Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT.

PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada umumnya motor induksi digunakan sebagai motor penggerak beban pada
berbagai industri. Hal ini disebabkan karena motor induksi memiliki kontruksi
yang aman untuk digunakan dalam keperluan perindustrian. Seperti halnya
perindusrian, PT. PERTAMINA (Persero) juga menggunakan motor induksi
sebagai pemompa minyak.
1.2 Tujuan Kerja Praktek
Ada pun tujuan dari kerja praktek ini adalah :
1. Meningkatkan pengetahuan dan wawasan di bidang elektro khususnya
aplikasi motor induksi di bidang industri
2. Mengetahui cara kerja induksi rotor sangkar sebagai pemompa BBM
3. Menambah pengetahuan dan wawasan tentang dunia kerja yang
berhubungan dengan bidang elektro
1.3 Batasan Masalah
Permasalahan yang dibahas dalam laporan kerja praktek ini dibatasi pada prinsip
dan penggunaan motor induksi dengan rotor sangkar sebagai alat pemompa BBM
di PT. PERTAMINA (Persero) Terminal BBM TELUK KABUNG
1.4 Metoda Penulisan
Metodologi yang dilakukan dalam kerja praktek dan penulisan laporan kerja
praktek ini adalah :
a. Studi Literatur
Yaitu dengan melakukan studi dari buku-buku ataupun instruksi manual
yang berkaitan dengan topik yang dibahas
b. Tinjauan Lapangan


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 2

Melakukan pengamatan langsung terhadap objek yang diamati serta
peralatan-peralatan lain
c. Diskusi dengan Pembimbing Lapangan, karyawan, serta petugas di
lapangan
d. Pembahasan
e. Menyimpulkan Hasil Pembahasan
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan kerja praktek ini adalah :
BAB I : Pendahuluan yang berisikan latar belakang, tujuan, batasan
masalah, metoda kerja praktek, dan sistematika penulisan
BAB II : Tinjauan Umum PT. PERTAMINA (Persero) Terminal BBM Teluk
Kabung Padang yang berisikan profil perusahaan
BAB III : Tinjauan Pustaka yang berisikan sistem kelistrikan PT.
PERTAMINA (Persero) Terminal BBM Teluk Kabung
BAB IV : Tinjauan Pustaka yang berisikan tentang motor induksi dengan rotor
sangkar
BAB V : Penutup yang berisikan kesimpulan dan saran














LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 3

BAB II
Profil PT. PERTAMINA (Persero) Terminal BBM Teluk Kabung

2.1 Sejarah Pertamina
Pada tahun 1945, Jepang, dengan disaksikan pihak sekutu, menyerahkan tambang
minyak Sumatera Utara kepada Indonesia. Daerah perminyakan ini adalah bekas
daerah konsesi BBM sebelum perang dunia kedua. Pada masa revolusi fisik, tambang
minyak ini hancur total. Lapangan-lapangan minyak di daerah lain di Indonesia dapat
dikuasai kembali oleh Belanda dan pihak asing berdasarkan konsesi, namun lapangan
minyak di Sumatera Utara dan Aceh dapat dipertahankan bangsa Indonesia. Oleh
sebab itu didirikan perusahaan Tambang Minyak Republik Indonesia (PTMRI) pada
bulan Januari 1951 di Sumatera Utara. Lima bulan setelah didirikan, pimpinannya
Nirwojudo, S.H..
Semenjak kedaulatan Republik Indonesia diakui pada September 1949, hingga
akhir 1953 Pemerintah masih ragu apakah mengembalikan Tambang Minyak
Sumatera Utara kepada BPM atau dikuasai sendiri. Penunjukkan koordinator untuk
pertambangan oleh Menteri Perekonomian pada tahun 1954 belum membawa
perbaikan. Pada tahun yang sama, karyawan setempat mengganti PTMRI menjadi
Tambang Minyak Sumatera Utara (TMSU). Pada tanggal 24 Oktober 1956,
Pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah nomor 34 tahun 1956, untuk tidak
menyerahkan tambang minyak itu kepada SHELL. Dalam usaha menyelamatkan
tempat itu, maka dikeluarkan Peraturan Kekuasaan Militer (PUSAT) No. Prt/PM/107
tanggal 15 Oktober 1957 dan disahkan dengan Surat Keputusan Menteri Kehakiman
RI No. J.A5/32/11 tanggal 3 April 1958. Dengan dikeluarkan peraturan tersebut,
maka Pemerintah RI membatalkan kepemilikan dan kosesi SHELL dan
menghibahkannya kepada perusahaan nasional, sehingga seluruh pengelolaan
diberikan kepada Angkatan Darat. Oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat pada waktu
itu Jendral A.H Nasution menunjuk Kolonel Dr. Ibnu Sutowo untuk membentuk


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 4

perusahaan minyak yang berstatus Perseroan Terbatas, yaitu PT. Eksploitasi
Tambang Minyak Sumatera Utara (PT. ETMSU). Sebagai kuat pelaksana, Ibnu
Sutowo.
Pada tanggal 10 Desember 1957 atas nama KASAD A.H Nasution, selaku
pengusa perang, nama PT. EMTSU dirubah menjadi PT. Perusahaan Minyak
Nasional (PERMINA), dengan Kol. Dr. Ibnu Sutow sebagai Presiden Direktur.
Tanggal 10 Desember 1957 itulah ditetapkan sebagai hari jadi PERTAMINA.
Pada tahun 1959, Indonesia menggunakan kembali UUD 1945. Oleh sebab itu
sesuai pasal 33 ayat 1 Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
dikuasai dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat maka hak
untuk mengelola industri perminyakan jatuh ke tangan pemerintah, maka dikeluarkan
UU No. 44 tahun 1960. Kemudian dikeluarkan PP No. 3/1961 untuk mendirikan PN.
PERTAMIN, PP No. 198/1961 menjadi PT. PERMINA menjadi PN. PERMINA, PP
No. 199/1961 mendirikan PT. PERMIGAN.
Untuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas lebih tinggi dari apa yang telah
dicapai oleh masing-masing perusahaan, pada bulan Agustus 1968, pemerintah
mengintegrasikan PN. PERMINA dan PN. PERTAMIN menjadi satu perusahaan
berdasarkan PP No 27/1968, dan diberi nama Perusahaan Negara Pertambangan
Minyak dan Gas Bumi Nasional (PN. PERTAMINA), mulai saat itu PN.
PERTAMINA merupakan satu-satunya perusahaan nasional Indonesia yang diberi
wewenang untuk mengelola semua bentuk kegiatan di bidang industri minyak dan
gas bumi.
Susunan PN. PERTAMINA saat itu, adalah :
Dr Ibnu Sutowo sebagai Direktur Utama
Ir. Trisulo sebagai Direktur Eksploitasi, Produksi, dan Pengolahan
Ir. Soedarno Matosewojo sebagai Direktur Muda Pengolahan


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 5

Ir. Sudino sebagai Direktur Eksplorasi dan Produksi
J.M. Joenoes sebagai Direktur Pembekalan Dalam Negeri
Drs. Joedo Sumbono sebagai Direktur Keuangan
Mayor S.M. Geudong sebagai Direktur Muda ADM. Keuangan

Dengan dikeluarkannya UU No.8/1971 PN. PERTAMINA diubah menjadi
Perusahaan Tambang Minyak dan Gas Bumi Negara yang disingkat PERTAMINA.
Selama ini, pengelolaan minyak dan gas diserahkan kepada (BUMN) Pertamina
yang dibentuk berdasarkan UU No. 27/1968. Selanjutnya melalui UU No.8/1971,
Pemerintah menyerahkan kuasa pertambangan kepada Pertamina untuk mengelola
minyak dan gas bumi nasional secara penuh. Tapi selama lebih dari 30 tahun,
Pertamina dapat dikatakan belum berhasil mengembangkan kemampuan operasional,
termasuk dalam pengembangan kapabilitas investasi dan teknologi. Persentase
produksi minyak dari ladang yang dikelola Pertamina selalu rendah, tidak pernah
lebih dari 10% dari total produksi minyak nasional. Angka itu terus menurun. Oleh
sebab itu, sekitar tahun 1998 muncul gagasan menata ulang migas nasional. Konon,
gagasan ini didasari kenyataan bahwa Pertamina tidak efisien mengelola migas
nasional, karena bersifat monopoli. Digulirlah liberalisasi untuk mengakhiri era
monopoli Pertamina. Lahirlah UU No. 22/2001 tentang migas pada 23 Oktober 2001,
menggantikan UU No. 8/1971. Berawal dari semua itu, maka Pertamina berubah
status dan berganti nama menjadi PT. PERTAMINA (PERSERO).
Tugas Pertamina :
Melaksanakan pengusahaan minyak dan gas bumi dengan memperoleh hasil
yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat dan negara


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 6

Menyediakan dan melayani kebutuhan bahan bakar minyak dan gas bumi
untuk dalam negeri yang pelaksanaaannya diatur dengan peraturan
pemerintah
2.2 Bisnis Pertamina
2.2.1 Upstream Activities (aktifitas hulu)
Aktifitas hulu meliputi eksplorasi dan produksi minyak, gas, dan geotermal.
Tujuan aktifitas eksplorasi adalah untuk menemukan cadangan minyak dan gas baru
sebagai pengganti hidrokarbon yang telah diproduksi. Usaha ini dimaksudkan untuk
memelihara kesinambungan produksi. Eksplorasi dan Aktifitas Produksi dilakukan
melalui pengaturan operasi bersama dan operasi sendiri.
Format Persekutuan Bisnis adalah JOB-EOR (Joint Operating Body for
Producting Sharing Contract), TAC (Technical Assistant Contract), Consortium
Cooperating System, IP (Indonesia Participation), PPI (Pertamina Participation
Interest), dan pinjaman proyek. Sedangkan untuk sektor geotermal, persekutuan
bisnis adalah JOC (Joint Operating Contract).
Pertamina hulu mempunyai 64 kontrak pengaturan operasi bersama minyak
dan gas. Mereka terdiri dari 6 persekutuan di bawah sistem kontrak JOB-EOR, 12
persekutuan di bawak kontrak JOB-TAC, 34 persekutuan di bawak kontrak TAC, 1
persekutuan di bawah kontrak Consortium Cooperating System, 3 pinjaman proyek,
dan 8 di bawah sistem kontrak IP/PPI. Sementara itu ada 8 JOC untuk penggunaan
geotermal.
2.2.1.1 Upstream Operating Area
Perusahaan mempunyai blok yang dioperasikan sendiri, mencakup tujuh area minyak
dan gas, selain itu terdapat juga tiga area produksi geotermal :
Daerah Operasi Hulu NAD & Sumatera Bagian Utara
Daerah Operasi Hulu Jawa Bagian Barat
Daerah Operasi Hulu Kalimantan Sangatta


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 7

Daerah Operasi Bunyu
Daerah Operasi Hulu Sumatera Bagian Tengah
Daerah Operasi Hulu Jawa Bagian Timur
Area Operasi Sangatta
Daerah Operasi Hulu Sumatera Bagian Selatan
Area Geotermal Lahendong
Area Geotermal Sibayak
Area Geotermal Kamojang
2.2.1.2 Networking
JOB/PSC Pertamina Medco Madura PTY, Ltd.
JOB/PSC Pertamina Medco Simenggaris. Pty, Ltd
JOB/PSC Pertamina Exspan Tomori Sulawesi, Ltd
JOB/PSC Pertamina YPF Jambi Merang
JOB Pertamina Irian Jaya Gas & Oil Co, Ltd
JOB/PSC Pertamina Lasmo (Malagot), Ltd
JOB Pertamina Golden Spike Indonesia, Ltd
JOB Pertamina Golden Spike South Sumatera, Ltd
JOB Pertamina Mobil Langsa. Inc
JOB/PSC Pertamina Talisman (Ogan Komering), Ltd
2.2.2 Downsteram Actifities (Aktifitas hilir)
Perusahaan diikutsertakan dalam penyulingan minyak dan gas, manajemen distribusi
dan pemasaran produk yang telah disuling. Sasaran utama dan aktifitasnya adalah
untuk memenuhi permintaan bahan bakar pasar domestik, juga permintaan petrokimia
dan produk non bahan bakar di pasar internasional dan domestik.
2.2.2.1 Processing Unit
Unit Pengolahan I Pangkalan Brandan, Sumatera Utara
Unit Pengolahan II Dumai / Sei Pakning
Unit Pengolahan III Plaju, Sumatera Selatan


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 8

Unit Pengolahan IV Cilacap
Unit Pengolahan V Balikpapan
Unit Pengolahan VI Balongan
Unit Pengolahan VII Sorong
Pada umumnya produksi pertamina terdiri dari :
1. Bahan Bakar
Bensin (Motor Gasoline)
Permium adalah suatu jenis minyak pembakaran dari hasil
penyulingan berwarna kuning dan bening
Minyak Tanah (Kerosene)
Minyak tanah adalah suatu minyak bakar dari hasil penyulingan
berwarna bening. Pemakaian minyak tanah umumnya adalah
sebagai bahan bakar dalam rumah tangga
Solar
Solar Industri
Marine Fuel Oil
2. Bahan Bakar Special (khusus)
Aviation Gasoline (Avgas)
Avgas adalah bahan bakar yang berasal dari pecahan minyak tanah
yang dirancang untuk bahan bakar angkutan udara pada pesawat
yang menggunakan mesin bahan bakar internal (Internal of
Combustion Engine), piston mesin atau penukaran mesin dengan
percikan
Aviation Turbine Fuel (Avtur)
Avtur adalah bahan bakar dari pecahan minyak tanah yang
dirancang untuk bahan bakar angkutan udara pada pesawat yang
mempunyai mesin turbin atau mesin bakar luar
Bio Solar


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 9

Sekarang Pertamina bergerak di bidang energi terbarukan jenis
yang lain, yaitu biofuel. Salah satu biofuel yang digarap Pertamina
adalah biodiesel, yaitu bahan bakar diesel yang terbuat dari unsur
hayati-nabati non-fosil.
Pertamax
Pertamax merupakan bahan bakar ramah lingkungan (unleaded)
beroktan tinggi hasil penyempurnaan produk Pertamina
Pertamax Plus
Merupakan bahan bakar superior Pertamina dengan kandungan
energi tinggi dan ramah lingkungan, diproduksi dengan
menggunakan bahan baku pilihan berkualitas tinggi sebagai hasil
penyempurnaan formula terhadap produk Pertamina sebelumnya
Pertamina Dex
Merupakan bahan bakar mesin diesel modern yang telah
memenuhi dan mencapai standar emisi gas buang EURO 2,
memiliki angka performa tinggi dengan cetane number 53 keatas
(HSD mempunyai cetane number 45), memiliki kualitas tinggi
dengan kandungan sulfur dibawah 300 ppm, direkomendasikan
untuk mesin diesel terbaru (Diesel Common Rail System), sehingga
pemakaian bahan bakarnya lebih irit dan ekonomis serta
menghasilkan tenaga yang lebih besar
3. Petrokimia
Polytam
Pabrik Pertamina Polypropylene menghasilkan tiga polytam:
a. Polytam Film ; digunakan sebagai material untuk tas
plastik makanan, sayur mayur, buah-buahan, dan kantong
serbaguna untuk berbagai kebutuhan
b. Polytam benang ; digunakan sebagai material untuk
kantong plastik, tali plastik, jerami, dan serabut tali rafia


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 10

c. Polytam Suntikan ; dugunakan sebagai meterial untuk
membuat barang-barang plastik, kebutuhan rumah tangga
Purified Terephthalic Acid
PTA adalah suatu bubuk atau kristal putih yang tidak dapat
dilarutkan air, clorofoam, ether, dan asam acetate, tetapi larut
dalam alkohol dan alkali
a. PTA digunakan sebagai bahan baku utama untuk serabut
poliester untuk industri tekstil
b. PTA diproses seperti kepingan poliester yang digunakan
sebagai bahan baku untuk :
1) Poliester Serabut : untuk industri tekstil dan lain-
lain
2) Poliester Filamen : untuk benang poliester
3) Botol PET (Polyethilene Terepthalate)
4) PET Film
Paraxylene
Adalah suatu hidrokarbon campuran yang berbau harum, dimana
diproduksi dari proses aromatication minyak nafta padat pada
suatu unit platform dan kemudian dipisahkan untuk menghasilkan
Benzen dengan penyaringan dan dengan penyerapan paraxylene
Benzene
Benzen adalah titik awal untuk banyak turunan yang diperlukan
dalam produksi suatu barang keperluan hidup sehari-hari. Benzen
juga untuk memproduksi Ethilene, yang mana digunakan untuk
menghasilkan styrene, yang dibuat dari karet sintetis. Ini juga
untuk menghasilkan ciclohexane, yang mana digunakan untuk
memproduksi nilon. Komoditas bahan kimia yang dikenal seperti
polystyrene dan nilon sudah digunakan untuk pembuatan barang


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 11

sehari-hari yang mencakup cat, pakaian, penutup kompter, dan
pembungkus
Propylene
Adalah suatu campuran hidrokarbon yang merupakan bentuk gas
pada suhu dan tekanan normal. Oleh karena itu untuk membuatnya
lebih mudah dalam penyimpanan dan penanganannya, suatu
tekanan spesifik harus diberikan perubahan dalam bentuk cair.
4. Non Bahan Bakar
Aspal ( Asphalt)
Minyak aspal adalah salah satu dari produk terbaik sebagai suatu
campuran asphaltic dengan kondisi semisolid, warna hitam
kecoklatan dan tidak memiliki karakteristik metalik, yang
dihancurkan CS2 ( Karbon Disulphide), memiliki suatu karakter
tahan air dan mudah lengket. Pertamina menghasilkan aspal dalam
dua tingkatan , yaitu Asphalt Penetration 60/70, Asphalt
Penetration 80/100
Lube Base oil
Minyak pelumas dasar digunakan sebagai material untuk
memproduksi minyak pelumas. Material ini ditambahkan dan
dicampur dengan zat adiktif untuk minyak pelumas seperti
Mesran dan merek lainnya yang dapat ditemukan di pasaran
Solven
Pertamina menghasilkan sepuluh jenis bahan pelarut, lima
diatntaranya :
1) Low Aromatic White Spirit (LAWS), yang digunakan
sebagai bahan pengencer cat dan vernis, suatu bahan
pelarut untuk warna cetakan, industri tekstil, dan bahan
pelarut pencuci pakaian


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 12

2) Special Boiling Point (SBP-XX), digunakan sebagai lem
dan bahan pelarut karet, bahan pelarut industri (cat dan
bahan pengencer, tinta, dan industri obat-obatan), industri
kosmetik
3) Minyak Gas Khusus, digunakan pada industri obat-obatan,
yang utama dalam pembuatan pil Kina. Sebagai bahan
pelarut dalam proses penyaringan kulit Kina
4) Minasol-M, digunakan pada industri cat, bahan pengencer,
vernis, industri tinta, industri karet, dan lem, juga di dalam
industri obat-obatan
5) Pertasol Cadan CB, Pertasol CA digunakan sebagai bahan
pengencer vernis, tinta, komponen dalam proses pembuatan
karet pada industri ban, dan bahan adhesive seperti lem,
industri farmasi (kosmetik). Pertasol CB digunakan bahan
pengencer cat, vernis, tinta, pencuci pakaian, bahan pelarut
untuk cetakan pada tekstil
Green Coke
Kokas hijau yang diproduksi di unit pengolaan II Dumai, adalah
berasal dari pemanfaatan unsur karbon padat, dimana mampu
diubah dari residu kasar menjadi kokas hijau
Calcined Coke
Kokas kapur digunakan sebagai suatu anoda (listrik) di dalam
pabrik peleburan aluminium, grafit, dan lain-lain
Parrafin Wax
Diproduksi oleh unit pengolahan Pertamina Balikpapan
diklasifikasikan berdasarkan kualitas yang berhubungan dengan
titik lebur, warna, dan ini minyak.
Penggunaan untuk :
1) Hard Scale White Wax and Fully Refined White Wax


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 13

a. Lilin dan lilin penghias
b. Juga digunakan pada industri kecil seperti:
o Kertas pembungkus
o Bahan baku untuk semir sepatu, semir, dan
lain-lain
2) Lilin batik : untuk produsen batik
3) Match wax : untuk membuat korek api
Slack wax
Slack wax adalah suatu campuran minyak dan wax (lilin),
diperoleh dari minyak pelumas. Slackwax adalah hasil dari wax
(lilin) kasar dengan pendinginan dan penyulingan bahan pelarut
filter pressing wax. Ini mencukupi sebagai bahan baku dan lebih
lanjut disuling dan dicampur untuk menciptakan produk lilin
minyak tanah yang memiliki nilai tambah. Slackwax diproduksi
oleh unit pengolahan Pertamina Cilacap
Heavy Aromate
Sulphur
Di alam, material tersebut dapat ditemukan di area gunung api dan
dapat digali dengan penggunaan proses Frasch. Disampin itu,
belerang juga dapat diperoleh dari residu industri tambang,
termasuk pemurnian/proses pengolahan gas dan minyak tanah
Belerang digunakan untuk :
1) Industri ban dan barang-barang karet
2) Pupuk, berkenaan dengan industri farmasi dan industri
rayon
3) Kertas, pulp, aki, deterjen, dan industri gula
4) Juga sebagai bahan utama untuk asam sulfat, aluminium
sulfat, dan ammonium sulfat



LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 14

5. Gas
Liquid Petroleum Gas
LPG adalah cahaya produk berupa gas yang mana dihasilkan dari
penyulingan produk minyak tanah atau juga dihasilkan dari
pemadatan gas alam di dalam unit pengolahan sebagai bahan bakar
untuk rumah tangga dan industri.
Di kawasan industri, LPG digunakan sebagai pengganti freon,
aerosol, bahan pendingin, kosmetik, dan juga digunakan sebagai
bahan baku produk khusus.
BBG
Bahan Bakar Gas (BBG) adalah gas bumi yang telah dimurnikan,
aman, bersih, andal, dan murah. Dipakai sebagai bahan bakr
kendaraan bermotor. Komposisi BBG sebagian besar terdiri dari
gas metana dan etana lebih kurang 90% dan selebihnya adalah
propana, buthana, nitrogen, dan karbondioksida. BBG lebih ringan
dari udara dengan berat jenis sekitar 0,6036 dan mempunyai nilai
oktan 120.
Musicool
Musicool bahan pendingin hidrokarbon.
Ketika kebutuhan mendesak untuk mengurangi pemanasan global
dan konsumsi energi, Pertamina telah proaktif dalam
mengembangkan produk yang menyingkirkan kerusakan CFC
pada lapisan ozon.
Pertamina musicool adalah bahan pendingin hidrokarbon dan
dikembangkan dari riset intensif dan dikembangkan sejak 1996
bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung dan Swisscontact.
Musicool adalah suatu penyelamat lingkungan organik, tidak
beracun, dan memiliki potensi rendah untuk mempengaruhi
pemanasan global.


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 15

6. Produk lainnya
Minyak pelumas
2.3 Bisnis lainnya
Pertamina memiliki 13 anak perusahaan dan 16 usaha patungan yang
beroperasi dalam berbagai industri seperti hotel, ke hulu dan ke arah muara bisnis
pendukung (jasa) pengiriman, perusahaan penerbangan, galangan kapal, pelayanan
pemasaran, rumah sakit, jasa pengeboran minyak, layanan manajemen, pemborong,
penyalur, asuransi, pabrikasi, manufakturing, dan yang lainnya.
Cabang dan usaha patungan portofolio investasi, dimana semua itu diharapkan
untuk meningkatkan nilai perusahaan, baik itu dalam bentuk dividen maupun
dukungan mereka untuk aktifitas Pertamina.
2.3.1 Anak Perusahaan
1. PT. Elnusa, Tbk
2. PT. Patra jasa
3. PT. Pelita Air Service
4. PT. Pertamina Tongkang
5. PT. Pertamina Bina Medika
6. PT. Patra Niaga
7. PT. Patra Dok Dumai
8. Pertamina Energy Trading Ltd
9. PT. Usayana
10. PT. Pertamina Dana Ventura
11. PT. Pertahulu Energi
12. PT. Pertamina Training & Consulting
13. PT. Tugu Pratama Indonesia
14. PT. Pertajaya Lubrindo
15. PT. Pertamina EP


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 16

2.4. Visi, Misi, dan Nilai
Perjalanan restrukturisasi semenjak 1994 telah menghasilkan beberapa
milestone dan yang terakhir adalah Tumbuh dan Berkembang Menuju Pertamina baru
di tahun 2010. Konsep Pertamina baru tersebut lahir dari seluruh jajaran Direksi pada
bulan Mei 2000 yang lalu telah menghasilkan Scenario planning Pertamina dimana
Pertamina memilih untuk Tumbuh dan Berkembang ditengan situasi dan kondisi yang
mendorong baik internal maupun eksternal. Untuk itu maka setiap langkah, daya dan
upaya restrukturisasi yang dilakukan harus membantu mewujudkan visi, misi, dan
tata nilai Pertamina baru yang dicita-citakan yang telah disahkan oleh Direksi
Pertamina melalui surat keputusan Direksi No. 120/C000/2000-SO tanggal 8
Desember 2000.
2.4.1 Visi
Menjadi Perusahaan yang unggul, maju, dan terpandang (to be respected leading
company)
2.4.2 Misi
o Melakukan usaha dalam bidang energi dan petrokimia
o Merupakan etitas bisnis yang dikelola secara profesional, kompetitif dan
berdasarkan tata nilai unggulan
o Memberikan nilai tambah lebih bagi pemegang saham, pelanggan, pekerja,
dan masyarakat, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional
2.4.3 Tata Nilai
o Fokus
Menggunakan secara optimum berbagai kompetensi perusahaan untuk
meningkatkan nilai tambah perusahaan
o Integritas
Mampu mewujudkan komitmen ke dalam tindakan nyata
o Visionary Berwawasan jauh ke depan
Mengantisipasi lingkungan usaha yang berkembang saat ini maupun yang
akan datang untuk dapat tumbuh dan berkembang


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 17

o Excellance- unggul
Menampilkan yang terbaik dalam semua aspek pengelolaan usaha
o Mutual Respect kesetaraan dan kesederajatan
menempatkan seluruh pihak yang terkait setara dan sederjat dalam kegiatan
usaha

2.5 Logo

Gambar 1. Logo Pertamina
2.5.1 Arti/makna Logo
1. Elemen logo membentuk huruf P yang secara keseluruhan merupakan
representasi bentuk panah, dimaksudkan sebagai Pertamina yang bergerak
maju dan progresif
2. warna-warna yang berani menunjukkan langkah-langkah besar yang diambil
Pertamina dan aspirasi perusahaan akan masa depan yang lebih positif dan
dinamis, dimana :
a) biru mencerminkan : andal, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab
b) hijau mencerminkan : sumber daya energi yang berwawasan
lingkungan
c) merah mencerminkan: keuletan dan ketegasan serta keberanian dalam
menghadapi berbagai macam kesulitan
Tanda merek Pertamina adalah lambang penting dari brand tersebut. Itu
perwujudan dari suatu keunikan dari suatu persepsi tentang cita-cita Pertamina dan
kepercayaan merek.Pada intinya, sasaran pokok program Branding adalah untuk
melindungi dan meningkatkan asset yang tak ternilai ini. Segala yang mengandung
identitas Pertamina haru dievaluasi karena konribusi itu membentuk merek.


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 18

2.6 Sejarah PT. PERTAMINA (Persero) Terminal BBM Teluk Kabung
Sejalan dengan pertumbuhan perusahaan industri dan kebutuhan masyarakat
terhadap BBM untuk daerah Sumatera Barat dan daerah pesisir barat Sumatera,
kemudian terbatasnya daya tampung BBM pada tangki timbun di depot Teluk Bayur,
maka PT. Pertamina melakukan penambahan daya tamping BBM, sebagai berikut :
Tahun 1988 sampai 1993, penambahan daya tampung BBM dengan cara
menempatkan tanker besar pada perairan Teluk Bungus. Sistem ini disebut
STS (Ship to Ship)
Pengertian STS :
BBM dibawa dari kilang memakai tanker besar kemudian dibongkar pada
tanker besa rlain di teluk bungus. Dari tanker besar di teluk bungus di bagi-
bagikan ke tanker kecil untuk dibawa ke depot-depot tujuan. Hal ini dilakukan
karena :
o Apabila tanker kecil langsung ke kilang untuk di bawa ke depot-depot
tujuan maka terjadi pemadatan tanker di dermaga kilang
o Kalau tanker besar dari kilang membawa BBM langsung ke depot-
depot tujuan, hal ini tidak bisa dilakukan karena :
Kedalaman perairan dan besarnya dermaga di depot-depot
tujuan tidak mencukupi untuk kapal besar
Daya tamping BBM di depot tujuan tidak mencukupi untuk
menampung tanker besar
Sehubungan biaya operasional STS cukup besar, maka PT. Pertamina
(Persero) membangun Terminal Transit di teluk kabung sebagai pengganti
STS. Terminal transit BBM di Teluk Kabung mulai beroperasi pada tahun
1993 namun sekarang menjadi Terminal BBM Teluk Kabung
Sasaran yang diharapkan dengan adanya terminal BBM, antara lain :
1. Meningkatkan sasaran kelancaran suplay dan distribusi BBM untuk
pelayanan daerah Sumatera Barat dan Daerah Barat Sumatera


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 19

2. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi PT. Pertamina (Persero)
Terminal BBM Teluk Kabung berada di wilayah kerja Pertamina unit PMS-I
yang berkedudukan di Kota Padang dengan wilayah kerja meliputi Provinsi Sumatera
Barat, Riau, Aceh. Terminal BBM merupakan salah satu sarana yang dibangun
Pertamina yang berfungsi sebagai tempat penimbunan sementara BBM, untuk
melayani pembekalan daerah-daerah sekitar dengan memperhatikan aspek-aspek
yang berkaitan dengan kilang transportasi, geografis, dan kebutuhan serta tentunya
faktor ongkos.
Pembangunan terminal BBM merupakan usaha untuk mensukseskan tugas
pokok pertamina, yaitu menjamin pengadaan dan pendistribusian BBM dalam negeri
secara berkesinambungan sesuai kebutuhan.
2.6.1 Komitmen Tim Manajemen PT. Pertamina (Persero) Unit Pemasaran I
Menjadi panutan bagi semua pekerja
Menjadi pelopor agen perubahan
Memberdayakan pekerja sebagai mitra kerja
Menjadikan mutu sebagai sistem manajemen dan budaya kerja
Menerapkan reward dan punishment secara konsisten dan berkesinambungan
Menjalin hubungan dengan stake holder secara sinergis sebagai mitra kerja
2.6.2 Visi dan misi PT. PERTAMINA (Persero) UPMS-1
Visi
Menjadi unit bisnis yang prima dan terpercaya
Misi
1. Melakukan kegiatan, pemasaran dan niaga dalam bidang BBM, BBK,
Pelumas, LPG, dan Pertokimia
2. Mengelola unit bisnis secara profesional, kompetitif berdasarkan tata
nilai unggulan
3. Memberikan kepuasan bagi bisnis group, pelanggan, pekerja, dan
masyarakat


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 20

4. Menjadi unit bisnis yang siap bersaing di pasar regional
2.6.3 Program kerja Layanan Jasa Pemeliharaan
Program kerja berawal dari strategi untuk melaksanakan
kebijaksanaan teknik. Untuk mencapai keberhasilan penerapan sistem
manajemen LJP harus dibuat perencanaan yang efektif dengan tujuan dan
sasaran yang jelas, dapat diukur dengan indikator kinerja yang diserahkan
dengan mempertimbangkan sumber bahaya (identifikasi bahaya) penilai dan
pengendalian resiko dari kegiatan dan produk sesuai dengan persyaratan yang
berlaku serta hasil pelaksanaan tinjauan atau kajian awal LJP.
Perencanaan kerja harus mengacu pada visi dan misi perusahaan serta
kebijaksanaan pimpinan pada setiap kegiatan unit bisnis PDN (Pemasaran dan
Niaga/Perdagangan) dengan memperhatikan sumber daya yang tersedia.
PT. Pertamina (Persero) Terminal BBM Teluk Kabung menetapkan
program manajemen lingkungan dibuat sedemikian rupa agar pencapaian
yang dihasilkan dapat semaksimal mungkin. Program manajemen lingkungan
yang dibuat memperhatikan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai,
penanggung jawab, tahapan kegiatan yang dilakukan untuk mencapai
targettujuan dan sasaran tersebut, rencana biaya yang dibutuhkan, target
waktu pelaksanaan, serta bentuk realisasi yang dihasilkan.
Setelah tujuan dan sasaran yang ditetapkan, langkah berikutnya adalah
menbuat program perbaikan dan peningkatan Teknik untuk pencapaian tujuan
dan sasaran yang telah ditetapkan.
Agar program efektif dalam pelaksanaannya perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
1. Menunjuk penaggung jawab guna mencapai tujuan dan sasaran dari
setiap fungsi dan tingkatan organisasi kegiatan unit bisnis UPMS
2. Menetapkan metoda jadwal pelaksanaan (waktu) untuk mencapai
tujuan dan sasaran


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 21

3. Program LJP yang disusun harus bersifat dinamis dan dapat
dimodifikasi sejalan dengan kemajuan penerapan tujuan dan sasaran,
meningkatnya produk, proses, atau perubahan fasilitas
4. Melibatkan seluruh pekerja dalam mengembangkan program LJP dan
pelaksanaannya
5. Sasaran dan tanggung jawab atas pelaksanaan program perlu
dikomunikasikan kepada seluruh pekerja
6. Program perbaikan dan peningkatan LJP yang disusun bertujuan untuk
mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku
7. Mengevaluasi ulang langkah tindak lanjut program, apabila terdapat
perubahan yang signifikan atas produk, proses, fasilitas, atau material.
Usahakan perubahan ini sebagai bagian dari proses manajemen
8. Membuat program perbaikan dan penilaian LJP tersebut sesederhana
mungkin dan dipusatkan kepada upaya perbaikan yang berkelanjutan
Tugas Pokok Layanan Jasa Pemeliharaan
1. Mengkoordikir usulan anggaran
2. Melaksanakan pemeliharaan aset
3. Membuat proses kontrak dan melaksanakan pengawasannya
4. Melayani pengadaaan material
Fungsi Layanan Jasa Pemeliharaan
Tugas dan tanggung jawab fungsi LJP
1. Melaksanakan perawatan pada seluruh aset perusahaan
2. Melakukan perhitungan biaya untuk pelaksanaan anggaran operasi dan
investasi
3. Membuat kontrak dengan pihak III dalam melaksanakan perbaikan aset
perusahaan
4. Membuat laporan secara berkala untuk seluruh aset perusahaan


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 22

5. Membuat perencanaan anggaran operasi dan investasi untuk satu tahun
mendatang
2.7 Struktur Organisasi
Pengertian organisasi secara umum adalah wadah serta proses
kerjasama sejumlah manusia yang berikat dalam hubungan formal dalam
rangkaian Hierarki untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Sedangkan menurut Sukanto Rekso Hadiprojo, organisasi adalah adanya
orang-orang, susunan usahanya harus dikoordinasi, tersusun dari sub sistem
yang saling berhubungan dan saling bergantung, bekerjasama atas dasar
pembangunan kerja, peran dan wewenang serta mempunyai tujuan tertentu
yang hendak dicapai.
Jadi organisasi pada suatu perusahaan merupakan suatu faktor yang
paling penting untuk mencapai tujuan. Apabila perusahaan semakin besar,
maka masalah organisasipun semakin kompleks.
Dalam suatu organisasi akan ditemui apa yang disebut struktur
organisasi. Sukanto Reksohadiprojo dan Hani Handoko memberikan batasan
mengenai struktur organisasi sebagai berikut :
struktur Organisasi merupakan suatu kerangka yang menunjukkan seluruh
kegiatan antara fungsi-fungsi serta wewenang dan tanggung jawab
pelaksanaan integrasi dan koordinasi terhadap bagian yang diciptakan.
Dengan mepertahankan struktur organisasi suatu perusahaan dapat
mengetahui satuan-satuan yang ada di organisasi tersebut seta bagaimana
pendelegasian tugas dan masing-masing satuan tersebut.








LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 23

PT. PERTAMINA (Persero) Terminal BBM Teluk Kabung
Struktur Organisasi

























LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 24

BAB III
SISTEM KELISTRIKKAN PT. PERTAMINA (Persero) TERMINAL BBM
TELUK KABUNG

3.1 Kebutuhan Energi Listrik PT. Pertamina (Persero) Terminal Teluk Kabung
Energi listrik merupakan sumber energi utama dalam suatu industri dan
perusahaan, begitu juga dengan PT. Pertamina. Beban energi listrik yang harus
dilayani adalah kantor, filling shed, rumah pompa, tangki timbun, bengkel dan
laboratorium, dan area dermaga. Dalam operasionalnya membutuhkan energi
listrik yang cukup besar. Sebagian besar energi listrik dipakai dalam proses
pemompaan BBM dari tangki timbun ke mobil tangki atau dari kapal tangker ke
tangki timbun.Total energi listrik yang dibutuhkan kira-kira 3 MVA
3.2 Sumber Energi Listrik PT. Pertamina Teluk Kabung
Untuk memenuhi kebutuhan listriknya, PT. Pertamina mendapat supply dari
PLN sebagai sumber listrik utama. Namun untuk antisipasi bila terjadi
pemadaman, PT. Pertamina mempunyai dua unit generator set (genset). Daya
terpasang pada masing-masinggenset adalah 1500KVA.
Dalam beroperasi, kedua genset terpasang secara paralel agar bisa memenuhi
semua kebutuhan listrik.
3.3 Pendistribusian Energi Listrik ke Beban
Sistem distribusi yang ada pada PT. Pertamina Teluk Kabung memakai kabel
berisolasi dengan penghantar tembaga. Energi listrik dari PLN dipasang pada
busbar tegangan rendah yang terbuat dari lempeng tembaga. Dari busbar,
jaringan listrik dibagi untuk masing-masing kantor, filling shed, dan dermaga.
Tegangan kerja saluran distribusi adalah tegangan rendah 380 volt tiga fasa.
Untuk kantor, energi listrik memakai tegangan rendah 220 V 1 phasa dengan
kabel udara.


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 25

3.4 Peralatan Proteksi dan Pengontrolan
Untuk melindungi beban berupa motor, dipakai peralatan proteksi dan
pembatas berupa Circuit breaker dan thermal overload relay. Untuk motor-
motor yang penting selain menggunakan CB dan TOR peralatan proteksi
dilengkapi dengan relai arus lebih.
Untuk pengotrolan dan pengoperasian motor, PT. Pertamina menggunakan
kontaktor magnetik yang terdapat pada MCC. Tombol operasi masing-masing
motor terdapat di dekat masing-masing motor.



















LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 26

BAB IV
PENGGUNAAN MOTOR INDUKSI ROTOR SANGKAR PADA PEMOMPA
MINYAK di PT. PERTAMINA (Persero) TELUK KABUNG PADANG

4.1 Motor Induksi
Motor induksi merupakan motor listrik arus bolak-balik (ac) dimana
putaran rotor dengan putaran medan pada stator terdapat selisih putaran yang
disebut slip. Mesin induksi (asinkron) ini pada umumnya hanya memiliki satu
suplai tenaga yang mengeksitasi belitan stator. Belitan rotornya tidak terhubung
langsung dengan sumber tenaga listrik, melainkan belitan ini dieksitasi oleh
induksi dari perubahan medan magnetik yang disebabkan oleh arus pada belitan
stator.
Keuntungan motor induksi adalah konstruksinya yang sederhana tetapi
padat dan kuat, ukurannya lebih kecil dan lebih ringan sehingga harga lebih
murah, perawatan mudah, dan memiliki efisiensi yang tinggi.

4.1.1 Konstruksi Motor Induksi
Secara umum motor induksi terdiri dari rotor, celah dan stator. Rotor
merupakan bagian yang bergerak akibat adanya induksi magnet dari kumparan
stator yang diinduksikan kepada kumparan rotor. Stator merupakan bagian yang
diam dan mempunyai kumparan yang dapat menginduksikan medan
elektromagnetik kepada kumparan rotornya. Antara stator dengan rotor ada celah
udara yang jaraknya kecil,seperti pada gambar I. Celah berfungsi sebagai tempat
berpindahnya energi dari stator ke rotor.


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 27


Gambar I. Konstruksi utama motor induksi

Komponen stator merupakan bagian terluar dari motor yang merupakan
bagian yang diam dan mengalirkan arus phasa. Stator terdiri atas tumpukan
laminasi inti yang memiliki alur yang menjadi tempat kumparan dililitkan yang
berbentuk silindris. Alur pada tumpukan laminasi inti diisolasi dengan kertas.
Setiap elemen laminasi inti dibentuk dari lembaran besi. Tiap lembaran besi
tersebut memiliki beberapa alur dan beberapa lubang pengikat untuk menyatukan
inti. Tiap kumparan tersebar dalam alur yang disebut belitan phasa. Untuk motor
tiga phasa, belitan tersebut terpisah secara listrik sebesar 120. Kawat kumparan
yang digunakan terbuat dari tembaga yang dilapis dengan isolasi tipis. Kemudian
tumpukan inti dan belitan stator diletakkan dalam cangkang silindris.

Berdasarkan rotornya, ada dua jenis motor induksi yaitu :
a. Motor Induksi Tiga Fasa Sangkar Tupai ( Squirrel-cage Motor)
Penampang motor sangkar tupai memiliki konstruksi yang sederhana. Inti
stator pada motor sangkar tupai tiga fasa terbuat dari lapisan-lapisan pelat baja
beralur yang didukung dalam rangka stator yang terbuat dari besi tuang atau pelat
baja yang dipabrikasi. Lilitan-lilitan kumparan stator diletakkan dalam alur stator
yang terpisah 120 derajat listrik. Lilitan fasa ini dapat tersambung dalam hubungan
delta ( ) ataupun bintang ( ).
Batang rotor dan cincin ujung motor sangkar tupai yang lebih kecil adalah
coran tembaga atau aluminium dalam satu lempeng pada inti rotor. Dalam motor


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 28

yang lebih besar, batang rotor tidak di cor melainkan dibenamkan ke dalam alur
rotor dan kemudian di las dengan kuat ke cincin ujung. Batang rotor motor sangkar
tupai tidak selalu ditempatkan paralel terhadap poros motor tetapi kerap kali
dimiringkan. Hal ini akan menghasilkan torsi yang lebih seragam dan juga
mengurangi derau dengung magnetik sewaktu motor sedang berputar.
Pada ujung cincin penutup dilekatkan sirip yang berfungsi sebagai
pendingin. Rotor jenis rotor sangkar standar tidak terisolasi, karena batangan
membawa arus yang besar pada tegangan rendah. Motor induksi dengan rotor
sangkar ditunjukkan pada Gambar2.

Gambar 2.Konstruksi motor induksi rotor sangkar

b. Motor Induksi Tiga Fasa Rotor Belitan ( wound-rotor motor )
Motor rotor belitan (motor cincin slip) berbeda dengan motor sangkar
tupai dalam hal konstruksi rotornya. Seperti namanya, rotor dililit dengan lilitan
terisolasi serupa dengan lilitan stator. Lilitan fasa rotor dihubungkan secara .
Masing-masing fasa ujung terbuka yang dikeluarkan ke cincin slip yang
terpasang pada poros rotor. Secara skematik dapat dilihat pada gambar 5. Dari
gambar ini dapat dilihat bahwa cincin slip dan sikat merupakan penghubung
tahanan kendali variabel luar ke dalam rangkaian rotor.


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 29


Gambar 3.Skematik Rotor Belilitan

Pada motor ini, cincin slip yang terhubung ke sebuah tahanan variabel
eksternal yang berfungsi membatasi arus pengasutan yang mengakibatkan
pemanasan rotor. Selama pengasutan, penambahan tahanan eksternal pada
rangkaian rotor belitan menghasilkan torsi pengasutan yang lebih besar dengan
arus pengasutan yang lebih kecil dibanding dengan rotor sangkar. Konstruksi
motor tiga fasa rotor belitan ditunjukkan pada gambar 4.





LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 30


Gambar 4: (a) Rotor Belitan, (b) Konstruksi Motor Induksi Tiga Phasa
dengan Rotor Belitan
4.1.2 Slip
Motor induksi tidak dapat berputar pada kecepatan sinkron. Seandainya
hal ini terjadi, maka rotor akan tetap diam relatif terhadap fluksi yang berputar.
Maka tidak akan ada GGL yang diinduksikan dalam rotor, tidak ada arus yang
mengalir pada rotor, dan karenanya tidak akan menghasilkan kopel.
Kecepatan rotor, sekalipun tanpa beban, harus lebih kecil sedikit dari
kecepatan sinkron agar adanya tegangan induksi pada rotor, dan akan
menghasilkan arus di rotor, arus induksi ini akan berinteraksi dengan fluks listrik
sehingga menghasilkan kopel. Selisih antara kecepatan rotor dengan kecepatan
sinkron disebut slip (s). Slip dapat dinyatakan dalam putaran setiap menit, tetapi
lebih umum dinyatakan sebagai persen dari kecepatan sinkron.

Slip (S) =
ns -ni
ns
1uu%
Keterangan:
n
r
= kecepatan rotor
Persamaan dapat dibahasakan:
1. saat S = 1 dimana n
r
= 0, ini berati rotor masih dalam keadaan diam atau akan
berputar.


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 31

2. S = 0 menyatakan bahwa n
s
= n
r
, ini berarti rotor berputar sampai kecepatan
sinkron. Hal ini dapat terjadi jika ada arus DC yang diinjeksikan ke belitan
rotor, atau rotor digerakkan secara mekanik.
3. 0 < S < 1, ini berarti kecepatan rotor diantara keadaan diam dengan kecepatan
sinkron. Kecepatan rotor dalam keadaan inilah dikatakan kecepatan tidak
sinkron. Biasanya slip untuk mendapatkan efisiensi yang tinggi pada saat beban
penuh adalah 0,04.

4.1.3 Diagram Rugi-rugi dan Aliran Daya
Sebuah motor induksi pada dasarnya bisa digambarkan sebagai
transformer (pengubah) berputar. Inputnya adalah sistem tiga fasa dari
tegangan dan arus. Untuk transformer biasa, keluaran adalah daya elektrik
dari belitan sekunder. Belitan sekunder adalah motor induksi (rotor) shorted
out, jadi tidak ada keluaran elektrik terdapat pada motor induksi normal.
Melainkan keluarannya adalah mekanikal. Hubungan antara input daya
elektrik dan output daya mekanik dari motor ini ditunjakkan pada diagram
aliran daya pada gambar 4.5

Pin=S vT . ILcos


Daya input untuk motor induksi Pin berasal dari tegangan dan arus
elektrik tiga phasa. Rugi-rugi pertama yang dihadapi oleh mesin adalah rugi-


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 32

rugi I
2
R pada belitan stator (rugi-rugi tembaga stator PSCL). Kemudian
beberapa jumlah daya hilang karena arus eddy dan hysterisis pada stator (Pinti).
Daya yang tertinggal pada titik inilah yang dipindahkan ke rotor dari mesin ke
celah udara antara stator dan rotor. Daya ini disebut daya celah udara PAG
dari mesin. Setelah daya dipindahkan ke rotor, beberapa hilang karena I
2
R
(rugi-rugi tembaga PRCL) dan sisanya diubah dari bentuk elektrik menjadi
bentuk mekanik (PCONV). Akhirnya, rugi-rugi friksi dan angin PF&W dan rugi-
rugi yang lain dikurangi. Daya yang tersisa adalah output dari motor POUT.
Rugi-rugi ini tidak selalu muncul pada diagram aliran daya pada titik
yang ditunjukkan pada gambar 4.5 . Karena pada dasarnya rugi-rugi inti,
dimana mereka dihitung untuk mesin yang agak berubah-ubah. Rugi-rugi inti
dari motor induksi menjadi secara parsial dari rangkaian stator dan parsial dari
rangkaian rotor. Karena motor induksi biasanya beroperasi pada kecepatan
hampir kecepatan sinkron, gerakan relatif magnetik terhadap permukaan rotor
lumayan lambat dan rugi-rugi inti rotor sangat sedikit dibandingkan rugi-rugi
inti stator. Karena pecahan terbesar dan rugi-rugi inti datang dari rangkaian
stator, semua rugi-rugi inti diletakkan bersama pada satu titik dari
diagram.Rugi-rugi ini diwakili pada rangkaian ekivalen motor induksi oleh
resistor RC (atau konduktansi GC). Jika rugi-rugi inti hanya diberikan oleh
nomor (X watts) disamping elemen rangkaian mereka sering dikumpulkan
bersama dengan rugi-rugi mekanik dan mengurangi pada titik dari diagram
dimana rugi-rugi mekanik ditemukan.
Semakin tinggi kecepatan motor induksi, makin tinggi juga rugi-rugi
friksi, angin, dan lainnya. Dengan kata lain, semakin tinggi kecepatan motor
(hingga mencapai nsync), semakin rendah rugi-rugi inti. Oleh karena itu, ketiga
kategori dari rugi-rugi kadang dikumpulkan bersama dan disebut rugi-rugi
rotational. Total rugi-rugi rotational dari motor induksi sering
dipertimbangkan untuk konstan dengan perbedaan kecepatan, karena rugi-rugi
komponen berubah pada arah yang berlawanan dengan perubahan kecepatan.


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 33

4.1.4 Daya dan torka dari motor induksi

Gambar 4.5 menunjukkan rangkaian ekivalen per-phasa dari motor
induksi. jika rangkaian ekivalen diuji dengan baik, ini bisa digunakan untuk
memperoleh persamaan daya dan torka mengatur operasi dari motor.
Arus input untuk satu phasa dari motor bisa ditemukan dengan
membagi tegangan input dari impedansi ekivalen total:
I1 =
I1
Zcq

dimana
Zcq = R1 + ]X1 +
1
0c -] Bm +
s+]X2
v2


Oleh karena itu, rugi-rugi tembaga stator, inti dan tembaga rotor bisa
ditemukan. rugi-rugi tembaga stator pada tiga phasa diberikan
PSCL = SI1
2
R1
Rugi-rugi inti diberikan oleh
PCORE = S E1
2
0c
Jadi daya celah udara bisa ditemukan sebagai
PAG = Pin-PSCL-Pcore
Lihat lebih dekat pada rangkaian ekivalen dari rotor. elemen satu-satunya dari
rangkaian ekivalen dimana daya celah udara bisa digunakan pada resistor
R2/s. Oleh karena itu, daya celah udara bisa diberikan oleh :
PAG = SI
2
2 x
R2
s

rugi-rugi resistif aktual pada rangkaian rotor diberikan oleh persamaan
PRCL = S I
2
2 Rr
Setelah rugi-rugi tembaga rotor, inti dan tembaga stator dikurangi dari daya
input motor, daya yang tersisa diubah dari bentuk elektrik menjadi mekanik.
Pengubahan daya ini kadang disebut pengembangan daya mekanik diberikan
oleh,


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 34

Pconv = PAG PRCL
= S I2
2
R2
s
- SI2
2
R2
= SI2
2
R2 [
1
s
- 1
= SI2
2
R2 [
1-s
s

Perhatikan dari persamaan (20) dan (22) bahwa rugi-rugi tembaga rotor
sebanding dengan daya celah udara dikali slip
PSCL = s PAG
Oleh karena itu, lebih rendah slip motor,maka lebih rendah pula rugi-rugi
rotor pada mesin. catat juga bahwa jika rotor tidak berputar, slip S = 1 dan
daya celah udara secara keseluruhan diserap rotor. Ini logis, karena jika rotor
tidak berpuar, daya keluaran P out harus menjadi nol. Karena Pconv ini juga
memberikan hubungan lain antara daya celah udara dan daya yang diubah dari
bentuk elektrik menjadi mekanik :
Pconv = PAG PRCL
= PAG s PAG
Pconv = (1 s) PAG
Akhirnya jika ruugi-rugi friksi dan belitan serta lainnya diketahui, daya
keluaran bisa dicari dengan
Pout = PCONV PF&W Pmist
Torka Induksi ind pada mesin didefinisikan sebagai torka yang dihasilkan
oleh konversi daya elektrik menjadi mekanik internal. Torka ini berbeda
dengan torka yang sebenarnya tersedia pada terminal motor dengan jumlah
yang sama dengan torka friksi dan belitan pada mesin. Torka yang
diinduksikan diberikan oleh persamaan
ind =
P con
um

Torka ini isebut juga torka yang dikembangkan dari mesin.
Torka yang diinduksikan dari motor induksi bisa ditampilkan pada bentuk
yang berbeda juga. Persamaan (9) ditampilkan pada kecepatan sebenarnya.


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 35

Pada istilah dari kecepatan sinkron dan slip, sementara persamaan (25)
ditampilkan PCONV pada istilah dari PAG dan slip.
Subtitusi dari dua persamaan ini kepada persamaan (27) menghasilkan :
ind =
(1-s)PAu
(1-s)usnc

ind =
PAu
usnc

Persamaan terakhir sangan berguna karena menunjukkan torka yang
diinduksikan langsung pada istilah dari daya celah udara dan kecepatan
sinkron, yang tidak mengubah-ubah. Sebuah pengetahuan dari PAG hinggga
langsung menghasilkan ind.
4.1.5 Spesifikasi Teknis Motor Induksi
Dalam laporan ini, jenis motor induksi yang digunakan adalah motor induksi
rotor sangkar. Ada 15 buah motor induksi yang digunakan dalam proses
pemompaan minyak. Motor induksi ini dijalankan secara bergantian, sehingga
motor tidak terbebani dan umur motor jadi lebih panjang. Spesifikasi berbagai
jenis motor induksi dapat dilihat pada Lampiran 1.

4.2 Pompa Sentrifugal
Pompa sentrifugal merupakan pompa yang sangat umum digunakan untuk
pemompaan air dalam berbagai penggunaan industri. Biasanya lebih dari 75%
pompa yang dipasang di sebuah industri adalah pompa sentrifugal.
4.2.1 Cara Kerja Pompa Sentrifugal
Pompa sentrifugal merupakan salah satu peralatan yang paling sederhana
dalam berbagai proses pabrik.
1. Cairan dipaksa menuju sebuah impeler oleh tekanan atmosfir, atau
dalam hal jet pump oleh tekanan buatan.
2. Baling-baling impeler meneruskan energi kinetik ke cairan,
sehingga menyebabkan cairan berputar. Cairan meninggalkan
impeler pada kecepatan tinggi.


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 36

3. Impeler dikelilingi oleh volute casing atau dalam hal pompa
turbin digunakan cincin diffuser stasioner. Volute atau cincin
diffuser stasioner mengubah energi kinetik menjadi energi tekanan.

Gambar 5 . Lintasan Aliran Cairan Pompa Sentrifugal
4.2.2 Komponen Pompa Sentrifugal
Komponen utama dari pompa sentrifugal terlihat pada Gambar 6 dan
diterangkan dibawah ini:
1. Komponen berputar: impeller yang disambungkan ke sebuan poros
2. Komponen satis: casing, penutup casing, dan bearings




LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 37


Gambar 6. Komponen Utama Pompa Sentrifugal
a) Impeler
Impeler merupakan cakram bulat dari logam dengan lintasan
untuk aliran fluida yang sudah terpasang. Impeler biasanya
terbuat dari perunggu, polikarbonat, besi tuang atau stainless
steel, namun bahan-bahan lain juga digunakan. Sebagaimana
kinerja pompa tergantung pada jenis impelernya, maka penting
untuk memilih rancangan yang cocok dan mendapatkan impeler
dalam kondisi yang baik.

Gambar 7. Impeler Jenis Tertutup dan Terbuka


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 38

Jumlah impeler menentukan jumlah tahapan pompa. Pompa
satu tahap memiliki satu impeler dan sangat cocok untuk layanan
head (=tekanan) rendah. Pompa dua tahap memiliki dua impeler
yang terpasang secara seri untuk layanan head sedang. Pompa
multi-tahap memiliki tiga impeler atau lebih terpasang seri untuk
layanan head yang tinggi.
b) Batang Torak
Batang torak memindahkan torque dari motor ke impeler
selama startup dan operasi pompa.
c) Wadah
Fungsi utama wadah adalah menutup impeler pada
penghisapan dan pengiriman pada ujung dan sehingga berbentuk
tangki tekanan. Tekanan pada ujung penghisapan dapat sekecil
sepersepuluh tekanan atmosfir dan pada ujung pengiriman dapat
dua puluh kali tekanan atmosfir pada pompa satu tahap. Untuk
pompa multi - tahap perbedaan tekanannya jauh lebih tinggi.
Wadah dirancang untuk tahan paling sedikit dua kali tekanan ini
untuk menjamin batas keamanan yang cukup.
Fungsi wadah yang kedua adalah memberikan media
pendukung dan bantalan poros untuk batang torak dan impeler.
Oleh karena itu wadah pompa harus dirancang untuk:
1. Memberikan kemudahan mengakses ke seluruh bagian
pompa untuk pemeriksaan, perawatan dan perbaikan
2. Membuat wadah anti bocor dengan memberikan kotak
penjejal
3. Menghubungkan pipa-pipa hisapan dan pengiriman ke
flens secara langsung
4. Mudah dipasang dengan mudah ke mesin penggerak
(motor listrik) tanpa kehilangan daya.


LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 39


Gambar 8. Wadah














LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 40

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari pelaksanaan kerja praktek yang telah dilakukan dan dari hasil penulisan
laporan dapat diambil kesimpulan, yaitu :
1. PT. Pertamina (Persero) Terminal BBM Teluk Kabung menggunakan
motor induksi untuk memompa BBM dalam penyaluran atau distribusi
minyak
2. Motor induksi yang digunakan oleh PT. Pertamina (Persero) Terminal
BBM Teluk Kabung adalah motor 3 phasa tipe rotor sangkar
3. Tipe pompa yang digunakan PT. Pertamina (Persero) Terminal BBM
Teluk Kabung dalam menyalurkan BBM dari Tangki Timbung ke Filling
Shed atau ke kapal tangker berupa pompa sentrifugal yang dikopling
dengan motor induksi 3 phasa
5.2 Saran
Pemakaian motor induksi hendaknya digunakan pada kondisi nominal dan
beban yang diberikan tidak berlebihan agar motor induksi dapat beroperasi
dengan baik dan dapat mengurangi kerusakan pada motor induksi.












LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA (PERSERO)
TERMINAL BBM TELUK KABUNG PADANG


Ade Pramono (07 175 082) 41

DAFTAR PUSTAKA

Azzakir, Rahmat. 2008. Laporan Kerja Praktek : Pengggunaan Motor Induksi pada
Mesin Crane di Pabrik Kelapa Sawit PT. Tidar Kerinci Agung. Unand.Padang.
Chapman, Stephen, J. 1996. Elektric Machinery Fundamentals, Third Edition. Mc.
Graw-Hill Inc., New York.
Zuhal.1995. Dasar Teknik Tenaga Listrik dan Elektronika Daya. Gramedia. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai