuk senantiasa meningkatkan upaya penyelenggaraan perumahan dan permukiman di daerahnya masing-masing. Pada tahun 2010, Penghargaan Adiupaya Puritama diberikan bertepatan dengan Peringatan Hari Perumahan Nasional. Daftar penerima penghargaan pada tahun 2010 bisa dilihat pada tabel III.16. Tabel III.16 Penerima Penghargaan Adiupaya Puritama Bidang Penyelenggaraan Perumahan Dan Permukiman Tahun 2010 a. Kategori Pemerintah Kota Metropolitan/Besar 1. Pemerintah Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan 2. Pemerintah Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta 3. Pemerintah Kota Pekanbaru, Provinsi Riau b. Kategori Pemerintah Kota Menengah/Kecil 1. Pemerintah Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh 2. Pemerintah Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat 3. Pemerintah Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah c. Kategori Pemerintah Kabupaten 1. Pemerintah Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur 2. Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan 3. Pemerintah Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta d. Kategori Pemerintah Provinsi 1.Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan 2.Pemerintah Provinsi Aceh 3.Pemerintah Provinsi Jawa Timur

48

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
3.5 Rekapitulasi Kinerja Kemeterian Perumahan Rakyat pada Tahun 2010 Secara umum, pada tahun 2010 Kemenpera telah melakukan pencapaian kinerja tahunan dengan baik dilihat dari pencapaian masing-masing target tersebut. Terdapat beberapa pencapaian yang bahkan telah melebihi dari target sesuai DIPA. Namun, jika disandingkan dengan target-target dalam RPJMN masih ada kesenjangan dalam hal pencapaian kinerja karena kendala terbatasnya alokasi anggaran. Kekurangan dari target tahun 2010 dalam RPJMN tersebut akan dipenuhi pada tahun-tahun berikutnya. Tabel III.17 Rekapitulasi Kinerja Kemenpera pada Tahun 2010
No 1 2 Kegiatan/Program Pembangunan rumah susun sederhana sewa Fasilitasi dan stimulasi pembangunan perumahan swadaya Fasilitasi dan stimulasi peningkatan kualitas perumahan swadaya Fasilitasi pembangunan PSU kawasan perumahan dan permukiman Fasilitasi pembangunan PSU perumahan swadaya Fasilitasi dan Stimulasi Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh Fasilitasi pra-sertifikasi dan pendampingan pascasertifikasi Fasilitasi pembangunan rumah khusus Bantuan Subsidi Perumahan Masa Transisi Fasilitas Likuiditas Satuan twin block Unit Target RPJMN 100 7.500 DIPA 49 2.000 Pencapaian 49 2.000

3

Unit

7.500

10.000

20.000

4

Unit

90.374

10.374

12.470

5 6

Unit Ha

7.500 50

10.000 50

13.350 30

7

Unit

-

-

8.159

8 9 10 11

Unit Unit Unit Unit

250 210.000 187.006 -

1.000 90.000 67.219

1.006

88.839 20.684

49

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

60

SUMBER FOTO: ISTIMEWA

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

BAB IV PENCAPAIAN LAINNYA
Di luar pencapaian target-target yang sesuai dengan RPJMN dan Renstra Kemenpera, terdapat beberapa pencapaian terobosan atau inovasi yang telah dilakukan Kemenpera selama tahun 2010. 4.1 Peran di Tingkat Regional 4.1.1 APMCHUD (Asia Pacific Ministerial Meeting on Housing and Urban Development) APMCHUD (Asia Pacific Ministerial Conference on Housing and Urban Development) merupakan forum tingkat menteri lingkup Asia Pasifik yang memiliki visi untuk menjadi penghubung jejaring pengetahuan global terkait permukiman. Kemenpera selalu terlibat aktif sejak penyelenggaraan APMCHUD 1 di India dan APMCHUD 2 di Iran. Pada tahun 2010, Indonesia menjadi tuan rumah APMCHUD 3 yang digelar di Solo, Jawa Tengah pada 22-24 Juni 2010. Pertemuan yang dihadiri 99 delegasi dari 27 negara Asia Pasifik tersebut menghasilkan Deklarasi Solo dan Rencana Implementasi Solo. Dalam pertemuan tersebut juga disepakati 8 negara anggota Biro APMCHUD 3 termasuk Indonesia yang diwakili oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat, yang kemudian terpilih menjadi Ketua Biro APMCHUD hingga tahun 2012.

51

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

Penutupan APMCHUD oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat.

SUMBER: HUMAS KEMENPERA

Sesi Diskusi dalam APMCHUD 3.
SUMBER: HUMAS KEMENPERA

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan APMCHUD 3 tersebut, pada 29-30 November 2010 telah diselenggarakan pertemuan pertama Biro APMCHUD 3 di Bali. Pertemuan ini dihadiri para anggota negara Biro APMCHUD 3 dan menyepakati tindak lanjut dari lima kelompok kerja APMCHUD yang antara lain menyepakati bahwa Korea Selatan akan bertanggung jawab pada kelompok Pembiayaan Perumahan dan Indonesia sendiri akan bertanggung jawab untuk kelompok Pembangunan Berkelanjutan dan Perubahan Iklim.

52

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
4.2 Pemasyarakatan Isu Perumahan 4.2.1 Hari Perumahan Nasional Hari Perumahan Nasional (Hapernas) merupakan momen untuk meningkatkan kesadaran nasional bahwa perumahan adalah kebutuhan dasar manusia yang menjadi tanggung jawab bersama. Hapernas yang diperingati oleh pemangku kepentingan bidang perumahan dan permukiman setiap 25 Agustus ini juga bertujuan untuk mendorong pemenuhan pencapaian kebutuhan perumahan dan permukiman. Untuk peringatan Hari Perumahan Nasional (Hapernas) ke-60 tahun 2010 yang diselenggarakan pada tanggal 22 September 2010, tema yang diangkat adalah “Wujudkan Rumah Sejahtera melalui Sinergi Pusat-Daerah”. Tema ini bertujuan untuk mengingatkan bahwa urusan rumah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat semata tetapi juga tanggung jawab pemerintah daerah. Sinergi pusat dan daerah ini menjadi sangat penting terutama di era otonomi daerah sekarang sehingga pembangunan perumahan diharapkan tidak lagi menjadi terpusat di satu daerah tetapi bisa dapat merata ke semua daerah. Rangkaian peringatan Hari Perumahan Nasional Tahun 2010 tersebut dilakukan dengan kegiatan-kegiatan antara lain Tasyakuran, Upacara Bendera, Donor Darah, Bazaar, Pemberian Penghargaan Adiupaya Puritama, serta Peluncuran Logo Baru Kementerian Perumahan Rakyat.

Peringatan Hari Perumahan Nasional Tahun 2010.
SUMBER: HUMAS KEMENPERA

53

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
4.2.2 Peringatan Hari Habitat Dunia Hari Habitat Dunia atau World Habitat Day selalu diperingati setiap hari Senin pertama bulan Oktober. Hari Habitat Dunia ini merupakan salah satu dari peringatan hari internasional yang ditetapkan oleh PBB dan diperingati sebagai wujud kepedulian terhadap pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman yang layak untuk semua lapisan masyarakat. Peringatan Hari Habitat Dunia ini juga memiliki tujuan untuk mengingatkan perlunya tanggung jawab bersama bagi masa depan habitat manusia. Pada tahun 2010, Hari Habitat Dunia jatuh pada Senin, 4 Oktober 2010 dan mengangkat tema “Better City, Better Life” atau “Menuju Kota dan Kehidupan Lebih Baik”. Tema ini menekankan pada pentingnya kualitas kota untuk menunjang kehidupan yang lebih baik, yang dapat mendorong potensi dan peluang, mengurangi kesenjangan serta menyediakan hunian yang layak bagi seluruh lapisan masyarakat. Rangkaian peringatan Hari Habitat Dunia 2010 antara lain berupa Seminar dan Workshop, Jambore Sanitasi, Peluncuran Buku sebagai acara puncak dan juga kegiatan Youth Urban Forum untuk kaum muda di ITS Surabaya. Di luar kegiatan-kegiatan tersebut, Hari Habitat Dunia juga diperkenalkan ke masyarakat umum melalui kampanye media baik melalui televisi, radio, media cetak, maupun internet. Peluncuran buku yang menjadi puncak peringatan HHD 2010 ini diharapkan dapat lebih bermanfaat serta berdampak jangka panjang khususnya dalam penanganan masalah perumahan dan permukiman. Selain itu, terbitnya buku ini merupakan awal bersama dalam mengatasi kelemahan terbesar kita dalam hal pendokumentasian proses dan hasil pembangunan perumahan 4.3 Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) Pada tahun 2010, terdapat satu terobosan besar terkait bantuan pembiayaan perumahan yang dikembangkan oleh Kementerian Perumahan Rakyat yaitu dengan munculnya Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). FLPP merupakan dukungan pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan menengah bawah (MBM) dan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang pengelolaannya dilaksanakan oleh Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Perumahan Kementerian Perumahan Rakyat (BLU-Kemenpera) melalui lembaga perbankan. FLPP merupakan pengganti bantuan pembiayaan perumahan yang semula dikenal oleh masyarakat yaitu subsidi perumahan. Dana FLPP bersumber dari APBN yang masuk dalam pos pembiayaan sehingga dana FLPP ini bersifat bergulir (tidak habis pakai), sementara pada skim subsidi dananya berasal dari pos belanja yang sifatnya habis pakai. Pembiayaan perumahan menggunakan sebagian dana FLPP dan sebagian dana perbankan akan dapat menurunkan tingkat bunga/marjin dari KPR.

54

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

Peluncuran Buku oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat dan Menteri Pekerjaan Umum dalam Hari Habitat Dunia.

SUMBER: HUMAS KEMENPERA

Bedah Buku dalam Peringatan Hari Habitat Dunia.

SUMBER: HUMAS KEMENPERA

Kuliah Umum oleh Walikota Surabaya (Tri Rismaharini) dalam Youth Urban Forum di ITS Surabaya.

SUMBER: HARSYA PAMBUDI

55

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Tabel IV.1 Perbandingan antara Skim Subsidi Pola Lama dengan Skim Fasilitas Likuiditas
SKIM SUBSIDI Masa Subsidi Suku Bunga Terbatas, jangka waktu tertentu Bunga bersubsidi dalam jangka waktu tertentu dan dilanjutkan bunga komersial (bank yang bersangkutan) Angsuran selama masa subsidi = 1/3 penghasilan, dan selanjutnya cenderung = 1/3 penghasilan tergantung bunga komersial Belanja Subsidi merupakan dana habis (tidak kembali) Terus menerus SKIM FASILITAS LIKUIDITAS Sepanjang masa pinjaman Bunga yang ditetapkan satu digit sepanjang masa pinjaman (fixed rate)

Angsuran

Angsuran selama masa pinjaman = 1/3 penghasilan

Dana APBN Alokasi APBN

Sumber Dana Penggunaan

APBN Hanya untuk sisi permintaan (KPR Bersubsidi)

Belanja FL dalam pos pembiayaan/investasi sehingga bukan dana habis dan merupakan revolving fund Setelah beberapa periode tertentu semakin berkurang dan terus mengecil sampai akhirnya tidak perlu ada alokasi atau ketika Tabungan Perumahan Nasional sudah melembaga APBN+sumber dana lain Untuk sisi permintaan (KPR) dengan tingkat bunga terjangkau (satu digit) dengan tenor sampai dengan 15 tahun Untuk sisi pasokan (Kredit Konstruksi) dengan tingkat bunga terjangkau (satu digit) dengan tenor sampai dengan 24 bulan
SUMBER: DEPUTI BIDANG PEMBIAYAAN

Masyarakat yang dapat dibantu dengan program FLPP adalah masyarakat yang termasuk dalam kelompok sasaran sesuai Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat. Kelompok sasaran yang dimaksud adalah masyarakat baik yang berpenghasilan tetap maupun tidak tetap yang belum pernah memiliki rumah, belum pernah menerima subsidi perumahan, dan termasuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan masyarakat berpenghasilan menengah bawah (MBM). Dengan adanya FLPP, tingkat suku bunga diturunkan dibawah angka 10 %. Hal tersebut bertujuan supaya dapat mengurangi beban yang dirasakan MBM dan MBR selama ini yaitu dalam mengangsur rumah per bulan. Sementara itu, dalam hal uang muka, pada tahun 2010, FLPP baru dikhususkan untuk mengurangi tingkat suku bunga sedangkan untuk bantuan uang muka diharapkan dapat dikoordinasikan dengan menggunakan dana Bapertarum, Jamsostek, atau YKPP. Namun demikian, Kementerian Perumahan Rakyat tengah menyiapkan mengenai Tabungan Perumahan dimana untuk jangka panjang akan dapat menjadi solusi bagi masyarakat dalam mengatasi masalah penyediaan uang muka. Selain bantuan pembiayaan pada sisi permintaan, FLPP juga menyediakan bantuan pembiayaan perumahan untuk sisi pasokan. Meski pada tahun 2010 belum dijalankan, nantinya FLPP akan turut memfasilitasi kredit konstruksi dengan tingkat bunga terjangkau.

56

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
4.4 Akuntabilitas dan Keterbukaan Publik 4.4 .1 E-Government E-Government adalah penggunaan teknologi informasi oleh badanbadan pemerintah yang memiliki kemampuan untuk terhubung dengan warga negara (Government to Citizen/G2C), pelaku bisnis (Government to Bussiness/G2B), dan lembaga pemerintahan lain (Government to Government/G2G). Konsep E-Government diterapkan dengan tujuan bahwa hubungan pemerintah baik dengan masyarakatnya maupun dengan pelaku bisnis dapat berlangsung secara efisien, efektif dan ekonomis. Untuk aspek teknis, Kemenpera sudah menerapkan sistem informasi yang berbasis komputer dengan sudah terhubungnya jaringan LAN (Local Area Network) dengan menggunakan Wireless LAN untuk seluruh bagian di gedung Kemenpera, sehingga hubungan antar komputer untuk berbagi dan tukar-menukar data dan informasi dan juga koneksi internet bisa dilakukan. Kaitannya dengan penggunaan perangkat lunak yang legal, menindaklanjuti surat edaran dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara mengenai Pemanfaatan Perangkat Lunak Legal dan Open Source Software (OSS) di Kemenpera sudah diterapkan beberapa aplikasi yang berbasis Open Source Software di beberapa komputer seperti penggunaan aplikasi perangkat perkantoran dengan menggunakan Open Office sebagai pengganti dari Microsoft Office yang banyak digunakan selama ini secara ilegal. 4.4 .2 Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Salah satu penggunaan teknologi informasi oleh Kemenpera yang berkaitan dengan Government Operations atau operasional pemerintah yaitu adanya penggunaan teknologi informasi oleh Kemenpera yang berkaitan dengan Layanan Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik (LPSE) Kementerian Perumahan Rakyat sebagai pengelola pelelangan secara elektronik. LPSE adalah pusat layanan pengadaan barang/Jasa pemerintah secara elektronik yang melayani proses pengadaan di Kementerian Perumahan Rakyat, bertindak sebagai Certificate Authority (CA) dan Verifikator. LPSE bertujuan untuk lebih memperluas penyebaran informasi pengadaan barang/jasa, serta efisiensi penyampaian informasi dimaksud sehingga lebih terbuka bagi semua pihak. Penggunaan LPSE tersebut adalah dalam rangka melaksanakan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007, yang menyatakan perlunya dilakukan proses pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik (e-procurement).

57

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Kementerian Perumahan Rakyat menggunakan Sistem Penyedia LPSE yaitu bahwa LPSE ini memiliki organisasi sendiri serta mempunyai, mengelola, dan memelihara perangkat berat yang tidak terbatas pada perangkat jaringan dan server yang telah terinstall Sistem Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik (SPSE) dan memiliki tugas dari Bidang Administrasi Sistem Informasi lainnya yaitu: a. Sosialisasi kepada PPK/Panitia Pengadaan dan Penyedia Barang/ Jasa; b. Pelatihan kepada PPK/ Panitia Pengadaan dan Penyedia Barang/ Jasa; c. Melayani PPK/ Panitia Pengadaan untuk mendapatkan kode akses; dan d. Melakukan verifikasi terhadap dokumen (Akta, SIUP, TDP, Ijin Usaha sesuai bidang, KTP Pemilik dan/atau Direktur Perusahaan, dan lain-lain) yang sebelumnya penyedia barang/jasa telah melakukan pendaftaran untuk mendapatkan kode akses secara online Dengan tipe Sistem Penyedia LPSE Kementerian Perumahan Rakyat memiliki alamat website sendiri yaitu www.lpse.kemenpera.go.id. Pada tahun 2010, sudah ada 41 paket rusunawa yang menggunakan LPSE. Paket yang menggunakan LPSE adalah paket fisik dengan nilai lebih dari 5 milyar rupiah. Sementara itu, untuk paket yang bernilai lebih kecil dari 5 milyar rupiah belum menggunakan LPSE. 4.4 .3 Situs Web Kemenpera juga menggunakan teknologi informasi yang berkaitan dengan public services atau pelayanan publik dari pemerintah kepada warga negara, pelaku bisnis dan lembaga pemerintah lain secara online yaitu dengan adanya Situs Portal Pemerintah Kemenpera (www.kemenpera. go.id). Adanya situs ini bertujuan agar warga negara, pelaku bisnis dan lembaga pemerintah lainnya mendapat pelayanan dan informasi dari Kemenpera.

Situs Kementerian Perumahan Rakyat.

58

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
Halaman muka dari Situs Kemenpera tersebut memuat berita terkini mengenai kegiatan dan program Kementerian Perumahan Rakyat. Situs ini juga menginformasikan produk Kementerian Perumahan Rakyat serta Undang Undang dan peraturan terkait untuk bisa diunduh. Situs Kementerian Perumahan Rakyat ini memiliki beberapa anak domain antara lain adalah domain unit Eselon 1 dan Eselon 2 untuk info-info yang lebih spesifik termasuk kliping rutin perumahan rakyat.

Kliping Peru

at mahan Raky

4.4 .4 E-Procurement Pada tahun 2010, Kementerian Perumahan Rakyat melakukan berbagai layanan melalui mekanisme E-Procurement (Electronic Procurement). Pelayanan yang dilakukan dengan mekanisme tersebut antara lain adalah Penerimaan Pegawai Secara Online, Sistem Informasi Pegawai, Sistem Informasi Keuangan, serta Sistem Informasi Kinerja Kemenpera.

59

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
4.4 .5 Kotak Pengaduan Sejak tahun 2010, masyarakat dapat melayangkan pengaduan terkait perumahan dan permukiman kepada pemerintah. Layanan pengaduan ini tersedia dalam dua versi yaitu melalui Situs Kementerian Perumahan Rakyat pada alamat http://kemenpera.go.id/?op=saran_pengaduan atau melalui pos dengan mengirimkan ke PO BOX 4400 JKT. 4.4.6 Digital Library Salah satu fitur dari situs Kementerian Perumahan Rakyat adalah fitur Perpusatakaan Digital yang merupakan katalog dalam jaringan (on line) dari koleksi perpustakaan Kementerian Perumahan Rakyat. Fitur ini diluncurkan pada tahun 2010 dan beralamatkan di http://digilib.kemenpera.go.id. Adanya fitur ini semakin menunjukkan komitmen Kementerian Perumahan Rakyat untuk menuju peningkatan pengetahuan masyarakat akan perumahan dan kawasan permukiman.

Digital Library (http://digilib.kemenpera.go.id) 4.4 .7 E-Newsletter E-Newsletter Kementerian Perumahan Rakyat terbit setiap 2 minggu sekali dan berisi rangkuman dari kegiatan Kemenpera serta Kliping Perumahan Rakyat yang terbit setiap harinya. E-Newsletter ini dimulai pada November 2010 dan dapat diakses pada alamat http://bpa.kemenpera.go.id/ Newsletter Edisi 1 dan 2 Tahun 2010

60

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010
4.4 .8 Majalah Inforum Pada tahun 2010, telah diterbitkan 3 edisi Majalah Inforum “media komunikasi komunitas perumahan”. Tema-tema yang diangkat adalah mengenai (i) Era Baru Perumahan Rakyat, (ii) Reformasi Pembiayaan Perumahan melalui Fasilitas Likuiditas, dan (iii) Selamat Datang Undang-Undang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Majalah Inforum ini didistribusikan kepada para pemangku kepentingan pembangunan perumahan, komunitas perumahan, masyarakat luas dan bisa juga diakses melalui situs Kementerian Perumahan Rakyat. Kehadiran majalah ini diharapkan akan dapat lebih memasyarakatkan isu perumahan.

Majalah Inforum Edisi I, II, dan III

61

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

SUMBER FOTO: ISTIMEWA

62

LAPORAN KINERJA KEMENPERA, TAHUN 2010

BAB V PENUTUP
Selama tahun 2010, Kementerian Perumahan Rakyat telah berupaya melaksanakan program dan kegiatan yang berhubungan dengan tercapainya Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Kementerian Perumahan Rakyat. Secara umum, Kementerian Perumahan Rakyat telah menjalankan kewajiban dan memiliki capaian kinerja yang baik. Fungsi utama yang diharapkan dari Kementerian Perumahan Rakyat telah dapat dijalankan yaitu melalui pengembangan dan pembangunan perumahan dan permukiman dalam rangka memenuhi kebutuhan perumahan terutama bagi MBM dan MBR. Hadirnya Undang Undang Perumahan dan Kawasan Permukiman tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman serta Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan diharapkan akan lebih mendukung pemenuhan kebutuhan perumahan terutama bagi MBM dan MBR tersebut. Terdapat juga terobosan-terobosan yang tidak bisa diabaikan untuk menuju Kementerian Perumahan Rakyat yang visioner seperti keterlibatan dalam forum internasional melalui APMCHUD dan terobosan lainnya terkait keterbukaan informasi publik. Capaian kinerja dalam tahun 2010 tersebut dapat menjadi pembelajaran (lessons learned) dan faktor pendorong untuk meningkatkan kinerjanya dalam mencapai sasaran-sasaran strategisnya yang mendukung pengembangan perumahan dan permukiman terutama untuk mencapai Rencana Strategis periode 2010-2014.

63

KESEPAKATAN BERSAMA KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2010
NOMOR MOU KESEPAKATAN BERSAMA Kementerian Perumahan Rakyat Dengan Badan Pengawasan Keuangan Dan Pembangunan Kementerian Perumahan Rakyat Dengan Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Kementerian Perumahan Rakyat Dengan Provinsi NTT TENTANG Penguatan Tata Kelola Kepemerintahan Yang Baik Di Lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat Peran Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Real Estate Dalam Penyediaan Rumah Rakyat Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Pembangunan Perumahan Pemberian Fasilitas Pengadaan Perumahan Bagi Pegawai Negeri Dilingkungan Kementerian Koordinator Bidang Polhukam, Bidang Perekonomian, Bidang Kesra Dan Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia Serta Kementerian Lainnya Melalui Program Pembangunan Perumahan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Pembangunan Perumahan TGL PENANDATANGANAN 23 Februari 2010

01/SKB/M/2010

02/SKB/M/2010

4 Maret 2010

03/SKB/M/2010

15 Juni 2010

04/SKB/M/2010

Kementerian Perumahan Rakyat Dengan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan rakyat

24 Juni 2010

05/SKB/M/2010

Kementerian Perumahan Rakyat Dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Kementerian Perumahan Rakyat Dengan Gubernur NTB

06 Agustus 2010

06/SKB/M/2010

04 September 2010

07/SKB/M/2010

Pemanfaatan Tanah Milik Negara (BUMN) Untuk Percepatan Kementerian Perumahan Rakyat Pembangunan Rumah Susun Dengan Di Kawasan Perkotaan Bagi Kementerian Badan Usaha Milik Masyarakat Berpenghasilan Negara Menengah Bawah Dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah Kementerian Perumahan Rakyat Dengan Badan Pertanahan Nasional Sertipikasi Tanah Perumahan Swadaya

23 September 2010

08/SKB/M/2010

03 Desember 2010

SUMBER : BIRO HUKUM, KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT

KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

Makna LOGO

1. Bentuk utama Logo berupa segitiga sama-sisi yang secara teori mempunyai kehandalan dalam struktur serta mencerminkan 3 pelaku pembangunan perumahan rakyat , yang saling bersinergi membangun, yaitu Badan/Dunia Usaha, Masyarakat, dan Pemerintah/Pemerintah Daerah (Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota). 2. Bentuk 3 segitiga berupa gunung atau gunungan, yang menggambarkan lingkungan hunian yang 1) berupa rumah sejahtera; 2) lingkungan hunian yang sehat; dan 3) terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, baik yang berupa rumah (perumahan) tapak (horizontal) maupun rumah (perumahan) susun (vertikal). 3. Secara perspektif, segitiga-segitiga tersebut membentuk atap-atap rumah yang menggambarkan salah satu fungsi rumah yaitu sebagai tempat berlindung, serta menunjukkan karakter rumah Indonesia yang menjunjung tinggi budaya dan kearifan lokal. 4. Potongan terhadap bentuk segitiga membuat bentuk segitiga pada Logo menjadi lebih dinamis dan fleksibel yang juga melambangkan semangat kerjasama di dalam Kementerian Perumahan Rakyat baik secara internal maupun dengan pihak eksternal. 5. Bentuk manusia didalam segitiga menggambarkan perlindungan terhadap kehidupan di dalamnya.

Warna LOGO

1. Warna Hijau: lambang bermakna kesuburan, pertumbuhan, kehidupan, dan berwawasan lingkungan. 2. Warna Kuning-kehijauan: Kuning dalam peta tata ruang diartikan sebagai zonasi perumahan dan permukiman. Kuning-kehijauan melambangkan pembangunan perumahan dan permukiman senantiasa berwawasan lingkungan.

Kementerian Perumahan Rakyat Republik Indonesia Jl. Raden Patah I No.1, Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12110

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->