Anda di halaman 1dari 3

Asal Mula Kota Semarang Pada zaman dahulu di kerajaan Demak hidup seorang

pangeran. Namanya Raden Made Pandan. Disamping sebagai bangsawan kerajaan ia juga dikenal sebagai seorang ulama atau ahli agama Islam yang cukup disegani berbagai kalangan masyarakat. Dia mempunyai seorang putra bernama Raden Pandanarang. Raden Pandanarang dikenal sebagai anak yang baik, sopansantun, ramah dan hormat kepada kedua orang tuanya. Pada suatu hari Raden Made Pandan mengajak puteranya dan beberapa pengiring pergi dari wilayah kesultanan Demak. setelah beberapa hari, sampailah mereka di tempat yang subur. Di sana mereka mendirikan rumah . Raden Made Pandan juga mendirikan pondok pesantren dan mengajarkan agama Islam ditempat itu. Pada suatu hari Raden Made merasa bila akan menghadap Allah, maka ia berwasiat kepada putranya. anakku, jika aku mati, teruskanlah perjuangan kita menyebarkan agama islam. jangan sekali-kali kau tinggalkan daerah ini. berpegang teguhlah kepada ajaran para wali. insyallah kelak hidup mu menjadi mulia, selamat dunia akhirat. Pesan itu selalu terngiang di teliga Raden Pandanarang. Setelah ayahnya meninggal dunia, ia terus melanjutkan perjuangannya mengajarkan agama islam. Pada suatu hari ketika menggarap sawah Raden Pandanarang dan pengikutnya melihat suatu keanehan. di atas tanah yang subur disela-sela pepohonan yang hijau nampak beberapa pohon asam tumbuh saling berjauhan atau jarang-jarang. Semua orang merasa heran melihat jarak antara pohon asam yang satu dengan yang lainnya. Raden Pandanarang berkata ,mengapa pohon asam itu tumbuh berjauhan, padahal tanah di sini subur. Mestinya pohon-pohon asam itu tumbuh berdekatan. benar raden..! sahut beberapa orang pengikutnya. memang ini hal yang tak lazim terjadi, sangat aneh. Raden Pandanarang berkata lagi . kalau begitu daerah ini ku namakan semarang yaitu dari kata asem yang jarang.

Bangunan Semarang
Lawang Sewu Semarang, Gedung Seribu Pintu dan Seribu Hantu.

Lawang Sewu merupakan sebuah bangunan kuno peninggalan jaman belanda yang dibangun pada 1904. Semula gedung ini untuk kantor pusat perusahaan kereta api (trem) penjajah Belanda atau Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS). Gedung tiga lantai bergaya art deco (1850-1940) ini karya arsitek Belanda ternama, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag. Lawang Sewu terletak di sisi timur Tugu Muda Semarang, atau di sudut jalan Pandanaran dan jalan Pemuda. Disebut Lawang Sewu (Seribu Pintu), ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu.

Masjid Besar Kauman

Masjid Besar Kauman Semarang ini terletak di Jl alun alun barat no 11 Semarang di satu sisi, sedangkan sisi samping adalah jalan Kauman. Masjid Kauman merupakan rangkaian perkembangan dari sejarah pembangunan masjid di Semarang. Masjid pertama di Semarang dulu terletak di daerah mugas yang didirikan oleh Kyai Ageng Pandan Arang. Ketika beliau hijrah ke kota Semarang bagian bawahan dan mendirikan kabupaten bubakan dan mendirikan masjid sebagai tempat ibadah. Pembangunan masjid yang terletak di komplek alun-alun Semarang itu merupakan suatu masjid paling besar di Semarang yang akhirnya mengabadikan nama Kyai Adipati Surohadimenggola II sebagai pendiri pertama Masjid Besar Kauman Semarang.

Gereja Blenduk

Gereja Blenduk Semarang merupakan gereja yang dibangun pada 1753 ini merupakan salah satu landmark di kota lama. Berbeda dari bangunan lain di Kota Lama yang pada umumnya memagari jalan dan tidak menonjolkan bentuk, gedung yang bergaya Neo-Klasik ini justru tampil kontras. Bentuknya lebih menonjol . Lokasi bangunan ini berada di Jalan Letjend Suprapto No 32 Kota Lama Semarang dan bernama Gereja GBIB Immanuel. Bangunan gereja yang sekarang merupakan bangunan setangkup dengan facade tunggal yang secara vertikal terbagi atas tiga bagian. Jumlah lantainya adalah dua buah. Bangunan ini menghadap ke Selatan. Gereja ini masih dipergunakan untuk peribadatan setiap hari Minggu. Di sekitar gereja ini juga terdapat sejumlah bangunan lain dari masa kolonial Belanda seperti Gedung Marba. Bangunan kuno ini juga sering menjadi salah satu tempat untuk foto foto Pre Wedding.

Kelenteng Sam Po Kong, Gedung Batu

Hampir di keseluruhan bangunan bernuansa merah khas bangunan China. Karena kaburnya sejarah, orang Indonesia keturunan cina menganggap bangunan itu adalah sebuah kelenteng mengingat bentuknya berarsitektur cina sehingga mirip sebuah kelenteng. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien. Padahal laksamana Cheng Ho adalah seorang muslim, tetapi oleh mereka di anggap dewa. Hal ini dapat dimaklumi mengingat agama Kong Hu Cu atau Tau menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka