Anda di halaman 1dari 119

MATERI SYAWALAN

A. Penyebutan Hari Raya Iedul Fitri


1. Nama lain Iedul Fitri : bodo (bada), riyoyo (hari raya), lebaran, leburan,
luberan, laburan, liburan, kupatan (ngaku lepat nyuwun pangapunten).
2. Lebaran dari kata lebar artinya sudah usainya ibadah puasa. Sayangnya
yang lebar semuanya: shalat jamaah, tarawih, tadarus, infaq n shadaqoh.
Ada perasaan sedih dan gembira.
Allahumma rabbana taqabbal minna shalatana wa shiyamana wa
qiyamana wa takhasy syu`ana wa tadharru`ana wa ta`abbudana wa
tammim taqshirana. Ya Allah, ya Tuhan kami, terimalah shalat kami,
puasa kami, ibadah malam kami, kekhusyu'an kami, ketundukan kami,
ibadah kami, dan sempurnakanlah kekurangan kami.
Ya Allah, janganlah Engkau jadikan puasa ini sebagai puasa yang
terakhir dalam hidupku. Seandainya Engkau menjadikan puasa ini
adalah puasa terakhir bagiku, jangan lagi ada dosa yang belum Engkau
ampuni
3. Leburan, kita sudah melebur kesalahan terhadap; suami, isteri, anak,
bapak, ibu, kerabat, dan tetangga (di Masjid).
Yang sering kita lupakan, adalah memintakan maaf anggota badan kita
sendiri. Padahal ini penting, karena di hari kiamat nanti akan menjadi
saksi ketika mulut kita sudah dikunci mati.
4O4O^- Og^C -O>4N
)_g-4O^ .4LggU>4
jguC Og;>4
_UN_O E) W-O+^~E
4pO+:O'4C
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami
tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang
dahulu mereka usahakan. (Yaasin: 65)
SELAMAT IDUL FITRI
Selamat idul fitri, wahai mataku
Maafkanlah aku, selama ini kau hanya Kugunakan melihat kilau comberan.
Selamat idul fitri, wahai telingaku
Maafkanlah aku, selama ini kau hanya Kusumpali rongsokan berita-berita dusta
Selamat idul fitri, wahai mulutku
Maafkanlah aku, selama ini Kau hanya kujejali dengan makanan haram
dan kupakai memuntahkan caci maki dan ucapan dusta
Selamat idul fitri, wahai tanganku
Maafkanlah aku, selama ini kau hanya kugunakan
Mencakar-cakar kawan dan berebut sampah-sampah dunia
Selamat idul fitri, wahai kakiku
Maafkanlah aku, selama ini kau hanya kuajak menendang kanan kiri
Dan berjalan di lorong-lorong kemaksiatan
Selamat idul fitri, wahai hati nuraniku
Maafkanlah aku, selama ini kubiarkan kau terpenjara sendiri .........
Selamat idul fitri, wahai diri
Marilah bertekad menjadi manusia yang fitri kembali ..........!
Mata, telinga, mulut : 85 % porno, infotainment, luna maya, lihat rumput
tetangga, ghibah, fitnah, gossip, ngrasani kepala, mencibir.
Kedua, dengan isteri. Apalagi bagi eselon III dan II (konon isterinya
makin jelek, gendut, ngorokan, ngileran, gandane rheumason bukan
parfum). Baru anak, orang tua, tetangga dan sanak saudara.
Leburan perlu dari bawahan kepada atasan. Penelitian Pasca Sarjana UNY
pembicaraan di ruang guru : 1. ngrasani kepala sekolah, 2. Kesra.
4. Laburan, sesudah melakukan lebaran dan leburan hati kita menjadi putih,
suci, dan fitri kembali seperti ketika dilahirkan dari rahim Ibu.
5. Luberan. Luber, artinya melimpah dari atas kebawah, ke tempat yang
lebih rendah karena tempatnya sudah penuh. (Kadinas: Gaji, tunjangan,
perjalanan dinas, pimpro, plus isteri dapat sertifikasi). Yang menerima
ya yang paling bawah. Kita sudah keluarkan: takjilan, infaq, shadaqoh,
zakat fitrah, dan zakat maal (meski lebih kecil dari zakat mall). Sudah
berbagi pada satpam (kalau dinas jalan) dan yang kurang beruntung.
Assahiyyu qaribum minallah, qaribum minannas, qaribum minal
jannah. Wal bakhilu baidum minallah, baidum minannas, baidum
minal jannah, qaribu minannar. Artinya : Orang yang pemurah
dekat pada Allah, dekat pada manusia, dekat pada surga, dan orang
yang bakhil, jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dekat
pada neraka. Pager mangkok luwih rosa tinimbang pager tembok.
B. Waspada Setelah Lebaran.
Idza kaana awwalu lailatim min ramadhana suffidatsy syayathiinu
wamaradtul jinni; Waghulliqat abwabunnarri falam yuftah minha
baabun; Wafuttihat abwabul jannati falam yughlaq minha baabun.
Pada malam pertama bulan ramadhan syetan-syetan, dan jin-jin
pembangkang dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada
satupun pintunya yang dibuka; pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada
satupun pintu yang ditutup.
Jadi, pada saat ini syetan sudah mulai berkeliaran kembali. Tetapi tidak
usah khawatir karena kita punya benteng pertahanan yaitu hati. Kita bisa
menjaga dan melindungi benteng kita dengan menutup pintu-pintu yang
biasa menjadi pintu masuknya syetan ke dalam hati.
Pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati sangat banyak, diantaranya:
1. Marah
Imam Ahmad meriwayatkan dari Athiyah bin Saad as Sadi, Rasulullah saw
bersadda: Sesungguhnya kemarahan itu dari setan, dan sesungguhnya
setan itu diciptakan dari api. Api hanya dapat dipadamkan dengan air.
Jadi, jika salah seorang diantara kamu marah, maka berwudulah.
Ketika marah: muka merah, mata melotot, urat nadi mengeras, kuping
njepiping. Pokoke menakutkan seperti syetan. Nek ra ngandel bercerminlah
ketika sedang marah. (Kecuali anak buah malas, mbolos, nglanggar aturan)
Marah adalah kalahnya tentara akal oleh tentara syetan. Bila manusia
marah maka syetan bisa mempermainkannya seperti anak-anak
mempermainkan kelereng atau bola.
Solusi lain: kalau sedang marah dalam keadaan berdiri duduklah; kalau
belum reda berbaringlah. Ini bagus untuk di Praktikkan ibu-ibu !!!
Marah tidak peduli tempat. Contoh: ketika rapat takbiran, di jalan raya, di
Arafah, naik Bus ke Masjidil Haram (Turki vs Sulawesi), di kantor; apalagi di
lapangan sepak bola.
2. Dengki
- 4pOO^4C =e4uO4O
El)4O _ }^4 E4;=O~
4LuO4 g44=1gE` O)
jE_O41E^- 4Ou^O- _
4Lu4O4 g=^u4 -O
*u4 eE_4OE1 EOgC+-4Og
gO^u4 V_u4 C@OuCc
e4uO4O4 El)4O OOE= Og)`
4pONE^_ ^@g
32. Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah
menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan
Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa
derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan
rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (Az Zukhruf)
Dengki: mengharapkan musnahnya nikmat harta, pangkat, jabatan,
ataupun kekuasaan yang dimiliki orang lain dan beralih kepada dirinya.
Dengkinya bukan pada pekerjaannya tapi pada fasilitasnya. (Pujian Bupati)
Saya pernah jadi kasi (3 bulan ra krasan). Atasan dipujek-pujekke ndang
mati, kalau pimpinan mendapat kecelakaan atau sakit bawahan malah
seneng; nek ana Kabid arep pensiunkasi rebut, sikut sana sikut sini,
dupak sana dupak sini, fitnah sana fitnah sini; kalah banda menang dupa.
Kalau perlu menunjukkan kemampuannya. Katanya syarat pimpinan itu
cakap dan mampu. Ukuran mampu itu ya bisa memberi; pulung (mampu
ulung-ulung), terima ya kemudian kasih.
Jangan cipir segane panas Belalang diatas kerikil
Jare Ibune rasane seger Terkena duri rasanya nyeri
Aja ngesir jabatan Kepala Dinas Sungguh malang jadi kakanwil
Piyantune isih meger-meger. Tiap hari didongakke mati
Padahal kita boleh dengki hanya dalam dua hal.
Anibnu Umar r.a qaala; Qaala Rasulullah saw : Laa hasada illa alasttaini:
rajulun aatahullahul quraana fahuwa yaquumu bihi aana allaili wa aana
annahari, warajulun aatahullahu maa lan fahuwa yunfiqu minhu aana
allaili wa aana annahari. ."(Muttafaq `Alaih)
Dari Ibnu Umar r.a., Nabi SAW bersabda : "Tidak boleh hasut kecuali
dalam dua perkara, yaitu : orang yang dikaruniai Allah Al-Qur`an lalu
diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikaruniai
Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang
3. Perut kenyang
Rasa kenyang akan menguatkan nafsu syahwat, dan akan menjadi senjata
andalan syetan. Suatu riwayat menyebutkan, Iblis pernah menampakkan
diri di hadapan Nabi Yahya a.s. Beliau melihat pada syetan ada belenggu
dan gantungan pemberat. Wahai iblis belenggu dan pemberat apa ini?.
Syetan menjawab: Ini adalah syahwat yang aku gunakan utk menggoda
anak cucu Adam. Yahya bertanya: Apa hubungannya pemberat ini
dengan manusia ?.
Syetan menjawab: Bila kamu kenyang maka aku beri pemberat sehingga
engkau enggan untuk sholat dan dzikir. Yahya bertanya lagi: Apa
lainnya?. Tidak ada! Jawab syetan. Kemudian Nabi Yahya berkata: Demi
Allah aku tidak akan mengenyangkan perutku dengan makanan
selamanya. Iblis berkata: Demi Allah saya tidak akan memberi nasehat
pada orang muslim selamanya.
Ngati-ati nggih mangke nek dhahar prasmanan !!!
Kebanyakan makan mengakibatkan munculnya enam hal tercela:
Menghilangkan rasa takut dan mengganggu ketaatan kepada Allah
(merasa serba cukup, malas beribadah).
Menghilangkan rasa kasih sayang kepada makhluk lain karena ia mengira
bahwa semua makhluk sama kenyangnya dengan dirinya.
Akan terkena banyak penyakit jasmani dan rohani (darting, kolest, gula).
Bila mendengarkan ucapan hikmah ia tidak mendapatkan kelembutan
Bila ia bicara maka pembicaraannya tidak bisa menembus hati manusia.
4. Cinta harta, perhiasan, dan perabotan rumah tangga
Bila syetan melihat hati orang yang sangat mencintai harta, perhiasan, dan
perabotan rumah tangga; maka iblis akan menggodanya untuk terus
berusaha menambah harta kekayaannya; dan membaguskan semua
perhiasan dan perlengkapan rumah tangganya. Akibatnya umurnya habis
disibukkan dengan perabotan rumah tangga dan melupakan dzikir kepada
Allah. Punya Kijang 93, pengin kapsul; punya Kapsul pengin Avanza. Ming
mikirke Kijang Nganti lali nek durung Kaji, ngerti-ngerti wis di kijing.
5. Tergesa-gesa dan tidak melakukan recheck
4-)U7= }=O^e"- ;}g` E4N
_
37. manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. (Al Anbiyaa)
Rasulullah pernah bersabda: Tergesa-gesa termasuk perbuatan syetan dan
hati-hati adalah dari Allah SWT. Mengapa kita dilarang tergesa-gesa?
Semua perbuatan harus dilakukan dengan pengetahuan dan penglihatan
mata hati. Penglihatan mata hati membutuhkan perenungan dan
ketenangan. Tergesa-gesa menghalangi itu semua. Ketika manusia tergesa-
gesa dalam melakukan sesuatu, maka syetan menebarkan kejahatannya.
(Apalagi di lingkar kekuasaan).
Islam mengajarkan tidak boleh mengambil keputusan (apalagi masalah
personal) ketika sedang: marah, lelah, atau sakit (dikhawatirkan tidak adil).
6. Taassub bermadzhab dan meremehkan kelompok lain.
Orang yang taassub memiliki anggapan bahwa hanya diri dan kelompoknya
saja yang benar, sedangkan kelompok lain pasti salah. Orang yang demikian
akan banyak meremehkan, mencaci maki, dan menyalahkan orang lain.
Syetan akan menghiasi pada manusia bahwa taassub itu seakan-akan baik
dan benar sehingga ia semakin senang untuk menyalahkan orang lain.
Hati-hati kalau mempunyai putera-puteri yang kuliah, dia menjadi sasaran
yang empuk. Sampai-sampai tidak mau mendengar kata orang tua; apalagi
orang lain. Padahal Rasulullah mengajarkan: Jangan lihat siapa yang
mengatakan, tapi lihatlah apa yang dikatakan.
7. Kikir dan takut miskin.
Sifat kikir ini mencegah seseorang untuk memberikan infaq atau sedekah
dan selalu menyeru untuk menumpuk harta kekayaan. Padahal, siksa yang
pedih adalah janji bagi orang yang menumpuk harta kekayaan tanpa
memberikan haknya kepada fakir miskin. Khaitsamah bin Abdur Rahman
pernah berkata: Sesungguhnya syaitan berkata: Anak cucu Adam tidak
akan mengalahkanku dalam tiga perintahku: Aku perintahkan untuk
mengambil harta dengan tanpa hak, menginfakkannya dengan tanpa
hak, dan menghalanginya dari kewajibannya membayar zakat.
Akibatnya: korupsi, gratifikasi, bahasa halusnya terima (lalu)ngasih.
Rumangsane lunas kalau sebagian diinfakkan. Kan lipat 700 kali.
Sedekah yang paling utama ialah sedekah ketika engkau masih sehat,
tidak ingin memberi, mendambakan kekayaan, dan takut miskin
8. Memikirkan Dzat Allah
Orang yang memikirkan dzat Allah akan tersesat karena akal manusia tidak
akan sampai kesana. Ketika memikirkan dzat Allah ia akan terpeleset pada
kesyirikan. Contoh: Bisakah Allah menciptakan benda sedemikian beratnya
sehingga Allah sendiri tidak kuat mengangkatNya ?.
9. Suudzon terhadap orang Islam dan ghibah.
Og^4C 4g~-.-
W-ONL4`-47 W-O+lg[4-;_-
-LOOg1E =}g)` ^-}--
]) 4*u4 ^-}-- _^)
W 4 W-OOOOOO_` 4
U4-^4C 7_u+ _u4 _
OUg47 4 p
4C = gO1= 6-^14`
+O+u-@O _
W-OE>-4 -.- _ Ep)
-.- _-O> 7gOO ^g
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka
(kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah
mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama
lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya
yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi
Maha Penyayang. (Surat Al Hujuroot 12)
C. Melawan Setan
1. Pertarungan kita versus syetan ibarat kita bertinju dengan mata tertutup.
Betapa sengsaranya kita harus bertarung dengan makhluk yang tidak
terlihat, sedangkan ia bisa melihat kita.
Tugas setan hanya satu, yaitu menggoda dan menggelincirkan manusia,
sedangkan tugas kita sangat banyak. Setan menggoda manusia secara
berjamaah, sedangkan kita harus menghadapinya sendirian. Kita akan
menjadi bulan-bulanan .
2. Jika kita diganggu anjing galak, maka cara yang paling efektif untuk
selamat, adalah meminta tolong kepada pemilik anjing tersebut.
E`)4 CELEN4O64C =}g`
^}C^OO=- ^uO4^
'Og4-c *.) _
+O^^) 77OgEc v1)U4 ^g
200. dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan Maka berlindunglah
kepada Allah[590]. (QS Al A'raaf [7]: 200).
[590] Maksudnya: membaca A'udzubillahi minasy-syaithaanir-rajiim.
3. Allah SWT telah memberikan perlindungan kepada kita.
a. Membaca ta'awudz dan Basmalah.
b. Membaca: Bismillahi tawakkaltu 'alallahu laa haula wa laa quwwata
illa billahi. Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada-
Nya, dan tiada daya serta kekuatan kecuali dari Allah semata
c. Dzikir saat hendak tidur, bangun tidur, makan, berhubungan suami
istri, membaca Al Ma'tsurat setelah shalat Subuh dan Asar.
Dari Harits Al Asyari bahwa Rasulullah SAW bersabda, Aku perintahkan
kepada kalian agar selalu berzikir kepada Allah. Sesungguhnya,
perumpamaan orang yang berzikir itu seperti seorang yang dicari-cari
oleh musuhnya. Mereka menyebar mencari orang tersebut sehingga ia
sampai pada suatu benteng yang sangat kokoh dan ia dapat melindungi
dirinya di dalam benteng tersebut dari kejaran musuh. Begitu juga setan.
Seorang hamba tidak akan dapat melindungi dirinya dari syetan, kecuali
dengan berzikir kepada Allah.

Buah nanas dimakan pagi
Buah blewah di pasar raya
Dinas pertanian dibawah mas edi
Insya Allah akan berjaya

Iwak sepat dijangan santen
Wonten lepat nyuwun pangapunten

Awan-awan njangan kluwih
Cukup sekian terima kasih.






7 Amalan Membinasakan
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:


Hendaklah kalian menghindari tujuh dosa yang dapat menyebabkan kebinasaan.
Dikatakan kepada beliau, Apakah ketujuh dosa itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab:
Dosa menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk
dibunuh kecuali dengan haq, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan
pertempuran, dan menuduh wanita mukminah baik-baik berbuat zina. (HR. Al-Bukhari no.
2560 dan Muslim no. 129)
Penjelasan:
Ini adalah 7 dosa besar yang membinasakan. Dan sebagaimana dimaklumi bersama bahwa
dosa-dosa besar itu tidak terbatas pada 7 amalan ini saja, akan tetapi masih banyak dosa besar
lainnya yang tersebut dalam hadits-hadits yang lain. Di antaranya adalah hadits Abi Bakrah
radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:


Apakah kalian mau aku beritahu dosa besar yang paling besar? Beliau menyatakannya
tiga kali. Mereka menjawab: Mau, wahai Rasulullah. Maka Beliau bersabda:
Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orangtua. Lalu Beliau duduk dari sebelumnya
berbaring kemudian melanjutkan sabdanya: Ketahuilah, juga ucapan dusta. (HR. Al-
Bukhari no. 2460 dan Muslim no. 126)
Syirik Kepada Allah.
Dalam hadits Abu Hurairah di atas, Nabi shallallahu alaihi wasallam memulai penyebutan 7
dosa yang membinasakan dengan menyebutkan syirik kepada Allah karena dia merupakan
dosa yang terbesar. Syirik adalah menjadikan tandingan untuk Allah dalam rububiah-Nya,
uluhiah-Nya, serta dalam nama-nama dan sifat-sifatNya. Seperti menyerahkan ibadah kepada
selain Allah, baik seluruh ibadah maupun sebagian di antaranya. Allah Azza wa Jalla
berfirman:

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah
mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-
orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maidah: 72)
Di antara bentuk syirik akbar adalah ruku dan sujud kepada makhluk, baik yang masih hidup
apalagi yang telah meninggal. Contoh lain adalah tawaf dan berdiam di kubur orang saleh,
bernadzar dan menyembelih untuk makhluk, memohon bantuan dan perlindungan kepada
makhluk dalam perkara yang hanya Allah yang bisa memberikannya, seperti dalam hal
turunnya hujan, menyembuhkan orang yang sakit, dan semacamnya. Jika seorang hamba
melakukan salah satu dari amalan ini dan yang semisalnya maka dia telah terjatuh ke dalam
amalan syirik akbar, dan Allah tidak akan mengampuninya jika dia meninggal dalam keadaan
belum bertaubat.
Sihir
Semua praktek sihir dan magic sebenarnya sudah termasuk ke dalam kesyirikan. Akan tetapi
Allah Taala menyebutkannya secara tersendiri di sini untuk menunjukkan besarnya dosa dari
kesyirikan yang satu ini. Hal itu karena sihir bukan hanya merusak pelakunya akan tetapi
kebanyakannya juga akan merusak orang-orang yang ada di sekitarnya. Hakikat dari sihir
adalah seorang penyihir meminta bantuan dan perlindungan kepada jin-jin kafir untuk
melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan manusia biasa, dengan syarat si penyihir tersebut
harus menyerahkan ibadah dan taqarrub kepada jin-jin tersebut. Karenanya Allah Taala
menjadikan semua bentuk sihir adalah pengajaran dari setan dalam firman-Nya:

Hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir
kepada manusia. (QS. Al-Baqarah: 102)
Ayat di atas juga menunjukkan kafirnya orang yang mempelajari semua bentuk sihir. Hal itu
karena Allah Taala menyebutkan salah satu sebab kafirnya setan adalah mengajarkan sihir.
Jadi, jika yang mengajarkan sihir itu kafir maka tentunya yang mempelajari sihir itu juga
kafir, walaupun dia tidak memanfaatkan sihir itu.
Allah Taala juga berfirman:

Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah)
dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat. (QS. Al-Baqarah: 102)
Sisi pendalilannya: Pelaku dosa besar selama dia masih mempunyai iman maka dia pasti
masih mendapatkan bagian kebaikan di akhirat. Akan tetapi tatkala penyihir dikatakan tidak
mempunyai bagian di akhirat sedikitpun, maka itu menunjukkan mereka tidaklah mempunyai
iman dan agama.
Qatadah berkata, Ahli kitab telah mengetahui pada janji yang telah diambil dari mereka
bahwa penyihir tidak mempunyai sedikitpun bagian di akhirat.
Al-Hasan Al-Bashri berkata menafsirkannya, Penyihir itu tidak mempunyai agama.
Dan Imam Ahmad telah menegaskan bahwa siapa saja yang mempelajari atau mengajarkan
sihir maka dia telah kafir dengannya.
Membunuh Tanpa Hak
Dosa yang membinasakan ketiga adalah membunuh jiwa tanpa hak. Allah Taala berfirman:
,
Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan
dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka
sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli
waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat
pertolongan. (QS. Al-Isra`: 33)
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah
Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta
menyediakan azab yang besar baginya. (QS. An-Nisa`: 93)
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda:


Seorang mukmin masih dalam kelonggaran agamanya selama dia tidak menumpahkan
darah haram tanpa alasan yang dihalalkan. (HR. Al-Bukhari no. 6355)
Di antara membunuh tanpa hak adalah membunuh orang kafir dzimmi, kafir muahad, dan
kafir musta`man.
Di antara bentuk membunuh dengan hak 3 jenis pembunuhan yang tersebut dalam hadits
Abdullah bin Masud radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda:


Tidak halal darah seorang muslim yang telah bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak
untuk disembah selain Allah dan aku adalah utusan Allah, kecuali satu dari tiga orang
berikut ini: Seorang yang sudah menikah yang berzina, seseorang yang membunuh orang
lain, dan orang yang keluar dari agamanya, memisahkan diri dari jamaah (murtad). (HR.
Al-Bukhari no. 6370 dan Muslim no. 3175)
Memakan Harta Riba
Memakan harta riba dan bergelut dengannya adalah dosa yang sangat besar. Allah Azza wa
Jalla berfirman:


,
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti
berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka
yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli
itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari
mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang
larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba),
maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah
memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang
tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (QS. Al-Baqarah: 275-276)
Dari Abu Juhaifah radhiallahu anhu dia berkata:


Nabi shallallahu alaihi wasallam telah melaknat al-wasyimah (wanita yang mentato) dan
al-mustausyimah (wanita yang meminta untuk ditato), orang yang memakan riba, dan orang
yang memberi dari hasil riba. Dan beliau juga melarang untuk memakan hasil keuntungan
dari anjing, dan pelacur. Kemudian beliau juga melaknat para tukang gambar. (HR. Al-
Bukhari no. 4928)
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma dia berkata:


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh
makan riba, juru tulisnya dan saksi-saksinya. Beliau bersabda, Mereka semua sama.
(HR. Muslim no. 2995)
Memakan Harta Anak Yatim
Allah Taala berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya
mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang
menyala-nyala (neraka). (QS. An-Nisa`: 10)
Ayat di atas tegas menyebutkankan memakan atau menghabiskan harta anak yatim adalah
dosa besar. Karenanya Allah Taala telah memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak-
anak yatim di dalam firman-Nya:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan
berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin. (QS. An-Nisa`: 36)
Dari Sahl bin Saad radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda:


Aku dan orang-orang yang mengurusi anak yatim dalam surga akan dekat seperti ini.
Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah lalu beliau membuka sedikit di
antara keduanya. (HR. Al-Bukhari no. 4892)
Lari Dari Medan Jihad
Allah Taala berfirman memberikan ancaman:
,

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang
sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa
yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau
hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu
kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam.
Dan amat buruklah tempat kembalinya. (QS. Al-Anfal: 15-16)
Menuduh Seseorang Berzina Tanpa Saksi
Allah Azza wa Jalla berfirman:
,
,
Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi
beriman (berbuat zina), mereka kena lanat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang
besar, pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap
apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag
setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang
menjelaskan (segala sesutatu menurut hakikat yang sebenarnya). (QS. An-Nur: 23-25)
Allah Taala juga berfirman:
,
,
Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka
tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan
puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan
mereka itulah orang-orang yang fasik. kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan
memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. An-Nur: 4-5)



Jangan Mengeluh Jangan Gelisah

Kita selalu bertanya dan Al Qur'an sudah menjawabnya
1. KITA BERTANYA: MENGAPA AKU DIUJI?

QURAN MENJAWAB:
=UOEO +EEL- p W-EO74O^NC
p W-EO7O4C E44`-47 -4
4pONL4^NC ^g ;4 EL4
4g~-.- }g` )_)U:~ W
O}EUu4OU +.- -g~-.-
W-O~E= O}EUu4O4
4-)O^- ^@
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"Kami telah
beriman", sedangkan mereka tidak diuji?
Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka
sesungguhnya Allah mengetahui oang-orang yg benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang dusta."
[Surah Al-Ankabut ayat 2-3]
2. KITA BERTANYA: MENGAPA UJIAN SEBERAT INI?

QURAN MENJAWAB:
"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya,"
[Surah Al-Baqarah ayat 286]

3. KITA BERTANYA: MENGAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?

QURAN MENJAWAB:
=Ug-7 N:^OU4 N4^- 4O-4
O7 7- W -/=O4N4 p
W-O-4O'> 6*^OE- 4O-4 OOE=
:- W -/=O4N4 p W-Oc:>
6*^OE- 4O-4 O= 7- +.-4
NUu4C +^4 ]OUu> ^gg
216. diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu
membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia
Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu
tidak mengetahui."
[Surah Al-Baqarah ayat 216]

4. KITA BERTANYA: MENGAPA AKU MERASA FRUSTRASI?

QURAN MENJAWAB:
"Janganlah kamu bersikap lemah. dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal
kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang
beriman."
[Surah Al-Imran ayat 139]

5. KITA BERTANYA: BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?

QURAN MENJAWAB:
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sholat;
dan sesungguhnya shalat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyu"
[Surah Al-Baqarah ayat 45]


6. KITA BERTANYA: APA YANG AKU DAPAT DARIPADA SEMUA INI?

QURAN MENJAWAB:
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri, harta mereka
dengan memberikan syurga untuk mereka.
[Surah At-Taubat ayat 111]

7. KITA BERTANYA: KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?

QURAN MENJAWAB:
'Cukuplah Allah bagiku,tidak ada Tuhan selain dariNya. Hanya kepadaNya aku
bertawakkal."
[Surah At-Taubat ayat 129]

8. KITA BERKATA: AKU TAK TAHAN!!!!!!

QURAN MENJAWAB:
"......dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus
asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir."
[Surah Yusuf ayat 12]
9. KITA BERTANYA: MENGAPA HATI INI TIDAK TENANG ?

QURAN MENJAWAB:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
[Ar Ra'd ayat 28]




Beberapa Cara Mendekatkan Diri kpd Allah

1. Sholat wajib tepat waktu, selalu berdoa dan berdzikir kepada Allah
Dengan sholat, berdo'a dan dzikir kepada Allah, Inya Allah hati menjadi tenang, damai dan
makin dekat dengan-Nya
2. Sholat tahajud
Dengan sholat tahajud Insya Allah cenderung mendapatkan perasaan tenang. Hal ini
dimungkinkan karena di tengah kesunyian malam didapatkan kondisi keheningan dan
ketenangan suasana,yang tentu saja semua itu hanya dapat terjadi atas izin-Nya. Pada malam
hari, diri ini tidak lagi disibukkan dengan urusan pekerjaan ataupun urusan-urusan duniawi
lainnya sehingga dapat lebih khusyu saat menghadap kepada-Nya.
3. Mengingat kematian yang dapat datang setiap saat
Kematian sebenarnya sangat dekat, lebih dekat dari urat leher kita. Dan dapat secepat kilat
menjemput.
4. Membayangkan tidur di dalam kubur.
Membayangkan tidur dalam kuburan yang sempit , gelap dan sunyi saat kita mati nanti.
Semoga amal ibadah kita selama di dunia ini dapat menemani kita di alam kubur nanti.
5. Membayangkan kedahsyatan siksa neraka.
Azab Allah sangat pedih bagi yang tidak menjauhi larangan-Nya dan tidak mengikuti
perintah-Nya. Ya Allah jauhkanlah kami dari siksa neraka-Mu, karena kami sangat takut akan
siksa neraka-Mu.Ya Allah bimbinglah kami agar dapat memanfaatkan sisa hidup kami untuk
selalu dijalan-Mu.

6. Membayangkan surga-Nya.
Kesenangan duniawi hanya bersifat sementara, sangat singkat dibanding dengan kenikmatan
di akhirat yang tidak dibatasi waktu.Semoga kita dapat selalu mengikuti perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya dan Insya Allah diizinkan untuk meraih Surga-Nya. Amin..
7a. Mengikuti tausyiah atau mengikuti pengajian secara rutin seminggu satu kali (minimal),
dua kali atau lebih. Insya Allah... dengan mendengar tausyiah atau mengikuti pengajian, akan
meningkatkan keimanan karena selalu diingatkan kembali utk selalu dekat kpd Allah SWT.
Perlu dicatat, dikarenakan iman bisa turun atau naik, maka harus dijaga agar iman tetap stabil
pada keadaan tinggi/ kuat dengan mengikuti tausyiah, pengajian dsb.
7b. Bergaul dengan orang-orang sholeh.
Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa tingkat keimanan kita bisa turun atau naik, untuk itu
perlu dijaga agar tingkat keimanan kita tetap tinggi. Berada pada lingkungan kondusif dimana
orang-orangnya dekat dengan Allah SWT, Insya Allah juga akan membawa kita untuk makin
dekat kepada-Nya.
8. Membaca Al Qur'an dan maknanya (arti dari setiap ayat yang dibaca)
Insya Allah dengan membaca Al Qur'an dan maknanya, akan menjadikan kita makin dekat
dengan-Nya.
9. Menambah pengetahuan keislaman dengan berbagai cara, antara lain dengan : membaca
buku, membaca di internet (tentang pengetahuan Islam, artikel Islam, tausyiah dsb), melihat
video Islami yang dapat meningkatkan keimanan kita.
10. Merasakan kebesaran Allah SWT, atas semua ciptaan-Nya seperti Alam Semesta (jagad
raya yang tidak berbatas) beserta semua isinya.
11. Merenung atas semua kejadian alam yang terjadi di sekeliling kita (tsunami, gunung
meletus, gempa dsb). Dimana semua itu mungkin berupa ujian keimanan, peringatan, atau
teguran bagi kita agar kita selalu ingat kepada-Nya/ mengikuti perintah-Nya. Bukan makin
tersesat ke perbuatan maksiat atau perbuatan lain yang dilarang oleh-Nya. Ya Allah kami
mohon bimbingan-Mu agar kami dapat selalu introspeksi atas semua kesalahan yang kami
perbuat, meninggalkan larangan-Mu dan kembali ke jalan-Mu ya Allah.
12. Mensyukuri begitu besar nikmat yang sudah diberikan oleh Allah SWT
Jangan selalu melihat ke atas, lihatlah orang lain yang lebih susah. Begitu banyak nikmat
yang diberikan oleh-Nya.Saat ini kita masih bisa bernafas, masih bisa makan, bisa minum,
masih mempunyai keluarga, masih mempunyai apa yang kita miliki saat ini,masih
mempunyai panca indera mata, hidung, telinga dan...masih bisa bernafas (masih diberi
kesempatan hidup). Masih pantaskah kita tidak bersyukur dan tidak berterimakasih pada-Nya.


TUJUH INDIKATOR KEBAHAGIAAN DUNIA
Ibnu Abbas r.a. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten
dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW. Dia pernah secara khusus
didoakan Rasulullah SAW. Selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal
Al-Quran. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in mengenai apa yang dimaksud
dengan kebahagiaan dunia. Menurut Ibnu Abbas ada 7 indikator kebahagiaan
dunia, yaitu :
1. Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Membicarakan syukur haruslah dimulai dari nikmat yang telah diberikan
Allah, sebab kita bersyukur karena mendapatkan nikmat. Nikmat adalah
setiap kebaikan, kelezatan, , kebahagiaan, atau keinginan yang terpenuhi.
Tetapi nikmat yang sejati ialah kebahagiaan hidup abadi di akhirat.
Beberapa nikmat Allah (duwe bojo, anggota tubuh yang lengkap dan
sempurna, kesehatan, nikmat harta, pangkat, jabatan, nikmat keamanan.
Nikmat Islam dan iman, ini adalah nikmat yang paling besar).
Sayangnya, sebagian besar orang baru menyadari nilai kenikmatan ini
setelah nikmat itu sendiri diambil atau dikurangi oleh Allah.
Doa agar selalu bias bersyukur : Allahumma a'innii 'alaa dzikrika wa
syukrika wa husni 'ibaadatik.
Ya Allah! Tolonglah aku agar dapat senantiasa berdzikir kepadaMu,
bersyukurkepadaMu dan memperbagus ibadahku kepadaMu.
Syukur dengan: lisan, hati, anggota badan, harta.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona'ah),
sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress. Inilah nikmat
bagi hati yang selalu bersyukur. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat
sabda Rasulullah SAW yaitu :
"Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita".
2. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan
keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam
keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan
anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila
memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak
istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri
yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam
melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka
berbahagialah seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.
Ingat: maskawinnya Al-Quran dan seperangkat alat shalat.
3. Al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang
anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah
SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab
anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang
ibu yang sudah udzur.
Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya
melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika
istirahat, selain itu saya selalu menggendongnya".
Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk
kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?"
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah
ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku
ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu".
Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita
ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita,
namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh,
dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan
Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.
4. Albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh
mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita,
haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan
kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu
bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan
selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat
salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat
iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya
Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada
disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-
orang yang sholeh.
5. Al malul halal, atau harta yang halal.
Dalam Islam harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak
berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam
Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan
seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah
bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian
dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya
dikabulkan". Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena
doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan
menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan
kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Berbahagialah
orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
6. Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami
ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang
untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-
Nya.Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin
ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya
kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi
hatinya.
7. Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.
Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh,
yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi
hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi
dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya,
iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome).
Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa
hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia
yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu
menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang
mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat
(melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu
dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan
Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia
ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam
kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat
"hidup" orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-
orang yang umurnya baroqah.
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator
kebahagiaan dunia. Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu
ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat
sebagian saja sudah patut kita syukuri.
Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu "wa fil
aakhirati hasanah" (yang artinya "dan juga kebahagiaan akhirat"), untuk
memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu
bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah
sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh
kita, tetapi karena rahmat Allah.
Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa
dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga.
Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita
tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.
Kata Nabi SAW, "Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan
kalian ke surga". Lalu para sahabat bertanya: "Bagaimana dengan Engkau
ya Rasulullah ?". Jawab Rasulullah SAW : "Amal soleh saya pun juga tidak
cukup". Lalu para sahabat kembali bertanya : "Kalau begitu dengan apa kita
masuk surga?". Nabi SAW kembali menjawab : "Kita dapat masuk surga
hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata".
Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan
untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah
itulah kita mendapatkan surga Allah. Insya Allah, Amiin.


7 Indikator Kebahagiaan Dunia
Kategori: Tentang Islam
Diposting oleh iqbal pada Senin, 14 Juni 2010
[146 Dibaca] [0 Komentar]
Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga
dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW,
selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di
mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW)
mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh)
indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada
ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur.
Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga
apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.

Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :
"Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita". Bila sedang diberi
kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan
mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap "bandel" dengan terus
bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.

Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula.
Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban
dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri
bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan
anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan
memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa
buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki
seorang istri yang sholeh.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang
pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu
: "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya
mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah
melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau
ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu
bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti
kepada orang tua ?"
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah ridho
kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta
orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran
bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua
kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak
yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki
anak yang sholeh.

Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi
untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai
tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita
untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu
mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.

Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam
yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari
orang-orang yang ada disekitarnya.

Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak
berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.
Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan
seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi
SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara
haram, bagaimana doanya dikabulkan". Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal
karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan
dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan
dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga
kehalalan hartanya.

Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam.
Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai
sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.

Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin
cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah
yang akan memberi cahaya bagi hatinya.

Semangat memahami agama akan meng "hidup" kan hatinya, hati yang "hidup" adalah hati
yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang
penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya
diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata,
maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa
mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu
pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk
berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa
bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang
mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah)
maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya
diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk
meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam
kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat "hidup" orang-orang
yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.

Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-
tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.

Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu "wa fil aakhirati hasanaw"
(yang artinya "dan juga kebahagiaan akhirat"), untuk memperolehnya hanyalah dengan
rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah.
Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal
soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat
malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna
apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang
dijanjikan Allah.

Kata Nabi SAW, "Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga".
Lalu para sahabat bertanya: "Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?". Jawab Rasulullah
SAW : "Amal soleh saya pun juga tidak cukup". Lalu para sahabat kembali bertanya : "Kalau
begitu dengan apa kita masuk surga?". Nabi SAW kembali menjawab : "Kita dapat masuk
surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata".

Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi
untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah
(Insya Allah, Amiin).



7 Indikator Kebahagiaan Dunia
Kategori: Tentang Islam
Diposting oleh iqbal pada Senin, 14 Juni 2010
[146 Dibaca] [0 Komentar]
Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga
dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW,
selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di
mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW)
mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh)
indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada
ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur.
Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga
apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.

Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :
"Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita". Bila sedang diberi
kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan
mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap "bandel" dengan terus
bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.

Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula.
Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban
dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri
bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan
anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan
memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa
buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki
seorang istri yang sholeh.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang
pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu
: "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya
mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah
melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau
ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu
bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti
kepada orang tua ?"
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah ridho
kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta
orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran
bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua
kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak
yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki
anak yang sholeh.

Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi
untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai
tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita
untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu
mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.

Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam
yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari
orang-orang yang ada disekitarnya.

Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak
berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.
Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan
seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi
SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara
haram, bagaimana doanya dikabulkan". Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal
karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan
dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan
dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga
kehalalan hartanya.

Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam.
Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai
sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.

Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin
cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah
yang akan memberi cahaya bagi hatinya.

Semangat memahami agama akan meng "hidup" kan hatinya, hati yang "hidup" adalah hati
yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang
penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya
diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata,
maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa
mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu
pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk
berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa
bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang
mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah)
maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya
diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk
meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam
kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat "hidup" orang-orang
yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.

Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-
tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.

Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu "wa fil aakhirati hasanaw"
(yang artinya "dan juga kebahagiaan akhirat"), untuk memperolehnya hanyalah dengan
rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah.
Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal
soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat
malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna
apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang
dijanjikan Allah.

Kata Nabi SAW, "Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga".
Lalu para sahabat bertanya: "Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?". Jawab Rasulullah
SAW : "Amal soleh saya pun juga tidak cukup". Lalu para sahabat kembali bertanya : "Kalau
begitu dengan apa kita masuk surga?". Nabi SAW kembali menjawab : "Kita dapat masuk
surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata".

Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi
untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah
(Insya Allah, Amiin).






Sesungguhnya, dzikir akan membuat hati kita tenang, cemerlang, iman
bertambah kuat dan hawa nafsu bisa lebih terkendali (QS Ar Ra'd [13]:
28). Nah, ketika nafsu kita terkendali, maka setan tidak lagi memiliki
daya. Sebab, setan hanya bisa menggoda manusia dengan
memanfaatkan hawa nafsu. Itulah sebabnya tipu daya setan tidak
berdaya sedikit pun terhadap orang-orang ikhlas, yaitu orang-orang yang
telah mampu menempatkan Allah di atas hawa nafsunya (QS Shaad [38]:
82-83).
Rasulullah SAW telah mencontohkan beberapa zikir pendek yang bisa
membentengi kita dari tipu daya setan. Di antaranya, ucapan ta'awudz,
a'uzdubillahi minassyaithaani rajiimi. Selain membaca basmalah, sangat baik
pula jika kita membaca ta'awudz sebelum beraktivitas, agar Allah melindungi
kita dari tipu daya setan.
Juga ucapan, Bismillahi tawakkaltu 'alallahu laa haula wa laa quwwata illa
billahi. Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada-Nya, dan tiada
daya serta kekuatan kecuali dari Allah semata. Dalam sebuah hadis yang
diriwayatkan Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa pun yang
membaca doa ini ketika keluar dari rumahnya, maka Allah akan memberinya
petunjuk, menjaga serta memalingkannya dari godaan setan.
Dan yang ketiga, ucapan istighfar serta tahlil. Rasulullah SAW bersabda,
Perbanyaklah mengucap 'La Laa Ilaha illaallahu' dan beristighfar. Karena setan
berkata, 'Aku telah membinasakan mereka dengan dosa, sedangkan mereka
membinasakanku dengan ucapan 'La Laa Ilaha illaallahu' serta dengan
beristighfar. Ketika aku melihat hal itu, aku binasakan mereka dengan hawa
nafsu. Sehingga mereka akhirnya menyangka bahwa mereka terus berada
dalam naungan hidayah, dan mereka pun tidak lagi beristighfar (HR Abu Ya'la
dan Ad Dailami).
Saudaraku, ada banyak zikir lain yang bisa kita baca dalam berbagai waktu dan
kesempatan. Misal, saat hendak tidur, bangun tidur, makan, berhubungan
suami istri, dsb. Termasuk pula membaca Al Ma'tsurat setelah shalat Subuh dan
Asar. Bertaburan pula ayat-ayat Alquran dan hadits yang bisa kita jadikan
materi zikir. Insya Allah, jika hati kita senantiasa tersambung kepada Allah,
maka akan ada benteng kokoh antara kita dan setan.
( KH Abdullah Gymnastiar )




Tawakkal

Tawakkal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah Taala untuk
mendapatkan kemaslahatan serta mencegah bahaya, baik menyangkut urusan
dunia maupun akhirat. Allah Taala berfirman yang artinya, Dan barangsiapa
bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan jadikan baginya jalan keluar dan
memberi rizqi dari arah yang tiada ia sangka-sangka, dan barangsiapa
bertawakkal kepada Allah, maka Dia itu cukup baginya. (Ath Tholaq: 2-3)
Makna Bertawakkal Kepada Allah
Banyak di antara para ulama yang telah menjelaskan makna Tawakkal,
diantaranya adalah Al Allamah Al Munawi. Beliau mengatakan, Tawakkal
adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang
diTawakkali. (Faidhul Qadir, 5/311). Ibnu Abbas radhiyAllahuanhuma
mengatakan bahwa Tawakkal bermakna percaya sepenuhnya kepada Allah
Taala. Imam Ahmad mengatakan, Tawakkal berarti memutuskan pencarian
disertai keputus-asaan terhadap makhluk. Al Hasan Al Bashri pernah ditanya
tentang Tawakkal, maka beliau menjawab, Ridho kepada Allah Taala, Ibnu
Rojab Al Hanbali mengatakan, Tawakkal adalah bersandarnya hati dengan
sebenarnya kepada Allah Taala dalam memperoleh kemashlahatan dan
menolak bahaya, baik urusan dunia maupun akhirat secara keseluruhan. Al
Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, Tawakkal yaitu memalingkan
pandangan dari berbagai sebab setelah sebab disiapkan.
Mendapatkan Kebaikan dan Menghindari Kerusakan
Ibnul Qayyim berkata, Tawakkal adalah faktor paling utama yang bisa
mempertahankan seseorang ketika tidak memiliki kekuatan dari serangan
makhluk lainnya yang menindas serta memusuhinya. Tawakkal adalah sarana
yang paling ampuh untuk menghadapi keadaan seperti itu, karena ia telah
menjadikan Allah sebagai pelindungnya atau yang memberinya kecukupan.
Maka barang siapa yang menjadikan Allah sebagai pelindungnya serta yang
memberinya kecukupan, maka musuhnya itu tak akan bisa mendatangkan
bahaya padanya. (Badai Al-Fawaid 2/268)
Bukti yang paling baik adalah kejadian nyata, Imam Al Bukhori telah mencatat
dalam kitab shohih beliau, dari sahabat Ibnu Abbas rodhiyAllahu anhuma,
bahwa ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke tengah-tengah api yang membara
beliau mengatakan, HasbunAllahu wa nimal wakiil. (Cukuplah Allah menjadi
penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung). Perkataan ini pulalah
yang diungkapkan oleh Rosululloh ShollAllahu alaihi wa sallam ketika
dikatakan kepada beliau, Sesungguhnya orang-orang musyrik telah berencana
untuk memerangimu, maka waspadalah engkau terhadap mereka.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam bab Tafsir. Lihat Fathul Bari VIII/77)
Ibnu Abbas berkata, Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim
ketika ia dilemparkan ke tengah bara api adalah: Cukuplah Allah menjadi
penolong kami dan Allah sebaik-baik pelindung. (HR. Bukhori)
Bertawakkal Kepada Allah Adalah Kunci Rizki
Rosululloh ShallAllahu alaihi wa sallam bersabda, Sungguh, seandainya kalian
bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi
rizki sebagaimana burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan
lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang. (HR. Ahmad, At-Tirmidzi,
Ibnu Majah, Al-Hakim)
Dalam hadits yang mulia ini Rosululloh menjelaskan bahwa orang yang
bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, pastilah dia akan diberi
rizki. Bagaimana tidak, karena dia telah bertawakkal kepada Dzat Yang Maha
Hidup yang tidak pernah mati. Abu Hatim Ar Razy berkata, Hadist ini
merupakan tonggak tawakkal. Tawakkal kepada Allah itulah faktor terbesar
dalam mencari riqzi. Karena itu, barangsiapa bertawakkal kepadaNya, niscaya
Allah Subhanahu Wa Taala akan mencukupinya. Allah berfirman yang artinya,
Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang
dikehendakiNya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-
tiap sesuatu. (Ath-Thalaq: 3). Ar Rabi bin Khutsaim berkata mengenai ayat
tersebut, Yaitu mencukupinya dari segala sesuatu yang membuat sempit
manusia.
Tawakkal Bukan Berarti Tidak Berusaha
Mewujudkan Tawakkal bukan berarti meniadakan usaha. Allah memerintahkan
hamba-hambaNya untuk berusaha sekaligus bertawakkal. Berusaha dengan
seluruh anggota badan dan bertawakkal dengan hati merupakan perwujudan
iman kepada Allah Taala.
Sebagian orang mungkin ada yang berkata, Jika orang yang bertawakkal
kepada Allah itu akan diberi rizki, maka kenapa kita harus lelah, berusaha dan
mencari penghidupan. Bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalas-
malasan, lalu rizki kita datang dari langit? Perkataan itu sungguh
menunjukkan kebodohan orang itu tentang hakikat Tawakkal. Nabi kita yang
mulia telah menyerupakan orang yang bertawakkal dan diberi rizki itu dengan
burung yang pergi di pagi hari untuk mencari rizki dan pulang pada sore hari,
padahal burung itu tidak memiliki sandaran apapun, baik perdagangan,
pertanian, pabrik atau pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal tawakkal kepada
Allah Yang Maha Esa sebagai tempat bergantung.
Para ulama -semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik kebaikan-
telah memperingatkan masalah ini. Di antaranya adalah Imam Ahmad, beliau
berkata: Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan
meninggalkan usaha, sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang
menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi maksud hadits tersebut, bahwa
seandainya mereka bertawakkal kepada Allah dalam bepergian, kedatangan
dan usaha mereka, dan mereka mengetahui bahwa kebaikan (rizki) itu di
TanganNya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan
mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut.
(Tuhfatul Ahwadzi, 7/8)
Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di
rumah atau di masjid seraya berkata, Aku tidak mau bekerja sedikitpun,
sampai rizkiku datang sendiri. Maka beliau berkomentar, Ia adalah laki-laki
yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi ShollAllahu alaihi wa sallam telah
bersabda, Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku dalam bayang-bayang
tombak perangku (baca: ghonimah). Dan beliau juga bersabda, Sekiranya
kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah
memberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung.
Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam
keadaan kenyang. (Hasan Shohih. HR.Tirmidzi). Selanjutnya Imam Ahmad
berkata, Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan mengelola pohon
kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita. (Fathul Bari, 11/305-306)
Kalau kita mau merenungi maka dapat kita katakan bahwa pengaruh tawakkal
itu tampak dalam gerak dan usaha seseorang ketika bekerja untuk mencapai
tujuan-tujuannya. Imam Abul Qasim Al-Qusyairi mengatakan, Ketahuilah
sesungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak lahiriah maka
hal itu tidak bertentangan dengan tawakkal yang ada di dalam hati setelah
seseorang meyakini bahwa rizki itu datangnya dari Allah. Jika terdapat
kesulitan, maka hal itu adalah karena takdir-Nya. Dan jika terdapat kemudahan
maka hal itu karena kemudahan dariNya. (Murqatul Mafatih, 5/157)
Diantara yang menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah tidaklah berarti
meninggalkan usaha adalah sebuah hadits. Seseorang berkata kepada Nabi
ShollAllahu alaihi wa sallam, Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal
? Nabi bersabda, Ikatlah kemudian bertawakkallah kepada Allah. (HR.
Tirmidzi dan dihasankan Al Albani dalam Shohih Jamiush Shoghir). Dalam
riwayat Imam Al-Qudhai disebutkan bahwa Amr bin Umayah RadhiyAllahu
anhu berkata, Aku bertanya, Wahai Rosululloh!! Apakah aku ikat dahulu unta
tungganganku lalu aku berTawakkal kepada Allah, ataukah aku lepaskan
begitu saja lalu aku bertawakkal?, Beliau menjawab, Ikatlah untamu lalu
bertawakkallah kepada Allah. (Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal,
no. 633, 1/368)
Tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha. Hendaknya setiap muslim
bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan. Hanya
saja ia tidak boleh menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras dan
usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah, dan
bahwa rizki itu hanyalah dari Dia semata.

Sebagai tambahan, dalam memaknai Tawakkal. Kita wajib : berusaha, berdoa
dan akhirnya tawakkal (menyerahkan semuanya kepada Allah SWT) krn Allah
SWT Maha Mengetahui mana yang terbaik utk kita












Indikator Keimanan

Iman memiliki tanda-tanda, mempunyai rasa serta memberikan dampak, juga
memiliki cahaya dan ikatan yang senantiasa dipegang oleh pemiliknya. Maka
perlu bagi kita kaum muslimin yang notaben juga mukmin mengenal tanda-
tanda keimanan, agar dapat mengukur diri kita masing-masing apakah kita
masuk orang orang yang difirmankan Allah :Sesungguhnya orang-orang
beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan
menanamkan dalam (hati) mereka kasih sayang. (QS. 19:96).Di antara
indikator iman yang benar adalah sebagai berikut:
1. Ittiba Kepada Rasul Shalallaahu alaihi wasalam Dengan Sebenarnya
Seorang mukmin senantiasa menerima apa saja yang disampaikan oleh
Nabinya, sebab khawatir termasuk golongan yang disabdakan oleh beliau
:Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian, sehingga kemauan (hawa
nafsunya) tunduk terhadap segala yang kusampaikan.Hawanya, cintanya,
angan-angan dan keinginanya senantiasa diukur dengan apa yang dibawa oleh
Nabinya Shalallaahu alaihi wasalam, tidak menyelisihi perintahnya dan tidak
melanggar larangannya, lisannya senantiasa berucap, yang Artinya:Ya Rabb
kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah
kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang
yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah). (QS. 3:53)
2. Tunduk Terhadap Hukum Allah Apabila telah ada ketetapan dari Allah baik
berupa perintah atau pun larangan, maka seorang mukmin tidak pikir-pikir lagi
atau mencari alternatif yang lain. Namun menerima dengan sepenuh hati
terhadap apa yang ditetapkan Allah tersebut dalam segala permasalahan
hidup. Allah Subhannahu wa Taala berfirman:Dan tidakkah patut bagi laki-laki
yang mumin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mumin, apabila Allah dan
Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan
(yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan
Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. 33:36)
3. Membenarkan Apa yang Disampaikan Allah dan Rasul-Nya, Tanpa Ragu
Sedikitpun Seorang mukmin harus percaya dan membenarkan segala yang
disampaikan Allah Subhannahu wa Taala dan Rasul Shalallaahu alaihi wasalam,
meskipun belum mengetahui fadhilah atau hikmahnya. Jika kita telah memiliki
sifat yang demikian, maka niscaya akan menjadi orang yang beruntung. Sebab
Allah Subhannahu wa Taala akan memasukkan kita dalam golongan yang
disebutkan Allah Subhannahu wa Taala dalam firman Nya:Sesungguhnya
orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu. (QS. 49:15)Sebagai misal,
ketika Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengatakan, bahwa wanita (pada
mulanya) diciptakan oleh Allah dari tulang rusuk yang memiliki sifat bengkok,
maka seorang mukmin dan mukminah harus membenarkannya tanpa ragu
sedikit pun. Wanita mukminah sejati tidak keberatan menerima hadits ini dan
tidak meragukannya, demikian pula terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan
hukum-hukum yang khusus berkenaan dengan wanita.
4. Senantiasa Bertaubat, Beristighfar dan Takut Suul Khatimah Di antara
ucapan seorang mukmin adalah sebagaimana yang difirmankan Allah
Subhannahu wa Taala :Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar
(seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu), Berimanlah kamu kepada
Rabbmu, maka kami pun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-
dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan
wafatkanlah kami beserta orang- orang yang berbakti. (QS. 3:193)Seorang
mukmin selalu melihat keburukan dirinya dan takut serta bersedih atas dosa-
dosa yang pernah diperbuatnya.
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,Barang siapa yang bersedih
terhadap keburukannya dan bergembira terhadap kebaikannya, maka dia
seorang mukmin. (HR. Ahmad)Maka bukan merupakan sifat seorang mukmin
kalau bangga tatkala dapat melakukan keburukan dan kejahatan, atau malah
bersedih apabila berbuat kebaikan.
5. Besar Rasa Takut dan Harapnya Rasa takut dan harap yang sangat besar
berkumpul di dalam hati seorang mukmin, dia takut nanti kalau pada Hari
Kiamat masuk ke dalam neraka, namun sekaligus berharap agar Allah
menyelamatkannya, percaya akan rahmat Allah dan berharap agar segala amal
perbuatannya diterima. Mereka memohon kepada Allah :Ya Rabb kami,
berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan
rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di Hari Kiamat.
Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.(QS. 3:194)
6. Sungguh-Sungguh dan Taat BeribadahSeorang mukmin selalu bersungguh-
sungguh dan taat dalam beribadah kepada Allah, selalu beristighfar, terutama
di waktu sahur. Firman Allah:(Yaitu) orang-orang yang berdoa, Ya Rabb kami,
sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan
peliharalah kami dari siksa neraka. (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar,
yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang
memohon ampun di waktu sahur.(QS. 3:16-17)Inilah di antara beberapa
tanda-tanda iman, dan tentunya masih banyak lagi tanda-tanda lain yang tidak
bisa disebutkan di sini.
Yang penting adalah kita mencoba mengukur diri sampai di mana keimanan
kita, kalau seluruh tanda keimanan yang tersebut di atas ada pada diri kita,
maka hendaklah memuji Allah karena telah memberikan karunia yang amat
besar. Dan sebaliknya kalau masih banyak yang belum ada pada diri kita, maka
marilah bersegera meraih dan mengejar ketertinggalan kita, sebelum pintu
kehidupan ini tertutup.
Ikatan Iman yang Terkuat
Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda : Ikatan iman yang paling kuat
adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. (HR. Abu Dawud)Seorang
mukmin hendaknya selalu melihat apakah dirinya telah mendapatkan tali
terkuat ini atau kah belum? Sudahkah dirinya mampu mencintai karena Allah
dan membenci karena Allah, atau kah malah justru mencintai dan membenci
tergantung pada hawa nafsu dan pendapat sendiri?Ibnu Abbas Radhiallaahu
anhu pernah berkata, Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci
karena Allah, memusuhi karena Allah, loyal (berwala) karena Allah, maka
sungguh dia telah mendapatkan perwalian (cinta dan pembelaan) dari Allah
dengan sebab tersebut. Seorang hamba tidak akan merasakan lezatnya iman,
meskipun banyak shalat dan puasa, sehingga dia bersikap demikian itu.

Sinar Keimanan
Iman akan memancarkan sinar yang terbit menyinari di dalam hati, sehingga
hati menjadi hidup. Amr Ibnu Qais berkata, Aku mendengar bukan hanya dari
seorang shahabat saja yang berkata, Cahaya iman adalah tafakkur.Yaitu
merenungkan dan memikirkan segala kebesaran dan kekuasaan Allah, segenap
makhlukNya, memikirkan asma dan sifat sifat Allah yang Maha Luhur, sehingga
kalau itu semua memenuhi hati, maka akan membuatnya bersinar dan
bercahaya, yang itu akan terus menambah kedekatan dan rasa cinta terhadap
Allah Rabb Pencipta dan Pemeliharanya.

Iman, Musik dan Lagu
Musik dan lagu tidak akan dapat bersatu di dalam hati seorang mukmin sejati,
sehingga amatlah sulit untuk dapat mencapai keutuhan dan kesempurnaan
iman. Sebab hati yang seharusnya ditempati secara keseluruhan untuk iman,
ternyata ada jatah yang di sediakan untuk nyanyian dan musik, akan berbahaya
kalau jatah untuk musik dan nyanyian lebih besar daripada jatah untuk
keimanan.
Sebab musik dan lagu sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shalallaahu
alaihi wasalam dapat menumbuhkan kamunafikan.Maka seorang mukmin
hedaknya memakmurkan dan memenuhi hatinya dengan iman, jangan sampai
nyanyian mendominasi hati karena itu dapat menjerumuskan ke dalam suul
khatimah. Sebagaimana hal itu pernah terjadi di dalam kisah nyata, yaitu
seorang yang akan meninggal dunia ketika dituntun untuk membaca syahadat
dia tidak bisa mengucapkannya dan justru malah menyanyi. Naudzu billah min
dzalik.

Manisnya Iman
Manisnya iman dapat diraih dengan tiga hal sebagaimana yang disabdakan
Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, yang artinya:Tiga hal yang barang siapa
memilki ketiganya, maka akan merasakan manisnya iman, (yaitu) Allah dan
Rasulnya lebih dia cintai daripada selain keduanya, apabila menyintai
seseorang, maka tidaklah dia mencintai, kecuali karena Allah, serta benci untuk
kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana
bencinya kalau dilemparkan ke neraka.(HR. Al-Bukhari)
Maka masing-masing kita hedaklah melihat, apakah Allah dan Rasul telah kita
tempatkan di atas semua orang, termasuk anak, istri atau suami, serta segala
kesenangan hidup? Lalu kita lihat juga apakan cinta kita terhadap sesama
manusia sudah karena Allah, atau kah karena ada sebab-sebab lain seperti
materi, tujuan keduniaan, kelompok dan golongan dan sebagai-nya? Lalu yang
ketiga, apakah kita telah membenci kekufuran, termasuk pelakunya dan segala
yang berkaitan dengan diri, kehidupan dan gayanya? Atau kah sebaliknya kita
malah meniru (tasyabbuh), taklid dan ikut-ikutan terhadap prilaku kaum kufar?

Sikap Mukmin Terhadap Dosa
Abdullah Ibnu Masud Radhiallaahu anhu berkata, Sesungguhnya seorang
mukmin melihat dosanya ibarat kalau dia sedang duduk di bawah gunung dan
takut kalau gunung itu runtuh menimpanya. Sedangkan seorang fajir (pelaku
dosa) melihat dosanya ibarat (melihat) lalat yang terbang di depan hidungnya
seraya mengatakan begini. Para ulama manafsirkan, yaitu dengan
menggerakkan tangannya di depan hidung layaknya mengusir lalat.Sikap
seseorang terhadap dosa akan sangat berpengaruh terhadap sikap-sikapnya di
dalam seluruh aspek kehidupan.
Hal ini disebabkan karena tatkala seseorang menganggap kecil dan remeh
sebuah dosa, maka cenderung akan berbuat semaunya.Maka seorang mukmin
kalau berbuat dosa akan merasa sedih, takut dan gelisah karena kekuatan
imannya mendorong demikian. Ia tidak melihat besar kecilnya dosa, namun
melihat kepada siapa berbuat dosa. Demikian hendaknya masing-maing kita
menyi-kapi dosa, karena hal itu akan mendorong ke arah sikap-sikap positif se-
perti introspeksi (muhasabah), mawas diri, hati-hati serta banyak
beristighfar.Mudah-mudahan Allah Subhannahu wa Taala memasukkan kita
semua ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang beriman, dengan iman yang
sejati dan benar, serta menghapuskan dosa dan kesalahan kita baik yang telah
lalu maupun yang akan datang. Amin.Sumber: Kutaib,Min alamatil iman ash
shadiq, Asma binti Abdur Rahman Al Bani, bittasharruf wazzi-yadh. (Ibnu
Djawari)








Tawadhu (Rendah Hati)
Seseorang belum dikatakan tawadhu kecuali jika telah melenyapkan
kesombongan yang ada dalam dirinya. Semakin kecil sifat kesombongan dalam
diri seseorang, semakin sempurnalah ketawadhuannya dan begitu juga
sebaliknya...

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka
bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika
melihat tiap-tiap ayat-Ku, mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka
melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau
menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus
menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-
ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya (QS. Al-Araaf/7 : 146).

Tawadhu adalah salah satu akhlak mulia yang menggambarkan keagungan
jiwa, kebersihan hati dan ketinggian derajat pemiliknya. Rasulullah saw
bersabda: Barangsiapa yang bersikap tawadhu karena mencari ridho Allah
maka Allah akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada
berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barang
siapa yang menyombongkan diri maka Allah akan menghinakannya.Ia
menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat
hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi (HR. Al Baihaqi)

Pengertian Tawadhu

Tawadhu adalah lawan kata dari takabbur (sombong). Ia berasal dari lafadz
Adl-Dlaah yang berarti kerelaan manusia terhadap kedudukan yang lebih
rendah, atau rendah hati terhadap orang yang beriman, atau mau menerima
kebenaran, apapun bentuknya dan dari siapa pun asalnya.

Seseorang belum dikatakan tawadhu kecuali jika telah melenyapkan
kesombongan yang ada dalam dirinya. Semakin kecil sifat kesombongan dalam
diri seseorang, semakin sempurnalah ketawadhuannya dan begitu juga
sebaliknya. Ahmad Al Anthaki berkata : Tawadhu yang paling bermanfaat
adalah yang dapat mengikis kesombongan dari dirimu dan yang dapat
memadamkan api (menahan) amarahmu. Yang dimaksud amarah di situ
adalah amarah karena ke-pentingan pribadi yang merasa berhak mendapatkan
lebih dari apa yang semestinya diperoleh, sehingga membuatnya tertipu dan
membanggakan diri (Kitab Ihya Ulumuddin, Al Ghazali).

Sekarang ini kesombongan menjadi pakaian yang dikenakan banyak orang.
Suka membang-gakan diri, merasa tinggi melebihi orang di sekitarnya, merasa
orang lain membutuh-kannya, suka memamerkan apa yang dimilikinya, tidak
mau menyapa lebih dahulu menjadi fenomena yang mudah dilihat dimana-
mana. Padahal kesombongan menghalangi seseorang untuk masuk surga.
Rasulullah saw bersabda : Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya
terdapat kesombongan, walaupun seberat biji sawi (HR. Muslim).

Mengukur ketawadhuan

Said Hawwa dalam bukunya Al Mustakhlash fi Tazkiyatun Nafs, menyebutkan
ada beberapa percobaan yang dapat dilakukan untuk mengukur apakah di
dalam jiwa seseorang terdapat kesombongan atau ketawadhuan.

1. Hendaknya ia berdiskusi dengan orang lain dalam suatu masalah. Apabila ia
keberatan mengakui kebenaran dari perkataan lawan diskusinya dan tidak
berterima kasih atas bantuan lawannya untuk mengetahui hal tersebut, maka
di dalam hatinya masih terdapat kesombongan. Sebaliknya, bila ia mengakui
dan menerima kebenaran lawannya tersebut, berterima kasih kepadanya dan
lisannya mengakui kelemahan dirinya dengan tulus, misalnya dengan
mengatakan, Alangkah bagusnya perkataanmu terhadap sesuatu yang belum
aku ketahui. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas ilmu yang
dibukakan oleh Allah untukku melalui kamu!, maka jika hal itu dilakukan
berulang-ulang, sehingga manjadi tabiat dirinya berarti ia telah memiliki sifat
tawadhu dan terbebas dari kesombongan.

Dalam suatu riwayat disebutkan tatkala Umar bin Khatab ra selesai
menyampaikan pidato untuk membatasi mahar wanita, seorang wanita berdiri
seraya berkata, Wahai Umar, apa urusanmu dengan mahar kami, padahal
Allah saw berfirman, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di
antara mereka harta yang banyak (QS. 4 : 20). Menanggapi hal itu Umar
berkata, Benarlah wanita itu dan salahlah Umar.

2. Hendaklah berkumpul bersama teman-teman sebaya dalam berbagai
pertemuan, lalu mendahulukan mereka atas dirinya, tidak menonjolkan diri di
tengah-tengah mereka, dan berjalan di belakang atau di tengah, bukan di
depan. Bila hal itu terasa berat, berarti masih ada kesombongan di dalam
dirinya. Sebaliknya, jika hal itu terasa ringan baginya, berarti sifat
ketawadhuan telah ada dalam dirinya. Abu Darda ra berkata: Seseorang akan
bertambah jauh dari Allah selama (ia menyukai) orang yang berjalan di
belakangnya.

3. Hendaklah memenuhi undangan orang miskin atau yang lebih rendah
statusnya dari dirinya. Apabila ia merasa berat melakukannya berati masih ada
kesombongan dalam hatinya. Dalam suatu riwayat dikisahkan, Rasulullah saw
melihat ada orang kaya yang duduk di sebelah orang miskin lantas ia menjauh
dari si miskin dan melipat pakiannya, maka Rasulullah berkata kepadanya,
Apakah kamu takut kefakirannya menular padamu? (HR. Ahmad).

4. Hendaklah membawa barang-barangnya atau barang yang dibutuhkan
keluarganya sendiri, tanpa dibawakan orang lain. Apabila ia merasa berat untuk
melakukan hal tersebut, meski tidak ada orang yang melihatnya maka itu
adalah kesombongan dan apabila ia tidak merasa berat kecuali bila dilihat oleh
orang banyak, maka ia termasuk riya (ingin diperhatikan orang lain). Keduanya
merupakan penyakit jiwa dan lawan dari sifat tawadhu.

5. Hendaklah memakai pakaian yang sangat sederhana. Apabila ia merasa berat
melakukannya di hadapan orang banyak, maka ia riya dan bila ia tidak mau
melakukannya saat tidak dilihat orang banyak, maka itu adalah kesombongan.
Zaid bin Wahab berkata, Saya meilhat Umar bin Khatab ra menuju pasar
dengan membawa susu dan mengenakan pakaian yang padanya terdapat
empat belas tambalan, sebagiannya tertambal dengan kulit binatang.

Memperoleh ketawadhuan

Sifat tawadhu tidak dapat diperoleh secara spontan, tetapi harus diupayakan
secara bertahap, serius dan berkesinambungan. Beberapa cara yang dapat
dilakukan untuk memperoleh sifat tawadhu adalah :

1. Mengenal Allah SWT

Dalam sebuah kata mutiara disebutkan, Setiap manusia akan bersikap
tawadhu seukuran dengan pengenalannya kepada Tuhannya. Orang yang
mengenal Allah dengan sebenar-benarnya pengenalan akan menyadari bahwa
Allah Yang Maha Kuasa, Maha Kaya dan Maha Perkasa yang tidak
membutuhkan apapun dari makhluk-Nya. Karenanya, bila mendapatkan
kebaikan maka ia memuji Allah SWT dan bersyukur kepadanya, sebab pada
hakekatnya ia tidak mampu mendatangkan kebaikan kepada dirinya kecuali
atas izin-Nya. Orang yang mengenal Allah akan mengakui dirinya kecil dan
lemah, sehingga ia akan tawadhu dan merasa tidak pantas untuk berlaku
sombong.

2. Mengenal Diri

Dilihat dari asal usulnya, manusia berasal dari sperma yang hina yang selalu
dibasuh jika terkena pakaian atau badan. Kemudian manusia lahir ke dunia
dalam keadaan tanpa daya dan tidak mengetahui apapun. Dan Allah
mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
sesuatu apapun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati
agar kamu bersyukur (QS. 16 : 78).

Karenanya, manusia tidak berhak sombong. Ia harus bersikap tawadhu, sebab
ia lemah dan tidak mempunyai banyak pengetahuan. Bahkan ia tidak memiliki
kemampuan sedikitpun untuk menyelamatkan makanan yang telah direbut
oleh seekor lalat.

3. Mengenal Aib Diri

Seseorang dapat terjebak kepada kesombongan bila ia tidak menyadari
kekurang dan aib yang ada pada dirinya. Boleh jadi seseorang mengira bahwa
dirinya telah banyak melakukan kebaikan padahal ia justru melakukan
kerusakan dan kezaliman. Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah
kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: Sesungguhnya
kami orangorang yang mengadakan perbaikan (QS. 2 : 11).

Oleh karena itu, setiap muslim harus selalu melakukan instropeksi diri sebelum
melakukan, saat melakukan dan setelah melakukan sesuatu sebelum ia dihisab
oleh Allah SWT kelak. Hal itu juga agar ia menyadari kekurangan dan aib dirinya
sejak dini, sehingga ia akan bersikap tawadhu dan tidak akan sombong kepada
orang lain.

4. Merenungkan nikmat Allah

Pada hakikatnya, seluruh nikmat yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya
adalah ujian untuk mengetahui siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur.
Namun banyak di antara manusia yang tidak menyadari hal tersebut, sehingga
membanggakan, bahkan menyombongkan nikmat yang Allah berikan
kepadanya. Sebagian ulama berkata; Kekaguman pada diri sendiri (ujub)
adalah pangkal kesombongan. Karena itu, agar dapat menghilangkan sifat
sombong dan memiliki akhlaq tawadhu, setiap muslim harus sering
merenungkan nikmat yang Allah berikan kepadanya.

Selain yang telah disebutkan di atas, ada banyak lagi cara untuk menumbuhkan
akhlaq tawadhu, antara lain dengan merenungkan manfaat tawadhu dan
kerugian sombong, mencontoh akhlaq orang-orang sholeh terdahulu yang
tawadhu, banyak berteman dengan orang-orang yang tawadhu, dan lain-lain.

Bangsa Indonesia yang saat ini mengalami berbagai krisis sesungguhnya terjadi
karena kesombongan pemimpin dan rakyatnya. Fenomena kesombongan,
berupa pengagungan kepada diri sendiri, harta, ilmu, keturunan, dan lain-lain
terjadi dimana-mana. Orang yang bersikap tawadhu sekarang menjadi langka
dan malah dikucilkan. Padahal pertolongan dan petunjuk Allah hanya diberikan
kepada orang yang tawadhu, bukan kepada mereka yang sombong. Aku akan
memalingkan orang-orang yang menyom-bongkan dirinya di muka bumi tanpa
alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-
tiap ayat-Ku, mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan
yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika
mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian
itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai
dari padanya (QS. 7 : 146).




Tujuh Golongan yang Mendapat Perlindungan Allah di Hari Akhir
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saudara saudariku yang
kucintai.
Kali ini kita membahas tujuh golongan manusia yang dimuliakan oleh Allah di
hari akhirat kelak.
Ikhwah fillah rahimakumullah, simaklah hadits Rasulullah SAW, hadits
mutafaqun'alaih, shahih Bukhari Muslim:
Dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh
Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali
naungan-Nya, yaitu:
Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu
beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada masjid (selalu
melakukan shalat berjamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di
jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seseorang yang
diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk bezina), tapi ia
mengatakan: "Aku takut kepada Allah", seseorang yang diberikan sedekah
kemudian merahasiakannya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang
dikeluarkan tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir (mengingat) Allah
dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya." (HR
Bukhari)
Tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan dari Allah yang pada hari itu
tidak ada perlindungan kecuali hanya perlindungan Allah.
Yang pertama, imamun adil, pemimpin yang adil, hakim yang adil. Subhanallah,
terdepan, yang pertama mendapat perlindungan Allah. Dan sungguh negeri
Indonesia yang tercinta ini sangat merindukan pemimpin yang adil, hakim yang
adil.
Yang kedua, pemuda yang aktif, gesit, dalam ibadah kepada Allah
SWT.Aktivitasnya mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.
Yang ketiga, manusia, hamba Allah, yang hatinya senang berada di dalam
masjid. Dia betah di masjid. Shalat berjama'ah, ia senang, subuh-subuh ia
menegakkan shalat berjamaah. Allahu Akbar, tentu ini hamba Allah yang benar-
benar beriman kepada Allah.

Kemudian yang keempat, orang yang bersedakah yang tangan kanannya
memberi tapi tangan kirinya tidak tahu. Subhanallah.. Apa ini? Orang yang
ikhlash, tidak riya, tidak ujub.
Kemudian yang kelima, orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu
karena Allah, berpisah karena Allah.
Yang keenam, sangat sulit ini, pemuda yang dirayu, digoda, oleh wanita cantik
yang memiliki kekayaan, lalu ia berkata: "Aku takut kepada Allah". Keinginan
maksiatnya ada, tapi rasa takutnya kepada Allah lebih hebat, sehingga ia tidak
mau melakukan kemaksiatan. Kita sangat merindukan pemuda, yang memiliki
kualitas keimanan yang luar biasa, sehingga ia mampu menahan dari berbagai
macam godaan.
Kemudian yang ketujuh, yaitu pemuda, atau hamba Allah, atau orang yang
dalam ingatannya kepada Allah, dalam ibadahnya, dalam doanya, dalam
dzikirnya, ia menangis. Allahu Akbar, menangis.. Dua tetesan yang dibanggakan
Allah di hari kiamat, pertama tetesan darah fii sabilillah, kedua tetesan air mata
karena menangis, takut azab Allah, karena merasa bersalah atas segala dosa
yang ia lakukan kepada Allah, karena ia sangat mencintai Allah.
Subhanallah.. Inilah golongan yang kelak mendapat pertolongan Allah di hari
kiamat kelak. Subhanakallahumma wabihamdika asyhaduallaailaahailla anta
astaghfiruka wa atubuilaik. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.






























10 Jawaban Mengatasi Bisikan Iblis

Ada sepuluh cara setidaknya, agar kita bisa menjawab godaan setan yang selalu
ingin menjerumuskan kita ke jurang neraka. Cara praktis mengusir iblis dan bala
tentaranya itu tertuang nasihat seorang ulama dalam dialog antara manusia
dan iblis:
1. Jika ia datang kepadamu dan berkata:" Anakmu mati," katakan kepadanya :
Sesungguhnya mahluk hidup diciptakan untuk mati, dan penggalan
mdariku(putraku) akan masuk surga. Dan hal itu membuatku bahagia".

2. Jika ia datang kepadamu dan berkata:" Hartamu musnah," katakan
kepadanya : "Segala puji bagi Allah Zat Yang Maha Memberi dan Mengambil,
dan menggugurkan atasku kewajiban zakat."

3. Jika ia datang kepadamu dan berkata:" Orang-orang menzalimimu sedangkan
kamu tidak menzalimi seorangpun." maka katakan kepadanya : "Siksaan akan
menimpa orang-orang yang berbuat zalim dan tidak menimpa orang-orang
yang berbuat kebajikan (Mukhsinin)".

4. Dan jika ia datang kepadamu dan berkata: "Betapa banyak kebaikanmu,"
dengan tujuan menjerumuskan untuk bangga diri(Ujub). Maka katakan
kepadanya: "Kejelekan-kejelekanku jauh lebih banyak dari pada kebaikanku".

5. Dan jika ia datang kepadamu dan berkata:"Alangkah banyaknya shalatmu".
Maka katakan : "Kelalaianku lebih banyak dibanding shalatku".

6. Dan jika ia datang dan berkata: "Betapa banyak kamu bersedekah kepada
orang-orang". Maka katakan kepadanya: "Apa yang saya terima dari Allah jauh
lebih banyak dari yang saya sedekahkan".

7. Dan jika ia berkata kepadamu : "Betapa banyak orang yang menzalimimu".
Maka katakan kepadanya : "Orang-orang yang kuzalimi lebih banyak".

8. Dan jika ia berkata kepadamu : "Betapa banyak amalmu". Maka katakan
kepadanya: "Betapa seringnya aku bermaksiat".

9. Dan jika ia datang kepadamu dan berkata: "Minumlah minuman-minuman
keras!". Maka katakan : "Saya tidak akan mengerjakan maksiat".

10. Dan jika ia datang kepadamu dan berkata: "Mengapa kamu tidak mencintai
dunia?". Maka katakan : "Aku tidak mencintainya dan telah banyak orang lain
yang tertipu olehnya".

Beberapa Cara Mendekatkan Diri kpd Allah

1. Sholat wajib tepat waktu, selalu berdoa dan berdzikir kepada Allah
Dengan sholat, berdo'a dan dzikir kepada Allah, Inya Allah hati menjadi tenang,
damai dan makin dekat dengan-Nya
2. Sholat tahajud
Dengan sholat tahajud Insya Allah cenderung mendapatkan perasaan tenang.
Hal ini dimungkinkan karena di tengah kesunyian malam didapatkan kondisi
keheningan dan ketenangan suasana,yang tentu saja semua itu hanya dapat
terjadi atas izin-Nya. Pada malam hari, diri ini tidak lagi disibukkan dengan
urusan pekerjaan ataupun urusan-urusan duniawi lainnya sehingga dapat lebih
khusyu saat menghadap kepada-Nya.
3. Mengingat kematian yang dapat datang setiap saat
Kematian sebenarnya sangat dekat, lebih dekat dari urat leher kita. Dan dapat
secepat kilat menjemput.
4. Membayangkan tidur di dalam kubur.
Membayangkan tidur dalam kuburan yang sempit , gelap dan sunyi saat kita
mati nanti. Semoga amal ibadah kita selama di dunia ini dapat menemani kita
di alam kubur nanti.
5. Membayangkan kedahsyatan siksa neraka.
Azab Allah sangat pedih bagi yang tidak menjauhi larangan-Nya dan tidak
mengikuti perintah-Nya. Ya Allah jauhkanlah kami dari siksa neraka-Mu, karena
kami sangat takut akan siksa neraka-Mu.Ya Allah bimbinglah kami agar dapat
memanfaatkan sisa hidup kami untuk selalu dijalan-Mu.

6. Membayangkan surga-Nya.
Kesenangan duniawi hanya bersifat sementara, sangat singkat dibanding
dengan kenikmatan di akhirat yang tidak dibatasi waktu.Semoga kita dapat
selalu mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dan Insya Allah
diizinkan untuk meraih Surga-Nya. Amin..
7a. Mengikuti tausyiah atau mengikuti pengajian secara rutin seminggu satu
kali (minimal), dua kali atau lebih. Insya Allah... dengan mendengar tausyiah
atau mengikuti pengajian, akan meningkatkan keimanan karena selalu
diingatkan kembali utk selalu dekat kpd Allah SWT. Perlu dicatat, dikarenakan
iman bisa turun atau naik, maka harus dijaga agar iman tetap stabil pada
keadaan tinggi/ kuat dengan mengikuti tausyiah, pengajian dsb.
7b. Bergaul dengan orang-orang sholeh.
Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa tingkat keimanan kita bisa turun atau
naik, untuk itu perlu dijaga agar tingkat keimanan kita tetap tinggi. Berada pada
lingkungan kondusif dimana orang-orangnya dekat dengan Allah SWT, Insya
Allah juga akan membawa kita untuk makin dekat kepada-Nya.
8. Membaca Al Qur'an dan maknanya (arti dari setiap ayat yang dibaca)
Insya Allah dengan membaca Al Qur'an dan maknanya, akan menjadikan kita
makin dekat dengan-Nya.
9. Menambah pengetahuan keislaman dengan berbagai cara, antara lain
dengan : membaca buku, membaca di internet (tentang pengetahuan Islam,
artikel Islam, tausyiah dsb), melihat video Islami yang dapat meningkatkan
keimanan kita.
10. Merasakan kebesaran Allah SWT, atas semua ciptaan-Nya seperti Alam
Semesta (jagad raya yang tidak berbatas) beserta semua isinya.
11. Merenung atas semua kejadian alam yang terjadi di sekeliling kita (tsunami,
gunung meletus, gempa dsb). Dimana semua itu mungkin berupa ujian
keimanan, peringatan, atau teguran bagi kita agar kita selalu ingat kepada-Nya/
mengikuti perintah-Nya. Bukan makin tersesat ke perbuatan maksiat atau
perbuatan lain yang dilarang oleh-Nya. Ya Allah kami mohon bimbingan-Mu
agar kami dapat selalu introspeksi atas semua kesalahan yang kami perbuat,
meninggalkan larangan-Mu dan kembali ke jalan-Mu ya Allah.
12. Mensyukuri begitu besar nikmat yang sudah diberikan oleh Allah SWT
Jangan selalu melihat ke atas, lihatlah orang lain yang lebih susah. Begitu
banyak nikmat yang diberikan oleh-Nya.Saat ini kita masih bisa bernafas, masih
bisa makan, bisa minum, masih mempunyai keluarga, masih mempunyai apa
yang kita miliki saat ini,masih mempunyai panca indera mata, hidung, telinga
dan...masih bisa bernafas (masih diberi kesempatan hidup). Masih pantaskah
kita tidak bersyukur dan tidak berterimakasih pada-Nya.
















Sakaratul Maut

"Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa
orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta
berkata, "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar." (niscaya kamu
akan merasa sangat ngeri) (QS. Al-Anfal {8} : 50).

"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim
(berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat
memukul dengan tangannya (sambil berkata), "Keluarkanlah nyawamu !"

Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena
kamu selalu mengatakan terhadap Alloh (perkataan) yang tidak benar dan
kerena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya". (Qs. Al-
An'am : 93).

Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang
yang bersangkutan, bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada
Alloh, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar. Sebaliknya, bila
terhadap orang yang soleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan
dengan hati-hati.

Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat
menyakitkan. "Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya
dipukul pedang". (H.R. Ibnu Abu Dunya).

Di dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat
mengerjakan sholat sampai puluhan raka'at dalam sehari semalam dan selalu
berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris a.s yang
sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit.

Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail. Maka
bermohonlah ia kepada Alloh Swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris
a.s. di dunia. Alloh Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka
turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan
bertamu kerumah Nabi Idris. "Assalamu'alaikum, yaa Nabi Alloh". Salam
Malaikat Izrail,
"Wa'alaikum salam wa rahmatulloh". Jawab Nabi Idris a.s.

Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya
itu adalah Malaikat Izrail. Seperti tamu yang lain, Nabi Idris a.s. melayani
Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya
makan bersama, namun di tolak oleh Malaikat Izrail.
Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan
waktunya "menghadap". Alloh sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas
dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir
dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik
saja.

Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s mengajak jalan-jalan "tamunya". Itu
ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan
menggiurkan. "Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita". pinta
Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s). "Subhanalloh, (Maha Suci Alloh)" kata
Nabi Idris a.s. "Kenapa ?" Malaikat Izrail pura-pura terkejut. "Buah-buahan ini
bukan milik kita". Ungkap Nabi Idris a.s.

Kemudian Beliau berkata: "Semalam anda menolak makanan yang halal, kini
anda menginginkan makanan yang haram". Malaikat Izrail tidak menjawab.
Nabi Idris a.s perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-
diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu. Siapakah
gerangan ? pikir Nabi Idris a.s. "Siapakah engkau sebenarnya ?" tanya Nabi Idris
a.s.

"Aku Malaikat Izrail". Jawab Malaikat Izrail. Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak
percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya. "Apakah kedatanganmu
untuk mencabut nyawaku ?" selidik Nabi Idris a.s serius.
"Tidak" Senyum Malaikat Izrail penuh hormat.
"Atas izin Alloh, aku sekedar berziarah kepadamu". Jawab Malaikat Izrail. Nabi
Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam. "Aku
punya keinginan kepadamu". Tutur Nabi Idris a.s "Apa itu ? katakanlah !".
Jawab Malaikat Izrail. "Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku
sekarang.

Lalu mintalah kepada Alloh SWT untuk menghidupkanku kembali, agar
bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku". Pinta
Nabi Idris a.s. "Tanpa seizin Alloh, aku tak dapat melakukannya", tolak Malaikat
Izrail. Pada saat itu pula Alloh SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar
mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s.
Dengan izin Alloh Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah
itu beliau wafat. Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Alloh SWT
agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali.
Alloh mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan Allah Nabi Idris a.s.
hidup kembali. "Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku ?" Tanya Malaikat
Izrail.
"Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti". Jawab Nabi Idris a.s.
"Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu". Kata Malaikat
Izrail. MasyaAlloh, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi
Idris a.s.

Bagaimanakah jika sakaratul maut itu, datang kepada kita ? Siapkah kita untuk
menghadapinya ???.....
Tujuh Pintu (masuk) Neraka

"Neraka mempunyai tujuh pintu, untuk masing-masing pintu di huni
(sekelompok pendosa yang ditentukan)" (Qs al Hijr :44)
Diriwayatkan bahwa ketika Jibril turun membawa ayat di atas tadi, Nabi saw
memintanya untuk menjelaskan kondisi neraka. Jibril menjawab: "Wahai Nabi
Allah, sesungguhnya di dalam neraka ada tujuh pintu, jarak antara masing-
masing pintu sejauh tujuh puluh tahun, dan setiap pintu lebih panas dari pintu
yang lain, nama-nama pintu tersebut adalah:

1. Hawiyah (arti harfiahnya: jurang), pintu ini untuk kaum munafik dan kafir.
2. Jahim, pintu ini untuk kaum musyrik yang menyekutukan Allah.
3. Pintu ketiga untuk kaum sabian (penyembah api).
4. Lazza, pintu ini untuk setan dan para pengikutnya serta para penyembah api.
5. Huthamah (menghancurkan hingga berkeping-keping), pintu ini untuk kaum
Yahudi.
6. Sa'ir (arti harfiahnya: api yang menyala-nyala), pintu ini untuk kaum kafir.

Tatkala sampai pada penjelasan pintu yang ketujuh, Jibril terdiam. Nabi saww
maminta Ia untuk menjelaskan pintu yang ketujuh, Jibril pun menjawab: "Pintu
ini untuk umatmu yang angkuh"; yang mati tanpa menyesali dosa-dosa
mereka.

Lalu, Nabi saw mengangkat kepalanya dan begitu sedih, sampai beliau pingsan.
Ketika siuman beliau berkata: "Wahai jibril, sesunggguhnya engkau telah
menyebabkan kesusahanku dua kali lipat. Akankah umatku masuk Neraka?"

Kemudian Nabi saw mulai menangis. Setelah kejadian itu, beliau tidak
berbicara dengan siapapun selama beberapa hari, dan ketika sholat beliau
menangis dengan tangisan yang sangat memilukan. Karena tangisannya ini,
semua sahabat ikut menangis, kemudian mereka bertanya: "Mengapa beliau
begitu berduka?" Namun beliau tidak menjawab.

Saat itu, Imam Ali as sedang pergi melaksanakan satu misi, maka para sahabat
pergi mengahadap sang wanita cahaya penghulu wanita syurga, Sayyidah
Fathimah as, mereka mendatangi rumah suci beliau, dan pada saat itu Sayyidah
Fatimah as sedang mengasah gerinda sambil membaca ayat "Padahal
kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal" (al-A'la:17). Para sahabat pun
menceritakan keadaan ayahnya (Rasulullah saww). Setelah mendengar semua
itu, Sayyidah Fatimah as bangkit lalu mengenakan jubahnya (cadur) yang
memiliki dua belas tambalan yang dijahit dengan daun pohon korma. Salman
al-Farisi yang hadir bersama orang-orang ini terusik hatinya setelah melihat
jubah Sayyidah Fathimah as, lalu berkata: " Aduhai! Sementara putri-putri
kaisar dan kisra (penguasa Persia kuno) duduk di atas singgasana emas, putri
Nabi ini tidak mempunyai pakaian yang layak untuk dipakai".
Ketika Sayyidah Fathimah as sampai di hadapan sang ayah, Ia melihat
keadaannya yang menyedihkan dan juga keadaan para sahabatnya, kemudian
ia berkata: "Wahai Ayahanda, Salman terkejut setelah melihat jubahku yang
sudah penuh dengan robekan, aku bersumpah, demi tuhan yang telah
memilihmu menjadi Nabi, sejak lima tahun lalu kami hanya memiliki satu helai
pakaian di rumah kami, pada waktu siang kami memberi makan unta-unta dan
pada waktu malam kami beristirahat, anak-anak kami tidur beralaskan kulit
dengan daun-daun kering pohon kurma. Nabi berpaling ke arah Salman dan
berkata "Apakah engkau memperhatikan dan mengambil pelajaran?"
Sayyidah Fathimah az-Zahra melihat -karena tangisan yang tidak terhenti-
wajah Nabi menjadi pucat dan pipinya menjadi cekung. Sebagaimana yang di
ceritakan oleh Kasyfi, bahwa bumi tempat beliau duduk telah menjadi basah
dengan air mata. Sayyidah Fathimah as berkata kepada ayahnya, semoga
hidupku menjadi tebusanmu, "Mengapa Ayahanda menangis?" Nabi saww
menjawab, "Ya Fathimah, mengapa aku tidak boleh menangis?, karena
sesungguhnya Jibril telah menyampaikan kepadaku sebuah ayat yang
menggambarkan kondisi neraka. Neraka mempunyai tujuh pintu, dan pintu-
pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu celah api. Pada setiap celah ada tujuh
puluh ribu peti mati dari api, dan setiap peti berisi tujuh puluh ribu jenis azab".

Ketika Sayyidah Fathimah mendengar semua ini, beliau berseru,
"Sesungguhnya orang yang dimasukkan kedalam api ini pasti menemui ajal".
Setelah mengatakan ini beliau pingsan. Ketika siuman, beliau as berkata,
"Wahai yang terbaik dari segala mahluk, siapakah yang patut mendapat azab
yang seperti itu?" Nabi saww menjawab, "Umatku yang mengikuti hawa
nafsunya dan tidak memelihara sholat, dan azab ini tidak seberapa bila
dibandingkan dengan azab-azab yang lainya.

Setelah mendengar ucapan ini setiap sahabat Nabi saww menangis dan
meratap, "Derita perjalanan alam akhirat sangat jauh, sedangkan perbekalan
sangat sedikit". Sementara sebagian lagi menangis dan meratap, "Aduhai
seandainya ibuku tidak melahirkanku, maka aku tidak akan mendengar tentang
azab ini", Ammar bin Yasir berkata, "Andaikan aku seekor burung, tentu aku
tidak akan ditahan (di hari kiamat) untuk di hisab". Bilal yang tidak hadir di sana
datang kepada Salman dan bertanya sebab-sebab duka cita itu, Salman
menjawab, "Celakalah engkau dan aku, sesungguhnya kita akan mendapat
pakaian dari api, sebagai pengganti dari pakaian katun ini dan kita akan diberi
makan dengan zaqqum (pohon beracun di Neraka).
Maha adil Allah, begitu demokratisnya memberikan kebebasan pada manusia
untuk memilih.. antara iman & kufur, dengan tanpa ada paksaan " laa ikrooha
fiddin..".
Akhirnya pilihan yang kita ambil, mendapatkan konsekuensi adil dari dzat yang
maha adil. Jalan menuju sorga berliku nan mendaki tapi saat sampai tujuan,
maka akan mendapatkan keindahan yang "tidak pernah dilihat oleh mata, tidak
pernah didengar oleh telinga, tidak dapat dibayangkan oleh hati. Sedangkan
jalan menuju neraka, indah mempesona..akhirnya sampai pada kondisi yang
mengerikan..







































Orang - orang yang Didoakan oleh Malaikat

Allah SWT berfirman, "Sebenarnya (malaikat - malaikat itu) adalah hamba -
hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan
mereka mengerjakan perintah - perintah-Nya. Allah mengetahui segala
sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka
tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang - orang yang diridhai Allah,
dan mereka selalu berhati - hati karena takut kepada-Nya" (QS Al Anbiyaa' 26-
28)
Inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat :
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban
meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW
bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat
akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga
malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur
dalam keadaan suci'" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam
Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)
2. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari
Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah
seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada
dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah,
ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Shahih Muslim no. 469)
3. Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam
Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., bahwa
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya
bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf
terdepan" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih
Sunan Abi Dawud I/130)
4. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah
kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu
Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra.,
bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat
selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf"
(hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat
Tarhib I/272)
5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai
membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra.,
bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil
maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian
'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan
malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih
Bukhari no. 782)
6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam
Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW
bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu
diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia
melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat)
berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Al Musnad no. 8106,
Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)
7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara
berjama'ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa
Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat
shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari
(yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan
malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi
pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari
(hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas
pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka,
'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, 'Kami
datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan
mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah
mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan
oleh Syaikh Ahmad Syakir)
8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang
didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra.,
bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk
saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang
didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada
seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa
untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut
berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'"
(Shahih Muslim no. 2733)
9. Orang - orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim
meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya
kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya
berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan
lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Shahih
Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)
10. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani,
meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW
bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat
kepada orang - orang yang makan sahur" (hadits ini dishahihkan oleh
Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)
11. Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali
bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang
mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000
malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang
kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh"
(Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya
shahih")
12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan
oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah
SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah
bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian.
Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam
lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang
mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (dishahihkan oleh Syaikh Al
Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)



























Taubat Sejati

Hidup tak ubahnya seperti menelusuri jalan setapak yang becek di tepian
sungai nan jernih. Kadang orang tak sadar kalau lumpur yang melekat di kaki,
tangan, badan, dan mungkin kepala bisa dibersihkan dengan air sungai
tersebut. Boleh jadi, kesadaran itu sengaja ditunda hingga tujuan tercapai.
Tak ada manusia yang bersih dari salah dan dosa. Selalu saja ada debu-debu
lalai yang melekat. Sedemikian lembutnya, terlekatnya debu kerap berlarut-
larut tanpa terasa. Di luar dugaan, debu sudah berubah menjadi kotoran pekat
yang menutup hampir seluruh tubuh.
Itulah keadaan yang kerap melekat pada diri manusia. Diamnya seorang
manusia saja bisa memunculkan salah dan dosa. Terlebih ketika peran sudah
merambah banyak sisi: keluarga, masyarakat, tempat kerja, organisasi, dan
pergaulan sesama teman. Setidaknya, akan ada gesekan atau kekeliruan yang
mungkin teranggap kecil, tapi berdampak besar.
Belum lagi ketika kekeliruan tidak lagi bersinggungan secara horisontal atau
sesama manusia. Melainkan sudah mulai menyentuh pada kebijakan dan
keadilan Allah swt. Kekeliruan jenis ini mungkin saja tercetus tanpa sadar,
terkesan ringan tanpa dosa; padahal punya delik besar di sisi Allah swt.
Rasulullah saw. pernah menyampaikan nasihat tersebut melalui Abu Hurairah
r.a. Segeralah melalukan amal saleh. Akan terjadi fitnah besar bagaikan gelap
malam yang sangat gulita. Ketika itu, seorang beriman di pagi hari, tiba-tiba
kafir di sore hari. Beriman di sore hari, tiba-tiba kafir di pagi hari. Mereka
menukar agama karena sedikit keuntungan dunia. (HR. Muslim)
Saatnyalah seseorang merenungi diri untuk senantiasa minta ampunan Allah
swt. Menyadari bahwa siapa pun yang bernama manusia punya kelemahan,
kekhilafan. Dan istighfar atau permohonan ampunan bukan sesuatu yang
musiman dan jarang-jarang. Harus terbangun taubat yang sungguh-sungguh.
Secara bahasa, taubat berarti kembali. Kembali kepada kebenaran yang
dilegalkan Allah swt. dan diajarkan Rasulullah saw. Taubat merupakan upaya
seorang hamba menyesali dan meninggalkan perbuatan dosa yang pernah
dilakukan selama ini.
Rasulullah saw. pernah ditanya seorang sahabat, Apakah penyesalan itu
taubat? Rasulullah saw. menjawab, Ya. (HR. Ibnu Majah) Amr bin Ala pernah
mengatakan, Taubat nasuha adalah apabila kamu membenci perbuatan dosa
sebagaimana kamu mencintainya.
Taubat dari segala kesalahan tidak membuat seorang manusia terhina di
hadapan Tuhannya. Justru, akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang
hamba dengan Tuhannya. Karena Allah sangat mencintai orang-orang yang
bertaubat dan mensucikan diri. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-
Baqarah: 222)
Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara. Pintu taubat selalu terbuka luas
tanpa penghalang dan batas. Allah selalu menbentangkan tangan-Nya bagi
hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Seperti terungkap dalam
hadis riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari. Sesungguhnya Allah
membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang
berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat.
Karena itu, merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan
membiarkan dirinya terus-menerus melampaui batas. Padahal, pintu taubat
selalu terbuka. Dan sungguh, Allah akan mengampuni dosa-dosa semuanya
karena Dialah yang Maha Pengampun lagi Penyayang.
Orang yang mengulur-ulur saatnya bertaubat tergolong sebagai Al-Musawwif.
Orang model ini selalu mengatakan, Besok saya akan taubat. Ibnu Abas r.a.
meriwayatkan, berkata Nabi saw. Binasalah orang-orang yang melambat-
lambatkan taubat (musawwifuun). Dalam surat Al-Hujurat ayat 21, Allah swt.
berfirman, Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang
yang zalim.
Abu Bakar pernah mendengar ucapan Rasulullah saw., Iblis berkata, aku
hancurkan manusia dengan dosa-dosa dan dengan bermacam-macam
perbuatan durhaka. Sementara mereka menghancurkan aku dengan Laa ilaaha
illaahu dan istighfar. Tatkala aku mengetahui yang demikian itu aku hancurkan
mereka dengan hawa nafsu, dan mereka mengira dirinya berpetunjuk.
Namun, taubat seorang hamba Allah tidak cuma sekadar taubat. Bukan taubat
kambuhan yang sangat bergantung pada cuaca hidup. Pagi taubat, sore
maksiat. Sore taubat, pagi maksiat. Sedikit rezeki langsung taubat. Banyak
rezeki kembali maksiat.
Taubat yang selayaknya dilakukan seorang hamba Allah yang ikhlas adalah
dengan taubat yang tidak setengah-setengah. Benar-benar sebagai taubat
nasuha, atau taubat yang sungguh-sungguh.
Karena itu, ada syarat buat taubat nasuha. Antara lain, segera meninggalkan
dosa dan maksiat, menyesali dengan penuh kesadaran segala dosa dan maksiat
yang telah dilakukan, bertekad untuk tidak akan mengulangi dosa.
Selain itu, para ulama menambahkan syarat lain. Selain bersih dari kebiasaan
dosa, orang yang bertaubat mesti mengembalikan hak-hak orang yang pernah
dizalimi. Ia juga bersegera menunaikan semua kewajiban-kewajibannya
terhadap Allah swt. Bahkan, membersihkan segala lemak dan daging yang
tumbuh di dalam dirinya dari barang yang haram dengan senantiasa melakukan
ibadah dan mujahadah.
Hanya Alahlah yang tahu, apakah benar seseorang telah taubat dengan
sungguh-sungguh. Manusia hanya bisa melihat dan merasakan dampak dari
orang-orang yang taubat. Benarkah ia sudah meminta maaf, mengembalikan
hak-hak orang yang pernah terzalimi, membangun kehidupan baru yang Islami,
dan hal-hal baik lain. Atau, taubat hanya hiasan bibir yang terucap tanpa
beban.
Hidup memang seperti menelusuri jalan setapak yang berlumpur dan licin.
Segeralah mencuci kaki ketika kotoran mulai melekat. Agar risiko jatuh
berpeluang kecil. Dan berhati-hatilah, karena tak selamanya jalan mendatar.




















Nasehat - Nasehat Seputar Membaca Al-Qur'an

Al-Qur'an adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam. Al-Qur'an adalah sumber hukum yang pertama bagi kaum
muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan membaca Al-
Quran serta kemuliaan para pembacanya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala , artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang
selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian
dari rizki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan
terang-terangan, mereka itu mengharap perniagaan yang tidak akan merugi."
(Faathir : 29).

Al-Qur'an adalah ilmu yang paling mulia, karena itulah orang yang belajar Al-
Qur'an dan mengajarkannya bagi orang lain, mendapatkan kemuliaan dan
kebaikan dari pada belajar ilmu yang lainnya. Dari Utsman bin Affan radhiyallah
'anhu , beliau berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya(
HR. Muslim)

Diriwayatkan juga oleh Imam Al-Bukhari, bahwa yang duduk di majlis Khalifah
Umar Shallallahu 'alaihi wa sallam di mana beliau bermusyawarah dalam
memutuskan berbagai persoalan adalah para ahli Qur'an baik dari kalangan tua
maupun muda.

Keutamaan membaca Al-Qur'an di malam hari

Suatu hal yang sangat dianjurkan adalah membaca Al-Qur'an pada malam hari.
Lebih utama lagi kalau membacanya pada waktu shalat. Firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala , artinya: "Diantara ahli kitab itu ada golongan yang
berlaku lurus (yang telah masuk Islam), mereka membaca ayat-ayat Allah pada
beberapa waktu malam hari, sedang mereka juga bersujud (Shalat)." (Ali Imran:
113)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menerangkan ayat ini menyebutkan bahwa
ayat ini turun kepada beberapa ahli kitab yang telah masuk Islam, seperti
Abdullah bin Salam, Asad bin Ubaid, Tsa'labah bin Syu'bah dan yang lainya.
Mereka selalu bangun tengah malam dan melaksanakan shalat tahajjud serta
memperbanyak memba-ca Al-Qur'an di dalam shalat mereka. Allah memuji
mereka dengan menyebut-kan bahwa mereka adalah orang-orang yang shaleh,
seperti diterangkan pada ayat berikutnya.

Jangan riya' dalam membaca Al-Qur'an

Karena membaca Al-Qur'an merupa-kan suatu ibadah, maka wajiblah ikhlas
tanpa dicampuri niat apapun. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala , artinya: "Dan
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan
memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus
dan supaya mereka mendirikan shalat dan menuaikan zakat; dan yang
demikian itulah agama yang lurus." (Al-Bayyinah: 5). Kalau timbul sifat riya' saat
kita membaca Al-Qur'an tersebut, kita harus cepat-cepat membuangnya, dan
mengembalikan niat kita, yaitu hanya karena Allah. Karena kalau sifat riya' itu
cepat-cepat disingkirkan maka ia tidak mempengaruhi pada ibadah membaca
Al-Qur'an tersebut. (lihat Tafsir Al 'Alam juz 1, hadits yang pertama).

Kalau orang membaca Al-Qur'an bukan karena Allah tapi ingin dipuji orang
misalnya, maka ibadahnya tersebut akan sia-sia. Diriwayatkan dari Abu
Hurairah , bahwa Rasulullah n bersabda, artinya:
"Dan seseorang yang belajar ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur'an
maka di bawalah ia (dihadapkan kepada Allah), lalu (Allah) mengenalkan- nya
(mengingatkannya) nikmat-nikmatnya, iapun mengenalnya (mengingatnya)
Allah berfirman: Apa yang kamu amalkan padanya (nikmat)? Ia menjawab: Saya
menuntut ilmu serta mengajarkannya dan membaca Al-Qur'an padaMu (karena
Mu). Allah berfirman : Kamu bohong, tetapi kamu belajar agar dikatakan orang
"alim", dan kamu mem-baca Al-Qur'an agar dikatakan "Qari', maka sudah
dikatakan (sudah kamu dapatkan), kemudian dia diperintahkan (agar dibawa ke
Neraka) maka diseretlah dia sehingga dijerumuskan ke Neraka Jahannam." (HR.
Muslim)
Semoga kita terpelihara dari riya'.

Jangan di jadikan Al-Qur'an sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan
dunia.

Misalnya untuk mendapatkan harta, agar menjadi pemimpin di masyarakat,
untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi, agar orang-orang selalu meman-
dangnya dan yang sejenisnya. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala , artinya:
"Dan barang siapa yang menghen-daki keuntungan di dunia, kami berikan
kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya kebaha-
gianpun di akhirat. (As-Syura: 20)."Barangsiapa menghendaki kehidupan
sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami
kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki " (Al Israa' : 18)

Jangan mencari makan dari Al-Qur'an

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Bacalah Al-Qur'an dan
janganlah kamu (mencari) makan dengannya dan janganlah renggang darinya
(tidak membacanya) dan janganlah berlebih-lebihan padanya." (HR. Ahmad,
Shahih).Imam Al-Bukhari dalam kitab shahih-nya memberi judul satu bab dalam
kitab Fadhailul Qur'an, "Bab orang yang riya dengan membaca Al-Qur'an dan
makan denganNya", Maksud makan dengan-Nya, seperti yang dijelaskan Ibnu
Hajar dalam kitab Fathul Bari.

Diriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiyallah 'anhu bahwasanya dia sedang
melewati seseorang yang sedang membaca Al-Qur'an di hadapan suatu kaum .
Setelah selesai membaca iapun minta imbalan. Maka Imran bin Hushain
berkata: Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:"Barangsia pa membaca Al-Qur'an hendaklah ia meminta kepada
Allah Tabaraka wa Ta'ala. Maka sesungguhnya akan datang suatu kaum yang
membaca Al- Qur'an lalu ia meminta-minta kepada manusia dengannya (Al-
Qur'an) (HR. Ahmad dan At Tirmizi dan ia mengatakan: hadits hasan)

Adapun mengambil honor dari mengajarkan Al-Qur'an para ulama berbeda
pendapat dalam hal ini. Para ulama seperti 'Atha, Malik dan Syafi'i serta yang
lainya memperbolehkannya. Namun ada juga yang membolehkannya kalau
tanpa syarat. Az Zuhri, Abu Hanifah dan Imam Ahmad tidak mem-perbolehkan
hal tersebut.Wallahu A'lam.

Jangan meninggalkan Al-Qur'an.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala , artinya: "Dan berkata Rasul: "Ya Tuhanku,
sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an ini sesuatu yang tidak diacuhkan".
(Al-Furqan: 30). Sebagian orang mengira bahwa meninggalkan Al-Qur'an adalah
hanya tidak membacanya saja, padahal yang dimaksud di sini adalah sangat
umum. Seperti yang dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang ayat ini. Dia
menjelaskan bahwa yang dimaksud meninggalkan Al-Qur'an adalah sebagai
berikut;

Apabila Al-Qur'an di bacakan, lalu yang hadir menimbulkan suara gaduh dan
hiruk pikuk serta tidak mendengarkannya.

Tidak beriman denganNya serta mendustakanNya

Tidak memikirkanNya dan memahamiNya

Tidak mengamalkanNya, tidak menjunjung perintahNya serta tidak menjauhi
laranganNya.

Berpaling dariNya kepada yang lainnya seperti sya'ir nyanyian dan yang
sejenisnya.

Semua ini termasuk meninggalkan Al-Qur'an serta tidak memperdulikan- nya.
Semoga kita tidak termasuk orang yang meninggalkan Al-Qur'an. Amin.

Jangan ghuluw terhadap Al-Qur'an

Maksud ghuluw di sini adalah berlebih-lebihan dalam membacaNya.
Diceritakan dalam hadits yang shahih dari Abdullah bin Umar radhiyallah 'anhu
beliau ditanya oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam . Apakah benar
bahwa ia puasa dahr (terus-menerus) dan selalu membaca Al-Qur'an di malam
hari. Ia pun menjawab: "Benar wahai Rasulullah!" Kemudian Rasulullah
memerintah padanya agar puasa seperti puasa Nabi Daud alaihis salam , dan
membaca Al-Qur'an khatam dalam sebulan. Ia pun menajwab: Saya sanggup
lebih dari itu. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: bacalah pada
setiap 20 hari (khatam). Iapun menjawab saya sanggup lebih dari itu. Rasulullah
berasabda : Bacalah pada setiap 10 hari. Iapun menjawab: Saya sanggup lebih
dari itu, lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bacalah pada
setiap 7 hari (sekali khatam), dan jangan kamu tambah atas yang demikian itu."
(HR. Muslim).

Diriwayatkan dari Abdu Rahman bin Syibl radhiyallah 'anhu dalam hadits yang
disebutkan diatas: "Dan janganlah kamu ghuluw padanya. (HR. Ahmad dan Al-
Baihaqi). Wallahu 'a'lam bishshawab.

(Sumber Rujukan: Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal. 306; Shahih Bukhari dan Shahih
Muslim (Muhktasar). ; Fathu Al Bari jilid 10 kitab fadhailil Qur'an, Al Hafiz
IbnuHajar ; At-Tibyan Fi Adab Hamalatil Qur'an, An Nawawi Tahqiq Abdul Qadir
Al Arna'uth; Fadhail Al-Qur'an, Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, Tahqiq Dr.
Fahd bin Abdur Rahman Al Rumi.)






keutamaan Membaca Al Qur'an

Dari Abu Musa Al-Asy`arit berkata, Rasulullah bersabda: "Perumpamaan orang
mukmin yang membaca Al Qur`an bagaikan buah limau baunya harum dan
rasanya lezat. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al
Qur`an bagaikan kurma, rasanya lezat dan tidak berbau. Dan perumpamaan
orang munafik yang membaca Al Qur`an bagaikan buah raihanah yang baunya
harum dan rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak
membaca Al Qur`an bagaikan buah hanzholah tidak berbau dan rasanya pahit."
Muttafaqun `Alaihi.

Merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk selalu berinteraksi
aktif dengan Al Qur`an, dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi, berpikir
dan bertindak. Membaca Al Qur`an merupakan langkah pertama dalam
berinteraksi dengannya, dan untuk mengairahkan serta menghidupkan kembali
kegairahan kita dalam membaca Al Qur`an, kami sampaikan beberapa
keutamaan membaca Al Qur`an sebagai berikut :
1. Manusia yang terbaik.
Dari `Utsman bin `Affan, dari Nabi bersabda : "Sebaik-baik kalian yaitu orang
yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya." H.R. Bukhari.
2. Dikumpulkan bersama para Malaikat.
Dari `Aisyah Radhiyallahu `Anha berkata, Rasulullah bersabda : "Orang yang
membaca Al Qur`an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan
dikumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang
yang membaca Al Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum
fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran." Muttafaqun
`Alaihi.

3. Sebagai syafa`at di Hari Kiamat.
Dari Abu Umamah Al Bahili t berkata, saya telah mendengar Rasulullah
bersabda : "Bacalah Al Qur`an !, maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari
Kiamat sebagai syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membaca, mempelajari
dan mengamalkannya)." H.R. Muslim.

4. Kenikmatan tiada tara
Dari Ibnu `Umar t, dari Nabi bersabda : "Tidak boleh seorang menginginkan apa
yang dimiliki orang lain kecuali dalam dua hal; (Pertama) seorang yang diberi
oleh Allah kepandaian tentang Al Qur`an maka dia mengimplementasikan
(melaksanakan)nya sepanjang hari dan malam. Dan seorang yang diberi oleh
Allah kekayaan harta maka dia infakkan sepanjang hari dan malam."
Muttafaqun `Alaihi.

5. Ladang pahala.
Dari Abdullah bin Mas`ud t berkata, Rasulullah e : "Barangsiapa yang membaca
satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an) maka baginya satu kebaikan. Dan satu
kebaikan akan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak
mengatakan "Alif lam mim" itu satu huruf, tetapi "Alif" itu satu huruf, "Lam" itu
satu huruf dan "Mim" itu satu huruf." H.R. At Tirmidzi dan berkata : "Hadits
hasan shahih".

6. Kedua orang tuanya mendapatkan mahkota surga
Dari Muadz bin Anas t, bahwa Rasulullah e bersabda : "Barangsiapa yang
membaca Al Qur`an dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, Allah
akan mengenakan mahkota kepada kedua orangtuanya pada Hari Kiamat kelak.
(Dimana) cahayanya lebih terang dari pada cahaya matahari di dunia. Maka
kamu tidak akan menduga bahwa ganjaran itu disebabkan dengan amalan yang
seperti ini. " H.R. Abu Daud.KEMBALI KEPADA AL QUR`ANBukti empirik di
lapangan terlihat dengan sangat jelas bahwa kaum muslimin pada saat ini telah
jauh dari Al Qur`an Al Karim yang merupakan petunjuknya dalam mengarungi
bahtera kehidupannya (The Way of Life). Firman Allah I :
Berkatalah Rasul:"Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-
Qur'an ini sesuatu yang tidak diacuhkan". (QS. 25:30)

Dan mereka (para musuh Islam) berusaha keras untuk menjauhkan kaum
muslimin secara personal maupun kelompok dari sumber utama kekuatannya
yaitu Al Qur`an Al Karim. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Al Qur`an
Al Karim mengenai target rahasia mereka dalam memerangi kaum muslimin
dalam firman-Nya :
Dan orang-orang yang kafir berkata:"Janganlah kamu mendengar dengan
sungguh-sungguh akan al-Qur'an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya,
supaya kamu dapat mengalahkan (mereka). (QS. 41:26)

Jal Daston selaku perdana menteri Inggris mengemukakan : "Selagi Al Qur`an
masih di tangan umat Islam, Eropa tidak akan dapat mengusai negara-negara
Timur." (Lihat buku "Rencana Penghapusan Islam dan Pembantaian Kaum
Muslimin di Abad Modern" oleh Nabil Bin Abdurrahman Al Mahisy / 13).
Jauhnya umat terhadap Al Qur`an Al Karim merupakan suatu masalah besar
yang sangat fundamental dalam tubuh kaum muslimin. Perkara untuk
mempedomi petunjuk Allah I melalui kitab-Nya, bukan sekedar perbuatan
sunnah atau suatu pilihan. Firman Allah I :
Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan
yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan,
akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barang
siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat,
dengan kesesatan yang nyata. (QS. 33:36)

Tegasnya, menjadikan kitab Allah Subhanahu wa Ta`ala sebagai sumber
petunjuk satu-satunya dalam kehidupan dan mengembalikan segala masalah
hanya kepada-Nya merupakan suatu keharusan oleh setiap diri kita. Kita sama-
sama bersepakat bahwa dalam menanggulangi masalah kerusakan sebuah
pesawat terbang, kita harus memanggil seorang insinyur yang membuat
pesawat itu, dan kita sama-sama bersepakat bahwa seorang pilot yang akan
mengoperasionalkan suatu pesawat terbang harus mengikuti buku petunjuk
oprasional pesawat yang dikeluarkan dari perusahaan yang memproduksinya.
Tetapi mengapa kita tidak mau menerapkan prinsip ini dalam diri kita sendiri.
Allah I lah yang menciptakan kita dan hanya petunjuk-Nya yang benar. Sedang
kita mengetahui bahwa pegangan yang mantap dan pengarahan yang benar
hanyalah :
Katakanlah:"Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)".
(QS. 2:120)

Ringkas dan tegas. Petunjuk Allah I itulah petunjuk. Selain dari itu bukan
petunjuk. Tidak bertele-tele, tidak ada helah, tidak dapat ditukar. Rasulullah e
bersabda :
"Sesungguhnya Allah mengangkat beberapa kaum dengan Kitab (Al Qur`an) ini
dan menghinakan yang lain dengannya pula." H.R. Muslim.
Karena itu jangan sampai kita mengikuti hawa nafsu mereka yang menyimpang
dari garis yang tegas ini :
Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan
datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong
bagimu. (QS. 2:120)Ringkasnya, ketika umat Islam telah jauh dari Kitabullah,
maka musibah dan malapetaka serta segala jenis penyakit hati akan datang silih
berganti, sebagaimana yang saat ini kita lihat sendiri secara kasat mata.

Kita berdoa kepada Allah I, semoga Dia I mengerakkan hati dan memudahkan
langkah kita dan umat Islam lainnya untuk kembali kepada Kitabullah dan
Sunnah Nabinya e sehingga menjadi umat yang terbaik sebagaimana firman-
Nya I :
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah. (QS. 3:110)

Bersyukur

Ketika Nabi Sulaiman a.s. mendapatkan puncak kenikmatan dunia, beliau
berkata,Ini adalah bagian dari karunia Allah, untuk mengujiku apakah aku
bersyukur atau kufur. (An-Naml: 40). Ketika Qarun mendapatkan harta yang
sangat banyak, dia mengatakan, Sesungguhnya harta kekayaan ini, tidak lain
kecuali dari hasil kehebatan ilmuku. (Al-Qashash: 78).
Dua kisah yang bertolak belakang di atas menghasilkan akhir kesudahan yang
berbeda. Nabi Sulaiman a.s. mendapatkan karunia di dunia dan akhirat.
Sedangkan Qarun mendapat adzab di dunia dan akhirat karena kekufurannya
akan nikmat Allah.
Demikianlah, fragmen hidup manusia tidak terlepas dari dua golongan
tersebut. Golongan pertama, manusia yang mendapatkan nikmat Allah dan
mereka mensyukurinya dengan sepenuh hati. Dan golongan kedua, manusia
yang mendapatkan banyak nikmat lalu mereka kufur. Golongan pertama yaitu
para nabi, shidiqqin, zullada, dan shalihin (An-Nisa: 69-70). Golongan kedua,
mereka inilah para penentang kebenaran, seperti Namrud, Firaun, Qarun, Abu
Lahab, Abu Jahal, dan para pengikut mereka dari masa ke masa.
Secara umum bahwa kesejahteraan, kedamaian dan keberkahan merupakan
hasil dari syukur kepada Allah sedangkan kesempitan, kegersangan dan
kemiskinan akibat dari kufur kepada Allah. (An-Nahl 112)
Nikmat Allah
Betapa zhalimnya manusia, bergelimang nikmat Allah tetapi tidak bersyukur
kepada-Nya (Ibrahim: 34). Nikmat yang Allah berikan kepada manusia
mencakup aspek lahir (zhaahirah) dan batin (baatinah) serta gabungan dari
keduanya. Surat Ar-Rahman menyebutkan berbagai macam kenikmatan itu dan
mengingatkan kepada manusia akan nikmat tersebut dengan berulang-ulang
sebanyak 31 kali, Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?
Baca dan tadabburilah surat Ar-Rahman. Allah yang Maha Penyayang
memberikan limpahan nikmat kepada manusia dan tidak ada satu makhluk pun
yang dapat menghitungnya. Dari awal sampai akhir surat Ar-Rahman, Allah
merinci nikmat-nikmat itu.
Dimulai dengan ungkapan yang sangat indah, nama Allah, Dzat Yang Maha
Pemurah, Ar-Rahmaan. Mengajarkan Al-Quran, menciptakan manusia dan
mengajarinya pandai berkata-kata dan berbicara. Menciptakan mahluk langit
dengan penuh keseimbangan, matahari, bulan dan bintang-bintang.
Menciptakan bumi, daratan dan lautan dengan segala isinya semuanya untuk
manusia. Dan menciptakan manusia dari bahan baku yang paling baik untuk
dijadikan makhluk yang paling baik pula. Kemudian mengingatkan manusia dan
jin bahwa dunia seisinya tidak kekal dan akan berakhir. Hanya Allah-lah yang
kekal. Di sana ada alam lain, akhirat. Surga dengan segala bentuk
kenikmatannya dan neraka dengan segala bentuk kengeriannya. Maka nikmat
Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?
Sarana Hidup (Wasa-ilul Hayah)
Sungguh Maha Agung nama Rabbmu Yang Mempunyai kebesaran dan karunia.
Marilah kita sadar akan nikmat itu dan menysukurinya dengan sepenuh hati.
Dalam surat An-Nahl ayat 78, ada nikmat yang lain yang harus disyukuri
manusia, Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan
tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
Cobalah renungkan! Bagaimana jika manusia hidup di dunia dalam kondisi
buta, maka dia tidak dapat melihat. Seluruh yang ada di hadapannya adalah
sama. Tidak dapat melihat keindahan warna-warni dan tidak dapat melihat
keindahan alam semesta. Coba sekali lagi renungkan! Bagaimana jadinya jika
manusia hidup di dunia dalam keadaan buta dan tuli. Maka dia tidak dapat
berbuat apa-apa. Dan coba sekali lagi renungkan! Jika manusia hidup di dunia
dalam keadaan buta, tuli, dan gila. Maka hidupnya dihabiskan di rumah sakit,
menjadi beban yang lainnya. Demikianlah nikmat penglihatan, pendengaran,
dan akal. Demikianlah nikmat sarana kehidupan (wasail al-hayat).
Pedoman Hidup (Manhajul Hayah)
Sekarang apa jadinya jika manusia itu diberi karunia oleh Allah mata untuk
melihat, telinga untuk mendengar, dan akal untuk berpikir. Kemudian mata itu
tidak digunakan untuk melihat ayat-ayat Allah, telinga tidak digunakan untuk
mendengarkan ayat-ayat Allah, dan akal tidak digunakan untuk mengimani dan
memahami ayat-ayat Allah. Maka itulah seburuk-buruknya makhluk. Mereka
itu seperti binatang. Bahkan, lebih rendah dari binatang (Al-Araf: 179).
Demikianlah, betapa besarnya nikmat petunjuk Islam (hidayatul Islam) dan
pedoman hidup (manhajul hayah). Nikmat ini lebih besar dari seluruh harta
dunia dan seisinya. Nikmat ini mengantarkan orang-orang beriman dapat
menjalani hidupnya dengan lurus, penuh kejelasan, dan terang benderang.
Mereka mengetahui yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram.
Al-Quran banyak sekali membuat perumpamaan orang yang tidak menjadikan
Islam sebagai pedoman hidup, diantaranya digambarkan seperti binatang
secara umum dan binatang tertentu secara khusus, seperti; anjing, keledai,
kera dan babi (Al-Araf: 176, Al-Jumuah: 5, Al-Anfal: 55, Al-Maidah: 60).
Diumpamakan juga seperti orang yang berjalan dengan kepala (Al-Mulk: 22),
buta dan tuli (Al-Maidah: 71), jatuh dari langit dan disambar burung (Al-Hajj:
31) kayu yang tersandar (Al-Munafiqun: 4) dan lainnya.
Pertolongan (An-Nashr)
Ada satu bentuk kenikmatan lagi yang akan Allah berikan kepada orang-orang
beriman disebabkan mereka komitmen dengan manhaj Allah dan berdakwah
untuk menegakkan sistem Islam, yaitu pertolongan Allah, Hai orang-orang
mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu
dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad: 7)
Pertolongan Allah itu sangat banyak bentuknya, diantaranya perlindungan dan
tempat menetap (al-iwaa), dukungan Allah sehingga menjadi kuat (tayiid), rizki
yang baik-baik, kemenangan (al-fath), kekuasaan (al-istikhlaaf), pengokohan
agama (tamkinud-din) dan berbagai macam bentuk pertolongan Allah yang lain
(Al-Anfaal: 26, Ash-Shaaf: 10-13 dan An-Nuur: 55).
Segala bentuk kenikmatan tersebut baik yang zhahir, bathin, maupun gabungan
antara keduanya haruslah direspon dengan syukur secara optimal. Dan dalam
bersyukur kepada Allah harus memenuhi rukun-rukunnya.
Rukun Syukur
Para ulama menyebutkan bahwa rukun syukur ada tiga, yaitu itiraaf
(mengakui), tahaddust (menyebutkan), dan Taat.
Al-Itiraaf
Pengakuan bahwa segala nikmat dari Allah adalah suatu prinsip yang sangat
penting, karena sikap ini muncul dari ketawadhuan seseorang. Sebaliknya jika
seseorang tidak mengakui nikmat itu bersumber dari Allah, maka merekalah
orang-orang takabur. Tiada daya dan kekuatan kecuali bersumber dari Allah
saja. Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah dialah
yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (Fathir: 15)
Dalam kehidupan modern sekarang ini, orang-orang sekular menyandarkan
segala sesuatunya pada kemampuan dirinya dan mereka sangat menyakini
bahwa kemampuannya dapat menyelesaikan segala problem hidup. Mereka
sangat bangga terhadap capaian yang telah diraih dari peradaban dunia,
seolah-olah itu adalah hasil kehebatan ilmu dan keahlian mereka. Pola pikir ini
sama dengan pola pikir para pendahulu mereka seperti Qarun dan sejenisnya.
Sesungguhnya harta kekayaan ini, tidak lain kecuali dari hasil kehebatan
ilmuku. (Al-Qashash: 78)
Dalam konteks manhaj Islam, pola pikir seperti inilah yang menjadi sebab
utama masalah dan problematika yang menimpa umat manusia sekarang ini.
Kekayaan yang melimpah ruah di belahan dunia Barat hanya dijadikan sarana
pemuas syahwat, sementara dunia Islam yang menjadi wilayah jajahannya
dibuat miskin, tenderita, dan terbelakang. Sedangkan umat Islam dan
pemerintahan di negeri muslim yang mengikuti pola hidup barat kondisi
kerusakannya hampir sama dengan dunia Barat tersebut, bahkan mungkin
lebih parah lagi.
Itiraaf adalah suatu bentuk pengakuan yang tulus dari orang-orang beriman
bahwa Allah itu ada, berkehendak dan kekuasaannya meliputi langit dan bumi.
Semua makhluk Allah tidak ada yang dapat lepas dari iradah (kehendak) dan
qudrah (kekuasaan) Allah.
At-Tahadduts
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan. (Ad-Duhaa:
11)
Abi Nadhrah berkata, Dahulu umat Islam melihat bahwa di antara bentuk
syukur nikmat yaitu mengucapkannya. Rasul saw. bersabda, Tidak bersyukur
kepada Allah orang yang tidak berterima kasih pada manusia. (Abu Dawud dan
At-Tirmidzi). Berkata Al-Hasan bin Ali, Jika Anda melakukan (mendapatkan)
kebaikan, maka ceritakan kepada temanmu. Berkata Ibnu Ishak, Sesuatu yang
datang padamu dari Allah berupa kenikmatan dan kemuliaan kenabian, maka
ceritakan dan dakwahkan kepada manusia.
Orang beriman minimal mengucapkan hamdalah (alhamdulillah) ketika
mendapatkan kenikmatan sebagai refleksi syukur kepada Allah. Demikianlah
betapa pentingnya hamdalah, dan Allah mengajari pada hamba-Nya dengan
mengulang-ulang ungkapan alhamdulillah dalam Al-Quran dalam mengawali
ayat-ayat-Nya.
Sedangkan ungkapan minimal yang harus diucapkan orang beriman, ketika
mendapatkan kebaikan melalui perantaraan manusia, mengucapkan pujian dan
doa, misalnya, jazaakallah khairan (semoga Allah membalas kebaikanmu).
Disebutkan dalam hadits Bukhari dan Muslim dari Anas r.a., bahwa kaum
Muhajirin berkata pada Rasulullah saw., Wahai Rasulullah saw., orang Anshar
memborong semua pahala. Rasul saw. bersabda, Tidak, selagi kamu
mendoakan dan memuji kebaikan mereka.
Dan ucapan syukur yang paling puncak ketika kita menyampaikan kenikmatan
yang paling puncak yaitu Islam, dengan cara mendakwahkan kepada manusia.
At-Thaah
Allah menyebutkan bahwa para nabi adalah hamba-hamba Allah yang paling
bersyukur dengan melaksanakan puncak ketaatan dan pengorbanan. Dan
contoh-contoh tersebut sangat tampak pada lima rasul utama: Nabi Nuh a.s.,
Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan Nabi Muhammad saw. Allah
swt. menyebutkan tentang Nuh a.s. Sesungguhnya dia (Nuh a.s.) adalah
hamba (Allah) yang banyak bersyukur. (Al-Israa: 3)
Dan lihatlah bagaimana Aisyah r.a. menceritakan tentang ketaatan Rasulullah
saw. Suatu saat Rasulullah saw. melakukan shalat malam sehingga kakinya
terpecah-pecah. Berkata Aisyah r.a., Engkau melakukan ini, padahal Allah
telah mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang. Berkata Rasulullah
saw., Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur? (Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan dari Atha, berkata, aku bertanya pada Aisyah,
Ceritakan padaku sesuatu yang paling engkau kagumi yang engkau lihat dari
Rasulullah saw. Aisyah berkata, Adakah urusannya yang tidak mengagumkan?
Pada suatu malam beliau mendatangiku dan berkata, Biarkanlah aku
menyembah Rabbku. Maka beliau bangkit berwudhu dan shalat. Beliau
menangis sampai airmatanya mengalir di dadanya, kemudian ruku dan
menangis, kemudian sujud dan menangis, kemudian mengangkat mukanya dan
menangis. Dan beliau tetap dalam kondisi seperti itu sampai Bilal
mengumandangkan adzan salta. Aku berkata, Wahai Rasulullah saw., apa
yang membuat engkau menangis padahal Allah sudah mengampuni dosa yang
lalu dan yang akan datang? Rasul saw. berkata, Tidak bolehkah aku menjadi
hamba Allah yang bersyukur? (Ibnul Mundzir, Ibnu Hibban, Ibnu Mardawaih,
dan Ibnu Asakir).
Tambahan Nikmat
Refleksi syukur yang dilakukan dengan optimal akan menghasilkan tambahan
nikmat dari Allah (ziyadatun nimah), dalam bentuk keimanan yang bertambah
(ziyadatul iman), ilmu yang bertambah, (ziyadatul ilmi), amal yang bertambah
(ziyadatul amal), rezeki yang bertambah (ziyadatur rizki) dan akhirnya
mendapatkan puncak dari kenikmatan yaitu dimasukan ke dalam surga dan
dibebaskan dari api neraka. Demikianlah janji Allah yang disebutkan dalam
surat Ibrahim ayat 7, Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan:
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-
Ku sangat pedih.














Meraih ampunan Allah SWT
Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh
langit, kemudian engkau memohon ampun padaku, niscaya Aku
mengampunimu.
Dan dari Anas bin Malik radhiallohu anhu beliau berkata: Rosululloh shalallohu
alaihi wa sallam bersabda: Alloh subhanahu wa taala berfirman: Wahai
anak adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku,
niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan memperdulikannya
lagi. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit,
kemudian engkau memohon ampun padaku, niscaya Aku akan
mengampunimu. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaku
dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpaiku dalam
keadaan tidak berbuat syirik dengan apapun niscaya aku akan datang
kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula. (HR Tirmidzi, beliau
berkata: hadits ini hasan) Wallohu alam, semoga sholawat tercurah pada
nabi Muhammad.

Penjelasan:
Dari Anas radhiallohu anhu beliau berkata: Saya mendengar Rosululloh SAW
bersabda: *Alloh subhanahu wa taala berfirman, Wahai anak Adam,
sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan
mengampunimu dan Aku tidak akan memperdulikannya lagi] Yang dimaksud
*Anak Adam+ pada perkataan ini adalah seorang muslim yang mengikuti
risalah rosul yang diutus kepadanya. Maka orang-orang yang mengikuti risalah
nabi Musa alaihi salam pada zamannya, maka dia termasuk orang yang diseru
dengan panggilan ini. Orang-orang yang mengikuti risalah nabi Isa alaihi salam
pada zamannya, maka dia juga termasuk orang yang diseru dengan panggilan
ini. Adapun setelah diutusnya Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, orang-
orang yang mendapatkan balasan dan keutamaan seperti yang disebutkan
dalam hadits ini adalah mereka yang mengikuti Al Musthofa (Nabi Muhammad)
shalallahu alaihi wa sallam, beriman bahwa risalah yang beliau bawa adalah
penutup risalah para nabi, mengakui kenabian dan risalah yang beliau bawa
dan mengikuti petunjuk beliau shalallahu alaihi wa sallam.

Alloh jalla wa ala berfirman pada hadits ini: *Wahai anak Adam, sesungguhnya
jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu
dan Aku tidak akan memperdulikannya lagi] Kalimat ini memiliki makna yang
serupa dengan firman Alloh jalla wa ala:



Katakanlah: Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri
mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya
Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Az Zumar: 53)

Jika seorang hamba melakukan perbuatan dosa kemudian segera bertaubat,
berdoa kepada Alloh jalla wa ala agar Ia mengampuninya serta mengharapkan
ampunan-Nya, maka Alloh akan mengampuni dosa-dosanya selama dia
bertaubat karena Taubat itu menghapus dosa-dosa sebelumnya.

Kemudian Alloh jalla wa ala berfirman pada hadits ini: sesungguhnya jika
engkau berdoa dan berharap kepada-Ku. Kalimat ini menjelaskan bahwa doa
disertai dengan harapan akan menyebabkan Alloh mengabulkan permohonan
ampun. Ada sebagian orang yang berdoa pada Robb-Nya dengan harapan yang
lemah dan tidak berhusnuzhon pada Robb-Nya padahal Rosululloh shalallahu
alaihi wa sallam telah bersabda,Alloh subhanahu wa taala berfirman: Aku
sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku maka hendaklah
berprasangka pada-Ku sebagaimana dia kehendaki. Jika seorang hamba
berdoa untuk memohon ampun atas segala dosa-dosanya maka hendaknya dia
berdoa untuk memohon ampun pada Alloh dengan berkeyakinan bahwa Alloh
memiliki kemurahan yang sangat besar dan dia berharap bahwa Alloh akan
mengampuni dosa-dosanya. Orang yang melakukan hal ini, niscaya Alloh akan
mengampuni dosa-dosanya.

Maka jika seseorang telah memiliki rasa harap yang sangat besar pada Alloh
dan yakin bahwa Alloh akan mengampuninya niscaya dia akan mendapatkan
apa yang ia cari. Hal tersebut dikarenakan besarnya rasa harap dan prasangka
yang baik pada Alloh. Banyak ibadah-ibadah hati (ibadah qolbiyyah) yang harus
dilakukan oleh seorang pelaku dosa ketika memohon ampun dan bertaubat.
Banyak ibadah-ibadah hati yang harus dilakukan agar perbuatan dosa diampuni
sebagai karunia dan kemuliaan dari Alloh jalla wa ala.

Kemudian Alloh subhanahu wa taala berfirman: niscaya Aku akan
mengampunimu. Pengampunan () memiliki makna menutup bekas-
bekas dosa di dunia dan akhirat. Pengampunan tidak sama dengan menerima
taubat, karena pengampunan memiliki makna menutup (). Mengampuni
sesuatu ( ) memiliki makna menutup sesuatu (). Menutup dosa-
dosa memiliki makna bahwa Alloh jalla wa ala akan menutup dampak-dampak
dosa di dunia dan akhirat. dampak dosa di dunia adalah balasan atas perbuatan
dosa tersebut di dunia, sedangkan dampak dosa di akhirat adalah balasan atas
perbuatan dosa tersebut di akhirat. Barang siapa yang memohon ampun pada
Alloh jalla wa ala maka dia akan diampuni oleh Alloh. Barang siapa yang
meminta pada Alloh agar Ia menutupi dampak dosanya di dunia dan akhirat
maka Alloh akan menutupinya. Alloh akan menutup dampak dosa-dosanya
dengan tidak memberikan balasan atas dosanya di dunia dan akhirat.

Kemudian Alloh subhanahu wa taala berfirman: *Wahai anak Adam,
seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit]. Dosa tersebut memenuhi
langit (awan yang tinggi) karena jumlahnya yang banyak dan bertumpuk-
tumpuk.

Kemudian Alloh subhanahu wa taala berfirman: *kemudian engkau memohon
ampun pada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu]. Perbuatan ini adalah
perbuatan seorang hamba yang bertaubat dan mencintai Robbnya dengan
kecintaan yang mendalam. Karena Alloh -Yang Maha Agung, Yang Memiliki
nama dan sifat yang mulia, indah dan sempurna, yang menguasai seluruh
kerajaan, Dialah yang menguasai dan melindungi segala sesuatu, yang memiliki
berbagai macam nama dan sifat yang agung dan mulia- akan mencintai
hambanya dengan kecintaan seperti ini. Maka tidak diragukan lagi, hal ini akan
membuat hati mencintai Robbnya, merasa hina di hadapan-Nya dan
mendahulukan ridho-Nya daripada ridho selain-Nya.

Alloh subhanahu wa taala berfirman: *Wahai anak Adam, seandainya dosa-
dosamu memenuhi seluruh langit kemudian engkau memohon ampun padaku,
niscaya Aku akan mengampunimu]. Dalam kalimat ini terdapat dorongan untuk
senantiasa memohon ampunan. Jika engkau berbuat dosa maka beristigfarlah
karena sesungguhnya tidak cukup istigfar kita walaupun dilakukan sebanyak 70
kali dalam setiap hari seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits. Dengan
beristigfar dan menyesal maka Alloh akan mengampuni segala dosa.

Kemudian Alloh subhanahu wa taala berfirman: "Wahai anak Adam,
seandainya engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi,
kemudian engkau menjumpaiku dalam keadaan tidak berbuat syirik dengan
apapun niscaya aku akan datang kepadamu dengan pengampunan sepenuh
bumi pula". Jika anak Adam datang dengan dosa sepenuh bumi, kemudian
menjumpai Alloh dalam keadaan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya dan
tidak berbuat syirik kepada-Nya baik syirik besar, syirik kecil maupun syirik yang
tersembunyi, hatinya ikhlas hanya kepada Alloh, tidak ada pada hatinya kecuali
Alloh dan tidak merasa cemas kecuali hanya kepada-Nya, tidak berharap
kecuali hanya kepada-Nya, tidak berbuat syirik dalam bentuk apapun pada-Nya,
niscaya Alloh jalla wa ala akan mengampuni seluruh dosa-dosanya.

Alloh subhanahu wa taala berfirman: kemudian engkau menjumpaiku dalam
keadaan tidak berbuat syirik dengan apapun niscaya aku akan datang
kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula. Hal ini menunjukkan
kebaikan dan besarnya rahmat Alloh pada para hamba-Nya.

Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nama-nama dan sifat-Mu. Ya Alloh segala puji
bagi-Mu atas nikmat syariat Islam yang engkau berikan pada kami. Ya Alloh
segala puji bagi-Mu atas nikmat diutusnya nabi-Mu Muhammad alaihi sholatu
wa sallam yang engkau berikan pada kami. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas
anugerah yang engkau berikan pada kami untuk mengikuti jalan para
salafushalih. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas anugerah-Mu pada kami berupa
ampunan untuk segala dosa, menunjukkan pada perbuatan baik, dan
mengampuni segala kesalahan. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nikmat-Mu
yang Agung. Ya Alloh segala puji bagi-Mu dan engkaulah yang paling berhak
untuk mendapatkan seluruh pujian

Diterjemahkan Oleh: Abu Fatah Amrulloh dari Penjelasan Hadits Arbain No.
42 Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhohulloh
Murojaah: Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar


Mengapa doa kita tidak dikabulkan ?


-O)4 ElEc Og14:gN /j_4N
O)E+) RUC@O~ W CUO_q
E4O;NE1 ;v-O.- -O) p4NE1
W W-O+:O4-O41U Oj
W-ONLg`uNO^4 O). _^UE
]7-O4C ^gg
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka
itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku,
agar mereka selalu berada dalam kebenaran.(QS2: 186)
Agama kita mengajarkan kita agar senantiasa berdoa kepada Allah. Allah
memiliki segalanya. Setiap sesuatu terjadi atas izin dan kehendakNya. Maka
kita dianjurkan agar meminta kepada Allah segala sesuatu yang baik, untuk
kehidupan kita di dunia ini dan kehidupan kita di akhirat kelak. Hanya orang-
orang yang sombong yang tidak mau dan malas berdoa, meminta kepada
Allah.
Doa bukanlah bermaksud kita meminta sesuatu dan kemudian duduk memeluk
tubuh tanpa melakukan sesuatu apapun. Akan tetapi doa mestilah disertai
dengan usaha. Jika kita berdoa untuk dimasukkan ke dalam Syurga, kita
mestilah berusaha dengan amalan-amalan soleh dan menjauhkan diri dari
perkara-perkara munkar. Jika kita berdoa agar Allah melimpahkan rezeki
kepada kita, kita harus bekerja keras untuk itu. Jika kita berdoa agar Allah
memberi lulus ujian sekolah, maka kita harus belajar sungguh-sungguh.
Allah s.w.t mendengar segala permintaan kita. Apa saja yang kita minta pasti
akan didengarNya. Dan orang-orang Islam apabila berdoa insya Allah akan
dikabulkan oleh Allah, apalagi kalau orang itu beriman dan melakukan banyak
amal soleh. Akan tetapi sudah menjadi sunnatullah, bahwa ada doa yang Allah
kabulkan dengan cepat, ada doa yang Allah tidak kabulkan dan ada doa yang
Allah simpan untuk hari Qiamat nanti atau untuk mengganti kesusahan yang
akan mengenai diri kita. Dalam sebuah hadist riwayat imam Ahmad dari Abu
Said al-Khudri Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tidak ada orang muslim yang berdoa meminta kepada Allah s.w.t. dengan
doa, dimana didalamnya tidak ada dosa dan ia tidak memutuskan tali
silaturrahmi, kecuali Allah akan memberinya antara tiga perkara: Pertama
Allah menangguhkan permintannya untuk yang akan datang; kedua: Allah
menyimpannya untuk kesempatan lain, dan; ketiga: Allah mengalihkan Darinya
kejelekan dan malapetaka yang mirip dengan permintannya.
Kadang-kadang kita bertanya, mengapa Allah mengkabulkan permintaan
orang-orang kafir sedangkan kita orang-orang yang beriman, kadang-kadang
doa kita seolah-olah tidak dikabulkan oleh Allah?
Ketahuilah bahwa ada dua kemungkinan mengapa Allah mengkabulkan
permintaan hambanya.
Pertama karena Dia cinta dan sayang terhadap hamba tersebut. Dan kedua,
karena Allah murka terhadap orang tersebut.
Sesungguhnya apabila Allah murka terhadap seseorang, ada kalanya Allah akan
menambah rezeki seseorang, meningkatkan derajatnya dan mengkabulkan
permintaanya. Orang tersebut lalu akan menjadi lebih lalai dari Allah, akan
terus tenggelam dengan kenikmatan dunia dan maksiat. Akhirnya Allah akan
mencabut nyawanya dalam keadaan dia lalai. Sehingga dia mati dalam keadaan
buruk su'ul khatimah. Inilah yang dikatakan ulama sebagai istidraj.
Firman Allah dalam surah Al-An'am, ayat 44:
"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada
mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka;
sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada
mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu
mereka terdiam berputus asa."
Kadang-kadang kita juga bertanya mengapa doa kita tidak dikabulkan oleh
Allah s.w.t sedangkan kita banyak mengerjakan ibadah dan taat kepadaNya?
Ada dua kemungkinan. Pertama, Allah s.w.t suka mendengar permintaan dari
hamba-hambanya. Apabila Allah suka pada seseorang hamba, maka hamba
tersebut diletakkannya dibawah rahmat dan perlindungannya. Allah juga akan
menyimpan doa-doa hamba tersebut untuk hamba itu di hari dimana tiada
guna harta dan anak. Itulah hari kiamat. Apabila tiada sesuatu yang dapat
menyelamatkan hamba tersebut dari api neraka, maka ketika itu Allah akan
menunjukkan kepada hamba tersebut segala doa-doanya dan ketika itu doa-
doa tersebut akan dapat menyelamatkannya dari api neraka.
Dalam riwayat Aisyah r.a. berkata:
"Tidak ada seorang muslim yang berdo'a kepada Allah meminta sesuatu
kemudian tidak muncul, kecuali Allah menangguhkannya untuk kesempatan
lain di dunia, atau Allah menangguhkannya hingga hari qiamat nanti, kecuali ia
tergesa-gesa dan putus asa". Lalu Urwah bertanya:"Wahai Ummul Mukminin,
bagaimana ia tergesa-gesa dan putus asa?" Aisyah menjawab:" Misalnya ia
berdoa, lalu berkata aku sudah berdoa tapi tidak diberi, atau aku telah berdoa
tapi tidak dikabulkan"
Begitulah, betapa cinta dan kasih sayang Allah terhadap kita. Bukan karena
Allah tidak mau memberi permintaan kita, tetapi Allah akan menyimpankannya
untuk kita di hari Kiamat kelak. Itulah doa-doa orang-orang solihin, orang-orang
yang taat kepada Allah s.w.t.
Kedua, doa tersebut tidak dikabulkan oleh Allah karena suatu sebab yang ada
dalam diri kita. Misalnya kita meminta sesuatu kepada Allah tetapi kita tidak
patuh perintahNya. Kita ingin Allah memberi sesuatu kepada kita, tetapi sangat
tidak seimbang dengan apa yang kita telah lakukan untuk Allah, untuk Islam,
untuk Rasulullah s.a.w?
Sanggupkan kita lakukan seperti Bilal? Yang menahan siksaan kerana
keimannya kepada Allah? Sanggupkah kita lakukan seperti Saidina Abu Bakar
As-Siddiq? Yang menafkahkan seluruh hartanya untuk Islam? Sanggupkah kita
lakukan seperti Imam Nawawi? Yang mengorbankan siang dan malamnya,
yang mengorbankan kelazatan hidup di dunia ini, untuk menegakkan ilmu
agama Islam? Tidakkan kita malu, meminta dari Tuhan tetapi kita tidak patuh
perintah-perintahNya?
Memintalah kepada Allah. Berdoalah kepada Allah. Tetapi dalam waktu yang
sama kita juga berusaha bersungguh-sungguh untuk memenuhi perintah-
perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
Ibrahim bin Adham, seorang wali Allah pernah berkata:
- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu tidak
menunaikan hak-hak Allah. Kamu kenal Allah tetapi tidak memenuhi hak-
hakNya yaitu untuk disembah.
- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu tidak
mengamalkan isi Al-Quran. Kamu senantiasa membaca Al-Quran tapi tidak
kamu amalkan isi-isinya.
- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu tidak
mengamalkan sunnah Rasulullah. Kamu selalu bilang cinta kepada Rasulullah
tapi kamu meninggalkan sunnahnya.
- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, kamu mengakui bahwa
syetan itu musuh kamu tetapi kamu patuhi dia.
- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu
mencampakkan diri kamu ke jurang kebinasaan. Kamu selalu berdoa supaya
terhindar dari api neraka tapi kamu lemparkan dirimu sendiri ke dalamnya.
- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, kamu ingin memasuki Syurga
tapi kamu tidak melakukan amal soleh.
- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu sedar kamu
akan mati tetapi kamu tidak bersiap-siap untuk menghadapinya.
- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, kamu melihat cacat dan
kekurangan orang lain, tetapi cacat dan kekurangan dirimu tidak pernah kamu
lihat. Kamu sibuk memikirkan kesalahan dan keburukan orang lain sedangkan
keburukan dan kesalahan dirimu sendiri tidak pernah kau hiraukan.
- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu merasakan
kenikmatan yang diberikan Allah tetapi kamu tidak bersyukur, bersyukur
dengan mematuhi segala perintah Allah.
- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu
menguburkan jenazah orang lain tapi tidak menginsafi diri kamu sendiri bahwa
kelak kamu juga akan dikuburkan.
Marilah kita menjadi orang-orang yang sentiasa melakukan perintah
Allah.Marilah kita bertekad tidak mengulangi segala perbuatan buruk kita.
Insya Allah, segala doa kita akan diterima oleh Allah s.w.t
Firman Allah s.w.t dalam Surah Al-Baqarah, ayat ayat 186:
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka
itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku,
agar mereka selalu berada dalam kebenaran."








Taubat Nasuha

Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Taubat
marupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat
kembali kepada-Nya.

Agama Islam tidak memandang manusia bagaikan malaikat tanpa kesalahan
dan dosa sebagaimana Islam tidak membiarkan manusia berputus asa dari
ampunan Allah, betapa pun dosa yang telah diperbuat manusia. Bahkan Nabi
Muhammad telah membenarkan hal ini dalam sebuah sabdanya yang berbunyi:
"Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan/dosa dan sebaik-baik orang yang
berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat (dari kesalahan tersebut)."

Di antara kita pernah berbuat kesalahan terhadap diri sendiri sebagaimana
terhadap keluarga dan kerabat bahkan terhadap Allah. Dengan segala
rahmatnya, Allah memberikan jalan kembali kepada ketaatan, ampunan dan
rahmat-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Penyayang dan Maha Penerima
Taubat. Seperti diterangkan dalam surat Al Baqarah: 160 "Dan Akulah yang
Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

Taubat dari segala kesalahan tidaklah membuat seorang terhina di hadapan
Tuhannya. Hal itu justru akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang
hamba dengan Tuhannya karena sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-
orang yang bertaubat dan mensucikan diri. Sebagaimana firmanya dalam surat
Al-Baqarah: 222, "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan
menyukai orang-orang yang mensucikan diri."

Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara, bahkan pintunya selalu terbuka
luas tanpa penghalang dan batas. Allah selalu menbentangkan tangan-Nya bagi
hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Seperti terungkap dalam
hadis riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari: "SesungguhnyaAllah
membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang
berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat."

Merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan
dirinya terus-menerus melampai batas. Padahal, pintu taubat selalu terbuka
dan sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya karena
sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.

Tepatlah kiranya firman Allah dalam surat Ali Imran ayat: 133, "Bersegaralah
kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit
dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa yaitu orang-orang
yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-
orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang
apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat
akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi
yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak
meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."

Taubat yang tingkatannya paling tinggi di hadapan Allah adalah "Taubat
Nasuha", yaitu taubat yang murni. Sebagaimana dijelaskan dalam surat At-
Tahrim: 66, "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan
taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan
menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam sorga
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak
menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bresamanya, sedang cahaya
mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka
mengatakan 'Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kamidan
ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu'".

Taubat Nasuha adalah bertaubat dari dosa yang diperbuatnya saat ini dan
menyesal atas dosa-dosa yang dilakukannya di masa lalu dan brejanji untuk
tidak melakukannya lagi di masa medatang. Apabila dosa atau kesalahan
tersebut terhadap bani Adam (sesama manusia), maka caranya adalah dengan
meminta maaf kepadanya. Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat,
"Apakah penyesalan itu taubat?", "Ya", kata Rasulullah (H.R. Ibnu Majah). Amr
bin Ala pernah mengatakan: "Taubat Nasuha adalah apabila kamu membenci
perbuatan dosa sebagaimana kamu pernah mencintainya".
Sumber :
Muhajriin Abdul Qadir, Lc (Pesantrenvirtual.com)

















Tanda-tanda Lemah Iman dan Kiat Mengatasinya
Keimanan manusia tidak seperti malaikat, pun juga seperti iblis
la'natullah. Keimanan Manusia selalu dinamis, naik dan turun,
sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw," Al imanu yajiidu wa yanqus,
jadiidu." Artinya: iman itu kadang naik dan kadang turun, maka
perbaharuilah selalu iman itu.
Tanda-tanda Lemahnya Iman seseorang ;
1. Terus menerus melakukan dosa dan tidak merasa bersalah
2. Berhati keras dan tidak berminat untuk membaca Al-Qur'an
3. Berlambat-lambat dalam melakukan kebaikan, seperti terlambat untuk
melakukan shalat
4. Meninggalkan sunnah, mengamalkan bidah
5. Memiliki suasana hati yang goyah, seperti bosan dalam kebaikan dan
sering gelisah
6. Tidak merasakan apapun ketika mendengarkan ayat Al-Qur'an
dibacakan, seperti ketika Allah mengingatkan tentang hukumanNya
dan janji-janjiNya tentang kabar baik.
7. Kesulitan dalam berdzikir dan mengingat Allah
8. Tidak merasa risau ketika keadaan berjalan bertentangan dengan
syari'ah
9. Menginginkan jabatan dan kekayaan
10. Kikir dan bakhil, tidak mau membagi rezeki yang dikaruniakan Allah
11. Memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan, sementara dirinya
sendiri tidak melakukannya.
12. Merasa senang ketika urusan orang lain tidak berjalan semestinya
13. Hanya memperhatikan yang halal dan yang haram, dan tidak
menghindari yang makruh
14. Mengolok-olok orang yang berbuat kebaikan kecil, seperti
membersihkan masjid
15. Tidak mau memperhatikan kondisi kaum muslimin
16. Tidak merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu demi
kemajuan Islam
17. Tidak mampu menerima musibah yang menimpanya, seperti menangis
dan meratap-ratap di kuburan
18. Suka berbantah-bantahan, tanpa memiliki bukti
19. Merasa asyik dan sangat tertarik dengan kehidupan duniawi, seperti
merasa resah hanya ketika kehilangan sesuatu materi kebendaan
20. Merasa asyik (ujub) dan terobsesi pada diri sendiri

Hal-hal berikut dapat meningkatkan keimanan kita:
1. Tilawah Al-Qur'an dan mentadabburi maknanya, dengan suasana
hening dan suara yang lembut. Insya Allah hati kita akan menjadi
lembut. Untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, yakinkan
bahwa Allah sedang berbicara dengan kita.
2. Menyadari keagungan Allah. Segala sesuatu berada dalam
kekuasaannya. Banyak hal di sekitar kita yang kita lihat, yang
menunjukkan keagunganNya kepada kita. Segala sesuatu terjadi sesuai
dengan kehendakNya. Allah maha menjaga dan memperhatikan segala
sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang bersembunyi di balik batu
hitam dalam kepekatan malam sekalipun.
3. Berusaha menambah pengetahuan, setidaknya hal-hal dasar yang
dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berwudlu dengan
benar. Mengetahui arti dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, orang-
orang yang bertakwa adalah mereka yang berilmu.
4. Menghadiri majelis-majelis dzikir yang mengingat Allah. Malaikat
mengelilingi majels-majelis seperti itu.
5. Selalu menambah perbuatan baik. Sebuah perbuatan baik akan
mengantarkan kepada perbuatan baik lainnya. Allah akan
memudahkan jalan bagi seseorang yang bershadaqah dan juga
memudahkan jalan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Amal-
amal kebaikan harus dilakukan secara kontinyu.
6. Merasa takut kepada akhir hayat yang buruk. Mengingat kematian
akan mengingatkan kita dari terlena terhadap kesenangan dunia.
7. Mengingat fase-fase kehidupan akhirat, fase ketika kita diletakkan
dalam kubur, fase ketika kita diadili, fase ketika kita dihadapkan pada
dua kemungkinan, akan berakhir di surga, atau neraka.
8. Berdo'a, menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Merasa kecil di
hadapan Allah.
9. Cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala harus kita tunjukkan
dalam aksi. Kita harus berharap semoga Allah berkenan menerima
shalat-shalat kita, dan senantiasa merasa takut akan melakukan
kesalahan. Malam hari sebelum tidur, seyogyanya kita bermuhasabah,
memperhitungkan perbuatan kita sepanjang hari itu.
10. Menyadari akibat dari berbuat dosa dan pelanggaran. Iman
seseorang akan bertambah dengan melakukan kebaikan, dan menurun
dengan melakukanperbuatan buruk.
11. Semua yang terjadi adalah karena Allah menghendaki hal itu terjadi.
Ketika musibah menimpa kita, itupun dari Allah.


























Ceramah bulan Muharram (Tahun Baru Islam)
Tahun Baru Islam
Oleh: Marhadi Muhayar, Lc., M.A.

.)

( :


.) (


. .

Yang saya hormati para alim ulama, para asatidz, para hujjaj, para sesepuh kampung, bapak-bapak,
ibu-ibu, dan saudara-saudara sekalian....
Wabil khusus... Al-Alim... guru kita...
Wabil khusus... Bapak Walikota...
Saudara-saudara kaum muslimin rahimakumullah...

Rasanya, ketika kita berbicara tentang hijrah, tentang Muharram, atau tentang tahun baru Islam,
tidak ada sesuatu yang baru atau menarik bagi kita. Sekilas pandang, kita seakan merasa sudah
terlalu pandai dalam mengenali bulan Islam yang satu ini. Benarkah demikian? Sudahkah khasanah
keilmuan kita, sesuai dan memadai sebagai seorang muslim yang sejatinya mengenal dengan baik
tentang bulan-bulan Islam.

Sejarah bulan Hijriah
Sejarah mencatat, manusia pertama yang berhasil mengkristalisir hijrah nabi sebagai event
terpenting dalam penaggalan Islam adalah Sayidina Umar bin Al Khattab, ketika beliau menjabat
sebagai Khalifah. Hal ini terjadi pada tahun ke-17 sejak Hijrahnya Rasulullah Saw dari Makkah ke
Madinah.

Namun demikian, Sayidina Umar sendiri tidak ingin memaksakan pendapatnya kepada para sahabat
nabi. Sebagaimana biasanya, beliau selalu memusyawarahkan setiap problematika umat kepada para
sahabatnya. Masalah yang satu ini pun tak pelak dari diktum diatas. Karenanya, beberapa opsi pun
bermunculan. Ada yang menginginkan, tapak tilas sistem penanggalan Islam berpijak pada tahun
kelahiran Rasulullah. Ada juga yang mengusulkan, awal diresmikannya (dibangkitkannya) Muhammad
Saw sebagai utusannyalah yang merupakan timing waktu paling tepat dalam standar kalenderisasi.
Bahkan, ada pula yang melontarkan ide akan tahun wafatnya Rasulullah Saw, sebagai batas awal
perhitungan tarikh dalam Islam.

Walaupun demikian, nampaknya Sayidina Umar r.a. lebih condong kepada pendapat sayidina Ali
karamallhu wajhah-- yang meng-afdoliah-kan peristiwa hijrah sebagai tonggak terpenting
ketimbang event-event lainnya dalam sejarah Islam, pada masalah yang satu ini. Relevan dengan
klaim beliau: Kita membuat penaggalan berdasar pada Hijrah Rasulullah Saw, adalah lebih karena
hijrah tersebut merupakan pembeda antara yang hak dengan yang batil.

Dalam penulisan tahun Hijriah sendiri, biasa ditulis dengan karakter hurup () dalam bahasa Arab,
atau (A.H.) singkatan dari Anno Hegirea (sesudah hijrah) untuk bahasa-bahasa Eropa. sedangkan
untuk bahasa Indonesia biasa ditulis dengan (H.). Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 1 Muharam,
bertepatan dengan 16 Juli 622 M, hari Jumat.

Yang Unik Dalam Hijriah
Nampaknya, ada sesuatu yang unik dalam kalenderisasi Islam ini. Ketika sejarah mengatakan, bahwa
hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabiul Awal bukan pada bulan Muharram--, tapi mengapa pada
dataran realita, pilihan jatuh pada bulan Muharram, bukan pada bulan Rabiul Awal, sebagai pinangan
pertama bagi awal penanggalan Islam.

Memang, dalam peristiwa hijrah ini Nabi bertolak dari Mekah menuju Madinah pada hari Kamis
terakhir dari bulan Safar, dan keluar dari tempat persembunyiannya di Gua Tsur pada awal bulan
Rabiul Awal, tepatnya pada hari Senin tanggal 13 September 622.

Hanya saja, Sayidina Umar beserta sahabat-sahabatnya menginginkan bulan Muharram sebagai awal
tahun hijriah. Ini lebih karena, beliau memandang di bulan Muharramlah Nabi berazam untuk
berhijrah, padanya Rasulullah Saw selesai mengerjakan ibadah haji, juga dikarenakan dia termasuk
salah satu dari empat bulan haram dalam Islam yang dilarang Allah untuk berperang di dalamnya.
Sehingga Rasulullah pernah menamakannya dengan Bulan Allah. sebagaimana sabdanya: Sebaik-
baik puasa selain dari puasa Ramadhan adalah puasa di Bulan Allah, yaitu bulan Muharram. ( Hadist
ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihya).

Ternyata keunikan awal Hijriah tidak hanya sampai di situ. Biasanya, pada hari kesepuluh dari bulan
tersebut, sebagian orang dari kampung kita membuat makanan sejenis bubur yang dinamakan bubur
Asyura, atau mungkin dalam bentuk lain semacam nasi tumpeng, maupun makanan lain sejenisnya,
tergantung budaya masing-masing tempat dalam mengekspresikan rasa bahagianya terhadap hari
Islam tersebut.

Sepertinya, yang menjadi unik bagi kita sebagai kaum terpelajar adalah tradisi bubur Asyura
tersebut. Adakah hubungannya dengan Islam? Asyura itu sendiri terambil dari ucapan `Asyarah,
yang berarti sepuluh. Hari Asyura, hari yang ke sepuluh dari bulan Muharram.

Islam memerintahkan umatnya untuk berpuasa sunah dan meluaskan perbelanjaan kepada
keluarganya pada hari tersebut.

Kalau kita berupaya untuk menelusuri keterangan dari junjungan kita, Rasulullah Saw, dari hadits
sahihnya kita dapati, bahwa ia adalah hari yang bersejarah bagi umat Yahudi, karena pada hari itulah
Allah menyelamatkan Nabi Musa a.s. serta para pengikutnya, disaat menenggelamkan Firaun.

Adapun tradisi bubur Asyura --berdasarkan riwayat dhaif--, karena pada hari itu Allah mengaruniakan
nikmat yang besar kepada para nabi terdahulu, sejak zaman Nabi Adam As. hingga Nabi kita
Muhammad Saw.

Konon, di hari Asyura ini, ketika Nabi Nuh As. dan para pengikutnya turun dari bahtera, mereka
semuanya merasa lapar dan dahaga, sedangkan perbekalan masing-masing telah habis. Maka Nabi
Nuh As. meminta masing-masing membawa satu genggam biji-bijian dari jenis apa saja yang ada
pada mereka. Terkumpullah tujuh jenis biji-bijian, semuanya dicampurkan menjadi satu, lalu dimasak
oleh beliau untuk dijadikan bubur. Berkat ide Nabi Nuh As., kenyanglah para pengikutnya pada hari
itu. Dari cerita inilah, dikatakan sunat membuat bubur Asyura dari tujuh jenis biji-bijian untuk
dihidangkan kepada fakir miskin pada hari itu.

Menurut hemat penulis, semua pada asalnya boleh-boleh saja, selagi tidak bertentangan dengan
kaidah agama yang lain. Terlebih, di saat tradisi semacam ini mengandung nilai positif dan seiring
(implisit) dengan ajaran Islam. Hanya saja, yang selalu ditekankan oleh junjungan kita, hendaknya
manusia selalu mengenang dan mengingat hari ketika Allah menurunkan nikmat atau azab kepada
manusia, agar kita semua dapat bersyukur, sadar dan insaf kepada-Nya. Mungkin sekedar inilah yang
ditekankan Rasululullah Saw. berkenaan dengan hari Asyura tersebut.

Sebagaimana gejala lain terkadang kita dapati juga dari masyarakat kita masyarakat Bekasi atau
Betawi--, berkenaan dengan Muharram ini. Semacam tradisi atau bahkan keyakinan tentang tidak
mau melangsungkan akad pernikahan di bulan ini. Fenomena semacam ini, apakah memang ada
landasannya dalam Islam, atau hanya sekedar khurafat, bahkan mungkin karena kontaminasi dan
pengaruh kultur Islam-Kejawen yang terkadang masih melekat dalam budaya Indonesia.

Muharram dalam perspektif Islam, merupakan salah satu dari empat bulan haram yang ada dalam
Islam (Rajab, Zulkadah, Zulhijjah dan Muharram). Dalam empat bulan ini, kita dilarang melancarkan
peperangan kecuali dalam kondisi darurat yang tidak dapat kita elakan. Firman Allah Swt dalam surah
At Taubah ayat 36: Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah ada dua belas bulan (yang telah
ditetapkan) di dalam kitab Allah ketika menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang
dihormati. Ketetapan yang demikian itu adalah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya
diri kamu dalam bulan-bulan yang dihormati itu (dengan melanggar larangan-Nya).

Berdasarkan ayat ini, segala aktifitas kebaikan tidak ada larangannya untuk dilakukan di bulan
Muharram. Demikian juga dengan bulan Rajab, Zulkadah dan Zulhijjah. Hanya maksiat dan kezaliman
saja yang dilarang lebih keras oleh Allah Swt pada bulan-bulan tersebut. Adapun aktifitas positif --
semacam pernikahan--, dalam perspektif Islam adalah satu aktifitas atau amalan kebajikan, bukan
maksiat dan kezaliman. oleh karenanya, tidak ada larangan dalam Islam untuk melangsungkan acara
perkawinan di bulan Muharram.

Namun saya lebih melihat, bahwa ketabuan semacam ini, --barangkali-- adalah sebagai pengaruh dari
doktrin Syiah. Secara kebetulan, Sayidina Hussain terbunuh di Karbala pada bulan Muharram.
Karenanya masyarakat Syiah memandang bulan Muharram sebagai bulan dukacita dan bulan
berkabung. Maka mereka menghukumi haram untuk melangsungkan akad dan resepsi pernikahan,
atau acara suka-ria lainnya di bulan itu. Pemahaman semacam ini tersebar luas ke negara-negara
Islam dan akhirnya sampai ke negara kita (wallahu alam).

Mengingat bahwa kalender hijriah dihitung berdasarkan rotasi bulan yang berlawanan dengan rotasi
matahari, maka mengakibatkan semua hari-hari besar Islam dapat terjadi pada musim-musim yang
berbeda. Sebagai contoh, musim haji dan bulan puasa, bisa terjadi pada musim dingin atau pada
musim panas. Dan yang perlu diingat, hari-hari besar Islam tidak akan terjadi persis dengan musim
kejadiannya, kecuali sekali dalam 33 tahun.

Kita pun sering menemukan perbedaan di antara beberapa kalender hijriah yang dicetak, perbedaan
tersebut terjadi dikarenakan:

Pertama, tidak ada standardisasi internasional tentang cara melihat anak bulan.
Kedua, penggunaan cara penghitungan dan proses melihat bulan yang berbeda.
Ketiga, keadaan cuaca dan peralatan yang dipakai dalam melihat anak bulan.

Dari sini, maka tidak akan ditemukan adanya program penanggalan hijriah yang 100 persen benar,
sehingga proses melihat anak bulan (ruyah) masih tetap relevan meskipun sebenarnya dilematis--
dalam penentuan hari besar, seperti bulan puasa, Idul Fitri dan Idul Adha.

Eksistensi Hijrah
Menginterpretasikan hijrah sebagai the founding of Islamic Community seperti dideskripsikan oleh
Fazlur Rahman (guru besar kajian Islam di Universitas Chicago), sepenuhnya benar dan dapat
dielaborasi dalam perspektif sejarah.

Hijrah menggambarkan perjuangan menyelamatkan akidah, penghargaan atas prestasi kerja, dan
optimisme dalam meraih cita-cita. Itulah sebabnya, Fazlur Rahman menyebut peristiwa hijrah
sebagai marks of the beginning of Islamic calender and the founding of Islamic Community.
Sebagaimana klaim seorang profesor di bidang kultur Indo-Muslim Universitas Harvard, Annemarie
Schimmael, menyebut hijrah sebagai tahun (periode) menandai dimulainya era muslim dan era baru
menata komunitas muslim.

Kelahiran Piagam Madinah, yang oleh Montgomery Watt disebut sebagai Konstitusi Madinah dan
konstitusi modern yang pertama di dunia, adalah proklamasi tentang terbentuknya suatu ummah.

Karena hijrah bukanlah pelarian akibat takut terhadap kematian, karena tidak mung-kin Rasulullah
takut terhadap kematian. Sebab jika Rasulullah Saw mempertahankan eksistensi kaum muslimin di
Makkah kala itu, ini akan menyulitkan kaum muslimin itu sendiri, yang waktu itu baru berjumlah 100-
an orang. Rasulullah berhijrah setelah mempersiapkan kondisi psikologis dan sosiologis di kota
Madinah dengan mengadakan perjanjian Aqabah I dan Aqabah II di musim haji.

Adapun dalam mengembangkan makna hijrah untuk menarik relevansi kekiniannya, jelas tidak harus
menggunakan parameter sosiologis sejarah jaman Rasulullah. Karena menarik sosiologi sejarah
menjadi kemestian yang harus dilalui itu merupakan kemuskilan. Karena Rasulullah telah tiada. Jadi
memaknai makna hijrah saat ini adalah dengan menarik peristiwa itu sebagai ibrah (pelajaran).

Cita-cita dari hijrah Nabi Saw adalah untuk mewujudkan peradaban Islam yang kosmopolit dalam
wujud masyarakat yang adil, humanis, egaliter, dan demokratis tercermin dalam keputusan Nabi
mengganti nama Yastrib menjadi Madinah, atau Madinatul Munawarah (kota yang bercahaya), yaitu
kota par exellence, tempat madaniyah atau tamadun, berperadaban.

Transformasi Kebijaksanaan Sejarah
Peristiwa hijrah ke Madinah atau yang saat ini kita peringati sebagai tahun baru Hijrah (1 Muharram
1419), adalah peristiwa yang di dalamnya tersimpan suatu kebijaksanaan sejarah (sunnatullah) agar
kita senantiasa mengambil hikmah, meneladani, dan mentransformasikan nilai-nilai dan ajaran
Rasulullah saw (sunnatur-rasul). Setidaknya ada tiga hal utama dari serangkaian peristiwa hijrah
Rasulullah, yang agaknya amat penting untuk kita transformasikan bagi konteks kekinian.

Pertama, adalah transformasi keummatan. Bahwa nilai penting atau missi utama hijrah Rasulullah
beserta kaum muslimin adalah untuk penyelamatan nasib kemanusiaan. Betapa serangkaian
peristiwa hijrah itu, selalu didahului oleh fenomena penindasan dan kekejaman oleh orang-orang
kaya atau penguasa terhadap rakyat kecil. Pada spektrum ini, orientasi keummatan mengadakan
suatu transformasi ekonomi dan politik.

Kebijaksanaan hijrah, sebagai sunnatullah dan sunnatur-rasul, di mana masyarakat mengalami
ketertindasan, adalah merupakan suatu kewajiban. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an, orang
yang mampu hijrah tetapi tidak melaksanakannya disebut sebagai orang yang menganiaya dirinya
sendiri (zhalim). sebab luasnya bumi dan melimpahnya rezeki di atasnya, pada dasarnya memang
disediakan oleh Allah untuk keperluan manusia. Karena itulah, jika manusia atau masyarakat
mengalami ketertindasan, Allah mewajibkan mereka untuk hijrah (QS 4: 97-100).

Tujuan dari hijrah, dalam visi al-Qur'an itu, agar manusia dapat mengenyam 'kebebasan'. Jadi tidak
semata-mata perpindahan fisik dari satu daerah ke satu daerah lain, apalagi hanya sekadar untuk
memperoleh keuntungan ekonomi dan politik belaka, melainkan lebih dari itu melibatkan hijrah
mental-spiritual, sehingga mereka memperoleh 'kesadaran baru' bagi keutuhan martabatnya. Hijrah
Nabi ke Madinah, telah terbukti mampu mewujudkan suatu kepemimpinan yang di dalamnya
berlangsung tatanan masyarakat berdasarkan moral utama (makarimal akhlaq), suasana tentram
penuh persaudaraan dalam pluralitas (ukhuwah) dan pengedepanan misi penyejahteraaan rakyat (al-
maslahatu al-ra'iyah).

Kedua, adalah transformasi kebudayaan. Hijrah dalam konteks ini telah mengentaskan masyarakat
dari kebudayaan jahili menuju kebudayaan Islami. Jika sebelum hijrah, kebebasan masyarakat
dipasung oleh struktur budaya feodal, otoritarian dan destruktif-permissifistik, maka setelah hijrah
hak-hak asasi mereka dijamin secara perundang-undangan (syari'ah). Pelanggaran terhadap syari'ah
bagi seorang muslim, pada dasarnya tidak lain adalah penyangkalan terhadap keimanan atau
keislamannya sendiri. Bahkan lebih dari itu, pelanggaran terhadap hak-hak aasasi yang telah
dilindungi dan diatur dalam Islam, akan dikenai hukum yang tujuannya untuk mengembalikan
keutuhan moral mereka dan martabat manusia secara universal.

Nilai transformatif kebudayaan berasal dari ajaran hijrah Rasulullah, dengan demikian pada dasarnya
ditujukan untuk mengembalikan keutuhan moral dan martabat kemanusiaan secara universal
(rahmatan lil-'alamiin). Mengenai apa saja martabat kemanusiaan atau hak-hak asasi --yang
merupakan pundamen utama suatu kebudayaan-- yang dilindungi Islam, al-Qur'an telah
menggariskan pokok-pokoknya seperti perlindungan fisik individu dan masyarakat dari tindakan
badani di luar hukum, perlindungan keyakinan agama masing-masing tanpa ada paksaan untuk
berpindah agama, perlindungan keluarga dan keturunan, perlindungan harta benda dan milik pribadi
di luar prosedur hukum, perlindungan untuk menyatakan pendapat dan berserikat dan perlindungan
untuk mendapatkan persamaan derajat dan kemerdekaan.

Ketiga, adalah transformasi keagamaan. Transformasi inilah, yang dalam konteks hijrah, dapat
dikatakan sebagai pilar utama keberhasilan dakwah Rasulullah. Persahabatan beliau dan
persaudaraan kaum Muslimin dengan kaum Yahudi dan Nasrani, sesungguhnya adalah basis utama
dari misi (kerisalahan) yang diemban Rasulullah. Dari sejarah kita mengetahui, bahwasanya yang
pertama menunjukkan 'tanda-tanda kerasulan' pada diri Nabi, adalah seorang pendeta Nasrani yang
bertemu tatkala Nabi dan pamannya Abu Thalib berdagang ke Syria. Kemudian pada hijrah pertama
dan kedua (ke Abesinia), kaum muslimin ditolong oleh raja Najasy. Dan pada saat membangun
kepemimpinan Madinah, kaum muslimin bersama kaum Yahudi dan Nasrani, bahu-membahu dalam
ikatan persaudaraan dan perjanjian. Karena itulah, pada masa kepemimpinan Nabi dan sahabat,
Islam secara tertulis mengeluarkan undang-undang yang melindungi kaum Nasrani dan Yahudi.
Wallahu l hdi il sablirrasyd!

Menyongsong Tahun Baru Hijriyah
"Dan katakanlah! Beramallah maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat
pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui hal yang ghaib dan
yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS: At-Taubah:105)

Tidak terasa umur kita bertambah satu tahun lagi. Itu berarti jatah hidup kita berkurang dan semakin
mendekatkan kita kepada rumah masa depan, kuburan. Pelajaran yang terbaik dari perjalanan waktu
ini adalah menyadari sekaligus mengintrospeksi sepak terjang kita selama ini. Kita punya lima hari
yang harus kita isi dengan amal baik. Hari pertama, yaitu masa lalu yang telah kita lewati apakah
sudah kita isi dengan hal-hal yang dapat memperoleh ridho Allah? Hari kedua, yaitu hari yang sedang
kita alami sekarang ini, harus kita gunakan untuk yang bermanfaat baik dunia maupun akhirat. Hari
ketiga, hari yang akan datang, kita tidak tahu apakah itu milik kita atau bukan. Hari keempat, yaitu
hari kita ditarik oleh malaikat pencabut nyawa menyudahi kehidupan yang fana ini, apakah kita
sudah siap dengan amal kita? Hari kelima, yaitu hari perhitungan yang tiada arti lagi nilai kerja atau
amal, apakah kita mendapatkan rapor yang baik, dimana tempatnya adalah surga, atau mendapat
rapor dengan tangan kiri kita, yang menunjukan nilai buruk tempatnya di neraka. Pada saat itu tidak
ada lagi arti penyesalan. Benar sekali kata seorang ulama besar Tabi'in, bernama Hasan Al-Basri,
"Wahai manusia sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari, setiap hari berkurang, berarti
berkurang pula bagaianmu." Umar bin Khatab berkata, "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab."
Wallahu a'lam bishshowab...
Saya akhiri,
Billahi taufik wal hidayah.... Hadanallahu wa'iyyakum ajma'in... akhiran... aqulu lakum...
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
IDUL FITRI (TIDAK) BERARTI KEMBALI SUCI
by Puasa Sunnah Senin-Kamis on Thursday, 02 September 2010 at 17:36

Sebentar lagi kita akan menghadapi hari raya Idul Fitri. Hari yang sangat dinanti-nantikan kaum
muslimin setelah menjalankan ibadah puasa, bahkan dinantikan pula oleh yang tidak berpuasa. Bagi
sebagian kalangan, kesan yang ditimbulkan dari hari raya ini adalah bersihnya segala kesalahan dan
dosa yang pernah dilakukan karena telah beribadah sebulan penuh,telah menang melawan hawa
nafsu, dan bermaafan pada orang lain ketika Idul Fitri. Dan media massa , baik cetak maupun
elektronik, selalu mengartikan Idul Fitri dengan 'Hari Kesucian'. Namun tepatkah jika Idul Fitri
diartikan sebagai 'Hari Kesucian' dimana orang-orang yang berpuasa menjadi suci tanpa dosa, seperti
bayi yang baru lahir. Putih dan bersih layaknya kertas yang belum pernah ditulisi?

Kata 'Fithri' dan Definisi Idul Fitri
Secara kebahasaan, Idul Fitri terbentuk dari dua kata Bahasa Arab, 'Id dan Fithr. 'Id berarti
hari raya. Sedangkan fithr merupakan bentuk mashdar (kata kerja yang di-nomina-kan) dari
fathara-yufthiru-fithr. Kata fithr memiliki banyak arti (atau disebut polisemi), di antaranya
merobek,membelah, menciptakan, terbit, makan pagi, dan berbuka puasa. Dr.Ibrahim Unais,
dalam al-Mu'jam Al-Wasith, mengartikan fithr sebagai ifthar (berbuka puasa). Serupa dengan
pendapat Louis Ma'luf Al-Yasu'i, pengarang kamus Al-Munjid, yang juga mengartikan fithr
dengan ifthar. Dengan demikian, Idul Fitri adalah hari raya dimana setiap muslim tidak perlu
lagi berpuasa, setiap orang diperbolehkan untuk makan dan minum setelah satu bulan
lamanya berpuasa. Definisi Idul Fitri ini juga telah disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw.
dalam hadisnya."...Idul Fitri adalah hari orang-orang berbuka puasa (makan dan minum
karena sudah tidak berpuasa lagi), Idul Adha adalah hari orang-orang menyembelih hewan
kurban..." (H.R. Al-Tirmidzi)
Lalu mengapa banyak yang menyebut Idul Fitri sebagai hari kesucian? Dalam asumsi kami,
pemaknaan Idul Fitri dengan hari kesucian ini dinisbatkan pada kata fithr fithrah. Sebagai
sebab dari pemaknaan Idul Fitri yang dalam berbagai kesempatan, baik dalam majlis taklim
maupun kultum, dimaknai sebagai kembali kepada fithrah, kembali suci. yang dimaknai
sebagai yang menjadi acuan adalah hadis tentang anak yang baru dilahirkan, yang
menyebutkan kata fithrah."Setiap anak dilahirkan sesuai fithrahnya, maka orangtuanya yang
membuat ia menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (H.R. Bukhari dari Abu Hurairah)Banyak
yang memahami fithrah dalam hadis di atas dengan kesucian. Karena, bayi yang baru lahir itu
suci, belum melakukan kemaksiatan. Atau, bayi yang baru lahir itu polos, tidak tahu apa-apa.
Sehingga jika di kemudian hari diajari dengan doktrin apapun akan menurut saja. Oleh
karenanya, Idul Fitri diartikan kembali kepada fitrah, kembali suci seperti bayi yang baru
lahir.

Makna Fitrah
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath al-Bari, kitab syarah (kitab ulasan) dari Shahih Al-
Bukhari, memaknai kata fithrah dalam hadis Bukhari di atas sebagai al-Millah, al-Islam
(agama Islam). Hadis ini dihubungkan dengan firman Allah dalam surah Ar-Rum ayat
30,Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas)
fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada
fitrah Allah.(Q.S. Ar-Rum [30]: 30)Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim
atau yang biasa dikenal dengan Tafsir Ibnu Katsir menafsirkan kata fithrah dalam ayat di
atas dengan fithrah salimah, yaiitu Allah menciptakan manusia dalam keadaan mengetahui-
Nya dan mengesakan-Nya (marifatuhu wa tauhiduhu).Dalam al-Mujam al-Wasith dan Al-
Munjid, hanya ada dua definisi, fithrah yang berarti zakat wajib yang diberikan pada bulan
Ramadhan, dan keadaan manusia ketika pertama kali diciptakan dalam keadaan Islam,
keadaan seseorang, sebelum ia dilahirkan, yang meyakini bahwa Allah adalah tuhannya.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Araf ayat 172, tentang kesaksian anak-anak
Adam (manusia) sebelum mereka dilahirkan akan kesiapan mereka beriman, mengakui bahwa
ada Tuhan yang menciptakan mereka.Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka (anak-anak
Adam) menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi (Q.S. Al-Araf [7]:
172)Dari keterangan-keterangan di atas, fithrah diartikan dengan agama Allah, tauhid,
marifat, dan iman kepada Allah.Fithrah juga dapat diartikan dengan sunnah Rasul. Dalam
sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, disebutkan bahwa memelihara kebersihan
tubuh merupakan fithrah. Ada lima hal yang termasuk fitrah, yaiitu khitan, mencukur bulu
kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis. (H.R.
Muslim)Imam Al-Nawawi dalam Syarh (kitab ulasan) Shahih Muslim, menjelaskan fitrah
dalam hadis tersebut adalah sunah para rasul terdahulu yang berlanjut sampai pada Nabi
Muhammad saw..Jadi dalam berbagai keterangan, tidak didapati kata fitrah yang bermakna
kesucian.

Bahaya Salah Memaknai
Ada sebuah pepatah masyhur yang berbunyi karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Di
kalangan masyarakat Indonesia , pepatah ini sangatlah mafhum. Pepatah ini memiliki makna
yang sangat dalam. Sebuah kesalahan, meskipun kecil, dapat menghancurkan seluruh
kebaikan. Atau, dapat juga berarti kesalahan yang sangat kecil dapat menciptakan kerusakan
yang sangat besar. Orang yang menganggap bahwa selepas melaksanakan ibadah puasa ia
menjadi suci sesungguhnya tidaklah tepat. Bahkan bisa membuat orang lain merasa hanya
perlu memperbaiki kesalahannya setiap puasa dan Idul Fitri saja. Padahal klaim kesucian jiwa
seseorang hanya dapat dilakukan oleh Allah swt. Ini merupakan hak prerogatif Allah saja.
Sebagaimana ditegaskan Allah dalam Surah Al-Najm ayat 32.Maka janganlah kalian
menganggap diri kalian suci. Dia-lah (Allah) yang maha mengetahui orang yang bertakwa.
(Q.S. Al-Najm [53]: 32) Manusia beribadah kepada Allah karena memang itulah tugasnya.
Dan memang ibadahlah yang menjadi kewajiban manusia hidup di dunia (Q.S. Al-Dzariyat
[51]: 56), bukan yang lainnya. Atau, dalam tingkatan keimanan tertentu, ibadah adalah sebuah
kebutuhan.Demikian halnya dengan ibadah puasa Ramadhan. Puasa adalah kewajiban.
Namun, tetap saja tidak ada yang dapat mengetahui puasa seseorang diterima atau tidak,
kecuali Allah swt. Disebutkan dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim
bahwa yang akan menilai puasa dan memberi ganjaran pahala hanyalah Allah.Puasa itu
untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan memberikan balasannya. (H.R. Muslim) Keterangan hadis
tersebut sangat jelas, bahwa tak ada satu makhluk pun di dunia ini yang mampu menilai
puasanya. Sehingga amatlah tidak layak seorang makhluk yang hina mengklaim diri sebagai
orang yang suci. Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam
Muslim, dan Imam Ahmad, disebutkan bahwa ketika manusia dibangkitkan pada hari Kiamat,
mereka berlari tak tentu arah mencari penolong yang bisa memberikan syafaat dan
mengurangi siksa akhirat. Mereka menemui Nabi Adam, namun ia enggan karena merasa
malu pada Allah karena pernah melanggar memakan buah terlarang di surga. Mereka
mendatangi Nabi Ibrahim, namun ia juga menolak karena ia pernah berbohong ketika ia
menghancurkan berhala ayahnya. Ia mengatakan bahwa yang menghancurkannya adalah
berhala yang paling besar. Mereka terus menerus menemui para Nabi sampai akhirnya
bertemu dengan Nabi Muhammad dan mereka pun diberi syafaat. Ringkasan hadis di atas
menunjukkan bahwa hamba yang saleh akan selalu mengingat kesalahan dan dosa. Meskipun
dosa itu sangat kecil. Sebaliknya, jika melakukan kebaikan, maka ia akan lupa. Karena
baginya, kebaikan yang dilakukan sangatlah kecil di mata Allah. Bahkan, para utusan Allah
yang telah menyebarkan agama Allah pun selalu ingat akan kesalahan-kesalahan masa lampau
mereka. Jadi, tidak tepat jika ada pendapat bahwa setelah Idul Fitri orang yang berpuasa
menjadi suci seperti bayi yang baru lahir. Karena Idul Fitri bukanlah kembali kepada
kesucian, tetapi hari raya diperbolehkan makan kembali setelah berpuasa. Wallahu Alam



Terkumpulnya Sifat Takut dan Harap
Kategori Tazkiyatun Nufus | 25-04-2010 | 10 Komentar

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
pernah menjenguk seorang pemuda yang sedang menjelang sakaratul maut (saat menjelang
kematian), maka beliau bertanya kepada pemuda tersebut:

: .

.
Apa yang kamu rasakan (dalam hatimu) saat ini?. Dia menjawab: Demi Allah, wahai
Rasulullah, sungguh (saat ini) aku (benar-benar) mengharapkan (rahmat) Allah dan aku
(benar-benar) takut akan (siksaan-Nya akibat dari) dosa-dosaku. Kemudian Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah terkumpul dua sifat ini (berharap dan takut)
dalam hati seorang hamba dalam kondisi seperti ini kecuali Allah akan memberikan apa yang
diharapkannya dan menyelamatkannya dari apa yang ditakutkannya[1].
Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan adanya sifat berharap dan takut kepada Allah
secara seimbang dalam diri seorang hamba, sekaligus menunjukkan keutamaan bersangka
baik kepada Allah Taala, terutama pada waktu sakit dan saat menjelang kematian[2],
sebagaimana perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: Janganlah salah seorang dari
kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan dia bersangka baik kepada Allah U[3].
Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
- Dua sifat inilah yang dimiliki oleh hamba-hamba Allah yang paling mulia di sisi-Nya, para
Nabi dan Rasul shallallahu alaihi wa sallam, sehingga Allah Taala memuji mereka dalam
firman-Nya,
}

{
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan)
perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka (selalu) berdoa kepada Kami dengan (perasaan)
harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu (QS al-Anbiyaa:90).
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, Yang dimaksud dengan ar-raja (berharap) adalah
bahwa jika seorang hamba melakukan kesalahan (dosa atau kurang dalam melaksanakan
perintah Allah) maka hendaknya dia bersangka baik kepada-Nya dan berharap agar Dia
menghgapuskan (mengampuni) dosanya, demikian pula ketika dia melakukan ketaatan
(kepada-Nya) dia berharap agar Allah menerimanya. Adapun orang yang bergelimang dalam
kemaksiatan kemudian dia berharap Allah tidak menyiksanya (pada hari kiamat) tanpa ada
rasa penyesalan dan (kesadaran untuk) meninggalkan perbuatan maksiat (tanpa melakukan
taubat yang benar kepada Allah), maka ini adalah orang yang tertipu (oleh setan) [4].
- Imam Hasan al-Bashri berkata, Orang mukmin bersangka baik kepada Rabb-nya (Allah
Taala) maka dia pun memperbaiki amal perbuatannya, sedangkan orang orang kafir dan
munafik bersangka buruk kepada Allah maka mereka pun memperburuk amal perbuatan
mereka [5].
- Sebagian dari para ulama menjelaskan bahwa dalam kondisi sehat lebih utama menguatkan
sifat al-khauf (takut) daripada ar-raja (berharap), agar seseorang tidak mudah lalai dan lebih
semangat dalam beramal shaleh. Adapun ketika sakit, apalagi saat menjelang kematian, lebih
utama menguatkan sifat ar-raja (berharap) untuk menumbuhkan persangkaan baik kepada
Allah Taala[6].
Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, MA


Cinta, Takut dan Harap Kepada Alloh
Kategori Aqidah | 07-11-2008 | 14 Komentar

Ibadah bukanlah sekedar gerakan jasad yang terlihat oleh mata, namun juga harus
menyertakan yang lain. Sebagaimana seseorang yang sedang melaksanakan sholat, ia tidak
hanya bergerak untuk melaksanakan setiap rukun dan wajib sholat, tetapi juga harus
menghadirkan hati sebagai ruh sholat tersebut. Bahkan jika seseorang menampakkan
kekhusyukan badan dan hatinya kosong dan bermain-main maka ia terjatuh dalam
kekhusyukan kemunafikan.
Ketahuilah, bahwa ibadah seorang hamba harus dibangun oleh tiga pilar, dan ketiganya harus
terkumpul seluruhnya dalam setiap muslim. Ibadah seseorang tidaklah akan benar dan
sempurna kecuali dengan adanya pilar-pilar tersebut. Bahkan sebagian ulama mengatakannya
sebagai rukun ibadah. Tiga hal itu adalah cinta, takut dan harap. Sehingga seorang salaf
berkata, Barang siapa beribadah kepada Alloh dengan cinta saja maka dia seorang zindiq,
barang siapa beribadah hanya dengan khouf (takut) saja maka haruri (khowarij), barang
siapa beribadah hanya dengan rasa harap saja maka dia seorang murji dan barang siapa
yang beribadah dengan cinta, takut dan harap maka dia seorang mukmin.
Cinta
Cinta adalah rukun ibadah yang terpenting, karena cinta adalah pokok ibadah. Makna cinta
tidak terbatas hanya kepada hubungan kasih antara dua insan semata, namun sesungguhnya
makna dari cinta itu lebih luas dan dalam. Kecintaan yang paling agung dan mulia di dalam
kehidupan kita ini adalah kecintaan kita kepada Alloh. Dimana jika seorang hamba mencintai
Alloh, maka dia akan rela untuk melakukan seluruh hal yang diperintahkan dan menjauhi
seluruh hal yang dilarang oleh yang dicintainya tersebut. Cinta kepada Alloh juga
mengharuskan membenci segala sesuatu yang dibenci oleh Alloh. Sesungguhnya apabila
ditanyakan kepada setiap muslim Apakah anda mencintai Alloh? maka tentu dia akan
menjawab Tentu saja.
Namun pernyataan tanpa bukti tidaklah bermanfaat. Alloh tidak membutuhkan pernyataan
belaka, Dia menginginkan agar kita membuktikan pernyataan kita Aku cinta Alloh. Oleh
karena itulah, Alloh menguji setiap muslim dalam firman-Nya, Katakanlah (wahai
muhammad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi
dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran:
31). Ya, bukti kecintaan kita kepada Alloh adalah dengan mengikuti Rasululloh dalam segala
hal. Bahkan kecintaan kita terhadap beliau harus lebih dari kecintaan kita terhadap diri sendiri
dan keluarga. Beliaulah teladan baik dalam aqidah, ibadah, akhlak, muamalah dan
sebagainya. Alloh berfirman, Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al Ahzab: 21)
Maka jika kita mencintai Alloh, mari kita buktikan dengan menjadikan Rasululloh sebagai
panutan kita, bukan dengan menjadikan orang-orang kafir sebagai panutan, walaupun mereka
itu populer dan terkenal seperti artis, selebritis dan semacamnya. Karena sesungguhnya
Rosululloh bersabda Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya (di hari
akhirat nanti). (HR. Muslim). Dimana makna dari hadits ini adalah jika ketika di dunia kita
mencintai orang-orang shaleh (seperti para rosul dan nabi) dan menjadikan mereka teladan,
maka di akhirat nanti kita akan bersama mereka, dan sebaliknya jika ketika di dunia kita
mencintai orang-orang kafir dan menjadikan mereka teladan, maka di akhirat nanti kita pun
akan bersama mereka. Bukankah tempat mereka di akherat merupakan seburuk-buruk tempat.
Duhai, betapa musibah yang sangat besar!
Takut
Pilar lainnya yang mesti ada dalam ibadah seorang muslim adalah rasa takut. Dimana dengan
adanya rasa takut, seorang hamba akan termotivasi untuk rajin mencari ilmu dan beribadah
kepada Alloh semata agar bebas dari murka dan adzab-Nya. Selain itu, rasa takut inilah yang
juga dapat mencegah keinginan seseorang untuk berbuat maksiat. Alloh berfirman, (Yaitu)
orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan
mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat. (Al Anbiya: 49)
Rasa takut ada bermacam-macam, namun yang takutnya seorang muslim ialah takut akan
pedihnya sakaratul maut, rasa takut akan adzab kubur, rasa takut terhadap siksa neraka, rasa
takut akan mati dalam keadaan yang buruk (mati dalam keadaan sedang bermaksiat kepada
Alloh), rasa takut akan hilangnya iman dan lain sebagainya. Rasa takut semacam inilah yang
harus ada dalam hati seorang hamba.
Harap
Pilar berikutnya yang harus ada dalam ibadah seorang hamba adalah rasa harap. Rasa harap
yang dimaksud adalah antara lain harapan akan diterimanya amal kita, harapan akan
dimasukkan surga, harapan untuk berjumpa dengan Alloh, harapan akan diampuni dosa,
harapan untuk dijauhkan dari neraka, harapan diberikan kehidupan yang bahagia di dunia dan
akhirat dan lain sebagainya. Rasa harap inilah yang dapat mendorong seseorang untuk tetap
terus berusaha untuk taat, meskipun sesekali dia terjatuh ke dalam kemaksiatan namun dia
tidak putus asa untuk terus berusaha sekuat tenaga untuk menjadi hamba yang taat. Karena dia
berharap Alloh akan mengampuni dosanya yaitu dengan jalan bertaubat dari kesalahannya
tersebut dan memperbanyak melakukan amal kebaikan. Sebagaimana firman Alloh Wahai
hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu
berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az Zumar: 53)
Harapan berbeda dengan angan-angan. Sebagai contoh orang yang berharap menjadi orang
baik maka ia akan melakukan hal-hal yang merupakan ciri-ciri orang baik, sedangkan orang
yang berkeinginan menjadi orang baik namun tidak berusaha untuk melakukan kebaikan
maka orang-orang inilah yang tertipu oleh angan-angan dirinya sendiri.
Urgensi Cinta, Takut dan Harap Dalam Ibadah
Ketiga pilar yang telah disebutkan di atas harus terdapat dalam setiap ibadah seorang hamba.
Tidaklah benar ibadah seseorang jika satu saja dari ketiga hal tersebut hilang. Seseorang yang
memiliki rasa takut yang berlebihan akan menyebabkan dirinya putus asa, sedangkan jika rasa
takutnya rendah maka dengan mudahnya dia akan bermaksiat kepada Tuhannya.
Kebalikannya seseorang yang berlebihan rasa harapnya akan menyebabkan dia mudah
bermaksiat dan jika rendah rasa harapnya maka dia akan mudah putus asa. Sedangkan
kedudukan cinta, maka cinta inilah yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Sehingga diibaratkan bahwa kedudukan ketiga pilar ini dalam ibadah bagaikan kedudukan
seekor burung, dimana rasa takut dan harap sebagai kedua sayapnya yang harus seimbang dan
rasa cinta sebagai kepalanya yang merupakan pokok kehidupannya.



Mengenal Nama dan Sifat Allah
Kategori Aqidah | 27-05-2008 | 19 Komentar

Pembaca yang budiman, ilmu tentang mengenal Alloh dan Rosul-Nya merupakan ilmu yang
paling mulia. Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh mengatakan, Kemuliaan sebuah ilmu
mengikuti kemuliaan objek yang dipelajarinya. Dan tentunya, tidak diragukan lagi bahwa
pengetahuan yang paling mulia, paling agung dan paling utama adalah pengetahuan tentang
Alloh di mana tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Dia semata, Robb
semesta alam.
Ilmu Tentang Alloh Adalah Pokok dari Segala Ilmu
Ilmu tentang Alloh adalah pokok dan sumber segala ilmu. Maka barangsiapa mengenal Alloh,
dia akan mengenal yang selain-Nya dan barangsiapa yang jahil tentang Robb-nya, niscaya dia
akan lebih jahil terhadap yang selainnya. Alloh Taala berfirman yang artinya, Dan
janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Alloh, lalu Alloh menjadikan mereka
lupa kepada diri mereka sendiri. (Al-Hasyr: 19). Ketika seseorang lupa terhadap dirinya, dia
pun tidak mengenal hakikat dirinya dan hal-hal yang merupakan kemaslahatan (kebaikan)
bagi dirinya. Bahkan ia lupa dan lalai terhadap apa saja yang merupakan sebab bagi kebaikan
dan kemenangannya di dunia dan di akhirat. Maka, jadilah dia seperti orang yang ditinggalkan
dan ditelantarkan, yang berstatus seperti binatang ternak yang dilepas dan dibiarkan pergi
sekehendaknya, bahkan mungkin saja binatang ternak lebih mengetahui kepentingan dirinya
daripadanya.
Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata, Manusia yang paling sempurna ibadahnya
adalah seorang yang beribadah kepada Alloh dengan semua nama dan sifat-sifat Alloh yang
diketahui oleh manusia. Beliau juga berkata, Yang jelas, bahwa ilmu tentang Alloh adalah
pangkal segala ilmu dan sebagai pokok pengetahuan seorang hamba akan kebahagiaan,
kesempurnaan dan kemaslahatannya di dunia dan di akhirat. (Miftaah Daaris Saaadah).
Hampir Setiap Ayat Dalam Al-Quran Menyebutkan Nama dan Sifat Alloh
Alloh telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberitahukan
nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia. Semua itu
disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rosul-Nya. Bahkan kita jumpai, hampir pada setiap
ayat Alquran yang kita baca selalu berakhir dengan peringatan atau penyebutan salah satu
dari nama-nama Alloh atau salah satu dari sifat-sifat-Nya. Sebagai contoh, firman Alloh yang
artinya, Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taubah: 5)
dan juga firman-Nya yang artinya, Dan Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(An-Nisaa: 17)
Hal ini semua disebabkan karena nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat yang mulia ini
memiliki daya pengaruh dan membekas dalam hati seorang yang mengetahui-Nya, hingga ia
selalu merasa terawasi oleh Alloh dalam segala aspek kehidupannya. Dengan demikian,
sempurnalah rasa malunya dari bermaksiat kepada Alloh.
Yang Paling Takut Kepada Alloh Adalah yang Paling Mengenal Alloh
Semakin tinggi pengetahuan seorang hamba kepada Robb-nya, maka ia akan semakin takut
kepada-Nya. Alloh berfirman, Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara hamba-
hamba-Nya, hanyalah para ulama. (Faathir: 28)
Orang yang paling mengenal dan paling mengetahui Alloh adalah Rosululloh shollallohu
alaihi wa sallam. Oleh karena itu, beliau senantiasa dalam keadaan takut dari perbuatan
durhaka terhadap Robb-nya, dan tentu kita telah mengetahui siapa beliau. Karena Alloh telah
memerintahkannya untuk mengatakan, Katakanlah: Sesungguhnya aku takut akan adzab
hari yang besar (hari Kiamat), jika aku mendurhakai Robbku. (Al-Anaam: 15)
Sebab, ahli tauhid yang benar-benar mengenal Alloh memandang bahwa kemaksiatan itu,
meskipun kecil, ibarat sebuah gunung yang sangat besar. Karena mereka mengetahui
keagungan Dzat (Rabb) yang Maha Esa serta Maha Kuasa dan mengenal hak-hak-Nya, oleh
sebab itu, mereka menjadi orang-orang yang paling takut kepada-Nya di antara manusia.
Kebodohan Akan Keagungan Alloh Adalah Induk Kemaksiatan
Dari Abul Aliyah, beliau pernah bercerita bahwa para Shahabat Rosululloh mengatakan,
Setiap dosa yang dikerjakan seorang hamba, penyebabnya adalah kejahilan.
(Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir, dengan sanad yang shahih)
Imam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata, Setiap pelaku kemaksiatan adalah seorang
jahil dan setiap orang yang takut kepada-Nya adalah seorang alim yang taat kepada Alloh.
Dia menjadi seorang yang jahil hanya karena kurangnya rasa takut yang dimilikinya, kalau
saja rasa takutnya kepada Alloh sempurna, pastilah dia tidak akan bermaksiat kepada-Nya.
Syirik merupakan kemaksiatan yang terbesar di antara maksiat yang ada. Tidaklah manusia
berbuat syirik kecuali memang karena ia bodoh dalam pengenalannya terhadap Tuhannya.
Oleh karena itu, ketika Nabi Nuh alaihis salaam mengajak kaumnya (kepada tauhid) lalu
mereka menolaknya, maka beliau pun mengetahui bahwa penolakan tersebut disebabkan
karena ketidaktahuan mereka akan kebesaran Alloh. Alloh Taala berfirman yang artinya,
Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Alloh? (Nuuh: 13). Ibnu Abbas berkata
dalam menafsirkan ayat ini, Kalian tidak mengetahui keagungan atau kebesaran-Nya.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui beberapa jalan yang saling menguatkan)
Apa yang dikatakan di atas sangat beralasan, karena seandainya manusia mengenal Alloh
dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak terjerat dalam kesyirikan mempersekutukan Alloh
dengan sesuatu. Sebab, segala kebaikan berada di tangan-Nya, maka bagaimana mungkin
mereka bersandar kepada selain-Nya?
Nama Alloh Semuanya Husna
Nama-nama Alloh semuanya husnaa, maksudnya, mencapai puncak kesempurnaannya.
Karena nama-nama itu menunjukkkan kepada pemilik nama yang mulia, yaitu Alloh
Subhaanahu wa Taala dan juga mengandung sifat-sifat kesempurnaan yang tidak ada cacat
sedikit pun ditinjau dari seluruh sisinya. Alloh Taala berfirman yang artinya, Hanya milik
Alloh-lah nama-nama yang husna. (Al-Aroof: 18)
Kewajiban kita terhadap nama-nama Alloh ada tiga, yaitu beriman dengan nama tersebut,
beriman kepada makna (sifat) yang ditunjukkan oleh nama tersebut dan beriman dengan
segala pengaruh yang berhubungan dengan nama tersebut. Maka, kita beriman bahwa Alloh
adalah Ar-Rohiim (Yang Maha Penyayang), memiliki sifat rahmah (kasih sayang) yang
meliputi segala sesuatu dan menyayangi semua hamba-Nya.
Nama dan Sifat Alloh Tidak Dibatasi Dengan Bilangan Tertentu
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam, Aku memohon kepada Engkau
dengan semua nama yang menjadi nama-Mu, baik yang telah Engkau jadikan sebagai nama
diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau
turunkan dalam kitab-Mu atau Engkau sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Mu. (HR.
Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim, shahih). Tidak ada seorang pun yang dapat membatasi dan
mengetahui apa yang masih menjadi rahasia Alloh dan menjadi perkara yang ghaib.
Adapun sabda beliau, Sesungguhnya Alloh memiliki 99 nama, yaitu seratus kurang satu.
Barangsiapa yang menghafal dan faham maknanya, niscaya masuk syurga. (HR. Bukhari-
Muslim) tidak menunjukkan pembatasan nama-nama Alloh dengan bilangan sembilan puluh
sembilan. Makna yang benar adalah, sesungguhnya nama-nama Alloh yang 99 itu,
mempunyai keutamaan bahwa siapa saja yang menhafal dan memahaminya akan masuk
syurga.
Demikianlah, semoga kita benar-benar mengenal Alloh dengan sebenar-benar pengenalan dan
mengagungkan Alloh dengan sebenar-benar pengagungan sehingga bisa menyelamatkan kita
dari berbuat syirik kepada-Nya.
Wahai Manusia Lihatlah Hatimu!!
Kategori Akhlaq dan Nasehat, Tazkiyatun Nufus | 15-07-2008 | 14 Komentar

Rosulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang
artinya: Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut
baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak
maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah
hati. (Yang lebih benar untuk penyebutan segumpal darah ( ) tersebut adalah jantung,
akan tetapi di dalam bahasa Indonesia sudah terlanjur biasa untuk menerjemahkan
dengan hati).
Maka hati bagaikan raja yang menggerakkan tubuh untuk melakukan perbuatan-
perbuatannya, jika hati tersebut adalah hati yang baik maka seluruh tubuhnya akan tergerak
untuk mengerjakan hal-hal yang baik, adapun jika hatinya adalah hati yang buruk maka
tentunya juga akan membawa tubuh melakukan hal-hal yang buruk. Hati adalah perkara
utama untuk memperbaiki manusia, Jika seseorang ingin memperbaiki dirinya maka
hendaklah ia memperbaiki dahulu hatinya!!!
Ketahuilah, hati ini merupakan penggerak bagi seluruh tubuh, ia merupakan poros untuk
tercapainya segala sarana dalam terwujudnya perbuatan. Hati laksana panglima yang
memompa pasukannya untuk melawan musuh atau melemahkan mereka sehingga mundur
dari medan peperangan. Karena hati disifatkan dengan sifat kehidupan dan kematian, maka
hati ini juga dibagi dalam tiga kriteria yakni hati yang mati, hati yang sakit dan hati yang
sehat.
1. Hati yang Sehat
Yaitu hati yang selamat, hati yang bertauhid (mengesakan Alloh dalam setiap
peribadatannya), di mana seseorang tidak akan selamat di hari akhirat nanti kecuali ia datang
dengan membawa hati ini. Alloh berfirman dalam surat as-Syuara ayat 88-89:


(Yaitu) hari di mana tidak berguna lagi harta dan anak-anak kecuali mereka yang datang
menemui Alloh dengan hati yang selamat (selamat dari kesyirikan dan kotoran-kotorannya).
(QS. Asy Syuara: 88,89)
Hati yang sehat ini didefinisikan dengan hati yang terbebas dari setiap syahwat, selamat dari
setiap keinginan yang bertentangan dari perintah Alloh, selamat dari setiap syubhat
(kerancuan-kerancuan dalam pemikiran), selamat dari menyimpang pada kebenaran. Hati ini
selamat dari beribadah kepada selain Alloh dan berhukum kepada hukum selain hukum
Rosul-Nya. Hati ini mengikhlaskan peribadatannya hanya kepada Alloh dalam keinginannya,
dalam tawakalnya, dalam pengharapannya dalam kecintaannya Jika ia mencintai ia mencintai
karena Alloh, jika ia membenci ia membenci karena Alloh, jika ia memberi ia memberi
karena Alloh, jika ia menolak ia menolak karena Alloh. Hati ini terbebas dari berhukum
kepada hukum selain Alloh dan Rosul-Nya. Hati ini telah terikat kepada suatu ikatan yang
kuat, yakni syariat agama yang Alloh turunkan. Sehingga hati ini menjadikan syariat sebagai
panutan dalam setiap perkataan dan perbuatannya.
Alloh berfirman:


Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bersikap mendahului Alloh dan Rosul-
Nya, bertakwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui. (QS. Al Hujurot: 1)
Pemilik hati yang sehat ini akan senantiasa dekat dengan Al Quran, ia senantiasa berinteraksi
dengan Al Quran, ia senantiasa tenang, permasalahan apapun yang dihadapinya akan dihadapi
dengan tegar, ia senantiasa bertawakal kepada-Nya karena ia mengetahui semua hal berasal
dari Alloh dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Di manapun ia berada zikir kepada Alloh
senantiasa terucap dari lisannya, jika disebut nama Alloh bergetarlah hatinya, jika dibacakan
ayat-ayatNya maka bertambahlah imannya. Pemilik hati inilah seorang mukmin sejati, orang
yang Alloh puji dalam Firman-Nya:


Sesungguhnya orang-orang yang beriman (sempurna imannya) ialah mereka yang bila
disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya
bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Allohlah mereka bertawakkal
(berserah diri). (QS. Al-Anfaal: 2)
2. Hati yang Mati
Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Robbnya, ia tidak menyembah-Nya
sesuai dengan perintah-Nya, ia tidak menghadirkan setiap perbuatannya berdasarkan sesuatu
yang dicintai dan diridhai-Nya. Hati ini senantiasa berjalan bersama hawa nafsu dan
kenikmatan dunia walaupun di dalamnya ada murka Alloh, akan tetapi hati ini tidak
memperdulikan hal-hal tersebut, baginya yang terpenting adalah bagaimana ia bisa
melimpahkan hawa nafsunya. Ia menghamba kepada selain Alloh, jika ia mencinta maka
mencinta karena hawa nafsu, jika ia membenci maka ia membenci karena hawa nafsu.
Alloh berfirman:


Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya,
dan Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Alloh mengunci mati
pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang
akan memberinya petunjuk sesudah Alloh (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak
mengambil pelajaran? (QS. Al Jaatsiyah: 23)
Pemilik hati ini jika dibacakan kepadanya ayat-ayat Al Quran maka dirinya tidak tergetar, ia
senantiasa ingin menjauh dari Al Quran, ia lebih senang mendengar suara-suara yang
membuatnya lalai, ia lebih senang mendengar nyanyian, mendengar musik, mendengar suara-
suara yang menggejolakkan hawa nafsunya. Pemilik hati ini senantiasa gelisah, ia tidak tahu
harus kepada siapa ia menyandarkan dirinya, ia tidak tahu kepada siapa ia berharap, ia tidak
tahu kepada siapa ia meminta, kehidupannya terombang-ambing, ke mana saja angin bertiup
ia akan mengikutinya, ke mana saja syahwat mengajaknya ia akan mengikutinya, wahai
betapa menderitanya pemilik hati ini!
3. Hati yang Sakit
Hati ini adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit. Hati ini akan mengikuti unsur
kuat yang mempengaruhinya, terkadang hati ini cenderung kepada kehidupan dan terkadang
cenderung kepada penyakit. Pada hati ini ada kecintaan kepada Alloh, keimanan,
keikhlasan dan tawakal kepada-Nya. Akan tetapi pada hati ini juga terdapat kecintaan kepada
syahwat, ketamakan, hawa nafsu, dengki, kesombongan dan sikap bangga diri.
Ia ada di antara dua penyeru, penyeru kepada Alloh, Rosul dan hari akhir dan penyeru kepada
kehidupan duniawi. Seruan yang akan disambutnya adalah seruan yang paling dekat dan
paling akrab kepadanya.
Pemilik hati ini akan senantiasa berubah-ubah, terkadang ia berada dalam ketaatan dan
kebaikan, terkadang ia berada dalam maksiat dan dosa. Amalannya senantiasa berubah sesuai
dengan lingkungannya, jika lingkungannya baik maka ia berubah menjadi baik adapun jika
lingkungannya buruk maka ia akan terseret pula kepada keburukan.
Demikianlah, hati yang pertama adalah hati yang hidup, khusyu, tawadhu, lembut dan selalu
berjaga. Hati yang kedua adalah hati yang gersang dan mati. Hati yang ketiga adalah hati yang
sakit, kadang-kadang dekat kepada keselamatan dan kadang-kadang dekat kepada kebinasaan.
Maka wahai kaum muslimin! hendaknya kita menginterospeksi diri kita sendiri, termasuk
dalam golongan yang manakah hati kita? apakah hati kita termasuk dalam hati yang sehat,
hati yang sakit atau malah hati kita telah mati? Maka renungkanlah Firman Alloh dalam surat
Al-Kahfi ayat 49:


Dan diletakkanlah kitab (kitab amalan perbuatan), lalu kamu akan melihat orang-orang
berdosa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: Aduhai
celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang
besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan
hadir (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun. (QS. Al Kahfy: 49)
Dan sebaliknya Firman-Nya dalam Surat Al-Kahfi ayat 29-30:


Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan
menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.
Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga Adn, mengalir sungai-sungai di
bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai
pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di
atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang
indah. (QS. Al Kahfy: 29,30)
Wahai zat yang membolak-bolakkan hati, teguhkanlah hati kami diatas agamamu, wahai zat
yang membolak-balikkan hati tuntunlah hati kami teguh di atas ketaatan kepada-Mu



Strategi Setan Menjerumuskan Manusia
Sebelum kita mengetahui strategi setan menjerumuskan manusia, ada baiknya terlebih dahulu
mengetahui Visi dan Misi setan.
Visi setan adalah memperbudak manusia dan Misi setan mengkondisikan manusia lupa
kepada Alah SWT.

Adapun strategi setan untuk mewujudkan visi dan misinya adalah sbb :

1. Waswasah
Waswasah artinya membisikkan keraguan pada manusia ketika melakukan kebaikan atau
amal sholeh. Saat kumandang azan subuh dan tubuh kita masih dililit selimut, terbersit dalam
pikiran kita, "Nanti lima menit lagi". Ini adalah waswasah. Kenyataannya bukan lima menit
tapi satu jam, akhirnya Sholat Shubuh terlambat bahkan tidak sholat.
2. Tazyin
Tazyin artinya membungkus kemaksiatan dengan kenikmatan. Segala yang berbau maksiat
biasanya terlihat indah, Misalnya, mengapa orang yang berpacaran lebih mesra daripada
suami-istri? Jalan-jalan saat pacaran lebih mengesankan daripada setelah menikah. Ini karena
ada unsur tazyin. Pacaran itu maksiat, sementara nikah itu ibadah. Maksiat disulap oleh setan
sehingga terasa lebih indah, nikmat dan mengesankan. Inilah yang disebut strategi tazyin.
3.Tamanni
Tamanni artinya memperdaya manusia dengan khayalan dan angan-angan. Pernahkan
terbersit niat akan Shalat Tahjud saat merebahkan badan di tempat tidur? Namun pada jam
tiga saat wekwr berbunyi, kita cepat-cepat mematikannya lalu meneruskan tidur.
Pernahkan kita ingin bertobat? Namun pada sat maksiat ada di depan mata, kita tetap saja
melakukannya. Ironisnya ini berlangsung berkali-kali. Inilah yang disebut strategi tamanni.
4. A'dawah
A'dawah artinya berusaha menanamkan permusuhan. Setan berikhtiar menumbuhkan
permusuhan di anatara manusia. Biasanya permusuhan berawal dari prasangka buruk. Supaya
manusia bermusuhan, setan biasanya menumbuhkan prasangka buruk.Karena itu waspadai
kalau kita berprasangka buruk pada orang lain, sesungguhnya kita telah terperangkap strategi
setan.
5. Takwif
Takwif artinya menakut-nakuti. Pernahkah merasa takut miskin karena menginfakkan
sebagian harta, takut disebut sok alim karena datang ke majelis taklim? Kalau kita pernah
merasakannya, inilah strategi takhwif.

6. Shaddun
Shaddun artinya berusaha menghalang-halangi manusia menjalankan perintah Allah dengan
menggunakan berbagai hambatan. Pernahkah anda merasa malas saat mau melakukan sholat,
atau mengantuk saat membacaAl Qur'an meskipun sudah cukup tidur? Ini adalah gejala
shaddun dari setan.
7. Wa'dun
Wa'dun artinya janji palsu. Setan berusaha membujuk manusia agar mau mengikutinya
dengan memberikan janji-janji yang menggiurkan. Akhirnya manusia mempercayainya.
Misalnya, banyak kasus seorang wanita menyerahkan dirinya pada sang pacar karena
dijanjikan akan dinikahi, namun setelah hamil sang pacar meninggalkannya begutu saja. Dia
tidak mau bertanggung jawab. Inilah contoh wa'dun atau janji palsu dari setan.
8. Kaidun
Kaidun artinya tipu daya. Setan berusaha sekuat tenaga memasang sejumlah perangkap agar
manusia terjebak. Pernahkah saat diberi tugas, kita berpikir nanti saja mengerjakannya krn
waktu masih lama? Ternyata setelah dekat waktunya kita mengerjakan asal-asalan dan
tergesa-gesa sehingga hasilnya tidak optimal atau ada kemunginan pada waktu yang
ditentukan pekerjaan tidak selesai. Strategi ini disebut kaidun.
9. Nisyan
Nisyan artinya lupa. Sesungguhnya lupa itu adalah hal yang manusiawi. Lupa memang
sesuatu hal yang manusiawi, tetapi setan berusaha agar manusia menjadikan lupa sebagai
alasan untuk menutupi tanggung jawab. Pernahkan kita lupa menunaikan janji? lupa sholat?
Kalau sesekali itu bisa disebut manusiawi, tetapi kalau sering dilakukan berarti terjebak
strategi nisyan.

Demikian ringkasan tentang strategi setan. Semoga kita dapat mencermati dan berusaha agar
tidak terjebak strategi setan laknatullah (setan yang dilaknat Allah)



Taubat - Aku Ingin Bertaubat

"Aku ingin bertaubat hanya saja dosaku terlalu banyak. Aku pernah terjerumus dalam zina. Sampai-sampai aku
pun hamil dan sengaja membunuh jiwa dalam kandungan. Aku ingin berubah dan bertaubat. Mungkinkah Allah
mengampuni dosa-dosaku?!"
Sebagai nasehat dan semoga tidak membuat kita berputus dari rahmat Allah, cobalah kita lihat sebuah kisah yang
pernah disebutkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berikut ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran-
pelajaran berharga di dalamnya.

Kisah Taubat Pembunuh 100 Jiwa
Kisah ini diriwayatkan dari Abu Sa'id Sa'ad bin Malik bin Sinaan Al Khudri radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya
Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

- -

(( :

))

.
"Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang
keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun
mendatanginya dan berkata, Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima? Rahib pun
menjawabnya, Orang seperti itu tidak diterima taubatnya. Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan
genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya.
Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki
kepada seorang 'alim. Lantas ia bertanya pada 'alim tersebut, Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa,
apakah taubatnya masih diterima? Orang alim itu pun menjawab, Ya masih diterima. Dan siapakah yang
akan menghalangi antara dirinya dengan taubat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana
karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta'ala, maka sembahlah Allah bersama
mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu(yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat
jelek.
Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah
perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat
adzab. Malaikat rahmat berkata, Orang ini datang dalam keadaan bertaubat dengan menghadapkan hatinya
kepada Allah. Namun malaikat adzab berkata, Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun.
Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai
pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat
jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak
atas orang ini. Lalu mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini
lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya,ruhnya pun dicabut oleh malaikat rahmat."
1


Beberapa Faedah Hadits
Pertama: Luasnya ampunan Allah
Hadits ini menunjukkan luasnya ampunan Allah. Hal ini dikuatkan dengan hadits lainnya,

- -


Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta'ala berfirman
(yang artinya), Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti
Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi
hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya seandainya
engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku,
tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.
2


Kedua: Allah akan mengampuni setiap dosa meskipun dosa besar selama mau bertaubat
Selain faedah dari hadits ini, kita juga dapat melihat pada firman Allah Ta'ala,


Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu
berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah
Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az Zumar: 53). Ibnu Katsir mengatakan, Ayat yang
mulia ini berisi seruan kepada setiap orang yang berbuat maksiat baik kekafiran dan lainnya untuk segera
bertaubat kepada Allah. Ayat ini mengabarkan bahwa Allah akan mengampuni seluruh dosa bagi siapa yang
ingin bertaubat dari dosa-dosa tersebut, walaupun dosa tersebut amat banyak, bagai buih di lautan.
3

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah akan mengampuni setiap dosa walaupun itu dosa kekufuran, kesyirikan, dan
dosa besar (seperti zina, membunuh dan minum minuman keras). Sebagaimana Ibnu Katsir mengatakan,
Berbagai hadits menunjukkan bahwa Allah mengampuni setiap dosa (termasuk pula kesyirikan) jika seseorang
bertaubat. Janganlah seseorang berputus asa dari rahmat Allah walaupun begitu banyak dosa yang ia lakukan
karena pintu taubat dan rahmat Allah begitu luas.
4


Ketiga: Janganlah membuat seseorang putus asa dari rahmat Allah
Ketika menjelaskan surat Az Zumar ayat 53 di atas, Ibnu Abbas mengatakan, Barangsiapa yang membuat
seorang hamba berputus asa dari taubat setelah turunnya ayat ini, maka ia berarti telah menentang Kitabullah
azza wa jalla. Akan tetapi seorang hamba tidak mampu untuk bertaubat sampai Allah memberi taufik padanya
untuk bertaubat.
5


Keempat: Seseorang yang melakukan dosa beberapa kali dan ia bertaubat, Allah pun akan
mengampuninya
Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits lainnya, dari Abu Huroiroh, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda yang diceritakan dari Rabbnya azza wa jalla,


Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu dia mengatakan Allahummagfirliy dzanbiy [Ya Allah, ampunilah
dosaku]. Lalu Allah berfirman, Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb
yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian
hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, Ay robbi agfirli dzanbiy [Wahai Rabb,
ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia
memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. (Maka Allah mengampuni
dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, Ay robbi agfirli
dzanbiy [Wahai Rabb, ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia
mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa.
Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni.
6
An Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan bahwa
yang dimaksudkan dengan beramallah sesukamu adalah selama engkau berbuat dosa lalu bertaubat, maka
Allah akan mengampunimu.
An Nawawi mengatakan, Seandainya seseorang berulang kali melakukan dosa hingga 100 kali, 1000 kali atau
lebih, lalu ia bertaubat setiap kali berbuat dosa, maka pasti Allah akan menerima taubatnya setiap kali ia
bertaubat, dosa-dosanya pun akan gugur. Seandainya ia bertaubat dengan sekali taubat saja setelah ia melakukan
semua dosa tadi, taubatnya pun sah.
7

Ya Rabb, begitu luas sekali rahmat dan ampunan-Mu terhadap hamba yang hina ini
Kelima: Diterimanya taubat seorang pembunuh
An Nawawi rahimahullah mengatakan, Ini adalah madzhbab para ulama dan mereka pun berijma' (bersepakat)
bahwa taubat seorang yang membunuh dengan sengaja, itu sah. Para ulama tersebut tidak berselisih pendapat
kecuali Ibnu 'Abbas. Adapun beberapa perkataan yang dinukil dari sebagian salaf yang menyatakan taubatnya
tidak diterima, itu hanyalah perkataan dalam maksud mewanti-wanti besarnya dosa membunuh dengan sengaja.
Mereka tidak memaksudkan bahwa taubatnya tidak sah.
8


Keenam: Orang yang bertaubat hendaknya berhijrah dari lingkungan yang jelek
An Nawawi mengatakan, Hadits ini menunjukkan orang yang ingin bertaubat dianjurkan untuk berpindah dari
tempat ia melakukan maksiat.
9


Ketujuh: Memperkuat taubat yaitu berteman dengan orang yang sholih
An Nawawi mengatakan, Hendaklah orang yang bertaubat mengganti temannya dengan teman-teman yang
baik, sholih, berilmu, ahli ibadah, waro'dan orang-orang yang meneladani mereka-mereka tadi. Hendaklah ia
mengambil manfaat ketika bersahabat dengan mereka.
10

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat
memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.


Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman
dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa
membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak
mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.
11

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang
dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan
orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.
12


Kedelapan: Keutamaan ilmu dan orang yang berilmu
Dalam hadits ini dapat kita ambil pelajaran pula bahwa orang yang berilmu memiliki keutamaan yang luar biasa
dibanding ahli ibadah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits lainnya, dari Abu Darda', Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda,


Dan keutamaan orang yang berilmu dibanding seorang ahli ibadah adalah bagaikan keutamaan bulan pada
malam purnama dibanding bintang-bintang lainnya.
13
Al Qodhi mengatakan, Orang yang berilmu dimisalkan
dengan bulan dan ahli ibadah dimisalkan dengan bintang karena kesempurnaan ibadah dan cahayanya tidaklah
muncul dari ahli ibadah. Sedangkan cahaya orang yang berilmu berpengaruh pada yang lainnya.
14


Kesembilan: Orang yang berfatwa tanpa ilmu hanya membawa kerusakan
Lihatlah bagaimana kerusakan yang diperbuat oleh ahli ibadah yang berfatwa tanpa dasar ilmu. Ia membuat
orang lain sesat bahkan kerugian menimpa dirinya sendiri. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Umar bin
'Abdul 'Aziz,


Barangsiapa beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada
perbaikan yang dilakukan.
15


Syarat Diterimanya Taubat
Syarat taubat yang mesti dipenuhi oleh seseorang yang ingin bertaubat adalah sebagai berikut:
Pertama: Taubat dilakukan dengan ikhlas, bukan karena makhluk atau untuk tujuan duniawi.
Kedua: Menyesali dosa yang telah dilakukan sehingga ia pun tidak ingin mengulanginya kembali.
Ketiga: Tidak terus menerus dalam berbuat dosa. Maksudnya, apabila ia melakukan keharaman, maka ia segera
tinggalkan dan apabila ia meninggalkan suatu yang wajib, maka ia kembali menunaikannya. Dan jika berkaitan
dengan hak manusia, maka ia segera menunaikannya atau meminta maaf.
Keempat: Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut lagi karena jika seseorang masih bertekad untuk
mengulanginya maka itu pertanda bahwa ia tidak benci pada maksiat.
Kelima: Taubat dilakukan pada waktu diterimanya taubat yaitu sebelum datang ajal atau sebelum matahari terbit
dari arah barat. Jika dilakukan setelah itu, maka taubat tersebut tidak lagi diterima.
Inilah syarat taubat yang biasa disebutkan oleh para ulama.

Penutup
Saudaraku yang sudah bergelimang maksiat dan dosa. Kenapa engkau berputus asa dari rahmat Allah? Lihatlah
bagaimana ampunan Allah bagi setiap orang yang memohon ampunan pada-Nya. Orang yang sudah membunuh
99 nyawa + 1 pendeta yang ia bunuh, masih Allah terima taubatnya. Lantas mengapa engkau masih berputus asa
dari rahmat Allah?!
Orang yang dulunya bergelimang maksiat pun setelah ia taubat, bisa saja ia menjadi orang yang lebih baik dari
sebelumnya. Ia bisa menjadi muslim yang sholih dan muslimah yang sholihah. Itu suatu hal yang mungkin dan
banyak sekali yang sudah membuktikannya. Mungkin engkau pernah mendengar nama Fudhail bin Iyadh.
Dulunya beliau adalah seorang perampok. Namun setelah itu bertaubat dan menjadi ulama besar. Itu semua
karena taufik Allah. Kami pun pernah mendengar ada seseorang yang dulunya terjerumus dalam maksiat dan
pernah menzinai pacarnya. Namun setelah berhijrah dan bertaubat, ia pun menjadi seorang yang alim dan
semakin paham agama. Semua itu karena taufik Allah. Dan kami yakin engkau pun pasti bisa lebih baik dari
sebelumnya. Semoga Allah beri taufik.
Ingatlah bahwa orang yang berbuat dosa kemudia ia bertaubat dan Allah ampuni, ia seolah-olah tidak pernah
berbuat dosa sama sekali. Dari Abu 'Ubaidah bin 'Abdillah dari ayahnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda,


Orang yang bertaubat dari suatu dosa seakan-akan ia tidak pernah berbuat dosa itu sama sekali.
16

Setiap hamba pernah berbuat salah, namun hamba yang terbaik adalah yang rajin bertaubat. Dari Anas, beliau
shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


Semua keturunan Adam adalah orang yang pernah berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah
adalah orang yang bertaubat.
17

Orang yang bertaubat akan Allah ganti kesalahan yang pernah ia perbuat dengan kebaikan. Sehingga seakan-
akan yang ada dalam catatan amalannya hanya kebaikan saja. Allah Ta'ala berfirman,


Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka
diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Furqon:
70)
Al Hasan Al Bashri mengatakan, Allah akan mengganti amalan kejelekan yang diperbuat seseorang dengan
amalan sholih. Allah akan mengganti kesyirikan yang pernah ia perbuat dengan keikhlasan. Allah akan
mengganti perbuatan maksiat dengan kebaikan. Dan Allah pun mengganti kekufurannya dahulu dengan
keislaman.
18


Sekarang, segeralah bertaubat dan memenuhi syarat-syaratnya. Lalu perbanyaklah amalan kebaikan dengan
melaksanakan yang wajib-wajib dan sempurnakan dengan shalat sunnah, puasa sunnah dan sedekah, karena
amalan kebaikan niscaya akan menutupi dosa-dosa yang telah engkau perbuat. Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam pernah memberikan sebuah nasehat berharga kepada Abu Dzar Al Ghifariy Jundub bin Junadah,


Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutkanlah kejelekan dengan kebaikan, niscaya
kebaikan akan menghapuskannya dan berakhlaqlah dengan sesama dengan akhlaq yang baik.
19


Semoga Allah menerima setiap taubat dan ampunan kita. Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita
untuk menggapai ridho-Nya.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


Sebab sebab Hati (Qalbu) Mengeras.

Allah subhanahu wa taala berfirman:

Maka celakalah bagi mereka yang keras qalbunya dari berdzikir kepada Allah. Mereka berada dalam
kesesatan yang nyata. (Az-Zumar: 22)

Tidaklah Allah memberikan hukuman yang lebih besar kepada seorang hamba selain dari kerasnya qalbu dan
jauhnya dari Allah subhanahu wa taala. An-Naar (neraka) adalah diciptakan untuk melunakkan qalbu yang
keras. Qalbu yang paling jauh dari Allah adalah qalbu yang keras, dan jika qalbu sudah keras mata pun terasa
gersang. Qalbu yang keras ditimbulkan oleh empat hal yang dilakukan melebihi kebutuhan: makan, tidur, bicara,
dan pergaulan.

Sebagaimana jasmani jika dalam keadaan sakit tidak akan bermanfaat baginya makanan dan minuman, demikian
pula qalbu jika terjangkiti penyakit-penyakit hawa nafsu dan keinginan-keinginan jiwa, maka tidak akan
mempan padanya nasehat.

Barangsiapa hendak mensucikan qalbunya maka ia harus mengutamakan Allah dibanding keinginan dan nafsu
jiwanya.

Karena qalbu yang tergantung dengan hawa nafsu akan tertutup dari Allah subhanahu wa taala, sekadar
tergantungnya jiwa dengan hawa nafsunya.

Banyak orang menyibukkan qalbu dengan gemerlapnya dunia. Seandainya mereka sibukkan dengan mengingat
Allah subhanahu wa taala dan negeri akhirat tentu qalbunya akan berkelana mengarungi makna-makna
Kalamullah dan ayat-ayat-Nya yang nampak ini, dan ia pun akan menuai hikmah-hikmah yang langka dan
faedah-faedah yang indah. Jika qalbu disuapi dengan berdzikir dan disirami dengan berfikir serta dibersihkan
dari kerusakan, ia pasti akan melihat keajaiban dan diilhami hikmah.

Tidak setiap orang yang berhias dengan ilmu dan hikmah serta memeganginya akan masuk dalam golongannya.
Kecuali jika mereka menghidupkan qalbu dan mematikan hawa nafsunya.

Adapun mereka yang membunuh qalbunya dengan menghidupkan hawa nafsunya, maka tak akan muncul
hikmah dari lisannya.

Rapuhnya qalbu adalah karena lalai dan merasa aman, sedang makmurnya qalbu karena takut kepada Allah
subhanahu wa taala dan dzikir. Maka jika sebuah qalbu merasa zuhud dari hidangan-hidangan dunia, dia akan
duduk menghadap hidangan-hidangan akhirat. Sebaliknya jika ia ridha dengan hidangan-hidangan dunia, ia akan
terlewatkan dari hidangan akhirat.

Kerinduan bertemu Allah subhanahu wa taala adalah angin semilir yang menerpa qalbu, membuatnya sejuk
dengan menjauhi gemerlapnya dunia. Siapapun yang menempatkan qalbunya disisi Rabb-nya, ia akan merasa
tenang dan tentram. Dan siapapun yang melepaskan qalbunya di antara manusia, ia akan semakin gundah
gulana.

Ingatlah! Kecintaan terhadap Allah tidaklah akan masuk ke dalam qalbu yang mencintai dunia kecuali seperti
masuknya unta ke lubang jarum (sesuatu yang sangat mustahil).

Jika Allah subhanahu wa taala cinta kepada seorang hamba, maka Allah subhanahu wa taala akan memilih dia
untuk diri-Nya sebagai tempat pemberian nikmat-nikmat-Nya, dan Ia akan memilihnya di antara hamba-hamba-
Nya, sehingga hamba itu pun akan menyibukkan harapannya hanya kepada Allah. Lisannya senantiasa basah
dengan berdzikir kepada-Nya, anggota badannya selalu dipakai untuk berkhidmat kepada-Nya.

Qalbu bisa sakit sebagaimana sakitnya jasmani, dan kesembuhannya adalah dengan bertaubat. Qalbu pun bisa
berkarat sebagaimana cermin, dan cemerlangnya adalah dengan berdzikir. Qalbu bisa pula telanjang
sebagaimana badan, dan pakaian keindahannya adalah taqwa. Qalbu pun bisa lapar dan dahaga sebagaimana
badan, maka makanan dan minumannya adalah mengenal Allah subhanahu wa taala, cinta, tawakkal, bertaubat
dan berkhidmat untuk-Nya.

(diterjemahkan dan diringkas dari kitab Al-Fawaid karya Ibnul Qayyim rahimahullah hal 111-112)

Dikutip dari Asysyariah.com offline Penulis: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc dari kitab Al-Fawaid karya Ibnul
Qayyim Rahimahullah judul: Qalbu Mengeras Karena Jauh Dari Allah


Manfaat Dzikir
Dzikir atau mengucapkan kata-kata pujian yang mengingat kebesaran Allah
SWT, adalah amalan istimewa Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Dzikir
merupakan media yang membuat kehidupan Nabi dan para sahabat benar-benar
berarti.

Ibnu al-Qoyyim Rahimahullah mengatakan bahwa dzikir memiliki tujuh puluh tiga
manfaat yaitu:

1. Mengusir setan dan menjadikan setan kecewa.
2. Membuat Allah ridha.
3. Menghilangkan rasa sedih,dan gelisah dari hati manusia.
4. Membahagiakan dan melapangkan hati.
5. Menguatkan hati dan badan.
6. Menyinari wajah dan hati.
7. Membuka lahan rezeki.
8. Menghiasi orang yang berdzikir dengan pakaian kewibawaan, disenangi dan
dicintai manusia.
9. Melahirkan kecintaan.
10. Mengangkat manusia ke maqam ihsan.
11. Melahirkan inabah, ingin kembali kepada Allah.
12. Orang yang berdzikir dekat dengan Allah.
13. Pembuka semua pintu ilmu.
14. Membantu seseorang merasakan kebesaran Allah.
15. Menjadikan seorang hamba disebut disisi Allah.
16. Menghidupkan hati.
17. Menjadi makanan hati dan ruh.
18. Membersihkan hati dari kotoran.
19. Membersihkan dosa.
20. Membuat jiwa dekat dengan Allah.
21. Menolong hamba saat kesepian.
22. Suara orang yang berdzikir dikenal di langit tertinggi.
23. Penyelamat dari azab Allah.
24. Menghadirkan ketenangan.
25. Menjaga lidah dari perkataan yang dilarang.
26. Majlis dzikir adalah majlis malaikat.
27. Mendapatkan berkah Allah dimana saja.
28. Tidak akan merugi dan menyesal di hari kiamat.
29. Berada dibawah naungan Allah dihari kiamat.
30. Mendapat pemberian yang paling berharga.
31. Dzikir adalah ibadah yang paling afdhal.
32. Dzikir adalah bunga dan pohon surga.
33. Mendapat kebaikan dan anugerah yang tak terhingga.
34. Tidak akan lalai terhadap diri dan Allah pun tidak melalaikannya.
35. Dalam dzikir tersimpan kenikmatan surga dunia.
36. Mendahului seorang hamba dalam segala situasi dan kondisi.
37. Dzikir adalah cahaya di dunia dan ahirat.
38. Dzikir sebagai pintu menuju Allah.
39. Dzikir merupakan sumber kekuatan qalbu dan kemuliaan jiwa.
40. Dzikir merupakan penyatu hati orang beriman dan pemecah hati musuh Allah.
41. Mendekatkan kepada ahirat dan menjauhkan dari dunia.
42. Menjadikan hati selalu terjaga.
43. Dzikir adalah pohon marifat dan pola hidup orang shalih.
44. Pahala berdzikir sama dengan berinfak dan berjihad dijalan Allah.
45. Dzikir adalah pangkal kesyukuran.
46. Mendekatkan jiwa seorang hamba kepada Allah.
47. Melembutkan hati.
48. Menjadi obat hati.
49. Dzikir sebagai modal dasar untuk mencintai Allah.
50. Mendatangkan nikmat dan menolak bala.
51. Allah dan Malaikatnya mengucapkan shalawat kepada pedzikir.
52. Majlis dzikir adalah taman surga.
53. Allah membanggakan para pedzikir kepada para malaikat.
54. Orang yang berdzikir masuk surga dalam keadaan tersenyum.
55. Dzikir adalah tujuan prioritas dari kewajiban beribadah.
56. Semua kebaikan ada dalam dzikir.
57. Melanggengkan dzikir dapat mengganti ibadah tathawwu.
58. Dzikir menolong untuk berbuat amal ketaatan.
59. Menghilangkan rasa berat dan mempermudah yang susah.
60. Menghilangkan rasa takut dan menimbulkan ketenangan jiwa.
61. Memberikan kekuatan jasad.
62. Menolak kefakiran.
63. Pedzikir merupakan orang yang pertama bertemu dengan Allah.
64. Pedzikir tidak akan dibangkitkan bersama para pendusta.
65. Dengan dzikir rumah-rumah surga dibangun, dan kebun-kebun surga ditanami
tumbuhan dzikir.
66. Penghalang antara hamba dan jahannam.
67. Malaikat memintakan ampun bagi orang yang berdzikir.
68. Pegunungan dan hamparan bumi bergembira dengan adanya orang yang
berdzikir.
69. Membersihkan sifat munafik.
70. Memberikan kenikmatan tak tertandingi.
71. Wajah pedzikir paling cerah didunia dan bersinar di ahirat.
72. Dzikir menambah saksi bagi seorang hamba di ahirat.
73. Memalingkan seseorang dari membincangkan kebathilan.

Sungguh luar biasa manfaatnya. tetapi orang tidak akan yakin dengan manfaat-
manfaat diatas kecuali yang telah merasakan dan menikmatinya.. Semoga kita
dapat mengamalkan dzikir.



Jangan kau hanguskan sendiri amal shalihmu...

Tidak sedikit di antara kita yang menuliskan pada statusnya di FB (Facebook): " Tahajjud sudah, dzikir sudah,
baca al-Qur'an sudah. Sekarang apalagi ya?" Atau, ada lagi yang menuliskan bahwa dia sudah makan ini dan
minum itu untuk sahur, agar diketahui orang lain bahwa dia sedang mengerjakan amal shalih puasa sunnah.
Subhanallah...!!

Wahai para hamba Allah yang sedang meniti jalan menuju Rabbnya, janganlah luasnya rahmat dan ampunan
Allah menjadikan kita merasa aman dari siksa dan adzab-Nya. Janganlah kita merasa bahwa segala amalan yang
kita kerjakan pasti diterima oleh-Nya, siapakah yang bisa menjamin itu semua?

Allah Ta'ala berfirman:



"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka
tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka." (QS 23: 60).

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: "Maksudnya, orang-orang yang memberikan pemberian itu
khawatir dan takut tidak diterima amalannya, karena mereka merasa telah meremehkan dalam mengerjakan
syarat-syaratnya." (Tafsir Ibnu Katsir, 3/234)

Aisyah radhiyallahu 'anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang ayat di atas,
maka beliau menjawab: "Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, bersedekah, shalat, dan mereka merasa
khawatir tidak diterima amalannya." (HR. Tirmidzi no. 3175, Ibnu Majah no. 4198, Ahmad 6/159, Al-Hakim
2/393, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 162).

Allah Ta'ala dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan permisalan tentang hangusnya
(terhapusnya) amalan seorang hamba.

Firman Allah Ta'ala:



"Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah
masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin
keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya
kamu memikirkannya." (QS 2: 266)

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata: "Allah membuat permisalan tentang sebuah amalan." Umar bertanya:
"Amalan apa?" Beliau menawab: "Amalan ketaatan seorang yang kaya, kemudian Allah mengutus setan
kepadanya hingga orang itu berbuat maksiat yang pada akhirnya setan menghanguskan amalannya." (HR.
Bukhari no. 4538. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, I/280).

Maka sudah selayaknya bagi kita untuk mengetahui apa saja sebab-sebab yang dapat menghapuskan amal shalih
sehingga kita pun bisa menghindarinya.

Di antara sebab-sebab yang dapat menghapuskan amal shalih adalah:

1.Syirik Kepada Allah.

Tidak diragukan lagi bahwa syirik akan menghapuskan seluruh amal shalih, sebagaimana dalam firman-Nya:



"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: 'Jika kamu
mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang
merugi." (QS 39: 65)



" Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara
hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang
telah mereka kerjakan." (QS 6: 88)

Aisyah radhiyallahu 'anha suatu hari pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang
Abdullah bin Jud'an yang mati dalam keadaan syirik pada masa jahiliyah, akan tetapi dia orang yang baik, suka
memberi makan, suka menolong orang yang teraniaya dan punya kebaikan yang banyak. Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam menjawab: "Semua amalan itu tidak memberinya manfaat sedikitpun, karena dia tidak pernah
mengatakan: 'Wahai Rabbku, berilah ampunan atas kesalahan-kesalahanku pada hari kiamat kelak." (HR.
Muslim no. 214)

2. Riya'

Tidak diragukan lagi bahwa riya' membatalkan dan menghapuskan amalan seorang hamba. Dalam sebuah hadits
qudsi, (Allah berfirman):
"Aku paling kaya, tidak butuh tandingan dan sekutu. Barangsiapa beramal menyekutukan-Ku kepada yang lain,
maka Aku tinggalkan amalannya dan tandingannya." (HR. Muslim no. 2985)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan kepada kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya: "Apa
yang dimaksud dengan syirik kecil?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Yaitu riya'." (HR.
Ahmad 5/428, Baihaqi no. 6831, Baghawi dalam Syarhus Sunnah 4/201, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani
dalam Ash-Shahihah no. 951, Shahih Targhib 1/120).

Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata: "Ketahuilah bahwasanya amalan yang ditujukan kepada selain
Allah bermacam-macam. Ada kalanya murni dipenuhi dengan riya', tidaklah yang ia niatkan kecuali
mencari perhatian orang demi meraih tujuan-tujuan duniawi, sebagaimana halnya orang-orang munafik di
dalam shalat mereka. Allah Ta'ala berfirman: "Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan
malas. Mereka bermaksud riya' di hadapan manusia." (QS 4: 142). Lanjutnya lagi: "Sesungguhnya ikhlas
dalam ibadah sangat mulia. Amalan yang dipenuhi riya' -tidak diragukan lagi bagi seorang muslim- sia-sia
belaka, tidak bernilai, dan pelakunya berhak mendapat murka dan balasan dari Allah Ta'ala. Ada kalanya pula
amalan itu ditujukan kepada Allah akan tetapi terkotori oleh riya'. (Taisir Aziz Hamid hal. 467).

Sekedar contoh: Seseorang sedang melaksanakan puasa sunnah dg niat semata-mata karena Allah. Tapi
kemudian dia berkata agar diketahui oleh orang lain bahwa dia sedang berpuasa: "Enaknya buka puasa pakai apa
ya?" Atau, ia "menulis di status FB-nya" bahwa ia telah melakukan amal shalih agar diketahui orang banyak.
Maka hanguslah amalnya.

3. Menerjang Apa yg Diharamkan Allah Ketika Sedang Sendirian

Berapa banyak di antara kita yang berani menerjang hal-hal yang dilarang oleh Allah, utamanya ketika sedang
sendiri dan merasa tidak ada yang tahu, padahal telah mengetahui bahwa Allah Ta'ala adalah dzat Yang Maha
Mengetahui segala sesuatu.

Orang yang tetap nekat menerjang apa yang diharamkan Allah ketika sedang sendirian, maka akan terhapus
amalnya berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Sungguh akan datang sekelompok kaum dari umatku pada hari kiamat dengan membawa kebaikan yang banyak
semisal gunung yang amat besar. Allah menjadikan kebaikan mereka bagaikan debu yang bertebaran." Tsauban
radhiyallahu 'anhu bertanya: "Terangkanlah sifat mereka kepada kami wahai Rasulullah, agar kami tidak seperti
mereka." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Mereka masih saudara kalian, dari jenis kalian,
dan mereka mengambil bagian mereka di waktu malam sebagaimana kalian juga, hanya saja mereka apabila
menyendiri menerjang keharaman Allah." (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 4245, dishahihkan oleh Syaikh Al-
Albani dalam Ash-Shahihah no. 505).

4. Menyebut-nyebut Amalan Shalihnya

Tidak diragukan lagi bahwa menyebut-nyebut amalan shalih dapat menghapuskan amal seorang hamba. Firman
Allah Ta'ala:



"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-
nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada
manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang seperti itu bagaikan
batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak
bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (QS 2: 264).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Ada tiga golongan yang tidak dilihat oleh Allah pada hari kiamat, tidak disucikan-Nya, dan baginya ADZAB
YANG PEDIH." Para sahabat bertanya: "Terangkan sifat mereka kepada kami wahai Rasulullah, alangkah
meruginya mereka." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Mereka adalah orang yang menjulurkan
pakaiannya, orang yang suka menyebut-nyebut pemberian, dan orang yang melariskan barang dagangannya
dengan sumpah palsu." (HR. Muslim no. 106).

5. Mendahului Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Dalam Perintahnya

Maksudnya adalah, janganlah seorang muslim melakukan amalan yang tidak diperintahkan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, sebab hal itu termasuk perbuatan lancang terhadap beliau. Sebab syarat diterimanya
amal adalah yang sesuai dengan petunjuknya, yaitu ada contohnya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Allah Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertaqwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS 49: 1)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak adaperintah dari kami maka tertolak." (HR. Muslim no.
1718)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Waspadalah anda dari ditolaknya amalan pada awal kali hanya
karena menyelisihinya, engkau akan disiksa dengan berbaliknya hati ketika akan mati. Sebagaimana Allah
berfirman: "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah
beriman kepadanya (Al-Qur'an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya
yang sangat." (QS 6: 110). (Lihat majalah At-Tauhid, Jumadal Ula 1427 H).

6. Bersumpah Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Dahulu kala ada dua orang dari kalangan Bani Israil yang
saling berlawanan sifatnya. Salah satunya gemar berbuat dosa, sedangkan yang satunya lagi rajin beribadah.
Yang rajin beribadah selalu mengawasi dan mengingatkan temannya agar menjauhi dosa. Sampai suatu hari, ia
berkata kepada temannya: 'Berhentilah berbuat dosa!' Karena terlalu seringnya diingatkan, temannya yang sering
bermaksiat itu berkata: 'Biarkan aku begini. Apakah engkau diciptakan hanya untuk mengawasi aku terus?' Yang
rajin beribadah itu akhirnya berang dan berkata: 'Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu!' Atau 'Demi
Allah, Allah tidak akan memasukkanmu ke dalam surga!!' Akhirnya Allah mencabut arwah keduanya dan
dikumpulkan di sisi-Nya. Allah berkata kepada orang yang rajin beribadah: 'Apakah engkau tahu apa yang ada
pada diri-Ku, ataukah engkau merasa mampu atas`apa yang ada di tangan-Ku?' Allah berkata kepada yang
berbuat dosa: 'Masuklah engkau ke dalam surga karena rahmat-Ku.' Dan Dia berkata kepada yang rajin
beribadah: 'Dan engkau masuklah ke dalam neraka!'
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, orang ini telah
mengucapkan perkataan yang membinasakan dunia dan akhiratnya." (HR. Abu Dawud no. 4901, Ahmad 2/323,
dishahihkan oleh Ahmad Muhammad`Syakir dalam Syarh Musnad no. 8275. Lihat pula al-Misykah no. 2347).

Dari Jundub radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ada orang yang
berkata: 'Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.' Maka Allah berkata: 'Siapa yang bersumpah atas
nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan, sungguh Aku telah mengampuninya dan Aku
membatalkan amalanmu!" (HR. Muslim no. 2621)

7. Membenci Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Allah Ta'ala berfirman:



"Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur'an)
lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka." (QS 47: 9)

Yaitu karena mereka membenci apa yang dibawa oleh Rasul-Nya berupa Al-Qur'an yang isi kandungannya
berupa tauhid dan hari kebangkitan, karena alasan itu maka Allah menghapuskan amal-amal kebajikan yang
pernah mereka kerjakan. (Fathul Qadir 5/32).

8. Terluput Mengerjakan Shalat Ashar

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
" Barangsiapa yang terluput dari mengerjakan shalat ashar, maka terhapuslah seluruh pahala amalannya pada
hari itu." (HR. Bukhari, An Nasaa-i dan Ibnu Majah)

Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kekuatan oleh Allah untuk menjauhi sebab-sebab yang dapat
menghanguskan amal sebagaimana telah dijelaskan di atas. Dan kita memohon kepada Allah agar amalan yang
kita kerjakan dinilai sebagai amalan yang shalih, yang diterima di sisi-Nya, Allahumma amin.



Zikir (Peringkat Zikir)

Sebagai seorang muslim, kita selalu dituntut untuk berdzikir atau untuk selalu mengingat Allah SWT dalam
kondisi apapun. Baik dalam keadaan berdiri maupun duduk maupun berbaring, baik dalam keadaan senang
maupun susah. Karena dengan mengingat Allah SWT hati kita akan menjadi tenang. Hal ini sesuai dengan
firman Allah SWT yang berbunyi:

Yang artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah SWT.
Ingatlah! Hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram. (QS. Ar-Rad: 28)

Dalam ayat ini seakan-akan Allah SWT mengatakan kepada kita: ketahuilah! Hanya dengan berdzikir kepada
Allah , maka pasti hatimu akan tenang. Karena yang mengatakan ini adalah Allah SWT, berarti ini aksioma
langit (ketentuan mutlak) yang tidak dapat ditawarkan lagi.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: perumpamaan orang yang berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup
dan orang yang mati. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asyari).

Demikian pentingnya kita untuk selalu mengingat Allah SWT, sampai-sampai Allah SWT mengumpamakan
orang yang tidak berdzikir seperti orang mati. Naudzubillahi min dzalika.

Dzikir bukan hanya sebuah tutur kata diatas mimbar, bukan juga sekedar kumat kamit sebagai gerak mulut saja,
bukan sekedar duduk di masjid ataupun duduk di tengah malam sambil melafazkan kalimat-kalimat tertentu
dengan menggunakan butiran-butiran tasbih. Namun lebih dari itu, dzikir merupakan pengalaman ruhani yang
dapat dinikmati oleh pelakunya. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah SWT sebagai penentram hati. Pada
hakekatnya dzikir dapat dijadikan empat macam.

Pertama: Dzikir Qolbiyah, dzikir ini adalah merasakan kehadiran Allah, dalam melakukan apa saja ia meyakini
akan kehadiran Allah SWT bersamanya sehingga hatinya selalu tenang tanpa ada rasa takut sedikit pun. Allah
SWT maha melihat, maha mendengar, lagi maha mengetahui. Tidak ada yang tersembunyi dari pengetahuan-
Nya, seberat atom pun yang di langit maupun di bumi. (QS. Saba: 3). Dzikir qalbiyah ini lazim disebut ihsan.
Rasulullah SAW bersabda tentang arti ihsan, yaitu:
Artinya: (Ihsan adalah) engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Sekalipun engkau tidak
melihat-Nya tapi sesungguhnya Dia melihatmu. (Hadits Muttafaqun alaih).
Dengan dzikir qalbiyah kita memfungsikan mata hati kita dan menyadari bahwa Allah SWT selalu melihat dan
mengawasi kita. Jika kita sudah mencapai pada kesadaran ini, maka akan menimbulkan dampak yang besar.
Pertama: hati akan selalu bersih. Kedua: apapun yang kita kerjakakan akan menjadi ibadah dan ketiga: kita akan
memperoleh nilai dalam hidup ini, yakni keridhoan Allah SWT, karena apapun yang kita kerjakan kalau bukan
karena Allah SWT, maka mestilah sia-sia atau bahkan bisa disebut rugi.

Dzikir yang kedua: Dzikir Aqliyah, adalah kemampuan menangkap bahasa Allah SWT dibalik setiap gerak alam
semesta ini. Menyadari bahwa semua gerakan alam, Allah lah yang menjadi sumber gerak dan yang
menggerakkannya. Alam semesta ini adalah sekolah dan tempat belajar kita. Segala ciptaan-Nya dengan segala
proses kejadiannya, adalah proses pembelajaran kita. Segala ciptaan-Nya yang berupa batu, sungai, gunung,
udara, pohon, manusia, hewan dan sebagainya merupakan pena Allah SWT yang mengandung qalam-Nya
(sunnatullah) yang wajib kita baca. Kalau kita jeli memahami Al-Quran, sesungguhnya kita hidup di bumi nan
luas ini, yang pertama kali di perintahkan adalah membaca (Iqra). Yang wajib kita baca ada dua wujud, yakni
alam semesta (ayat kauniyah) termasuk di dalamnya diri kita (manusia) dan Al-Quran (ayat Qauliyah). Dengan
kesadaran dan cara berfikir ini, maka setiap kita melihat suatu benda (ciptaan-Nya) pada saat yang sama kita
akan melihat keagungan, kebesaran dankekuasaa Allah SWT, inilah yang merupakan puncak dan hasil dari
dzikir aqliyah.

Dzikir yang ketiga: Dzikir lisan, ini adalah buah dari dzikir hati dan akal. Setelah melakukan dzikir hati dan akal,
barulah lisan berfungsi untuk senantiasa berdzikir, selanjutnya lisan berdoa dan berkata-kata dengan benar,
jujur, baik dan bermanfaat. Orang yang merasa hatinya hadir di hadapan Allah SWT dan sadar bahwa dirinya
selalu berada dalam pengawasan-Nya disebut muraqabah. Dengan muraqabah akan mendorong seorang muslim
untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Dengan melakukan muraqabah dan muhasabah, kita akan
menemukan hikmah. Inilah yang merupakan tujuan akhir dari dzikir lisan, yaitu menemukan hikmah dibalik
semua ciptaan Allah SWT setelah merasakan kehadiran-Nya dan befikir tentang semua ciptaan-Nya. Kalau kita
tidak melakukan dzikir lisan, maka hati dan pikiran kita akan tumpul dan mudah di bisiki oleh bisikan-bisikan
syetan yang akan merenggut ketenangan hati.

Dzikir yang keempat: Dzikir amaliyah, sebenarnya cita-cita kita semua adalah dzikir amaliyah, dan ini
sebenarnya goal atau tujuan yang kita inginkan dari dzikir. Setelah hati kita berzikir, akal kita berzikir, lisan kita
berdzikir, maka akan lahirlah jiwa-jiwa serta pribadi-pribadi yang suci, pribadi-pribadi yang berakhlaq mulia,
baik secara lahir maupun bathin. Dari pribadi-pribadi tersebut akan lahirlah amal-amal shaleh yang diridhoi oleh
Allah SWT, sehingga terbentuk sebuah masyarakat yang takut serta bertaqwa kepada Allah SWT. Kalau sudah
demikian maka akan dibukakan oleh Allah SWT pintu-pintu berkah dari langit maupun dari bumi. Sebagaimana
firman Allah SWT:
Artinya: Jikalau sekiranya penduduk di negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat dan hukum-
hukum kami) itu, maka kami siksa (adzab) mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-Araaf: 96)

Demikianlah janji Allah kepada kaum yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Dengan meningkatkan dzikir
kita kepada Allah SWT, insya Allah akan dapat kita raih predikat taqwa yang pada akhirnya akan melahirkan
pribadi-pribadi yang bertaqwa kepada Allah SWT.

Puncak dzikir adalah ketika kita telah mampu menanggalkan atribut-atribut artificial yang kita sandang. Yakni
kita benar-benar telah bebas dari keinginan-keinginan pribadi. Semua tindakan kita didasarkan pada prinsip
lillahi taala (hanya karena Allah ). Pada saat itu kita akan menemukan kesadaran akan nilai-nilai ilahiyah dan
kemanusiaannya. Seperti memiliki kelembutan hati, kehalusan budi pekerti (akhlak), keadilan, keberanian, kasih
sayang, kejujuran, amanah, kedermawanan, keikhlasan, dan ketaatan untuk mencapai ridho Allah SWT.
Kemudian hidup ini akan senantiasa sibuk memperbaiki diri dan dibarengi dengan amal shaleh. Itulah derajat
taqwa yang ingin kita raih bersama.


Nasehat Kehidupan
1. Jika kita memelihara kebencian dan dendam, maka seluruh waktu
dan pikiran yang kita miliki akan habis dan kita tidak akan pernah menjadi orang
yang produktif.

2. Kekurangan orang lain adalah ladang pahala bagi kita untuk memaafkannya,
mendoakannya, memperbaikinya dan menjaga aibnya.

3. Bukan gelar atau jabatan yang menjadi orang menjadi mulia. Jika kualitas
pribadi buruk, semua itu hanyalah topeng tanpa wajah.

4. Ciri seorang pemimpin yang baik akan nampak dari kematangan pribadi,
buah karya, serta integrasi antara kita dengan perbuatannya.

5. Jika kita belum bisa membagikan harta, kalau kita tidak bisa membagikan
kekayaan, maka bagikanlah contoh kebaikan.

6. Jangan pernah menyuruh orang lain sebelum menyuruh diri sendiri, jangan
pernah melarang orang lain sebelum melarang diri sendiri.

7. Pastikan kita sudah bersedekah hari ini, baik dengan materi, dengan ilmu,
tenaga, atau minimal dengan seyuman yang tulus.

8. Para pembohong akan dipenjara oleh kebohongannya sendiri, orang yang
jujur akan menikmati kemerdekaan dalam hidupnya.

9. Bila memiliki banyak harta, kita akan menjaga harta. Namun jika kita
memiliki banyak ilmu, maka ilmulah yang akan menjaga kita.

10.Kalau hati kita bersih, tak ada waktu untuk berpikir licik, curang atau dengki
sekalipun.

11. Bekerja keras adalah bagian dari fisik, bekerja cerdas merupakan bagian dari
otak, sedangkan bekerja ikhlash ialah bagian dari hati.

12. Jadikanlah setiap kritik bahkan penghinaan yang kita terima sebagai jalan
untuk memperbaiki diri.
13.Kita tidak pernah tahu kapan kematian akan menjemput kita, tapi kita tahu
persis
seberapa banyak bekal yang kita miliki untuk menghadapinya.



Mengundang Kehadiran Malaikat ke Rumah
Tak seorang muslimpun yang tidak menginginkan rumah mereka senantiasa
dihadiri oleh para malaikat Allah dan dijauhkan dari syetan. Sebab kehadiran mereka di
rumah mereka akan melahirkan aura ketenteraman dan kesejukan dan kedamaian ruhani
yang mengalir di rumah itu. Kehadiran mereka akan membuat rumah kita laksana surga.

Diantara para malaikat itu ada yang sengaja keliling untuk menebarkan rahmat dan
kedamaian di tengah manusia sebagaiamna syetan berkeliling untuk menebarkan
kejahatan di tengah mereka.

Lalu rumah mana saja yang akan dihadiri para malaikat itu?

Diantaranya adalah :
1. Rumah yang diliputi dzikir kepada Allah yang di dalamnya ada ruku dan sujud
2. Rumah yang senantiasa bersih
3. Rumah yang penghuninya adalah orang-orang yang jujur dan menepati janji
4. Rumah yang dihuni oleh orang-orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim
5. Rumah yang dihuni oleh orang yang makanannya halal
6. Rumah yang dihuni oleh orang yang senantiasa berbuat baik kepada kedua orang
tuanya.
7. Rumah yang senantiasa ada tilawah Al-Quran
8. Rumah yang dihuni oleh para penuntut ilmu
9. Rumah yang penghuninya ada isteri solehah
10. Rumah yang bersih dari barang-barang haram
11. Rumah yang dihuni oleh orang yang rendah hati, sabar, tawakal, qanaah, dermawan
pemaaf yang
senantiasa bersih lahir batin dan para penghuninya makan tidak terlalu banyak

Di bawah ini akan dipaparkan beberapa dalil yang menunjukkan pada hal di atas.

Mengenai orang-orang yang berada dalam majlis dzikir Rasulullah bersabda : Jika
kalian melewati kebun-kebun surga maka mampirlah di tempat itu! Para sahabat berkata,
Apa yang dimaksud dengan kebun-kebun surga itu wahai Rasulullah? Nabi bersabda,
Kelompok manusia yang berdzikir. Karena sesungguhnya Allah memiliki malaikat-
malaikat yang senantiasa keliling mencari kelompok manusia yang berdzikir dan jika
mereka datang ke tempat mereka malaikat itu dan mengitarinya, hadits ini diriwayatkan
oleh Ibnu Umar sebagaimana disebutkan oleh An-Nawawi dalam buku Al-Adzkar.
Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda

Tidaklah sekali-kali sebuah kaum duduk dengan berdzikir kepada Allah kecuali mereka
akan dikelilingi malaikat dan akan disirami rahmat dan akan turun kepada mereka
ketenangan. Allah akan menyebutkan tentang mereka pada malaikat yang ada di sisi-
Nya (HR. Muslim)

Ini semua menunjukkan bahwa dzikir kepada Allah di rumah kita akan menjadikan
malaikat memasuki rumah kita dan akan berada dengan kita. Sebaliknya rumah yang
dikosongkan dengan dari dzikir maka malaikat juga akan menjauhinya.

Sementara itu orang yang membcan Al-Quran disebutkan dalam sabdanya :
Sesungguhnya rumah itu akan terasa luas bagi penghuninya, akan didatangi malaikat,
dijauhi syetan dan akan membanjir pula kebaikan ke dalamnya, jika dibacakan Al-Quran
di dalamnya. Sebaliknya, rumah itu akan terasa sempit bagi penghuninya, akan dijauhi
malaikat dan akan didatangi syetan serta tidak akan banyak kebaikan di dalamnya, jika
tidak dibacakan Al-Quran (HR. Ad-Darimi).

Dengan membaca Al-Quran maka akan turun malaikat rahmat, akan datang kebaikan
akan muncul ketenangan di dalam rumah kita. Rumah yang tidak ada bacaan Al-Quran
maka ketahuilah bahwa rumah itu sebenarnya telah menjadi kuburan walaupun
penghuninya masih bernyawa.

Tentang orang yang rajin menjalin silaturahmi, disebutkan dari Abu Hurairah bahwa
seorang lelaki pergi untuk mengunjungi saudaranya di sebuah desa yang lain. Maka
segera diperintahkan kepada malaikat untuk menemani orang itu. Tatkala malaikat
bertemu dengan orang tadi maka dia bertanya : Kemana engkau akan pergi? Lelaki itu
menjawab : Aku akan pergi mengunjungi saudara saya di desa itu! Malaikat itu bertanya :
Apakah kau memiliki suatu nikmat yang akan kau berikan padanya? Orang itu berkata :
Tidak, saya mengunjunginya semata karena saya mencintainya karena Allah! Malaikat itu
berkata : Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu. Allah telah mencintaimu
sebagaimana kau mencintai orang itu (HR. Muslim)

Mengenai penuntut ilmu yang dinaungi sayap malaikat Rasulullah bersabda :
Sesungguhnya malaikat membentangkan sayapnya untuk para penuntut ilmu karena
suka dengan apa yang sedang dia tuntut (HR. Tirmidzi).

Tentang rumah orang dermawan yang akan dimasuki malaikat disebutkan dalam sebuah
hadits bahwa malaikat akan senantiasa mendoakan mereka : Rasulullah Saw bersabda,
Tiap-tiap pagi malaikat turun, yang satu mendoakan, Ya Allah beri gantilah untuk
yang menderma, dan yang lain berdoa, Ya Allah Musnahkan harta si bakhil.

Rumah-rumah yang di dalamnya ada kejujuran, ada kasih sayang, amanah, ada syukur
dan sabar ada taubat dan istighfar akan senantiasa terbuka untuk dimasuki para malaikat
sedangkan rumah-rumah yang selain itu maka maka malaikat akan menjauhi rumah tadi.

Rumah-rumah yang akan dijauhi malaikat misalnya, rumah yang di dalamnya ada anjing,
ada patung-patung dan gambar-gambar, dan ada bau busuk di rumah itu.

Islam adalah agama yang cinta kebersihan sehingga mengingatkan bahayanya memiliki
anjing, bahkan melarang memelihara anjing kecuali untuk kepentingan penjagaan
keamanan atau pertanian. Tidak sedikit nash hadits yang menyatakan bahwa malaikat
rahmat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan pahala pemilik
anjing akan susut atau berkurang. Rasulullah bersabda: Malaikat tidak akan memasuki
rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan juga tidak memasuki rumah yang
didalamnya terdapat gambar (patung)" [HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i
dan Ibnu Majah]

Ibnu Hajar berkata : "Ungkapan malaikat tidak akan memasuki...." menunjukkan malaikat
secara umum (malaikat rahmat, malaikat hafazah, dan malaikat lainnya)". Tetapi,
pendapat lain mengatakan : "Kecuali malaikat hafazah, mereka tetap memasuki rumah
setiap orang karena tugas mereka adalah mendampingi manusia sehingga tidak pernah
berpisah sedetikpun dengan manusia. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Ibnu
Wadhdhah, Imam Al-Khaththabi, dan yang lainnya.

Sementara itu, yang dimaksud dengan ungkapan rumah pada hadits di atas adalah tempat
tinggal seseorang, baik berupa rumah, gubuk, tenda, dan sejenisnya. Sedangkan ungkapan
anjing pada hadits tersebut mencakup semua jenis anjing. Imam Qurthubi berkata :
"Telah terjadi ikhtilaf di antara para ulama tentang sebab-sebabnya malaikat rahmat tidak
memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing. Sebagian ulama mengatakan karena
anjing itu najis, yang lain mengatakan bahwa ada anjing yang diserupai oleh setan,
sedangkan yang lainnya mengatakan karena di tubuh anjing menempel najis. Ummul
Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam telah mengadakan perjanjian dengan Jibril bahwa Jibril akan datang. Ketika
waktu pertemuan itu tiba, ternyata Jibril tidak datang. Sambil melepaskan tongkat yang
dipegangnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Allah tidak mungkin
mengingkari janjinya, tetapi mengapa Jibril belum datang ?" Ketika Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam menoleh, ternyata beliau melihat seekor anak anjing di
bawah tempat tidur. "Kapan anjing ini masuk ?" tanya beliau. Aku (Aisyah) menyahut :
"Entahlah". Setelah anjing itu dikeluarkan, masuklah malaikat Jibril. "Mengapa engkau
terlambat ? tanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Jibril. Jibril menjawab:
"Karena tadi di rumahmu ada anjing. Ketahuilah, kami tidak akan memasuki rumah yang
di dalamnya terdapat anjing dan gambar (patung)" [HR. Muslim].

Malaikat rahmat pun tidak akan mendampingi suatu kaum yang terdiri atas orang-orang
yang berteman dengan anjing. Abu Haurairah Radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa
Rasulullah bersabda : Malaikat tidak akan menemani kelompok manusia yang di
tengah-tengah mereka terdapat anjing". [HR Muslim]

Imam Nawawi mengomentari hadits tersebut : "Hadits di atas memberikan petunjuk
bahwa membawa anjing dan lonceng pada perjalanan merupakan perbuatan yang dibenci
dan malaikat tidak akan menemani perjalanan mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan
malaikat adalah malaikat rahmat (yang suka memintakan ampun) bukan malaikat
hafazhah yang mencatat amal manusia. [Lihat Syarah Shahih Muslim 14/94]

Malaikat juga tidak suka masuk rumah yang berbau tidak sedap. Rasulullah Saw
bersabda, Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah, dan makanan tidak
sedap lainnya, maka jangan sekali-kali ia mendekati (memasuki) masjid kami, oleh
karena sesungguhnya para malaikat terganggu dari apa-apa yang mengganggu manusia.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Juga adanya penghuni rumah yang mengancam saudaranya (muslim) dengan senjata.
Rasulullah Saw bersabda, Barangsiapa mengarahkan (mengancam) saudaranya (muslim)
dengan benda besi (pisau misalnya), maka orang itu dilaknat oleh malaikat, sekalipun
orang itu adalah saudara kandungnya sendiri. (HR Muslim).

Kita semua berharap rumah kita akan senantiasa dikelilingi malaikat dan dijauhkan dari
syetan laknat. Maka tidak ada cara lain bagi kita kecuali senantiasa meningkatkan bobot
dan kapasitas keimanan, keislaman dan keihsanan kita, setiap detik, menit, jam, hari,
minggu, bulan dan tahun. Peningkatan ini kita butuhkan karena hidup ini tidak pernah
henti berputar. Waktu kita terus bergulir dan kita tidak bisa menghentikannya. Umur kita
terus mengkerut dan kita tidak bisa lagi merentangnya. Hanya ada satu kata dalam
kehidupan kita : beramal saleh dengan segera, tanpa ditunda!!

(Sumber : Samson Rahman, MA , http://www.swaramuslim.net)

Indikator Keimanan

Iman memiliki tanda-tanda, mempunyai rasa serta memberikan dampak, juga memiliki
cahaya dan ikatan yang senantiasa dipegang oleh pemiliknya. Maka perlu bagi kita kaum
muslimin yang notaben juga mukmin mengenal tanda-tanda keimanan, agar dapat mengukur
diri kita masing-masing apakah kita masuk orang orang yang difirmankan Allah
:Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah
akan menanamkan dalam (hati) mereka kasih sayang. (QS. 19:96).Di antara indikator iman
yang benar adalah sebagai berikut:
1. Ittiba Kepada Rasul Shalallaahu alaihi wasalam Dengan Sebenarnya Seorang
mukmin senantiasa menerima apa saja yang disampaikan oleh Nabinya, sebab khawatir
termasuk golongan yang disabdakan oleh beliau :Tidaklah beriman salah seorang di antara
kalian, sehingga kemauan (hawa nafsunya) tunduk terhadap segala yang
kusampaikan.Hawanya, cintanya, angan-angan dan keinginanya senantiasa diukur dengan
apa yang dibawa oleh Nabinya Shalallaahu alaihi wasalam, tidak menyelisihi perintahnya dan
tidak melanggar larangannya, lisannya senantiasa berucap, yang Artinya:Ya Rabb kami,
kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena
itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan
Allah). (QS. 3:53)
2. Tunduk Terhadap Hukum Allah Apabila telah ada ketetapan dari Allah baik berupa
perintah atau pun larangan, maka seorang mukmin tidak pikir-pikir lagi atau mencari
alternatif yang lain. Namun menerima dengan sepenuh hati terhadap apa yang ditetapkan
Allah tersebut dalam segala permasalahan hidup. Allah Subhannahu wa Taala
berfirman:Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mumin dan tidak (pula) bagi perempuan
yang mumin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi
mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan
Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. 33:36)
3. Membenarkan Apa yang Disampaikan Allah dan Rasul-Nya, Tanpa Ragu Sedikitpun
Seorang mukmin harus percaya dan membenarkan segala yang disampaikan Allah
Subhannahu wa Taala dan Rasul Shalallaahu alaihi wasalam, meskipun belum mengetahui
fadhilah atau hikmahnya. Jika kita telah memiliki sifat yang demikian, maka niscaya akan
menjadi orang yang beruntung. Sebab Allah Subhannahu wa Taala akan memasukkan kita
dalam golongan yang disebutkan Allah Subhannahu wa Taala dalam firman
Nya:Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu. (QS. 49:15)Sebagai misal,
ketika Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengatakan, bahwa wanita (pada mulanya)
diciptakan oleh Allah dari tulang rusuk yang memiliki sifat bengkok, maka seorang mukmin
dan mukminah harus membenarkannya tanpa ragu sedikit pun. Wanita mukminah sejati tidak
keberatan menerima hadits ini dan tidak meragukannya, demikian pula terhadap ayat-ayat
yang berkaitan dengan hukum-hukum yang khusus berkenaan dengan wanita.
4. Senantiasa Bertaubat, Beristighfar dan Takut Suul Khatimah Di antara ucapan
seorang mukmin adalah sebagaimana yang difirmankan Allah Subhannahu wa Taala :Ya
Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu),
Berimanlah kamu kepada Rabbmu, maka kami pun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah
bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan
wafatkanlah kami beserta orang- orang yang berbakti. (QS. 3:193)Seorang mukmin selalu
melihat keburukan dirinya dan takut serta bersedih atas dosa-dosa yang pernah diperbuatnya.
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,Barang siapa yang bersedih terhadap
keburukannya dan bergembira terhadap kebaikannya, maka dia seorang mukmin. (HR.
Ahmad)Maka bukan merupakan sifat seorang mukmin kalau bangga tatkala dapat melakukan
keburukan dan kejahatan, atau malah bersedih apabila berbuat kebaikan.
5. Besar Rasa Takut dan Harapnya Rasa takut dan harap yang sangat besar berkumpul di
dalam hati seorang mukmin, dia takut nanti kalau pada Hari Kiamat masuk ke dalam neraka,
namun sekaligus berharap agar Allah menyelamatkannya, percaya akan rahmat Allah dan
berharap agar segala amal perbuatannya diterima. Mereka memohon kepada Allah :Ya Rabb
kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-
rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di Hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau
tidak menyalahi janji.(QS. 3:194)
6. Sungguh-Sungguh dan Taat BeribadahSeorang mukmin selalu bersungguh-sungguh dan
taat dalam beribadah kepada Allah, selalu beristighfar, terutama di waktu sahur. Firman
Allah:(Yaitu) orang-orang yang berdoa, Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman,
maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka. (yaitu) orang-
orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah),
dan yang memohon ampun di waktu sahur.(QS. 3:16-17)Inilah di antara beberapa tanda-
tanda iman, dan tentunya masih banyak lagi tanda-tanda lain yang tidak bisa disebutkan di
sini.
Yang penting adalah kita mencoba mengukur diri sampai di mana keimanan kita, kalau
seluruh tanda keimanan yang tersebut di atas ada pada diri kita, maka hendaklah memuji
Allah karena telah memberikan karunia yang amat besar. Dan sebaliknya kalau masih banyak
yang belum ada pada diri kita, maka marilah bersegera meraih dan mengejar ketertinggalan
kita, sebelum pintu kehidupan ini tertutup.
Ikatan Iman yang Terkuat
Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda : Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena
Allah dan benci karena Allah. (HR. Abu Dawud)Seorang mukmin hendaknya selalu melihat
apakah dirinya telah mendapatkan tali terkuat ini atau kah belum? Sudahkah dirinya mampu
mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, atau kah malah justru mencintai dan
membenci tergantung pada hawa nafsu dan pendapat sendiri?Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu
pernah berkata, Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah,
memusuhi karena Allah, loyal (berwala) karena Allah, maka sungguh dia telah mendapatkan
perwalian (cinta dan pembelaan) dari Allah dengan sebab tersebut. Seorang hamba tidak akan
merasakan lezatnya iman, meskipun banyak shalat dan puasa, sehingga dia bersikap demikian
itu.

Sinar Keimanan
Iman akan memancarkan sinar yang terbit menyinari di dalam hati, sehingga hati menjadi
hidup. Amr Ibnu Qais berkata, Aku mendengar bukan hanya dari seorang shahabat saja yang
berkata, Cahaya iman adalah tafakkur.Yaitu merenungkan dan memikirkan segala
kebesaran dan kekuasaan Allah, segenap makhlukNya, memikirkan asma dan sifat sifat Allah
yang Maha Luhur, sehingga kalau itu semua memenuhi hati, maka akan membuatnya bersinar
dan bercahaya, yang itu akan terus menambah kedekatan dan rasa cinta terhadap Allah Rabb
Pencipta dan Pemeliharanya.

Iman, Musik dan Lagu
Musik dan lagu tidak akan dapat bersatu di dalam hati seorang mukmin sejati, sehingga
amatlah sulit untuk dapat mencapai keutuhan dan kesempurnaan iman. Sebab hati yang
seharusnya ditempati secara keseluruhan untuk iman, ternyata ada jatah yang di sediakan
untuk nyanyian dan musik, akan berbahaya kalau jatah untuk musik dan nyanyian lebih besar
daripada jatah untuk keimanan.
Sebab musik dan lagu sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam
dapat menumbuhkan kamunafikan.Maka seorang mukmin hedaknya memakmurkan dan
memenuhi hatinya dengan iman, jangan sampai nyanyian mendominasi hati karena itu dapat
menjerumuskan ke dalam suul khatimah. Sebagaimana hal itu pernah terjadi di dalam kisah
nyata, yaitu seorang yang akan meninggal dunia ketika dituntun untuk membaca syahadat dia
tidak bisa mengucapkannya dan justru malah menyanyi. Naudzu billah min dzalik.

Manisnya Iman
Manisnya iman dapat diraih dengan tiga hal sebagaimana yang disabdakan Nabi Shalallaahu
alaihi wasalam, yang artinya:Tiga hal yang barang siapa memilki ketiganya, maka akan
merasakan manisnya iman, (yaitu) Allah dan Rasulnya lebih dia cintai daripada selain
keduanya, apabila menyintai seseorang, maka tidaklah dia mencintai, kecuali karena Allah,
serta benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya
sebagaimana bencinya kalau dilemparkan ke neraka.(HR. Al-Bukhari)
Maka masing-masing kita hedaklah melihat, apakah Allah dan Rasul telah kita tempatkan di
atas semua orang, termasuk anak, istri atau suami, serta segala kesenangan hidup? Lalu kita
lihat juga apakan cinta kita terhadap sesama manusia sudah karena Allah, atau kah karena ada
sebab-sebab lain seperti materi, tujuan keduniaan, kelompok dan golongan dan sebagai-nya?
Lalu yang ketiga, apakah kita telah membenci kekufuran, termasuk pelakunya dan segala
yang berkaitan dengan diri, kehidupan dan gayanya? Atau kah sebaliknya kita malah meniru
(tasyabbuh), taklid dan ikut-ikutan terhadap prilaku kaum kufar?

Sikap Mukmin Terhadap Dosa
Abdullah Ibnu Masud Radhiallaahu anhu berkata, Sesungguhnya seorang mukmin melihat
dosanya ibarat kalau dia sedang duduk di bawah gunung dan takut kalau gunung itu runtuh
menimpanya. Sedangkan seorang fajir (pelaku dosa) melihat dosanya ibarat (melihat) lalat
yang terbang di depan hidungnya seraya mengatakan begini. Para ulama manafsirkan, yaitu
dengan menggerakkan tangannya di depan hidung layaknya mengusir lalat.Sikap seseorang
terhadap dosa akan sangat berpengaruh terhadap sikap-sikapnya di dalam seluruh aspek
kehidupan.
Hal ini disebabkan karena tatkala seseorang menganggap kecil dan remeh sebuah dosa, maka
cenderung akan berbuat semaunya.Maka seorang mukmin kalau berbuat dosa akan merasa
sedih, takut dan gelisah karena kekuatan imannya mendorong demikian. Ia tidak melihat besar
kecilnya dosa, namun melihat kepada siapa berbuat dosa. Demikian hendaknya masing-maing
kita menyi-kapi dosa, karena hal itu akan mendorong ke arah sikap-sikap positif se-perti
introspeksi (muhasabah), mawas diri, hati-hati serta banyak beristighfar.Mudah-mudahan
Allah Subhannahu wa Taala memasukkan kita semua ke dalam golongan hamba-hamba-Nya
yang beriman, dengan iman yang sejati dan benar, serta menghapuskan dosa dan kesalahan
kita baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Amin.Sumber: Kutaib,Min alamatil
iman ash shadiq, Asma binti Abdur Rahman Al Bani, bittasharruf wazzi-yadh. (Ibnu
Djawari)


Tawadhu (Rendah Hati)

Seseorang belum dikatakan tawadhu kecuali jika telah melenyapkan kesombongan yang ada
dalam dirinya. Semakin kecil sifat kesombongan dalam diri seseorang, semakin sempurnalah
ketawadhuannya dan begitu juga sebaliknya...

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa
alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat-Ku,
mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada
petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan,
mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat
Kami dan mereka selalu lalai dari padanya (QS. Al-Araaf/7 : 146).

Tawadhu adalah salah satu akhlak mulia yang menggambarkan keagungan jiwa, kebersihan
hati dan ketinggian derajat pemiliknya. Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang bersikap
tawadhu karena mencari ridho Allah maka Allah akan meninggikan derajatnya. Ia
menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat.
Barang siapa yang menyombongkan diri maka Allah akan menghinakannya.Ia menganggap
dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina
daripada anjing dan babi (HR. Al Baihaqi)

Pengertian Tawadhu

Tawadhu adalah lawan kata dari takabbur (sombong). Ia berasal dari lafadz Adl-Dlaah yang
berarti kerelaan manusia terhadap kedudukan yang lebih rendah, atau rendah hati terhadap
orang yang beriman, atau mau menerima kebenaran, apapun bentuknya dan dari siapa pun
asalnya.

Seseorang belum dikatakan tawadhu kecuali jika telah melenyapkan kesombongan yang ada
dalam dirinya. Semakin kecil sifat kesombongan dalam diri seseorang, semakin sempurnalah
ketawadhuannya dan begitu juga sebaliknya. Ahmad Al Anthaki berkata : Tawadhu yang
paling bermanfaat adalah yang dapat mengikis kesombongan dari dirimu dan yang dapat
memadamkan api (menahan) amarahmu. Yang dimaksud amarah di situ adalah amarah
karena ke-pentingan pribadi yang merasa berhak mendapatkan lebih dari apa yang semestinya
diperoleh, sehingga membuatnya tertipu dan membanggakan diri (Kitab Ihya Ulumuddin, Al
Ghazali).

Sekarang ini kesombongan menjadi pakaian yang dikenakan banyak orang. Suka membang-
gakan diri, merasa tinggi melebihi orang di sekitarnya, merasa orang lain membutuh-kannya,
suka memamerkan apa yang dimilikinya, tidak mau menyapa lebih dahulu menjadi fenomena
yang mudah dilihat dimana-mana. Padahal kesombongan menghalangi seseorang untuk
masuk surga. Rasulullah saw bersabda : Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya
terdapat kesombongan, walaupun seberat biji sawi (HR. Muslim).

Mengukur ketawadhuan

Said Hawwa dalam bukunya Al Mustakhlash fi Tazkiyatun Nafs, menyebutkan ada beberapa
percobaan yang dapat dilakukan untuk mengukur apakah di dalam jiwa seseorang terdapat
kesombongan atau ketawadhuan.

1. Hendaknya ia berdiskusi dengan orang lain dalam suatu masalah. Apabila ia keberatan
mengakui kebenaran dari perkataan lawan diskusinya dan tidak berterima kasih atas bantuan
lawannya untuk mengetahui hal tersebut, maka di dalam hatinya masih terdapat
kesombongan. Sebaliknya, bila ia mengakui dan menerima kebenaran lawannya tersebut,
berterima kasih kepadanya dan lisannya mengakui kelemahan dirinya dengan tulus, misalnya
dengan mengatakan, Alangkah bagusnya perkataanmu terhadap sesuatu yang belum aku
ketahui. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas ilmu yang dibukakan oleh Allah
untukku melalui kamu!, maka jika hal itu dilakukan berulang-ulang, sehingga manjadi tabiat
dirinya berarti ia telah memiliki sifat tawadhu dan terbebas dari kesombongan.

Dalam suatu riwayat disebutkan tatkala Umar bin Khatab ra selesai menyampaikan pidato
untuk membatasi mahar wanita, seorang wanita berdiri seraya berkata, Wahai Umar, apa
urusanmu dengan mahar kami, padahal Allah saw berfirman, sedang kamu telah
memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak (QS. 4 : 20).
Menanggapi hal itu Umar berkata, Benarlah wanita itu dan salahlah Umar.

2. Hendaklah berkumpul bersama teman-teman sebaya dalam berbagai pertemuan, lalu
mendahulukan mereka atas dirinya, tidak menonjolkan diri di tengah-tengah mereka, dan
berjalan di belakang atau di tengah, bukan di depan. Bila hal itu terasa berat, berarti masih ada
kesombongan di dalam dirinya. Sebaliknya, jika hal itu terasa ringan baginya, berarti sifat
ketawadhuan telah ada dalam dirinya. Abu Darda ra berkata: Seseorang akan bertambah
jauh dari Allah selama (ia menyukai) orang yang berjalan di belakangnya.

3. Hendaklah memenuhi undangan orang miskin atau yang lebih rendah statusnya dari
dirinya. Apabila ia merasa berat melakukannya berati masih ada kesombongan dalam hatinya.
Dalam suatu riwayat dikisahkan, Rasulullah saw melihat ada orang kaya yang duduk di
sebelah orang miskin lantas ia menjauh dari si miskin dan melipat pakiannya, maka
Rasulullah berkata kepadanya, Apakah kamu takut kefakirannya menular padamu? (HR.
Ahmad).

4. Hendaklah membawa barang-barangnya atau barang yang dibutuhkan keluarganya sendiri,
tanpa dibawakan orang lain. Apabila ia merasa berat untuk melakukan hal tersebut, meski
tidak ada orang yang melihatnya maka itu adalah kesombongan dan apabila ia tidak merasa
berat kecuali bila dilihat oleh orang banyak, maka ia termasuk riya (ingin diperhatikan orang
lain). Keduanya merupakan penyakit jiwa dan lawan dari sifat tawadhu.

5. Hendaklah memakai pakaian yang sangat sederhana. Apabila ia merasa berat
melakukannya di hadapan orang banyak, maka ia riya dan bila ia tidak mau melakukannya
saat tidak dilihat orang banyak, maka itu adalah kesombongan. Zaid bin Wahab berkata,
Saya meilhat Umar bin Khatab ra menuju pasar dengan membawa susu dan mengenakan
pakaian yang padanya terdapat empat belas tambalan, sebagiannya tertambal dengan kulit
binatang.

Memperoleh ketawadhuan

Sifat tawadhu tidak dapat diperoleh secara spontan, tetapi harus diupayakan secara bertahap,
serius dan berkesinambungan. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh sifat
tawadhu adalah :

1. Mengenal Allah SWT

Dalam sebuah kata mutiara disebutkan, Setiap manusia akan bersikap tawadhu seukuran
dengan pengenalannya kepada Tuhannya. Orang yang mengenal Allah dengan sebenar-
benarnya pengenalan akan menyadari bahwa Allah Yang Maha Kuasa, Maha Kaya dan Maha
Perkasa yang tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya. Karenanya, bila mendapatkan
kebaikan maka ia memuji Allah SWT dan bersyukur kepadanya, sebab pada hakekatnya ia
tidak mampu mendatangkan kebaikan kepada dirinya kecuali atas izin-Nya. Orang yang
mengenal Allah akan mengakui dirinya kecil dan lemah, sehingga ia akan tawadhu dan
merasa tidak pantas untuk berlaku sombong.

2. Mengenal Diri

Dilihat dari asal usulnya, manusia berasal dari sperma yang hina yang selalu dibasuh jika
terkena pakaian atau badan. Kemudian manusia lahir ke dunia dalam keadaan tanpa daya dan
tidak mengetahui apapun. Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan
tidak mengetahui sesuatu apapun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati
agar kamu bersyukur (QS. 16 : 78).

Karenanya, manusia tidak berhak sombong. Ia harus bersikap tawadhu, sebab ia lemah dan
tidak mempunyai banyak pengetahuan. Bahkan ia tidak memiliki kemampuan sedikitpun
untuk menyelamatkan makanan yang telah direbut oleh seekor lalat.

3. Mengenal Aib Diri

Seseorang dapat terjebak kepada kesombongan bila ia tidak menyadari kekurang dan aib yang
ada pada dirinya. Boleh jadi seseorang mengira bahwa dirinya telah banyak melakukan
kebaikan padahal ia justru melakukan kerusakan dan kezaliman. Dan bila dikatakan kepada
mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab:
Sesungguhnya kami orangorang yang mengadakan perbaikan (QS. 2 : 11).

Oleh karena itu, setiap muslim harus selalu melakukan instropeksi diri sebelum melakukan,
saat melakukan dan setelah melakukan sesuatu sebelum ia dihisab oleh Allah SWT kelak. Hal
itu juga agar ia menyadari kekurangan dan aib dirinya sejak dini, sehingga ia akan bersikap
tawadhu dan tidak akan sombong kepada orang lain.

4. Merenungkan nikmat Allah

Pada hakikatnya, seluruh nikmat yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya adalah ujian
untuk mengetahui siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur. Namun banyak di antara
manusia yang tidak menyadari hal tersebut, sehingga membanggakan, bahkan
menyombongkan nikmat yang Allah berikan kepadanya. Sebagian ulama berkata;
Kekaguman pada diri sendiri (ujub) adalah pangkal kesombongan. Karena itu, agar dapat
menghilangkan sifat sombong dan memiliki akhlaq tawadhu, setiap muslim harus sering
merenungkan nikmat yang Allah berikan kepadanya.

Selain yang telah disebutkan di atas, ada banyak lagi cara untuk menumbuhkan akhlaq
tawadhu, antara lain dengan merenungkan manfaat tawadhu dan kerugian sombong,
mencontoh akhlaq orang-orang sholeh terdahulu yang tawadhu, banyak berteman dengan
orang-orang yang tawadhu, dan lain-lain.

Bangsa Indonesia yang saat ini mengalami berbagai krisis sesungguhnya terjadi karena
kesombongan pemimpin dan rakyatnya. Fenomena kesombongan, berupa pengagungan
kepada diri sendiri, harta, ilmu, keturunan, dan lain-lain terjadi dimana-mana. Orang yang
bersikap tawadhu sekarang menjadi langka dan malah dikucilkan. Padahal pertolongan dan
petunjuk Allah hanya diberikan kepada orang yang tawadhu, bukan kepada mereka yang
sombong. Aku akan memalingkan orang-orang yang menyom-bongkan dirinya di muka
bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap
ayat-Ku, mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa
kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan
kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka
mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya (QS. 7 : 146).

wallohu a'lam


Kiat Sholat Khusyu

Sesunguhnya Shalat merupakan salah satu kewajiban umat Islam yang amat besar
pahalanya. Karena itu melakukan shalat dengan penuh kekhusyuan juga merupakan
bagian yang sangat dianjurkan oleh syariat Islam. Namun ternyata, untuk dapat khusyu
dalam melakukan ibadah shalat tidaklah mudah.

Hal ini memang wajar, karena iblis sudah bertekad untuk menggoda dan menyesatkan
manusia. Seperti yang terungkap dalam Al Qur'an, iblis akan menggoda umat manusia
dari segala penjuru, baik depan, belakang, kiri atau kanan. Dengan demikian tipu daya
iblis yang paling hebat adalah berusaha memalingkan kekhusyuan orang yang sedang
shalat dan menaburkan perasaan was-was dalam hati orang yang sedang shalat.
Arti khusyu
Sikap tenang, tentram, perlahan, penghormatan dan ketundukan serta sikap yang
disertai perasaan takut kepada Allah dan perasaan selalu diawasiNya.
Ganjaran khusyu
Allah berfirman, " Sesungguhnya beruntunglah orang yang beriman, yaitu orang khusyu
dalam shalatnya, Mereka itulah yang akan mewarisi syurga Firdaus dan mereka kekal
didalamnya. " Dan juga dalam surat Al Ahzab; 35 " Allah memasukkan orang yang
khusyu, baik laki maupun perempuan ke dalam hambahambaNya yang terpilih dan
memberikan informasi bahwa mereka dijanjikan akan memperoleh ampunan dan pahala
yang besar Ada Beberapa Kiat Yang dapat Mendatangkan Kekhusyuan Dalam Shalat
1. Persiapan diri untuk Shalat
Bagaimana mempersiapkan diri untuk sholat? Antara lain yaitu, berdo'a setelah adzan,
berwudhu, membersihkan diri (gosok gigi), berhias dengan mengenakan baju yang
bagus dan bersih serta menutup aurat.
2. Mengingat mati dalam shalat
Siapa tahu sebelum kita sempat melaksanakan sholat berikutnya, malaikat maut sudah
datang menjemput kita. Maka laksanakanlah sholat seolah - olah sholat itu merupakan
sholat kita yang terakhir. Sabda Nabi : Ingatlah kematian dalam shalatmu,
sesungguhnya orang yang mengingat kematian dalam shalatnya, niscaya ia akan
berusaha untuk menyempurnakan shalatnya
3. Menghayati ayat dan Zikir yang dibaca
Dengan menghayati ayat - ayat suci-Nya, kita berkomunikasi Allah. Mengerti apa arti
dari bacaan shalat akan membuat kita lebih bisa menghayati dan menangis ketika
berinteraksi dengan Sang Pencipta.
4. Menyadari bahwa Allah pasti mengabulkan do'a dalam Shalatnya
Dalam bacaan shalat terkandung do'a. Contohnya dalam surat Al Fatihah :
Ihdinasshiratal Mustaqim. Shiratalladzina an'amta alaihim. Ghairil Maghdubi alaihi
waladdhallin Artinya : Ya Allah ...tunjukkan kepadakau jalan yang lurus, yaitu jalan
orangorang yang Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka bukan kepada jalan orang
yang kau murkai/ jalan yang sesat
5. Menghadap dan dekat dengan Tabir / Penghalang
Tujuannya ialah untuk membatasi pandangan orang yang sedang shalat agar lebih
mudah untuk konsentrasi, menghindarkan diri dari lalu lalangnya orang, dan menjaga
diri dari gangguan syetan. Sabda Nabi : Apabila salah seorang diantaramu shalat
menghadap tabir niscaya syetan tidak dapat memutus shalatnya.
6. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada.
Posisi ini menunjukkan sikap seseorang yang meminta dengan penuh rendah hati dan
ketundukan
7. Memandang ke tempat sujud
Rasulullah mencontohkan dalam shalatnya beliau senantiasa memandang ke tempat
sujud saat melakukan shalat
8. Membaca beragam surat, ayat, zikir dan do'a dalam shalat
Bacaan yang bervariasi pada tiap-tiap shalat, akan menimbulkan perasaan yang baru
dalam menerima kandungan ayat, zikir dan do'a yang sedang dibaca.
9. Melakukan sujud Tilawah bila membaca ayat sajadah
Gunanya agar dapat menambah kekhusyuan dan mengusir syetan. Sabda Nabi: Bila
anak Adam membaca ayat sajadah kemudian melakukan sujud tilawah, syetan akan lari
terbirit-birit sambil menangis dan berkata, aduh, celaka diriku, anak Adam diperintahkan
sujud dan dia sujud maka baginya syurga, sedang aku diperintahkan sujud tapi akau
enggan, maka bagiku neraka
10. Berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk
Sabda Nabi: Sesungguhnya jika seseorang akan shalat, maka datanglah syetan untuk
mengacaukan shalatnya dan membuatnya ragu sudah berapa rakaat yang dikerjakan
11. Mengetahui keistimewaan khusyu dalam shalat
Salah satunya adalah dihapuskan dosanya selama 1 tahun selama dia tidak melakukan
dosa besar
12. Bersungguh-sungguh dalam Berdo'a di tempat tertentu terutama dalam
sujud
Sabda Nabi: "Seseorang yang paling dekat kepada Allah ialah ketika dia dalam keadaan
sujud. Maka perbanyaklah berdo'a dan bersungguh-sungguhlah dalam berdo'a niscaya
permohonanmu akan dikabulkan"
13. Memperbanyak zikir sehabis Shalat
Misalnya istighfar tiga kali untuk meminta ampun atas kekurangan yang dilakukan
selama sholat.
Menghilangkan Kendala Yang Dapat Mengganggu Kekhusyuan Shalat
Berikut ini adalah berbagai cara yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kendala yang
dapat mengganggu kekhusyuan shalat :
1. Menghilangkan sesuatu yang dapat mengganggu orang shalat Ketika Aisyah akan
memasang tirai bergambar, Rasul melarang karena gambarnya dapat
mengganggu dalam mengerjakan shalat.
2. Tidak shalat dengan memakai pakaian yang ada hiasan, tulisan, gambar, warna
warni yang mengganggu orang lain
3. Jangan shalat sementara hidangan telah tersedia Kita tidak akan shalat dengan
khusyu karena hati kita akan teringat pada makanan itu.
4. Jangan mengerjakan shalat sambil menahan kencing atau buang air besar Sabda
Nabi : Tidak boleh shalat sedangkan makanan telah tersedia di hadapannya dan
tidak boleh juga shalat padahal ia menahan kencing atau buang air besar
5. Jangan shalat dalam keadaan ngantuk Sabda Nabi: Bila salah seorang diantara
kalian mengantuk, tidurlah sampai hilang kantuknya baru shalat
6. Tidak shalat dibelakang orang yang sedang bicara atau tidur Hal ini jelas dapat
mengganggu konsentrasi, apalagi jika obrolan dilakukan dengan suara keras.
7. Tidak menyibukkan diri dengan meratakan kotoran (pasir, tanah, batu) pada
tempat sujud Hendaklah hal ini dilakukan sebelum sholat, bukan pada waktu
sholat.
Semoga bermanfaat, amin.....

Mau Menjadi Wali (Kekasih) Allah?
Ketika seorang hamba berhasil meraih status kekasih Allah atau dicintai oleh Allah maka
seperti dituturkan oleh Rasulullah SAW- Allah yang akan menjadi telinganya yang
digunakannya untuk mendengar, Allah akan menjadi matanya yang digunakannya untuk
melihat, Allah akan menjadi tangannya yang digunakannya untuk memukul, Allah akan
menjadi kakinya yang digunakannya untuk berjalan. Pernyataan ini bisa jadi menimbulkan
berbagai tafsir. Namun lepas dari segala tafsirnya pernyataan ini lagi-lagi menunjukkan
adanya perlindungan total dari Allah untuk hamba yang dikasihiNya.

. ( )
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah SWT jika mencintai seorang hamba, maka
Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata: Wahai Jibril, aku mencintai orang ini maka
cintailah dia! Maka Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril mengumumkan kepada penghuni
langit, Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintailah dia.
maka seluruh penduduk langit pun mencintainya. Selanjutnya orang itu dapat diterima oleh
segenap makhluk Allah di muka bumi. (HR. Bukhari)
Ketika Allah SWT mencintai hambanya, maka itu artinya Allah menginginkannya menjadi
orang baik, baik di dunia dan baik di akhirat.
Ketika Jibril AS dan juga penghuni langit diminta oleh Allah untuk mencintai orang itu maka
itu artinya para malaikat selalu memohonkan ampun untuknya.
Dan ketika penduduk bumi menerimanya maka itu artinya mereka mempercayai orang itu
sebagai orang baik-baik dan mereka berusaha melindunginya dari hal-hal yang tidak
diinginkan.
Abu Hurairah RA meriwayatkan sebuah hadis qudsi: (Hadis Qudsi adalah sabda Rasulullah
yang oleh beliau dikatakan sebagai firman Allah dan bukan bagian dari Al Quran)

( : 5 : 4832 )
Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman, Siapa yang memusuhi kekasihku atau
waliku maka Aku menyatakan perang terhadapnya.
Tidak seorang hamba pun mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling aku
cintai, melainkan dengan apa yang telah aku wajibkan kepadanya. Hambaku tidak akan
berhenti mendekatiKu dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga aku mencintainya. Ketika
Aku telah mencintainya, maka aku yang akan menjadi telinganya yang digunakannya untuk
mendengar, Aku akan menjadi matanya yang digunakannya untuk melihat, Aku akan menjadi
tangannya yang digunakannya untuk memukul, Aku akan menjadi kakinya yang
digunakannya untuk berjalan.
Jika dia meminta kepadaKu, sunnguh aku akan mengabulkannya dan jika meminta
perlindunganKu maka sungguh Aku akan melindunginya. (HR Al Bukhari, j.5, h. 2384)
Beberapa hal bisa kita simpulkan dari hadis qudsi shahih di atas
1. Di antara manusia hamba-hamba Allah ada orang-orang yang dikasihiNya secara
khusus. Hamba Allah ini disebut sebagai wali. Ketika seorang hamba sampai pada
status ini maka Allah mencintainya sehingga mereka yang memusuhinya dinyatakan
sebagai musuh Allah. Ini menunjukkan bahwa ketika seseorang telah menjadi kekasih
Allah maka Allah memberikan perlindungan total terhadap orang itu.
2. Hadis ini juga memberikan resep bagaimana seseorang menjadi kekasih Allah. Yang
pertama kali harus dilakukannya adalah memenuhi segala apa yang diwajibkan oleh
Allah. Kewajiban di sini artinya kewajiban secara umum, tidak hanya terbatas pada
sisi ibadah yang artinya hubungan pribadi dengan Tuhannya. Namun juga meliputi
kewajiban dari sisi muamalah yang artinya hubungan antar sesama makhluk.
3. Masih kaitannya untuk menjadi kekasih Allah. Setelah seluruh kewajiban
dipenuhinya, lalu ia melakukan hal-hal sunnah, baik kaitannya dengan ibadah maupun
muamalah.
4. Dan ini yang menarik. Ketika seorang berhasil meraih status sebagai kekasih Allah
atau dicintai oleh Allah maka seperti dituturkan oleh Rasulullah SAW- Allah akan
menjadi telinganya yang digunakannya untuk mendengar, Allah akan menjadi
matanya yang digunakannya untuk melihat, Allah akan menjadi tangannya yang
digunakannya untuk memukul, Allah akan menjadi kakinya yang digunakannya untuk
berjalan. Pernyataan ini bisa jadi menimbulkan berbagai tafsir. Namun lepas dari
segala tafsirnya pernyataan ini lagi-lagi menunjukkan adanya perlindungan total dari
Allah untuk hamba yang dikasihiNya.
5. Allah memastikan doanya terkabul dan akan memberikan perlindunganNya. Janji ini
Allah kukuhkan dengan penambahan nuun tawkiid yang dalam bahasa Arab berfungsi
sebagai penegas. Poin ini secara khusus menjelaskan bahwa keterkabulan suatu doa
berkaitan erat dengan sejauh mana si pelaku doa memenuhi kewajiban Allah dan
sejauh mana dia menambahkannya dengan perbuatan-perbuatan sunnah.
Secara garis besar hadis di atas ingin menerangkan kepada kita untuk menjadi yang
dicintaiNya kita harus patuh kepadaNya. Kepatuhan itu wujudkan dalam bentuk amal atau
praktek memenuhi kewajiban dan menambahkannya praktek-praktek plus atau praktek-
praktek sunnah.
Sekali lagi, yang dimaksud kewajiban di sini bukan hanya sekedar kewajiban dalam
pengertian hubungan vertikal kita dengan Allah tetapi juga kewajiban pada level horizontal,
hubungan kita kepada sesama. Yang terakhir ini sebagian orang menyebutnya dengan istilah
kepekaan sosial atau kesalehan sosial.
Sebagai bahan renungan, perhatikan sabda beliau SAW berikut:

(
)
Terdapat tujuh tipe manusia yang berada dalam lindungan Allah pada hari dimana tidak ada
perlindungan selain perlindungan-Nya: 1. Pemimpin yang adil, 2. Pemuda yang rajin
beribadah, 3. Orang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, 4. Dua orang yang saling
mencintai, bertemu dan berpisah hanya karena Allah, 5. Laki-laki yang diajak (berzina) oleh
wanita terhormat dan cantik, lalu ia menjawab Aku takut kepada Allah, 6. Orang yang
menyembunyikan sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak melihat apa yang diberikan oleh
tangan kanannya, 7. Orang yang mengingat Allah dalam kesendiriannya sehingga menitikkan
airmata. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).



Khasiat Ayat Kursi
menjelang Tidur

User Rating: / 4
Poor Best
Rate
vote com_content 90
http://www.dzikir.org/index.php?option=com_content&view=article&id=90:khasiat-ayat-kursi-menjelang-tidur&catid=42:mutiara-hikmah&Itemid=60

Abu Hurairah r.a. pernah ditugaskan oleh Rasulullah S.A.W untuk menjaga gudang zakat di
bulan Ramadhan. Tiba-tiba muncullah seseorang, lalu mencuri segenggam makanan. Namun
kepintaran Hurairah memang patut dipuji, kemudian pencuri itu kemudian berhasil
ditangkapnya.

"Akan aku adukan kamu kepada Rasulullah S.A.W," gertak Abu Hurairah.

Bukan main takutnya pencuri itu mendengar ancaman Abu Hurairah, hingga kemudian ia pun
merengek-rengek : "Saya ini orang miskin, keluarga tanggungan saya banyak, sementara
saya sangat memerlukan makanan."

Maka pencuri itu pun dilepaskan. Bukankah zakat itu pada akhirnya akan diberikan kepada
fakir miskin ? Hanya saja, cara memang keliru. Mestinya jangan keliru.

Keesokan harinya, Abu Hurairah melaporkan kepada Rasulullah S.A.W. Maka bertanyalah
beliau : "Apa yang dilakukan kepada tawananmu semalam, ya Abu Hurairah?"

Ia mengeluh, "Ya Rasulullah, bahwa ia orang miskin, keluarganya banyak dan sangat
memerlukan makanan," jawab Abu Hurairah. Lalu diterangkan pula olehnya, bahwa ia
kasihan kepada pencuri itu,, lalu dilepaskannya.

"Bohong dia," kata Nabi : "Padahal nanti malam ia akan datang lagi."

Kerana Rasulullah S.A.W berkata begitu, maka penjagaannya diperketat, dan kewaspadaan
pun ditingkatkan.Dan, benar juga, pencuri itu kembali lagi, lalu mengambil makanan seperti
kemarin. Dan kali ini ia pun tertangkap.

"Akan aku adukan kamu kepada Rasulullah S.A.W," ancam Abu Hurairah, sama seperti
kemarin. Dan pencuri itu pun sekali lagi meminta ampun : "Saya orang miskin, keluarga saya
banyak. Saya berjanji besok tidak akan kembali lagi."

Kasihan juga rupanya Abu Hurairah mendengar keluhan orang itu, dan kali ini pun ia kembali
dilepaskan. Pada paginya, kejadian itu dilaporkan kepada Rasulullah S.A.W, dan beliau pun
bertanya seperti kelmarin. Dan setelah mendapat jawapan yang sama, sekali lagi Rasulullah
menegaskan : "Pencuri itu bohong, dan nanti malam ia akan kembali lagi."

Malam itu Abu Hurairah berjaga-jaga dengan kewaspadaan dan kepintaran penuh. Mata,
telinga dan perasaannya dipasang baik-baik. Diperhatikannya dengan teliti setiap gerak-geri
disekelilingnya sudah dua kali ia dibohongi oleh pencuri. Jika pencuri itu benar-benar datang
seperti diperkatakan oleh Rasulullah dan ia berhasil menangkapnya, ia telah bertekad tidak
akan melepaskannya sekali lagi. Hatinya sudah tidak sabar lagi menunggu-nunggu datangnya
pencuri jahanam itu. Ia kesal. Kenapa pencuri kemarin itu dilepaskan begitu saja sebelum
diseret ke hadapan Rasulullah S.A.W ? Kenapa mahu saja ia ditipu olehnya ? "Awas!"
katanya dalam hati. "Kali ini tidak akan kuberikan ampun."

Malam semakin larut, jalanan sudah sepi, ketika tiba-tiba muncul sesosok bayangan yang
datang menghampiri longgokan makanan yang dia jaga. "Nah, benar juga, ia datang lagi,"
katanya dalam hati. Dan tidak lama kemudian pencuri itu telah bertekuk lutut di hadapannya
dengan wajah ketakutan. Diperhatikannya benar-benar wajah pencuri itu. Ada semacam
kepura-puraan pada gerak-gerinya.

"Kali ini kau pastinya kuadukan kepada Rasulullah. Sudah dua kali kau berjanji tidak akan
datang lagi ke mari, tapi ternyata kau kembali juga. Lepaskan saya," pencuri itu memohon.
Tapi, dari tangan Abu Hurairah yang menggenggam erat-erat dapat difahami, bahwa kali ini
ia tidak akan dilepaskan lagi. Maka dengan rasa putus asa ahirnya pencuri itu berkata :
"Lepaskan saya, akan saya ajari tuan beberapa kalimat yang sangat berguna."

"Kalimat-kalimat apakah itu?" Tanya Abu Hurairah dengan rasa ingin tahu. "Bila tuan
hendak tidur, bacalah ayat Kursi : Allaahu laa Ilaaha illaa Huwal-Hayyul Qayyuuumu..
Dan seterusnya sampai akhir ayat. Maka tuan akan selalu dipelihara oleh Allah, dan tidak
akan ada syaitan yang berani mendekati tuan sampai pagi."

Maka pencuri itu pun dilepaskan oleh Abu Hurairah. Agaknya naluri keilmuannya lebih
menguasai jiwanya sebagai penjaga gudang.

Dan keesokan harinya, ia kembali menghadap Rasulullah S.A.W untuk melaporkan
pengalamannya yang luar biasa tadi malam. Ada seorang pencuri yang mengajarinya
kegunaan ayat Kursi.

"Apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?" tanya Rasul sebelum Abu Hurairah sempat
menceritakan segalanya.
"Ia mengajariku beberapa kalimat yang katanya sangat berguna, lalu ia saya lepaskan,"
jawab Abu Hurairah.
"Kalimat apakah itu?" tanya Nabi.

Katanya : "Kalau kamu tidur, bacalah ayat Kursi : Allaahu laa Ilaaha illaa Huwal-Hayyul
Qayyuuumu.. Dan seterusnya sampai akhir ayat. Dan ia katakan pula : "Jika engkau
membaca itu, maka engkau akan selalu dijaga oleh Allah, dan tidak akan didekati syaitan
hingga pagi hari."

Menanggapi cerita Abu Hurairah, Nabi S.A.W berkata, "Pencuri itu telah berkata benar,
sekalipun sebenarnya ia tetap pendusta." Kemudian Nabi S.A.W bertanya pula : "Tahukah
kamu, siapa sebenarnya pencuri yang bertemu denganmu tiap malam itu?"

"Entahlah." Jawab Abu Hurairah.
"Itulah syaitan."



Al-Qur'an Sebagai Penolong
di Akhirat

User Rating: / 1
Poor Best
Rate
vote com_content 95
http://www.dzikir.org/index.php?option=com_content&view=article&id=95:al-quran-sebagai-penolong-di-akhirat&catid=42:mutiara-hikmah&Itemid=60

Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua
mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-
Qur'an."

Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan
datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya." Ia akan
datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?" Maka
orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"

Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah
bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."

Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?"
Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah
S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian
dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.

Pada kedua ayah dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar
dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami
memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"

Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."


Pembersihan Hati
29-09-2010 / 13:04:16
Menumbuhkan sifat-sifat Mukmin dan melenyapkan penyakit hati..



Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya MEREKA bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat
bencana, MEREKA bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya
mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui
segala apa yang mereka kerjakan. (QS. Ali Imran : 120)

Apakah kita termasuk seperti MEREKA?

Seketika dada ini berdegub kencang saat mengetahui salah seorang saudara kita memperoleh
kesuksesan, dan kita merasa bahwa ia telah mengungguli kita. Kemudian kekhawatiran membuncah
dari dalam hati bahwa saudara yang telah mendapatkan kesuksesannya itu akan bersikap sombong
kepada kita sementara kita sendiri hanya bersungut-sungut tidak bisa mengunggulinya.

Jiwa ini tidak kuasa menanggung kesombongan dan kebanggaan saudara kita itu, sebab kita hanya
bisa menerima kesejajaran dengan orang lain namun tidak bisa menerima jika orang lain
mengungguli kita. Bahkan mungkin, kita bersumpah agar orang itu kehilangan nikmatnya hingga
tetap sama dengan kita yang tidak mendapat nikmat. duh Saudaraku, tamak sekali kita ...

Saudaraku, jika demikian, sungguh kita tak bedanya dengan saudara-saudara nabi Yusuf kecuali
Bunyamin yang merasa ayah mereka tidak lebih mencintai mereka. Sehingga mereka harus
menyingkirkan Yusuf agar kemudian cinta dan perhatian ayah mereka tertumpah kepada mereka
saja.



Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-
kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. Al
Israa : 37)
Kita sering merasa lebih cantik, lebih tampan, lebih memiliki segalanya, sehingga yang tergambar
dalam hati dari kebanggaan akan diri itu adalah bahwa harus selalu kita yang lebih dulu
mendapatkan segala kenikmatan. Sakit dada ini, rasa benci mencuat terhadap orang lain yang
mendahului.

Misalnya, ada saudara yang mendapatkan nikmat dari Allah berupa suami yang sholeh, tampan
dengan segala kelebihan lainnya, kita merasa bahwa seharusnya kita lah yang lebih berhak
mendapatkannya, bukan dia. Atau setidaknya kita berharap agar kita juga mendapatkan yang serupa
agar saudara kita itu tidak mengungguli kita. Namun ketika Allah belum juga memberikan karena
hendak menguji kesabaran hambanya, kita marah dan kesal. duh Saudaraku, tamaknya kita ...




Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih
banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang
mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan
mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu (QS.An Nissa:32)
Masihkan kita terus merasa gundah dan tersiksa jika saudara kita mendapatkan kenikmatan-Nya?

Di pertiga malam, mata ini begitu sembab dengan linangan air mata harap akan ampunan Allah.
Dalam setiap do'a, tercukil keinginan agar Allah melimpahkan rezeki dan nikmat-Nya kepada kita.

Namun, ketika Allah menguji kesabaran kita dengan menunda rezeki itu, kita marah, putus asa,
bahkan berpikir bahwa Allah tidak mendengar do'a dan permintaan kita. duh Saudaraku..bukankah
Allah Maha menepati janji.



Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku
adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku,
maka HENDAKLAH mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS.Al Baqarah:186)
Saudaraku..kita rajin berdoa, rajin optimis, rajin ikhtiar tapi jangan lupa yang di persyaratkan Allah
SWT. Saudaraku..kita rajin berdoa, rajin optimis, rajin ikhtiar tapi siapkan juga jika terkabulnya Doa
terpending atau tidak diterima.

Kita tahu bahwa hidup tidak mungkin tanpa cobaan, kita begitu mengerti bahwa sebagai orang
beriman tentu harus diuji keberimanan ini. Bahkan kita juga memahami bahwa Allah tidak akan
memberikan beban, ujian, amanah di luar batas kemampuan makhluk-Nya.

Namun betapa sering kita mengeluh, menangis, merasa keberatan dengan semua ujian hidup ini. Kita
juga merasa putus asa karena Allah belum juga mengakhiri cobaan dan penderitaan hidup ini. Lalu
kita merasa bahwa hanya kita yang mendapatkan ujian begitu berat. duh Saudaraku, ...



Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang
yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS.Al Isra : 142)
Tahukah saudaraku, bahwa dengan begitu berarti kita telah membenci ketentuan (qadha') Allah,
tidak suka kepada nikmat-Nya yang telah dibagikan di antara para hamba-Nya, dan tidak mau
menerima keadilan-Nya yang ditegakkan-Nya dalam kerajaan-Nya dengan kebijaksanaan-Nya yang
tersembunyi bagi kita, kemudian kita mengingkari dan menganggap buruk hal tersebut.



Dan ingatlah ketika Tuhan mu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan
menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (tidak mau bersyukur), maka
sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim :7)

Setiap orang yang beriman digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang memiliki pesona,
beliau bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya
adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang
mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal
tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia
mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)

Indahnya menjadi manusia Beriman....



Ciri-ciri utama orang-orang beriman

1.Shalatnya khusyu.
Kalau orang tidak pernah shalat, walaupun dia mengaku diri mukmin, itu bukan. Karena
berlawanan dengan al Quran. Karena menurut al Quran ciri orang beriman itu adalah
orang yang mengerjakan shalat, bahkan lebih dari itu shalatnya shalat khusyu. Kalau
dalam surat keterangan itu surat palsu, apakah surat keterangan itu diterima ? Tentu tidak.
Jadi shalat yang berkualitas itu adalah tolak ukurnya. Kalau orang yang tidak pernah
shalat tiba-tiba mengaku sebagai orang-orang yang beriman, rasanya itu sangat
berlawanan dengan al Quran surat al Mukminun ayat 1.

Shalat itu bisa diketahui orang. Kalau di kantor punya teman kelihatannya tidak pernah
mengambil air wudhu, tidak pernah shalat, tentu sulit kalau kita berteman-terus-terusan
kalau Cuma ngaku saja mukmin tapi tidak mengimplementasikannya dengan cara
melaksanakan shalat, itu namanya bukan mukmin. Itu diterangkan dalam al Quran surat
al Mukminun ayat 2. Seperti halnya surat palsu, itu tidak sekedar hanya tidak diterima,
kadang dituntut adanya pemalsuan surat tersebut. Serapih-rapihnya mengaku Mukmin
sementara tidak pernah shalat, itu pasti akan diketahui juga, karena shalat itu tiap waktu.

2.Berusaha menghindari diri dari ucapan-ucapan yang tidak memilki arti.
Pernyataan-pernyataan itu penting, karena dimasyarakat itu banyak adu domba-adu
domba lantaran ada orang yang tidak bertanggung jawab, bikin isyu sana, bikin isyu sini,
itu sama sekali bukan ciri orang yang beriman. Orang yang beriman itu orang yang selalu
berusaha menciptakan suasana yang tidak berbau fitnah, hal-hal yang berbau merugikan
orang. Kenapa ditempatkannya sesudah shalat tadi ? ketika kita membaca sesuatu di
dalam shalat, jangankan satu kata, satu huruf pun tidak ada yang menyuruh kita berbuat
yang merugikan orang lain, mulai dari takbiratul ihram sampai mengucapkan salam,
shalat apa saja jangankan shalat wajib shalat sunah sekalipun, apakah ada isi yang kita
ucapkan di dalam waktu shalat itu yang mengajak ke arah perbuatan yang menimbulkan
keburukan terhadap orang lain, terhadap diri sendiri, terhadap keluarga, terhadap agama,
terhadap kemanusiaan ? Itu sama sekali tidak ada, semuanya baik. Jadi, ketika kita
takbiratul ihram, berarti kita mengatakan saran Allah. Kerena orang Mukmin itu tidak
mungkin takabur membesarkan dirinya, karena berlawanan dengan Allahu Akbar .
Jadi orang yang beriman itu terpelihara, mulutnya tidak judes . Makanya
Alhamdulillah beberapa kali diprovokasi agar terpancing melakukan aksi brutal ketika
digambar karikatur nabi Muhammad, sekalipun tetap harus ada reaksi, tapi tetap jangan
terpancing oleh situasi. Karena nabi Muhammad makin di hina itu semakin tinggi.
Bagaimana dengan umat Islam, apakah pernah menghujat nabi-nabi lain ? Tidak, karena
semua adalah nabi Allah. jangankan seorang nabi, para pembesar lainpun orang Islam
tidak pernah menghujat-hujat. Jadi, dituntun oleh ikrar shalatnya itu, ucapkanlah yang
baik-baik, sampaikan yang indah-indah, itulah makna dari shalat yang mengandung
bacaan yang mulia.

3.Mampu membayar zakat.
Seorang Mukmin minimal dalam hidupnya punya tekad. Kalau boleh dikatakan, kita
mestinya merasa bangga menjadi warga negara Indonesia punya NPWP ( nomor pokok
wajib pajak ), tapi masa sebagai orang yang beriman tidak punya NPWZ ( nomor pokok
wajib zakat ). Dimana kebanggaannya sebagai seorang Mukmin ?. Nah, andai kata harus
di NPWZ kan, tentu itu lebih baik. Tapi minimal ada semangat untuk mengeluarkan.
Sama halnya ketika kita sekolah, Apakah merasa bangga ketika kita belum lulus ? Belum,
karena belum ada ijazah sebagai bukti kelulusan tersebut.

Jadi, orang mukmin yang meraih kebahagiaan, keberuntungan dan kemenangan, itu
adalah orang mukmin yang mampu membayar zakat. Kalau belum, maka kita wajib
berusaha, tapi berusaha belum berhasil juga, kita tidak diperbolehkan berkecil hati
apalagi minder, karena al Quran itu adil dan bijaksana, bagi yang tidak mampu membayar
zakat, maka kita menduduki posisi sebagai mustahiq. Asal menjadi mustahiq yang benar.
Tapi sekali-kali harus ada niat bergeser jangan ingin menjadi mustahiq terus, harus
berusaha menjadi muzaqqi, Insya Allah kalau ada kemauan, pasti akan tercapai untuk
memenuhi bahwa menjadi orang mukmin berkualitas itu yang membayar zakat.

4.Mampu memelihara alat vitalnya.
Ini penting, Kenapa al Quran membicarakan sampai pada hal-hal seperti itu ? Sekarang
ini pada dasarnya tidak ada satu negara pun yang merasa tidak kawatir dengan namanya
penyakit-penyakit kelamin. Makin hari makin bertambah terus jumlahnya penderita
penyakit itu,baik HIV, AIDS. Jadi wajar al Quran ini sudah mensinyalir lebih dari 14
abad yang lalu dan sudah mengingatkan, orang mukmin itu hartanya aman, jiwanya
aman, bahkan alat vitalnya pun harus aman. Cara mengamankan yang utama dan pertama
itu adalah jangan dipergunakan untuk berhubungan dengan selain isteri atau selain suami.
Karena ternyata penyebab tertinggi timbulnya penyakit kelamin itu 80 % adalah prilaku
seksual yang menyimpang. Itu adalkah luar biasanya al Quran. Bayangkan orang-orang
mukmin yang pasti meraih kebahagiaan itu adalah orang mukmin yang memelihara alat
kelaminnya, jangan diberikan kepada sembarang orang, tapi harus ke suami atau ke
istrerinya sendiri..

Ternyata semua ahli kesehatan yang normal fikirannya, memberikan saran agar jangan
melakukan gonta-ganti pasangan. Yang dimaksud adalah jangan berhubungan kelamin
dengan selain suami atau isteri sendiri.

Siapa saja orangnya yang menyalahi pedoman yang sudah diberikan Allah itu, itu betul-
betul melampaui batas .

Oleh karena manusia punya akal fikiran, punya perasaan, punya pengetahuan. Semua
orang memastikan diri hidupnya ingin baik, ingin meraih kebahagiaan. Tapi, mana
mungkin dapat meraih kebahagiaan dengan tidak dapat menengadah kepada Allah swt,
Sekurang-kurang nya dia merasakan kebahagiaan fisik, seperti merasakan makanan yang
enak, dia merasa nikmat. Tapi itu semuanya semu. Karena ketika makanan yang dia
makan atau minuman yang dia minum, apa-apa yang dia konsumsi ternyata berakibat
buruk untuk dirinya bahkan keluarganya. Disitulah hilangnya kebahagiaan semu yang
hanya sesaat itu. Jadi, itulah kenapa dikatakan, siapa yang melakukan penyimpangan dari
tanda-tanda orang mukmin itu betul- betul melampaui batas ( keterlaluan ).

5.Amanah ( jujur ) kalau diberi janji atau berjanji.
Amanah dimana-mana ada, di dalam tubuh kita sekalipun menurut amanatnya harus
pergunakan dengan hal-hal yang baik-baik. Ketika mengambil barang orang lain, itu
pertanda tangan kita tidak amanah. Bisa juga dalam bentuk harta, kalau itu bukan hak
kita, jangan diambil. Kenapa ? Kita hanya diperbolehkan mengambil hak yang punya
kita. Bayangkan, begitu pentingnya masalah amanat dan kepercayaan. Sebab kalau
kepercayaan sudah tidak proforsional dan tidak terpelihara semuanya akan menjadi
ambruk baik itu pribadi, keluarga bahkan negara sekalipun kalau amanatnya tidak terjaga.

6.shalatnya disamping khusyu juga dilaksnaakan secara kontinyu.
Orang-orang yang shalatnya senantiasa terpelihara. Untuk mengukurnya, apabila kita
diperjalanan sementara waktu shalat sudah masuk, bahkan mendekati habis waktunya,
terus kita merasa gelisah karena belum melaksanakan shalat di waktu itu. Maka kita harus
merasa syukur karena kita tergolong orang-orang yang menjaga dan memelihara
shalatnya. Tapi, sebaliknya jika kita merasa happy saja ketika waktu shalat sudah datang
bahkan sudah mendekati waktu habis tanpa berusaha untuk segera menunaikan shalat, itu
satu pertanda shalat kita tidak terjaga. Itu yang jadi tolak ukurnya, tidak sulit untuk
mencari alat ukur, karena kata al Quran seperti itulah untuk mengukur keimanan
seseorang. Kalau kita ada orang yang tidak shalat, tapi kelihatannya tenang, itu pertanda
mati rohaninya. Karena kalau orang normal itu dia pasti ada reaksi dan hubungan secara
otomatik antara jiwa ( rohani ) dengan tuntunan Allah ( menyatu ).

Jadi, orang mukmin yang berbahagia tadi adalah yang syaratnya sudah terpenuhi. Islam
juga mengenal syarat usia, buktinya dalam shalat itu harus sudah mukallaf, selama belum
mukallaf dia tidak diwajibkan shalat. Anak-anak kecil sepintar apapun, itu dinyatakan
belum diwajibkan shalat, tidak berdosa, belum punya beban. Tapi jika disuruh shalat itu
jauh lebih bagus karena mengandung pelatihan, tapi tetap status shalatnya itu bukan
kapasitas kewajiban karena dia belum mukallaf. Sebenarnya di dalam agamapun ada
tolak ukur. Hanya bedanya, kalau di dunia itu disebutnya usia kerja, kalau di dalam
masalah agama disebut usia beragama dalam arti melaksanakan tugas-tugas keagamaan.
Orang-0rang yang memiliki lima syarat tadi yang layak disebut sebagai orang yang
beriman dan layak mendapat kebahagiaan. Coba kita perhatikan, sepanik-paniknya orang
yang sering shalat itu tetap masih punya perasaan lebih tenang dibanding dengan orang
yang tidak pernah beribadah. Orang-orang yang seperti inilah yang layak mewarisi.
Mewarisi apa? Yakni mewarisi jannatun firdaus. Di muka bumi saja tentu sudah kelihatan
jelas perbedaan orang yang cukup dengan orang yang tidak terpenuhi kebutuhan
hidupnya, secara ekonomi tentu lebih bahagia orang yang berkecukupan di banding
dengan orang yang masih dalam kekurangan. Orang-orang yang khusyu dalam shalatnya
dilaksanakan secara terus menerus pasti akan bahagia dan beruntung. Kalau di muka
bumi, mungkin untuk menjadi guru saja masih bisa di suap. Sementara Allah tidak, sekali
merah, pasti merah karena Allah tidak butuh dengan kita.