Anda di halaman 1dari 7

DIVIDEND POLICY

Kebijakan dividen ( dividend policy ) menentukan berapa banyak laba yang harus dibayarkan( disebut dividen ) kepada pemegang saham serta berapa banyak yang harus ditanam kembali dalam perusahaan. Kebijakan dividen merupakan bagian integral dari keputusan pembelanjaan perusahaan. Dividen payout ratio ( DPR ) menentukan jumlah laba yang dapat ditahan perusahaan sebagai sumber pembelanjaan. DPR adalah dividen kas tahunan dibagi dengan laba perlembar saham ( EPS ). Rasio ini menunjukkan persentase perusahaan yang dibayarkan kepada para pemegang saham biasa prusahaan berupa dividen kas. Bila laba saat ini perusahaan ditahan dalam jumlah besar, berarti laba yang akan dibayarkan sebagai dividen menjadi lebih kecil. Laba ditahan merupakan asfek salah satu sumber dana yang terpenting untuk membiayai pertumbuhan perusahaan, disisi lain dividen membentuk aliran kas yang semakin banyak mengalir ke tangan pemegang saham. Kebijakan dividen menyangkut tiga masalah antara lain: a. Seberapa banyak laba yang harus dibagikan secara rata-rata selama jangka waktu tertentu b. Apakah pembagian itu sebaiknya dalam dividen tunai Pembelian kembali c. Apakah perusahaan sebaiknya mempertahankan tingkat pertumbuhan dividen yang stabil. Dalam menentukan jumlah kas yang akan dibagikan pada pemegang saham,manajer keuangan harus ingat bahwa tujuan perusahaan adalah memaksimalkan pemegang saham sehingga Rasio Pembayaran yang Ditargetkan ( target payout ratio ) yang didefinisikan sebagai presentase dari laba bersih yang harus dibayarkan sebagai dividen tunai dan sebagian besar harus didasarkan pada potensi investor atas dividen lawan keuntungan modal.Prefensi ini dapat dipertimbangkan dalam pengertian model penilaian saham dengan pertumbuhan konstan : D1 Po = ----------------Ku - g Jika perusahaan menaikkan rasio pembagian D1 akan naik. Kenaikan dalam pembikang ini saja akan mengakibatkan harga saham naik. Namun jika dividen tunai meningkat, makin sedikit dana yang setia untuk reinvestasi, sehingga tingkat pertumbuhan yang diharapkan akan rendah untuk masa mendatang dan akan menekan harga saham. Dengan demikian kebijakan

dividen yang optimal dalam perusahaan adalah kebijakan yang menciptakan keseimbangan antara dividen saat ini dan pertumbuhan dimasa mendatang yang memaksimumkan harga saham. TEORI KEBIJAKAN DIVIDEN A. Kebijakan Dividen Tanpa Pajak Asumsi : 1) Perusahaan tidak mempunyai hutang 2) Tidak ada pajak 3. Arus kas operasi ( NOI (t) ) dan rencana investasi ( I(t) ) sama, maka tingkat pengembalian dalam satu periode, ku, untuk saham adalah :
d1(t

+ 1) + p1(t + 1 ) p1 ( t )
P1 (t )

Ku ( t+1 ) = ---------------------------------------------------

Dimana, Ku ( t + 1 ) d1 ( t + 1 ) p1 ( t + 1 ) p1 (t ) = biaya modal untuk suatu perusahaan unlevered pada periode t = dividen per saham yang dibayarkan pada akhir periode i = harga per saham pada akhir periode t = harga per saham pada permulaan periode t

B. Kebijakan Dividen yang Terkena Pajak Diperkirakan ada tiga jenis tarif pajak : 1). Tarif pajak proporsional ( Tc ), 2). Tarif pajak penghasilan pribadi dan obligasi,dividen dan upah ( Tp ) dan 3). Pajak keuntungan modal ( Tg ). Sepanjang ( Tp > Tg ) maka pemegang saham akan lebih menyukai perusahaan yang tidak membayarkan dividen. Mereka akan lebih untung jika dana tetap pada perusahaan atau dibayarkan melalui pembelian kembali saham yang beredar. Dengan demikian mereka membayar pajak atas keuntungan modal yang lebih rendah dari pada pajak penghasilan biasa. Kasus 1. Jika perusahaan membayar semua arus kasnya sebagai dividen pemgang saham ke-i akan menerima sesudah pajak, Ydi : Ydi = [( )( ) ] (1-Tpi )

Dimana : Ydi NOI R Dc Dpi = arus penghasilan sesudah pajak = arus operasi perusahaan = suku bunga pinjaman = hutang perusahaan = hutang pribadi individu

Kasus 2 : Jika perusahaan tidak membayar dividen diasumsikan semua keuntungan modal dinikmati oleh penanam modal dan terkena tarif pajak keuntungan modal,maka : Ygi = ( NOI-rDc ) ( 1 Tgi ) rDpi (1-Tpi ) Dimana : Tgi = tarif pajak keuntungan modal. TIGA TEORI PREFENSI INVESTOR A. Teori Ketidakrelevanan Dividen, Teori ini menyatakan bahwa kebijakan dividen perusahaan tidak mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan maupun biaya modalnya.Pendukung utama teori ini adalah Merton Miller dan Franco Modigliani, dia berpendapat bahwa nilai suatu perusahaan hanya ditentukan kemampuan dasarnya untuk menghasilkan laba dan resiko bisnisnya. B. Teori Bird in the Hand. Teori ini menyatakan bahwa nilai perusahaan akan dimaksimalkan dengan menentukan rasio pembagian dividen yang tinggi. Teori ini menyatakan bahwa Ks akan turun apabila rasio pembagian dividen dinaikkan karena para investor kurang yakin terhadap penerimaan keuntungan modal yang akan dihasilkan dari laba yang ditahan dibandingkan dengan seandainya mereka menerima dividen. Teori tersebut memberikan saran yang saling bertentangan bagi para manajer perusahaan, banyak pengujian empiris yang telah dilakukan tetapi hasilnya belum jelas, setidaknya ada dua alasan antara lain pertama, pengujian statistik yang sah halhal selain dari kebijakan dividen harus konsisten yaitu perusahaan yang dijadikan sampel harus berbeda hanya dalam kebijakan dividennya, sementara yang kedua, harus mampu mengukur biaya ekuitas untuk perusahaan yang dijadikan sampel.

C. Teori Preferensi Pajak. Ada tiga alasan yang berkaitan dengan pajak untuk beranggapan bahwa investor mungkin lebih menyukai pembagian dividen yang rendah daripada yang tinggi, Pertama, pertumbuhan laba mungkin dainggap menghasilkan kenaikan harga saham, dan keuntungan modal yang pajaknya rendah akan menggantikan dividen yang pajaknya lebih tinggi. Kedua, pajak atas keuntungan tidak dibayarkan sampai saham terjual. Karena ada efek nilai waktu satu dolar pajak yang dibayarkan dimasa mendatang mempunyai biaya efektif yang lebih rendah daripada satu dolar yang dibayarkan hari ini. Ketiga, Jika selembar saham dimiliki seseorang sampai meninggal sama sekali tidak ada pajak keuntungan modal yang terutang, ahli waris yang menerima saham itu dapat menggunakan nilai saham pada hari kematian sebagai dasar biaya mereka, dengan demikian mereka terhindar dari pajak keuntungan modal. STABILITAS DIVIDEN Stabilitas dividen penting, laba dan arus kas yang berubah-ubah sepanjang waktu, demikian juga peluang investasi. Jadi memaksimalkan harga saham mengharuskan perusahaan menyeimbangkan kebutuhan dana untuk internal dan keinginan para pemegang sahamnya. Solusi yang relevan untuk tercapainya keseimbangan adalah: Pertama Setiap perusahaan yang dimiliki public membuat peramalan keuangan lima atau sepuluh tahun untuk laba dan dividen, Kedua Kebijakan dividen saat ini dikatakan stabil apabila meningkatkan dividen pada laju yang mantap.Ketiga, Biaya akuitas diminimumkan dan harga saham dimaksimumkan,jika suatu perusahaan ingin berusaha sedapat mungkin menjaga kestabilan jumlah dividennya. PENILAIAN STABILITAS DIVIDEN Muatan Informasi, jika laba perusahaan menurun namun perusahaan tidak mengurangi dividennya pasar akan memiliki kepercayaan yang lebih tinggi terhadap saham. Dividen stabil berpandangan bahwa masa depan perusahaan lebih baik daripada yang direfleksikan oleh penurunan laba. Maka manajemen dapat mempengaruhi harapan investor melalui informasi yang terkandung pada dividen.

Keinginan memperoleh penghasilan saat ini, investor dapat menjual sebagian saham biasa mereka untuk memperoleh penghasilan pada saat dividen tidak mencukupi saat ini, banyak investor enggan memakai uang pokok. Mereka sadar penghasilan menempatkan nilai yang lebih tinggi bagi dividen stabil. Pertimbangan-pertimbangan kelembagaan. Dividen stabil mungkin menguntungkan dari sudut pandang hukum karena mengizinkan beberapa investor kelembagaan tertentu untuk membeli saham biasa. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN DIVIDEN. Undang-undang. Undang-undang menetapkan bahwa dividen harus dibayar dari laba, baik laba tahun berjalan maupun laba tahun lalu yang ada di pos laba ditahan di neraca. Peraturan Pemerintah menekan pada tiga hal antara lain : Pertama, Peraturan laba bersih, menyatakan bahwa dividen dapat dibayar dari laba saat ini atau tahun lalu. Kedua, Larangan pengurangan modal, melindungi pemberi kredit karena adanya larangan untuk membayar dividen dengan modal akan berarti membagi modal suatu perusahaan bukan membagikan laba, Ketiga, Peraturan kepailitan, menyatakan bahwa perusahaan tidak dapat membayar dividen pada saat pailit ( kepailitan terjadi karena kewajiban lebih besar dari pada aktiva, membayar dividen pada saat ini akan berarti memberi dana kepada pemegang saham yang sebenarnya milik pemberi kredit ). Posisi Likuiditas, Laba ditahan biasanya diinvestasikan dalam bentuk aktiva yang dibutuhkan dalam menjalankan usaha. Pembatasan dalam Perjanjian Hutang. Perjanjian hutang khususnya apabila merupakan hutang jangka panjang seringkali membatasi kemampuan perusahaan untuk membayar dividen nilai. Tingkat Ekspansi Aktiva.Semakin cepat sebuah perusahaan berkembang, semakin besar kebutuhan untuk membiayai ekspansinya aktivanya. Tingkat laba dan stabilitas laba. Tingkat hasil pengembalian yang diharapkan akan menentukan pilihan relatif untuk membayar laba tersebut dalam bentuk dividen kepada pemegang saham atau menggunakannya di perusahaan.

Akses ke pasar modal. Suatu perusahaan yang besar dan telah berjalan baik mempunyai catatan profitabilitas dan stabilitas akan mempunyai akses yang mudah kepasar modal dan mempunyai bentuk lain dari pendanaan. Pajak atas laba yang diakumulasikan secara salah. Untuk mencegah pemegang saham hanya menggunakan perusahaan sebagai suatu perusahaan penyimpan uang yang dapat digunakan untuk menghindari tarif penghasilan pribadi yang tinggi, peraturan perpajakan perusahaan menentukan suatu pajak tambahan khusus terhadap penghasilan yang diakumulasikan secara tidak benar. KEPUTUSAN KEBIJAKAN DIVIDEN. Alasan mendasar untuk keputusan dividen yang diambil bersama adalah ketidaksamaan informasi yang mempengaruhi tindakan-tindakan manejemen dengan dua cara : Secara umum, manajer tidak ingin menerbitkan saham biasa yang baru, saham baru melibatkan biaya penerbitan, yaitu komisi, fee, dan biaya-biaya tersebut dapat dihindari dengan menggunakan laba ditahan untuk membiayai kebutuhan likuiditas perusahaan. Ketidaksamaan informasi mengakibatkan investor memandang emisi saham biasa sebagai isyarat negative sehingga menurunkan pengharapan investor mengenai prosfek perusahaan di masa depan, manajer lebih menyukai menggunakan laba ditahan sebagai sumber utama ekuitas baru. Perubahan dividen memberikan isyarat tentang keyakinan manajer dan juga prosfek perusahaan di masa depan. Pengurangan dividen umumnya mempunyai pengaruh negative yang signifikan terhadap harga saham perusahaan. Sehingga manajer menetapkan dividen tunai lebih rendah agar memperkecil kemungkinan dividen harus dikurangi di masa depan. Secara umum perusahaan dengan peluang investasi yang unggul sebaiknya menetapkan rasio pembayaran yang lebih rendah, yang berarti menahan lebih banyak laba dari pada perusahaan dengan peluang investasi yang lemah. Tingkat ketidakpastian juga mempengaruhi keputusan. Jika ada ketidak pastian yang besar dalam ramalan arus kas bebas ( free cash flow ) yang didefinisikan disini sebagai arus kas operasi perusahaan dikurangi investasi ekuitas yang diwajibkan, maka yang terbaik adalah bersikap konservatif dan menetapkan dividen tunai di masa berjalan yang rendah.