Pacarku Juniorku

Valleria Verawati

FREE TALK
Hai... ketemu lagi sama gue! Akhirnya novel kedua ini terbit juga. Lega banget rasanya. Dua tahun udah berlalu sejak novel pertama gue diterbitkan. Maaf ya, udah bikin kalian semua menunggu. Berhubung gue nulis novel ini udah agak lama, jadi mungkin ada beberapa bagian di novel ini yang udah nggak sesuai lagi sama keadaan sekarang. Tapi gue harap itu nggak mengganggu kalian untuk menikmati novel ini. Anyway, gue mau ngucapin syukur atas kasih Tuhan yang tiada batasnya dalam hidup gue. Karena setiap karyaNya membuat hidup gue jadi luar biasa. Makasih banyak buat Papa dan Mama yang nggak pernah berhenti memberikan dukungan dan cinta. Makasih buat Ai, Nyenyen, Hendi, dan Ria yang selalu mendukung gue dengan caranya masing-masing. Khusus buat Dede, makasih ya, buat sumbangan namanya. Makasih buat Yenni dan Cia Sin di Batam, Ko Puk dan Lilis, juga semua keluarga besar yang udah memberikan dukungan buat gue. Jangan kapok bantu promosiin buku gue ya! Thanks buat Andi Wijaya atas kehadirannya yang membuat hidup gue seindah pelangi. Thanks juga buat Eudora Halim yang selalu menjadi sahabat terbaik buat gue (selamat buat pernikahannya ya!). Big thanks buat semua teman-teman gue dari Seraphine, Vianney, maupun UNTAR. Tanpa lo semua, gue nggak akan pernah punya cerita yang bisa gue tuang dalam novel-novel gue. Special thanks buat Florenka yang udah jadi sumber inspirasi gue buat novel ini (^-^). Gue juga mau ngucapin makasih baut semua guru yang pernah membimbing gue selama ini. Terutama buat Sr. Elisabeth atas doa-doanya, juga Pak Sandi dan Bu Vonny yang udah membantu melalui satu masa penyusunan skripsi (makasih banyak ya!). Tengkyu banget buat Mbak Vera yang udah banyak bantuin gue. Maaf kalau gue selalu cerewet dan banyak nanya. Makasih banyak Yustisea atas desain covernya yang oke banget. And makasih juga buat semua anggota Redaksi GPU atas bantuannya selama ini. Gue juga nggak bakal lupa ngucapin makasih sama all my lovely pets (terutama buat Rika-ku yang bantet and Lassie-ku yang brutal!). Meskipun kalian nggak ngerti, kehadian kalian udah bikin hari-hari gue jadi lebih ceria. Last but not least, thanks buat teman-teman baru gue yang udah membaca novel pertama gue. Respons dan masukan dari kalian sangat berharga buat gue. Makasih juga buat kamu yang lagi baca novel kedua gue ini. Tengkyu banget karena kamu

udah memilih untuk membaca novel ini di antara novel-novel lainnya. Gue tunggu respons kalian di v2_b4byp1nk@yahoo.com. Oke! GBU all.... Lophe, Vera

Hari ini adalah hari pertama MOS (Masa Orientasi Siswa) buat anak-anak kelas 1 yang untuk pertama kali mengenakan seragam putih abu-abunya. Nggak ada seorang pun yang pasang tampang lemas. Di balik tujuan baik penyelenggaraan MOS ini sering kali ada maksud terselubung. waktu hujan masih dengan riangnya menyiram tanah pertiwi dan gerbang sekolah belum dibuka oleh Pak Kosim. Tapi beberapa anak yang tergabung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah SMA Constantine 4 udah pada kumpul di sekolah sejak jam 06. Apalagi Baby Fania.00 dengan semangat ‟45. yang lebih beken dengan panggilan “Bia” (padahal itu nama kecilnya loh!). para anggota OSIS punya wewenang untuk “mengatur” adik-adik kelas mereka yang baru. Jalanan masih basah bekas diguyur hujan subuh tadi. lo mesti ngeluarin seluruh kemampuan lo buat bikin mereka takut. MOS ini sebenarnya diciptakan untuk mengakrabkan para guru dengan siswa baru. pokoknya kalo anak-anak baru itu udah pada datang.30. “Bi. “Iya. juga biar mereka bisa menanggalkan sifat manja yang masih mereka bawa dari lingkungan SMP. Cewek bertubuh mungil itu berdiri tegak sambil celingak-celinguk memerhatikan gerbang sekolah. Tapi bagi beberapa anggota OSIS. yaitu balas dendam. terkadang MOS disalahgunakan.BAB SATU RONALD berdiri di samping Bia sambil menyisir rambutnya yang berdiri kayak duri landak dengan jari-jarinya. gue tahu. Sudah menjadi tradisi turun-temurun bahwa selama MOS yang diadakan tiga hari ini.” respons Bia singkat. cewek mungil berambut pendek yang udah hampir setahun ini memegang jabatan ketua OSIS. Dia udah tiba di sekolah sejak jam 05. Udara pagi itu masih terasa agak lembap. Katanya sih biar para siswa baru itu punya mental kuat untuk menghadapi kerasnya dunia SMA kelak. juga sarana untuk memperkenalkan siswa baru pada lingkungan sekolah dan program-program sekolah. Apalagi buat yang sudah . si penjaga sekolah. kakakkakak kelas dengan junior-juniornya.” ujarnya bak perwira yang sedang memerintah anak buahnya. Tapi sebenarnya tetap saja balas dendam menjadi tujuan utama para senior ini.

duduk di kelas 3, MOS kali ini kan merupakan MOS terakhir buat mereka. Kapan lagi punya kesempatan bentak-bentak dan ngerjain orang tanpa perlu takut dibalas? “Eh, Ron, anak-anak udah pada siap di posisi masing-masing?” tanya Bia. Ronald menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Lo tenang aja, semua udah stand by di tempat masing-masing.” Bia manggut-manggut. Kepalanya masih sibuk bergerak dan matanya terus memantau gerbang sekolah tanpa berkedip. “Itu mangsa kita udah datang!” seru Bia senang. Bibirnya merekah memperlihatkan gigi kelinci yang nangkring di gusinya. “Mana... mana...?” Ronald maju beberapa langkah sambil melihat ke arah gerbang sekolah. “Iya... benar. Mereka udah datang.” “Siapa aja yang bertugas menjaga gerbang dan memeriksa kelengkapan atribut anak-anak baru itu?” tanya Bia. “Mmm... Sonny, Leon, Maya, Tania... sama satu lagi... si Victor.” Bia tersenyum puas. Lima orang yang baru saja disebut Ronald adalah anak buah kesayangannya. Soalnya selain bertampang sangar, mereka juga tegas, bermulut pedas, dan pantang disogok. Bia yakin lima orang itu akan melaksanakan tugas mereka dengan sangat baik. @(^-^)@ “Woi, jalannya lelet banget sih? Keturunan siput semua, ya?!” Tania meneriaki segerombolan anak yang berjalan kaki ke arah gerbang sekolah. Penampilan anak-anak itu terlihat sangat unik. Mereka memakai topi yang terbuat dari batok kelapa yang dibelah menjadi dua dengan warna yang berbedabeda. Di atas batok kelapa itu ditempeli bulu-bulu ayam yang disusun berjajar sehingga membentuk kipas. Selain itu mereka juga mengenakan kalung dari jengkol dan pada kalung itu digantung karton putih yang bertuliskan nama julukan mereka. Buat siswa perempuan, rambut mereka dikucir kecil-kecil dan diikat pita berwarna senada dengan topi mereka. Tas yang menggantung di punggung terbuat dari sarung bantal yang nggak tahu gimana caranya bisa disulap jadi ransel. Benar-benar pemandangan yang begitu menarik perhatian. Lucu banget! “Woi, anak siput! Kalau dalam hitungan ketiga kalian belum juga sampai di hadapan saya, saya suruh kalian lompat kodok dari situ!” ancam Leon. “Satu...!” Leon mulai menghitung. Gerombolan anak-anak itu bergegas berlari menuju kakak-kakak kelas mereka dengan wajah ketakutan. “Tiga...! Cepat lompat kodok semuanya!” bentak Leon.

Para siswa baru itu pada bengong. Perasaan tadi baru hitungan kesatu, kok sekarang udah tiga. Duanya dikemanain? Bukannya tetap berlari, mereka malah berhenti dan pasang tampang blo‟on. “Kalian ngerti lompat kodok nggak sih? Cepat lompat kodok dari situ!” Sonny ikut bentak-bentak. Suara dan tampang Sonny yang nyeremin bikin anak-anak baru itu langsung jongkok dan mulai melompat kayak kodok. Mereka meletakkan kedua tangan di belakang kepala dan mulai melompat dengan kedua kaki. “Semuanya lompat sambil ikutin nyanyian saya ya! Harus yang keras!” perintah Maya yang berdiri di depan barisan anak-anak yang mulai melompat. Maya memimpin barisan sambil bernyanyi, “Kodok ngorek kodok ngorek... ngorek di pinggir kali. Teot tet blung teot tet blung... teot teot tet blung.” Anak-anak yang melompat di belakangnya ikut bernyanyi mengikuti Maya. Warga yang tinggal di sekitar gedung sekolah serentak keluar dari rumah masingmasing karena mendengar keramaian yang terasa sangat aneh. Para pengguna jalan juga berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan itu. Sebagian besar dari mereka tersenyum dan berusaha mengulum tawa, tapi ada juga sekelompok ibu-ibu yang mengumpat karena merasa kegiatan ini konyol dan nggak ada gunanya. Namun apa mau dikata, ini kan tradisi turun-temurun. Lagi pula tradisi ini, walaupun kelihatannya agak kejam, nggak pernah sampai menimbulkan korban jiwa kok. Malah biasanya membawa keuntungan tersendiri. Misalnya, pernah ada orangtua murid yang datang ke sekolah untuk berterima kasih, karena anak mereka yang pemalu dan pendiam, setelah digojlok lewat program MOS selama tiga hari, anak itu malah bisa lebih terbuka dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. Dan efek positif yang lain, selesai MOS, anak-anak baru bisa langsung akrab dengan kakak kelas. Malah terkadang ada yang terlibat cinlok alias cinta lokasi. Makanya sampai sekarang, di saat tradisi MOS mulai dihapus di beberapa sekolah, SMA Constantine 4 tetap mempertahankannya. “Nyanyinya yang keras dong! Mana suaranya!” bentak Tania. “Yang udah sampai di hadapan kakak yang rambutnya jabrik itu langsung berdiri dan buat barisan.” Sonny, yang tahu bahwa dirinyalah yang dimaksud Tania, langsung mengambil posisi dan mengatur beberapa anak yang sudah sampai di hadapannya. “Kalian yang baru datang, langsung lompat kodok dan ikutan nyanyi!” seru Sonny kepada sekelompok anak yang baru saja tiba. “Hei! Kamu ngapain lompat kayak gitu?” tegur Victor dengan mata melotot ke arah seorang cowok yang sedang asyik melompat dengan kedua tangan terjulur ke depan, bukan di belakang kepala. “Saya, Kak?” tanya cowok itu dengan tampang heran.

“Iya, kamu!” Victor membaca karton nama yang menggantung di leher anak baru itu. “KATRO, ke sini kamu!” ujar Victor ketus. “Lho, salah saya apa, Kak?” tanya cowok itu. “Berdiri kamu, dan ikut saya!” perintah Victor. Cowok itu menurut dan mengikuti Victor keluar dari kelompoknya. “Kamu nggak tau cara lompat kodok, ya?” tanya Victor berusaha sabar begitu berhadapan dengan anak baru itu. “Tau, Kak. Bahkan saya pernah melakukan observasi khusus pada kodok-kodok yang sering numpang nginep di kolam ikan rumah saya.” “Saya nggak minta kamu melucu! Kamu mau sok jagoan, ya?” Victor mulai kehilangan kesabaran. “Saya kan cuma melakukan observasi aja, Kak. Kok dibilang sok jagoan sih? Emang sihs aya kurang kerjaan. Tapi saya sama sekali nggak ada maksud untuk sok jagoan kok. Nah, kebetulan tadi saya disuruh lompat kodok, ya saya terapkan aja hasil observasi saya itu. Soalnya, menurut hasil observasi saya, kodok tuh melompat dengan menggunakan keempat kakinya. Kedua kaki depannya bukan ditaruh di belakang kepala kayak teman-teman saya. Mereka salah, Kak. Yang benar ya kedua tangan kita juga harus digunakan untuk melompat supaya mirip kodok. Makanya saya melompat seperti itu. Kan disuruhnya lompat kodok,” cowok itu menjelaskan dengan tampang serius. Victor menarik napas panjang. Dia agak bingung. Sebenarnya nih cowok memang bermaksud melawan atau memang agak tulalit. Soalnya kalau dilihat dari tampang innocent-nya, cowok ini tampaknya sama sekali nggak ada niat untuk memberontak. Victor berpikir sejenak, dan ia merasa ada baiknya kalau nih anak aneh langsung diserahkan aja ke Bia daripada dia salah mengambil keputusan. “Kamu ikut saya!” perintah Victor. “Ke mana, Kak? Saya jangan diapa-apain, ya. Nanti mama saya marah kalau saya melakukan hal yang berlawanan dengan agama. Lagi pula kalo boleh jujur, saya masih suka sama cewek, Kak,” kata cowok itu dengan tampang memelas. Victor melotot memandang cowok aneh yang berdiri di hadapannya. “Lo pikir gue cowok apaan?” “Iih, Kakak... Gitu aja kok marah sih?” Victor benar-benar nggak tahan. Tangannya terkepal menahan marah. Dia langsung berbalik lagi dan berjalan menuju pos yang ditempati Bia dan Ronald selaku dewan pengadilan yang bertugas mengatur anak-anak aneh yang suka melanggar aturan MOS. Si cowok aneh itu berjalan di belakang Victor, tetap dengan wajah tanpa dosa. “Bi, ada pasien buat lo nih! Namanya Katro!” ujar Victor kesal ketika sudah sampai di pos Bia.

awalnya sih saya kira kakak yang tadi itu naksir sama saya dan punya maksud jelek sama saya. “Cocok banget sama julukannya. “Apa atribut yang dipakainya nggak lengkap?” “Kalau soal atribut sih gue nggak tau ya. Cowok itu berjalan mendekati Ronald dan Bia.. Mm. Memang kamu kira siapa lagi? Baca dong papan nama di dada kamu!” Ronald jadi agak sewot. Ronald.. asli banget. “Saya sadar. sampai lo bilang dia anak aneh?” tanya Bia heran. cepat ke sini!” Cowok itu celingak-celinguk ke kanan dan kiri. siapa ya? “Memangnya dia bikin salah apa.” Bia menatap cowok yang berdiri nggak jauh dari hadapannya. Anak aneh? Apa yang aneh dari cowok itu? Bahkan menurut Bia. “Gue mau balik ke pos gue. Victor berjalan menjauh dan kembali bergabung dengan timnya yang sedang berteriak-teriak ke arah anak-anak baru. Bia yakin banget. Mukanya yang rada oriental mengingatkan Bia pada bintang film kesayangan Mama.” jawab cowok itu enteng..” “Apanya yang aneh sih?” Ronald penasaran.” jawab cowok itu menggantung kalimatnya. “Tapi yang pasti gue serahin dia ke elo karena dia. nggak lama lagi nih cowok pasti bakal jadi salah satu idola sekolah. lalu kembali menatap Ronald sambil menunjuk dirinya sendiri.” kata Victor.. “Lo tanya aja sendiri. Tapi entah kenapa. . “Iya. bahwa kakak tadi ternyata hanya ingin mengantar saya untuk bertemu dengan bidadari yang selama ini saya cari. Bia merasa wajah cowok itu mirip dengan orang yang dikenalnya.. kamu. Senyumnya merekah dan memperlihatkan lesung pipi di pipi kirinya. tampangnya oke kok. apalagi senyumnya itu.. dan Victor.. tapi sekarang saya sadar. si Hua Ce Lei itu tuh. “Anak aneh. Tor.. Tampangnya innocent banget.” Ronald dan Bia berpandangan heran. lalu memanggilnya. yang selama ini selalu hadir dalam setiap mimpi-mimpi saya.. Ia terus menatap Bia dengan sorot memuja.. orang aneh...” jelas Victor. soalnya gue sama sekali belum periksa.. Badannya yang tinggi dan tegap bikin tu cowok jadi kelihatan keren. “Heh. Tapi tatapan tajamnya lurus ke arah Bia.. Dan sekarang bidadari itu sudah berdiri tepat di hadapan saya.Cowok aneh itu berdiri agak jauh dari tempat Bia.. “Sadar apaan?” tanya Bia tegas.” jawab Victor singkat. Ronald menatap “cowok aneh” yang masih berdiri di tempatnya tadi. “Apa kasusnya?” tanya Ronald. Ia seperti hendak memastikan bahwa memang dia yang dipanggil Ronald barusan. “Kamu tahu kenapa kamu dibawa menghadap kami?” tanya Ronald begitu cowok itu udah berdiri di hadapannya. “Mm. Katro.

. Bi.. kan? Kalau mau. Semuanya lengkap. Bia juga nggak tahu apakah cowok itu bermaksud cari-cari masalah atau bukan.. Tapi dia salah pengertian.. “Keluarin semua perlengkapan yang harus kamu bawa hari ini!” perintah Ronald. orang-orang yang menganggap kamu lucu itu adalah manusiamanusia katro kayak kamu!” maki Bia. Kak. Bia menarik napas lalu mengembuskannya perlahan. Dia kira saya lagi pengin makan semur jengkol. nggak ada yang kurang. soalnya semur jengkol buata pembantu saya itu emang enak banget. Tapi itu nggak berlaku buat Bia. Mimik mukanya yang innocent bikin orang yang mendengar ceritanya mau nggak mau jadi percaya. periksa perlengkapannya aja dulu. “Bukannya yang disuruh itu kalung dari jengkol?” “Oh. pacar Kakak... tapi ada juga sih orang yang bilang kalau saya lucu dan manis.” jawab cowok itu sambil tetap tersenyum manis. tapi sayang banget. Apa muka saya kayak muka penipu? Nggak. Kakak juga nggak akan bisa marah sama pembantu saya itu. Semua masih nggak jelas. Ronald mulai memeriksanya satu per satu. Kak.” “kamu kira kamu itu lucu. atau saya suruh dia bikin semur jengkol lagi buat Kakak.. Gitu Kak ceritanya. Kak. “Saya nggak pernah berminat jadi badut atau pelawak. begini. ceritanya. saya nggak mempan sama rayuan gombal. kalau itu sih saya nggak tahu. Dia mengeluarkan berbagai macam barang dari dalam tasnya. ini bukan tempat pelatihan buat pelawak atau badut. Saya yakin. Kamu harus tahu.“Terima kasih atas pujiannya. kalau Kakak udah mencicipinya sedikit saja. karena saya memang jujur kok. “Kalau begitu. “Kamu pikir saya percaya sama cerita kamu itu?” tanya Bia. “Tunggu dulu! Kalung apa yang kamu pakai itu?” tanya Bia sambil menunjuk kalung yang menggantung di leher cowok itu. Kakak boleh tanya sama pembantu saya di rumah. Kamu mesti bilang sama orangtua kamu untuk segera memindahkan kamu dari sekolah ini.” saran Ronald. Kak. Gaya bicara si Katro ini memang asli lucu. Sekolah ini nggak butuh manusia konyol kayak kamu!” jelas Bia dengan nada pedas. ya udah saya bikin aja dari pete. Berhubung yang ada di rumah tinggal pete. Cowok itu menurut. Kak.” Ronald berdiri di samping Bia sambil berusaha mengulum tawa.. kamu salah tempat. Kalau kamu mau jadi pelawak atau badut. “Harus percaya.” . apa?!” bentak Bia. Saya udah suruh pembantu saya beli jengkol buat dibikin kalung. Saya cuma ingin jadi. Jadinya jengkolnya dimasak deh sama dia. Tapi saya nggak bisa marah. Benar kata Victor. “Sama sekali nggak lucu. “Wah. cowok di hadapannya ini aneh.” “Udah.

. “Iya. Kak.” Dia meletakkan tasnya di tanah dan mulai mengambil posisi push-up. “Tadi pagi kalian telah diminta untuk mengumpulkan surat cinta dan surat benci untuk kakak senior kalian kepada wali kelas masing-masing. Suaranya yang keras membuat semua mata memandang ke arahnya.” jawab cowok itu sambil cengengesan dan garuk-garuk kepala. .. Cowok itu tersenyum manis lalu berkata. “Juventus Egi dari kelas 1 D. “Kalau Kakak yang suruh. “Jangan malah mendem di pojok. dia pun maju ke tengah lingkaran.” lanjut Tania. semuanya!” perintah Sonny yang menempatkan diri di tengah aula. tau!” Tawa anak-anak meledak. sekarang semuanya dengar baik-baik!” suara Tania memecah keheningan. “Kamu yang kecil kayak tuyul!” teriak Leon. @(^-^)@ “Oke. “Atau masih kayak anak TK. “Tapi ada satu surat yang rasanya aneh dan saya mau pengirim surat itu maju ke tengah lingkaran. anakanak kelas satu itu pasti akan sangat berterima kasih bila diizinkan menyumpal telinga mereka dengan kapas. “Push-up. ngetawain teman sendiri!” Aula mendadak sunyi senyap. Kak?” tanya cowok itu.“Saya nggak peduli dan jangan coba-coba mempermainkan saya. “Woi. “Siapa yang suruh ketawa!” bentak Maya. Padahal mereka udah sebisa mungkin melaksanakan perintah kakak-kakak senior itu dengan baik.. “bikin lingkaran besar ya. Nggak ada yang berani bersuara apalagi ketawa. Tapi tetap aja ada yang salah. bikin lingkarannya harus sambil pakai nyanyian baru ngerti?!” “Yang di sana!” seru Ronald. bukan malah ngumpul dan ngobrol sendiri!” Teriakan demi teriakan bergema di seluruh aula. “Iya. pada tau lingkaran besar nggak sih!” bentak Victor.. “Kamu yang namanya Juventus Egi?” tanya Tania begitu Egi sudah berdiri di hadapannya. Nanti kalau kamu ilang digondol jin bisa bikin repot. Dan setelah tubuhnya didorong oleh teman-temannya. “Oke. “Keterlaluan sekali kalian. Cepat!” bentak Bia.! Sekarang juga saya minta kamu push-up tiga puluh kali!” perintah Bia.. Seandainya saja boleh. “Bikin lingkaran besar!” Anak-anak baru itu mulai bergerak dan membuat lingkaran sesuai perintah senior mereka.” Cowok yang namanya disebut itu celingak-celinguk nggak jelas. Lalu perlahan dia mulai push-up di bawah hitungan Bia. apa pun akan saya lakukan.

“Boleh aja kalau kamu memang bisa.. Tapi kelihatannya dia nggak berniat melawan kok.” sahut Egi.” jawab Tania. Juventus Egi!” seru Maya. “Tapi surat ini harus dinyanyikan. Tadi dia habis kena hukuman push-up lagi dari Bia. Egi mengangguk.” Semua pengurus OSIS yang berkumpul di tengah lingkaran bertepuk tangan dan berteriak riuh..” “Oke kalau begitu. “Sekarang saya minta kamu bacakan surat yang udah kamu tulis ini dengan suara lantang. . Kakak mau minta tanda tangan saya?” Anak-anak kembali tertawa. “Dengar baik-baik. dia emang rada aneh. boleh nggak kalau saya menyanyikannya sambil memainkan piano itu?” Egi meminta izin sambil menunjuk ke arah piano yang ada di depan aula. kasar! “Ih.” “Kalau begitu ya nyanyikan aja. Yon. Leon maju mendekati Egi.” kata Maya. Kali ini giliran Maya yang maju dan mendekati Egi dengan sepucuk surat di tangannya.” jawab Egi. “Mmm. Piano itu memang selalu berada di situ. Cocok sama nama julukannya: Katro.. “Lo mau ngelawan ya?!” Egi menggeleng sambil tersenyum. surat ini nggak bisa saya bacakan. “Saya kan cuma sedikit salting karena harus berdiri di tengah-tengah orang banyak gini. Kak.. “Sabar.” celetuk Tania. atau memang kamu keturunan monyet?” Weits. “Diam semuanya!” bentak Sonny. Kak. Cuma Bia yang berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan tampangnya manyun luar biasa. Jadi akan menjadi lebih indah dan bermakna apabila dinyanyikan. “Karena surat ini adalah lagu cinta.“Kenapa kamu garuk-garuk kepala?” tanya Tania ketus. Mmm.. Tapi kenapa yang kamu kumpulkan cuma satu surat doang?” “Ooo. Biasanya sih digunakan saat ada acaraacara sekolah yang membutuhkan iringan musik. Kakak kok ngomongnya gitu sih?” jawab Egi. “Kamu diperintahkan untuk menulis surat cinta dan surat benci. “Ketombean.” Leon menurut meski dengan setengah hati. itu karena di dalamnya udah lengkap terdapat ungkapan cinta dan ungkapan benci untuk bidadari yang telah menawan hati saya. “Kamu malu?” “Bukan. Dia nggak mau sampai terjadi keributan. Ronald buru-buru menarik Leon. Kesannya kayak lagi jumpa fans gitu deh. “Tapi. “Kenapa?” Maya bertanya.” “Dinyanyikan?” Maya jadi heran. Ruangan kembali hening..

bahkan ada yang melompat-lompat nggak jelas. “Oke. Ketika pagi datang Ku tak pernah mengira Kan bertemu denganmu Di depan sekolahku Jantungku pun berdetak Sungguh sangat cepatnya Dan ku tahu ku tlah jatuh cinta Ketika malam datang Sepi yang kurasakan Tanpamu di sisiku Galau selimuti kalbu Ingin ku membencimu . Selama MOS berlangsung. cuma ada satu surat cinta yang ditujukan untuk Bia. Bia merengut kesal. Egi memainkan jemarinya di atas piano sambil tersenyum menatap Bia. Bia pun mengurungkan niatnya.” Tepuk tangan memenuhi aula.Egi tersenyum lalu berjalan mendekati piano itu. Tapi Egi tetap menatapnya. Baby Fania alias Kak Bia. Nada-nada yang mengalun dari piano membuat semua orang terdiam.. di antara surat-surat yang diterima wali kelas satu. tapi kalau udah bersuara nyeremin banget. tapi nggak ada yang semenakutkan Bia. Bia menjadi senior yang paling ditakuti. Jelas banget niat teman-temannya pengin ngerjain dia.. tes. “Tes. Dia juga yang paling tega ngasih hukuman lari sepuluh kali keliling lapangan. tapi temantemannya langsung mencegat langkahnya. Nggak ada satu pun junior yang nggak disiplin bisa lolos dari cengkeraman Bia. Dan sorot matanya itu lho. ada yang bersiul. Kalau ngomong pedesnya minta ampun.. Dia nggak terlalu suka ngomel atau ngebentak-bentak. Dia cuma bisa berdiri diam dengan tampang jutek. lalu menempatkan jemarinya di atas deretan tuts berwarna hitam dan putih itu. Soalnya. Ada yang berteriak. Senior lain sih ada juga yang galak. melantunkan lagu cinta dari bibirnya.” Egi mencoba mikrofonnya. tajam banget. Bia buang muka.. Selebihnya Bia cuma menerima setumpuk surat benci. Dia beranjak hendak meninggalkan aula.. Mereka juga memberikan mikrofon kecil yang kemudian dipasang di kerah baju Egi agar suara Egi dapat terdengar ke seluruh sudut aula. Ya surat dari Egi ini.. satu dua tiga. Bagi Bia. Beberapa anggota OSIS berjalan mendekat dan memasang mikrofon di dekat piano. Dia duduk dan membuka tutup piano.. lagu sederhana ini saya persembahkan kepada seorang gadis yang telah membuat saya jatuh cinta. nggak ada tuh yang namanya kompromi.

” Egi langsung menjawab tanpa ragu. Teknik falseto saya juga top.. Gelak tawa. Hening.. Kak?” tanya Egi. Karena kalau kamu berani menyanyikan lagu itu di sekolah ini lagi. suit. Sambil tersenyum lebar dia membungkukkan badannya berulang kali layaknya selebriti yang habis ngadain konser. saya tidak akan memberikan kamu uang recehan. Suit. “Apa lagu itu kamu ciptakan buat saya?” kali ini suara Bia terdengar lebih halus. “Padahal Indra Lesmana pernah memuji suara saya loh waktu saya ikut audisi Indonesian Idol 1. jangan pernah kamu menyanyikan lagu itu di sekolah ini. Dia malah berjalan mendekati Egi yang masih berdiri di sisi piano sambil tersenyum. Bia kembali menatap Egi yang masih berdiri dan tersenyum di depannya. siulan.Karna kaucuri hatiku Dan buatku tergila-gila Tuk mencintaimu Reff : Percayalah sayangku Kan kubawa kau ke surga Ku berjanji padamu Takkan meninggalkanmu Meskipun dunia tak inginkan dirimu Ku akan slalu di sisimu Tepuk tangan membahana di seluruh sudut aula. tapi air comberan!” “Kok gitu sih. Tania mendekati Bia lalu berbisik heran. “Kenapa kamu senyum-senyum?” tanya Bia sinis. Bi?” Bia nggak menjawab.” kata Bia dengan nada mengancam.. Ia melambaikan tangannya dan meniupkan ciuman ke sekelilingnya. “Lebih baik kamu nyanyi di bus kota aja. Matanya melotot ke arah asal suara. “Siapa yang bersiul?” tanya Bia dengan suara keras dan tegas. Egi berdiri dan berjalan ke sisi kanan piano. sorakan. “Iya. Katanya suara saya khas dan unik. Sorakan riuh rendah menutup pertunjukan singkat Egi.. waktu itu saya mundur gara- . “Karena Kakak cantik. dan tepuk tangan terus mengalir. Tapi sayangnya. Nggak ada yang berani ngaku. “Kenapa sih. “Diam semuanya!” bentakan Bia yang tiba-tiba membuat seisi aula mendadak hening. Anak-anak terdiam karena kaget.! Siulan terdengar dari arah anak-anak kelas satu yang sedang berdiri. itung-itung bisa dapat uang saku ekstra. lagu itu saya ciptakan khusus untuk Kakak.” “Kalau begitu saya sarankan. Egi mengangguk.

Bia yakin tinjunya sudah bersarang di wajah cowok jayus ini.” Tawa kembali meledak. “Dan kamu. Kalau mereka ikut tertawa.. Maklumlah. “Semua diam!” bentak Bia kesal. cowok satu ini akan benar-benar mengusik kehidupan Bia. Para senior alias anggota OSIS berusaha sebisa mungkin mengulum tawa.gara takut Delon merasa tersaingi deh saya. saya ini orangnya suka nggak enakan. Kalau saat ini bukan acara MOS. Bia benar-benar keki.. . itu sama aja mereka ngetawain Bia. Bagaimanapun Bia kan ketua mereka. kembali ke kelompok kamu!” Kayaknya.

apa nih?” tanya Cha-Cha. Yuki udah ada yang punya. bisa nongkrong di kantin sambil menikmati jajanan. “Dia kan juga pengurus OSIS. “Gimana MOS kemarin. Dan saat ini. Ia mengambil botol sambal yang ada di meja dan menuangkan isinya ke dalam mangkuk minya. Nggak ada lagi yang namanya bentak-bentak dari kakak kelas. Bagi mereka. Tapi yang jelas. Cha-Cha melahap sepotong kecil pangsit sambil bertanya.” kata Bia. “Ah.” jawab Yuki. “Mmm. di antara mereka berempat cuma Tammy yang beda kelas.. pasti punya markas.” Cha-Cha menoleh ke arah Yuki yang duduk di sebelahnya. MOS sudah selesai dan sekolah mulai berjalan seperti biasa. Bi?” “Biasa aja. dan anak-anak kelas satu pun kini bisa bernapas lega. . Bia dan ketiga temannya udah sobatan sejak pertama kali mereka menginjak sekolah ini. Cha. dan secara de facto menjadi daerah teritorial milik mereka. persahabatan nggak pernah memedulikan elo di kelas mana dan gue di kelas mana. semuanya emang biasa aja. Seperti biasa. Meja yang ada di pojokan kantin. Dan yang namanya geng. Cerita dong. “Cerita dong. cewek blasteran Jepang yang jadi inceran sebagian besar cowok di SMA Constantine 4 ini. Tanya aja sama Yuki.BAB DUA TIGA hari sudah berlalu. Tapi sayang. senior tergalak dan terjudes. Bia duduk di kantin sambil menikmati semangkuk mi pangsit bersama teman-teman segengnya: Cha-Cha. itulah yang menjadi markas geng Bia. Yuki.” jawab Bia singkat.. elo nggak asyik nih. Yu!” “Lo mau gue ceritain tentang apa?” tanya Yuki. dan Tammy. “Sama kayak tahun kemarin. Jam istirahat memang waktu yang paling menyenangkan buat mereka. si Bia dapat senior ter. Masa nggak ada yang seru sih!” Cha-Cha protes mendengar jawaban Bia yang begitu singkat. “Bagi gue. lalu berkata. sekali sahabat ya tetap sahabat.

Asal tampangnya oke. tapi judesnya itu malah bikin MOS kita sukses. “Pasti Yuki jadi senior tercantik dan terbaik lagi.. “Lo nggak salah? Mereka tuh bukan hormat sama elo. Tam?” tanya Cha-Cha. Namanya Juventus Egi. nggak? Kalo ada. tapi takut dan benci setengah mampus. Nggak heran dia langsung jadi idola baru di sekolah ini.. Soalnya cuma ketegasan Bia yang bisa nyelesaiin semua masalah dan bikin anak-anak baru itu nggak berani ngelawan.” kata Tammy. “Cha. “Serius dong. “Juventus Egi? Bikin surat cinta buat Bia?” tanya Tammy heran. Semua tertawa mendengar kata-kata Tammy itu. dan nggak ada masalah kok. “Ah. senior terfavorit. jangan bilang kalau yang lo maksud itu si cowok katro itu ya. sekali-sekali kayak Yuki dong. Soalnya udah banyak yang ngincer. Masih bau kencur.. mau gue samperin tuh anak. “Masa sih? Siapa namanya? Siapa? Kelas berapa?” tanya Tammy antusias. kali. “Yuki. “Kalau tampangnya oke.” tawa Cha-Cha. Bi.” Bia membela diri. kaleee. “Lo suka daun muda. Yang perlu gue tau. Ada yang cakep.” ujar Tammy.” jawab Yuki. . emang dia kok. bodo deh sama senior ter. “Tuh kan.” sambung Bia. anak kelas 1 D.. anak kelas satu gitu loh. “Iya.“Hahaha! Tepat seperti dugaan gue.” jawab Yuki. Tam.itu. “Menurut gue.” Yuki tersenyum malu. Cha. Dan kalau lo beneran serius pengen kenalan.. bisa butek nih otak gue.” kata Bia senang karena dapat pembelaan. dokunya kenceng. it’s okay kok. bau tanah juga nggak apa-apa. Satu-satunya cowok yang bikin surat cinta buat elo waktu MOS.” kata Tammy. Masa SMA kita kan tinggal setahun ini. Bia emang judes banget. Tepat dugaan dia. gue serius nih.” Tammy ikut sumbang suara sambil tertawa. Bi. “Tanaman. why not?!” “Ih.” sahut Bia dengan tampang jijik.. lo harus buru-buru. Cowok aneh itu emang punya tampang oke. Bia menghela napas. “Yee. lo tuh emang nggak bisa lembut dikit ya. anak barunya subur atau gersang nih?” tanya Tammy. “Menurut gue sih ada.” ujar Cha-Cha. “Bener tuh.” sahut Bia...” “Dengar tuh. Kalau pemandangannya nggak ada yang baru... “Kenapa harus lembut? Gue terpilih sebagai senior tergalak dan terjudes itu kan berarti gue sukses bikin anak-anak baru itu hormat sama gue..” kata Bia curiga.” “Kurang satu.

“Kalau yang cantik ini gue udah kenal.” Cha-Cha nggak mau kalah. gue deket sama cewek lain. “Lo ngapain di sini?!” bentak Bia. Dia ikut-ikutan mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Egi. “Boleh kenalan nggak. Kak?” “Boleh. “Nggak ada yang ngajak lo ikutan gabung. Tammy dan Cha-Cha membalas lambaian itu sambil tersenyum lebar. Ayo dong cerita!” seru Cha-Cha penasaran. “Nggak mau ah. Semua terdiam karena kaget.. Bia melotot kesal melihat ulah kedua temannya itu.” Egi beranjak meninggalkan kantin sambil melambaikan tangan.” “Kalo gue Frederica. Cepet lo pergi dari sini sebelum gue lempar nih gelas!” bentak Bia keki. Yuki tersenyum manis mendengar namanya disebut Egi dengan gaya panggilan Jepang. “Lho. kan?” goda Egi. Kakak kok galak gitu sih. “See you. my angel. Yuki-chan. tapi lo boleh panggil gue Cha-Cha. gue masuk kelas dulu ya. nama gue Tamara. Pergi sana!” “Ih. Ternyata di sini banyak bidadarinya. berbunyi dengan nyaringnya.“Wah. Keduanya melongo melihat cowok keren yang berdiri di dekat mereka itu. “Gue sama sekali nggak nyesel masuk sekolah ini. “Pergi nggak lo!” usir Bia kasar. “Cerita apaan sih?” Tiba-tiba sesosok makhluk berjenis kelamin laki-laki muncul di sebelah Bia. Saya kan mau kenalan sama kakak-kakak yang cantik ini.” ujar cowok itu sambil beranjak ke samping Tammy dan Cha-Cha. “Dan jangan panggil kami „kakak‟. Tepat saat Bia mengangkat gelasnya. “Oke deh. Kesannya tua banget.. “Gila! Itu yang namanya Egi? Cakep banget!” seru Tammy. Curang lo berdua. Kak.” kata Egi sambil mengulurkan tangannya ke arah Tammy. “Tenang aja.. Lo cemburu ya. . berita heboh gitu kok nggak diceritain sih.” kata Egi sambil tersenyum manis ke arah Bia.” Tammy membalas uluran tangan Egi. kakak-kakak yang cantik?” tanya cowok itu tersenyum manis. “Lo nggak usah ngegombal deh sama teman-teman gue.” rajuk cowok itu. bel tanda istirahat telah selesai. kok pada diam sih. “Wah. tapi lo panggil aja gue Tammy. Egi menyambutnya sambil tersenyum manis.” kata Egi. Bi.” “Pergi nggak lo!” bentak Bia sambil mengangkat gelas minumannya yang sudah kosong. Saya Eig. cuma Bia kok yang ada di hati Egi. “Halo. lo kejam banget... Saved by the bell. Terutama Cha-Cha dan Tammy. ada yang nyimpan cerita sendirian nih..” kata Egi..

.. Bi. Sedangkan ayahnya. Berulang kali Bia menuntut Mama untuk menceritakan siapa ayah kandungnya. Tapi lumayan juga sih buat membakar kalori... Ya ampun. Belakangan ini Mama kelihatannya benar-benar sibuk. Nggak perlu menghabiskan uang buat mandi sauna. Love. Bia lahir di luar nikah. Bahkan nggak jarang Mama malah marah besar sewaktu Bia memaksa Mama bicara. “APA?! AMIT-AMIT DEH!” ujar Bia jijik sambil mengetuk-mengetukkan jarinya di meja berulang kali. Mama. “Cakep? kayak gitu lo bilang cakep? Lo berdua buta kali ya!” ujar Bia heran.. Ia buru-buru masuk ke rumahnya sebelum kulitnya gosong terkena sengatan sinar matahari. nanti malam beli makanan aja. Kamu nggak usah nunggu ama. lega rasanya. Mukanya itu lho. “Bi. tapi semua keluarga Mama juga bungkam. Saat menutup pintu kulkas. Hampir setiap hari Mama lembur. Anak haram.. @(^-^)@ Udara siang ini luar biasa panasnya.” kata Yuki dengan senyum manisnya. Matahari sedang seru-serunya memancarkan sinar. cute abis!” tambah Cha-Cha nggak kalah heboh dari Tammy. lalu tidur duluan. Maaf ya. tempe goreng. tapi Mama selalu bungkam. Naik angkot dari sekolah sampai ke rumah benar-benar telah menguras keringat Bia. Hah.“Iya.. ada nasi. gerutu Bia dalam hati. dan ayam goreng di meja makan. Bukan hanya Mama yang bungkam. mungkin itu sebutannya. Bia nggak tahu laki-laki mana yang layak disebutnya papa. Lagi-lagi pulang malam. Mama cuma sempat masak itu tadi pagi. Nanti Mama pulang malam. Memo dari Mama. kayaknya si Egi serius naksir sama elo deh. Ia melempar tas ranselnya dan bergegas ke dapur mengambil segelas air dingin dari kulkas. Kalau kamu mau. Mama Bia bekerja di bagian pembukuan di sebuah pabrik tekstil. Lebih alami! Bia mengeluarkan kunci dari dalam tas ranselnya dan membuka pintu pagar rumah. tapi Bia yakin . Sejak lahir Bia nggak pernah tahu siapa ayah kandungnya.. Bia nggak tahu apa alasannya. Hati-hati di rumah ya. Bia menemukan secarik memo tertempel di pintu kulkas. Kalau Bia mencoba bertanya pada mereka. mereka segera mengalihkan pembicaraan. Bia meneguk air minumnya dengan cepat untuk meredakan dahaga.

Bagi Bia. Bia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Setelah meletakkan tasnya di meja belajar. juga ayah kandungnya yang sudah meninggalkan dirinya dan Mama begitu saja. Pengkhianatan Papa Ivan dan tak adanya figur seorang ayah memubat Bia menjadi pribadi yang keras. Penyebabnya karena Mama memergoki Papa Ivan selingkuh. Sejak perceraian itu. Lambat laun Bia menyerah. pernikahan itu nggak bertahan lama. Bia nggak suka kalau ada cowok yang coba-coba mendekati dirinya. Dia berjalan menuju kamarnya sambil menyeret tasnya yang tergeletak di lantai. Di mata Bia. Bagi Bia. Bia memanggil laki-laki itu Papa Ivan. Papa Ivan orang yang humoris. Pahitnya masa lalu kembali bergulir dalam memorinya. Tapi sayang. cowok itu nggak pantas mendapatkan cinta dari perempuan karena mereka sama sekali nggak pernah bisa menghargai arti seorang perempuan dalam kehidupan mereka. Cita-cita Bia cuma satu. Mama menikah dengan laki-laki yang usianya lebih muda dua tahun. Makanya. Bia nggak akan membiarkan seorang cowok pun menyakiti dirinya. Waktu itu Bia baru kelas 6 SD. Mama bekerja banting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan Bia. Direbahkannya tubuhnya di atas tempat tidur. . Sekarang Bia cuma tinggal berdua lagi dengan Mama. Ditatapnya langit-langit kamarnya. Dia nggak lagi berusaha mencari tahu tentang ayah kandungnya. Mama memang pernah menikah secara resmi. Sama seperti sebelum Mama menikah dengan Papa Ivan. Mama kembali berperan sebagai single parent buat Bia. laki-laki yang meninggalkan anak dan istrinya tanpa alasan pasti bukan laki-laki yang pantas untuk dipanggilnya papa. Mama memilih bekerja dan hidup mandiri bersama Bia di rumah kontrakan yang sederhana ini. membuat Mama bahagia. Prinsipnya: I don’t need a man.Mama sudah meminta semua orang untuk merahasiakan identitas ayah kandungnya. Mama adalah segalanya. Mama nggak pernah mau menerima belas kasihan dari siapa pun. Mama selalu menolak setiap bantuan yang hendak diberikan oleh keluarga Mama. Tapi satu keyakinan yang tertanam dalam benaknya. semua laki-laki brengsek. Bia nggak mau disakiti cowok seperti Mama yang sudah disakiti Papa Ivan. Dan Bia membenci laki-laki yang sudah membuat dirinya dipanggil anak haram itu. Dan Mama kembali terluka. Bia nggak bisa memungkiri. cewek itu berjalan gontai menuju tempat tidur. Bia yakin dirinya mampu berdiri sendiri tanpa kehadiran cowok dalam hidupnya. dia senang Mama menikah dengan Papa Ivan. Makhluk yang bernama cowok itu sering merasa dirinya adalah makhluk berakal budi yang pertama kali diciptakan Tuhan. dan perempuan cuma sekadar pendamping yang mencuri tulang rusuk mereka. Semua peristiwa yang dialaminya selama ini telah mengubah hidup Bia.

” ujar Egi. Apalagi elo! Sadar ya. baru sehari selesai MOS udah berani kurang ajar sama kakak kelas. Tadi pas pulang sekolah gue nyari elo. Bia jadi nggak enak hati udah ngomong sekasar itu pada Egi.@(^-^)@ “Kriinngg. “Gue tau nomor telepon lo dari temen lo. “Gue cuma mau nanya. Mas! Tao Ming Tse aja nembak gue. Kaget ya. ditembak cowok ganteng?” “Ngaca dulu sana.” “Egi! Berani-beraninya lo nelepon gue! Dapat dari mana lo nomor telepon gue!” bentak Bia kaget. elo ada perlu apa sama gue sekarang?” tanya Bia ketus. Kayaknya dia kecewa. cowok di seberang malah berkata. “Iya. “So. Nggak tau kenapa.. Nggak usah histeris gitu dong. lo tuh masih bau kencur! Gue ini kakak kelas lo. Jangan galakgalak gitu dong. lo lagi jomblo ya?” “Apa?!” pekik Bia kaget. Gue kan cuma berkata jujur.... Dia paling nggak suka cowok yang berani ngegombal padanya. Masa lo nggak kenal sama suara keren gue ini. Apa perlu ditambah ya MOS-nya? Biar digojlok habishabisan sampai kapok.... langsung ditolaknya tanpa memedulikan perasaan tuh cowok. Tapi nggak . ng.” sapa Bia.!” Dering telepon dari ruang tamu mengembalikan Bia ke alam nyata.. Tammy. Bia bangkit dari tempat tidur dan buru-buru berlari kecil menuju ruang tamu untuk mengangkat telepon.. Gue boleh nggak jadi pacar lo?” “Jangan kurang ajar ya!” suara Bia makin melengking. Gue nggak punya maksud jelek kok sama elo. Ya udah. ini Bia. kayak orangnya.” Dasar Tammy rese! Ngapain juga dia ngasih tau nomor telepon gue ke anak kutu ini! rutuk Bia dalam hati. Ini siapa ya?” Bukannya menjawab. Katanya lo udah pulang duluan naik angkot. gue tolak.” Bia melotot mendengar kata-kata si penelepon gelap itu. Oke?” jawab Bia sambil tertawa. Bia. Lo nggak usah main-main sama gue. “Siapa lo? Gue nggak suka gaya bicara lo!” “Duilee. sekalian aja gue tanya nomor telepon lo. “Gue serius nih. “Sabar dong.... tapi nggak ketemu. Gue Egi. Bi.. marah lagi.. Jadi lo nggak mau sama gue cma karena gue adik kelas lo?” suara Egi terdengar lirih. ya?” balas si penelepon dari seberang. Suara lo imut. Padahal biasanya kalau ada cowok yang nembak. “Ya ampun. marah lagi. “Halo. “Begitu ya.. “Wow! Suara lo di telepon merdu banget. Padahal gue bermaksud nganterin lo pulang tadi. Gue malah ketemu Tammy di kantin. Gila juga nih cowok. Suara cowok. di mata gue.. Bia. “Halo.

“Elo tuh Baby Fania. “Kenapa?” “Lo nggak perlu tau alasannya. Mmm.. Gue akan membuat elo mau membuka hati buat gue. jadi belum tahan banting. apa.” “Omong kosong!” Brak! Bia membanting gagang telepon dan memutus pembicaraan begitu saja. Lagian lo tuh belum kenal siapa gue. Gue paling jijay sama cowok kayak gitu.. ada hubungannya nggak sih? “Mmm. Nih cowok emang nggak bisa dikasih hati. Gue serius sama elo dan gue akan membuktikan hal itu sama elo.” suara Bia mulai melembut. Dasar cowok rese! Nggak tau malu! Nggak tau diri. Dilembutin dikit malah makin ngegombal. . kali ya. Dia kira gue cewek gampangan. Iih... cewek yang emang udah ditakdirkan Tuhan buat gue. tapi karena gue emang nggak minat pacaran. kok sekarang Bia jadi kasihan sama Egi? Mungkin karena Bia merasa Egi masih muda.” sahut Egi.. Gue akan membuat lo jatuh cinta sama gue. Gi. bukan cuma karena itu. Gue yakin lo nggak serius sama gue. Dia membanting tubuhnya di sofa ruang tamu lalu merengut kesal.tau kenapa. kesel bangt deh gue! Semua cowok emang sama aja! GOMBAL! Bia ngedumel nggak keruan gara-gara keki mendengar kata-kata Egi di telepon barusan..” “Gue kenal kok siapa elo. Yang klepek-klepek kalau dengar rayuan murahan kayak gitu.

teet.. nanti pulang sekolah kamu goreng aja sedikit untuk makan malam. Bia sudah duduk di meja makan bersama Mama sambil melahap roti bakar buatan Mama. Nanti kamu telat lho. Jadi kamu masak cepat. “Nanti sore Mama usahakan pulang cepat. Tumben ada cowok cakep yang datang ke rumah pagi-pagi. Siapa ya yang bertamu pagi-pagi begini? Nggak biasanya lho. “Pagi. Biar pas Mama pulang.. Ma!” “Iya. aku ngerti. Di kulkas ada ayam goreng sama nugget.” “Benar. . siap memulai hari baru.” kata Egi sambil menebar pesona senyum mautnya. “Pagi.! Suara bel rumah berbunyi.” Teet... “Nggak. “Iya. “Kita makan malam sama-sama. ya?” tanya Mama ramah tapi agak heran. Mama kan tetap minum susu sebagai ganti sarapan. Tante. Mama lagi malas sarapan. Ma?” “Iya.” kata Mama.” sapa seorang cowok imut berseragam SMA begitu mama Bia membukakan pintu.” Bia cuma mengangguk sambil melirik jam tangannya.” Mama mencegah Bia yang sudah mau bangkit dari duduknya. Matahari mempersembahkan sinarnya yang paling hangat buat bumi. Temannya Bia.. Mama berjalan menuju pintu depan untuk membukakan pintu..” “Iya.. Semilir angin pagi ikut bertiup sepoi-sepoi membuat semua orang bangun pagi dengan semangat dan ceria. Mama tau. Saya Egi. “Biar Mama yang buka pintu. “Mama nggak ikutan makan roti?” tanya Bia heran melihat mamanya yang hanya menghirup segelas susu hangat. Tante. Kamu makan aja. kita bisa langsung makan. Kamu habiskan aja makanan kamu lalu berangkat.” “Ih.BAB TIGA PAGI ini cerah banget. Di sebelah piringnya juga sudah tersedia segelas susu cokelat. ya. Bia kembali duduk dan menghabiskan roti bakarnya yang tinggal dua suapan lagi. Mama ini nggak tau kesehatan ya! Sarapan itu penting kan.

“Gue tanya sekali lagi. Ia maju mendekati Egi tanpa memedulikan Mama yang sedang berusaha membersihkan seragamnya. galak banget sih lo.” kata Egi tanpa menjawab pertanyaan Bia.” nasihat Mama.. Bia nggak peduli dengan noda di bajunya. Ini masih pagi. “Bia.. Sekarang lo pergi!” usir Bia..” ajak mama Bia ramah. “Makasih. Sori ya. Bia jadi tambah keki. aku berhak mengusir dia dari rumah ini karena aku nggak suka sama dia. Bi.“Kok Tante nggak pernah liat ya?” “Soalnya saya teman barunya Bia. Makanya tadi Mama agak heran dengan kedatangan Egi. kamu itu perempuan. ngapain lo ke sini?!” tanya Bia tanpa mengecilkan volume suaranya. ada teman kamu nih.. Bia masih sarapan. Baju lo kotor. Bi? Gue udah bela-belain bangun pagi-pagi demi ngejemput lo ke sekolah. “Kok gitu sih. “NGAPAIN LO KE SINI? JAWAB!” “Ya ampun.. Bi. Jangan marah-marah gitu dong..” “Oooh.” “Tapi bukan begitu caranya. Ingat.. “Bia. Ma?” protes Bia setelah ia dan mamanya sudah berada di dapur.!” Susu yang baru saja masuk ke mulutnya kontan dimuntahkannya kembali gara-gara kaget. Bi..” kata Mama. “Bia!” tegur Mama yang langsung menarik lengan Bia agar ikut dengannya ke belakang. Mama cuma bisa menghela napas. Kita berangkat sekolah bareng yuk. kamu kenapa?” Mama yang melihat reaksi Bia ikutan kaget.” “NGGAK MAU!” tegas Bia. Tante. masa lo malah nggak mau berangkat bareng gue sih.. masuk dulu yuk. Kamu kan bisa menggunakan cara yang lebih halus. lalu mengekor di belakang Mama. “Memang kenapa kalau aku perempuan? Ini rumah kita.” “Kenapa sih Mama ngebelain dia?” . Non. Bi.. Gue ke sini mau jemput elo.” kata Mama lalu mengambil lap di meja makan dan membantu Bia membersihkan noda susu yang muncrat ke seragamnya. “Apaan sih.” “Itu bukan urusan gue. “Ngapain lo ke sini?!” bentak Bia begitu berhasil mengendalikan diri.. Dia sudah mengerti sifat putri semata wayangnya ini yang anti sama cowok. “Bia. Tante. Mama nggak suka kamu bersikap sekasar itu. jangan kasar begitu dong. “Kenapa sih kamu kasar gitu sama dia? Dia kan bermaksud baik sama kamu.. ya? Nanti gue cuciin deh. Bia menoleh ke asal suara.” sahut Egi. “Pagi. Kalau begitu... “Brruahh. Dan. udah bikin lo kaget.

. Nak Egi. Bia memang agak ceplas-ceplos kalau ngomong. Cuma buat pagi ini aja. Bi.” “Mama apa-apaan sih? Lebih baik aku desak-desakan naik angkot daripada harus berangkat bareng dia. Saya ngerti kok.” kata Mama lembut sambil membelai rambut putri semata wayangnya itu. Kasihan dia kalau kedatangannya sia-sia. Persis kayak mulut bebek. “Oke. “Nggak apa-apa. “Oke deh.. Mau nggak mau Bia pun diam..” jawab Egi. Tante.. “Bia!” hardik Mama yang langsung membuat mulut Bia kembali tertutup.” pamit Bia sambil mencium kedua pipi mamanya. Lebih baik kamu berangkat bareng Egi daripada desak-desakan naik angkot.. Ma. kan?” tanya Mama ramah. “Iya. datang pagi-pagi tanpa ngasih tau Bia lebih dulu. Tapi kalau besok-besok lo berani datang ke rumah gue tanpa seizin gue. Aku paling nggak suka mengandalkan laki-laki. Bia jadi nggak kuasa untuk membantah. “Ya sudah.” ujar Mama lembut. Tante. “Bagus kalau lo sadar!” sahut Bia keki. kalian berangkat aja sekarang sama-sama. Bibirnya maju lima senti karena kesal. hari ini gue ikut elo ke sekolah. Tapi itu bukan berarti setiap hari kamu harus berangkat sama dia.” ujar Mama. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Kenapa memangnya. Saya memang salah.” kata Egi. Bicara baik-baik sama teman kamu itu. Nanti keburu telat lho.. “Maaf ya. Bi. “Mama! Mama ngapain sih baik-baikin. “Nak Egi ke sini mau jemput Bia. aku berangkat dulu ya. Bi? Kalian kan satu sekolah. ya. awas lo!” ujar Bia mengancam. Dia nggak bisa membantah karena sama sekali nggak tau harus ngomong apa. “Ayolah. apa itu berarti kamu mengandalkan laki-laki? Hari ini Egi terlanjur datang ke sini. Bia melotot ke arah mamanya. Tapi dia nggak bermaksud jahat kok sama kamu.” ujar Mama sambil menggandeng tangan Bia kembali ke hadapan Egi yang menunggu di ruang tamu.“Mama nggak ngebelain dia.” “Hush!” Mama langsung balik melotot ke arah Bia sebelum putrinya itu menyelesaikan kalimatnya. Nak Egi jangan marah.. kalau kamu berangkat bareng Egi hari ini. “Mama!” pekik Bia kaget mendengar ucapan mamanya.” “Bi. Mendengar kelembutan suara Mama dan kehangatan tangan mama yang meresap ke setiap helai rambutnya. “Ya udah.” Egi tersenyum puas.” Bia manyun mendengar ucapan Mama. Mama cuma nggak suka sama cara kamu yang kasar itu.. .

.” “HAH? MIMPI KALI YEE.” “Kenapa sih elo ngedeketin gue?” tanya Bia.. lalu menoleh menatap Egi. Sengaja.” “Dasar cowok aneh! Mana ada cewek yang mau sama cowok aneh kayak elo.” “Ada kok.. “Elo itu aneh. “Lo ngapain senyum-senyum sendiri? Bikin gue merinding. Tampaknya Egi udah berhasil merebut hati Mama dan perlahan-lahan menyusup ke dalam kehidupan Bia. Perjuangannya mengorek Tammy agar memberikan alamat rumah Bia juga nggak sia-sia. ya?” “Mungkin. Tante. Kayak lagu zaman dulu itu lho: Sepanjang jalan kenangan.“Hati-hati di jalan. Apa lo nggak malu ngedeketin cewek yang umurnya lebih tua dari elo? Apa nggak ada cewek seangkatan elo yang cakep dan bisa lo godain?” “Gue cuma mau elo. @(^-^)@ . Dia puas banget karena berhasil memenangkan pertarungan pagi ini dan mengantar pujaan hatinya ke sekolah. Lega rasanya.. “Saya berangkat dulu ya.. ini pertama dan terakhir gue berangkat bareng elo ke sekolah.. ya?” “Maybe. Bahkan ruangan dalam mobil sengaja dia semprot pakai Bayfresh biar wangi. “Gue ingetin ya. Elo nggak usah kege-eran dulu. tau!” tegur Bia heran saat melihat cowok di sampingnya nggak berhenti memamerkan deretan gigi putihnya.” Hening sejenak di antara mereka. “Nggak kenapa-napa kok.. Ini udah cukup bikin gue happy.” Egi pamit sambil tersenyum. Egi ingin menikmati setiap meter yang dilaluinya bersama Bia dengan penuh perasaan. “Udah jelas gue ini kakak kelas lo. tau!” “Nggak apa-apa kok.. Terima kasih banyak atas bantuannya.. Gue cuma lagi senang aja. Mama cuma balas tersenyum. Mobil yang dikendarainya melaju pelan. Dan Bia yang melihat senyum kedua orang itu cuma bisa mendengus kesal..” “Tapi gue nggak mau! Elo tuh mother complex. Gue ikut lo karena terpaksa. Bia melempar pandang ke luar jendela. kita slalu bergandengan tangan.” jawab Egi. ya!” kata Mama lembut. @(^-^)@ Egi mendengarai sedan hitamnya dengan senyum terkembang...!” Bia nggak tahan lagi. biar waktu berduaan bersama Bia jadi lebih lama. ya elo.

. semua cowok itu sama aja. Kalau gue membuka hati. Kalian kan tau. . “Elo kan yang ngasih tau nomor telepon dan alamat gue ke Egi? Hayo ngaku!” “Hehehe. Cowoknya ganteng. Bi. “Tapi gue nggak tau kalau dia bakal nekat datang ke rumah lo pagi-pagi. dan bikin gue dipaksa Nyokap untuk berangkat bareng dia ke sekolah. tadi gue liat lo turun dari mobil hitam di tempat parkir. Tammy. gue paling nggak bisa membantah kata-kata Nyokap. belum tentu gue dapat cowok yang baik kayak Sammy. Sammy setia banget kan. “Mungkin Sammy memang beda. Yu?” tambah Cha-Cha sambil melirik Yuki yang pipinya bersemu merah karena malu. “Hah? Egi!” seru Cha-Cha. Bia sedang duduk di bangkunya bersama Tammy. jangan menyamaratakan semua orang kayak gitu dong.. habis manis sepah dibuang. Bi. Sammy dan Yuki memang pasangan serasi. Satu banding seribu. “Gue terpaksa. Gue nggak akan membiarkan diri gue menjadi salah satu korban mereka. Yang penting. “Mobil siapa tuh. Tapi mencari cowok yang seperti lo maksud itu kayak mencari sebatang jarum dalam tumpukan jerami. Contohnya Sammy pacar Yuki.” ujar Cha-Cha begitu sampai di kelas pagi itu. Sammy dulu kakak kelas mereka. Lo harus mulai membuka hati. Biarpun gue sering ngelawan.” jawab Bia singkat. iya sih. “Iya.” jawab Bia.” “Kayaknya Egi serius naksir elo deh..” “Bi. Tam. gue nggak suka sama dia. dan Yuki bersamaan. ceweknya cakep. tau! Pagi-pagi dia datang ke rumah gue. Banyak juga cowok yang bisa setia sama pasangannya.” “Egi ke rumah lo?!” tanya Yuki heran. pasti bikin ngiri orangorang yang melihat mereka. “Kok malah bawa-bawa Sammy sih?” rajuk Yuki. Dan gue yakin ini pasti gara-gara elo. Rasanya ajaib kalo cewek kayak Bia yang nggak suka mengandalkan cowok itu mau berangkat ke sekolah bareng cowok. kok bisa?” Cha-Cha nggak percaya.” kata Yuki.” Tammy malah nyengir. Sammy itu pacar Yuki.” kata Bia. Sudah satu setengah tahun mereka pacaran. Yuki duduk di depan mereka. Bi?” Kelas mulai ramai. Bi. “Mobil Egi. Bagi gue. “Gue nggak peduli dia serius atau nggak. Kayak Rama dan Shinta. Banyak kok pasangan yang awet sampai masa tua mereka. Tapi sekarang dia udah lulus dan kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta. “Benar. „ngejilat‟ nyokap gue. “Hus! Ngapain sih pake teriak segala? Emangnya kenapa kalo gue ikut mobil tuh anak kutu?” “Tapi.” nasihat Yuki lembut.“Bi. ujung-ujungnya selalu aja gue nurut sama Nyokap. Kalau mereka lagi jalan berdua. yang nyasar dari kelas sebelah gara-gara bete nggak ada teman ngobrol..

Selain itu juga ada tiga wastafel yang berdempetan dan memanjang. Langkahnya agak tergesa-gesa karena perutnya mulas banget. Jangan-jangan mereka bolos. Gue nggak mau pacaran sama brondong. Gue nggak mau seperti itu..” sambung Yuki. “Kok kalian semua ngotot banget sih ngejodohin gue sama Egi? Gue udah bilang. lo nggak suka sama Egi?” sahut Cha-Cha.. ia mendengar ada orang-orang yang kasak-kusuk di depan. “Nggak semua cowok brondong bakal berkhianat. Bia memegang perutnya. WC sekolah ini nggak bersih-bersih amat. cuci kaki. leganya. Baru saja Bia mau membuka pintu WC.. bahkan ngegosip.. Biasalah. Makanya. lo bawa lipbalm. Sejauh apa ya nama itu akan menyusup dalam kehidupan Bia. nggak bau kok. Heaven knows deh! @(^-^)@ Bia berjalan menyusuri koridor sekolah menuju toilet yang ada di ujung koridor. Bia buru-buru memasuki bilik WC perempuan dan membuka pintu WC yang pertama. nggak?” tanya seorang cewek yang suaranya rada sopran.. Tapi lumayanlah. tepat di sebelah ruang perpustakaan. Nyokap gue pernah menikah dengan laki-laki yang lebih muda darinya dan akhirnya malah dikhianati.” kata Bia sewot. kan! Aah. lagi. Perutnya mulai tenang setelah semua beban itu dikeluarkan.. Tapi ada juga yang ke toilet khusus buat istirahat. Bia nggak jadi membuka pintu dan tetap di dalam WC sambil pasang kuping. ngumpet dari kejaran guru piket.. Dia tuh lebih muda daripada gue. gimana lo bisa tau cowok itu baik atau nggak?” bantah Tammy. Benar nih. toilet di SMA Constantine 4 ini juga merupakan salah satu tempat nongkrong favorit para siswi. Ke WC kok bareng-bareng Biasanya izinnya harus satu-satu. gue nggak suka sama dia. “Gue minta dong!” . memohon agar perutnya mau bersabar sampai dia tiba di toilet.“Tapi kalo elo nggak mulai membuka hati.. “Dan untuk yang pertama. penasaran! “April. Egi. “Tau ah!” Bia jadi keki mendengar kata-kata ketiga sobatnya itu. Bi. Bokap gue aja lebih muda tiga tahun dari nyokap gue dan hubungan mereka baik-baik aja sampai sekarang. atau sikat gigi. batin Bia tersenyum puas. ada yang karena pengin cuci tangan. lo bisa belajar membuka hati lo untuk Egi.. cuci muka.. Egi. Ada empat bilik di dalamnya.. Pasti gara-gara makan bakso kebanyakan sambal pas istirahat tadi. lengkap dengan cermin besar di atas wastafel itu. Multifungsi banget. Ada yang ke WC karena memang kebelet pipis atau pengin buang air besar.

Egi itu kan keren abis... tau!” gerutu cewek sopran tadi. semua cewek pada klepek-klepek sama dia. waktu kita MOS kemarin kan si Egi ngasih surat cinta ke Bia.” sahut si cewek sopran. satpam tua itu. Serahin ke gue.” jawab si cewek sopran. “Tapi lo inget nggak. “Lo nggak panas. habis ini kita ke mana nih?” tanya si mezzosopran.” jawab si cewek sopran. Apa bagusnya sih cewek kayak gitu. jangan sampai kelihatan sama Pak Kosim. “Lo mau lipbalm. Cle?” tanya satu cewek lain. “Masa ngumpet di toilet terus.” ujar April.” “Tapi pintu belakang kan sering dijaga Pak Kosim. Ros. Suara April rada alto. gue udah denger. Kita bolos sampai pelajaran kelima aja. “Akhirnya.. Gue lagi cari blush-on gue nih!” dumel cewek yang bernama April itu.” bantah si cewek sopran. “Pril.” “Lo pada tenang aja! Semua bisa gue atur. ketemu juga blush-on gue. “Ya kita hati-hatilah. “Lalu kita ke rumah tante gue yang tinggal di daerah sini.” “Mmm.. sok berkuasa.. Cle? Lo kan naksir Egi?” kali ini si mezzosopran yang bertanya. yang ini mezzosopran.. Cle.” kata April. Biasanya pintu belakang kan nggak dikunci. “Cle...” sahut si cewek sopran. April ikut sumbang suara.” tampaknya si mezzosopran nggak setuju. “Eh. “Kalau memang Egi suka sama Bia.. lo udah dengar belum?” tanya April.” “Udah. lo mesti tanggung jawab ya..” sahut si cewek sopran. mana mungkin si Bia itu bisa tahan. sok galak dan sok berkuasa banget! Pasti dia yang kegatelan ngedeketin Egi gue.” “Yee. Kita lewat belakang aja. “Katanya tadi pagi si Egi berangkat bareng Bia. “Pokoknya kalau ada apa-apa. Sok galak. itu berarti selera Egi murahan. Bia tuh anticowok. munafik!” . “Sabar kek.Cewek yang dipanggil itu nggak menjawab. “Anticowok? Mana mungkin! Lo pikir aja deh. sok jual mahal. Jangan-jangan emang Egi yang naksir sama Bia. Cle. lo dengar nggak sih?” tanya cewek bersuara sopran itu sekali lagi. “Tapi.” maki si cewek sopran kesal. “Gila! Gue panas abis lah! Apa sih bagusnya tuh cewek? Mentang-mentang dia ketua OSIS. “Gue punya nih. tadi lo minta apa. “Kalau gagal gimana?” tanya si mezzosopran sedikit cemas. “Eh. Cle?” “Basi. ketua OSIS kita itu. gue denger dari kakak gue yang sekelas sama Bia. ngomong dari tadi kek. “Lo tenang aja.” ujar si mezzosopran. Jadi nggak mungkin kalau Bia yang deketin Egi.” si cewek sopran menjawab dengan percaya diri.

apalagi kalau cuma gara-gara cowok. silakan cari jalan lain. kalian tuh masih baru di sekolah ini. gue sama sekali nggak berminat sama Egi. Mau bolos juga ada aturannya. dia tetap seorang teman yang baik buat siapa aja.” kata Bia. Soalnya nggak ada orang yang mampu membenci Bia. Itu karena semua temannya percaya pada Bia. ini benar-benar hal yang nggak terduga. Bia paling nggak suka harus berantem sama makhluk sesama jenis. Ia selalu berusaha bersikap adil dan bergaul baik dengan semua orang. Selama ini Bia nggak pernah tuh yang namanya cari-cari musuh. . karena meskipun Bia galak. Waktu itu Bia hampir memperoleh 80% suara. Tapi hati-hati ya. Tapi bagi Bia. Mereka ketakutan melihat tampang Bia yang udah kayak serigala mau nerkam mangsa. Hal yang nggak pernah terbayangkan oleh Bia sebelumnya. Yap! Kesabaran Bia cukup sampai di sini. gue nggak suka ada orang yang ngomongin gue di belakang gue. “Dan satu lagi. silakan! Gue sama sekali nggak berminat jadi saingan. Kalian nggak tau mana jalan yang ada jebakannya dan mana jalan yang benar-benar aman.Brak! Bia membuka pintu WC dengan wajah merah menahan marah. Kalau hari ini sampai ada yang tega menjelek-jelekkan dia. Benar-benar kemenangan mutlak. Wajah ketiga cewek manis itu berubah pucat. Non!” Bia tersenyum sinis lalu keluar dari toilet dan kembali menuju kelas dengan perasaan masih kesal. “Tapi ingat. Nggak ada untungnya cari musuh gara-gara rebutan cowok. Itu namanya nggak fair. Dan ini semua udah jelas pasti gara-gara makhluk brengsek bernama Egi itu. Itu namanya pengecut!” kata Bia tajam. “Udah puas ngomongin gue?!” tanya Bia. Ketiga cewek itu hanya menggeleng pelan. Dia nggak menyangka ada anak kelas satu yang berani menghina dia. pintu belakang udah dikunci sejak kemarin sama Pak Kosim. Mereka sama sekali nggak menyangka bahwa cewek yang mereka gosipin sedang berada di dalam WC. jadi kalau kalian berniat bolos. Semua pasti gara-gara dia. pantang yang namanya marah sama adik kelas lalu menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk menggencet mereka. Makanya akhirnya semua memilih dia untuk jadi ketua OSIS. Ketiga cewek yang masih berdiri di depan wastafel melotot kaget. Kalau di antara kalian ada yang naksir Egi. “Asal lo bertiga tau ya. Ini pertama kalinya dalam hidup Bia ada orang yang berani menjelek-jelekkannya. Mampus deh! “Masih ada yang mau diomongin tentang gue?”tanya Bia lagi.

jatuh cinta sama elo?” “Lo kira gue bisa kemakan rayuan gombal lo? Elo salah besar! Gue bukan cewek gampangan seperti yang lo kira. “Dengar baik-baik. “Bi. ia nggak termakan emosi mendengar ancaman Bia. Apa gue salah.” rayu Egi pantang menyerah.. gue rasa banyak temen sekelas lo yang bersedia!” “Bi. Semua mata kontan menatap mereka.. Tamparan itu hadiah buat kekurangajaran lo megangmegang tangan gue.. “Kan lebih enak naik mobil gue daripada naik angkot. gue nggak akan segan menghajar elo.” “Gue bilang lepasin tangan gue!” “Gue nggak mau!” Plaakk! Sebuah tamparan keras melayang di pipi Egi. Gue cuma mengikuti kata hati dan debaran jantung gue yang udah menjatuhkan pilihannya ke elo. “Bia. Gue anterin lo pulang ya. “Lepasin tangan gue!” “Nggak mau.” Bia tetap nggak peduli dan mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolah yang menganga lebar. jangan cuek gitu dong.” tawar Egi saat semua anak sudah meninggalkan ruang kelas dengan penuh sukacita untuk segera pulang ke rumah.” ..... Gue baru mau lepasin tangan lo kalau lo mau pulang bareng gue. gue anterin pulang ya. Jangan kira gue nggak berani sama elo.BAB EMPAT “BI. Dalam hitungan detik..” panggil Egi sambil menahan tangan kiri Bia. gue nggak pernah nganggap elo cewek gampangan. Tapi cowok itu memang sabar. kenapa sih elo sewot banget sama gue. Bia berjalan cepat menyusuri lapangan tanpa memedulikan tawaran Egi yang berusaha menjajarkan langkahnya di samping Bia. “Bia. Bia berhenti dan menatap Egi tajam. Kalau lo mau mainin cewek. Biarpun cewek. Egi melepaskan genggamannya. Gue nggak pernah berniat mainin cewek mana pun. di pipi Egi yang mulus dan putih tercetak bekas tamparan jari-jari tangan Bia. gue nggak takut kalau harus ribut sama elo!” Egi terperanjat.. Kalau elo masih berani ganggu gue. ya. Dia nggak menyangka Bia akan senekat itu.

“Gi.” “Apa sih yang bagus dari tuh cewek?” tanya Teddy.. “Cakep kagak. jangan bilang lo serius naksir dia ya.. Ia tersenyum manis menatap kedua bola mata Bia yang melotot marah. Tontonan gratis yang seru ini sama sekali nggak boleh dilewatkan. “Ayo. “Lo nggak serius kan naksir cewek kasar gitu?” “Dia bukan cewek kasar. gue akan benar-benar membenci elo dengan segenap jiwa raga gue!” bentak Bia kesal.” @(^-^)@ . dia kan senior kita. salah satu sobat Egi yang ikutan pasang taruhan untuk kemenangan Egi.” ujar Teddy curiga. gue milih Bia daripada cewek-cewek sok jaim yang ngejar-ngejar gue tiap hari itu. lo TOP banget dah! Tu cewek bisa lo buat nggak berkutik. Mereka membatalkan niat mereka untuk segera meninggalkan sekolah. Yang menang taruhan tertawa lebar.” jawab Egi. Bahkan sampaisampai ada yang nekat taruhan siapa yang menang dalam pertarungan kali ini. “Gi. “Bi.. Dan gue akan membuat elo melihat ketulusan perasaan gue. Egi cuma diam dan mengelus-elus pipinya yang masih terasa agak panas. hebat!” puji Teddy mendekati Egi sambil mengantongi uang yang baru saja didapatkannya.” “Elo salah.“Egi. galak pula. Tamparan ini malah membuktikan bahwa elo ada perhatian ke gue.” “Sekali lagi lo salah. gue suka sama elo. “Weits! Pipi lo merah juga. sedangkan yang memilih Bia cuma bisa mesem-mesem kecewa. otaknya juga biasa aja. “Dasar GILA!” teriak Bia lalu berlari meninggalkan Egi dan menembus pagar lingkaran teman-temannya. “Bia gadis paling baik yang pernah gue temui. Dia hanya diam dan tersenyum. “Gue rasa otak lo udah nggak waras lagi. “Justru karena gue waras. Anak-anak mulai bubar. Gi. Ternyata Egi yang menang. Tapi bagi Teddy. Tamparan tuh cewek keras juga ya?” kata Teddy. kalau elo masih coba-coba deketin gue dan sok ngegombal.” bela Egi. Ted!” bantah Egi. elo malah milih cewek kasar yang jelas-jelas nggak suka sama elo. Hebat. Kebanyakan sih pada megang Bia. Dia cuma punya watak keras. senyum Egi itu udah cukup sebagai jawaban. Udah gitu.” kata Teddy heran.” kata Egi lembut. Anak-anak yang lagi bubaran kelas membuat pagar lingkaran di sekeliling Bia dan Egi. “HIDUP EGI!!!” teriak salah satu penonton yang kemudian diikuti sorakan teman-temannya yang lain. Gi! Segitu banyak cewek yang naksir lo sejak hari pertama kita masuk sekolah ini. Egi nggak menjawab. “Lo gila. lo bayar taruhannya!” tagih Teddy. Gue nggak akan mundur begitu aja. sama sekali nggak ada nilai plusnya deh..

. Bia yang gue kenal pantang mengharapkan bantuan cowok kecuali jika ada hubungan kerja sama yang saling menguntungkan di dalamnya. Hari ini benar-benar hari terburuk buatnya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan mengambil gulingnya. Yu? Gue malah setengah mampus benci banget sama dia.” Bia nggak bersuara. ada apa?” “Cuma mau ngobrol aja sama elo. hampir tiga tahun gue kenal elo. Tentang apa nih?” “Tentang elo.. lalu meremasnya gemas. “Gue cuma mau ngobrol biasa aja sama elo.” jawab Bia. “Nggak biasanya elo berkesan misterius gini.” “Gue?” “Iya. Dia terpaku diam. “Nggak ganggu kok. Yu?” “Bi..” jawab Yuki. dan gue tau siapa elo. Bia yang gue kenal nggak akan mau ribut sama cowok karena urusan cinta. “Apa lo nggak salah. Bia berlari kecil sambil ngedumel kesal.” “Pada kurang kerjaan. tentang elo.” “Lho.” lanjut Yuki. “Gue denger. “Bia yang gue kenal sangat dingin sama cowok yang berusaha mendekatinya.. Padahal dulu boro-boro melirik.” “Bukankah benci itu juga satu bukti bahwa elo merespons semua tindakan dia dan memberi dia satu perhatian lebih?” “Maksud lo apa. Ada apaan sih?” tanya Bia heran. pas pulang sekolah lo rebut sama Egi di lapangan. “Bia yang sekarang marah-marah dan ngejutekin seorang cowok yang sedang berusaha pedekate sama dia.! Dering telepon memaksa Bia untuk bangun dan segera ke bawah untuk mengangkat telepon. ya?” “Tau dari mana lo?” “Dari berbagai sumber.” sapa Bia ogah-ogahan. setiap cowok yang mencoba mendekati Bia .Bia membanting tasnya ke tempat tidur dengan kesal. “Halo. “Tapi Bia yang sekarang mulai berubah. dan gue yakin besok berita itu pasti bakal jadi lebih heboh lagi. Bia yang gue kenal nggak pernah mau merespons semua tindakan cowok yang mencoba pedekate sama dia.” jelas Yuki. “Gue ganggu nggak?” “Eh.” sapa Yuki ramah dari seberang.. elo. tumben. Yu. “Halo. apa elo nggak sadar? Ini pertama kalinya ada cowok yang benar-benar berhasil merebut perhatian lo. Dia nggak bisa membalas semua ucapan Yuki.” “Oke. Kriing. ya! Buat apa sih kejadian gitu aja dibesar-besarkan!” “Bi. Topik itu mulai jadi pembicaraan hangat di antara anakanak.” “Siapa yang misterius?” Yuki malah balik tanya.” “Merebut perhatian gue?” tanya Bia. Bi.

” kata Bia kesal. Gue sampai enek terus-terusan mendengar nama dia hari ini.” “Tapi gue nggak ngeributin masalah cinta sama Egi!” bantah Bia.. Bi.! Nah.” jawab Bia. “Alex itu teman kuliahnya Sammy.. Elo nggak ganggu gue.. elo bilang elo benci sama dia..” “Bohong banget!” “Bener. Bahkan Bia yang sekarang bisa ribut di depan umum sama seorang cowok gara-gara masalah cinta.” “Iya. Gue nggak akan membiarkan cowok mana pun menyakiti gue. benar. “Gue nggak mungkin jatuh cinta sama cowok aneh itu. elo ngejutekin dia. gue cuma. Bi.” “Jujur sama gue.” “Udahlah. kan? Bahkan nama cowok yang pedekate sama elo aja lo nggak ingat.” kata Yuki. Yu... Yu. Bi? Elo nggak salah kok kalau elo jatuh cinta sama dia. Bia.” “Oke. “Gue nggak mau membahas Egi lagi.” “Nggak kok. cowok yang empat bulan lalu mencoba ngedeketin elo?” tanya Yuki. nampar dia dan minta dia nggak ganggu gue lagi.” “Kenapa nggak.” kata Yuki.” “Apa bedanya. Nggak akan!” “Elo salah.” ujar Bia. sekarang kembali ke Egi nih. gimana elo bisa tau apa elo bakal menderita atau malah bahagia?” “Gue nggak peduli! Lagi pula. Bi.” “Gue nggak bermaksud gitu. “Alex?”Bia malah balik bertanya. “Dia cowok aneh yang udah mulai memasuki kehidupan lo. Hari ini gue udah cukup capek gara-gara cowok rese itu. buat apa sih elo ngomongin masalah ini sama gue?” “Gue cuma mau membantu lo untuk jujur sama diri lo sendiri.” “Lo masih ingat Alex nggak. Elo marah-marah sama dia. “Itu malah semakin menunjukkan bahwa elo jelas merespons semua tindakan dia. Elo tuh benar-benar merespons kehadiran cowok itu. “Cinta itu cuma bikin gue menderita. itu nggak mungkin.....” . dan gue nggak akan membiarkan diri gue merasakan penderitaan yang sama kayak nyokap gue. “apa elo udah jatuh cinta sama Egi?” “Nggak. Yu. Bia yang sekarang juga mau dianterin ke sekolah sama cowok tersebut meskipun dengan alasan terpaksa.. oke.. Gue cuma nggak pengen mendengar nama cowok aneh itu lagi.” “Nggak mungkin! Gue nggak mau jatuh cinta.. Bi?” sahut Yuki. “Gue cuma.bakal dicuekin habis-habisan. bukankah itu berarti elo memberi perhatian dan menanggapi semua tindakan yang dia lakukan?” “Tapi.” ujar Yuki. “Alex yang mana? Memangnya ada cowok yang namanya Alex yang mencoba deketin gue?” “Tuh. Bi. Sori ya kalau gue udah mengganggu elo.” kata Yuki.. Dia memang cowok aneh. “Kalau elo sendiri takut untuk mencintai.

” jawab Bia. “Iya.” Mama kelihatan gugup dan salah tingkah. Bersamaan dengan itu kenop pintu berputar dan Mama muncul dari balik pintu dengan wajah lelah. “Soalnya tadi aku dengar suara mobil di depan rumah. sembari mengerjakan PR sejarah. Terdengar suara pagar depan dibuka.” Yuki tertawa lalu berkata. Jadi nggak mungkin Mama naik mobil. kayak polisi menginterogasi tersangka.. Jadi siapa ya? Mungkin orang lewat aja kali ya. Mau nggak mau Bia kepikiran juga sama semua ucapan Yuki barusan. Dia sedang menunggu Mama pulang kerja.. kan? Lo mulai lagi. tadi Mama diantar teman kantor Mama. teman kantor Mama. soalnya biasanya kalau Mama lagi malas jalan.. Bia membalik halaman demi halaman buku sejarahnya.” jawab Mama tambah gugup. “Nggak. apa iya nggak mungkin? @(^-^)@ Bia duduk di sofa ruang tamu sambil membuka buku sejarahnya. Mama belum juga pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 18. Egi lagi Egi lagi. itu. Sayang?” Mama ikutan heran melihat ekspresi Bia... Apa itu Mama? Suara mobil kembali terdengar lalu perlahan berlalu pergi. itu. Tapi aneh. Apa jalanan macet..” “Kok tumben dia nganter Mama pulang?” tanya Bia... Aku cuma heran.15. mmm. Apa iya gue jatuh cinta sama dia? tanya Bia pada dirinya sendiri. “Manajer personalia di tempat Mama kerja. mencari jawaban untuk pertanyaan yang sedang dikerjakannya.” “Oh. kata Bia berusaha menenangkan batinnya. Nggak mungkin! Eits.. ya? Deru mobil yang berhenti di depan rumah mengalihkan perhatian Bia dari buku yang ada di tangannya.” “Teman kantor?” “Iya. Bia mengernyitkan dahi. Ma? Apa dia punya maksud khusus sama Mama?” . Memangnya kenapa. “Ng. Jadi aneh kalau jam segini Mama belum sampai di rumah... udahan dulu ya. Siapa yang berhenti di depan rumahnya? Yang pasti itu bukan Mama.“Tuh.s oalnya Mama bilang hari ini mau pulang lebih awal. Mama akan naik ojek dari muka gang sampai depan rumah. “Mama kok baru pulang?” tanya Bia heran.. Bia mulai nggak tenang. “Jangan-jangan kemarin-kemarin dia juga yang nganterin Mama pulang? Cowok atau cewek. Bye!” “Bye!” Bia menutup telepon lalu merebahkan tubuhnya di sofa. “Oke. Gue mau nelepon Sammy.

“Kamu tuh apa-apaan sih.” Memangnya ada apa sih? .” ajak Cha-Cha lagi yang kali ini lebih berkesan memaksa. “Lo nggak liat ya. Cha?” tanya Bia lagi. iya. “Tammy sama Yuki udah nunggu dari tadi. @(^-^)@ Besok siangnya. “Lo kan tadi udah mau pulang duluan sama Tammy dan Yuki. “Kita nggak ada waktu lagi. Mama mau mandi. Tapi pelan-pelan dong.” Bia ngedumel. Bia cuma bisa melotot melihat buku-bukunya yang jadi lecek nggak keruan gara-gara ulah Cha-Cha.” “Tapi gue lagi rapiin buku-buku gue. lo harus ikut gue ke lapangan. “Apaan sih?” tanya Bia.” ajak Cha-Cha. Bia menghela napas panjang. ayo jalan. Cha!” protes Bia. Masalahnya. setelah bel pulang berbunyi.” Mama membawa tas kerjanya ke kamar lalu kembali keluar sambil membawa handuk dan berjalan menuju kamar mandi. Kelas udah sepi. Tinggal mereka berdua di ruangan itu. “Udah. selama ini Mama selalu pulang kerja sendirian. Cha.” kata Cha-Cha lalu secepat kilat mengambil semua buku Bia yang berserakan di meja dan menjejalkannya ke dalam tas ransel Bia. Bi?” Mama jadi sewot ditanya bertubi-tubi gitu sama anaknya.” “So what gitu loh!” jawab Cha-Cha asal. apalagi kalau melihat tampang Mama yang gugup waktu menjawab pertanyaanpertanyaan Bia tadi.” ajak Cha-Cha sambil menarik tangan Bia meninggalkan ruang kelas. “Gue bantuin. “Pokoknya lo harus ikut gue sekarang juga. rasanya wajar aja kalau Bia curiga sama Mama. Mama itu wanita mandiri. “Ada apa sih. Bia menutup buku sejarahnya dan membiarkan pikiran-pikirannya bekerja mencari jawaban untuk keanehan ini. “Mama rasa Mama nggak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan kamu yang aneh itu. Tapi kok sekarang Mama pakai acara dianterin pulang segala sama teman kantor yang katanya manajer personalia itu? Rasanya benar-benar mencurigakan. “Bi. Anak-anak udah pada bubar dari tadi.” “Iya. Bia sedang merapikan bukunya ketika tiba-tiba Cha-Cha nongol di kelas. kok sekarang balik lagi sih?” Bia yang masih sibuk merapikan buku-bukunya yang berserakan di atas meja memandang Cha-Cha heran. “Yang penting lo ikut gue sekarang juga. gue lagi sibuk ngerapiin buku-buku gue.

Terdengar rada aneh. Apanya yang keren? Malah kayak orang kurang kerjaan banget.” jawab Tammy. Bia balas menatap Egi. Egi mulai menyanyi dengan menggunakan TOA tanpa diiringi musik.” Tiba-tiba Maxi.” Bia mencibir. dan di atasnya berdiri seorang cowok cakep sambil memegang TOA.!” sapa Egi. tapi nggak lama kemudian dia langsung buang muka. teman sekelas mereka.. mulutnya menempel di corong TOA. “Ngomong aja sekarang. Max?” tanya Yuki. tapi lumayanlah.. “Lo liat aja sendiri. “Gue mau ngomong empat mata sama elo. . Mereka berdiri di sekeliling lapangan sambil berteriak-teriak heboh.. maki Bia dalam hatinya. udah nongol di sebelah Yuki dengan tampang serius. tukang cari sensasi.” kata Egi. nggak percaya atas apa yang dilihatnya. Di sana ada sebuah meja. “Siap!” teriak anak-anak heboh.. “Yu. Hari ini gue spesial tampil di depan kalian semua untuk menghibur kalian selama kurang-lebih lima belas menit. Tam?” tanya Bia. lagi! Dasar kurang kerjaan. “Lagu pertama gue persembahkan untuk para Egiers yang udah banyak mendukung gue selama ini.” jawab Maxi.!” sorak anak-anak. “Gilanya dia tuh keren banget. “Gilanya Egi kan beda. Baginya sekali gila ya tetap gila. Bi. “Oh. “Karena Cinta.. lalu kembali menatap cewek itu. “Si Egi benar-benar gila!” ujar Tammy. Cha-Cha dan Bia menerobos barisan penonton dan menempatkan diri di samping Yuki dan Tammy yang juga sedang seru memerhatikan lapangan basket.” jawab Cha-Cha..” “Huuu. ada apa. kecuali Bia pastinya. “Semua siap bergoyang?” tanya Egi kayak penyanyi profesional. begitu pula ketiga temannya. “Halo semuanya. Sinar matanya menunjukkan kehangatan dan ketulusan hatinya. gue mau ngomong bentar sama elo. Bia menajamkan penglihatannya ke tengah lapangan. Bia melongo kaget.@(^-^)@ Lapangan basket tampak ramai oleh anak-anak yang nggak jadi pulang.” Maxi melirik sebentar ke arah ketiga teman Yuki. Cowok yang berdiri di atas meja itu..” Mata Egi tertuju pada sosok Bia yang berdiri di pinggir lapangan. “Penting!” Yuki mengernyitkan dahinya heran. “Tapi gue suka cowok model gini. “Gue juga akan mempersembahkan lagu untuk seseorang yang udah membuat gue jatuh cinta.” “Lo suka cowok gila. “Ada apa sih?” tanya Bia heran. EGI! Gila! Ngapain dia di situ? Di tengah lapangan. “Oke.. “Halo juga!” balas semua anak yang ada di situ.” kata Egi.

lagu berikutnya gue persembahkan buat cewek yang udah menawan hati gue. Makanya semua pada heran melihat Maxi mengajak Yuki kayak tadi.” pamit Yuki.. Kita ngomong di kantin aja. Bait demi bait dinyanyikannya di bawah sorakan dan tepukan tangan anak-anak yang masih setia menonton pertunjukannya. Semua mata yang ada di lapangan saat itu langsung melihat ke arahnya. cewek pujaannya. Dia benar-benar bingung nggak tahu harus berkata dan berbuat apa. Maxi memang udah lama naksir Yuki. Tanpa Bia sadari.” tawar Yuki. Mata Bia malah tertumbuk pada tiga cewek yang pernah ngegosipin dia di toilet sekolah. Dia nggak percaya dengan apa yang baru aja didengarnya. “Oke.” Egi menyebutkan judul lagu dangdut yang akan dinyanyikannya. Tepuk tangan meriah dari anak-anak mengembalikan perhatian ketiga cewek itu pada Egi yang masih berdiri di tengah lapangan. Egi masih berlutut. Dia adalah. Jadi selama ini dia cuma menyimpan rasa sukanya dalam hati. dan Cha-Cha hanya bisa mengangguk kebingungan. Ketiga cewek itu berdiri diam di salah satu sudut lapangan dan memandangnya dengan sorot mata jiji. “Tidak semua laki-laki.“Ya udah. Rasanya aneh aja. Tapi ternyata nggak ada. ketahuan dari gerak-gerikya yang selalu baik sama Yuki. apalagi nembak. Maxi mengangguk lalu berjalan lebih dulu menuju kantin. Bia.” ujar Egi sambil menatap lembut Bia. . lalu melompat turun dari atas meja dan mulai bernyanyi sambil perlahan berjalan dan bergoyang mendekati Bia. Sorakan dan tepuk tangan riuh mengakhiri lagu yang dinyanyikan Egi. mukanya memerah kayak udang rebus. “Nanti gue balik lagi. Dia tetap berdangdut ria sambil menatap mata Bia. siapa tahu ada kamera tersembunyi yang lagi meliput kejadian ini. Bia menatap Egi yang sudah berlutut di hadapannya. mencari-cari sesuatu. Bisa aja kan. Bia celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri.. “Gue ke kantin dulu bentar. dia bertanya pada Bia. “Bia. Nggak mungkin cowok gila ini benar-benar nekat ngomong gitu di depan semua orang. sehingga akhirnya Yuki jatuh ke tangan Sammy. Tammy.” Bia. Egi nggak peduli dengan puluhan mata yang menatapnya geli atau tawa dan teriakan mereka yang seakan melecehkannya. Tapi anehnya dia nggak pernah berani ngomong berduaan sama Yuki. Bia melotot kaget. would you be my princess?” Mulut Bia menganga lebar. ini lagi acara reality show? Kan sekarang lagi zamannya segala sesuatu dibikin reality show. Tumben banget Maxi berani ngajak Yuki ngomong berduaan. lalu masih dengan menggunakan TOA.

Darah Bia bergejolak hebat. dan tiba-tiba saja emosinya meluap-luap.” “Ceritanya sama aja. Bia jadi kesal sama kelakuan Egi yang udah memberi kesempatan pada ketiga cewek genit itu untuk memandanginya dengan tatapan merendahkan. tau!” dumel Yuki. Tapi Bia nggak peduli. lalu berkata tajam.” “Lo pasti udah diceritain sama Cha-Cha atau Tammy.” “Lo kedengarannya bete banget sih. “Sori.. Bi?” “Masa?” “Jutek.” gerutu Yuki lagi. gue males aja jadi tontonan orang. meninggalkan Egi yang terpengarah menatapnya. Bia menatap Egi yang masih berlutut di depannya.” Terdengar suara tarikan napas dari seberang. Yuki terdiam sesaat. “Perasaan lo aja. Dia bikin gue jadi tontonan anak-anak.” ujar Yuki. bersama puluhan mata yang juga kaget dengan jawaban yang dilontarkannya. gue lupa. dia bikin gue nggak punya muka di depan teman-teman dan junior-junior gue sendiri. lo ngajakin gue ngobrol soal tadi sih. kalo dibilangin. “Ah.. “Lagian. kali. “Tapi gue mau dengar cerita versi elo. apa yang terjadi di lapangan setelah gue ke kantin. “Yu. Bi. Gue keki. siapa suruh lo ngilang lama banget.” “Iya sih.” “Ya ampun. “Gue yang mestinya nanya sama elo. kok lo pulang duluan sih?” protes Yuki di telepon sore itu. tau!” “Lho memangnya kenapa?” tanya Yuki heran. Masa gitu aja salah sih?” “Jelas salah!” “Apanya yang salah?” Bia merengut karena kesal. “Gue kan cuma mau ngajak lo ngobrol. @(^-^)@ “Bi. “Kalian ngomongin apaan sih? Tumben banget si Maxi ngajakin elo bicara empat mata.” jawab Yuki akhirnya. Egi udah bikin gue malu.. nggak penting.” . “Elo tuh benar-benar nggak punya malu! Gue jijik sama elo!” Kemudian Bia berlalu begitu saja. “Egi nggak mungkin bermaksud kayak gitu.” “Ih.” “Gue kan lagi ngomong sama Maxi di kantin. “Egi kan cuma bikin pertunjukan spesial buat lo di lapangan.” kata Bia sambil nyengir.” jawab Bia.. nih anak. Dia berjalan cepat menerobos kerumunan dan meninggalkan gedung sekolah.” lanjut Yuki.” “Oh iya. Kok respons lo ngebetein gitu sih?” “Habis..

“Lo tau dari mana?” tanya Bia. “Lo kan nggak ngeliat kejadian tadi. Anak-anak kelas satu pada ngeliatin gue dengan pandangan menghina. Gue benar-benar kesal banget.” “Nggak mungkin, Bi,” bantah Yuki. “Kalaupun iya, itu cuma karena mereka iri sama elo.” “Iri sama gue?” “Iya, Bi,” jawab Yuki. “Mereka iri karena elo mendapat perhatian dari Egi, cowok yang lagi naik daun di sekolah kita saat ini. Masa lo nggak ngerti sih?” Bia terdiam sesaat, mencoba memikirkan kata-kata Yuki. Entah mengapa Bia malah tambah kesal. “Siapa yang suruh mereka pake acara iri segala!” maki Bia. “Mereka kira gue suka apa, sama hal-hal kayak gini? Gue ngerasa kayak di sinetron-sinetron, terlalu didramatisir, cengeng banget. Ih, gue benci banget. Dan ini semua gara-gara cowok gila itu. Gue benar-benar sial ketemu dia!” Yuki menghela napas panjang. “Menurut gue bukan elo yang sial karena ketemu sama Egi, tapi Egi yang sial karena jatuh cinta sama cewek kayak elo, Bi....”

BAB LIMA

SUDAH tiga hari berlalu sejak kejadian di lapangan itu. Dan dalam tiga hari itu Bia seakan berubah jadi selebriti yang dibicarakan banyak orang. Tiap kali jalan di koridor sekolah, pasti puluhan mata menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Udah gitu, mereka pakai acara bisik-bisik segala, lagi. Risi banget rasanya. Bia benar-benar kesal dibuatnya. Entah udah berapa kali Bia memaki-maki orang yang ngeliatin dia, tapi bukannya pada kapok, mereka malah tambah parah. Cerita tentang kejadian di lapangan itu bahkan jadi hot news yang paling banyak diminati saat ini. Pokoknya menduduki rating tertinggi deh. Dan yang lebih luar biasa lagi, cerita yang beredar dari mulut ke mulut itu terus berkembang sampai sekarang. Bia sendiri sampai heran dengan daya kreativitas orang-orang yang udah ngembangin cerita itu. Cerita terakhir yang bia dengar tentang kejadian di lapangan hari itu sih begini: 1. Egi nyanyi di lapangan buat nyatain perasaannya ke Bia. 2. Bia shock sampai pingsan soalnya selama ini kan nggak ada cowok yang senekat itu ngejar-ngejar dia. 3. Pas sadar Bia nangis bombay saking terharunya karena ada cowok yang mau sama dia. Gila nggak tuh cerita! Mungkin nggak sih Bia kayak gitu? Nangis buat cowok, nggak ada tuh dalam kamus hidup Bia. Benar-benar nggak masuk akal, kan? Yang ngarang tuh cerita pasti benar-benar udah sinting. Tapi menurut Bia, yang ngedengerin cerita itu jauh lebih sinting lagi karena mereka percaya sama cerita itu. Ini benar-benar tiga hari terberat dalam hidup Bia. Baru kali ini ia merasakan hal-hal semacam ini. Jadi pusat perhatian dan digosipin. Rasanya mau marah dan teriak, tapi ke siapa? Ke Egi? Mana mungkin. Masalahnya, udah tiga hari ini Egi menghilang gitu aja dari peredaran. Cowok itu nggak pernah lagi datang ke kelas Bia, nyamperin ke kantin, nungguin Bia pulang sekolah, atau nelepon ke rumah. Pokoknya lenyap gitu aja deh. Dan sekarang, entah kenapa ada sesuatu yang aneh dalam diri Bia. Rasanya ada yang hilang. Bia nggak tahu itu apa, yang dia tahu rasanya aneh banget. Apa iya itu gara-gara Egi?

@(^-^)@ Siang itu Bia, Yuki, dan Cha-Cha duduk di kantin sambil menikmati semangkuk soto mi hangat. Biasalah, tiga cewek itu lagi malas pulang cepat. Jadi mereka nongkrong di kantin sama-sama. Bia menggulung-gulung mi dengan garpunya. “Tammy mana?” “Katanya mau pulang duluan,” jawab Cha-Cha sambil menuangkan sesendok sambal ke dalam mangkuk soto mi-nya. “Dia bilang sih ada janji sama bokapnya.” “Bokapnya?” Bia mengernyitkan dahinya heran. “Bukannya bokapnya lagi ke Pekanbaru?” Cha-Cha mengedikkan bahu. “Tau deh. Udah pulang, kali.” Bia manggut-manggut lalu menyuapkan sesendok mi ke mulutnya. “Bi, si Egi apa kabarnya?” tanya Yuki tiba-tiba. Bia diam saja, pura-pura nggak dengar. “Iya, Bi,” tambah Cha-Cha. “Gosip tentang kalian berdua kan lagi hot-hotnya nih. Masa nggak ada perkembangan baru sih?” “Tau ah,” jawab Bia kesal. “Tuh anak udah mati, kali.” “Ih...! Kejam amat sih ngomongnya,” goda Cha-Cha. “Nggak baik lho kayak gitu. Ntar kalo orangnya mati beneran, lo bakalan nyesel!” “Nggak bakal!” “Jangan sewot gitu dong, Bi,” ujar Yuki. “Kami kan cuma mau tau aja.” “Asal lo berdua tau,” kata Bia, “gue nggak pernah punya hubungan apa pun sama cowok rese itu. Jadi nggak bakal ada hal apa pun yang berkembang antara gue dan dia. Lagi pula, gue rasa dia udah malas deketin gue. Mungkin dia udah dapat cewek lain yang bisa dia mainin.” “Ada apa sih, Bi?” tanya Yuki heran. “Apanya yang ada apa?” Bia balik nanya. “Yah elo itu...,” jawab Yuki. “Gue merasa ada yang aneh sama elo.” “Nggak ada apa-apa kok. Apanya yang aneh sama gue?” Cha-Cha yang menjawab, “Lo emang lagi aneh, Bi. Apa gara-gara Egi?” “Kenapa gue mesti aneh gara-gara dia?” “Karena lo merasa kehilangan Egi yang udah beberapa hari ini nggak lagi gangguin elo. Iya, kan?” Cha-Cha tersenyum nakal. “Ngapain gue merasa kehilangan dia!” seru Bia. “Gue malah senang karena dia nggak gangguin gue lagi!” Cha-Cha dan Yuki malah tertawa. Bia meelototi kedua temannya itu, tapi Yuki dan Cha-Cha terus tertawa heboh. Tanpa mereka bertiga sadari, Maxi udah berdiri di samping meja mereka.

Max. “Jangan kasar gitu dong. Kalo dia nggak mau bicara sama elo. “lepasin Yuki.“Yuki. Dia sama sekali nggak bermaksud menyakiti Yuki. Dia menghela napas panjang dan membuang muka sambil berkata..” pinta Bia menahan emosi. Please.” kata Maxi tajam.” “Tapi dia memang nggak layak untuk elo percaya!” . Tangannya malah semakin keras mencengkeram pergelangan Yui. lepasin tangan Yuki!” seru Cha-Cha cemas. tapi gue nggak bohong. gue mau bicara sama elo. Yu. Dia cuma nggak mau Yuki terluka lebih dalam nantinya. gue minta sekali lagi.” kata Maxi pelan. Itu artinya gue nggak percaya sama pacar gue sendiri. Max!” Yuki bangkit dan berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Maxi. “Ini penting. “Lebih baik lo lepasin tangan Yuki dan kita bicara baik-baik.” “Lebih baik tangannya merah dan sakit daripada gue harus ngeliat dia sakit hati lebih dalam lagi. ya udah. Matanya menatap tajam ke arah Bia seakan memberi perintah agar Bia nggak usah ikut campur. “Dia kesakitan. Yu. percaya sama gue. air mata mengalir di kedua pipinya..” Bia berusaha berkata bijak untuk meredakan emosi Maxi yang meluap-luap. gadis yang begitu disayanginya. Maxi menatap Bia lama.” “Ada!” bentak maxi. “Lo nggak bisa pura-pura nggak ada masalah. “Nggak ada lagi yang perlu kita bicarain.” “Gue nggak mau mendengar apa pun dari mulut lo!” Maxi mencekal tangan Yuki. “Gue emang nggak punya bukti. tau!” “Max. Dia nggak rela ada seorang pun yang mempermainkan Yuki. “Lepasin tangan gue. lalu perlahan melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Yuki. Itu saja. nggak peduli lo suka atau nggak!” Bia berdiri dari tempat duduknya dan menepuk bahu Maxi pelan. gue mohon pikirkan lagi kata-kata gue waktu itu.. “Kalau gue percaya sama elo. dan gue harus bicara sama elo saat ini juga. itu artinya gue mengkhianati cinta gue sendiri.. “Gue nggak mau mendengar apa pun dari mulut lo!” “Gue nggak bakal melepas tangan lo sampai lo mau bicara sama gue. Max.. Gue ngeliat dengan mata gue sendiri. “Gue nggak peduli!” Maxi masih mencengkeram tangan Yuki..” “Max.” Yuki berhenti tertawa dan menatap Maxi. Maxi memandangi Yuki dalam-dalam. Mata Yuki yang mulai berair menahan tangis menyayat hatinya. Lo nggak berhak maksa dia. “Lo harus dengar kata-kata gue. Dia cuma mau Yuki mendengarkannya.” “Gimana mungkin gue bisa percaya sama elo?!” sahut Yuki. Yuki buru-buru menarik tangannya dan memijitnya pelan-pelan. Dan itu nggak mungkin salah.” ujar Maxi keras kepala. “Yu.” “Dia harus mau bicara sama gue!” bentak Maxi kasar. Dia nggak mau ada seorang pun yang menyakiti Yuki..

“Oke.” Maxi menatap Yuki tajam. dengerin gue sekali lagi. “Gue cuma nggak mau ada seorang pun yang menyakiti dan mempermainkan elo..” “Elo tuh udah buta.. kan?!” BRAAKK! Maxi memukul meja dengan keras sampai sisa-sisa makanan yang masih ada di mangkuk tumpah dan mengotori meja kantin.. berusaha menenangkan cewek itu. Dia nggak mungkin mengkhianati gue. gue pacaran sama dia udah lama. Gue tau sejak dulu elo suka sama gue. . Maxi menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.“Max. Yuki mengangguk. dan Cha-Cha duduk bertiga di bangku panjang di pinggir lapangan basket. menoleh dari wajah Yuki ke wajah Maxi. “Gue memang suka sama elo. Dia nggak mungkin mempermainkan gue!” sahut Yuki. berusaha menahan air mata yang hendak bergulir lagi di pipinya.” Bia memulai pembicaraan. juga puluhan anak yang sejak tadi memerhatikan mereka dengan rasa ingin tahu. kemudian berlalu meninggalkan Yuki yang masih menangis. Yu!” maki Maxi. menunggu penjelasan atas kejadian ini. tapi mata dan hidungnya masih merah karena habis menangis. “Lalu. “Yu. Gue masih punya moral dan harga diri.. Iya. Terus sekarang lo ngejelek-jelekin cowok gue biar gue putus sama dia. nggak bermaksud menyembunyikan apa pun dari kalian. dia nggak mungkin berbuat gitu sama gue. Yu. Gue terlalu sayang sama elo.” Yuki mulai sesenggukan. “Gue rasa elo yang nggak punya malu. apa yan gudah lo sembunyikan selama ini dari kami. Cha-Cha merangkul pundak Yuki dan membiarkannya menangis di bahunya. Mereka cuma mendengarkan pertengkaran itu. @(^-^)@ Bia. “Kenapa lo terus-terusan mengganggu gue dengan kebohongan-kebohongan itu?” “Itu bukan kebohongan. apa mau lo?!” seru Yuki.” Usai mengatakan itu. Yuki tampak lebih tenang. sedangkan Bia cuma bisa menatap Yuki. elo nganggap kami sobat lo. dan elo sama sekali nggak sadar bahwa elo cuma dipermainkan sama dia!” “Maxi. “tapi gue nggak pernah punya pikiran serendah tudingan lo itu. “Elo buta karena cinta.” “Gue. Bia dan Cha-Cha bertatapan heran. “Sekarang lo jelasin deh. Hatinya benar-benar terluka mendengar ucapan Yuki.” suara Maxi melemah. kan?” Cha-Cha merangkulkan tangannya ke pundak Yuki.” Bia dan Cha-Cha nggak bisa berkutik. Gue udah tahu siapa dia. Yuki.

daripada lo nangis kayak gitu. Bia menghela napas dan menengadahkan kepalanya menatap langit biru yang tumben banget lagi cerah siang ini. Dia bilang dia pernah melihat Sammy jalan sama cewek yang sama dua kali. “Makanya gue nggak percaya.“Kalo gitu. Maxi itu bukan cowok tukang adu domba. “Kalau untuk hal itu gue nggak bisa memastikannya. “Kata Maxi.... “Walaupun kami belum tentu bisa membantu. Gue pernah sebangku sama dia waktu kelas dua. Yuki mulai menangis lagi. dan gue tau banget dia bukan tipe cowok seperti dugaan lo.. waktu Egi nyanyi di lapangan. Bi. lo harus cerita ke kami.” lanjut Yuki. mereka sedang berciuman di depan bioskop. Sammy udah ngekhianatin gue?” tanya Yuki dengan suara bergetar. “Sammy selingkuh di belakang gue. “Kalau git. Dia bilang dia yakin banget. “Ah.” “Jadi maksud lo. masa Sammy kayak gitu?” “Gue juga bilang gitu sama Maxi..” Cha-Cha mengernyitkan keningnya mendengar cerita Yuki. saksi.” Bia menolehkan kepalanya menatap Yuki. gue tau. Dan. “Yu. paling nggak kita bisa saling berbagi dan mendukung.. Maxi benar..” “Ya ampun. “Tapi maxi ngotot.. “Yu.” jawab Bia.. gue nggak percaya Sammy bisa berbuat seperti itu sama gue. mana mungkin Sammy mau ngaku kalau dia memang benarbenar salah. Setelah beberapa saat akhirnya Yuki mulai tenang dan bicara lagi.” argumen Bia. dan terakhir kali dia melihat mereka seminggu yang lalu. dan buktibukti yang ada. Hakim juga nggak pernah langsung memutuskan apa tersangka itu benar-benar salah atau nggak sebelum mendengar pembelaan dari tersangka... Bia berdiri dan berjalan ke hadapan Yuki. Tapi gue nggak percaya. Tapi Maxi terus-menerus berusaha meyakinkan gue tentang hal itu. Sammy udah mengkhianati gue...” Yuki dan Cha-Cha menatap Bia.. itu soal kedua. Yang penting sekarang kita tau dulu apa pembelaan dia.” sahut Cha-Cha. Maxi ngajak gue bicara.” “Hah.” kata Yuki.” Bia menatap Yuki lekat-lekat. Mereka terkejut dengan apa yang baru saja Bia katakan. lebih baik lo tanyain kejelasannya secara langsung ke Sammy. kalau gitu gue harus gimana?” “Yu. menurut gue. .” Yuki menangis lebih keras. apa pun masalah yang sedang elo hadapi. “Tiga hari yang lalu. ciuman?!” seru Cha-Cha nggak percaya.” lanjut Cha-Cha. Maxi nggak mungkin berbohong. Yuki mengangguk. kemudian berkata. “Yah.

Sahabat memang obat terbaik di kala kita sedang terluka. Sekarang tinggal menunggu Mama pulang dan makan bersama.. dan Mama kelihatan sedang berbicara dengan seseorang yang mengendarai mobil itu. Setelah memecahkannya dan menuangkan isinya ke mangkuk. Bi.00. dan tempe orek. Kali ini lebih lebar dan sama sekali nggak terpaksa.Cha-Cha tersenyum membenarkan kata-kata Bia. Siapa laki-laki itu? Kenapa Mama pulang diantar dia? Apa itu orang yang sama dengan yang mengantar Mama waktu itu? Siapa dia? Apa hubungannya dengan Mama? Apa yang dia mau dari Mama? Berpuluh pertanyaan memenuhi batinnya. Lalu ia mengupas bawang putih dan bawang merah. Seharusnya Mama sudah pulang sejak tadi. maaf ya.” “Ember. Pasti Mama sudah masuk. itulah elo. kangkung cah. Jendela mobil itu terbuka. “Thanks. Sudah hampir jam 19. Bia melirik jam dinding.. Tak lupa ditaburkannya garam dan merica ke atas telur kocok secukupnya. Jantung Bia berdetak cepat. lalu cari waktu yang tepat untuk menanyakan semuanya langsung ke Sammy. Bia menyalakan kompor dan meletakkan wajan di atasnya. Bia menyibak tirai yang menutupi jendela dan mengintip keluar. “Kalian udah nemenin gue dan mendengarkan semua keluhan gue. @(^-^)@ Bia mengeluarkan beberapa butir telur dari dalam kulkas. Bia berusaha menajamkan penglihatannya. gue emang cengeng banget.” jawab Bia tersenyum lebar. Bia duduk di depan meja makan lalu mengambil gelas dan menuangkan air dingin ke dalamnya. “Bia benar. semua disusunnya di meja makan.” Yuki menyeka sudut matanya yang berair. Gadis itu berjalan menuju ruang tamu. Terdengar suara pintu dibuka. Ada suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Hari ini menu makan malamnya telur dadar. dan setelah minyak itu panas dia mulai membuat telur dadar favoritnya.. berusaha menarik sudut bibirnya membentuk senyuman.. Yu.” katanya lirih. “Tapi. Bia menutup tirai lalu berjalan cepat menuju meja makan. Sedikit minyak dituangkannya ke atas wajan. Dan itulah yang saat ini dirasakan Yuki. yah.” Yuki tersenyum. Itu Mama! Mama turun dari mobil. . Bia mengambil garpu dan mengocok telur itu hingga rata. ya. Lebih baik sekarang lo nenangin diri lo. lalu mengirisnya tipis-tipis dan menaburkannya ke atas telur kocok. Laki-laki! Mama bicara dengan seorang laki-laki.

Dia mengambil piring dan menyendok nasi tanpa bersuara. Namun hati kecilnya berkata lirih.” tambah Mama sambil berjalan menuju kamar.” Alis Mama bertaut. “Mana mungkin aku marah sama Mama. Kelas udah ramai oleh anak-anak yang sibuk menyalin PR. Dia masih kesal dengan kejadian semalam. Mama mandi dulu.Mama yang sudah masuk tersenyum melihat meja makan sudah tertata rapi. Bia tetap diam saja.” Cha-Cha mencibir. Dia ingin menunggu sampai Mama terbuka dan jujur sama dia. “Mama tadi ada keperluan sebentar. lalu kita bisa makan samasama. Selama Mama nggak mau jujur sama aku. Nggak ada yang perlu dilanjutkan. “Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti. Mama udah nggak jujur. Bia duduk di bangkunya dengan tampang bete. “Egi?” “Enak aja! Rugi gue ngelamunin cowok kayak dia. tapi nggak sedikit pun menyinggung laki-laki yang belakangan ini sering kali mengantar Mama pulang. Bikin otak gue jadi tumpul. Mama pulang kemalaman. Ia menuangkan air dingin ke dalam gelas lainnya tanpa memedulikan sapaan Mama. @(^-^)@ Bia meletakkan tas ranselnya di meja. “Ngelamunin siapa sih lo?” tambah Cha-Cha.” jawab Bia sinis. Bi?” Bia diam saja. nggak ada gunanya kita bicara. “Apa maksud kamu? Memangnya Mama menyembunyikan apa dari kamu?” “Aku nggak bermaksud apa-apa kok. lalu membuka pintu kamar sambil berkata. jadi pulangnya agak terlambat. Dia mau memercayai Mama meskipun nggak bisa dia pungkiri bahwa saat ini hatinya agak kecewa.” Mama menatap Bia tajam. lo!” . mengambil tempat di sebelah Bia.” Bia diam. Bia nggak mau memaksa Mama bercerita. “Lain di hati lain di mulut. “Kamu kenapa sih?” tanya Mama heran. “Hei!” tegur Cha-Cha. “Maaf ya. Kamu pasti udah kelaparan. Ma. “Pagi-pagi udah melamun. Mama hanya membahas tentan gpekerjaan yang membuatnya pulang terlambat. “Kamu marah sama Mama?” Mama berhenti di depan kamar dan menatap Bia. Kesambet baru tau loh!” “Biarin!” jawab Bia asal. Sesuai dengan perkiraannya. Tadi cuma pengandaian aja. “Aku nggak punya hak untuk marah sama Mama meskipun Mama lagi menyembunyikan sesuatu dari aku.

” goda Cha-Cha. Nggak biasanya dia telat. dia bakal nyusul ke rumah Yuki.” “Aneh?” tanya Cha-Cha lagi. gitu aja marah. “Kan sebentar lagi bel. Belakangan ini sepertinya ada yang aneh sama Tammy. Cha?” seru Bia kesal.... Dia nggak enak ngebatalinnya. Hehehe. Dia malah asyik menyetel CD Jennifer Lopez dan menggerak-gerakkan badannya. “Duile..” @(^-^)@ “Lho. Atau.” kata Cha-Cha akhirnya.. Bi. “Nanti pulang sekolah kita ke rumah dia yuk?” ajak Bia..” Bia mengambil buku matematika dari dalam tasnya. mungkin dia ada urusan. kali. “Apanya yang aneh?” “Ya aneh.” “Yuki belum datang?” tanya Bia heran. dia kan paling rajin. ini gue serius. Pagi ini Bia udah cukup bete dan dia merasa nggak perlu lagi dibuat bete gara-gara cowok aneh itu.” Suara bel yang berdering nyaring meyakinkan Bia dan Cha-Cha bahwa Yuki hari ini memang nggak masuk sekolah.” “Tadi gue udah coba telepon ke HP-nya. Gue ngerasa ada yang aneh aja sama Tammy. Nanti istirahat gue ke kelas Tammy buat ngajak dia. Bolos.” “Mungkin dia nggak masuk hari ini. kali. Bia menghela napas panjang.“Lo kenapa sih.” “Iya juga ya. Bi?” tanya Cha-Cha.. Pelajaran pertama hari ini pelajaran killer. Tammy-nya mana. kalau Yuki belum datang tuh. Jangan sambil goyang begitu. gurunya juga. serius dong nyopirnya. tapi mailbox. “Heh. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu. “Kenapa sih. “Tammy sama Yuki mana?” tanya Bia. Bia semakin heran. “Oke. Nggak hanya pelajarannya. “Iya deh. Atau sakit. Dia udah jarang kumpul dan susah banget dihubungi.” “Iya. gue nggak akan sebut-sebut nama Egi lagi. Dia bilang sih kalau urusannya udah selesai. “Tammy sih tadi katanya mau ke kantin. Si Tammy nggak bisa ikutan.. Entah apa. Rencananya mereka mau ke rumah Yuki.” “Yuki bolos? Mana mungkin. tapi nggak biasanya Tammy sok sibuk begini. Cha-Cha nggak menjawab pertanyaan Bia. Katanya sih dia ada janji sama teman lamanya yang baru balik dari Jerman.” . Kok mendadak Tammy kayak orang sibuk gitu. Di antara kita berempat. “Nggak tau.” “Aneh.. Diliriknya jam tangan yang nangkring manis di pergelangan tangannya. Cha?” tanya Bia saat Cha-Cha melajukan mobilnya tanpa menunggu Tammy.. Apalagi sebentar lagi udah mau ujian semester.

udah gitu muntah terus.” sapa Bia ramah.” “Sakit apa. tapi kelihatan paling rimbun di antara rumah-rumah lainnya yang ada di kompleks itu. Bi?” “Boleh atuh. Bia dan Cha-Cha masuk dan langsung menuju kamar Yuki di lantai atas.” @(^-^)@ Cha-Cha menghentikan mobilnya nggak jauh dari rumah Yuki.” Cha-Cha juga nggak mau ketinggalan. “Kata Bi Ita badan lo panas.. Sambil membukakan pintu pagar untuk Bia dan Cha-Cha.” sahut Bia setuju. Kedua cewek itu udah sering banget main ke rumah Yuki. Tanpa basa-basi dia mengambil kursi dan duduk. tapi kali ini sambil memanggil nama Yuki. Yu. pohon belimbing. makanya mereka hafal selukbeluk rumah ini. Sesosok perempuan tua tergopoh-gopoh datang untuk membukakan pintu. Bi?” “Ada.” “Iya.“Mungkin dia emang lagi sibuk beneran. Bia dan Cha-Cha beradu mata sesaat. Non. “Masuk aja. Pokoknya lengkap deh! Bia turun lebih dulu dari mobil dan langsung menekan bel di tembok pagar rumah Yuki. “Halo. Bibi jadi kasihan ngelihatnya. “Bibi nggak tau. karena udah belasan tahun kerja di keluarga Yuki. pembantu Yuki yang setia banget. Rumah yang didominasi warna putih itu nggak terlalu besar.” jawab Bi Ita. Cha-Cha menyusul di belakangnya. Non. lo sakit apa sih?” tanya Bia lagi. “Halo. Nyonya lagi di dapur buatin bubur spesial buat Non Yuki. “Tapi Non Yuki-nya lagi sakit.Bayangin aja. Nanti Bibi yang bilangin ke Nyonya kalau Neng Bia sama Neng Cha-Cha datang.” sapa Bia mendekati tempat tidur Yuki dan duduk di sisi sobatnya yang sedang terbaring itu. “Hei. Semua orang yang lewat di depan rumah itu pasti langsung tahu bahwa penghuni rumah itu pencinta tanaman.. Badannya Non Yuki anget. Sekali lagi Bia mengetuk pelan. Nggak ada sahutan.” terdengar jawaban lirih dari dalam kamar. Non. dan pohon jambu. terus lo muntah-muntah melulu. dari balik pagar terlihat jelas beraneka tanaman. Bener nggak sih?” .” “Kalau kami langsung masuk ke kamar Yuki. “Tumben lo bisa sakit. mulai dari tanaman bunga aneka warna sampai pohon cemara. Bi Ita berkata. Bi. Bia menghentikan langkahnya dan mengetuk pintu pelan-pelan. Bi. mungkin lo benar. Bi?” tanya Bia.” “Sip deh. “Yuki ada. Bi Ita. Nggak usah negative thinking gitu. lalu pelan-pelan mereka masuk ke kamar. boleh nggak. Sampai di depan kamar Yuki.

“Yu. ternyata Maxi benar. wajahnya merah. Yuki mengangguk sebagai jawaban untuk keraguan Cha-Cha. Baik hati. Sammy yang selama ini dia kenal benar-benar tipikal cowok idaman. Gue nggak ngerti apa maunya. Bia menarik selimut yang menutupi tubuh Yuki. dan peluh mengalir di keningnya. “Kami kan datang buat jenguk elo. Kemarin malam gue nanya langsung ke dia. Selimut menutupi seluruh tubuhnya. Awalnya dia nggak mau ngaku. Lama-kelamaan semakin kencang dan disertai isak pelan. kayak pacaran sama anak kecil. “Ada apa. sopan. Cha-Cha menarik tubuh Yuki dan memeluknya. Tapi kali ini tubuhnya bergetar pelan. Yuki menangis. Rasanya siapa pun nggak akan percaya kalau cowok seperti Sammy ternyata mendua hati. “Bi.. Dia ngeduain gue.. Yuki menghapus air matanya dan melepaskan diri dari pelukan Cha-Cha.” timpal Cha-Cha asal. kenapa sih lo?” tanya Bia mulai keki. gentleman. nyeleweng?” Cha-Cha masih nggak percaya. dia bosan pacaran sama anak SMA. “Apa yang udah terjadi?” “Gue benci Sammy.. Katanya nggak ada serunya. Yuki mengambilnya dan menghapus air mata yang turun di pipinya. Bia dan Cha-Cha melotot kaget. lo kenapa?” pekik Cha-Cha. “Sammy nyeleweng. Ia menarik napas panjang untuk mengontrol emosi yang meluap dalam dirinya.” “Jadi. Gue benci dia!” pekik Yuki histeris. “Kenapa dengan Sammy? Apa yang membuat elo begitu marah sama dia?” tanya Bia nggak sabar. Bia dan Cha-Cha kaget plus heran. Bia mengambil tisu yang ada di atas meja tepat di sebelah tempat tidur Yuki dan menyodorkannya pada cewek itu.“Jangan-jangan lo kena flu burung ya. “Yuki. Masalahnya. Matanya bengkak. Yang ditanya diam seribu bahasa. Saking nggak sabarnya.. akhirnya dia ngaku. Yuki malah menangis lebih kencang dari sebelumnya. gue benci dia. tapi waktu gue bilang gue lihat dia jalan sama cewek di mal. Sammy benar-benar.. dan yang pasti setia. Yu?” tanya Bia tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya. “Gue benci Sammy.” kata Yuki di tengah isak tangisnya.. bibirnya kering.. Kenapa dia nggak mau menunggu? Kenapa dia malah memilih cewek itu dan mutusin gue gitu aja? Apa hubungan gue sama dia selama ini nggak punya arti apa-apa buat dia? Kenapa dia dengan begitu mudahnya mutusin gue? Kenapa?” . “Dia bilang. jangan malah dicuekin gini dong! Apa sakit lo parah banget sampai nggak bisa ngomong atau ngelihat kami berdua?” Yuki tetap mengurung diri di balik selimut. “Lo kenapa sih?!” Wajah Yuki yan gpucat dan bersimbah air mata muncul dari balik selimut. padahal sebentar lagi gue juga lulus SMA dan bakal jadi mahasiswa kayak dia. ramah..” ujar Yuki lirih.

Dia akan merasa menang dan hebat karena bisa mencampakkan gue. Gue nggak jadi masuk dan akhirnya malah mendengar semuanya.. Bi. Mereka sama sekali nggak menyadari kehadiran cowok itu. karena gue sayang sama elo. Bi. Buktikan sama dia bahwa dia nggak ada artinya buat elo. Gue mohon jangan!” tahan Yuki memelas. kan? Apa lo ke sini buat ngelihat penderitaan gue?” tanya Yuki sinis. dan lo bisa ngetawain gue.. Yuki.. gue nggak bermaksud nguping. Gue nggak akan tinggal diam melihat sahabat gue dicampakkan gitu aja. Sekali lagi sori. “Cukup lama.. bukan dia yang mencampakkan elo tapi elo yang mencampakkan dia. Gue nggak tau gimana caranya bangkit lagi.. “Apa lo masih cinta sama dia? Apa lo masih mau ngebelain dia?” “Bukan. “Kalau lo nggak mau dia merasa menang dan hebat. Please.” cecar Bia. Yu.. bukan. “Gue tau. gue dengar Yuki nangis. Mungkin itu yang bikin dia jadi sakit seperti ini.” “Ngapain lo nguping di rumah orang?” ketus Bia. “Udah berapa lama lo di situ?” tanya Bia ketus..Tangis Yuki bertambah kencang. Dia harus gue kasih pelajaran sampai kapok!” jawab Bia geram. jangan siksa diri lo seperti ini. Max? Omongan lo soal Sammy ternyata benar. lo mau ke mana?” tanya Cha-Cha. karena gue peduli sama elo. tapi pas gue mau ngetuk pintu.” “Tapi lo sekarang puas kan. Bia bangkit dan berjalan menuju pintu kamar Yuki dengan tangan terkepal. tapi gue nggak bisa. “Gue mau bikin perhitungan sama cowok brengsek itu. gue nggak akan punya muka lagi di depan dia. “Sori. jangan berpikiran senegatif itu tentang uge. gue udah dengar semua pembicaraan kalian. Tujuan gue ke sini mau jenguk Yuki. Lalu perlahan dia kembali ke samping Yuki.” Tiba-tiba Maxi muncul dari balik pintu kamar Yuki. “Kenapa?” tanya Bia. “Bi. Kata orang penyakit kan bisa juga disebabkan oleh gangguan psikologis kayak yang dialami Yuki sekarang ini.. Buktikan sama dia. “Nggak begitu.” .” jawab Maxi tenang.. dan Cha-Cha menatap Maxi kaget.” “Terus kenapa?” “Gue nggak mau dia tau bahwa gue terluka gara-gara dia. Dia benar-benar patah hati dan kecewa. jangan. Jangan permalukan gue di depan dia.” Bia terdiam.” “Lalu buat apa lo ke sini?” “Karena gue khawatir sama elo. Kalau dia sampai tau gue kayak gini gara-gara dia. “Jangan. Bi.” “Gue yang akan membantu lo bangkit lagi. “Yang pasti. Bia..

tapi dia membiarkan tangan Maxi membelai rambutnya. Maxi jadi kebingungan. Meskipun menurut Bia kata-kata Maxi rada gombal.. lalu dengan lembut membelai rambut Yuki. . semakin lama semakin erat. apa pun yang terjadi. Nggak perlu sebagai pacar.. gue ada di sini. Bia dan Cha-Cha tersenyum di sisi tempat tidur. Sesaat Maxi terpana lalu perlahan membalas pelukan Yuki. Mukanya berubah merah. yang lagi ngetren belakangan ini. Tapi pelan-pelan Maxi mengulurkan tangan. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis kencang. Jangan khawatir. Air matanya mengalir pelan. Tiba-tiba Yuki langsung memeluk Maxi dan menangis di pundaknya.” bisik Maxi lembut. Bia tersenyum geli melihat kepanikan Maxi dan buru-buru menahan ChaCha yang udah mau memeluk Yuki. Gue akan selalu di samping lo. sebagai tempat lo bersandar. Bia menghampiri Maxi dan mendorongnya ke arah Yuki. Dia langsung panik melihat Yuki menangis histeris begitu.Yuki terdiam. Semoga aja kehadiran Maxi bisa jadi obat mujarab untuk luka di hati Yuki. izinkan gue berada di samping lo. perasaan gue nggak berubah sedikit pun. Entah karena panik atau karena malu. gue udah lama suka sama elo. Adegan barusan persis kayak di film-film romantis Korea.” Tanpa sadar air mata Yuki mengalir lebih deras. lo tau. Dan sampai sekarang. “Yu. tapi cukup. Yuki tetap menangis. tapi bolehlah. Itu lho. “Yu. Maxi semakin salah tingkah.. Yu..

BAB ENAM KISAH Yuki dan Sammy memang berakhir hari itu. Tapi Maxi bersikeras untuk menunggu sampai Yuki benar-benar bisa melupakan Sammy dan membuka hati untuk menerima dirinya. Anak-anak kelas tiga dibuat nggak punya waktu untuk memikirkan masalah lain selain belajar. Yuki bilang dia masih butuh waktu untuk mengobati luka di hatinya. “Pada bisa nggak?” . Egi nggak pernah “mengganggunya” lagi. Bia juga kadang-kadang merasa Egi memerhatikannya dari jauh. Memang. Semua guru terusmenerus memberi latihan soal yang katanya sebagai persiapan buat menghadapi ujian akhir nanti plus berbagai macam wejangan. Akhirnya masa ujian pun berlalu. Bia yang udah nggak sibuk lagi di OSIS karena udah menyerahkan jabatannya pada adik kelas mulai berkonsentrasi pada ujian dan persiapannya memasuki masa kuliah. Tapi kisah baru antara Yuki dan Maxi baru aja dimulai. aturan. Bia. Mereka membutuhkan sesuatu yang dapat mendinginkan otak mereka yang udah panas gara-gara disuruh mikir terus selama seminggu ini. yang tahun ini bakal meninggalkan bangku SMA. Maxi baik banget ya! Sekarang ini sudah tepat satu minggu siswa-siswi SMA Constantine 4 menghadapi ujian semester. Lagi pula dia takut jika dia hanya memanfaatkan Maxi sebagai perlarian sesaat. Yuki. dan Cha-Cha duduk-duduk di pinggir lapangan sambil menikmati segelas es cendol. Ekspresi lega mulai muncul di sela-sela wajah kusut yang sejak kemarin bertebaran di mana-mana. masa-masa ujian jadi masa-masa yang paling menyiksa. “Gimana ujian Inggris tadi?” tanya Yuki mengawali percakapan. Egi paling hanya tersenyum. Bia juga kini lebih tenang. dan ocehan sebagai pelengkapnya. pernah beberapa kali cowok itu berpapasan dengannya. Siang itu. itu pun tetap tak dipedulikan oleh Bia. Yuki memang nggak langsung menjadikan Maxi sebagai pacarnya. tapi Bia tak pernah membalasnya. Apalagi bagi Bia dan teman-temannya.

itu pasti cuma perasaan lo doang.” Cha-Cha bersikeras.” jawab Cha-Cha. “Skeleton Key aja. “Setuju banget!” teriak Yuki dan Bia berbarengan. “Skeleton Key aja. “Sky High aja deh.“Please deh. Setelah berunding. gimana kalo habis ini kita ke MTA?” usul Yuki. Kepala gue udah mau meledak!” Yuki tersenyum dan kembali menikmati es cendolnya. “Feeling gue mengatakan dia sedang menyembunyikan sesuatu dari kita. “Mau nonton apa nih?” tanya Yuki sesampainya mereka di bioskop. Semakin tegang semakin bagus.” “Sky High aja. “Nanti malam gue coba telepon dia deh. Skeleton Key malah bikin gue tambah stres nanti. Tammy mana?” tanya Bia. Biar otak gue yang kusut garagara ujian bisa fresh lagi!” . “Tapi kok gue malah merasa dia lagi menghindar dari kita. “Gue yang bayarin!” cetus Yuki. Bia dan Cha-Cha tidak langsung menjawab.” “Kan gue cuma feeling. “Udah pulang duluan. Bukannya ngilangin stres.” usul Cha-Cha. ngumpul bareng kita. “Hei.” sambung Yuki. Yuki yang terpaksa mengambil uang di ATM dulu cuma bisa mengangguk pasrah. Kayaknya lebih tegang. Yu. Cha-Cha. berapa sisa uang di dompet mereka.” Bia dan Cha-Cha mengangguk bersamaan. “Dia bilang sih mau nganter nyokapnya ke salon. “Gue baru aja mau mendinginkan otak gue. “Siapa tau dia lagi ada masalah. Bia dan ChaCha dengan mantap memutuskan minta ditraktir nonton aja. “Ah. Kalau ditraktir.” “Tuh anak kayaknya udah nggak pernah lagi ya. Jadi jangan sebut-sebut kata „ujian‟ lagi di depan gue.” kata Yuki. Kita kan sahabatnya. @(^-^)@ Siang itu Mal Taman Anggrek nggak terlalu ramai. Gue belum nonton tuh. “Sepertinya Tammy agak sibuk akhir-akhir ini. “Nggak ah!” Bia nggak setuju.” sahut Cha-Cha. biar otak kita jadi fresh lagi. “Tammy nggak mungkin menghindari kita.” Bia membela diri. Mereka mengira-ngira. dan Yuki menaiki eskalator menuju bioskop yang ada di lantai atas. mereka tak perlu berpikir dua kali. “Eh iya.” celetuk Yuki.” Bia sok menganalisis. Bia.” ujar Bia.

“Biar gue yang nentuin mau nonton apa. Bia memesan satu hot crepes untuk dirinya sendiri. Yuki cuma senyam-senyum. Wajah Mama saat ini mirip dengan wajah Yuki setiap kali berbicara dengan Maxi. “Demi temen yang lagi kasmaran.” Bia dan Cha-Cha diam dan manyun. Bia yakin. “Cha. gue keluar dulu ya sebentar. Bia nggak berani memercayai apa yang dia lihat. Mama pasti punya hubungan khusus dengan . Yu? Jadi. Bia merasa sosok perempuan setengah baya yang tengah dilihatnya itu mirip sekali dengan Mama. gue nggak suka cerita-cerita roman kayak gitu. Perlahan dia berjalan mendekati restoran itu. “HAH?!” seru Bia dan Cha-Cha bersamaan. Tangan laki-laki itu menggenggam tangan Mama. “Kita nonton Dealova aja. gue ngalah deh. Cha-Cha cuma nyengir mendengar ucapan sobatnya itu. alamat tidur di bioskop deh gue. lalu berjalan dengan cueknya menuju loket untuk membeli tiket. Beberapa kali dia tertawa sambil menatap pria yang duduk di hadapannya.. “Yah.” “Hah? Lo lagi kasmaran.. Sudah lama Bia nggak pernah melihat wajah Mama seceria itu. “Iya. ia mengedarkan pandang ke sekelilingnya. Yu. tersenyum.” kata Yuki. bukan Skeleton Key. Tiba-tiba tatapannya terhenti pada sepasang pria dan wanita yang duduk di restoran yang nggak jauh dari tempatnya berdiri. “Biarin. Bukan Sky High.” putus Yuki. jadi gue yang nentuin mau nonton apa. “Ngapain?” “Mau beli crepes dulu. Sosok perempuan itu semakin jelas.” ujar Cha-Cha. Sambil menunggu pesanannya dibuat. gue mau nonton yang cinta-cintaan aja. Bia berusaha menegaskan pandangannya.” dumel Bia. Yuki masih lama ini beli tiketnya. Ya. Kan gue yang traktir.. sedangkan Mama hanya diam.. “Tapi. dan sekarang dia mengenali perempuan itu. Lo mau?” “Nggak deh!” “Ya udah. lo udah nerima Maxi nih?” goda Cha-Cha. Mama tampak begitu ceria. dan menatap laki-laki itu dengan lembut. lo tau kan. Cha-Cha yang sedang melihat-lihat poster film yang akan ditayangkan bertanya tanpa menoleh.” ujar Bia.” Bia keluar dari bioskop menuju counter crepes yang ada di depan bioskop.” tambah Bia. Mama benar-benar seperti anak ABG yang sedang dilanda asmara. itu memang Mama! Mama sedang duduk bersama seorang pria yang sama sekali nggak Bia kenal. berhubung gue lagi kasmaran.“Stop!” Yuki menghentikan perdebatan Bia dan Cha-Cha.

.” Mama bangkit berdiri dan berusaha menenangkan Bia. Ia menarik tangan Bia untuk duduk di sebelahnya. Atau jangan-jangan. Bi.” “Apa maksud Mama?” Bia nggak memedulikan kata-kata Mama.. Ada banyak hal yang harus Mama jelaskan ke kamu. Dia nggak percaya pada apa yang didengarnya.laki-laki itu. Mama Bia terlonjak kaget. “Bia.” “Siapa laki-laki ini. Bia benar-benar nggak tahan melihatnya. Tapi Bia nggak peduli... “Jangan bicara nggak sopan sama orang tua!” “Orang tua?” tanya Bia sambil tertawa.. Lakilaki bertubuh tegap dan berjambang tipis itu adalah laki-laki yang sudah . Bi. “Ap-apa maksud Mama?” Wajah Mama berubah pucat. kamu jangan salah paham. kita bicara pelan-pelan. Dia mau bicara. “Gue kasih tau ya. tapi tak jadi. Sementara laki-laki yang bersama Mama tampak kikuk.” kata Mama... Namun dengan kasar Bia menepisnya.. “Bi. Kata-kata singkat Mama tadi udah menjelaskan status laki-laki yang sekarang berdiri di sebelah Mama. Ma? Punya hubungan apa dia sama Mama sampai Mama membiarkan dia megang-megang tangan Mama?” cecar Bia. dan Mama masih bilang aku salah paham?” “Bukan begitu. Biar Mama jelasin ke kamu. Bukan seperti playboy yang lagi cari mangsa!” PLAK! Tangan Mama melayang ke pipi Bia sambil berkata tajam. “Tenang dulu. “Mama!” tegur Bia keras. atau lo akan menyesal!” “Bia!” hardik Mama.. “Siapa yang Mama sebut papaku?” “Bia. itu laki-laki yang sama dengan laki-laki yang sering mengantar Mama pulang ke rumah. lalu ia mendekati laki-laki itu. “Bia.” pinta Mama penuh permohonan.. Air mata menggenang di pelupuk matanya.” Bia menepis tangan Mama yang berusaha memegang bahunya. jangan coba-coba deketin nyokap gue. tingkah laku Mama sama laki-laki ini udah aku lihat jelas. Bia berjalan cepat memasuki restoran itu. Sayang. Seluruh mata yang ada di restoran itu memandang mereka. Dia nggak akan rela mamanya disakiti lagi seperti ketika Papa Ivan menyakiti Mama. Dia nggak perlu penjelasan Mama. Bia menggeleng.. “Salah paham? Aku salah paham? Ma. “Jangan bicara sekasar itu pada papamu!” Bia terperangah. Dia nggak suka melihat Mama bertingkah seperti itu. kamu duduk dulu.. “Dia akan Bia anggap sebagai orang tua kalau tingkah lakunya benar-benar mencerminkan orang tua.

” Bia nggak membalas sapaan Egi. “Ted. Dia nggak mau pulang ke rumah karena dia sama sekali nggak mau ketemu Mama. Tapi Egi buru-buru menahannya. Sepeda motor itu berhenti. Egi mengernyitkan kening. “Eits. Bia menyusuri trotoar dan berjalan tanpa tujuan. Dia nggak mau mendengar penjelasan apa pun.meninggalkan dirinya dan Mama. Dia merasa ada yang aneh pada gadis yang sedang berdiri di hadapannya ini. Cowok itu. laki-laki yang udah meninggalkannya selama 17 tahun tibatiba muncul di hadapannya dan duduk mesra bersama mamanya. Egi menatap Bia dan semakin yakin pasti Bia sedang ada masalah. @(^-^)@ Bagi Bia ini seperti mimpi buruk. Bia menghentikan langkah. Laki-laki itulah yang telah membuat Bia terlahir di dunia ini tanpa mengenal kasih sayang seorang ayah. Jangan halangi jalan gue. Gi. Bia benci mamanya. jangan pergi dulu. Tapi dia memilih diam dan menyingkir dari hadapan Bia. sedih. Dia marah. Bia terus berlari dan berlari. dia nggak mau mendengar permohonan maaf dari mulut laki-laki itu apalagi menerimanya sebagai papanya. Dia malah membuang muka lalu meneruskan langkahnya. Bia belum siap menghadapi semua kejadian ini. sangat lelah. Ia menoleh sejenak. bahkan benci dengan semua yang harus dia hadapi ini... Yuki.. lo baik aja duluan. serta Cha-Cha yang tengah menunggunya di bioskop. Dia berlari cepat menuruni eskalator. Bi!” sapa Egi sambil menenteng helm di tangan kanannya. kecewa. tapi kali ini sama sekali nggak ada nada kasar seperti biasanya. Bia nggak tahu harus gimana. Bia lelah. juga laki-laki brengsek itu. “Kita jodoh banget ya.” kata Egi pada Teddy yang masih duduk di atas motor. Bia berbalik dan keluar dari restoran tanpa memedulikan teriakan Mama. Cowok yang duduk di boncengan turun lalu melepaskan helm yang dipakainya. Bia nggak mau lagi menghadapi masalah-masalah yang menyesakkan dadanya ini. Bahkan langit yang sedang mendung seakan turut memahami sakit hatinya ini. Teddy membuka helmnya. Lo mau ke mana. Bi? Sendirian ya? Gue temenin ya?” “Please. Egi! “Halo. Bia kembali berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Bia nggak percaya.. Hatinya sakit dan marah. Bia ingin semua yang ada di dunia ini menghilang. di jalanan segede ini aja kita masih bisa ketemu. “Lo mau ke mana sih? Mau ngejar tuh cewek?” . “Bia!” Bia mendengar seseorang memanggil namanya. Dia nggak peduli dengan crepes pesanannya. Laki-laki itulah yang telah membuat mereka menderita selama ini.” kata Bia. Ada dua cowok berjaket hitam yang berboncengan di sepeda motor.

Cewek kayak gitu kok dikejar. Bisa dibilang. Sesaat kemudian ia kembali menatap jalan raya yang terhampar di bawah jembatan. Jantungnya berdetak kencang.” jawab Bia ketus. Mendekati ujung jembatan.” Egi terpana.” rutuk Teddy pelan. Bi?” tanya Egi. Bia memperlambat langkahnya dan mendekati pagar jembatan. gue jatuh cinta pada pandangan pertama..” jawab Egi. Hingga akhirnya Bia bertanya. Egi yang sudah sampai di atas jembatan berusaha mencari sosok Bia. “Lo nggak mau pulang. Pandangannya sampai pada seorang cewek yan gsedang berdiri memegangi pagar jembatan sambil menatap ke bawah.” Hening sejenak di antara mereka. Ternyata dugaannya salah. Bia masih tertawa lalu kembali berjalan mendekati sisi jembatan.” . “Sampai kapan lo akan menyukai gue?” “Gue nggak tau sampai kapan. tapi sebagai teman. “Apa-apaan si lo? Seberat apa pun masalah yang lo hadapi. “Udah mau hujan lho. Tapi dia sama sekali nggak beranjak dari tempatnya. Bia menatap Egi yang menggenggam pergelangan tangannya kuat-kuat. Dilepasnya tangan Bia dengan perasaan lega. Gue nggak butuh perhatian lo.. gue jatuh cinta sama seluruh diri lo. “Awalnya ya karena wajah lo yang imut itu.” “Jangan peduliin gue deh. “Lo pikir gue cewek bego? Siapa yang mau bunuh diri? Gue masih sangat menghargai hidup gue. Lalu ia tertawa. Mau nggak mau Egi kaget juga mendengar pertanyaan itu.” jawab Egi singkat sambil menyerahkan helmnya pada Teddy dan langsung berlari mengejar Bia. Bia berjalan tanpa peduli pada orang-orang di sekelilingnya yang mulai berlarilari takut kehujanan.“Itu urusan gue. Egi diam. Egi berlari mengejar Bia yang tengah menaiki jembatan penyeberangan. Kemudian ia menjawab. Langit mulai menghitam dan sesekali terdengar suara guntur bergemuruh. “Gi. Dia memang nggak benar-benar setuju dengan pilihan hati Egi.!” panggil Egi sambil berlari menghampiri Bia lalu menarik tangannya menjauhi sisi jembatan. jelas banget itu gombal. Kepalanya ditengadahkan menatap langit. Itu dosa. Teddy tahu Egi benar-benar udah jatuh cinta pada cewek galak itu. “Dasar bego. “Karena kalau gue bilang sampai selamanya. Bi!” hardik Egi. Egi mengikutinya dan berusaha menjajari langkah Bia. apa sih yang elo suka dari gue?” tanya Bia tiba-tiba. Apa Bia mau bunuh diri? “Bia. lo nggak boleh berpikiran sempit apalagi kalau sampai bunuh diri. Gemuruh guntur terdengar semakin kencang. Jaket hitam melindungi tubuhnya dari udara yang mulai dingin karena akan turun hujan. Tapi lama-kelamaan.

“Sori. “Bi. “Gue lahir tanpa pernah tau siapa ayah kandung gue.” Egi menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. “Masalahnya. Bi. “Bi.Bia diam.. Dia tahu Bia tengah dilanda masalah. Nyokap gue nggak pernah mau menceritakan asal-usul gue sebenarnya. Gue benar-benar marah sama dia.” Egi diam. “Gue nggak akan pernah mengakui dia sebagai bokap gue. Bia menarik napas. gue udah tau. Sebenarnya. Semua orang juga tau kalau gue cuma anak haram.” “Maksud lo.” “Jadi cuma itu masalahnya?” Egi bertanya kembali. Laki-laki yang udah membuat gue disebut anak haram.. Anak di luar nikah.” kata Egi pelan. Gi. “Gue kembali kehilangan seorang ayah. Gue nggak akan membiarkan dia kembali ke nyokap gue setelah tujuh bleas tahun dia meninggalkan gue dan nyokap gue tanpa kabar berita. Saat nyokap gue menikah lagi dengan Papa Ivan. Bia menggeleng..” “Laki-laki itu?” “Ya. Mungkin gue nggak bisa bantu. Matanya menerawang jauh ke depan.. tapi ternyata Papa Ivan juga meninggalkan nyokap gue dan selingkuh dengan wanita lain. “Wajar kalau lo tau karena ini bukan cerita baru. bisa meringankan beban yang mengimpit dada lo. gue pikir gue akan memiliki seorang ayah yang bisa gue banggakan. ia berkata lirih.. laki-laki yang udah ninggalin gue dan nyokap gue begitu aja. Bia tetap diam. gue cuma anak haram. bokap kandung lo?” “Dia bukan bokap gue!” bentak Bia. “Gue merasa ditipu nyokap gue. “Mmm. Gue nggak akan pernah memaafkan dia! Laki-laki itu nggak layak gue panggil Papa. Egi menatap cewek yang berdiri di sampingnya dengan sejuta tanya. Dari dulu gue nggak punya bokap dan sampai kapan pun gue nggak akan punya bokap!” Egi terpana. tapi paling nggak dengan menceritakannya pada orang lain.. “Gue marah sama nyokap gue. kalau elo lagi punya masalah. Dia sama sekali nggak menanggapi kata-kata Bia... boleh gue tau alasannya?” Lagi-lagi Bia diam. Dia nggak menyangka Bia akan seemosional ini.” kata Egi pelan. cerita aja ke gue. lo tuh beruntung banget. lalu kembali melanjutkan ceritanya. Yang gue tau. laki-laki itu sekarang muncul.” “BERUNTUNG?!” . lo tau nggak. Kalau tentang masa lalu lo itu. Gue besar tanpa pernah tau siapa ayah kandung gue... Tapi sesaat kemudian. Gue emang nggak pernah layak punya ayah. Namun kemudian ia kembali menjawab.” Bia menghentikan ceritanya.

Pertama kali gue mengetahui kenyataan itu. dia berterima kasih karena orangtua kandung gue telah melahirkan gue ke dunia ini dan menitipkan gue ke panti asuhan. “Apa lo pernah berpikir. “Tapi akta-kata nyokap angkat gue membuat gue sadar akan arti kehidupan. terima kasih karena mereka telah membuat gue bertemu dengan orangtua angkat yang luar biasa baiknya. nyokap gue nggak akan pernah bertemu dan mengadopsi gue sebagai anaknya. “Terima kasih?” “Iya. betapa beruntungnya hidup lo? Meskipun elo nggak tau siapa bokap kandung lo. beruntung. Kalau itu nggak terjadi. terima kasih karena gue dititipkan ke panti asuhan dan bukan dibuang ke jalanan. “Apa menurut lo perginya bokap kandung gue dan perceraian nyokap gue dengan Papa Ivan juga merupakan bagian dari rencana Tuhan?” . “karena lo masih dikasih kesempatan sama Tuhan untuk bertemu bokap lo dan mempersatukan lagi keluarga lo.“Iya. lo selalu dihujani kasih sayang berlimpah dari nyokap lo. Direnunginya setiap kata itu satu demi satu. Gue bertanya-tanya untuk apa orangtua kandung gue melahirkan gue kalau akhirnya mereka membuang gue ke panti asuhan. dan terima kasih karena mereka memberi gue kesempatan untuk menghirup udara hari ini. Bi. “Gue nggak tau. Mereka mengadopsi gue dari panti asuhan waktu gue masih bayi. terima kasih karena mereka membuat gue memiliki kehidupan yang layak.” Bia terkejut. Dia menoleh dan menatap Egi yang tersenyum di sebelahnya. “Orangtua gue yang sekarang ini sebenarnya bukan orangtua kandung gue. Katakata itu yang akhirnya menyadarkan gue untuk menerima semua kenyataan ini sebagai bagian dari kehidupan gue. yang dari lahir nggak pernah sekali pun mengenal orangtua gue sebenarnya. gue marah sama Tuhan. terima kasih karena mereka tetap membiarkan gue lahir ke dunia ini. Tapi kalau suatu hari nanti Tuhan ngizinin gue untuk bertemu dengan mereka. Nggak seperti gue. Gue marah sama semua orang. Maka nyokap gue nggak pernah memiliki seorang anak laki-laki yang begitu dia sayangi seperti dia menyayangi gue.” Kali ini Bia terdiam. apa lo bisa memaafkan orangtua yang udah membuang elo itu?” tanya Bia lirih.” jawab Egi.” lanjut Egi.” Bia terpana. “Gi. Waktu itu. Setiap kata yang keluar dari mulut Egi seakan menusuk hatinya. gue juga marah sama diri gue sendiri. gue hampir gila. sambil nangis nyokap gue bilang. Gue mulai belajar bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari rencana Tuhan yang pastinya indah buat gue pada waktunya.” jawab Egi.” Egi menghentikan ceritanya sesaat dan menarik napas dalam-dalam. gue akan mengucapkan terima kasih pada mereka.

Titik-titik air turun dari langit. “Bia!” pekik Cha-Cha begitu dilihatnya Bia masuk dalam keadaan basah. “Kamu benar-benar udah bikin Mama khawatir.“Ya. @(^-^)@ Bia turun dari taksi tepat di depan rumahnya. Bia terpana. Mama dan Yuki yang juga berada di ruang tamu bersama Cha-Cha tampak sama terkejutnya dengan Cha-Cha. Yuki dan Cha-Cha mengikuti di belakang mama Bia dengan wajah cemas. Jangan hokum Mama dengan cara seperti ini. Bia melirik Egi yang masih berdiri di sebelahnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada melawan rasa dingin yang kian menusuk. “Kenapa?” tanya Bia lagi. pipinya memerah dan jatunya mendadak berdebar keras. dan Egi juga yang membayar taksinya. Cuma kamu yang Mama miliki. Bia tersenyum lalu menegadahkan kepalanya. Mama nggak bisa kehilangan kamu. Egi pun tetap berdiri di sebelah Bia tanpa suara. Tapi Bia bergeming. Tanpa ia sadari.” Bia terdiam. Egi-lah yang mengantarnya naik taksi.. Dibiarkannya air hujan membasahi wajah dan membersihkan air mata yang tanpa ia sadari mengalir dari sudut matanya. Tapi Bia tetap berdiri di tempatnya sambil memandang lurus ke depan. tanpa semua itu nggak aka nada Bia dengan sifatnya yang keras tapi tegar. Ada rasa hangat yang tiba-tiba mengalir di dalam dirinya.. Bi?” tanya Mama di sela isak tangisnya. Dia juga sama sekali nggak mengira Mama akan mengkhawatirkannya seperti ini. yang dibalas dengan senyum manis cowok itu. “Karena menurut gue. Udara dingin terasa semakin menusuk. Sebelum turun. Dia nggak mengira semua akan menunggunya seperti ini. Bia membuka pagar dan masuk ke rumah tanpa suara. Rambut dan sebagian bajunya yang nggak tertutup jaket basah kuyup karena hujan.” jawab Egi mantap. Dilepasnya jaket yang melekat di tubuhnya dan disampirkannya di pundak Bia untuk melindungi gadis itu dari hujan yang turun dengan derasnya serta angin yang bertiup kencang. tak lupa Bia mengucapkan terima kasih pada Egi. nggak aka nada Bia yang jagoan tapi berhati lembut. menantang langit dengan kedua mata terpejam. Air hujan turun semakin deras. nggak aka nada Bia yang berdiri di samping jembatan bersama gue hari ini. Mama langsung memeluk Bia dengan erat dan menangis kencang. “Bia!” seru Mama yang langsung berlari menghampiri Bia dengan mata berkacakaca. “Kamu ke mana.” . Bi. dan nggak aka nada Bia yang membuat gue jatuh cinta dan tergila-gila. Hujan udah reda.

” kata Bia. “Bi. Dari mata itu terpancar kepedihan. sampai sekarang Mama belum berusaha memanggilnya dan bicara dengannya. Sepeninggal mereka. Tadi sehabis mandi dia langsung masuk kamar dan mengunci diri. Sebenarnya Bia nggak mau seperti ini. “Yu. sedangkan Mama duduk di sebelahnya. @(^-^)@ Bia berbaring di tempat tidurnya.” pamit Yuki. Bia yakin dia nggak akan tahu bagaimana caranya menghadapi kejadian ini. Bia nggak berani memandang Mama. Bia melepas jaket itu dan menggenggamnya erat. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Yuki dan Cha-Cha. Yang penting kami tau elo baik-baik aja. boleh mama bicara sama kamu?” “Sebentar. sori udah bikin kalian cemas.Bia hanya diam dan menunggu sampai tangis Mama mereda. tapi mereka mengerti permintaan Bia. Bia diam saja. tapi gengsinya membuat dia bertahan untuk nggak bicara duluan sama Mama.” Mama menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang kepada Yuki dan Cha-Cha. Tiba-tiba terdengar ketukan halus di pintu kamarnya. Lalu perlahan dilepasnya pelukan Mama. Wajah Mama muncul dari balik pintu.” jawab Bia. “Bi. “Ya udah. Kalau saja tadi Egi nggak ada. Di hatinya menjalar perasaan hangat. . Entah kenapa. mengawali pembicaraan. Bi. Yuki dan Cha-Cha nggak menjawab. tapi gue rasa sekarang lebih baik kalian pulang karena gue mau sendiri dulu. Dia baru menyadari bahwa di badannya masih menempel jaket Egi. Mata Mama yang merah menatap Bia. Dan yang membuat Bia heran. Bia membiarkan Mama masuk ke kamar. Makasih banyak. Tante. apa kamu masih marah sama Mama?” tanya Mama pelan. “Boleh aku mandi sekarang?” tanya Bia tanpa ekspresi. Sampai ketemu di sekolah. Bia menatap wajahnya di depan cermin yang terpasang di balik pintu kamar mandi. Bia duduk di atas tempat tidur dan menarik guling ke dalam pelukannya. Saat ini Bia masih ingin menyendiri dulu. “Kami permisi dulu. Cha. walaupun emosinya telah mereda. masih ada yang mengganjal dalam hatinya. Dia masih belum bicara dengan Mama. lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamar. Bia bergegas mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.

“Sejak kapan dia kembali? Untuk apa dia datang lagi setelah sekian lama dia ninggalin kita?” “Mama bertemu dia lagi tiga bulan yang lalu.” lanjut Mama. Awalnya Mama menolak. Mama janji nggak akan menemuinya lagi. Akhirnya Mama setuju. Mama mengangguk. Dia tidak merespons kata-kata Mama. Mama menghela napas panjang lalu berkata. sebenarnya. Mama menetap di sana sampai Mama melahirkan kamu. Kamu tau Mama sayang sama kamu. ayah kandungmu. Dari pertemuan itulah Mama tau alasan dia meninggalkan Mama waktu itu..” Mama berhenti bicara. Kemudian selama hampir satu bulan lebih dia menghilang.. dia tidak menemukan Mama karena Mama telah pindah ke Magelang tanpa memberitahu siapa pun. Tapi saat itu Mama sudah lulus SMA dan bekerja membantu kakekmu menjaga warung. bukan dia yang meninggalkan Mama.” “Jadi apa alasannya? Apa alasan yang udah membuat dia meninggalkan kita selama tujuh belas tahun?” “Bi. Mama marah. tapi Mama yang meninggalkan dia. Bi. “Apa dia laki-laki yang sering mengantar Mama pulang kerja?” Sekali lagi Mama mengangguk. Waktu Mama mengatakan pada papamu bahwa Mama hamil. “Jadi namanya Frans?” tanya Bia. “Tapi ternyata selama ini Mama salah. “Nenek dan kakekmu yang akhirnya mengetahui kehamilan Mama membawa Mama meninggalkan rumah dan pindah ke Magelang agar orang-orang tidak mengetahui kehamilan Mama.” Bia tetap bungkam.. Saat itu Mama berpikir dia tidak mau bertanggung jawab. “Papamu tak pernah bermaksud meninggalkan Mama.” Kali ini Bia menatap mamanya. Tapi saat kembali ke Jakarta. Tapi dia tetap diam. dia diam. Dia menghilang selama sebulan karena dia kembali ke Pekanbaru menemui orangtuanya dan bersiap-siap ke Jakarta untuk melamar Mama. Mama bahkan tidak pernah menganggap dia sebagai papamu.” “Maksud Mama?” “Mama masih seumuran kamu sewaktu Mama mengandung kamu. Dia diam karena saat itu dia kaget dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia berusaha mencari .“Mama minta maaf. seakan tidak peduli pada apa yang Mama katakan.” kata Mama. “Kalau kamu nggak mau Mama berhubungan dengan Oom Frans. Dia menghubungi Mama dan memohon untuk bertemu dengan Mama. “Mama nggak bermaksud menampar kamu. Mama membenci papamu dan tidak mau mendengar kabar apa pun tentang dia.. tapi dia terus memaksa.

Mama tau kamu sangat membenci dia. Nggak ada yang harus aku maafin dari Mama. Air mata mengalir di pipinya. Tapi bisakah kamu memberinya satu kali kesempatan untuk menjelaskan semuanya padamu?” kata Mama lembut.” “Dia. Mama mengikuti perintah Kakek dan Nenek untuk pindah ke Magelang karena Mama ingin melupakan dia dan melahirkan kamu dengan tenang.” “Meninggal?” “Ya. Kalau waktu itu Mama percaya pada ayahmu dan sabar menunggunya kembali. Bia diam tanpa tahu harus menjawab apa. bertemu denganmu. apalagi dia telah memiliki karier yang jelas. “Selama ini mama tidak mau bercerita tentang ayah kandungmu karena Mama marah dan membencinya.” Bia terkejut... mencari kita berdua. Mama sama sekali tidak tau bahwa ternyata pikiran Mama salah. Bia melepas guling di tangannya dan memeluk Mama dengan erat.” Bia memeluk guling erat-erat. papamu ingin. meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Ma. kamu tidak akan pernah disebut anak haram.” Bia mengernyitkan kening. “Tapi sayangnya.. Kalau dia menikah.Mama tapi tidak berhasil. Bi. Sampai akhirnya tiga bulan yang lalu dia tahu dari teman sekolah Mama di mana tempat Mama bekerja. “Bi. “Aku nggak tau. “Mama nggak salah. “Tapi katanya dia terus mencari Mama. Aku nggak tau apa aku bisa memaafkan dia. Aku nggak tau apa aku bisa bicara baik-baik dengannya meskipun semua ini bukan murni kesalahannya. Mama mengira dia meninggalkan Mama dan tidak mau bertanggung jawab. Kita tidak bisa menyalahkannya.” kata Mama pelan. itu berarti dia nggak mengharapkan kita lagi. Mama sama sekali nggak salah. “Sudah. Anaknya sempat koma selama dua minggu sebelum akhirnya meninggal. istri dan anaknya telah meninggal dua tahun yang lalu. apa dia belum menikah sampai sekarang?” tanya Bia ragu.” “Dia terpaksa menikahi gadis itu karena orangtuanya memaksa.” Mama menangis dan membalas pelukan Bia dengan hangat. Ini kenyataan!” bentak Mama. Dia udah ninggalin aku selama tujuh belas tahun.” “Kalau begitu apa kamu mau memaafkan Mama? Keegoisan Mama yang membuat kamu tidak pernah mengenal ayah kandungmu. Laki-laki seusianya jelas harus menikah.” “Ini bukan karangan. tapi Mama menolaknya karena Mama tau kamu tidak akan bisa menerimanya begitu saja. . “Mama lagi ngarang cerita apa sih? Rasanya yang Mama ceritakan ini kayak sinetron aja. Dia selalu meminta Mama untuk mempertemukan dia dengan kamu.” bela Mama. Mama tidak tau bahwa ternyata selama ini dia terus mencari Mama..

Apa yang harus aku lakukan? batinnya. aku akan terus membuat Mama mengalami kepedihan ini. Mata Mama menerawang. pasti waktu yang sangat berat bagi Mama. Mama berjuang seorang diri membesarkan aku. Dan Mama terus berusaha menjadi ibu yang baik buat aku. Apa aku harus memaafkan laki-laki itu dan menerimanya kembali? Apa aku bisa melakukan itu? Memanggil laki-laki yang telah meninggalkan aku selama ini sebagai Papa. Bia bersandar di dinding sambil terus menatap Mama.. Ia berjalan keluar dari kamar tidur menuju arah cahaya. Sekarang matanya terbuka lebar dan enggan menutup kembali. Mama menekan rasas akit dan kecewa karena pengkhianatan Papa Ivan.BAB TUJUH BIA terjaga dari tidurnya sejak subuh. sebenarnya lo itu sangat beruntung karena masih dikasih kesempatan sama Tuhan untuk bertemu bokap lo dan mempersatukan lagi keluarga lo. Kerut-kerut pertanda usia yang terus bertambah mulai tampak di wajah Mama. Nggak mudah baginya untuk menerima kembali seorang ayah yang sudah meninggalkannya. Kalau di rumah ini ada seorang kepala rumah tangga. Tampak lingkaran hitam di bagian bawah mata Mama. Bia menendang selimutnya dan bangkit dari tempat tidur. Sepertinya Mama nggak tidur semalaman. apalagi untuk memaafkannya. Tujuh belas tahun bukan waktu yang singkat. Dilihatnya Mama duduk di meja makan sambil memegang gelas berisi air. Kata-kata Egi kemarin terngiang kembali di telinga Bia. apa aku bisa? Tapi kalau aku nggak bisa. Ternyata lampu dapur yang menyala.. Sepertinya Mama juga sudah terbangun. Mama berusaha tegar menghadapi gunjingan para tetangga.. “Bia.. lo tau. Sambil berbaring.” . Bia nggak tahu harus berbuat apa. Tidur pun nggak mampu menghapus beban di hatinya. Lampu di luar kamar menyala. Bia menghela napas. mungkin Mama nggak perlu bekerja lagi. pikir Bia. Tujuh bleas tahun. ditatapnya langit-langit kamar. Kepalanya terasa penuh dan berat. Masalah kemarin seperti baru saja terjadi. Penderitaan Mama jauh lebih berat dibandingkan apa yang aku rasakan. Bia mengintip Mama dari balik dinding.

“Ma. Ia membuka mata dan tersenyum. “Tidur Mama nyenyak?” “Iya. Setelah itu baru aku akan mencoba memikirkan apakah aku akan memaafkannya atau nggak. “Ng. . Ajaib. Mama sudah menyuruh Oom Frans datang untuk makan malam. Jarum jam sudah menunjuk angka 6. Bia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Aku mau mendengar penjelasan langsung dari mulutnya. Dia memejamkan mata. “Sungguh.” kata Bia pelan.” kata Bia. Kalau begitu. “Iya. lalu menghitung satu sampai sepuluh. Mungkin Egi benar. ini. lalu meninggalkan Mama yang masih tersenyum lega. aku beruntung masih diberi kesempatan untuk mempersatukan lagi keluargaku.” Bia menarik kursi dan duduk di depan Mama.” “Ah. “Ajak dia makan malam di sini. Mama mengerti. Bia merasa lebih ringan. “Kamu sudah bangun.” Mama meraba bagian bawah matanya sambil tersenyum. aku mau tidur lagi. masa? Tapi Mama tidur nyenyak kok.” “Ya udah.” “Mama sendiri juga sudah bangun.” sahut Bia. Mama cuma mau ambil air minum. Bi? Ini kan masih subuh? Bukannya hari ini hari Minggu? Biasanya kalau hari Minggu kamu selalu bangun siang.” Mama mengangguk. tapi aku akan memberinya kesempatan bicara. Mama tau. Ia mondar-mandir di kamarnya kayak setrikaan. Bia membalas senyuman itu tapi dia tahu mama berbohong. Aku hanya perlu belajar untuk menerima laki-laki itu sebagai ayahku dan memberinya kesempatan untuk membayar utangnya selama ini kepada kami. @(^-^)@ Sore harinya.. Ia bertekad akan membuat Mama bahagia.Bia menatap wajah Mama. utang berbentuk kewajiban dan tanggung jawab mengurus anak istri. Bi? Kamu mau bertemu dengan papamu?” “Aku belum mengakuinya sebagai papaku... Bi. Dia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Mama terkejut..” panggil Bia pelan. Kamu sendiri gimana?” “Nggak begitu nyenyak. Bia kembali ke kamarnya dan bersandar di balik pintu sambil berharap semoga keputusannya ini benar-benar tepat.” Mama terpana. Bia gelisah.. beban yang memadati pikirannya seakan lenyap begitu saja. sebentar lagi laki-laki itu tiba. “Ma. aku mau ketemu sama laki-laki itu. Tapi paling nggak lingkaran hitam di mataku nggak sehitam di mata Mama. Lalu dia berjalan mendekati Mama yang masih duduk termangu di meja makan. Ditariknya napas dalamdalam sekali lagi.

“Gue lakukan ini semua gara-gara elo. Bia duduk di tempatnya yang biasa.” jawab Bia. buat apa aku takut begini? Bia mengacak-acak rambutnya kesal. Dia nggak tahu bagaimana caranya menenangkan diri. kata Bia pada dirinya sendiri. Suasana terasa berbeda. Waktu di restoran kemarin Bia nggak sempat memerhatikan wajahnya dengan mendetail karena keburu terbakar emosi. Gila. Meja makan yang selama ini hanya terdiri atas dua kursi. Jantungnya berdegup semakin kencang dan liar. @(^-^)@ Oom Frans sudah duduk bersama Mama di meja makan. Penampilannya rapi dan bersih. kursi itu sebenarnya kursi yang dipakai Papa Ivan sewaktu Papa Ivan masih menikah dengan Mama. Bia berjalan mendekati jaket itu dan mengambilnya. Bia nggak menjawab lagi.” “Mama tunggu ya. Waktu pertama kali berkenalan dengan Papa Ivan dulu. Ketukan halus terdengar dari luar.” Bia meletakkan kembali jaket itu ke meja belajarnya dan berjalan keluar dari kamar.” “Aku tau. aku nggak boleh keluar duluan. Bia santai saja. mungkin sekitar 165 cm. hari ini sudah ditambahkan Mama dengan kursi plastik yang diambil dari gudang. Kali ini entah kenapa Bia merasa kesulitan mengontrol debar jantung. Ditatapnya jaket hitam milik Egi yan gsudah terlipat rapi di meja belajarnya. Rambutnya masih banyak yang hitam. Gi.Bia benar-benar cemas. Bia ingat. Aku nggak boleh menunjukkan bahwa aku menunggu kedatangannya. Aku harus menunggu Mama memanggilku keluar. Bia menajamkan pendengarannya. Oom Frans sudah datang. ada apa pada diriku? rutuk Bia. Nggak. Alisnya tebal. Dia semakin frustrasi. Ada . Atmosfer tegang memenuhi ruangan.” sahut Mama lembut. Mama sudah memasak makanan istimewa untuk malam ini. Baru kali ini ia merasa secemas ini. Bi. keringat.” kata Bia sambil menatap jaket itu lekat-lekat. Telapak tangan Bia mulai basah karena keringat. Bia bangkit lalu berjalan menuju pintu kamarnya. Bia menatap laki-laki yang duduk di hadapannya. Lalu ada suara pintu yang dibuka. “Bi. Tapi sesaat kemudian dia berhenti. Laki-laki itu pasti sudah datang. Sedangkan Bia sejak pagi sampai sekarang masih mengurung diri di kamar. “Sebentar lagi aku keluar. Hidungnya nggak mancung tapi juga nggak terlalu pesek. Aku mau ketemu sama papaku sendiri. dan rasa takut yang menyesakkan dadanya. “Kalau sampai hasilnya malah buruk. Terdengar suara deru mobil di depan rumah. Oom Frans bertubuh tegap. Lebih tinggi sedikit daripada Mama. elo orang pertama yang bakal gue damprat.

atau kabarku waktu aku masuk rumah sakit gara-gara usus buntu?” “Bia!” tegur Mama. “Bia. “Kabarku?” Bia malah balik bertanya. “Sejak kecil aku harus menahan rasa sedih dan marah setiap kali mendengar orang-orang menghinaku. Bia?” tanya laki-laki itu. “Apa kabar. “Oom ke mana aja waktu Mama melahirkanku. Oom . Bia. waktu aku menangis karena jatuh dari sepeda. Aku hanya bisa menangis. Bagaimanapun aku memang sudah bersalah padanya. Bia diam. “Jelaskan padaku alasan Oom meninggalkan kami. “Jaga ucapanmu!” Oom Frans tersenyum. ini Papa.” “Oom nggak pernah berniat meninggalkan kalian. “Maaf. waktu Mama jatuh sakit karena terlalu lelah bekerja?!” Bia meluapkan emosinya. tapi nggak bisa melakukan apa pun. biarkan dia mengeluarkan semua kemarahannya padaku. “Nggak apa-apa. “Apa Oom tau betapa sakitnya diejek sebagai anak haram. Senyum di bibirnya lenyap. “Maaf?” tanya Bia. Mama menundukkan kepala. Dan sekarang Oom hanya bisa mengatakan maaf?” “Lalu apa yang harus Oom lakukan untuk menebus semua kesalahan Oom?” tanya Oom Frans pelan.” jawab Bia ketus. “Kabarku waktu umur berapa yang mau Oom tanyakan? Waktu aku masih bayi. Oom Frans.kumis tipis di atas bibirnya. apa Oom tau betapa sedihnya melihat Mama menanggung semua beban rumah tangga. Kalau teman-temanku dengan bangganya menceritakan pekerjaan papanya. Kelihatan banget dia berusaha ramah pada Bia. Wajahnya kelihatan ramah dan lembut. tapi juga pada Mama!” bentak Bia. waktu aku pertama kali belajar berjalan.” kata Oom Frans lirih. Matanya menatap laki-laki di depannya itu.” Mama mengawali pembicaraan dengan memperkenalkan laki-laki yang ada di hadapan Bia. dan Bia tahu Mama sedang menangis. eh. apa Oom tau betapa merananya tidak memiliki ayah?” Oom Frans terdiam. jujur saja.. Nggak kayak bapaknya Cha-Cha yang tampangnya rada sangar. Ma. Seitap kali orang menanyakan di mana papaku. aku cuma bisa diam. Sewaktu Oom mengetahui kehamilan mamamu. aku cuma bisa menghindar supaya mereka nggak menanyakannya padaku. Aku harus menahan diri saat aku mendengar mereka menggunjingkan Mama. “Apa kata maaf bisa menghilangan semua penderitaan yang aku dan Mama alami selama ini? Apa satu kata maaf bisa membuat masa kecilku yang menyedihkan menjadi lebih baik?” Oom Frans nggak menjawab.. “Aku udah tau namanya kok.” “Bukan hanya padaku. waktu aku pertama kali masuk SD. Oom mencintai mamamu dengan tulus.

sempat merasa ragu. Ma. ia melontarkan pertanyaan lagi pada Oom Frans.” jawab Oom Frans dengan tegas dan tanpa ragu. Mungkin itu yang membuat mamamu salah paham dan mengira Oom tidak mau bertanggung jawab.” “Aku kan cucu mereka. Apa Bia juga harus seperti Mama? “Makanannya udah dingin. dia juga telah menyesali semua kesalahannya. tanpa pamit pada mamamu. dengan apa Oom akan membayar semua penderitaan aku dan Mama selama ini?” “Oom akan membayar dengan seluruh sisa hidup Oom. Dia telah kehilangan anak dan istrinya. Bia terdiam lagi. Oom tidak mungkin terus sendirian karena orangtua Oom sangat menginginkan seorang cucu.. mama Bia menyela. Maya.” .” “Bia. waktu itu Oom sama sekali tidak mengetahui keberadaan kalian dan Oom terpaksa menuruti keinginan mereka. Aku nggak mau tetangga menyebarkan gosip nggak enak tentang Mama. “Saat Oom kembali ke Jakarta.” lanjut Oom Frans. Bia terdiam sejenak. Oom belum punya pekerjaan yang jelas.” ujar Oom Frans pada mama Bia. “Dan setelah itu Oom menyerah dan berhenti mencari?” tanya Bia ketus.. Tapi akhirnya Oom memutuskan untuk kembali ke Pekanbaru dan bicara dengan orangtua Oom.!” “Bi. bagaimana perasaan Mama? Bia jelas tahu. nikahi Mama dulu secara resmi.” jawab Oom Frans. “Bia. Kebimbangan menyelimuti dirinya. Oom terus mencari kalian sampai akhirnya Oom mendapat kabar tentang pabrik tempat mamamu bekerja. tapi tidak dapat menemukan kalian. Oom sudah berusaha mencari. Kami masih terlalu muda. “Sudah. “Terus. Kalau memang Oom mau tinggal di rumah ini. Aku terima. “Lebih baik kita makan karena aku udah lapar. mamamu sudah pergi. Ditatapnya laki-laki di depannya. Mama telah memaafkan Oom Frans dan mau menerimanya kembali. Oom takut keluarga Oom tidak bisa menerima semua ini.. Apa kamu tidak bisa memaafkannya?” “Biar saja. Anggap saja itu ganjaran dari Tuhan. “Tidak..” “Lalu kenapa Oom menikah dengan orang lain?” “Oom terpaksa. jangan terus menyudutkan Oom Frans.. Pantaskah laki-laki ini menerima maaf darinya? Tapi kalau dia nggak memaafkannya.” kata Bia akhirnya. Dan sebaiknya Oom jangan terlalu lama di rumah ini.” Mama berkata memelas. Oom bingung dengan apa akan menghidupi kalian kelak. biarkan Bia menumpahkan kemarahannya.” Melihat Bia semakin emosi dan Oom Frans semakin terdesak.” “Dan kalian hidup bahagia sementara aku dan Mama berjuang menahan derita. Tapi tak lama kemudian.

Begitu Bia muncul dari ujung koridor. Bia mulai mengerti kenapa sobat-sobatnya ini menunggunya di depan koridor. Dipercepatnya langkah kakinya mengikuti Cha-Cha. “Bia. Cha-Cha membantu Bia melepas tasnya lalu menekan pundak Bia agar segera duduk.. “Cerita dong.” “HAH?!” seru Cha-Cha kaget tanpa bisa menahan diri. Bagi mama Bia. Gue udah nyusahin kalian berdua. Yuki dan Cha-Cha langsung berlari ke arahnya... gue mau bilang sori nih. ayo buruan jalannya!” seru Cha-Cha langsung menarik tangan Bia menuju kelas.Oom Frans nggak menjawab. Oom Frans hanya diam dan memandang Bia sambil menyunggingkan senyum kelegaan. . Cha-Cha membekap mulutnya dengan kedua telapak tangn. tapi Bia bersedia memberinya kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan yang telah dia lakukan. oh ya. Sesampainya di kelas. tapi paling nggak. itu sudah merupakan hal yang sangat membahagiakannya.. Yuki kembali memelototi Cha-Cha.. Sesaat kemudian dia pun mengerti. “Mestinya kami yang nanya. Tapi dia menurut juga. Masalah apa sih?” tanya Yuki. Mendengar pertanyaan Cha-Cha. bokap kandung gue. Mereka udah pengin banget mendengarkan cerita Bia tentang kejadian Sabtu kemarin. “Laki-laki itu ternyata. Bi!” “Mmm. Mama juga tersenyum.. Bia heran banget melihat tingkah dua sobatnya. Asli. soal kemarin.” “Nah itu yang mau kami tanyain.” “So what?” tanya Cha-Cha heran.” kata Bia.. “Kemarin. Ia berusaha mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Bia. Air mata haru mengalir dari sudut matanya. “Ada apa sih?” tanya Bia. ada apa sih kemarin?” tanya Cha-Cha. Meskipun Bia belum bersedia mengakui Oom Frans sebagai ayahnya. “Apaan sih?” tanya Bia heran. @(^-^)@ Esok harinya. Bia mau menerima Oom Frans sebagai bagian dari keluarga mereka. Cha-Cha dan Yuki menunggu Bia di depan kelas.. Bia memang belum benar-benar memaafkannya. Yuki berjalan di sebelahnya dengan tersenyum. ng. Yuki langsung memelototi Cha-Cha dan menyuruhnya diam. Itu sudah lebih dari cukup.. “Tapi sekarang masalah gue udah selesai kok.. kemarin gue ngeliat nyokap gue makan berdua sama laki-laki yang nggak gue kenal.

Gue cuma nggak mau menyia-nyiakan keberuntungan gue itu. Gue rasa ini semua bagian dari rencana Tuhan. “Gue tau nyokap gue udah memaafkan dan bersedia menerima Oom Frans kembali.. nyokap gue nggak perlu bekerja keras untuk membiayai hidup gue. dan nanti seiring berjalannya waktu. Dia membuat gue nggak punya ayah dari kecil agar gue tumbuh jadi perempuan yang tegar dan kuat. gue belum bisa memaafkan dia. “Kata-kata gue yang mana?” . Memangnya kenapa?” “Kata-kata lo tadi itu loh! Ajaib. Dia bisa istirahat dan menikmati hidup. Nyokap takut gue nggak mau menerima kehadiran laki-laki itu. namanya Oom Frans. dan selama ini nyokap gue menutupiya dari gue.” jawab Bia. laki-laki itu mungkin bisa membahagiakan nyokap gue.” “Jadi... Gue pengin ngeliat nyokap gue bahagia.” Yuki dan Cha-Cha menatap Bia heran. Bi?” tanya Cha-Cha. “Jujur aja. karena itu juga lo ninggalin kami beruda di mal?” Bia kembali mengangguk sambil menjawab. “Lo makan apa semalem.” “Trus sekarang gimana?” tanya Yuki lagi. Dan Dia pasti punya rencana tersendiri di balik semua kejadian ini. “Ada yang bilang ke gue bahwa gue tuh sebenarnya beruntung karena dikasih kesempatan untuk mempersatukan keluarga gue kembali. Maaf ya. Dia cerita.” “Elo melakukan semua ini untuk nyokap lo. Mungkin aja Dia pengin gue belajar memaafkan. tiba-tiba muncul di depan gue dan bermesraan dengan nyokap gue. gue bisa memaafkan Oom Frans dan menerimanya dengan tulus. “Jadi. “Makan apa?” Bia malah balik bertanya dengan heran. Bia mengangguk. Dan sekarang. Dia mengembalikan sosok ayah itu lagi ke gue. “Gue nggak makan apaapa. Dia minta maaf sama gue meskipun nggak semudah itu bagi gue untuk bisa memaafkannya..” “Jadi kemarin itu lo ribut sama nyokap lo?” tanya Yuki pelan. Laki-laki itu.” jawab Cha-Cha. Bi?” tanya Cha-Cha. Who knows. saat gue dirasaNya udah cukup kuat dan tegar. “Tapi gue tau. “Bia mengangguk. dan bikin elo nggak seperti Bia yang biasanya.“Nyokap gue udah cukup lama berhubungan lagi dengan dia. Saat itu gue cuma pengin sendiri dulu sehingga gue ninggalin kalian begitu aja. setelah tujuh belas tahun ninggalin gue dan Nyokap. sebenarnya dia nggak bermaksud ninggalin gue dan nyokap gue. Gue benar-benar marah dan nggak tau harus bagaimana. elo nggak mau menerima dia?” tanya Yuki. Dan gue juga udah bicara dengan laki-laki itu. Tapi kesalahpahaman yang terjadi antara dia dan nyokap gue membuat semuanya jadi begini. Kalau mereka bersatu lagi. “Gue benar-benar marah dan kaget.

Nihil. Mau nanya tapi nggak enak. elo sangat membenci bokap kandung lo. “Cari Egi. Nggak ada Egi di ruang kelas itu. Sesaat bayangan Egi melintas di matanya. ya? Bia melihat ke sekelilingnya. apalagi kalau dia menanyakan Egi.. Jelas Bia kesal diketusin Teddy.” jawab cowok itu ketus. Apa yang bisa bikin elo berubah seperti ini dalam semalam?” Wajah Bia bersemu merah. iya. “Lo ada masalah apa sih sama gue. ya?” tanya seorang cowok tiba-tiba. Dia pengin ngucapin terima kasih sekaligus mengembalikan jaket Egi. Kalau ketahuan Bia yang nyari Egi. Anak-anak kan udah tahu bahwa Egi ngejar-ngejar Bia. elo malah menerima kehadirannya dan berkata seakan lo mau belajar untuk memaafkannya. temen dekatnya Egi. Lo tau di mana dia?” “Dia nggak masuk hari ini. Bia celingak-celinguk mencari sosok Egi.. Sekarang aja udah banyak yang merhatiin dia. “Selama ini yang kami tau. mau mencari Egi. Sesampainya di depan pintu kelas Egi. memang nggak semua laki-laki sejahat yang gue kira. Lo pantang bergantung pada orang lain apalagi pada makhluk adam.” lagi-lagi Teddy menjawabnya dengan ketus.” @(^-^)@ Bia melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah menuju area kelas satu. “Sakit apa?” “Mana gue tau. Bia jadi bingung sendiri. Ini benar-benar ajaib. atau di lapangan? Atau di WC. Atau jangan-jangan Egi lagi ke kantin? Mmm. Mana sebentar lagi bel masuk berbunyi. Dan gue tau. “Sakit. Tujuannya udah jelas. Dia menundukkan kepalanya. “Gue Teddy.. Setelah berhasil mencari-cari alasan untuk pisah dari Yuki dan Cha-Cha.. sampai nada suara lo jutek begitu?” . Bia kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar koridor kelas satu. Bi. Lagian nih cowok sok galak gitu. Bia bergegas menuju kelas 1 D. siapa tahu Egi lagi ngobrol sama teman-temannya di luar kelas. Loe merasa yakin elo pasti bisa membahagiakan nyokap lo tanpa bantuan dan kehadiran orang lain. Jantungnya berdebar cepat. bisa-bisa muncul gosip baru.. membuat Bia terlonjak kaget..” jawab Yuki. elo bukan orang yang bijak menilai cinta dan kehidupan. Tapi lagi-lagi hasilnya nihil. “Eh. bikin kesal aja.” “Siapa sih lo?” tanya Bia keki.“Kata-kata lo tentang rencana Tuhan. Prinsip hidup lo tuh „lo nggak tubuh orang lain‟.” “Sakit?” tanya Bia lagi. “Mungkin. Lalu ia berkata lirih. Tapi sekarang.

Cha.” Dering bel menahan gerakan Bia yang udah siap-siap melayangkan tinjunya ke muka Teddy. @(^-^)@ Hari ini Egi nggak masuk lagi. “Eh. Bia membalikkan badannya.. Dia nggak mau Cha-Cha atau siapa pun juga tahu bahwa ia ingin mencari alamat rumah Egi.. Ada perasaan nggak enak dalam dirinya. itu. dia malah ngejar-ngejar cewek kayak elo. Teddy malah menanggapi Bia dengan tawa. jadi dia pasti tahu di mana rumah Egi. Bia berjalan menuju kelas Teddy.“Nggak ada.... “Ngapain lo ketawa?” “Gue pantang ribut sama cewek.. “Bia!” panggil seseorang dari arah belakangnya. Gue udah kebelet banget. “Sana balik ke kelas lo. apa maksud lo?!” Bia mulai emosi. “Kok ke arah sini?” tanya Cha-Cha heran. mau ke WC.” “Brengsek! Lo pikir lo siapa bisa ngatain gue kayak gitu!” maki Bia. Banyak cewek yang suka sama dia. denger ya.. tapi dia tolak. elo.” ejek Teddy lalu berjalan masuk ke kelasnya. apa maksud lo?” “Yah..” “Gue temenin. menurunkan emosinya. Bia hanya bisa menggeram marah lalu berjalan kembali menuju kelasnya sendiri. Bia udah pengin menjambak rambut cowok itu... Akhirnya dia putuskan untuk menahan gengsinya. tapi nggak jadi begitu dilihatnya Pak Handi.” “Cewek kayak gue. Bia nggak sengaja mendengar hal itu dari cewekcewek kelas satu yang lagi pada ngerumpi di WC. Apa iya Egi sakit? Jangan-jangan Egi sakit karena kehujanan sewaktu menemaninya di jembatan hari itu. “Egi itu bego. dan menemui Teddy untuk menanyakan alamat rumah Egi. Jatuh cinta kok sama cewek kayak elo. kakak kelasku yang manis. Ada apa?” “Lo mau ke mana?” tanya Cha-Cha.. Eh. Perasaan Bia makin nggak enak. ya?” tawar Cha-Cha. Bagaimanapun Teddy kan teman dekat Egi. Udara dingin dan air hujan pasti membuatnya demam dan masuk angin. sedang berjalan ke arahnya.” “Heh.” “WC di sana penuh.. cewek yang kasar dan sok jual mahal. “Mmm. jadi gue mau ke WC anak kelas satu aja. Siapa tau sepi.” Bia berbohong. “WC kan di ujung sana. Gue cuma kasian sama Egi.” “Heh. . guru kimia kelas satu.

“Ted. “Minta tolong? Sama gue?” “Iya. gue mau minta tolong sama elo.” “Buat apa?” “Itu urusan gue..” pinta Bia. Lo bisa kasih tau alamat Egi sekarang?” . Nggak apa-apa kok.” “Tammy?” “Tammy juga nggak bisa. Bentar lagi udah bel. ya udahlah. Akhirnya dia berhasil nundukin hati cewek jutek ini. Hari ini gue benar-benar nggak bisa..” “Nggak ada untungnya juga gue ngasih tau alamat Egi ke elo. ya udah. tolong kasih tau alamat rumah Egi. “Untuk sekali ini aja.” ujar Bia to the point.” kata Bia.“Nggak.” Bia terdiam. kayaknya kalau hari ini gue juga nggak bisa. Cha. Bia mempercepat langkahnya mendekati Teddy. nggak usah!” Bia buru-buru menjawab. Bia dongkol banget mendengarnya. Bia sampai kesal melihatnya. “Lo coba ajak Yuki aja. Gue ke kelas duluan ya.” Bia mengulangi kata-katanya.” Teddy menatap Bia sejenak lalu tertawa terbahak-bahak. “Ted. Itu aja. Teddy menoleh ke arah Bia.. Kan nggak enak kalau ditungguin.” Cha-Cha tersenyum geli.... dia ada janji sama Maxi. walaupun sedikit kecewa.. Cha. “Sana cepat ke WC..” “Yuki nggak bisa. “Mau apa lagi lo?” “Gue mau minta tolong. “Ooo.” Bia mengangguk lalu kembali berjalan menuju kelas Teddy. gue mau minta alamat rumah Egi.” kata Cha-Cha. “Terserah lo mau ngomong apa. Gue mau cari buku Da Vinci Code. sori banget. tapi dia berusaha menahan diri. Bia benar-benar heran kenapa Egi mau berteman sama orang model gini.” “Mmm.. Eh. Pengin banget rasanya dia melayangkan bogem mentah ke muka Teddy. Bi?” “Ke mana?” “Ke toko buku sebentar. “Jago juga si Egi. Tapi kali ini aja gue mohon. gue nggak peduli sama penilaian lo tentang gue.” “Tapi. tapi pulang sekolah lo bisa nemenin gue nggak. Gue cuma minta tolong lo catatin alamat rumah Egi buat gue.” “Lo pikir gue bakal mau ngasih tau?” “Nggak ada untungnya lo ngerahasiain alamat Egi dari gue. “Gue pengin buang air besar. Nih cowok asli keras kepala banget.. Gue ada urusan penting. Dari jauh Bia meliaht cowok itu berdiri di depan ruang kelasnya. Katanya dia mau jenguk tantenya yang sakit.” ujar Teddy di sela tawanya.” “Yah.

Eh tau-tau besoknya badan Den Egi panas gitu. Bia mengikuti langkah Surti masuk ke rumah yang bagian dalamnya tampak jauh lebih megah. “Kalau boleh tau. Lagi pula dia nggak berniat berlama-lama di rumah Egi. sambil menunjuk warung yang berada nggak jauh dari rumah Egi. “Cari siapa ya. klasik. Bia mengeluarkan uang dan memberikannya pada si sopir taksi.“Taman Asri Indah Blok HA nomor 28. “Udah dua hari. lalu tanpa mengucapkan terima kasih Bia berlalu dari hadapan Teddy. Non. Bang.. Non?” tanya sopir taksi ramah.” “Eh. Tapi Den Egi diam aja. Surti tersenyum senang menyambut uluran tangan Bia. Rumah Egi ini didominasi warna cokelat bata yang memberi kesan natural. Mbak siapa?” “Oh. Dia kan belum tahu daerah sini. “Mau ditungguin nggak. “Boleh deh. Dasar cowok brengsek! @(^-^)@ Taksi berhenti tepat di depan sebuah rumah yang lumayan besar. Bia mengangguk lalu turun dari taksi..” jawab Teddy akhirnya. saya Bia. Bia mencatat alamat itu baik-baik di otaknya. “Demam.. masih nggak enak badan.” . Saya tunggu di warung situ ya.” kata si sopir taksi senang. Mbak?” sapa perempuan itu. Dia langsung buru-buru membukakan pintu dan mempersilakan Bia masuk.. Teman sekolah Egi. Bia berpikir sejenak. “Egi sakit apa sih. Dua kali Bia menekan bel yang ada di sisi kiri pagar. Boleh juga tuh. Dia benar-benar berharap mulut Teddy robek gara-gara kebanyakan ketawa. Bia masuk melewati pagar sambil bertanya. cari Den Egi.” jawab perempuan itu sopan. nggak mau jawab. saya mah cuma pembantu di sini. Tuan sama Nyonya sampai marah-marah. Ada kok. sampai akhirnya seorang perempuan keluar dari dalam rumah dan mendekatinya. “Ooh. “Apa benar ini rumah Egi?” tanya Bia sopan. Nama saya Surti.” jawab Surti. Den Egi-nya lagi di kamar. Waktu itu Den Egi pulang malammalam dalam keadaan basah kuyup. lalu kembali tertawa. takutnya nanti malah susah dapat kendaraan buat pulang.” “Oke deh. Mbak?” tanya Bia. tapi simpel. Kini ia berdiri di depan pagar tinggi yang membentengi rumah bergaya Mediterania itu.” ujar Bia sok ramah sambil mengulurkan tangan.

nama saya Bia.. ada Tammy yang duduk di samping Egi. Saya permisi dulu ya. Bia membuka pintu kaca yang mengarah ke taman.” Temannya? Jangan-jangan Teddy lagi! Yieks! Mampus gue kalau sampai ketemu Teddy di sini. Bia jadi merasa bersalah. Panasnya udah turun. Siapa pun yang melihat mereka saat ini pasti merasa mereka adalah sepasang kekasih. “Nyonya.” Bia menoleh ke arah Surti. Mereka berdua tertawa renyah. Di taman itu. “Oh. Rambut panjangnya yang ikal dan cokelat dibiarkan tergerai. Mugkin memang benar bahwa Egi anak angkat.. Silakan aja langsung ke belakang. beda banget sama mamanya. Saat itulah Bia berhenti.” “Oh. Diam-diam ia mengamati wajah perempuan setengah baya yang berdiri di hadapannya itu. di dekat kolam ikan. Bia hanya tersenyum. sambil menyuapi makanan ke mulut cowok itu.. Wajahnya sama sekali nggak mirip sama wajah Egi yang lebih berkesan oriental. Setelah melewati ruang makan.” Bia mengucapkan salam dengan sopan. Tante. Tante pergi dulu ya. Egi sakit gara-gara menemaninya hujan-hujanan. “Iya. “Siapa yang datang. Kulitnya yang agak gelap tapi bersih dan mulus dibalut blazer hitam.. Tante. Kulit Egi putih dan matanya agak sipit. “Kalau begitu kamu langsung ke taman belakang aja. ... Bia ngedumel dalam hati. Bia mau jenguk Egi ya? Eginya masih nggak enak badan.. tapi sama Nyonya belum boleh sekolah dulu. Bia mendesah lega.. Kalau dia sampai macam-macam lagi.” ujar Surti.” “Iya.Jadi benar dugaan Bia. Sur?” seseorang bertanya dari arah belakang Bia. Bia mengangguk lalu buru-buru berjalan menuju taman belakang. makanya Tante belum mengizinkannya masuk sekolah. bisa benar-benar ribut gue sama dia. Pemandangan yang dilihatnya membuat darahnya bergolak hebat. Nyonya? Berarti itu mamanya Egi! “Siang. “ini temannya Den Egi. Tante. “Sekarang keadaannya gimana?” “Udah lebih baik sih. Sesosok perempuan setengah baya berjalan menuruni anak tangga.” pamit Bia sebelum berjalan menuju arah yang ditunjukkan mama Egi.” kata mama Egi ramah. Kebetulan di sana juga lagi ada temannya Egi. temannya Egi ya?” tanya mama Egi sambil menuruni sisa anak tangga dan berjalan mendekati Bia. Mungkin kamu kenal. “Nah.. Bia dan Surti sama-sama membalikkan badan.” Syukurlah.

Gi! Kata-kata lo di jembatan itu semuanya cuma omong kosong! Lo sama aja kayak laki-laki brengsek lainnya! Lo benar-benar busuk! Gue benci sama elo!” maki Bia kesal.. Bia nggak bisa menahan diri lebih lama lagi. Apa kalian ada yang peduli sama gue? Belakangan ini.” Egi dan Tammy terkejut.. Bi. Kalau sekarang gue dekat sama Egi.. “Lo sama brengseknya.. Bi? Apa salah gue? Apa urusan lo sama hubungan gue dan Egi? Bukannya lo sendiri pernah bilang kalo lo nggak suka sama Egi? Jadi kalaupun gue mau pedekate sama Egi.. gimana keadaan di rumah gue. ini nggak seperti yang elo sangka. Gue sama sekali nggak bermaksud. Selama ini gue percaya sama alasan-alasan yang lo ucapkan. gimana perasaan gue.Egi yang memakai sweter abu-abu bahkan sesekali mengambil sendok dari tangan Tammy dan berpura-pura hendak menyuapi Tammy yang buru-buru menghindar sambil tertawa. “Sori. dan gue punya alasan untuk itu. apa . Tam.. Biar gue jelasin. ini hak gue dan lo nggak berhak marah-marah atau ngelarang gue dong!” Tammy balik membentak Bia. otaknya terasa terbakar. Bia dan Egi... Lagian. Jantung Bia berdetak kencang. Darahnya mendidih dan emosinya meluap. Gi! Lo berdua pembohong. setiap kalian ngobrol. Tapi setelah melihat ini semua. marah. yang diomongin cuma tentang Bia dan Egi. “Lo pikir gue percaya? Lo benar-benar brengsek. gue nggak akan pernah percaya sama elo lagi! Nggak akan pernah!” “Bi. Tam? Jadi ini yang bikin elo nggak punya waktu lagi buat ngumpul sama teman-teman lo sendiri? Sejak kapan Egi jadi tante lo yang perlu lo jenguk hari ini karena sakit? Sejak kapan lo jadi pembohong?” cecar Bia. “Bia.. dan sakit hati. Mereka baru menyadari kehadiran Bia di taman itu. “Bia. penipu!” “Lo kenapa sih.. “Jadi ini ceritanya?” tanya Bia ketus..” Egi yang berusaha berdiri menenangkan Bia. Kalian nggak pernah sekali pun nanyain tentang gue... Kalian nggak pernah peduli sama gue lagi. jangan emosi dulu. Tammy bangkit dari duduknya dan buru-buru mendekati Bia. Gue sama Tammy nggak ada hubungan apa-apa. saat ini Bia benar-benar kecewa. “Jadi ini yang selama ini lo sembunyiin dari gue.. Bibirnya yang kering dan wajahnya yang pucat terlihat jelas. apa peduli kalian! Kalian cuma ngurusin masalah dan perasaan kalian. “Gue benar-benar nggak nyangka lo bisa sejahat ini.” “Nggak bermaksud bohongin gue? Begitu?” bentak Bia. “Lo bohong dan lo masih nanya apa kesalahan lo?” “Gue memang selalu ngarang alasan bohong sama kalian.” Egi berusaha membela diri. Tapi sayang. sehingga dia nggak peduli kalau lawan bicaranya itu masih sakit.

“Jadi itu pandangan lo tentang gue selama ini. Dia sama sekali nggak nyangka Egi bakal bersikap seketus itu padanya. gue nggak akan maafin eo.gue salah? Apa mentang-mentang Egi suka sama elo jadi gue nggak berhak dekat sama Egi?!” seru Tammy. Tammy menatap wajah Egi yang pucat. Bia tak bicara. Dia nggak bisa menyembunyikan rasa cemas di wajahnya. “Kalo lo nggak cerita. “Tam. Tammy yang melihatnya buru-buru menangkap tubuh Egi dan membantunya berjalan menuju kursi. mendadak penglihatannya berkunang-kunang.” Bia lalu berbalik dan berlari meninggalkan taman itu. . sekali lagi lo bicara macam-macam tentang Bia. Bi! Lo selalu mau menang sendiri! Lo pikir semua orang bisa nerima sifat lo itu.” ancam Egi. Tammy terdiam. mana ada yang bisa ngerti perasaan lo!” balas Bia. Tammy terpana. lo tuh cuma cewek penakut yang sok jago!” “Cukup!” bentak Egi tiba-tiba. “Oke! Semua cukup sampai di sini. Mulai hari ini anggap aja kita nggak pernah saling mengenal atau bersahabat. Egi berusaha mengejar. Tam?” Bia berkata pelan. tapi baru setengah jalan. Egi berpegangan erat pada pintu kaca yang ada di sampingnya untuk menahan tubuhnya. Lo salah! Semua orang cuma kasihan sama masa lalu lo! Bagi mereka. “Lo memang egois. dan tanpa dia sadari tangannya bergerak membelai rambut Egi dengan penuh kasih sayang.

. Mereka berharap dengan begitu masalah di antara Bia dan Tammy bisa selesai.” jawab Cha-Cha jujur. tau! Kalau memang ada masalah. tapi dia yang bermasalah. Yuki.” “Siapa yang bilang gitu?” tanya Cha-Cha. “Kalau ada Tammy. “Iya. Cha-Cha nggak mau bohong lagi sama Bia. tapi nyatanya keduanya malah marah besar dan pergi begitu aja tanpa bicara. “Kalian juga nggak percaya. gue nggak ikutan. Waktu itu dia dan Yuki udah pernah bohong dan berusaha mempertemukan Bia dengan Tammy. Yuki dan Cha-Cha yang nggak mengerti apa yang telah terjadi hanya berusaha menempatkan diri sebagai sahabat yang baik buat Bia maupun Tammy yang enggan bertegur sapa.” “Bi. lo kenapa sih?” tanya Yuki kesal. “Lo pasti salah dengar. “Gue udah bilang sama kalian. gue nggak mau bicara lagi sama dia. “Kita udah temenan selama tiga tahun. dan Cha-Cha duduk di kelas. “Lo tanyain ke dia apa selama tiga tahun ini dia berteman dengan gue karena kasihan dengan masa lalu gue. . Sampai hari ini Bia selalu menghindar dari Tammy dan Egi. “Kalian berdua kayak anak kecil. “Jangan sebut-sebut nama bajingan itu di depan gue!” bentak Bia. Apa lo mau kita terus-terusan seperti ini? Apa persahabatan kita berempat sama sekali nggak ada artinya buat elo?” “Lo jangan bicara seperti ini ke gue. kan?” “Bi. dia sih udah bilang oke. besok mau ikut belajar bersama di rumah gue nggak?” tanya Cha-Cha. tapi ke Tammy.. Yuki dan Cha-Cha terdiam. Bia. menghabiskan sisa jam istirahat mereka.” kata Bia. ya dibicarain dong. apa masalah lo dengan Tammy ada hubungannya dengan Egi?” tanya Yuki. jangan bersikap seperti ini!” “Gue nggak ada masalah.” jawab Bia.” Bia tertawa.BAB DELAPAN DUA minggu telah berlalu. Sebentar lagi kita bakal lulus SMA dan pisah. tapi apa masalahnya?” tanya Yuki lagi.” sahut Bia. Ini pasti cuma salah paham. “Mmm. “Bi. “Tammy ikut?” tanya Bia to the point.

” Bia bangkit dari duduknya dan keluar kelas menyusuri koridor menuju WC. Mama sudah menunggu dengan segelas kopi panas. Bia melempar selimut yang menutup tubuhnya. tunggu!” Egi menahan tangan Bia.” mohon Egi. Gue nggak punya perasaan khusus sama dia. ngobrol sama gue.” kata Egi sambil tetap tersenyum. “Lo cemburu. Disambarnya handuk yang tergantung di belakang pintu kamar. Bi. “Gue ke WC dulu ya. Pikir pakai otak.“Sori. “Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri. tapi cuma sebatas itu. gimana mesranya elo sama dia. menatap Egi yang tersenyum di hadapannya. . “Bia!” Bia menoleh. “Dasar cowok nggak punya malu. apa kelebihan lo yang bisa bikin gue cemburu gara-gara elo?” “Jangan menipu diri sendiri. Gue nggak bermaksud ngebentak elo. nggak pernah lebih.” “Lo pikir gue percaya sama elo?” tanya Bia ketus. nyesel karena nggak bisa menahan emosinya. “Bia!” panggil Egi. ada yang memanggilnya dari arah belakang. Saat Bia berjalan sendirian. “Akui aja kalau elo memang udah jatuh cinta sama gue dan elo cemburu karena gue dekat sama Tammy. Bia membawa rasnelnya menuju ruang makan. dia langsung buang muka dan kembali berjalan. lalu bergegas menuju kamar mandi buat siapsiap ke sekolah. brengsek!” seru Bia. “Lebih baik gue jatuh cinta sama monyet daripada sama elo!” Bia membalikkan badannya dan berjalan cepat tanpa memedulikan Egi yang memanggil namanya berulang kali. Selesai mandi. jadi jangan panggilpanggil nama gue seenak jidat lo!” “Bi. Yu. nanyain tentang masa kecil gue. Iya. dan lo bilang elo nggak ada hubungan apa-apa sama dia? Lo pikir gue percaya sama kata-kata lo itu?” Bia membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Egi. nelepon gue. Cemburu gara-gara elo cuma buang-buang tenaga. ya?” Bia berhenti dan membalikkan badannya. “Gue sama Tammy nggak ada hubungan apa-apa. “Lepasin. @(^-^)@ Satu hari lagi telah berlalu. Dia memang baik sama gue. “Gue nggak kenal sama lo. Belakangan ini dia sering ke rumah gue. kan?” Bia tertawa mengejek. tapi begitu melihat sosok orang yang memanggilnya.” kata Bia. “Bia. kasih gue kesempatan untuk ngejelasin semuanya.

Sesaat kemudian ia menarik napas dan mengembuskannya perlahan.” Bia menurut.. nanti malam papamu mau makan malam bersama di sini.” Mama tertawa. jangan bicarakan itu lagi. “Sudahlah. Dia menghabiskan rotinya lalu meneguk susu cokelat di hadapannya tanpa sisa. Bia mengambil setangkup roti tawar yang sudah diolesi selai kacagn oleh Mama dan melahapnya. “Bi.” “Kok terserah sih.” jawab Bia. . “Gimana tidur kamu semalam?” “Mimpi buruk.“Pagi. Ma. Tapi paling tidak.” “Ma. kan?” tanya Mama. kamu nggak pernah bicara lagi sama dia.. Kasihan kan dia. “Kadang-kadang rasa takut itu muncul. lalu cepat berangkat sekolah. Mama tidak ingin kecewa dan sakit hati lagi. Sayang. Tapi Mama belajar percaya dan pasrah. kan?” “Kenapa Mama mau memaafkan dia?” “Entahlah. kamu kan bisa menyempatkan diri untuk sekadar menyapa papamu sebentar. jujur sama aku. Ia berkata.” “Ih. Mungkin karena dia ayah kandungmu.. Kegagalan bukan berarti kita berhenti untuk berusaha. kamu ngumpet di dalam kamar. Mama juga tidak tau. Sejak makan malam waktu itu. Dua bulan lagi kan aku udah mau ujian akhir. tapi makhluk itu sama sekali nggak mau berhenti ngejar aku. itu tandanya monsternya baik hati. “Untung monsternya bawa bunga.. yang namanya mosnter ya tetap aja nakutin. Setiap dia datang. “Memangnya aku sempat wawancara sama tu monster? Mama nih ada-ada aja.” sapa Bia. “Pagi. Mama. “Terserah. Habiskan sarapanmu. Bi.” sahut Mama.” Mama kembali tertawa. “Aku mimpi ketemu monster serem. Bi?” tanya Mama. Boleh.. Dia ngejarngejar aku sambil bawa bunga.” kata Bia menghentikan kegiatan makannya.” jawab Bia. Ma. mau bawa cokelat kek. Mau bawa bunga kek.” “Lalu kapan Mama mau menikah dengannya?” Mama tertawa.” “Monsternya cowok atau cewek?” “Mana aku tau. “apa Mama nggak takut kalau ternyata dia nggak sebaik yang Mama kira? Apa Mama nggak takut kalau suatu hari nanti dia ninggalin kita lagi? Apa Mama nggak takut kalau nanti dia selingkuh kayak Oom Ivan?” Mama diam. Aku kabur sampai-sampai aku kecebur got. “Papamu udah kangen sama kamu.” “Aku tuh lagi banyak tugas dan ujian.” “Mama ngerti.

aku tau. Bia mencopot spanduk yang ternyata nggak terikat kuat di pagar. Lalu Bia menggulung dan menjejalkannya ke dalam tas ranselnya. Dia berjalan ke arah pagar dan berhenti tepat di depan spanduk. Mata bia mencari sosok Egi di dalam kelas yang udah lumayan ramai pagi itu. Matanya menatap spanduk yang terikat di pagar rumahnya. “Ini benar-benar luar biasa.“Ya udah. Begitu matanya menemukan Egi yang lagi duduk di meja bersama beberapa temannya.” “Tolong. Namun sesaat kemudian langkahnya terhenti. “Kalau perlu dibakar aja. Di depan pagar rumah mereka. Mama akhirnya mengangguk pasrah. Ada seseorang yang harus dia temui sekarang juga. Aku berangkat dulu ya. Bi.” pamit Bia sambil menyambar tas ransel di sebelahnya lalu bangkit dan bergegas keluar. “Iya. Pemandangan di depannya membuat mulutnya terbuka lebar karena terkejut.” pamit Bia. nanti Mama rapikan sebelum berangkat kerja. .” “Tapi. tapi gulungan spanduk udah pindah ke dalam genggaman tangannya. Tapi Bia memilih bungkam. @(^-^)@ Bia melangkah dengan cepat menyusuri koridor sekolah menuju kelas Egi. Ranselnya masih nangkring dengan manis di punggungnya. “Ada apa sih. Pemandangan yang terhampar di hadapannya merupakan jawaban yang membuat Mama terpesona. berisi beraneka mawar. Aku berangkat dulu ya.. “Jangan pulang terlalu sore.” mohon Bia..” “Makasih. “Ma. Kata-kata di spanduk itu membuat dia tahu siapa pelakunya. terpajang buket bunga berukuran besar. Ma. “Iya. tolong buang bunga-bunga ini ke tong sampah. ya!” pesan Mama sambil membukakan pintu buat Bia. Ma. Bia membuka pintu pagar dan bergegas ke sekolah.” pinta Bia.” jawab Bia lalu segera keluar dari rumah. Bi?” Tapi pertanyaan mama nggak perlu Bia jawab. Dalam sekali tarikan. Mama Bia yang heran melihat tingkah putrinya segera mendekati Bia sambil bertanya. Mama ikut berdiri dan mengantar putri semata wayangnya itu ke depan. Bia langsung memanggilnya. I‟M SORRY!” “Siapa yang melakukan ini semua?” tanya Mama heran sekaligus takjub.” Bia nggak menjawab. keras. Aku nggak mau saat aku pulang nanti bunga-bunga ini masih ada di halaman. dan spanduk bertulisan: ”BIA. Ma.

Gue cuma mau minta maaf sama elo. dia benarbenar tertekan menghadapi gadis keras kepala ini. “adalah wujud permintaan maaf gue ke elo. Dia nggak mau gadis ini sampai benar-benar membencinya.. Dia menoleh ke asal suara dan mendapati Bia sedang berdiri di depan pintu kelasnya. “Tunggu. Dia takut kehilangan Bia. kan?” “Lo salah!” bentak Bia. Jujur.” “Lo pikir gue cewek gampangan yang langsung klepek-klepek kalau dikasih bunga?” “Bia. lo pikir dengan begitu gue bakal maafin elo?” “Paling nggak. Egi perlahan melepaskan tangannya dari lengan Bia. Dia nggak peduli dengan usaha-usaha Egi untuk meluluhkan hatinya. Baginya. Bia telanjur sakit hati. Dia nggak peduli dengan permohonan maaf Egi. “Gue cuma mau minta maaf sama elo. Tapi Bia tetap cuek. “Gue bukan cewek gampangan yang seneng dirayu sama bunga.“Egi!” Cowok itu terkejut mendengar teriakan itu. membuka hatinya untuk Egi adalah sebuah kesalahan. “Ada apa. “Ini. Dia juga nggak peduli dengan wajah memelas di depannya itu. Dia tersiksa menghadapi sikap ketus Bia. please.” Bia menatap kedua bola mata Egi dengan tajam dan tanpa suara. “Bi.” Egi memohon dengan wajah memelas. gue paling benci cowok gombal kayak elo!” Bia membalikkan badannya dan segera berlalu dari kelas Egi. gue nggak akan peduli. Dia nggak tahu bagaimana lagi caranya meluluhkan hati Bia. Lo mau kasih gue seratus mawar kek. dan bukan membuat elo semakin membenci gue. Bi. gue udah usaha. kenapa sih elo selalu menganggap negatif semua hal yang gue lakukan buat elo?” tanya Egi pelan. Mama sedang sibuk di dapur membersihkan piring-piring bekas . Asal lo tau. dan dia nggak mau itu terulang untuk kedua kailnya. Egi tersenyum lalu berdiri dan berjalan mendekati Bia. tepat di depan hidung Egi.” “Trus.” Egi mengambil gulungan spanduk dari tangan Bia sambil tersenyum. “Gue melakukan semua itu dengan tulus. “Nggak usah sok innocent deh!” bentak Bia tanpa memedulikan tatapan anakanak kelas satu yang mengarah padanya. Gi. pagi-pagi udah cari gue?” tanya Egi manis.. maafin gue. “Apa maksud lo dengan semua ini?” Bia menunjukkan gulungan spanduk di tangannya. sama sekali nggak ada maksud apa-apa.. Bi!” tahan Egi. @(^-^)@ Malam itu Bia duduk di ruang tamu sambil membaca catatan matematika buat ulangan besok. Sorot matanya seakan ingin menusuk lawan bicaranya.

. “Tapi apalah guna sebuah penyesalan. Bi?” suara Oom Frans mengagetkan Bia. “Cuma manis di mulut. Bia menatap laki-laki itu kesal. “Apa yang Oom lakukan dulu memang tidak layak untuk mendapatkan maaf. Bia masih merasa asing dan belum sepenuhnya memaafkan dia. lalu berkata lebmut.” jawab Bia sekadarnya. Meskipun Oom Frans ayah kandungnya.” sindir Bia. “Besok ada ulangan ya. Sejak kapan laki-laki ini mulai berani ikut campur dalam masalahnya? “Pasti cowok yang mengirim mawar itu sangat menyukai kamu. “Itu bukan urusan Oom. rutuk Bia dalam hati. ini bukan urusan Oom!” “Kamu memang cantik seperti mamamu. Bi.” Bia cuma diam. Bia pengin segera masuk kamar setelah makan malam tadi dan menghindar dari laki-laki itu.” Oom Frans seakan nggak peduli dengan kekesalan yang tersirat di wajah Bia. tapi hatinya lebih busuk daripada sampah. Kita pasti akan menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia.” Oom Frans menghela napas.” lanjut Oom Frans. Dan mungkin kamu tidak akan bersikap dingin pada laki-laki. Bia malas kalau harus nimbrung di tengah-tengah mereka. Paling tidak. Bia membalik halaman buku catatannya dan mulai mempelajari materi buat ulangan besok. Tapi Bia ingat percakapannya tadi pagi dengan Mama: Bia nggak mau mengecewakan Mama. Pede banget dia. dia nggak mengunci diri di kamarnya.” “Laki-laki semua sama aja. “Kalau dulu Oom berpamitan dengan mamamu sebelum berangkat ke Pekanbaru dan mengatakan kesediaan Oom untuk bertanggung jawab. “Iya.” jawab Bia keki. “Katanya tadi pagi ada kiriman bunga ya di halaman?” tanya Oom Frans. Dia nggak sadar Oom Frans sudah berdiri di dekatnya.makan malam. “Udah aku bilang. dan Oom pula yang telah membuatmu selalu berpikir negatif tentang laki-laki.. tapi batal gara-gara Oom Frans udah duluan turun tangan membantu Mama membereskan meja makan. Sebenarnya Bia mau ikut bantuin sih. mungkin semua ini tidak akan terjadi. Oom telah membuat hidupmu menderita. wajar saja kalau banyak cowok yang jatuh hati padamu. Mulutnya komat kamit menghafalkan rumus dan bola matanya berputar-putar. Jadi dia terpaksa duduk manis di ruang tamu. Bia tetap belum bisa menerima kehadiran laki-laki itu. meskipun nggak ngobrol dengan Oom Frans seperti permintaan Mama. Kali ini dia nggak bereaksi dengan ucapan Oom Frans. duduk dekat-dekat tanpa permisi dulu. Oom Frans duduk di dekat Bia sambil tersenyum.” “Tidak semua laki-laki seburuk yang kamu pikirkan.” “Tapi semua laki-laki yang hadir dalam hidupku malah membuat dugaanku semakin tepat. Yang sudah terjadi tak mungkin dapat .

Bia masih berdiri di tempatnya sambil menatap Oom Frans. Bia bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Oom Frans tanpa sepatah kata pun. apa yang akan Oom lakukan?” “Tentu saja Oom akan marah. Bia berusaha mencari kejujuran dan ketulusan di wajah Oom Frans. “Jangan pulang malam-malam. kesalahannya terlalu besar dan nggak mudah untuk membuat Bia mau memaafkannya.. Lalu Bia berkata. Alasan itu adalah cinta. Entah kenapa untaian kata yang keluar dari mulut lelaki itu mengusik hatinya.” jawab Oom Frans.” Bia menatap laki-laki yang duduk di sebelahnya. Dia telah menelantarkan anaknya selama bertahun-tahun. maka bagimu yang terpenting adalah melihat orang yang kamu cintai itu bahagia. “Jika seseorang yang Oom percaya dan cintai mengkhianati Oom. Dia menatap punggung Bia sambil tersenyum..” Bia teringat percakapannya dengan Mama tadi pagi tentang alasan Mama memaafkan Oom Frans. Terlalu muluk rasanya jika dia mengharapkan Bia dengan tersenyum lebar langsung menerimanya kembali. saat kamu mencintai seseorang dengan tulus..” “Seperti Mama memaafkan Oom?” “Mungkin seperti itu.” jawab Oom Frans.” Suara Bia yang lembut membuat Oom Frans terbelalak kaget.. “Bia. Apa kata-kata yang keluar dari mulutnya berasal dari hati? Dan Bia menemukan jawabannya. Meskipun sesungguhnya hatinya nggak dapat menahan rasa rindu untuk dapat memeluk anak yang terus dicarinya selama ini. Sekarang bia baru mengerti alasan itu.diulang kembali.” “Membahagiakan aku dan Mama?” “Benar. Bahaya. Tiba-tiba Bia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Oom Frans. “Tapi dalam cinta selalu ada maaf yang tiada batasnya. Oom Frans nggak akan menipu. Alasan yang sederhana tapi memiliki kekuatan yang begitu dahsyat sehingga Mama dengan mudah melupakan sakit hatinya dan menerima laki-laki ini kembali. Dia sadar. yaitu membahagiakan kamu dan mamamu. “Boleh aku bertanya satu hal?” tanya Bia pelan. Oom. Matanya beradu dengan tatapan hangat lelaki itu. Dia mengangguk pelan sebagai jawaban. Dan itulah yang Oom rasakan saat ini. lalu kembali berkata. “Aku mau tidur dulu karena besok harus sekolah. Oom Frans hanya diam.” . itulah tujuan hidup Oom saat ini. Tatapannya yang lembut dan penuh kasih membuat hati Bia terasa hangat dan nyaman. Oom Frans mengangguk sambil tersenyum. Saat ini Oom hanya berusaha memperbaiki semua kesalahan Oom dulu dan memperjuangkan kebahagiaan yang sangat Oom inginkan saat ini. Dan itu pula yang akan Oom lakukan. Laki-laki yang sejak dulu begitu dibencinya.

Laki-laki yang mulai detik ini dan selamanya akan dipanggilnya Papa. Dia menyandarkan tubuhnya di pintu kamar. Tapi baru beberapa langkah. lidahnya mampu memanggil laki-laki itu “Papa”.” sahut Bia.. apa sekarang Mama bahagia?” tanya Bia kemudian.” “Aku juga bahagia. ya. “Aku memang sangat membenci Oom. “Papamu sudah pulang. Perasaan bahagia perlahan meluap dalam dirinya. Lalu dia menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan. Saat ini ia terlalu bahagia. jauh di lubuk hatinya dia merindukan laki-laki itu. Jantungnya berdetak kencang dan darahnya seakan bergolak.” Bia menganggukan kepala. “Aku masih belajar buat ulangan besok. Dan panggilan itu telah menyembuhkan begitu banyak koreng yang membuat cacat hatinya. Lidahnya terasa kelu dan tubuhnya terasa kaku.” sahut Bia.. Sama seperti Bia.” jawab Mama mantap. Sayang?” Bia menutup catatan matematikanya dan berjalan membukakan pintu. “Tapi aku juga sangat merindukan Papa. Mama diam. “Mama nggak perlu bilang makasih sama aku karena memang sudah wajib hukumnya seorang anak mengakui ayahnya.” Bia diam. Ma. “Papamu nggak mau mengganggu kamu. Bia juga diam.” Mama tersenyum.” Mama buka suara.. “Makasih. Senyum tersungging di bibirnya dan air mata menggenangi pelupuk matanya. dia kembali berhenti dan berbalik menatap ayahnya lagi. “Dia takut kamu sudah tidur. “Mama bahagia.” .. “Kamu sudah tidur.. @(^-^)@ “Bia. Ma?” “Makasih karena kamu sudah memaafkan papamu.Lagi-lagi Oom Frans hanya mengangguk. Ma?” tanyanya begitu pintu kamarnya terbuka.” “Makasih buat apa. Lelaki itu tak bisa menahan haru yang membungkus hatinya. Rasa lega memasuki kalbunya. “Ma. Bia membalikkan badannya dan kembali berjalan. “Aku dengar suara mobilnya. Dia sama sekali nggak menyangka.” katanya pelan. “Ada apa. Kehangatan dan kebahagiaan menyelimuti dirinya. “Bi.” kata Mama.” Suara Mama terdengar dari balik pintu kamar Bia.” “Aku tau.. “Mama bahagia karena Mama memiliki putri seperti kamu.” Oom Frans terdiam. Bia nggak bisa memungkiri.

” Bia membalas pelukan Mama. dia dan Mama bisa tertawa seperti tadi. “Katanya penting!” “Iya.” Bia ikut tertawa. “Sori. Sayang. “Iya. Bi. baru aja. Hatinya kini terasa seringan kapas. “Yu. Selama ini dia yang melarang Yuki dan Cha-Cha membicarakan Tammy. ya. dan Mama bangga padamu. bokapnya masih bisa ngomong.” “Nggak apa-apa.Mama tersenyum lalu merengkuh tubuh Bia ke dalam pelukannya. “Telepon. “Halo. “Ma. Ma!” sahut Bia lalu bergegas keluar dari kamar. Mama menyerahkan gagang telepon kepada Bia lalu menghilang ke kamarnya. boleh gue tau bokapnya Tammy disemayamkan di mana?” . “Bia!” suara Mama memanggil Bia. Ia menghela napas panjang lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. “Bukannya lo nggak mau denger gue dan Cha-Cha nyebut nama Tammy?” Bia terdiam. Dia yang menutup telinganya rapat-rapat setiap kali Yuki dan Cha-Cha menyebut nama Tammy. kok lo nggak kasih tau gue?” “Bukannya lo lagi musuhan sama Tammy?” Yuki malah balik bertanya dengan nada sinis. Matanya menatap langitlangit kamar. Jadi wajar saja kalau kedua temannya ini tidak memberitahunya kabar tentang papanya Tammy.” “Gue cuma mau menyampaikan kabar buruk.” “Kenapa?” “Gue juga nggak tau. Dia yang marah-marah waktu Yuki dan Cha-Cha mempertemukannya dengan Tammy.” kata Bia. “Terakhir kali gue jenguk bokapnya di rumah sakit. Bia terlonjak kaget dan langsung bangkit dari tidurnya. Bi! Dari Yuki!” ujar Mama. Bi. “Iya. gue ganggu malam-malam gini. Mungkin memang penyakitnya udah benar-benar parah. Begitu hebatkah kekuatan cinta dan maaf? Dering telepon membuat pelukan ibu dan anak itu terlepas.” Bia mengangguk lalu menutup pintu kamarnya begitu Mama pergi.” “Bokapnya Tammy masuk rumah sakit. “Mama angkat telepon dulu. Yuki benar. “Mama sayang kamu.” “Kabar buruk?” tanya Bia heran. aku jadi pengiring pengantin wanitanya. di pesta pernikahan Mama dan Papa nanti.” jawab Yuki. ya?” Mama tertawa. “Gue juga belum tidur kok. Rasanya nggak percaya. “Kabar buruk apa?” “Bokapnya Tammy meninggal.” “MENINGGAL?!” pekik Bia. Yu. Rasanya belum pernah ia merasa begitu bahagia seperti hari ini.” sapa Bia.

Ma? Sekarang.” tolak Bia segera. Ma. Bi?” tya Mama.” Penyesalan masih merasuki hati Bia. “Baiklah.” Bia nggak membantah lagi. Aku cuma mau ketemu dan bicara sama Tammy sebentar saja.” “Nggak bisa.” “Jangan. “Aku nggak akan lama. Gue belum tau bakal dimakamkan di mana. .” Mama menatap Bia dalam-dalam. Ia ragu memberikan izin untuk Bia. “Ada apa. tapi biar papamu yang mengantar kamu. “Kasihan Papa.” jawab Yuki. Bi. Ini sudah malam. Perasaanku nggak tenang.” “Ke rumah sakit?” Mama bertanya heran. Papa pasti capek. “Boleh ya.” Mama menghela napas. “Ada apa?” “Papanya Tammy meninggal. Mama langsung berjalan menuju meja telepon dan menghubungi nomor handphone Papa. “Aku boleh ke rumah sakit. Bia nggak banyak bicara. Dia nggak tahu harus berkata apa. Ma. lalu mengetuk pintunya pelan.” “Papamu pasti bersedia. Ma?” “Apa nggak bisa ditunda besok saja. Dia baru aja pulang. Ma. Bia berjalan gontai menuju kamar Mama. masa harus balik lagi ke sini dan mengantar aku ke rumah sakit.” “Meninggal?” Bia mengangguk. Ini sudah malam.“Sekarang masih di rumah sakit. Pintu terbuka dan wajah Mama muncul dari baliknya.” mohon Bia. “karena ini untuk putrinya. berbahaya bagi anak perempuan pergi sendirian “Please. Perasaannya saat ini benar-benar kacau. “Besok baru dipindah ke rumah duka.” tegas Mama. Sampai telepon ditutup.

“Tammy.” “Nggak.” panggil Bia pelan. Dia menyesal karena nggak pernah ada untuk Tammy di saat sahabatnya itu butuh seorang sahabat. bahkan di saat elo benar-benar membutuhkan kehadiran gue. Bia mengangguk. Gue nggak pernah ada buat lo. “Nanti gue ceritain. Hatinya terasa perih. “Lo benar. lalu memeluk Bia dan menumpahkan kesedihannya. “Tam. “Maafin gue juga..” Tammy mengangguk. “Tam. “Tam. dan gue udah berkata kasar sama elo. Gue nggak pernah menjadi sahabat yang baik buat elo.. gue marah-marah sama elo seenaknya aja. Tammy mengangguk pelan tanpa suara. “Gue nggak jujur sama lo. Tammy mendongakkan kepalanya dan terkejut menatap Bia.” kata Tammy lirih di sela derai air mata.” “Bokap lo?” Tammy nggak bisa menutupi rasa kagetnya. Isak tangis terdengar dari dalam kamar itu. gue turut berdukacita. “Oom turut berdukacita...” mohon Bia. Dari jauh Bia melihat Tammy bersandar sendirian di dinding rumah sakit tepat di sebelah pintu kamar yang terbuka lebar. Jantung Bia berdegup kencang. ini bokap gue. Bahkan pipinya masih basah oleh air mata. gue yang salah. lalu mengulurkan tangan.BAB SEMBILAN BIA dan papanya tiba di rumah sakit untuk menemui Tammy. Tam. Matanya merah dan bengkak. Ujung hidungnya juga merha. Maafin gue.” kata Bia pelan.” kata papa Bia. gue egois dan selalu mau menang sendiri. Tam. ya.. Bia melepaskan pelukannya begitu teringat papanya masih berdiri di dekatnya. “Makasih. Sahabat macam apa gue ini?” Air mata Bia ikut menetes. “Kamu yang tabah.. Bi. Bokap lo sakit aja gue nggak tau.” Tammy mengalihkan pandangannya ke arah papa Bia.... maafin gue ya. Bia dan papanya berjalan mendekat. Oom.” .” Tammy menatap Bia...

Tam. tapi nggak sedetik pun dia mampu mengusir Egi dari dalam benaknya. tapi Egi juga yang udah membuatnya patah hati dan kecewa. “Kata-kata lo waktu itu benar. “Bukannya elo benci sama dia?” “Gue emang benci sama dia. Setelah mengucapkan turut berdukacita. “Dan elo udah maafin dia?” tanya Tammy heran. yang dibicarain cuma tentang elo. Waktu bokap gue udah mulai dirawat di rumah sakit. Tapi nggak bisa. jantung Bia berdegup kencang. ini juga salah gue. “Mama masih di dalam. itu bokap lo?” tanya Tammy mengawali pembicaraan. “Iya. Bia nggak rela Egi dekat dengan cewek lain. Dia memang marah dan kecewa. Bia dan ayahnya mengikuti Tammy menemui mama Tammy. Bia benar-benar nggak ngerti harus bagaimana. Lama-lama gue jadi eksal dan males cerita sama kalian. Dua hari sebelum kita berantem di rumah Egi. Tapi di lain pihak. Yuki dan Cha-Cha juga baru gue kasih tau seminggu yang lalu. semua memang gara-gara gue.” “Kok elo nggak pernah cerita?” “Karena gue pikir penyakit bokap gue nggak parah. Bia diajak Tammy keluar dari kamar. karena tiap kali kita ngumpul.” Bia menceritakan kronologi cerita pertemuan dia dengan ayah kandungnya. Jika sekarang Tammy mengakui bahwa dia menyukai Egi dan meminta Bia untuk mundur.” “Tam. Egi memang telah berhasil membuatnya jatuh cinta. tentang Egi. “Ternyata ada banyak cerita yang udah gue lewatkan. . siapa yang bisa mengerti gue?” Suasana mendadak hening.” Tammy menghela napas. Keegoisannya ingin mengikat Egi untuk terus mengejar dirinya. Di saat seperti ini. gue baru tau dia bokap gue. di mana keluarga kamu yang lain?” tanya papa Bia. Mendengar Tammy menyebut nama Egi. dia juga nggak mau kehilangan sahabat. Bohong banget kalau dia bilang dia membenci Egi.” “Nggak. tapi gue udah belajar memaafkannya. Bia dan Tammy sama-sama terdiam.” kata Tammy.” suara Tammy memecah keheningan. Bi. “Bi. @(^-^)@ “Bi.” jawab Tammy. gue. Bia tersenyum dan menganggukkan kepala. Dia nggak mau kehilangan Egi. Saat itu mereka duduk di bangku semen di koridor rumah sakit. Kalau nggak gitu.“Oh ya. Gue seharusnya bicara. dia bokap kandung gue. sejak kapan bokap lo sakit?” “Udah sekitar tiga bulanan ini bokap gue keluar-masuk rumah sakit.” “Maafin. Bia nggak tahu harus bagaimana. gue mau cerita sama kalian. nggak ada kesempatan.

” Bia tambah heran. Bi. lo jaga rahasia ini. “Apa lo suka sama Egi?” “Iya. “Gue juga tau hal ini belum lama. dan sayang banget sama dia.” cerita Tammy. “Egi tuh adik gue. bahkan sampai akhir usianya. Dadanya mendadak terasa sakit. Bokap gue pasti nggak mau nyokap gue ngamuk kalau tau bokap gue pernah selingkuh. Anak yang sama sekali nggak pernah mau diakui bokap gue dan kemudian ditinggalkan oleh perempuan itu di panti asuhan. “Kenapa nggak mungkin?” “Janji ya.“Bi. “Gue suka Egi. Gue ngerti kenapa bokap gue nggak mau mengakui anak itu. Mana mungkin tiba-tiba Egi jadi adik lo?” Tammy tersenyum lalu menghela napas panjang. elo suka sama Egi?” pertanyaan Tammy menambah dilema dalam diri Bia. biar gue cerita sampai selesai dulu. lo tuh anak tunggal.” “Elo sendiri?” Bia balik bertanya. “Gue suka melihat tawanya. Tapi persahabatannya dengan Tammy jauh lebih berharga.” Hati Bia terasa perih mendengar pengakuan Tammy.” Bia melongo. kan?” kata Tammy lagi.” lanjut Tammy. “Lo gila apa! Mana mungkin gue jadian sama Egi?!” Bia mengernyitkan keningnya. Bukankah kata orang pacar bisa dicari lagi tapi kalau sahabat susah untuk ditemukan? “Kalau elo emang suka sama Egi. “Dari surat itu gue tau bokap gue pernah selingkuh waktu gue masih berumur satu tahun. “Kenapa tiba-tiba lo nanya gitu?” “Cuma pengin tau.” “Selingkuhan?!” “Jangan potong cerita gue.” jawab Tammy langsung. Perempuan mana sih yang mau dimadu? Tapi ada rasa penasaran yang bikin gue . Tammy menoleh dan menatap Bia.” sahut Bia. gue dukung sepenuh hati agar lo jadian sama dia. Semua berawal waktu gue tanpa sengaja menemukan surat di ruang kerja bokap gue. Surat itu dari seorang wanita yang ternyata selingkuhan bokap gue. Tapi gue pura-pura nggak tau. Dan dari surat itu juga gue tau bahwa bokap gue punya anak laki-laki dari perempuan itu. tapi dianggukkan juga kepalanya. Sesaat kemudian tiba-tiba Tammy tertawa. Sejenak ia merasa akan kehilangan Egi. “Gue kaget dan shock berat waktu pertama kali tau hal itu. Dan rasa itu semakin membuatnya takut. Bi. dan itu membuat gue jadi tambah sayang sama dia. “Lo pasti nggak percaya.” ujar Bia. “Jelas gue nggak percaya. Dia paksakan dirinya untuk tersenyum. Jawaban Tammy membuat jantung Bia seakan ingin melompat keluar... senang mendengar lelucon jayusnya. “Soalnya gue tau pasti.” Bia menutup mulutnya. bahkan sampai punya anak dari perempuan lain.

Gue juga udah bikin elo cemburu. Gue pikir mungkin itu cuma kebetulan. “Tuhan ternyata mempermudah langkah gue dalam menemukan adik tiri gue itu. pantas waja waktu pertama kali melihat Egi. “Lo pasti tau kan. “Sori ya. Bi. Gue berusaha mencari tau dari pengurus panti asuhan itu tentang anak yang 16 tahun lalu pernah ditinggalkan di depan panti asuhan itu. Kalau diingat lagi. “Gue juga kaget waktu mendengar nama itu.” Bia menatap ekspresi wajah Tammy. Nama anak itu Juventus Egi. gue nggak boleh mengusik keluarga mereka. “Egi anak bokap lo dan selingkuhannya?” Tammy mengangguk. Apalagi kalau dia tau bokap gue nggak pernah mau mengakui dia. Tammy menarik napas dan kembali melanjutkan ceritanya. Dan ternyata alamat itu mengantarkan gue sampai ke rumah Juventus Egi. “Jadi karena itu lo mendadak dekat sama Egi?” Tammy tersenyum dan mengangguk. Tapi setelah gue setengah memaksa dan memberikan sedikit sumbangan ke panti asuhan itu..” Bia terdiam. Lalu dia bertanya. Anggap saja gue menggantikan tugas bokap gue untuk memerhatikan dia. “Egi tau tentang hal ini?” tanya Bia pelan. Tapi kelihatannya Tammy serius.” Bia membenarkan ucapan Tammy.pengin mengetahui gimana keadaan anak itu sekarang. Gue mananyakan alamat keluarga yang mengadopsi anak itu dengan perjanjian gue hanya melihat dan nggak akan mengusik keluarga mereka.. waktu di rumah Egi dulu gue marah-marah sama lo.” “Nggak mungkin. Awalnya mereka nggak mau kasih gue informasi apa pun. Gue juga pengin tau apakah sekarang dia bahagia.” kata-kata Tammy bikin Bia kembali ke alam sadar. File yang mereka punya menyatakan bahwa enam belas tahun lalu cuma ada satu anak laki-laki dan delapan anak perempuan yang ditinggalkan di depan pintu panti asuhan itu. . Egi tuh anak angkat?” Bia mengangguk. Dia masih ragu apakah Tammy sedang mengarang cerita atau ini memang kenyataan.” jelas Tammy. “Tapi.” “Gue diam-diam mencari panti asuhan yang ditulis perempuan itu dalam suratnya. adik kelas kita. Dan itu yang membuat gue pada akhirnya tau bahwa Egi adik tiri gue.” “Maksud lo?” tanya Bia nggak percaya dengan cerita yang didengarnya. “Sesuai perjanjian. dia merasa wajah Egi mirip seseorang.. mereka mau membuka file mereka dan memberi gue informasi tentang anak itu.” Bia nggak bisa menahan rasa kagetnya. Lagi pula buat apa gue menceritakan semua ini ke Egi? Ini malah akan membuatnya menderita. Tammy menggeleng. Berarti jelas anak laki-laki itulah adik tiri gue karena di suratnya perempuan itu mengatakan bahwa anaknya laki-laki. “Gue pengin mengenal dia lebih dekat..

“Waktu di jembatan dulu elo kan yang.” Bia berhenti bicara. dan itu membuat lo merasa selama ini Egi cuma mempermainkan elo. Bi.. Bia buru-buru buang muka biar Egi dan Tammy nggak bisa melihat wajahnya yang lagi-lagi berubah jadi merah.. “Akhirnya lo bisa jadi cewek juga. “Siapa juga yang cemburu?” “Nggak usah pura-pura deh. Waktu itu lo marah-marah sama dia karena ngeliat kami berduaan.” kata Egi. “Hebat juga ya si Egi. “Gue tadi udah takut banget kalau harus ngelihat elo nangis-nangis.” Tammy mendadak diam lalu menyenggok pundak Bia sambil memandang ke arah kanan koridor. “Gue tau kok elo sebenarnya suka sama Egi. Tam.” balas Tammy. “Gue turut berdukacita ya. gue paling nggak bisa menghibur orang yang lagi sedih.. Bisa meruntuhkan karang di hati seorang Bia. tapi dia nggak bisa menahan rona merah yang muncul di pipinya. Tammy malah tertawa. Tammy berusaha menahan tawa melihat wajah Bia yang merah.” “Bohong!” celetuk Bia.” “Tapi masih ada orang yang datang lebih cepat daripada gue..” ucap Egi tulus. kan? Jujur aja deh!” Bia nggak menjawab.” kata Egi pada Tammy.” jawab Egi sambil melirik ke arah Bia.” “Rese lo!” “Ssstt. Gi.” Bia melotot mendengar kata-kata Egi. . Tammy berdiri dan berjalan mendekati Egi. Dia mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Tammy. “Lo udah ketemu keluarga gue?” tanya Tammy. Bi. Matanya sesekali melirik ke arah Bia.. “Makasih. Dia baru sadar udah kelepasan. Meski begitu. Egi dan Tammy menatap Bia sambil tersenyum geli. Jujur aja. Gengsinya masih setinggi langit. Egi mengangguk.” “Tammy. Bia tetap duduk diam di tempatnya...!” rajuk Bia. dan Bia pun berlari meninggalkan Tammy dan Egi begitu aja. cuma satu kata yang kemudian keluar dari mulut Bia: “GOMBAL!”. Ternyata Bia ya tetap Bia. “Makasih juga karena lo udah mau datang malam-malam gini.. “Gue cuma bisa menghibur orang yang gue cintai.“Cemburu?” Bia mengelak. Bia mengikuti arah mata Tammy dan menemukan sosok Egi sedang berjalan mendekati mereka. “Gue lega melihat elo masih tersenyum.” ujar Tammy. “Gue memang nggak bisa menghibur orang lain. Bia yang melihat Egi melirik ke arahnya langsung buang muka. Wajahnya semakin memerah. tapi dia juga nggak bisa menahan debaran jantungnya yang seolah berteriak histeris.

Kita ngumpul di sini bukan buat ngomongin dia. tapi ngumpul-ngumpul melepas ketegangan tetap jadi prioritas utama. Ujian akhir yang tinggal sebulan lagi sama sekali nggak mereka pedulikan. Seperti sore ini. “Halo. Sambil mendesah-desah kepedesan.@(^-^)@ Dua minggu telah berlalu sejak papa Tammy dimakamkan.” “Nggak usah sebut-sebut lagi nama dia deh. kan?” Bia kayaknya udah mulai kesal. “Udah. Mereka sudah dekat lagi seperti dulu. “Kami lagi mesra-mesranya nih. gue dengar. . di rumah.. “Kalo elo. Cha-Cha. dan Tammy memilih tutup mulut. “Udah sampai tahap mana nih kemajuannya?” “Hubungan gue sama dia baik-baik aja. kan?” “Bi..!” ledek ketiga temannya. Tangannya membawa sepiring mi goreng instan.” sahut Tammy.” kata Yuki dengan perasaan lega karena teman-temannya udah berhenti ngegodain dia. @(^-^)@ Sorenya. “Dia bukan siapasiapa gue. dan Yuki sedang menikmati indahnya persahabatan sebelum akhirnya nanti harus berpisah kalau sudah lulus dari sekolah ini. Egi nggak masuk sekolah. Sekarang Bia. Bi?” Tammy langsung beralih ke Bia.” Yuki tersenyum kecil.. Mereka mencomot irisan mangga di piring dan memasukkannya ke mulut sambil bertatapan. “Lho. Yuki. Hubungan Bia dan Tammy sudah kembali normal. gimana kabar hubungan lo sama Maxi?” tanya Tammy.” sapanya. jadi nggak ada yang perlu gue jawab.. Yu. Cha-Cha. “Seakan-akan Egi tuh udah melakukan kesalahan besar sama elo... Tammy.” “Kenapa sih elo jutek banget sama Egi?” serang Cha-Cha. mereka seru mengobrol.” “Duile. “Ngomong-ngomong nih. wajahnya merona. jawab aja. Belajar sih belajar. Bi?” “Buat apa gue mengkhawatirkan dia?” Bia malah balik tanya. mereka berempat ngumpul di halaman belakang rumah Tammy cuma buat sekadar bersantai ria plus ngerujak. “Lho nggak khawatir. “Gue nggak pernah ada hubungan apa pun sama dia. Bia tergopoh-gopoh menuju meja telepon untuk mengangkat telepon yang berdering. kok gue juga kena tanya?” Bia nggak terima. udah dua hari lho.

” “Lo tau dari mana kalau dia masuk rumah sakit? Memangnya dia sakit apa?” “Gue kakaknya.” “Sekarang Egi di rumah sakit mana?” “Rumah sakit tempat bokap gue dirawat. “Napa.. Sepuluh menit lagi gue sampai. Bi. Bi?” tanya Tammy.” “Hah?!” jantung Bia berdegup kencang.” balas Tammy dari seberang. “Darahnya masih diperiksa dan masih menunggu hasil laboratorium.” “Tapi.“Halo. Lalu dia menuju kamar untuk mengganti kaus rumahnya dengan kaus untuk bepergian.. Bia berjalan menuju ruang makan dan meletakkan mi goreng itu di bawah tudung saji. Dia takut kehilangan Egi.” sahut Bia. Tam?” tanya Bia to the point.. “Anak-anak udah pada jalan buat jenguk dia... itu baru dugaan sementara.” jawab Tammy. Kondisinya nggak begitu baik.” “Rumah sakit?” tanya Bia heran.” “Makannya nanti aja. “Iya. Rasa cemas melingkupi dirinya. “Kenapa Egi?” “Makanya lo ke rumah sakit deh sekarang juga. “Siapa lagi yang sakit?” “Egi. Nggak tahu kenapa rasa laparnya lenyap begitu aja. Takut banget.. Oke!” Tammy langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban Bia.. Bia nggak mau hal buruk terjadi pada Egi.” jawab Tammy. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang ganjil. Bia meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. “Lo mikir apa lagi sih. Bia. Matanya menatap mi goreng instan yang ada di tangannya. “Lima menit buat lo makan dan lima menit buat lo siap-siap. Dia tampak berpikir keras. Bi. “Flu burung?!” hampir aja piring di tangan Bia terlepas. Kata dokter dia kemungkinan kena flu burung. Kita berangkat ke sana sama-sama. gue mau mak. Jadi lo siap-siap ya. “Gue lagi mau makan nih..” Bia diam. Lo harus ke rumah sakit sekarang juga. Gue juga lagi on the way ke rumah lo buat ngejemput lo. . jelas gue tau lah.

Bia mengekor di belakang. lalu membuka pintu dan masuk. tadi sih udah ke sini. “Tapi masih belum positif sih. “Mmm.. Bia mengedarkan pandangan. Egi sakit flu burung?” tanya Bia. Egi berbaring di tempat tidur pasien dengan alat bangu pernapasan menutupi hidungnya dan slang infus yang terpasang di tangannya. Satu jam kemudian mereka tiba di rumah sakit. Yuki.” Tammy memberitahu Bia. Keluar dari lift mereka menyusuri koridor menuju kamar tempat Egi dirawat.” “Lalu orangtuanya mana?” tanya Bia lagi. “Pelan-pelan dong. Cha-Cha.” protes Bia. Selain dia. tapi sekarang lagi pulang buat istirahat. “Gue sama Bia udah sampai. Bia berjalan mendekati Egi yang tampaknya tertidur lelap.” jawab Tammy singkat lalu menggiring Bia masuk ke lift. bener nggak sih. “Cha. dan sofa yang dijamin pasti empuk. Tammy bergabung dengan teman-temannya dan berdiri di sisi tempat tidur. Sebelah tangannya malah sibuk menekan-nekan tombol handphone-nya. “Betul. lemari pakaian. Perabotannya lengkap: ada TV. Tammy mengetuk pintu kamar itu dua kali. “Cha-Cha.” Tammy mematikan handphone-nya dan memasukkannya ke saku celananya.. Di kamar itu cuma ada satu tempat tidur pasien. Tammy memarkir mobilnya dan bergegas menarik tangan Bia menuju kamar tempat Egi dirawat. “Lo di mana?” tanya Tammy lewat HP. Tammy berhenti di depan kamar yang berada di ujung koridor. Bi. .” jawab Cha-Cha cepat. dan Teddy yang berdiri berjajar di samping tempat tidur. Bia cuma mengangguk. Matanya tertutup rapat.BAB SEPULUH TAMMY menjemput Bia tepat waktu. Tam. kulkas mini. Sepertinya sedang jam besuk. Koridor itu agak ramai. di kamar ini ada Tammy. “Siapa?” tanya Bia. “Ini kamarnya. Tammy nggak peduli.” kali ini Teddy yang menjawab.

” “Gi.“Bi. “Bagaimana latihan syutingnya?” Bia merasa pernah melihat laki-laki itu. dengar kata-kata gue dengan baik!” Bia nggak memedulikan ucapan temantemannya. “Gue nggak suka cowok lemah!” Setelah itu Bia beranjak meninggalkan tempatnya.. “Bia. Cha-Cha. dan Teddy melotot. Yuki.” Bia mengunci bibirnya rapat-rapat. Ah. Bia membalikkan badan. Cha-Cha. Bi!” kata Cha-Cha. Mereka kaget mendengar ucapan Bia. “Syukur deh.” jawab Bia. Bia mendongakkan kepalanya. tapi elo malah jahat sama dia. Dia cuma menatap wajah Egi. “Lo kejam. Baru saja Egi hendak menahan Bia.” sambung Yuki. Oom.” kata Bia.” kata Teddy. Egi. “Lo keterlaluan. gue bukan cowok lemah!” ujarnya. . “Apa elo nggak sedih kehilangan dia?” Bia tetap bungkam. dia ingat. “Egi benar-benar suka sama elo. “Latihannya baik. dan Teddy terpana mendengar jawaban Bia.” akhirnya Bia buka suara. lo balas cintanya di sisa umurnya. “Bi. Laki-laki itu paman Tammy yang waktu itu pernah mengobrol dengan papanya waktu papa Tammy meninggal. Dia memandang teman-teman yang berdiri di hadapannya dengan diam. Bi!” suara seseorang menahan Bia. “Gue nggak peduli dia sakit atau sekarat.. “Gue nggak peduli. kok elo diam aja sih?” protes Tammy. Dilihatnya Egi duduk tegak dan melepas alat bantu pernapasan yang menutup hidungnya. gimana kalau Egi nggak bisa diselamatkan?” ujar Cha-Cha. lo nggak kasihan sama Egi?” tanya Yuki pelan. lalu berbalik lagi untuk meninggalkan kamar itu. Seorang laki-laki setengah baya berpakaian dokter muncul dari balik pintu dengan senyum ramah sambil bertanya. paling nggak. “Tunggu. pintu kamar terbuka sehingga Bia berhenti melangkah. Lalu dia mencabut jarum infus yang ternyata hanya menempel di tangannya... lalu berdiri dan berjalan mendekati Bia..” Bia nggak menjawab. “Kalau memang dia nggak bisa diselamatkan. “Egi sayang banget sama elo. “Dia udah dirawat sejak dua hari yang lalu. “Bi. Tammy. Yuki. dia malah bicara dengan Egi yang terbaring di tempat tidur. Puas?” Mata Tammy.

” sahut Bia.“Bagus kalau begitu.” Bia kembali menjawab.” kata Egi.” “Baik. Bi?” tanya Tammy beigtu pintu kamar tertutup kembali. Bi. “Jelaslah!” jawab Bia.” “Sebenarnya. “Flu burung kan bukan penyakit sembarangan. idenya maksa sih. Tiba-tiba Bia tertawa. Oom.. Masa kalian nggak pernah dengar sih?” “Tuh kan. “Kalian tuh tolol banget sih! Cari penyakit kok yang aneh gitu.” aku Yuki.. “Lo jangan marah. Cha-Cha mengangkat tangan kanannya. gue bilang juga apa!” ujar Tammy.” sambung Tammy..” Bia diam saja. Dia punya kedudukan yang cukup tinggi di rumah sakit ini dan dia yang meminjamkan kamar ini dengan alasan gue mau latihan syuting buat pertunjukan saat kelulusan nanti. Dia ikut buka suara. “Dokter tadi oom gue. “Kalau begitu. .. biasanya pasien yang dicurigai kena flu burung itu bakal dirujuk ke RSPI Sulianti Saroso. rencana kita gagal gara-gara ide lo itu. lo udah tau kalau semua ini cuma pura-pura. “Dan gue yang jadi sutradaranya. Ekspresinya datar. “Maaf. kami tuh cuma mau ngebantuin Egi buat baikan sama elo. takutnya nanti ada pasien yang mau masuk. Orang yang diduga terjangkit virus flu burung bakal diisolasi. Cha-Cha nggak mau ketinggalan. “Jadi.” ujar Tammy. Udah gitu.” balas Tammy. Lebih masuk akal. “Tapi buktinya.. “Memangnya kalian pikir gue bego?” Bia balik bertanya. “Bi. “Gue penulis skenarionya. Demam berdarah aja. Bi. Mana mungkin gue percaya.” “Gue nggak bilang mereka salah. Satu lagi yang perlu kalian tau. nanti kalian lapor pada suster jaga agar kamar ini bisa segera dirapikan.” kata Yuki.” “Siapa yang punya ide tentang penyakit flu burung?” tanya Bia tanpa merespons kata-kata Yuki. ini semua ide gue. Oom. “Tapi jangan lama-lama ya.” “Baik.” Paman Tammy keluar dari kamar sambil tetap tersenyum. Bi. masa anak sakit parah orangtuanya nggak nemenin. “Lagi pula latihannya udah selesai kok.” “Jadi lo curiga?” tanya Tammy. “Gue. “Dia tulus sayang sama elo.” “Oh.” Cha-Cha ngotot. Tam. Jadi mana mungkin kalian diizinin ngumpul di sini bareng Egi yang katanya kena flu burung.” “Tapi kan flu burung lagi ngetren.. “Mereka cuma bermaksud menolong gue agar bisa baikan sama elo. “Jangan bilang kena flu burung.” sahut paman Tammy. Mereka nggak salah.” celetuk Teddy.” Paman Tammy tersenyum. begitu ya.

gue harus percaya sama ucapan elo begitu aja?” Egi mengangguk. Direbahkannya kepalanya di pundak Egi. dibiarkannya . Bia nggak menjawab. Bi. dan Teddy yang menonton dari belakang. “gue jamin lo nggak bakal bisa tersenyum lagi.. Dan elo nggak bisa menariknya lagi. “Itu harapan kami. Cha-Cha. “Gue sayang elo. “Kali ini lo nggak akan gue lepasin. “Paling nggak..” jawab Egi sungguh-sungguh. Dia nggak lagi melawan. ”Nggak tau ah!” Senyum Egi merekah. apa-apaan sih lo!” protes Bia sambil meronta. “Gila. “Apa ini berarti lo nerima cinta gue. Dia membiarkan cinta merasuki dirinya.. Bia menunduk agar Egi nggak bisa melihat wajahnya yang mulai terasa memerah dan panas. “Apa buktinya kalau elo sayang sama gue dan nggak akan pernah membuat gue kecewa?” “Gue nggak bisa menunjukkan buktinya ke elo. Wajah Bia makin memerah. Dia melompat dan berteriak kencang. Bi?” Egi mencoba menerka.” Bia berhenti meronta.” bisik Egi lagi.” bisik Egi lembut di dekat telinga Bia. “Kalau ternyata elo ngecewain gue?” tanya Bia dengan kepala masih tertunduk. Dia menyahut sambil pura-pura membuang muka. “Apa kalian pikir semua yang udah kalian rancang ini bisa membuat gue baikan sama Egi?” tanya Bia.” Egi terkesima mendengar kata-kata Bia. tapi tangannya perlahan bergerak dan membalas pelukan Egi dengan sepenuh hati. karena bukti itu ada di dalam hati gue dan hanya bisa gue perlihatkan seiring berjalannya waktu. Bi. Begitu pula Yuki. Lalu Bia berkata pelan. Dia jadi salah tingkah. Bi. membuat jantung Bia berdebar nggak keruan. Sekarang lo resmi jadi pacar gue. “YES!” Bia nggak tahu harus bersikap bagaimana. “Kata-kata lo tadi udah gue terjemahkan sebagai pernyataan bahwa elo bersedia jadi pacar gue. Bola matanya menatap Bia dengan lembut. Tubuhnya terasa lemas saat merasakan desah napas Egi di telinganya...” Suasana mendadak jadi hening. “Berarti.” jawab Yuki. Bia menyerah. Tapi Egi nggak mau melepasnya.. kami udah usaha. “Makasih. Mata Bia beradu pandang dengan Egi yang berdiri di hadapannya. siapa yang bilang gue mau pacaran sama lo?” Bia berusaha melepaskan diri dari pelukan Egi... Tammy.” “Heh. Apalagi ketika Egi tiba-tiba menarik tubuhnya dan memeluknya erat.Cha-Cha cuma manyun.

sensasi yang belum pernah dia rasakan menjalar lembut ke seluruh pembuluh darahnya. Gi. kata Bia tanpa suara. Gue juga sayang elo. Senyumnya merekah dalam pelukan hangat Egi. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful