Anda di halaman 1dari 10

TUGAS PASANG SURUT SUSULAN

I.

PASANG SURUT

1.1. Umum Dalam rekayasa pengembangan kawasan di daerah pantai, reklamasi lahan pasang surut, reklamasi daerah delta dan perencanaan pelabuhan pengetahuan tentang pasang surut sangatlah penting. Pasang surut terutama terjadi karena gaya tarik bulan, matahari, dan planet-planet. Pengaruh gaya gravitasi yang berbeda-beda dapat diprediksi dengan tepat karena gerakan rotasi dan revolusi bumi, bulan, matahari, dan planet-planet berilangsung dengan keteraturan yang sangat tinggi. Periode pasang surut setiap hari terutama ditentukan oleh rotasi yang berperiode 24 jam. Dalam waktu bersamaan bulan mengelilingi bumi (ber-revolusi) kurang lebih sekali dalam 28 hari. Dengan demikian suatu titik di bumi akan menghadap ke bulan sekali dalam 24 jam 51 menit, selisih waktu 51 menit menyebabkan besar ga ya tarik bulan bergeser terlambat 51 menit dari air tinggi yang ditimbulkan oleh gaya tarik matahari. Bidang dimana bumi berotasi mengelilingi matahari disebut bidang eliptis, sudut inklinaasi bumi terhadap bidang eliptis ini sebesar 66.5 sedangkan sudut inklinaasi bulan terhadap rotasi bumi adalah 59. Posisi bulan dengan jarak terdekat terhadap bumi disebut perigee dan jarak terjauh disebut apogee. Kondisi pasang akan terjadi pada saat perigee, sebaliknya kondisi surut terjadi pada saat apogee.

NAMA : I GUSTI PUTU SILA ADNYANA NIM : H1A108043

Page 1

TUGAS PASANG SURUT SUSULAN

II.

TATA SALURAN

2.1. Sistem Tata Saluran Kriteria teknis untuk menjamin keber1ansungan sistem tata air di lahan pasang surut adalah dengan memadukan kriteria irigasi, drainasi, reklamasi dan pengamanan intrusi, sebagai berikut (Wignyosukarto Budi, 1988): 1. Kriteria irigasi, menginginkan bahwa pemberian air kepada zone perakaran dapat selalu dijamin dengan kualitas yang toleran terhadap tanaman yang diusulkan. Sesuai dengan kualitas lahannya maka disyaratkan bahwa kedalaman air tanah berada pada kedalaman 20-50 Cm muka lahan. 2. Kriteria drainase, menginginkan bahwa air hujan 3 harian dengan kala ulang 5 tahunan dapat dibuang dalam 3 hari tersebut dengan memperhatikan siklus pasang surut yang terjadi. Drainase tersebut harus terkontrol agar tidak terjadi pengatusan yang berlebih. 3. Kriteria reklamasi, menginginkan bahwa proses pematangan gambut dapat tejamin dengan harapan bahwa aerasi berlargsung dengan baik, namun tidak menimbulkan pengatusan yang berlebih. 4. Kriteria pengamanan menginginkan agar tata saluran tersebut mempunyai sistem penahan intrusi tanpa atau dengan bangunan pengatur.

Sesuai dengan kriteria rancangan tersebut dibuat beberapa dasar rancangan sebagai berikut : a. Apabila curah hujan cukup dan merata sepanjang tahun, maka sumber air irigasi dapat dari air hujan, dan air yang berlebih dibuang le wat saluran drainase utama dan saluran pedesaan. b. Selain air hujan, apabila mungkin pemanfaatan air untuk irigasi dapat diambil dari air sungai yang masih segar dengan membuat sarana bangunan pengambilan diatas batas air payau yang paling kritis. c. Muka air di saluran drainase utama dan saluran pedesaan masih dapat dipakai untuk menjamin muka air tanah yang cukup dengan membuat bangunan pengatur, demikian pula muka air di saluran tersebut harus

NAMA : I GUSTI PUTU SILA ADNYANA NIM : H1A108043

Page 2

TUGAS PASANG SURUT SUSULAN

sedemikian rupa pada waktu pasang tertinggi tidak akan terjadi intrusi air asin. d. Bangunan pengatur tersebut harus dapat dioperasikan oleh juru dengan harapan bahwa juru akan selalu tahu berapa kedalaman air tanah yang diinginkan oleh petani dan bagaimana kualitas air yang ditahan di saluran. e. Kedalaman saluran di saluran navigasi harus dapat menjamin transportasi manusia dan barang.

NAMA : I GUSTI PUTU SILA ADNYANA NIM : H1A108043

Page 3

TUGAS PASANG SURUT SUSULAN

III.

PENGEMBANGAN LAHAN PASANG SURUT

3.1. Sejarah Pengembangan Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, politik, kebudayaan selalu dimulai dari tepian sungai dan pantai, demikian pula halnya dengan pembangunan daerah yang surut di Indonesia yang tercatat dimulai sejak abad ke13 masehi, pada saat kerajaan Majapahit mulai mengadakan perluasan pengaruh sampai ke Kalimantan dimulai dari pantai selatan. Secara khusus di Kalimantan Selatan perkembangan dimulai di tepian sungai Martapura dan sungai Barito. Di daerah Kalimantan Barat, perkembangan daerahnya dimulai ketika Parabu Jaya yang merupakan salah satu keturunan Raja Brawijaya dari Majapahit pada abad ke-13 masehi yang dimulai dengan membuka lahan pemukiman di sungai Pawan Ketapang. Sebagai daerah yang mulai berkembang dan dapat menarik banyak orang untuk tinggal menetap, dan mereka berasal dari berbagai suku bangsa. Untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan maka diusahakanlah pembangunan saluran-saiuran air yang dapat mengatur ket e r s e d i a a n a i r u n t u k t a n a m a n d a n k e b u t u h a n s e r t a s e b a g a i s a r a n a transportasi air (perairan daratan). Pada masa awal mereka tinggal di daerah rawa-rawa ditepi sungai, dengan demikian mereka sangat memahami manfaat dari gerakan air pasang surut. Waktu pasang air sungai masuk rawa-rawa dan waktu surut air kernbali ke sungai. Daerah yang terpengaruh gerakan pasang surut air ini biasanya dapat ditanami padi dan jenis tanaman lain dengan baik. Tanah rawa tepi sungai ini makin lama makin habis atau dengan kata lain semakin jauh dari tempat tinggal mereka, maka mulailah mereka meluaskan pengaruh pasang surut kearah pedalaman, dimulailah pembangunan parit-parit dari sungai masuk kedalam daerah rawa, dengan harapan agar air sungai bisa

keluar masuk daerah rawa melalui parit-parit tersebut. Dengan proses aliran air pasang surut tersebut, makin lama tanah disekitar parit menjadi baik dan dapat ditanami padi.

NAMA : I GUSTI PUTU SILA ADNYANA NIM : H1A108043

Page 4

TUGAS PASANG SURUT SUSULAN

Pada tahun 1980 Anjir Serapat sepanjang 28 km yang menghubungkan sungai kapuas dan sungai Barito mulai digali, pertama-tama penggalian dilakukan dengan tangan. Tujuan utama dari penggalian Anjir ini adalah untuk jalur lalu lintas air. Pada tahun 1935 Anjir ini diperlebar dan diperdalam dengan kapal keruk. Sebagai dampak positif dari pembangunan Anjir ini maka tata air di derah sekitarnya menjadi baik dan cocok untuk persawahan, sejakk saat itulah secara spontan banyak orang yang membuka persawahan di daerah tersebut. Proses perkembangan persawahan pasang surut antara lain dipengaruhi oleh interaksi dari teknologi tradisional dan teknologi dari luar yang mendorong Pengairan Surut berkembang dengan pengaruh teknologl yang beragam terutama yang cocok dengan keadaan lingkungan setempat. Suatu pemilihan teknologi yang tepat sesuai dengan kondisi lingkungan setempat akan san gat diperlukan guna mendapatkan laju perkembangan yang mantap tanpa banyak menimbulkan kerugian bagi lingkungan. Table 1: Aspek-aspek Pendukung keberhasilan strategi pengembangan lahan pasang surut No 1 Aspek PERTANIAN Pengembangan Kegiatan pertanian dengan dukungan

mekanisasi. (paling penting ) Dukungan input pertanian (bibit, pupuk termasuk P, pestisida) Pola pertanaman dilakukan secara serentak dalam satu unit pengolahaan air tingkat sekunder Diversifikasi tanaman, palawija-tanaman

perkebunan, perikanan Intensitas pertanaman 2X tanam setahun Penyuluhan dan pelatihan bagi para petani dan staff/petugas daerah 2 PENGELOLAAN AIR Pemasangan/Rehabilitasi bangunan pintu air O&P pintu air Pelatihan O&P bagi para petani dan petugas

NAMA : I GUSTI PUTU SILA ADNYANA NIM : H1A108043

Page 5

TUGAS PASANG SURUT SUSULAN

daerah 3 PENANGANAN PASKA PANEN 4 INFRASTRUKTUR EKONOMI, SOSIAL DAN PENGEMBANGAN DAERAH 6 SISTEM INFORMASI MANAJEMEN Pengembangan budidaya perikan Perkebunan tanaman keras Fasilitas/sarana pengeringan dan penenganan paska panen tersedia, mencukupi dan merata jumlahnya di masing-masing kawasan Gudang penyimpanen Angkutan ke pasar Peningkatan dan penyempurnaan perhubungan air Pengembangan jaringan jalan Pengembangan institusi pasar Sarana air minm, sanitasi, pendidikan, kesehatan, keagamaan Pengembangan wiliyah dan integrasi antar

kawasan/sub kawasan melalui penataan ruang 5 PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN Litbang, penyuluhan oleh lembaga penelitian setempat Inisiatif dan komitmen Pemerintah Daerah Kemitraan/keterlibatan sektor swasta Peningkatan partisipasi Layanan jasa perbankan dan mekanisme kredit Manajemen aset Monitoring dan Evaluasi Pengembangan model-model pengolahan air dan DSS (desicion support system) 7 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN (Amdal/UKL/UPL) Pengembangan kerangka hukum dan penegakannya Konservasi ekosistem sumberdaya alam dan pelestarian

NAMA : I GUSTI PUTU SILA ADNYANA NIM : H1A108043

Page 6

TUGAS PASANG SURUT SUSULAN

IV.

LAHAN PASANG SURUT DI KALIMANTAN

4.1. Anjir Anjir adalah terusan yang menghubungkan dua sungai di Kalimantan, seperti Anjir Kalampan yang menghubungkan Sungai Kahayan dengan Sungai Kapuas, Anjir Serapat yang menghubungkan Sungai Kapuas dan Sungai Barito. Anjir juga sering dipakai sebagai penamaan tempat. Permasalahan yang ditemukan pada anjir untuk mengalirkan lalu lintas kapal, perahu adalah:

Dalam musim kemarau, air dari hulu berkurang sehingga anjir tidak bisa dilayari oleh kapal,

Pendangkalan akibat sedimentasi, Pasang surut, khususnya pada anjir Serampat yang sangat dipengaruhi oleh pasang surut laut.

RAWA YANG SUDAH DIKEMBANGKAN PROPINSI KALIMANTAN TENGAH LUAS (ha) 7450 5613 1740 9100 4770 9400 14165 4000 2250 6600 15440

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

NAMA RAWA Kenarakan Pilang Gelinggang Tewang Kampung Padurian 1 Saka Tamiang Kapuas Barat Padurian 2 Sakalagun Basarang Unit Padurian 3

KECAMATAN Bukit Batu Kahayan Hilir Kamipang Katingan Kuala Kahayan Kuala Kapuas Barat Kapuas Barat Kahayan Kuala Kapuas Barat Kapuas Kahayan Kuala

JENIS Lebak Lebak Lebak Lebak Lebak Pasang Surut Pasang Surut Lebak Pasang Surut Pasang Surut Lebak

NAMA : I GUSTI PUTU SILA ADNYANA NIM : H1A108043

Page 7

TUGAS PASANG SURUT SUSULAN

12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43

Tanjung Rangas I Tanjung Rangas II Tanjung Rangas III Tanjung Rangas IV Seruyan II Seruyan III Teruntum Mendawa I Satiruk Katingan 2 Kuala Pembuang I Seruyan IV Seruyan I Mentaya Bagendang Hulu Handil Nali Mentaya Seberang Katingan 1 Katingan 4 Katingan 3 Talio Pangkoh 2 Kantan Kanamit Palingkau Terusan Tengah Jabiren Tahai Mentaren Anjir Serapat Maliku Kiri Beklanti I

Seruyan Hilir Seruyan Hilir Seruyan Hilir Seruyan Hilir Seruyan Hilir Seruyan Hilir Jelai Katingan Kuala Pulau Hanaut Katingan Kuala Seruyan Hilir Seruyan Hilir Seruyan Hilir Baamang Mentaya Hilir Selatan Pulau Hanaut Ketapang Mentaya Baru Katingan Kuala Katingan Kuala Katingan Kuala Kahayan Kuala Pandih Batu Pandih Batu Pandih Batu Kapuas Murung Kapuas Kuala Kahayan Hilir Selat Kahayan Hilir Kapuas Timur Pandih Batu Selat

Lebak Lebak Lebak Lebak Lebak Pasang Surut Pasang Surut Lebak Pasang Surut Lebak Pasang Surut Lebak Pasang Surut Lebak Lebak Lebak Lebak Lebak Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut

1500 710 850 1570 1060 1520 1100 1200 245 320 2000 2100 460 750 250 1800 887 232 4600 4300 5026 4934 4927 5810 1400 4852 1000 3787 2500 845 3669 3600

NAMA : I GUSTI PUTU SILA ADNYANA NIM : H1A108043

Page 8

TUGAS PASANG SURUT SUSULAN

44 45 46 47 48 49 50 51

Kalahean Kumpai Batu Tanjung Putri Parapak Tamban Luar Sakalagun Tamban Lupak Pangkalan Sari

Pematang Karau Jelai Jelai Pematang Karau Selat Selat Selat Pulau Petak

Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut Pasang Surut

4000 2500 1200 1300 3750 2250 1600 2200

PETA RAWA YANG SUDAH DIKEMBANGKAN

NAMA : I GUSTI PUTU SILA ADNYANA NIM : H1A108043

Page 9

TUGAS PASANG SURUT SUSULAN

DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/55726137/PASANG-SURUT http://www.pu.go.id/satminkal/dit_sda/PETA/tabel%20rawa/rawakalteng.htm http://www.pu.go.id/satminkal/dit_sda/PETA/data/rawa%20kalteng.asp

NAMA : I GUSTI PUTU SILA ADNYANA NIM : H1A108043

Page 10