Anda di halaman 1dari 5

PERBANDINGAN MEDIA TRANSMISI WIRELESS DAN SATELIT

Ahmad Nurholis Fakultas Teknik Elektro S1 Universitas Jember - Indonesia


Abstract Kemajuan teknologi telekomunikasi yang berkembang dengan pesat seiring dengan era globalisasi yang sedang melanda dunia. Sistem telekomunikasi digital telah membawa era baru dalam bidang telekomunikasi. Perkembangan teknologi informasi dalam jaringan telekomunikasi telah membuat suatu dimensi-dimensi baru dalam pelayanan telekomunikasi yang semakin cepat murah. Para user/pengguna menginginkan akses berkomunikasi secara multimedia, di mana saja dan kapan saja dengan biaya yang relatif murah dan juga dapat mengakses informasi dalam jaringan komputer global bukan hanya teks atau data tapi juga gambar bahkan animasi. Teknologi wireless maupun satelit mampu memberikan hal itu semua. Makalah ini akan memberikan ulasan tentang teknologi yang tepat untuk digunakan pada kondisi suatu daerah tertentu. I. PENDAHULUAN Media/saluran transmisi terletak di bawah physical layer. Merupakan jalur transmisi sinyal yang terbentuk di physical layer. Media tranmisi memiliki 2 bentuk yaitu : 1. Guided Media Menyediakan jalur transmisi sinyal yang terbatas secara fisik, meliputi twisted-pair cable, coaxial cable (kabel koaksial) dan fiber-optic cable (kabel serat optik). Sinyal yang melewati media-media tersebut diarahkan dan dibatasi oleh batas fisik media. Twisted-pair dan coaxial cable menggunakan konduktor logam yang menerima dan mentransmisikan sinyal dalam bentuk aliran listrik. Optical fiber/serat optik menerima dan mentransmisikan sinyal data dalam bentuk cahaya. 2. Unguided Media Unguided media atau komunikasi tanpa kabel mentransmisikan gelombang elektromagnetik tanpa menggunakan konduktor secara fisik. Sinyal dikirimkan secara broadcast melalui udara (atau air, dalam beberapa kasus). Media tranmisi ini dapat menggunakan wireless atau menggunakan satelit. II. WIRELESS 802.11 g 802.11 n (propo sed) 2.4 GHz IEEE (Institute of Electrical and Electronic Engineers) melakukan diskusi, riset dan pengembangan terhadap perangkat jaringan yang kemudian menjadi standarisasi untuk digunakan sebagai perangkat jaringan. Salah satu standar yang dikeluarkan adalah 802.11 yang bekerja di bidang wireless LAN (Wi-Fi). Perkembangan Standar 802.11 Standar 802.11 802.11a 802.11b 802.11e 802.11f 802.11g 802.11h 802.11i Fungsi Standar dasar WLAN yang mendukung transmisi data 1 Mbps hingga 2 Mbps Standar High Speed WLAN untuk 5GHz band yang mendukung transfer data hingga 54 Mbps Standar WLAN untuk 2.4GHz yang mendukung transmisi data 5,4 hingga 11 Mbps Perbaikan dari QoS (Quality of Service) pada semua interface radio IEEE WLAN Mendefenisikan komunikasi inter-access point untuk memfasilitasi beberapa vendor yang mendistribusikan WLAN Menetapkan teknik modulasi tambahan untuk 2,4 GHz band, untuk kecepatan transfer data hingga 54 Mbps Mendefenisikan pengaturan spectrum 5 GHz band yang digunakan di Eropa dan Asia Pasifik Menyediakan keamanan yang lebih baik. Penentuan alamat untuk mengantisipasi kelemahan keamanan pada protokol autentifikasi dan enkripsi Penambahan pengamatan pada channel 4,9 GHz hingga 5 GHz untuk standar 802,11a di Jepang Radio Frequency 2.4 GHz Signal Range - 30 meters (indoor) - 100 meters (outdoor) - 35 meters (indoor) - 110 meters (outdoor) - 35 meters (indoor) - 110 meters (outdoor) - 70 meters (indoor) - 160 meters (outdoor) Max Data Speed 11 Mbps 54 Mbps 54 Mbps 300 Mbps Typical Speed 4 Mbps

802.11j

Type 802.11 b 802.11 a

5GHz

23 Mbps

20 Mbps

2.4 GHz

120 Mbps

Wi-Fi Characteristics Sumber : John Ross, The Book Of Wireless 2nd Edition

A.

Topologi Wireless Network 1. AD Hoc Merupakan jaringan sederhana dimana komunikasi terjadi diantara 2 perangkat atau lebih pada cakupan area tertentu tanpa harus memerlukan sebuah access point atau server.

Ad-Hoc or Peer-to Peer Networking 2. Client / Server Menggunakan Access Point sebagai pengatur alokasi waktu transmisi untuk semua perangkat jaringan dan mengizinkan perangkat mobile melakukan proses roaming dari sel ke sel. Acces point digunakan untuk melakukan pengaturan lalulintas jaringan dari mobile radio ke jaringan kabel atau dari backbone jaringan wireless client/server. Biasanya berbentuk kotak kecil dengan 1 atau 2 antena kecil. Peralatan ini merupakan radio based, berupa receiver dan transmiter yang akan terkoneksi dengan LAN kabel atau broadband ethernet.

Ada 3 range frekuensi umum yang dalam tranmisi wireless yaitu : 1. Frekuensi microwave dengan range 2 40 GHz, cocok untuk tranmisi point-to-point. 2. Frekuensi dalam range 30 MHz 1 GHz, cocok untuk aplikasi omnidirectional. Range ini ditujuan untuk range broadcast radio. 3. Range frekuensi lain yaitu antara 300 200000 GHz untuk aplikasi local, adalah spectrum infra merah. Infra merah sangat berguna untuk aplikasi point-topoint dan multipoint dalam area terbatas, seperti sebuah ruangan. C. Jenis tranmisi wireless 1. Microwave Microwave merupakan high-end dari RF (Radio Frequency), sekitar 1 30 GHz. Transmisi dengan microwave memberikan 3 hal yang perlu diperhatikan : a. Alokasi frekuensi. b. Interference, Keamanan. c. Harus straight-line (perambatan line-of sight) Dalam wireless terdapat apa ynag dinamakan Line of Sight, yaitu keadaan dimana antar point harus saling berhadapan, ini bertujuan agar perangkat wireless dapat berkomunikasi dengan baik.

d. Jarak tanpa repeater anatar 10 100 km.


2. 3. Radio Arah tranmisi omni directional. Infrared Dipenuhi dengan menggunakan transmitter/receiver yang memodulasikan no coherent infrared light. Transceiver harus dengan suatu bentuk garis lurus atau melalui pantulan dari suatu permukaan warna yang bercahaya. Bluetooth Sebuah teknologi wireless yang mampu menyediakan layanan komunikasi data dan suara dengan jarak jangkauan yang terbatas. III. SATELIT

4.
B.

Client Server with Access point Hotspot Hotspot merupakan coverage area yang dimiliki access point agar komputer dengan perangkat wireless disekitar dapat terkoneksi internet. Hotspot menyediakan layanan wireless LAN dan internet secara gratis maupun dengan biaya. Area Hotspot biasanya menggunakan tempat area umum (seperti ruang lobby, area parkir, kantin dll) agar perangkat WLAN yang digunakan user bisa melakukan akses kelayanan Access Point.

Satelit adalah alat elektronik yang mengorbit bumi yang mampu bertahan sendiri. Bisa diartikan sebagai repeater yang berfungsi untuk menerima signal microwave dari stasiun bumi, ditranslasikan frekuensinya, kemudian diperkuat untuk dipancarkan kembali ke arah bumi sesuai dengan coveragenya yang merupakan lokasi stasiun bumi tujuan atau penerima. (sumber : http://www.total.or.id/info.php?kk=satelit).

Bagian penting dalam sistem komunikasi satelit yaitu : 1. Space segment (bagian yang berada di angkasa) a. Struktur/bus b. Payload c. Power Supply d. Kontrol temperature e. Kontrol Attitude dan Orbit f. Sistem propulsi g. Telemetri, tracking, dan Command (TT & C). 2. Ground segment (biasa disebut stasiun bumi) a. User terminal b. SB Master c. jaringan.

5. Orbit Tinggi (High Earth Orbit, HEO): di atas 36000 km. Jika ditinjau dari posisi relatif satelit terhadap bumi ada yag dinamakan Geostasioner (geostationary). Orbit ini juga dikenal sebagai geosynchronous atau synchronous. Ketinggian orbit ini kira-kira 22.223 mil atau 1/10 jarak ke bulan. Jalur ini juga dikenal sebagai tempat parkir satelit, sebab begitu banyak satelit, mulai dar satelit cuaca, satelit komunikasi hingga satelit televisi. Akibatnya, posisi masingmasing harus tepat agar tidak saling menginterferensi sinyal. Berikut detail dari orbit satelit: 1. 70 -1.200 mil (asynchronous orbits) : digunakan oleh satelit pengamat, yang biasanya mengorbit pada 300 -600 mil (470-970 km), berfungsi sebagai fotografer. Misalnya satelit Landsat 7, ia bertugas untuk pemetaan, pergerakan es dan tanah, situasi lingkungan (semisal menghilangnya hutan hujan tropis), lokasi deposit mineral hingga masalah pertanian; satelit SAR (search-and-rescue) juga disini, dengan tugas menyiarkan ulang sinyal-sinyal darurat dari kapal laut atau pesawat terbang yang dalam bahaya; Teledesic, yaitu satelit yang dibackup sepenuhnya oleh Bill Gates, memberikan layanan komunikasi broadband (highspeed), dengan sarana satelit yang mengorbit pada ketinggian rendah (LEO, Low Earth Orbiting). 2. 3.000 -6.000 mil (asynchronous orbits) : digunakan oleh satelit sains, yang biasanya berada pada ketinggian ini (4.700 -9.700 km), dimana mereka mengirimkan data-data ke bumi via sinyal radio telemetri. Satelit ini berfungsi untuk penelitian tanaman dan hewan, ilmu bumi, seperti memonitor gunung berapi, mengawasi kehidupan liar, astronomi (dengan IAS, infrared astronomy satellite) dan fisika. 3. 6.000 -12.000 mil (asynchoronous orbits) : satelit GPS menggunakan orbit ini untuk membantu penentuan posisi yang tepat. Ia bisa digunakan untuk kepentingan militer maupun ilmu pengetahuan. 4. 22.223 mil (geostationary orbits) : digunakan oleh satelit cuaca, satelit televisi, satelit komunikasi dan telepon. (sumber : Gatot Santoso ebook Sistem Komunikasi Satelit). IV. PEMBAHASAN Sebelum menentukan mana yang lebih baik antara wireless atau satelit, mari kita lihat segi kelebihan dan kekurangan di antara 2 media transmisi tersebut. Kelebihan wireless : 1. Dapat dipergunakan untuk komunikasi data dengan jarak yang jauh sekali. Tergantung LOS (Line of Sight) dan kemampuan perangkat wireless dalam memancarkan gelombang. 2. Sangat baik digunakan pada gedung yang sangat sulit menginstall kabel. Kekurangan wireless : 1. Sulit diperoleh karena spektrum frekuensi terbatas. 2. Biaya instalasinya, operasional dan pemeliharaan sangat mahal. 3. Keamanan data kurang terjamin. 4. Pengaruh gangguan (derau) cukup besar.

A. Jenis-jenis Orbit Banyak satelit dikategorikan atas ketinggian orbitnya, meskipun sebuah satelit bisa mengorbit dengan ketinggian berapa pun. 1. Orbit Rendah (Low Earth Orbit, LEO): 300 1500 km di atas permukaan bumi. 2. Orbit Menengah (Medium Earth Orbit, MEO): 1500 - 36000 km. 3. Orbit Geosinkron (Geosynchronous Orbit, GSO): sekitar 36000 km di atas permukaan Bumi. 4. Orbit Geostasioner (Geostationary Orbit, GEO): 35790 km di atas permukaan Bumi.

Transfer data lebih lambat dibandingkan dengan penggunaan kabel. Kelebihan satelit: 1. Jarak jangkauan yang sangat luas. 2. Komunikasi dapat dilakukan baik titik ke titik maupun dari satu titik ke banyak titik secara broadcasting ataupun multicasting. 3. Kecepatan bit akses tinggi dan memiliki bandwidth lebar. 4. VSAT bisa dipasang dimana saja selama masuk dalam jangkauan satelit, 5. Unjuk kerja sangat tinggi dan bisa digunakan untuk koneksi suara, video dan data, karena memiliki bandwidth yang lebar. 6. Sangat baik untuk daerah yang kepadatan penduduknya jarang dan belum mempunyai infrastuktur telekomunikasi. Kekurangan Media Satelite : 1. Up Front Cost tinggi: Contoh : untuk Satelit GEO: Spacecraft, Ground Segment & Launch = US $ 200 jt, Asuransi: $ 50 jt. 2. Distance insensitive: Biaya komunikasi untuk jarak pendek maupun jauh relatif sama. 3. Hanya ekonomis jika jumlah User besar dan kapasitas digunakan secara intensif. 4. Delay propagasi besar. 5. Rentan terhadap pengaruh atmosfir. 6. Besarnya throughput akan terbatasi karena delay propagasi satelit geostasioner. Kini berbagai teknik protokol link sudah dikembangkan sehingga dapat mengatasi problem tersebut. 7. Diantaranya penggunaan Forward Error Correction yang menjamin kecilnya kemungkinan pengiriman ulang. 8. Waktu yang dibutuhkan dari satu titik di atas bumi ke titik lainnya melalui satelit adalah sekitar 700 milisecond (latency), sementara leased line hanya butuh waktu sekitar 40 milisecond. Hal ini disebabkan oleh jarak yang harus ditempuh oleh data yaitu dari bumi ke satelit dan kembali ke bumi. Satelit geostasioner sendiri berketinggian sekitar 36.000 kilometer di atas permukaan bumi. 9. Sangat sensitif cuaca dan Curah Hujan yang tinggi, Semakin tinggi frekuensi sinyal yang dipakai maka akan semakin tinggi redaman karena curah hujan. 10. Sun Outage, Sun outage adalah kondisi yang terjadi pada saat bumi-satelit-matahari berada dalam satu garis lurus.. Energi thermal yang dipancarkan matahari pada saat sun outage mengakibatkan interferensi sesaat pada semua sinyal satelit, sehingga satelit mengalami kehilangan komunikasi dengan stasiun bumi. Wireless or Satelit ? Ada beberapa Faktor yang menentukan pilihan media komunikasi data, yaitu : 1. Harga 2. Unjuk kerja (Performance) jaringan yang dikehendaki.

5.

A. Harga Jika dilihat dari segi harga, media wireless lebih murah dibandingkan media satelit, ini dikarenakan media satelit harus menggunakan antenna khusus yang baik itu uplink maupun downlink, yang bisa tergolong sangat mahal serta penyewaan koneksi ke satelit yang disediakan oleh penyedia satelit. Sedangkan wireless bisa lebih murah, ini disebabkan jumlah alat yang digunakan lebih tergantung pada jarak, dan keadaan LOS. B. Unjuk Kerja Unjuk kerja satelit lebih baik daripada wireless, ini disebabkan troughput satelit lebih besar daripada wireless, sedangkan wireless jumlah troughput lebih dipengaruhi oleh besarnya jarak dan LOS. Jika jarak besar serta tidak LOS maka besarnya troughput yang dihasilkan lebih kecil. Jika di kota-kota besar tentu banyak terdapat gedunggedung tinggi yang memiliki perbedaan tinggi dan jarak yang tidak terlalu jauh. Maka solusi wirelesslah yang paling bagus dan jika gedung tersebut ingin terkoneksi maka dibuatlah koneksi secara Point To Point, Point-ToMultipoint, Multipoint-To-Multipoint.

Point To Point

Point To Multipoint

Multipoint To Multipoint Dalam menjangkau daerah yang amat jauh dari perkotaan, misalnya daerah pedesaan maupun daerah terpencil lainnya, termasuk di tengah laut, maka orang merekayasa sistem wireless access yang lain dengan menggunakan teknologi satelit. Dalam hal ini ada dua kemungkinan, pertama menggunakan LEO (Low Earth Orbit Satellites) dan ke dua dengan GEO (Geosynchronous Orbit Satellites). Jika area yang perlu di covered sangat luas dan user yang sangat banyak, maka media tranmisi satelitlah yang paling baik digunakan.

Gambar 1 : satelit mampu malayani banyak user

Gambar 2 : satelit mampu melayani down-link yang jaraknya sangat jauh V. KESIMPULAN

1. Pemakaian media tranmisi wireless dan satelit


banyak dipengaruhi oleh beberapa factor, namun factor kebutuhan dan unjuk kerjalah yang paling besar. Kebutuhan dipengaruhi oleh banyak user dan luas area yang akan dikoneksikan. Kemudian unjuk kerja yang optimal, seperti troughput yang dihasilkan diupayakan semaksimal mungkin. Penggunaan wireless akan lebih optimal jika digunakan pada area yang tidak terlalu luas, atau jarak yang tidak terlalu jauh, dan user yang tidak terlalu banyak serta topologi dataran yang mempunyai LOS memadai. Namun jika ternyata area yang dikoneksikan sangat luas dan user yang sangat banyak, dan jarak yang sangat jauh serta topologi dataran yang tidak LOS, maka pemakaian media satelit sangat dianjurkan.

2.

3.