Pacarku Juniorku

Valleria Verawati

FREE TALK
Hai... ketemu lagi sama gue! Akhirnya novel kedua ini terbit juga. Lega banget rasanya. Dua tahun udah berlalu sejak novel pertama gue diterbitkan. Maaf ya, udah bikin kalian semua menunggu. Berhubung gue nulis novel ini udah agak lama, jadi mungkin ada beberapa bagian di novel ini yang udah nggak sesuai lagi sama keadaan sekarang. Tapi gue harap itu nggak mengganggu kalian untuk menikmati novel ini. Anyway, gue mau ngucapin syukur atas kasih Tuhan yang tiada batasnya dalam hidup gue. Karena setiap karyaNya membuat hidup gue jadi luar biasa. Makasih banyak buat Papa dan Mama yang nggak pernah berhenti memberikan dukungan dan cinta. Makasih buat Ai, Nyenyen, Hendi, dan Ria yang selalu mendukung gue dengan caranya masing-masing. Khusus buat Dede, makasih ya, buat sumbangan namanya. Makasih buat Yenni dan Cia Sin di Batam, Ko Puk dan Lilis, juga semua keluarga besar yang udah memberikan dukungan buat gue. Jangan kapok bantu promosiin buku gue ya! Thanks buat Andi Wijaya atas kehadirannya yang membuat hidup gue seindah pelangi. Thanks juga buat Eudora Halim yang selalu menjadi sahabat terbaik buat gue (selamat buat pernikahannya ya!). Big thanks buat semua teman-teman gue dari Seraphine, Vianney, maupun UNTAR. Tanpa lo semua, gue nggak akan pernah punya cerita yang bisa gue tuang dalam novel-novel gue. Special thanks buat Florenka yang udah jadi sumber inspirasi gue buat novel ini (^-^). Gue juga mau ngucapin makasih baut semua guru yang pernah membimbing gue selama ini. Terutama buat Sr. Elisabeth atas doa-doanya, juga Pak Sandi dan Bu Vonny yang udah membantu melalui satu masa penyusunan skripsi (makasih banyak ya!). Tengkyu banget buat Mbak Vera yang udah banyak bantuin gue. Maaf kalau gue selalu cerewet dan banyak nanya. Makasih banyak Yustisea atas desain covernya yang oke banget. And makasih juga buat semua anggota Redaksi GPU atas bantuannya selama ini. Gue juga nggak bakal lupa ngucapin makasih sama all my lovely pets (terutama buat Rika-ku yang bantet and Lassie-ku yang brutal!). Meskipun kalian nggak ngerti, kehadian kalian udah bikin hari-hari gue jadi lebih ceria. Last but not least, thanks buat teman-teman baru gue yang udah membaca novel pertama gue. Respons dan masukan dari kalian sangat berharga buat gue. Makasih juga buat kamu yang lagi baca novel kedua gue ini. Tengkyu banget karena kamu

udah memilih untuk membaca novel ini di antara novel-novel lainnya. Gue tunggu respons kalian di v2_b4byp1nk@yahoo.com. Oke! GBU all.... Lophe, Vera

si penjaga sekolah. Tapi bagi beberapa anggota OSIS.30. Jalanan masih basah bekas diguyur hujan subuh tadi. Sudah menjadi tradisi turun-temurun bahwa selama MOS yang diadakan tiga hari ini. juga biar mereka bisa menanggalkan sifat manja yang masih mereka bawa dari lingkungan SMP. yaitu balas dendam. Di balik tujuan baik penyelenggaraan MOS ini sering kali ada maksud terselubung. Hari ini adalah hari pertama MOS (Masa Orientasi Siswa) buat anak-anak kelas 1 yang untuk pertama kali mengenakan seragam putih abu-abunya. yang lebih beken dengan panggilan “Bia” (padahal itu nama kecilnya loh!).00 dengan semangat ‟45. juga sarana untuk memperkenalkan siswa baru pada lingkungan sekolah dan program-program sekolah. Katanya sih biar para siswa baru itu punya mental kuat untuk menghadapi kerasnya dunia SMA kelak. para anggota OSIS punya wewenang untuk “mengatur” adik-adik kelas mereka yang baru. “Iya. gue tahu. Cewek bertubuh mungil itu berdiri tegak sambil celingak-celinguk memerhatikan gerbang sekolah. Dia udah tiba di sekolah sejak jam 05. cewek mungil berambut pendek yang udah hampir setahun ini memegang jabatan ketua OSIS. Apalagi Baby Fania. waktu hujan masih dengan riangnya menyiram tanah pertiwi dan gerbang sekolah belum dibuka oleh Pak Kosim. Tapi beberapa anak yang tergabung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah SMA Constantine 4 udah pada kumpul di sekolah sejak jam 06.” ujarnya bak perwira yang sedang memerintah anak buahnya.” respons Bia singkat. terkadang MOS disalahgunakan. Apalagi buat yang sudah . Nggak ada seorang pun yang pasang tampang lemas.BAB SATU RONALD berdiri di samping Bia sambil menyisir rambutnya yang berdiri kayak duri landak dengan jari-jarinya. pokoknya kalo anak-anak baru itu udah pada datang. “Bi. Udara pagi itu masih terasa agak lembap. lo mesti ngeluarin seluruh kemampuan lo buat bikin mereka takut. Tapi sebenarnya tetap saja balas dendam menjadi tujuan utama para senior ini. kakakkakak kelas dengan junior-juniornya. MOS ini sebenarnya diciptakan untuk mengakrabkan para guru dengan siswa baru.

duduk di kelas 3, MOS kali ini kan merupakan MOS terakhir buat mereka. Kapan lagi punya kesempatan bentak-bentak dan ngerjain orang tanpa perlu takut dibalas? “Eh, Ron, anak-anak udah pada siap di posisi masing-masing?” tanya Bia. Ronald menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Lo tenang aja, semua udah stand by di tempat masing-masing.” Bia manggut-manggut. Kepalanya masih sibuk bergerak dan matanya terus memantau gerbang sekolah tanpa berkedip. “Itu mangsa kita udah datang!” seru Bia senang. Bibirnya merekah memperlihatkan gigi kelinci yang nangkring di gusinya. “Mana... mana...?” Ronald maju beberapa langkah sambil melihat ke arah gerbang sekolah. “Iya... benar. Mereka udah datang.” “Siapa aja yang bertugas menjaga gerbang dan memeriksa kelengkapan atribut anak-anak baru itu?” tanya Bia. “Mmm... Sonny, Leon, Maya, Tania... sama satu lagi... si Victor.” Bia tersenyum puas. Lima orang yang baru saja disebut Ronald adalah anak buah kesayangannya. Soalnya selain bertampang sangar, mereka juga tegas, bermulut pedas, dan pantang disogok. Bia yakin lima orang itu akan melaksanakan tugas mereka dengan sangat baik. @(^-^)@ “Woi, jalannya lelet banget sih? Keturunan siput semua, ya?!” Tania meneriaki segerombolan anak yang berjalan kaki ke arah gerbang sekolah. Penampilan anak-anak itu terlihat sangat unik. Mereka memakai topi yang terbuat dari batok kelapa yang dibelah menjadi dua dengan warna yang berbedabeda. Di atas batok kelapa itu ditempeli bulu-bulu ayam yang disusun berjajar sehingga membentuk kipas. Selain itu mereka juga mengenakan kalung dari jengkol dan pada kalung itu digantung karton putih yang bertuliskan nama julukan mereka. Buat siswa perempuan, rambut mereka dikucir kecil-kecil dan diikat pita berwarna senada dengan topi mereka. Tas yang menggantung di punggung terbuat dari sarung bantal yang nggak tahu gimana caranya bisa disulap jadi ransel. Benar-benar pemandangan yang begitu menarik perhatian. Lucu banget! “Woi, anak siput! Kalau dalam hitungan ketiga kalian belum juga sampai di hadapan saya, saya suruh kalian lompat kodok dari situ!” ancam Leon. “Satu...!” Leon mulai menghitung. Gerombolan anak-anak itu bergegas berlari menuju kakak-kakak kelas mereka dengan wajah ketakutan. “Tiga...! Cepat lompat kodok semuanya!” bentak Leon.

Para siswa baru itu pada bengong. Perasaan tadi baru hitungan kesatu, kok sekarang udah tiga. Duanya dikemanain? Bukannya tetap berlari, mereka malah berhenti dan pasang tampang blo‟on. “Kalian ngerti lompat kodok nggak sih? Cepat lompat kodok dari situ!” Sonny ikut bentak-bentak. Suara dan tampang Sonny yang nyeremin bikin anak-anak baru itu langsung jongkok dan mulai melompat kayak kodok. Mereka meletakkan kedua tangan di belakang kepala dan mulai melompat dengan kedua kaki. “Semuanya lompat sambil ikutin nyanyian saya ya! Harus yang keras!” perintah Maya yang berdiri di depan barisan anak-anak yang mulai melompat. Maya memimpin barisan sambil bernyanyi, “Kodok ngorek kodok ngorek... ngorek di pinggir kali. Teot tet blung teot tet blung... teot teot tet blung.” Anak-anak yang melompat di belakangnya ikut bernyanyi mengikuti Maya. Warga yang tinggal di sekitar gedung sekolah serentak keluar dari rumah masingmasing karena mendengar keramaian yang terasa sangat aneh. Para pengguna jalan juga berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan itu. Sebagian besar dari mereka tersenyum dan berusaha mengulum tawa, tapi ada juga sekelompok ibu-ibu yang mengumpat karena merasa kegiatan ini konyol dan nggak ada gunanya. Namun apa mau dikata, ini kan tradisi turun-temurun. Lagi pula tradisi ini, walaupun kelihatannya agak kejam, nggak pernah sampai menimbulkan korban jiwa kok. Malah biasanya membawa keuntungan tersendiri. Misalnya, pernah ada orangtua murid yang datang ke sekolah untuk berterima kasih, karena anak mereka yang pemalu dan pendiam, setelah digojlok lewat program MOS selama tiga hari, anak itu malah bisa lebih terbuka dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. Dan efek positif yang lain, selesai MOS, anak-anak baru bisa langsung akrab dengan kakak kelas. Malah terkadang ada yang terlibat cinlok alias cinta lokasi. Makanya sampai sekarang, di saat tradisi MOS mulai dihapus di beberapa sekolah, SMA Constantine 4 tetap mempertahankannya. “Nyanyinya yang keras dong! Mana suaranya!” bentak Tania. “Yang udah sampai di hadapan kakak yang rambutnya jabrik itu langsung berdiri dan buat barisan.” Sonny, yang tahu bahwa dirinyalah yang dimaksud Tania, langsung mengambil posisi dan mengatur beberapa anak yang sudah sampai di hadapannya. “Kalian yang baru datang, langsung lompat kodok dan ikutan nyanyi!” seru Sonny kepada sekelompok anak yang baru saja tiba. “Hei! Kamu ngapain lompat kayak gitu?” tegur Victor dengan mata melotot ke arah seorang cowok yang sedang asyik melompat dengan kedua tangan terjulur ke depan, bukan di belakang kepala. “Saya, Kak?” tanya cowok itu dengan tampang heran.

“Iya, kamu!” Victor membaca karton nama yang menggantung di leher anak baru itu. “KATRO, ke sini kamu!” ujar Victor ketus. “Lho, salah saya apa, Kak?” tanya cowok itu. “Berdiri kamu, dan ikut saya!” perintah Victor. Cowok itu menurut dan mengikuti Victor keluar dari kelompoknya. “Kamu nggak tau cara lompat kodok, ya?” tanya Victor berusaha sabar begitu berhadapan dengan anak baru itu. “Tau, Kak. Bahkan saya pernah melakukan observasi khusus pada kodok-kodok yang sering numpang nginep di kolam ikan rumah saya.” “Saya nggak minta kamu melucu! Kamu mau sok jagoan, ya?” Victor mulai kehilangan kesabaran. “Saya kan cuma melakukan observasi aja, Kak. Kok dibilang sok jagoan sih? Emang sihs aya kurang kerjaan. Tapi saya sama sekali nggak ada maksud untuk sok jagoan kok. Nah, kebetulan tadi saya disuruh lompat kodok, ya saya terapkan aja hasil observasi saya itu. Soalnya, menurut hasil observasi saya, kodok tuh melompat dengan menggunakan keempat kakinya. Kedua kaki depannya bukan ditaruh di belakang kepala kayak teman-teman saya. Mereka salah, Kak. Yang benar ya kedua tangan kita juga harus digunakan untuk melompat supaya mirip kodok. Makanya saya melompat seperti itu. Kan disuruhnya lompat kodok,” cowok itu menjelaskan dengan tampang serius. Victor menarik napas panjang. Dia agak bingung. Sebenarnya nih cowok memang bermaksud melawan atau memang agak tulalit. Soalnya kalau dilihat dari tampang innocent-nya, cowok ini tampaknya sama sekali nggak ada niat untuk memberontak. Victor berpikir sejenak, dan ia merasa ada baiknya kalau nih anak aneh langsung diserahkan aja ke Bia daripada dia salah mengambil keputusan. “Kamu ikut saya!” perintah Victor. “Ke mana, Kak? Saya jangan diapa-apain, ya. Nanti mama saya marah kalau saya melakukan hal yang berlawanan dengan agama. Lagi pula kalo boleh jujur, saya masih suka sama cewek, Kak,” kata cowok itu dengan tampang memelas. Victor melotot memandang cowok aneh yang berdiri di hadapannya. “Lo pikir gue cowok apaan?” “Iih, Kakak... Gitu aja kok marah sih?” Victor benar-benar nggak tahan. Tangannya terkepal menahan marah. Dia langsung berbalik lagi dan berjalan menuju pos yang ditempati Bia dan Ronald selaku dewan pengadilan yang bertugas mengatur anak-anak aneh yang suka melanggar aturan MOS. Si cowok aneh itu berjalan di belakang Victor, tetap dengan wajah tanpa dosa. “Bi, ada pasien buat lo nih! Namanya Katro!” ujar Victor kesal ketika sudah sampai di pos Bia.

dan Victor. Senyumnya merekah dan memperlihatkan lesung pipi di pipi kirinya.” jelas Victor. Ia seperti hendak memastikan bahwa memang dia yang dipanggil Ronald barusan. Mm..” jawab cowok itu enteng. si Hua Ce Lei itu tuh. Mukanya yang rada oriental mengingatkan Bia pada bintang film kesayangan Mama. “Kamu tahu kenapa kamu dibawa menghadap kami?” tanya Ronald begitu cowok itu udah berdiri di hadapannya..” Ronald dan Bia berpandangan heran.” Bia menatap cowok yang berdiri nggak jauh dari hadapannya. asli banget.. “Saya sadar.. Badannya yang tinggi dan tegap bikin tu cowok jadi kelihatan keren. Victor berjalan menjauh dan kembali bergabung dengan timnya yang sedang berteriak-teriak ke arah anak-anak baru. Tampangnya innocent banget. nggak lama lagi nih cowok pasti bakal jadi salah satu idola sekolah. sampai lo bilang dia anak aneh?” tanya Bia heran. Cowok itu berjalan mendekati Ronald dan Bia. orang aneh. kamu. “Gue mau balik ke pos gue. Bia yakin banget. Tapi entah kenapa. “Tapi yang pasti gue serahin dia ke elo karena dia.. Memang kamu kira siapa lagi? Baca dong papan nama di dada kamu!” Ronald jadi agak sewot..” jawab cowok itu menggantung kalimatnya. “Lo tanya aja sendiri.” kata Victor.. Ia terus menatap Bia dengan sorot memuja.. Ronald. “Anak aneh. lalu memanggilnya. siapa ya? “Memangnya dia bikin salah apa... Dan sekarang bidadari itu sudah berdiri tepat di hadapan saya. cepat ke sini!” Cowok itu celingak-celinguk ke kanan dan kiri.” jawab Victor singkat.. “Sadar apaan?” tanya Bia tegas. bahwa kakak tadi ternyata hanya ingin mengantar saya untuk bertemu dengan bidadari yang selama ini saya cari. “Heh. soalnya gue sama sekali belum periksa. Bia merasa wajah cowok itu mirip dengan orang yang dikenalnya. “Apa atribut yang dipakainya nggak lengkap?” “Kalau soal atribut sih gue nggak tau ya. “Iya. “Mm. tampangnya oke kok.Cowok aneh itu berdiri agak jauh dari tempat Bia. Tor. “Cocok banget sama julukannya. awalnya sih saya kira kakak yang tadi itu naksir sama saya dan punya maksud jelek sama saya. Katro. “Apa kasusnya?” tanya Ronald. Anak aneh? Apa yang aneh dari cowok itu? Bahkan menurut Bia.. yang selama ini selalu hadir dalam setiap mimpi-mimpi saya.. lalu kembali menatap Ronald sambil menunjuk dirinya sendiri. apalagi senyumnya itu.. Ronald menatap “cowok aneh” yang masih berdiri di tempatnya tadi. Tapi tatapan tajamnya lurus ke arah Bia. .” “Apanya yang aneh sih?” Ronald penasaran.. tapi sekarang saya sadar.

Tapi saya nggak bisa marah.. saya nggak mempan sama rayuan gombal. Benar kata Victor. Kalau kamu mau jadi pelawak atau badut. Gitu Kak ceritanya. kan? Kalau mau. “Saya nggak pernah berminat jadi badut atau pelawak. Tapi itu nggak berlaku buat Bia.” jawab cowok itu sambil tetap tersenyum manis. ini bukan tempat pelatihan buat pelawak atau badut. kalau Kakak udah mencicipinya sedikit saja. apa?!” bentak Bia. Kakak boleh tanya sama pembantu saya di rumah.. Berhubung yang ada di rumah tinggal pete. Kak. Ronald mulai memeriksanya satu per satu. periksa perlengkapannya aja dulu.. “Harus percaya. atau saya suruh dia bikin semur jengkol lagi buat Kakak. kamu salah tempat.. Saya yakin. Gaya bicara si Katro ini memang asli lucu. “Bukannya yang disuruh itu kalung dari jengkol?” “Oh. Apa muka saya kayak muka penipu? Nggak. cowok di hadapannya ini aneh.. Kamu mesti bilang sama orangtua kamu untuk segera memindahkan kamu dari sekolah ini. Jadinya jengkolnya dimasak deh sama dia. nggak ada yang kurang. Tapi dia salah pengertian..” “Udah.” “kamu kira kamu itu lucu.” . “Wah. orang-orang yang menganggap kamu lucu itu adalah manusiamanusia katro kayak kamu!” maki Bia. Kakak juga nggak akan bisa marah sama pembantu saya itu. Dia kira saya lagi pengin makan semur jengkol. Mimik mukanya yang innocent bikin orang yang mendengar ceritanya mau nggak mau jadi percaya.” Ronald berdiri di samping Bia sambil berusaha mengulum tawa. karena saya memang jujur kok. Semua masih nggak jelas. tapi sayang banget. “Sama sekali nggak lucu. Bia juga nggak tahu apakah cowok itu bermaksud cari-cari masalah atau bukan. Cowok itu menurut. Sekolah ini nggak butuh manusia konyol kayak kamu!” jelas Bia dengan nada pedas. Kak. Dia mengeluarkan berbagai macam barang dari dalam tasnya. Bia menarik napas lalu mengembuskannya perlahan. “Kamu pikir saya percaya sama cerita kamu itu?” tanya Bia. kalau itu sih saya nggak tahu. begini. Kak. soalnya semur jengkol buata pembantu saya itu emang enak banget. Kamu harus tahu.. Bi. Kak. Kak. pacar Kakak. ya udah saya bikin aja dari pete. “Keluarin semua perlengkapan yang harus kamu bawa hari ini!” perintah Ronald. “Tunggu dulu! Kalung apa yang kamu pakai itu?” tanya Bia sambil menunjuk kalung yang menggantung di leher cowok itu. Saya cuma ingin jadi..” saran Ronald.“Terima kasih atas pujiannya. Saya udah suruh pembantu saya beli jengkol buat dibikin kalung. “Kalau begitu. Semuanya lengkap. ceritanya. tapi ada juga sih orang yang bilang kalau saya lucu dan manis.

. Dan setelah tubuhnya didorong oleh teman-temannya. tau!” Tawa anak-anak meledak. “Kalau Kakak yang suruh. Suaranya yang keras membuat semua mata memandang ke arahnya. “Kamu yang kecil kayak tuyul!” teriak Leon. “bikin lingkaran besar ya. Lalu perlahan dia mulai push-up di bawah hitungan Bia. bukan malah ngumpul dan ngobrol sendiri!” Teriakan demi teriakan bergema di seluruh aula.. pada tau lingkaran besar nggak sih!” bentak Victor. “Bikin lingkaran besar!” Anak-anak baru itu mulai bergerak dan membuat lingkaran sesuai perintah senior mereka. “Siapa yang suruh ketawa!” bentak Maya. Seandainya saja boleh. bikin lingkarannya harus sambil pakai nyanyian baru ngerti?!” “Yang di sana!” seru Ronald. . Kak?” tanya cowok itu.. Padahal mereka udah sebisa mungkin melaksanakan perintah kakak-kakak senior itu dengan baik. anakanak kelas satu itu pasti akan sangat berterima kasih bila diizinkan menyumpal telinga mereka dengan kapas. Nanti kalau kamu ilang digondol jin bisa bikin repot. semuanya!” perintah Sonny yang menempatkan diri di tengah aula.. ngetawain teman sendiri!” Aula mendadak sunyi senyap. “Juventus Egi dari kelas 1 D.“Saya nggak peduli dan jangan coba-coba mempermainkan saya.” Dia meletakkan tasnya di tanah dan mulai mengambil posisi push-up. “Jangan malah mendem di pojok. “Tapi ada satu surat yang rasanya aneh dan saya mau pengirim surat itu maju ke tengah lingkaran.. “Atau masih kayak anak TK. dia pun maju ke tengah lingkaran.” lanjut Tania. “Kamu yang namanya Juventus Egi?” tanya Tania begitu Egi sudah berdiri di hadapannya.” Cowok yang namanya disebut itu celingak-celinguk nggak jelas. “Oke. Kak. apa pun akan saya lakukan. “Woi. Nggak ada yang berani bersuara apalagi ketawa. “Iya. sekarang semuanya dengar baik-baik!” suara Tania memecah keheningan. Cowok itu tersenyum manis lalu berkata. “Keterlaluan sekali kalian. “Iya. Cepat!” bentak Bia.! Sekarang juga saya minta kamu push-up tiga puluh kali!” perintah Bia. “Tadi pagi kalian telah diminta untuk mengumpulkan surat cinta dan surat benci untuk kakak senior kalian kepada wali kelas masing-masing. Tapi tetap aja ada yang salah. “Push-up. @(^-^)@ “Oke.” jawab cowok itu sambil cengengesan dan garuk-garuk kepala.

Kakak mau minta tanda tangan saya?” Anak-anak kembali tertawa. Cuma Bia yang berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan tampangnya manyun luar biasa.” jawab Egi.. Yon. Piano itu memang selalu berada di situ. Mmm. Biasanya sih digunakan saat ada acaraacara sekolah yang membutuhkan iringan musik. dia emang rada aneh.. .” “Oke kalau begitu. Juventus Egi!” seru Maya.. Tapi kelihatannya dia nggak berniat melawan kok. atau memang kamu keturunan monyet?” Weits. “Kamu malu?” “Bukan.” jawab Tania. “Sabar. Kali ini giliran Maya yang maju dan mendekati Egi dengan sepucuk surat di tangannya. “Boleh aja kalau kamu memang bisa.. “Tapi. “Karena surat ini adalah lagu cinta. kasar! “Ih. Kakak kok ngomongnya gitu sih?” jawab Egi. boleh nggak kalau saya menyanyikannya sambil memainkan piano itu?” Egi meminta izin sambil menunjuk ke arah piano yang ada di depan aula.” celetuk Tania. Kesannya kayak lagi jumpa fans gitu deh.” “Dinyanyikan?” Maya jadi heran. “Kamu diperintahkan untuk menulis surat cinta dan surat benci. Leon maju mendekati Egi. Tapi kenapa yang kamu kumpulkan cuma satu surat doang?” “Ooo.” kata Maya. Dia nggak mau sampai terjadi keributan. Ronald buru-buru menarik Leon. “Lo mau ngelawan ya?!” Egi menggeleng sambil tersenyum. Kak.” “Kalau begitu ya nyanyikan aja.. Kak. “Dengar baik-baik..” Semua pengurus OSIS yang berkumpul di tengah lingkaran bertepuk tangan dan berteriak riuh. itu karena di dalamnya udah lengkap terdapat ungkapan cinta dan ungkapan benci untuk bidadari yang telah menawan hati saya.” sahut Egi. “Ketombean. “Diam semuanya!” bentak Sonny. “Mmm. Ruangan kembali hening. “Saya kan cuma sedikit salting karena harus berdiri di tengah-tengah orang banyak gini.” Leon menurut meski dengan setengah hati. Egi mengangguk.“Kenapa kamu garuk-garuk kepala?” tanya Tania ketus. surat ini nggak bisa saya bacakan. “Sekarang saya minta kamu bacakan surat yang udah kamu tulis ini dengan suara lantang. Cocok sama nama julukannya: Katro. Tadi dia habis kena hukuman push-up lagi dari Bia. “Tapi surat ini harus dinyanyikan. Jadi akan menjadi lebih indah dan bermakna apabila dinyanyikan. “Kenapa?” Maya bertanya.

Selebihnya Bia cuma menerima setumpuk surat benci. Dia nggak terlalu suka ngomel atau ngebentak-bentak. Ketika pagi datang Ku tak pernah mengira Kan bertemu denganmu Di depan sekolahku Jantungku pun berdetak Sungguh sangat cepatnya Dan ku tahu ku tlah jatuh cinta Ketika malam datang Sepi yang kurasakan Tanpamu di sisiku Galau selimuti kalbu Ingin ku membencimu . “Tes.. Ya surat dari Egi ini. Bia merengut kesal.. tapi nggak ada yang semenakutkan Bia. Soalnya. Baby Fania alias Kak Bia. Nggak ada satu pun junior yang nggak disiplin bisa lolos dari cengkeraman Bia. Dia beranjak hendak meninggalkan aula..” Tepuk tangan memenuhi aula. lagu sederhana ini saya persembahkan kepada seorang gadis yang telah membuat saya jatuh cinta.” Egi mencoba mikrofonnya. Dia juga yang paling tega ngasih hukuman lari sepuluh kali keliling lapangan..Egi tersenyum lalu berjalan mendekati piano itu. Bia menjadi senior yang paling ditakuti. tapi temantemannya langsung mencegat langkahnya. tapi kalau udah bersuara nyeremin banget. di antara surat-surat yang diterima wali kelas satu. nggak ada tuh yang namanya kompromi. Kalau ngomong pedesnya minta ampun. Selama MOS berlangsung.. tes. Bia buang muka. cuma ada satu surat cinta yang ditujukan untuk Bia. Senior lain sih ada juga yang galak. Beberapa anggota OSIS berjalan mendekat dan memasang mikrofon di dekat piano. Egi memainkan jemarinya di atas piano sambil tersenyum menatap Bia. Tapi Egi tetap menatapnya. bahkan ada yang melompat-lompat nggak jelas. melantunkan lagu cinta dari bibirnya. Jelas banget niat teman-temannya pengin ngerjain dia. lalu menempatkan jemarinya di atas deretan tuts berwarna hitam dan putih itu. Ada yang berteriak.. Dia duduk dan membuka tutup piano. Nada-nada yang mengalun dari piano membuat semua orang terdiam. Bia pun mengurungkan niatnya. tajam banget. Dan sorot matanya itu lho. Bagi Bia. satu dua tiga.. Mereka juga memberikan mikrofon kecil yang kemudian dipasang di kerah baju Egi agar suara Egi dapat terdengar ke seluruh sudut aula. ada yang bersiul. Dia cuma bisa berdiri diam dengan tampang jutek. “Oke.

” “Kalau begitu saya sarankan. jangan pernah kamu menyanyikan lagu itu di sekolah ini.” kata Bia dengan nada mengancam. “Kenapa kamu senyum-senyum?” tanya Bia sinis. Kak?” tanya Egi.. lagu itu saya ciptakan khusus untuk Kakak. siulan. “Karena Kakak cantik. Sambil tersenyum lebar dia membungkukkan badannya berulang kali layaknya selebriti yang habis ngadain konser. “Diam semuanya!” bentakan Bia yang tiba-tiba membuat seisi aula mendadak hening. Bi?” Bia nggak menjawab.. Karena kalau kamu berani menyanyikan lagu itu di sekolah ini lagi. Anak-anak terdiam karena kaget. saya tidak akan memberikan kamu uang recehan. “Iya.! Siulan terdengar dari arah anak-anak kelas satu yang sedang berdiri... Tapi sayangnya. “Kenapa sih. “Padahal Indra Lesmana pernah memuji suara saya loh waktu saya ikut audisi Indonesian Idol 1. Egi mengangguk. Tania mendekati Bia lalu berbisik heran. Gelak tawa. “Lebih baik kamu nyanyi di bus kota aja. Dia malah berjalan mendekati Egi yang masih berdiri di sisi piano sambil tersenyum. “Siapa yang bersiul?” tanya Bia dengan suara keras dan tegas. Nggak ada yang berani ngaku. Suit. Hening. Katanya suara saya khas dan unik. Ia melambaikan tangannya dan meniupkan ciuman ke sekelilingnya. Bia kembali menatap Egi yang masih berdiri dan tersenyum di depannya. waktu itu saya mundur gara- . tapi air comberan!” “Kok gitu sih.Karna kaucuri hatiku Dan buatku tergila-gila Tuk mencintaimu Reff : Percayalah sayangku Kan kubawa kau ke surga Ku berjanji padamu Takkan meninggalkanmu Meskipun dunia tak inginkan dirimu Ku akan slalu di sisimu Tepuk tangan membahana di seluruh sudut aula. sorakan. Matanya melotot ke arah asal suara. dan tepuk tangan terus mengalir. Egi berdiri dan berjalan ke sisi kanan piano. “Apa lagu itu kamu ciptakan buat saya?” kali ini suara Bia terdengar lebih halus.” Egi langsung menjawab tanpa ragu. Teknik falseto saya juga top. Sorakan riuh rendah menutup pertunjukan singkat Egi. suit. itung-itung bisa dapat uang saku ekstra.

itu sama aja mereka ngetawain Bia.. Para senior alias anggota OSIS berusaha sebisa mungkin mengulum tawa. saya ini orangnya suka nggak enakan.. Bia benar-benar keki. Kalau mereka ikut tertawa. Bia yakin tinjunya sudah bersarang di wajah cowok jayus ini. “Dan kamu. cowok satu ini akan benar-benar mengusik kehidupan Bia. Kalau saat ini bukan acara MOS. .” Tawa kembali meledak.gara takut Delon merasa tersaingi deh saya. Bagaimanapun Bia kan ketua mereka. “Semua diam!” bentak Bia kesal. Maklumlah. kembali ke kelompok kamu!” Kayaknya.

di antara mereka berempat cuma Tammy yang beda kelas. Dan yang namanya geng.. Yuki. Bagi mereka. Masa nggak ada yang seru sih!” Cha-Cha protes mendengar jawaban Bia yang begitu singkat. Tanya aja sama Yuki.” jawab Yuki. Bi?” “Biasa aja. “Mmm. persahabatan nggak pernah memedulikan elo di kelas mana dan gue di kelas mana. Jam istirahat memang waktu yang paling menyenangkan buat mereka. Tapi sayang. Dan saat ini. MOS sudah selesai dan sekolah mulai berjalan seperti biasa.apa nih?” tanya Cha-Cha. Yu!” “Lo mau gue ceritain tentang apa?” tanya Yuki. itulah yang menjadi markas geng Bia. Cerita dong. Meja yang ada di pojokan kantin. Cha-Cha melahap sepotong kecil pangsit sambil bertanya. Ia mengambil botol sambal yang ada di meja dan menuangkan isinya ke dalam mangkuk minya. dan secara de facto menjadi daerah teritorial milik mereka. Bia dan ketiga temannya udah sobatan sejak pertama kali mereka menginjak sekolah ini. pasti punya markas.” kata Bia. “Gimana MOS kemarin. “Ah. cewek blasteran Jepang yang jadi inceran sebagian besar cowok di SMA Constantine 4 ini. “Cerita dong. Nggak ada lagi yang namanya bentak-bentak dari kakak kelas.. lalu berkata. sekali sahabat ya tetap sahabat. si Bia dapat senior ter.BAB DUA TIGA hari sudah berlalu.” jawab Bia singkat. “Sama kayak tahun kemarin.” Cha-Cha menoleh ke arah Yuki yang duduk di sebelahnya. elo nggak asyik nih. . senior tergalak dan terjudes. bisa nongkrong di kantin sambil menikmati jajanan. “Bagi gue. Tapi yang jelas. semuanya emang biasa aja. Seperti biasa. Bia duduk di kantin sambil menikmati semangkuk mi pangsit bersama teman-teman segengnya: Cha-Cha. Cha. “Dia kan juga pengurus OSIS. dan anak-anak kelas satu pun kini bisa bernapas lega. Yuki udah ada yang punya. dan Tammy.

Satu-satunya cowok yang bikin surat cinta buat elo waktu MOS. Tepat dugaan dia. “Cha.” kata Tammy. Tam.” ujar Tammy.” kata Bia senang karena dapat pembelaan. Namanya Juventus Egi. bau tanah juga nggak apa-apa. anak barunya subur atau gersang nih?” tanya Tammy. bodo deh sama senior ter. “Iya. Soalnya cuma ketegasan Bia yang bisa nyelesaiin semua masalah dan bikin anak-anak baru itu nggak berani ngelawan.” Bia membela diri.” sambung Bia.” kata Bia curiga.. Asal tampangnya oke. Kalau pemandangannya nggak ada yang baru. tapi takut dan benci setengah mampus. emang dia kok.” sahut Bia dengan tampang jijik. tapi judesnya itu malah bikin MOS kita sukses. Cha. gue serius nih. Masa SMA kita kan tinggal setahun ini. “Menurut gue sih ada. “Bener tuh. kaleee. sekali-sekali kayak Yuki dong. anak kelas satu gitu loh.. “Yuki. “Tanaman. Cowok aneh itu emang punya tampang oke. “Lo nggak salah? Mereka tuh bukan hormat sama elo.” jawab Yuki. “Juventus Egi? Bikin surat cinta buat Bia?” tanya Tammy heran.” “Dengar tuh.. nggak? Kalo ada.” Yuki tersenyum malu. Tam?” tanya Cha-Cha... Bi.. jangan bilang kalau yang lo maksud itu si cowok katro itu ya. Bia menghela napas.. senior terfavorit. Dan kalau lo beneran serius pengen kenalan. dan nggak ada masalah kok. “Yee. Ada yang cakep.itu. Semua tertawa mendengar kata-kata Tammy itu.” sahut Bia. “Kalau tampangnya oke. “Masa sih? Siapa namanya? Siapa? Kelas berapa?” tanya Tammy antusias. “Tuh kan.. anak kelas 1 D.” Tammy ikut sumbang suara sambil tertawa. bisa butek nih otak gue.“Hahaha! Tepat seperti dugaan gue. “Pasti Yuki jadi senior tercantik dan terbaik lagi.. Soalnya udah banyak yang ngincer. dokunya kenceng.. Bia emang judes banget. Masih bau kencur. “Kenapa harus lembut? Gue terpilih sebagai senior tergalak dan terjudes itu kan berarti gue sukses bikin anak-anak baru itu hormat sama gue. lo tuh emang nggak bisa lembut dikit ya. . mau gue samperin tuh anak.” “Kurang satu..” jawab Yuki.” kata Tammy. lo harus buru-buru.” tawa Cha-Cha. Nggak heran dia langsung jadi idola baru di sekolah ini. “Menurut gue.” ujar Cha-Cha. “Serius dong. why not?!” “Ih. Bi. it’s okay kok. “Lo suka daun muda. Yang perlu gue tau. “Ah. kali.

Semua terdiam karena kaget..” kata Egi sambil tersenyum manis ke arah Bia.. “Oke deh. “Pergi nggak lo!” usir Bia kasar. ada yang nyimpan cerita sendirian nih. “Boleh kenalan nggak. “Wah.. Dia ikut-ikutan mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Egi. Pergi sana!” “Ih. Lo cemburu ya. “Lo ngapain di sini?!” bentak Bia.” kata Egi sambil mengulurkan tangannya ke arah Tammy. Terutama Cha-Cha dan Tammy. Tepat saat Bia mengangkat gelasnya. Saya Eig.” “Kalo gue Frederica.” Cha-Cha nggak mau kalah. “Gue sama sekali nggak nyesel masuk sekolah ini. Keduanya melongo melihat cowok keren yang berdiri di dekat mereka itu.” “Pergi nggak lo!” bentak Bia sambil mengangkat gelas minumannya yang sudah kosong.. bel tanda istirahat telah selesai.. my angel. gue masuk kelas dulu ya. “Dan jangan panggil kami „kakak‟. “Tenang aja. Kesannya tua banget. “Cerita apaan sih?” Tiba-tiba sesosok makhluk berjenis kelamin laki-laki muncul di sebelah Bia. “Lho. Kak?” “Boleh. Egi menyambutnya sambil tersenyum manis.” kata Egi. Saved by the bell. Saya kan mau kenalan sama kakak-kakak yang cantik ini.” Tammy membalas uluran tangan Egi. Bi. “Nggak mau ah. cuma Bia kok yang ada di hati Egi. . Tammy dan Cha-Cha membalas lambaian itu sambil tersenyum lebar. kok pada diam sih.. berita heboh gitu kok nggak diceritain sih.” ujar cowok itu sambil beranjak ke samping Tammy dan Cha-Cha. tapi lo panggil aja gue Tammy. “Kalau yang cantik ini gue udah kenal. lo kejam banget. “Gila! Itu yang namanya Egi? Cakep banget!” seru Tammy. kan?” goda Egi. nama gue Tamara.” Egi beranjak meninggalkan kantin sambil melambaikan tangan. “Lo nggak usah ngegombal deh sama teman-teman gue.“Wah. Yuki-chan. Cepet lo pergi dari sini sebelum gue lempar nih gelas!” bentak Bia keki. Kak. berbunyi dengan nyaringnya. Kakak kok galak gitu sih.” rajuk cowok itu. gue deket sama cewek lain. tapi lo boleh panggil gue Cha-Cha. Ternyata di sini banyak bidadarinya. Ayo dong cerita!” seru Cha-Cha penasaran. “See you. Curang lo berdua. “Nggak ada yang ngajak lo ikutan gabung. Bia melotot kesal melihat ulah kedua temannya itu. Yuki tersenyum manis mendengar namanya disebut Egi dengan gaya panggilan Jepang.” kata Egi. kakak-kakak yang cantik?” tanya cowok itu tersenyum manis. “Halo..

Lebih alami! Bia mengeluarkan kunci dari dalam tas ranselnya dan membuka pintu pagar rumah.. Bahkan nggak jarang Mama malah marah besar sewaktu Bia memaksa Mama bicara. Tapi lumayan juga sih buat membakar kalori. Berulang kali Bia menuntut Mama untuk menceritakan siapa ayah kandungnya. Bia menemukan secarik memo tertempel di pintu kulkas. Matahari sedang seru-serunya memancarkan sinar. gerutu Bia dalam hati. Sejak lahir Bia nggak pernah tahu siapa ayah kandungnya. Maaf ya. Mama. Bia nggak tahu apa alasannya. nanti malam beli makanan aja. kayaknya si Egi serius naksir sama elo deh. mungkin itu sebutannya..“Iya. “Bi. Bia lahir di luar nikah. Nanti Mama pulang malam. Hampir setiap hari Mama lembur. Belakangan ini Mama kelihatannya benar-benar sibuk. Hah.” kata Yuki dengan senyum manisnya.. Bi. tapi Mama selalu bungkam. lega rasanya. Ia melempar tas ranselnya dan bergegas ke dapur mengambil segelas air dingin dari kulkas. mereka segera mengalihkan pembicaraan. Anak haram. Mukanya itu lho.. cute abis!” tambah Cha-Cha nggak kalah heboh dari Tammy. tapi Bia yakin .. Ia buru-buru masuk ke rumahnya sebelum kulitnya gosong terkena sengatan sinar matahari. Love. @(^-^)@ Udara siang ini luar biasa panasnya. Bukan hanya Mama yang bungkam. tempe goreng. dan ayam goreng di meja makan. Kamu nggak usah nunggu ama. Nggak perlu menghabiskan uang buat mandi sauna. Kalau Bia mencoba bertanya pada mereka. “APA?! AMIT-AMIT DEH!” ujar Bia jijik sambil mengetuk-mengetukkan jarinya di meja berulang kali. Memo dari Mama. Kalau kamu mau. Bia meneguk air minumnya dengan cepat untuk meredakan dahaga. Mama Bia bekerja di bagian pembukuan di sebuah pabrik tekstil. Hati-hati di rumah ya. tapi semua keluarga Mama juga bungkam.. ada nasi.. Naik angkot dari sekolah sampai ke rumah benar-benar telah menguras keringat Bia. Bia nggak tahu laki-laki mana yang layak disebutnya papa. Mama cuma sempat masak itu tadi pagi. lalu tidur duluan. Ya ampun.. Sedangkan ayahnya. Saat menutup pintu kulkas. “Cakep? kayak gitu lo bilang cakep? Lo berdua buta kali ya!” ujar Bia heran. Lagi-lagi pulang malam.

Makanya. Direbahkannya tubuhnya di atas tempat tidur. Makhluk yang bernama cowok itu sering merasa dirinya adalah makhluk berakal budi yang pertama kali diciptakan Tuhan. Sejak perceraian itu. Di mata Bia. Bia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Penyebabnya karena Mama memergoki Papa Ivan selingkuh. Dan Bia membenci laki-laki yang sudah membuat dirinya dipanggil anak haram itu. semua laki-laki brengsek. Mama memang pernah menikah secara resmi. . Sekarang Bia cuma tinggal berdua lagi dengan Mama. dia senang Mama menikah dengan Papa Ivan. laki-laki yang meninggalkan anak dan istrinya tanpa alasan pasti bukan laki-laki yang pantas untuk dipanggilnya papa. Mama bekerja banting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan Bia. Prinsipnya: I don’t need a man. Waktu itu Bia baru kelas 6 SD. Bia nggak bisa memungkiri. Bia memanggil laki-laki itu Papa Ivan. Bia nggak suka kalau ada cowok yang coba-coba mendekati dirinya. membuat Mama bahagia. Dia nggak lagi berusaha mencari tahu tentang ayah kandungnya. Mama adalah segalanya. Bia yakin dirinya mampu berdiri sendiri tanpa kehadiran cowok dalam hidupnya. Setelah meletakkan tasnya di meja belajar. Mama nggak pernah mau menerima belas kasihan dari siapa pun. Bagi Bia. Ditatapnya langit-langit kamarnya. Semua peristiwa yang dialaminya selama ini telah mengubah hidup Bia. Mama menikah dengan laki-laki yang usianya lebih muda dua tahun. Lambat laun Bia menyerah. cowok itu nggak pantas mendapatkan cinta dari perempuan karena mereka sama sekali nggak pernah bisa menghargai arti seorang perempuan dalam kehidupan mereka. Pahitnya masa lalu kembali bergulir dalam memorinya. Mama kembali berperan sebagai single parent buat Bia. Bagi Bia. Bia nggak akan membiarkan seorang cowok pun menyakiti dirinya. Sama seperti sebelum Mama menikah dengan Papa Ivan. Cita-cita Bia cuma satu. Dan Mama kembali terluka. Mama memilih bekerja dan hidup mandiri bersama Bia di rumah kontrakan yang sederhana ini. pernikahan itu nggak bertahan lama.Mama sudah meminta semua orang untuk merahasiakan identitas ayah kandungnya. Bia nggak mau disakiti cowok seperti Mama yang sudah disakiti Papa Ivan. dan perempuan cuma sekadar pendamping yang mencuri tulang rusuk mereka. Tapi satu keyakinan yang tertanam dalam benaknya. Papa Ivan orang yang humoris. Dia berjalan menuju kamarnya sambil menyeret tasnya yang tergeletak di lantai. Mama selalu menolak setiap bantuan yang hendak diberikan oleh keluarga Mama. Pengkhianatan Papa Ivan dan tak adanya figur seorang ayah memubat Bia menjadi pribadi yang keras. juga ayah kandungnya yang sudah meninggalkan dirinya dan Mama begitu saja. cewek itu berjalan gontai menuju tempat tidur. Tapi sayang.

langsung ditolaknya tanpa memedulikan perasaan tuh cowok. di mata gue. “Gue cuma mau nanya. Ya udah. Nggak tau kenapa. Apa perlu ditambah ya MOS-nya? Biar digojlok habishabisan sampai kapok. Gue kan cuma berkata jujur. “Siapa lo? Gue nggak suka gaya bicara lo!” “Duilee. Tadi pas pulang sekolah gue nyari elo.” ujar Egi. Ini siapa ya?” Bukannya menjawab. “Halo.. marah lagi. “Ya ampun. Oke?” jawab Bia sambil tertawa. ditembak cowok ganteng?” “Ngaca dulu sana.. Bia jadi nggak enak hati udah ngomong sekasar itu pada Egi. Nggak usah histeris gitu dong. Gue malah ketemu Tammy di kantin. baru sehari selesai MOS udah berani kurang ajar sama kakak kelas. marah lagi. “Begitu ya. Kayaknya dia kecewa. “Iya. lo lagi jomblo ya?” “Apa?!” pekik Bia kaget.. Masa lo nggak kenal sama suara keren gue ini. Gila juga nih cowok. ng. kayak orangnya. Jadi lo nggak mau sama gue cma karena gue adik kelas lo?” suara Egi terdengar lirih. cowok di seberang malah berkata.!” Dering telepon dari ruang tamu mengembalikan Bia ke alam nyata..@(^-^)@ “Kriinngg. gue tolak. Tapi nggak . Suara lo imut.” Bia melotot mendengar kata-kata si penelepon gelap itu. Padahal biasanya kalau ada cowok yang nembak. Kaget ya.. Apalagi elo! Sadar ya. “Wow! Suara lo di telepon merdu banget. sekalian aja gue tanya nomor telepon lo. Mas! Tao Ming Tse aja nembak gue..” sapa Bia. Katanya lo udah pulang duluan naik angkot.. “Halo. Bi. Gue Egi.. ini Bia...” Dasar Tammy rese! Ngapain juga dia ngasih tau nomor telepon gue ke anak kutu ini! rutuk Bia dalam hati. Bia bangkit dari tempat tidur dan buru-buru berlari kecil menuju ruang tamu untuk mengangkat telepon. Jangan galakgalak gitu dong. Gue boleh nggak jadi pacar lo?” “Jangan kurang ajar ya!” suara Bia makin melengking. lo tuh masih bau kencur! Gue ini kakak kelas lo. tapi nggak ketemu.” “Egi! Berani-beraninya lo nelepon gue! Dapat dari mana lo nomor telepon gue!” bentak Bia kaget. “Sabar dong. Dia paling nggak suka cowok yang berani ngegombal padanya. Padahal gue bermaksud nganterin lo pulang tadi. “Gue serius nih. Suara cowok. Gue nggak punya maksud jelek kok sama elo.. Tammy. Bia. elo ada perlu apa sama gue sekarang?” tanya Bia ketus.... ya?” balas si penelepon dari seberang. “So... Lo nggak usah main-main sama gue. “Gue tau nomor telepon lo dari temen lo. Bia.

jadi belum tahan banting. tapi karena gue emang nggak minat pacaran. “Kenapa?” “Lo nggak perlu tau alasannya.” sahut Egi. kesel bangt deh gue! Semua cowok emang sama aja! GOMBAL! Bia ngedumel nggak keruan gara-gara keki mendengar kata-kata Egi di telepon barusan. Mmm. Dilembutin dikit malah makin ngegombal. Lagian lo tuh belum kenal siapa gue. Gue akan membuat lo jatuh cinta sama gue. “Elo tuh Baby Fania. Yang klepek-klepek kalau dengar rayuan murahan kayak gitu. kok sekarang Bia jadi kasihan sama Egi? Mungkin karena Bia merasa Egi masih muda.. Dia kira gue cewek gampangan. cewek yang emang udah ditakdirkan Tuhan buat gue.” “Omong kosong!” Brak! Bia membanting gagang telepon dan memutus pembicaraan begitu saja. Gue akan membuat elo mau membuka hati buat gue.. Iih.. Dia membanting tubuhnya di sofa ruang tamu lalu merengut kesal.” “Gue kenal kok siapa elo. Gi.. kali ya. bukan cuma karena itu.. .” suara Bia mulai melembut. Gue paling jijay sama cowok kayak gitu. Gue yakin lo nggak serius sama gue. Nih cowok emang nggak bisa dikasih hati. Gue serius sama elo dan gue akan membuktikan hal itu sama elo. apa.. ada hubungannya nggak sih? “Mmm. Dasar cowok rese! Nggak tau malu! Nggak tau diri.tau kenapa.

Di sebelah piringnya juga sudah tersedia segelas susu cokelat..” “Iya. Tumben ada cowok cakep yang datang ke rumah pagi-pagi.. Bia sudah duduk di meja makan bersama Mama sambil melahap roti bakar buatan Mama. “Pagi. Siapa ya yang bertamu pagi-pagi begini? Nggak biasanya lho. Ma?” “Iya. “Pagi. Tante. “Biar Mama yang buka pintu. “Kita makan malam sama-sama. Mama tau.” Teet.” kata Egi sambil menebar pesona senyum mautnya. Bia kembali duduk dan menghabiskan roti bakarnya yang tinggal dua suapan lagi. siap memulai hari baru.. Saya Egi. Ma!” “Iya. . nanti pulang sekolah kamu goreng aja sedikit untuk makan malam. “Nanti sore Mama usahakan pulang cepat. kita bisa langsung makan. ya?” tanya Mama ramah tapi agak heran.” kata Mama. Mama lagi malas sarapan.. Jadi kamu masak cepat. Temannya Bia.BAB TIGA PAGI ini cerah banget. aku ngerti. Mama berjalan menuju pintu depan untuk membukakan pintu. “Mama nggak ikutan makan roti?” tanya Bia heran melihat mamanya yang hanya menghirup segelas susu hangat. ya. Kamu habiskan aja makanan kamu lalu berangkat. Tante. teet. Mama ini nggak tau kesehatan ya! Sarapan itu penting kan..” Mama mencegah Bia yang sudah mau bangkit dari duduknya.! Suara bel rumah berbunyi.. Kamu makan aja.” “Ih. Di kulkas ada ayam goreng sama nugget. “Iya. Matahari mempersembahkan sinarnya yang paling hangat buat bumi. Semilir angin pagi ikut bertiup sepoi-sepoi membuat semua orang bangun pagi dengan semangat dan ceria. Biar pas Mama pulang.” sapa seorang cowok imut berseragam SMA begitu mama Bia membukakan pintu. Nanti kamu telat lho. “Nggak.. Mama kan tetap minum susu sebagai ganti sarapan.” Bia cuma mengangguk sambil melirik jam tangannya.” “Benar.

Bi? Gue udah bela-belain bangun pagi-pagi demi ngejemput lo ke sekolah. Sori ya.. “Ngapain lo ke sini?!” bentak Bia begitu berhasil mengendalikan diri. Bia jadi tambah keki. Dan. “Bia. “Apaan sih.” “NGGAK MAU!” tegas Bia. Baju lo kotor. kamu kenapa?” Mama yang melihat reaksi Bia ikutan kaget..” “Itu bukan urusan gue. Bi. Mama cuma bisa menghela napas... Tante. ngapain lo ke sini?!” tanya Bia tanpa mengecilkan volume suaranya. Ini masih pagi.” ajak mama Bia ramah. Jangan marah-marah gitu dong. Tante. lalu mengekor di belakang Mama.. Sekarang lo pergi!” usir Bia.!” Susu yang baru saja masuk ke mulutnya kontan dimuntahkannya kembali gara-gara kaget. “Gue tanya sekali lagi. “Brruahh. jangan kasar begitu dong. Bi.” kata Egi tanpa menjawab pertanyaan Bia.. Ia maju mendekati Egi tanpa memedulikan Mama yang sedang berusaha membersihkan seragamnya. “Bia.. “Bia!” tegur Mama yang langsung menarik lengan Bia agar ikut dengannya ke belakang. Non. Kalau begitu..“Kok Tante nggak pernah liat ya?” “Soalnya saya teman barunya Bia. “Pagi.. Kita berangkat sekolah bareng yuk. masuk dulu yuk. Gue ke sini mau jemput elo. masa lo malah nggak mau berangkat bareng gue sih. Kamu kan bisa menggunakan cara yang lebih halus.” “Oooh.” sahut Egi. “NGAPAIN LO KE SINI? JAWAB!” “Ya ampun. Bia nggak peduli dengan noda di bajunya. udah bikin lo kaget. Bia menoleh ke asal suara. Mama nggak suka kamu bersikap sekasar itu. Dia sudah mengerti sifat putri semata wayangnya ini yang anti sama cowok. Makanya tadi Mama agak heran dengan kedatangan Egi. Ma?” protes Bia setelah ia dan mamanya sudah berada di dapur. ada teman kamu nih.” kata Mama lalu mengambil lap di meja makan dan membantu Bia membersihkan noda susu yang muncrat ke seragamnya. “Kok gitu sih.” “Kenapa sih Mama ngebelain dia?” .. ya? Nanti gue cuciin deh... Ingat.” nasihat Mama.. “Makasih.” “Tapi bukan begitu caranya. Bi. kamu itu perempuan. galak banget sih lo.. Bi.” kata Mama. aku berhak mengusir dia dari rumah ini karena aku nggak suka sama dia. “Bia. “Memang kenapa kalau aku perempuan? Ini rumah kita. “Kenapa sih kamu kasar gitu sama dia? Dia kan bermaksud baik sama kamu. Bia masih sarapan.

Tante. kan?” tanya Mama ramah. “Maaf ya. Bia memang agak ceplas-ceplos kalau ngomong. “Oke deh.. “Kenapa memangnya. “Oke. kalian berangkat aja sekarang sama-sama. Bi.” ujar Mama. Bibirnya maju lima senti karena kesal. . “Ya sudah. awas lo!” ujar Bia mengancam. Tante. Nanti keburu telat lho. Aku paling nggak suka mengandalkan laki-laki. “Iya. Mendengar kelembutan suara Mama dan kehangatan tangan mama yang meresap ke setiap helai rambutnya.” kata Egi. Tapi itu bukan berarti setiap hari kamu harus berangkat sama dia.” Egi tersenyum puas.” kata Mama lembut sambil membelai rambut putri semata wayangnya itu.“Mama nggak ngebelain dia.” Bia manyun mendengar ucapan Mama. hari ini gue ikut elo ke sekolah. “Ayolah.. Bia melotot ke arah mamanya. ya.” “Hush!” Mama langsung balik melotot ke arah Bia sebelum putrinya itu menyelesaikan kalimatnya. Ma. Bi. Bi? Kalian kan satu sekolah..” jawab Egi. kalau kamu berangkat bareng Egi hari ini. Bia jadi nggak kuasa untuk membantah. Lebih baik kamu berangkat bareng Egi daripada desak-desakan naik angkot. Saya memang salah. aku berangkat dulu ya. “Nak Egi ke sini mau jemput Bia. “Bagus kalau lo sadar!” sahut Bia keki. Nak Egi. “Bia!” hardik Mama yang langsung membuat mulut Bia kembali tertutup..” ujar Mama lembut. Saya ngerti kok. datang pagi-pagi tanpa ngasih tau Bia lebih dulu. Dia nggak bisa membantah karena sama sekali nggak tau harus ngomong apa. “Mama!” pekik Bia kaget mendengar ucapan mamanya. Persis kayak mulut bebek. apa itu berarti kamu mengandalkan laki-laki? Hari ini Egi terlanjur datang ke sini.” “Bi.” “Mama apa-apaan sih? Lebih baik aku desak-desakan naik angkot daripada harus berangkat bareng dia. Mau nggak mau Bia pun diam. Nak Egi jangan marah. Mama cuma nggak suka sama cara kamu yang kasar itu. “Ya udah.” ujar Mama sambil menggandeng tangan Bia kembali ke hadapan Egi yang menunggu di ruang tamu. Bicara baik-baik sama teman kamu itu.. “Mama! Mama ngapain sih baik-baikin. “Nggak apa-apa. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Cuma buat pagi ini aja.. Tapi kalau besok-besok lo berani datang ke rumah gue tanpa seizin gue... Kasihan dia kalau kedatangannya sia-sia.” pamit Bia sambil mencium kedua pipi mamanya. Tapi dia nggak bermaksud jahat kok sama kamu.

Terima kasih banyak atas bantuannya.. Tante.” “Tapi gue nggak mau! Elo tuh mother complex. Egi ingin menikmati setiap meter yang dilaluinya bersama Bia dengan penuh perasaan. Bia melempar pandang ke luar jendela. Gue ikut lo karena terpaksa.!” Bia nggak tahan lagi. “Elo itu aneh.” “Dasar cowok aneh! Mana ada cewek yang mau sama cowok aneh kayak elo.. “Gue ingetin ya.” Egi pamit sambil tersenyum. Mobil yang dikendarainya melaju pelan. ya!” kata Mama lembut. Dan Bia yang melihat senyum kedua orang itu cuma bisa mendengus kesal. Bahkan ruangan dalam mobil sengaja dia semprot pakai Bayfresh biar wangi. kita slalu bergandengan tangan. Gue cuma lagi senang aja. biar waktu berduaan bersama Bia jadi lebih lama.” “Kenapa sih elo ngedeketin gue?” tanya Bia.. “Nggak kenapa-napa kok. Tampaknya Egi udah berhasil merebut hati Mama dan perlahan-lahan menyusup ke dalam kehidupan Bia. ya?” “Maybe. @(^-^)@ Egi mendengarai sedan hitamnya dengan senyum terkembang. “Lo ngapain senyum-senyum sendiri? Bikin gue merinding.. @(^-^)@ . ya?” “Mungkin.” “HAH? MIMPI KALI YEE. Lega rasanya. tau!” “Nggak apa-apa kok. Elo nggak usah kege-eran dulu. Perjuangannya mengorek Tammy agar memberikan alamat rumah Bia juga nggak sia-sia. Dia puas banget karena berhasil memenangkan pertarungan pagi ini dan mengantar pujaan hatinya ke sekolah. Sengaja. “Saya berangkat dulu ya.. Mama cuma balas tersenyum. tau!” tegur Bia heran saat melihat cowok di sampingnya nggak berhenti memamerkan deretan gigi putihnya. Apa lo nggak malu ngedeketin cewek yang umurnya lebih tua dari elo? Apa nggak ada cewek seangkatan elo yang cakep dan bisa lo godain?” “Gue cuma mau elo.. Ini udah cukup bikin gue happy.” “Ada kok. “Udah jelas gue ini kakak kelas lo. ini pertama dan terakhir gue berangkat bareng elo ke sekolah.. lalu menoleh menatap Egi..“Hati-hati di jalan. ya elo.” Hening sejenak di antara mereka...” jawab Egi. Kayak lagu zaman dulu itu lho: Sepanjang jalan kenangan...

Contohnya Sammy pacar Yuki. Kalau mereka lagi jalan berdua. Cowoknya ganteng. “Elo kan yang ngasih tau nomor telepon dan alamat gue ke Egi? Hayo ngaku!” “Hehehe. kok bisa?” Cha-Cha nggak percaya.. Kalian kan tau. “Gue terpaksa. Banyak juga cowok yang bisa setia sama pasangannya. Lo harus mulai membuka hati. “Mungkin Sammy memang beda. semua cowok itu sama aja. Sammy setia banget kan.. ujung-ujungnya selalu aja gue nurut sama Nyokap. Bi?” Kelas mulai ramai. Satu banding seribu. Sammy itu pacar Yuki.” nasihat Yuki lembut. Tapi mencari cowok yang seperti lo maksud itu kayak mencari sebatang jarum dalam tumpukan jerami.. Banyak kok pasangan yang awet sampai masa tua mereka. Bi. “Tapi gue nggak tau kalau dia bakal nekat datang ke rumah lo pagi-pagi. Bi. Bi. Yuki duduk di depan mereka. Rasanya ajaib kalo cewek kayak Bia yang nggak suka mengandalkan cowok itu mau berangkat ke sekolah bareng cowok. “Iya. “Mobil Egi. “Hah? Egi!” seru Cha-Cha. “Hus! Ngapain sih pake teriak segala? Emangnya kenapa kalo gue ikut mobil tuh anak kutu?” “Tapi. Sammy dulu kakak kelas mereka.” kata Bia.” “Bi. ceweknya cakep. Yang penting. Yu?” tambah Cha-Cha sambil melirik Yuki yang pipinya bersemu merah karena malu. tau! Pagi-pagi dia datang ke rumah gue. Sudah satu setengah tahun mereka pacaran. “Mobil siapa tuh. „ngejilat‟ nyokap gue. tadi gue liat lo turun dari mobil hitam di tempat parkir. yang nyasar dari kelas sebelah gara-gara bete nggak ada teman ngobrol. dan bikin gue dipaksa Nyokap untuk berangkat bareng dia ke sekolah. jangan menyamaratakan semua orang kayak gitu dong.” ujar Cha-Cha begitu sampai di kelas pagi itu. Dan gue yakin ini pasti gara-gara elo. dan Yuki bersamaan. pasti bikin ngiri orangorang yang melihat mereka. gue paling nggak bisa membantah kata-kata Nyokap. Bagi gue. iya sih. Tam. Gue nggak akan membiarkan diri gue menjadi salah satu korban mereka. Tammy. “Gue nggak peduli dia serius atau nggak.” “Egi ke rumah lo?!” tanya Yuki heran. Sammy dan Yuki memang pasangan serasi. Tapi sekarang dia udah lulus dan kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta.. Biarpun gue sering ngelawan.“Bi. “Benar. . Bia sedang duduk di bangkunya bersama Tammy. Kalau gue membuka hati. gue nggak suka sama dia.” kata Yuki.” jawab Bia singkat. “Kok malah bawa-bawa Sammy sih?” rajuk Yuki.” “Kayaknya Egi serius naksir elo deh.” Tammy malah nyengir. Kayak Rama dan Shinta.” jawab Bia. habis manis sepah dibuang. belum tentu gue dapat cowok yang baik kayak Sammy.

. ia mendengar ada orang-orang yang kasak-kusuk di depan. Benar nih. lo nggak suka sama Egi?” sahut Cha-Cha. “Kok kalian semua ngotot banget sih ngejodohin gue sama Egi? Gue udah bilang. Bia nggak jadi membuka pintu dan tetap di dalam WC sambil pasang kuping.. batin Bia tersenyum puas. tepat di sebelah ruang perpustakaan. kan! Aah. Bia memegang perutnya.“Tapi kalo elo nggak mulai membuka hati. Ada empat bilik di dalamnya. Multifungsi banget. WC sekolah ini nggak bersih-bersih amat. nggak bau kok.. Gue nggak mau pacaran sama brondong. leganya. Bi. “Gue minta dong!” . lo bisa belajar membuka hati lo untuk Egi... penasaran! “April. Dia tuh lebih muda daripada gue. gue nggak suka sama dia. Makanya. cuci muka. Sejauh apa ya nama itu akan menyusup dalam kehidupan Bia. Nyokap gue pernah menikah dengan laki-laki yang lebih muda darinya dan akhirnya malah dikhianati. Tapi ada juga yang ke toilet khusus buat istirahat. Gue nggak mau seperti itu. Jangan-jangan mereka bolos.. toilet di SMA Constantine 4 ini juga merupakan salah satu tempat nongkrong favorit para siswi. Heaven knows deh! @(^-^)@ Bia berjalan menyusuri koridor sekolah menuju toilet yang ada di ujung koridor. Selain itu juga ada tiga wastafel yang berdempetan dan memanjang. cuci kaki. lo bawa lipbalm. memohon agar perutnya mau bersabar sampai dia tiba di toilet... nggak?” tanya seorang cewek yang suaranya rada sopran. Biasalah.. bahkan ngegosip. ngumpet dari kejaran guru piket.” sambung Yuki. lengkap dengan cermin besar di atas wastafel itu. “Dan untuk yang pertama. Tapi lumayanlah.” kata Bia sewot.. Perutnya mulai tenang setelah semua beban itu dikeluarkan. Langkahnya agak tergesa-gesa karena perutnya mulas banget. Ada yang ke WC karena memang kebelet pipis atau pengin buang air besar. gimana lo bisa tau cowok itu baik atau nggak?” bantah Tammy. Bokap gue aja lebih muda tiga tahun dari nyokap gue dan hubungan mereka baik-baik aja sampai sekarang. lagi. Ke WC kok bareng-bareng Biasanya izinnya harus satu-satu. Egi. Pasti gara-gara makan bakso kebanyakan sambal pas istirahat tadi. Egi. atau sikat gigi. “Nggak semua cowok brondong bakal berkhianat. “Tau ah!” Bia jadi keki mendengar kata-kata ketiga sobatnya itu. ada yang karena pengin cuci tangan.. Baru saja Bia mau membuka pintu WC. Bia buru-buru memasuki bilik WC perempuan dan membuka pintu WC yang pertama.

” sahut si cewek sopran. “Lalu kita ke rumah tante gue yang tinggal di daerah sini. lo dengar nggak sih?” tanya cewek bersuara sopran itu sekali lagi. “Tapi. “Eh.. “Ya kita hati-hatilah... “Eh. waktu kita MOS kemarin kan si Egi ngasih surat cinta ke Bia.. Ros. sok berkuasa. semua cewek pada klepek-klepek sama dia. “Pokoknya kalau ada apa-apa.. jangan sampai kelihatan sama Pak Kosim. sok jual mahal. “Katanya tadi pagi si Egi berangkat bareng Bia. “Gila! Gue panas abis lah! Apa sih bagusnya tuh cewek? Mentang-mentang dia ketua OSIS. “Kalau memang Egi suka sama Bia. Suara April rada alto.” “Yee. yang ini mezzosopran. Cle?” “Basi. “Sabar kek.” sahut si cewek sopran. “Cle. Kita bolos sampai pelajaran kelima aja.” bantah si cewek sopran. “Gue punya nih. Cle? Lo kan naksir Egi?” kali ini si mezzosopran yang bertanya.” si cewek sopran menjawab dengan percaya diri. ketua OSIS kita itu.” ujar si mezzosopran.” “Tapi pintu belakang kan sering dijaga Pak Kosim. habis ini kita ke mana nih?” tanya si mezzosopran. “Lo nggak panas. Jangan-jangan emang Egi yang naksir sama Bia.. “Tapi lo inget nggak.” “Mmm. Sok galak. “Anticowok? Mana mungkin! Lo pikir aja deh...” kata April.” sahut si cewek sopran. Kita lewat belakang aja. “Masa ngumpet di toilet terus.” tampaknya si mezzosopran nggak setuju. ketemu juga blush-on gue. Gue lagi cari blush-on gue nih!” dumel cewek yang bernama April itu. sok galak dan sok berkuasa banget! Pasti dia yang kegatelan ngedeketin Egi gue.. lo udah dengar belum?” tanya April. “Kalau gagal gimana?” tanya si mezzosopran sedikit cemas. Cle. tau!” gerutu cewek sopran tadi. “Pril. “Akhirnya. ngomong dari tadi kek.” jawab si cewek sopran. itu berarti selera Egi murahan. “Lo mau lipbalm. “Lo tenang aja. mana mungkin si Bia itu bisa tahan.” “Lo pada tenang aja! Semua bisa gue atur. gue denger dari kakak gue yang sekelas sama Bia. lo mesti tanggung jawab ya.. tadi lo minta apa. gue udah denger. Serahin ke gue.” jawab si cewek sopran. Cle. Egi itu kan keren abis. Jadi nggak mungkin kalau Bia yang deketin Egi.” maki si cewek sopran kesal. Cle?” tanya satu cewek lain. Biasanya pintu belakang kan nggak dikunci. Bia tuh anticowok. Apa bagusnya sih cewek kayak gitu.” ujar April. satpam tua itu.Cewek yang dipanggil itu nggak menjawab. munafik!” . April ikut sumbang suara.” “Udah.

Bia paling nggak suka harus berantem sama makhluk sesama jenis. Itu namanya pengecut!” kata Bia tajam. Non!” Bia tersenyum sinis lalu keluar dari toilet dan kembali menuju kelas dengan perasaan masih kesal. Tapi bagi Bia. Itu karena semua temannya percaya pada Bia. kalian tuh masih baru di sekolah ini. Itu namanya nggak fair. gue nggak suka ada orang yang ngomongin gue di belakang gue. ini benar-benar hal yang nggak terduga. “Tapi ingat. silakan! Gue sama sekali nggak berminat jadi saingan. “Udah puas ngomongin gue?!” tanya Bia. silakan cari jalan lain. Soalnya nggak ada orang yang mampu membenci Bia. “Dan satu lagi. Mereka sama sekali nggak menyangka bahwa cewek yang mereka gosipin sedang berada di dalam WC. pantang yang namanya marah sama adik kelas lalu menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk menggencet mereka. Dan ini semua udah jelas pasti gara-gara makhluk brengsek bernama Egi itu. Ini pertama kalinya dalam hidup Bia ada orang yang berani menjelek-jelekkannya. Ketiga cewek itu hanya menggeleng pelan. gue sama sekali nggak berminat sama Egi. Waktu itu Bia hampir memperoleh 80% suara. Nggak ada untungnya cari musuh gara-gara rebutan cowok. Kalau di antara kalian ada yang naksir Egi. Yap! Kesabaran Bia cukup sampai di sini. Tapi hati-hati ya. dia tetap seorang teman yang baik buat siapa aja. Mau bolos juga ada aturannya. Wajah ketiga cewek manis itu berubah pucat. apalagi kalau cuma gara-gara cowok. Kalau hari ini sampai ada yang tega menjelek-jelekkan dia. Dia nggak menyangka ada anak kelas satu yang berani menghina dia. “Asal lo bertiga tau ya. pintu belakang udah dikunci sejak kemarin sama Pak Kosim. Ketiga cewek yang masih berdiri di depan wastafel melotot kaget. Makanya akhirnya semua memilih dia untuk jadi ketua OSIS. Kalian nggak tau mana jalan yang ada jebakannya dan mana jalan yang benar-benar aman. Ia selalu berusaha bersikap adil dan bergaul baik dengan semua orang. Hal yang nggak pernah terbayangkan oleh Bia sebelumnya. Benar-benar kemenangan mutlak. Selama ini Bia nggak pernah tuh yang namanya cari-cari musuh. Mereka ketakutan melihat tampang Bia yang udah kayak serigala mau nerkam mangsa. . Semua pasti gara-gara dia.” kata Bia. karena meskipun Bia galak. Mampus deh! “Masih ada yang mau diomongin tentang gue?”tanya Bia lagi.Brak! Bia membuka pintu WC dengan wajah merah menahan marah. jadi kalau kalian berniat bolos.

Tapi cowok itu memang sabar.... Gue nggak pernah berniat mainin cewek mana pun. “Bia. jatuh cinta sama elo?” “Lo kira gue bisa kemakan rayuan gombal lo? Elo salah besar! Gue bukan cewek gampangan seperti yang lo kira. Egi melepaskan genggamannya. gue nggak pernah nganggap elo cewek gampangan. ya..” Bia tetap nggak peduli dan mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolah yang menganga lebar.” . jangan cuek gitu dong. Tamparan itu hadiah buat kekurangajaran lo megangmegang tangan gue.” tawar Egi saat semua anak sudah meninggalkan ruang kelas dengan penuh sukacita untuk segera pulang ke rumah. gue rasa banyak temen sekelas lo yang bersedia!” “Bi... Bia berhenti dan menatap Egi tajam. “Bi. “Lepasin tangan gue!” “Nggak mau. Dia nggak menyangka Bia akan senekat itu. Kalau elo masih berani ganggu gue.. gue anterin pulang ya. “Dengar baik-baik.” rayu Egi pantang menyerah. “Kan lebih enak naik mobil gue daripada naik angkot. Jangan kira gue nggak berani sama elo.. Semua mata kontan menatap mereka.BAB EMPAT “BI. “Bia. ia nggak termakan emosi mendengar ancaman Bia. Apa gue salah. Dalam hitungan detik.” “Gue bilang lepasin tangan gue!” “Gue nggak mau!” Plaakk! Sebuah tamparan keras melayang di pipi Egi. gue nggak akan segan menghajar elo. gue nggak takut kalau harus ribut sama elo!” Egi terperanjat. Biarpun cewek.” panggil Egi sambil menahan tangan kiri Bia. Gue cuma mengikuti kata hati dan debaran jantung gue yang udah menjatuhkan pilihannya ke elo. Gue baru mau lepasin tangan lo kalau lo mau pulang bareng gue.. di pipi Egi yang mulus dan putih tercetak bekas tamparan jari-jari tangan Bia. Bia berjalan cepat menyusuri lapangan tanpa memedulikan tawaran Egi yang berusaha menjajarkan langkahnya di samping Bia. Kalau lo mau mainin cewek. kenapa sih elo sewot banget sama gue. Gue anterin lo pulang ya.

senyum Egi itu udah cukup sebagai jawaban. sama sekali nggak ada nilai plusnya deh.” “Apa sih yang bagus dari tuh cewek?” tanya Teddy.” “Elo salah. “Lo nggak serius kan naksir cewek kasar gitu?” “Dia bukan cewek kasar. “Lo gila. lo TOP banget dah! Tu cewek bisa lo buat nggak berkutik. galak pula. Gi. salah satu sobat Egi yang ikutan pasang taruhan untuk kemenangan Egi. “Weits! Pipi lo merah juga. otaknya juga biasa aja. gue milih Bia daripada cewek-cewek sok jaim yang ngejar-ngejar gue tiap hari itu. Hebat.” jawab Egi. Anak-anak mulai bubar. gue akan benar-benar membenci elo dengan segenap jiwa raga gue!” bentak Bia kesal.“Egi.” bela Egi. jangan bilang lo serius naksir dia ya. “Bi. “Dasar GILA!” teriak Bia lalu berlari meninggalkan Egi dan menembus pagar lingkaran teman-temannya. “Ayo.” @(^-^)@ . Mereka membatalkan niat mereka untuk segera meninggalkan sekolah. Yang menang taruhan tertawa lebar..” kata Teddy heran. Egi nggak menjawab. Egi cuma diam dan mengelus-elus pipinya yang masih terasa agak panas. Bahkan sampaisampai ada yang nekat taruhan siapa yang menang dalam pertarungan kali ini.” ujar Teddy curiga. hebat!” puji Teddy mendekati Egi sambil mengantongi uang yang baru saja didapatkannya. “Cakep kagak. Tamparan tuh cewek keras juga ya?” kata Teddy. Dia cuma punya watak keras. “Gue rasa otak lo udah nggak waras lagi. lo bayar taruhannya!” tagih Teddy. Anak-anak yang lagi bubaran kelas membuat pagar lingkaran di sekeliling Bia dan Egi. Dan gue akan membuat elo melihat ketulusan perasaan gue..” “Sekali lagi lo salah. sedangkan yang memilih Bia cuma bisa mesem-mesem kecewa. “Bia gadis paling baik yang pernah gue temui. Ternyata Egi yang menang.. Dia hanya diam dan tersenyum. “Justru karena gue waras. Gi! Segitu banyak cewek yang naksir lo sejak hari pertama kita masuk sekolah ini. Tapi bagi Teddy. dia kan senior kita. “Gi. Udah gitu.” kata Egi lembut. Ted!” bantah Egi. Tamparan ini malah membuktikan bahwa elo ada perhatian ke gue.. gue suka sama elo. Tontonan gratis yang seru ini sama sekali nggak boleh dilewatkan. elo malah milih cewek kasar yang jelas-jelas nggak suka sama elo. Gue nggak akan mundur begitu aja. “HIDUP EGI!!!” teriak salah satu penonton yang kemudian diikuti sorakan teman-temannya yang lain. “Gi. kalau elo masih coba-coba deketin gue dan sok ngegombal. Ia tersenyum manis menatap kedua bola mata Bia yang melotot marah. Kebanyakan sih pada megang Bia.

apa elo nggak sadar? Ini pertama kalinya ada cowok yang benar-benar berhasil merebut perhatian lo. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan mengambil gulingnya.” “Siapa yang misterius?” Yuki malah balik tanya. “Bia yang sekarang marah-marah dan ngejutekin seorang cowok yang sedang berusaha pedekate sama dia.” Bia nggak bersuara. “Tapi Bia yang sekarang mulai berubah.” “Pada kurang kerjaan. “Gue denger. “Gue ganggu nggak?” “Eh. “Apa lo nggak salah. Bia yang gue kenal nggak akan mau ribut sama cowok karena urusan cinta.” jawab Yuki. Tentang apa nih?” “Tentang elo.” “Oke. “Nggak ganggu kok. ya! Buat apa sih kejadian gitu aja dibesar-besarkan!” “Bi. Yu.. Bia yang gue kenal nggak pernah mau merespons semua tindakan cowok yang mencoba pedekate sama dia. “Nggak biasanya elo berkesan misterius gini. “Halo.” “Lho. pas pulang sekolah lo rebut sama Egi di lapangan. Bia yang gue kenal pantang mengharapkan bantuan cowok kecuali jika ada hubungan kerja sama yang saling menguntungkan di dalamnya. dan gue tau siapa elo. Kriing. hampir tiga tahun gue kenal elo.! Dering telepon memaksa Bia untuk bangun dan segera ke bawah untuk mengangkat telepon. ada apa?” “Cuma mau ngobrol aja sama elo. Padahal dulu boro-boro melirik. elo.” lanjut Yuki. Yu?” “Bi.” jawab Bia.. Bia berlari kecil sambil ngedumel kesal.Bia membanting tasnya ke tempat tidur dengan kesal.” sapa Yuki ramah dari seberang. Dia terpaku diam. Bi.” sapa Bia ogah-ogahan. “Bia yang gue kenal sangat dingin sama cowok yang berusaha mendekatinya.” “Bukankah benci itu juga satu bukti bahwa elo merespons semua tindakan dia dan memberi dia satu perhatian lebih?” “Maksud lo apa.” “Gue?” “Iya.. tentang elo.” “Merebut perhatian gue?” tanya Bia. Ada apaan sih?” tanya Bia heran. lalu meremasnya gemas. Hari ini benar-benar hari terburuk buatnya..” jelas Yuki. dan gue yakin besok berita itu pasti bakal jadi lebih heboh lagi. tumben. Topik itu mulai jadi pembicaraan hangat di antara anakanak. setiap cowok yang mencoba mendekati Bia . ya?” “Tau dari mana lo?” “Dari berbagai sumber. Dia nggak bisa membalas semua ucapan Yuki.. “Halo. Yu? Gue malah setengah mampus benci banget sama dia. “Gue cuma mau ngobrol biasa aja sama elo.

” “Apa bedanya.! Nah.” “Iya... itu nggak mungkin. Gue sampai enek terus-terusan mendengar nama dia hari ini. Yu. Sori ya kalau gue udah mengganggu elo. Elo marah-marah sama dia.” kata Yuki. “Alex yang mana? Memangnya ada cowok yang namanya Alex yang mencoba deketin gue?” “Tuh.. “Alex?”Bia malah balik bertanya. Gue cuma nggak pengen mendengar nama cowok aneh itu lagi. “Itu malah semakin menunjukkan bahwa elo jelas merespons semua tindakan dia.” “Oke. Hari ini gue udah cukup capek gara-gara cowok rese itu.” ujar Yuki. buat apa sih elo ngomongin masalah ini sama gue?” “Gue cuma mau membantu lo untuk jujur sama diri lo sendiri..” “Nggak kok. “Gue nggak mungkin jatuh cinta sama cowok aneh itu. oke. “Gue nggak mau membahas Egi lagi. “Dia cowok aneh yang udah mulai memasuki kehidupan lo.. kan? Bahkan nama cowok yang pedekate sama elo aja lo nggak ingat.” . Bi? Elo nggak salah kok kalau elo jatuh cinta sama dia. Bi.” kata Yuki. Dia memang cowok aneh. Bi.” kata Yuki. “Gue cuma. Bi?” sahut Yuki... Nggak akan!” “Elo salah.” “Jujur sama gue. Gue nggak akan membiarkan cowok mana pun menyakiti gue. Yu. elo bilang elo benci sama dia. Elo tuh benar-benar merespons kehadiran cowok itu.” “Kenapa nggak. sekarang kembali ke Egi nih.bakal dicuekin habis-habisan. “Kalau elo sendiri takut untuk mencintai.” “Gue nggak bermaksud gitu. Bia yang sekarang juga mau dianterin ke sekolah sama cowok tersebut meskipun dengan alasan terpaksa. “apa elo udah jatuh cinta sama Egi?” “Nggak.” jawab Bia.” “Lo masih ingat Alex nggak.. elo ngejutekin dia. gue cuma. “Alex itu teman kuliahnya Sammy.” “Bohong banget!” “Bener.” “Nggak mungkin! Gue nggak mau jatuh cinta.” “Tapi gue nggak ngeributin masalah cinta sama Egi!” bantah Bia.. Yu.. “Cinta itu cuma bikin gue menderita. nampar dia dan minta dia nggak ganggu gue lagi.... benar. Bahkan Bia yang sekarang bisa ribut di depan umum sama seorang cowok gara-gara masalah cinta.” ujar Bia.” kata Bia kesal. Bia. Bi. gimana elo bisa tau apa elo bakal menderita atau malah bahagia?” “Gue nggak peduli! Lagi pula.. dan gue nggak akan membiarkan diri gue merasakan penderitaan yang sama kayak nyokap gue.” “Udahlah. Elo nggak ganggu gue. cowok yang empat bulan lalu mencoba ngedeketin elo?” tanya Yuki. Bi. bukankah itu berarti elo memberi perhatian dan menanggapi semua tindakan yang dia lakukan?” “Tapi.

Apa iya gue jatuh cinta sama dia? tanya Bia pada dirinya sendiri. Jadi nggak mungkin Mama naik mobil. itu. Aku cuma heran.15. kata Bia berusaha menenangkan batinnya.” “Oh. “Iya.. Bia membalik halaman demi halaman buku sejarahnya. Tapi aneh. Mama akan naik ojek dari muka gang sampai depan rumah. Sayang?” Mama ikutan heran melihat ekspresi Bia. Jam sudah menunjukkan pukul 18. Bia mengernyitkan dahi.. Egi lagi Egi lagi.” “Kok tumben dia nganter Mama pulang?” tanya Bia. “Soalnya tadi aku dengar suara mobil di depan rumah..” jawab Bia..” jawab Mama tambah gugup.. teman kantor Mama. “Nggak.. Jadi aneh kalau jam segini Mama belum sampai di rumah. “Ng. mmm. kan? Lo mulai lagi. itu. Siapa yang berhenti di depan rumahnya? Yang pasti itu bukan Mama. Nggak mungkin! Eits. udahan dulu ya. Dia sedang menunggu Mama pulang kerja. Memangnya kenapa. Terdengar suara pagar depan dibuka. Jadi siapa ya? Mungkin orang lewat aja kali ya. mencari jawaban untuk pertanyaan yang sedang dikerjakannya. tadi Mama diantar teman kantor Mama..” Yuki tertawa lalu berkata. soalnya biasanya kalau Mama lagi malas jalan..” “Teman kantor?” “Iya.“Tuh. “Manajer personalia di tempat Mama kerja.. Mau nggak mau Bia kepikiran juga sama semua ucapan Yuki barusan. “Jangan-jangan kemarin-kemarin dia juga yang nganterin Mama pulang? Cowok atau cewek. apa iya nggak mungkin? @(^-^)@ Bia duduk di sofa ruang tamu sambil membuka buku sejarahnya. Apa itu Mama? Suara mobil kembali terdengar lalu perlahan berlalu pergi. Bye!” “Bye!” Bia menutup telepon lalu merebahkan tubuhnya di sofa...” Mama kelihatan gugup dan salah tingkah. Apa jalanan macet. “Mama kok baru pulang?” tanya Bia heran. “Oke. ya? Deru mobil yang berhenti di depan rumah mengalihkan perhatian Bia dari buku yang ada di tangannya. Mama belum juga pulang. Ma? Apa dia punya maksud khusus sama Mama?” .. Bersamaan dengan itu kenop pintu berputar dan Mama muncul dari balik pintu dengan wajah lelah. Gue mau nelepon Sammy. kayak polisi menginterogasi tersangka. Bia mulai nggak tenang.s oalnya Mama bilang hari ini mau pulang lebih awal. sembari mengerjakan PR sejarah.

Tapi kok sekarang Mama pakai acara dianterin pulang segala sama teman kantor yang katanya manajer personalia itu? Rasanya benar-benar mencurigakan. “Apaan sih?” tanya Bia. Mama itu wanita mandiri.” Bia ngedumel. kok sekarang balik lagi sih?” Bia yang masih sibuk merapikan buku-bukunya yang berserakan di atas meja memandang Cha-Cha heran.” “So what gitu loh!” jawab Cha-Cha asal. “Mama rasa Mama nggak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan kamu yang aneh itu. “Pokoknya lo harus ikut gue sekarang juga. Bi?” Mama jadi sewot ditanya bertubi-tubi gitu sama anaknya. iya. Masalahnya. apalagi kalau melihat tampang Mama yang gugup waktu menjawab pertanyaanpertanyaan Bia tadi. selama ini Mama selalu pulang kerja sendirian. “Gue bantuin. rasanya wajar aja kalau Bia curiga sama Mama. Tapi pelan-pelan dong. Mama mau mandi. @(^-^)@ Besok siangnya. Bia menutup buku sejarahnya dan membiarkan pikiran-pikirannya bekerja mencari jawaban untuk keanehan ini.” Mama membawa tas kerjanya ke kamar lalu kembali keluar sambil membawa handuk dan berjalan menuju kamar mandi. “Udah. “Lo nggak liat ya.” ajak Cha-Cha sambil menarik tangan Bia meninggalkan ruang kelas. “Tammy sama Yuki udah nunggu dari tadi.” “Iya. Anak-anak udah pada bubar dari tadi. Cha. Kelas udah sepi. Cha!” protes Bia. Tinggal mereka berdua di ruangan itu. lo harus ikut gue ke lapangan. setelah bel pulang berbunyi. Bia sedang merapikan bukunya ketika tiba-tiba Cha-Cha nongol di kelas. “Kita nggak ada waktu lagi. Bia menghela napas panjang. gue lagi sibuk ngerapiin buku-buku gue. “Bi. “Ada apa sih.” ajak Cha-Cha. Cha?” tanya Bia lagi. ayo jalan.” “Tapi gue lagi rapiin buku-buku gue.” ajak Cha-Cha lagi yang kali ini lebih berkesan memaksa. “Yang penting lo ikut gue sekarang juga.“Kamu tuh apa-apaan sih. “Lo kan tadi udah mau pulang duluan sama Tammy dan Yuki. Bia cuma bisa melotot melihat buku-bukunya yang jadi lecek nggak keruan gara-gara ulah Cha-Cha.” kata Cha-Cha lalu secepat kilat mengambil semua buku Bia yang berserakan di meja dan menjejalkannya ke dalam tas ransel Bia.” Memangnya ada apa sih? .

@(^-^)@ Lapangan basket tampak ramai oleh anak-anak yang nggak jadi pulang. Baginya sekali gila ya tetap gila. “Halo juga!” balas semua anak yang ada di situ. “Halo semuanya.” kata Egi. “Oke. lagi! Dasar kurang kerjaan. begitu pula ketiga temannya.!” sorak anak-anak.” Bia mencibir. nggak percaya atas apa yang dilihatnya. maki Bia dalam hatinya. Bia menajamkan penglihatannya ke tengah lapangan. “Semua siap bergoyang?” tanya Egi kayak penyanyi profesional. mulutnya menempel di corong TOA. Mereka berdiri di sekeliling lapangan sambil berteriak-teriak heboh. “Tapi gue suka cowok model gini. Apanya yang keren? Malah kayak orang kurang kerjaan banget. “Gue juga akan mempersembahkan lagu untuk seseorang yang udah membuat gue jatuh cinta. “Gue mau ngomong empat mata sama elo. “Ngomong aja sekarang.!” sapa Egi. . Cha-Cha dan Bia menerobos barisan penonton dan menempatkan diri di samping Yuki dan Tammy yang juga sedang seru memerhatikan lapangan basket. “Karena Cinta. “Gilanya Egi kan beda..” “Lo suka cowok gila. ada apa. Max?” tanya Yuki.” jawab Tammy. “Si Egi benar-benar gila!” ujar Tammy.” Tiba-tiba Maxi.” “Huuu. Di sana ada sebuah meja.” jawab Cha-Cha. “Penting!” Yuki mengernyitkan dahinya heran.. Cowok yang berdiri di atas meja itu. “Lo liat aja sendiri.. EGI! Gila! Ngapain dia di situ? Di tengah lapangan. “Oh. “Ada apa sih?” tanya Bia heran.” Maxi melirik sebentar ke arah ketiga teman Yuki. Bia balas menatap Egi. Tam?” tanya Bia. Hari ini gue spesial tampil di depan kalian semua untuk menghibur kalian selama kurang-lebih lima belas menit. lalu kembali menatap cewek itu. Bi. tapi lumayanlah. tukang cari sensasi.” Mata Egi tertuju pada sosok Bia yang berdiri di pinggir lapangan... “Yu.. tapi nggak lama kemudian dia langsung buang muka. “Lagu pertama gue persembahkan untuk para Egiers yang udah banyak mendukung gue selama ini. teman sekelas mereka. udah nongol di sebelah Yuki dengan tampang serius.” kata Egi. Terdengar rada aneh.” jawab Maxi. dan di atasnya berdiri seorang cowok cakep sambil memegang TOA. Egi mulai menyanyi dengan menggunakan TOA tanpa diiringi musik.. “Siap!” teriak anak-anak heboh.. kecuali Bia pastinya. Sinar matanya menunjukkan kehangatan dan ketulusan hatinya. Bia melongo kaget. “Gilanya dia tuh keren banget. gue mau ngomong bentar sama elo.

. Maxi memang udah lama naksir Yuki. Mata Bia malah tertumbuk pada tiga cewek yang pernah ngegosipin dia di toilet sekolah. Dia tetap berdangdut ria sambil menatap mata Bia.” tawar Yuki. Tumben banget Maxi berani ngajak Yuki ngomong berduaan. “Nanti gue balik lagi. Tapi anehnya dia nggak pernah berani ngomong berduaan sama Yuki. dia bertanya pada Bia. .” Bia. cewek pujaannya. apalagi nembak. lagu berikutnya gue persembahkan buat cewek yang udah menawan hati gue. Tepuk tangan meriah dari anak-anak mengembalikan perhatian ketiga cewek itu pada Egi yang masih berdiri di tengah lapangan. Tapi ternyata nggak ada. Semua mata yang ada di lapangan saat itu langsung melihat ke arahnya. Nggak mungkin cowok gila ini benar-benar nekat ngomong gitu di depan semua orang. Dia adalah.” Egi menyebutkan judul lagu dangdut yang akan dinyanyikannya. Dia benar-benar bingung nggak tahu harus berkata dan berbuat apa. ketahuan dari gerak-gerikya yang selalu baik sama Yuki. “Bia. Tammy. dan Cha-Cha hanya bisa mengangguk kebingungan. Bia celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri. mencari-cari sesuatu. would you be my princess?” Mulut Bia menganga lebar. Bia. Jadi selama ini dia cuma menyimpan rasa sukanya dalam hati. “Oke. Bisa aja kan. Tanpa Bia sadari. Bia menatap Egi yang sudah berlutut di hadapannya.. Ketiga cewek itu berdiri diam di salah satu sudut lapangan dan memandangnya dengan sorot mata jiji. Bait demi bait dinyanyikannya di bawah sorakan dan tepukan tangan anak-anak yang masih setia menonton pertunjukannya. Rasanya aneh aja. Bia melotot kaget. ini lagi acara reality show? Kan sekarang lagi zamannya segala sesuatu dibikin reality show. Egi nggak peduli dengan puluhan mata yang menatapnya geli atau tawa dan teriakan mereka yang seakan melecehkannya. Makanya semua pada heran melihat Maxi mengajak Yuki kayak tadi. “Gue ke kantin dulu bentar. “Tidak semua laki-laki.” ujar Egi sambil menatap lembut Bia. siapa tahu ada kamera tersembunyi yang lagi meliput kejadian ini.“Ya udah. mukanya memerah kayak udang rebus. lalu masih dengan menggunakan TOA. lalu melompat turun dari atas meja dan mulai bernyanyi sambil perlahan berjalan dan bergoyang mendekati Bia. Egi masih berlutut. Kita ngomong di kantin aja. Sorakan dan tepuk tangan riuh mengakhiri lagu yang dinyanyikan Egi. Dia nggak percaya dengan apa yang baru aja didengarnya. sehingga akhirnya Yuki jatuh ke tangan Sammy. Maxi mengangguk lalu berjalan lebih dulu menuju kantin.” pamit Yuki.

” “Lo kedengarannya bete banget sih. lo ngajakin gue ngobrol soal tadi sih.” jawab Bia. Tapi Bia nggak peduli.” gerutu Yuki lagi. “Elo tuh benar-benar nggak punya malu! Gue jijik sama elo!” Kemudian Bia berlalu begitu saja.. “Gue kan cuma mau ngajak lo ngobrol.. Egi udah bikin gue malu. dan tiba-tiba saja emosinya meluap-luap. Bi. nggak penting. Dia berjalan cepat menerobos kerumunan dan meninggalkan gedung sekolah. “Egi kan cuma bikin pertunjukan spesial buat lo di lapangan. bersama puluhan mata yang juga kaget dengan jawaban yang dilontarkannya. meninggalkan Egi yang terpengarah menatapnya. gue lupa. “Sori. “Gue yang mestinya nanya sama elo. Gue keki. “Ah. kok lo pulang duluan sih?” protes Yuki di telepon sore itu.” “Ceritanya sama aja.” “Ih. kalo dibilangin. Bi?” “Masa?” “Jutek. Bia menatap Egi yang masih berlutut di depannya.” “Gue kan lagi ngomong sama Maxi di kantin. tau!” dumel Yuki.” Terdengar suara tarikan napas dari seberang. “Perasaan lo aja.” lanjut Yuki. Masa gitu aja salah sih?” “Jelas salah!” “Apanya yang salah?” Bia merengut karena kesal. “Tapi gue mau dengar cerita versi elo.” “Iya sih.” ujar Yuki.. siapa suruh lo ngilang lama banget.” “Lo pasti udah diceritain sama Cha-Cha atau Tammy. lalu berkata tajam.” jawab Yuki akhirnya. nih anak. Bia jadi kesal sama kelakuan Egi yang udah memberi kesempatan pada ketiga cewek genit itu untuk memandanginya dengan tatapan merendahkan. “Yu. “Lagian.Darah Bia bergejolak hebat..” .. Yuki terdiam sesaat. @(^-^)@ “Bi.” “Oh iya. “Egi nggak mungkin bermaksud kayak gitu. “Kalian ngomongin apaan sih? Tumben banget si Maxi ngajakin elo bicara empat mata. dia bikin gue nggak punya muka di depan teman-teman dan junior-junior gue sendiri. apa yang terjadi di lapangan setelah gue ke kantin. Dia bikin gue jadi tontonan anak-anak. tau!” “Lho memangnya kenapa?” tanya Yuki heran. kali.” “Ya ampun. Kok respons lo ngebetein gitu sih?” “Habis.” kata Bia sambil nyengir. gue males aja jadi tontonan orang.

“Lo tau dari mana?” tanya Bia. “Lo kan nggak ngeliat kejadian tadi. Anak-anak kelas satu pada ngeliatin gue dengan pandangan menghina. Gue benar-benar kesal banget.” “Nggak mungkin, Bi,” bantah Yuki. “Kalaupun iya, itu cuma karena mereka iri sama elo.” “Iri sama gue?” “Iya, Bi,” jawab Yuki. “Mereka iri karena elo mendapat perhatian dari Egi, cowok yang lagi naik daun di sekolah kita saat ini. Masa lo nggak ngerti sih?” Bia terdiam sesaat, mencoba memikirkan kata-kata Yuki. Entah mengapa Bia malah tambah kesal. “Siapa yang suruh mereka pake acara iri segala!” maki Bia. “Mereka kira gue suka apa, sama hal-hal kayak gini? Gue ngerasa kayak di sinetron-sinetron, terlalu didramatisir, cengeng banget. Ih, gue benci banget. Dan ini semua gara-gara cowok gila itu. Gue benar-benar sial ketemu dia!” Yuki menghela napas panjang. “Menurut gue bukan elo yang sial karena ketemu sama Egi, tapi Egi yang sial karena jatuh cinta sama cewek kayak elo, Bi....”

BAB LIMA

SUDAH tiga hari berlalu sejak kejadian di lapangan itu. Dan dalam tiga hari itu Bia seakan berubah jadi selebriti yang dibicarakan banyak orang. Tiap kali jalan di koridor sekolah, pasti puluhan mata menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Udah gitu, mereka pakai acara bisik-bisik segala, lagi. Risi banget rasanya. Bia benar-benar kesal dibuatnya. Entah udah berapa kali Bia memaki-maki orang yang ngeliatin dia, tapi bukannya pada kapok, mereka malah tambah parah. Cerita tentang kejadian di lapangan itu bahkan jadi hot news yang paling banyak diminati saat ini. Pokoknya menduduki rating tertinggi deh. Dan yang lebih luar biasa lagi, cerita yang beredar dari mulut ke mulut itu terus berkembang sampai sekarang. Bia sendiri sampai heran dengan daya kreativitas orang-orang yang udah ngembangin cerita itu. Cerita terakhir yang bia dengar tentang kejadian di lapangan hari itu sih begini: 1. Egi nyanyi di lapangan buat nyatain perasaannya ke Bia. 2. Bia shock sampai pingsan soalnya selama ini kan nggak ada cowok yang senekat itu ngejar-ngejar dia. 3. Pas sadar Bia nangis bombay saking terharunya karena ada cowok yang mau sama dia. Gila nggak tuh cerita! Mungkin nggak sih Bia kayak gitu? Nangis buat cowok, nggak ada tuh dalam kamus hidup Bia. Benar-benar nggak masuk akal, kan? Yang ngarang tuh cerita pasti benar-benar udah sinting. Tapi menurut Bia, yang ngedengerin cerita itu jauh lebih sinting lagi karena mereka percaya sama cerita itu. Ini benar-benar tiga hari terberat dalam hidup Bia. Baru kali ini ia merasakan hal-hal semacam ini. Jadi pusat perhatian dan digosipin. Rasanya mau marah dan teriak, tapi ke siapa? Ke Egi? Mana mungkin. Masalahnya, udah tiga hari ini Egi menghilang gitu aja dari peredaran. Cowok itu nggak pernah lagi datang ke kelas Bia, nyamperin ke kantin, nungguin Bia pulang sekolah, atau nelepon ke rumah. Pokoknya lenyap gitu aja deh. Dan sekarang, entah kenapa ada sesuatu yang aneh dalam diri Bia. Rasanya ada yang hilang. Bia nggak tahu itu apa, yang dia tahu rasanya aneh banget. Apa iya itu gara-gara Egi?

@(^-^)@ Siang itu Bia, Yuki, dan Cha-Cha duduk di kantin sambil menikmati semangkuk soto mi hangat. Biasalah, tiga cewek itu lagi malas pulang cepat. Jadi mereka nongkrong di kantin sama-sama. Bia menggulung-gulung mi dengan garpunya. “Tammy mana?” “Katanya mau pulang duluan,” jawab Cha-Cha sambil menuangkan sesendok sambal ke dalam mangkuk soto mi-nya. “Dia bilang sih ada janji sama bokapnya.” “Bokapnya?” Bia mengernyitkan dahinya heran. “Bukannya bokapnya lagi ke Pekanbaru?” Cha-Cha mengedikkan bahu. “Tau deh. Udah pulang, kali.” Bia manggut-manggut lalu menyuapkan sesendok mi ke mulutnya. “Bi, si Egi apa kabarnya?” tanya Yuki tiba-tiba. Bia diam saja, pura-pura nggak dengar. “Iya, Bi,” tambah Cha-Cha. “Gosip tentang kalian berdua kan lagi hot-hotnya nih. Masa nggak ada perkembangan baru sih?” “Tau ah,” jawab Bia kesal. “Tuh anak udah mati, kali.” “Ih...! Kejam amat sih ngomongnya,” goda Cha-Cha. “Nggak baik lho kayak gitu. Ntar kalo orangnya mati beneran, lo bakalan nyesel!” “Nggak bakal!” “Jangan sewot gitu dong, Bi,” ujar Yuki. “Kami kan cuma mau tau aja.” “Asal lo berdua tau,” kata Bia, “gue nggak pernah punya hubungan apa pun sama cowok rese itu. Jadi nggak bakal ada hal apa pun yang berkembang antara gue dan dia. Lagi pula, gue rasa dia udah malas deketin gue. Mungkin dia udah dapat cewek lain yang bisa dia mainin.” “Ada apa sih, Bi?” tanya Yuki heran. “Apanya yang ada apa?” Bia balik nanya. “Yah elo itu...,” jawab Yuki. “Gue merasa ada yang aneh sama elo.” “Nggak ada apa-apa kok. Apanya yang aneh sama gue?” Cha-Cha yang menjawab, “Lo emang lagi aneh, Bi. Apa gara-gara Egi?” “Kenapa gue mesti aneh gara-gara dia?” “Karena lo merasa kehilangan Egi yang udah beberapa hari ini nggak lagi gangguin elo. Iya, kan?” Cha-Cha tersenyum nakal. “Ngapain gue merasa kehilangan dia!” seru Bia. “Gue malah senang karena dia nggak gangguin gue lagi!” Cha-Cha dan Yuki malah tertawa. Bia meelototi kedua temannya itu, tapi Yuki dan Cha-Cha terus tertawa heboh. Tanpa mereka bertiga sadari, Maxi udah berdiri di samping meja mereka.

” “Lebih baik tangannya merah dan sakit daripada gue harus ngeliat dia sakit hati lebih dalam lagi..” Bia berusaha berkata bijak untuk meredakan emosi Maxi yang meluap-luap. “Jangan kasar gitu dong. “Gue nggak mau mendengar apa pun dari mulut lo!” “Gue nggak bakal melepas tangan lo sampai lo mau bicara sama gue. Tangannya malah semakin keras mencengkeram pergelangan Yui. Dia cuma nggak mau Yuki terluka lebih dalam nantinya. “Yu.” “Gimana mungkin gue bisa percaya sama elo?!” sahut Yuki. “Gue emang nggak punya bukti. ya udah. “Lo nggak bisa pura-pura nggak ada masalah. Lo nggak berhak maksa dia.” “Max. gadis yang begitu disayanginya. gue mohon pikirkan lagi kata-kata gue waktu itu. Max. “Lo harus dengar kata-kata gue. dan gue harus bicara sama elo saat ini juga. Dan itu nggak mungkin salah. “Gue nggak peduli!” Maxi masih mencengkeram tangan Yuki. Matanya menatap tajam ke arah Bia seakan memberi perintah agar Bia nggak usah ikut campur. Itu saja..” ujar Maxi keras kepala. “Kalau gue percaya sama elo. Itu artinya gue nggak percaya sama pacar gue sendiri. “Lepasin tangan gue. “Ini penting. Max!” Yuki bangkit dan berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Maxi. Mata Yuki yang mulai berair menahan tangis menyayat hatinya. “Lebih baik lo lepasin tangan Yuki dan kita bicara baik-baik. Maxi memandangi Yuki dalam-dalam. Yu.” pinta Bia menahan emosi. Maxi menatap Bia lama. gue mau bicara sama elo. tau!” “Max. Max.” “Dia harus mau bicara sama gue!” bentak Maxi kasar.. Please. Dia menghela napas panjang dan membuang muka sambil berkata. lepasin tangan Yuki!” seru Cha-Cha cemas. lalu perlahan melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Yuki. tapi gue nggak bohong. Dia nggak mau ada seorang pun yang menyakiti Yuki. gue minta sekali lagi. Gue ngeliat dengan mata gue sendiri. Yuki buru-buru menarik tangannya dan memijitnya pelan-pelan. itu artinya gue mengkhianati cinta gue sendiri. Dia sama sekali nggak bermaksud menyakiti Yuki. “Nggak ada lagi yang perlu kita bicarain. Dia cuma mau Yuki mendengarkannya. air mata mengalir di kedua pipinya. nggak peduli lo suka atau nggak!” Bia berdiri dari tempat duduknya dan menepuk bahu Maxi pelan. Kalo dia nggak mau bicara sama elo.” Yuki berhenti tertawa dan menatap Maxi. percaya sama gue.. Dia nggak rela ada seorang pun yang mempermainkan Yuki.” kata Maxi tajam. “Dia kesakitan..“Yuki..” “Ada!” bentak maxi. Yu..” “Gue nggak mau mendengar apa pun dari mulut lo!” Maxi mencekal tangan Yuki.” kata Maxi pelan.” “Tapi dia memang nggak layak untuk elo percaya!” . “lepasin Yuki.

“Kenapa lo terus-terusan mengganggu gue dengan kebohongan-kebohongan itu?” “Itu bukan kebohongan.. Dia nggak mungkin mempermainkan gue!” sahut Yuki. Yu!” maki Maxi. kan?” Cha-Cha merangkulkan tangannya ke pundak Yuki. Gue masih punya moral dan harga diri.. “Oke. Gue tau sejak dulu elo suka sama gue. Mereka cuma mendengarkan pertengkaran itu. Yuki tampak lebih tenang. dan elo sama sekali nggak sadar bahwa elo cuma dipermainkan sama dia!” “Maxi. juga puluhan anak yang sejak tadi memerhatikan mereka dengan rasa ingin tahu. apa mau lo?!” seru Yuki. . elo nganggap kami sobat lo.. Gue udah tahu siapa dia.“Max. “Gue rasa elo yang nggak punya malu. “Gue cuma nggak mau ada seorang pun yang menyakiti dan mempermainkan elo.” Usai mengatakan itu.” Maxi menatap Yuki tajam. “Sekarang lo jelasin deh.” “Elo tuh udah buta. sedangkan Bia cuma bisa menatap Yuki. gue pacaran sama dia udah lama. Yuki mengangguk. Yu.” “Gue. “tapi gue nggak pernah punya pikiran serendah tudingan lo itu. “Gue memang suka sama elo. menoleh dari wajah Yuki ke wajah Maxi. Dia nggak mungkin mengkhianati gue. Gue terlalu sayang sama elo. Hatinya benar-benar terluka mendengar ucapan Yuki. Cha-Cha merangkul pundak Yuki dan membiarkannya menangis di bahunya. apa yan gudah lo sembunyikan selama ini dari kami..” suara Maxi melemah. Maxi menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Yu. nggak bermaksud menyembunyikan apa pun dari kalian.” Yuki mulai sesenggukan. Bia dan Cha-Cha bertatapan heran. dia nggak mungkin berbuat gitu sama gue. @(^-^)@ Bia. Terus sekarang lo ngejelek-jelekin cowok gue biar gue putus sama dia.” Bia dan Cha-Cha nggak bisa berkutik. berusaha menahan air mata yang hendak bergulir lagi di pipinya. Yuki. tapi mata dan hidungnya masih merah karena habis menangis. dan Cha-Cha duduk bertiga di bangku panjang di pinggir lapangan basket. dengerin gue sekali lagi. berusaha menenangkan cewek itu. menunggu penjelasan atas kejadian ini. kan?!” BRAAKK! Maxi memukul meja dengan keras sampai sisa-sisa makanan yang masih ada di mangkuk tumpah dan mengotori meja kantin.” Bia memulai pembicaraan. Iya. “Lalu. kemudian berlalu meninggalkan Yuki yang masih menangis. “Elo buta karena cinta.

. Maxi benar.” lanjut Yuki. paling nggak kita bisa saling berbagi dan mendukung.. “Yu... Maxi ngajak gue bicara.” kata Yuki. lebih baik lo tanyain kejelasannya secara langsung ke Sammy... “Sammy selingkuh di belakang gue.” Cha-Cha mengernyitkan keningnya mendengar cerita Yuki. kemudian berkata. Dan.” lanjut Cha-Cha. Bia menghela napas dan menengadahkan kepalanya menatap langit biru yang tumben banget lagi cerah siang ini..“Kalo gitu. daripada lo nangis kayak gitu. masa Sammy kayak gitu?” “Gue juga bilang gitu sama Maxi. Maxi itu bukan cowok tukang adu domba. menurut gue. Sammy udah ngekhianatin gue?” tanya Yuki dengan suara bergetar.. dan terakhir kali dia melihat mereka seminggu yang lalu.” “Ya ampun.” Bia menolehkan kepalanya menatap Yuki. saksi. “Walaupun kami belum tentu bisa membantu. apa pun masalah yang sedang elo hadapi. Gue pernah sebangku sama dia waktu kelas dua. “Tapi maxi ngotot.” argumen Bia. “Yu. gue tau. gue nggak percaya Sammy bisa berbuat seperti itu sama gue.. Yuki mulai menangis lagi.” Yuki dan Cha-Cha menatap Bia. “Tiga hari yang lalu. “Yah.” Yuki menangis lebih keras. Maxi nggak mungkin berbohong. Yuki mengangguk.. Bia berdiri dan berjalan ke hadapan Yuki. Tapi gue nggak percaya.” “Jadi maksud lo. Mereka terkejut dengan apa yang baru saja Bia katakan. itu soal kedua. kalau gitu gue harus gimana?” “Yu. “Kalau git... lo harus cerita ke kami. waktu Egi nyanyi di lapangan.” sahut Cha-Cha. dan buktibukti yang ada. “Kata Maxi. “Kalau untuk hal itu gue nggak bisa memastikannya. Tapi Maxi terus-menerus berusaha meyakinkan gue tentang hal itu...” “Hah. .” Bia menatap Yuki lekat-lekat. mana mungkin Sammy mau ngaku kalau dia memang benarbenar salah. Dia bilang dia pernah melihat Sammy jalan sama cewek yang sama dua kali. Yang penting sekarang kita tau dulu apa pembelaan dia. mereka sedang berciuman di depan bioskop. Setelah beberapa saat akhirnya Yuki mulai tenang dan bicara lagi.” jawab Bia. “Makanya gue nggak percaya. Dia bilang dia yakin banget. “Ah. Sammy udah mengkhianati gue. Hakim juga nggak pernah langsung memutuskan apa tersangka itu benar-benar salah atau nggak sebelum mendengar pembelaan dari tersangka. Bi. ciuman?!” seru Cha-Cha nggak percaya. dan gue tau banget dia bukan tipe cowok seperti dugaan lo.

” Yuki tersenyum.” jawab Bia tersenyum lebar. kangkung cah. Lalu ia mengupas bawang putih dan bawang merah. “Kalian udah nemenin gue dan mendengarkan semua keluhan gue. yah. Bia menyalakan kompor dan meletakkan wajan di atasnya. Tak lupa ditaburkannya garam dan merica ke atas telur kocok secukupnya.. Bi. Sudah hampir jam 19. dan Mama kelihatan sedang berbicara dengan seseorang yang mengendarai mobil itu.” katanya lirih.00. Bia melirik jam dinding. Gadis itu berjalan menuju ruang tamu. “Bia benar.” Yuki menyeka sudut matanya yang berair. semua disusunnya di meja makan. Terdengar suara pintu dibuka. Ada suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Hari ini menu makan malamnya telur dadar.. Siapa laki-laki itu? Kenapa Mama pulang diantar dia? Apa itu orang yang sama dengan yang mengantar Mama waktu itu? Siapa dia? Apa hubungannya dengan Mama? Apa yang dia mau dari Mama? Berpuluh pertanyaan memenuhi batinnya. maaf ya. Laki-laki! Mama bicara dengan seorang laki-laki. gue emang cengeng banget.. Seharusnya Mama sudah pulang sejak tadi. Sahabat memang obat terbaik di kala kita sedang terluka. Sedikit minyak dituangkannya ke atas wajan. dan setelah minyak itu panas dia mulai membuat telur dadar favoritnya.” “Ember. Dan itulah yang saat ini dirasakan Yuki. dan tempe orek. Setelah memecahkannya dan menuangkan isinya ke mangkuk. Itu Mama! Mama turun dari mobil. lalu cari waktu yang tepat untuk menanyakan semuanya langsung ke Sammy. Bia duduk di depan meja makan lalu mengambil gelas dan menuangkan air dingin ke dalamnya. Bia menyibak tirai yang menutupi jendela dan mengintip keluar. Kali ini lebih lebar dan sama sekali nggak terpaksa. berusaha menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. @(^-^)@ Bia mengeluarkan beberapa butir telur dari dalam kulkas. Jantung Bia berdetak cepat. “Thanks. Bia menutup tirai lalu berjalan cepat menuju meja makan. Bia mengambil garpu dan mengocok telur itu hingga rata. itulah elo. Lebih baik sekarang lo nenangin diri lo. “Tapi. ya. Bia berusaha menajamkan penglihatannya. Jendela mobil itu terbuka.. lalu mengirisnya tipis-tipis dan menaburkannya ke atas telur kocok. Sekarang tinggal menunggu Mama pulang dan makan bersama.Cha-Cha tersenyum membenarkan kata-kata Bia. Pasti Mama sudah masuk. Yu. .

jadi pulangnya agak terlambat. Mama mandi dulu. Mama hanya membahas tentan gpekerjaan yang membuatnya pulang terlambat. Bia tetap diam saja. “Egi?” “Enak aja! Rugi gue ngelamunin cowok kayak dia. “Ngelamunin siapa sih lo?” tambah Cha-Cha. Dia mengambil piring dan menyendok nasi tanpa bersuara. Dia ingin menunggu sampai Mama terbuka dan jujur sama dia. Ma. “Mama tadi ada keperluan sebentar. lalu membuka pintu kamar sambil berkata. Bia nggak mau memaksa Mama bercerita. “Kamu kenapa sih?” tanya Mama heran. Ia menuangkan air dingin ke dalam gelas lainnya tanpa memedulikan sapaan Mama.” Alis Mama bertaut.” tambah Mama sambil berjalan menuju kamar. “Kamu marah sama Mama?” Mama berhenti di depan kamar dan menatap Bia. “Apa maksud kamu? Memangnya Mama menyembunyikan apa dari kamu?” “Aku nggak bermaksud apa-apa kok. @(^-^)@ Bia meletakkan tas ranselnya di meja. “Maaf ya. “Lain di hati lain di mulut. “Pagi-pagi udah melamun. Sesuai dengan perkiraannya. Bia duduk di bangkunya dengan tampang bete. Bikin otak gue jadi tumpul. “Hei!” tegur Cha-Cha. Selama Mama nggak mau jujur sama aku. Dia masih kesal dengan kejadian semalam. “Aku nggak punya hak untuk marah sama Mama meskipun Mama lagi menyembunyikan sesuatu dari aku.” Mama menatap Bia tajam. Dia mau memercayai Mama meskipun nggak bisa dia pungkiri bahwa saat ini hatinya agak kecewa. lo!” . Tadi cuma pengandaian aja. nggak ada gunanya kita bicara. Bi?” Bia diam saja.” Bia diam. “Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti. lalu kita bisa makan samasama. “Mana mungkin aku marah sama Mama.Mama yang sudah masuk tersenyum melihat meja makan sudah tertata rapi. Kelas udah ramai oleh anak-anak yang sibuk menyalin PR. tapi nggak sedikit pun menyinggung laki-laki yang belakangan ini sering kali mengantar Mama pulang. Mama udah nggak jujur. mengambil tempat di sebelah Bia. Kesambet baru tau loh!” “Biarin!” jawab Bia asal. Kamu pasti udah kelaparan. Mama pulang kemalaman. Nggak ada yang perlu dilanjutkan. Namun hati kecilnya berkata lirih.” jawab Bia sinis.” Cha-Cha mencibir.

“Nanti pulang sekolah kita ke rumah dia yuk?” ajak Bia. dia kan paling rajin. “Kan sebentar lagi bel. kali. Dia bilang sih kalau urusannya udah selesai. Dia nggak enak ngebatalinnya. ini gue serius. “Duile.” “Yuki belum datang?” tanya Bia heran. Nggak hanya pelajarannya. gue nggak akan sebut-sebut nama Egi lagi. Entah apa. kali. Rencananya mereka mau ke rumah Yuki. Bia semakin heran.. Bi?” tanya Cha-Cha. gitu aja marah. Atau. “Apanya yang aneh?” “Ya aneh. Katanya sih dia ada janji sama teman lamanya yang baru balik dari Jerman. Pelajaran pertama hari ini pelajaran killer. Nggak biasanya dia telat.. kalau Yuki belum datang tuh. Apalagi sebentar lagi udah mau ujian semester. Hehehe. Pagi ini Bia udah cukup bete dan dia merasa nggak perlu lagi dibuat bete gara-gara cowok aneh itu. “Oke. Tammy-nya mana. Cha-Cha nggak menjawab pertanyaan Bia.. Diliriknya jam tangan yang nangkring manis di pergelangan tangannya.” “Tadi gue udah coba telepon ke HP-nya.. gurunya juga.” Bia mengambil buku matematika dari dalam tasnya.” . Jangan sambil goyang begitu. Si Tammy nggak bisa ikutan. Belakangan ini sepertinya ada yang aneh sama Tammy. Di antara kita berempat. “Kenapa sih.” @(^-^)@ “Lho. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Cha?” seru Bia kesal. tapi mailbox. mungkin dia ada urusan. Bia menghela napas panjang.. Atau sakit. “Iya deh. Gue ngerasa ada yang aneh aja sama Tammy. Dia malah asyik menyetel CD Jennifer Lopez dan menggerak-gerakkan badannya. Dia udah jarang kumpul dan susah banget dihubungi.” “Mungkin dia nggak masuk hari ini. Nanti istirahat gue ke kelas Tammy buat ngajak dia.” Suara bel yang berdering nyaring meyakinkan Bia dan Cha-Cha bahwa Yuki hari ini memang nggak masuk sekolah. “Tammy sih tadi katanya mau ke kantin..” goda Cha-Cha. “Nggak tau... “Tammy sama Yuki mana?” tanya Bia. dia bakal nyusul ke rumah Yuki.” “Iya.” “Iya juga ya.” “Aneh?” tanya Cha-Cha lagi. Kok mendadak Tammy kayak orang sibuk gitu. Cha?” tanya Bia saat Cha-Cha melajukan mobilnya tanpa menunggu Tammy. tapi nggak biasanya Tammy sok sibuk begini. serius dong nyopirnya. “Heh..” “Aneh. Bolos. Bi..” “Yuki bolos? Mana mungkin.” kata Cha-Cha akhirnya.“Lo kenapa sih.

” sapa Bia ramah. Bener nggak sih?” .. pembantu Yuki yang setia banget. Bi?” tanya Bia. Non. mulai dari tanaman bunga aneka warna sampai pohon cemara. Bi Ita berkata. dari balik pagar terlihat jelas beraneka tanaman. Bia menghentikan langkahnya dan mengetuk pintu pelan-pelan. Non. Bi?” “Ada. Sampai di depan kamar Yuki.Bayangin aja. Sekali lagi Bia mengetuk pelan.“Mungkin dia emang lagi sibuk beneran. Rumah yang didominasi warna putih itu nggak terlalu besar. Cha-Cha menyusul di belakangnya. lo sakit apa sih?” tanya Bia lagi. “Kata Bi Ita badan lo panas. “Bibi nggak tau.” “Iya. Semua orang yang lewat di depan rumah itu pasti langsung tahu bahwa penghuni rumah itu pencinta tanaman. Bi. Nggak ada sahutan.” “Kalau kami langsung masuk ke kamar Yuki.” “Sakit apa. Bia dan Cha-Cha masuk dan langsung menuju kamar Yuki di lantai atas. udah gitu muntah terus. Bia dan Cha-Cha beradu mata sesaat.. “Hei.” Cha-Cha juga nggak mau ketinggalan. lalu pelan-pelan mereka masuk ke kamar.” jawab Bi Ita. Nanti Bibi yang bilangin ke Nyonya kalau Neng Bia sama Neng Cha-Cha datang.” @(^-^)@ Cha-Cha menghentikan mobilnya nggak jauh dari rumah Yuki. Pokoknya lengkap deh! Bia turun lebih dulu dari mobil dan langsung menekan bel di tembok pagar rumah Yuki. “Tumben lo bisa sakit. makanya mereka hafal selukbeluk rumah ini. tapi kali ini sambil memanggil nama Yuki. Sambil membukakan pintu pagar untuk Bia dan Cha-Cha. Bi Ita.” “Sip deh. “Halo. tapi kelihatan paling rimbun di antara rumah-rumah lainnya yang ada di kompleks itu. pohon belimbing. dan pohon jambu. “Halo. Bi. “Tapi Non Yuki-nya lagi sakit.” terdengar jawaban lirih dari dalam kamar. Nyonya lagi di dapur buatin bubur spesial buat Non Yuki. “Yuki ada. mungkin lo benar. Non. karena udah belasan tahun kerja di keluarga Yuki.” sahut Bia setuju. Bi?” “Boleh atuh. boleh nggak. Yu. terus lo muntah-muntah melulu. Bibi jadi kasihan ngelihatnya. Badannya Non Yuki anget. Sesosok perempuan tua tergopoh-gopoh datang untuk membukakan pintu. “Masuk aja. Nggak usah negative thinking gitu.” sapa Bia mendekati tempat tidur Yuki dan duduk di sisi sobatnya yang sedang terbaring itu. Kedua cewek itu udah sering banget main ke rumah Yuki. Tanpa basa-basi dia mengambil kursi dan duduk.

Yuki menangis. Gue benci dia!” pekik Yuki histeris..” kata Yuki di tengah isak tangisnya.” “Jadi. lo kenapa?” pekik Cha-Cha.. gue benci dia. kayak pacaran sama anak kecil. nyeleweng?” Cha-Cha masih nggak percaya. Gue nggak ngerti apa maunya. Sammy yang selama ini dia kenal benar-benar tipikal cowok idaman. ternyata Maxi benar. Yuki menghapus air matanya dan melepaskan diri dari pelukan Cha-Cha. sopan. jangan malah dicuekin gini dong! Apa sakit lo parah banget sampai nggak bisa ngomong atau ngelihat kami berdua?” Yuki tetap mengurung diri di balik selimut. Kemarin malam gue nanya langsung ke dia. Bia mengambil tisu yang ada di atas meja tepat di sebelah tempat tidur Yuki dan menyodorkannya pada cewek itu. “Yuki.. Bia dan Cha-Cha melotot kaget. “Lo kenapa sih?!” Wajah Yuki yan gpucat dan bersimbah air mata muncul dari balik selimut. Rasanya siapa pun nggak akan percaya kalau cowok seperti Sammy ternyata mendua hati. Yuki mengangguk sebagai jawaban untuk keraguan Cha-Cha.. wajahnya merah. Bia dan Cha-Cha kaget plus heran.. gentleman. Lama-kelamaan semakin kencang dan disertai isak pelan. Yu?” tanya Bia tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya. “Apa yang udah terjadi?” “Gue benci Sammy.” ujar Yuki lirih.“Jangan-jangan lo kena flu burung ya. Katanya nggak ada serunya. akhirnya dia ngaku. Awalnya dia nggak mau ngaku. ramah. Ia menarik napas panjang untuk mengontrol emosi yang meluap dalam dirinya. “Yu. tapi waktu gue bilang gue lihat dia jalan sama cewek di mal. Masalahnya. padahal sebentar lagi gue juga lulus SMA dan bakal jadi mahasiswa kayak dia. Kenapa dia nggak mau menunggu? Kenapa dia malah memilih cewek itu dan mutusin gue gitu aja? Apa hubungan gue sama dia selama ini nggak punya arti apa-apa buat dia? Kenapa dia dengan begitu mudahnya mutusin gue? Kenapa?” .” timpal Cha-Cha asal.. Baik hati. “Kami kan datang buat jenguk elo. dia bosan pacaran sama anak SMA. “Ada apa. “Bi. Matanya bengkak. Sammy benar-benar. Selimut menutupi seluruh tubuhnya. “Gue benci Sammy. bibirnya kering. “Dia bilang.. Cha-Cha menarik tubuh Yuki dan memeluknya. dan yang pasti setia. kenapa sih lo?” tanya Bia mulai keki. Saking nggak sabarnya. Dia ngeduain gue. Yang ditanya diam seribu bahasa. “Kenapa dengan Sammy? Apa yang membuat elo begitu marah sama dia?” tanya Bia nggak sabar. Bia menarik selimut yang menutupi tubuh Yuki. Tapi kali ini tubuhnya bergetar pelan. “Sammy nyeleweng. Yuki mengambilnya dan menghapus air mata yang turun di pipinya. dan peluh mengalir di keningnya.. Yuki malah menangis lebih kencang dari sebelumnya.

. Lalu perlahan dia kembali ke samping Yuki. “Apa lo masih cinta sama dia? Apa lo masih mau ngebelain dia?” “Bukan.” cecar Bia.. karena gue peduli sama elo. Dia benar-benar patah hati dan kecewa. Kalau dia sampai tau gue kayak gini gara-gara dia. bukan. Bi. jangan berpikiran senegatif itu tentang uge. “Kenapa?” tanya Bia.. “Kalau lo nggak mau dia merasa menang dan hebat. Buktikan sama dia. Gue mohon jangan!” tahan Yuki memelas. Gue nggak akan tinggal diam melihat sahabat gue dicampakkan gitu aja. “Gue tau.” .. “Sori. kan? Apa lo ke sini buat ngelihat penderitaan gue?” tanya Yuki sinis..” “Ngapain lo nguping di rumah orang?” ketus Bia.. Jangan permalukan gue di depan dia. Bi. Dia akan merasa menang dan hebat karena bisa mencampakkan gue. Max? Omongan lo soal Sammy ternyata benar. Buktikan sama dia bahwa dia nggak ada artinya buat elo. “Nggak begitu. Gue nggak tau gimana caranya bangkit lagi. gue nggak akan punya muka lagi di depan dia. tapi pas gue mau ngetuk pintu. lo mau ke mana?” tanya Cha-Cha. gue nggak bermaksud nguping. Mungkin itu yang bikin dia jadi sakit seperti ini. Bi. Bia. jangan. Sekali lagi sori. gue udah dengar semua pembicaraan kalian. “Gue mau bikin perhitungan sama cowok brengsek itu. dan Cha-Cha menatap Maxi kaget. Gue nggak jadi masuk dan akhirnya malah mendengar semuanya. “Bi.Tangis Yuki bertambah kencang. dan lo bisa ngetawain gue.. “Jangan.” “Tapi lo sekarang puas kan. Dia harus gue kasih pelajaran sampai kapok!” jawab Bia geram.” jawab Maxi tenang. gue dengar Yuki nangis.. Tujuan gue ke sini mau jenguk Yuki..” Bia terdiam.” Tiba-tiba Maxi muncul dari balik pintu kamar Yuki.” “Terus kenapa?” “Gue nggak mau dia tau bahwa gue terluka gara-gara dia. bukan dia yang mencampakkan elo tapi elo yang mencampakkan dia. “Yang pasti. Yu. Yuki. jangan siksa diri lo seperti ini. karena gue sayang sama elo. Kata orang penyakit kan bisa juga disebabkan oleh gangguan psikologis kayak yang dialami Yuki sekarang ini.. Please.” “Gue yang akan membantu lo bangkit lagi. Bia bangkit dan berjalan menuju pintu kamar Yuki dengan tangan terkepal. Mereka sama sekali nggak menyadari kehadiran cowok itu. tapi gue nggak bisa. “Udah berapa lama lo di situ?” tanya Bia ketus. “Cukup lama.” “Lalu buat apa lo ke sini?” “Karena gue khawatir sama elo.

Yuki tetap menangis.. tapi dia membiarkan tangan Maxi membelai rambutnya. Mukanya berubah merah. Entah karena panik atau karena malu. gue udah lama suka sama elo.” Tanpa sadar air mata Yuki mengalir lebih deras.. Maxi jadi kebingungan. Meskipun menurut Bia kata-kata Maxi rada gombal. Bia tersenyum geli melihat kepanikan Maxi dan buru-buru menahan ChaCha yang udah mau memeluk Yuki. lo tau.. Bia dan Cha-Cha tersenyum di sisi tempat tidur. Tiba-tiba Yuki langsung memeluk Maxi dan menangis di pundaknya. tapi cukup. “Yu. Semoga aja kehadiran Maxi bisa jadi obat mujarab untuk luka di hati Yuki. semakin lama semakin erat. . gue ada di sini. Jangan khawatir. Bia menghampiri Maxi dan mendorongnya ke arah Yuki. lalu dengan lembut membelai rambut Yuki.. Dia langsung panik melihat Yuki menangis histeris begitu. Adegan barusan persis kayak di film-film romantis Korea. Tapi pelan-pelan Maxi mengulurkan tangan. tapi bolehlah. yang lagi ngetren belakangan ini. Nggak perlu sebagai pacar. Maxi semakin salah tingkah. “Yu. Itu lho. Gue akan selalu di samping lo. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis kencang. sebagai tempat lo bersandar. Yu. Dan sampai sekarang.Yuki terdiam. Air matanya mengalir pelan. izinkan gue berada di samping lo. Sesaat Maxi terpana lalu perlahan membalas pelukan Yuki.” bisik Maxi lembut. perasaan gue nggak berubah sedikit pun. apa pun yang terjadi.

Bia. Bia yang udah nggak sibuk lagi di OSIS karena udah menyerahkan jabatannya pada adik kelas mulai berkonsentrasi pada ujian dan persiapannya memasuki masa kuliah. itu pun tetap tak dipedulikan oleh Bia. Yuki memang nggak langsung menjadikan Maxi sebagai pacarnya. dan Cha-Cha duduk-duduk di pinggir lapangan sambil menikmati segelas es cendol. Egi nggak pernah “mengganggunya” lagi. “Pada bisa nggak?” . Apalagi bagi Bia dan teman-temannya. Maxi baik banget ya! Sekarang ini sudah tepat satu minggu siswa-siswi SMA Constantine 4 menghadapi ujian semester. Tapi Maxi bersikeras untuk menunggu sampai Yuki benar-benar bisa melupakan Sammy dan membuka hati untuk menerima dirinya. Anak-anak kelas tiga dibuat nggak punya waktu untuk memikirkan masalah lain selain belajar. Bia juga kadang-kadang merasa Egi memerhatikannya dari jauh. Memang. yang tahun ini bakal meninggalkan bangku SMA. Lagi pula dia takut jika dia hanya memanfaatkan Maxi sebagai perlarian sesaat. Bia juga kini lebih tenang. tapi Bia tak pernah membalasnya. dan ocehan sebagai pelengkapnya. Yuki bilang dia masih butuh waktu untuk mengobati luka di hatinya. Yuki.BAB ENAM KISAH Yuki dan Sammy memang berakhir hari itu. “Gimana ujian Inggris tadi?” tanya Yuki mengawali percakapan. Ekspresi lega mulai muncul di sela-sela wajah kusut yang sejak kemarin bertebaran di mana-mana. masa-masa ujian jadi masa-masa yang paling menyiksa. Mereka membutuhkan sesuatu yang dapat mendinginkan otak mereka yang udah panas gara-gara disuruh mikir terus selama seminggu ini. Akhirnya masa ujian pun berlalu. Siang itu. Tapi kisah baru antara Yuki dan Maxi baru aja dimulai. aturan. Egi paling hanya tersenyum. Semua guru terusmenerus memberi latihan soal yang katanya sebagai persiapan buat menghadapi ujian akhir nanti plus berbagai macam wejangan. pernah beberapa kali cowok itu berpapasan dengannya.

” ujar Bia. Tammy mana?” tanya Bia. Semakin tegang semakin bagus. gimana kalo habis ini kita ke MTA?” usul Yuki. Bia dan Cha-Cha tidak langsung menjawab. Yu. ngumpul bareng kita. Kayaknya lebih tegang. “Tammy nggak mungkin menghindari kita. @(^-^)@ Siang itu Mal Taman Anggrek nggak terlalu ramai. berapa sisa uang di dompet mereka. Biar otak gue yang kusut garagara ujian bisa fresh lagi!” .” jawab Cha-Cha.” sahut Cha-Cha. dan Yuki menaiki eskalator menuju bioskop yang ada di lantai atas. “Skeleton Key aja. “Nanti malam gue coba telepon dia deh.” “Tuh anak kayaknya udah nggak pernah lagi ya. “Siapa tau dia lagi ada masalah. “Gue yang bayarin!” cetus Yuki. Mereka mengira-ngira. Bia. itu pasti cuma perasaan lo doang. “Sepertinya Tammy agak sibuk akhir-akhir ini.” sambung Yuki. Yuki yang terpaksa mengambil uang di ATM dulu cuma bisa mengangguk pasrah.” Bia sok menganalisis.” celetuk Yuki.” Bia membela diri. “Feeling gue mengatakan dia sedang menyembunyikan sesuatu dari kita.” kata Yuki. biar otak kita jadi fresh lagi. “Mau nonton apa nih?” tanya Yuki sesampainya mereka di bioskop.” usul Cha-Cha. Kita kan sahabatnya. “Udah pulang duluan. “Skeleton Key aja. Cha-Cha. “Hei. Setelah berunding.” “Kan gue cuma feeling.” Cha-Cha bersikeras.“Please deh. “Eh iya. “Ah. Kepala gue udah mau meledak!” Yuki tersenyum dan kembali menikmati es cendolnya. Gue belum nonton tuh. Jadi jangan sebut-sebut kata „ujian‟ lagi di depan gue. “Dia bilang sih mau nganter nyokapnya ke salon. “Nggak ah!” Bia nggak setuju.” Bia dan Cha-Cha mengangguk bersamaan. mereka tak perlu berpikir dua kali. Bukannya ngilangin stres. Bia dan ChaCha dengan mantap memutuskan minta ditraktir nonton aja. “Setuju banget!” teriak Yuki dan Bia berbarengan. “Gue baru aja mau mendinginkan otak gue.” “Sky High aja. Skeleton Key malah bikin gue tambah stres nanti. Kalau ditraktir. “Tapi kok gue malah merasa dia lagi menghindar dari kita. “Sky High aja deh.

Ya. Bia berusaha menegaskan pandangannya. “Iya. Lo mau?” “Nggak deh!” “Ya udah.” ujar Bia. Sudah lama Bia nggak pernah melihat wajah Mama seceria itu. “Tapi. Tiba-tiba tatapannya terhenti pada sepasang pria dan wanita yang duduk di restoran yang nggak jauh dari tempatnya berdiri.” dumel Bia. bukan Skeleton Key. dan menatap laki-laki itu dengan lembut. “Cha. “Biarin. “Kita nonton Dealova aja. Bia merasa sosok perempuan setengah baya yang tengah dilihatnya itu mirip sekali dengan Mama.“Stop!” Yuki menghentikan perdebatan Bia dan Cha-Cha. “HAH?!” seru Bia dan Cha-Cha bersamaan. Yu? Jadi. Cha-Cha yang sedang melihat-lihat poster film yang akan ditayangkan bertanya tanpa menoleh. Yu. lo tau kan. itu memang Mama! Mama sedang duduk bersama seorang pria yang sama sekali nggak Bia kenal. Kan gue yang traktir. Mama pasti punya hubungan khusus dengan . Bia memesan satu hot crepes untuk dirinya sendiri. alamat tidur di bioskop deh gue. gue ngalah deh. Bia yakin. “Yah. sedangkan Mama hanya diam. gue mau nonton yang cinta-cintaan aja. Sambil menunggu pesanannya dibuat.. Beberapa kali dia tertawa sambil menatap pria yang duduk di hadapannya. “Ngapain?” “Mau beli crepes dulu. “Biar gue yang nentuin mau nonton apa. Tangan laki-laki itu menggenggam tangan Mama. Perlahan dia berjalan mendekati restoran itu. lalu berjalan dengan cueknya menuju loket untuk membeli tiket.” Bia dan Cha-Cha diam dan manyun.” tambah Bia.. Sosok perempuan itu semakin jelas. “Demi temen yang lagi kasmaran. dan sekarang dia mengenali perempuan itu. jadi gue yang nentuin mau nonton apa.. gue nggak suka cerita-cerita roman kayak gitu. lo udah nerima Maxi nih?” goda Cha-Cha. Cha-Cha cuma nyengir mendengar ucapan sobatnya itu.” Bia keluar dari bioskop menuju counter crepes yang ada di depan bioskop.” putus Yuki. Yuki masih lama ini beli tiketnya.” ujar Cha-Cha. Mama benar-benar seperti anak ABG yang sedang dilanda asmara. Mama tampak begitu ceria. berhubung gue lagi kasmaran.” “Hah? Lo lagi kasmaran. gue keluar dulu ya sebentar. ia mengedarkan pandang ke sekelilingnya. Wajah Mama saat ini mirip dengan wajah Yuki setiap kali berbicara dengan Maxi. Yuki cuma senyam-senyum.” kata Yuki. tersenyum. Bukan Sky High.. Bia nggak berani memercayai apa yang dia lihat.

Namun dengan kasar Bia menepisnya. Bi. “Bi. Bia berjalan cepat memasuki restoran itu. “Gue kasih tau ya. “Jangan bicara nggak sopan sama orang tua!” “Orang tua?” tanya Bia sambil tertawa.. “Bia. Biar Mama jelasin ke kamu. Dia nggak percaya pada apa yang didengarnya. Lakilaki bertubuh tegap dan berjambang tipis itu adalah laki-laki yang sudah . Mama Bia terlonjak kaget.. Bia benar-benar nggak tahan melihatnya.... Air mata menggenang di pelupuk matanya. Dia nggak suka melihat Mama bertingkah seperti itu. “Mama!” tegur Bia keras.. “Tenang dulu. Kata-kata singkat Mama tadi udah menjelaskan status laki-laki yang sekarang berdiri di sebelah Mama.. Bi. Sementara laki-laki yang bersama Mama tampak kikuk. “Dia akan Bia anggap sebagai orang tua kalau tingkah lakunya benar-benar mencerminkan orang tua.. Ma? Punya hubungan apa dia sama Mama sampai Mama membiarkan dia megang-megang tangan Mama?” cecar Bia. kamu duduk dulu.” Bia menepis tangan Mama yang berusaha memegang bahunya.” Mama bangkit berdiri dan berusaha menenangkan Bia. Ada banyak hal yang harus Mama jelaskan ke kamu. lalu ia mendekati laki-laki itu. Atau jangan-jangan. “Salah paham? Aku salah paham? Ma. Bia menggeleng.. atau lo akan menyesal!” “Bia!” hardik Mama. dan Mama masih bilang aku salah paham?” “Bukan begitu. jangan coba-coba deketin nyokap gue..” kata Mama. Ia menarik tangan Bia untuk duduk di sebelahnya..” “Apa maksud Mama?” Bia nggak memedulikan kata-kata Mama. kamu jangan salah paham.laki-laki itu. tingkah laku Mama sama laki-laki ini udah aku lihat jelas. tapi tak jadi. Dia nggak akan rela mamanya disakiti lagi seperti ketika Papa Ivan menyakiti Mama. Tapi Bia nggak peduli. Bukan seperti playboy yang lagi cari mangsa!” PLAK! Tangan Mama melayang ke pipi Bia sambil berkata tajam. “Jangan bicara sekasar itu pada papamu!” Bia terperangah. “Ap-apa maksud Mama?” Wajah Mama berubah pucat.. “Bia.” pinta Mama penuh permohonan. Sayang.” “Siapa laki-laki ini. Dia nggak perlu penjelasan Mama. Seluruh mata yang ada di restoran itu memandang mereka. Dia mau bicara. kita bicara pelan-pelan. “Siapa yang Mama sebut papaku?” “Bia. itu laki-laki yang sama dengan laki-laki yang sering mengantar Mama pulang ke rumah.

” Bia nggak membalas sapaan Egi. Dia nggak peduli dengan crepes pesanannya. “Kita jodoh banget ya. Laki-laki itulah yang telah membuat Bia terlahir di dunia ini tanpa mengenal kasih sayang seorang ayah. laki-laki yang udah meninggalkannya selama 17 tahun tibatiba muncul di hadapannya dan duduk mesra bersama mamanya. Bia nggak mau lagi menghadapi masalah-masalah yang menyesakkan dadanya ini. jangan pergi dulu. tapi kali ini sama sekali nggak ada nada kasar seperti biasanya. Bia nggak tahu harus gimana.. Gi. Bia kembali berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. kecewa. Bahkan langit yang sedang mendung seakan turut memahami sakit hatinya ini. Bi? Sendirian ya? Gue temenin ya?” “Please. Yuki. Bia lelah.. lo baik aja duluan. dia nggak mau mendengar permohonan maaf dari mulut laki-laki itu apalagi menerimanya sebagai papanya. Ada dua cowok berjaket hitam yang berboncengan di sepeda motor. Sepeda motor itu berhenti.” kata Bia. Bia terus berlari dan berlari. Ia menoleh sejenak. Cowok yang duduk di boncengan turun lalu melepaskan helm yang dipakainya. Hatinya sakit dan marah. bahkan benci dengan semua yang harus dia hadapi ini. Egi mengernyitkan kening. Bia nggak percaya.. Bia berbalik dan keluar dari restoran tanpa memedulikan teriakan Mama. Egi menatap Bia dan semakin yakin pasti Bia sedang ada masalah. di jalanan segede ini aja kita masih bisa ketemu. “Eits. Dia nggak mau mendengar penjelasan apa pun. Bia benci mamanya. Bi!” sapa Egi sambil menenteng helm di tangan kanannya. Egi! “Halo. sedih. Dia marah. Teddy membuka helmnya. Dia nggak mau pulang ke rumah karena dia sama sekali nggak mau ketemu Mama. “Bia!” Bia mendengar seseorang memanggil namanya.meninggalkan dirinya dan Mama. Jangan halangi jalan gue. Bia ingin semua yang ada di dunia ini menghilang. Bia menyusuri trotoar dan berjalan tanpa tujuan. “Ted. “Lo mau ke mana sih? Mau ngejar tuh cewek?” . Dia merasa ada yang aneh pada gadis yang sedang berdiri di hadapannya ini. Dia berlari cepat menuruni eskalator. Dia malah membuang muka lalu meneruskan langkahnya. Laki-laki itulah yang telah membuat mereka menderita selama ini. Tapi dia memilih diam dan menyingkir dari hadapan Bia. serta Cha-Cha yang tengah menunggunya di bioskop. Bia menghentikan langkah. juga laki-laki brengsek itu.. Lo mau ke mana.” kata Egi pada Teddy yang masih duduk di atas motor. @(^-^)@ Bagi Bia ini seperti mimpi buruk. Bia belum siap menghadapi semua kejadian ini. sangat lelah. Cowok itu. Tapi Egi buru-buru menahannya.

. Egi yang sudah sampai di atas jembatan berusaha mencari sosok Bia.” jawab Bia ketus. Mau nggak mau Egi kaget juga mendengar pertanyaan itu. “Apa-apaan si lo? Seberat apa pun masalah yang lo hadapi. Bi!” hardik Egi. Bia memperlambat langkahnya dan mendekati pagar jembatan. Cewek kayak gitu kok dikejar.. Egi berlari mengejar Bia yang tengah menaiki jembatan penyeberangan. “Awalnya ya karena wajah lo yang imut itu. “Lo pikir gue cewek bego? Siapa yang mau bunuh diri? Gue masih sangat menghargai hidup gue. “Udah mau hujan lho. “Lo nggak mau pulang.” jawab Egi singkat sambil menyerahkan helmnya pada Teddy dan langsung berlari mengejar Bia.“Itu urusan gue. Jaket hitam melindungi tubuhnya dari udara yang mulai dingin karena akan turun hujan.” Hening sejenak di antara mereka. Kepalanya ditengadahkan menatap langit. Bi?” tanya Egi. apa sih yang elo suka dari gue?” tanya Bia tiba-tiba. Egi diam.” . Egi mengikutinya dan berusaha menjajari langkah Bia. Bisa dibilang. Tapi dia sama sekali nggak beranjak dari tempatnya. Jantungnya berdetak kencang. gue jatuh cinta sama seluruh diri lo.” “Jangan peduliin gue deh. Mendekati ujung jembatan. Langit mulai menghitam dan sesekali terdengar suara guntur bergemuruh. Ternyata dugaannya salah.” jawab Egi. Tapi lama-kelamaan. Gemuruh guntur terdengar semakin kencang. Bia masih tertawa lalu kembali berjalan mendekati sisi jembatan. Pandangannya sampai pada seorang cewek yan gsedang berdiri memegangi pagar jembatan sambil menatap ke bawah. Dilepasnya tangan Bia dengan perasaan lega. “Karena kalau gue bilang sampai selamanya.” rutuk Teddy pelan. “Gi. lo nggak boleh berpikiran sempit apalagi kalau sampai bunuh diri.” Egi terpana. Gue nggak butuh perhatian lo. “Sampai kapan lo akan menyukai gue?” “Gue nggak tau sampai kapan. Teddy tahu Egi benar-benar udah jatuh cinta pada cewek galak itu. jelas banget itu gombal. Sesaat kemudian ia kembali menatap jalan raya yang terhampar di bawah jembatan.!” panggil Egi sambil berlari menghampiri Bia lalu menarik tangannya menjauhi sisi jembatan. Dia memang nggak benar-benar setuju dengan pilihan hati Egi. Hingga akhirnya Bia bertanya. Apa Bia mau bunuh diri? “Bia. tapi sebagai teman. Kemudian ia menjawab. Itu dosa. Bia berjalan tanpa peduli pada orang-orang di sekelilingnya yang mulai berlarilari takut kehujanan. gue jatuh cinta pada pandangan pertama. “Dasar bego. Bia menatap Egi yang menggenggam pergelangan tangannya kuat-kuat. Lalu ia tertawa.

Gue benar-benar marah sama dia. Saat nyokap gue menikah lagi dengan Papa Ivan. bisa meringankan beban yang mengimpit dada lo. kalau elo lagi punya masalah.” “Jadi cuma itu masalahnya?” Egi bertanya kembali. Gue besar tanpa pernah tau siapa ayah kandung gue..” kata Egi pelan.” “Maksud lo.. boleh gue tau alasannya?” Lagi-lagi Bia diam.Bia diam. laki-laki yang udah ninggalin gue dan nyokap gue begitu aja. bokap kandung lo?” “Dia bukan bokap gue!” bentak Bia. Gue nggak akan pernah memaafkan dia! Laki-laki itu nggak layak gue panggil Papa. Bia menarik napas. Kalau tentang masa lalu lo itu. “Mmm. Bia tetap diam.” Egi menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.” kata Egi pelan. lo tuh beruntung banget. Dia nggak menyangka Bia akan seemosional ini.. Mungkin gue nggak bisa bantu. Gi. Dia tahu Bia tengah dilanda masalah. “Masalahnya. “Wajar kalau lo tau karena ini bukan cerita baru. Namun kemudian ia kembali menjawab. Dia sama sekali nggak menanggapi kata-kata Bia.” Egi diam. tapi paling nggak dengan menceritakannya pada orang lain.” Bia menghentikan ceritanya. “Gue lahir tanpa pernah tau siapa ayah kandung gue. “Gue merasa ditipu nyokap gue. tapi ternyata Papa Ivan juga meninggalkan nyokap gue dan selingkuh dengan wanita lain. laki-laki itu sekarang muncul. lo tau nggak. Gue emang nggak pernah layak punya ayah.. Bia menggeleng. Semua orang juga tau kalau gue cuma anak haram.. “Gue kembali kehilangan seorang ayah. gue pikir gue akan memiliki seorang ayah yang bisa gue banggakan. Egi menatap cewek yang berdiri di sampingnya dengan sejuta tanya.” “Laki-laki itu?” “Ya... Matanya menerawang jauh ke depan.” “BERUNTUNG?!” . gue udah tau. lalu kembali melanjutkan ceritanya. Nyokap gue nggak pernah mau menceritakan asal-usul gue sebenarnya. Yang gue tau. cerita aja ke gue. “Gue marah sama nyokap gue. Anak di luar nikah.. “Sori. gue cuma anak haram. ia berkata lirih. Tapi sesaat kemudian. Laki-laki yang udah membuat gue disebut anak haram. Sebenarnya. Bi. Dari dulu gue nggak punya bokap dan sampai kapan pun gue nggak akan punya bokap!” Egi terpana... “Bi. “Gue nggak akan pernah mengakui dia sebagai bokap gue. “Bi. Gue nggak akan membiarkan dia kembali ke nyokap gue setelah tujuh bleas tahun dia meninggalkan gue dan nyokap gue tanpa kabar berita.

” Bia terkejut. “Gue nggak tau. Kalau itu nggak terjadi. Waktu itu. Tapi kalau suatu hari nanti Tuhan ngizinin gue untuk bertemu dengan mereka. dia berterima kasih karena orangtua kandung gue telah melahirkan gue ke dunia ini dan menitipkan gue ke panti asuhan. Mereka mengadopsi gue dari panti asuhan waktu gue masih bayi. “Gi. “Apa menurut lo perginya bokap kandung gue dan perceraian nyokap gue dengan Papa Ivan juga merupakan bagian dari rencana Tuhan?” . gue marah sama Tuhan. sambil nangis nyokap gue bilang. Gue bertanya-tanya untuk apa orangtua kandung gue melahirkan gue kalau akhirnya mereka membuang gue ke panti asuhan. “Apa lo pernah berpikir. betapa beruntungnya hidup lo? Meskipun elo nggak tau siapa bokap kandung lo.” jawab Egi. beruntung.” Kali ini Bia terdiam. terima kasih karena mereka telah membuat gue bertemu dengan orangtua angkat yang luar biasa baiknya. gue akan mengucapkan terima kasih pada mereka. nyokap gue nggak akan pernah bertemu dan mengadopsi gue sebagai anaknya. Pertama kali gue mengetahui kenyataan itu. “Tapi akta-kata nyokap angkat gue membuat gue sadar akan arti kehidupan. Gue marah sama semua orang. Maka nyokap gue nggak pernah memiliki seorang anak laki-laki yang begitu dia sayangi seperti dia menyayangi gue. gue hampir gila. dan terima kasih karena mereka memberi gue kesempatan untuk menghirup udara hari ini. Nggak seperti gue. “karena lo masih dikasih kesempatan sama Tuhan untuk bertemu bokap lo dan mempersatukan lagi keluarga lo. yang dari lahir nggak pernah sekali pun mengenal orangtua gue sebenarnya. Dia menoleh dan menatap Egi yang tersenyum di sebelahnya. gue juga marah sama diri gue sendiri. terima kasih karena mereka membuat gue memiliki kehidupan yang layak. terima kasih karena mereka tetap membiarkan gue lahir ke dunia ini. Katakata itu yang akhirnya menyadarkan gue untuk menerima semua kenyataan ini sebagai bagian dari kehidupan gue. Gue mulai belajar bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari rencana Tuhan yang pastinya indah buat gue pada waktunya.” lanjut Egi. Setiap kata yang keluar dari mulut Egi seakan menusuk hatinya.” Bia terpana. Bi. “Terima kasih?” “Iya.“Iya. Direnunginya setiap kata itu satu demi satu.” jawab Egi. lo selalu dihujani kasih sayang berlimpah dari nyokap lo. apa lo bisa memaafkan orangtua yang udah membuang elo itu?” tanya Bia lirih. “Orangtua gue yang sekarang ini sebenarnya bukan orangtua kandung gue. terima kasih karena gue dititipkan ke panti asuhan dan bukan dibuang ke jalanan.” Egi menghentikan ceritanya sesaat dan menarik napas dalam-dalam.

Udara dingin terasa semakin menusuk. Dibiarkannya air hujan membasahi wajah dan membersihkan air mata yang tanpa ia sadari mengalir dari sudut matanya. Dia nggak mengira semua akan menunggunya seperti ini. Bia tersenyum lalu menegadahkan kepalanya. nggak aka nada Bia yang berdiri di samping jembatan bersama gue hari ini. Rambut dan sebagian bajunya yang nggak tertutup jaket basah kuyup karena hujan. Egi pun tetap berdiri di sebelah Bia tanpa suara. Tapi Bia tetap berdiri di tempatnya sambil memandang lurus ke depan. Tapi Bia bergeming. @(^-^)@ Bia turun dari taksi tepat di depan rumahnya. Mama nggak bisa kehilangan kamu. Mama dan Yuki yang juga berada di ruang tamu bersama Cha-Cha tampak sama terkejutnya dengan Cha-Cha. Jangan hokum Mama dengan cara seperti ini. Air hujan turun semakin deras. “Bia!” pekik Cha-Cha begitu dilihatnya Bia masuk dalam keadaan basah. Bia membuka pagar dan masuk ke rumah tanpa suara. Tanpa ia sadari. dan Egi juga yang membayar taksinya. Yuki dan Cha-Cha mengikuti di belakang mama Bia dengan wajah cemas. “Karena menurut gue. Bi?” tanya Mama di sela isak tangisnya. nggak aka nada Bia yang jagoan tapi berhati lembut. tak lupa Bia mengucapkan terima kasih pada Egi. Bia melirik Egi yang masih berdiri di sebelahnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada melawan rasa dingin yang kian menusuk.. menantang langit dengan kedua mata terpejam. pipinya memerah dan jatunya mendadak berdebar keras. dan nggak aka nada Bia yang membuat gue jatuh cinta dan tergila-gila. Titik-titik air turun dari langit.” Bia terdiam. Dia juga sama sekali nggak mengira Mama akan mengkhawatirkannya seperti ini. Bi..” . Hujan udah reda. Bia terpana.“Ya. yang dibalas dengan senyum manis cowok itu. Mama langsung memeluk Bia dengan erat dan menangis kencang. Cuma kamu yang Mama miliki. “Kamu benar-benar udah bikin Mama khawatir. Egi-lah yang mengantarnya naik taksi. tanpa semua itu nggak aka nada Bia dengan sifatnya yang keras tapi tegar. Ada rasa hangat yang tiba-tiba mengalir di dalam dirinya. “Bia!” seru Mama yang langsung berlari menghampiri Bia dengan mata berkacakaca. “Kenapa?” tanya Bia lagi. Dilepasnya jaket yang melekat di tubuhnya dan disampirkannya di pundak Bia untuk melindungi gadis itu dari hujan yang turun dengan derasnya serta angin yang bertiup kencang. Sebelum turun. “Kamu ke mana.” jawab Egi mantap.

@(^-^)@ Bia berbaring di tempat tidurnya. Dia baru menyadari bahwa di badannya masih menempel jaket Egi. Dia masih belum bicara dengan Mama. Yang penting kami tau elo baik-baik aja. Bi. “Bi. Entah kenapa. mengawali pembicaraan. Tiba-tiba terdengar ketukan halus di pintu kamarnya. “Bi. sampai sekarang Mama belum berusaha memanggilnya dan bicara dengannya. lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamar. tapi gue rasa sekarang lebih baik kalian pulang karena gue mau sendiri dulu. Bia membiarkan Mama masuk ke kamar. Wajah Mama muncul dari balik pintu. masih ada yang mengganjal dalam hatinya. sedangkan Mama duduk di sebelahnya. walaupun emosinya telah mereda. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Yuki dan Cha-Cha. “Kami permisi dulu. Bia duduk di atas tempat tidur dan menarik guling ke dalam pelukannya.” pamit Yuki. Mata Mama yang merah menatap Bia.” kata Bia. Tadi sehabis mandi dia langsung masuk kamar dan mengunci diri. Makasih banyak. Di hatinya menjalar perasaan hangat. Dan yang membuat Bia heran. sori udah bikin kalian cemas. Bia yakin dia nggak akan tahu bagaimana caranya menghadapi kejadian ini. boleh mama bicara sama kamu?” “Sebentar. Sampai ketemu di sekolah. Tante. Kalau saja tadi Egi nggak ada. Bia bergegas mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Sepeninggal mereka. Yuki dan Cha-Cha nggak menjawab. Saat ini Bia masih ingin menyendiri dulu.” Mama menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang kepada Yuki dan Cha-Cha. “Boleh aku mandi sekarang?” tanya Bia tanpa ekspresi. . “Ya udah. tapi gengsinya membuat dia bertahan untuk nggak bicara duluan sama Mama. Cha. Dari mata itu terpancar kepedihan. Bia diam saja. tapi mereka mengerti permintaan Bia.” jawab Bia.Bia hanya diam dan menunggu sampai tangis Mama mereda. Bia melepas jaket itu dan menggenggamnya erat. Bia nggak berani memandang Mama. Lalu perlahan dilepasnya pelukan Mama. Sebenarnya Bia nggak mau seperti ini. apa kamu masih marah sama Mama?” tanya Mama pelan. Bia menatap wajahnya di depan cermin yang terpasang di balik pintu kamar mandi. “Yu.

” “Maksud Mama?” “Mama masih seumuran kamu sewaktu Mama mengandung kamu. “Papamu tak pernah bermaksud meninggalkan Mama. Dia menghubungi Mama dan memohon untuk bertemu dengan Mama. dia diam. Mama mengangguk.” Mama berhenti bicara. Mama marah.” lanjut Mama. tapi Mama yang meninggalkan dia. “Jadi namanya Frans?” tanya Bia. “Sejak kapan dia kembali? Untuk apa dia datang lagi setelah sekian lama dia ninggalin kita?” “Mama bertemu dia lagi tiga bulan yang lalu. Kamu tau Mama sayang sama kamu. Kemudian selama hampir satu bulan lebih dia menghilang. Dia menghilang selama sebulan karena dia kembali ke Pekanbaru menemui orangtuanya dan bersiap-siap ke Jakarta untuk melamar Mama.” kata Mama. “Nenek dan kakekmu yang akhirnya mengetahui kehamilan Mama membawa Mama meninggalkan rumah dan pindah ke Magelang agar orang-orang tidak mengetahui kehamilan Mama.” Bia tetap bungkam. Tapi saat kembali ke Jakarta. “Mama nggak bermaksud menampar kamu. Saat itu Mama berpikir dia tidak mau bertanggung jawab. Dari pertemuan itulah Mama tau alasan dia meninggalkan Mama waktu itu. “Kalau kamu nggak mau Mama berhubungan dengan Oom Frans. bukan dia yang meninggalkan Mama. sebenarnya. Mama menghela napas panjang lalu berkata.. dia tidak menemukan Mama karena Mama telah pindah ke Magelang tanpa memberitahu siapa pun. Waktu Mama mengatakan pada papamu bahwa Mama hamil.” Kali ini Bia menatap mamanya. Mama bahkan tidak pernah menganggap dia sebagai papamu. “Tapi ternyata selama ini Mama salah..” “Jadi apa alasannya? Apa alasan yang udah membuat dia meninggalkan kita selama tujuh belas tahun?” “Bi. Tapi dia tetap diam. Mama membenci papamu dan tidak mau mendengar kabar apa pun tentang dia.“Mama minta maaf. ayah kandungmu. Dia berusaha mencari . Bi. Awalnya Mama menolak. tapi dia terus memaksa. Dia tidak merespons kata-kata Mama. Mama janji nggak akan menemuinya lagi. Akhirnya Mama setuju. Mama menetap di sana sampai Mama melahirkan kamu. seakan tidak peduli pada apa yang Mama katakan.. Tapi saat itu Mama sudah lulus SMA dan bekerja membantu kakekmu menjaga warung. Dia diam karena saat itu dia kaget dan tidak tahu harus berbuat apa. “Apa dia laki-laki yang sering mengantar Mama pulang kerja?” Sekali lagi Mama mengangguk..

Kalau dia menikah. . “Mama lagi ngarang cerita apa sih? Rasanya yang Mama ceritakan ini kayak sinetron aja. “Mama nggak salah.” Bia mengernyitkan kening. Mama mengikuti perintah Kakek dan Nenek untuk pindah ke Magelang karena Mama ingin melupakan dia dan melahirkan kamu dengan tenang.” Bia memeluk guling erat-erat. “Tapi sayangnya. Dia udah ninggalin aku selama tujuh belas tahun. Aku nggak tau apa aku bisa memaafkan dia. Bia diam tanpa tahu harus menjawab apa. Air mata mengalir di pipinya. Anaknya sempat koma selama dua minggu sebelum akhirnya meninggal.” kata Mama pelan.” “Ini bukan karangan. Aku nggak tau apa aku bisa bicara baik-baik dengannya meskipun semua ini bukan murni kesalahannya. Bia melepas guling di tangannya dan memeluk Mama dengan erat. Bi. tapi Mama menolaknya karena Mama tau kamu tidak akan bisa menerimanya begitu saja.” “Dia. papamu ingin.. Ma. bertemu denganmu.. Kalau waktu itu Mama percaya pada ayahmu dan sabar menunggunya kembali. Kita tidak bisa menyalahkannya. istri dan anaknya telah meninggal dua tahun yang lalu.. “Sudah.” “Dia terpaksa menikahi gadis itu karena orangtuanya memaksa. itu berarti dia nggak mengharapkan kita lagi. “Selama ini mama tidak mau bercerita tentang ayah kandungmu karena Mama marah dan membencinya. Sampai akhirnya tiga bulan yang lalu dia tahu dari teman sekolah Mama di mana tempat Mama bekerja.Mama tapi tidak berhasil. Mama mengira dia meninggalkan Mama dan tidak mau bertanggung jawab. Laki-laki seusianya jelas harus menikah. apa dia belum menikah sampai sekarang?” tanya Bia ragu..” bela Mama.” Bia terkejut. mencari kita berdua. Dia selalu meminta Mama untuk mempertemukan dia dengan kamu. Nggak ada yang harus aku maafin dari Mama. Ini kenyataan!” bentak Mama.” “Kalau begitu apa kamu mau memaafkan Mama? Keegoisan Mama yang membuat kamu tidak pernah mengenal ayah kandungmu. “Bi. Mama sama sekali tidak tau bahwa ternyata pikiran Mama salah. Tapi bisakah kamu memberinya satu kali kesempatan untuk menjelaskan semuanya padamu?” kata Mama lembut. Mama tidak tau bahwa ternyata selama ini dia terus mencari Mama. “Aku nggak tau. meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Mama tau kamu sangat membenci dia. apalagi dia telah memiliki karier yang jelas.” “Meninggal?” “Ya. kamu tidak akan pernah disebut anak haram.” Mama menangis dan membalas pelukan Bia dengan hangat. “Tapi katanya dia terus mencari Mama. Mama sama sekali nggak salah.

” . Dan Mama terus berusaha menjadi ibu yang baik buat aku. Kerut-kerut pertanda usia yang terus bertambah mulai tampak di wajah Mama. Ia berjalan keluar dari kamar tidur menuju arah cahaya. pikir Bia. apalagi untuk memaafkannya. Bia mengintip Mama dari balik dinding. “Bia. aku akan terus membuat Mama mengalami kepedihan ini. Mata Mama menerawang. Sekarang matanya terbuka lebar dan enggan menutup kembali. Masalah kemarin seperti baru saja terjadi. Bia bersandar di dinding sambil terus menatap Mama. apa aku bisa? Tapi kalau aku nggak bisa. Mama berjuang seorang diri membesarkan aku. Kepalanya terasa penuh dan berat. Apa aku harus memaafkan laki-laki itu dan menerimanya kembali? Apa aku bisa melakukan itu? Memanggil laki-laki yang telah meninggalkan aku selama ini sebagai Papa. Sepertinya Mama juga sudah terbangun.BAB TUJUH BIA terjaga dari tidurnya sejak subuh. sebenarnya lo itu sangat beruntung karena masih dikasih kesempatan sama Tuhan untuk bertemu bokap lo dan mempersatukan lagi keluarga lo. Mama menekan rasas akit dan kecewa karena pengkhianatan Papa Ivan.. Sepertinya Mama nggak tidur semalaman. Penderitaan Mama jauh lebih berat dibandingkan apa yang aku rasakan. Bia menghela napas.. Tujuh belas tahun bukan waktu yang singkat. ditatapnya langit-langit kamar. Lampu di luar kamar menyala. Tampak lingkaran hitam di bagian bawah mata Mama.. Sambil berbaring. Bia menendang selimutnya dan bangkit dari tempat tidur. Bia nggak tahu harus berbuat apa. lo tau. Kata-kata Egi kemarin terngiang kembali di telinga Bia. Apa yang harus aku lakukan? batinnya. mungkin Mama nggak perlu bekerja lagi. Tidur pun nggak mampu menghapus beban di hatinya.. pasti waktu yang sangat berat bagi Mama. Nggak mudah baginya untuk menerima kembali seorang ayah yang sudah meninggalkannya. Ternyata lampu dapur yang menyala. Mama berusaha tegar menghadapi gunjingan para tetangga. Kalau di rumah ini ada seorang kepala rumah tangga. Tujuh bleas tahun. Dilihatnya Mama duduk di meja makan sambil memegang gelas berisi air.

“Ajak dia makan malam di sini. Jarum jam sudah menunjuk angka 6. aku mau tidur lagi. lalu meninggalkan Mama yang masih tersenyum lega. “Sungguh. “Ng.Bia menatap wajah Mama. ini.. “Ma. Bia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan.” “Ya udah. “Ma.” Mama mengangguk. Bi? Kamu mau bertemu dengan papamu?” “Aku belum mengakuinya sebagai papaku.. Mama cuma mau ambil air minum. Mama tau. Mama mengerti. Setelah itu baru aku akan mencoba memikirkan apakah aku akan memaafkannya atau nggak. Mama sudah menyuruh Oom Frans datang untuk makan malam. Bia membalas senyuman itu tapi dia tahu mama berbohong. “Kamu sudah bangun. Bi? Ini kan masih subuh? Bukannya hari ini hari Minggu? Biasanya kalau hari Minggu kamu selalu bangun siang. “Iya. . Ia mondar-mandir di kamarnya kayak setrikaan.” kata Bia pelan. @(^-^)@ Sore harinya. utang berbentuk kewajiban dan tanggung jawab mengurus anak istri.” panggil Bia pelan. aku beruntung masih diberi kesempatan untuk mempersatukan lagi keluargaku.” sahut Bia.” Bia menarik kursi dan duduk di depan Mama. sebentar lagi laki-laki itu tiba. Bia gelisah.” “Ah. Dia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia bertekad akan membuat Mama bahagia. Ditariknya napas dalamdalam sekali lagi. masa? Tapi Mama tidur nyenyak kok. Dia memejamkan mata. Mama terkejut.” Mama meraba bagian bawah matanya sambil tersenyum.” “Mama sendiri juga sudah bangun. “Tidur Mama nyenyak?” “Iya. Tapi paling nggak lingkaran hitam di mataku nggak sehitam di mata Mama. beban yang memadati pikirannya seakan lenyap begitu saja. aku mau ketemu sama laki-laki itu. tapi aku akan memberinya kesempatan bicara..” Mama terpana. Bi. Lalu dia berjalan mendekati Mama yang masih duduk termangu di meja makan.” kata Bia. Bia merasa lebih ringan.. Bia kembali ke kamarnya dan bersandar di balik pintu sambil berharap semoga keputusannya ini benar-benar tepat.. Aku hanya perlu belajar untuk menerima laki-laki itu sebagai ayahku dan memberinya kesempatan untuk membayar utangnya selama ini kepada kami. Kalau begitu. lalu menghitung satu sampai sepuluh. Kamu sendiri gimana?” “Nggak begitu nyenyak. Aku mau mendengar penjelasan langsung dari mulutnya. Ajaib. Mungkin Egi benar. Ia membuka mata dan tersenyum.

Gi. Terdengar suara deru mobil di depan rumah. Ditatapnya jaket hitam milik Egi yan gsudah terlipat rapi di meja belajarnya. Lalu ada suara pintu yang dibuka. Jantungnya berdegup semakin kencang dan liar. keringat. Sedangkan Bia sejak pagi sampai sekarang masih mengurung diri di kamar.Bia benar-benar cemas. Lebih tinggi sedikit daripada Mama. Oom Frans sudah datang. Dia nggak tahu bagaimana caranya menenangkan diri. Alisnya tebal. Ada . Bia duduk di tempatnya yang biasa. kata Bia pada dirinya sendiri. Rambutnya masih banyak yang hitam.” kata Bia sambil menatap jaket itu lekat-lekat. mungkin sekitar 165 cm. Nggak. Bia nggak menjawab lagi. aku nggak boleh keluar duluan. Aku mau ketemu sama papaku sendiri. Ketukan halus terdengar dari luar. Tapi sesaat kemudian dia berhenti. Baru kali ini ia merasa secemas ini. ada apa pada diriku? rutuk Bia. kursi itu sebenarnya kursi yang dipakai Papa Ivan sewaktu Papa Ivan masih menikah dengan Mama. Bia berjalan mendekati jaket itu dan mengambilnya. Dia semakin frustrasi. Penampilannya rapi dan bersih. elo orang pertama yang bakal gue damprat. Meja makan yang selama ini hanya terdiri atas dua kursi.” Bia meletakkan kembali jaket itu ke meja belajarnya dan berjalan keluar dari kamar. Hidungnya nggak mancung tapi juga nggak terlalu pesek. Aku harus menunggu Mama memanggilku keluar. Atmosfer tegang memenuhi ruangan. Telapak tangan Bia mulai basah karena keringat.” jawab Bia.” sahut Mama lembut. Kali ini entah kenapa Bia merasa kesulitan mengontrol debar jantung. Suasana terasa berbeda. Waktu di restoran kemarin Bia nggak sempat memerhatikan wajahnya dengan mendetail karena keburu terbakar emosi. Bia menatap laki-laki yang duduk di hadapannya. @(^-^)@ Oom Frans sudah duduk bersama Mama di meja makan. dan rasa takut yang menyesakkan dadanya. “Sebentar lagi aku keluar. Bia bangkit lalu berjalan menuju pintu kamarnya. Waktu pertama kali berkenalan dengan Papa Ivan dulu. “Kalau sampai hasilnya malah buruk. Bia santai saja. Bia menajamkan pendengarannya. hari ini sudah ditambahkan Mama dengan kursi plastik yang diambil dari gudang. “Gue lakukan ini semua gara-gara elo.” “Mama tunggu ya. Mama sudah memasak makanan istimewa untuk malam ini. buat apa aku takut begini? Bia mengacak-acak rambutnya kesal. Bia ingat. Oom Frans bertubuh tegap. Bi. Aku nggak boleh menunjukkan bahwa aku menunggu kedatangannya. Laki-laki itu pasti sudah datang.” “Aku tau. Gila. “Bi.

Oom Frans.. aku cuma bisa menghindar supaya mereka nggak menanyakannya padaku. Kelihatan banget dia berusaha ramah pada Bia. “Nggak apa-apa.” Mama mengawali pembicaraan dengan memperkenalkan laki-laki yang ada di hadapan Bia.” “Oom nggak pernah berniat meninggalkan kalian. “Kabarku?” Bia malah balik bertanya. Bia?” tanya laki-laki itu. Matanya menatap laki-laki di depannya itu. Ma. Oom . tapi juga pada Mama!” bentak Bia. “Maaf. “Aku udah tau namanya kok. Dan sekarang Oom hanya bisa mengatakan maaf?” “Lalu apa yang harus Oom lakukan untuk menebus semua kesalahan Oom?” tanya Oom Frans pelan. apa Oom tau betapa merananya tidak memiliki ayah?” Oom Frans terdiam. “Apa Oom tau betapa sakitnya diejek sebagai anak haram. “Apa kabar. “Oom ke mana aja waktu Mama melahirkanku. “Jelaskan padaku alasan Oom meninggalkan kami.” kata Oom Frans lirih.” jawab Bia ketus. waktu aku pertama kali masuk SD. atau kabarku waktu aku masuk rumah sakit gara-gara usus buntu?” “Bia!” tegur Mama. Senyum di bibirnya lenyap. Seitap kali orang menanyakan di mana papaku. Bia diam. “Bia. tapi nggak bisa melakukan apa pun. waktu aku pertama kali belajar berjalan. Aku hanya bisa menangis. “Sejak kecil aku harus menahan rasa sedih dan marah setiap kali mendengar orang-orang menghinaku.” “Bukan hanya padaku. Oom mencintai mamamu dengan tulus. “Maaf?” tanya Bia. Sewaktu Oom mengetahui kehamilan mamamu. Nggak kayak bapaknya Cha-Cha yang tampangnya rada sangar.. Bagaimanapun aku memang sudah bersalah padanya.kumis tipis di atas bibirnya. “Jaga ucapanmu!” Oom Frans tersenyum. “Kabarku waktu umur berapa yang mau Oom tanyakan? Waktu aku masih bayi. jujur saja. Bia. biarkan dia mengeluarkan semua kemarahannya padaku. waktu Mama jatuh sakit karena terlalu lelah bekerja?!” Bia meluapkan emosinya. aku cuma bisa diam. dan Bia tahu Mama sedang menangis. “Apa kata maaf bisa menghilangan semua penderitaan yang aku dan Mama alami selama ini? Apa satu kata maaf bisa membuat masa kecilku yang menyedihkan menjadi lebih baik?” Oom Frans nggak menjawab. Wajahnya kelihatan ramah dan lembut. Mama menundukkan kepala. Kalau teman-temanku dengan bangganya menceritakan pekerjaan papanya. waktu aku menangis karena jatuh dari sepeda. ini Papa. eh. Aku harus menahan diri saat aku mendengar mereka menggunjingkan Mama. apa Oom tau betapa sedihnya melihat Mama menanggung semua beban rumah tangga.

Tapi tak lama kemudian. “Bia. nikahi Mama dulu secara resmi. Oom terus mencari kalian sampai akhirnya Oom mendapat kabar tentang pabrik tempat mamamu bekerja. tanpa pamit pada mamamu.” ujar Oom Frans pada mama Bia.” jawab Oom Frans.” “Lalu kenapa Oom menikah dengan orang lain?” “Oom terpaksa. Dia telah kehilangan anak dan istrinya. Aku nggak mau tetangga menyebarkan gosip nggak enak tentang Mama.. Apa Bia juga harus seperti Mama? “Makanannya udah dingin. “Dan setelah itu Oom menyerah dan berhenti mencari?” tanya Bia ketus.” “Aku kan cucu mereka. tapi tidak dapat menemukan kalian.” Mama berkata memelas. biarkan Bia menumpahkan kemarahannya. waktu itu Oom sama sekali tidak mengetahui keberadaan kalian dan Oom terpaksa menuruti keinginan mereka. “Tidak..” “Bia. mamamu sudah pergi.” jawab Oom Frans dengan tegas dan tanpa ragu. Ditatapnya laki-laki di depannya. Anggap saja itu ganjaran dari Tuhan. “Terus. Mungkin itu yang membuat mamamu salah paham dan mengira Oom tidak mau bertanggung jawab. Bia terdiam sejenak. Pantaskah laki-laki ini menerima maaf darinya? Tapi kalau dia nggak memaafkannya. bagaimana perasaan Mama? Bia jelas tahu.. “Saat Oom kembali ke Jakarta. mama Bia menyela. Kalau memang Oom mau tinggal di rumah ini..” “Dan kalian hidup bahagia sementara aku dan Mama berjuang menahan derita. ia melontarkan pertanyaan lagi pada Oom Frans. Kebimbangan menyelimuti dirinya. Apa kamu tidak bisa memaafkannya?” “Biar saja.. jangan terus menyudutkan Oom Frans.” . Mama telah memaafkan Oom Frans dan mau menerimanya kembali. Aku terima. Dan sebaiknya Oom jangan terlalu lama di rumah ini. “Lebih baik kita makan karena aku udah lapar. Maya.” Melihat Bia semakin emosi dan Oom Frans semakin terdesak. Ma. Oom belum punya pekerjaan yang jelas. Kami masih terlalu muda.” kata Bia akhirnya. “Sudah.sempat merasa ragu.!” “Bi. Oom takut keluarga Oom tidak bisa menerima semua ini. Oom bingung dengan apa akan menghidupi kalian kelak. dia juga telah menyesali semua kesalahannya. Oom tidak mungkin terus sendirian karena orangtua Oom sangat menginginkan seorang cucu. Bia terdiam lagi. Oom sudah berusaha mencari.” lanjut Oom Frans. dengan apa Oom akan membayar semua penderitaan aku dan Mama selama ini?” “Oom akan membayar dengan seluruh sisa hidup Oom. Tapi akhirnya Oom memutuskan untuk kembali ke Pekanbaru dan bicara dengan orangtua Oom.

Gue udah nyusahin kalian berdua.. Begitu Bia muncul dari ujung koridor. Tapi dia menurut juga.” kata Bia. Sesaat kemudian dia pun mengerti.. bokap kandung gue. oh ya. Bia memang belum benar-benar memaafkannya.” “Nah itu yang mau kami tanyain.. Bia heran banget melihat tingkah dua sobatnya. . @(^-^)@ Esok harinya. Asli.. Itu sudah lebih dari cukup. ng. “Ada apa sih?” tanya Bia. Masalah apa sih?” tanya Yuki. ada apa sih kemarin?” tanya Cha-Cha.. Bia mau menerima Oom Frans sebagai bagian dari keluarga mereka. itu sudah merupakan hal yang sangat membahagiakannya. Yuki kembali memelototi Cha-Cha.. Mendengar pertanyaan Cha-Cha. ayo buruan jalannya!” seru Cha-Cha langsung menarik tangan Bia menuju kelas. Ia berusaha mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Bia. “Tapi sekarang masalah gue udah selesai kok. Meskipun Bia belum bersedia mengakui Oom Frans sebagai ayahnya. “Kemarin...” “So what?” tanya Cha-Cha heran.” “HAH?!” seru Cha-Cha kaget tanpa bisa menahan diri. Mama juga tersenyum. “Cerita dong. soal kemarin.. “Bia. Oom Frans hanya diam dan memandang Bia sambil menyunggingkan senyum kelegaan. gue mau bilang sori nih.. “Mestinya kami yang nanya. Cha-Cha membantu Bia melepas tasnya lalu menekan pundak Bia agar segera duduk. Yuki dan Cha-Cha langsung berlari ke arahnya. Air mata haru mengalir dari sudut matanya.Oom Frans nggak menjawab. kemarin gue ngeliat nyokap gue makan berdua sama laki-laki yang nggak gue kenal. Yuki berjalan di sebelahnya dengan tersenyum. “Apaan sih?” tanya Bia heran. “Laki-laki itu ternyata. Cha-Cha membekap mulutnya dengan kedua telapak tangn. Sesampainya di kelas. Bia mulai mengerti kenapa sobat-sobatnya ini menunggunya di depan koridor. Dipercepatnya langkah kakinya mengikuti Cha-Cha. Yuki langsung memelototi Cha-Cha dan menyuruhnya diam. Bi!” “Mmm. Cha-Cha dan Yuki menunggu Bia di depan kelas. tapi Bia bersedia memberinya kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan yang telah dia lakukan. tapi paling nggak. Bagi mama Bia. Mereka udah pengin banget mendengarkan cerita Bia tentang kejadian Sabtu kemarin.

“Gue tau nyokap gue udah memaafkan dan bersedia menerima Oom Frans kembali.” jawab Cha-Cha. Who knows. Laki-laki itu. Bi?” tanya Cha-Cha. Gue pengin ngeliat nyokap gue bahagia. “Kata-kata gue yang mana?” .” jawab Bia.” “Jadi. Gue benar-benar marah dan nggak tau harus bagaimana. “Lo makan apa semalem.. “Gue nggak makan apaapa. Dan gue juga udah bicara dengan laki-laki itu. Dia mengembalikan sosok ayah itu lagi ke gue. Mungkin aja Dia pengin gue belajar memaafkan. “Jujur aja. “Bia mengangguk. laki-laki itu mungkin bisa membahagiakan nyokap gue. Dia membuat gue nggak punya ayah dari kecil agar gue tumbuh jadi perempuan yang tegar dan kuat. namanya Oom Frans. Dan sekarang. “Gue benar-benar marah dan kaget. Dia cerita. Tapi kesalahpahaman yang terjadi antara dia dan nyokap gue membuat semuanya jadi begini. Bi?” tanya Cha-Cha. setelah tujuh belas tahun ninggalin gue dan Nyokap.” “Elo melakukan semua ini untuk nyokap lo. Dan Dia pasti punya rencana tersendiri di balik semua kejadian ini. Gue cuma nggak mau menyia-nyiakan keberuntungan gue itu. tiba-tiba muncul di depan gue dan bermesraan dengan nyokap gue. “Tapi gue tau. Maaf ya. Gue rasa ini semua bagian dari rencana Tuhan.. dan nanti seiring berjalannya waktu. Saat itu gue cuma pengin sendiri dulu sehingga gue ninggalin kalian begitu aja. nyokap gue nggak perlu bekerja keras untuk membiayai hidup gue.. Nyokap takut gue nggak mau menerima kehadiran laki-laki itu. “Jadi. dan selama ini nyokap gue menutupiya dari gue.. “Makan apa?” Bia malah balik bertanya dengan heran.“Nyokap gue udah cukup lama berhubungan lagi dengan dia. “Ada yang bilang ke gue bahwa gue tuh sebenarnya beruntung karena dikasih kesempatan untuk mempersatukan keluarga gue kembali. elo nggak mau menerima dia?” tanya Yuki.” Yuki dan Cha-Cha menatap Bia heran. Bia mengangguk. Memangnya kenapa?” “Kata-kata lo tadi itu loh! Ajaib. Dia minta maaf sama gue meskipun nggak semudah itu bagi gue untuk bisa memaafkannya.” “Trus sekarang gimana?” tanya Yuki lagi.” “Jadi kemarin itu lo ribut sama nyokap lo?” tanya Yuki pelan. karena itu juga lo ninggalin kami beruda di mal?” Bia kembali mengangguk sambil menjawab. Dia bisa istirahat dan menikmati hidup. Kalau mereka bersatu lagi. gue belum bisa memaafkan dia. saat gue dirasaNya udah cukup kuat dan tegar. dan bikin elo nggak seperti Bia yang biasanya. sebenarnya dia nggak bermaksud ninggalin gue dan nyokap gue. gue bisa memaafkan Oom Frans dan menerimanya dengan tulus.

Dia menundukkan kepalanya. “Gue Teddy. siapa tahu Egi lagi ngobrol sama teman-temannya di luar kelas. Sesaat bayangan Egi melintas di matanya. “Sakit apa?” “Mana gue tau. Bi. ya?” tanya seorang cowok tiba-tiba. “Lo ada masalah apa sih sama gue.. Ini benar-benar ajaib. apalagi kalau dia menanyakan Egi. sampai nada suara lo jutek begitu?” . Bia celingak-celinguk mencari sosok Egi.. Jelas Bia kesal diketusin Teddy. Bia jadi bingung sendiri. elo bukan orang yang bijak menilai cinta dan kehidupan. Lalu ia berkata lirih. Prinsip hidup lo tuh „lo nggak tubuh orang lain‟. Mana sebentar lagi bel masuk berbunyi. Setelah berhasil mencari-cari alasan untuk pisah dari Yuki dan Cha-Cha. Apa yang bisa bikin elo berubah seperti ini dalam semalam?” Wajah Bia bersemu merah.” jawab cowok itu ketus. “Sakit. Bia kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar koridor kelas satu.” lagi-lagi Teddy menjawabnya dengan ketus. Lo pantang bergantung pada orang lain apalagi pada makhluk adam. Sekarang aja udah banyak yang merhatiin dia. atau di lapangan? Atau di WC.” @(^-^)@ Bia melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah menuju area kelas satu.. Nggak ada Egi di ruang kelas itu.. “Mungkin. Tapi sekarang. Dan gue tau. “Eh.” “Sakit?” tanya Bia lagi. Nihil. Mau nanya tapi nggak enak. Lo tau di mana dia?” “Dia nggak masuk hari ini.“Kata-kata lo tentang rencana Tuhan. membuat Bia terlonjak kaget. Atau jangan-jangan Egi lagi ke kantin? Mmm. Loe merasa yakin elo pasti bisa membahagiakan nyokap lo tanpa bantuan dan kehadiran orang lain.. “Selama ini yang kami tau. elo sangat membenci bokap kandung lo. Kalau ketahuan Bia yang nyari Egi. mau mencari Egi..” “Siapa sih lo?” tanya Bia keki. Dia pengin ngucapin terima kasih sekaligus mengembalikan jaket Egi.” jawab Yuki. temen dekatnya Egi. Bia bergegas menuju kelas 1 D. “Cari Egi. ya? Bia melihat ke sekelilingnya. Sesampainya di depan pintu kelas Egi. Tujuannya udah jelas. Lagian nih cowok sok galak gitu. Tapi lagi-lagi hasilnya nihil. elo malah menerima kehadirannya dan berkata seakan lo mau belajar untuk memaafkannya. bisa-bisa muncul gosip baru. memang nggak semua laki-laki sejahat yang gue kira. bikin kesal aja. Anak-anak kan udah tahu bahwa Egi ngejar-ngejar Bia. Jantungnya berdebar cepat. iya.

jadi gue mau ke WC anak kelas satu aja.. apa maksud lo?!” Bia mulai emosi. itu.. apa maksud lo?” “Yah.” Dering bel menahan gerakan Bia yang udah siap-siap melayangkan tinjunya ke muka Teddy.” “Brengsek! Lo pikir lo siapa bisa ngatain gue kayak gitu!” maki Bia. Akhirnya dia putuskan untuk menahan gengsinya. cewek yang kasar dan sok jual mahal. Bia berjalan menuju kelas Teddy. Udara dingin dan air hujan pasti membuatnya demam dan masuk angin. Ada perasaan nggak enak dalam dirinya. Bia hanya bisa menggeram marah lalu berjalan kembali menuju kelasnya sendiri. Apa iya Egi sakit? Jangan-jangan Egi sakit karena kehujanan sewaktu menemaninya di jembatan hari itu. denger ya. Siapa tau sepi. menurunkan emosinya. Dia nggak mau Cha-Cha atau siapa pun juga tahu bahwa ia ingin mencari alamat rumah Egi. dia malah ngejar-ngejar cewek kayak elo. Cha.. “Egi itu bego.. dan menemui Teddy untuk menanyakan alamat rumah Egi. Perasaan Bia makin nggak enak. Ada apa?” “Lo mau ke mana?” tanya Cha-Cha.. jadi dia pasti tahu di mana rumah Egi. @(^-^)@ Hari ini Egi nggak masuk lagi.” “Gue temenin. Jatuh cinta kok sama cewek kayak elo.. Eh. Teddy malah menanggapi Bia dengan tawa. Banyak cewek yang suka sama dia. “Bia!” panggil seseorang dari arah belakangnya. ya?” tawar Cha-Cha. sedang berjalan ke arahnya. mau ke WC. Gue udah kebelet banget. kakak kelasku yang manis.” ejek Teddy lalu berjalan masuk ke kelasnya... “WC kan di ujung sana. “Kok ke arah sini?” tanya Cha-Cha heran. Bia membalikkan badannya.“Nggak ada.. Gue cuma kasian sama Egi. Bia udah pengin menjambak rambut cowok itu. “Sana balik ke kelas lo.. Bia nggak sengaja mendengar hal itu dari cewekcewek kelas satu yang lagi pada ngerumpi di WC. tapi dia tolak. guru kimia kelas satu..” Bia berbohong. . tapi nggak jadi begitu dilihatnya Pak Handi. “Eh. “Ngapain lo ketawa?” “Gue pantang ribut sama cewek.” “Heh.” “Heh.” “Cewek kayak gue. elo. Bagaimanapun Teddy kan teman dekat Egi. “Mmm..” “WC di sana penuh.

. walaupun sedikit kecewa. “Lo coba ajak Yuki aja.” “Tapi. Teddy menoleh ke arah Bia. “Sana cepat ke WC. Bia dongkol banget mendengarnya. Bentar lagi udah bel. Katanya dia mau jenguk tantenya yang sakit.. Eh..” “Mmm.” Bia mengulangi kata-katanya.” ujar Teddy di sela tawanya. kayaknya kalau hari ini gue juga nggak bisa. gue mau minta alamat rumah Egi. “Terserah lo mau ngomong apa. Gue ke kelas duluan ya.. Bia sampai kesal melihatnya. Bia mempercepat langkahnya mendekati Teddy. Lo bisa kasih tau alamat Egi sekarang?” . “Gue pengin buang air besar.” kata Cha-Cha. Nggak apa-apa kok..” Cha-Cha tersenyum geli. “Jago juga si Egi. Cha.. Tapi kali ini aja gue mohon. Itu aja.” pinta Bia.” Bia terdiam. Nih cowok asli keras kepala banget. “Minta tolong? Sama gue?” “Iya. nggak usah!” Bia buru-buru menjawab. tolong kasih tau alamat rumah Egi.” “Buat apa?” “Itu urusan gue. gue nggak peduli sama penilaian lo tentang gue. “Untuk sekali ini aja. Cha..” “Lo pikir gue bakal mau ngasih tau?” “Nggak ada untungnya lo ngerahasiain alamat Egi dari gue. “Ted. Dari jauh Bia meliaht cowok itu berdiri di depan ruang kelasnya. ya udah.” “Tammy?” “Tammy juga nggak bisa. Gue cuma minta tolong lo catatin alamat rumah Egi buat gue. tapi dia berusaha menahan diri. gue mau minta tolong sama elo. “Mau apa lagi lo?” “Gue mau minta tolong.. tapi pulang sekolah lo bisa nemenin gue nggak.” Bia mengangguk lalu kembali berjalan menuju kelas Teddy..” “Nggak ada untungnya juga gue ngasih tau alamat Egi ke elo. Gue ada urusan penting. “Ted. Hari ini gue benar-benar nggak bisa. Akhirnya dia berhasil nundukin hati cewek jutek ini.” ujar Bia to the point. Kan nggak enak kalau ditungguin.“Nggak.” kata Bia.” “Yuki nggak bisa. Bia benar-benar heran kenapa Egi mau berteman sama orang model gini. dia ada janji sama Maxi. sori banget. Pengin banget rasanya dia melayangkan bogem mentah ke muka Teddy. Bi?” “Ke mana?” “Ke toko buku sebentar.” “Yah. ya udahlah.” Teddy menatap Bia sejenak lalu tertawa terbahak-bahak. Gue mau cari buku Da Vinci Code. “Ooo..

..” “Eh. lalu tanpa mengucapkan terima kasih Bia berlalu dari hadapan Teddy. “Mau ditungguin nggak. Dia benar-benar berharap mulut Teddy robek gara-gara kebanyakan ketawa. Surti tersenyum senang menyambut uluran tangan Bia. Bia berpikir sejenak.“Taman Asri Indah Blok HA nomor 28. Dasar cowok brengsek! @(^-^)@ Taksi berhenti tepat di depan sebuah rumah yang lumayan besar. “Ooh.. Non. Tuan sama Nyonya sampai marah-marah. “Boleh deh. Kini ia berdiri di depan pagar tinggi yang membentengi rumah bergaya Mediterania itu. masih nggak enak badan. Bia mengangguk lalu turun dari taksi.. Tapi Den Egi diam aja. saya mah cuma pembantu di sini. Non?” tanya sopir taksi ramah. Saya tunggu di warung situ ya.” jawab Teddy akhirnya.” ujar Bia sok ramah sambil mengulurkan tangan. “Demam. Mbak siapa?” “Oh. “Udah dua hari. sambil menunjuk warung yang berada nggak jauh dari rumah Egi.” kata si sopir taksi senang. Bia mencatat alamat itu baik-baik di otaknya. lalu kembali tertawa. Bang. Dia langsung buru-buru membukakan pintu dan mempersilakan Bia masuk. tapi simpel. sampai akhirnya seorang perempuan keluar dari dalam rumah dan mendekatinya. Boleh juga tuh. Eh tau-tau besoknya badan Den Egi panas gitu. takutnya nanti malah susah dapat kendaraan buat pulang. Bia mengeluarkan uang dan memberikannya pada si sopir taksi. Waktu itu Den Egi pulang malammalam dalam keadaan basah kuyup. Rumah Egi ini didominasi warna cokelat bata yang memberi kesan natural. saya Bia. Bia mengikuti langkah Surti masuk ke rumah yang bagian dalamnya tampak jauh lebih megah. cari Den Egi. Nama saya Surti. Dua kali Bia menekan bel yang ada di sisi kiri pagar. Dia kan belum tahu daerah sini. Den Egi-nya lagi di kamar. Teman sekolah Egi. Bia masuk melewati pagar sambil bertanya. klasik. “Egi sakit apa sih. “Apa benar ini rumah Egi?” tanya Bia sopan.” “Oke deh. Lagi pula dia nggak berniat berlama-lama di rumah Egi.” jawab perempuan itu sopan. Mbak?” tanya Bia. “Kalau boleh tau. “Cari siapa ya. Ada kok.” . nggak mau jawab. Mbak?” sapa perempuan itu.” jawab Surti.

. temannya Egi ya?” tanya mama Egi sambil menuruni sisa anak tangga dan berjalan mendekati Bia. sambil menyuapi makanan ke mulut cowok itu. Tante... Rambut panjangnya yang ikal dan cokelat dibiarkan tergerai.” “Oh. Bia mau jenguk Egi ya? Eginya masih nggak enak badan. Mugkin memang benar bahwa Egi anak angkat.. tapi sama Nyonya belum boleh sekolah dulu. .. Bia hanya tersenyum.” ujar Surti.” kata mama Egi ramah. Sesosok perempuan setengah baya berjalan menuruni anak tangga. Wajahnya sama sekali nggak mirip sama wajah Egi yang lebih berkesan oriental.Jadi benar dugaan Bia.” Bia menoleh ke arah Surti. Saat itulah Bia berhenti. Tante pergi dulu ya. bisa benar-benar ribut gue sama dia. Di taman itu. “Iya. Diam-diam ia mengamati wajah perempuan setengah baya yang berdiri di hadapannya itu.. “Sekarang keadaannya gimana?” “Udah lebih baik sih. Bia jadi merasa bersalah. makanya Tante belum mengizinkannya masuk sekolah. Pemandangan yang dilihatnya membuat darahnya bergolak hebat.” pamit Bia sebelum berjalan menuju arah yang ditunjukkan mama Egi. Egi sakit gara-gara menemaninya hujan-hujanan. Setelah melewati ruang makan. ada Tammy yang duduk di samping Egi. Sur?” seseorang bertanya dari arah belakang Bia. Mungkin kamu kenal. Mereka berdua tertawa renyah. Bia mendesah lega. “Kalau begitu kamu langsung ke taman belakang aja. Kebetulan di sana juga lagi ada temannya Egi.. Kulit Egi putih dan matanya agak sipit.” “Iya. “Nyonya. Bia membuka pintu kaca yang mengarah ke taman. Saya permisi dulu ya.” Bia mengucapkan salam dengan sopan. Kalau dia sampai macam-macam lagi. “ini temannya Den Egi. nama saya Bia. di dekat kolam ikan. “Nah. Nyonya? Berarti itu mamanya Egi! “Siang. Bia ngedumel dalam hati.. Bia mengangguk lalu buru-buru berjalan menuju taman belakang. Tante. Panasnya udah turun. Siapa pun yang melihat mereka saat ini pasti merasa mereka adalah sepasang kekasih. Kulitnya yang agak gelap tapi bersih dan mulus dibalut blazer hitam. beda banget sama mamanya.” Syukurlah.. Tante. “Oh.” Temannya? Jangan-jangan Teddy lagi! Yieks! Mampus gue kalau sampai ketemu Teddy di sini. “Siapa yang datang. Bia dan Surti sama-sama membalikkan badan. Silakan aja langsung ke belakang.

” Egi berusaha membela diri...” Egi dan Tammy terkejut. dan gue punya alasan untuk itu. “Lo sama brengseknya. yang diomongin cuma tentang Bia dan Egi.” Egi yang berusaha berdiri menenangkan Bia. marah. Kalau sekarang gue dekat sama Egi. gimana keadaan di rumah gue.. “Bia.. gue nggak akan pernah percaya sama elo lagi! Nggak akan pernah!” “Bi. dan sakit hati.. “Jadi ini yang selama ini lo sembunyiin dari gue. Bibirnya yang kering dan wajahnya yang pucat terlihat jelas. jangan emosi dulu. apa peduli kalian! Kalian cuma ngurusin masalah dan perasaan kalian. Kalian nggak pernah sekali pun nanyain tentang gue.. Lagian... penipu!” “Lo kenapa sih. setiap kalian ngobrol.Egi yang memakai sweter abu-abu bahkan sesekali mengambil sendok dari tangan Tammy dan berpura-pura hendak menyuapi Tammy yang buru-buru menghindar sambil tertawa. Jantung Bia berdetak kencang. Kalian nggak pernah peduli sama gue lagi. “Lo pikir gue percaya? Lo benar-benar brengsek. Gue sama Tammy nggak ada hubungan apa-apa. apa .. Gi! Kata-kata lo di jembatan itu semuanya cuma omong kosong! Lo sama aja kayak laki-laki brengsek lainnya! Lo benar-benar busuk! Gue benci sama elo!” maki Bia kesal. Bi? Apa salah gue? Apa urusan lo sama hubungan gue dan Egi? Bukannya lo sendiri pernah bilang kalo lo nggak suka sama Egi? Jadi kalaupun gue mau pedekate sama Egi. saat ini Bia benar-benar kecewa. “Jadi ini ceritanya?” tanya Bia ketus. Tapi sayang. Tam. Tam? Jadi ini yang bikin elo nggak punya waktu lagi buat ngumpul sama teman-teman lo sendiri? Sejak kapan Egi jadi tante lo yang perlu lo jenguk hari ini karena sakit? Sejak kapan lo jadi pembohong?” cecar Bia. Bia dan Egi. otaknya terasa terbakar. “Bia. Apa kalian ada yang peduli sama gue? Belakangan ini. Gi! Lo berdua pembohong.. Darahnya mendidih dan emosinya meluap. sehingga dia nggak peduli kalau lawan bicaranya itu masih sakit.” “Nggak bermaksud bohongin gue? Begitu?” bentak Bia. Tapi setelah melihat ini semua. ini nggak seperti yang elo sangka. ini hak gue dan lo nggak berhak marah-marah atau ngelarang gue dong!” Tammy balik membentak Bia. Gue sama sekali nggak bermaksud. Bi. gimana perasaan gue. Biar gue jelasin. “Sori. Mereka baru menyadari kehadiran Bia di taman itu.. Tammy bangkit dari duduknya dan buru-buru mendekati Bia.. “Lo bohong dan lo masih nanya apa kesalahan lo?” “Gue memang selalu ngarang alasan bohong sama kalian.. Bia nggak bisa menahan diri lebih lama lagi. “Gue benar-benar nggak nyangka lo bisa sejahat ini.. Selama ini gue percaya sama alasan-alasan yang lo ucapkan.

“Tam. lo tuh cuma cewek penakut yang sok jago!” “Cukup!” bentak Egi tiba-tiba. tapi baru setengah jalan. Mulai hari ini anggap aja kita nggak pernah saling mengenal atau bersahabat. “Lo memang egois.” Bia lalu berbalik dan berlari meninggalkan taman itu. mendadak penglihatannya berkunang-kunang. Tammy terpana.” ancam Egi. Tammy yang melihatnya buru-buru menangkap tubuh Egi dan membantunya berjalan menuju kursi. Dia sama sekali nggak nyangka Egi bakal bersikap seketus itu padanya. Tam?” Bia berkata pelan. Egi berusaha mengejar. gue nggak akan maafin eo.gue salah? Apa mentang-mentang Egi suka sama elo jadi gue nggak berhak dekat sama Egi?!” seru Tammy. Dia nggak bisa menyembunyikan rasa cemas di wajahnya. dan tanpa dia sadari tangannya bergerak membelai rambut Egi dengan penuh kasih sayang. “Kalo lo nggak cerita. Bia tak bicara. Bi! Lo selalu mau menang sendiri! Lo pikir semua orang bisa nerima sifat lo itu. mana ada yang bisa ngerti perasaan lo!” balas Bia. Tammy menatap wajah Egi yang pucat. “Jadi itu pandangan lo tentang gue selama ini. “Oke! Semua cukup sampai di sini. Lo salah! Semua orang cuma kasihan sama masa lalu lo! Bagi mereka. sekali lagi lo bicara macam-macam tentang Bia. . Egi berpegangan erat pada pintu kaca yang ada di sampingnya untuk menahan tubuhnya. Tammy terdiam.

jangan bersikap seperti ini!” “Gue nggak ada masalah. Ini pasti cuma salah paham. tapi dia yang bermasalah. “Bi. “Jangan sebut-sebut nama bajingan itu di depan gue!” bentak Bia. dan Cha-Cha duduk di kelas.” “Siapa yang bilang gitu?” tanya Cha-Cha. tau! Kalau memang ada masalah. Yuki dan Cha-Cha yang nggak mengerti apa yang telah terjadi hanya berusaha menempatkan diri sebagai sahabat yang baik buat Bia maupun Tammy yang enggan bertegur sapa. Cha-Cha nggak mau bohong lagi sama Bia. ya dibicarain dong. “Kalau ada Tammy.” jawab Bia.” jawab Cha-Cha jujur. “Gue udah bilang sama kalian.BAB DELAPAN DUA minggu telah berlalu. kan?” “Bi. Yuki.. “Lo pasti salah dengar. Mereka berharap dengan begitu masalah di antara Bia dan Tammy bisa selesai. besok mau ikut belajar bersama di rumah gue nggak?” tanya Cha-Cha. Waktu itu dia dan Yuki udah pernah bohong dan berusaha mempertemukan Bia dengan Tammy. “Kalian berdua kayak anak kecil. dia sih udah bilang oke. tapi apa masalahnya?” tanya Yuki lagi. menghabiskan sisa jam istirahat mereka.” “Bi. gue nggak mau bicara lagi sama dia. Yuki dan Cha-Cha terdiam.” sahut Bia. “Tammy ikut?” tanya Bia to the point. tapi ke Tammy. tapi nyatanya keduanya malah marah besar dan pergi begitu aja tanpa bicara. Apa lo mau kita terus-terusan seperti ini? Apa persahabatan kita berempat sama sekali nggak ada artinya buat elo?” “Lo jangan bicara seperti ini ke gue. “Lo tanyain ke dia apa selama tiga tahun ini dia berteman dengan gue karena kasihan dengan masa lalu gue. lo kenapa sih?” tanya Yuki kesal.” Bia tertawa. “Mmm. apa masalah lo dengan Tammy ada hubungannya dengan Egi?” tanya Yuki. Sebentar lagi kita bakal lulus SMA dan pisah. “Iya. . Bia.” kata Bia. “Kita udah temenan selama tiga tahun. gue nggak ikutan. Sampai hari ini Bia selalu menghindar dari Tammy dan Egi.. “Kalian juga nggak percaya.

Mama sudah menunggu dengan segelas kopi panas. dan lo bilang elo nggak ada hubungan apa-apa sama dia? Lo pikir gue percaya sama kata-kata lo itu?” Bia membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Egi. Dia memang baik sama gue. Pikir pakai otak. gimana mesranya elo sama dia. kan?” Bia tertawa mengejek. “Lo cemburu. brengsek!” seru Bia. “Bia. “Dasar cowok nggak punya malu. tapi cuma sebatas itu. Bia melempar selimut yang menutup tubuhnya. kasih gue kesempatan untuk ngejelasin semuanya. lalu bergegas menuju kamar mandi buat siapsiap ke sekolah. “Lebih baik gue jatuh cinta sama monyet daripada sama elo!” Bia membalikkan badannya dan berjalan cepat tanpa memedulikan Egi yang memanggil namanya berulang kali. Bi. “Akui aja kalau elo memang udah jatuh cinta sama gue dan elo cemburu karena gue dekat sama Tammy. ada yang memanggilnya dari arah belakang.“Sori. “Lepasin. “Bia!” panggil Egi. jadi jangan panggilpanggil nama gue seenak jidat lo!” “Bi. nelepon gue. “Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri. apa kelebihan lo yang bisa bikin gue cemburu gara-gara elo?” “Jangan menipu diri sendiri. “Gue sama Tammy nggak ada hubungan apa-apa. nanyain tentang masa kecil gue. menatap Egi yang tersenyum di hadapannya. .” “Lo pikir gue percaya sama elo?” tanya Bia ketus. Yu.” mohon Egi. Disambarnya handuk yang tergantung di belakang pintu kamar. Bia membawa rasnelnya menuju ruang makan. tunggu!” Egi menahan tangan Bia.” kata Egi sambil tetap tersenyum. dia langsung buang muka dan kembali berjalan. Saat Bia berjalan sendirian. tapi begitu melihat sosok orang yang memanggilnya.” Bia bangkit dari duduknya dan keluar kelas menyusuri koridor menuju WC. @(^-^)@ Satu hari lagi telah berlalu. Iya. nyesel karena nggak bisa menahan emosinya. “Gue ke WC dulu ya. Selesai mandi. nggak pernah lebih.” kata Bia. Gue nggak punya perasaan khusus sama dia. Belakangan ini dia sering ke rumah gue. “Gue nggak kenal sama lo. Gue nggak bermaksud ngebentak elo. “Bia!” Bia menoleh. ya?” Bia berhenti dan membalikkan badannya. ngobrol sama gue. Cemburu gara-gara elo cuma buang-buang tenaga.

kamu nggak pernah bicara lagi sama dia.. “Papamu udah kangen sama kamu.” “Mama ngerti.” sahut Mama. “Aku mimpi ketemu monster serem.” jawab Bia.. “Kadang-kadang rasa takut itu muncul. Dua bulan lagi kan aku udah mau ujian akhir. kamu kan bisa menyempatkan diri untuk sekadar menyapa papamu sebentar.” “Kok terserah sih. Dia menghabiskan rotinya lalu meneguk susu cokelat di hadapannya tanpa sisa. “Terserah. Tapi Mama belajar percaya dan pasrah. jangan bicarakan itu lagi. Kegagalan bukan berarti kita berhenti untuk berusaha.” “Ih. kamu ngumpet di dalam kamar.” Mama tertawa. tapi makhluk itu sama sekali nggak mau berhenti ngejar aku. Aku kabur sampai-sampai aku kecebur got. Ia berkata. “Sudahlah.. Mau bawa bunga kek. Setiap dia datang..” “Lalu kapan Mama mau menikah dengannya?” Mama tertawa. mau bawa cokelat kek. “Bi. kan?” tanya Mama.” kata Bia menghentikan kegiatan makannya. Ma. Bia mengambil setangkup roti tawar yang sudah diolesi selai kacagn oleh Mama dan melahapnya. Tapi paling tidak.. Mama juga tidak tau. Sejak makan malam waktu itu. Habiskan sarapanmu.” “Ma. Ma. yang namanya mosnter ya tetap aja nakutin. Sayang. Mungkin karena dia ayah kandungmu. Dia ngejarngejar aku sambil bawa bunga. “Memangnya aku sempat wawancara sama tu monster? Mama nih ada-ada aja. itu tandanya monsternya baik hati. Mama tidak ingin kecewa dan sakit hati lagi. kan?” “Kenapa Mama mau memaafkan dia?” “Entahlah. Boleh. Bi. . “Untung monsternya bawa bunga.“Pagi. jujur sama aku. “Pagi. lalu cepat berangkat sekolah. Mama.” jawab Bia. nanti malam papamu mau makan malam bersama di sini.” sapa Bia. Bi?” tanya Mama.” Bia menurut.” “Monsternya cowok atau cewek?” “Mana aku tau. “Gimana tidur kamu semalam?” “Mimpi buruk. Sesaat kemudian ia menarik napas dan mengembuskannya perlahan.” Mama kembali tertawa. “apa Mama nggak takut kalau ternyata dia nggak sebaik yang Mama kira? Apa Mama nggak takut kalau suatu hari nanti dia ninggalin kita lagi? Apa Mama nggak takut kalau nanti dia selingkuh kayak Oom Ivan?” Mama diam.” “Aku tuh lagi banyak tugas dan ujian. Kasihan kan dia.

@(^-^)@ Bia melangkah dengan cepat menyusuri koridor sekolah menuju kelas Egi. Di depan pagar rumah mereka. Aku berangkat dulu ya.” mohon Bia. Ma.” pamit Bia sambil menyambar tas ransel di sebelahnya lalu bangkit dan bergegas keluar. nanti Mama rapikan sebelum berangkat kerja. Mama Bia yang heran melihat tingkah putrinya segera mendekati Bia sambil bertanya. keras. berisi beraneka mawar. Dalam sekali tarikan.” “Makasih.“Ya udah. “Iya. I‟M SORRY!” “Siapa yang melakukan ini semua?” tanya Mama heran sekaligus takjub. Mata bia mencari sosok Egi di dalam kelas yang udah lumayan ramai pagi itu. Matanya menatap spanduk yang terikat di pagar rumahnya.” Bia nggak menjawab. Namun sesaat kemudian langkahnya terhenti. terpajang buket bunga berukuran besar. Ranselnya masih nangkring dengan manis di punggungnya. “Ma. . Lalu Bia menggulung dan menjejalkannya ke dalam tas ranselnya. “Jangan pulang terlalu sore.. Begitu matanya menemukan Egi yang lagi duduk di meja bersama beberapa temannya. Ada seseorang yang harus dia temui sekarang juga. Bia langsung memanggilnya. Mama ikut berdiri dan mengantar putri semata wayangnya itu ke depan. Bi.” jawab Bia lalu segera keluar dari rumah. tolong buang bunga-bunga ini ke tong sampah. ya!” pesan Mama sambil membukakan pintu buat Bia. “Ada apa sih. Dia berjalan ke arah pagar dan berhenti tepat di depan spanduk. Aku nggak mau saat aku pulang nanti bunga-bunga ini masih ada di halaman. “Kalau perlu dibakar aja. Bia membuka pintu pagar dan bergegas ke sekolah. aku tau.” “Tapi. Mama akhirnya mengangguk pasrah. Bia mencopot spanduk yang ternyata nggak terikat kuat di pagar. Ma. Pemandangan di depannya membuat mulutnya terbuka lebar karena terkejut. Pemandangan yang terhampar di hadapannya merupakan jawaban yang membuat Mama terpesona.” “Tolong. Tapi Bia memilih bungkam. dan spanduk bertulisan: ”BIA.” pamit Bia. Bi?” Tapi pertanyaan mama nggak perlu Bia jawab. “Ini benar-benar luar biasa.. tapi gulungan spanduk udah pindah ke dalam genggaman tangannya. Ma. “Iya. Aku berangkat dulu ya.” pinta Bia. Kata-kata di spanduk itu membuat dia tahu siapa pelakunya.

“Nggak usah sok innocent deh!” bentak Bia tanpa memedulikan tatapan anakanak kelas satu yang mengarah padanya. tepat di depan hidung Egi. Jujur. “Gue bukan cewek gampangan yang seneng dirayu sama bunga.“Egi!” Cowok itu terkejut mendengar teriakan itu. Bi!” tahan Egi. please. Bia telanjur sakit hati.” “Trus.” Egi mengambil gulungan spanduk dari tangan Bia sambil tersenyum.. dan dia nggak mau itu terulang untuk kedua kailnya. sama sekali nggak ada maksud apa-apa. membuka hatinya untuk Egi adalah sebuah kesalahan.” Egi memohon dengan wajah memelas. pagi-pagi udah cari gue?” tanya Egi manis. Baginya. Dia tersiksa menghadapi sikap ketus Bia. Tapi Bia tetap cuek..” “Lo pikir gue cewek gampangan yang langsung klepek-klepek kalau dikasih bunga?” “Bia. “Tunggu. “adalah wujud permintaan maaf gue ke elo. @(^-^)@ Malam itu Bia duduk di ruang tamu sambil membaca catatan matematika buat ulangan besok. dia benarbenar tertekan menghadapi gadis keras kepala ini. “Gue cuma mau minta maaf sama elo. “Apa maksud lo dengan semua ini?” Bia menunjukkan gulungan spanduk di tangannya. kan?” “Lo salah!” bentak Bia. kenapa sih elo selalu menganggap negatif semua hal yang gue lakukan buat elo?” tanya Egi pelan. Dia menoleh ke asal suara dan mendapati Bia sedang berdiri di depan pintu kelasnya. “Ini. Egi perlahan melepaskan tangannya dari lengan Bia. Dia juga nggak peduli dengan wajah memelas di depannya itu. Dia nggak peduli dengan permohonan maaf Egi. Dia takut kehilangan Bia.” Bia menatap kedua bola mata Egi dengan tajam dan tanpa suara. Gue cuma mau minta maaf sama elo. Sorot matanya seakan ingin menusuk lawan bicaranya. “Ada apa. Mama sedang sibuk di dapur membersihkan piring-piring bekas . Dia nggak tahu bagaimana lagi caranya meluluhkan hati Bia. Egi tersenyum lalu berdiri dan berjalan mendekati Bia. “Bi. “Gue melakukan semua itu dengan tulus. Bi. Asal lo tau. Dia nggak peduli dengan usaha-usaha Egi untuk meluluhkan hatinya. maafin gue. gue paling benci cowok gombal kayak elo!” Bia membalikkan badannya dan segera berlalu dari kelas Egi. Dia nggak mau gadis ini sampai benar-benar membencinya. gue udah usaha. Lo mau kasih gue seratus mawar kek. dan bukan membuat elo semakin membenci gue.. Gi. lo pikir dengan begitu gue bakal maafin elo?” “Paling nggak. gue nggak akan peduli.

mungkin semua ini tidak akan terjadi. “Besok ada ulangan ya. wajar saja kalau banyak cowok yang jatuh hati padamu. Bi. Meskipun Oom Frans ayah kandungnya. Tapi Bia ingat percakapannya tadi pagi dengan Mama: Bia nggak mau mengecewakan Mama. “Kalau dulu Oom berpamitan dengan mamamu sebelum berangkat ke Pekanbaru dan mengatakan kesediaan Oom untuk bertanggung jawab..” lanjut Oom Frans.makan malam. Pede banget dia. Sebenarnya Bia mau ikut bantuin sih. “Iya. “Udah aku bilang.” Oom Frans seakan nggak peduli dengan kekesalan yang tersirat di wajah Bia. “Katanya tadi pagi ada kiriman bunga ya di halaman?” tanya Oom Frans.” jawab Bia sekadarnya. “Apa yang Oom lakukan dulu memang tidak layak untuk mendapatkan maaf. Mulutnya komat kamit menghafalkan rumus dan bola matanya berputar-putar. Bia menatap laki-laki itu kesal. tapi hatinya lebih busuk daripada sampah. Kali ini dia nggak bereaksi dengan ucapan Oom Frans. tapi batal gara-gara Oom Frans udah duluan turun tangan membantu Mama membereskan meja makan. ini bukan urusan Oom!” “Kamu memang cantik seperti mamamu. Bi?” suara Oom Frans mengagetkan Bia. rutuk Bia dalam hati. “Itu bukan urusan Oom.” sindir Bia. Bia malas kalau harus nimbrung di tengah-tengah mereka.” jawab Bia keki. Bia membalik halaman buku catatannya dan mulai mempelajari materi buat ulangan besok. Kita pasti akan menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia. Bia pengin segera masuk kamar setelah makan malam tadi dan menghindar dari laki-laki itu. Sejak kapan laki-laki ini mulai berani ikut campur dalam masalahnya? “Pasti cowok yang mengirim mawar itu sangat menyukai kamu. Dia nggak sadar Oom Frans sudah berdiri di dekatnya. duduk dekat-dekat tanpa permisi dulu. Bia masih merasa asing dan belum sepenuhnya memaafkan dia.” Oom Frans menghela napas. meskipun nggak ngobrol dengan Oom Frans seperti permintaan Mama. Jadi dia terpaksa duduk manis di ruang tamu. “Cuma manis di mulut. Dan mungkin kamu tidak akan bersikap dingin pada laki-laki.” Bia cuma diam. Bia tetap belum bisa menerima kehadiran laki-laki itu. dia nggak mengunci diri di kamarnya. Yang sudah terjadi tak mungkin dapat ..” “Laki-laki semua sama aja. Paling tidak. dan Oom pula yang telah membuatmu selalu berpikir negatif tentang laki-laki.” “Tidak semua laki-laki seburuk yang kamu pikirkan.” “Tapi semua laki-laki yang hadir dalam hidupku malah membuat dugaanku semakin tepat. Oom telah membuat hidupmu menderita. “Tapi apalah guna sebuah penyesalan. Oom Frans duduk di dekat Bia sambil tersenyum. lalu berkata lebmut.

Dia telah menelantarkan anaknya selama bertahun-tahun. Bahaya. apa yang akan Oom lakukan?” “Tentu saja Oom akan marah. Dan itulah yang Oom rasakan saat ini. Oom Frans nggak akan menipu.” . lalu kembali berkata. Bia masih berdiri di tempatnya sambil menatap Oom Frans. maka bagimu yang terpenting adalah melihat orang yang kamu cintai itu bahagia.” jawab Oom Frans. Oom. kesalahannya terlalu besar dan nggak mudah untuk membuat Bia mau memaafkannya. Entah kenapa untaian kata yang keluar dari mulut lelaki itu mengusik hatinya. Dan itu pula yang akan Oom lakukan. Alasan itu adalah cinta.” “Membahagiakan aku dan Mama?” “Benar.” Suara Bia yang lembut membuat Oom Frans terbelalak kaget. Sekarang bia baru mengerti alasan itu. Matanya beradu dengan tatapan hangat lelaki itu. Dia sadar. Apa kata-kata yang keluar dari mulutnya berasal dari hati? Dan Bia menemukan jawabannya. saat kamu mencintai seseorang dengan tulus.” Bia menatap laki-laki yang duduk di sebelahnya. Bia berusaha mencari kejujuran dan ketulusan di wajah Oom Frans. Lalu Bia berkata. Terlalu muluk rasanya jika dia mengharapkan Bia dengan tersenyum lebar langsung menerimanya kembali. Meskipun sesungguhnya hatinya nggak dapat menahan rasa rindu untuk dapat memeluk anak yang terus dicarinya selama ini.” jawab Oom Frans. “Boleh aku bertanya satu hal?” tanya Bia pelan.” Bia teringat percakapannya dengan Mama tadi pagi tentang alasan Mama memaafkan Oom Frans... “Tapi dalam cinta selalu ada maaf yang tiada batasnya. Alasan yang sederhana tapi memiliki kekuatan yang begitu dahsyat sehingga Mama dengan mudah melupakan sakit hatinya dan menerima laki-laki ini kembali. Saat ini Oom hanya berusaha memperbaiki semua kesalahan Oom dulu dan memperjuangkan kebahagiaan yang sangat Oom inginkan saat ini. Dia mengangguk pelan sebagai jawaban. “Jika seseorang yang Oom percaya dan cintai mengkhianati Oom... Tatapannya yang lembut dan penuh kasih membuat hati Bia terasa hangat dan nyaman. Oom Frans mengangguk sambil tersenyum. Dia menatap punggung Bia sambil tersenyum.diulang kembali. Tiba-tiba Bia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Oom Frans. Laki-laki yang sejak dulu begitu dibencinya. “Jangan pulang malam-malam. “Bia. Bia bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Oom Frans tanpa sepatah kata pun. “Aku mau tidur dulu karena besok harus sekolah.” “Seperti Mama memaafkan Oom?” “Mungkin seperti itu. itulah tujuan hidup Oom saat ini. Oom Frans hanya diam. yaitu membahagiakan kamu dan mamamu.

” Bia menganggukan kepala.Lagi-lagi Oom Frans hanya mengangguk. “Aku memang sangat membenci Oom. “Papamu nggak mau mengganggu kamu. Bia nggak bisa memungkiri.” jawab Mama mantap. Dan panggilan itu telah menyembuhkan begitu banyak koreng yang membuat cacat hatinya. Bia membalikkan badannya dan kembali berjalan. @(^-^)@ “Bia. “Mama bahagia. “Tapi aku juga sangat merindukan Papa. “Mama bahagia karena Mama memiliki putri seperti kamu. Jantungnya berdetak kencang dan darahnya seakan bergolak. Lidahnya terasa kelu dan tubuhnya terasa kaku. Sama seperti Bia. Lelaki itu tak bisa menahan haru yang membungkus hatinya. Ma. “Ma. “Ada apa. Ma?” “Makasih karena kamu sudah memaafkan papamu.” kata Mama. Ma?” tanyanya begitu pintu kamarnya terbuka. Senyum tersungging di bibirnya dan air mata menggenangi pelupuk matanya.. Lalu dia menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan. “Papamu sudah pulang. Bia juga diam.” sahut Bia.” “Aku juga bahagia.. Dia menyandarkan tubuhnya di pintu kamar. “Kamu sudah tidur. apa sekarang Mama bahagia?” tanya Bia kemudian. Saat ini ia terlalu bahagia. ya.” Oom Frans terdiam. Laki-laki yang mulai detik ini dan selamanya akan dipanggilnya Papa..” katanya pelan.. Sayang?” Bia menutup catatan matematikanya dan berjalan membukakan pintu. dia kembali berhenti dan berbalik menatap ayahnya lagi. Tapi baru beberapa langkah. jauh di lubuk hatinya dia merindukan laki-laki itu.” Mama tersenyum. Kehangatan dan kebahagiaan menyelimuti dirinya.” Bia diam.” . “Dia takut kamu sudah tidur. “Aku dengar suara mobilnya.” “Aku tau.” sahut Bia.” Suara Mama terdengar dari balik pintu kamar Bia. Dia sama sekali nggak menyangka. “Bi. “Makasih. Rasa lega memasuki kalbunya. “Mama nggak perlu bilang makasih sama aku karena memang sudah wajib hukumnya seorang anak mengakui ayahnya. Perasaan bahagia perlahan meluap dalam dirinya.. “Aku masih belajar buat ulangan besok.” Mama buka suara. Mama diam.. lidahnya mampu memanggil laki-laki itu “Papa”.” “Makasih buat apa.

boleh gue tau bokapnya Tammy disemayamkan di mana?” . bokapnya masih bisa ngomong. di pesta pernikahan Mama dan Papa nanti. ya. Dia yang menutup telinganya rapat-rapat setiap kali Yuki dan Cha-Cha menyebut nama Tammy. “Ma. aku jadi pengiring pengantin wanitanya. Begitu hebatkah kekuatan cinta dan maaf? Dering telepon membuat pelukan ibu dan anak itu terlepas. dan Mama bangga padamu. Bi! Dari Yuki!” ujar Mama. “Mama angkat telepon dulu.Mama tersenyum lalu merengkuh tubuh Bia ke dalam pelukannya. “Terakhir kali gue jenguk bokapnya di rumah sakit. “Iya. “Gue juga belum tidur kok.” “Kenapa?” “Gue juga nggak tau. Rasanya nggak percaya. Hatinya kini terasa seringan kapas.” jawab Yuki. “Sori. Bi. Dia yang marah-marah waktu Yuki dan Cha-Cha mempertemukannya dengan Tammy.” “Kabar buruk?” tanya Bia heran. baru aja. Mama menyerahkan gagang telepon kepada Bia lalu menghilang ke kamarnya. “Halo. kok lo nggak kasih tau gue?” “Bukannya lo lagi musuhan sama Tammy?” Yuki malah balik bertanya dengan nada sinis.” sapa Bia. “Bia!” suara Mama memanggil Bia. Ma!” sahut Bia lalu bergegas keluar dari kamar. dia dan Mama bisa tertawa seperti tadi. Bia terlonjak kaget dan langsung bangkit dari tidurnya. “Yu. Ia menghela napas panjang lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur.” “Bokapnya Tammy masuk rumah sakit. Mungkin memang penyakitnya udah benar-benar parah. Sayang. “Katanya penting!” “Iya. Matanya menatap langitlangit kamar.” Bia ikut tertawa.” “MENINGGAL?!” pekik Bia. Selama ini dia yang melarang Yuki dan Cha-Cha membicarakan Tammy.” “Nggak apa-apa. Yu. Yuki benar. gue ganggu malam-malam gini. “Kabar buruk apa?” “Bokapnya Tammy meninggal.” Bia membalas pelukan Mama.” “Gue cuma mau menyampaikan kabar buruk. Rasanya belum pernah ia merasa begitu bahagia seperti hari ini. “Telepon.” Bia mengangguk lalu menutup pintu kamarnya begitu Mama pergi. “Iya. “Bukannya lo nggak mau denger gue dan Cha-Cha nyebut nama Tammy?” Bia terdiam. ya?” Mama tertawa. “Mama sayang kamu. Jadi wajar saja kalau kedua temannya ini tidak memberitahunya kabar tentang papanya Tammy. Bi.” kata Bia.

Dia nggak tahu harus berkata apa. Perasaanku nggak tenang.” tegas Mama. Bi. masa harus balik lagi ke sini dan mengantar aku ke rumah sakit. Bia berjalan gontai menuju kamar Mama. Dia baru aja pulang.” Penyesalan masih merasuki hati Bia. “Boleh ya. “Besok baru dipindah ke rumah duka. tapi biar papamu yang mengantar kamu. Ma? Sekarang. Ini sudah malam. “Ada apa. Ia ragu memberikan izin untuk Bia. Papa pasti capek.” “Nggak bisa.” “Meninggal?” Bia mengangguk.” Bia nggak membantah lagi. Ma.“Sekarang masih di rumah sakit. Gue belum tau bakal dimakamkan di mana. Bia nggak banyak bicara.” “Jangan.” “Papamu pasti bersedia.” tolak Bia segera. Aku cuma mau ketemu dan bicara sama Tammy sebentar saja. “Aku nggak akan lama. Ini sudah malam. Pintu terbuka dan wajah Mama muncul dari baliknya.” Mama menatap Bia dalam-dalam. “Ada apa?” “Papanya Tammy meninggal.” Mama menghela napas. berbahaya bagi anak perempuan pergi sendirian “Please. Perasaannya saat ini benar-benar kacau. Ma?” “Apa nggak bisa ditunda besok saja. lalu mengetuk pintunya pelan. “karena ini untuk putrinya. Bi?” tya Mama. Ma. “Kasihan Papa. “Aku boleh ke rumah sakit. Ma. .” jawab Yuki.” mohon Bia. Sampai telepon ditutup.” “Ke rumah sakit?” Mama bertanya heran. Mama langsung berjalan menuju meja telepon dan menghubungi nomor handphone Papa. “Baiklah.

“Lo benar. dan gue udah berkata kasar sama elo.” “Nggak.. Dia menyesal karena nggak pernah ada untuk Tammy di saat sahabatnya itu butuh seorang sahabat. “Tam. “Oom turut berdukacita... “Makasih.BAB SEMBILAN BIA dan papanya tiba di rumah sakit untuk menemui Tammy. Bia dan papanya berjalan mendekat.” “Bokap lo?” Tammy nggak bisa menutupi rasa kagetnya. Gue nggak pernah menjadi sahabat yang baik buat elo.” Tammy mengangguk. Matanya merah dan bengkak. Tammy mendongakkan kepalanya dan terkejut menatap Bia. Ujung hidungnya juga merha. gue marah-marah sama elo seenaknya aja. “Kamu yang tabah. “Maafin gue juga. bahkan di saat elo benar-benar membutuhkan kehadiran gue. ya. Isak tangis terdengar dari dalam kamar itu.. gue turut berdukacita. Dari jauh Bia melihat Tammy bersandar sendirian di dinding rumah sakit tepat di sebelah pintu kamar yang terbuka lebar. “Tam. “Gue nggak jujur sama lo. “Tammy. Hatinya terasa perih. Oom.” mohon Bia..” kata Tammy lirih di sela derai air mata. Bahkan pipinya masih basah oleh air mata.” panggil Bia pelan. Bia mengangguk. Maafin gue. lalu mengulurkan tangan.. “Nanti gue ceritain. Tam. “Tam. Jantung Bia berdegup kencang.” Tammy menatap Bia. lalu memeluk Bia dan menumpahkan kesedihannya.. gue yang salah.. Tam. ini bokap gue. Gue nggak pernah ada buat lo. maafin gue ya.” kata papa Bia.. Tammy mengangguk pelan tanpa suara. Sahabat macam apa gue ini?” Air mata Bia ikut menetes. gue egois dan selalu mau menang sendiri. Bi...” . Bia melepaskan pelukannya begitu teringat papanya masih berdiri di dekatnya.” Tammy mengalihkan pandangannya ke arah papa Bia. Bokap lo sakit aja gue nggak tau.” kata Bia pelan.

” jawab Tammy. “Bi. ini juga salah gue.” “Nggak.” Bia menceritakan kronologi cerita pertemuan dia dengan ayah kandungnya.“Oh ya. sejak kapan bokap lo sakit?” “Udah sekitar tiga bulanan ini bokap gue keluar-masuk rumah sakit. yang dibicarain cuma tentang elo. Di saat seperti ini. Egi memang telah berhasil membuatnya jatuh cinta. Tam. Dua hari sebelum kita berantem di rumah Egi. Dia memang marah dan kecewa. tapi gue udah belajar memaafkannya. Jika sekarang Tammy mengakui bahwa dia menyukai Egi dan meminta Bia untuk mundur. “Iya. dia bokap kandung gue. di mana keluarga kamu yang lain?” tanya papa Bia. Tapi di lain pihak. jantung Bia berdegup kencang.” Tammy menghela napas. tentang Egi. siapa yang bisa mengerti gue?” Suasana mendadak hening. . Tapi nggak bisa. “Dan elo udah maafin dia?” tanya Tammy heran. Yuki dan Cha-Cha juga baru gue kasih tau seminggu yang lalu. Lama-lama gue jadi eksal dan males cerita sama kalian. itu bokap lo?” tanya Tammy mengawali pembicaraan. gue baru tau dia bokap gue. semua memang gara-gara gue. Setelah mengucapkan turut berdukacita.” “Maafin. Keegoisannya ingin mengikat Egi untuk terus mengejar dirinya. Bia diajak Tammy keluar dari kamar. “Mama masih di dalam. dia juga nggak mau kehilangan sahabat. “Kata-kata lo waktu itu benar. gue. tapi Egi juga yang udah membuatnya patah hati dan kecewa. Gue seharusnya bicara.” “Kok elo nggak pernah cerita?” “Karena gue pikir penyakit bokap gue nggak parah. Bi.” suara Tammy memecah keheningan. Bia nggak tahu harus bagaimana. gue mau cerita sama kalian. Bia tersenyum dan menganggukkan kepala. Bia dan ayahnya mengikuti Tammy menemui mama Tammy. Bia nggak rela Egi dekat dengan cewek lain. “Bukannya elo benci sama dia?” “Gue emang benci sama dia. karena tiap kali kita ngumpul. Waktu bokap gue udah mulai dirawat di rumah sakit. Bia dan Tammy sama-sama terdiam.” “Tam. nggak ada kesempatan. Dia nggak mau kehilangan Egi. “Ternyata ada banyak cerita yang udah gue lewatkan. Bohong banget kalau dia bilang dia membenci Egi. tapi nggak sedetik pun dia mampu mengusir Egi dari dalam benaknya. Kalau nggak gitu. Bia benar-benar nggak ngerti harus bagaimana. Saat itu mereka duduk di bangku semen di koridor rumah sakit. @(^-^)@ “Bi. Mendengar Tammy menyebut nama Egi.” kata Tammy.

” Bia tambah heran. Jawaban Tammy membuat jantung Bia seakan ingin melompat keluar. Bi.” cerita Tammy. “Apa lo suka sama Egi?” “Iya.. Dan dari surat itu juga gue tau bahwa bokap gue punya anak laki-laki dari perempuan itu. Bukankah kata orang pacar bisa dicari lagi tapi kalau sahabat susah untuk ditemukan? “Kalau elo emang suka sama Egi. Tapi gue pura-pura nggak tau. “Jelas gue nggak percaya. Dadanya mendadak terasa sakit. “Gue kaget dan shock berat waktu pertama kali tau hal itu. Sejenak ia merasa akan kehilangan Egi. kan?” kata Tammy lagi.” “Selingkuhan?!” “Jangan potong cerita gue. Surat itu dari seorang wanita yang ternyata selingkuhan bokap gue. elo suka sama Egi?” pertanyaan Tammy menambah dilema dalam diri Bia. Perempuan mana sih yang mau dimadu? Tapi ada rasa penasaran yang bikin gue . “Soalnya gue tau pasti. bahkan sampai akhir usianya. Bokap gue pasti nggak mau nyokap gue ngamuk kalau tau bokap gue pernah selingkuh. “Egi tuh adik gue. bahkan sampai punya anak dari perempuan lain.” Bia melongo. “Kenapa nggak mungkin?” “Janji ya. Dan rasa itu semakin membuatnya takut.” “Elo sendiri?” Bia balik bertanya. Tammy menoleh dan menatap Bia.” Bia menutup mulutnya. Bi.” sahut Bia. lo jaga rahasia ini. “Lo pasti nggak percaya.“Bi. lo tuh anak tunggal.” Hati Bia terasa perih mendengar pengakuan Tammy. biar gue cerita sampai selesai dulu. Dia paksakan dirinya untuk tersenyum. “Gue suka melihat tawanya. Tapi persahabatannya dengan Tammy jauh lebih berharga. Semua berawal waktu gue tanpa sengaja menemukan surat di ruang kerja bokap gue. Mana mungkin tiba-tiba Egi jadi adik lo?” Tammy tersenyum lalu menghela napas panjang. tapi dianggukkan juga kepalanya. “Gue juga tau hal ini belum lama. dan itu membuat gue jadi tambah sayang sama dia. gue dukung sepenuh hati agar lo jadian sama dia..” jawab Tammy langsung. “Lo gila apa! Mana mungkin gue jadian sama Egi?!” Bia mengernyitkan keningnya. Sesaat kemudian tiba-tiba Tammy tertawa. senang mendengar lelucon jayusnya. Anak yang sama sekali nggak pernah mau diakui bokap gue dan kemudian ditinggalkan oleh perempuan itu di panti asuhan. Gue ngerti kenapa bokap gue nggak mau mengakui anak itu. “Kenapa tiba-tiba lo nanya gitu?” “Cuma pengin tau. “Gue suka Egi.” lanjut Tammy.” ujar Bia. dan sayang banget sama dia. “Dari surat itu gue tau bokap gue pernah selingkuh waktu gue masih berumur satu tahun.

Dan itu yang membuat gue pada akhirnya tau bahwa Egi adik tiri gue. Dan ternyata alamat itu mengantarkan gue sampai ke rumah Juventus Egi. Egi tuh anak angkat?” Bia mengangguk. Bi.. Awalnya mereka nggak mau kasih gue informasi apa pun.” kata-kata Tammy bikin Bia kembali ke alam sadar. “Tapi. Gue mananyakan alamat keluarga yang mengadopsi anak itu dengan perjanjian gue hanya melihat dan nggak akan mengusik keluarga mereka. Dia masih ragu apakah Tammy sedang mengarang cerita atau ini memang kenyataan. Lagi pula buat apa gue menceritakan semua ini ke Egi? Ini malah akan membuatnya menderita. Berarti jelas anak laki-laki itulah adik tiri gue karena di suratnya perempuan itu mengatakan bahwa anaknya laki-laki. .” jelas Tammy. “Sori ya.” Bia membenarkan ucapan Tammy.” Bia nggak bisa menahan rasa kagetnya. Gue juga udah bikin elo cemburu. Tapi kelihatannya Tammy serius.” Bia terdiam.” “Nggak mungkin.” Bia menatap ekspresi wajah Tammy.” “Gue diam-diam mencari panti asuhan yang ditulis perempuan itu dalam suratnya. Apalagi kalau dia tau bokap gue nggak pernah mau mengakui dia. Anggap saja gue menggantikan tugas bokap gue untuk memerhatikan dia.. “Gue juga kaget waktu mendengar nama itu.” “Maksud lo?” tanya Bia nggak percaya dengan cerita yang didengarnya. “Sesuai perjanjian. “Egi tau tentang hal ini?” tanya Bia pelan. dia merasa wajah Egi mirip seseorang. waktu di rumah Egi dulu gue marah-marah sama lo. Gue pikir mungkin itu cuma kebetulan. Kalau diingat lagi. “Gue pengin mengenal dia lebih dekat. Lalu dia bertanya. Tammy menggeleng. “Egi anak bokap lo dan selingkuhannya?” Tammy mengangguk. “Tuhan ternyata mempermudah langkah gue dalam menemukan adik tiri gue itu. Tammy menarik napas dan kembali melanjutkan ceritanya. gue nggak boleh mengusik keluarga mereka. pantas waja waktu pertama kali melihat Egi. “Jadi karena itu lo mendadak dekat sama Egi?” Tammy tersenyum dan mengangguk. “Lo pasti tau kan. Nama anak itu Juventus Egi.. mereka mau membuka file mereka dan memberi gue informasi tentang anak itu.pengin mengetahui gimana keadaan anak itu sekarang. Gue berusaha mencari tau dari pengurus panti asuhan itu tentang anak yang 16 tahun lalu pernah ditinggalkan di depan panti asuhan itu. File yang mereka punya menyatakan bahwa enam belas tahun lalu cuma ada satu anak laki-laki dan delapan anak perempuan yang ditinggalkan di depan pintu panti asuhan itu. Tapi setelah gue setengah memaksa dan memberikan sedikit sumbangan ke panti asuhan itu. adik kelas kita. Gue juga pengin tau apakah sekarang dia bahagia..

Meski begitu. cuma satu kata yang kemudian keluar dari mulut Bia: “GOMBAL!”.... kan? Jujur aja deh!” Bia nggak menjawab. Waktu itu lo marah-marah sama dia karena ngeliat kami berduaan. Bisa meruntuhkan karang di hati seorang Bia. Tammy berdiri dan berjalan mendekati Egi. Bia mengikuti arah mata Tammy dan menemukan sosok Egi sedang berjalan mendekati mereka.!” rajuk Bia. tapi dia juga nggak bisa menahan debaran jantungnya yang seolah berteriak histeris. Bi.” kata Egi pada Tammy. Dia mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Tammy. Tammy malah tertawa. Gi. “Gue turut berdukacita ya. “Gue memang nggak bisa menghibur orang lain.” Bia melotot mendengar kata-kata Egi. Tam.” Bia berhenti bicara. dan Bia pun berlari meninggalkan Tammy dan Egi begitu aja. “Lo udah ketemu keluarga gue?” tanya Tammy. Gengsinya masih setinggi langit. “Gue tau kok elo sebenarnya suka sama Egi. Matanya sesekali melirik ke arah Bia.” “Tammy.. Egi dan Tammy menatap Bia sambil tersenyum geli. gue paling nggak bisa menghibur orang yang lagi sedih. “Makasih juga karena lo udah mau datang malam-malam gini. “Gue lega melihat elo masih tersenyum. “Akhirnya lo bisa jadi cewek juga.” “Bohong!” celetuk Bia. “Gue cuma bisa menghibur orang yang gue cintai. Jujur aja. Wajahnya semakin memerah. Bia buru-buru buang muka biar Egi dan Tammy nggak bisa melihat wajahnya yang lagi-lagi berubah jadi merah.. dan itu membuat lo merasa selama ini Egi cuma mempermainkan elo. “Makasih.” ujar Tammy... “Hebat juga ya si Egi. Tammy berusaha menahan tawa melihat wajah Bia yang merah.” jawab Egi sambil melirik ke arah Bia. Dia baru sadar udah kelepasan.” kata Egi.” ucap Egi tulus. Ternyata Bia ya tetap Bia. .” “Tapi masih ada orang yang datang lebih cepat daripada gue. “Waktu di jembatan dulu elo kan yang..“Cemburu?” Bia mengelak. “Siapa juga yang cemburu?” “Nggak usah pura-pura deh.” “Rese lo!” “Ssstt. Bia yang melihat Egi melirik ke arahnya langsung buang muka. Bi. “Gue tadi udah takut banget kalau harus ngelihat elo nangis-nangis. tapi dia nggak bisa menahan rona merah yang muncul di pipinya. Bia tetap duduk diam di tempatnya.” balas Tammy.” Tammy mendadak diam lalu menyenggok pundak Bia sambil memandang ke arah kanan koridor. Egi mengangguk.

. Yu. tapi ngumpul-ngumpul melepas ketegangan tetap jadi prioritas utama. “Dia bukan siapasiapa gue.. Mereka sudah dekat lagi seperti dulu. mereka seru mengobrol. Sekarang Bia. “Kalo elo.” “Duile. “Seakan-akan Egi tuh udah melakukan kesalahan besar sama elo. mereka berempat ngumpul di halaman belakang rumah Tammy cuma buat sekadar bersantai ria plus ngerujak. gue dengar. Cha-Cha. Bia tergopoh-gopoh menuju meja telepon untuk mengangkat telepon yang berdering.” Yuki tersenyum kecil.” “Kenapa sih elo jutek banget sama Egi?” serang Cha-Cha.. jadi nggak ada yang perlu gue jawab. Bi?” Tammy langsung beralih ke Bia. “Lho nggak khawatir. Egi nggak masuk sekolah. Yuki. udah dua hari lho. Kita ngumpul di sini bukan buat ngomongin dia. “Kami lagi mesra-mesranya nih. kan?” “Bi. gimana kabar hubungan lo sama Maxi?” tanya Tammy.” “Nggak usah sebut-sebut lagi nama dia deh. “Gue nggak pernah ada hubungan apa pun sama dia. wajahnya merona. “Lho. Bi?” “Buat apa gue mengkhawatirkan dia?” Bia malah balik tanya.. Seperti sore ini. di rumah. “Udah sampai tahap mana nih kemajuannya?” “Hubungan gue sama dia baik-baik aja. kok gue juga kena tanya?” Bia nggak terima..@(^-^)@ Dua minggu telah berlalu sejak papa Tammy dimakamkan. dan Tammy memilih tutup mulut. Ujian akhir yang tinggal sebulan lagi sama sekali nggak mereka pedulikan. @(^-^)@ Sorenya. Hubungan Bia dan Tammy sudah kembali normal. kan?” Bia kayaknya udah mulai kesal. jawab aja. Belajar sih belajar. “Udah.. .” kata Yuki dengan perasaan lega karena teman-temannya udah berhenti ngegodain dia.” sahut Tammy. dan Yuki sedang menikmati indahnya persahabatan sebelum akhirnya nanti harus berpisah kalau sudah lulus dari sekolah ini. Tangannya membawa sepiring mi goreng instan.!” ledek ketiga temannya. Tammy. Sambil mendesah-desah kepedesan. “Halo. “Ngomong-ngomong nih. Mereka mencomot irisan mangga di piring dan memasukkannya ke mulut sambil bertatapan. Cha-Cha.” sapanya.

“Napa. Gue juga lagi on the way ke rumah lo buat ngejemput lo.” balas Tammy dari seberang.” “Rumah sakit?” tanya Bia heran. gue mau mak. Sepuluh menit lagi gue sampai. Takut banget. Dia takut kehilangan Egi.” sahut Bia.” Bia diam.. . “Anak-anak udah pada jalan buat jenguk dia. Bia meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. “Iya.. Dia tampak berpikir keras.” “Sekarang Egi di rumah sakit mana?” “Rumah sakit tempat bokap gue dirawat. Nggak tahu kenapa rasa laparnya lenyap begitu aja.. Kondisinya nggak begitu baik. Kata dokter dia kemungkinan kena flu burung. itu baru dugaan sementara. “Darahnya masih diperiksa dan masih menunggu hasil laboratorium. Oke!” Tammy langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban Bia.. Tam?” tanya Bia to the point. Matanya menatap mi goreng instan yang ada di tangannya.. Lalu dia menuju kamar untuk mengganti kaus rumahnya dengan kaus untuk bepergian. Bia nggak mau hal buruk terjadi pada Egi.“Halo. jelas gue tau lah..” “Hah?!” jantung Bia berdegup kencang. Bi.” jawab Tammy. Bia. “Lo mikir apa lagi sih. Bi.” “Lo tau dari mana kalau dia masuk rumah sakit? Memangnya dia sakit apa?” “Gue kakaknya. “Gue lagi mau makan nih. Jadi lo siap-siap ya.. Bi?” tanya Tammy. “Kenapa Egi?” “Makanya lo ke rumah sakit deh sekarang juga. “Siapa lagi yang sakit?” “Egi. Kita berangkat ke sana sama-sama.” jawab Tammy. Lo harus ke rumah sakit sekarang juga. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang ganjil.” “Makannya nanti aja..” “Tapi. Rasa cemas melingkupi dirinya. Bia berjalan menuju ruang makan dan meletakkan mi goreng itu di bawah tudung saji. “Lima menit buat lo makan dan lima menit buat lo siap-siap. “Flu burung?!” hampir aja piring di tangan Bia terlepas.

Yuki. Tammy mengetuk pintu kamar itu dua kali. “Siapa?” tanya Bia. dan sofa yang dijamin pasti empuk. Bia cuma mengangguk.” Tammy mematikan handphone-nya dan memasukkannya ke saku celananya.BAB SEPULUH TAMMY menjemput Bia tepat waktu. tadi sih udah ke sini. lalu membuka pintu dan masuk. Bia mengedarkan pandangan. “Mmm. Matanya tertutup rapat. “Ini kamarnya. Bi. “Gue sama Bia udah sampai. dan Teddy yang berdiri berjajar di samping tempat tidur. Bia mengekor di belakang. “Lo di mana?” tanya Tammy lewat HP.. tapi sekarang lagi pulang buat istirahat. . Tammy nggak peduli. Koridor itu agak ramai.” jawab Tammy singkat lalu menggiring Bia masuk ke lift. kulkas mini.” Tammy memberitahu Bia.” protes Bia. bener nggak sih. Egi sakit flu burung?” tanya Bia. “Betul..” kali ini Teddy yang menjawab. Sepertinya sedang jam besuk. Sebelah tangannya malah sibuk menekan-nekan tombol handphone-nya. Tam. Tammy berhenti di depan kamar yang berada di ujung koridor. lemari pakaian. Bia berjalan mendekati Egi yang tampaknya tertidur lelap. Tammy memarkir mobilnya dan bergegas menarik tangan Bia menuju kamar tempat Egi dirawat. Perabotannya lengkap: ada TV. Keluar dari lift mereka menyusuri koridor menuju kamar tempat Egi dirawat.” jawab Cha-Cha cepat. Cha-Cha. “Tapi masih belum positif sih. Satu jam kemudian mereka tiba di rumah sakit. di kamar ini ada Tammy. “Cha-Cha. Selain dia.” “Lalu orangtuanya mana?” tanya Bia lagi. “Cha. Tammy bergabung dengan teman-temannya dan berdiri di sisi tempat tidur. Di kamar itu cuma ada satu tempat tidur pasien. “Pelan-pelan dong. Egi berbaring di tempat tidur pasien dengan alat bangu pernapasan menutupi hidungnya dan slang infus yang terpasang di tangannya.

Bia mendongakkan kepalanya.” Bia mengunci bibirnya rapat-rapat. “Bagaimana latihan syutingnya?” Bia merasa pernah melihat laki-laki itu.. lo nggak kasihan sama Egi?” tanya Yuki pelan. dia ingat. “Dia udah dirawat sejak dua hari yang lalu.” kata Teddy. “Apa elo nggak sedih kehilangan dia?” Bia tetap bungkam. Mereka kaget mendengar ucapan Bia. lalu berbalik lagi untuk meninggalkan kamar itu. Bi!” kata Cha-Cha. Dilihatnya Egi duduk tegak dan melepas alat bantu pernapasan yang menutup hidungnya. Cha-Cha. dan Teddy melotot. Dia cuma menatap wajah Egi. dan Teddy terpana mendengar jawaban Bia.” akhirnya Bia buka suara. dengar kata-kata gue dengan baik!” Bia nggak memedulikan ucapan temantemannya.. Yuki. “Egi benar-benar suka sama elo. dia malah bicara dengan Egi yang terbaring di tempat tidur. tapi elo malah jahat sama dia.” kata Bia.. “Bi. Laki-laki itu paman Tammy yang waktu itu pernah mengobrol dengan papanya waktu papa Tammy meninggal.” sambung Yuki. “Syukur deh. “Egi sayang banget sama elo. Lalu dia mencabut jarum infus yang ternyata hanya menempel di tangannya.. Dia memandang teman-teman yang berdiri di hadapannya dengan diam. “Gue nggak peduli dia sakit atau sekarat. “Latihannya baik.” Bia nggak menjawab. lo balas cintanya di sisa umurnya. “Gue nggak peduli. “Bia. Bia membalikkan badan. pintu kamar terbuka sehingga Bia berhenti melangkah. lalu berdiri dan berjalan mendekati Bia. kok elo diam aja sih?” protes Tammy. gue bukan cowok lemah!” ujarnya. Yuki.. “Tunggu. “Gue nggak suka cowok lemah!” Setelah itu Bia beranjak meninggalkan tempatnya. “Lo kejam. “Kalau memang dia nggak bisa diselamatkan. “Lo keterlaluan.” “Gi. Tammy. “Bi. . Baru saja Egi hendak menahan Bia. paling nggak.” jawab Bia. Bi!” suara seseorang menahan Bia.“Bi. gimana kalau Egi nggak bisa diselamatkan?” ujar Cha-Cha. Oom. Ah. Seorang laki-laki setengah baya berpakaian dokter muncul dari balik pintu dengan senyum ramah sambil bertanya. Egi. Cha-Cha. Puas?” Mata Tammy.

” sahut Bia. “Jadi.” Paman Tammy tersenyum.” “Jadi lo curiga?” tanya Tammy.” sahut paman Tammy. “Flu burung kan bukan penyakit sembarangan.” sambung Tammy. “Lagi pula latihannya udah selesai kok. idenya maksa sih.” Paman Tammy keluar dari kamar sambil tetap tersenyum. biasanya pasien yang dicurigai kena flu burung itu bakal dirujuk ke RSPI Sulianti Saroso. . gue bilang juga apa!” ujar Tammy. Oom. Bi.” Bia kembali menjawab.” kata Egi. “Jangan bilang kena flu burung.. Dia punya kedudukan yang cukup tinggi di rumah sakit ini dan dia yang meminjamkan kamar ini dengan alasan gue mau latihan syuting buat pertunjukan saat kelulusan nanti. ini semua ide gue.” “Sebenarnya. Cha-Cha mengangkat tangan kanannya.” Cha-Cha ngotot. takutnya nanti ada pasien yang mau masuk. kami tuh cuma mau ngebantuin Egi buat baikan sama elo. Bi.. Cha-Cha nggak mau ketinggalan.” Bia diam saja. “Lo jangan marah. Demam berdarah aja. Tiba-tiba Bia tertawa.” celetuk Teddy. “Dia tulus sayang sama elo. nanti kalian lapor pada suster jaga agar kamar ini bisa segera dirapikan. Tam. “Kalian tuh tolol banget sih! Cari penyakit kok yang aneh gitu. “Bi. Bi?” tanya Tammy beigtu pintu kamar tertutup kembali. “Dokter tadi oom gue.” “Gue nggak bilang mereka salah. masa anak sakit parah orangtuanya nggak nemenin.” “Baik. rencana kita gagal gara-gara ide lo itu.” kata Yuki. “Dan gue yang jadi sutradaranya. Jadi mana mungkin kalian diizinin ngumpul di sini bareng Egi yang katanya kena flu burung.” aku Yuki.. “Jelaslah!” jawab Bia. Bi.” “Tapi kan flu burung lagi ngetren. Oom. Orang yang diduga terjangkit virus flu burung bakal diisolasi. begitu ya. Lebih masuk akal. Mana mungkin gue percaya. Dia ikut buka suara.” balas Tammy. “Tapi buktinya.” “Oh.“Bagus kalau begitu. Masa kalian nggak pernah dengar sih?” “Tuh kan. Satu lagi yang perlu kalian tau.” “Baik. “Mereka cuma bermaksud menolong gue agar bisa baikan sama elo. “Gue. “Gue penulis skenarionya. Udah gitu.. “Kalau begitu.” “Siapa yang punya ide tentang penyakit flu burung?” tanya Bia tanpa merespons kata-kata Yuki.. Ekspresinya datar. “Maaf. “Tapi jangan lama-lama ya.” ujar Tammy. “Memangnya kalian pikir gue bego?” Bia balik bertanya. lo udah tau kalau semua ini cuma pura-pura.. Mereka nggak salah.

Direbahkannya kepalanya di pundak Egi... Bi. Bi. Bi.” bisik Egi lembut di dekat telinga Bia. gue harus percaya sama ucapan elo begitu aja?” Egi mengangguk. “Kali ini lo nggak akan gue lepasin. “Paling nggak. Bi?” Egi mencoba menerka.” Bia berhenti meronta. Tubuhnya terasa lemas saat merasakan desah napas Egi di telinganya. tapi tangannya perlahan bergerak dan membalas pelukan Egi dengan sepenuh hati. Dia nggak lagi melawan. Lalu Bia berkata pelan. “Apa ini berarti lo nerima cinta gue. Bola matanya menatap Bia dengan lembut.. “Gila. “Makasih.. Tammy. Bia menunduk agar Egi nggak bisa melihat wajahnya yang mulai terasa memerah dan panas. Apalagi ketika Egi tiba-tiba menarik tubuhnya dan memeluknya erat. Wajah Bia makin memerah. Tapi Egi nggak mau melepasnya.. Bia nggak menjawab. “Apa buktinya kalau elo sayang sama gue dan nggak akan pernah membuat gue kecewa?” “Gue nggak bisa menunjukkan buktinya ke elo.Cha-Cha cuma manyun. “YES!” Bia nggak tahu harus bersikap bagaimana. Dia membiarkan cinta merasuki dirinya. apa-apaan sih lo!” protes Bia sambil meronta.. “Berarti..” Suasana mendadak jadi hening. Dia melompat dan berteriak kencang. karena bukti itu ada di dalam hati gue dan hanya bisa gue perlihatkan seiring berjalannya waktu.. dibiarkannya . “Itu harapan kami. “Kalau ternyata elo ngecewain gue?” tanya Bia dengan kepala masih tertunduk. Mata Bia beradu pandang dengan Egi yang berdiri di hadapannya. “Kata-kata lo tadi udah gue terjemahkan sebagai pernyataan bahwa elo bersedia jadi pacar gue.” bisik Egi lagi. Cha-Cha. ”Nggak tau ah!” Senyum Egi merekah. dan Teddy yang menonton dari belakang. Dia menyahut sambil pura-pura membuang muka.” Egi terkesima mendengar kata-kata Bia. membuat jantung Bia berdebar nggak keruan. Dan elo nggak bisa menariknya lagi. kami udah usaha. Bia menyerah. Sekarang lo resmi jadi pacar gue. Dia jadi salah tingkah.” jawab Yuki. “Apa kalian pikir semua yang udah kalian rancang ini bisa membuat gue baikan sama Egi?” tanya Bia. “Gue sayang elo.” “Heh. siapa yang bilang gue mau pacaran sama lo?” Bia berusaha melepaskan diri dari pelukan Egi. Begitu pula Yuki. “gue jamin lo nggak bakal bisa tersenyum lagi.” jawab Egi sungguh-sungguh.

. Gi.sensasi yang belum pernah dia rasakan menjalar lembut ke seluruh pembuluh darahnya. kata Bia tanpa suara. Gue juga sayang elo. Senyumnya merekah dalam pelukan hangat Egi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful