Herpes Poin kunci  Sekitar 20-30% wanita hamil memiliki IgG terhadap virus herpes simpleks (HSV)-2 (sebelum

infeksi) dan terinfeksi virus tersebut, dengan adanya peluruhan intermiten dari mukosa vagina. Sekitar 3-4% naita dengan serokonversi IgG negatif (terinfeksi HSV dan menjadi IgM+) saat hamil, dan 90% dari wanita ini tidak terdiagnosis.  Infeksi HSV neonatal terjadi pada > 90% kasus yang mengalami kontak dengan sekrasi genital maternal yang terinfeksi. Infeksi primer periode pertama, didefinisikan sebagai virus herpes simplex yang dikonfirmasi pada pasien tanpa antibodi HSV-1 atau HSV-2, dapat menyebabkan angka transmisi vertical 40-50% jika dilakukan persalinan per vaginam pada periode ini, dan sehingga ada scenario klinis yang penting untuk dihindari.   Persalinan per vaginam saat infeksi rekuren berhubungan dengan insidensi infeksi neonatal sebesar 0-3%. Transmisi transplasental HSV secara vertical jarang terjadi. HSV neonatal menyebabkan infeksi diseminata atau penyakit sistem saraf pusat (kejang, letargi, irritabilitas, tremor, kurang makan, instabilitas suhu, dan fontanella yang mencembung) pada sekitar 50% kasus. Hampir 30% bayi mengalami kematian dan hampir 40% mengalami cedera neurologis walaupun telah diberikan terapi antiviral.  Pencegahan infeksi maternal merupakan strategi manajemen yang terbaik. Skrining maternal universal dengan serologi spesifik HSV-1 dan HSV-2 belum teruji dan masih kontroversial. Jika seorang wanita seronegatif, maka pasangannya harus diperiksa. Jika pasangannya positif, hindari kontak orogenital langsung, penggunaan kondom, usaha abstinensia, dan pengobatan partner harus dibicarakan. Jika wanita seropositif, pengobatan dengan acyclovir atau valacyclovir sejak 36 minggu sebelum persalinan, pemeriksaan lesi setelah persalinan cesar jika ada, pencegahan pemecahan kulit ketuban (AROM) (jika mungkin), pemasangan elektroda di kulit kepala, dan pengunaan forsep perlu dilakukan. Jika dicurigai terdapat lesi genital HSV yang terlihat pada saat masuk kala persalinan, bedah cesar perlu dilakukan.  Diagnosis herpes genital paling sensitif dengan menggunakan pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) pada lesi genital (menentukan apakah HSV-1 atau HSV-2 yang menyebabkan infeksi). Tes serologis berbasis glikoprotein G tipe spesifik (HSV-1 atau HSV-2) juga perlu dilakukan.

dan sakit kepala (meningitis jarang). infeksi HSV primer. Sekitar 20-30% wanita hamil yang memiliki IgG (IgG) untuk HSV-2 (sebelum infeksi) dan terinfeksi virus tersebut. atau valacyclovir (valtrex) 2 x 1g po x 7-14 hari. Gejala Sekitar 70% infeksi HSV baru pada wanita hamil tidak menunjukkan gejala. Faktor resiko/asosiasi Faktor resiko infeksi HSV maternal adalah immunocompromise. atau valacyclovir (valtrex) 2 x 500 mg po x 5 hari dan memperoleh supresi dengan acyclovir atau valacyclovir pada usia kehamilan 36 minggu hingga melahirkan. dan 30% wanita dengan presentasi klinis yang berkisar dari lesi minimal hingga lesi genital yang luas yang berhubungan dengan rasa nyeri lokal yang berat. Patogen Herpes simplex virus tipe 1 (HSV-1) dan tipe 2 (HSV-2) keduanya merupakan virus DNA. demam. dan 90% dari wanita ini tidak terdiagnosis karena tidak ada atau menunjukkan gejala yang minimal. Sekitar 15-25% pasangan pada kehamilan awal berbeda status HSVnya.  Wanita dengan reaktivasi HSV simtomatik harus memperoleh acyclovir 2 x 400 mg po x 5 hari. dimana wanita beresiko mendapatkan infeksi primer dari pasangannya. Insidensi/Epidemiologi Herpes genitalis adalah infeksi HSV-1 atau HSV-2 yang menyebabkan ulserasi pada daerah genital. disuria. pembesaran limfonodi regional dengan nyeri tekan. dan memperoleh supresi dengan acyclovir 2 x 400 mg po atau valacyclovir 1 x 500 mg po x 5 pada usia kehamilan 36 minggu hingga melahirkan. Wanita dengan episode genital HSV yang pertama atau kedua pada kehamilan perlu mendapatkan acyclovir 2 x 400 mg po x7-14 hari. malaise. Sekitar 0. Faktor resiko infeksi HSV neonatal adalah HSV di traktus genitalis pada saat persalinan. Klasifikasi/patofisiologi . dan prosedur obstetric invasif. Sekitar 2-4% wanita dengan serokonversi IgG negatif (HSV didapat) saat kehamilan. dengan adanya peluruhan intermiten dari mukosa vagina. dan faktor resiko PMS lainnya. parestesia sakralis. Insidensi herpes neonatal adalah 2 dalam 100000 kelahiran hidup di Inggris dan 1-3 dari 10000 kelahiran hidup tiap tahun di Amerika Serikat.1-1% wanita hamil mengandung HSV pada genitalianya. penyakit menular seksual (PMS) lainnya.

Jangkitan ini dapat diinduksi oleh berbagai . HSV menyerang dan bereplikasi di sel neuron dan juga di sel epidermal dan dermal. dan kemudian menjadi laten. Jika terdapat gejala. HSV-1 menyebabkan 90% infeksi oral dan 10% menyebabkan infeksi genital. biasanya HSV-2. Virion berjalan dari lokasi infeksi awal pada kulit atau mukosa ke ganglion sensorik radix dorsalis. sedangkan resiko konversi dari IgG HSV-2 ke HSV-1 + adalah < 1%. biasanya lebih ringan dari infeksi primer yang pertama. Kontak intim antara orang yang rentan (tanpa antibodi terhadap virus) dan seseorang yang mengandung virus di permukaan tubuhnya atau cairan tubuhnya mengandung virus dapat menyebabkan terjadinya infeksi HSV. maka bersifat berat.jika gejala muncul. Reaktivasi (rekuren) herpes genitalis Reaktivasi (rekuren) herpes genitalis disebabkan oleh reaktivasi virus herpes simplex laten. dengan tidak ada konsekuensi fetal kecuali berubah segera sebelum persalinan dan dilahirkan melalui vagina. maka gejala tersebut dapat bertahan hingga 7-10 hari. Sekitar 24% wanita dengan serokonversi seronegatif terhadap HSV-1 atau HSV-2 saat kehamilan (hanya 30% menunjukkan gejala.dan 50% mengalami rekurensi dalam 6 bulan).5-2% wanita dengan IgG HSV-1 + berserokonversi ke HSV-2 +. dengan viral load rendah selama 3-5 hari. dimana HSV-1 (atau HSV-2) terkonfirmasi pada seseorang yang sebelumnya ditemukan antibodi HSV-1 (atau HSV-2). namun secara klinis tidak berbeda dengan penyakit reaktivasi. Beberapa klinisi menyingkirkan kategori yang lain dengan yang satu ini. Jika timbul gejala. Kontak harus melibatkan membrane mukosa atau kulit yang terbuka atau terabrasi. Lebih dari 90% episode pada kehamilan baik yang rekuren maupun episode HSV pertama non primer. Tipe infeksi meliputi sebagai berikut: Episode pertama primer Infeksi episode pertama primer didefinisikan sebagai virus herpes simplex yang terkonfirmasi pada seseorang tanpa adanya antibodi HSV-1 atau HSV-2 sebelumnya. HSV-2 menyebabkan 10% infeksi oral dan 90% menyebabkan infeksi genital. peluruhan virus sangat tinggi pada infeksi primer.Infeksi HSV menyebabkan benda inklusi intranuklear dan sel raksasa dengan banyak inti. Replikasi virus pada ganglia sensoris ini menyebabkan jangkitan klinis rekuren. Sekitar 1. disebut dengan rekurensi pertama. Episode pertama non-primer Infeksi episode pertama non primer adalah HSV-2 yang terkonfirmasi pada seseorang dengan antibodi HSV-1 sebelumnya. atau sebaliknya.

hepatosplenomegali. muncul saat infeksi primer. saat rekurensi setelahnya. Hampir 30% bayi akan meninggal dan hampir 40% memiliki cacat neurologis walaupun . dan beresiko terpapar saat persalinan dimana peluruhan virus berada dalam jumlah yang paling banyak. immunosupresi. dan encephalitis. dan antibodi maternal. stress. Resiko infeksi neonatal pada wanita dengan infeksi yang jelas dan rekurensi pada saat aterm adalah 0-3%. instabilitas suhu. Lokasi utama tempat masuk virus intrapartum adalah mata. jika lesi herpes genitalis muncul pada saat persalinan dan bayi dilahirkan melalui vagina.stimulus. atau kulit yang rusak. cara persalinan. atau fluktuasi hormonal. Peluruhan virus. spastisitas. radiasi ultraviolet. Pada episode pertama. tremor. irritabilitas. dihitung di beberapa penelitian berbeda. Infeksi primer merupakan faktor resiko utama herpes neonatal. Transmisi maternal-fetal Transmisi HSV maternal-fetal biasanya terjadi saat persalinan melalui kontak dengan sekresi genital yang terinfeksi. Sekitar 1% wanita dengan riwayat HSV mengalami peluruhan virus asimptomatik pada saat persalinan. status membran (kulit ketuban). Infeksi episode pertama primer saat kehamilan dapat menyebabkan mikrosefali. nasofaring. dan terkadang penyakit diseminata. Bayi dari seorang ibu dangan HSV primer pada semester ketiga memiliki proteksi antibodi tipe transplasental spesifik yang kurang (yang membutuhkan waktu 6-12 minggu untuk memproteksi bayi secara penuh). Infeksi transplasenta jarang terjadi. suhu yang ekstrim. Faktor yang mempengaruhi resiko infeksi fetal adalah infeksi maternal primer. resiko herpes neonatal adalah 40-50%. Persalinan per vaginam pada saat infeksi primer pertama berhubungan dengan 40-50% insidensi infeksi HSV neobatal. usia gestasi. usus ekogenik. letargi. dan fleksi ekstremitas. dan saat periode peluruhan virus asimptomatik. gizi buruk. menyebabkan kemungkinan terjadinya transmisi. hepatitis. dan fontanella yang menonjol) pada sekitar 50% kasus. dibandingkan dengan HSV genital rekuren. Persalinan per vaginam saat infeksi rekuren berhubungan dengan 0-3% insidensi infeksi HSV neobatal. HSv neonatal menyebabkan penyakit diseminata atau sistem saraf pusat (kejang. seperti trauma. Kesimpulan Pada ibu. Resiko infeksi neonatal dari transmisi postnatal tanpa pencegahan adalah 15%. infeksi primer dapat menyebabkan gejala yang berat.

dan IgG dan IgM HSV-2 (lebih baik sebelum 18 minggu) HSV seronegatif HSV-1 seropositif HSV-2 seropositif  Pemeriksaan lesi saat pasangan HSV-1 positif pasangan HSV-2 seropositif persalinan  Edukasi  Terapi supresi (pasien)  Hindari jika mungkin:  Hindari kontak orogenital  kondom  abstinensia  terapi supresi Gambar 44. vaccum atau forseps . prognosis. Manajemen kehamilan Pertimbangan kehamilan Perjalanan infeksi HSV pada kehamilan serupa dengan pada wanita yang tidak hamil Konseling/prognosis Pencegahan. AROM. elektroda  Kondom  abstinensia  terapi supresi kepala. hidrosefali. dan kalsifikasi plasenta yang merupakan akibat dari infeksi fetal kronik. kalsifikasi intracranial. USG prenatal dapat mendeteksi mikrosefali. perjalanan alami penyakit. Strategi pencegahan infeksi maternal melibatkan skrining universal (gambar 44.1). Pencegahan Pencegahan infeksi maternal meliputi pencegahan kontak seksual dengan orang yang terinfeksi. IgG dan IgM HSV-1.1 Testing dan konseling pada wanita hamil mengenai HSV. insidensi transmisi vertical dan sekuel. dan pilihan terapi harus dibahas dengan wanita hamil dengan infeksi HSV maternal. terutama yang primer.telah diberikan terapi antiviral.

PCR lebih sensitif. Diagnosis klinis dengan pemeriksaan visual tidak dapat mengidentifikasi semua wanita dengan HSV pada secret genitalnya. Wanita hamil asimptomatik dengan pasangan yang positif. pencegahan persalinan pervaginam saat infeksi primer merupakan hal yang paling penting. Penatalaksanaan/diagnosis Diagnosis herpes genitalis tergantung dari konfirmasi laboratorium dengan kultur HSV atau PCR dari lesi genital (menentukan apakah HSV-1 atau HSV-2 yang menimbulkan infeksi). yang boleh digunakan jika diduga ada peluruhan virus. Skrining Skrining universal tidak ditawarkan secara umum bagi semua wanita hamil. Tes serologis berbasis glikoprotein G spesifik (HSV-1 dan HSV-2) juga harus dilakukan. Pengecatan Tzanck (pengecatan Wright dengan material dari vesikel) merupakan pemeriksaan diagnostik yaitu tampak sel raksasa berinti banyak dan inklusi virus. Kultur HSV dapat dilakukan antara 48-72 jam setelah munculnya lesi.1). dimana satu penelitian membutuhkan ribuan wanita. Jika ada lesi genital yang dicurigai HSV terlihat pada saat aterm. Semua wanita hamil harus ditanyai mengenai riwayat herpes genital (dan oral)dirinya dan pasangannya. Tidak ada elektroda di kulit kepala. . harus ditawarkan untuk melakukan tes serologis spesifik. Sekiter 46% lesi ini positif jika dites dengan polumerase chain reaction (PCR). karena peluruhan virus terjadi secara intermiten. dan diperiksa apakah ada kemungkinan herpes aktif pada saat persalinan. Tidak ada bukti yang menyebutkan bahwa skrining pada wanita untuk mengidentifikasi resiko infeksi baru akan dapat mengurangi insidensi infeksi pada saat aterm dengan efektif. karena pengobatan neonatal tidak efektif untuk mencegah komplikasi SSp jangka panjang. forceps. dan bertahan sepanjang hidup. vaccum. tetapi barubaru ini diajukan (gambar 44. persalinan cesar perlu dilakukan. ter serologis perlu diulang dalam 6 minggu. seperti wanita hamil dengan HIV positif.Kondom dapat mencegah infeksi dari pasangan laki-lakinya. Antibodi HSV muncul dalam minggu-minggu pertama setelah infeksi. Untuk pencegahan infeksi fetal/neonatal. Lihat juga bagian terapi di bawah ini. tetapi rendahnya deteksi HSV tidak mengindikasikan rendahnya infeksi HSV. Pencegahan infeksi neonatal sangat penting. Jika sebuah infeksi baru dicurigai dan virus tidak terisolasi dari lesi. Skrining untuk mengidentifikasi wanita hamil dengan infeksi herpes asimptomatik tidak mempunyai arti tanpa adanya intervensi yang aman dan efektif untuk mencegah transmisi neonatal yang kemungkinan besar terjadi.

valacyclovir diabsorbsi lebih baik. acyclovir dan valacyclovir merupakan obat yang lebih dipilih. Semua obat antiviral ini aman bagi fetus (kategori B). peluruhan virus. Karena belum ada penelitian spesifik pada wanita hamil. Famciclovir merupakan prodrug dari penciclovir dan juga memerlukan metabolisme hepar untuk menjadi aktif. durasi nyeri dan peluruhan virus yang lebih pendek dibandingkan dengan acyclovir. Episode pertama dalam 6-12 minggu persalinan Wanita yang mengalami lesi herpes genitalis (mungkin primer) episode pertama saat atau dalam 6-12 minggu persalinan harus diobati dengan: . Valacyclovir (valtrex) merupakan progrug dari acyclovir dan membutuhkan metabolisme hepar untuk menjadi aktif. Sebagai keluarga dari famciclovir. Episode HSv pertama atau primer Wanita dengan HSV genital episode primer atau pertama harus diobati dengan:    Analgesia (sistemik dan topikal) Menjaga hygiene untuk mencegah yeast sekunder dan infeksi bakteri. Terapi supresi mengurangi insidensi lesi genital rekuren pada saat aterm.Terapi Obat antiviral Acyclovir dan antiviral untuk HSV yang lein memiliki mekanisme aksi inhibisi spesifik timidin kinase virus. Tidak ada bukti yang cukup yang mendukung terapi supresi berdasarkan HSV neonatal. dan juga keperluan melakukan persalinan cesar. waktu paruh yang panjang. karena hal ini jarang terjadi. Terapi antiviral (mempercepat penyembuhan lesi dan mengurangi peluruhan virus) dengan:   Acyclovir 3 x 400 mg po x 7-14 hari Valacyclovir (valtrex) 2 x 1gr po x 7-14 hari Mereka harus mendapatkan terapi supresi dengan acyclovir 2 x 400 mg po atau valacyclovir 4 x 500 mg po pada usia gestasi 36 minggu hingga persalinan. Penelitian pada orang dewasa yang tidak hamil menunjukkan tidak adanya perbedaan hasil akhir pengobatan dengan obat-obat ini. Obat ini menembus plasenta tetapi tidak berakumulasi di dalam fetus.

  Acyclovir intravena yang diberikan intrapartum kepada ibu dan kemudian kepada bayi. Riwayat HSV Wanita dengan riwayat HSV dan reaktivasi (rekuren)HSV simptomatik harus diobati dengan:    Analgesia (sistemik dan topikal) Menjaga hygiene untuk mencegah yeast sekunder dan infeksi bakteri. atau gejala prodromal HSV (baik primer maupun reaktivasi). karena hal ini dpat mengurangi resiko herpes neonatal Terapi supresi harian dengan acyclovir atau valacyclovir dari usia gestasi 36 minggu hingga persalinan. Terapi antiviral (mempercepat penyembuhan lesi dan mengurangi peluruhan virus) dengan:   Acyclovir 3 x 400 mg po x 5 hari Valacyclovir (valtrex) 2 x 500 mg po x 5 hari Mereka harus mendapatkan terapi supresi dengan acyclovir atau valacyclovir pada usia gestasi 36 minggu hingga persalinan. . atau komplikasi SSP perlu mendapat:  Acyclovir intravena (IV) 5-10 mg/kgBB sekali tiap delapan jam hingga perbaikan klinis. Cara persalinan  Untuk lesi genital aktif. tetapi terapi supresi merupakan pilihan yang beralasan setelah dilakukan konseling. pilihan persalinan cesar disarankan. Beberapa klinisi menyarankan persalinan cesar bahkan bagi wanita dengan HSV primer pada semester ketiga walaupun sudah diberi terapi maternal. diikuti dengan terapi antiviral oral selama total terapi 10 hari. Infeksi CMV complicated Wanita dengan HSV genital diseminata. atau dapat dimulai lebih awal jika sering terjadi episode rekuren. hepatitis. terutama pada wanita dengan lesi herpes genital episode pertamapada saat persalinan. Tidak ada bukti yang cukup yang menilai terapi supresi pada wanita dengan riwayat HSV genital dan tidak adanya rekurensi saat kehamilan. pneumonitis.

seperti lesi kulit. dan koagulasi intravaskuler diseminata (DIC). dan abnormalitas SSP. Acyclovir cocok digunakan pada ibu yang menyusui. terapi supresi dengan antiviral dimulai pada usia gestasi 36 minggu hingga persalinan untuk mengurangi keperluan dilakukannya persalinan cesar karena terdapat lesi atau deteksi virus. sianosis. Infeksi HSV neonatal berat memiliki 30% mortalitas dan hingga 40% menimbulkan kecacatan mental/neurologis pada bayi yang bertahan hidup. takipneu. chorioretinitis. Ibu dengan HSV saat persalinan harus mencuci tangannya saat akan memegang bayinya. ikterus. batuk. Pada wanita dengan HSV genital yang jelas tetapi tanpa lesi genital yang aktif atau gejala prodromal pada saat persalinan. kejang. Trias klasik adalah lesi kulit. Post partum/neonatus Tujuh puluh persen ibu dari neonatus yang terinfeksi HSV memiliki HSV asimptomatik. Episode reaktivasi/rekuren herpes genitalis yang mencul saat kehamilan bukan merupakan indikasi persalinan dengan bedah cesar. Pada wanita dengan herpes genitalis simptomatik. . bedah cesar tidak diindikasikan. Neonatus dengan infeksi mengalami gejala manifestasi saat akhir minggu pertama awal kehidupan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful