Anda di halaman 1dari 27

1

PERKEMBANGAN KODE ETIK PROFESI PERENCANA

Disusun Oleh : Sashira Aisyandini Yani Wulandari Anjar Akrimullah Ani Riaya Nikita R Syech Alifiansyah Mustafa Rizki Adriadi Ghiffari Delia Noer Adzanni 3611100043 3611100045 3611100048 3611100052 3611100053 3611100067 3611100069

Institut Teknologi Sepuluh Nopember Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota 2011

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat karunia dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Perkembangan Etika Profesi Perencana dengan tepat waktu. Makalah ini ditulis sebagai pedoman dalam mengetahui bagaimana perkembangan etika profesi seorang perencana dalam periode tertentu, dari awal dicetuskan hingga sekarang. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan aktif dalam penulisan makalah ini. Tidak lupa penulis juga berterima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Teori Perencanaan bapak Heru Purwadio. Seorang perencana mutlak harus mengetahui bagaimana etika profesi yang seharusnya dalam dunia kerja nantinya sehingga perlu juga mengetahui perkembangan etika profesi guna mengetahui dan mengimplementasikan nya kedalam jiwa seorang perencana. Disadari makalah ini masih belum sempurna, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak guna kesempurnaan makalah ini nantinya.

Surabaya, Januari 2012

Penulis

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

Daftar Isi Kata Pengantar ....................................................................................................... i Daftar Isi .................................................................................................................. ii BAB I Pendahuluan ................................................................................................. 1 2.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1 2.2 Tujuan .......................................................................................................... 1 2.3 Sistematika Pembahasan ............................................................................. 2 BAB II Metoda Penelitian ........................................................................................ 3 BAB III Uraian ......................................................................................................... 4 3.1 Pengertian Etika ........................................................................................... 4 3.2 Pengertian Profesi ........................................................................................ 6 3.3 Pentingnya Etika Profesi .............................................................................. 7 3.4 Etika Profesi Perencana ............................................................................... 8 3.5 Perkembangan Kode Etik Perencana Indonesia .......................................... 10 BAB IV Kesimpulan ................................................................................................. 23 Daftar Pustaka ........................................................................................................ 24

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunitas ahli perencanaan wilayah dan kota atau yang sering disebut ahli penataan ruang (seiring dengan UU PR No 26/2007) sering menyebut namanya sebagai Planner. Planner merupakan sebuah profesi berbasis keilmuan yang spesific yaitu pendidikan bidang Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) sebagaimana yang disyaratkan dalam proses sertifikasi perencanaan bahwa calon certified Planner harus pernah mengenyam pendidikan di bidang PWK pada jenjang S1/S2/S3. Proses pendidikan perencanaan selain memberikan pengetahuan dan metode teknis perencanaan juga harus dapat memberikan jiwa, semangat, pemaknaan, etika dan kebanggaan profesi planner kepada para mahasiswanya dengan kata lain perlu adanya proses ideologisasi profesi planner dalam proses pendidikan perencanaan kita yang nantinya akan membentuk etika profesi seorang planner kedepannya. Secara umum ideologisasi merupakan sebuah proses yang dilakukan dalam sebuah komunitas atau kelompok masyarakat untuk mengajak atau menurunkan nilai-nilai ideal yang diyakini kepada masyarakat yang lebih luas atau generasi penerusnya dengan tujuan untuk menjadikan nilai-nilai ideal tersebut sebagai sebuah pegangan dan bahkan pedoman hidup. Dalam konteks ini ideologisasi yang dimaksud adalah upaya yang dilakukan para planner senior khususnya planner akademisi untuk menanamkan nilainilai ideal profesi atau etika profesi perencanaan secara objektif kepada para calon planner sehingga calon planner menjadi kenal, faham, berminat, dan lebih jauh lagi menjadi bagian dari keluarga besar planner di masa mendatang. 1.2 Tujuan Makalah ini disusun dengan tujuan agar : Sebagai calon planner yang sedang mengenyam pendidikan perencanaan kita mengetahui bagaimana perkembangan etika profesi planner dari waktu ke waktu. Mampu menjelaskan dan menanamkan etika profesi seorang planner dalam proses pendidikan perencanaan. Mampu menjelaskan secara sistematis perkembangan etika profesi planner.

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

5 1.3 Sistematika Pembahasan Perlunya pemahaman lebih mengenai etika profesi seorang planner, maka makalah ini disusun secara sistematis agar memudahkan pembaca dalam memahami esensi dari makalah ini. Berikut sistematika pembahasan : BAB I Pendahuluan merupakan bab pertama pada makalah ini yang berisi latar belakang makalah ini disusun, tujuan atau esensi dari penyusunan makalah ini serta berisi sistematika pembahasan. BAB II Metoda Pembahasan adalah bagian yang memberikan informasi mengenai metoda yang digunakan penulis dalam menyusun makalah ini. BAB III Uraian Hasil Survey memuat inti dari makalah ini dengan memaparkan halhal pokok dalam perkembangan profesi planner. Pembahasan pertama mengantarkan pembaca kepada pengertian etika profesi dan profesi planner, lalu pembahasan mengenai perkembangan etika profesi planner dalam periode waktu tertentu. BAB IV Penutup berisi kesimpulan dari seluruh pembahasan pada BAB III.

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

BAB II
METODE PENELITIAN Dalam penyusunan makalah ini penulis menggunakan beberapa macam metode penelitian yang sesuai dengan aspek yang dibahas. Metode yang digunakan yaitu metode penelitian deskriptif dan penelitian perkembangan. Metode penelitian deskriptif dilakukan berdasarkan fakta-fakta dan sifat-sifat aspek yang dibahas, serta disusun secara sistematis. Metode penelitian perkembangan dilakukan dalam rangka meneliti pola dan perurutan pertumbuhan maupun perkembangan berdasarkan fungsi waktu. Melalui metode penelitian perkembangan, makalah ini dieksplorasi berdasarkan periode waktu.

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

BAB III
URAIAN

Diagram pembahasan perkembangan Etika profesi perencana

3.1 Pengertian Etika Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat internasional di perlukan suatu system yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain. Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agara mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat kita. Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk.

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

8 Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini : Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik. Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari seg baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal. Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya. Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yang perlu kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya. Ada dua macam etika yang harus kita pahami bersama dalam menentukan baik dan buruknya prilaku manusia :

a. ETIKA DESKRIPTIF, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau diambil. b. ETIKA NORMATIF, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.

Etika secara umum dapat dibagi menjadi : a. ETIKA UMUM, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Etika

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

9 umum dapat di analogkan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum dan teori-teori. b. ETIKA KHUSUS, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud : Bagaimana saya mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang saya lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar. Namun, penerapan itu dapat juga berwujud : Bagaimana saya menilai perilaku saya dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis : cara bagaimana manusia mengambil suatu keputusan atau tidanakn, dan teori serta prinsip moral dasar yang ada dibaliknya. ETIKA KHUSUS dibagi lagi menjadi dua bagian : Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia. Perlu diperhatikan bahwa etika individual dan etika sosial tidak dapat dipisahkan satu sama lain dengan tajam, karena kewajiban manusia terhadap diri sendiri dan sebagai anggota umat manusia saling berkaitan. Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia baik secara langsung maupun secara kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap kritis terhadpa pandangan-pandangana dunia dan idiologi-idiologi maupun tanggung jawab umat manusia terhadap lingkungan hidup. Dengan demikian luasnya lingkup dari etika sosial, maka etika sosial ini terbagi atau terpecah menjadi banyak bagian atau bidang. Dan pembahasan bidang yang paling aktual saat ini adalah sebagai berikut : 1. Sikap terhadap sesama 2. Etika keluarga 3. Etika profesi 4. Etika politik 5. Etika lingkungan 6. Etika idiologi

3.2 Pengertian Profesi Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan, dan hubungan antara teori dan KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

10 penerapan dalam praktek. Kita tidak hanya mengenal istilah profesi untuk bidang-bidang pekerjaan seperti kedokteran, guru, militer, pengacara, dan semacamnya, tetapi meluas sampai mencakup pula bidang seperti manajer, wartawan, pelukis, penyanyi, artis, sekretaris dan sebagainya. Sejalan dengan itu, menurut DE GEORGE, timbul kebingungan mengenai pengertian profesi itu sendiri, sehubungan dengan istilah profesi dan profesional. Kebingungan ini timbul karena banyak orang yang profesional tidak atau belum tentu termasuk dalam pengertian profesi. Berikut pengertian profesi dan profesional menurut DE GEORGE : PROFESI, adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian. PROFESIONAL, adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Atau seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian, sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi, untuk senang-senang, atau untuk mengisi waktu luang. Yang harus kita ingat dan fahami betul bahwa PEKERJAAN / PROFESI dan PROFESIONAL terdapat beberapa perbedaan : PROFESI : a. Mengandalkan suatu keterampilan atau keahlian khusus. b. Dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama (purna waktu). c. Dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup. d. Dilaksanakan dengan keterlibatan pribadi yang mendalam. PROFESIONAL : a. Orang yang tahu akan keahlian dan keterampilannya. b. Meluangkan seluruh waktunya untuk pekerjaan atau kegiatannya itu. c. Hidup dari situ. d. Bangga akan pekerjaannya. 3.3 Pentingnya Etika Profesi Apakah etika, dan apakah etika profesi itu ? Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimilki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Menurut Martin (1993), etika didefinisikan sebagai the discpline which can act as the performance index or reference for our control system. Dengan demikian, etika akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

11 manusia di dalam kelompok sosialnya. Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian dirupakan dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsipprinsip moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. Dengan demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan self control, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial (profesi) itu sendiri. Selanjutnya, karena kelompok profesional merupakan kelompok yang berkeahlian dan berkemahiran yang diperoleh melalui proses pendidikan dan pelatihan yang berkualitas dan berstandar tinggi yang dalam menerapkan semua keahlian dan kemahirannya yang tinggi itu hanya dapat dikontrol dan dinilai dari dalam oleh rekan sejawat, sesama profesi sendiri. Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat built-in mechanism berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan kehlian (Wignjosoebroto, 1999). Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya. Tanpa etika profesi, apa yang semual dikenal sebagai sebuah profesi yang terhormat akan segera jatuh terdegradasi menjadi sebuah pekerjaan pencarian nafkah biasa (okupasi) yang sedikitpun tidak diwarnai dengan nilai-nilai idealisme dan ujung-ujungnya akan berakhir dengan tidak-adanya lagi respek maupun kepercayaan yang pantas diberikan kepada para elite profesional ini. 3.4 Etika Profesi Perencana Perencanaan dalam artian yang sempit bukanlah suatu sains, melainkan, suatu bentuk tindak sosial, yang diarahkan untuk membentuk lingkungan fisik, dan

dikendalikan oleh seperangkat nilai-nilai moral, politik, dan estetika. Perencanaan adalah suatu praktek etika, meskipun sesungguhnya dalam upaya mewujudkan nilai-nilai yang akan dicapai, perencanaan seyogyanya memanfaatkan pemahaman relevan. Etika Profesional Setiap Profesi mempunyai ciri sbb.: Seperangkat pengetahuan kepakaran/keahlian dan metoda; ilmiah yang

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

12 Otonomi Profesional; Pengawasan Internal atas sertifikasi dan tindakan disipliner terhadap kolega; dan Seperangkat etika, baik eksplisit and implisit. serangkaian standar yang dipakai

Setiap professional code of conduct memiliki

sebagai ukuran untuk melindungi integritas keputusan profesional (professional judgment); Prinsip-prinsip etika dalam perencanaan berupaya untuk menghayati isyu-isyu equity and social justice, pentingnya memperluas pilihan-pilihan dan memperjuangkan interests of the disadvantages, dan obligations to the environment. Kode Etik Profesional Kode Etik Profesi Perencanaan: 3.4.1 Tanggung jawab perencana kepada publik; Tanggung jawab perencana kepada para klien and pemberi kerja; Tanggung jawab perencana kepada profesi dan kepada sejawat/kolega; Tanggung jawab perencana kepada diri sendiri.

Prinsip-prinsip Etika Perencanaan (AICP/APA: adopted May 1992) Melayanani kepentingan umum atau public Mendukung peranserta warga masyarakat dalam perencanaan; Menyadari bahwa keputusan perencanaan berciri komprehensif dan jangka panjang; Memperluas pilihan dan kesempatan bagi semua warga; Memfasilitasi koordinasi melalui proses perencanaan; Menghindar dari benturan kepentingan; Memberikan jasa perencanaan secara cermat dan teliti; Tidak meminta atau menawarkan jasa Tidak membuka atau menggunakan secara tidak pantas informasi rahasia demi keuntungan finansial; Menjamin akses yang sama untuk publik kepa laporan dan studi-studi perencanaan; Menjamin pemaparan sepenuhnya pada waktu konsultasi publik; Menjaga kepercayaan publik; dan Menghormati professional codes of ethics and conduct.

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

13 3.5 Perkembangan Kode Etik Perencana Indonesia Perkembangan kode etik perencana Indonesia dibahas dalam beberapa periode yakni Tahun 1989, 1994 dan 2006. Sebelum berlakunya KEPUTUSAN MUSYAWARAH NASIONAL ASOSIASI PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA Nomor 002/MunasI/APPI/08/2006 Tentang KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA, kode etik yang dijadikan pedoman adalah KODE ETIK PERENCANA INDONESIA BERDASARKAN Ketetapan Kongres Istimewa No.5 Tahun 1994 dan KODE ETIK DAN SIKAP PROFESIONAL IKATAN AHLI PERENCANAAN yang di adopsi pada bulan april pada tahun 1989. DI bawah ini adalah penjelasan masing-masing kode etik mulai pada tahun 1989, 1994 dan 2006.

KODE ETIK DAN SIKAP PROFESIONAL IKATAN AHLI PERENCANAAN (IAP CODE OF ETHICS AND PROFESSIONAL CONDUCT) (adopted april 29, 1989) Mukadimah Rumusan kode etik ini merupakan pedoman sikap etik yang dibutuhkan oleh segenap anggota Ikatan Ahli Perencanaan Bersertifikat Indonesia (Indonesian Association of Certified Planners). Rumusan ini juga bertujuan untuk menginformasikan masyarakat prinsip-prinsip yang dianut para ahli perencana professional. Pembahasan yang sistematik dari penerapan prinsip-prinsip ini mutlak dibutuhkan khususnya bagi pelaksanaan kegiatan harian anggota dan organisasi. Rumusan standard tingkah laku merupakan hal penting yang dibutuhkan organisasi khususnya bilamana seseorang atau lebih anggota IAP bertindak tidak baik. Namun demikian, rumusan kode etik ini menyajikan lebih daripada sekedar batas minimum yang dapat diwajibkan untuk diterima. Rumusan kode etik dan sikap professional ini mengatur standard-standard nilai yang memerlukan usaha yang tulus bagi anggota IAP untuk berusaha mematuhinya. Prinsip-prinsip kode etik dan sikap professional ini diturunkan dari nilai-nilai luhur yang dianut masyarakat sesuai falsafah dasar pancasila dan UUD 1945, serta dari tanggungjawab khusus profesi perencanaan dalam melayani kepentingan masyarakat. Sebagaimana halnya nilai dasar masyarakat yang seringkali bertentangan satu sama lain, maka prinsip-prinsip kode etik dan sikap professional ini juga sering menghadapi hal yang sama. Sebagai contoh, keinginan untuk member informasi sepenuhnya kepada masyarakat seringkali bertentangan dengan keinginan dalam menghargai nilai kerahasiaan. Rencana dan program seringkali merupakan hasil suatu keseimbangan antara ragam kepentingan. Suatu penilaian etik seringkali juga merupakan suatu keseimbangan yang seksama, berdasarkan atas fakta-fakta dan konteks dari suatu KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

14 situasi yang bersifat khusus, serta interpretasi yang layak dari keseluruhan kode etik dan sikap professional. Prosedur formal untuk pengisisan keberatan atas suatu pelanggaran, penyidikan, dan resolusi atas pelanggaran yang dituduhkan, serta pengeluaran aturanaturannya merupakan bagian dari kode etik dan sikap professional ini.

TanggungJawab Perencana Pada Masyarakat Tugas utama seorang perencana adalah untuk melayani kepentingan masyarakat. Sementara definisi kepentingan masyarakat dirumuskan melalui debat yang terus berlanjut, seorang perencana berkewajiban untuk secara tulus dan hatihati mengikatkan diri pada konsep bagi kepentingan masyarakat yang membutuhkan keharusan-keharusan khusus, yaitu : 1. Seorang perencana harus mempunyai perhatian dan kesadaran khusus bagi konsekuensi-konsekuensi yang akan dihadapi masyarakat pada masa yang akan datang atas dasar tindakannya saat sekarang. 2. Seorang perencana harus member perhatian khusus terhadap penuh keterkaitannya suatu keputusan. 3. Seorang perencana harus sepenuhnya berusaha menyediakan informasi yang jelas dan benar masalah-masalah (issue-issue) perencanaan kepada masyarakat serta para pembuat keputusan pemerintah. 4. Seorang perencana harus berusaha memberi peluang kepada masyarakat untuk mengetahui sepenuhnya akibat-akibat penerapan suatu rencana dan program pembangunan. Partisipasi harus cukup memberi peluang dalam melibatkan orang yang kurang berpengaruh atau tidak berorganisasi secara formal. 5. Seorang perencana harus berusaha memperluas pilihan dan ruang lingkup perencanaan bagi semua orang, khususnya menyangkut kepentingan kelompok atau individu yang dirugikan, serta harus berusaha menghindari kebijaksanaankebijaksanaan, lembaga-lembaga, dan keputusan-keputusan yang bertentangan dengan maksud tersebut. 6. Seorang perencana harus berusaha menjaga integritasnya terhadap lingkungan alam. 7. Seorang perencana harus berusaha merancang fisik alam sebaik-baiknya serta melindungi kenyamanan lingkungan hidup yang bertanggungjawab.

TanggungJawab Perencana Terhadap Client dan Atasan yang Memimpinnya Seorang perencana harus tampil rajin, kreatif, independent, dan kompeten dalam menampilkan pekerjaannya untuk memenuhi kepentingan client, atasannya atau pihak

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

15 pemberi kerja. Penampilan macam itu harus konsisten terhadap kesetiaannya melayani kepentingan masyarakat. 1. Seorang perencana harus berani mempertaruhkan keputusan profesionalnya secara bebas atas nama client dan atau pemberi kerja. 2. Seorang perencana harus menerima keputusan-keputusan dari client atau pemberi kerja dengan memperhatikan tujuan dan jenis pelayanan professional yang sebaiknya ditampilkan, illegal atau tidak konsisten dengan tugas utama perencana dalam melayani kepentingan masyarakat. 3. Seorang perencana tidak boleh menerima pekerjaan perencana lain bilamana saat itu secara nyata atau dapat dilihat dengan alas an yang masuk akal adanya konflik pribadi atau keuangan dari perencana tersebut atau perencana lainnya dengan client atau pemberi kerja yang merugikan perencana. 4. Seorang perencana tidak boleh menjual atau menawarkan jasa dengan menyatakan atau menerapkan kemampuannya untuk mempengaruhi keputusan-keputusan melalui cara yang tidak wajar. 5. Seorang perencana tidak boleh mendukung kepentingan client atau pemberi kerja yang melakukan cara-cara yang salah atau perkeliruan, penyalahgunaan dan memaksakan kehendak. 6. Seorang perencana tidak boleh menggunakan kekuasaan dari kantornya bekerja yang manapun juga demi mencari atau mendapatkan keuntungan khusus yang bertentangan dengan kepentingan umum atau yang bertentangan dengan pendapat umum. 7. Seorang planner tidak boleh meminta atau menerima komisi atau komisi pada/ dari client atau pemberi kerja yang tidak ada hubungannya dengan usaha kerja keras keahlian profesi perencanaannya. 8. Seorang planner tidak boleh memberi komisi atau bonus kepada pihak client atau pemberi kerja dengan maksud untuk membina hubungan kerja yang illegal dan mempengaruhi dalam membuat keputusan yang tiodak jujur oleh pihak client atau pemberi kerja. 9. Seorang perencana tidak boleh menerima atau melanjutkan kerja di atas kemampuan profesionalnya atau menerima kerja yang tidak dapat diselesaikan pada waktunya seperti ditentukan oleh client atau pemberi tugas, atau ditentukan oleh kondisi tugas-tugas yang sudah ada. 10. Seorang perencana harus menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh dari hasil kerjasama profesionalnya dengan client atau pemberi kerja yang secara tertulis memang meminta untuk menjaga kerahasiaannya. Pengecualian dari hal

kerahasiaan tersebut bisa dilakukan hanya bilamana a.) dibutuhkan dalam proses KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

16 hokum. Atau b.) dibutuhkan untuk mencegah pelanggaran hokum yang terlihat jelas, atau c.) dibutuhkan untuk mencegah kecelakaan fatal bagi keselamatan umum. TanggungJawab Perencana Terhadap Profesi dan Rekan Sejawat Seorang perencana wajib turut serta mengembangkan profesinya dengan

meningkatkan pengetahuannya dan kemampuannya, membuat kerja yang sesuai dengan pemecahan masaalah yang ada di masyarakat, dan meningkatkan pengertian masyarakat terhadap kegiatan-kegiatan perencanaan. Seorang perencana harus menghargai kemampuan dan keahlian professional teman sejawat dan anggota dari profesi-profesi lain. 1. Seorang perencana harus melindungi dan meningkatkan integritasnya terhadap profesi dan harus tanggap pada kritik profesi. 2. Seorang perencana harus secara akurat menampilkan kwalifikasinya, pandanganpandangannya, dan mengakui secara jujur pendapat atau penemuan rekan sejawatnya. 3. Seorang perencana yang bertanggungjawab dalam mengkaji hasil kerja profesi perencana lainnya, harus memenuhi tanggungjawab ini secara fair, penuh pertimbangan ilmiah, professional, dan sesuai dengan masalahnya. 4. Seorang perencana harus membagi hasil pengalaman dan penelitian yang turut serta menambah isi pengetahuan perencana 5. Seorang perencana harus menguji kedaya-terapan teori-teori perencanaan, metodametoda dan standard terhadap fakta-fakta dan analisa dari setiap situasi tertentu, serta tidak boleh menerapkan suatu cara pemecahan yang biasa dilakukan tanpa terlebih dahulu meyakinkan kesesuaiannya pada situasi tertentu. 6. Seorang perencana harus turut serta menyediakan waktu dan pengetahuannya bagi peningkatan pengetahuan professional mahasiswa, kepentingan intern, perencana profesi pemula, dan teman sejawat lainnya. TanggungJawab Perencana Terhadap Dirinya Sendiri Seorang perencana harus berusaha untuk memenuhi integritas, kemahiran, dan pengetahuan professional dengan standard yang tinggi. 1. Seorang perencana tidak boleh melakukan tindakan salah dan atau tercela yang menggambarkan perencana 2. Seorang perencana harus tanggap terhadap hak-hak oranglain dan khususnya tidak boleh membeda-bedakan oranglain secara tidak wajar. 3. Seorang perencana harus berusaha melanjutkan pendidikan profesionalnya. KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA hal-hal yang berlawanan dengan kewajaran professional

17 4. Seorang perencana harus secara akurat mewakili kualifikasi profesionalnya, pendidikannya, dan tempatnya bekerja. 5. Seorang perencana harus secara sistematik dan kritis menganalisa masalahmasalah etik dalam praktek perencanaan. 6. Seorang perencana harus berusaha untuk menyisihkan waktu dan usahanya bagi kelompok-kelompok yang kurang memadai dalam sumberdaya perencanaan dan pada aktifitas-aktifitas professional secara sukarela.

KODE ETIK PERENCANA INDONESIA BERDASARKAN Ketetapan Kongres Istimewa No.5 Tahun 1994

Mukadimah Kode etik perencana Indonesia sebagai kaidah kehormatan diturunkan berdasarkan nilai-nilai luhur masyarakat dan bangsa Indonesia yang berlandaskan falsafah Pancasila dan UUD 1945. Kode etik perencana Indonesia merupakan sikap professional dalam mengemban tanggung jawabnya berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan negara, pemberi kerja dan atasan, serta tanggung jawab profesi, rekan sejawat maupun diri sendiri. Tanggung jawab terhadap masyarakat dan negara merupakan payung dari tanggung jawab lainnya.

Tanggung Jawab Perencana Pada Masyarakat Melayani kepentingan seluruh golongan di dan lapisan masyarakat (public); maupun

mendahulukan

kepentingan

umum

atas kepentingan golongan

kepentingan pribadi serta berdasar keyakinan profesinya berani membela yang benar serta memberikan kritik dan koreksi terhadap hal yang merugikan masyarakat. Memberikan informasi kepada masyarakat dan pengambila keputusan akan permasalahan, kemungkinan pilihan dan dampak dari suatu perencanaan, serta mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Berperanserta dalam upaya menuju tercapainya pembangunan berkelanjutan melalui pendekatan perencanaan terpadu yang berwawasan menyeluruh dan berjangka panjang, dengan meningkatkan efisiensi dan produktivitas ekonomi, meningkatkan pemerataan dan perluasan manfaat pembangunan, melestarikan warisan budaya dan sejarah, serta meningkatkan kondisi lingkungan hidup. KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

18

Tanggung Jawab Perencana Terhadap Pemberi Kerja dan Atasannya Menjaga kerahasiaan informasi dari pemberi kerja maupun informasi dari pihak pemerintah yang masih perlu dirahasiakan serta tidak menggunakan informasi yang masih rahasia untuk kepentingan keputusan pribadi, sebaliknya juga harus berani

mempertanggungjawabkan masyarakat.

profesionalnya

berdasar

kepertingan

Memanfaatkan wewenang, kompetensi profesi serta informasi yang dimiliki untuk memenuhi kepentingan pemberi kerja dan atasannya sejauh hal ini sejalan dengan pelayanannya terhadap kepentingan masyarakat.

Tanggung Jawab Perencana Terhadap Profesi, Rekan Sejawat dan Diri Sendiri Turut serta mengembangkan profesi perencanaan dengan terus menerus

meningkatkan integritas, pengetahuan dan kemampuannya, tanggap terhadap kritik profesi, berbagai pengalaman dan pengetahuan pada rekan sejawat, serta menyebarluaskan masyarakat. Menghormati dan menghargai kemampuan dan keahlian professional serta hasil pekerjaan teman sejawat dan anggota dari profesi lain serta mempunyai sikap saling membina terutama terhadap perencana pemula. Menghindari menerima pekerjaan pada waktu bersamaan dari pemberi kerja lain bilamana hal ini dapat menimbulkan benturan kepentingan antar pemberi kerja. KEPUTUSAN MUSYAWARAH NASIONAL ASOSIASI PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA Nomor 002/Munas-I/APPI/08/2006 Tentang dan meningkatkan pengertian profesi perencanaan pada

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA Kode etik tersebut merupakan sikap profesional perencana dalam mengemban tanggung jawabnya yang terkait dengan kepentingan masyarakat dan negara, pemberi kerja dan atasan, serta tanggung jawab profesi, rekan sejawat maupun diri sendiri.

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA


Menimbang : a. Bahwa profesi adalah pekerjaan yang didasarkan kepada ilmu pengetahuan, keahlian yang spesifik dan etika profesi.

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

19 b. Bahwa jabatan fungsional perencana (selanjutnya disebut perencana pemerintah) adalah suatu profesi di lingkungan pegawai negeri sipil yang ditugaskan di instansi pemerintah tertentu di Indonesia. c. Bahwa Asosiasi Perencana Pemerintah Indonesia (AP2I) adalah organisasi profesi di lingkungan pegawai negeri sipil bagi para pemangku jabatan fungsional perencana. d. Bahwa organisasi profesi di lingkungan pegawai negeri sipil perlu menetapkan kode etiknya masing-masing, sebagai pedoman perilaku pelaksanaan tugas sesuai dengan hak, wewenang dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. e. Bahwa kode etik perencana pemerintah ini dimaksudkan untuk menjamin pelaksanaan tugas perencana pemerintah yang sesuai dengan prinsip dan tahaptahap perencanaan sebagaimana ketentuan dan perundangan berlaku. f. Bahwa berdasarkan pertimbangan di atas agar etika profesi benar-benar dapat dipahami dan dilaksanakan oleh setiap perencana pemerintah Indonesia, diperlukan pedoman pelaksanaan (Kode Etik Perencana Pemerintah Indonesia) yang ditetapkan dan disahkan dalam musyawarah nasional ke-1 Asosiasi Perencana Pemerintah Indonesia.

Mengingat : a. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang perubahan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian; b. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi Kolusi dan Nepotisme; c. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; d. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004. e. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004. f. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil; g. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil; h. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. i. Surat Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 16/Kep/M.PAN/3/2001 tentang Jabatan Fungsional Perencana dan Angka Kreditnya

MEMUTUSKAN Menetapkan

: : Kode Etik Perencana Pemerintah Indonesia.

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

20

PASAL 1 (Pengertian Umum) 1. Kode Etik Profesi Perencana Pemerintah (selanjutnya disebut Kode Etik Perencana) adalah norma sikap dan perilaku yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh Perencana Pemerintah dalam menjalankan tugas dan

tanggungjawabnya, serta dalam menggunakan hak dan kewenangannya baik sebagai individu professional maupun sebagai bagian dari instansi pemerintah. 2. Kode Etik Perencana berisi kewajiban, tanggungjawab, tingkah laku, dan perbuatan sesuai dengan nilai-nilai hakiki profesinya dikaitkan dengan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat serta pandangan hidup bangsa dan negara. 3. Instansi Pemerintah adalah organisasi/unit kerja pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang mempunyai tugas dan fungsi melakukan kegiatan perencanaan komprehensif, dengan lingkup makro, sektor dan daerah, serta melakukan pemantauan dan evaluasi atas pelaksanaan rencana. 4. Perencana Pemerintah adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas, tanggungjawab, wewenang, dan hak secara penuh untuk melaksanakan kegiatan perencanaan pada instansi perencanaan baik di pusat maupun di daerah. 5. Pelanggaran adalah segala perbuatan dalam bentuk ucapan, tulisan, atau perilaku Perencana yang bertentangan dengan Kode Etik Perencana. 6. Komite Kode Etik Perencana adalah para anggota AP2I yang ditunjuk dan diangkat berdasarkan Keputusan Pimpinan Pengurus Nasional AP2I dengan tugas utama memberikan penjelasan dan interpretasi, memantau pelaksanaan, menetapkan adanya pelanggaran Kode Etik Perencana berikut penjatuhan sanksi profesi, dan merekomendasikan penjatuhan hukuman disiplin kepada pejabat yang berwenang menghukum. 7. Kewajiban adalah sesuatu yang harus dilaksanakan. 8. Larangan adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan. PASAL 2 (Kode Etik Perencana) 1. Kode Etik Perencana adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran 1, dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keputusan ini. 2. Seluruh Pemangku Jabatan Fungsional Perencana di Pusat dan Daerah diharuskan mematuhi dan melaksanakan Kode Etik Perencana. 3. Kode Etik Perencana sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilengkapi dengan Pernyataan Kode Etik Perencana untuk menjelaskan hal-hal tertentu yang berkaitan dengan pelaksanaan Kode Etik Perencana.

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

21 4. Pernyataan Kode Etik Perencana dikeluarkan oleh Komite Kode Etik Perencana seseuai dengan perkembangan dan kondisi yang terjadi. PASAL 3 (KOMITE KODE ETIK PERENCANA) Struktur, tugas, wewenang, dan tata kerja Komite Kode Etik Perencana ditetapkan oleh Pengurus Nasional AP2I PASAL 4 (Pengawasan dan Sanksi) 1. Komite Kode Etik berkewajiban untuk melakukan pengawasan terhadap perencana pemerintah dalam melaksanakan kode etik perencana. 2. Perencana yang melakukan pelanggaran atau penyimpangan ketentuan dalam Kode Etik Perencana dikenakan hukuman disiplin pegawai negeri sipil sesuai dengan tingkat kesalahannya. 3. Perencana dapat dikenakan sanksi profesi atas pelanggaran atau penyimpangan ketentuan dalam Kode Etik Perencana. 4. Sanksi profesi akan diputuskan lebih lanjut oleh Komite Kode Etik Perencana. 5. Penjatuhan sanksi profesi dapat dipertimbangkan untuk tidak menghapuskan penjatuhan hukuman disiplin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. PASAL 5 (lain-lain) 1. Dengan ditetapkannya Keputusan Musyawarah Nasional AP2I tentang Kode Etik Perencana Pemerintah ini, selanjutnya perlu disosialisasikan secara periodik dan berjenjang kepada seluruh Perencana (Pusat dan Daerah) dan merupakan salah satu topik dalam pelatihan Perencana. 2. Evaluasi dan penyempurnaan atas Kode Etik Perencana dilakukan secara periodik sekurang-kurangnya sekali dalam 3 (tiga) tahun. 3. Ketentuan di dalam kode etik ini berikut lampirannya dapat diubah atau diperbaiki melalui persetujuan anggota dan mekaninsme yang diatur oleh Pengurus AP2I. 4. Keputusan mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta Disahkan oleh anggota AP2I pada Musyawarah Nasional I AP2I Pada tanggal 30 Agustus 2006 Ketua Formatur AP2I Lampiran I KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

22 KODE ETIK PERENCANA Pendahuluan Kode Etik Profesi Perencana (Kode Etik Perencana) dimaksudkan untuk memberikan dasar, menegakkan dan memelihara standar perilaku professional sebagai pedoman atau acuan berperilaku bagi seluruh perencana pemerintah di setiap instansi/unit perencanaan di kementerian/lembaga dan pemerintah daerah. Tujuan ditetapkannya kode etik ini adalah agar terpenuhi prinsip-prinsip kerja yang sehat, professional dan terpenuhinya pengendalian pekerjaan, sehingga mengarah kepada terwujudnya kinerja yang tinggi dalam pelaksanaan tugas pokoknya. Asosiasi Perencana Pemerintah Indonesia (AP2I) berkewajiban untuk menyusun dan menetapkan standar perilaku profesional yang tinggi, mendorong dilaksanakannya perilaku etis, sikap dan pertimbangan setiap individu perencana pemerintah atas dasar : Bahwa perencanaan pembangunan nasional diperlukan untuk menjamin : (a) agar kegiatan pembangunan berjalan efektif, efisien dan bersasaran; (b) tercapainya tujuan negara kesatuan Republik Indonesia. Bahwa kode etik perencana memuat secara jelas prinsip, nilai-nilai dan standar etika profesi perencana pemerintah. Bahwa mendorong standar tersebut melalui pendidikan, pelatihan dan forum konsultasi. Bahwa diperlukan investigasi perilaku tidak etis, mengambil tindakan korektif, dan belajar dari pengalaman. Bahwa diperlukan bimbingan kepada para perencana dalam hal pengambilan keputusan etis. Bahwa terdapat kesempatan bagi setiap perencana anggota AP2I untuk memberikan masukan bagi penyempurnaan kode etik ini.

Kode Etik Perencana ini terdiri atas 4 (empat) bagian, yaitu : (1) Pendahuluan, (2) NilaiNilai Dasar Pribadi, (3) Standar Perilaku, dan (4) Standar Pelaksanaan. Nilai-Nilai Dasar Pribadi Setiap Perencana Pemerintah harus menganut dan menjunjung tinggi nilai-nilai dasar pribadi, yaitu : a. Beriman : bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. b. Jujur : memiliki kejujuran yang tinggi sehingga perkataan dan perbuatannya dapat dipercaya. c. Sederhana : bersahaja dalam segala hal, bertutur kata, bersikap, dan berperilaku

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

23 d. Berani : bersikap tegas, tidak ragu-ragu, dan rasional dalam membuat dan menentujan pilihan-pilihan alternatif rencana demi kepentingan negara, pemerintah dan organisasi. e. Terbuka : transparan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya, serta dalam pergaulan internal maupun eksternal. f. Independen : bersikap netral dalam melaksanakan tugas, tidak terpengaruh oleh kepentingan kelompok atau golongan tertentu. g. Berintegritas : memiliki perilaku yang bermartabat dan bertanggungjawab. h. Tangguh : tegar dalam menghadapi kesulitan, hambatan, tantangan, dan ancaman dalam bentuk apa pun dan dari pihak manapun. i. Kompeten : memiliki kemampuan dan karakteristik yang harus dimiliki, serta selalu berusaha untuk meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan, keahlian, dan kapasitas yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya. j. Profesional : menjaga dan menjalankan keahlian profesi dan mencegah benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugas. Standar Perilaku Standar perilaku berisikan batasan perilaku sebagai kewajiban yang harus dilakukan serta larangan yang harus dihindari oleh setiap Perencana. Perumusan standar perilaku memperhatikan asas-asas utama sebuah organisasi, yaitu : kepastian hukum, keterbukaan, akuntabilitas, kepentingan umum, dan proporsionalitas. Kepastian Hukum, yaitu dalam melaksanakan tugas, tanggungjawab, wewenang, dan jabatannya dalam organisasi selalu mengedepankan landasan peraturan perundangundangan yang berlaku. Keterbukaan, membuka diri dan memberi akses kepada masyarakat dalam

melaksanakan hak-haknya untuk memperoleh informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan dalam melaksanakan tugas dan kedudukannya bagi organisasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kepentingan Umum, sebagai bagian dari aparatur negara, mengutamakan memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil, dan merata dalam penyelenggaranaan negara, pemerintahan, dan pembangunan. Akuntabilitas, setiap pelaksanaan dan hasil akhir dari kegiatan dalam institusi (unit organisasi) harus dapat dipertanggungjawabkan kepada pimpinan dan masyarakat sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Proporsionalitas, selalu mengutamakan kepentingan pelaksanaan tugas, dan

tanggungjawab organisasi, dengan tetap memperhatikan adanya kepentingan lainnya secara seimbang. KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

24

Kewajiban 1. Menjunjung tinggi peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. 2. Mentaati dan mematuhi norma-norma hukum, etika dan moral, ketentuan kepegawaian, kedinasan, dan peraturan administratif kedinasan lainnya. 3. Memanfaatkan dan memelihara fasilitas dan barang-barang milik negara dengan sebaik-baiknya. 4. Bersikap independen dalam pelaksanaan tugas dan tidak memihak kepada kepentingan kelompok atau golongan tertentu sehingga tidak menimbulkan benturan dan friksi kepentingan. 5. Menghindari perilaku dan perbuatan yang melanggar hokum dan etika profesi. 6. Menerapkan dengan tegas prinsip, nilai, dan keputusan yang telah disepakati dengan segala konsekuensinya. 7. Meningkatkan kemampuan dan kualitas kerja secara berkesinambungan. 8. Mendahulukan tugas dan tanggungjawab kepada negara, dan organisasi daripada kepetingan pribadi dan golongan. 9. Memelihara dan menjaga hubungan yang harmonis dengan perencana dan pihak lain secara hirarkis struktural maupun fungsional. 10. Mengindentifikasi setiap benturan dan konflik kepentingan yang timbul atau kemungkinan benturan kepentingan yang akan timbul dan mengkomunikasikan kepada pimpinan. 11. Menahan diri terhadap gangguan dan godaan yang berpotensi mempengaruhi kinerja dan substansi keputusan.

12. Memberitahukan kepada atasan langsungnya mengenai penugasan dari pihak lain
yang akan dan telah dilaksanakan, baik sendiri atau bersama orang lain, dalam hubungannya dengan tugas kedinasan. Larangan 1. Menyalahgunakan wewenang yang dimiliki, langsung atau tidak langsung untuk kepentingan pribadi dan atau golongan. 2. Meminta atau menerima pemberian dari siapa pun dan dalam bentuk apapun yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, kebijakan organisasi dan sumpah jabatan. 3. Menggunakan dan atau mengakses data dan informasi dari pelaksanaan tugas dan miliki organisasi tanpa otoritas, kecuali untuk keperluan sesuai peraturan perundangundangan dan prosionalisme tugas jabatan. 4. Menghilangkan asset negara, dokumen, milik negara/organisasi, dan barang bukti. KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

25 5. Membuat komitmen dan janji dengan pihak lain yang mengikat organisasi tanpa prosedur dan otorisasi legal. 6. Memiliki kepentingan keuangan dan kepentingan lainnya yang bertentangan dengan pelaksanaan tugas dan wewenang. 7. Melakukan transaksi keuangan dan transaksi lainnya dengan menggunakan informasi dalam lingkungan tugas dan organisasi yang tidak diperkenankan oleh ketentuan yang berlaku, dan menggunakan informasi tersebut untuk kepentingan pribadi dan golongan. 8. Menjadi anggota dan atau pengurus partai politik tertentu, sehingga berpotensi memiliki pengaruh kepentingan golongan tertentu dan diskriminatif dalam

memberikan pelayanan kepada masyarakat. 9. Terlibat dalam pekerjaan dan atau aktivitas di luar organisasi yang bertentangan dengan pelaksanaan tugas dan tanggungjawabnya dalam organisasi. 10. Melakukan tindakan dan perbuatan yang melanggar norma hukum, agama, dan susila. Standar Pelaksanaan a. Nilai-nilai pribadi dan standar perilaku seperti tersebut diatas, dilaksanakan dalam bentuk ucapan, sikap dan tindakan. b. Perencana wajib menjaga kewenangan yang dimiliki dengan berperilaku sesuai dengan kode etik Perencana. c. Perencana wajib menempatkan loyalitas kepada hukum, norma, etika, dan moral diatas kepentingan pribadi dan atau golongan dalam pelaksanaan tugas pokoknya. d. Kode Etik diterapkan dengan tegas, dan mengandung sanksi profesi dan penjatuhan hukuman disiplin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi yang melanggarnya.

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

26

BAB IV
KESIMPULAN Dari uraian yang telah dijelaskan pada bab III dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai perkembangan kode etik perencana dari tahun 1989, 1994 dan 2006, yakni : Perencanaan dalam artian yang sempit bukanlah suatu sains, melainkan, suatu bentuk tindak sosial, yang diarahkan untuk membentuk lingkungan fisik, dan dikendalikan oleh seperangkat nilai-nilai moral, politik, dan estetika. Perencanaan adalah suatu praktek etika, meskipun sesungguhnya dalam upaya mewujudkan nilai-nilai yang akan dicapai. Secara umum kode etik profesi perencana yaitu : Tanggung jawab perencana kepada publik; Tanggung jawab perencana kepada para klien and pemberi kerja; Tanggung jawab perencana kepada profesi dan kepada sejawat/kolega; Tanggung jawab perencana kepada diri sendiri.

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA

27 DAFTAR PUSTAKA www.iap.org.id www.google.com Djoko Sujarto, Perkembangan Teori Perencanaan, Mimeograf Jurusan Teknik Planologi, FTSP, ITB, Bandung 1988. Jurusan Planologi, FTSP-ITB, Panduan Kurikulum Jurusan Planologi, FTSP-ITB, 1998, Bandung 1998

KODE ETIK PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA