Anda di halaman 1dari 25

Etika Pergaulan Dalam Islam

Islam adalah agama yang mengatur manusia berdasar iman dan amal, yang keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Sehingga iman tanpa disertai amal adalah bukti ketidaksempurnaan iman seseorang, sementara amal yang tidak didasari dengan iman juga tidak akan diterima amalnya. Islam telah menanamkan keimanan kepada penganutnya dengan proses yang rasional (masuk akal), buka berupa doktrin-doktrin khayalan yang dipaksakan. Jika penanaman keimanan terhadap seseorang benar, maka secara pasti akan menggerakkan seseorang tersebut tunduk dan patuh dengan aturan yang diturunkan Allah SWT kepadanya. Proses keimanan itulah yang telah ditanamkan kepada kaum muslimin generasi pertama (para shahabat) dan orang-orang yang mengikuti di belakang mereka, hingga menghasilkan generasi yang teguh dalam memegang agama dan militan dalam memperjuangkan penyebaran ajarannya. Kondisi semacam ini menyebabkan Islam bisa tergambar dari individu-individu muslim yang hidup pada masa itu, bahkan lebih dari itu Islam tergambar dalam sebuah aturan negara. Sehingga kaum muslimin sangat mudah untuk menggambarkan aturan Islam dalam berbagai masalah. Seluruh aturan Islam yang berhubungan dengan hubungan sosial dapat digambarkan melalui aktivitas kehidupan masyarakat sehari-hari. Hingga ketika itu muncul suatu kaidah syara: Adat-istiadat merupakan hukum syara Kondisi semacam itu jelas berbeda dengan kondisi masyarakat yang ada di dunia kaum muslimin saat ini. sehingga untuk mengetahui suatu hukum, kita tidak bisa berkaca dari aktivitas keseharian di dalam kehidupan masyarakat. Untuk itu perlu dilakukan kajian-kajian secara khusus kalau kita ingin mengetahui sesuatu hukum, yang tidak jarang hasil dari kajian tersebut dianggap cukup asing bagi masyarakat secara umum, atau bahkan disikapi dengan penolakan. Peran Lingkungan dan Musuh-musuh Islam Kalau kita lihat fenomena asingnya Islam tersebut bisa terjadi karena kaum muslimin pada masamasa kemundurannya, dalam mengkaji fiqh Islam, mulai dipisahkan kaitannya dengan aqidah. Lebih dari itu, kajian mengenai beberapa hal bahkan sedikit demi sedikit mulai diharamkan untuk dibahas, seperti masalah jihad, penerapan Islam dalam sebuah negara dan lain-lain. Sehingga berbagai masalah yang dulunya sudah menjadi pemahaman umum bagi kaum muslimin (maluumun minad diin bid dharurah = pengetahuan tentang agama yang sudah tidak perlu diperdebatkan lagi) -seperti wajibnya shalat, puasa, haramnya riba, wajibnya penerapan Islam secara menyeluruh dll- kini banyak diperdebatkan status hukumnya. Bergesernya kekuatan dari kaum muslimin ke masyarakat Barat pada awal abad ke-20 membuat banyak kaum muslimin -setelah sebelumnya dilakukan pendegradasian nilai-nilai keislaman- silau dengan kebiasaan Barat. Selain itu, kondisi semacam ini memang direncanakan oleh musuhmusuh Islam.

Karena lamanya kaum muslimin berinteraksi dengan kehidupan Barat -di sisi lain Islam mulai diabaikan- telah menyebabkan apa yang dimiliki oleh orang Barat, saat ini seolah sudah menjadi milik kaum muslimin sendiri, yang seolah mengakar sedemikian lama, sehingga tidak perlu dipermasalahkan. Kalau kita mau mendata di jalan-jalan, mungkin lebih dari 70% yang berduaduaan, kencan, berboncengan atau yang sejenis itu adalah orang Islam. Tidak jarang orang tua mencotohkan kepada anaknya bagaimana dirinya dulu memperoleh pasangan. Seolah hal ini sudah menjadi budaya turun temurun. Secara sederhana seorang anak akan melihat Islam dengan melihat orang tuanya (sebab orang tuanya Islam). Kalau orang tuanya pacaran, berarti (mungkin) dia bersimpulan bahwa pacaran boleh. Untuk itu, sulit bagi kaum muslimin, saat ini, dalam masalah pergaulan, membedakan pergaulan seperti apa sebenarnya yang Islami. Pacaran yang dulunya dianggap tabu, kini menjadi wajar atau bahkan perlu. Ada yang menganggap bahwa yang tidak boleh adalah kumpul kebo sedangkan pacaran no problem. Bahkan beberapa kalangan saat ini menganggap bahwa keperawanan bukan sesuatu yang perlu diagungkan. Untuk itu kalau kita ingin menilai aturan pergaulan dengan melandaskan pada perkembangan kebudayaan masyarakat belaka, tanpa didasari dengan kajian fiqihnya akan menyebabkan kita tergelincir dari ajaran Islam. Kita tidak bisa menilai baik atau buruk hanya dengan mengandalkan penilain masyarakat umum di daerah di mana kita berada. Jika kita ingin benar-benar terikat dengan aturan Islam maka mau tidak mau kita harus mengkaji tentang masalah yang ingin kita jalankan. Bagaimana Islam Mengatur Pergaulan Untuk mengetahui bagaimana konsep Islam dalam mengatur pergaulan, harus diketahui terlebih dahulu beberapa konsep dasar dalam Islam yang secara langsung atau tidak ada kaitannya dengan pergaulan. Beberapa konsep tersebut adalah sebagai berikut: 1. Menundukkan pandangan, tidak melihat aurat orang lain, dan memelihara kemaluan dari berzina (lihat QS. An-Nuur 30). 2. Baik laki-laki maupun wanita harus betul-betul bertaqwa kepada Allah SWT (lihat QS. An-Nisa 9 dan Al-Ahzab 55). 3. Menjauhkan diri dari tempat-tempat yang syubhat (yang meragukan status hukumnya), agar tidak jatuh dalam kemaksiyatan, seperti tercantum dalam banyak hadits. 4. Untuk mereka yang belum sanggup nikah harus selalu memelihara diri dari perbuatan dosa (lihat QS. An-Nuur 33).

5. Tidak melakukan Khalwat, yaitu bersepi-sepian (berduaan saja) antara seorang laki-laki dan seorang wanita. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad Tidak boleh seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita, kecuali disertai muhrim si wanita itu !. ) ) 6. Tidak mendekati zina (lihat QS. Al-Isra 32). Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini merupakan larangan Allah SWT pada hamba-Nya dari melakukan zina, hal-hal yang mendekatkan pada zina, melakukan perbuatan pendahuluan zina dan propaganda untuk berzina (Tafsir Ibnu Katsir, III, hal. 50). Larangan ini berarti mencakup larangan saling berpandangan dengan syahwat, berduaan, bergandengan tangan, mencium, mojok, dan saling merayu antara lain jenis yang bukan suami istri. 7. Tidak bersuara mendesah yang merangsang (lihat QS. Al-Ahzab 32). , Islam membolehkan laki-laki dan wanita bukan muhrim (orang yang haram dikawini) berkumpul dan berinteraksi di tempat-tempat umum, seperti jalan, masjid, kebun-kebun umum (tempat rekreasi) dan lain-lain untuk tujuan yang diperbolehkan syara dan memang memerlukan interaksi, misalnya shalat berjamaah (di masjid), menunaikan ibadah haji dan sebagainya. Sedangkan di tempat-tempat khusus, seperti rumah pribadi, mobil pribadi dan lain-lain Islam mengharamkan.

ETIKA PERGAULAN DAN BATAS PERGAULAN DI ANTARA LELAKI DAN WANITA MENURUT ISLAM. 1.Menundukkan pandangan: ALLAH memerintahkan kaum lelaki untuk menundukkan pandangannya, sebagaimana firmanNYA; Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. (an- Nuur: 30)

Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada kaum wanita beriman, ALLAH berfirman; Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. (an- Nuur: 31) 2.Menutup Aurat: ALLAH berfirman; dan jangan lah mereka mennampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka melabuhkan kain tudung ke dadanya. (an-Nuur: 31) Juga Firman-NYA; Hai nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri- isteri orang mukmin: Hendaklah mereka melabuhkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenali, kerana itu mereka tidak diganggu. Dan ALLAH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (an-Nuur: 59). Perintah menutup aurat juga berlaku bagi semua jenis. Dari Abu Daud Said al-Khudri r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda: Janganlah seseorang lelaki memandang aurat lelaki, begitu juga dengan wanita jangan melihat aurat wanita. 3.Adanya pembatas antara lelaki dengan wanita; Kalau ada sebuah keperluan terhadap kaum yang berbeza jenis, harus disampaikan dari balik tabir pembatas. Sebagaimana firman-NYA; Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (para wanita) maka mintalah dari balik hijab. (al-Ahzaab: 53) 4.Tidak berdua-duaan Di Antara Lelaki Dan Perempuan; Dari Ibnu Abbas r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Janganlah seorang lelaki berdua-duaan (khalwat) dengan wanita kecuali bersama mahramnya. (Hadis Riwayat Bukhari & Muslim) Dari Jabir bin Samurah berkata; Rasulullah SAW bersabda: Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duan dengan seorang wanita, kerana syaitan akan menjadi ketiganya. (Hadis Riwayat Ahmad & Tirmidzi dengan sanad yang sahih) 5.Tidak Melunakkan Ucapan (Percakapan): Seorang wanita dilarang melunakkan ucapannya ketika berbicara selain kepada suaminya. Firman ALLAH SWT; Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara (berkata-kata yang menggoda) sehingga berkeinginan orang yang ada penyakit di dalam hatinya tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik. (alAhzaab: 32) Berkata Imam Ibnu Kathir; Ini adalah beberapa etika yang diperintahkan oleh ALLAH kepada para isteri Rasulullah SAW serta kepada para wanita mukminah lainnya, iaitu hendaklah dia kalau berbicara dengan orang lain tanpa suara merdu, dalam pengertian janganlah seorang wanita berbicara dengan orang lain sebagaimana dia berbicara dengan suaminya. (Tafsir Ibnu Kathir 3/350) 6.Tidak Menyentuh Kaum Berlawanan Jenis; Dari Maqil bin Yasar r.a. berkata; Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik daripada menyentuh kaum wanita yang tidak halal baginnya. (Hadis Hasan Riwayat Thabrani dalam Mujam Kabir) Berkata Syaikh al-Abani Rahimahullah; Dalam hadis ini terdapat ancaman keras terhadap orang- orang yang

menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (Ash-Shohihah 1/448) Rasulullah SAW tidak pernah menyentuh wanita meskipun dalam saat-saat penting seperti membaiat dan lain- lainnya. Dari Aishah berkata; Demi ALLAH, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat. (Hadis Riwayat Bukhari)

Inilah sebahagian etika pergaulan lelaki dan wanita selain mahram, yang mana apabila seseorang melanggar semuanya atau sebahagiannya saja akan menjadi dosa zina baginya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW; Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya ALLAH menetapkan untuk anak adam bahagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata dengan memandang, zina lisan dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan- angan, lalu farji yang akan membenarkan atau mendustakan semuanya. (Hadis Riwayat Bukhari, Muslim & Abu Daud) Padahal ALLAH SWT telah melarang perbuatan zina dan segala sesuatu yang boleh mendekati kepada perbuatan zina. Sebagaimana FirmanNYA; Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk. (al-Isra: 32) Hukum Bercouple SETELAH memerhatikan ayat dan hadis tadi, maka tidak diragukan lagi bahawa bercouple itu haram, kerana beberapa sebab berikut: 1.Orang yang bercouple tidak mungkin menundukkan pandangannya terhadap kekasihnya. 2.Orang yang bercouple tidak akan boleh menjaga hijab. 3.Orang yang bercouple biasanya sering berdua-duaan dengan pasangan kekasihnya, baik di dalam rumah atau di luar rumah. 4.Wanita akan bersikap manja dan mendayukan suaranya saat bersama kekasihnya. 5.Bercouple identik dengan saling menyentuh antara lelaki dan wanita, meskipun itu hanya berjabat tangan. 6.Orang yang bercouple, boleh dipastikan selalu membayangkan orang yang dicintainya. Dalam kamus bercouple, hal-hal tersebut adalah lumrah dilakukan, padahal satu hal saja cukup untuk mengharamkannya, lalu apatah lagi kesemuanya atau yang lain-lainnya lagi?

Fatwa Ulama Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin ditanya tentang hubungan cinta sebelum nikah. Jawab beliau; Jika hubungan itu sebelum nikah, baik sudah lamaran atau belum, maka hukumnya adalah haram, kerana tidak boleh seseorang untuk bersenang-senang dengan wanita asing (bukan mahramnya) baik melalui ucapan, memandang, atau berdua-duaan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: Janganlah seorang lelaki bedua-duaan dengan seorang wanita kecuali ada bersama- sama mahramnya, dan janganlah seseorang wanita berpergian kecuali bersama mahramnya. Syaikh Abdullah bin abdur Rahman al-Jibrin ditanya; Jika ada seseorang lelaki yang berkoresponden dengan seorang wanita yang bukan mahramnya, yang pada akhirnya mereka saling mencintai, apakah perbuatan itu haram? Jawab beliau; Perbuatan itu tidak diperbolehkan, kerana boleh menimbulkan syahwat di antara keduanya, serta mendorongnya untuk bertemu dan berhubungan, yang mana koresponden semacam itu banyak menimbulkan fitnah dan menanamkan dalam hati seseorang untuk mencintai penzinaan yang akan menjerumuskan seseorang pada perbuatan yang keji, maka dinasihati kepada setiap orang yang menginginkan kebaikan bagi dirinya untuk menghindari surat-suratan, pembicaraan melalui telefon, serta perbuatan semacamnya demi menjaga agama dan kehormatan dirinya. Syaikh Jibrin juga ditanya; Apa hukumnya kalau ada seorang pemuda yang belum menikah menelefon gadis yang juga belum menikah? Jawab beliau; Tidak boleh berbicara dengan wanita asing (bukan mahram) dengan pembicaraan yang boleh menimbulkan syahwat, seperti rayuan, atau mendayukan suara (baik melalui telefon atau lainnya). Sebagaimana firman ALLAH SWT; Dan janganlah kalian melembutkan suara, sehingga berkeinginan orang-orang yang berpenyakit di dalam hatinya. (al-Ahzaab: 32). Adapun kalau pembicaraan itu untuk sebuah keperluan, maka hal itu tidak mengapa apabila selamat daripada fitnah, akan tetapi hanya sekadar keperluan. Syubhat Dan Jawapan Yang Sebenarnya Keharaman bercouple lebih jelas dari matahari di siang hari. Namun begitu masih ada yang berusaha menolaknya walaupun dengan dalil yang sangat rapuh, antaranya: Tidak Boleh dikatakan semua cara bercouple itu haram, kerana mungkin ada orang yang bercouple mengikut landasan Islam, tanpa melanggar syariat Jawabnya: Istilah bercouple berlandaskan Islam itu Cuma ada dalam khayalan, dan tidak pernah ada wujudnya. Anggap sajalah mereka boleh menghindari khalwat, menyentuh serta menutup aurat. Tetapi tetap tidak akan boleh menghindari dari saling memandang, atau saling membayangkan kekasihnya dari masa ke semasa. Yang mana hal itu jelas haram berdasarkan dalil yang kukuh. Biasanya sebelum memasuki alam perkahwinan, perlu untuk mengenal terlebih dahulu calon pasangan hidupnya, fizikal, karaktor, yang mana hal itu tidak akan boleh dilakukan tanpa bercouple, kerana bagaimanapun juga kegagalan sebelum menikah akan jauh lebih ringan daripada kalau terjadi setelah menikah. Jawabnya: Memang, mengenal fizikal dan karaktor calon isteri mahupun suami merupakan satu hal yang diperlukan sebelum memasuki alam pernikahan, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Namun, tujuan ini tidak boleh digunakan untuk menghalalkan sesuatu yang telah sedia haramnya. Ditambah lagi, bahawa orang yang sedang jatuh cinta akan berusaha bertanyakan segala yang baik dengan menutupi kekurangannya di hadapan kekasihnya. Juga orang yang sedang jatuh cinta akan menjadi buta dan tuli terhadap perbuatan kekasihnya, sehingga akan melihat semua yang dilakukannya adalah kebaikan tanpa

cacat. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Darda; Cintamu pada sesuatu membuatmu buta dan tuli. Fenomena Couple Dalam situasi terkini, fenomena pergaulan bebas dan pengabaian terhadap nilainilai murni Islam berlaku pada tahap yang amat membimbangkan. Kebanyakan umat Islam kini tidak lagi menitik beratkan nilai-nilai dan adab-adab sopan yang dianjurkan oleh Islam melalui alQuran dan sunnah rasul-NYA. Mereka bukan setakat mengabaikannya dan menganggap perkara itu tidak penting, bahkan mereka menganggapkannya sebagai satu perkara yang menyusahkan aktiviti mereka yang menurutkan nafsu dan perasaan semata-mata itu. Nauzubillah Marilah kita sama-sama menjauhi perkara yang seumpama itu dan mejauhi hal-hal yang telah dilarang (haram). Tegakkanlah yang benar dan katakanlah salah kepada yang batil. Janganlah berhujah untuk membenarkan perkara yang telah terang haramnya di sisi ALLAH. Artikel ni diambil dekat www.iluvislam.com. Sesungguhnya pintu taubat Allah terbuka luas untuk hambanya yang melakukan dosa. Bertaubatlah selagi masih sempat, dan 10 Ramadhan terakhir ini, Allah menjanjikan hambaNya yang menmanafaat 10 malam akhir ini dengan bebas dari api neraka, sesungguhnya Allah tidak pernah memungkiri janji..Selamat Berbuka Semua..

Pergaulan dalam Islam


Posted on December 24, 2008 by ekokhan| 2 Comments
Buku Nizhm al-Ijtimi f al-Islm cetakan IV (mutamadah) tahun 2003 M-1423 H karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani ini merupakan revisi atas buku dengan judul yang sama cetakan III (1990 M-1410 H). Dengan revisi tersebut, pemikiran yang tertuang dalam buku ini menjadi semakin mubalwarah (mengkristal), yakni jernih dan kuat.

Di antara revisi yang dilakukan adalah dengan menghilangkan nash yang dinilai lemah dan menggantinya dengan dalil yang lebih kuat. Contohnya pada bab An-Nazhar il al-Marah terdapat hadis Nabi saw. dari Aisyah, Wahai Asma, sesungguhnya wanita itu, jika sudah balig tidak boleh tampak padanya kecuali ini dan ini. Beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangannya. (HR Abu Dawud). Hadis ini dihilangkan karena munqathi. [1] Posisinya digantikan oleh hadis Nabi saw. riwayat Qatadah yang berbunyi:

Sesungguhnya seorang gadis, jika telah haid, tidak boleh tampak padanya kecuali wajahnya dan kedua tangannya sampai sendi pergelangan tangan. (HR Abu Dawud). [2] Di samping itu, sejumlah hadis yang ada juga dilengkapi dengan mukhrij-nya. Hal ini bisa meningkatkan kredibilitas dan memudahkan siapa saja untuk melakukan penelusuran atas berbagai riwayat yang dicantumkan dalam buku ini. Syaikh Taqiyuddin, dalam buku ini, mampu menampilkan konstruksi sistemik ideologis sistem pergaulan dalam Islam. Struktur bangunan Nizhm al-Ijtimi itu bisa dideskripsikan secara jelas mulai dari dasar hingga atap bangunannya. Semua itu dilakukan dengan metode berpikir yuristik (tasyri), dengan menggali pemikiran dan hukum dari al-Quran dan as-Sunah serta yang ditunjukkan oleh keduanya, yaitu Ijmak Sahabat dan Qiyas. Metode ini adalah metode penulisan fikih ulama generasi awal seperti Imam asy-Syafii. Dengan begitu, buku ini terhindar dari sekadar qla wa qla; menukil dari sana-sini dan memaparkan beraragam pendapat tanpa tarjh dan penetapan. Pengkaji buku ini, selain dapat memahami pemikiran dan hukum berikut dalil dan nalar argumentasinya, seakan diajak menapaki kembali metode berpikir yuristik produktif yang dimiliki oleh ulama-ulama pioner kaum Muslim.Jika gambaran konstruksi Nizhm al-Ijtimi ini digabungkan dengan konstruksi anzhimah (sistem-sistem) lainnya yang ada di dalam buku-buku karya Syaikh Taqiyuddin, juga karya kolega beliau, akan terlihat jelas lanskap sistem Islam secara keseluruhan. Inilah unsur genial yang mampu beliau hadirkan, yang belum dilakukan oleh para ulama sebelumnya. Konstruksi Sistem Pergaulan Islam Pertemuan sesama laki-laki dan sesama perempuan di masyarakat tidak akan menimbulkan masalah sehingga tidak memerlukan sistem. Yang akan menimbulkan masalah adalah pertemuan laki-laki dengan perempuan. Hal ini jelas memerlukan sistem yang mengaturnya. Sistem itulah yang dimaksud dengan Nizhm al-Ijtimi, yaitu sistem yang mengatur pertemuan laki-laki dengan perempuan, mengatur hubungan yang muncul dari pertemuan keduanya, dan apa saja yang terderivasi dari hubungan itu. Dalam masalah pergaulan laki-laki perempuan, kaum Muslim berada dalam tarikan dua kutub yang saling berlawanan. Pertama: mereka yang berupaya mengambil dan menjiplak semua yang berasal dari Barat, termasuk pergaulan laki-laki dengan perempuan. Mereka menyerukan kebebasan pribadi, kebebasan perempuan, dan kesetaraan total perempuan dengan laki-laki karena terpikat propaganda kesetaraan jender. Kedua: mereka yang bersikap dan melarang perempuan keluar rumah, berjual-beli, bekerja, berpolitik, dan menjalankan aktivitas publik lainnya; bahkan suara perempuan mereka anggap sebagai aurat. Keduanya sama-sama berakibat buruk. Kutub pertama kebablasan; melahirkan masyarakat bebas, institusi keluarga rusak, kesucian masyarakat luntur, dsb. Kutub kedua mengakibatkan potensi perempuan tersia-siakan, lahir kejumudan, kemunduran,

pemberontakan perempuan, dsb. Semua itu tidak lain karena ketidakpahaman tentang sistem Islam, khususnya hakikat pertemuan dan hubungan laki-laki dengan perempuan serta pengaturannya. Oleh karena itu, Nizhm al-Ijtimi dalam Islam harus dikaji secara menyeluruh dan mendalam. Nizhm al-Ijtimi ini dibangun di atas sejumlah pandangan dasar, yaitu:

1. Pandangan tentang laki-laki dan perempuan. Islam memandang bahwa Alah menciptakan manusia, baik laki-laki dan perempuan, dibekali dengan fitrah yang sama, yakni adanya kebutuhan fisik dan naluriah yang sama, juga sama-sama memiliki potensi akal. 2. Pandangan tentang hubungan laki-laki dengan perempuan. Salah besar pandangan Barat yang berangkat dari filsafat freudian dengan psikoanalisanya yang menganggap libido sebagai dorongan kehidupan sehingga rangsangan libido itu harus bertebaran dan tersedia di tengah masyarakat, yang jika tidak, akan menyebabkan matinya kehidupan. Faktanya, naluri seksual hanya muncul karena adanya rangsangan dari luar, yang jika tidak terpenuhi, tidak menyebabkan kematian, tetapi hanya menyebabkan kegundahan. Jadi yang benar, manusia bukannya diberikan kebebasan, melainkan diatur secara tepat sehingga dapat mewujudkan tujuan penciptaannya dan merealisasi kebaikan masyarakat. Pertemuan laki-laki dan perempuan dalam rangka kerjasama di tengah-tengah kehidupan dalam perdagangan, pendidikan, ijarah, politik, dsb, merupakan satu keniscayaan untuk merealisasi kemaslahatan keduanya dan masyarakat pada umumnya. Karena itu, pertemuan dan interaksi tersebut harus dilakukan dengan pandangan dasar dan pengaturan kerjasama yang melahirkan kebaikan bagi masyarakat dan individu, menjamin realisasi nilai-nilai luhur dan keridhaan Allah. Jadi, yang diperlukan adalah sistem yang mengatur pertemuan laki-laki dan perempuan yang dapat menjamin semua itu, yang tidak lain adalah Nizhm al-Ijtimi Islam. Aturan Nizhm al-Ijtimi dalam Islam itu bisa dikelompokkan menjadi: Pertama, sistem yang mengatur pertemuan laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini, Islam telah menetapkan sejumlah hukum: 1. Memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk menundukkan pandangan. 2. Memerintahkan wanita untuk mengulurkan pakaian secara sempurna yang menutupi seluruh tempat perhiasannya, kecuali yang biasa tampak. 3. Melarang wanita melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain yang jaraknya ditempuh sehari semalam tanpa disertai mahram-nya. 4. Melarang laki-laki dan perempuan berkhalwat. 5. Melarang wanita keluar rumah tanpa seizin suaminya. 6. Mengharuskan jamaah laki-laki terpisah dari jamaah perempuan. 7. Mengharuskan hubungan kerjasama antara laki-laki dan perempuan dalam bentuk hubungan yang bersifat umum dalam muamalah, bukan hubungan khusus seperti saling mengunjungi antara laki-laki dan perempuan, atau pergi bertamasya bersama antara laki-laki dan perempuan.

Hukum ini juga mencakup konsep tentang kehidupan umum dan kehidupan khusus yang dihadirkan dalam buku ini. Konsep itu belum dirumuskan oleh para ulama sebelumnya, meski mereka sudah membahas hukum-hukum parsialnya. Konsep kehidupan khusus ini membingkai hukum-hukum yang lain, termasuk yang ada kaitannya dengan penetapan nusyz-nya seorang istri. Termasuk ke dalam hukum kelompok pertama ini adalah pembahasan tentang memandang wanita. Pembahasan ini mencakup penetapan aurat wanita di hadapan laki-laki asing dan di hadapan mahram/wanita; aurat laki-laki dan memandang lakilaki; haramnya laki-laki memandang aurat wanita tanpa atau dengan syahwat; kebolehan memandang tanpa disertai syahwat terhadap wajah dan kedua telapak tangan wanita; kebolehan memandang aurat wanita karena keperluan yang dibenarkan syariah sebatas keperluan dan bukan untuk kenikmatan, seperti dalam pengobatan, atau seseorang yang akan/sedang meng-khitbah wanita; masalah pakaian wanita, termasuk kewajiban mengenakan jilbab di kehidupan umum; kebolehan pandangan pertama tanpa disengaja dan tidak bolehnya diikuti dengan pandangan kedua dan berikutnya; serta kebolehan berjabatan tangan laki-laki dengan perempuan. [3] Pada halaman 53 dinyatakan tentang haramnya laki-laki mencium perempuan asing atau sebaliknya, dengan atau tanpa syahwat. Ini sekaligus membantah dan menunjukkan kedustaan sebagian orang/buku [4] yang menuduh Hizbut Tahrir membolehkan mencium perempuan asing, khususnya tanpa disertai syahwat. [5] Kedua: sistem yang mengatur hubungan yang muncul dari pertemuan laki-laki dengan perempuan berikut masalah yang terderivasi dari hubungan tersebut, yaitu hukum yang mengatur tentang perkawinan, perempuan yang haram dinikahi, poligami, perceraian, lin, soal anak, dan nafkah; juga yang mengatur masalah nasab, kewalian bapak, pengasuhan anak, dan silaturahmi. Deskripsi buku ini tentang kehidupan perkawinan begitu menarik, yaitu bahwa kehidupan suami-istri bukan seperti hubungan antar rekan perseroan, atau rekan bisnis; bukan seperti kehidupan majikan-bawahan; juga bukan seperti kehidupan penguasa-rakyat. Kehidupan perkawinan itu tidak lain adalah kehidupan persahabatan yang sempurna dari segala sisi, persahabatan yang di dalamnya meneneramkan satu sama lain. Kehidupan kehidupan suami-istri adalah kehidupan yang diliputi cinta, kasih sayang, kehangatan dan kemesraan; dipenuhi saling menyelami, memahami, menghargai dan menghormati, kerjasama dan tolong menolong. Kehidupan model ini di samping sebagai tuntutan syariah, merupakan tuntutan agar baik laki-laki (suami) dan perempuan (istri) dapat menjalankan semua aktivitasnya, baik privat maupun publik secara baik. 3. Kedudukan laki-laki dan perempuan di hadapan taklif syariah. Syariah membebankan taklif atas manusia tanpa memandang jenis kelaminnya. Saat muncul masalah yang berkaitan dengan kodrat kemaskulinan atau kefemininan,

syariah mendatangkan taklif hukum sesuai dengan kodrat itu. Syariah, misalnya, mendatangkan taklif dan hukum tentang posisi, peran dan tanggung jawab kebapakan hanya kepada laki-laki; sementara yang berkaitan dengan posisi, peran dan tanggung jawab keibuan hanya kepada perempuan. Berdasar pandangan itu, lalu dirumuskan aktivitas perempuan semata-mata berdasarkan seruan nash tanpa memandang persamaan atau ketidaksamaan antara laki-laki dan perempuan. Dirumuskanlah bahwa aktivitas pokok perempuan adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (umm[un] wa rabbah al-bayt) meski ia boleh bahkan dalam kadar tertentu wajibmelakukan aktivitas lain yang telah digariskan syariah seperti: berdakwah, menuntut ilmu, dan sebagainya sebagaimana laki-laki; ia juga boleh menjalankan berbagai aktivitas muamalah seperti bekerja, berbisnis, berdagang, berorganisasi dan aktivitas publik lainnya. Perempuan juga harus berpolitik sebagaimana laki-laki. Hanya saja, ia tidak boleh menduduki jabatan yang berkaitan langsung pemerintahan (khalifah, muwin tafwdh, wali (gubernur), amil, dan qdh mazhlim), termasuk sebagai muwin tanfdz karena keberadaannya sebagai bithnah khalifah. Selain itu, perempuan boleh menduduki jabatan, seperti: menjadi qdh khusmt maupun hisbah, anggota majelis umat, direktur direktorat, direktur industri, dan pegawai negara secara umum. Tentu saja dalam menjalankan semua aktivits publik itu, seorang perempuan tidak boleh mengabaikan dan meninggalkan aktivitas pokoknya sebagai umm[un] wa rabbah al-bayt. Selain itu, ia tetap harus terikat dengan berbagai ketentuan syariah yang berkaitan dengan dirinya seperti: menjaga pandangan, menutup aurat dan berjilbab ketika keluar rumah, tidak ber-tabarruj, tidak boleh ber-khalwat, tidak boleh ber-ikhtilt, tidak melakukan safar lebih dari sehari semalam tanpa disertai dengan suami atau mahram-nya, dll Walillhi al-Mustan wa ilayhi at-tkilan. Wallhu alam bi ash-shawb. []

Etika Pergaulan Laki-laki dan Wanita Menurut Islam 1. Menundukkan pandangan: ALLAH memerintahkan kaum lelaki untuk menundukkan pandangannya, sebagaimana firman-NYA; Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. (An-Nuur: 30) Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada kaum wanita beriman, ALLAH berfirman; Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. (An-Nuur: 31) 2. Menutup Aurat; ALLAH berfirman dan jangan lah mereka mennampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka melabuhkan kain tudung ke dadanya. (An-Nuur: 31) Juga Firman-NYA; Hai nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka melabuhkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenali, kerana itu mereka tidak diganggu. Dan ALLAH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nuur: 59). Perintah menutup aurat juga berlaku bagi semua jenis. Dari Abu Daud Said alKhudri .a. berkata: Rasulullah SAW bersabda: Janganlah seseorang lelaki memandang aurat lelaki, begitu juga dengan wanita jangan melihat aurat wanita. 3. Adanya pembatas antara lelaki dengan wanita; Kalau ada sebuah keperluan terhadap kaum yang berbeza jenis, harus disampaikan dari balik tabir pembatas. Sebagaimana firman-NYA; Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (para wanita) maka mintalah dari balik hijab. (Al-Ahzaab: 53) 4. Tidak berdua-duaan Di Antara Lelaki Dan Perempuan; Dari Ibnu Abbas .a. berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Janganlah seorang lelaki berdua-duaan (khalwat) dengan wanita kecuali bersama mahramnya. (Hadis Riwayat Bukhari & Muslim) Dari Jabir bin Samurah berkata; Rasulullah SAW bersabda: Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duan dengan seorang wanita, kerana syaitan akan menjadi ketiganya. (Hadis Riwayat Ahmad & Tirmidzi dengan sanad yang sahih) 5. Tidak Melunakkan Ucapan (Percakapan): Seorang wanita dilarang melunakkan

ucapannya ketika berbicara selain kepada suaminya. Firman ALLAH SWT; Hai isteriisteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara (berkata-kata yang menggoda) sehingga berkeinginan orang yang ada penyakit di dalam hatinya tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik. (Al-Ahzaab: 32) Berkata Imam Ibnu Kathir; Ini adalah beberapa etika yang diperintahkan oleh ALLAH kepada para isteri Rasulullah SAW serta kepada para wanita mukminah lainnya, iaitu hendaklah dia kalau berbicara dengan orang lain tanpa suara merdu, dalam pengertian janganlah seorang wanita berbicara dengan orang lain sebagaimana dia berbicara dengan suaminya. (Tafsir Ibnu Kathir 3/350) 6. Tidak Menyentuh Kaum Berlawanan Jenis; Dari Maqil bin Yasar .a. berkata; Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik daripada menyentuh kaum wanita yang tidak halal baginnya. (Hadis Hasan Riwayat Thabrani dalam Mujam Kabir) Berkata Syaikh al-Abani Rahimahullah; Dalam hadis ini terdapat ancaman keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (Ash-Shohihah 1/44 Rasulullah SAW tidak pernah menyentuh wanita meskipun dalam saat-saat penting seperti membaiat dan lain-lainnya. Dari Aishah berkata; Demi ALLAH, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat. (Hadis Riwayat Bukhari) Inilah sebahagian etika pergaulan lelaki dan wanita selain mahram, yang mana apabila seseorang melanggar semuanya atau sebahagiannya saja akan menjadi dosa zina baginya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW; Dari Abu Hurairah .a. dari Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya ALLAH menetapkan untuk anak adam bahagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata dengan memandang, zina lisan dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan-angan, lalu farji yang akan membenarkan atau mendustakan semuanya. (Hadis Riwayat Bukhari, Muslim & Abu Daud) Padahal ALLAH SWT telah melarang perbuatan zina dan segala sesuatu yang boleh mendekati kepada perbuatan zina. Sebagaimana Firman-NYA; Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk. (al-Isra: 32)

Perdamaian dalam islam


slam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi perdamaian dan toleransi. Setiap muslim pasti sepakat dengan pernyataan ini. Seorang intelektual NU Zuhairi Misrawi menyebut di dalam Alquran setidaknya terdapat 300 ayat yang tersurat maupun tersirat yang mengandung ajaran toleransi, perdamaian, dan keberagaman Namun, dalam tataran praksis, keagungan ajaran Islam tersebut belum secara nyata dirasakan setiap muslim. Sebagian pemeluk Islam masih sering melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan semangat perdamaian. Konflik, kekerasan, saling curiga, berburuk sangka, masih mewarnai kehidupan kita sehari-hari. Alih-alih menjadikan kemajemukan bangsa (dalam segala hal) sebagai rahmat Allah yang mesti disyukuri. Keanekaragaman sering dianggap menjadi biang masalah. Gesekan, bentrokan antarkelompok tak terhindarkan lagi. Dalam konteks demikian, seolah ada jurang pemisah antara keagungan ajaran Islam dengan praktek keagamaan pemeluk Islam. Kerenggangan ajaran teologis agama dengan konteks sosiologis kehidupan umat. Belum ada kesadaran setiap muslim bahwa sebenarnya mereka membawa misi suci, menyebarkan pesan-pesan kedamaian di muka bumi. Ajaran Islam pun belum benar-benar mengejawantah sebagai rahmatan lil alamin. Menyadari kondisi tersebut, Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSB-PS) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bersama mitra empat sekolah di Solo [SMP Negeri 4 Solo, SMP Muhammadiyah 1 Solo, MTsN 2 Solo, dan MTs PPMI Assalaam Solo] memandang perlunya menterjemahkan pesan-pesan perdamaian ajaran Islam itu melalui jalur pendidikan. Pendidikan diyakini menjadi jalan terbaik untuk menstransformasikan nilai-nilai, sikap, spirit kedamaian Islam ke dalam perilaku umat. Lewat pendidikan ajaran kedamaian bisa terinternalisasi ke dalam diri setiap siswa. Kreasi PSB-PS UMS dan mitranya ini diwujudkan dalam buku Pendidikan Perdamaian Berbasis Islam (PPBI). Ini adalah buku modul pendidikan. Bisa dipakai sebagai pedoman mengajarkan pendidikan perdamaian kepada anak didik. Dalam buku ini pembaca akan disuguhi prinsip-prinsip perdamaian dalam Islam, dan bagaimana mengajarkannya di sekolah. Modul ini bertujuan untuk membantu proses perubaahan perilaku (kognisi, afektif, dan psikomotor) siswa tentang nilai-nilai

perdamaian. Tiga model Secara prinsip ada tiga model pilihan yang dapat digunakan untuk menggali nilai-nilai perdamaian dalam Islam, yakni metode normatif, metode historis, dan metode reflektif. Metode normatif adalah menggali nilai-nilai perdamaian dalam Islam secara deduktif dari sumbernya, Alquran dan sunnah. Metode histories adalah menggali nilai-nilai perdamaian secara induktif dari empiri sejarah Islam (termasuk sirah Nabi). Metode yang dipakai dalam PPBI ini menggunakan metode reflektif, yakni menggali nilai-nilai perdamaian dalam Islam untuk menciptakan perdamaian, dimulai dari induksi terhadap sirah Nabi. Sirah Nabi yang digunakan dalam buku ini adalah, pertama, peristiwa pembangunan kembali kabah pada 605. Peristiwa ini berlangsung sebelum masa kenabian Muhammad, sebagai individu yang tuna daksa. Kedua, peristiwa penaklukan kembali mekah (fathu makkah) pada 630. Dengan metode reflektif itulah ditemukan 17 nilai-nilai perdamaian dalam Islam. Ketujuhbelas prinsip tersebut dikelompokkan ke dalam tiga dimensi, yakni dimensi fundamental, dimensi sikap dan perilaku, serta dimensi hasil. Dimensi fundamental terdiri dari empat nilai, yakni tauhid (menegakkan keesaan Tuhan), rahmah (berbelas kasih, berbagi sayang), musawah (meski berbeda, tetap bersaudara) dan ummah (berbeda itu biasa,bersama luar biasa). Dimensi sikap dan perilaku (husnuzhan [berbaik sangka], tasamuh [menenggang rasa], takrim [menebar penghargaan, menuai kehormatan], tafahum [memelihara saling pengertian, membangun kesepahaman], amanah [memelihara kepercayaan, memikul tanggungjawab] ihsan [merajut solidaritas menuntut pengorbanan], fastabikhul khoirat [berlomba meraih prestasi dalam perbedaan], islah [mengurai konflik secara damai], afw [menanam maaf mengetam ampunan], dan sulh [membangun budaya damai dalam kehidupan bersama). Sedangkan dimensi hasil (adl [menegakkan keseimbangan menggapai keadilan], lyn [kelembutan buah dari rahmah dan ihsan], dan salam [damai di hati dan damai di bumi]). Berikutnya ada lima langkah strategi implementasi, disingkat Istinbath. Yakni Introduksi, stimulan, bahasan, asupan, tes dan tugas harian. Sebagai sebuah terobosan dalam pendidikan agama Islam, buku ini tak luput dari kontroversi. Di Solo, kehadiran buku ini sempat diprotes. Namun, jangan sampai kontroversi itu membelenggu hak seseorang untuk berpendapat, selama pendapat itu bisa dipertanggungjawabkan. Sebagai bentuk kreasi, buku ini pantas diapresiasi. Buku ini perlu menjadi rujukan kepada siapa saja yang mendambakan kedamaian di Negara ini. Solo, 23 Februari 2010 Tag: perdamaian Sebelumnya: Psikologi Kematian Selanjutnya : Kemunafikan berkedok agama Balas bagi

Perilaku adil dalam islam Berlaku adil adalah salah satu prinsip Islam yang dijelaskan dalam berbagai nash ayat maupun hadits. Prinsip ini benar-benar merupakan akhlak mulia yang sangat ditekankan dalam syariat Islam, sehingga wajar kalau tuntunan dan aturan agama semuanya dibangun di atas dasar keadilan dan seluruh lapisan manusia diperintah untuk berlaku adil. Allah Azza wa Jalla berfirman, Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil, berbuat kebajikan dan memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran. (QS. An-Nahl : 90) Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nis` : 58) Dan Al-Qur`an Al-Karm adalah lambang keadilan, Telah sempurnalah kalimat Rabb-mu (Al-Qur`an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah-robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Anm : 115) Dan Allah Ahkamul Hkimn memerintah untuk berlaku adil secara mutlak, Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat(mu). (QS. Al-Anm : 152) Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap diri kalian sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabat kalian. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan. (QS. An-Nis` : 135) Dan Rabbul Izzah tetap memerintahkan untuk berlaku adil walaupun terhadap musuh sendiri,

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-M`idah : 8) Dan Allah memuji orang-orang yang berlaku adil, Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan. (QS. Al-Arf : 181) Dan Nabi-Nya telah diperintah untuk menyatakan, Dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kalian. (QS. Asy-Syr : 15)

Perilaku sabar dalam islam


Arti SAbar dalam Ajaran Islam

Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran merupakan setengahnya keimanan. Sabar memiliki kaitan yang tidak mungkin dipisahkan dari keimanan: Kaitan antara sabar dengan iman, adalah seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana juga tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menggambarkan tentang ciri dan keutamaan orang yang beriman sebagaimana hadits di atas. Namun kesabaran adalah bukan semata-mata memiliki pengertian "nrimo", ketidak mampuan dan identik dengan ketertindasan. Sabar sesungguhnya memiliki dimensi yang lebih pada pengalahan hawa nafsu yang terdapat dalam jiwa insan. Dalam berjihad, sabar diimplementasikan dengan melawan hawa nafsu yang menginginkan agar dirinya duduk dengan santai dan tenang di rumah. Justru ketika ia berdiam diri itulah, sesungguhnya ia belum dapat bersabar melawan tantangan dan memenuhi panggilan ilahi. Sabar juga memiliki dimensi untuk merubah sebuah kondisi, baik yang bersifat pribadi maupun sosial, menuju perbaikan agar lebih baik dan baik lagi. Bahkan seseorang dikatakan dapat diakatakan tidak sabar, jika ia menerima kondisi buruk, pasrah dan menyerah begitu saja. Sabar dalam ibadah diimplementasikan dalam bentuk melawan dan memaksa diri untuk bangkit dari tempat tidur, kemudian berwudhu lalu berjalan menuju masjid dan malaksanakan shalat secara berjamaah. Sehingga sabar tidak tepat jika hanya diartikan dengan sebuah sifat pasif, namun ia memiliki nilai keseimbangan antara sifat aktif dengan sifat pasif. Makna Sabar Sabar merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, dan sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah "Shobaro", yang membentuk infinitif (masdar) menjadi "shabran". Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Qur'an: Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi/ 18 : 28) Perintah untuk bersabar pada ayat di atas, adalah untuk menahan diri dari keingingan keluar dari komunitas orang-orang yang menyeru Rab nya serta selalu mengharap keridhaan-Nya. Perintah

sabar di atas sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah SWT. Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah: Menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah. Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dariNya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam al-Khowas, bahwa sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan al-Qur'an dan sunnah. Sehingga sesungguhnya sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidak mampuan. Justru orang yang seperti ini memiliki indikasi adanya ketidak sabaran untuk merubah kondisi yang ada, ketidak sabaran untuk berusaha, ketidak sabaran untuk berjuang dan lain sebagainya. Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang). Artinya untuk berbuat seperti itu perlu kesabaran untuk mengeyampingkan keiinginan jiwanya yang menginginkan rasa santai, bermalas-malasan dan lain sebagainya. Sabar dalam jihad juga berarti keteguhan untuk menghadapi musuh, serta tidak lari dari medan peperangan. Orang yang lari dari medan peperangan karena takut, adalah salah satu indikasi tidak sabar. Sabar Sebagaimana Digambarkan Dalam Al-Qur'an Dalam al-Qur'an banyak sekali ayat-ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri secara keseluruhan, terdapat 103 kali disebut dalam al-Qur'an, kata-kata yang menggunakan kata dasar sabar; baik berbentuk isim maupun fi'ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah SWT, yang Allah tekankan kepada hamba-hamba-Nya. Dari ayat-ayat yang ada, para ulama mengklasifikasikan sabar dalam al-Qur'an menjadi beberapa macam; 1. Sabar merupakan perintah Allah SWT. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam QS.2: 153: "Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." Ayat-ayat lainnya yang serupa mengenai perintah untuk bersabar sangat banyak terdapat dalam AlQur'an. Diantaranya adalah dalam QS.3: 200, 16: 127, 8: 46, 10:109, 11: 115 dsb. 2. Larangan isti'ja l(tergesa-gesa/ tidak sabar), sebagaimana yang Allah firmankan (QS. Al-Ahqaf/ 46: 35): "Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasulrasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka" 3. Pujian Allah bagi orang-orang yang sabar, sebagaimana yang terdapat dalam QS. 2: 177: "dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa."

4. Allah SWT akan mencintai orang-orang yang sabar. Dalam surat Ali Imran (3: 146) Allah SWT berfirman : "Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." 5. Kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar. Artinya Allah SWT senantiasa akan menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar. Allah berfirman (QS. 8: 46) ; "Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar." 6. Mendapatkan pahala surga dari Allah. Allah mengatakan dalam al-Qur'an (13: 23 - 24); "(yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempattempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun `alaikum bima shabartum" (keselamatan bagi kalian, atas kesabaran yang kalian lakukan). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." Inilah diantara gambaran Al-Qur'an mengenai kesabaran. Gembaran-gambaran lain mengenai hal yang sama, masih sangat banyak, dan dapat kita temukan pada buku-buku yang secara khusus membahas mengenai kesabaran. Kesabaran Sebagaimana Digambarkan Dalam Hadits. Sebagaimana dalam al-Qur'an, dalam hadits juga banyak sekali sabda-sabda Rasulullah SAW yang menggambarkan mengenai kesabaran. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan 29 hadits yang bertemakan sabar. Secara garis besar, hadits-hadits tersebut menggambarkan kesabaran sebagai berikut; 1. Kesabaran merupakan "dhiya' " (cahaya yang amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah SAW mengungkapkan, "dan kesabaran merupakan cahaya yang terang" (HR. Muslim) 2. Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara optimal. Rasulullah SAW pernah menggambarkan: "barang siapa yang mensabar-sabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar" (HR. Bukhari) 3. Kesabaran merupakan anugrah Allah yang paling baik. Rasulullah SAW mengatakan, "dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran." (Muttafaqun Alaih) 4. Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mu'min, sebagaimana hadits yang terdapat pada muqadimah; "Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (ia mengatahui) bahwa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya." (HR. Muslim) 5. Seseorang yang sabar akan mendapatkan pahala surga. Dalam sebuah hadits digambarkan; Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah

berfirman, "Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian diabersabar, maka aku gantikan surga baginya." (HR. Bukhari) 6. Sabar merupakan sifat para nabi. Ibnu Mas'ud dalam sebuah riwayat pernah mengatakan: Dari Abdullan bin Mas'ud berkata"Seakan-akan aku memandang Rasulullah SAW menceritakan salah seorang nabi, yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, kemudia ia mengusap darah dari wajahnya seraya berkata, 'Ya Allah ampunilah dosa kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." (HR. Bukhari) 7. Kesabaran merupakan ciri orang yang kuat. Rasulullah SAW pernah menggambarkan dalam sebuah hadits; Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah." (HR. Bukhari) 8. Kesabaran dapat menghapuskan dosa. Rasulullah SAW menggambarkan dalam sebuah haditsnya; Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullan SAW bersabda, "Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, mara bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut." (HR. Bukhari & Muslim) 9. Kesabaran merupakan suatu keharusan, dimana seseorang tidak boleh putus asa hingga ia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah sangat terpaksa hendaklah ia berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan hal yang terbaik baginya; apakah kehidupan atau kematian. Rasulullah SAW mengatakan; Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah salah seorang diantara kalian mengangan-angankan datangnya kematian karena musibah yang menimpanya. Dan sekiranya ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa, 'Ya Allah, teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik unttukku. Dan wafatkanlah aku, sekiranya itu lebih baik bagiku." (HR. Bukhari Muslim) Bentuk-Bentuk Kesabaran Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga hal; sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar untuk meninggalkan kemaksiatan dan sabar menghadapi ujian dari Allah: 1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Merealisasikan ketaatan kepada Allah, membutuhkan kesabaran, karena secara tabiatnya, jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ditinjau dari penyebabnya, terdapat tiga hal yang menyebabkan insan sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah shalat. Kedua karena bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat dan infaq. Ketiga karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad. Kemudian untuk dapat merealisasikan kesabaran dalam ketaatan kepada Allah diperlukan beberapa hal, (1) Dalam kondisi sebelum melakukan ibadah berupa memperbaiki niat, yaitu kikhlasan. Ikhlas merupakan kesabaran menghadapi duri-duri riya'. (2) Kondisi ketika melaksanakan ibadah, agar jangan sampai melupakan Allah di tengah

melaksanakan ibadah tersebut, tidak malas dalam merealisasikan adab dan sunah-sunahnya. (3) Kondisi ketika telah selesai melaksanakan ibadah, yaitu untuk tidak membicarakan ibadah yang telah dilakukannya supaya diketahui atau dipuji orang lain. 2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti ghibah (baca; ngerumpi), dusta, memandang sesuatu yang haram dsb. Karena kecendrungan jiwa insan, suka pada hal-hal yang buruk dan "menyenangkan". Dan perbuatan maksiat identik dengan hal-hal yang "menyenangkan". 3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah, seperti mendapatkan musibah, baik yang bersifat materi ataupun inmateri; misalnya kehilangan harta, kehilangan orang yang dicintai dsb. Aspek-Aspek Kesabaran sebagaimana yang Digambarkan dalam Hadits Dalam hadits-hadits Rasulullah SAW, terdapat beberapa hadits yang secara spesifik menggambarkan aspek-aspek ataupun kondisi-kondisi seseroang diharuskan untuk bersabar. Meskipun aspek-aspek tersebut bukan merupakan pembatasan pada bidang-bidang kesabaran, melainkan hanya sebagai contoh dan penekanan yang memiliki nilai motivasi untuk lebih bersabar dalam menghadapi berbagai permasalahan lainnya. Diantara kondisi-kondisi yang ditekankan agar kita bersabar adalah : 1. Sabar terhadap musibah. Sabar terhadap musibah merupakan aspek kesabaran yang paling sering dinasehatkan banyak orang. Karena sabar dalam aspek ini merupakan bentuk sabar yang Dalam sebuah hadits diriwayatkan, : Dari Anas bin Malik ra, bahwa suatu ketika Rasulullah SAW melewati seorang wanita yang sedang menangis di dekat sebuah kuburan. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah. Wanita tersebut menjawab, Menjauhlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui dan tidak bisa merasakan musibah yang menimpaku. Kemudian diberitahukan kepada wanita tersebut, bahwa orang yang menegurnya tadi adalah Rasulullah SAW. Lalu ia mendatangi pintu Rasulullah SAW dan ia tidak mendapatkan penjaganya. Kemudian ia berkata kepada Rasulullah SAW, (maaf) aku tadi tidak mengetahui engkau wahai Rasulullah SAW. Rasulullah bersabda, Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama. (HR. Bukhari Muslim) 2. Sabar ketika menghadapi musuh (dalam berjihad). Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda : Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, Janganlah kalian berangan-angan untuk menghadapi musuh. Namun jika kalian sudah menghadapinya maka bersabarlah (untuk menghadapinya). HR. Muslim. 3. Sabar berjamaah, terhadap amir yang tidak disukai. Dalam sebuah riwayat digambarkan; Dari Ibnu Abbas ra beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa yang melihat pada amir (pemimpinnya) sesuatu yang tidak

disukainya, maka hendaklah ia bersabar. Karena siapa yang memisahkan diri dari jamaah satu jengkal, kemudian ia mati. Maka ia mati dalam kondisi kematian jahiliyah. (HR. Muslim) 4. Sabar terhadap jabatan & kedudukan. Dalam sebuah riwayat digambarkan : Dari Usaid bin Hudhair bahwa seseorang dari kaum Anshar berkata kepada Rasulullah SAW; Wahai Rasulullah, engkau mengangkat (memberi kedudukan) si Fulan, namun tidak mengangkat (memberi kedudukan kepadaku). Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya kalian akan melihat setelahku atsaratan (yaitu setiap orang menganggap lebih baik dari yang lainnya), maka bersabarlah kalian hingga kalian menemuiku pada telagaku (kelak). (HR. Turmudzi). 5. Sabar dalam kehidupan sosial dan interaksi dengan masyarakat. Dalam sebuah hadits diriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, Seorang muslim apabila ia berinteraksi dengan masyarakat serta bersabar terhadap dampak negatif mereka adalah lebih baik dari pada seorang muslim yang tidak berinteraksi dengan masyarakat serta tidak bersabar atas kenegatifan mereka. (HR. Turmudzi) 6. Sabar dalam kerasnya kehidupan dan himpitan ekonomi Dalam sebuah riwayat digambarkan; Dari Abdullah bin Umar ra berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, Barang siapa yang bersabar atas kesulitan dan himpitan kehidupannya, maka aku akan menjadi saksi atau pemberi syafaat baginya pada hari kiamat. (HR. Turmudzi). Kiat-kiat Untuk Meningkatkan Kesabaran Ketidaksabaran (baca; isti'jal) merupakan salah satu penyakit hati, yang seyogyanya diantisipasi dan diterapi sejak dini. Karena hal ini memilki dampak negatif dari amalan yang dilakukan seorang insan. Seperti hasil yang tidak maksimal, terjerumus kedalam kemaksiatan, enggan untuk melaksanakan ibadah kepada Allah dsb. Oleh karena itulah, diperlukan beberapa kiat, guna meningkatkan kesabaran. Diantara kiat-kiat tersebut adalah; 1. Mengkikhlaskan niat kepada Allah SWT, bahwa ia semata-mata berbuat hanya untuk-Nya. Dengan adanya niatan seperti ini, akan sangat menunjang munculnya kesabaran kepada Allah SWT. 2. Memperbanyak tilawah (baca; membaca) al-Qur'an, baik pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai perenungan dan pentadaburan makna-makna yang dikandungnya. Karena al-Qur'an merupakan obat bagi hati insan. Masuk dalam kategori ini juga dzikir kepada Allah. 3. Memperbanyak puasa sunnah. Karena puasa merupakan hal yang dapat mengurangi hawa nafsu terutama yang bersifat syahwati dengan lawan jenisnya. Puasa juga merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran.

4. Mujahadatun Nafs, yaitu sebuah usaha yang dilakukan insan untuk berusaha secara giat dan maksimal guna mengalahkan keinginan-keinginan jiwa yang cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti malas, marah, kikir, dsb. 5. Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia. Karena hal ini akan memacu insan untuk beramal secara sempurna. Sedangkan ketidaksabaran (isti'jal), memiliki prosentase yang cukup besar untuk menjadikan amalan seseorang tidak optimal. Apalagi jika merenungkan bahwa sesungguhnya Allah akan melihat "amalan" seseorang yang dilakukannya, dan bukan melihat pada hasilnya. (Lihat QS. 9 : 105) 6. Perlu mengadakan latihan-latihan untuk sabar secara pribadi. Seperti ketika sedang sendiri dalam rumah, hendaklah dilatih untuk beramal ibadah dari pada menyaksikan televisi misalnya. Kemudian melatih diri untuk menyisihkan sebagian rezeki untuk infaq fi sabilillah, dsb. 7. Membaca-baca kisah-kisah kesabaran para sahabat, tabi'in maupun tokoh-tokoh Islam lainnya. Karena hal ini juga akan menanamkan keteladanan yang patut dicontoh dalam kehidupan nyata di dunia. Penutup Inilah sekelumit sketsa mengenai kesabaran. Pada intinya, bahwa sabar mereupakan salah satu sifat dan karakter orang mu'min, yang sesungguhnya sifat ini dapat dimiliki oleh setiap insan. Karena pada dasarnya manusia memiliki potensi untuk mengembangkan sikap sabar ini dalam hidupnya. Sabar tidak identik dengan kepasrahan dan menyerah pada kondisi yang ada, atau identik dengan keterdzoliman. Justru sabar adalah sebuah sikap aktif, untuk merubah kondisi yang ada, sehingga dapat menjadi lebih baik dan baik lagi. Oleh karena itulah, marilah secara bersama kita berusaha untuk menggapai sikap ini. Insya Allah, Allah akan memberikan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang berusaha di jalan-Nya.
di 09:39 Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook

Reaks i: Diposkan oleh Indahnya KeSaBaraN 1 komentar: Anonim mengatakan...

sip
8 Juni 2011 10:29