Anda di halaman 1dari 93

Penulis : Yance Arizona

Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

PENAFSIRAN MAHKAMAH KONSTITUSI


TERHADAP PASAL 33 UNDANG UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

(Perbandingan Putusan Dalam Perkara Nomor 001-021-022/PUU-I/2003


Mengenai Pengujian Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang
Ketenagalistrikan dengan Putusan Perkara Nomor 058- 059-060-063/PUU-
II/2004 dan 008/PUU-III/2005 Mengenai Pengujian Undang-Undang Nomor 7
Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air)

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Hukum

YANCE ARIZONA
02 140 037

Program Kekhususan Hukum Tata Negara

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2007

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

Demi masa
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam keadaan kerugian
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh
dan nasihat-menasehati supaya mentaati kebenaran
dan nasuhat-menasehati supaya menetapi kesabaran
(Al-Ashr, Surat ke-103)

“Hukum adalah untuk manusia dan bukan sebaliknya,.. dan hukum itu tidak ada untuk
dirinya sendiri, melainkan untuk sesuatu yang lebih luas, yaitu,... untuk harga diri
manusia, kebahagiaan, kesejahteraan, dan kemuliaan manusia.”
(Satjipto Rahardjo, Membedah Hukum Progresif)

“Barang siapa yang mengatakan bahwa teks undang-undang sudah sangat jelas,
sehingga tidak membutuhkan interpretasi lagi, sebenarnya yang menyatakan demikian,
sudah melakukan interpretasi sendiri. Pernyataannya tentang jelasnya teks, sudah
merupakan hasil interpretasinya terhadap teks tersebut”
(Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum)

“The Propheesies of what the court will do... are what I mean by the law"
Apa yang diramalkan akan diputuskan oleh pengadilan, itulah yang saya
artikan sebagai hukum.
(Oliver Wendel Holmes, Mantan Hakim Agung Amerika Serikat, disebut-
sebut sebagai pelopor aliran realisme hukum)

“Baniah diasak, mako tumbuah padi”

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

LEMBARAN PENGESAHAN
No. Reg: 223/PK-VI/03/07

PENAFSIRAN MAHKAMAH KONSTITUSI


TERHADAP PASAL 33 UNDANG UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

(Perbandingan Putusan Dalam Perkara Nomor 001-021-022/PUU-I/2003


Mengenai Pengujian Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang
Ketenagalistrikan dengan Putusan Perkara Nomor 058- 059-060-063/PUU-
II/2004 dan 008/PUU-III/2005 Mengenai Pengujian Undang-Undang Nomor 7
Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air)

Disusun Oleh:
YANCE ARIZONA
02 140 037

Telah dipertahankan dalam sidang ujian komprehensif


Pada tanggal 9 Maret 2007

Sidang ujian telah menyatakan lulus

Dekan Pembantu Dekan I

Prof. Dr. H. Elwi Danil, S.H., M.H. Najmi, S.H,. M.H.


NIP. 131 599 909 NIP. 131 264 686

Pembimbing I Pembimbing II

Thamran Anwar, S.H. Arfiani, S.H., M.H.


NIP. 130 344 857 NIP. 131 912 053

Penguji I Penguji II

Dahrul Dahlan, S.H. Didi Nazmi, S.H., M.H.


NIP. 130 232 185 NIP. 131 656 113

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

PENAFSIRAN MAHKAMAH KONSTITUSI


TERHADAP PASAL 33 UNDANG UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

(Perbandingan Putusan Dalam Perkara Nomor 001-021-022/PUU-I/2003 Mengenai


Pengujian Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan dengan
Putusan Perkara Nomor 058- 059-060-063/PUU-II/2004 dan 008/PUU-III/2005
Mengenai Pengujian Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air)

ABSTRAK

(Yance Arizona, 02140037, Fakultas Hukum Universitas Andalas, Hal 141, 2007)

Salah satu ciri pokok Undang Undang Dasar 1945, disamping sebagai konstitusi
politik (political constitution), juga merupakan konstitusi ekonomi (economic
constitution), bahkan konstitusi sosial (social constitution). Hal ini dikarenakan Undang
Undang Dasar 1945 mengatur tentang pokok-pokok sistem perekonomian negara yang
bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Dalam pengembangan hukum tentang perekonomian tersebut lahirlah berbagai
undang-undang yang mengatur tentang bagaimana penyelenggaraan ekonomi, di mana
peranan negara, masyarakat dan pihak swasta? Diantaranya adalah Undang-undang
Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan dan Undang-undang Nomor 7 Tahun
2004 tentang Sumber Daya Air. Kemudian kedua undang-undang itu telah diajukan
permohonan pengujiannya kepada Mahkamah Konstitusi, sebagaimana didalilkan oleh
pemohon, dalam kedua undang-undang tersebut terdapat muatan swastanisasi,
komersialisasi dan privatisasi cabang produksi penting dan kekayaan alam yang
seharusnya berada dibawah penguasaan negara (Pasal 33 UUD 1945). Tetapi, dalam
diktum putusannya, Mahkamah Konstitusi memutus kedua perkara tersebut berbeda
secara diametral, di mana pengujian Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang
Ketenagalistrikan dikabulkan permohonannya, sedangkan pengujian Undang-undang
Nomor 7 Tahun 2004 ditolak permohonannya.
Timbulnya perbedaan diktum putusan ini membuat hal tersebut menarik dikaji
secara hukum. Mungkinkah Mahkamah Konstitusi berbeda menafsirkan “penguasaan
negara” dalam kedua putusan tersebut? Untuk itulah penelitian ini dilakukan. Dengan
metode pendekatan sistem (systematical approach) dan didukung dengan pendekatan
kasus (case approach) penulis melihat Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945, Undang-
undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan, Undang-undang Nomor 7
Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, dan kedua putusan Mahkamah Konstitusi dalam
menguji undang-undang tersebut sebagai sebuah sistem yang harmonis.
Hasil dari penelitian ini yaitu bahwa terdapat perbedaan metode tafsir yang
digunakan oleh Mahkmah Konstitusi dalam memutus kedua pengujian undang-undang
tersebut. Disamping itu, klausula Conditionally Constitutional yang diperkenalkan
Mahkamah Konstitusi dalam putusan pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004
tentang Sumber Daya Air merupakan klausula yang bertentangan dengan sifat putusan
Mahkamah Konstitusi yang dijelaskan dalam Pasal 24C ayat (1) Undang Undang Dasar
1945 jo Pasal 10 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi,
bila dilihat dengan pendekatan hukum sebagai sebuah sistem norma.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

KATA PENGANTAR

Sewajibnya sebagai seorang muslim, penulis mengucapkan hamdallah karena Allah


SWT yang telah menghendaki terselesaikannya skripsi ini sehingga dapat lulus dalam
sidang ujian komperehensif S1 pada tanggal 9 Maret 2007. Pencerahan, petunjuk dan
kesabaran yang penulis dapatkan dari Allah SWT merupakan rahmat yang selalu
mengiringi gerak penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, walau terkadang penulis sering
melupakan segala karunia yang diberikan-Nya. Hal ini merupakan salah satu bukti
bahwa Allah SWT Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan sekaligus menunjukkan
betapa tidak sempurnanya penulis. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada
arwah Nabi Muhammad SAW yang telah menyampaikan ajaran-ajaran yang menjadi
pedoman bagi penulis untuk menghindari kekhufuran dan jurang kebodohan.
Menulis sebuah karya ilmiah, seperti skripsi, yang mengupas satu putusan Pengadilan
atau Mahkamah bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi membandingkan penafsiran
hakim dalam dua buah putusan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini
menjadi sulit: 1) pelajaran tentang penafsiran hukum tidak diajarkan secara mendalam di
S1; 2) membedah putusan Mahkamah Konstitusi memerlukan ketangkasan untuk
mengejar dan menaungi paradigma baru ketatanegaraan sebagai konsekuensi reformasi
konstitusi yang telah kita alami (1999-2002). Tetapi dalam tantangan besar itu penulis
harus berani menghadapinya, tidak ingin pesimis, karena tidak sedikit pun ayat di dalam
Al-Qur’an yang memerintahkan untuk pesimis.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada kedua Orang Tua penulis tercinta
(Sailal Alimin dan Nurhayati), serta keluarga yang terkasih (Teteh Yanti, Ngah Dian, dan
Adikku Kirana Pungki Apsari), masih teramat banyak pengabdian yang wajib Yance
(Roy) lakukan bila mengingat semua yang telah Yance (Roy) peroleh selama ini.
Kemudian buat “kekasih tercinta” Fetri Syaflidar Yesti atas semua cinta, pengorbanan,
dan pengertian yang tak terkirakan, serta hari-hari yang berarti dalam menemani penulis
menyelesaikan skripsi ini. “Percayalah fe, apapun yang abang lakukan adalah untuk
membuat fe bahagia.”
Penghargaan dan terimakasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada:
Bapak Dekan Fakultas Hukum Universitas Andalas (Prof. Dr. H. Elwi Danil, S.H., M.H.),
Bapak Pembantu Dekan I (Najmi, S.H., M.H.), Bapak Pembantu Dekan II (Ilhamdi
Taufik, S.H.) seorang dosen sekaligus “guru”, penulis akan selalu merindukan kuliah-
kuliah terbaik dari beliau, Bapak Pembantu Dekan III (Rembrandt, S.H., M.Pd). Kepada
ibu Yunita Sofyan dan Bapak Suharizal selaku Ketua Bagian dan Sekretaris Bagian
Hukum Tata Negara. Kemudian kepada Bapak Thamran Anwar, S.H dan Ibu Arfiani,
S.H., M.H selaku Dosen Pembimbing I dan II yang telah banyak memberikan masukkan
bagi penulis. seluruh staf pengajar Fakultas Hukum Universitas Andalas, dan juga kepada
bang Charles Simabura dan bang Feri Amsari yang telah membimbing penulis selama
kuliah di Universitas Andalas.
Secara khusus penulis ingin menyampaikan terimakasih yang besar kepada
Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis (HuMa),
Benardius Steny, yang telah banyak membantu baik secara pendanaan maupun
pemahaman dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis sangat terkesan ketika dikatakan
bahwa skripsi penulis ini adalah skripsi yang “berani,” karena tidak banyak mahasiswa
yang mau atau mampu membedah sebuah putusan, apalagi putusan Makamah
Konstitusi. Juga kepada bang Andiko, Mas Asep, bang Nifan, Mbak Ncus, Pak Leman,
dan semuanya di HuMa.
Terimakasih juga penulis sampaikan kepada Hakim Konstitusi (I Dewa Gde Palguna),
Tenaga Ahli Mahkamah Konstitusi (Mahmud Aziz, Irmanputra Sidin, dan Wasis Susetio),

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

dan Pegawai Mahkamah Konstitusi (Mas Dian) yang telah banyak membantu dan
memberikan masukan dalam menyelesaikan skripsi ini
Rasa hormat penulis kepada “Guru Tata Negara Penulis yang Pertama,” Bapak
Muhammad A.R yang telah memberi bekal ilmu yang cukup banyak. Kemudian kepada
tokoh-tokoh yang telah banyak memberikan inspirasi bagi penulis lewat buku-buku:
Satjipto Rahardjo (hukum), Tan Malaka dan Fritjof Capra (filsafat) yang telah
memisahkan dan mengembalikanku kepada “Tuhan,” Gunawan Mohamad (budaya),
Jalaludin Rakhmat (komunikasi), Eric Fromm (psikologi), dan Sang Proklamator,
Soekarno (Politik). Buku-buku mereka adalah suatu wilayah pergulatan untuk “Menjadi”
dan merupakan referensi untuk tugas hidup penulis pada masa depan: Membuat Sejarah-
sejarah Kebajikan.
Kepada kawan-kawan semuanya yang pernah berinteraksi dengan penulis, penulis
mengucapkan terimakasih atas semua bantuan, dorongan atau segala perlakuan yang
telah dijalin dengan penulis. Seperti kawan-kawan di LAM&PK, Front Mahasiswa
Nasional (FMN) Padang 2002, FORMASI, IMK-UNAND, HMK SUMBAR, BEM FHUA
Periode 2006-2007, PMTN, KAM Pembaharuan, BAKo SUMBAR, LBH Padang, Uni An
(PBHI), Q-BAR, Walhi, Warsi, ISMAHI Wilayah III SUMBAGTENG, Rekan-rekan
Perbanas, para “Primus” (Pria Mushala) Al-Jadid Gerbang Kampus, seluruh kawan-
kawan HIMA dan LO Fakultas Hukum Universitas Andalas dan kawan-kawan lainnya
yang tidak penulis sebutkan secara eksplisit di sini.
Sebagai sebuah karya ilmiah, penulis mengakui dan menyadari bahwa skripsi ini
masih jauh dari kesempurnaan. Karena itu penulis menerima segala bentuk kritik dan
saran dari berbagai pihak untuk kesempurnaan skripsi ini dimasa yang akan datang.
Skripsi ini hanyalah setangkai tunas di tengah belantara ilmu hukum, dan ilmu hukum
pun hanyalah bagian terkecil dari galaksi ilmu pengetahuan yang tak terhingga. Semoga
skripsi ini dapat memberi manfaat bagi kita semua

Mushala Al-Jadid – Padang,


Maret 2007

Penulis

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

DAFTAR ISI
Abstrak..........................................................................................................
Kata Pengantar ..............................................................................................
Daftar Isi .......................................................................................................
Daftar Tabel ..................................................................................................
BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Perumusan Masalah ........................................................................... 10
C. Tujuan Penelitian ............................................................................... 11
D. Manfaat Penelitian............................................................................. 12
E. Tinjauan Pustaka................................................................................ 13
F. Metodologi Penelitian ....................................................................... 23
BAB II. TINJAUAN UMUM TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI.............. 28
A. Sejarah Lahirnya Mahkamah Konstitusi............................................... 28
1. Dunia ............................................................................................. 28
2. Indonesia ....................................................................................... 30
B. Fungsi dan Kewenangan Mahkamah Konstitusi Republik Inodonesia .. 32
C. Hukum Acara dan Putusan Mahkamah Konstitusi............................... 36
1. Hukum Acara ................................................................................. 36
2. Putusan Mahkamah Konstitusi........................................................ 43
BAB III. PENAFSIRAN DALAM HUKUM TATA NEGARA............................... 54
A. Pengertian dan Landasan Penafsiran Hukum ...................................... 54
1. Pengertian ...................................................................................... 54
2. Landasan penafsiran hukum ........................................................... 54
B. Penafsiran Hukum pada umumnya..................................................... 60
1. Penafsiran Hukum menurut Utrecht ............................................. 60
2. Penafsiran lainya .......................................................................... 66
C. Prinsip-prinsip Penafsiran Konstitusi menurut Jon Roland ................... 68
BAB IV. PEMBAHASAN .................................................................................
A. Pengujian Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002
tentang Ketenagalistrikan ................................................................... 76
1. Pemohon dan Jenis Permohonan ................................................. 76
2. Bagian yang dimohonkan............................................................. 77
3. Dalil-dalil permohonan (isu hukum) dan petitum ......................... 79
4. Penafsiran Mahkamah Konstitusi .................................................. 82
B. Pengujian Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004
tentang Sumber Daya Air ................................................................... 88
1. Pemohon dan Jenis Permohonan................................................. 88
2. Bagian yang dimohonkan ............................................................ 91
3. Dalil-dalil permohonan (isu hukum) dan petitum ......................... 95
4. Penafsiran Mahkamah Konstitusi.................................................. 99
5. Dissenting Opinion ...................................................................... 110
C. Penafsiran Mahkamah Konstitusi terhadap Pasal 33
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ......... 120
1. Penafsiran terhadap Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945.............. 121
2. Penafsiran terhadap Uindang-undang Nomor 20 Tahun 2002
tentang Ketenagalistrikan ............................................................... 124
3. Penafsiran Terhadap Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004
tentang Sumber Daya Air ............................................................... 125

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

D. Conditionally Constitutional .............................................................. 129


1. Pengertian .............................................................................. 129
2. Tata cara pengujian kembali ................................................... 131
3. Pengaruhnya Conditionally Constitutional terhadap sifat
putusan Mahkamah Konstitusi yang mengadili pada
tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat
final dan mengikat ....................................................................... 134
BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................ 137
B. Saran ................................................................................................. 141
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

Daftar Tabel

Tabel.1. Pemohon dan Jenis Permohonan PUU Ketenagalistrikan....................76

Tabel 2. Materi muatan, ayat, pasal dan/atau bagian yang


dimohonkan dalam PUU Ketenagalistrikan.........................................77

Tabel 3. Petitum permohonan PUU Ketenagalistrikan......................................81


Tabel 4. Pertimbangan hukum atau Panafsiran Mahkamah Konstitusi
dalam putusan PUU Ketenagalistrikan .................................................83

Tabel 5. Permohonan 058/PUU-II/2004 mengenai PUU Sumber Daya Air......89

Tabel 6. Permohonan 059/PUU-I/2004 mengenai PUU Sumber Daya Air........89

Tabel 7. Permohonan 060/PUU-II/2004 mengenai PUU Sumber Daya Air.......89

Tabel 8. Permohonan 063/PUU-II/2004 mengenai PUU Sumber Daya Air.......90

Tabel 9. Permohonan 008/PUU-III/2004 mengenai PUU Sumber Daya Air......90

Tabel 10. Materi muatan, ayat, pasal, dan/atau bagian yang dimohonkan
dalam PUU Sumber Daya Air ...............................................................91

Tabel 11. Metode penafsiran konstitusi dalam putusan PUU Sumber Daya Air.99
Tabel 12. Penafsiran Hakim Konstitusi yang dissenting opinion dalam PUU
Sumber Daya Air..................................................................................110

Tabel 13. Perbandingan sifat putusan Mahkamah Konstitusi dengan


Conditionally Constitutional.................................................................135

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di Indonesia, dalam rangka persiapan kemerdekaan sebuah negara berdaulat yang
lepas dari penjajahan asing, pada tahun 1945, para tokoh nasional mempersiapkan suatu
naskah konstitusi yang kemudian dikenal dengan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya ditulis Undang Undang Dasar 1945 – Pen).
Undang-Undang Dasar 1945 disamping mengatur tata kenegaraan juga mengatur tata
kehidupan sosial, ekonomi dan kebudayaan seperti termuat dalam Pasal 31, Pasal 32,
Pasal 33, dan Pasal 34. Hal ini yang membedakan konstitusi Republik Indonesia dengan
tradisi penulisan konstitusi di negara-negara Eropa Barat dan Amerika yang lazimnya
memuat materi-materi konstitusi yang hanya bersifat politik. Tradisi yang dianut
Indonesia, sejauh menyangkut corak muatan yang diatur, nampak dipengaruhi oleh
corak penulisan konstitusi yang lazim ditemui pada negara-negara sosialis seperti negara-
negara di Eropa Timur. 1
Adanya perbedaan dalam susunan materi konstitusi yang digunakan oleh negara-
negara di dunia menjadikan bentuk konstitusi dapat dibedakan dalam dua kelompok.
Kelompok pertama disebut konstitusi politik (political constitution) seperti dalam
konstitusi negara Perancis, Amerika Serikat, Kanada, Belanda, Belgia, Austia, Swiss,
Siprus, Yunani, Denmark, Finlandia, Islandia, Irlandia, Luxemburg, Monaco, dan
Liechtenstein. Sedangkan kelompok kedua terlihat dalam konstitusi negara Rusia,
Bulgaria, Cekoslowakia, Albania, Italia, Belarusia, Iran, Suriah, Hongaria, dan Indonesia
yang dapat disebut sebagai konstitusi ekonomi (economic constitution) dan bahkan
konstitusi sosial (social constitution). 2
Corak Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi ekonomi terlihat pada materi
Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, yang berbunyi:
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat
hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
(3) Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara
dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Dalam perkembangannya, setelah amandemen Undang Undang Dasar 1945
keempat pada tanggal 10 Agustus 2002, Pasal ini ditambah dengan memasukkan 2
(dua) ayat baru, yaitu:
(4) perekonomian Indonesia diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi
dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan
lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan
kesatuan ekonomi nasional.
(5) ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-
undang
Penambahan dua ayat dalam pasal ini merupakan upaya untuk mengakomodasi
ketentuan dalam Penjelasan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 yang telah dihapus, yaitu mengenai demokrasi ekonomi. Bila dilihat kembali
materi yang diatur dalam Penjelasan Pasal 33 disebutkan bahwa:

1 Jimly Asshiddiqie, Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi, Konstitusi Press, Jakarta, 2005 (selanjutnya

disingkat Jimly Asshiddiqie I), hal. 124.


2 Ibid, hal.135

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

"dalam pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh


semua, untuk semua dibawah pimpinan atau pemilikan anggota-anggota
masyarakat. Kemakmuran masyarakat-lah yang diutamakan, bukan kemakmuran
orang seorang". Selanjutnya dikatakan bahwa "Bumi dan air dan kekayaan alam
yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu
harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat." 3

Dari pasal ini jelas sekali peranan negara dalam mengatur perekonomian besar
sekali. 4 Sehingga, sebenarnya secara tegas Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945 beserta
penjelasannya, melarang adanya penguasaan sumber daya alam ditangan orang-seorang.
Dengan kata lain monopoli, oligopoli maupun praktek kartel dalam bidang pengelolaan
sumber daya alam adalah bertentangan dengan prinsip pasal 33. 5
Jiwa Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
berlandaskan semangat sosial, yang menempatkan penguasaan barang untuk
kepentingan publik (seperti sumber daya alam) pada negara. Pengaturan ini berdasarkan
anggapan bahwa pemerintah adalah pemegang mandat untuk melaksanakan kehidupan
kenegaraan di Indonesia. Untuk itu, pemegang mandat ini seharusnya punya legitimasi
yang sah dan ada yang mengontrol kebijakan yang dibuatnya dan dilakukannya,
sehingga dapat tercipta peraturan perundang-undangan penjabaran Pasal 33 Undang-
Undang Dasar 1945 yang sesuai dengan semangat demokrasi ekonomi.
Tetapi, permasalahan yang sering kali muncul menyangkut Pasal 33 Undang-Undang
Dasar 1945, yang perlu mendapat perhatian, ialah tentang aturan pelaksanaannya yang
lahir dalam bentuk undang-undang, yaitu tentang bagaimana peranan negara dalam
penguasaan sumber daya alam (ekonomi) yang ada. Hak negara dalam menguasai
sumber daya alam dijabarkan lebih jauh dalam beberapa undang-undang yang mengatur
sektor-sektor khusus yang memberi kewenangan luas bagi negara untuk mengatur dan
menyelenggarakan penggunaan, persediaan dan pemeliharaan sumber daya alam serta
mengatur hubungan hukumnya. Prinsip ini tertuang dalam:
1. UU Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok Agraria;
2. UU Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok Pertambangan;
3. UU Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landasan kontinen;
4. UU Nomro 13 Tahun 1980 tentang Jalan;
5. UU Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
6. UU Nomor 20 Tahun 1989 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan
Keamanan;
7. UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat
8. UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kehutanan;
9. UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi;
10. UU Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan
11. UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;
12. UU Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan;

3 Arimbi HP dan Emmy Hafild, Makalah: Membumikan Mandat Pasal 33 UUD 45, Wahana Lingkungan Hidup

Indonesia dan Fiends of the Earth (FoE) Indonesia, 1999, hal. 1


4 D. Soekarno, Amandemen terhadap UUD 1945, Suara Pembaruan, 1996,
http://www.suarapembaruan.com/News/1999/06/140699/OpEd/op02/op02.html, (diakses tanggal 4 April 2006)
5 Arimbi HP dan Emmy Hafild, Loc. cit.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

13. UU Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan INTERNATIONAL COVENANT


ON ECONOMIC, SOCIAL, AND CULTURAL RIGHTS (Kovenan Internasional Hak-
hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya).
Selama ini, jiwa Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 mengandung semangat untuk
membela kesejahteraan rakyat banyak. Akan tetapi, sekarang kita menghadapi era
globalisasi yang melahirkan ekonomi pasar, 6 persaingan bebas antarnegara,
antarmanusia. Bahkan kita telah masuk ke dalam asosiasi APEC dan WTO, yang
kesemuanya berintikan ekonomi pasar dan persaingan bebas. Dapatkah kita
mempertahankan pelaksanaan Pasal 33, yang meletakkan fungsi menguasai negara
sangat besar, dalam menghadapi perkembangan zaman seperti sekarang ini? Semua
tantangan ini dapat kita amati dari produk perundang-undangan yang dibuat. Apakah
undang-undang yang dibuat oleh Pemerintah bersama-sama Dewan Perwakilan Rakyat
telah sesuai dengan semangat Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 ? agar jiwa dari pasal tersebut dapat terjaga.
Untuk menjaga Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 khususnya, dan konstitusi pada
umumnya, amandemen Undang-Undang 1945 yang ketiga telah mengakomodasi
terbentuknya Mahkamah Konstitusi sebagai sebuah lembaga baru dalam sistem
ketatanegaraan Indonesia, di mana salah satu fungsinya adalah untuk menguji undang-
undang terhadap Undang-Undang Dasar, kemudian fungsi ini lebih dikenal dengan
istilah judicial review. Keberadaan Mahkamah Konstitusi dengan kewenangannya
melakukan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar disebut dengan
kewenangan Mahkamah Konstitusi sebagai penjaga konstitusi (The Guardian of
Constitution) dan penafsir konstitusi (The Sole of Interpreter Constitution)
Dalam sejarah Mahkamah Konstitusi di Indonesia sejak tahun 2003, Mahkamah
Konstitusi telah melakukan beberapa pengujian undang-undang yang berkaitan dengan
Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 antara lain:
1. Pengujian Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi;
2. Pengujian Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan;
3. Pengujian Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air; dan
4. Pengujian Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Pengesahan
Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang.
Sekilas bila diamati, alasan pemohon dalam keempat pengujian undang-undang
tersebut didasarkan kepada alasan yang hampir sama, yaitu mengenai bagaimana
peranan “menguasai negara” dalam melindungi dan memenuhi hak-hak warga negara
dalam mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari cabang-cabang produksi penting dan
sumber daya alam (Bumi, air, ruang angkasa, dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya). Disamping alasan terebut, permohonan pengujian keempat undang-undang
tersebut juga dilandasi atas kekhawatiran akan swastanisasi atau liberalisasi yang
merupakan corak utama dari sistem ekonomi pasar bebas. 7
Namun, hal menarik yang dapat ditemui bila melihat keempat putusan pengujian
undang-undang tersebut yaitu terdapatnya perbedaan diktum putusan Mahkamah
Konstitusi dalam memutus pengujian keempat undang-undang tersebut. Permohonan

6 Dasar dari teori ekonomi pasar adalah persaingan bebas yang menggerakkan mekanisme pasar. Dalam hal ini

penawaran dan permintaan bebas yang melatarbelakangi motif keuntungan pada pihak produsen, pedagang maupun
konsumen, menentukan harga-harga yang disebut harga tawaran bebas – dan selanjutnya menentukan apa dan berapa
banyak jenis dan jumlah barang yang akan diproduksi. Lihat Tom Gunadi, Sistem Perekonomian Menurut Pancasila dan
UUD’45, Angkasa, Bandung, 1990, hal 35
7 Sepanjang kenyataan sejarah, sistem liberal-kapitalistis atau free enterprise atau lasses faire ini mampu

mengembangkan perekonomian industri yang hebat, tetapi juga disertai ketidak-adilan sosial yang parah. Lihat Tom
Gunadi, Ibid

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

Pengujian Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan dikabulkan


keseluruhannya oleh Mahkamah Konstitusi, sehingga undang-undang tersebut tidak
berlaku lagi; Permohonan Pengujian Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang
Minyak dan Gas Bumi dikabulkan sebagiannya oleh Mahkamah Konstitusi; Permohonan
Pengujian Undang-undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang tentang Pengesahan
Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang
Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-undang tidak diterima oleh
Mahkamah Konstitusi; Permohonan Pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004
tentang Sumber Daya Air ditolak keseluruhannya oleh Mahkamah Konstitusi.
Dari berbagai pengujian undang-undang tersebut, penulis berminat untuk melakukan
penelitian mengenai Penafsiran Mahkamah Konstitusi terhadap Pasal 33 Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam hal ini, yaitu membandingkan
bagaimana interpretasi atau penafsiran hakim dalam Putusan Pengujian Undang-undang
Nomor Registrasi Perkara 001/PUU-I/2003, 021/PUU-I/2003, 022/PUU-I/2003
Mengenai Pengujian Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan
dengan Putusan Pengujian Undang-undang Nomor Registrasi Perkara 058/PUU-II/2004,
059/PUU-II/2004, 060/PUU-II/2004, 063/PUU-II/2004 dan 008/PUU-II/2005
Mengenai Pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
terhadap Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945, khususnya menyangkut penguasaan
negara atas cabang produksi penting dan sumber kakayaan alam.
Pemilihan perbandingan kedua putusan tersebut karena, bila dilihat dari amar
putusannya, terdapat perbedaan yang sangat diametral, yang satu dikabulkan
keseluruhan dan yang satunya lagi ditolak keseluruhan. Hal ini kemungkinan besar dapat
memudahkan penulis untuk melakukan perbandingan penafsiran atau interpretasi Hakim
Konstitusi dalam Putusan Pengujian Undang-undang terhadap Pasal 33 Undang-Undang
Dasar 1945.
Penelitian ini diarahkan untuk memaparkan penafsiran hakim dalam kedua putusan
tersebut. Akan diuraikan dan dijelaskan mengenai persamaan dan perbedaan penafsiran
hakim dalam pengujian undang-undang tersebut. Sehingga pada kemudian hari dapat
membantu untuk memprediksikan bagaimana putusan Mahkamah Konstitusi dalam
pengujian undang-undang lainnya terhadap Undang-Undang Dasar 1945. khususnya
pengujian undang-undang terhadap Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang
didasarkan kepada alasan “konstitusionalitas penguasaan negara” atas cabang-cabang
produksi penting dan sumber daya alam.
Disamping itu, di dalam Putusan Pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004
tentang Sumber Daya Air, Mahkamah Konstitusi mencantumkan klausula conditionally
constitutional yang memberikan landasan bahwa Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004
tentang Sumber Daya Air dapat diuji kembali ke Mahkamah Konstitusi dengan syarat-
syarat konstitutional tertentu, yaitu dilihat dulu ketentuan pelaksana dari Undang-
undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
Apabila ketentuan pelaksana dari Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang
Sumber Daya Air dalam pelaksanaannya (misalnya Peraturan Pemerintah) ditafsirkan
berbeda dengan tafsir Mahkamah Konstitusi dalam putusannya, maka Undang-undang
Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dapat diuji kembali ke Mahkamah
Konstitusi.
Ketentuan conditionally constitutional seperti ini, sekilas mirip dengan nebis in idem
dalam peradilan umumnya. Sedangkan sifat putusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana
disebutkan dalam Pasal 24C ayat (1) Undang Undang Dasar 1945 juncto Pasal 10
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi adalah bersifat
final sehingga tidak ada upaya hukum yang dapat dilakukan lagi.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

Untuk itu penulis, dalam hal ini akan melakukan penelitian dengan judul
PENAFSIRAN MAHKAMAH KONSTITUSI TERHADAP PASAL 33 UNDANG-
UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
(Perbandingan Putusan Dalam Perkara Nomor 001-021-022/PUU-I/2003
Mengenai Pengujian Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang
Ketenagalistrikan dengan Putusan Perkara Nomor 058- 059-060-063/PUU-
II/2004 dan 008/PUU-III/2005 Mengenai Pengujian Undang-Undang Nomor 7
Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air)

B. Perumusan Masalah
Untuk lebih terarahnya sasaran sesuai dengan judul yang telah penulis kemukakan
di atas, penulis memberikan batasan masalah atau identifikasi masalah agar tidak jauh
menyimpang dari apa yang menjadi pokok bahasan. Mengacu kepada latar belakang
yang diuraikan di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini
dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana penafsiran Mahkamah Konstitusi terhadap Pasal 33 Undang Undang
Dasar 1945 dalam Putusan Pengujian Undang-undang Nomor 20 tentang
Ketenagalistrikan dan dalam Putusan Pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun
2004 tentang Sumber Daya Air.
2. Metode Penafsiran apa yang digunakan oleh Mahkamah Konstitusi dalam
Putusan Pengujian Undang-undang Nomor 20 tentang Ketenagalistrikan dan
dalam Putusan Pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air.
3. Termasuk metode penafsiran apa klausula Conditionaly Constitutional dalam
Putusan Pengujian Undang-undang Nomor Registrasi Perkara 058-059-060-
063/PUU-II/2004 dan 008/PUU-III/2005 mengenai Pengujian Undang-undang
Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, dan apa pengaruhnya terhadap
sifat putusan Mahkamah Konstitusi yang mengadili pada tingkat pertama dan
terakhir yang putusannya bersifat final dalam menguji undang-undang terhadap
Undang-Undang Dasar.

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan, menerangkan, dan menjawab
permasalahan yaitu:
1. Untuk mengetahui, bagaimana penafsiran Mahkamah Konstitusi terhadap Pasal
33 Undang Undang Dasar 1945 dalam Putusan Pengujian Undang-undang
Nomor 20 tentang Ketenagalistrikan dan dalam Putusan Pengujian Undang-
undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
2. Untuk mengetahui, metode penafsiran apa yang digunakan oleh Mahkamah
Konstitusi dalam Putusan Pengujian Undang-undang Nomor 20 tentang
Ketenagalistrikan dan dalam Putusan Pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun
2004 tentang Sumber Daya Air.
3. Untuk mengetahui, termasuk metode penafsiran apa, klausula Conditionally
Constitutional dalam Putusan Pengujian Undang-undang Nomor Registrasi
Perkara 058-059-060-063/PUU-II/2004 dan 008/PUU-III/2005 mengenai
Pengujian Undang-undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, dan
bagaimana pengaruhnya terhadap sifat dari putusan Mahkamah Konstitusi yang
mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final
dalam menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi para
pihak, antara lain:
1. Bagi penulis sendiri, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan penulis
dan mengembangkan cakrawala berpikir penulis, khususnya menyangkut
Penafsiran Hukum atau Penafsiran Konstitusi.
2. Bagi masyarakat dan khalayak umum, penelitian ini diharapkan dapat
meningkatkan kesadaran untuk berpartisipasi dalam memantau pelaksanaan dari
Putusan Mahkamah Konstitusi dalam pengujian undang-undang tersebut.
3. Bagi Mahkamah Konstitusi, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan
masukan dalam memutus perkara pengujian undang-undang terhadap Pasal 33
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 di masa yang
akan datang.
4. Bagi Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, penelitian
ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam membuat peraturan perundang-
undangan yang berkaitan dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 di masa yang akan datang, agar dapat
membawa dampak yang positif bagi kemajuan kehidupan ketatanegaraan
Indonesia sehingga dapat tercipta kehidupan yang adil dan demokratis.
5. Bagi ilmu pengetahuan, khususnya Hukum Tata Negara, hasil penelitian ini bisa
dijadikan sebagai penambah literatur dalam memperluas pengetahuan hukum
masyarakat serta memberikan sumbangan pemikiran bagi Hukum Tata Negara,
khususnya dalam kajian mengenai penafsiran hukum dan pengujian undang-
undang pada Mahkamah Konstitusi.

E. Tinjauan Pustaka
1. Konstitusi
Istilah “konstitusi” 8 dalam arti pembentukan, berasal dari bahasa Perancis constituer,
yang berarti membentuk. 9 M. Solly Lubis, S.H, mengemukakan Istilah “konstitusi”
berasal dari “constituer” (bahasa Perancis) yang berarti membentuk. Dengan pemakaian
istilah konstitusi, yang dimaksud ialah pembentukan suatu negara, atau menyusun dan
menyatakan suatu negara. 10
Prof. Herman Heller membagi pengertian konstitusi itu ke dalam tiga pengertian
yakni sebagai berikut: 11
1. Konstitusi mencerminkan kehidupan politik di dalam suatu masyarakat sebagai
suatu kenyataan (Die politische Verfassung als Gesellschaftliche Wirklichkeit) dan
belum merupakan konstitusi dalam arti hukum (ein rechtsverfassung) atau
dengan perkataan lain konstitusi itu masih merupakan pengertian sosiologis atau
politis dan belum merupakan hukum.
2. Baru setelah orang-orang mencari unsur hukumnya dari konstitusi yang hidup
dalam masyarakat itu untuk dijadikan dalam satu kesatuan kaidah hukum, maka
konstitusi itu disebut Rechtsverfassung (Die Verselbstandgle Rechtsverfassung).
Tugas untuk mencari unsur hukum dalam ilmu pengetahuan hukum disebut
dengan istilah abstraksi.

8 Istilah “konstitusi” dalam bahasa Indonesia antara lain berpadanan dengan kata “constitution” (bahasa Latin),

“constitution” (bahasa Inggris), “constitutie” (bahasa Belanda), “constitutionnel” (bahasa Perancis), “verfassung” (bahasa
Jerman), “masyrutiyah” (bahasa Arab), lihat Astim Riyanto, Teori Konstitusi, YAPEMDO, Bandung, 2000, hal. 17.
9 Ibid.
10 Ibid.
11 Ibid, hal. 20.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

3. Kemudian orang mulai menuliskan dalam suatu naskah sebagai undang-undang


yang tertinggi yang berlaku dalam suatu negara. Dengan demikian menjadi
jelaslah bagi kita, bahwa bilamana kita menghubungkan pengertian konstitusi
tersebut dengan pengertian Undang-Undang Dasar, maka Undang-Undang Dasar
itu hanyalah merupakan sebagian dari pengertian konstitusi itu sendiri. Dengan
perkataan lain, konstitusi itu (die geschriebene verfassung), menurut beberapa
para sarjana merupakan sebagian dari konstitusi dalam pengertian umum.

F. Lassalle dalam bukunya Uber Verfassungswesen, membagi konstitusi dalam dua


pengertian, yaitu: 12
1. Pengertian sosiologis atau politis (sosiologische atau politische begrip). Konstitusi
adalah sintesis faktor-faktor kekuasaaan yang nyata (dereele machtsfactoren)
dalam masyarakat. Jadi konstitusi menggambarkan hubungan antara kekuasaan-
kekuasaan yang terdapat dengan nyata dalam suatu negara. Kekuasaan tersebut
di antaranya: raja, parlemen, kabinet, pressure groups, partai politik, dan lain-
lain; itulah sesungguhnya konstitusi.
2. Pengertian yuridis (yuridische begrip). Konstitusi adalah suatu naskah yang
memuat semua bangunan negara dan sendi-sendi pemerintahan.

Konstitusi menurut Carl Schmitt merupakan keputusan atau konsensus bersama


tentang sifat dan bentuk suatu kesatuan politik (eine Gesammtentscheidung über Art und
Form einer politischen Einheit), yang disepakati oleh suatu bangsa. 13 Sedangkan James
Bryce mengartikan konstitusi adalah “A frame of political society, organized through and
by law, that is to say on in which law has established permanent institution with
recognized functions and definite rights”. 14
Dari definisi di atas, pengertian konstitusi dapat disederhanakan rumusannya sebagai
kerangka negara yang diorganisir dengan dan melalui hukum, dalam hal mana hukum
menetapkan:
1. Pengaturan mengenai pendirian lembaga-lembaga yang permanen;
2. Fungsi dari alat-alat kelengkapan;
3. Hak-hak tertentu yang telah ditetapkan. 15
Kemudian C.F Strong melengkapi pendapat tersebut dengan pendapatnya sendiri
sebagai berikut “Constitution is a collection of principles according to which the power of
the government, the rights of the governed, and the relations between the two are
adjusted.” 16
Artinya konstitusi juga dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan asas-asas yang
menyelenggarakan:
1. Kekuasaan pemerintahan (dalam arti luas);
2. Hak-hak yang diperintah;
3. Hubungan antara pemerintah dan yang diperintah (menyangkut di dalamnya
masalah hak asasi manusia).

12 Dahlan Thaib, Jazim Hamidi, dan Ni’matul Huda, Teori Dan Hukum Konstitusi, Raja Grafindo Persada, Jakarta,

2005, hal. 10.


13 A. Hamid S. Attamimi, Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia Dalam Penyelenggaraan Pemerintah

Negara (Suatu Studi Analisis Mengenai Keputusan Presiden Yang Berfungsi Pengaturan Dalam Kurun Waktu Pelita I – Pelita
VI. Disertasi Doktor Universitas Indonesia, Jakarta, 1990, hal. 288. Seperti dikutip oleh Maria Farida Indrawati Soeprapto,
Ilmu Perundang-Undangan: Dasar-Dasar Dan Pembentukannya, Kanisius, Yogyakarta, 1998, hal. 28.
14 Dahlan Thaib, Jazim Hamidi, dan Ni’matul Huda, op.cit., hal. 11.
15 Ibid, hal. 12.
16 Ibid.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

Menurut K.C. Wheare yang mengartikan konstitusi sebagai “Keseluruhan sistem


ketatanegaraan dari suatu negara berupa kumpulan peraturan-peraturan yang
membentuk, mengatur atau memerintah dalam pemerintahan suatu negara.” 17
Peraturan di sini merupakan gabungan antara ketentuan-ketentuan yang memiliki
sifat hukum (legal) dan yang tidak memiliki sifat hukum (nonlegal). Sehingga, dari
pengertian K.C. Wheare dalam bukunya Modern Constitutions, disimpulkannya bahwa
“konstitusi dalam dunia politik sering digunakan dalam dua pengertian, yaitu:
Pertama, dipergunakan dalam arti luas yaitu sistem pemerintahan dari suatu negara
dan merupakan himpunan peraturan yang mendasari serta mengatur pemerintahan
dalam menyelenggarakan tugas-tugasnya. Sebagai sistem pemerintahan di dalamnya
terdapat campuran tata peraturan, baik yang bersifat hukum (legal) maupun yang
bukan peraturan hukum (nonlegal atau extra legal). Kedua, pengertian dalam arti
sempit, yakni sekumpulan peraturan yang legal dalam lapangan ketatanegaraan
suatu negara yang dimuat dalam “suatu dokumen” atau “beberapa dokumen” yang
terkait satu sama lain.” 18

Namun, apapun bentuknya, suatu konstitusi sejati mencantumkan keterangan-


keterangan jelas mengenai hal-hal berikut: Pertama, cara pengaturan berbagai jenis
institusi; Kedua, jenis kekuasaan yang dipercayakan kepada institusi-institusi tersebut; dan
Ketiga, dengan cara bagaimana kekuasaan tersebut dilaksanakan. 19
Dari beberapa pengertian di atas, merupakan sebagian pandangan yang mengartikan
konstitusi lebih luas pengertiannya dari Undang-Undang Dasar. Pengertian senada juga
diungkapkan oleh Leon Duguit, seorang sosiolog dalam bukunya Traite de Droit
Constitutionnel, dengan metodenya “tinjauan secara sosiologi hukum”
(rechtssosiologische beschouwing) dan titik tolak pahamnya “hukum yang hidup dalam
masyarakat” (de droit social atau sociale recht) bahwa:
“…. konstitusi bukanlah sekedar Undang-Undang Dasar yang memuat
sejumlah/kumpulan norma-norma semata-mata, akan tetapi struktur yang nyata-
nyata terdapat dalam kenyataan masyarakat. Dengan perkataan lain, konstitusi
adalah faktor-faktor kekuatan yang nyata (de reele machtsfactoren) yang terdapat
dalam masyarakat yang bersangkutan.” 20

2. Pengujian Konstitusional
Kehidupan hukum Indonesia dipengaruhi oleh sistem hukum Eropa Kontinental (civil
law system). Hal ini masih dapat dibuktikan sampai hari ini dengan masih digunakannya
beberapa undang-undang yang menjadi “tulang punggung” hukum Indonesia modern,
misalkan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang merupakan pengadopsian
dari Wet Boek Van Straftrechts di negeri Belanda tempo dulu. Begitu juga dengan Kitab
Undang-undang Hukum Perdata (Burgelijke Wetboek)
Dalam sistem hukum civil law hukum dipandang hanya ada dalam peraturan
perundang-undangan formil, 21 peraturan perundang-undangan formil itu ada dalam
undang-undang yang dibuat oleh legislatif. Bahkan undang-undang yang dibuat oleh
legislatif itu tidak dapat diganggu gugat karena ia merupakan hasil dari demokrasi

17 K.C Wheare, Konstitusi-konstitusi Modern, Cet II, Judul asli Modern Constitution, diterjemahkan oleh Muhammad

Hardani, Eureka, Surabaya, 2005, hal. 1.


18 Dahlan Thaib, Jazim Hamidi, dan Ni’matul Huda, Op.cit, hal. 13-14.
19 C.F. Strong, Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Kajian Tentang Sejarah & Bentuk-Bentuk Konstitusi Dunia,

diterbitkan kerjasama antara Penerbit Nuansa dengan Penerbit Nusamedia, Bandung, 2004, hal. 16., yang merupakan
terjemahan dari Modern Political Constitutions: An Introduction to the Comparative Study Of Their History and Existing
Form, The English Book Society and Sidgwick & Jackson Limited, London, 1966.
20 Astim Riyanto, op.cit., hal. 27.
21 Ahmad Kamil dan M. Fauzan, Kaidah-kaidah Hukum Yurisprudensi, Kencana, Jakarta, 2004, hal. 27.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

melalui pembuatnya, yaitu legislator. Sehingga yang berhak untuk merubahnya hanyalah
legislator itu sendiri. 22
Sebagai konsekuensi dari tidak dapat diganggu gugatnya undang-undang, maka
peran hakim dalam civil law system hanya sebagai cerobong dari undang-undang (la
bouche de la loi), hakim hanya menerapkan isi rumusan hukum tertulis. 23 Namun Dalam
perjalanan sejarah, bila dulu hakim disebut cerobongnya undang-undang, maka dalam
hukum modern ada freiheid, kebebasan hakim. Jadi hakim boleh menerapkan dan boleh
juga tidak menerapkan undang-undang (contra legem). 24 Kemudian juga ada istilah
rechtsverfijning atau pengkonkretan hukum. 25
Kebebasan hakim sebagaimana disebut di atas bahkan sampai kepada kewenangan
untuk melakukan pengujian terhadap peraturan yang dibuat oleh legislatif maupun
eksekutif. Kewenangan hakim melalui Pengadilan atau Mahkamah untuk menguji
peraturan perundang-undangan kemudian disebut judicial review¸ dan pengujian
terhadap konstitusionalitas suatu norma hukum terhadap konstitusi disebut pengujian
konstitusional (Constitutional Review).
Di Indonesia, masalah kebutuhan untuk melakukan pengujian hukum (undang-
undang) sudah cukup lama membara dalam pikiran kaum intelektual kita. Muhammad
Yamin misalnya, dilaporkan ingin memasukkan pengujian hukum tersebut dalam
Undang Undang Dasar. Tetapi, Soepomo menolaknya, dengan alasan, kita masih belum
siap melakukan itu. Kita belum punya ahli untuk pekerjaan itu, kata arsitek Undang
Undang Dasar 1945 itu. 26
Istilah pengujian konstitusional (Constitutional Review) berbeda dengan istilah
judicial review. 27 Pembedaan ini dilakukan sekurang-kurangnya karena dua alasan.
Pertama, constitutional review selain dilakukan oleh hakim dapat pula dilakukan oleh
lembaga selain hakim atau pengadilan, tergantung kepada lembaga mana Undang-
Undang Dasar memberikan kewenangan untuk melakukannya. Kedua, dalam konsep
judicial review terkait pula pengertian yang lebih luas objeknya, misalnya mencakup soal
legalitas peraturan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, sedangkan
constitutional review hanya menyangkut pengujian konstitusionalitasnya, yaitu terhadap
Undang-Undang Dasar. 28
Berkenaan dengan hal tersebut, memang dapat dikemukakan pula bahwa pengujian
konstitusionalitas itu merupakan upaya hukum yang dapat dilakukan oleh siapa saja atau
lembaga mana saja, tergantung kepada siapa atau lembaga mana kewenangan yang
diberikan secara resmi oleh konstitusi suatu negara. Seperti dapat dilakukan oleh

22 Hasil wawancara dengan Mahmud Aziz (tenaga ahli Mahkamah Konstitusi) pada tanggal 25 Januari 2006. Hal

yang sama juga disampaikan oleh I Gede Dewa Palguna (Hakim Konstitusi) dalam wawancara yang dilakukan pada
tanggal 30 Januari di Mahkamah Konstitusi.
23 Ahmad Kamil dan M. Fauzan, Op.cit, hal. 8.
24 Ibid, hal. 9.
25 Ahmad Ali, Menguak Tabir Hukum, Toko Gunung Agung, Jakarta, 2002. hal. 148.
26 Satjipto Rahardjo, Peninjauan Hukum dan Cacat Undang-undang, dalam Sisi-sisi Lain dari Hukum Di Indonesia,

Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2003, hal. 143-144.


27 Judicial review berarti peninjauan oleh lembaga pengadilan. Atau dalam Blacks Law, judicial review diartikan

sebagai “power of courts to review decisions of another department or level of government.” Erick Barent mengemukakan
pengertian judicial review sebagai berikut “judicial review is a feature of a most modern liberal constitutions. It refers to the
power of the courts to control the compatibility of legislation and executive acts of the term of the constitutions.” Dalam
The Encyclopedia Americana, judicial review didefinisikan sebagai berikut: “judicial review is the power of the courts of the
country to determine if the acts of the legislature and executive are constitutional. Acts that the courts declare to be
contrary to the constitution are consideral null and void and therefore unenforceable.” Menurut Jimly Asshiddiqie, judicial
review merupakan upaya pengujian oleh lembaga judicial terhadap produk hukum yang ditetapkan oleh cabang
kekuasaan legislatif, eksekutif, ataupun yudikatif dalam rangka penerapan prinsip checks and balances berdasarkan sistem
pemisahan kekuasaaan negara (separation of power). Lihat Fatmawati, Hak Menguji (Toetsingsrecht) Yang Dimiliki Dalam
Sistem Hukum Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 5-9.
28 Jimly Asshiddiqie, Model-Model Pengujian Konstitusional Di Berbagai Negara, Konstitusi Press, Jakarta, 2005

(selanjutnya disingkat Jimly Asshiddiqie II), hal. 3.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

Mahkamah Konstitusi, ataupun oleh Mahkamah Agung dan badan-badan khusus


lainnya. Lembaga-lembaga dimaksud tidak selalu merupakan lembaga peradilan, seperti
dalam sistem Perancis, disebut Counseil Constitutionnel yang memang bukan court atau
pengadilan sebagai lembaga hukum, melainkan Dewan Konstitusi yang merupakan
lembaga politik. Jika dipakai istilah judicial review, maka dengan sendirinya berarti
bahwa lembaga yang menjadi subjeknya adalah pengadilan atau lembaga yudisial
(judiciary). Namun, dalam konsepsi judicial review cakupan pengertiannya sangat luas,
tidak saja menyangkut segi-segi konstitusionalitas objek yang diuji, melainkan
menyangkut pula segi-segi legalitasnya berdasarkan peraturan perundang-undangan di
bawah Undang-Undang Dasar. 29
Dalam praktek sehari-hari maupun dalam lingkungan fakultas-fakultas hukum di
tanah air kita, istilah-istilah toetsingrechts, judicial review, dan constitutional review
memang sering dicampuradukan pengertiannya masing-masing. Istilah judicial review
jelas tidak sama dengan constitutional review, dan berbeda pula dengan pengertian
judicial preview seperti dalam sistem Perancis. Kalau berbicara mengenai hak atau
kewenangan untuk menguji maka digunakan istilah hak untuk menguji atau hak uji,
yang dalam bahasa Belandanya disebut toetsingsrecht. Jika hak uji diberikan pada
hakim, maka namanya judicial review atau review oleh lembaga peradilan. Jika
kewenangan untuk menguji itu diberikan kepada lembaga legislatif, maka namanya
legislative review, dan jika kewenangan itu diberikan pada eksekutif, maka namanya
executive review. 30
Hak menguji (toetsingsrecht) terbagi atas dua macam, yaitu hak menguji formal
(formele toetsingsrecht) dan hak menguji material (materiele toetsingsrecht). 31 Hak
menguji formal adalah wewenang untuk menilai suatu produk legislatif seperti undang-
undang, misalnya terjelma melalui cara-cara (procedure) sebagaimana telah
ditentukan/diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku ataukah tidak.
Pengujian formal biasanya terkait dengan soal-soal prosedural dan berkenaan dengan
legalitas kompetensi institusi yang membuatnya.
Hak menguji materil adalah suatu wewenang untuk menyelidiki dan menilai isi
apakah suatu peraturan perundang-undangan sesuai atau bertentangan dengan
peraturan yang lebih tinggi derajatnya, serta apakah suatu kekuasaan tertentu
(verordenende macht) berhak mengeluarkan suatu peraturan tertentu. Pengujian
material berkaitan dengan kemungkinan pertentangan materi suatu peraturan dengan
peraturan lain yang lebih tinggi ataupun menyangkut kekhususan-kekhususan yang
dimiliki suatu aturan dibandingkan dengan norma-norma yang berlaku umum.
Sedangkan menurut Prof. Harun Alrasid, hak uji formal ialah mengenai prosedur
pembuatan undang-undang, dan hak uji material ialah mengenai kewenangan pembuat
undang-undang dan apakah isinya bertentangan atau tidak dengan peraturan yang lebih
tinggi. 32
Jika pengujian itu dilakukan terhadap norma hukum yang bersifat abstrak dan umum
(general and abstract norms) secara a posteori, maka pengujian itu dapat disebut sebagai
judicial review. Akan tetapi, jika pengujian itu bersifat a priori, yaitu terhadap rancangan
undang-undang yang telah disahkan oleh parlemen tetapi belum diundangkan
sebagaimana mestinya, maka namanya bukan judicial review, melainkan judicial
preview. Jika ukuran pengujian itu dengan menggunakan konstitusi sebagai alat

29 Ibid.
30 Ibid, hal. 6.
31 Ph. Kleintjes, seperti dikutip oleh Sri Soemantri, Hak Uji Material di Indonesia, Edisi. kedua. Cetakan pertama,

Alumni, Bandung, 1997, hlm. 6. Lihat pula Subekti, Kekuasaan Mahkamah Agung RI, Cetakan kedua, Alumni, Bandung,
1992, hlm. 28. Lihat pula Fatmawati, op. cit., hal. 5.
32 Ibid, hal. 6.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

pengukur, maka kegiatan pengujian itu dapat disebut sebagai constitutional review atau
pengujian konstitusional, yaitu pengujian mengenai konstitusionalitas dari norma hukum
yang sedang diuji (judicial review on the constitutionality of law). 33
Namun, apabila norma yang diuji itu menggunakan undang-undang sebagai batu
ujian, misalnya Mahkamah Agung menurut pasal 24A ayat 1 Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berwenang menguji peraturan perundang-
undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, maka pengujian
semacam itu tidak dapat disebut sebagai constitutional review melainkan judicial review
on the legality of regulation. Dengan demikian, harus dibedakan juga antara upaya
pengujian konstitusionalitas (constitutional review) dengan upaya pengujian legalitas
(legal review). Di samping itu, harus dibedakan pula kualifikasi dari norma hukum yang
diuji. Jika normanya bersifat umum dan abstrak (general and abstract), berarti norma
yang diuji itu adalah produk regeling, dan hal ini termasuk wilayah kerja pengujian
dalam konteks hukum tata negara. Akan tetapi, kalau norma hukum yang diuji itu
bersifat konkrit dan individual, maka judicial review semacam itu termasuk lingkup
peradilan tata usaha negara. 34
Sehingga dalam konteks sistem constitutional review tercakup dua tugas pokok.
Pertama, untuk menjamin berfungsinya sistem dalam demokrasi dalam hubungan
perimbangan peran atau interplay antara cabang kekuasaan legislatif, eksekutif, dan
lembaga peradilan (judiciary). Dengan perkataan lain constitutional review dimaksudkan
untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan oleh satu cabang kekuasaan;
Kedua, untuk melindungi setiap individu warga negara dari penyalahgunaan kekuasaan
oleh lembaga negara yang merugikan hak-hak fundamental mereka yang dijamin oleh
konstitusi. 35

F. Metodologi Penelitian
Penelitian pada umumnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan terhadap objek
penulisan atau suatu karya ilmiah guna mendapatkan informasi-informasi, pokok-pokok
pikiran dan pendapat lainnya dari pakar sesuai dengan ruang lingkup yang diteliti.
Dalam hal ini penulis menggunakan suatu metode yang berfungsi sebagai pedoman
dalam pelaksanaan penelitian
1. Tipe Penelitian
Penelitian yang dilakukan termasuk tipe penelitian hukum normatif, yang
menekankan pada materi hukum, yaitu Putusan Mahkamah Konstitusi, peraturan
perundang-undangan, dan didukung dengan literatur yang ada mengenai pokok
masalah yang dibahas.
2. Pendekatan Masalah
Dalam penelitian ini, pendekatan masalah yang akan digunakan adalah
pendekatan Sistem hukum (systematical approach), pendekatan yang menekankan
dengan melihat hukum sebagai sebuah sistem dari Undang-Undang Dasar, Undang-
undang, Putusan Mahkamah Konstitusi, dan peraturan lainnya. Disamping itu,
penelitian ini juga didukung dengan pendekatan kasus (case approach), yaitu
penelitian yang bertujuan untuk mempelajari penerapan norma-norma atau kaidah
hukum yang dilakukan dalam praktik hukum. Kasus-kasus tersebut dipelajari untuk
memperoleh gambaran terhadap dampak dimensi penormaan dalam suatu aturan

33 Jimly Asshiddiqie II, op. cit., hal. 7.


34 Ibid.
35 Herbert Hausmaninger, The Australian legal System, 3rd edition, Manz, Wien, 2003, hlm. 139., sebagaimana

dikutip oleh Jimly Asshiddiqie II, ibid, hal. 9.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

hukum dalam praktik hukum, 36 yaitu penormaan dari kaidah-kaidah yang terdapat
di dalam Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945
3. Bahan Hukum 37
Bahan hukum yang dipergunakan dalam penelitian ini antara lain:
a. Bahan Hukum Primer, yaitu bahan yang mempunyai kekuatan mengikat bagi
setiap individu atau masyarakat, baik yang berasal dari Putusan Mahkamah
Konstitusi maupun peraturan perundang-undangan, antara lain:
1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan
3) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
4) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman
5) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
6) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-Undangan
7) Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 06/PMK/2005 tentang Pedoman
Beracara Dalam Perkara Pengujian Undang-Undang
8) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2002
9) Putusan Mahkamah Konstitusi, Nomor Registrasi Perkara 001-021-
022/PUU-I/2003 mengenai Pengujian Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2002 tentang Ketenagalistrikan terhadap Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945
10) Putusan Mahkamah Konstitusi, Nomor Registrasi Perkara 058- 059-060-
063/PUU-II/2004 dan 008/PUU-III/2005 mengenai Pengujian Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air terhadap
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945
b. Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan hukum yang erat kaitannya dengan
bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisa, memahami dan
menjelaskan bahan hukum primer, antara lain: buku-buku, hasil penelitian,
hasil seminar, risalah sidang amandemen Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, dan hasil wawancara dengan hakim
konstitusi (I Dewa Gede Palguna) dan tenaga ahli Mahkamah Konstitusi
(Mahmud Aziz dan Wasis Susetio)
c. Bahan Hukum Tersier, yaitu bahan hukum yang dapat memberikan
informasi, petunjuk, dan penjelasan, terhadap bahan hukum primer dan
sekunder, misalnya: kamus-kamus, ensiklopedi, dan lain-lain.
4. Pengolahan dan Analisa Bahan Hukum
Pengolahan dan analisa bahan hukum merupakan proses pencarian dan
perencanaan secara sistematis terhadap semua bahan hukum telah dikumpulkan agar
peneliti memahami apa yang akan ditemukan dan dapat menyajikannya pada orang
lain dengan jelas. Untuk dapat memecahkan dan menguraikan masalah yang akan
diteliti berdasarkan bahan hukum yang diperoleh maka diperlukan adanya teknik
analisa bahan hukum
Analisa bahan hukum dilakukan dengan analisis kualitatif, yaitu dengan cara
menafsirkan gejala yang terjadi, tidak dalam paparan perilaku, tetapi dalam sebuah
kecenderungan. Analisa bahan hukum dilakukan dengan cara mengumpulkan semua

36 Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Cet II, Bayumedia, Malang, 2006, hal. 312.
37 Dalam penelitian ini tidak digunakan istilah “data,” tetapi istilah “bahan hukum,” karena dalam penelitian
normatif tidak memerlukan data, karena yang diperlukan adalah analisis ilmiah terhadap bahan hukum. Disamping itu
kata “data” memiliki makna empiris (ex-post) sehingga tidak diperlukan dalam penelitian hukum normatif (pure legal).
Lihat Johnny Ibrahim, Ibid, hal. 268-269.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

bahan hukum yang diperlukan, yang bukan merupakan angka-angka dan kemudian
menghubungkannya dengan permasalahan yang diteliti.

5. Kendala yang dihadapi


Dalam penelitian ini, penulis menemui beberapa kendala, terutama menyangkut
pengumpulan bahan hukum yang digunakan sebagai bahan dasar maupun sebagai
bahan untuk menganalisis putusan. Kendala-kendala tersebut antara lain:
a. Penulis tidak mendapatkan kajian atau kuliah tentang penafsiran hukum
semasa kuliah. Sehingga penulis harus mencari kajian-kajian tentang
penafsiran hukum dalam buku-buku ilmu hukum. Sedangkan literatur tentang
penafsiran hukum atau penafsiran konstitusi dalam buku-buku hukum di
Indonesia sangat terbatas.
b. Tidak semua hakim konstitusi dapat diwawancari, kebanyakan hakim
beralasan karena prinsip “hakim tidak boleh mengomentari putusan yang
telah dibuatnya.” Tetapi ada satu hakim yang bisa diwawancarai, yaitu I
Dewa Gde Palguna
c. Sulitnya mendapatkan catatan atau risalah perdebatan hakim dalam memutus
perkara yang sedang diuji.
d. Sulitnya menndapat risalah sidang penyusunan undang-undang di Dewan
Perwakilan Rakyat republik Indonesia

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA

A. Sejarah lahirnya Mahkamah Konstitusi


1. Dunia
Berdirinya Mahkamah Konstitusi sebagai Special Tribunal secara terpisah dari
Mahkamah Agung, mengemban tugas khusus, merupakan konsepsi yang dapat ditelusuri
jauh sebelum negara kebangsaan yang modern (modern nation-state), yang pada
dasarnya menguji keserasian norma hukum yang lebih rendah dengan norma hukum
yang lebih tinggi. 38 Sejarah modern judicial review, yang merupakan ciri utama
kewenangan Mahkamah Konstitusi, di Amerika Serikat dilakukan oleh Mahkamah
Agung, dimulai sejak terjadinya kasus Marbury versus Madison (1803). Mahkamah
Agung Amerika Serikat yang waktu itu di ketuai oleh Hakim Agung John Marshall
memutus sengketa yang pada dasarnya bukanlah apa yang dimohonkan untuk diputus
oleh kewenangannnya sebagai ketua Mahkamah Agung.
Para penggugat (William Marbury, Dennis Ramsay, Robert Townsend Hooe, dan
Willia Harper) 39 memohonkan agar ketua Mahkamah Agung sebagai kewenangannnya
memerintahkan pemerintah mengeluarkan write of mandamus 40 dalam rangka
penyerahan surat-surat pengangkatan mereka. tetapi Mahkamah Agung dalam
putusannnya membenarkan bahwa pemerintahan John Adams telah melakukan semua
persyaratan yang ditentukan oleh hukum sehingga William Marbury dan kawan-kawan
dianggap memang berhak atas surat-surat pengangkatan mereka. Namun Mahkamah
Agung sendiri menyatakan tidak berwenang memerintahkan kepada aparat pemerintah
untuk menyerahkan surat-surat yang dimaksud. Mahkamah Agung menyatakan bahwa
apa yang diminta oleh penggugat, yaitu agar Mahkamah Agung mengeluarkan write of
mandamus sebagaimana ditentukan oleh Section 13 dari Judiciary Act tahun 1789 tidak
dapat dibenarkan karena ketentuan Judiciary Act itu sendiri justru bertentangan dengan
Article III Section 2 Konstitusi Amerika Serikat. 41 Atas dasar penafsiran terhadap
konstitusilah perkara ini diputus oleh John Marshall. Sehingga perdebatan terhadap
kontroversial putusan ini berkembang hingga ke daratan Eropa.
Hans Kelsen, seorang sarjana hukum yang sangat berpengaruh pada abad ke-20,
diminta untuk menyusun sebuah konstitusi bagi Republik Austria yang muncul dari puing
kekaisaran Austro-Hungarian tahun 1919. Sama dengan Marshall, Kelsen percaya bahwa
konstitusi harus diperlakukan sebagai seperangkat norma hukum yang superior (lebih
tinggi dari undang-undang biasa dan harus ditegakkan secara demikian. Kelsen juga
mengakui adanya ketidakpercayaan yang luas terhadap badan peradilan biasa untuk
melaksanakan tugas penegakan konstitusi yang demikian, sehingga dia merancang
mahkamah khusus yang terpisah dari peradilan biasa untuk mengawasi undang-undang
dan membatalkannya jika ternyata bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Meski
Kelsen merancang model ini untuk Austria, yang mendirikan Mahkamah Konstitusi
berdasar model itu untuk pertama kali adalah Cekoslowakia pada bulan Februari tahun
1920. Baru pada bulan Oktober 1920 rancangan Kelsen tersebut diwujudkan di
Austria. 42

38 Maruarar Siahaan, Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Konstitusi Press, Jakarta, 2006, hal. 5.
39 Jimly Asshiddiqie, Model-Model Pengujian Konstitusional Di Berbagai Negara, Konstitusi Press, Jakarta, 2005
(selanjutnya disingkat Jimly Asshiddiqie II), hal. 18.
40 Write of mandamus merupakan suatu alas dasar bagi seseorang untuk menjalankan tugas yang sesuai dengan

kewenangan yang diberikan padanya. Pandangan Penulis yang didasarkan pada keterangan-keterangan dalam Jimly
Asshiddiqie II, Ibid, hal. 18-21.
41 Ibid, hal. 19.
42 Maruarar Siahaan, Op.cit., hal. 6.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

Setelah perang dunia kedua, gagasan Mahkamah Konstitusi dengan Judicial Review
menyebar keseluruh Eropa, dengan mendirikan Mahkamah Konstitusi secara terpisah
dari Mahkamah Agung. Akan tetapi, Perancis mengadopsi konsepsi ini secara berbeda
dengan membentuk Constitutional Council (Conseil Constitutional). Negara-negara bekas
jajahan Perancis mengikuti pola Perancis ini. 43 Sehingga saat ini telah ada 78 negara yang
mengadopsi gagasan pembentukan Mahkamah Konstitusi. dan Indonesia merupakan
negara ke 78 yang mengadopsikannya. 44

2. Indonesia
Ide pembentukan Mahkamah Konstitusi di Indonesia dalam rangka tuntutan untuk
memberdayakan Mahkamah Agung. Diawali pada tahun 1970-an dengan perjuangan
Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) yang memperjuangkan agar Mahkamah Agung
Indonesia diberi kewenangan untuk menguji undang-undang terhadap Undang Undang
Dasar. Tuntutan ini tidak pernah ditanggapi karena dilatarbelakangi oleh suasana dan
paradigma kehidupan ketatanegaraan dan kehidupan politik yang monolitik waktu itu.
Juga tidak diperkenankannya adanya perubahan konstitusi, bahkan Undang-Undang
Dasar cendrung disakralkan. 45
Tetapi setelah terjadinya krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998
yang menghantam berbagai aspek kehidupan sosial, politik dan hukum. Dilakukannnya
perubahan terhadap Undang Undang Dasar yang merupakan salah satu agenda penting
pada waktu itu. Sehingga pada perubahan ketiga tahun 2001 diadopsilah pembentukan
Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga yang berdiri sendiri di samping Mahkamah
Agung. Berdasarkan pasal III Aturan Peralihan Undang Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 yang memerintahkan dibentuknya Mahkamah Konstitusi
selambat-lambatnya 17 Agustus 2003 dan sebelum dibentuk maka kewenangannya
dilakukan oleh Mahkamah Agung. Tanggal 13 Agustus 2003 Undang-undang Nomor 24
Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi disahkan kemudian pada tanggal 16 Agustus
2003 para hakim konstitusi dilantik dan mulai bekerja secara efektif pada tanggal 19
Agustus 2003. 46
Berdasarkan Pasal 24 ayat (2) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 menetapkan bahwa Mahkamah Konstitusi (Constitutional Court) merupakan
lembaga yudikatif selain Mahkamah Agung yang melaksanakan kekuasaan kehakiman
yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan
keadilan. 47 Hal ini berarti bahwa Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu lembaga
negara yang mempunyai kedudukan setara dengan lembaga-lembaga negara lainnya,
seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR),
Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Presiden, Mahkamah Agung (MA), dan yang terakhir
terbentuk yaitu Komisi Yudisial (KY).
Pembentukan Mahkamah Konstitusi dimaksudkan agar tersedia jalan hukum untuk
mengatasi perkara-perkara yang terkait erat dengan penyelenggaraan negara dan
kehidupan politik. Dengan demikian konflik yang terkait dengan kedua hal tersebut
tidak berkembang menjadi konflik politik-kenegaraan tanpa pola penyelesaian yang
baku, transparan, dan akuntabel, melainkan dikelola secara objektif dan rasional
sehingga sengketa hukum tersebut dapat diselesaikan secara hukum pula. Oleh karena itu
Mahkamah Konstitusi sering disebut sebagai Lembaga Negara Pengawal Konstitusi atau
The Guardian and The Interpreter of The Constitution.

43 Ibid.
44 Ibid, hal. 7.
45 Ibid, hal. 8.
46 Ibid, hal. 9.
47 Perubahan ketiga Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 BAB IX Kekuasaan Kehakiman.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

B. Fungsi dan Kewenangan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.


Mahkamah Konstitusi mempunyai fungsi untuk mengawal (to guard) konstitusi agar
dilaksanakan dan dihormati baik penyelenggara kekuasaan negara maupun warga
negara. Mahkamah Konstitusi juga sebagai penafsir akhir konstitusi. Di berbagai negara
Mahkamah Konstitusi juga menjadi pelindung (protector) konstitusi. Sejak di-
inkorporasi-kannya hak-hak asasi manusia dalam Undang Undang Dasar 1945, bahwa
fungsi pelindung konstitusi dalam arti melindungi hak-hak asasi manusia (fundamental
rights) juga benar adanya. 48 Tetapi dalam penjelasan Undang-undang Nomor 24 Tahun
2003 tentang Mahkamah Konstitusi dinyatakan sebagai berikut:
“… salah satu substansi penting perubahan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 adalah keberadaan Mahkamah Konstitusi sebagai
lembaga negara yang berfungsi menangani perkara tertentu di bidang
ketatanegaraan, dalam rangka menjaga konstitusi agar dilaksanakan secara
bertanggung jawab sesuai dengan kehendak rakyat dan cita-cita demokrasi.
Keberadaan Mahkamah Konstitusi sekaligus untuk menjaga terselenggaranya
pemerintahan negara yang stabil, dan juga merupakan koreksi terhadap
pengalaman kehidupan ketatanegaraan di masa lalu yang menimbulkan tafsir
ganda terhadap konstitusi”. 49

Lebih jelas Jimly Asshiddiqie menguraikan:

“Dalam konteks ketatanegaraan, Mahkamah Konstitusi dikonstruksikan sebagai


pengawal konstitusi yang berfungsi menegakkan keadilan konstitusional di
tengah kehidupan masyarakat. Mahkamah Konstitusi bertugas mendorong dan
menjamin agar konstitusi dihormati dan dilaksanakan oleh semua komponen
negara secara konsisten dan bertanggungjawab. Di tengah kelemahan sistem
konstitusi yang ada, Mahkamah Konstitusi berperan sebagai penafsir agar spirit
konstitusi selalu hidup dan mawarnai keberlangsungan bernegara dan
bermasyarakat”. 50

Lembaga negara lain dan bahkan orang perorang boleh saja menafsirkan arti dan
makna dari ketentuan yang ada dalam konstitusi. Suatu konstitusi memang tidak selalu
jelas karena rumusannya luas dan kadang-kadang kabur. Akan tetapi, yang menjadi
otoritas akhir untuk memberi tafsir yang mengikat adalah Mahkamah Konstitusi. Dan
tafsiran yang mengikat itu hanya diberikan dalam putusan Mahkamah Konstitusi atas
permohonan yang diajukan kepadanya.
Pasal 24C ayat (1) dan (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun
1945 menggariskan wewenang Mahkamah Konstitusi adalah sebagai berikut: 51
1. Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir
yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang
Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang
kewenangannya diberikan oleh Undang Undang Dasar, memutus pembubaran
partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

48 Maruarar Siahaan, Op.cit., hal. 11.


49 Penjelasan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi Bagian Umum
50 Cetak Biru, Membangun Mahkamah Konstitusi, Sebagai Institusi Peradilan Konstitusi Yang Modern Dan Terpercaya,

Sekretariat Jenderal MKRI, 2004, Hal. iv. Seperti dikutip oleh Maruarar Siahaan, op.cit., hal. 12.
51 Lihat Pasal 24C Perubahan Ketiga Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, 9 November

2001.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

2. Mahkamah Konstitusi wajib memberi putusan atas pendapat Dewan Perwakilan


Rakyat mengenai dugaan pelanggaran Presiden dan/atau Wakil Presiden
menurut Undang Undang Dasar.

Secara khusus, wewenang Mahkamah Konstitusi tersebut diatur lagi dalam Pasal 10
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi dengan rincian
sebagai berikut: 52
1. Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir
yang putusannnya bersifat final untuk:
a. Menguji undang-undang terhadap Undang Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
b. Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya
diberikan oleh Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945;
c. Memutus pembubaran partai politik; dan
d. Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum;
2. Mahkamah Konstitusi wajib memberi putusan atas pendapat Dewan Perwakilan
Rakyat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan
pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi,
penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela, dan/atau tidak
lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden sebagaimana
dimaksud dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
3. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa:
a. Pengkhianatan terhadap negara adalah tindak pidana terhadap keamanan
negara sebagaimana diatur dalam undang-undang.
b. Korupsi dan penyuapan adalah tindak pidana korupsi atau penyuapan
sebagaimana diatur dalam undang-undang.
c. Tindak pidana berat lainnya adalah tindak pidana yang diancam dengan
pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih.
d. Perbuatan tercela adalah perbuatan yang dapat merendahkan martabat
Presiden dan/atau Wakil Presiden.
e. Tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden adalah
syarat sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 6 Undang Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Berdasarkan Pasal 12 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan


Kehakiman juga ditegaskan: 53
1. Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir
yang putusannya bersifat final untuk:
a. menguji undang-undang terhadap Undang Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
b. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya
diberikan oleh Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945;
c. memutus pembubaran partai politik; dan
d. memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

52 Lihat Pasal 10 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi


53 Lihat Pasal 12 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

2. Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Mahkamah Konstitusi


wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa
Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum
berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana
berat lainnya atau perbuatan tercela, dan/atau tidak lagi memenuhi syarat
sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.

C. Hukum Acara dan Putusan Mahkamah Konstitusi


1. Hukum Acara
Untuk melaksanakan kewenangannya, Mahkamah Konstitusi hanya bisa melakukan
atau memutus perkara yang dimohonkan kepadanya apabila pemohon tersebut
mempunyai kedudukan hukum (legal standing). Tidak semua orang dapat mengajukan
perkara permohonan ke Mahkamah Konstitusi dan menjadi pemohon. Adanya
kepentingan hukum saja, sebagaimana dikenal dalam hukum acara perdata maupun
hukum acara tata usaha negara belum tentu dapat dijadikan dasar permohonan.
Pemohon adalah subjek hukum yang memenuhi persyaratan menurut undang-
undang untuk mengajukan permohonan perkara konstitusi kepada Mahkamah
Konstitusi. Pemenuhan syarat-syarat tersebut menentukan kedudukan hukum atau legal
standing suatu subjek hukum untuk menjadi pemohon yang sah. Dalam perkara
pengujian undang-undang, persyaratan legal standing atau kedudukan hukum dimaksud
mencakup syarat formal sebagaimana ditentukan dalam undang-undang, maupun syarat
materil berupa kerugian hak atau kewenangan konstitusional dengan berlakunya
undang-undang yang sedang dipersoalkan.
Dalam hukum acara Mahkamah Konstitusi, yang boleh mengajukan permohonan
untuk berperkara di Mahkamah Konstitusi ditentukan dalam Pasal 51 ayat (1) Undang-
undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, yang menyebutkan: 54
(1) Pemohon adalah pihak yang menanggap hak dan/atau kewenanangan
konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang, yaitu:
a. Perorangan warga negara Indonesia;
b. Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang diatur dalam undang-undang;
c. Badan hukum publik atau privat; atau
d. Lembaga negara.

Ketentuan di atas dipertegas dalam penjelasannya, bahwa yang dimaksud dengan


“hak konstitusional” adalah hak-hak yang diatur dalam Undang Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945. Sehingga agar seseorang atau suatu pihak dapat
diterima sebagai Pemohon yang memiliki kedudukan hukum (legal standing) dalam
permohonan pengujian undang-undang terhadap Undang Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, maka terlebih dahulu harus menjelaskan dan
membuktikan:
a. Kualifikasinya dalam permohonan a quo sebagaimana disebut dalam Pasal 51
ayat (1) Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi;
b. Hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dalam kualifikasi dimaksud yang
dianggap telah dirugikan oleh berlakunya undang-undang yang diuji.

54 Lihat Pasal 51 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

c. Kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional Pemohon sebagai akibat


berlakunya undang-undang yang dimohonkan pengujian.
Tentang Iegal standing, Mahkamah Konstitusi pernah menjelaskannya dalam
putusan Perkara Nomor 006/PUU-III/2005 dan Nomor 010/PUU-III/2005, bahwa
kerugian yang timbul karena berlakunya suatu undang-undang menurut Pasal 51 ayat (1)
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, harus memenuhi
5 (lima) syarat sebagai berikut:
a. adanya hak konstitusional Pemohon yang diberikan Undang Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. bahwa hak konstitusional Pemohon tersebut dianggap oleh Pemohon telah
dirugikan oleh suatu undang-undang yang diuji;
c. bahwa kerugian konstitusional Pemohon yang dimaksud bersifat spesifik (khusus)
dan aktual atau setidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar
dapat dipastikan akan terjadi;
d. adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian dan berlakunya
undang-undang yang dimohonkan untuk diuji;
e. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan maka kerugian
konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi.
Perselisihan yang dibawa ke Mahkamah Konstitusi sesungguhnya memiliki karakter
tersendiri dan berbeda dengan perselisihan yang dihadapi sehari-hari oleh peradilan
biasa. Keputusan yang diminta oleh pemohon dan diberikan oleh Mahkamah Konstitusi
akan membawa akibat hukum yang tidak hanya mengenai orang seorang, tetapi juga
orang lain, lembaga negara dan aparatur pemerintah atau masyarakat pada umumnya,
terutama sekali dalam hal pengujian undang-undang terhadap Undang Undang Dasar.
Nuansa public interest yang melekat pada perkara-perkara semacam itu akan
menjadi pembeda yang jelas dengan perkara pidana, perdata, dan tata usaha negara
yang pada umunya menyangkut kepentingan pribadi dan individu berhadapan dengan
individu lain ataupun dengan pemerintah. Ciri inilah yang membedakan penerapan
hukum acara di Mahkamah Konstitusi dengan hukum acara di pengadilan-pengadilan
lainnya.
Oleh karena terjadinya praktek hukum acara yang merujuk pada undang-undang,
hukum acara yang lain timbul karena kebutuhan yang kadang-kadang dihadapkan
kepada Mahkamah Konstitusi, maka ketentuan yang memberlakukan aturan Hukum
Acara Pidana, Perdata, dan Tata Usaha Negara secara mutatis mutandis dapat
diberlakukan dengan menyesuaikan aturan dimaksud dalam praktek hukum acaranya.
Hanya saja jika terjadi pertentangan dalam praktek hukum acara pidana dan tata usaha
negara dengan aturan hukum acara perdata maka secara mutatis mutandis juga aturan
hukum acara perdata tidak akan diberlakukan. Meskipun aturan ini tidak dimuat dalam
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, akan tetapi
telah diadopsi dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK), baik sebelum maupun
sesudah praktek yang merujuk undang-undang hukum acara lain itu digunakan dalam
praktek.
Dari uraian di atas, maka sumber hukum acara Mahkamah Konstitusi dapat dikenali
sebagai berikut:
a. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi;
b. Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK);
c. Putusan Mahkamah Konstitusi yang telah ada;

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

d. Undang-undang Hukum Acara Perdata, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha


Negara, dan Hukum Acara Pidana Indonesia.
e. Pendapat sarjana (doktrin);
f. Hukum Acara dan/atau yurisprudensi Mahkamah Konstitusi Negara lain.
Sehingga secara ringkas dan sistematis, prosedur berperkara di Mahkamah Konstitusi
dapat penulis simpulkan sebagai berikut: 55
1. Pengajuan permohonan
a. Ditulis dalam bahasa Indonesia;
b. Ditandatangani oleh pemohon/kuasanya;
c. Diajukan dalam 12 rangkap;
d. Jenis perkara;
e. Sistematika:
ƒ Identitas dan legal standing
ƒ Posita
ƒ Petitum
f. Disertai bukti pendukung
2. Pendaftaran
a. Pemeriksaan kelengkapan permohonan panitera:
ƒ Belum lengkap, diberitahukan
ƒ 7 (tujuh) hari sejak diberitahu, wajib dilengkapi
ƒ Lengkap
b. Registrasi sesuai dengan perkara;
c. 7 (tujuh) hari kerja sejak registrasi untuk perkara.
ƒ Pengujian undang-undang
¾ Salinan permohonan disampaikan kepada Presiden dan Dewan
Perwakilan Rakyat
¾ Permohonan diberitahukan kepada Mahkamah Agung.
ƒ Sengketa kewenangan lembaga negara: Salinan permohonan disampaikan
kepada lembaga Negara termohon.
ƒ Pembubaran Partai Politik: Salinan permohonan disampaikan kepada
Parpol yang bersangkutan.
ƒ Sengketa impeachment: Salinan permohonan disampaikan kepada
Presiden.
3. Penjadwalan Sidang
a. Dalam 14 hari kerja setelah registrasi ditetapkan Hari Sidang I (kecuali
perkara Perselisihan Hasil Pemilu).
b. Para pihak diberitahu/dipanggil.
c. Diumumkan kepada masyarakat.
4. Pemeriksaan Pendahuluan
a. Sebelum pemeriksaan pokok perkara, memeriksa:
ƒ Kelengkapan syarat-syarat permohonan.
ƒ Kejelasan materi permohonan.
b. Memberi nasehat:
ƒ Kelengkapan syarat-syarat permohonan.
ƒ Perbaikan materi permohonan.
c. 14 hari harus sudah dilengkapi dan diperbaiki.
5. Pemeriksaan Persidangan
a. Terbuka untuk umum.
b. Memeriksa: permohonan dan alat bukti.

55 Lihat Bab V Hukum Acara Pasal 28-85 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

c. Para pihak hadir menghadapi sidang guna memberikan keterangan.


d. Lembaga Negara dapat diminta keterangan Lembaga Negara dimaksud
dalam jangka waktu tujuh hari wajib memberi keterangan yang diminta.
e. Saksi dan/atau ahli memberi keterangan.
f. Pihak-pihak dapat diwakili kuasa, didampingi kuasa dan orang lain.
6. Putusan
Lebih lanjut, putusan Mahkamah Konstitusi diatur dengan ketentuan sebagai
berikut:
a. Diputus paling lambat dalam tenggang waktu:
¾ Untuk perkara pembubaran partai politik, 60 hari kerja sejak registrasi.
¾ Untuk perkara perselisihan hasil pemilu:
ƒ Presiden dan/atau wakil Presiden, 14 hari kerja sejak registrasi.
ƒ DPR, DPD, dan DPRD, 30 hari kerja sejak registrasi.
¾ Untuk perkara pendapat DPR, 90 hari kerja sejak registrasi.
b. Sesuai alat bukti, minimal 2 (dua) alat bukti memuat:
ƒ Fakta.
ƒ Dasar hukum keputusan.
c. Cara mengambil keputusan:
ƒ Musyawarah mufakat.
ƒ Setiap hakim menyampaikan pendapat/pertimbangan tertulis.
ƒ Diambil suara terbanyak bila tak mufakat.
ƒ Bila tidak dapat dicapai suara terbanyak, suara terakhir ketua
menentukan.
d. Ditandatangani hakim dan panitera.
e. Berkekuatan hukum tetap sejak diucapkan dalam sidang terbuka untuk
umum.
f. Salinan putusan dikirim kepada para pihak 7 (tujuh) hari sejak diucapkan.
g. Untuk putusan perkara:
ƒ Pengujian undang-undang, disampaikan kepada DPR, DPD, Presiden, dan
Mahkamah Agung.
ƒ Sengketa kewenangan lembaga negara, disampaikan kepada DPR, DPD,
dan Presiden.
ƒ Pembubaran partai politik, disampaikan kepada partai politik yang
bersangkutan.
ƒ Perselisihan hasil pemilu disampaikan kepada Presiden.
ƒ Pendapat DPR, disampaikan kepada DPR, Presiden dan Wakil Presiden.

Sedangkan susunan isi putusan atau sistematika putusan Mahkamah Konstitusi


diatur dalam Pasal 48 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi, yaitu 56
1) Mahkamah Konstitusi memberikan putusan demi keadilan berdasarkan
ketuhanan yang maha esa.
2) Setiap putusan Mahkamah Konstitusi harus memuat:
a. Kepala putusan berbunyi “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan
Yang Maha Esa”.
b. Identitas pihak;
c. Ringkasan permohonan;
d. Pertimbangan terhadap fakta yang terungkap dalam persidangan;
e. Pertimbangan hukum yang menjadi dasar putusan;

56 Lihat pasal 48 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

f. Amar putusan; dan


g. Hari, tanggal putusan, nama hakim konstitusi, dan panitera.

Berdasarkan ketentuan pasal 48 di atas, sistematika putusan Mahkamah


Konstitusi pada prinsipnya hampir sama dengan putusan pengadilan pada
umumnya yaitu terdiri dari:
1. Kepala putusan
2. Identitas para pihak
3. Pertimbangan hukum
4. Amar/diktum putusan
5. Waktu dan penandatangan putusan

2. Putusan Mahkamah Konstitusi


Putusan dalam peradilan merupakan perbuatan hakim sebagai pejabat negara
berwenang yang diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum dan dibuat secara tertulis
untuk mengakhiri sengketa yang dihadapkan kepadanya. 57
Gustav Radbruch mengemukakan bahwa: “Seharusnya dalam suatu putusan
mengandung idée des recht atau cita hukum, yang meliputi unsur keadilan
(gerechtigkeit), kepastian hukum (rechtsicherheid) dan kemanfaatan (zweekmasigkeit).” 58
Ketiga unsur tersebut sedapat mungkin harus diakomodir dalam suatu putusan secara
proporsional. 59 Bagi hakim dalam menyelesaikan suatu perkara yang penting bukanlah
hukumnya karena hakim dianggap tahu hukumnya (ius curia novit), melainkan
mengetahui secara objektif fakta atau peristiwanya sebagai duduk perkara yang
sebenarnya yang nantinya dijadikan dasar putusannya, bukan secara a priori langsung
menemukan hukumnya tanpa perlu mengetahui terlebih dahulu duduk perkara yang
sebenarnya. Untuk dapat memberikan putusan pengadilan yang benar-benar
menciptakan kepastian hukum dan mencerminkan keadilan, hakim yang melaksanakan
peradilan harus benar-benar mengetahui duduk perkara yang sebenarnya dan peraturan
hukum yang akan diterapkan. 60
Dengan demikian, putusan hakim adalah suatu pernyataan yang oleh hakim, sebagai
pejabat negara yang diberi wewenang untuk itu, diucapkan di dalam persidangan dan
bertujuan untuk mengakhiri atau menyelesaikan suatu perkara atau sengketa antara para
pihak. 61
Begitu juga dengan putusan-putusan hakim di Mahkamah Konstitusi yang diatur
dalam Pasal 45 sampai dengan Pasal 49 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003
tentang Mahkamah Konstitusi dalam Pasal 45 diatur bahwa: 62
1) Mahkamah Konstitusi memutus perkara berdasarkan Undang Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sesuai dengan alat bukti dan keyakinan
hakim.

57 Mr. P.A. Stein, Compendium Van Het Burgerlijke Procesrechts, 4e druk, Kluwer, 1977, hal. 158. dalam Maruarar

Siahaan, Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Edisi Revisi cetakan pertama, Mahkamah Konstitusi
Republik Indonesia, (selanjutnya disebut Maruarar Edisi Revisi), 2006, hal. 235.
58 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum, Edisi IV, Liberty, Yogyakarta, 1995, hal. 145.
59 Bambang Sutiyoso I, Op.cit, hal. 117-118.
60 Riduan Syahrani, Buku Materi Dasar Hukum Acara Perdata, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, Hal. 117,

seperti dikutip juga oleh Bambang Sutiyoso, Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia-Upaya Membangun
Kesadaran dan Pemahaman Kepada Publik Akan Hak-Hak Konstitusionalnya Yang Dapat Diperjuangkan dan
Dipertahankan Melalui Mahkamah Konstitusi, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006 (Selanjutnya disingkat Bambang
Sutiyoso I), hal. 117.
61 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia , Liberty, Yogyakarta, hal. 176, seperti dikutip Bambang

Sutiyoso I, Op. cit., hal. 118.


62 Lihat Pasal 45-49 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

2) Putusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan permohonan harus didasarkan


pada sekurang-kurangnya 2 (dua) alat bukti.
3) Putusan Mahkamah Konstitusi wajib memuat fakta yang terungkap dalam
persidangan dan pertimbangan hukum yang menjadi dasar putusan.
4) Putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diambil secara musyawarah untuk
mufakat dalam sidang pleno hakim konstitusi yang dipimpin oleh ketua sidang.
5) Dalam sidang permusyawaratan, setiap hakim konstitusi wajib menyampaikan
pertimbangan atau pendapat tertulis terhadap permohonan.
6) Dalam hal musyawarah sidang pleno hakim konstitusi sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) tidak dapat menghasilkan putusan, musyawarah ditunda sampai
musyawarah sidang pleno hakim konstitusi berikutnya.
7) Dalam hal musyawarah sidang pleno setelah diusahakan dengan sungguh-
sungguh tidak dapat dicapai mufakat bulat, putusan diambil dengan suara
terbanyak.
8) Dalam hal musyawarah sidang pleno hakim konstitusi sebagaimana dimaksud
pada ayat (7) tidak dapat diambil dengan suara terbanyak, suara terakhir ketua
sidang pleno hakim konstitusi menentukan.
9) Putusan Mahkamah Konstitusi dapat dijatuhkan pada hari itu juga atau ditunda
pada hari lain yang harus diberitahukan kepada para pihak.
10) Dalam hal putusan tidak tercapai mufakat bulat sebagaimana dimaksud pada
ayat (7) dan ayat (8), pendapat anggota Majelis Hakim yang berbeda dimuat
dalam putusan.

Ketentuan Pasal 45 diatas menyebutkan tentang dasar, prosedur, atau mekanisme


dan tata cara pengambilan keputusan secara musyawarah untuk mufakat di lingkungan
Mahkamah Konstitusi. Dalam menjatuhkan putusan yang berisi mengabulkan
permohonan , Mahkamah Konstitusi yang harus mendasarkan pada sekurang-kurangnya
2 (dua) alat bukti. Sedangkan yang dimaksud dengan “keyakinan hakim” adalah
keyakinan hakim berdasarkan alat bukti.
Dalam sidang permusyawaratan pengambilan putusan tidak ada suara hakim yang
abstain. Apabila dalam musyawarah sidang pleno setelah diusahakan dengan sungguh-
sungguh tidak dapat dicapai mufakat bulat, putusan diambil dengan suara terbanyak.
Dan apabila tidak dapat juga diambil dengan suara terbanyak, maka suara terakhir ketua
sidang pleno hakim konstitusi menjadi penentu.
Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 56 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003
tentang Mahkamah Konstitusi, pada dasarnya isi putusan hakim konstitusi dapat berupa
3 (tiga) macam, yaitu permohonan tidak diterima, permohonan ditolak, serta
permohonan dikabulkan. Ketiga macam hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Permohonan tidak dapat diterima (niet onvankelijk verklaard)
Syarat suatu putusan hakim konstitusi yang menyatakan permohonan tidak
dapat diterima (niet onvankelijk verklaard) apabila permohonannya melawan
hukum atau tidak berdasarkan hukum. Dalam hal ini Mahkamah Konstitusi
berpendapat bahwa pemohon dan atau permohonannya tidak memenuhi syarat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003
tentang Mahkamah Konstitusi. Dalam Pasal 51 diatur bahwa: 63

63 Lihat Pasal 51 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

1) Pemohon adalah pihak yang menganggap hak dan/atau kewenangan


konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang, yaitu:
a. Perorangan warga negara Indonesia;
b. Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai
dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang diatur dalam undang-undang;
c. Badan hukum publik atau privat; atau
d. Lembaga negara.
2) Pemohon wajib menguraikan dengan jelas dalam permohonannya tentang
hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya sebagaimana dimaksud pada
ayat (1).
3) Dalam permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pemohon wajib
menguraikan dengan jelas bahwa:
a. Pembentukan undang-undang tidak memenuhi ketentuan berdasarkan
Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; dan/atau
b. Materi muatan dalam ayat, pasal, dan/atau bagian undang-undang
dianggap bertentangan dengan Undang Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.

2. Permohonan ditolak (ontzigd)


Putusan hakim konstitusi menyatakan permohonan ditolak apabila
permohonannya tidak beralasan. Dalam hal ini undang-undang dimaksud tidak
bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945, baik mengenai pembentukan
maupun materinya sebagian atau keseluruhan, maka amar putusannya
menyatakan permohonan ditolak.
3. Permohonan dikabulkan.
Putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan permohonan dikabulkan,
apabila permohonannya beralasan. Dalam hal ini Mahkamah Konstitusi
berpendapat bahwa permohonan beralasan. Atau dalam hal pembentukan
undang-undang dimaksud tidak memenuhi ketentuan pembentukan undang-
undang berdasarkan Undang Undang Dasar 1945, amar putusan menyatakan
permohonan dikabulkan. Dalam hal permohonan dikabulkan, Mahkamah
Konstitusi menyatakan dengan tegas materi muatan ayat, pasal, dan atau bagian
dari undang-undang yang bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945.
Putusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan permohonaan wajib
dimuat dalam berita negara dalam jangka waktu paling lambat tiga puluh hari
kerja sejak putusan diucapkan. Terhadap materi muatan ayat, pasal, dan atau
bagian dari undang-undang yang telah diuji, tidak dapat dimohonkan pengujian
kembali dikemudian hari (nebis in idem).
Jenis putusan Mahkamah Konstitusi yang disimpulkan dari amarnya dapat dibedakan
antara putusan yang bersifat declaratoir, constitutief dan condemnatoir. 64 Suatu putusan
dikatakan condemnatoir kalau putusan tersebut berisi penghukuman terhadap tergugat
atau termohon untuk melakukan satu prestasi (tot het verrichten van een prestatie).
Akibat dari putusan condemnatoir ialah diberikannya hak kepada penggugat/pemohon
untuk meminta tindakan eksekutorial terhadap penggugat/termohon. 65 Sifat putusan
condemnatoir ini dapat dilihat dalam putusan perkara sengketa kewenangan lembaga
negara.

64 Maruarar Edisi Revisi, Op.cit., hal. 240.


65 Ibid.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

Sedangkan putusan declaratoir adalah putusan dimana hakim menyatakan apa yang
menjadi hukum. Putusan hakim yang menyatakan permohonan atau gugatan ditolak
merupakan satu putusan yang bersifat declaratoir. 66 Putusan yang bersifat declaratoir
dalam pengujian undang-undang oleh Mahkamah Konstitusi nampak jelas dalam amar
putusannya. Pasal 56 ayat (3) Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa: 67
“Dalam hal permohonan dikabulkan sebagaimana dimaksud ayat (2),
Mahkamah Konstitusi menyatakan dengan tegas materi muatan, ayat, pasal,
dan/atau bagian dari undang-undang yang bertentangan dengan Undang
Undang dasar Republik Indonesia Tahun 1945.”

Tetapi setiap putusan yang bersifat declaratoir khususnya yang menyatakan bagian
undang-undang, ayat dan/atau pasal bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945
dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat juga sekaligus merupakan putusan
yang bersifat constitutief. 68
Putusan constitutief adalah putusan yang menyatakan satu keadaan hukum atau
menciptakan satu keadaan hukum baru. 69 Menyatakan suatu undang-undang tidak
memiliki kekuatan hukum mengikat karena bertentangan dengan Undang Undang Dasar
1945 adalah meniadakan keadaan hukum yang timbul karena undang-undang yang
dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
Putusan Mahkamah Konstitusi, sebagaimana telah diuraikan di atas, kebanyakan
jenisnya terutama dalam pengujian undang-undang adalah bersifat declaratoir
constitutief. Artinya putusan Mahkamah Konstitusi itu menciptakan atau meniadakan
satu keadaan hukum baru atau membentuk hukum baru sebagai negative-legislator, 70
yang disebut Hans Kelsen adalah melalui satu pertanyaan. Sifat declaratoir tidak
membutuhkan satu aparat yang melakukan pelaksanaan putusan Mahkamah Konstitusi. 71
Putusan Mahkamah Konstitusi sejak diucapkan dihadapan sidang terbuka untuk
umum, dapat mempunyai 3 (tiga) kekuatan, yaitu 1) kekuatan mengikat, 2) kekuatan
pembuktian, dan 3) kekuatan eksekutorial. 72 Hal ini dijelaskan sebagai berikut:
1. Kekuatan Mengikat
Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili perkara konstitusi dalam tingkat
pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final. Itu berarti bahwa putusan
Mahkamah Konstitusi langsung memperoleh kekuatan hukum tetap sejak
diucapkan dan tidak ada upaya hukum yang dapat ditempuh.
Kekuatan mengikat putusan Mahkamah Konstitusi, berbeda dengan putusan
pengadilan biasa, tidak hanya meliputi pihak-pihak yang berperkara (interpartes)
yaitu pemohon, pemerintah, DPR/DPD ataupun pihak terkait yang diizinkan
memasuki proses perkara, tetapi putusan tersebut juga mengikat semua orang,
lembaga negara dan badan hukum yang ada di wilayah Republik Indonesia
Ia belaku sebagai hukum sebagaimana hukum diciptakan pembuat undang-
undang. Hakim Mahkamah Konstitusi dikatakan sebagai negative legislatoir yang
putusannya bersifat erga omnes, yang ditujukan pada semua orang. 73

66 Ibid, hal. 241.


67 Lihat Pasal 56 ayat (3) Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
68 Op.cit., hal. 242.
69 Ibid.
70 Hal ini juga pernah dikatakan oleh I Dewa Gde Palguna (Hakim Konstitusi) dalam wawancara yang dilakukan

pada tanggal 30 Januari 2007 di Mahkamah Konstitusi.


71 Ibid, hal. 250.
72 Maruarar Edisi Revisi, Op.cit., hal. 252-258.
73 Hal ini juga pernah dikatakan oleh I Dewa Gde Palguna (Hakim Konstitusi) dalam wawancara yang dilakukan

pada tanggal 30 Januari 2007 di Mahkamah Konstitusi.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

2. Kekuatan pembuktian
Pasal 60 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
Konstitusi menentukan bahwa materi muatan, ayat, pasal dan/atau bagian dari
undang-undang yang telah diuji, tidak dapat dimohonkan untuk diuji kembali.
Dengan demikian adanya putusan Mahkamah Konstitusi yang telah menguji satu
undang-undang, merupakan alat bukti yang dapat digunakan bahwa telah
diperoleh satu kekuatan pasti (gezag van gewijsde).
Kekuatan pasti satu putusan secara negatif diartikan bahwa hakim tidak boleh
lagi memutus perkara permohonan yang sebelumnya pernah diputuskan. Dalam
perkara konstitusi putusannya bersifat erga omnes, maka permohonan pengujian
yang menyangkut materi yang sama sudah pernah diputus tidak dapat lagi
diajukan untuk diuji oleh siapa pun. Putusan Mahkamah Konstitusi yang telah
berkekuatan tetap demikian dapat digunakan sebagai alat bukti dengan kekuatan
pasti secara positif bahwa apa yang diputuskan oleh hakim itu telah benar.

3. Kekuatan eksekutorial
Hakim Mahkamah Konstitusi adalah negative-legislator dan putusannya
berlaku sebagai undang-undang tetapi tidak memerlukan perubahan yang harus
dilakukan dengan amandemen atas undang-undang yang bagian tertentu
dinyatakan bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945. Untuk itu,
putusan Mahkamah Konstitusi perlu dimuat dalam berita negara agar setiap
orang mengetahuinya.
Dalam hal kewenangan Mahkamah Konstitusi melakukan pengujian terhadap
konstitusionalitas dari suatu undang-undang. Maka karakteristik putusannya yaitu bahwa
selama undang-undang tersebut sedang diuji oleh Mahkamah Konstitusi masih tetap
berlaku, sebelum ada putusan yang menyatakan bahwa undang-undang tersebut
bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945.
Dalam putusan Mahkamah Konstitusi dikenal lembaga dissenting opinion, yaitu
dalam hal putusan tidak tercapai mufakat bulat, pendapat anggota majelis hakim yang
berbeda dimuat dalam putusan. Penyertaan pendapat hakim konstitusi yang berbeda ini
perlu disertakan agar masyarakat dapat mengetahui alasan masing-masing hakim
konstitusi dan menilai tingkat integritas serta kualitas seorang hakim konstitusi dalam
memutus suatu perkara. Dissenting opinion dikecualikan dalam perkara impeachment
karena perkara tersebut memiliki dimensi-dimensi politis. 74
Pendapat hakim yang berbeda (dissenting opinion), jika hakim yang bersangkutan
menghendaki dapat dimuat dalam putusan. Pendapat berbeda diharapkan tidak
dilakukan dengan mencela putusan Mahkamah Konstitusi melainkan dengan
menekankan pada titik tolak pandangan atau teori yang dianut dalam memberikan
pendapat yang berbeda tersebut. 75

74 A. Fickar Hadjar, et. al, Pokok-Pokok Pikiran dan Rancangan Undang-Undang Mahkamah Konstitusi, KRHN dan

Kemitraan, 2003, Hal. 51, seperti dikutip Bambang Sutiyoso I, Op. cit., hal. 122.
75 Maruarar Edisi Revisi, Op.cit., hal. 244.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

BAB III
PENAFSIRAN DALAM HUKUM TATA NEGARA

A. Pengertian dan landasan penafsiran hukum


1. Pengertian
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, 76 kata “penafsiran” diartikan sebagai:
pemberian kesan, pendapat, atau pandangan teoritis terhadap sesuatu; tafsir. Padanan
kata dari penafsiran adalah interpretasi
Bila dikaitkan dengan ilmu hukum, maka penafsiran hukum merupakan kegiatan
yang dilakukan oleh ahli hukum atau pengadilan dalam memberikan kesan atau makna
dari suatu norma hukum. Menurut Sudikno Mertokusumo, penafsiran merupakan salah
satu metode penemuan hukum yang memberi penjelasan yang gamblang mengenai teks
undang-undang agar ruang lingkup kaidah dapat ditetapkan sehubungan dengan
peristiwa tertentu. 77
Sedangkan Menurut Jimly Asshiddiqie, penafsiran merupakan kegiatan penting
dalam hukum dan ilmu hukum. Penafsiran merupakan metode untuk memahami makna
yang terkandung di dalam teks-teks hukum untuk dipakai menyelesaikan kasus-kasus
atau mengambil keputusan atas hal-hal yang dihadapi secara konkret. 78

2. Landasan penafsiran hukum


Setiap peraturan perundang-undangan bersifat abstrak dan pasif. Abstrak karena
sifatnya umum, dan pasif karena tidak menimbulkan akibat hukum kalau tidak terjadi
peristiwa konkret. 79 Peraturan yang bersifat abstrak itu memerlukan rangsangan agar
dapat aktif. Oleh karena itu, setiap ketentuan perundang-undangan perlu dijelaskan,
perlu ditafsirkan terlebih dahulu untuk dapat diterapkan pada peristiwanya.
Bahkan teks undang-undang itu tidak pernah jelas dan selalu membutuhkan
penafsiran. Hal ini pernah disebutkan oleh Achmad Ali:
“Barang siapa yang mengatakan bahwa teks undang-undang sudah sangat jelas,
sehingga tidak membutuhkan interpretasi lagi, sebenarnya yang menyatakan
demikian, sudah melakukan interpretasi sendiri. Pernyataannya tentang jelasnya teks,
sudah merupakan hasil interpretasinya terhadap teks tersebut” 80

Apa yang dikatakan oleh Achmad Ali senada dengan yang disebutkan oleh A. Pitlo,
bahwa “kata-kata apapun tak pernah jelas. Ia selalu membutuhkan penafsiran.” Hal ini
membantah pandangan lama yang menyebutkan In claris non est interpretation (aturan-
aturan yang jelas tidak membutuhkan penafsiran).
Adanya pandangan In claris non est interpretation atau aturan-aturan yang jelas tidak
membutuhkan penafsiran itu lahir dari sistem hukum eropa kontinental (civil law) yang
mengutamakan keberadaan undang-undang sebagai fondasi utama dalam berhukum.
Dalam doktrin Trias Politica Montesquieu, kekuasaan negara itu dipisah menjadi 3
bagian utama, yaitu legislatif sebagai pembuat undang-undang yang berasal dari
kedaulatan rakyat; eksekutif yang menjalankan undang-undang; dan yudikatif sebagai
lembaga yang menyelesaikan sengketa yang timbul dalam bernegara dengan

76 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cetakan ketiga, Balai Pustaka, 1990, hal. 336.
77 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum: Suatu Pengantar Liberty, Yogyakarta, 1995, hal. 154.
78 Jimly Asshiddiqie III, Op.cit., hal. 273.
79 Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, Citra Aditya Bakti, Yogyakarta, 1993,

hal. 12.
80 Achmad Ali, Op.cit., hal. 146-147.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

menkonkretkan hukum tertulis. Hakim hanya perperan sebagai cerobong undang-


undang. 81
Namun dalam perkembangan sejarah, pandangan yang memposisikan hakim sebagai
cerobong undang-undang telah jauh bergeser. Pergeseran ini terjadi karena hakim
dipandang sebagai agen perubahan hukum yang penting. Kemudian lahirlah istilah
kebebasan dan kemandirian hakim. Bahkan hakim tidak boleh menolak perkara karena
pengadilan atau mahkamah merupakan the last resort atau benteng terakhir dari pencari
keadilan, 82 karena hakim dianggap tahu dengan hukumnya. Hal ini sebagai bukti bahwa
kodifikasi hukum tidak pernah sempurna.
Disamping itu, dalam bidang hukum tata negara, penafsiran dalam hal ini judicial
interpretation (penafsiran oleh hakim), juga dapat berfungsi sebagai metode perubahan
konstitusi dalam arti menambah, mengurangi, atau memperbaiki makna yang terdapat
dalam suatu teks Undang Undang Dasar. Seperti dikemukakan oleh K.C. Wheare,
undang-undang dasar dapat diubah melalui: (i) formal amandemend, (ii) judicial
interpretation, dan (iii) constitutional usage and conventions. 83
Pentingnya penafsiran hukum dalam ilmu hukum dan dampaknya yang dapat
bersifat luas karena dapat menjadi sarana pengubah, penambah, atau pengurang makna
konstitusi, mengharuskan penafsiran hukum dilakukan secara bijaksana dan
mempertimbangkan berbagai faktor baik di dalam maupun dari luar hukum. Menurut
Jimly Asshiddiqie, bila kita akan melakukan penafsiran hukum (tertulis) maka yang
pertama-tama harus dilakukan adalah meneliti apa niat (intensi) dari penyusunnya. 84
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Jaksa Agung Amerika Serikat pada masa Ronald
Reagan, Edwin Meese III, bahwa “satu-satunya cara pengadilan untuk menafsirkan
konstitusi agar legitimate adalah mengikuti intensi (niat) yang asli dari penyusun dan
meratifikasinya. 85
Jadi tugas penting dari hakim adalah menyesuaikan peraturan perundang-undangan
dengan hal-hal nyata di masyarakat. Apabila peraturan perundang-undangan tidak
dapat dijalankan menurut arti katanya, hakim harus menafsirkannya. Dengan kata lain
apabila peraturan perundang-undangannya tidak jelas, hakim wajib menafsirkannya
sehingga ia dapat membuat keputusan yang adil dan sesuai dengan maksud hukum yaitu
mencapai kepastian hukum. Atas dasar itulah, menafsirkan peraturan perundang-
undangan adalah kewajiban hukum dari hakim. 86
Sekalipun penafsiran merupakan kewajiban hukum dari hakim, ada beberapa
pembatasan mengenai kemerdekaan hakim untuk menafsirkan peraturan perundang-
undangan. Logemann mengatakan bahwa hakim harus tunduk kepada pembuat undang-
undang. Dalam hal kehendak itu tidak dapat dibaca begitu saja dari kata-kata peraturan
perundang-undangan, hakim harus mencarinya dalam kata-kata tersebut. Hakim wajib
mencari kehendak pembuat undang-undang, karena ia tidak boleh membuat tafsiran
yang tidak sesuai dengan kehendak pembuat undang-undang. Atas dasar itu hakim tidak
diperkenankan menafsirkan undang-undang secara sewenang-wenang. Hakim tidak
boleh menafsirkan kaidah yang mengikat, kecuali hanya penafsiran yang sesuai dengan

81 Ahmad Kamil dan M. Fauzan, Op.cit., hal. 27.


82 Wawancara dengan Mahmud Aziz (tenaga ahli Mahkamah Konstitusi) tanggal 25 Januari 2007
83 K.C. Wheare, Modern Constitution, Oxford University Press, 1966 dalam Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu

Hukum Tata Negara, Jilid I, Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Jakarta.
2006 (selanjutnya disingkat Jimly Asshiddiqie III), hal. 273.
84 R.M. Ananda. B. Kusuma, “Bagaimana Menginterpretasikan Konstitusi Kita,” Jurnal Konstitusi Volume I Nomor 3,

Jakarta, 2005, hal. 157.


85 Ibid, hal. 157-158.
86 Utrecht, Pengantar Dalam Hukum Indonesia, PT. Ichtiar Baru, Jakarta, 1959, hlm. 250 sebagimana dikutip

Bambang Sutiyoso, Metode Penemuan Hukum: Upaya Mewujudkan Hukum Yang Pasti Dan Berkeadilan, UII Press,
Yogyakarta, 2006 (selanjutnya disingkat Bambang Sutiyoso II), hal. 70.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

maksud pembuat undang-undang saja yang menjadi tafsiran yang tepat. 87 Menurut
Polak, cara penafsiran ditentukan oleh: a. Materi peraturan perundang-undangan yang
bersangkutan; b. Tempat perkara diajukan; dan c. Menurut zamannya. 88
Penafsiran tidak hanya dilakukan oleh hakim, tetapi juga peneliti hukum dan mereka
yang berhubungan dengan kasus (konflik) dan peraturan-peraturan hukum. Yang
dimaksud penafsiran oleh hakim adalah penafsiran dan penjelasan yang harus menuju
kepada penerapan atau tidak menerapkan suatu peraturan hukum umum terhadap
peristiwa konkret yang dapat diterima oleh masyarakat. 89 Namun penafsiran hukum
oleh hakim mendapatkan posisi yang paling penting dalam hukum karena memiliki
karakteristik yang mengikat.
Landasan yuridis yang memberikan kewenangan kepada hakim untuk melakukan
penafsiran hukum adalah ketentuan yang menyatakan bahwa hakim tidak boleh
menolak perkara yang dihadapkan kepadanya dan hakim wajib menggali nilai-nilai yang
hidup di dalam masyarakat. Hal tersebut tergambar dalam beberapa ketentuan antara
lain:
1. Pasal 22 A.B Algemene Bepalingen van wetgeving voor Indische, yang disingkat
A.B (ketentuan-ketentuan Umum tentang Peraturan perundang-undangan
Indonesia). Pasal 22 A.B mengandung pengertian: “Hakim yang menolak untuk
menyelesaikan suatu perkara dengan alasan bahwa peraturan perundang-
undangan yang bersangkutan tidak menyebutkan, tidak jelas atau tidak lengkap,
maka ia dapat dituntut, untuk dihukum karena tidak mengadili.” Dengan
demikian, hakim memmpunyai kewenangan untuk menciptakan hukum (judge
made law). 90
2. Dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Pokok-pokok Kekuasaan
Kehakiman. Dalam Pasal 16 ayat (1) disebutkan: “Pengadilan tidak boleh
menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan
dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk
memeriksa dan mengadilinya.” Kemudian, Pasal 28 ayat (1) berbunyi: “Hakim
wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan
yang hidup dalam masyarakat.”
Secara doktrinal atau ajaran para ahli hukum, kewenangan hakim untuk melakukan
penafsiran hukum dapat ditelusuri dari pendapat Paul Scholten dan Rescoe Pound.
Scholten menyatakan bahwa: “hukum memang ada di dalam undang-undang, tetapi
masih harus ditemukan.” Hal ini menunjukkan bahwa maksud dari suatu undang-undang
itu tidak hanya dapat dipahami lewat membaca teks undang-undang saja, tetapi juga
perlu ada pemaknaan atau pemberian makna dari teks yang tertulis.
Sedangkan Pound menyebutkan “Law is a tool of social engineering.” Ungkapan
Pound tersebut mengkonstruksikan hukum berperan sebagai alat rekayasa sosial. Bahkan
lebih dari itu, justru dipundak hukum juga mempunyai misi agar sektor hukum tersebut
dapat secara aktif memodernisasi masyarakat. 91 Hukum (law) yang dimaksud oleh
Pound di atas bukanlah berarti undang-undang, melainkan keputusan hakim. 92 Ajaran

87 Ibid.
88 Ibid, hal. 80
89 Bambang Sutiyoso II, hal. 79.
90 Ahmad Kamil dan M. Fauzan, Kaidah-kaidah Hukum Yurisprudensi, Cet II, Kencana, Jakarta, 2005, hal. 9. hal ini

dikuatkan oleh Mahmud Aziz (Tenaga Ahli Mahkamah Konstitusi RI) dalam wawancara yang dilakukan pada tanggal 25
Januari 2007
91 Munir Fuady, Aliran Hukum Kritis (Paradigma Ketidakberdayaan Hukum), Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003, hal.

11.
92 Firman Muntaqo, Meretas Jalan Bagi Pembangunan Tipe Hukum Progresif melalui Pemahaman Terhadap Peranan

Mazhab Hukum Positivis dan Non Positivis dalam Kehidupan Berhukum Di Indonesia, dalam Satjipto Rahardjo, Membedah
Hukum Progresif, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2006, hal. 166.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

yang digagas oleh Rescoe Pound, yang menekankan pentingnya peranan pengadilan
dalam merubah masyarakat itu disebut ajaran atau mazhab realisme hukum. 93 Realisme
hukum kemudian mempengaruhi pemikiran hukum modern yang erkembang di Amerika
dan Skandinavia. Realisme hukum pada dasarnya meninggalkan pembicaraan mengenai
hukum yang abstrak dan melibatkan hukum kepada pekerjaan praktis untuk
menyelesaikan problem-problem dalam masyarakat. 94 Bahkan lebih lanjut pandangan
seperti ini dapat sampai pada mazhab hukum bebas (Freirechtslehre) di mana hakim
bebas melakukan penafsiran hukum.

B. Penafsiran Hukum pada umumnya


1. Penafsiran hukum menurut Utrecht
Dalam ilmu hukum dan praktik peradilan, dikenal beberapa macam metode
penafsiran, yang paling sering ditemui adalah metode-metode yang dikemukakan oleh
Utrecht. Menurut Utrecht, penafsiran undang-undang dapat dilakukan dengan 5 (lima)
metode penafsiran, 95 yang terdiri dari:
1. Penafsiran menurut arti kata atau istilah (taalkundige interpretasi)
Penafsiran yang menekankan kepada arti atau makna kata-kata yang tertulis
(word). Utrecht memberikan penjelasan tentang penafsiran menurut kata atau
istilah (taalkundige interpretasi) ini, yaitu kewajiban dari hakim untuk mencari
arti kata dalam undang-undang dengan cara membuka kamus bahasa atau
meminta keterangan ahli bahasa. Kalaupun belum cukup, hakim harus
mempelajari kata tersebut dalam susunan kata-kata kalimat atau hubungannya
dengan peraturan-peraturan lainnya. Cara penafsiran ini, menurut Utrecht,
merupakan penafsiran pertama yang ditempuh atau usaha permulaan untuk
menafsirkan. 96 Penafsiran yang demikian ini sama dengan penafsiran gramatikal
yang melakukan penafsiran berdasarkan bahasa.
2. Penafsiran historis (historische interpretatie)
Metode penafsiran dengan sejarah hukum menurut pendapat Utrecht,
mencakup dua pengertian, yaitu (i) penafsiran sejarah perumusan undang-
undang dan (ii) penafsiran sejarah hukum itu sendiri, yaitu melalui penafsiran
sejarah hukum yang bertujuan mencari makna yang dikaitkan dengan konteks
kemasyarakatan masa lampau. 97 Dalam arti sempit, yaitu penafsiran sejarah
undang-undang adalah penafsiran yang ditarik dari risalah-risalah sidang dan
dokumen-dokumen yang terkait dengan pembahasan suatu peraturan
perundang-undangan. Sedangkan pada bagian ini diuraikan mengenai metode
penafsiran historis dalam arti luas.
Dalam hal ini, untuk mencari dan menemukan makna historis suatu
pengertian normatif dalam undang-undang, penafsiran juga harus merujuk
pendapat-pendapat pakar dari masa lampau. Termasuk pula merujuk kepada
hukum-hukum masa lalu yang relevan. Menurut Utrecht, penafsiran dengan cara
demikian dilakukan dengan cara menafsirkan suatu naskah menurut sejarah
hukum (rechtisstorische interpretatie). Penafsiran historis demikian itu dilakukan
pula dengan menyelidiki asal usul naskah dari sistem hukum yang pernah
berlaku, termasuk pula meneliti asal naskah dari sistem hukum lain yang masih

93 Ibid.
94 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002, hal. 300.
95 Utrecht, Pengantar Dalam Hukum Indonesia, disadur dan direvisi oleh Muh. Saleh Djindang, cet. XI, PT. Ichtiar

baru: Jakarta, 1983, hal. 208-217. dalam Jimly Asshiddiqie III, Op. Cit., hal. 280-282.
96 Ibid, hal. 290.
97 Utrecht, Op.cit., dalam Jimly Asshiddiqie III, ibid, hal. 294.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

diberlakukan di negara lain. 98 Bagi hakim, menurut Scholten, maka penafsiran


berdasarkan kebutuhan praktik. Pada umumnya yang terpenting bagi hakim ialah
mengetahui maksud pembuatan naskah hukum pada waktu ditetapkan. Hukum
bersifat dinamis dan perkembangan hukum mengikuti perkembangan
masyarakat. Oleh karena itu, maka yang dapat diberikan kepada suatu kata
dalam naskah hukum positif sekarang berbeda dengan maknanya pada waktu
ditetapkan. Oleh sebab itu pula, penafsiran menurut sejarah hakikatnya hanya
merupakan pedoman saja. 99
Akan tetapi, penafsiran historis tidak hanya menelaah risalah sebagai story
perumusan naskah, tetapi juga menelaah sejarah sosial, politik, ekonomi dan
social event lainnya ketika rumusan naskah tersebut dibahas. Artinya, penafsiran
historis bisa merambah kepenafsiran sosio-historis baik dari aspek sosial,
ekonomi, politik dan kejadian-kejadian penting yang memberi nuansa kepada
sebuah naskah hukum. Misalnya, ketika pasal 33 Undang Undang Dasar 1945
dirumuskan, suasana anti-kolonialisme sedang marak, sehingga penolakan yang
berlatar belakang liberalisme dan kapitalisme sangat kuat dan sangat logis terjadi
ketika itu. 100
Latar belakang yang sama juga dapat menjadi sebab mengapa hak asasi
manusia sangat kurang dirinci dalam rumusan Undang Undang Dasar 1945 versi
aslinya. Memang benar bahwa hak asasi manusia ada kaitannya dengan
individualisme yang menjadi basis paham liberalisme ekonomi, politik dan
kapitalisme dalam bidang ekonomi. Akan tetapi, ketika pasal 33 ditafsirkan pada
tahun 2005 atau 50 tahun kemudian, apakah konteks sosio-historis tahun 1945
harus ditanggalkan? Sepanjang kekuatan argumentasi dapat menunjukkan bahwa
liberalisme memang terbukti benar-benar mengancam sistem ekonomi global,
maka apapun alasannya liberalisme ekstrim harus ditolak dan prinsip penguasaan
negara harus dipertahankan dengan penyesuaian di sana-sini. 101
3. Penafsiran sistematis
Metode ini menafsirkan menurut sistem yang ada dalam hukum (systematische
interpretatie, dogmatische interpretatie) itu sendiri. Artinya menafsirkan dengan
memperhatikan naskah-naskah hukum lain. Jika yang ditafsirkan adalah pasal dari
suatu undang-undang, maka ketentuan-ketentuan yang sama apalagi satu asas dalam
peraturan lainnya juga harus dijadikan acuan. 102 Dalam penafsiran ini, sebagaimana
telah diuraikan sebelumnya, makna formulasi sebuah kaidah hukum atau makna dari
sebuah istilah yang ada di dalamnya ditetapkan lebih jauh dengan mengacu pada
hukum sebagai sistem. Langkah yang dilakukan yaitu dengan mencari makna kata-
kata yang terdapat di dalam suatu peraturan yang ada kaitannya dan melihat pula
pada kaidah-kaidah lainnya. Menurut Visser’t Hoft, dalam sebuah sistem hukum
yang menitik beratkan pada kodifikasi, maka merujuk pada sistem undang-undang
atau kitab undang-undang merupakan hal biasa. Perundang-undangan adalah sebuah
sistem. Ketentuan-ketentuan yang ada di dalamnya saling berhubungan, sekaligus
saling menentukan makna. Akan tetapi pada dalam tatanan hukum yang tidak
terkodifikasi, merujuk kepada sistem dimungkinkan sepanjang karakter sistematis
dapat diasumsikan (diandaikan). 103
4. Penafsiran sosiologis/teleologis

98 Ibid., hal. 209. dalam Jimly Asshiddiqie III, hal. 295


99 Ibid.
100 ibid.
101 Ibid.
102 Ibid. hal. 212 –213.
103 Ph.Visser’t Hoft, Op.cit. dalam Jimly Asshiddiqie III, ibid., hal. 293.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

Konteks sosial ketika suatu naskah dirumuskan dapat dijadikan perhatian untuk
menafsirkan naskah yang bersangkutan. Peristiwa yang terjadi dalam masyarakat
acapkali mempengaruhi legislator ketika naskah hukum itu dirumuskan. Misalkan
pada kalimat “dipilih secara demokratis” dalam Pasal 18 ayat (4) Undang Undang
Dasar 1945 yang menyatakan, “Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing
sebagai kepala pemerintahan daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara
demokratis.” 104
Metode penafsiran teleologis memusatkan perhatian pada persoalan, apa tujuan
yang hendak dicapai oleh norma hukum yang ditentukan dalam teks (what does the
articles would like to achieve). Penafsiran ini difokuskan pada penguraian atau
formulasi kaidah-kaidah hhukum menurut tujuan atau jangkauannya. Tekanan
tafsiran pada fakta bahwa pada kaidah hukum terkandung tujuan atau asas sebagai
landasan dan bahwa tujuan dan atau asas tersebut mempengaruhi interpretasi.
Dalam penafsiran yang demikian ini juga diperhitungkan konteks kenyataan
kemasyarakatan aktual. 105
Utrecht tidak mengenal penafsiran teleologis, sedangkan menurut Hoft,
penafsiran seperti ini dilakukan dengan cara mengacu kepada formulasi norma
hukum menurut tujuan dan jangkauannya. Dalam menafsirkan secara teleologis,
fokus perhatian adalah fakta bahwa pada norma hukum mengandung tujuan yang
menjadi dasar atau asas sekaligus mempengaruhi interpretasi. Bisa jadi suatu norma
mengandung fungsi atau mengandung maksud unutk melindungi kepentingan
tertentu, sehingga ketika ketentuan itu diterapkan, maksud tersebut harus dipenuhi.
Penafsiran teleologis juga memperhitungkan konteks fakta kemasyarakatan aktual.
Cara ini tidak terlalu diarahkan untuk menemukan pertautan pada kehendak dari
pembentuk undang-undang pada waktu perumusannya. Maksudnya, lebih diarahkan
kepada makna aktual atau makna objektif norma yang ditafsirkan, sebagaimana
telah disinggung sebelumnya. 106
Panafsiran sosiologis/teleologis ini melihat tujuan hukum sebagai kenyataan
dalam masyarakat. Keberadaan hukum dalam memenuhi tujuan-tujuan
kemasyarakatan secara proporsional pernah disebutkan oleh Satjipto Rahardjo
bahwa: “Hukum adalah untuk manusia dan bukan sebaliknya,.. dan hukum itu tidak
ada untuk dirinya sendiri, melainkan untuk sesuatu yang lebih luas, yaitu,.. untuk
harga diri manusia, kebahagiaan, kesejahteraan, dan kemuliaan manusia.” 107
5. Penafsiran otentik atau resmi (authentieke atau officiele interpretatie)
Penafsiran otentik atau resmi (authentieke atau officiele interpretatie) menurut
Utrecht, merupakan penafsiran sesuai dengan tafsiran yang dinyatakan oleh pembuat
undang-undang (legislator) dalam undang-undang itu sendiri. 108 Misalnya, arti kata
yang dijelaskan dalam pasal atau dalam penjelasannya. Menurut Sudikno dan Pitlo,
penafsiran yang demikian hanya boleh dilakukan berdasarkan makna yang sudah
jelas dalam undang-undang. 109

104 Jimly Asshiddiqie III, hal. 276.


105 Visser’t Hoft, Op.Cit., hal 30. dalam Jimly Asshiddiqie III, ibid, hal. 297.
106 Jimly Asshiddiqie III, Op.Cit., hal. 297.
107 Firman Muntaqo, Op.cit., hal. 151.
108 Utrecht, dalam Jimly Asshiddiqie III, Op.cit., hal.292.
109 Jimly Asshiddiqie III.Op.Cit.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

2. Penafsiran lainnya
Disamping kelima metode di atas, para ahli hukum juga banyak menyebutkan
metode penafsiran hukum lainnya. Metode yang dimaksud adalah yang dikemukakan
oleh Visser’t Hoft, 110 Sudikno Mertokusumo, A. Pitlo, 111 Achmad Ali, 112 Ronal Dworkin, 113
Jimly Asshiddiqie, 114 dan Bambang Sutiyoso. 115 Metode dari para ahli tersebut dapat
dikumpulkan sebagai berikut:
1. Penafsiran Subsumptif
2. Penafsiran Komparatif
3. Penafsiran Antisipatif/Futuristis
4. Penafsiran Restriktif
5. Penafsiran Ekstensif
6. Penafsiran Interdisipliner
7. Penafsiran Multidisipliner
8. Penafsiran Dalam Kontrak atau Perjanjian
9. Penafsiran Evolutif-Dinamis
10. Creative Interpretation
11. Artistic Interpretation
12. Social Interpretation
13. Constructive Interpretation
14. Literal Interpretation
15. Conversational Interpretation
16. Teori Penafsiran Sosio-historis
17. Teori Penafsiran Filosofis
18. Teori Penafsiran Holistik
19. Teori Penafsiran Holistik Tematis-sistematis

110 Visser’t Hoft mengemukakan 7 (tujuh) model penafsiran hukum, yaitu: Penafsiran Gramatikal atau interpretasi

bahasa, Penafsiran Sistematis, Penafsiran Sejarah Undang-undang, Penafsiran Sejarah Hukum, Penafsiran Teleologis,
Penafsiran Antisipatif, Penafsiran Evolutif-Dinamis. Lihat Ph. Visser’t Hoft, Penemuan Hukum, judul asli Rechtsvinding,
diterjemahkan oleh B. Arief Sidharta, Laboratorium FH Univ Parahiyangan: Bandung, 2001, hal. 15. dalam Jimly
Asshiddiqie III. ibid., hal. 282.
111 Sudikno dan A. Pitlo mengemukakan 8 (delapan) pembedaan jenis-jenis penafsiran atau interpretasi, yaitu:

Interpretasi menurut bahasa, Interpretasi Sosiologis atau Teleologis, Interpretasi Sistematis, Interpretasi Historis,
Interpretasi Komparatif, Interpretasi Futuristik, Interpretasi Restriktif, dan Interpretasi Ekstensif. Lihat Sudikno
Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, Citra Aditya bakti berkerja sama dengan Konsorsium
Ilmu Hukum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan The Asia Foundation, Bandung, 1993, hal. 14-20.
112 Achmad Ali menambahkan interpretasi subsumptif sebagai salah satu jenis interpretasi yang kita anut dewasa ini.

Interpretasi ini melengkapi jenis-jenis interpretasi yang disampaikan oleh Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo. Lihat Ahmad
Ali, Op.cit., hal. 163.
113 Dworkin mempunyai pendapat yang berbeda lagi mengenai metode-metode penafsiran. Dworkin
mengidentifikasi ada 6 (enam) model interpretasi dalam ilmu hukum, yaitu: Creative Interpretation, Artistic Interpretation,
Social Interpretation, Constructive Interpretation, Literal Interpretation, Conversational Interpretation. Ronald Dworkin,
Law’s Empire, (Cambridge, Massachusetts, London, England: The Belknap of Harvard University Press, 1986). Dalam
Jimly Asshiddiqie III. Ibid., hal 286-289.
114 Jimly Asshiddiqie dalam bukunya Teori dan Aliran Penafsiran Hukum Tata Negara, menguraikan ada 9 (sembilan)

teori penafsiran dalam Hukum Tata Negara, yaitu: Teori Penafsiran Letterlijk atau harfiah, Teori Penafsiran Gramatikal
atau interpretasi bahasa, Teori Penafsiran Historis, Teori Penafsiran Sosiologis, Penafsiran Sosio-historis, Penafsiran
Filosofis, Penafsiran Teleologis, Teori Penafsiran Holistik, Penafsiran Holistik Tematis-sistematis. Jimly Asshiddiqie, Teori &
Aliran Penafsiran Hukum Tata Negara, Cet. I, Ind.Hill Co: Jakarta, 1997, hlm 17-18. dalam Jimly Asshiddiqie III. Ibid., hal
274.
115 Bambang Sutiyoso menyebutkan penafsiran hukum terbagi atas 13 (tiga belas), yaitu: subsumptif, gramatikal,

sistematis, historis, teleologis/sosiologis, komparatif, antisipatif-futuristik, ekstensif, restriktif, interdisipliner, multidisipliner,


otentik, dan interpretasi dalam kontak atau perjanjian. Lihat Bambang Sutiyoso II, Op.cit., hal. 79.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

C. Prinsip-prinsip Pernafsiran Konstitusi Menurut Jon Roland


Jon Roland, salah seorang senator Amerika Serikat yang memiliki intensi yang tinggi
terhadap hukum konstitusi telah mengemukakan prinsip-prinsip mengenai penafsiran
konstitusi (Principles of Constitutional Interpretation) yang dibedakannya menjadi 7
(tujuh) prinsip, 116 yaitu:
1. Textual
Penafsiran tekstual didasarkan pada kata-kata yang aktual dari hukum tertulis, jika
makna dari kata-kata tersebut tidak ambigu. Karena pada dasarnya hukum adalah
sebuah perintah, maka ia harus diartikan seperti apa makna yang dimaksud pembuat
hukum (tertulis). Dan jika maksud kata digunakan dalam suatu peristiwa, maka
analisis tekstual dari kata-kata harus seperti pemahaman yang diinginkan pembuat
undang-undang, yang mana untuk konstitusi dapat dipahami dari persetujuan yang
disahkan, jika hal tersebut tidak jelas, maka dicari dari pembuat naskah. 117
Penafsiran tekstual adalah penafsiran yang tidak lari dari teks atau naskah hukum
tertulis. Penafsiran ini bersifat restriktif karena membatasi penafsiran pada ketentuan
yang telah ada dari teks tertulis yang akan ditafsirkan. Disamping penafsiran
restriktif, 118 penafsiran letterlijk/harfiah, arti kata atau istliah, 119 penafsiran
gramatikal, 120 bahkan penafsiran otentik 121 dapat dimasukkan sebagai bagian dari
penafsiran tekstual. salah satu cara penerapan penafsiran tekstual dapat dilakukan
dengan cara subsumptif, yaitu dengan menggunakan logika silogisme. 122
Silogisme ini cuma bentuk lain dari cara berpikir deduksi. 123 Silogisme merupakan
percocokan dari dua simpulan (premis), yang terdiri dari major premis dan minor
premis. Contoh yang paling masyhur tentang cara berpikir silogisme ini dari abad ke
abad, dalam simpulan tiga serangkai ini, yang selalu digunakan nama sokrates, guru
dari Plato dan Aristoteles. 124

116 Jon Roland, Principles of Constitutional Interpretation, the Constitution Society, diakses dari
http://www.constitution.org/cons/prin_cons.html, (4 April 2006)
117 Dalam pengertian sebenarnya, Roland menyebutkan Textual Interpretation sebagai Decision based on the actual

words of the written law, if the meaning of the words is unambiguous. Since a law is a command, then it must mean what
it meant to the lawgiver, and if the meaning of the words used in it have changed since it was issued, then textual analysis
must be of the words as understood by the lawgiver, which for a constitution would be the understanding of the ratifying
convention or, if that is unclear, of the drafters. Some Latin maxims: A verbis legis non est recedendum. From the words of
the law there is not any departure. 5 Coke 118. Noscitur à sociis. Meaning of words may be ascertained by associated
words. 3 T.R. 87.
118 Lihat pendapat Sudikno dan A. Pitlo dalam bukunya Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, Penafsiran Restriktif

adalah penafsiran yang bersifat membatasi, yaitu untuk menjelaskan suatu ketentuan undang-undang (teks: penulis) yang
ruang lingkupnya dibatasi. Bandingkan dengan pendapat Bambang Sutiyoso yang menyebutkan Penafsiran Restriktif
adalah penafsiran yang digunakan untuk menjelaskan suatu ketentuan undang-undang di mana ruang lingkup ketentuan
itu dibatasi dengan bertitik tolak pada artinya menurut bahasa. Atau merupakan metode interpretasi yang bersifat
membatasi.
119 Lihat pendapat Jimly Asshiddiqie yang menyebutkan Penafsiran Letterlijk atau harfiah adalah penafsiran yang

menekankan kepada arti atau makna kata-kata yang tertulis (word). Pendapat Jimly sejalan dengan Utrecht yang
memberikan penjelasan tentang penafsiran menurut kata atau istilah (taalkundige interpretasi) sebagai kewajiban dari
hakim untuk mencari arti kata dalam undang-undang dengan cara membuka kamus bahasa atau meminta keterangan ahli
bahasa. Kalaupun belum cukup, hakim harus mempelajari kata tersebut dalam susunan kata-kata kalimat atau
hubungannya dengan peraturan-peraturan lainnya.
120 Lihat pendapat Visser’t Hoft sebagaimana dikutip oleh Jimly Asshiddiqie. Penafsiran Gramatikal adalah penafsiran

yang menekankan kepada makna teks yang di dalamnya kaidah hukum dinyatakan. Penafsiran dengan cara demikian
bertolak dari makna menurut pemakaian bahasa sehari-hari atau makna teknis-yuridis yang lazim atau dianggap sudah
baku. Pendapat Utrecht tentang Penafsiran menurut kata atau istilah melingkupi juga penafsiran gramatikal ini. Sedangkan
Sudikno menambahkan bahwa penafsiran gramatikal dapat terbatas pada sesuatu yang otomatis, yang tidak disadari,
yang selalu kita rasakan pada saat kita membaca, dan hasil interpretasinya bisa lebih mendalam dari teks aslinya, Sudikno,
ibid, hal. 15.
121 Penafsiran otentik adalah penafsiran resmi yang ditemukan dalam naskah undang-undang
122 Lihat pendapat Bambang Sutiyoso tentang penafsiran subsumptif
123 Tan Malaka, Madilog, Cet I, Pusat Data Indikator, Jakarta, 1999, hal. 192.
124 Ibid

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

a. “Semua manusia bakal mati” – major premis (simpulan besar atau hukum)
b. “Sokrates manusia juga” – minor premis (simpulan kecil atau peristiwa)
c. “Sokrates itu bakal mati” – conclusion (simpulan akhir atau putusan)

2. Historical
Dalam Penafsiran Historis atau Historical Interpretation, keputusan sedikit sekali
didasarkan pada kata-kata yang aktual dalam undang-undang, melainkan lebih
didasarkan kepada pemahaman yang diungkapkan dari sejarah naskah dan pengesahan
undang-undang tersebut, demikian juga terhadap konstitusi atau aturan dasar. Kadang-
kadang penafsiran ini disebut sebagai sejarah legislasi, dan untuk putusan pengadilan
disebut sejarah kasus. Suatu analisa tekstual dari kata-kata yang diartikan bersentuhan
dengan analisa sejarah. 125
Karena merupakan pendekatan sejarah, Historical Interpretation tidak bertitik tolak
dari asas-asas hukum yang abstrak, betapa rasional pun, tetapi bersumber pada tradisi-
tradisi yuridis nasional, 126 yang merupakan gambaran dari kesadaran nasional bangsa
atau jiwa bangsa (volksgeist). Jiwa ini muncul secara alami ke permukaan di dalam
hukum kebiasaan setiap bangsa. 127
Historical Interpretation mencoba meninjau kembali konstruksi pemikiran dan
semangat masa lalu, kemudian menggunakan hal tersebut sebagai landasan yang original
dalam memutus perkara aktual. Hal ini dapat dilihat dari risalah sidang, makalah, buku
yang diterbitkan, dan lain-lain media yang merekam intensi para pembuat undang-
undang serta suasana pada saat undang-undang itu di buat.

3. Functional.
Dalam penafsiran fungsional (functional) atau disebut juga struktural, keputusan
didasarkan dari struktur hukum dan bagaimana aturan tersebut diharapkan jelas
keterkaitannya, sebuah sistem yang harmonis. 128
Functional interpretation melihat hukum sebagai suatu sistem yang harmonis.
Harmonisasi hukum itu dapat berupa keterkaitan secara horizontal, sesama undang-
undang, maupun yang bersifat vertikal. Disamping meninjau keterkaitan antara norma
hukum, functional interpretation juga mempertimbangkan bagaimana kemungkinan-
kemungkinan yang terjadi dalam operasionalisasi suatu undang-undang. Jadi, ia juga
bersifat antisipatif, tetapi antisipatif yang dimaksud di sini adalah antisipatif yang terikat
pada penerapan suatu norma hukum dengan aturan hukum dibawahnya, bukan norma
hukum itu sendiri yang bersifat antisipatif.

125 Menurur Roland, Keputusan dengan penafsiran historis “based less on the actual words than on the understanding

revealed by analysis of the history of the drafting and ratification of the law, for constitutions and statutes, sometimes called
its legislative history, and for judicial edicts, the case history. A textual analysis for words whose meanings have changed
therefore overlaps historical analysis. It arises out of such Latin maxims as Animus hominis est anima scripti. Intention is the
soul of an instrument.”
126 John Gilissen dan Frits Gorle, Sejarah Hukum: Suatu Pengantar, judul asli Historische Inleiding tot het Recht

disadur oleh Freddy Tengker, editor Lili Rasjidi, Refika Aditama, Bandung, 2005, hal. 15.
127 Ibid
128 Menurut Roland, “Functional interpretation Also called structural. Decision based on analysis of the structures the

law constituted and how they are apparently intended to function as a coherent, harmonious system. A Latin maxim is
Nemo aliquam partem recte intelligere potest antequam totum perlegit. No one can properly understand a part until he
has read the whole.”

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

4. Doctrinal.
Dalam Penafsiran Doktrinal, keputusan didasarkan kepada praktik yang berlaku atau
pendapat hukum dari ahli hukum, terutama legislatif, eksekutif, atau yurisprudensi
pengadilan, yang dijadikan sebagai prinsip untuk digunakan bagi keputusan pengadilan,
yaitu tidak sebagai suatu nasehat belaka tetapi bersifat normatif. 129
Disamping pendapat atau putusan dari lembaga-lembaga hukum, Doctrinal
interpretation juga dapat bersumber dari pendapat-pendapat ahli dari bidang ilmu lain
seperti ekonomi, sosial, dan lain sebagainnya.
Doctrinal interpretation melakukan penafsiran berdasarkan sumber-sumber hukum,
yaitu dari sesuatu yang dianggap sebagai sebuah doktrin. Doktrin-doktrin tersebut lahir
pada masa lalu, namun hal tersebut harus dibedakan dengan penafsiran berdasarkan
sejarah (historical interpretation) karena doktrin-doktrin tidak dimaknai sebagai sumber
hukum yang berdasarkan waktu kelahirannya (tempus), melainkan dari kaidah-
kaidahnya yang berlaku lama.

5. Prudential.
Keputusan berdasar pada faktor di luar hukum atau kepentingan para pihak
(masyarakat) dalam perkara, seperti memberi batas waktu yang harus dipenuhi pejabat
publik, efisiensi kinerja pemerintah, menghindarkan dari pengaruh banyak hal, atau dari
tekanan politis. seperti satu pertimbangan, menghindari mengganggu suatu kegiatan
suatu lembaga, juga motivasi yang utama untuk metoda yang berkenaan dengan
doktrin. juga meliputi seperti pertimbangan apakah suatu kasus adalah " siap"
diputuskan, atau apakah perbaikan yang administratif menjelang diambil keputusan. 130
Prudential Interpretation berorientasi kepada kebijaksanaan yang dilahirkan dari
sebuah putusan. Ia berupaya menciptakan kondisi terbaik untuk memutus suatu perkara.
Beberapa putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dapat dikategorikan
menggunakan metode penafsiran prudensial, antara lain: putusan pengujian Undang-
undang APBN berkaitan prioritas alokasi anggaran pendidikan sedikitnya sebesar 20%
dari total APBN. 131 Undang-undang APBN yang tidak secara eksplisit memprioritaskan
anggaran pendidikan sebesar 20% adalah bertentangan dengan Undang Undang Dasar,
tetapi Mahkamah Konstitusi tidak serta-merta membatalkan ketentuan Undang-undang
APBN yang belum meletakkan 20% dari total APBN untuk anggaran pendidikan,
karena bila ketentuan itu dibatalkan, maka akan diberlakukan Undang-undang APBN
tahun lalu yang lebih sedikit persentasenya untuk anggaran pendidikan.
Disamping itu, contoh lain penggunaan metode penafsiran prudensial dapat dilihat
dalam Putusan Perkara Nomor 012-016-019/PUU-IV/2006 tentang Pengujian Undang-
undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Terhadap Pasal

129 Menurut Roland, Keputusan dengan Penafsiran Doktrinal” Decision based on prevailing practices or opinions of

legal professionals, mainly legislative, executive, or judicial precedents, according to the meta-doctrine of stare decisis,
which treats the principles according to which court decisions have been made as not merely advisory but as normative.
Some Latin maxims are: Argumentum à simili valet in lege. An argument from a like case avails in law. Coke, Littleton, 191.
Consuetudo et communis assuetudo ... interpretatur legem scriptam, si lex sit generalis. Custom and common usage ...
interpret the written law, if it be general. Jenk. Cent. 273. Cursus curiæ est lex curiæ. The practice of the court is the law of
the court. 3 Buls. 53. Judiciis posterioribus fides est adhibenda. Credit is to be given to the latest decisions. 13 Coke 14. Res
judicata pro veritate accipitur. A thing adjudicated is received as true.”
130
Menurut Roland, Dalam Penafsiran Prudensial “Decision based on factors external to the law or interests of the
parties in the case, such as the convenience of overburdened officials, efficiency of governmental operations, avoidance of
stimulating more cases, or response to political pressure. One such consideration, avoidance of disturbing a stable body of
practices, is also the main motivation for the doctrinal method. It also includes such considerations as whether a case is
"ripe" for decision, or whether lesser or administrative remedies have first been exhausted. A Latin maxim is Boni judicis est
lites dirimere. The duty of a good judge is to prevent litigation.”
131 Undang-undang APBN yang dimaksud adalah Undang-undang Nomor 36 Tahun 2004 yang diputus tidak dapat

diterima (Niet Ovankelijke verklaar) oleh Mahkamah Konstitusi dan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2005 yang
permohonannya dikabulkan sebagian oleh Mahkamah Konstitusi

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

53 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi


yang mengatur keberadaan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Pengadilan Tipikor).
Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa keberadaan Pengadilan Tipikor dalam
Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi adalah
bertentangan dengan Undang Undang Dasar. Tetapi Mahkamah Konstitusi memberi
tenggang waktu peralihan secara mulus (smooth transition) selama 3 (tiga) tahun kepada
pemerintah untuk membuat undang-undang khusus tentang Pengadilan Tipikor. Bila
dalam waktu yang ditentukan itu pemerintah belum merampungkan Undang-undang
Pengadilan Tipikor, maka perkara korupsi hanya dapat diajukan ke pengadilan negeri
saja.

6. Equitable.
Penafsiran Ekuitabel atau Equitable Interpretationa bisa juga disebut penafsiran etis.
Dimana keputusan didasarkan pada perasaan keadilan, keseimbangan kepentingan dari
para pihak, dan apa yang baik dan buruk, tanpa memperhatikan apa hukum (tertulis).
Sering kali ditempatkan pada kasus di mana fakta tidak cukup untuk mengantisipasi atau
memadai dari pembuat undang-undang. Beberapa sarjana menaruh berbagai ukuran
keseimbangan dari kepentingan dan nilai-nilai dalam kategori kebijaksanaan. Tetapi
tindakan itu lebih baik digunakan untuk membedakan kebijaksanaan sebagai
keseimbangan antara kepentingan dan nilai-nilai dalam sistem hukum dari pada
kepatutan (equitable) sebagai keseimbangan antara kepentingan dan nilai-nilai antara
para pihak. 132
Ciri pokok dari equitable interpretation adalah adanya dua atau lebih variabel yang
dipertimbangkan oleh hakim. Dua atau lebih variabel itu diakomodasi secara
proposional. Hal ini berbeda dengan penafsiran perbandingan (comparative
interpretation), bila comparative interpretation hanya memaparkan dua atau lebih
variabel secara deskriptif, maka equitable interpretation melihat variabel-variabel yang
ada sebagai hal yang dihimpun secara proporsional

7. Natural.
Dalam Penafsiran Natural, Keputusan didasarkan pada apa yang diwajibkan atau
anjuran dari hukum yang alamiah, atau barang kali dari sifat-sifat dasar manusia, dan
pada apa yang bersifat jasmaniah atau secara ekonomis mungkin atau dapat
dilakukan, atau pikiran yang bersifat aktual. 133
Penafsiran yang bersifat natural ini dapat dilihat dari putusan-putusan hakim yang
memaparkan benda-benda secara alamiah, baik itu perilaku manusia maupun
kejadian alam. Penafsiran ini, dalam putusan Mahkamah Konstitusi muncul dalam
bentuk pepatah-pepatah, seperti “buruk muka cermin dibelah.” Ungkapan seperti ini

132 Menurut Roland, dalam Equitable Interpretation, Also called ethical, decision based on an innate sense of justice,

balancing the interests of the parties, and what is right and wrong, regardless of what the written law might provide. Often
resorted to in cases in which the facts were not adequately anticipated or provided for by the lawgivers. Some scholars put
various balancing tests of interests and values in the prudential category, but it works better to distinguish between
prudential as balancing the interests and values of the legal system from equitable as balancing the interests and values of
the parties. It arises out of the Latin maxim, Æquitas est perfecta quædam ratio quæ jus scriptum interpretatur et emendat;
nulla scriptura comprehensa, sed sola ratione consistens. Equity is a sort of perfect reason which interprets and amends
written law; comprehended in no code, but consistent with reason alone”
133 Menurut Roland, dalam Penafsiran Natural, “Decision based on what is required or advised by the laws of nature,

or perhaps of human nature, and on what is physically or economically possible or practical, or on what is actually likely to
occur. This has its origin in such ancient Latin maxims as: Jura naturæ sunt immutabilia. The laws of nature are
unchangeable. Jacob. 63. Impossibilium nulla obligatio est. There is no obligation to do impossible things. D. 50, 17, 185.
Lex non cogit ad impossibilia. The law does not compel the impossible. Hob. 96. Lex neminem cogit ad vana seu inutilia
peragenda. The law requires no one to do vain or useless things. 5 Coke 21. Legibus sumptis desinentibus, lege naturæ
utendum est. Laws of the state failing, we must act by the law of nature.”

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

ada dalam putusan pengujian Undang-undang Ketenagalistrikan. “buruk muka cermin


dibelah” adalah istilah atau majas yang menggambarkan sifat atau perilaku manusia.
Contoh lain misalnya, “Air merupakan anugerah Tuhan, sebarannya mengalir dari
tempat tinggi menuju tempat yang rendah.” Hal demikianlah yang dimaksud dengan
penafsiran alamiah atau natural interpretation.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Pengujian Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 Tentang


Ketenagalistrikan

1. Pemohon dan Jenis Permohonan


Permohonan Pengujian Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang
Ketenagalistrikan terdiri dari 3 (tiga) nomor registrasi perkara, yaitu permohonan
dengan Nomor Registrasi 001/PUU-I/2003, 021/PUU-I/2003, dan 022/PUU-I/2003.
Permohonan pengujian undang-undang ini merupakan permohonan petama kali
yang diajukan oleh masyarakat (pemohon) dalam hal pengujian undang-undang oleh
pengadilan (judicial review) kepada Mahkamah Konstitusi. Perkara 001/PUU-I/2003
sebelumnya telah diajukan ke Mahkamah Agung sebelum terbentuknya Mahkamah
Konstitusi. Setelah terbentuknya Mahkamah Konstitusi pada bulan Agustus tahun
2003, perkara tersebut belum juga diputus oleh Mahkamah Agung, sehingga
perkaranya dilimpahkan ke Mahkamah Konstitusi.
Lebih rinci permohonan tersebut dapat diuraikan melalui tabel dibawah ini:
No Kategori 001 021 022
1 Pemohon APHI, PBHI, dan Ir. Daryoko dan M. Ir. Januar Muin dan Ir
Yayasan 324 Yunan Lubis,SH David Tomeng (IKPLN)
(Serikat Pekerja PT PLN)
2 Kategori Badan hukum privat Badan hukum privat (SP Perorangan atau
pemohon setidak-tidaknya PT PLN) setidak- kelompok orang yang
perorangan tidaknya perorangan tergabung dalam IKPLN
atau kelompok orang
3 Tanggal Registrasi 30 Desember 2002 17 Desember 2003 15 April 2003, setelah
permohonan (MA) diterima MK diperbaiki di terima MK
pada tanggal 15 pada tanggal 22
Oktober 2003 Desember 2003
4 Jenis Pengujian Pengujian formil dan Pengujian materil Pengujian materil
materil
5 Objek UU No 20 tahun Pasal 8 ayat (2) jo. Pasal Materi muatan [Pasal 8
permohonan 2002 secara 16 jo. Pasal 30 ayat (1) ayat (2), Pasa 16 Pasal
keseluruhan termasuk penjelasan dan 22, dan Pasal 68] dan
Pasal 17 ayat (3) huruf a konsideran menimbang
huruf b dan huruf c
Tabel.1. Pemohon dan Jenis Permohonan PUU Ketenagalistrikan

2. Bagian yang dimohonkan


Materi muatan, ayat, pasal, atau bagian dari Undang-undang Nomor 20 Tahun
2002 tentang Ketenagalistrikan yang dimohonkan dalam uji materil adalah meliputi
bagian atau pasal yang inti, antara lain dijelaskan dalam tabel berikut:

Bunyi Pasal atau bagian Penjelasan


Konsideran menimbang huruf b dan huruf c Penjelasan (umum)
b. bahwa penyediaan tenaga listrik perlu Dalam upaya memenuhi kebutuhan tenaga listrik secara
diselenggarakan secara efisien melalui lebih merata, adil, dan untuk lebih meningkatkan
kompetisi dan transparansi dalam iklim kemampuan negara dalam hal penyediaan tenaga
usaha yang sehat dengan pengaturan listrik, dapat diberikan kesempatan yang seluas-
yang memberikan perlakuan yang sama luasnya kepada Badan Usaha Milik Negara, Badan
kepada semua pelaku usaha dan Usaha Milik Daerah, Koperasi atau Swasta untuk

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

memberikan manfaat yang adil dan menyediakan tenaga listrik berdasarkan Izin Usaha
merata kepada konsumen; Penyediaan Tenaga Listrik. Untuk penyediaan tenaga
listrik skala kecil, prioritas diberikan kepada Badan
c. bahwa dalam rangka pemenuhan
Usaha kecil dan menengah.
kebutuhan tenaga listrik nasional dan
penciptaan persaingan usaha yang sehat, Undang-undang ini merupakan landasan dan
perlu diberi kesempatan yang sama acuan bagi pelaksanaan restrukturisasi sektor
kepada semua pelaku usaha untuk ketenagalistrikan agar pengelolaan usaha di sektor ini
ikut serta dalam usaha di bidang dapat dilaksanakan secara lebih efisien, transparan dan
ketenagalistrikan; kompetitif. Kompetisi usaha penyediaan tenaga listrik
dalam tahap awal diterapkan pada sisi pembangkitan
dan di kemudian hari sesuai dengan kesiapan perangkat
keras dan perangkat lunaknya akan diterapkan di sisi
penjualan. Hal ini dimaksudkan agar konsumen listrik
memiliki pilihan dalam menentukan pasokan tenaga
listriknya yang menawarkan harga paling bersaing
dengan mutu dan pelayanan lebih baik.
Perkembangan penerapan kompetisi di sisi penjualan
dimulai pada konsumen besar yang tersambung pada
tegangan tinggi, yang kemudian pada konsumen
tegangan menengah. Untuk mengatur dan mengawasi
penyediaan tenaga listrik di daerah yang telah
menerapkan kompetisi dibentuk Badan Pengawas Pasar
Tenaga Listrik. Badan ini yang mengeluarkan aturan
yang diperlukan dalam menunjang mekanisme pasar
meliputi aturan jaringan (Grid Code), aturan distribusi
(Distribution Code), aturan pentarifan (Tariff Code),
aturan untuk lelang pengadaan instalasi/sarana
penyediaan tenaga listrik (Procurement and
Competitive Tendering Code) dan lain-lain, termasuk
penegakan hukumnya (law enforcement). Dengan
adanya Badan Pengawas Pasar Tenaga Listrik, akan
mengurangi peranan Pemerintah dalam penetapan
regulasi bisnis ketenagalistrikan, namun tidak
mengurangi kewenangan Pemerintah sebagai pembuat
kebijakan.
PASAL 8 ayat (2) Penjelasannya
Usaha Penyediaan tenaga listrik meliputi jenis “Cukup jelas”
usaha :
a. Pembangkitan Tenaga Listrik
b. Transmisi Tenaga Listrik
c. Distribusi Tenaga Listrik
d. Penjualan Tenaga Listrik
e. Agen Penjualan Tenaga Listrik
f. Pengelola Pasar Tenaga Listrik
g. Pengelola Sistem Tenaga Listrik
PASAL 16 Penjelasannya
Usaha Penyediaan tenaga Listrik sebagaimana “Untuk terselenggaranya kompetisi yang adil dan sehat,
dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) dilakukan usaha penyediaan tenaga listrik perlu dilakukan secara
secara terpisah oleh Badan Usaha yang terpisah oleh badan usaha yang berbeda”
berbeda
PASAL 17 ayat (3) huruf a Penjelasannya
Larangan penguasaan pasar sebagaimana Cukup jelas
dimaksud dalam ayat (2) meliputi segala
tindakan yang dapat mengakibatkan terjadinya
praktik monopoli dan persaingan usaha yang
tidak sehat antara lain meliputi :
a. menguasai kepemilikan
PASAL 22 Penjelasannya
(1) Usaha Penjualan Tenaga Listrik sebagaimana Ayat (1)
dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf d

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

melakukan penjualan tenaga listrik kepada Pengelola Pasar Tenaga Listrik tidak bersifat
konsumen yang tersambung pada jaringan mencari keuntungan dan pembiayaannya
tegangan rendah dalam wilayah usaha didasarkan pada biaya yang dikeluarkan.
tertentu.
Ayat (2)
(2) Wilayah usaha untuk Usaha Penjualan
Cukup jelas
Tenaga Listrik sebagai-mana dimaksud
dalam ayat (1) ditetapkan oleh Badan Ayat (3)
Pengawas Pasar Tenaga Listrik. Cukup jelas
(3) Usaha Penjualan Tenaga Listrik dapat
Ayat (4)
membeli tenaga listrik dari pasar
tenaga listrik dan/atau secara bilateral Cukup jelas
dari pembangkit lain.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai
pembelian tenaga listrik sebagaimana
dimaksud dalam ayat (3) diatur dengan
Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar
Tenaga Listrik.
PASAL 30 Ayat (1) Penjelasannya
Di wilayah yang tidak atau belum dapat “Kondisi tertentu yang dimaksud dalam ayat ini antara
menerapkan kompetisi karena kondisi tertentu, lain faktor geografis dan atau sosial ekonomi. Yang
usaha penyediaan tenaga listrik sebagaimana dimaksud secara terintegrassi adalah kepemilikan
dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) dapat secara vertikal sarana penyediaan tenaga listrik
dilakukan secara terintegrasi mulai dari pembangkitan tenaga listrik sampai
dengan penjualan tenaga listrik kepada konsumen”
PASAL 68 Penjelasannya
Pada saat Undang-undang ini berlaku, terhadap Tugas dan kewajiban penyediaan tenaga listrik untuk
Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan kepentingan umum sebagaimana dimaksud dalam pasal
(PKUK) sebagaimana dimaksud dalam Undang- ini meliputi :
undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang 1. menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum
Ketenagalistrikan dianggap telah memiliki dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan
izin yang terintegrasi secara vertikal yang prinsip pengelolaan perusahaan.
meliputi pembangkitan, transmisi, distribusi, 2. mengusahakan penyediaan tenaga listrik dalam
dan penjualan tenaga listrik dengan tetap jumlah dan mutu yang memadai dengan tujuan
melaksanakan tugas dan kewajiban penyediaan untuk :
tenaga listrik untuk kepentingan umum sampai a. Meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran
dengan dikeluar-kannya Izin Usaha Penyediaan rakyat secara adil dan merata serta mendorong
Tenaga Listrik berdasarkan Undang-undang ini. peningkatan kegiatan ekonomi;
b. mengusahakan keuntungan agar dapat membiayai
pengembangan tenaga listrik untuk melayani
kebutuhan masyarakat.
3. merintis kegiatan-kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga
Listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7
Tabel 2. Materi muatan, ayat, pasal dan/atau bagian yang dimohonkan dalam PUU Ketenagalistrikan

3. Dalil-dalil pemohon (Isu Hukum) dan Petitum.


a. Dalil-dalil Pemohon (Isu Hukum)
Dalil-dalil yang dikemukan oleh pemohon dalam ketiga berkas permohonan
pengujian Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan dapat
disederhanakan dalam satu kumpulan dalil permohonan. Hal ini supaya tidak terjadi
pengulangan, karena terdapat materi muatan, ayat, pasal, dan/atau bagian undang-
undang yang sama yang dimohonkan oleh satu pemohon dan dimohonkan juga oleh
pemohon lainnya. Disamping itu, alasan-alasan permohonan yang dikemukakan
pemohon tidak akan dipaparkan keseluruhannya dalam ringkasan ini, melainkan
hanya terfokus kepada beberapa isu hukum yang penting saja. Hal tersebut meliputi:

1) Rapat paripurna pengambilan keputusan persetujuan RUU Ketenagalistrikan


tidak memenuhi quorum yang diwajibkan

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

2) Swastanisasi atau privatisasi 134 dalam usaha penyediaan tenaga listrik yang
dilakukan secara terpisah-pisah (unbundling) 135
3) Tanggungjawab negara terhadap penyelenggaraan usaha penyediaan listrik
untuk kepentingan umum atau “penguasaan negara” dalam ketenagalistrikan
4) Perlindungan negara atas hak warga negara; atas kesejahteraan lahir dan
batin, hak berserikat dan berkumpul, jaminan sosial, jaminan perlindungan
dan kepastian hukum, yaitu hak untuk dapat memanfaatkan ketenagalistrikan
5) Akan terjadi PHK karena Pasal 8 ayat (2) jo Pasal 16 UU Ketenagalistrikan,
hal ini merugikan hak konstitusional pemohoan sebagaimana dimaksud Pasal
27 ayat (2), Pasal 28D ayat (2), Pasal 28H ayat (1), Pasal 28H ayat (3),
Pasal 33 ayat (3), Pasal 28A, Pasal 28C ayat (1), Pasal 27 ayat (1), Pasal 27
ayat (3), Pasal 28, Pasal 28C ayat (2), Pasal 28E ayat (3) UUD 1945.
b. Petitum
Petitum atau tuntutan yang sampaikan oleh pemohon kepada Mahkamah
Konstitusi dapat dijelaskan sebagai berikut:
Petitum Perkara 001 Perkara 021 Perkara 023
Memohon 1 Menerima dan 1. Menyatakan menerima 1. Menyatakan
kepada majelis mengabulkan seluruh permohonan mengabulkan seluruh
hakim konstitusi permohonan ini; PEMOHON; permohonan Pemohon.
untuk: 2 Menyatakan UU No 20 2. Menyatakan bahwa 2. Menyatakan UU No. 20
Tahun 2002 tentang permohonan Tahun 2002 tentang
Ketenagalistrikan PEMOHON Ketenagalistrikan, atau
bertentangan dengan dikabulkan; setidak-tidaknya Pasal 8
Undang-Undang Dasar 3. Menyatakan Pasal 8 ayat (2)f, Pasa116 Psal
1945; ayat (2), Pasal 16, Pasal 22, dan Pasal 68
3 Menyatakan UU No 20 30 ayat (1), serta Pasal bertentangan dengan
Tahun 2002 tentang 17 ayat (3) huruf a UU Undang-undang Dasar
Ketenagalistrikan tidak a quo secara Negara Republik
mempunyai kekuatan keseluruhan atau Indonesia Tahun 1945;
mengikat; setidak-tidaknya 3. Menyatakan UU No.20
4 Memerintahkan sebagian dari Pasal- Tahun 2002 tentang
pencabutan pasal tersebut Ketenagalistrikan, atau
Pengundangan UU No bertentangan dengan setidak-tidaknya Pasal 8
20 Tahun 2002 Pasal 33 ayat (2) UUD ayat (2) f, Pasa116 Pasal
tentang 1945 dan karenanya 22, dan Pasal 68 sebagai
Ketenagalistrikan dalam Pasal-pasal atau tidak mempunyai
Lembaran Negara sebagian dari Pasal- kekuatan hukum
Republik Indonesia dan pasal tersebut tidak mengikat
Tambahan Lembaran mempunyai kekuatan
Negara Republik hukum mengikat ;
Indonesia 4. Memerintahkan kepada
Pemerintah RI Cq.
Presiden RI dan DPR RI
untuk mencabut dan
menyatakan tidak
berlaku Pasal 8 ayat
(2), Pasal 16, Pasal 17

134 Elly Erawati dan J.S. Badudu secara etimologis menguraikan arti kata privatisasi sebagai terjemahan dari

privatization yakni “Proses perubahan bentuk diikuti dengan pengalihan hak-hak dari suatu perusahaan milik negara
menjadi perusahan swasta; penyerahan pengelolaan sektor-sektor ekonomi tertentu kepada pihak swasta.” Elly Erawati
dan J.S. Badudu, Kamus Hukum Ekonomi, dalam Winarno Yudho et. Al, Privatisasi Ketenagalistrikan, Minyak dan Gas
Bumi: Dalam Perspektif Peraturan Perundang-undangan, Kebijakan Politik Pemerintah, dan Penerapannya Di Indonesia,
Pusat Penelitian dan Pengkajian Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
bekerjasama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung, Jakarta, 2005, hal. 5.
135 Dalam wawancara dengan Wasis Susetio (tenaga ahli Mahkamah Konstitusi) pada tanggal 30 Januari 2006,

dikatakan: Padahal di Inggris yang pernah menerapkan unbundling policy, dahulu pada zamannya Thachter ada kebijakan
unbundling, tetapi di zaman Blair itu kemudian di bawa kembali kepada negara, bahkan tarif sampai sangat tinggi karena
unbundling policy, itu artinya merugikan masyarakat, karena siapa pun masyarakat modern menggunakan lsitrik

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

ayat (3) huruf a dan


Pasal 30 ayat (1) atau
sebagian dari Pasal-
pasal tersebut karena
bertentangan dengan
Pasal 33 ayat (2) UUD
1945;
5. Menyatakan Materi
muatan UU No 20
tahun 2002 tentang
Ketenagalistrikan
bertentangan dengan
Pasal 33 ayat (2) UUD
1945 karena dalam
materi muatan UU No
20 tahun 2002 tidak
dimuat ketentuan
mengenai Hak
Menguasai Negara atas
Tenaga Listrik sebagai
Cabang Produksi yang
penting bagi Negara
dan yang menguasai
hajat hidup orang
banyak sebagaimana
ditentukan dalam Pasal
33 ayat (2) UUD 45
dan karenanya
muatan materi UU No
20 tahun 2002 tentang
Ketenagalistrikan
tersebut tidak
mempunyai kekuatan
hukum mengikat , atau;
6. Memerintahkan kepada
Pemerintah RI Cq.
Presiden RI dan DPR RI
untuk mencabut dan
menyatakan tidak
berlaku seluruh atau
sebagian materi muatan
UU No 20 tahun 2002
tentang
Ketenagalistrikan
Tabel 3. Petitum permohonan PUU Ketenagalistrikan

4. Penafsiran Mahkamah Konstitusi


Penafsiran oleh pengadilan atau Mahkamah dapat ditelusuri dengan melihat
pertimbangan hukum yang disebut di dalam sebuah putusan. Tetapi tidak semua
pertimbangan hukum di dalam putusan merupakan bentuk penafsiran hukum yang
dapat ditarik metodologinya.
Pertimbangan hukum oleh hakim dalam sebuah putusan pada Mahkamah Konstitusi
terbagi atas tiga hal, yaitu: 1) Kewenangan Mahkamah untuk mengadili; 2) legal
standing pemohon; dan 3) mengenai pokok perkara. Berikut ini akan dipaparkan
pertimbangan hakim konstitusi mengenai pokok perkara dalam Putusan pengujian
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan.
Pertimbangan hukum oleh hakim dalam putusan pengujian undang-undang Nomor
20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan adalah sebagai berikut:

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

Isu hukum Pertimbangan Hukum atau Penafsiran Hakim Metode


Penafsiran
Cabang produksi Menimbang bahwa dalam kerangka pengertian yang demikian Natural
yang penting itu, penguasaan dalam arti kepemilikan perdata (privat) yang
bersumber dari konsepsi kepemilikan publik berkenaan dengan
cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan/atau
yang menguasai hajat hidup orang banyak yang menurut
ketentuan Pasal 33 ayat (2) dikuasai oleh negara, tergantung
pada dinamika perkembangan kondisi masing-masing
cabang produksi. Yang harus dikuasai oleh negara adalah
cabang-cabang produksi yang dinilai penting bagi negara
dan/atau yang menguasai hajat hidup orang banyak, yaitu: (i)
cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat
hidup orang banyak, (ii) penting bagi negara tetapi tidak
menguasai hajat hidup orang banyak, atau (iii) tidak penting
bagi negara tetapi menguasai hajat hidup orang banyak. ...
Namun, terpulang kepada Pemerintah bersama lembaga
perwakilan rakyat untuk menilainya apa dan kapan suatu
cabang produksi itu dinilai penting bagi negara dan/atau yang
menguasai hajat hidup orang banyak. Cabang produksi yang
pada suatu waktu penting bagi negara dan menguasai hajat
hidup orang banyak, pada waktu yang lain dapat berubah
menjadi tidak penting lagi bagi negara dan tidak lagi
menguasai hajat hidup orang banyak. 136
Penguasaan Negara 4. Menimbang bahwa berdasarkan penafsiran historis, Historis
Vs Swastanisasi seperti yang tercantum dalam Penjelasan UUD 1945
sebelum perubahan, makna ketentuan tersebut adalah
“Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi,
kemakmuran bagi semua orang. Sebab itu cabang-cabang
produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai
hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara.
Kalau tidak, tampuk produksi jatuh ke tangan orang-
seorang yang berkuasa dan rakyat yang banyak
ditindasinya. Hanya perusahaan yang tidak menguasai
hajat hidup orang banyak boleh di tangan orang-
seorang”.
5. Menimbang bahwa Mohammad Hatta sebagai salah
satu pendiri negara (founding fathers) menyatakan
tentang pengertian dikuasai oleh negara sebagai berikut,
“Cita-cita yang tertanam dalam Pasal 33 UUD 1945 ialah
produksi yang besar-besar sedapat-dapatnya dilaksanakan
oleh Pemerintah dengan bantuan kapital pinjaman luar
negeri. Apabila siasat ini tidak berhasil, perlu juga diberi
kesempatan kepada pengusaha asing menanamkan
modalnya di Indonesia dengan syarat yang ditentukan
Pemerintah … Cara begitulah dahulu kita memikirkan
betapa melaksanakan pembangunan ekonomi dengan
dasar Pasal 33 UUD 1945 … Apabila tenaga nasional dan
kapital nasional tidak mencukupi, pinjam tenaga asing dan
kapital asing untuk melancarkan produksi. Apabila bangsa
asing tidak bersedia meminjamkan kapitalnya maka
diberikan kesempatan kepada mereka untuk menanamkan
modalnya di tanah air kita dengan syarat-syarat yang
ditentukan oleh Pemerintah Indonesia sendiri.
1. Indonesia tidak memilih sistem ekonomi pasar. Karena Doktrinal

136 A. Irmanputra Sidin menyebutkan: “the economic system in the concept of essential product is relative. An extreme

examples is chili, which is now seen as unessential, but when some day this space becomes indispensable to the majority of
indoneesians, and the chili market gradually turns unfriendly, chili product will be vital and controlled by the state for
optimal public welafare.” Dalam A. Irmanputra Sidin, In Defense of RI’s Constitution Economy, The Jakarta Post, 5 Januari
2005

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

secara normatif tidak sesuai dengan Pasal 33 UUD. Hal ini


dikuatkan dengan pendapat Joseph E. Stiglitz: ”…
presumption that markets, by themselves, lead to efficient
outcomes, failed to allow for desirable government
interventions in the market and make everyone better off.“
(Globalization and Its Discontents, Joseph E. Stiglitz, hal.
XII)
2. Konsepsi penguasaan oleh negara merupakan konsepsi
hukum publik yang berkaitan dengan prinsip kedaulatan
rakyat yang dianut dalam UUD 1945, baik di bidang
politik (demokrasi politik) maupun ekonomi (demokrasi
ekonomi). Dalam paham kedaulatan rakyat itu, rakyatlah
yang diakui sebagai sumber, pemilik dan sekaligus
pemegang kekuasaan tertinggi dalam kehidupan
bernegara, sesuai dengan doktrin “dari rakyat, oleh
rakyat dan untuk rakyat”. Dalam pengertian kekuasaan
tertinggi tersebut, tercakup pula pengertian kepemilikan
publik oleh rakyat secara kolektif;
3. Menimbang bahwa dengan memandang UUD 1945 Tekstual
sebagai sistem sebagaimana dimaksud, maka pengertian
“dikuasai oleh negara” dalam Pasal 33 UUD 1945
mengandung pengertian yang lebih tinggi atau lebih luas
daripada pemilikan dalam konsepsi hukum perdata
4. Menimbang bahwa jika pengertian kata “dikuasai oleh
negara” hanya diartikan sebagai pemilikan dalam arti
perdata (privat), maka hal dimaksud tidak akan
mencukupi dalam menggunakan penguasaan itu untuk
mencapai tujuan “sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”, .
. . Namun demikian, konsepsi kepemilikan perdata itu
sendiri harus diakui sebagai salah satu konsekuensi logis
penguasaan oleh negara yang mencakup juga pengertian
kepemilikan publik oleh kolektivitas rakyat atas sumber-
sumber kekayaan dimaksud. Pengertian “dikuasai oleh
negara” juga tidak dapat diartikan hanya sebatas
sebagai hak untuk mengatur, karena hal dimaksud
sudah dengan sendirinya melekat dalam fungsi-fungsi
negara tanpa harus disebut secara khusus dalam undang-
undang dasar. Sekiranyapun Pasal 33 tidak tercantum
dalam UUD 1945, sebagaimana lazim di banyak negara
yang menganut paham ekonomi liberal yang tidak
mengatur norma-norma dasar perekonomian dalam
konstitusinya, sudah dengan sendirinya negara berwenang
melakukan fungsi pengaturan.
5. lagi pula dengan merujuk pandangan Hatta dan
pandangan para ahli sebagaimana tersebut di atas tentang
penjabaran Pasal 33 UUD 1945 dapat disimpulkan
secara ringkas bahwa makna dikuasai oleh negara ialah
bahwa terhadap cabang produksi yang telah dimiliki oleh
negara, maka negara harus memperkuat posisi perusahaan
tersebut agar kemudian secara bertahap akhirnya dapat
menyediakan sendiri kebutuhan yang merupakan hajat
hidup orang banyak dan menggantikan kedudukan
perusahaan swasta, baik nasional maupun asing
1. Perkataan “dikuasai oleh negara” haruslah diartikan Fungsional
mencakup makna penguasaan oleh negara dalam arti luas
yang bersumber dan berasal dari konsepsi kedaulatan
rakyat Indonesia atas segala sumber kekayaan “bumi dan
air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya”,
termasuk pula di dalamnya pengertian kepemilikan publik
oleh kolektivitas rakyat atas sumber-sumber kekayaan
dimaksud. Rakyat secara kolektif itu dikonstruksikan
oleh UUD 1945 memberikan mandat kepada negara

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

untuk mengadakan kebijakan (beleid) dan tindakan


pengurusan (bestuursdaad), pengaturan
(regelendaad), pengelolaan (beheersdaad) dan
pengawasan (toezichthoudensdaad) untuk tujuan
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Fungsi
pengurusan (bestuursdaad) oleh negara dilakukan oleh
pemerintah dengan kewenangannya untuk mengeluarkan
dan mencabut fasilitas perizinan (vergunning), lisensi
(licentie), dan konsesi (concessie). Fungsi pengaturan oleh
negara (regelendaad) dilakukan melalui kewenangan
legislasi oleh DPR bersama dengan Pemerintah, dan
regulasi oleh Pemerintah (eksekutif). Fungsi pengelolaan
(beheersdaad) dilakukan melalui mekanisme pemilikan
saham (share-holding) dan/atau melalui keterlibatan
langsung dalam manajemen Badan Usaha Milik Negara
atau Badan Hukum Milik Negara sebagai instrumen
kelembagaan melalui mana negara c.q. Pemerintah
mendayagunakan penguasaannya atas sumber-sumber
kekayaan itu untuk digunakan bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Demikian pula fungsi pengawasan
oleh negara (toezichthoudensdaad) dilakukan oleh negara
c.q. Pemerintah dalam rangka mengawasi dan
mengendalikan agar pelaksanaan penguasaan oleh negara
atas cabang produksi yang penting dan/atau yang
menguasai hajat hidup orang banyak dimaksud benar-
benar dilakukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran
seluruh rakyat
2. Konsepsi kepemilikan privat oleh negara atas saham dalam
badan-badan usaha yang menyangkut cabang-cabang
produksi yang penting bagi negara dan/atau menguasai
hajat hidup orang banyak tidak dapat didikotomikan
ataupun dialternatifkan dengan konsepsi pengaturan
oleh negara. Keduanya tercakup dalam pengertian
penguasaan oleh negara
3. dengan merujuk pada penafsiran Mahkamah atas
penguasaan negara sebagai mana telah diuraikan di atas
hal dimaksud harus dinilai berdasarkan Pasal 33 UUD
1945 secara keseluruhan, termasuk penyelenggaraan
perekonomian nasional berdasar atas demokrasi ekonomi,
prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, dan
berwawasan lingkungan dengan mana ditafsirkan bahwa
penguasaan negara juga termasuk dalam arti
pemilikan privat yang tidak harus selalu 100%.
Artinya, pemilikan saham Pemerintah dalam badan usaha
yang menyangkut cabang produksi yang penting bagi
negara dan/atau yang menguasai hajat hidup orang
banyak dimaksud, dapat bersifat mayoritas mutlak (di atas
50%) atau bersifat mayoritas relatif (di bawah 50%)
sepanjang Pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas
relatif tersebut secara hukum tetap memegang kedudukan
menentukan dalam pengambilan keputusan di badan
usaha dimaksud
Kompetisi Penyediaan Mahkamah berpendapat, ketentuan Pasal 33 UUD 1945 Fungsional
Listrik tidaklah menolak privatisasi, sepanjang privatisasi itu tidak
meniadakan penguasaan negara c.q. Pemerintah untuk menjadi
penentu utama kebijakan usaha dalam cabang produksi yang
penting bagi negara dan/atau menguasai hajat hidup orang
banyak. Pasal 33 UUD 1945 juga tidak menolak ide
kompetisi di antara para pelaku usaha, sepanjang kompetisi
itu tidak meniadakan penguasaan oleh negara yang
mencakup kekuasaan untuk mengatur (regelendaad), mengurus
(bestuursdaad), mengelola (beheersdaad), dan mengawasi

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

(toezichthoudensdaad) cabang-cabang produksi yang penting


bagi negara dan/atau yang mengusai hajat hidup orang banyak
untuk tujuan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
lagi pula kompetisi dalam kegiatan usaha penyediaan tenaga Komparatif
listrik di wilayah yang telah dapat menerapkan kompetisi dan
secara unbundling, menurut ahli hanya akan terjadi di
daerah JAMALI (Jawa, Madura dan Bali) sebagai pasar
yang telah terbentuk yang akan dimenangkan oleh usaha yang
kuat secara teknologis dan finansial, sedang di daerah yang
pasarnya belum terbentuk di luar Jawa, Madura dan Bali,
menjadi kewajiban Pemerintah/BUMN yang boleh
melaksanakannya secara terintegrasi, hal mana tidak mampu
dilakukan tanpa melalui subsidi silang dari pasar yang telah
menguntungkan di JAMALI tersebut, sehingga kewajiban untuk
mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat yang
sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat Indonesia tidak akan
tercapai, karena pelaku usaha swasta akan berorientasi kepada
keuntungan yang hanya diperoleh di pasar yang sudah
terbentuk;
Pemisahan berdasarkan pertimbangan di atas, Mahkamah berpendapat Komparatif
penyediaan tenaga bahwa untuk menyelamatkan dan melindungi serta
listrik (Unbundling) mengembangkan lebih lanjut perusahaan negara (BUMN)
sebagai aset negara dan bangsa agar lebih sehat yang selama ini
telah berjasa memberikan pelayanan kelistrikan kepada
masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia, baik yang beraspek
komersiil maupun non-komersiil sebagai wujud penguasaan
negara, sehingga ketentuan Pasal 16 UU No. 20 Tahun 2002
yang memerintahkan sistem pemisahan/pemecahan usaha
ketenagalistrikan (unbundling system) dengan pelaku usaha
yang berbeda akan semakin membuat terpuruk BUMN yang
akan bermuara kepada tidak terjaminnya pasokan listrik
kepada semua lapisan masyarakat, baik yang bersifat komersial
maupun non-komersial. Dengan demikian yang akan
merugikan masyarakat, bangsa dan negara. Keterangan ahli
yang diajukan pemohon telah menjelaskan pengalaman
empiris yang terjadi di Eropa, Amerika Latin, Korea, dan
Meksiko, sistem unbundling dalam restrukturisasi usaha listrik
justru tidak menguntungkan dan tidak selalu efisien dan malah
menjadi beban berat bagi negara, sehingga oleh karenanya
Mahkamah berpendapat bahwa hal tersebut bertentangan
dengan pasal 33 UUD 1945
Adanya kenyataan inefisiensi BUMN yang timbul karena Natural
faktor-faktor miss-management serta korupsi, kolusi dan
nepotisme (KKN), tidak dapat dijadikan alasan untuk
mengabaikan Pasal 33 UUD 1945, bak pepatah “buruk muka
cermin dibelah”. Pembenahan yang dilakukan haruslah
memperkuat penguasaan negara untuk dapat melaksanakan
kewajiban konstitusionalnya sebagaimana disebut dalam Pasal
33 UUD 1945
Amar putusan: 1. Mahkamah berpendapat cabang produksi dalam Pasal 33 Fungsional
mangabulkan ayat (2) UUD 1945 di bidang ketenagalistrikan harus
ditafsirkan sebagai satu kesatuan antara pembangkit,
transmisi, dan distribusi sehingga dengan demikian,
meskipun hanya pasal, ayat, atau bagian dari ayat tertentu
saja dalam undang-undang a quo yang dinyatakan tidak
mempunyai kekuatan hukum mengikat akan tetapi hal
tersebut mengakibatkan UU No. 20 Tahun 2002 secara
keseluruhan tidak dapat dipertahankan, karena akan

137 Wawancara dengan Mahmud Aziz (tenaga ahli Mahkamah Konstitusi) tanggal 25 Januari 2007: Jantung UU

kelistrikan dicabut, maka UU ini dicabut saja sekalian. Dari pada UU-nya “mati,” ini bukan ultra petita tetapi akibat.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

menyebabkan kekacauan yang menimbulkan


ketidakpastian hukum dalam penerapannya;
2. meskipun ketentuan yang dipandang bertentangan dengan
konstitusi pada dasarnya adalah Pasal 16, 17 ayat (3), serta
68, khususnya yang menyangkut unbundling dan
kompetisi, akan tetapi karena pasal-pasal tersebut
merupakan jantung 137 dari UU No. 20 Tahun 2002
padahal seluruh paradigma yang mendasari UU
Ketenagalistrikan adalah kompetisi atau persaingan dalam
pengelolaan dengan sistem unbundling dalam
ketenagalistrikan yang tercermin dalam konsideran
“Menimbang” huruf b dan c UU Ketenagalistrikan. Hal
tersebut tidak sesuai dengan jiwa dan semangat Pasal 33
ayat (2) UUD 1945 yang merupakan norma dasar
perekonomian nasional Indonesia;
Tabel 4. Pertimbangan hukum atau Panafsiran Mahkamah Konstitusi dalam putusan PUU Ketenagalistrikan

B. Pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air


1. Pemohon dan Jenis Permohonan
Permohonan pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air merupakan permohonan pengujian undang-undang yang paling banyak
pemohonnya sepanjang terbentuknya Mahkamah Konstitusi (sampai bulan Maret
2007). Pengujian ini terdiri dari 5 berkas permohonan, yaitu permohonan dengan
Nomor Registrasi Perkara 058/PUU-II/2004, 059/PUU-II/2004, 060/PUU-II/2004,
063/PUU-II/2004, dan 008/PUU-III/2005. Lebih rincinya, permohonan tersebut akan
dijelaskan sebagai berikut:
a. Permohonan 058/PUU-II/2004.
No Kategori Nomor Registrsai Perkara 058/PUU-II/2004
1 Pemohon Tim Advokasi Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air yang meliputi beberapa LSM
dan perorangan sebanyak 53 orang
2 Kategori Perorangan warga negara Indonesia (termasuk kelompok orang)
pemohon
3 Tanggal Registrasi 18 Juni 2004, kemudian setelah diperbaiki, diserahkan kembali ke Mahkamah
Permohonan Konstitusi pada tanggal 27 Juli 2004
4 Jenis Pengujian Pengujian formil dan materil
5 Objek 1. Konsideran mengingat dalam UU No.7 Tahun 2004 yang tidak
permohonan mencantumkan Pasal 33 ayat (1) sampai ayat (5) secara utuh
2. Pasal 6 ayat (3), Pasal 7 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 8 ayat (2) huruf c, Pasal
9 ayat (1), Pasal 29 ayat (3) dan ayat (4), Pasal 29 ayat (5), Pasal 38 ayat
(2), Pasal 40 ayat (1), ayat (4) dan ayat (7), Pasal 45 ayat (3) dan ayat (4),
Pasal 46 ayat (2), Pasal 91, Pasal 92 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) UU No.7
Tahun 2004
Tabel 5. Permohonan 058/PUU-II/2004 mengenai PUU Sumber Daya Air

b. Permohonan 059/PUU-II/2004.
No Kategori Nomor Registrsai Perkara 059/PUU-II/2004
1 Pemohon 16 orang dari organisasi non-pemerintah yang menamakan diri Rakyat
Menggugat, antara lain terdiri dari WALHI, FSPI dan lain-lain

2 Kategori pemohon Badan Hukum


3 Tanggal Registrasi 2 Juli 2004, kemudian setelah diperbaiki, diserahkan kembali ke Mahkamah
Permohonan Konstitusi pada tanggal 27 Juli 2004
4 Jenis Pengujian Pengujian Formil dan Pengujian Materil
5 Objek UU No 7 Tahun 2004 secara keseluruhan
permohonan
Tabel 6. Permohonan 059/PUU-I/2004 mengenai PUU Sumber Daya Air

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

c. Permohonan 060/PUU-II/2004
No Kategori Nomor Registrsai Perkara 060/PUU-II/2004
1 Pemohon 868 perorangan WNI
2 Kategori pemohon Perorangan warga negara Indonesia (termasuk kelompok orang)
3 Tanggal Registrasi 29 Juli 2004, kemudian setelah diperbaiki, diserahkan kembali ke Mahkamah
Permohonan Konstitusi pada tanggal 8 September 2004
4 Jenis Pengujian Pengujian formil dan pengujain materil
5 Objek permohonan UU No 7 Tahun 2004 secara keseluruhan
Tabel 7. Permohonan 060/PUU-II/2004 mengenai PUU Sumber Daya Air

d. Permohonan 063/PUU-II/2004
No Kategori Nomor Registrsai Perkara 063/PUU-II/2004
1 Pemohon Suta Widya, perorangan WNI
2 Kategori pemohon Perorangan warga negara Indonesia
3 Tanggal Registrasi 26 Juli 2004, kemudian setelh diperbaiki, diserahkan kembali ke Mahkamah
Permohonan Konstitusi pada tanggal 22 September 2004
4 Jenis Pengujian Pengujian formil dan materil
5 Objek permohonan Pasal 9, Pasal 26 ayat (7), Pasal 45 dan Pasal 46 UU No 7 Tahun 2004
tentang Sumber Daya Air
Tabel 8. Permohonan 063/PUU-II/2004 mengenai PUU Sumber Daya Air

e. Permohonan 008/PUU-III/2005
Permohonan ini merupakan permohonan yang bersifat ad informandum. Hal
berdasarkan saran dari Mahkamah Konstitusi karena permohonan 008/PUU-III/2005
diajukan pada saat empat permohonan sebelumnya telah berjalan dan tinggal
menunggu putusan saja. ad informandum yang dimaksud adalah jika suatu permohonan
mempunyai kepentingan terhadap pasal-pasal sama dengan yang telah dimohonkan
sebelumnnya maka permohonan diajukan untuk memperkuat dalil, argumentasi
menyangkut pasal-pasal yang telah dimohonkan oleh pemohon sebelumnya.
No Kategori Nomor Registrsai Perkara 008/PUU-III/2005
1 Pemohon adalah 2063 orang WNI yang memberi kuasa kepada Bambang Widjojanto,
S.H., LLM., dkk, dari “Tim Advokasi Keadilan Sumberdaya Alam”
2 Kategori pemohon Perorangan warga negara Indonesia (termasuk kelompok orang)
3 Tanggal Registrasi 1 Maret 2005, kemudian setelah diperbaiki, diserahkn kembali ke Mahkamah
Permohonan Konstitusi pada tanggal 31 Maret 2005
4 Jenis Pengujian Pengujian formil dan materil
5 Objek permohonan UU No 20 tahun 2002 secara keseluruhan
Tabel 9. Permohonan 008/PUU-III/2004 mengenai PUU Sumber Daya Air

2. Bagian yang dimohonkan


Secara umum, para pemohon dalam Pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun
2004 tentang Sumber Daya Air memohon pengujian formil sekaligus permohonan
pengujian materil. Hal ini karena pemohon mendalilkan bahwa filosofi pembentukan
Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Materi muatan, ayat, pasal, dan/atau bagian dari undang-undang yang dimohonkan
adalah sebagai berikut:
Pasal atau Bagian Penjelasan
Konsideran mengingat 138 dalam UU No.7 Tidak mencantumkan Pasal 33 ayat (1) sampai ayat (5)
Tahun 2004 secara utuh
Pasal 6 ayat (3) Penjelasannya
Hak ulayat masyarakat hukum adat atas sumber Ayat (3)
daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pengakuan adanya hak ulayat masyarakat hukum adat
tetap diakui sepanjang kenyataannya masih ada termasuk hak yang serupa dengan itu hendaknya

138 Setiap cetak tebal dalam tabel ini adalah dari penulis

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

dan telah dikukuhkan dengan peraturan dipahami bahwa yang dimaksud dengan masyarakat
daerah setempat. hukum adat adalah sekelompok orang yang terikat oleh
tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu
persekutuan hukum adat yang didasarkan atas
kesamaan tempat tinggal atau atas dasar keturunan.
Hak ulayat masyarakat hukum adat dianggap masih ada
apabila memenuhi tiga unsur, yaitu:
a. unsur masyarakat adat, yaitu terdapatnya
sekelompok orang yang masih merasa terikat oleh
tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama
suatu persekutuan hukum tertentu, yang mengakui
dan menerapkan ketentuan-ketentuan persekutuan
tersebut dalam kehidupannya sehari-hari;
b. unsur wilayah, yaitu terdapatnya tanah ulayat
tertentu yang menjadi lingkungan hidup para warga
persekutuan hukum tersebut dan tempatnya
mengambil keperluan hidupnya sehari-hari; dan
c. unsur hubungan antara masyarakat tersebut dengan
wilayahnya, yaitu terdapatnya tatanan hukum adat
mengenai pengurusan, penguasaan, dan penggunaan
tanah ulayatnya yang masih berlaku dan ditaati oleh
para warga persekutuan hukum tersebut.
Pasal 7 ayat (1) dan ayat (2), Penjelasannya
(1) Hak guna air sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1)
Pasal 6 ayat (4) berupa hak guna pakai Cukup jelas
air dan hak guna usaha air. Ayat (2)
(2) Hak guna air sebagaimana dimaksud pada Yang dimaksud tidak dapat disewakan atau
ayat (1) tidak dapat disewakan atau dipindahtangankan artinya hak guna air yang
dipindahtangankan, sebagian atau diberikan kepada pemohon tidak dapat disewakan
seluruhnya. dan dipindahkan kepada pihak lain dengan alasan
apapun.
Apabila hak guna air tersebut tidak dimanfaatkan
oleh pemegang hak guna air, Pemerintah atau
pemerintah daerah dapat mencabut hak guna air
yang bersangkutan.
Pasal 8 ayat (2) huruf c Penjelasannya
(2) Hak guna pakai air sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) memerlukan izin apabila:
c. digunakan untuk pertanian rakyat di
luar sistem irigasi yang sudah ada
Pasal 9 ayat (1) Penjelasannya
Hak guna usaha air dapat diberikan kepada Ayat (1)
perseorangan atau badan usaha dengan izin Yang dimaksud dengan perseorangan adalah
dari Pemerintah atau pemerintah daerah subjek non-badan usaha yang memerlukan air
sesuai dengan kewenangannya. untuk keperluan usahanya misalnya usaha
pertambakan dan usaha industri rumah
tangga.
Pasal 26 ayat (7) Penjelasannya
Pendayagunaan sumber daya air dilakukan Ayat (7)
dengan mengutamakan fungsi sosial untuk Yang dimaksud dengan prinsip pemanfaat
mewujudkan keadilan dengan memperhatikan membayar biaya jasa pengelolaan adalah penerima
prinsip pemanfaat air membayar biaya jasa manfaat ikut menanggung biaya pengelolaan
pengelolaan sumber daya air dan dengan sumber daya air baik secara langsung maupun
melibatkan peran masyarakat. tidak langsung. Ketentuan ini tidak diberlakukan
kepada pengguna air untuk pemenuhan kebutuhan
pokok sehari-hari dan pertanian rakyat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80.
Pasal 29 ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) Penjelasannya
(3) Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan Ayat (3)
pokok sehari-hari dan irigasi bagi pertanian Apabila terjadi konflik kepentingan antara
rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

merupakan prioritas utama penyediaan pemenuhan kebutuhan air irigasi untuk pertanian
sumber daya air di atas semua kebutuhan. rakyat misalnya pada situasi kekeringan yang
(4) Urutan prioritas penyediaan sumber daya air ekstrim, prioritas ditempatkan pada pemenuhan
selain sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kebutuhan pokok sehari-hari.
ditetapkan pada setiap wilayah sungai oleh Ayat (4)
Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai Cukup jelas
dengan kewenangannya. Ayat (5)
(5) Apabila penetapan urutan prioritas Kompensasi dapat berbentuk ganti kerugian
penyediaan sumber daya air sebagaimana misalnya berupa keringanan biaya jasa
dimaksud pada ayat (4) menimbulkan pengelolaan sumber daya air yang dilakukan
kerugian bagi pemakai sumber daya air, atas dasar kesepakatan antarpemakai.
Pemerintah atau pemerintah daerah
wajib mengatur kompensasi kepada
pemakainya.
Pasal 38 ayat (2), Penjelasannya
Badan usaha dan perseorangan dapat Ayat (2)
melaksanakan pemanfaatan awan dengan Cukup jelas
teknologi modifikasi cuaca setelah
memperoleh izin dari Pemerintah
Pasal 40 ayat (1), ayat (4) dan ayat (7), Penjelasannya
(1) Pemenuhan kebutuhan air baku untuk air Ayat (1)
minum rumah tangga sebagaimana Yang dimaksud dengan air minum rumah tangga
dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) dilakukan adalah air dengan standar dapat langsung diminum
dengan pengembangan sistem penyediaan tanpa harus dimasak terlebih dahulu dan
air minum. dinyatakan sehat menurut hasil pengujian
(4) Koperasi, badan usaha swasta, dan mikrobiologi (uji ecoli).
masyarakat dapat berperan serta dalam Yang dimaksud dengan pengembangan sistem
penyelenggaraan pengembangan sistem penyediaan air minum adalah memperluas dan
penyediaan air minum. meningkatkan sistem fisik (teknik) dan sistem
(7) Untuk mencapai tujuan pengaturan nonfisik (kelembagaan, manajemen, keuangan,
pengembangan sistem penyediaan air peran masyarakat, dan hukum) dalam kesatuan
minum dan sanitasi sebagaimana dimaksud yang utuh untuk menyediakan air minum yang
pada ayat (5) dan ayat (6), Pemerintah memenuhi kualitas standar tertentu bagi
dapat membentuk badan yang berada di masyarakat menuju kepada keadaan yang lebih
bawah dan bertanggung jawab kepada baik. Pengembangan instalasi dan jaringan serta
menteri yang membidangi sumber daya air. sistem penyediaan air minum untuk rumah tangga
termasuk pola hidran dan pola distribusi dengan
mobil tangki air.
Ayat (4)
Dalam hal di suatu wilayah tidak terdapat
penyelenggaraan air minum yang dilakukan oleh
badan usaha milik negara dan/atau badan usaha
milik daerah, penyelenggaraan air minum di
wilayah tersebut dilakukan oleh koperasi, badan
usaha swasta dan masyarakat.
Ayat (7)
Cukup jelas
Pasal 45 ayat (3) dan ayat (4), Penjelasannya
(3) Pengusahaan sumber daya air selain Ayat (3)
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat Yang dimaksud dengan badan usaha pada ayat ini
dilakukan oleh perseorangan, badan usaha, dapat berupa badan usaha milik negara/badan
atau kerja sama antar badan usaha usaha milik daerah (yang bukan badan usaha
berdasarkan izin pengusahaan dari pengelola sumber daya air wilayah sungai), badan
Pemerintah atau pemerintah daerah usaha swasta, dan koperasi.
sesuai dengan kewenangannya. Kerja sama dapat dilakukan, baik dalam
(4) Pengusahaan sebagaimana dimaksud pada pembiayaan investasi pembangunan prasarana
ayat (3) dapat berbentuk: sumber daya air maupun dalam penyediaan jasa
a. penggunaan air pada suatu lokasi pelayanan dan/atau pengoperasian prasarana
tertentu sesuai persyaratan yang sumber daya air. Kerja sama dapat dilaksanakan
ditentukan dalam perizinan; dengan berbagai cara misalnya dengan pola
b. pemanfaatan wadah air pada suatu bangun guna serah (build, operate, and transfer),

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

lokasi tertentu sesuai persyaratan yang perusahaan patungan, kontrak pelayanan, kontrak
ditentukan dalam perizinan; dan/atau manajemen, kontrak konsesi, kontrak sewa dan
c. pemanfaatan daya air pada suatu lokasi sebagainya. Pelaksanaan berbagai bentuk kerja
tertentu sesuai persyaratan yang sama yang dimaksud harus tetap dalam batas-batas
ditentukan dalam perizinan. yang memungkinkan pemerintah menjalankan
kewenangannya dalam pengaturan, pengawasan
dan pengendalian pengelolaan sumber daya air
secara keseluruhan.
Izin pengusahaan antara lain memuat substansi
alokasi air dan/atau ruas (bagian) sumber air yang
dapat diusahakan.
Ayat (4)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Pemanfaatan wadah air pada lokasi tertentu antara
lain adalah pemanfaatan atau penggunaan sumber
air untuk keperluan wisata air, olahraga arung
jeram, atau lalu lintas air.
Huruf c
Pemanfaatan daya air antara lain sebagai
penggerak turbin pembangkit listrik atau sebagai
penggerak kincir
Pasal 46 ayat (2) Penjelasannya
Alokasi air untuk pengusahaan sumber daya air Ayat (2)
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus Alokasi air yang diberikan untuk keperluan
didasarkan pada rencana alokasi air yang pengusahaan tersebut tetap memperhatikan
ditetapkan dalam rencana pengelolaan sumber alokasi air untuk pemenuhan kebutuhan pokok
daya air wilayah sungai bersangkutan. sehari-hari dan pertanian rakyat pada wilayah
sungai yang bersangkutan.
Pasal 91 Penjelasannya
Instansi pemerintah yang membidangi sumber Pasal 91
daya air bertindak untuk kepentingan Cukup jelas
masyarakat apabila terdapat indikasi masyarakat
menderita akibat pencemaran air dan/atau
kerusakan sumber air yang mempengaruhi
kehidupan masyarakat.
Pasal 92 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) Penjelasannya
(1) Organisasi yang bergerak pada bidang Ayat (1)
sumber daya air berhak mengajukan Yang dimaksud dengan organisasi yang bergerak di
gugatan terhadap orang atau badan usaha bidang sumber daya air antara lain adalah
yang melakukan kegiatan yang organisasi pengguna air, organisasi pemerhati
menyebabkan kerusakan sumber daya air masalah air, lembaga pendidikan, lembaga
dan/atau prasarananya, untuk kepentingan swadaya masyarakat bidang sumber daya air,
keberlanjutan fungsi sumber daya air. asosiasi profesi, dan/atau bentuk organisasi
(2) Gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat masyarakat lainnya yang bergerak di bidang
(1) terbatas pada gugatan untuk melakukan sumber daya air.
tindakan tertentu yang berkaitan dengan Hak mengajukan gugatan pada ayat ini adalah
keberlanjutan fungsi sumber daya air gugatan perwakilan.
dan/atau gugatan membayar biaya atas Ayat (2)
pengeluaran nyata. Ketentuan dalam ayat ini dimaksudkan agar
(3) Organisasi yang berhak mengajukan gugatan gugatan yang dilakukan oleh organisasi hanya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus terbatas pada tindakan yang berkenaan dengan
memenuhi persyaratan: sumber daya air yang menyangkut kepentingan
a. berbentuk organisasi kemasyarakatan publik dengan memohon kepada pengadilan agar
yang berstatus badan hukum dan seseorang atau badan usaha diperintahkan untuk
bergerak dalam bidang sumber daya air; melakukan tindakan penanggulangan dan
b. mencantumkan tujuan pendirian pemulihan yang berkaitan dengan keberlanjutan
organisasi dalam anggaran dasarnya fungsi sumber daya air.
untuk kepentingan yang berkaitan Yang dimaksud dengan biaya atas pengeluaran
dengan keberlanjutan fungsi sumber nyata adalah biaya yang nyata-nyata dapat

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

daya air; dan dibuktikan telah dikeluarkan oleh organisasi


c. telah melakukan kegiatan sesuai dengan penggugat.
anggaran dasarnya. Ayat (3)
Cukup jelas
Tabel 10. Materi muatan, ayat, pasal, dan/atau bagian yang dimohonkan dalam PUU Sumber Daya Air

3. Dalil-dalil pemohon (isu hukum) dan Petitum


a. Dalil-dalil pemohon (isu hukum)
Dalil-dalil atau isu hukum yang dikemukan oleh pemohon dalam kelima berkas
permohonan pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
Air dapat disederhanakan dalam satu kumpulan dalil permohonan. Hal ini supaya
tidak terjadi pengulangan, karena terdapat materi muatan, ayat, pasal, dan/atau
bagian undang-undang yang sama yang dimohonkan oleh satu pemohon dan
dimohonkan juga oleh pemohon lainnya. Disamping itu, alasan-alasan permohonan
yang dikemukakan pemohon tidak akan dipaparkan keseluruhannya dalam ringkasan
ini, melainkan hanya terfokus kepada beberapa isu hukum yang penting saja. Hal
tersebut meliputi:
1) Dalam sidang paripurna persetujuan RUU Sumber Daya Air terdapat
beberapa anggota DPR RI yang berpendirian tidak setuju terhadap
pengesahan Undang-undang tersebut. Namun pimpinan rapat tetap
memaksakan persetujuan terhadap RUU tersebut. Akibatnya, beberapa
anggota DPR tersebut melakukan walk out. Tindakan pimpinan rapat
paripurna yang tetap memaksakan pengambilan suara dengan mufakat dan
tidak dengan suara terbanyak, padahal ada perbedaan pendirian diantara
anggota rapat paripurna merupakan pelanggaran terhadap Pasal 192 dan
Pasal 193 Peraturan Tata Tertib DPR RI
2) Pertimbangan hukum sebagai dasar pembentukkan Undang-undang Nomor
7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air bertentangan dengan semangat dan
jiwa UUD 1945, karena tidak mencantumkan Pasal 33 Undang Undang
Dasar 1945 secara lengkap utuh (ayat 1 sampai 5).
3) Hak atas air adalah hak asasi manusia
4) Komersialisasi dan swastanisasi pengelolaan sumber daya air, yaitu
penguasaan dan monopoli sumber-sumber air oleh swasta, terkonsentrasinya
penggunaan air bagi kepentingan komersil, dan Pasal 40, Pasal 41 dan Pasal
45 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yang
mengandung muatan Privatisasi Atas Penyediaan Air Minum, Pengelolaan
Sumber Daya Air dan lrigasi Pertanian.
5) Kewajiban dan tanggung jawab negara dalam hal penyediaan fasilitas
pelayanan umum kepada rakyat, termasuk dalam hal ini adalah penyediaan
air yang bersih dan sehat sebagai turunan dari Pasal 33 ayat (2), ayat (3) dan
ayat (4) serta Pasal 34 ayat (3) Undang Undang Dasar 1945
6) Masalah Kedaulatan Indonesia, kemakmuran rakyat dan demokrasi ekonomi.
7) Keberadaan masyarakat hukum adat dan Pembatasan penggunaan air untuk
pertanian rakyat.
8) Undang-undang a quo memunculkan dan berpotensi memicu konflik antar
masyarakat
9) Prioritas penyediaan Sumber Daya Air dan modifikasi cuaca
10) Perlindungan negara atas hak warga negara. Agar terdapat pengakuan,
jaminan dan perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakukan
yang sama dihadapan hukum, berhak dan wajib ikut serta dalam pembelaan
negara, berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

kemanusiaan, berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan


haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negara,
memenuhi hak hidup sejahtera lahir dan batin dari cabang-cabang produksi
yang menguasai hajat hidup orang banyak maupun bumi, air dan kekayaan
alam yang ada di Indonesia tetap dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-
besarnya untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia, yang merupakan hak
hukum dan hak konstitusional yang dijamin dan dilindungi di negara
Republik Indonesia berdasarkan Undang Undang Dasar 1945. Hak-hak para
Pemohon tersebut secara eksplisit dinyatakan dalam Pasal 27 ayat (1), ayat
(2) dan ayat (3), Pasal 28A, Pasal 28C ayat (2) dan Pasal 28D ayat (1), Pasal
28H ayat (1) jo Pasal 33, ayat (2) dan ayat (3) Undang Undang Dasar 1945
b. Petitum
Petitum atau tuntutan yang sampaikan oleh seluruh pemohon kepada
Mahkamah Konstitusi hampir sama, jadi penulis mengambil petitum yang
dimohonkan oleh pemokon Nomor Perkara 058/PUU-II/2004 karena petitumnya
dipandang dapat mewakili petitum dari pemohon lainnya, yaitu sebagai berikut:
1) Menerima dan mengabulkan seluruh permohonan pengujian undang-undang
para Pemohon;
2) Menyatakan pembentukan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang
Sumber Daya Air bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945 dan
menyatakan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
Air tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat;
3) Menyatakan ketentuan dalam Pasal 6 ayat (3), Pasal 7 ayat (1) dan ayat (2),
Pasal 8 ayat (2) huruf c, Pasal 9 ayat (1), Pasal 29 ayat (3) dan ayat (4), Pasal
29 ayat (5), Pasal 38 ayat (2), Pasal 40 ayat (1), ayat (4) dan ayat (7), Pasal
45 ayat (3) dan ayat (4), Pasal 46 ayat (2), Pasal 91, Pasal 92 ayat (1), ayat
(2) dan ayat (3) Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945;
4) Menyatakan ketentuan dalam Pasal 6 ayat (3), Pasal 7 ayat (1) dan ayat (2),
Pasal 8 ayat (2) huruf c, Pasal 9 ayat (1), Pasal 29 ayat (3) dan ayat (4), Pasal
29 ayat (5), Pasal 38 ayat (2), Pasal 40 ayat (1), ayat (4) dan ayat (7), Pasal
45 ayat (3) dan ayat (4), Pasal 46 ayat (2), Pasal 91, Pasal 92 ayat (1), ayat
(2) dan ayat (3) Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat;
5) Memerintahkan amar Putusan Majelis Hakim dari Mahkamah Konstitusi
Republik Indonesia yang mengabulkan permohonan pengujian Undang-
undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air terhadap Undang
Undang Dasar 1945 untuk dimuat dalam Berita Negara dalam jangka waktu
paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak putusan diucapkan.

4. Penafsiran Mahkamah Konstitusi


Dalam putusan Pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang
Sumber Daya Air, tidak semua hakim menolak permohonan yang diajukan pemohon.
Ada 2 (dua) orang hakim berpendapat berbeda (dissenting opinion). Pendapat berbeda
tersebut juga akan dipaparkan sebagai bagian dari penafsiran Mahkamah Konstitusi.
Karena penafsiran hakim akan nampak dalam pertimbangan hukum yang diberikannya
dalam putusan, maka untuk hal itu akan dijelaskan pertimbangan-pertimbangan hukum
oleh hakim dalam putusan tersebut dalam tabel berikut:

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

Isu Hukum Pertimbangan Hukum Atau Penafsiran Hakim Metode


Penafsiran
Hak asasi atas air 1. Fungsi air memang sangat perlu bagi kehidupan manusia Natural
dan dapat dikatakan sebagai kebutuhan yang demikian
pentingnya sebagaimana kebutuhan mahluk hidup terhadap
oksigen (udara).
2. Menimbang bahwa air merupakan sumber daya yang terdapat
di alam sebagaimana sumber daya alam lainnya, yang
ketersediannya (air) bagi kebutuhan manusia sangat
dipengaruhi oleh kondisi alam setempat di mana seseorang
berada. Dari sudut siklus hidrologis, air tidak akan berkurang
kuantitasnya, tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana
orang dapat melakukan usaha-usaha agar di tengah-tengah
siklus tersebut manusia cukup mendapatkan pasokan air pada
saat memerlukan air untuk kehidupannya. Sifat air berbeda
dengan sumber daya alam udara yang relatif secara bebas
dapat diperoleh di mana saja. Kondisi alam menyebabkan
ketersediaan air tidak selalu terdistribusi sejalan dengan
penyebaran manusia yang memerlukan air bagi
kehidupannya. Pada hal, kebutuhan manusia akan air bagi
kehidupannya tidak tergantung oleh tempat tinggalnya.
Artinya, ada atau tidak tersedianya air di satu tempat tidak
akan mengurangi kebutuhan manusia akan air. Campur
tangan manusia untuk mempengaruhi siklus hidrologis dengan
tujuan dapat menyediakan air guna kebutuhan manusia telah
sejak lama diupayakan baik dengan memanfaatkan teknologi
yang sangat sederhana sampai dengan teknologi yang sangat
maju. Sebagai contoh penampungan air dan pengaturan aliran
air untuk dimanfaatkan dalam berbagai keperluan baik air
minum, perikanan, maupun pertanian, dan juga untuk
pembangkit tenaga listrik;
3. Bahwa sumber daya air tidak hanya semata-mata
dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari
secara langsung, akan tetapi dalam fungsi sekundernya sumber
daya air banyak diperlukan dalam kegiatan industri, baik
industri kecil, menengah maupun besar dimana kegiatan
tersebut dilakukan oleh pihak non Pemerintah. Sebagai unit
kegiatan ekonomi, industri kecil, menengah, dan besar
penting bagi usaha untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat. Oleh karena itu, apabila kebutuhan sumber daya
air oleh unit ekonomi tersebut tidak dicukupi akan
mengakibatkan industri-industri tersebut berhenti beroperasi
yang akan berpengaruh langsung kepada perekonomian
masyarakat.
Akses tehadap pasokan air bersih telah diakui sebagai hak asasi Doktrinal
manusia yang dijabarkan dari:
(a) Piagam pembentukan World Health Organization 1946 yang
menyatakan bahwa “the enjoyment of the highest attainable
standard of health is one of the fundamental rights of every
human being;”
(b) Article 25 Universal Declaration of Human Rights yang
menyatakan: “Everyone has the right to standard of living
adequate for the health and well- being of himself and of his
family”;
(c) Article 12 International Covenant on Economic, Social and
Cultural Rights yang menyatakan:
“The States Parties to the present Covenant recognize the right
of everyone to the enjoyment of the highest attainable
standard of physical and mental health.”
(d) Article 24 (1) Convention on the Rights of Child (1989) yang
menyatakan:

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

“States Parties recognize the right of the child to the


enjoyment of the highest attainable standard of health and to
facilities for the reatment of illness and rehabilitation of
health. States Parties shall strive to ensure that no child is
deprived of his or her right of access to such health care
services.’
Pada Tahun 2000 Komite PBB untuk Hak-hak Ekonomi, Sosial
dan Budaya telah menerima Komentar Umum (General
Comment) mengenai hak atas kesehatan yang merumuskan
penafsiran normatif hak atas kesehatan sebagaimana
dicantumkan dalam Article 12 (1) ICESCR yang berbunyi
“The States Parties to the present Covenant recognize the right
of everyone to the enjoyment of the highest attaintable
standard of physical and mental health”. Komentar Umum
tersebut menafsirkan hak atas kesehatan sebagai hak inklusif
yang meliputi tidak saja pelayanan kesehatan yang terus
menerus dan layak tetapi juga meliputi faktor-faktor yang
menentukan kesehatan yang baik, termasuk salah satu di
dalamnya adalah akses kepada air minum yang aman. Pada
Tahun 2002 Komite selanjutnya mengakui bahwa akses
terhadap air adalah sebagai hak asasi yang tersendiri.
Menimbang bahwa pengakuan akses terhadap air sebagai hak Equitable
asasi manusia mengindikasikan dua hal; di satu pihak adalah Dan
pengakuan terhadap kenyataan bahwa air merupakan kebutuhan Doktrinal
yang demikian penting bagi hidup manusia, di pihak lain
perlunya perlindungan kepada setiap orang atas akses untuk
mendapatkan air. Demi perlindungan tersebut perlu dipositifkan
hak atas air menjadi hak yang tertinggi dalam bidang hukum
yaitu hak asasi manusia. Permasalahan yang timbul kemudian
adalah bagaimana posisi negara dalam hubungannya dengan air
sebagai benda publik atau benda sosial yang bahkan telah diakui
sebagai bagian dari hak asasi manusia. Sebagaimana hak-hak
asasi manusia lainnya posisi negara dalam hubungannya
dengan kewajibannya yang ditimbulkan oleh hak asasi
manusia, negara harus menghormati (to respect),
melindungi (to protect), dan memenuhinya (to fulfill);
Menimbang bahwa para founding fathers secara visioner Historis
telah meletakkan dasar bagi pengaturan air dengan tepat
dalam ketentuan UUD 1945 yaitu Pasal 33 ayat (3) yang
berbunyi: “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar
besarnya kemakmuran rakyat.” Dengan demikian secara
konstitusional landasan pengaturan air adalah Pasal 33 ayat (3)
UUD 1945 dan Pasal 28H UUD 1945 yang memberikan dasar
bagi diakuinya hak atas air sebagai bagian dari hak hidup
sejahtera lahir dan batin yang artinya mejadi substansi dari hak
asasi manusia;
Menimbang bahwa karena air mempunyai sifat atau Komparatif
karakteristik tersendiri dibandingkan dengan sumber daya
alam lainnya sebagai misal minyak atau barang tambang
lainnya, dan karena terhadap air berlaku dua ketentuan hukum,
yaitu hak asasi manusia yang diturunkan dari Pasal 28H dan Pasal
33 ayat (3) UUD 1945 maka pengaturan terhadap air mempunyai
kekhususan;
Tanggungjawab Menimbang bahwa air tidak hanya diperlukan untuk Equitable
Negara thd hak memenuhi kebutuhan hidup manusia secara langsung saja.
(asasi manusia) atas Sumber daya yang terdapat pada air juga diperlukan untuk
air memenuhi kebutuhan lainnya, seperti pengairan untuk
pertanian, pembangkit tenaga listrik, dan untuk keperluan
industri. Pemanfaatan sumber daya air tersebut juga mempunyai
andil yang penting bagi kemajuan kehidupan manusia, dan

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

menjadi faktor yang penting pula bagi manusia untuk dapat


hidup secara layak. Ketersediaan akan bahan makanan,
kebutuhan energi/listrik akan dapat dipenuhi, salah satu caranya
adalah melalui pemanfaatan sumber daya air. Dengan dasar-dasar
pemikiran tersebut, pengaturan mengenai sumber daya air untuk
keperluan sekunder merupakan sebuah keniscayaan pula. Oleh
karenanya, pengaturan sumber daya air tidak cukup hanya
menyangkut pengaturan air sebagai kebutuhan dasar manusia
yaitu sebagai hak asasi, tetapi juga perlu diatur pemanfaatan
sumber daya air untuk keperluan sekunder yang tidak kalah
pentingnya bagi manusia agar dapat hidup secara layak.
Kehadiran Undang-undang yang mengatur kedua hal tersebut
sangatlah relevan.
Mahkamah berpendapat bahwa Pasal 5 UU SDA yang Tekstual
berbunyi: “Negara menjamin hak setiap orang untuk dan
mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna
memenuhi kehidupan yang sehat, bersih dan produktif”, adalah Fungsional
rumusan hukum yang cukup memadai untuk menjabarkan hak
asasi atas air sebagai hak yang dijamin oleh UUD. Meskipun
jaminan negara dalam Pasal 5 UU SDA tersebut tidak
dirumuskan kembali dalam bentuk tanggung jawab
Pemerintah dan Pemerintah provinsi, sebagaimana disebutkan
dalam Pasal 14, Pasal 15 UU SDA, namun tanggung jawab
Pemerintah dan Pemerintah provinsi, sebagaimana dirinci dalam
kedua pasal tersebut harus didasari atas penghormatan,
perlindungan dan pemenuhan hak asasi atas air. Ketentuan Pasal
16 huruf h UU SDA yang menentukan bahwa Pemerintah
kabupaten/kota mempunyai tanggung jawab memenuhi
kebutuhan pokok minimal sehari-hari atas air bagi masyarakat di
wilayahnya tidak boleh diartikan sebagai tanggung jawab
eksklusif bahwa hanya Pemerintah kabupaten/kota saja yang
mempunyai kewajiban untuk memenuhi kebutuhan pokok
minimal sehari-hari atas air. Pemerintah dan Pemerintah provinsi
melalui program programnya juga berkewajiban untuk menjamin
agar hak asasi atas air dapat terpenuhi. Hal demikian harus
tercerminkan dalam peraturan pelaksanaan UU SDA
1. Tanggung jawab penyelenggaraan pengembangan sistem Fungsional
penyediaan air minum pada prinsipnya adalah tanggung
jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Peran serta
koperasi, badan usaha swasta, dan masyarakat hanyalah
bersifat terbatas dalam hal Pemerintah belum dapat
menyelenggarakan sendiri, dan Pemerintah masih tetap
memungkinkan menjalankan kewenangannya dalam
pengaturan, pelaksanaan, dan pengawasan dalam
pengelolaan sumber daya air secara keseluruhan;
2. Pasal 40 ayat (1) menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan
air baku untuk air minum rumah tangga sebagaimana
dimaksudkan dalam Pasal 34 ayat (1) dilakukan dengan
pengembangan sistem penyediaan air minum, sedangkan ayat
(2) menyatakan bahwa pengembangan sistem penyediaan air
minum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi
tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
Pengembangan sistem penyediaan air minum diselenggarakan
secara terpadu dengan pengembangan prasarana dan sarana
sanitasi. Demikian dinyatakan dalam ayat (6) Pasal 40 UU
SDA. Mahkamah berpendapat bahwa tanggung jawab
Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang dinyatakan oleh
Pasal 40 UU SDA ini harus menjadi prioritas program
Pemerintah dan Pemerintah Daerah, karena dengan
pengembangan sistem penyediaan air minum yang memadai,
pemenuhan hak atas air akan meningkat kualitasnya, karena
seseorang dalam waktu yang tidak terlalu lama dan dalam

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

jarak yang tidak terlalu jauh dapat memperoleh air.


Mahkamah berpendapat bahwa kewajiban Pemerintah untuk Tekstual
memenuhi hak atas air di luar hak guna pakai tercermin dalam:
i. Tanggung jawab Pemerintah, Pemerintah provinsi, dan
Pemerintah kabupaten/kota yang dirinci dalam Pasal 14, 15,
dan 16 UU SDA, yaitu adanya tanggungjawab untuk
mengatur, menetapkan, dan memberi izin atas penyediaan,
peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan sumber daya air
pada wilayah sungai. Pemerintah wajib memprioritaskan air
baku untuk memenuhi kepentingan sehari-hari bagi setiap
orang melalui pengelolaan pendayagunaan sumber daya air;
ii. Ketentuan Pasal 29 ayat (3) UU SDA yang berbunyi,
“Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-
hari dan irigasi bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang
sudah ada merupakan prioritas utama penyediaan sumber
daya air di atas semua kebutuhan”
iii. Ketentuan Pasal 26 (7) yang berbunyi, “Pendayagunaan
sumber daya air dilakukan dengan mengutamakan fungsi
sosial untuk mewujudkan keadilan dengan memperhatikan
prinsip pemanfaat air membayar biaya jasa pengelolaan
sumber daya air dan dengan melibatkan peran masyarakat”.
Mahkamah berpendapat bahwa ketentuan ini haruslah secara
nyata dilaksanakan dalam aturan pelaksanaan UU SDA,
sehingga pengelolaan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)
sebagai pengusahaan sumber daya air benar-benar
diusahakan oleh Pemerintah Daerah dengan berlandaskan
pada ketentuan Pasal 26 (7) UU SDA. Peran serta masyarakat
yang merupakan pelaksanaan asas demokratisasi dalam
pengelolaan air harus diutamakan dalam pengelolaan PDAM,
karena baik buruknya kinerja PDAM dalam pelayanan
penyediaan air kepada masyarakat mencerminkan secara
langsung baik buruknya negara dalam melakukan
kewajibannya untuk memenuhi hak asasi atas air.
Hak atas air di luar Menimbang bahwa Hak Guna Pakai Air sebagaimana dirumuskan Tekstual
sistem irigasi dalam Pasal 1 angka 14 UU SDA yang berbunyi, “hak untuk
memperoleh air dan memakai air” yang menurut Pasal 8 UU SDA
diperoleh tanpa izin untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-
hari bagi perorangan dan bagi pertanian rakyat yang berada di
dalam sistem irigasi sebagaimana dirumuskan dalam UU SDA hak
yang dijabarkan dari hak asasi atas air. Volume kebutuhan pokok
sehari-hari perlu untuk ditetapkan standard atau ukurannya yang
berdasarkan pada ukuran yang berlaku secara universal tentang
seberapa besar kebutuhan minimal akan air untuk memenuhi
kebutuhan pokok sehari-hari. Seseorang tidak dapat mendasarkan
pada hak asasi atas air untuk mengambil air tanpa batas, karena
hal tersebut akan merugikan hak asasi orang lain. Hak Guna Pakai
Air yang dirumuskan dalam UU SDA lebih bersifat penghormatan
dan perlindungan terhadap hak asasi atas air, karena hak guna
pakai menurut Penjelasan Pasal 8 UU SDA hanya dinikmati oleh
mereka yang mengambil dari sumber air dan bukannya dari
saluran distribusi;
1. Menimbang bahwa air adalah res commune, dan oleh Tekstual
karenanya harus tunduk pada ketentuan Pasal 33 ayat (3)
UUD 1945, sehingga pengaturan tentang air harus masuk ke
dalam sistem hukum publik yang terhadapnya tidak dapat
dijadikan objek pemilikan dalam pengertian hukum perdata.
Oleh karena itu, satu-satunya konsep hak yang sesuai dengan
hakikat pengaturan tersebut adalah hak atas air sebagai hak
asasi manusia sebagaimana diatur dalam konstitusi.
Mahkamah berpendapat konsep Hak Guna Pakai Air

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

sebagaimana telah dirumuskan dalam UU SDA harus


ditafsirkan sebagai turunan (derivative) dari hak hidup yang
dijamin oleh UUD 1945;
2. Menimbang bahwa meskipun dalam UU SDA dikenal Hak
Guna Usaha Air sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 7 ayat
(1), namun pengertian hak tersebut harus dibedakan
dengan hak dalam pengertian yang umum. Pasal 1 angka 15
menyatakan bahwa Hak Guna Usaha Air adalah hak untuk
memperoleh dan mengusahakan air. Dengan rumusan ini
maka Hak Guna Usaha Air tidak dimaksudkan untuk
memberikan hak penguasaan atas sumber air, sungai, danau,
atau rawa. Penjelasan Umum angka 2 menyatakan bahwa
Hak Guna Air bukan merupakan hak pemilikan atas air tetapi
hanya terbatas pada hak untuk memperoleh dan memakai
atau mengusahakan sejumlah (kuota) air sesuai dengan alokasi
yang ditetapkan oleh Pemerintah kepada pengguna air.
3. Konsep Hak Guna Air sedemikian ini sesuai dengan konsep
bahwa air adalah res commune yang tidak menjadi objek
harga secara ekonomi. Hak Guna Air mempunyai dua sifat.
Pertama, pada hak guna pakai hak tersebut bersifat hak in
persona. Hal dimaksud disebabkan hak guna pakai adalah
pencerminan dari hak asasi, oleh karenanya hak tersebut
melekat kepada subjek manusia yang sifatnya tak terpisahkan.
Kedua, pada Hak Guna Usaha Air adalah hak yang semata-
mata timbul dari izin yang diberikan oleh Pemerintah atau
Pemerintah Daerah, dan sebagai izin maka terikat oleh kaidah-
kaidah perizinan, termasuk di dalamnya ketentuan-ketentuan
tentang persyaratan perizinan dan alasan-alasan yang
menyebabkan izin dapat dicabut oleh pemberi izin. Sengketa
atas Hak Guna Usaha Air tidak mungkin timbul antara
Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan pemegang izin.
Pemberi izin mempunyai hak pengawasan atas izin yang
diberikan. Hak Guna Usaha Air merupakan instrumen dalam
sistem perizinan yang digunakan Pemerintah untuk membatasi
jumlah atau volume air yang dapat diperoleh atau diusahakan
oleh yang berhak. Dengan adanya Hak Guna Usaha Air maka
akan dengan jelas dapat ditentukan seberapa banyak volume
air dapat diusahakan oleh pemegang izin. Mahkamah
berpendapat bahwa kedua karakteristik yang terdapat pada
Hak Guna Air tersebut telah terpenuhi dengan adanya
ketentuan yang dicantumkan dalam Pasal 7 ayat (2) UU SDA
yang menyatakan bahwa Hak Guna Air tidak dapat
disewakan atau dipindahtangankan, sebagian atau seluruhnya
kepada pihak ke tiga;
Privatisasi dan 1. Menimbang bahwa meskipun negara mempunyai hak Tekstual
komersialisasi penguasaan atas air, namun karena pada air terdapat aspek
hak asasi, maka pengelolaan terhadap air haruslah dilakukan
secara transparan, yaitu dengan mengikutsertakan peran
masyarakat, dan tetap menghormati hak-hak masyarakat
hukum adat terhadap air, dengan demikian terbangun
demokratisasi dalam sistem pengelolaan sumber daya air.
Mahkamah berpendapat bahwa ketentuan Pasal 11 ayat (3)
yang menyatakan bahwa; ”Penyusunan pola pengelolaan
sumber daya air dilakukan dengan melibatkan peran
masyarakat dan dunia usaha seluas-luasnya“ cukup
mencerminkan keterbukaan dalam penyusunan pola
pengelolaan sumber daya air. Adanya kalimat “seluas luasnya“
tidaklah ditafsirkan hanya memberikan peran yang besar
kepada dunia usaha saja tetapi juga kepada masyarakat.
Pelibatan masyarakat dan dunia usaha dimaksudkan untuk
memberi masukan atas rencana penyusunan pengelolaan
sumber daya air, dan tanggapan atas pola yang akan

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

digunakan dalam pengelolaan sumber daya air. Peran negara


sebagai yang menguasai air, demikian perintah Pasal 33 ayat
(3) UUD 1945 yang dilaksanakan oleh Pemerintah atau
Pemerintah Daerah tetap ada dan tidak dialihkan kepada
dunia usaha atau swasta. Hal tersebut tercermin dalam
ketentuan yang termuat dalam Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 16
UU SDA;
2. Menimbang bahwa para Pemohon mendalilkan UU SDA
menyebabkan komersialisasi terhadap air karena menganut
prinsip “penerima manfaat jasa pengelolaan sumber daya air
wajib menanggung biaya pengelolaan” sesuai dengan jasa
yang dipergunakan. Mahkamah berpendapat bahwa prinsip
ini justru menempatkan air tidak sebagai objek untuk dikenai
harga secara ekonomi, karenanya tidak ada harga air sebagai
komponen dalam menghitung jumlah yang harus dibayar oleh
penerima manfaat. Oleh karenanya prinsip ini tidak bersifat
komersial;
3. Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan Pasal 29 ayat (5)
UU SDA akan menimbulkan beban bagi Pemerintah atau
Pemerintah Daerah karena harus membayar kompensasi,
apabila penetapan urutan prioritas penyediaan sumber daya
air menimbulkan kerugian bagi pemakai sumber daya air.
Mahkamah berpendapat bahwa kewajiban untuk mengatur
kompensasi sebagaimana dimaksud dalam ketentuan a quo
tidaklah dimaksudkan sebagai memberikan kewajiban kepada
Pemerintah atau Pemerintah Daerah untuk melakukan
pembayaran. Dalam mengatur kompensasi Pemerintah atau
Pemerintah Daerah dapat membebankan kepada penerima
manfaat sumber daya air, dan tidak harus ditanggung oleh
Pemerintah atau Pemerintah Daerah. Pengertian mengatur
kompensasi tidak sama dengan membayar kompensasi.
Mahkamah berpendapat Pasal 29 ayat (5) UU SDA tidak
bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat
dalam UUD 1945, sehingga permohonan Pemohon untuk
menyatakan Pasal 29 ayat (5) bertentangan dengan UUD
1945 tidak berdasar
4. Prinsip “pemanfaat air membayar biaya jasa pengelolaan Fungsional
sumber daya air” adalah menempatkan air bukan sebagai
objek yang dikenai harga secara ekonomi, ini sesuai dengan
status air sebagai “res commune”. Dengan prinsip ini
seharusnya pemanfaat air membayar lebih murah
dibandingkan apabila air dinilai dalam harga secara ekonomi,
karena dalam harga air secara ekonomi, pemanfaat harus
membayar di samping harga air juga ongkos produksi serta
keuntungan dari pengusahaan air.
5. PDAM harus diposisikan sebagai unit operasional negara
dalam merealisasikan kewajiban negara sebagaimana
ditetapkan dalam Pasal 5 UU SDA, dan bukan sebagai
perusahaan yang berorientasi pada keuntungan secara
ekonomis. Meskipun terdapat ketentuan Pasal 80 ayat (1) UU
SDA yang menyatakan bahwa pengguna sumber daya air
untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan untuk
pertanian rakyat tidak dibebani biaya jasa pengelolaan sumber
daya air, ketentuan ini adalah berlaku sepanjang pemenuhan
kebutuhan pokok sehari-hari dan untuk pertanian rakyat di
atas diperoleh langsung dari sumber air. Artinya, apabila air
untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian rakyat itu diambil
dari saluran distribusi maka berlaku prinsip “pemanfaat air
membayar biaya jasa pengelolaan sumber daya air” dimaksud.
Namun, hal ini tidak boleh dijadikan dasar bagi pengenaan
biaya yang mahal untuk warga yang menggantungkan
pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari kepada PDAM

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

melalui saluran distribusi. Besarnya biaya pengelolaan sumber


daya air untuk PDAM harus transparan dan melibatkan unsur
masyarakat dalam penghitungannya. Karena air adalah sangat
vital serta terkait langsung dengan hak asasi, maka dalam
peraturan pelaksanaan UU SDA perlu dicantumkan dengan
tegas kewajiban Pemerintah Daerah untuk menganggarkan
dalam APBD-nya sumber pembiayaan pengelolaan sumber
daya air;
Prioritas Mahkamah berpendapat bahwa dalam menggunakan Fungsional
Penyediaan SDA kewenangan tersebut Pemerintah haruslah mengutamakan
pemenuhan hak asasi atas air dibandingkan dengan kepentingan
lain, karena hak asasi atas air adalah hak yang utama;
Swastanisasi Menimbang bahwa dengan dasar pendapat Mahkamah Fungsional
sebagaimana telah disampaikan tersebut di atas, maka
pertimbangan hukum Mahkamah atas permohonan para
pemohon untuk dilakukan pengujian materiil adalah sebagai
berikut:
1. Bahwa oleh karena pasal-pasal yang diajukan pengujian
materiil oleh Pemohon tidaklah berdiri sendiri tetapi terkait
antara yang satu dengan yang lain, maka Mahkamah perlu
melihat kaitan antara pasal-pasal dalam UU SDA untuk
mempertimbangkan permohonan Pemohon;
2. Bahwa setelah mempelajari permohonan para Pemohon,
Mahkamah berkesimpulan bahwa para Pemohon tidak
memberikan perhatian yang cukup pada apa yang oleh UU
SDA disebut sebagai “Pola Pengelolaan Sumber Daya Air”,
sehingga menyebabkan timbulnya persepsi atau interpretasi
yang keliru dalam memahami UU SDA secara komprehensif;
3. Bahwa para Pemohon mendalilkan dalam UU SDA terdapat
pasal-pasal yang mendorong swastanisasi atau privatisasi yaitu
Pasal 9, Pasal 10, Pasal 26, Pasal 45, Pasal 46, dan Pasal 80
UU SDA, sehingga pasal-pasal tersebut bertentangan dengan
Pasal 33 (3) UUD 1945. Mahkamah berpendapat bahwa
UU SDA mengatur hal-hal yang pokok dalam
pengelolaan sumber daya air, dan meskipun UU SDA
membuka peluang peran swasta untuk mendapatkan Hak
Guna Usaha Air dan izin pengusahaan sumber daya air namun
hal tersebut tidak akan mengakibatkan penguasaan air akan
jatuh ke tangan swasta. Negara dalam melaksanakan hak
penguasaan atas air meliputi kegiatan: (1) merumuskan
kebijaksanaan (beleid), (2) melakukan tindakan pengurusan
(bestuursdaad), (3) melakukan pengaturan (regelendaad), (4)
melakukan pengelolaan (beheersdaad), dan (5) melakukan
pengawasan (toezichthoudendaad);
Penggunaan air Sebagaimana dinyatakan oleh Penjelasan Umum angka 11 bahwa Fungsional
laut di darat pemanfaatan air laut yang berada di darat untuk keperluan
pengusahaan, baik melalui rekayasa teknis maupun alami akibat
pasang surut, perlu memperhatikan fungsi lingkungan hidup dan
harus mendapat izin dari Pemerintah atau Pemerintah
Daerah. Seandainya ketentuan yang terdapat dalam Pasal 39
ayat (2) UU SDA dinyatakan bertentangan dengan hak
konstitusional para petani garam, maka norma hukum yang lahir
akibat dihapuskannya ketentuan ini adalah “penggunaan air laut
yang berada di darat untuk kegiatan usaha dilakukan tanpa perlu
adanya izin dari Pemerintah“. Hal demikian akan berlaku bagi
jenis pengusahaan apapun yang memanfaatkan air laut di darat
tanpa mempertimbangkan daya rusaknya, termasuk pengusahaan
tambak dalam skala besar. Perlindungan terhadap petani garam
rakyat dan petambak tradisional dapat dikecualikan dari
ketentuan Pasal 39 ayat (2) UU SDA dalam Peraturan Pemerintah
yang diamanatkan oleh Pasal 39 ayat (3) UU SDA. Di samping itu

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

Mahkamah tidak menemukan dasar bahwa Pasal 39 ayat (2)


sebagai bertentangan dengan UUD 1945, sehingga permohonan
Pemohon tidaklah beralasan;
Hak masyarakat 1. Menimbang bahwa para Pemohon mendalilkan adanya Fungsional
Hukum Adat ketentuan Pasal 6 ayat (3) UU SDA yang menyatakan hak
ulayat masyarakat adat atas sumber daya air sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) tetap diakui sepanjang kenyataannya
masih ada dan telah dikukuhkan dengan peraturan daerah,
telah melemahkan posisi dari masyarakat hukum adat yang
ada karena perlu pengukuhan peraturan daerah, sehingga
merugikan hak konstitusional masyarakat hukum adat. Di
samping itu, Pemohon juga mengkhawatirkan penguasaan
sumber air oleh swasta akan merugikan masyarakat hukum
adat. Keberadaan masyarakat hukum adat dijamin haknya
oleh UUD 1945, yaitu oleh Pasal 18B ayat (2) UUD 1945.
Mahkamah berpendapat bahwa adanya Pasal 6 ayat (2) UU
SDA justru untuk melindungi hak masyarakat hukum adat
dimaksud atas sumber daya air. Eksistensi masyarakat
hukum adat yang masih mempunyai hak ulayat atas
sumber daya air harus menjadi materi muatan dalam
penyusunan pola pengelolaan sumber daya air baik oleh
Pemerintah kabupaten/kota, Pemerintah provinsi,
maupun Pemerintah pusat. Pengukuhan dengan peraturan
daerah harus dimaknai tidak bersifat konstitutif melainkan
bersifat deklaratif belaka terhadap kesatuan masyarakat
hukum adat yang masih hidup, sesuai dengan perkembangan
zaman, dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang
diatur dalam Undang-undang .
2. Adanya kekhawatiran bahwa penguasaan sumber air oleh
masyarakat hukum adat akan diambilalih oleh swasta tidaklah
akan terjadi karena swasta untuk melakukan pengusahaan atas
sumber daya air dilakukan dengan mekanisme perizinan
baik untuk mendapatkan Hak Guna Usaha Air maupun untuk
mendapatkan hak pengusahaan air. Izin yang diterbitkan baik
oleh Pemerintah maupun Pemerintah Daerah harus selalu
didasarkan pada pola pengelolaan sumber daya air yang
disusun oleh Pemerintah pusat maupun Pemerintah Daerah.
Swasta tidak dapat melakukan penguasaan atas sumber air
atau sumber daya air, tetapi hanya dapat melakukan
pengusahaan dalam jumlah atau alokasi tertentu saja sesuai
dengan alokasi yang ditentukan dalam izin yang diberikan.
Dengan dasar-dasar pertimbangan di atas, Mahkamah
berpendapat bahwa permohonan untuk menyatakan Pasal 6
ayat (3) UU SDA sebagai bertentangan dengan UUD 1945
tidak cukup beralasan;
Modifikasi Cuaca Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan Pasal 38 ayat (2) UU Fungsional
SDA yang memberikan kemungkinan kepada badan usaha swasta
dan perorangan dapat melaksanakan pemanfaatan awan dengan
teknologi modifikasi cuaca akan menimbulkan konflik di
masyarakat serta akan merugikan masyarakat. Mahkamah
berpendapat bahwa karena dalam melaksanakan pemanfaatan
teknologi modifikasi cuaca diperlukan izin dari Pemerintah,
maka Pemerintah dapat membebankan syarat-syarat tertentu agar
masyarakat tidak dirugikan dan apabila menimbulkan kerugian
kepada masyarakat dapat dikenakan kewajiban mengganti
kerugian. Oleh karena itu, Mahkamah berpendapat Pasal 38 ayat
(2) UU SDA tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan
yang terdapat dalam UUD 1945, sehingga permohonan Pemohon
untuk menyatakan Pasal 38 ayat (2) UU SDA bertentangan
dengan UUD 1945 tidak berdasar;
Mengenai Amar Menimbang bahwa dengan adanya ketentuan tersebut di atas Fungsional

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

putusan: manolak Mahkamah berpendapat, UU SDA telah cukup memberikan


kewajiban kepada Pemerintah untuk menghormati, melindungi
dan memenuhi hak atas air, yang dalam peraturan
pelaksanaannya Pemerintah haruslah memperhatikan
pendapat Mahkamah yang telah disampaikan dalam
pertimbangan hukum yang dijadikan dasar atau alasan putusan.
Sehingga, apabila Undang-undang a quo dalam pelaksanaan
ditafsirkan lain dari maksud sebagaimana termuat dalam
pertimbangan Mahkamah di atas, maka terhadap Undang-undang
a quo tidak tertutup kemungkinan untuk diajukan pengujian
kembali (conditionally constitutional);
Tabel 11. Metode penafsiran konstitusi dalam putusan PUU Sumber Daya Air

5. Dissenting Opinion
Dalam putusan pengujian undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air ini, ada 2 (dua) orang hakim konstitusi yang memiliki pendapat berbeda
(dissenting opinion), yaitu: A. Mukthie Fadjar dan Maruarar Siahaan. Lebih lanjut,
pendapat berbeda tersebut diuraikan sebagai berikut:
Nama Hakim Pertimbangan Hukum Atau Penafsiran Hakim Metode
Konstitusi Penafsiran
1. Mukthie Fadjar Kami ciptakan manusia dari air (Q.S. 25: 54) Natural
Kami ciptakan semua hewan dari air (Q.S. 24: 45)
Kami ciptakan sesuatu yang hidup dari air (Q.S. 21: 30)

Secara umum, dari nukilan ayat suci di atas, menunjukkan bahwa


air adalah sumber kehidupan, tanpa air tak mungkin ada
kehidupan. Air yang semula tiada yang memiliki (res nullius),
kemudian menjadi milik bersama umat manusia (res commune),
bahkan milik bersama seluruh makhluk Tuhan, tak seorang pun
boleh memonopolinya.
Air yang semakin langka, perlu pengaturan oleh negara. Akan Doktrinal
tetapi, dalam tataran paradigmatik, pengaturan oleh negara atas
sumber daya air, seharusnya hanya menyangkut pengaturan
dalam pengelolaan (manajemen) sumber daya air, agar air dapat
digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dalam rangka
penghormatan (to respect), perlindungan (to protect), dan
pemenuhan (to fulfill) hak manusia atas air (the right to
water) yang secara universal sudah diakui sebagai hak asasi
manusia. Bukan pengaturan dalam bentuk pemberian hak-hak
tertentu atas air (water right) kepada perseorangan dan/atau
badan usaha swasta, seperti yang dianut oleh UU No.7 Tahun
2004 Tentang Sumber Daya Air (UU SDA), yang dapat tergelincir
menjadi privatisasi terselubung sumber daya air, sehingga
mendistorsi ketentuan Pasal 33 UUD 1945.
... Oleh karena itu, UU SDA yang begitu besar resistensi Fungsional
masyarakat terhadapnya, seyogyanya direvisi dulu agar lebih
tepat paradigmanya, yaitu paradigma yang lebih menekankan
dimensi sosial dan lingkungan dari pada dimensi ekonominya,
jika tidak, UU SDA akan inkonstitusional, sebab
paradigmanya tidak sejalan dengan paradigma UUD 1945,
khususnya Pasal 33 ayat (3) yang berbunyi “Bumi dan air dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran
rakyat”.
1. Pasal 6 ayat (3) yang berbunyi “Hak ulayat masyarakat hukum
adat atas sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) tetap diakui sepanjang masih ada dan telah dikukuhkan
dengan peraturan daerah setempat”.
Alasan untuk mengabulkannya ialah bahwa pengukuhan
kesatuan masyarakat hukum adat dengan peraturan daerah

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

(Perda) inkonstitusional, karena menurut ketentuan Pasal 18B


ayat (2) UUD 1945, kesatuan masyarakat hukum adat beserta
hak tradisionalnya dengan ukuran “sepanjang masih hidup,
sesuai dengan perkembangan masyarakat, dan prinsip Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-
undang ”. Padahal, hingga saat ini belum ada satu pun
Undang-undang yang di dalamnya memuat penjabaran
ketentuan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 tersebut. Tanpa
ukuran-ukuran seragam yang bersifat nasional, justru akan
melahirkan Perda yang beragam dan bisa menggoyahkan
sendi-sendi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Pasal 7 ayat (1) yang berbunyi “Hak guna air sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 ayat (4) berupa Hak Guna Pakai Air
dan Hak Guna Usaha Air” dan pasal-pasal berikutnya, seperti
Pasal 8 dan Pasal 9. Tekstual
Alasan untuk mengabulkannya ialah bahwa penggunaan
istilah “Hak Guna Air” yang diturunkan dari “hak
menguasai negara atas air” dan kemudian dijabarkan
menjadi “Hak Guna Pakai Air” dan “Hak Guna Usaha
Air” selain secara paradigmatik tidak tepat, karena lebih
bernuansa “water right” dari pada “the right to water”, juga
dapat mengundang salah tafsir (misinterpretasi) seolah-olah air
tidak lagi dikuasai oleh negara sebagaimana ketentuan Pasal
33 UUD 1945. Oleh karena itu, istilah Hak Guna Air, Hak
Guna Pakai Air, dan Hak Guna Usaha Air, sebaiknya diganti
saja dengan istilah-istilah: izin penggunaan air, izin pemakaian
air, dan izin pengusahaan air yang terasa lebih kental peranan
negara di dalamnya.
3. Pasal 9 ayat (1) yang berbunyi “Hak Guna Usaha Air dapat
diberikan kepada perseorangan dan atau badan usaha dengan
izin dari Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai dengan
kewenangannya”.
Alasan pengabulannya ialah bahwa ketentuan tersebut Fungsional
merupakan kebijakan terselubung kebijakan privatisasi sumber
daya air yang bertentangan dengan Pasal 33 UUD 1945.
Seharusnya Hak Guna Usaha Air atau lebih tepat izin
pengusahaan air seyogyanya hanya diberikan kepada
Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik
Daerah.
4. Pasal 11 ayat (3) yang bunyinya “Penyusunan pola
pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dilakukan dengan melibatkan peran masyarakat dan
dunia usaha seluas-luasnya”.
Alasan pengabulannya mutatis mutandis sama dengan Fungsional
alasan pengabulan permohonan atas Pasal 9 ayat (1),
kecuali badan usaha yang dimaksud adalah BUMN dan
BUMD.
5. Pasal 26 ayat (7) yang berbunyi “Pendayagunaan sumber daya Fungsional
air dilakukan dengan mengutamakan fungsi sosial untuk
mewujudkan keadilan dengan memperhatikan prinsip
pemanfaat air membayar jasa pengelolaan sumber daya air
dan dengan melibatkan peran masyarakat”. Penjelasannya
berbunyi “Yang dimaksud dengan prinsip pemanfaat
membayar biaya jasa pengelolaan adalah penerima manfaat
ikut menanggung biaya pengelolaan sumber daya air baik
secara langsung maupun tidak langsung. Ketentuan ini tidak
diberlakukan kepada pengguna air untuk pemenuhan
kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80”. Dalam Penjelasan
Pasal 80 ayat (1), ketentuan tidak dikenai biaya hanya jika
pengguna sumber daya air mengambil air bukan dari saluran
distribusi.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

Alasan pengabulannya adalah bahwa dengan diberikannya


Hak Guna Usaha Air kepada swasta akan berakibat
penguasaan air melalui saluran distribusi semakin
luas/besar dan berakibat berkurangnya sumber air non-
distribusi, sehingga mayoritas masyarakat pengguna air
terpaksa harus membayar air untuk keperluan sehari-hari dan
pertanian rakyat. Oleh karena itu, dalil para Pemohon yang
menyatakan bahwa berarti kalau yang ada hanya saluran
distribusi, maka pengguna air untuk keperluan sehari-hari dan
pertanian rakyat juga harus membayar serta merupakan
bentuk komersialisasi sumber daya air secara terselubung,
adalah cukup beralasan.
6. Pasal 29 ayat (3) yang berbunyi “Penyediaan air untuk Equitable
kebutuhan sehari-hari dan irigasi bagi pertanian rakyat dalam
sistem irigasi yang sudah ada merupakan prioritas utama
penyediaan sumber daya air di atas semua kebutuhan”.
Alasan pengabulannya adalah bahwa dalil para Pemohon
yang intinya menyatakan ketentuan tersebut telah
mendiskriminasi pemakai air untuk pertanian rakyat
yang berada dalam sistem irigasi yang sudah ada dengan
yang tidak, bertentangan dengan pasal-pasal HAM
dalam UUD 1945, cukup beralasan. Sebab ada kemungkinan
pertanian rakyat yang berada di luar sistem irigasi yang sudah
ada justru lebih besar daripada yang sudah berada dalam
sistem irigasi yang sudah ada. Seharusnya negara memberikan
perlakuan yang sama untuk penyediaan air bagi semua
pertanian rakyat.
7. Pasal 38 ayat (2) yang berbunyi “Badan usaha dan Fungsional
perseorangan dapat melaksanakan pemanfaatan awan dengan
teknologi modifikasi cuaca setelah memperolah izin dari
Pemerintah”.
Alasan pengabulannya adalah bahwa seharusnya
modifikasi cuaca untuk pembuatan hujan buatan
dilakukan oleh negara/Pemerintah, bukan oleh badan
usaha swasta atau perseorangan, dan harus setelah melalui
penelitian dan percobaan yang mendalam, serta
mengembangkan kemampuan untuk menangkal efek
negatifnya bagi hidup dan lingkungan hidup manusia. Maka
dalil para Pemohon yang pada pokoknya menyatakan bahwa
ketentuan tersebut bertentangan dengan Pasal 28 ayat (1)
UUD 1945 cukup beralasan, karena pembuatan hujan buatan
dengan teknologi modifikasi cuaca kalau tidak hati-hati justru
akan membahayakan hidup dan lingkungan hidup manusia,
terlebih lagi praktik selama ini belum menunjukkan hasil yang
signifikan, dan jika izin diberikan kepada perseorangan dan
badan usaha swasta akan menimbulkan konflik di masyarakat.
8. Pasal 39 yang intinya berisi ketentuan bahwa pengembangan Equitable
fungsi dan manfaat air laut yang berada di darat harus
memperhatikan lingkungan hidup, dapat dilakukan kegiatan
usaha oleh badan usaha dan perseorangan setelah mendapat
izin dari Pemerintah/Pemerintah Daerah, dan akan diatur lebih
lanjut dengan peraturan Pemerintah. Terhadap pasal ini dapat
dikemukakan catatan bahwa meskipun perizinan memang
diperlukan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup,
tetapi Pemerintah harus tetap memberikan
perlindungan kepada para petani garam rakyat
tradisional dalam prioritas perizinan.
9. Pasal 40 ayat (4) yang berbunyi “Koperasi, badan usaha, dan Fungsional
masyarakat dapat berperan serta dalam penyelenggaraan
pengembangan sistem penyediaan air minum”. Penjelasannya
berbunyi “Dalam hal di suatu wilayah tidak terdapat

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

penyelenggaraan air minum yang dilakukan oleh Badan Usaha


Milik Negara dan/atau Badan Usaha Milik Daerah,
penyelenggaraan air minum di wilayah tersebut dilakukan oleh
koperasi, badan usaha swasta, dan masyarakat”.
Alasan pengabulannya ialah bahwa dalil para Pemohon yang
menyatakan ketentuan Pasal 40 ayat (4) bertentangan dengan
Pasal 33 UUD 1945, karena telah memperluas komersialisasi
dan privatisisasi sumber daya air, khususnya dalam sistem
penyediaan air minum dengan memberikan peranan kepada
swasta. Hal itu terbukti dengan keluarnya PP No. 16 Tahun
2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
yang dalam Pasal 1 butir 9 menyatakan bahwa “Penyelenggara
pengembangan SPAM yang selanjutnya disebut Penyelenggara
adalah Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah,
koperasi, badan usaha swasta, dan/atau kelompok masyarakat
yang melakukan penyelenggaraan pengembangan sistem
penyediaan air minum”. Padahal dalam Pasal 40 ayat (2) UU
SDA sudah dinyatakan bahwa pengembangan SPAM adalah
tanggung jawab Pemerintah/Pemerintah Daerah, sehingga
Pasal 40 ayat (3) UU SDA menyatakan bahwa penyelenggara
SPAM adalah BUMN dan/atau BUMD. Peran serta koperasi,
badan usaha swasta dan masyarakat dalam pengembangan
SPAM bukanlah untuk menggantikan tanggung jawab
Pemerintah/Pemerintah Daerah melalui BUMN/BUMD seperti
bunyi Penjelasan Pasal 40 ayat (4). Dengan demikian, Pasal
40 ayat (4) memang merupakan swastanisasi
terselubung seperti terlihat dalam PP No. 16 Tahun
2005 yang merupakan implementasi Pasal 40 UU SDA.
10. Pasal 41 ayat (5) yang intinya berkaitan dengan penyediaan air
untuk kebutuhan air baku untuk pertanian yang dapat
mengikut sertakan masyarakat, Penjelasan pasal tersebut
memperkuat indikasi pemberian peranan swasta mengelola
sistem irigasi di Indonesia. Demikian pula ketentuan Pasal
45 ayat (3) dan ayat (4) juncto Pasal 46 UU SDA yang
intinya memberi kemungkinan pemberian izin kepada
swasta/perseorangan melakukan usaha sumber daya air
permukaan.
Maruarar Siahaan ... Tidak dapat dipungkiri bahwa air merupakan hal yang sangat Natural
mendasar dalam menopang kehidupan manusia. Bahkan dapat
dikatakan manusia tidak dapat hidup tanpa air, sehingga
dapat diterima bahwa air merupakan bagian dari hidup,
dan bahkan kehidupan itu sendiri. Kebutuhan mendasar akan
air dalam hidup manusia merupakan hal yang mutlak
Tidak dapat disangkal bahwa sumber daya air tersebut ada
dalam kondisi yang dinamis, dan sangat banyak dipengaruhi
daya tangkap dan daya simpan tanah akan air, sehingga
persediaan dan ketersediaanya tidak selalu sama. Juga ada
kemungkinan bahwa air yang berada pada sumber daya tertentu
tidak dapat dipergunakan secara habis dan dapat terbuang.
“Manusia memiliki hak atas sesuatu melalui dua cara, yaitu: Natural dan
(a) Atas dasar hakikatnya; dan (b) atas dasar kegunaanya. Doktrinal
Yang pertama adalah hak yang dimiliki manusia di luar
kewenangannya. Manusia memiliki hak ini atas dasar “perintah
ilahi”. Yang kedua adalah hak yang dimiliki atas dasar akal budi
dan kehendak, dalam arti bahwa manusia memiliki hak atas
sesuatu karena ia mampu menggunakannya. Masyarakat (dalam
hal ini negara) sebagai sumber hak positif menetapkan
pembagian atas barang-barang dan jasa bagi warganya, dan ini
hanya akan sah jika didasarkan atas “hak kodrat”, yaitu hak yang
lebih dasar yang dimiliki oleh semua manusia”. (E. Sumaryono,
Etika Hukum, 2002, hal. 260)

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

... Tanpa minyak maupun energi listrik manusia masih Komparatif


dapat hidup tetapi manusia tidak dapat hidup tanpa air.
Oleh karenanya pengaturan air berbeda dengan sumber daya dan
kekayaan alam lainnya, memerlukan penghayatan yang
mendalam akan fakta tersebut
... Menjadi satu pertanyaan besar, mengapa dalam Undang-
undang yang menyangkut sumber daya alam lainnya yaitu
tentang minyak dan gas bumi, yang justru aspek ekonomis minyak
dan gas bumi tersebut jauh lebih menonjol setidaknya untuk masa
sekarang dan manusia masih dapat hidup dengan layak tanpa
minyak dan gas bumi, justru pengusahaan dan pemanfaatan aspek
ekonomisnya sebagai komoditas tidak diatur dengan memberi hak
guna usaha minyak.
... Oleh karena hak setiap orang untuk hidup dan Doktrinal
mempertahankan hidup dan kehidupannya merupakan hak asasi
yang dilindungi oleh konstitusi, hal mana tidak dapat
dilakukannya tanpa air dalam jumlah minimal yang cukup, baik
untuk kebutuhan pribadi maupun untuk irigasi pertanian, maka
sesuai dengan tafsiran yang telah diterima secara
internasional dalam dokumen PBB General Comment No.
15 Tahun 2000 yang menyatakan air sebagai hak azasi yang
diakui, tafsiran demikian sangat bersesuaian dengan UUD 1945,
khususnya pasal 28A dan pasal 28I ayat (1), yang menjadi norma
dasar dalam sistem hirarki peraturan perundang-undangan di
Indonesia yang mengatur air
Pemerintah Negara Republik Indonesia berkewajiban untuk
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia, dan memajukan kesejahteraan umum, dan selain itu
negara juga berkewajiban, di samping melindungi, juga
menghormati dan memenuhi hak asasi warganegara yang
menyangkut akses terhadap air. Secara universal telah diterima
bahwa negara bertanggungjawab untuk menghormati,
melindungi, dan memenuhi Hak asasi manusia dari
warganegaranya (respect, protect, and fulfill). Untuk
menghormati, melindungi dan memenuhi hak asasi warganegara
atas air, maka Pemerintah atas nama negara juga telah diberi
perintah dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945
Konsepsi "dikuasai oleh negara" sebagaimana termuat dalam Pasal
33 ayat (3) UUD 1945 tersebut, telah ditafsirkan oleh
Mahkamah konstitusi dalam perkara nomor 01-021-
022/PUU-I/2003 mengenai pengujian UU no.20 tahun
2002 dan 02/PUU-I/2003 mengenai pengujian UU Nomor
22 Tahun 2002 tentang Minyak dan Gas Bumi, tanggal 1
Desember Tahun 2004, yang merumuskan bahwa penguasaan
negara tersebut adalah sesuatu yang lebih tinggi dari pemilikan.
Dinyatakan bahwa:
... “Rakyat secara kolektif itu dikontsruksikan oleh UUD 1945
memberikan mandat kepada Negara untuk mengadakan
kebijakan (beleid) dan tindakan pengurusan (bestuursdaad),
pengaturan (regelendaad), pengelolaan (beheersdaad) dan
pengawasan (toezichthoudensdaad) untuk tujuan sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Fungsi pengurusan (bestuursdaad) oleh
negara dilakukan oleh Pemerintah dengan kewenangannya untuk
mengeluarkan dan mencabut fasilitas perizinan (vergunning),
lisensi (licentie) dan konsesi (concessie)”.
... Konsepsi tersebut jelas menegaskan bahwa rakyat adalah
pemilik bumi dan air dan kekayaan alam yang ada di dalamnya,
sehingga oleh karenannya manusia sebagai individu yang memiliki
hak yang bersifat azasi untuk memperoleh akses terhadap air,
yang harus dilindungi, dihormati dan dipenuhi Pemerintah sebagai
kewajiban konstitusional, memperoleh garis keutamaan dalam

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

skala prioritas yang disusun dalam peraturan perundang-undangan


tentang sumber daya air. Bahkan sistem hukum dan negara yang
tidak mengenal ketentuan seperti Pasal 33 ayat (3) UUD 1945,
juga menganut doktrin bahwa air adalah merupakan res
communes. Konsekuensi dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, air
merupakan milik umum rakyat Indonesia dan seluruh
kewenangan yang lahir dari penguasaan negara dalam bentuk
pengaturan, pengelolaan, pengawasan dan pengurusan atas air
dan sumber daya air harus menempatkan hak rakyat Indonesia
yang bersifat asasi demikian, sebagai hak yang utama, dan seluruh
pengaturan yang dilakukan haruslah terlebih dahulu untuk
memenuhi kebutuhan warga Negara untuk mempertahankan
hidup dan kehidupannya, baru pada giliran berikut skala prioritas
lainnya memperoleh tempat.
Dilihat dari fungsi juga harus diakui sebagaimana disebut dalam Fungsional
UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air bahwa air
mempunyai fungsi sosial, lingkungan, maupun ekonomi. ....
apakah dengan urutan prioritas yang telah diuraikan, penempatan
Hak Guna Pakai Air duduk sejajar dengan Hak Guna Usaha Air
akan mendukung penjabaran konstitusi dan tafsirannya bahwa air
milik rakyat yang memiliki hak asasi atas air tersebut sebagai
prioritas dapat dipandang sebagai penjabaran pengaturan sumber
daya air yang serasi dengan bunyi Undang-undang Dasar?
Apakah hak asasi atas air dan fungsi ekonomis, lingkungan dan
sosial tepat diatur dengan sistem Hak Guna Air? Ataukah lebih
tepat, baik pengaturan fungsi sosial, lingkungan dan
ekonomis tersebut lebih baik diatur dengan sistem
perizinan sebagai bagian dari managemen sumber daya air?
Apakah pemenuhan hak asasi atas air bagi rakyat dapat secara
baik dipenuhi dengan menyerahkan pengelolaan dan
pengusahaan sumber daya air pada badan usaha perorangan atau
swasta?
Managemen Sumber Daya Air dengan Sistem Hak atau
Sistem Perizinan.
Jikalau Hak Guna Air dalam Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 7 Tahun Fungsional
2004 dibedakan antara Hak Guna Pakai Air dan Hak Guna Usaha
Air, maka Hak Guna Pakai Air untuk memenuhi kebutuhan pokok
sehari-hari bagi perseorangan dan bagi pertanian rakyat yang
berada dalam sistem irigasi, oleh Pasal 8 ayat (1) ditentukan tidak
memerlukan izin. Tetapi jikalau penggunaannya mengubah
kondisi alami sumber air, keperluan kelompok dalam jumlah
besar dan untuk pertanian rakyat di luar sistem irigasi yang sudah
ada, memerlukan izin. Di lain pihak, Pasal 9 menentukan bahwa
Hak Guna Usaha Air diberikan kepada perorangan atau badan
usaha dengan izin, maka tafsiran yang terjadi atas Pasal 9
tersebut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005,
telah menunjukkan bahwa hak guna usaha yang diberikan dapat
berupa pengusahaan air minum kepada swasta. Hal ini
menimbulkan pertanyaan apakah penjabaran demikian
konsisten dengan UUD 1945.
Meskipun tidak dapat dinafikan adanya aspek ekonomi dari air,
yang harus diperlakukan secara efisien dan tepat guna, akan tetapi
fungsi ekonomis air yang demikian tidak boleh menjadi
komoditas yang menguntungkan hanya segelintir orang, karena
air adalah hak milik rakyat, yang seharusnya dipergunakan untuk
mempertahankan hidup dan kelangsungan hidupnya, sebagai
yang utama dan terutama. Oleh karenanya pengaturan hak
asasi rakyat atas akses terhadap air tidak boleh disejajarkan
dengan hak guna usaha, yang boleh diberikan kepada
perseorangan, badan usaha swasta dan koperasi, karena
sifat satu hak guna usaha, sebagai suatu konsep hak yang

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

berada di bawah hak milik yang dikenal dalam konteks


hukum perdata barat, yang juga diambilalih dalam konsepsi hak
yang diatur dalam hukum pertanahan Indonesia, maka hak guna
usaha demikian akan memiliki sifat eksklusif terhadap orang lain,
eksklusivitas mana dapat dipertahankan terhadap siapapun.
Meskipun dapat diberi argumen bahwa hak guna usaha dimaksud
dalam Undang-undang a quo, berbeda dengan hak guna
usaha dalam hukum agraria, yaitu tidak bersifat teritorial
melainkan bersifat volume, maka hak yang bersifat eksklusif
demikian tetap mempunyai keunggulan yang dapat
mengesampingkan hak asasi warga atas akses terhadap air, karena
akses pemegang Hak Guna Usaha Air atas sumber daya air dalam
lokasi tertentu yang diberikan padanya, tidak akan terbuka bagi
setiap orang untuk melakukan kontrol yang efektif.
... Oleh karenanya tidak tepat untuk mengatur akses atas sumber
daya air dalam dua hak yang setara yaitu Hak Guna Pakai Air
yang sifatnya asasi dan Hak Guna Usaha Air, yang bersumber dari
hukum positif berdasar kedaulatan negara, yang pada dasarnya
memberi kemungkinan Hak Guna Usaha Air menjadi
diutamakan dari Hak Guna Pakai Air yang bersifat asasi,
meskipun dinyatakan bahwa pengaturan yang dilakukan bukan
dimaksudkan demikian....
... Teknik pengaturan demikian akan menghasilkan satu
posisi Negara sebagai pemberi izin, yang memiliki
kedudukan berdaulat yang akan menempatkan negara
dalam kedudukan yang lebih baik dalam rangka
kewajibannya untuk “menghormati, melindungi, dan
memenuhi” hak asasi rakyat atas akses terhadap air secara lebih
baik dan lebih efektif, karena setiap pelanggaran izin yang
diberikan akan dengan sendirinya memberi wewenang untuk
mencabut izin, dengan antisipasi dampaknya secara dini dan
dengan akibat hukum yang telah dapat diperkirakan. Hal
demikian akan menjadi lain jika negara memberi hak guna usaha,
yang akan mempersulit prosedur pencabutan dalam hal
diperlukan perlindungan dan pemenuhan hak asasi warga negara
pada saat dibutuhkan. Kedudukan negara akan menjadi lebih sulit
untuk memberikan perlindungan dan pemenuhan hak asasi warga
atas akses terhadap sumber daya air, karena Hak Guna Usaha Air
yang telah diberikan juga berhak atas perlindungan hukum yang
sama dari negara, meskipun tetap diakui bahwa hak milik
sekalipun, dapat dicabut untuk kepentingan umum (onteigening).
Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air, di satu sisi Equitable
sebagai komoditas ekonomi, dan di sisi lain sebagai barang
yang menjadi kebutuhan dasar dan asasi manusia, tanpa
mana manusia tidak bisa hidup, memerlukan pengaturan yang
harus mempertimbangkan dan mendorong kewajiban negara
untuk melindungi, menghormati dan memenuhinya. Meskipun
akan selalu dipersoalkan kondisi saat ini yang tidak
memungkinkan Negara untuk melaksanakan kewajibannya
memenuhi kebutuhan asasi manusia akan air tersebut sehingga
memerlukan mobilisasi dana dan daya, maka tidak tertutup
kemungkinan untuk melakukan pengaturan hal demikian
melalui sistem perizinan (vergunning).
Peluang Privatisasi dalam Undang-undang Sumber Daya
Air
Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Fungsional
Daya Air, meskipun dikatakan tidak mengatur tentang
privatisasi, akan tetapi membuka secara lebar peluang
tersebut, sebagaimana diatur dalam Pasal 9 ayat (1) dan
Pasal 40 ayat (4), yang kemudian telah dijabarkan lebih lanjut
dalam Pasal 1 angka 9, dan Pasal 64 Peraturan Pemerintah Nomor

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

16 Tahun 2005. Meskipun dikatakan hanya menyangkut Sistem


Pengembangan Air Minum (SPAM) pada daerah, wilayah, atau
kawasan yang belum terjangkau pelayanan BUMD/BUMN, akan
tetapi Hak Guna Usaha Air yang dapat diberikan pada swasta dan
perorangan, adalah merupakan peluang bagi privatisasi dimaksud.
Walaupun Pasal 7 ayat (2) menyatakan bahwa Hak Guna Air
tidak dapat disewakan atau dipindahtangankan sebagian atau
seluruhnya, akan tetapi dengan bentuk kapitalisasi usaha melalui
saham di bursa, mobilisasi kapital demikian menjadi terbuka luas,
meskipun tanpa memindahtangankan hak guna usaha yang
diperoleh satu badan hukum. Oleh karenanya pintu atau peluang
demikian tidak dapat dikesampingkan hanya karena secara ekplisit
tidak menyebut privatisasi.
... Usaha swasta yang mengelola air (minum) akan selalu Natural
profit-oriented, karena merupakan karakteristik yang tidak
dapat dilepaskan bahwa sebagai bentuk usaha harus
mengusahakan keuntungan yang optimum untuk para pemegang
saham. Pelayanan atau public service bukan merupakan
orientasinya bahkan dapat dikatakan bertentangan dengan
watak dasarnya, sehingga tidak dapat diharapkan bahwa badan
usaha swasta akan mengabdikan dirinya bagi pelayanan publik
yang bersifat sosial...
Pengalaman empiris dan penelitian-penelitian sebagaimana Equitable
telah diutarakan para saksi dan ahli dipersidangan telah
ternyata bahwa pengelolaan air minum oleh swasta tidak
meningkatkan kualitas air minum, dan harga tidak semakin rendah
melainkan semakain mahal. Alasan yang dikemukakan bahwa
Pemerintah tidak mempunyai modal dan kemampuan
untuk mengelola air minum, adalah satu alasan yang tidak
tepat untuk menyerahkan pengelolalan pada swasta,
karena swasta juga tidak memiliki modal sendiri dalam
pengelolaan tersebut melainkan memanfaatkan sumber
modal dari perbankan, dan badan usaha negara dapat pula
menggunakan tenaga ahli dengan kontrak manajemen.
Seharusnya jika public utilities seperti air yang menjadi kewajiban
Pemerintah untuk melindungi, menjamin, dan memenuhi
kebutuhan bagi warganya sebagai bagian dari hak asasi, maka
perintah Pasal 28A dan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 tidak
dapat dikesampingkan sebagai satu pilihan yang akan
menjadi batu ujian dalam melihat konstitusionalitas UU
SDA tersebut, yang justru merupakan kewajiban konstitusional
negara, karena Republik Indonesia memilih sebagai satu negara
kesejahteraan (welfare state).
Konstitusionalitas Pasal 98 Aturan Peralihan UU Nomor 7
Tahun 2004.
Meskipun secara tegas para pemohon tidak mengajukan Fungsional
Pasal 98 sebagai salah satu pasal yang diuji, akan tetapi secara
jabatan merupakan kewajiban Mahkamah untuk menguji aturan
peralihan tersebut, karena Pemohon perkara Nomor
059/PUU-III/2005 menyebut secara umum dalam
petitumnya untuk menyatakan UU Nomor 7 Tahun 2004
tentang sumber daya air, bertentangan dengan UUD 1945, dan
karenanya agar dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum
yang mengikat secara keseluruhan.
Pasal 98 Undang-undang a quo menentukan bahwa ”Perizinan
yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air yang telah
diterbitkan sebelum ditetapkannya Undang-undang ini
dinyatakan tetap berlaku sampai dengan masa berlakunya
berakhir”. Ketentuan ini telah melegalisasi segala izin-izin
yang dikeluarkan sebelum UU Nomor 7 Tahun 2004, tanpa
memperhitungkan apakah izin yang dikeluarkan tersebut

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

bertentangan dengan Undang-undang yang baru ini,


sehingga pasal peralihan ini disusun tanpa perintah untuk
melakukan penyesuaian dengan ketentuan baru, yang sangat
merugikan dan dipandang inkonstitusional, apalagi jika izin yang
telah diterbitkan berlangsung untuk 25 (dua puluh lima tahun).
meskipun sangat bertentangan dengan paradigma baru tentang air
sebagai HAM, yang merupakan kewajiban negara untuk
menghormati, melindungi, dan melakukan pemenuhan
terhadapnya. Untuk memenuhi kewajiban dimaksud Pasal 33 ayat
(3) UUD 1945 mensyaratkan penguasaan negara atas sumber daya
air tanpa menunggu izin tersebut harus habis terlebih dahulu. Hal
ini didasarkan pada logika berfikir bahwa jika hak untuk hidup,
dimana air merupakan syarat yang tidak dapat ditunda dan tidak
dapat dikurangi dengan alasan apapun, maka Pasal 98 Undang-
undang a quo tanpa mengatur penyesuaian dengan
Undang-undang yang baru jelas bertentangan dengan UUD
1945.
Dengan uraian pertimbangan demikian, tanpa menguraikan
bagian bagian petitum lain dari para Pemohon, yang dipandang
tidak cukup kuat dasar inkonstitusionalitas yang dikemukakan,
seyogyanya Mahkamah mengabulkan permohonan
Pemohon untuk sebagian, yaitu dengan menyatakan Pasal
7, Pasal 9, Pasal 40 ayat (4), Pasal 45 ayat (3), serta Pasal
98 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air, bertentangan dengan UUD 1945. dan menyatakan
bahwa pasal-pasal tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum
mengikat
Bahwa akan tetapi pasal-pasal yang secara eksplisit dikemukakan
di atas sebagai aturan yang dipandang inkonstitusional, adalah
merupakan aturan/ketentuan yang merupakan paradigma yang
menjadi jiwa atau dasar dari UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang
air tersebut, yang jika dinyatakan bertentangan dengan UUD
1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat,
akan menyebabkan bahwa pelaksanaan UU Nomor 7
Tahun 2004 tersebut sulit dilaksanakan dengan paradigma
yang sama sekali lain.
Oleh karenanya dengan alasan bahwa pelaksanaan UU Nomor 7
Tahun 2004 tanpa Pasal 7, Pasal 9, Pasal 40 ayat (4), Pasal 45
ayat (3), serta Pasal 98, menjadi sulit, maka UU Nomor 7 Tahun
2004 tentang Sumber Daya Air itu juga seyogyanya dinyatakan
tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara keseluruhan.
Tabel 12. Penafsiran Hakim Konstitusi yang dissenting opinion dalam PUU Sumber Daya Air

E. Penafsiran Mahkamah Konstitusi terhadap Pasal 33 Undang-Undang Dasar


Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Pada subbab sebelumnya telah dipaparkan beberapa pertimbangan hukum atau
penafsiran hakim konstitusi dalam putusan pengujian Undang-undang Nomor 20 Tahun
2002 tentang Ketenagalistrikan dan dalam putusan pengujian Undang-undang Nomor 7
Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Dari kedua putusan tersebut dapat dilakukan
perbandingan penafsiran hakim dalam menguji undang-undang terhadap pasal 33
Undang Undang Dasar 1945.
Sebelum membandingkan penafsiran hakim terhadap pasal 33 Undang Undang
Dasar 1945, akan ditarik dulu beberapa persamaan antara dalil-dalil permohonan dalam
kedua pengujian undang undang tersebut. Persamaan yang paling menonjol dalam
kedua pengujian undang-undang tersebut adalah tentang “penguasaan negara” atas
cabang-cabang produksi yang penting dan sumber daya alam (bumi, air, dan ruang
angkasa) yang dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Hal ini

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

dikaitkan dengan persoalan privatisasi, swastanisasi, dan komersialisasi atas


Ketenagalistrikan dan Sumber Daya Air.
Untuk itu, pembahasan selanjutnya akan beranjak dari persoalan “penguasaan
negara” atas cabang-cabang produksi yang penting dan sumber daya alam (bumi,air,
dan ruang angkasa) dilihat dari penafsiran hakim terhadap pasal 33 Undang Undang
Dasar 1945, penafsiran hakim dalam pengujian Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002
tentang Ketenagalistrikan, dan penafsiran hakim dalam pengujian Undang-undang
Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

1. Penafsiran terhadap Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945


Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945 yang dijadikan dasar utama pengujian kedua
undang-undang tersebut adalah ayat (2) dan ayat (3). Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3)
berbunyi:
Ayat (2): Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat
hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
Ayat (3): Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Di dalam putusan Pengujian Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang
Ketenagalistrikan yang merupakan pengujian undang-undang yang pertama kali diajukan
kepada Mahkamah Konstitusi dan merupakan putusan pertama Mahkamah Konstitusi
terhadap pengujian undang-undang yang mendalilkan persoalan penguasaan negara atas
sumber daya ekonomi, dari situ dapat dilihat tafsir penting Mahkamah Konstitusi dalam
menjelaskan kedudukan negara berdasarkan frasa “dikuasai oleh negara” yang terdapat
dalam Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) tersebut. Hal itu adalah:
a. Dalam konsepsi kepemilikan perdata, “dikuasai oleh negara” dipahami sebagai
salah satu konsekuensi logis penguasaan oleh negara yang mencakup juga
pengertian kepemilikan publik oleh kolektivitas rakyat atas sumber-sumber
kekayaan alam.
b. Pengertian “dikuasai oleh negara” dalam Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945
mengandung pengertian yang lebih tinggi atau lebih luas daripada
pemilikan dalam konsepsi hukum perdata, karena kepemilikan tersebut lahir
dari konstruksi kedaulatan rakyat yang dinyatakan dalam hukum tertinggi, yaitu
Undang Undang Dasar 1945.
c. Rakyat secara kolektif itu dikonstruksikan oleh Undang Undang Dasar 1945
memberikan mandat kepada negara untuk:
1) Mengadakan kebijakan (beleid) dan tindakan pengurusan
(bestuursdaad) yang dilakukan oleh negara c.q pemerintah dengan
kewenangannya untuk mengeluarkan dan mencabut fasilitas perizinan
(vergunning), lisensi (licentie), dan konsesi (concessie).
2) Pengaturan (regelendaad), dilakukan melalui kewenangan legislasi oleh
DPR bersama dengan Pemerintah, dan regulasi oleh Pemerintah (eksekutif).
3) Pengelolaan (beheersdaad), dilakukan melalui mekanisme pemilikan
saham (share-holding) dan/atau melalui keterlibatan langsung dalam
manajemen Badan Usaha Milik Negara atau Badan Hukum Milik Negara
sebagai instrumen kelembagaan melalui mana negara c.q. Pemerintah
mendayagunakan penguasaannya atas sumber-sumber kekayaan itu untuk
digunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
4) Pengawasan (toezichthoudensdaad) dilakukan oleh negara c.q.
Pemerintah agar pelaksanaan penguasaan oleh negara atas sumber-sumber

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

kekayaan itu benar-benar dilakukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran


seluruh rakyat.
d. Pengertian “dikuasai oleh negara” tidak dapat diartikan hanya sebatas
sebagai hak untuk mengatur, karena hal dimaksud sudah dengan sendirinya
melekat dalam fungsi-fungsi negara tanpa harus disebut secara khusus dalam
Undang Undang Dasar. Sekiranyapun Pasal 33 tidak tercantum dalam Undang
Undang Dasar 1945, sebagaimana lazim di banyak negara yang menganut paham
ekonomi liberal yang tidak mengatur norma-norma dasar perekonomian dalam
konstitusinya, sudah dengan sendirinya negara berwenang melakukan fungsi
pengaturan.
e. Mengutip pendapat Bung Hatta, makna dikuasai oleh negara ialah bahwa
terhadap cabang produksi yang telah dimiliki oleh negara, maka negara harus
memperkuat posisi perusahaan tersebut agar kemudian secara bertahap
akhirnya dapat menyediakan sendiri kebutuhan yang merupakan hajat hidup
orang banyak dan menggantikan kedudukan perusahaan swasta, baik nasional
maupun asing.
Lima hal di atas akan menjadi pedoman utama bagi Mahkamah Konstitusi dalam
memutus pengujian undang-undang terhadap Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945,
terutama yang mempermasalahkan penguasaan negara atas cabang-cabang produksi
yang penting dan sumber kekayaan alam.

2. Penafsiran terhadap Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang


Ketenagalistrikan
Secara khusus, bila dikaitkan dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002
tentang Ketenagalistrikan, maka dapat ditemukan beberapa hal penting yang diturunkan
dari penafsiran Mahkamah Konstitusi terhadap “penguasaan negara” dalam Pasal 33
Undang Undang Dasar 1945, hal tersebut adalah:
a. Peranan negara terhadap Ketenagalistrikan di dalam putusan Mahkamah
Konstitusi dikonstruksikan sebagai kepemilikan atas perusahaan negara
(BUMN) yang melakukan penyediaan fasilitas ketenagalistrikan. 139
b. Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945 tidak menolak ide kompetisi diantara para
pelaku usaha, sepanjang itu tidak meniadakan penguasaan oleh negara
c. Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa cabang produksi dalam Pasal 33 ayat
(2) Undang Undang Dasar 1945 di bidang ketenagalistrikan harus ditafsirkan
sebagai satu kesatuan antara pembangkit, transmisi, dan distribusi.
Sehingga tidak dapat dipisah-pisahkan (unbundling)
d. Pasal 16, 17 ayat (3), serta Pasal 68 yang mengatur persoalan unbundling dan
kompetisi merupakan jantung dari Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002
tentang Ketenagalistrikan, sehingga ketika Mahkamah Konstitusi menyatakan
Pasal tersebut bertentangan dengan konstitusi, maka secara keseluruhan Undang-
undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan tidak dapat
dipertahankan, karena akan menyebabkan kekacauan yang menimbulkan
ketidakpastian hukum dalam penerapannya.

139 Dalam putusan Mahkamah Konstitusi disebutkan: “Penguasaan negara juga termasuk dalam kepemilikan privat

yang tidak harus 100%. Artinya, pemilikan saham Pemerintah dalam badan usaha yang menyangkut cabang produksi
yang penting bagi negara dan/atau yang menguasai hajat hidup orang banyak dimaksud, dapat bersifat mayoritas mutlak
(di atas 50%) atau bersifat mayoritas relatif (di bawah 50%) sepanjang Pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas
relatif tersebut secara hukum tetap memegang kedudukan menentukan dalam pengambilan keputusan di badan usaha
dimaksud. Dalam penyediaan tenaga listrik di Indonesia yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN)

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

3. Penafsiran Terhadap Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya


Air
Bila dikaitkan dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
Air, maka dapat ditemukan beberapa hal penting yang diturunkan dari penafsiran
Mahkamah Konstitusi terhadap penguasaan negara dalam pasal 33 Undang Undang
Dasar 1945, hal tersebut adalah :
a. Air adalah komponen dari hak asasi manusia yang untuk memenuhinya
merupakan tanggungjawab negara, di mana negara harus menghormati (to
respect), melindungi (to protect), dan memenuhinya (to fulfill) hak masyarakat
untuk mendapatkan air.
b. Air memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan sumber daya alam
lainnya sebagai misalnya minyak atau barang tambang lainnya, oleh karena itu
hak atas air merupakan hak asasi manusia yang diturunkan dari Pasal 28H dan
Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 maka pengaturan terhadap air mempunyai
kekhususan.
c. Pasal 5 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yang
berbunyi : “Negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi
kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupan yang sehat,
bersih dan produktif”, adalah rumusan hukum yang cukup memadai untuk
menjabarkan hak asasi atas air sebagai hak yang dijamin oleh Undang Undang
Dasar. Meskipun jaminan negara dalam Pasal 5 Undang-undang Nomor 7 Tahun
2004 tentang Sumber Daya Air tersebut tidak dirumuskan kembali dalam bentuk
tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Provinsi, tetapi harus dijabarkan
lebih lanjut didalam peraturan pelaksanaannya.
d. Lebih lanjut, tanggung jawab negara dirumuskan dalam Pasal 14, 15 dan 16
Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yaitu adanya
tanggung jawab untuk mengatur, menetapkan dan memberikan izin atas
penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan sumber daya air pada
wilayah sungai.
e. Pasal 11 ayat (3) yang menyatakan bahwa : “Penyusunan pola pengelolaan
sumber daya air dilakukan dengan melibatkan peran masyarakat dan dunia
usaha seluas-luasnya” cukup mencerminkan keterbukaan dalam penyusunan pola
pengelolaan sumber daya air. Termasuk keterbukaan untuk keterlibatan
masyarakat, swasta dan perusahaan negara/daerah untuk ikut mengelola sumber
daya air. Mahkamah berpendapat bahwa Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004
tentang Sumber Daya Air mengatur hal-hal yang pokok dalam pengelolaan
sumber daya air, dan meskipun Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang
Sumber Daya Air membuka peluang peran swasta untuk mendapat Hak Guna Air
dan izin pengusahaan sumber daya air tidak akan jatuh ketangan swasta, karena
keterlibatan pihak swasta hanya dapat dilakukan atas dasar izin
pemerintah. 140
f. Prinsip “pemanfaat air membayar biaya jasa pengelolaan sumber daya air”
adalah menetapkan air bukan sebagai objek yang dikenai harga secara ekonomi,
ini sesuai dengan status air sebagai “res commune” 141

140 Dalam wawancara dengan Wasis Susetio (tenaga ahli Mahkamah Konstitusi) pada tanggal 30 Januari 2007

dikatakan: Hak guna usaha diatur dalam pasal 9 UU SDA. Ketentuan disitu tidak ada persoalan, karena ia diberikan lewat
izin. Jadi bila dikaitkan dengan paradigma HAM, dalam hal ini negara adalah berperan dalam pengurusan, yaitu
memberikan perizinan bagi hak guna usaha
141 Dalam wawancara dengan Wasis Susetio (tenaga ahli Mahkamah Konstitusi) pada tanggal 30 Januari 2007,

dikatakan: Kalau dalam air tidak sama dengan unbundling meskipun air bersifat mengalir dan pengelolaannya dapat
dikelola oleh lebih dari satu pihak. Seperti sungai yang mengalir di negara-negara eropa, itu berlaku asas yang disebut
human haritage is minkand atau res comune. Jadi ini sifatnya hanya pengelolaan

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

g. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) harus memposisikan diri sebagai


operator negara dalam merealisasikan kewajiban negara sebagaimana
ditetapkan dalam pasal 5 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air, dan bukan sebagai perusahaan yang berorientasi pada
keuntungan secara ekonomis.
Dalam mencermati penafsiran Mahkamah Konstitusi terhadap pengujian kedua
undang-undang tersebut di atas, dapat dilihat beberapa perbedaan Mahkamah Konstitusi
dalam menafsirkan kedudukan ketenagalistrikan dengan sumber daya air dalam makna
“dikuasai oleh negara” di dalam Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945, perbedaan
tersebut antara lain:
1. Undang-undang Ketenagalistrikan merupakan turunan dari Pasal 33 ayat (2)
Undang Undang Dasar 1945. sedangkan Undang-undang Sumber Daya Air
turunan dari Pasal 33 ayat (3) dan Pasal 28H Undang Undang Dasar 1945 yang
meletakan air disamping sebagai komponen yang harus dikuasai oleh negara,
tetapi juga sebagai hak asasi manusia.
2. Berdasarkan frasa “dikuasai oleh negara,” Mahkamah Konstitusi menafsirkan
tanggungjawab negara terhadap ketenagalistrikan dengan fungsi negara
c.q pemerintah untuk mengatur (regelendaad) dan fungsi negara sebagai
pengelola (beheersdaad). Sedangkan untuk sumber daya air, Mahkamah
Konstitusi menafsirkan tanggungjawab negara dalam bentuk fungsi
pengaturan (regelendaad) dan fungsi pengurusan (bestuursdaad).
Pengurusan yang dimaksud adalah kewenangan negara c.q pemerintah untuk
mengeluarkan dan mencabut fasilitas perizinan (vergunning), lisensi (licencie),
dan konsesi (concessie).
3. Metode penafsiran yang dominan yang dilakukan Mahkamah Konstitusi
terhadap Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan
adalah metode penafsiran historis dan metode penafsiran tekstual. Sedangkan
dalam putusan pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air lebih dominan penafsiran fungsional
4. Pengujian Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan
dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi, khususnya pasal mengenai unbundling,
karena norma yang demikian itu lah yang dipandang Mahkamah Konstitusi
bertentangan dengan konstitusi. Sedangkan pengujian Undang-undang Nomor 7
Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air ditolak oleh Mahkamah Konstitusi karena
pemohon tidak dapat membuktikan dalil-dalilnya, bahwa norma hukum dalam
Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air bertentangan
dengan Undang Unang Dasar 1945 di persidangan. 142

142 Hal ini pernah dikatakan oleh I Dewa Gde Palguna dan Wasis Susetio dalam wawancara yang dilakukan pada

tanggal 30 Januari 2007 di Mahkmah Konstitusi

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

F. Conditionally Constitutional
1. Pengertian
Conditionally Constitutional merupakan istilah baru dalam ilmu hukum, khususnya
hukum tata negara. 143 Sehingga belum ditemukan literatur yang membahas khusus hal
tersebut. Istilah ini dapat dikatakan salah satu bentuk penemuan hukum dari Mahkamah
Konstitusi yang dilakukan dalam rangka menafsirkan ketentuan hukum tertulis (undang-
undang) terhadap Undang Undang Dasar.
Dalam putusan pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air, Mahkamah Konstitusi menyebutkan:
“Bahwa Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air telah
cukup memberikan kewajiban kepada Pemerintah untuk menghormati,
melindungi dan memenuhi hak atas air, yang dalam peraturan pelaksanaannya
pemerintah haruslah memperhatikan pendapat Mahkamah yang telah
disampaikan dalam pertimbangan hukum yang dijadikan dasar atau alasan
putusan. Sehingga, apabila Undang-undang a quo dalam pelaksanaan ditafsirkan
lain dari maksud sebagaimana termuat dalam pertimbangan Mahkamah di atas,
maka terhadap Undang-undang a quo tidak tertutup kemungkinan untuk
diajukan pengujian kembali (Conditionally Constitutional)” 144

Penggalan putusan di atas memberikan pijakan untuk menentukan unsur-unsur dari


klausula Conditionally Constitutional. Beberapa unsur yang terdapat di dalam putusan
tersebut adalah:
a. Undang-undang yang diuji tersebut tidak bertentangan dengan konstitusi
b. Adanya perintah kepada suatu instansi (pemerintah) untuk memperhatikan
pendapat Mahkamah Konstitusi dalam sebuah putusan.
c. Klausula Conditionally Constitutional memberi peluang bahwa suatu Undang-
undang yang telah diuji kepada Mahkamah Konstitusi dapat diuji kembali.
d. Syarat untuk menguji kembali undang-undang tersebut adalah apabila undang-
undang tersebut dalam pelaksanaannya ditafsirkan lain dari maksud sebagaimana
termuat dalam pertimbangan Mahkamah Konstitusi.
Dengan logika induktif, gabungan dari 4 (empat) unsur-unsur tersebut dapat
dirangkai menjadi definisi atau pengertian dari Conditionally Constitutional. Misalkan
Conditionally Constitutional adalah putusan atau kondisi yang menyatakan suatu
ketentuan undang-undang tidak bertentangan dengan Undang Undang Dasar, di mana
putusan tersebut memberikan syarat kepada instansi, dalam pelaksanaannya, untuk
harus memperhatikan apa yang ditafsirkan oleh Mahkamah. Apabila syarat tersebut
tidak dipenuhi atau ditafsirkan lain, maka undang-undang tersebut masih dapat diajukan
untuk diuji kembali ke Mahkamah Konstitusi.

2. Tata cara pengujian kembali


Materi muatan, ayat, pasal, dan/atau bagian dari Undang-undang Nomor 7 Tahun
2004 tentang Sumber Daya Air masih dapat diajukan kembali pengujiannya kepada
Mahkamah Konstitusi, apabila peraturan pelaksanaan dari Undang-undang tersebut
tidak sesuai dengan maksud dari penafsiran Mahkamah Konstitusi.

143 Dalam wawancara dengan Wasis Susetio (tenaga ahli Mahkamah Konstitusi) pada tanggal 30 Januari 2007

dikatakan: Conditionally Constitutional merupakan terminologi yuridis yang baru, ini merupakan penemuan hukum oleh
MK. Ia dianggap konstitusional dengan keadaan atau kondisi sebagaimana ditafsirkan oleh MK. Dalam hal ini sepanjang ia
dilakukan dengan perizinan, maka ia konstitusional. Tapi diluar itu, apa lewat perjanjian atau yang lain, maka ia
inkonstitusional.
144 Lihat Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber

Daya Air, halaman 495.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

Untuk itu, dapat dilihat pada peraturan pelaksanaan Undang-undang Nomor 7


Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun
2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi.
Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi dipandang sudah sesuai
dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan putusan
Mahkamah Konstitusi, karena peranan swasta dalam hak guna usaha air harus lewat izin
pengusahaan. Sedangkan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang SPAM
“berpotensi” bertentangan dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang
Sumber Daya Air, karena tidak mengikuti alur pikiran yang ada dalam pertimbangan
hukum putusan Mahkamah Konstitusi.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang SPAM misalnya
disebutkan:
Pasal 64 ayat (3):“Pelibatan koperasi dan/atau badan usaha swasta sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan prinsip persaingan
yang sehat melalui proses pelelangan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.”
Pasal 64 ayat (5): “Koperasi dan/atau badan usaha swasta yang mendapatkan hak
berdasarkan pelelangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
mengadakan perjanjian dalam penyelenggaraan SPAM dengan
Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya.

Bila diamati Pasal 64 ayat (3) dan ayat (5) Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun
2005, maka tidak ditemukan sedikitpun kata izin di sana. Dalam ketentuan itu, pihak
swasta, koperasi dan masyarakat dapat terlibat dalam usaha pengembangan sistem air
minum lewat pelelangan yang kemudian dilanjuti dengan perjanian. Kondisi seperti ini
lah yang dapat dikatakan bertentangan dengan tafsir Mahkamah Konstitusi dalam
putusannya, namun hal ini masih perlu dibuktikan lagi di Mahkamah Agung atau
Mahkamah Konstitusi.
Pengujian kembali Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
dapat diajukan apabila syarat-syarat sebagaimana disebutkan Mahkamah Konstitusi
dalam putusannya tidak diperhatikan oleh Pemerintah, baik dalam peraturan
pelaksananya maupun dalam pelaksanaannya.
Apabila syarat tersebut tidak dipenuhi oleh Pemerintah atau ditafsirkan lain oleh
Pemerintah, maka peraturan pelaksananya, seperti peraturan pemerintah yang dianggap
bertentangan dengan ketentuan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air, maka peraturan pemerintah tersebut dapat diuji kepada Mahkamah Agung
terlebih dahulu.
Ketika peraturan pemerintah tersebut dimohonkan pengujiannya kepada Mahkamah
Agung, maka akan ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi terkait dengan
pengujian kembali Undang-undang Nomor 7 Tahuhn 2004 tentan Sumber Daya Air ,
antara lain:
1. Ketika sedang dalam tahap pemeriksaan Peraturan Pemerintah yang diuji kepada
Mahkamah Agung, Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
Air diajukan kembali permohonan pengujiannya kepada Mahkamah Konstitusi
dengan mendalilkan bahwa Peraturan Pemerintah yang dimaksud bertentangan
dengan penafsiran Mahkamah Konstitusi dalam putusan pengujian undang-
undang sebelumnya. Dalam hal ini, peraturan pemerintah yang dianggap
bertentangan tersebut dijadikan sebagai alat bukti di depan sidang Mahkamah
Konstitusi.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

Tetapi, pengujian peraturan pemerintah yang menjadi peraturan pelaksana


Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air harus
dihentikan sampai ada putusan pengujian undang-undang oleh Mahkamah
Agung terlebih dahulu. Penundaan atau penghentian ini diatur dalam Pasal 55
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. 145
Bila pemeriksaan pengujian kembali Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004
tentang Sumber Daya Air tidak dihentikan, dalam artian Mahkamah Konstitusi
tetap melakukan pemeriksaan pengujian undang-undang, maka Mahkamah
Konstitusi akan tergiring untuk memeriksa Peraturan Pemerintah yang sedang
diuji oleh Mahkamah Agung karena Peraturan Pemerintah tersebut dijadikan
sebagai bukti dalam persidangan
2. Kemungkinan kedua yaitu menunggu keluarnya putusan dari Mahkamah Agung
dalam pengujian Peraturan Pemerintah yang bersangkutan. Apabila putusannya
mengabulkan permohonan pemohon, maka peraturan pemerintah yang
bertentangan itu dibawa bersama-sama dengan putusan Mahkamah Agung untuk
dijadikan sebagai dalil permohonan dan alat bukti dipersidangan pengujian
kembali Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
Kemungkinan kedua ini lebih kuat dari pada kemungkinan pertama yang
disebutkan di atas. Tetapi, hal ini tidak serta-merta (mutatis mutandis) akan
menyebabkan norma hukum dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004
tentang Sumber Daya Air bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945,
sebab persoalannya adalah ranah penerapan dari suatu norma hukum, bukan
konstitusionalitas norma hukum.

3. Pengaruh Conditionally Constitutional terhadap sifat putusan Mahkamah


Konstitusi yang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang
putusannya bersifat final dan mengikat.
Mahkamah konstitusi merupakan lembaga negara yang memiliki kewenangan untuk
mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final dan
mengikat dalam menguji undang-undang terhadap Undang Undang Dasar. 146 Sifat dari
putusan Mahkamah Konstitusi adalah bersifat final dan mengikat. Hal itu berarti bahwa
putusan Mahkamah Konstitusi langsung memperoleh kekuatan hukum tetap sejak
diucapkan dan tidak ada upaya hukum yang dapat ditempuh. 147
Dalam pengujian undang-undang terhadap Undang Undang Dasar, putusan
Mahkamah konstitusi terhadap materi muatan, ayat, pasal, dan/atau bagian dari
undang-undang tidak dapat dimohonkan pengujian kembali. 148 Sehingga dengan adanya
klausula Conditionally Constitutional yang memberi peluang materi muatan, ayat, pasal,
dan/atau bagian dari Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
dapat diuji kembali adalah bertentangan dengan Pasal 24C ayat (1) Undang Undang
dasar 1945 jo Pasal 10 dan Pasal 60 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi. Pertentangan tersebut dapat dijelaskan dalam tabel berikut:

145 Pasal 55 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi berbunyi: Pengujian peraturan

perundang-undangan di bawah undang-undang yang sedang dilakukan Mahkamah Agung dihentikan apabila undang-
undang yang menjadi dasar pengujian peraturan tersebut sedang dalam proses pengujian Mahkamah Konstitusi sampai
ada putusan Mahkamah Konstitusi
146 Pasal 24C ayat (1) Undang Undang Dasar 1945 jo Pasal 10 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang

Mahkamah Konstitusi menyebutkan: Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang
putusannya bersifat final untuk: a) menguji undang-undang terhadap Undang Undang Dasar; b) memutus sengketa
kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang Undang Dasar; c) memutus pembubaran
partai politik; dan d) memutus perselisihan hasil pemilihan umum.
147 Maruarar Siahaan, Op.cit., hal. 252.
148 Pasal 60 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi berbunyi: Terhadap materi

muatan, ayat, pasal, dan/atau bagian dalam undang-undang yang telah diuji tidak dapat dimohonkan pengujian kembali.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

Sifat putusan MK Conditionally Constitutional


Materi muatan, ayat, pasal, dan/atau bagian dari Materi muatan, ayat, pasal, dan/atau bagian dari
undang-undang yang telah diuji tidak dapat undang-undang yang permohonannya ditolak oleh
dimohonkan pengujian kembali (nebis in idem), MK dapat diajukan kembali, apabila dalam
dalam Pasal 60 UU MK pelaksanaanya dilakukan tidak sesuai dengan tafsir MK
Pasal 42 PMK Nomor 6 Tahun 2005 memberikan Dalil atau alasan hukum yang dapat diajukan dengan
pengecualian, bahwa materi muatan, ayat, pasal Conditionally Constitutional adalah kesalahan
atau bagian dari undang-undang tidak dapat penerapan dari putusan MK, misalkan peraturan
dimohonkan pengujian kembali adalah karena pemerintah. Jadi tidak terkait langsung dengan norma
alasan atau dalil yang sama undang-undang
Final dan mengikat (Pasal 24C ayat 1), sehingga Conditionally Constitutional memberi peluang bahwa
tidak ada upaya hukum yang bisa ditempuh` suatu undang-undang yang telah diuji dapat diuji
kembali, sehingga membuat putusan MK tidak bersifat
final, maksudnya masih ada upaya hukum yang bisa
ditempuh, meskipun tidak upaya hukum vertikal. 149
Tabel 13. Perbandingan sifat putusan Mahkamah Konstitusi dengan Conditionally Constitutional

Conditionally Constitutional dalam putusan pengujian Undang-undang Nomor 7


Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air ditafsirkan secara fungsional dan dengan
memandang hukum sebagai suatu sistem yang mesti harmonis, maka Conditionally
Constitutional bertentangan dengan Undang Undang Dasar dan Undang-undang Nomor
24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.
Tetapi Conditionally Constitutional juga memberikan persyaratan bahwa peraturan
pelaksana yang dimaksud dalam penafsiran Mahkamah konstitusi dalam putusan
pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air adalah
bagian dari sistem hukum sumber daya air yang juga harus harmonis. Jadi, persoalan
konstitusionalitas norma Undang-undang Sumber Daya Air yang dimohonkan
pemohon adalah telah selesai. Tinggal lagi bagaimana peraturan pelaksananya harus
sesuai dengan tafsir Mahkamah Konstitusi.
Apabila peraturan pelaksana dari suatu undang-undang, misalkan dalam bentuk
peraturan pemerintah, dipandang bertentangan dengan untdang-undang. Maka
peraturan pemerintah tersebut dapat diuji ke Mahkamah Agung, dan kemudian dapat
dijadikan sebagai alat bukti dalam persidangan bila undang-undang yang mendasarinya
sedang dilakukan pengujian. Hal demikian dapat terjadi dengan atau tanpa
persyaratan Conditionally Constitutional.

149 Wasis Susetio (tenaga ahli Mahkamah Konstitusi) dalam wawancara yang dilakukan tanggal 30 Januari 2007

menyebutkan: upaya hokum melalui Conditionally constitutional ini semacam PK (Peninjauan Kembali)

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Penafsiran Mahkamah Konstitusi terhadap Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945
dalam Putusan Pengujian Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang
Ketenagalistrikan dan Putusan Pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004
tentang Sumber Daya Air
a. Terhadap Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945
• Putusan pengujian undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang
Ketenagalistrikan merupakan penafsiran Mahkamah Konstitusi yang pertama
kali Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945, terurama mengenai Penguasaan
negara
• Makna “penguasaan negara” atas cabang-cabang produksi penting dan
sumber kekayaan alam, meliputi:
1) Mengadakan kebijakan (beleid) dan tindakan pengurusan (bestuursdaad)
2) Pengaturan (regelendaad)
3) Pengelolaan (beheersdaad)
4) Pengawasan (toezichthoundensdaad)
b. Terhadap Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan
• Listrik merupakan salah satu cabang produksi penting yang menguasai hajat
hidup orang banyak, sehingga harus dikuasai oleh negara
• Makna penguasaan negara atas ketenagalistrikan meliputi fungsi negara
sebagai pengatur (regelendaad) dan fungsi pengelolaan (beheersdaad), yaitu
terlibat langsung dalam manajemen BUMN
• Penyediaan tenaga listrik tidak dapat dipisah-pisah (unbundling), dan harus
dikelola langsung oleh negara, sedapat mungkin sepenuhnya
c. Terhadap Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
• Hak atas air merupakan hak asasi manusia, sehingga hak tersebut tidak hanya
tunduk pada Pasal 33 ayat (3) Undang Undang dasar 1945 saja, tetapi juga
pada Pasal 28H Undang Undang Dasar 1945
• Air bukanlah barang ekonomi, sesuai dengan prinsip “pemanfaat air
membayar jasa pengelolaan sumber daya air”
• Peran swasta dalam pengelolaan sumber daya air hanya dapat dilakukan
dibawah izin dari pemerintah
• Dalam putusan pengujian undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang
ketenagalistrikan, Mahkamah Konstitusi cenderung melihat konstitusionalitas
norma (validitas norma), bukan keberlakuannya (eficacy norma)
• Modifikasi cuaca hanya dapat dilakukan dengan izin pemerintah
2. Metode penafsiran yang digunakan oleh Mahkamah Konstitusi
a. Dalam putusan pengujian undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang
Ketenagalistrikan, Mahkamah Konstitusi mengutamakan penafsiran historis dan
tekstual terhadap Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945, yang dikuatkan dengan
penafsiran doktrinal, fungsional dan komparatif
b. Dalam putusan pengujian undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air, Mahkamah Konstitusi cenderung menafsirkan Undang-undang yang
dimohonkan dengan penafsiran fungsional (terutama izin). Sehingga Undang-
undang ini harus dilihat dulu penerapannya dalam ketentuan pelaksanannya (PP,
Perpres, Kepmen, Dll)
Penafsiran fungsional dalam putusan pengujian undang-undang Nomor 7
Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air cenderung melihat pemerintah secara

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

prediktif-positif. Harusnya Mahkamah Konstitusi juga perlu mempertimbangkan


untuk membandingkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air dengan Undang-undang Sumber Daya Air negara lain dan praktiknya.
Hal ini sebenarnya dikemukakan dalam persidangan oleh saksi ahli. Tetapi
Mahkamah Konstitusi tidak menggunakan penafsiran komparatif
3. Conditionally Constitutional
• Conditionally Constitutional termasuk penafsiran fungsional dan ia dipandang
sebagai sebuah penemuan hukum baru dalam peradilan dan hukum tata negara
• Melihat kepada unsur-unsur Conditionally Constitutional dalam putusan
pengujian unadng-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air,
maka Pengertian Conditionally Constitutional adalah putusan atau kondisi yang
menyatakan suatu ketentuan undang-undang tidak bertentangan dengan Unang
Undang Dasar, di mana putusan tersebut memberikan syarat kepada instansi,
dalam pelaksanaannya, untuk harus memperhatikan apa yang ditafsirkan oleh
Mahkamah. Apabila syarat tersebut tidak terpenuhi atau ditafsirkan lain, maka
undang-undang tersebut masih dapat diajukan kembali ke Mahkamah Konstitusi.
• Conditionally Constitutional dalam putusan pengujian Undang-undang Nomor 7
Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air adalah ketentuan yang bertentangan
dengan sifat putusan Mahkamah Konstitusi yang mengadili pada tingkat pertama
dan terakhir yang putusannya bersifat final dan mengikat.
• Apabila Conditionally Constitutional ditafsirkan secara tekstual dan memandang
hukum sebagai suatu sistem yang harmonis, maka Conditionally Constitutional
bertentangan dengan Undang Undang Dasar dan Undang Undang Nomor 24
Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Tetapi, Conditionally Constitutional
tidaklah hasil dari penggunaan penafsiran tekstual, melainkan merupakan
penggunaan metode penafsiran fungsional yang bersifat prediktif positif,
sehingga peraturan pelaksana yang dimaksud Mahkamah Konstitusi dalam
putusan Pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
air adalah bagian dari sistem hukum sumber daya air yang juga harus harmonis.

B. Saran
Beberapa saran yang ingin disampaikan dari hasil penulisan skripsi ini adalah:
1. Perlu adanya gambaran yang jelas tentang metode penafsiran yang digunakan
hakim dalam setiap putusannya, sehingga dapat memudahkan para pihak untuk
memahami putusan Mahkamah Konstitusi.
2. Bila klausula Conditionally Constitutional masih digunakan pada putusan
Mahkamah Konstitusi beerikutnya, maka harus ada penjelasan yang memadai
tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan untuk menguji kembali materi
muatan, ayat, pasal, dan/atau bagian unang-undang yang telah diuji.
3. Perlu ada penjelasan tentang keterkaitan antara klausula Conditionally
Constitutional dengan sifat putusan Mahkamah Konstitusi yang bersifat final dan
mengikat, oleh Mahkamah Konstitusi dalam penafsiran hukum dan
pertimbangan hukumnya.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

DAFTAR PUSTAKA
Buku-buku
Ali, Achmad. Menguak Tabir Hukum: Suatu Tinjauan Filosofis dan Sosiologis, Toko
Gunung Agung: Jakarta, 2002.

Asshiddiqie, Jimly. Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi: Serpihan Pemikiran
Hukum Media dan HAM. Konstitusi Press: Jakarta, 2005.

---------Model-Model Pengujian Konstitusional di Berbagai Negara, Konstitusi Press:


Jakarta, 2005.

---------Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Jilid I, Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia: Jakarta, 2006.

Fatmawati, Hak Menguji (Toetsingsrecht) Yang Dimilki Dalam Sistem Hukum Indonesia,
Raja Grafindo Persada: Jakarta

Fuady, Munir. Aliran Hukum Kritis (Paradigma Ketidakberdayaan Hukum), Citra Aditya
Bakti: Bandung, 2003.

Gilissen, John dan Frits Gorle. Sejarah Hukum: Suatu Pengantar, judul asli Historische
Inleiding tot het Recht, disadur oleh Freddy Tengker, Editor ahli Lili Rasjidi,
Refika Aditama: Bandung, 2005.

Gunadi, Tom. Sistem Perekonomian Menurut Pancasila dan UUD’45, Angkasa: Bandung,
1990..

Ibrahim, Johnny. Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayu Media:
Malang, 2006.

Kamil, Ahmad dan M. Fauzan. Kaidah-kaidah Hukum Yurisprudensi, Kencana: Jakarta,


2004.

Malaka, Tan. Madilog: Materialisme Dialektika dan Logika, Pusat Data Indikator:
Jakarta, 1999.

Mertokusumo, Sudikno. Bab-bab Tentang Penemuan Hukum, Citra Aditya Bakti


bekerjasama dengan Konsorsium Ilmu Hukum Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan dan The Asia Foundation: Bandung, 1993.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

---------Mengenal Hukum: Suatu Pengantar. Liberty: Yogyakarta, 1999.

Rahardjo, Satjipto. Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti: Bandung, 2000.

---------Membedah Hukum Progresif, kumpulan tulisan, editor: Joni Emirzon, I Gede A.B.
wiranata, dan Firman Muntaqo, Penerbit Buku Kompas: Jakarta, 2006.

Riyanto, Astim. Teori Konstitusi. Yapemindo: Bandung, 2000.

Siahaan, Maruarar. Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Edisi Revisi,
Jakarta: Konstitusi Press, 2006.

Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji. Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan
Singkat, Raja Grafindo Persada: Jakarta, 2006.

Soeprapto, Maria Farida Indrawati. Ilmu Perundang-Undangan: Dasar-Dasar Dan


Pembentukannya, Kanisius: Yogyakarta, 1998.

Strong, C.F. Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Kajian Tentang Sejarah & Bentuk-Bentuk
Konstitusi Dunia, diterbitkan kerjasama antara Penerbit Nuansa dengan Penerbit
Nusamedia, Bandung: 2004. terjemahan dari Modern Political Constitutions: An
Introduction to the Comparative Study Of Their History and Existing Form, The
English Book Society and Sidgwick & Jackson Limited: London, 1966.

Sutiyoso, Bambang. Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia-Upaya


Membangun Kesadaran dan Pemahaman Kepada Publik Akan Hak-Hak
Konstitusionalnya Yang Dapat Diperjuangkan dan Dipertahankan Melalui
Mahkamah Konstitusi, PT Citra Aditya Bakti: Bandung, 2006.

Thaib, Dahlan, Jazim Hamidi, dan Ni’matul Huda. Teori Dan Hukum Konstitusi, Raja
Grafindo Persada: Jakarta, 2005.

Yudho, Winarno et. Al, Privatisasi Ketenagalistrikan, Minyak dan Gas Bumi: Dalam
Perspektif Peraturan Perundang-undangan, Kebijakan Politik Pemerintah, dan
Penerapannya Di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengkajian Sekretariat Jenderal
dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia bekerjasama dengan
Konrad-Adenauer-Stiftung: Jakarta, 2005.

No Reg: 223/PK-VI/03/07
Penulis : Yance Arizona
Kategori : Skripsi Ujian Komprehensif Tanggal 9 Maret 2007

Artikel dan Makalah


Arimbi HP dan Emmy Hafild. Makalah: Membumikan Mandat Pasal 33 UUD 45,
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia dan Fiends of the Earth (FoE) Indonesia,
1999.

D. Soekarno. Amandemen terhadap UUD 1945, Suara Pembaruan, 1996,


http://www.suarapembaruan.com/News/1999.

Kusuma, R.M. Ananda. B. “Bagaimana Menginterpretasikan Konstitusi Kita” dalam


Jurnal Konstitusi Volume I Nomor 3: Jakarta, 2005.

A. Irmanputra Sidin, In Defense of RI’s Constitution Economy, The Jakarta Post, 5 Januari
2005

Kamus
Kamus Besar Bahasa Indonesia, cetakan ketiga, Balai Pustaka, 1990.

Peraturan Perundang-undangan
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman
Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber daya Air
Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-
undangan
Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 06/PMK/2005 Tentang Pedoman Beracara
Dalam Pengujian Undang-Undang

Putusan Mahkamah Konstitusi


Putusan Perkara Nomor 001/PUU-I/2003, 021/PUU-I/2003, 022/PUU-I/2003
mengenai Pengujian Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan
terhadap Undang-Undang Dasar 1945

Putusan Perkara Nomor 058/PUU-II/2004, 059/PUU-II/2004, 060/PUU-II/2004,


063/PUU-II/2004 dan 008/PUU-II/2005 mengenai Pengujian Undang-Undang Nomor 7
Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air terhadap Undang-Undang Dasar 1945
Website
1. www.mahkamahkonstitusi.go.id
2. www.constitution.org
3. www.legalitas.org
4. www.huma.or.id
5. www.walhi.or.id
6. www.google.com
7. www.suarapembaruan.com
No Reg: 223/PK-VI/03/07