Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN Kesehatan merupakan kebutuhan terpenting bagi manusia sehingga berbagai usaha dilakukan untuk memperoleh tubuh

yang sehat, mulai dari berolah raga, hidup secara teratur, diet yang seimbang, istirahat yang cukup, sampai dengan mengkonsumsi vitamin atau suplemen tertentu. Bagi mereka yang mengalami gangguan kesehatan atau sakit, usaha penyembuhan akan dilakukan agar dapat kembali sehat, baik dengan menggunakan obat konvensional maupun obat yang berasal dari bahan alam. Dewasa ini penggunaan obat bahan alam cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun, baik yang digunakan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan, maupun untuk pengobatan suatu penyakit. Hal ini tidak saja terjadi pada negara-negara berkembang seperti Indonesia, akan tetapi juga pada negara-negara maju. Dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi, makin banyak hasil penelitian obat bahan alam dapat diakses dengan mudah melalui berbagai media elektronik, sehingga dengan banyaknya info ini semakin menumbuhkan keinginan penggunaan obat bahan alam Di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, penggunaan pengobatan komplementer dan alternatif (complementary and alternative medicine, CAM) dalam 20 tahun terakhir semakin meningkat tajam, tidak hanya sekedar karena trend back to nature namun juga karena CAM merupakan sumber layanan kesehatan yang mudah diperoleh dan terjangkau oleh masyarakat luas. Di Indonesia sendiri saat ini tercatat sekitar 40% penduduk Indonesia menggunakan pengobatan tradisional, 70% berada di daerah pedesaan. Di Indonesia, masyarakat dapat menggunakan herbal secara bebas tanpa harus berkonsultasi dengan dokter atau tenaga medis lainnya. Kecenderungan yang ada adalah masyarakat telah bertindak menjadi dokter untuk dirinya sendiri dalam penggunaan herbal, bahkan tidak jarang mereka mengkonsumsinya bersamaan dengan obat konvensional. Dosis dan waktu yang tepat dalam mengkonsumsi herbal dan jamu seringkali diabaikan. Masyarakat seringkali bereksperimen dalam penggunaan herbal dan jamu untuk mengobati penyakitnya. Hal ini terjadi karena mayoritas dari mereka menganggap herbal adalah aman untuk dikonsumsi karena berasal dari alam dan sudah digunakan secara turun temurun. Fenomena ini tentu saja sangat mengkhawatirkan karena paradigma alami berarti aman dan herbal dan jamu pasti aman merupakan hal yang salah. Faktanya adalah, walaupun herbal bersifat alami, namun kenyataannya banyak jenis herbal yang dalam penggunaannya perlu pengawasan ketat dari tenaga medis professional karena cukup berbahaya, bahkan ada beberapa
1

jenis herbal yang sudah dilarang penggunaannya oleh Badan POM karena malah dapat merugikan kesehatan yang serius. Selain itu, penggunaan herbal seringkali memiliki interaksi negatif bila dikonsumsi bersamaan dengan obat konvensional. Dari penelitian diungkap bahwa sekitar 63% tanaman obat tradisional Indonesia dapat menyebabkan interaksi farmakokinetik dengan obat-obat konvensional bila dikonsumsi secara bersamaan. Fakta-fakta di atas diperparah dengan kondisi industri jamu di Indonesia yang masih sangat memprihatinkan. Dengan modal yang sangat minim, banyak produk jamu yang beredar di pasaran sangat rendah kualitasnya sehingga sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi. Kualitas produk jamu yang buruk tersebut diakibatkan oleh banyak hal, misalnya bahan baku yang jelek dan tidak standar, proses pengolahan yang tidak higienis, hingga kemasan yang asalasalan. Persaingan yang semakin ketat cenderung pula membuat Industri jamu menghalalkan segala cara untuk dapat bertahan hidup. Pencampuran jamu dengan bahan-bahan kimia berbahaya sering dilakukan untuk menjadikan jamu tersebut semakin berkhasiat secara instan. Tentunya kita masih ingat tentang penarikan peredaran beberapa produk jamu yang dicampur dengan bahan-bahan kimia berbahaya beberapa tahun yang lalu. Kasus serupa terulang lagi pada akhir tahun 2006 ini dimana sebanyak 93 produk ditarik dari peredaran. Jamu-jamu yang ditarik dari peredaran tersebut oleh Badan POM justru merupakan jamu-jamu yang laris di pasaran karena efeknya cespleng dalam mengobati berbagai penyakit seperti pegal linu, rematik, sesak napas, masuk angin dan pelangsing. Bahan-bahan kimia berbahaya yang digunakan meliputi metampiron, fenilbutason, antalgin, deksametason, allopurinol, CTM, sildenafil sitrat, sibutramin hidroksida, furosemid, kofein, teofilin dan parasetamol. Obat-obat yang mengandung bahan-bahan kimia tersebut memiliki efek samping berbahaya. Misalnya jamu yang mengandung fenilbutason dapat menyebabkan peradangan lambung dan dalam jangka panjang akan merusak hati dan ginjal. Sedangkan jamu yang mengandung altalgin dapat menimbulkan kelainan darah. Cara-cara pengiklanan yang menyesatkan seringpula ditempuh untuk mendongkrak penjualan. Misalnya dengan mengklaim dapat mengobati segala macam penyakit, padahal aturan dari Badan POM hanya memperbolehkan satu klaim penyakit untuk satu jenis jamu.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jenis obat herbal dan pengertiannya Jenis obat herbal menurut badan POM (Pemeriksaan Obat dan Makanan) Badan POM sendiri membedakan obat tradisional yang beredar di Indonesia menjadi beberapa jenis, yaitu:
1. Jamu

Jamu adalah obat tradisional Indonesia. Ramuan atau bahan-bahan yang digunakan untuk membuat jamubiasanya merupakan bahan yang secara turun temurun digunakan untuk pengobatan secara tradisional,misalnya beras kencur, kunyit asam, temulawak, brotowali dll. Dahulu jamu tersedia dalam bentuk rebusanataupun cairan, untuk saat ini produk jamu sudah banyak yang beredar dalam bentuk serbuk ataupun kapsul.Karena obat tradisional merupakan produk yang dibuat dari bahan alam yang jenis dan sifat kandungannyasangat beragam, maka untuk menjamin mutu obat tradisional diperlukan cara pembuatan yang baik denganlebih memperhatikan proses produksi dan penanganan bahan baku. Untuk itu pihak BPOM telah mengeluarkan standar produksi obat tradisional yang dikenal dengan CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik)
2. Obat herbal terstandar

Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnyasecara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah di standarisasi. Jadi pada tahap ini obat herbaltersebut selain telah distandarisasi bahan baku dan proses produksinya juga harus melalui proses pengujian dilaboratorium yang meliputi uji khasiat dan uji keamanan. Uji khasiat dilakukan terhadap hewan uji yang secarafisiologi dan anatomi dianggap hampir sama dengan manusia, sedangkan uji keamanan dilakukan untukmengetahui apakah bahan tersebut membahayakan atau tidak. Uji keamanan yang dilakukan berupa ujitoksisitas akut, uji toksisitas subkronis atau bila diperlukan uji toksisitas kronis. Dari hasil pengujian prakliniktersebut akan dapat diketahui mengenai khasiat bahan tersebut, dosis yang tepat untuk terapi, keamanan danbahkan efek samping yang mungkin timbul.

3. Fitofarmaka

Fitofarmaka merupakan standar yang lebih tinggi lagi terhadap obat herbal. Fitofarmaka sendiri adalah sediaanobat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan ujiklinik. Jadi selain obat telah melalui proses standarisasi produksi dan bahan baku, kemudian melakukan ujipraklinik di laboratorium, maka selanjutnya obat dilakukan uji coba kepada manusia (uji klinik) untukmengetahui khasiatnya terhadap orang sakit ataupun orang sehat sebagai pembanding. Tahapan ini yangbiasanya memerlukan waktu yang lama dan biaya yang mahal karena melibatkan orang banyak. Setelah lolos uji klinik maka obat herbal tersebut telah memiliki evidance based herbal medicine yang artinya telah memilikibukti medis terhadap khasiat dan keamanannya bagi manusia. Di Indonesia sendiri saatini telah ada beberapa jenis obat herbal yang telah masuk dalam golongan fitofarmaka dan bahkan telah diresepkan penggunaannyaoleh dokter 2.2 Tahapan Pengembangan Obat Tradisional Indonesia Agar obat tradisional dapat diterima di pelayanan kesehatan formal/profesi dokter, maka hasil data empirik harus didukung oleh bukti ilmiah adanya khasiat dan keamanan penggunaannya pada manusia. Bukti tersebut hanya dapat diperoleh dari penelitian yang dilakukan secara sistematik. Tahapan pengembangan obat tradisional menjadi fitofarmaka adalah sebagai berikut. 1. Seleksi 2. Uji preklinik, terdiri atas uji toksisitas dan uji farmakodinamik 3. Standarisasi sederhana, penentuan identitas dan pembuatan sediaan terstandar 4. Uji klinik 2.2.1 Tahap Seleksi Sebelum memulai penelitian, perlu dilakukan pemilihan jenis obat tradisional/obat herbal yang akan diteliti dan dikembangkan. Jenis obat tradisional/obat herbal yang diprioritaskan untuk diteliti dan dikembangkan adalah 1. Diharapkan berkhasiat untuk penyakit yang menduduki urutan atas dalam angka kejadiannya (berdasarkan pola penyakit) 2. Berdasarkan pengalaman berkhasiat untuk penyakit tertentu 3. Merupakan alternatif jarang untuk penyakit tertentu, seperti AIDS dan kanker.

2.2.2 Tahap Uji Preklinik Uji preklinik dilaksanakan setelah dilakukan seleksi jenis obat tradisional yang akan dikembangkan menjadi fitofarmaka. Uji preklinik dilakukan secara in vitro dan in vivo pada hewan coba untuk melihat toksisitas dan efek farmakodinamiknya. Bentuk sediaan dan cara pemberian pada hewan coba disesuaikan dengan rencana pemberian pada manusia. Menurut pedoman pelaksanaan uji klinik obat tradisional yang dikeluarkan Direktorat Jenderal POM Departemen Kesehatan RI hewan coba yang digunakan untuk sementara satu spesies tikus atau mencit, sedangkan WHO menganjurkan pada dua spesies. Uji farmakodinamik pada hewan coba digunakan untuk memprediksi efek pada manusia, sedangkan uji toksisitas dimaksudkan untuk melihat keamanannya. 2.2.2.1 Uji Toksisitas Uji toksisitas dibagi menjadi uji toksisitas akut, subkronik, kronik, dan uji toksisitas khusus yang meliputi uji teratogenisitas, mutagenisitas, dan karsinogenisitas. Uji toksisitas akut dimaksudkan untuk menentukan LD50 (lethal dose50) yaitu dosis yang mematikan 50% hewan coba, menilai berbagai gejala toksik, spektrum efek toksik pada organ, dan cara kematian. Uji LD50 perlu dilakukan untuk semua jenis obat yang akan diberikan pada manusia. Untuk pemberian dosis tunggal cukup dilakukan uji toksisitas akut. Pada uji toksisitas subkronik obat diberikan selama satu atau tiga bulan, sedangkan pada uji toksisitas kronik obat diberikan selama enam bulan atau lebih. Uji toksisitas subkronik dan kronik bertujuan untuk mengetahui efek toksik obat tradisional pada pemberian jangka lama. Lama pemberian sediaan obat pada uji toksisitas ditentukan berdasarkan lama pemberian obat pada manusia. Uji toksisitas khusus tidak merupakan persyaratan mutlak bagi setiap obat tradisional agar masuk ke tahap uji klinik. Uji toksisitas khusus dilakukan secara selektif bila: 1. Obat tradisional berisi kandungan zat kimia yang potensial menimbulkan efek khusus seperti kanker, cacat bawaan. 2. Obat tradisional potensial digunakan oleh perempuan usia subur 3. Obat tradisional secara epidemiologik diduga terkait dengan penyakit tertentu misalnya kanker. 4. Obat digunakan secara kronik

2.2.2.2 Uji Farmakodinamik


5

Penelitian

farmakodinamik

obat

tradisional

bertujuan

untuk

meneliti

efek

farmakodinamik dan menelusuri mekanisme kerja dalam menimbulkan efek dari obat tradisional tersebut. Penelitian dilakukan secara in vitro dan in vivo pada hewan coba. Cara pemberian obat tradisional yang diuji dan bentuk sediaan disesuaikan dengan cara pemberiannya pada manusia. Hasil positif secara in vitro dan in vivo pada hewan coba hanya dapat dipakai untuk perkiraan kemungkinan efek pada manusia 2.2.3 Standardisasi Sederhana, Penentuan Identitas dan Pembuatan Sediaan Terstandar Pada tahap ini dilakukan standarisasi simplisia, penentuan identitas, dan menentukan bentuk sediaan yang sesuai. Bentuk sediaan obat herbal sangat mempengaruhi efek yang ditimbulkan. Bahan segar berbeda efeknya dibandingkan dengan bahan yang telah dikeringkan. Proses pengolahan seperti direbus, diseduh dapat merusak zat aktif tertentu yang bersifat termolabil. Sebagai contoh tanaman obat yang mengandung minyak atsiri atau glikosida tidak boleh dibuat dalam bentuk decoct karena termolabil. Demikian pula prosedur ekstraksi sangat mempengaruhi efek sediaan obat herbal yang dihasilkan. Ekstrak yang diproduksi dengan jenis pelarut yang berbeda dapat memiliki efek terapi yang berbeda karena zat aktif yang terlarut berbeda. Sebagai contoh daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk) memiliki tiga jenis kandungan kimia yang diduga berperan untuk pelangsing yaitu tanin, musilago, alkaloid. Ekstraksi yang dilakukan dengan etanol 95% hanya melarutkan alkaloid dan sedikit tanin, sedangkan ekstraksi dengan air atau etanol 30% didapatkan ketiga kandungan kimia daun jati belanda yaitu tanin, musilago, dan alkaloid tersari dengan baik 2.2.4 Uji klinik Obat tradisional Untuk dapat menjadi fitofarmaka maka obat tradisional/ obat herbal harus dibuktikan khasiat dan keamanannya melalui uji klinik. Seperti halnya dengan obat moderen maka uji klinik berpembanding dengan alokasi acak dan tersamar ganda (randomized double-blind controlled clinical trial) merupakan desain uji klinik baku emas (gold standard). Uji klinik pada manusia hanya dapat dilakukan apabila obat tradisional/obat herbal tersebut telah terbukti aman dan berkhasiat pada uji preklinik. Pada uji klinik obat tradisional seperti halnya dengan uji klinik obat moderen, maka prinsip etik uji klinik harus dipenuhi. Sukarelawan harus mendapat keterangan yang jelas mengenai penelitian dan memberikan informed-consent sebelum penelitian dilakukan. Standardisasi sediaan merupakan hal yang penting untuk dapat menimbulkan efek yang terulangkan (reproducible). Uji klinik dibagi empat fase yaitu:
6

Fase I : Dilakukan pada sukarelawan sehat, untuk menguji keamanan dan tolerabilitas obat tradisional Fase II awal : Dilakukan pada pasien dalam jumlah terbatas, tanpa pembanding Fase II akhir : Dilakukan pada pasien jumlah terbatas, dengan pembanding Fase III : Uji klinik definitif Fase IV : Pasca pemasaran,untuk mengamati efek samping yang jarang atau yang lambat timbulnya Saat ini belum banyak uji klinik obat tradisional yang dilakukan di Indonesia meskipun

nampaknya cenderung meningkat dalam lima tahun belakangan ini. Kurangnya uji klinik yang dilakukan terhadap obat tradisional antara lain karena: 1. Besarnya biaya yang dibutuhkan untuk melakukan uji klinik 2. Uji klinik hanya dapat dilakukan bila obat tradisional telah terbukti berkhasiat dan aman pada uji preklinik 3. Perlunya standardisasi bahan yang diuji 4. Sulitnya menentukan dosis yang tepat karena penentuan dosis berdasarkan dosis empiris, selain itu kandungan kimia tanaman tergantung pada banyak faktor. 5. Kekuatiran produsen akan hasil yang negatif terutama bagi produk yang telah laku di pasaran Setelah melalui penilaian oleh Badan POM, dewasa ini terdapat sejumlah obat bahan alam yang digolongkan sebagai obat herbal terstandar dan dalam jumlah lebih sedikit digolongkan sebagai fitofarmaka.

2.3 Perbedaan obat tradisional indonesia dengan obat modern Berbeda dengan obat moderen yang mengandung satu atau beberapa zat aktif yang jelas identitas dan jumlahnya, obat tradisional/obat herbal mengandung banyak kandungan kimia dan umumnya tidak diketahui atau tidak dapat dipastikan zat aktif yang berperan dalam menimbulkan efek terapi atau menimbulkan efek samping. Selain itu kandungan kimia obat herbal ditentukan oleh banyak faktor. Hal itu disebabkan tanaman merupakan organisme hidup sehingga letak geografis/tempat tumbuh tanaman, iklim, cara pembudidayaan, cara dan waktu panen, cara perlakuan pascapanen (pengeringan, penyimpanan) dapat mempengaruhi kandungan kimia obat herbal. Kandungan kimia tanaman obat ditentukan tidak saja oleh jenis (spesies) tanaman obat, tetapi juga oleh anak jenis dan varietasnya. Sebagai contoh bau minyak kayu putih yang disuling dari daun Eucalyptus sp bervariasi tergantung dari anak jenis dan
7

varietas tumbuhan, bahkan ada di antaranya yang tidak berbau. Pada tanaman obat, kandungan kimia yang memiliki kerja terapeutik termasuk pada golongan metabolit sekunder. Umumnya metabolit sekunder pada tanaman bermanfaat sebagai mekanisme pertahanan terhadap berbagai predator seperti serangga dan mikroorganisme dan hanya dihasilkan oleh tanaman tertentu termasuk tanaman obat. Kandungan aktif tanaman obat antara lain berupa alkaloid, flavonoid, minyak esensial, glikosida, tanin, saponin, resin, dan terpen.17 Lemak, protein, karbohidrat merupakan metabolit primer yang dihasilkan oleh semua jenis tanaman. Tabel 2.3 Perbedaan Obat Tradisional/obat Herbal dengan Obat Moderen Kandungan senyawa kimia Obat modern Satu atau dimurnikan/ sintetik Zat aktif Kendali mutu Efektivitas dan keamanan Jelas Relative mudah Ada bukti ilmiah, uji klinik Obat tradisional/obat herbal beberapa Campuran banyak senyawa alami Sering tidak diketahui/ tidak pasti Sangat sulit Umumnya belum ada bukti ilmiah/ ujia klinik 2.4 Efek samping dan reaksi negative obat medis, jamu, dan herbal Penggunaan obat dikatakan rasional bila pasien menerima obat sesuai dengan kebutuhannya untuk periode waktu tertentu dengan harga yang wajar dan masuk akal. Sungguh tidak bijak bila menginginkan penyakitnya cepat sembuh lalu segala macam obat diminum. Obat dokter diminum, obat sinshe diminum, jamu diminum, obat herbal diminum. Selain itu sengaja dosis yang digunakan tidak mau mengikuti aturan. Aturannya diminum sehari tiga kali lalu diminum sekaligus. Aturannya obat diminum sehari 3 x 1 kapsul tapi diminum sehari 3 x 2 kapsul. Siapapun yang sakit membutuhkan obat. Obat yang dipilih bisa obat modern atau tradisional. Bila yang ditanya dokter atau kalangan medis, mana yang lebih baik, tentu obat modern yang sudah ada uji klinisnya dan bias dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Sebaliknya bila yang ditanya para Pengobat Tradisional (BATRA) maka akan dijawab jamu atau obat herbal lebih baik karena mampu lebih ditolerir oleh tubuh karena memiliki efek samping miimal dan relatif tanpa efek samping dan digunakan sejak ratusan tahun. Teruji oleh waktu dan kepercayaan secara turun temurun. Sesungguhnya semua obat itu baik asal penggunaannya tepat, dosisnya disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing pemakai. Lebih baik lagi bila pemakaiannya di
8

bawah pengawasan orang-orang yang ahli di bidangnya. Meski begitu perlu dipahami masyarakat bahwa semua obat modern maupun tradisional pasti mempunyai efek samping. Efek samping bisa bersifat intrinsik (dari obat itu sendiri), bisa pula bersifat ekstrinsik (dari luar obat itu sendiri). Termasuk faktor intrinsik antara lain: salah dosis, salah waktu pemakaian, alergi atau tidak cocok dengan kondisi kesehatan pemakai, Interaksi negatif dengan obat atau herbal lain. salah identifikasi jenis obat atau tanaman, proses pengolahan dan kemasan tidak berkualitas, klaim atau iklan yang menyesatkan, pemalsuan.

Sedangkan yang termasuk faktor ekstrinsik antara lain:

2.5 Herbal yang toksik atau beracun Sebenarnya tumbuhan beracun itu banyak, namun uniknya justru yg beracun bila tahu penggunaannya malah berkhasiat obat cukup manjur dan sebagian bisa bermanfaat untuk anestesi atau obat bius. Misalnya saja biji Mahkotadewa dan bunga kecubung, biasanya tidak seluruh bagian tanaman mengandung racun. Mungkin saja hanya buahnya, bijinya atau akarnya saja. Hanya saja perlu diperhatikan untuk tanaman yang mengandung racun tidak boleh atau harus hati-hati bila digunakan untuk ibu hamil, menyusui dan anak-anak. Jangan gunakan herbal yang beracun secara tunggal tanpa mencampurnya dengan bahan lain. Gunakan herbal pendampingnya yg bersifat diuretik. Berikut ini beberapa tanaman yang dikenal memiliki kandungan racun dari bagian pohonnya: 1. Apel

Bijinya mengandung racun. Meski daging buah apel tidak diragukan kandungan vitamin dan gizinya ternyata bijinya beracun. Daging buah Apel juga bermanfaat untuk mencegah kanker.
2. Mahkotadewa (Phaleria macrocarpa, (Scheff) Boerl) 9

Bijinya beracun. Bisa membuat mabuk dan tertidur lemas. Maka pengirisan dan pengolahannya jangan menggunakan bijinya. Daging buah dan daunnya aman dikonsumsi dan sangat berkhasiat utk pengobatan kanker, diabetes, asam urat dan penyakit kronis lainnya. Kandungan kimia: Daun dan buah Mahkotadewa mengandung saponin, flavonoida, polifenol, dan alkaloid.
3. Ceremai (Phyllanthus acidus)

Akarnya beracun namun daun dan buahnya berkhasiat obat utk membuang lemak dan melangsingkan badan. Sifat dan Khasiat : Daun ceremai berbau khas aromatik, tidak berasa, dan berkhasiat sebagai peluruh dahak dan pencahar (purgatif). Kulit dan akar buah bersifat sebagai pencahar. Kandungan kimia : Daun, kulit batang dan kayu ceremai mengandung saponin, flavonoid, tanin dan polifenol. Akar mengandung saponin, asam galus, zat samak dan zat beracun (toksik). Sedangkan buah mengandung vitamin C.
4. Daun encok (Plumbago zeylanica)

Beracun, hanya boleh digunakan untuk obat luar dengan cara dihaluskan dan ditempelkan di bagian yang sakit selama 15 hingga 30 menit saja. Bila terlalu lama ditempelkan bias menyebabkan kulit melepuh dan gosong seperti terbakar. Sifat dan Khasiat : Daun encok bersifat pahit, tonik dan beracun. Berkhasiat menghilangkan bengkak dan nyeri (analgesik) Kandungan Kimia : Daun mengandung plimbagin, 3-3-biplumbagin, 3-chloroplumbagin, chitranone, dan Droserone. Zat berkhasiatnya yang bernama plimbagin sangat beracun dan pada pemakaian lokal dapat menyebabkan kerusakan kulit berupa lepuh seperti luka bakar.
5. Daun kompri (Symphytum officinalle L)

Bisa merusak hati dan penyebab kanker. Sementara ini masih ada pro dan kontra tentang khasiatnya untuk mengatasi berbagai macam penyakit seperti radang, payudara bengkak, batuk dll.
10

Sifat dan Khasiat : Daun kompri berkhasiat sebagai antiradang dan antirematik, sedangkan akarnya berkhasiat untuk menghentikan perdarahan (hemostatis). Kandungan kimia : Daun kompri mengandung symphatyne, echimidine, anadoline, alkaloid pyrrolizine (Pas), tanin, minyak atsiri, allantoin, dan vitamin (B1,B2, C, dan E). Alkaloid pyrrolizine diketahui merupakan penyebab kerusakan hati yang dinamakan hepatic veno-occlisive disease (HVOD). Sedangkan akarnya mengandung alkaloid pyrrolizine dengan jumlah yang lebih besar dari daun.
6. Pule pandak (Rauvolfia serpentina (L) Bentham ex. Kurz.)

Berkhasiat menurunkan tekanan darah tinggi, bersifat menenangkan/sedatif, mudah tidur/hipnotik, menghilangkan nyeri dll. Mempunyai sifat pahit, dingin dan sedikit beracun. Sifat dan Khasiat : Akar bersifat pahit, dingin, dan sedikit beracun. Berkhasiat sebagai penenang (sedatif), dan menyebabkan tidur (hipnotik), penurun tekanan darah tinggi (hipotensif), melancarkan aliran darah, penghilang nyeri (analgesik), pereda deman (antipiretik), pereda panas dalam, dan panas liver, dan antiradang. Batang dan daun bersifat pahit, manis dan sejuk yang berkhasiat menolak angin, hipotensif dan menghilangkan darah beku. Kandungan Kimia : Akar mengandung 3 kelompok alkaloid yang jenis dan jumlahnya tergantung dari daerah asal tumbuhnya. Kelompok I termasuk alkaline kuat (quarterarry ammonium compound): serpentine, serpentinine, sarpagine, dan samatine. Penyerapannya jelek jika digunakan secara peroral (diminum). Kelompok II (tertiary amine derivate): yohimbine, ajmaline, ajmalicine,tetraphylline, dan tetraphyllicine. Kelompok III termasuk alkaline lemah (secondary amines) : reserpines, rescinnamine, deserpidine, raunesine, dan canescine. Reserpine berkhasiat hipotensif. Ajmaline, serpentine dan rescinnamine berkhasiat sedatif, yohimbine merangsang pembentukan testoteron yang dapat membangkitkan gairah seks.
7. Tapak dara (Catharanthus roseus (L) G. Don).

11

Bagian tanaman yang digunakan mulai dari bunga, daun, batang dan akarnya. Warna bunganya putih dan merah jambu. Uniknya tanaman ini meski beracun namun punya khasiat menghilangkan racun. Racun melawan racun. Sifat dan Khasiat: Herba sedikit pahit rasanya, sejuk, agak beracun (toksik), masuk meridian hati. Berkhasiat sebagai anti kanker (antineoplastik), menenangkan hati, peluruh kencing (diuretik), menurunkan tekanaan darah, penghenti perdarahan (hemostatis), serta menghilangkan panas dan racun. Sedangkan akar tapak dara berkhasiat sebagai peluruh haid. Kandungan Kimia : Herba mengandung lebih dari 70 macam alkaloid, termasuk 28 bi-indole alkaloid. Komponen antikanker, yaitu alkaloid seperti vincaleukoblastine (Vinblastine =VBL), leurocristine (vinkristin = VCR), leurosin (VLR), vinkadiolin, leurosidin, dan katarantin. Alkaloid yang berkhasiat hipoglikemik (menurunkan kadar gula darah) antara lain leurosine, katarantin, lochnerin, tetrahidroalstonin, vindolin dan vindolinin. Sedangkan akar tapak dara mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, dan tannin.
8. Daun dewa (Gynura procumbens Lour. Merr var. macrophylla) atau Gynura pseudo-

china DC. Bagian tanaman yang digunakan daun dan umbinya, bisa digunakan untuk obat luar dan bisa dikonsumsi untuk diminum. Sifat dan Khasiat : Daun Dewa bersifat manis, tawar, dingin dan sedikit toksik. Berkhasiat sebagai antiradang, pereda demam (antipiretik), penghilang nyeri (analgesik), pembersih darah, dan membuyarkan bekuan darah. Kandungan Kimia : Daun dewa mengandung alkaloid, saponin, flavonoida, minyak atsiri, dan tanin.
9. Jambu mede (Anacardium accidentale L.)

Bagian tanaman yang sering dimanfaatkan adalah daging buahnya dan biji jambu mede yang letaknya menggantung di bagian luar buah. Sifat dan Khasiat : Kulit kayu berbau lemah, rasanya kelat, dan lama kelamaan menimbulkann rasa tebal di lidah. Khasiatnya sebagai pencahar, astrigen, dan memacu aktivitas enzim pencernaan (alteratif). Daun berbau aromatik, rasanya kelat, berkhasiat antiradang dan penurun kadar
12

glukosa darah (hipoglikemik). Biji berkhasiat sebagai pelembut kulit dan penghilang nyeri (analgesik). Tangkai daun berfungsi sebagai pengelat dan akar berkhasiat sebagi laksatif. Kandungan Kimia : Kulit kayu mengandung tanin yang cukup banyak, zat samak, asam galat dan gingkol katekin. Daun mengandung tanin-galat, flavonol, asam akardiol, asam elagat, senyawa fenol, kardol dan metil kardol. Buah mengandung protein, lemak, vitamin (A, B, dan C), kalsium, fosfor, besi dan belerang. Pericarp mengandung zat samak, asam anakardat, dan asam elegat. Biji mengandung 40-45 % minyak dan 21 % protein. Minyaknya mengandung asam oleat, asam linoleat, dan vitamin E. Getahnya mengandung furfural. Asam anakardat berkhasiat bakterisidal, fungisidal, mematikan cacing dan protozoa.
10. Kecubung (Datura metel L).

Bagian tanaman yang digunakan adalah bunga yang mekar ke atas, biji dan daunnya. dilarang diberikan pada kondisi badan yang lemah, hipertensi, anak-anak dan ibu hamil serta menyusui. Daun dan biji digunakan untuk anestesi lokal. Sifat dan Khasiat : Rasanya pahit, pedas, sifatnya hangat, beracun (toksik), masuk meridian jantung, paru dan limpa. Kecubung berkhasiat antiasmatik, anti batuk (antitusif), antirematik, penghilang nyeri (analgesik), afrodisiak dan pemati rasa (anestetik). Kandungan Kimia : Kecubung mengandung 0,3-0,43 % alkaloid (sekitar 85% skopolamin dan 15% hyoscyamine), hyoscine, dan atropin. Zat aktifnya dapat menimbulkan halusinasi bagi pemakainya. Jika alkaloid kecubung diisolasi maka terdeteksi adanya senyawa methyl crystalline yang mempunyai efek relaksasi pada otot gerak.
11. Kecubung gunung (Brugmansia suaveolens (H. Et B.) B. Et P.).

Bagian tanaman yang digunakan adalah bunganya yang merunduk ke bawah. Rasanya pahit dan pedas. Sifat dan Khasiat : Bunga kecubung gunung beracun, berkhasiat antispasmatik, dan penghilang nyeri. Kandungan Kimia : Alkaloid skopolamin, saponin, glikosida flavonoid, dan polifenol. Zat aktif ini bisa menyebabkan halusinasi.
13

2.6 Herbal Yang Tidak Boleh Dikonsumsi Wanita Hamil Bila wanita hamil yang sedang sakit tidak boleh sembarangan minum obat karena bisa mempengaruhi janin di dalam kandungannya. Bisa menyebabkan janin cacat atau mengalami keguguran. Beberapa herbal yang dilarang untuk wanita hamil antara lain:
1.

Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl).

Bagian tanaman yang digunakan adalah buah yang sudah tua, daun dan akarnya. Rasanya pedas dan panas. Sifat dan Khasiat : Buah cabe jawa masuk meridian limpa dan lambung. Cabe jawa berkhasiat untuk mengusir dingin, menghilangkan nyeri (analagesik), peluruh keringat (doaforetik), peluruh kentut (karminatif), stimulan dan afrodisiak. Akar cabe jawa pedas dan hangat rasanya, berkhasiat sebagai tonik, diuretik, stomakik, dan peluruh haid (emenagog). Kandungan Kimia : Bauh cabe jawa mengandung zat pedas piperine, chavicine, palmitic acids, tetrahydropiperic acids, piperidin, minyak atsiri, dan sesamine. Piperin memiliki daya antipiretik, analgesik, antiinflamasi, dan menekan susunan syaraf pusat. Bagian akar mengandung piperine, piplartine, dan piperlongiminine.
2. Daun gandarusa (Justicia gendarussa Burm. F.).

Bagian tanaman yang digunakan adalah daun dan akar. Rasanya pedas dan sedikit asam. Sifat dan Khasiat : Berkhasiat melancarkan peredaran darah, membuyarkan sumbatan, anti rematik, peluruh keringan (diaforetik), peluruh kencing (diuretik), dan pencahar. Sedangkan kulit kayunya bersifat sebagi perangsang muntah. Kandungan Kimia : Justisin, minyak atsiri, kalium, kalsium oksalat, tanin, dan alkaloid yang agak beracun.
3. Inggu ( Ruta angustifolia (L.) Pers.).

Bagian tanaman yang digunakan adalah seluruhnya. Rasanya pedas, agak pahit dan dingin. Sifat dan Khasiat :

14

Inggu berkhasiat sebagai pereda deman (antipiretik), penghilang nyeri (analgesik), anti radang, penawar racun (antitoksin), peluruh kentut (karminatif), membuyarkan bekuan darah, pereda kejang (antikonvulsan), peluruh haid (emenagog). Aborvitum, pembersih darah, stimulan pada sistem saraf dan kandungan (uterus), antelmintik. Minyak atsirinya mengandung oleum rutae, rasanya pahit, pedas dan memualkan, larut dalam air, tetapi tidak larut dalam alkohol dan eter. Berkhasiat sebagai aborvitum dan rubifasien. Kandungan Kimia : Minyak atsiri mengandung metil-nonilketon sampai 90%, ketone, pinena, llimonena, cineol, asam rutinat, kokusaginin, edulinine, skimmianine, bergapten, graveoline, quarsetin flavenol, graveolinin, asam modic, rutin, sedikit tanin. Minyak atsiri juga digunakan pada industri kosmetika, seperti pembuatan sabun, krim dan wangi-wangian.
4. Landep (Barleria prionitis L.).

Bagian tanaman yang digunakan adalah daunnya. Sifat dan Khasiat : Daun memiliki bau yang lemah, rasa agak kelat. Berkhasiat sebaga peluruh kencing (diuretik), tonik, pereda demam (antipiretik) dan peluruh dahak. Akar berkhasiat sebagi pereda demam (antipiretik), kulit kayunya berkhasiat sebagai peluruh dahak dan peluruh keringat (diaforetik). Kandungan Kimia : Daun landep mengandung saponin, flavonoid, dan polifenol.
5. Pacar cina (Aglaia odorata Lour )

Sifat dan Khasiat : Pacar cina bersifat pedas, manis, netral, masuk meridian paru, lambung dan hati. Berkhasiat mengurangi darah haid. Kandungan Kimia : Daun pacar cina mengandung minyak atsiri, alkaloid, damar, garam mineral dan tanin.
6. Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.f.)Nees)

Sifat dan Khasiat : Herba ini rasanya pahit, dingin, masuk meridian paru, lambung, usus besar dan dan usus kecil. Antibakteri, antiradang, menghambat reaksi imunitas (imunosupresi), penghilang

15

nyeri

(analagesik),

pereda

demam

(antipiretik),

menghilangkan

panas

dalam,

menghilangkan lembab, penawar racun (detoksifikasi), dandetumescent. Kandungan Kimia : Daun dan percabangannya mengandung laktone yang terdiri dari deoksiandrografolid, andrografolid (zat pahit), neosndrografolid. Juga terdapat flavonoid, alkene, keton, aldehid, mireral (kalsium, kalium, natrium), asam kersik, dan damar. Flavonoid diisolasi terbanyak dari akar, yaitu polimetoksiflavon, andrografin, panikulin. Zat aktif andrografolid terbukti berkhasiat sebagai hepatoprotektor (pelindung sel hati)
7. Srigading (Nyctanthes arbor-tritis L.)

Sifat dan Khasiat : Bunga berkhasiat sebagai peluruh kencing (diuretik) dan peluruh haid (emenagog). Daunnya yang pahit berkhasiat sebagai diuretik, emenagog, peluruh dahak (ekspektoran), peluruh keringat (diaforetik), antelmintik, kolagoga, dan laksatif. Kulit kayu berkhasiat sebagai ekspektoran, kolagoga dan laksatif. Kandungan Kimia : Daun mengandung tanin, metil salisilat, resin, niktantin, dan gula. Bagian bunga mengadung minyak atsiri dan zat warna merah yang disebut niktantin.
8.

Tembelekan (Lantana camara) Sifat dan Khasiat : Akar bersifat tawar dan sejuk. Berkhasiat sebagai pereda demem (antipiretik), penawar racun (antitoksin), penghilang nyeri (analgesik), dan penghenti pendarahan (hemostatis). Daun bersifat pahit, sejuk, berbau, dan sedikit beracun (toksik), yang berkhasiat menghilangkan gatal (anti pruritus), anti toksik, menghilangkan bengkak, dan perangsang muntah. Sedangkan bunga tembelekan manis rasanya dan sejuk, berkhasiat sebagai penghenti pendarahan. Kandungan Kimia : Daun mengandung lantadene A, lantadene B, lantanolic acid, lantic acid, humulene (mengandung minyak atsiri), Beta-caryophyllene, alpha-pinene, p-cymene.
9. Biduri (Caloptropis gigantea)

Sifat dan Khasiat :

16

Kulit dan akar biduri berkhasiat kolagoga, peluruh keringat (diaforetik), perangsang muntah (emetik), pemacu kerja enzim pencernaan (alteratif), peluruh kencing (diuretik). Kulit kayu biduri berkhasiat emetik, bunga berkhasiat tonik, dan menambah nafsu makan (somatik). Daun berkhasiat rubifasie, dan menghilangkan gatal. Getahnya beracun dan dapat menyebabkan muntah, namun berkhasiat obat pencahar. Kandungan Kimia : Akar mengandung saponin, sapogenin, kalotropin, kalotoksin, uskarin, kalaktin, gigantin, dan harsa. Daun mengandung flavonoid, polifenol, tanin, dan kalsium oksalat. Getah mengandung racun jantung yang menyerupai digitalis.
10. Buah makasar (Brucea javanica)

Sifat dan Khasiat : Rasanya pahit, sifatnya dingin dan beracun (toksik), masuk merisian usus besar. Khasiat buah makasar dapat membersihkan panas dan racun, menghentikan pendarahan (hemostatis), membunuh parasit (parasitoid), antidisentri, dan antimalaria. Khasiat daun makasar dapat membersihkan panas dan racun. Kandungan Kimia : Buah makasar mengandung alkaloid (brucamarine, yatanine), glikosida (bruceolic acid). Bijinya mengandung busatol dan bruceine A,B,C,E,F,G,H. Daging buahnya mengandung minyak lemak, asam moleat, asam linoleat, asam stearat, dan asam palmitoleat. Buah dan daunnya mengandung tanin.
11. Bungur kecil (Lagerstroemia indica L)

Sifat dan Khasiat : Akar rasanya agak pahit, sifatnya netral, astrigen. Khasiat akar bungur adalah merangsang proses sirkulasi, menghentikan pendarahan (hemostatis), antiradang, peluruh kencing (diuretik), dan menetralisir racun (detoksikan). Bunga, daun, dan kulit kayu berkhasiat pencahar (laksatif). Kandungan Kimia : Daun mengandung decinine, decamine, lagerstroemine, lagerine, dihydroverticillatine, dan decodine. Akarnya mengandung sitosterol, 3,3, 4-tri-o-methylellagic acid.
12. Iler (Coleus scutellarioides)

Sifat dan Khasiat :


17

Iler baunya harum, rasanya agak pahit, sifatnya dingin. Berkhasiat sebagai sebagai peluruh haid (emenagog), perangsang nafsu makan, penetralisir racun (detoksikan), penghambat pertumbuhan bakteri (antiseptik), membuyarkan gumpalan darah, mempercepat pematangan bisul dan pembunuh cacing (vermisida). Kandungan Kimia : Batang dan daun mengandung minyak atsiri, fenol, tanin, lemak, phytosterol, kalsium oksalat, dan peptic substances.
13. Nanas (Ananas comosus)

Sifat dan Khasiat : Buah masak sifatnya dingin. Berkhasiat mengurangi keluarnya asam lambung yang berlebihan, membantu mencerna makanan di lambung, antiradang, peluruh kencing (diuretik), membersihkan jaringan kulit yang mati (skin debridement), mengganggu pertumbuhan sel kanker, menghambat penggumapalan trombosit (agregasi platelet), dan mempunyai aktifitas fibrinolitik. Buah nanas rasanya asam, berkhasiat memacu enzim pencernaan, antelmintik, diuretik, peluruh haid (emenagog), aborvitum, peluruh dahak (mukolitik) dan pencahar. Daun berkhasiat antipiretik, antelmintik, pencahar, antiradang, dan menormalkan siklus haid. Kandungan Kimia : Buah mengandung viatmin A dan C, kalsium, fosfor, magnesium, besi, natrium, klaium, dekstrosa, sukrosa dan enzim bromelain. Bromelain berkhasiat antiradang, membantu melunakkan makanan di lambung, mengganggu pertumbuhan sel kanker, menghambat agregasi platelet, dan mempunyai aktivitas fibrinolitik. Kandungan seratnya dapat mempermudah buang air besar pada penderita sembelit (konstipasi). Daun mengandung kalsium oksalat dan peptic substances.
14. Pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis)

Sifat dan Khasiat: Rasa pahit, sifatnya dingin. Berkhasiat sebagai pembersih darah, antiradang, dan peluruh kencing (diuretik). Kandungan Kimia : Pecut kuda mengandung glikosida flavonoid, dan alkaloid.
15. Putri malu (Mimosa pudica L.) 18

Sifat dan Khasiat: Rasanya manis, sifatnya agak dingin, astrigen. Herba putri malu berkhasiat penenang (transquillizer), peluruh dahak (ekspektoran), peluruh kencing (diuretik), obat batuk (antitusif), pereda demam (antipiretik), dan antiradang. Akar dan biji putri malu berkhasiat sebagai perangsang muntah. Kandungan Kimia : Herba putri malu mengandung tanin, mimosin dan asam pipekolinat.
16. Sangitan (Sambucus javanica Reinw)

Sifat dan Khasiat : Rasanya manis sedikit pahit, sifatnya hangat. Herba ini masuk meridian hati (liver) dan berkhasiat sebagai peluruh kencing (diuretik), menghilangkan pembengkakan, menghilangkan nyeri (analgesik), dan melancarkan sirkulasi darah. Akarnya berkhasiat meredakan kolik (antispasmodik) dan menghilangkan pembengkakan. Buah berkhasiat peluruh kencing, pembersih darah, pencahar dan perangsang muntah. Kandungan Kimia : Tumbuhan ini mengandung minyak atsiri, cyanogenic glucoside, ursolic acid, Beta sitosterol, alpha-amyrin palmitate, KNO3, dan tanin. Buah mengandung saponin dan flavonoid.

2.7 Bahaya Obat Bahan Alam dan Jamu Mengandung Bahan Kimia Obat (BKO) Masyarakat perlu menyadari bahwa penggunaan obat bahan alam dan jamu secara umum tidak dapat memberikan efek penyembuhan seketika atau cespleng, tetapi memerlukan selang waktu tertentu untuk dapat menunjukkan efek yang diinginkan. Kenyataan ini sering tidak dimengerti oleh masyarakat dan kemudian dimanfaatkan oleh industri yang tidak bertanggungjawab dengan cara mencampurkan Bahan Kimia Obat (BKO) ke dalam obat bahan alam dan jamu untuk mendapatkan efek yang cespleng. Perbuatan ini melanggar peraturan yang berlaku di Indonesia yang mempersyaratkan bahwa obat bahan alam dan jamu tidak diperbolehkan mengandung BKO. Hal ini sangat berbahaya, karena obat bahan alam dan jamu seringkali digunakan dalam jangka waktu lama dan dengan takaran dosis yang tidak dapat dipastikan Walaupun efek penyembuhannya segera terasa, tetapi akibat penggunaan BKO yang tidak terkontrol dengan dosis yang tidak dapat dipastikan, dapat menimbulkan efek samping
19

yang serius, mulai dari mual, diare, pusing, sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri dada sampai pada kerusakan organ tubuh yang parah seperti kerusakan hati, gagal ginjal, jantung, bahkan sampai menyebabkan kematian. 2.8 Jamu yang berefek samping Sesungguhnya jamu milik Indonesia mempunyai potensi luar biasa untuk bias dikembangkan. Minum jamu terus menerus setiap hari tidak akan mempengaruhi kesehatan ginjal atau lever bila pengolahan jamunya benar dan bermutu serta dosisnya benar. Mengkonsumsi jamu sama halnya minum dan makan sayur karena bahan bakunya daun-daunan dan rimpang alami yang sifatnya konstruktif dan membangun. Maka sesungguhnya relatif lebih aman bila dibandingkan obat medis konvensional atau bahan kimia yang sifatnya destruktif. Seperti halnya obat konvensional dan herbal, jamu tetap memiliki efek samping walaupun relatif lebih ringan dibandingkan obat konvensional. Karena itu minum jamu tetap ada dosis dan waktu yang tepat. Ikuti petunjuk yang diberikan oleh produsennya atau kalau membuat ramuan sendiri, baca buku-buku atau publikasi lainnya mengenai komponen dari jamu tersebut untuk mengetahui indikasi, kontra indikasi, dosis, waktu konsumsi dan efek sampingnya. Efek samping jamu yang lebih besar justru biasanya datang dari faktor ekstrinsik (luar), misalnya karena pengolahannya tidak benar, salah jenis tanaman yang digunakan, terkontaminasi bahan berbahaya seperti pestisida dan logam berat, promosi yang menyesatkan (misalnya klaim yang terlalu bombastis), sudah kadaluarsa, dan yang paling parah adalah pemalsuan. Sayang memang selalu saja ada produsen jamu yang tidak memikirkan efek negative atau efek samping dari pengguna dan konsumen, dengan mencampurkan bahan kimia ke dalam jamu atau obat herbal. Sebagai contoh, keterangan dari beberapa sumber menyebutkan bahwa saat ini banyak pembuat jamu gendong yang malas meramu sendiri jamunya. Sebagai jalan pintas mereka menyeduh saja serbuk dalam sachet yang banyak dijual di pasaran oleh produsen besar, lalu mengemasnya dalam botol-botol untuk dijajakan sebagai jamu gendong. Hal yang lebih parah lagi adalah untuk membuat khasiatnya terasa cespleng dan seketika (instan), mereka kadangkala menambahkan obat-obat kimia, misalnya parasetamol untuk penurun panas. Selain melanggar aturan dan membahayakan konsumen, hal ini tentu saja membuat pamor jamu gendong yang luhur semakin turun. Beberapa kali Badan POM terpaksa melarang beredarnya beberapa jamu yang meski punya nomor registrasi namun setelah diteliti ternyata mengandung bahan kimia yang
20

berbahaya dan berdampak rusaknya beberapa organ tubuh penting seperti ginjal dan hati. Inilah sebabnya mengapa banyak kalangan medis yang melarang pasiennya minum jamu. Untuk itu konsumen hendaknya memanfaatkan jamu dan herbal yang benar-benar bisa dipercaya. Beberapa produk jamu dan obat herbal meski mempunyai nomor registrasi dari Badan POM ternyata belum menjadi jaminan produknya aman dan benar mengolahnya. Meski dijual di apotik tetap harus diwaspadai keasliannya. Produsen yang bertanggung jawab akan mencantumkan alamat dan layanan konsultasi atau customer service. Kini beberapa dokter atau kalangan medis sudah banyak yang bersedia memberi pelayanan di klinik-klinik herbal yang terpercaya. Pencampuran jamu dengan bahan kimia obat sudah sering terjadi dan dilakukan berulang-ulang walaupun BPOM telah melakukan tindakan tegas dengan menarik produkproduk tersebut dari pasaran dan memusnahkannya. Kasus terbaru terjadi pada Desember 2006 dimana sebanyak 93 produk ditarik dari peredaran. Jamu-jamu yang ditarik dari peredaran tersebut oleh Badan POM justru merupakan jamu-jamu yang laris di pasaran karena efeknya cespleng dalam mengobati berbagai penyakit seperti pegal linu, rematik, sesak napas, masuk angin dan pelangsing. Bahan-bahan kimia berbahaya yang digunakan meliputi metampiron, fenilbutason, antalgin, deksametason, allopurinol, CTM, sildenafil sitrat, sibutramin hidroksida, furosemid, kofein, teofilin dan parasetamol. Produsennya sebagian besar adalah produsen industri kecil lokal, namun ada beberapa yang diproduksi di luar negeri, misalnya Cina. Obatobat yang mengandung bahan-bahan kimia tersebut memiliki efek samping berbahaya bila digunakan tanpa pengawasan dokter, yaitu: - Metampiron dapat menyebabkan gangguan saluran cerna seperti mual, pendarahan lambung, rasa terbakar serta gangguan sistem saraf seperti tinitus (telinga berdenging) dan neuropati, gangguan darah, pembentukan sel darah dihambat (anemia aplastik), agranulositosis, gangguan ginjal, syok, kematian dan lain-lain. - Fenilbutason dapat menyebabkan mual, muntah, ruam kulit, retensi cairan dan elektrolit (edema), pendarahan lambung, nyeri lambung, dengan pendarahan atau perforasi, reaksi hipersensitivitas, hepatitis, nefritis, gagal ginjal, leukopenia, anemia aplastik, agranulositosis dan lainlain. - Deksametason dapat menyebabkan moon face, retensi cairan dan elektrolit, hiperglikemia, glaukoma (tekanan dalam bola mata meningkat), gangguan pertumbuhan, osteoporosis, daya tahan terhadap infeksi menurun, miopati (kelemahan otot), lambung, gangguan hormon dan lainlain. - Allupurinol dapat menyebabkan ruam kulit, trombositopenia, agranulositosis, dan anemia aplastik pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal.
21

- CTM dapat menyebabkan mengantuk, sukar menelan, gangguan saluran cerna, pusing, lelah tinitus (telinga berdenging), diplopia (penglihatan ganda), stimulasi susunan saraf pusat terutama pada anak berupa euforia, gelisah, sukar tidur, tremor, kejang. - Sildenafil Sitrat dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, dispepsia, mual, nyeri perut, gangguan penglihatan, rinitis (radang hidung), infark miokard, nyeri dada, palpitasi (denyut jantung cepat) dan kematian Sibutramin Hidroklorida dapat meningkatkan tekanan darah (hipertensi), denyut jantung serta sulit tidur. Obat ini tidak boleh digunakan pada pasien dengan riwayat penyakit arteri koroner, gagal jantung kongestif, aritmia atau stroke. - Parasetamol dalam penggunaan yang lama dapat menyebabkan gangguan kerusakan hati. 2.9 Izin DEPKES melalui Badan POM Pemerintah Indonesia melalui Badan POM membuat peraturan yang cukup ketat untuk keamanan obat dan makanan yang beredar di pasaran. Namun celakanya banyak produsen yang tahu aturan mainnya namun justru dilanggar demi kepentingan bisnis. Saking ketatnya peraturan juga bias menghambat perkembangan obat tradisional untuk memperoleh kepercayaan masyarakat. Dalam sebuah seminar yang diselenggarakan di aula Badan POM saya mendapatkan informasi bahwa suatu produk obat meski sudah diteliti secara ilmiah oleh Litbang Depkes masih harus diuji lagi hasilnya oleh Badan POM. Bahkan meski sudah diteliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang diakui duniapun harus tetap diuji dan diteliti ulang di Badan POM. Obat tradisional yang beredar di Indonesia mempunyai sertifikat berjenjang, yaitu: 1. Sertifikat TR (tradisional), untuk obat yang menggunakan bahan baku yang diakui berkhasiat obat secara turun temurun. Sertifikat TR ini hanya boleh mencantumkan khasiat ramuan satu macam saja dengan kata-kata standar Secara tradisional digunakan untuk pengobatan........ 2. Sertifikat Obat Herbal Terstandar apabila sebuah ramuan sudah diuji cobakan kepada hewan coba, atau dilakukan uji praklinis. 3. Sertifikat Fitofarmaka untuk obat yang sudah dilakukan uji klinis. Uji praklinik merupakan persyaratan uji untuk calon obat. Dari uji ini diperoleh informasi tentang efikasi (efek farmakologi), profil farmakokinetik dan toksisitas calon obat. Pada mulanya yang dilakukan pada uji praklinik adalah pengujian ikatan obat pada reseptor dengan kultur sel terisolasi atau organ terisolasi, selanjutnya dipandang perlu menguji pada hewan utuh. Hewan yang baku digunakan adalah galur tertentu dari mencit, tikus, kelinci, marmot,
22

hamster, anjing atau beberapa uji menggunakan primata. Hanya dengan menggunakan hewan utuh dapat diketahui apakah obat menimbulkan efek toksik pada dosis pengobatan atau aman. Penelitian toksisitas merupakan cara potensial untuk mengevaluasi : Toksisitas yang berhubungan dengan pemberian obat akut atau kronis. Kerusakan genetis (genotoksisitas, mutagenisitas). Pertumbuhan tumor (onkogenisitas atau karsinogenisitas). Kejadian cacat waktu lahir (teratogenisitas). Selain toksisitasnya, uji pada hewan dapat mempelajari sifat farmakokinetik obat meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme dan eliminasi obat. Semua hasil pengamatan pada hewan menentukan apakah dapat diteruskan dengan uji pada manusia.

BAB III KESIMPULAN Efek samping obat tradisional relatif kecil jika digunakan secara tepat, yang meliputi kebenaran bahan, ketepatan dosis, ketepatan waktu penggunaan, ketepatan cara penggunaan, ketepatan telaah informasi, dan tanpa penyalahgunaan obat tradisional itu sendiri. Penelitian yang telah dilakukan terhadap tanaman obat sangat membantu dalam pemilihan bahan baku obat tradisional. Pengalaman empiris ditunjang dengan penelitian semakin memberikan keyakinan akan khasiat dan keamanan obat tradisional. Dari segi efek samping, walaupun efek samping obat alami terbukti lebih kecil dibandingkan obat modern, akan tetapi kalau kembali kita tengok bahan aktif yang terkandung di dalam obatalami, kepastian dan konsistensinya belum dapat dijamin, terutama untuk penggunaan secararutin. Oleh karena itu jelas di sini bahwa masih tetap diperlukan penggalian lebih lanjut mengenai zat aktif yang berkhasiat di dalam tanaman obat. Informasi ini tentu saja sangat diperlukan untuk menghindari adanya bahaya dari suatu zat toksik yang mungkin
23

sajaterkandung di dalam tanaman obat tersebut, serta untuk pengamanan terhadap residu.Obat alami sebenarnya bisa pula dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pengembangan obat alami merupakan kegiatan yang memerlukan tekad yang kuat sebab permasalahan yang akandihadapi merupakan permasalahan yang kompleks. Selain itu diperlukan suatu jaringankerjasama antara pihak-pihak yang terkait.

24