Anda di halaman 1dari 15

FILSAFAT JOGED MATARAM SATU KM1AN TENTANG KONSEP ESTETIS TARI JAWA

Bambang Pudjasworo

Satu konsep yang barangkali saja sudah begitu sering disinggung dalam setiap pembicaraan tentang tari Jawa terutama tari gaya Yogyakarta, adalah filsafat joged Mataram. Secara harafiah istilah tersebut bisa diartikan sebagai suatu konsep dasar pemikiran dalam tari Jawa. Semula, konsep ini -- yang sering pula disebut dengan nama lain yakni ilmu joged Mataram -merupakan suatu dasar pemikiran yang sangat rahasia dan dikenalkan oleh para guru tari kepada siswa-siswinya secara turun-temurun melalui ajaran secara lesan dan langsung pada penghayatan tarinya. Oleh karena itu, selama lebih dari seratus lima puluh tahun, konsep ini menjadi begitu tertutup dari segala kemungkinan untuk bisa disentuh oleh setiap orang. Bahkan tidak setiap guru tari ataupun para penari gaya Yogyakarta berhasil memahami makna yang terkandung dalam fisafat joged Mataram. Dari data historis yang ada tampaknya juga sulit untuk bisa didapatkan suatu penjelasan atau penjabaran secara lebih rinci tentang konsep dasar tersebut. Baru kemudian, untuk pertama kalinya konsep ini diperkenalkan secara lebih terbuka olch Gusti Bandara Pangeran Harya Soeryobrongto, salah seorang putera Sri Sultan Hamengku Buwana VIII yang sekaligus juga merupakan scorang pakar tari klasik gaya Yogyakarta, melalui ceramahnya di Akademi Seni Rupa Indonesia Yogyakarta pada tahun 1968. Dan semenjak itu, semenjak joged Mataram tidak

lagi sekedar dijunjung sebagai nilai yang hanya pantas untuk diletakkan di atas kepala dan disimpan sebagai sebuah rahasia, melainkan disadari sebagai bagian dari realitas kehidupan tari itu sendiri yang harus senantiasa dipahami baik oleh setiap penari maupun penata tari, maka berbagai diskusi tentang filsafat joged Mataram pun segera dimulai. Beberapa tulisan yang sampai saat ini senantiasa dipandang pantas untuk diacu bagi setiap pembicaraan tentang filsafat joged Mataram, juga hadir mewarnai perbincangan tersebut.

Tampaknya sampai saat ini hal yang masih begitu menarik pada setiap kali perbincangan tentang filsafat joged Mataram adalah usaha untuk menjelaskannya sebagai dasar kejiwaan dalam tari Jawa gaya Yogyakarta. Artinya aspek kualitatif filsafat joged Mataram lebih banyak dipermasalahkan dalam kaitannya dengan aspek batiniah dari tari gaya Yogyakarta. Sementara itu bagaimana penjabaran konsep dasar tersebut ke dalam setiap perilaku menari (anjoged) dan menata tari (angripta joged) tampaknya masih memerlukan penjelasan tersendiri.

Sungguhpun antara menari dan menata tari adalah dua hal yang berbeda, namun pada dasarnya kedua perilaku tersebut tidak bisa untuk begitu saja dilepaskan dari kaitannya dengan filsafat joged Mataram sebagai konsep dasar pemikiran dalam tari Jawa. Secara teknis, menari (anjoged) barangkali lebih dipahami sebagai bentuk pelampiasan rasa penari di dalam merasakan kegembiraan dan kenikmatan bergerak dengan penuh keterampilan. Sedangkan menata tari (angripta joged) akan lebih dipahami sebagai bentuk upaya penata tari di dalam menciptakan tari sebagai suatu karya seni. Perhatian penata tari tidaklah terbatas pada sekedar

kesenangan akan gerak tubuh, melainkan dengan formulasi keseluruhan dari sesuatu yang terstruktur. Dalam konotasi ini, maka bagi seorang penata tari masalah tata hubungan, pertalian, pemilahan ataupun penetapan bagian-bagian akan menjadi terasa lebih menarik dan sangat penting. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa ada kebutuhan dan tujuan yang berbeda di antara keduanya, akan tetapi terarah pada keberhasilan satu aspek yang sama, yaitu tari. Oleh karena itu kini sudah saatnya bagi kita untuk memeriksa sejauh mana masalah filsafat joged Mataram sebagai konsep dasar pernikiran dalam tari Jawa tersebut harus diorientasikan. Setidaknya, pengkajian terhadap urgensi dan kontribusi filsafat joged Mataram terhadap peningkatan kemampuan menari dan menata tari, serta daya dukungnya terhadap peningkatan kualitas artistik suatu karya tari, akan sangat berarti bagi usaha penggalian konsep-konsep dasar tari dan konsep-konsep dasar keilmuan tentang tari yang berasal dari khasanah budaya Jawa (baca: Indonesia). Sudah barang tentu ini merupakan kerja besar yang selain membutuhkan waktu lebih panjang dan ruang pembabasan yang lebih luas, juga membutuhkan dana yang lebih besar. Oleh karena itu - menyadari segala keterbatasannya -tulisan singkat ini akan lebih difokuskan pada salah satu topik pembicaraan, yaitu tentang filasafat joged Mataram dalam hubungannnya dengan dasar-dasar perilaku menari (anjoged).

Prinsip Dasar Filsafat Joged Mataram:

Secara konsepsional, filsafat joged Mataram, ini tersusun dalam empat macam prinsip dasar, yaitu:

1.

Sawiji, yang berarti konsentrasi secara total (total concentration) akan tetapi tanpa harus menimbulkan ketegangan atau kekacauan dalam jiwa (without mental disorder).

2.

Greged adalah dinamika atau semangat jiwa (inner dynamic), yang sering Gbaratkan seperti api yang membara di dalam jiwa sescorang. tetapi greged hartis dilakukan dengan suatu pengendalian diri untuk tidak mengarah pada kekasaran (without being coarse).

3.

Sengguh, yang berarti percaya diri (self-confidence), akan tetapi tanpa harus mengarah pada kesombongan atau arogansi (without being arrogant).

4.

Ora mingkuh, yang berarti memiliki kemauan keras, penuh tanggung jawab dan pantang mundur (no-retreat) akan tetapi harus disertai dengan usaha untuk membangun disiplin diri (self-disciplin).

Berdasarkan uraian di atas, maka minimal ada dua pengertian dasar yang harus dipahami oleh setiap orang yang bermaksud mendalami filsafat joged Mataram. Pertama, adalah pengertian bahwa masing-masing prinsip dasar tersebut pada hakekatnya merupakan prinsip yang dibangun berdasarkan unsur-unsur yang bersifat paradoks. Di satu sisi dikandung unsur "kebebasan" sementara di sisi yang lain dikandung unsur "keterbatasan". Akan tetapi pada hakekatnya, keduanya berada pada prinsip yang satu dan tunggal. Kedua, adalah pengertian bahwa keempat macam prinsip dasar tersebut juga harus dipahami sebagai satu kesatuan tunggal yang tidak terpisahkan satu sama lain. Prinsip sawiji tidak akan pernah bisa tercapai tanpa didasari oleh ketiga prinsip yang lain. Demikian pula sebaliknya, masing-masing prinsip tersebut juga tidak akan pernah bisa tercapai tanpa didasari oleh ketiga prinsip yang lain. Demikian pula sebaliknya, masing-masing prinsip tersebut juga tidak akan pernah bisa direalisasi tanpa keterlibatan dari masing-masing prinsip lain. Dengan demikian filsafat joged Mataram hanya mungkin untuk dibangun berdasarkan pada hubungan struktural dari masing-masing prinsip dasarnya.

Secara khusus pengertian masing-masing prinsip dasar tersebut bisa dijelaskan sebagai berikut. Prinsip sawiji adalah prinsip yang harus dibangun oleh seorang penari dengan suatu konsentrasi total, terhadap tari dan peran yang dibawakannya. Bahkan boleh jadi akan mengarah pada peleburan penuh antara diri si penari dengan tari dan peran yang sedang dibawakannya. Dengan prinsip greged, seorang penari diharuskan untuk menyalurkan (mengekspresikan) inner

dynamic-nya berdasarkan pengembangan intensitas perasaan ke dalam berbagai kemungkinan gerak tubuh dengan sekaligus disertai usaha pengendalian diri (self-control) yang sempurna untuk menghindari over acting. Prinsip sengguh mengandung pengertian bahwa seorang penari harus tampil dengan penuh percaya diri pada kemampuannya, akan tetapi sejauh mungkin harus menghindari sifat yang penuh kesombongan atau arogansi. Sedangkan prinsip ora mingkuh mewajibkan para penari untuk melakukan kewajibannya dengan penuh disiplin disertai dengan dedikasi dan loyalitas yang tinggi. Tanpa dedikasi dan loyalitas yang tinggi tersebut niscaya tidak akan pernah bisa dicapai suatu kemampuan menari yang baik. Semuanya itu menunjukkan bahwa pada dasarnya seorang penari harus mampu tamyil menyatu dengan tari yang dibawakannya sebagai sebuah fenomena yang lengkap.

Menurut Pengeran Suryobrongto, manifestasi proses kristalisasi joged Mataram tersebut ada dua macam, yaitu: self-control, yang artinya penguasaan lahir dan batin, dan kepanjingan (ecstasy). Dalam hal ini self-control menggambarkan adanya ungur keterbatasan, sedangkan ecstasy menggambarkan adanya unsur kebebasan. Bebas tetapi terbatas adalah gambaran dari sifat paradoks dalam filsafat joged Mataram. Ben Suharto, dalam diagram sastra wirasa munggeng joged Mataram, menjelaskan tentang sifat paradoks tersebut sebagai suatu manifestasi dari pergeseran tingkat kesadaran penari di dalam usahanya untuk mewujudkan kesatuan harmonis antara simbol dan makna dalam tari. Oleh karena itu penjabaran masing-masing prinsip dasar tersebut dalam perilaku menari harus

diletakkan pada kemampuan penguasaan penari terhadap prinsip keseimbangan antara ecstasy di satu sisi dengan self control di sisi lain. Artinya agar menari (anjoged) tetap bisa tampil di dalam tingkat kewajaran dari tari (joged) itu sendiri, maka di dalam diri penari unsur-unsur pembentuk ecstasy atau kepanjingan (yaitu: fokus, dinamika, percaya diri, dan pantang mundur) harus diletakkan secara seimbang (atau bahkan manunggal) dengan unsur-unsur pembentuk self-control (yaitu: kondisi tanpa ketegangan jiwa, tanpa kekasaran, tanpa kesombongan, dan penuh kedisiplinan).10 Dengan kata lain ecstasy dan self-control secara simultan harus dikuasai oleh scorang penari pada saat ia mclaksanakan kewajibannya. Tingkat kewajaran dari scorang penari ketika ia harus membawakan peran ataupun ketika ia harus menarikan tarian tertentu, akan sangat tergantung pada kernampuan dari penari tersebut di dalarn usahanya untuk mennerjemahkan (menjabarkan) tingkat penguasaan ecstasy dan self-control selaras dengan tuntutan watak dasar peran ataupun tari yang sedang dibawakannya. Di dalam hal ini, maka penerapan sawij4 greged, sengguh, dan ora mingkuh akan hadir dalam tingkatan yang berbeda-beda sesuai dengan peran atau tarinya. Barangkali sekelumit contoh penjelasan tentang penerapan prinsip dasar greged akan bisa lebih memberikan gambaran yang jelas.

Penerapan prinsip greged dalam setiap perilaku menari bisa diibaratkan dengan usaha manusia untuk senantiasa menunjukkan semangat hidup di dalam dirinya. Semangat hidup ini akan menjadi jiwa dari setiap langkahnya. Schingga semangat hidup, yang di dalam tari biasa disebut dengan istilah greged, akan merupakan inti

kemanusiaannya. Oleh karena itu pada setiap perilaku menari greged ini dipakai untuk memahami ketepatan semangat dalam usaha bagaimana seorang penari pada tingkat kesadaran yang penuh dapat mencapai titik tengah pada suatu rentangan antara ecstasy dan self-control. Ketika prinsip ini harus diterapkan oleh scorang penari, maka kesadaran terhadap penguasaan unsur paradoksnya -kcbebasan (ecstasy) dan keterbatasan (self-control) harus diterapkan selaras dengan watak dasar peran dan tari yang dibawakannya. Sebagai suatu misal ketika scorang penari membawakan peran sebagai Prabu Rahwana, ia harus sadar bahwa meskipun secara teknis pola dasar gerak tarinya ditetapkan memakai gerak Kalang Kinantang gagah -- seperti haInya Prabu Baladewa -- akan tetapi karena watak dasar peran Prabu Rahwana lebih didominasi olch watak raksasa yang penuh nafsu angkara murka, maka kewajaran dalam penerapan greged-nya akan sangat berbeda dengan kewaiaran penerapan greged untuk Prabu Baladewa. Sudah barang tentu scorang penari yang memerankan Prabu Baladewa tetapi dengan greged Rahwana tentu akan terasa over acting. Demikianlah ternyata bahwa karakter joged (tari) ternyata tidak sepenuhnya mampu mencerminkan konsep karakter peran secara utuh. Olch karena itu membayangkan penerapan greged untuk tad Bedhaya dan Srimpi sama dengan tari Golek atau tari Gambyong adalah mustahil.

Pada akhirnya gambaran di atas akan menunjukkan bahwa di dalam menctapkan bagaimana sescorang itu menari dengan baik atau sebaliknya, maka tolok ukur tidaklah harus ditetapkan berdasarkan pada kemampuan penguasaan teknis dari

tingkat kelembutan seseorang di dalam menari. Artinya bila hal itu (tinght kelembutan) harus dipakai sebagai tolok ukur, maka perlu untuk terlebih dahulu dipadukan dengan tingkat kelembutan atau sebaliknya dari karakter yang dibawakan.

Sementara itu, peneapaian tingkat ecstasy (kepanjingan) hanya mungkin terjadi di dalam tingkat penguasaan prinsip dasar sawiji, di mana kesadaran

ditransformasikan ke dalam tingkat peleburan secara penuh dengan tari dan peran yang dibawakannya. Akan tetapi agar tingkat kepanjingan ini tidak mengarall pada trance (ndadi) seperti apa yang biasa dilakukan oleh para penari Jathilan atau Kuda Kepang, maka jiwa-raganya secara penuh harus tetap berada di bawah kontrol kesadarannya, karena konsentrasi tersebut tidak mengarah pada ketegangan antara jasmani dan rohani.

Penari dan Koreografi

Pada dasarnya seorang penari ketika ia sedang melaksanakan kewajibannya haruslah tidak terikat pada perasaan-perasaan yang aktual. la harus bebas dari setiap kesadaran objektif yang aktual dan praktikal seperti halnya perbuatan sehari-hari. Maka kewajiban dirinya seorang penari di lebih sini bukanlah untuk untuk

mengekspresikan

sendiri,

melainkan

dimaksudkan

mengkomunikasikan bentuk-bentuk perasaan lewat penyajian simbolis. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila pada taraf tertentu seorang penari

mampu mencapai tingkat kepanjingan. Sungguhpun demikian, seberapa besar kemampuan seorang penari di dalam penguasaan filsafat joget Mataram tentu tidak akan mungkin untuk diukur hanya berdasarkan pada pemahaman intelektualitasnya terhadap berbagai prinsip dasar filsafat joged Mataram tersebut. Bagaimanapun juga kemampuan penguasaan penari terhadap keempat macam prinsip dasar tersebut harus diukur secara teknis lewat kamampuan penguasaan keseimbangan antara penguasaan wiraga (keterampilan gerak tari) - wirama (irama gendhing, irama gerak, dan irama tari) dan wirasa (karakter joged dan karakter peran). Tentulah mustahil untuk bisa menerapkan prinsip-prinsip sawiji, greged, sengguh, dan ora mingkuh tanpa harus dituntut untuk memiliki kemampuan penguasaan teknik gerak dan irama. Dengan demikian prinsip-prinsip dalam filsafat joged Mataram dan prinsip-prinsip dasar gerak dan irama dalam tari haruslah saling melengkapi satu sama lain dan merupakan simbiosa yang saling menguntungkan bagi keberhasilan suatu penampilan tari. Secara khusus, dalam hubungannya dengan konsep bentuk dan isi, sering dinyatakan bahwa tari gaya Yogyakarta merupakan tekniknya (bentuk wadag) sedangkan filsafat joged Mataram adalah isi atau jiwanya.

Dari berbagai penjelasan di atas, bisa ditarik pengertian bahwa filsafat joged Mataram memiliki suatu kontribusi yang besar bagi peningkatan kemampuan penari, baik secara teknis maupun dalam kemampuan penghayatan tarinya. Dan barangkali suatu hal yang menarik apabila dipertanyakan mengapa secara

konsepsional (khususnya bagi tari Jawa) perlu mendapatkan tekanan pada usaha pembentukan penari yang baik?

Kebutuhan sebuah tari adalah kebutuhan yang sangat kompleks. Kehadirannya sering dirasa kurang lengkap apabila tidak ditunjang oleh berbagai kelengkapan lain. Tetapi yang jelas tentu tidak akan mungkin untuk meniadakan unsur penunjang yang paling pokok, yaitu penari. Tiada tari tanpa penari, itu jelas. Namun ternyata tidak setiap penari mampu memenuhi setiap kebutuhan dan tuntutan tari. Artinya bahwa tuntutan sebuah tari terhadap penari akan sangat tergantung dari kernampuan penari di dalam memberikan daya dukung terhadap tingkat kesulitan suatu koreografi. Kebutuhan daya dukung penari untuk koreografi beksan Lawung tentu sangat berbeda dengan Wayang Wong. Secara struktural jalinan-jalinan gerak yang terorganisasi dalam koreografi beksan Lawung akan tampak lebih rumit bila dibandingkan dengan struktur koreografi Wayang Wong. Demikian pula di dalam sistem jalinan komunikasi dan koordinasi antar penari. Secara teknis kerumitan di dalam koreografi beksan Lawung perlu diantisipasi dengan usaha memenuhi kebutuhan daya dukung penari yang berkualitas tinggi, baik dalam arti kemampuan penguasaan teknik gerak dan irama, penguasaan prinsip-prinsip dasar filsafat joged Mataram, maupun kemampuan di dalam menjalin kerjasama yang baik di atas pentas serta kesamaan kualitas gaya dari masing-masing penarinya. Oleh karena itu, secara teknis koreografis, seorang penari akan merasa lebih berat untuk mampu memenuhi kebutuhan koreografi dalam beksan Lawung. Sementara itu, bagi koreografi

Wayang Wong, tuntutan secara teknis koreografisnya barangkali tidak akan sekompleks koreografi beksan Lawung. Pada banyak adegan dalam Wayang Wong gaya Yogyakarta (kecuali pada bagian enjeran dan perang) tidak terlalu jelas adanya jalinan koordinatif yang memungkinkan seorang penari atau peran mengkomunikasikan dirinya lewat gerak dengan penari lain atau peran lain, kecuali lewat pengucapan atau dialog. Adegan kelompok di dalam koreografi Wayang Wong tidak secara jelas menampilkan keterikatan kelompok yang menyatu dan dialektis. Hal yang barangkali sulit untuk diterapkan di dalam beksan Lawung. Satu hal yang tampaknya cukup sulit untuk bisa dilakukan olch para penari dalam penyajian Wayang Wong adalah masalah penghayatan terhadap peran yang sedang dibawakannya. Walaupun pola gerak dalam Wayang Wong pada umumnya tidak begitu rumit, akan tetapi aspek penghayatan terhadap peran ternyata cukup berat dan menuntut konsentrasi yang total. Bukan hanya keluluhannya (nyawiji) dengan karakter peran, tetapi juga dituntut adanya sikap menari yang konsisten sesuai dengan peran dan karakterisasi gerak (joged) sepanjang penyajian tari tersebut. Maka salah satu keberhasilan penyajian Wayang Wong gaya Yogyakarta terletak pada kemampuan para penarinya di dalam mengekspresikan karakter-karakter yang diperankan, baik secara jiwani maupun dalam penghayatan bentuk geraknya.

Demikian telah dijelaskan, bahwa pada dasarnya tidak setiap koreografi memerlukan dukungan penari yang betul-betul baik. Akan tetapi juga tidak setiap penari akan mampu memenuhi kebutuhan (tuntutan) bagi setiap koreografi.

Sungguhpun demikian, ternyata hampir sebagian besar tarian istana (di Jawa) secara kualitatif senantiasa memerlukan daya dukung penari-penari yang berkemampuan tinggi.

Filsafat Joged Mataram sebagai Paradigma

Rupa-rupanya filsafat joged Mataram telah dijadikan suatu paradigma bagi upaya pencapaian kemampuan untuk menjadi penari yang berkualitas tinggi. Tentu saja pencapaian kemampuan ini tidak begitu saja mudah untuk dilakukan tanpa upaya yang sungguh-sungguh dan menempa diri di dalam laku yang berat, sebab tidak mudah bagi scorang penari untuk mencapai tingkat penguasaan ecstasy dan self-control. Akan tetapi yang barangkali perlu juga untuk direnungkan adalah apakah filsafat joged Mataram tersebut hanya mampu untuk dipakai sebagai paradigma bagi tari gaya Yogyakarta saja ataukah bisa diterapkan secara lebih universal.

Barangkali kalau direnungkan, akan bisa ditarik kesimpulan bahwa sesungguhnya konsepsi semacam filsafat joged Mataram ini bukanlah merupakan konsepsi yang secara spesifik menjadi milik tari gaya Yogyakarta saja. Konsepsi ini adalah konsepsi yang bersifat universal, yang bisa berlaku pada hampir semua bentuk tari. Di dalam suatu penyajian tari, setiap penari harus sentiasa dituntut untuk meluluhkan diri ke dalam peran dan tari yang sedang dibawakannya. la harus berada dalam keadaan kepanjingan pada saat menyajikan tarinya. Setiap penari

yang baik harus berupaya diri untuk menguasai sawiji, greged, sengguh, dan ora mingkuh. Kemampuan penguasaan teknis gerak tari dan kemampuan penghayatan (penjiwaan tari) harus terpadu menjadi suatu kesatuan yang terintegrasi ke dalarn diri si penari. Di sini intensitas penampilan seorang penari akan Semakin tampak di dalam jalinan keselarasan antara presentasi teknis dan penjiwaan. Dalam situasi dan kondisi semacam ini, penari akan masuk dalam suasana yang serba indah, untuk melampiaskan rasa dan kenikmatan bergerak dengan penuh keterampilan.

Demikianlah, secara formal penari dan penata tari sama-sama harus memikul tanggung jawab buat keberhasilan suatu karya tari. Seorang penari, harus pula meningkatkan disiplin teknik tarinya untuk memungkinkan tubuh melakukan berbagai kemungkinan gerak tanpa kesukaran. Sementara penata tari hendaknya memandang tari bukan sekedar sebagai akumulasi berbagai macam gerak, melainkan perlu pula memperhatikan kaidah-kaidah estetis suatu bentuk tari, yang antara lain -- menurut Elizabeth R. Hayes -- meliputi aspek: unity, variety, repetition, contrast, transition, sequence, climacs, proportion, balance, dan harmony. Dan untuk lebih menjamin keutuhan kualitas garapan, maka kebutuhan akan penari harus betul-betul dipertimbangkan dalam keselarasan atau keseirnbangannya dengan tingkat kesulitan koreografinya.

Sebagai suatu kesimpulan, bisa dinyatakan bahwa secara teknis joged Mataram adalah konsepsi yang sesungguhnya kita butuhkan. Setidak-tidaknya sebagai paradigma untuk meningkatkan kemampuan penjiwaan tari yang baik. Tetapi

untuk mewujudkan cita-cita tersebut, masih banyak dibutuhkan upaya yang lebih serius lagi, antara lain adalah kebutuhan akan penjabaran yang lebih rinci dan lebih sisternatis dari konsepsi tersebut, terutama untuk menghindari kerancuan dalam menafsirkan prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya. Sampai saat ini, hal tersebut merupakan salah satu kekurangan yang cukup tampak dalam setiap penjelasan mengenai joged Mataram.

Situasi dan kondisi kehidupan tari saat ini, semakin menuntut tampilnya penari-penari yang berkualitas tinggi untuk mampu memberikan keseimbangan dalam memenuhi berbagai kebutuhan dan tuntutan pengembangan koreografi. Untuk itu, semakin dirasakan kebutuhan akan lahirnya konsep-konsep untuk membentuk penari yang baik. Dan seharusnya, joged Mataram mempunyai banyak kemungkinan untuk hisa dikembangkan ke arah itu.