Anda di halaman 1dari 66

DAMPAK PEMANASAN GLOBAL TERHADAP TERUMBU KARANG

KARYA ILMIAH

Oleh

ANJAR TITOYO

FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA 2008

FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS NASIONAL Karya Ilmiah, Jakarta Agustus 2008

Anjar Titoyo

Dampak Pemanasan Global Terhadap Terumbu Karang

xi + 55 hal, 2 tabel, 10 gambar Terumbu karang merupakan hasil asosiasi antara polip karang dengan Zooxanthella yang seluruhnya terbentuk dari kegiatan biologis. Terumbu karang dapat tumbuh baik di perairan tropis yang dangkal dengan kedalaman sekitar 30 meter pada suhu di atas 200C. Pola penyebarannya terbatas pada wilayah dangkal di paparan benua dan gugusan pulau-pulau di sekitar wilayah katulistiwa. Terumbu karang merupakan tempat tinggal bagi 25 persen seluruh spesies laut. Beberapa tahun belakangan ini terumbu karang sudah mengalami tekanan ekologis yang begitu hebat. Ada dua penyebab utama penyebab terjadinya degradasi ekosistem terumbu karang, yaitu akibat kegiatan manusia (anthrophogenic causes) dan akibat alam (natural causes). Meningkatnya suhu rata-rata di seluruh permukaan bumi akibat dari meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer disebut pemanasan global. Akibat dari pemanasan global, diperkirakan dalam jangka waktu 100 tahun ke depan akan terjadi penigkatan permukaan laut, kenaikan suhu air laut dan kenaikan radiasi ultraviolet yang nyata sehingga berpengaruh terhadap penurunan komunitas laut secara drastis termasuk terumbu karang. Peningkatan suhu akibat pemanasan global merupakan salah satu penyebab pemutihan karang hingga kematian pada karang. Upaya untuk menanggulangi terjadinya pemanasan global sungguh sangat dibutuhkan saat ini. Mulai dari menggunakan bahan-bahan energi yang ramah lingkungan, penanaman pohon. Selain itu juga melakukan konferensi dan perjanjianperjanjian internasional. Semua itu harus selalu dilakukan agar bumi beserta isinya tetap lestari dan terjaga dari kepunahan. Daftar bacaan : 60 (1963-2008)

ii

DAMPAK PEMANASAN GLOBAL TERHADAP TERUMBU KARANG

Karya Ilmiah ini diajukan untuk memenuhi persyaratan


MATA KULIAH SEMINAR

Oleh

ANJAR TITOYO
0162010024

FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA 2008

iii

Judul Karya Ilmiah : DAMPAK PEMANASAN GLOBAL TERHADAP TERUMBU KARANG

Nama Mahasiswa Nomor Pokok Nomor Kopertis

: Anjar Titoyo : 0162010024 : 013112620150024

MENYETUJUI

Pembimbing Pertama

Pembimbing Kedua

Hasmar Rusmendro, Drs..

Sri Handayani, Dra, MSi.

Dekan

Tatang Mitra Setia, Drs, MSi.

Tanggal Lulus : 5 Agustus 2008

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT penulis panjatkan atas rahmat, berkat dan kuasa-NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah ini yang berjudul Dampak Pemanasan Global Terhadap Terumbu Karang. Penulisan Karya Ilmiah ini disusun untuk memenuhi persyaratan mata kuliah Seminar Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta. Segala daya dan upaya dalam penyelesaian Karya Ilmiah ini dilakukan atas bantuan, dukungan dan kerjasama yang baik dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Bapak Tatang Mitra Setia, Drs, MSi selaku Dekan Fakultas Biologi Universitas Nasional. 2. Bapak Hasmar Rusmendro, Drs selaku Pembimbing Pertama yang telah memberi saran dan bimbingan sampai Karya Ilmiah ini selesai. 3. Ibu Sri Handayani, Dra, MSi selaku Pembimbing Dua yang telah membantu dan menyempurnakan Karya Ilmiah ini. 4. Ibu Yulneriwarni, Dra, MSi selaku Pembimbing Akademik atas segala doa restu, saran, dan motivasi yang diberikan kepada Penulis. 5. Ibu, Bapak tercinta yang selalu memberikan kasih sayang, mendoakan, memberikan dukungan dan motivasi, baik moril maupun material kepada penulis. 6. Adikku Alryan Ridwantoro yang turut menjadi pendorong semangat penulis.

7. Almarhum Drs. Benny Djaja yang telah memberikan banyak inspirasi atas kegigihan, keteguhan, dan keyakinan untuk setiap hal yang dijalani. 8. Teman-teman angkatan 2001; Ahmad Saleh Suhada SSi, Wisnu Wijiatmoko SSi, Ady Kristanto SSi, Dewi Suprobowati SSi, Devi Asriana SSi, Fitriah Basalamah SSi, Astri Zulfah SSi, Puji Sri Wahyuni SSi dan lain-lain yang selalu memberikan sumbangan pikiran, semangat, keceriaan, kebersamaan, serta rasa persahabatan dan persaudaraan. 9. Keluarga besar Kelompok Studi Ekologi Perairan (KSEP) tempat Penulis menimba dan berbagi ilmu, pengalaman, serta kebersamaan. 10. Seluruh Civitas akademika Fakultas Biologi Universitas Nasional atas semua bantuan, saran serta kebersamaannya selama ini. Penulis sangat menyadari bahwa Karya Ilmiah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan dari semua pihak. Semoga Karya Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi Ilmu Pengetahuan.

Jakarta, Agustus 2008

Penulis

vi

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR..

DAFTAR ISI.... vii DAFTAR TABEL.... DAFTAR GAMBAR BAB I. PENDAHULUAN. II. BIOEKOLOGI TERUMBU KARANG.... A. Morfologi Karang.... B. Reproduksi Karang...... C. Zooxanthella dan Peranannya Dalam Terumbu Karang ........ 1 4 4 7 10 x xi

1. Zooxanthella... 10 2. Simbiosis Karang (Anthozoa) dengan Zooxanthella..... D. Proses Kalsifikasi pada Karang... E. Distribusi Terumbu Karang. 12 13 15

F. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Terumbu Karang.. 17 1. Cahaya 17 2. Suhu 18 3. Salinitas... 19 4. Kejernihan... 19 5. Substrat... 20 6. Pergerakan Air atau Arus 20 G. Manfaat Terumbu Karang. 21

vii

III. PEMANASAN GLOBAL. 22 A. Definsi Pemanasan Global... 22 B. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Pemanasan Global.. 22 1. Karbondioksida. 2. Metana... 3. Nitrogendioksida 4. Chlorofluorocarbon 5. Hidrofluorocarbons 6. Sulfurheksafluorida C. Proses Terjadinya Pemanasan Global.. D. Dampak Pemanasan Global. 1. Mencairnya Es di Kutub 2. Terjadinya Pergeseran Musim... 3. Peningkatan Permukaan Air Laut.. 4. Dampak Pada Sektor Kelautan dan Perikanan.. 5. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Suhu dan Pola Hujan... 23 27 27 28 29 29 30 32 33 33 34 35 36

E. Upaya-upaya yang Dapat Dilakukan untuk Mengurangi Pemanasan Global 37 IV. KERUSAKAN TERUMBU KARANG AKIBAT PEMANASAN GLOBAL A. Faktor Penyebab Kerusakan Terumbu Karang.. 1. Peningkatan Suhu Air Laut.. 2. Naiknya Permukaan Air Laut... 3. Perubahan Arus 4. Peningkatan Oksigen Beracun.. 5. Penurunan Kadar Oksigen 6. Peningkatan Kadar Salinitas. B. Pemanasan Global dan Terumbu Karang... 1. Kekurangan Suplai Nutrien... 40 40 40 40 41 41 41 42 42 42

viii

2. Peningkatan Pertumbuhan Karang 3. Pemutihan Karang. V. KESIMPULAN.

43 43 50

DAFTAR PUSTAKA. .51

ix

DAFTAR TABEL

TABEL

Halaman

Naskah

1. Sumber Pencemaran Gas CO 2 ...... 2. Jenis dan Rata-rata Umur CFC di Atmosfer..

24 29

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR

Halaman

Naskah

1. Morfologi Karang. 2. Struktur Polip dan Kerangka Kapur Karang 3. Struktur Dinding Polip Karang 4. Reproduksi Seksual Karang. 5. Reproduksi Aseksual Karang 6. Siklus Karbon 7. Persentase Pemanasan Relatif Gas Rumah Kaca. 8. Skema Profil Ozon Secara Vertikal.. 9. Mekanisme Terjadinya Pemanasan Global... 10. Karang yang Mengalami Pemutihan.

4 5 6 8 9 25 30 31 32 46

xi

BAB I

PENDAHULUAN

Terumbu karang merupakan hasil asosiasi antara polip dengan Zooxanthella. Terumbu karang dapat tumbuh baik di perairan tropik yang dangkal dengan kedalaman sekitar 30 meter pada suhu di atas 20C. Pola penyebarannya terbatas, yaitu pada wilayah dangkal di paparan benua dan gugusan pulau-pulau di sekitar wilayah katulistiwa dan menempati 0,17% dari dasar samudera. Terumbu karang merupakan tempat tinggal bagi 25% seluruh spesies laut (Hardianto dkk, 1998). Fungsi dari terumbu karang adalah sebagai komponen habitat alami (sebagai pembentuk ekosistem laut), gudang keanekaragaman hayati biota-biota laut, tempat tinggal sementara atau tetap, tempat mencari makan, berpijah, daerah asuhan dan tempat berlindung bagi hewan laut, selain itu sebagai tempat berlangsungnya siklus biologi, kimia dan fisik secara global yang mempunyai tingkat produktivitas yang sangat tinggi. Bagi manusia terumbu karang dapat berfungsi sebagai sumber bahan makanan langsung maupun tidak langsung, sebagai penyedia lahan dan tempat budidaya berbagai hasil laut, sarana penelitian dan pendidikan serta sebagai tempat perlindungan biota-biota langka (Suharsono, 2004). Beberapa tahun belakangan ini terumbu karang sudah mengalami tekanan ekologis yang begitu hebat. Ada dua penyebab utama terjadinya degradasi ekosistem terumbu karang yaitu akibat kegiatan manusia (anthrophogenic causes) dan akibat alam (natural causes). Kegiatan manusia yang menyebabkan terjadinya degradasi

terumbu karang antara lain: penambangan karang, penangkapan ikan dengan menggunakan alat serta metode yang merusak, penangkapan yang berlebih, pencemaran perairan, kegiatan pembangunan di wilayah pesisir dan kegiatan pembangunan di wilayah hulu. Degradasi terumbu karang yang disebabkan oleh alam antara lain oleh predator, pemanasan global, perubahan salinitas, bencana alam seperti angin taufan, gempa tektonik, letusan gunung berapi, banjir dan tsunami, sedimentasi yang tinggi serta bencana alam lainnya seperti El-Nino dan La-Nina (Westmacott dkk, 2000 dan COREMAP, 2001). Pemanasan global mulai muncul sejak abad ke 18 ketika dimulainya revolusi industri di Inggris yang ditandai dengan munculnya pabrik-pabrik, pembangkit listrik, kendaraan transportasi dan pertanian. Industri telah berkembang membuat wajah dunia semakin maju, namun di sisi lain berdampak negatif terhadap lingkungan hidup manusia. Penyebab utamanya adalah adanya emisi gas CO 2 , gas metana, NO 2 , dan CFC. Hasil pembakaran dari produk-produk industri sudah dapat menghasilkan unsur CO dan CO 2 yang menumpuk di udara sehingga akan menghasilkan efek seperti rumah kaca terhadap cahaya matahari yang akan masuk ke bumi. Bumi seolah-olah dilapisi oleh gas, akibatnya bumi akan terasa lebih panas dari biasanya. Hal inilah yang disebut dengan pemanasan global (Ramlan, 2002). Akibat dari pemanasan global, diperkirakan dalam jangka waktu 100 tahun ke depan akan terjadi peningkatan permukaan laut, kenaikan suhu air laut dan kenaikan radiasi ultraviolet yang nyata sehingga berpengaruh terhadap penurunan komunitas laut secara drastis. Di antara berbagai komunitas laut, terumbu karang adalah yang

paling rentan terhadap kerusakan, sebab terletak paling dekat dengan garis pantai dan dekat dengan permukaan laut serta bersifat sesil (Wafar, 1990). Terumbu karang membutuhkan suhu yang stabil untuk tumbuhnya, maka kenaikan suhu sedikit saja dapat menyebabkan stres. Peningkatan suhu akibat pemanasan global merupakan salah satu penyebab pemutihan terumbu karang atau bleaching. Bleaching adalah suatu penurunan jumlah simbiotik Dinoflagellata (Zooxanthella) atau penurunan pigmen klorofil yang terdapat pada jaringan endodermis karang (Brown dan Ogden, 1993). Jika tekanan atau stres ini bersifat sementara terumbu karang mungkin dapat bertahan, tetapi jika tekanan ini berlangsung lama dan terus menerus, maka kehidupan terumbu karang dan alga yang ada di dalamnya akan terganggu. Lambat laun alga yang terdapat dalam terumbu karang akan mati, sehingga yang tersisa tinggal cangkang karang yang berwarna putih dari zat kapur (Hardianto dkk, 1998). Upaya untuk menanggulangi terjadinya pemanasan global saat ini sangat dibutuhkan. Mulai dari menggunakan bahan-bahan energi yang ramah lingkungan, menanam pepohonan untuk dapat menyerap CO 2 di udara. Selain itu, juga melakukan konferensi dan perjanjian-perjanjian internasional. Semua itu harus selalu dilakukan agar bumi beserta isinya akan tetap lestari dan terjaga dari kepunahan (Susanta dan Sutjahjo, 2007). Penulisan karya ilmiah bertujuan untuk mengetahui dampak pemanasan global terhadap terumbu karang. Serta mengetahui lebih lanjut, sejauh mana kerusakan terumbu karang yang terjadi karena pemanasan global dan upaya-upaya penanganannya. 3

BAB II

BIOEKOLOGI TERUMBU KARANG

A. Morfologi Karang Menurut Suwignyo dkk (2005), karang termasuk ke dalam filum Coelenterata, kelas Anthozoa. Karang merupakan hasil asosiasi antara polip dengan Zooxanthella (Hardianto dkk, 1998). Karang berbentuk tabung dengan mulut berada di permukaan oral yang juga berfungsi sebagai anus. Di sekitar mulut dikelilingi oleh tentakel yang berfungsi sebagai penangkap makanan. Mulut dilanjutkan dengan kerongkongan yang pendek lalu langsung berhubungan dengan rongga perut (Gambar 1). Di dalam rongga perut terdapat semacam usus yang disebut dengan filamen mesenterium yang berfungsi sebagai alat pencernaan (Suharsono, 2004).

Gambar 1. Morfologi karang (Hardianto dkk,1998) 4

Hewan karang batu merupakan koloni yang terdiri atas banyak individu berupa polip. Untuk tegaknya seluruh jaringan, polip didukung oleh kerangka kapur sebagai penyangganya. Kerangka kapur ini berupa lempenganlempengan yang tersusun secara radial dan berdiri tegak pada lempengan dasar. Lempengan yang berdiri ini disebut septa yang tersusun dari bahan anorganik dan kapur yang merupakan hasil
sekresi dari polip karang tersebut (Gambar 2) (Nontji, 2002).

Gambar 2. Struktur polip dan kerangka kapur karang (Romimohtarto dan Juwana, 2001)

Dinding polip karang terdiri dari 2 lapisan yaitu ektoderma dan endoderma. Ektoderma merupakan jaringan terluar yang terdiri dari berbagai jenis sel, antara lain sel mucus dan sel nematocyts. Lapisan paling dalam disebut endoderma yang sebagian besar selnya berisi sel alga yang merupakan simbion karang (Gambar 3) (Suharsono, 2004). Mesoglea merupakan lapisan yang terletak diantara ektoderma dan endoderma yang berupa lapisan seperti jelly. Di dalam lapisan jelly ini terdapat fibril-fibril sedangkan di lapisan luar terdapat sel otot.

Gambar 3. Struktur dinding polip karang (Romimohtarto dan Juwana, 2001) Karang mempunyai sistem syaraf, jaringan otot dan reproduksi yang sederhana, tetapi telah berkembang dan berfungsi secara baik. Jaringan saraf tersebar baik di ektoderma, endoderma serta mesoglea yang dikoordinasikan oleh sel junction, berfungsi memberi respon baik mekanis maupun secara kimia terhadap adanya stimulus cahaya (Suharsono, 2004).

Jaringan otot terdapat di antara jaringan mesoglea yang bertanggung jawab terhadap gerakan polip untuk mengembang atau mengkerut sebagai respon perintah jaringan syaraf. Sinyal dari jaringan ini tidak hanya di dalam satu polip tetapi juga diteruskan ke polip yang lain. Kontraksi otot berpengaruh terhadap cairan di dalam rongga gastrovaskuler yang berlaku sebagai suatu rangka hidrostatik, sebagaimana mesoglea. Gerakan pada polip biasanya terbatas pada merayap atau meliuk-liuk (Suwignyo dkk, 2005). Jaringan filamen mesenterium berfungsi sebagai alat pencernaan yang sebagian besar selnya berisi sel mucus yang berisi enzim untuk pencernaan makanan. Lapisan luar dari jaringan filamen mesenterium ini dilengkapi dengan sel sillia yang halus (Suharsono, 2004). Di dalam rongga gastrovaskuler terdapat sel kelenjar enzim yang yang menghasilkan enzim semacam tripsin untuk mencerna makanan. Makanan dapat hancur menjadi partikel-partikel kecil seperti bubur, dengan gerakan flagel diaduk hingga merata. Sel otot pencernaan mempunyai pseupodia untuk menangkap menelan partikel makanan, dan pencernaan dilanjutkan secara intraselular (Suwignyo dkk, 2005). Hasil pencernaan didistribusikan ke seluruh tubuh secara difusi. Cadangan makanan terutama berupa lemak dan glikogen. Sisa makanan yang tidak dapat dicerna dibuang melalui mulut.

B. Reproduksi Karang Organ reproduksi karang berkembang di antara filamen mesenterium. Dalam satu polip dapat ditemukan organ betina saja atau jantan saja (dioecious) atau kedua7

duanya (hermaprodit). Namun menurut Suharsono (2004), karang yang hermaprodit jarang yang mempunyai tingkat pemasakan antara gonad jantan dan betina matang pada saat yang bersamaan (protandri). Pembentukan polip baru dapat terjadi melalui dua cara yaitu pertunasan (aseksual) dan larva (seksual). Pada reproduksi seksual (Gambar 4), pembuahan terjadi di dalam ruang gastrovaskuler induk betina, sperma dilepaskan ke dalam air dan akan masuk ke dalam ruang gastrovaskuler. Telur-telur yang telah dibuahi tertahan di ruang gastrovaskuler sampai perkembangannya mencapai stadium larva planula, yang dikeluarkan berenang bebas terbawa arus hingga suatu saat mengendap dan melekat pada substrat yang keras di dasar laut membentuk sebuah koloni baru. Setelah mengalami metamorfosa akan tumbuh secara pertunasan menjadi koloni dengan kerangka yang mempunyai bentuk khas bergantung jenisnya (Nontji, 2002).

Gambar 4. Reproduksi Seksual Karang (Nybakken, 1988) 8

Koloni karang dapat bertambah besar dengan jalan reproduksi aseksual, yaitu pembentukan polip baru dengan jalan pertunasan. Pada tipe reproduksi ini karangkarang yang dihasilkan sangat identik dengan induknya. Tunas dapat tumbuh baik secara ekstratentakuler maupun intratentakuler (Gambar 5) (Tomascik dkk, 1997).

Gambar 5. Reproduksi aseksual karang (Tomascik dkk, 1997) Keterangan : (A). Pembelahan intratentakuler (B). Pembelahan ekstratentakuler Pertunasan ekstratentakuler ialah pembentukan individu baru di luar individu lama, yaitu koralit baru tumbuh di coenosarc diantara koralit dewasa. Pada pertunasan ekstratentakuler, polip yang baru tumbuh pada setengah bagian tubuh ke bawah. Pertunasan intratentakuler adalah pembentukan individu baru didalam individu lama, yaitu mulut baru terbentuk di dalam lingkar tentakel individu lama melalui invaginasi lempeng oral. Proses pertunasan diikuti dengan pembentukan sklerosepta dan mangkuk karang dari masing-masing polip baru (Suwignyo, 2005). 9

Pertumbuhan panjang dari karang mempunyai hubungan yang erat dengan kalsifikasi yang terdiri dari tiga proses, yaitu: 1. transport material yang terasimilasi, 2. produksi material organik dan 3. deposit kalsium karbonat (Stromgren, 1987). Menurut Muchlis dkk (1998), pertumbuhan karang dapat ditinjau atau diukur dari pertumbuhan panjang koloni, pertumbuhan panjang cabang, pertumbuhan jarak antar cabang, dan pertumbuhan cabang baru.

C. Zooxanthella dan Peranannya dalam Terumbu Karang 1. Zooxanthella Zooxanthella adalah alga uniseluller yang hidup di dalam tubuh berbagai invertebrata laut dan hubungannya yang saling menguntungkan atau bersifat simbiosis mutualisme (Nontji, 1984). Istilah Zooxanthella merupakan nama umum yang berasal dari nama marga Zooxanthella yang dahulu digunakan oleh Brandt (1981) untuk menamakan suatu Dinoflagellata yang hidup simbiotik dalam tubuh Radiolaria Collozum inerme Haeckel (Muscatine, 1980). Sekarang istilah Zooxanthella telah digunakan dalam pengertian yang lebih luas, yaitu mencakup tiap alga uniseluller yang hidup sebagai simbion dalam invertebrata (Nontji, 1984). Kebanyakan Zooxanthella merupakan anggota dari Dinophyceae.

Umumnya Dinophyceae hidup sebagai fitoplankton sedangkan Zooxanthella hidup terutama di dalam Anthozoa (Yonge, 1972). Di dalam invertebrata laut,

10

simbiotik alga secara tradisional disebut Zooxanthella bila warnanya coklat, dan Zoochorella bila berwarna hijau (McLaughlin dkk, 1964). Jumlah terbesar dari Zooxanthella pada karang didapatkan pada daerah mulut cawan, tentakel dan coenosarc, yang kesemua daerah tersebut umumnya terkena cahaya matahari dan terdapat pada keseluruhan jaringan endodermis karang (Suryono dkk, 1998). Semua simbiotik Dinoflagellata dalam Coelenterata adalah intraseluler dan dibatasi oleh lapisan gastrodermis yang terdapat pada Anthozoa, tidak pernah didapatkan di dalam ektoderm atau di dalam mesoglea. Di alam, daur hidup Zooxanthella terdiri dari fase kokoid dan fase motil (bergerak). Pada fase kokoid, Zooxanthella tinggal menetap dalam Anthozoa, mempunyai sel berbentuk agak bulat dan merupakan fase dominan dalam siklus hidupnya (Nontji, 1984). Pada fase motil, sel mempunyai sifat dapat bergerak bebas dan hanya terdapat dalam waktu singkat. Sel-sel motil mempunyai flagella yang berguna untuk berenang dan merupakan suatu cara untuk menyebar dari satu Anthozoa ke Anthozoa lainnya (Nontji, 1984). Sel-sel kokoid mempunyai ukuran terbesar kurang lebih 10-14 m dan mempunyai asosiasi simbiotik yang sudah bersifat turun temurun dengan jenis-jenis invertebrata tertentu yang tergolong dalam filum Protozoa, Porifera, Coelenterata, Platyhelminthes, dan Mollusca. Sel-sel kokoid ini

11

hidup di dalam sel, berada di antara sel-sel, di dalam jaringan pengikat atau di dalam sinus, tergantung pada jenis Anthozoa (Nontji, 1984). Zooxanthella mempunyai jumlah berkisar dari kira-kira 106 sel per cm2 terumbu karang, atau per mg jaringan Anthozoa, sampai 2x108 sel per gram jaringan mantel. Zooxanthella dapat dilihat dalam konteks ekologi komunitas sebagai salah satu komponen produsen bentik. Selain itu juga dalam konteks fisiologi organismik, dimana Zooxanthella sebagai unsur produsen dalam asosiasi simbiotik antara individuindividu produsenkonsumen (Nontji, 1984). 2. Simbiosis Karang (Anthozoa) dengan Zooxanthella Terumbu karang Anthozoa, biasanya mengandung dalam jumlah besar populasi Dinoflagellata (Zooxanthella), yang terletak pada sel-sel endodermis (Glinder dkk, 1980). Interaksi antara Anthozoa dengan Zooxanthella diketahui sebagai simbiosis mutualisme, dimana hubungannya saling menguntungkan antara inang dan simbion (Fankboner, 1971). Anthozoa menyediakan perlindungan serta hasil-hasil metabolisme seperti karbondioksida dan nutrien untuk Zooxanthella (Taylor, 1969). Zooxanthella juga dapat memanfaatkan produk-produk ekskresi dari inang seperti fosfor, sulfur dan senyawa nitrogen dari Anthozoa (McLaughlin dkk, 1964). Goreau (1964) menjelaskan bahwa Anthozoa akan menerima hasil fotosintesis dari Zooxanthella. Hal ini menguntungkan bagi Anthozoa yang tersebar di perairan oligotropik, karena di perairan ini umumnya sangat mudah 12

kekurangan nutrien. Taylor (1973), menemukan bahwa hasil metabolisme dari Zooxanthella adalah gliserol, glukosa, alanin, lemak, asam amino, fosfat organik dan oksigen. Simbiotik keduanya juga memiliki kekurangan, yaitu jika Anthozoa terkena radiasi ultraviolet yang sangat tinggi, maka Zooxanthella akan berfotosintesis dengan cepat dan menghasilkan oksigen yang berlebih sehingga menjadi racun bagi Anthozoa (Lesser dkk, 1990). Hubungan simbiosis ini dikembangkan untuk mengatasi kondisi kurangnya nutrien di perairan oligotropik tropis. Zooxanthella berfungsi melaksanakan fotosintesis, mempercepat

pembentukan kalsium pada Anthozoa dan sebagai perantara terbentuknya aliran nutrien antara lingkungan dan Anthozoa (DElia dan Wiebe, 1990). Salah satu karakteristik yang menonjol dalam simbiosis keduanya terlihat jelas dalam hubungan yang stabil antara volume jaringan Anthozoa dan jumlah dari Zooxanthella (Droop, 1963). Kepadatan populasi Zooxanthella bervariasi tergantung pada kedalaman dan habitat koloni Anthozoa (Gulberg dan Smith, 1989).

D. Proses Kalsifikasi pada Karang Karang hermatipik adalah karang pembentuk terumbu. Perbedaan antara karang hermatipik dan ahermatipik adalah kemampuan karang hermatipik untuk

13

membentuk terumbu dan mendeposit kapur (CaCO 3 ) dibandingkan karang ahermatipik (Nybakken, 1988). Proses kalsifikasi adalah proses mineralisasi kalikoblast epidermis. Bahan utama yang digunakan dalam proses kalsifikasi sebenarnya merupakan suatu hasil eksresi metabolisme. Pembentukan CaCO 3 tergantung kepada kecepatan pemindahan asam karbonat pada proses kalsifikasi (Suharsono, 2004). Menurut Syarani (1982), proses terbentuknya endapan kalsium karbonat adalah sebagai berikut :

CaCO 3 (aragonit kristal) inilah yang mengendap dan membentuk terumbu (Syarani, 1982). Asam karbonat (H 2 CO 3 ) berubah menjadi ion hidrogen (H+) dan karbonat (HCO 2 ) yang cenderung berubah menjadi H 2 O dan CO 2 . Semua reaksi terjadi di dalam tubuh karang, dimana pembentukan air dan karbondioksida dipercepat oleh adanya enzim anhydrase (Mapstone, 1990). Zooxanthella memanfaatkan hasil-hasil metabolisme dari terumbu karang, yang akan digunakan untuk proses fotosintensis ( ). Di

dalam air CHO tidak stabil dalam bentuk 2HCO 3 - yang kemudian mengikat kalsium (Ca2+) dari perairan yang akan membentuk Ca(HCO 3 ) 2 yang berada dalam keadaan stabil (Suharsono, 2004). Apabila proses ini berjalan cepat, maka keseimbangan akan bergeser ke arah kanan dan terurai menjadi CaCO 3 + H 2 CO 3 . Hal ini terjadi setiap

14

hari dan pada pusat pendepositan CaCO 3 lautan pada siang hari dimana proses asimilasi mencapai level tertinggi (Mapstone, 1990). Andri (2003), menjelaskan bahwa Zooxanthella meningkatkan laju mengeras menjadi kapur (kalsifikasi) yang dilakukan oleh karang dan dalam laju pertumbuhan koloni karang. Menurut Barnes dan Chalker (1990) dalam Tomascik dkk (1997) telah diketahui bahwa laju kalsifikasi karang meningkat dengan meningkatnya laju fotosintesis. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, didapatkan bahwa laju kalsifikasi berubah seiring dengan jumlah cahaya dua kali lebih cepat pada cuaca yang cerah dibandingkan pada cuaca berawan (Connel, 1973).

E. Distribusi Terumbu Karang Terumbu karang di dunia diperkirakan minimal meliputi wilayah seluas 600.000 km2 (Romimohtarto dan Juwana, 2001). Terumbu karang tersebar di laut dangkal di daerah tropis hingga subtropis, yaitu diantara 32 LU dan 32 LS mengelilingi bumi (Suharsono, 2004). Garis lintang tersebut merupakan batas maksimum dimana karang masih dapat tumbuh. Menurut Manuputty (1986), terumbu karang memiliki sebaran vertikal dari bagian surut terendah hingga kedalaman kurang lebih 30 meter. Karang pembentuk terumbu hanya dapat tumbuh dengan baik pada daerahdaerah tertentu seperti pulau-pulau yang sedikit mengalami proses sedimentasi, selain itu di sebelah barat dari benua yang umumnya tidak terpengaruh oleh adanya arus dingin yang berasal dari kutub selatan (Suharsono, 2004). 15

Terumbu karang terdapat khususnya pada laut bersuhu hangat, tidak terdapat di perairan dimana suhu musim dingin jauh dibawah 20C atau 21C. Keadaan lingkungan yang baik untuk pertumbuhan karang meliputi suhu air berkisar antara 20C sampai 30C, kedalaman laut yang kurang dari 50 meter, kisaran salinitas antara 30 sampai dengan 35, kecepatan sedimentasi yang rendah, peredaran air bebas pencemar yang cukup dan tersedianya substrat keras (Romimohtarto dan Juwana, 2001). Di dunia terdapat tiga daerah besar sebaran terumbu karang yang meliputi laut Karibia, Samudera Hindia, dan Indo-pasifik. Di Laut Karibia terumbu karang tumbuh di tenggara pantai Amerika sampai di sebelah barat laut pantai Amerika Selatan. Terumbu karang Laut Karibia hanya terdiri dari 20 marga dengan 32 jenis. Jenis karang yang tumbuh di Laut Karibia sebagian besar berbeda dengan yang tumbuh di Samudera Hindia maupun Samudera Pasifik (Suharsono, 2004). Di Samudera Hindia sebaran karang meliputi pantai timur Afrika, Laut Merah, Teluk Aden, Teluk Persia, Teluk Oman sampai di Samudera Hindia Selatan atau terletak di 26 LS. Sebaran karang lebih banyak ditentukan oleh adanya upwelling. Terbatasnya sebaran karang Teluk Persia dan India Selatan lebih ditentukan oleh adanya salinitas yang ekstrim yaitu 46 untuk Teluk Persia dan 26 untuk Samudera Hindia Selatan (Suharsono, 2004). Sebaran karang pada Samudera Pasifik meliputi Laut Cina Selatan sampai pantai barat Australia Barat, Pantai Panama sampai pantai selatan Teluk California. Karang tumbuh dengan baik di daerah Indo-Pasifik hingga mencapai 80 marga. 16

Di Indonesia karang tersebar mulai dari Sabang hingga utara Jayapura. Sebaran karang tidak merata di seluruh perairan Indonesia. Daerah sekitar Sulawesi, Maluku, Sorong, NTB dan NTT merupakan daerah yang sangat baik untuk pertumbuhan karang. Laut di sekitar Sulawesi diyakini sebagai pusat keanekaragaman karang di dunia dan merupakan salah satu lokasi asal usul karang yang ada di dunia saat ini, selain berasal dari laut sekitar Karibia (Suharsono, 2004).

F. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Terumbu Karang Pembentukan terumbu karang terdiri atas ratusan ribu bahkan jutaan polip yang terjadi sangat lambat. Laju pertumbuhannya hanya 0,25 cm - 0,5 cm per tahun, sehingga memerlukan waktu berabad-abad lamanya untuk membentuk suatu terumbu karang (Hardianto dkk, 1998). Ada enam faktor pembatas yang mempengaruhi pertumbuhan terumbu karang, yaitu : 1. Cahaya Menurut Huston (1985), keberadaan cahaya dalam air adalah faktor utama yang menentukan kecepatan pertumbuhan panjang dan bobot karang. Untuk melakukan fotosintesis, Zooxanthella memerlukan cahaya matahari. Jadi secara tidak langsung kehidupan terumbu karang juga tergantung pada intensitas cahaya yang dapat menembus air laut. Semakin dalam laut semakin kecil intensitas cahaya yang diterima. Untuk bertahan hidup terumbu karang sangat memerlukan oksigen demi berlangsungnya proses respirasi. Terumbu karang mendapat oksigen tambahan dari hasil

17

fotosintesis Zooxanthella, semakin rendah produksi oksigen oleh Zooxanthella, mengakibatkan pasokan oksigen untuk terumbu karang juga berkurang (Hardianto dkk, 1998). Kedalaman laut maksimum untuk hidup karang batu adalah 45 meter, lebih dari itu cahaya sudah terlampau lemah untuk memungkinkan Zooxanthella menghasilkan oksigen yang cukup bagi karang batu. 2. Suhu Menurut Nontji (2002), suhu mempunyai peranan penting dalam membatasi sebaran terumbu karang. Oleh karena itu terumbu karang tidak ditemukan di daerah Ugahari (temperate) apalagi di daerah dingin. Suhu optimum untuk pertumbuhan terumbu karang adalah 26-28C. Walaupun demikian, ada beberapa jenis terumbu karang yang dapat bertahan hidup pada suhu 13C dan pada suhu 38C. Suhu yang ekstrim, terlalu tinggi atau terlalu rendah, dapat mempengaruhi metabolisme, proses reproduksi dan pertumbuhan terumbu karang, serta pembentukan kapur. Perubahan suhu yang besar dapat mematikan sebagian jenis karang batu, sehinga hanya jenis-jenis yang kuat yang dapat bertahan hidup (Levinton, 1982). Pada kenaikan 1-2C di atas suhu perairan maksimum musim panas dapat menyebabkan pemutihan bahkan dapat menyebabkan 90-95% kematian karang (Guldberg, 1999; Stan dan Debbie, 2000). Bila kenaikan suhu berlangsung 5-10 minggu dapat menyebabkan Zooxanthella lepas dari jaringan karang dan dapat menyebabkan pemutihan pada banyak jenis karang yang dominan (Buchheim, 2003). 18

3. Salinitas Kondisi lingkungan yang dapat mendukung pertumbuhan karang salah satunya adalah dengan salinitas berkisar 30-36 (Muchlis dkk, 1998). Nontji (2002), mengatakan bahwa toleransi terumbu karang terhadap salinitas air berkisar antara 27-40. Tinggi rendahnya salinitas air laut dipengaruhi oleh curah hujan, penguapan, dan fluktuasi air sungai. Hujan yang sangat lebat dapat pula menyebabkan lapisan permukaan laut salinitasnya mendadak turun sehingga mengganggu pertumbuhan karang. Selain itu, aliran air tawar yang masuk ke kawasan terumbu karang dapat menyebabkan kematian karang batu. Itulah sebabnya di pantai timur Sumatera, pantai Selatan Kalimantan dan Pantai Selatan Papua dimana banyak terdapat sungai-sungai besar bermuara menyebabkan jarang dijumpai terumbu karang (Hardianto dkk, 1998). 4. Kejernihan Kejernihan merupakan salah satu syarat untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan terumbu karang. Air yang keruh dapat menghalangi masuknya cahaya matahari yang diperlukan Zooxanthella untuk berfotosintesis. Jika alga ini tidak dapat melakukan fotosintesis, maka pasokan makanan untuk terumbu karang juga tidak ada sehingga terumbu karang akan mati (Hardianto dkk, 1998). Endapan baik di dalam air maupun di atas karang mempunyai pengaruh negatif terhadap karang. Kebanyakan karang pembentuk terumbu (hermatipik)

19

tidak dapat bertahan dengan adanya endapan yang berat, yang menutupinya dan menyumbat struktur pemberian makanannya. 5. Substrat Tempat melekatnya larva planula disebut substrat. Substrat biasanya kuat dan bersih dari lumpur sehingga larva dapat melekat dengan erat. Substrat yang keras biasanya berupa berbagai benda padat yang ada di dasar laut seperti batu, cangkang-cangkang moluska, potongan kayu, besi yang terbenam, hingga kapal yang tenggelam di dasar laut. 6. Pergerakan Air atau Arus Arus air diperlukan agar pasokan makanan dan oksigen berjalan lancar serta menghindarkan terumbu karang dari timbunan endapan. Pertumbuhan terumbu karang di laut terbuka lebih baik dari pada di laut tertutup. Hal ini karena di laut terbuka pasokan oksigen selalu mencukupi, sedangkan di perairan yang agak tertutup pertumbuhan terumbu karang terhambat karena minimnya pasokan makanan (Hardianto dkk, 1998). Adanya arus kuat yang membawa bahan makanan sangat berguna bagi terumbu karang, karena Zooxanthella tidak melakukan fotosintesis pada malam hari sehingga tidak setiap saat menghasilkan makanan yang diperlukan terumbu karang. Oleh karena itu, pertumbuhan terumbu karang di perairan yang airnya selalu teraduk oleh angin, arus dan ombak, akan lebih baik daripada terumbu karang di perairan yang tenang dan tertutup (Nontji, 2002).

20

G. Manfaat Terumbu Karang Ekosistem terumbu karang memiliki banyak manfaat bagi manusia dan bagi berbagai jenis biota karang meskipun sebagian besar terletak di bawah permukaan laut. Menurut Suharsono (2004) dan Hardianto dkk (1998), terumbu karang mempunyai nilai dan arti yang sangat penting dari berbagai bidang, diantaranya: 1. Sebagai sumber keanekaragaman hayati biota laut. 2. Menjadi tempat tinggal sementara atau tetap, tempat mencari makan, berpijah, daerah asuhan dan tempat berlindung bagi biota laut lainnya. 3. Sebagai tempat berlangsungnya siklus biologi, kimia, dan fisik secara global yang mempunyai tingkat produktivitas yang sangat tinggi. 4. Sumber bahan makanan langsung maupun tidak langsung. 5. Sebagai satu kesatuan dari berbagai jenis karang yang berfungsi sebagai penahan gelombang, sehingga erosi yang terjadi pada tepi pantai dapat dihambat. 6. Sebagai sumber utama penghasil bahan-bahan konstruksi. 7. Mempunyai nilai yang penting sebagai pendukung dan penyedia bagi perikanan pantai termasuk di dalamnya sebagai penyedia lahan dan tempat budidaya berbagai hasil laut. 8. Sebagai daerah rekreasi, baik rekreasi pantai maupun rekreasi bawah laut. 9. Sebagai sarana penelitian dan pendidikan.

21

BAB III

PEMANASAN GLOBAL

A. Definisi Pemanasan Global Unsur iklim meliputi seluruh unsur cuaca seperti suhu, curah hujan, dan pola angin. Perubahan iklim adalah perubahan rata-rata salah satu atau lebih elemen cuaca pada suatu daerah tertentu (Ratag, 2002). Perubahan iklim skala global merupakan perubahan iklim dengan acuan wilayah Bumi secara keseluruhan. Perubahan iklim global dalam skala waktu panjang mempunyai implikasi terhadap ekosistem alam. Sistem alam, diantaranya efek rumah kaca mempengaruhi suhu Bumi. Aktivitas manusia saat ini berpotensi untuk mengganggu kesetimbangan sistem alam. Gaya hidup penduduk menyumbang peningkatan gas yang menyerap panas di atmosfer. Akibat meningkatnya jumlah gas ini tidak lain karena umat manusia telah berperan dalam pemanasan yang disebabkan oleh efek rumah kaca (Ratag, 2002). Pemanasan global dapat didefinisikan sebagai meningkatnya suhu rata-rata di seluruh permukaan bumi akibat dari meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Efek rumah kaca ini sebagai dampak aktivitas manusia di berbagai belahan dunia (Meiviana dkk, 2004).

B. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Pemanasan Global Sebagian besar ilmuwan berpendapat bahwa efek rumah kaca dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global. Efek rumah kaca alami penting untuk

22

kehidupan di bumi, karena bumi menjadi cukup hangat sehingga dapat mendukung kehidupan. Tanpa adanya efek rumah kaca, kehidupan di bumi akan terganggu karena suhu rata-rata bumi akan berkisar -20C (Susanta dan Sutjahjo, 2007). Tetapi pada kondisi yang ekstrem ketika di atmosfer terjadi akumulasi gas-gas pemicu pemanasan global secara berlebihan, justru efek rumah kaca dapat menyebabkan terjadinya peningkatan suhu di bumi melebihi batas normal yang berpotensi menimbulkan pemanasan global (Pearce, 2002). Pada dasarnya ada enam senyawa gas rumah kaca yang telah disepakati dalam protokol Kyoto, diantaranya Karbondioksida (CO 2 ), Metana (CH 4 ), Nitrodioksida (NO 2 ), Chlorofluorocarbon (CFC), Hidrofluorocarbons (HFCs), dan

Sulfurheksafluorida (SF 6 ) (Meiviana dkk, 2004). 1. Karbondioksida Jumlah CO 2 di udara diketahui dapat mempengaruhi suhu global selama ratusan juta tahun (Pearce, 2002). Karbondioksida merupakan komponen yang mempunyai fungsi utama untuk mengabsorpsi energi infra merah yang dipancarkan kembali oleh bumi (Achmad, 2004). Kadar CO 2 di udara terus meningkat sejalan dengan makin banyaknya penggunaan bahan bakar fosil untuk mencukupi keperluan energi dunia (Tabel 1). Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan umat manusia. Penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batubara, dan gas alam dalam berbagai kegiatan, misalnya pada pembangkit

23

listrik, transportasi, dan industri akan memicu bertambahnya jumlah emisi gas rumah kaca di atmosfer. Tabel 1. Sumber Pencemaran Gas CO 2 (Wardhana, 2004) Sumber Pencemaran Transportasi Mobil Bensin Mobil Diesel Pesawat terbang Kereta api Kapal laut Sepeda motor, dll Pembakaran Stasioner Batubara Minyak Gas alam Kayu Proses Industri Pembuangan Limbah Padat Lain-lain Sumber Kebakaran hutan Pembakaran batubara sisa Pembakaran limbah pertanian Pembakaran lain-lain TOTAL % Bagian 59,0 0,2 2,4 0,1 0,3 1,8 1,9 0,8 0,1 0,0 1,0 9,6 7,8 16,9 7,2 1,2 8,3 0,2 100,0 % Total 63,8

100,0

Gas CO 2 di atmosfer dapat berasal dari berbagai sumber baik secara alami maupun disengaja, diantaranya : a. Karbondioksida yang dilepaskan dari peristiwa alam seperti letusan gunung b. Hasil respirasi yang dilakukan oleh berbagai organisme hidup seperti manusia, hewan dan tumbuhan melepaskan CO 2 ke udara

24

c. Limbah yang dihasilkan oleh industri d. Pembakaran bahan bakar fosil dan kebakaran hutan e. Asap yang dihasilkan dari kendaraan bermotor Karbon secara alamiah mengalami siklus diantara lautan, hutan dan atmosfer (Gambar 6). Letusan gunung berapi menambah karbon dalam siklusnya, sedangkan rawarawa mengambil karbon sebagai bahan untuk membentuk fosil berupa batubara. Selanjutnya batubara akan dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar yang juga menambah kadar CO 2 di udara (Pearce, 2002).

Gambar 6. Siklus Karbon (www.wikipedia.org.id, 2007) Di atmosfer terdapat kandungan CO 2 sebanyak 0.03% (Achmad, 2004). Di dalam suatu siklus karbon, sumber-sumber CO 2 di udara berasal dari respirasi manusia dan hewan, erupsi vulkanik, pembakaran batubara dan asap pabrik. Karbondioksida di udara dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk fotosintesis dan menghasilkan oksigen yang nantinya akan digunakan oleh manusia dan hewan

25

untuk berrespirasi (Wardhana, 2004). Hewan dan tumbuhan yang mati, dalam waktu yang lama akan membentuk batubara di dalam tanah. Pada ekosistem air, pertukaran CO 2 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. Karbondioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk alga itu sendiri dan organisme heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, CO 2 yang di keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah CO 2 di air (Wardhana, 2004). Mekanisme terjadinya efek rumah kaca karena CO 2 terutama disebabkan dari hasil pembakaran bahan bakar fosil yang akan mengumpul pada lapisan tertentu di atmosfer bumi yang membentuk semacam perisai. Adanya perisai ini menyebabkan panas yang keluar dari bumi tidak dapat dengan bebas keluar dari lapisan atmosfer, namun akan dikembalikan lagi ke bumi. Lapisan CO 2 tersebut seolah-olah berfungsi sebagai reflektor terhadap panas dari bumi (Wardhana, 2004). Panas dari bumi yang dipantulkan lagi ke bumi ini akan menaikkan suhu bumi. Hal inilah yang menyebabkan pengaruh lapisan karbondioksida terhadap kenaikkan suhu bumi yang disebut sebagai efek rumah kaca (Gambar 9). Akibat yang muncul, yaitu peningkatan suhu, kenaikan permukaan air laut karena mencairnya es di kutub.

26

2. Metana (CH 4 ) Gas rumah kaca hasil aktivitas manusia terpenting setelah CO 2 adalah metana. Satu molekul gas ini berpotensi sebagai gas rumah kaca 20 kali lebih besar daripada satu molekul CO 2 (Pearce, 2002). Gas metana ini dihasilkan dari aktivitas pertanian, kebocoran pipa gas alam dan dari penambangan batubara (Ratag, 2002). Sektor peternakan juga dapat menghasilkan gas rumah kaca, karena kotoran ternak yang membusuk akan melepaskan gas metana ke atmosfer. Menurut Meiviana dkk (2004), setiap 1 kg kotoran ternak melepaskan sekitar 230 liter gas metana ke atmosfer. Sampah juga turut menghasilkan emisi gas rumah kaca berupa gas metana, walaupun dalam jumlah yang relatif kecil jika dibandingkan dengan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari sektor lainnya. Diperkirakan 1 ton sampah padat dapat menghasilkan sekitar 50 kg gas metana (Meiviana dkk, 2004). 3. Nitrogendioksida (NO 2 ) Nitrogenoksida sering disebut dengan NO x karena oksida nitrogen mempunyai 2 macam bentuk yang sifatnya berbeda, yaitu gas NO 2 dan gas NO. Sifat gas NO 2 adalah berwarna dan berbau, sedangkan gas NO tidak berwarna dan tidak berbau. Warna gas NO 2 adalah merah kecoklatan dan berbau tajam menyengat hidung (Wardhana, 2004). NO x diemisikan dari pembakaran pada temperatur tinggi, sebagai hasil dari reaksi nitrogen dengan oksigen. Nitrogen oksida yang bereaksi dengan asap 27

bensin yang tidak terbakar sempurna dan zat hidrokarbon lain akan membentuk ozon rendah atau kabut asap berawan coklat kemerahan. Setelah bereaksi dengan atmosfer, zat tersebut membentuk partikel-partikel nitrat yang amat halus yag dapat menembus alveoli. Oleh karenanya, bila partikel ini dihirup oleh manusia dapat menyebabkan kerusakan paru-paru (Susanta dan Sutjahjo, 2007). NO 2 peranannya kecil terhadap pemanasan global, yang diemisikan terutama dari pembakaran dan mampu bertahan selama 150 tahun (Wardhana, 2004). 4. Chlorofluorocarbon (CFC) CFC merupakan gas yang berwarna biru tua, stabil, tidak mudah terbakar, mudah disimpan dan murah harganya. Karena sifat-sifat itulah penggunaan CFC meluas dimana-mana. CFC banyak digunakan pada lemari es, sebagai pendorong aerosol dalam kaleng atau botol penyemprot, pendingin ruangan, karet busa sintetis, polystyrene dalam bentuk piring, kotak makan, perlengkapan packaging, dan lain-lain (Sudariyono, 2005). Menurut Achmad (2004), sejak tahun 1988 produk CFC seluruh dunia digunakan sebagai berikut : a. 30% lemari es dan pendingin udara b. 19% aerosol kaleng penyemprot c. 28% karet dan karton fastfood d. 19% pembersih e. 4% keperluan lainnya

28

CFC memiliki sifat stabil yang sangat bermanfaat untuk bumi tetapi memberi peluang baginya untuk merusak lapisan ozon. Senyawa CFC ini juga sangat membahayakan karena berumur panjang (Tabel 2) (Achmad, 2004). Gas-gas dengan waktu tinggal yang lama seperti CFC, HFC dan PFC, yang digunakan pada alat pendingin ruangan dan lemari pendingin juga merupakan gas yang berbahaya jika berada di atmosfer. Tabel 2. Jenis dan Rata-rata Umur CFC di Atmosfer (Manahan dan Stanley, 1994) Jenis CFC CFC-11 CFC-12 CFC-13 Halon-1301 Rata-rata Umur di Atmosfer 17 tahun 111 tahun 90 tahun 110 tahun

5. Hidrofluorocarbons (HFCs) HFCs (Hydrofluorocarbons) terbentuk selama manufaktur berbagai produk, termasuk busa untuk insulasi, perabotan (furniture), dan tempat duduk di kendaraan. Para ilmuwan mengkhawatirkan gas-gas yang dihasilkan dari proses manufaktur akan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan (Ardiansyah, 2007). 6. Sulfurheksafluorida (SF 6 ) Pada tahun 2000, para ilmuwan mengidentifikasi bahan baru yang meningkat secara substansial di atmosfer. Bahan tersebut adalah SF 6 (Sulphurhexafluoride). Konsentrasi gas ini di atmosfer meningkat dengan sangat cepat, yang walaupun masih tergolong langka di atmosfer tetapi gas ini mampu menangkap panas jauh

29

lebih besar dari gas-gas rumah kaca yang telah dikenal sebelumnya. Hingga saat ini sumber industri penghasil gas ini masih belum teridentifikasi (Ardiansyah, 2007).

Karbondioksida, metana, dan nitrodioksida adalah senyawa yang banyak menyebabkan efek rumah kaca (Gambar 7). Sementara Chlorofluorocarbon, Hidroflurocarbon, Sulfurheksafluorida meskipun ikut memiliki peran dalam memicu terjadinya pemanasan global tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak.
Pemanasan Relatif Gas Rumah Kaca 100 Tahun yang Akan Datang

10% 3% Karbondioksida 24% 63% Metan Nitrooksida Lain-lain

Gambar 7. Persentase pemanasan relatif gas rumah kaca (Ratag dkk, 2002) C. Proses Terjadinya Pemanasan Global Atmosfer merupakan sebuah lapisan yang menyelimuti bumi dan berfungsi sebagai pelindung dari sinar ultraviolet yang datang berlebihan dari matahari (Wardhana, 2004). Secara garis besar atmosfer bumi terdiri dari troposfer (atmosfer bagian bawah) dan stratosfer (atmosfer bagian atas) (Gambar 8) (Hidayati dkk, 2004). Kehidupan di biosfer tidak hanya dipengaruhi oleh unsur di stratosfer, tetapi juga

30

unsur troposfer. Oleh karena itu keduanya merupakan unsur atmosfer yang mempunyai peran besar dalam menentukan kehidupan di biosfer.

Gambar 8. Skema Profil Ozon Secara Vertikal (Hidayati dkk, 2004) Atmosfer merupakan media penerima dan perjalanan gas-gas buangan/bahan pencemar, terutama pada lapisan troposfer. Troposfer merupakan lapisan atmosfer yang berada dekat dengan permukaan bumi sampai dengan ketinggian tropopaus dalam jumlah 10% dari jumlah ozon yang ada di atmosfer dan mempunyai peran yang sangat penting pada perubahan iklim karena bersifat sebagai gas rumah kaca (Hidayati dkk, 2004). Matahari adalah sumber utama energi yang menerangi bumi. Sebagian besar energi yang menyinari bumi adalah radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya yang tampak yang apabila mengenai permukaan bumi akan berubah menjadi panas dan akan menghangatkan bumi. Permukaan bumi akan memantulkan kembali sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar,

31

walaupun sebagian tetap terperangkap di atmosfer bumi. Gas-gas tertentu di atmosfer, termasuk uap air, karbondioksida, dan metana menjadi perangkap dari radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi. Akibatnya, panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Semakin meningkat konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer, berarti semakin banyak panas yang terperangkap (Gambar 9).

Gambar 9. Mekanisme Terjadinya Pemanasan Global (Pearce, 2002)

D. Dampak Pemanasan Global Perubahan iklim merupakan fenomena global, dimana dampaknya akan dirasakan secara global oleh seluruh umat manusia di seluruh belahan bumi. Meningkatnya efek rumah kaca telah mengakibatkan bumi menjadi tempat yang tidak

32

nyaman dan telah memberikan dampak yang sangat luas dan kompleks bagi bumi, baik dari aspek kesehatan, ekonomi, sosial, politik dan lingkungan. Dampak dari pemanasan global dan perubahan iklim secara umum diantaranya adalah : 1. Mencairnya Es di Kutub Perubahan iklim menyebabkan mencairnya es dan gletser di seluruh dunia, terutama di Kutub Utara dan Selatan. Diketahui bahwa es yang menyelimuti permukaan bumi telah berkurang 10% sejak 1960. Sementara ketebalan es di Kutub Utara telah berkurang 42% dalam 40 tahun terakhir (Pearce, 2002). Diperkirakan pada tahun 2100, gletser yang menyelimuti pegunungan Himalaya seluas 33.000 km2 akan mencair. Ilmuwan Eropa juga memperkirakan sekitar 50 90% gletser di pegunungan Alpen akan menghilang. Pegunungan salju Australia akan bebas salju pada tahun 2070 (Pearce, 2002). 2. Terjadinya Pergeseran Musim Perubahan iklim juga menyebabkan terjadinya pergeseran musim, dimana musim kemarau akan berlangsung lama sehingga menimbulkan bencana kekeringan dan penggurunan. Para ilmuwan memperkirakan bahwa kekeringan akan melanda Afrika, Eropa, Amerika Utara, dan Australia (Meiviana dkk, 2004). Sementara musim hujan akan berlangsung dalam waktu singkat dengan kecenderungan intensitas curah hujan yang lebih tinggi dari curah hujan normal sehingga menyebabkan banjir dan tanah longsor. Hal ini terbukti bahwa di wilayah Asia Tenggara serta beberapa wilayah lainnya yang rentan terhadap badai

33

dan angin puting beliung telah mengalami badai yang lebih dahsyat, hujan yang lebih deras serta lebih banyak bencana banjir (Meiviana dkk, 2004). Pemanasan global nampaknya juga akan mempengaruhi siklus hidrologi dibeberapa tempat. Misalnya sirkulasi antara air di laut, atmosfer dan permukaan bumi sehingga akan berdampak pada pola hujan, banjir dan kekeringan, hingga aliran sungai dan vegetasi (Pearce, 2002) . 3. Peningkatan Permukaan Air Laut Dampak perubahan iklim yang lainnya adalah meningkatnya permukaan air laut. Berdasarkan IPCC (2001), dalam 100 tahun terakhir telah terjadi peningkatan permukaan air laut setinggi 10-25 cm. Sementara itu diperkirakan bahwa pada tahun 2100 mendatang akan terjadi peningkatan air laut setinggi 15-95 cm. Peningkatan permukaan air laut setinggi 1 meter akan menyebabkan hilangnya 1% daratan Mesir, Belanda 6%, Bangladesh sebesar 17,5% dan atol di kepulauan Marshall menghilang (Pearce, 2002). Perubahan iklim juga menyebabkan negara-negara kepulauan seperti Karibia, Fiji, Samoa, Vanuatu, Jepang, Philipina, serta Indonesia terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut. Artinya bahwa puluhan juta orang yang hidup di daerah pesisir pantai akan kehilangan tempat tinggal serta infrastruktur pendukung yang telah terbangun. Nelayan juga akan kehilangan mata pencahariannya akibat berkurangnya jumlah tangkapan ikan. Hal ini disebabkan karena tak menentunya iklim sehingga menyulitkan mereka untuk melaut. 34

Naiknya muka air laut tak hanya mengancam kehidupan penduduk pantai, tetapi juga penduduk perkotaan. Karena kenaikan permukaan air laut akan memperburuk kualitas air tanah di perkotaan, karena intruisi air laut yang kian meluas (Meiviana dkk, 2004). Kenaikan muka air laut juga akan merusak ekosistem hutan bakau, serta merubah sifat biofisik dan biokimia di zona pesisir. Di beberapa Daaerah Aliran Sungai (DAS), akan terjadi perubahan tingkat air pasang dan surut yang makin tajam. Akibatnya, kerap terjadinya banjir atau kekeringan akan semakin terasa. Hal ini akan semakin parah apabila daya tampung sungai dan waduk tidak terpelihara akibat erosi dan sedimentasi (Meiviana dkk, 2004). 4. Dampak Pada Sektor Kelautan dan Perikanan Pemanasan global menyebabkan meningkatnya suhu air laut sebesar 2-3C. Akibatnya, alga yang merupakan sumber makanan terumbu karang akan mati karena tidak mampu beradaptasi dengan peningkatan suhu air laut. Hal ini berdampak pada menipisnya ketersediaan makanan terumbu karang. Akibatnya, terumbu karang pun akan berubah warna menjadi putih (coral bleaching)dan jika berlangsung terus menerus dapat menyebabkan kematian karang. Pemutihan karang berdampak pada punahnya berbagai jenis ikan karang yang bernilai ekonomi tinggi karena tidak ada lagi terumbu karang yang layak untuk dihuni dan berfungsi sebagai sumber makanan. Akibat yang lebih jauh adalah terjadinya perubahan komposisi ikan di laut, sedangkan ikan yang tak tergantung pada terumbu karang akan tumbuh dengan suburnya (Meiviana dkk, 2004). 35

Meningkatnya suhu laut akan mengganggu kehidupan jenis ikan tertentu yang sensitif terhadap naiknya suhu. Ini mengakibatkan terjadinya migrasi ikan ke daerah yang lebih dingin. Akhirnya, daerah-daerah beriklim tropis seperti Indonesia akan kehilangan beberapa jenis ikan sehingga nelayan lokal akan makin terpuruk karena menurunnya hasil tangkapan ikan (Meiviana dkk, 2004). 5. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Suhu dan Pola Hujan Pemanasan global dapat mengakibatkan terjadinya perubahan iklim menjadi lebih bervariasi. Hampir semua tempat diprediksi akan menjadi lebih panas, namun dibeberapa tempat akan menjadi lebih dingin. Menurut Pearce (2002), tempat yang akan mengalami pemanasan tercepat adalah Kanada, Rusia, dan Skandinavia, karena umpan balik positif yang disebabkan pencairan es terjadi paling intensif disana. Pemanasan akan terjadi paling kuat pada daerah bagian dalam benua karena sirkulasi lautan akan mengurangi pengaruh pemanasan di daerah pantai. Perubahan global lainnya yang telah nyata dan ada saat ini adalah panasnya suhu pada malam hari dan selama musim dingin, hal ini berdampak pada lebih sedikitnya salju musim dingin dan lebih banyak hujan. Ditambah dengan lebih lamanya terbentuk es pada daerah lintang sedang. Menurut IPCC (2001), Pemanasan global diperkirakan akan menyebabkan terjadinya kenaikan suhu bumi rata-rata 1C pada tahun 2025 dibanding suhu saat ini, atau 2C lebih tinggi dari jaman pra industri tahun 1750-1800.

36

E. Upaya-upaya yang Dapat Dilakukan Untuk Mengurangi Pemanasan global Menurut Ramlan (2002), masalah terhadap emisi CO 2 di udara dapat diatasi dengan beberapa cara misalnya : a. Menanam pohon, karena pepohonan dapat menghirup CO 2 dari udara dan kemudian melepaskan O 2 dengan perbandingan 1 Ha pepohonan dapat menghisap 13,2 ton CO 2 per tahun. b. Membersihkan materialmaterial yang membusuk baik material organik maupun anorganik yang mengandung CO 2 . Dengan membersihkan materialmaterial tersebut maka dapat mencegah berproduksinya 2,7 ton CO 2 per hektar per tahun. c. Memasukkan (menginjeksikan kembali) gas CO dan CO 2 yang keluar dari cerobong asap ke dalam sumur-sumur minyak bumi. d. Membangun pembangkit-pembangkit listrik berbahan bakar non fosil. Contoh: Pembangkit Listrik Tenaga Air Pembangkit Listrik Tenaga Angin Pembangkit Listrik Tenaga Surya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Pembangkit Listrik Tenaga Fuel Cell

e. Penghematan energi, baik dibidang industri, transportasi, bangunan komersial, dan mengurangi pembangkit listrik berbahan bakar fosil. f. Menggunakan kendaraan berbahan bakar listrik, tenaga surya, hibrid, fuel cell. 37

Menurut Meiviana dkk (2004), untuk menekan emisi metana ke atmosfer kotoran ternak dan sampah dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit listrik tenaga biogas maupun sebagai bahan bakar alternatif. Melalui penggunaan teknologi yang sederhana, kotoran ternak dapat diolah menjadi biogas yang dapat dimanfaatkan secara maksimal. Pola dan jenis pakan ternak akan mempengaruhi emisi gas rumah kaca. Kualitas pakan yang baik akan mengurangi proses fermentasi dalam sistem pencernaan ternak, sehingga gas metana yang dihasilkan dan dibuang berkurang. Sedangkan pada sektor pertanian, pemakaian pupuk urea tablet sebagai pengganti urea tabur dapat menurunkan emisi gas NO 2 yang juga merupakan gas rumah kaca (Meiviana dkk, 2004). Menurut Achmad (2004), telah banyak upaya dilakukan untuk menekan penggunaan CFC guna melindungi lapisan ozon dari kerusakan. Dalam Konvensi Wina tahun 1985 dan pada tahun 1987 Amerika Serikat melarang penggunaan CFC yang digunakan pada aerosol. Dua tahun kemudian sejumlah peraturan selesai disusun dalam Protokol Montreal dan diberlakukan mulai Januari 1989. Protokol ini diratifikasi 36 negara yang mencakup 80% konsumen CFC dunia, mengusulkan agar diturunkan produksi dan penggunaan lima bahan kimia CFC dan tiga jenis Halon secara bertahap dan tuntas tahu 2005. Indonesia juga meratifikasi Konvensi Wina dan Protokol Montreal pada tahun 1992. Dengan demikian Indonesia sepakat menghentikan pembuatan dan penggunaan bahan perusak lapisan ozon tersebut dan mulai Januari 1997 telah dilakukan larangan impor CFC dan sebagai penggantinya adalah HCFC (Hidrochlorofluorocarbon). 38

Adapun cara lain untuk mengurangi penggunaan CFC menurut Sudariyono (2005), diantaranya dengan tidak menggunakan aerosol spray seperti hair spray, parfum spray, AC dan kulkas yang memakai CFC sebagai bahan pendinginnya. Tidak menggunakan cat yang bahannya menggunakan CFC. Cari alternatif Chlorofluorocarbon untuk pelarut dan daur ulang apa saja. Daur ulang bahan pendingin yang terdapat pada AC dan kulkas. Tidak mengimpor atau menggunakan lembaran Polystyrene (karet busa sintetis) dan produk-produk yang dibuat dengan menggunakan CFC sebagai bahan penggelembung.

39

BAB IV

KERUSAKAN TERUMBU KARANG AKIBAT PEMANASAN GLOBAL

A. Faktor Penyebab Kerusakan Terumbu Karang Terjadinya kerusakan terumbu karang yang diakibatkan oleh pemanasan global adalah sebagai berikut : 1. Peningkatan Suhu Air Laut Akibat pemanasan global dapat menyebabkan naiknya suhu 2-3C dan akan mengganggu kehidupan organism laut, seperti alga dan terumbu karang. Hal ini karena organisme laut tidak mampu beradaptasi dengan perubahan suhu air tersebut. Perairan tropis seperti di Indonesia suhu air lautnya konstan 28-30C, sehingga kehidupan organismenya tahan pada suhu tersebut. Akibat yang timbul karena perubahan suhu seperti gangguan fisiologis dan jenis udara fotosintesis, proses reaksi fotosintesis. 2. Naiknya Permukaan Laut Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat sehingga volume air akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan global juga mencairkan banyak es di kutub, termasuk meliputi Greenland sehingga memperbanyak volume air dan selanjutnya menaikkan bagian permukaan laut. Tinggi muka air laut di

40

seluruh dunia telah meningkat 10-25 cm selama abad ke 20 (Susanta dan Sutjahjo, 2007). 3. Perubahan Arus Perubahan iklim berakibat terhadap perubahan suhu air laut. Adanya perubahan suhu laut dapat menyebabkan perubahan arus yang selanjutnya mempengaruhi suhu air laut di daerah yang dilaluinya. Pada tahun 1998, air laut yang bersuhu lebih tinggi bergerak dari laut Cina Selatan menuju ke Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura menuju Riau, laut Jawa sampai ke Bali. Pada saat itu suhu air naik sebesar 3-4C (Ikawati dkk, 2001). 4. Peningkatan Oksigen Beracun Suhu air yang tinggi, termasuk akibat pemanasan global dapat mempengaruhi sebagian dari proses fotosintesis. Suatu komponen sistem biokimia yang berlangsung dengan kecepatan tinggi dan menghasilkan suatu bahan kimia yang sangat reaktif, yaitu dengan membebaskan oksigen radikal. Pembebasan menyebabkan meningkatnya oksigen beracun pada jaringan karang sehingga organisme yang bersimbiosis akan menghilang

(Http://www.reef.crc.org.au/aboutreef/coral/coralbleachingbiology.html,2000. 5. Penurunan Kadar Oksigen Peningkatan suhu dapat mempengaruhi kadar oksigen terlarut di perairan. Akibatnya, keberadaan oksigen sering kali tidak mampu memenuhi kebutuhan organisme akuatik untuk melakukan proses metabolisme dan respirasi (Effendi, 2003). 41

6. Peningkatan Kadar Salinitas Meningkatnya suhu di perairan dapat mempengaruhi kadar salinitas di suatu perairan. Peningkatan kadar salinitas dapat menyebabkan kelarutan oksigen dan gas-gas lain di perairan berkurang.

B. Pemanasan Global dan Terumbu Karang Pada dasarnya pemanasan global dapat mengakibatkan terjadinya perubahan suhu bumi. Hal ini juga berimbas kepada perubahan suhu air laut yang semakin meningkat sehingga kondisi lingkungan laut dapat berubah secara kompleks yang berdampak pada kehidupan organisme laut, termasuk terumbu karang (Taylor, 1969). Terganggunya kehidupan terumbu karang tidak hanya disebabkan oleh pemanasan global, juga oleh intensitas cahaya matahari, pencahayaan yang terlalu lama, peningkatan atau penurunan suplai nutrien, buangan limbah panas, pengadukan lumpur oleh aktivitas pengeboran dan buangan minyak, curah hujan, radiasi ultraviolet, dan pencemaran herbisida (Brown, 1987 dan Suryono dkk, 1998). Dampak Pemanasan Global terhadap terumbu karang sebagai berikut : 1. Kekurangan suplai nutrien Alga yang merupakan sumber makanan terumbu karang akan mati karena tidak mampu beradaptasi dengan peningkatan suhu air laut. Hal ini berdampak pada menipisnya ketersediaan makanan terumbu karang (Meiviana dkk, 2004).

42

Kekurangan makanan tersebut berdampak pada keberadaan terumbu karang, yang berubah warna menjadi putih (bleaching) dan pada kondisi yang ekstrem dapat mengalami kematian. Dampak yang lebih lanjut adalah hilangnya ikan karang, baik sebagai habitat maupun sebagai sumber makanan atau terjadi perubahan komposisi ikan di perairan laut (Ikawati dkk, 2001). 2. Peningkatan Pertumbuhan Karang Selama abad ke 20 ini dengan adanya pemanasan global, tinggi muka air laut di seluruh dunia meningkat 10-25 cm. Apabila separuh gunung es di Greenland dan Antartika meleleh, kenaikan permukaan air laut di dunia ratarata setinggi 6-7 meter (Susanta dan Sutjahjo, 2007). Kebanyakan terumbu karang mampu bertahan dengan naiknya permukaan laut yang telah diperkirakan kurang lebih 50 cm hingga tahun 2100 (IPCC, 2001). Dataran terumbu karang yang terbuka pada saat surut, yang membatasi pertumbuhannya ke atas, akan dapat mengambil keuntungan dari kenaikan tersebut. Tetapi karang yang telah melemah karena meningkatnya suhu atau faktor-faktor lain mungkin tidak dapat tumbuh dan membangun kerangka kapur secara normal. Apabila hal ini terjadi, pulau-pulau yang rendah tidak mendapat perlindungan dari terumbu karang di sekitarnya dari gelombang dan badai (Taslim, 2002). 3. Pemutihan Karang Perairan laut Indonesia bersifat tropis dan konstan dengan suhu 28-30C. Perubahan suhu akibat perubahan iklim berdampak pada perubahan arus 43

dimana arus laut yang bersuhu lebih tinggi bergerak ke laut yang bersuhu lebih rendah, menyebabkan suhu air naik 3-4C. Kenaikan suhu air laut tersebut akan mengganggu kehidupan terumbu karang, yang semula terbiasa pada kondisi konstan (Ikawati dkk, 2001). Menurut Hadi (1997), peningkatan suhu air laut diduga sebagai penyebab terjadinya pemutihan pada terumbu karang. Pemutihan karang (Bleaching) adalah suatu penurunan jumlah simbiotik Dinoflagellata (Zooxanthella) atau penurunan pigmen klorofil yang terdapat pada jaringan endodermis karang (Brown dan Ogden, 1993). Pemutihan karang, dapat diartikan sebagai hilangnya atau dikeluarkannya Zooxanthella dari tubuh karang ketika karang mengalami perubahan ekstrim di lingkungannya secara mendadak. Perubahan kondisi lingkungan yang berubah secara drastis ini dapat menyebabkan karang menjadi stres dan akhirnya menunjukkan gejala pemutihan (Glynn, 1990). Terumbu karang hidup bersimbiosis dengan Dinoflagellata (Zooxanthella) sebagai simbiosis mutualisme. Kenaikan suhu perairan mengakibatkan jumlah simbiotik Zooxanthella yang terdapat pada jaringan endodermis karang berkurang. Jika tekanan tersebut berlangsung sementara, mungkin terumbu karang masih dapat bertahan, tetapi bila berlangung terlalu lama dan terus menerus maka kehidupan terumbu karang akan tergaggu. Akibat lepasnya Zooxanthella dari jaringan karang dapat menyebabkan pemutihan pada banyak karang yang dominan (Buchheim, 2003, Brown dan Ogden, 1993). Artinya karang yang terususun tinggal cangkang berwarna 44

putih berupa zat kapur akibat ditinggalkan Zooxanthella yang memberikan warna pada karang tersebut (Hardianto dkk, 1998). Akibat pemanasan global kenaikan suhu diperkirakan akan terjadi 1 -2 C pada tahun 2100 (Westmacott dkk, 2000). Di daerah tropis bahkan telah terjadi kenaikan 0,5C selama 2 dekade terakhir. Tampaknya mungkin hanya perubahan kecil, tetapi ini dapat diartikan bahwa selama periode pemanasan dari fluktuasi musim yang normal, suhu akan melebihi batas toleransi dari hampir semua jenis karang. Hal ini dapat menaikan frekuensi terjadinya pemutihan karang (Guldberg, 1999). Faktor penyebab lain dan berpotensi mempercepat pemutihan karang adalah perubahan salinitas, peningkatan konsentrasi metal di perairan, pencahayaan yang terlalu lama, peningkatan atau penurunan suplai nutrien, buangan limbah panas, serta pengadukan lumpur oleh aktivitas pengeboran dan buangan minyak (Suryono dkk, 1998). Tingginya suhu, yaitu pada kenaikan 1-2C di atas suhu perairan maksimum musim panas dapat mengakibatkan pemutihan karang yang dapat menyebabkan 90-95% kematian karang (Guldberg dan Jones 1999; Stan dan Debbie, 2000). Bila kenaikan suhu berlangsung 5-10 minggu dapat menyebabkan Zooxanthella lepas dari jaringan karang dan dapat

menyebabkan pemutihan pada banyak jenis karang yang dominan (Gambar 10). Jika tekanan tersebut lebih besar lagi atau berlangsung lebih lama lagi maka karang dapat mengalami kematian (Buchheim, 2003).

45

Bagian polip yang tidak mengalami pemutihan

Bagian polip yang mengalami pemutihan

Gambar 10. Karang yang Mengalami Pemutihan (www.terangi.or.id/images/pictures/bleach_crl.jpg, 2008)

Adapun dampak yang lebih lanjut akibat terjadi pemutihan karang, meliputi : a. Jumlah atau kelimpahan karang Pemutihan karang dapat menyebabkan 90-95% kematian karang (Guldberg dan Jones 1999; Stan dan Debbie, 2000). Bila tekanan lingkungan sangat besar dan berlangsung cukup lama, karang akan mengalami kematian. Selanjutnya, dapat mempengaruhi jumlah / populasi karang. b. Menurunnya kapasitas / reproduksi karang Jumlah / kelimpahan karang berkurang karena pemutihan mematikan karang dewasa sebelum matang bereproduksi. (Chair, 2001). Sebagai

46

contoh, karang-karang Acroporidae yang memerlukan waktu 4-5 tahun untuk matang bila peristiwa pemutihan yang terjadi rata-rata setiap 3-4 tahun dan frekuensi ini terus meningkat, maka karang akan gagal untuk berreproduksi. Juga bila dampak pemutihan karang yang terjadi sangat parah maka alga yang berkembang secara meluas dapat mencegah rekolonisasi karang-karang baru (Guldberg, 1999). c. Kemampuan Tumbuh Kemampuan tumbuh karang menurun karena terjadi perubahan suhu ekstrim di lingkungan secara mendadak, sehingga karang menjadi stres. Semula karang terbiasa pada suhu konstan, bila terjadi perubahan suhu, karang terancam rusak sehingga kekurangan kemampuan untuk tumbuh (Guldberg, 1999, Brown dan Ogden, 1993). d. Mencegah rekolonisasi Rekolonisasi adalah pembentukan koloni kembali yang dilakukan oleh mahluk hidup. Pemutihan karang menyebabkan karang gagal

bereproduksi. Bila pemutihan karang yang terjadi sangat parah dapat menyebabkan gagal rekolonisasi karang baru. Artinya karang tidak dapat membentuk koloni kembali. Pada Convention on Biological Diversity (CBD) ke 4 tahun 1998 menyatakan keperihatinan yang mendalam terhadap peristiwa pemutihan karang yang meningkat tajam dan ekstensif dengan hubungannya kepada perubahan iklim dunia (Westmacott dkk, 2000). Menanggapi itu Sekretaris Eksekutif CBD menyelenggarakan Konsultasi 47

Ahli untuk Pemutihan Terumbu Karang bulan Oktober 1999. Mereka menghasilkan suatu laporan dan seperangkat usulan bagi daerah-daerah prioritas untuk ditindak. Laporan ini disajikan pada Badan Tambahan CBD untuk Usulan Ilmiah, Tehnik dan Teknologi/CBDs Subsidiary Body on Scietific, Technical and Technological Advice (SBSTTA-5). SBSTTA kemudian menyampaikan usulan kepada COP-5 pada Mei 2000 untuk mengajukan usulan para ahli dan menyampaikan suatu keputusan untuk (Westmacott dkk, 2000): 1. Memadukan terumbu karang ke dalam elemen sumber laut dan kehidupan pesisir menjadi program kerja mereka. 2. Mendesak para pihak pemerintahan dan badan lain yang terkait untuk mengembangkan studi kasus terhadap pemutihan karang dan untuk mengimplementasikan ukuran-ukuran tanggapan termasuk program-program penelitian, pembangunan kapasitas, partisipasi komunitas dan pendidikan. 3. Mengimplementasikan rencana kerja khusus untuk pelestarian terumbu karang bekerja sama dengan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC), Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), International Coral Reef Initiative (ICRI), dan Global Coral Reef Monitoring Network (GCRMN). 4. Mendesak UNFCC untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi akibat perubahan iklim dan menangani tema dampak sosioekonomi terhadap negara-negara yang paling terpengaruh oleh pemutihan karang. 48

Pasal 2 dari UNFCC menyatakan secara jelas tentang pentingnya ekosistem alami dan mendesak para pihak untuk mengangkat tema perubahan iklim dunia dengan cara yang dapat membuat ekosistem beradaptasi secara alamiah terhadap perubahan iklim. Melalui resolusi oktober 1999, ICRI mendorong UNFCC untuk membicarakan fenomena pemutihan karang. Pada November 2000 Konferensi UNFCC ke 6 mmpertimbangkan tindakan-tindakan untuk mengatasi dampak merugikan dari perubahan iklim, untuk mengadakan transfer teknologi dan untuk mengembangkan program-program pembangunan kapasitas.

49

BAB V

KESIMPULAN

Dari uraian mengenai Dampak Pemanasan Global Terhadap Terumbu Karang, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Pola penyebaran terumbu karang terbatas pada wilayah dangkal di paparan benua dan gugusan pulau di wilayah katulistiwa, menempati 0,17 % dari dasar samudera, dan merupakan tempat tinggal bagi 25 persen seluruh spesies laut. 2. Secara umum terjadinya degradasi ekosistem terumbu karang ditimbulkan oleh dua penyebab utama, yaitu akibat kegiatan manusia (anthrophogenic causes) dan akibat alam (natural causes). 3. Pemanasan global merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya fenomena pemutihan yang dapat mengakibatkan 90-95% kematian karang. 4. Upaya mengatasi perubahan iklim tidak bisa dilakukan hanya oleh satu atau beberapa pihak saja tetapi harus diselesaikan secara bersama-sama. Demikian juga di tingkat nasional maupun internasional hal ini tidak mungkin dapat diselesaikan oleh pemerintah sendiri, melainkan oleh seluruh komponen masyarakat seperti institusi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), kalangan industri dan masyarakat luas secara bersama-sama dan terencana.

50

DAFTAR PUSTAKA

Achmad R. Kimia lingkungan. Andi. Yogyakarta. 2004. Andri. Pemutihan karang. Fakultas Biologi Universitas Nasional. Jakarta. 2003. Ardiansyah AA. Pemanasan global, efek rumah kaca dan perubahan iklim. Http://www.kotakediri.go.id/news/artikel/index. 2007. Brown BE. Worldwide death of corals natural cyclical event or man-made pollution. Mar Pollut Bull. 1987: 18: 9-18. Brown BE, Ogden JC. Coral bleaching. Scient. Amerika. 1993: 268: 64-70. Buchheim J. Coral reef bleaching.htm. 2003. bleaching. Http:/www.marinebiology.org/coral

Chair R. Pemutihan karang: pengaruhnya terhadap komunitas terumbu karang. Jurnal Hayati Biosains. 2001: 8: 205-243. Connel JH. Population ecology of reef-building corals. Biology and Geology of coral reefs. Academic Press II. 1973. COREMAP. Kebijakan nasional pengelolaan terumbu karang di Indonesia. Coral Reef Rehabilitation and Management Program. Jakarta. 2001. DElia CF, Wiebe WJ. Biogeochemical nutrient cycles in coral reef ecosystem. dalam: Ecosystem of the world. Coral Reefs. Amsterdam. 1990: 25: 49-74. Droop MR. Algae and invertebrate in symbiosis. Symp Soc Gen Microbiol.1963: 13: 171-199. Effendi H. Telaah kualitas air bagi pengelolaan sumber daya dan lingkungan perairan. Kanisius. Yogyakarta. 2003. Fankboner PV. Intracellular digestion of Symbiotic Zooxanthella inang amoebocytes in giant clams (Bivalvia: Tridacnidae), with a note on the nutrional role of the hypertropied siphonal epidermis. Biol. Bull. 1971: 141: 222-234.

51

Glinder WV, Phipps D, Pardy RI. Localization of symbiotic Dinoflagellate cell within tentacle tissue of aiptasia pallida (Coelenterata, Anthozoa). Trans Am Microsc Soc. 1980: 99: 426-438. Glynn PW. Coral mortality and disturbances to coral reefs in the tropical eastern pacific dalam: Glynn, PW. 9ed). Global ecological consequences of the 19821983 El-Nino Southern oscillation. elsevier. Amsterdam. 1990. Goreau TF. Mass expulsion of Zooxanthella from Jamaican reef communities after hurricane Flora. Science. 1964: 145: 383-386. Guldberg HO. Climate change, coral bleaching and the future of the worlds coral reefs. Mar Freshwater Res. 1999: 50: 839-866. Guldberg HO, Smith GJ. Influence of the population density of Zooxanthella and the supply of ammonium on the biomass and metabolic characteristics of the reef corals Seriatapora pistillata esper and Seriatapora hystrix Dana. Exp Mar Biol Ecol. 1989: 129: 279-303. Guldberg HO. Jones R. Photoinhibition and photoprotection in symbiotic Dinoflagellates from reef-building corals. Mar Ecol ProgrSer. 1999: 183:73-86. Hadi S. Pertumbuhan karang hermatypic akibat pemanasan global di perairan Indonesia. Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. 1997. Hardianto D, Krishnayanti I, Supyani T. Terumbu karang keindahan alam di ambang kepunahan. Konphalindo. Jakarta. 1998. Hidayati R, Asiati S, Samiaji T, dkk. Analisis dan pemetaan ozon troposfer di Indonesia. LAPAN. Jakarta. 2004. Http://www.reef.crc.org.au/aboutreef/coral/coralbleachingbiology.html. 2000. Http://www.terangi.or.id/images/pictures/bleach_crl.jpg. 2008. Http://www.wikipedia.org.id. 2007. Huston M. Variation in coral growth rates with depth at discovery bay jamaica. Coral Reef. 1985: 4: 19-25. Ikawati Y, Hanggarwati PS, Parlan H, dkk. Terumbu karang di Indonesia. Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi & Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi. Jakarta. 2001. 52

IPCC (Intergovernmental panel on climate change). impacts, adaptation, and vulnerability. Summary for Policymakers and Technical Summary of The Working Group II Report. WMO-UNDP. 2001. Lesser MP, Stochaj WR, Tapley DW dkk. Bleaching in coral reef Anthozoants: affects of irradiancs, ultraviolet radiation, and temperature on the activities of protective enzymes againts active oxygen. Coral Reef. 1990: 8: 225-232. Levinton JS. Marine Ecology. Practice hall inc. Engloweed Cliffs. New Jersey. 1982. Manahan dan Stanley, Stanley E. Environmental chemistry. Lewis Publisher. Boston. 1994. Manuputty AEW. Karang lunak salah satu penyusun terumbu karang. Jurnal Oseana.1986: 11: 131-141. Mapstone GM. Reef corals and sponges of Indonesia: A video-based learning module. Division of Marine Science. United Nations Educational Scientific and Cultural Organization. Netherlands. 1990. McLaughlin, Zahl JJA, Nowak A. In vitro analysis of nutritional requirements and population dynamics of some free living Phytoplankton and symbiotic algae (Zooxanthella). Proc Int Bot. Congr. Edinburgh. 1964: 242. Meiviana A, Sulistiowati DR, Soejachmoen MH. Bumi makin panas ancaman perubahan iklim di Indonesia. Pelangi. Jakarta. 2004. Muchlis, Bachtiar I, Karnan. Laju petumbuhan karang pada ekosistem terumbu karang Teluk Kombal Lombok. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram. Mataram. 1998. Muscatine L. Productivity of zooxanthella. The Plenum Press. New York. 1980. Nontji A. Peranan Zooxanthella dalam ekosistem terumbu karang. Oseana. 1984: 3: 74-87. Nontji A. Laut nusantara. Djambatan. Jakarta. 2002. Nybakken. Biologi laut. Gramedia. Jakarta. 1988. Pearce F. Pemanasan global panduan bagi pemula tentang perubahan iklim global. Erlangga. Jakarta. 2002.

53

Ramlan M. Pemanasan global (global warming). Jurnal Teknologi Lingkungan. 2002: 3: 30-32. Ratag MA. Perubahan iklim basis ilmiah dan dampaknya. Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional. Jakarta. 2002. Romimohtarto dan Juwana K, Juwana S. Biologi laut ilmu pengetahuan tentang biota laut. Djambatan. Jakarta. 2001. Stromgren. The effect of light on the growth rate of internal Acropora pulchra from Phuket Thailand. Journal of Coral Reef. 1987: 6: 43-47. Stan dan Debbie H. What is coral bleaching and why does it happen. Http://saltaquarium.about.com/library/weakly/aa0703300.htm. 2000. Sudariyono. Ozon tak kenal maka tak sayang. Serasi. 2005: 9: 4. Suharsono. Jenis-jenis karang di Indonesia. Pusat Penelitan Oseanografi LIPI COREMAP Program. Jakarta. 2004. Susanta G, Sutjahjo H. Akankah Indonesia tenggelam akibat pemanasan global?. Penebar Swadaya. Jakarta. 2007. Suryono CA, Irwani, Indarjo A. Coral bleching sebagai bioindikator peningkatan suhu air laut. Universitas Diponegoro. Semarang. 1998. Suwignyo S, Widigdo B, Wardiatno Y, dkk. Avertebrata air Jilid I. Penebar Swadaya.. Jakarta. 2005. Syarani L. Karang : Determinasi Genus. Universitas Diponegoro. Semarang. 1982. Taslim A. Kajian perubahan iklim terhadap pengelolaan wilyah pesisir (Studi Kasus Bleaching Terumbu Karang). Http://www.ataslimar.htm. 2002. Taylor DL. On the regulation and maintenance of ilegal number in Zooxanthella Coelenterate symbiosis, with a note on the nutritional relationship in Anemonia Sulcata. J Mar Biol Ass. United Kngdom. 1969: 49: 1057-1065. Taylor DL. The cellular interactions of algae invertebrate symbiosis. Adv Mar Biol. 1973: 11: 1-56. Tomascik T, Mah AJ, Nontji A dkk. The ecology of the Indonesian seas. Part 1. Periplus Edition. 1997. 54

Wafar MWM. Global warming and coral reefs. 1990. Wardhana WA. Dampak pencemaran lingkungan. Penerbit Andi. Yogyakarta. 2004. Westmacott S, Teleki K, Wells S dkk. Pengelolaan terumbu karang yang telah memutih dan rusak. IUCN. Switzerland. 2000. Yonge CM. Aspects of productivity in reefs. Proceedings of The Symposium on Coral and Coral Reefs. 1972.

55