P. 1
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia

5.0

|Views: 7,843|Likes:
Dipublikasikan oleh M Mahdi Hanif
UMKM di Indonesia (Satu setengah dekade pasca krisis ekonomi 1997)
UMKM di Indonesia (Satu setengah dekade pasca krisis ekonomi 1997)

More info:

Published by: M Mahdi Hanif on Aug 08, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/09/2015

pdf

text

original

PERAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA

(Satu setengah Dekade Pasca Krisis Ekonomi 1997)

Working Paper In Economics & Finance Oleh : MOHAMMAD HANIF

I. PENDAHULUAN Pada tahun 1997 Indonesia mengalami krisis ekonomi sebagai imbas dari krisis keuangan di Thailand. Krisis ini diawali dengan jatuhnya nilai mata uang Bath Thailand pada bulan Juli 1997 dan berakibat langsung terhadap nilai Rupiah yang terdepresiasi secara eksponensial, dari Rp2.400 per dollar menjadi Rp16.500 per dollar pada bulan Juni 1998. Pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 13.3% dan inflasi meningkat hingga sampai 77%. Pada saat itu, Indonesia boleh dikatakan telah “kehilangan pijakan” dalam kancah perdagangan internasional dan praktis Perekonomian Indonesia saat itu berada di titik nadir yang tak ubahnya seperti kertas yang dihempas oleh badai krisis. Jika Indonesia sebelum terkena krisis termasuk negara dengan kemajuan ekonomi yang luar biasa sehingga sering disebut Miracle dengan digolongkan sebagai negara “High Performing Asian Economics” dan dijadikan contoh bagi negara-negara berkembang lainnya karena dianggap berhasil, maka ketika terjadi krisis terjadi telah melenyapkan attribut itu dalam sekejap dan menempatkan kembali Indonesia dalam klasifikasi negara „miskin‟. PDB per kapita Indonesia pada tahun 1997 yang sempat mencapai $1.200 anjlok tinggal $300 pada Januari 1998, atau kurang lebih sama dengan 20 tahun sebelumnya. Krisis saat itu telah mengakibatkan kedudukan posisi pelaku sektor ekonomi berubah. Banyak Perusahaan saat itu satu persatu pailit karena bahan baku impor meningkat secara drastis dan biaya cicilan utang meningkat sebagai akibat dari nilai tukar rupiah terhadap dolar yang menurun dan berfluktuasi. Sektor perbankan juga ikut terpuruk dan turut memperparah sektor industri dari sisi permodalan. Banyak perusahaan yang tidak mampu lagi meneruskan usaha karena tingkat bunga yang tinggi. Berdasarkan Data Departemen Koperasi dan UKM (Tabel 1) menunjukkan bahwa akibat krisis ekonomi, jumlah unit usaha menurun drastis (7.42%) dari 39.77 Juta unit usaha di tahun 1997 menjadi 36.82 Juta unit usaha di tahun 1998.
Tabel 1 : Data Perkembangan Dunia Usaha Indonesia 1997-2000

Unit Usaha (Ribu ) UMKM : 1. Usaha Kecil (inc Mikro) 2. Usaha Menengah Usaha Besar Total

1997 39,765.11 39,704.66 60.45 2.09 39,767.20

1998 36,813.58 36,761.69 51.89 1.83 36,815.41

1999 37,911.72 37,859.51 52.21 1.89 37,913.61

2000 39,176.79 39,121.35 55.44 2.01 39,178.80

%Growth 1997-1998 -7.42% -7.41% -14.16% -12.44% -7.42%

%Growth 1998-2000 6.42% 6.42% 6.84% 9.84% 6.42%

Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2000 (diolah)

Dibandingkan Usaha Mikro dan Kecil, Usaha Menengah dan Besar mengalami penurunan jumlah unit usaha cukup signifikan yaitu diatas 10%. Bahkan sesudah krisis, dibandingkan Usaha Besar, Usaha Menengah relatif lebih lambat untuk pulih dari krisis ekonomi, padahal Usaha Menengah memiliki peranan strategis untuk menjaga dinamika dan keseimbangan struktur perekonomian nasional. Usaha Besar walaupun dengan penurunan jumlah unit usaha yang lebih rendah dibandingkan Usaha Menengah, namun memiliki efek yang luar biasa pada perekonomian nasional. Ada sekitar 260 unit usaha yang mengalami kebangkrutan saat itu dan sebagian besar modalnya berasal dari modal asing dan sektor perbankan. Sedangkan dari sisi kontribusi terhadap PDB Nasional, Usaha Besar menyumbang sekitar 42% dari PDB Nasional waktu itu (Grafik 1). Akibatnya, ketika krisis berlangsung Perekonomian Indonesia mengalami kontraksi hebat yaitu mencapai hingga 13.3% (Grafik 2).

Grafik 1 : Distribusi PDB berdasarkan Skala Usaha
100.00% 80.00% 60.00% 42.14% 42.00% 41.27%

Grafik 2 : Pertumbuhan Perekonomian Indonesia
10.00% 5.00% 0.00% 1992 -5.00% 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000

17.41% 40.00% 20.00%
0.00% 40.45%

16.03%

15.65%

41.97%

43.08%

-10.00%
1997
Usaha Kecil (inc Mikro)

1998
Usaha Menengah

1999
Usaha Besar

-13.30% -15.00% % GDP Growth

Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2000 (diolah)

Sumber : Bank Indonesia (diolah)

Grafik 1 juga menjelaskan bahwa selama tahun 1997-1998, kontribusi Usaha Kecil terhadap perekonomian nasional tetap meningkat walaupun kondisi sedang krisis. Sebaliknya, Usaha Besar dan Usaha Menengah relatif menurun. Ini menegaskan bahwa UMKM khususnya Usaha kecil sesungguhnya memiliki tingkat kompetisi yang lebih baik daripada Usaha Besar terutama pada saat krisis ekonomi. UMKM telah menunjukkan kemampuannya dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional saat itu bahkan menjadi katup pengaman, dinamisator dan stabilisator bagi pemulihan ekonomi karena kemampuannya memberikan sumbangan yang cukup signifikan pada PDB Nasional maupun penyerapan tenaga kerja. Ketika terjadi krisis, banyak perusahaan formal skala menengah dan besar terpaksa menutup usahanya sebagai akibat tekanan inflasi, depresiasi rupiah, dan kekurangan modal yang bersumber dari dana asing dan perbankan. Banyak dari mereka akhirnya beralih profesi menjadi tenaga kerja di sektor Usaha Kecil. Tabel 2 menunjukkan daya serap UMKM saat dan pasca krisis.
Tabel 2 : Daya Serap UMKM Periode 1997-1999

UMKM (Ribu Orang ) Usaha Kecil (inc Mikro) Usaha Menengah Total

1997 57,483 7,726 65,209

1998 57,342 6,972 64,314

1999 59,940 7,230 67,170

D 1997-1998 (141) (755) (895)

D 1998-1999 2,598 258 2,856

Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2000 (diolah)

Tabel 2 menunjukkan bahwa saat krisis ekonomi, sektor Usaha Kecil dan Menengah mengalami penyusutan tenaga kerja. Namun periode berikutnya, sektor Usaha Kecil mampu menyerap hampir 20 kali lipat jumlah tenaga kerja yang hilang selama periode 1997-1998. Sedangkan Usaha Menengah baru menyerap sepertiganya. Ini menunjukkan Usaha kecil mampu bangkit dari krisis dalam waktu relatif singkat dan menjadi kekuatan pendorong bagi pembangunan perekonomian nasional. Berikut adalah daya serap tenaga kerja UMKM menurut sektor ekonomi (Grafik 3) dan distribusinya menurut sektor ekonomi (Grafik 4).

Grafik 3 : Pertumbuhan Tenaga Kerja UMKM (1998-1999)
Jasa Keuangan dan lainnya -0.15% Pengangkutan dan Telekomunikasi Perdagangan, Restoran, dan Hotel -0.66% Pertambangan, Listrik, Air, dan Bangunan
Industri Pengolahan Pertanian %Labour Growth 5.64% -21.72% 15.68% 5.82%

Grafik 4 : Distribusi Tenaga Kerja UMKM Menurut Sektor Ekonomi (Tenaga Kerja tahun 1999)
Pengangkutan dan Telekomunikasi 3.14% Jasa Keuangan dan lainnya 3.65%

Perdagangan, Restoran, dan Hotel 23.11%

Pertambangan, Listrik, Air, dan Bangunan 0.76%

Pertanian 60.23%

Industri Pengolahan 9.11%

Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2000 (diolah)

Berdasarkan grafik 3 dan 4, bahwa tenaga kerja yang bergerak di sektor UMKM lebih terkonsentrasi pada sektor pertanian. Sektor ini tumbuh 5.64% pada tahun 1999. Sektor Perdagangan, Restoran, dan hotel merupakan sektor terbesar kedua yaitu mencapai 23.11% dengan tingkat pertumbuhan turun sebesar 0,66%. Sedangkan Sektor Industri pengolahan merupakan sektor dengan tingkat pertumbuhan paling tinggi yaitu mencapai 15.68%. Kontribusi sektor ini baru mencapai 9.11% dari seluruh tenaga kerja UMKM. Besarnya tenaga kerja UMKM di sektor Pertanian dan Perdagangan tidak terlepas dari mudahnya akses ke sektor ini, dan komoditas ini tetap diperlukan sekalipun pada masa krisis karena orang membutuhkan makan dan distribusi pangan. Sementara itu, disisi lain pasar luar negeri masih terbuka karena daya saing harga dari komoditas pertanian indonesia mengalami peningkatan pada saat nilai tukar rupiah mengalami penurunan (depresiasi). Menurut Partomo (2004), ada beberapa faktor yang menyebabkan bertambahnya pelaku UMKM pasca krisis ekonomi yaitu : 1. Produk UMKM umumnya barang konsumsi dengan elastitas permintaan terhadap pendapatan yang rendah sehingga ketika terjadi perubahan tingkat pendapatan (penurunan) akibat krisis ekonomi tidak banyak berpengaruh terhadap permintaan barang yang dihasilkan. 2. Sebagian besar UKM tidak mendapat modal dari bank sehingga mereka terhindar dari beban biaya bunga tinggi akibat adanya peningkatan suku bunga ketika terjadi krisis di sektor perbankan. 3. Hambatan keluar-masuk dalam industri yang ditekuni pelaku UMKM hampir tidak ada. 4. Dengan adanya krisis ekonomi menyebabkan sektor formal banyak memberhentikan pekerjanya. Para penganggur ini akhirnya memasuki sektor informal, melakukan kegiatan usaha yang umumnya berskala kecil, akibatnya jumlah pelaku UMKM meningkat. Menurut Mudradjad Kuncoro, dalam Harian Bisnis Indonesia pada tanggal 21 Oktober 2008 mengemukakan bahwa UMKM terbukti tahan terhadap krisis dan mampu survive karena, pertama, tidak memiliki utang luar negeri. Kedua, tidak banyak utang ke perbankan karena mereka dianggap unbankable. Ketiga, menggunakan input lokal. Keempat, berorientasi ekspor. UMKM merupakan salah satu kekuatan pendorong terdepan dalam pembangunan ekonomi. Gerak sektor UMKM amat vital untuk menciptakan pertumbuhan dan lapangan pekerjaan. UMKM cukup fleksibel dan dapat dengan mudah beradaptasi dengan pasang surut dan arah permintaan pasar. Mereka juga

menciptakan lapangan pekerjaan lebih cepat dibandingkan sektor usaha lainnya, dan mereka juga cukup terdiversifikasi dan memberikan kontribusi penting dalam ekspor dan perdagangan. Pasca krisis, peningkatan peran dan kegiatan uaha UMKM semakin nampak jelas. UMKM telah menunjukkan perkembangan yang terus meningkat dan bahkan mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun-tahun berikutnya. Hal tersebut dapat dilihat pada data BPS tahun 2003, yang menunjukkan populasi UMKM mencapai sekitar 42.39 juta unit usaha atau 99.99% dari keseluruhan pelaku bisnis di Indonesia. Jumlah tersebut terdiri dari 42.33 juta Usaha Kecil dengan pertumbuhan 9,46% (20002003) dan usaha menengah sebanyak 63,546 dengan pertumbuhan 13.46% (2000-2003). Disamping itu UMKM juga memberikan kontribusi besar dalam penyerapan tenaga kerja yaitu 96.70% dan memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp. 1,148.5 triliun atau 57,06%. Sedangkan pada tahun 2010, jumlah UMKM di Indonesia mencapai 53.82 juta unit usaha atau meningkat 27% dibandingkan tahun 2003 dan telah menyerap 97.22% dari tenaga kerja nasional serta berkontribusi pada PDB Nasional sebesar 3,466.4 triliun atau 57.12% (BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM, 2010). Namun demikian, Jumlah dan potensi yang dimiliki UMKM ini ternyata belum menjadi modal yang cukup bagi UMKM untuk terus maju dan berkembang pesat. Sampai saat ini UMKM belum mengalami perkembangan berarti, meski ketangguhannya telah teruji pada saat terjadi krisis ekonomi tahun 1998. Untuk itulah, banyak pihak mengkritisi bahwa sistem perekonomian nasional masih belum cukup memihak dan memberikan kesempatan kepada UMKM, terutama dari sisi permodalan. Masalah Permodalan masih merupakan salah satu faktor kritis bagi UMKM, baik untuk pemenuhan kebutuhan modal kerja maupun modal investasi dalam pengembangan usaha. Salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari krisis 1997 adalah ketidakpedulian sektor perbankan pada UMKM produktif. Sebelum krisis, kredit perbankan amat terkonsentrasi pada kredit korporasi dan juga konsumsi. Hanya segelintir kredit yang disalurkan bank ke sektor UMKM. Dari jumlah unit usaha UMKM yang mencapai angka 51,41 juta (BPS, 2008) yang tersebar di seluruh wilayah di semua sektor usaha hanya sekitar 39% yang telah memperoleh kredit perbankan (Hafsah, 2004), sedangkan sisanya belum sama sekali tersentuh lembaga perbankan. Sebagian besar dari UMKM tersebut terdapat sekitar 95.7% merupakan pelaku usaha mikro : usaha rumah tangga, pedagang kaki lima, dan berbagai jenis usaha bersifat informal lainnya. Padahal skala usaha ini paling banyak menyerap tenaga kerja dan menopang peningkatan taraf hidup masyarakat. Selain itu, faktor internal seperti kekurangmampuan dalam manajemen, penguasaan teknologi, pemasaran dan rendahnya kompetensi menyebabkan kualitas UMKM saat ini masih rendah. Data menunjukkan bahwa produktivitas UMKM per tenaga kerja masih rendah dibawah 2% (BPS, 2010). Sebaliknya, produktivitas Usaha Besar mencapai 30% per tenaga kerja terhadap Output. Untuk itu, peran serta pemerintah sangat diperlukan sehingga UMKM dapat berperan optimal dalam pembangunan ekonomi Indonesia baik secara kuantitas maupun kualitas. Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang peran UMKM dalam pembangunan ekonomi Indonesia selama satu setengah dekade pasca krisis 1997, penulis mencoba menyajikan dalam working paper ini, yang dimulai dengan Bab I : Pendahuluan; Bab II : Pembahasan; dan Bab III : Kesimpulan. Penulisan juga menggunakan metode SWOT Analysis untuk melihat kondisi saat ini dan prospek ke depan.

II. PEMBAHASAN II.1. Definisi UMKM Sesuai dengan UU No. 20 tahun 2008 tentang UMKM, pengertian usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) mengacu kepada kriteria usaha, yaitu : 1. Usaha mikro : a. Usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro. b. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). 2. Usaha kecil : a. Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung atau maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil. b. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah). 3. Usaha menengah : a. Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung atau maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar. b. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau memiliki Hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah). II.2. Trend Perkembangan UMKM : Krisis 1997 – saat ini Krisis ekonomi tahun 1997 telah mengakibatkan jumlah unit usaha UMKM menurun dari 39.77 Juta unit usaha di tahun 1997 menjadi 36.82 Juta unit usaha di tahun 1998 atau turun 7.42%. Namun, sejak tahun 1998-2011 jumlah unit usaha UMKM terus mengalami peningkatan dengan rata-rata tumbuh sebesar 3.19% setiap tahunnya (Grafik 5). Pada tahun 2011, jumlah unit usaha UMKM mencapai 55.21 Juta atau 99.99% dari keseluruhan pelaku bisnis di Indonesia (Grafik 6). Jumlah ini meningkat 12.62% dalam lima tahun terakhir (2006-2011). Ini menunjukkan bahwa peran UMKM dalam pembangunan ekonomi terus meningkat secara signifikan dan menjadi penopang pembangunan karena besarnya konsentrasi pelaku bisnis di sektor ini (kekuatan mayoritas dalam dunia usaha). UMKM telah menjadi motor penggerak ekonomi nasional dan regional pasca krisis ekonomi hingga saat ini. Dibandingkan dengan usaha besar yang kontribusi dan pertumbuhannya lebih lambat, UMKM memiliki prospek untuk terus bertumbuh kedepannya seiring meningkatnya permintaan barang dan jasa dalam negeri.

Grafik 5 : Trend Jumlah Unit UMKM (1997-2011)
60,000

Grafik 6 : Distribusi Unit Usaha berdasarkan Skala Usaha
Usaha Kecil 1.09%

50,000
40,000 30,000

% Average Annual Growth (Pasca krisis : 3.19%)
20,000 10,000

Usaha Mikro 98.82%

Usaha Menengah 0.08% Usaha Besar 0.01%

0
1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Jumlah Unit UMKM (Ribu)

Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2011 (diolah)

Berdasarkan distribusi Skala usaha UMKM, Usaha Mikro merupakan usaha yang mendominasi UMKM Indonesia selama ini. Rata-rata Usaha Mikro mendominasi 98.89% dari total jumlah unit usaha UMKM dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 2.38% per tahun (Tabel 3). Selama tahun 2006-2011, Usaha Kecil merupakan skala usaha dengan tingkat pertumbuhan tertinggi yaitu mencapai 4.97% per tahun. Pada tahun 2011, skala usaha ini mencapai 602 ribu unit usaha atau meningkat 27.24% dibandingkan tahun 2006.
Tabel 3 : Jumlah Unit Usaha UMKM, Distribusi, dan Rata-Rata Pertumbuhan

Unit Usaha (Ribu ) Usaha Mikro Usaha Kecil Usaha Menengah UMKM

2006 2007 2008 2009 2010 2011 48,512.44 49,608.95 50,847.77 52,176.80 53,179.68 54,559.97 472.60 498.57 522.12 546.68 573.59 602.20 36.76 38.28 39.72 41.13 42.62 44.28 49,021.80 50,145.80 51,409.61 52,764.60 53,795.89 55,206.44

%Avg Dist %Avg Growth (2006-2011) 98.89% 2.38% 1.03% 4.97% 0.08% 3.79% 100.00% 2.41%

Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2011 (diolah)

Sedangkan dari sisi sebaran unit usaha berdasarkan sektor ekonomi, UMKM sejak tahun 1998 hingga saat ini masih didominasi oleh unit usaha dari Sektor Pertanian. Alasannya jelas karena sektor pertanian merupakan sektor dimana outputnya merupakan kebutuhan pokok masyarakat dengan jumlah permintaan yang cenderung meningkat, skala ekonomi dan kekuatan merek tidak begitu dipentingkan, dan bersifat padat karya. Skala ekonomi yang dimaksud disini adalah Sumber daya manusia, Modal, dan ketersediaan teknologi. Kontribusi sektor ini terhadap konsentrasi usaha UMKM dari tahun ke tahun terus menunjukkan penurunan. Pada tahun 1998, unit usaha UMKM terkonsentrasi di sektor ini mencapai 62.04%, dan turun menjadi 58.76% di tahun 2005. Sedangkan pada tahun 2011, konsentrasi usaha disektor ini hanya mencapai 49.98% (Tabel 4). Penurunan ini tidak terlepas dari berbagai persoalan di sektor ini seperti penurunan kualitas kesuburan tanah, berkurangnya luas lahan, banyaknya hama dan penyakit tanaman, penggunaan teknologi yang masih rendah, dan perubahan iklim yang tidak menentu dalam beberapa tahun terakhir. Nilai tambah yang rendah karena masih dijual dalam keadaan mentah menyebabkan produk yang dihasilkan memiliki daya jual yang rendah. Akibatnya, pendapatan yang dihasilkan juga akan rendah. Inilah yang menjadi pendorong sebagian pelaku bisnis lebih memilih sektor lain yang lebih prospektif, memiliki nilai tambah, dan lebih menguntungkan.

Tabel 4 : Distribusi Unit UMKM menurut Sektor Ekonomi

Unit Usaha Berdasarkan Sektor Ekonomi Pertanian Industri Pengolahan Pertambangan, Listrik, Air, dan Bangunan Perdagangan, Restoran, dan Hotel Pengangkutan dan Telekomunikasi Jasa Keuangan dan lainnya TOTAL

1998 62.04% 5.92% 0.64% 23.22% 4.33% 3.85% 100.00%

2005 58.76% 6.29% 0.81% 22.82% 6.05% 5.26% 100.00%

2011 49.98% 6.19% 1.59% 29.44% 6.46% 6.34% 100.00%

Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2011 (diolah)

Para pelaku usaha UMKM dalam lima tahun terakhir, lebih melirik sektor Perdagangan, Restoran, dan Hotel sebagai basis usahanya. Ini terbukti dengan meningkatnya kontribusi sektor ini dari 22.82% di tahun 2005 menjadi 29.44% di tahun 2011 (Tabel 4). Sedangkan sektor lainnya yang juga mulai menarik minat para pelaku UMKM adalah sektor Pengangkutan dan Jasa keuangan & lainnya. Konsentrasi usaha UMKM pada kedua sektor ini menunjukkan peningkatan selama periode 1998-2011. Kedua sektor ini memberikan nilai tambah yang lebih baik dibandingkan sektor pertanian, misalkan pada rumah makan, toko, jasa angkutan, jasa keuangan, dll. Jasa merupakan produk yang semakin menggeliat ditawarkan oleh banyak pelaku UMKM belakangan ini. Menurut Schoell dan Gultinan (1992), menyatakan bahwa sektor jasa sangat berkembang pesat akhir-akhir ini karena beberapa faktor atau penyebab, antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Perkembangan teknologi yang sangat pesat termasuk teknologi informasi. Adanya peningkatan pengaruh sektor jasa. Persentase wanita yang masuk dalam angkatan kerja semakin besar. Tingkat harapan hidup semakin meningkat. Produk-produk yang dibutuhkan dan dihasilkan semakin kompleks. Adanya peningkatan kompleksitas kehidupan. Meningkatnya perhatian terhadap ekologi dan kelangkaan sumber daya

II.3. Peran UMKM dalam Perekonomian Nasional II.3.1. Peran UMKM terhadap PDB Nasional PDB UMKM pasca krisis terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2010, PDB UMKM mencapai 3,466 triliun atau meningkat 4.5 kali dari jumlah PDB tahun 1998. PDB UMKM meningkat rata-rata 15.33% setiap tahunnya dengan rata-rata kontribusi terhadap PDB Nasional mencapai 57.56% (Grafik 7).
Grafik 7 : Trend PDB Riil UMKM dan Kontribusinya terhadap PDB Nasional
4,000,000
3,500,000 3,000,000 2,500,000 2,000,000 1,500,000 1,000,000

% Average Annual Growth (Pasca krisis : 15.33%)

60.00%
59.00% 58.00% 57.00%

56.00%
55.00% 54.00% 53.00% 52.00% 51.00% 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

500,000
-

PDB Riil UMKM (Milyar) %UMKM thd PDB Nasional Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2010 (diolah)

Secara kontribusi, PDB UMKM lebih tinggi dibandingkan Usaha Besar walaupun rata-rata kenaikan PDB UMKM masih lebih rendah dibandingkan Usaha Besar yang mencapai 21.37% setiap tahunnya. Sekalipun tetap dominan, peranan UMKM dalam menciptakan PDB Nasional mengalami penurunan selama periode 2002-2005, namun sejak tahun 2005 sampai saat ini kontribusi UMKM terus mengalami peningkatan. Rendahnya kontribusi UMKM selama 2002-2005 menunjukkan bahwa tingkat produktivitas UMKM saat itu cukup rendah. Hal ini karena kinerja UMKM yang kurang efisien, kurangnya tenaga profesional, dan penggunaan teknologi yang rendah. Dengan adanya kecenderungan peningkatan kontribusi UMKM menunjukkan bahwa lambat laun kinerja UMKM sudah mulai dibenahi dan membuahkan hasil. Ini tentunya tidak terlepas dari upaya pemerintah yang terus berusaha membenahi UMKM dan menciptakan iklim yang sehat dalam persaingan usaha antara sesama UMKM maupun UMKM dengan Usaha Besar, misalnya dengan penerapan rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) dibidang UMKM untuk periode 20052009 dan penyusunan rencana strategis kementerian Koperasi dan UMKM. Berdasarkan skala usaha UMKM, Usaha Mikro merupakan penyumbang terbesar dengan rata-rata 58% dari total PDB UMKM. Sedangkan Usaha Kecil dan menengah hanya berkontribusi masing-masing 18% dan 24% (Grafik 8). Adapun laju pertumbuhan Usaha mikro rata-rata selama 2006-2010 mencapai 5.14% sedikit lebih rendah dibandingkan Usaha Kecil dan Usaha Menengah yang mencapai 5.98% dan 5.34%. Secara keseluruhan, pertumbuhan UMKM per tahun dalam lima tahun terakhir mencapai 5.34% atau sedikit lebih rendah dibandingkan dengan usaha besar yang mencapai 6.22% (Grafik 9). Tingginya pertumbuhan output (GDP) Usaha Besar dibandingkan UMKM karena pada umumnya produktivitas Usaha Besar lebih efisien dan efektif. Bahkan laju pertumbuhan Usaha Besar yang semula jauh lebih rendah dibandingkan UMKM (20032005), karena pada waktu itu usaha besar masih mengalami restrukturisasi dan pembenahan pasca krisis,

namun lambat laun tingkat pertumbuhan outputnya semakin meningkat. Bahkan sejak tahun 2007, output Usaha Besar ini meningkat lebih besar dibandingkan UMKM. Pada tahun 2009, pasca krisis sub-prime mortgage yang mengakibatkan lesunya perekonomian dunia sebagai akibat pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju mengalam kontraksi juga berpengaruh pada kinerja output perekonomian Indonesia. Krisis saat itu masuk ke Indonesia melalui jalur transmisi finansial dan perdagangan. Akibatnya, pertumbuhan output pada masing-masing skala usaha mengalami penurunan, namun kondisi ini tidak berlangsung lama karena pada tahun 2010 sudah menunjukkan perbaikan seiring mulai membaiknya perekonomian dunia. Saat itu, pertumbuhan output UMKM menurun cukup signifikan. Hal ini karena ekspor non-migas Indonesia mengalami kontraksi sebagai akibat melemahnya daya beli masyarakat dunia dan merosotnya harga berbagai komoditas ekspor. Tekanan pada kinerja Ekspor lebih disebabkan negara tujuan utama ekspor cenderung terkonsentrasi pada sejumlah negara , dimana lebih dari separuh pangsa ekspor tertuju ke empat sampai lima negara saja (mitra dagang utama indonesia), yaitu Jepang, AS, Singapura, Korea, dan China (Bank Indonesia, 2009). Kontraksi disisi ekspor ini tentunya akan berpengaruh pada kinerja output UMKM mengingat kontribusinya terhadap total ekspor non-migas nasional mencapai rata-rata 20% selama tahun 2008-2009.
Grafik 8 : Distribusi PDB Riil UMKM menurut Skala Usaha
24.49% 75% 18.46% 18.33% 24.28%

Grafik 9 : Laju Pertumbuhan PDB menurut Skala Usaha
7.00%

100%

24.12% 18.09%

23.83%

23.56%
6.00%

17.65%

17.24%
5.00%

50%
58.52% 59.19%

25%

57.05%

57.39%

57.79%

4.00%

3.00%

0% 2006 2007 2008 % PDB Usaha Kecil 2009 2010 % PDB Usaha Mikro % PDB Usaha Menengah

2003

2004 Usaha Mikro

2005

2006

2007

2008

2009

2010

Usaha Kecil (Inc Mikro)

Usaha Menengah

Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2010 (diolah)

UMKM

Usaha Besar

PDB Nasional

Berdasarkan sektor ekonomi, PDB UMKM memiliki keunggulan dalam sektor tersier seperti Perdagangan, Restauran, dan Hotel dan bidang usaha yang memanfaatkan sumber daya alam (pertanian tanaman bahan makanan, perkebunan, peternakan dan perikanan). Besarnya kontribusi sektor Perdagangan, Restauran dan Hotel menunjukkan bahwa sektor ini memiliki nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan sektor pertanian. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa hampir separuh dari usaha UMKM terkonsentrasi pada sektor pertanian. Namun, kontribusi sektor ini pada tahun 2010 hanya mencapai 24.70%. Sebaliknya UMKM di sektor Perdagangan, Restauran dan Hotel berkontribusi 26.87%. Dari sisi laju pertumbuhan output, sektor ini juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu mencapai 8.50% pada tahun 2010 jauh diatas sektor pertanian yang hanya mencapai 3.62% (Grafik 10). Berbeda dengan UMKM, Usaha besar justru memiliki keunggulan dalam sektor padat modal seperti listrik, gas dan air bersih serta pertambangan dan penggalian, dan pengolahan lebih lanjut dari produk hasil ekstraksi sumber daya alam (industri pengolahan). Konstribusi masing-masing sektor ini pada PDB Nasional mencapai 28.56% dan 44.30% (Grafik 10).

Grafik 10 : Distribusi PDB UMKM dan Usaha Besar menurut Sektor Ekonomi
Share GDP (%) 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% 1.26% 28.56% 24.70% 3.62% 12.04% 12.09% 6.41% 7.04% 1.13% 2.00% 0.00% 26.87% 17.89% 17.70% UMKM-Share GDP (%) 44.30% Usaha Besar-Share GDP (%) 8.91% UMKM-Growth Rate (%) Growth Rate (%) 10.00% 8.00% 6.00% 4.00%

8.50%

Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2010 (diolah)

II.3.2. Peran UMKM terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Nasional Kontribusi UMKM dalam menyerap tenaga kerja menunjukkan trend meningkat pasca krisis tahun 1997. Rata-rata daya serap UMKM mencapai 97.03% dari total tenaga kerja nasional. Pada tahun 2011, UMKM menyerap kurang lebih 101 Juta jiwa tenaga kerja atau 97.04% dari total tenaga kerja nasional (Grafik 11). Dengan daya serap yang tinggi, UMKM telah menjamin stabilitas pasar tenaga kerja, penekanan pengangguran, dan menjadi wahana bangkitnya wirausaha baru, serta tumbuhnya wirausaha nasional yang tangguh dan mandiri. UMKM tetap menjadi tumpuan utama penyerapan tenaga kerja pada masa mendatang seiring terus meningkatkan pelaku usaha di sektor usaha ini. Ini menjadi bukti bahwa UMKM merupakan katup pengaman, dinamisator, dan stabilisator perekonomian Indonesia. Selama periode 20052011, jumlah tenaga kerja yang diserap UMKM selalu meningkat setiap tahunnya. Bahkan peningkatan daya serap terbesar terjadi pada tahun 2006. Saat itu, tingkat tenaga kerja di sektor UMKM meningkat 13.17% sementara disisi lain Usaha Besar justru mengurangi tenaga kerjanya pada periode 2005-2006 (Grafik 12). Krisis sub-prime mortgage juga mempengaruhi tingkat tenaga kerja pada Usaha Besar, dimana pada tahun 2009 jumlah tenaga kerja Usaha Besar turun sebesar 2.96%. Adanya PHK atas karyawan pada Usaha Besar, akan menyebabkan peluang meningkatnya tenaga kerja di sektor UMKM. Hal ini karena daya tampung dan daya serap perusahaan besar sangat terbatas dan cenderung menurun setiap tahunnya.

120,000 100,000
80,000 60,000 40,000 20,000 -

Grafik 11 : Trend Tenaga Kerja UMKM dan kontribusinya thd Tenaga Kerja Nasional

97.40% 97.20%
97.00%

15.00%

Grafik 12 : Laju Pertumbuhan Tenaga Kerja UMKM dan Usaha Besar

10.00%

5.00%
96.80% 96.60% 96.40% 96.20% 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

0.00% 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

-5.00%

-10.00% Annual Growth TK UMKM (%) Annual Growth TK Usaha Besar (%)

Tenaga Kerja UMKM (Ribu)

%UMKM thd Tenaga Kerja Nasional

Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2011 (diolah)

Berdasarkan skala usaha UMKM, penyerapan tenaga kerja UMKM didominasi oleh skala Usaha Mikro. Sektor ini menyerap kurang lebih 93.43% dari total tenaga kerja UMKM setiap bulannya. Sedangkan Usaha Kecil hanya menyerap 3.58% dan sisanya 2.89% diserap oleh Usaha Menengah (Grafik 13). Sedangkan menurut sektor ekonomi, tenaga kerja Usaha Mikro ini sebagian besar (54.02%) berada di sektor pertanian. Hanya 23.86% yang berada di sektor Perdagangan, Restoran, dan Hotel (produk tersier). Sebaliknya, tenaga kerja Usaha Kecil sebagian besar berada di sektor Perdagangan, Restoran, dan Hotel (37.78%) dan sektor Jasa keuangan dan lainnya (38.77%). Artinya, tenaga kerja Usaha Kecil lebih banyak terkonsentrasi pada produk-produk tersier dan hanya sebagian kecil yang bekerja di sektor pertanian. Sedangkan pada Usaha Menengah, tenaga kerja sebagian besar berada di sektor Industri Pengolahan (42.18%) atau lebih terkonsentrasi pada produk sekunder (pengolahan atau produksi). Sebagian lainnya, tenaga kerja pada Usaha Menengah juga banyak ditemukan pada sektor Perdangangan, Restauran, dan Hotel (20.29%) dan sektor Jasa Keuangan dan lainnya (14.79%). Seperti halnya Usaha Menengah, tenaga kerja Usaha Besar sebagian besar berasal dari sektor Industri Pengolahan (72.95%). Sedangkan tenaga kerja Usaha Besar pada sektor tersier seperti Jasa dan Perdagangan hanya sebesar 8.75% dan 6.93% (Grafik 14).
Grafik 13 : Distribusi Tenaga Kerja UMKM menurut Skala Usaha
3.57%

100%

3.62%

3.74%

3.66%

3.65%

3.85%

100%

Grafik 14 : Distribusi Tenaga Kerja menurut Sektor Ekonomi dan Skala Usaha
7.93% 4.04%
23.86% 1.26% 8.89% 14.79% 3.25% 20.29% 2.70% 3.47%

75%

75%

38.77%

11.63% 3.85%
25.19% 1.57% 11.35%

8.75% 3.48% 6.93% 6.44%

Jasa Keuangan dan lainnya Pengangkutan dan Telekomunikasi Perdagangan, Restoran, dan Hotel

50%

93.36%

93.33%

93.39%

93.56%

93.57%

93.35%

50%
37.78% 42.18%

Pertambangan, Listrik, Air, dan Bgn
72.95% Industri Pengolahan 46.40% Pertanian 1.46%

25%

25%

54.02% 3.06% 15.84%

0% 2006 2007 % TK Usaha Mikro 2008 2009 2010 % TK Usaha Menengah 2011
0%

16.02%

1.86%

Usaha Mikro Usaha Kecil

% TK Usaha Kecil

Usaha Menengah

UMKM

Usaha Besar

Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2011 (diolah)

Tumbuhnya UMKM di Indonesia dapat menjadi langkah awal bagi perbaikan ekonomi nasional. Ini tidak terlepas dari kompleksitas masalah tenaga kerja Indonesia. Menurut Suryo Bambang Sulisto, Ketua Umum Kadin Indonesia, dari jumlah angkatan kerja yang tersedia, terdapat 80% merupakan tenaga tidak terlatih. Kondisi ini tentunya sulit untuk diserap oleh industri dan bisnis skala besar yang sedang berupaya meningkatkan daya saingnya. Akibatnya, pengangguran akan tercipta karena ada sejumlah angkatan kerja yang tidak terserap dalam dunia usaha. Dengan pertumbuhan UMKM yang terus meningkat diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja baru bagi seluruh lapisan masyarakat. Data BPS 2011, menunjukkan bahwa rata-rata penambahan unit usaha UMKM mencapai 1.2 Juta unit setiap tahunnya dan rata-rata daya serap UMKM mencapai 3-5 tenaga kerja, dalam dua tahun kedepan jumlah tenaga kerja yang terserap akan bertambah sekitar 12 Juta jiwa. Dengan demikian, semakin tinggi jumlah unit usaha UMKM dan daya serap tenaga kerja kedepan, diharapkan dapat menurunkan tingkat pengangguran dan kemiskinan di masa mendatang. II.3.3. Peran UMKM terhadap Ekspor Nasional Dari sisi ekspor, selama pasca krisis secara volume menunjukkan trend meningkat. Rata-rata kontribusi ekspor UMKM terhadap ekspor non-migas nasional mencapai 18.12% per tahun (Grafik 15). Berdasarkan skala usaha, ekspor UMKM lebih didominasi oleh skala Usaha Menengah (68.42%). Sedangkan Usaha Mikro dan Kecil hanya berkontribusi masing-masing 9.25% dan 22.33% (Grafik 16).
200,000

Grafik 15 : Trend Ekspor UMKM dan kontribusinya thd Ekspor non-migas Nasional

25.00%
20.00% 15.00%

100%

Grafik 16 : Distribusi Ekspor UMKM menurut Skala Usaha

150,000

75%

68.22%
50%

68.27%

68.24%

68.44%

68.91%

100,000 10.00% 50,000 5.00%

25%

22.33% 9.45% 2006

22.53% 9.20% 2007

22.51% 9.25% 2008 % Ekspor Usaha Kecil

22.70% 8.86% 2009

21.60% 9.49% 2010

0
2000 2003 2005 2006 2007 2008 2009 2010

0.00%

0%

Ekspor UMKM (Milyar)

Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2010 (diolah)
60.00%
50.00%

%UMKM thd Ekspor Non-migas Nasional

% Ekspor Usaha Mikro

% Ekspor Usaha Menengah

Secara keseluruhan, kontribusi UMKM terhadap ekspor non-migas nasional secara relatif stabil pasca krisis 1997 sampai dengan 2008. Namun sejak tahun 2009, kontribusi UMKM sedikit menurun dan mencapai 15.81% di tahun 2010. Seperti halnya UMKM, Usaha Besar juga mengalami penurunan pada periode ini. Penurunan ini disebabkan adanya krisis

Grafik 17 : Laju Pertumbuhan Ekspor

40.00%
30.00%

20.00%
10.00% 0.00% -10.00% -20.00% Ekspor UMKM Ekspor Usaha Besar Ekspor Non-migas Nasional 2003 2005 2006 2007 2008 2009 2010

sub-prime mortgage yang berimbas pada
melemahnya perekonomian dunia dan merosotnya harga-harga komoditas ekspor. Rentannya kinerja ekspor

Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2010 (diolah)

Indonesia terhadap shock di kondisi eksternal ini sesungguhnya tidak terlepas dari karakteristik komoditas ekspor Indonesia yang meliputi (1) ketergantungan terhadap komoditas primer, (2) komoditas ekspor yang kurang terdiversifikasi, dan (3) tingginya kandungan impor pada komoditas ekspor. Kondisi ini menyebabkan kondisi ekspor Indonesia baik UMKM maupun Usaha Besar mengalami kontraksi pada tahun 2009. Ekspor UMKM dan Usaha Besar saat itu mengalami kontraksi masing-masing 8.85% dan 1.82% (Grafik 17). UMKM mengalami kontraksi yang cukup besar, ini dimungkinkan karena komoditas ekspor UMKM sendiri sebagian besar mengandung bahan dasar alam yang sudah mengalami proses pengolahan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Padahal ketika perekonomian global sedang berkontraksi, praktis permintaan ekspor untuk konsumsi ini akan turun seiring menurunnya penghasilan luar negeri. Belum lagi, pemberlakuan proteksi oleh negara luar terhadap produk konsumsi khususnya makanan dan minuman. Selain itu, turunnya harga barangGrafik 18 : Distribusi Ekspor menurut Sektor Ekonomi dan Skala Usaha
100%
2.92% 0.80%

1.33%
27.56%

75% 60.35% 50% 97.53% 88.31% 72.24%

25% 36.73%
0% Usaha Kecil Pertanian 1.67% Usaha Menengah Industri Pengolahan 10.36% UMKM 0.19% Usaha Besar

barang komoditas konsumsi juga ikut memperparah kinerja ekspor UMKM. Berdasarkan sektor ekonomi, komoditas ekspor UMKM sebagian besar berasal dari sektor industri pengolahan (88.31%). Bahkan untuk Usaha Menengah, 97.53% dari kegiatan ekspornya bersumber dari dari sektor ini. Sedangkan pada Usaha Besar, kontribusi sektor ini terhadap

total ekspornya mencapai 72.24%. Sedangkan sektor lainnya seperti sektor Pertambangan, hanya didominasi oleh Perusahaan-perusahaan Skala besar (Grafik 18).
Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2010 (diolah)
Pertambangan

Pada sektor industri pengolahan, Komoditas ekspor UMKM didominasi oleh komoditas Makanan, Minuman dan tembakau (22.59%) dan komoditas Pupuk, kimia dan barang dari karet (16.64%). Sedangkan Usaha Besar lebih didominasi oleh komoditas Alat Angkutan Mesin dan Peralatannya (27.03%) dan komoditas Pupuk, Kimia dan barang dari karet (20.78%). Sedangkan untuk komoditas makanan, minuman, dan tembakau pada skala Usaha Besar hanya berkontribusi sebesar 15.31% (Tabel 5).
Tabel 5 : Distribusi Komoditas Ekspor Industri Pengolahan menurut Skala Usaha

Industri Pengolahan Makanan, Minuman dan Tembakau Tekstil, Brg Kulit dan Alas Kaki Brg Kayu dan Hasil Hutan lainnya Kertas dan Barang Cetakan Pupuk, Kimia dan Brg dr Karet Semen & Brg Galian bukan logam Logam Dasar Besi dan Baja Alat angkutan Mesin & Peralatannya Barang lainnya Total

Usaha Kecil 24.24% 16.15% 19.88% 8.07% 21.04% 4.06% 0.00% 1.44% 5.12% 100.00%

Usaha Menengah 22.26% 11.87% 12.63% 7.28% 15.74% 1.27% 7.86% 16.65% 4.44% 100.00%

UMKM 22.59% 12.60% 13.86% 7.41% 16.64% 1.74% 6.53% 14.07% 4.56% 100.00%

Usaha Besar 15.31% 11.61% 6.53% 6.33% 20.78% 1.45% 9.99% 27.03% 0.99% 100.00%

Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2010 (diolah)

II.3.4. Peran UMKM terhadap Penyerapan Investasi Nasional Perkembangan investasi (pembentukan modal tetap bruto) memberikan harapan yang cukup baik pada UMKM. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah investasi UMKM setiap tahunnya dan besarnya daya serap UMKM terhadap investasi nasional yang secara rata-rata mencapai 48.11% (Grafik 19). Pada tahun 2010, jumlah investasi yang diserap oleh UMKM mencapai 927 triliun dengan rata-rata tingkat investasi yang diserap per unit usaha untuk skala Usaha Mikro mencapai 2 Juta, Usaha Kecil mencapai 400 Juta, dan Usaha Menengah mencapai 7 Milyar. Dibandingkan dengan Usaha Besar dimana rata-rata tingkat investasi yang diserap mencapai 135 Milyar per unit usaha, maka pengembangan UMKM hanya membutuhkan tingkat investasi yang jauh lebih rendah, dengan konsekuensi akan memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan ekonomi nasional (rata-rata share terhadap GDP nasional mencapai 57.56%). Adapun Investasi yang diserap UMKM, sebagian besar diserap oleh Usaha Menengah (46.14%). Sedangkan Usaha Mikro dan Kecil masing-masing menyerap Investasi UMKM sebesar 15.72% dan 38.14% (Grafik 20).
Grafik 19 : Trend Investasi UMKM dan kontribusinya thd Total Investasi Nasional Grafik 20 : Distribusi Investasi UMKM menurut Skala Usaha
100%

1,000,000

60.00%
50.00% 40.00%

800,000

75%

45.63%

45.38%

45.72%

47.24%

46.73%

600,000 30.00% 400,000 20.00% 200,000

50% 39.13% 25%

39.47%

38.20%

36.90%

37.00%

10.00%

15.24%
0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 0.00%

15.15% 2007

16.08%
2008

15.86%
2009

16.26% 2010

0%
2006

Investasi pada UMKM (Milyar)

% INV pada Usaha Mikro % INV pada Usaha Kecil %UMKM thd Investasi Nasional Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2010 (diolah)

% INV pada Usaha Menengah

Berdasarkan tingkat pertumbuhan investasi, pada periode 2004-2007 praktis daya serap investasi UMKM tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan investasi nasional yang kala itu mencapai rata-rata 29.40%. Sedangkan daya serap investasi Usaha Besar hanya tumbuh 23.08%. Namun, pada tahun 2008 terjadi kondisi sebaliknya, dimana daya serap investasi UMKM hanya mencapai 31.22% sedangkan investasi Usaha Besar dan nasional masing-masing tumbuh 50.69% dan 40.47% (Grafik 21). Pada tahun 2009, pasca krisis sub-prime mortgage

70.00%
60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% 2004

Grafik 21 : Laju Pertumbuhan Investasi

2005

2006

2007

2008

2009

2010

Investasi pada UMKM Investasi pada Usaha Besar Investasi Nasional Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2010 (diolah)

pertumbuhan investasi di Indonesia mengalami penurunan. Hal ini karena krisis tersebut telah memicu penurunan kepemilikan investor asing di pasar modal, karena ada kesulitan likuiditas di pasar global sehingga memaksa mereka untuk menarik dananya (deleveraging) dari Indonesia. Selain itu, penurunan ini juga diduga kuat didorong oleh perilaku risk aversion dari investor yang kemudian memicu terjadinya flight to quality dari aset yang dipandang berisiko ke aset yang lebih aman. Selain itu dampak tidak langsung dari sisi finansial akibat krisis ini adalah munculnya hambatan terhadap ketersediaan pembiayaan ekonomi, baik yang bersumber dari perbankan, lembaga keuangan lain maupun pihak-pihak lainnya (Bank Indonesia, 2009). Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan investasi nasional turun menjadi 30.45% pada tahun 2009 dan 21.08% pada tahun 2010. Selama periode 2009 dan 2010, pertumbuhan investasi UMKM dan Usaha Besar mengalami penurunan (Grafik 21). Pada akhir tahun 2011, indonesia memperoleh pencapaian yang luar biasa, yaitu naiknya peringkat investasi Indonesia menjadi Investment Grade oleh Lembaga Pemeringkat Kredit Internasional Fitch Ratings dan Moody‟s. Sebuah pencapaian yang luar biasa setelah peringkat yang sama diperoleh pada tahun 1997, yaitu saat krisis ekonomi Asia. Kondisi ini diharapkan akan menarik kembali minat investor pada berbagai sektor di Indonesia setelah perekonomian dunia dihantam dua krisis berturut-turut yaitu Sub-prime mortgage US dan European Sovereign Debt. Berdasarkan sektor ekonomi, daya serap investasi sebagian besar terjadi pada sektor usaha yang bergerak pada produk tersier yaitu Jasa Keuangan dan lainnya, Pengangkutan dan telekomunikasi, dan Perdagangan, restoran dan Hotel. Ketiga sektor ini mendominasi daya serap investasi baik pada Usaha Mikro, Kecil, Menengah maupun Besar (Grafik 22). Sedangkan Industri Pengolahan mendapatkan porsi yang kecil walaupun sektor ini mendominasi produk ekspor Indonesia.
100%
Grafik 22 : Distribusi Investasi menurut Sektor Ekonomi dan Skala Usaha

75%

43.68%

38.30%

40.70%

42.09%

41.45%

Jasa Keuangan dan lainnya
Pengangkutan dan Telekomunikasi Perdagangan, Restoran, dan Hotel

50% 28.60% 25% 16.37% 1.44% 3.39% 6.53% Usaha Kecil (Inc Mikro)

23.07%

25.54%

17.39% 6.56%

21.16% 11.04% 11.17% 10.96% 4.22% INVESTASI NASIONAL

Pertambangan, Listrik, Air, dan Bgn Industri Pengolahan Pertanian

16.16% 2.94% 12.12%

16.25% 2.27% 8.22% 7.02% UMKM

18.83%
13.31% 1.82% Usaha Besar

0%

7.41%
Usaha Menengah

Sumber : BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2010 (diolah)

Walaupun tenaga kerja dan unit usaha sebagian besar terkonsentrasi pada sektor pertanian, namun sektor ini kurang menarik bagi investor dalam menanamkan modalnya di sektor ini. Ada beberapa hal yang menjadi penyebab ketidaktertarikan ini, yaitu : 1. Sektor pertanian memiliki risiko dan ketidakpastian yang sangat tinggi dibandingkan sektor lain. 2. Masih minimnya sarana pendukung yang tersedia seperti Irigasi, infrastruktur, dll.

3. Masih sulitnya birokrasi yang ada apabila hendak mendirikan usaha pertanian yang memiliki skala ekonomi yang cukup besar. 4. Masih tidak stabilnya iklim politik khususnya pada beberapa komoditi pertanian yang menjadi komoditas politik. 5. Masih maraknya pungutan-pungutan liar sehingga semakin meningkatkan biaya yang harus dikeluarkan.

II.4. Analisa UMKM berdasarkan Pendekatan SWOT Analysis II.4.1. Kekuatan (Strength) Berdasarkan berbagai peran UMKM diatas, menunjukkan bahwa UMKM memiliki peranan yang signifikan terhadap proses pembangunan Indonesia baik masa krisis maupun pasca krisis ekonomi 1997 sampai dengan saat ini. Berdasarkan Data BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2011, diketahui bahwa jumlah pelaku usaha UMKM saat ini mencapai 55.2 Juta unit usaha atau 99.99% dari seluruh pelaku ekonomi nasional. Keberadaan UMKM dengan jumlah yang cukup besar dengan tingkat pertumbuhan 2.41% setiap tahunnya dan menyebar hingga kepelosok daerah, merupakan kekuatan ekonomi yang sesungguhnya dalam stuktur pelaku ekonomi nasional. Dari sisi tingkat daya serap tenaga kerja, UMKM mampu menyerap hingga 97.24% dari total tenaga kerja nasional. Rata-rata daya serap UMKM mencapai 3-5 tenaga kerja per unit usaha. Sehingga dengan pertumbuhan yang positif setiap tahunnya, UMKM dapat menyerap tenaga kerja cukup besar sehingga dapat menjamin stabilitas pasar tenaga kerja, penekanan pengangguran, menurunkan angka kemiskinan, dan menjadi wahana bangkitnya wirausaha baru, serta tumbuhnya wirausaha nasional yang tangguh dan mandiri. Sedangkan dilihat dari perannya terhadap PDB Nasional, UMKM berkontribusi rata-rata 56.67% dari PDB Nasional. PDB UMKM menunjukkan pertumbuhan positif pasca krisis ekonomi 1997 dan bergerak dengan kecepatan yang sama dengan PDB Nasional. Bahkan laju pertumbuhan UMKM pernah berada diatas laju PDB Nasional pada periode 2004-2007. Sebagian besar PDB UMKM disumbangkan oleh Usaha Mikro dengan rata-rata kontribusi mencapai 58% setiap tahunnya. Dengan melihat kondisi ini, PDB UMKM merupakan sandaran bagi produktifitas nasional. Disisi ekspor non-migas nasional, rata-rata kontribusi UMKM mencapai 18.12%. Dengan besar kontribusi ini setidaknya UMKM telah menjadi penguat ekspor non-migas nasional. Total ekspor UMKM terus bertumbuh dengan rata-rata pertumbuhan 13.94%. Adanya peran UMKM dalam sektor ekspor, merupakan bukti kemampuan dan daya saing produk UMKM di pasar persaingan internasional, sekaligus merupakan potensi yang perlu terus dipelihara untuk menjaga kesinambungan perdagangan internasional dan meraih devisa lebih besar. Terakhir adalah dari sisi daya serap investasi (pembentuk modal tetap bruto), UMKM mampu menyerap 48.11% dari total investasi nasional. Sebagian besar Investasi UMKM ini diserap oleh Usaha Menengah (46.14%), sedangkan Usaha Mikro dan Kecil menyerap masing-masing 15.72% dan 38.14%. Adapun Ratarata pertumbuhan investasi di sektor UMKM mencapai 32.77% setiap tahunnya, bahkan pada periode 2004-2007 pertumbuhan investasi UMKM melebihi pertumbuhan investasi Usaha Besar maupun Nasional. Dengan tingkat investasi ini, dibandingkan dengan Usaha Besar, maka pengembangan UMKM hanya

membutuhkan tingkat investasi yang jauh lebih rendah, dengan konsekuensi akan memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan ekonomi nasional. Dengan melihat berbagai peranan UMKM terhadap pembangunan ekonomi diatas, membuktikan bahwa UMKM merupakan katup pengaman, dinamisator, dan stabilisator perekonomian Indonesia serta sudah teruji kekuatan dan kehandalannya ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi tahun 1997 dan krisis ekonomi dunia seperti Sub-prime mortgage US dan European Sovereign Debt. II.4.2. Kelemahan (Weakness) Dari Total unit usaha sebesar 55.21 Juta unit terdapat 99.91% atau 55.16 Juta unit usaha merupakan Usaha Mikro dan Kecil, dengan skala usaha yang tidak ekonomis. Dengan bentuk badan usaha perorangan, kebanyakan usaha ini dikelola secara tertutup, dengan legalitas usaha dan administrasi kelembagaan yang sangat tidak memadai. Bahkan pada Usaha Mikro, sebagian besar pelaku usaha di sektor ini termasuk dalam kelompok keluarga miskin, berpenghasilan rendah, bergerak di sektor informal (tidak memiliki ijin usaha), dan umumnya belum mengenal perbankan dan lebih sering berhubungan dengan rentenir/tengkulak. Selain itu, UMKM juga menghadapi persoalan rendahnya kualitas sumber daya manusia. Kebanyakan SDM UMKM berpendidikan rendah dengan keahlian teknis, kompetensi, kewirausahaan dan manajemen yang seadanya. Masalah klasik lain yang dihadapi adalah terbatasnya akses kepada sumber daya produktif, terutama terhadap bahan baku, permodalan, teknologi, sarana pemasaran serta informasi pasar. Sedangkan dalam hal pendanaan, UMKM memiliki permasalahan karena modal sendiri yang terbatas, tingkat pendapatan rendah, aset jaminan dan administrasi tidak memenuhi persyaratan perbankan. Bahkan bagi Usaha Mikro dan Kecil sering kali terjerat rentenir atau tengkulak dan kurang tersentuh oleh lembaga pembiayaan (unbankable). Berdasarkan data Bank Indonesia, kredit yang disalurkan oleh Perbankan ke sektor UMKM sebagian besar masih terserap oleh Usaha Kecil dan Menengah. Sedangkan Usaha Mikro hanya menyerap dibawah 20% dari total kredit UMKM (Grafik 23). Kredit ini sebagian besar disalurkan pada sektor tersier yaitu Sektor Perdagangan, Restoran, dan Hotel dan Sektor Jasa Keuangan dan lainnya (Grafik 24). Padahal, mayoritas pelaku usaha UMKM terkonsentrasi pada Sektor Pertanian.
Grafik 23 : Distribusi Kredit UMKM menurut Skala Usaha
100%

Grafik 24 : Distribusi Kredit UMKM menurut Sektor Ekonomi
Pertanian 6.50%

75%

45.48%

48.81%

48.11%
Jasa Keuangan dan lainnya 25.36%

Industri Pengolahan 11.40% Pertambangan, Listrik, Air, dan Bgn 6.42%

50%

35.73%
25% 18.79% 0% 2010 Mikro

31.98%

32.10%
Perdagangan, Restoran, dan Hotel 46.37% Pengangkutan dan Telekomunikasi 3.94%

19.21%
2011 Kecil Menengah

19.78% May-12

Sumber : Bank Indonesia (diolah)

Adapun berkaitan dengan akses teknologi, umumnya UMKM mengunakan teknologi sederhana dan kurang memanfaatkan teknologi yang lebih memberikan nilai tambah. UMKM juga sulit untuk memanfaatkan informasi pengembangan produk dan usahanya. Dalam upaya pemberdayaannya, UMKM menghadapi adanya ketimpangan dalam penguasaan sumber daya produktif baik antar pelaku usaha, antar daerah maupun antara pusat dan daerah. Berbagai kondisi diatas, telah berakibat pada rendahnya tingkat produktivitas dan daya saing produk UMKM. Terlebih lagi UMKM tidak memiliki jaringan pasar dan pemasaran yang luas. Kebanyakan dari mereka hanya memiliki akses pasar di tingkat lokal, atau yang paling maju mereka dapat melakukan sedikit ekspor melalui Usaha Menengah dan Besar yang berlaku sebagai perantara. II.4.3. Peluang (Opportunity) Setelah satu setengah dekade pasca krisis ekonomi 1997, kondisi perekonomian sudah menunjukkan perbaikan bahkan pertumbuhan ekonomi indonesia dapat tumbuh diatas angka 6% dengan stabilitas yang tetap terjaga dengan baik. Kondisi ini memberikan peluang sangat lebar bagi UMKM untuk tumbuh apalagi kondisi perekonomian Indonesia ditopang oleh stabilitas politik dan keamanan yang relatif aman dan terjaga. Dengan demikian diharapkan akan makin meningkatkan daya beli dan keanekaragaman pola permintaan masyarakat, serta jumlah penduduk yang sangat besar, berarti pasar dalam negeri akan berkembang lebih besar. Selain itu, UMKM dapat didorong menjadi motor penggerak perekonomian nasional, mengingat kandungan impornya yang rendah, dan keterkaitan antar sektor yang relatif tinggi. UMKM umumnya bergerak di sektor padat karya yang memerlukan investasi relatif rendah dan lag waktu yang singkat, sehingga upaya untuk mendorong pertumbuhannya menjadi relatif lebih mudah dan lebih cepat. Berbagai potensi tersebut akan terus dapat dikembangkan karena ditopang dengan tersedianya jumlah penduduk sebagai tenaga kerja yang potensial. Terlebih dalam beberapa tahun terakhir Pemerintah telah menetapkan arah pembangunan dengan penekanan pada pendidikan yang diharapkan semakin Link and match dengan tantangan persaingan tenaga kerja dan penciptaan wirausaha baru. Selebihnya pengembangan UMKM dapat terus dilakukan karena alam Indonesia mengandung kekayaan yang tiada tara dan tersedianya keragaman bahan baku bagi produk inovatif. Seiring prospek pengembangan kedepan, adanya perubahan struktur pelaku ekonomi dari pertanian ke agrobisnis, diharapkan akan dapat memacu dan meningkatan produktivitas usaha dan investasi bagi usaha UMKM. Kondisi ini diharapkan akan memacu peluang bagi usaha UMKM terutama di bidang agrobisnis, agroindustri, kerajinan industri, dan industri-industri lainnya sebagai pelaku sub-kontraktor yang kuat dan efisien bagi usaha besar. Berlakunya perdagangan bebas, serta makin pesatnya kerjasama ekonomi antar negara terutama dalam konteks ASEAN dan APEC, akan menciptakan peluang baru bagi UMKM, sehingga dapat meningkatkan peranannya sebagai penggerak utama pertumbuhan industri manufaktur dan kerajinan, agroindustri, ekspor non migas, dan penciptaan lapangan kerja baru.

II.4.4. Ancaman (Threat) Walaupun perdagangan bebas akan menciptakan peluang penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional, namun perdagangan bebas yang ditandai dengan berlakunya Asean Free Trade Area (AFTA) dan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) pada tahun 2010, juga dapat menjadi ancaman, karena asimetris dalam penguasaan pasar dan rendahnya daya saing produk UMKM di pasar internasional. Produk UMKM dalam negeri akan semakin terhimpit dengan masuk dan beredarnya produk impor ditambah dengan berkembangnya bisnis retail oleh Usaha Besar akan memberikan tekanan persaingan pada produk UMKM. Namun demikian, walaupun Usaha Besar memberikan ancaman, perlu disadari bahwa keberadaannya dapat menjadi mitra penting dalam pengembangan ekonomi rakyat. Bersama Usaha Besar, UMKM dapat mengembangkan kerjasama seperti pengembangan kemitraan dan jaringan pasar bersama, tempat magang, alih teknologi, pendampingan dan advokasi serta CSR (Corporate Social Responsibility) dengan menekankan pada bentuk kerjasama yang saling membutuhkan, menguntungkan, dan membesarkan. Sementara disisi lain, peningkatan kapasitas usaha UMKM terbentur oleh masalah pendanaan dimana produk jasa lembaga keuangan sebagian besar masih berupa kredit konsumsi dan modal kerja (bersifat jangka pendek). Menurut data Bank Indonesia, rata-rata kredit investasi hanya mencapai 10% dari total kredit yang disalurkan ke UMKM, sisanya merupakan kredit konsumsi dan modal kerja (Grafik 25).
Grafik 25 : Distribusi Kredit UMKM menurut Jenis Penggunaan
100%
42.17%

75%

50.50%

52.42%

53.48%

52.76%

52.71%

53.47%

50%

13.04%

9.31%

8.55%

8.65%

9.13%

10.18%

10.54%

25%

44.79%

40.19%

39.03%

37.87%

38.11%

37.11%

35.99%

0% 2001 2005 2008 Modal Kerja 2009 Investasi 2010 Konsumsi 2011 May-12

Kondisi ini akan mempersulit upaya peningkatan kapasitas usaha termasuk dalam rangka pengembangan produkproduk yang berdaya saing. Disamping itu, bunga pinjaman juga masih dianggap terlalu tinggi, dan persyaratan pinjaman juga tidak mudah dipenuhi, seperti persyaratan nilai jaminan yang jauh lebih tinggi dari nilai pinjaman meskipun usahanya layak. Dunia perbankan sebagai sumber pendanaan terbesar masih memandang bahwa usaha UMKM merupakan jenis usaha yang beresiko tinggi.

Sumber : Bank Indonesia (diolah)

Selain masalah diatas, masalah lain adalah iklim usaha yang kurang kondusif diantaranya (a) ketidakpastian dan ketidakjelasan prosedur perizinan yang mengakibatkan besarnya biaya transaksi, panjangnya proses perizinan, dan timbulnya berbagai pungutan tidak resmi; (b) proses bisnis dan persaingan usaha yang tidak sehat; dan (c) lemahnya koordinasi lintas instansi dalam pemberdayaan UMKM. Di samping itu, otonomi daerah sebagai implimentasi UU No.22 tahun 1999 yang diharapkan mampu mempercepat tumbuhnya iklim usaha yang kondusif bagi UMKM, temyata belum menunjukkan kemajuan yang merata. Sejumlah daerah telah mengidentifikasi peraturan-peraturan yang menghambat, sekaligus berusaha mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan, bahkan telah meningkatkan pelayanan kepada UMKM dengan mengembangkan pelayanan satu atap. Namun, masih terdapat daerah lain yang memandang UMKM sebagai sumber pendapatan asli daerah dengan mengenakan pungutan-pungutan baru yang tidak perlu, sehingga biaya usaha UMKM meningkat.

II.5. Upaya untuk Pengembangan UMKM ke depan Pengembangan UMKM pada hakekatnya merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Berdasarkan hasil analisa SWOT diatas, maka upaya pengembangan UMKM kedepan adalah : 1. Menciptakan Iklim Usaha yang Kondusif Pemerintah perlu mengupayakan terciptanya iklim yang kondusif antara lain dengan mengusahakan ketenteraman dan keamanan berusaha serta penyederhanaan prosedur perijinan usaha, keringanan pajak dan sebagainya. 2. Bantuan Permodalan Pemerintah perlu memperluas skim kredit khusus dengan syarat-syarat yang tidak memberatkan bagi UMKM, untuk membantu peningkatan permodalannya, baik itu melalui sektor jasa finansial formal, sektor jasa finansial informal, skema penjaminan, leasing dan dana modal ventura. 3. Perlindungan Usaha Jenis-jenis usaha tertentu, terutama jenis usaha tradisional yang merupakan usaha golongan ekonomi lemah, harus mendapatkan perlindungan dari pemerintah, baik itu melalui undang-undang maupun peraturan pemerintah yang bermuara kepada saling menguntungkan. 4. Pengembangan Kemitraan Perlu dikembangkan kemitraan yang saling membantu antara UMKM, atau antara UMKM dengan pengusaha besar di dalam negeri maupun di luar negeri, untuk menghindarkan terjadinya monopoli dalam usaha. Disamping itu juga untuk memperluas pangsa pasar dan pengelolaan bisnis yang lebih efisien. Dengan demikian UMKM akan mempunyai kekuatan dalam bersaing dengan pelaku bisnis lainnya, baik dari dalam maupun luar negeri. 5. Pelatihan Pemerintah perlu meningkatkan pelatihan bagi UMKM baik dalam aspek kewiraswastaan, manajemen, administrasi dan pengetahuan serta keterampilannya dalam pengembangan usahanya. 6. Memperkuat Asosiasi Asosiasi yang telah ada perlu diperkuat, untuk meningkatkan perannya antara lain dalam pengembangan jaringan informasi usaha yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan usaha bagi anggotanya. 7. Mendirikan sentra usaha di masing-masing daerah/wilayah. Perlu dibangun sentra usaha yang bertanggung jawab dalam mengkoordinasikan semua kegiatan yang berkaitan dengan upaya penumbuhkembangan UMKM di tingkat daerah atau wilayah dan juga berfungsi untuk mencari solusi dalam rangka mengatasi permasalahan baik internal maupun eksternal yang dihadapi oleh UMKM. 8. Mengembangkan Promosi Guna lebih mempercepat proses kemitraan antara UKM dengan usaha besar diperlukan media khusus dalam upaya mempromosikan produk-produk yang dihasilkan. Disamping itu perlu juga diadakan talk show antara asosiasi dengan mitra usahanya.

III. KESIMPULAN Berdasarkan data-data yang sudah dipaparkan, UMKM memiliki peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional dilihat dari (1) Kedudukannya sebagai pemain utama dalam kegiatan ekonomi di berbagai sektor, (2) Penyedia lapangan kerja yang terbesar, (3) Pemain penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat, (4) Pencipta pasar baru dengan tingkat Investasi rendah namun berkontribusi tinggi terhadap output nasional, dan (5) Sumbangannya dalam menjaga neraca pembayaran melalui kegiatan ekspor. Berdasarkan Peran tersebut telah membuktikan bahwa UMKM merupakan katup pengaman, dinamisator, stabilisator perekonomian Indonesia dan sudah teruji kekuatan dan kehandalannya ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi tahun 1997 dan krisis ekonomi dunia seperti Sub-prime mortgage US dan European Sovereign Debt. UMKM yang umumnya berbasis pada sumber daya ekonomi lokal dan tidak bergantung pada impor, serta hasilnya mampu diekspor karena keunikannya, maka pembangunan UMKM diyakini akan memperkuat pondasi perekonomian nasional. Perekonomian Indonesia akan memiliki fundamental yang kuat jika UMKM telah menjadi pelaku utama yang produktif dan berdaya saing. Untuk itu, pembangunan UMKM perlu menjadi prioritas utama pembangunan ekonomi nasional dalam jangka panjang. Namun, dalam pembangunan UMKM ke depan tentunya tidak berjalan dengan mulus karena masih banyaknya hambatan dan tantangan yang harus segera diselesaikan, dan ini bukan saja menjadi pekerjaan rumah pemerintah melainkan membutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat. Berbagai permasalahan tersebut adalah rendahnya kualitas SDM, lemah dalam memperoleh pasar & memperluas pasar, lemah dalam permodalan, keterbatasan jaringan usaha, iklim usaha yang tidak kondusif, penggunaan teknologi yang sederhana, dan kewirausahaan dan manajemen yang seadanya. Kondisi ini mengakibatkan rendahnya tingkat produktivitas dan daya saing produk UMKM. Melalui analisis SWOT, penulis mencoba mengidentifikasi berbagai permasalahan UMKM saat ini dan di masa datang dan disisi lain menggali potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh UMKM sendiri. Berdasarkan hasil analisis, penulis dengan bertumpu pada kajian-kajian UMKM sebelumnya mencoba membangun upaya-upaya apa saja yang dibutuhkan dalam membangun UMKM ke depan dengan harapan UMKM ini kelak menjadi kekuatan ekonomi yang produktif, memiliki nilai tambah, dan mampu bersaing baik di pasar domestik maupun internasional seiring mulai diberlakukannya perdagangan bebas kawasan seperti AFTA dan ACFTA.

DAFTAR PUSTAKA

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23.

Badan Pusat Statistik (2007). Statistik Usaha Kecil dan Menengah Tahun 2005-2006. ________________ (2008). Perkembangan Indikator Makro UKM No.28/05/Th XI. Bank Indonesia (1999). Laporan Tahunan 1998/1999. ____________ (2000). Laporan Tahunan 2000. ____________ (2009). Laporan Tahunan 2009. ____________(2009). Hasil Kajian kredit Konsumsi Mikro, Kecil dan Menengah untuk kegiatan Produktif. ____________ (2012). Laporan Perkembangan Kredit UMKM Triwulan I. ____________ (2012). Statistik Perbankan Indonesia Vol.10 No.4. Deputi Bidang Pengkajian Sumber daya UMKM – DepKop & UKM (2006). Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM No. 2 Tahun I. Gemari (2008). Kredit Pundi dan Krista : Siap Atasi Krisis Global Edisi 94/Tahun IX Gerai Info (2011). Newsletter Bank Indonesia Edisi XIII Tahun 2. Hafsah, M. J. (2004), “Upaya Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM),“ Infokop No. 25 Tahun XX Kementerian Koperasi dan UKM (2010). Rencana Strategis Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Tahun 2010-2014 No. 01/Per/M.KUKMII/2010. __________________________ (2011). Perkembangan Data Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan Usaha Besar (UB) tahun 2006-2011. Partomo, T.S. (2004), “Usaha Kecil Menengah dan Koperasi,” Working Paper Series 9. Rafinaldy, N. (2006), “Memeta Potensi dan Karakteristik UMKM Bagi Penumbuhan Usaha Baru,” Infokop No. 29 Tahun XXII. Syarif, T. (2008), “Pendekatan dan Strategi Pembangunan Ekonomi yang Berorientasi pada Perbaikan Iklim Usaha UMKM,” Infokop Volume 16, 37-50. Suarja, W. (2007), “Kebijakan Pemberdayaan UKM dan Koperasi Guna Menggerakkan Ekonomi Rakyat dan Menanggulangi Kemiskinan,” LPPM IPB-Bogor Suhanto (2012). Pemberdayaan UMKM dan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Todara, M. P. dan Smith, S. C. (2006). Pembangunan Ekonomi Jilid I-II. Edisi 9. Penerbit Erlangga. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Winantuningtyastiti (2009), “Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Melalui Strategi Pengembangan Usaha Menengah, Kecil dan Mikro : Harapan Penopang Dampak Krisis Ekonomi Global”, Kajian 14 (1). WorldBank (2005). Indonesia Policy Briefs : Mendukung Usaha Kecil dan Menengah. http://www.worldbank.or.id

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->