Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Farmasi Indonesia Vol. 3 No.

3 Januari 2007: 136 - 143

PENGARUH KADAR BAHAN PENGIKAT MUSILAGO GUMMI ARABICI DAN UKURAN GRANUL BASAH TERHADAP MIGRASI OBAT SELAMA PROSES PENGERINGAN
Dwi Endarti dan Achmad Fudholi Bagian Farmasetika, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada

ABSTRACT
Wet granulation is one of compressed tablet method that used widely. This experiment purposed to study the effect of gummi arabici mucilage binder concentration and wet granul size on drug migration during drying process which used vitamin B6 as a model of drug. Three formulation of granul was prepared using gummi arabici mucilage binder which concentration 10%, 15%,20%. Each formula was sieved used sieving number 8, 12, 16 mesh. Granul was dried in oven at temperature 60C for 3,5 hours used drying cell. Drug migration was known by calculating the coefficient of migration value. The result was analyzed used statistic method ANOVA two way at 95% level of significant and student-t test if theres a significant of difference. The result of experiment showed a significant of difference on coefficient of migration that influenced by gummi arabici mucilage concentration, but the wet granul size didnt give a significant of difference. The coefficient of migration value which resulted at granul size 8, 12, 16 mesh at each formula are FI 0,230, 0,215, 0,209; FII 0,161, 0,151, 0,138; FIII 0,087, 0,071, 0,063. Key words: gummi arabici, wet granul size, coefficient of migration.

ABSTRAK
Granulasi basah merupakan salah satu metode pembuatan tablet yang digunakan secara luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar bahan pengikat musilago gummi arabici dan ukuran granul basah terhadap migrasi obat selama proses pengeringan dengan menggunakan vitamin B6 sebagai model obat. Untuk mencapai tujuan tersebut dibuat 3 macam formula granul dengan bahan pengikat musilago gummi arabici dengan kadar 10%, 15%, 20%. Masing-masing formula tersebut diayak dengan ayakan no 8, 12, 16 mesh. Granul dikeringkan dalam lemari pengering pada suhu 60C selama 3,5 jam dengan menggunakan sel pengering. Besarnya migrasi obat diketahui dengan menghitung harga koefisien migrasi. Selanjutnya hasil yang diperoleh dianalisa dengan ANOVA dua jalan dengan taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji t (student) jika terdapat perbedaan yang bermakna. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna pada koefisien migrasi obat karena pengaruh kadar bahan pengikat musilago gummi arabici yang digunakan, sedangkan ukuran granul basah tidak memberikan perbedaan yang bermakna. Harga koefisien migrasi yang diperoleh pada granul dengan ukuran 8, 12, 16 mesh pada masing-masing formula adalah FI 0,230, 0,215, 0,209; FII 0,161, 0,151, 0,138; FIII 0,087, 0,071, 0,063. Kata kunci : gummi arabici,, ukuran granul basah, koefisien migrasi

136

Pengaruh Kadar Bahan Pengikat Musilago Gummi Arabici Dan Ukuran Granul Basah Terhadap Migrasi Obat Selama Proses Pengeringan (Dwi Endarti dan Achmad Fudholi)

PENDAHULUAN Sediaan obat dalam bentuk tablet merupakan salah satu sediaan obat yang sampai sekarang masih banyak digunakan. Hal ini disebabkan karena tablet mudah dalam penggunaannya, stabil dalam penyimpanan dengan jangka waktu yang cukup lama, mudah dalam transportasi dan distribusi, serta harganya relatif murah. Tablet yang baik harus memenuhi kriteria antara lain kuat dan tahan terhadap gesekan, kadar obat yang terkandung terpenuhi, memenuhi keseragaman bobot dan isi zat aktif, memenuhi ketersediaan hayati, mempunyai penampilan yang baik dan dapat mempertahankan sifatsifatnya. Dalam industri farmasi dikenal ada tiga macam metode pembuatan tablet yaitu granulasi basah, granulasi kering, dan cetak langsung. Dari beberapa macam metode tersebut, metode granulasi basah merupakan metode tertua dan tetap digunakan secara luas dalam industri farmasi. Hal ini disebabkan karena metode granulasi basah mempunyai berbagai keuntungan dibanding metode lain. Namun pada metode granulasi basah dimungkinkan terjadinya migrasi obat selama pengeringan granul yang dapat mengakibatkan dehomogenisasi yaitu distribusi obat dalam granul tidak merata yang pada akhirnya menyebabkan ketidakseragaman kandungan isi zat aktif dalam tablet. Pengeringan merupakan salah satu tahap dalam proses pembuatan tablet dengan metode granulasi basah. Pada saat pengeringan granul terjadi peristiwa perpindahan panas dan perpindahan massa yang berlangsung secara bersamaan. Perpindahan massa berupa perginya air dari dalam permukaan granul ke permukaan granul dan menguapnya

air dari permukaan granul mengikuti aliran udara kering di ruang pengeringan. Perginya air dari dalam granul ke permukaan granul, disebut dengan migrasi. Apabila ada bahan obat atau zat warna yang larut dalam air di dalam granul, maka pada saat migrasi akan ikut bersama perpindahan air ke permukaan. Migrasi obat selama proses pengeringan dapat mengakibatkan dehomogenisasi artinya distribusi obat di dalam granul setelah pencampuran dengan bahan pengikat yang homogen atau merata menjadi tidak merata lagi. Migrasi obat menimbulkan maslah yang serius karena menyebabkan ketidakseragaman kadar zat aktif dalam tablet terutama pada tablet yang mengandung zat aktif dalam jumlah kecil. Proses migrasi tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain suhu pengeringan, ukuran partikel bahan pengisi, kekentalan bahan pengikat, cara pengeringan. Warren dan Price (1977 b) telah melakukan penelitian tentang pengaruh viskositas bahan pengikat Povidon terhadap migrasi Propoksifen hidroklorida selama proses pengeringan. Dari penelitian tersebut diungkapkan bahwa terjadi penurunan migrasi obat dengan adanya kenaikan viskositas bahan pengikat. Pada tahun yang sama mereka meneliti tentang pengaruh ukuran bahan pengisi laktosa terhadap migrasi propoksifen hidroklorida dengan hasil menunjukkan bahwa migrasi obat naik dengan adanya penurunan ukuran partikel bahan pengisi. Musilago gummi arabici atau akasia merupakan salah satu bahan pengikat yang biasa digunakan dalam granulasi basah. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh kadar bahan pengikat musilago gummi arabici dan ukuran granul terhadap

137

Jurnal Farmasi Indonesia Vol. 3 No. 3 Januari 2007: 136 - 143

migrasi vitamin B6 (Piridoksin Hidroklorida) sebagai model obat pada granulasi basah selama proses pengeringan granul. Digunakannya vitamin B6 sebagai model obat, dengan alasan bahwa obat ini bersifat larut dalam air, tahan terhadap pemanasan dan penetapan kadarnya mudah. METODOLOGI PENELITIAN Bahan Laktosa; Vitamin B6; PGA; Talk; Magnesium stearat; Akuades; HCl (semua bahan berderajat farmasetis). Alat Spektrofotometer (Genesys 5); Viskosimeter Redwoods; Neraca elektronik; Glassware (alat-alat gelas); Sel pengering (drying cell); Almari

pengering; Abrasive tester (Erweka G.m.b.h Type TAP); Hardness tester (Stokes skala 0-20 kg, Hoshinos tube); Mesin tablet single punch (Rieckermann korsch Berlin); Disintegration tester (Erweka G.m.b.h Type z.t.2); Sieving machine (Erweka AR 400); Ayakan bertingkat (OSK 119, ogawa seiki co, LTD). Cara kerja Pembuatan dan pengukuran viskositas musilago gummi arabici: Musilago gummi arabici dengan kadar 10%, 15%, 20% dibuat dari PGA dengan pelarut air. Selanjutnya diukur viskositasnya menggunakan viskosimeter Redwoods. Pembuatan granul: Dibuat granul dengan formula seperti yang tertera dalam tabel 1.

Tabel 1 Formula granul Bahan Vitamin B6 Laktosa Musilago gummi arabici Formula I 2,4 237,6 10% (35 ml) Formula II 2,4 237,6 15% (35 ml) Formula III 2,4 237,6 20% (35 ml)

Pembuatan granul dilakukan sebagai berikut : Vitamin B6 dilarutkan dalam sedikit air dan dikeringkan dengan sebagian laktosa kemudian sisa laktosa ditambahkan sedikit demi sedikit sambil dicampur hingga homogen. Kemudian ditambahkan bahan pengikat sedikit demi sedikit sampai terbentuk massa granul yang baik, lalu diayak dengan ayakan no 8, 12, 16 mesh. Pengeringan granul dilakukan sebagai berikut : Sejumlah granul basah ditimbang sebanyak 65 gram lalu dimasukkan ke dalam sel pengering dan dikeringkan dalam

almari pengering pada suhu 60C selama 3,5 jam. Penetapan kadar vitamin B6 pada granul basah: Sejumlah sampel granul basah diambil dan ditetapkan kadarnya dengan spekttofotometer UV panjang gelombang maksimum dengan pelarut HCl 0,1 N. Pengukuran koefisien migrasi: Koefisien migrasi adalah besaran yang menyatakan besarnya proses migrasi yang terjadi. Koefisien migrasi dihitung dengan langkah-langkah seperti di bawah ini.

138

Pengaruh Kadar Bahan Pengikat Musilago Gummi Arabici Dan Ukuran Granul Basah Terhadap Migrasi Obat Selama Proses Pengeringan (Dwi Endarti dan Achmad Fudholi)

Pengambilan sampel dilakukan sebagi berikut : Sampel granul diambil dari tiap lapis sel pengering dengan frekuensi pengambilan untuk tiap lapis sel sebanyak tiga sampel, kemudian ditentukan kadar vitamin B6 dalam sampel tersebut. Penetapan kadar vitamin B6 dalam sampel dilakukan sebagai berikut : Sejumlah sampel granul diambil dan ditetapkan kadranya dengan spektrofotometer UV pada panjang gelombang maksimum dengan pelarut HCl 0,1 N. Dari kadar yang diperoleh kemudian dihitung harga koefisien migrasinya dengan menggunakan rumus pada persamaan berikut (Warren dan Price, 1977 a): Dj-j =

mesh, ditambah bahan pelicin Mg stearat-talk 1:9 sebanyak 1,5%, lalu dibuat tablet dengan berat 150 mg. Pemeriksaan sifat-sifat fisik tablet: Pemeriksaan sifat-sifat fisik tablet yang dilakukan meliputi : Keseragaman bobot, Kekerasan, Kerapuhan, Waktu hancur. Penetapan keseragaman kadar tablet: Diambil sebanyak enam sampel tablet untuk masing-masing formula. Kadar vitamin B6 dalam tiap tablet ditetapkan dengan spektrofotometer UV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengukuran viskositas musilago gummi arabici Viskositas bahan pengikat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses migrasi obat. Pada prakteknya, kekentalan bahan pengikat dinyatakan dengan konsentrasi, oleh karena itu harus dicari hubungan antara konsentrasi larutan bahan pengikat dengan viskositasnya. Dari hasil penentuan viskositas menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi atau kadar musilago gummi arabici, maka viskositasnya semakin besar (Tabel 2). Penetapan kadar vitamin B6 pada granul basah Penetapan kadar vitamin B6 pada granul basah diperlukan untuk mengetahui kehomogenitasan zat aktif pada campuran granul basah sehingga dapat diketahui apakah perbedaan kadar zat aktif pada granul kering merupakan akibat migrasi obat selama pengeringan granul atau akibat tidak homogennya pencampuran zat aktif pada granul basah. Sebagai parameter keseragaman kadar zat aktif digunakan syarat

Lj Lj' 2 Lj : N
j =1 N

Koefisien migrasi = Jumlah Dj j Jumlah lapis Keterangan : Lj = harga purata kadar obat dalam lapisan j Lj= harga purata kadar obat dalam lapisan j

Lj
j =1

= jumlah purata kadar obat N

lapis N = jumlah lapis sel pengering Pemeriksaan sifat-sifat fisik granul: Pemeriksaan sifat-sifat fisik granul yang dilakukan meliputi : Distribusi ukuran granul dan diameter reratagranul, Uji bulk density, Uji waktu alir (metode corong), Uji pengetapan. Pembuatan tablet: Massa granul dengan ukuran 16 mesh yang berasal dari pengeringan pada sel pengering kemudian dikeringkan lagi sampai kering, diayak dengan ukuran 18

139

Jurnal Farmasi Indonesia Vol. 3 No. 3 Januari 2007: 136 - 143

keseragaman kadar dengan parameter coefficient of variation (CV). Hasil penetapan kadar vitamin B6 pada granul basah dapat dilihat pada tabel 3. Dari hasil penelitian ini kadar vitamin B6 pada granul basah memenuhi syarat keseragaman kadar zat aktif yang ditunjukkan dengan harga CV lebih kecil dari 5 %. Jadi adanya perbedaan kadar pada granul kering bukan akibat tidak homogennya zat aktif pada granul basah, tetapi sebagai akibat adanya migrasi obat selama proses pengeringan. Koefisien Migrasi Terjadinya proses migrasi pada granul diukur dengan menggunakan alat sel pengering. Besarnya migrasi

dinyatakan dengan harga koefisien migrasi. Semakin besar harga koefisien migrasi menunjukkan terjadinya proses migrasi yang semakin besar. Hasil pengukuran koefisien migrasi vitamin B6 pada granul dengan bahan pengikat musilago gummi arabici dalam berbagai kadar serta menggunakan ukuran granul yang berbeda dapat dilihat pada tabel 4. Dari hasil analisis statistik ANOVA dua jalan dengan taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji t, terdapat perbedaan yang bermakna pada harga koefisien migrasi vitamin B6 karena pengaruh kadar bahan pengikat yang berbeda.

Tabel 2 Hasil pengukuran viskositas musilago gummi arabici Kadar musilago gummi arabici 10 % 15 % 20 % Viskositas (poise) 0,092 0,006 0,140 0,002 0,255 0,002

Tabel 3 Hasil uji keseragaman kadar pada granul basah No replikasi 1 2 3


Keterangan: FI : F II : F III : () :

FI

Kadar vitamin B6 (mg/0,5 g) F II 4,940 0,087 (1,769 %) 4,782 0,025 (0,520 %) 4,850 0,087 (1,796 %)

F III

4,933 0,010 (0,2203 %) 4,560 0,101 (2,220 %) 4,782 0,033 (0,695 %)

4,631 0,151 (3,256 %) 4,763 0,084 (1,756 %) 5,077 0,087 (1,718 %)

Formula dengan bahan pengikat musilago gummi arabici 10 % Formula dengan bahan pengikat musilago gummi arabici 15 % Formula dengan bahan pengikat musilago gummi arabici 20 % Harga koefisien variasi (CV)

140

Pengaruh Kadar Bahan Pengikat Musilago Gummi Arabici Dan Ukuran Granul Basah Terhadap Migrasi Obat Selama Proses Pengeringan (Dwi Endarti dan Achmad Fudholi)

Tabel 4 Hasil pengukuran koefisien migrasi Ukuran Granul 8 mesh 12 mesh 16 mesh FI 0,230 0,007 0,215 0,022 0,209 0,018 Koefisien migrasi F II 0,161 0,010 0,151 0,013 0,138 0,009 F III 0,087 0,013 0,071 0,006 0,063 0,008

Harga koefisien migrasi secara berurutan berkurang dari formula I dengan bahan pengikat musilago gummi arabici 10 %, formula II dengan bahan pengikat musilago gummi arabici 15 %, dan formula III dengan bahan pengikat musilago gummi arabici 20 %. Jadi semakin tinggi kadar bahan pengikat atau semakin besar viskositas bahan pengikat yang digunakan dalam pembuatan granul, maka harga koefisien migrasinya semakin kecil atau proses migrasi yang terjadi semakin kecil. Hal tersebut dapat diterangkan dengan teori difusi. Proses transfer massa dalam pengeringan, dalam hal ini perpindahan air dari dalam granul ke permukaan berlangsung melalui proses difusi. Salah satu faktor yang menentukan laju difusi adalah harga koefisien difusi, dengan hubungan berbanding lurus. Sedangkan harga koefisien difusi dipengaruhi oleh viskositas yang ditunjukkan oleh persamaan berikut (Aiache dan Devissaquet, 1982) :

D = kT 6r
Dengan D = koefisien difusi, k = tetapan Boltzman, T = suhu mutlak, r = jari-jari molekul yang berdifusi, = kekentalan (viskositas) lingkungan. Jadi semakin besar kadar bahan pengikat musilago gummi arabici atau semakin besar viskositasnya, maka

harga koefisien difusi yang berbanding terbalik dengan viskositas akan semakin kecil sehingga laju difusi semakin kecil dan proses migrasi yang berlangsung semakin kecil ditunjukkan dengan harga koefisien migrasi yang semakin kecil. Di samping itu, semakin besar kadar bahan pengikat, jumlah air yang terkandung di dalamnya semakin sedikit, sehingga obat yang terlarut di dalamnya dan ikut bersama perpindahan air pada saat transfer massa semakin sedikit, akibatnya koefisien migrasinya kecil. Semakin besar kadar bahan pengikat juga menghasilkan granul dengan dengan ikatan yang kuat sehingga menghalangi keluarnya air dari dalam granul ke permukaan. Dari hasil analisa statistik menunjukkan bahwa pengaruh ukuran granul basah terhadap koefisien migrasi tidak memberikan perbedaan yang bermakna. Menurut Rankell dan Liebermann (1976), laju difusi air pada saat pengeringan dipengaruhi oleh luas permukaan bahan yang menguap. Semakin kecil ukuran granul maka area penguapan air semakin luas sehingga laju difusi air dan transfer massa semakin besar. Menurut Lantz (1980), porositas internal partikel dapat diminimalkan dengan memperkecil ukuran partikel. Jadi pada partikel dengan ukuran kecil, karena porositas internalnya kecil maka transfer air dari dalam granul ke permukaan granul lebih

141

Jurnal Farmasi Indonesia Vol. 3 No. 3 Januari 2007: 136 - 143

terhambat sehingga migrasinya berkurang. Jadi pengaruh ukuran partikel granul terhadap migrasi obat dapat dipengaruhi oleh faktor luas permukaan partikel dan porositas partikel yang keduanya memberikan pengaruh yang saling berlawanan. Sehingga hasil yang diperoleh adalah perbedaan migrasi akibat perbedaan ukuran granul menjadi tidak bermakna. Secara kualitatif pada ketiga formula F I, F II, F III terlihat bahwa terjadi penurunan harga koefisien migrasi secara berurutan

dari granul dengan ukuran 8 mesh, 12 mesh dan 16 mesh. Hal ini, mungkin disebabkan faktor porositas granul pengaruhnya lebih dominan pada transfer massa dibandingkan faktor luas permukaan. Pemeriksaan Sifat Fisis Granul Hasil pemeriksaan sifat fisis granul dapat dilihat pada tabel 5. Pemeriksaan Sifat Fisis Tablet Hasil pemeriksaan sifat fisis tablet tertera pada Tabel 6.

Tabel 5 Hasil pemeriksaan sifat fisis granul Sifat Fisis Diameter rerata (mm) Bulk density (g/ml) Waktu alir (detik) Pengetapan (%) FI 0,944 0,058 0,513 0,001 8,383 0,042 15,5 0,866 F II 0,965 0,083 0,522 0,002 8,207 0,023 13,93 0,513 F III 1,015 0,086 0,536 0,002 7,900 0,046 13,57 0,513 Analisa TS S S TS

Keterangan : TS : hasil analisis statistik ANOVA satu jalan dengan taraf kepercayaan 95% menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan S : hasil analisis statistik ANOVA satu jalan dengan taraf kepercayaan 95% menunjukkan perbedaan yang signifikan

Tabel 6 Hasil pemeriksaan sifat fisis tablet Sifat fisis Keseragaman bobot (CV (%)) Kekerasan (kg) Kerapuhan (%) Waktu hancur (menit) FI 2,05 4,49 0,040 0,577 0,039 8,67 0,229 F II 1,35 4,77 0,153 0,334 0,038 9,36 0,149 F III 1,59 5,08 0,038 0,082 0,054 10,24 0,465 Analisa Memenuhi syarat S S S

Keterangan : S : hasil analisis statistik ANOVA satu jalan dengan taraf kepercayaan 95% menunjukkan perbedaan yang signifikan

142

Pengaruh Kadar Bahan Pengikat Musilago Gummi Arabici Dan Ukuran Granul Basah Terhadap Migrasi Obat Selama Proses Pengeringan (Dwi Endarti dan Achmad Fudholi)

Penetapan Keseragaman Kadar Tablet Hasil penetapan kadar tablet dianalisa dengan parameter koefisien variasi (CV). Tablet dianggap memenuhi syarat keseragaman kadar zat aktif bila harga CV lebih kecil dari 5%. Dari hasil penelitian, diperoleh harga CV untuk tablet F I 2,460%; F II 1,188%; F III 0,824%. Dari ketiga formula tersebut semuanya memenuhi keseragaman kadar zat aktif yang ditunjukkan dengan harga CV lebih kecil dari 5%. Jika dihubungkan dengan peristiwa migrasi, maka pada F I yang mempunyai harga koefisien migrasi obat paling besar atau dengan kata lain yang mengalami migrasi paling besar memiliki harga CV untuk keseragaman kadar paling besar yang artinya keseragamannya paling kecil, sedangkan pada F III yang mempunyai harga koefisien migrasi paling kecil memiliki harga CV untuk keseragaman kadar yang paling kecil yang artinya keseragamannya paling besar. Jadi adanya perbedaan koefisien migrasi vitamin B6 karena pengaruh perbedaan kadar musilago gummi arabici sebagai bahan pengikat, dapat mempengaruhi keseragaman kandungan zat aktif dalam tablet meskipun tidak sampai menyebabkan penyimpangan kadar tablet dari yang dipersyaratkan. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang diperoleh dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Kadar bahan pengikat musilago gummi arabici mempengaruhi terjadinya proses migrasi vitamin B6 yang ditunjukkan dengan semakin meningkatnya kadar musilago gummi arabici yang

digunakan maka koefisien migrasinya semakin kecil. 2. Ukuran granul basah tidak memberikan perbedaan yang bermakna pada migrasi vitamin B6. 3. Adanya migrasi vitamin B6 pada saat pengeringan granul mempengaruhi keseragaman kadar vitamin B6 dalam tablet yang dihasilkan yang ditunjukkan dengan semakin besar koefisien migrasi maka harga CV pada keseragaman kadar semakin besar, meskipun tidak sampai menyebabkan penyimpangan yang tidak memenuhi syarat. DAFTAR PUSTAKA
1. Aiache, J.M., Devissaquet, J.Ph., 1982, Farmasetika 2 Biofarmasetika, Edisi kedua, diterjemahkan oleh Widji Soeratri, Airlangga University Press, Surabaya. 2. Jarowski, C.I., 1982, The Pharmaceutical Pilot Plant, in Lieberman, H.A., Lachman, L., (eds.), Pharmaceutical Dosage Forms : Tablets, volume 3, Marcel Dekker, Inc., New York. 3. Lantz, P.J., 1980, Size Reduction, in Lieberman, H.A., Lachman, L., (eds.), Pharmaceutical Dosage Forms : Tablets, volume 2, Marcel Dekker, Inc., New York. 4. Rankell, A., Liebermann, H.A., 1976, drying, in Lachman, L., Liebermann, H.A., Kanig, J.L., (eds.), The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, second edition, Lea and Febiger, Philadelphia. 5. Warren, J.W., Price, J.C., 1977 a, Drug Migration during Drying of Tablet Granulation I : Effect of Particle Size of Major Diluent, Journal of Pharmaceutical Sciences, volume 66, No.10. 6. Warren, J.W., Price, J.C., 1977 b, Drug migration during Drying of Tablet Granulation II : Effect of Binder Solution Viscosity and Drying Temperature, Journal of pharmaceutical Sciences, volume 66.

143