Pacarku Juniorku

Valleria Verawati

FREE TALK
Hai... ketemu lagi sama gue! Akhirnya novel kedua ini terbit juga. Lega banget rasanya. Dua tahun udah berlalu sejak novel pertama gue diterbitkan. Maaf ya, udah bikin kalian semua menunggu. Berhubung gue nulis novel ini udah agak lama, jadi mungkin ada beberapa bagian di novel ini yang udah nggak sesuai lagi sama keadaan sekarang. Tapi gue harap itu nggak mengganggu kalian untuk menikmati novel ini. Anyway, gue mau ngucapin syukur atas kasih Tuhan yang tiada batasnya dalam hidup gue. Karena setiap karyaNya membuat hidup gue jadi luar biasa. Makasih banyak buat Papa dan Mama yang nggak pernah berhenti memberikan dukungan dan cinta. Makasih buat Ai, Nyenyen, Hendi, dan Ria yang selalu mendukung gue dengan caranya masing-masing. Khusus buat Dede, makasih ya, buat sumbangan namanya. Makasih buat Yenni dan Cia Sin di Batam, Ko Puk dan Lilis, juga semua keluarga besar yang udah memberikan dukungan buat gue. Jangan kapok bantu promosiin buku gue ya! Thanks buat Andi Wijaya atas kehadirannya yang membuat hidup gue seindah pelangi. Thanks juga buat Eudora Halim yang selalu menjadi sahabat terbaik buat gue (selamat buat pernikahannya ya!). Big thanks buat semua teman-teman gue dari Seraphine, Vianney, maupun UNTAR. Tanpa lo semua, gue nggak akan pernah punya cerita yang bisa gue tuang dalam novel-novel gue. Special thanks buat Florenka yang udah jadi sumber inspirasi gue buat novel ini (^-^). Gue juga mau ngucapin makasih baut semua guru yang pernah membimbing gue selama ini. Terutama buat Sr. Elisabeth atas doa-doanya, juga Pak Sandi dan Bu Vonny yang udah membantu melalui satu masa penyusunan skripsi (makasih banyak ya!). Tengkyu banget buat Mbak Vera yang udah banyak bantuin gue. Maaf kalau gue selalu cerewet dan banyak nanya. Makasih banyak Yustisea atas desain covernya yang oke banget. And makasih juga buat semua anggota Redaksi GPU atas bantuannya selama ini. Gue juga nggak bakal lupa ngucapin makasih sama all my lovely pets (terutama buat Rika-ku yang bantet and Lassie-ku yang brutal!). Meskipun kalian nggak ngerti, kehadian kalian udah bikin hari-hari gue jadi lebih ceria. Last but not least, thanks buat teman-teman baru gue yang udah membaca novel pertama gue. Respons dan masukan dari kalian sangat berharga buat gue. Makasih juga buat kamu yang lagi baca novel kedua gue ini. Tengkyu banget karena kamu

udah memilih untuk membaca novel ini di antara novel-novel lainnya. Gue tunggu respons kalian di v2_b4byp1nk@yahoo.com. Oke! GBU all.... Lophe, Vera

” ujarnya bak perwira yang sedang memerintah anak buahnya.BAB SATU RONALD berdiri di samping Bia sambil menyisir rambutnya yang berdiri kayak duri landak dengan jari-jarinya. “Iya. kakakkakak kelas dengan junior-juniornya. gue tahu. “Bi. si penjaga sekolah. juga sarana untuk memperkenalkan siswa baru pada lingkungan sekolah dan program-program sekolah. yang lebih beken dengan panggilan “Bia” (padahal itu nama kecilnya loh!). pokoknya kalo anak-anak baru itu udah pada datang. cewek mungil berambut pendek yang udah hampir setahun ini memegang jabatan ketua OSIS. Udara pagi itu masih terasa agak lembap. Tapi sebenarnya tetap saja balas dendam menjadi tujuan utama para senior ini. Apalagi Baby Fania. yaitu balas dendam. Tapi bagi beberapa anggota OSIS. Dia udah tiba di sekolah sejak jam 05. Katanya sih biar para siswa baru itu punya mental kuat untuk menghadapi kerasnya dunia SMA kelak. terkadang MOS disalahgunakan. Tapi beberapa anak yang tergabung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah SMA Constantine 4 udah pada kumpul di sekolah sejak jam 06.” respons Bia singkat.00 dengan semangat ‟45. juga biar mereka bisa menanggalkan sifat manja yang masih mereka bawa dari lingkungan SMP. waktu hujan masih dengan riangnya menyiram tanah pertiwi dan gerbang sekolah belum dibuka oleh Pak Kosim. Hari ini adalah hari pertama MOS (Masa Orientasi Siswa) buat anak-anak kelas 1 yang untuk pertama kali mengenakan seragam putih abu-abunya. Cewek bertubuh mungil itu berdiri tegak sambil celingak-celinguk memerhatikan gerbang sekolah. MOS ini sebenarnya diciptakan untuk mengakrabkan para guru dengan siswa baru. lo mesti ngeluarin seluruh kemampuan lo buat bikin mereka takut. Sudah menjadi tradisi turun-temurun bahwa selama MOS yang diadakan tiga hari ini. Nggak ada seorang pun yang pasang tampang lemas. para anggota OSIS punya wewenang untuk “mengatur” adik-adik kelas mereka yang baru. Jalanan masih basah bekas diguyur hujan subuh tadi. Apalagi buat yang sudah . Di balik tujuan baik penyelenggaraan MOS ini sering kali ada maksud terselubung.30.

duduk di kelas 3, MOS kali ini kan merupakan MOS terakhir buat mereka. Kapan lagi punya kesempatan bentak-bentak dan ngerjain orang tanpa perlu takut dibalas? “Eh, Ron, anak-anak udah pada siap di posisi masing-masing?” tanya Bia. Ronald menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Lo tenang aja, semua udah stand by di tempat masing-masing.” Bia manggut-manggut. Kepalanya masih sibuk bergerak dan matanya terus memantau gerbang sekolah tanpa berkedip. “Itu mangsa kita udah datang!” seru Bia senang. Bibirnya merekah memperlihatkan gigi kelinci yang nangkring di gusinya. “Mana... mana...?” Ronald maju beberapa langkah sambil melihat ke arah gerbang sekolah. “Iya... benar. Mereka udah datang.” “Siapa aja yang bertugas menjaga gerbang dan memeriksa kelengkapan atribut anak-anak baru itu?” tanya Bia. “Mmm... Sonny, Leon, Maya, Tania... sama satu lagi... si Victor.” Bia tersenyum puas. Lima orang yang baru saja disebut Ronald adalah anak buah kesayangannya. Soalnya selain bertampang sangar, mereka juga tegas, bermulut pedas, dan pantang disogok. Bia yakin lima orang itu akan melaksanakan tugas mereka dengan sangat baik. @(^-^)@ “Woi, jalannya lelet banget sih? Keturunan siput semua, ya?!” Tania meneriaki segerombolan anak yang berjalan kaki ke arah gerbang sekolah. Penampilan anak-anak itu terlihat sangat unik. Mereka memakai topi yang terbuat dari batok kelapa yang dibelah menjadi dua dengan warna yang berbedabeda. Di atas batok kelapa itu ditempeli bulu-bulu ayam yang disusun berjajar sehingga membentuk kipas. Selain itu mereka juga mengenakan kalung dari jengkol dan pada kalung itu digantung karton putih yang bertuliskan nama julukan mereka. Buat siswa perempuan, rambut mereka dikucir kecil-kecil dan diikat pita berwarna senada dengan topi mereka. Tas yang menggantung di punggung terbuat dari sarung bantal yang nggak tahu gimana caranya bisa disulap jadi ransel. Benar-benar pemandangan yang begitu menarik perhatian. Lucu banget! “Woi, anak siput! Kalau dalam hitungan ketiga kalian belum juga sampai di hadapan saya, saya suruh kalian lompat kodok dari situ!” ancam Leon. “Satu...!” Leon mulai menghitung. Gerombolan anak-anak itu bergegas berlari menuju kakak-kakak kelas mereka dengan wajah ketakutan. “Tiga...! Cepat lompat kodok semuanya!” bentak Leon.

Para siswa baru itu pada bengong. Perasaan tadi baru hitungan kesatu, kok sekarang udah tiga. Duanya dikemanain? Bukannya tetap berlari, mereka malah berhenti dan pasang tampang blo‟on. “Kalian ngerti lompat kodok nggak sih? Cepat lompat kodok dari situ!” Sonny ikut bentak-bentak. Suara dan tampang Sonny yang nyeremin bikin anak-anak baru itu langsung jongkok dan mulai melompat kayak kodok. Mereka meletakkan kedua tangan di belakang kepala dan mulai melompat dengan kedua kaki. “Semuanya lompat sambil ikutin nyanyian saya ya! Harus yang keras!” perintah Maya yang berdiri di depan barisan anak-anak yang mulai melompat. Maya memimpin barisan sambil bernyanyi, “Kodok ngorek kodok ngorek... ngorek di pinggir kali. Teot tet blung teot tet blung... teot teot tet blung.” Anak-anak yang melompat di belakangnya ikut bernyanyi mengikuti Maya. Warga yang tinggal di sekitar gedung sekolah serentak keluar dari rumah masingmasing karena mendengar keramaian yang terasa sangat aneh. Para pengguna jalan juga berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan itu. Sebagian besar dari mereka tersenyum dan berusaha mengulum tawa, tapi ada juga sekelompok ibu-ibu yang mengumpat karena merasa kegiatan ini konyol dan nggak ada gunanya. Namun apa mau dikata, ini kan tradisi turun-temurun. Lagi pula tradisi ini, walaupun kelihatannya agak kejam, nggak pernah sampai menimbulkan korban jiwa kok. Malah biasanya membawa keuntungan tersendiri. Misalnya, pernah ada orangtua murid yang datang ke sekolah untuk berterima kasih, karena anak mereka yang pemalu dan pendiam, setelah digojlok lewat program MOS selama tiga hari, anak itu malah bisa lebih terbuka dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. Dan efek positif yang lain, selesai MOS, anak-anak baru bisa langsung akrab dengan kakak kelas. Malah terkadang ada yang terlibat cinlok alias cinta lokasi. Makanya sampai sekarang, di saat tradisi MOS mulai dihapus di beberapa sekolah, SMA Constantine 4 tetap mempertahankannya. “Nyanyinya yang keras dong! Mana suaranya!” bentak Tania. “Yang udah sampai di hadapan kakak yang rambutnya jabrik itu langsung berdiri dan buat barisan.” Sonny, yang tahu bahwa dirinyalah yang dimaksud Tania, langsung mengambil posisi dan mengatur beberapa anak yang sudah sampai di hadapannya. “Kalian yang baru datang, langsung lompat kodok dan ikutan nyanyi!” seru Sonny kepada sekelompok anak yang baru saja tiba. “Hei! Kamu ngapain lompat kayak gitu?” tegur Victor dengan mata melotot ke arah seorang cowok yang sedang asyik melompat dengan kedua tangan terjulur ke depan, bukan di belakang kepala. “Saya, Kak?” tanya cowok itu dengan tampang heran.

“Iya, kamu!” Victor membaca karton nama yang menggantung di leher anak baru itu. “KATRO, ke sini kamu!” ujar Victor ketus. “Lho, salah saya apa, Kak?” tanya cowok itu. “Berdiri kamu, dan ikut saya!” perintah Victor. Cowok itu menurut dan mengikuti Victor keluar dari kelompoknya. “Kamu nggak tau cara lompat kodok, ya?” tanya Victor berusaha sabar begitu berhadapan dengan anak baru itu. “Tau, Kak. Bahkan saya pernah melakukan observasi khusus pada kodok-kodok yang sering numpang nginep di kolam ikan rumah saya.” “Saya nggak minta kamu melucu! Kamu mau sok jagoan, ya?” Victor mulai kehilangan kesabaran. “Saya kan cuma melakukan observasi aja, Kak. Kok dibilang sok jagoan sih? Emang sihs aya kurang kerjaan. Tapi saya sama sekali nggak ada maksud untuk sok jagoan kok. Nah, kebetulan tadi saya disuruh lompat kodok, ya saya terapkan aja hasil observasi saya itu. Soalnya, menurut hasil observasi saya, kodok tuh melompat dengan menggunakan keempat kakinya. Kedua kaki depannya bukan ditaruh di belakang kepala kayak teman-teman saya. Mereka salah, Kak. Yang benar ya kedua tangan kita juga harus digunakan untuk melompat supaya mirip kodok. Makanya saya melompat seperti itu. Kan disuruhnya lompat kodok,” cowok itu menjelaskan dengan tampang serius. Victor menarik napas panjang. Dia agak bingung. Sebenarnya nih cowok memang bermaksud melawan atau memang agak tulalit. Soalnya kalau dilihat dari tampang innocent-nya, cowok ini tampaknya sama sekali nggak ada niat untuk memberontak. Victor berpikir sejenak, dan ia merasa ada baiknya kalau nih anak aneh langsung diserahkan aja ke Bia daripada dia salah mengambil keputusan. “Kamu ikut saya!” perintah Victor. “Ke mana, Kak? Saya jangan diapa-apain, ya. Nanti mama saya marah kalau saya melakukan hal yang berlawanan dengan agama. Lagi pula kalo boleh jujur, saya masih suka sama cewek, Kak,” kata cowok itu dengan tampang memelas. Victor melotot memandang cowok aneh yang berdiri di hadapannya. “Lo pikir gue cowok apaan?” “Iih, Kakak... Gitu aja kok marah sih?” Victor benar-benar nggak tahan. Tangannya terkepal menahan marah. Dia langsung berbalik lagi dan berjalan menuju pos yang ditempati Bia dan Ronald selaku dewan pengadilan yang bertugas mengatur anak-anak aneh yang suka melanggar aturan MOS. Si cowok aneh itu berjalan di belakang Victor, tetap dengan wajah tanpa dosa. “Bi, ada pasien buat lo nih! Namanya Katro!” ujar Victor kesal ketika sudah sampai di pos Bia.

. “Cocok banget sama julukannya... Tapi entah kenapa. Senyumnya merekah dan memperlihatkan lesung pipi di pipi kirinya. Tapi tatapan tajamnya lurus ke arah Bia. “Sadar apaan?” tanya Bia tegas.. Ronald menatap “cowok aneh” yang masih berdiri di tempatnya tadi. “Apa kasusnya?” tanya Ronald. Bia merasa wajah cowok itu mirip dengan orang yang dikenalnya. “Tapi yang pasti gue serahin dia ke elo karena dia. Ronald. . sampai lo bilang dia anak aneh?” tanya Bia heran. lalu memanggilnya. Ia terus menatap Bia dengan sorot memuja.. Tor. “Apa atribut yang dipakainya nggak lengkap?” “Kalau soal atribut sih gue nggak tau ya. nggak lama lagi nih cowok pasti bakal jadi salah satu idola sekolah. “Saya sadar. Mukanya yang rada oriental mengingatkan Bia pada bintang film kesayangan Mama. dan Victor... si Hua Ce Lei itu tuh. yang selama ini selalu hadir dalam setiap mimpi-mimpi saya. cepat ke sini!” Cowok itu celingak-celinguk ke kanan dan kiri... tapi sekarang saya sadar.Cowok aneh itu berdiri agak jauh dari tempat Bia..” jawab cowok itu menggantung kalimatnya.” jawab Victor singkat. Memang kamu kira siapa lagi? Baca dong papan nama di dada kamu!” Ronald jadi agak sewot.” kata Victor. soalnya gue sama sekali belum periksa. Katro. Victor berjalan menjauh dan kembali bergabung dengan timnya yang sedang berteriak-teriak ke arah anak-anak baru. Mm. apalagi senyumnya itu. Bia yakin banget.. Cowok itu berjalan mendekati Ronald dan Bia. kamu..” Ronald dan Bia berpandangan heran. bahwa kakak tadi ternyata hanya ingin mengantar saya untuk bertemu dengan bidadari yang selama ini saya cari. Ia seperti hendak memastikan bahwa memang dia yang dipanggil Ronald barusan. “Gue mau balik ke pos gue. “Mm.” “Apanya yang aneh sih?” Ronald penasaran. “Kamu tahu kenapa kamu dibawa menghadap kami?” tanya Ronald begitu cowok itu udah berdiri di hadapannya. awalnya sih saya kira kakak yang tadi itu naksir sama saya dan punya maksud jelek sama saya. Tampangnya innocent banget. “Anak aneh. tampangnya oke kok. Dan sekarang bidadari itu sudah berdiri tepat di hadapan saya. orang aneh. Anak aneh? Apa yang aneh dari cowok itu? Bahkan menurut Bia.. “Lo tanya aja sendiri.” jelas Victor. asli banget.. “Iya.” Bia menatap cowok yang berdiri nggak jauh dari hadapannya. siapa ya? “Memangnya dia bikin salah apa. Badannya yang tinggi dan tegap bikin tu cowok jadi kelihatan keren.” jawab cowok itu enteng. “Heh.. lalu kembali menatap Ronald sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Kamu pikir saya percaya sama cerita kamu itu?” tanya Bia. kamu salah tempat. Tapi dia salah pengertian. “Bukannya yang disuruh itu kalung dari jengkol?” “Oh. kan? Kalau mau. Ronald mulai memeriksanya satu per satu. soalnya semur jengkol buata pembantu saya itu emang enak banget. kalau Kakak udah mencicipinya sedikit saja. begini. Kak.” “kamu kira kamu itu lucu. Kamu mesti bilang sama orangtua kamu untuk segera memindahkan kamu dari sekolah ini. “Harus percaya. “Kalau begitu. Kakak boleh tanya sama pembantu saya di rumah. Tapi itu nggak berlaku buat Bia. karena saya memang jujur kok..“Terima kasih atas pujiannya. Kak. orang-orang yang menganggap kamu lucu itu adalah manusiamanusia katro kayak kamu!” maki Bia..” “Udah. Saya yakin. Saya udah suruh pembantu saya beli jengkol buat dibikin kalung. “Saya nggak pernah berminat jadi badut atau pelawak. Kak.. atau saya suruh dia bikin semur jengkol lagi buat Kakak. Berhubung yang ada di rumah tinggal pete. kalau itu sih saya nggak tahu. “Keluarin semua perlengkapan yang harus kamu bawa hari ini!” perintah Ronald. ceritanya.” Ronald berdiri di samping Bia sambil berusaha mengulum tawa. apa?!” bentak Bia.. Bia juga nggak tahu apakah cowok itu bermaksud cari-cari masalah atau bukan. nggak ada yang kurang.” . Gaya bicara si Katro ini memang asli lucu.. Saya cuma ingin jadi. Mimik mukanya yang innocent bikin orang yang mendengar ceritanya mau nggak mau jadi percaya. Dia mengeluarkan berbagai macam barang dari dalam tasnya. Kak. Kakak juga nggak akan bisa marah sama pembantu saya itu. cowok di hadapannya ini aneh.. pacar Kakak. tapi ada juga sih orang yang bilang kalau saya lucu dan manis. Tapi saya nggak bisa marah. Bia menarik napas lalu mengembuskannya perlahan. Apa muka saya kayak muka penipu? Nggak. Semuanya lengkap. Kamu harus tahu. tapi sayang banget.. periksa perlengkapannya aja dulu. Cowok itu menurut. “Sama sekali nggak lucu. ya udah saya bikin aja dari pete. Kak. Semua masih nggak jelas. Sekolah ini nggak butuh manusia konyol kayak kamu!” jelas Bia dengan nada pedas. Kalau kamu mau jadi pelawak atau badut. Dia kira saya lagi pengin makan semur jengkol. Bi.” jawab cowok itu sambil tetap tersenyum manis. Jadinya jengkolnya dimasak deh sama dia.” saran Ronald. Benar kata Victor. ini bukan tempat pelatihan buat pelawak atau badut. “Wah. saya nggak mempan sama rayuan gombal.. “Tunggu dulu! Kalung apa yang kamu pakai itu?” tanya Bia sambil menunjuk kalung yang menggantung di leher cowok itu. Gitu Kak ceritanya.

“Woi. bukan malah ngumpul dan ngobrol sendiri!” Teriakan demi teriakan bergema di seluruh aula..“Saya nggak peduli dan jangan coba-coba mempermainkan saya. Nanti kalau kamu ilang digondol jin bisa bikin repot. “Jangan malah mendem di pojok. “Atau masih kayak anak TK. Suaranya yang keras membuat semua mata memandang ke arahnya. Tapi tetap aja ada yang salah. “Siapa yang suruh ketawa!” bentak Maya. Lalu perlahan dia mulai push-up di bawah hitungan Bia.” jawab cowok itu sambil cengengesan dan garuk-garuk kepala. Dan setelah tubuhnya didorong oleh teman-temannya. “Kalau Kakak yang suruh. “Keterlaluan sekali kalian.” lanjut Tania. Cowok itu tersenyum manis lalu berkata. “bikin lingkaran besar ya. “Juventus Egi dari kelas 1 D. “Tadi pagi kalian telah diminta untuk mengumpulkan surat cinta dan surat benci untuk kakak senior kalian kepada wali kelas masing-masing. “Push-up. bikin lingkarannya harus sambil pakai nyanyian baru ngerti?!” “Yang di sana!” seru Ronald. “Iya. sekarang semuanya dengar baik-baik!” suara Tania memecah keheningan.. “Tapi ada satu surat yang rasanya aneh dan saya mau pengirim surat itu maju ke tengah lingkaran.. pada tau lingkaran besar nggak sih!” bentak Victor. “Iya. @(^-^)@ “Oke. dia pun maju ke tengah lingkaran. “Oke.. ngetawain teman sendiri!” Aula mendadak sunyi senyap. “Bikin lingkaran besar!” Anak-anak baru itu mulai bergerak dan membuat lingkaran sesuai perintah senior mereka. Cepat!” bentak Bia. tau!” Tawa anak-anak meledak. “Kamu yang kecil kayak tuyul!” teriak Leon. apa pun akan saya lakukan. Kak?” tanya cowok itu. “Kamu yang namanya Juventus Egi?” tanya Tania begitu Egi sudah berdiri di hadapannya. Padahal mereka udah sebisa mungkin melaksanakan perintah kakak-kakak senior itu dengan baik.” Dia meletakkan tasnya di tanah dan mulai mengambil posisi push-up. anakanak kelas satu itu pasti akan sangat berterima kasih bila diizinkan menyumpal telinga mereka dengan kapas. Seandainya saja boleh. Nggak ada yang berani bersuara apalagi ketawa. semuanya!” perintah Sonny yang menempatkan diri di tengah aula. . Kak.! Sekarang juga saya minta kamu push-up tiga puluh kali!” perintah Bia..” Cowok yang namanya disebut itu celingak-celinguk nggak jelas.

“Tapi. “Saya kan cuma sedikit salting karena harus berdiri di tengah-tengah orang banyak gini. Tadi dia habis kena hukuman push-up lagi dari Bia.” kata Maya. surat ini nggak bisa saya bacakan... Ronald buru-buru menarik Leon. Kali ini giliran Maya yang maju dan mendekati Egi dengan sepucuk surat di tangannya. Tapi kelihatannya dia nggak berniat melawan kok. Dia nggak mau sampai terjadi keributan. Piano itu memang selalu berada di situ. “Diam semuanya!” bentak Sonny. Jadi akan menjadi lebih indah dan bermakna apabila dinyanyikan. Egi mengangguk. Cocok sama nama julukannya: Katro. boleh nggak kalau saya menyanyikannya sambil memainkan piano itu?” Egi meminta izin sambil menunjuk ke arah piano yang ada di depan aula.. “Sabar. itu karena di dalamnya udah lengkap terdapat ungkapan cinta dan ungkapan benci untuk bidadari yang telah menawan hati saya.” Semua pengurus OSIS yang berkumpul di tengah lingkaran bertepuk tangan dan berteriak riuh. “Boleh aja kalau kamu memang bisa. dia emang rada aneh.. “Dengar baik-baik. “Kamu malu?” “Bukan. Leon maju mendekati Egi.” Leon menurut meski dengan setengah hati. Kak. Tapi kenapa yang kamu kumpulkan cuma satu surat doang?” “Ooo.” celetuk Tania. “Tapi surat ini harus dinyanyikan. Kakak mau minta tanda tangan saya?” Anak-anak kembali tertawa.” jawab Tania.” sahut Egi. Juventus Egi!” seru Maya. atau memang kamu keturunan monyet?” Weits. Biasanya sih digunakan saat ada acaraacara sekolah yang membutuhkan iringan musik. Kesannya kayak lagi jumpa fans gitu deh. kasar! “Ih. “Karena surat ini adalah lagu cinta. .” jawab Egi.” “Kalau begitu ya nyanyikan aja. “Sekarang saya minta kamu bacakan surat yang udah kamu tulis ini dengan suara lantang. “Kenapa?” Maya bertanya.“Kenapa kamu garuk-garuk kepala?” tanya Tania ketus. Ruangan kembali hening. “Ketombean. “Kamu diperintahkan untuk menulis surat cinta dan surat benci.. Yon.. Kak. “Mmm. Kakak kok ngomongnya gitu sih?” jawab Egi.” “Oke kalau begitu. Cuma Bia yang berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan tampangnya manyun luar biasa. “Lo mau ngelawan ya?!” Egi menggeleng sambil tersenyum.” “Dinyanyikan?” Maya jadi heran. Mmm.

lalu menempatkan jemarinya di atas deretan tuts berwarna hitam dan putih itu. di antara surat-surat yang diterima wali kelas satu. Kalau ngomong pedesnya minta ampun. tapi nggak ada yang semenakutkan Bia. Baby Fania alias Kak Bia. Bia pun mengurungkan niatnya. Bia buang muka. Ada yang berteriak. Dan sorot matanya itu lho. Bia merengut kesal. Senior lain sih ada juga yang galak. Beberapa anggota OSIS berjalan mendekat dan memasang mikrofon di dekat piano. Soalnya.” Tepuk tangan memenuhi aula. Bagi Bia. Egi memainkan jemarinya di atas piano sambil tersenyum menatap Bia. cuma ada satu surat cinta yang ditujukan untuk Bia. bahkan ada yang melompat-lompat nggak jelas.. ada yang bersiul. Dia beranjak hendak meninggalkan aula. Ketika pagi datang Ku tak pernah mengira Kan bertemu denganmu Di depan sekolahku Jantungku pun berdetak Sungguh sangat cepatnya Dan ku tahu ku tlah jatuh cinta Ketika malam datang Sepi yang kurasakan Tanpamu di sisiku Galau selimuti kalbu Ingin ku membencimu . satu dua tiga.. Selebihnya Bia cuma menerima setumpuk surat benci. Mereka juga memberikan mikrofon kecil yang kemudian dipasang di kerah baju Egi agar suara Egi dapat terdengar ke seluruh sudut aula. tajam banget.. melantunkan lagu cinta dari bibirnya.Egi tersenyum lalu berjalan mendekati piano itu. Dia cuma bisa berdiri diam dengan tampang jutek. Jelas banget niat teman-temannya pengin ngerjain dia. Selama MOS berlangsung.” Egi mencoba mikrofonnya. Ya surat dari Egi ini. Bia menjadi senior yang paling ditakuti. tes. nggak ada tuh yang namanya kompromi. Nada-nada yang mengalun dari piano membuat semua orang terdiam. “Oke.. tapi kalau udah bersuara nyeremin banget. Nggak ada satu pun junior yang nggak disiplin bisa lolos dari cengkeraman Bia. Tapi Egi tetap menatapnya.. Dia nggak terlalu suka ngomel atau ngebentak-bentak. tapi temantemannya langsung mencegat langkahnya.. Dia duduk dan membuka tutup piano. lagu sederhana ini saya persembahkan kepada seorang gadis yang telah membuat saya jatuh cinta. “Tes. Dia juga yang paling tega ngasih hukuman lari sepuluh kali keliling lapangan..

. Bi?” Bia nggak menjawab. “Apa lagu itu kamu ciptakan buat saya?” kali ini suara Bia terdengar lebih halus. Teknik falseto saya juga top. Anak-anak terdiam karena kaget. lagu itu saya ciptakan khusus untuk Kakak. Hening. dan tepuk tangan terus mengalir. “Lebih baik kamu nyanyi di bus kota aja. Kak?” tanya Egi.! Siulan terdengar dari arah anak-anak kelas satu yang sedang berdiri. Ia melambaikan tangannya dan meniupkan ciuman ke sekelilingnya.Karna kaucuri hatiku Dan buatku tergila-gila Tuk mencintaimu Reff : Percayalah sayangku Kan kubawa kau ke surga Ku berjanji padamu Takkan meninggalkanmu Meskipun dunia tak inginkan dirimu Ku akan slalu di sisimu Tepuk tangan membahana di seluruh sudut aula. sorakan. “Diam semuanya!” bentakan Bia yang tiba-tiba membuat seisi aula mendadak hening. Dia malah berjalan mendekati Egi yang masih berdiri di sisi piano sambil tersenyum. Sambil tersenyum lebar dia membungkukkan badannya berulang kali layaknya selebriti yang habis ngadain konser. siulan. saya tidak akan memberikan kamu uang recehan. tapi air comberan!” “Kok gitu sih. Tapi sayangnya. Matanya melotot ke arah asal suara. “Padahal Indra Lesmana pernah memuji suara saya loh waktu saya ikut audisi Indonesian Idol 1.” “Kalau begitu saya sarankan. “Kenapa sih. Sorakan riuh rendah menutup pertunjukan singkat Egi. suit. Egi berdiri dan berjalan ke sisi kanan piano. “Siapa yang bersiul?” tanya Bia dengan suara keras dan tegas. “Kenapa kamu senyum-senyum?” tanya Bia sinis. Nggak ada yang berani ngaku. itung-itung bisa dapat uang saku ekstra. “Iya. waktu itu saya mundur gara- . Egi mengangguk.” Egi langsung menjawab tanpa ragu. Katanya suara saya khas dan unik. Gelak tawa. Bia kembali menatap Egi yang masih berdiri dan tersenyum di depannya. “Karena Kakak cantik. Karena kalau kamu berani menyanyikan lagu itu di sekolah ini lagi. Suit.. Tania mendekati Bia lalu berbisik heran.” kata Bia dengan nada mengancam.. jangan pernah kamu menyanyikan lagu itu di sekolah ini..

. “Dan kamu. Maklumlah. Kalau mereka ikut tertawa. Bagaimanapun Bia kan ketua mereka. cowok satu ini akan benar-benar mengusik kehidupan Bia.. Para senior alias anggota OSIS berusaha sebisa mungkin mengulum tawa. Kalau saat ini bukan acara MOS.” Tawa kembali meledak. saya ini orangnya suka nggak enakan. Bia benar-benar keki. kembali ke kelompok kamu!” Kayaknya. . Bia yakin tinjunya sudah bersarang di wajah cowok jayus ini. “Semua diam!” bentak Bia kesal.gara takut Delon merasa tersaingi deh saya. itu sama aja mereka ngetawain Bia.

Bagi mereka. Dan saat ini. “Sama kayak tahun kemarin. dan anak-anak kelas satu pun kini bisa bernapas lega. Meja yang ada di pojokan kantin. Bi?” “Biasa aja.” jawab Bia singkat. Seperti biasa.BAB DUA TIGA hari sudah berlalu. bisa nongkrong di kantin sambil menikmati jajanan. di antara mereka berempat cuma Tammy yang beda kelas.. Tapi yang jelas.” Cha-Cha menoleh ke arah Yuki yang duduk di sebelahnya. Cha-Cha melahap sepotong kecil pangsit sambil bertanya. Dan yang namanya geng. persahabatan nggak pernah memedulikan elo di kelas mana dan gue di kelas mana. itulah yang menjadi markas geng Bia. “Dia kan juga pengurus OSIS. Bia duduk di kantin sambil menikmati semangkuk mi pangsit bersama teman-teman segengnya: Cha-Cha. Yuki. “Gimana MOS kemarin. Jam istirahat memang waktu yang paling menyenangkan buat mereka. . sekali sahabat ya tetap sahabat. dan Tammy. cewek blasteran Jepang yang jadi inceran sebagian besar cowok di SMA Constantine 4 ini. senior tergalak dan terjudes. “Bagi gue. Cha. Yu!” “Lo mau gue ceritain tentang apa?” tanya Yuki. elo nggak asyik nih. Nggak ada lagi yang namanya bentak-bentak dari kakak kelas. MOS sudah selesai dan sekolah mulai berjalan seperti biasa.” kata Bia. lalu berkata. pasti punya markas. Masa nggak ada yang seru sih!” Cha-Cha protes mendengar jawaban Bia yang begitu singkat.” jawab Yuki. “Ah. Tanya aja sama Yuki.. dan secara de facto menjadi daerah teritorial milik mereka. “Cerita dong. Tapi sayang. Yuki udah ada yang punya. “Mmm. Cerita dong.apa nih?” tanya Cha-Cha. semuanya emang biasa aja. Ia mengambil botol sambal yang ada di meja dan menuangkan isinya ke dalam mangkuk minya. Bia dan ketiga temannya udah sobatan sejak pertama kali mereka menginjak sekolah ini. si Bia dapat senior ter.

” Yuki tersenyum malu. “Menurut gue sih ada. lo harus buru-buru. Masa SMA kita kan tinggal setahun ini. bau tanah juga nggak apa-apa. Nggak heran dia langsung jadi idola baru di sekolah ini. “Masa sih? Siapa namanya? Siapa? Kelas berapa?” tanya Tammy antusias.” Bia membela diri.. senior terfavorit. Asal tampangnya oke. Tam?” tanya Cha-Cha. bodo deh sama senior ter.” kata Bia senang karena dapat pembelaan.” jawab Yuki. Masih bau kencur. Kalau pemandangannya nggak ada yang baru. “Ah. Tam.. “Tuh kan. Cowok aneh itu emang punya tampang oke. Soalnya cuma ketegasan Bia yang bisa nyelesaiin semua masalah dan bikin anak-anak baru itu nggak berani ngelawan. Cha..” jawab Yuki. sekali-sekali kayak Yuki dong.. Bia menghela napas.” Tammy ikut sumbang suara sambil tertawa. why not?!” “Ih.. dan nggak ada masalah kok. Bi. nggak? Kalo ada. Tepat dugaan dia.itu. “Lo nggak salah? Mereka tuh bukan hormat sama elo.. mau gue samperin tuh anak. Semua tertawa mendengar kata-kata Tammy itu. Bia emang judes banget. emang dia kok. gue serius nih.. tapi takut dan benci setengah mampus. “Yuki. Yang perlu gue tau. anak kelas satu gitu loh. “Lo suka daun muda.. Soalnya udah banyak yang ngincer. lo tuh emang nggak bisa lembut dikit ya. “Serius dong.” ujar Cha-Cha.” sahut Bia dengan tampang jijik. “Kenapa harus lembut? Gue terpilih sebagai senior tergalak dan terjudes itu kan berarti gue sukses bikin anak-anak baru itu hormat sama gue. “Menurut gue.” “Kurang satu.” sambung Bia. jangan bilang kalau yang lo maksud itu si cowok katro itu ya. “Juventus Egi? Bikin surat cinta buat Bia?” tanya Tammy heran. “Bener tuh. dokunya kenceng. Satu-satunya cowok yang bikin surat cinta buat elo waktu MOS. “Pasti Yuki jadi senior tercantik dan terbaik lagi. tapi judesnya itu malah bikin MOS kita sukses. “Kalau tampangnya oke.. “Yee. . Dan kalau lo beneran serius pengen kenalan. “Cha.” kata Bia curiga.” sahut Bia. kaleee. anak kelas 1 D. bisa butek nih otak gue.” tawa Cha-Cha. “Iya.” “Dengar tuh. anak barunya subur atau gersang nih?” tanya Tammy..” ujar Tammy.. “Tanaman.“Hahaha! Tepat seperti dugaan gue. Bi. Ada yang cakep. Namanya Juventus Egi.” kata Tammy. it’s okay kok.” kata Tammy. kali.

Ayo dong cerita!” seru Cha-Cha penasaran. Kak.” kata Egi sambil mengulurkan tangannya ke arah Tammy. Semua terdiam karena kaget.” ujar cowok itu sambil beranjak ke samping Tammy dan Cha-Cha. Terutama Cha-Cha dan Tammy. “Nggak ada yang ngajak lo ikutan gabung.. Ternyata di sini banyak bidadarinya. kakak-kakak yang cantik?” tanya cowok itu tersenyum manis. Lo cemburu ya. Kesannya tua banget.” kata Egi. ada yang nyimpan cerita sendirian nih. “Oke deh. berita heboh gitu kok nggak diceritain sih. “Lo ngapain di sini?!” bentak Bia. Bi.” Egi beranjak meninggalkan kantin sambil melambaikan tangan. Saya kan mau kenalan sama kakak-kakak yang cantik ini.” rajuk cowok itu.” Cha-Cha nggak mau kalah. Yuki-chan.” kata Egi sambil tersenyum manis ke arah Bia.. kok pada diam sih. Kak?” “Boleh. nama gue Tamara.” “Kalo gue Frederica. “Cerita apaan sih?” Tiba-tiba sesosok makhluk berjenis kelamin laki-laki muncul di sebelah Bia. Cepet lo pergi dari sini sebelum gue lempar nih gelas!” bentak Bia keki.. “Halo.” Tammy membalas uluran tangan Egi. Dia ikut-ikutan mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Egi. “Dan jangan panggil kami „kakak‟. my angel.. “Nggak mau ah. Bia melotot kesal melihat ulah kedua temannya itu. “See you. Saved by the bell.“Wah. “Boleh kenalan nggak. lo kejam banget. “Lo nggak usah ngegombal deh sama teman-teman gue.” kata Egi. Pergi sana!” “Ih. Kakak kok galak gitu sih. Yuki tersenyum manis mendengar namanya disebut Egi dengan gaya panggilan Jepang. “Wah. “Kalau yang cantik ini gue udah kenal. Tepat saat Bia mengangkat gelasnya. berbunyi dengan nyaringnya.. Keduanya melongo melihat cowok keren yang berdiri di dekat mereka itu. cuma Bia kok yang ada di hati Egi. Tammy dan Cha-Cha membalas lambaian itu sambil tersenyum lebar. Curang lo berdua. “Gue sama sekali nggak nyesel masuk sekolah ini. gue masuk kelas dulu ya. “Pergi nggak lo!” usir Bia kasar. Egi menyambutnya sambil tersenyum manis. tapi lo panggil aja gue Tammy.. kan?” goda Egi.. . “Lho. tapi lo boleh panggil gue Cha-Cha. Saya Eig.” “Pergi nggak lo!” bentak Bia sambil mengangkat gelas minumannya yang sudah kosong. “Gila! Itu yang namanya Egi? Cakep banget!” seru Tammy. “Tenang aja. bel tanda istirahat telah selesai. gue deket sama cewek lain.

mungkin itu sebutannya. Sedangkan ayahnya.. tempe goreng. Kamu nggak usah nunggu ama.. Bia nggak tahu apa alasannya. Naik angkot dari sekolah sampai ke rumah benar-benar telah menguras keringat Bia. Lebih alami! Bia mengeluarkan kunci dari dalam tas ranselnya dan membuka pintu pagar rumah. mereka segera mengalihkan pembicaraan. cute abis!” tambah Cha-Cha nggak kalah heboh dari Tammy. Memo dari Mama. tapi semua keluarga Mama juga bungkam. Tapi lumayan juga sih buat membakar kalori. “Bi. Mama. Lagi-lagi pulang malam. tapi Mama selalu bungkam. Hati-hati di rumah ya. Ia buru-buru masuk ke rumahnya sebelum kulitnya gosong terkena sengatan sinar matahari. Belakangan ini Mama kelihatannya benar-benar sibuk. Nanti Mama pulang malam. Saat menutup pintu kulkas. tapi Bia yakin . “APA?! AMIT-AMIT DEH!” ujar Bia jijik sambil mengetuk-mengetukkan jarinya di meja berulang kali. Bia meneguk air minumnya dengan cepat untuk meredakan dahaga. Berulang kali Bia menuntut Mama untuk menceritakan siapa ayah kandungnya. Anak haram. Bi. ada nasi. Mama Bia bekerja di bagian pembukuan di sebuah pabrik tekstil. @(^-^)@ Udara siang ini luar biasa panasnya.“Iya.. “Cakep? kayak gitu lo bilang cakep? Lo berdua buta kali ya!” ujar Bia heran. Bahkan nggak jarang Mama malah marah besar sewaktu Bia memaksa Mama bicara. Mama cuma sempat masak itu tadi pagi. Ia melempar tas ranselnya dan bergegas ke dapur mengambil segelas air dingin dari kulkas. nanti malam beli makanan aja.” kata Yuki dengan senyum manisnya.. lalu tidur duluan. dan ayam goreng di meja makan. Mukanya itu lho. Bia nggak tahu laki-laki mana yang layak disebutnya papa. Kalau Bia mencoba bertanya pada mereka. kayaknya si Egi serius naksir sama elo deh. Hah.. Kalau kamu mau. Maaf ya.. Matahari sedang seru-serunya memancarkan sinar. Sejak lahir Bia nggak pernah tahu siapa ayah kandungnya. Bia lahir di luar nikah.. Love. Bukan hanya Mama yang bungkam. Ya ampun. gerutu Bia dalam hati. Hampir setiap hari Mama lembur. lega rasanya. Nggak perlu menghabiskan uang buat mandi sauna.. Bia menemukan secarik memo tertempel di pintu kulkas.

Bia yakin dirinya mampu berdiri sendiri tanpa kehadiran cowok dalam hidupnya. Lambat laun Bia menyerah. Setelah meletakkan tasnya di meja belajar. Direbahkannya tubuhnya di atas tempat tidur. Mama bekerja banting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan Bia. Dia nggak lagi berusaha mencari tahu tentang ayah kandungnya. Mama memang pernah menikah secara resmi. Sekarang Bia cuma tinggal berdua lagi dengan Mama. Sama seperti sebelum Mama menikah dengan Papa Ivan. . Mama kembali berperan sebagai single parent buat Bia. Bagi Bia. membuat Mama bahagia. Mama menikah dengan laki-laki yang usianya lebih muda dua tahun. Prinsipnya: I don’t need a man. pernikahan itu nggak bertahan lama. Bia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Cita-cita Bia cuma satu. Mama nggak pernah mau menerima belas kasihan dari siapa pun. Dia berjalan menuju kamarnya sambil menyeret tasnya yang tergeletak di lantai. Sejak perceraian itu. juga ayah kandungnya yang sudah meninggalkan dirinya dan Mama begitu saja. dia senang Mama menikah dengan Papa Ivan. Dan Bia membenci laki-laki yang sudah membuat dirinya dipanggil anak haram itu. dan perempuan cuma sekadar pendamping yang mencuri tulang rusuk mereka. Penyebabnya karena Mama memergoki Papa Ivan selingkuh. Makhluk yang bernama cowok itu sering merasa dirinya adalah makhluk berakal budi yang pertama kali diciptakan Tuhan.Mama sudah meminta semua orang untuk merahasiakan identitas ayah kandungnya. cewek itu berjalan gontai menuju tempat tidur. Bia nggak akan membiarkan seorang cowok pun menyakiti dirinya. Bia nggak mau disakiti cowok seperti Mama yang sudah disakiti Papa Ivan. Makanya. cowok itu nggak pantas mendapatkan cinta dari perempuan karena mereka sama sekali nggak pernah bisa menghargai arti seorang perempuan dalam kehidupan mereka. Bia nggak bisa memungkiri. Bia nggak suka kalau ada cowok yang coba-coba mendekati dirinya. Papa Ivan orang yang humoris. Mama selalu menolak setiap bantuan yang hendak diberikan oleh keluarga Mama. Pahitnya masa lalu kembali bergulir dalam memorinya. semua laki-laki brengsek. Semua peristiwa yang dialaminya selama ini telah mengubah hidup Bia. Bia memanggil laki-laki itu Papa Ivan. Waktu itu Bia baru kelas 6 SD. Pengkhianatan Papa Ivan dan tak adanya figur seorang ayah memubat Bia menjadi pribadi yang keras. Mama adalah segalanya. Dan Mama kembali terluka. Tapi satu keyakinan yang tertanam dalam benaknya. Bagi Bia. Ditatapnya langit-langit kamarnya. laki-laki yang meninggalkan anak dan istrinya tanpa alasan pasti bukan laki-laki yang pantas untuk dipanggilnya papa. Mama memilih bekerja dan hidup mandiri bersama Bia di rumah kontrakan yang sederhana ini. Di mata Bia. Tapi sayang.

Apa perlu ditambah ya MOS-nya? Biar digojlok habishabisan sampai kapok. ng. “Ya ampun. “Iya. “Begitu ya... ya?” balas si penelepon dari seberang.@(^-^)@ “Kriinngg. Padahal gue bermaksud nganterin lo pulang tadi.. tapi nggak ketemu. Bia. Suara cowok. Gue boleh nggak jadi pacar lo?” “Jangan kurang ajar ya!” suara Bia makin melengking. langsung ditolaknya tanpa memedulikan perasaan tuh cowok. Katanya lo udah pulang duluan naik angkot. Bia.” ujar Egi. “Sabar dong. “So. Tapi nggak . Kaget ya. elo ada perlu apa sama gue sekarang?” tanya Bia ketus. ini Bia.. gue tolak. “Gue tau nomor telepon lo dari temen lo. Apalagi elo! Sadar ya... Lo nggak usah main-main sama gue. “Gue cuma mau nanya.” Bia melotot mendengar kata-kata si penelepon gelap itu. Bi. kayak orangnya.. Dia paling nggak suka cowok yang berani ngegombal padanya.. marah lagi. Kayaknya dia kecewa. “Halo. Bia jadi nggak enak hati udah ngomong sekasar itu pada Egi. Bia bangkit dari tempat tidur dan buru-buru berlari kecil menuju ruang tamu untuk mengangkat telepon.” “Egi! Berani-beraninya lo nelepon gue! Dapat dari mana lo nomor telepon gue!” bentak Bia kaget. sekalian aja gue tanya nomor telepon lo. di mata gue. Nggak usah histeris gitu dong. Gue nggak punya maksud jelek kok sama elo. baru sehari selesai MOS udah berani kurang ajar sama kakak kelas.. Jadi lo nggak mau sama gue cma karena gue adik kelas lo?” suara Egi terdengar lirih. Gue Egi. “Halo.” sapa Bia. Masa lo nggak kenal sama suara keren gue ini. Tammy. Tadi pas pulang sekolah gue nyari elo.. Gue malah ketemu Tammy di kantin. Ya udah.” Dasar Tammy rese! Ngapain juga dia ngasih tau nomor telepon gue ke anak kutu ini! rutuk Bia dalam hati. Mas! Tao Ming Tse aja nembak gue. Jangan galakgalak gitu dong. “Siapa lo? Gue nggak suka gaya bicara lo!” “Duilee. Nggak tau kenapa. ditembak cowok ganteng?” “Ngaca dulu sana.!” Dering telepon dari ruang tamu mengembalikan Bia ke alam nyata. lo tuh masih bau kencur! Gue ini kakak kelas lo. Oke?” jawab Bia sambil tertawa. “Gue serius nih. Padahal biasanya kalau ada cowok yang nembak.. marah lagi. Suara lo imut.. Gila juga nih cowok. “Wow! Suara lo di telepon merdu banget. cowok di seberang malah berkata.. Gue kan cuma berkata jujur... lo lagi jomblo ya?” “Apa?!” pekik Bia kaget.. Ini siapa ya?” Bukannya menjawab.

Gue yakin lo nggak serius sama gue. apa.. kali ya. “Elo tuh Baby Fania. tapi karena gue emang nggak minat pacaran. Gue serius sama elo dan gue akan membuktikan hal itu sama elo. Nih cowok emang nggak bisa dikasih hati. Gue akan membuat lo jatuh cinta sama gue. Dilembutin dikit malah makin ngegombal..” sahut Egi. jadi belum tahan banting. kok sekarang Bia jadi kasihan sama Egi? Mungkin karena Bia merasa Egi masih muda. Dia membanting tubuhnya di sofa ruang tamu lalu merengut kesal. Gue paling jijay sama cowok kayak gitu. “Kenapa?” “Lo nggak perlu tau alasannya.” suara Bia mulai melembut. Iih. Mmm. Dia kira gue cewek gampangan.” “Omong kosong!” Brak! Bia membanting gagang telepon dan memutus pembicaraan begitu saja.. bukan cuma karena itu.” “Gue kenal kok siapa elo. Yang klepek-klepek kalau dengar rayuan murahan kayak gitu.tau kenapa. Dasar cowok rese! Nggak tau malu! Nggak tau diri. Gi. . ada hubungannya nggak sih? “Mmm. Lagian lo tuh belum kenal siapa gue.. cewek yang emang udah ditakdirkan Tuhan buat gue. Gue akan membuat elo mau membuka hati buat gue... kesel bangt deh gue! Semua cowok emang sama aja! GOMBAL! Bia ngedumel nggak keruan gara-gara keki mendengar kata-kata Egi di telepon barusan.

teet. Biar pas Mama pulang. Saya Egi. “Iya. . kita bisa langsung makan.. Di kulkas ada ayam goreng sama nugget.BAB TIGA PAGI ini cerah banget. Mama lagi malas sarapan.” kata Mama. “Nanti sore Mama usahakan pulang cepat.. Tumben ada cowok cakep yang datang ke rumah pagi-pagi. “Pagi. Kamu habiskan aja makanan kamu lalu berangkat.” “Benar.. Temannya Bia. Matahari mempersembahkan sinarnya yang paling hangat buat bumi. Mama tau. Siapa ya yang bertamu pagi-pagi begini? Nggak biasanya lho. aku ngerti.” Teet.” Mama mencegah Bia yang sudah mau bangkit dari duduknya. “Biar Mama yang buka pintu. ya... Tante. Tante. ya?” tanya Mama ramah tapi agak heran. Ma!” “Iya.! Suara bel rumah berbunyi.” kata Egi sambil menebar pesona senyum mautnya. Mama berjalan menuju pintu depan untuk membukakan pintu. Mama ini nggak tau kesehatan ya! Sarapan itu penting kan. “Nggak. “Kita makan malam sama-sama..” “Iya. Bia kembali duduk dan menghabiskan roti bakarnya yang tinggal dua suapan lagi. Mama kan tetap minum susu sebagai ganti sarapan. Di sebelah piringnya juga sudah tersedia segelas susu cokelat. “Pagi. “Mama nggak ikutan makan roti?” tanya Bia heran melihat mamanya yang hanya menghirup segelas susu hangat.” “Ih. Jadi kamu masak cepat. Semilir angin pagi ikut bertiup sepoi-sepoi membuat semua orang bangun pagi dengan semangat dan ceria. Bia sudah duduk di meja makan bersama Mama sambil melahap roti bakar buatan Mama. Kamu makan aja. nanti pulang sekolah kamu goreng aja sedikit untuk makan malam.. Nanti kamu telat lho. siap memulai hari baru. Ma?” “Iya.” Bia cuma mengangguk sambil melirik jam tangannya.” sapa seorang cowok imut berseragam SMA begitu mama Bia membukakan pintu.

“Bia.” kata Egi tanpa menjawab pertanyaan Bia.” “Kenapa sih Mama ngebelain dia?” .” “Tapi bukan begitu caranya. Non. aku berhak mengusir dia dari rumah ini karena aku nggak suka sama dia. Ma?” protes Bia setelah ia dan mamanya sudah berada di dapur.” kata Mama.. masa lo malah nggak mau berangkat bareng gue sih. kamu kenapa?” Mama yang melihat reaksi Bia ikutan kaget. Tante.. Kamu kan bisa menggunakan cara yang lebih halus. Kalau begitu. “Makasih.” nasihat Mama. “Bia. Makanya tadi Mama agak heran dengan kedatangan Egi. kamu itu perempuan. Gue ke sini mau jemput elo.” sahut Egi. galak banget sih lo.. Baju lo kotor. ada teman kamu nih.” ajak mama Bia ramah. “Kenapa sih kamu kasar gitu sama dia? Dia kan bermaksud baik sama kamu. “Ngapain lo ke sini?!” bentak Bia begitu berhasil mengendalikan diri.” kata Mama lalu mengambil lap di meja makan dan membantu Bia membersihkan noda susu yang muncrat ke seragamnya. udah bikin lo kaget. “Brruahh.. Mama nggak suka kamu bersikap sekasar itu.. Dan. Bia menoleh ke asal suara. “Apaan sih. Bia masih sarapan. “Pagi. Dia sudah mengerti sifat putri semata wayangnya ini yang anti sama cowok. “Kok gitu sih. Kita berangkat sekolah bareng yuk. “NGAPAIN LO KE SINI? JAWAB!” “Ya ampun.. Sekarang lo pergi!” usir Bia. Ini masih pagi. Bi. “Bia!” tegur Mama yang langsung menarik lengan Bia agar ikut dengannya ke belakang. Bia nggak peduli dengan noda di bajunya.” “Itu bukan urusan gue. “Memang kenapa kalau aku perempuan? Ini rumah kita.. Mama cuma bisa menghela napas. Bia jadi tambah keki. jangan kasar begitu dong. “Bia.” “NGGAK MAU!” tegas Bia.. Jangan marah-marah gitu dong. Bi? Gue udah bela-belain bangun pagi-pagi demi ngejemput lo ke sekolah. Ingat. masuk dulu yuk. Sori ya.” “Oooh. Bi.. lalu mengekor di belakang Mama.. Ia maju mendekati Egi tanpa memedulikan Mama yang sedang berusaha membersihkan seragamnya.. ya? Nanti gue cuciin deh. Bi.!” Susu yang baru saja masuk ke mulutnya kontan dimuntahkannya kembali gara-gara kaget.“Kok Tante nggak pernah liat ya?” “Soalnya saya teman barunya Bia. Bi. Tante. “Gue tanya sekali lagi.. ngapain lo ke sini?!” tanya Bia tanpa mengecilkan volume suaranya...

” “Bi. Nanti keburu telat lho. Bi? Kalian kan satu sekolah.” Egi tersenyum puas. ya. Tapi dia nggak bermaksud jahat kok sama kamu. Persis kayak mulut bebek. “Iya. Saya memang salah.” jawab Egi. “Ayolah. hari ini gue ikut elo ke sekolah. kalau kamu berangkat bareng Egi hari ini. kalian berangkat aja sekarang sama-sama.“Mama nggak ngebelain dia.. Bi.” ujar Mama sambil menggandeng tangan Bia kembali ke hadapan Egi yang menunggu di ruang tamu.” kata Mama lembut sambil membelai rambut putri semata wayangnya itu.” pamit Bia sambil mencium kedua pipi mamanya. Saya ngerti kok. “Maaf ya. Tapi itu bukan berarti setiap hari kamu harus berangkat sama dia.. Nak Egi jangan marah. Lebih baik kamu berangkat bareng Egi daripada desak-desakan naik angkot. Bia melotot ke arah mamanya..” Bia manyun mendengar ucapan Mama. Bia memang agak ceplas-ceplos kalau ngomong. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Bia jadi nggak kuasa untuk membantah. “Mama! Mama ngapain sih baik-baikin. Aku paling nggak suka mengandalkan laki-laki. “Ya sudah. Kasihan dia kalau kedatangannya sia-sia. “Bagus kalau lo sadar!” sahut Bia keki.” ujar Mama.” “Mama apa-apaan sih? Lebih baik aku desak-desakan naik angkot daripada harus berangkat bareng dia. Mendengar kelembutan suara Mama dan kehangatan tangan mama yang meresap ke setiap helai rambutnya. Tante.” “Hush!” Mama langsung balik melotot ke arah Bia sebelum putrinya itu menyelesaikan kalimatnya.. awas lo!” ujar Bia mengancam.. Cuma buat pagi ini aja.. “Oke. Bicara baik-baik sama teman kamu itu. . Tapi kalau besok-besok lo berani datang ke rumah gue tanpa seizin gue. aku berangkat dulu ya. Nak Egi. Bi. “Kenapa memangnya. “Bia!” hardik Mama yang langsung membuat mulut Bia kembali tertutup. “Mama!” pekik Bia kaget mendengar ucapan mamanya. “Nggak apa-apa. Ma. kan?” tanya Mama ramah.. Dia nggak bisa membantah karena sama sekali nggak tau harus ngomong apa. Mama cuma nggak suka sama cara kamu yang kasar itu. datang pagi-pagi tanpa ngasih tau Bia lebih dulu. apa itu berarti kamu mengandalkan laki-laki? Hari ini Egi terlanjur datang ke sini. Mau nggak mau Bia pun diam. “Ya udah.. “Nak Egi ke sini mau jemput Bia. Bibirnya maju lima senti karena kesal. “Oke deh.” ujar Mama lembut.” kata Egi. Tante.

Lega rasanya... Tante.. Terima kasih banyak atas bantuannya.” “Ada kok. Mama cuma balas tersenyum. ini pertama dan terakhir gue berangkat bareng elo ke sekolah. tau!” “Nggak apa-apa kok. “Lo ngapain senyum-senyum sendiri? Bikin gue merinding. Bahkan ruangan dalam mobil sengaja dia semprot pakai Bayfresh biar wangi. Gue cuma lagi senang aja. “Saya berangkat dulu ya.” Egi pamit sambil tersenyum...” jawab Egi. @(^-^)@ Egi mendengarai sedan hitamnya dengan senyum terkembang.!” Bia nggak tahan lagi.” “Kenapa sih elo ngedeketin gue?” tanya Bia.. lalu menoleh menatap Egi. Perjuangannya mengorek Tammy agar memberikan alamat rumah Bia juga nggak sia-sia. Tampaknya Egi udah berhasil merebut hati Mama dan perlahan-lahan menyusup ke dalam kehidupan Bia. Elo nggak usah kege-eran dulu. ya?” “Maybe. “Gue ingetin ya. ya?” “Mungkin. biar waktu berduaan bersama Bia jadi lebih lama. tau!” tegur Bia heran saat melihat cowok di sampingnya nggak berhenti memamerkan deretan gigi putihnya. Mobil yang dikendarainya melaju pelan...” “HAH? MIMPI KALI YEE..” “Tapi gue nggak mau! Elo tuh mother complex.” Hening sejenak di antara mereka. Dia puas banget karena berhasil memenangkan pertarungan pagi ini dan mengantar pujaan hatinya ke sekolah. “Elo itu aneh. Bia melempar pandang ke luar jendela. @(^-^)@ . Egi ingin menikmati setiap meter yang dilaluinya bersama Bia dengan penuh perasaan. “Nggak kenapa-napa kok. Sengaja. kita slalu bergandengan tangan. ya!” kata Mama lembut... Kayak lagu zaman dulu itu lho: Sepanjang jalan kenangan.. Apa lo nggak malu ngedeketin cewek yang umurnya lebih tua dari elo? Apa nggak ada cewek seangkatan elo yang cakep dan bisa lo godain?” “Gue cuma mau elo.“Hati-hati di jalan. Gue ikut lo karena terpaksa. ya elo. “Udah jelas gue ini kakak kelas lo. Ini udah cukup bikin gue happy. Dan Bia yang melihat senyum kedua orang itu cuma bisa mendengus kesal.” “Dasar cowok aneh! Mana ada cewek yang mau sama cowok aneh kayak elo.

iya sih. tau! Pagi-pagi dia datang ke rumah gue. dan Yuki bersamaan. yang nyasar dari kelas sebelah gara-gara bete nggak ada teman ngobrol.” “Kayaknya Egi serius naksir elo deh.. “Mungkin Sammy memang beda. . habis manis sepah dibuang. Tam.” “Egi ke rumah lo?!” tanya Yuki heran. Sammy dan Yuki memang pasangan serasi. Bi?” Kelas mulai ramai. Tapi mencari cowok yang seperti lo maksud itu kayak mencari sebatang jarum dalam tumpukan jerami. Bi. Banyak kok pasangan yang awet sampai masa tua mereka. Bi.” jawab Bia.” Tammy malah nyengir. Bagi gue. Tapi sekarang dia udah lulus dan kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta. Yu?” tambah Cha-Cha sambil melirik Yuki yang pipinya bersemu merah karena malu.. Bi. Sammy dulu kakak kelas mereka. “Iya. gue paling nggak bisa membantah kata-kata Nyokap.” kata Yuki. “Hus! Ngapain sih pake teriak segala? Emangnya kenapa kalo gue ikut mobil tuh anak kutu?” “Tapi. gue nggak suka sama dia. Kalau gue membuka hati. Banyak juga cowok yang bisa setia sama pasangannya. “Kok malah bawa-bawa Sammy sih?” rajuk Yuki. Sudah satu setengah tahun mereka pacaran. Kalau mereka lagi jalan berdua. Sammy itu pacar Yuki. “Benar. tadi gue liat lo turun dari mobil hitam di tempat parkir. “Mobil siapa tuh. Sammy setia banget kan. „ngejilat‟ nyokap gue. pasti bikin ngiri orangorang yang melihat mereka.” nasihat Yuki lembut. ceweknya cakep. “Mobil Egi.” “Bi. Bia sedang duduk di bangkunya bersama Tammy. belum tentu gue dapat cowok yang baik kayak Sammy. “Gue terpaksa. ujung-ujungnya selalu aja gue nurut sama Nyokap. Tammy. “Tapi gue nggak tau kalau dia bakal nekat datang ke rumah lo pagi-pagi.. Yang penting. Contohnya Sammy pacar Yuki. kok bisa?” Cha-Cha nggak percaya. Kayak Rama dan Shinta. Gue nggak akan membiarkan diri gue menjadi salah satu korban mereka. Dan gue yakin ini pasti gara-gara elo. Rasanya ajaib kalo cewek kayak Bia yang nggak suka mengandalkan cowok itu mau berangkat ke sekolah bareng cowok. Lo harus mulai membuka hati.“Bi. dan bikin gue dipaksa Nyokap untuk berangkat bareng dia ke sekolah.” kata Bia. “Hah? Egi!” seru Cha-Cha. Yuki duduk di depan mereka.” ujar Cha-Cha begitu sampai di kelas pagi itu. Cowoknya ganteng. Kalian kan tau.” jawab Bia singkat. “Elo kan yang ngasih tau nomor telepon dan alamat gue ke Egi? Hayo ngaku!” “Hehehe. jangan menyamaratakan semua orang kayak gitu dong. semua cowok itu sama aja. Biarpun gue sering ngelawan.. Satu banding seribu. “Gue nggak peduli dia serius atau nggak.

” sambung Yuki. Benar nih. memohon agar perutnya mau bersabar sampai dia tiba di toilet... ia mendengar ada orang-orang yang kasak-kusuk di depan. Tapi ada juga yang ke toilet khusus buat istirahat. Pasti gara-gara makan bakso kebanyakan sambal pas istirahat tadi. Nyokap gue pernah menikah dengan laki-laki yang lebih muda darinya dan akhirnya malah dikhianati. lo bawa lipbalm. nggak bau kok.. lo bisa belajar membuka hati lo untuk Egi.. bahkan ngegosip. Heaven knows deh! @(^-^)@ Bia berjalan menyusuri koridor sekolah menuju toilet yang ada di ujung koridor. Jangan-jangan mereka bolos. Ke WC kok bareng-bareng Biasanya izinnya harus satu-satu. Biasalah. Dia tuh lebih muda daripada gue. cuci kaki. Bokap gue aja lebih muda tiga tahun dari nyokap gue dan hubungan mereka baik-baik aja sampai sekarang. Bia buru-buru memasuki bilik WC perempuan dan membuka pintu WC yang pertama. batin Bia tersenyum puas. toilet di SMA Constantine 4 ini juga merupakan salah satu tempat nongkrong favorit para siswi. “Tau ah!” Bia jadi keki mendengar kata-kata ketiga sobatnya itu. gue nggak suka sama dia. Tapi lumayanlah. Bi. atau sikat gigi. Egi. “Kok kalian semua ngotot banget sih ngejodohin gue sama Egi? Gue udah bilang. Selain itu juga ada tiga wastafel yang berdempetan dan memanjang.. WC sekolah ini nggak bersih-bersih amat.“Tapi kalo elo nggak mulai membuka hati. Gue nggak mau pacaran sama brondong.. Baru saja Bia mau membuka pintu WC. “Nggak semua cowok brondong bakal berkhianat. Makanya.. Ada yang ke WC karena memang kebelet pipis atau pengin buang air besar. nggak?” tanya seorang cewek yang suaranya rada sopran.” kata Bia sewot. Ada empat bilik di dalamnya. Perutnya mulai tenang setelah semua beban itu dikeluarkan. ada yang karena pengin cuci tangan. Langkahnya agak tergesa-gesa karena perutnya mulas banget. Multifungsi banget.. tepat di sebelah ruang perpustakaan. Gue nggak mau seperti itu.. ngumpet dari kejaran guru piket. “Dan untuk yang pertama. Bia nggak jadi membuka pintu dan tetap di dalam WC sambil pasang kuping.. penasaran! “April. Sejauh apa ya nama itu akan menyusup dalam kehidupan Bia. gimana lo bisa tau cowok itu baik atau nggak?” bantah Tammy. “Gue minta dong!” .. Bia memegang perutnya. kan! Aah. lagi. Egi. lengkap dengan cermin besar di atas wastafel itu. cuci muka. leganya. lo nggak suka sama Egi?” sahut Cha-Cha.

” si cewek sopran menjawab dengan percaya diri... ketemu juga blush-on gue. “Kalau memang Egi suka sama Bia. “Gue punya nih. gue udah denger. “Ya kita hati-hatilah.. Kita bolos sampai pelajaran kelima aja. Egi itu kan keren abis.” jawab si cewek sopran. Cle? Lo kan naksir Egi?” kali ini si mezzosopran yang bertanya. “Tapi lo inget nggak. April ikut sumbang suara.” ujar April.” tampaknya si mezzosopran nggak setuju. itu berarti selera Egi murahan. Jadi nggak mungkin kalau Bia yang deketin Egi. “Masa ngumpet di toilet terus. “Lalu kita ke rumah tante gue yang tinggal di daerah sini.” “Lo pada tenang aja! Semua bisa gue atur. sok jual mahal. sok galak dan sok berkuasa banget! Pasti dia yang kegatelan ngedeketin Egi gue. “Sabar kek. Sok galak. Cle?” tanya satu cewek lain. “Eh.Cewek yang dipanggil itu nggak menjawab. lo udah dengar belum?” tanya April. sok berkuasa..” jawab si cewek sopran. “Akhirnya.” “Yee. “Pokoknya kalau ada apa-apa. satpam tua itu. Jangan-jangan emang Egi yang naksir sama Bia. “Lo tenang aja.” “Mmm.” “Tapi pintu belakang kan sering dijaga Pak Kosim. Serahin ke gue. “Anticowok? Mana mungkin! Lo pikir aja deh. “Cle. “Tapi. Suara April rada alto. “Kalau gagal gimana?” tanya si mezzosopran sedikit cemas. ketua OSIS kita itu.. “Eh. Apa bagusnya sih cewek kayak gitu.” “Udah. jangan sampai kelihatan sama Pak Kosim. “Katanya tadi pagi si Egi berangkat bareng Bia. “Lo nggak panas. “Gila! Gue panas abis lah! Apa sih bagusnya tuh cewek? Mentang-mentang dia ketua OSIS. yang ini mezzosopran. waktu kita MOS kemarin kan si Egi ngasih surat cinta ke Bia. Cle.. Cle.. tadi lo minta apa.” ujar si mezzosopran.” sahut si cewek sopran. lo mesti tanggung jawab ya. semua cewek pada klepek-klepek sama dia.” kata April. lo dengar nggak sih?” tanya cewek bersuara sopran itu sekali lagi. gue denger dari kakak gue yang sekelas sama Bia. Ros. “Lo mau lipbalm. munafik!” . mana mungkin si Bia itu bisa tahan..” maki si cewek sopran kesal. Biasanya pintu belakang kan nggak dikunci. Kita lewat belakang aja. Cle?” “Basi.. tau!” gerutu cewek sopran tadi. ngomong dari tadi kek..” bantah si cewek sopran.” sahut si cewek sopran. Gue lagi cari blush-on gue nih!” dumel cewek yang bernama April itu. habis ini kita ke mana nih?” tanya si mezzosopran.” sahut si cewek sopran. “Pril. Bia tuh anticowok.

Makanya akhirnya semua memilih dia untuk jadi ketua OSIS. apalagi kalau cuma gara-gara cowok. Itu namanya pengecut!” kata Bia tajam.” kata Bia. silakan cari jalan lain. jadi kalau kalian berniat bolos. pintu belakang udah dikunci sejak kemarin sama Pak Kosim. . gue nggak suka ada orang yang ngomongin gue di belakang gue. Mereka ketakutan melihat tampang Bia yang udah kayak serigala mau nerkam mangsa. pantang yang namanya marah sama adik kelas lalu menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk menggencet mereka. Kalau hari ini sampai ada yang tega menjelek-jelekkan dia. Mau bolos juga ada aturannya. Benar-benar kemenangan mutlak. karena meskipun Bia galak. Mampus deh! “Masih ada yang mau diomongin tentang gue?”tanya Bia lagi. “Asal lo bertiga tau ya. “Tapi ingat. Tapi bagi Bia. Selama ini Bia nggak pernah tuh yang namanya cari-cari musuh. Ketiga cewek itu hanya menggeleng pelan. Itu namanya nggak fair. Tapi hati-hati ya. dia tetap seorang teman yang baik buat siapa aja. kalian tuh masih baru di sekolah ini. Waktu itu Bia hampir memperoleh 80% suara. Non!” Bia tersenyum sinis lalu keluar dari toilet dan kembali menuju kelas dengan perasaan masih kesal. Mereka sama sekali nggak menyangka bahwa cewek yang mereka gosipin sedang berada di dalam WC. Ini pertama kalinya dalam hidup Bia ada orang yang berani menjelek-jelekkannya. Ia selalu berusaha bersikap adil dan bergaul baik dengan semua orang. “Udah puas ngomongin gue?!” tanya Bia. ini benar-benar hal yang nggak terduga. Ketiga cewek yang masih berdiri di depan wastafel melotot kaget. Dan ini semua udah jelas pasti gara-gara makhluk brengsek bernama Egi itu. Hal yang nggak pernah terbayangkan oleh Bia sebelumnya. Yap! Kesabaran Bia cukup sampai di sini. Soalnya nggak ada orang yang mampu membenci Bia.Brak! Bia membuka pintu WC dengan wajah merah menahan marah. Dia nggak menyangka ada anak kelas satu yang berani menghina dia. Wajah ketiga cewek manis itu berubah pucat. Itu karena semua temannya percaya pada Bia. Bia paling nggak suka harus berantem sama makhluk sesama jenis. Kalau di antara kalian ada yang naksir Egi. Nggak ada untungnya cari musuh gara-gara rebutan cowok. “Dan satu lagi. Kalian nggak tau mana jalan yang ada jebakannya dan mana jalan yang benar-benar aman. gue sama sekali nggak berminat sama Egi. Semua pasti gara-gara dia. silakan! Gue sama sekali nggak berminat jadi saingan.

gue nggak pernah nganggap elo cewek gampangan. Tamparan itu hadiah buat kekurangajaran lo megangmegang tangan gue. “Dengar baik-baik. Semua mata kontan menatap mereka. Tapi cowok itu memang sabar.. Gue nggak pernah berniat mainin cewek mana pun. Dia nggak menyangka Bia akan senekat itu. gue nggak akan segan menghajar elo. di pipi Egi yang mulus dan putih tercetak bekas tamparan jari-jari tangan Bia. Gue baru mau lepasin tangan lo kalau lo mau pulang bareng gue. Apa gue salah.BAB EMPAT “BI. “Bia. Kalau lo mau mainin cewek..” rayu Egi pantang menyerah. ia nggak termakan emosi mendengar ancaman Bia....” panggil Egi sambil menahan tangan kiri Bia. “Lepasin tangan gue!” “Nggak mau. Bia berjalan cepat menyusuri lapangan tanpa memedulikan tawaran Egi yang berusaha menjajarkan langkahnya di samping Bia.” . gue nggak takut kalau harus ribut sama elo!” Egi terperanjat. “Kan lebih enak naik mobil gue daripada naik angkot. jatuh cinta sama elo?” “Lo kira gue bisa kemakan rayuan gombal lo? Elo salah besar! Gue bukan cewek gampangan seperti yang lo kira. Dalam hitungan detik. Bia berhenti dan menatap Egi tajam. ya... “Bia.” Bia tetap nggak peduli dan mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolah yang menganga lebar. Egi melepaskan genggamannya.” tawar Egi saat semua anak sudah meninggalkan ruang kelas dengan penuh sukacita untuk segera pulang ke rumah.. Biarpun cewek. gue rasa banyak temen sekelas lo yang bersedia!” “Bi. jangan cuek gitu dong. Jangan kira gue nggak berani sama elo. gue anterin pulang ya. kenapa sih elo sewot banget sama gue.” “Gue bilang lepasin tangan gue!” “Gue nggak mau!” Plaakk! Sebuah tamparan keras melayang di pipi Egi.. Gue cuma mengikuti kata hati dan debaran jantung gue yang udah menjatuhkan pilihannya ke elo. Kalau elo masih berani ganggu gue. Gue anterin lo pulang ya. “Bi.

senyum Egi itu udah cukup sebagai jawaban. Bahkan sampaisampai ada yang nekat taruhan siapa yang menang dalam pertarungan kali ini. Anak-anak yang lagi bubaran kelas membuat pagar lingkaran di sekeliling Bia dan Egi. “Bi..” bela Egi. Gue nggak akan mundur begitu aja. Tapi bagi Teddy. “Bia gadis paling baik yang pernah gue temui. “Weits! Pipi lo merah juga.” jawab Egi. dia kan senior kita. Tamparan tuh cewek keras juga ya?” kata Teddy. gue akan benar-benar membenci elo dengan segenap jiwa raga gue!” bentak Bia kesal. “Dasar GILA!” teriak Bia lalu berlari meninggalkan Egi dan menembus pagar lingkaran teman-temannya. “Ayo.” kata Egi lembut. hebat!” puji Teddy mendekati Egi sambil mengantongi uang yang baru saja didapatkannya. jangan bilang lo serius naksir dia ya. Ted!” bantah Egi. gue suka sama elo. lo TOP banget dah! Tu cewek bisa lo buat nggak berkutik. Udah gitu. Ia tersenyum manis menatap kedua bola mata Bia yang melotot marah. kalau elo masih coba-coba deketin gue dan sok ngegombal. Hebat... Tamparan ini malah membuktikan bahwa elo ada perhatian ke gue. galak pula.. “Lo gila. lo bayar taruhannya!” tagih Teddy. “Lo nggak serius kan naksir cewek kasar gitu?” “Dia bukan cewek kasar. Egi cuma diam dan mengelus-elus pipinya yang masih terasa agak panas. elo malah milih cewek kasar yang jelas-jelas nggak suka sama elo. Kebanyakan sih pada megang Bia. otaknya juga biasa aja. Egi nggak menjawab. “Gi. Anak-anak mulai bubar. Gi! Segitu banyak cewek yang naksir lo sejak hari pertama kita masuk sekolah ini. salah satu sobat Egi yang ikutan pasang taruhan untuk kemenangan Egi. Mereka membatalkan niat mereka untuk segera meninggalkan sekolah. “Gue rasa otak lo udah nggak waras lagi. sama sekali nggak ada nilai plusnya deh. sedangkan yang memilih Bia cuma bisa mesem-mesem kecewa.” “Apa sih yang bagus dari tuh cewek?” tanya Teddy. “Cakep kagak.” @(^-^)@ . Yang menang taruhan tertawa lebar. Dia cuma punya watak keras.” kata Teddy heran.“Egi. Tontonan gratis yang seru ini sama sekali nggak boleh dilewatkan.” “Elo salah. “Justru karena gue waras. “HIDUP EGI!!!” teriak salah satu penonton yang kemudian diikuti sorakan teman-temannya yang lain. Dan gue akan membuat elo melihat ketulusan perasaan gue. Gi.” ujar Teddy curiga. gue milih Bia daripada cewek-cewek sok jaim yang ngejar-ngejar gue tiap hari itu. “Gi.” “Sekali lagi lo salah. Ternyata Egi yang menang. Dia hanya diam dan tersenyum.

ada apa?” “Cuma mau ngobrol aja sama elo. Hari ini benar-benar hari terburuk buatnya.” “Pada kurang kerjaan. Bi. elo. Ada apaan sih?” tanya Bia heran. “Halo.” “Oke. tumben.. “Gue denger.” “Merebut perhatian gue?” tanya Bia.” sapa Yuki ramah dari seberang. Bia yang gue kenal nggak pernah mau merespons semua tindakan cowok yang mencoba pedekate sama dia. ya?” “Tau dari mana lo?” “Dari berbagai sumber. dan gue yakin besok berita itu pasti bakal jadi lebih heboh lagi. setiap cowok yang mencoba mendekati Bia . Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan mengambil gulingnya.. Yu?” “Bi.” “Bukankah benci itu juga satu bukti bahwa elo merespons semua tindakan dia dan memberi dia satu perhatian lebih?” “Maksud lo apa. “Bia yang sekarang marah-marah dan ngejutekin seorang cowok yang sedang berusaha pedekate sama dia. Bia yang gue kenal nggak akan mau ribut sama cowok karena urusan cinta..” “Siapa yang misterius?” Yuki malah balik tanya. Topik itu mulai jadi pembicaraan hangat di antara anakanak. dan gue tau siapa elo.” sapa Bia ogah-ogahan. “Nggak ganggu kok.” lanjut Yuki.” jelas Yuki. Padahal dulu boro-boro melirik.! Dering telepon memaksa Bia untuk bangun dan segera ke bawah untuk mengangkat telepon. “Gue cuma mau ngobrol biasa aja sama elo. “Nggak biasanya elo berkesan misterius gini. “Tapi Bia yang sekarang mulai berubah.” jawab Bia..” “Gue?” “Iya. Tentang apa nih?” “Tentang elo.” Bia nggak bersuara. lalu meremasnya gemas. tentang elo. ya! Buat apa sih kejadian gitu aja dibesar-besarkan!” “Bi. Kriing. Dia nggak bisa membalas semua ucapan Yuki.” “Lho. Bia berlari kecil sambil ngedumel kesal. “Bia yang gue kenal sangat dingin sama cowok yang berusaha mendekatinya.” jawab Yuki. apa elo nggak sadar? Ini pertama kalinya ada cowok yang benar-benar berhasil merebut perhatian lo. pas pulang sekolah lo rebut sama Egi di lapangan. “Apa lo nggak salah. hampir tiga tahun gue kenal elo. Dia terpaku diam. “Halo. Yu.Bia membanting tasnya ke tempat tidur dengan kesal.. “Gue ganggu nggak?” “Eh. Yu? Gue malah setengah mampus benci banget sama dia. Bia yang gue kenal pantang mengharapkan bantuan cowok kecuali jika ada hubungan kerja sama yang saling menguntungkan di dalamnya.

” “Udahlah. Dia memang cowok aneh...” kata Yuki. oke.” “Lo masih ingat Alex nggak.. “Alex yang mana? Memangnya ada cowok yang namanya Alex yang mencoba deketin gue?” “Tuh. dan gue nggak akan membiarkan diri gue merasakan penderitaan yang sama kayak nyokap gue. “Gue cuma. Hari ini gue udah cukup capek gara-gara cowok rese itu.” kata Yuki. Elo nggak ganggu gue.. Yu.” “Iya. sekarang kembali ke Egi nih.” jawab Bia. Bi? Elo nggak salah kok kalau elo jatuh cinta sama dia. Sori ya kalau gue udah mengganggu elo. “Gue nggak mau membahas Egi lagi. cowok yang empat bulan lalu mencoba ngedeketin elo?” tanya Yuki. Gue sampai enek terus-terusan mendengar nama dia hari ini. “apa elo udah jatuh cinta sama Egi?” “Nggak.bakal dicuekin habis-habisan.. kan? Bahkan nama cowok yang pedekate sama elo aja lo nggak ingat. Elo marah-marah sama dia.” . Yu... Bi.” “Oke.” ujar Bia.” “Kenapa nggak.” ujar Yuki..” “Nggak mungkin! Gue nggak mau jatuh cinta. “Alex itu teman kuliahnya Sammy. “Gue nggak mungkin jatuh cinta sama cowok aneh itu.” “Tapi gue nggak ngeributin masalah cinta sama Egi!” bantah Bia. Bi. itu nggak mungkin. Bia. elo ngejutekin dia. Gue cuma nggak pengen mendengar nama cowok aneh itu lagi. “Kalau elo sendiri takut untuk mencintai.. Nggak akan!” “Elo salah.” “Jujur sama gue. benar. buat apa sih elo ngomongin masalah ini sama gue?” “Gue cuma mau membantu lo untuk jujur sama diri lo sendiri. bukankah itu berarti elo memberi perhatian dan menanggapi semua tindakan yang dia lakukan?” “Tapi.” “Bohong banget!” “Bener.. Bahkan Bia yang sekarang bisa ribut di depan umum sama seorang cowok gara-gara masalah cinta.” “Gue nggak bermaksud gitu.. gue cuma. Elo tuh benar-benar merespons kehadiran cowok itu... “Cinta itu cuma bikin gue menderita. Bia yang sekarang juga mau dianterin ke sekolah sama cowok tersebut meskipun dengan alasan terpaksa. “Dia cowok aneh yang udah mulai memasuki kehidupan lo.! Nah. “Itu malah semakin menunjukkan bahwa elo jelas merespons semua tindakan dia.” kata Yuki. Yu.” “Nggak kok. nampar dia dan minta dia nggak ganggu gue lagi. Bi. Bi.” kata Bia kesal. Bi?” sahut Yuki.” “Apa bedanya. Gue nggak akan membiarkan cowok mana pun menyakiti gue.. elo bilang elo benci sama dia. gimana elo bisa tau apa elo bakal menderita atau malah bahagia?” “Gue nggak peduli! Lagi pula. “Alex?”Bia malah balik bertanya.

. ya? Deru mobil yang berhenti di depan rumah mengalihkan perhatian Bia dari buku yang ada di tangannya. “Oke. soalnya biasanya kalau Mama lagi malas jalan.. Bersamaan dengan itu kenop pintu berputar dan Mama muncul dari balik pintu dengan wajah lelah. Bia membalik halaman demi halaman buku sejarahnya. Siapa yang berhenti di depan rumahnya? Yang pasti itu bukan Mama. “Ng. Gue mau nelepon Sammy.” “Teman kantor?” “Iya. Apa iya gue jatuh cinta sama dia? tanya Bia pada dirinya sendiri. Memangnya kenapa. teman kantor Mama.. Bia mulai nggak tenang.. Bia mengernyitkan dahi. Nggak mungkin! Eits. itu.. Jadi aneh kalau jam segini Mama belum sampai di rumah. Sayang?” Mama ikutan heran melihat ekspresi Bia. Apa jalanan macet.. mencari jawaban untuk pertanyaan yang sedang dikerjakannya... Bye!” “Bye!” Bia menutup telepon lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Egi lagi Egi lagi.“Tuh. “Soalnya tadi aku dengar suara mobil di depan rumah. Mau nggak mau Bia kepikiran juga sama semua ucapan Yuki barusan. “Nggak. tadi Mama diantar teman kantor Mama.. Ma? Apa dia punya maksud khusus sama Mama?” . itu. sembari mengerjakan PR sejarah. Mama akan naik ojek dari muka gang sampai depan rumah.” Yuki tertawa lalu berkata. Jam sudah menunjukkan pukul 18. Mama belum juga pulang. Terdengar suara pagar depan dibuka. udahan dulu ya.” Mama kelihatan gugup dan salah tingkah. Apa itu Mama? Suara mobil kembali terdengar lalu perlahan berlalu pergi. “Manajer personalia di tempat Mama kerja. Jadi siapa ya? Mungkin orang lewat aja kali ya. apa iya nggak mungkin? @(^-^)@ Bia duduk di sofa ruang tamu sambil membuka buku sejarahnya. Tapi aneh. “Mama kok baru pulang?” tanya Bia heran. Dia sedang menunggu Mama pulang kerja. kata Bia berusaha menenangkan batinnya. Jadi nggak mungkin Mama naik mobil. kan? Lo mulai lagi.15.s oalnya Mama bilang hari ini mau pulang lebih awal.” jawab Mama tambah gugup.” “Kok tumben dia nganter Mama pulang?” tanya Bia.” jawab Bia. kayak polisi menginterogasi tersangka.” “Oh. mmm... Aku cuma heran.. “Iya. “Jangan-jangan kemarin-kemarin dia juga yang nganterin Mama pulang? Cowok atau cewek.

” Memangnya ada apa sih? . Anak-anak udah pada bubar dari tadi. Cha.” Mama membawa tas kerjanya ke kamar lalu kembali keluar sambil membawa handuk dan berjalan menuju kamar mandi. ayo jalan. “Pokoknya lo harus ikut gue sekarang juga. Tapi pelan-pelan dong. Mama mau mandi. “Lo kan tadi udah mau pulang duluan sama Tammy dan Yuki. selama ini Mama selalu pulang kerja sendirian.” ajak Cha-Cha lagi yang kali ini lebih berkesan memaksa. Bia cuma bisa melotot melihat buku-bukunya yang jadi lecek nggak keruan gara-gara ulah Cha-Cha. Bia menghela napas panjang. Cha!” protes Bia. “Apaan sih?” tanya Bia. kok sekarang balik lagi sih?” Bia yang masih sibuk merapikan buku-bukunya yang berserakan di atas meja memandang Cha-Cha heran. Tapi kok sekarang Mama pakai acara dianterin pulang segala sama teman kantor yang katanya manajer personalia itu? Rasanya benar-benar mencurigakan. Bia sedang merapikan bukunya ketika tiba-tiba Cha-Cha nongol di kelas.“Kamu tuh apa-apaan sih. gue lagi sibuk ngerapiin buku-buku gue. Tinggal mereka berdua di ruangan itu. Mama itu wanita mandiri. “Bi. setelah bel pulang berbunyi.” kata Cha-Cha lalu secepat kilat mengambil semua buku Bia yang berserakan di meja dan menjejalkannya ke dalam tas ransel Bia.” “Tapi gue lagi rapiin buku-buku gue. Kelas udah sepi. lo harus ikut gue ke lapangan. “Lo nggak liat ya. iya. Bi?” Mama jadi sewot ditanya bertubi-tubi gitu sama anaknya.” ajak Cha-Cha. “Tammy sama Yuki udah nunggu dari tadi. @(^-^)@ Besok siangnya.” Bia ngedumel. “Udah. “Yang penting lo ikut gue sekarang juga. Masalahnya.” “So what gitu loh!” jawab Cha-Cha asal. Bia menutup buku sejarahnya dan membiarkan pikiran-pikirannya bekerja mencari jawaban untuk keanehan ini. “Mama rasa Mama nggak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan kamu yang aneh itu. “Ada apa sih.” ajak Cha-Cha sambil menarik tangan Bia meninggalkan ruang kelas. Cha?” tanya Bia lagi. apalagi kalau melihat tampang Mama yang gugup waktu menjawab pertanyaanpertanyaan Bia tadi. “Kita nggak ada waktu lagi. rasanya wajar aja kalau Bia curiga sama Mama.” “Iya. “Gue bantuin.

. “Si Egi benar-benar gila!” ujar Tammy. Tam?” tanya Bia. Egi mulai menyanyi dengan menggunakan TOA tanpa diiringi musik. “Halo semuanya. udah nongol di sebelah Yuki dengan tampang serius. tukang cari sensasi. Bia menajamkan penglihatannya ke tengah lapangan. “Siap!” teriak anak-anak heboh.” Mata Egi tertuju pada sosok Bia yang berdiri di pinggir lapangan. “Oke..” kata Egi. “Lagu pertama gue persembahkan untuk para Egiers yang udah banyak mendukung gue selama ini. tapi nggak lama kemudian dia langsung buang muka. Baginya sekali gila ya tetap gila. “Oh. Apanya yang keren? Malah kayak orang kurang kerjaan banget. Bia balas menatap Egi. “Penting!” Yuki mengernyitkan dahinya heran.” “Huuu. lalu kembali menatap cewek itu. “Semua siap bergoyang?” tanya Egi kayak penyanyi profesional. ada apa.. “Gilanya dia tuh keren banget. “Karena Cinta.” jawab Cha-Cha. Cowok yang berdiri di atas meja itu. EGI! Gila! Ngapain dia di situ? Di tengah lapangan.!” sorak anak-anak.@(^-^)@ Lapangan basket tampak ramai oleh anak-anak yang nggak jadi pulang. “Ada apa sih?” tanya Bia heran. “Gue mau ngomong empat mata sama elo.” kata Egi. “Gue juga akan mempersembahkan lagu untuk seseorang yang udah membuat gue jatuh cinta. Terdengar rada aneh.” jawab Maxi. Sinar matanya menunjukkan kehangatan dan ketulusan hatinya. Bi. “Lo liat aja sendiri. “Ngomong aja sekarang. “Gilanya Egi kan beda. “Tapi gue suka cowok model gini. .” jawab Tammy.” Maxi melirik sebentar ke arah ketiga teman Yuki.!” sapa Egi.” Bia mencibir. “Halo juga!” balas semua anak yang ada di situ. Mereka berdiri di sekeliling lapangan sambil berteriak-teriak heboh. maki Bia dalam hatinya.. Cha-Cha dan Bia menerobos barisan penonton dan menempatkan diri di samping Yuki dan Tammy yang juga sedang seru memerhatikan lapangan basket.. dan di atasnya berdiri seorang cowok cakep sambil memegang TOA. kecuali Bia pastinya. tapi lumayanlah. begitu pula ketiga temannya.” Tiba-tiba Maxi. nggak percaya atas apa yang dilihatnya. Di sana ada sebuah meja.. teman sekelas mereka. lagi! Dasar kurang kerjaan. mulutnya menempel di corong TOA. “Yu. gue mau ngomong bentar sama elo. Hari ini gue spesial tampil di depan kalian semua untuk menghibur kalian selama kurang-lebih lima belas menit..” “Lo suka cowok gila.. Bia melongo kaget. Max?” tanya Yuki.

cewek pujaannya. Egi masih berlutut. “Tidak semua laki-laki. ketahuan dari gerak-gerikya yang selalu baik sama Yuki. Dia benar-benar bingung nggak tahu harus berkata dan berbuat apa. Tapi anehnya dia nggak pernah berani ngomong berduaan sama Yuki.” pamit Yuki. Maxi memang udah lama naksir Yuki. ini lagi acara reality show? Kan sekarang lagi zamannya segala sesuatu dibikin reality show. dan Cha-Cha hanya bisa mengangguk kebingungan. mencari-cari sesuatu. Bia melotot kaget.” tawar Yuki. Bait demi bait dinyanyikannya di bawah sorakan dan tepukan tangan anak-anak yang masih setia menonton pertunjukannya..” Egi menyebutkan judul lagu dangdut yang akan dinyanyikannya. lalu melompat turun dari atas meja dan mulai bernyanyi sambil perlahan berjalan dan bergoyang mendekati Bia. Bia. Jadi selama ini dia cuma menyimpan rasa sukanya dalam hati. lagu berikutnya gue persembahkan buat cewek yang udah menawan hati gue. . lalu masih dengan menggunakan TOA. Tepuk tangan meriah dari anak-anak mengembalikan perhatian ketiga cewek itu pada Egi yang masih berdiri di tengah lapangan. Dia adalah. mukanya memerah kayak udang rebus. Bia menatap Egi yang sudah berlutut di hadapannya. Maxi mengangguk lalu berjalan lebih dulu menuju kantin. sehingga akhirnya Yuki jatuh ke tangan Sammy. siapa tahu ada kamera tersembunyi yang lagi meliput kejadian ini. “Bia. Dia tetap berdangdut ria sambil menatap mata Bia.” Bia. Makanya semua pada heran melihat Maxi mengajak Yuki kayak tadi. Rasanya aneh aja. Kita ngomong di kantin aja. Bia celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri.” ujar Egi sambil menatap lembut Bia. apalagi nembak.“Ya udah. Ketiga cewek itu berdiri diam di salah satu sudut lapangan dan memandangnya dengan sorot mata jiji. Sorakan dan tepuk tangan riuh mengakhiri lagu yang dinyanyikan Egi. Tapi ternyata nggak ada. “Gue ke kantin dulu bentar. Mata Bia malah tertumbuk pada tiga cewek yang pernah ngegosipin dia di toilet sekolah. Tammy. Nggak mungkin cowok gila ini benar-benar nekat ngomong gitu di depan semua orang. Tumben banget Maxi berani ngajak Yuki ngomong berduaan. dia bertanya pada Bia. Semua mata yang ada di lapangan saat itu langsung melihat ke arahnya. Tanpa Bia sadari. Egi nggak peduli dengan puluhan mata yang menatapnya geli atau tawa dan teriakan mereka yang seakan melecehkannya. Bisa aja kan. “Oke. “Nanti gue balik lagi. would you be my princess?” Mulut Bia menganga lebar. Dia nggak percaya dengan apa yang baru aja didengarnya..

tau!” dumel Yuki. lo ngajakin gue ngobrol soal tadi sih. meninggalkan Egi yang terpengarah menatapnya. Tapi Bia nggak peduli. “Gue kan cuma mau ngajak lo ngobrol.” “Ceritanya sama aja. siapa suruh lo ngilang lama banget. dan tiba-tiba saja emosinya meluap-luap. gue lupa.” jawab Yuki akhirnya. “Perasaan lo aja. “Egi kan cuma bikin pertunjukan spesial buat lo di lapangan.. “Ah. kok lo pulang duluan sih?” protes Yuki di telepon sore itu.” gerutu Yuki lagi. Bia jadi kesal sama kelakuan Egi yang udah memberi kesempatan pada ketiga cewek genit itu untuk memandanginya dengan tatapan merendahkan. “Egi nggak mungkin bermaksud kayak gitu. Dia berjalan cepat menerobos kerumunan dan meninggalkan gedung sekolah. Bi. “Elo tuh benar-benar nggak punya malu! Gue jijik sama elo!” Kemudian Bia berlalu begitu saja. tau!” “Lho memangnya kenapa?” tanya Yuki heran. kali.” ujar Yuki. apa yang terjadi di lapangan setelah gue ke kantin. lalu berkata tajam.” “Gue kan lagi ngomong sama Maxi di kantin.” lanjut Yuki.” .” “Ih.” “Iya sih. nih anak. gue males aja jadi tontonan orang. Kok respons lo ngebetein gitu sih?” “Habis. Yuki terdiam sesaat. Gue keki. Dia bikin gue jadi tontonan anak-anak.” “Oh iya.” kata Bia sambil nyengir. “Sori..Darah Bia bergejolak hebat.” “Lo kedengarannya bete banget sih. Bia menatap Egi yang masih berlutut di depannya... @(^-^)@ “Bi. nggak penting. bersama puluhan mata yang juga kaget dengan jawaban yang dilontarkannya.” jawab Bia. Bi?” “Masa?” “Jutek. dia bikin gue nggak punya muka di depan teman-teman dan junior-junior gue sendiri. Masa gitu aja salah sih?” “Jelas salah!” “Apanya yang salah?” Bia merengut karena kesal. “Lagian.” Terdengar suara tarikan napas dari seberang. kalo dibilangin. Egi udah bikin gue malu. “Yu.” “Ya ampun. “Tapi gue mau dengar cerita versi elo.” “Lo pasti udah diceritain sama Cha-Cha atau Tammy. “Gue yang mestinya nanya sama elo. “Kalian ngomongin apaan sih? Tumben banget si Maxi ngajakin elo bicara empat mata..

“Lo tau dari mana?” tanya Bia. “Lo kan nggak ngeliat kejadian tadi. Anak-anak kelas satu pada ngeliatin gue dengan pandangan menghina. Gue benar-benar kesal banget.” “Nggak mungkin, Bi,” bantah Yuki. “Kalaupun iya, itu cuma karena mereka iri sama elo.” “Iri sama gue?” “Iya, Bi,” jawab Yuki. “Mereka iri karena elo mendapat perhatian dari Egi, cowok yang lagi naik daun di sekolah kita saat ini. Masa lo nggak ngerti sih?” Bia terdiam sesaat, mencoba memikirkan kata-kata Yuki. Entah mengapa Bia malah tambah kesal. “Siapa yang suruh mereka pake acara iri segala!” maki Bia. “Mereka kira gue suka apa, sama hal-hal kayak gini? Gue ngerasa kayak di sinetron-sinetron, terlalu didramatisir, cengeng banget. Ih, gue benci banget. Dan ini semua gara-gara cowok gila itu. Gue benar-benar sial ketemu dia!” Yuki menghela napas panjang. “Menurut gue bukan elo yang sial karena ketemu sama Egi, tapi Egi yang sial karena jatuh cinta sama cewek kayak elo, Bi....”

BAB LIMA

SUDAH tiga hari berlalu sejak kejadian di lapangan itu. Dan dalam tiga hari itu Bia seakan berubah jadi selebriti yang dibicarakan banyak orang. Tiap kali jalan di koridor sekolah, pasti puluhan mata menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Udah gitu, mereka pakai acara bisik-bisik segala, lagi. Risi banget rasanya. Bia benar-benar kesal dibuatnya. Entah udah berapa kali Bia memaki-maki orang yang ngeliatin dia, tapi bukannya pada kapok, mereka malah tambah parah. Cerita tentang kejadian di lapangan itu bahkan jadi hot news yang paling banyak diminati saat ini. Pokoknya menduduki rating tertinggi deh. Dan yang lebih luar biasa lagi, cerita yang beredar dari mulut ke mulut itu terus berkembang sampai sekarang. Bia sendiri sampai heran dengan daya kreativitas orang-orang yang udah ngembangin cerita itu. Cerita terakhir yang bia dengar tentang kejadian di lapangan hari itu sih begini: 1. Egi nyanyi di lapangan buat nyatain perasaannya ke Bia. 2. Bia shock sampai pingsan soalnya selama ini kan nggak ada cowok yang senekat itu ngejar-ngejar dia. 3. Pas sadar Bia nangis bombay saking terharunya karena ada cowok yang mau sama dia. Gila nggak tuh cerita! Mungkin nggak sih Bia kayak gitu? Nangis buat cowok, nggak ada tuh dalam kamus hidup Bia. Benar-benar nggak masuk akal, kan? Yang ngarang tuh cerita pasti benar-benar udah sinting. Tapi menurut Bia, yang ngedengerin cerita itu jauh lebih sinting lagi karena mereka percaya sama cerita itu. Ini benar-benar tiga hari terberat dalam hidup Bia. Baru kali ini ia merasakan hal-hal semacam ini. Jadi pusat perhatian dan digosipin. Rasanya mau marah dan teriak, tapi ke siapa? Ke Egi? Mana mungkin. Masalahnya, udah tiga hari ini Egi menghilang gitu aja dari peredaran. Cowok itu nggak pernah lagi datang ke kelas Bia, nyamperin ke kantin, nungguin Bia pulang sekolah, atau nelepon ke rumah. Pokoknya lenyap gitu aja deh. Dan sekarang, entah kenapa ada sesuatu yang aneh dalam diri Bia. Rasanya ada yang hilang. Bia nggak tahu itu apa, yang dia tahu rasanya aneh banget. Apa iya itu gara-gara Egi?

@(^-^)@ Siang itu Bia, Yuki, dan Cha-Cha duduk di kantin sambil menikmati semangkuk soto mi hangat. Biasalah, tiga cewek itu lagi malas pulang cepat. Jadi mereka nongkrong di kantin sama-sama. Bia menggulung-gulung mi dengan garpunya. “Tammy mana?” “Katanya mau pulang duluan,” jawab Cha-Cha sambil menuangkan sesendok sambal ke dalam mangkuk soto mi-nya. “Dia bilang sih ada janji sama bokapnya.” “Bokapnya?” Bia mengernyitkan dahinya heran. “Bukannya bokapnya lagi ke Pekanbaru?” Cha-Cha mengedikkan bahu. “Tau deh. Udah pulang, kali.” Bia manggut-manggut lalu menyuapkan sesendok mi ke mulutnya. “Bi, si Egi apa kabarnya?” tanya Yuki tiba-tiba. Bia diam saja, pura-pura nggak dengar. “Iya, Bi,” tambah Cha-Cha. “Gosip tentang kalian berdua kan lagi hot-hotnya nih. Masa nggak ada perkembangan baru sih?” “Tau ah,” jawab Bia kesal. “Tuh anak udah mati, kali.” “Ih...! Kejam amat sih ngomongnya,” goda Cha-Cha. “Nggak baik lho kayak gitu. Ntar kalo orangnya mati beneran, lo bakalan nyesel!” “Nggak bakal!” “Jangan sewot gitu dong, Bi,” ujar Yuki. “Kami kan cuma mau tau aja.” “Asal lo berdua tau,” kata Bia, “gue nggak pernah punya hubungan apa pun sama cowok rese itu. Jadi nggak bakal ada hal apa pun yang berkembang antara gue dan dia. Lagi pula, gue rasa dia udah malas deketin gue. Mungkin dia udah dapat cewek lain yang bisa dia mainin.” “Ada apa sih, Bi?” tanya Yuki heran. “Apanya yang ada apa?” Bia balik nanya. “Yah elo itu...,” jawab Yuki. “Gue merasa ada yang aneh sama elo.” “Nggak ada apa-apa kok. Apanya yang aneh sama gue?” Cha-Cha yang menjawab, “Lo emang lagi aneh, Bi. Apa gara-gara Egi?” “Kenapa gue mesti aneh gara-gara dia?” “Karena lo merasa kehilangan Egi yang udah beberapa hari ini nggak lagi gangguin elo. Iya, kan?” Cha-Cha tersenyum nakal. “Ngapain gue merasa kehilangan dia!” seru Bia. “Gue malah senang karena dia nggak gangguin gue lagi!” Cha-Cha dan Yuki malah tertawa. Bia meelototi kedua temannya itu, tapi Yuki dan Cha-Cha terus tertawa heboh. Tanpa mereka bertiga sadari, Maxi udah berdiri di samping meja mereka.

Mata Yuki yang mulai berair menahan tangis menyayat hatinya.. Maxi memandangi Yuki dalam-dalam. Kalo dia nggak mau bicara sama elo. Dia nggak mau ada seorang pun yang menyakiti Yuki.” kata Maxi tajam.” kata Maxi pelan. Dia menghela napas panjang dan membuang muka sambil berkata. tau!” “Max.” “Gimana mungkin gue bisa percaya sama elo?!” sahut Yuki.. Gue ngeliat dengan mata gue sendiri. “Yu. “Lepasin tangan gue.” “Lebih baik tangannya merah dan sakit daripada gue harus ngeliat dia sakit hati lebih dalam lagi. Max.” “Dia harus mau bicara sama gue!” bentak Maxi kasar. tapi gue nggak bohong. Maxi menatap Bia lama.” ujar Maxi keras kepala. air mata mengalir di kedua pipinya. gue minta sekali lagi. percaya sama gue. Itu artinya gue nggak percaya sama pacar gue sendiri. ya udah. gadis yang begitu disayanginya. “lepasin Yuki.” Yuki berhenti tertawa dan menatap Maxi. “Ini penting. “Lo nggak bisa pura-pura nggak ada masalah. “Gue nggak peduli!” Maxi masih mencengkeram tangan Yuki. Lo nggak berhak maksa dia. gue mau bicara sama elo.” “Max. Dia cuma mau Yuki mendengarkannya. “Lo harus dengar kata-kata gue. Dan itu nggak mungkin salah. Dia cuma nggak mau Yuki terluka lebih dalam nantinya. “Dia kesakitan. “Kalau gue percaya sama elo. lalu perlahan melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Yuki. Yu. “Nggak ada lagi yang perlu kita bicarain. dan gue harus bicara sama elo saat ini juga.” “Gue nggak mau mendengar apa pun dari mulut lo!” Maxi mencekal tangan Yuki. gue mohon pikirkan lagi kata-kata gue waktu itu. Please. “Jangan kasar gitu dong.” Bia berusaha berkata bijak untuk meredakan emosi Maxi yang meluap-luap.” “Ada!” bentak maxi.. “Gue nggak mau mendengar apa pun dari mulut lo!” “Gue nggak bakal melepas tangan lo sampai lo mau bicara sama gue..“Yuki. Max. Yuki buru-buru menarik tangannya dan memijitnya pelan-pelan.. Yu.” pinta Bia menahan emosi. “Lebih baik lo lepasin tangan Yuki dan kita bicara baik-baik. Tangannya malah semakin keras mencengkeram pergelangan Yui. Max!” Yuki bangkit dan berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Maxi. “Gue emang nggak punya bukti..” “Tapi dia memang nggak layak untuk elo percaya!” . Dia sama sekali nggak bermaksud menyakiti Yuki.. Itu saja. itu artinya gue mengkhianati cinta gue sendiri. lepasin tangan Yuki!” seru Cha-Cha cemas. nggak peduli lo suka atau nggak!” Bia berdiri dari tempat duduknya dan menepuk bahu Maxi pelan. Dia nggak rela ada seorang pun yang mempermainkan Yuki. Matanya menatap tajam ke arah Bia seakan memberi perintah agar Bia nggak usah ikut campur.

Yuki mengangguk. Gue udah tahu siapa dia. Mereka cuma mendengarkan pertengkaran itu. berusaha menenangkan cewek itu. @(^-^)@ Bia. “Oke. Hatinya benar-benar terluka mendengar ucapan Yuki.” “Elo tuh udah buta. menunggu penjelasan atas kejadian ini. kemudian berlalu meninggalkan Yuki yang masih menangis. Yu!” maki Maxi. Gue tau sejak dulu elo suka sama gue. Dia nggak mungkin mempermainkan gue!” sahut Yuki. dengerin gue sekali lagi. nggak bermaksud menyembunyikan apa pun dari kalian.” Maxi menatap Yuki tajam.” Usai mengatakan itu. Iya. “Yu. “tapi gue nggak pernah punya pikiran serendah tudingan lo itu. apa yan gudah lo sembunyikan selama ini dari kami. dan elo sama sekali nggak sadar bahwa elo cuma dipermainkan sama dia!” “Maxi. juga puluhan anak yang sejak tadi memerhatikan mereka dengan rasa ingin tahu. “Elo buta karena cinta. menoleh dari wajah Yuki ke wajah Maxi.” Bia dan Cha-Cha nggak bisa berkutik. Yu. Yuki.“Max. . Yuki tampak lebih tenang.” suara Maxi melemah. kan?!” BRAAKK! Maxi memukul meja dengan keras sampai sisa-sisa makanan yang masih ada di mangkuk tumpah dan mengotori meja kantin. “Gue rasa elo yang nggak punya malu. Cha-Cha merangkul pundak Yuki dan membiarkannya menangis di bahunya. berusaha menahan air mata yang hendak bergulir lagi di pipinya. Gue terlalu sayang sama elo..” Bia memulai pembicaraan.. Gue masih punya moral dan harga diri. apa mau lo?!” seru Yuki. Terus sekarang lo ngejelek-jelekin cowok gue biar gue putus sama dia. sedangkan Bia cuma bisa menatap Yuki. kan?” Cha-Cha merangkulkan tangannya ke pundak Yuki. elo nganggap kami sobat lo. gue pacaran sama dia udah lama. dan Cha-Cha duduk bertiga di bangku panjang di pinggir lapangan basket..” Yuki mulai sesenggukan. dia nggak mungkin berbuat gitu sama gue. Bia dan Cha-Cha bertatapan heran. “Gue cuma nggak mau ada seorang pun yang menyakiti dan mempermainkan elo. Maxi menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Kenapa lo terus-terusan mengganggu gue dengan kebohongan-kebohongan itu?” “Itu bukan kebohongan.. Dia nggak mungkin mengkhianati gue. “Sekarang lo jelasin deh.” “Gue. “Gue memang suka sama elo. tapi mata dan hidungnya masih merah karena habis menangis. “Lalu.

“Tiga hari yang lalu.” Yuki dan Cha-Cha menatap Bia. “Kalau git. gue tau. paling nggak kita bisa saling berbagi dan mendukung.” Yuki menangis lebih keras. . waktu Egi nyanyi di lapangan.. Tapi gue nggak percaya.” lanjut Cha-Cha. mereka sedang berciuman di depan bioskop.“Kalo gitu... dan buktibukti yang ada.. dan gue tau banget dia bukan tipe cowok seperti dugaan lo.. ciuman?!” seru Cha-Cha nggak percaya. Dia bilang dia pernah melihat Sammy jalan sama cewek yang sama dua kali. “Yu.” “Hah. Maxi nggak mungkin berbohong. “Tapi maxi ngotot.. “Makanya gue nggak percaya. Dia bilang dia yakin banget. Bia menghela napas dan menengadahkan kepalanya menatap langit biru yang tumben banget lagi cerah siang ini.” “Jadi maksud lo. Tapi Maxi terus-menerus berusaha meyakinkan gue tentang hal itu. dan terakhir kali dia melihat mereka seminggu yang lalu.” argumen Bia. kemudian berkata.” lanjut Yuki. Dan. “Yah... mana mungkin Sammy mau ngaku kalau dia memang benarbenar salah. kalau gitu gue harus gimana?” “Yu. “Kalau untuk hal itu gue nggak bisa memastikannya. itu soal kedua. Yuki mengangguk. “Ah. Sammy udah mengkhianati gue. lebih baik lo tanyain kejelasannya secara langsung ke Sammy. Gue pernah sebangku sama dia waktu kelas dua.. “Sammy selingkuh di belakang gue. Maxi ngajak gue bicara.” “Ya ampun. apa pun masalah yang sedang elo hadapi. gue nggak percaya Sammy bisa berbuat seperti itu sama gue. Hakim juga nggak pernah langsung memutuskan apa tersangka itu benar-benar salah atau nggak sebelum mendengar pembelaan dari tersangka.. saksi.” jawab Bia.” kata Yuki. Maxi benar. lo harus cerita ke kami. menurut gue. Maxi itu bukan cowok tukang adu domba. Bi. Setelah beberapa saat akhirnya Yuki mulai tenang dan bicara lagi. daripada lo nangis kayak gitu. “Walaupun kami belum tentu bisa membantu..” Bia menolehkan kepalanya menatap Yuki.. Yuki mulai menangis lagi. “Yu...” Cha-Cha mengernyitkan keningnya mendengar cerita Yuki.” sahut Cha-Cha. Yang penting sekarang kita tau dulu apa pembelaan dia. Sammy udah ngekhianatin gue?” tanya Yuki dengan suara bergetar. Mereka terkejut dengan apa yang baru saja Bia katakan. Bia berdiri dan berjalan ke hadapan Yuki.” Bia menatap Yuki lekat-lekat. “Kata Maxi. masa Sammy kayak gitu?” “Gue juga bilang gitu sama Maxi.

Cha-Cha tersenyum membenarkan kata-kata Bia. Sedikit minyak dituangkannya ke atas wajan. Setelah memecahkannya dan menuangkan isinya ke mangkuk.” Yuki menyeka sudut matanya yang berair. Bia menutup tirai lalu berjalan cepat menuju meja makan. berusaha menarik sudut bibirnya membentuk senyuman...” “Ember. semua disusunnya di meja makan. dan tempe orek. Sahabat memang obat terbaik di kala kita sedang terluka. Hari ini menu makan malamnya telur dadar. Pasti Mama sudah masuk. Bia mengambil garpu dan mengocok telur itu hingga rata. Bia berusaha menajamkan penglihatannya. Bia menyibak tirai yang menutupi jendela dan mengintip keluar. yah.” katanya lirih. ya. Jantung Bia berdetak cepat. Ada suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Gadis itu berjalan menuju ruang tamu. lalu mengirisnya tipis-tipis dan menaburkannya ke atas telur kocok. Lalu ia mengupas bawang putih dan bawang merah.” jawab Bia tersenyum lebar. dan Mama kelihatan sedang berbicara dengan seseorang yang mengendarai mobil itu. @(^-^)@ Bia mengeluarkan beberapa butir telur dari dalam kulkas. Lebih baik sekarang lo nenangin diri lo. “Tapi. Itu Mama! Mama turun dari mobil. Bi. Bia menyalakan kompor dan meletakkan wajan di atasnya. Yu. Bia duduk di depan meja makan lalu mengambil gelas dan menuangkan air dingin ke dalamnya. lalu cari waktu yang tepat untuk menanyakan semuanya langsung ke Sammy. Jendela mobil itu terbuka. Kali ini lebih lebar dan sama sekali nggak terpaksa. Sekarang tinggal menunggu Mama pulang dan makan bersama. kangkung cah. itulah elo. Sudah hampir jam 19.. .. Laki-laki! Mama bicara dengan seorang laki-laki. Tak lupa ditaburkannya garam dan merica ke atas telur kocok secukupnya. Seharusnya Mama sudah pulang sejak tadi.” Yuki tersenyum. “Kalian udah nemenin gue dan mendengarkan semua keluhan gue.00. dan setelah minyak itu panas dia mulai membuat telur dadar favoritnya. maaf ya. Bia melirik jam dinding. “Bia benar. Dan itulah yang saat ini dirasakan Yuki. Terdengar suara pintu dibuka. gue emang cengeng banget. Siapa laki-laki itu? Kenapa Mama pulang diantar dia? Apa itu orang yang sama dengan yang mengantar Mama waktu itu? Siapa dia? Apa hubungannya dengan Mama? Apa yang dia mau dari Mama? Berpuluh pertanyaan memenuhi batinnya. “Thanks.

“Egi?” “Enak aja! Rugi gue ngelamunin cowok kayak dia. Sesuai dengan perkiraannya. Dia mengambil piring dan menyendok nasi tanpa bersuara. Dia mau memercayai Mama meskipun nggak bisa dia pungkiri bahwa saat ini hatinya agak kecewa. “Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti. mengambil tempat di sebelah Bia.” Cha-Cha mencibir. “Mana mungkin aku marah sama Mama. Dia masih kesal dengan kejadian semalam. lalu membuka pintu kamar sambil berkata. Bi?” Bia diam saja. “Apa maksud kamu? Memangnya Mama menyembunyikan apa dari kamu?” “Aku nggak bermaksud apa-apa kok.” Mama menatap Bia tajam. Selama Mama nggak mau jujur sama aku. Bia nggak mau memaksa Mama bercerita. lalu kita bisa makan samasama. Bikin otak gue jadi tumpul. Ia menuangkan air dingin ke dalam gelas lainnya tanpa memedulikan sapaan Mama. Mama mandi dulu. Nggak ada yang perlu dilanjutkan. Kelas udah ramai oleh anak-anak yang sibuk menyalin PR. Bia duduk di bangkunya dengan tampang bete. Ma. Kamu pasti udah kelaparan.” jawab Bia sinis. “Kamu marah sama Mama?” Mama berhenti di depan kamar dan menatap Bia. “Pagi-pagi udah melamun. Mama hanya membahas tentan gpekerjaan yang membuatnya pulang terlambat. “Kamu kenapa sih?” tanya Mama heran.” Alis Mama bertaut. “Lain di hati lain di mulut. Kesambet baru tau loh!” “Biarin!” jawab Bia asal. Mama udah nggak jujur. Dia ingin menunggu sampai Mama terbuka dan jujur sama dia. @(^-^)@ Bia meletakkan tas ranselnya di meja. Namun hati kecilnya berkata lirih.Mama yang sudah masuk tersenyum melihat meja makan sudah tertata rapi. lo!” . Tadi cuma pengandaian aja. nggak ada gunanya kita bicara. Bia tetap diam saja. “Ngelamunin siapa sih lo?” tambah Cha-Cha. jadi pulangnya agak terlambat. “Maaf ya. tapi nggak sedikit pun menyinggung laki-laki yang belakangan ini sering kali mengantar Mama pulang.” Bia diam. “Aku nggak punya hak untuk marah sama Mama meskipun Mama lagi menyembunyikan sesuatu dari aku. “Hei!” tegur Cha-Cha.” tambah Mama sambil berjalan menuju kamar. “Mama tadi ada keperluan sebentar. Mama pulang kemalaman.

gurunya juga. tapi mailbox. Atau sakit... tapi nggak biasanya Tammy sok sibuk begini. kali. Rencananya mereka mau ke rumah Yuki. gitu aja marah. dia kan paling rajin. Cha-Cha nggak menjawab pertanyaan Bia. Kok mendadak Tammy kayak orang sibuk gitu. Gue ngerasa ada yang aneh aja sama Tammy.” “Aneh. Bia semakin heran. Dia malah asyik menyetel CD Jennifer Lopez dan menggerak-gerakkan badannya. Dia nggak enak ngebatalinnya..” Suara bel yang berdering nyaring meyakinkan Bia dan Cha-Cha bahwa Yuki hari ini memang nggak masuk sekolah.” goda Cha-Cha.” kata Cha-Cha akhirnya. Hehehe.. dia bakal nyusul ke rumah Yuki..“Lo kenapa sih. Bolos.. kalau Yuki belum datang tuh. Apalagi sebentar lagi udah mau ujian semester.. Cha?” seru Bia kesal. Belakangan ini sepertinya ada yang aneh sama Tammy. Dia bilang sih kalau urusannya udah selesai. Jangan sambil goyang begitu. “Kan sebentar lagi bel.” “Iya.” @(^-^)@ “Lho. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu. “Nanti pulang sekolah kita ke rumah dia yuk?” ajak Bia.” “Iya juga ya.” “Mungkin dia nggak masuk hari ini.” “Aneh?” tanya Cha-Cha lagi. gue nggak akan sebut-sebut nama Egi lagi. “Apanya yang aneh?” “Ya aneh. Bi. Cha?” tanya Bia saat Cha-Cha melajukan mobilnya tanpa menunggu Tammy. serius dong nyopirnya.. “Heh. “Tammy sama Yuki mana?” tanya Bia. “Iya deh.” “Yuki bolos? Mana mungkin..” . Entah apa. “Tammy sih tadi katanya mau ke kantin. “Duile.” Bia mengambil buku matematika dari dalam tasnya. Dia udah jarang kumpul dan susah banget dihubungi. Pelajaran pertama hari ini pelajaran killer. kali. Bia menghela napas panjang. Tammy-nya mana.” “Yuki belum datang?” tanya Bia heran. Diliriknya jam tangan yang nangkring manis di pergelangan tangannya. Nggak biasanya dia telat. “Kenapa sih. “Oke. Si Tammy nggak bisa ikutan. ini gue serius. Nanti istirahat gue ke kelas Tammy buat ngajak dia.. Katanya sih dia ada janji sama teman lamanya yang baru balik dari Jerman. mungkin dia ada urusan. Di antara kita berempat. Atau. “Nggak tau. Bi?” tanya Cha-Cha.” “Tadi gue udah coba telepon ke HP-nya. Nggak hanya pelajarannya. Pagi ini Bia udah cukup bete dan dia merasa nggak perlu lagi dibuat bete gara-gara cowok aneh itu.

Yu. “Halo. “Halo. mungkin lo benar. Bener nggak sih?” . Pokoknya lengkap deh! Bia turun lebih dulu dari mobil dan langsung menekan bel di tembok pagar rumah Yuki. Sampai di depan kamar Yuki. Kedua cewek itu udah sering banget main ke rumah Yuki. Nggak usah negative thinking gitu. lo sakit apa sih?” tanya Bia lagi.” “Sip deh. “Yuki ada. Bi. Bi?” “Ada. “Bibi nggak tau. Rumah yang didominasi warna putih itu nggak terlalu besar. Bi Ita berkata. Non. Bi?” “Boleh atuh.. boleh nggak. “Kata Bi Ita badan lo panas. Sesosok perempuan tua tergopoh-gopoh datang untuk membukakan pintu. “Masuk aja..” sapa Bia mendekati tempat tidur Yuki dan duduk di sisi sobatnya yang sedang terbaring itu. karena udah belasan tahun kerja di keluarga Yuki. Cha-Cha menyusul di belakangnya. Bia dan Cha-Cha masuk dan langsung menuju kamar Yuki di lantai atas. Non. Bi?” tanya Bia.” @(^-^)@ Cha-Cha menghentikan mobilnya nggak jauh dari rumah Yuki. Badannya Non Yuki anget. Bi Ita. Sekali lagi Bia mengetuk pelan. Sambil membukakan pintu pagar untuk Bia dan Cha-Cha. Tanpa basa-basi dia mengambil kursi dan duduk. Non. dari balik pagar terlihat jelas beraneka tanaman. Nanti Bibi yang bilangin ke Nyonya kalau Neng Bia sama Neng Cha-Cha datang.” sapa Bia ramah. terus lo muntah-muntah melulu. tapi kali ini sambil memanggil nama Yuki. Bia menghentikan langkahnya dan mengetuk pintu pelan-pelan. dan pohon jambu. tapi kelihatan paling rimbun di antara rumah-rumah lainnya yang ada di kompleks itu.” sahut Bia setuju. pembantu Yuki yang setia banget.” terdengar jawaban lirih dari dalam kamar.Bayangin aja. Bi. Bia dan Cha-Cha beradu mata sesaat. pohon belimbing. “Tapi Non Yuki-nya lagi sakit. udah gitu muntah terus. “Tumben lo bisa sakit.” “Kalau kami langsung masuk ke kamar Yuki.” “Sakit apa.” Cha-Cha juga nggak mau ketinggalan. mulai dari tanaman bunga aneka warna sampai pohon cemara.” “Iya.“Mungkin dia emang lagi sibuk beneran. Bibi jadi kasihan ngelihatnya. Semua orang yang lewat di depan rumah itu pasti langsung tahu bahwa penghuni rumah itu pencinta tanaman. Nggak ada sahutan. lalu pelan-pelan mereka masuk ke kamar. Nyonya lagi di dapur buatin bubur spesial buat Non Yuki.” jawab Bi Ita. “Hei. makanya mereka hafal selukbeluk rumah ini.

Gue benci dia!” pekik Yuki histeris. dia bosan pacaran sama anak SMA. Saking nggak sabarnya. padahal sebentar lagi gue juga lulus SMA dan bakal jadi mahasiswa kayak dia.. sopan. tapi waktu gue bilang gue lihat dia jalan sama cewek di mal. Gue nggak ngerti apa maunya. nyeleweng?” Cha-Cha masih nggak percaya... “Ada apa. Yuki mengambilnya dan menghapus air mata yang turun di pipinya. jangan malah dicuekin gini dong! Apa sakit lo parah banget sampai nggak bisa ngomong atau ngelihat kami berdua?” Yuki tetap mengurung diri di balik selimut.“Jangan-jangan lo kena flu burung ya. “Yu. gentleman. Tapi kali ini tubuhnya bergetar pelan. kayak pacaran sama anak kecil. Yuki mengangguk sebagai jawaban untuk keraguan Cha-Cha. lo kenapa?” pekik Cha-Cha.. kenapa sih lo?” tanya Bia mulai keki. “Dia bilang. Bia dan Cha-Cha kaget plus heran. Dia ngeduain gue.” timpal Cha-Cha asal.” “Jadi. Yu?” tanya Bia tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya. Yang ditanya diam seribu bahasa. Bia dan Cha-Cha melotot kaget.. “Kami kan datang buat jenguk elo. Lama-kelamaan semakin kencang dan disertai isak pelan. Selimut menutupi seluruh tubuhnya. “Bi. “Sammy nyeleweng. dan yang pasti setia. dan peluh mengalir di keningnya. wajahnya merah. “Kenapa dengan Sammy? Apa yang membuat elo begitu marah sama dia?” tanya Bia nggak sabar. bibirnya kering.. Sammy yang selama ini dia kenal benar-benar tipikal cowok idaman. Awalnya dia nggak mau ngaku.. ternyata Maxi benar. Kenapa dia nggak mau menunggu? Kenapa dia malah memilih cewek itu dan mutusin gue gitu aja? Apa hubungan gue sama dia selama ini nggak punya arti apa-apa buat dia? Kenapa dia dengan begitu mudahnya mutusin gue? Kenapa?” . Rasanya siapa pun nggak akan percaya kalau cowok seperti Sammy ternyata mendua hati. akhirnya dia ngaku. Cha-Cha menarik tubuh Yuki dan memeluknya. Bia mengambil tisu yang ada di atas meja tepat di sebelah tempat tidur Yuki dan menyodorkannya pada cewek itu. “Apa yang udah terjadi?” “Gue benci Sammy. Matanya bengkak. Kemarin malam gue nanya langsung ke dia. ramah. Yuki menangis. Yuki menghapus air matanya dan melepaskan diri dari pelukan Cha-Cha. Bia menarik selimut yang menutupi tubuh Yuki. Masalahnya. “Lo kenapa sih?!” Wajah Yuki yan gpucat dan bersimbah air mata muncul dari balik selimut. “Yuki. Sammy benar-benar. Ia menarik napas panjang untuk mengontrol emosi yang meluap dalam dirinya.. Baik hati.” kata Yuki di tengah isak tangisnya. “Gue benci Sammy. Katanya nggak ada serunya. Yuki malah menangis lebih kencang dari sebelumnya.” ujar Yuki lirih. gue benci dia.

Buktikan sama dia. Lalu perlahan dia kembali ke samping Yuki... tapi gue nggak bisa. jangan. Bia bangkit dan berjalan menuju pintu kamar Yuki dengan tangan terkepal.. “Yang pasti. Yuki.” cecar Bia...” “Gue yang akan membantu lo bangkit lagi.” . “Kalau lo nggak mau dia merasa menang dan hebat.” jawab Maxi tenang. Bia. gue nggak bermaksud nguping. Bi. jangan berpikiran senegatif itu tentang uge. Yu. “Bi. lo mau ke mana?” tanya Cha-Cha. Dia akan merasa menang dan hebat karena bisa mencampakkan gue. bukan.” “Tapi lo sekarang puas kan. dan lo bisa ngetawain gue. “Gue mau bikin perhitungan sama cowok brengsek itu. dan Cha-Cha menatap Maxi kaget. Sekali lagi sori. “Sori. bukan dia yang mencampakkan elo tapi elo yang mencampakkan dia.. “Jangan. Mereka sama sekali nggak menyadari kehadiran cowok itu. gue dengar Yuki nangis. Tujuan gue ke sini mau jenguk Yuki..Tangis Yuki bertambah kencang. Max? Omongan lo soal Sammy ternyata benar.” “Ngapain lo nguping di rumah orang?” ketus Bia. Gue nggak jadi masuk dan akhirnya malah mendengar semuanya. “Gue tau. “Udah berapa lama lo di situ?” tanya Bia ketus. “Cukup lama.” “Terus kenapa?” “Gue nggak mau dia tau bahwa gue terluka gara-gara dia. tapi pas gue mau ngetuk pintu. Gue nggak tau gimana caranya bangkit lagi. Bi. Jangan permalukan gue di depan dia.” “Lalu buat apa lo ke sini?” “Karena gue khawatir sama elo. jangan siksa diri lo seperti ini. “Kenapa?” tanya Bia. Please. gue nggak akan punya muka lagi di depan dia. Mungkin itu yang bikin dia jadi sakit seperti ini. Buktikan sama dia bahwa dia nggak ada artinya buat elo. “Nggak begitu. “Apa lo masih cinta sama dia? Apa lo masih mau ngebelain dia?” “Bukan. gue udah dengar semua pembicaraan kalian. kan? Apa lo ke sini buat ngelihat penderitaan gue?” tanya Yuki sinis.” Tiba-tiba Maxi muncul dari balik pintu kamar Yuki. Kalau dia sampai tau gue kayak gini gara-gara dia. Gue nggak akan tinggal diam melihat sahabat gue dicampakkan gitu aja.” Bia terdiam.. Dia benar-benar patah hati dan kecewa. Dia harus gue kasih pelajaran sampai kapok!” jawab Bia geram. Gue mohon jangan!” tahan Yuki memelas. karena gue peduli sama elo. Kata orang penyakit kan bisa juga disebabkan oleh gangguan psikologis kayak yang dialami Yuki sekarang ini... karena gue sayang sama elo. Bi.

Maxi jadi kebingungan. lo tau. tapi cukup. Air matanya mengalir pelan. Maxi semakin salah tingkah. Sesaat Maxi terpana lalu perlahan membalas pelukan Yuki. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis kencang. Mukanya berubah merah. Yu. Tiba-tiba Yuki langsung memeluk Maxi dan menangis di pundaknya. gue ada di sini. Nggak perlu sebagai pacar.” Tanpa sadar air mata Yuki mengalir lebih deras. Dia langsung panik melihat Yuki menangis histeris begitu. apa pun yang terjadi.. Dan sampai sekarang. Entah karena panik atau karena malu.. Jangan khawatir. Semoga aja kehadiran Maxi bisa jadi obat mujarab untuk luka di hati Yuki. Bia dan Cha-Cha tersenyum di sisi tempat tidur.. Yuki tetap menangis. izinkan gue berada di samping lo. Meskipun menurut Bia kata-kata Maxi rada gombal.” bisik Maxi lembut. lalu dengan lembut membelai rambut Yuki. Tapi pelan-pelan Maxi mengulurkan tangan. Gue akan selalu di samping lo. .. Adegan barusan persis kayak di film-film romantis Korea. Itu lho. gue udah lama suka sama elo. sebagai tempat lo bersandar. perasaan gue nggak berubah sedikit pun. Bia tersenyum geli melihat kepanikan Maxi dan buru-buru menahan ChaCha yang udah mau memeluk Yuki. Bia menghampiri Maxi dan mendorongnya ke arah Yuki. “Yu. tapi dia membiarkan tangan Maxi membelai rambutnya.Yuki terdiam. semakin lama semakin erat. “Yu. tapi bolehlah. yang lagi ngetren belakangan ini.

Memang. Ekspresi lega mulai muncul di sela-sela wajah kusut yang sejak kemarin bertebaran di mana-mana. “Gimana ujian Inggris tadi?” tanya Yuki mengawali percakapan. masa-masa ujian jadi masa-masa yang paling menyiksa. aturan. Yuki. Yuki bilang dia masih butuh waktu untuk mengobati luka di hatinya. dan Cha-Cha duduk-duduk di pinggir lapangan sambil menikmati segelas es cendol. Apalagi bagi Bia dan teman-temannya. Siang itu. “Pada bisa nggak?” . Maxi baik banget ya! Sekarang ini sudah tepat satu minggu siswa-siswi SMA Constantine 4 menghadapi ujian semester. Bia juga kini lebih tenang. Anak-anak kelas tiga dibuat nggak punya waktu untuk memikirkan masalah lain selain belajar. Tapi Maxi bersikeras untuk menunggu sampai Yuki benar-benar bisa melupakan Sammy dan membuka hati untuk menerima dirinya. itu pun tetap tak dipedulikan oleh Bia.BAB ENAM KISAH Yuki dan Sammy memang berakhir hari itu. pernah beberapa kali cowok itu berpapasan dengannya. Yuki memang nggak langsung menjadikan Maxi sebagai pacarnya. Bia juga kadang-kadang merasa Egi memerhatikannya dari jauh. Mereka membutuhkan sesuatu yang dapat mendinginkan otak mereka yang udah panas gara-gara disuruh mikir terus selama seminggu ini. tapi Bia tak pernah membalasnya. Egi nggak pernah “mengganggunya” lagi. Egi paling hanya tersenyum. Semua guru terusmenerus memberi latihan soal yang katanya sebagai persiapan buat menghadapi ujian akhir nanti plus berbagai macam wejangan. Akhirnya masa ujian pun berlalu. Bia yang udah nggak sibuk lagi di OSIS karena udah menyerahkan jabatannya pada adik kelas mulai berkonsentrasi pada ujian dan persiapannya memasuki masa kuliah. dan ocehan sebagai pelengkapnya. Tapi kisah baru antara Yuki dan Maxi baru aja dimulai. Bia. yang tahun ini bakal meninggalkan bangku SMA. Lagi pula dia takut jika dia hanya memanfaatkan Maxi sebagai perlarian sesaat.

” sahut Cha-Cha.” usul Cha-Cha. Bia dan Cha-Cha tidak langsung menjawab. Bia dan ChaCha dengan mantap memutuskan minta ditraktir nonton aja. Kepala gue udah mau meledak!” Yuki tersenyum dan kembali menikmati es cendolnya.” jawab Cha-Cha.” Cha-Cha bersikeras. “Hei. biar otak kita jadi fresh lagi. ngumpul bareng kita. Semakin tegang semakin bagus. Biar otak gue yang kusut garagara ujian bisa fresh lagi!” . Bia. “Feeling gue mengatakan dia sedang menyembunyikan sesuatu dari kita.” celetuk Yuki. Yu.” Bia dan Cha-Cha mengangguk bersamaan. “Siapa tau dia lagi ada masalah. Yuki yang terpaksa mengambil uang di ATM dulu cuma bisa mengangguk pasrah. “Gue yang bayarin!” cetus Yuki. Kalau ditraktir. “Eh iya.” sambung Yuki. Bukannya ngilangin stres.” “Kan gue cuma feeling. “Tapi kok gue malah merasa dia lagi menghindar dari kita. “Setuju banget!” teriak Yuki dan Bia berbarengan. “Dia bilang sih mau nganter nyokapnya ke salon. “Mau nonton apa nih?” tanya Yuki sesampainya mereka di bioskop. “Tammy nggak mungkin menghindari kita. Mereka mengira-ngira.” Bia sok menganalisis.“Please deh.” Bia membela diri. Kita kan sahabatnya. dan Yuki menaiki eskalator menuju bioskop yang ada di lantai atas. “Skeleton Key aja. “Nggak ah!” Bia nggak setuju. “Ah. Gue belum nonton tuh. “Sepertinya Tammy agak sibuk akhir-akhir ini. Kayaknya lebih tegang. Tammy mana?” tanya Bia. berapa sisa uang di dompet mereka.” ujar Bia. gimana kalo habis ini kita ke MTA?” usul Yuki.” “Sky High aja. “Udah pulang duluan. “Nanti malam gue coba telepon dia deh. Cha-Cha.” kata Yuki.” “Tuh anak kayaknya udah nggak pernah lagi ya. “Gue baru aja mau mendinginkan otak gue. Setelah berunding. Jadi jangan sebut-sebut kata „ujian‟ lagi di depan gue. @(^-^)@ Siang itu Mal Taman Anggrek nggak terlalu ramai. itu pasti cuma perasaan lo doang. Skeleton Key malah bikin gue tambah stres nanti. mereka tak perlu berpikir dua kali. “Sky High aja deh. “Skeleton Key aja.

“Kita nonton Dealova aja. “Iya.” dumel Bia. lalu berjalan dengan cueknya menuju loket untuk membeli tiket. “Yah. Tiba-tiba tatapannya terhenti pada sepasang pria dan wanita yang duduk di restoran yang nggak jauh dari tempatnya berdiri. lo tau kan.” Bia dan Cha-Cha diam dan manyun. Tangan laki-laki itu menggenggam tangan Mama. gue keluar dulu ya sebentar. Yu? Jadi. “Biarin. gue ngalah deh. tersenyum. “Ngapain?” “Mau beli crepes dulu. gue mau nonton yang cinta-cintaan aja. alamat tidur di bioskop deh gue. Cha-Cha yang sedang melihat-lihat poster film yang akan ditayangkan bertanya tanpa menoleh.” ujar Bia. “Cha. Perlahan dia berjalan mendekati restoran itu. Sambil menunggu pesanannya dibuat. Bia yakin. Beberapa kali dia tertawa sambil menatap pria yang duduk di hadapannya.. lo udah nerima Maxi nih?” goda Cha-Cha. “Tapi. Wajah Mama saat ini mirip dengan wajah Yuki setiap kali berbicara dengan Maxi. gue nggak suka cerita-cerita roman kayak gitu.. Bukan Sky High. “Demi temen yang lagi kasmaran. Mama benar-benar seperti anak ABG yang sedang dilanda asmara. jadi gue yang nentuin mau nonton apa.” ujar Cha-Cha. Yu. sedangkan Mama hanya diam. Sudah lama Bia nggak pernah melihat wajah Mama seceria itu. dan sekarang dia mengenali perempuan itu. Bia nggak berani memercayai apa yang dia lihat.” “Hah? Lo lagi kasmaran. Bia merasa sosok perempuan setengah baya yang tengah dilihatnya itu mirip sekali dengan Mama. Kan gue yang traktir. Sosok perempuan itu semakin jelas.” putus Yuki. itu memang Mama! Mama sedang duduk bersama seorang pria yang sama sekali nggak Bia kenal.. Mama tampak begitu ceria. “HAH?!” seru Bia dan Cha-Cha bersamaan. bukan Skeleton Key. Bia memesan satu hot crepes untuk dirinya sendiri. Bia berusaha menegaskan pandangannya. dan menatap laki-laki itu dengan lembut. ia mengedarkan pandang ke sekelilingnya. Lo mau?” “Nggak deh!” “Ya udah.. Mama pasti punya hubungan khusus dengan . Yuki masih lama ini beli tiketnya. berhubung gue lagi kasmaran. “Biar gue yang nentuin mau nonton apa. Yuki cuma senyam-senyum. Cha-Cha cuma nyengir mendengar ucapan sobatnya itu.“Stop!” Yuki menghentikan perdebatan Bia dan Cha-Cha. Ya.” Bia keluar dari bioskop menuju counter crepes yang ada di depan bioskop.” tambah Bia.” kata Yuki.

“Bi. Tapi Bia nggak peduli.. “Bia. lalu ia mendekati laki-laki itu. “Mama!” tegur Bia keras. kita bicara pelan-pelan. Seluruh mata yang ada di restoran itu memandang mereka. “Jangan bicara nggak sopan sama orang tua!” “Orang tua?” tanya Bia sambil tertawa. Kata-kata singkat Mama tadi udah menjelaskan status laki-laki yang sekarang berdiri di sebelah Mama. itu laki-laki yang sama dengan laki-laki yang sering mengantar Mama pulang ke rumah. Dia nggak perlu penjelasan Mama. Bukan seperti playboy yang lagi cari mangsa!” PLAK! Tangan Mama melayang ke pipi Bia sambil berkata tajam. “Ap-apa maksud Mama?” Wajah Mama berubah pucat.” Bia menepis tangan Mama yang berusaha memegang bahunya. kamu jangan salah paham. kamu duduk dulu. Biar Mama jelasin ke kamu. “Gue kasih tau ya. Atau jangan-jangan.” “Siapa laki-laki ini. Ada banyak hal yang harus Mama jelaskan ke kamu. Bi. Air mata menggenang di pelupuk matanya. “Siapa yang Mama sebut papaku?” “Bia. Bi.” pinta Mama penuh permohonan.” “Apa maksud Mama?” Bia nggak memedulikan kata-kata Mama. Bia berjalan cepat memasuki restoran itu..” Mama bangkit berdiri dan berusaha menenangkan Bia. Lakilaki bertubuh tegap dan berjambang tipis itu adalah laki-laki yang sudah . “Dia akan Bia anggap sebagai orang tua kalau tingkah lakunya benar-benar mencerminkan orang tua. dan Mama masih bilang aku salah paham?” “Bukan begitu. Bia benar-benar nggak tahan melihatnya. Sayang. tingkah laku Mama sama laki-laki ini udah aku lihat jelas. Dia nggak suka melihat Mama bertingkah seperti itu. Mama Bia terlonjak kaget... “Tenang dulu... Dia mau bicara. Namun dengan kasar Bia menepisnya.” kata Mama.laki-laki itu.. “Bia. tapi tak jadi. Dia nggak percaya pada apa yang didengarnya. atau lo akan menyesal!” “Bia!” hardik Mama. Ia menarik tangan Bia untuk duduk di sebelahnya. “Jangan bicara sekasar itu pada papamu!” Bia terperangah. Bia menggeleng. Dia nggak akan rela mamanya disakiti lagi seperti ketika Papa Ivan menyakiti Mama.. Sementara laki-laki yang bersama Mama tampak kikuk.. Ma? Punya hubungan apa dia sama Mama sampai Mama membiarkan dia megang-megang tangan Mama?” cecar Bia. jangan coba-coba deketin nyokap gue.... “Salah paham? Aku salah paham? Ma.

Bi? Sendirian ya? Gue temenin ya?” “Please. Ada dua cowok berjaket hitam yang berboncengan di sepeda motor. Egi! “Halo. Jangan halangi jalan gue. Cowok itu. Tapi Egi buru-buru menahannya. Bia benci mamanya. Teddy membuka helmnya. sangat lelah. dia nggak mau mendengar permohonan maaf dari mulut laki-laki itu apalagi menerimanya sebagai papanya.. “Eits. Bia kembali berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Bia belum siap menghadapi semua kejadian ini. “Bia!” Bia mendengar seseorang memanggil namanya. Bahkan langit yang sedang mendung seakan turut memahami sakit hatinya ini. Laki-laki itulah yang telah membuat Bia terlahir di dunia ini tanpa mengenal kasih sayang seorang ayah. “Ted. Bi!” sapa Egi sambil menenteng helm di tangan kanannya. Bia nggak tahu harus gimana. Sepeda motor itu berhenti. Bia berbalik dan keluar dari restoran tanpa memedulikan teriakan Mama.meninggalkan dirinya dan Mama. Ia menoleh sejenak. Lo mau ke mana. Yuki. bahkan benci dengan semua yang harus dia hadapi ini. Bia lelah. @(^-^)@ Bagi Bia ini seperti mimpi buruk.” kata Egi pada Teddy yang masih duduk di atas motor. Bia nggak percaya. Dia malah membuang muka lalu meneruskan langkahnya. Bia terus berlari dan berlari. lo baik aja duluan. serta Cha-Cha yang tengah menunggunya di bioskop. tapi kali ini sama sekali nggak ada nada kasar seperti biasanya.. “Lo mau ke mana sih? Mau ngejar tuh cewek?” . Bia menghentikan langkah. Bia menyusuri trotoar dan berjalan tanpa tujuan. Dia merasa ada yang aneh pada gadis yang sedang berdiri di hadapannya ini. laki-laki yang udah meninggalkannya selama 17 tahun tibatiba muncul di hadapannya dan duduk mesra bersama mamanya. Hatinya sakit dan marah. Dia marah. Bia nggak mau lagi menghadapi masalah-masalah yang menyesakkan dadanya ini.. Dia nggak peduli dengan crepes pesanannya. juga laki-laki brengsek itu. Laki-laki itulah yang telah membuat mereka menderita selama ini. Dia nggak mau pulang ke rumah karena dia sama sekali nggak mau ketemu Mama. Dia berlari cepat menuruni eskalator. jangan pergi dulu. Tapi dia memilih diam dan menyingkir dari hadapan Bia. kecewa. sedih.” Bia nggak membalas sapaan Egi. di jalanan segede ini aja kita masih bisa ketemu. Egi menatap Bia dan semakin yakin pasti Bia sedang ada masalah. Dia nggak mau mendengar penjelasan apa pun. “Kita jodoh banget ya.” kata Bia. Gi. Bia ingin semua yang ada di dunia ini menghilang.. Egi mengernyitkan kening. Cowok yang duduk di boncengan turun lalu melepaskan helm yang dipakainya.

Dia memang nggak benar-benar setuju dengan pilihan hati Egi..” jawab Egi. Bisa dibilang. Bia menatap Egi yang menggenggam pergelangan tangannya kuat-kuat. “Gi. “Sampai kapan lo akan menyukai gue?” “Gue nggak tau sampai kapan. “Dasar bego. Mau nggak mau Egi kaget juga mendengar pertanyaan itu. Pandangannya sampai pada seorang cewek yan gsedang berdiri memegangi pagar jembatan sambil menatap ke bawah.” jawab Egi singkat sambil menyerahkan helmnya pada Teddy dan langsung berlari mengejar Bia. jelas banget itu gombal. tapi sebagai teman. Egi mengikutinya dan berusaha menjajari langkah Bia. Bi!” hardik Egi. Hingga akhirnya Bia bertanya. Gemuruh guntur terdengar semakin kencang. apa sih yang elo suka dari gue?” tanya Bia tiba-tiba.“Itu urusan gue. Lalu ia tertawa. Egi diam. “Karena kalau gue bilang sampai selamanya. Bia masih tertawa lalu kembali berjalan mendekati sisi jembatan. Jaket hitam melindungi tubuhnya dari udara yang mulai dingin karena akan turun hujan.” . Bia memperlambat langkahnya dan mendekati pagar jembatan. Itu dosa.” Egi terpana. Egi berlari mengejar Bia yang tengah menaiki jembatan penyeberangan. Langit mulai menghitam dan sesekali terdengar suara guntur bergemuruh. “Udah mau hujan lho.” Hening sejenak di antara mereka. Mendekati ujung jembatan. Bi?” tanya Egi. “Awalnya ya karena wajah lo yang imut itu. Cewek kayak gitu kok dikejar. gue jatuh cinta pada pandangan pertama. “Lo pikir gue cewek bego? Siapa yang mau bunuh diri? Gue masih sangat menghargai hidup gue.. Kepalanya ditengadahkan menatap langit. lo nggak boleh berpikiran sempit apalagi kalau sampai bunuh diri. “Apa-apaan si lo? Seberat apa pun masalah yang lo hadapi. Tapi dia sama sekali nggak beranjak dari tempatnya. Sesaat kemudian ia kembali menatap jalan raya yang terhampar di bawah jembatan. Gue nggak butuh perhatian lo. Ternyata dugaannya salah. Egi yang sudah sampai di atas jembatan berusaha mencari sosok Bia. “Lo nggak mau pulang. Kemudian ia menjawab.” rutuk Teddy pelan.” “Jangan peduliin gue deh. Dilepasnya tangan Bia dengan perasaan lega. Tapi lama-kelamaan.” jawab Bia ketus. gue jatuh cinta sama seluruh diri lo. Teddy tahu Egi benar-benar udah jatuh cinta pada cewek galak itu. Jantungnya berdetak kencang. Apa Bia mau bunuh diri? “Bia. Bia berjalan tanpa peduli pada orang-orang di sekelilingnya yang mulai berlarilari takut kehujanan.!” panggil Egi sambil berlari menghampiri Bia lalu menarik tangannya menjauhi sisi jembatan.

Dia sama sekali nggak menanggapi kata-kata Bia. boleh gue tau alasannya?” Lagi-lagi Bia diam. Bi. laki-laki yang udah ninggalin gue dan nyokap gue begitu aja. Saat nyokap gue menikah lagi dengan Papa Ivan.” kata Egi pelan. Namun kemudian ia kembali menjawab. Bia menarik napas.Bia diam.” “Laki-laki itu?” “Ya.” Bia menghentikan ceritanya. Tapi sesaat kemudian.. Gue emang nggak pernah layak punya ayah. ia berkata lirih. lo tau nggak. Nyokap gue nggak pernah mau menceritakan asal-usul gue sebenarnya. “Gue nggak akan pernah mengakui dia sebagai bokap gue. “Gue lahir tanpa pernah tau siapa ayah kandung gue. Gue nggak akan membiarkan dia kembali ke nyokap gue setelah tujuh bleas tahun dia meninggalkan gue dan nyokap gue tanpa kabar berita.. Bia tetap diam.. tapi paling nggak dengan menceritakannya pada orang lain. kalau elo lagi punya masalah. Egi menatap cewek yang berdiri di sampingnya dengan sejuta tanya.. Mungkin gue nggak bisa bantu. Kalau tentang masa lalu lo itu. “Wajar kalau lo tau karena ini bukan cerita baru. Anak di luar nikah. “Gue merasa ditipu nyokap gue. cerita aja ke gue. tapi ternyata Papa Ivan juga meninggalkan nyokap gue dan selingkuh dengan wanita lain. “Gue kembali kehilangan seorang ayah. bisa meringankan beban yang mengimpit dada lo. “Sori. Sebenarnya.” Egi menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.. Dia nggak menyangka Bia akan seemosional ini.” “Jadi cuma itu masalahnya?” Egi bertanya kembali. lalu kembali melanjutkan ceritanya. Matanya menerawang jauh ke depan.. gue udah tau. “Bi.” “BERUNTUNG?!” . Bia menggeleng.. Yang gue tau. Semua orang juga tau kalau gue cuma anak haram. Laki-laki yang udah membuat gue disebut anak haram. “Gue marah sama nyokap gue. Gue nggak akan pernah memaafkan dia! Laki-laki itu nggak layak gue panggil Papa. Dia tahu Bia tengah dilanda masalah. laki-laki itu sekarang muncul.. Gue besar tanpa pernah tau siapa ayah kandung gue. gue cuma anak haram.” kata Egi pelan. “Mmm. bokap kandung lo?” “Dia bukan bokap gue!” bentak Bia..” Egi diam. Dari dulu gue nggak punya bokap dan sampai kapan pun gue nggak akan punya bokap!” Egi terpana. gue pikir gue akan memiliki seorang ayah yang bisa gue banggakan.” “Maksud lo. Gue benar-benar marah sama dia.. “Bi. Gi. lo tuh beruntung banget. “Masalahnya.

Kalau itu nggak terjadi.” Bia terpana. Setiap kata yang keluar dari mulut Egi seakan menusuk hatinya. betapa beruntungnya hidup lo? Meskipun elo nggak tau siapa bokap kandung lo. dan terima kasih karena mereka memberi gue kesempatan untuk menghirup udara hari ini. sambil nangis nyokap gue bilang.” jawab Egi. gue juga marah sama diri gue sendiri. beruntung.” jawab Egi.” lanjut Egi. “Terima kasih?” “Iya. Waktu itu. “Orangtua gue yang sekarang ini sebenarnya bukan orangtua kandung gue. gue akan mengucapkan terima kasih pada mereka. Pertama kali gue mengetahui kenyataan itu. Nggak seperti gue. “Apa menurut lo perginya bokap kandung gue dan perceraian nyokap gue dengan Papa Ivan juga merupakan bagian dari rencana Tuhan?” . apa lo bisa memaafkan orangtua yang udah membuang elo itu?” tanya Bia lirih. gue hampir gila. Maka nyokap gue nggak pernah memiliki seorang anak laki-laki yang begitu dia sayangi seperti dia menyayangi gue. Tapi kalau suatu hari nanti Tuhan ngizinin gue untuk bertemu dengan mereka. terima kasih karena mereka tetap membiarkan gue lahir ke dunia ini. terima kasih karena mereka membuat gue memiliki kehidupan yang layak. Gue bertanya-tanya untuk apa orangtua kandung gue melahirkan gue kalau akhirnya mereka membuang gue ke panti asuhan. Gue marah sama semua orang.” Kali ini Bia terdiam.” Bia terkejut. “Gue nggak tau. Gue mulai belajar bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari rencana Tuhan yang pastinya indah buat gue pada waktunya.” Egi menghentikan ceritanya sesaat dan menarik napas dalam-dalam. terima kasih karena gue dititipkan ke panti asuhan dan bukan dibuang ke jalanan. lo selalu dihujani kasih sayang berlimpah dari nyokap lo.“Iya. Direnunginya setiap kata itu satu demi satu. Dia menoleh dan menatap Egi yang tersenyum di sebelahnya. Bi. “Tapi akta-kata nyokap angkat gue membuat gue sadar akan arti kehidupan. “karena lo masih dikasih kesempatan sama Tuhan untuk bertemu bokap lo dan mempersatukan lagi keluarga lo. “Apa lo pernah berpikir. nyokap gue nggak akan pernah bertemu dan mengadopsi gue sebagai anaknya. terima kasih karena mereka telah membuat gue bertemu dengan orangtua angkat yang luar biasa baiknya. Mereka mengadopsi gue dari panti asuhan waktu gue masih bayi. gue marah sama Tuhan. dia berterima kasih karena orangtua kandung gue telah melahirkan gue ke dunia ini dan menitipkan gue ke panti asuhan. yang dari lahir nggak pernah sekali pun mengenal orangtua gue sebenarnya. “Gi. Katakata itu yang akhirnya menyadarkan gue untuk menerima semua kenyataan ini sebagai bagian dari kehidupan gue.

Bia membuka pagar dan masuk ke rumah tanpa suara. pipinya memerah dan jatunya mendadak berdebar keras.” Bia terdiam. “Karena menurut gue.” jawab Egi mantap. yang dibalas dengan senyum manis cowok itu. Egi-lah yang mengantarnya naik taksi. Dia nggak mengira semua akan menunggunya seperti ini. Sebelum turun. “Kenapa?” tanya Bia lagi. Tanpa ia sadari.” . Mama nggak bisa kehilangan kamu. Bi?” tanya Mama di sela isak tangisnya. Udara dingin terasa semakin menusuk. Air hujan turun semakin deras. Tapi Bia bergeming. tak lupa Bia mengucapkan terima kasih pada Egi. “Kamu ke mana. “Bia!” pekik Cha-Cha begitu dilihatnya Bia masuk dalam keadaan basah. tanpa semua itu nggak aka nada Bia dengan sifatnya yang keras tapi tegar. Dibiarkannya air hujan membasahi wajah dan membersihkan air mata yang tanpa ia sadari mengalir dari sudut matanya. “Kamu benar-benar udah bikin Mama khawatir. Titik-titik air turun dari langit. Jangan hokum Mama dengan cara seperti ini. nggak aka nada Bia yang berdiri di samping jembatan bersama gue hari ini. “Bia!” seru Mama yang langsung berlari menghampiri Bia dengan mata berkacakaca. Tapi Bia tetap berdiri di tempatnya sambil memandang lurus ke depan. Mama langsung memeluk Bia dengan erat dan menangis kencang.“Ya. Bia terpana. Rambut dan sebagian bajunya yang nggak tertutup jaket basah kuyup karena hujan. dan nggak aka nada Bia yang membuat gue jatuh cinta dan tergila-gila. Mama dan Yuki yang juga berada di ruang tamu bersama Cha-Cha tampak sama terkejutnya dengan Cha-Cha. Bia melirik Egi yang masih berdiri di sebelahnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada melawan rasa dingin yang kian menusuk. Hujan udah reda.. nggak aka nada Bia yang jagoan tapi berhati lembut. Cuma kamu yang Mama miliki. dan Egi juga yang membayar taksinya. menantang langit dengan kedua mata terpejam. Egi pun tetap berdiri di sebelah Bia tanpa suara. Ada rasa hangat yang tiba-tiba mengalir di dalam dirinya. Dia juga sama sekali nggak mengira Mama akan mengkhawatirkannya seperti ini. Yuki dan Cha-Cha mengikuti di belakang mama Bia dengan wajah cemas. Bia tersenyum lalu menegadahkan kepalanya.. Bi. @(^-^)@ Bia turun dari taksi tepat di depan rumahnya. Dilepasnya jaket yang melekat di tubuhnya dan disampirkannya di pundak Bia untuk melindungi gadis itu dari hujan yang turun dengan derasnya serta angin yang bertiup kencang.

Bia bergegas mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.” jawab Bia. Tiba-tiba terdengar ketukan halus di pintu kamarnya. Dia masih belum bicara dengan Mama. Bia melepas jaket itu dan menggenggamnya erat. Bia menatap wajahnya di depan cermin yang terpasang di balik pintu kamar mandi. sampai sekarang Mama belum berusaha memanggilnya dan bicara dengannya. Lalu perlahan dilepasnya pelukan Mama. tapi gue rasa sekarang lebih baik kalian pulang karena gue mau sendiri dulu.Bia hanya diam dan menunggu sampai tangis Mama mereda. Yuki dan Cha-Cha nggak menjawab. Sampai ketemu di sekolah. . Makasih banyak. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Yuki dan Cha-Cha. “Bi. Wajah Mama muncul dari balik pintu. Dari mata itu terpancar kepedihan. @(^-^)@ Bia berbaring di tempat tidurnya. Bia duduk di atas tempat tidur dan menarik guling ke dalam pelukannya. Di hatinya menjalar perasaan hangat. apa kamu masih marah sama Mama?” tanya Mama pelan. Yang penting kami tau elo baik-baik aja. Sepeninggal mereka. “Boleh aku mandi sekarang?” tanya Bia tanpa ekspresi. Kalau saja tadi Egi nggak ada. Bia yakin dia nggak akan tahu bagaimana caranya menghadapi kejadian ini. Mata Mama yang merah menatap Bia. Dan yang membuat Bia heran. Bi.” pamit Yuki. Sebenarnya Bia nggak mau seperti ini. Bia diam saja. Tadi sehabis mandi dia langsung masuk kamar dan mengunci diri. boleh mama bicara sama kamu?” “Sebentar. masih ada yang mengganjal dalam hatinya. walaupun emosinya telah mereda. Saat ini Bia masih ingin menyendiri dulu. sori udah bikin kalian cemas. lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamar. mengawali pembicaraan.” Mama menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang kepada Yuki dan Cha-Cha. “Yu. “Kami permisi dulu. Entah kenapa. Bia nggak berani memandang Mama. “Ya udah. “Bi. Bia membiarkan Mama masuk ke kamar. Tante.” kata Bia. Cha. tapi mereka mengerti permintaan Bia. sedangkan Mama duduk di sebelahnya. Dia baru menyadari bahwa di badannya masih menempel jaket Egi. tapi gengsinya membuat dia bertahan untuk nggak bicara duluan sama Mama.

seakan tidak peduli pada apa yang Mama katakan. tapi Mama yang meninggalkan dia. sebenarnya. Dari pertemuan itulah Mama tau alasan dia meninggalkan Mama waktu itu. Dia diam karena saat itu dia kaget dan tidak tahu harus berbuat apa.. Bi.” lanjut Mama.” Mama berhenti bicara. Kemudian selama hampir satu bulan lebih dia menghilang. dia tidak menemukan Mama karena Mama telah pindah ke Magelang tanpa memberitahu siapa pun.. Kamu tau Mama sayang sama kamu. Mama membenci papamu dan tidak mau mendengar kabar apa pun tentang dia. “Sejak kapan dia kembali? Untuk apa dia datang lagi setelah sekian lama dia ninggalin kita?” “Mama bertemu dia lagi tiga bulan yang lalu. Saat itu Mama berpikir dia tidak mau bertanggung jawab. Dia berusaha mencari . tapi dia terus memaksa.” kata Mama.” “Maksud Mama?” “Mama masih seumuran kamu sewaktu Mama mengandung kamu.” “Jadi apa alasannya? Apa alasan yang udah membuat dia meninggalkan kita selama tujuh belas tahun?” “Bi. Mama janji nggak akan menemuinya lagi.” Kali ini Bia menatap mamanya. “Tapi ternyata selama ini Mama salah. “Kalau kamu nggak mau Mama berhubungan dengan Oom Frans. Akhirnya Mama setuju. bukan dia yang meninggalkan Mama. “Mama nggak bermaksud menampar kamu. Dia menghubungi Mama dan memohon untuk bertemu dengan Mama.. “Nenek dan kakekmu yang akhirnya mengetahui kehamilan Mama membawa Mama meninggalkan rumah dan pindah ke Magelang agar orang-orang tidak mengetahui kehamilan Mama. Dia tidak merespons kata-kata Mama. Dia menghilang selama sebulan karena dia kembali ke Pekanbaru menemui orangtuanya dan bersiap-siap ke Jakarta untuk melamar Mama. Tapi saat kembali ke Jakarta. Mama bahkan tidak pernah menganggap dia sebagai papamu. Mama marah.“Mama minta maaf. “Apa dia laki-laki yang sering mengantar Mama pulang kerja?” Sekali lagi Mama mengangguk. Mama menghela napas panjang lalu berkata. Mama menetap di sana sampai Mama melahirkan kamu. Awalnya Mama menolak.” Bia tetap bungkam.. Mama mengangguk. Tapi saat itu Mama sudah lulus SMA dan bekerja membantu kakekmu menjaga warung. dia diam. ayah kandungmu. “Jadi namanya Frans?” tanya Bia. Waktu Mama mengatakan pada papamu bahwa Mama hamil. Tapi dia tetap diam. “Papamu tak pernah bermaksud meninggalkan Mama.

Aku nggak tau apa aku bisa memaafkan dia. Laki-laki seusianya jelas harus menikah.Mama tapi tidak berhasil. kamu tidak akan pernah disebut anak haram.” Bia mengernyitkan kening.” kata Mama pelan. Mama tidak tau bahwa ternyata selama ini dia terus mencari Mama. Aku nggak tau apa aku bisa bicara baik-baik dengannya meskipun semua ini bukan murni kesalahannya. Nggak ada yang harus aku maafin dari Mama. Dia selalu meminta Mama untuk mempertemukan dia dengan kamu. Bia melepas guling di tangannya dan memeluk Mama dengan erat. Tapi bisakah kamu memberinya satu kali kesempatan untuk menjelaskan semuanya padamu?” kata Mama lembut. “Aku nggak tau. . istri dan anaknya telah meninggal dua tahun yang lalu. Kita tidak bisa menyalahkannya.. Mama tau kamu sangat membenci dia. apa dia belum menikah sampai sekarang?” tanya Bia ragu. papamu ingin.” “Kalau begitu apa kamu mau memaafkan Mama? Keegoisan Mama yang membuat kamu tidak pernah mengenal ayah kandungmu. “Tapi sayangnya.. “Tapi katanya dia terus mencari Mama. “Mama nggak salah. itu berarti dia nggak mengharapkan kita lagi. “Mama lagi ngarang cerita apa sih? Rasanya yang Mama ceritakan ini kayak sinetron aja. Mama mengira dia meninggalkan Mama dan tidak mau bertanggung jawab. tapi Mama menolaknya karena Mama tau kamu tidak akan bisa menerimanya begitu saja. Mama sama sekali tidak tau bahwa ternyata pikiran Mama salah.” “Ini bukan karangan. Kalau waktu itu Mama percaya pada ayahmu dan sabar menunggunya kembali.” Mama menangis dan membalas pelukan Bia dengan hangat. Air mata mengalir di pipinya.. Ini kenyataan!” bentak Mama.” “Meninggal?” “Ya. Ma.. Bia diam tanpa tahu harus menjawab apa. apalagi dia telah memiliki karier yang jelas. Bi. Kalau dia menikah. “Selama ini mama tidak mau bercerita tentang ayah kandungmu karena Mama marah dan membencinya. Mama sama sekali nggak salah. bertemu denganmu.” “Dia.” bela Mama. Mama mengikuti perintah Kakek dan Nenek untuk pindah ke Magelang karena Mama ingin melupakan dia dan melahirkan kamu dengan tenang. Sampai akhirnya tiga bulan yang lalu dia tahu dari teman sekolah Mama di mana tempat Mama bekerja. mencari kita berdua. Anaknya sempat koma selama dua minggu sebelum akhirnya meninggal. “Sudah. Dia udah ninggalin aku selama tujuh belas tahun. meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.” “Dia terpaksa menikahi gadis itu karena orangtuanya memaksa.” Bia terkejut. “Bi.” Bia memeluk guling erat-erat.

Sepertinya Mama juga sudah terbangun. Apa yang harus aku lakukan? batinnya. Bia menghela napas. apalagi untuk memaafkannya. Dilihatnya Mama duduk di meja makan sambil memegang gelas berisi air. Masalah kemarin seperti baru saja terjadi.. Lampu di luar kamar menyala. Sekarang matanya terbuka lebar dan enggan menutup kembali. Nggak mudah baginya untuk menerima kembali seorang ayah yang sudah meninggalkannya. Sepertinya Mama nggak tidur semalaman.. Sambil berbaring.BAB TUJUH BIA terjaga dari tidurnya sejak subuh. Kalau di rumah ini ada seorang kepala rumah tangga... Tampak lingkaran hitam di bagian bawah mata Mama. Bia bersandar di dinding sambil terus menatap Mama. lo tau. Mata Mama menerawang. Bia mengintip Mama dari balik dinding. mungkin Mama nggak perlu bekerja lagi. Mama berusaha tegar menghadapi gunjingan para tetangga. Ternyata lampu dapur yang menyala. ditatapnya langit-langit kamar. Bia nggak tahu harus berbuat apa. sebenarnya lo itu sangat beruntung karena masih dikasih kesempatan sama Tuhan untuk bertemu bokap lo dan mempersatukan lagi keluarga lo. Kata-kata Egi kemarin terngiang kembali di telinga Bia. pasti waktu yang sangat berat bagi Mama. Tujuh belas tahun bukan waktu yang singkat. Apa aku harus memaafkan laki-laki itu dan menerimanya kembali? Apa aku bisa melakukan itu? Memanggil laki-laki yang telah meninggalkan aku selama ini sebagai Papa. Kerut-kerut pertanda usia yang terus bertambah mulai tampak di wajah Mama. Ia berjalan keluar dari kamar tidur menuju arah cahaya. Dan Mama terus berusaha menjadi ibu yang baik buat aku. aku akan terus membuat Mama mengalami kepedihan ini. Bia menendang selimutnya dan bangkit dari tempat tidur. “Bia. Tujuh bleas tahun. Mama berjuang seorang diri membesarkan aku. pikir Bia. Tidur pun nggak mampu menghapus beban di hatinya.” . apa aku bisa? Tapi kalau aku nggak bisa. Mama menekan rasas akit dan kecewa karena pengkhianatan Papa Ivan. Penderitaan Mama jauh lebih berat dibandingkan apa yang aku rasakan. Kepalanya terasa penuh dan berat.

aku beruntung masih diberi kesempatan untuk mempersatukan lagi keluargaku. Aku hanya perlu belajar untuk menerima laki-laki itu sebagai ayahku dan memberinya kesempatan untuk membayar utangnya selama ini kepada kami. Bi. Kamu sendiri gimana?” “Nggak begitu nyenyak. tapi aku akan memberinya kesempatan bicara. Bia membalas senyuman itu tapi dia tahu mama berbohong. Bi? Ini kan masih subuh? Bukannya hari ini hari Minggu? Biasanya kalau hari Minggu kamu selalu bangun siang.” Mama meraba bagian bawah matanya sambil tersenyum. Mama tau.” “Ah. ini. Aku mau mendengar penjelasan langsung dari mulutnya. “Kamu sudah bangun.. “Tidur Mama nyenyak?” “Iya. Dia memejamkan mata. “Iya. Kalau begitu.. Bia merasa lebih ringan. Tapi paling nggak lingkaran hitam di mataku nggak sehitam di mata Mama. Jarum jam sudah menunjuk angka 6. Ia bertekad akan membuat Mama bahagia. Ia mondar-mandir di kamarnya kayak setrikaan. Setelah itu baru aku akan mencoba memikirkan apakah aku akan memaafkannya atau nggak.. Bi? Kamu mau bertemu dengan papamu?” “Aku belum mengakuinya sebagai papaku.” “Ya udah.. “Ma. Ditariknya napas dalamdalam sekali lagi.. Mama mengerti.” Bia menarik kursi dan duduk di depan Mama. “Ajak dia makan malam di sini. Dia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Mungkin Egi benar.” Mama terpana.Bia menatap wajah Mama. beban yang memadati pikirannya seakan lenyap begitu saja. Mama terkejut. aku mau ketemu sama laki-laki itu.” kata Bia pelan. @(^-^)@ Sore harinya. utang berbentuk kewajiban dan tanggung jawab mengurus anak istri.” panggil Bia pelan.” Mama mengangguk. aku mau tidur lagi. Lalu dia berjalan mendekati Mama yang masih duduk termangu di meja makan. .” sahut Bia. Bia kembali ke kamarnya dan bersandar di balik pintu sambil berharap semoga keputusannya ini benar-benar tepat. Bia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan.” kata Bia. masa? Tapi Mama tidur nyenyak kok. “Ng. lalu meninggalkan Mama yang masih tersenyum lega. Bia gelisah. Ia membuka mata dan tersenyum. sebentar lagi laki-laki itu tiba. “Ma. Mama sudah menyuruh Oom Frans datang untuk makan malam. Ajaib. “Sungguh.” “Mama sendiri juga sudah bangun. Mama cuma mau ambil air minum. lalu menghitung satu sampai sepuluh.

Ditatapnya jaket hitam milik Egi yan gsudah terlipat rapi di meja belajarnya. Meja makan yang selama ini hanya terdiri atas dua kursi. buat apa aku takut begini? Bia mengacak-acak rambutnya kesal. Ada . Lalu ada suara pintu yang dibuka.” jawab Bia. Tapi sesaat kemudian dia berhenti. kata Bia pada dirinya sendiri. Bia menajamkan pendengarannya. Gi. Waktu pertama kali berkenalan dengan Papa Ivan dulu. Hidungnya nggak mancung tapi juga nggak terlalu pesek. Bia duduk di tempatnya yang biasa. Bia nggak menjawab lagi. @(^-^)@ Oom Frans sudah duduk bersama Mama di meja makan. Dia semakin frustrasi. Sedangkan Bia sejak pagi sampai sekarang masih mengurung diri di kamar. Aku harus menunggu Mama memanggilku keluar. Atmosfer tegang memenuhi ruangan. keringat. “Sebentar lagi aku keluar. hari ini sudah ditambahkan Mama dengan kursi plastik yang diambil dari gudang. Alisnya tebal. Penampilannya rapi dan bersih. “Bi.” sahut Mama lembut. Dia nggak tahu bagaimana caranya menenangkan diri. mungkin sekitar 165 cm. aku nggak boleh keluar duluan.” “Mama tunggu ya. Aku nggak boleh menunjukkan bahwa aku menunggu kedatangannya. Waktu di restoran kemarin Bia nggak sempat memerhatikan wajahnya dengan mendetail karena keburu terbakar emosi. “Kalau sampai hasilnya malah buruk. Lebih tinggi sedikit daripada Mama.” kata Bia sambil menatap jaket itu lekat-lekat. Bia ingat.Bia benar-benar cemas. Bia santai saja. Bia menatap laki-laki yang duduk di hadapannya. Baru kali ini ia merasa secemas ini. Telapak tangan Bia mulai basah karena keringat.” “Aku tau. Suasana terasa berbeda. Kali ini entah kenapa Bia merasa kesulitan mengontrol debar jantung. Laki-laki itu pasti sudah datang. ada apa pada diriku? rutuk Bia. Mama sudah memasak makanan istimewa untuk malam ini. “Gue lakukan ini semua gara-gara elo. Bia bangkit lalu berjalan menuju pintu kamarnya. dan rasa takut yang menyesakkan dadanya. Jantungnya berdegup semakin kencang dan liar. Gila. Rambutnya masih banyak yang hitam. Bia berjalan mendekati jaket itu dan mengambilnya. Bi. Ketukan halus terdengar dari luar. Aku mau ketemu sama papaku sendiri. Terdengar suara deru mobil di depan rumah. Nggak. Oom Frans sudah datang.” Bia meletakkan kembali jaket itu ke meja belajarnya dan berjalan keluar dari kamar. kursi itu sebenarnya kursi yang dipakai Papa Ivan sewaktu Papa Ivan masih menikah dengan Mama. Oom Frans bertubuh tegap. elo orang pertama yang bakal gue damprat.

tapi juga pada Mama!” bentak Bia. “Kabarku?” Bia malah balik bertanya.” “Bukan hanya padaku. “Jaga ucapanmu!” Oom Frans tersenyum. ini Papa. Seitap kali orang menanyakan di mana papaku. Mama menundukkan kepala. tapi nggak bisa melakukan apa pun. aku cuma bisa diam. waktu aku pertama kali belajar berjalan. Oom Frans.” Mama mengawali pembicaraan dengan memperkenalkan laki-laki yang ada di hadapan Bia. Bia diam.” jawab Bia ketus. Wajahnya kelihatan ramah dan lembut. atau kabarku waktu aku masuk rumah sakit gara-gara usus buntu?” “Bia!” tegur Mama. biarkan dia mengeluarkan semua kemarahannya padaku. Aku hanya bisa menangis.. apa Oom tau betapa merananya tidak memiliki ayah?” Oom Frans terdiam. Bagaimanapun aku memang sudah bersalah padanya. “Maaf. Aku harus menahan diri saat aku mendengar mereka menggunjingkan Mama.” “Oom nggak pernah berniat meninggalkan kalian. Kelihatan banget dia berusaha ramah pada Bia. waktu Mama jatuh sakit karena terlalu lelah bekerja?!” Bia meluapkan emosinya. Oom mencintai mamamu dengan tulus. apa Oom tau betapa sedihnya melihat Mama menanggung semua beban rumah tangga. Bia. “Sejak kecil aku harus menahan rasa sedih dan marah setiap kali mendengar orang-orang menghinaku. “Apa kabar. “Kabarku waktu umur berapa yang mau Oom tanyakan? Waktu aku masih bayi. Dan sekarang Oom hanya bisa mengatakan maaf?” “Lalu apa yang harus Oom lakukan untuk menebus semua kesalahan Oom?” tanya Oom Frans pelan. jujur saja. dan Bia tahu Mama sedang menangis. Kalau teman-temanku dengan bangganya menceritakan pekerjaan papanya. Ma. waktu aku pertama kali masuk SD.kumis tipis di atas bibirnya. waktu aku menangis karena jatuh dari sepeda. Bia?” tanya laki-laki itu. aku cuma bisa menghindar supaya mereka nggak menanyakannya padaku. “Maaf?” tanya Bia. “Oom ke mana aja waktu Mama melahirkanku..” kata Oom Frans lirih. Oom . “Jelaskan padaku alasan Oom meninggalkan kami. Senyum di bibirnya lenyap. Nggak kayak bapaknya Cha-Cha yang tampangnya rada sangar. “Apa Oom tau betapa sakitnya diejek sebagai anak haram. “Nggak apa-apa. “Aku udah tau namanya kok. “Apa kata maaf bisa menghilangan semua penderitaan yang aku dan Mama alami selama ini? Apa satu kata maaf bisa membuat masa kecilku yang menyedihkan menjadi lebih baik?” Oom Frans nggak menjawab. “Bia. Matanya menatap laki-laki di depannya itu. Sewaktu Oom mengetahui kehamilan mamamu. eh.

“Sudah. Kami masih terlalu muda. waktu itu Oom sama sekali tidak mengetahui keberadaan kalian dan Oom terpaksa menuruti keinginan mereka. biarkan Bia menumpahkan kemarahannya. Tapi akhirnya Oom memutuskan untuk kembali ke Pekanbaru dan bicara dengan orangtua Oom. Aku nggak mau tetangga menyebarkan gosip nggak enak tentang Mama.. bagaimana perasaan Mama? Bia jelas tahu. Bia terdiam lagi. Anggap saja itu ganjaran dari Tuhan. dengan apa Oom akan membayar semua penderitaan aku dan Mama selama ini?” “Oom akan membayar dengan seluruh sisa hidup Oom. Dan sebaiknya Oom jangan terlalu lama di rumah ini. Ma. “Tidak. Tapi tak lama kemudian. Oom takut keluarga Oom tidak bisa menerima semua ini. tapi tidak dapat menemukan kalian. dia juga telah menyesali semua kesalahannya. Oom bingung dengan apa akan menghidupi kalian kelak. Apa Bia juga harus seperti Mama? “Makanannya udah dingin. ia melontarkan pertanyaan lagi pada Oom Frans.. “Dan setelah itu Oom menyerah dan berhenti mencari?” tanya Bia ketus.” Melihat Bia semakin emosi dan Oom Frans semakin terdesak. “Lebih baik kita makan karena aku udah lapar. Pantaskah laki-laki ini menerima maaf darinya? Tapi kalau dia nggak memaafkannya. tanpa pamit pada mamamu. Bia terdiam sejenak. “Bia.” jawab Oom Frans. Oom tidak mungkin terus sendirian karena orangtua Oom sangat menginginkan seorang cucu. Ditatapnya laki-laki di depannya.sempat merasa ragu.!” “Bi.” ujar Oom Frans pada mama Bia. “Terus. Oom belum punya pekerjaan yang jelas.” “Lalu kenapa Oom menikah dengan orang lain?” “Oom terpaksa..” kata Bia akhirnya. “Saat Oom kembali ke Jakarta. Maya.” . Oom terus mencari kalian sampai akhirnya Oom mendapat kabar tentang pabrik tempat mamamu bekerja. mama Bia menyela. Apa kamu tidak bisa memaafkannya?” “Biar saja. Mungkin itu yang membuat mamamu salah paham dan mengira Oom tidak mau bertanggung jawab. nikahi Mama dulu secara resmi.” “Aku kan cucu mereka. mamamu sudah pergi.” “Dan kalian hidup bahagia sementara aku dan Mama berjuang menahan derita. Oom sudah berusaha mencari.” jawab Oom Frans dengan tegas dan tanpa ragu. jangan terus menyudutkan Oom Frans. Kalau memang Oom mau tinggal di rumah ini. Dia telah kehilangan anak dan istrinya. Mama telah memaafkan Oom Frans dan mau menerimanya kembali. Kebimbangan menyelimuti dirinya...” Mama berkata memelas. Aku terima.” lanjut Oom Frans.” “Bia.

“Kemarin. Mendengar pertanyaan Cha-Cha. Dipercepatnya langkah kakinya mengikuti Cha-Cha.. “Bia. Ia berusaha mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Bia... gue mau bilang sori nih.. bokap kandung gue. Bia memang belum benar-benar memaafkannya. Sesaat kemudian dia pun mengerti. . ng..” kata Bia. oh ya.. “Cerita dong. Yuki dan Cha-Cha langsung berlari ke arahnya. Bia mau menerima Oom Frans sebagai bagian dari keluarga mereka.” “Nah itu yang mau kami tanyain.Oom Frans nggak menjawab. ada apa sih kemarin?” tanya Cha-Cha.. Air mata haru mengalir dari sudut matanya. Yuki berjalan di sebelahnya dengan tersenyum. Asli. Yuki kembali memelototi Cha-Cha. Mereka udah pengin banget mendengarkan cerita Bia tentang kejadian Sabtu kemarin. “Laki-laki itu ternyata. Cha-Cha membekap mulutnya dengan kedua telapak tangn. Mama juga tersenyum. Bagi mama Bia. “Tapi sekarang masalah gue udah selesai kok. Tapi dia menurut juga.” “So what?” tanya Cha-Cha heran. itu sudah merupakan hal yang sangat membahagiakannya. “Ada apa sih?” tanya Bia. Masalah apa sih?” tanya Yuki. Bia heran banget melihat tingkah dua sobatnya. Bia mulai mengerti kenapa sobat-sobatnya ini menunggunya di depan koridor. “Apaan sih?” tanya Bia heran. tapi Bia bersedia memberinya kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan yang telah dia lakukan. Cha-Cha membantu Bia melepas tasnya lalu menekan pundak Bia agar segera duduk. Yuki langsung memelototi Cha-Cha dan menyuruhnya diam. Cha-Cha dan Yuki menunggu Bia di depan kelas. ayo buruan jalannya!” seru Cha-Cha langsung menarik tangan Bia menuju kelas. Bi!” “Mmm. “Mestinya kami yang nanya. Oom Frans hanya diam dan memandang Bia sambil menyunggingkan senyum kelegaan. Begitu Bia muncul dari ujung koridor. Gue udah nyusahin kalian berdua... tapi paling nggak. kemarin gue ngeliat nyokap gue makan berdua sama laki-laki yang nggak gue kenal. Sesampainya di kelas.. @(^-^)@ Esok harinya.” “HAH?!” seru Cha-Cha kaget tanpa bisa menahan diri. Itu sudah lebih dari cukup. soal kemarin. Meskipun Bia belum bersedia mengakui Oom Frans sebagai ayahnya.

Bia mengangguk.. tiba-tiba muncul di depan gue dan bermesraan dengan nyokap gue. Memangnya kenapa?” “Kata-kata lo tadi itu loh! Ajaib. “Kata-kata gue yang mana?” . Laki-laki itu. Gue cuma nggak mau menyia-nyiakan keberuntungan gue itu. “Jujur aja. dan nanti seiring berjalannya waktu.” “Jadi kemarin itu lo ribut sama nyokap lo?” tanya Yuki pelan. laki-laki itu mungkin bisa membahagiakan nyokap gue. Dia membuat gue nggak punya ayah dari kecil agar gue tumbuh jadi perempuan yang tegar dan kuat. gue belum bisa memaafkan dia. nyokap gue nggak perlu bekerja keras untuk membiayai hidup gue. “Gue tau nyokap gue udah memaafkan dan bersedia menerima Oom Frans kembali. Gue pengin ngeliat nyokap gue bahagia.” jawab Bia.” “Elo melakukan semua ini untuk nyokap lo.” “Trus sekarang gimana?” tanya Yuki lagi. namanya Oom Frans. karena itu juga lo ninggalin kami beruda di mal?” Bia kembali mengangguk sambil menjawab.. Bi?” tanya Cha-Cha. Gue benar-benar marah dan nggak tau harus bagaimana.. Dan gue juga udah bicara dengan laki-laki itu. Dia bisa istirahat dan menikmati hidup. elo nggak mau menerima dia?” tanya Yuki. “Makan apa?” Bia malah balik bertanya dengan heran. “Bia mengangguk. Dia mengembalikan sosok ayah itu lagi ke gue. Gue rasa ini semua bagian dari rencana Tuhan. “Ada yang bilang ke gue bahwa gue tuh sebenarnya beruntung karena dikasih kesempatan untuk mempersatukan keluarga gue kembali. sebenarnya dia nggak bermaksud ninggalin gue dan nyokap gue. Saat itu gue cuma pengin sendiri dulu sehingga gue ninggalin kalian begitu aja. dan bikin elo nggak seperti Bia yang biasanya. dan selama ini nyokap gue menutupiya dari gue. Kalau mereka bersatu lagi. Tapi kesalahpahaman yang terjadi antara dia dan nyokap gue membuat semuanya jadi begini. “Gue benar-benar marah dan kaget. Maaf ya.” jawab Cha-Cha.. “Lo makan apa semalem. setelah tujuh belas tahun ninggalin gue dan Nyokap. “Gue nggak makan apaapa.“Nyokap gue udah cukup lama berhubungan lagi dengan dia. Mungkin aja Dia pengin gue belajar memaafkan. Dia cerita. Dia minta maaf sama gue meskipun nggak semudah itu bagi gue untuk bisa memaafkannya. gue bisa memaafkan Oom Frans dan menerimanya dengan tulus. Who knows. saat gue dirasaNya udah cukup kuat dan tegar. “Jadi. Bi?” tanya Cha-Cha. Dan sekarang. “Tapi gue tau. Dan Dia pasti punya rencana tersendiri di balik semua kejadian ini.” “Jadi.” Yuki dan Cha-Cha menatap Bia heran. Nyokap takut gue nggak mau menerima kehadiran laki-laki itu.

Jantungnya berdebar cepat. Lo pantang bergantung pada orang lain apalagi pada makhluk adam. Dia pengin ngucapin terima kasih sekaligus mengembalikan jaket Egi.” lagi-lagi Teddy menjawabnya dengan ketus. “Eh. Lo tau di mana dia?” “Dia nggak masuk hari ini. Dia menundukkan kepalanya. Bia celingak-celinguk mencari sosok Egi. Loe merasa yakin elo pasti bisa membahagiakan nyokap lo tanpa bantuan dan kehadiran orang lain. “Sakit. Sesaat bayangan Egi melintas di matanya. Sesampainya di depan pintu kelas Egi. Setelah berhasil mencari-cari alasan untuk pisah dari Yuki dan Cha-Cha. “Gue Teddy. Mana sebentar lagi bel masuk berbunyi. apalagi kalau dia menanyakan Egi.. Kalau ketahuan Bia yang nyari Egi. memang nggak semua laki-laki sejahat yang gue kira. Bia kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar koridor kelas satu. elo sangat membenci bokap kandung lo. Lalu ia berkata lirih.” “Siapa sih lo?” tanya Bia keki. Anak-anak kan udah tahu bahwa Egi ngejar-ngejar Bia.“Kata-kata lo tentang rencana Tuhan. ya? Bia melihat ke sekelilingnya. iya. “Mungkin. “Lo ada masalah apa sih sama gue. Tujuannya udah jelas.” “Sakit?” tanya Bia lagi. Jelas Bia kesal diketusin Teddy. atau di lapangan? Atau di WC. “Cari Egi. temen dekatnya Egi. Tapi sekarang. Mau nanya tapi nggak enak. “Sakit apa?” “Mana gue tau.” @(^-^)@ Bia melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah menuju area kelas satu. ya?” tanya seorang cowok tiba-tiba.” jawab Yuki. Ini benar-benar ajaib. mau mencari Egi. bisa-bisa muncul gosip baru. Sekarang aja udah banyak yang merhatiin dia.. sampai nada suara lo jutek begitu?” . Tapi lagi-lagi hasilnya nihil. Bia bergegas menuju kelas 1 D. “Selama ini yang kami tau.” jawab cowok itu ketus. Bia jadi bingung sendiri.. Bi.. elo malah menerima kehadirannya dan berkata seakan lo mau belajar untuk memaafkannya. membuat Bia terlonjak kaget. siapa tahu Egi lagi ngobrol sama teman-temannya di luar kelas. Dan gue tau. Apa yang bisa bikin elo berubah seperti ini dalam semalam?” Wajah Bia bersemu merah. bikin kesal aja.. Nihil. elo bukan orang yang bijak menilai cinta dan kehidupan.. Lagian nih cowok sok galak gitu. Nggak ada Egi di ruang kelas itu. Prinsip hidup lo tuh „lo nggak tubuh orang lain‟. Atau jangan-jangan Egi lagi ke kantin? Mmm.

Bia berjalan menuju kelas Teddy. sedang berjalan ke arahnya. “Ngapain lo ketawa?” “Gue pantang ribut sama cewek. Udara dingin dan air hujan pasti membuatnya demam dan masuk angin. jadi gue mau ke WC anak kelas satu aja. itu.” ejek Teddy lalu berjalan masuk ke kelasnya. “Bia!” panggil seseorang dari arah belakangnya. Banyak cewek yang suka sama dia.” “Heh.. Siapa tau sepi. “Mmm. tapi nggak jadi begitu dilihatnya Pak Handi.. ya?” tawar Cha-Cha. jadi dia pasti tahu di mana rumah Egi.. elo. cewek yang kasar dan sok jual mahal. apa maksud lo?” “Yah. Akhirnya dia putuskan untuk menahan gengsinya. Ada perasaan nggak enak dalam dirinya.” “Cewek kayak gue. Bagaimanapun Teddy kan teman dekat Egi. mau ke WC. . Gue cuma kasian sama Egi.” Bia berbohong. apa maksud lo?!” Bia mulai emosi. Bia hanya bisa menggeram marah lalu berjalan kembali menuju kelasnya sendiri.. Perasaan Bia makin nggak enak. Eh.” “Gue temenin. Gue udah kebelet banget. guru kimia kelas satu.. Cha.” “Heh.. “Kok ke arah sini?” tanya Cha-Cha heran. “WC kan di ujung sana. “Egi itu bego..” “WC di sana penuh.“Nggak ada. “Eh. Dia nggak mau Cha-Cha atau siapa pun juga tahu bahwa ia ingin mencari alamat rumah Egi.. Apa iya Egi sakit? Jangan-jangan Egi sakit karena kehujanan sewaktu menemaninya di jembatan hari itu. kakak kelasku yang manis. Bia udah pengin menjambak rambut cowok itu. Teddy malah menanggapi Bia dengan tawa. “Sana balik ke kelas lo. @(^-^)@ Hari ini Egi nggak masuk lagi. Jatuh cinta kok sama cewek kayak elo.” “Brengsek! Lo pikir lo siapa bisa ngatain gue kayak gitu!” maki Bia.. denger ya..” Dering bel menahan gerakan Bia yang udah siap-siap melayangkan tinjunya ke muka Teddy. dia malah ngejar-ngejar cewek kayak elo. tapi dia tolak. dan menemui Teddy untuk menanyakan alamat rumah Egi... Bia membalikkan badannya. menurunkan emosinya. Ada apa?” “Lo mau ke mana?” tanya Cha-Cha. Bia nggak sengaja mendengar hal itu dari cewekcewek kelas satu yang lagi pada ngerumpi di WC.

gue nggak peduli sama penilaian lo tentang gue. Gue ke kelas duluan ya.” “Yah. “Jago juga si Egi.” “Tapi. Nggak apa-apa kok. Nih cowok asli keras kepala banget. Gue ada urusan penting.” Bia mengulangi kata-katanya.” “Yuki nggak bisa.” Bia terdiam. gue mau minta alamat rumah Egi. Dari jauh Bia meliaht cowok itu berdiri di depan ruang kelasnya. “Minta tolong? Sama gue?” “Iya. Bia mempercepat langkahnya mendekati Teddy. nggak usah!” Bia buru-buru menjawab..” pinta Bia.. Gue cuma minta tolong lo catatin alamat rumah Egi buat gue.. Kan nggak enak kalau ditungguin.” “Nggak ada untungnya juga gue ngasih tau alamat Egi ke elo. gue mau minta tolong sama elo. walaupun sedikit kecewa. sori banget.. “Untuk sekali ini aja. Hari ini gue benar-benar nggak bisa.” Bia mengangguk lalu kembali berjalan menuju kelas Teddy. Bia sampai kesal melihatnya. “Sana cepat ke WC. “Ooo..” “Tammy?” “Tammy juga nggak bisa. Teddy menoleh ke arah Bia.” kata Bia.” ujar Bia to the point. ya udahlah.. dia ada janji sama Maxi.” “Buat apa?” “Itu urusan gue.. tapi pulang sekolah lo bisa nemenin gue nggak.” kata Cha-Cha. “Lo coba ajak Yuki aja. kayaknya kalau hari ini gue juga nggak bisa. tapi dia berusaha menahan diri. Gue mau cari buku Da Vinci Code. Katanya dia mau jenguk tantenya yang sakit. Bia dongkol banget mendengarnya. Itu aja.“Nggak. Eh. “Ted. Bi?” “Ke mana?” “Ke toko buku sebentar. Tapi kali ini aja gue mohon. ya udah.” Cha-Cha tersenyum geli.. Akhirnya dia berhasil nundukin hati cewek jutek ini.” “Lo pikir gue bakal mau ngasih tau?” “Nggak ada untungnya lo ngerahasiain alamat Egi dari gue.. “Terserah lo mau ngomong apa. Bentar lagi udah bel.” Teddy menatap Bia sejenak lalu tertawa terbahak-bahak. Cha.” “Mmm.” ujar Teddy di sela tawanya.. “Ted. “Gue pengin buang air besar. Bia benar-benar heran kenapa Egi mau berteman sama orang model gini. Pengin banget rasanya dia melayangkan bogem mentah ke muka Teddy. tolong kasih tau alamat rumah Egi. Cha. Lo bisa kasih tau alamat Egi sekarang?” . “Mau apa lagi lo?” “Gue mau minta tolong.

“Apa benar ini rumah Egi?” tanya Bia sopan. Non?” tanya sopir taksi ramah. Dia langsung buru-buru membukakan pintu dan mempersilakan Bia masuk. Tapi Den Egi diam aja. Dia kan belum tahu daerah sini. takutnya nanti malah susah dapat kendaraan buat pulang. Tuan sama Nyonya sampai marah-marah.“Taman Asri Indah Blok HA nomor 28. Bia mengangguk lalu turun dari taksi. “Mau ditungguin nggak. “Egi sakit apa sih.” jawab Teddy akhirnya. sambil menunjuk warung yang berada nggak jauh dari rumah Egi. Bia mencatat alamat itu baik-baik di otaknya. “Udah dua hari. Nama saya Surti. Waktu itu Den Egi pulang malammalam dalam keadaan basah kuyup. Mbak siapa?” “Oh.” jawab perempuan itu sopan. “Boleh deh. Bia mengeluarkan uang dan memberikannya pada si sopir taksi. Dasar cowok brengsek! @(^-^)@ Taksi berhenti tepat di depan sebuah rumah yang lumayan besar. masih nggak enak badan. saya Bia. Dua kali Bia menekan bel yang ada di sisi kiri pagar..” “Oke deh. nggak mau jawab. Eh tau-tau besoknya badan Den Egi panas gitu. lalu kembali tertawa. “Ooh. sampai akhirnya seorang perempuan keluar dari dalam rumah dan mendekatinya. “Cari siapa ya. Dia benar-benar berharap mulut Teddy robek gara-gara kebanyakan ketawa.. Surti tersenyum senang menyambut uluran tangan Bia. Lagi pula dia nggak berniat berlama-lama di rumah Egi.” ujar Bia sok ramah sambil mengulurkan tangan. Non. saya mah cuma pembantu di sini.. Bia berpikir sejenak. Mbak?” sapa perempuan itu. “Demam. Rumah Egi ini didominasi warna cokelat bata yang memberi kesan natural. Mbak?” tanya Bia.. Bang. Kini ia berdiri di depan pagar tinggi yang membentengi rumah bergaya Mediterania itu.” “Eh.” . Bia mengikuti langkah Surti masuk ke rumah yang bagian dalamnya tampak jauh lebih megah. Den Egi-nya lagi di kamar. cari Den Egi.” kata si sopir taksi senang. tapi simpel. Boleh juga tuh. Saya tunggu di warung situ ya. Ada kok.” jawab Surti. klasik. “Kalau boleh tau. Bia masuk melewati pagar sambil bertanya. lalu tanpa mengucapkan terima kasih Bia berlalu dari hadapan Teddy. Teman sekolah Egi.

sambil menyuapi makanan ke mulut cowok itu. Siapa pun yang melihat mereka saat ini pasti merasa mereka adalah sepasang kekasih. Sur?” seseorang bertanya dari arah belakang Bia. Wajahnya sama sekali nggak mirip sama wajah Egi yang lebih berkesan oriental. Bia ngedumel dalam hati.” Syukurlah.” kata mama Egi ramah. Sesosok perempuan setengah baya berjalan menuruni anak tangga.. Bia jadi merasa bersalah. bisa benar-benar ribut gue sama dia. “ini temannya Den Egi. Bia hanya tersenyum.” Bia menoleh ke arah Surti. di dekat kolam ikan... “Iya. Saya permisi dulu ya.” Bia mengucapkan salam dengan sopan. temannya Egi ya?” tanya mama Egi sambil menuruni sisa anak tangga dan berjalan mendekati Bia. Setelah melewati ruang makan. beda banget sama mamanya. Rambut panjangnya yang ikal dan cokelat dibiarkan tergerai. Nyonya? Berarti itu mamanya Egi! “Siang. Kalau dia sampai macam-macam lagi. Kulit Egi putih dan matanya agak sipit. Kebetulan di sana juga lagi ada temannya Egi. Bia membuka pintu kaca yang mengarah ke taman. Kulitnya yang agak gelap tapi bersih dan mulus dibalut blazer hitam. Panasnya udah turun. “Siapa yang datang. Mugkin memang benar bahwa Egi anak angkat. “Nah.” “Oh. Mungkin kamu kenal. Mereka berdua tertawa renyah. ada Tammy yang duduk di samping Egi. Bia mau jenguk Egi ya? Eginya masih nggak enak badan. Egi sakit gara-gara menemaninya hujan-hujanan. Bia dan Surti sama-sama membalikkan badan... Bia mengangguk lalu buru-buru berjalan menuju taman belakang.. Tante. Diam-diam ia mengamati wajah perempuan setengah baya yang berdiri di hadapannya itu.” pamit Bia sebelum berjalan menuju arah yang ditunjukkan mama Egi.. tapi sama Nyonya belum boleh sekolah dulu. Bia mendesah lega. Pemandangan yang dilihatnya membuat darahnya bergolak hebat. Tante pergi dulu ya. “Nyonya.” Temannya? Jangan-jangan Teddy lagi! Yieks! Mampus gue kalau sampai ketemu Teddy di sini.” “Iya.. nama saya Bia. Tante. Saat itulah Bia berhenti.” ujar Surti.Jadi benar dugaan Bia. . Tante.. Di taman itu. Silakan aja langsung ke belakang. “Sekarang keadaannya gimana?” “Udah lebih baik sih. “Oh. makanya Tante belum mengizinkannya masuk sekolah. “Kalau begitu kamu langsung ke taman belakang aja.

jangan emosi dulu. Apa kalian ada yang peduli sama gue? Belakangan ini. penipu!” “Lo kenapa sih. gimana perasaan gue. Lagian. Bi. saat ini Bia benar-benar kecewa.. marah... Biar gue jelasin.. Tam? Jadi ini yang bikin elo nggak punya waktu lagi buat ngumpul sama teman-teman lo sendiri? Sejak kapan Egi jadi tante lo yang perlu lo jenguk hari ini karena sakit? Sejak kapan lo jadi pembohong?” cecar Bia. Kalau sekarang gue dekat sama Egi. Bibirnya yang kering dan wajahnya yang pucat terlihat jelas. “Jadi ini yang selama ini lo sembunyiin dari gue. Bi? Apa salah gue? Apa urusan lo sama hubungan gue dan Egi? Bukannya lo sendiri pernah bilang kalo lo nggak suka sama Egi? Jadi kalaupun gue mau pedekate sama Egi... “Lo bohong dan lo masih nanya apa kesalahan lo?” “Gue memang selalu ngarang alasan bohong sama kalian. Kalian nggak pernah peduli sama gue lagi. Kalian nggak pernah sekali pun nanyain tentang gue. “Gue benar-benar nggak nyangka lo bisa sejahat ini. “Lo sama brengseknya. “Lo pikir gue percaya? Lo benar-benar brengsek. Tapi setelah melihat ini semua.. “Bia. “Jadi ini ceritanya?” tanya Bia ketus. Gue sama sekali nggak bermaksud.. Darahnya mendidih dan emosinya meluap.. yang diomongin cuma tentang Bia dan Egi. Tammy bangkit dari duduknya dan buru-buru mendekati Bia. Selama ini gue percaya sama alasan-alasan yang lo ucapkan..” Egi berusaha membela diri. setiap kalian ngobrol.” Egi yang berusaha berdiri menenangkan Bia. otaknya terasa terbakar. “Bia. “Sori. Bia dan Egi. apa peduli kalian! Kalian cuma ngurusin masalah dan perasaan kalian. Jantung Bia berdetak kencang.. Tapi sayang.. Gue sama Tammy nggak ada hubungan apa-apa.” Egi dan Tammy terkejut.. ini nggak seperti yang elo sangka. Tam. dan sakit hati. Gi! Lo berdua pembohong. Bia nggak bisa menahan diri lebih lama lagi. apa .Egi yang memakai sweter abu-abu bahkan sesekali mengambil sendok dari tangan Tammy dan berpura-pura hendak menyuapi Tammy yang buru-buru menghindar sambil tertawa. ini hak gue dan lo nggak berhak marah-marah atau ngelarang gue dong!” Tammy balik membentak Bia. gue nggak akan pernah percaya sama elo lagi! Nggak akan pernah!” “Bi. dan gue punya alasan untuk itu. Mereka baru menyadari kehadiran Bia di taman itu. Gi! Kata-kata lo di jembatan itu semuanya cuma omong kosong! Lo sama aja kayak laki-laki brengsek lainnya! Lo benar-benar busuk! Gue benci sama elo!” maki Bia kesal. sehingga dia nggak peduli kalau lawan bicaranya itu masih sakit.” “Nggak bermaksud bohongin gue? Begitu?” bentak Bia. gimana keadaan di rumah gue..

“Kalo lo nggak cerita. Lo salah! Semua orang cuma kasihan sama masa lalu lo! Bagi mereka. Tammy menatap wajah Egi yang pucat. dan tanpa dia sadari tangannya bergerak membelai rambut Egi dengan penuh kasih sayang. “Tam.gue salah? Apa mentang-mentang Egi suka sama elo jadi gue nggak berhak dekat sama Egi?!” seru Tammy. Mulai hari ini anggap aja kita nggak pernah saling mengenal atau bersahabat. mana ada yang bisa ngerti perasaan lo!” balas Bia. tapi baru setengah jalan. Dia sama sekali nggak nyangka Egi bakal bersikap seketus itu padanya. Tammy yang melihatnya buru-buru menangkap tubuh Egi dan membantunya berjalan menuju kursi.” Bia lalu berbalik dan berlari meninggalkan taman itu. “Jadi itu pandangan lo tentang gue selama ini. Bia tak bicara. Bi! Lo selalu mau menang sendiri! Lo pikir semua orang bisa nerima sifat lo itu. Tammy terpana. “Lo memang egois. Egi berpegangan erat pada pintu kaca yang ada di sampingnya untuk menahan tubuhnya. lo tuh cuma cewek penakut yang sok jago!” “Cukup!” bentak Egi tiba-tiba. Tammy terdiam.” ancam Egi. mendadak penglihatannya berkunang-kunang. Egi berusaha mengejar. . “Oke! Semua cukup sampai di sini. gue nggak akan maafin eo. Dia nggak bisa menyembunyikan rasa cemas di wajahnya. Tam?” Bia berkata pelan. sekali lagi lo bicara macam-macam tentang Bia.

” sahut Bia. tapi ke Tammy. lo kenapa sih?” tanya Yuki kesal. Yuki. “Kalian juga nggak percaya. Ini pasti cuma salah paham. “Bi. dia sih udah bilang oke. gue nggak ikutan. menghabiskan sisa jam istirahat mereka. Yuki dan Cha-Cha yang nggak mengerti apa yang telah terjadi hanya berusaha menempatkan diri sebagai sahabat yang baik buat Bia maupun Tammy yang enggan bertegur sapa. “Kalian berdua kayak anak kecil. tau! Kalau memang ada masalah. “Lo tanyain ke dia apa selama tiga tahun ini dia berteman dengan gue karena kasihan dengan masa lalu gue.” “Siapa yang bilang gitu?” tanya Cha-Cha.. “Iya.BAB DELAPAN DUA minggu telah berlalu. “Kalau ada Tammy. Cha-Cha nggak mau bohong lagi sama Bia. tapi dia yang bermasalah.” “Bi. . Sampai hari ini Bia selalu menghindar dari Tammy dan Egi. ya dibicarain dong. “Kita udah temenan selama tiga tahun. “Tammy ikut?” tanya Bia to the point. Sebentar lagi kita bakal lulus SMA dan pisah. Apa lo mau kita terus-terusan seperti ini? Apa persahabatan kita berempat sama sekali nggak ada artinya buat elo?” “Lo jangan bicara seperti ini ke gue.” jawab Bia.” jawab Cha-Cha jujur. jangan bersikap seperti ini!” “Gue nggak ada masalah. “Jangan sebut-sebut nama bajingan itu di depan gue!” bentak Bia. “Gue udah bilang sama kalian..” kata Bia. kan?” “Bi. Yuki dan Cha-Cha terdiam. Mereka berharap dengan begitu masalah di antara Bia dan Tammy bisa selesai. gue nggak mau bicara lagi sama dia. “Lo pasti salah dengar. tapi nyatanya keduanya malah marah besar dan pergi begitu aja tanpa bicara. Waktu itu dia dan Yuki udah pernah bohong dan berusaha mempertemukan Bia dengan Tammy. Bia. tapi apa masalahnya?” tanya Yuki lagi. apa masalah lo dengan Tammy ada hubungannya dengan Egi?” tanya Yuki. dan Cha-Cha duduk di kelas.” Bia tertawa. “Mmm. besok mau ikut belajar bersama di rumah gue nggak?” tanya Cha-Cha.

brengsek!” seru Bia. kan?” Bia tertawa mengejek. Disambarnya handuk yang tergantung di belakang pintu kamar. nanyain tentang masa kecil gue. “Bia!” Bia menoleh. apa kelebihan lo yang bisa bikin gue cemburu gara-gara elo?” “Jangan menipu diri sendiri. ada yang memanggilnya dari arah belakang. ngobrol sama gue. . “Bia. “Dasar cowok nggak punya malu. Cemburu gara-gara elo cuma buang-buang tenaga. “Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri. “Lepasin. “Akui aja kalau elo memang udah jatuh cinta sama gue dan elo cemburu karena gue dekat sama Tammy. Bia melempar selimut yang menutup tubuhnya. lalu bergegas menuju kamar mandi buat siapsiap ke sekolah. dan lo bilang elo nggak ada hubungan apa-apa sama dia? Lo pikir gue percaya sama kata-kata lo itu?” Bia membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Egi. Iya. tunggu!” Egi menahan tangan Bia. tapi begitu melihat sosok orang yang memanggilnya.” “Lo pikir gue percaya sama elo?” tanya Bia ketus. Bia membawa rasnelnya menuju ruang makan.” Bia bangkit dari duduknya dan keluar kelas menyusuri koridor menuju WC. nelepon gue. “Gue sama Tammy nggak ada hubungan apa-apa. Dia memang baik sama gue. nggak pernah lebih. “Gue nggak kenal sama lo. jadi jangan panggilpanggil nama gue seenak jidat lo!” “Bi. Gue nggak bermaksud ngebentak elo. Saat Bia berjalan sendirian. “Lo cemburu. Bi.” mohon Egi. tapi cuma sebatas itu.” kata Bia. Selesai mandi. dia langsung buang muka dan kembali berjalan. Belakangan ini dia sering ke rumah gue. Pikir pakai otak.” kata Egi sambil tetap tersenyum. @(^-^)@ Satu hari lagi telah berlalu. gimana mesranya elo sama dia. nyesel karena nggak bisa menahan emosinya. “Bia!” panggil Egi. menatap Egi yang tersenyum di hadapannya. Mama sudah menunggu dengan segelas kopi panas. Yu. “Gue ke WC dulu ya. Gue nggak punya perasaan khusus sama dia. “Lebih baik gue jatuh cinta sama monyet daripada sama elo!” Bia membalikkan badannya dan berjalan cepat tanpa memedulikan Egi yang memanggil namanya berulang kali. ya?” Bia berhenti dan membalikkan badannya. kasih gue kesempatan untuk ngejelasin semuanya.“Sori.

” “Ih. Sesaat kemudian ia menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Dia menghabiskan rotinya lalu meneguk susu cokelat di hadapannya tanpa sisa.” Bia menurut. Mama juga tidak tau. Mama. “Papamu udah kangen sama kamu. Sejak makan malam waktu itu. “Pagi. Ma. Sayang. kamu kan bisa menyempatkan diri untuk sekadar menyapa papamu sebentar. yang namanya mosnter ya tetap aja nakutin.” “Ma.” “Monsternya cowok atau cewek?” “Mana aku tau. Kegagalan bukan berarti kita berhenti untuk berusaha. jangan bicarakan itu lagi.. Setiap dia datang. Tapi Mama belajar percaya dan pasrah.” sahut Mama. Ma. kan?” “Kenapa Mama mau memaafkan dia?” “Entahlah. “Terserah. Habiskan sarapanmu. nanti malam papamu mau makan malam bersama di sini. Dia ngejarngejar aku sambil bawa bunga. kan?” tanya Mama. “apa Mama nggak takut kalau ternyata dia nggak sebaik yang Mama kira? Apa Mama nggak takut kalau suatu hari nanti dia ninggalin kita lagi? Apa Mama nggak takut kalau nanti dia selingkuh kayak Oom Ivan?” Mama diam.” “Aku tuh lagi banyak tugas dan ujian.. Tapi paling tidak. “Aku mimpi ketemu monster serem. tapi makhluk itu sama sekali nggak mau berhenti ngejar aku.” Mama kembali tertawa. Bi?” tanya Mama. “Gimana tidur kamu semalam?” “Mimpi buruk. “Memangnya aku sempat wawancara sama tu monster? Mama nih ada-ada aja.” jawab Bia. “Untung monsternya bawa bunga. mau bawa cokelat kek. “Bi.” jawab Bia.” sapa Bia. Aku kabur sampai-sampai aku kecebur got. Mau bawa bunga kek.“Pagi. Bia mengambil setangkup roti tawar yang sudah diolesi selai kacagn oleh Mama dan melahapnya. “Kadang-kadang rasa takut itu muncul. Mungkin karena dia ayah kandungmu. itu tandanya monsternya baik hati. Kasihan kan dia. lalu cepat berangkat sekolah. Dua bulan lagi kan aku udah mau ujian akhir. .. kamu nggak pernah bicara lagi sama dia. Ia berkata. Bi.” kata Bia menghentikan kegiatan makannya. Mama tidak ingin kecewa dan sakit hati lagi... “Sudahlah. kamu ngumpet di dalam kamar.” “Lalu kapan Mama mau menikah dengannya?” Mama tertawa.” “Mama ngerti.” Mama tertawa. jujur sama aku.” “Kok terserah sih. Boleh.

“Ma. Ranselnya masih nangkring dengan manis di punggungnya. Mama ikut berdiri dan mengantar putri semata wayangnya itu ke depan.“Ya udah. aku tau. Pemandangan di depannya membuat mulutnya terbuka lebar karena terkejut. Ma. Ma. Kata-kata di spanduk itu membuat dia tahu siapa pelakunya. Aku berangkat dulu ya.” pamit Bia. Lalu Bia menggulung dan menjejalkannya ke dalam tas ranselnya. Aku nggak mau saat aku pulang nanti bunga-bunga ini masih ada di halaman. “Jangan pulang terlalu sore. Ada seseorang yang harus dia temui sekarang juga. berisi beraneka mawar. Namun sesaat kemudian langkahnya terhenti.” “Makasih. Pemandangan yang terhampar di hadapannya merupakan jawaban yang membuat Mama terpesona. Ma. Mama akhirnya mengangguk pasrah. Di depan pagar rumah mereka. Aku berangkat dulu ya. “Ini benar-benar luar biasa. Bia mencopot spanduk yang ternyata nggak terikat kuat di pagar. keras.” “Tolong. Tapi Bia memilih bungkam. Bi. Bia langsung memanggilnya.” pamit Bia sambil menyambar tas ransel di sebelahnya lalu bangkit dan bergegas keluar.” mohon Bia. ya!” pesan Mama sambil membukakan pintu buat Bia. I‟M SORRY!” “Siapa yang melakukan ini semua?” tanya Mama heran sekaligus takjub. Matanya menatap spanduk yang terikat di pagar rumahnya. “Iya.” Bia nggak menjawab. Dalam sekali tarikan. “Iya.” jawab Bia lalu segera keluar dari rumah. “Ada apa sih. dan spanduk bertulisan: ”BIA. “Kalau perlu dibakar aja. Mata bia mencari sosok Egi di dalam kelas yang udah lumayan ramai pagi itu. tapi gulungan spanduk udah pindah ke dalam genggaman tangannya.” “Tapi.” pinta Bia. Mama Bia yang heran melihat tingkah putrinya segera mendekati Bia sambil bertanya. Bi?” Tapi pertanyaan mama nggak perlu Bia jawab. Dia berjalan ke arah pagar dan berhenti tepat di depan spanduk. . nanti Mama rapikan sebelum berangkat kerja.. Begitu matanya menemukan Egi yang lagi duduk di meja bersama beberapa temannya.. Bia membuka pintu pagar dan bergegas ke sekolah. tolong buang bunga-bunga ini ke tong sampah. @(^-^)@ Bia melangkah dengan cepat menyusuri koridor sekolah menuju kelas Egi. terpajang buket bunga berukuran besar.

gue udah usaha. sama sekali nggak ada maksud apa-apa. Sorot matanya seakan ingin menusuk lawan bicaranya. Bi!” tahan Egi. Dia nggak mau gadis ini sampai benar-benar membencinya. lo pikir dengan begitu gue bakal maafin elo?” “Paling nggak. “Bi. Dia takut kehilangan Bia. “Gue cuma mau minta maaf sama elo. Dia tersiksa menghadapi sikap ketus Bia. tepat di depan hidung Egi.” Egi mengambil gulungan spanduk dari tangan Bia sambil tersenyum. dia benarbenar tertekan menghadapi gadis keras kepala ini.” Bia menatap kedua bola mata Egi dengan tajam dan tanpa suara. Dia nggak tahu bagaimana lagi caranya meluluhkan hati Bia. pagi-pagi udah cari gue?” tanya Egi manis. gue paling benci cowok gombal kayak elo!” Bia membalikkan badannya dan segera berlalu dari kelas Egi. Dia nggak peduli dengan usaha-usaha Egi untuk meluluhkan hatinya. kan?” “Lo salah!” bentak Bia. @(^-^)@ Malam itu Bia duduk di ruang tamu sambil membaca catatan matematika buat ulangan besok. “Apa maksud lo dengan semua ini?” Bia menunjukkan gulungan spanduk di tangannya. Asal lo tau. dan dia nggak mau itu terulang untuk kedua kailnya....” Egi memohon dengan wajah memelas.” “Trus. kenapa sih elo selalu menganggap negatif semua hal yang gue lakukan buat elo?” tanya Egi pelan. Mama sedang sibuk di dapur membersihkan piring-piring bekas . Dia menoleh ke asal suara dan mendapati Bia sedang berdiri di depan pintu kelasnya. Dia nggak peduli dengan permohonan maaf Egi. “Gue bukan cewek gampangan yang seneng dirayu sama bunga. Baginya. “Ini. Gi. Dia juga nggak peduli dengan wajah memelas di depannya itu. Egi tersenyum lalu berdiri dan berjalan mendekati Bia. “Gue melakukan semua itu dengan tulus. please. maafin gue. membuka hatinya untuk Egi adalah sebuah kesalahan.“Egi!” Cowok itu terkejut mendengar teriakan itu. Egi perlahan melepaskan tangannya dari lengan Bia. Bi.” “Lo pikir gue cewek gampangan yang langsung klepek-klepek kalau dikasih bunga?” “Bia. Lo mau kasih gue seratus mawar kek. dan bukan membuat elo semakin membenci gue. “adalah wujud permintaan maaf gue ke elo. gue nggak akan peduli. “Ada apa. Jujur. “Tunggu. Bia telanjur sakit hati. Tapi Bia tetap cuek. “Nggak usah sok innocent deh!” bentak Bia tanpa memedulikan tatapan anakanak kelas satu yang mengarah padanya. Gue cuma mau minta maaf sama elo.

wajar saja kalau banyak cowok yang jatuh hati padamu. tapi hatinya lebih busuk daripada sampah. Tapi Bia ingat percakapannya tadi pagi dengan Mama: Bia nggak mau mengecewakan Mama. “Cuma manis di mulut. Pede banget dia.” jawab Bia sekadarnya. Bia malas kalau harus nimbrung di tengah-tengah mereka. Jadi dia terpaksa duduk manis di ruang tamu. Bi. Oom Frans duduk di dekat Bia sambil tersenyum. “Tapi apalah guna sebuah penyesalan. “Udah aku bilang. Oom telah membuat hidupmu menderita. Meskipun Oom Frans ayah kandungnya. Paling tidak. meskipun nggak ngobrol dengan Oom Frans seperti permintaan Mama.” “Laki-laki semua sama aja.” Bia cuma diam. Bi?” suara Oom Frans mengagetkan Bia. Sejak kapan laki-laki ini mulai berani ikut campur dalam masalahnya? “Pasti cowok yang mengirim mawar itu sangat menyukai kamu. “Itu bukan urusan Oom. Sebenarnya Bia mau ikut bantuin sih. Dan mungkin kamu tidak akan bersikap dingin pada laki-laki. Bia membalik halaman buku catatannya dan mulai mempelajari materi buat ulangan besok.” “Tidak semua laki-laki seburuk yang kamu pikirkan. Kita pasti akan menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia.” Oom Frans menghela napas. tapi batal gara-gara Oom Frans udah duluan turun tangan membantu Mama membereskan meja makan. Bia masih merasa asing dan belum sepenuhnya memaafkan dia. rutuk Bia dalam hati. duduk dekat-dekat tanpa permisi dulu. lalu berkata lebmut. ini bukan urusan Oom!” “Kamu memang cantik seperti mamamu. Yang sudah terjadi tak mungkin dapat ..” “Tapi semua laki-laki yang hadir dalam hidupku malah membuat dugaanku semakin tepat.” Oom Frans seakan nggak peduli dengan kekesalan yang tersirat di wajah Bia. “Iya. “Apa yang Oom lakukan dulu memang tidak layak untuk mendapatkan maaf.” sindir Bia. “Besok ada ulangan ya.” jawab Bia keki. Mulutnya komat kamit menghafalkan rumus dan bola matanya berputar-putar.makan malam. dia nggak mengunci diri di kamarnya. Kali ini dia nggak bereaksi dengan ucapan Oom Frans. Bia pengin segera masuk kamar setelah makan malam tadi dan menghindar dari laki-laki itu. Bia menatap laki-laki itu kesal.. Dia nggak sadar Oom Frans sudah berdiri di dekatnya. “Katanya tadi pagi ada kiriman bunga ya di halaman?” tanya Oom Frans. “Kalau dulu Oom berpamitan dengan mamamu sebelum berangkat ke Pekanbaru dan mengatakan kesediaan Oom untuk bertanggung jawab.” lanjut Oom Frans. Bia tetap belum bisa menerima kehadiran laki-laki itu. mungkin semua ini tidak akan terjadi. dan Oom pula yang telah membuatmu selalu berpikir negatif tentang laki-laki.

Oom. Matanya beradu dengan tatapan hangat lelaki itu. Laki-laki yang sejak dulu begitu dibencinya. Dia telah menelantarkan anaknya selama bertahun-tahun.” Suara Bia yang lembut membuat Oom Frans terbelalak kaget.” Bia teringat percakapannya dengan Mama tadi pagi tentang alasan Mama memaafkan Oom Frans... Oom Frans nggak akan menipu. Dia menatap punggung Bia sambil tersenyum. Bahaya. “Boleh aku bertanya satu hal?” tanya Bia pelan. Tatapannya yang lembut dan penuh kasih membuat hati Bia terasa hangat dan nyaman. Dia sadar.” jawab Oom Frans.. Bia masih berdiri di tempatnya sambil menatap Oom Frans. Terlalu muluk rasanya jika dia mengharapkan Bia dengan tersenyum lebar langsung menerimanya kembali. Oom Frans hanya diam. “Jika seseorang yang Oom percaya dan cintai mengkhianati Oom. “Tapi dalam cinta selalu ada maaf yang tiada batasnya.” jawab Oom Frans. Entah kenapa untaian kata yang keluar dari mulut lelaki itu mengusik hatinya. Alasan yang sederhana tapi memiliki kekuatan yang begitu dahsyat sehingga Mama dengan mudah melupakan sakit hatinya dan menerima laki-laki ini kembali.diulang kembali.” “Seperti Mama memaafkan Oom?” “Mungkin seperti itu. Meskipun sesungguhnya hatinya nggak dapat menahan rasa rindu untuk dapat memeluk anak yang terus dicarinya selama ini. apa yang akan Oom lakukan?” “Tentu saja Oom akan marah. maka bagimu yang terpenting adalah melihat orang yang kamu cintai itu bahagia. Apa kata-kata yang keluar dari mulutnya berasal dari hati? Dan Bia menemukan jawabannya. Sekarang bia baru mengerti alasan itu.” . itulah tujuan hidup Oom saat ini. Tiba-tiba Bia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Oom Frans. Saat ini Oom hanya berusaha memperbaiki semua kesalahan Oom dulu dan memperjuangkan kebahagiaan yang sangat Oom inginkan saat ini. kesalahannya terlalu besar dan nggak mudah untuk membuat Bia mau memaafkannya.” “Membahagiakan aku dan Mama?” “Benar.” Bia menatap laki-laki yang duduk di sebelahnya. Dan itu pula yang akan Oom lakukan. Dia mengangguk pelan sebagai jawaban. “Jangan pulang malam-malam. Bia bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Oom Frans tanpa sepatah kata pun. Dan itulah yang Oom rasakan saat ini. saat kamu mencintai seseorang dengan tulus.. Alasan itu adalah cinta. “Bia. Bia berusaha mencari kejujuran dan ketulusan di wajah Oom Frans. “Aku mau tidur dulu karena besok harus sekolah. yaitu membahagiakan kamu dan mamamu. Oom Frans mengangguk sambil tersenyum. Lalu Bia berkata. lalu kembali berkata.

Sayang?” Bia menutup catatan matematikanya dan berjalan membukakan pintu.” Mama buka suara.. @(^-^)@ “Bia. Perasaan bahagia perlahan meluap dalam dirinya. Dan panggilan itu telah menyembuhkan begitu banyak koreng yang membuat cacat hatinya.” sahut Bia. lidahnya mampu memanggil laki-laki itu “Papa”. Mama diam. “Kamu sudah tidur.” Mama tersenyum. “Ma. “Aku masih belajar buat ulangan besok. Sama seperti Bia. Bia juga diam. Jantungnya berdetak kencang dan darahnya seakan bergolak. “Mama nggak perlu bilang makasih sama aku karena memang sudah wajib hukumnya seorang anak mengakui ayahnya. Lelaki itu tak bisa menahan haru yang membungkus hatinya.” “Makasih buat apa. “Papamu nggak mau mengganggu kamu. “Dia takut kamu sudah tidur.” sahut Bia. Dia sama sekali nggak menyangka. Ma?” “Makasih karena kamu sudah memaafkan papamu. Lalu dia menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan.. Lidahnya terasa kelu dan tubuhnya terasa kaku. Bia membalikkan badannya dan kembali berjalan. “Bi.” Bia diam. “Ada apa.” . Kehangatan dan kebahagiaan menyelimuti dirinya. Bia nggak bisa memungkiri. “Aku dengar suara mobilnya.. Rasa lega memasuki kalbunya. “Aku memang sangat membenci Oom. Saat ini ia terlalu bahagia.Lagi-lagi Oom Frans hanya mengangguk. “Papamu sudah pulang.” jawab Mama mantap. “Mama bahagia.. dia kembali berhenti dan berbalik menatap ayahnya lagi.. Ma.” “Aku tau. apa sekarang Mama bahagia?” tanya Bia kemudian.” katanya pelan. Tapi baru beberapa langkah. Senyum tersungging di bibirnya dan air mata menggenangi pelupuk matanya.” kata Mama. jauh di lubuk hatinya dia merindukan laki-laki itu. “Makasih.. “Mama bahagia karena Mama memiliki putri seperti kamu.” Oom Frans terdiam. Laki-laki yang mulai detik ini dan selamanya akan dipanggilnya Papa. “Tapi aku juga sangat merindukan Papa.” Bia menganggukan kepala. Dia menyandarkan tubuhnya di pintu kamar.” Suara Mama terdengar dari balik pintu kamar Bia. ya.” “Aku juga bahagia. Ma?” tanyanya begitu pintu kamarnya terbuka.

Mama tersenyum lalu merengkuh tubuh Bia ke dalam pelukannya. “Iya.” Bia mengangguk lalu menutup pintu kamarnya begitu Mama pergi. “Telepon. “Bia!” suara Mama memanggil Bia. “Terakhir kali gue jenguk bokapnya di rumah sakit. “Kabar buruk apa?” “Bokapnya Tammy meninggal. baru aja. Begitu hebatkah kekuatan cinta dan maaf? Dering telepon membuat pelukan ibu dan anak itu terlepas. “Yu. Rasanya belum pernah ia merasa begitu bahagia seperti hari ini. “Katanya penting!” “Iya. dia dan Mama bisa tertawa seperti tadi. dan Mama bangga padamu. boleh gue tau bokapnya Tammy disemayamkan di mana?” . Matanya menatap langitlangit kamar. gue ganggu malam-malam gini. Mungkin memang penyakitnya udah benar-benar parah. ya?” Mama tertawa. Dia yang menutup telinganya rapat-rapat setiap kali Yuki dan Cha-Cha menyebut nama Tammy. Dia yang marah-marah waktu Yuki dan Cha-Cha mempertemukannya dengan Tammy. “Bukannya lo nggak mau denger gue dan Cha-Cha nyebut nama Tammy?” Bia terdiam. Bi. Yuki benar. Mama menyerahkan gagang telepon kepada Bia lalu menghilang ke kamarnya. kok lo nggak kasih tau gue?” “Bukannya lo lagi musuhan sama Tammy?” Yuki malah balik bertanya dengan nada sinis. Jadi wajar saja kalau kedua temannya ini tidak memberitahunya kabar tentang papanya Tammy.” “Kenapa?” “Gue juga nggak tau.” sapa Bia. Sayang. “Halo. Bi. di pesta pernikahan Mama dan Papa nanti. “Mama sayang kamu. “Mama angkat telepon dulu. “Iya.” “Kabar buruk?” tanya Bia heran. Selama ini dia yang melarang Yuki dan Cha-Cha membicarakan Tammy. “Gue juga belum tidur kok.” Bia membalas pelukan Mama.” “Bokapnya Tammy masuk rumah sakit. Ma!” sahut Bia lalu bergegas keluar dari kamar.” jawab Yuki. “Ma. Bia terlonjak kaget dan langsung bangkit dari tidurnya. Rasanya nggak percaya.” “MENINGGAL?!” pekik Bia.” kata Bia. Hatinya kini terasa seringan kapas. Ia menghela napas panjang lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. “Sori. Bi! Dari Yuki!” ujar Mama. bokapnya masih bisa ngomong.” “Nggak apa-apa.” Bia ikut tertawa. Yu. aku jadi pengiring pengantin wanitanya. ya.” “Gue cuma mau menyampaikan kabar buruk.

Ma. masa harus balik lagi ke sini dan mengantar aku ke rumah sakit. berbahaya bagi anak perempuan pergi sendirian “Please. Gue belum tau bakal dimakamkan di mana.” tegas Mama. Bia berjalan gontai menuju kamar Mama. Ia ragu memberikan izin untuk Bia. Ini sudah malam. “Besok baru dipindah ke rumah duka. Perasaanku nggak tenang. Sampai telepon ditutup. “Kasihan Papa.” “Papamu pasti bersedia. Ma.“Sekarang masih di rumah sakit. tapi biar papamu yang mengantar kamu.” “Jangan. Dia baru aja pulang. Ma?” “Apa nggak bisa ditunda besok saja. “karena ini untuk putrinya. Perasaannya saat ini benar-benar kacau.” Mama menatap Bia dalam-dalam.” mohon Bia. Bia nggak banyak bicara.” “Ke rumah sakit?” Mama bertanya heran. Bi?” tya Mama.” tolak Bia segera. Ini sudah malam. Pintu terbuka dan wajah Mama muncul dari baliknya.” “Meninggal?” Bia mengangguk. Ma? Sekarang. “Ada apa. “Aku nggak akan lama. Mama langsung berjalan menuju meja telepon dan menghubungi nomor handphone Papa.” Mama menghela napas.” “Nggak bisa. Papa pasti capek. Ma. “Ada apa?” “Papanya Tammy meninggal. “Baiklah. Dia nggak tahu harus berkata apa.” jawab Yuki.” Penyesalan masih merasuki hati Bia. Aku cuma mau ketemu dan bicara sama Tammy sebentar saja. . lalu mengetuk pintunya pelan. “Boleh ya. “Aku boleh ke rumah sakit. Bi.” Bia nggak membantah lagi.

gue marah-marah sama elo seenaknya aja. ini bokap gue.. Oom.” kata papa Bia. “Makasih.. Bahkan pipinya masih basah oleh air mata.” Tammy mengangguk. “Nanti gue ceritain.BAB SEMBILAN BIA dan papanya tiba di rumah sakit untuk menemui Tammy.” Tammy mengalihkan pandangannya ke arah papa Bia. dan gue udah berkata kasar sama elo. ya. Dia menyesal karena nggak pernah ada untuk Tammy di saat sahabatnya itu butuh seorang sahabat. Dari jauh Bia melihat Tammy bersandar sendirian di dinding rumah sakit tepat di sebelah pintu kamar yang terbuka lebar. Tammy mengangguk pelan tanpa suara.” mohon Bia. “Tam. gue turut berdukacita. Gue nggak pernah ada buat lo. Tammy mendongakkan kepalanya dan terkejut menatap Bia.” Tammy menatap Bia. Gue nggak pernah menjadi sahabat yang baik buat elo. Bia dan papanya berjalan mendekat. Ujung hidungnya juga merha...” kata Tammy lirih di sela derai air mata. “Tam. Matanya merah dan bengkak. maafin gue ya.. Bokap lo sakit aja gue nggak tau.” “Nggak. bahkan di saat elo benar-benar membutuhkan kehadiran gue. Hatinya terasa perih. lalu memeluk Bia dan menumpahkan kesedihannya. gue yang salah. gue egois dan selalu mau menang sendiri. “Tam. Tam. Isak tangis terdengar dari dalam kamar itu.” kata Bia pelan. lalu mengulurkan tangan.” . “Tammy. Jantung Bia berdegup kencang.. Bi. Maafin gue.. Tam.. Bia mengangguk. “Gue nggak jujur sama lo.” panggil Bia pelan.” “Bokap lo?” Tammy nggak bisa menutupi rasa kagetnya. “Lo benar.. “Oom turut berdukacita. Bia melepaskan pelukannya begitu teringat papanya masih berdiri di dekatnya.. “Kamu yang tabah. Sahabat macam apa gue ini?” Air mata Bia ikut menetes.. “Maafin gue juga.

Tam.” Bia menceritakan kronologi cerita pertemuan dia dengan ayah kandungnya. Bia nggak tahu harus bagaimana. tapi gue udah belajar memaafkannya. Lama-lama gue jadi eksal dan males cerita sama kalian.“Oh ya. dia juga nggak mau kehilangan sahabat.” kata Tammy. gue baru tau dia bokap gue. siapa yang bisa mengerti gue?” Suasana mendadak hening. dia bokap kandung gue. “Kata-kata lo waktu itu benar. Dua hari sebelum kita berantem di rumah Egi. Bohong banget kalau dia bilang dia membenci Egi. gue. gue mau cerita sama kalian. tentang Egi.” “Maafin. Keegoisannya ingin mengikat Egi untuk terus mengejar dirinya. “Bi.” “Nggak. “Mama masih di dalam. Di saat seperti ini. Setelah mengucapkan turut berdukacita. Kalau nggak gitu. Bia nggak rela Egi dekat dengan cewek lain. Dia nggak mau kehilangan Egi. yang dibicarain cuma tentang elo. Saat itu mereka duduk di bangku semen di koridor rumah sakit. Bia benar-benar nggak ngerti harus bagaimana. @(^-^)@ “Bi. Bia diajak Tammy keluar dari kamar. di mana keluarga kamu yang lain?” tanya papa Bia. “Dan elo udah maafin dia?” tanya Tammy heran. Waktu bokap gue udah mulai dirawat di rumah sakit. semua memang gara-gara gue. tapi nggak sedetik pun dia mampu mengusir Egi dari dalam benaknya. Bia dan Tammy sama-sama terdiam. Gue seharusnya bicara. karena tiap kali kita ngumpul. Dia memang marah dan kecewa.” “Kok elo nggak pernah cerita?” “Karena gue pikir penyakit bokap gue nggak parah. “Ternyata ada banyak cerita yang udah gue lewatkan. Jika sekarang Tammy mengakui bahwa dia menyukai Egi dan meminta Bia untuk mundur. tapi Egi juga yang udah membuatnya patah hati dan kecewa. nggak ada kesempatan. ini juga salah gue. Tapi di lain pihak.” “Tam. “Iya.” suara Tammy memecah keheningan.” Tammy menghela napas. Bia tersenyum dan menganggukkan kepala.” jawab Tammy. jantung Bia berdegup kencang. Bia dan ayahnya mengikuti Tammy menemui mama Tammy. “Bukannya elo benci sama dia?” “Gue emang benci sama dia. sejak kapan bokap lo sakit?” “Udah sekitar tiga bulanan ini bokap gue keluar-masuk rumah sakit. Egi memang telah berhasil membuatnya jatuh cinta. . Yuki dan Cha-Cha juga baru gue kasih tau seminggu yang lalu. Bi. itu bokap lo?” tanya Tammy mengawali pembicaraan. Mendengar Tammy menyebut nama Egi. Tapi nggak bisa.

Dan dari surat itu juga gue tau bahwa bokap gue punya anak laki-laki dari perempuan itu. Sejenak ia merasa akan kehilangan Egi. “Gue juga tau hal ini belum lama. “Dari surat itu gue tau bokap gue pernah selingkuh waktu gue masih berumur satu tahun. Semua berawal waktu gue tanpa sengaja menemukan surat di ruang kerja bokap gue. dan sayang banget sama dia.” Bia tambah heran. bahkan sampai akhir usianya. “Gue suka melihat tawanya. Gue ngerti kenapa bokap gue nggak mau mengakui anak itu.. tapi dianggukkan juga kepalanya. Tammy menoleh dan menatap Bia. kan?” kata Tammy lagi. “Lo pasti nggak percaya. biar gue cerita sampai selesai dulu.” lanjut Tammy. Anak yang sama sekali nggak pernah mau diakui bokap gue dan kemudian ditinggalkan oleh perempuan itu di panti asuhan. “Jelas gue nggak percaya.” jawab Tammy langsung.” “Selingkuhan?!” “Jangan potong cerita gue. “Kenapa nggak mungkin?” “Janji ya. Bokap gue pasti nggak mau nyokap gue ngamuk kalau tau bokap gue pernah selingkuh. Sesaat kemudian tiba-tiba Tammy tertawa. elo suka sama Egi?” pertanyaan Tammy menambah dilema dalam diri Bia.” ujar Bia. gue dukung sepenuh hati agar lo jadian sama dia.” Hati Bia terasa perih mendengar pengakuan Tammy.“Bi. lo tuh anak tunggal. Jawaban Tammy membuat jantung Bia seakan ingin melompat keluar. “Kenapa tiba-tiba lo nanya gitu?” “Cuma pengin tau. Surat itu dari seorang wanita yang ternyata selingkuhan bokap gue.” “Elo sendiri?” Bia balik bertanya. “Soalnya gue tau pasti.” Bia menutup mulutnya. “Gue suka Egi.” cerita Tammy. “Lo gila apa! Mana mungkin gue jadian sama Egi?!” Bia mengernyitkan keningnya. Tapi persahabatannya dengan Tammy jauh lebih berharga. Dan rasa itu semakin membuatnya takut.. “Apa lo suka sama Egi?” “Iya. Mana mungkin tiba-tiba Egi jadi adik lo?” Tammy tersenyum lalu menghela napas panjang. Dia paksakan dirinya untuk tersenyum. Bukankah kata orang pacar bisa dicari lagi tapi kalau sahabat susah untuk ditemukan? “Kalau elo emang suka sama Egi. Dadanya mendadak terasa sakit. lo jaga rahasia ini. bahkan sampai punya anak dari perempuan lain. Bi. senang mendengar lelucon jayusnya.” Bia melongo.” sahut Bia. Tapi gue pura-pura nggak tau. “Egi tuh adik gue. dan itu membuat gue jadi tambah sayang sama dia. Bi. “Gue kaget dan shock berat waktu pertama kali tau hal itu. Perempuan mana sih yang mau dimadu? Tapi ada rasa penasaran yang bikin gue .

” Bia menatap ekspresi wajah Tammy. Gue juga udah bikin elo cemburu.. File yang mereka punya menyatakan bahwa enam belas tahun lalu cuma ada satu anak laki-laki dan delapan anak perempuan yang ditinggalkan di depan pintu panti asuhan itu. Kalau diingat lagi. Dan ternyata alamat itu mengantarkan gue sampai ke rumah Juventus Egi. Lalu dia bertanya.” “Gue diam-diam mencari panti asuhan yang ditulis perempuan itu dalam suratnya. Egi tuh anak angkat?” Bia mengangguk. “Jadi karena itu lo mendadak dekat sama Egi?” Tammy tersenyum dan mengangguk. Nama anak itu Juventus Egi. mereka mau membuka file mereka dan memberi gue informasi tentang anak itu. Gue mananyakan alamat keluarga yang mengadopsi anak itu dengan perjanjian gue hanya melihat dan nggak akan mengusik keluarga mereka.” “Nggak mungkin. “Tuhan ternyata mempermudah langkah gue dalam menemukan adik tiri gue itu.. “Sori ya. .” Bia nggak bisa menahan rasa kagetnya. Dia masih ragu apakah Tammy sedang mengarang cerita atau ini memang kenyataan. “Egi tau tentang hal ini?” tanya Bia pelan.” Bia terdiam. Tammy menggeleng. Tammy menarik napas dan kembali melanjutkan ceritanya.” Bia membenarkan ucapan Tammy. “Gue juga kaget waktu mendengar nama itu.” jelas Tammy. Gue berusaha mencari tau dari pengurus panti asuhan itu tentang anak yang 16 tahun lalu pernah ditinggalkan di depan panti asuhan itu.” kata-kata Tammy bikin Bia kembali ke alam sadar. Tapi setelah gue setengah memaksa dan memberikan sedikit sumbangan ke panti asuhan itu. Bi.pengin mengetahui gimana keadaan anak itu sekarang.. Tapi kelihatannya Tammy serius. Anggap saja gue menggantikan tugas bokap gue untuk memerhatikan dia. Berarti jelas anak laki-laki itulah adik tiri gue karena di suratnya perempuan itu mengatakan bahwa anaknya laki-laki. pantas waja waktu pertama kali melihat Egi. Apalagi kalau dia tau bokap gue nggak pernah mau mengakui dia. Gue juga pengin tau apakah sekarang dia bahagia. gue nggak boleh mengusik keluarga mereka. “Sesuai perjanjian.” “Maksud lo?” tanya Bia nggak percaya dengan cerita yang didengarnya. dia merasa wajah Egi mirip seseorang. waktu di rumah Egi dulu gue marah-marah sama lo. “Lo pasti tau kan. Awalnya mereka nggak mau kasih gue informasi apa pun. Gue pikir mungkin itu cuma kebetulan.. Lagi pula buat apa gue menceritakan semua ini ke Egi? Ini malah akan membuatnya menderita. “Egi anak bokap lo dan selingkuhannya?” Tammy mengangguk. adik kelas kita. “Gue pengin mengenal dia lebih dekat. Dan itu yang membuat gue pada akhirnya tau bahwa Egi adik tiri gue. “Tapi.

“Gue memang nggak bisa menghibur orang lain.” kata Egi. “Gue tau kok elo sebenarnya suka sama Egi. Dia baru sadar udah kelepasan.” Bia melotot mendengar kata-kata Egi. Bia yang melihat Egi melirik ke arahnya langsung buang muka. Dia mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Tammy. “Gue turut berdukacita ya.. Bia mengikuti arah mata Tammy dan menemukan sosok Egi sedang berjalan mendekati mereka.” balas Tammy.” “Rese lo!” “Ssstt.” Bia berhenti bicara.!” rajuk Bia... dan itu membuat lo merasa selama ini Egi cuma mempermainkan elo. .” ucap Egi tulus.” “Tammy. Waktu itu lo marah-marah sama dia karena ngeliat kami berduaan. “Makasih juga karena lo udah mau datang malam-malam gini. “Gue tadi udah takut banget kalau harus ngelihat elo nangis-nangis.. kan? Jujur aja deh!” Bia nggak menjawab. Bia tetap duduk diam di tempatnya.. Tammy berusaha menahan tawa melihat wajah Bia yang merah. Tammy malah tertawa. Bi. “Siapa juga yang cemburu?” “Nggak usah pura-pura deh.. Gi. dan Bia pun berlari meninggalkan Tammy dan Egi begitu aja. “Gue cuma bisa menghibur orang yang gue cintai. Egi dan Tammy menatap Bia sambil tersenyum geli.“Cemburu?” Bia mengelak. “Hebat juga ya si Egi. Bisa meruntuhkan karang di hati seorang Bia.” “Bohong!” celetuk Bia.” Tammy mendadak diam lalu menyenggok pundak Bia sambil memandang ke arah kanan koridor. Matanya sesekali melirik ke arah Bia. Meski begitu. Wajahnya semakin memerah.” “Tapi masih ada orang yang datang lebih cepat daripada gue. Tam. Tammy berdiri dan berjalan mendekati Egi. gue paling nggak bisa menghibur orang yang lagi sedih. “Lo udah ketemu keluarga gue?” tanya Tammy. tapi dia juga nggak bisa menahan debaran jantungnya yang seolah berteriak histeris. “Gue lega melihat elo masih tersenyum.” jawab Egi sambil melirik ke arah Bia.” ujar Tammy. Ternyata Bia ya tetap Bia. Jujur aja.” kata Egi pada Tammy. “Akhirnya lo bisa jadi cewek juga. “Makasih. tapi dia nggak bisa menahan rona merah yang muncul di pipinya. cuma satu kata yang kemudian keluar dari mulut Bia: “GOMBAL!”. Gengsinya masih setinggi langit... Bia buru-buru buang muka biar Egi dan Tammy nggak bisa melihat wajahnya yang lagi-lagi berubah jadi merah. “Waktu di jembatan dulu elo kan yang. Bi. Egi mengangguk.

Tangannya membawa sepiring mi goreng instan. “Lho nggak khawatir. dan Yuki sedang menikmati indahnya persahabatan sebelum akhirnya nanti harus berpisah kalau sudah lulus dari sekolah ini. gue dengar.. tapi ngumpul-ngumpul melepas ketegangan tetap jadi prioritas utama. “Halo. Yu. mereka seru mengobrol. “Udah. Egi nggak masuk sekolah. “Kami lagi mesra-mesranya nih.” “Duile. Mereka mencomot irisan mangga di piring dan memasukkannya ke mulut sambil bertatapan.. kan?” “Bi.” sahut Tammy. “Udah sampai tahap mana nih kemajuannya?” “Hubungan gue sama dia baik-baik aja. “Gue nggak pernah ada hubungan apa pun sama dia. wajahnya merona. Mereka sudah dekat lagi seperti dulu.. Hubungan Bia dan Tammy sudah kembali normal. Tammy. Sambil mendesah-desah kepedesan.” “Kenapa sih elo jutek banget sama Egi?” serang Cha-Cha.!” ledek ketiga temannya. Ujian akhir yang tinggal sebulan lagi sama sekali nggak mereka pedulikan. Bi?” “Buat apa gue mengkhawatirkan dia?” Bia malah balik tanya. “Dia bukan siapasiapa gue.. Belajar sih belajar. kan?” Bia kayaknya udah mulai kesal. @(^-^)@ Sorenya.” kata Yuki dengan perasaan lega karena teman-temannya udah berhenti ngegodain dia. “Kalo elo. mereka berempat ngumpul di halaman belakang rumah Tammy cuma buat sekadar bersantai ria plus ngerujak. Bia tergopoh-gopoh menuju meja telepon untuk mengangkat telepon yang berdering.@(^-^)@ Dua minggu telah berlalu sejak papa Tammy dimakamkan. “Seakan-akan Egi tuh udah melakukan kesalahan besar sama elo.. gimana kabar hubungan lo sama Maxi?” tanya Tammy. . di rumah. dan Tammy memilih tutup mulut. “Ngomong-ngomong nih. Sekarang Bia. udah dua hari lho. jawab aja. Cha-Cha. “Lho.. Bi?” Tammy langsung beralih ke Bia. Kita ngumpul di sini bukan buat ngomongin dia. kok gue juga kena tanya?” Bia nggak terima.” Yuki tersenyum kecil. jadi nggak ada yang perlu gue jawab.” “Nggak usah sebut-sebut lagi nama dia deh. Yuki. Seperti sore ini.” sapanya. Cha-Cha.

“Halo.” Bia diam. itu baru dugaan sementara.. Jadi lo siap-siap ya. “Siapa lagi yang sakit?” “Egi. Bia.” jawab Tammy.. Bia meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. “Gue lagi mau makan nih. “Lima menit buat lo makan dan lima menit buat lo siap-siap.. Nggak tahu kenapa rasa laparnya lenyap begitu aja. Dia takut kehilangan Egi.. “Darahnya masih diperiksa dan masih menunggu hasil laboratorium. jelas gue tau lah. Bi. Bi?” tanya Tammy. “Anak-anak udah pada jalan buat jenguk dia. “Kenapa Egi?” “Makanya lo ke rumah sakit deh sekarang juga. Bia nggak mau hal buruk terjadi pada Egi. gue mau mak.. Gue juga lagi on the way ke rumah lo buat ngejemput lo. “Iya. Lalu dia menuju kamar untuk mengganti kaus rumahnya dengan kaus untuk bepergian.” jawab Tammy..” “Tapi.” “Sekarang Egi di rumah sakit mana?” “Rumah sakit tempat bokap gue dirawat. Lo harus ke rumah sakit sekarang juga. Bi..” “Makannya nanti aja. “Flu burung?!” hampir aja piring di tangan Bia terlepas. Bia berjalan menuju ruang makan dan meletakkan mi goreng itu di bawah tudung saji. “Lo mikir apa lagi sih. Dia tampak berpikir keras. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang ganjil. Tam?” tanya Bia to the point.” “Lo tau dari mana kalau dia masuk rumah sakit? Memangnya dia sakit apa?” “Gue kakaknya. Sepuluh menit lagi gue sampai. Oke!” Tammy langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban Bia. Rasa cemas melingkupi dirinya. Kondisinya nggak begitu baik.. Kata dokter dia kemungkinan kena flu burung.” “Rumah sakit?” tanya Bia heran. Matanya menatap mi goreng instan yang ada di tangannya. Kita berangkat ke sana sama-sama. Takut banget.” “Hah?!” jantung Bia berdegup kencang.” sahut Bia.” balas Tammy dari seberang. “Napa. .

Tammy mengetuk pintu kamar itu dua kali. Tammy bergabung dengan teman-temannya dan berdiri di sisi tempat tidur.” Tammy memberitahu Bia.BAB SEPULUH TAMMY menjemput Bia tepat waktu.” kali ini Teddy yang menjawab. Egi berbaring di tempat tidur pasien dengan alat bangu pernapasan menutupi hidungnya dan slang infus yang terpasang di tangannya. Tammy berhenti di depan kamar yang berada di ujung koridor.” protes Bia. Perabotannya lengkap: ada TV. “Mmm. Tammy nggak peduli. Koridor itu agak ramai. Di kamar itu cuma ada satu tempat tidur pasien. Tammy memarkir mobilnya dan bergegas menarik tangan Bia menuju kamar tempat Egi dirawat. “Betul. lalu membuka pintu dan masuk. kulkas mini. Cha-Cha.” jawab Cha-Cha cepat. Yuki. Egi sakit flu burung?” tanya Bia. “Cha. di kamar ini ada Tammy.. “Pelan-pelan dong. bener nggak sih. Bia mengekor di belakang. Sepertinya sedang jam besuk. “Gue sama Bia udah sampai. “Lo di mana?” tanya Tammy lewat HP. lemari pakaian. Bi. Sebelah tangannya malah sibuk menekan-nekan tombol handphone-nya.” jawab Tammy singkat lalu menggiring Bia masuk ke lift. Bia cuma mengangguk. “Tapi masih belum positif sih. Tam. “Ini kamarnya. tadi sih udah ke sini. tapi sekarang lagi pulang buat istirahat. “Cha-Cha. Satu jam kemudian mereka tiba di rumah sakit.” Tammy mematikan handphone-nya dan memasukkannya ke saku celananya. Selain dia.. “Siapa?” tanya Bia. Matanya tertutup rapat. Keluar dari lift mereka menyusuri koridor menuju kamar tempat Egi dirawat. Bia mengedarkan pandangan. Bia berjalan mendekati Egi yang tampaknya tertidur lelap. dan sofa yang dijamin pasti empuk. .” “Lalu orangtuanya mana?” tanya Bia lagi. dan Teddy yang berdiri berjajar di samping tempat tidur.

” jawab Bia. lalu berbalik lagi untuk meninggalkan kamar itu. Bia membalikkan badan. gimana kalau Egi nggak bisa diselamatkan?” ujar Cha-Cha.. Bi!” suara seseorang menahan Bia.“Bi. ..” kata Teddy.. Dia memandang teman-teman yang berdiri di hadapannya dengan diam. Egi. Puas?” Mata Tammy. “Syukur deh. Yuki. gue bukan cowok lemah!” ujarnya. dengar kata-kata gue dengan baik!” Bia nggak memedulikan ucapan temantemannya. Dia cuma menatap wajah Egi. kok elo diam aja sih?” protes Tammy. dia malah bicara dengan Egi yang terbaring di tempat tidur. lo balas cintanya di sisa umurnya. Bi!” kata Cha-Cha. lo nggak kasihan sama Egi?” tanya Yuki pelan.” Bia nggak menjawab. Tammy. Yuki. Mereka kaget mendengar ucapan Bia. “Bia. “Bi. dia ingat. “Gue nggak peduli dia sakit atau sekarat. “Apa elo nggak sedih kehilangan dia?” Bia tetap bungkam. “Dia udah dirawat sejak dua hari yang lalu.” kata Bia.” Bia mengunci bibirnya rapat-rapat.” sambung Yuki. paling nggak. Cha-Cha. Baru saja Egi hendak menahan Bia. dan Teddy terpana mendengar jawaban Bia. tapi elo malah jahat sama dia. Laki-laki itu paman Tammy yang waktu itu pernah mengobrol dengan papanya waktu papa Tammy meninggal. “Lo kejam. Lalu dia mencabut jarum infus yang ternyata hanya menempel di tangannya. “Lo keterlaluan. Dilihatnya Egi duduk tegak dan melepas alat bantu pernapasan yang menutup hidungnya. Cha-Cha. dan Teddy melotot.” “Gi.. lalu berdiri dan berjalan mendekati Bia. pintu kamar terbuka sehingga Bia berhenti melangkah.. “Bi. Oom. “Gue nggak peduli. “Bagaimana latihan syutingnya?” Bia merasa pernah melihat laki-laki itu. “Tunggu. Ah. “Egi sayang banget sama elo.” akhirnya Bia buka suara. “Kalau memang dia nggak bisa diselamatkan. “Egi benar-benar suka sama elo. “Gue nggak suka cowok lemah!” Setelah itu Bia beranjak meninggalkan tempatnya. Bia mendongakkan kepalanya. Seorang laki-laki setengah baya berpakaian dokter muncul dari balik pintu dengan senyum ramah sambil bertanya. “Latihannya baik.

“Tapi jangan lama-lama ya. Tiba-tiba Bia tertawa. Jadi mana mungkin kalian diizinin ngumpul di sini bareng Egi yang katanya kena flu burung. “Jangan bilang kena flu burung.” Bia diam saja. “Maaf. begitu ya. “Lagi pula latihannya udah selesai kok.” Paman Tammy tersenyum. Oom.” Bia kembali menjawab. “Memangnya kalian pikir gue bego?” Bia balik bertanya. idenya maksa sih. Mereka nggak salah. Ekspresinya datar. Cha-Cha nggak mau ketinggalan.” “Baik. “Bi. Masa kalian nggak pernah dengar sih?” “Tuh kan. lo udah tau kalau semua ini cuma pura-pura. Dia punya kedudukan yang cukup tinggi di rumah sakit ini dan dia yang meminjamkan kamar ini dengan alasan gue mau latihan syuting buat pertunjukan saat kelulusan nanti. gue bilang juga apa!” ujar Tammy. Tam. “Mereka cuma bermaksud menolong gue agar bisa baikan sama elo.” aku Yuki. . Bi?” tanya Tammy beigtu pintu kamar tertutup kembali. “Kalian tuh tolol banget sih! Cari penyakit kok yang aneh gitu. takutnya nanti ada pasien yang mau masuk. Bi. Dia ikut buka suara.” “Gue nggak bilang mereka salah. Cha-Cha mengangkat tangan kanannya.” “Oh. Mana mungkin gue percaya..” sambung Tammy.” “Jadi lo curiga?” tanya Tammy..” “Siapa yang punya ide tentang penyakit flu burung?” tanya Bia tanpa merespons kata-kata Yuki. “Gue. ini semua ide gue. Bi. masa anak sakit parah orangtuanya nggak nemenin.” ujar Tammy. Satu lagi yang perlu kalian tau. “Flu burung kan bukan penyakit sembarangan. “Jadi.” celetuk Teddy.” “Sebenarnya.” sahut paman Tammy.” balas Tammy. “Dokter tadi oom gue. Udah gitu.. Demam berdarah aja. Oom.“Bagus kalau begitu.” kata Egi... kami tuh cuma mau ngebantuin Egi buat baikan sama elo. rencana kita gagal gara-gara ide lo itu.. “Kalau begitu. “Dia tulus sayang sama elo.” Cha-Cha ngotot.” “Tapi kan flu burung lagi ngetren. “Tapi buktinya. biasanya pasien yang dicurigai kena flu burung itu bakal dirujuk ke RSPI Sulianti Saroso. “Gue penulis skenarionya.” “Baik.” Paman Tammy keluar dari kamar sambil tetap tersenyum. Bi. nanti kalian lapor pada suster jaga agar kamar ini bisa segera dirapikan.” sahut Bia. Lebih masuk akal. “Jelaslah!” jawab Bia.” kata Yuki. Orang yang diduga terjangkit virus flu burung bakal diisolasi. “Dan gue yang jadi sutradaranya. “Lo jangan marah.

Cha-Cha cuma manyun. “Apa ini berarti lo nerima cinta gue. Mata Bia beradu pandang dengan Egi yang berdiri di hadapannya. Bi?” Egi mencoba menerka. dan Teddy yang menonton dari belakang. Dia jadi salah tingkah. “YES!” Bia nggak tahu harus bersikap bagaimana. ”Nggak tau ah!” Senyum Egi merekah. Bi.. Lalu Bia berkata pelan.” Suasana mendadak jadi hening. Tammy. dibiarkannya . Bi. Wajah Bia makin memerah. “Gue sayang elo. Bia menunduk agar Egi nggak bisa melihat wajahnya yang mulai terasa memerah dan panas. Direbahkannya kepalanya di pundak Egi. membuat jantung Bia berdebar nggak keruan. “Kali ini lo nggak akan gue lepasin..” “Heh. Tubuhnya terasa lemas saat merasakan desah napas Egi di telinganya. “Kata-kata lo tadi udah gue terjemahkan sebagai pernyataan bahwa elo bersedia jadi pacar gue. “Paling nggak. Begitu pula Yuki. tapi tangannya perlahan bergerak dan membalas pelukan Egi dengan sepenuh hati... “Kalau ternyata elo ngecewain gue?” tanya Bia dengan kepala masih tertunduk. Bia nggak menjawab.. Dia nggak lagi melawan. Dia melompat dan berteriak kencang.” bisik Egi lagi. Cha-Cha. “Makasih.” jawab Yuki. Bi.” jawab Egi sungguh-sungguh. “gue jamin lo nggak bakal bisa tersenyum lagi. Sekarang lo resmi jadi pacar gue. “Berarti. kami udah usaha. Bia menyerah. Tapi Egi nggak mau melepasnya.. “Apa kalian pikir semua yang udah kalian rancang ini bisa membuat gue baikan sama Egi?” tanya Bia. apa-apaan sih lo!” protes Bia sambil meronta. Dia membiarkan cinta merasuki dirinya. “Apa buktinya kalau elo sayang sama gue dan nggak akan pernah membuat gue kecewa?” “Gue nggak bisa menunjukkan buktinya ke elo. “Itu harapan kami. Apalagi ketika Egi tiba-tiba menarik tubuhnya dan memeluknya erat.” bisik Egi lembut di dekat telinga Bia. siapa yang bilang gue mau pacaran sama lo?” Bia berusaha melepaskan diri dari pelukan Egi. Bola matanya menatap Bia dengan lembut... gue harus percaya sama ucapan elo begitu aja?” Egi mengangguk.” Egi terkesima mendengar kata-kata Bia. Dia menyahut sambil pura-pura membuang muka. “Gila. Dan elo nggak bisa menariknya lagi.” Bia berhenti meronta. karena bukti itu ada di dalam hati gue dan hanya bisa gue perlihatkan seiring berjalannya waktu.

Gue juga sayang elo. .sensasi yang belum pernah dia rasakan menjalar lembut ke seluruh pembuluh darahnya. Gi. kata Bia tanpa suara. Senyumnya merekah dalam pelukan hangat Egi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful