Anda di halaman 1dari 45

BAGIAN II

I.

PENULISAN ILMIAH

PENDAHULUAN

Pada pendidikan formal terdapat kecenderungan untuk lebih menekankan pada karya tulis sebagai bagian dari persyaratan lulus suatu matakuliah, dan untuk tujuan pengukuran (assessment) keberhasilan mahasiswa. Kecenderungan ini khususnya tampak pada perguruan tinggi yang semakin merasa tidak puas apabila hanya mengandalkan ujian akhir sebagai satu-satunya cara mengevaluasi kinerja (performance) mahasiswanya. Pengukuran kemampuan mahasiswa pada kebanyakan perguruan tinggi di luar negeri dilakukan melalui uji berkala dan tugas laporan (assignment), bukan hanya berdasarkan ujian tengah semester dan akhir semester. Pengukuran kinerja mahasiswa melalui ujian berkala yang berkesinambungan ini jelas lebih menguntungkan mahasiswa maupun staf pengajar. Apabila mahasiswa harus menyelesaikan suatu tugas laporan, skripsi, tesis atau disertasi, tentu perlu dilakukannya hal ini dalam tata cara penulisan dan bentuk serta format penulisan yang benar. Umumnya mahasiswa dihadapkan pada masalah penulisan ini tanpa persiapan yang baik; untuk itulah perlu diadakan pembimbingan cara penulisan, baik penulisan laporan ilmiah, karya tulis, maupun skripsi yang cukup rumit. Perguruan Tinggi di Indonesia sejak tahun 2000 menggunakan Kurikulum BerdasarKompetensi (Competency-Based Curriculum), sehingga konsekuensinya ialah bahwa pengukuran hasil belajar mahasiswa juga perlu disesuaikan. Pengukuran tradisional menggunakan ujian dengan kertas dan pinsil (paper and pencil test), berupa pertanyaan ujian berbentuk tes esei (essay test) atau pilihan ganda (multiple choice). Untuk pengukuran kompetensi mahasiswa, sekarang ini sudah dikembangkan pengukuran alternatif (Alternative Assessment) sebagai pengganti pengukuran tradisional itu. Pengukuran Alternatif meliputi antara lain, Pengukuran Berdasar Kinerja (Performance Assessment), Penelitian Singkat (Short Investigations), Pertanyaan Terbuka (OpenResponse Questions), Evaluasi Sendiri (Self Evaluation), Asesmen Portfolio (Portfolio Assessment) dan penggunaan Rubrik Penskoran (Scoring Rubrics). Di sini tidak akan dibicarakan mengenai pengukuran alternatif, tetapi akan digunakan pada evaluasi hasil belajar mahasiswa, yaitu penggunaan rubrik penskoran. Bagian 2 buku ini merupakan usaha untuk mengkaji persamaan dan perbedaan penulisan Tugas Laporan Ilmiah, Tugas Laporan Praktikum, Makalah Ilmiah (Scientific Paper), Skripsi, Tesis dan Disertasi. Perencanaan suatu tulisan ilmiah memiliki suatu teknik tersendiri yang perlu dilatih sejak awal. Demikian pula tata cara penulisan suatu karya ilmiah, yang meliputi teknik penulisan, bentuk serta formatnya merupakan modal utama seorang calon ilmuwan. Perlu ditekankan di sini bahwa bentuk serta format pelaporan tulisan ilmiah hendaknya tidak dijadikan sebagai suatu aturan yang kaku agar tidak mematikan kreativitas penulis, akan tetapi perlu dipahami betul-betul tentang lika-liku karya ilmiah. Dalam menghasilkan karya ilmiah itu, seorang ilmuwan menerapkan penalaran dan metode ilmiah dalam tulisannya. Bagian II Penulisan Ilmiah 25

II.

KARYA ILMIAH

Karya ilmiah merupakan suatu produk yang dituangkan dalam bentuk nyata, misalnya dalam bentuk suatu desain di bidang Teknik Arsitektur, atau berbentuk suatu karya tulis. Produk karya ilmiah demikian itu merupakan hasil dari suatu penalaran. Datanya diperoleh melalui suatu survei, eksperimen atau studi pustaka, dengan menggunakan metode atau cara tertentu, yaitu metode ilmiah, yang selanjutnya dituangkan dalam bentuk tulisan atau laporan ilmiah. Salah satu fungsi perguruan tinggi yang tercermin dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat), ialah menghasilkan produk ilimiah yang dilakukan melalui penelitian. Produk ilmiah ini bervariasi menurut bobotnya, mulai dari yang sangat sederhana sampai yang berbobot tinggi, apakah dihasilkan oleh mahasiswa atau dosen sebagai peneliti; dan menurut forum di mana produk tersebut dikomunikasikan atau dipublikasikan. Penentuan tinggi rendahnya nilai bobot suatu karya ilmiah ditentukan pula oleh kriteria masing-masing jenjang pendidikan tinggi (S-1, S-2, dan S-3), oleh nilai kegunaannya di masyarakat, maupun oleh peranannya dalam pengembangan suatu disiplin ilmu tertentu. Umumnya suatu karya ilmiah dituntut merupakan produk yang baru dan orisinil (bukan jiplakan) yang diperoleh melalui penelitian. II.1 Tugas Laporan (Assignment) Menulis suatu karya ilmiah merupakan hal yang sangat penting bagi seorang ilmuwan. Mahasiswa sebagai calon ilmuwan perlu secara awal diberikan pengetahuan tentang teori penulisan ilmiah, sehingga dapat berlatih menulis sepanjang waktu selama mengikuti jenjang pendidikannya. Membuat tugas laporan biasanya ditugaskan kepada mahasiswa melalui suatu rangkaian perkuliahan dan asistensi, meskipun sering pula ditugaskan kepada mahasiswa untuk menyusun suatu tulisan ilmiah mengenai topik yang tidak secara langsung berkaitan dengan suatu mata kuliah. Tugas laporan ini dapat berbentuk Laporan Tugas Pustaka, dan dapat pula berbentuk Laporan Tugas Praktikum yang harus diserahkan kepada dosen atau asisten setelah mahasiswa menyelesaikan suatu tugas praktikum. Mahasiswa mungkin ditugasi suatu topik tertentu sebagai pokok tulisan, atau diberikan suatu daftar judul oleh dosen yang dapat dipilih oleh mahasiswa. Mahasiswa hanya diberikan instruksi mengenai panjangnya karangan dan batas waktu untuk menyelesaikannya. Bimbingan dapat diberikan oleh dosen dalam bentuk saran-saran mengenai pustaka atau daftar pustaka. Pada mata kuliah yang telah dirancang dengan baik, biasanya dosen memberikan penugasan dalam bentuk laporan tugas penelusuran pustaka pada awal perkuliahan, agar mahasiswa dapat merencanakan sendiri pelaksanaan tugas tersebut secara berhasilguna atau efektif. Judul yang disediakan untuk karya tulis dapat memberikan gambaran mengenai bidang materi yang penting dalam suatu mata 26 Bagian II Penulisan Ilmiah

kuliah. Dengan penugasan ini, mahasiswa dirangsang untuk membaca secara kritis mengenai bidang materi tersebut, mencari dan memilih materi sesuai yang dibutuhkannya, memusatkan perhatiannya pada satu judul tertentu, lalu membiasakan diri dan berlatih dalam mengkomunikasikan buah pikirannya melalui suatu pembuktian yang telah diambil sarinya dan dievaluasi menuju suatu kesimpulan tertentu. Dalam bidang sains, umumnya matakuliah disertai dengan praktikum, yang dapat meliputi pengembangan, penerapan, atau pengujian suatu teori yang telah dipelajari. Kalau pada perkuliahan lebih ditekankan pada pengembangan kemampuan atau proses belajar mahasiswa dalam ranah kognitif (cognitive domain) dan afektif (affective domain), maka penekanan pada praktikum lebih pada kemampuan dalam ranah psikomotor (psychomotor domain) dan afektif. Setiap akhir praktikum mahasiswa perlu menyusun Laporan Tugas Praktikum, yang pada prinsipnya tidak berbeda dengan format dan tata cara penyusunan laporan yang bersifat telusuran pustaka. Di samping untuk tujuan mempelajari bidang materi suatu mata kuliah, proses belajar mandiri melalui tugas penyusunan laporan dan penelusuran pustaka maupun tugas praktikum, pada gilirannya mempunyai nilai besar bagi pendidikan mahasiswa, yaitu pemecahan masalah melalui penalaran ilmiah. Jika pada ujian secara konvensional mahasiswa mengalami situasi yang menegangkan menghadapi ujian, sebaliknya pada cara penyajian tugas laporan atau karya tulis ia diberikan kesempatan cukup untuk mengadakan perencanaan, dan mengatur sendiri waktu dan cara kerjanya. Di sini ia tidak diburu waktu untuk mengingat kembali materi yang telah diberikan pada perkuliahan, atau yang tercantum dalam buku teks, tetapi diberikan kesempatan untuk membuat rencana secara cermat, banyak membaca, mengorganisasikan pikirannya, lalu merekamnya dalam tulisan menurut tatacara penulisan yang benar. Dengan demikian dituntut dari mahasiswa suatu karya pikir yang lebih tinggi kualitasnya, dan sekaligus melatih daya nalar mahasiswa. Umumnya suatu karya tulis yang berbentuk tugas laporan tidaklah harus berbentuk penelitian orisinil. Di sini lebih ditekankan pada proses belajarnya dan fungsi melatih diri, bukan pada hasil akhir yang dicapai, karena hasil karya itu biasanya tidak dipublikasikan. Pemberi tugas akan menilai dan memberikan komentar sebagai balikan (feedback) terhadap tugas laporan itu untuk diperbaiki, agar mahasiswa dapat menggunakannya di kemudian hari. II.2 Skripsi, Tesis dan Disertasi

Sebagai penutup suatu program pendidikan tinggi, khususnya pada jalur akademik, biasanya mahasiswa harus menyelesaikan suatu produk akhir berupa Tugas Akhir, Skripsi, Tesis atau Disertasi. Dalam PP No.60/Tahun 1999 telah diberikan batasan mengenai Tugas Akhir ini, yaitu penulisan Skripsi untuk jenjang program Sarjana, Tesis untuk jenjang program Magister, dan Disertasi untuk program Doktor. Untuk melihat perbedaan kompetensi berbagai jenjang akademik itu yang memberikan gambaran tentang bobot Bagian II Penulisan Ilmiah 27

penelitian, maka dikutip kualifikasi lulusan jenjang Program sebagai berikut : ( KepMendiknas No.232/Tahun 2000 tentang Kurikulum ) 1) Program sarjana diarahkan pada hasil lulusan yang memiliki kualifikasi sebagai berikut : a. menguasai dasar-dasar ilmiah dan ketrampilan dalam bidang keahlian tertentu sehingga mampu menemukan, memahami, menjelaskan, dan merumuskan cara penyelesaian masalah yang ada di dalam kawasan keahliannya; b. mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang dimilikinya sesuai dengan bidang keahliannya dalam kegiatan produktif dan pelayanan kepada masyarakat dengan sikap dan perilaku yang sesuai dengan tata kehidupan bersama; c. mampu bersikap dan berperilaku dalam membawakan diri berkarya di bidang keahliannya maupun dalam berkehidupan bersama di masyarakat; d. mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian yang merupakan keahliannya; 2) Program magister diarahkan pada hasil lulusan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut : a. mempunyai kemampuan mengembangkan dan memutakhirkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian dengan cara menguasai dan memahami, pendekatan, metode, kaidah ilmiah disertai ketrampilan penerapannya; b. mempunyai kemampuan memecahkan masalah di bidang keahliannya melalui kegiatan penelitian dan pengembangan berdasarkan kaidah ilmiah; c. mempunyai kemampuan mengembangkan kinerja profesionalnya yang ditunjukkan dengan ketajaman analisis permasalahan, keserbacukupan tinjauan, kepaduan pemecahan masalah atau profesi yang serupa; 3) Program doktor diarahkan pada hasil lulusan yang memiliki kualifikasi sebagai berikut : a. mempunyai kemampuan mengembangkan kosep ilmu, teknologi, dan/atau kesenian baru di dalam bidang keahliannya melalui penelitian; b. mempunyai kemampuan mengelola, memimpin, dan mengembangkan program penelitian; c. mempunyai kemampuan pendekatan interdisipliner dalam berkarya di bidang keahliannya.

Sumber permasalahan untuk diteliti


Tugas Akhir atau Skripsi mahasiswa lebih luas daripada tugas laporan yang biasa. Skripsi biasanya merupakan perpaduan dan puncak suatu karya mandiri dalam bentuk penelitian yang dikerjakan dalam waktu sekurang-kurangnya selama 1 semester. Sebagian penelitian dapat merupakan pengulangan penelitian terdahulu dengan tujuan pengujian kembali hasil karya yang telah dilaporkan, atau pengujian relevansi suatu hasil penelitian 28 Bagian II Penulisan Ilmiah

yang dilakukan pada latar lingkungan yang berbeda. Penelitian yang lain lagi dimulai dari akhir suatu penelitian terdahulu, untuk meneruskan hal atau masalah baru yang muncul, atau untuk mempertajam atau memantapkan suatu hasil penelitian. Permasalahan yang dapat diangkat menjadi judul penelitian dapat pula diperoleh melalui gejala yang diamati , apakah dari sekitar lingkungan, dari media cetak maupun elektronik, dan dari pustaka yang relevan. Semua jenis penelitian itu diharapkan dapat memberikan sumbangan yang orisinil bagi ilmu pengetahuan.

Perbedaan dan Persamaan Skripsi, Tesis dan Disertasi


Meskipun kepada mahasiswa yang akan menulis Skripsi dapat saja diberikan judul atau diarahkan judulnya oleh dosen pembimbing ilmu atau spesialisasi tertentu, mahasiswa itu sendiri yang akan bertanggungjawab untuk memilih dan membatasi lingkup bidang penelitiannya. Berbeda dengan Tugas Laporan, penguji dari luar juga akan ikut menilai Skripsi. Setelah dikomunikasikan dan diterima melalui suatu forum tertentu (seminar), maka Skripsi yang telah dijilid baik itu akan ditempatkan di perpustakaan dan akan menjadi milik umum. Namun demikian, sesuai dengan aturan bahwa Skripsi itu merupakan suatu mata kuliah, yang merupakan latihan meneliti bagi mahasiswa dengan bimbingan penuh seorang atau beberapa dosen, maka bobotnya pun belum memadai sebagai ilmu yang baru. Biasanya Skripsi mahasiswa ditingkatkan bobotnya oleh dosen pembimbing dengan melakukan perubahan dan pemolesan seperlunya, kemudian dipublikasikan dalam majalah ilmiah. Meskipun demikian hak cipta dari Skripsi tersebut tetap berada pada penyusunnya, termasuk dosen pembimbingnya. Dengan demikian maka nama baik mahasiswa penyusun Skripsi, dosen Pembimbing dan lembaga pendidikannya akan dipertaruhkan. Oleh karena itu persyaratan Skripsi haruslah lebih tinggi daripada tugas pustaka biasa. Tesis dan Disertasi pada hakekatnya tidak berbeda dengan Skripsi dalam hal bentuk dan formatnya, hanya persyaratan mutu yang hendaknya lebih tinggi menurut jenjang programnya. Ruang lingkup permasalahan biasanya lebih luas dan antar disiplin. Demikian pula sifat pembimbingannya berbeda, yaitu dalam hal peneliti yang semakin mandiri sesuai dengan jenjang program yang semakin tinggi. Di sini dituntut hasil penelitian yang benar-benar orisinil. II.3 Makalah Ilmiah (Scientific Paper)

Hasil penelitian merupakan suatu karya ilmiah yang dipublikasikan, yang pengelolaannya dikoordinir oleh Lembaga Penelitian universitas. Semua staf pengajar di perguruan tinggi diwajibkan untuk menghasilkan karya ilmiah melalui penelitian dalam rangka pengembangan karirnya. Mutu suatu perguruan tinggi akan dinilai berdasarkan kuantitas dan kualitas karya ilmiah yang dihasilkan, sehingga ada yang membedakan kualifikasi perguruan tinggi menurut teaching institution dan research institution. UNHAS baru akan merintis untuk menjadi research university.

Bagian II Penulisan Ilmiah

29

Suatu makalah ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis yang dipublikasikan, yang menguraikan hasil penelitian orisinil. Bentuk, format serta proses perolehan laporan ilmiah ini sama dengan penyusunan Skripsi oleh mahasiswa. Bedanya terletak pada tempat atau wadah yang sahih (valid publication) dimana tulisan ini dipublikasikan. Suatu hasil penelitian yang berbentuk Ringkasan, Skripsi, Tesis atau Laporan Konperensi belum tentu memenuhi persyaratan publikasi yang sahih, karena publikasi itu sahih ialah apabila dimuat melalui media tertentu, misalnya jurnal primer. Sebaliknya pula, suatu laporan pemerintah, pustaka konperensi (seminar) belum memenuhi syarat sebagai pustaka primer apabila tidak memenuhi persyaratan penulisan ilmiah. Lihat pustaka primer dan sekunder pada bagian lain. Menurut Day, R.A. (1976), suatu makalah ilmiah ialah : [4] 1) publikasi pertama dari hasil penelitian orisinil, 2) dalam bentuk yang dapat diulang eksperimennya, dapat diuji dan diambil kesimpulannya oleh orang lain, 3) dalam suatu jurnal atau dokumen sekunder lain yang mudah diperoleh dalam lingkungan ilmiah Isi artikel hendaknya baru, benar, penting dan mudah dimengerti, dan memenuhi persyaratan kualitas pemikiran yang sama seperti yang diperlukan pada pembentukan ilmu pengetahuan, yaitu logika, kejelasan dan ketelitian. Komponen suatu makalah ilmiah terdiri atas : a) b) c) d) Pendahuluan (yang menguraikan apa permasalahannya) Materi dan Metode (bagaimana masalah itu dipecahkan) Hasil (apa temuannya) Pembahasan (apa makna penemuan itu)

Publikasi Makalah Ilmiah


Publikasi suatu makalah ilmiah yang sahih ialah apabila menggunakan media jurnal primer (majalah ilmiah). Jurnal demikian disebut juga sebagai sumber primer bagi peneliti, tetapi biasanya sulit diperoleh, karena meskipun tersebar laus, pemilikannya hanya terbatas pada kalangan ilmuwan bidang ilmu yang sejenis. Oleh karena itu Lembaga Penelitian atau Perpustakaan Pusat suatu negara mendirikan suatu lembaga khusus yang mendokumentasikan dan mengindeks semua hasil penelitian dan selanjutnya memberikan pelayanan informasi ini kepada lembaga lain atau peneliti dalam bentuk pelayanan indeks (Index Service) atau pelayanan abstrak (Abstract Service). Hasil penelitian di Indonesia didokumentasi oleh Pusat Dokumentasi Ilmiah Indonesia (PDIN), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Contoh lain ialah Lembaga Biologi Nasional (LBN, LIPI). Pusat dokumentasi seperti itu pada hakekatnya merupakan lembaga pengolahan dan penyebarluasan informasi. Selain lembaga di tingkat pusat, setiap departemen yang mempunyai bagian riset dan pengembangan juga mempunyai lembaga pengolahan informasi demikian.

30

Bagian II Penulisan Ilmiah

Di Amerika Serikat terdapat suatu lembaga pengindeks untuk setiap bidang ilmu, misalnya Chemical Indeks, Biological Index dan sebagainya. Namun di bidang Farmasi belum ada lembaga yang secara khusus menangani layanan indeks ini.. Pada umumnya penelitian di bidang Farmasi dikelompokkan dalam Biological Sciences (Life Sciences) atau Medical Sciences. Dalam rangka pendokumentasian ini, maka judul suatu artikel penelitian haruslah menggunakan kata-kata kunci yang tepat, agar tepat pula pengkategoriannya yang dilakukan oleh lembaga pengindeks. Secara berkala lembaga pengindeks ini menyebarluaskan artikel penelitian terakhir dalam bentuk daftar indeksnya saja, yaitu judul artikel, nama pengarang dan kata-kata kunci artikel tersebut. Kadang-kadang daftar tersebut berupa indeks beranotasi, yaitu diberikan keterangan tambahan atau komentar pada setiap indeks. Di samping melayani indeks, berdasarkan permintaan, lembaga demikian itu juga melayani permintaan abstrak (Abstract Service) tertentu. Oleh karena itu, maka nilai ilmiah suatu artikel yang disajikan dalam bentuk makalah pada suatu pertemuan ilmiah tidaklah sebesar nilai ilmiah artikel yang disajikan dalam jurnal / majalah ilmiah, yang kemudian diindeks oleh lembaga pengindeks. Makalah yang disajikan dalam suatu pertemuan ilmiah belum tentu dipublikasikan dalam risalah atau proceedings pertemuan. Risalah dari suatu pertemuan ilmiah juga merupakan publikasi primer. (Lihat juga bagian lain mengenai Sumber Bacaan). Dengan demikian maka tidak semua publikasi ilmiah merupakan karya ilmiah apabila tidak dipublikasikan sesuai dengan wadah atau media tertentu. Sebagai contoh, Review Paper, atau Abstract, tidak memenuhi syarat karya ilmiah, karena merupakan ikhtisar, analisis atau sintesis informasi yang telah dipubilkasikan. Conference Report juga jarang menyajikan data yang orisinil, dan tidak dipublikasikan dalam jurnal primer. II.4 Persepakatan Penulisan dan Gaya Penulisan Ilmiah

Suatu karya tulis yang berbentuk laporan tugas pustaka (assignment) biasanya mempunyai ruang lingkup yang sangat terbatas, dan biasanya lebih pendek daripada Karya Ilmiah atau Skripsi., yang merupakan penelitian orisinil. Namun demikian dalam penyajiannya tidak banyak berbeda, baik mengenai format, tata cara maupun gaya penulisannya. Semua tulisan ilmiah menggunakan tatacara penulisan, gaya penulisan, bentuk dan format tertentu. Terdapat berbagai macam cara penulisan yang dianut. Di samping isi tulisan, cara penyajiannya dalam bentuk format baku juga penting. Penelitian yang baik akan dinilai buruk apabila cara penyajiannya tidak baik. Suatu penelitian akan berguna bagi ilmu pengetahuan apabila dapat dikomunikasikan dengan baik. Karena itu maka tata cara penulisan ilmiah itu sangatlah penting.

Gaya penulisan, Bahasa dan Penggunaan Istilah


Pemilihan kata yang tepat akan memberikan pengertian yang tepat. Kata atau kalimat yang baik untuk mengungkapkan suatu pemikiran bukanlah berbentuk kalimat yang panjang. Istilah yang digunakan harus didefinisikan (ditakrifkan) dengan tepat dan Bagian II Penulisan Ilmiah 31

seterusnya digunakan secara taat azas (konsisten). Bahasa tutur atau bahasa percakapan dan cara pengungkapan yang lain, misalnya bahasa bahasa prokem atau bahasa puisi tidaklah cocok untuk digunakan dalam penulisan ilmiah. Tulisan ilmiah bukan pula sesuatu yang bersifat pribadi atau berbentuk percakapan biasa, karena itu selalu dihindari penggunaan kataganti orang (saya, kami, mereka, dsb.nya) , kecuali dalam hal tertentu misalnya nukilan (quotations) Dalam tulisan ilmiah tidak boleh terdapat laporan pengalaman atau pendapat pribadi; yang dituliskan dalam laporan ialah analisis secara kritis tentang suatu masalah dan sajian pembuktian yang berkaitan dengan permasalahan itu, sehingga gaya bahasa yang digunakan haruslah yang bukan bersifat pribadi, melainkan bersifat ilmiah. Seorang penulis harus menggunakan cara penulisan yang mudah ditangkap orang lain. Bentuk kalimat tidak boleh terlalu sulit atau kompleks. Seringkali ditemukan dalam tulisan mahasiswa, kalimat majemuk yang sangat kompleks sehingga sulit menentukan mana pokok kalimatnya ! Penulisan ilmiah bukanlah suatu permainan kata, bersifat ambigu (ambigous) atau mendua arti, merupakan penonjolan kepintaran seseorang, atau sesuatu yang melebih-lebihkan. Hendaknya dihindari pernyataan yang memelas atau minta dikasihani, atau pernyataan yang berlebihan. Pernyataan yang dibuat itu hendaknya benar-benar sesuai. Penalaran yang benar dan kejujuran intelektual adalah tujuan utama pada penulisan ilmiah. Kutipan atau nukilan dari buku atau pustaka lain harus dilakukan dengan teliti dan dikatakan secara jujur. Kontribusi atau hasil karya orang lain haruslah dihormati, sehingga jelas bagian mana yang merupakan kontribusi penulis sendiri dan mana yang merupakan kutipan. Karena isi tulisan adalah sesuatu yang telah dikerjakan (berbentuk laporan ilmiah), maka biasanya digunakan waktu lampau (past tense) dalam penulisan atau kalimat pasif, kecuali dalam hal khusus, misalnya nukilan. Ejaan kata yang tepat sangat diperlukan. Perlu pula diperhatikan khususnya mengenai tatabahasa dan penggunaan tanda baca. Singkatan seperti dg. tidak boleh digunakan, kecuali singkatan yang lazim digunakan secara internasional, misalnya satuan cm (sentimeter), g (gram) dan Gr (grain). Jadi misalnya, corpis (corong pisah) tidak lazim digunakan pada tulisan ilmiah. Selain itu perlu diperhatikan ketaatazasan penggunaan kata dan istilah. Dengan demikian maka sesuai dengan tujuannya, baik pelaksanaan penelitian maupun pelaporannya haruslah dilaksanakan secara teliti, taatazas, dengan menggunakan gaya bahasa dan tatacara penulisan yang baku dan mudah dimengerti. II.5 Perencanaan Laporan Tugas Pustaka (Assignment) [2]

Penulisan tugas atau laporan ilmiah di perguruan tinggi biasanya berbentuk judul yang sudah disiapkan oleh dosen, yang dapat dipilih mahasiswa atau ditetapkan oleh dosen. Judul tugas menggambarkan suatu masalah yang akan ditelaah oleh mahasiswa dalam bentuk penelusuran pustaka. Permasalahan ialah suatu perbedaan keadaan yang ada (what is) dengan keadaan yang seharusnya (what should). Materi permasalahan yang ditelaah harus berupa materi dalam ruang lingkup bidang ilmu atau keahlian yang sedang 32 Bagian II Penulisan Ilmiah

dipelajari. Langkah pertama yang dilakukan ialah mencoba mendefinisikan (mentakrifkan) dan mengadakan pembatasan masalah yang diutarakan.

Mendefinisikan masalah
Mendefinisikan masalah meliputi penentuan masalah, tugas atau karangan yang akan dikerjakan. Dari judul karangan yang dipilih itu harus tergambarkan kegiatan yang akan dilakukan mengenai masalah itu. Sebelumnya perlu dipelajari kata-kata kunci yang tepat untuk menghindari salah pengertian. Kata kunci yang perlu dipahami terlebih dahulu dari masalah itu ialah : 1. menganalisis, yaitu mempertimbangkan berbagai komponen dari suatu keseluruhan, dan mencoba memperinci antar hubungan komponen itu. 2. membandingkan, yaitu mengadakan pemerian (description) karakteristik obyek dengan maksud untuk menunjukkan kesamaan atau perbedaannya. 3. mengkontraskan, yaitu mengadakan pemerian untuk tujuan membedakannya 4. mendefinisikan (mentakrifkan), yaitu memberikan definisi atau menetapkan syarat sesuai dengan rujukan (reference). 5. menguraikan , yaitu memberikan penjelasan. 6. menghubungkan, yaitu melihat keterkaitan antara antara 2 aspek atau objek. 7. mendiskusikan, yaitu mempertimbangkan berbagai aspek masalah itu. 8. menyebutkan, yaitu memberikan contoh dalam suatu daftar 9. mengevaluasi, yaitu memeriksa berbagai sudut suatu masalah dan mencoba mencapai suatu keputusan (judgment). 10. memeriksa secara kritis, yaitu berfungsi sebagai hakim. 11. mengilustrasikan, yaitu memberikan contoh, menjelaskan, menggambarkan. 12. mengikhtisarkan, yaitu menuliskan butir-butir utama secara ringkas. Untuk memperoleh penjelasan suatu kata atau istilah, perlu dilihat dalam kamus atau ensiklopedi. Dengan demikian tidak ada keragu-raguan tentang apa yang akan ditulis, dan tidak akan menimbulkan interpretasi berlainan bagi pembacanya.

Penulisan Judul
Judul tulisan ilmiah menggambarkan permasalahan yang akan diangkat dalam isi tulisan. Dari definisi masalah di atas terlihat bahwa selalu terdapat lebih dari satu aspek atau objek yang akan dipaparkan dalam tulisan ilmiah yang disebut kata kunci. Judul tulisan ilmiah memberikan informasi lengkap kepada pembaca mengenai isi tulisan. Oleh karena itu judul hendaknya bersifat informatif, tidak terlalu pendek tetapi juga tidak terlalu panjang. Biasanya suatu judul yang baik terdiri atas 8 sampai 15 kata, namun ada yang menganjurkan tidak melebihi 12 kata. Apabila tidak dapat dihindari penggunaan jumlah kata yang banyak, pisahkanlah menjadi subjudul untuk memudahkan pemahamannya secara tepat. Pada umumnya judul tulisan ilmiah bukan merupakan suatu proses atau kegiatan yang menggambarkan pelaksanaan penelitian. Sebab itu tidak dimulai dengan katakerja. Bagian II Penulisan Ilmiah 33

Contoh judul : Menetapkan Kadar Parasetamol dalamTablet yang beredar di Makassar menggunakan metode Acid Dye. (Kata kunci : Tablet, Kadar Parasetamol, Metode Acid Dye) Judul tersebut sudah benar dari segi bahasa dan sangat informatif, namun tidak efisien, karena dapat diubah tanpa mengubah artinya menjadi :

Penetapan Kadar Tablet Parasetamol yang beredar di Makassar menggunakan metode Acid Dye
Tampaknya judul ini sudah baik, tetapi dari segi Bahasa Indonesia masih ambigu (ambiguous = mendua arti), karena metode Acid Dye dapat pula menerangkan cara beredarnya di Makassar, bukan menerangkan penetapan kadar. Karena itu sebaiknya judul diubah menjadi :

Metode Acid Dye pada Penetapan Kadar Tablet Parasetamol


Pembatasan Masalah Kesalahan yang sering dibuat mahasiswa ialah apabila terlalu berambisi untuk menulis suatu judul yang terlalu luas. Ada anggapan bahwa judul yang sederhana tidak akan menyulitkan pada proses pengembangannya. Pada kenyataannya semakin sederhana suatu judul, justru semakin banyak yang perlu dituliskan. Oleh karena itu terlebih dahulu perlu sekali diadakan pembatasan masalah, tetapi bukan dengan cara menghilangkan informasi yang mungkin penting, atau menghilangkan detail yang mungkin diperlukan , atau hanya menyediakan sebagian data. Pembatasan masalah dilakukan dengan cara mempersempit jangkauan atau ruang lingkup telaahan. Contoh judul : (Katakunci pada judul ini ialah : Vitamin C, Bentuk Tablet)

a. Vitamin C dalam bentuk tablet


Judul ini terlalu luas, karena mungkin akan meliputi pembicaraan mengenai khasiat Vitamin C, cara pembuatannya, aspek penggunaannya, atau aspek bentuk sediaannya. Judul ini pendek, tetapi justru meliputi permasalahan yang sangat luas, sehingga mungkin cocok untuk dijadikan judul suatu buku teks. Karena terlalu luas, maka ludul itu dapat dipersempit jangkauannya, menjadi

b. Metode pembuatan tablet Vitamin C


Judul inipun masih terlalu luas untuk tugas laporan karya tulis biasa, bahkan untuk dijadikan judul Skripsi. Apabila dipersempit lagi ruang lingkupnya, akan menjadi .

c. Metode granulasi basah pada pembuatan tablet Vitamin C


34 Bagian II Penulisan Ilmiah

Dalam judul seperti ini akan diuraikan keuntungan dan kerugian metode granulasi basah pada pembuatan tablet Vitamin C yang mudah terurai oleh adanya lembab dan cahaya, dan penggunaan berbagai bahan penambah, misalnya bahan pengisi, bahan pengkilat, bahanpenghancur dalam dan luar, bahan pelicin, bahan pelincir, dan bahan korigensia (pewarna, pembau, pemberi rasa). Judul ini cocok untuk Skripsi. Untuk suatu laporan karya tulis, judul ini masih dapat dipersempit lagi menjadi .

d. Penggunaan Bahan X sebagai Bahan Pengikat pada Pembuatan tablet Vitamin C


Pada judul ini ruang lingkup permasalahan sudah semakin dipersempit. Dengan demikian jelas bahwa semakin sempit ruang lingkup masalah, akan semakin spesifik bidang telaahnya, tetapi akan semakin panjang judulnya. Apabila tidak dilakukan pembatasan masalah pada awalnya, akan terlalu banyak data yang akan dikumpulkan, yang akhirnya akan terbuang percuma; atau isi tulisan akan menjadi terlalu umum. Contoh judul lain yang terlalu pendek :

Aksi Antibiotika terhadap Bakteri (Katakunci pada judul ini ialah Aksi Antibiotika, Bakteri)
Antibiotika yang sudah ditemukan sudah ratusan jenis malah mungkin ribuan jenis. Demikian pula halnya jenis bakteri. Oleh karena itu perlu dipersempit jenis antibiotikanya dan jenis bakterinya. Jadi, patokan lain pada pemilihan judul tulisan ialah perumusan yang jelas dan spesifik mengenai ruang lingkup penelitian atau telaahan. II.6 Penjadwalan Pekerjaan Penjadwalan pekerjaan perlu dilakukan agar tugas dapat diselesaikan dalam waktu yang ditentukan. Hal ini khususnya sangat perlu pada waktu menyusun Skripsi. Dalam penjadwalan perlu dimasukkan frekuensi pertemuan dan konsultasi dengan pembimbing. Pada awalnya memang sering ditemukan kesulitan, apalagi jika belum terbiasa mengerjakan tugas karya tulis. Kadang-kadang seseorang perlu terlebih dahulu memperoleh inspirasi untuk dapat menuangkan pemikirannya dalam bentuk tulisan. II.7 Sumber Bacaan Bersama dengan tugas yang diberikan dosen, sering telah disertai sumber rujukan yang dianjurkan dalam rangka penelusuran pustaka. Dalam pustaka rujukan itu sendiri terdapat rujukan selanjutnya. Penelusuran pustaka farmasi mungkin hanya terbatas pada topik tertentu, tetapi mungkin pula merupakan suatu survei umum, sehingga metode penelusurannya juga perlu disesuaikan, apakah akan mencari suatu informasi khusus atau umum, dan apakah untuk kepentingan mahasiswa, sarjana, praktisi profesi, pasca sarjana atau peneliti. Bagian II Penulisan Ilmiah 35

Sumber pustaka ilmiah secara umum dapat dikelompokkan dalam pustaka primer dan pustaka sekunder. Meskipun buku teks merupakan sumber referensi yang penting, namun bagi seorang peneliti sumber yang lebih penting ialah majalah ilmiah dibanding buku. Hal ini disebabkan keuntungan dalam tenggang waktu antara suatu penemuan dalam penelitian dengan waktu publikasinya. Majalah ilmiah yang mutakhir akan memuat penemuan atau hasil penelitian yang mutakhir pula dibanding dengan buku yang sudah lama diterbitkan. Media publikasi ilmiah berbentuk majalah biasanya diterbitkan secara berkala (periodical), apakah mingguan, bulanan, kuartalan, setengah tahunan atau tahunan; sedangkan suatu buku teks biasanya direvisi selang 5 tahun. Oleh karena itu informasi dalam buku kadang-kadang sudah kuno (obsolete) dibanding informasi dalam majalah ilmiah.

Sumber primer
Sumber primer meliputi rekaman laporan penelitian ilmiah, teknologi atau profesional dari tangan pertama. Materi yang disajikan merupakan pengetahuan baru yang terdiri atas informasi terakhir dan mutakhir. Media yang digunakan untuk pelaporan ini meliputi majalah (ilmiah), laporan penelitian, risalah konperensi, paten, standar ( misalnya Standar Industri Indonesia = SII), pustaka perdagangan, tesis dan disertasi. Sumber primer ini biasanya tersebar sangat luas dan sukar diperoleh. Majalah (periodicals) dapat diklasifikasikan dalam majalah ilmiah (scientific), profesi (professional), dan komersial (commercial). Yang membedakan majalah ilmiah dengan yang bukan ilmiah ialah tidak ditolerir adanya iklan di dalam majalah ilmiah.

Sumber sekunder
Sumber sekunder mengandung informasi tangan kedua, namun lebih terorganisasi sehingga mudah diperoleh. Termasuk kategori ini ialah majalah, pelayanan indeks dan abstrak, indeks sitasi (citation index), pelayanan melalui komputer, buku referensi (ensiklopedi, kamus, buku pegangan atau handbook, tabel, formularium), risalat (treatise), monograf (misalnya F.I.) kompendia dan buku teks (textbook) Indeks sitasi (Citation Index) Di Indonesia belum dilembagakan. Lembaga indeks sitasi ini mengumpulkan data mengenai berapa kali seorang penulis atau artikelnya disitasi (dikutip) oleh penulis lain. Kualitas seorang peneliti di luar negeri ditentukan selain oleh jumlah artikel yang dipublikasikannya, juga ditentukan oleh berapa kali karya tulisnya disitasi oleh penulis atau peneliti lain berdasarkan indeks sitasi. Buku Buku merupakan sumber sekunder yang paling umum. Daftar Buku atau bibliography sebenarnya kurang tepat; lebih tepat dinamakan Daftar Pustaka, karena dalam praktek bukan saja terdiri atas buku, tetapi juga meliputi artikel dalam majalah, pamflet, rekaman pandang-dengar (audio visual), dan materi cetak maupun non-cetak lain seperti micro-fiche, video kaset, compact disc dan CD-ROM. 36 Bagian II Penulisan Ilmiah

Referensi (Reference) Referensi dapat berbentuk sembarang buku atau majalah yang dapat digunakan sebagai acuan, misalnya:
Ensiklopedi (Ecyclopedias), biasanya terdiri atas banyak jilid (volume), yang berisi informasi umum dan peristilahan. Belum ada ensiklopedi khusus Farmasi; ada untuk bidang alamiah dasar (basic sciences) dan ilmu terapan lain. Karena penerbitan maupun revisi ensiklopedi memerlukan puluhan tahun, biasanya informasi di dalamnya sudah out of date. Kamus (Dictionaries). Selain kamus bahasa terdapat pula kamus istilah untuk setiap bidang ilmu. Sampai sekarang bidang farmasi belum mempunyai kamus istilah tersendiri, namun terdapat kamus istilah lain yang penting bagi farmasi, misalnya kamus istilah kedokteran, kimia organik, kimia analitik, dan lain-lain. Buku Pegangan (Handbook). Buku pegangan merupakan kompilasi fakta dan angka dalam bentuk tabel. Termasuk buku pegangan ialah manual, buku data, buku referensi, buku sumber, dan vademekum. Direktori atau Buku Tahunan, berisi daftar nama, alamat yang dapat memberikan informasi mengenai orang (individu), organisasi, tempat, dan lain-lain.

Sumber Bacaan Khusus Farmasi


Di samping buku teks dalam bidang farmasi terdapat pula buku-buku khusus, yang merupakan buku standar mengenai obat, bahan obat dan bahan pembantu.
Farmakope atau Formularium, ialah buku yang berisi daftar obat (medicinal substances) dan bahan pembantu (device) disertai uraian, cara uji, dan formula untuk pembuatan obat yang sama, yang telah dikumpulkan oleh suatu badan yang dibentuk oleh pemerintah dan disahkan berlaku untuk suatu negara tertentu. Di Amerika Serikat, badan ini terdiri atas organisasi swasta. Farmakope Indonesia Edisi terakhir ialah Edisi-IV, tahun 1995. Di Amerika Serikat terdapat United States Pharmacopeia Edisi ke-XX1 tahun 1990 dan National Formulary (NF Edisi XVI tahun 1990) yang dikelompokkan sebagai official compendia, sedangkan buku lain dikelompokkan dalam non-official drug compendia. Sekarang ini sudah ada terbitan USP/NF yang mutakhir. Buku Materia Medika yang berisi uraian tentang simplisia obat tradisional dapat dikategorikan sebagai formularium. Risalat (Treatise), adalah buku mengenai suatu topik yang luas atau mengenai keseluruhan suatu bidang ilmu dengan pendekatan yang sistematik, luas , dan komprehensif, dan kadang-kadang kritis. Biasanya ini ditulis untuk keperluan para spesialis. Monografi, merupakan tulisan mengenai satu topik saja, biasanya mengandung informasi terakhir, dan diusahakan komprehensif dan sistematik, tetapi tanpa latar belakang dan data historis seperti dalam suatu risalat. Buku Teks, fungsi utama buku teks ialah mengajukan prinsip-prinsip suatu topik atau disiplin ilmu dalam cara sedemikian rupa agar informasi itu dapat digunakan sebagai dasar untuk pengajaran. Suatu buku teks ditulis menurut tingkat kesulitan dan kecanggihan tertentu, disesuaikan dengan forum yang dituju sesuai keinginan penulisnya. Suatu buku teks biasanya berkonsentrasi pada prinsip-prinsip, bukan pada perkembangan terakhir dari bidang ilmu tertentu, sehingga dapat digunakan selama jangka waktu yang panjang.

Bagian II Penulisan Ilmiah

37

Penulis lain membagi sumber informasi ke dalam 3 kategori, yaitu sumber primer, sekunder dan tersier. Seperti telah diuraikan, contoh sumber sekunder ialah terjemahan, ikhtisar atau ringkasan dari sumber primer, buku pegangan, dan publikasi lain yang mengandung informasi fakta, komentar dan lain-lain; sedangkan buku teks dikategorikan sebagai sumber tersier, karena buku teks merupakan kompilasi dari sumber-sumber sekunder. Sumber tersier memberikan suatu tinjauan atau ringkasan yang agak luas mengenai suatu bidang ilmu, dan hal ini dapat diterima sebagai acuan, karena buku teks telah menjadi semacam patokan. Khusus untuk penelitian pasca sarjana diharuskan berkonsultasi pada sumber primer.

Penelusuran Pustaka
Termasuk penelusuran pustaka ialah metode pencarian pustaka di perpustakaan. Bukubuku tersimpan di rak menurut pengaturan tertentu, umumnya menurut klasifikasi Dewey. Pencarian buku dapat dilakukan secara langsung, melalui :micro fiche atau melalui katalog buku. Metode lain penelusuran pustaka ialah melalui internet. II.8 Pembuatan Catatan

Agar mudah ditemukan kembali catatan disimpan menggunakan card system. Setiap catatan ditulis dalam selembar kartu menurut abjad pengarang atau menurut subjudul. Perlu diingat untuk setiap kali mencatat nama buku, pengarang, penerbit dan tahun penerbitannya. Jika perlu dicatat pula halaman buku. II.9 Kerangka Laporan Kerangka laporan suatu karya ilmiah umumnya terdiri atas 3 bagian, yaitu Pendahuluan, Tubuh atau Isi, dan Kesimpulan atau Penutup.

Pendahuluan
Pada Bab Pendahuluan diberikan perumusan yang jelas tentang masalah. Definisikan istilah yang digunakan , dan batas-batas telaah. Tempatkan masalah itu dalam latar belakang (setting) yang mempunyai arti. Untuk ini mungkin digunakan beberapa bentuk : diuraikan latar belakang permasalahan diadakan telusuran penelitian sebelum itu ditunjukkan dimensi waktunya diadakan pembatasan ruang lingkup bahasan Pendahuluan ini hendaknya memberikan kepada pembaca semua informasi yang akan diperlukan selanjutnya. Bagian ini hendaknya bersifat padat dan informatif. (Khusus untuk penulisan Skripsi dapat dilihat pada bagian yang lain)

Isi
Bagian ini merupakan argumentasi logis atau suatu sudut pandang tertentu mengenai permasalahan (Lihat : Mendefinisikan masalah). Di sini diusahakan untuk menyelesaikan 38 Bagian II Penulisan Ilmiah

masalah yang telah dirumuskan dalam pendahuluan. Diusahakan agar cara penulisan itu bergerak maju, jangan terhambat oleh penulisan detail yang terlalu terperinci, yang dapat mengalihkan konsentrasi pembaca dari permasalahan pokoknya.

Penutup
Bagian ini menyajikan hasil telaahan atau penelitian, kesimpulan atau pendekatan ke arah kesimpulan yang telah dirumuskan semula. II.10 Laporan Tugas Praktikum Pada dasarnya Laporan Tugas Praktikum tidak berbeda dengan Laporan Tugas Pustaka mengenai tatacara penulisannya. Perbedaan mungkin terletak pada format laporan yang berbeda menurut jenis percobaan yang dilakukan. Suatu laporan praktikum meliputi bagian-bagian : 1. Judul. Judul laporan praktikum ialah nama percobaan yang mengilustrasilkan masalah yang akan ditanggulangi, yang sebenarnya adalah Tujuan Instruksional yang sudah dirumuskan, misalnya : - Pembuatan injeksi (Steril) Morfin HCl 1% - Penentuan Kadar Asetaminofen secara Spektroskopi uv - Isolasi Alkaloida dari Brugmnabsia sp. - Uji Toksisitas akut Obat Tradisional 2. Sebagai pendahuluan diuraikan : - Tujuan Percobaan (permasalahan apa yang akan diambil kesimpulannya) - Prinsip penentuan (pada analisis misalnya diuraikan mekanisme reaksi) - Latar Belakang (uraian singkat mengenai permasalahan) - Formula Resep (uraian permasalahan) Urutan ini mungkin pula berbeda menurut jenis praktikumnya. 3. Pengerjaan. Termasuk bahan, alat dan metode yang digunakan pada percobaan 4. Pengamatan (hasil yang diamati, perhitungan dan pembahasan) 5. Kesimpulan (hasil) 6. Pustaka Jadi sama dengan laporan tugas pustaka, laporan inipun secara garis besar meliputi bagian Pendahuluan, Isi, dan Penutup (Kesimpulan), yang mungkin terdapat keragaman menurut sifat praktikum yang dilakukan. Perhatikan bahwa judul praktikum juga terdiri atas 2 katakunci. III. PERENCANAAN SKRIPSI

Pemilihan judul Skripsi yang sesuai keinginan merupakan tugas yang paling sulit, karena setelah menetapkan pilihan, jarang sekali terjadi perubahan judul karena biasanya sudah dibuatkan Surat Tugas oleh pimpinan. Untuk ini diperlukan pengetahuan yang mendalam mengenai bidang studi yang sedang dipelajari, atau disiplin ilmu tertentu. Selain pengetahuan yang mendalam, juga faktor minat mahasiswa sendiri sangat penting dalam menentukan dan memilih bidang apa yang akan ditekuni. Semakin bertambah Bagian II Penulisan Ilmiah 39

pengetahuan seseorang dalam bidang studi tertentu, semakin tampak adanya kesenjangan (gap) dan permasalahan baru yang memerlukan penelitian. (Ada pemeo yang mengatakanThe more you learn, the more you dont know). Kemampuan menemukan masalah inilah yang harus dikembangkan pada mahasiswa, karena setiap skripsi hendaknya menjelaskan suatu masalah tertentu. Pertanyaan pertama yang akan ditanya oleh penguji ialah : Apakah kontribusi atau sumbangan tulisan itu bagi ilmu pengetahuan; mengapa Anda memilih judul tersebut; apakah ini merupakan suatu masalah yang perlu diteliti lebih lanjut, dan apakah skripsi ini dapat menjawab pemecahan masalah tersebut.

Sumber masalah untuk penelitian


Salah satu sumber masalah yang baik ialah akhir dari suatu penelitian. Biasanya pada bagian akhir skripsi terdapat saran-saran untuk penelitian lebih lanjut. Staf pengajar yang aktif meneliti juga dapat dijadikan narasumber permasalahan, karena biasanya ada penelitian dosen yang dapat dipecah-pecah menjadi penelitian kecil yang dapat dikerjakan oleh mahasiswa. Semakin banyak masalah yang diteliti, semakin banyak pula masalah yang timbul untuk diteliti. Sumber lain ialah tulisan dalam majalah/jurnal ilmiah yang mutakhir, karena dari publikasi tersebut seseorang dapat terinspirasi untuk melihat permasalahan baru. Dapat pula diadakan pengulangan penelitian yang sama dalam lingkunagn (setting) yang berbeda, misalnya faktor waktu, tempat (geografis) dan variasi lainnya, misalnya metode dan peralatan yang berbeda. Demikian pula dapat ditemukan gejala yang timbul di masyarakat, yang ada hubungannya dengan bidang yang ditekuni, misalnya di masa lalu pernah terjadi kasus biskuit yang beracun karena tertukarnya bahan kimia, kasus bumbu masak Ajinomoto, penggunaan asam borat dalam bakso, penggunaan formalin pada tahu, pestisida di perkebunan, pencemaran lingkungan oleh surfaktan yang terkandung dalam sabun detergen, dan masalah aktual lain yang perlu penjelasan secara ilmiah.

Kriteria pemilihan Judul


Setelah diadakan pembatasan ruang lingkup masalah yang akan diteliti, dan telah ditemukan beberapa masalah yang mungkin dapat dijadikan objek penelitian, perlu diperanyakan beberapa hal mengenai judul yang dipilih itu. Pertama, ialah adakah pembimbing untuk bidang penelitian yang dipilih itu. Oleh karena cenderung terjadi spesialisasi dalam bidang ilmu, maka kemungkinan tidak ada pembimbing yang cocok atau yang berminat membimbing Anda dengan judul itu. Kedua, apakah judul itu memang menarik bagi Anda. Selama waktu yang cukup lama Anda diharuskan menggeluti judul tersebut, sehingga seyogianya judul itu menarik bagi Anda. Tanpa minat yang besar, kemungkinan pekerjaan Anda akan terbengkalai dan berhenti di tengah jalan. Ketiga, masalah waktu yang tersedia untuk penelitian. Judul-Judul yang berkaitan dengan pertumbuhan atau kecenderungan (trend) yang memerlukan waktu menunggu atau yang memerlukan waktu pengerjaan yang lama. Sebagai contoh di bidang Farmakognosi, misalnya yang menyangkut pembudidayaan tanaman obat, mungkin tidak akan dipilih 40 Bagian II Penulisan Ilmiah

mahasiswa karena risiko waktu dan kegagalan pekerjaan. Bagaimanapun menariknya suatu judul, apabila tidak dapat diselesaikan dalam waktu tertentu, lebih baik ditinggalkan saja. Keempat, peralatan yang diperlukan. Kebanyakan penelitian di bidang farmasi memerlukan peralatan khusus yang mungkin cukup canggih (sophisticated). Contohnya ialah instrumen Kromatografi Gas, Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (HPLC) atau Spektrofotometer Serapan Atom yang belum dipunyai sendiri. Selain faktor peralatan, juga faktor bahan kimia yang mungkin harus dipesan dari luar negeri merupakan kendala yang harus dipertimbangkan pada pemilihan judul. Kelima, subyek penelitian. Khususnya dalam bidang Ilmu-Ilmu sosial diperlukan subyek. Dalam bidang Ilmu-Ilmu Kesehatan mungkin diperlukan probandus (manusia percobaan) atau hewan percobaan. Keenam, fasilitas perpustakaan. Fasilitas perpustakaan sangat penting untuk penelitian kepustakaanmaupun analitis. Suatu judul tertentu mungkin tidak sesuai disebabkan oleh tidak adanya sumber pustaka yang diperlukan. Seringkali mahasiswa perlu bantuan perpustakaan di tempat lain. Akan tetapi dalam era perkembangan informasi yang pesat ini, bukan lagi merupakan penghambat. Beberapa institusi farmasi di Indonesia sudah menggunakan CD-ROM untuk pembelajaran. Demikian pula dengan mengakses melalui internet dapat diperoleh semua informasi yang diperlukan. Ketujuh, kelayakan (feasibility) penelitian. Selain kelayakan peralatan, subjek, kepustakaan dan waktu, masalah kelayakan lain ialah apakah teknik riset yang diperlukan untuk pengujian masalah tertentu telah dikembangkan atau sudah cukup teruji. Dengan demikian sudah harus diperhitungkan sebelumnya alat uji apa (statistik) yang akan digunakan dalam penelitian. Kedelapan, kebermaknaan (significancy) penelitian. Pertanyaan ini sulit dijawab. Seperti pengamatan Stimpson (1945) : .Secara umum tidak ada fakta yang dapat dianggap sepele.
Kekuatan suatu matarantai ditentukan oleh kekuatan pada ikatannya yang terlemah, dan semua fakta akan cocok secara keseluruhan. Suatu fakta yang tampaknya sepele, mungkin berubah menjadi sesuatu yang sangat penting di tangan seorang ilmuwan.

Si pelaksana sendiri yang dapat menilai apakah waktu, usaha dan biaya untuk menangani suatu masalah itu wajar untuk dapat melaksanakan penelitian itu. IV. PENALARAN DALAM TULIS MENULIS [5,7,9]

Berpikir dilakukan oleh semua orang. Tidak semua kegiatan batin dapat disebut berpikir, misalnya melamun atau berangan-angan. Orang mulai berpikir apabila berhadapan dengan suatu masalah, lalu mencoba untuk mencari jalan keluarnya. Masalah yang sekecil apapun dapat menyebabkan orang berpikir. Sebagai contoh, orang harus berpikir bagaimana harus menyeberangi jalan raya yang ramai. Ia harus memperhatikan arus lalu lintas, arah datangnya serta kecepatan kendaraannya. Kalau diperhatikannya lebih lanjut, akan ditemukannya tempat khusus penyeberangan, apakah jembatan penyeberangan atau zebra cross. Pada tempat khusus penyeberangan itu orang dapat menyeberang dengan aman pada saat tertentu. Di tempat lain selain itu akan sangat berbahaya untuk menyeberang jalan. Dari sejak orang itu berniat untuk menyeberang jalan sampai pada Bagian II Penulisan Ilmiah 41

saat ia mengayunkan langkahnya untuk menyebrang, terdapat proses pemikiran dalam diri orang itu.

Berpikir Logis dan Analitis


Dalam proses itu ia bernalar, artinya ia menggunakan akal sehatnya (logika). Orang dikatakan bernalar apabila ia membanding-bandingkan kemungkinan yang satu dengan kemungkinan yang lain, menimbang-nimbang mana yang lebih menguntungkan, dan mana yang justru merugikan. Penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik kesimpulan yang berupa pengetahuan; jadi penalaran adalah proses berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran ilmiah. Karakteristik atau ciri pertama penalaran ialah, adanya suatu pola berpikir luas yang dinamakan logika; atau dapat dikatakan bahwa penalaran ialah proses berpikir logis. Ciri kedua dari penalaran ialah sifat analitis dari proses berpikir itu, yaitu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu. Proses berpikir menurut Dewey (1957) terdiri atas 5 langkah : 1) merasakan ada kesulitan 2) mendefinisikan kesulitan itu 3) mengajukan (alternatif) penyelesaian yang mungkin 4) memberi gambaran mengenai pertautan atau hubungan 5) menguji lebih lanjut hingga usulan itu akhirnya diterima atau ditolak. Penalaran dapat disertai, tetapi logis terdapat pernyataan yang kesimpulan. Apabila pernyataan bila tidak tersusun secara wajar, dapat pula tidak disertai logika. Pada penalaran secara disebut dalil atau premis, dan pernyataan yang disebut itu wajar, maka uraian itu disebut berlogika. Sebaliknya maka orang menyebutnya tidak menurut logika.

Penalaran Ilmiah
Untuk melakukan kegiatan analisis, maka kegiatan penalaran tersebut harus diisi dengan materi pengetahuan yang berasal dari suatu sumber kebenaran. Pada dasarnya pengetahuan yang digunakan pada penalaran bersumber pada rasio atau fakta. Sebagian orang menganut faham bahwa rasio adalah sumber kebenaran (rasionalisme), sebagian lagi menganut faham yang menyatakan bahwa sumber kebenaran ialah fakta yang tertangkap lewat pengalaman manusia (empirisme). Penalaran ilmiah yang merupakan bagian dari usaha untuk mengembangkan ilmu dan teknologi, merupakan gabungan dari penalaran deduktif yang terkait dengan rasionalisme, dan penalaran induktif yang terkait dengan empirisme. Setiap penulis hendaknya berusaha sedapat mungkin untuk menyampaikan buah pikirannya dengan sebaik-baiknya. Dengan usaha demikian itu pesan yang hendak disampaikan dapat terjaga dari cacat yang melekat padanya. Pada dasarnya dapat dibedakan berbagai pola pemikiran dalam cara penyampaiannya secara tulisan, seperti yang terlihat pada penulisan pola paragraf. (Lihat pola paragraf pada Membaca Efektif) Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan itu mempunyai dasar kebenaran, maka proses berpikir itu harus dilakukan 42 Bagian II Penulisan Ilmiah

menurut cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan dianggap sahih (valid), apabila proses penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara atau metode tertentu. Terdapat 2 cara penarikan kesimpulan, yakni logika induktif dan logika deduktif. Penarikan kesimpulan dibedakan pula atas sebelum (apriori) dan sesudah (posteriori).

Logika Induktif
Logika induktif berkaitan dengan pengambilan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Induksi merupakan cara berpikir di mana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran induktif dimulai dengan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi, yang diakhiri dengan pernyataan (kesimpulan) yang bersifat umum. Contoh sederhana ialah fakta bahwa:
Kambing mempunyai mata Gajah mempunyai mata Kucing dan hewan lain mempunyai mata Kesimpulannya yang bersifat umum ialah : Semua hewan mempunyai mata

Cara pembuatan kesimpulan yang bersifat umum ini mempunyai 2 keuntungan : 1. Pernyataan yang bersifat umum ini bersifat ekonomis. Pernyataan seperti ini sudah cukup bagi manusia untuk bersifat fungsional dalam kehidupan praktis dan berpikir teoretis. 2. Dimungkinkannya proses penalaran selanjutnya, baik secara induktif maupun secara deduktif. Secara induktif, dari berbagai pernyataan yang bersifat umum dapat disimpulkan pernyataan yang lebih bersifat umum lagi. Umpamanya, dengan melanjutkan contoh tadi, dari kenyataan bahwa semua hewan mempunyai mata dan manusia mempunyai mata, dapat ditarik kesimpulan umum bahwa semua mahluk hidup mempunyai mata. Penalaran demikian itu memungkinkan disusunnya pengetahuan secara sistematis, yang mengarah pada pernyataanpernyataan yang makin lama makin berisfat fundamental. Contoh di atas itu merupakan pengungkapan dengan rekaan yang disebut induksi. Secara umum induksi dapat diperoleh dengan cara generalisasi atau penyamarataan hubungan sebab akibat dan analogi. Penyamarataan ialah kesimpulan yang didasarkan pada penelitian dari beberapa anggota atau komponen. Dengan sendirinya penelitian itu harus merata atau mewakili, dan tidak dilakukan pada bagian yang terpilih saja, agar kesimpulan yang diperoleh itutidak timpang. Sebenarnya azas yang terpakai disini ialah azas statistika, yaitu arah kecenderungan. Contoh lain di bidang analisis farmasi:
Analisis tablet Valium 2 menghasilkan kadar 99,9 % Analisis tablet Diazepin 2 menghasilkan kadar 102,5 % Analisis tablet Mentalium 2 menghasilkan kadar 100,1 %

Bagian II Penulisan Ilmiah

43

Kesimpulan : Analisis tablet Diazepam 2 yang beredar di Makassar menghasilkan kadar dalam batas persyaratan (95-105) %.

Berarti (secara umum) semua tablet yang mengandung Diazepam 2 memenuhi persyaratan kadar. Setelah dilanjutkan dengan analisis berbagai tablet Diazepam 5 dengan hasil yang sama, dapat diambil kesimpulan bahwa semua tablet yang mengandung psikotropika yang beredar di Makassar memenuhi persyaratan kadar Farmakope Indonesia.

Logika Deduktif
Deduksi adalah kegiatan berpikir sebaliknya dari induksi, yaitu cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Logika deduktif dinamakan pula sebagai cara kerja yang apriori, yaitu menghasilkan kesimpulan sebelum adanya pengamatan indriawi sebagai suatu dasar pengetahuan (contoh: perumusan hipotesis). Cara apriori tidak bersifat empiris, melainkan langsung berdasarkan pengetahuan (pengetahuan, konsep, intuisi) akal budi. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Contoh : Semua mahluk mempunyai mata
Si Polan adalah seorang mahluk Jadi si Polan mempunyai mata (Premis mayor) (Premis minor) (Kesimpulan)

Dalam contoh itu, Semua mahluk mempunyai mata merupakan dalil yang bersifat umum yang dinamakan premis mayor; kalimat berikutnya merupakan pernyataan yang bersifat khusus atau premis minor. Kesimpulan si Polan mempunyai mata adalah absah, karena ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya. Penalaran yang menggunakan 3 kalimat seperti itu dinamakan silogisme. Pada silogisme, kita bertolak dari dalil utama, menurunkannya ke dalil yang kurang penting, lalu sampai pada suatu kesimpulan. Kebenaran suatu kesimpulan tergantung pada kebenaran premis yang mendahuluinya. Mungkin saja kedua premis itu benar tetapi cara pengambilan kesimpulannya yang salah. Jadi ketepatan penarikan kesimpulan tergantung dari 3 hal, yaitu kebenaran premis mayor, kebenaran premis minor, dan kebenaran pengambilan kesimpulan. Contoh pengetahuan yang tersusun secara deduktif ialah Matematika.

Pola Penelitian pada Penulisan Skripsi


Skripsi ialah laporan penelitian yang merupakan persyaratan bagi mahasiswa untuk menyelesaikan program Sarjana. Materi Skripsi ialah bidang keahlian mahasiswa sesuai program studi yang diambilnya. Keahlian dalam bidang Farmasi dapat dilihat pada uraian sebelum ini tentang Ilmu-Ilmu Farmasi. Karena bersifat ilmu, maka cara-cara dalam memperoleh pengetahuan kefarmasian itu harus memenuhi persyaratan tertentu yang dinamakan metode ilmiah. Ilmu-Ilmu Farmasi secara sistematik dan kumulatif tersusun setahap demi setahap melalui penyusunan argumentasi mengenai sesuatu hal yang baru 44 Bagian II Penulisan Ilmiah

berdasarkan pengetahuan yang telah ada. Dengan demikian penyusunan ilmu pengetahuan dapat diibaratkan susunan batu bata (buiding blocks) pada suatu bangunan, yang lama kelamaan tersusun teratur di atas fondasi kuat yang telah ada. Dengan perkataan lain, suatu ilmu yang baru haruslah didasarkan atas pengetahuan yang telah ada sebelumnya, sehingga permasalahan atau gejala dicari jawabannya berdasarkan ilmu yang telah ada itu. Salah satu persyaratan keilmuan ialah bahwa pengethuan yang baru harus bersifat konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya. Suatu perumpamaan dalam bahasa Latin menggambarkan hal tersebut sebagai berikut : Serpens nisi serpentum comederit, non fit draco, yang secara harfiah berarti : Ular yang tidak memakan ular kecil lain, tidak akan menjadi naga, atau orang yang tidak belajar dari orang lain tidak akan menjadi orang besar [7]. Demikian pula halnya pada penyusunan ilmu pengetahuan, yang hanya dapat berkembang dengan mencontoh dan menggunakan ilmu orang lain. BAB V METODE ILMIAH

Metode ilmiah ialah prosedur untuk mendapatkan ilmu; atau dibalik, ilmu diperoleh melalui metode ilmiah. Metode ialah prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah sistematik. Metodologi ialah suatu pengkajian dalam mempelajari aturan-aturan dalam metode tersebut. Jadi metodologi ilmiah ialah pengkajian dari aturan-aturan yang terdapat dalam metode ilmiah. Karena berpikir itu merupakan suatu kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan, maka dapat pula dikatakan bahwa metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerja pikiran. Pengetahuan yang dihasilkan dengan menggunakan metode ilmiah mempunyai karakteristik tertentu, yang merupakan persyaratan pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasional dan teruji. Metode ilmiah mencoba menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif dalam membangun ilmu pengetahuan. Kerangka berpikir ilmiah berintikan proses yang disebut proses logiko-hipotetiko-verifikatif . Alur berpikir dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalam langkah-langkah : 1) 2) 3) 4) 5) Perumusan masalah Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis Perumusan hipotesis Pengujian hipotesis Penarikan kesimpulan

Suatu semboyan ilmiah ialah : Yakinkan secara logis dengan kerangka teoretis ilmiah, dan buktikan secara empiris pengumpulan fakta yang relevan. Box, Hunter dan Hunter dalam (Andi Hakim Nasution, 1982) mengungkapkan dalam gambar mengenai proses penelitian itu (untuk memperoleh pengetahuan baru), sebagai proses belajar berulang dari pengalaman melalui penerapan deduksi dan induksi silih berganti sebagai berikut :

Bagian II Penulisan Ilmiah

45

Data (fakta, gejala) deduksi induksi deduksi induksi

Hipotesis ( konjektur, model, teori) Penjelasan Bagan : Suatu hipotesis awal mengantar kita melalui deduksi ke sekumpulan akibat, yang dapat dibandingkan terhadap data yang telah dikumpulkan melalui pengalaman. Kalau akibat hipotesis dan data itu tidak sesuai, maka disusunlah suatu hipotesis baru melalui induksi. Hipotesis baru ini selanjutnya dibandingkan dengan data yang telah ada. dan dengan data baru. Perbandingan ini kemudian dapat menimbulkan perbaikan terhadap hipotesis, maka muncullah pengetahuan baru. V.1 Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian pada dasarnya meliputi pemilihan metode atau teknik yang paling sesuai untuk memecahkan masalah dalam suatu penelitian. Sangatlah sulit untuk merumuskan rancangan penelitian yang bersifat umum, karena demikian luasnya keragaman tipe penelitian. Namun demikian, secara umum tipe penelitian dapat dibagi 2 kategori besar : empiris dan analitis. Penelitian empiris atau eksperimental terutama dilaksanakan pada penelitian tipe-sains, sedangkan penelitian analitis atau penelitian pustaka, umumnya dilakukan pada banyak subjek bertipe-seni. Namun demikian pada penelitian sains dapat pula dilakukan penelitian bersifat analitis atau deskriptif, yang noneksperimental melalui suatu survei, observasi atau pengukuran tertentu.

Rantai Penalaran
Salah satu logika berpikir dalam penelitian ialah rantai penalaran (pola penelitian atau pola berpikir), yang dapat diterapkan pada penelitian tipe-sains maupun tipe-ilmu sosial. Krathwohl [6] menyatakan bahwa penelitian itu merupakan suatu rantai penalaran melalui alur-alur berpikir yang dapat digambarkan dalam suatu bagan seperti pada halaman berikut. Rantai penalaran ini berfungsi sebagai model umum dari suatu argumentasi logis, yang sebenarnya masih berupa konsep abstrak. Dengan menggunakan rantai penalaran, maka pola pikir yang digunakan pada contoh penelitian : Metode Acid Dye pada Penetapan Kadar Tablet Parasetamol ialah sebagai berikut: 1) Misalnya, dari hasil penelitian terdahulu disarankan untuk mencari metode penetapan kadar Paresetamol yang lain, atau menurut pemberitaan di media massa ditemukan tablet parasetamol yang sub-standar, atau metode penetapan kadar resmi di F.I.IV menggunakan instrumen yang canggih yang tidak dipunyai oleh umumnya laboratorium. 46 Bagian II Penulisan Ilmiah

2) Di sini peneliti memberikan dasar pemikiran dan sudut pandangnya dengan cara menghubungkan dan melihat keterkaitan antara butir-butir di atas. Berdasarkan keterkaitan atau hubungan yang ada pada latar belakang tersebut di atas, maka didefinisikan masalah : perlu dicari metode penetapan kadar alternatif (yang lain), karena Tablet Parasetamol sangat luas digunakan oleh masyarakat, padahal ternyata ditemukan beredarnya Tablet Parasetamol sub-standar. Acid Dye ialah suatu zat warna asam yang dapat bereaksi dengan asetaminofen membentuk warna yang dapat diukur serapannya. Dengan demikian maka mungkin saja kadar asetaminofen dalam Tablet Parasetamol dapat ditetapkan menggunakan pereaksi Zat Warna Asam yang diukur secara Spektrofotometri. 3) Pada tahapan ini timbul pertanyaan, prediksi atau model, tergantung seberapa banyak riset sebelumnya dapat memberikan dasar pemikiran bagi peneliti untuk mengetahui sesuatu. Pertanyaan timbul apabila tersedia cukup data untuk menunjukkan dimana dan apa yang akan dicari. Prediksi yang setingkat lebih tinggi dari pertanyaan , dapat dirumuskan apabila cukup banyak data dan jelas keterkaitannya dengan perlakuan. Jika dapat dikaitkan semua atau sebagian besar variabel dalam situasi tertentu, maka dapat dirumuskan suatu model, misalnya Hipotesis : Tidak ada perbedaan nyata pada kadar Asetaminofen dalam tablet (sesuai yang tertera pada etiket) menggunakan cara spektrofotometri Metode Acid Dye. 4) Setelah menyatakan keterkaitan, maka perlu diuraikan bagaimana studi itu akan dilakukan dalam bentuk desain. Pada tahapan ini perlu diadakan penerjemahan berbagai keterkaitan dalam hipotesis itu ke dalam rancangan atau pola penelitian. Pola penelitian meliputi 6 aspek (dikenal dengan 5 WH), yaitu : Who (subyek apa). Dalam contoh di atas subyeknya ialah asetaminofen dalam tablet Where (situasi di mana ia berada). Sampel yang diambil ialah bentuk tablet yang beredar di Makassar Why (penyebab atau perlakuan). Tablet parasetamol dari berbagai jenis bentuk dan merk mungkin berbeda kadarnya, atau kadarnya tidak sesuai yang tertera pada etiket apabila ditetapkan menggunakan metode Acid Dye. What Effect (pengamatan dan pengukuran). Hasil pengamatan dan pengukuran kadar masing-masing jenis tablet Parasetamol sesuai dengan yang tertera pada etiket, dibandingkan dengan standar.

(1)
sebelumnya. = latar

Hubungan

dengan

penelitian

Bagian II Penulisan Ilmiah

47

Gejala (2)

yang

diamati

di masyarakat

Dasar Pemikiran san Rationale

belakang masalah = mendefinisikan masalah = perumusan hipotesis = pola peneltian

(3)

Pengajuan pertanyaan,

hipotesis,

model

(4)

Desain

(5)

Subjek

Perlakuan

Observasi

Dasar pengamatan ciri atau perubahan

Prosedur = rencana kerja = hasil dan pembahasan

(6) (7) (8) (9)

Analisis Kesimpulan Hubungan ke penelitian selanjutnya Dasar pemikiran (baru) atau Rationale dan seterusnya

How (bagaimana diketahui terjadinya efek atau perbedaan). Untuk mengetahui adanya efek atau perbedaan antara sampel, digunakan analisis statistik. When (sekuens atau prosedur). Sampel tablet parasetamol diambil secara acak dari berbagai lokasi, kemudian ditetapkan kadarnya secara spektrofotometri metode acid dye di laboratorium. Tablet parasetamol yang beredar di Makassar terdiri atas berbagai jenis dan kemasan. Langkah pertama dalam desain (Pola Penelitian) ialah mengambil sampel yang mewakili semua jenis dan kemasan Tablet Parasetamol (disini diperlukan pengetahuan mengenai metode sampling dan statistik). Langkah kedua ialah mencari Zat warna Asam yang sesuai yang dapat membentuk warna stabil dengan asetaminofen, sehingga dapat diukur serapannya dengan Spektrofotometer visibel. Karena akan diukur dan dibandingkan serapannya, maka perlu dibuat kurva baku menggunakan asetaminofen BP (baku pembanding = reference standard). 48 Bagian II Penulisan Ilmiah

5) Konsep Pola Penelitian yang berupa pola pikir masih perlu dituangkan secara operasional dalam bentuk Rencana Kerja. Pada Rencana Kerja diidentifikasi Alat (spektrofotometer dan alat lain) yang diperlukan, dan bahan (asetaminofen BP, zat warna asam dan bahan pereaksi lain), dan prosedur kerja sesuai dengan pustaka. 6) Berdasarkan Rencana Kerja ini dilaksanakan eksperimen. Pada pelaksanaannya diamati hasil yang diperoleh, dicatat kondisi dan kemungkinan penyimpangan yang terjadi, lalu di analisis dan dibahas untuk menarik kesimpulan sesuai dengan hipotesis.. 7) Kesimpulan diambil berdasarkan analisis 8) Berdasarkan pengamatan kondisi atau penyimpangan selama pelaksanaan eksperimen diajukan saran-saran untuk penelitian lanjut. 9) Dari saran itu dapat timbul masalah baru yang selanjutnya dapat dimulai lagi dari butir 1. V.2 Struktur Penelitian (Struktur Pengkajian Ilmiah) [9]

Struktur penelitian merupakan rambu-rambu yang diterapkan dari pola pemikiran abstrak, yang secara logis dan kronologis mencerminkan kerangka penalaran ilmiah, yang selanjutnya dituangkan dalam suatu laporan ilmiah atau penulisan ilmiah. Banyak bentuk dan tata cara penulisan ilmiah yang dapat ditemukan dalam pedoman penulisan ilmiah. Meskipun bentuk luarnya berbeda, namun jiwa dan penalarannya adalah sama. Dengan demikian, yang lebih penting bukan saja memahami teknik pelaksanaannya, melainkan memahami dasar pikiran yang melandasinya. Penelitian ilmiah pada dasarnya merupakan operasionalisasi metode ilmiah dalam kegiatan keilmuan. Demikian juga penulisan ilmiah pada dasarnya merupakan argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan dalam bahasa tulisan. Untuk itu maka mutlak diperlukan penguasaan yang baik mengenai hakekat keilmuan, agar dapat melakukan penelitian, dan sekaligus melaporkannya secara tertulis. Dengan penguasaan tematik dan teknik yang menjamin suatu keseluruhan yang utuh, tidak lagi menjadi soal dari mana penulis akan mulai, apakah hipotesis ditulis langsung setelah perumusan masalah, di tempat mana akan ditempatkan postulat asumsi atau prinsip. Mereka yang belum menguasai logika penalaran ilmiah secara baik, biasanya akan memperlakukan bentuk dan tata cara penulisan secara baku, sesuai dengan pedoman tertentu. Bagan berikut ini menyajikan operasionalisasi penelitian yang dinamakan Struktur Pengkajian Ilmiah. Metode Ilmiah Penelitian Ilmiah PENGAJUAN MASALAH
Latar belakang masalah Identifikasi masalah Pembatasan masalah - Perumusan masalah

MASALAH

Bagian II Penulisan Ilmiah

49

Tujuan penelitian (secara umum) Kegunaan penelitian

PENYUSUNAN KERANGKA BERPIKIR

PENYUSUNAN KERANGKA TEORETIS DAN PENYUSUNAN HIPOTESIS


Pengkajian teori yang digunakan Pembahasan penelitian yang relevan Penyusunan kerangka berpikir di samping hipotesis - Perumusan hipotesis

HIPOTESIS

METODOLOGI PENELITIAN
Tujuan penelitian (operasional) Tempat / Waktu penelitian - Metode penelitian - Teknik Pengambilan contoh Teknik pengumpulan data Teknik analisis data

METODOLOGI PENELITIAN

HASIL PENELITIAN
Variabel yang diteliti Teknik analisis Kesimpulan analisis data Penafsiran kesimpulan analisis data - Kesimpulan pengujian hipotesis

PENGUJIAN HIPOTESIS

RINGKASAN KESELURUHAN
KESIMPULAN Deskripsi singkat mengenai masalah, hipotesis, metodologi dan hasil penelitian - Kesimpulan penelitian yang merupakan sintesis dari seluruh aspek tersebut di atas Pembahasan hasil penelitian dengan membandingkan terhadap penelitian lain dan pengalaman ilmiah yang relevan Pengkajian implikasi penelitian Pengajuan saran

Penjelasan Struktur Pengkajian Ilmiah :

Pengajuan Masalah.
Suatu masalah tidak pernah berdiri sendiri, tetapi terkait dengan faktor-faktor sekelilingnya. Oleh karena itu perlu dikaji latar belakang permasalahan, yaitu situasi dimana permasalahan itu berada, apakah latar belakang ekonomi, sosial, politik, 50 Bagian II Penulisan Ilmiah

kebudayaan atau faktor lainnya. Dalam konstelasi situasi tertentu demikian itu dapat diidentifikasi suatu permasalahan. Identifikasi masalah merupakan tahap permulaan dari penguasaan masalah dimana suatu objek dalam jalinan situasi tertentu dapat dikenali sebagai suatu masalah. Ternyata identifikasi masalah menimbulkan banyak pertanyaan. Dalam kegiatan ilmiah berlaku azas, bahwa bukanlah kuantitas jawabannya yang menentukan mutu keilmuan suatu penelitian, melainkan kualitas jawabannya. Karena banyaknya pertanyaan yang memerlukan jawaban itu, maka perlu dibatasi ruang lingkupnya. Pembatasan masalah merupakan upaya untuk menetapkan batas-batas permasalahan dengan jelas, yang memungkinkan kita untuk mengidentifikasi faktor mana saja yang termasuk ke dalam ruang lingkup permasalahan dan mana yang tidak. Di sini pun masalah penelitian harus dibatasi lebih lanjut dengan menetapkan di mana dan kapan penelitian akan dilakukan (pembatasan ruang dan waktu). Dengan pembatasan masalah ini, maka fokus masalah menjadi bertambah jelas sehingga memungkinkan kita untuk merumuskan masalah itu dengan baik. Perumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin dicarikan jawabannya, yang merupakan pertanyaan lengkap dan terperinci mengenai ruang lingkup permasalahan yang akan diteliti berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah. Masalah yang dirumuskan dengan baik, berarti setengah terjawab. Setelah masalah diidentifikasi dan dibatasi, yang tercermin pada pernyataan yang bersifat jelas dan spesifik, maka dapatlah dikembangkan kerangka pemikiran yang berupa kajian teoretis berdasarkan pengetahuan ilmiah yang relevan, serta memungkinkan kita untuk melakukan pengujian secara empiris terhadap kesimpulan analisis teoretis, maka secara konseptual masalah tersebut sudah berhasil dirumuskan. Tanpa perumusan masalah yang spesifik, tidak mungkin kita mengidentifikasi pengetahuan ilmiah yang relevan dalam membangun suatu kerangka pemikiran. Demikian pula metode ilmiah mensyaratkan adanya hipotesis sebagai jawaban sementara terhadap permasalahan yang dihadapi, yang diturunkan secara deduktif dari pengalaman ilmiah yang dikumpulkan, sehingga untuk dapat mengidentifikasi teori-teori yang diperlukan, maka perlu diketahui karakteristik permasalahannya. Dengan perumusan masalah yang baik akan membantu pula dalam menetapkan data empiris yang harus dikumpulkan. Setelah masalah dirumuskan dengan baik maka seorang peneliti menyatakan tujuan penelitiannya. Tujuan penelitian adalah pernyataan mengenai ruang lingkup dan kegiatan yang akan dilakukan berasarkan masalah yang telah dirumuskan. Setelah itu dibahas kegunaan penelitian, yang merupakan manfaat yang dapat dipetik dari pemecahan masalah yang diperoleh dari penelitian. Keseluruhan langkah dalam kegiatan keilmuan terpadu secara utuh dalam suatu logika ilmiah. Oleh sebab itu haruslah benar-benar dipahami, bukan saja sekedar mengetahui langkah-langkah apa yang harus dilakukan, melainkan juga mengetahui dasar pikiran yang melatarbelakangi langkah-langkah tersebut.

Penyusunan Kerangka Teoretis dan Pengajuan Hipotesis


Setelah masalah dirumuskan dengan baik, maka langkah kedua dalam metode ilmiah ialah pengajuan hipotesis. Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan. Pemecahan masalah dalam kegiatan ilmiah menggunakan cara ilmiah. Cara ilmiah dalam pemecahan masalah pada hakekatnya adalah Bagian II Penulisan Ilmiah 51

mempergunakan pengetahuan atau teori-teori ilmiah sebagai dasar argumentasi dalam mengkaji persoalan agar didapatkan jawaban yang dapat diandalkan, berarti dipergunakan teori-teori ilmiah sebagai alat pembantu untuk menemukan pemecahan masalah. Dengan mempergunakan pengetahuan ilmiah yang relevan dengan permasalahan tersebut, maka dimulai melakukan analisis yang berupa pengkajian teoretis. Pada dasarnya pengkajian teoretis ini meliputi : 1) Mengkaji karakteristik masalah berdasarkan pengetahuan ilmiah; 2) Mencari perbedaan dari karakteristik tersebut, 3) Dan mengkaji secara ilmiah mengenai hakekat masalah. Berdasarkan pengkajian ini akan dirumuskan hipotesis yang berupa pertanyaanpertanyaan. Agar supaya kerangka teoretis dapat disebut meyakinkan, maka argumentasi yang disusun tersebut harus memenuhi beberapa syarat : 1) Teori yang dipergunakan dalam kerangka berpikir harus merupakan pilihan dari sejumlah teori yang dikuasai secara lengkap dengan mencakup perkembanganperkembangan terbaru. Sekiranya dipilih suatu pendekatan tertentu dari beberapa pendekatan sesuai teori, atau dipilih satu alternatif dari beberapa kemungkinan, perlu dijelaskan mengapa kita memilih pendekatan atau alternatif tersebut. 2) Karena perkembangan ilmu sangat pesat, sebuah teori yang efektif di masa lalu mungkin sudah ditinggalkan saat ini. Oleh karena itu teori yang dipilih hendaknya merupakan perkembangan terakhir dalam bidangnya. Dengan demikian kita dapat berargumentasi menggunakan teori-teori yang representatif pada saat ini. The state of the art merupakan lingkup yang bersifat menyeluruh dalam mencakup perkembangan terbaru dalam suatu disiplin keilmuan, yang dipergunakan sebagai dasar analisis dalam pengajuan hipotesis. Pengetahuan filsafati tentang suatu teori adalah pengetahuan tentang pikiran-pikiran dasar yang melandasi tersebut dalam bentuk postulat, asumsi atau prinsip. Idealnya perkuliahan sarjana, apalagi pasca sarjana , pada hakekatnya paling tidak harus mencakup beberapa hal, yaitu mengkaji the state of the art dari suatu disiplin ilmu yang mencakup seluruh perkembangan teori keilmuan sampai sekarang. analisis filsafati dari teori-teori keilmuan yang difokuskan kepada cara berpikir keilmuan yang mendasari pengetahuan tersebut dengan pembahasan secara eksplisit mengenai postulat, asumsi dan prinsip yang mendasarinya. mampu mengidentifikasi masalah yang timbul sekitar disiplin keilmuan tersebut. Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar dari argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala yang menjadi objek permasalahan kita. Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran bisa meyakinkan sesama ilmuwan, adalah alur-alur pikiran logis dalam membangun suatu kerangka berpikir yang membuahkan kesimpulan sementara berupa hipotesis. Ilmu mensyaratkan bahwa pengetahuan ilmiah baru harus bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya, dan hal ini harus 52 Bagian II Penulisan Ilmiah

tercermin dalam struktur logika berpikir dalam menarik kesimpulan. Untuk ini harus dipenuhi 2 persyaratan : 1) mempergunakan premis-premis yang benar, dan 2) mempergunakan cara penarikan kesimpulan yang sah. Pada hakekatnya kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis didasarkan kepada argumentasi deduktif dengan mempergunakan pengetahuan ilmiah sebagai premis-premis dasarnya. Mempergunakan pengetahuan ilmiah sebagai premis dasar dalam kerangka argumentasi akan menjamin 2 hal : 1) Karena kebenaran pernyataan ilmiah telah teruji lewat proses keilmuan, maka kesimpulan yang ditarik merupakan jawaban yang terandalkan. 2) Dengan mempergunakan pernyataan yang secara sah diakui sebagai pengetahuan ilmiah, maka pengetahuan baru yang ditarik secara deduktif akan bersifat konsisten dengan tubuh pengetahuan yang telah disusun. Patut disadari bahwa dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis, pada pokoknya kita mengembangkan argumentasi untuk memberi penjelasan sementara tentang masalah yang dihadapi. Berpikir argumentatif ini selanjutnya berarti bahwa kita menyusun kerangka berpikir kita (bukan kerangka berpikir orang lain) secara sistematik dan analitik dengan mempergunakan khasanah teori ilmiah yang selektif. Di samping premis-premis tersebut, maka dalam kerangka teoretis dilakukan juga pengkajian terhadap penelitian-penelitian yang relevan, yang telah dilakukan peneliti lainnya. Perumusan pikiran-pikiran dasar berupa postulat, asumsi, atau prinsip, lebih banyak digunakan dalam kajian bidang ilmu-ilmu soasial, relatif tidak banyak dalam kajian ilmuilmu alam. Sebagai contoh, penelitian di bidang pendidikan terdapat sejumlah pikiran dasar mengenai apa yang disebut proses pendidikan yang baik, kurikulum yang efektif, sistem pendidikan yang efisien, dan sebagainya. Pikiran-Pikiran dasar ini secara sistematik harus dinyatakan dalam serangkaian postulat, asumsi dan prinsip, agar alur kerangka berpikir kita dapat diikuti orang lain dengan jelas.

Metodologi Penelitian
Setelah dirumuskan hipotesis yang diturunkan secara deduktif dari pengetahuan ilmiah yang relevan, maka langkah berikutnya adalah menguji hipotesis tersebut secara empiris. Artinya bahwa dilakukan verifikasi apakah pernyataan yang dikandung dalam hipotesis yang diajukan tersebut didukung atau tidak oleh pernyataan yang bersifat faktual. Kalau dalam proses pengajuan hipotesis dilakukan penerimaan kesimpulan secara deduktif, maka dalam proses verifikasi dilakukan penarikan kesimpulan secara induktif. Proses verifikasi ialah upaya untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari fakta-fakta yang bersifat individual. Masalah dalam proses verifikasi ini adalah bagaimana prosedur dan cara dalam pengumpulan dan analisis data, agar kesimpulan yang ditarik itu memenuhi persyaratan berpikir induktif. Penetapan cara dan prosedur ini disebut metodologi penelitian. Metodologi adalah pengetahuan tentang metode-metode, jadi metodologi penelitian ialah pengetahuan tentang metode-metode yang digunakan dalam penelitian Bagian II Penulisan Ilmiah 53

yang diturunkan dari tujuan penelitian. Dalam proses verifikasi dituntut untuk melakukan penarikan kesimpulan secara induktif. Kegiatan pertama dalam menyusun metodologi penelitian adalah menyatakan secara lengkap dan operasional tujuan penelitian, yang mencakup bukan saja variabel-variabel yang akan diteliti, dan karaktersitik hubungan yang akan diuji, melainkan sekaligus juga tingkat keumuman (level of generality) dari kesimpulan yang akan ditarik seperti tempat, waktu, kelembagaan dan sebagainya. Berdasarkan tujuan penelitian ini akan dapat dipilih metode penelitian yang tepat, beserta teknik pengambilan contoh (sampel) dan teknik penarikan kesimpulan yang relevan. Metode adalah prosedur atau cara yang ditempuh dalam mencapai suatu tujuan, sedangkan teknik adalah cara yang spesifik dalam memecahkan masalah tertentu yang ditemukan dalam melaksanakan prosedur. Jadi metode penelitian mencakup beberapa teknik, misalnya teknik pengambilan contoh, teknik pengukuran, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data. Pada hakekatnya proses verifikasi adalah mengumpulkan dan menganalisis data, dimana kesimpulan yang ditarik kemudian dibandingkan dengan hipotesis untuk menentukan apakah hipotesis yang diajukan tersebut diterima atau ditolak. Dengan demikian maka teknik-teknik yang tergabung dalam metode penelitian harus dipilih yang cocok dengan rumusan hipotesis. Sebagai contoh, pada teknik analisis statistika untuk menemukan perbedaan antara dua variabel, x y, atau pengujian hipotesis alternatif, digunakan analisis statistika yang bersifat dua arah, sedangkan untuk membandingkan 2 variabel, x > y, atau pengujian hipotesis selektif, digunakan analisis statistika satu arah. Oleh karena itu dalam teknik analisis data harus dinyatakan secara tersurat pengajuan hipotesisnya, yang dinyatakan dalam pernyataan statistis dengan menuliskan bersama-sama, baik hipotesis nol (H0) maupun hipotesis tandingan (H1) beserta rumus statistika yang dipergunakan. Pengajuan hipotesis dalam kerangka teoretis cukup diekspresikan dengan hipotesis konseptual, yang dinyatakan dalam bentuk nonstatistis. Dalam teknik pengumpulan data harus dinyatakan variabel yang akan dikumpulkan, sumber data dari mana keterangan mengenai variabel tersebut akan diperoleh. Demikian pula halnya dengan teknik pengukuran, instrumen pengukuran (misalnya kuesioner) dan teknik memperoleh data (misalnya wawancara). Apabila pada pengumpulan data perlu menggunakan instrumen tertentu, maka instrumen itu harus diuji dulu sebelum dipergunakan. Untuk itu dinyatakan secara tersurat langkah-langkah pengujian beserta hasilnya. Pada pokoknya sebuah instrumen harus teruji keabsahan (validity) dan keandalannya (reliability).

Hasil Penelitian
Setelah perumusan asalah, pengajuan hipotesis dan penetapan metodologi penelitian, maka langkah berikutnya ialah melaporkan apa yang ditemukan berdasarkan hasil penelitian. Sebaiknya bagian ini betul-betul dipergunakan untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan selama penelitian untuk menarik kesimpulan. Deskripsi tentang langkah dan cara pengolahan data sebaiknya sudah dinyatakan dalam metodologi penelitian. Dalam membahas hasil penelitian, harus diingat bahwa tujuannya adalah membandingkan kesimpulan yang ditarik dari data yang telah dikumpulkan, dengan 54 Bagian II Penulisan Ilmiah

hipotesis yang diajukan. Secara sistematik dan terarah data yang telah dikumpulkan tersebut diolah, dideskripsikan, dibandingkan, dan dievaluasi, yang kesemuanya diarahkan kepada sebuah pengambilan kesimpulan apakah data tersebut mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan. Sebaiknya pula diadakan evaluasi mengenai kesimpulan tersebut. Suatu kesimpulan yang menyebabkan ditolaknya suatu hipotesis sebaiknya juga dianalisis lebih lanjut. Mungkin juga ditemukan bahwa hipotesis tidak diterima, disebabkan oleh kerangka teoretis untuk pengajuan hipotesisnya tidak benar. Dalam hal ini tidak dibenarkan untuk berbalik arah dengan mengubah kerangka teoretis untuk disesuaikan, sebab secara epistemologis hal itu tidak sah, dan kemungkinan menghasilkan kesimpulan yang salah. Seandainya terdapat keraguan dalam kesimpulan, sebaiknya kesimpulan ini dianggap sebagai kebenaran sementara, yang dapat disarankan untuk diuji kembali pada penelitian nerikutnya, agar dapat lebih dipastikan kebenarannya. Dalam keadaan hipotesis yang ditolak, biasanya diberikan penjelasan berupa dugaan mengapa hal itu terjadi, kemudian disarankan menjadi hipotesis untuk diuji pada penelitian lain. Untuk melaporkan hasil penelitian, maka secara singkat dan kronologis, pertama-tama diberikan deskripsi tentang variabel yang diteliti, disusul dengan teknik analisis yang digunakan. Setelah itu hasil pengukuran dilaporkan, yang kemudian dilengkapi dengan kesimpulan analisis dari data yang dikumpulkan. Laporan ditulis dalam bentuk esei dengan kalimat-kalimat verbal yang mencakup semua pernyataan yang sepatutnya dikemukakan, baik pernyataan yang bersifat kualitatif maupun yang kuantitatif. Sekiranya diperlukan, maka deskripsi bentuk esei ini dilengkapi dengan berbagai sarana pembantu seperti tabel, grafik atau bagan, yang berfungsi untuk lebih memperjelas pernyataan verbal, bukan sebaliknya. Demikian juga data yang ditempatkan dalam tubuh utama laporan haruslah merupakan data yang telah diolah. Data mentah dan langkah-langkah dalam pengolahan data tersebut sebaiknya ditulis dalam lampiran. Langkah berikutnya ialah pemberian penafsiran terhadap kesimpulan analisis data. Pada tahap ini harus ditafsirkan hubungan yang bersifat statistis seperti regresi dan korelasi, ke dalam hubungan yang bersifat ilmiah, misalnya hubungan kausalita. Demikian pula ditafsirkan tingkat keumuman (generality) dari kesimpulan yang ditarik berdasarkan contoh (sampel), kepada kesimpulan yang menyangkut populasi. Penafsiran terminologi analisis juga harus diberikan, misalnya apa yang dimaksud dengan koefisien korelasi tertentu yang besarnya diukur pada penelitian. Sekiranya diperoleh bahwa x dan y berkorelasi dengan koefisien sebesar r, maka harus dijelaskan hubungan yang terdapat antara kedua variabel tersebut. Kiranya patut diingat bahwa statistika dan bermacam teknik analisis lainnya hanya sekedar alat dan bukan merupakan tujuan.

Ringkasan dan Kesimpulan


Kesimpulan penelitian merupakan sintesis dari keseluruhan aspek penelitian yang terdiri dari masalah, kerangka teoretis, hipotesis, metodologi penelitian dan penemuan penelitian. Sintesis membuahkan kesimpulan yang ditopang oleh suatu kajian terpadu, dengan meletakkan berbagai apek penelitian dalam perspektif yang menyeluruh. Untuk itu maka diuraikan kembali secara ringkas pernyataan pokok aspek tersebut di atas dan meletakkannya dalam kerangka yang mengarah kepada kesimpulan. Itulah sebabnya bagian ini disebut ringkasan. Kesimpulan penelitian harus tetap dapat Bagian II Penulisan Ilmiah 55

dipertanggungjawabkan dalam kerangka teori keilmuan yang didukung oleh penemuan penelitian. Kesimpulan ini kemudian dibahas dengan jalan membandingkannya terhadap penelitian dan pengetahuan ilmiah lain yang relevan.

Abstrak
Abstrak merupakan ringkasan yang disarikan dari seluruh kegiatan penelitian, yang paling banyak terdiri atas 3 halaman, namun ada yang memberi batas paling banyak 200 kata. Keseluruhan abstrak merupakan esei yang utuh, dan tidak dibatasi dengan subjudul. (Catatan : karena tidak mempunyai subjudul, berarti hanya ada 1 topik kalimat yaitu abstrak. Karena hanya ada 1 topik kalimat, maka ada yang mengatakan bahwa abstrak sebaiknya hanya terdiri atas 1 paragraf. Khususnya, apabila abstrak ini akan dimuat dalam jurnal ilmiah, maka biasanya hanya diminta dalam satu paragraf saja). Sesuai dengan langkah-langkah dalam peneilitan, maka abstrak mencakup keseluruhan pokok pernyataan penelitian, mengenai masalah, hipotesis , metodologi dan kesimpulan. Karena teralu panjang, maka kerangka pemikiran tidak dicantumkan dalam abstrak, atau dicantumkan hanya bagian pokoknya saja. Tiap bagian ditulis secara utuh namun ringkas, tiap bagian harus mendapatkan perlakuan yang seimbang. Sebuah abstrak hendaknya menimbulkan minat kepada pembaca untuk membaca keseluruhan laporan. Karena dapat diibaratkan sebagai iklan, maka abstrak ditempatkan di halaman terdepan dari publikasi ilmiah.

BAB VI

BENTUK DAN FORMAT PELAPORAN

Pada prinsipnya tidak terdapat perbedaan bentuk dan format pada pelaporan karya tulis ilmiah; apakah karya tulis itu berbentuk tugas laporan pustaka (assignment), makalah ilmiah (scientific paper), laporan praktikum, skripsi, tesis atau disertasi. Suatu karya tulis ilmiah pada dasarnya terdiri atas Pendahuluan, Isi dan Kesimpulan atau Penutup. Format laporan dapat bervariasi menurut forum atau audience yang akan mempublikasikannya. Sebagai contoh, penulisan artikel untuk suatu jurnal tertentu, biasanya sudah ditentukan formatnya. Demikian pula format makalah yang akan disajikan dalam suatu pertemuan ilmiah, biasanya panitia sudah menentukan format makalah yang dapat diterima. Untuk pelaporan hasil penelitian berbentuk Skripsi, setiap universitas atau fakultas mempunyai Pedoman Penulisan Skripsi sendiri. Seperti telah diuraikan sebelum ini, hendaknya jangan terlalu kaku dalam mengikuti pedoman tersebut, karena yang lebih penting ialah alur berpikir yang ingin dikemukakan penulis. Sebagai pedoman aturan pelaporan Skripsi itu hanya memberikan kerangka dasar format pelaporan yang tidak mengikat. VI. 1 Contoh Format Penulisan Skripsi [10]

Penulisan Skripsi pada dasarnya terdiri atas 3 bagian besar : 1. Bagian Pendahuluan, yang memuat bahan preliminer 2. Bagian Pokok, yang memuat teks pokok laporan / karya 56 Bagian II Penulisan Ilmiah

3. Bagian Akhir, yang memuat bahan-bahan referensi Perincian kerangka laporan penelitian adalah sebagai berikut : I . Bagian Pendahuluan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Judul laporan Halaman pengesahan (bila ada) Kata pembuka dan pengharagaan (Ucapan terima kasih) Daftar Isi Daftar tabel (jika ada) Daftar grafik, diagram atau gambar (jika ada)

II. Bagian Pokok A. PENGANTAR 1. 2. 3. 4. 1. yang 2. berkaitan. Eksposisi angapan-anggapan yang mendasari hipotesis yang diajukan. 3. Pernyataan hipotesis yang hendak diselidiki. 4. Hasil yang diharapkan beserta implikasi-implikasi praktisnya. C. ANALISIS DAN PENETAPAN METODE YANG DIPAKAI 1. Populasi, sampel, dan prosedur sampling 2. Metode dan prosedur pengumpulan data 3. Metode dan prosedur analisis data D. PENGUMPULAN DAN PENYAJIAN DATA 1. Uraian atau deskripsi secara singkat (jika perlu) 2. Penyajian tabel-tabel (jika ada) 3. Penyajian grafik, diagram, dll (jika ada) E. ANALISIS DATA 1.Analisis statistik (jika ada) 2.Analisis isi atau analisis kualitatif (jika ada) 3.Analisis perbandingan atau komparatif (jika ada) 4.Kesimpulan analisis F. RINGKASAN DAN SARAN-SARAN 1. Ungkapkan kembali secara singkat permasalahannya Bagian II Penulisan Ilmiah 57 Penegasan mengenai judul Alasan pemilihan judul. Tujuan riset (jika belum digabung pada 2). Sistematika pelaporan. Analisis hasil penelitian sebelumnya, pengamatan, dan diskusi tentang masalah

B. ANALISIS LANDASAN TEORI

2. Nyatakan kembali secara singkat metode yang digunakan untuk menggarap masalah itu. 3. Nyatakan secara singkat penggarapan masalah dan kesimpulannya 4. Saran-Saran atau rekomendasi yang relevan

III. Bagian Akhir


1. Daftar pustaka atau bibliografi 2. Lampiran (jika ada) 3. Indeks nama dan indeks masalah (jika ada) VI. 2 Pedoman Penulisan Skripsi (FARMASI-UNHAS) Karena sampai saat ini belum disahkan Pedoman Penulisan Skripsi yang baru, berikut disajikan pedoman yang digunakan pada tahun 1990 dan 1991, sebagai berikut. Bab I II III PENDAHULUAN MAKSUD DAN TUJUAN Bab ini telah dihapus dan dimasukkan dalam Pendahuluan POLA PENELITIAN. Bab ini juga sudah dihapus, dimasukkan Bab Pendahuluan, namun masih ada yang tetap memisahkannya dalam bab tersendiri. Kebanyakan masih menganggap Pola Peneltian ini sama dengan Rencana Kerja. Seharusnya Pola Penelitian merupakan pola pikir yang masih bersifat abstrak. Pola penelitian ini selanjutnya dioperasionalisasikan dalam Rencana Kerja. IV. TINJAUAN PUSTAKA V. RENCANA KERJA (untuk seminar I atau seminar proposal, untuk seminar II menjadi PENELITIAN DAN HASIL PENELITIAN. VI. PEMBAHASAN VII. KESIMPULAN DAN SARAN PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI SARJANA (Edisi Revisi 2003) meliputi: Bab I PENDAHULUAN , yang berisi gambaran singkat tentang : latar belakang, identifikasi dan perumusan masalah ruang lingkup dan atau manfaat penelitian metode pemecahan masalah maksud dan tujuan penelitian rmusan hipotesis, kalau ada

58

Bagian II Penulisan Ilmiah

Bab II TINJAUAN PUSTAKA, seharusnya hanya berisi tinjauan pustaka yang ada kaitannya dengan BAB I. Kadang-Kadang dimasukkan juga hal-hal yang tidak relevan dalam Tinjauan Pustaka Bab III PELAKSANAAN PENELITIAN Bab IV HASIL DAN PEMBAHASAN Bab V KESIMPULAN DAN SARAN VI. 3 Format Rencana Penelitian dan Laporan Penelitian

Skripsi sebagai mata kuliah pada Program Studi Farmasi UNHAS terdiri atas 6 SKS, yang terbagi atas: I. Rencana Penelitian, (Seminar I , 1 SKS) II. Skripsi (4 SKS), dan III. Laporan Hasil Penelitian (Seminar II, 1 SKS) Bagian II Skripsi dinilai hanya oleh Pembimbing. Bagian I Rencana Penelitian dan Bagian III Laporan Hasil Penelitian harus diseminarkan dalam forum seminar yang dihadiri dan dinilai oleh staf pengajar. Di sini timbul masalah, karena mahasiswa sebagai penyaji harus memperbanyak makalahnya untuk sejumlah peserta seminar yang cukup banyak, sehingga memerlukan biaya cukup banyak pula. Untuk mengatasi hal itu telah diadakan pembicaraan antara pimpinan, koordinator seminar dan wakil mahasiswa (4 Mei 1990) yang menghasilkan kesepakatan sebagai berikut : 1. Penulisan Rencana Penelitian mahasiswa (Seminar I) dibuat hanya 6-10 halaman dengan pembagian isi sebagai berikut : Pendahuluan Pola Penelitian Rencana Kerja Cara Pengambilan Kesimpulan Daftar Pustaka 2. Laporan Penelitian (Seminar II), dibuat 6-10 halaman dengan pembagian sebagai berikut : Abstrak (Bahasa Indonesia dan Inggris) Pendahuluan Cara Kerja (dalam bentuk bagan) dan Hasil Pembicaraan / Pembahasan Kesimpulan, Saran dan daftar Pustaka 3. Naskah hasil penelitian yang lengkap dibagikan hanya kepada semua dosen penguji, serta 1 eksemplar untuk Koordinator Seminar Skripsi. Hal-Hal yang belum diatur dalam kesepakatan ini akan dibicarakan kemudian. Dalam pedoman Penulisan Skripsi 1991, Format Laporan Hasil Penelitian (Seminar II) telah mengalami sedikit perubahan sebagai berikut: Bagian II Penulisan Ilmiah 59

RESUME LAPORAN PENELITIAN 1. Judul Penelitian 2. Nama dan Nomor Pokok mahasiswa 3. Nama Pembimbing Skripsi 4. Abstrak (diusahakan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris). Abstrak hendaknya memuat ringkasan penelitian yang mencakup latar belakang, tujuan penelitian, metode dan hasil penelitian. Jumlah kata tidak lebih dari 200 kata. 5. Metodologi atau Pelaksanaan Penelitian Disajikan dalam bentuk skema, bagan, gambar, tabel dan lainnya yang sangat teknis. 6. Hasil dan Pembahasan, disajikan dalam butir-butir yang runtut untuk memudahkan cara mengikutinya. 7. Kesimpulan dan Saran. Catatan : Tata Cara dan Seminar diatur oleh Koordinator Seminar Skripsi.

BAB VII

TEKNIK PENULISAN ILMIAH

Teknik penulisan ilmiah meliputi 2 aspek, yaitu gaya penulisan dan teknik notasi dalam menyebutkan sumber pengetahuan ilmiah yang digunakan dalam penulisan. VII. 1 Gaya Penulisan

Komunikasi ilmiah harus bersifat jelas dan tepat, yang memungkinkan penyampaian pesan yang bersifat reproduktif dan impersonal. Penulis ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar. Sebuah kalimat yang tidak dapat diidentifikasi, mana yang merupakan subjek dan mana yang merupakan predikat, serta hubungan apa yang terkait antara keduanya, kemungkinan besar akan merupakan informasi yang tidak jelas. Tata bahasa merupakan ekspresi dari logika berpikir. Oleh karena itu, langkah pertama dalam menulis karangan ilmiah yang baik adalah mempergunakan tata bahasa yang benar. Demikian juga penggunaan kata harus secara tepat, yaitu memilih kata-kata yang sesuai dengan pesan yang akan disampaikan. Komunikasi ilmiah harus bersifat impersonal. Oleh karena itu tidak digunakan kata ganti orang pertama (saya, kami), dan orang ketiga (dia, mereka); sebaiknya digunakan kalimat pasif. Menurut Purbo M. 1970 [7], terdapat 6 sifat atau ciri penulisan keilmuan : 60 Bagian II Penulisan Ilmiah

1) Jelas, yang berarti tidak menimbulkan salah tafsiran atau memiliki makna ganda (ambigu = ambiguous), baik dalam pemilihan kata, istilah maupun dalam susunan kalimat. 2) Ringkas, dalam arti padat, tetapi bukan dengan cara pemendekan kata atau penggunaan akronim. 3) Lengkap, berarti mencantumkan semua data yang diperlukan. 4) Teliti, berarti teliti sampai hal-hal terkecil, misalnya penggunaan data, penerapan rumus, penulisan nama orang, nama tempat dan alat, penggunaan ejaan dan tanda baca. 5) Tersusun, dalam hal runtunan gagasan (pola pikir), pengertian secara kronologis atau berdasarkan alasan tertentu. 6) Menyatu, bahwa semuanya tertuju ke suatu sasaran, tanpa adanya pencampuran pokok atau unsur lain di luar permasalahan yang sebenarnya. VII. 2 Teknik Notasi

Dalam tulis menulis ilmiah dikenal suatu etik, sopan santun atau tatakrama, yang mengharuskan seorang penulis menyebutkan sumber dari mana diperoleh suatu pernyataan ilmiah. Adalah suatu kebohongan besar, jika ada orang yang menganggap dirinya yang paling mengetahui segala-galanya. Padahal ilmu dan pengetahuan yang dimiliki, diperolehnya melalui pergaulan dengan orang lain secara langsung atau melalui media cetak. Oleh karena itu pengetahuan dan ilmu yang dibeberkan seseorang tidak lain merupakan perangkuman (integrasi) dari segala sesuatu yang diperolehnya sepanjang hidupnya. Salah satu aturan (tidak tertulis) dalam tulis menulis atau penyusunan naskah, ialah untuk menyebut sumber yang terpakai dalam suatu tulisan. Ini merupakan tatakrama yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Pernyataan yang diambil sebagian atau keseluruhan dari suatu sumber disebut nukilan (sitasi = citation), dan dalam tulisan ilmiah dikenal dengan teknik notasi. Tanda notasi diletakkan pada ujung kalimat menggunakan angka Arab yang dinaikkan spasi, atau angka Arab dalam kurung di belakang kalimat. Apabila seluruh paragraf merupakan nukilan, maka tanda notasi ditulis setelah titik pada akhir kalimat. Jika hanya sebagian, misalnya hanya kalimat terakhir saja yang merupakan nukilan, maka tanda notasi ditempatkan sebelum titik pengakhir kalimat. Teknik notasi ilmiah menyebutkan sumber pengetahuan ilmiah yang digunakan dalam tulisan, yang meliputi 4 hal : 1) Orang yang membuat pernyataan tersebut (penulis) 2) Media komunikasi ilmiah di mana pernyataan itu disampaikan, apakah berbentuk makalah, buku, seminar, lokakarya, dan sebagainya. 3) Lembaga yang menerbitkan publikasi ilmiah tersebut. 4) Tempat domisili dan waktu penerbitan itu dilakukan. Bagian II Penulisan Ilmiah 61

Kewajiban mengutip suatu sumber juga untuk menyatakan penghargaan atas karya orang lain. Terdapat bermacam teknik notasi ilmiah yang pada dasarnya mencerminkan hakekat dan unsur yang sama, meskipun dalam format dan simbol berbeda-beda. VII.3 Penempatan Catatan Kaki

Penggunaan catatan kaki (footnote) dalam teks mempunyai keuntungan dan kerugian. Keuntungannya ialah bahwa informasi yang perlu dibaca sesuai dengan sumber aslinya dapat langsung diperoleh. Akan tetapi terlalu banyak catatan kakinya juga akan mengalihkan perhatian pembaca dari keutuhan topik pembicaraa. Dianjurkan agar tidak menggunakan kutipan langsung ini lebih dari 30% dari keseluruhan teks. Catatan kaki juga merupakan kutipan langsung, yang berarti susunan kalimat tidak berubah dari kalimat aslinya, sedangkan kutipan taklangsung, berarti sudah menggunakan kalimat penulis sendiri. Penempatan catatan kaki dapat dilakukan dalam 2 cara : a) Langsung mengikuti tanda notasi, tanpa menunggu berakhirnya paragraf, dicetak dengan huruf lebih kecil dari teks, atau dibatasi oleh 2 garis tak terputus sepanjang garis. Contoh : Obat dapat didefinisikan dalam berbagai cara. Menurut KONAS Dep.Kes.R.I. [7] ..
yang dimaksud dengan obat dalam Kebijakan Obat Nasional ialah bahan atau paduan bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologis atau keadaan patologis dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.

b) Ditempatkan di bagian bawah halaman , berjarak satu spasi dan dibatasi dengan teks oleh garis tak terputus.
[7] Kebijaksanaan Obat Nasional (1983), Departemen Keshatan R.I.

Pada prinsipnya penulisan catatan kaki sama dengan penulisan pustaka secara umum, yang meliputi nama pengarang lengkap (didahului nama kecil atau nama pemberian yang sebaiknya tidak disingkat, disusul nama keluarga), judul karangan, data publikasi. Jika penulis lebih dari 1 orang, penulisan nama penulis lainnya sama denganpenulis pertama, dimulai dengan nama kecil. Seringkali dalam catatan kaki diadakan penyingkatan tertentu, yang baku demi efisiensi, misalnya : Ibid. singkatan dari ibidum, yang berarti sama dengan yang diatas, digunakan apabila nama pengarangnya sama, judul karangannya sama , hanya berbeda pada halaman yang dirujuk. Singkatan ini digunakan juga pada penulisan daftar pustaka apabila nama pengarangnya sama. 62 Bagian II Penulisan Ilmiah

Contoh : 1. Anderson J. et al. (1970) Thesis and Assignment Writing, Jacaranda Wiley, New York, pp. 22-35. 2. Ibid. pp 36-45 op.cit. , singkatan dari opere citato, yang berarti dalam karya yang telah dikutip sebelumnya. Contoh : J.Anderson, op.cit, pp. 45-60 loc.cit. , singkatan dari locus citato, yang berarti pada tempat yang telah dikutip sebelumnya. Karena tempatnya sudah diketahui (nomor halaman), tidak perlu lagi menulis pada halaman berapa. Contoh : J.Anderson loc.cit. VII.4 Penulisan Daftar Pustaka

Penulisan daftar pustaka dapat mengkuti 2 pola, yaitu Sistem Nama dan Sistem Nomor. I. Sistem Nama Tahun (Harvard System) Kutipan dari buku teks nama penulis. tahun penerbitan ( dalam kurung ), Judul buku ( Italic / miring ), edisi. nama penerbit, tempat penerbit. halaman ( disingkat p./pp. atau hal. ). Contoh : Groenewegen, D. ( 1997 ), The Real Thing? : The Rock Music Industry and the Creation of Australian Images, Moonlight Publishing, Victoria. pp. 232-234. Kutipan dari Jurnal nama penulis tahun publikasi Judul buku diberi tanda kutip Judul Jurnal italic/miring Nomor volume ( vol ) Nomor terbitan Nomor halaman Contoh : Withrow, R & Roberts, L. ( 1987 ), The Videodisc: Putting education on a silver platter, Electronic Learning vol. 1, no. 5 . pp. 43-44 Kutipan jurnal dari Internet ( Harvard ) Bagian II Penulisan Ilmiah 63

Nama penulis/Editor (nama akhir, Ed ) Tahun Judul artikel Judul Jurnal ( Italic / digaris) [online] Jenis media yg dikutip [internet] Tanggal publikasi Nomor volume ( vol.) dan no. isu Alamat web-site ( Available from http : // www ) Tanggal akses, nama bulan lengkap, tahun

Contoh : Smith,J. (1996) Time to go home. Journal of Hyperactivity [Internet] 12th October, 6 (4), pp.122-3. Available from: http://www.lmu.ac.uk [Accessed June 6th,1997] Kumaidi, W. (1998) Pengukuran Bekal Awal Belajar dan Pengembangan tesnya, Jurnal Ilmu Pendidikan [Internet], Jilid 5, No. 4, Available from: <http://www.malang.ac.id, diakses, 20 Januari 2000 Kutipan di dalam naskah : 1. Manfaat bahan ajar bagi mahasiswa terasa lebih bermanfaat (Weston 1988, p.45) 2. Scholtz (1990, p.445) membantah bahwa II. Sistem Nomor terbagi pula sebagai berikut : a. menggunakan notasi menurut urutan nama pengarang berdasarkan abjad huruf awal nama pengarang. (Alphabetic) 1. menggunakan urutan nama pengarang secara kronologis digunakannya notasi dari pengarang tersebut. (Vancouver System). a. Kutipan dari buku teks (Vancouver) nama penulis atau editor tahun penerbitan ( dalam kurung ), Tidak digaris bawahi atau miring edisi. nama penerbit, tempat penerbit. halaman ( disingkat p./pp. atau hal. ).

Contoh : (Satu Penulis) Getzen TE. Health economics: fundamentals of funds. New York: John Wiley & Sons; 1997. 64 Bagian II Penulisan Ilmiah

Contoh : (Lebih dari enam penulis) Fauci AS, Braunwald E, Isselbacker KJ, Wilson JD, Martin JB, Kasper DL, et al, editors. Harrisons principle of internal medicine. 14th ed. New York: McGraw Hill, Health Professions Division ; 1997. Kutipan dari Jurnal nama penulis Judul artikel Judul jurnal ( disingkat sesuai gaya ) Tahun publikasi; Nomor volume ( vol ) ( no. terbitan): Nomor halaman Kutipan dari internet : Alamat web-site / URL tanda titik, koma garis datar, garis miring Tanggal up-date Tanggal akses Kutipan tetap mengikuti sistem penulisan yang dipilih Konsisten!

Kutipan jurnal dari Internet ( Vancouver ) Nama penulis/Editor (nama akhir, Ed ) Judul artikel Judul Jurnal dalam singkatan [ nomor seri online ] Tahun publikasi; Nomor volume ( vol.)no. isu. Alamat web-site ( Available from http : // www) Tanggal akses, nama bulan ditulis lengkap, tahun. Contoh : Morse SS. Factors in the emergence of infectious disease. Emerg Infect Dis [serial online] 1995 Jan-Mar;1(1):[internet]. Available from: URL:http://www/cdc/gov/ncidoc/EID/ eid.htm. Accessed December 25, 1999. Kutipan di dalam naskah: 1. Manfaat bahan ajar bagi mahasiswa terasa lebih bermanfaat [1] 2. Scholtz [2] membantah bahwa

Keuntungan pola I ialah bahwa nama pengarang yang sama dapat langsung terlihat. Namun pola apapun yang digunakan, asal digunakan secara konsisten sesuai Bagian II Penulisan Ilmiah 65

kesepakatan. Jurusan Farmasi UNHAS menggunakan Sistem Nomor secara kronologis penggunaan pustaka tersebut dalam teks. Kesepakatan terakhir di FMIPA UNHAS, tahun publikasi buku atau karya ilmiah ditempatkan setelah nama pengarang, agar supaya langsung terlihat kapan (tahun) dipublikasikannya suatu tulisan oleh pengarang tertentu. Akan tetapi kecenderungan terakhir, penulisan tahun penerbitan diletakkan pada bagian paling akhir. Dengan berkembangnya media cetak, terdapat beberapa alternatif penulisan judul buku, artikel atau karya ilmiah untuk membedakannya dari nama penulis dan penerbit. Judul dapat ditulis dengan huruf miring atau huruf tebal, atau di antara tanda kutip tunggal atau ganda. Sebaiknya garis bawah digunakan untuk nama jurnal atau majalah, dan huruf miring digunakan untuk nama spesies tanaman atau hewan. Apabila menggunakan mesin ketik biasa, nama spesies dapat digarisbawahi. Dengan demikian, maka alternatif terbaik untuk penulisan judul suatu buku atau artikel dalam majalah, ialah menggunakan huruf biasa di antara tanda kutip, baik dengan mesin ketik atau komputer, atau huruf tebal dengan komputer. Garis bawah digunakan pada majalah (judul artikel tetap di antara tanda kutip) atau penulisan nama spesies dengan mesin ketik biasa. Penulisan nama spesies dengan komputer dapat menggunakan huruf miring. Huruf awal setiap kata pada judul buku ditulis dengan huruf kapital, kecuali kata penghubung, misalnya kata: dan, serta, dengan, dari, tentang, mengenai, dan sebagainya. Berikut ini contoh-contoh penulisan pustaka di Jurusan Farmasi UNHAS

Notasi yang berasal dari Buku


Mengikuti pola teknik notasi di atas, urutan teknik notasi ialah nama penulis,tahun, judul buku dan media, lembaga serta waktu penerbitan. Contoh [1] : Brown, G. and M.Atkins (1988) Effective Teaching in Higher Education, Methuen & Co, London. Perhatikan penggunaan [kurung siku] untuk notasi pustaka, bukan kurung (biasa). Dalam daftar pustaka, penulisan nama penulis pertama dudahulukan nama keluarga (marga) yang berbeda dengan penulisan nama pada catatan kaki. Nama penulis ke-2 dan ke-3 bila ada, kadang-kadang dimulai dengan nama marga, kadang pula dimulai dengan nama kecil. Contoh [2]: Kolthoff, I.M., Elving, P.J. Treatise on Analytical Chemistry, Vol. 5, Part I, Interscience Publication, New York, 1982. (dari : Remingtons Pharmaceutical Sciences. 1985) Martin B.L. and Briggs L.J. (1986) The Affective and Cognitive Domain : Bagian II Penulisan Ilmiah

Contoh [3]: 66

Jersey.

Integration for Instruction and Research, Engelwood Cliffs, New

Apabila penulis lebih dari 3 orang, hanya nama penulis pertama yang dicantumkan, ditambah et al. (singkatan dari et alii, yang berarti dan kawan-kawan). Apabila penulis hanya berfungsi sebagai editor, perlu dicantumkan (ed.) di belakang nama penulis atau (penyad.) sebagai singkatan dari penyadur, atau (penerj.) sebagai singkatan dari penerjemah. Apabila tanpa penulis, maka lengsung dituliskan lembaga yang menerbitkan, nama buku, edisi, dan tahun. Contoh [4]: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Farmakope Indonesia Edisi IV, 1995, Jakarta. Dapat pula dituliskan anonim (tidak bernama), apabila tidak tidak diketahui nama penulisnya. Kutipan dari sumber kedua, sebagai contoh penulisan pustaka nomor tertentu dalam daftar pustaka : Contoh [5] : Smith, R.P. (1969) The Significance of Methemoglobinemia in Toxicology dikutip dari Blood,F.R. (ed.) Essay in Toxicology, hal. 84,95 Academic Press, New York . Mc Graw Hill, New York. Beberapa contoh lain : Contoh [6] : Mattulada, Latoa, Satu Lukisan Analitik tentang Antropologi Orang Bugis, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1985. (dari Majalah Lontara, Hasanuddin University Press, Tahun XXIX No.1 1993) Catatan : Sebaiknya judul tulisan ditulis di antara tanda petik, atau menggunakan huruf tebal, agar huruf miring dapat digunakan untuk nama spesies tanaman dan hewan). Contoh [7] : (LP3ES), Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial Metode Penelitian Survei, Masri Singarimbun (Editor) 1989. Notasi yang Berasal dari Jurnal atau Majalah Urutan unsur pokok dari majalah yang harus masuk dalam notasi ialah : nama penulis, judul tulisan, nama majalah, nomor penerbitan, bulan dan tahun penerbitan, dan halaman yang dikutip. Nama dan tempat penerbit tidak lagi dicantumkan. Contoh [8]: Sudana Atmawidjaja, Slamet Ibrahim, Pengujian Kadar Residu Beberapa Pestisida dalam Tanaman Solanum khasianum , Acta Pharmaceutica Indonesia, Volum IV, Nomor 3, September 1990, hal. 84-90. Bagian II Penulisan Ilmiah 67

Catatan : Tidak semua sukubangsa di Indonesia menggunakan nama marga (family name). Jadi apabila timbul keragu-raguan, maka nama penulis ditulis lengkap. Jika terdapat 2 penulis atau lebih, maka nama penulis ke-2 dan ke-3 boleh dimulai dengan nama marga atau nama kecil.

Notasi yang berasal dari Surat Kabar


Notasi dari surat kabar atau majalah populer hendaknya berisi sesuai urutan : 1. Jenis tulisan, apakah editorial, berita, mimbar pendidikan, ruang ekonomi, pojok, dan sebagainya. 2. Nama Surat Kabar, digarisbawahi atau dicetak tebal. 3. Tanggal, bulan, dan tahun penerbitan 4. Nomor halaman dan kolom. Contoh [9] : Tajuk Rencana dalam Harian KOMPAS, Selasa, 20 Juli 1968, Tahun ke-III, hal.2, kol,7-9

Notasi yang berasal dari sumber lain


Sumber lain yang dapat dikutip ialah kuliah, pidato, hasil wawancara, Skripsi, Tesis, maupun Disertasi yang tidak dipublikasi. Teknik notasinya menggunakan cara yang sama dengan notasi buku, majalah atau sumber lain, dengan penjelasan mengenai sumber, tempat dan waktu. Sekarang ini banyak digunakan artikel dari internet. Sama halnya dengan penulisan artikel biasa, harus jelas pengarangnya atau sumbernya, karena setiap orang dapat membuat halaman webnya sendiri. Untuk memudahkan penelusuran kembali, perlu dituliskan halaman Web Sitenya. Contoh [10] : Moskal, Barbara M. 2000 Scoring Rubrics : What, When and How ? Practical Assessment, Research and Evaluation, 7 (3) Available on line : http://ericae.net/pare/getvn.asp?v=7&n=3. Wiggins, Grant 1990 The Case for Authentic Assessment ERIC Digest ED328611 (online) Available http://www.ed.gov/databases/ERIC Digest/ed1238611.html

Contoh [11] :

Daftar Pustaka 1. Ahmad Watik Pratiknya, (1986) Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Penerbit C.V. Radjawali, Jakarta. 2. Anderson, J. et al. (1970) Thesis and Assignment Writing, 68 Bagian II Penulisan Ilmiah

Jacaranda Wiley, New York. 3. Brown,G., and Atkins M. (1988) Effective Teaching in Higher Education Methuen & Co, London. 4. Day, R.A. (1976) How to Write and Publish a Scientific Paper, Council of Biology Editors, Washington D.C. 5. Drost, J. et al. (1987) Ilmu Alamiah Dasar , Buku Panduan Mahasiswa Pusat Penelitian, UNIKA ATMA JAYA, Jakarta. 6. Krathwohl, D.R. (1992) Research as a Chain of Reasoning, Instructional Developments, Vol.2, No.1 pp.1-6, School of Education, Syracuse University, New York 7. Purbo, M. Menulis Laporan Teknik, Penerbit ITB Bandung. 8. Rumate, F.A. ( 1986) Kajian Pustaka Farmasi, Lembaga Penerbitan , UNHAS 9. Suriasumantri, J.S. (1985) Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer Penerbit Sinar Harapan, Jakarta. 10. Sutrisno Hadi, (1988) Bimbingan Menulis Skripsi Thesis, Jilid I dan II Yayasan Penerbit Fak. Psikologi, UGM Yogyakarta.

Bagian II Penulisan Ilmiah

69