Anda di halaman 1dari 18

Pembimbing : Dr. Agung Susanto, Sp.

PD
Muhammad Nurzakky Tutut Desy Fajaria Sukma Hapsari Oleh: G0008135 G0008178 G0008242

Krisis hipertensi (Ht) adalah peningkatan tekanan

darah di atas 180/120 mmHg. Tergantung pada besar dan ada/tidaknya kerusakan organ target (KOT) serta keberadaan gejala yang terkait.
Dibagi menjadi Ht darurat/Hipertensive Emergency

(mengancam jiwa) dan Ht mendesak/Hipertensive Urgency.

Hipertensi Masalah kesehatan masyarakat dunia Menurut WHO dan ISH terdapat 600 juta

penderita hipertensi di seluruh dunia, dan 3 juta di antaranya meninggal setiap tahunnya.
Sekitar 1% penderita HT dapat mengalami krisis HT

sewaktu-waktu semasa hidupnya.

Hipertensi yang tidak terkontrol 7x lebih besar

terkena stroke, 6x lebih besar terkena CHF, dan 3x lebih besar terkena serangan jantung.
3

Secara praktis krisis hipertensi dapat diklasifikasikan

berdasarkan prioritas pengobatan:


1. Hipertensi emergensi (darurat) TD Sistolik > 180

mmHg; Diastolik > 120 mmHg disertai kerusakan dari organ target yang disebabkan oleh satu atau lebih penyakit/kondisi akut (tabel I). Keterlambatan pengobatan akan menyebabkan timbulnya kerusakan organ ireversibel atau kematian.
2. Hipertensi urgensi (mendesak) TD diastolik > 120

mmHg dan tanpa kerusakan/komplikasi minimum dari organ target. TD harus diturunkan dalam 24 jam. (tabel II).
4

1.

Anamnesis Riwayat hipertensi : lama dan beratnya. Obat anti hipertensi yang digunakan dan kepatuhannya. Usia : sering pada usia 40 60 tahun. Gejala sistem saraf (sakit kepala, pusing, perubahan mental, ansietas). Gejala sistem ginjal (gross hematuri, jumlah urine berkurang). Gejala sistem kardiovascular (adanya gagal jantung kongestif dan oedem paru). Riwayat penyakit : glomerulonefrosis, pyelonefritis. Riwayat kehamilan : tanda eklampsi.
7

2. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran TD, mencari

kerusakan organ sasaran (retinopati, gangguan neurologi, gagal jantung kongestif ). Perlu dibedakan komplikasi krisis hipertensi dengan kegawatan neurologi ataupun gagal jantung kongestif dan oedema paru. Perlu dicari penyakit penyerta lain seperti penyakit jantung koroner. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan yang segera seperti :

3.

darah : rutin, BUN, creatinine, elektrolit. urine : Urinalisa dan kultur urine. EKG : 12 Lead, melihat tanda iskemi. Foto dada : apakah ada oedema paru (dapat ditunggu setelah pengobatan terlaksana).
8

Pemeriksaan lanjutan (tergantung dari keadaan klinis dan hasil pemeriksaan yang pertama) :
Sangkaan kelainan renal : IVP, Renal angiography (kasus

tertentu), biopsi renal (kasus tertentu). Menyingkirkan kemungkinan tindakan bedah neurologi : Spinal tab, CT Scan. Bila disangsikan Feokhromositoma : urine 24 jam untuk katekholamine, metamefrin, Venumandelic Acid (VMA).

a. Rawat di ICU

b. Anamnesis singkat dan pemeriksaan fisik:


tentukan penyebab krisis hipertensi, singkirkan penyakit lain yang menyerupai krisis

HT, tentukan adanya kerusakan organ sasaran. c. Penurunan tekanan darah

10

Obat Sodium Nitroprusside

Mekanisme Vasodilator arteri dan vena direk


Vasodilator vena (dosis rendah), vasodilator arteri dan vena (dosis tinggi)

Dosis 0.25 - 10 g/kg/mnt i.v

Onset Segera

Durasi 2 - 3 menit setelah infus

Efek Samping
Mual, muntah, peningkatan tekanan intrakranial, keringat, hipotensi

Nitroglycerin

5 - 100 g/mnt i.v


50 mg bolus, dapat diulang dengan 25 - 75 mg setiap 5 menit sampai TD yang diinginkan

2 - 5 menit

5 - 10 menit

Sakit kepala, mual, muntah, hipotensi hipotensi dan syok, mual, muntah, distensi abdomen, hiperurisemia, aritmia
takikardi, meningkatkan stroke volume dan cardiac output, eksaserbasi angina

Diazolxide

Vasodilator direk arteri

1 - 2 menit

4 - 12 jam

Hydralazine Phentolamine Labetalol

vasodilator direk 5-20 mg i.v bolus : 10 menit i.v ; 20 arteri 10-40 mg i.m - 30 menit i.m
alpha andrenergic blockers Dosis 5 - 20 mg secara i.v bolus
20 - 80 mg secara i.v. bolus setiap 10 menit ; 0.5 2 mg/menit secara infus i.v.

6 - 12 jam

1 - 2 menit

10 - 30 menit

Takikardia, sakit kepala Bronkokonstriksi, muntah. demam, gangguan gastrointestinal 11

beta dan alpha blocking agent.

5 - 10 menit

3 - 6 jam

Methyldopa

alpha agonist sentral 250 - 500 mg secara dan menekan sistem infus i.v / 6 jam saraf simpatis

30 - 60 menit

12 jam

Drug of Choice pada berbagai tipe hipertensi emergensi:


Komplikasi Stroke iskemik Ensefalopati hipertensi Sindrom koroner akut Infark Cerebral Perdarahan intracerebral, pendarahan subarakhnoid Infark miokard Oedem paru akut Diseksi Aorta Eklampsia Insufisiensi renal akut Drug of Choice Labetalol Labetalol, Diazoxide Nitroglycerin, Labetalol Sodium nitroprusside, Labetalol Kontraindikasi Sodium Nitroprusside Sodium nitroprusside, Methyldopa, Clonidine Sodium nitroprusside Methyldopa, Clonidine

Sodium nitroprusside, Labetalol

Methyldopa, Clonidine

Nitroglycerine, Labetalol, Caantagonis, Sodium Nitroprusside Sodium nitroprusside Sodium nitroprusside, Labetalol Hydralazine, Diazoxide, Labetalol, Sodium nitroprusside, Labetalol,

Hydralazine, Diazoxide, Minoxidil Hydralazine, Diazoxide, Labetalol Hydralazine, Diazoxide, Minoxidil Sodium nitroprusside Diuretik, Trimethapan Trimethapan 12

Penderita dengan hipertensi urgensi tidak

memerlukan rawat inap di rumah sakit. TD diukur kembali dalam 30 menit. Bila TD tetap masih sangat meningkat, maka dapat dimulai pengobatan. Umumnya digunakan obat-obat oral anti hipertensi dalam menggulangi hipertensi urgensi ini dan hasilnya cukup memuaskan

13

Nama Obat
Captopril

Dosis

Onset / Durasi

Efek Samping

25 mg per oral, diulangi 15 30 min/6 8 jam Hipotensi, gagal ginjal jika diperlukan 25 mg sublingual sublingual 15 30 min/2 6 jam pada arteri stenosis

arteri ginjal bilateral Hipotensi, mengantuk, mulut kering

Clonidine

0.1 0.2 mg per oral, 30 60 min/8 16 jam diulangi per jam sampai dosis total 0.6 mg

Labetalol

200- 400 mg per oral, 30 min 2 jam/2 12 Bronkokonstriksi, diulangi setiap 2 3 jam hipotensi ortostatik

jam
Prazosin 1 2 mg per oral, 1 2 jam/8 12 jam diulangi per jam jika perlu Sinkope (dosis awal), palpitasi, takikardi,hipotensi 14

ortostatik

Sebelum ditemukannya obat anti hipertensi yang

efektif survival penderita hanyalah 20% dalam 1 tahun. Kematian sebabkan oleh uremia (19%), gagal jantung kongestif (13%), cerebro vascular accident (20%), gagal jantung kongestif disertai uremia (48%), infrak Miokard (1%), diseksi aorta (1%). Prognosis menjadi lebih baik berkat ditemukannya obat yang efektif dan penanggulangan penderita gagal ginjal dengan analisis dan transplantasi ginjal.

15

1.

Krisis hipertensi memerlukan penanganan yang cepat dan tepat. Prinsip pengobatan pada krisis hipertensi yaitu dengan memperkecil keusakan organ target akibat tingginya tekanan darah dan menghindari pengaruh buruk terhadap pengobatan. Hipertensi urgensi perlu dibedakan dengan hipertensi emergensi agar dapat memilih pengobatan yang memadai bagi penderita. Hipertensi emergensi disertai dengan kerusakan organ target, sedangkan hipertensi urgensi tanpa kerusakan organ sasaran /kerusakan minimal. TD sistolik >180/ diastolik > 120 mmHg. Dalam memberikan terapi perlu diperhatikan beberapa faktor : a. Apakah penderita dengan hipertensi emergensi atau urgensi. b. Mekanisme kerja dan efek hemodinamik obat.

2. 3.

4.

c. Cepatnya TD diturunkan, TD yang diinginkan dan lama kerja, dari obat.


d. Autoguralsi dan perfusi dari vital oragan(otak, jantung, dan ginjal) bila TD diturunkan. e. Faktor klinis lain : obat lain yan gdiberikan , status volum dll.

f. Effek sqamping obat

16

5. 6.

7.

8.

Besarnya penurunan TD umumnya kira-kira 25% dari MAP ataupun tidak lebih rendah dari 170-180/100mmHg. Obat anti hipertensi parenteral yang bekerja cepat, penurunan tekanan darah dapat di kontrol, dan yang sedikit efek samping merupakan obat pilihan. Pemakaian obat parenteral untuk hipertensi emergensi lebih aman karena TD dapat diatur sesuai dengan keinginan, sedangkan dengan obat oral kemungkinan penurunan TD melebihi diingini sehingga dapat terjadi hipoperfusi organ. Drug of choice untuk hipertensi emergensi adalah Sodium Nitroprusside, sedangkan Nifedipine, Clinidine, merupakan oral anti hipertensi yang terpilih untuk hipertensi urgensi.
17

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Abdul Majid. Krisis Hipertensi, Aspek Klinis dan Pengobatan. USU digital library. 2004. 1-10 Aggarwal, Monica & Khan, Ijaz. Hypertensive Crisis: Hypertensive Emergencies and Urgencies. Cardiol Clin. 2006. 24:35146. Anavekar S.N. : Johns C.I. Management of Acute Hipertensive Crissis with Clonidine (catapres ). Med. J. Aust. 1974. 1 :829-831. Bertel. O. Conen D, Radu EW, Muller J, Lang C. Nifedipine in Hypertensive Emergencies. BrMmmed J. 1983. 286; 19-21. CDC. State-specific trend in self report 3rd blood pressure screening and high blood pressure-United States 1991-1999. MWR. 2002;51(21):456. Gifford R.W. Management of Hypertensive Crisis. JAMA SEA. 1991. 266; 39-45.

7.
8. 9. 10. 11. 12. 13.

Gomez, Angelat & Bragulat, Baur. Hypertension, hypertensive crisis, and hypertensive emergency: approaches to emergency department care. Emergencias. 2010; 22: 209-219
Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC). The Seventh Report of the JNC (JNC-7). JAMA. 2003;289(19):2560-72. Rahajeng & Tuminah. Prevalensi Hipertensi dan Determinannya di Indonesia. Maj Kedokt Indon, Desember 2009;59(12): 581-759 . Rampengan, Starry. Krisis Hipertensi, hipertensi emergensi dan hipertensi urgensi. BIK Biomed. 2007. 3(4);163-8. Vaidya, Chirag & Oullette, Jason. Hypertensive Urgency and emergency. Hosp Physic. 2007; 43-50. Varon, Joseph & Marik, Paul . Clinical review: The management of hypertensive crises. Crit Care. October 2003;7(5):374-384. WHO-ISH Hypertension Guideline Committee. Guidelines of the management of hypertension. J Hypertension. 2003;21(11): 1983-92

18