Anda di halaman 1dari 44

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Kondisi pembelajaran IPS di negara kita sampai saat ini masih banyak diwarnai dengan menggunakan model pembelajaran konvensional yaitu ceramah. Metode ceramah itu lebih menitikberatkan guru sebagai pusat informasi atau guru hanya menyalurkan ilmu saja kepada siswanya (teacher centre), sedangkan siswa hanya sebagai pendengar setia saja. Ditambah lagi guru sering menugaskan siswa untuk menghapal atau menulis (mencatat) semua materi dalam pembelajaran IPS. Pada akhirnya sering kali kita mendengar bahwa pelajaran IPS itu sangat membosankan, jenuh bahkan siswa menjadi pasif dalam proses pembelajaran berlangsung. Siswa tidak antusias dalam proses pembelajaran tersebut, yang berdampak tidak berhasilnya siswa dalam pembelajaran IPS. Oleh karena itu, keberhasilan dalam proses belajar mengajar dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam menggunakan strategi, metode dan teknik belajar serta kreativitas guru dalam menggunakan metode-metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan oleh guru selama proses pembelajaran. Salah satu faktor penentu keberhasilan dari proses pembelajaran adalah faktor kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Proses pembelajaran yang efektif tidak dapat muncul dengan sendirinya, tetapi guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mencapai kompetensi tertentu yang telah ditetapkan. Guru sebagai fasilitator bertugas sebagai pengelola pembelajaran (instruktur/pengajar) sekaligus sebagai pengelola kelas (manager). Menurut Wright (dalam Suciati, 2005 : 5.17), di samping bertugas mengelola pembelajaan, guru dituntut menguasai materi pembelajaran sekaligus menyajikan secara tepat, sehingga materi pembelajaran dapat dipahami siswa dan kompetensi pembelajaran dapat tercapai.

Tingkat keberhasilan pembelajaran serta penguasaan materi yang diajarkan guru dapat kita ketahui melalui nilai yang diperoleh siswa dalam kegiatan evaluasi pembelajaran. Dari hasil evaluasi inilah seorang guru akan menentukan tindak lanjut dari pembelajaran tersebut, apakah proses dan hasil pembelajaran tersebut dilakukan pengayaan ataukah perbaikan. Perbaikan akan dilakukan oleh seorang guru apabila hasil evaluasi yang diperoleh siswa masih rendah. Keberhasilan pembelajaran IPS konsep jual beli di kelas III SD Negeri 2 Serayukaranganyar antara lain ditunjukkan dengan dikuasainya materi pembelajan oleh siswa. Ketercapaian proses pembelajaran tersebut dapat diukur dengan tes hasil belajar. Hasil test awal sebagai temuan awal dari jumlah siswa kelas III sebanyak 20 siswa baru 7 orang siswa saja atau 35 % yang mempunyai nilai 7,00 ke atas. Batas ketuntasan minimal (KKM IPS di SD Negeri 2 Serayukaranganyar adalah 7,00). Menyadari adanya kesenjangan antara kenyataan pencapaian tujuan dengan harapan yang dituangkan dalam tujuan pembelajaran, peneliti merasakan adanya masalah yang menghambat keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran tersebut. Sadar akan adanya masalah dan bercermin dari pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan gambaran ideal tentang pembelajaran yang semestinya, maka selanjutnya peneliti merefleksi hal-hal yang kurang untuk kemudian mengidentifikasi masalah yang ada. Hasil identifiasi dalam refleksi tersebut akan ditindaklanjuti dalam kegiatan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas (PTK). Berawal dari rekaman proses pembelajaran dan hasil belajar tersebut, peneliti minta bantuan dosen pembimbing guna mengidentifikasi kekurangan dari pembelajaran yang telah peneliti laksanakan. Dari hasil diskusi dengan dosen pembimbing terungkap adanya masalah yang terjadi dalam pembelajaran, yaitu: 1. Pemahaman siswa terhadap konsep yang diajarkan rendah. 2. Siswa kurang berminat dalam belajar.

Berdasarkan masalah yang telah terindentifikasi tersebut, peneliti mencoba melakukan analisis masalah, berdiskusi dengan teman sejawat dan dosen pembimbing serta bertanya kepada siswa tentang pembelajaran yang telah peneliti laksanakan selama ini. Dari rangkaian proses tersebut, akhirnya dapat dianalisis beberapa kemungkinan yang menjadi faktor penyebab rendahnya hasil belajar siswa antara lain adalah: (1) model pembelajaran yang dipilih guru terlalu didominasi oleh metode ceramah, sehingga menyebabkan abstraksi konsep; (2) guru menjelaskan terlalu cepat; (3) guru kurang memberikan contoh konkret yang mudah dipahami oleh siswa; (4) guru tidak memberi kesempatan bertanya kepada siswa; (5) guru kurang menggali potensi dan rasa ingin tahu dalam diri siswa; (6) guru kurang memperhatian kognitif siswa; dan (7) guru tidak menggunakan peraga, sehingga konsep yang diberikan terlalu abstrak. Berangkat dari akar masalah tersebut atas saran dosen pembimbing, peneliti memilih alternatif pemecahan masalah melalui penerapan metode bermain peran (role playing) dengan mengoptimalkan penggunaan peraga gambar. Melalui model pembelajaran ini diharapkan: 1. Siswa memperoleh pengalaman belajar yang nyata tentang konsep jual beli. Siswa dapat memperoleh pengalaman belajarnya sendiri tentang konsep jual beli. Hal tersebut mengingatkan kita, bagaimana seharusnya siswa belajar. Janganlah siswa hanya mendengar ceramah saja dari gurunya, karena mudah lupa dan terlupakan. Siswa diharuskan lebih aktif dan ikut terlibat langsung dalam proses belajar mengajar IPS pada khususnya (student centre). Agar pembelajaran tersebut lebih bermakna bagi siswa. Apalagi sekarang ini dunia pendidikan disuguhkan dengan adanya berbagai macam strategi, metode dan teknik pembelajaran. Adapun Metode-

metode pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut: (1) Lesson Study, (2) Examples Non Examples, (3) Picture and Picture, (4) Numbered Heads Together, (5) Cooperative Script, (6) Pembelajaran Berdasarkan Masalah, (7) Explicit Instruction (Pengajaran Langsung), (8) Inside-Outside-Circle

(Lingkaran kecil-Lingkaran besar), (9) Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), (10) Student Facilitator and Explaining, (11) Course Review Horay, (12) Talking Stick, (13) Bertukar Pasangan, (14) Snowball Throwing, (15) Artikulasi, (16) Mind Mapping, (17) Student Teams Achievement Divisions (STAD), (18) Kepala Bernomor Struktur (Modifikasi dari Number Heads), (19) Scramble, (20) Word Square, (21) Kartu Arisan, (22) Concept Sentence, (23) Make-A Match (Mencari Pasangan), (24) Take and Give, (25) Tebak Kata, (26) Metode Diskusi, (27) Metode Jigsaw, (28) Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation), (29) Metode Inquiry, (30) Metode Debat, (31) Metode bermain peran (role playing), (32) Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving), (33) Metode Team Games Tournament(TGT), dan lain-lain. (Dikutip dari www.google.com learning-withme.

blogspot.com/2011/09/pembelajaran.html - 91k). Dari banyaknya metode pembelajaran tersebut, maka guru dapat memilih strategi, metode dan teknik belajar itu dengan leluasa, dan dapat menggunakannya sesuai dengan materi yang akan disampaikan kepada siswa dalam pembelajaran IPS. Sehingga diharapkan tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler maupun tujuan kompetensi dasar dapat tercapai dengan maksimal sesuai dengan yang diharapkan. Dan kegiatan belajar

mengajar merupakan kegiatan yang utama untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Untuk itu, agar siswa tertarik pada mata pelajaran IPS serta mampu mengaplikasikannya. Diperlukan suatu metode pembelajaran IPS yang berbeda dalam kegiatan proses belajar mengajarnya, yakni yang lebih interaktif, tidak monoton, memberikan keleluasaan berfikir pada siswa serta siswa ikut terlibat langsung dalam proses belajar mengajarnya. Agar proses pembelajaran bagi siswa menjadi bermakna. Pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara langsung dalam proses belajar mengajar adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centre). Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi saja, tetapi sebagai fasilitator, motivator dan pembimbing yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pola fikirnya dan kemampuan dasarnya. Salah satu alternatif pembelajaran yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran IPS pada topik kegiatan jual beli di kelas III adalah dengan menggunakan metode bermain peran (role playing). Metode ini dapat menggali kemampuan siswa dalam kerjasama, komunikatif, sosialisasi dan dapat menginterpretasikan suatu kejadian. Menurut Mansyur yang dikutip oleh Sagala (2007:213) kebaikan-kebaikan metode bermain peran (role playing) antara lain: (a) siswa melatih dirinya untuk melatih, memahami, dan mengingat isi bahan yang akan di perankan. Sebagai pemain harus memahami, menghayati isi cerita secara keseluruhan, terutama untuk materi yang harus diperankannya. Dengan demikian daya ingatan siswa harus tajam dan tahan lama, (b) siswa akan terlatih untuk berinisiatif dan

berkreatif. Pada waktu bermain para pemain dituntut untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan waktu yang tersedia, (c) bakat yang terdapat pada siswa dapat dipupuk sehingga memungkinkan akan muncul atau tumbuh bibit seni peran dari sekolah, (d) kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya, (e) siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab dengan sesamanya, (f) bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami orang lain. Kelemahan metode bermain peran (role playing) antara lain: (a) sebagian besar anak yang tidak ikut bermain peran mereka menjadi kurang kreatif, (b) banyak memakan waktu, baik waktu persiapan dalam rangka pemahaman isi bahan pelajaran maupun pada pelaksanaan pertunjukkan, (c) memerlukan tempat yang cukup luas, jika tempat bermain sempit menjadi kurang bebas, (d) sering kelas lain terganggu oleh suara para pemain, dan lain-lain. Oleh karena itu, dalam memberikan materi pembelajaran IPS guru harus pandai-pandai memilah dan memilih metode yang akan digunakan harus disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan. Penyampaian materi yang menggunakan metode bermain peran (role playing) diharapkan dapat melibatkan siswa dan menarik minat siswa sehingga memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian terhadap pengaruh metode bermain peran (role playing) untuk meningkatkan hasil belajar siswa SD. Maka penelitian ini diberi judul : Penggunaan Metode Bermain Peran (Role Playing) untuk Meningkatkan

Hasil Belajar Siswa SD Kelas III Pada Topik Memahami Lingkungan dan Melaksanakan Kerjasama di Sekitar Rumah dalam Pembelajaran IPS. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan di atas, secara umum permasalahan penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di kelas III SDN 02 Serayukaranganyar Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga bermain peran (role playing). Penelitian ini dapat menjadi lebih terarah, maka permasalahan tersebut dijabarkan kedalam pertanyaan sebagai berikut: 1. Apakah terjadi peningkatan hasil belajar siswa setelah pembelajaran IPS menggunakan metode bermain peran (role playing)? 2. Bagaimana respon siswa setelah pembelajaran IPS menggunakan metode bermain peran (role playing)? dengan menggunakan metode

C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian secara umum adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dengan menggunakan metode bermain peran (role playing) di kelas III SDN 02 Serayukaranganyar kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga . Tujuan secara khusus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui terjadinya peningkatan hasil belajar siswa setelah pembelajaran IPS menggunakan metode bermain peran (role playing).

2. Mengetahui respon siswa setelah pembelajaran IPS menggunakan metode bermain peran (role playing). D. Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan memberi manfaat sebagai berikut: 1. Bagi siswa a. Melatih keberanian, keterampilan, dan rasa percaya diri siswa pada saat melaksanakan pembelajaran IPS dengan menggunakan metode bermain peran (role playing). b. Memberikan pengalaman belajar dan mampu mengimplementasikan konsep jual beli melalui permainan. c. Meningkatkan mutu proses dan mutu hasil belajar 2. Bagi guru a. Untuk memperbaiki kegiatan belajar mengajar. b. Mengembangkan pembelajaran alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS. c. Memberikan pengalaman pada guru dalam merancang penggunaan metode bermain peran (role playing) dalam pembelajaran IPS di SD. d. Sebagai perbandingan dalam menggunakan metode pembelajaran. 3. Bagi Kepala Sekolah Menambah wawasan dan pemikiran baru bagi kepala sekolah dalam memberikan saran dan masukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. 4. Bagi Peneliti

Dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan yang sangat berharga untuk menambah wawasan dalam bidang akademik. 5. Bagi Lembaga Pendidikan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada dunia pendidikan pada umumnya, dan bagi SDN 2 Serayukaranganyar pada khususnya dalam rangka meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran IPS di SD dengan menggunakan salah satu metode pembelajaran yaitu metode bermain peran (role playing). E. Definisi Istilah Untuk menghindari kesalahan penafsiran terhadap berbagai istilah. Maka, beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Penggunaan Penggunaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah cara menggunakan pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk

menggunakan peran dan tugas yang dimiliki oleh pihak-pihak tertentu dan tingkah dalam kegiatan belajar mengajar.

2. Metode Metode adalah cara yang dianggap efisien yang digunakan oleh guru menyampaikan suatu mata pelajaran tertentu kepada siswa-siswa agar tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya dalam proses kegiatan pembelajaran 1991/1992:91). dapat tercapai dengan efektif (Suradisastra, dkk

3. Bermain peran Bermain peran adalah suatu teknik kegiatan belajar yang menekankan pada kemampuan penampilan warga belajar untuk memerankan suatu status atau fungsi suatu pihak-pihak lain yang terdapat pada dunia kehidupan (Sujana 1983:77). Menurut Wahab, A. A (2007:109) bermain peran (role playing) adalah berakting sesuai dengan peran yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk tujuan-tujuan tertentu seperti menghidupkan kembali suasana historis misalnya mengungkapkan kembali perjuangan para pahlawan kemerdekaan, atau mengungkapkan kemungkinan keadaan yang akan datang. 4. Metode bermain peran (role playing) Menurut Surachman (1984:102) bahwa metode bermain peran (role playing) dalam pelaksanaannya sering disilihgantikan. Bermain peran (role playing) menekankan kenyataan dimana siswa diturutsertakan dalam memainkan peranan dan mendramatisasikan masalah-masalah hubungan sosial. 5. Hasil belajar Menurut Wahab, A. A (2007:85) bahwa hasil belajar adalah merupakan kerjasama antara guru dan siswa. Selain itu, hasil belajar merupakan tingkat keberhasilan siswa setelah mengikuti suatu kegiatan belajar mengajar yang ditampilkan dalam beberapa bentuk hasil belajar. 6. Pembelajaran

Menurut Surya, M yang dikutip oleh Sukirman, D dan Djumhana, N (2008:6) pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. 7. Ilmu Pengetahuan Sosial Djahiri yang dikutip oleh Sapriya, dkk (2006:7) mengemukakan bahwa IPS merupakan ilmu pengetahuan yang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabang-cabang ilmu sosial dan ilmu lainnya kemudian diolah berdasarkan prinsip pendidikan dan didaktik untuk dijadikan program pengajaran pada tingkat persekolahan. Menurut Mulyasa, (2004:194) mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial adalah suatu bahan kajian yang terpadu sebagai penyederhana, adaptasi, seleksi, dan modifikasi yang diorganisasikan dari konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sejarah, geografi, sosiologi, antropologi dan ekonomi.

F. Metode Penelitian Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Metode ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa atau kejadian yang terjadi pada saat

sekarang (Sudjana & Ibrahim,1995:64). Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang memandang bahwa kenyataan sebagai suatu yang berdimensi jamak, utuh/merupakan kesatuan, dan berubah/open ended. Oleh karena itu rancangan dalam penelitian ini tidak dapat disusun secara rinci dan baku karena disesuaikan dengan perkembangan selama proses penelitian berlangsung. Untuk memperoleh data penelitian, maka diperlukan teknik

pengumpulan data dengan menggunakan instrumen-instrumen penelitian, diantaranya : (1) Lembar Observasi. Yaitu alat untuk mengukur kegiatan proses pembelajaran atau pada saat proses pembelajaran berlangsung yang meliputi siswa, cara guru mengajar. Hasil observasi yang dilakukan oleh observer dianalisis sebagai bahan refleksi untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan dari proses pembelajaran yang berlangsung sehingga pada pembelajaran berikutnya dapat diperbaiki. (2) Wawancara. Wawancara dilaksanakan antara peneliti dengan beberapa siswa serta antara peneliti dengan observer melalui pedoman wawancara yang telah disediakan. Hasil wawancara yang dilakukan menggunakan pedoman wawancara, kemudian ditarik kesimpulan secara umum mengenai penggunaan metode bermain peran (role palying) dalam

pembelajaran IPS. (3) Angket. Angket adalah sejumlah pertanyaan mengenai kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan, yang diberikan pada siswa setelah seluruh kegiatan dilakukan. (4) Tes Tulis. Data tes berasal dari tes yang dilakukan setiap akhir siklus pembelajaran, data hasil tes berupa jawabanjawaban siswa dengan tipe soal pilihan ganda dan isian. Untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS dengan menggunakan metode bermain

peran (role palying), maka data yang diperoleh dari hasil tes dapat dilihat di setiap siklus. Data yang terkumpul dari hasil tindakan dan observasi akan secepatnya dianalisis dan diinterpretasi sehingga segera dapat diketahui apakah tindakan yang telah dilakukan telah tercapai tujuan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif dan kuantitatif.

BAB II PENGGUNAAN METODE BERMAIN PERAN (ROLE PLAYING) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SD SD KELAS III PADA TOPIK MEMAHAMI LINGKUNGAN DAN MELAKSANAKAN KERJASAMA DI SEKITAR RUMAH DALAM PEMBELAJARAN IPS

Fokus pembahasan pada bab ini adalah menjelaskan lebih lanjut mengenai hal-hal yang menjadi dasar acuan teoritis yang berkaitan dengan judul dalam penelitian ini. Pembahasan bab ini terbagi dalam 4 sub bab, diantaranya: (1) membahas tentang konsep metode bermain peran (role playing). Yang didalamnya memaparkan pengertian mengenai metode mengajar, metode bermain peran (role playing) yang dikemukakan oleh berbagai para ahli serta membahas langkahlangkah pelaksanaan dalam menggunakan metode bermain peran (role playing). (2) Hasil belajar. Pada bagian ini akan dibahas mengenai pengertian hasil belajar yang dikemukakan dari berbagai sumber dan hasil belajar dalam pendidikan IPS. (3) Konsep dasar IPS. Dalam sub bab ini penulis memaparkan pengertian IPS, fungsi dan tujuan IPS, dan karakteristik pembelajaran IPS di Sekolah Dasar (SD). (4) Kegiatan jual beli. Dalam sub bab ini akan membahas mengenai jenis kegiatan jual beli di lingkungan rumah dan sekolah, mengelompokkan jenis barang, dan manfaat jual beli. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan satu persatu di bawah ini.

A. Konsep Metode Bermain Peran (Role Playing) 1. Pengertian Metode Mengajar Metode secara harfiah berarti cara. Dalam pemakaian umum, metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep secara sistematis. Metode mengajar adalah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan pendidikan, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran kepada siswa (Tardif dalam Syah, M. 2004:201). Menurut Dahlan (1984:21) bahwa metode mengajar adalah suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran dan memberikan petunjuk pada pengajar di kelas dalam pengajaran. Menurut Wesley dan Wronski (1965) yang dikutip oleh Wahab, A. A (2007:83) bahwa metode mengajar adalah kata yang digunakan untuk menandai serangkaian kegiatan yang diarahkan oleh guru yang hasilnya adalah belajar pada siswa. Dengan demikian metode dapat pula diartikan sebagai proses atau prosedur yang hasilnya adalah belajar atau dapat pula merupakan alat melalui makna belajar menjadi aktif. Sudirman (1991:21) mengemukakan tentang metode mengajar berikut ini. Metode mengajar merupakan upaya guru membantu memudahkan proses belajar, sehingga diharapkan dalam jangka panjang para siswa dapat meningkatkan kemampuan belajarnya secara efektif dan mudah menyerap atau memperoleh informasi, gagasan, kemampuan, nilai-nilai, berpikir serta dapat mengekspresikan dirinya.

Selain itu Sudjana (1983:76) mengungkapkan mengenai pengertian metode mengajar seperti di bawah ini. Metode mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Jadi, peranan metode mengajar ialah sebagai alat ukur menciptakan proses belajar mengajar, dan diharapkan dengan metode yang baik akan tercipta interaktif edukatif antara guru sebagai pembimbing dan siswa sebagai orang yang dibimbing. Di lihat dari pengertian-pengertian di atas, metode mengajar banyak macamnya. Oleh karena itu, pemilihan suatu metode mengajar yang baik harus sesuai dengan tujuan pengajaran itu sendiri. Pada hakekatnya, mengajarnya itu adalah suatu proses dimana pengajar dan siswa menciptakan lingkungan yang baik agar terjadi kegiatan belajar yang multiguna. Setiap metode yang dipilih haruslah mengungkapkan berbagai realitas yang sesuai dengan situasi kelas dan pandangan hidup, yang dihasilkan dari kerjasama antar guru dan siswa. Dalam penciptaan metode-metode mengajar, jika guru menginginkan siswa yang produktif dan kreatif, maka guru haruslah membiarkan siswa untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan gayanya sendiri dan penerapan metode mengajarpun haruslah mengikuti kebutuhan siswa. Memilih dan menggunakan metode mengajar adalah merupakan kiat guru berdasarkan pengetahuan metodologisnya serta pengalaman

mengajarnya yang sebenarnya telah menyatu dengan dirinya. Oleh sebab

itu, pada akhirnya tentu yang terbaik adalah mengkombinasikan berbagai metode dan teknik mengajar disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan dan keadaan siswa serta karakteristik materi pelajaran yang akan disampaikan. 2. Metode Bermain Peran (Role Playing) Metode adalah salah satu komponen yang harus diperhatikan dalam setiap proses belajar mengajar. Sebagaimana Suradisastra, dkk

(1991/1992:91) mengungkapkan bahwa: Metode adalah cara yang dianggap efisien yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan suatu mata pelajaran tertentu kepada siswasiswa agar tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya dalam proses kegiatan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif. Sebagai sebuah cara dan alat, maka akan sangat tergantung kepada keterampilan pemakainya serta kondisi dan keadaan yang dihadapi. Untuk mencapai suatu tujuan tertentu maka, sebuah alat harus difungsikan dengan baik oleh pemakainya. Dalam hal ini guru sebagai orang yang menggunakan alat atau metode dalam mengajar harus memilih metode yang tepat dalam proses belajar mengajar, karena banyak sekali jenis-jenis metode dalam pengajaran. Salah satu metode dalam proses belajar mengajar adalah

bermain peran (role palying). Wahab, A. A (2007:109) mengemukakan dalam bukunya bahwa: Bermain peran (role palying) adalah berakting sesuai dengan peran yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk tujuan-tujuan tertentu seperti menghidupkan kembali suasana historis misalnya mengungkapkan kembali perjuangan para pahlawan kemerdekaan, atau mengungkapkan kemungkinan keadaan yang akan datang.

Banyak pendapat para ahli yang mengungkapkan tentang pengertian metode bermain peran (role palying). Di bawah ini akan dipaparkan sebagian pengertian metode tersebut, diantaranya sebagai berikut: 1) Sagala (2007:213) mengungkapkan bahwa: Metode bermain peran (role playing) merupakan cara menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan dan mempertontonkan atau mendramatisasikan cara tingkah laku dalam hubungan sosial. Jadi, metode bermain peran (role playing) ialah metode mengajar yang dalam pelaksanaannya peserta didik mendapat tugas dari guru untuk mendramatisasikan suatu situasi sosial yang mengandung suatu problem agar peserta didik dapat memecahkan masalah yang muncul dari situasi. 2) Fanie dan Shaftel yang di kutip oleh Wahab, A. A (2007:109) mengungkapkan bahwa: Metode bermain peran (role playing) dirancang khususnya untuk membantu para siswa mempelajari nilai-nilai sosial dan pencerminannya dalam perilaku. Dan bahwa metode bermain peran (role playing) mempunyai berbagai fungsi namun dua fungsi utamanya adalah education for citizen dan group counseling yang dilakukan oleh guru di kelas. 3) Surachman (1984:102) mengemukakan bahwa: Metode bermain peran (role playing) dalam pelaksanaannya sering disilihgantikan. Bermain peran (role playing) menekankan kenyataan

dimana

siswa

diturutsertakan

dalam

memainkan

peranan

dan

mendramatisasikan masalah-masalah hubungan sosial. 4) Menurut R. Ibrahim dan Nana Syaodih (1996:107) bahwa: Metode bermain peran (role playing) merupakan metode yang sering digunakan nilai-nilai dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam hubungan sosial dengan orang-orang di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dalam melaksanakannya siswa-siswa diberi berbagai peran tertentu dalam melaksanakan peran tersebut, serta mendiskusikan di kelas. Dari sekian banyaknya pendapat dari berbagai para ahli mengenai metode bermain peran (role playing), maka dapat disimpulkan bahwa metode tersebut merupakan salah satu metode yang dapat menyajikan bahan pelajaran dengan cara memainkan peranan dan mendramatisasikan suatu situasi sosial yang mengandung suatu problem, dengan harapan agar peserta didik dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam hubungan sosial dengan orang-orang di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Disamping itu, metode ini digunakan pula untuk membentuk para siswa mengumpulkan dan mengorganisasikan isu-isu sosial,

mengembangkan empati terhadap orang lain dan berupaya memperbaiki keterampilan sosial. Dalam metode ini para siswa dibimbing untuk memecahkan berbagai konflik, belajar mengambil peranan orang lain dan mengamati perilaku sosial. Dengan berbagai penyesuaian, metode ini dapat

digunakan untuk berbagai bidang studi peserta didik dari berbagai usia (Winataputra, 1992:40). Selain pengertian metode bermain peran (role playing), adapula beberapa teknik yang dilakukan dalam bermain peran (role playing) yang dapat membantu siswa untuk memiliki kemampuan diantaranya: 1. Mengembangkan kemampuan untuk melakukan hubungan

interpersonal (antar pribadi). 2. Mengapresiasi perspektif atau sudut pandang pendapat orang lain. 3. Mengetahui perspektif atau pendapat orang lain atau siswa lain. 4. Mengetahui dampak keputusan seseorang terhadap orang lain. 5. Menguasai materi atau bahan pelajaran. (Sudjana, 1983:78-79) Sudjana (1983:78-79) mengemukakan bahwa teknik bermain peran adalah suatu teknik kegiatan belajar yang menekankan pada kemampuan penampilan warga belajar untuk memerankan suatu status atau fungsi pihakpihak lain yang terdapat pada dunia kehidupan. Adapun tujuan yang diharapkan dengan penggunaan metode bermain peran (role playing) antara lain adalah: 1. Agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain. 2. Dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab. 3. Dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan. 4. Merangsang kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah.

Bermain peran (role playing) selain mempunyai beberapa kelebihan juga mempunyai beberapa kelemahan, antara lain sebagai berikut: 1. Kelebihan Metode Bermain Peran (role playing): a. Siswa melatih dirinya untuk melatih, memahami, dan

mengingat isi bahan yang akan diperankan. Sebagai pemain harus memahami, menghayati isi cerita secara keseluruhan, terutama untuk materi yang harus diperankannya. Dengan demikian daya ingat siswa harus tajam dan tahan lama. b. Siswa akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif. Pada

waktu bermain peran para pemain dituntut untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan waktu yang tersedia. c. Bakat yang terdapat pada siswa dapat dipupuk sehingga

dimungkinkan akan muncul atau tumbuh bibit seni peran dari sekolah. Jika seni peran mereka dibina dengan baik, kemungkinan besar mereka akan menjadi pemain yang baik kelak. d. Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina

dengan sebaik-baiknya. e. Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan

membagi tanggung jawab dengan sesamanya. f. Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik

agar mudah dipahami orang lain. (Djamarah dan Zain, 2006:100).

2. Kelemahan Metode Bermain Peran (role playing): a. Sebagian besar anak yang tidak ikut bermain peran mereka menjadi kurang kreatif. b. Banyak memakan waktu, baik waktu persiapan dalam rangka pemahaman isi bahan pelajaran maupun pada pelaksanaan pertunjukkan. c. Memerlukan tempat yang cukup luas, jika tempat bermain sempit menjadi kurang bebas. d. Sering kelas lain terganggu oleh suara para pemain dan para penonton yang kadang-kadang bertepuk tangan dan sebagainya (Djamarah dan Zain, 2006:100). Disamping itu Clark dalam Wahab, A. A (2007:110) mengemukakan beberapa kelemahan dalam menggunakan metode bermain peran (Role playing) diantaranya: 1. Jika siswa tidak dipersiapkan dengan baik ada

kemungkinan tidak akan melakukan secara sungguh-sungguh. 2. Bermain peran mungkin tidak akan berjalan dengan baik

jika suasana kelas tidak mendukung. 3. Bermain peran tidak selamanya menuju pada arah yang

diharapkan seseorang yang memainkannya. Bahkan juga mungkin akan berlawanan dengan apa yang diharapkannya. 4. Siswa sering mengalami kesulitan untuk memerankan

peran secara baik khususnya jika mereka tidak diarahkan atau tidak

ditugasi dengan baik. Siswa perlu mengenal dengan baik apa yang akan diperankannya. 5. Untuk berjalan dengan baik sebuah bermain peran,

diperlukan kelompok yang sensitif, imajinatif, terbuka, saling mengenal sehingga dapat bekerjasama dengan baik 3. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Bermain Peran (Role Playing). Menurut Shaftel yang dikutip oleh Dahlan (1984:128) metode bermain peran terdiri dari sembilan tahapan, yaitu: a. Merangsang semangat kelompok, b. Memilih peran, c. Mempersiapkan pengamat, d. Mempersiapkan tahap-tahap peran, e. Pemeranan, f. Mendiskusikan dan mengevaluasi peran dan sisinya, g. Pemeranan ulang, h. Mendiskusikan dan mengevaluasi pemeranan ulang, i. Mengkaji kemanfataannya dalam kehidupan nyata melalui saling tukar pengalaman dan penarikan generalisasi. Menurut Roestiyah (2001:91) langkah-langkah pelaksanaan metode bermain peran (Role playing) agar berhasil dengan baik yaitu dengan cara sebagai berikut: a. Guru harus menerangkan dan memperkenalkan kepada siswa tentang teknik pelaksanaan metode bermain peran ini, bahwa dengan

metode ini siswa diharapkan dapat memecahkan masalah hubungan sosial yang aktual di masyarakat. b. Guru menunjuk beberapa siswa yang akan berperan dimana masingmasing akan mencari pemecahan masalah sesuai dengan perannya sementara siswa lain menjadi penonton dengan tugas-tugas tertentu pula. c. Guru memilih masalah urgen, sehinggga menarik siswa. d. Agar siswa memahami peristiwanya, maka guru harus menceritakan sambil mengatur adegan yang pertama. e. Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untu dapat berperan, tetapi harus dipertimbangkan apakah ia tepat untuk perannya itu. Bila tidak ditunjuk saja siswa yang memiliki kemampuan, pengetahuan dan pengalaman seperti yang diperankan itu. f. Siswa yang tidak turut menjadi penonton aktif, mendengarkan dan melihat adegan yang dimainkan. Mereka harus bisa memberi saran dan kritik pada apa yang dilakukan setelah adegan peranan selesai. g. Bila siswa belum terbiasa, perlu dibantu oleh guru dalam menimbulkan kalimat pertama dalam dialog. h. Setelah adegan itu dalam situasi klimaks, maka harus dihentikan agar kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah dapat

didiskusikan secara umum. Sehingga siswa lain yang tidak berperan dapat kesempatan untuk berpendapat, menilai permainan dan

sebagainya. Adegan peranan dapat dihentikan bila menemui jalan buntu.

i. Sebagai tindak lanjut dari hasil diskusi, walau mungkin masalah belum terpecahkan, maka perlu dibuka tanya jawab, diskusi atau membuat karangan yang berbentuk sandiwara. Berdasarkan beberapa pendapat di atas tentang teknik bermain peran agar berjalan efektif, maka secara garis besar langkah-langkah pelaksanaan bermain peran (role playing), yaitu: a. Penentuan topik dan tujuan bermai peran. b. Guru memberikan gambaran secara garis besar situasi yang akan dimainkan. c. Guru memimpin pengorganisasian kelompok, peranan-peranan yang akan dimainkan, pengaturan ruangan, pengaturan alat dan sebagainya. d. Guru memberikan kesempatan untuk mempersiapkan diri kepada kelompok dan pemegang peranan. e. Pelaksanaan bermain peran (role playing). f. Evaluasi dan pemberian balikan, baik berupa diskusi atau tanya jawab (Roestiyah, 2001:91). B. Hasil Belajar 1. Pengertian Hasil Belajar Sebagai pendidik senantiasa ingin mengetahui keberhasilan proses pembelajaran yang dilakukan telah mencapai tujuan pendidikan yang ada dalam KTSP atau belum. Untuk itu harus ditentukan apa yang akan kita nilai sehingga hasil belajar siswa sesuai dengan yang di harapkan.

Menurut Wahab, A. A (2007:85) bahwa hasil belajar adalah merupakan kerjasama antara guru dan siswa. Namun demikian metode atau teknik mengajar hanyalah salah satu komponen penting di dalam keseluruhan interaksi belajar mengajar atau interaksi edukatif. Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nila-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, abilitas dan keterampilan. Siswa memperoleh informasi dan perubahan dari segi afektif, kognitif, dan psikomotor dari pembelajaran yang dilakukan. Hasil belajar merupakan tingkat keberhasilan siswa setelah mengikuti suatu kegiatan belajar mengajar yang ditampilkan dalam beberapa bentuk hasil belajar. Proses belajar mengajar yang optimal memungkinkan hasil belajar optimal pula. Oleh karena itu, perlu menggunakan metode atau teknik mengajar yang tepat agar mencapai hasil belajar yang optimal. Untuk mengumpulkan informasi tentang kemampuan belajar siswa dapat dilakukan beragam teknik, baik berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar. Teknik untuk mengumpulkan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan belajar siswa terhadap pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Penilaian satu kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian hasil belajar, baik berupa domain kognitif, afektif, maupun psikomotor. Ada 7 (tujuh) teknik yang yang dapat digunakan, yaitu penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian proyek, penilaian produk,

penggunaan portifolio dan penilaian diri (Pedoman Model Penilaian Kelas, 2006:41). Untuk mengetahui hasil belajar siswa pada konsep jual beli dengan menggunakan metode bermain peran (role playing), alat ukur atau teknik penilaian yang digunakan salah satunya adalah penilaian unjuk kerja dan penilaian tertulis. Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu, seperti bermain peran. Teknik penilaian unjuk kerja dapat menggunakan alat atau instrumen seperti daftar cek (Check-list) atau skala penilaian (rating scale). Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. Tes tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. 2. Hasil Belajar dalam Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Hasil belajar merupakan tingkat keberhasilan siswa setelah mengikuti suatu kegiatan belajar mengajar yang ditampilkan dalam beberapa bentuk hasil belajar. Proses pengajaran yang optimal memungkinkan hasil belajar yang optimal pula. Oleh karena itu, penggunaan metode yang tepat sesuai dengan materi pembelajaran dalam proses belajar mengajar menunjukkan hasil belajar yang diperolehnya pula. Makin besar usaha untuk menciptakan kondisi proses pengajaran, maka tinggi pula hasil atau produk dari pengajaran itu. Menurut Hamalik, O (2001:30) tingkah laku manusia terdiri dari sejumlah aspek sehingga hasil belajar akan nampak pada setiap perubahan

pada aspek-aspek tersebut. Adapun aspek-aspek tersebut, adalah: (1) Pengetahuan, (2) Pengertian, (3) Kebiasaan, (4) Keterampilan, (5) Apresiasi, (6) Emosional, (7) Hubungan Sosial, (8) Jasmani, (9) Etis atau budi pekerti, dan (10) Sikap. Aspek-aspek tersebut di atas menunjukkan jika seseorang telah melakukan perbuatan belajar, maka akan terlihat terjadinya perubahan dalam salah satu atau beberapa aspek tingkah laku sebagai hasil belajar yang telah dilakukannya. Berdasarkan pendapat di atas, bahwa hasil belajar Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial yang diharapkan meliputi aspek kehidupan siswa, yang harus ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai bentuk kemampuan, baik kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Namun yang terpenting dalam hasil belajar IPS, tidak sekedar hasil yang diperoleh setelah mengikuti proses belajar mengajar tetapi hasil diperoleh adalah bagaimana siswa mengikuti proses belajar mengajar. Hal yang terpenting dalam hasil belajar yang diperoleh adalah diharapkan materi pelajaran IPS dapat diserap dan disosialisasikan secara optimal dan mantap dengan berbagai keterampilan belajar kadar tinggi, sehingga peserta didik mampu menampilkan sikap perilaku yang baik dalam kehidupan sosial di lingkungan masyarakat.

C. Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) 1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Di bawah ini ada beberapa pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang dikutip dalam buku yang berjudul Pembelajaran dan Evaluasi Hasil Belajar IPS oleh Sapriya, dkk (2006). a. Keller yang dikutip oleh Sapriya, dkk (2006:6), mengatakan bahwa: IPS sebagai suatu panduan dari pada sejumlah ilmu-ilmu sosial dan ilmu lainnya yang tidak terikat oleh ketentuan disiplin/struktur ilmu tertentu melainkan bertautan dengan kegiatan-kegiatan pendidikan yang berencana dan sistematis untuk kepentingan program pengajaran sekolah dengan tujuan memperbaiki, mengembangkan dan memajukan hubungan-hubungan kemanusiaan kemasyarakatan. b. Dalam Kurikulum 2006 yang dikutip oleh Sapriya, dkk (2006:7) mengemukakan IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokrasi dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai. c. Masson yang dikutip oleh Sapriya, dkk (2006:6) mengartikan bahwa: IPS sebagai suatu pengajaran yang membimbing para pemuda-

pemudi ke arah menjadi warga Negara yang cerdas, hidup fungsional, efektif, produktif dan berguna. d. Somantri (1988) yang dikutip oleh Sapriya, dkk (2006:7) mengemukakan bahwa: Pendidikan IPS adalah penyederhanaan disiplin ilmu-ilmu sosial, ideologi negara dan disiplin ilmu lainnya serta masalah-masalah sosial terkait yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. e. Djahiri yang dikutip oleh Sapriya, dkk (2006:7) mengemukakan bahwa: IPS merupakan ilmu pengetahuan yang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabang-cabang ilmu sosial dan ilmu lainnya kemudian diolah berdasarkan prinsip pendidikan dan didaktik untuk dijadikan program pengajaran pada tingkat persekolahan. Mulyasa, E (2004:194) mengemukakan tentang pengertian mata pelajaran IPS berikut ini. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah suatu bahan kajian yang terpadu sebagai penyederhana, adaptasi, seleksi, dan modifikasi yang diorganisasikan dari konsep-konsep dan

keterampilan-keterampilan sejarah, geografi, sosiologi, antropologi dan ekonomi. Pembelajaran IPS yang telah dilaksanakan sampai saat ini, baik pada pendidikan dasar maupun pada pendidikan tinggi, tidak menekankan kepada aspek teoritis keilmuannya, melainkan lebih ditekankan kepada segi praktis mempelajari, menelaah, mengkaji gejala dan masalah sosial, yang tentu saja

bobotnya sesuai dengan jenjang pendidikan masing-masing. Pengajaran IPS berkenaan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. IPS berkenaan dengan cara manusia menggunakan usaha memenuhi kebutuhan materinya, memenuhi kebutuhan budayanya, kebutuhan kejiwaannya, pemanfaatan sumber daya yang ada di permukaan bumi, mengatur kesejahteraan dan pemerintahannya, dan lain sebagainya yang mengatur serta mempertahankan kehidupan masyarakat manusia. Sebenarnya IPS ini berinduk kepada ilmu sosial dengan pengertian bahwa teori, konsep dan prinsip yang diterapkan pada ilmu pengetahuan sosial adalah teori konsep prinsip yang ada dan berlaku pada ilmu sosial. Ilmu sosial dengan keilmuannya, digunakan untuk melakukan pendekatan, analisa, dan menyusun alternatif pemecahan masalah sosial pada pengkajian IPS (Nursid, 1984:10-11). Menurut Suradisastra (1992:4-6) bahwa IPS merupakan kajian tentang manusia dan dunia sekelilingnya. Yang menjadi kajian pokok IPS adalah tentang hubungan antar manusia. Latar telaahnya adalah kehidupan nyata manusia. Secara mendasar, pengajaran IPS berkenaan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. Ilmu Pengetahuan Sosial berkenaan dengan cara manusia menggunakan usaha memenuhi kebutuhan materinya, memenuhi kebutuhan kejiwaannya, pemanfaatan sumber daya yang ada di permukaan bumi, mengatur kesejahteraannya dan pemerintahannya, dan lain sebagainya yang mengatur serta mempertahankan kehidupan masyarakat manusia.

Dari sekian banyaknya pendapat dari berbagai sumber tentang pengertian IPS maka, dapat dirumuskan dalam ide pokok, yaitu sebagai berikut: a. Ilmu pengetahuan yang merupakan perpaduan dari ilmu sosial

dan ilmu lainnya. b. c. d. Diorganisasikan secara selektif. Prinsip pertimbangan ilmiah, psikologis dan praktis. Untuk tujuan pendidikan di sekolah (Sapriya, dkk.,2006:15).

2. Fungsi dan Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi oleh Mulyasa, E (2004:195) pengetahuan sosial di SD dan MI mempunyai fungsi untuk mengembangkan pengetahuan, nilai dan sikap serta keterampilan peserta didik untuk dapat menelaah masalah sosial yang dihadapi sehari-hari serta menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap perkembangan bangsa dan negara Indonesia. The Social Science Education Frame Work for California School dalam Djahiri yang dikutip oleh Sapriya, dkk (2006:13) mengemukakan 5 tujuan pokok pembelajaran IPS adalah: a. Membina siswa agar mampu mengembangkan

pengertian/pengetahuan berdasarkan data, generalisasi serta konsep ilmu tertentu maupun yang bersifat interdisipliner/komprehensif dari berbagai cabang ilmu sosial.

b. Membina siswa agar mampu mengembangkan dan mempraktekkan keanekaragaman keterampilan studi, kerja dan intelektualnya secara pantas dan tepat sebagaimana diharapkan ilmu-ilmu sosial. c. Membina dan mendorong siswa untuk memahami, menghargai dan menghayati adanya keanekaragaman dan kesamaan kultural maupun individual. d. Membina siswa kearah turut mempengaruhi nilai-nilai

kemasyarakatan serta juga dapat mengembangkan-menyempurnakan nilai-nilai yang ada pada dirinya. e. Membina siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan baik sebagai individu maupun sebagai warga negara. Dalam Kurikulum 2004 tujuan mata pelajaran pengetahuan sosial adalah sebagai berikut: a. Mengajarkan konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah dan kewarganegaraan melalui pendekatan pedagogis dan psikologis. b. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah dan keterampilan sosial. c. Membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai social dan kemanusiaan. d. Meningkatkan kemampuan bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara nasional maupun global. Sedangkan menurut Wahab, A. A (2007:34) pengembangan kurikulum IPS di Indonesia pada tahun 1972 paling tidak telah menetapkan

delapan tujuan umum pengajaran IPS di Indonesia diantaranya adalah sebagai berikut: a. Meningkatkan kesadaran ekonomi rakyat. b. Meningkatkan kesejahteraan jasmani dan kesejahteraan rohani. c. Meningkatkan efesiensi, kejujuran dan keadilan bagi semua warga negara. d. Meningkatkan mutu lingkungan. e. Menjamin keamanan dan keadilan bagi semua warganegara. f. Memberikan pengertian tentang hubungan internasional bagi kepentingan bangsa Indonesia dan perdamaian dunia. g. Meningkatkan saling pengertian dan kerukunan antar golongan dan daerah dalam menciptakan kesatuan dan persatuan nasional. h. Memelihara keagungan sifat-sifat kemanusiaan, kesejahteraan rohaniah dan tata susila yang luhur. 3. Karakteristik Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Dasar (SD) Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar bersifat integratif, karena materi yang diajarkan merupakan akumulasi sejumlah disiplin ilmu sosial. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pun lebih menekankan aspek pendidikan dari pada transfer konsep. Karena melalui pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial siswa diharapkan memahami sejumlah konsep, dan melatih sikap, nilai, moral dan keterampilannya berdasarkan konsep yang telah dimilikinya.

Menurut Djahiri (1979) yang dikutip oleh Sapriya, dkk (2006:8) mengemukakan bahwa karakteristik pembelajaran IPS adalah sebagai berikut: a. IPS berusaha mempertautkan teori, ilmu dengan fakta atau sebaliknya. b. Penelaahan IPS bersifat komprehensif, integrated, broadfield,

multiresources dari berbagai ilmu sosial dan ilmu lainnya. c. Mengutamakan peran aktif siswa melalui proses belajar inquiri agar siswa mampu mengembangkan berpikir kritis, rasional dan anlitis. d. Berusaha menghubungkan teori dengan kehidupan nyata di masyarakat. e. IPS dihadapkan secara konsep dan kehidupan sosial yang sangat labil (mudah berubah), sehingga titik berat pembelajaran adalah terjadinya proses internalisasi secara mantap dan aktif pada diri siswa agar siswa memiliki kebiasaan dan kemahiran untuk menelaah permasalahan kehidupan nyata pada masyarakatnya. f. IPS mengutamakan hal-hal, arti dan penghayatan hubungan

antarmanusia yang bersifat manusiawi. g. Pembelajaran tidak hanya mengutamakan pengetahuan semata, juga nilai dan keterampilan. h. Berusaha untuk memuaskan setiap siswa yang berbeda melalui program maupun pembelajarannya. i. Dalam pengembangan program pembelajaran senantiasa melaksanakan prinsip-prinsip karakteristik (sifat dasar) dan pendekatan-pendekatan yang menjadi ciri IPS itu sendiri.

Pembelajaran sebagai suatu proses, menurut Surya (2004:8-9) berlandaskan dari prinsi-prinsip, yaitu : a. Sebagai usaha memperoleh perubahan tingkah laku. b. Hasil pembelajaran ditandai dengan perubahan tingkah laku secara keseluruhan. c. Merupakan suatu proses. d. Terjadinya karena adanya sesuatu pendorong atauu tujuan yang akan dicapai. e. Merupakan bentuk pengalaman. Pada hakikatnya pembelajaran merupakan suatu proses dimana guru dan siswa bersama-sama menciptakan lingkungan yang baik sehingga tercipta kegiatan mengajar yang berdaya guna. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar didasarkan pada rencana pengajaran. Pengajaran yang berhasil akan bergantung pada rencana pengajaran yang disusun guru. Perencanaan yang baik tidak hanya dirancang untuk diaplikasikan dalam bentuk aksi mengajar guru, tetapi harus dirancang agar tercipta suasana interaksi yang lebih baik antara guru dan siswa. Untuk itu diperlukan metode dan model pembelajaran yang mengungkapkan berbagai realitas yang sesuai dengan situasi kelas yang dihasilkan dari kerjasama guru dan siswa. Sehubungan dengan itu, maka guru dalam mengelola proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas hendaknya mengacu kepada hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan

siswa dalam mempelajari bahan yang akan disampaikan oleh guru, serta cara guru menjelaskan materi kepada siswa. Dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar (KBM), seorang guru harus pandai-pandai memotivasi siswanya untuk terbuka, kreatif, responsif, interaktif, dan evaluatif. Sebab kegiatan belajar mengajar itu sangat erat hubungannya dengan metode pembelajaran. Dalam konteks tersebut, bahwa metode pembelajaran bermain peran (role playing) dapat dijadikan salah satu alternatif, selain metode ceramah yang hampir dijadikan sebagai satu-satunya metode pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. D. Memahami Lingkungan dan Melaksanakan Kerjasama di Sekitar Rumah. Penjabaran bahan pengajaran Memahami Lingkungan dan Melaksanakan Kerjasama di Sekitar Rumah dalam standar isi, kurikulum tingkat satuan pendidikan. Mata pelajaran IPS kelas III sekolah dasar tahun 2006 (Depdiknas. , 2008 : 164) adalah : Standar Kompetensi 1. Memahami lingkungan dan melaksanakan kerjasama di sekitar rumah dan sekolah. Kompetensi Dasar 1.2. Memelihara lingkungan rumah alam dan buatan di sekitar rumah Materi pokok Lingkungan Sekitar Indikator

1.2.1. Menjelaskan cara memelihara/merawat lingkungan alam. 1.2.2. Menyebutkan cara-cara merawat/ memelihara lingkungan buatan. Pembelajaran Memahami Lingkungan dan Melaksanakan Kerjasama di Sekitar Rumah yang tercantum di dalam kurikulum akan dikembangkan oleh peneliti dan diterapkan melalui metode Role Playing (bermain peran). Langkah-langkah proses belajar mengajar yang dilakukan guru dalam menggunakan pendekatan lingkungan yaitu : 1. Perencanaan a. Menentukan tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa berkaitan dengan strategi pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sebagai sasaran belajar, sumber belajar dan sarana belajar. b. Menentukan obyek yang akan diamati keterkaitannya dengan tujuan pembelajaran dan kemudahan-kemudahan dalam menggunakan

lingkungan seperti : biayanya murah, tidak terlalu memerlukan waktu lama, keamanannya dan tersedianya sumber belajar yang harus dipelajari. c. Merumuskan cara belajar atau bentuk kegiatan yang harus dilakukan selama proses belajar mengajar seperti : mengamati proses, mencatat kejadian, melakukan wawancara dan mengkomunikasikan. d. Membagi siswa menjadi beberapa kelompok (5/6) orang dan setiap kelompok diberi tugas untuk mengisi LKS dan melaporkan hasil pekerjaannya di depan kelas. 2. Pelaksanaan

Langkah pelaksanaan yaitu melakukan kegiatan belajar di tempat yang akan diamati siswa serta menempelkan alat peraga sesuai dengan instrument yang telah disiapkan. Setiap kelompok mendiskusikan hasil pengamatan untuk dilaporkan kepada guru dan kelompok lainnya 3. Tindak Lanjut (Follow Up) Langkah tindak lanjut adalah langkah berupa kegiatan belajar di dalam kelas untuk mendiskusikan hasil-hasil yang diperoleh dari lingkungan. Setiap kelompok diminta untuk melaporkan hasil diskusi di depan kelas, kelompok lain ditugaskan untuk menanggapi, pada akhirnya guru memberikan penjelasan dan pembahasan akhir yang dikaitkan dengan tujuan pembelajaran.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Dalam melaksanakan penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu pendekatan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik, dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. (Lexy J. Moleong, 2007 : 6) Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Class Action Research), karena jenis penelitian ini mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme pendidik dalam proses belajar mengajar di kelas dengan melihat kondisi siswa. (Suharsimi Arikunto, dkk, 2007 : 102) B. Rancangan Penelitian Dalam penelitian tindakan kelas pendidikan agama islam tentang ibadah shalat fardhu, rancangan penelitian yang dibuat adalah sebagai berikut: 1. Melihat kondisi riil hasil ulangan siswa melalui daftar nilai

serta tingkat ketercapaian dalam standar ketuntasan belajar minimal (SKBM)

2. 3. 4.

Menyiapkan media dan fasilitas pendukung Menyusun rencana pembelajaran Membuat panduan terhadap observasi untuk mengetahui agama tingkat islam

pemahaman siswa

pembelajaran

pendidikan

pada materi ibadah shalat fardhu 5. Menargetkan ketercapaian hasil pembelajaran 75% lebih siswa dapat

menguasai bahan pelajaran C. Pelaksanaan Penelitian Dalam melaksanakan PTK harus mengacu pada desain penelitian yang telah dirancang sesuai dengan prosedur penelitian yang berlaku.Ada beberapa ahli yang mengemukakan model penelitian dengan model yang berbeda, namun secara garis besar terdapat empat tahapan yang harus dilaluinya, yaitu: (Suharsimi Arikunto, 2007 16-19) 1. Perencanaan (Planning). Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. 2. Pelaksanaan (Acting). Tahap kedua dari penelitian tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan kelas. 3. Pengamatan (Observing). Tahan ketiga ini, yaitu kegiatan pengamatan yang dilakuakn oleh pengamat. Sebetulnya sedikit kurang tepat kalau pengamat ini dipisahkan dengan pelaksanaan tindakan karena seharusnya pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi, keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. 4. Refleksi (Reflecting). Tahap keempat merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Kegiatan refleksi ini sangat tepat dilakukan ketika guru pelaksana sudah melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan, jika penelitian ini kolaboratif. Adapun model penelitiannya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar
Alur Pelaksanaan Tindakan Penelitian Tindakan Kelas

DAFTAR PUSTAKA Ahmadi Abu. 2006. Metodik Khusus Pendidikan Agama (MKPA). Bandung: Armico. Arief Armai. 2002. Pengantar Ilmu Dan Metologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers. Arifin Muzayyin. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. Arikunto Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Asad Moh. 2001. Psikologi Industri. Yogyakarta: Liberty. Daradjat Zakiyah. 2004. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara. Depag. 2004. Al-Quran dan Terjemahnya. Jakarta: Intermasa. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Indonesia.Jakarta: Balai Pustaka. 2009. Kamus Besar Bahasa

Djamarah, Syaiful Bahri. 2004. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional. Fathurrohman Pupuh dan Sutikno, M. Sobry. 2007. Strategi Belajar Mengajar:Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islam. Bandung: Refika Aditama. Gintings Abdurahman. 2008. Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Humaniora. Ghony Djunaidi. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. Malang: UIN Press. Hamalik Oemar. 2007. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Hall, Calvin S. dan Lindzey Gardner. 2003. Teori-Teori Holistik (OrganikFenomenologis). Yogyakarta: Kanisius. Khaeruddin dan Junaedi Mahfud. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Konsep dan Implementasinya di Madrasah. Jogjakarta: Pilar Media. K, Roestiyah N. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Nazarudin Mgs. 2007. Manajemen Pembelajaran. Yogjakarta: Teras. Prasetyo Bambang dan Jannah, Lina Miftahul. 2005. Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rajawali Pers. Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama/IAIN. 2002. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam. Purwanto Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sagala Syaiful. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Sanjaya Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi ProsesPendidikan. Jakarta: Kencana Perdana Media Group. Standar

Sardiman. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajagrafindo. Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Sudijono Anas. 2005. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Rajagrafindo Persada Sugiyono, 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan Kualitatiif RD Bandung: Alfabeta. Surakhmad Winarno. 2006. Metodologi Pengajaran Nasional. Jakarta: Jemmars. Syah Muhibbin. 2005. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja Rosdakarya. Tafsir Ahmad. 2004. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya. Tatapangarsa Humadi. 1974. Methodology Pendidikan Agama Islam. Malang: IKIP Malang. Uno, Hamzah B. 2007. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara. Usman, Moh. Uzer. 2002. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Yamin Martinis. 2007. Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada Press. Wahidmurni. 2008. Cara Mudah Menulis Proposal dan Laporan Penelitian Lapangan. Malang: UM Press. Winkel, W.S. 2001. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo. Zuhairini, dkk. 2001. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usaha Nasional.