Anda di halaman 1dari 16

Pun Sapun .. ! Ka luhur ka Sang Rumuhung ka Nu Muhung di Mandala Agung Ahuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuung !

Ka Guru sakabeh Guru Ka Raja sakabeh Raja Nya ka Inyana Nu Ngaruhum ti Kasunyian Anu Nunggal di Kalanggengan Anu Langgeng dina Jati Nunggal Nya Inyana Anu Ngabogaan sakabeh Jagat Anu Ngabogaan sakabeh Alam .. ! Ahuuuuuuung Ahuuuuuuuuuuuuuuuuuuuug !

Paralun !

Jati Sunda Sebagai Agama Asli urang Sunda - Makalah Mata Kuliah Budaya Sunda

JATI SUNDA SEBAGAI AGAMA ASLI URANG SUNDA

Sunda adalah nama Suku sebuah kelompok etnis yang mendiami sebuah wilayah Alam yang sangat Indah kaya akan Budaya, Sejarah, Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia dan lainya. Dalam tulisan ini akan membahas tentang Budaya dan Sejarah Sunda yang telah sangat lama ada dan sampai saat ini masih ada. Namun sayangnya banyak dari masyarakat Sunda sendiri tidak mengetahui yang sebenarnya apa itu Arti Sunda, bagaimana Budayanya, bagaimana Sejarahnya bahkan lebih jauh dari itu bahwa Sunda merupakan nama sebuah Agama mayoritas pada saat dahulu masih merupakan Nagara Kerajaan Sunda yang disebut Jati Sunda.

Sunda memiliki arti Suci atau Wareh Nyampurnakeun/Peta Nyampurnakeun yang artinya Bagian yang Menyempurnakan kenapa dinamakan Sunda karena Sunda adalah bagian yang menyempurnakan Jagat Alam ini, tidak akan sempurna Jagat ini tanpa Sunda. Pada awalnya Sunda adalah sebuah Buana/Wilayah yang Sangat Gelap Pekat Gulita sampai begitu Gelapnya jika ada bara api di depan muka pun tidak akan terlihat. Sampai Suatu hari Saat Sang Hiyang Kala yang merupakan Dewa yang bertugas mengatur segala tentang waktu sedang bertugas mengontrol Jagat Raya, Sang Hiyang Kala selalu was-was jika melewati Buana ini, beberapa kali Sang Hiyang Kala selalu mendapat musibah karena Kegelapannya, hingga pada akhirnya Sang Hiyang kala meminta kepada Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening untuk membicarakan tentang Buana ini kepada Sang Hiyang Guriang Tunggal dan pada akhirnya 1000 tahun sejak itu Buana Sunda mendapat pancaran cahaya matahari walau masih samar.

Bagaimana nama sebutan Sunda berawal adalah Sang Hiyang Wenang yang memberikan nama Sunda pada Buana itu, sebab setelah Sunda terang ternyata Buana Sunda ini merupakan tempat yang sangat baik dan lengkap segalapun ada disana. Dengan waktu yang berjalan setelah manusia ada di Jagat Raya ini Buana Sunda selalu diisi oleh Orang-orang yang bertapa nyundakeun diri / mensucikan diri

di dinya teh hade jasa pieun panyundaan nyundakeun diri, pieun nyampurnakeun raga eujeung sukma, abeh bisa ngarasa paeh sajero hirup, ngarasa hirup sabari paeh disana bagus sekali untuk menyucikan diri, untuk menyempurnakan raga dan sukma, agar mampu merasakan mati selama hidup, merasa hidup sambil dalam keadaan mati.

Jati Sunda Sebagai Agama Asli urang Sunda - Makalah Mata Kuliah Budaya Sunda

Lalu semakin lama banyak berdatangan kembali orang-orang yang bertapa di Sunda, yang pada akhirnya setelah bertapa di Buana Sunda tidak ada yang tidak unggul selama hidupnya tapi unggul harus dengan tindak dan hati yang baik.

Awal Manusia dalam Sunda berawal ketika Sang Hiyang Guriang Tunggal sedang membuat Panggung Agung di Kahyangan untuk menyembah kepada Sang Hiyang Tunggal di Mandala Agung. Saat Panggung Agung sedang dibuat para pekerja melakukan kesalahan yang mengakibatkan sebuah kayu jatuh dari Kahyangan, karena bisa sangat membahayakan Jagat maka Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening mengejar kayu tersebut hingga ke bumi. Sang Hiyang Wenang turun di Puncak Gunung Mahameru lalu memerintahkan semua penghuni hutan untuk menahan kayu tersebut dengan upah akan dijadikan Manusia. Sedangkan Sang Hiyang Wening turun di Puncak Gunung Nyungcung meminta tolong pada Badak, Harimau, Burung dan Monyet dengan upah dijadikan Manusia pada saat itu Kura-kura putih mendengar semua itu lalu meminta ikut dalam pekerjaan tersebut karena ingin menjadi manusia. Lalu mereka mengerjakan mencari kayu itu semua secara bersamaan. Pada akhirnya kayu bisa dikembalikan lagi ke Kahyangan hingga Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening lega setelah kayu tersebut bisa kembali dan mereka pun kembali ke Kahyangan tanpa apapun.

Setelah Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening kembali ke Kahyangan, kemudian mereka yang sudah membantu merasa bingung dan kesal lalu mereka membicarakan dan akhirnya Badak, Harimau, Burung dan Monyet melakukan tapa sambil membuat Arca tanpa suara tanpa bicara. Hingga pada suatu ketika saat Sang Hiyang Kala sedang bertugas melihat mereka yang sedang tapa sambil membuat arca, dari keempatnya yang paling bagus arca nya adalah buatan Monyet, arca tersebut masih ada di Pasir Kopo. Sang Hiyang Kala ingat bahwa dahulu Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening pernah berjanji lalu Sang Hiyang Kala memanggil Sang Hiyang Wening dan Sang Hiyang Wenang. Dengan kesungguhan yang telah teruji dengan baik akhirnya Badak, Harimau, Burung dan Monyet di jadikan Manusia oleh Sang Hiyang Tunggal melalui Sang Hiyang Wening. Kelak Ke empat manusia ini yang saling berpencar dan menjadi koloni manusia di Jagat. Lalu apa Jati Sunda itu, Jati Sunda adalah Agama orang Sunda sebuah Agama lokal dari Nagara Sunda. Kitab Suci Jati Sunda disebut Layang Salaka Domas yang diartikan secara "mudah" adalah "Kitab Suci Delapan Ratus Ayat" yang terdiri dari Kitab Sambawa, Kitab Sambada dan Kitab Winasa, jadi Kitab Jati Sunda itu bukan 1 tapi 3 tapi bukan berarti ada 3. arti dari Sambada, Sambawa dan Winasa adalah Ajaran Kesempurnaan tentang Sambawa ( hidup dari semenjak lahir ). Sambada ( dewasa sampai tua ) dan Winasa ( kematian serta kehidupan di alam hyang. Ajaran Jati Sunda yang

Jati Sunda Sebagai Agama Asli urang Sunda - Makalah Mata Kuliah Budaya Sunda

terdapat dalam Kitab Layang Salaka Domas disebar di Tanah Sunda pertama kalinya oleh seorang tokoh yang menyandang nama "Mundi Ing Laya Hadi Kusumah" setelah Dia mendapatkannya dari "Jagat Jabaning Langit". Yang disebut "Mundi Ing Laya Hadi Kusumah" bukan anak dari Parabu Siliwangi yaitu "Mundinglaya Dikusumah" tapi sebutan itu yang berarti "Seseorang yang telah mampu mengusung tinggi tentang kematian, setara indahnya bunga", yang juga berarti "seseorang yang telah mampu menguasai hawa nafsunya seraya meninggalkan ihwal keduniawian", sampai saat ini siapa nama sebenarnya dari yang tersebut itu belum ditemukan di Carita, Pantun atau Prasasti apapun. Namun Penulis pertama Ajaran Jati Sunda ke dalam sebuah Kitab adalah Rakean Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu, Raja Nagara Sunda yang terkenal Arif Bijaksana sebagai Resi dan gencar menyiarkan Agama kala itu.

Tempat Ibadah dalam Agama Jati Sunda adalah Pamunjungan atau yang akrab disebut Kabuyutan. Pamunjungan merupakan Punden Berundak yang biasanya terdapat di bukit dan di Pamunjungan ini biasanya terdapat Menhir, Arca, Batu Cengkuk, Batu Mangkok, Batu Pipih dll. Pamunjungan /Kabuyutan banyak sekali di Tatar Sunda seperti Balay Pamujan Genter Bumi, Situs Cengkuk, Gunung Padang, Kabuyutan Galunggung, Situs Kawali dll. Di Bogor sendiri sebagi Pusat Nagara Sunda dan Pajajaran dahulu terdapat Banyak Pamunjungan beberapa diantaranya adalah Pamunjungan Rancamaya nama dahulunya adalah Pamunjungan Sanghyang Padungkukan yang disebut Bukit Badigul namun sayang saat ini Pamunjungan tersebut sudah tidak ada lagi digantikan oleh Lapangan Golf. Pada masanya Pamunjungan yang paling besar dan mewah adalah Pamunjungan Kihara Hyang yang berlokasi di Leuweung Songgom/Hutan Songgom , atau Balay Pamunjungan Mandala Parakan Jati yang saat ini lokasinya digunakan sebagai Kampung Budaya Sindang Barang. Dengan banyaknya Pamunjungan/Kabuyutan tersebut di Tatar Sunda membuktikan bahwa Agma yang dianut atau Agama mayoritas orang Sunda dahulu adalah Agama Jati Sunda ini adalah jawaban kenapa di Sunda sangat jarang sekali diketemukan Candi. Namun begitu Hindu dan Budha berkembang baik di Sunda bahkan Raja Salaka Nagara juga Taruma Nagara adalah seorang Hindu yang taat. Kehidupan beragama di Sunda dahulu sangat harmonis hingga tercipta Kabuyutan Galunggung merupakan Pusat ketiga Agama tersebut.

Kitab Suci Jati Sunda yang dinamakan Layang Salaka Domas yang diartikan secara "mudah" adalah "Kitab Suci Delapan Ratus Ayat" yang terdiri dari Kitab Sambawa, Kitab Sambada dan Kitab Winasa, jadi Kitab Jati Sunda itu bukan 1 tapi 3 tapi bukan berarti ada 3. arti dari Sambada, Sambawa dan Winasa adalah Ajaran Kesempurnaan tentang Sambawa ( hidup dari semenjak lahir ). Sambada ( dewasa sampai tua ) dan Winasa ( kematian serta kehidupan di alam hyang ).

Jati Sunda Sebagai Agama Asli urang Sunda - Makalah Mata Kuliah Budaya Sunda

Pada jamannya, isi ketiga Kitab Suci tadi selalu dibaca pada malam yang hening, penuh ketenteraman yaitu pada puncak upacara Kuwera Bakti di Balay Pamunjungan Kihara Hyang, beratapkan langit malam diterangi cahaya Damar Sewu, berbaur dengan cahaya bulan purnama sedang mengembang, dipimpin oleh Brahmesta Pendeta Agung Nagara. Keesokan harinya ketiganya diarak di dalam "Jampana Niskala Wastu" berkeliling di halaman Balay Pamunjungan lalu ke kompleks Pakwan Pajajaran sampai ke Jero Kuta. Pada saat seperti itu Rakyat Sunda berbondongbondong datang dari seluruh penjuru tanah Sunda untuk menyaksikan upacara tersebut.

"Pikukuh Agama Sunda Pajajaran diserat dina Layang Sambawa, Sambada, Winasa anu serat ku Parabu Reusi Wisnu Brata, nya Inyana anu tukang tapa ti ngogorana. Inyana anu seunyana ngagalurkeun jadi kabehan pada ngarti Agama anu kiwari disarebut Agama Sunda Pajajaran tea. Agama anu hanteu ngabeda-bedakeun boro-boro ngagogoreng ngahahawuran Agama sejen. lantaran euweuh Agama anu hanteu hade, anu hanteu hade mah lain Agama tapi metakeun Agama jeung laku lampah arinyana anu areumbung ngararti hartina "Ahad" teh Nunggal nu ngan Sahijihijina ngan Sahiji bae"

"Ajaran-ajaran Agama Sunda Pajajaran dituliskan dalam Kitab Suci Sambawa, Sambada, Winasa yang dituliskan oleh Prabu Resi Wisnu Brata, Dia lah yang suka bertapa dari semenjak muda, Dia pula yang mengajak semua jadi mengerti Agama yang sekarang disebut Agama Sunda Pajajaran yakni Agama yang tidak membeda-bedakan bahkan yang tidak menjelek-jelekan memusuhi Agama lain. Sebab tidak ada Agama yang jelek, yang jelek itu bukan Agama tapi cara mengamalkan Agama dan kelakuan mereka yang tidak mau mengerti apa makna "Ahad" itu berarti Tunggal yang benar-benar hanya Satu hanya Satu-satunya"

Tokoh yang pertama menyebarkan Ajaran Jati Sunda yang pertama, yang namanya Mundi Ing Laya Hadi Kusumah setelah Dia mendapatkannya dari Jagat Jabaning Langit. Mundi Ing Laya Hadi Kusumah yang berarti Seseorang yang telah mampu mengusung tinggi tentang kematian, setara indahnya bunga, yang juga juga berarti seseorang yang telah mampu menguasai hawa nafsunya seraya meninggalkan ihwal keduniawian, nama ini identik dengan Utusan Sang Khalik. Dapat masuk ke Jagat Jabaning Langit suatu Jagat diluar Alam semesta bersimpuh keharibaan Sang Hiyang Tunggal, tentu bukan manusia sembarangan. Jagat Jabaning Langit adalah Mandala Agung atau dalam Istilah Al Quraan adalah Sidratul Muntaha tempat bersemayamnya Sang Rumuhung Nu Maha Agung, Sang Hiyang Tunggal.

Jati Sunda Sebagai Agama Asli urang Sunda - Makalah Mata Kuliah Budaya Sunda

Dalam keadaan Tunggalnya, Sang Hiyang Rumuhung Nu Ngersakeun dibantu oleh para Sang Hiyang seperti Sang Hiyang Wenang , Sang Hiyang Wening, Sang Hiyang Guru Tunggal ( Guriang Tunggal ), Sang Hiyang Kala, Sang Hiyang Guru Bumi, Sang Hiyang Sri Rumbiang Jati, Sunan Ambu dan para Sang Hiyang lainnya sesuai tugas dan wewenang masing-masing dalam mengatur Jagat. Sang Hiyang yang menempa kepasrahan dalam perjalanan kehidupan manusia adalah Sang Hiyang Kala atau biasa disebut Dewa papasten ( Dewa Kepastian ) yang menguasai kewenangan waktu. Orang Sunda nu Nyunda demikian yakin perjalanan hidupnya dikendalikan ketentuan-ketentuan waktu yang di istilah kan Papasten tadi.

Dalam Ajaran Agama Jati Sunda ada dua Jagat yang disebut Jagat Jadi Carita dan Jagat Kari Carita ( Dunia Fana dan Alam Baka ).

Di Jagat Kari Carita, terdapat Mandala dan Buana Karma atau Jagat Pancaka Mandala tersebut terdiri dari 9 tingkat secara vertikal, diantaranya dari bawah keatas : Mandala Kasungka - Mandala Parmana - Mandala Karna - Mandala Rasa - Mandala Seba - Mandala Suda - Jati Mandala - Mandala Samar dan Mandala Agung. Mandala Agung inilah yang juga disebut Jagat Jabaning Langit tempat bersemayamnya "Sang Hyang Tunggal", "Anu nunggal bae di sakabeh Alam sakabeh Jagat" (Tuhan Yang Maha Kuasa yang Maha Esa di seluruh alam dan seluruh Jagat). Suatu Jagat tanpa ruang tanpa waktu, tanpa terang tanpa gelap, tanpa jarak tanpa batas.

Setelah melewati kematian, manusia akan masuk ke Mandala Kasungka ( Mandala paling rendah ) jika hidupnya tdk baik maka akan masuk Buana Karma yang berupa kawah panggodogan. Setelah menerima pembersihan di Buana Karma, manusia ini baru bisa naik ke Mandala selanjutnya. Bertahap sesuai waktunya naik sampai Mandala Seba. Sebaliknya manusia yang baik pd masa hidupnya bisa langsung naik bertahap ke setiap Mandala sampai akhirnya berkumpul kembali di Mandala Seba. Setelah melewati Mandala Seba sesuai dengan prilaku masa hidupnya akan bergiliran masuk pada Mandala Suda, Mandala ini adalah tempat berkumpulnya para "Karuhun" yang telah bebas utk pulang pergi ke dunia. Ia blh mewujud lagi tapi kalau bicara hanya melalui perasaan atau sebaliknya boleh berbicara biasa tapi tidak boleh berwujud, dari Mandala ini naik ke Alam Kesucian yaitu Jati Mandala, di Mandala ini terdapat dua Paseban, yaitu Paseban Pangauban tempat para Karuhun yang sudah bebas untuk kembali lagi ke dunia menjenguk yang masih hidup sambil boleh berwujud dan berbicara seperti biasa, sebelah atasnya terdapat Panggung Bale Agung tempat berkumpul Karuhun yang akan menitis.

Jati Sunda Sebagai Agama Asli urang Sunda - Makalah Mata Kuliah Budaya Sunda

Atas Jati Mandala adalah Mandala Samar, di Mandala ini tinggal para Karuhun yang sudah waktunya utk menitis, mereka sudah tidak perlu lagi naik tahapan Mandala karena mereka sudah habis masa dan untuk kemudian lebur menyatu dengan Semesta Alam. Ada 3 tempat sejajar di Mandala Samar yang ditengah adalah tempat bersemayam Sanghyan Guriyang Tunggal, sebelah kiri tempat bersemayam Sang Hyang Wenang, yang sebelah kanan adalah tempat bersemayam Sang Hyang Wening, ditengah atas ketiganya tempat bersemayam Sang Hyang Kala. Sedangkan yang paling atas dan sendiri adalah Mandala Agung tempat bersemayam Sang Hyang Tunggal anu Nunggal di Kanunggalan na. Jarak dari Mandala Samar ke Mandala Agung kira-kira 29 setangah jaman atau istilah orang Kanekes hanya berjarak segelindingan jeruk nipis. Dalam Ajaran Agama Jati Sunda terdapat lalakon Nitis. Dalam pelaksanaanya Nitis disebabkan beberapa hal antara lain : 1. Untuk melanjutkan atau membuktikan sebuah maksud/tujuan besar dan baik tetapi semasa dahulunya tidak sempat terlaksana. 2. Untuk menunaikan/memenuhi kepenasarannya yang amat sangat tetapi tidak kesampaian semasa dahulunya 3. Untuk memenuhi/menunaikan janji yang diucapkan dahulu ! 4. Untuk menandingi Sukma yang Gagah Sakti yang keluar dari Jagat Pancaka Atau sebab-sebab lainnya yang baik dan diijinkan untuk nitis oleh Sang Hiyang Dewa

Bagaimana Nitis itu yaitu dengan Manusia Baru tetapi Sukma nya dari Jati Mandala, Sukma Karuhun yang kebagian waktu untuk melaksanakan maksudnya. Raga yang sedang Nitis melalui proses manusia seperti biasa, dilahirkan dan berkembang dari bayi hingga dewasa atau yang ditentukan. Tetapi dalam menitis itu dia tidak tahu sebenarnya siapa, karena tidak akan ada yang tahu kecuali mereka yang mengetahui rahasia nitis atau yang nitis pada jaman yang sama.

Dalam keadaan nitis itu, tidak boleh ada yang saling mengenal antara yang nitis, jika itu terjadi maka yang saling mengenal itu, mereka harus kembali lagi ke Kahiyangan sebelum waktunya. Bisa tidak kembali tapi mereka harus keluar dari raga yang dititis lalu masuk ke raga yang lainnya. Jika masih juga terjadi kejadian yang sama saling mengenal selama tiga kali, sukma mereka tidak boleh lagi ada di Jagat ini tapi harus kembali ke Mandala Samar, Raga yang ditinggalkan kalau tidak dititis kembali oleh sukma yang lain maka raga itu akan mati seperti biasa, tapi jika raga itu diisi kembali, disebutnya adalah Dipindah Sukma, raga yang itu juga tetapi berbeda Sukma. Contohnya suka ada Manusia yang berubah Sifat, Adat, Tingkah laku, Ilmu secara tiba2.

Jati Sunda Sebagai Agama Asli urang Sunda - Makalah Mata Kuliah Budaya Sunda

Ada juga Nitis yang bersifat sementara, yang diperintahkan oleh Sang Hiyang Wenang, lamanya terhitung bilangan waktu, seminggu, sebulan, atau setahun dan sifatnya tidak dari awal dan tidak sampai akhir masa hidup raga yang dititis, hanya sesuai keperluannya saja. Raga manusia yang dititis seperti ini tidak akan sadar tetapi tiba-tiba suka bertanya pada diri sendiri kenapa tiba-tiba banyak ke bisa an, ilmu, Kemapuan dan lain-lain, biasanya banyak didatangi orang-orang yang meminta tolong kepada dia. Yang seperti ini jika lelaki tidak menikah jika perempuan tidak berjodoh selama dititis dan juga tidak menjadi dukun, paranormal atau lainnya, karena mereka yang seperti itu "diturunkan" bukan untuk menjadi seperti itu tetapi untuk menyadarkan yang mau disadarkan, menunjukan pada yang lupa, menyadari yang mau mendengar. Tapi ada juga yang ditentukan memang untuk Nitis kembali selama beberapa kali dan sudah ditentukan dari awalnya hanya yang seperti ini bukan kebanyakan dan bukan sembarangan, hanya yang ditunjuk saja yaitu yang diberikan nama Siliwangi tapi bukan Silih Wangi apalagi Sirih Wangi karena Dia jika pindah dari Jagat ini tidak lagi bertahap melalui Mandala tapi langsung ke Mandala Samar dan menunggu waktu yang telah ditetapkan.

Tapi hati-hati sangat hati-hati, ada sukma yang sama sekali tidak pernah masuk Kahiyangan tapi ngaku-ngaku sebagai titisan seseorang yang "besar" !!!

Dalam Ajaran Jati Sunda mempunyai beberapa macam tempat Peribadatan peribadatan untuk berhubungan, menyembah, memuja kepada Sang Hiyang Tunggal yang disebut Pamunjungan. Adapun beberapa macam Pamunjungan seperti :

1. Balay Pamunjungan berupa Bukit bukit Punden Berundak sebanyak 12 undakan yang dibagian puncaknya dan di 2 tingkat bawahnya terdapat Arca-arca sebanyak 800 buah yang biasa disebut Arca Domas. Dahulu Pamunjangan yang paling mewah dan megah di Pakuan pajajaran pada jaman Prabu Siliwangi yakni yang disebut Balay Pamunjungan Kihara Hyang yang berlokasi di Leuweung Senggom/Hutan Senggom yang lokasi nya sekarang disebut Bantar kemang. Selain dibawahnya memiliki Lapangan yang sangat luas, juga di puncak bukit yang disebut Balay dipadati oleh Arca-arca emas seutuhnya sebanyak 400 buah dan Arcaarca lainya sebanyak 400 buah terbuat dari batu, terdapat di tingkat kedua dan ketiga yang disebut Babalayan. Punden semacam ini hanya terdapat di pakuan ( Pusat ) Pajajaran sebagai sarana Upacara Munjung kepada Hyang Maha Agung baik dalam Upacara Seren Taun Guru Bumi ( Tahunan ) maupun Seren Taun Tutug Galur / Kuwera Bakti ( Delapan tahunan ). Selain itu juga untuk Upacara atau kegiatan kecil lainnya. Sebagai Pemimpin

Jati Sunda Sebagai Agama Asli urang Sunda - Makalah Mata Kuliah Budaya Sunda

Keagamaan disebut Brahmesta yang dibantu oleh Para Ganidri, Marakangsa, Puun Meuray, Puun Sari, Para Puun dan Para Pangwereg Punjung.

Sebagai tempat untuk Mandi Suci nya adalah telaga yang terdapat di Sungai Cihaliwung/Ciliwung yang disebut Talaga rena Mahawijaya atau dikenal dengan nama Leuwi Sipatahunan. Tempat-tempat tersebut Talaga Rena Wijaya dan Balay Pamunjungan Kihara Hiyang ( Gugunungan Ngabalay / Bukit sebagai Balay ), dibuat oleh Sri Baduga Maharaja seperti yang tertulis pada Prasasti Batutulis. Karya Siliwangi ini merupakan pengganti Talaga Sanghyang Rancamaya yang sudah ditimbun oleh Sang Hulu Wesi adik Prabu Susuk Tunggal karena disana terdapat Mahluk Ghaib jahat yang selalu muncul seperti apa yang diberitakan oleh Carita Parahiyangan Sang Hyang Hulu Wesi nu nyaeuran Sanghyang Rancamaya, mijilna ti Sanghyang Rancamaya ngaran kula ta Sang Udubasu, Sang Pulunggana, Sang Surugana, Ratu Hyang Baraspati dalam Pantun disebut Disaeurna/Ditimbunnya Talaga Rancamaya karena Ghaib Jahat itu setiap tahun selalu meminta Pimatarameun ( Kurban ) tujuh pasang manusia muda mudi yang disebut Sekar Manah.

2. Babalayan Pamujan ini berupa Punden berundak yang terdapat di Kabupatian kabupatian luar Dayeuh atau Kapuunan kapuunan. Undakan pada Punden seperti ini hanya sebanyak 7 atau 9 undakan dan tidak terdapat banyak Arca atau malah sama sekali tidak ada, yang ada hanya kumpulan batu-batu besar pada tiap tingkatan undakannya. Fungsinya adalah sebagai tempat Upacara Muja baik kepada Para Sang Hiyang maupun kepada para Karuhun yang di Pimpin oleh Pandita atau Puun dan Kokolot.

3. Saung Sajen ( Pancak Saji ) berupa bangunan khusus untuk menyimpan sesaji dalam Upacara Nyajen terbuat semacam Rumah Panggung kecil tanpa kamar-kamar dan ada semacam altar untuk menyimpan Sesaji. Bangunan ini terdapat di lingkungan pemukiman baik dekat Kraton, Rumah Puun, Rumah Bupati atau Rumah warga.

Selain sarana sarana tersebut masih terdapat tempat tempat Sajen yang tersebar di tempat tempat yang dianggap memiliki daya ghaib atau keramat seperti di depan gua, dibawah pohon besar, dihulu sungai, tengah hutan dan sebagainya. Tempat tempat seperti ini sebagian besar selalu ditandai oleh adanya batu-batu besar dan batu-batu datar sebagai wahana penyatuan diri antara Manusia dengan Sang Ghaib yang dihormatinya, tujuannya demi terciptanya keselarasan

Jati Sunda Sebagai Agama Asli urang Sunda - Makalah Mata Kuliah Budaya Sunda

hidup antara semua mahluk dan unsur atau lainnya sesama Ciptaan Sang Hyang Keresa. Sebab di Ajaran Agama Jati Sunda mahluk Manusia yang sudah Nyunda mesti menyadari bahwa

uteg tongo walang taga, manusa buta datia, lukut jukut rungkun kayu, keusik karikil cadas batu, cinyusu talaga sagara, bumi langit jagat mahpar, angin leutik angin puih, bentang rapang bulan ngempray, sang herang ngenge nongtoreng. eta kabeh ciptaan Sang Hiyang Tunggal, keur Inyana mah kabeh ge sarua euweuh bedana" "satwa kecil sampai yang paling besar, manusia raksasa dan detia, lumut rumput perdu sampai kayu, pasir kerikil cadas sampai batu, mata air danau lautan, bumi langit sampai semesta alam, angin semilir sampai angin topan, bintang bertaburan bulan terang matahari terik. itu semua ciptaan Sang Hiyang Tunggal, bagiNya kesemuanya itu tidak ada perbedaannya"

Karena faham inilah maka bagi Manusia Sunda alam itu bukan untuk ditaklukan tetapi harus disahabati, diakrabi bahkan dihormati dengan cara melalui pranata Puja, Puji, Saji lewat Mandala Suci serana peribadatan tadi, oleh sebab itu saat ini di Kampung kampung adat atau budaya masih terdapat banyak larangan larang untuk merusak alam dan sekitarnya. Karena juga dambaan Orang Sunda setelah meninggal bukan untuk mencari Surga tapi menghendaki bisa kembali ke Kahiyangan ( Mandala Agung ) sebagaimana asalnya tanpa harus melewati dahulu Mandala mandala di bawahnya, sebab ketika lahir datang dari Mandala Hyang tanpa rencana dan kembali pun melalui proses Ngahyang tanpa mesti direncanakan menginginkan Surga, hal inilah yang dalam istilah Sunda disebut Mulih ka Jati, Mulang ka Asal.

Dalam kehidupan Kesundaan dahulu terdapat beberapa Acara Upacara Besar diantaranya seperti Seren Taun Guru Bumi dan Seren Taun Tutug Galur. Dalam kehidupan Masyarakat Sunda Pajajaran dahulu yang merupakan sebagai Masyarakat ladang, mempunya Sang Hiyang yang diagungkan oleh setiap Orang Sunda yaitu Sang Hiyang Ambu Sri Rumbiyang Jati ( Dewi kesuburan padi dan tanam - tanaman ) dan juga Sang Hiyang Ayah Kuwera Guru Bumi atau disebut juga dengan nama Batara Patanjala ( Dewa kesuburan dan kesejahteraan ) Kedua Pasang Sang Hiyang ini sebagai Pangbayu Hirup Hurip Manusia Sunda karenanya dijadikan inti Puja dalam kegiatan - kegiatan Upacara Besar tadi yaitu Upacara Tahunan Seren Taun Guru Bumi dan Upacara Winduan Seren Taun Tutug Galur Kuwera Bakti di Pakuan.

Jati Sunda Sebagai Agama Asli urang Sunda - Makalah Mata Kuliah Budaya Sunda

10

Waktu kegiatan Acara Upacara Besar ini ( seperti Lebaran ) dilaksanakan setelah selesai masa Panen Padi di ladang, kegiatan - kegiatan seperti ini sekarang masih terdapat dan dilaksanakan di lingkungan Masyarakat adat Baduy, pancer pangawinan, Naga, Dukuh, Sumedang Larang, Cigugur dan Juga Kampung Budaya Sindangbarang Bogor.

Sesajen / Susuguh dalam Ajaran Jati Sunda dimaksudkan utk sarana komunikasi dengan Karuhun atau bentuk ungkapan syukur terhadap sesuatu. Apa saja Sajen yang biasa dilakukan di Ajaran Jati Sunda ada tiga macam : 1. Sajen Upacara 2. Sajen Pamujan 3. Sajen Nyambat

Sajen Upacara berupa hasil bumi, awug beras/nasi tumpeng/nasi ketan dengan bahan baku untuk nyirih. Teh Tubruk/teh seduh dari daun teh langsung, Kopi biji ditumbuk, dan air putih dari sumur, kembang hanjuang, honje, daun jati, bako dan kembang rampe/bunga tujuh warna.lainya ada juga kelapa yang terdapat buah didalamnya dan kendi kecil. Madat/Kemenyan yang digunakan adalah Madat Kemuning ( ciri khas ). Sajen Pamujan berupa sesaji lebih sederhana biasanya untuk ibadat sehari2 cukup dengan kembang hanjuang, honje, telur, bako, daun jati ditengah kukusan Madat Kemuning Lainnya ada beberapa sesuai maksud sesaji, contoh untuk sajen saat akan melahirkan selain Madat yang dipakai buah cecenet tanpa biji dan buah beunying yang matang dan putih. dalam Jati Sunda ada 3 Buana yaitu Buana Handap, Buana Tengah, Buana Ruhur atau Orang Kanekes bilang Buana Nyungcung. Buana Handap adalah Buana Larang atau Buana Karma yang berupa kawah panggodogan dikenal dengan sebutan Neraka tempat paling hina dalam Ajaran Jati Sunda. Sama seperti dalam Ajaran Islam setiap Manusia yang masuk ke Buana ini akan di "bersihkan' dahulu setelah itu baru akan kembali ke Buana Ruhur. Buana Tengah adalah Jagat dimana kita Hidup saat ini, jika kita telah habis masa hidupnya dan mati kita masuk ke Buana Ruhur. Buana Ruhur / Jagat Pancaka terdapat Mandala terdiri dari 9 tingkat secara vertikal, diantaranya dari bawah keatas : Mandala Kasungka - Mandala Parmana - Mandala Karna - Mandala Rasa - Mandala Seba - Mandala Suda - Jati Mandala - Mandala Samar dan Mandala Agung ( Semesta Alam ).

Jati Sunda Sebagai Agama Asli urang Sunda - Makalah Mata Kuliah Budaya Sunda

11

Mandala Agung inilah yang juga disebut Jagat Jabaning Langit tempat bersemayamnya "Sang Hyang Tunggal", "Anu nunggal bae di sakabeh Alam sakabeh Jagat" (Tuhan Yang Maha Kuasa yang Maha Esa di seluruh alam dan seluruh Jagat). Suatu Jagat tanpa ruang tanpa waktu, tanpa terang tanpa gelap, tanpa jarak tanpa batas. Jadi Batas Jagat dan Alam ya itu tadi Antara Buana Tengah dan Buana Ruhur. Mandala Agung terpisah dari Mandal - mandala dibawahnya.

Nitisnya Siliwangi Saat ini yang beredar dalam sejarah umum Siliwangi diartikan sebagai Silih / Berganti dan Wangi / Harum / Wangi jadi Wangi yang Berganti, pendapat ini diperkuat oleh Siliwangi itu adalah gelar untuk Raja Raja Pajajaran yang dimulai ketika bersatunya kembali Pajajaran/Sunda dan Galuh. Karena penyatuan itu maka Sri Baduga Maharaja Ratu Jayadewata diberikan gelar Siliwangi yang artinya bahwa Sri Baduga Maharaja Ratu Jayadewata telah menyatukan kembali Nagara Sunda seperti awalnya dan berjaya kembali / Wangi atau Kejayaan yang Berganti atau Kembali. Pendapat ini salah namun juga benar, benar karena Siliwangi itu adalah sebuah gelar bukan sebuah nama, gelar yang dimulai dari Sri Baduga Maharaja Ratu Jayadewata hingga Raja terakhir Pajajaran yaitu Raga Mulya Surya Kencana menurut Sejarah umum.

Salah karena arti sebenarnya Siliwangi adalah Sili / Langgeng dan Wangi / Kesucian yang Sejati, nama Gelar Siliwangi diberikan oleh Eyang Resi Handeula Wangi di Pamujan Mandalawangi Talaga Wana, Pendapat lain, mengatakan Gelar Siliwangi bukan lah Gelar yang diberikan kepada Sri Baduga Maharaja Ratu Jayadewata karena Ratu Jayadewata bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Aji seperti yang tertulis dalam Prasasti Batutulis. Jadi Siliwangi adalah Gelar untuk satu Raja saja yaitu Raga Mulya Surya Kencana yang merupakan Raja Pajajaran yang terakhir yang dikisahkan dalam Pantun Bogor pemberian Gelar ini dimaksudkan diartikan bahwa dalam masa terakhir Pajajaran walaupun Nagara Pajajaran hancur tapi keharuman tentang Pajajaran dan Rajanya tidak akan pernah hilang walaupun mengalami banyak penelikungan, penghapusan, pembalikan fakta, penghancuran sejarah Pajajaran dan Raja nya yang sebenarnya dan Siliwangi adalah sebuah Gelar yang akan melakonkan Nitis seperti yang saya tulis dalam pembahasan Nitis.

Jati Sunda Sebagai Agama Asli urang Sunda - Makalah Mata Kuliah Budaya Sunda

12

Ki Lengser Lengser Sunda Lengser Pajajaran jika ditanya sama kah dengan Lengser saat ini yang suka kita lihat dalam upacara adat dalam pernikahan Sunda, jawabannya sangat berbeda hanya ada satu yang sama adalah sebagai pendamping. Namun Ki Lengser yang diceritakan pada Pantun Bogor adalah Lengser Pajajaran yang merupakan Pengasuh, Pendamping, Penasehat bagi Raja - Raja Sunda Pajajaran. Kedudukan Ki Lengser sangat tinggi, berada di atas Patih dibawah Raja, tugas Ki Lengser yang disebut tadi sebagai Penasehat, Pendamping Raja, sangat menentukan tindakan Raja, tak jarang Ki Lengser "membetulkan/menyadarkan" tindakan Raja.

Pada saat terakhir setelah Uga Wangsit Siliwangi di ucapkan oleh Raja, setelah orang - orang Pajajaran pisah menjadi empat dan menjalani pilihan pilihannya Ki Lengser tidak memilih kemana mana tidak memilih ke empat pilihan itu, juga tak lagi mengikuti Prabu Siliwangi. Ki Lengser menjalani tugasnya lagi sebagai penyambung lalakon Pajajaran, hingga nanti Uga telah sampai pada waktunya. Ki Lengser juga yang mengasuh Budak Angon yang disebutkan dalam Uga.Ki Lengser menjalani menjadi petunjuk bagi keterusan lalakon Pajajaran.

Siapakah Ki Lengser ? Berawal ketika Sang Hiyang Tunggal yang Nunggal di Kelanggengan, Nunggal di seluruh Jagat. Menciptakan Sang Hiyang Waning dari terangnya ibun disatukan dengan segarnya hawa pagi. Lalu menciptakan Sang Hiyang Wenang dari wangi kembang Ki Pahare Pakujajar disatukan dengan hangatnya hawa siang. Lalu menciptakan Sang Hiyang Tunggal dari selembar rambutNya lalu disatukan dengan cahaya matahari. Lalu menciptakan Sang Hiyang Kala dari sebuah cahaya gelap disatukan dengan cahaya terang.

Pada saat Sang Hiyang Tunggal menciptakan Sang Hiyang Kala itu tanpa sengaja ketika cahaya gelap dan cahaya terang disatukan ada yang terjatuh pada tempat air Kahuripan maka pada saat Sang Hiyang Kala tercipta wujud lain juga ikut tercipta, awalnya Sang Hiyang Tunggal akan menghilangkan lagi wujud itu namun saat melihat wujud nya Sang Hiyang Tunggal mengurungkan niatnya dan memberi nama Lengser. Awalnya Sang Hiyang Lengser ini mengeluh kenapa diberi nama Lengser tidak se bagus seperti yang lainnya, lalu Sang Hiyang Tunggal berkata, "yang Bagus datang dari Saya

Jati Sunda Sebagai Agama Asli urang Sunda - Makalah Mata Kuliah Budaya Sunda

13

yang Jelek datang dari Saya". Oleh karena itu dinamakan Lengser karena tidak akan berubah/menyimpang dari kebaikan tidak akan berubah/menyimpang dari kebenaran.

Suatu saat Ki Lengser dipanggil oleh Sang Hiyang Tunggal yang hendak memberikan tugas kepada Ki Lengser untuk membuat keajaiban pada seluruh Jagat dan seluruh Alam, namun apa keajaiban itu Ki Lengser harus memikirkannya sendiri, lalu Ki Lengser berfikir selama empat puluh hari empat puluh malam, hingga pada malam ke empat puluh itu Ki Lengser terjatuh dari Kahiyangan lalu dikejar oleh para Dewa - dewa namun Ki Lengser menolak untuk ditolong, saat itu Ki Lengser mengetahui keajaiban apa yang akan menjadi tugas dia yaitu sebagai "Tukang Pantun", saat Ki Lengser terjatuh itu dan berkata akan menjadi "Tukang Pantun" Sang Hiyang Tunggal menyetujuinya dan menyuruh Ki Lengser kembali ke Kahiyangan, namun Ki Lengser menolak karena menurut dia "Tukang Pantun" tidak akan menjadi suatu "keajaiban" jika "Tukang Pantun" ada di Kahiyangan maka dia harus berada di suatu jagat lain, menjadi "Tukang Pantun" yang akan melalui jaman yang menceritakan "dongeng" yang pernah terjadi namun banyak yang tidak mempercayainya tapi nanti akan datang kejadian terbukti dan ter-alami.

Saat itu Ki Lengser memilih mendiami Jagat/Buana yang belum terdapat manusia dan masih gelap yang kelak disebut Buana Sunda, Jagat Alam Pajajaran Tengah yang masih didiami oleh binatang dan belum ada manusia. Agar dia dapat menceritakan dari awal semua yang terjadi. Maka itulah Ki Lengser yang menjadi pengasuh, pendamping, penasihat bagi Raja Sunda Pajajaran.

Pamujan Parakan Jati Sindang Barang, sebagai termpat peribadatan Jati Sunda dan Kadaton di luar Dayeuh Pakuan. Dalam Rajah Demung Kalagan ( Pantun Ki Kamal ) nama Sindang Barang sudah disebut sebut sebagai Mantra pembuka dan penutup.

"Ulah Sindang Barang geusan tata pangkat diganti deui, sang pamunah sang darma jati, tanah lemah tutup bumi, tutup buana dat mulusna ..."

"Jangan Sindang Barang sebagai tempat awal ( Agama Sunda ) diganti lagi, yang mensucikan sang darma jati, tanah tempat penaung dunia pengayom alam kesempurnaan ..."

Rajah tersebut membuktikan bahwa Sindang Barang adalah tempat suci bahkan dianggap sebagai penaung dunia dan pengayom dari segala kesempurnaan, disebutkan pula Penata kesuciannya

Jati Sunda Sebagai Agama Asli urang Sunda - Makalah Mata Kuliah Budaya Sunda

14

bernama Sang Darma Jati sesuai seperti yang terdapat dalam Pantun Gede Tunggul Kawung Bijil Sirung yang menyebutkan

"Babalayan Sanghyang Parakan Jati Mandala Suci Pamujan Kadatuan Sindang Barang, saluareun dayeuh Pakuan, saha tah anu ngeuyeukna ? Nya inyana Pandita Agung anu ngaran inyana Sang Kumara Jati tea, nya inyana oge anu ngabebenah Sanghyang Talaga Tampian Dalem salebakeunnana .."

"Babalayan Sanghyang Parakan Jati Mandala Suci Pamujaan Kadatuan Sindang Barang sebelah luar ibukota Pakuan, siapa yang mengurusnya ? Dialah Pendeta Agung yang namanya Sang Kumara Jati, dia lah juga yang memperindah Sanghyang Talaga Tampian Dalem di sebelah bawahnya .."

Dengan itu semua telah memperjelas bahwa Sindang Barang sebagai tempat Suci memiliki Balay Pamujan inti Sanghyang Parakan Jati dan Sanghyang Talaga Tampian Dalem dengan Pandita Agungnya Sang Kumara atau Darma Jati. Mandala Parakan Jati merupakan tempat peribadatan Jati Sunda wilayah Kadatuan luar dayeuh Pakuan, Kadatuan Sura Bima Sindang Barang.

Dalam Pantun Gede terdapat berita bahwa salah satu Raja Pajajaran bernama Parabu Rakean Heulang Dewata dipendem ( dimakamkan ) dekat Sanghyang Talaga Tampian Dalam ( parek ka Sanghyang Talaga Tampian Dalem ) Raja ini yang dikenal umum dengan nama Ratu Dewata Buana. Ratu Dewata Buana setelah 12 tahun dipendem jasadnya di bakar untuk disempurnakan seperti kebiasaan pada ajaran Jati Sunda.

Di Kadatuan Sindang Barang juga Prabu Wisnu Brata memerintah Nagara Sunda yang berpusat di Pakuan "Sanghyang Saka Bumi", Parabu Wisnu Brata adalah yang membuat Pamujan di kaki Gunung Sanghyang Purwa ( Gede ) disana ia mendirikan Balay Pamunjungan Arca Domas di kaki Gunung Parangguh ( Pangrango ) dengan Brahmasta Pendeta Agung yang bernama Sang Jati Jatra. Pada akhir pemerintahannya Parabu Wisnu Brata menyerahkan Tahta Kerajaan kepada keponakannnya bernama Parabu Kalang Carita, Raja ini lalu kembali menempati pemerintahannya di Karaton Pakuan Pajajaran.

Dengan banyaknya tempat penting itu Kampung Sindang Barang sarat dengan peninggalan peninggalan tradisi megalitiknya seperti yang banyak diketemukan saat ini, seperti batu batu dari bekas lokasi Pamujan-pamujan dahulu. Sindang Barang sejak Pakuan Pajajaran mulai berdiri pada

Jati Sunda Sebagai Agama Asli urang Sunda - Makalah Mata Kuliah Budaya Sunda

15

abad ke 7 oleh Tarusbawa sudah berfungsi sebagai Kabuyutan Jati Sunda, sebagai kelanjutan dari Kabuyutan Galunggung, Kabuyutan Arca Domas di Gunung Sanghyang Purwa ( Gede ), Kabuyutan Gunung Padang Cianjur, Kabuyutan Kuta Gogelang di Gunung Bunder dan Kebuyutan tua lainnya.

Disamping itu sebelum Kabuyutan Mandala Kihara Hyang karya Siliwangi upacara upacara besar Agama Sunda Pajajaran seperti Tata Kinariyan, Tata Duriya, Bakti Astuta, Bakti Arakana, Guru Bumi, Kuwera Bakti dan termasuk upacara upacara kecil lainnya terpusat di Kabuyutan Mandala Parakan Jati, selain di Kapuunan kapuunan di luar lingkungan Kadaton.

Di sini pula Putra Padmawati ( Kentring Manik Mayang Sunda ) memilih tinggal di Kadaton Sura Bima di Sindang Barang bukan di Pakuan demi lebih mendalami memantapkan keyakinannya kepada Agama Sunda, sebab Nenek Moyangnya berasal dari Nusa Bima bukan asli Pajajaran karena itu Kadatonnya oleh Ayahnya Parabu Panji Haliwungan ( Susuk Tunggal ) dinamai Sura Bima. Putra Parabu Panji Haliwungan ( Susuk Tunggal ) pun yaitu Parabu Guru Gantangan ( Surawisesa ) lahir dan dididik oleh Uwa nya Rakean Panji Wirajaya Sang Amuk Marugul di Kadaton Sura Bima.

Jati Sunda Sebagai Agama Asli urang Sunda - Makalah Mata Kuliah Budaya Sunda

16