Anda di halaman 1dari 6

Kisah-kisah Sufi

oleh Idries Shah PINTU SORGA


Jaman dahulu adalah seorang lelaki yang baik hatinya. Ia telah menjalani hidupnya dengan melakukan segala hal yang memungkinkan orang masuk sorga. Ia memberi harta kepada si miskin, ia mencintai sesamanya, dan ia mengabdi kepada mereka. Karena mengingat pentingnya kesabaran, ia senantiasa bertahan terhadap kesulitan yang besar dan tak diduga-duga, sering itu semua demi kebahagiaan orang lain. Ia pun mengadakan perjalanan jauh-jauh untuk mendapatkan pengetahuan. Kerendahhatian dan perilakunya yang pantas ditiru begitu dikenal sehingga ia dipuji-puji sebagai seorang yang bijaksana dan warga yang baik; pujian itu terdengar mulai dari Timur sampai ke Barat, Utara sampai ke Selatan. Segala kebaikan itu memang dijalankan --selama ia ingat melakukannya. Namun ia memiliki kekurangan, yakni kurang perhatian. Kecenderungan itu memang tidak berat, dan ditimbang dengan kebaikannya yang lain, hal itu merupakan cacat kecil saja. Ada beberapa orang miskin yang tak tertolongnya, sebab selalu saja ia kurang memperhatikan kebutuhan mereka itu. Kasih sayang dan pengabdian pun kadang-kadang terlupakan apabila yang dipikirkannya sebagai kebutuhan pribadi muncul dalam dirinya. Ia suka sekali tidur. Dan kadang-kadang kalau ia sedang tidur, kesempatan mendapatkan pengetahuan, atau memahaminya, atau melaksanakan kerendah hatinya, atau menambah jumlah tindakannya yang terpuji kesempatan semacam itu lenyap begitu saja, tak akan kembali lagi. Wataknya yang baik meninggalkan bekas pada dirinya, begitu juga halnya dengan wataknya yang buruk, yakni kurangnya perhatian itu. Dan kemudian ia meninggal. Menyadari dirinya berada di balik kehidupan ini, dan sedang berjalan menuju pintu-pintu Taman Berpagar, orang itu istirahat sejenak. Ia mendengarkan katahatinya. Dan ia merasa bahwa kesempatannya memasuki Gerbang Agung itu cukup besar. Disaksikannya gerbang itu tertutup dan kemudian terdengar suara berkata kepadanya, "Siagalah selalu, sebab gerbang hanya terbuka sekali dalam seratus tahun." Ia pun duduk menunggu, gembira membayangkan apa yang akan terjadi. Namun, jauh dari kemungkinan untuk menunjukkan kebaikan terhadap manusia, ternyata ia menyadari bahwa kemampuannya untuk memperhatikan tidak cukup pada dirinya. Setelah siaga terus selama waktu yang rasanya sudah seabad kepalanya terkantuk-kantuk. Segera saja pelupuk matanya tertutup. Dan pada saat yang sekejap itu, gerbangpun terbuka. Sebelum mata si lelaki itu terbuka sepenuhnya kembali, gerbang itupun tertutup dengan suara menggelegar yang cukup dahsyat untuk membangunkan orangorang mati. Catatan : Kisah ini merupakan bahan pelajaran darwis yang disenangi, kadang-kadang disebut "Parabel Tentang Kurangnya Perhatian," Meskipun terkenal sebagai kisah rakyat, asal-usulnya tak diketahui. Beberapa orang menganggapnya ciptaan Hadrat Ali, Kalifah Keempat. Yang lain mengatakan bahwa kisah itu begitu penting, sehingga tentunya diucapkan sendiri oleh Nabi, secara rahasia. Jelas kisah ini tidak terdapat dalam Hadits Nabi. Bentuk sastra yang kita pilih ini berasal dari seorang darwis tak dikenal dari abad ketujuh belas, Amil Baba, yang naskah-naskahnya menekankan bahwa "pengarang sejati adalah orang yang karyanya tak bernama (anonim), sebab dengan cara itu tak ada yang berdiri antara pelajar dan yang dipelajarinya."

Doa Sepasang Sepatu Selop


Pada zaman dahulu kala, tersebutlah kisah sepasang selop yang terbuat dari kulit kerbau. Selop itu milik seorang pangeran. Jika tidak dipakai, mereka diletakkan di rak dapur istana. Di sana, segerombolan tikus dapur memelototi mereka berjam-jam, seolah-olah ingin memangsa kedua selop itu. Sepasang selop itu bukanlah selop biasa karena mereka dapat berbicara. Mereka berbicangbincang persis seperti suami istri. Suatu hari, selop suami berkata kepada istrinya, Istriku, jika tikus-tikus itu memelototi kita seperti ini terus, nantinya kita akan disantap oleh mereka. Bagaimana menurutmu? Mungkinkah kita dapat berubah menjadi tikus? Selop istri hanya menjawab ringan, Apa pun keinginanmu, suamiku .Selop suami berdoa kepada Tuhan untuk mengubah mereka menjadi tikus. Doa mereka terkabul dan keduanya berubah wujud menjadi tikus. Sebagai tikus sekalipun, mereka merasa bahwa gerak-gerik mereka yang paling kecil pun menarik perhatian para kucing. Keduanya merasa tidak aman dan akhirnya mereka ingin menjadi kucing. Permintaan mereka kali ini pun dikabulkan. Namun, sebagai kucing, mereka kesulitan untuk menginjakkan kaki keluar istana karena mereka selalu menjadi incaran anjing. Oleh karena itu, mereka mengajukan permohonan supaya menjadi anjing. Sebagaimana sebelumnya, keinginan mereka dikabulkan. Ketika kedua anjing itu mendekati gadis-gadis yang sedang menumbuk padi, mereka dipukul dengan alu dan diusir. Mereka berpikir bahwa menjadi manusia pastilah sangat menguntungkan dan menyenangkan. Kali ini pula, keinginan mereka dipenuhi. Setelah menjadi manusia, keduanya dipanggil oleh kepala desa untuk melakukan tugas yang berat. Kekecewaan mereka makin menjadi. Dalam waktu yang singkat, mereka telah menjadi punggawa raja. Keduanya bertugas menyampaikan titah raja siang dan malam. Bahkan, kadangkadang mereka sengaja dibangunkan dari tidur lelap mereka untuk menunaikan tugas dari sang raja. Tentu kedua punggawa itu pun sekarang berpikir betapa menyenangkan jika menjadi pangeran dan putri. Tak akan ada orang yang berani memerintah mereka. Kemudian, jadilah keduanya pangeran dan putri. Namun demikian, ternyata mereka hidup dalam kecemasan. Seorang pangeran dari kerajaan seberang menyerang kerajaan mereka. Mereka terus-menerus dikecam oleh musuh. Aku sangat cemas. Bagaimana jika kita kalah? Jika itu terjadi, kita akan dikurung dalam penjara dan harus mencari rumput untuk makanan kuda. Apa yang harus kita lakukan? Jika aku bisa menjadi Tuhan, kita tidak akan punya musuh dan akan menjadi Maha Penguasa. Si istri menjawab sebagaimana biasanya, Apa pun keinginanmu, suamiku! Akan tetapi, tampaknya itulah batas akhir permintaan mereka. Setelah si suami mengucapkan keinginan untuk menjadi tuhan, dalam sekejap suami dan istri itu kembali menjadi selop seperti sedia kala. Mereka kembali berada di rak dapur istana, tempat kisah mereka bermula

ASAL-USUL KALI BENGER, KISAH DAMARWULAN DAN MINAK JINGGA


Tersebutlah sebuah daerah di antara kaki Pegunungan Tengger dan Gunung Argapura. Tanahnya subur, air melimpah, memiliki laut yang kaya ikan dan penduduknya makmur sejahtera. Di bagian utara, tempat paling banyak dihuni penduduk, mengalir sebuah sungai berair jernih. Sungai ini membentang dari selatan ke utara membelah perkampungan penduduk. Muaranya sangat ramai dan digunakan sebagai pelabuhan tempat menaikkan dan menurunkan barang para saudagar. Dari sini barang-barang kemudian diangkut kereta untuk dikirim ke Sadeng atau Keta. Ada juga yang dikirim ke Mataram. Ke arah tenggara dari pelabuhan ini akan tampak Gunung Argapura yang tinggi menjulang. Bila memandang ke barat daya, gugusan Pegunungan Tengger berdiri kokoh. Di sebelah utara, laut nan biru terhampar luas. Daerah ini memisahkan Kerajaan Majapahit dengan sebuah kadipatennya, Blambangan. Karena berada di perbatasan, daerah ini sering menjadi arena peperangan antara Majapahit dengan kerajaan bawahannya yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Pada saat itu, Blambangan diperintah oleh Adipati Kebo Marcuet yang berambisi meluaskan daerah kekuasaannya. Hal itu merupakan rongrongan terhadap Majapahit. Tugas untuk mengatasi persoalan di wilayah timur tersebut diserahkan kepada Putri Kencanawungu. Peringatan demi peringatan yang disampaikan sang putri tidak diindahkan oleh Adipati Kebo Marcuet. Petinggi Majapahit bingungmenghadapi kebandelan Kebo Marcuet. Mengirim pasukan ke Blambangan saat itu tidaklah mungkin karena pasukan Majapahit dalam kondisi lemah setelah memadamkan beberapa pemberontakan. Atas saran para rakrian yang merupakan Dharmaputra Winehsuka (semacam dewan penasihat kerajaan, pen.), Kencanawungu mengadakan sayembara. Begini bunyi sayembara itu : Sedulur-sedulur rakyat Majapahit, barangsiapa di antara kalian berhasil menumpas Kebo Marcuet penguasa Blambangan, akan dinobatkan menjadi raja sebagai wakil Raja Majapahit di Blambangan dan akan dijadikan suami Putri Kencanawungu. Seorang pemuda gagah bernama Jaka Umbaran tampil mengikuti sayembara itu. Bersenjatakan sebuah gada keemasan yang dikenal dengan Besi Kuning, Jaka Umbaran berhasil membunuh Kebo Marcuet. Namun demikian, akibat bertarung melawan Kebo Marcuet wajah Jaka Umbaran rusak dan kakinya pincang. Jaka Umbaran kemudian dinobatkan sebagai raja Blambangan sebagai wakil raja Majapahit. Iamengubah namanya menjadi Minak Jingga. Satu hadiah sudah diterima Jaka Umbaran alias Minak Jingga. Ia menagih hadiah kedua, dinikahkan dengan Kencanawungu. Tetapi karena wajah Minak Jingga rusak dan kakinya pincang Putri Majapahit itu tidak bersedia memenuhi janjinya. Mendengar kabar itu Minak Jingga marah besar. Sikap dan wataknya yang semula lembut berubah menjadi kasar dan brutal. Kehadiran dua orang gadis ningrat asal Bali, Wahita dan Puyengan yang diperistrinya, tidak mampu mengembalikan kelembutan hatinya. Ia pun menyatakan melepaskan diri dari Majapahit sebagaimana Kebo Marcuet. Saudagar-saudagar dan prajurit Majapahit yang sedang mengunjungi daerah-daerah bawahan seringkali dirampas. Pasukan Blambangan pun dibangun untuk menandingi kekuatan Majapahit. Para penjahat yang dikejar-kejar pasukan keamanan Majapahit diajaknya bergabung menjadi pasukan Blambangan.

Melihat kenyataan ini, kalangan keraton Majapahit kembali bingung. Meminta bantuan atau bergabung dengan pasukan Sadeng dan Keta juga tidak mungkin. Karena menurut kabar pasukan Blambangan juga kuat. Terlebih lagi Kerajaan Majapahit dihantui kekhawatiran pengkhianatan Kerajaan Sadeng dan Keta. Meski dalam sebuah Pasewakan Agung (pertemuan para raja bawahan dengan Raja Majapahit), utusan Sadeng dan Keta menegaskan kesetiaannya terhadap Majapahit. Para Dharmaputra Winehsuka mengingatkan Kencanawungu bagaimana tentang tindakan makar Sadeng dan Keta tiga tahun sepeninggal Prabu Jayanegara. Tak ingin berlama-lama berpikir, Kencanawungu memutuskan menggunakan cara yang sama ketika menghadapi Kebo Marcuet. Dicarilah ksatria-ksatria pilih tanding di sekitar Istana Majapahit untuk menghadapi Minak Jingga. Akhirnya pilihan jatuh kepada Damarwulan, seorang pemuda abdi Patih Loh Gender yang sehari-hari bertugas mencari rumput. Di balik wajahnya yang tampan ia ternyata seorang pendekar pilih tanding yang memiliki kecerdikan luar biasa. Tak heran, ia menjadi andalan Patih Loh Gender. Damarwulan, laksanakanlah titah putri ratu dengan baik. Dengan akal cerdikmu tugas berat ini pasti dapat kau laksanakan, ucap Patih Loh Gender melihat keraguan di wajah Damarwulan saat mengetahui ia ditugaskan memenggal kepala Minak Jingga. Baik Gusti, hamba laksanakan tugas itu meski Minak Jingga bukanlah lawan sembarangan. Dia sakti mandraguna, Gusti Patih, sahut Damarwulan yang masih diliputi keraguan. Anakku Damarwulan, kehebatan Minak Jingga terletak pada Besi Kuning. Tanpa itu, ia bukan apa-apa. Curilah senjata itu. Menyamar dan bekerjasamalah dengan orang dalam istana, panjang lebar Patih Loh Gender menjelaskan kelemahan Minak Jingga. Sendika Gusti Patih, jika begitu hamba mohon pamit untuk berangkat, Damarwulan berpamitan sembari mengatupkan kedua telapak tangan dan sedikit membungkuk sebagai tanda hormat seorang abdi. Patih Loh Gender hanya mengangguk. Namun setelah itu sang patih segera mengutus beberapa prajurit khusus kraton Majapahit untuk mengiringi Damarwulan secara rahasia.. Sang Patih memerintahkan prajurit-prajurit untuk menyamar menghindari sergapan prajurit Blambangan. Selama dalam perjalanan, kendatipun mengenakan pakaian lusuh, ketampanan wajah Damarwulan banyak menarik perhatian gadis-gadis. Apalagi sikap dan perilakunya yang santun. Tersiarlah ketampanan wajah Damarwulan sampai ke istana Blambangan, tepatnya ke telinga para istri Minak Jingga. Pada suatu pesta malam purnama, Damarwulan berhasil menemui keduanya. Kelembutan tutur dan ketampanan Damarwulan memikat hati para istri Minak Jingga. Kesempatan itu tidak disia-siakannya untuk semakin mengakrabi Wahita dan Puyengan. Damarwulan berhasil. Ia bebas keluar-masuk istana menemui dua orang bangsawan Bali istri-istri Minak Jingga itu. Hingga pada suatu kesempatan Damarwulan dapat membujuk Wahita dan Puyengan untuk mengambil Besi Kuning, pusaka andalan suaminya. Prajurit perawat pusaka kerajaan yang bertugas memasuki ruang pusaka segera melapor. Minak Jingga berang saat dilapori hilangnya senjata itu. Istana pun dikepung dan seluruh ruangan digeledah. Beruntung Damarwulan dapat meloloskan diri dengan melompati pagar istana. Setiba di tempat aman, Damarwulan memasang sebuah Warastra (anak panah) yang sudah diikatkan selembar daun lontar berisi sebuah pesan. Direntangkannya busur itu, dan . wessss melesatlah sebuah warastra dan menancap tepat di sebuah tiang istana. Prajurit segera mencabut dan menyerahkan warastra berisi pesan itu kepada Minak Jingga. Merah padam wajah Minak Jingga membacanya. Segera ia perintahkan prajurit untuk menyiapkan sebuah kuda untuk mengejar Damarwulan. Raja Blambangan bersama

prajuritnya bergerak ke arah barat menyisir pesisir utara - menerobos kelebatan Alas Purwo melintasi wilayah Kerajaan Keta, kemudian ke arah Jabung, tempat yang pernah disinggahi Prabu Hayam Wuruk dalam sebuah lawatannya. Saat di Jabung prajurit Minak Jingga menangkap kelebat gerakan kuda Damarwulan. Mereka semakin bersemangat memacu kuda mengkuti jejak-jejaknya. Di sebuah tempat, kuda Damarwulan meninggalkan jejak berupa bulu kuda yang menempel pada sebuah pohon. Kelak tempat itu dikenal dengan Desa Bulujaran (Bulukuda. Pen). Sementara itu, Damarwulan telah sampai di sebuah tepi kali. Kudanya ia tambatkan pada sebuah pohonrandu. Karenanya daerah ini disebut Randu Pangger (Randu tempat menambat). Tidak lama, Minak Jingga dapat menyusul Damarwulan yang berdiri didampingi beberapa prajurit. Pasukan pengiring Minak Jingga langsung menyerang prajurit pendamping Damarwulan. Meskipun prajurit yang bertempur tidak banyak, pertempuran berlangsung seru. Kali yang beberapa waktu sebelumnya menjadi salah satu arena perang Paregreg kini kembali menjadi medan laga dua pasukan. Denting pedang diiringi teriakan-teriakan, juga jeritan kesakitan prajurit yang terluka menghiasi pertarungan. Kedua pasukan sama-sama kuat. Satu persatu jatuh bergelimpangan. Tak lama kemudian, pasukan yang bertarung habis sama sekali. Semua jatuh bergelimpangan. Menyerahlah!!! Barangkali Raja berkenan mengampunimu. Kau tak punya apa-apa lagi. Pasukan habis, demikian juga senjatamu, lantang Damarwulan menggertak Minak Jingga. Apa? Menyerah? cuih!!! Pantang bagiku untuk menyerah wahai anak muda, sahut Minak Jingga dengan mata memerah. Sontak ia keluarkan sebilah pedang dari sarungnya dan melompat tepat ke hadapan Damarwulan. Damarwulan beringsut sedikit ke belakang. Segera dicabutnya sebuah pedang dari warangkanya. Seolah tidak memberi kesempatan kepada Damarwulan, Minakjingga tiba-tiba menyayunkan pedangnya. Ciat.ciat bedebah kau anak ingusan Ha..haha gerakanmu terlalu lamban. Tak perlu melompat menghindari terjanganmu. Ejekan Damarwulan memanaskan telinganya. Kembali Minak Jingga melompat dan sekuat tenaga mengayunkan pedangnya ke arah Damarwulan. Anak asuh Patih Loh Gender ini menangkis serangan dengan melintangkan pedangnya. Kedua pedang pun berbenturan keras memercikkan letikan api. Pedang di tangan Minak Jingga nyaris terjatuh. Ia sedikit gugup. Kesempatan itu digunakan Damarwulan untuk menyerang balik. Dan. betbet pedang Damarwulan berkelebat menyasar kepala Minak Jingga. Tubuh Damarwulan berlompatan sambil terus menyabetkan pedang. Minak Jingga mulai kesulitan mengikuti gerakan Damarwulan dan terdesak. Sebuah tendangan mendarat telak di dada Minak Jingga, membuatnya jatuh terjengkang. Pedangnya terlepas. Bagaimana Minak Jingga, belum mau menyerah juga?, ejek Damarwulan. Tak ada jawaban. Hanya gemeretak gigi Minak Jingga yang menyiratkan kegeraman. Minak Jingga bangkit dan segera melompat menyerang Damarwulan yang telah siap menyambut serangannya. Ciaaaaatttt, teriakan Minak Jingga mengiringi terjangan ke arah Damarwulan. Lagi-lagi Damarwulan hanya perlu sedikit menggeser kakinya untuk menghindar sambil mencoba mengait kaki Minak Jingga. Berhasil. Minak Jingga kehilangan keseimbangan, hampir saja ia jatuh ke kali. Tiba-tiba teriakan Damarwulan melengking tinggi diikuti sebuah sabetan yang telak mengenai bagian belakang leher Minak Jingga. Seketika tubuh Minak Jingga limbung, terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh ke kali. Minak Jingga memegangi luka di lehernya yang kian perih terkena air. Sementara darahnya terus mengucur memerahkan air kali di sekitar dia tercebur. Anehnya, seiring merahnya air, tak lama kemudian aroma anyir darah menyeruak di permukaan kali. Aroma tak sedap menyebar ke sekitar kali membuat Damarwulan melangkah menjauhi kali. Tertatih-tatih Minak Jingga berusaha naik keluar dari kali. Ia tampak lemah sekali. Tenaganya seolah habis terkuras. Dari jarak sepelemparan batu Damarwulan memandanginya.

Pergilah jauh-jauh kau Minak Jingga. Biarkan rakyat Blambangan tenteram tanpa gangguanmu! teriak Damarwulan. Minak Jingga hanya memicingkan mata ke arah Damarwulan. Rasa sakit dan lelah membuatnya tak ingin melanjutkan pertarungan. Dengan langkah terseok-seok ia berjalan ke arah selatan menyusuri sebuah jalan besar. Tak seberapa jauh berjalan, Minak Jingga merasa tidak kuat lagi. Ia pun kemudian berhenti disebuah Pohon Waru yang rindang. Lalu menyandarkan tubuhnya di pohon itu. Tubuhnya makin lemah. Wajahnya pucat pasi. Mengetahui ada seseorang terluka, beberapa penduduk setempat berdatangan. Mereka bermaksud membantu. Apalagi setelah melihat pakaian Minak Jingga yang mewah, tidak seperti rakyat kebanyakan. Apa yang terjadi gerangan Ki Sanak? tanya seorang penduduk laki-laki setelah duduk di dekat Minak Jingga. hhhhh a..a..aku Minak Jingga habis bertarung dengan Damarwulan sahut Minak Jingga terbata-bata. Mimik wajahnya tampak menahan sakit. Aku tahu, kedatangan kalian hendak menolongku tapi tak usahlah.. percuma. Dddarahku terlalu ba..ba..nyak keluar. Aku hanya berpesan kepada kakalian, penduduk s..ssinni, jjjanganlah kalian bertengkar dan saling melukai. Aaapalagi sa..sa.ling b.b..bu..nuh.. mata Minak Jingga terpejam begitu menyelesaikan kata terkahirnya. Ia meninggal. Sementara itu Damarwulan kembali ke pohon randu tempat kudanya ditambatkan. Ia bersiap ke arah Matahari terbenam, ke kotaraja Majapahit untuk melapor kepada Kencanawungu.