Anda di halaman 1dari 11

SM A NEGERI 1 CI JERUK 1

Jl . KH. Hal i mi Kp. Nagr ak Desa Ci pel ang Kec. Ci j er uk Kab. Bogor 16740
Matematika XI ips Rur y Rachmad, S.Si.
BINOMIUM NEWTON





( )

+ = + + + + +
0 1 1 2 2 1 1
0 1 2 1
. . .
n
n n n n n n n n n n n n
n n
x y C x y C x y C x y C x y C x y
Bentuk di atas dapat pula ditulis dalam bentuk sigma:
( )

=
+ =

0
n
n
n n i i
i
i
x y C x y
Penentuan suku ke ( ) + x y , perhatikan penjabaran binomium Newton di atas:
- Suku ke-1 = =
0
1 0
n n
u C x y
- Suku ke-2

= =
1 1
2 1
n n
u C x y
- Suku ke-3

= =
2 2
3 2
n n
u C x y
dan seterusnya

Jadi disimpulkan:

+
=
1
n n r r
r r
u C x y

Contoh

1. Tentukan suku kelima dari setiap binomium berikut ini:
a. ( ) +
7
2x y
b. ( )
5
x y
Jawab:
a. n = 7 dan r = 4 ( )

= =
7 4
7 4 3 3 4
5 4
7!
2 2
4! 3!
u C x y x y


=

3 4
7 6 5
8
3 2 1
x y
=
3 4
5
280 u x y
b. n = 5 dan r = 4 ( )

= =
4
5 5 4 4
5 4
5!
4! 1!
u C x y x y
=
4
5
5 u xy
2. Tentukan koefisien
2 3
x y dari setiap penjabaran binom berikut ini.
a. ( ) +
5
3 2 x y
b. ( ) +
5
3 x y
Jawab:
a. Koefisien = =
2 3 5 2 3
3
5!
3 2 9 8
3! 2!
x y C


= =

5 4 3 2 1
72 720
3 2 1 2 1

b. Koefisien = = = =
2 3 5 2 3
3
5!
1 3 1 27 10 1 27 270
3! 2!
x y C
3. Jabarkan binom berpangkat berikut ini: ( ) +
4
3x y
Jawab:
( ) ( )

=
+ =

4
4 4
4
0
3 3
i
i
i
i
x y C x y
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) = + + + +
4 3 2 1 0
4 0 4 1 4 2 4 3 4 4
0 1 2 3 4
3 3 3 3 3 C x y C x y C x y C x y C x y
= + + + +
4 3 2 2 3 4
1 81 4 27 6 9 4 3 1 1 x x y x y xy y
= + + + +
4 3 2 2 3 4
81 108 54 12 x x y x y xy y


Standar Kompetensi:
Menggunakan aturan statistika, kaidah pencacahan, dan sifat-sifat peluang dalam pemecahan masalah.

Kompetensi Dasar:
Menggunakan aturan perkalian, permutasi, dan kombinasi dalam pemecahan masalah.
SM A NEGERI 1 CI JERUK 2
Jl . KH. Hal i mi Kp. Nagr ak Desa Ci pel ang Kec. Ci j er uk Kab. Bogor 16740
Matematika XI ips Rur y Rachmad, S.Si.
4. Tentukan perbandingan koefisien suku ketiga dan suku kelima dari
penjabaran bentuk ( ) +
6
3 2x .
Jawab:
Penentuan koefisien suku ke r dari penjabaran bentuk binomial
( ) +
6
3 2x ditentukan oleh:

Koefisien suku ketiga

=
6 6 (3 1) (3 1)
3 1
3 2 C
=
6 4 2
2
3 2 C
Koefisien suku kelima

=
6 6 (5 1) (5 1)
5 1
3 2 C
=
6 2 4
4
3 2 C karena =
6 6
2 4
C C


= = = =

6 4 2 4 2 2
2
6 2 4 4 2 2
4
3 2 koef i si en suku ket i ga 3 3 9
koef i si en suku kel i ma 3 2 2 2 4
C
C

Jadi, koefisien suku ketiga : koefisien suku kelima = 9 : 4.


UJI KOMPETENSI

1. Suku kelima dari penjabaran
( ) +
7
3x y adalah
A.
5 2
2x y
B.
4 3
12x y
C.
3 4
945x y
D.
2 5
1. 215x y
E.
3 4
955x y
2. Koefisien
3 2
x y dari hasil
perpangkatan ( ) +
5
2 3 x y adalah
A. 120
B. 360
C. 520
D. 720
E. 960






































SM A NEGERI 1 CI JERUK 3
Jl . KH. Hal i mi Kp. Nagr ak Desa Ci pel ang Kec. Ci j er uk Kab. Bogor 16740
Matematika XI ips Rur y Rachmad, S.Si.
BAB 4
PELUANG





4.1 Ruang Sampel Percobaan Acak

Ruang sampel adalah himpunan dari semua hasil yang mungkin dari suatu
percobaan. Ruang sampel sering disebut ruang contoh. Ruang sampel dinotasikan
dengan S. Banyaknya anggota atau unsur dalam ruang sampel dinotasikan dengan
n(S) atau n.
Titik sampel atau titik contoh adalah unsur-unsur yang terdapat di dalam
ruang sampel. Himpunan dari beberapa atau seluruh titik sampel disebut
kejadian (event).
Dalam menyusun ruang sampel suatu percobaan dapat dilakukan dalam tiga cara,
yaitu mendaftar, diagram pohon, dan membuat tabel.

Contoh:
Uang logam lima ratusan dan sebuah dadu bermata enam dilempar bersama-sama.
Tentukan ruang sampel dengan cara:
a. Diagram pohon
b. Tabel
c. Mendaftar
Jawab:
Misalkan uang logam dianggap bagian pertama dan dadu bermata enam
dianggap bagian kedua diperoleh:

a. Diagram
pohon


Ruang sampel: S = {(G,1), (G,2), (G,3), (G,4), (G,5), (G,6), (A,1),
(A,2), (A,3),
(A,4), (A,5), (A,6)}.

b. Tabel

Bagian
kedua

Bagian
pertama
1 2 3 4 5 6
G (G,1
)
(G,2
)
(G,3
)
(G,4
)
(G,5
)
(G,6
)
A (A,1
)
(A,2
)
(A,3
)
(A,4
)
(A,5
)
(A,6
)
Kompetensi Dasar:
1. Menentukan ruang sampel suatu percobaan.
2. Menentukan peluang suatu kejadian dan penafsirannya.

Awal
1
G
2
3
4
5
6
1
A
2
3
4
5
6
( G, 1)
( G, 2)
( G, 3)
( G, 4)
( G, 5)
( G, 6)
( A, 1)
( A, 2)
( A, 3)
( A, 4)
( A, 5)
( A, 6)
Bagi an per t ama Bagi an kedua
Hasi l yang mungki n
t er j adi
SM A NEGERI 1 CI JERUK 4
Jl . KH. Hal i mi Kp. Nagr ak Desa Ci pel ang Kec. Ci j er uk Kab. Bogor 16740
Matematika XI ips Rur y Rachmad, S.Si.
Ruang sampel: S = {(G,1), (G,2), (G,3), (G,4), (G,5), (G,6), (A,1),
(A,2), (A,3), (A,4), (A,5), (A,6)}.

c. Mendaftar

Hasil yang mungkin terjadi adalah (G,1), (G,2), (G,3), (G,4), (G,5),
(G,6), (A,1), (A,2), (A,3), (A,4), (A,5), (A,6).
Banyak titik sampel n(S) = 12.


UJI KOMPETENSI

1. Banyak titik sampel pada
pelemparan 3 dadu bermata enam
adalah
A. (3 6)
B. (3 6
2
)
C. 6
2

D. 6
3

E. (3 6
3
)



Esai

2. Ami mempunyai 6 pakaian sekolah,
3 tas, dan 2 sepatu.
a. Ada berapa cara Ami dapat
memadukan pakaian, tas, dan
sepatunya?
b. Tuliskan semua cara itu
dengan diagram pohon.
c. Tuliskan semua cara itu
dengan tabel.



4.2 Peluang Suatu Kejadian

Penentuan peluang suatu kejadian dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu:
1. Pendekatan frekuensi relatif atau nisbi
2. Pendekatan definisi peluang klasik
3. Penggunaan ruang sampel

1. Pendekatan frekuensi relatif atau nisbi

Misalkan suatu percobaan dilakukan sebanyak n kali. Jika kejadian acak A
muncul sebanyak k kali ( ) s s 0 k n maka frekuensi relatif kejadian A
ditentukan oleh formula:
= =
Banyaknya kej adi an acak A
( )
Banyaknya per cobaan
r
k
f A
n

Jika n besar sekali, berarti n , maka nilai ( )
r
f A merupakan nilai
peluang kejadian acak A, dituliskan sebagai:

= = ( ) l i m ( ) l i m
r
n n
k
P A f A
n


Contoh
1) Dari percobaan pengambilan kartu domino sebanyak 2.800 kali
diperoleh keluarnya kartu dobel empat sebanyak 97 kali. Tentukanlah:
a. Frekuensi relatif kejadian muncul kartu dobel empat
b. Frekuensi kejadian acak munculnya kartu dobel empat
Jawab:
Diketahui: n = 2.800 dan k = 97.
a) = =
97 1
( dobel empat )
2. 800 28
r
f
b) =
1
( dobel empat )
28
P


2. Penentuan peluang dengan pendekatan definisi peluang klasik

Jika kejadian A dapat terjadi dalam k cara dari keseluruhan n cara yang
mempunyai kemungkinan sama, maka peluang kejadian A ditentukan oleh:
= ( )
k
P A
n



SM A NEGERI 1 CI JERUK 5
Jl . KH. Hal i mi Kp. Nagr ak Desa Ci pel ang Kec. Ci j er uk Kab. Bogor 16740
Matematika XI ips Rur y Rachmad, S.Si.
Contoh
2) Pada pelemparan satu mata dadu bermata enam, tentukan peluang
kejadian munculnya mata dadu berangka ganjil.
Jawab:
Saat melempar dadu terdapat 6 titik sampel yaitu: 1, 2, 3, 4, 5, dan
6. Jika A adalah kejadian munculnya mata dadu berangka ganjil: 1, 3,
dan 5, maka = =
3 1
( )
6 2
P A

3) Dalam sebuah kotak terdapat 3 kelereng merah dan 5 kelereng putih.
Satu kelereng diambil secara acak. Tentukan peluang terambil.
a) Kelereng warna merah
b) Kelereng warna putih
Jawab:
Misal: kejadian A = terambil kelereng warna merah n(A) =
k = 3
Kejadian B = terambil kelereng warna putih n(B) = k = 5
Banyak keseluruhan kelereng n = 3 + 5 = 8
a) = =
3
( ) ( )
8
k
P A P A
n

b) = =
5
( ) ( )
8
k
P B P B
n


4) Dalam pengambilan sebuah kartu dari seperangkat kartu bridge,
tentukan peluang terambil kartu:
a) King wajik
b) King
c) Wajik
Jawab:
Diketahui n = 52 (seperangkat kartu bridge)
a) =
1
( ki ng waj i k)
32
P
b) = =
4 1
( ki ng)
52 13
P
c) = =
13 1
( waj i k)
52 4
P

5) (Perhitungan dengan menggunakan kombinasi)
Sebuah kantong berisi 6 bola merah, 4 putih, dan 8 biru. Apabila 3
bola diambil acak, hitunglah peluang bahwa yang terambil:
a) Semua merah
b) 2 putih dan 1 merah
c) Bola dalam urutan merah, putih, biru
Jawab:
a) Pengambilan 3 bola merah dari 6 bola merah

= = = =

6
3
18
3
6!
5 4 5
3! 3!
( semua mer ah)
18!
3 17 16 204
3! 15!
C
P
C

b)


= = = =

4 6
2 1
18
3
4! 6!
6 6 3
2! 2! 1! 5!
( 2 put i h dan 1 mer ah)
18!
3 17 16 68
3! 15!
C C
P
C

c) = = =
4 1 4 1 2
( bol a t er ambi l dal am ur ut an mer ah, put i h, bi r u)
17 3! 17 6 51
P

UJI KOMPETENSI

1. Dari 12 buah barang, 4 di
antaranya rusak. Jika 2 barang
diambil secara acak, maka
peluang yang terambil keduanya
barang rusak adalah

A.
1
22

B.
1
11

C.
1
6

D.
1
3

E.
1
2


SM A NEGERI 1 CI JERUK 6
Jl . KH. Hal i mi Kp. Nagr ak Desa Ci pel ang Kec. Ci j er uk Kab. Bogor 16740
Matematika XI ips Rur y Rachmad, S.Si.
2. Sebuah kotak berisi 10 kelereng,
6 buah berwarna merah, dan 4
buah berwarna kuning. Jika dari
kotak itu diambil 3 kelereng
secara acak, maka peluang semua
kelereng yang terambil berwarna
kuning adalah
A.
1
30

B.
1
15

C.
1
10

D.
1
6

E.
1
2




3. Penentuan peluang dengan menggunakan ruang sampel

Dalam suatu percobaan acak, jika kejadian-kejadian mempunyai kesempatan
muncul yang sama, maka nilai kemungkinan (peluang) dari kejadian A
ditentukan oleh formula berikut ini:
( )
( )
( )
n A
P A
n S
=
Contoh
1. Pada percobaan pelemparan sebuah dadu satu kali. Tentukan P(B) jika B
kejadian muncul mata dadu kurang dari 5.
Jawab:
B = {1, 2, 3, 4}, berarti n(B) = 4

( ) 4
( )
( ) 6
n B
P B
n S
= =
2
( )
3
P B =
2. Pada pengambilan sebuah kartu dari seperangkat kartu bridge. Tentukan:
a. P(A), jika A kejadian mendapat kartu jack
b. P(B), jika B kejadian mendapat kartu sekop
c. P(C), jika C kejadian mendapat kartu As hati
Jawab:
a. Banyak kartu jack = 4, berarti n(A) = 4
4 1
( )
52 13
P A = =
b. Banyak kartu sekop = 13, berarti n(B) = 13
13 1
( )
52 4
P B = =
c. Banyak kartu As hati = 1, berarti n(C) = 1
1
( )
52
PC =
3. Dua buah dadu bermata enam dilempar secara bersamaan sebanyak satu
kali. Hitunglah kejadian muncul jumlah kedua mata dadu adalah 5.
Jawab:
Ruang sampel pada pengetosan dua dadu bermata enam dapat dilihat pada
tabel berikut:

Dadu
2

Dadu 1
1 2 3 4 5 6
1 (1,1) (2,1) (3,1) (4,1) (5,1) (6,1)
2 (2,1) (2,2) (3,2) (4,2) (5,2) (6,2)
3 (3,1) (2,3) (3,3) (4,3) (5,3) (6,3)
4 (4,1) (2,4) (3,4) (4,4) (5,4) (6,4)
5 (5,1) (2,5) (3,5) (4,5) (5,5) (6,5)
6 (6,1) (2,6) (3,6) (4,6) (5,6) (6,6)

Jawab:
Misal B adalah kejadian muncul jumlah kedua mata dadu adalah 5, maka:
B = {(1,4), (2,3), (3,2), (4,1)} sehingga n(B) = 4.
( ) 4 1
( )
( ) 36 9
n B
P B
n S
= = =
Jadi peluang kejadian muncul jumlah mata dadu adalah 5 sama dengan
1
9
.

SM A NEGERI 1 CI JERUK 7
Jl . KH. Hal i mi Kp. Nagr ak Desa Ci pel ang Kec. Ci j er uk Kab. Bogor 16740
Matematika XI ips Rur y Rachmad, S.Si.
UJI KOMPETENSI

1. Sebuah kotak berisi 25 bola
putih, 15 bola merah, 20 bola
hitam, dan 30 bola kuning.
Sebuah bola diambil secara acak
dari kotak itu. Peluang bahwa
bola yang terambil hitam adalah
A.
5
9

B.
4
9

C.
3
9

D.
2
9

E.
1
9



2. Pada pelemparan tiga uang logam
bersamaan, peluang muncul dua
gambar dan satu angka adalah
A.
1
2

B.
3
8

C.
1
4

D.
1
8

E. 1






4.3 Kisaran Peluang

Dalam praktek batasan nilai peluang, sebuah kejadian A berisi nilai-nilai
peluang:
0 ( ) 1 P A s s

1. Pengertian peluang nol dan peluang 1

Kejadian sehari-hari yang mempunyai peluang nol antara lain:
(1) Matahari terbit dari utara
(2) Dua garis yang saling berpotongan pasti sejajar
(3) Kubus bersisi delapan

Kepastian mempunyai peluang satu antara lain:
(1) Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat
(2) Setiap makhluk hidup akan mati
(3) Kubus bersisi enam

2. Peluang komplemen suatu kejadian

A' , A atau
c
A disebut komplemen dari A.
Berdasarkan definisi peluang berdasarkan ruang sampel dapat dituliskan:
( ) ( ) 1 P A P A + =

Contoh
1. Hari ini cuaca mendung. Peluang hari ini tidak turun hujan adalah
0,13. Berapa peluang hari ini turun hujan?
Jawab:
Misal, kejadian A adalah hari ini turun hujan.
Berarti, kejadian A adalah hari ini tidak turun hujan.
( ) 0, 13 P A = , berarti ( ) 1 ( ) P A P A =
1 0, 13 =
0, 87 =
Jadi peluang hari ini turun hujan adalah 0,87.

2. Diberikan sebuah rollet (sebuah lempengan angka
berputar) seperti gambar di samping. Jika E
adalah kejadian munculnya angka genap, maka:
4 1
( )
8 2
P E = = karena E = {2, 4, 6, 8}
Peluang munculnya angka ganjil adalah:
1 1
( ) 1
2 2
P E = =






1 2
4
3
5 6
7
8

SM A NEGERI 1 CI JERUK 8
Jl . KH. Hal i mi Kp. Nagr ak Desa Ci pel ang Kec. Ci j er uk Kab. Bogor 16740
Matematika XI ips Rur y Rachmad, S.Si.
UJI KOMPETENSI

1. Peluang A memenangkan
pertandingan catur melawan B
adalah
1
3
. Peluang bahwa A
akan memenangkan paling
sedikit satu dari 3
pertandingan itu adalah
A.
1
3

B.
2
3

C.
8
27

D.
19
27

E.
26
27


2. Dalam pemilihan direktur pada
sebuah kantor ada tiga calon
A, B, dan C. Jika rasio A
akan menang adalah 7 : 5,
rasio B akan menang adalah 1
: 3, maka rasio C akan menang
adalah
A. 1 : 7
B. 1 : 6
C. 1 : 5
D. 3 : 5
E. 3 : 7




4.4 Frekuensi Harapan suatu Kejadian

Frekuensi harapan adalah frekuensi yang diinginkan agar paling sering/banyak
terulang dari suatu pecobaan.
( ) ( ) E A P A N =

Contoh

1. Diketahui peluang seorang terkena penyakit flu burung 0,04. Berapa di
antara 5.250 orang diperkirakan terkena flu burung?
Jawab:
Misal A : kejadian seorang terkena penyakit flu burung, maka P(A) = 0,04 =
4
100

N : banyaknya orang = 5.250
( ) ( ) E A P A N =

4
5. 250 210
100
= =
Jadi banyak orang yang terkena penyakit flu burung adalah 210 orang.

2. Sebuah dadu dilempar sebanyak 150 kali. Hitunglah frekuensi harapan muncul
mata dadu angka genap.
Jawab:
Misal B kejadian muncul mata dadu angka genap, maka B = {2, 4, 6}, n(B) =
3, dan
3 1
( )
6 2
P B = = .
( ) ( ) E B P B N =

1
150 75
2
= =
Jadi frekuensi harapan munculnya mata dadu angka genap adalah 75 kali.


UJI KOMPETENSI

1. Suatu bibit tanaman memiliki
peluang tumbuh 85%. Sebanyak
5.000 bibit tanaman itu ditanam
pada suatu lahan. Frekuensi
harapan tumbuh bibit tanaman itu
adalah bibit.
A. 750
B. 1.750
C. 3.750
D. 4.250
E. 4.500

2. Jika dadu bermata huruf A, B, C,
D, E, dan F dilempar 120 kali,
maka frekuensi harapan muncul
mata dadu berhuruf vokal adalah
kali.
A. 20
B. 40
C. 60
D. 80
E. 100



SM A NEGERI 1 CI JERUK 9
Jl . KH. Hal i mi Kp. Nagr ak Desa Ci pel ang Kec. Ci j er uk Kab. Bogor 16740
Matematika XI ips Rur y Rachmad, S.Si.
4.5 Peluang Kejadian Majemuk

A. Menentukan Peluang Gabungan atau Irisan Beberapa Kejadian

Misalkan A dan B adalah dua kejadian yang berada dalam ruang sampel S,
maka peluang kejadian A B ditentukan oleh formula:
( ) ( ) ( ) ( ) P A B P A P B P A B = +

Contoh
1. Dua dadu bermata enam dilempar bersamaan. Hitunglah peluang bahwa
yang terambil bilangan genap pada mata dadu pertama atau jumlahnya
8.
Jawab:
( ) ( ) ( ) ( ) n A B n A n B n A B = +
18 5 3 = +
( ) 20 n A B =
( )
( )
( )
n A B
P A B
n S

=

20 5
36 9
= =

2. Dari pelemparan dua dadu bermata enam satu kali, hitunglah peluang
bahwa muncul dadu tidak ada yang bermata sama dan tidak berjumlah 9.
Jawab:
Diketahui: n(S) = 6 6 = 36
Misal, A = kejadian muncul kedua mata dadu sama
B = kejadian muncul kedua mata dadu berjumlah 9
A = {(1,1), (2,2), (3,3), (4,4), (5,5), (6,6)} n(A) = 6
B = {(3,6), (4,5), (5,4), (6,3)} n(B) = 4
Terlihat bahwa A B = , berarti kejadian A dan kejadian B
merupakan kejadian saling lepas atau saling asing (mutually
exclusive).
( ) 6
( ) ( )
( ) 36
n A
P A P A
n S
= =
( ) 4
( ) ( )
( ) 36
n B
P B P B
n S
= =
Peluang bahwa muncul dadu bermata sama atau berjumlah 9, yaitu
( ) P A B , ditentukan oleh:
( ) ( ) ( ) P A B P A P B = + (karena A dan B kejadian saling lepas)

6 4
36 36
= +
10 5
( )
36 18
P A B = =
Peluang bahwa muncul dadu tidak ada bermata sama dan tidak berjumlah
9 adalah
( ) ( ) P A B P A B =
1 ( ) P A B =

5 13
1
18 18
= =


UJI KOMPETENSI

1. Sebuah dadu bermata enam
dilempar satu kali. Peluang
keluar angka 1 atau 5 adalah
A.
1
6

B.
1
3

C.
1
2

D.
2
3

E.
5
6



2. Dalam percobaan pelemparan
sebuah dadu sebanyak satu kali,
peluang muncul angka ganjil
tetapi tidak prima adalah
A.
1
6

B.
1
3

C.
1
2

D.
2
3

E.
5
6

SM A NEGERI 1 CI JERUK 10
Jl . KH. Hal i mi Kp. Nagr ak Desa Ci pel ang Kec. Ci j er uk Kab. Bogor 16740
Matematika XI ips Rur y Rachmad, S.Si.
B. Menentukan Peluang Kejadian Bersyarat

Penentuan formula untuk peluang kejadian bersyarat dapat dilihat
berikut ini:
(1) Peluang munculnya kejadian A dengan syarat kejadian B telah
muncul ditentukan oleh:
P(A | B)
( )
( )
P A B
P B

= dengan P(B) = 0
(2) Peluang munculnya kejadian B dengan syarat kejadian A telah
muncul ditentukan oleh:
P(A | B)
( )
( )
P A B
P A

= dengan P(A) = 0

Contoh

Tiga lempeng mata uang ditos. Hitunglah peluang muncul ketiganya angka
apabila telah muncul paling sedikit satu angka.
Jawab:
S = {GGG, GGA, GAG, GAA, AGG, AGA, AAG, AAA} n(S) = 8
Misal:
A = kejadian muncul paling sedikit satu angka, maka
A = {GGA, GAG, AGG, GAA, AGA, AAG, AAA} n(A) = 7
B = kejadian muncul tiga angka, maka B = {AAA} n(B) = 1
( ) A B = {AAA} ( ) 1 n A B =
7 1
( ) , ( )
8 8
P A P B = = , dan
1
( )
8
P A B =
P(B | A)
1
( )
8
7
( )
8
P A B
P A

= =
P(B | A)
1
7
=

C. Menentukan Peluang Dua Kejadian yang Saling Bebas

Dua kejadian A dan B disebut kejadian-kejadian yang saling bebas jika
terjadinya kejadian A tidak mempengaruhi terjadi atau tidak terjadinya
kejadian B. Jika A dan B adalah kejadian-kejadian yang saling bebas,
maka ( ) ( ) ( ) P A B P A P B = .
Jika ( ) ( ) ( ) P A B P A P B = , maka A dan B disebut kejadian tidak saling
bebas.

Contoh
1. Satu dadu dan satu mata uang dilempar sekali secara bersamaan.
Berapa peluang muncul mata dadu 5 dan angka pada mata uang?
Jawab:
1 dadu, maka n(S) = 6
1 mata uang, maka n(S) = 2
Misal, A = kejadian munculnya mata dadu 5 n(A) = 1
B = kejadian munculnya angka pada mata uang n(B) = 1
Hal ini berarti
1
( )
6
P A = dan
1
( )
2
P B = .
Jadi, ( ) ( ) ( ) P A B P A P B =

1 1 1
6 2 12
= =
1
( )
12
P A B =

2. Diketahui A dapat menjawab soal 90% dari soal matematika dalam buku
matematika SMA dan B dapat menjawab 70%. Berapakah peluang bahwa
paling sedikit satu dari mereka dapat menyelesaikan soal matematika
yang dipilih secara acak dari buku matematika SMA?
Jawab:
Misal, A = kejadian bahwa A dapat menjawab soal matematika
SM A NEGERI 1 CI JERUK 11
Jl . KH. Hal i mi Kp. Nagr ak Desa Ci pel ang Kec. Ci j er uk Kab. Bogor 16740
Matematika XI ips Rur y Rachmad, S.Si.
B = kejadian bahawa B dapat menjawab soal matematika
A dan B kejadian yang saling bebas dengan
90 9
( )
100 10
P A = = dan
70 7
( )
100 10
P B = =
( ) ( ) ( ) P A B P A P B =
9 7 63
( )
10 10 100
P A B = =
Jadi, P(A atau B) ( ) P A B =
( ) ( ) ( ) P A P B P A B = +

9 7 63 97
97%
10 10 100 100
= + = =


UJI KOMPETENSI

1. Jika P(A) = 0,4; P(B) = p; ( ) P A B = 0,6; A, B kejadian-kejadian yang
saling bebas, hitunglah nilai p.
2. Diketahui A dan B dua kejadian yang saling bebas. Peluang kejadian A dan B
adalah
1
8
dan peluang kejadian bukan A dan bukan B adalah
3
8
. Hitunglah
P(A) dan P(B).











--- Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan
nasihat-menasihati supaya menaati kesabaran (Al Ashr/103: 1-3) ---