Anda di halaman 1dari 9

Tugas Mata Kuliah Ekonomika Publik Magister Ilmu Ekonomi Angkatan IX Dosen : Joko Waluyo, SE, M.

SE Mahasiswa : Wisnu Budi Adji, SE No. Mahasiswa : 243110020

Program Magister Ilmu Ekonomi Fakultas EKonomi UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN YOGYAKARTA 2012

HUBUNGAN ANTARA SISTEM LINGKUNGAN DAN SISTEM EKONOMI SISTEM Sistem dalam pengertian yang paling umum adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan di antara mereka. Kata sistem sendiri berasal dari bahasa Latin (systma) dan bahasa Yunani (sustma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Sedangkan menurut para ahli, pengertian sistem diartikan sebagai berikut : Menurut Ludwig Von Bartalanfy Sistem merupakan seperangkat unsur yang saling terikat dalam suatu

antar relasi diantara unsur-unsur tersebut dengan lingkungan. Menurut Anatol Raporot Sistem adalah suatu kumpulan kesatuan dan perangkat hubungan satu sama lain. Menurut l. Ackof Sistem terdiri adalah dari setiap kesatuan secara konseptual saling atau fisik yang satu

bagian-bagian

dalam

keadaan

tergantung

sama lainnya. Mengacu pada beberapa definisi sistem di atas, dapat juga diartikan, sistem adalah sekumpulan unsur / elemen yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi dalam melakukan kegiatan bersama untuk mencapai suatu tujuan. Sebagai contoh, dalam sistem komputer terdapat software (perangkat lunak), hardware (perangkat keras), dan brainware (sumber daya manusia).

SISTEM LINGKUNGAN Pendefinisian sistem lingkungan dapat dilakukan dengan banyak car a t e r g ant ung pada t ujuan dar i pendefinisan t er seb ut . U nt uk t u j u a n pemodelan " pendugaan lingkungan dan perkiraan " yang memiliki dalam prinsip proses sebagai pengelolaan

digunakan

lingkungan. Pengelolaan lingkungan itu sendiri adalah upaya terpadu pemantauan, pengendalian, pengawasan dan perbaikan unsurunsur lingkungan lingkungan dari kemungkinan degradasi lingkungan. Unsur lingkungan terdiri atas unsur abiotik dan biotik yang merupakan bagian dari mahluk hidup ( manus, tanaman dan hewan), udara, tanah dan air. Pengelolaan lingkungan berasaskan pelest ar ian k emampuan ling k ung an y an g se r asi dan seimbang u n t u k yang berkelanjutan menunjang pembangunan

b a g i peningkatan kesejahteraan manusia. O le h

k ar e na it u sist em ling k ung an dapat didefinisik an sebag ai o by e k pe ng amat an ber upa himpunan ele men -elemen alam baik k imiawi, dan at au bio lo g i y ang sifat -sifat ny a meng alami pro ses perubahan dalam skala ruang dan waktu tertentu menurut hukum alam yang berlaku.

SISTEM EKONOMI Sistem ekonomi merupakan cabang ilmu dalam ekonomi t at a yang membahas o r g ani sasi unt uk

persoalan pe ng am bil an e k o no mi unt uk

k epu t usan

susu na n

menjaw ab pe r so alan -pe r so ala nek o no m i

me wuj udk an t uj u an nas io nal suat u neg a r a. Menurut Dumairy (1966), Sistem ekonomi adalah suatu sistem yang mengatur serta hubungan ekonomi antar manusia dengan seper angkat menjalin

kelembagaan

dalamsuat tatanan kehidupan, selanjutnya dikatakannya pula bahwa suatu sistem ekonomi tidaklah harus berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan falsafah, padangan dan pola hidup masyarakat tempatnya berpijak. Pada dasarnya ada dua sistem perekonomian yang ekstrem didu nia ini yaitu sistem ekonomi kapitalis dan sistem ekonomi sosialis dengan satu sistem lagi didalamnya yaitu sistem campuran.

SISTEM PEREKENOMIAN KAPITALIS Sistem perekenomian kapitalis merupakan sistem yang memberikan

kebebasan bagi pelaku-pelaku ekonomi untuk melalukan kegiatan yang terbaik bagi kepentingan individual atau sumber -sumber daya ekonomi atau faktor produksi dengan ciri-ciri sebagai berikut :

a) A dany a peng ak uan y ang luas t er hadap hak pr ibadi b) Praktek perekonomian di atus menurut mekanisme pasar c) P r a k t e k perekonomian digerakan oleh motif

keuntungan

SISTEM EKONOMI SOSIALIS-KOMUNISTIK Dalam sistem ekonomi sosialis-komunistis adalah kebalikannya, dimana sumber daya ekonomi atau faktor produksi dikuasai sebagai milik negara. Suatu neg ar a y ang meng anut si s t em ek o no mi so sialis -k o mun is,

me ne k ank an pada kebersamaan masyarakat dalam menjalankan dan memajukan perekonomian. Dalam sistem ini yang menonjol adalah kebersamaan, dimana semua alat produksi adalah milik bersama (negara) dan didistribusikan untuk kepentingan bersama sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

SISTEM EKONOMI CAMPURAN (MIXED EKONOMI) Di samping kedua ekstrim sistem ekonomi tersebut, terdapat sebuah sistem yang lain yang merupakan atas campuran : antara keduanya, dengan berbagai fariasi kadar donasinya, dengan berbagai fariasi nama dan oleh istilahnya. Sistem ekonomi campuran pada umumnya diterapkan oleh negara -negara

berkembang atau negara-negara dunia ke tiga. Beber apa neg ara di ant ar any a cuk up k o nsist en dalam mer amu si st em ek o no mi campur an, dalam ar t i k adar k apit alisny a selalu leb ih t ing g i (co nt o h Filipina) atau bobot sosialismenya lebih besar (contoh India).

HUBUNGAN LINGKUNGAN

ANTARA

SISTEM

EKONOMI

DAN

SISTEM

Hubungan kedua sistem tersebut dengan kedua sistem ekonomi esktrem bisa diuraikan melalui kata kunci pengelolaan lingkungan sebagai akibat dari proses sistem ekonomi yang berjalan yang tidak menghitung atau mengabaikan biayabiaya oleh pihak ketiga dalam hal ini lingkungan itu sendiri dalam proses berjalannya kedua sistem ekonomi dimaksud, melalui kegagalan mekanisme pasar untuk sistem kapitalis dan kegagalan peran pemerintah untuk sistem sosialis dan kombinasi keduanya untuk sistem campuran. Misalnya besaran produk minuman kaleng dengan makin majunya pelaku usaha dalam sistem ekonomi kapitalis tidak menghitung dampak bagi masyarakat ketika kaleng-kaleng bekas minuman tersebut dibuang dimasyarakat/lingkungan. Pasar sekarang merespon keperdulian pelaku usaha kapitalis dalam membeli barang produksi mereka yang diwajibkan lebih hijau, yang artinya menuntut pelaku usaha lebih perduli dengan akibat terhadap lingkungan atas produk dimaksud dan wajib memasukkan biaya ekternalitas atas hal tersebut. Pasar makin hijau dan dalam hal ini pelaku gagal menterjemahkan itu dalam kegiatan ekonominya sehingga bisa disebut sebagai kegagalan mekanisme pasar. Dengan adanya kegagalan pasar dalam menampun dampak eksternal dari kebijakan produksi dan biaya serta harga maka diharapkan pemerintah melakukan campur tangan yang konsisten dan benar. Campur tangan ini juga diharuskan untuk dilakukan karena ada sumber-sumber daya alam dan lingkungan yang tidak ada pemiliknya namun harus diperhatikan jika terjadi kerusakan alam akibat dari proses produksi dan kegiatan ekonomi, seperti atmosfer yang berfungsi sebagai penampung gas emisi. Pelaku usaha swasta tidak akan mungkin mampu dan mampu melakukan tindakan secara total penyelamatan hal tersebut. Namun demikian, meskipun secara logis campur tangan pemerintah menjadi keharusan, pada kenyataannya pemerintah seringkali tidak lebih baik daripada swasta dalam mengelola lingkungan. Hal ini bias terjadi karena : a) Adanya kelompok penekan

Adanya ketergantungan atau hutang politik dan ekonomi pemerintah terpilih terhadap individu atau kelompok tertentu menjadikan pemerintah seringkali melindungi kelompok-kelompok tersebut dengan melindungi kepentingan individu maupun kelompok tersebut meskipun acapkali individu dan kelompok tersebut perusak lingkungan. Adanya banjir dan longsor di ibukota Jakarta disinyalir karena pemerintah gagal menghentikan ambisi ekonomi para pelaku ekonomi tertentu yang berjalan dalam jangka waktu yang lama dan mengakibatkan lingkungan tidak mampu menampung air hujan yang cukup besar, sehingga terjadilah banjir karena daerah-daerah tampungan air yang dulu berupa rawa, sungai, danau sekarang berubah menjadi kawasan perumahan dan lingkungan industri b) Kurang informasi Pemerintah yang sejatinya mempunyai sumber daya yang berlebih dalam menggali informasi dan keleluasaan menggali informasi seringkali justru tidak mampu menyerap informasi itu secara menyeluruh dan tepat sehingga kebijakan seringkali menjadi kontraproduktif terhadap perbaikan dan pelestarian lingkungan. c) Kurangnya minat birokrat Birokrat yang bekerja dengan undang-undang, peraturan pemerintah dan lain sebagainya, acapkali bertindak hanya mencari aman dan bertindak sesuai kebiasaan lama atau istilahnya air mengalir sampai jauh, hanya melakukan yang aman-aman saja sampai dengan masa jabatannya berakhir, disamping karena ketakutan birokrat dalam mengusik kepentingan-kepentingan

kelompok atau individu tertentu.

Hubungan Ekonomi dengan Lingkungan Bagi kebanyakan para ahli ekonomi dan lingkungan hidup jelas bahwa terdapat kaitan antara makro-ekonomi dengan lingkungan hidup (Ouattara 1997). Kini diterima secara luas bahwa konsep lingkungan sebagai suatu mitra pertumbuhan memang tepat. Paradigma lama, yang melihat lingkungan hidup (dan ahli lingkungan hidup) sebagai penghambat perkembangan, tidak lagi tepat. Dengan demikian, bagaimana timbulnya kaitan-kaitan tersebut? Model makro-ekonomi tradisional tidak menyertakan sistem-sistem ekologi. Oleh karena itu, selama bertahun-tahun sistem-sistem ekologi tetap berada di luar kerangka kerja pengambilan keputusan mengenai makro-ekonomi (Daly 1991). Misalnya, sumber-sumber lingkungan, seperti tanah, hutan dan mineral merupakan masukan terhadap pertumbuhan ekonomi. Demikian juga, keluaran dari kegiatan ekonomi seperti, gas rumah kaca, limbah padat dan cair, dibuang kembali ke lingkungan (Anderson, 1990). Hubungan antara makro-ekonomi, pembuatan kebijakan dan lingkungan diperlihatkan dalam Bagan 1. Model ini memperlihatkan akumulasi modal atau model investasi pertumbuhan. Jalur sebelah kiri memperlihatkan bagaimana akumulasi dan penggunaan aset material bergabung untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Pada dasarnya, akumulasi dan investasi tenaga kerja dan modal di proses produktif menghasilkan keluaran ekonomi. Konsumsi keluaran ini sering digunakan sebagai pengukur pertumbuhan ekonomi.

GAMBAR

1.

KAITAN

ANTARA

PERTUMBUHAN

EKONOMI

DAN

LINGKUNGAN. (Sumber, Anderson, 1991) Sisi kanan model ini memperlihatkan kebutuhan atas kebijakan yang meminimalkan dampak terhadap aset lingkungan. Aset lingkungan merupakan masukan positif bagi pertumbuhan dan dari pertumbuhan ekonomi, unsur-unsur pencemaran dimasukkan lagi ke lingkungan. Transfer unsur-unsur pencemaran merupakan hal positif bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi, dampaknya terhadap lingkungan dapat bersifat negatif. Kemampuan melindungi aset lingkungan tergantung pada pemeliharaan lingkungan dan investasi. Pemeliharaan dan investasi ini dapat dilihat dalam bentuk: Peraturan-peraturan penguasaan dan pengendalian; Analisa Dampak Lingkungan, atau; Peralatan pendapatan dan pembiayaan sebagaimana ditentukan oleh

Anggaran Nasional.

Bila pemeliharaan dan investasi lingkungan tidak mencukupi, sistem ekonomi dapat mendorong pengurangan dalam jumlah aset lingkungan (Anderson, 1990). Karenanya terjadi kesejajaran antara pemeliharaan yang diperlukan untuk aset material dan pemeliharaan aset lingkungan. Perlindungan aset lingkungan, sebagai suatu masukan untuk pertumbuhan, diperlukan untuk penghasilan ekonomi yang berkelanjutan dan keberlanjutan ekonomi jangka panjang (Anderson, 1990). Hal ini mempunyai implikasi bagi pembuatan kebijakan pemerintah yang harus mengirim pesan kepada para pelaku ekonomi (yaitu sektor swasta) untuk mencegah terjadinya penurunan kualitas lingkungan. Dalam suatu ekonomi penyambung hidup, hal ini merupakan kesulitan tambahan mengingat masyarakat sangat mengandalkan pada areal ekonomi pertanahan yang mungkin marginal dan berdasar pada masalah lingkungan yang signifikan. Namun, di bidang

perkembangan ekonomi, apabila pemeliharaan lingkungan yang diberikan kepada berbagai sektor tidak memadai, maka selain akan timbul masalah makro-ekonomi, juga akan berdampak pada masalah sosial dan lingkungan.