Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI

1. PERNAFASAN PADA HEWAN (JANGKRIK) 2. PERNAFASAN MENGHASILKAN KARBONDIOKSIDA OLEH : 1. MUHAMMAD ABDI ZIL IKRAM 2. I GEDE EKA SATRIA V. 3. MUHAMMAD ALDIKA DAVIDSON 4. ADHITYA HALIM PRAMATA 5. GIUSTO HIDAYAT 6. I PUTU MAS ADYAMANIKA
SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 2 MATARAM

1/1/2012

KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah Swt, Tuhan Yang Maha Esa. Berkat limpahan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan penulisan Laporan Praktikum Biologi Dasar dengan lancar. Laporan ini disusun dalam rangka menyelesaikan tugas penelitian Biologi Dasar, yaitu Penggunaan timbangan, 3 ekor jangkrik, kristal NaOH/KOH, Eosin atau tinta, vaselin atau plastisin, kapas, respirometer, dan pipet atau syiring. Oleh karena itu, pastinya Laporan ini tidak lupa dari kesalahan. Kami harap pada rekan seperjuangan dapat memberikan kritik dan saran kepada kami dalam rangka mencapai kesempurnaan. Agar nantinya dapat bermanfaat bagi rekan-rekan kita lainnya.

Hormat Kami,

Penulis

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ....... ii LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERNAFASAN PADA JANGKRIK 1. PENDAHULUAN. 1 1. Latar Belakang 1 2. Maksud dan Tujuan 1 3. Waktu dan Tempat. 1 2. TINJAUAN PUSTAKA.. 2 1. Respirasi ................ 2 2. Dasar Teori ............ 4 3. METODOLOGI 6 3.1. Alat dan Bahan.. 6 3.2.Cara Kerja........... 6 4. PEMBAHASAN... 7 4.1. Hasil Pengamatan 7 4.2. Analisa Hasil Pengamatan..... 8 4.3. Jawab Pertanyaan. 8 4.4. Kesimpulan 10 4.5 Lampiran 1............................................................................ 11 LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERNAFASAN MENGELUARKAN KARBONDIOKSIDA A. Tujuan................................................................................ 13 B. Dasar Teori......................................................................... 13 C. Alat dan Bahan................................................................... 14 D. Cara Kerja.......................................................................... 14 E. Masalah.............................................................................. 14 F. Analisis Hasil Pengamatan.................................................. 14 G. Kesimpulan.......................................................................... 15 H. Saran.................................................................................... 15 I. Lampiran 2........................................................................... 16 J. Daftar pustaka..................................................................... 17

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Respirasi merupakan proses penguraian bahan makanan yang menghasilkan energi. Respirasi dilakukan oleh semua makhluk hidup dengan semua penyusun tubuh, baik sel tumbuhan maupun sel hewan, dan manusia. Respirasi ini dilakukan baik siang maupun malam (syamsuri, 1980). Pada praktikum ini akan mempelajari respirasi pada hewan yaitu Jangkrik 1.2 Permasalahan Permasalahan yang dihadapi praktikan ini adalah bagaimana membuktikan jangkrik membutuhkan O2 dalam respirometer. 1.3 Maksud dan Tujuan Tujuan praktikum ini adalah praktikan mampu mengetahui atau menghitung penggunaan oksigen (O2) oleh hewan jangkrik . 1.4 Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 06 Februari 2012 pukul 08.00 WITA. Praktikum ini dilakukan di laboratorium Biologi SMA Negeri 2 Mataram.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


1.

Respirasi Yang dimaksud dengan respirasi adalah proses penguraian bahan makanan yang

menghasilkan energi. Respirasi dilakukan oleh semua penyusun tubuh, baik sel-sel tumbuhan maupun sel hewan dan manusia. Respirasi dilakukan baik siang maupun malam (syamsuri, 1980). Sebagaimana kita ketahui dalam semua aktivitas makhluk hidup memerlukan energi, tumbuhan juga. Respirasi terjadi pada seluruh bagian tubuh tumbuhan, pada tumbuhan tingkat tinggi respirasi terjadi baik pada akar, batang maupun daun dan secara kimia pada respirasi aerobik pada karbohidrat (glukosa) adalah kebalikan fotosintesis. Pada respirasi pembakaran glukosa oleh oksigen kan menghasilkan energi. Karena semua bagian tumbuhan tersusun atas jaringan dan jaringan tersusun atas sel, maka respirasi terjadi pada sel (jasin, 1989). Kandungan katalis disebut juga enzim, sangat penting untuk siklus reaksi respirasi (sebaik-baiknya proses respirasi ). Beberapa reaksi kimia membolehkan mencampur dengn fungsi dari enzim memperbat enzim atau dengan mengkombinasi dengan sisi aktifnya. Penggunaan ini akan dapat dilihat hasilnya pada inhibitor dari aktivitas enzim (mertens, 1966). Sistem pernapasan adalah pertukaran gas O2 dan CO2 dalam tubuh organisme dan bertujuan mendapatkan energi. Alat respirasi pada berbagai hewan berbeda-beda. Pada hewan tingkat rendah O2 langsung berdifusi melalui permukaan tubuh, pada serangga adalah trakea, kalajengking dengan paru-paru buku, ikan dengan insang, katak dengan paruparu, kulit dan rongga mulut, reptile dengan paru-paru, dll (panduan primagama). Respirasi juga terjadi pada manusia yang disebut dengan pernapasan. Proses menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Respirasi pada manusia bisa memiliki gangguan seperti penyakit infeksi saluran pernapasan akut atau yang disebut juga (ISPA), hal ini merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia karena masih tingginya angka

kejadian ISPA terutama pada anak balita. Untuk mencegahnya bisa digunakan sanitasi rumah, yaitu usaha kesehatan masyarakat yang menitik beratkan pada pengawasan terhadap struktur fisik, dimana orang menggunakan sebagai tempat berlindung yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Sarana tersebut antara lain ventilasi, suhu, kelembapan, padatan hunian, penerangan alami, kontruksi bangunan, sarana pembuangan sampah, sarana pembuangan kotoran manusia dan penyediaan air bersih ( nindya, sulistyorini, 2005).

2. Dasar Teori Laju metabolisme adalah jumlah total energi yang diproduksi dan dipakai oleh tubuh per satuan waktu (Seeley, 2002). Laju metabolisme berkaitan erat dengan respirasi karena respirasi merupakan proses ekstraksi energi dari molekul makanan yang bergantung pada adanya oksigen (Tobin, 2005). Secara sederhana, reaksi kimia yang terjadi dalam respirasi dapat dituliskan sebagai berikut: C6H12O6 + 6O2 6 CO2 + 6H2O + 38 ATP (Tobin, 2005). Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya oksigen yang dikonsumsi makhluk hidup per satuan waktu. Hal ini memungkinkan karena oksidasi dari bahan makanan memerlukan oksigen (dalam jumlah yang diketahui) untuk menghasilkan energi yang dapat diketahui jumlahnya. Akan tetapi, laju metabolisme biasanya cukup diekspresikan dalam bentuk laju konsumsi oksigen. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen antara lain temperatur, spesies hewan, ukuran badan, dan aktivitas (Tobin, 2005). Laju konsumsi oksigen dapat ditentukan dengan berbagai cara, antara lain dengan menggunakan mikrorespirometer, metode Winkler, maupun respirometer Scholander. Penggunaan masing-masing cara didasarkan pada jenis hewan yang akan diukur laju konsumsi oksigennya. Mikrorespirometer dipakai untuk mengukur konsumsi oksigen hewan yang berukuran kecil seperti serangga atau laba-laba. Metode Winkler merupakan suatu cara untuk menentukan banyaknya oksigen yang terlarut di dalam air (Anonim, wikipedia.org). Dalam metode ini, kadar Oksigen dalam air ditentukan dengan cara titrasi. Titrasi merupakan penambahan suatu larutan yang telah diketahui konsentrasinya (larutan standar) ke dalam larutan lain yang tidak diketahui konsentrasinya secara bertahap sampai terjadi kesetimbangan (Chang, 1996).

Dengan metode Wingkler, kita dapat mengetahui banyaknya oksigen yang dikonsumsi oleh hewan air seperti ikan. Respirometer Scholander digunakan untuk mengukur laju konsumsi oksigen hewanhewan seperti katak atau mencit. Alat ini terdiri atas syringe, manometer,tabung spesimen, dan tabung kontrol. Pada serangga sistem trakea merupakan alat untuk mengambil oksigen dari luar, mendistribusikannya ke seluruh tubuh dan mengeluarkan karbon dioksida. Udara masuk ke trakea dengan cara difusi melalui spirakel atau dibantu oleh ventilasi udara. Sistem trakea pada jangkrik cukup khas seperti yang terdapat pada serangga dan serangga pada umumnya. Trakea-trakea bermula pada lubang-lubang kecil pada eksoskeleton (kerangka luar) yang disebut spirakel. Pada serangga yang lebih kecil atau kurang aktif masuknya O2 melalui sistem trakea dengan fungsi yang sederhana. Sebaiknya serangga yang berukuran beras dan aktif seperti jangkrik dengan gait melakukan pertukaran udara dengan trakeanya. Kontraksi pada otot jangkrik memipihkan organ-organ kendur, pernapasan ini dikenal dengan pernapasan vital paru-paru dan pada titik ekspirasi maksimum kira-kira (udara residu) tetap ada di paru-paru. Untuk mengerti respirasi hewan maka kita tidak hanya memandang sifat dari alat pernapasanya saja tetapi mekanisme yang digunakan untuk mengendalikan respirasi dan adaptasi terhadap lingkungan berbeda-beda. Bersama dengan fungsi homoiostatik yang lain, respirasi hewan harus diintegrasikan dan dikoordinasikan dengan kegiatan pengendalian yang lain.

BAB III METODOLOGI 3.1 Alat dan bahan : 1. Respirasi sederhana 2. Timbangan 3. 3 ekor jangkrik 4. Kristal NaOH/KOH 5. Eosin/tinta 6. Vaselin/plastisin 7. Kapas 8. Pipet/syiring 9. Stopawatch 10. Gelas Kimia 3.2 Cara kerja : 1. Bungkuslah Kristal NaOH/KOH dengan kapas, lalu masukkan dalam tabung respirometer. 2. Masukkan jangkrik yang telah ditimbang beratnya ke dalam botol respirometer, kemudian tutup dengan pipa berskala. 3. Oleskan vaselin/plastisin pada celah penutup tabung. 4. Tutup ujung pipa berskala dengan jari kurang lebih satu menit, kemudian lepaskan dan masukkan setetes eosin dengan menggunakan pipet /syiring. 5. Amati dan catat perubahan kedudukan eosin pada pipa berskala setiap 5 menit pertama dan Kedua . 6. Lakukan percobaan yang sama (langkah 1 sampai dengan 5) menggunakan jangkrik lain dengan ukuran yang berbeda.

BAB VI DATA DAN PEMBAHASAN PERNAFASAN PADA HEWAN JANGKRIK

4.1 Hasil Pengamatan NO Jumlah Jangkrik Pengamatan O2 dalam 5 menit pertama 1. 2. 3. 1 ekor 2 ekor 3 ekor Eosin berjalan dari 0-0,2 ml Eosin berjalan dari 0-0,38 ml Eosin berjalan dari 0-0,3 ml Pengamatan O2 dalam 5 menit kedua Eosin berjalan dari 0,2 -0,33 ml Eosin berjalan dari 0,38-0,59 ml Eosin berjalan dari 0,3-0,54 ml

4.2 Analisis Hasil Pengamatan a. Pada satu ekor jangkrik Dengan waktu 10 menit, eosim mengalami pergesaran yang menunjukkan seberapa besar penggunaan O2. Pada 5 menit pertama eosin bergeser dari 0 sampai 0,2, sehingga penggunaan O2 0,2 juga. Dan pada menit kedua mengalami pergeseran dari 0,2 sampai 0,33 yang berarti penggunaan O2 sebesar 0,13. b. Pada dua ekor jangkrik Dengan waktu 10 menit, eosim mengalami pergesaran yang menunjukkan seberapa besar penggunaan O2 . Pada 5 menit pertama eosin bergeser dari 0 sampai 0,38, sehingga penggunaan O2 0,38 juga. Dan pada menit kedua mengalami pergeseran dari 0,38 sampai 0,59 yang berarti penggunaan O2 sebesar 0,21. c. Pada tiga ekor jangkrik

Dengan waktu 10 menit, eosim mengalami pergesaran yang menunjukkan seberapa besar penggunaan O2 . Pada 5 menit pertama eosin bergeser dari 0 sampai 0,3, sehingga penggunaan O2 0,3 juga. Dan pada menit kedua mengalami pergeseran dari 0,3 sampai 0,54 yang berarti penggunaan O2 sebesar 0,24. 4.3 Jawab Pertanyaan Soal Dan Jawaban : 1. Dari kegiatan yang kamu lakukan, tentukan a. Variabel manipulasi b. Variabel kontrol c. Variabel respon Jawab : a. Yaitu adanya perbedaanya jumlah media percobaan pada hewan jangkrik b. Waktu dan oksigen (O2) merupakan variabel kontrol. c. Variabel respon ditunjukan oleh adanya pergeseran eosin sebagai tanda batas penggunaan oksigen (O2). 2. Apakah yang menyebabkan terjadinya oergeseran eosin dalam percobaan ini? Jawab : Karena serangga (jangkrik) berusaha menghirup oksigen dari luar melalui tabung kapiler besekala, sehingga setiang serangga (jangkrik) memperoleh oksigen dan eosin akan bergerak. 3. Apa fungsi KOH dalam percobaan tersebut? Jawab : Mengikat CO2, sehingga pergerakan dari eosin benar-benar hanya disebabkan oleh konsumsi oksigen. Selain itu juga, KOH memiliki sifat higroskopis yang mampu menyerap uap air (H2O) di udara. Selain itu KOH juga merupakan basa kuat sementara CO2 adalah oksida asam sehingga KOH juga dapat menyerap CO2 dari udara dengan reaksi:

2KOH + CO2 -> K2CO3 + H2O.

4.

5. Dari grafik yang diperoleh pada no. 3, jelaskan hubungan anatara variasi jumlah jangkrik dengan konsumsi oksigen mengapa demikian ? Jawab : Jumlah jangkrik dengan penggunaan O2 memiliki hubungan yang signifikan. Dimana jumlah yang lebih banyak mengalami perubahan yang lebih banyak dan peningkatan yang mengikat secara signifikan juga. Sedangkan jumlah yang sedikit mengalami perubahan yang lebih sedikit tetapi

peningkatannya meningkat tetap secara signifikan atau teratur. 6. Apakah fungsi oksigen pada proses respirasi makhluk hidup? Tuliskan persamaan reaksinya! Jawab : Manfaat Oksigen Bagi Tubuh Kebutuhan tubuh terhadap oksigen merupakan kebutuhan yang sangat mendasar dan mendesak. Tanpa oksigen dalam waktu tertentu, sel tubuh

akan mengalami kerusakan yang menetap dan menimbulkan kematian. Otak merupakan organ yang sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen. Otak masih mampu menoleransi kekurangan oksigen antara tiga sampai lima menit. Apabila kekurangan oksigen berlangsung lebih dari lima menit, dapat terjadi kerusakan sel otak secara permanen (Kozier dan Erb 1998). Oksigen merupakan suatu komponen yang sangat penting di dalam memproduksi molekul Adenosin Trifosfat (ATP) secara normal. ATP adalah sumber bahan bakar untuk sel agar dapat berfungsi secara optimal. ATP membcrikan energi yang diperlukan oleh sel untuk melakukan keperluan berbagai aktivitas untuk memelihara efektivitas segala fungsi tubuh. Bila oksigen tersedia di dalam tubuh secara adekuat, maka mitokondria akan memproduksi ATP. Tanpa oksigen, mitokondria tidak dapat membuat ATP. Walaupun dalam kondisi kekurangan oksigen akan diproduksi ATP melalui proses glikolisis di dalam sitosol, akan tetapi ATP yang dihasilkan tidak sebanyak di dalam mitokondria. Oleh karena tidak adekuatnya oksigen, sel akan kehilangan fungsinya dan selanjutnya akan mengakibatkan jaringan dan organ tubuh juga kehilangan fungsinya. Hal tersebut menyebabkan kehidupan seseorang berada dalam bahaya. Persamaan Reaksi : C6H12O6 + 6O2 6 CO2 + 6 H2O + ATP

4.4 Kesimpulan : Pada percobaan ini, dapat dipastikan bahwa hewan selama bernafas juga membutuhkan oksigen (O2) yang digunakan sebagai pembakar bahan makanannya dalam tubuhnya yang kemudian diperoleh energi. Dan dalam penggunaannya semakin besar jumlah jangkrik semakin besar jumlah penggunaannya oksigen (O2).

Lampiran 1 Gambar Hasil Mengamatan

PERNAFASAN MEMBUKTIKAN KARBONDIOKSIDA (CO2) A. Tujuan : Membuktikan bahwa udara sisa pernafasan yang kita hembuskan mengandung karbondioksida (CO2). B. Dasar Teori : Pernapasan adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan dua proses yang berbeda tapi saling berhubungan, yaitu pernapasan seluler dan pernapasan mekanik. Pernapasan seluler adalah proses dimana sel memperoleh energi melalui pemecahan molekul organik. Pernapasan mekanik adalah proses penyerapan oksigen untuk pernapasan seluler yang diserap dari atmosfer ke dalam sistem vaskuler darah dan pengeluaran karbondioksida ke atmosfer. Pernapasan adalah proses pertukaran gas O2 dengan CO2 sebagai hasil metabolisme normal dan zat yang dibutuhkan atau diperlukan dalam pernapasan itu sendiri. Pernapasan merupakan pembakaran (metabolisme atau disimilasi) dimana energi yang disimpan tadi dikembalikan lagi untuk mengembalikan proses-proses kehidupan atau respirasi adalah proses pembokaran energi yang tersimpan untuk dimanfaatkan dalam proses-proses kehidupan. Sistem pernapasan memiliki komponen fungsional yaitu sistem konduksi untuk mengangkut gas ekspirasi dan inspirasi antara atmosfer dan sistem sirkulasi, serta sebagai permukaan untuk pertukaraan pasif gas antara atmosfir dan darah. Sistem konduksi pada darahnya diawali sebagai saluran tunggal yang bercabang-cabang membentuk jalan pernapasan yang diameternya semakin kecil. Percabangan terminal dari sistem konduksi membuka ke dalam kantung berujung buntu yang disebut alveoli yang merupakan tempat pertukaraan gas. Respirasi atau oksigen glukosa adalah merupakan sumber energi yang utama untuk kebanyakan sel. Pada waktu glukosa dipecah dalam suatu rangkaian reaksi enzimatis, beberapa energi disebabkan dalam bentuk ikatan fosfat berenergi tinggi (ATP) dan sebagian lagi hilang sebagai panas.

Proses utama respirasi adalah mobilisasi senyawa organik dan oksidasi senyaw. Senyawa tersebut secara terkendali untuk membebaskan energi bagi pemeliharaan dan perkembangan tumbuhan. C. Alat dan Bahan : Gelas kimia Selang plastik Air kapur Fenoflialin (PP)

D. Cara kerja : Tuang cairan atau kapur kedalam gelas kimia Teteskan eosin dan fenoftialin (PP) kedalam air kapur Tiup air kapur yang telah dicampur eosin dan fenoftialin (PP) Hembuskan hingga terjadinya perubahan Amati !!

E. Masalah : Apa sajakah yang dikeluarkan oleh tubuh dalam proses pernapasan ? F. Analisis Hasil Pengamatan : Pada percobaan ini, terlihat adanya perubahan warna air kapur yang awalnya berwarna bening yang berubah menjadi keruh. Bahkan menghasilkan endapan didaerah dasar gelas. Cairan berubah warna dari ungu menjadi merah muda (pink) sampai menjadi putih susu. Pada botol A yang hanya dituangkan air kapuur saja warnanya bening. Pada botol B yang juga dituangkan air kapur warnanya bening tapi telah ditetesi larutan fenoftialin (pp) warnanya berubah menjadi merah muda namun setelah kita hembuskan udara pernafasan(CO2) secara perlahan-lahan warna air kapur tadi beruabh menjadi karuh dan menjadi putih.

Pertanyaan : 1. Mengapa air kapur menjadi lebih keruh ? 2. Apa fungsi kapur pada percobaan ini ? Jawaban : 1. Dalam percoaan, air kapur yang semula bening akan berubah menjadi keruh. Hal ini dikarenakan air kapur bereaksi dengan karbondioksida yang ditiupkan.

Kejernihannya tidak sama, pada botol A warnanya bening namun pada botol B warnanya keruh. Botol A lebih jernih dibandingkan botol B. Hal tersebut dapat terjadi karena botol A hanya dituangkan air kapur saja sehingga warnanya tetap bening sedangkan pada botol B air kapur kita tetesi larutan fenoftialin (PP) dan kita hembuskan udara pernafasan (CO2) sehingga warnanya keruh. 2. Fungsi air kapur pada percobaan ini adalah sebagai indikator dalam percobaan ini. Dimana kapur ini sebagai pembukti bahwa sistem respirasi mengeluarkan CO2.
G. Kesimpulan

Pada percobaan ini, kita dapat membuktikan bahwa udara pernafasan yang kita hembuskan mengandung karbondioksida (CO2). Hal ini dapat dibuktikan dengan kondisi keruhnya air kapur. Dimana karbondioksida (CO2) yang kita keluarkan saat bernafas akan bereaksi dengan zat yang terkandung dalam air kapur. Air kapur yang jernih setelah ditetesi larutan fenoftialin (PP) akan berubah warna menjadi pink (merah muda) dan setelah kita hembuskan udara pernafasan (karbondioksida) akan berubah menjadi keruh karena air kapur yang bening akan berubah warna menjadi keruh setiap jika terkena karbondioksida. E. Saran Pada kegiatan praktikum ini, sebaiknya alat dan bahan yang akan digunakan di persiapkan terlebih dahulu, agar praktikan dapat berjalan dengan baik. Dan untuk para praktikan agar mempersiapkan diri materi-materi yang akan dipraktekkan, agar dalam kegiatan praktikum tidak terhambat.

Lampiran 2 Gambar Hasil Pengamatan

Daftar Pustaka http//www.laporan praktikum respirasi jangkrik Irwanalyani's Blog.htm http//www. Laporan Praktikum Dani's Blog.htm http//www. V3s Blog Blog Archive Laporan praktikum Respirasi.htm http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pembicaraan:Kalsium_hidroksida&action=edi t&redlink=1

Anda mungkin juga menyukai