Pacarku Juniorku

Valleria Verawati

FREE TALK
Hai... ketemu lagi sama gue! Akhirnya novel kedua ini terbit juga. Lega banget rasanya. Dua tahun udah berlalu sejak novel pertama gue diterbitkan. Maaf ya, udah bikin kalian semua menunggu. Berhubung gue nulis novel ini udah agak lama, jadi mungkin ada beberapa bagian di novel ini yang udah nggak sesuai lagi sama keadaan sekarang. Tapi gue harap itu nggak mengganggu kalian untuk menikmati novel ini. Anyway, gue mau ngucapin syukur atas kasih Tuhan yang tiada batasnya dalam hidup gue. Karena setiap karyaNya membuat hidup gue jadi luar biasa. Makasih banyak buat Papa dan Mama yang nggak pernah berhenti memberikan dukungan dan cinta. Makasih buat Ai, Nyenyen, Hendi, dan Ria yang selalu mendukung gue dengan caranya masing-masing. Khusus buat Dede, makasih ya, buat sumbangan namanya. Makasih buat Yenni dan Cia Sin di Batam, Ko Puk dan Lilis, juga semua keluarga besar yang udah memberikan dukungan buat gue. Jangan kapok bantu promosiin buku gue ya! Thanks buat Andi Wijaya atas kehadirannya yang membuat hidup gue seindah pelangi. Thanks juga buat Eudora Halim yang selalu menjadi sahabat terbaik buat gue (selamat buat pernikahannya ya!). Big thanks buat semua teman-teman gue dari Seraphine, Vianney, maupun UNTAR. Tanpa lo semua, gue nggak akan pernah punya cerita yang bisa gue tuang dalam novel-novel gue. Special thanks buat Florenka yang udah jadi sumber inspirasi gue buat novel ini (^-^). Gue juga mau ngucapin makasih baut semua guru yang pernah membimbing gue selama ini. Terutama buat Sr. Elisabeth atas doa-doanya, juga Pak Sandi dan Bu Vonny yang udah membantu melalui satu masa penyusunan skripsi (makasih banyak ya!). Tengkyu banget buat Mbak Vera yang udah banyak bantuin gue. Maaf kalau gue selalu cerewet dan banyak nanya. Makasih banyak Yustisea atas desain covernya yang oke banget. And makasih juga buat semua anggota Redaksi GPU atas bantuannya selama ini. Gue juga nggak bakal lupa ngucapin makasih sama all my lovely pets (terutama buat Rika-ku yang bantet and Lassie-ku yang brutal!). Meskipun kalian nggak ngerti, kehadian kalian udah bikin hari-hari gue jadi lebih ceria. Last but not least, thanks buat teman-teman baru gue yang udah membaca novel pertama gue. Respons dan masukan dari kalian sangat berharga buat gue. Makasih juga buat kamu yang lagi baca novel kedua gue ini. Tengkyu banget karena kamu

udah memilih untuk membaca novel ini di antara novel-novel lainnya. Gue tunggu respons kalian di v2_b4byp1nk@yahoo.com. Oke! GBU all.... Lophe, Vera

pokoknya kalo anak-anak baru itu udah pada datang. gue tahu.” respons Bia singkat. “Bi. Di balik tujuan baik penyelenggaraan MOS ini sering kali ada maksud terselubung. si penjaga sekolah. Apalagi buat yang sudah . Katanya sih biar para siswa baru itu punya mental kuat untuk menghadapi kerasnya dunia SMA kelak. Jalanan masih basah bekas diguyur hujan subuh tadi.00 dengan semangat ‟45. Hari ini adalah hari pertama MOS (Masa Orientasi Siswa) buat anak-anak kelas 1 yang untuk pertama kali mengenakan seragam putih abu-abunya. “Iya. para anggota OSIS punya wewenang untuk “mengatur” adik-adik kelas mereka yang baru. yaitu balas dendam. Tapi sebenarnya tetap saja balas dendam menjadi tujuan utama para senior ini. terkadang MOS disalahgunakan. kakakkakak kelas dengan junior-juniornya. juga sarana untuk memperkenalkan siswa baru pada lingkungan sekolah dan program-program sekolah.30.BAB SATU RONALD berdiri di samping Bia sambil menyisir rambutnya yang berdiri kayak duri landak dengan jari-jarinya. waktu hujan masih dengan riangnya menyiram tanah pertiwi dan gerbang sekolah belum dibuka oleh Pak Kosim. MOS ini sebenarnya diciptakan untuk mengakrabkan para guru dengan siswa baru.” ujarnya bak perwira yang sedang memerintah anak buahnya. Tapi beberapa anak yang tergabung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah SMA Constantine 4 udah pada kumpul di sekolah sejak jam 06. Tapi bagi beberapa anggota OSIS. cewek mungil berambut pendek yang udah hampir setahun ini memegang jabatan ketua OSIS. lo mesti ngeluarin seluruh kemampuan lo buat bikin mereka takut. Cewek bertubuh mungil itu berdiri tegak sambil celingak-celinguk memerhatikan gerbang sekolah. yang lebih beken dengan panggilan “Bia” (padahal itu nama kecilnya loh!). Apalagi Baby Fania. Dia udah tiba di sekolah sejak jam 05. juga biar mereka bisa menanggalkan sifat manja yang masih mereka bawa dari lingkungan SMP. Sudah menjadi tradisi turun-temurun bahwa selama MOS yang diadakan tiga hari ini. Udara pagi itu masih terasa agak lembap. Nggak ada seorang pun yang pasang tampang lemas.

duduk di kelas 3, MOS kali ini kan merupakan MOS terakhir buat mereka. Kapan lagi punya kesempatan bentak-bentak dan ngerjain orang tanpa perlu takut dibalas? “Eh, Ron, anak-anak udah pada siap di posisi masing-masing?” tanya Bia. Ronald menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Lo tenang aja, semua udah stand by di tempat masing-masing.” Bia manggut-manggut. Kepalanya masih sibuk bergerak dan matanya terus memantau gerbang sekolah tanpa berkedip. “Itu mangsa kita udah datang!” seru Bia senang. Bibirnya merekah memperlihatkan gigi kelinci yang nangkring di gusinya. “Mana... mana...?” Ronald maju beberapa langkah sambil melihat ke arah gerbang sekolah. “Iya... benar. Mereka udah datang.” “Siapa aja yang bertugas menjaga gerbang dan memeriksa kelengkapan atribut anak-anak baru itu?” tanya Bia. “Mmm... Sonny, Leon, Maya, Tania... sama satu lagi... si Victor.” Bia tersenyum puas. Lima orang yang baru saja disebut Ronald adalah anak buah kesayangannya. Soalnya selain bertampang sangar, mereka juga tegas, bermulut pedas, dan pantang disogok. Bia yakin lima orang itu akan melaksanakan tugas mereka dengan sangat baik. @(^-^)@ “Woi, jalannya lelet banget sih? Keturunan siput semua, ya?!” Tania meneriaki segerombolan anak yang berjalan kaki ke arah gerbang sekolah. Penampilan anak-anak itu terlihat sangat unik. Mereka memakai topi yang terbuat dari batok kelapa yang dibelah menjadi dua dengan warna yang berbedabeda. Di atas batok kelapa itu ditempeli bulu-bulu ayam yang disusun berjajar sehingga membentuk kipas. Selain itu mereka juga mengenakan kalung dari jengkol dan pada kalung itu digantung karton putih yang bertuliskan nama julukan mereka. Buat siswa perempuan, rambut mereka dikucir kecil-kecil dan diikat pita berwarna senada dengan topi mereka. Tas yang menggantung di punggung terbuat dari sarung bantal yang nggak tahu gimana caranya bisa disulap jadi ransel. Benar-benar pemandangan yang begitu menarik perhatian. Lucu banget! “Woi, anak siput! Kalau dalam hitungan ketiga kalian belum juga sampai di hadapan saya, saya suruh kalian lompat kodok dari situ!” ancam Leon. “Satu...!” Leon mulai menghitung. Gerombolan anak-anak itu bergegas berlari menuju kakak-kakak kelas mereka dengan wajah ketakutan. “Tiga...! Cepat lompat kodok semuanya!” bentak Leon.

Para siswa baru itu pada bengong. Perasaan tadi baru hitungan kesatu, kok sekarang udah tiga. Duanya dikemanain? Bukannya tetap berlari, mereka malah berhenti dan pasang tampang blo‟on. “Kalian ngerti lompat kodok nggak sih? Cepat lompat kodok dari situ!” Sonny ikut bentak-bentak. Suara dan tampang Sonny yang nyeremin bikin anak-anak baru itu langsung jongkok dan mulai melompat kayak kodok. Mereka meletakkan kedua tangan di belakang kepala dan mulai melompat dengan kedua kaki. “Semuanya lompat sambil ikutin nyanyian saya ya! Harus yang keras!” perintah Maya yang berdiri di depan barisan anak-anak yang mulai melompat. Maya memimpin barisan sambil bernyanyi, “Kodok ngorek kodok ngorek... ngorek di pinggir kali. Teot tet blung teot tet blung... teot teot tet blung.” Anak-anak yang melompat di belakangnya ikut bernyanyi mengikuti Maya. Warga yang tinggal di sekitar gedung sekolah serentak keluar dari rumah masingmasing karena mendengar keramaian yang terasa sangat aneh. Para pengguna jalan juga berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan itu. Sebagian besar dari mereka tersenyum dan berusaha mengulum tawa, tapi ada juga sekelompok ibu-ibu yang mengumpat karena merasa kegiatan ini konyol dan nggak ada gunanya. Namun apa mau dikata, ini kan tradisi turun-temurun. Lagi pula tradisi ini, walaupun kelihatannya agak kejam, nggak pernah sampai menimbulkan korban jiwa kok. Malah biasanya membawa keuntungan tersendiri. Misalnya, pernah ada orangtua murid yang datang ke sekolah untuk berterima kasih, karena anak mereka yang pemalu dan pendiam, setelah digojlok lewat program MOS selama tiga hari, anak itu malah bisa lebih terbuka dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. Dan efek positif yang lain, selesai MOS, anak-anak baru bisa langsung akrab dengan kakak kelas. Malah terkadang ada yang terlibat cinlok alias cinta lokasi. Makanya sampai sekarang, di saat tradisi MOS mulai dihapus di beberapa sekolah, SMA Constantine 4 tetap mempertahankannya. “Nyanyinya yang keras dong! Mana suaranya!” bentak Tania. “Yang udah sampai di hadapan kakak yang rambutnya jabrik itu langsung berdiri dan buat barisan.” Sonny, yang tahu bahwa dirinyalah yang dimaksud Tania, langsung mengambil posisi dan mengatur beberapa anak yang sudah sampai di hadapannya. “Kalian yang baru datang, langsung lompat kodok dan ikutan nyanyi!” seru Sonny kepada sekelompok anak yang baru saja tiba. “Hei! Kamu ngapain lompat kayak gitu?” tegur Victor dengan mata melotot ke arah seorang cowok yang sedang asyik melompat dengan kedua tangan terjulur ke depan, bukan di belakang kepala. “Saya, Kak?” tanya cowok itu dengan tampang heran.

“Iya, kamu!” Victor membaca karton nama yang menggantung di leher anak baru itu. “KATRO, ke sini kamu!” ujar Victor ketus. “Lho, salah saya apa, Kak?” tanya cowok itu. “Berdiri kamu, dan ikut saya!” perintah Victor. Cowok itu menurut dan mengikuti Victor keluar dari kelompoknya. “Kamu nggak tau cara lompat kodok, ya?” tanya Victor berusaha sabar begitu berhadapan dengan anak baru itu. “Tau, Kak. Bahkan saya pernah melakukan observasi khusus pada kodok-kodok yang sering numpang nginep di kolam ikan rumah saya.” “Saya nggak minta kamu melucu! Kamu mau sok jagoan, ya?” Victor mulai kehilangan kesabaran. “Saya kan cuma melakukan observasi aja, Kak. Kok dibilang sok jagoan sih? Emang sihs aya kurang kerjaan. Tapi saya sama sekali nggak ada maksud untuk sok jagoan kok. Nah, kebetulan tadi saya disuruh lompat kodok, ya saya terapkan aja hasil observasi saya itu. Soalnya, menurut hasil observasi saya, kodok tuh melompat dengan menggunakan keempat kakinya. Kedua kaki depannya bukan ditaruh di belakang kepala kayak teman-teman saya. Mereka salah, Kak. Yang benar ya kedua tangan kita juga harus digunakan untuk melompat supaya mirip kodok. Makanya saya melompat seperti itu. Kan disuruhnya lompat kodok,” cowok itu menjelaskan dengan tampang serius. Victor menarik napas panjang. Dia agak bingung. Sebenarnya nih cowok memang bermaksud melawan atau memang agak tulalit. Soalnya kalau dilihat dari tampang innocent-nya, cowok ini tampaknya sama sekali nggak ada niat untuk memberontak. Victor berpikir sejenak, dan ia merasa ada baiknya kalau nih anak aneh langsung diserahkan aja ke Bia daripada dia salah mengambil keputusan. “Kamu ikut saya!” perintah Victor. “Ke mana, Kak? Saya jangan diapa-apain, ya. Nanti mama saya marah kalau saya melakukan hal yang berlawanan dengan agama. Lagi pula kalo boleh jujur, saya masih suka sama cewek, Kak,” kata cowok itu dengan tampang memelas. Victor melotot memandang cowok aneh yang berdiri di hadapannya. “Lo pikir gue cowok apaan?” “Iih, Kakak... Gitu aja kok marah sih?” Victor benar-benar nggak tahan. Tangannya terkepal menahan marah. Dia langsung berbalik lagi dan berjalan menuju pos yang ditempati Bia dan Ronald selaku dewan pengadilan yang bertugas mengatur anak-anak aneh yang suka melanggar aturan MOS. Si cowok aneh itu berjalan di belakang Victor, tetap dengan wajah tanpa dosa. “Bi, ada pasien buat lo nih! Namanya Katro!” ujar Victor kesal ketika sudah sampai di pos Bia.

Cowok itu berjalan mendekati Ronald dan Bia. “Tapi yang pasti gue serahin dia ke elo karena dia. Ia seperti hendak memastikan bahwa memang dia yang dipanggil Ronald barusan. Victor berjalan menjauh dan kembali bergabung dengan timnya yang sedang berteriak-teriak ke arah anak-anak baru. “Cocok banget sama julukannya.” Bia menatap cowok yang berdiri nggak jauh dari hadapannya. apalagi senyumnya itu. lalu memanggilnya.” Ronald dan Bia berpandangan heran.. Tapi tatapan tajamnya lurus ke arah Bia.” kata Victor. “Heh.” jawab cowok itu menggantung kalimatnya. yang selama ini selalu hadir dalam setiap mimpi-mimpi saya. “Anak aneh.. Badannya yang tinggi dan tegap bikin tu cowok jadi kelihatan keren. Anak aneh? Apa yang aneh dari cowok itu? Bahkan menurut Bia. “Mm. kamu. “Saya sadar.” “Apanya yang aneh sih?” Ronald penasaran.. “Sadar apaan?” tanya Bia tegas. Mm. bahwa kakak tadi ternyata hanya ingin mengantar saya untuk bertemu dengan bidadari yang selama ini saya cari... orang aneh. lalu kembali menatap Ronald sambil menunjuk dirinya sendiri. awalnya sih saya kira kakak yang tadi itu naksir sama saya dan punya maksud jelek sama saya.. Memang kamu kira siapa lagi? Baca dong papan nama di dada kamu!” Ronald jadi agak sewot. dan Victor. cepat ke sini!” Cowok itu celingak-celinguk ke kanan dan kiri. soalnya gue sama sekali belum periksa.” jawab cowok itu enteng. nggak lama lagi nih cowok pasti bakal jadi salah satu idola sekolah. Ia terus menatap Bia dengan sorot memuja. si Hua Ce Lei itu tuh. Katro. tapi sekarang saya sadar.. Bia yakin banget. “Gue mau balik ke pos gue.. tampangnya oke kok.. asli banget. .” jelas Victor.. “Apa atribut yang dipakainya nggak lengkap?” “Kalau soal atribut sih gue nggak tau ya.” jawab Victor singkat. Tor. “Apa kasusnya?” tanya Ronald. Senyumnya merekah dan memperlihatkan lesung pipi di pipi kirinya. Dan sekarang bidadari itu sudah berdiri tepat di hadapan saya. sampai lo bilang dia anak aneh?” tanya Bia heran... siapa ya? “Memangnya dia bikin salah apa.. “Lo tanya aja sendiri.. Bia merasa wajah cowok itu mirip dengan orang yang dikenalnya.. Tampangnya innocent banget. Tapi entah kenapa.Cowok aneh itu berdiri agak jauh dari tempat Bia. “Iya. Mukanya yang rada oriental mengingatkan Bia pada bintang film kesayangan Mama. “Kamu tahu kenapa kamu dibawa menghadap kami?” tanya Ronald begitu cowok itu udah berdiri di hadapannya. Ronald menatap “cowok aneh” yang masih berdiri di tempatnya tadi. Ronald.

kamu salah tempat. Sekolah ini nggak butuh manusia konyol kayak kamu!” jelas Bia dengan nada pedas. Bia juga nggak tahu apakah cowok itu bermaksud cari-cari masalah atau bukan. Kak. Benar kata Victor. ini bukan tempat pelatihan buat pelawak atau badut. Kamu harus tahu. Mimik mukanya yang innocent bikin orang yang mendengar ceritanya mau nggak mau jadi percaya. “Tunggu dulu! Kalung apa yang kamu pakai itu?” tanya Bia sambil menunjuk kalung yang menggantung di leher cowok itu. Semua masih nggak jelas. Saya udah suruh pembantu saya beli jengkol buat dibikin kalung. saya nggak mempan sama rayuan gombal. “Kamu pikir saya percaya sama cerita kamu itu?” tanya Bia.” “kamu kira kamu itu lucu.” . Tapi itu nggak berlaku buat Bia. kan? Kalau mau. Cowok itu menurut. Ronald mulai memeriksanya satu per satu. Bia menarik napas lalu mengembuskannya perlahan. “Saya nggak pernah berminat jadi badut atau pelawak.. Kakak juga nggak akan bisa marah sama pembantu saya itu. “Sama sekali nggak lucu. cowok di hadapannya ini aneh. “Kalau begitu. “Keluarin semua perlengkapan yang harus kamu bawa hari ini!” perintah Ronald. tapi sayang banget. Kak. nggak ada yang kurang. orang-orang yang menganggap kamu lucu itu adalah manusiamanusia katro kayak kamu!” maki Bia. soalnya semur jengkol buata pembantu saya itu emang enak banget. “Bukannya yang disuruh itu kalung dari jengkol?” “Oh. tapi ada juga sih orang yang bilang kalau saya lucu dan manis.” Ronald berdiri di samping Bia sambil berusaha mengulum tawa. Kalau kamu mau jadi pelawak atau badut.” jawab cowok itu sambil tetap tersenyum manis.“Terima kasih atas pujiannya. Tapi saya nggak bisa marah. Gaya bicara si Katro ini memang asli lucu. Apa muka saya kayak muka penipu? Nggak. Kamu mesti bilang sama orangtua kamu untuk segera memindahkan kamu dari sekolah ini. Jadinya jengkolnya dimasak deh sama dia. Dia kira saya lagi pengin makan semur jengkol. kalau itu sih saya nggak tahu. apa?!” bentak Bia. Tapi dia salah pengertian. ya udah saya bikin aja dari pete. karena saya memang jujur kok. Kak.” saran Ronald. Saya yakin... ceritanya. Gitu Kak ceritanya. “Wah. Dia mengeluarkan berbagai macam barang dari dalam tasnya.. Kak. Berhubung yang ada di rumah tinggal pete. Semuanya lengkap.” “Udah. atau saya suruh dia bikin semur jengkol lagi buat Kakak. “Harus percaya.... Kakak boleh tanya sama pembantu saya di rumah. Kak. Saya cuma ingin jadi. begini. periksa perlengkapannya aja dulu.. pacar Kakak. kalau Kakak udah mencicipinya sedikit saja. Bi.

” jawab cowok itu sambil cengengesan dan garuk-garuk kepala. bikin lingkarannya harus sambil pakai nyanyian baru ngerti?!” “Yang di sana!” seru Ronald.. “Jangan malah mendem di pojok. “Kalau Kakak yang suruh. anakanak kelas satu itu pasti akan sangat berterima kasih bila diizinkan menyumpal telinga mereka dengan kapas.. “Keterlaluan sekali kalian. “Juventus Egi dari kelas 1 D. apa pun akan saya lakukan. bukan malah ngumpul dan ngobrol sendiri!” Teriakan demi teriakan bergema di seluruh aula. ngetawain teman sendiri!” Aula mendadak sunyi senyap.. Padahal mereka udah sebisa mungkin melaksanakan perintah kakak-kakak senior itu dengan baik. @(^-^)@ “Oke. “Tadi pagi kalian telah diminta untuk mengumpulkan surat cinta dan surat benci untuk kakak senior kalian kepada wali kelas masing-masing.” Dia meletakkan tasnya di tanah dan mulai mengambil posisi push-up. semuanya!” perintah Sonny yang menempatkan diri di tengah aula. Cepat!” bentak Bia.“Saya nggak peduli dan jangan coba-coba mempermainkan saya. “Atau masih kayak anak TK.” Cowok yang namanya disebut itu celingak-celinguk nggak jelas. Cowok itu tersenyum manis lalu berkata.! Sekarang juga saya minta kamu push-up tiga puluh kali!” perintah Bia. “Oke.” lanjut Tania. tau!” Tawa anak-anak meledak. “Kamu yang kecil kayak tuyul!” teriak Leon. . sekarang semuanya dengar baik-baik!” suara Tania memecah keheningan. “Tapi ada satu surat yang rasanya aneh dan saya mau pengirim surat itu maju ke tengah lingkaran. Tapi tetap aja ada yang salah. “Iya. Nggak ada yang berani bersuara apalagi ketawa... Nanti kalau kamu ilang digondol jin bisa bikin repot. “bikin lingkaran besar ya. Seandainya saja boleh. dia pun maju ke tengah lingkaran. Kak. Kak?” tanya cowok itu. “Siapa yang suruh ketawa!” bentak Maya. pada tau lingkaran besar nggak sih!” bentak Victor. Suaranya yang keras membuat semua mata memandang ke arahnya. “Kamu yang namanya Juventus Egi?” tanya Tania begitu Egi sudah berdiri di hadapannya. “Push-up. Lalu perlahan dia mulai push-up di bawah hitungan Bia. “Woi. “Iya. Dan setelah tubuhnya didorong oleh teman-temannya. “Bikin lingkaran besar!” Anak-anak baru itu mulai bergerak dan membuat lingkaran sesuai perintah senior mereka.

“Kenapa?” Maya bertanya.. “Boleh aja kalau kamu memang bisa.” jawab Egi.. “Kamu diperintahkan untuk menulis surat cinta dan surat benci. “Karena surat ini adalah lagu cinta.” “Dinyanyikan?” Maya jadi heran. Cuma Bia yang berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan tampangnya manyun luar biasa.“Kenapa kamu garuk-garuk kepala?” tanya Tania ketus. “Tapi surat ini harus dinyanyikan. “Saya kan cuma sedikit salting karena harus berdiri di tengah-tengah orang banyak gini. kasar! “Ih. “Tapi. “Ketombean. surat ini nggak bisa saya bacakan. Yon.” jawab Tania.. Leon maju mendekati Egi.” “Kalau begitu ya nyanyikan aja. Kak.. boleh nggak kalau saya menyanyikannya sambil memainkan piano itu?” Egi meminta izin sambil menunjuk ke arah piano yang ada di depan aula. Dia nggak mau sampai terjadi keributan. “Dengar baik-baik. itu karena di dalamnya udah lengkap terdapat ungkapan cinta dan ungkapan benci untuk bidadari yang telah menawan hati saya.” “Oke kalau begitu. “Kamu malu?” “Bukan. . “Sabar. Ronald buru-buru menarik Leon. Kakak kok ngomongnya gitu sih?” jawab Egi.” celetuk Tania. Tapi kelihatannya dia nggak berniat melawan kok. Piano itu memang selalu berada di situ. Cocok sama nama julukannya: Katro. “Sekarang saya minta kamu bacakan surat yang udah kamu tulis ini dengan suara lantang. Mmm. Juventus Egi!” seru Maya. Tapi kenapa yang kamu kumpulkan cuma satu surat doang?” “Ooo. Kak. “Mmm. Egi mengangguk. Jadi akan menjadi lebih indah dan bermakna apabila dinyanyikan. Biasanya sih digunakan saat ada acaraacara sekolah yang membutuhkan iringan musik. “Lo mau ngelawan ya?!” Egi menggeleng sambil tersenyum.. Ruangan kembali hening.” Leon menurut meski dengan setengah hati. Tadi dia habis kena hukuman push-up lagi dari Bia. Kesannya kayak lagi jumpa fans gitu deh.” sahut Egi. atau memang kamu keturunan monyet?” Weits. Kakak mau minta tanda tangan saya?” Anak-anak kembali tertawa. dia emang rada aneh.” Semua pengurus OSIS yang berkumpul di tengah lingkaran bertepuk tangan dan berteriak riuh.. “Diam semuanya!” bentak Sonny. Kali ini giliran Maya yang maju dan mendekati Egi dengan sepucuk surat di tangannya.” kata Maya.

Egi memainkan jemarinya di atas piano sambil tersenyum menatap Bia... Dan sorot matanya itu lho.. Ketika pagi datang Ku tak pernah mengira Kan bertemu denganmu Di depan sekolahku Jantungku pun berdetak Sungguh sangat cepatnya Dan ku tahu ku tlah jatuh cinta Ketika malam datang Sepi yang kurasakan Tanpamu di sisiku Galau selimuti kalbu Ingin ku membencimu . tes. Dia nggak terlalu suka ngomel atau ngebentak-bentak. tapi kalau udah bersuara nyeremin banget. tapi temantemannya langsung mencegat langkahnya. Nggak ada satu pun junior yang nggak disiplin bisa lolos dari cengkeraman Bia. “Oke. Ada yang berteriak. Ya surat dari Egi ini. Senior lain sih ada juga yang galak. satu dua tiga. tajam banget. Bia menjadi senior yang paling ditakuti. Nada-nada yang mengalun dari piano membuat semua orang terdiam. tapi nggak ada yang semenakutkan Bia.. melantunkan lagu cinta dari bibirnya.Egi tersenyum lalu berjalan mendekati piano itu. Jelas banget niat teman-temannya pengin ngerjain dia. Dia cuma bisa berdiri diam dengan tampang jutek. Dia duduk dan membuka tutup piano. ada yang bersiul. Bia buang muka. cuma ada satu surat cinta yang ditujukan untuk Bia. Baby Fania alias Kak Bia.. Kalau ngomong pedesnya minta ampun. Dia juga yang paling tega ngasih hukuman lari sepuluh kali keliling lapangan. “Tes.. Selebihnya Bia cuma menerima setumpuk surat benci.” Egi mencoba mikrofonnya.” Tepuk tangan memenuhi aula. Bia merengut kesal. Tapi Egi tetap menatapnya. Beberapa anggota OSIS berjalan mendekat dan memasang mikrofon di dekat piano.. nggak ada tuh yang namanya kompromi. lalu menempatkan jemarinya di atas deretan tuts berwarna hitam dan putih itu. Mereka juga memberikan mikrofon kecil yang kemudian dipasang di kerah baju Egi agar suara Egi dapat terdengar ke seluruh sudut aula. Selama MOS berlangsung. Bia pun mengurungkan niatnya. lagu sederhana ini saya persembahkan kepada seorang gadis yang telah membuat saya jatuh cinta. Dia beranjak hendak meninggalkan aula. bahkan ada yang melompat-lompat nggak jelas. Bagi Bia. Soalnya. di antara surat-surat yang diterima wali kelas satu.

Karena kalau kamu berani menyanyikan lagu itu di sekolah ini lagi. Matanya melotot ke arah asal suara. “Lebih baik kamu nyanyi di bus kota aja. Anak-anak terdiam karena kaget. Kak?” tanya Egi. sorakan. Suit. Bia kembali menatap Egi yang masih berdiri dan tersenyum di depannya. suit. jangan pernah kamu menyanyikan lagu itu di sekolah ini... Sambil tersenyum lebar dia membungkukkan badannya berulang kali layaknya selebriti yang habis ngadain konser. Sorakan riuh rendah menutup pertunjukan singkat Egi. dan tepuk tangan terus mengalir. Nggak ada yang berani ngaku. “Apa lagu itu kamu ciptakan buat saya?” kali ini suara Bia terdengar lebih halus. waktu itu saya mundur gara- . Bi?” Bia nggak menjawab. itung-itung bisa dapat uang saku ekstra. Ia melambaikan tangannya dan meniupkan ciuman ke sekelilingnya..” “Kalau begitu saya sarankan. Tania mendekati Bia lalu berbisik heran.! Siulan terdengar dari arah anak-anak kelas satu yang sedang berdiri. “Kenapa sih. saya tidak akan memberikan kamu uang recehan.” Egi langsung menjawab tanpa ragu. “Karena Kakak cantik. “Kenapa kamu senyum-senyum?” tanya Bia sinis. Egi berdiri dan berjalan ke sisi kanan piano. “Iya.” kata Bia dengan nada mengancam. “Padahal Indra Lesmana pernah memuji suara saya loh waktu saya ikut audisi Indonesian Idol 1. Katanya suara saya khas dan unik. Dia malah berjalan mendekati Egi yang masih berdiri di sisi piano sambil tersenyum. Teknik falseto saya juga top.. lagu itu saya ciptakan khusus untuk Kakak. Tapi sayangnya. “Siapa yang bersiul?” tanya Bia dengan suara keras dan tegas.Karna kaucuri hatiku Dan buatku tergila-gila Tuk mencintaimu Reff : Percayalah sayangku Kan kubawa kau ke surga Ku berjanji padamu Takkan meninggalkanmu Meskipun dunia tak inginkan dirimu Ku akan slalu di sisimu Tepuk tangan membahana di seluruh sudut aula. tapi air comberan!” “Kok gitu sih. siulan. Hening. Gelak tawa. “Diam semuanya!” bentakan Bia yang tiba-tiba membuat seisi aula mendadak hening. Egi mengangguk.

. kembali ke kelompok kamu!” Kayaknya.gara takut Delon merasa tersaingi deh saya. “Dan kamu. Kalau mereka ikut tertawa. Para senior alias anggota OSIS berusaha sebisa mungkin mengulum tawa. Bagaimanapun Bia kan ketua mereka. “Semua diam!” bentak Bia kesal.” Tawa kembali meledak. Kalau saat ini bukan acara MOS. cowok satu ini akan benar-benar mengusik kehidupan Bia. Bia benar-benar keki.. Bia yakin tinjunya sudah bersarang di wajah cowok jayus ini. itu sama aja mereka ngetawain Bia. saya ini orangnya suka nggak enakan. Maklumlah..

Masa nggak ada yang seru sih!” Cha-Cha protes mendengar jawaban Bia yang begitu singkat. sekali sahabat ya tetap sahabat. “Ah. Yuki udah ada yang punya.BAB DUA TIGA hari sudah berlalu. bisa nongkrong di kantin sambil menikmati jajanan. Yu!” “Lo mau gue ceritain tentang apa?” tanya Yuki. MOS sudah selesai dan sekolah mulai berjalan seperti biasa. Dan yang namanya geng. si Bia dapat senior ter. Seperti biasa. “Dia kan juga pengurus OSIS. elo nggak asyik nih. Cha.. pasti punya markas. Nggak ada lagi yang namanya bentak-bentak dari kakak kelas. senior tergalak dan terjudes. Bia dan ketiga temannya udah sobatan sejak pertama kali mereka menginjak sekolah ini. Cerita dong. itulah yang menjadi markas geng Bia. Ia mengambil botol sambal yang ada di meja dan menuangkan isinya ke dalam mangkuk minya. “Cerita dong. Yuki. persahabatan nggak pernah memedulikan elo di kelas mana dan gue di kelas mana. . lalu berkata.” Cha-Cha menoleh ke arah Yuki yang duduk di sebelahnya. Bia duduk di kantin sambil menikmati semangkuk mi pangsit bersama teman-teman segengnya: Cha-Cha. “Bagi gue. Tapi yang jelas. Meja yang ada di pojokan kantin.” jawab Bia singkat. “Gimana MOS kemarin. semuanya emang biasa aja. Bi?” “Biasa aja. Jam istirahat memang waktu yang paling menyenangkan buat mereka. Cha-Cha melahap sepotong kecil pangsit sambil bertanya. dan secara de facto menjadi daerah teritorial milik mereka. “Mmm. Bagi mereka. dan Tammy. di antara mereka berempat cuma Tammy yang beda kelas. “Sama kayak tahun kemarin. Tanya aja sama Yuki. Dan saat ini.apa nih?” tanya Cha-Cha. cewek blasteran Jepang yang jadi inceran sebagian besar cowok di SMA Constantine 4 ini.. Tapi sayang. dan anak-anak kelas satu pun kini bisa bernapas lega.” jawab Yuki.” kata Bia.

“Menurut gue sih ada. Nggak heran dia langsung jadi idola baru di sekolah ini. Satu-satunya cowok yang bikin surat cinta buat elo waktu MOS. Cha. “Juventus Egi? Bikin surat cinta buat Bia?” tanya Tammy heran. . sekali-sekali kayak Yuki dong. “Cha.” kata Tammy. Masa SMA kita kan tinggal setahun ini. tapi judesnya itu malah bikin MOS kita sukses. dan nggak ada masalah kok.. “Kalau tampangnya oke. Cowok aneh itu emang punya tampang oke. Tam?” tanya Cha-Cha. “Masa sih? Siapa namanya? Siapa? Kelas berapa?” tanya Tammy antusias.” kata Tammy. senior terfavorit. gue serius nih. Bia emang judes banget..itu.” tawa Cha-Cha. lo tuh emang nggak bisa lembut dikit ya. “Lo nggak salah? Mereka tuh bukan hormat sama elo..” jawab Yuki. Bi. bisa butek nih otak gue. “Ah.” ujar Cha-Cha. dokunya kenceng. emang dia kok. Masih bau kencur. anak kelas satu gitu loh.” Bia membela diri. “Tanaman. anak kelas 1 D. Namanya Juventus Egi.” “Kurang satu. “Serius dong.” sahut Bia dengan tampang jijik. bau tanah juga nggak apa-apa. lo harus buru-buru. why not?!” “Ih.” jawab Yuki.. Tam.” “Dengar tuh. Dan kalau lo beneran serius pengen kenalan. Bi. anak barunya subur atau gersang nih?” tanya Tammy. “Yee.” kata Bia senang karena dapat pembelaan. Bia menghela napas. “Pasti Yuki jadi senior tercantik dan terbaik lagi.. Soalnya udah banyak yang ngincer..” ujar Tammy. “Tuh kan. Kalau pemandangannya nggak ada yang baru. “Yuki. jangan bilang kalau yang lo maksud itu si cowok katro itu ya. “Lo suka daun muda. “Kenapa harus lembut? Gue terpilih sebagai senior tergalak dan terjudes itu kan berarti gue sukses bikin anak-anak baru itu hormat sama gue. nggak? Kalo ada. mau gue samperin tuh anak. “Iya. Semua tertawa mendengar kata-kata Tammy itu. Asal tampangnya oke. kali. bodo deh sama senior ter. Soalnya cuma ketegasan Bia yang bisa nyelesaiin semua masalah dan bikin anak-anak baru itu nggak berani ngelawan. kaleee. Yang perlu gue tau.. it’s okay kok.” kata Bia curiga. “Bener tuh.“Hahaha! Tepat seperti dugaan gue. “Menurut gue...” sahut Bia. tapi takut dan benci setengah mampus.” Tammy ikut sumbang suara sambil tertawa.” sambung Bia...” Yuki tersenyum malu. Ada yang cakep. Tepat dugaan dia.

Yuki-chan.“Wah.” rajuk cowok itu.. my angel. Egi menyambutnya sambil tersenyum manis. Tepat saat Bia mengangkat gelasnya. “Lho.” kata Egi. “Lo nggak usah ngegombal deh sama teman-teman gue. berita heboh gitu kok nggak diceritain sih. Kak?” “Boleh. tapi lo panggil aja gue Tammy.” “Kalo gue Frederica..” ujar cowok itu sambil beranjak ke samping Tammy dan Cha-Cha. Tammy dan Cha-Cha membalas lambaian itu sambil tersenyum lebar. Yuki tersenyum manis mendengar namanya disebut Egi dengan gaya panggilan Jepang. . Semua terdiam karena kaget.” “Pergi nggak lo!” bentak Bia sambil mengangkat gelas minumannya yang sudah kosong. “Oke deh. “Cerita apaan sih?” Tiba-tiba sesosok makhluk berjenis kelamin laki-laki muncul di sebelah Bia. “Gue sama sekali nggak nyesel masuk sekolah ini..” kata Egi sambil mengulurkan tangannya ke arah Tammy.” Egi beranjak meninggalkan kantin sambil melambaikan tangan. Kak. kok pada diam sih. Pergi sana!” “Ih. Saya Eig. Ternyata di sini banyak bidadarinya. Cepet lo pergi dari sini sebelum gue lempar nih gelas!” bentak Bia keki. lo kejam banget. Kakak kok galak gitu sih.. Bia melotot kesal melihat ulah kedua temannya itu. Saya kan mau kenalan sama kakak-kakak yang cantik ini. berbunyi dengan nyaringnya. bel tanda istirahat telah selesai. nama gue Tamara. “See you. “Pergi nggak lo!” usir Bia kasar. Bi. Curang lo berdua. “Dan jangan panggil kami „kakak‟. Keduanya melongo melihat cowok keren yang berdiri di dekat mereka itu. Terutama Cha-Cha dan Tammy.” Cha-Cha nggak mau kalah. “Halo. “Nggak mau ah. “Tenang aja.... ada yang nyimpan cerita sendirian nih. gue masuk kelas dulu ya. kan?” goda Egi. Kesannya tua banget. tapi lo boleh panggil gue Cha-Cha. “Boleh kenalan nggak. Dia ikut-ikutan mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Egi. “Wah. Lo cemburu ya. “Kalau yang cantik ini gue udah kenal. kakak-kakak yang cantik?” tanya cowok itu tersenyum manis. Ayo dong cerita!” seru Cha-Cha penasaran.” Tammy membalas uluran tangan Egi. Saved by the bell. gue deket sama cewek lain.” kata Egi. “Gila! Itu yang namanya Egi? Cakep banget!” seru Tammy. “Lo ngapain di sini?!” bentak Bia. cuma Bia kok yang ada di hati Egi. “Nggak ada yang ngajak lo ikutan gabung.” kata Egi sambil tersenyum manis ke arah Bia.

. Bi. Lagi-lagi pulang malam. mereka segera mengalihkan pembicaraan. Kalau Bia mencoba bertanya pada mereka. Nggak perlu menghabiskan uang buat mandi sauna. Tapi lumayan juga sih buat membakar kalori.. Sedangkan ayahnya. Mama Bia bekerja di bagian pembukuan di sebuah pabrik tekstil. @(^-^)@ Udara siang ini luar biasa panasnya. Hati-hati di rumah ya. cute abis!” tambah Cha-Cha nggak kalah heboh dari Tammy. Lebih alami! Bia mengeluarkan kunci dari dalam tas ranselnya dan membuka pintu pagar rumah. Nanti Mama pulang malam.” kata Yuki dengan senyum manisnya. Bia nggak tahu apa alasannya. “Cakep? kayak gitu lo bilang cakep? Lo berdua buta kali ya!” ujar Bia heran. Maaf ya. Bia lahir di luar nikah. lalu tidur duluan. tapi semua keluarga Mama juga bungkam. mungkin itu sebutannya.. Bia menemukan secarik memo tertempel di pintu kulkas. “Bi. Kamu nggak usah nunggu ama. Kalau kamu mau. tapi Mama selalu bungkam. lega rasanya. Ia melempar tas ranselnya dan bergegas ke dapur mengambil segelas air dingin dari kulkas. Berulang kali Bia menuntut Mama untuk menceritakan siapa ayah kandungnya. Memo dari Mama. nanti malam beli makanan aja. Hah. Anak haram... Love.. Saat menutup pintu kulkas. dan ayam goreng di meja makan. Matahari sedang seru-serunya memancarkan sinar. Bahkan nggak jarang Mama malah marah besar sewaktu Bia memaksa Mama bicara. Mukanya itu lho. Naik angkot dari sekolah sampai ke rumah benar-benar telah menguras keringat Bia. “APA?! AMIT-AMIT DEH!” ujar Bia jijik sambil mengetuk-mengetukkan jarinya di meja berulang kali. tempe goreng. Hampir setiap hari Mama lembur. Bukan hanya Mama yang bungkam.. Sejak lahir Bia nggak pernah tahu siapa ayah kandungnya.“Iya. tapi Bia yakin . ada nasi. Bia meneguk air minumnya dengan cepat untuk meredakan dahaga. kayaknya si Egi serius naksir sama elo deh. Bia nggak tahu laki-laki mana yang layak disebutnya papa. Mama cuma sempat masak itu tadi pagi. Ia buru-buru masuk ke rumahnya sebelum kulitnya gosong terkena sengatan sinar matahari.. Ya ampun. Belakangan ini Mama kelihatannya benar-benar sibuk. gerutu Bia dalam hati. Mama.

Pahitnya masa lalu kembali bergulir dalam memorinya. cewek itu berjalan gontai menuju tempat tidur. Bia nggak suka kalau ada cowok yang coba-coba mendekati dirinya. Mama nggak pernah mau menerima belas kasihan dari siapa pun. pernikahan itu nggak bertahan lama. cowok itu nggak pantas mendapatkan cinta dari perempuan karena mereka sama sekali nggak pernah bisa menghargai arti seorang perempuan dalam kehidupan mereka. Penyebabnya karena Mama memergoki Papa Ivan selingkuh. Mama adalah segalanya. Sejak perceraian itu. Makanya. Bagi Bia. Bia yakin dirinya mampu berdiri sendiri tanpa kehadiran cowok dalam hidupnya. Mama memang pernah menikah secara resmi. Dia berjalan menuju kamarnya sambil menyeret tasnya yang tergeletak di lantai. Cita-cita Bia cuma satu. Sekarang Bia cuma tinggal berdua lagi dengan Mama. Papa Ivan orang yang humoris. Waktu itu Bia baru kelas 6 SD. membuat Mama bahagia. juga ayah kandungnya yang sudah meninggalkan dirinya dan Mama begitu saja. Direbahkannya tubuhnya di atas tempat tidur. Tapi satu keyakinan yang tertanam dalam benaknya. Bia nggak mau disakiti cowok seperti Mama yang sudah disakiti Papa Ivan. laki-laki yang meninggalkan anak dan istrinya tanpa alasan pasti bukan laki-laki yang pantas untuk dipanggilnya papa. Mama memilih bekerja dan hidup mandiri bersama Bia di rumah kontrakan yang sederhana ini. Dan Bia membenci laki-laki yang sudah membuat dirinya dipanggil anak haram itu. Bagi Bia. Pengkhianatan Papa Ivan dan tak adanya figur seorang ayah memubat Bia menjadi pribadi yang keras. semua laki-laki brengsek. Ditatapnya langit-langit kamarnya. Mama kembali berperan sebagai single parent buat Bia. Bia memanggil laki-laki itu Papa Ivan. Dia nggak lagi berusaha mencari tahu tentang ayah kandungnya. Sama seperti sebelum Mama menikah dengan Papa Ivan. Bia nggak bisa memungkiri. Bia nggak akan membiarkan seorang cowok pun menyakiti dirinya. Mama menikah dengan laki-laki yang usianya lebih muda dua tahun. . dan perempuan cuma sekadar pendamping yang mencuri tulang rusuk mereka. Mama bekerja banting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan Bia. Di mata Bia. Makhluk yang bernama cowok itu sering merasa dirinya adalah makhluk berakal budi yang pertama kali diciptakan Tuhan. Setelah meletakkan tasnya di meja belajar. Lambat laun Bia menyerah. Bia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dan Mama kembali terluka. Mama selalu menolak setiap bantuan yang hendak diberikan oleh keluarga Mama. Tapi sayang. Semua peristiwa yang dialaminya selama ini telah mengubah hidup Bia. Prinsipnya: I don’t need a man. dia senang Mama menikah dengan Papa Ivan.Mama sudah meminta semua orang untuk merahasiakan identitas ayah kandungnya.

Apa perlu ditambah ya MOS-nya? Biar digojlok habishabisan sampai kapok. lo tuh masih bau kencur! Gue ini kakak kelas lo. “Sabar dong. “Halo. sekalian aja gue tanya nomor telepon lo. “Gue cuma mau nanya. Bia jadi nggak enak hati udah ngomong sekasar itu pada Egi. kayak orangnya. Mas! Tao Ming Tse aja nembak gue. cowok di seberang malah berkata. Gue malah ketemu Tammy di kantin. Kaget ya... Padahal biasanya kalau ada cowok yang nembak. Tammy. Nggak tau kenapa. Bia bangkit dari tempat tidur dan buru-buru berlari kecil menuju ruang tamu untuk mengangkat telepon. “Siapa lo? Gue nggak suka gaya bicara lo!” “Duilee.. Padahal gue bermaksud nganterin lo pulang tadi. Tapi nggak . Nggak usah histeris gitu dong.. Jadi lo nggak mau sama gue cma karena gue adik kelas lo?” suara Egi terdengar lirih. langsung ditolaknya tanpa memedulikan perasaan tuh cowok.. Katanya lo udah pulang duluan naik angkot.. di mata gue. Gue Egi.” Bia melotot mendengar kata-kata si penelepon gelap itu.” ujar Egi. tapi nggak ketemu.@(^-^)@ “Kriinngg. “Halo..” sapa Bia.. “Gue tau nomor telepon lo dari temen lo...!” Dering telepon dari ruang tamu mengembalikan Bia ke alam nyata. Gue boleh nggak jadi pacar lo?” “Jangan kurang ajar ya!” suara Bia makin melengking.. Bi. baru sehari selesai MOS udah berani kurang ajar sama kakak kelas. “Wow! Suara lo di telepon merdu banget. ng. “Ya ampun. Oke?” jawab Bia sambil tertawa.” “Egi! Berani-beraninya lo nelepon gue! Dapat dari mana lo nomor telepon gue!” bentak Bia kaget. “So. Ya udah. lo lagi jomblo ya?” “Apa?!” pekik Bia kaget. Bia. Bia. ini Bia. Dia paling nggak suka cowok yang berani ngegombal padanya. Apalagi elo! Sadar ya. Lo nggak usah main-main sama gue. Kayaknya dia kecewa.. Gila juga nih cowok. Ini siapa ya?” Bukannya menjawab. ditembak cowok ganteng?” “Ngaca dulu sana. “Iya. “Begitu ya.. “Gue serius nih. ya?” balas si penelepon dari seberang. marah lagi. Tadi pas pulang sekolah gue nyari elo. Masa lo nggak kenal sama suara keren gue ini. gue tolak..” Dasar Tammy rese! Ngapain juga dia ngasih tau nomor telepon gue ke anak kutu ini! rutuk Bia dalam hati. Suara cowok. marah lagi. elo ada perlu apa sama gue sekarang?” tanya Bia ketus. Gue kan cuma berkata jujur.. Jangan galakgalak gitu dong. Suara lo imut. Gue nggak punya maksud jelek kok sama elo..

Nih cowok emang nggak bisa dikasih hati.” suara Bia mulai melembut. bukan cuma karena itu.. Iih. ada hubungannya nggak sih? “Mmm. apa.” “Omong kosong!” Brak! Bia membanting gagang telepon dan memutus pembicaraan begitu saja. Dia kira gue cewek gampangan. Gue akan membuat lo jatuh cinta sama gue. Gue paling jijay sama cowok kayak gitu. Dasar cowok rese! Nggak tau malu! Nggak tau diri.. Gue serius sama elo dan gue akan membuktikan hal itu sama elo. Dilembutin dikit malah makin ngegombal. tapi karena gue emang nggak minat pacaran. jadi belum tahan banting. Lagian lo tuh belum kenal siapa gue.” sahut Egi.. kok sekarang Bia jadi kasihan sama Egi? Mungkin karena Bia merasa Egi masih muda.. “Kenapa?” “Lo nggak perlu tau alasannya.” “Gue kenal kok siapa elo..tau kenapa. Gue yakin lo nggak serius sama gue. . Dia membanting tubuhnya di sofa ruang tamu lalu merengut kesal. Yang klepek-klepek kalau dengar rayuan murahan kayak gitu. “Elo tuh Baby Fania. Mmm. Gue akan membuat elo mau membuka hati buat gue. kali ya.. Gi. cewek yang emang udah ditakdirkan Tuhan buat gue. kesel bangt deh gue! Semua cowok emang sama aja! GOMBAL! Bia ngedumel nggak keruan gara-gara keki mendengar kata-kata Egi di telepon barusan.

Mama lagi malas sarapan. “Iya.. siap memulai hari baru.. Tante. Kamu habiskan aja makanan kamu lalu berangkat.” “Iya.. Matahari mempersembahkan sinarnya yang paling hangat buat bumi.. Ma?” “Iya. Bia sudah duduk di meja makan bersama Mama sambil melahap roti bakar buatan Mama. Mama berjalan menuju pintu depan untuk membukakan pintu. Kamu makan aja. “Nggak. “Mama nggak ikutan makan roti?” tanya Bia heran melihat mamanya yang hanya menghirup segelas susu hangat. “Kita makan malam sama-sama. “Pagi. Bia kembali duduk dan menghabiskan roti bakarnya yang tinggal dua suapan lagi. Mama kan tetap minum susu sebagai ganti sarapan. ya. Tumben ada cowok cakep yang datang ke rumah pagi-pagi. Jadi kamu masak cepat. Nanti kamu telat lho.” “Benar. Siapa ya yang bertamu pagi-pagi begini? Nggak biasanya lho.” Mama mencegah Bia yang sudah mau bangkit dari duduknya. Mama ini nggak tau kesehatan ya! Sarapan itu penting kan. “Biar Mama yang buka pintu. Semilir angin pagi ikut bertiup sepoi-sepoi membuat semua orang bangun pagi dengan semangat dan ceria. teet.” sapa seorang cowok imut berseragam SMA begitu mama Bia membukakan pintu. . Biar pas Mama pulang.” “Ih. Temannya Bia.. Ma!” “Iya. kita bisa langsung makan.. aku ngerti.BAB TIGA PAGI ini cerah banget.” kata Mama. “Pagi. Tante.! Suara bel rumah berbunyi. “Nanti sore Mama usahakan pulang cepat. ya?” tanya Mama ramah tapi agak heran. Mama tau. Di sebelah piringnya juga sudah tersedia segelas susu cokelat. Saya Egi.” Teet..” Bia cuma mengangguk sambil melirik jam tangannya.” kata Egi sambil menebar pesona senyum mautnya. nanti pulang sekolah kamu goreng aja sedikit untuk makan malam. Di kulkas ada ayam goreng sama nugget.

. “Memang kenapa kalau aku perempuan? Ini rumah kita. lalu mengekor di belakang Mama.” kata Egi tanpa menjawab pertanyaan Bia. “Bia. “Pagi. Non. “Bia.. Bi... Dia sudah mengerti sifat putri semata wayangnya ini yang anti sama cowok. aku berhak mengusir dia dari rumah ini karena aku nggak suka sama dia.” kata Mama lalu mengambil lap di meja makan dan membantu Bia membersihkan noda susu yang muncrat ke seragamnya. kamu itu perempuan.” “Oooh. Makanya tadi Mama agak heran dengan kedatangan Egi.” “NGGAK MAU!” tegas Bia. Gue ke sini mau jemput elo. Bia masih sarapan. Ini masih pagi. “Brruahh. Bia jadi tambah keki.. Sori ya. udah bikin lo kaget.” “Kenapa sih Mama ngebelain dia?” . jangan kasar begitu dong.. galak banget sih lo. Bi. Bia nggak peduli dengan noda di bajunya. Jangan marah-marah gitu dong.. “Bia.. Bi? Gue udah bela-belain bangun pagi-pagi demi ngejemput lo ke sekolah. Mama cuma bisa menghela napas. ya? Nanti gue cuciin deh. Bi. Tante. kamu kenapa?” Mama yang melihat reaksi Bia ikutan kaget. masuk dulu yuk. “Ngapain lo ke sini?!” bentak Bia begitu berhasil mengendalikan diri.!” Susu yang baru saja masuk ke mulutnya kontan dimuntahkannya kembali gara-gara kaget. Baju lo kotor.” kata Mama. ngapain lo ke sini?!” tanya Bia tanpa mengecilkan volume suaranya.” “Tapi bukan begitu caranya. Kamu kan bisa menggunakan cara yang lebih halus. Bi.. ada teman kamu nih. “Kenapa sih kamu kasar gitu sama dia? Dia kan bermaksud baik sama kamu.” nasihat Mama. Dan.. “NGAPAIN LO KE SINI? JAWAB!” “Ya ampun. “Bia!” tegur Mama yang langsung menarik lengan Bia agar ikut dengannya ke belakang.. Kalau begitu.” ajak mama Bia ramah. “Makasih. masa lo malah nggak mau berangkat bareng gue sih. “Kok gitu sih. Kita berangkat sekolah bareng yuk... Bia menoleh ke asal suara.” “Itu bukan urusan gue.“Kok Tante nggak pernah liat ya?” “Soalnya saya teman barunya Bia. Ma?” protes Bia setelah ia dan mamanya sudah berada di dapur.” sahut Egi. Sekarang lo pergi!” usir Bia.. “Gue tanya sekali lagi. Ia maju mendekati Egi tanpa memedulikan Mama yang sedang berusaha membersihkan seragamnya. “Apaan sih. Tante. Ingat. Mama nggak suka kamu bersikap sekasar itu.

hari ini gue ikut elo ke sekolah.. “Bia!” hardik Mama yang langsung membuat mulut Bia kembali tertutup. “Oke.” Bia manyun mendengar ucapan Mama. ya. Tapi itu bukan berarti setiap hari kamu harus berangkat sama dia. Tante. “Ya sudah. Mama cuma nggak suka sama cara kamu yang kasar itu.. datang pagi-pagi tanpa ngasih tau Bia lebih dulu.” ujar Mama lembut. Tapi dia nggak bermaksud jahat kok sama kamu. Cuma buat pagi ini aja.” jawab Egi. kalian berangkat aja sekarang sama-sama. “Ayolah. “Mama! Mama ngapain sih baik-baikin. apa itu berarti kamu mengandalkan laki-laki? Hari ini Egi terlanjur datang ke sini. Saya memang salah.” kata Mama lembut sambil membelai rambut putri semata wayangnya itu.” ujar Mama.” kata Egi. “Kenapa memangnya.” ujar Mama sambil menggandeng tangan Bia kembali ke hadapan Egi yang menunggu di ruang tamu.. Bia melotot ke arah mamanya. Nanti keburu telat lho.. Nak Egi. Bicara baik-baik sama teman kamu itu. Tante. “Nggak apa-apa. “Iya.” “Mama apa-apaan sih? Lebih baik aku desak-desakan naik angkot daripada harus berangkat bareng dia.” “Bi.. kalau kamu berangkat bareng Egi hari ini. Ma. “Bagus kalau lo sadar!” sahut Bia keki. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Mama!” pekik Bia kaget mendengar ucapan mamanya.” “Hush!” Mama langsung balik melotot ke arah Bia sebelum putrinya itu menyelesaikan kalimatnya. “Oke deh. Bibirnya maju lima senti karena kesal. Dia nggak bisa membantah karena sama sekali nggak tau harus ngomong apa.. kan?” tanya Mama ramah. Persis kayak mulut bebek. Mendengar kelembutan suara Mama dan kehangatan tangan mama yang meresap ke setiap helai rambutnya.” Egi tersenyum puas. “Maaf ya. Bi. Bi? Kalian kan satu sekolah. Bi.” pamit Bia sambil mencium kedua pipi mamanya. Saya ngerti kok. Nak Egi jangan marah. awas lo!” ujar Bia mengancam. Kasihan dia kalau kedatangannya sia-sia. Bia memang agak ceplas-ceplos kalau ngomong. “Nak Egi ke sini mau jemput Bia. Bia jadi nggak kuasa untuk membantah.“Mama nggak ngebelain dia. . “Ya udah... Aku paling nggak suka mengandalkan laki-laki. aku berangkat dulu ya. Mau nggak mau Bia pun diam. Lebih baik kamu berangkat bareng Egi daripada desak-desakan naik angkot. Tapi kalau besok-besok lo berani datang ke rumah gue tanpa seizin gue.

Tante.“Hati-hati di jalan. Perjuangannya mengorek Tammy agar memberikan alamat rumah Bia juga nggak sia-sia. Gue ikut lo karena terpaksa. Ini udah cukup bikin gue happy. Egi ingin menikmati setiap meter yang dilaluinya bersama Bia dengan penuh perasaan.. Mama cuma balas tersenyum. Gue cuma lagi senang aja. “Udah jelas gue ini kakak kelas lo. kita slalu bergandengan tangan.. ini pertama dan terakhir gue berangkat bareng elo ke sekolah.” “Ada kok. Dan Bia yang melihat senyum kedua orang itu cuma bisa mendengus kesal.. Lega rasanya. tau!” “Nggak apa-apa kok. Terima kasih banyak atas bantuannya. Elo nggak usah kege-eran dulu. Sengaja. Dia puas banget karena berhasil memenangkan pertarungan pagi ini dan mengantar pujaan hatinya ke sekolah. “Nggak kenapa-napa kok.. Bahkan ruangan dalam mobil sengaja dia semprot pakai Bayfresh biar wangi. Tampaknya Egi udah berhasil merebut hati Mama dan perlahan-lahan menyusup ke dalam kehidupan Bia.” “Kenapa sih elo ngedeketin gue?” tanya Bia. lalu menoleh menatap Egi. ya elo. “Elo itu aneh.. Kayak lagu zaman dulu itu lho: Sepanjang jalan kenangan. ya?” “Maybe.” Hening sejenak di antara mereka.. tau!” tegur Bia heran saat melihat cowok di sampingnya nggak berhenti memamerkan deretan gigi putihnya. ya!” kata Mama lembut. @(^-^)@ ..” “Tapi gue nggak mau! Elo tuh mother complex. @(^-^)@ Egi mendengarai sedan hitamnya dengan senyum terkembang.” jawab Egi. Mobil yang dikendarainya melaju pelan. biar waktu berduaan bersama Bia jadi lebih lama.. “Lo ngapain senyum-senyum sendiri? Bikin gue merinding. “Gue ingetin ya. Apa lo nggak malu ngedeketin cewek yang umurnya lebih tua dari elo? Apa nggak ada cewek seangkatan elo yang cakep dan bisa lo godain?” “Gue cuma mau elo.!” Bia nggak tahan lagi. “Saya berangkat dulu ya. Bia melempar pandang ke luar jendela.” Egi pamit sambil tersenyum.” “Dasar cowok aneh! Mana ada cewek yang mau sama cowok aneh kayak elo.” “HAH? MIMPI KALI YEE..... ya?” “Mungkin.

Bi. tadi gue liat lo turun dari mobil hitam di tempat parkir. Contohnya Sammy pacar Yuki.” nasihat Yuki lembut. Kalau gue membuka hati. Banyak kok pasangan yang awet sampai masa tua mereka. “Iya.” “Egi ke rumah lo?!” tanya Yuki heran.” ujar Cha-Cha begitu sampai di kelas pagi itu.. Lo harus mulai membuka hati. Bia sedang duduk di bangkunya bersama Tammy. Sammy dulu kakak kelas mereka. Yu?” tambah Cha-Cha sambil melirik Yuki yang pipinya bersemu merah karena malu. Bi?” Kelas mulai ramai. „ngejilat‟ nyokap gue. dan Yuki bersamaan. gue paling nggak bisa membantah kata-kata Nyokap. gue nggak suka sama dia. tau! Pagi-pagi dia datang ke rumah gue. Tammy. Sammy setia banget kan. “Tapi gue nggak tau kalau dia bakal nekat datang ke rumah lo pagi-pagi. belum tentu gue dapat cowok yang baik kayak Sammy. Rasanya ajaib kalo cewek kayak Bia yang nggak suka mengandalkan cowok itu mau berangkat ke sekolah bareng cowok.” “Bi.” kata Yuki.. Bi. habis manis sepah dibuang. “Gue terpaksa. Sammy itu pacar Yuki. dan bikin gue dipaksa Nyokap untuk berangkat bareng dia ke sekolah. “Kok malah bawa-bawa Sammy sih?” rajuk Yuki. jangan menyamaratakan semua orang kayak gitu dong. Kayak Rama dan Shinta. Tapi mencari cowok yang seperti lo maksud itu kayak mencari sebatang jarum dalam tumpukan jerami. Bi. “Hah? Egi!” seru Cha-Cha. Biarpun gue sering ngelawan. “Gue nggak peduli dia serius atau nggak. iya sih. Kalau mereka lagi jalan berdua. “Benar. yang nyasar dari kelas sebelah gara-gara bete nggak ada teman ngobrol. Bagi gue.” Tammy malah nyengir. Satu banding seribu. pasti bikin ngiri orangorang yang melihat mereka. Tapi sekarang dia udah lulus dan kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta. semua cowok itu sama aja.” kata Bia.” “Kayaknya Egi serius naksir elo deh. “Mobil Egi. Cowoknya ganteng. Tam. Yuki duduk di depan mereka. Sudah satu setengah tahun mereka pacaran. ujung-ujungnya selalu aja gue nurut sama Nyokap. . Sammy dan Yuki memang pasangan serasi. ceweknya cakep. Banyak juga cowok yang bisa setia sama pasangannya. “Elo kan yang ngasih tau nomor telepon dan alamat gue ke Egi? Hayo ngaku!” “Hehehe..” jawab Bia singkat. “Mungkin Sammy memang beda. “Mobil siapa tuh. Yang penting. kok bisa?” Cha-Cha nggak percaya. Kalian kan tau.” jawab Bia. “Hus! Ngapain sih pake teriak segala? Emangnya kenapa kalo gue ikut mobil tuh anak kutu?” “Tapi.“Bi.. Dan gue yakin ini pasti gara-gara elo. Gue nggak akan membiarkan diri gue menjadi salah satu korban mereka.

Multifungsi banget. Sejauh apa ya nama itu akan menyusup dalam kehidupan Bia. kan! Aah. atau sikat gigi.” sambung Yuki. Tapi ada juga yang ke toilet khusus buat istirahat. Tapi lumayanlah. leganya. Langkahnya agak tergesa-gesa karena perutnya mulas banget. ngumpet dari kejaran guru piket. Perutnya mulai tenang setelah semua beban itu dikeluarkan. ada yang karena pengin cuci tangan. Egi. Biasalah. lo bawa lipbalm. cuci kaki.. lo nggak suka sama Egi?” sahut Cha-Cha. Egi. Makanya. Bi. memohon agar perutnya mau bersabar sampai dia tiba di toilet.. ia mendengar ada orang-orang yang kasak-kusuk di depan... Ada empat bilik di dalamnya. nggak bau kok. Baru saja Bia mau membuka pintu WC. “Kok kalian semua ngotot banget sih ngejodohin gue sama Egi? Gue udah bilang. Bokap gue aja lebih muda tiga tahun dari nyokap gue dan hubungan mereka baik-baik aja sampai sekarang. lo bisa belajar membuka hati lo untuk Egi. gimana lo bisa tau cowok itu baik atau nggak?” bantah Tammy.“Tapi kalo elo nggak mulai membuka hati. Dia tuh lebih muda daripada gue. Ke WC kok bareng-bareng Biasanya izinnya harus satu-satu. Bia memegang perutnya. Gue nggak mau pacaran sama brondong.. cuci muka. Benar nih.. tepat di sebelah ruang perpustakaan.. lagi. lengkap dengan cermin besar di atas wastafel itu. Pasti gara-gara makan bakso kebanyakan sambal pas istirahat tadi. “Gue minta dong!” .. toilet di SMA Constantine 4 ini juga merupakan salah satu tempat nongkrong favorit para siswi. Jangan-jangan mereka bolos.. Gue nggak mau seperti itu. nggak?” tanya seorang cewek yang suaranya rada sopran. bahkan ngegosip. penasaran! “April. “Nggak semua cowok brondong bakal berkhianat. Bia nggak jadi membuka pintu dan tetap di dalam WC sambil pasang kuping.” kata Bia sewot. WC sekolah ini nggak bersih-bersih amat. batin Bia tersenyum puas. Heaven knows deh! @(^-^)@ Bia berjalan menyusuri koridor sekolah menuju toilet yang ada di ujung koridor. Bia buru-buru memasuki bilik WC perempuan dan membuka pintu WC yang pertama. “Tau ah!” Bia jadi keki mendengar kata-kata ketiga sobatnya itu. gue nggak suka sama dia... Ada yang ke WC karena memang kebelet pipis atau pengin buang air besar. Selain itu juga ada tiga wastafel yang berdempetan dan memanjang. “Dan untuk yang pertama. Nyokap gue pernah menikah dengan laki-laki yang lebih muda darinya dan akhirnya malah dikhianati.

” maki si cewek sopran kesal. “Pokoknya kalau ada apa-apa. “Ya kita hati-hatilah. lo mesti tanggung jawab ya.Cewek yang dipanggil itu nggak menjawab.” kata April. Gue lagi cari blush-on gue nih!” dumel cewek yang bernama April itu. “Tapi.. jangan sampai kelihatan sama Pak Kosim. “Sabar kek.. “Kalau memang Egi suka sama Bia. Apa bagusnya sih cewek kayak gitu.” “Yee. lo udah dengar belum?” tanya April. “Eh.. Sok galak.” ujar April. ngomong dari tadi kek. ketua OSIS kita itu. sok jual mahal.” ujar si mezzosopran. tadi lo minta apa. sok berkuasa.” “Udah.” jawab si cewek sopran.” sahut si cewek sopran. “Lo mau lipbalm. tau!” gerutu cewek sopran tadi. “Cle.. “Masa ngumpet di toilet terus. Suara April rada alto.” jawab si cewek sopran. habis ini kita ke mana nih?” tanya si mezzosopran. “Gila! Gue panas abis lah! Apa sih bagusnya tuh cewek? Mentang-mentang dia ketua OSIS. “Katanya tadi pagi si Egi berangkat bareng Bia. Cle. sok galak dan sok berkuasa banget! Pasti dia yang kegatelan ngedeketin Egi gue. ketemu juga blush-on gue.” “Tapi pintu belakang kan sering dijaga Pak Kosim. Serahin ke gue. “Anticowok? Mana mungkin! Lo pikir aja deh. Kita lewat belakang aja. April ikut sumbang suara... Egi itu kan keren abis. yang ini mezzosopran. “Lalu kita ke rumah tante gue yang tinggal di daerah sini.. “Akhirnya. Kita bolos sampai pelajaran kelima aja. gue udah denger.” sahut si cewek sopran.. mana mungkin si Bia itu bisa tahan. “Tapi lo inget nggak. “Eh..” “Mmm. itu berarti selera Egi murahan. lo dengar nggak sih?” tanya cewek bersuara sopran itu sekali lagi. Jadi nggak mungkin kalau Bia yang deketin Egi. waktu kita MOS kemarin kan si Egi ngasih surat cinta ke Bia. semua cewek pada klepek-klepek sama dia. Bia tuh anticowok.” si cewek sopran menjawab dengan percaya diri. Cle?” “Basi. “Lo nggak panas. munafik!” . “Lo tenang aja. Biasanya pintu belakang kan nggak dikunci.” bantah si cewek sopran. gue denger dari kakak gue yang sekelas sama Bia. Jangan-jangan emang Egi yang naksir sama Bia. satpam tua itu. Ros. “Kalau gagal gimana?” tanya si mezzosopran sedikit cemas. Cle.” sahut si cewek sopran. Cle?” tanya satu cewek lain.” tampaknya si mezzosopran nggak setuju.. “Gue punya nih. “Pril.” “Lo pada tenang aja! Semua bisa gue atur. Cle? Lo kan naksir Egi?” kali ini si mezzosopran yang bertanya.

Hal yang nggak pernah terbayangkan oleh Bia sebelumnya. silakan cari jalan lain. “Dan satu lagi. Kalau di antara kalian ada yang naksir Egi. Tapi bagi Bia. Selama ini Bia nggak pernah tuh yang namanya cari-cari musuh. Benar-benar kemenangan mutlak. pantang yang namanya marah sama adik kelas lalu menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk menggencet mereka. ini benar-benar hal yang nggak terduga. gue sama sekali nggak berminat sama Egi. Ketiga cewek yang masih berdiri di depan wastafel melotot kaget. Kalau hari ini sampai ada yang tega menjelek-jelekkan dia. Wajah ketiga cewek manis itu berubah pucat. Non!” Bia tersenyum sinis lalu keluar dari toilet dan kembali menuju kelas dengan perasaan masih kesal. Makanya akhirnya semua memilih dia untuk jadi ketua OSIS. “Udah puas ngomongin gue?!” tanya Bia. Mereka ketakutan melihat tampang Bia yang udah kayak serigala mau nerkam mangsa. pintu belakang udah dikunci sejak kemarin sama Pak Kosim. Bia paling nggak suka harus berantem sama makhluk sesama jenis. Ketiga cewek itu hanya menggeleng pelan. Itu karena semua temannya percaya pada Bia. Dia nggak menyangka ada anak kelas satu yang berani menghina dia. Mampus deh! “Masih ada yang mau diomongin tentang gue?”tanya Bia lagi. “Tapi ingat. Soalnya nggak ada orang yang mampu membenci Bia. Nggak ada untungnya cari musuh gara-gara rebutan cowok. Semua pasti gara-gara dia. dia tetap seorang teman yang baik buat siapa aja. jadi kalau kalian berniat bolos. Ia selalu berusaha bersikap adil dan bergaul baik dengan semua orang. silakan! Gue sama sekali nggak berminat jadi saingan. Itu namanya pengecut!” kata Bia tajam. Waktu itu Bia hampir memperoleh 80% suara. kalian tuh masih baru di sekolah ini. Yap! Kesabaran Bia cukup sampai di sini. Dan ini semua udah jelas pasti gara-gara makhluk brengsek bernama Egi itu. Itu namanya nggak fair. Kalian nggak tau mana jalan yang ada jebakannya dan mana jalan yang benar-benar aman. . Ini pertama kalinya dalam hidup Bia ada orang yang berani menjelek-jelekkannya. karena meskipun Bia galak.” kata Bia. Tapi hati-hati ya. “Asal lo bertiga tau ya. gue nggak suka ada orang yang ngomongin gue di belakang gue. Mereka sama sekali nggak menyangka bahwa cewek yang mereka gosipin sedang berada di dalam WC. Mau bolos juga ada aturannya. apalagi kalau cuma gara-gara cowok.Brak! Bia membuka pintu WC dengan wajah merah menahan marah.

. jangan cuek gitu dong. Tapi cowok itu memang sabar. ia nggak termakan emosi mendengar ancaman Bia. Bia berhenti dan menatap Egi tajam. Kalau elo masih berani ganggu gue.” panggil Egi sambil menahan tangan kiri Bia. Dalam hitungan detik..” . Dia nggak menyangka Bia akan senekat itu. Semua mata kontan menatap mereka. “Bi.. gue nggak takut kalau harus ribut sama elo!” Egi terperanjat. Egi melepaskan genggamannya.” tawar Egi saat semua anak sudah meninggalkan ruang kelas dengan penuh sukacita untuk segera pulang ke rumah. Apa gue salah. kenapa sih elo sewot banget sama gue. Tamparan itu hadiah buat kekurangajaran lo megangmegang tangan gue..” Bia tetap nggak peduli dan mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolah yang menganga lebar. di pipi Egi yang mulus dan putih tercetak bekas tamparan jari-jari tangan Bia. Gue nggak pernah berniat mainin cewek mana pun. Gue baru mau lepasin tangan lo kalau lo mau pulang bareng gue.” “Gue bilang lepasin tangan gue!” “Gue nggak mau!” Plaakk! Sebuah tamparan keras melayang di pipi Egi. “Bia. Jangan kira gue nggak berani sama elo.” rayu Egi pantang menyerah. Gue cuma mengikuti kata hati dan debaran jantung gue yang udah menjatuhkan pilihannya ke elo.BAB EMPAT “BI... Biarpun cewek. Kalau lo mau mainin cewek. gue anterin pulang ya. Bia berjalan cepat menyusuri lapangan tanpa memedulikan tawaran Egi yang berusaha menjajarkan langkahnya di samping Bia. gue nggak pernah nganggap elo cewek gampangan. “Kan lebih enak naik mobil gue daripada naik angkot. jatuh cinta sama elo?” “Lo kira gue bisa kemakan rayuan gombal lo? Elo salah besar! Gue bukan cewek gampangan seperti yang lo kira.. Gue anterin lo pulang ya. gue rasa banyak temen sekelas lo yang bersedia!” “Bi. “Lepasin tangan gue!” “Nggak mau. gue nggak akan segan menghajar elo.. “Dengar baik-baik. “Bia.. ya.

” ujar Teddy curiga.” “Sekali lagi lo salah. otaknya juga biasa aja. Tamparan tuh cewek keras juga ya?” kata Teddy. “Dasar GILA!” teriak Bia lalu berlari meninggalkan Egi dan menembus pagar lingkaran teman-temannya.” kata Egi lembut. jangan bilang lo serius naksir dia ya. elo malah milih cewek kasar yang jelas-jelas nggak suka sama elo.. hebat!” puji Teddy mendekati Egi sambil mengantongi uang yang baru saja didapatkannya. “Gi. Tontonan gratis yang seru ini sama sekali nggak boleh dilewatkan. “HIDUP EGI!!!” teriak salah satu penonton yang kemudian diikuti sorakan teman-temannya yang lain. Ia tersenyum manis menatap kedua bola mata Bia yang melotot marah. Ted!” bantah Egi. Bahkan sampaisampai ada yang nekat taruhan siapa yang menang dalam pertarungan kali ini. Dia cuma punya watak keras. “Weits! Pipi lo merah juga. Dia hanya diam dan tersenyum.” “Elo salah. Anak-anak yang lagi bubaran kelas membuat pagar lingkaran di sekeliling Bia dan Egi. Anak-anak mulai bubar. lo TOP banget dah! Tu cewek bisa lo buat nggak berkutik. “Cakep kagak. Gue nggak akan mundur begitu aja. Yang menang taruhan tertawa lebar.” kata Teddy heran. “Bi.” bela Egi. galak pula. Tamparan ini malah membuktikan bahwa elo ada perhatian ke gue. Kebanyakan sih pada megang Bia. “Ayo. Ternyata Egi yang menang. sama sekali nggak ada nilai plusnya deh. gue akan benar-benar membenci elo dengan segenap jiwa raga gue!” bentak Bia kesal. “Bia gadis paling baik yang pernah gue temui. salah satu sobat Egi yang ikutan pasang taruhan untuk kemenangan Egi.“Egi.” “Apa sih yang bagus dari tuh cewek?” tanya Teddy.. “Justru karena gue waras. Gi! Segitu banyak cewek yang naksir lo sejak hari pertama kita masuk sekolah ini. “Gi. Egi cuma diam dan mengelus-elus pipinya yang masih terasa agak panas. gue milih Bia daripada cewek-cewek sok jaim yang ngejar-ngejar gue tiap hari itu. dia kan senior kita. gue suka sama elo. “Gue rasa otak lo udah nggak waras lagi. Dan gue akan membuat elo melihat ketulusan perasaan gue. sedangkan yang memilih Bia cuma bisa mesem-mesem kecewa.. Egi nggak menjawab. kalau elo masih coba-coba deketin gue dan sok ngegombal.” jawab Egi.. Gi.” @(^-^)@ . Hebat. Tapi bagi Teddy. senyum Egi itu udah cukup sebagai jawaban. “Lo gila. lo bayar taruhannya!” tagih Teddy. Mereka membatalkan niat mereka untuk segera meninggalkan sekolah. “Lo nggak serius kan naksir cewek kasar gitu?” “Dia bukan cewek kasar. Udah gitu.

“Apa lo nggak salah. elo.. apa elo nggak sadar? Ini pertama kalinya ada cowok yang benar-benar berhasil merebut perhatian lo. Hari ini benar-benar hari terburuk buatnya. Yu? Gue malah setengah mampus benci banget sama dia. ada apa?” “Cuma mau ngobrol aja sama elo.” “Pada kurang kerjaan.. Ada apaan sih?” tanya Bia heran.” “Merebut perhatian gue?” tanya Bia. “Nggak ganggu kok. “Halo. dan gue tau siapa elo. “Tapi Bia yang sekarang mulai berubah..” “Siapa yang misterius?” Yuki malah balik tanya. dan gue yakin besok berita itu pasti bakal jadi lebih heboh lagi. tumben. Bia yang gue kenal nggak akan mau ribut sama cowok karena urusan cinta. Tentang apa nih?” “Tentang elo. ya! Buat apa sih kejadian gitu aja dibesar-besarkan!” “Bi. Bi. Bia yang gue kenal pantang mengharapkan bantuan cowok kecuali jika ada hubungan kerja sama yang saling menguntungkan di dalamnya.” jawab Bia.” sapa Bia ogah-ogahan. Topik itu mulai jadi pembicaraan hangat di antara anakanak.Bia membanting tasnya ke tempat tidur dengan kesal. Yu?” “Bi. ya?” “Tau dari mana lo?” “Dari berbagai sumber. Padahal dulu boro-boro melirik. Yu. hampir tiga tahun gue kenal elo.” jelas Yuki.” “Bukankah benci itu juga satu bukti bahwa elo merespons semua tindakan dia dan memberi dia satu perhatian lebih?” “Maksud lo apa. “Bia yang gue kenal sangat dingin sama cowok yang berusaha mendekatinya. tentang elo. Bia berlari kecil sambil ngedumel kesal. Dia terpaku diam. Bia yang gue kenal nggak pernah mau merespons semua tindakan cowok yang mencoba pedekate sama dia. “Gue denger..” Bia nggak bersuara. “Gue ganggu nggak?” “Eh.” sapa Yuki ramah dari seberang. Dia nggak bisa membalas semua ucapan Yuki. “Halo.” “Gue?” “Iya. “Nggak biasanya elo berkesan misterius gini. pas pulang sekolah lo rebut sama Egi di lapangan. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan mengambil gulingnya.” lanjut Yuki. Kriing.. lalu meremasnya gemas.” “Lho. “Gue cuma mau ngobrol biasa aja sama elo.! Dering telepon memaksa Bia untuk bangun dan segera ke bawah untuk mengangkat telepon.” jawab Yuki.” “Oke. “Bia yang sekarang marah-marah dan ngejutekin seorang cowok yang sedang berusaha pedekate sama dia. setiap cowok yang mencoba mendekati Bia .

Yu.” “Bohong banget!” “Bener.” “Tapi gue nggak ngeributin masalah cinta sama Egi!” bantah Bia. “Itu malah semakin menunjukkan bahwa elo jelas merespons semua tindakan dia. Bi.. Gue sampai enek terus-terusan mendengar nama dia hari ini.” “Apa bedanya. elo ngejutekin dia.. benar. gue cuma.” kata Yuki. Gue cuma nggak pengen mendengar nama cowok aneh itu lagi. “apa elo udah jatuh cinta sama Egi?” “Nggak. “Gue nggak mau membahas Egi lagi..” “Oke. Sori ya kalau gue udah mengganggu elo. gimana elo bisa tau apa elo bakal menderita atau malah bahagia?” “Gue nggak peduli! Lagi pula. “Alex?”Bia malah balik bertanya...” “Nggak kok. Bi? Elo nggak salah kok kalau elo jatuh cinta sama dia. Dia memang cowok aneh.” “Gue nggak bermaksud gitu.” “Kenapa nggak. kan? Bahkan nama cowok yang pedekate sama elo aja lo nggak ingat.” ujar Bia. Bi. “Kalau elo sendiri takut untuk mencintai. buat apa sih elo ngomongin masalah ini sama gue?” “Gue cuma mau membantu lo untuk jujur sama diri lo sendiri. “Alex yang mana? Memangnya ada cowok yang namanya Alex yang mencoba deketin gue?” “Tuh. “Gue cuma.” “Udahlah. Bi. Bi?” sahut Yuki. Bi.. Bia yang sekarang juga mau dianterin ke sekolah sama cowok tersebut meskipun dengan alasan terpaksa.” “Nggak mungkin! Gue nggak mau jatuh cinta.” jawab Bia....” kata Yuki.. “Dia cowok aneh yang udah mulai memasuki kehidupan lo. Elo nggak ganggu gue.” “Iya. Elo marah-marah sama dia.” “Lo masih ingat Alex nggak. “Gue nggak mungkin jatuh cinta sama cowok aneh itu.. Bahkan Bia yang sekarang bisa ribut di depan umum sama seorang cowok gara-gara masalah cinta. elo bilang elo benci sama dia..bakal dicuekin habis-habisan. Bia.” ujar Yuki.” kata Yuki. oke. cowok yang empat bulan lalu mencoba ngedeketin elo?” tanya Yuki. bukankah itu berarti elo memberi perhatian dan menanggapi semua tindakan yang dia lakukan?” “Tapi.” kata Bia kesal. “Cinta itu cuma bikin gue menderita. Hari ini gue udah cukup capek gara-gara cowok rese itu.” “Jujur sama gue..! Nah. Elo tuh benar-benar merespons kehadiran cowok itu. nampar dia dan minta dia nggak ganggu gue lagi. dan gue nggak akan membiarkan diri gue merasakan penderitaan yang sama kayak nyokap gue.. sekarang kembali ke Egi nih. Yu. “Alex itu teman kuliahnya Sammy. Yu. Gue nggak akan membiarkan cowok mana pun menyakiti gue. Nggak akan!” “Elo salah.” . itu nggak mungkin.

Dia sedang menunggu Mama pulang kerja. mmm. Jadi nggak mungkin Mama naik mobil... Bia mulai nggak tenang. Mama belum juga pulang. “Mama kok baru pulang?” tanya Bia heran. Tapi aneh. “Oke.” Mama kelihatan gugup dan salah tingkah. Jam sudah menunjukkan pukul 18. Mama akan naik ojek dari muka gang sampai depan rumah..” jawab Mama tambah gugup...15. kayak polisi menginterogasi tersangka. Jadi aneh kalau jam segini Mama belum sampai di rumah. Sayang?” Mama ikutan heran melihat ekspresi Bia. soalnya biasanya kalau Mama lagi malas jalan. “Ng. sembari mengerjakan PR sejarah. “Soalnya tadi aku dengar suara mobil di depan rumah. teman kantor Mama. tadi Mama diantar teman kantor Mama. “Manajer personalia di tempat Mama kerja.s oalnya Mama bilang hari ini mau pulang lebih awal. Nggak mungkin! Eits. Aku cuma heran. Memangnya kenapa.” jawab Bia.. Bye!” “Bye!” Bia menutup telepon lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Bersamaan dengan itu kenop pintu berputar dan Mama muncul dari balik pintu dengan wajah lelah..” “Teman kantor?” “Iya.” Yuki tertawa lalu berkata. kan? Lo mulai lagi. udahan dulu ya. Terdengar suara pagar depan dibuka. Egi lagi Egi lagi.. Ma? Apa dia punya maksud khusus sama Mama?” . Apa itu Mama? Suara mobil kembali terdengar lalu perlahan berlalu pergi.. Apa jalanan macet. Mau nggak mau Bia kepikiran juga sama semua ucapan Yuki barusan. itu.“Tuh. “Jangan-jangan kemarin-kemarin dia juga yang nganterin Mama pulang? Cowok atau cewek.” “Oh. ya? Deru mobil yang berhenti di depan rumah mengalihkan perhatian Bia dari buku yang ada di tangannya. Bia membalik halaman demi halaman buku sejarahnya. Siapa yang berhenti di depan rumahnya? Yang pasti itu bukan Mama. mencari jawaban untuk pertanyaan yang sedang dikerjakannya... Bia mengernyitkan dahi. Apa iya gue jatuh cinta sama dia? tanya Bia pada dirinya sendiri.” “Kok tumben dia nganter Mama pulang?” tanya Bia. apa iya nggak mungkin? @(^-^)@ Bia duduk di sofa ruang tamu sambil membuka buku sejarahnya. Gue mau nelepon Sammy. “Nggak. kata Bia berusaha menenangkan batinnya.. “Iya. Jadi siapa ya? Mungkin orang lewat aja kali ya. itu.

Tapi pelan-pelan dong. rasanya wajar aja kalau Bia curiga sama Mama.“Kamu tuh apa-apaan sih. apalagi kalau melihat tampang Mama yang gugup waktu menjawab pertanyaanpertanyaan Bia tadi. “Bi. Bia cuma bisa melotot melihat buku-bukunya yang jadi lecek nggak keruan gara-gara ulah Cha-Cha. gue lagi sibuk ngerapiin buku-buku gue. lo harus ikut gue ke lapangan. @(^-^)@ Besok siangnya.” “So what gitu loh!” jawab Cha-Cha asal. Bia menghela napas panjang. “Tammy sama Yuki udah nunggu dari tadi.” kata Cha-Cha lalu secepat kilat mengambil semua buku Bia yang berserakan di meja dan menjejalkannya ke dalam tas ransel Bia. Cha?” tanya Bia lagi.” Mama membawa tas kerjanya ke kamar lalu kembali keluar sambil membawa handuk dan berjalan menuju kamar mandi. “Apaan sih?” tanya Bia.” Bia ngedumel.” “Iya. Bia menutup buku sejarahnya dan membiarkan pikiran-pikirannya bekerja mencari jawaban untuk keanehan ini. “Lo nggak liat ya. “Kita nggak ada waktu lagi. Bi?” Mama jadi sewot ditanya bertubi-tubi gitu sama anaknya. “Lo kan tadi udah mau pulang duluan sama Tammy dan Yuki. kok sekarang balik lagi sih?” Bia yang masih sibuk merapikan buku-bukunya yang berserakan di atas meja memandang Cha-Cha heran.” “Tapi gue lagi rapiin buku-buku gue. Tinggal mereka berdua di ruangan itu.” ajak Cha-Cha. “Pokoknya lo harus ikut gue sekarang juga. Masalahnya. “Udah. iya. Bia sedang merapikan bukunya ketika tiba-tiba Cha-Cha nongol di kelas. ayo jalan. Kelas udah sepi. Cha. Tapi kok sekarang Mama pakai acara dianterin pulang segala sama teman kantor yang katanya manajer personalia itu? Rasanya benar-benar mencurigakan. Mama itu wanita mandiri. “Mama rasa Mama nggak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan kamu yang aneh itu. selama ini Mama selalu pulang kerja sendirian. “Ada apa sih. setelah bel pulang berbunyi. “Yang penting lo ikut gue sekarang juga. “Gue bantuin.” ajak Cha-Cha sambil menarik tangan Bia meninggalkan ruang kelas. Mama mau mandi.” ajak Cha-Cha lagi yang kali ini lebih berkesan memaksa.” Memangnya ada apa sih? . Cha!” protes Bia. Anak-anak udah pada bubar dari tadi.

“Lagu pertama gue persembahkan untuk para Egiers yang udah banyak mendukung gue selama ini. “Oh. “Yu.” Mata Egi tertuju pada sosok Bia yang berdiri di pinggir lapangan. begitu pula ketiga temannya. “Karena Cinta.” kata Egi.!” sorak anak-anak. “Tapi gue suka cowok model gini. lalu kembali menatap cewek itu. gue mau ngomong bentar sama elo..” Bia mencibir. Egi mulai menyanyi dengan menggunakan TOA tanpa diiringi musik. Bi. “Siap!” teriak anak-anak heboh. “Ada apa sih?” tanya Bia heran..” jawab Tammy. “Gilanya dia tuh keren banget. Mereka berdiri di sekeliling lapangan sambil berteriak-teriak heboh. dan di atasnya berdiri seorang cowok cakep sambil memegang TOA. “Semua siap bergoyang?” tanya Egi kayak penyanyi profesional. Di sana ada sebuah meja. “Penting!” Yuki mengernyitkan dahinya heran.. lagi! Dasar kurang kerjaan. tapi lumayanlah. Apanya yang keren? Malah kayak orang kurang kerjaan banget. teman sekelas mereka.. kecuali Bia pastinya. Baginya sekali gila ya tetap gila.” jawab Maxi. Bia melongo kaget.” “Lo suka cowok gila. “Gue juga akan mempersembahkan lagu untuk seseorang yang udah membuat gue jatuh cinta. Bia menajamkan penglihatannya ke tengah lapangan.. “Halo juga!” balas semua anak yang ada di situ. Max?” tanya Yuki. “Oke.!” sapa Egi. “Si Egi benar-benar gila!” ujar Tammy. Hari ini gue spesial tampil di depan kalian semua untuk menghibur kalian selama kurang-lebih lima belas menit.” Tiba-tiba Maxi..” kata Egi.” Maxi melirik sebentar ke arah ketiga teman Yuki. . EGI! Gila! Ngapain dia di situ? Di tengah lapangan. Sinar matanya menunjukkan kehangatan dan ketulusan hatinya.” jawab Cha-Cha. “Gilanya Egi kan beda. Terdengar rada aneh. “Ngomong aja sekarang.. tukang cari sensasi. udah nongol di sebelah Yuki dengan tampang serius. Tam?” tanya Bia. ada apa. mulutnya menempel di corong TOA.@(^-^)@ Lapangan basket tampak ramai oleh anak-anak yang nggak jadi pulang.” “Huuu. nggak percaya atas apa yang dilihatnya. Cowok yang berdiri di atas meja itu. Cha-Cha dan Bia menerobos barisan penonton dan menempatkan diri di samping Yuki dan Tammy yang juga sedang seru memerhatikan lapangan basket. “Lo liat aja sendiri. Bia balas menatap Egi. “Gue mau ngomong empat mata sama elo. maki Bia dalam hatinya. “Halo semuanya.. tapi nggak lama kemudian dia langsung buang muka.

apalagi nembak. Bisa aja kan. Egi nggak peduli dengan puluhan mata yang menatapnya geli atau tawa dan teriakan mereka yang seakan melecehkannya. “Nanti gue balik lagi. “Bia. Dia tetap berdangdut ria sambil menatap mata Bia. Tepuk tangan meriah dari anak-anak mengembalikan perhatian ketiga cewek itu pada Egi yang masih berdiri di tengah lapangan. “Gue ke kantin dulu bentar. mencari-cari sesuatu. “Oke. Nggak mungkin cowok gila ini benar-benar nekat ngomong gitu di depan semua orang. Kita ngomong di kantin aja. Bia celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri. mukanya memerah kayak udang rebus. Dia adalah. Bait demi bait dinyanyikannya di bawah sorakan dan tepukan tangan anak-anak yang masih setia menonton pertunjukannya. lalu melompat turun dari atas meja dan mulai bernyanyi sambil perlahan berjalan dan bergoyang mendekati Bia. Egi masih berlutut. Ketiga cewek itu berdiri diam di salah satu sudut lapangan dan memandangnya dengan sorot mata jiji. Makanya semua pada heran melihat Maxi mengajak Yuki kayak tadi..” Bia. siapa tahu ada kamera tersembunyi yang lagi meliput kejadian ini.” pamit Yuki. Mata Bia malah tertumbuk pada tiga cewek yang pernah ngegosipin dia di toilet sekolah.” ujar Egi sambil menatap lembut Bia.” Egi menyebutkan judul lagu dangdut yang akan dinyanyikannya. Tapi ternyata nggak ada. dan Cha-Cha hanya bisa mengangguk kebingungan. would you be my princess?” Mulut Bia menganga lebar.” tawar Yuki. Bia menatap Egi yang sudah berlutut di hadapannya. “Tidak semua laki-laki. lalu masih dengan menggunakan TOA. Maxi mengangguk lalu berjalan lebih dulu menuju kantin. Tammy. ini lagi acara reality show? Kan sekarang lagi zamannya segala sesuatu dibikin reality show. Tumben banget Maxi berani ngajak Yuki ngomong berduaan. Bia melotot kaget. ketahuan dari gerak-gerikya yang selalu baik sama Yuki. cewek pujaannya.. Dia benar-benar bingung nggak tahu harus berkata dan berbuat apa. . Semua mata yang ada di lapangan saat itu langsung melihat ke arahnya. Tanpa Bia sadari. Rasanya aneh aja. Maxi memang udah lama naksir Yuki. Dia nggak percaya dengan apa yang baru aja didengarnya.“Ya udah. sehingga akhirnya Yuki jatuh ke tangan Sammy. lagu berikutnya gue persembahkan buat cewek yang udah menawan hati gue. Tapi anehnya dia nggak pernah berani ngomong berduaan sama Yuki. dia bertanya pada Bia. Jadi selama ini dia cuma menyimpan rasa sukanya dalam hati. Bia. Sorakan dan tepuk tangan riuh mengakhiri lagu yang dinyanyikan Egi.

“Perasaan lo aja.” Terdengar suara tarikan napas dari seberang. gue lupa. Bia menatap Egi yang masih berlutut di depannya. tau!” dumel Yuki. kalo dibilangin. “Ah. Dia bikin gue jadi tontonan anak-anak. “Elo tuh benar-benar nggak punya malu! Gue jijik sama elo!” Kemudian Bia berlalu begitu saja. “Sori. meninggalkan Egi yang terpengarah menatapnya.” “Gue kan lagi ngomong sama Maxi di kantin. Masa gitu aja salah sih?” “Jelas salah!” “Apanya yang salah?” Bia merengut karena kesal. kok lo pulang duluan sih?” protes Yuki di telepon sore itu.” jawab Yuki akhirnya. siapa suruh lo ngilang lama banget.” “Iya sih. kali. Dia berjalan cepat menerobos kerumunan dan meninggalkan gedung sekolah. nggak penting. Gue keki. “Kalian ngomongin apaan sih? Tumben banget si Maxi ngajakin elo bicara empat mata.” “Lo pasti udah diceritain sama Cha-Cha atau Tammy. “Yu. @(^-^)@ “Bi. Bia jadi kesal sama kelakuan Egi yang udah memberi kesempatan pada ketiga cewek genit itu untuk memandanginya dengan tatapan merendahkan. gue males aja jadi tontonan orang...” ujar Yuki.Darah Bia bergejolak hebat. dia bikin gue nggak punya muka di depan teman-teman dan junior-junior gue sendiri.” jawab Bia.” lanjut Yuki. Yuki terdiam sesaat. “Gue kan cuma mau ngajak lo ngobrol. Egi udah bikin gue malu. apa yang terjadi di lapangan setelah gue ke kantin.” “Ya ampun. tau!” “Lho memangnya kenapa?” tanya Yuki heran.” “Ceritanya sama aja. Bi?” “Masa?” “Jutek. bersama puluhan mata yang juga kaget dengan jawaban yang dilontarkannya. Tapi Bia nggak peduli. “Egi nggak mungkin bermaksud kayak gitu.” kata Bia sambil nyengir. “Egi kan cuma bikin pertunjukan spesial buat lo di lapangan. lalu berkata tajam.” gerutu Yuki lagi. nih anak.. Bi.” “Oh iya. Kok respons lo ngebetein gitu sih?” “Habis. dan tiba-tiba saja emosinya meluap-luap.” “Lo kedengarannya bete banget sih. lo ngajakin gue ngobrol soal tadi sih. “Gue yang mestinya nanya sama elo. “Lagian.” “Ih. “Tapi gue mau dengar cerita versi elo...” .

“Lo tau dari mana?” tanya Bia. “Lo kan nggak ngeliat kejadian tadi. Anak-anak kelas satu pada ngeliatin gue dengan pandangan menghina. Gue benar-benar kesal banget.” “Nggak mungkin, Bi,” bantah Yuki. “Kalaupun iya, itu cuma karena mereka iri sama elo.” “Iri sama gue?” “Iya, Bi,” jawab Yuki. “Mereka iri karena elo mendapat perhatian dari Egi, cowok yang lagi naik daun di sekolah kita saat ini. Masa lo nggak ngerti sih?” Bia terdiam sesaat, mencoba memikirkan kata-kata Yuki. Entah mengapa Bia malah tambah kesal. “Siapa yang suruh mereka pake acara iri segala!” maki Bia. “Mereka kira gue suka apa, sama hal-hal kayak gini? Gue ngerasa kayak di sinetron-sinetron, terlalu didramatisir, cengeng banget. Ih, gue benci banget. Dan ini semua gara-gara cowok gila itu. Gue benar-benar sial ketemu dia!” Yuki menghela napas panjang. “Menurut gue bukan elo yang sial karena ketemu sama Egi, tapi Egi yang sial karena jatuh cinta sama cewek kayak elo, Bi....”

BAB LIMA

SUDAH tiga hari berlalu sejak kejadian di lapangan itu. Dan dalam tiga hari itu Bia seakan berubah jadi selebriti yang dibicarakan banyak orang. Tiap kali jalan di koridor sekolah, pasti puluhan mata menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Udah gitu, mereka pakai acara bisik-bisik segala, lagi. Risi banget rasanya. Bia benar-benar kesal dibuatnya. Entah udah berapa kali Bia memaki-maki orang yang ngeliatin dia, tapi bukannya pada kapok, mereka malah tambah parah. Cerita tentang kejadian di lapangan itu bahkan jadi hot news yang paling banyak diminati saat ini. Pokoknya menduduki rating tertinggi deh. Dan yang lebih luar biasa lagi, cerita yang beredar dari mulut ke mulut itu terus berkembang sampai sekarang. Bia sendiri sampai heran dengan daya kreativitas orang-orang yang udah ngembangin cerita itu. Cerita terakhir yang bia dengar tentang kejadian di lapangan hari itu sih begini: 1. Egi nyanyi di lapangan buat nyatain perasaannya ke Bia. 2. Bia shock sampai pingsan soalnya selama ini kan nggak ada cowok yang senekat itu ngejar-ngejar dia. 3. Pas sadar Bia nangis bombay saking terharunya karena ada cowok yang mau sama dia. Gila nggak tuh cerita! Mungkin nggak sih Bia kayak gitu? Nangis buat cowok, nggak ada tuh dalam kamus hidup Bia. Benar-benar nggak masuk akal, kan? Yang ngarang tuh cerita pasti benar-benar udah sinting. Tapi menurut Bia, yang ngedengerin cerita itu jauh lebih sinting lagi karena mereka percaya sama cerita itu. Ini benar-benar tiga hari terberat dalam hidup Bia. Baru kali ini ia merasakan hal-hal semacam ini. Jadi pusat perhatian dan digosipin. Rasanya mau marah dan teriak, tapi ke siapa? Ke Egi? Mana mungkin. Masalahnya, udah tiga hari ini Egi menghilang gitu aja dari peredaran. Cowok itu nggak pernah lagi datang ke kelas Bia, nyamperin ke kantin, nungguin Bia pulang sekolah, atau nelepon ke rumah. Pokoknya lenyap gitu aja deh. Dan sekarang, entah kenapa ada sesuatu yang aneh dalam diri Bia. Rasanya ada yang hilang. Bia nggak tahu itu apa, yang dia tahu rasanya aneh banget. Apa iya itu gara-gara Egi?

@(^-^)@ Siang itu Bia, Yuki, dan Cha-Cha duduk di kantin sambil menikmati semangkuk soto mi hangat. Biasalah, tiga cewek itu lagi malas pulang cepat. Jadi mereka nongkrong di kantin sama-sama. Bia menggulung-gulung mi dengan garpunya. “Tammy mana?” “Katanya mau pulang duluan,” jawab Cha-Cha sambil menuangkan sesendok sambal ke dalam mangkuk soto mi-nya. “Dia bilang sih ada janji sama bokapnya.” “Bokapnya?” Bia mengernyitkan dahinya heran. “Bukannya bokapnya lagi ke Pekanbaru?” Cha-Cha mengedikkan bahu. “Tau deh. Udah pulang, kali.” Bia manggut-manggut lalu menyuapkan sesendok mi ke mulutnya. “Bi, si Egi apa kabarnya?” tanya Yuki tiba-tiba. Bia diam saja, pura-pura nggak dengar. “Iya, Bi,” tambah Cha-Cha. “Gosip tentang kalian berdua kan lagi hot-hotnya nih. Masa nggak ada perkembangan baru sih?” “Tau ah,” jawab Bia kesal. “Tuh anak udah mati, kali.” “Ih...! Kejam amat sih ngomongnya,” goda Cha-Cha. “Nggak baik lho kayak gitu. Ntar kalo orangnya mati beneran, lo bakalan nyesel!” “Nggak bakal!” “Jangan sewot gitu dong, Bi,” ujar Yuki. “Kami kan cuma mau tau aja.” “Asal lo berdua tau,” kata Bia, “gue nggak pernah punya hubungan apa pun sama cowok rese itu. Jadi nggak bakal ada hal apa pun yang berkembang antara gue dan dia. Lagi pula, gue rasa dia udah malas deketin gue. Mungkin dia udah dapat cewek lain yang bisa dia mainin.” “Ada apa sih, Bi?” tanya Yuki heran. “Apanya yang ada apa?” Bia balik nanya. “Yah elo itu...,” jawab Yuki. “Gue merasa ada yang aneh sama elo.” “Nggak ada apa-apa kok. Apanya yang aneh sama gue?” Cha-Cha yang menjawab, “Lo emang lagi aneh, Bi. Apa gara-gara Egi?” “Kenapa gue mesti aneh gara-gara dia?” “Karena lo merasa kehilangan Egi yang udah beberapa hari ini nggak lagi gangguin elo. Iya, kan?” Cha-Cha tersenyum nakal. “Ngapain gue merasa kehilangan dia!” seru Bia. “Gue malah senang karena dia nggak gangguin gue lagi!” Cha-Cha dan Yuki malah tertawa. Bia meelototi kedua temannya itu, tapi Yuki dan Cha-Cha terus tertawa heboh. Tanpa mereka bertiga sadari, Maxi udah berdiri di samping meja mereka.

” “Max. lalu perlahan melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Yuki. “lepasin Yuki.. “Ini penting. Yu. gadis yang begitu disayanginya.” Yuki berhenti tertawa dan menatap Maxi. “Nggak ada lagi yang perlu kita bicarain..” “Gimana mungkin gue bisa percaya sama elo?!” sahut Yuki. Max!” Yuki bangkit dan berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Maxi. Yu. tapi gue nggak bohong.” kata Maxi pelan.“Yuki. air mata mengalir di kedua pipinya. “Lo harus dengar kata-kata gue.” kata Maxi tajam. “Lebih baik lo lepasin tangan Yuki dan kita bicara baik-baik. “Yu. Please.. Dia sama sekali nggak bermaksud menyakiti Yuki. Gue ngeliat dengan mata gue sendiri. Mata Yuki yang mulai berair menahan tangis menyayat hatinya.” “Lebih baik tangannya merah dan sakit daripada gue harus ngeliat dia sakit hati lebih dalam lagi.” Bia berusaha berkata bijak untuk meredakan emosi Maxi yang meluap-luap. “Gue emang nggak punya bukti.. itu artinya gue mengkhianati cinta gue sendiri.” pinta Bia menahan emosi. “Kalau gue percaya sama elo. nggak peduli lo suka atau nggak!” Bia berdiri dari tempat duduknya dan menepuk bahu Maxi pelan. Tangannya malah semakin keras mencengkeram pergelangan Yui. Kalo dia nggak mau bicara sama elo. Dia cuma mau Yuki mendengarkannya.” “Gue nggak mau mendengar apa pun dari mulut lo!” Maxi mencekal tangan Yuki. Dia cuma nggak mau Yuki terluka lebih dalam nantinya. “Lo nggak bisa pura-pura nggak ada masalah.” “Dia harus mau bicara sama gue!” bentak Maxi kasar. gue minta sekali lagi. Dan itu nggak mungkin salah. Itu artinya gue nggak percaya sama pacar gue sendiri.. gue mau bicara sama elo. Max.” “Ada!” bentak maxi. Matanya menatap tajam ke arah Bia seakan memberi perintah agar Bia nggak usah ikut campur. Dia menghela napas panjang dan membuang muka sambil berkata. Dia nggak mau ada seorang pun yang menyakiti Yuki. ya udah. Lo nggak berhak maksa dia. Max. gue mohon pikirkan lagi kata-kata gue waktu itu. “Gue nggak peduli!” Maxi masih mencengkeram tangan Yuki. dan gue harus bicara sama elo saat ini juga. “Jangan kasar gitu dong. “Gue nggak mau mendengar apa pun dari mulut lo!” “Gue nggak bakal melepas tangan lo sampai lo mau bicara sama gue.” ujar Maxi keras kepala. tau!” “Max. lepasin tangan Yuki!” seru Cha-Cha cemas. Maxi memandangi Yuki dalam-dalam. “Dia kesakitan.. “Lepasin tangan gue. Dia nggak rela ada seorang pun yang mempermainkan Yuki. Yuki buru-buru menarik tangannya dan memijitnya pelan-pelan. percaya sama gue.. Maxi menatap Bia lama. Itu saja.” “Tapi dia memang nggak layak untuk elo percaya!” .

Yuki. dan Cha-Cha duduk bertiga di bangku panjang di pinggir lapangan basket. Gue tau sejak dulu elo suka sama gue.” “Elo tuh udah buta. dengerin gue sekali lagi. Yu!” maki Maxi. menoleh dari wajah Yuki ke wajah Maxi..” Maxi menatap Yuki tajam. menunggu penjelasan atas kejadian ini. Yu. kemudian berlalu meninggalkan Yuki yang masih menangis. Yuki tampak lebih tenang. Terus sekarang lo ngejelek-jelekin cowok gue biar gue putus sama dia.” Usai mengatakan itu. Gue terlalu sayang sama elo. “Oke. Mereka cuma mendengarkan pertengkaran itu. sedangkan Bia cuma bisa menatap Yuki. “Elo buta karena cinta. gue pacaran sama dia udah lama. berusaha menahan air mata yang hendak bergulir lagi di pipinya. “Sekarang lo jelasin deh. Dia nggak mungkin mengkhianati gue. “Gue rasa elo yang nggak punya malu. “Gue memang suka sama elo. Gue masih punya moral dan harga diri. berusaha menenangkan cewek itu. “Lalu. “Kenapa lo terus-terusan mengganggu gue dengan kebohongan-kebohongan itu?” “Itu bukan kebohongan. Dia nggak mungkin mempermainkan gue!” sahut Yuki.” Bia memulai pembicaraan.” Yuki mulai sesenggukan. Yuki mengangguk. Hatinya benar-benar terluka mendengar ucapan Yuki. . “Yu. dan elo sama sekali nggak sadar bahwa elo cuma dipermainkan sama dia!” “Maxi.“Max. “tapi gue nggak pernah punya pikiran serendah tudingan lo itu. @(^-^)@ Bia. juga puluhan anak yang sejak tadi memerhatikan mereka dengan rasa ingin tahu. kan?!” BRAAKK! Maxi memukul meja dengan keras sampai sisa-sisa makanan yang masih ada di mangkuk tumpah dan mengotori meja kantin. dia nggak mungkin berbuat gitu sama gue. Iya.” suara Maxi melemah..” Bia dan Cha-Cha nggak bisa berkutik. elo nganggap kami sobat lo.” “Gue.. Cha-Cha merangkul pundak Yuki dan membiarkannya menangis di bahunya. apa mau lo?!” seru Yuki. Maxi menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Gue udah tahu siapa dia. tapi mata dan hidungnya masih merah karena habis menangis. Bia dan Cha-Cha bertatapan heran.. “Gue cuma nggak mau ada seorang pun yang menyakiti dan mempermainkan elo. apa yan gudah lo sembunyikan selama ini dari kami. kan?” Cha-Cha merangkulkan tangannya ke pundak Yuki. nggak bermaksud menyembunyikan apa pun dari kalian.

“Walaupun kami belum tentu bisa membantu. apa pun masalah yang sedang elo hadapi.. . Maxi nggak mungkin berbohong. Gue pernah sebangku sama dia waktu kelas dua.” Bia menolehkan kepalanya menatap Yuki.“Kalo gitu... “Makanya gue nggak percaya. kemudian berkata.. mana mungkin Sammy mau ngaku kalau dia memang benarbenar salah.” lanjut Cha-Cha. “Yah. dan gue tau banget dia bukan tipe cowok seperti dugaan lo.” argumen Bia.” “Hah.” “Jadi maksud lo.” kata Yuki. lo harus cerita ke kami. Sammy udah mengkhianati gue.” Cha-Cha mengernyitkan keningnya mendengar cerita Yuki.” Bia menatap Yuki lekat-lekat. lebih baik lo tanyain kejelasannya secara langsung ke Sammy. itu soal kedua.. Bi. gue nggak percaya Sammy bisa berbuat seperti itu sama gue. dan buktibukti yang ada.” jawab Bia. “Tapi maxi ngotot.” sahut Cha-Cha.” Yuki dan Cha-Cha menatap Bia. Dia bilang dia yakin banget. Dan.. Tapi Maxi terus-menerus berusaha meyakinkan gue tentang hal itu. Bia menghela napas dan menengadahkan kepalanya menatap langit biru yang tumben banget lagi cerah siang ini.. menurut gue. Yuki mulai menangis lagi. kalau gitu gue harus gimana?” “Yu. “Ah. Bia berdiri dan berjalan ke hadapan Yuki. saksi..” “Ya ampun. Dia bilang dia pernah melihat Sammy jalan sama cewek yang sama dua kali. dan terakhir kali dia melihat mereka seminggu yang lalu. “Yu. masa Sammy kayak gitu?” “Gue juga bilang gitu sama Maxi. Maxi itu bukan cowok tukang adu domba. “Kalau untuk hal itu gue nggak bisa memastikannya. Yang penting sekarang kita tau dulu apa pembelaan dia. “Kalau git. Hakim juga nggak pernah langsung memutuskan apa tersangka itu benar-benar salah atau nggak sebelum mendengar pembelaan dari tersangka. mereka sedang berciuman di depan bioskop.. Yuki mengangguk. gue tau... “Yu. “Tiga hari yang lalu. Setelah beberapa saat akhirnya Yuki mulai tenang dan bicara lagi. “Sammy selingkuh di belakang gue. Maxi ngajak gue bicara.. paling nggak kita bisa saling berbagi dan mendukung.” Yuki menangis lebih keras. “Kata Maxi. Sammy udah ngekhianatin gue?” tanya Yuki dengan suara bergetar. ciuman?!” seru Cha-Cha nggak percaya.. Maxi benar.. daripada lo nangis kayak gitu. waktu Egi nyanyi di lapangan. Tapi gue nggak percaya.” lanjut Yuki. Mereka terkejut dengan apa yang baru saja Bia katakan.

Sudah hampir jam 19. semua disusunnya di meja makan. Bia melirik jam dinding. dan Mama kelihatan sedang berbicara dengan seseorang yang mengendarai mobil itu. Bia menyalakan kompor dan meletakkan wajan di atasnya. “Kalian udah nemenin gue dan mendengarkan semua keluhan gue. gue emang cengeng banget. lalu mengirisnya tipis-tipis dan menaburkannya ke atas telur kocok.00. lalu cari waktu yang tepat untuk menanyakan semuanya langsung ke Sammy.” jawab Bia tersenyum lebar. Lebih baik sekarang lo nenangin diri lo. “Thanks. Bia menutup tirai lalu berjalan cepat menuju meja makan. @(^-^)@ Bia mengeluarkan beberapa butir telur dari dalam kulkas. Pasti Mama sudah masuk. “Tapi. Sahabat memang obat terbaik di kala kita sedang terluka. Setelah memecahkannya dan menuangkan isinya ke mangkuk. Jantung Bia berdetak cepat. Hari ini menu makan malamnya telur dadar. ya. . kangkung cah. Yu. Laki-laki! Mama bicara dengan seorang laki-laki. dan tempe orek. Terdengar suara pintu dibuka. Bi.” “Ember.. Bia berusaha menajamkan penglihatannya. berusaha menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. Jendela mobil itu terbuka. Seharusnya Mama sudah pulang sejak tadi. Sekarang tinggal menunggu Mama pulang dan makan bersama. Tak lupa ditaburkannya garam dan merica ke atas telur kocok secukupnya. Siapa laki-laki itu? Kenapa Mama pulang diantar dia? Apa itu orang yang sama dengan yang mengantar Mama waktu itu? Siapa dia? Apa hubungannya dengan Mama? Apa yang dia mau dari Mama? Berpuluh pertanyaan memenuhi batinnya..” Yuki tersenyum. Dan itulah yang saat ini dirasakan Yuki.” Yuki menyeka sudut matanya yang berair. Sedikit minyak dituangkannya ke atas wajan.Cha-Cha tersenyum membenarkan kata-kata Bia. Bia menyibak tirai yang menutupi jendela dan mengintip keluar.. Gadis itu berjalan menuju ruang tamu. maaf ya. Kali ini lebih lebar dan sama sekali nggak terpaksa.” katanya lirih. yah. Ada suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Itu Mama! Mama turun dari mobil. “Bia benar. Bia mengambil garpu dan mengocok telur itu hingga rata. Bia duduk di depan meja makan lalu mengambil gelas dan menuangkan air dingin ke dalamnya.. dan setelah minyak itu panas dia mulai membuat telur dadar favoritnya. Lalu ia mengupas bawang putih dan bawang merah. itulah elo.

“Ngelamunin siapa sih lo?” tambah Cha-Cha. Bikin otak gue jadi tumpul.” Cha-Cha mencibir. Mama pulang kemalaman. Bi?” Bia diam saja. Dia masih kesal dengan kejadian semalam. tapi nggak sedikit pun menyinggung laki-laki yang belakangan ini sering kali mengantar Mama pulang. lalu kita bisa makan samasama. Tadi cuma pengandaian aja. nggak ada gunanya kita bicara. “Kamu marah sama Mama?” Mama berhenti di depan kamar dan menatap Bia. lalu membuka pintu kamar sambil berkata. Nggak ada yang perlu dilanjutkan. @(^-^)@ Bia meletakkan tas ranselnya di meja.” jawab Bia sinis. “Maaf ya.” Alis Mama bertaut. Ia menuangkan air dingin ke dalam gelas lainnya tanpa memedulikan sapaan Mama. lo!” . Dia mau memercayai Mama meskipun nggak bisa dia pungkiri bahwa saat ini hatinya agak kecewa. Bia tetap diam saja. Namun hati kecilnya berkata lirih. “Mama tadi ada keperluan sebentar.Mama yang sudah masuk tersenyum melihat meja makan sudah tertata rapi. Kesambet baru tau loh!” “Biarin!” jawab Bia asal. Sesuai dengan perkiraannya. Dia ingin menunggu sampai Mama terbuka dan jujur sama dia. “Aku nggak punya hak untuk marah sama Mama meskipun Mama lagi menyembunyikan sesuatu dari aku. “Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti. Mama mandi dulu. “Mana mungkin aku marah sama Mama. Mama hanya membahas tentan gpekerjaan yang membuatnya pulang terlambat. “Egi?” “Enak aja! Rugi gue ngelamunin cowok kayak dia. Bia duduk di bangkunya dengan tampang bete. Dia mengambil piring dan menyendok nasi tanpa bersuara. Kamu pasti udah kelaparan.” Bia diam. “Lain di hati lain di mulut. “Hei!” tegur Cha-Cha. Kelas udah ramai oleh anak-anak yang sibuk menyalin PR. “Apa maksud kamu? Memangnya Mama menyembunyikan apa dari kamu?” “Aku nggak bermaksud apa-apa kok. mengambil tempat di sebelah Bia.” Mama menatap Bia tajam. Bia nggak mau memaksa Mama bercerita. Mama udah nggak jujur.” tambah Mama sambil berjalan menuju kamar. “Kamu kenapa sih?” tanya Mama heran. Selama Mama nggak mau jujur sama aku. Ma. jadi pulangnya agak terlambat. “Pagi-pagi udah melamun.

Dia nggak enak ngebatalinnya. dia kan paling rajin. “Tammy sih tadi katanya mau ke kantin. Cha?” tanya Bia saat Cha-Cha melajukan mobilnya tanpa menunggu Tammy. gue nggak akan sebut-sebut nama Egi lagi. “Iya deh.. kali. “Duile. serius dong nyopirnya... mungkin dia ada urusan. “Oke. Apalagi sebentar lagi udah mau ujian semester. “Nanti pulang sekolah kita ke rumah dia yuk?” ajak Bia. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu.” “Iya. Atau. Kok mendadak Tammy kayak orang sibuk gitu. Si Tammy nggak bisa ikutan. Bolos.” . Belakangan ini sepertinya ada yang aneh sama Tammy. “Kan sebentar lagi bel.” “Mungkin dia nggak masuk hari ini. “Tammy sama Yuki mana?” tanya Bia.. kalau Yuki belum datang tuh.. gitu aja marah. Pagi ini Bia udah cukup bete dan dia merasa nggak perlu lagi dibuat bete gara-gara cowok aneh itu.. Entah apa.. Katanya sih dia ada janji sama teman lamanya yang baru balik dari Jerman.. Di antara kita berempat. Cha?” seru Bia kesal. Hehehe.” Bia mengambil buku matematika dari dalam tasnya.” “Aneh?” tanya Cha-Cha lagi.” goda Cha-Cha. “Apanya yang aneh?” “Ya aneh.” @(^-^)@ “Lho. Nggak hanya pelajarannya. Bia semakin heran. Diliriknya jam tangan yang nangkring manis di pergelangan tangannya. tapi mailbox. dia bakal nyusul ke rumah Yuki... Nggak biasanya dia telat. Bi. Nanti istirahat gue ke kelas Tammy buat ngajak dia. Jangan sambil goyang begitu.” “Yuki belum datang?” tanya Bia heran. ini gue serius.” “Iya juga ya. gurunya juga.” “Yuki bolos? Mana mungkin.“Lo kenapa sih. kali. “Kenapa sih. Pelajaran pertama hari ini pelajaran killer.” “Aneh. Dia udah jarang kumpul dan susah banget dihubungi. Cha-Cha nggak menjawab pertanyaan Bia. Atau sakit. “Nggak tau. Bi?” tanya Cha-Cha. “Heh. Bia menghela napas panjang. Dia malah asyik menyetel CD Jennifer Lopez dan menggerak-gerakkan badannya.” Suara bel yang berdering nyaring meyakinkan Bia dan Cha-Cha bahwa Yuki hari ini memang nggak masuk sekolah. tapi nggak biasanya Tammy sok sibuk begini. Gue ngerasa ada yang aneh aja sama Tammy. Tammy-nya mana. Dia bilang sih kalau urusannya udah selesai.” “Tadi gue udah coba telepon ke HP-nya.” kata Cha-Cha akhirnya. Rencananya mereka mau ke rumah Yuki.

boleh nggak. terus lo muntah-muntah melulu. Sekali lagi Bia mengetuk pelan. lalu pelan-pelan mereka masuk ke kamar. dari balik pagar terlihat jelas beraneka tanaman. Nggak usah negative thinking gitu. makanya mereka hafal selukbeluk rumah ini.” jawab Bi Ita. dan pohon jambu. “Halo. Tanpa basa-basi dia mengambil kursi dan duduk. Sampai di depan kamar Yuki. Kedua cewek itu udah sering banget main ke rumah Yuki. Nggak ada sahutan.” “Iya. Bi. Badannya Non Yuki anget. mungkin lo benar.” “Kalau kami langsung masuk ke kamar Yuki. Bi?” “Boleh atuh. Sambil membukakan pintu pagar untuk Bia dan Cha-Cha. Cha-Cha menyusul di belakangnya. “Bibi nggak tau..Bayangin aja. Yu. mulai dari tanaman bunga aneka warna sampai pohon cemara. Bener nggak sih?” . Non. “Yuki ada. pembantu Yuki yang setia banget. lo sakit apa sih?” tanya Bia lagi.. tapi kali ini sambil memanggil nama Yuki. “Tapi Non Yuki-nya lagi sakit. karena udah belasan tahun kerja di keluarga Yuki. Bia dan Cha-Cha masuk dan langsung menuju kamar Yuki di lantai atas. tapi kelihatan paling rimbun di antara rumah-rumah lainnya yang ada di kompleks itu.” sapa Bia ramah. “Masuk aja. “Kata Bi Ita badan lo panas. “Tumben lo bisa sakit. Non. Rumah yang didominasi warna putih itu nggak terlalu besar. Nyonya lagi di dapur buatin bubur spesial buat Non Yuki. Nanti Bibi yang bilangin ke Nyonya kalau Neng Bia sama Neng Cha-Cha datang. udah gitu muntah terus. Bi Ita berkata. Bi Ita.” “Sip deh. Bia dan Cha-Cha beradu mata sesaat. “Hei. Bi.“Mungkin dia emang lagi sibuk beneran.” “Sakit apa. Non. Bia menghentikan langkahnya dan mengetuk pintu pelan-pelan.” terdengar jawaban lirih dari dalam kamar. Bibi jadi kasihan ngelihatnya.” sapa Bia mendekati tempat tidur Yuki dan duduk di sisi sobatnya yang sedang terbaring itu. Pokoknya lengkap deh! Bia turun lebih dulu dari mobil dan langsung menekan bel di tembok pagar rumah Yuki. Bi?” tanya Bia. “Halo. Bi?” “Ada. Semua orang yang lewat di depan rumah itu pasti langsung tahu bahwa penghuni rumah itu pencinta tanaman.” @(^-^)@ Cha-Cha menghentikan mobilnya nggak jauh dari rumah Yuki. pohon belimbing. Sesosok perempuan tua tergopoh-gopoh datang untuk membukakan pintu.” Cha-Cha juga nggak mau ketinggalan.” sahut Bia setuju.

Tapi kali ini tubuhnya bergetar pelan. “Sammy nyeleweng. Lama-kelamaan semakin kencang dan disertai isak pelan. Cha-Cha menarik tubuh Yuki dan memeluknya.. kenapa sih lo?” tanya Bia mulai keki.. wajahnya merah. Ia menarik napas panjang untuk mengontrol emosi yang meluap dalam dirinya. Gue nggak ngerti apa maunya. nyeleweng?” Cha-Cha masih nggak percaya. Dia ngeduain gue. Kenapa dia nggak mau menunggu? Kenapa dia malah memilih cewek itu dan mutusin gue gitu aja? Apa hubungan gue sama dia selama ini nggak punya arti apa-apa buat dia? Kenapa dia dengan begitu mudahnya mutusin gue? Kenapa?” . ternyata Maxi benar. Saking nggak sabarnya. Rasanya siapa pun nggak akan percaya kalau cowok seperti Sammy ternyata mendua hati. bibirnya kering. Bia dan Cha-Cha kaget plus heran. Bia mengambil tisu yang ada di atas meja tepat di sebelah tempat tidur Yuki dan menyodorkannya pada cewek itu.” “Jadi. Sammy yang selama ini dia kenal benar-benar tipikal cowok idaman.. Yu?” tanya Bia tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya. tapi waktu gue bilang gue lihat dia jalan sama cewek di mal. Sammy benar-benar. Yuki menangis... lo kenapa?” pekik Cha-Cha. jangan malah dicuekin gini dong! Apa sakit lo parah banget sampai nggak bisa ngomong atau ngelihat kami berdua?” Yuki tetap mengurung diri di balik selimut. padahal sebentar lagi gue juga lulus SMA dan bakal jadi mahasiswa kayak dia. Awalnya dia nggak mau ngaku. “Bi.. Yang ditanya diam seribu bahasa. Katanya nggak ada serunya. gentleman. Baik hati.” kata Yuki di tengah isak tangisnya. “Ada apa. “Apa yang udah terjadi?” “Gue benci Sammy.. Yuki mengangguk sebagai jawaban untuk keraguan Cha-Cha. “Kenapa dengan Sammy? Apa yang membuat elo begitu marah sama dia?” tanya Bia nggak sabar.” timpal Cha-Cha asal. kayak pacaran sama anak kecil. “Yuki. Yuki malah menangis lebih kencang dari sebelumnya. Selimut menutupi seluruh tubuhnya. dia bosan pacaran sama anak SMA.“Jangan-jangan lo kena flu burung ya. “Kami kan datang buat jenguk elo. Yuki mengambilnya dan menghapus air mata yang turun di pipinya. dan yang pasti setia. dan peluh mengalir di keningnya. Gue benci dia!” pekik Yuki histeris. gue benci dia. sopan.. Matanya bengkak. “Gue benci Sammy. akhirnya dia ngaku. “Dia bilang. Masalahnya. “Yu. Kemarin malam gue nanya langsung ke dia. “Lo kenapa sih?!” Wajah Yuki yan gpucat dan bersimbah air mata muncul dari balik selimut. Yuki menghapus air matanya dan melepaskan diri dari pelukan Cha-Cha.” ujar Yuki lirih. ramah. Bia menarik selimut yang menutupi tubuh Yuki. Bia dan Cha-Cha melotot kaget.

“Jangan. Max? Omongan lo soal Sammy ternyata benar. Mungkin itu yang bikin dia jadi sakit seperti ini. “Yang pasti. “Kenapa?” tanya Bia..” Tiba-tiba Maxi muncul dari balik pintu kamar Yuki. Dia benar-benar patah hati dan kecewa. Jangan permalukan gue di depan dia. “Gue mau bikin perhitungan sama cowok brengsek itu. gue nggak bermaksud nguping.” jawab Maxi tenang. “Kalau lo nggak mau dia merasa menang dan hebat. Yuki.” “Terus kenapa?” “Gue nggak mau dia tau bahwa gue terluka gara-gara dia. “Sori.. Buktikan sama dia. jangan berpikiran senegatif itu tentang uge.. Buktikan sama dia bahwa dia nggak ada artinya buat elo. “Udah berapa lama lo di situ?” tanya Bia ketus. jangan siksa diri lo seperti ini.” “Ngapain lo nguping di rumah orang?” ketus Bia.. Bi. Gue nggak akan tinggal diam melihat sahabat gue dicampakkan gitu aja. Kalau dia sampai tau gue kayak gini gara-gara dia. Gue nggak jadi masuk dan akhirnya malah mendengar semuanya. tapi pas gue mau ngetuk pintu.. lo mau ke mana?” tanya Cha-Cha. Dia akan merasa menang dan hebat karena bisa mencampakkan gue. gue dengar Yuki nangis. gue nggak akan punya muka lagi di depan dia.” “Lalu buat apa lo ke sini?” “Karena gue khawatir sama elo.. jangan. bukan dia yang mencampakkan elo tapi elo yang mencampakkan dia. “Apa lo masih cinta sama dia? Apa lo masih mau ngebelain dia?” “Bukan. Gue nggak tau gimana caranya bangkit lagi. “Nggak begitu. kan? Apa lo ke sini buat ngelihat penderitaan gue?” tanya Yuki sinis. Gue mohon jangan!” tahan Yuki memelas.. Tujuan gue ke sini mau jenguk Yuki. “Bi. Dia harus gue kasih pelajaran sampai kapok!” jawab Bia geram.” “Tapi lo sekarang puas kan..” .. Bia bangkit dan berjalan menuju pintu kamar Yuki dengan tangan terkepal. Bia. karena gue peduli sama elo. Bi.” Bia terdiam. “Gue tau.” cecar Bia. tapi gue nggak bisa. “Cukup lama.” “Gue yang akan membantu lo bangkit lagi. Bi.Tangis Yuki bertambah kencang. dan lo bisa ngetawain gue. dan Cha-Cha menatap Maxi kaget. Kata orang penyakit kan bisa juga disebabkan oleh gangguan psikologis kayak yang dialami Yuki sekarang ini.. bukan. karena gue sayang sama elo. Yu. Please. Lalu perlahan dia kembali ke samping Yuki. Sekali lagi sori. gue udah dengar semua pembicaraan kalian. Mereka sama sekali nggak menyadari kehadiran cowok itu.

izinkan gue berada di samping lo. tapi bolehlah. apa pun yang terjadi. Meskipun menurut Bia kata-kata Maxi rada gombal.Yuki terdiam. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis kencang. Air matanya mengalir pelan. “Yu. Yuki tetap menangis. Adegan barusan persis kayak di film-film romantis Korea. Bia dan Cha-Cha tersenyum di sisi tempat tidur. Dia langsung panik melihat Yuki menangis histeris begitu.. Maxi semakin salah tingkah. Maxi jadi kebingungan. perasaan gue nggak berubah sedikit pun. Sesaat Maxi terpana lalu perlahan membalas pelukan Yuki. yang lagi ngetren belakangan ini.” Tanpa sadar air mata Yuki mengalir lebih deras. Yu..” bisik Maxi lembut. “Yu. semakin lama semakin erat. Tiba-tiba Yuki langsung memeluk Maxi dan menangis di pundaknya. Tapi pelan-pelan Maxi mengulurkan tangan. Semoga aja kehadiran Maxi bisa jadi obat mujarab untuk luka di hati Yuki. sebagai tempat lo bersandar. Itu lho. Jangan khawatir. gue udah lama suka sama elo. Entah karena panik atau karena malu.. lalu dengan lembut membelai rambut Yuki. Gue akan selalu di samping lo. Nggak perlu sebagai pacar. Bia menghampiri Maxi dan mendorongnya ke arah Yuki. tapi cukup. Dan sampai sekarang. lo tau. Bia tersenyum geli melihat kepanikan Maxi dan buru-buru menahan ChaCha yang udah mau memeluk Yuki. tapi dia membiarkan tangan Maxi membelai rambutnya. gue ada di sini. Mukanya berubah merah. ..

Yuki bilang dia masih butuh waktu untuk mengobati luka di hatinya. tapi Bia tak pernah membalasnya. Tapi Maxi bersikeras untuk menunggu sampai Yuki benar-benar bisa melupakan Sammy dan membuka hati untuk menerima dirinya. Bia juga kadang-kadang merasa Egi memerhatikannya dari jauh. Egi nggak pernah “mengganggunya” lagi. Mereka membutuhkan sesuatu yang dapat mendinginkan otak mereka yang udah panas gara-gara disuruh mikir terus selama seminggu ini. dan ocehan sebagai pelengkapnya. masa-masa ujian jadi masa-masa yang paling menyiksa. “Pada bisa nggak?” . itu pun tetap tak dipedulikan oleh Bia. Tapi kisah baru antara Yuki dan Maxi baru aja dimulai. Ekspresi lega mulai muncul di sela-sela wajah kusut yang sejak kemarin bertebaran di mana-mana. Maxi baik banget ya! Sekarang ini sudah tepat satu minggu siswa-siswi SMA Constantine 4 menghadapi ujian semester. yang tahun ini bakal meninggalkan bangku SMA. Egi paling hanya tersenyum. Anak-anak kelas tiga dibuat nggak punya waktu untuk memikirkan masalah lain selain belajar. Bia juga kini lebih tenang. “Gimana ujian Inggris tadi?” tanya Yuki mengawali percakapan. Lagi pula dia takut jika dia hanya memanfaatkan Maxi sebagai perlarian sesaat. Yuki memang nggak langsung menjadikan Maxi sebagai pacarnya. aturan. Yuki. Apalagi bagi Bia dan teman-temannya.BAB ENAM KISAH Yuki dan Sammy memang berakhir hari itu. Memang. pernah beberapa kali cowok itu berpapasan dengannya. Siang itu. Akhirnya masa ujian pun berlalu. Bia. Bia yang udah nggak sibuk lagi di OSIS karena udah menyerahkan jabatannya pada adik kelas mulai berkonsentrasi pada ujian dan persiapannya memasuki masa kuliah. dan Cha-Cha duduk-duduk di pinggir lapangan sambil menikmati segelas es cendol. Semua guru terusmenerus memberi latihan soal yang katanya sebagai persiapan buat menghadapi ujian akhir nanti plus berbagai macam wejangan.

” “Sky High aja. Bia. “Nanti malam gue coba telepon dia deh.” sambung Yuki. Kayaknya lebih tegang. dan Yuki menaiki eskalator menuju bioskop yang ada di lantai atas. Cha-Cha.“Please deh.” sahut Cha-Cha. gimana kalo habis ini kita ke MTA?” usul Yuki. Mereka mengira-ngira. Skeleton Key malah bikin gue tambah stres nanti. Kalau ditraktir.” Bia sok menganalisis. Semakin tegang semakin bagus. “Gue baru aja mau mendinginkan otak gue. “Gue yang bayarin!” cetus Yuki. Kepala gue udah mau meledak!” Yuki tersenyum dan kembali menikmati es cendolnya.” “Tuh anak kayaknya udah nggak pernah lagi ya. @(^-^)@ Siang itu Mal Taman Anggrek nggak terlalu ramai. Kita kan sahabatnya. biar otak kita jadi fresh lagi. “Skeleton Key aja. Bia dan Cha-Cha tidak langsung menjawab.” kata Yuki. “Tammy nggak mungkin menghindari kita. Yu. Yuki yang terpaksa mengambil uang di ATM dulu cuma bisa mengangguk pasrah. Gue belum nonton tuh. ngumpul bareng kita. itu pasti cuma perasaan lo doang. Tammy mana?” tanya Bia. “Siapa tau dia lagi ada masalah. berapa sisa uang di dompet mereka.” Cha-Cha bersikeras. “Ah.” Bia membela diri.” “Kan gue cuma feeling. Setelah berunding. Bia dan ChaCha dengan mantap memutuskan minta ditraktir nonton aja.” Bia dan Cha-Cha mengangguk bersamaan. “Eh iya. “Dia bilang sih mau nganter nyokapnya ke salon.” ujar Bia. “Sepertinya Tammy agak sibuk akhir-akhir ini. “Nggak ah!” Bia nggak setuju. “Setuju banget!” teriak Yuki dan Bia berbarengan. Bukannya ngilangin stres.” usul Cha-Cha. “Sky High aja deh. Biar otak gue yang kusut garagara ujian bisa fresh lagi!” . “Feeling gue mengatakan dia sedang menyembunyikan sesuatu dari kita. “Hei. “Tapi kok gue malah merasa dia lagi menghindar dari kita. “Mau nonton apa nih?” tanya Yuki sesampainya mereka di bioskop. Jadi jangan sebut-sebut kata „ujian‟ lagi di depan gue. mereka tak perlu berpikir dua kali.” jawab Cha-Cha. “Udah pulang duluan.” celetuk Yuki. “Skeleton Key aja.

“Kita nonton Dealova aja. “Demi temen yang lagi kasmaran. “Biarin. lo udah nerima Maxi nih?” goda Cha-Cha. Kan gue yang traktir. “Iya. Mama tampak begitu ceria. Cha-Cha cuma nyengir mendengar ucapan sobatnya itu.” kata Yuki. dan menatap laki-laki itu dengan lembut. gue ngalah deh. “Biar gue yang nentuin mau nonton apa. Bukan Sky High. Bia nggak berani memercayai apa yang dia lihat. “Cha.” dumel Bia. gue mau nonton yang cinta-cintaan aja.. Perlahan dia berjalan mendekati restoran itu. Bia memesan satu hot crepes untuk dirinya sendiri. “HAH?!” seru Bia dan Cha-Cha bersamaan.” “Hah? Lo lagi kasmaran. lo tau kan. dan sekarang dia mengenali perempuan itu. Sosok perempuan itu semakin jelas.” ujar Cha-Cha. Sambil menunggu pesanannya dibuat. Lo mau?” “Nggak deh!” “Ya udah.” Bia keluar dari bioskop menuju counter crepes yang ada di depan bioskop. Ya. Yuki masih lama ini beli tiketnya. bukan Skeleton Key.“Stop!” Yuki menghentikan perdebatan Bia dan Cha-Cha. “Ngapain?” “Mau beli crepes dulu.” Bia dan Cha-Cha diam dan manyun. sedangkan Mama hanya diam. Yuki cuma senyam-senyum.. gue nggak suka cerita-cerita roman kayak gitu. Mama pasti punya hubungan khusus dengan . “Yah. gue keluar dulu ya sebentar. Sudah lama Bia nggak pernah melihat wajah Mama seceria itu. Yu? Jadi.. Yu.. Bia merasa sosok perempuan setengah baya yang tengah dilihatnya itu mirip sekali dengan Mama. “Tapi. berhubung gue lagi kasmaran. tersenyum.” ujar Bia.” putus Yuki. Wajah Mama saat ini mirip dengan wajah Yuki setiap kali berbicara dengan Maxi. Cha-Cha yang sedang melihat-lihat poster film yang akan ditayangkan bertanya tanpa menoleh. ia mengedarkan pandang ke sekelilingnya. jadi gue yang nentuin mau nonton apa. Mama benar-benar seperti anak ABG yang sedang dilanda asmara.” tambah Bia. Beberapa kali dia tertawa sambil menatap pria yang duduk di hadapannya. Tiba-tiba tatapannya terhenti pada sepasang pria dan wanita yang duduk di restoran yang nggak jauh dari tempatnya berdiri. itu memang Mama! Mama sedang duduk bersama seorang pria yang sama sekali nggak Bia kenal. Bia berusaha menegaskan pandangannya. alamat tidur di bioskop deh gue. Bia yakin. Tangan laki-laki itu menggenggam tangan Mama. lalu berjalan dengan cueknya menuju loket untuk membeli tiket.

“Dia akan Bia anggap sebagai orang tua kalau tingkah lakunya benar-benar mencerminkan orang tua..” “Siapa laki-laki ini. “Tenang dulu. “Gue kasih tau ya. Dia nggak percaya pada apa yang didengarnya.” kata Mama. lalu ia mendekati laki-laki itu. Namun dengan kasar Bia menepisnya. Sementara laki-laki yang bersama Mama tampak kikuk. Bukan seperti playboy yang lagi cari mangsa!” PLAK! Tangan Mama melayang ke pipi Bia sambil berkata tajam. kita bicara pelan-pelan. atau lo akan menyesal!” “Bia!” hardik Mama.... “Bia.. itu laki-laki yang sama dengan laki-laki yang sering mengantar Mama pulang ke rumah. “Salah paham? Aku salah paham? Ma. Ma? Punya hubungan apa dia sama Mama sampai Mama membiarkan dia megang-megang tangan Mama?” cecar Bia. Bia menggeleng. kamu duduk dulu. Kata-kata singkat Mama tadi udah menjelaskan status laki-laki yang sekarang berdiri di sebelah Mama. Bia berjalan cepat memasuki restoran itu. tingkah laku Mama sama laki-laki ini udah aku lihat jelas. Seluruh mata yang ada di restoran itu memandang mereka.” pinta Mama penuh permohonan. Mama Bia terlonjak kaget.” “Apa maksud Mama?” Bia nggak memedulikan kata-kata Mama. “Ap-apa maksud Mama?” Wajah Mama berubah pucat. “Mama!” tegur Bia keras. “Siapa yang Mama sebut papaku?” “Bia. Lakilaki bertubuh tegap dan berjambang tipis itu adalah laki-laki yang sudah . Air mata menggenang di pelupuk matanya.. Ia menarik tangan Bia untuk duduk di sebelahnya. Dia nggak suka melihat Mama bertingkah seperti itu. tapi tak jadi.” Mama bangkit berdiri dan berusaha menenangkan Bia. Atau jangan-jangan.. Bi. “Jangan bicara sekasar itu pada papamu!” Bia terperangah. Bia benar-benar nggak tahan melihatnya.. Biar Mama jelasin ke kamu..” Bia menepis tangan Mama yang berusaha memegang bahunya. “Bi. Dia nggak perlu penjelasan Mama. Dia mau bicara.. jangan coba-coba deketin nyokap gue.. Sayang. Tapi Bia nggak peduli. “Bia.. Ada banyak hal yang harus Mama jelaskan ke kamu. kamu jangan salah paham. Bi.laki-laki itu. “Jangan bicara nggak sopan sama orang tua!” “Orang tua?” tanya Bia sambil tertawa. Dia nggak akan rela mamanya disakiti lagi seperti ketika Papa Ivan menyakiti Mama. dan Mama masih bilang aku salah paham?” “Bukan begitu.

Bia lelah. @(^-^)@ Bagi Bia ini seperti mimpi buruk. Dia merasa ada yang aneh pada gadis yang sedang berdiri di hadapannya ini. Lo mau ke mana. Egi! “Halo. Dia nggak mau pulang ke rumah karena dia sama sekali nggak mau ketemu Mama. Hatinya sakit dan marah. lo baik aja duluan. Teddy membuka helmnya. Egi mengernyitkan kening. Ia menoleh sejenak. “Kita jodoh banget ya. Bia menyusuri trotoar dan berjalan tanpa tujuan. serta Cha-Cha yang tengah menunggunya di bioskop. Dia marah.. Bia kembali berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. juga laki-laki brengsek itu. Cowok yang duduk di boncengan turun lalu melepaskan helm yang dipakainya. jangan pergi dulu. Tapi dia memilih diam dan menyingkir dari hadapan Bia. Dia nggak peduli dengan crepes pesanannya. “Lo mau ke mana sih? Mau ngejar tuh cewek?” . Bia ingin semua yang ada di dunia ini menghilang. “Ted.” kata Egi pada Teddy yang masih duduk di atas motor. Bi? Sendirian ya? Gue temenin ya?” “Please. Dia nggak mau mendengar penjelasan apa pun. Sepeda motor itu berhenti. dia nggak mau mendengar permohonan maaf dari mulut laki-laki itu apalagi menerimanya sebagai papanya. Bia belum siap menghadapi semua kejadian ini. Bahkan langit yang sedang mendung seakan turut memahami sakit hatinya ini. Bia menghentikan langkah. kecewa. “Eits. bahkan benci dengan semua yang harus dia hadapi ini. Cowok itu.. sedih. Bia berbalik dan keluar dari restoran tanpa memedulikan teriakan Mama. Tapi Egi buru-buru menahannya. tapi kali ini sama sekali nggak ada nada kasar seperti biasanya. Bia terus berlari dan berlari. Bia nggak mau lagi menghadapi masalah-masalah yang menyesakkan dadanya ini.” Bia nggak membalas sapaan Egi. Jangan halangi jalan gue. Egi menatap Bia dan semakin yakin pasti Bia sedang ada masalah. Dia berlari cepat menuruni eskalator. Gi. Dia malah membuang muka lalu meneruskan langkahnya. Yuki. Bia benci mamanya. Bia nggak percaya.meninggalkan dirinya dan Mama. laki-laki yang udah meninggalkannya selama 17 tahun tibatiba muncul di hadapannya dan duduk mesra bersama mamanya. Bi!” sapa Egi sambil menenteng helm di tangan kanannya. sangat lelah. “Bia!” Bia mendengar seseorang memanggil namanya.. Laki-laki itulah yang telah membuat Bia terlahir di dunia ini tanpa mengenal kasih sayang seorang ayah. Laki-laki itulah yang telah membuat mereka menderita selama ini.” kata Bia.. Bia nggak tahu harus gimana. Ada dua cowok berjaket hitam yang berboncengan di sepeda motor. di jalanan segede ini aja kita masih bisa ketemu.

Mau nggak mau Egi kaget juga mendengar pertanyaan itu...” rutuk Teddy pelan. Jantungnya berdetak kencang. Dia memang nggak benar-benar setuju dengan pilihan hati Egi. Mendekati ujung jembatan. Jaket hitam melindungi tubuhnya dari udara yang mulai dingin karena akan turun hujan.” jawab Bia ketus.” . lo nggak boleh berpikiran sempit apalagi kalau sampai bunuh diri. Langit mulai menghitam dan sesekali terdengar suara guntur bergemuruh. “Lo pikir gue cewek bego? Siapa yang mau bunuh diri? Gue masih sangat menghargai hidup gue.” “Jangan peduliin gue deh. Bia berjalan tanpa peduli pada orang-orang di sekelilingnya yang mulai berlarilari takut kehujanan. “Dasar bego.!” panggil Egi sambil berlari menghampiri Bia lalu menarik tangannya menjauhi sisi jembatan. “Lo nggak mau pulang. Apa Bia mau bunuh diri? “Bia. Egi yang sudah sampai di atas jembatan berusaha mencari sosok Bia. Tapi dia sama sekali nggak beranjak dari tempatnya.” Hening sejenak di antara mereka. Cewek kayak gitu kok dikejar. Egi mengikutinya dan berusaha menjajari langkah Bia. Pandangannya sampai pada seorang cewek yan gsedang berdiri memegangi pagar jembatan sambil menatap ke bawah. gue jatuh cinta sama seluruh diri lo. “Awalnya ya karena wajah lo yang imut itu. Bia masih tertawa lalu kembali berjalan mendekati sisi jembatan. gue jatuh cinta pada pandangan pertama. Bisa dibilang. Bi?” tanya Egi. Sesaat kemudian ia kembali menatap jalan raya yang terhampar di bawah jembatan. Tapi lama-kelamaan. “Karena kalau gue bilang sampai selamanya. “Apa-apaan si lo? Seberat apa pun masalah yang lo hadapi. Ternyata dugaannya salah.” jawab Egi.“Itu urusan gue. “Sampai kapan lo akan menyukai gue?” “Gue nggak tau sampai kapan. Gue nggak butuh perhatian lo. Teddy tahu Egi benar-benar udah jatuh cinta pada cewek galak itu. Bi!” hardik Egi. apa sih yang elo suka dari gue?” tanya Bia tiba-tiba. “Gi. Hingga akhirnya Bia bertanya. Dilepasnya tangan Bia dengan perasaan lega. Bia memperlambat langkahnya dan mendekati pagar jembatan. Egi diam. Lalu ia tertawa. Itu dosa. Kemudian ia menjawab. Egi berlari mengejar Bia yang tengah menaiki jembatan penyeberangan. tapi sebagai teman.” Egi terpana.” jawab Egi singkat sambil menyerahkan helmnya pada Teddy dan langsung berlari mengejar Bia. “Udah mau hujan lho. Kepalanya ditengadahkan menatap langit. Bia menatap Egi yang menggenggam pergelangan tangannya kuat-kuat. Gemuruh guntur terdengar semakin kencang. jelas banget itu gombal.

. Laki-laki yang udah membuat gue disebut anak haram.” kata Egi pelan. lalu kembali melanjutkan ceritanya. ia berkata lirih. Bia menggeleng. Matanya menerawang jauh ke depan. “Gue nggak akan pernah mengakui dia sebagai bokap gue.” kata Egi pelan. bisa meringankan beban yang mengimpit dada lo. Dia nggak menyangka Bia akan seemosional ini. gue pikir gue akan memiliki seorang ayah yang bisa gue banggakan..” “Laki-laki itu?” “Ya. laki-laki yang udah ninggalin gue dan nyokap gue begitu aja. Bia menarik napas.. “Bi. Kalau tentang masa lalu lo itu. lo tau nggak.” “BERUNTUNG?!” .. “Sori. gue cuma anak haram. Dia tahu Bia tengah dilanda masalah. Bia tetap diam. laki-laki itu sekarang muncul. Gue benar-benar marah sama dia. Egi menatap cewek yang berdiri di sampingnya dengan sejuta tanya. Saat nyokap gue menikah lagi dengan Papa Ivan. Dari dulu gue nggak punya bokap dan sampai kapan pun gue nggak akan punya bokap!” Egi terpana. bokap kandung lo?” “Dia bukan bokap gue!” bentak Bia. “Bi.. “Gue merasa ditipu nyokap gue. Gue besar tanpa pernah tau siapa ayah kandung gue.” “Maksud lo. Semua orang juga tau kalau gue cuma anak haram. cerita aja ke gue. Gue nggak akan membiarkan dia kembali ke nyokap gue setelah tujuh bleas tahun dia meninggalkan gue dan nyokap gue tanpa kabar berita.. tapi paling nggak dengan menceritakannya pada orang lain.. Dia sama sekali nggak menanggapi kata-kata Bia. “Gue lahir tanpa pernah tau siapa ayah kandung gue... “Mmm.. Nyokap gue nggak pernah mau menceritakan asal-usul gue sebenarnya. Sebenarnya. lo tuh beruntung banget. Gue emang nggak pernah layak punya ayah. Mungkin gue nggak bisa bantu. Yang gue tau.” Egi menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. “Gue kembali kehilangan seorang ayah.” “Jadi cuma itu masalahnya?” Egi bertanya kembali. “Masalahnya. Tapi sesaat kemudian. Gue nggak akan pernah memaafkan dia! Laki-laki itu nggak layak gue panggil Papa.” Egi diam.” Bia menghentikan ceritanya.Bia diam. “Wajar kalau lo tau karena ini bukan cerita baru. boleh gue tau alasannya?” Lagi-lagi Bia diam. tapi ternyata Papa Ivan juga meninggalkan nyokap gue dan selingkuh dengan wanita lain. Bi. Namun kemudian ia kembali menjawab. “Gue marah sama nyokap gue. Gi. gue udah tau. Anak di luar nikah. kalau elo lagi punya masalah.

” Bia terkejut. nyokap gue nggak akan pernah bertemu dan mengadopsi gue sebagai anaknya. “Tapi akta-kata nyokap angkat gue membuat gue sadar akan arti kehidupan. terima kasih karena mereka tetap membiarkan gue lahir ke dunia ini. betapa beruntungnya hidup lo? Meskipun elo nggak tau siapa bokap kandung lo. dan terima kasih karena mereka memberi gue kesempatan untuk menghirup udara hari ini. “Apa menurut lo perginya bokap kandung gue dan perceraian nyokap gue dengan Papa Ivan juga merupakan bagian dari rencana Tuhan?” . Direnunginya setiap kata itu satu demi satu. gue juga marah sama diri gue sendiri. apa lo bisa memaafkan orangtua yang udah membuang elo itu?” tanya Bia lirih. Nggak seperti gue. “Gi. Mereka mengadopsi gue dari panti asuhan waktu gue masih bayi. Gue marah sama semua orang. Maka nyokap gue nggak pernah memiliki seorang anak laki-laki yang begitu dia sayangi seperti dia menyayangi gue.” lanjut Egi. Waktu itu. yang dari lahir nggak pernah sekali pun mengenal orangtua gue sebenarnya. “Gue nggak tau. dia berterima kasih karena orangtua kandung gue telah melahirkan gue ke dunia ini dan menitipkan gue ke panti asuhan.” Kali ini Bia terdiam.” Egi menghentikan ceritanya sesaat dan menarik napas dalam-dalam. Bi. “karena lo masih dikasih kesempatan sama Tuhan untuk bertemu bokap lo dan mempersatukan lagi keluarga lo. sambil nangis nyokap gue bilang. “Terima kasih?” “Iya. Gue mulai belajar bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari rencana Tuhan yang pastinya indah buat gue pada waktunya.” jawab Egi.“Iya. Dia menoleh dan menatap Egi yang tersenyum di sebelahnya. gue akan mengucapkan terima kasih pada mereka. terima kasih karena mereka telah membuat gue bertemu dengan orangtua angkat yang luar biasa baiknya. gue marah sama Tuhan. gue hampir gila.” Bia terpana. Setiap kata yang keluar dari mulut Egi seakan menusuk hatinya. Pertama kali gue mengetahui kenyataan itu. lo selalu dihujani kasih sayang berlimpah dari nyokap lo. Gue bertanya-tanya untuk apa orangtua kandung gue melahirkan gue kalau akhirnya mereka membuang gue ke panti asuhan. beruntung. Tapi kalau suatu hari nanti Tuhan ngizinin gue untuk bertemu dengan mereka. terima kasih karena gue dititipkan ke panti asuhan dan bukan dibuang ke jalanan. terima kasih karena mereka membuat gue memiliki kehidupan yang layak. “Orangtua gue yang sekarang ini sebenarnya bukan orangtua kandung gue.” jawab Egi. “Apa lo pernah berpikir. Katakata itu yang akhirnya menyadarkan gue untuk menerima semua kenyataan ini sebagai bagian dari kehidupan gue. Kalau itu nggak terjadi.

Bi?” tanya Mama di sela isak tangisnya. Bia terpana. Hujan udah reda. @(^-^)@ Bia turun dari taksi tepat di depan rumahnya. menantang langit dengan kedua mata terpejam.“Ya. pipinya memerah dan jatunya mendadak berdebar keras. Titik-titik air turun dari langit. nggak aka nada Bia yang berdiri di samping jembatan bersama gue hari ini.” Bia terdiam. Yuki dan Cha-Cha mengikuti di belakang mama Bia dengan wajah cemas. “Karena menurut gue. Mama dan Yuki yang juga berada di ruang tamu bersama Cha-Cha tampak sama terkejutnya dengan Cha-Cha. Tapi Bia bergeming. Jangan hokum Mama dengan cara seperti ini. Tanpa ia sadari.” . dan nggak aka nada Bia yang membuat gue jatuh cinta dan tergila-gila. Air hujan turun semakin deras. Bia membuka pagar dan masuk ke rumah tanpa suara. “Kamu ke mana. Tapi Bia tetap berdiri di tempatnya sambil memandang lurus ke depan. Dibiarkannya air hujan membasahi wajah dan membersihkan air mata yang tanpa ia sadari mengalir dari sudut matanya.. Dia juga sama sekali nggak mengira Mama akan mengkhawatirkannya seperti ini. “Bia!” seru Mama yang langsung berlari menghampiri Bia dengan mata berkacakaca. Bia melirik Egi yang masih berdiri di sebelahnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada melawan rasa dingin yang kian menusuk. Udara dingin terasa semakin menusuk. Bia tersenyum lalu menegadahkan kepalanya.” jawab Egi mantap. Cuma kamu yang Mama miliki. “Bia!” pekik Cha-Cha begitu dilihatnya Bia masuk dalam keadaan basah. dan Egi juga yang membayar taksinya. “Kenapa?” tanya Bia lagi.. Mama langsung memeluk Bia dengan erat dan menangis kencang. Dia nggak mengira semua akan menunggunya seperti ini. Sebelum turun. Mama nggak bisa kehilangan kamu. Ada rasa hangat yang tiba-tiba mengalir di dalam dirinya. tak lupa Bia mengucapkan terima kasih pada Egi. Egi-lah yang mengantarnya naik taksi. nggak aka nada Bia yang jagoan tapi berhati lembut. Rambut dan sebagian bajunya yang nggak tertutup jaket basah kuyup karena hujan. Dilepasnya jaket yang melekat di tubuhnya dan disampirkannya di pundak Bia untuk melindungi gadis itu dari hujan yang turun dengan derasnya serta angin yang bertiup kencang. yang dibalas dengan senyum manis cowok itu. tanpa semua itu nggak aka nada Bia dengan sifatnya yang keras tapi tegar. Egi pun tetap berdiri di sebelah Bia tanpa suara. Bi. “Kamu benar-benar udah bikin Mama khawatir.

“Yu. Wajah Mama muncul dari balik pintu. Bia membiarkan Mama masuk ke kamar. Dan yang membuat Bia heran. Bi. Yuki dan Cha-Cha nggak menjawab. tapi gue rasa sekarang lebih baik kalian pulang karena gue mau sendiri dulu. tapi mereka mengerti permintaan Bia. sori udah bikin kalian cemas. Sampai ketemu di sekolah. Dia masih belum bicara dengan Mama. sedangkan Mama duduk di sebelahnya. Bia menatap wajahnya di depan cermin yang terpasang di balik pintu kamar mandi.” pamit Yuki. “Kami permisi dulu. Entah kenapa.” Mama menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang kepada Yuki dan Cha-Cha. “Bi. . Tante. sampai sekarang Mama belum berusaha memanggilnya dan bicara dengannya. Cha. Sebenarnya Bia nggak mau seperti ini. Dia baru menyadari bahwa di badannya masih menempel jaket Egi. @(^-^)@ Bia berbaring di tempat tidurnya. apa kamu masih marah sama Mama?” tanya Mama pelan. masih ada yang mengganjal dalam hatinya. Bia nggak berani memandang Mama. Di hatinya menjalar perasaan hangat. Bia bergegas mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Lalu perlahan dilepasnya pelukan Mama. Makasih banyak. Bia diam saja. Bia duduk di atas tempat tidur dan menarik guling ke dalam pelukannya. Tadi sehabis mandi dia langsung masuk kamar dan mengunci diri. Bia melepas jaket itu dan menggenggamnya erat.” kata Bia. Yang penting kami tau elo baik-baik aja. tapi gengsinya membuat dia bertahan untuk nggak bicara duluan sama Mama. Sepeninggal mereka. boleh mama bicara sama kamu?” “Sebentar. Kalau saja tadi Egi nggak ada. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Yuki dan Cha-Cha. Bia yakin dia nggak akan tahu bagaimana caranya menghadapi kejadian ini. Tiba-tiba terdengar ketukan halus di pintu kamarnya. “Boleh aku mandi sekarang?” tanya Bia tanpa ekspresi. “Ya udah. lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamar. Dari mata itu terpancar kepedihan. “Bi.Bia hanya diam dan menunggu sampai tangis Mama mereda. Saat ini Bia masih ingin menyendiri dulu. walaupun emosinya telah mereda. Mata Mama yang merah menatap Bia. mengawali pembicaraan.” jawab Bia.

” “Maksud Mama?” “Mama masih seumuran kamu sewaktu Mama mengandung kamu.. tapi Mama yang meninggalkan dia. ayah kandungmu. Saat itu Mama berpikir dia tidak mau bertanggung jawab. bukan dia yang meninggalkan Mama.“Mama minta maaf. sebenarnya. dia diam. seakan tidak peduli pada apa yang Mama katakan. “Kalau kamu nggak mau Mama berhubungan dengan Oom Frans. Mama bahkan tidak pernah menganggap dia sebagai papamu. Dia berusaha mencari .” Bia tetap bungkam.. Tapi dia tetap diam. Tapi saat itu Mama sudah lulus SMA dan bekerja membantu kakekmu menjaga warung.” lanjut Mama. “Sejak kapan dia kembali? Untuk apa dia datang lagi setelah sekian lama dia ninggalin kita?” “Mama bertemu dia lagi tiga bulan yang lalu. Dia menghubungi Mama dan memohon untuk bertemu dengan Mama.” “Jadi apa alasannya? Apa alasan yang udah membuat dia meninggalkan kita selama tujuh belas tahun?” “Bi. Mama mengangguk. Dia menghilang selama sebulan karena dia kembali ke Pekanbaru menemui orangtuanya dan bersiap-siap ke Jakarta untuk melamar Mama. Kamu tau Mama sayang sama kamu. Dia tidak merespons kata-kata Mama. “Mama nggak bermaksud menampar kamu.” Mama berhenti bicara. “Tapi ternyata selama ini Mama salah. “Nenek dan kakekmu yang akhirnya mengetahui kehamilan Mama membawa Mama meninggalkan rumah dan pindah ke Magelang agar orang-orang tidak mengetahui kehamilan Mama. Bi.” kata Mama. Waktu Mama mengatakan pada papamu bahwa Mama hamil. “Papamu tak pernah bermaksud meninggalkan Mama.. dia tidak menemukan Mama karena Mama telah pindah ke Magelang tanpa memberitahu siapa pun. Tapi saat kembali ke Jakarta. tapi dia terus memaksa. Mama janji nggak akan menemuinya lagi. “Jadi namanya Frans?” tanya Bia. Dia diam karena saat itu dia kaget dan tidak tahu harus berbuat apa. Mama marah.. Kemudian selama hampir satu bulan lebih dia menghilang. Mama menghela napas panjang lalu berkata. “Apa dia laki-laki yang sering mengantar Mama pulang kerja?” Sekali lagi Mama mengangguk. Mama membenci papamu dan tidak mau mendengar kabar apa pun tentang dia. Mama menetap di sana sampai Mama melahirkan kamu. Akhirnya Mama setuju.” Kali ini Bia menatap mamanya. Dari pertemuan itulah Mama tau alasan dia meninggalkan Mama waktu itu. Awalnya Mama menolak.

. Kita tidak bisa menyalahkannya. Anaknya sempat koma selama dua minggu sebelum akhirnya meninggal. Aku nggak tau apa aku bisa memaafkan dia. Kalau dia menikah. Bi. . tapi Mama menolaknya karena Mama tau kamu tidak akan bisa menerimanya begitu saja. Ma.” “Ini bukan karangan..” “Meninggal?” “Ya.” “Dia. papamu ingin. Mama sama sekali nggak salah. Mama mengira dia meninggalkan Mama dan tidak mau bertanggung jawab. Nggak ada yang harus aku maafin dari Mama. Ini kenyataan!” bentak Mama.” “Kalau begitu apa kamu mau memaafkan Mama? Keegoisan Mama yang membuat kamu tidak pernah mengenal ayah kandungmu. mencari kita berdua. meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Bia diam tanpa tahu harus menjawab apa. apa dia belum menikah sampai sekarang?” tanya Bia ragu. Bia melepas guling di tangannya dan memeluk Mama dengan erat.” “Dia terpaksa menikahi gadis itu karena orangtuanya memaksa.” Mama menangis dan membalas pelukan Bia dengan hangat. bertemu denganmu. Mama tau kamu sangat membenci dia. Kalau waktu itu Mama percaya pada ayahmu dan sabar menunggunya kembali.” bela Mama. apalagi dia telah memiliki karier yang jelas. “Mama lagi ngarang cerita apa sih? Rasanya yang Mama ceritakan ini kayak sinetron aja. “Bi. kamu tidak akan pernah disebut anak haram.” Bia memeluk guling erat-erat. “Sudah. Aku nggak tau apa aku bisa bicara baik-baik dengannya meskipun semua ini bukan murni kesalahannya. itu berarti dia nggak mengharapkan kita lagi..” kata Mama pelan. Mama tidak tau bahwa ternyata selama ini dia terus mencari Mama.Mama tapi tidak berhasil. Dia udah ninggalin aku selama tujuh belas tahun. “Selama ini mama tidak mau bercerita tentang ayah kandungmu karena Mama marah dan membencinya. Dia selalu meminta Mama untuk mempertemukan dia dengan kamu. “Tapi katanya dia terus mencari Mama. “Aku nggak tau. Tapi bisakah kamu memberinya satu kali kesempatan untuk menjelaskan semuanya padamu?” kata Mama lembut.” Bia terkejut. “Mama nggak salah. Mama mengikuti perintah Kakek dan Nenek untuk pindah ke Magelang karena Mama ingin melupakan dia dan melahirkan kamu dengan tenang. Mama sama sekali tidak tau bahwa ternyata pikiran Mama salah.. Air mata mengalir di pipinya.” Bia mengernyitkan kening. istri dan anaknya telah meninggal dua tahun yang lalu. Laki-laki seusianya jelas harus menikah. Sampai akhirnya tiga bulan yang lalu dia tahu dari teman sekolah Mama di mana tempat Mama bekerja. “Tapi sayangnya.

Ia berjalan keluar dari kamar tidur menuju arah cahaya. Bia menghela napas.. Tidur pun nggak mampu menghapus beban di hatinya. Nggak mudah baginya untuk menerima kembali seorang ayah yang sudah meninggalkannya. “Bia. pasti waktu yang sangat berat bagi Mama. Bia bersandar di dinding sambil terus menatap Mama. Sekarang matanya terbuka lebar dan enggan menutup kembali. Apa aku harus memaafkan laki-laki itu dan menerimanya kembali? Apa aku bisa melakukan itu? Memanggil laki-laki yang telah meninggalkan aku selama ini sebagai Papa. Tujuh bleas tahun. Sepertinya Mama nggak tidur semalaman.BAB TUJUH BIA terjaga dari tidurnya sejak subuh. aku akan terus membuat Mama mengalami kepedihan ini. apalagi untuk memaafkannya. Kepalanya terasa penuh dan berat. Mama berusaha tegar menghadapi gunjingan para tetangga. lo tau.” . Mata Mama menerawang. Kalau di rumah ini ada seorang kepala rumah tangga.. apa aku bisa? Tapi kalau aku nggak bisa. Mama menekan rasas akit dan kecewa karena pengkhianatan Papa Ivan. Mama berjuang seorang diri membesarkan aku. Bia mengintip Mama dari balik dinding. Apa yang harus aku lakukan? batinnya. Lampu di luar kamar menyala. Tampak lingkaran hitam di bagian bawah mata Mama. pikir Bia. Dan Mama terus berusaha menjadi ibu yang baik buat aku. Dilihatnya Mama duduk di meja makan sambil memegang gelas berisi air. sebenarnya lo itu sangat beruntung karena masih dikasih kesempatan sama Tuhan untuk bertemu bokap lo dan mempersatukan lagi keluarga lo. Kata-kata Egi kemarin terngiang kembali di telinga Bia. Penderitaan Mama jauh lebih berat dibandingkan apa yang aku rasakan.. Bia menendang selimutnya dan bangkit dari tempat tidur. Bia nggak tahu harus berbuat apa. mungkin Mama nggak perlu bekerja lagi. Ternyata lampu dapur yang menyala. ditatapnya langit-langit kamar. Tujuh belas tahun bukan waktu yang singkat. Kerut-kerut pertanda usia yang terus bertambah mulai tampak di wajah Mama. Masalah kemarin seperti baru saja terjadi.. Sepertinya Mama juga sudah terbangun. Sambil berbaring.

. Bia merasa lebih ringan. beban yang memadati pikirannya seakan lenyap begitu saja. aku beruntung masih diberi kesempatan untuk mempersatukan lagi keluargaku. aku mau ketemu sama laki-laki itu. Bia membalas senyuman itu tapi dia tahu mama berbohong. “Tidur Mama nyenyak?” “Iya.” “Mama sendiri juga sudah bangun. Mama cuma mau ambil air minum. “Ng. @(^-^)@ Sore harinya. Ia membuka mata dan tersenyum.” Mama meraba bagian bawah matanya sambil tersenyum. Ia bertekad akan membuat Mama bahagia.” kata Bia pelan. Bia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. . Mama mengerti. Aku hanya perlu belajar untuk menerima laki-laki itu sebagai ayahku dan memberinya kesempatan untuk membayar utangnya selama ini kepada kami.Bia menatap wajah Mama.. Aku mau mendengar penjelasan langsung dari mulutnya. Jarum jam sudah menunjuk angka 6. Tapi paling nggak lingkaran hitam di mataku nggak sehitam di mata Mama.” panggil Bia pelan. Ditariknya napas dalamdalam sekali lagi. lalu menghitung satu sampai sepuluh.” “Ya udah. utang berbentuk kewajiban dan tanggung jawab mengurus anak istri. Dia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Bi. Kamu sendiri gimana?” “Nggak begitu nyenyak. Lalu dia berjalan mendekati Mama yang masih duduk termangu di meja makan. lalu meninggalkan Mama yang masih tersenyum lega. aku mau tidur lagi.” sahut Bia. Ia mondar-mandir di kamarnya kayak setrikaan. Ajaib. “Ajak dia makan malam di sini. “Kamu sudah bangun.” Mama mengangguk.” Bia menarik kursi dan duduk di depan Mama.” “Ah. Bi? Ini kan masih subuh? Bukannya hari ini hari Minggu? Biasanya kalau hari Minggu kamu selalu bangun siang. tapi aku akan memberinya kesempatan bicara. sebentar lagi laki-laki itu tiba. Kalau begitu. masa? Tapi Mama tidur nyenyak kok. ini. Setelah itu baru aku akan mencoba memikirkan apakah aku akan memaafkannya atau nggak. Mama sudah menyuruh Oom Frans datang untuk makan malam.. Dia memejamkan mata.. Bi? Kamu mau bertemu dengan papamu?” “Aku belum mengakuinya sebagai papaku. Mungkin Egi benar. Mama tau.” Mama terpana. Bia gelisah. Bia kembali ke kamarnya dan bersandar di balik pintu sambil berharap semoga keputusannya ini benar-benar tepat. “Ma. “Sungguh. “Iya.” kata Bia. “Ma.. Mama terkejut.

Bia santai saja. @(^-^)@ Oom Frans sudah duduk bersama Mama di meja makan.” kata Bia sambil menatap jaket itu lekat-lekat. Bia nggak menjawab lagi.” sahut Mama lembut. Kali ini entah kenapa Bia merasa kesulitan mengontrol debar jantung. buat apa aku takut begini? Bia mengacak-acak rambutnya kesal.” “Mama tunggu ya. Nggak. Sedangkan Bia sejak pagi sampai sekarang masih mengurung diri di kamar. Ditatapnya jaket hitam milik Egi yan gsudah terlipat rapi di meja belajarnya. Gi. Suasana terasa berbeda. Meja makan yang selama ini hanya terdiri atas dua kursi. “Kalau sampai hasilnya malah buruk. Bi. Laki-laki itu pasti sudah datang. Alisnya tebal. Bia menajamkan pendengarannya. aku nggak boleh keluar duluan. Rambutnya masih banyak yang hitam. Bia bangkit lalu berjalan menuju pintu kamarnya. Waktu di restoran kemarin Bia nggak sempat memerhatikan wajahnya dengan mendetail karena keburu terbakar emosi. Mama sudah memasak makanan istimewa untuk malam ini. Penampilannya rapi dan bersih. Hidungnya nggak mancung tapi juga nggak terlalu pesek.” Bia meletakkan kembali jaket itu ke meja belajarnya dan berjalan keluar dari kamar. Dia semakin frustrasi. Waktu pertama kali berkenalan dengan Papa Ivan dulu. Bia duduk di tempatnya yang biasa. Baru kali ini ia merasa secemas ini. Atmosfer tegang memenuhi ruangan. Bia berjalan mendekati jaket itu dan mengambilnya. Ada . kata Bia pada dirinya sendiri. Tapi sesaat kemudian dia berhenti. Ketukan halus terdengar dari luar. hari ini sudah ditambahkan Mama dengan kursi plastik yang diambil dari gudang. mungkin sekitar 165 cm. Aku mau ketemu sama papaku sendiri. “Sebentar lagi aku keluar. Lalu ada suara pintu yang dibuka. dan rasa takut yang menyesakkan dadanya. Oom Frans sudah datang. “Bi. kursi itu sebenarnya kursi yang dipakai Papa Ivan sewaktu Papa Ivan masih menikah dengan Mama. Terdengar suara deru mobil di depan rumah. Oom Frans bertubuh tegap. Bia menatap laki-laki yang duduk di hadapannya. “Gue lakukan ini semua gara-gara elo. Bia ingat. Telapak tangan Bia mulai basah karena keringat.Bia benar-benar cemas. Lebih tinggi sedikit daripada Mama. Jantungnya berdegup semakin kencang dan liar.” jawab Bia. Dia nggak tahu bagaimana caranya menenangkan diri. Aku harus menunggu Mama memanggilku keluar. Aku nggak boleh menunjukkan bahwa aku menunggu kedatangannya. ada apa pada diriku? rutuk Bia. elo orang pertama yang bakal gue damprat. keringat.” “Aku tau. Gila.

jujur saja. “Maaf?” tanya Bia. “Oom ke mana aja waktu Mama melahirkanku. Wajahnya kelihatan ramah dan lembut. waktu aku menangis karena jatuh dari sepeda. ini Papa. Nggak kayak bapaknya Cha-Cha yang tampangnya rada sangar. Dan sekarang Oom hanya bisa mengatakan maaf?” “Lalu apa yang harus Oom lakukan untuk menebus semua kesalahan Oom?” tanya Oom Frans pelan. Matanya menatap laki-laki di depannya itu. “Bia. “Sejak kecil aku harus menahan rasa sedih dan marah setiap kali mendengar orang-orang menghinaku. Oom mencintai mamamu dengan tulus.” “Oom nggak pernah berniat meninggalkan kalian. atau kabarku waktu aku masuk rumah sakit gara-gara usus buntu?” “Bia!” tegur Mama. “Aku udah tau namanya kok.” kata Oom Frans lirih. Bia?” tanya laki-laki itu. tapi nggak bisa melakukan apa pun. waktu aku pertama kali belajar berjalan. “Maaf.. “Jelaskan padaku alasan Oom meninggalkan kami. Mama menundukkan kepala.” Mama mengawali pembicaraan dengan memperkenalkan laki-laki yang ada di hadapan Bia. “Apa kabar. Aku hanya bisa menangis. tapi juga pada Mama!” bentak Bia. “Jaga ucapanmu!” Oom Frans tersenyum. aku cuma bisa menghindar supaya mereka nggak menanyakannya padaku. apa Oom tau betapa sedihnya melihat Mama menanggung semua beban rumah tangga. biarkan dia mengeluarkan semua kemarahannya padaku. “Kabarku?” Bia malah balik bertanya. Oom . Bagaimanapun aku memang sudah bersalah padanya.” jawab Bia ketus. “Apa kata maaf bisa menghilangan semua penderitaan yang aku dan Mama alami selama ini? Apa satu kata maaf bisa membuat masa kecilku yang menyedihkan menjadi lebih baik?” Oom Frans nggak menjawab. eh. waktu aku pertama kali masuk SD. “Kabarku waktu umur berapa yang mau Oom tanyakan? Waktu aku masih bayi. Sewaktu Oom mengetahui kehamilan mamamu. Oom Frans. “Nggak apa-apa. apa Oom tau betapa merananya tidak memiliki ayah?” Oom Frans terdiam. Aku harus menahan diri saat aku mendengar mereka menggunjingkan Mama.” “Bukan hanya padaku. Ma.kumis tipis di atas bibirnya. dan Bia tahu Mama sedang menangis. Senyum di bibirnya lenyap. waktu Mama jatuh sakit karena terlalu lelah bekerja?!” Bia meluapkan emosinya. Bia diam. aku cuma bisa diam. Kelihatan banget dia berusaha ramah pada Bia. Bia. Seitap kali orang menanyakan di mana papaku. Kalau teman-temanku dengan bangganya menceritakan pekerjaan papanya. “Apa Oom tau betapa sakitnya diejek sebagai anak haram..

. dengan apa Oom akan membayar semua penderitaan aku dan Mama selama ini?” “Oom akan membayar dengan seluruh sisa hidup Oom. jangan terus menyudutkan Oom Frans.. Kalau memang Oom mau tinggal di rumah ini. Mungkin itu yang membuat mamamu salah paham dan mengira Oom tidak mau bertanggung jawab. biarkan Bia menumpahkan kemarahannya.” “Dan kalian hidup bahagia sementara aku dan Mama berjuang menahan derita.” jawab Oom Frans dengan tegas dan tanpa ragu.” “Bia. Oom terus mencari kalian sampai akhirnya Oom mendapat kabar tentang pabrik tempat mamamu bekerja. Aku nggak mau tetangga menyebarkan gosip nggak enak tentang Mama. Oom takut keluarga Oom tidak bisa menerima semua ini.” Melihat Bia semakin emosi dan Oom Frans semakin terdesak.” “Lalu kenapa Oom menikah dengan orang lain?” “Oom terpaksa. mama Bia menyela.sempat merasa ragu. “Tidak..” . Kami masih terlalu muda. Ditatapnya laki-laki di depannya. Dan sebaiknya Oom jangan terlalu lama di rumah ini. Aku terima. “Dan setelah itu Oom menyerah dan berhenti mencari?” tanya Bia ketus. “Saat Oom kembali ke Jakarta. “Bia. tanpa pamit pada mamamu.. Oom bingung dengan apa akan menghidupi kalian kelak. “Lebih baik kita makan karena aku udah lapar. “Terus. Ma. mamamu sudah pergi. tapi tidak dapat menemukan kalian.” ujar Oom Frans pada mama Bia.” Mama berkata memelas. “Sudah. Anggap saja itu ganjaran dari Tuhan. Maya. Apa kamu tidak bisa memaafkannya?” “Biar saja. Mama telah memaafkan Oom Frans dan mau menerimanya kembali. Pantaskah laki-laki ini menerima maaf darinya? Tapi kalau dia nggak memaafkannya.” “Aku kan cucu mereka. ia melontarkan pertanyaan lagi pada Oom Frans. nikahi Mama dulu secara resmi.” jawab Oom Frans. Apa Bia juga harus seperti Mama? “Makanannya udah dingin. Bia terdiam sejenak. Tapi akhirnya Oom memutuskan untuk kembali ke Pekanbaru dan bicara dengan orangtua Oom.” kata Bia akhirnya. dia juga telah menyesali semua kesalahannya.. Dia telah kehilangan anak dan istrinya. Kebimbangan menyelimuti dirinya.” lanjut Oom Frans. Oom tidak mungkin terus sendirian karena orangtua Oom sangat menginginkan seorang cucu. Bia terdiam lagi. Tapi tak lama kemudian. waktu itu Oom sama sekali tidak mengetahui keberadaan kalian dan Oom terpaksa menuruti keinginan mereka. bagaimana perasaan Mama? Bia jelas tahu. Oom sudah berusaha mencari.!” “Bi. Oom belum punya pekerjaan yang jelas.

. “Tapi sekarang masalah gue udah selesai kok. “Laki-laki itu ternyata. .” “Nah itu yang mau kami tanyain. kemarin gue ngeliat nyokap gue makan berdua sama laki-laki yang nggak gue kenal. “Cerita dong. Mendengar pertanyaan Cha-Cha. Sesampainya di kelas. Bia heran banget melihat tingkah dua sobatnya.. tapi paling nggak. “Ada apa sih?” tanya Bia. @(^-^)@ Esok harinya. Asli. Bagi mama Bia. oh ya.Oom Frans nggak menjawab. ng.” kata Bia. Cha-Cha membekap mulutnya dengan kedua telapak tangn. Cha-Cha dan Yuki menunggu Bia di depan kelas. Bia mau menerima Oom Frans sebagai bagian dari keluarga mereka. Itu sudah lebih dari cukup. Yuki langsung memelototi Cha-Cha dan menyuruhnya diam... Dipercepatnya langkah kakinya mengikuti Cha-Cha. itu sudah merupakan hal yang sangat membahagiakannya. Mama juga tersenyum. “Apaan sih?” tanya Bia heran. Meskipun Bia belum bersedia mengakui Oom Frans sebagai ayahnya. Yuki dan Cha-Cha langsung berlari ke arahnya.. ayo buruan jalannya!” seru Cha-Cha langsung menarik tangan Bia menuju kelas. Cha-Cha membantu Bia melepas tasnya lalu menekan pundak Bia agar segera duduk.. Yuki berjalan di sebelahnya dengan tersenyum. Masalah apa sih?” tanya Yuki. “Mestinya kami yang nanya. Tapi dia menurut juga. Bia memang belum benar-benar memaafkannya.. Gue udah nyusahin kalian berdua. Oom Frans hanya diam dan memandang Bia sambil menyunggingkan senyum kelegaan. Begitu Bia muncul dari ujung koridor. Yuki kembali memelototi Cha-Cha. “Bia. ada apa sih kemarin?” tanya Cha-Cha. Mereka udah pengin banget mendengarkan cerita Bia tentang kejadian Sabtu kemarin. Bi!” “Mmm.” “So what?” tanya Cha-Cha heran. Air mata haru mengalir dari sudut matanya. bokap kandung gue. tapi Bia bersedia memberinya kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan yang telah dia lakukan. “Kemarin.” “HAH?!” seru Cha-Cha kaget tanpa bisa menahan diri.. gue mau bilang sori nih. Ia berusaha mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Bia.. Sesaat kemudian dia pun mengerti.. soal kemarin. Bia mulai mengerti kenapa sobat-sobatnya ini menunggunya di depan koridor.

Maaf ya.” “Elo melakukan semua ini untuk nyokap lo. “Bia mengangguk. Dia membuat gue nggak punya ayah dari kecil agar gue tumbuh jadi perempuan yang tegar dan kuat.. laki-laki itu mungkin bisa membahagiakan nyokap gue.” “Jadi kemarin itu lo ribut sama nyokap lo?” tanya Yuki pelan. Dia minta maaf sama gue meskipun nggak semudah itu bagi gue untuk bisa memaafkannya. karena itu juga lo ninggalin kami beruda di mal?” Bia kembali mengangguk sambil menjawab. Dan gue juga udah bicara dengan laki-laki itu. Kalau mereka bersatu lagi. nyokap gue nggak perlu bekerja keras untuk membiayai hidup gue. “Kata-kata gue yang mana?” . gue belum bisa memaafkan dia. dan selama ini nyokap gue menutupiya dari gue.” “Trus sekarang gimana?” tanya Yuki lagi. Dia mengembalikan sosok ayah itu lagi ke gue. “Lo makan apa semalem. “Tapi gue tau. “Jujur aja. “Gue tau nyokap gue udah memaafkan dan bersedia menerima Oom Frans kembali. Gue pengin ngeliat nyokap gue bahagia. setelah tujuh belas tahun ninggalin gue dan Nyokap. Nyokap takut gue nggak mau menerima kehadiran laki-laki itu. Memangnya kenapa?” “Kata-kata lo tadi itu loh! Ajaib. “Ada yang bilang ke gue bahwa gue tuh sebenarnya beruntung karena dikasih kesempatan untuk mempersatukan keluarga gue kembali. Who knows. Dan Dia pasti punya rencana tersendiri di balik semua kejadian ini. “Gue nggak makan apaapa. “Jadi.“Nyokap gue udah cukup lama berhubungan lagi dengan dia. Gue rasa ini semua bagian dari rencana Tuhan.” “Jadi. Gue benar-benar marah dan nggak tau harus bagaimana. sebenarnya dia nggak bermaksud ninggalin gue dan nyokap gue.. gue bisa memaafkan Oom Frans dan menerimanya dengan tulus. tiba-tiba muncul di depan gue dan bermesraan dengan nyokap gue.. Bia mengangguk.” jawab Cha-Cha. saat gue dirasaNya udah cukup kuat dan tegar. Saat itu gue cuma pengin sendiri dulu sehingga gue ninggalin kalian begitu aja. dan bikin elo nggak seperti Bia yang biasanya. Mungkin aja Dia pengin gue belajar memaafkan.. Tapi kesalahpahaman yang terjadi antara dia dan nyokap gue membuat semuanya jadi begini. dan nanti seiring berjalannya waktu. Dia cerita. Gue cuma nggak mau menyia-nyiakan keberuntungan gue itu. Bi?” tanya Cha-Cha. Dan sekarang.” jawab Bia. namanya Oom Frans. Dia bisa istirahat dan menikmati hidup. Bi?” tanya Cha-Cha. “Gue benar-benar marah dan kaget. elo nggak mau menerima dia?” tanya Yuki.” Yuki dan Cha-Cha menatap Bia heran. Laki-laki itu. “Makan apa?” Bia malah balik bertanya dengan heran.

sampai nada suara lo jutek begitu?” . Bia jadi bingung sendiri. siapa tahu Egi lagi ngobrol sama teman-temannya di luar kelas.. Tapi lagi-lagi hasilnya nihil.. bisa-bisa muncul gosip baru. Mau nanya tapi nggak enak. Bi. iya. Dia pengin ngucapin terima kasih sekaligus mengembalikan jaket Egi.” “Sakit?” tanya Bia lagi. Bia bergegas menuju kelas 1 D. Tujuannya udah jelas. Kalau ketahuan Bia yang nyari Egi. Dan gue tau. Ini benar-benar ajaib. Lalu ia berkata lirih. atau di lapangan? Atau di WC.“Kata-kata lo tentang rencana Tuhan. apalagi kalau dia menanyakan Egi. Tapi sekarang. memang nggak semua laki-laki sejahat yang gue kira. “Eh. bikin kesal aja. ya? Bia melihat ke sekelilingnya. ya?” tanya seorang cowok tiba-tiba.. Apa yang bisa bikin elo berubah seperti ini dalam semalam?” Wajah Bia bersemu merah. Bia celingak-celinguk mencari sosok Egi.” “Siapa sih lo?” tanya Bia keki. “Cari Egi. Jantungnya berdebar cepat. Mana sebentar lagi bel masuk berbunyi. Sekarang aja udah banyak yang merhatiin dia. Loe merasa yakin elo pasti bisa membahagiakan nyokap lo tanpa bantuan dan kehadiran orang lain. Lo pantang bergantung pada orang lain apalagi pada makhluk adam. Nggak ada Egi di ruang kelas itu. Sesaat bayangan Egi melintas di matanya. temen dekatnya Egi.” jawab Yuki. “Sakit.” jawab cowok itu ketus. elo bukan orang yang bijak menilai cinta dan kehidupan. Nihil. Atau jangan-jangan Egi lagi ke kantin? Mmm. Anak-anak kan udah tahu bahwa Egi ngejar-ngejar Bia.” @(^-^)@ Bia melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah menuju area kelas satu. Bia kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar koridor kelas satu. Lo tau di mana dia?” “Dia nggak masuk hari ini... Setelah berhasil mencari-cari alasan untuk pisah dari Yuki dan Cha-Cha. elo sangat membenci bokap kandung lo. Prinsip hidup lo tuh „lo nggak tubuh orang lain‟. Jelas Bia kesal diketusin Teddy. membuat Bia terlonjak kaget. Dia menundukkan kepalanya. “Selama ini yang kami tau. “Lo ada masalah apa sih sama gue. Lagian nih cowok sok galak gitu. “Sakit apa?” “Mana gue tau.” lagi-lagi Teddy menjawabnya dengan ketus. Sesampainya di depan pintu kelas Egi. “Mungkin.. “Gue Teddy. elo malah menerima kehadirannya dan berkata seakan lo mau belajar untuk memaafkannya. mau mencari Egi.

ya?” tawar Cha-Cha.” “Gue temenin. Siapa tau sepi.. Bia membalikkan badannya.. elo. jadi gue mau ke WC anak kelas satu aja. apa maksud lo?” “Yah.” “WC di sana penuh. Bia hanya bisa menggeram marah lalu berjalan kembali menuju kelasnya sendiri. tapi dia tolak.” “Heh... Akhirnya dia putuskan untuk menahan gengsinya. “Sana balik ke kelas lo. Gue cuma kasian sama Egi. dan menemui Teddy untuk menanyakan alamat rumah Egi. Bagaimanapun Teddy kan teman dekat Egi. “Bia!” panggil seseorang dari arah belakangnya. “Egi itu bego.. “WC kan di ujung sana. Jatuh cinta kok sama cewek kayak elo. . Banyak cewek yang suka sama dia.. Ada perasaan nggak enak dalam dirinya. cewek yang kasar dan sok jual mahal. Dia nggak mau Cha-Cha atau siapa pun juga tahu bahwa ia ingin mencari alamat rumah Egi. Eh.. Teddy malah menanggapi Bia dengan tawa. itu. mau ke WC.” “Heh. “Eh. “Ngapain lo ketawa?” “Gue pantang ribut sama cewek. jadi dia pasti tahu di mana rumah Egi.“Nggak ada. Perasaan Bia makin nggak enak. dia malah ngejar-ngejar cewek kayak elo.” Dering bel menahan gerakan Bia yang udah siap-siap melayangkan tinjunya ke muka Teddy...” ejek Teddy lalu berjalan masuk ke kelasnya. apa maksud lo?!” Bia mulai emosi. kakak kelasku yang manis. “Kok ke arah sini?” tanya Cha-Cha heran. Gue udah kebelet banget. “Mmm. @(^-^)@ Hari ini Egi nggak masuk lagi.. menurunkan emosinya. Udara dingin dan air hujan pasti membuatnya demam dan masuk angin. Bia nggak sengaja mendengar hal itu dari cewekcewek kelas satu yang lagi pada ngerumpi di WC. Ada apa?” “Lo mau ke mana?” tanya Cha-Cha.. Bia udah pengin menjambak rambut cowok itu.” “Cewek kayak gue. Bia berjalan menuju kelas Teddy.. Apa iya Egi sakit? Jangan-jangan Egi sakit karena kehujanan sewaktu menemaninya di jembatan hari itu. guru kimia kelas satu. denger ya. sedang berjalan ke arahnya. Cha.” “Brengsek! Lo pikir lo siapa bisa ngatain gue kayak gitu!” maki Bia.” Bia berbohong. tapi nggak jadi begitu dilihatnya Pak Handi.

Kan nggak enak kalau ditungguin. “Untuk sekali ini aja. tapi pulang sekolah lo bisa nemenin gue nggak.” ujar Bia to the point. Gue cuma minta tolong lo catatin alamat rumah Egi buat gue. Bia mempercepat langkahnya mendekati Teddy. “Minta tolong? Sama gue?” “Iya. “Ooo.” “Nggak ada untungnya juga gue ngasih tau alamat Egi ke elo. “Terserah lo mau ngomong apa.. tolong kasih tau alamat rumah Egi. Cha. kayaknya kalau hari ini gue juga nggak bisa.” Bia mengulangi kata-katanya.“Nggak.. Bi?” “Ke mana?” “Ke toko buku sebentar. Itu aja. Cha.” “Mmm... Akhirnya dia berhasil nundukin hati cewek jutek ini. Eh.” “Yuki nggak bisa.” “Yah.” “Tapi.. Gue mau cari buku Da Vinci Code. Pengin banget rasanya dia melayangkan bogem mentah ke muka Teddy..” ujar Teddy di sela tawanya. Bia sampai kesal melihatnya.” “Tammy?” “Tammy juga nggak bisa. “Ted. gue nggak peduli sama penilaian lo tentang gue. Bentar lagi udah bel.. ya udah. “Gue pengin buang air besar. “Lo coba ajak Yuki aja.” Cha-Cha tersenyum geli. “Jago juga si Egi. gue mau minta alamat rumah Egi. gue mau minta tolong sama elo.” Teddy menatap Bia sejenak lalu tertawa terbahak-bahak. tapi dia berusaha menahan diri. Nih cowok asli keras kepala banget. “Ted.” kata Cha-Cha. Gue ke kelas duluan ya.. Hari ini gue benar-benar nggak bisa. sori banget. Teddy menoleh ke arah Bia. dia ada janji sama Maxi.” pinta Bia. Nggak apa-apa kok.” “Lo pikir gue bakal mau ngasih tau?” “Nggak ada untungnya lo ngerahasiain alamat Egi dari gue. Lo bisa kasih tau alamat Egi sekarang?” . Tapi kali ini aja gue mohon. “Sana cepat ke WC.” “Buat apa?” “Itu urusan gue.. Katanya dia mau jenguk tantenya yang sakit. “Mau apa lagi lo?” “Gue mau minta tolong. nggak usah!” Bia buru-buru menjawab. Bia dongkol banget mendengarnya. walaupun sedikit kecewa. ya udahlah.” Bia mengangguk lalu kembali berjalan menuju kelas Teddy.. Dari jauh Bia meliaht cowok itu berdiri di depan ruang kelasnya.” kata Bia.” Bia terdiam. Bia benar-benar heran kenapa Egi mau berteman sama orang model gini. Gue ada urusan penting.

Bia berpikir sejenak. Lagi pula dia nggak berniat berlama-lama di rumah Egi. Mbak?” tanya Bia.” “Eh. “Apa benar ini rumah Egi?” tanya Bia sopan. klasik. Rumah Egi ini didominasi warna cokelat bata yang memberi kesan natural. Kini ia berdiri di depan pagar tinggi yang membentengi rumah bergaya Mediterania itu.” jawab Teddy akhirnya.” jawab Surti.” kata si sopir taksi senang. takutnya nanti malah susah dapat kendaraan buat pulang. Bia mengeluarkan uang dan memberikannya pada si sopir taksi. saya Bia. Ada kok. “Udah dua hari.. Waktu itu Den Egi pulang malammalam dalam keadaan basah kuyup. sambil menunjuk warung yang berada nggak jauh dari rumah Egi. sampai akhirnya seorang perempuan keluar dari dalam rumah dan mendekatinya. Bia mengangguk lalu turun dari taksi. Dua kali Bia menekan bel yang ada di sisi kiri pagar. Saya tunggu di warung situ ya.. nggak mau jawab. Eh tau-tau besoknya badan Den Egi panas gitu.” ujar Bia sok ramah sambil mengulurkan tangan. “Boleh deh. Teman sekolah Egi. cari Den Egi.” jawab perempuan itu sopan. “Mau ditungguin nggak. saya mah cuma pembantu di sini. lalu tanpa mengucapkan terima kasih Bia berlalu dari hadapan Teddy. Tuan sama Nyonya sampai marah-marah. “Kalau boleh tau. tapi simpel. Bia mencatat alamat itu baik-baik di otaknya. Bang. masih nggak enak badan. Dia benar-benar berharap mulut Teddy robek gara-gara kebanyakan ketawa.. Bia mengikuti langkah Surti masuk ke rumah yang bagian dalamnya tampak jauh lebih megah. Non?” tanya sopir taksi ramah. Bia masuk melewati pagar sambil bertanya. Dia kan belum tahu daerah sini. Dasar cowok brengsek! @(^-^)@ Taksi berhenti tepat di depan sebuah rumah yang lumayan besar. Den Egi-nya lagi di kamar.” “Oke deh.” . Tapi Den Egi diam aja.. Surti tersenyum senang menyambut uluran tangan Bia. Mbak siapa?” “Oh. “Ooh. “Egi sakit apa sih. “Cari siapa ya. Non. Dia langsung buru-buru membukakan pintu dan mempersilakan Bia masuk. Mbak?” sapa perempuan itu.“Taman Asri Indah Blok HA nomor 28. “Demam. lalu kembali tertawa. Nama saya Surti. Boleh juga tuh.

” kata mama Egi ramah. Siapa pun yang melihat mereka saat ini pasti merasa mereka adalah sepasang kekasih. tapi sama Nyonya belum boleh sekolah dulu. Bia membuka pintu kaca yang mengarah ke taman.” ujar Surti. Bia ngedumel dalam hati. ada Tammy yang duduk di samping Egi.” Bia menoleh ke arah Surti.. bisa benar-benar ribut gue sama dia.” pamit Bia sebelum berjalan menuju arah yang ditunjukkan mama Egi. Kebetulan di sana juga lagi ada temannya Egi.” Bia mengucapkan salam dengan sopan. Tante. Panasnya udah turun. Sesosok perempuan setengah baya berjalan menuruni anak tangga. Pemandangan yang dilihatnya membuat darahnya bergolak hebat. Bia mendesah lega. sambil menyuapi makanan ke mulut cowok itu. Silakan aja langsung ke belakang.” “Iya. “Sekarang keadaannya gimana?” “Udah lebih baik sih. Tante. Setelah melewati ruang makan. Sur?” seseorang bertanya dari arah belakang Bia. “Siapa yang datang.. Tante pergi dulu ya.. Kalau dia sampai macam-macam lagi.” “Oh. Mereka berdua tertawa renyah.. Saya permisi dulu ya.. “ini temannya Den Egi. makanya Tante belum mengizinkannya masuk sekolah. “Kalau begitu kamu langsung ke taman belakang aja. Kulit Egi putih dan matanya agak sipit.Jadi benar dugaan Bia. Kulitnya yang agak gelap tapi bersih dan mulus dibalut blazer hitam. Mugkin memang benar bahwa Egi anak angkat. Bia mengangguk lalu buru-buru berjalan menuju taman belakang. Tante. Bia dan Surti sama-sama membalikkan badan. Bia mau jenguk Egi ya? Eginya masih nggak enak badan.” Temannya? Jangan-jangan Teddy lagi! Yieks! Mampus gue kalau sampai ketemu Teddy di sini.” Syukurlah. Bia jadi merasa bersalah. beda banget sama mamanya. Bia hanya tersenyum.. Nyonya? Berarti itu mamanya Egi! “Siang. Diam-diam ia mengamati wajah perempuan setengah baya yang berdiri di hadapannya itu. Wajahnya sama sekali nggak mirip sama wajah Egi yang lebih berkesan oriental. Egi sakit gara-gara menemaninya hujan-hujanan. “Nyonya. “Nah.. Saat itulah Bia berhenti. Rambut panjangnya yang ikal dan cokelat dibiarkan tergerai. Mungkin kamu kenal. Di taman itu. nama saya Bia. “Oh. temannya Egi ya?” tanya mama Egi sambil menuruni sisa anak tangga dan berjalan mendekati Bia. di dekat kolam ikan. “Iya... .

.” Egi berusaha membela diri. ini hak gue dan lo nggak berhak marah-marah atau ngelarang gue dong!” Tammy balik membentak Bia. marah. Lagian. gue nggak akan pernah percaya sama elo lagi! Nggak akan pernah!” “Bi.” Egi dan Tammy terkejut. Bia dan Egi. “Gue benar-benar nggak nyangka lo bisa sejahat ini. ini nggak seperti yang elo sangka. dan gue punya alasan untuk itu.. “Bia.” “Nggak bermaksud bohongin gue? Begitu?” bentak Bia. setiap kalian ngobrol... “Lo bohong dan lo masih nanya apa kesalahan lo?” “Gue memang selalu ngarang alasan bohong sama kalian. saat ini Bia benar-benar kecewa.. Kalian nggak pernah sekali pun nanyain tentang gue. Gi! Kata-kata lo di jembatan itu semuanya cuma omong kosong! Lo sama aja kayak laki-laki brengsek lainnya! Lo benar-benar busuk! Gue benci sama elo!” maki Bia kesal. Bibirnya yang kering dan wajahnya yang pucat terlihat jelas.. Biar gue jelasin. Selama ini gue percaya sama alasan-alasan yang lo ucapkan.. Gue sama sekali nggak bermaksud. otaknya terasa terbakar. “Lo sama brengseknya. “Bia. sehingga dia nggak peduli kalau lawan bicaranya itu masih sakit. “Jadi ini ceritanya?” tanya Bia ketus. Apa kalian ada yang peduli sama gue? Belakangan ini. Mereka baru menyadari kehadiran Bia di taman itu. Bia nggak bisa menahan diri lebih lama lagi.. apa peduli kalian! Kalian cuma ngurusin masalah dan perasaan kalian. Kalian nggak pernah peduli sama gue lagi. jangan emosi dulu... gimana keadaan di rumah gue. Gue sama Tammy nggak ada hubungan apa-apa. “Lo pikir gue percaya? Lo benar-benar brengsek. Gi! Lo berdua pembohong. Tapi setelah melihat ini semua. Bi.. Kalau sekarang gue dekat sama Egi. Jantung Bia berdetak kencang. gimana perasaan gue.Egi yang memakai sweter abu-abu bahkan sesekali mengambil sendok dari tangan Tammy dan berpura-pura hendak menyuapi Tammy yang buru-buru menghindar sambil tertawa.. Darahnya mendidih dan emosinya meluap. Tammy bangkit dari duduknya dan buru-buru mendekati Bia. yang diomongin cuma tentang Bia dan Egi. Tam. apa . “Jadi ini yang selama ini lo sembunyiin dari gue.” Egi yang berusaha berdiri menenangkan Bia. Bi? Apa salah gue? Apa urusan lo sama hubungan gue dan Egi? Bukannya lo sendiri pernah bilang kalo lo nggak suka sama Egi? Jadi kalaupun gue mau pedekate sama Egi.. Tapi sayang. penipu!” “Lo kenapa sih.. Tam? Jadi ini yang bikin elo nggak punya waktu lagi buat ngumpul sama teman-teman lo sendiri? Sejak kapan Egi jadi tante lo yang perlu lo jenguk hari ini karena sakit? Sejak kapan lo jadi pembohong?” cecar Bia. “Sori. dan sakit hati.

Tammy terpana. Dia nggak bisa menyembunyikan rasa cemas di wajahnya. mendadak penglihatannya berkunang-kunang. tapi baru setengah jalan. Egi berusaha mengejar. Lo salah! Semua orang cuma kasihan sama masa lalu lo! Bagi mereka. . “Tam. “Lo memang egois. “Jadi itu pandangan lo tentang gue selama ini. sekali lagi lo bicara macam-macam tentang Bia.gue salah? Apa mentang-mentang Egi suka sama elo jadi gue nggak berhak dekat sama Egi?!” seru Tammy. gue nggak akan maafin eo. Tam?” Bia berkata pelan. Dia sama sekali nggak nyangka Egi bakal bersikap seketus itu padanya. “Oke! Semua cukup sampai di sini. Mulai hari ini anggap aja kita nggak pernah saling mengenal atau bersahabat. Tammy terdiam. “Kalo lo nggak cerita. Tammy yang melihatnya buru-buru menangkap tubuh Egi dan membantunya berjalan menuju kursi. mana ada yang bisa ngerti perasaan lo!” balas Bia.” ancam Egi. lo tuh cuma cewek penakut yang sok jago!” “Cukup!” bentak Egi tiba-tiba. Bia tak bicara. Tammy menatap wajah Egi yang pucat. Bi! Lo selalu mau menang sendiri! Lo pikir semua orang bisa nerima sifat lo itu. Egi berpegangan erat pada pintu kaca yang ada di sampingnya untuk menahan tubuhnya.” Bia lalu berbalik dan berlari meninggalkan taman itu. dan tanpa dia sadari tangannya bergerak membelai rambut Egi dengan penuh kasih sayang.

“Kita udah temenan selama tiga tahun. gue nggak ikutan. “Kalian juga nggak percaya. Cha-Cha nggak mau bohong lagi sama Bia. Sebentar lagi kita bakal lulus SMA dan pisah.” “Siapa yang bilang gitu?” tanya Cha-Cha. Yuki dan Cha-Cha yang nggak mengerti apa yang telah terjadi hanya berusaha menempatkan diri sebagai sahabat yang baik buat Bia maupun Tammy yang enggan bertegur sapa. “Bi. “Jangan sebut-sebut nama bajingan itu di depan gue!” bentak Bia. jangan bersikap seperti ini!” “Gue nggak ada masalah.. Ini pasti cuma salah paham. tapi nyatanya keduanya malah marah besar dan pergi begitu aja tanpa bicara. “Lo tanyain ke dia apa selama tiga tahun ini dia berteman dengan gue karena kasihan dengan masa lalu gue.. apa masalah lo dengan Tammy ada hubungannya dengan Egi?” tanya Yuki. “Lo pasti salah dengar. tapi ke Tammy. Yuki. Waktu itu dia dan Yuki udah pernah bohong dan berusaha mempertemukan Bia dengan Tammy. . Yuki dan Cha-Cha terdiam. dan Cha-Cha duduk di kelas. dia sih udah bilang oke. tapi apa masalahnya?” tanya Yuki lagi. gue nggak mau bicara lagi sama dia. Bia. tau! Kalau memang ada masalah. lo kenapa sih?” tanya Yuki kesal.” jawab Cha-Cha jujur.” kata Bia.” “Bi.” jawab Bia. “Kalau ada Tammy. kan?” “Bi. “Kalian berdua kayak anak kecil.BAB DELAPAN DUA minggu telah berlalu.” sahut Bia. Apa lo mau kita terus-terusan seperti ini? Apa persahabatan kita berempat sama sekali nggak ada artinya buat elo?” “Lo jangan bicara seperti ini ke gue. Sampai hari ini Bia selalu menghindar dari Tammy dan Egi. ya dibicarain dong. “Gue udah bilang sama kalian. Mereka berharap dengan begitu masalah di antara Bia dan Tammy bisa selesai.” Bia tertawa. menghabiskan sisa jam istirahat mereka. “Iya. besok mau ikut belajar bersama di rumah gue nggak?” tanya Cha-Cha. “Mmm. “Tammy ikut?” tanya Bia to the point. tapi dia yang bermasalah.

Gue nggak bermaksud ngebentak elo.” mohon Egi. tapi begitu melihat sosok orang yang memanggilnya. . tapi cuma sebatas itu. nelepon gue. Iya.” Bia bangkit dari duduknya dan keluar kelas menyusuri koridor menuju WC. Mama sudah menunggu dengan segelas kopi panas. jadi jangan panggilpanggil nama gue seenak jidat lo!” “Bi. Bi. Pikir pakai otak. tunggu!” Egi menahan tangan Bia. “Lepasin. “Gue nggak kenal sama lo. Belakangan ini dia sering ke rumah gue. menatap Egi yang tersenyum di hadapannya. “Gue ke WC dulu ya. Dia memang baik sama gue. “Lebih baik gue jatuh cinta sama monyet daripada sama elo!” Bia membalikkan badannya dan berjalan cepat tanpa memedulikan Egi yang memanggil namanya berulang kali.” “Lo pikir gue percaya sama elo?” tanya Bia ketus. Saat Bia berjalan sendirian. Yu. nyesel karena nggak bisa menahan emosinya. ada yang memanggilnya dari arah belakang. dan lo bilang elo nggak ada hubungan apa-apa sama dia? Lo pikir gue percaya sama kata-kata lo itu?” Bia membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Egi. Gue nggak punya perasaan khusus sama dia. “Bia!” panggil Egi. kan?” Bia tertawa mengejek. “Akui aja kalau elo memang udah jatuh cinta sama gue dan elo cemburu karena gue dekat sama Tammy. “Bia!” Bia menoleh. brengsek!” seru Bia. “Lo cemburu. lalu bergegas menuju kamar mandi buat siapsiap ke sekolah. “Bia. “Gue sama Tammy nggak ada hubungan apa-apa. Selesai mandi. Cemburu gara-gara elo cuma buang-buang tenaga.” kata Egi sambil tetap tersenyum. kasih gue kesempatan untuk ngejelasin semuanya. “Dasar cowok nggak punya malu. apa kelebihan lo yang bisa bikin gue cemburu gara-gara elo?” “Jangan menipu diri sendiri. Disambarnya handuk yang tergantung di belakang pintu kamar. nanyain tentang masa kecil gue. nggak pernah lebih. gimana mesranya elo sama dia.“Sori. Bia melempar selimut yang menutup tubuhnya. “Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri. Bia membawa rasnelnya menuju ruang makan. ngobrol sama gue.” kata Bia. ya?” Bia berhenti dan membalikkan badannya. dia langsung buang muka dan kembali berjalan. @(^-^)@ Satu hari lagi telah berlalu.

” Mama kembali tertawa.. Tapi paling tidak.. Mama juga tidak tau. . Bi?” tanya Mama. Aku kabur sampai-sampai aku kecebur got. Mungkin karena dia ayah kandungmu. “Bi. Bia mengambil setangkup roti tawar yang sudah diolesi selai kacagn oleh Mama dan melahapnya. “Sudahlah. Ma. “Untung monsternya bawa bunga.“Pagi.” “Monsternya cowok atau cewek?” “Mana aku tau. Boleh. Ia berkata. Habiskan sarapanmu. kan?” “Kenapa Mama mau memaafkan dia?” “Entahlah. “Pagi. Tapi Mama belajar percaya dan pasrah. itu tandanya monsternya baik hati.” sahut Mama. nanti malam papamu mau makan malam bersama di sini.” “Ih. kamu kan bisa menyempatkan diri untuk sekadar menyapa papamu sebentar. Ma. tapi makhluk itu sama sekali nggak mau berhenti ngejar aku.” jawab Bia. Dia menghabiskan rotinya lalu meneguk susu cokelat di hadapannya tanpa sisa.” kata Bia menghentikan kegiatan makannya.” “Kok terserah sih. kamu ngumpet di dalam kamar. Kegagalan bukan berarti kita berhenti untuk berusaha. lalu cepat berangkat sekolah. Dua bulan lagi kan aku udah mau ujian akhir. Sejak makan malam waktu itu. Mau bawa bunga kek. “Gimana tidur kamu semalam?” “Mimpi buruk.” “Mama ngerti. kamu nggak pernah bicara lagi sama dia.” sapa Bia. Sesaat kemudian ia menarik napas dan mengembuskannya perlahan. jujur sama aku.” “Aku tuh lagi banyak tugas dan ujian. Bi. Sayang. kan?” tanya Mama. Mama tidak ingin kecewa dan sakit hati lagi. yang namanya mosnter ya tetap aja nakutin. mau bawa cokelat kek. “Papamu udah kangen sama kamu...” Mama tertawa. “Aku mimpi ketemu monster serem. “apa Mama nggak takut kalau ternyata dia nggak sebaik yang Mama kira? Apa Mama nggak takut kalau suatu hari nanti dia ninggalin kita lagi? Apa Mama nggak takut kalau nanti dia selingkuh kayak Oom Ivan?” Mama diam.” Bia menurut.” “Ma. Mama. Kasihan kan dia. Dia ngejarngejar aku sambil bawa bunga. “Terserah.” “Lalu kapan Mama mau menikah dengannya?” Mama tertawa. “Memangnya aku sempat wawancara sama tu monster? Mama nih ada-ada aja. “Kadang-kadang rasa takut itu muncul.” jawab Bia. Setiap dia datang.. jangan bicarakan itu lagi.

berisi beraneka mawar. Ada seseorang yang harus dia temui sekarang juga. Aku nggak mau saat aku pulang nanti bunga-bunga ini masih ada di halaman. Aku berangkat dulu ya. I‟M SORRY!” “Siapa yang melakukan ini semua?” tanya Mama heran sekaligus takjub. Ma. Bia membuka pintu pagar dan bergegas ke sekolah. .” mohon Bia.“Ya udah.” pamit Bia sambil menyambar tas ransel di sebelahnya lalu bangkit dan bergegas keluar.. Mata bia mencari sosok Egi di dalam kelas yang udah lumayan ramai pagi itu.” “Makasih. tapi gulungan spanduk udah pindah ke dalam genggaman tangannya. “Ma. Ma. Bia langsung memanggilnya. Ranselnya masih nangkring dengan manis di punggungnya. Dalam sekali tarikan. “Kalau perlu dibakar aja.” jawab Bia lalu segera keluar dari rumah. Pemandangan di depannya membuat mulutnya terbuka lebar karena terkejut. “Jangan pulang terlalu sore. Bi.” pamit Bia. Mama Bia yang heran melihat tingkah putrinya segera mendekati Bia sambil bertanya. Kata-kata di spanduk itu membuat dia tahu siapa pelakunya. “Iya. Pemandangan yang terhampar di hadapannya merupakan jawaban yang membuat Mama terpesona. Namun sesaat kemudian langkahnya terhenti. Mama ikut berdiri dan mengantar putri semata wayangnya itu ke depan. Matanya menatap spanduk yang terikat di pagar rumahnya. terpajang buket bunga berukuran besar. ya!” pesan Mama sambil membukakan pintu buat Bia.” Bia nggak menjawab. “Ada apa sih. Aku berangkat dulu ya. aku tau.. Di depan pagar rumah mereka. “Iya. Begitu matanya menemukan Egi yang lagi duduk di meja bersama beberapa temannya. Ma. Dia berjalan ke arah pagar dan berhenti tepat di depan spanduk.” pinta Bia.” “Tapi. “Ini benar-benar luar biasa. Mama akhirnya mengangguk pasrah. Bia mencopot spanduk yang ternyata nggak terikat kuat di pagar. keras. tolong buang bunga-bunga ini ke tong sampah. nanti Mama rapikan sebelum berangkat kerja. Lalu Bia menggulung dan menjejalkannya ke dalam tas ranselnya. Bi?” Tapi pertanyaan mama nggak perlu Bia jawab. dan spanduk bertulisan: ”BIA.” “Tolong. @(^-^)@ Bia melangkah dengan cepat menyusuri koridor sekolah menuju kelas Egi. Tapi Bia memilih bungkam.

tepat di depan hidung Egi. Egi tersenyum lalu berdiri dan berjalan mendekati Bia. “Gue cuma mau minta maaf sama elo. Dia nggak tahu bagaimana lagi caranya meluluhkan hati Bia. Dia nggak peduli dengan usaha-usaha Egi untuk meluluhkan hatinya. dan dia nggak mau itu terulang untuk kedua kailnya. “Ada apa.. “Nggak usah sok innocent deh!” bentak Bia tanpa memedulikan tatapan anakanak kelas satu yang mengarah padanya. “adalah wujud permintaan maaf gue ke elo. Mama sedang sibuk di dapur membersihkan piring-piring bekas . Dia juga nggak peduli dengan wajah memelas di depannya itu. “Ini. sama sekali nggak ada maksud apa-apa. Dia menoleh ke asal suara dan mendapati Bia sedang berdiri di depan pintu kelasnya.“Egi!” Cowok itu terkejut mendengar teriakan itu. “Tunggu. Sorot matanya seakan ingin menusuk lawan bicaranya.” “Trus. Dia nggak peduli dengan permohonan maaf Egi. Jujur.” Bia menatap kedua bola mata Egi dengan tajam dan tanpa suara. Tapi Bia tetap cuek. gue nggak akan peduli. gue paling benci cowok gombal kayak elo!” Bia membalikkan badannya dan segera berlalu dari kelas Egi. membuka hatinya untuk Egi adalah sebuah kesalahan. “Bi. please. Lo mau kasih gue seratus mawar kek. dan bukan membuat elo semakin membenci gue. “Gue melakukan semua itu dengan tulus. maafin gue. Bi!” tahan Egi. Bi. Gi. lo pikir dengan begitu gue bakal maafin elo?” “Paling nggak. @(^-^)@ Malam itu Bia duduk di ruang tamu sambil membaca catatan matematika buat ulangan besok. kan?” “Lo salah!” bentak Bia. dia benarbenar tertekan menghadapi gadis keras kepala ini. Asal lo tau. Egi perlahan melepaskan tangannya dari lengan Bia..” Egi mengambil gulungan spanduk dari tangan Bia sambil tersenyum. Dia takut kehilangan Bia. Gue cuma mau minta maaf sama elo.. Baginya. gue udah usaha. “Gue bukan cewek gampangan yang seneng dirayu sama bunga. Dia nggak mau gadis ini sampai benar-benar membencinya. kenapa sih elo selalu menganggap negatif semua hal yang gue lakukan buat elo?” tanya Egi pelan.” Egi memohon dengan wajah memelas. Dia tersiksa menghadapi sikap ketus Bia.” “Lo pikir gue cewek gampangan yang langsung klepek-klepek kalau dikasih bunga?” “Bia. pagi-pagi udah cari gue?” tanya Egi manis. Bia telanjur sakit hati. “Apa maksud lo dengan semua ini?” Bia menunjukkan gulungan spanduk di tangannya.

Bi?” suara Oom Frans mengagetkan Bia.” Oom Frans menghela napas.” jawab Bia sekadarnya.” Bia cuma diam. “Kalau dulu Oom berpamitan dengan mamamu sebelum berangkat ke Pekanbaru dan mengatakan kesediaan Oom untuk bertanggung jawab. Meskipun Oom Frans ayah kandungnya. Sejak kapan laki-laki ini mulai berani ikut campur dalam masalahnya? “Pasti cowok yang mengirim mawar itu sangat menyukai kamu. Bi. Paling tidak. rutuk Bia dalam hati. Mulutnya komat kamit menghafalkan rumus dan bola matanya berputar-putar. mungkin semua ini tidak akan terjadi. dan Oom pula yang telah membuatmu selalu berpikir negatif tentang laki-laki. Sebenarnya Bia mau ikut bantuin sih. ini bukan urusan Oom!” “Kamu memang cantik seperti mamamu. Kali ini dia nggak bereaksi dengan ucapan Oom Frans.makan malam. lalu berkata lebmut. tapi batal gara-gara Oom Frans udah duluan turun tangan membantu Mama membereskan meja makan.” sindir Bia. “Tapi apalah guna sebuah penyesalan. meskipun nggak ngobrol dengan Oom Frans seperti permintaan Mama. Oom Frans duduk di dekat Bia sambil tersenyum. “Apa yang Oom lakukan dulu memang tidak layak untuk mendapatkan maaf.” lanjut Oom Frans.” “Tidak semua laki-laki seburuk yang kamu pikirkan. Bia malas kalau harus nimbrung di tengah-tengah mereka. “Katanya tadi pagi ada kiriman bunga ya di halaman?” tanya Oom Frans. Dia nggak sadar Oom Frans sudah berdiri di dekatnya. Tapi Bia ingat percakapannya tadi pagi dengan Mama: Bia nggak mau mengecewakan Mama.” “Laki-laki semua sama aja. Dan mungkin kamu tidak akan bersikap dingin pada laki-laki. “Besok ada ulangan ya..” Oom Frans seakan nggak peduli dengan kekesalan yang tersirat di wajah Bia. Bia masih merasa asing dan belum sepenuhnya memaafkan dia.. Bia pengin segera masuk kamar setelah makan malam tadi dan menghindar dari laki-laki itu. duduk dekat-dekat tanpa permisi dulu. Bia membalik halaman buku catatannya dan mulai mempelajari materi buat ulangan besok. Bia tetap belum bisa menerima kehadiran laki-laki itu. wajar saja kalau banyak cowok yang jatuh hati padamu. Yang sudah terjadi tak mungkin dapat . tapi hatinya lebih busuk daripada sampah. dia nggak mengunci diri di kamarnya. Pede banget dia. Bia menatap laki-laki itu kesal. “Iya.” “Tapi semua laki-laki yang hadir dalam hidupku malah membuat dugaanku semakin tepat. Oom telah membuat hidupmu menderita. Jadi dia terpaksa duduk manis di ruang tamu.” jawab Bia keki. “Itu bukan urusan Oom. Kita pasti akan menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia. “Udah aku bilang. “Cuma manis di mulut.

“Aku mau tidur dulu karena besok harus sekolah. Dia menatap punggung Bia sambil tersenyum.” “Membahagiakan aku dan Mama?” “Benar.” Bia menatap laki-laki yang duduk di sebelahnya. “Boleh aku bertanya satu hal?” tanya Bia pelan. Tiba-tiba Bia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Oom Frans. Saat ini Oom hanya berusaha memperbaiki semua kesalahan Oom dulu dan memperjuangkan kebahagiaan yang sangat Oom inginkan saat ini... “Jika seseorang yang Oom percaya dan cintai mengkhianati Oom. lalu kembali berkata. Tatapannya yang lembut dan penuh kasih membuat hati Bia terasa hangat dan nyaman. saat kamu mencintai seseorang dengan tulus. Oom Frans nggak akan menipu.” jawab Oom Frans.” Bia teringat percakapannya dengan Mama tadi pagi tentang alasan Mama memaafkan Oom Frans. Matanya beradu dengan tatapan hangat lelaki itu. Entah kenapa untaian kata yang keluar dari mulut lelaki itu mengusik hatinya.” “Seperti Mama memaafkan Oom?” “Mungkin seperti itu.” . Bia berusaha mencari kejujuran dan ketulusan di wajah Oom Frans. Dan itu pula yang akan Oom lakukan. Dia mengangguk pelan sebagai jawaban. Alasan yang sederhana tapi memiliki kekuatan yang begitu dahsyat sehingga Mama dengan mudah melupakan sakit hatinya dan menerima laki-laki ini kembali. Sekarang bia baru mengerti alasan itu. Bia masih berdiri di tempatnya sambil menatap Oom Frans. “Bia. “Tapi dalam cinta selalu ada maaf yang tiada batasnya. Bahaya. Laki-laki yang sejak dulu begitu dibencinya. Oom... maka bagimu yang terpenting adalah melihat orang yang kamu cintai itu bahagia. Dia sadar. Meskipun sesungguhnya hatinya nggak dapat menahan rasa rindu untuk dapat memeluk anak yang terus dicarinya selama ini. yaitu membahagiakan kamu dan mamamu. itulah tujuan hidup Oom saat ini. Terlalu muluk rasanya jika dia mengharapkan Bia dengan tersenyum lebar langsung menerimanya kembali. Alasan itu adalah cinta. Oom Frans hanya diam.” Suara Bia yang lembut membuat Oom Frans terbelalak kaget. Oom Frans mengangguk sambil tersenyum.” jawab Oom Frans. Apa kata-kata yang keluar dari mulutnya berasal dari hati? Dan Bia menemukan jawabannya. Lalu Bia berkata. kesalahannya terlalu besar dan nggak mudah untuk membuat Bia mau memaafkannya.diulang kembali. apa yang akan Oom lakukan?” “Tentu saja Oom akan marah. Dan itulah yang Oom rasakan saat ini. Dia telah menelantarkan anaknya selama bertahun-tahun. “Jangan pulang malam-malam. Bia bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Oom Frans tanpa sepatah kata pun.

Dia sama sekali nggak menyangka. “Mama bahagia. “Mama nggak perlu bilang makasih sama aku karena memang sudah wajib hukumnya seorang anak mengakui ayahnya. “Aku masih belajar buat ulangan besok. Mama diam. Rasa lega memasuki kalbunya.” “Aku juga bahagia. “Mama bahagia karena Mama memiliki putri seperti kamu. ya. Kehangatan dan kebahagiaan menyelimuti dirinya.. Dan panggilan itu telah menyembuhkan begitu banyak koreng yang membuat cacat hatinya.. “Dia takut kamu sudah tidur.. Saat ini ia terlalu bahagia.” “Makasih buat apa. jauh di lubuk hatinya dia merindukan laki-laki itu. Laki-laki yang mulai detik ini dan selamanya akan dipanggilnya Papa. “Aku dengar suara mobilnya. Ma.” kata Mama.” katanya pelan. Ma?” tanyanya begitu pintu kamarnya terbuka. apa sekarang Mama bahagia?” tanya Bia kemudian...Lagi-lagi Oom Frans hanya mengangguk..” jawab Mama mantap. dia kembali berhenti dan berbalik menatap ayahnya lagi. “Ma. “Aku memang sangat membenci Oom.” “Aku tau.” Oom Frans terdiam. @(^-^)@ “Bia. Lalu dia menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan. Sayang?” Bia menutup catatan matematikanya dan berjalan membukakan pintu. “Tapi aku juga sangat merindukan Papa. “Makasih. “Papamu sudah pulang. Lelaki itu tak bisa menahan haru yang membungkus hatinya.” Mama tersenyum. “Papamu nggak mau mengganggu kamu. “Ada apa. Lidahnya terasa kelu dan tubuhnya terasa kaku.” Mama buka suara. Bia juga diam.” Bia diam. Bia membalikkan badannya dan kembali berjalan. “Bi. Bia nggak bisa memungkiri. Tapi baru beberapa langkah.” Bia menganggukan kepala.” Suara Mama terdengar dari balik pintu kamar Bia. “Kamu sudah tidur. Perasaan bahagia perlahan meluap dalam dirinya.” . Ma?” “Makasih karena kamu sudah memaafkan papamu.” sahut Bia. Senyum tersungging di bibirnya dan air mata menggenangi pelupuk matanya. lidahnya mampu memanggil laki-laki itu “Papa”.” sahut Bia. Dia menyandarkan tubuhnya di pintu kamar. Jantungnya berdetak kencang dan darahnya seakan bergolak. Sama seperti Bia.

“Iya. “Yu.” “Gue cuma mau menyampaikan kabar buruk. Begitu hebatkah kekuatan cinta dan maaf? Dering telepon membuat pelukan ibu dan anak itu terlepas. aku jadi pengiring pengantin wanitanya. Rasanya belum pernah ia merasa begitu bahagia seperti hari ini. baru aja.” “Bokapnya Tammy masuk rumah sakit. Bia terlonjak kaget dan langsung bangkit dari tidurnya. Sayang.” “Kabar buruk?” tanya Bia heran. “Sori.Mama tersenyum lalu merengkuh tubuh Bia ke dalam pelukannya.” kata Bia. ya?” Mama tertawa. Rasanya nggak percaya.” Bia mengangguk lalu menutup pintu kamarnya begitu Mama pergi. “Terakhir kali gue jenguk bokapnya di rumah sakit. “Halo. “Gue juga belum tidur kok. Selama ini dia yang melarang Yuki dan Cha-Cha membicarakan Tammy. Jadi wajar saja kalau kedua temannya ini tidak memberitahunya kabar tentang papanya Tammy. Dia yang menutup telinganya rapat-rapat setiap kali Yuki dan Cha-Cha menyebut nama Tammy. “Telepon. “Iya. “Bia!” suara Mama memanggil Bia. ya. “Mama angkat telepon dulu. Matanya menatap langitlangit kamar. dia dan Mama bisa tertawa seperti tadi. “Kabar buruk apa?” “Bokapnya Tammy meninggal.” “Nggak apa-apa. “Bukannya lo nggak mau denger gue dan Cha-Cha nyebut nama Tammy?” Bia terdiam. Bi! Dari Yuki!” ujar Mama. “Katanya penting!” “Iya. “Mama sayang kamu. Bi. gue ganggu malam-malam gini. Bi.” Bia membalas pelukan Mama. kok lo nggak kasih tau gue?” “Bukannya lo lagi musuhan sama Tammy?” Yuki malah balik bertanya dengan nada sinis. Ia menghela napas panjang lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur.” jawab Yuki. Dia yang marah-marah waktu Yuki dan Cha-Cha mempertemukannya dengan Tammy. boleh gue tau bokapnya Tammy disemayamkan di mana?” . Yu. dan Mama bangga padamu.” “MENINGGAL?!” pekik Bia. bokapnya masih bisa ngomong. Mama menyerahkan gagang telepon kepada Bia lalu menghilang ke kamarnya. Yuki benar. “Ma.” sapa Bia.” “Kenapa?” “Gue juga nggak tau. Ma!” sahut Bia lalu bergegas keluar dari kamar. Hatinya kini terasa seringan kapas.” Bia ikut tertawa. di pesta pernikahan Mama dan Papa nanti. Mungkin memang penyakitnya udah benar-benar parah.

lalu mengetuk pintunya pelan.” “Nggak bisa.” “Ke rumah sakit?” Mama bertanya heran. masa harus balik lagi ke sini dan mengantar aku ke rumah sakit.” “Jangan. Aku cuma mau ketemu dan bicara sama Tammy sebentar saja.” “Papamu pasti bersedia. Dia baru aja pulang. “Aku boleh ke rumah sakit. “Ada apa?” “Papanya Tammy meninggal.” tegas Mama.” tolak Bia segera. Sampai telepon ditutup. tapi biar papamu yang mengantar kamu. “Ada apa. Ma. Dia nggak tahu harus berkata apa. “Kasihan Papa. berbahaya bagi anak perempuan pergi sendirian “Please. Bi?” tya Mama. Ini sudah malam. Ma. Ma?” “Apa nggak bisa ditunda besok saja. .” mohon Bia. Ma. “karena ini untuk putrinya.” Mama menatap Bia dalam-dalam. “Baiklah. Ia ragu memberikan izin untuk Bia. “Boleh ya. Perasaanku nggak tenang. Mama langsung berjalan menuju meja telepon dan menghubungi nomor handphone Papa. Ma? Sekarang. Bia nggak banyak bicara.” Penyesalan masih merasuki hati Bia. Bia berjalan gontai menuju kamar Mama.” “Meninggal?” Bia mengangguk.” jawab Yuki. Bi. Gue belum tau bakal dimakamkan di mana.“Sekarang masih di rumah sakit. Pintu terbuka dan wajah Mama muncul dari baliknya. “Besok baru dipindah ke rumah duka. Papa pasti capek. Ini sudah malam.” Bia nggak membantah lagi. Perasaannya saat ini benar-benar kacau.” Mama menghela napas. “Aku nggak akan lama.

Bia mengangguk. gue marah-marah sama elo seenaknya aja. bahkan di saat elo benar-benar membutuhkan kehadiran gue. Oom. Tammy mendongakkan kepalanya dan terkejut menatap Bia.. dan gue udah berkata kasar sama elo.” “Bokap lo?” Tammy nggak bisa menutupi rasa kagetnya. “Makasih.BAB SEMBILAN BIA dan papanya tiba di rumah sakit untuk menemui Tammy.. “Lo benar. lalu memeluk Bia dan menumpahkan kesedihannya.” kata Bia pelan. gue turut berdukacita. gue egois dan selalu mau menang sendiri. Hatinya terasa perih.” . Bokap lo sakit aja gue nggak tau. ya. Dari jauh Bia melihat Tammy bersandar sendirian di dinding rumah sakit tepat di sebelah pintu kamar yang terbuka lebar.” Tammy mengalihkan pandangannya ke arah papa Bia.. “Tam.. Sahabat macam apa gue ini?” Air mata Bia ikut menetes. Bi.. “Gue nggak jujur sama lo.” panggil Bia pelan. Bahkan pipinya masih basah oleh air mata.. “Tammy. “Maafin gue juga. Tam. “Oom turut berdukacita. lalu mengulurkan tangan.” “Nggak.. Maafin gue..” mohon Bia. “Tam. Dia menyesal karena nggak pernah ada untuk Tammy di saat sahabatnya itu butuh seorang sahabat. “Tam. Gue nggak pernah menjadi sahabat yang baik buat elo.. Tam. Gue nggak pernah ada buat lo.. maafin gue ya. Jantung Bia berdegup kencang.” Tammy mengangguk. “Kamu yang tabah. “Nanti gue ceritain. Ujung hidungnya juga merha. Bia dan papanya berjalan mendekat. Matanya merah dan bengkak. gue yang salah..” kata papa Bia.” kata Tammy lirih di sela derai air mata. ini bokap gue.” Tammy menatap Bia. Isak tangis terdengar dari dalam kamar itu. Bia melepaskan pelukannya begitu teringat papanya masih berdiri di dekatnya. Tammy mengangguk pelan tanpa suara.

jantung Bia berdegup kencang. Tapi nggak bisa.” jawab Tammy. Gue seharusnya bicara. itu bokap lo?” tanya Tammy mengawali pembicaraan. Yuki dan Cha-Cha juga baru gue kasih tau seminggu yang lalu. Waktu bokap gue udah mulai dirawat di rumah sakit. tentang Egi.” “Nggak. gue. Bia diajak Tammy keluar dari kamar. ini juga salah gue. semua memang gara-gara gue. tapi nggak sedetik pun dia mampu mengusir Egi dari dalam benaknya.” suara Tammy memecah keheningan. Bohong banget kalau dia bilang dia membenci Egi. “Iya. @(^-^)@ “Bi. “Bi. tapi gue udah belajar memaafkannya. Lama-lama gue jadi eksal dan males cerita sama kalian. “Bukannya elo benci sama dia?” “Gue emang benci sama dia.“Oh ya.” “Kok elo nggak pernah cerita?” “Karena gue pikir penyakit bokap gue nggak parah. Saat itu mereka duduk di bangku semen di koridor rumah sakit. Bi. . dia bokap kandung gue. Bia dan ayahnya mengikuti Tammy menemui mama Tammy. Dia nggak mau kehilangan Egi.” Bia menceritakan kronologi cerita pertemuan dia dengan ayah kandungnya. sejak kapan bokap lo sakit?” “Udah sekitar tiga bulanan ini bokap gue keluar-masuk rumah sakit.” kata Tammy. Dua hari sebelum kita berantem di rumah Egi. Egi memang telah berhasil membuatnya jatuh cinta. Dia memang marah dan kecewa. “Ternyata ada banyak cerita yang udah gue lewatkan. tapi Egi juga yang udah membuatnya patah hati dan kecewa. Setelah mengucapkan turut berdukacita.” Tammy menghela napas. Tam. “Kata-kata lo waktu itu benar. yang dibicarain cuma tentang elo. Bia tersenyum dan menganggukkan kepala. siapa yang bisa mengerti gue?” Suasana mendadak hening. gue baru tau dia bokap gue. gue mau cerita sama kalian. dia juga nggak mau kehilangan sahabat.” “Tam. Bia benar-benar nggak ngerti harus bagaimana. Keegoisannya ingin mengikat Egi untuk terus mengejar dirinya. Bia dan Tammy sama-sama terdiam. Bia nggak rela Egi dekat dengan cewek lain. “Mama masih di dalam.” “Maafin. Bia nggak tahu harus bagaimana. di mana keluarga kamu yang lain?” tanya papa Bia. “Dan elo udah maafin dia?” tanya Tammy heran. Tapi di lain pihak. Kalau nggak gitu. Mendengar Tammy menyebut nama Egi. Di saat seperti ini. nggak ada kesempatan. karena tiap kali kita ngumpul. Jika sekarang Tammy mengakui bahwa dia menyukai Egi dan meminta Bia untuk mundur.

“Soalnya gue tau pasti. Sejenak ia merasa akan kehilangan Egi. bahkan sampai akhir usianya. “Gue suka melihat tawanya. “Jelas gue nggak percaya. Bi. lo jaga rahasia ini. “Egi tuh adik gue.” Bia melongo. “Lo pasti nggak percaya. kan?” kata Tammy lagi.” cerita Tammy. “Gue suka Egi.” lanjut Tammy. Gue ngerti kenapa bokap gue nggak mau mengakui anak itu. “Dari surat itu gue tau bokap gue pernah selingkuh waktu gue masih berumur satu tahun. senang mendengar lelucon jayusnya. “Gue kaget dan shock berat waktu pertama kali tau hal itu.” “Selingkuhan?!” “Jangan potong cerita gue.“Bi. biar gue cerita sampai selesai dulu. Perempuan mana sih yang mau dimadu? Tapi ada rasa penasaran yang bikin gue . Tammy menoleh dan menatap Bia.” Hati Bia terasa perih mendengar pengakuan Tammy. Anak yang sama sekali nggak pernah mau diakui bokap gue dan kemudian ditinggalkan oleh perempuan itu di panti asuhan. “Lo gila apa! Mana mungkin gue jadian sama Egi?!” Bia mengernyitkan keningnya. Dia paksakan dirinya untuk tersenyum. “Apa lo suka sama Egi?” “Iya.” ujar Bia. Sesaat kemudian tiba-tiba Tammy tertawa. tapi dianggukkan juga kepalanya.. Dadanya mendadak terasa sakit. “Gue juga tau hal ini belum lama. bahkan sampai punya anak dari perempuan lain.” jawab Tammy langsung.” “Elo sendiri?” Bia balik bertanya. elo suka sama Egi?” pertanyaan Tammy menambah dilema dalam diri Bia. Semua berawal waktu gue tanpa sengaja menemukan surat di ruang kerja bokap gue. Bi. Tapi gue pura-pura nggak tau. Dan rasa itu semakin membuatnya takut. Mana mungkin tiba-tiba Egi jadi adik lo?” Tammy tersenyum lalu menghela napas panjang.” Bia menutup mulutnya. Tapi persahabatannya dengan Tammy jauh lebih berharga. Surat itu dari seorang wanita yang ternyata selingkuhan bokap gue. lo tuh anak tunggal. Bokap gue pasti nggak mau nyokap gue ngamuk kalau tau bokap gue pernah selingkuh. “Kenapa tiba-tiba lo nanya gitu?” “Cuma pengin tau. dan itu membuat gue jadi tambah sayang sama dia.. Jawaban Tammy membuat jantung Bia seakan ingin melompat keluar. “Kenapa nggak mungkin?” “Janji ya. dan sayang banget sama dia. Dan dari surat itu juga gue tau bahwa bokap gue punya anak laki-laki dari perempuan itu. gue dukung sepenuh hati agar lo jadian sama dia.” Bia tambah heran.” sahut Bia. Bukankah kata orang pacar bisa dicari lagi tapi kalau sahabat susah untuk ditemukan? “Kalau elo emang suka sama Egi.

pantas waja waktu pertama kali melihat Egi. Gue juga udah bikin elo cemburu.” Bia membenarkan ucapan Tammy. Nama anak itu Juventus Egi. “Jadi karena itu lo mendadak dekat sama Egi?” Tammy tersenyum dan mengangguk. Egi tuh anak angkat?” Bia mengangguk. Dan ternyata alamat itu mengantarkan gue sampai ke rumah Juventus Egi... Tapi kelihatannya Tammy serius. “Lo pasti tau kan.” “Maksud lo?” tanya Bia nggak percaya dengan cerita yang didengarnya. Bi. gue nggak boleh mengusik keluarga mereka. Lagi pula buat apa gue menceritakan semua ini ke Egi? Ini malah akan membuatnya menderita. Gue pikir mungkin itu cuma kebetulan. “Tuhan ternyata mempermudah langkah gue dalam menemukan adik tiri gue itu.” Bia terdiam..” Bia nggak bisa menahan rasa kagetnya. adik kelas kita. “Gue juga kaget waktu mendengar nama itu. . dia merasa wajah Egi mirip seseorang. File yang mereka punya menyatakan bahwa enam belas tahun lalu cuma ada satu anak laki-laki dan delapan anak perempuan yang ditinggalkan di depan pintu panti asuhan itu. “Sesuai perjanjian.” “Nggak mungkin. Gue juga pengin tau apakah sekarang dia bahagia.pengin mengetahui gimana keadaan anak itu sekarang.” Bia menatap ekspresi wajah Tammy. Tammy menarik napas dan kembali melanjutkan ceritanya.. mereka mau membuka file mereka dan memberi gue informasi tentang anak itu. Anggap saja gue menggantikan tugas bokap gue untuk memerhatikan dia. Awalnya mereka nggak mau kasih gue informasi apa pun. “Egi anak bokap lo dan selingkuhannya?” Tammy mengangguk. Gue mananyakan alamat keluarga yang mengadopsi anak itu dengan perjanjian gue hanya melihat dan nggak akan mengusik keluarga mereka. waktu di rumah Egi dulu gue marah-marah sama lo.” kata-kata Tammy bikin Bia kembali ke alam sadar. Apalagi kalau dia tau bokap gue nggak pernah mau mengakui dia. Tammy menggeleng. Dan itu yang membuat gue pada akhirnya tau bahwa Egi adik tiri gue. “Egi tau tentang hal ini?” tanya Bia pelan. Kalau diingat lagi. “Tapi. “Sori ya. Berarti jelas anak laki-laki itulah adik tiri gue karena di suratnya perempuan itu mengatakan bahwa anaknya laki-laki. Lalu dia bertanya.” jelas Tammy. Tapi setelah gue setengah memaksa dan memberikan sedikit sumbangan ke panti asuhan itu. “Gue pengin mengenal dia lebih dekat. Gue berusaha mencari tau dari pengurus panti asuhan itu tentang anak yang 16 tahun lalu pernah ditinggalkan di depan panti asuhan itu. Dia masih ragu apakah Tammy sedang mengarang cerita atau ini memang kenyataan.” “Gue diam-diam mencari panti asuhan yang ditulis perempuan itu dalam suratnya.

. Bia buru-buru buang muka biar Egi dan Tammy nggak bisa melihat wajahnya yang lagi-lagi berubah jadi merah. Dia mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Tammy. “Hebat juga ya si Egi.. Tammy berdiri dan berjalan mendekati Egi.” kata Egi. “Gue tadi udah takut banget kalau harus ngelihat elo nangis-nangis. Waktu itu lo marah-marah sama dia karena ngeliat kami berduaan. Wajahnya semakin memerah... Tam. Egi mengangguk.!” rajuk Bia. cuma satu kata yang kemudian keluar dari mulut Bia: “GOMBAL!”. Bia tetap duduk diam di tempatnya. tapi dia juga nggak bisa menahan debaran jantungnya yang seolah berteriak histeris.” kata Egi pada Tammy. “Makasih juga karena lo udah mau datang malam-malam gini. Bia yang melihat Egi melirik ke arahnya langsung buang muka. Tammy berusaha menahan tawa melihat wajah Bia yang merah. Bia mengikuti arah mata Tammy dan menemukan sosok Egi sedang berjalan mendekati mereka. “Gue tau kok elo sebenarnya suka sama Egi.” “Tammy. “Lo udah ketemu keluarga gue?” tanya Tammy. “Akhirnya lo bisa jadi cewek juga. Egi dan Tammy menatap Bia sambil tersenyum geli.” Tammy mendadak diam lalu menyenggok pundak Bia sambil memandang ke arah kanan koridor. “Gue turut berdukacita ya... tapi dia nggak bisa menahan rona merah yang muncul di pipinya.” ucap Egi tulus.” Bia berhenti bicara. Bisa meruntuhkan karang di hati seorang Bia.“Cemburu?” Bia mengelak.. kan? Jujur aja deh!” Bia nggak menjawab.” jawab Egi sambil melirik ke arah Bia.” “Rese lo!” “Ssstt. Jujur aja. gue paling nggak bisa menghibur orang yang lagi sedih.” balas Tammy. “Gue cuma bisa menghibur orang yang gue cintai. “Siapa juga yang cemburu?” “Nggak usah pura-pura deh. Gi. Gengsinya masih setinggi langit.” Bia melotot mendengar kata-kata Egi. Ternyata Bia ya tetap Bia.” “Bohong!” celetuk Bia. Bi. Meski begitu. dan itu membuat lo merasa selama ini Egi cuma mempermainkan elo. Bi. “Makasih. .” “Tapi masih ada orang yang datang lebih cepat daripada gue. Dia baru sadar udah kelepasan. Matanya sesekali melirik ke arah Bia. “Waktu di jembatan dulu elo kan yang.. “Gue lega melihat elo masih tersenyum. dan Bia pun berlari meninggalkan Tammy dan Egi begitu aja. Tammy malah tertawa.” ujar Tammy. “Gue memang nggak bisa menghibur orang lain.

gimana kabar hubungan lo sama Maxi?” tanya Tammy. Mereka mencomot irisan mangga di piring dan memasukkannya ke mulut sambil bertatapan. @(^-^)@ Sorenya. . mereka seru mengobrol. Cha-Cha. mereka berempat ngumpul di halaman belakang rumah Tammy cuma buat sekadar bersantai ria plus ngerujak. Belajar sih belajar. Mereka sudah dekat lagi seperti dulu. “Gue nggak pernah ada hubungan apa pun sama dia. “Ngomong-ngomong nih. wajahnya merona. Kita ngumpul di sini bukan buat ngomongin dia.” kata Yuki dengan perasaan lega karena teman-temannya udah berhenti ngegodain dia. Tangannya membawa sepiring mi goreng instan. tapi ngumpul-ngumpul melepas ketegangan tetap jadi prioritas utama. kok gue juga kena tanya?” Bia nggak terima. Sekarang Bia. jadi nggak ada yang perlu gue jawab.” “Nggak usah sebut-sebut lagi nama dia deh. dan Yuki sedang menikmati indahnya persahabatan sebelum akhirnya nanti harus berpisah kalau sudah lulus dari sekolah ini. Ujian akhir yang tinggal sebulan lagi sama sekali nggak mereka pedulikan. jawab aja..” “Kenapa sih elo jutek banget sama Egi?” serang Cha-Cha.” Yuki tersenyum kecil.. Bi?” “Buat apa gue mengkhawatirkan dia?” Bia malah balik tanya. kan?” “Bi. dan Tammy memilih tutup mulut. Hubungan Bia dan Tammy sudah kembali normal. “Dia bukan siapasiapa gue. “Seakan-akan Egi tuh udah melakukan kesalahan besar sama elo. di rumah.” “Duile.” sahut Tammy. “Udah. kan?” Bia kayaknya udah mulai kesal. Cha-Cha. gue dengar.. Seperti sore ini. “Halo. Tammy.. Bi?” Tammy langsung beralih ke Bia. Yuki. Yu..” sapanya. “Kalo elo. udah dua hari lho. Bia tergopoh-gopoh menuju meja telepon untuk mengangkat telepon yang berdering.!” ledek ketiga temannya.. Sambil mendesah-desah kepedesan. “Udah sampai tahap mana nih kemajuannya?” “Hubungan gue sama dia baik-baik aja. Egi nggak masuk sekolah. “Lho nggak khawatir.@(^-^)@ Dua minggu telah berlalu sejak papa Tammy dimakamkan. “Kami lagi mesra-mesranya nih. “Lho.

.” jawab Tammy. “Iya. “Napa... Kita berangkat ke sana sama-sama.” “Sekarang Egi di rumah sakit mana?” “Rumah sakit tempat bokap gue dirawat. Bia. “Gue lagi mau makan nih. “Siapa lagi yang sakit?” “Egi.” Bia diam.” “Lo tau dari mana kalau dia masuk rumah sakit? Memangnya dia sakit apa?” “Gue kakaknya. Lalu dia menuju kamar untuk mengganti kaus rumahnya dengan kaus untuk bepergian. Tam?” tanya Bia to the point. Lo harus ke rumah sakit sekarang juga.” “Hah?!” jantung Bia berdegup kencang.” balas Tammy dari seberang. “Lima menit buat lo makan dan lima menit buat lo siap-siap. “Lo mikir apa lagi sih. Kondisinya nggak begitu baik.” “Makannya nanti aja.. jelas gue tau lah.. Dia takut kehilangan Egi. Jadi lo siap-siap ya. Bia nggak mau hal buruk terjadi pada Egi. Gue juga lagi on the way ke rumah lo buat ngejemput lo. itu baru dugaan sementara. Matanya menatap mi goreng instan yang ada di tangannya. Nggak tahu kenapa rasa laparnya lenyap begitu aja.. Sepuluh menit lagi gue sampai. Rasa cemas melingkupi dirinya. “Darahnya masih diperiksa dan masih menunggu hasil laboratorium. Bia meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. “Kenapa Egi?” “Makanya lo ke rumah sakit deh sekarang juga. “Flu burung?!” hampir aja piring di tangan Bia terlepas. gue mau mak.” “Rumah sakit?” tanya Bia heran.“Halo.” sahut Bia. Bia berjalan menuju ruang makan dan meletakkan mi goreng itu di bawah tudung saji.. Dia tampak berpikir keras. Takut banget. Kata dokter dia kemungkinan kena flu burung... Bi. Bi. “Anak-anak udah pada jalan buat jenguk dia. Oke!” Tammy langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban Bia.” jawab Tammy.” “Tapi. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang ganjil. Bi?” tanya Tammy.

” kali ini Teddy yang menjawab. Perabotannya lengkap: ada TV. “Mmm. “Siapa?” tanya Bia.” Tammy memberitahu Bia. Koridor itu agak ramai. Tammy memarkir mobilnya dan bergegas menarik tangan Bia menuju kamar tempat Egi dirawat. “Lo di mana?” tanya Tammy lewat HP. Bia mengedarkan pandangan. “Pelan-pelan dong. Di kamar itu cuma ada satu tempat tidur pasien. tapi sekarang lagi pulang buat istirahat. Keluar dari lift mereka menyusuri koridor menuju kamar tempat Egi dirawat. di kamar ini ada Tammy. tadi sih udah ke sini. Yuki. Bia cuma mengangguk. dan sofa yang dijamin pasti empuk. Bi. “Cha-Cha. Egi sakit flu burung?” tanya Bia. Tam. Tammy bergabung dengan teman-temannya dan berdiri di sisi tempat tidur. Selain dia. “Betul. “Cha.. Tammy mengetuk pintu kamar itu dua kali. Satu jam kemudian mereka tiba di rumah sakit.” jawab Cha-Cha cepat.BAB SEPULUH TAMMY menjemput Bia tepat waktu.” protes Bia.” Tammy mematikan handphone-nya dan memasukkannya ke saku celananya. “Gue sama Bia udah sampai. Tammy nggak peduli. Tammy berhenti di depan kamar yang berada di ujung koridor. Matanya tertutup rapat. Bia berjalan mendekati Egi yang tampaknya tertidur lelap. bener nggak sih. Egi berbaring di tempat tidur pasien dengan alat bangu pernapasan menutupi hidungnya dan slang infus yang terpasang di tangannya. “Tapi masih belum positif sih. Bia mengekor di belakang. Sepertinya sedang jam besuk.. dan Teddy yang berdiri berjajar di samping tempat tidur. lalu membuka pintu dan masuk. . Sebelah tangannya malah sibuk menekan-nekan tombol handphone-nya. “Ini kamarnya. lemari pakaian. Cha-Cha. kulkas mini.” “Lalu orangtuanya mana?” tanya Bia lagi.” jawab Tammy singkat lalu menggiring Bia masuk ke lift.

Mereka kaget mendengar ucapan Bia..” kata Teddy. Oom.” akhirnya Bia buka suara.. lalu berbalik lagi untuk meninggalkan kamar itu. dengar kata-kata gue dengan baik!” Bia nggak memedulikan ucapan temantemannya. “Bagaimana latihan syutingnya?” Bia merasa pernah melihat laki-laki itu.” jawab Bia. “Bi. Bia mendongakkan kepalanya. Egi. Dia memandang teman-teman yang berdiri di hadapannya dengan diam. Ah. Laki-laki itu paman Tammy yang waktu itu pernah mengobrol dengan papanya waktu papa Tammy meninggal.” “Gi.” Bia nggak menjawab..” Bia mengunci bibirnya rapat-rapat. “Dia udah dirawat sejak dua hari yang lalu. “Lo kejam. Bi!” suara seseorang menahan Bia. Dilihatnya Egi duduk tegak dan melepas alat bantu pernapasan yang menutup hidungnya. pintu kamar terbuka sehingga Bia berhenti melangkah. Seorang laki-laki setengah baya berpakaian dokter muncul dari balik pintu dengan senyum ramah sambil bertanya.“Bi. gue bukan cowok lemah!” ujarnya. kok elo diam aja sih?” protes Tammy. Dia cuma menatap wajah Egi. “Gue nggak peduli.” sambung Yuki. “Gue nggak peduli dia sakit atau sekarat. dia ingat. dia malah bicara dengan Egi yang terbaring di tempat tidur. Yuki. Lalu dia mencabut jarum infus yang ternyata hanya menempel di tangannya. dan Teddy melotot. Tammy. dan Teddy terpana mendengar jawaban Bia. “Kalau memang dia nggak bisa diselamatkan. Bi!” kata Cha-Cha. Yuki.. paling nggak. lo balas cintanya di sisa umurnya. Cha-Cha. gimana kalau Egi nggak bisa diselamatkan?” ujar Cha-Cha. lo nggak kasihan sama Egi?” tanya Yuki pelan. Bia membalikkan badan. “Tunggu. “Bia.. “Syukur deh. Cha-Cha. “Egi sayang banget sama elo. “Lo keterlaluan. lalu berdiri dan berjalan mendekati Bia. “Egi benar-benar suka sama elo. “Gue nggak suka cowok lemah!” Setelah itu Bia beranjak meninggalkan tempatnya. tapi elo malah jahat sama dia.” kata Bia. “Apa elo nggak sedih kehilangan dia?” Bia tetap bungkam. “Latihannya baik. “Bi. . Baru saja Egi hendak menahan Bia. Puas?” Mata Tammy.

” “Baik.” aku Yuki. “Kalau begitu. Oom. “Maaf. rencana kita gagal gara-gara ide lo itu. “Flu burung kan bukan penyakit sembarangan. nanti kalian lapor pada suster jaga agar kamar ini bisa segera dirapikan.” “Siapa yang punya ide tentang penyakit flu burung?” tanya Bia tanpa merespons kata-kata Yuki. “Jangan bilang kena flu burung. Tiba-tiba Bia tertawa.” Bia diam saja. “Kalian tuh tolol banget sih! Cari penyakit kok yang aneh gitu. Ekspresinya datar. kami tuh cuma mau ngebantuin Egi buat baikan sama elo. Mereka nggak salah. begitu ya.” kata Yuki. Cha-Cha mengangkat tangan kanannya. Bi. “Dokter tadi oom gue. “Dan gue yang jadi sutradaranya.” “Oh. lo udah tau kalau semua ini cuma pura-pura. “Dia tulus sayang sama elo.“Bagus kalau begitu.. “Tapi buktinya. “Bi. ini semua ide gue.” “Sebenarnya. masa anak sakit parah orangtuanya nggak nemenin.” “Baik. “Jadi.” “Gue nggak bilang mereka salah.. Satu lagi yang perlu kalian tau.” “Tapi kan flu burung lagi ngetren. “Gue penulis skenarionya. Demam berdarah aja. Tam. “Lagi pula latihannya udah selesai kok.” sahut paman Tammy. Mana mungkin gue percaya..” Paman Tammy tersenyum. Dia punya kedudukan yang cukup tinggi di rumah sakit ini dan dia yang meminjamkan kamar ini dengan alasan gue mau latihan syuting buat pertunjukan saat kelulusan nanti. Udah gitu..” sahut Bia.” ujar Tammy.” Paman Tammy keluar dari kamar sambil tetap tersenyum.” balas Tammy. Cha-Cha nggak mau ketinggalan. Jadi mana mungkin kalian diizinin ngumpul di sini bareng Egi yang katanya kena flu burung. Lebih masuk akal. Oom.” sambung Tammy. idenya maksa sih. Dia ikut buka suara. “Memangnya kalian pikir gue bego?” Bia balik bertanya.. Bi.. . takutnya nanti ada pasien yang mau masuk. “Mereka cuma bermaksud menolong gue agar bisa baikan sama elo. “Gue. gue bilang juga apa!” ujar Tammy. Orang yang diduga terjangkit virus flu burung bakal diisolasi.” Bia kembali menjawab. “Jelaslah!” jawab Bia.” “Jadi lo curiga?” tanya Tammy. “Tapi jangan lama-lama ya. Bi. Bi?” tanya Tammy beigtu pintu kamar tertutup kembali. “Lo jangan marah. Masa kalian nggak pernah dengar sih?” “Tuh kan.” Cha-Cha ngotot. biasanya pasien yang dicurigai kena flu burung itu bakal dirujuk ke RSPI Sulianti Saroso.” kata Egi.” celetuk Teddy.

” jawab Egi sungguh-sungguh. Tammy. “Apa kalian pikir semua yang udah kalian rancang ini bisa membuat gue baikan sama Egi?” tanya Bia. “Kata-kata lo tadi udah gue terjemahkan sebagai pernyataan bahwa elo bersedia jadi pacar gue. Bi. Dia membiarkan cinta merasuki dirinya. “gue jamin lo nggak bakal bisa tersenyum lagi. kami udah usaha. Tubuhnya terasa lemas saat merasakan desah napas Egi di telinganya. Mata Bia beradu pandang dengan Egi yang berdiri di hadapannya. Begitu pula Yuki. dibiarkannya . Sekarang lo resmi jadi pacar gue. siapa yang bilang gue mau pacaran sama lo?” Bia berusaha melepaskan diri dari pelukan Egi. Bi?” Egi mencoba menerka... Lalu Bia berkata pelan.” “Heh. “Paling nggak. membuat jantung Bia berdebar nggak keruan.Cha-Cha cuma manyun. Bia menyerah. Dia melompat dan berteriak kencang. “Gila. “YES!” Bia nggak tahu harus bersikap bagaimana. Tapi Egi nggak mau melepasnya. Dia menyahut sambil pura-pura membuang muka.” jawab Yuki.. Dan elo nggak bisa menariknya lagi.. Dia jadi salah tingkah. Bia menunduk agar Egi nggak bisa melihat wajahnya yang mulai terasa memerah dan panas. “Gue sayang elo. tapi tangannya perlahan bergerak dan membalas pelukan Egi dengan sepenuh hati.. “Itu harapan kami. Wajah Bia makin memerah. karena bukti itu ada di dalam hati gue dan hanya bisa gue perlihatkan seiring berjalannya waktu. Cha-Cha. “Apa buktinya kalau elo sayang sama gue dan nggak akan pernah membuat gue kecewa?” “Gue nggak bisa menunjukkan buktinya ke elo.. “Apa ini berarti lo nerima cinta gue. Bi. Dia nggak lagi melawan. “Kalau ternyata elo ngecewain gue?” tanya Bia dengan kepala masih tertunduk.. “Makasih. ”Nggak tau ah!” Senyum Egi merekah. “Berarti.” bisik Egi lagi.” bisik Egi lembut di dekat telinga Bia. dan Teddy yang menonton dari belakang. “Kali ini lo nggak akan gue lepasin. apa-apaan sih lo!” protes Bia sambil meronta. gue harus percaya sama ucapan elo begitu aja?” Egi mengangguk. Bola matanya menatap Bia dengan lembut.” Suasana mendadak jadi hening.” Bia berhenti meronta. Bia nggak menjawab. Apalagi ketika Egi tiba-tiba menarik tubuhnya dan memeluknya erat.. Bi.” Egi terkesima mendengar kata-kata Bia. Direbahkannya kepalanya di pundak Egi.

Gi. . Senyumnya merekah dalam pelukan hangat Egi. kata Bia tanpa suara.sensasi yang belum pernah dia rasakan menjalar lembut ke seluruh pembuluh darahnya. Gue juga sayang elo.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful