PENGELOLAAN LIMBAH CAIR USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH MELALUI PENERAPAN KONSEP PRODUKSI BERSIH

Hidayatullah, Gunawan, Kooswardhono Mudikdjo1, dan Erliza, N.2
1

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, Jl. Irian Km 615 Bengkulu 38119 2 Insitut Pertanian Bogor, Jl. Raya Padjadjaran Bogor

ABSTRACT Development activities should take into account the environment capacity and quality. Dairy farm business with scale more than 20 cattle’s and located in same place tends to pollute environment, but better waste management applied will give an aditional benefit to the environment. Dairy farm system applying cleaner production was an alternative in minimizing cattle waste. This study aimed to evaluate the benefit of dairy farm system life cycle applying cleaner production and how much the pollutant concentration in liquid waste could be minimized. Data collected were life cycle process of dairy farm system, waste management system and characteristics of liquid waste of dairy farm. Water samples collected three times from liquid waste tanks were analyzed in Chemistry Laboratory Faculty of Mathematics and Life Sciences, University of Sebelas Maret, Solo. The results were compared to the quality standard of liquid waste. The result showed that integrated farming system applying cleaner production as able to increase additional benefit for the farming system (B/C Ratio > 1) and reduced the liquid waste discharged to the environment. The result, of water quality were (pH = 7.25; Total Dissolved Suspension (TDS) = 804 mg/L; Total Solid Suspension (TSS) =356 mg/L; Chemistry Oxigen Demand (COD) = 48 mg/L; Biology Oxigen Demand (BOD) = 240 mg/L; Nitrite = 0.06 mg/L; Nitrate = 0.09 mg/L; NH3-N = 0.39 mg/L; H2S = 0.54 mg/L). These concentrations were still below the maximum quality standard allowed. Key words : dairy cattle, wastes, cleaner production, Solo ABSTRAK Kegiatan pembangunan peternakan perlu memperhatikan daya dukung dan kualitas lingkungan. Usaha peternakan sapi perah dengan skala usaha lebih dari 20 ekor dan relatif terlokalisasi akan menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Pencemaran ini disebabkan oleh pengelolaan limbah yang belum dilakukan dengan baik, tetapi kalau dikelola dengan baik, limbah tersebut memberikan nilai tambah bagi usaha peternakan dan lingkungan di sekitarnya. Sistem usaha peternakan dengan penerapan produksi bersih merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam meminimisasi limbah ternak. Penelitian tentang Pengelolaan Limbah Cair Sapi Perah Melalui Penerapan Produksi Bersih ini telah dilakukan di CV. Lembah Hijau Multifarm (LHM) Solo, Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan limbah padat dan cair sapi perah melalui penerapan produksi bersih dan berapa besar kadar polutan dalam limbah cair ternak dapat diminimisasi. Data yang dikumpulkan meliputi proses daur hidup sistem usaha peternakan, sistem pengelolaan limbahnya dan karateristik limbah cair sapi perah. Contoh air diambil sebanyak tiga kali dan dianalisis di Lab. Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sebelas Maret, Solo dan dibandingkan dengan baku mutu limbah cair. Hasil penelitian menunjukkan daur hidup sistem usahatani yang dilakukan mampu meningkatkan keuntungan bagi sistem tersebut (B/C Ratio >1) dan mengurangi limbah yang terbuang ke lingkungan. Hasil analisis kualitas air adalah Derajat Keasaman (pH) = 7,25; Total Dissolved Suspention (TDS) = 804 mg/L; Total Solid Suspention (TSS) = 356 mg/L; Chemistry Oxigen Demand (COD) = 483 mg/L; Biology Oxigen Demand (BOD) = 240 mg/L; Nitrit = 0,003 mg/L; Nitrat = 0,09 mg/L; NH3-N = 0,39 mg/L; H2S = 0,54 mg/L. Kadar polutan dalam limbah cair tersebut semuanya masih berada di bawah baku mutu limbah cair maksimum yang diperbolehkan. Kata kunci : usaha peternakan sapi perah, limbah, produksi bersih, Solo

Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 8, No.1, Maret 2005 : 124-136

124

dengan skala lebih besar dari 20 ekor dan relatif terlokalisasi akan menimbulkan masalah terhadap lingkungan (SK. Ditambahkan oleh Soehadji (1992). antara lain melalui teknologi sistem usaha peternakan yang menerapkan konsep produksi bersih. 1991.371 ekor pada tahun 1997 menjadi 368. antara lain a). sehingga mengurangi risiko terhadap manusia dan lingkungan.67 persen peternak sapi perah membuang limbah ke badan sungai tanpa pengelolaan. d). Adanya pencemaran oleh limbah peternakan sapi sering menimbulkan berbagai protes dari kalangan masyarakat sekitarnya. Penggunaan sumberdaya alam menjadi lebih efektif dan efisien. Satu ekor sapi dengan bobot badan 400–500 kg dapat menghasilkan limbah padat dan cair sebesar 27. Menurut Juheini (1999). baik berupa limbah padat dan cairan. Limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau berada dalam fase cair (air seni atau urine. Mencegah berpindahnya pencemaran dari satu media ke media yang lain. Pencemaran ini disebabkan oleh aktivitas peternakan. ternak yang mati atau isi perut dari pemotongan ternak). Prasetyo et al. Sebaliknya bila limbah ini dikelola dengan baik dapat memberikan nilai tambah. Salah satu upaya untuk mengurangi limbah adalah mengintegrasikan usaha tersebut dengan beberapa usaha lainnya. Kooswardhono Mudikdjo. air pencucian alat-alat). 1993). ataupun sisa pakan (Soehadji. budidaya padi sawah. c). terutama berasal dari limbah yang dikeluarkan oleh ternak yaitu feses. sehingga menjadi suatu sistem yang saling sinergis. terutama rasa gatal ketika menggunakan air sungai yang tercemar. Populasi sapi perah di Indonesia terus meningkat dari 334. Upaya memadukan tanaman.Mentan. b). budidaya ikan. Strategi produksi bersih yang telah diterapkan di berbagai negara menunjukkan hasil yang lebih efektif dalam mengatasi dampak lingkungan dan juga memberikan beberapa keuntungan Bapedal (1998). ternak dan ikan di lahan per-tanian memiliki manfaat ekologis dan ekonomis. Pengelolaan limbah yang kurang baik akan menjadi masalah serius pada usaha peternakan sapi perah. Limbah padat merupakan semua limbah yang berbentuk padatan atau dalam fase padat (kotoran ternak. 2001). Sebagai upaya bagi peningkatan sistem usahatani diperlukan teknologi alternatif untuk memperbaiki produkti-vitas lahan dan meningkatkan pendapatan petani. Gunawan. No. di samping bau yang sangat menyengat.490 ekor pada tahun 2001 dan limbah yang dihasilkan pun akan semakin banyak (BPS.. yang dimulai dari pengadaan bahan baku dan pendukung. Semua industri di seluruh dunia semakin menyadari keuntungan yang dapat diperoleh dari produksi bersih dan mereka telah mengembangkan program tersebut di perusahaannya. seperti penggunaan suplemen pada pakan.237/Kpts/RC410/ 1991 tentang batasan usaha peternakan yang harus melakukan evaluasi lingkungan). tetapi juga menyangkut pengelolaan seluruh daur hidup produksi. Bapedal (1998) menyatakan bahwa produksi bersih merupakan suatu strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu yang perlu diterapkan terus menerus pada proses produksi dan praproduksi. proses dan operasi.)) 125 . sebanyak 56. 1992). cair dan gas. Laju pertumbuhan produktivitas usaha pertanian merupakan interaksi di antara berbagai faktor yang ada dalam sistem usahatani. usaha pembuatan kompos.PENDAHULUAN Usaha peternakan sapi perah. Pengelolaan Limbah Cair Usaha Peternakan Sapi Perah Melalui Penerapan Konsep Produksi Bersih (Hidayatullah. hasil produksi dan limbahnya sampai ke distribusi serta konsumsi. limbah peternakan adalah semua buangan dari usaha peternakan yang bersifat padat. Limbah peternakan umumnya meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari suatu kegiatan usaha peternakan.5-30 kg/ekor/hari. dan air sisa pembersihan ternak dan kandang (Charles. urine. Sedangkan limbah gas adalah semua limbah yang berbentuk gas atau berada dalam fase gas. sehingga terjadi pencemaran lingkungan. Produksi bersih tidak hanya menyangkut proses produksi. sisa pakan. dan Erliza N. Mengurangi atau mencegah terbentuknya bahan pencemar. gas.

Data primer adalah data sampel air untuk mengukur kadar polutan yang Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. Pengumpulan Data Data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Mengurangi biaya penaatan hukum. maka penelitian ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui manfaat daur hidup sistem usahatani tersebut dan mengetahui berapa besar zat pencemar yang dihasilkan dapat diminimisasi. e). f). h). 8. yaitu dengan melihat kualitas limbah usaha peternakan sapi perah di CV. Pendekatan pengaturan yang bersifat fleksibel dan sukarela.1. sekaligus sebagai informasi dan masukan bagi pemerintah dan swasta dalam pengembangan sistem usaha peternakan yang ramah lingkungan. Selanjutnya dilakukan evaluasi dan analisis terhadap sistem tersebut. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran tentang sistem usaha peternakan yang menerapkan produksi bersih. Maret 2005 : 124-136 126 . Mengurangi terjadinya risiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Terhindar dari biaya pembersihan lingkungan (clean up). Solo. LHM. g). Berdasarkan kerangka pikir tersebut tampak bahwa salah satu kegiatan yang dilakukan oleh CV. Kerangka Pikir Sistem Usaha Peternakan dengan Pendekatan Konsep Produksi Bersih. No. Produk yang dihasilkan dapat bersaing di pasar internasional. Solo dalam sistem usaha peternakannya adalah penambahan probiotik starbio pada pakan sebelum diberikan kepada sapi perah.USAHA TERNAK SAPI PERAH LIMBAH DAUR ULANG LIMBAH CAIR SUSU PROBIOTIK STARBIO MANUSIA JERAMI PADI KOLAM IKAN SAWAH (PADI) PADAT PUPUK ORGANIK SISTEM USAHA PETERNAKAN DENGAN PENDEKATAN PRODUKSI BERSIH ANALISIS Gambar 1. LHM. METODE PENELITIAN Kerangka Pikir Kerangka pikir dalam penelitian ini disajikan dalam Gambar 1. Berdasarkan permasalahan dan konsep produksi tersebut.

Lembah Hijau Multifarm (LHM). Gunawan. Lembah Hijau Multifarm. II. kertas saring 0.45 µm Timbangan analitik. Solo. Parameter Kualitas Air dan Metode yang dilakukan dalam Penelitian Pengelolaan Limbah Cair Usaha Peternakan Sapi Perah di CV. Solo-Jawa Tengah. Tahap-tahap sistem pengelolaan limbah pada CV. Parameter kualitas air dan metode yang diguna- kan disajikan pada Tabel 1. dan Erliza N. Pengelolaan Limbah Cair Usaha Peternakan Sapi Perah Melalui Penerapan Konsep Produksi Bersih (Hidayatullah.KANDANG B & C 4 3 2 1 BAK I PELATARAN 5 6 7 8 *) 3 2 1 BAK II PELATARAN Keterangan : Aliran air limbah *) Contoh air 4 5 6 *) BAK PENAMPUNGAN AKHIR *) SUNGAI Gambar 2.)) 127 . 2001*) Parameter Satuan Fisika o Suhu C mg/L Zat padat terlarut mg/L Zat padat tersuspensi Kimia pH mg/L Amoniak (NH3-N) mg/L Sulfida (H2S) mg/L Nitrat (NO3-N) mg/L Nitrit (NO2-N) mg/L Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) mg/L Kebutuhan Oksigen Kimia (COD) *) Sesuai prosedur standar nasional Indonesia Data.45 µm Potensiometrik PH-Meter Nesslerization Spektrofotometer Nesslerization Iodometri Brusin Spektrofotometer Kolorimetrik Spektrofotometer DO-Meter Buret Refluks tertutup Buret (Direktorat Pengembangan Laboratorium Rujukan dan Pengolahan terkandung dalam limbah cair sapi perah. kertas saring 0. Metode Analisis Pemuaian Gravimetri Gravimetri Peralatan Termometer Timbangan analitik. Sampel air ini diambil tiga kali sebulan pada keluaran bak sedimentasi 1. UNS. Lokasi Pengambilan Contoh Air Limbah Tabel 1. Bapedal. 1994. sedangkan Analisis kualitas air dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA. dan III (Gambar 2). Kooswardhono Mudikdjo.

susu. 8. urine. Lembah Hijau Multifarm yang berlokasi di Desa Triyagan Kec. Solo-Jawa Tengah yang disertai wawancara dengan manajer dan staf perusahaan. (3) Limbah. di samping menghasilkan ikan. Selanjutnya data ditabulasi sesuai dengan tujuan penelitian dan dianalisis secara deskriptif. sehingga lahan. HASIL DAN PEMBAHASAN Proses Produksi dalam Usaha Peternakan Sapi Perah Proses produksi dimulai dengan sistem usaha peternakan yang menerapkan konsep produksi bersih dengan harapan agar kegiatan tersebut ramah lingkungan (Gambar 3). di samping hasil utama berupa padi dan palawija. Hasil pemeriksaan kualitas limbah cari sapi perah di CV. juga menghasilkan jerami yang dimanfaatkan sebagai pakan sapi. Dengan demikian tidak ada limbah yang terbuang langsung ke lingkungan. yaitu dengan membandingkan parameter kualitas air limbah yang diperoleh dengan baku mutu limbah yang telah ditetapkan (KEP-51/MENLH/10/1995). II dan III) menunjukkan bahwa hampir semua parameter kualitas limbah yang diamati mengalami penurunan yang cukup signifikan (Tabel 2). kemudian dialirkan ke Bak II. Bagan alir tersebut menunjukkan bahwa semua produk yang dihasilkan oleh perusahaan seperti daging (sapi apkir). karbohidrat dan lemak yang ada dalam pakan dengan sempurna. juga menghasilkan lumpur kolam untuk bahan pembuatan kompos. ikan. Bak ini ditanami dengan eceng gondok (Eichornia crassipes) untuk membantu menguraikan limbah cair tersebut. Selanjutnya diangkut ke tempat pengomposan untuk diproses menjadi pupuk organik/kompos. Sedangkan TSS. sehingga mudah diserap dan dicerna oleh ternak. maka dilakukan analisis ekonomi usahatani. (4) Selanjutnya limbah ditampung pada Bak III. Nitrit & Nitrat masih berada di bawah baku mutu limbah cair golongan I. No. usaha budidaya padi sawah. Kolam ikan. Sukoharjo. NH3-N masih berada di bawah baku mutu limbah cair golongan II. (2) Proses sedimentasi awal (Bak I). Analisis Data Analisis yang digunakan dalam peneltian ini adalah analisis komparatif. Solo terutama pada bak III (Bak Pengelolaan akhir) menunjukkan bahwa pH. Dengan proses ini diharapkan terjadi pemisahan antara limbah padat dan limbah cair. TDS. Limbah-limbah yang dihasilkan. yang akan digunakan untuk melihat berapa besar manfaat sistem usaha peternakan dengan pendekatan konsep produksi bersih yang dilakukan. budidaya ikan dan proses penanganan limbah ternak. Pada bak ini limbah akan mengalami proses sedimentasi ke-2 yaitu proses sedimentasi yang waktunya diperpanjang (Extended Aeration). yaitu : (1) Penambahan starbio (bioaktivator) pada pakan sapi. sehingga mikroorganisme yang ada dalam starbio akan menguraikan protein.Solo (Gambar 2).1. Analisis Karakteristik Limbah Cair Usaha Peternakan Sapi Perah Hasil analisis karakteristik limbah cair pada keluaran masing-masing bak (I. Limbah padat diproses menjadi pupuk organik (Fine Compost) yang dimanfaatkan untuk tanaman di persawahan ataupun di lahan kering. Data sekunder berupa manajemen usaha ternak. sisa pakan. Lembah Hijau Multifarm. COD. dan (5) Akhirnya limbah padat yang sudah mengendap diangkat ke atas pelataran dan dibiarkan mengering. feces. baik limbah padat maupun cair dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang. pupuk organik. Mojolaban Kab. Sedangkan untuk melihat manfaat ekonomi sistem usaha peternakan. BOD. yaitu analisis B/C Ratio. Data ini diperoleh dari CV. dan eceng gondok (Eichornia crassipes) dapat dimanfaatkan dengan baik untuk masing-masing cabang usahatani dan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Maret 2005 : 124-136 128 . sehingga mengurangi zat-zat pencemar yang ada dalam limbah cair. merupakan pengelolaan secara fisik. & H2S (Tabel 2) masih berada di Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol.

Solo. 2001 Tabel 2.10 4. Sisa Minum & Air Mandi Sapi Kompos Feses & Sisa Pakan Sapi Jerami Padi & Palawija Kolam Ikan & Tanamn Eceng Gondok Bak Limbah Akhir yang di Tanami Eceng Gondok Pembuatan Kompos Ikan Patin Gambar 3.37 7. Pengelolaan Limbah Cair Usaha Peternakan Sapi Perah Melalui Penerapan Konsep Produksi Bersih (Hidayatullah. Kooswardhono Mudikdjo.25* TDS* Mg/L 1872 1696 9. karena belum melewati batas maksimum yang diperbolehkan.9 4000 400 300 150 3 30 5 0.33 483*3 89.021 0.19 240*3 44. LHM.54*3 96.71 Nitrat* Mg/L 2.9 2000 200 100 50 1 20 1** 0.15 0.003* 85. Solo-Jawa Tengah. Hal ini sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup : KEP-51/MENLH/10/1995 tentang baku mutu limbah cair. Gunawan. Rata-rata Hasil Analisis Karakteristik Limbah Cair Usaha Peternakan Sapi Perah di CV.01 II 6. Lembah Hijau Multifarm (LHM).009 57.99 0.05 NH3-N** Mg/L 5.1 IV 6. dan Erliza N.27 7.04 16.76 54.06* 10* 0.74 6.29 Keterangan : * dibawah baku mutu limbah cair golongan I ** dibawah baku mutu limbah cair golongan II *3 dibawah baku mutu limbah cair golongan IV Parameter Satuan Baku mutu limbah cair golongan I 6.)) 129 .40 804* 57.05 TSS*3 Mg/L 2830 2077 26.09* 96.14 0.02 0. 2001*) Hasil pengukuran pada keluaran bak Turun Turun I II III (%) (%) PH* 7.82 Nitrit* Mg/L 0.Tanaman Padi dan Palawija Beras/Padi Daging Sapi Probiotik Starbio Ternak Sapi Pakan (Amoniasi/ Fermentasi) Konsumen Urine. Bagan Alir Proses Produksi Bersih di CV.69 0.39** 92.45 2.49 11.57 BOD*3 Mg/L 435 395 9.9 5000 500*3 600*3 300*3 5 50 20 1*3 bawah baku mutu limbah cair golongan IV.05 III 6.9* 1500* 100 40 20 0. Hal ini berarti kualitas limbah cair sapi perah tersebut relatif masih baik dan belum mencemari lingkungan.60 356*3 87.42 3 COD* Mg/L 4632 772 83.33 H2S*3 Mg/L 14.

penambahan suplemen starbio pada pakan. LHM tersaji dalam Tabel 3.950. No. 2001*) Total biaya (Rp) Total pendapatan (Rp) 163. B/C Ratio terkecil diperoleh pada usaha budidaya padi sawah yang berarti keuntungan yang diperoleh dari usaha ini relatif kecil. 3.12 0. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Sudaryanto dan Jamal (2000) yang menyebutkan bahwa penggunaan sumberdaya pertanian yang optimum lebih mudah dicapai melalui diversifikasi cabang-cabang usahatani yang dilaksanakan secara terpadu.20 1. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa sistem usaha peternakan yang menerapkan Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol.000.60 persen.784. proses produksi dan akhir produksi dapat memberikan nilai tambah bagi limbah pertanian. Dengan demikian.000 20.214.5 Usaha pembuatan starbio 2. Hasil tersebut. Sistem pengelolaan limbah yang dilakukan dapat menurunkan konsentrasi Total Solid Suspension (TSS): 26. Keragaan Hasil Analisis Ekonomi dalam Sistem Usahatani Terpadu di CV. Kualitas limbah cair sapi perah di CV. Tetapi hal ini dapat ditutupi dari keuntungan yang diperoleh dari usaha lainnya.000 4.401.013.500 Total keuntungan (Rp) 89.8 8. Lembah Hijau Multifarm. sistem manajemen pengelolaan limbah mulai dari awal produksi.927.000 6.125 *) Secara rinci dapat dilihat dalam Lampiran 1-5.582. Chemistry Oxygen Demand (COD): 83.520.548. Sistem pengelolaan limbah mulai dari awal produksi.500 Usaha pembuatan kompos 2.785.903. Lembah Hijau Multifarm (LHM). penanaman eceng gondok (Eichornia crassipes) pada bak pengelolaan akhir (III) cukup berperan dalam meminimisasi beban pencemaran yang ada. jika dibandingkan dengan usaha lainnya.500 10.63 2. 8. Solo-Jawa Tengah.468.1. yang keuntungannya relatif lebih besar.500 Usaha budidaya ikan 9. jika dibandingkan dengan usaha lainnya.375 B/C*) ratio 1. Nitrit : 57.096. Sedangkan B/C ratio terbesar diperoleh pada usaha pembuatan starbio yang berarti keuntungan yang diperoleh dari usaha ini relatif besar. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. 2. Hasil analisis tersebut. artinya belum melewati batas maksimum yang diperbolehkan.33 persen. 4. juga sejalan dengan penelitian Salundik (1998) yang menyatakan bahwa eceng gondok dapat menurunkan beban pencemaran dalam limbah cair ternak.400 Usaha budidaya padi sawah 3.000 10. 1 tahun 1 ha per MT 7 bulan 1 bulan .39 1. Analisis ekonomi tersebut memberikan keuntungan yang cukup signifikan. karena mempunyai B/C ratio yang lebih besar dari satu.14 persen dan H2S : 54.937. ini dapat digunakan untuk menambah keuntungan usaha lainnya yang relatif kecil.32 Jenis usaha Ket.454. dapat dikatakan bahwa pengelolaan limbah cair dengan sistem sedimentasi yang diintegrasikan dengan usaha lainnya dan penggunaan enceng gondok sebagai penyaring biologis cukup efektif dalam meminimisasi beban pencemaran yang ditimbulkan oleh usaha peternakan sapi perah.160 1. Keragaan analisis ekonomi dari masingmasing usahatani yang dilakukan dalam sistem usahatani terpadu di CV.Tabel 3. proses produksi maupun di akhir produksi. dikarenakan adanya sistem usahatani terpadu dengan penerapan produksi bersih. Maret 2005 : 124-136 130 .15 persen. Kemampuan tanaman eceng gondok untuk menyerap senyawa kimia dalam air tidak terlepas dari aspek fisiologis tumbuhan itu sendiri. sehingga limbah tersebut dapat dimanfaaatkan oleh masing-masing usahatani yang ada. Solo relatif masih baik. 7 hari 1 bulan Usaha peternakan sapi perah 73.500 4.188.

Buku Statistik Peternakan Departemen Pertanian. Jakarta. Soehadji. dan Jamal. seperti yang dilakukan oleh CV. Jawa Timur. 1995. 1998. Jurnal Agro Ekonomi (JAE) Vol. LHM dapat dijadikan acuan bagi usaha peternakan lainnya. KD. Departemen Pertanian. Mentan No. Perencanaan Sistem Usahatani Terpadu dalam Menunjang Pembangunan Pertanian yang Berkelanjutan : Kasus Kabupaten Magetan. termasuk bagi pengambil kebijakan atau pemerintah daerah dalam upaya membentuk suatu usaha peternakan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Tesis Program Pascasarjana IPB. E. DAFTAR PUSTAKA Balai Pusat Statistik. N dan Sakryanu. (Tidak dipublikasikan). Pengembangan Agribisnis Petemakan Melalui Pendekatan "Corporate Farming" untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Jakarta. BPPT. 273/Kpts/RC410/1991 tentang Batasan Usaha Peternakan yang harus Melakukan Evaluasi Lingkungan. Balitbangtan. Makalah Seminar Nasional Teknologi Petemakan dan Veteriner dalam Upaya Meningkatkan Ketahanan Pangan. karena mempunyai B/C Ratio yang lebih besar dari satu. Deptan. 18-19 September 2002. sehingga dapat memberikan keuntungan yang lebih besar. Bapedal. 2001. Charles RT dan Hariono. SK. Produksi Bersih di Indonesia. Bull. Laporan Tahunan. Jakarta. 1994. Salundik. Departemen Pertanian. Surat Keputusan Menteri Pertanian.konsep produksi bersih dapat memberikan keuntungan yang cukup signifikan. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai skala usahatani yang optimal yang harus dilakukan. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 1998. M. 2. 1998. 1993. Produksi Bersih di Indonesia. Jakarta. Gunawan. Balitnak-Ciawi. Pengolahan Limbah Cair Usaha Peternakan Sapi Perah dengan Eceng Gondok (Eichornia crassipes (Mart) Solms). Kooswardhono Mudikdjo. Sistem Usaha Peternakan dengan penerapan produksi bersih. 1992. Kep-51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair. Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. X: 2. Makalah Seminar. Kebijaksanaan Pemerintah dalam Pengembangan Industri Peternakan dan Penanganan Limbah Petemakan. 1991. Standar Nasional Indonesia : Pengujian Kualitas Air Sumber dan Limbah Cair. BAPEDAL. Direktorat Pengembangan Laboratorium Rujukan dan Pengelolaan Data. Bogor.)) 131 . Alternatif Pengelolaan Limbah Cair dan Padat RPH. Pengelolaan Limbah Cair Usaha Peternakan Sapi Perah Melalui Penerapan Konsep Produksi Bersih (Hidayatullah. BAPEDAL. 1998. Jakarta. Jakarta Sudaryanto. Direktorat Jenderal Peternakan.FKH-UGM Vol. J. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Juheini. Jakarta. 1991. B. Jakarta. 17 (1). Laporan Tahunan. Prasetyo. Pencemaran Lingkungan oleh Limbah Peternakan dan Pengelolaannya. Saran 1. S dan Padmono. Prosiding Workshop Teknologi Lingkungan. 2000. dan Erliza N.

.Pakan limbah /jerami (3 kg x 36 ekor x 30 hari x 12 bln) .324.Penyusutan kandang.400 2.216.000 1.000 267.200 10.000.Lampiran 1.520.Penyusutan pompa air dan perlengkapannya .000 2.600 1. 2001 (Skala Usaha 36 Ekor) Ur aian Biaya investasi .Peralatan dan perlengkapannya (paket) .000 12.424.Penyusutan tempat pengolahan limbah dan perlengkapannya Total biaya Tetap (B) Rp Biaya variabel Pakan .Penjualan sapi afkir ( 2 ekor x @ Rp 600/kg) Total pendapatan (D) Rp Keuntungan (D – (B+C)) Rp B/C Ratio *) Data primer CV.Urea (0.000 62.Pembelian sapi (ekor) .960.000 167.000 3.000 2.Starbio (0.000 30.000 75 8.500.28 233.200 1.Tenaga kerja ( 5 org x 30 hari x 12 bulan) .000 6.000 5. No.Pembuatan kandang (bh) .019. LHM.600 200.500.544 1.000 385. Maret 2005 : 124-136 132 .Starbio (0.000 per bulan) .240 104.000 155.016 79. LHM.400.976 800.000 1.000 144.1.500.520.039.880 388.005 kg x 6 kg x 36 ekor x 30 hari x 12 bln) .Penyusutan sumur bor dan perlengkapannya .000 600.Konsentrat (3 kg x 36 ekor x 30 hari x 12 bln) .006 kg x 3 kg x 36 ekor x 30 hari x 12 bln) .000 8.000.000.000 30.Penjualan susu (10 lt x 36 ekor x 30 hari x 12 bln) .Bekatul (3 kg x 36 ekor x 30 hari x 12 bln) .006 kg x 3 kg x 36 ekor x 30 hari x 12 bln) .456 129.000 5.000 2.Obat-obatan (Rp 200.000 5.916.Tenaga listrik untuk pompa air (4 bh x 4 kW x Rp 350).000.000 4.866.110.440 38.000 88. Solo diolah **) Nilai penyusutan 10 persen dari nilai investasi dengan umur ekonomis 15 tahun Volume 36 2 1 4 4 1 Harga satuan (Rp) 6.8 38.Pembelian pompa air dan perlengkapannya (paket) .000 27.Penyusutan**) pembelian sapi .606.880 38.12 Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol.000 Jumlah (Rp) 216.000.400.000 12.800 774 12 700 150 8.000 10.980.334.000 1.000. Solo-Jawa Tengah.400.000 450 200.000 14.000 2. peralatan dan perlengkapannya .28 4 1.000 16.Pembuatan tempat pengolahan limbah ternak dan perlengkapannya (paket) Total biaya investasi (A) Rp Biaya tetap . 8.000 750.000. Lama operasi 774 jam per tahun .880 233.Analisis Usahatani Sapi Perah di CV.800.Pembuatan sumur bor dan perlengkapannya (paket) .Tenaga listrik untuk penerangan (bulan) Total biaya variable ( C ) Rp Total biaya (B + C) (Rp) Pendapatan .832.

Lampiran 2. 2001 (Ha/MT)*) Uraian Biaya tetap . LHM.500 600.Pestisida dan fungisida (paket) Total biaya variabel ( B ) Rp Total biaya (A + B) (Rp) Pendapatan .Biaya traktor (Rp) .500 1.500.500.950.048.000 2.Penjualan padi **)(4.Pupuk urea (kg) .500.000 4.Benih padi (kg) .500 0 3.548.000 0 1.Pupuk TSP (kg) . Analisis Usahatani Budidaya Padi Sawah di CV.000 45.Upah penyiangan (Rp) .500 3. dan Erliza N.)) 133 . Kooswardhono Mudikdjo.000 50.39 Pengelolaan Limbah Cair Usaha Peternakan Sapi Perah Melalui Penerapan Konsep Produksi Bersih (Hidayatullah.500 0.Upah tanam (Rp) .Sewa lahan per ha per tahun Total biaya tetap (A) Rp Biaya variabel per musim tanam . Solo diolah **) Satu tahun 3 (tiga) kali panen Volume 1 Harga satuan (Rp) 2.Fine compost (kg) . Gunawan. LHM.000 Jumlah (Rp) 2.000 45.401.500 8.500 kg per musim tanam) Total pendapatan (C) Rp Keuntungan (C – (A+B)) Rp B/C Ratio *) Data primer CV.000 50 15 1 1 40 60 1.100 4.000 40. Solo-Jawa Tengah.000 18.500 4.000 450 675 400 0 175.000 120.000 1.000 50.950.

Peralatan dan perlengkapannya (paket) Total biaya investasi (A) Rp Biaya tetap .000.150 8.Penyusutan kolam dan peralatannya Total biaya tetap (B) Rp Biaya variabel per 7 (tujuh) bulan pemeliharaan .360.Pembuatan kolam (bh) .1. LHM.000 429.000. 8. Solo-Jawa Tengah.Benih ikan patin (ekor) . Maret 2005 : 124-136 134 .307.000 10.000 20.000 1.500. No.000 20.000 8.20 Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol.Upah tenaga kerja ( 2 org x 30 hari x 7 bln) Rp Total biaya variabel (C) Rp Total biaya (B + C) Rp Pendapatan .Lampiran 3.Pakan (150 kg per bulan x 7 bln) Rp .Penjualan ikan**) (5.500 8. 2001*) (Per 7 bulan pemeliharaan) Uraian Biaya investasi .000.500 3.000.500 2.000 1.000 6.000 Jumlah (Rp) 5.500.000 10.050 420 200 3.500 1.000 3.903.500 9.000 429.096. LHM.000 1. Analisis Usahatani Ikan Patin (Pangasius succi) di CV.000.667.000 ekor @ Rp 500 gr/ekor) Total pendapatan (D) Rp Keuntungan (D – (B+C)) Rp B/C Ratio *) Data primer CV.000 2. Solo diolah **) Satu tahun 3 (tiga) kali panen Volume 11 1 Harga satuan (Rp) 500.

214. LHM.785. dan Erliza N.500 0 27. Solo diolah **) Pembuatan kompos untuk satu periode ( 1 bulan 7 hari).Abu sekam (90 kg/m3) .000 4.454.2 2.500 2.)) 135 .Penyusutan peralatan dan perlengkapannya Total biaya tetap (B) Rp Biaya variabel .562.Pembuatan tempat pengomposan (paket) . Gunawan.5 161.837 3.Upah packing per kantong 20 kg (kantong) .000 30.250 200 2.000 500.013.2 16.000 2. ukuran tumpukan 1.Harga kantong Total biaya variabel (C) Rp Total biaya (B + C) Rp Pendapatan . LHM.785. Kooswardhono Mudikdjo.124.000 500.Kotoran sapi (m3) .468.000 300.5 m x 7 m x 3.2 500 2.468.000 1.Penjualan kompos **) (kg) Total pendapatan (D) Rp Keuntungan (D – (B+C)) Rp Volume 1 1 Harga satuan (Rp) 5.Lampiran 4.1 kg per m3) .Upah pembalikan (4 org x 7 hari x 3 kali) .Upah pengangkutan kotoran sapi per m3 .75 808.5 0 7.700 210.Peralatan dan perlengkapannya (paket) Total biaya investasi (A) Rp Biaya tetap .276. 2001*) Ur aian Biaya investasi .500 100 2.000.500.000 Jumlah (Rp) 5.5 m = 36.Upah pembuatan kompos per m3 .75 36.75 3. Analisis Usahatani Pembuatan Kompos (Fine Compost) di CV.75 m3 (1 m3 setara dengan 550 kg) Pengelolaan Limbah Cair Usaha Peternakan Sapi Perah Melalui Penerapan Konsep Produksi Bersih (Hidayatullah.5 36.170 400 6.5 183.5 18.000 36.05 kg per m3) .5 84 808.Stardec (0.000 6.617.8 B/C Ratio 1.000 330.687.307.63 *) Data primer CV.Penyusutan tempat pengomposan . Solo-Jawa Tengah.Kalsit/kapur (0.000 5.000.675 1.375 82.7 7.

5 10.000 2.000 Jumlah (Rp) 1.Tanah yang berasal dari hutan yang masih asli (m3) .000.500 115.188.Tanah bekas budidaya jamur merang (m3) .Upah packing per kantong 1 kg (kantong) . Maret 2005 : 124-136 136 .544.5 m x 2 m x 3.Upah penggilingan bahan-bahan per m3 .625 1.000.Upah penjemuran bahan-bahan per m3 .000.155 1.000 4. Lembah Hijau Multifarm (LHM).Penyusutan tempat proses produksi .155.375 B/C Ratio 2.625 2.Mesin penggiling dan perlengkapannya (paket) Total biaya investasi (A) Rp Biaya tetap . 8.000 500 1.Rumen sapi (m3) .000 2.000 10.Harga kantong per packing (Rp) Total biaya variabel (C) Rp Total biaya (B + C) Rp Pendapatan .500 10.125 1. Solo-Jawa Tengah.000 180.000.Penyusutan mesin dan perlegkapannya Total biaya tetap (B) Rp Biaya variabel . LHM.625 2.500 10.32 *) Data primer CV.155 250 250 250 250.125 2.000 60.500 1.000 5.Pembuatan tempat proses produksi (paket) .5 m = 10.250.000 3.784.5 10.972.1. dengan ukuran tumpukan 1.Bakteri pengurai (kg) .000.000 240. 2001*) Ur aian Biaya investasi .Lampiran 5. Solo diolah **) Pembuatan probiotik starbio satu priode 1 (satu) bulan.Penjualan probiotik starbio (kg)**) Total pendapatan (D) Rp Keuntungan (D – (B+C)) Rp Volume 1 1 Harga satuan (Rp) 1. Analisis Usahatani Probiotik Starbio di CV.5 1.500 8.155 9.5 m3 (1 m3 setara dengan 550 kg) Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol.000 100 1.000 3. No.5 5 10.250 10.972.5 10.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful