Anda di halaman 1dari 26

Draf V

NASKAH AKADEMIK STANDAR PENGELOLA TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PMPTK) DIREKTORAT PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PENDIDIKAN NONFORMAL (PTK-PNF) 2008

DAFTAR ISI

A. B.

Latar Belakang......................................................................................1 Dasar Pelaksanaan Penyusunan Standar Kualifikasi dan Kompetensi Pengelola TBM ............. 3 1. Landasan Yuridis ............. 4 2. Landasan Konseptual ............. 6 3. Landasan Empiris ............. 9

C. D. E. F. G. H. I.

Ruang Lingkup 16 Pengertian 17 Tujuan. . 18 Manfaat 18 Peran TBM ........... 19 Tugas Pengelola TBM 20 Penutup 21

Daftar Pustaka

NASKAH AKADEMIK STANDAR PENGELOLA TAMAN BACAAN MASYARAKAT

A. Latar Belakang Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dilaksanakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat melalui berbagai bentuk pendidikan baik formal, nonformal, maupun informal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan yang dilaksanakan oleh keluarga dan lingkungan. Pendidikan nonformal memiliki karakteristik sesuai dengan kebutuhan sasaran dan lebih bersifat fleksibel dalam memberikan layanan pendidikan bagi warga masyarakat dari berbagai lapisan. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pasal 25 ayat (1) menyebutkan bahwa pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Hal ini berarti pendidikan nonformal memiliki peran penting dalam rangka mencerdaskan kebidupan bangsa, terutama dalam memberikan layanan pendidikan bagi warga masyarakat yang karena sesuatu hal tidak dapat mengikuti pendidikan formal. Sasaran pendidikan nonformal antara lain warga masyarakat yang tidak pernah sekolah atau penyandang buta aksara, putus sekolah yang disebabkan oleh berbagai hal, penduduk usia produktif yang tidak sekolah dan tidak bekerja, warga masyarakat yang membutuhkan kecakapan hidup tertentu, serta warga masyarakat lainnya yang membutuhkan wawasan, pengetahuan atau keterampilan tertentu guna meningkatkan

Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

taraf kehidupannya. Media penunjang pelaksanaan pendidikan nonformal diantaranya Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yaitu sebagai lembaga yang dibentuk dan diselenggarakan oleh dan untuk masyarakat guna memberikan kemudahan akses dalam memperoleh bahan bacaan bagi warga masyarakat. Dengan demikian, keberadaan lembaga TBM merupakan bagian dan kebutuhan masyarakat yang semakin berkembang sehingga memerlukan berbagai informasi baik berupa wawasan, pengetahuan, maupun keterampilan sesuai karakteristik dan potensi daerah setempat. Awal terbentuknya TBM dimaksudkan untuk mendukung gerakan pemberantasan buta aksara, membantu mempercepat tumbuhnya aksarawan baru sekaligus memelihara dan meningkatkan kemampuan baca tulis baginya. Perkembangan selanjutnya, TBM diarahkan untuk memperluas akses dalam memberikan kesempatan bagi warga masyarakat guna mendapatkan wawasan, pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk meningkatkan taraf kehidupannya. Selain itu, keberadaan TBM diharapkan juga dapat berperan dalam rangka menyiapkan warga masyarakat menghadapi era globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan pengetahuan dan teknologi, serta mudahnya interaksi antar manusia dari berbagai belahan dunia. Menyadari pentingnya fungsi TBM tersebut, perlu dilakukan penataan dari aspek kelembagaan, sehingga TBM dapat berfungsi secara optimal. Penataan kelembagaan dimaksud antara lain terkait dengan manajemen kelembagaan, penyediaan dan penataan koleksi baik berupa bahan bacaan maupun media edukasi, pengelola yang terampil dan berdedikasi, serta sarana pendukung yang memadai. Guna mewujudkan manajemen kelembagaan TBM yang efektif diperlukan pengelola yang memiliki kualifikasi dan kompetensi sesuai dengan standar yang ditetapkan, sehingga dapat berperan dalam mengelola TBM yang karakteristiknya sangat beragam mulai dari yang canggih dan kompleks dengan koleksi bahan bacaan yang bervariasi sampai bentuk yang sederhana dengan koleksi terbatas dan sasaran

Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

layanan dari berbagai lapisan masyarakat di pedesaan hingga perkotaan. Dengan adanya pengelola TBM yang memiliki kualifikasi dan kompetensi memadai, diharapkan TBM dapat berfungsi secara optimal dan berdayaguna bagi warga masyarakat. Untuk memenuhi harapan tersebut, maka pengelola TBM diarahkan dapat menguasai kompetensi kepribadian, sosial, manajerial, kewirausahaan, dan aspek lain yang diperlukan. Sampai saat ini, belum ada standar bagi pengelola TBM yang dapat digunakan sebagai acuan dalam rangka rekrutmen dan peningkatan kompetensinya. Berdasarkan pemikiran di atas, maka perlu disusun standar pengelola TBM baik dari aspek kualifikasi maupun kompetensinya. Untuk itu, Direktorat PTK-PNF dalam tahun 2008 menetapkan program penyusunan draf standar pengelola TBM sebagai masukan bagi Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dalam merumuskan Standar Pengelola TBM yang selanjutnya ditetapkan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional.

B. Dasar Pelaksanaan Penyusunan Standar Pengelola TBM Penyusunan standar pengelola TBM didasarkan pada landasan yuridis, konseptual, dan empiris yang dapat dijelaskan sebagai berikut. 1. Landasan Yuridis Landasan yuridis penyusunan standar pengelola TBM adalah: a. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 yang telah diamandemen, pada Pasal 31 tentang Pendidikan Nasional mengamanatkan: (1) setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan; (2) setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; (3) pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang

Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

diatur

dengan

undang-undang;

(4)

negara

memprioritaskan

anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; (5) pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. b. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 1 ayat (1) menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pada ayat (2) disebutkan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Pasal 1 ayat (16) menjelaskan bahwa pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Pasal 5 ayat (3) menjelaskan bahwa warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus. Pasal 5 ayat (5) setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat. Pasal 8 mengamanatkan bahwa masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. c. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Daerah yang memberikan wewenang kepada

Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

Pemerintah Daerah untuk melaksanakan tugas pemerintahan diantaranya bidang pendidikan baik formal, nonformal maupun informal. d. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pada Pasal 22 ayat (4) menyebutkan bahwa masyarakat dapat menyelenggarakan perpustakaan umum untuk memfasilitasi terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Pasal 43 menyebutkan bahwa masyarakat berperan serta dalam pembentukan, penyelenggaraan, pengelolaan, pengembangan, dan pengawasan perpustakaan. Pasal 48 ayat (1) menyebutkan bahwa pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat. Pasal 48 ayat (2) menyebutkan bahwa pembudayaan kegemaran membaca pada keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh Pemerintah dan pemerintah daerah melalui buku murah dan berkualitas. Pasal 48 ayat (3) menyebutkan bahwa pembudayaan kegemaran membaca pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mengembangkan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai proses pembelajaran. Pada ayat (4) disebutkan bahwa pembudayaan kegemaran membaca pada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui penyediaan sarana perpustakaan di tempat-tempat umum yang mudah dijangkau, murah, dan bermutu. Pada Pasal 49 menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah, dan masyarakat mendorong tumbuhnya taman bacaan masyarakat, dan rumah baca untuk menunjang pembudayaan kegemaran membaca. Pasal 50 menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi dan mendorong pembudayaan kegemaran membaca sebagaimana diatur dalam Pasal 48 ayat (2) sampai dengan ayat (4) dengan menyediakan bahan bacaan bermutu, murah, dan terjangkau serta menyediakan sarana dan prasarana perpustakaan yang mudah diakses.

Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

e. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peran serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional. Pada pasal 1 ayat (5) menjelaskan bahwa peran serta masyarakat adalah berbagai kegiatan masyarakat dalam pendidikan nasional. Fungsi peran serta masyarakat disebutkan dalam Pasal 2, bahwa peran serta masyarakat meningkatkan, berfungsi dan ikut memelihara, menumbuhkan, nasional. mengembangkan pendidikan

Sedangkan tujuan peran serta masyarakat disebutkan dalam pasal 3, bahwa peran serta masyarakat bertujuan mendayagunakan kemampuan yang ada pada masyarakat bagi pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Salah satu bentuk peran serta masyarakat dicantumkan pada pasal 4 ayat (7), yaitu pengadaan dan pemberian bantuan buku pelajaran dan peralatan pendidikan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. 2. Landasan Konseptual Penyelenggaraan pendidikan merupakan proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Dalam proses pendidikan setiap peserta didik mengembangkan potensi melalui proses interaksi dengan pendidik, kawan sebaya, lingkungan, dan sumberdaya atau media belajar lainnya. Proses pendidikan ini akan memungkinkan peserta didik menghayati pengalaman belajar untuk mewujudkan empat pilar pendidikan, yaitu belajar untuk mengetahui, belajar untuk mampu melakukan, belajar menjadi diri sendiri, dan belajar untuk hidup bermasyarakat. Dalam proses pendidikan diperlukan sarana prasarana pendukung untuk memfasilitasi peserta didik dalam menggali ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu sarana prasarana pendukung tersebut adalah perpustakaan. Melalui perpustakaan peserta didik dapat menggali berbagai ilmu pengetahuan. Dengan demikian, peserta didik akan mendapatkan pengalaman belajar yang langsung dari berbagai literatur. Selain itu, dengan tersedianya perpustakaan

Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

sebagai sumber ilmu maka dimungkinkan peserta didik dapat berkembang lebih cepat karena membuka jendela dunia melalui membaca. Membaca merupakan upaya yang ampuh untuk memperoleh akses langsung guna memperoleh ilmu dan pengetahuan serta penguasaan teknologi. Upaya tersebut, sangat bergantung pada intensitas minat baca bagi setiap individu. Minat baca merupakan wujud kecenderungan jiwa yang dapat membuat seseorang menjadi senang dan tertarik terhadap bahan bacaan yang dipilihnya. Menurut Bond dalam Sumadi (1987) minat baca adalah gambaran tentang cakupan isi, aktivitas, dan intensitas seseorang dalam membaca bacaan yang telah dipilih. Tingkers (1975: 309) mendefinisikan minat baca sebagai kecenderungan jiwa yang diperoleh secara bertahap untuk merespon secara selektif, positif dan disertai dengan rasa puas terhadap hal-hal khusus yang dibaca. Dengan demikian, minat baca adalah suatu kecenderungan jiwa yang diperoleh dengan cara bertahap untuk merespon kegiatan secara selektif dan positif, yang membuat seseorang menjadi tertarik dan merasa puas terhadap bacaan yang dipilihnya. Selanjutnya Suryabrata (1989:18) mengatakan bahwa kebiasaan membaca seseorang diakui atau tidak sangat berkaitan dengan minat baca yang dimilikinya. Lebih jauh ia mengatakan bahwa seseorang yang berminat terhadap sesuatu akan bersungguh-sungguh melakukan sesuatu yang diminatinya. Begitu juga dengan minat baca seseorang terhadap suatu bacaan. Apabila ia berminat terhadap sesuatu bacaan, maka akan bersungguh-sungguh membaca bahan bacaan yang diminatinya untuk mendapatkan berbagai informasi atau tujuan lain dari hasil bacaan itu. Selanjutnya David (1984:199) mengatakan bahwa pada masa sekarang dan akan datang kegiatan membaca harus digalakkan sejalan dengan pesatnya perkembangan pendidikan itu sendiri. Ia menambahkan bahwa salah satu usaha untuk mencerdaskan

Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

10

kehidupan bangsa adalah melalui kegemaran dan kegiatan membaca. Karena media bacaan yang tersedia tidak akan berarti apabila tidak dibaca. Minat baca menurutnya akan berperan sebagai kekuatan yang akan mendorong (motivating force) seseorang untuk belajar. Sementara itu, pemerintah perlu mendukung dan memfasilitasi masyarakat untuk mendapatkan dan mengakses informasi seluasluasnya. Dalam hal ini, pemerintah telah menetapkan tiga pilar pembangunan pendidikan nasional, yaitu (a) pemerataan dan perluasaan akses pendidikan, (b) peningkatan mutu, relevansi dan daya saing, dan (c) peningkatan tata kelola, akuntabilitas, dan pencitraan. Pemerataan dan perluasan akses pendidikan diarahkan pada upaya memperluas daya tampung satuan pendidikan yang sesuai dengan prioritas nasional, serta memberikan kesempatan yang sama bagi semua peserta didik dari golongan masyarakat yang berbeda baik secara sosial ekonomi, gender, lokasi tempat tinggal dan tingkat kemampuan intelektual serta kondisi fisik. Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas penduduk Indonesia untuk dapat belajar sepanjang hayat dalam rangka peningkatan daya saing bangsa di era global. Kebijakan untuk pemerataan dan perluasaan akses pendidikan dilakukan melalui penguatan program-program, diantaranya; (1) kebijakan strategis untuk mendukung program wajib belajar. Program ini sangat strategis untuk menjangkau peserta didik yang memiliki berbagai keterbatasan dalam mengikuti pendidikan formal, terutama anak-anak dari keluarga tidak mampu, daerah terpencil, daerah tertinggal, daerah konflik, atau anak-anak yang terpaksa bekerja; dan (2) peningkatan peranserta masyarakat dalam perluasan akses pendidikan secara terpadu. Peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing di masa depan diharapkan dapat memberikan dampak bagi perwujudan eksistensi manusia dan interaksinya sehingga dapat hidup bersama dalam

Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

11

keragaman sosial dan budaya. Selain itu, upaya peningkatan mutu dan relevani dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat serta daya saing bangsa. Kebijakan strategis yang akan ditempuh dalam rangka peningkatan mutu relevansi, dan daya saing, adalah (1) meningkatkan kualifikasi pendidikan dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dan (2) nonformal secara berkesinambungan;

meningkatkan sistem insentif bagi pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal secara bertahap. Kebijakan strategis dalam rangka peningkatan tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan, adalah (1) meningkatkan mutu layanan sehingga dapat optimal dalam melaksanakan tugas pokoknya; (2) mengembangkan sistem pembinaan karir dan penilaian kinerja bagi pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal secara transparan dan akuntabel; (3) mengembangkan penilaian kinerja berbasis mutu; (4) mengembangkan sistem penghargaan, kesejahteraan dan perlindungan bagi pengelola TBM; dan (5) mengembangkan institusi yang lebih kondusif guna mewujudkan transparansi dan akuntabel dalam pengelolaan program TBM. 3. Landasan Empiris TBM telah ada sejak tahun 50-an yang dikenalkan oleh Jawatan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan dengan nama Taman Pustaka Rakyat (TPR) yang dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan, yaitu; Tingkat A sebagai TPR tingkat propinsi, tingkat B sebagai TPR tingkat kabupaten, dan Tingkat C sebagai TPR tingkat kecamatan. Selanjutnya, keberadaan TPR dikembangkan kembali oleh Direktorat Pendidikan Masyarakat Depdiknas pada tahun 1992 yang dikenal dengan nama Taman Bacaan Masyarakat atau TBM. Tujuan utamanya adalah untuk mendukung program keaksaraan sehingga para aksarawan baru (warga belajar/masyarakat yang baru mengenal baca, tulis dan hitung secara sederhana) mendapat layanan bahan

Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

12

bacaan untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan membaca sehingga mereka tidak kembali menjadi buta aksara. Dewasa ini, TBM sebagai lembaga yang lahir dari dan untuk masyarakat merupakan potensi dalam memberdayakan warga belajar dan masyarakat umum dalam memperoleh informasi dan pengetahuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Namun dalam kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa TBM belum berfungsi secara optimal karena berbagai faktor, terutama pengelola TBM yang sebagian besar belum sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Kondisi TBM saat ini dan harapan yang diinginkan untuk masa yang akan datang dapat digambarkan sebagai berikut. a. Kondisi TBM Saat ini TBM memberikan layanan dengan menyediakan bahan bacaan kepada masyarakat sekitarnya. Pengelolaan TBM pada umumnya lebih luwes (fleksibel) dalam arti tidak menggunakan kelengkapan administrasi dan prosedur peminjaman seperti perpustakaan. TBM dapat menambah koleksinya sewaktu-waktu dan dapat pula menyewakan bahan bacaan kepada peminjam apabila diperlukan waktu lebih lama. TBM dapat menggunakan rumah, kios, atau ruangan khusus sesuai dengan kemampuan pengelolanya. Data sebaran TBM berdasarkan Propinsi Tahun 2007 dapat dilihat pada tabel 1 berikut. Tabel 1. Sebaran TBM Berdasarkan Propinsi Tahun 2007
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belakang Propinsi Jumlah TBM 21 68 38 5 8 4 26 7 Jumlah Kab/Kota 21 25 17 11 6 10 14 7 Jumlah Kab/Kota yg Memiliki TBM 2 12 11 3 3 2 9 2 64.71 27.27 50 20 64.29 28.57 Persentase Kab/Kota yg Memiliki TBM 9.52 48

Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

13

No 9. 10 . 11 . 12 . 13 . 14 . 15 . 16 . 17 . 18 . 19 . 20 . 21 . 22 . 23 . 24 . 25 . 26 . 27 . 28 . 29 . 30 .

Propinsi Bengkulu Lampung DKI Jakarta Banten Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Jumlah

Jumlah TBM 11 11 31 48 173 118 23 97 9 118 3 81 17 22 3 15 6 41 6 1 16 2 1.029

Jumlah Kab/Kota 9 10 5 6 25 35 5 38 5 9 16 12 13 15 8 5 10 26 11 8 9 19 410

Jumlah Kab/Kota yg Memiliki TBM 4 6 5 4 14 19 5 16 5 5 3 6 7 4 2 2 2 13 3 1 2 2 174

Persentase Kab/Kota yg Memiliki TBM 44.44 60 100 66.67 56 54.29 100 42.11 100 55.56 18.75 50 53.85 26.67 25 40 20 50 27.27 12.50 22.22 10.53 42.44

Sumber: Direktorat Pendidikan Masyarakat (Depdiknas, 2007)


Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

14

Berdasarkan data di atas menunjukan bahwa jumlah TBM di setiap provinsi persentasenya masih relatif kecil dibanding dengan jumlah kabupaten/kota, hanya dua provinsi yang semua kabupaten/kota 50% dan memiliki TBM (100%), yaitu DKI Jakarta dan Bali. besar provinsi kurang dari 50% jumlah

Kemudian hanya enam provinsi yang mencapai persentase diatas sebagian kabupaten/kota yang memiliki TBM. Selain itu, sebaran jumlah TBM yang tidak merata pada setiap Kabupaten/Kota di masing-masing Provinsi. Di samping jumlah TBM pada tabel di atas, kemungkinan masih banyak TBM yang belum terdata, karena data sebelumnya (2006) terdaftar di Direktorat Pendidikan Masyarakat sebanyak 2.928 TBM walaupun ketepatan jumlah itu belum diverifikasi. Sungguhpun demikian, jumlah TBM masih belum dapat melayani masyarakat yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah TBM tersebut masih jauh dari kebutuhan apabila dibanding dengan jumlah kecamatan, lebih-lebih apalagi dibanding dengan jumlah desa di Indonesia. Dengan demikian jumlah TBM yang ada sat ini belum dapat menjangkau untuk melayani kebutuhan bahan bacaan bagi seluruh masyarakat sampai ke tingkat kecamatan dan desa. Walaupun belum tersedia data yang akurat tentang jumlah koleksi di TBM dan pelayanan yang diberikan, namun berdasarkan laporan dari hasil pengamatan (2007) menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil TBM yang memiliki koleksi bahan bacaan yang baik dan dapat memberikan layanan yang memuaskan kepada masyarakat. Sebagian besar TBM koleksi bahan bacaannya sedikit sekali dan didominasi buku-buku paket A dan B. Sementara ketersediaan berbagai jenis bahan bacaan merupakan prasyarat dalam upaya mewujudkan masyarakat gemar membaca dan belajar. TBM telah dikembangkan sejak tahun 1950-an, namun pada umumnya pengelolaan TBM masih dilakukan dengan sangat

Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

15

sederhana. Jarang sekali TBM dikelola oleh tenaga penuh waktu dan memiliki pengalaman dalam mengelola perpustakaan, sehingga belum memungkinkan TBM dapat memberikan layanan yang memuaskan dan dalam upaya memasyarakatkan gemar membaca dan belajar secara optimal. Hal ini dipengaruhi oleh latar belakang tingkat pendidikan dan disiplin keilmuan yang masih beragam. Gambaran latar belakang pendidikan Pengelola TBM tahun 2007 dapat dilihat pada tabel 2 berikut.

Tabel 2. Sebaran Latar Belakang Pendidikan Pengelola TBM Tahun 2007


No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tingkat Pendidikan SLTP ke bawah SLTA Diploma S1 S2 Lain-lain Jumlah Jumlah 13 237 131 451 17 180 1.029 Persentase 1,2 23 12,7 43,8 1,6 17,4

Sumber: Direktorat Pendidikan Masyarakat (Depdiknas, 2007) Tabel di atas menunjukkan adanya variasi yang beragam terhadap perbedaan latar belakang pendidikan Pengelola TBM. Dimana latar belakang pendidikan pengelola TBM yang lebih dominan adalah sarjana (S1) berjumlah 451 orang atau 43,8 %, berpendidikan SLTA berjumlah 237 atau 23 %, berpendidikan diploma berjumlah 131 atau 12,7 %, berpendidikan pascasarjana (S2) berjumlah 1,6 %, berpendidikan SLTP ke bawah berjumlah 13 orang atau 1,2 %, dan berpendidikan lain-lain berjumlah 180 atau 17,4 %. Pertumbuhan jumlah TBM juga belum selaju yang diharapkan seperti disajikan dalam tabel 3. Beberapa TBM telah memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung pelayanan bahan
Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

16

bacaan dan kegiatan belajar. Namun sebagian besar TBM masih menggunakan sarana dan prasarana yang sederhana. Tabel 3. Sebaran Tahun Berdirinya TBM dari Tahun 2000 hingga 2008 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tahun 2000 ke bawah 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Jumlah 64 25 70 104 179 175 234 Persentase 6,2 2. 4 6,8 10 17,3 17 22,7

Sumber: Direktorat Pendidikan Masyarakat (Depdiknas, 2007) Dari data pada tabel di atas menunjukkan bahwa penambahan jumlah TBM yang sangat signifikan terjadi dari tahun 2001 s.d. 2006. Pada tahun 2001 terdapat 25 TBM yang berdiri atau 2,4 %, tahun 2002 terdapat 70 TBM yang berdiri atau 6,8 %, tahun 2003 terdapat 104 TBM yang berdiri atau 10 %, tahun 2004 terdapat 179 TBM yang berdiri atau 17,3 %, tahun 2005 terdapat 175 TBM atau 17 %, sedangkan tahun 2006 telah berdiri 234 TBM atau 22,7%. b. Keadaan yang dikehendaki Dalam rangka mewujudkan masyarakat gemar membaca dan belajar sehingga menjadi masyarakat terdidik, diperlukan berbagai sumber bacaan yang lengkap sesuai dengan kebutuhannya baik pada jalur pendidikan formal, nonformal maupun informal. Bahan bacaan dapat disediakan melalui perpustakaan dan TBM. Di samping jumlah judul buku yang banyak dan bervariasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pengguna, penyebarannya juga harus dapat menjangkau seluruh wilayah pemukiman masyarakat baik tingkat kecamatan maupun pedesaan.
Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

17

Guna memperkuat keberadaan dan peran TBM, maka dimasa depan perlu dilakukan revitalisasi kelembagaan, ketenagaan dan manajemen terutama yang terkait dengan; 1) Dasar hukum kelembagan yang kuat 2) Koleksi bahan bacaan dalam jumlah, jenis, dan bentuk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang dilayaninya 3) Petugas yang terampil memberikan layanan bahan bacaan kepada masyarakat, mendorong masyarakat untuk gemar membaca dan belajar serta mengembangkan kegiatan TBM dengan mendayagunakan berbagai sumber daya yang ada 4) Sarana dan prasarana untuk mendukung berbagai jenis layanan dan kegiatan TBM 5) Layanan bahan cetak dan elektronik, berbagai informasi yang diperlukan oleh masyarakat serta memberikan bimbingan belajar atau latihan keterampilan; dan 6) Intensifikasi pembentukan TBM minimal satu di setiap desa atau kelurahan. Pengelola TBM perlu memiliki kompetensi kepribadian, sosial, manajerial dan kewirausahaan dengan pertimbangan sebagai berikut. 1. Kompetensi kepribadian, diperlukan karena pengelola TBM harus dapat menunjukkan kepribadian yang baik seperti etos kerja yang tinggi, perilaku yang sesuai dengan norma agama dan sosial serta bertanggung jawab dalam mengelola TBM dan menyediakan layanan bahan bacaan bagi masyarakat. Selain itu, pengelola TBM harus dapat diteladani baik oleh masyarakat sekitar maupun oleh warga belajar. 2. Kompetensi sosial, diperlukan karena fungsi TBM adalah melayani kebutuhan bacaan dan sumber informasi lainnya bagi masyarakat dan warga belajar. Oleh karena itu, pengelola TBM harus memiliki kemampuan berkomunikasi dan membina hubungan dengan masyarakat pengguna TBM. Selain itu, TBM juga harus mampu

Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

18

berkembang

seiring

dengan

perkembangan

masyarakat

penggunanya. Oleh sebab itu, pengelola TBM harus mampu membina kemitraan dengan masyarakat maupun pihak terkait lainnya dalam rangka mendukung perkembangan TBM kearah yang lebih baik. 3. Kompetensi manajerial, diperlukan karena TBM merupakan lembaga yang memiliki sumber daya dalam rangka melayani kebutuhan bacaan dan sumber informasi lainnya bagi masyarakat dan warga belajar. Oleh sebab itu, agar sumber daya tersebut dapat berfungsi optimal maka diperlukan pengelolaan secara efektif dan efisien. Kompetensi dalam manajerial tersebut program mencakup TBM, kemampuan merencanakan

mengorganisasikan sumber daya TBM, dan melaksanakan layanan bagi masyarakat pengguna TBM. 4. Kompetensi kewirausahaan, diperlukan karena TBM merupakan lembaga nonprofit yang memerlukan dukungan pembiayaan untuk keberlangsungan operasional TBM. Sementara sumber dana utama untuk operasional hanya berasal dari masyarakat, sehingga diperlukan kompetensi kewirausahaan yang dapat memberikan kontribusi pembiayaan untuk menjaga keberlangsungan layanan TBM bagi masyarakat. Oleh karena itu, kompetensi kewirausahaan yang diperlukan bagi pengelola TBM adalah mengembangkan kegiatan usaha, memberikan layanan yang baik, mengembangkan kemitraan, dan mengembangkan kegiatan usaha.

C. Ruang Lingkup 1. Naskah akademik standar pengelola TBM ini mencakup latar belakang, dasar pelaksanaan penyusunan (terdiri dari landasan yuridis, konseptual, dan empiris), pengertian, tujuan, manfaat, dan tugas pengelola. 2. Substansi standar pengelola TBM mencakup kompetensi

Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

19

kepribadian, sosial, manajerial, dan kewirausahaan.

D. Pengertian 1. Standar adalah suatu kriteria minimal yang harus dipenuhi dan menjadi acuan untuk menentukan sesuatu. Standar pengelola diartikan sebagai kriteria minimal baik kualifikasi maupun kompetensi yang harus dipenuhi oleh pengelola TBM. 2. Kualifikasi akademik adalah tingkat pendidikan yang harus dipenuhi oleh Pengelola TBM untuk dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya secara efektif dan efisien. 3. Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, kecapakan, sikap dan tindakan yang dimiliki pengelola sebagai syarat untuk melaksanakan tugas di bidang pekerjaan tertentu. 4. Kompetensi kepribadian adalah cerminan kepribadian yang ditunjukkan dengan sifat-sifat bijaksana, berwibawa, dan berakhlak mulia serta menjadi teladan bagi peserta didik, sesama pendidik dan tenaga kependidikan, serta masyarakat. 5. Kompetensi sosial adalah kemampuan sebagai bagian dari masyarakat untuk dapat berkomunikasi, bergaul dan beradaptasi secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik dan tenaga kependidikan, dan masyarakat sekitar. 6. Kompetensi manajerial adalah kemampuan dalam merencanakan, melaksanakan, mengarahkan/mengorganisasikan, mengevaluasi dan memonitoring penyelenggaraan program. 7. Kompetensi kewirausahaan adalah kemampuan, kecakapan dan keterampilan dalam melakukan kegiatan usaha dan kegiatan lain yang terkait dengan kewirausahaan. 8. Taman Bacaan Masyarakat adalah lembaga yang dibentuk oleh, dari dan untuk masyarakat dengan menyediakan berbagai jenis bahan bacan/belajar yang dapat menjadi rujukan dalam mendapatkan informasi dan sumber pengetahuan bagi masyarakat.

Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

20

9. Pengelola TBM adalah orang yang bertanggungjawab dan berperan dalam mengembangkan dan mengelola TBM. 10. Standar kualifikasi dan kompetensi segi pengelola TBM adalah dan persyaratan minimum dari pendidikan akademik

kemampuan yang harus dipenuhi untuk melaksanakan sebagai pengelola TBM secara efektif dan efisien.

E. Tujuan Secara umum standar pengelola TBM ini bertujuan untuk menjadi acuan secara nasional bagi semua pihak yang berkepentingan dalam upaya membina dan meningkatkan mutu layanan serta merevitalisasi manajemen kelembagaan TBM. Secara khusus standar pengelola TBM mempunyai tujuan untuk memberikan pedoman/acuan bagi: 1. Pengambil kebijakan dan pengelola TBM dalam menyusun kebijakan dan program yang berkenaan dengan pembinaan, pengembangan, dan peningkatan pengelolaan TBM. 2. Pemangku kepentingan terkait dalam merekrut tenaga pengelola TBM dan mengembangkan program pelatihan bagi pengelola TBM serta penilaian kinerja pengelola TBM 3. Pengelola TBM untuk menyelaraskan unjuk kerjanya sesuai dengan standar yang berlaku.

F. Manfaat Penyusunan standar pengelola TBM diharapkan dapat bermanfaat bagi pemangku kepentingan terkait, antara lain: 1. Pemerintah dan Pemerintah Daerah; menjadi acuan dalam rangka (a) meningkatkan TBM, (b) kualifikasi mengambil dan kompetensi dan pengelola kebijakan

mengembangkan program pendidikan dan pelatihan bagi


Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

21

pengelola TBM, dan (b) memberikan dukungan, pembinaan, dan pengembangan TBM. 2. Pengelola TBM; menjadi acuan dalam peningkatan

kemampuan dan kualifikasi pendidikan yang dilakukan secara mandiri sesuai dengan standar yang ditentukan. 3. Masyarakat sebagai stakeholders; sebagai acuan dalam (a) merekrut tenaga pengelola; (b) melakukan penilaian kinerja sebagai pengelola; (c) memberikan masukan kepada lembaga TBM guna meningkatkan mutu layanan bagi masyarakat.

G. Peran TBM Keberadaan TBM sangat diperlukan guna mendukung penyediaan layanan bagi masyarakat dalam meningkatkan wawasan, pengetahuan, keterampilan, dan taraf hidupnya. Oleh karena itu, TBM dapat berperan sebagai tempat untuk: 1. Layanan informasi umum TBM menjadi tempat untuk mendapatkan layanan berbagai informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat melalui penyediaan bahan bacaan yang memuat berbagai informasi dan/atau pengetahuan praktis dan umum yang dibutuhkan masyarakat. 2. Memperluas wawasan dan pengetahuan Melalui TBM akan dapat memperluas wawasan dan pengetahuan masyarakat, karena TBM menyediakan bahan bacaan yang dapat menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat. 3. Hiburan yang edukatif TBM dapat memberikan hiburan yang edukatif bagi pengguna melalui penyediaan bahan bacaan yang humoris, fiksi, novel, komik, maupun otobiografi tokoh/negarawan/artis serta dengan penataan ruangan, sarana dan prasarana sehingga tercipta suasana yang nyaman. Peran ini akan terwujud apabila TBM juga menyediakan
Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

22

perlengkapan elektronik yang dapat ditonton, seperti TV, DVD, komputer, internet dan sebagainya. 3. Pembina watak dan moral TBM menjadi tempat pembinaan watak dan moral dengan menyediakan bahan bacaan tentang psikologi, agama, moral dan etika, sejarah dan sebagainya. Selain itu, pengelola TBM dapat memfasilitasi kegiatan dalam rangka membentuk dan membina moral masyarakat pengunjung, seperti pengajian agama, penyuluhan dan sebagainya 4. Belajar keterampilan. TBM dapat memfasilitasi masyarakat yang akan belajar keterampilan tertentu sesuai minatnya, dengan menyediakan bahan bacaan tentang berbagai keterampilan yang bersifat praktis, seperti pertukangan, sebagainya. pertanian, peternakan, elektronika, komputer dan

H. Tugas Pengelola TBM Untuk mewujudkan peran di atas maka tugas yang harus dilakukan oleh pengelola TBM sebagai berikut: 1. Melakukan sosialisasi/promosi TBM kepada masyarakat kegiatan. 2. Memberikan layanan kepada pengunjung untuk membaca dan lainnya yang dapat meminjam bahan meningkatkan bacaan yang tersedia, melakukan aktivitas kemampuan membaca, merangsang minat baca dan lain-lain. 3. Memberikan layanan kepada pengunjung TBM secara optimal sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. 4. Menghimpun bahan bacaan dan koleksi
Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

sekitar

melalui

berbagai

23

lainnya yang diperlukan masyarakat dari para donatur serta melakukan penataan di ruang display dengan sebaik-baiknya. 5. Memfasilitasi dan membantu pengunjung untuk mendapatkan bahan bacaan dan informasi yang diperlukan. 6. Mengelola TBM secara efektif dan efisien dengan melaksanakan perencanaan program, mengorganisasikan sumber daya yang ada, dan mengembangkan TBM secara berkelanjutan. 7. Mengembangkan kegiatan usaha yang dapat memberikan keuntungan finansial mendukung operasional TBM. 8. Menjalin kemitraan atau kerja sama dengan lembaga/institusi mengembangkan TBM. lain lembaga dalam dan rangka program untuk

I. Penutup TBM mempunyai peran penting dalam mendukung

penyelenggaraan pendidikan nonformal dengan menyediakan bahan bacaan yang bermutu untuk masyarakat dalam rangka mewujudkan masyarakat gemar belajar dan pembelajaran sepanjang hayat. Untuk itu, pengelolaan TBM perlu mengacu pada standar minimal yang terkait dengan kelembagaan dan pengelolaan maupun tenaga kependidikannya. Penyusunan standar pengelola TBM merupakan salah satu upaya dan komitmen Ditjen PMPTK dalam rangka mendukung peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal, terutama untuk menyiapkan pengelola TBM yang profesional. Draf standar pengelola TBM ini diharapkan dapat digunakan

Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

24

sebagai masukan untuk menetapkan standar kualifikasi dan kompetensi pengelola TBM serta perumusan kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal secara bertahap dan bersinambungan.

DAFTAR PUSTAKA

David, Mariem. 1984. Woman, Family and Education. New York: Nicols Publishing. Direktorat Pendidikan Masyarakat. 2007. Direktori TBM 2007. Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal. Direktorat Pendidikan Masyarakat. 2007. Pengembangan Budaya Baca melalui Taman Bacaan Masyarakat. Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peranserta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional. Sumadi. 1987. Hubungan Minat Baca dan Bakat Bahasa dengan Prestasi Membaca Pemahaman Siswa SMA Kodya Malang. Thesis S2 PPs
Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

25

IKIP Malang. Suryabrata, Sumadi. 1989. Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi. Yogyakarta. Andi Offset. Tingkers, Miles A. 1975. Teaching Reading in the Elementary School. New Jersey: Prentice-Hall. Inc. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta, Departemen Pendidikan Nasional, 2006. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2003 tentang Pemerintah Daerah Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta, Perpustakaan Nasional RI, 2007.

Naskah Akademik Kompetensi Pengelola TBM

26