Anda di halaman 1dari 10

DOMESTIKASI IKAN KATUNG (Pristolepis grootii Blkr) DENGAN IKAN PENDAMPING YANG BERBEDA

Syahriyanis1, Mulyadi2, Iskandar Putra3 Abstract The research was conducted from 23 February until 12 April 2012 in the Laboratory of Aquaculture Technologi, Faculty of Fishery and Merince Science Riau University. The aim of this research is to understand the appropriate companion fish in accelerating the process of adaptation of Pristolepis grootii Blkr drifting in a controlled environment as fish aquaculture and to learn about fish habitat uncertain life in the wild. Test fish used is Pristolepis grootii Blkr as many as 200 fish with a length of 7-10 cm and weigth of 15.41 g to 24.77 g of an uncertain number of fish stocked as many as 10 fish and various fishes as many as 5 each container, the tilapia, carp and respectively which is a length of 5-9 cm with a weight of 3.03 g to 7.53 g. The method used in the research was survey method and experimental method completed randomized single factor with four treatments with three replications. The results of the for 50 days, it was found that the fish drifting more quickly adaptation and respond to the feed given to the treatment of the two is by various tilapia fish with survival rate (80%), absolute growth weight rate of (18.24 g), absolute growth length rate of (1.08cm), daily weight growth rate of (1.38%) and the daily length growth rate of (0.20%). Keywords : Domestication, Pristolepis grootii Blkr, Various fishes

PENDAHULUAN Ikan katung (Pristolepis grootii Blkr) adalah termasuk jenis ikan di daerah Riau yang mempunyai arti ekonomis penting di pasaran tetapi tidak termasuk sebagai jenis ikan air tawar kelas satu (Pulungan, 1987). Permintaan terhadap ikan katung (Pristolepis grootii Blkr) masih mengandalkan tangkapan dari alam dan karena produksi dari usaha budidaya ikan katung (P. grootii Blkr) saat ini belum ada, maka salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mengantisipasinya adalah dengan melakukan domestikasi dan budidaya. Budidaya ikan katung (P. grootii Blkr) melalui usaha domestikasi perlu mendapat prioritas guna menjaga kelestarian ikan ini. Melalui usaha domestikasi diharapkan ikan dapat beradaptasi pada lingkungan yang terkontrol dan dapat menerima pakan buatan yang diberikan serta dapat bertahan hidup pada kepadatan yang tinggi dan tahan terhadap penanganan. Ikan yang dipilih sebagai ikan pendamping adalah ikan-ikan yang telah jinak (adaptif) seperti ikan mas, nila dan gurami. Sesuai pendapat Affandi (2001) bahwa untuk mempercepat proses domestikasi ikan yang masih liar perlu adanya ikan pendamping yang sudah biasa dibudidayakan seperti ikan mas, ikan nila dan ikan gurami. Ikan yang digunakan adalah ikan omnivora yang cenderung herbivora yakni lebih suka memakan pakan alami dari jenis

fitoplankton, yang bersifat sama dengan ikan katung. Beberapa penelitian tentang Domestikasi telah dilakukan dengan menggunakan ikan pendamping seperti yang dilakukan oleh Sari (2007) dan Mariatun (2002) yang menggunakan ikan pendamping ikan nila, ikan mas dan ikan gurami. Dengan hasil penelitian terbaik menunjukkan bahwa ikan pantau (Rasbora lateristriata Blkr) yang di dampingi oleh ikan pendamping nila lebih cepat adaptasinya pada lingkungan dan cepat merespon terhadap pakan buatan yang diberikan. Permintaan terhadap ikan katung (Pristolepis grootii Blkr) masih mengandalkan tangkapan dari alam. Penangkapan yang tidak terkendali oleh manusia mengakibatkan terganggunya habitat ikan-ikan di perairan, sehingga ikan-ikan tersebut dikhawatirkan mengalami kepunahan. Untuk mengatasi kepunahan ikan katung ini maka perlu dilakukan penelitian tentang domestikasi ikan katung dengan ikan pendamping yang berbeda. Dilihat dari sifatnya ikan nila (Oreochromis niloticus), ikan mas (Cyprinus carpio) dan ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac) merupakan ikan omnivora yang cenderung herbivora yakni lebih suka memakan pakan alami dari jenis fitoplankton. Berdasarkan hal tersebut, ketiga ikan ini dipilih sebagai ikan pendamping dalam proses
1

domestikasi ikan katung yang juga mempunyai sifat yang sama dengan ketiga ikan tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ikan pendamping yang tepat dalam mempercepat proses adaptasi ikan katung di dalam lingkungan terkontrol sebagai ikan budidaya, serta untuk mengetahui habitat hidup ikan katung di alam. Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai habitat hidup ikan katung di alam dan mengetahui ikan pendamping yang tepat dalam proses pemeliharaan ikan katung, dalam upaya pengembangan dan peningkatan produksi ikan katung serta menjaga kelestariannya di alam. METODE 1. Waktu dan Tempat Penelitian ini telah tanggal 23 Februari sampai bertempat di Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Riau, Pekanbaru.

dilaksanakan pada 12 April 2012 yang Teknologi Budidaya Kelautan Universitas

P3= Ikan katung 10 ekor dan ikan pendamping mas 5 ekor P4=Ikan katung 10 ekor dan ikan pendamping gurami 5 ekor Model matematis yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah model tetap (Sudjana, 1991): Y i j = + i + ij Dimana : Yij = Variabel yang akan di analisis yaitu pertumbuhan = Rata-rata sesungguhnya i = Efek perlakuan ke-i ij = Pengaruh galat perlakuan ke-i dan ulangan ke-j 3. Prosedur Penelitian 3.1. Lokasi Penangkapan Lokasi pengambilan sampel ikan katung yang digunakan untuk penelitian berasal dari Waduk Sungai Paku di Desa Sungai Paku Kecamatan Kampar Kiri Kabupaten Kampar, 3.2. Persiapan Wadah Penelitian Wadah yang digunakan adalah akuarium, terlebih dahulu akuarium dibersihkan dan kemudian direndam dengan PK (KMnO4) dengan dosis 2 ppm selama 24 jam (Dirjen Perikanan BBAT Sukabumi, 1998). Setelah itu wadah dikeringkan dengan menggunakan spons hingga kering. Kemudian wadah diisi air setinggi 20 cm dan diaerasi selama 24 jam serta diberi filter. 3.3. Persiapan Ikan Uji Ikan katung sebagai ikan uji diperoleh dari nelayan di Desa Sungai Paku Kecamatan Kampar Kiri Kabupaten Kampar Provinsi Riau, yang ditangkap sepanjang Waduk Sungai Paku. 3.4. Persiapan Ikan Pendamping Ikan-ikan pendamping diperoleh dari Rawa Mas Hatchery di Jalan Arifin Ahmad, Pekanbaru. 3.5. Pemberian Pakan Uji Pakan yang diberikan untuk ikan uji dalam penelitian adalah pakan udang CP. Pemberian makanan yang diberikan secara atsatiation pada masing-masing perlakuan. Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari yaitu pukul 08.00 WIB, 12.00 WIB dan 16.00 WIB.
2

2. Bahan dan Alat Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan katung sebanyak 200 ekor termasuk stok dengan panjang berkisar 7-10 cm. Jumlah ikan katung yang ditebar adalah sebanyak 10 ekor dan ikan pendamping sebanyak 5 ekor tiap wadah yaitu ikan nila, mas dan gurami yang berukuran panjang berkisar 5-9 cm. Peralatan yang digunakan selama melakukan penelitian ini adalah tanggu/serok, ember/baskom, alat-alat tulis, termometer, pH indikator, DO meter, kamera, timbangan digital, kertas milimeter/penggaris, spektropotometer, top filter dan akuarium. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dan rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan empat taraf perlakuan. Untuk memperkecil kekeliruan, setiap perlakuan menggunakan tiga kali ulangan sehingga diperoleh 12 unit percobaan. Perlakuan yang diberikan adalah sebagai berikut berdasarkan penelitian Mariatun (2002) dan Sari (2007): P1= Ikan katung 15 ekor tanpa ikan pendamping (kontrol) P2 = Ikan katung 10 ekor dan ikan pendamping nila 5 ekor

3.6. Parameter Yang Diukur Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah kelulushidupan, pertumbuhan bobot mutlak dan bobot harian, pertumbuhan panjang mutlak dan harian, tingkah laku ikan uji, dan parameter kualitas air. Masing-masing dengan persamaan seperti berikut: 3.6.1. Kelulushidupan Tingkat kelulushidupan ikan dapat dihitung dengan rumus Effendie (1979), yaitu: Nt SR = X 100% No Dimana: SR = Kelulushidupan (%) Nt =Jumlah ikan yang hidup pada akhir penelitian (ekor) No =Jumlah ikan pada awal penelitian (ekor) 3.6.2. Pertumbuhan Bobot Mutlak Pengukuran pertumbuhan bobot mutlak dilakukan dengan menggunakan rumus menurut Effendie (1979) sebagai berikut : Wm = Wt Wo Dimana : Wm = Pertumbuhan bobot mutlak (g) Wt = Bobot rata-rata pada waktu akhir penelitian (g) Wo = Bobot rata-rata awal penelitian (g) 3.6.3. Laju Pertumbuhan Bobot Harian Laju Pertumbuhan bobot harian ikan dapat dihitung dengan menggunakan rumus Zonneveld et al (1991), yaitu: SGR = X 100 % Dimana : SGR= Laju Pertumbuhan harian Wt = Bobot rata-rata pada akhir penelitian (g) Wo = Bobot rata-rata pada awal penelitian (g) t = Lama penelitian (hari) 3.6.4. Pertumbuhan Panjang Mutlak Pengukuran pertumbuhan panjang mutlak dilakukan dengan menggunakan rumus menurut Effendie (1979) sebagai berikut :

Lm = Lt Lo Dimana : Lm = Pertumbuhan panjang (cm) Lt = Panjang akhir penelitian (cm) Lo = Panjang awal penelitian (cm) 3.6.5. Laju Pertumbuhan Panjang Harian Laju pertumbuhan Panjang harian ikan dapat dihitung menggunakan rumus Zonneveld et al (1991), yaitu: SGR = X 100 % Dimana : SGR= Laju Pertumbuhan Harian (%) Lo = Panjang rata-rata ikan pada awal penelitian Lt = Panjang rata-rata ikan pada akhir penelitian t= Lama penelitian (hari) 3.6.6. Tingkah Laku Ikan Pengamatan tingkah laku ikan uji diamati adalah pergerakan, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru dan lama waktu yang dibutuhkan oleh ikan untuk dapat terbiasa dengan makanan yang diberikan. 3.6.7. Pengukuran Kualitas Air Parameter kualitas air yang diukur adalah pH, suhu, kandungan oksigen terlarut dan amoniak. Pengukuran kualitas air ini dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali yaitu pada awal penelitian, pertengahan dan akhir penelitian. 3.6.8. Kondisi Perairan di Lokasi Pengambilan Ikan Uji Survey yang diamati yakni kondisi perairan disekitar lokasi pengambilan ikan uji dan parameter kualitas air yang meliputi warna perairan, arus, suhu, pH, dan oksigen terlarut. 3.7. Analisis Data Data yang di peroleh selama penelitian dikumpulkan dan disusun dalam bentuk tabel. Apabila data normal dan homogen selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis variansi (Anova). Apabila uji statistik menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05), maka dilanjutkan uji lanjut Newman Keuls pada masing-masing taraf perlakuan untuk menentukan perbedaan antar perlakuan (Sudjana 1991). Data parameter kualitas
3

air dimasukkan ke dalam tabel dan selanjutnya dianalisis secara deskriptif. HASIL 1. Hasil dan Pembahasan 1.1. Habitat Ikan Katung Lokasi pengambilan sampel ikan katung adalah di Waduk Sungai Paku di Desa Sungai Paku Kecamatan Kampar Kiri Kabupaten Kampar. Kondisi di sekitar Waduk banyak terdapat semak belukar dan pohon-pohon kayu besar maupun kecil. Warna perairan agak gelap yaitu coklat dengan dasar perairan lumpur berpasir. Adapun parameter kualitas air yang diukur pada saat di lapangan dapat dilihat pada Tabel 1: Tabel 1. Parameter Kualitas Air di Waduk Sungai Paku Parameter Satuan Kisaran yang diukur 0 Suhu C 28-30 pH 5-6 DO ppm 5,2 Arus cm/det 4 Nilai suhu yang didapat pada saat di lapangan berkisar 28-300C. Suhu tersebut sudah dapat mendukung proses kehidupan organisme khususnya ikan katung karena menurut Sinaga dalam Simanjuntak (2007) suhu terbaik untuk mendukung kehidupan organisme perairan di daerah tropis berkisar 25-320C. Hasil pengukuran pH pada saat di lapangan berkisar 5-6 dengan warna perairan agak gelap yaitu coklat. Derajat keasaman (pH) mempunyai pengaruh yang besar terhadap tumbuhan dan hewan air. Pada umumnya pH yang sangat cocok bagi kehidupan ikan berkisar antara 6,7-8,6. Namun ada beberapa jenis ikan yang karena lingkungan hidupnya asli berada di rawa-rawa mempunyai ketahanan untuk hidup pH yang sangat rendah ataupun kisaran pH yang sangat tinggi yaitu 4,0-9,0 (Susanto, 1991) Oksigen terlarut merupakan salah satu faktor yang penting dalam kehidupan organisme perairan. Alaerts dan Santika (1984) mengemukakan bahwa oksigen terlarut dalam air dapat berasal dari hasil fotosintesis atau fitoplankton atau tanaman air lainnya, dan difusi dari udara. Hasil pengukuran oksigen terlarut di Waduk Sungai Paku berkisar 5,2 ppm. Hasil

pengukuran ini menunjukkan nilai oksigen terlarut di Waduk Sungai Paku masih baik dan layak untuk mendukung kehidupan organisme perairan. Menurut Boyd (1982) kisaran optimum oksigen terlarut bagi pertumbuhan ikan adalah 5 ppm, sedangkan menurut Wardoyo (1981) oksigen terlarut yang dapat mendukung kehidupan organisme secara normal adalah tidak kurang dari 4 ppm. 1.2. Penangkapan dan Transportasi Penangkapan ikan dilakukan dengan menggunakan alat tangkap tradisional yang disebut lukah, serta alat tangkap tersebut terbuat dari bambu dan kayu sebagai kerangkanya kemudian dililitkan jaring di sekelilingnya. Cara penangkapannya yaitu dengan menenggelamkan di pinggir waduk. Alat tangkap berupa pancing juga digunakan untuk menangkap ikan katung, penangkapan ikan di lokasi dilakukan pada pukul 06.00-12.00 WIB dengan menggunakan perahu sebagai armada penangkapan ikan. Pada proses pengangkutan menggunakan mobil dan sepeda motor dengan wadah sistem tertutup, yaitu dengan cara ikan-ikan yang sudah tertangkap di masukan ke dalam wadah pengangkutan yaitu berupa plastik packing yang berukuran 10 kg dengan kepadatan kurang lebih 20 ekor/plastik dan di isi air sebanyak 10 liter serta di isi oksigen, kemudian diikat dengan karet pengikat kemudian dilapisi karung goni untuk menghindari kebocoran pada plastik tersebut. Pengangkutan ikan dilakukan pada waktu sore hari yaitu pukul 16.00 WIB. Lama perjalanan dari lokasi pengambilan ikan uji hingga ke Laboratorium Teknologi Budidaya Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau lebih kurang 1,5 jam. Menurut Ismahadji, Widiarto dan Nazari (1995) faktor-faktor penting yang dapat mempengaruhi keberhasilan transportasi ikan hidup yaitu spesies, umur dan ukuran ikan, ketahanan relatif ikan, temperatur air, lama transportasi dan kondisi klimatologi pada saat tranportasi. 1.3.Pemeliharaan Ikan Katung Di Laboratorium 1.3.1. Tingkah Laku Ikan Katung Ikan katung pada awal penelitian diadaptasikan terlebih dahulu selama 1 hari dalam
4

wadah penelitian. Pengamatan dimulai pada hari ke-2 ketika ikan mulai diadaptasikan dengan pakan. Adapun tingkah laku ikan uji (Tabel 2). Tabel 2.Tingkah Laku Ikan Katung (Pristolepis grootii Blkr) Selama Penelitian Tingkah Laku Ikan Katung Dengan Ikan Pendamping pada hari ke 1 2 3 4 5 6 7 P1 + + + + P2 + + + ++ ++ ++ ++ P3 + + + + P4 + + + + Keterangan: - = Tidak merespon pakan dan pergerakan renang belum aktif, + = Kurang dan lambat merespon pakan dan pergerekan renang mulai aktif, ++ = Sudah merespon pakan dan pergerakan renang aktif. Dari pengamatan yang dilakukan setiap hari pada minggu pertama penelitian dan seterusnya, maka didapatkan hasil bahwa ikan katung dengan ikan pendamping lebih cepat mengenal pakan buatan yang diberikan, ikan katung sudah mulai mengenal pakan pada hari ke 3 dan sudah terbiasa makan pada hari ke 4. Seperti yang dikatakan Mariatun (2002) manfaat dari adanya ikan pendamping ini untuk mempercepat proses adaptasi ikan liar terhadap lingkungan yang baru (terkontrol). Affandi dalam Mariatun (2002) mengatakan bahwa untuk mempercepat proses domestikasi ikan yang masih liar perlu adanya ikan pendamping yang sudah biasa dibudidayakan seperti ikan mas, ikan nila, dan ikan gurami. Dan dikatakan lagi oleh Mariatun (2002) dari ketiga ikan pendamping yang paling baik untuk dijadikan sebagai pendamping adalah ikan nila. Hal ini terbukti dari perlakuan yang didampingi oleh ikan nila, ikan katung lebih cepat adaptasinya pada lingkungan dan cepat merespon terhadap pakan buatan yang diberikan. Ikan nila lebih cepat memberi contoh dalam berenang dan dalam merespon terhadap pakan buatan. Dapat dibuktikan bahwa pada hari ke 3 perlakuan yang merespon terhadap pakan buatan adalah ikan katung yang didampingi oleh ikan nila tersebut. Perlakuan

Pelet udang ini merupakan pelet yang mengandung protein tinggi (42%) juga bau yang sangat merangsang bagi ikan dan berbentuk tepung, karena bukaan mulut ikan-ikan pendampingnya yang masih berukuran 5-9 cm. Menurut Suyanto dan Mudjiman (1999) pelet udang yang baik atau aromanya sedap itu disenangi oleh ikan juga udang. Pelet tersebut sengaja diberi bahan yang berbau enak sebagai daya tarik (attractor) bagi ikan atau udang untuk memakannya. 1.3.2.Pertumbuhan Bobot Rata-Rata Ikan Katung Dari hasil penelitian yang telah dilakukan selama pemeliharaan, maka diperoleh adanya pertumbuhan bobot rata-rata ikan pada setiap perlakuan selama penelitian. Pertumbuhan bobot rata-rata ikan katung pada masing-masing perlakuan selama penelitian (Tabel 3). Tabel 3.Bobot Rata-rata Ikan Katung (Pristolepis grootii Blkr) Pada Awal, Pertengahan dan Akhir Penelitian. Perlakuan Bobot rata-rata (g) ikan katung pada hari KePertumbuhan (g) 1 25 50 15,14 26, 58 26,99 11,85 P1 20,83 31,95 39,08 18,25 P2 20,16 29,23 34,53 14,37 P3 24,77 29,84 32,95 8,18 P4 Keterangan: P1=Ikan katung 15 ekor tanpa ikan pendamping, P2=Ikan katung 10 ekor dan ikan pendamping nila 5 ekor, P3 = Ikan katung 10 ekor dan ikan pendamping mas 5 ekor, P4=Ikan katung 10 ekor dan ikan pendamping gurami 5 ekor Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa bobot rata-rata ikan katung pada masing-masing perlakuan selama penelitian menunjukkan adanya peningkatan. Hal ini dapat dikatakan karena pakan yang diberikan telah dapat dimanfaatkan ikan katung dengan baik sehingga ikan katung mengalami pertumbuhan. Ikan katung dengan ikan pendamping ikan nila (P2) mempunyai pertumbuhan bobot yang tertinggi, dibandingkan dengan perlakuan lainnya (P3,P4 dan P1). Pertumbuhan ikan katung yang tertinggi yaitu pada P2 (39,08 g), kemudian diikuti oleh P3 (34,53 g) dan P4 (32,95 g). Dan perlakuan dengan bobot
5

terendah yaitu pada P4 yaitu (26,99 g). Dan lebih jelasnya dapat dilihat juga pada grafik di bawah ini.
Pertumbuhan bobot Kontrol (P1) Nila (P2) Mas (P3) Gurami (P4) 1 25 50 Lama pemeliharaan (hari)

50 40 30 20 10 0

Gambar 1. Pertumbuhan Bobot Rata-rata Ikan Katung (Pristolepis grootii) Jika dilihat dari grafik di atas, pertumbuhan bobot rata-rata ikan katung selama penelitian menunjukkan adanya peningkatan. Hal ini disebabkan ikan katung telah memanfaatkan pakan yang diberikan, sehingga pertumbuhannya meningkat. Untuk pertumbuhannya ikan membutuhkan makanan yang tepat dan juga ketersediaan makanan. Menurut Asmawi, (1983) kecepatan pertumbuhan ikan tergantung pada jumlah makanan yang diberikan. Makanan tersebut dimanfaatkan untuk memelihara tubuh dan mengganti alat-alat tubuh yang rusak, setelah itu makanan yang tersisa digunakan untuk pertumbuhannya. 1.3.3.Pertumbuhan Bobot Mutlak Ikan Katung Dari hasil penelitian yang telah dilakukan selama lima puluh hari pemeliharaan, maka diperoleh pertumbuhan bobot mutlak ikan katung pada masing-masing perlakuan (Tabel 4). Tabel 4.Pertumbuhan Bobot Mutlak Ikan Katung (Pristolepis grootii Blkr) Selama Penelitian. Ulangan Bobot Mutlak (g) ikan katung pada perlakuan P1 P2 P3 P4 1 13,25 18,90 8,62 3,79 2 8,00 17,24 16,24 15,42 3 13,13 18,60 18,26 5,33 Jumlah 34,38 54,74 43,12 24,54

nila (P2) yaitu 18,24 g, dan yang paling terendah terdapat pada perlakuan dengan pendamping ikan gurami (P4) yaitu 8,18 g. Dari hasil uji statistik menggunakan analisis variansi diketahui bahwa penggunaan ikan pendamping tidak berbeda nyata (P>0,05) antar perlakuan pada pertumbuhan bobot mutlak ikan katung. Pertumbuhan ikan terjadi karena tersedianya pakan dalam jumlah yang cukup, dimana pakan yang dikonsumsi lebih besar dari kebutuhan pokok untuk kelangsungan hidup (Huet, 1986). Penambahan bobot tubuh ikan juga menunjukkan bahwa kandungan energi dalam pakan yang dikonsumsi ikan melebihi kebutuhan energi untuk pemeliharaan dan aktifitas tubuh lainnya (Lovell, 1988). 1.3.4. Laju Pertumbuhan Bobot Harian Ikan Katung Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan selama pemeliharaan, maka diperoleh laju pertumbuhan bobot harian ikan katung. Laju pertumbuhan bobot harian ikan katung pada masing-masing perlakuan (Tabel 5). Tabel 5. Laju Pertumbuhan Bobot Harian Ikan Katung (Pristolepis grootii Blkr) Selama Penelitian. Ulangan Laju Pertumbuhan Bobot Harian (%) ikan katung pada perlakuan P1 P2 P3 P4 1 1,71 1,04 0,48 0,87 2 0,54 1,08 1,26 1,44 3 1,60 2,01 0,03 0,28 Jumlah 3,85 4,13 1,77 2,59

Rata-rata 11,46 18,24 14,37 8,18 Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa pertumbuhan bobot mutlak antar perlakuan yang tertinggi terdapat pada perlakuan dengan pendamping ikan

Rata-rata 1,28 1,38 1,24 Perlakuan 0,66pe Pada Tabel di atas dapat dilihat bahwa ikan katung dengan ikan pendamping Nila (P2) adalah laju pertumbuhan yang tertinggi 1,38% kemudian diikuti ikan katung tanpa ikan pendamping atau kontrol (P1) yaitu 1,28%, ikan katung dengan ikan pendamping ikan gurami (P3) yaitu 1,24% dan ikan katung dengan ikan pendamping ikan mas (P4) yaitu 0,66% Berdasarkan uji statistik menggunakan analisis variansi diketahui bahwa penggunaan ikan pendamping tidak berbeda nyata (P>0,05) antar perlakuan pada pertumbuhan bobot harian ikan.
6

1.3.5. Pertumbuhan Panjang Rata-Rata Ikan Katung Dari hasil pengukuran yang telah dilakukan, maka diperoleh adanya panjang rata-rata ikan katung pada setiap perlakuan selama penelitian (Tabel 6). Tabel 6. Panjang Rata-rata Ikan Katung (Pristolepis grootii Blkr) Pada Awal, Pertengahan dan Akhir Penelitian. Perlakuan Panjang rata-rata (cm) ikan Pertum katung pada hari Kebuhan 1 25 50 P1 9,31 9,51 9,71 0,4 P2 9,73 10,27 10,82 1,09 P3 9,12 9,42 9,70 0,58 P4 8,22 8,43 8,57 0,35 Dari Tabel 6 dapat diketahui bahwa pertumbuhan panjang rata-rata ikan katung dengan ikan pendamping yang berbeda, perlakuan yang tertinggi terdapat pada perlakuan ikan katung dengan ikan pendamping nila (P2) sebesar 10,82 cm, diikuti perlakuan ikan katung tanpa ikan pendamping (P1) sebesar 9,71 cm dan perlakuan ikan katung dengan ikan pendamping mas (P3) sebesar 9,70 cm dan yang terendah pada perlakuan ikan katung dengan ikan pendamping gurami (P4) sebesar 8,57 cm. Untuk lebih jelasnya dapat juga dilihat pada grafik di bawah ini.
Pertumbuhan panjang

volume selama periode waktu tertentu yang disebabkan oleh perubahan jaringan akibat pembelahan sel yang terdapat pada bagian terbesar dari suatu makhluk hidup (Weatherly dalam Hartanto, 1996). 1.3.6. Pertumbuhan Panjang Mutlak Ikan Katung Dengan didapatkannya panjang rata-rata ikan katung, maka didapatkan juga pertumbuhan panjang mutlak ikan katung disetiap perlakuan. pe Perlakuan Tabel 7. Pertumbuhan Panjang Mutlak Ikan Katung (Pristolepis grootii Blkr) Selama Penelitian. Ulangan Panjang Mutlak (cm) ikan katung pada perlakuan P1 P2 P3 P4 1 0,18 1,63 1,10 0,31 2 0,87 1,45 0,34 0,60 3 0,20 0,17 0,30 0,12 Jumlah 1,25 3,25 1,74 1,03

12 10 8 6 4 2 0 1 25 50 Lama pemeliharaan (hari)

Kontrol Nila Mas Gurami

Rata-rata 0,42 1,08 0,58 0,34 Pada Tabel 7 dapat terlihat bahwa panjang mutlak yang tertinggi terdapat pada perlakuan ikan katung dengan ikan pendamping nila (P2) yaitu 1,08%, diikuti ikan katung dengan ikan pendamping mas (P3) yaitu 0,58%, ikan katung tanpa ikan pendamping (P1) yaitu 0,42% dan perlakuan ikan katung dengan ikan pendamping gurami (P4) yaitu 0,34%. Dari uji statistik menggunakan analisis variansi diketahui bahwa penggunaan ikan pendamping tidak berbeda nyata (P>0,05) antar perlakuan terhadap pertumbuhan panjang mutlak ikan katung. 1.3.7. Laju Pertumbuhan Panjang Harian Ikan Katung Dari hasil pengukuran yang telah dilakukan, maka diperoleh adanya laju pertumbuhan panjang harian ikan katung pada setiap perlakuan selama penelitan. dapat dilihat pada Tabel 8.

Gambar 2. Pertumbuhan Panjang Rata-rata Ikan Katung (Pristolepis grootii) Jika dilihat dari grafik di atas, pertumbuhan panjang rata-rata ikan katung selama penelitian menunjukkan adanya peningkatan. Hal ini dapat dikatakan karena pakan yang diberikan telah dapat dimanfaatkan ikan katung dengan baik sehingga ikan katung mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan merupakan perubuhan ukuran yang terjadi baik dalam berat, panjang maupun

Tabel 8. Laju Pertumbuhan Panjang Harian Ikan Katung (Pristolepis grootii Blkr) Selama Penelitian. Ulangan Panjang Harian (cm) ikan
7

1 2 3 Jumlah

katung pada perlakuan P1 P2 P3 0,04 0,30 0,20 0,15 0,27 0,07 0,04 0,04 0,08 0,23 0,61 0,35

P4 0,08 0,15 0,03 0,26

statistik menggunakan analisis variansi diketahui bahwa penggunaan ikan pandamping dalam domestikasi ikan katung berbeda nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan ikan katung. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada histogram di bawah ini.
100 80 60 40 20 0 Kontrol(P1) Nila(P2) Mas(P3) Gurami(P4) 53.33 80 60 56.66

Rata-rata 0,08 0,20 0,12 0,08 Pada Tabel di atas, dapat dilihat bahwa panjang harian yang tertinggi terdapat pada perlakuan ikan katung dengan ikan pendamping nila (P2) yaitu 0,20%, diikuti ikan katung dengan ikan pendamping mas (P3) yaitu 0,12%, ikan katung tanpa ikan pendamping (P1) yaitu 0,08% dan perlakuan ikan katung dengan ikan pendamping gurami (P4) yaitu 0,08%. Dari hasil uji statistik menggunakan analisis variansi diketahui bahwa penggunaan ikan pendamping tidak berbeda nyata (P>0,05) antar perlakuan pada pertumbuhan panjang harian ikan katung. 1.3.8. Kelulushidupan Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh kelulushidupan yang berbeda pada tiap perlakuan. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Kelulushidupan Ikan Katung (Pristolepis grootii Blkr) Selama Penelitian Ulangan Jumlah (ekor) ikan katung pada perlakuan P1 P2 P3 P4 1 50 90 50 50 2 50 80 60 60 3 60 70 70 60 Jumlah 160 240 180 170

Rata-rata 53,33 80 60 56,66 5,77a 10,00b 10,00a 5,77a Keterangan: Huruf super script yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan adanya perbedaan antar perlakuan Tabel 10, menunjukkan bahwa tingkat kelulushidupan tertinggi (80%) terdapat pada Perlakuan P2 yang menggunakan ikan nila sebagai ikan pendamping, dan perlakuan dengan hasil kelulushidupan yang terendah adalah pada perlakuan P1 yakni (53,33%). Berdasarkan uji

Gambar 3. Kelulushidupan Ikan Katung (Pristolepis grootii) Kelulushidupan pada perlakuan ikan katung tanpa ikan pendamping (P1/kontrol) adalah yang terendah yakni sebesar 53,33%, ini dikarenakan oleh ikan katung dalam adaptasi terhadap lingkungan dan makanannya yang cukup lama, serta disebabkan tidak adanya ikan pendamping yang merangsang ikan katung untuk merespon pakan lebih cepat. Pada perlakuan ikan katung dengan ikan pendamping nila (P2) kelulushidupan ikan katung mencapai 80%, ini disebabkan kerena ikan nila lebih cepat memberi contoh pada ikan katung dalam berenang dan dalam merespon terhadap pakan yang diberikan, serta ikan katung yang bentuk morfologinya hampir sama dengan pe ikan nila yang menyebabkan ikanPerlakuan katung mengikuti pergerakan ikan nila dan lebih cepat merespon terhadap pakan. Ini juga terbukti pada penelitian (Mariatun, 2002) bahwa ikan pantau (Rasbora lateristriata Blkr) lebih cepat adaptasinya pada lingkungan dan cepat merespon pakan yang diberikan dengan menggunakan ikan pendamping nila. Pada perlakuan ikan katung dengan pendamping ikan mas (P3) ikan katung juga masih lambat dalam merespon pakan namun tidak begitu halnya dengan ikan mas yang lebih cepat dalam merespon pakan, oleh karena itu terjadi kompetisi dengan ikan pendamping mas sehingga kelulushidupan hanya mencapai 60%. Penyebab kematian ikan katung pada perlakuan dengan pendamping ikan gurami disebabkan juga karena ikan katung dan ikan gurami lambat dalam merespon pakan sehingga kelulushidupan hanya mencapai 56,66%.
8

Kelulushidupan rendah juga diakibatkan karena dalam penangkapan ikan menggunakan alat tangkap pancing, sehingga mulut ikan terluka dan ikan masih lambat dalam merespon pakan. Penangkapan dan transportasi ikan juga menyebabkan rendahnya kelulushidupan dan lamanya adapatasi ikan terhadap lingkungan baru sehingga ikan masih lambat dalam merespon pakan. Menurut Parakkasi dalam Sapridin (2000) bahwa tersedianya pakan yang cukup dan sesuai bagi ikan yang dipelihara diharapkan dapat mencegah terjadinya kelaparan dan mengurangi angka kematian. 1.3.9. Kualitas Air Air merupakan media hidup untuk organisme hewan maupun tumbuhan air, dimana didalamnya mengandung berbagai bahan kimia baik dalam keadaan teerlarut maupun dalam keadaan pertikel. Kombinasi dari bahan-bahan ini membuat air dipakai secara penuh dan sangat penting sehingga pengetahuan tentang kualitas air menjadi sangat perlu (Efrizal, 1999). Kualitas air adalah faktor yang mempunyai peranan penting didalam usaha budidaya dan sangat perlu diperhatikan, agar memberikan daya dukung terhadap organisme yang dipelihara. Dalam penelitian ini, parameter kualitas air yang diukur yaitu suhu, pH, Oksigen terlarut (DO) dan Ammoniak. Hasil pengukuran kualitas air selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Parameter Kualitas Air Selama Penelitian
Perlakuan Kisaran Parameter Yang Diukur

Dari hasil pengukuran selama penelitian, pH air yaitu berkisar 6-7. Parameter kualitas air untuk ikan katung yang baik adalah suhu yang optimal adalah 250 C-300 C, pH (keasaman) 6,57,5, kandungan oksigen>3 ppm dan tidak tercemar. Habitat dan kebiasaan hidup ikan katung ialah semua perairan tawar, di sungai yakni air yang tidak terlalu deras atau pada perairan yang tenang seperti waduk, serta danau merupakan tempat hidup ikan katung, Dani (2000). Kandungan oksigen terlarut selama penelitian yaitu 2,8-4,0 ppm. Menurut Boyd (1982) kisaran optimum oksigen terlarut bagi pertumbuhan ikan adalah 5 ppm. Sedangkan menurut Susanto (1986) batas toleransi oksigen terlarut yang tidak membahayakan yaitu berkisar 5-6 ppm dan minimum 2 ppm. Kandungan amoniak selama penelitian berkisar 0,002-0,341 mg/l. Kondisi ini masih sesuai untuk kehidupan ikan katung, sebagaimana menurut pandapat Asmawi (1983) yang menyatakan bahwa kadar amoniak air yang baik untuk ikan dan organisme air lainnya adalah kurang dari 1 mg/l. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dengan skala laboratorium domestikasi ikan katung (Pristolepis grootii Blkr) dengan ikan pendamping yang berbeda sudah dapat dibudidayakan dan dapat dilaksanakan ke tahap budidaya dimana didapatkannya hasil terbaik pada perlakuan ikan pendamping nila (P2) yang menghasilkan Perlakuan pe kelulushidupan 80%. SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka disarankan penelitian selanjutnya menggunakan pemeliharaan di keramba atau di kolam. DAFTAR PUSTAKA Affandi, R. 2001. Budidaya Ikan Sidat (Anguila bicolor). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. 35 hal (tidak diterbitkan). Alaerts, G dan S.S santika., 1984. Metode Penelitian Air. Usaha Nasional, Surabaya. 309 hal.
9

Suhu P1 P2 P3 P4 27-29 26-29 27-29 26-28

pH 6-7 6-7 6-7 6-7

DO 2,8-3,9 2,8-4,0 2,8-3,4 2,8-3,8

Amoniak 0,006-0,341 0,003-0,293 0,005-0,338 0,002-0,261

Berdasarkan Tabel 11, dapat diketahui suhu air selama penelitian berkisar antara 26-290 C. Menurut Boyd (1982) keadaan suhu ini sesuai dengan kisaran suhu untuk ikan di daerah tropis yaitu berkisar antara 25-300 C dimana ikan dapat berkembang dan tumbuh dengan baik.

Asmawi. 1983. Pemeliharaan Ikan Dalam Keramba. Gramedia. Jakarta. 82 hal. Dani, T. 2000. Aspek Biologi Ikan Katung (Pristolepis grootii) Dari Waduk PLTA Koto Panjang Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten Kampar, Skripsi Pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Perikanan Universitas Riau. Pekanbaru. Dirjen Perikanan Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi, 1998. Makanan Ikan Sukabumi. 22 hal (tidak diterbitkan). Effendie, M. I., 1979. Metoda Biologi Perikanan. Yayasan Dwi Sri, Bogor. 112 hal. Efrizal, T, 1999. Kualitas Air Sungai Siak Ditinjau dari Aspek Fisika Kimia dan Struktur Komunitas Plankton. Lembaga Penelitian Universitas Riau. Pekanbaru. 31 hal (tidak diterbitkan). Hartanto, T. T., 1996. Peranan Vitamin C Terhadap Pertumbuhan dan Kenormalan Bentuk Tubuh Ikan Jabal Siam (Pangasius hypopthalmus) Dalam Aquarium. Thesis Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 50 hal (tidak diterbitkan). Huet, M., 1986. Text Book Fish Culture, Breeding and Cultivation. Fishing News Book. Oxford. 438 p. Ismahadi, L. Widiarto, Nazari. 1995. Laporan Pengembangan Transportasi Ikan Hidup dengan Cara Pemingsanan. Balai Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan. Jakarta. 17 hal (tidak diterbitkan). Lovell, R. T., 1988. Nutrition and Feeding of Fish. An AVI Book, Van Nonstrand Reinhold. New York. 269p. Mariatun, 2002. Domestikasi Ikan Pantau (Rasbora lateritriata Blkr) dengan Ikan Pendamping Yang Berbeda di Kolam. Skripsi Pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. (tidak diterbitkan). Mudjiman. 1999. Makanan Ikan. Edisi ke-12. PT. Penerbit Swadaya. Jakarta. 190 hal. Pulungan, C.P. 1987. Jenis-jenis ikan Cyprinid Daerah Riau. Estuaria. VII (2): 10-13. Sapridin. 2000. Pemanfaatan Fermentasi Limbah Sagu dan Tahu Dalam Makanan Sebagai Pemacu Pertumbuhan Ikan Jambal Siam

(Pangasius hypopthalmus). Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 57 hal (tidak diterbitkan). Sari. V. M. 2007. Domestikasi Ikan Selais Gabai (Ompok eugeneiatus) Dengan Ikan Pendamping Yang Berbeda. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 85 hal (tidak diterbitkan). Simanjuntak, C. P., 2007. Reproduksi Ikan Selais, Ompok hypopthalmus Blkr Berkaitan dengan Perubahan Hidromorfologi Perairan di Rawa Banjiran Sungai Kampar Kiri. Thesis Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, Bogot. 59 hal. Sudjana, 1991. Metode Statistik. Edisi V. Tarsito Bandung: 508 hal. Susanto, H. 1986. Ikan Air Tawar. Penebar Swadaya. Cimangis. Depok. 236 hal. Susanto, H. 1991. Budidaya Ikan Di Pekarangan. Penebar Swadaya. Jakarta. Wardoyo, S. T. H., 1981. Kriteria Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian dan Perikanan Training. Analisis Dampak Lingkungan PPLH-UNDP-PUSDI-PSL, IPB Bogor. 40 hal. Zonneveld, N., E. A. Huisman and J. H. Boon. 1991. Prinsip-prinsip Budidaya Ikan. Deterjemah oleh M. Sutjati. Gramedia. Pustaka Umum. Jakarta. 318 hal.

10