P. 1
Proposal TAK Persepsi Sensori (melihat gambar)

Proposal TAK Persepsi Sensori (melihat gambar)

|Views: 675|Likes:
Dipublikasikan oleh rakatsu

More info:

Published by: rakatsu on Aug 07, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/11/2013

pdf

text

original

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI UMUM SESI 3: MELIHAT GAMBAR

OLEH : 1. AHMAD ARIF, S.Kep 2. DIAN EKA SARI, S.Kep 3. FAUZA YATIM, S.Kep 4. FITRI REZKI AMALIA, S.Kep 5. SRI PURWANTI, S.Kep 6. YUNITA AULYA SAPITRI, S.Kep

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN PROGRAM PROFESI NERS A TAHUN 2011 / 2012

PROPOSAL

PROGRAM TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK 1. Dasar Pemikiran Klien yang dirawat di rumah sakit jiwa atau ruang jiwa umumnya dengan keluhan tidak dapat diatur di rumah, misalnya amuk, diam saja, tidak mandi, keluyuran, mengganggu orang lain dan sebagainya. Setelah berada dan dirawat di rumah sakit, hal yang sama sering terjadi banyak diam, menyendiri tanpa ada kegiatan. Hari-hari perawatan dilalui dengan makan, minum obat, dan tidur. Ada diantara klien yang dengan inisiatif sendiri mencari perubahan situasi dengan jalan-jalan di rumah sakit namun ada diantara mereka yang tidak tahu jalan pulang sehingga jika tertangkap dicap sebagai klien yang melarikan diri kemudian dimasukan lagi ke dalam ruang isolasi. Apa sebenarnya yang dilakukan klien? Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu tindakan keperawatan untuk klien gangguan jiwa. Terapi ini adalah terapi yang pelaksanaannya merupakan tanggung jawab penuh dari seorang perawat. Oleh karena itu, seorang perawat khususnya perawaat jiwa harus lah mampu melakukan terapi aktivitas kelompok secara tepat dan benar. Untuk mencapai hal tersebut di atas perlu dibuat suatu pedoman pelaksanaan terapi aktivitas kelompok seperti terapi aktivitas kelompok sosialisasi, penyaluran energi, stimulasi sensori, dan orientasi realitas.

2. Tujuan Terapi aktivitas kelompok adalah suatu upaya untuk memfasilitasi psikoterapis terhadap sejumlah klien pada waktu yang sama untuk memantau dan meningkatkan hubungan interpersonal antaranggota. Secara umum tujuan terapi aktivitas kelompok adalah meningkatkan kemampuan uji realitas melalui komunikasi dan umpan balik dengan atau dari orang lain, melakukan sosialisasi, meningkatkan kesadaran terhadap hubungan reaksi emosi dengan tindakan atau perilaku defensif, dan meningkatkan motivasi untuk kemajuan fungsi kognitif dan afektif. Secara khusus, tujuannya adalah meningkatkan identitas diri, menyalurkan emosi secara konstruktif, meningkatkan keterampilan hubungan interpersonal atau sosial. Disamping itu tujuan rehabilitasinya adalah meningkatkan keterampilan ekspresi diri, sosial, meningkatkan kepercayaan diri, empati, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pemecahan masalah.

3. Karakteristik Pasien Berdasarkan pengamatan dan kajian status klien maka karakteristik klien yang dilibatkan dalam terapi aktivitas kelompok ini adalah klien dengan masalah keperawatan seperti resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan; perilaku kekerasan; defisit perawatan diri; isolasi sosial:menarik diri; dan perubahan persepsi sensori.

4. Landasan Teori a. Model Terapi Aktivitas Kelompok Focal conflic model Dikembangkan berdasarkan konflik yang tidak disadari dan berfokus pada kelompok individu. Tugas leader adalah membantu kelompok memahami konflik dan membantu penyelesaian masalah, misal adanya perbedaan pendapat antaranggota, bagaimana masalah ditanggapi anggota, dan leader mengarahkan alternatif penyelesaian masalah. Model komunikasi Dikembangkan berdasarkan teori dan prinsip komunikasi, bahwa tidak efektifnya komunikasi akan membawa kelompok menjadi tidak puas. Tujuan membantu meningkatkan keterampilan interpersonal dan sosial anggota kelompok. Tugas leader adalah memfasilitasi komunikasi yang efektif antaranggota dan mengajarkan pada kelompok bahwa perlu adanya komunikasi dalam kelompok, anggota bertanggung jawab terhadap apa yang diucapkan, komunikasi pada semua jenis baik verbal, non-verbal, terbuka dan tertutup, serta pesan yang disampaikan harus dipahami orang lain. b. Model interpersonal Tingkah laku (pikiran, perasaan, dan tindakan) digambarkan melalui hubungan interpersonal dan kelompok. Pada model ini juga menggambarkan sebab akibat tingkah laku anggota merupakan akibat dari tingkah laku anggota yang lain. Terapis bekerja dengan individu dan kelompok, anggota belajar dari interaksi

antar anggota dan terapis. Melalui proses ini tingkah laku atau kesalahan dapat dikoreksi dan dipelajari. Model psikodrama Dengan model ini dapat memotivasi anggota kelompok untuk berakting sesuai dengan peristiwa yang baru terjadi atau peristiwa yang lalu sesuai peran yang diperagakan. Anggota diharapkan dapat memainkan peran sesuai peristiwa yang pernah dialami. c. Fokus Terapi Aktivitas Kelompok Orientasi realitas Maksudnya adalah memberikan terapi aktivitas kelompok yang mengalami gangguan orientasi terhadap orang, waktu, dan tempat. Tujuan adalah klien mampu mengidentifikasi stimulus internal (pikiran, perasaan, sensasi somatik) dan stimulus eksternal (iklim, bunyi, situasi alam sekitar), klien dapat membedakan antara lamunan dan kenyataan, pembicaraan klien sesuai realitas, klien mampu mengenal diri sendiri dan klien mampu mengenal orang lain, waktu, dan tempat. Karakteristik klien gangguan orientasi realita (GOR), halusinasi, waham, ilusi, dan depersonalisasi yang sudah dapat berinteraksi dengan orang lain, klien kooperatif, dapat berkomunikasi verbal dengan baik, dan kondisi fisik dalam keadaan sehat. Sosialisasi Maksudnya adalah memfasilitasi psikoterapis untuk memantau dan meningkatkan hubungan interpersonal, memberi tanggapan terhadap orang lain, mengekspresikan ide dan tukar persepsi dan menerima stimulus eksternal

yang berasal dari Iingkungan. Tujuan meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota kelompok, berkomunikasi, saling memperhatikan, memberikan tanggapan terhadap orang lain, mengekspresikan ide, serta menerima stimulus eksternal. Karakteritistik klien yang kurang berminat atau tidak ada inisiatif untuk mengikuti kegiatan ruangan, sering berada di tempat tidur, menarik diri, kontak sosial kurang, harga diri rendah, gelisah, curiga, takut, dan cemas, tidak ada inisiatif memulai pembicaraan, menjawab seperlunya, jawaban sesuai pertanyaan, dan dapat membina kepercayaan, mau berinteraksi, dan sehat fisik. Stimulasi persepsi Maksudnya adalah membantu klien yang mengalami kemunduran orientasi, stimulasi persepsi dalam upaya memotivasi proses berpikir dan afektif, serta mengurangi orientasi pendapat perilaku maladaptif. Tujuan perhatian, orang meningkatkan intelektual, lain dan

kemampuan mengemukakan

realita, dan

memusatkan menerima

pendapat

mengemukakan perasaannya. Karakteristik klien yaitu dengan gangguan persepsi yang berhubungan dengan nilai-nilai menarik diri dan realita, inisiatif atau ide-ide yang negatif, kondisi fisik sehat, dapat berkomunikasi verbal, kooperatif, dan mengikuti kegiatan. Stimulasi sensori Maksudnya adalah menstimulasi sensori pada klien yang mengalami kemunduran sensoris. Tujuan meningkatkan kemampuan sensori, memusatkan perhatian, kesegaran jasmani, dan mengekspresikan perasaan.

Penyaluran energi Maksudnya adalah untuk menyalurkan energi secara konstruktif. Tujuan menyalurkan energi dari destruktif menjadi konstruktif, mengekspresikan perasaan, dan meningkatkan hubungan interpersonal. d. Tahap-Tahap Dalam Terapi Aktivitas Kelompok. Menurut Yalom yang dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1995, fase-fase dalam terapi aktivitas kelompok adalah sebagai berikut: 1. Pre-kelompok Dimulai dengan membuat tujuan, merencanakan, siapa yang menjadi leader, anggota, dimana, kapan kegiatan kelompok tersebut dilaksanakan, proses evaluasi pada anggota dan kelompok, menjelaskan sumber-sumber yang diperlukan kelompok seperti proyektor dan jika memungkinkan biaya dan keuangan. 2. Fase awal Pada fase ini terdapat 3 kemungkinan tahapan yang terjadi yaitu orientasi, konflik, atau kebersamaan. Orientasi. Anggota mulai mengembangkan sistem sosial masing-masing, dan leader mulai menunjukkan rencana terapi dan mengambil kontrak dengan anggota. Konflik Merupakan masa sulit dalam proses kelompok, anggota mulai memikirkan siapa yang berkuasa dalam kelompok, bagaimana peran anggota, tugasnya dan saling ketergantungan yang akan terjadi.

Kebersamaan Anggota mulai bekerja sama untuk mengatasi masalah, anggota mulai menemukan siapa dirinya. 3. Fase kerja Pada tahap ini kelompok sudah menjadi tim. Perasaan positif dan negatif dikoreksi dengan hubungan saling percaya yang telah dibina, bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati, kecemasan menurun, kelompok lebih stabil dan realistik, mengeksplorasikan lebih jauh sesuai dengan tujuan dan tugas kelompok, dan penyelesaian masalah yang kreatif. 4. Fase terminasi Ada dua jenis terminasi (akhir dan sementara). Anggota kelompok mungkin mengalami terminasi premature, tidak sukses, atau sukses. e. Peran perawat dalam terapi aktivitas kelompok. 1. Mempersiapkan program terapi aktivitas kelompok. 2. Sebagai leader dan co-leader 3. Sebagai fasilitator 4. Sebagai observer 5. Mengatasi masalah yang timbul pada saat pelaksanaan

5. Susunan Organisasi a. Leader  Memotivasi anggota untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.  Memotivasi anggota untuk aktif dalam diskusi aktivitas kelompok.

 Menciptakan suasana dimana anggotanya dapat menerima perbedaan dalam perasaan dan perilaku dengan anggota lain.  Menetapkan tata tertib bagi anggota kelompok demi kelancaran acara. b. Co-leader  Menyampaikan informasi dari fasilitator ke pemimpin TAK.  Mengingatkan pemimpin bila TAK menyimpang.  Mengingatkan pemimpin lamanya waktu kegiatan. c. Fasilitator  Memotivasi klien kurang aktif ataupun yang tidak aktif dalam TAK.  Menjadi contoh bagi klien selama proses kegiatan TAK. d. Observer  Mengamati jalannya proses kegiatan sebagai acuan untuk evaluasi.  Mencatat perkembangan dan perubahan perilaku verbal dan non-verbal klien selama berlangsungnya kegiatan TAK.

6. Pelaksanaan Pelaksanaan dan uraian kegiatan sesuai macam terapi aktivitas kelompok dapat dilihat pada lampiran-lampiran.

7. Penutup Demikian proposal ini dibuat dalam meningkatkan peran dan fungsi perawat profesional dalam menangani klien dengan masalah gangguan jiwa dalam bentuk

terapi aktivitas kelompok. Semoga bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi atau tim kesehatan lainnya.

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) STIMULASI PERSEPSI UMUM SESI 3 Sesi 3 : Melihat gambar ❖Jenis kegiatan: melihat gambar

❖Kriteria klien 1. Klien halusinasi yang telah dapat mengontrol halusinasinya. 2. Klien yang kebingungan; tak kenal dirinya; salah mengenal orang lain; tempat dan waktu. 3. Klien sehat secara fisik

 Tujuan Khusus 1. Klien dapat menyebutkan nama gambar yang dilihat. 2. Klien dapat memberikan tanggapan terhadap pendapat klien.

 Tujuan Umum 1. Klien dapat mempersepsikan stimulus yang dipaparkan kepadanya dengan tepat. 2. Klien dapat menyelesaikan masalah yang timbul dari stimulus yang dialami.

 Metode 1. Dinamika kelompok 2. Diskusi dan tanya jawab

 Setting 1. Terapis dank lien duduk bersama dalam lingkaran. 2. Ruangan nyaman dan tenang.

 Alat/media 1. Beberapa gambar 2. Buku catatan klien 3. Jadwal kegiatan klien

❖Pembagian Tugas  Leader : Ahmad Arif, S.Kep

 Co- leader : Fauza Yatim, S.Kep  Fasilitator : Dian Eka Sari, S.Kep Fitri Rezki Amalia, S.Kep Sri Purwanti, S.Kep  Observer Fase Orientasi  Salam terapeutik : Salam dari terapis kepada klien : Yunita Aulya Sapitri, S.Kep

 Kontrak

: waktu 45 menit, menjelaskan tujuan kegiatan yaitu melihat gambar, dan menjelaskan aturan main.

 Tempat

: Ruang Akasia RSJD Sambang Lihum Gambut Kabupaten Banjarmasin

 Topik

: Stimulasi persepsi sesi 3 (melihat gambar)

Aturan main: 1. Menjelaskan tujuan kegiatan. 2. Setiap klien harus mengikuti permainan dari awal sampai dengan akhir. 3. Jika ada klien yang ingin ke kamar kecil atau meninggalkan kelompok, harus memimpin izin kepada terapis. 4. Lama kegiatan 45 menit.

Fase Kerja 1. Tentukan beberapa gambar yang umum dikenal orang. 2. Tunjukkan gambar pada klien (jika besar dapat di depan saja, jika kecil diedarkan). 3. Tanyakan pendapat seorang klien lain terhadap pendapat klien sebelumnya. 4. Berikan pujian/penghargaan atas kemampuan klien memberi pendapat. 5. Ulangi langkah 3, 4, dan 5 sampai semua klien mendapat kesempatan. 6. Beri kesimpulan pada tiap gambar yang dipaparkan.

Fase Terminasi  Evaluasi : 1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK 2. Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok  Tindak Lanjut 1. Menganjurkan klien melatih melihat gambar (di TV, koran, majalah, album) dan mendiskusikannya pada orang lain. 2. Membuat jadwal melihat gambar  Kontrak yang akan datang 1. 2. Terapis membuat kontrak untuk TAK yang akan datang. Menyepakati waktu dan tempat

LEMBAR PENILAIAN

Aspek yang dinilai Memberi pendapat 1 tentang gambar Memberi tanggapan 2 terhadap pendapat klien Mengikuti kegiatan 3 sampai selesai Jumlah Petunjuk :

Nama klien Abdn Adr Sml Krn Iyd Mnc Ucp Shr Said Spn Abd1 Abdr Hfz Slh Fhm Lmb Uda Abd2

                                
2 3 1 3 3 3 2 2 1 3 3

                    
2 3 3 2 3 3 3

1. Di bawah judul nama klien, tulis nama panggilan klien yang ikut TAK. 2. Untuk tiap klien, semua aspek dinilai dengan memberi tanda () jika ditemukan pada klien atau () jika tidak ditemukan. 3. Jumlah kemampuan yang ditemukan, jika nilai 3 atau 2 klien mampu, dan jika nilainya 0 atau 1 klien belum mampu.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->