Anda di halaman 1dari 5

KOMUNIKASI PEMBERDAYAAN

A. Paradigma Pemberdayaan Untuk beberapa dekade, pembangunan di Indonesia mengadopsi strategi modernisasi yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi. Dalam berbagai hal, strategi ini berhasil berhasil membawa Indonesia pada pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi selama bertahun-tahun. Strategi yang sentralistis ini ternyata membawa akibat negatif, karena implementasinya cenderung mengabaikan budaya lokal, disamping itu masyarakat bagaikan menunggu tetesan embun trickle down effect. Akibatnya, inisiatif masyarakat lokal menjadi mandul, dan masyarakat lokal terjauhkan dari sumberdaya ekonomi yang seharusnya menjadi hak mereka. Menyadari kelemahan tersebut, memasuki masa pasca orde baru, pelaku pembangunan di Indonesia mulai mengadaptasi strategi pembangunan yang lebih partisipatif. Dengan pendekatan partisipatif, fungsi gerakan pembangunan adalah membantu komunitas lokal mendefinisikan dan mengimplementasikan jalam keluar sendiri atas masalahnya sendiri. Oleh kebanyakan ahli, pemberdayaan dikatakan sebagai pembangunan alternatif (friedman dalam Lubis , 2005). Bila pada strategi modernisasi, pertumbuhan ekonomi menjadi tujuan utama pembangunan, strategi pemberdayaan masyarakat merupakan proses peningkatan pengendalian kelompok-kelompok atas hal-hal yang dianggap penting oleh anggotanya dan orang lain pada komunitas yang lebih luas. Pemberdayaan masyarakat dapat berlangsung pada aras individu, organisasi, dan komunitas, dan tujuannya adalah agar mereka cakap mengendalikan kondisi sosial dan ekonominya melalui partisipasi dan demokratis pada komunitasnya, dengan cara mereka sendiri. Pemberdayaan sebenarnya berkembang dari tradisi Barat. Pemikiran ini muncul akibat analisis yang menunjukkan adanya pihak yang tak berdaya (powerless) berhadapan dengan pihak lain yang akhirnya menghasilkan penindasan. Karena itu, untuk membantu yang tertindas, maka kepada mereka perlu diberikan daya (power, kekuatan, kekuasaan). Dengan demikian pemberdayaan merupakan perolehan kekuatan dan akses terhadap sumberdaya untuk mencari

nafkah (Pranarka dan Moeljarto dalam Lubis, 2005). Pranarka dan Moeljarto menyatakan bahwa pemberdayaan mendorong terjadinya suatu proses perubahan sosial yang memungkinkan orangorang pinggiran yang tak berdaya untuk dapat memberikan pengaruh yang lebih besar di arena politik secara lokal maupun nasional. Oleh karena itu, pemberdayaan sifatnya individual sekaligus kolektif. Disimpulkan oleh keguanya, bahwa pemberdayaan pada dasarnya adalah upaya menjadikan suasana kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi semakin efektif secara struktural, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, negara, regional, internasional dalam bidang politik, ekonomi, dan lain-lain. Secara sederhana, Schuftan dalam Lubis (2005) menyatakan bahwa dengan daya yang dimilikinya diharapkan semua orang mempunyai pilihan dan kemampuan untuk memilih dan memiliki kontrol atas sumberdaya yang mereka butuhkan untuk memperbaiki kondisi hidupnya. Artinya paradigma pemberdayaan masyarakat menekankan pada peranserta aktif masyarakat. Dalam hal ini pembangunan diorientasikan pada arah pembangunan yang berkeadilan yang berpusat pada rakyat. Dalam paradigma ini peran individu bukan sebagai obyek melainkan sebagai pelaku (subyek) yang menetapkan tujuan, mengendalikan sumberdaya, dan mengarahkan proses yang mempengaruhi kehidupannya. Pembangunan yang berpusat pada rakyat menghargai dan mempertimbangkan prakarsa rakyat dan kekhasan masyarakat setempat. Pengembangan ekonomi atau ekonomi suatu daerah di berbagai bidang menghendaki peran serta aktif masyarakat yang sebesar-besarnya dalam kehidupan ekonomi sehingga pengambilan keputusan dilakukan secara mandiri oleh anggota masyarakat. Campur tangan birokrasi pemerintah dalam pengambilan keputusan secara bertahap mengalami pergeseran dan makin minimal. B. Perubahan Model Komunikasi: Dari Linear ke Konvergen Komunikasi telah lama dipergunakan oleh pelbagai pihak dalam pembangunan. Ada periode di mana para penggiat pembangunan sangat percaya pada kehebatan komunikasi untuk pembangunan, ada pula masa di mana para ahli tidak menganggap komunikasi penting. Sampai tahun 1970-an, para ahli, pengambil kebijaksanaan, dan adminitrator pembangunan memandang komunikasi sebagai kekuatan besar untuk pembangunan (Melkote dalam Lubis, 2005).

Model komunikasi yang dipergunakan juga berubah sesuai dengan perubahan strategi pembangunan yang di anut. Pada awal-awal gerakan pembangunan, media komunikasi menjadi kendaraan pengangkut bagi pesan-pesan pembangunan yang telah dikemas oleh penguasa. Pendekatan ini disebut oleh Rogers (1977) sebagai paradigma dominan dari modernisasi dan pembangunan. Model komunikasi yang dipakai pada masa itu dikenal sebagai model komunikasi linear, dengan unsur utama Sumber, Pesan, Saluran, dan Penerima (SMCR) dengan segala variannya, seperti tercantum pada gambar di bawah ini:

SALURAN SUMBER PESAN PENERIMA

(Umpan Balik) Model Komunikasi Linear Aplikasi dari model ini dalam menghantar teknologi adalah model penyuluhan vertikal (Uphoff. 1995). Penelitian Pada model ini, segala informasi yang akan disalurkan kepada petani dirancang oleh suatu lembaga di tingkat pusat. Informasi ini kemudian diberikan kepada Penyuluh penyuluh untuk disampaikan kepada petani. Jadi dalam hal ini, lembaga penelitian dan/atau pengambil kebijaksanaan merupakan Sumber, yang memproduksi Petani Model Vertikal Pesan, dan penyuluh berperan sebagai Saluran untuk menyampaikan pesan tadi kepada petani, yang adalah Penerima. Jadi, teknologi didifusikan dari pusat ke daerah.

Para ahli tak lagi percaya pada pendekatan ini, khususnya untuk kegiatan pertanian dan pengelolaan sumberdaya alam. Kegiatan ini mempunyai banyak dimensi, sehingga mustahil pusat (ilmuan, pengambil kebiijaksanaan) menjadi penguasa tunggal dalam pengambilan keputusan. Karenanya, keputusan haruslah diambil melalui negosiasi oleh para pihak yang berururusan dengan sumberdaya tersebut. Tak puas dengan komunikasi model SMCR, model komunikasi lain dimunculkan oleh Everret M. Rogers dan Lawrence Kincaid (Rogers, 1986). Mereka menamakan model ini sebagai model konvergen (convergence model of communication). I-3

I-1

P-1

MU

P-2

lalu

I-2 dst I-4 Model Komunikasi Konvergensi

Pada model ini, tidak ada lagi sumber arau penerima, semuanya adalah partisipan yang aktif mempertukarkan informasi. Tujuan akhir dari proses komunikasi adalah memperoleh pengertian bersama (MU = Mutual Umderstanding), yang pada gilirannya bisa menjadi persetujuan/kesepakatan bersama dan akhirnya bertindak bersama. Karena keduanya adalah partisipan, maka posisi pelaku komunikasi adalah setara. Sejalan dengan perubahan pendekatan pembangunan dari paradigma modernisasi ke paradigma pemberdayaan, yang diikuti oleh perubahan model komunikasi linear ke konvergen, penerapan komunikasi untuk pengembangan teknologi juga berubah.

PETANI

Komunikasi tidak lagi dipandang sebagai alat untuk membawa pesan dari atas ke bawah, melainkan merupakan proses partisipatoris yang

PENYULUH Model Triangulasi

PENELITI mengikutsertakan pemanfaatan hasil pembangunan (yang selama ini dijuluki sasaran). Model ini

dikatakan oleh Uphoff (1995) sebagai model triangulasi.. Dalam model ini, ketiga pihak aktif mencari teknologi yang paling cocok diterapkan oleh petani. Pada model ini, pengetahuan lokal (local and indigenous knowledge) yang dimiliki oleh petani dan pengetahuan peneliti dipertemukan, untuk mencari teknologi yang pali pas/tepat untuk petani, ; spesifik lokal. Secara ringkas, perbedaan penggunaan model komunikasi untuk kedua pendekatan pembangunan yang berebda ini disajikan pada tabel berikut: Modernisasi Sumber Top down, autarian Pemberdayaan Berbagi pengalaman antar berbagai aktor Paradigma Perubahan sosial diarahkan oleh dan Partisipatoris, dari pihak luar dalam untuk diarahkan dari

mempertahankan

kontrol atas kebutuhan dasar. Aras Media nasional Media besar (TV, radio, surat kabar) Akar rumput, lokal Media kecil (video, media tradisional, komunikasi kelompok dan interpersonal) Akibat Menciptakan iklim yang baik agar Menciptakan iklim yang baik

sasaran menerima ide dan inovasi untuk pengertian bersama antara yang dibawa dari luar Diadaptasi dari: Melkote (dalam Lubis, 2005) pihak luar dan pihak lokal

Anda mungkin juga menyukai