Anda di halaman 1dari 12

MODUL 10

PILIHAN STRATEGI MEMASUKI DAN EKSPANSI DI PASAR GLOBAL

Setiap perusahaan sepanjang sejarahnya, menghadapi rentang alternatif strategi yang amat luas. Pada umumnya, perusahaan tidak menghargai berbagai alternatif yang terbuka dan karenanya hanya memanfaatkan satu strategi saja -sering kali yang menimbulkan kerugian bagi mereka. Perusahaan ini juga gagal mempertimbangkan alternatif strategi yang terbuka bagi pesaing mereka dan membiarkan diri mereka mudah di serang seperti mengalami sindrom "Titanik", atau terkejut oleh serangan di malam hari yang datang tanpa peringatan dan menenggelamkan kapal tadi. Beberapa perusahaan langsung membuat keputusan "masuk ke pasar global"; perusahaan lain mencari jalan untuk memperluas pangsa pasar dunia mereka. Daiam kedua situasi tersebui perusahaan sama-sama menghadapi isu dasar dalam menetapkan pemasok. Perusahaan juga harus memperhatikan isu mengenai pemasaran dan rantai nilai manajemen sebelum memutuskan untuk memasuki atau memperluas pasar global dengan cara mengekspor, memberi lisensi, membentuk usaha patungan, atau memiliki sendiri. Preferensi relatif perusahaanperusahaan A.S. Untuk setiap alternatif strategi ditunjukkan dalam tabel berikut. Cara perusahaan A.S. memasuki pasar negeri 1-1 Ekspor Memberikan lisensi Usaha patungan Kepemilikan Mulai dari nol Akusisi Tabel. 51% 7% 11% 20% luar 11%

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Drs. Wawan Purwanto,SE.

PEMASARAN INTERNASIONAL

Setiap perusahaan, sepanjang sejarahnya, menghadapi rentang alternatif yang amat luas. Alternatif tersebut berhubungan dengan alternatif di pasar domestik sampai dengan alternatif stratgi untu pasar global. Beberapa perushaan langsung membuat keputusan masuk kepasar global; perusahaan lainnya mencari jalan memperluas pangsa pasar dunia mereka. Strategi masuk dan berekspansi ke pasar global harus dimulai dengan perencanaan pemasaran. Beberapa pertanyaan harus di pertanyakan ketika merencanakan memasuki pasar global. Pasar mana saja yang dijadikan target dan bagaimana uruturutannya ?. negara mana, dan segmen pasar mana yang menjadi sasaran ?. Langkah berikutnya bagi petugas pemasara adalah menetapkan obyek untuk volume, pangsa pasar, penjualan, dan pendapatan; mereka harus memutuskan bagaimana mengelola dan mengimplementasi usaha pemasaran ?. Terutama, bagaimana memastikan akan memdapatkan umpan balik pasar yang akurat dan tepat waktu dari agen-agen yang digunakan. Sebaliknya, bagaimana kita memastikan bahwa informasi yang diperlukan perwakilan dan agen-agen yang digunakan dapat diperoleh untuk mewakili perusahaan. Beberapa variable besar yang mempengaruhi pemilihan cara memasuki dan berekspansi di pasar global, adalah : (1) tujuan perusahaan mengenai volume bisnis, luasnya geografi dan lamanya keterlibatan internasional yang diharapkan; (2) Ukuran perusahaan dalam penjualan dan aktiva; (3) lini produk dan sifat produknya ( barang industri atau barang komsumen, tingkat harga, dan kandungan tekhnologi); dan (4) Persaingan di luar negeri. Disamping keempat factor umum di atas, ada beberapa factor lain yang lebih berkaitan dengan cara memasuki pasar itu sendiri, dan relatif tidak tergantung pada perusahaan dan jenis industrinya, yaitu :

Jumlah Pasar. Ini terkait dengan berbagai perturan yang

diterapkan suatu negara, untuk memasuki negara tersebut. Panetrasi dalan pasar. Perlu dipelajari sampai sejauh

mana kemampuan perwakilan atau agen yang ada dalam meliput pasar. Umpan balik pasar. Pentingnya arti pasar luar negari

memerlukan cara memberikan umpan balik. Belajar dari pengalaman. Memasuki pasar luar negeri

yang baik tidak terlepas dari pengalaman yang ada. Pengendalian. Memasuki pasar luar negeri tergantung

pada tingkat pengendalian yang dikehendaki.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Drs. Wawan Purwanto,SE.

PEMASARAN INTERNASIONAL


tujuan).

Biaya pemasaran diferensial. Ada berbagai biaya yang

terkait denga cara memasuki pasar internasional. Kemungkinan laba. Penjualan dan biaya jangka

panjang masing masing cara harus diperkirakan. Kebutuhan investasi. Ini sangat tergantung dengan

keputusan kepelikan yang dikehendaki ( mungkin juga telah diatur oleh negara


tujuan.

Kebutuhan

administrasi.

Meliputi

dokumentasi,

birokrasi dan waktu manajemen yang diperlukan. Kebutuhan personil. Kebutuhan personil tergantung

pada keterlibatan langsung atau tidak langsung. Kesediaan menghadapi masalah luar negeri. Ini terkait

kemauan beradaptasi dengan peraturan dan perundang-undangan pasar

Keluwesan. Penting artinya keluwesan jika ingin berada

di pasar luar negeri untuk jangka lama. Risiko. Sebelum memasuki pasar luar negeri perlu

dilakukan analisa risiko dalam berbagai aspek. ALTERNATIF CARA MEMASUKI PASAR LUAR NEGERI. A. PRODUKSI DI PASAR DALAM NEGERI. Memasuki pasar luar negeri dimana proses produksi tetap dilakukan di dalam negeri dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu : (1) Ekspor tidak langsung, dan (2) Ekspor langsung. Ekspor tidak langsung. Perusahaan menjadi pengekspor tidak langsung bila menjual produknya di pasar luar negeri seperti menjualnya di dalam negeri. Tidak pemasaran internasional dalam pengertian sesungguhnya. Perusahaan tidak perlu memiliki keakhlian khusus maupun investasi besar, tentunya juga dengan keterbatasan wewenang memilih pasar dan menentukan strategi pemasarannya. 1. Perusahaan Dagang. Perusahaan dagang internasional yang memilki kantor lokal yang besar. Perusahaan ini bisa merupakan bagian dari operasi perusahaan multi nasional, perwakilan pembelian. Perusahaan dagang internasional merupakan saluran Untuk melakukan ekspor tidak langsung ada bebrapa cara dapat dilakukan, seperti :

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Drs. Wawan Purwanto,SE.

PEMASARAN INTERNASIONAL

yang sangat penting untuk beberapa pasar didunia. Dapat juga menghubungi kantor pembelian dari toko serba ada pedagang besar, atau organisasi pengecer luar negeri. Bisa juga dengan menghubungi kantor pembelian dari perusahaan di dalam negeri yang beroperasi di dalam maupun di luar negeri. 2. Perusahaan Manajemen Ekspor. Perusahaan manajemen ekspor atau Export Management Company (EMC) dipergunakan oleh perusahaan yang tidak mendirikan bagian ekspor sendiri dalam organisasinya. Keuntungan ekonominya karena EMC menjalankan ekpor untuk beberapa perusahaan sekaligus. EMC melakukan negosiasi atas nama perushaan, dan menentukan harga serta menyetujui pesanan dengan sizing perusahaan penjual. Pendekatan EMC untuk ekspor tidak langsung ideal bagi perusahaan kecil dan menengah, yang memiliki keterbatasaan pengetahuan pasar luar negeri. Keuntungannya bahwa EMC memungkinkan produsen segera memperoleh pengetahuan pasar luar negeri dan pengetahuan ekspor, sehingga setelah penjualan ekspor mencapai volume tertentu, produsen cenderung mendidrikan bagian ekspornya sendiri. Disamping itu, EMC cenderung membeli untuk dijual lagi, dan selalu berusaha menghubungi lebih banyak klien. 3. Kerja sama dalam ekspor. Kerja sama dalam ekspor dapat dibedakan ke dalam dua bentuk yaitu :

a.

Webb Pemerene Assosiation. Assosiasi ini memungkinkan perusahaan yang saling bersaing di dalam negeri untuk kerjasama dalam ekspor. Banyak manfaat potensial yang dapat diperoleh perusahaan mengikuti assosiasi ini, antara lain penelitian pasar luar negeri yang lebih efektif, harga yang lebih stabil, penghematan biaya penjualan, penghematan biaya pengangkutan karena pengapalan bersama, standarisasi produk dan merk dagang bersama yang lebih kuat. Sebagian besar manfaat diperoleh dari skala ekonomis, dan kekuatan saling menunjang melalui usaha bersama.

b.

Export Piggyback. Dalam ekspor piggyback, suatu perusahaan manufaktur menggunakan fasilitas distribusi luar negerinya yang sudah mapan untuk menjual produk perusahaan lain bersama-sama produknya sendiri. (carrier), Perusahaan yang melaksanakan ekspor disebut pengangkut penumpang.

sementara perusahaan lainnya yang diikutkan disebut sebagai perusahaan Dalam perjanjian piggyback, pengangkut dapat menjual produk penumpang atas dasar komisi seperti halnya agen atau EMC.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Drs. Wawan Purwanto,SE.

PEMASARAN INTERNASIONAL

Ekspor Langsung. Berbeda dengan ekspor tidak langsung, dalam ekspor langsung perusahaan melakukan sendiri semua tugas ekspor yang meliputi kontak pasar, penelitian pasar, distibusi pisik, dokumentasi ekspor, penetapan harga, dan sebagainya dengan membentuk bagian ekspor dalam organisasi perusahaan ini. Ekspor langsung mempunyai berbagai keuntungan, terutama volume penjualan lebih besar. Keuntungan lainnya adalah pengendalian lebih besar, informasi pasar yang lebih baik dan pengembangan keterampilan pemasaran internasional dalam perusahaan. Bentuk yang digunakan dalam ekspor langsung adalah dengan (1) Distribusi luar negeri, (2) Agen di luar negeri, dan (3) Mendirikan anak perusahaan pemasaran di luar negeri. B. SUMBER PRODUKSI LUAR NEGERI. Dalam beerapa kondisi tertentu, tidak mungkin atau kurang layak bila semua pasar luar negeri dipasok dari sumber produksi dalam negeri. Beberapa factor yang mendorong atau memaksa perusahaan untuk membuat produk di pasar luar negeri adalah : biaya transpor yang dapat membuat produk tidak dapat bersaing; tariff atau kuota yang melarang masuk produk luar negeri; dan dibanyak negara, preferensi pemerintah setempat pada pemasok nasinal. Disamping itu ada beberapa yang lebih positif , yaitu : pasar yang cukup besar untuk dilayani oleh suatu pabrik dengan ukuran efisien, terutama pengelompokan regional seperti Pasar Bersama Eropa; untuk memperbaiki interaksi dengan kebutuhan pasar local mengenai rancangan produk, penyerahan dan pelayanan; biaya produksi diluar negeri yang lebih rendah. Bila perusahaan agak terlambat memasuki suart pasar, ia dapat membeli perusahaan setempat atau bekerja sama dengan perusahaan itu. Ada lima alternatif untu melakukan produksi di luar negeri, yaitu :

1.

Perakitan luar negeri. Perakitan luar negeri ( foreign assembly), perusahaan memproduksi didalam negeri semua atau sebagian besar komponen atau ramuan dari produknya, dan mengapalkan ke pasar luar negeri untuk dirakit menjadi produk jadi. Contohnya adalah mobil dan mesin pertanian. Alasannya adalah biaya transportasi yang terlalu tinggi untuk produk jadi, dan adanya aturan tariff di

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Drs. Wawan Purwanto,SE.

PEMASARAN INTERNASIONAL

banyak negara yang mengenakan tariff lebih rendah untuk peralatan dalam bentuk CDK. 2. Kontrak Produksi. Dalam kontrak produksi (contract manufacturing), produk prusahaan diproduksi dipasar luar negeri oleh produsen lain yang menandatangani kontrak dengan perusahaan tadi. Karena kontrak itu hanya mencakup produksi, maka pemasarannya dilakukan oleh pihak lain. Kontrak produksi merupakan alternatif yang menarik bila politik dinegara tujuan kurang mantap sehingga investasi di negara itu sangat riskan; bila perusahan kekurangan modal investasi; bila perusahaan ingin menghindari masalah perburuhan dan masalah produksi lainnya, tetapi perusahaan mitra dapat menghasilaknb produk yang sesuai kualitas dan kuantitas yang disyaratkan. 3. Lisensi dan Franchise. Penjualan lisensi dan franchise adalah cara lain memperoleh kapasitas produksi di luar negeri tanpa investasi sendiri. Lisensi dijual bisa dalam bentuk (1) hak paten, (2) merek dagang, (3) hak cipta, dan (4) pengetahuan mengenai produk atau proses. Sedang Franchise yang dijual adalah format bisnis yang mencakup proses dan cara menelola yang terstandarisasi yang telah ditentukan oleh frachisornya. 4. Usaha Patungan di luar negeri. Usaha Patungan ( joint ventures) di luar negeri, seperti halnya penjualan lisensi, menyangkut produksi dan distribusi oleh perusahaan luar negeri. Bedanya, dengan usaha patungan perushaan internasional memiliki saham dan suara manajemen dalam perusahaan luar negeri itu. Sahamnya antara 10 90 persen, tetapi umnumya anatara 25 75 persen. Keuntungan perusahaan nasional dalam patungan adalah mendapatkan tekhnologi, sedangkan perusahaan internasional memperoleh keuntungan pemasaran. 5. Fasilitas produksi luar negeri milik sendiri. Fasilitas duksi luar negeri milik sendiri merupakan komitmen terbesar kepada pasar luar negeri. Pada dasarnya, milik sendiri artinya saham perusahaan diluar negeri di kuasai 100%. Pendekatan pemilikan 100% sangat penting, karena laba akan diperoleh 100% sehingga menghilangkan kemungkinan pemboncengan gratis oleh mitra usaha nasional. hal biaya investasi dan sumber daya manajemen. Namun, pendekatan pemilikan sendiri juga memiliki kerugian, terutama adalah terlalu mahal dalam

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Drs. Wawan Purwanto,SE.

PEMASARAN INTERNASIONAL

Strategi indonesia memasuki pasar global Sejarah menunjukkan yang bertahan hidup adalah mereka yang bisa menyesuaikan diri dengan perubahan. Bahkan dalam banyak kasus, kemajuan yang cepat terjadi karena adanya momentum perubahan yang besar. Sebagian kita tentu masih ingat pengalaman Indonesia merespons resesi ekonomi dunia pada awal 1980-an dengan Paket Kebijakan Ekspor dan Lalu Lintas Devisa serta Kebijakan Tata Niaga Impor Tujuh Kelompok Industri dan Satu Kelompok Pertanian pada 1982. Kebijakan ini kemudian membuahkan pesatnya investasi barang substitusi impor, meningkatnya ekspor nonmigas, dan tingginya pertumbuhan ekonomi, sehingga Indonesia disebut sebagai salah satu macan baru Asia. Pecahnya gelembung pasar keuangan yang ditandai oleh bangkrutnya Lehman Brothers, lalu terjadinya penarikan dana dari pasar dunia ke pusat keuangan di Amerika Serikat, dan membuat Pemerintah AS menalangi dana US$700 miliar merupakan momentum kemunduran besar bagi ekonomi dunia pada abad milenium ini. Berbagai pihak memperkirakan volatilitas keuangan global masih akan berlangsung paling tidak 6-12 bulan ke depan, resesi dunia akan berlangsung selama dua tahunan, dan pertumbuhan ekonomi negara maju umumnya menurun 1%, bahkan dikhawatirkan ada yang negatif seperti yang dialami Indonesia ketika krisis moneter pada pertengahan 1987. Krisis keuangan global dengan episentrum di Wall Street ini berdampak langsung kepada kegiatan sektor riil yang di kalangan pengamat disebut Main Street. Ini karena darah ekonomi menjadi kering yang mengakibatkan penurunan aggregat demand, produksi, dan investasi di mana-mana, terutama di negara yang selama ini menjadi tujuan utama ekspor Indonesia, sumber pasokan barang modal dan bahan baku, serta berkontribusi besar dalam investasi.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Drs. Wawan Purwanto,SE.

PEMASARAN INTERNASIONAL

Respons Indonesia Bagaimana Indonesia merespons momentum ini? Kita tampaknya sudah

mengantisipasi bahkan optimistis dengan pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 6%. Pemerintah tentu akan menjaga kebugaran ballance of payment (BOP) dari kantong current account (neraca perdagangan dan neraca jasa-jasa) dan capital account (neraca modal). Sinergi instrumen fiskal, moneter, dan regulasi memang kunci dari kesuksesan penyesuaian ini, bahkan sangat dapat dioptimalkan untuk

memanfaatkan peluang sektor rill untuk berekspansi. Artinya, selain mempertahankan volume perdagangan luar negeri, kita juga perlu mengambil pangsa perdagangan dan investasi dengan dan dari negara penderita krisis serta negara pesaing. Kita cukup memiliki kekuatan dan potensi aktivitas ekonomi sektor riil untuk mengamankan BOP dan target pertumbuhan ekonomi, seperti berbagai komoditas ekspor yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif, pasar domestik yang besar dengan lebih dari 230 juta konsumen, pariwisata, dan tenaga kerja di luar negeri. Fokus program ekonomi 2008-2009 yang dituangkan dalam Inpres No. 5/2008 sebenarnya cukup untuk membentengi ketahanan ekonomi nasional menghadapi resesi ekonomi global ini. Di situ terdapat program perbaikan iklim investasi untuk mendorong penanaman modal langsung (FDI) yang didukung oleh program sektor keuangan, infrastruktur, ketahanan energi, tenaga kerja, dan program delivery untuk ketahanan pangan, peningkatan produksi, pengamanan pasar domestik dari gangguan impor, peningkatan ekspor, dan pemberdayaan pelaku usaha, khususnya UMKM. Kreasi perdagangan

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Drs. Wawan Purwanto,SE.

PEMASARAN INTERNASIONAL

Berdasarkan data statistik, pada semester I/2008 terjadi perlambatan peningkatan ekspor nonmigas dibandingkan dengan periode yang sama pada 2007, yaitu hanya naik 23,2% dari US$44,1 miliar menjadi US$54,4 miliar. Sebaliknya, nilai impor meningkat tajam sebesar 93,0% dari US$33,7 miliar menjadi US$65,1 miliar. Namun, gambaran hasil perdagangan luar negeri tidak dapat dikatakan pengaruh dari geliat awal resesi ekonomi global. Banyak pelemahan ekspor komoditas utama Indonesia, karena masalah domestik yang masih terus dibenahi akibat krisis ekonomi yang lalu dibandingkan dengan perkembangan daya saing pasar ekspor sangat dinamis, seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, mebel, produk kulit, dan kakao. Selain itu, meningkatnya kerumitan persyaratan standar kebersihan dan kesehatan konsumen yang dibebankan negara importir, seperti untuk komoditas perikanan, makanan, jamu-jamuan, kosmetik, dan rempah-rempah. Namun, jika diteliti lebih saksama, cukup banyak komoditas ekspor Indonesia yang meningkat satuan harga dan nilai tambahnya, seperti minyak nabati, barang elektronik, kendaraan bermotor dan perlengkapannya. Sementara itu, impor yang luar biasa memang terjadi pada barang modal dan bahan baku. Namun, jika diteliti lebih saksama, peningkatan itu terjadi karena kenaikan harga komoditas yang menjadi ikutan kenaikan harga minyak mentah dunia, seperti bahan baku pupuk nonurea, biji plastik, bahan kimia, dan besi baja. Juga harganya naik karena meningkatnya permintaan komoditas itu sebagai substitusi minyak bumi, seperti kedelai. Sebaliknya, program pemerintah untuk mendorong peningkatan investasi dan produksi kendaraan bermotor komersial, kendaraan kecil sampai dengan 1.500 cc, kendaraan bermotor roda dua, dan industri perlengkapan kendaraan bermotor telah membuat impor komponen dan bahan bakunya sangat tinggi. Namun, ekspor

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Drs. Wawan Purwanto,SE.

PEMASARAN INTERNASIONAL

kendaraan bermotor juga meningkat tajam sebesar 55,8% pada semester I/2008 dibandingkan dengan semester I/2007. Komoditas nonmigas utama yang diimpor AS selama ini umumnya merupakan barang konsumsi, seperti kendaraan bermotor, mesin pemroses data secara otomatis, barang elektronik, TPT, alas kaki, makanan dan minuman, peralatan rumah tangga, furnitur, perlengkapan dan komponen mesin dan kendaraan, serta barang primer. Indonesia merupakan negara pada urutan ke-26 pengekspor ke AS. Dari 50 komoditas ekspor yang bernilai tinggi ke AS, umumnya merupakan barang konsumsi dan bahan baku, seperti TPT, alas kaki, furnitur, besi baja, kopi, kakao, perikanan dan udang, rempah-rempah, dan karet. Sementara itu, impor Indonesia dari AS umumnya bahan baku, seperti kapas, bahan kimia, perlengkapan pesawat terbang, selain barang konsumsi, seperti kedelai, kentang, makanan olahan, obat-obatan, dan kosmetik. Dari jenis komoditas yang diperdagangkan, Indonesia dan AS saling bergantung, terutama produk primer dari Indonesia dan bahan baku dari AS. Demikian pula dengan negara yang diperkirakan menjadi second round imbas krisis keuangan ini, seperti Uni Eropa dan Jepang. Oleh karena itu, untuk mempertahankan volume perdagangan bilateral, perlu dilakukan kreasi perdagangan, baik untuk mempertahankan pangsa maupun untuk melakukan ekspansi ekspor. Contohnya adalah membuka keran ekspor dan menghilangkan hambatannya, meningkatkan pola imbal dagang, konsinyasi, kredit ekspor dari bank komersial, membeli perusahaan distribusi, agen pemasaran, perusahaan manufaktur yang mengimpor bahan baku dari Indonesia, memasok barang kebutuhan proyek pemerintah, dan entertainment industry di negara tersebut dan negara nontradisional ekspor Indonesia.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Drs. Wawan Purwanto,SE.

PEMASARAN INTERNASIONAL

10

Pelarian pasar Penurunan aggregat demand pasar internasional, terutama di AS, Uni Eropa, dan Jepang dan menyempitnya akses pasar di berbagai negara lain yang menutup diri karena pengaruh psikologis krisis ekonomi global, tentu akan membuat terjadinya pelarian pasar (pot shopping, circumvention, smuggling, trade malpractices, dan illegal transhipment) dan banting harga (dumping, disubsidi, bayar belakangan) termasuk ke Indonesia yang memiliki konsumen besar di kawasan. Bahkan kabarnya banyak importir negara-negara itu yang telah dan akan membatalkan kontrak dan menunda pengapalan impor, sementara negara pemasok barang konsumsi kebutuhan musim dingin, Natal, dan tahun baru sudah siap menumpuk untuk diekspor ke negara-negara tersebut. Ini merupakan wabah yang dapat mengganggu industri dalam negeri kita. Wabah impor ini memang perlu pengawasan dan penanganan yang terstruktur, seperti imunisasi industri lokal dengan insentif atau pengarantinaan kasus sesuai dengan ketentuan atau instrumen yang ada, seperti peningkatan pengawasan penyelundupan atau pelanggaran kepabeanan, antidumping, antisubsidi, dan safeguard measures. Kebijakan proteksi substitusi impor seperti dalam merespons krisis ekonomi pada 1980-an tidak bisa diterapkan. Ini karena ada kebutuhan impor yang menjadi paket FDI, pertimbangan efisiensi, dan kemampuan pasok domestik. Pengendalian impor secara selektif dapat dilakukan untuk barang konsumsi dan bahan baku yang industri domestiknya memerlukan perlindungan sementara dan melalui instrumen tarip sampai dengan 40% Selain itu, perlu dipertimbangkan pola produsen importir dan deletion program (penghapusan jenis barang yang impor oleh industri tertentu dengan instrumen tarif) guna mendorong pengembangan industri dan nilai tambah.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Drs. Wawan Purwanto,SE.

PEMASARAN INTERNASIONAL

11

Kita tahu banyak sekali impor telepon genggam, produk elektronik, dan barang konsumsi yang di Indonesia hanya memiliki perwakilan perusahaan. Aturan WTO tentu tidak boleh lagi menggunakan instrumen di luar tarif, tetapi aturan itu juga mengenal waiver dalam rangka pengamanan BOP. Masalah gangguan impor ini sebenarnya dapat ditanggulangi secara terkoordinasi dalam Forum Komunikasi Perlindungan Usaha dan Konsumen yang dimintakan dalam Inpres No. 5/2008, sehingga pengamanan pasar domestik dapat lebih efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Moezamil Zamahsari; Pemasaran Internasional; Intermedia, Jakarta 1991.

Keegan, Warren J. ; Manajemen Pemasaran Global; Alih Bahasa, Alex Sindoro; Penyunting, Bob Widyhartono; Prehalindo Jakarta; 1996.

Simamora, Henry; Manajemen Pemasaran Internasional ; Jilid 1 & 2; Salembah Empat, Jakarta, 2000.

Cateora, Philip R. John L. Graham; International Marketing ; Eleventh Edition; Mc Graw Hill; 2002.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Drs. Wawan Purwanto,SE.

PEMASARAN INTERNASIONAL

12