Anda di halaman 1dari 2

SI PUTIH YANG MENGESANKAN Titanium dioksida terbentuk di alam dan dikenal sebagai mineral rutile, anatase dan brookite.

Oksida yang terbentuk di alam dapat ditambang sebagai sumber titanium oksida komersial. Titanium tersebut juga dapat ditambang dari mineral seperti biji ilmenite atau leucoxene, atau satu dari bentuk termurni, dan pasir pantai rutile. Proses Pembuatan Titanium dioksida mentah dimurnikan melalui konversi hingga menjadi titanium tetraklorida dalam proses klorida (chloride process). Dalam proses ini, bijih mentah yang mengandung minimal 70 % TiO2 direduksi dengan karbon, dioksidasi dengan klorin untuk menghasilkan titanium tetraklorida. Senyawa ini didistilasi dan direoksidasi dalam pembakaran oksigen murni atau plasma pada 1500-2000 K untuk menghasilkan titanium dioksida murni selama regenerasi klorin [1]. Alumunium klorida sering ditambahkan untuk proses sebagai promotor rutile. Proses lain yang luas digunakan adalah proses menggunakan ilmenite sebagai sumber titanium dioksida, dimana dihancurkan dalam asam sulfat. Produk besi sulfat dikristalisasi dan disaring keluar untuk hanya menghasilkan garam titanium didalam larutan (digestion solution), dimana proses lebih jauh akan menghasilkan titanium dioksida murini. Metode lain untuk mengupgrade ilmenite disebut proses becher. Satu metode untuk menghasilkan titanium dioksida yang sesuai untuk nanoteknologi adalah sintesis solvotermal (solvothermal synthesis) dari titanium dioksida. http://nanotech.co.id/images/stories/Titanium oksida nanotubes dengan SEM.jpg

Gambar 2. Titanium oksida nanotubes dengan SEM Anatase dapat dikonversi dengan sintesis hidrotermal menjadi anatase anorganik nanotubes [2] dan titania nanoribbons yang mana berpotensi sebagai pendukung katalisis dan photokatalisis. Dalam pembuatannya, anatase dicampur dengan 10 M sodium hidroksida dan dipanaskan pada 130 oC selama 72 jam. Produk reaksi dicuci dengan larutan asam hidroklorik dan dipanaskan pada 400 oC sekitar 15 jam. Hasil nanotubes berdasarkan jumlah dan tubenya memiliki diamater luar 10 - 20 nm dan diamater dalam 5 8 nm dan memiliki panjang 1 mikrometer (gambar 2). Temperatur reaksi lebih tinggi (170 oC) dan volume reaksi lebih rendah menghasilkan corresponding nanowires. [3] Sumber : [1] "Titanium Dioxide Manufacturing Processes". Millennium Inorganic Chemicals. Archived fromthe original on 2007-08-14. Retrieved 2007-09-05. [2] Gregory Mogilevsky, Qiang Chen, Alfred Kleinhammes, Yue Wu, The structure of multilayered titania nanotubes based on delaminated anatase, Chemical Physics Letters, Volume 460, Issues 4-6, 30 July 2008, Pages 517-520, ISSN 0009-2614, DOI: 10.1016/j.cplett.2008.06.063.

[3] Graham Armstrong, A. Robert Armstrong, Jess Canales and Peter G. Bruce (2005)."Nanotubes with the TiO2-B structure". Chemical Communications (19): 2454.doi:10.1039/B501883H. PMID 15886768. Diterjemahkan dari : http://en.wikipedia.org/wiki/Titanium_dioxide. diakses 02 Maret 2011