Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Pengembangan kurikulum tidak dapat lepas dari berbagai faktor maupun aspek yang mempengaruhinya, seperti cara berfikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan, politik, sosial dan budaya), proses pengembangan kebutuhan peserta didik, lingkup (scope) dan urutan (sequence) bahan pelajaran, kebutuhan masyarakat maupun arah program pendidikan. Aspek-aspek tersebut akan menjadi bahan yang perlu dipertimbangkan dalam suatu pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur dalam rangka mendesain (designing), menerapkan (implementation), dan mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses sistem perencanaan pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan dalam pendidikan. Berdasarkan perkembangan teori dan pemikiran para ahli kurikulum, maka dewasa ini telah banyak disajikan model-model pengembangan kurikulum. Setiap pembangunan kurikulum tersebut memiliki karakteristik dan cara khusus pada pola desain, implementasi, eveluasi dan tindak lanjut dalam pembelajaran. Dalam pengembangan kurikulum dapat diidentifikasi berdasarkan basis apa yang akan dicapai dalam kurikulum tersebut, seperti alternatif yang ditekankan pada kebutuhan mata pelajaran, peserta didik, penguasa kompetensi suatu pekerjaan, kebutuhan masyarakat atau permasalahan sosial. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum perlu dilakukan berdasarkan teori yang telah ddikonseptualisasikan secara efektif. Dalam implementasinya sering terjadi dalam pengembangan kurikulum cenderung hanya ditekankan pada pemenuhan mata pelajaran. Artinya, isi atau materi yang dipelajari peserta didik hanya berpusat pada disiplin ilmu yang terstruktur, sistematis dan logis, sehingga selalu mengabaikan pengetahuan maupun kemampuan yang aktual dibutuhkan sesuai perkembangan masyarakat. Kurikulum lebih luas daripada sekedar rencana pelajaran, tetapi meliputi segala pengalaman atau proses belajar siswa yang direncanakan dan dilaksanakan

1|Page

dibawah bimbingan lembaga pendidikan. Artinya bahwa kurikulum bukan hanya berupa dokumen bahan cetak melainkan rangkaian aktivitas siswa yang dilakukan di dalam kelas, di luar kelas, di laboratorium, di lapangan maupun di lingkungan masyarakat yang direncanakan serta di bimbing oleh sekolah. Suatu kurikulum harus memuat pernyataan tujuan, menunjukkan pemilihan dan pengorganisasian bahan pengajaran serta rancangan penilaian hasil belajar (Hilda Yaba, 1962). Bahkan kurikulum harus merupakan suatu bahan pelajaran atau mata pelajaran yang akan dipelajari siswa, program pembelajaran, hasil pembelajaran yang diharapkan, reproduksi kebudayaan, tugas dan konsep yang mempunyai ciri-ciri tersendiri, agenda untuk rekontruksi sosial, serta memberikan bekal untuk kecakapan hidup (Schubert, 1986). Salah satu aspek yang perlu dipahami dalam pengembangan kurikulum adalah aspek yang berkaitan dengan organisasi kurikulum. Organisasi kurikulum merupakan pola atau desain bahan kurikulum yang tujuannya untuk

mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajarn, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Tujuan pendidikan yang dirumuskan dapat mempengaruhi pola atau desain kurikulum, karena tujuan tersebut dapat menentukan pola atau kerangka untuk memilih, merencanakan dan melaksanakan segala pangalaman dan kegiatan belajar di sekolah. Organisasi kurikulum sangat terkait dengan pengaturan bahan pelajaran yang ada dalam kurikulum, sedangkan yang menjadi sumber bahan pelajaran dalam kurikulum adalah nilai budaya, nilai sosial, aspek siswa, dan masyarakat serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Kontinuitas kurikulum dalam organisasi kurikulum perlu diperhatikan, terutama berkaitan dengan substansi bahan yang dipelajari siswa jangan sampai terjadi ada pengulangan ataupun loncat-loncat yang tidak jelas tingkat kesukarannya. Pendekatan spiral merupakan salah satu upaya dalam menerapkan faktor ini, artinya materi yang dipelajari siswa semakin lama semakin mendalam yang dikembangkan berdasarkan keluasan secara vertikal maupun horizontal. Keseimbangan bahan pelajaran perlu dipertimbangkan dalam organisasi kurikulum. Semakin dinamin perubahan dan perkembangan dalam ilmu

2|Page

pengetahuan, sosial budaya maupun ekonomi akan berpengaruh terhadap dimensi kurikulum. Ada dua aspek yang harus selalu diperhatikan dalam keseimbangan pada organisasi kurikulum; 1) keseimbangan terhadap substansi bahan atau isi kurikulum; 2) keseimbangan yang berkaitan dengan cara atau proses belajar. Keseimbangan substansi isi kurikulum harus dilihat secara komperhensif untuk kepeentingan siswa sebagai individu, tuntutan masyarakat maupun kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Aspek estetika, intelektual, moral, sosial-emosional, personal, religius, seni-apresiasi, dan kinestetik, semuanya harus terakomodasi dalam isi kurikulum. Alokasi waktu yang dibutuhkan dalam kurikulum harus menjadi bahan pertimbangan dalam organisasi kurikulum. Bahan pelajaran yang di pelajari siswa perlu dikemas dan diklasifikasi dalam bentuk desain kurikulum. B. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari makalah ini adalah: 1. 2. Bagaimana model dan organisasi kurikulum? Bagaimana pendekatan pengembangan kurikulum dan jenis-jenis organisasi kurikulum? C. Tujuan Tujuan pembuatan makalah ini adalah: 1. 2. Mengetahui model dan organisasi kurikulum Mengetahui pendekatan pengembangan kurikulum dan jenis-jenis organisasi

3|Page

BAB II PEMBAHASAN A. Model Humanistik 1. Pengertian Model Humanistik Kurikulum humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanistik. Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi (personalized education) yaitu John Dewey (Progressive Education) dan J.J.Rousseau (Romantic Education). Aliran ini lebih memberikan tempat utama kepada siswa. Pendidikan mereka lebih menekankan bagaimana mengajar siswa (mendorong siswa), dan bagaimana merasakan atau bersikap terhadap sesuatu. Ada beberapa aliran yang termasuk dalam pendidikan humanistik yaitu pendidikan: Konfluen, Kritikisme, Radikal, dan Mistikisme modern. Kritikisme radikal bersumber dari aliran naturalisme atau romantisme Rousseau. Mistikisme modern adalah aliran yang menekankan latihan dan pengembangan kepekaan perasaan, kehalusan budi pekerti, melalui sensitivity training, yoga, meditasi, dan sebagainya. Kurikulum konfluen dikembangkan oleh para ahli pendidikan konfluen, yang ingin menyatukan segi-segi afektif (sikap, perasaan, nilai) dengan segi-segi kognitif (kemampuan intelektual). Pendidikan konfluen kurang menekankan pengetahuan yang mengandung segi afektif. Kurikulum konfluen mempunyai beberapa ciri utama yaitu: a. Partisipas, kurikulm ini menekankan partisipasi murid dalam belajar, kegiatan belajar adalah belajar bersama b. Integrasi, melaui partisipasi dalam berbagai kegiatan kelompok terjadi interaksi, interpenetrasi, dan integrasi dari pemikiran, perasaan, dan juga tindakan. c. Relevansi, kurikulum berupaya melakukan kontekstualisasi dengan

kebutuhan di zamannya, dan juga kebutuhan siswa baik minat dan bakat.

4|Page

d.

Pribadi

anak,

kurikulum

ini

juga

berupaya

mengakomodasi

dan

menempatkan siswa di posisi utama, sehingga siswa dapat mengembangkan dan mengaktualisasikan segala potensi dirinya. e. Tujuan, pendidikan ini bertujuan mengembangkan pribadi yang utuh, yang serasi dengan dirinya maupun lingkungan Dasar kurikulum konfluen adalah psikologi gestalt begitu juga prinsip pengajarannya menerapkan terapi gestalt yang menekankan keterbukaan, kesadaran, keunikan, kesatuan dan keseluruhan dan tanggung jawab pribadi. Kurikulum konfluen menyatukan pengetahuan objektif dan subjektif, berhubungan dengan kehidupan siswa dan bermanfaat baik bagi individu maupun masyarakat. Hal itu sesuai dengan konsep Gesalt bahwa sesuatu itu dikatakan berarti (penting-red) apabila bermanfaat bagi keseluruhan. Pendidikan konfluen sangat mengutamakan kesatuan dan keseluruhan. Para pengembang kurikulum konfluen telah menyusun kurikulum untuk berbagai bidang pengajaran. Kurikulum tersebut mencakup tujuan, topik-topik yang akan dipelajari, alat-alat pelajaran, dan buku teks. Pengajaran konfluen juga telah tersusun dalam bentuk rencana-rencana pelajaran, unit-unit pelajaran yang telah diujicobakan. Kebanyakan bahan tersebut diajarakan dengan teknik afektif. Berbeda dengan pengembang kurikulum yang lain, para penyusun kurikulum konfluen tidak menuntut para guru melaksanakn pengajaran seperti yang mereka kerjakan. Dalam memilih kegiatan belajar beberapa cara dapat ditempuh, pertama, mengindentifikasi tema-tema atau topik-topik yang mengandung self judgment. Kedua, materi disajikan dalam bentuk yang belum selesai (open ended), tema atau issue-issue diharapkan muncul secara spontan dari prosedur serta perlengkapan pengajaran yang ada. Pengajaran humanistik memfokuskan proses aktualisasi diri (self actualization). Kurikulum humanistik dapat membantu mereka memperlancar proses aktualisasi diri ini. Melalui berbagai kegiatan pengajaran model humanistik para siswa dapat menyatakan diri, berekspresi, bereksperimen, berbuat, memperoleh umpan balik dan menemukan dirinya. Menurut Abraham Maslow (1968, hlm.

5|Page

685-686) kita dapat belajar lebih banyak tentang diri kita melalui pengujian respons-respons menuju puncak pengalaman (peak experiences). Menurut Philip H. Phenix (1971, hlm. 271-283) kurikulum harus dapat mengembangkan kesadaran dan mendorong kreativitas murid-murid. Bagi Phenix kesadaran merupakan kunci perkembangan diri dalam membina hubungan dan penyesuaian diri dengan orang lain, kelompok, budaya, dan lain-lain. 2. Karakteristik Kurikulum Humanistik Kurikulum humanistik mempunyai beberapa karakteristik, berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi, dan evaluasi. Menurut para humanis, kurikulum berfungsi menyediakan pengalaman (pengetahuan-red) berharga untuk membantu memperlancar perkembangan pribadi murid. Kurikulum humanistik menuntut hubungan emosional yang baik anatara guru dan murid. Guru selain harus mampu menciptakan hubungan yang hangat dengan murid, juga mampu memberi sumber. Sesuai prinsip yang dianut, kurikulum humanistik menekankan integrasi, yang kesatuan prilaku bukan saja yang bersifat intelektual tetapi juga emosional dan tindakan. Kurikulum humanistik juga menekankan keseluruhan. Kurikulum ini kurang menekankan sekuens, karena dengan sekuaens murid-murid kurang mempunyai kesempatan untuk memperluas dan memperdalam aspek-aspek perkembangannya. Penyusunan sekuens dalam pengajaran yang yang sifatnya afektif, dilakukan oleh Shiflett (1975, hlm. 121-139) dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Menyusun kegiatan yang dapat memunculkan sikap, minat atau perhatian tertentu. b. Memperkenalkan bahan-bahan yang akan dibahas dalam setiap kegiatan. c. Pelaksanaan kegiatan, para siswa diberi pengalaman yang menyenangkan baik yang berupa gerakan-gerakan maupun penghayatan. d. Penyempurnaan, pembahasan hasil-hasil yang telah dicapai, penyempurnaan hasil serta upaya tindak lanjutnya. Kurikulum yang berfungsi menyediakan pengalaman berharga untuk membantu memperlancar perkembangan pribadi murid, tentunya mempunyai ciri-

6|Page

ciri tertentu. Dalam hal ini, kurikulum humanistik mempunyai beberapa karakteristik berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi,dan evaluasi yaitu: a. Menurut hubungan emosional yang baik antara guru dan murid. Selain harus mampu menciptakan hubungan yang hangat dengan murid, guru juga mampu memberi sumber. b. Menekankan integrasi, yaitu kesatuan prilaku bukan saja yang bersifat intelektual tetapi juga emosional dan tindakan. c. Evaluasi yang lebih mengutamakan proses daripada hasil (sekuens). d. Menekankan keseluruhan, yaitu memberikan pengalaman yang menyeluruh bukan yang terpenggal-penggal. B. Model Subjek Akademik Model konsep kurikulum ini adalah model yang tertua, sejak sekolah yang pertama berdiri, kurikulumnya mirip dengan tipe ini. Sampai sekarang, walaupun telah berkembang tipe-tipe lain, umumnya sekolah tidak dapat melepaskan tipe ini. Kurikulum subjek akademis bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang berorientasi pada masa lalu. Semua ilmu pengetahuan dan nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir masa lalu. Fungsi pendidikan memelihara dan mewariskan hasil-hasil budaya masa lalu tersebut. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Isi pendidikan diambil dari setiap disiplin ilmu. Sesuai dengan bidang disiplinnya para ahli, masing-masing telah mengembangkan ilmu secara sistematis, logis, dan solid. Karena kurikulum sangat mengutamkan pengetahuan maka pendidikannya lebih bersifat intelektual. Nama-nama mata pelajaran yang menjadi isi kurikulum hampir sama dengan disiplin ilmu, seperti bahasa dan sastra, geografi, matematika, ilmu kealaman, sejarah, dan sebagainya. Kurikulum subjek akademis tidak berarti hanya menekankan pada materi yang disampaikan, dalam perkembangnnya secara berangsur memperhatikan proses belajar yang dilakukan siswa. Proses belajar yang dipilih sangat bergantung pada segi apa yang dipentingkan dalam materi pelajaran tersebut.

7|Page

Jerome Bruner dalam The Process of Education menyatakan bahwa desain kurikulum hendaknya didasarkan atas struktur disiplin ilmu. Selanjutnya, ia menegaskan bahwa kurikulum suatu mata pelajaran harus didasarkan atas pemahaman yang mendasar yang dapat diperoleh dari prinsip-prinsip yang mendasarinya dan yang memberi struktur kepada suatu disiplin ilmu. Salah satu contoh kurikulum yang berdasarkan atas struktur pengetahuan adalah Man: A Course oof Study (MACOS) Macos adalah kurikulum untuk sekolah dasar, terdiri atas buku-buku, film, poster, rekaman, permainan, dan perlengkapan kelas lainnya. Kurikulum ini ditunjukan untuk mengadakan penyempurnaan tentang pengajaran ilmu sosial dan humanitas, dengan pengarahan dan bimbingan Bruner. Sasaran utama kurikulum model MACOS adalah perkembangan kemampuan intelektual, yaitu membangkitkan penghargaan dan keyakinan akan kemampuan sendiri dan memberikan serangkaiann cara kerja yang memungkinkan anak walaupun dengan cara sederhana mampu menganalisis kehidupan sosial. Sekurang-kurangnya ada tiga pendekatan dalam perkembangan kurikulum Subjek Akademis. Pendekatan pertama, melanjutkan pendekatan struktur pengetahuan. Pendekatan kedua, adalah studi yang bersifat integratif. Ada beberapa ciri model kurikulum yang dikembangkan. 1) Menentukan tema-tema yang membentuk satu kesatuan (unifying theme). 2) Menyatukan kegiatan belajar dari bebrapa disiplin ilmu. 3) Menyatukan berbagai cara/ metode belajar. Pendekatan ketiga, adalah pendekatan yang dilaksanakan pada sekolahsekolah fundamentalis. 1. Ciri-Ciri Kurikulum Subjek Akademis Kurikulum subjek akademis mempunyai beberapa ciri berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi isi, dan evaluasi. Tujuan kurikulum subjek akademis adalah pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses penelitian. Metode yang paling banyak digunakan dalam kurikulm subjek akademis adalah metode ekspositori dan inkuiri. Ide-ide diberikan guru kemudian dielaborasi (dilaksanakan) siswa sampai mereka kuasai.

8|Page

Melalui proses tersebut para siswa akan menemukan, bahwa kemampuan berfikir dan mengamati digunakan dalam ilmu kealaman, logika digunakan dalam matematika, bentuk dan perasaan dalam seni dan koherensi dalam sejarah. Ada beberapa pola organisasi isi (materi pelajaran) kurikulum subjek akademis. Pola-pola organisasi yang terpenting di antaranya: a. correlated curriculum adalah pola organisasi materi tahu konsep yang dipelajari dalam suatu pelajaran dikorelasikan dengan pelajaran lainnya. b. Unified atau Concentrated curriculum adalah pola organisasi bahan pelajaran tersusun dalam tema-tema pelajran tertentu, yang mencakup materi dari berbagai pelajaran disiplin ilmu. c. Integrated curriculum. Kalau dalam unified masih tampak warna disiplin ilmunya, maka dalam pola yang integrated warna disiplin ilmu tersebut sudah tidak kelihatan lagi. Bahan ajar diintegrasikan dalam suatu persoalan, kegiatan atau segi kehidupan tertentu. d. Problem Solving Curriculum adalah pola organisasi isi yang berisi topik pemecahan masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan dengan

menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari berbagai mata pelajarn atau disiplin ilmu. Tentang kegiatan evaluasi, kurikulum subjek akademis menggunakan bentuk evaluasi yang bervariasi disesuaikan dengan tujuan dan sifat mata pelajaran. Dalam bidang studi humaniora lebih banyak digunakan bentuk uraian (essay test) daripada tes objektif. Para ahli disiplin ilmu sering memilki sifat ambivalen terhadap evaluasi. Satu pihak melihatnya sebagai suatu kegiatan yang sangat berharga, yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan. Evaluasi yang dilakukan dalam waktu singkat tidak akan memberikan gambaran yang benar tentang perkembangan dan penguasaan siswa. Kekhawatiran mereka dapat sedikit dikurangi dengan dikembangkannya model evaluasi formatif dan sumatif. 2. Pemilihan Disiplin Ilmu Masalah besar yang dihadapi oleh para pengembang kurikulum subjek akademis adalah bagaimana memilih materi pelajaran dari sekian banyak disiplin

9|Page

ilmu yang ada. Apabila ingin memiliki penguasaan yang cukup mendalam maka jumlah disiplin ilmunya harus sedikit. Apabila hanya mempelajari sedikit disiplin ilmu maka penguasaan para siswa akan sangat terbatas, sukar menerapkannya dalam kehidupan masyarakat secara luas. Apabila disiplin ilmunya cukup banyak, maka tahap penguasaannya akan mendangkal. Anak-anak akan tahu banyak tetapi pengetahuannya hanya sedikit-sedikit (tidak mendalam). Ada beberapa saran untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu: a. Mengusahakan adanya penguasaan yang menyeluruh (comprehensiveness) dengan menekankan pada bagaimana cara menguji kebenaran atau

mendapatkan pengetahuan. b. Mengutamakan kebutuhan masyarakat (social utility), memilih dan

menentukan aspek-aspek dari disiplin ilmu yang sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat. c. Menekankan pengetahuan dasar, yaitu pengetahuan-pengetahuan yang menjadi dasar (prerequisite) bagi penguasaan disiplin-disiplin ilmu yang lainnya. 3. Penyesuaian Mata Pelajaran dengan Perkembangan Anak Para pengembang kurikulum subjek akademis, lebih mengutamakan penyususnan bahan secara logis dan sistematis daripada menyalaraskan urutan bahan dengan kemampuan berpikir anak. Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan di atas dalam perkembangan selanjutnya dilakukan beberapa penyempurnaan. Pertama, untuk mengimbangi penekannya pada proses berfikir, mereka mulai mendorong penggunaan intuisi dan tebakan-tebakan. Kedua, adanya upaya-upaya untuk menyesuaikan pelajaran dengan perbedaan individu dan kebutuhan setempat. Ketiga, pemanfaatan fasilitas dan sumber yang ada pada masyarakat. C. Model Rekontruksi Sosial Kurikulum rekonstruksi sosial berada dengan model-model kurikulum lainnya. Kurikulum ini lebih memusatkan perhataian pada problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat. Kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan interaksional. Pandangan rekonstruksi sosial di dalam kurikulum

10 | P a g e

dimulai sekitar tahun 1920-an. Harold Rug mulai melihat dan menyadarkan kawan-kawannya bahwa selama ini terjadi kesenjangan antara kurikulum dengan masyarakat. Theodore Brameld, pada awal tahun 1950-an menyampaikan gagasannya tentang rekonstruksi sosial. Dalam masyarakat demokratis, seluruh warga masyarakat harus turut serta dalam perkembangan dana pembaharuan masyarakat. Para rekonstruksionis sosial tidak mau terlalu menekankan kebebasan individu. Mereka ingin meyakinkan murid-murid bagaimana masyarakat membuat warganya seperti yang ada sekarang dan bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan pribadi warganya melalui konsesnus sosial. 1. Desain Kurikulum Rekonstruksi sosial Ada beberapa ciri dari desain kurikulum, yaitu: a. Asumsi. b. Masalah-masalah sosial yang mendesak. c. Pola-pola organisasi.

2.

Komponen-komponen Kurikulum Kurikulum rekonstruksi sosial memiliki komponen-komponen yang sama

dengan model kurikulum lain tetapi isi dan bentuk-bentuknya berbeda. a. Tujuan dan isi kurikulum. b. Metode. c. Evaluasi.

3.

Pelaksanaan Pengajaran Rekonstruksi Sosial Pengajaran rekonstruksi sosial banyak dilaksanakan di daerah-daerah yang

tergolong belum maju dan tingkat ekonominya juga belum tinggi. Pelaksanaan pengajaran ini diarahkan untuk meningkatkan kondisi kehidupan mereka. Sesuai dengan potensi yang ada dalam masyarakat, sekolah mempelajari potensi-potensi tersebut, dengan bantuan biaya dari pemerintah sekolah berusaha

mengembangkan potensi tersebut.

11 | P a g e

Salah satu badan yang banyak mengembangkan baik teori maupun praktik pengajaran rekonstruksi sosial adalah Paulo Freize. Mereka banyak membantu pengembangan daerah-daerah Amerika Latin. Untuk memerangi kebodohan dan keterbelakangan (conscientization). mereka Dengan menggalakan gerakan gerakan budaya mereka akal budi

Conscientization

membantu

masyarakat memahami fakta-fakta dan masalah-masalah yang dihadapinya dalam konteks kondisi masyarakat mereka. Keterbatasan dan potensi yang mereka miliki. Harold G. Shane seorang profesor dari Universitas Indiana Amerika Serikat, mewakili teman-temannya para Futurolog menggunakan perencanaann masa yang akan datang (future planning) sebagai dasar penyusunan kurikulum. Shane menyarankan para pengembang kurikulum, agar mempelajari kecenderungan (trends) perkembangan. Kecenderungan utama adalah perkembangan teknologi dengan berbagai dampaknya terhadap kondisi dan perkembangan masyarakat. Kecenderungan lain adalah perkembangan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. D. Model Teknologis Abad dua puluh ditandai dengan perkembangaan teknologi yang pesat. Perkembangan teknologi mempengaruhi setiap bidang dan aspek kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Sejak dahulu teknologi telah diterapkan dalam pendidikan, tetapi yang digunakan adalah teknologi sederhana seperti penggunaan papan tulis dan kapur, pena dan tinta, sabak dan grip, dan lain-lain. Dewasa ini sesuai dengan tahap perkembangnnya yang digunakan adalah teknologi maju, seperti audio dan video casssette, overhead projector, film slide, dan motion film, mesin pengajaran, komputer, CD-rom dan internet. Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, dibidang pendidikan berkembang pula teknologi pendidikan. Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum adalah dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Penerapan teknologi perangkat keras dalam pendidikan dikenal sebagai teknologi alat (tools tecnology), sedangkan penerapan teknologi perangkat lunak disebut juga teknologi sistem (system technology).

12 | P a g e

Teknologi pendidikan dalam arti teknologi alat, lebih menekankan kepada penggunaan alat-alat teknologis untuk menunjang efisien dan efektivitas pendidikan. Dalam arti teknologi sistem, teknologi pendidikan menekankan kepada penyusunan program pengajaran atau rencana pelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem. Program pengajaran ini bisa semata-mata program sistem, bisa program sistem yang ditunjang dengan alat dan media, dan bisa juga program sistem yang dipadukan dengan alat dan media pengajaran. Pada bentuk pertama, pengajaran tidak membutuhkan alat dan medis yang canggih, tetapi bahan ajar dan proses pembelajaran disusun secara sistem. Pada bentuk kedua, pengajaran disusun secara sistem dan ditunjang dengan penggunaan alat dan media pembelajaran. 1. Beberapa Ciri Kurikulum Teknologis Kurikulum yang dikembangkan dari konsep teknologi pendidikan, memiliki beberapa ciri khusus, yaitu: a. b. Tujuan. Metode. 1) Penegasan tujuan. 2) Pelaksanaan pengajaran. 3) Pengetahuan tentang hasil c. d. Organisasi bahan ajar. Evaluasi. Program pengajaran teknologis sangat menekankan efesiensi dan

efektivitas. Program dikembangkan melalui beberapa kegiatan uji coba dengan sampel-sampel dari suatu populasi yang sesuai, direvisi beberapa kali sampai standar yang diharapkan dapat dicapai. Meskipun memiliki kelebihan-kelebihan, kurikulum teknologis tidak terlepas dari beberapa keterbatasan atau kelemahan. Model ini terbatas kemampuannya untuk mengajarkan bahan ajar yang kompleks atau membutuhkan penguasaan tingkat tinggi (analisis, sintesis, evaluasi) juga bahan ajar yang bersifat efektif.

13 | P a g e

2.

Pengembangan Kurikulum Dalam pengembangan kurikulum model lama, menurut para ahli teknologi

pendidikan, penyusunan kurikulum, penyusunan buku-buku serta perangkat kurikulum lainnya lebih bersifat seni dan didasarkan atas kepentingsn politik daripada landasn-landasan ilmiah dan teknologis. Pengembangan kurikulum teknologis berpegang pada beberapa kriteria, yaitu: (1) prosedur pengembangan kurikulum dinilai dan disempurnakan oleh pengembang kurikulum yang lain, (2) hasil pengembangan terutama yang berbentuk model adalah yang bisa diuji coba ulang, dan hendaknya memberikan hasil yang sama. Inti dari pengembangan kurikulum teknologis adalah penekanan pada kompetensi. Pemecahan masih dapat dilakukan dengan menerapkan model kurikulum yang lebih menekankan pada teknologi sistem dan kurang menekankan pada teknologi alat. Pengembangan kurikulum teknologis terutama yang menekankan teknologi alat, perlu mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, formulasi perlu dirumuskan terlebih dahulu apakah pengembangan alat atau media tersebut benra-benar diperlukan. Kedua, spesifikasi, diperlukan adanya spesifikasi dari alat atau media yang akan dikembangkan, baik dilihat dari segi kegunaan maupun ketetapan penggunaannya. Spesifikasi juga meliputi spesifikasi situasi lingkungan tempat belajar, standar perilaku belajar, serta keterampilan-keterampilan untuk mencapai tujuan. Ketiga, prototipe sekuens-sekuens pengajran perlu diujicobakan dalam bentuk prototipe-protipe, demikian juga format-format media, dan organisasi. Keempat, percobaan pertama unit-unit pengajaran diujicobakan pada sejumlah sampel siswa untuk mengetahui keberhasilan dan kelemahannya. Kelima, mencoba hasil, hasil dan pengembangan dicoba diterapkan di dalam sistem pengajaran yang berlaku. 3. Pendekatan Pengembangan Kurikulum Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap suatu proses tertentu. Istilah pendekatan menunjuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum.

14 | P a g e

Pengembangan kurikulum mempunyai makna yang cukup luas. Menurut Sukmadinata (2000:1), pengembangan kurikulum bisa berarti penyusunan kurikulum yang sama sekali baru (curriculum construction), bisa juga menyempurnakan kurikulum yang telah ada (curriculum improvement). Yang dimaksud pengembangan kurikulum dalam bahasan ini bisa mencakup keduanya, tergantung pada konteks pendekatan dan model pengembangan kurikulum itu sendiri. Dilihat dari cakupan pengembangannya apakah curriculum construction atau curriculum improvement, ada dua pendekatan yang dapat diterapakan dalam pengembangan kurikulum. a. Pendekatan Top Down Dikatakan pendekatan top down, disebabkan pengembangan kurikulum muncul atas inisiatif para pejabat pendidikan atau para administrator atau dari para pemegang kebijakan (pejabat) pendidikan seperti dirjen atau para kepala Kantor Wilayah. Dilihat dari cakup pengembangnnya, pendekatan top down bisa dilakukan baik untuk menyusun kurikulum yang benar-benar baru (curriculum construction) ataupun untuk penyempurnaan kurikulum yang sudah ada (curriculum improvement). Prosedur kerja atau proses pengembangan kurikulum model ini dilakukan kira-kira sebagai berikut: 1) Langkah Pertama, dimulai dengan pembentukan tim pengarah oleh pejabat pendidikan. 2) Langkah Kedua, adalah menyusun tim atau kelompok kerja untuk menjabarkan kebijakan atau rumusan-rumusan yang telah disusun oleh tim pengarah. 3) Langkah Ketiga, apabila kurikulum sudah selesai disusun oleh tim atau kelompok kerja, selanjutnya hasilnya diserahkan kepada tim perumus untuk dikaji dan diberi catatan-catatan atau direvisi. 4) Langkah Keempat, para administrator selanjutnya memerintahkan kepada setiap sekolah untuk mengimplementasikan kurikulum yang telah tersusun itu.

15 | P a g e

b. Pendekatan Grass Roots Kalau pada pendekatan administratif inisiatif pengembangan kurikulum berasal dari para pemegang kebijakan kemudian turun ke stafnya atau dari atas ke bawah, maka dalam model grass roots, inisiatif pengembangan kurikulum dimulai dari lapangan atau dari guru-guru sebagai implemmentator, kemudian menyebar pada lingkungan yang lebih luas, makanya pendekatan ini dinamakan juga pengembangan kurikulum dari bawah ke atas. Syarat sebagai kondisi yang memungkinkan pendekatan grass roots dapat berlangsung. Pertama, manakala kurikulum itu benaar-benar bersifat lentur

sehingga memberikan kesempatan kepada setiap guru secara lebih terbuka untuk memperbaharui atau menyempurnakan kurikulum yang sedang diberlakukan. Kedua, pendekatan grass roots hanya mungkin terjadi manakala guru memiliki setiap profesioanal yang tinggi disertai kemampuan yang memadai. Ada beberapa langkah penyempurnaan kurikulum yang dapat kita lakukan manakala menggunakan pendekatan grass roots ini. 1) Menyadari adanya masalah. 2) Mengadakan refleksi. 3) Menunjukan hipotesis atau jawaban sementara. 4) Menentukan hipotesis yang sangat mungkin dekat dan dapat dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan. 5) Mengimplementasikan perencanaan dan mengevaluasinya secara terus menerus hingga terpecahkan masalah yang dihadapi. 6) Membuat dan menyusun laporan hasil pelaksanaan pengembangan melalui grass root.

16 | P a g e

BAB III KESIMPULAN

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Salah satu aspek yang perlu dipahami dalam pengembangan kurikulum adalah aspek yang berkaitan dengan organisasi kurikulum. Organisasi kurikulum merupakan pola atau desain bahan kurikulum yang tujuannya untuk mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajarn, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Kurikulum ini memiliki model dan organisasi tersendiri, yaitu model humanistik, model subjek akademik, model rekontruksi sosial, dan model teknologis. Model humanistik lebih memberikan tempat utama kepada siswa. Pendidikan mereka lebih menekankan bagaimana menagajar siswa (mendorong siswa), dan bagaimana merasakan atau bersikap terhadap sesuatu. Kurikulum subjek akademis bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang berorientasi pada masa lalu. Semua ilmu pengetahuan dan nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir masa lalu. Fungsi pendidikan memelihara dan mewariskan hasil-hasil budaya masa lalu tersebut. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Pada kurikulum rekonstruksionis sosial tidak mau terlalu menekankan kebebasan individu. Pada kurikulum ingin meyakinkan murid-murid bagaiman masyarakat membuat warganya seperti yang ada sekarang dan bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan pribadi warganya melalui konsesnus sosial. Teknologi pendidikan dalam arti teknologi alat, lebih menekankan kepada penggunaan alat-alat teknologis untuk menunjang efisien dan efektivitas pendidikan. Dalam arti teknologi sistem, teknologi pendidikan menekankan kepada penyusunan program pengajaran atau rencana pelajaran dengan

17 | P a g e

menggunakan pendekatan sistem. Program pengajaran ini bisa semata-mata program sistem, bisa program sistem yang ditunjang dengan alat dan media, dan bisa juga program sistem yang dipadukan dengan alat dan media pengajaran.

18 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Laksmini, dkk. 2006. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung http://www.scribd.com/doc/50769103/MODEL-KONSEP-KURIKULUMHUMANISTIK http://ramahadindamanik.blogspot.com/2009/12/kurikulum-humanistik.html http://mcdens13.files.wordpress.com/2010/03/kurikulum_q.doc

19 | P a g e

Anda mungkin juga menyukai