Anda di halaman 1dari 5

.

Afwan sebelumnya, karena untuk kesekian kalinya ana nulis buat antum, dikarenakan suatu perkara yang memang ana anggap penting, yang sudah sama-sama kita maklumi ,bersama, hal ini ana sampaikan kepada antum karena semakin meruncingnya permasalahan yang sebenarnya kalau kita berlapang dada dalam menanggapinya dan kembali kepada asal usul kita dalam mencari titik terang akan sangat sederhana dan sangat mudah untuk : terselesaikan tanpa harus menguras pikiran, yang ana maksud adalah _ [ : 95] + _ [ : 01] + _ [ : 56] + * _ [ : 811 911] + _ [ : 731] > : . [ (208)] . [ ( 542)] > : " " [ (1 / 544)] : :" ( )[: 3] " )"" ( 1 / 33)

: ( .)31 )" "( : 6 ("" 1 / 831 1 7 )11134 3 373 : ( ) " ". : ( : ) .)296/11( . : ( .) : ) . : : ( ) . Dan lainnya dari Al-Qura'n atau sunnah serta perkataan salaf yang mungkin antum bisa lebih banyak untuk megumpulkannya. Akan tetapi itu semua ana kemukakan kembali sebagai tadzkiroh karena terkadang kita terlalaikan dari asal usul kita dalam menimba ilmu dan menentukan perkara yang sedang kita geluti. Kita telah di didik oleh ulama-ulama kita untuk berbuat dan bertindak dengan landasan ilmu yang jelas sumber dan keabsahannya, yaitu kitabulloh dan sunnah rosululloh serta pemahaman dan praktek salaf dalam mengamalkan ALQura'n dan sunnah, karena mereka sebagaimana kata Syaikhul Islam :

- ( 9 / 32)] ]
Mereka dalam kejelian dan ketelitian di bidang ilmu berada pada puncak keunggulan yang tidak bisa di capai oleh seorangpun dari selain mereka, mereka adalah generasi yang paling dalam ilmunya, dan paling baik hatinya, serta paling sedikit takallufnya. Dan tidak sepantasnya bagi kita yang telah belajar bertahun-tahun di sisi ulama sunnah, dan dididik siang malam untuk memantapkan pijakan kaki kita dalam mencari dan mentarjih dari sumbernya dengan alat yang telah kita miliki, dan begitu masih terngiangngiangnya di telinga kita perkataan ulama akan haromnya bertaqlid dan ngekor tanpa hujjah terhadap ucapan mereka, lebih parah lagi kalau pendapat dan ijtihad ulama yang kita ikuti dan kita bela mati-matian adalah karena ketergelinciran mereka, jelas mereka tidak tertimpa dosa dengan ijtihadnya, kalau memang niatnya untuk mencapai kebenaran atau karena samar dan ketidak terangnya permasalahan yang sedang berkembang, akan tetapi bagi orang yang bersentuhan langsung di lapangan dan sebagai pelakunya tentunya akan bisa menilai dekat dan jauhnya ijtihad mereka dari kebenaran, dari situ akan terjadi benturan antara fatwa dan kenyataan yang mengharuskan bagi yang mengetahui permasalahan dengan seksama untuk mentarjih, tentunya tidak semuanya bisa mentarjih, akan tetapi kalau yang ana ajak bicara

selefel antum niscaya bukan perkara yang terlalu pelik, kecuali kalau disana ada penghalang dan tabir yang membuat kesamaran. Contoh yang paling bisa kita jadikan bahan adalah perkara TN yang sedang menghangat, kita melihatnya dengan mata kepala dingin dengan sama-sama mengharap kepada Alloh taufiq untuk mencapai titik temu secara ilmu dan kekuatan jiwa untuk bisa menerima dan pasrah kepada kebenaran dan diberi kesabaran untuk melaksanakan kebenaran tersebut atau meninggalkan kesalahan kalau memang hasil puncaknya adalah kekeliruan. Mari kita renungi bersama dan selesaikan perkara ini dengan kaidah keilmuan yang sesuai dengan apa yang telah kita pelajari: 1- Di Atas dalil Syar'i apakah berdirinya TN?? 2- Kalau memang ada beberapa dalil yang mungkin bisa ditarik-tarik kesana, maka pertanyaan selanjutnya: cocokkah dalil-dalil tesebut untuk diletakkan pada praktek TN yang sedang kita geluti ?? kalau memang ada sedikit peluang maka beranjak kepada pertanyaan ke tiga : 3- Adakah Salafus solih dalam memahami dan mengamalkan serta mempraktekkan dalil diatas seperti yang kita lakukan?? baik dari sisi : a- mengumpulkan para perempuan di asrama dan semacamnya. b- Ditinggalkan oleh walinya ditempat itu tanpa mahrom dalam jangka waktu yang cukup lama. c- Adanya persyaratan-persyaratan sebelum dan sesudah menjadi peserta. d- Adanya masulah (atau mudiroh) yang mengurusi mereka karena tidak mungkin berjalan sekumpulan manusia semacam itu kecuali ada yang mengurusinya dan tentu kita telah tahu hadits Abi Bakroh . e-Adanya Imam rowatib dari perempuan khusus bagi mereka untuk sholat lima waktu karena kebanyakan asrama mereka tidak di belakang masjid . f- Pinjam Mahrom kalau terjadi sesuatu pada mereka baik kerumah sakit, kepasar, rekreasi, keorang tuanya, dan seterusnya. g- Kalau diantara mereka ada yang perlu diusir bagaimana penyelesainnya?? h- Pengkhususan para peserta yang masih muda . Dan lain-lainnya masih terlalu banyak kalau kita jujur dan dengan hati terbuka. Semua point diatas bukanlah mengada-ada akan tetapi telah terjadi baik kita akui atau tidak , dan itu semua perlu kita selesaikan dengan koridor salaf, karena tuntutan dan kondisi butuhnya salaf serta kemungkinan berdirinya TN dimasa itu sangat kuat karena banyaknya pendukung yang mengantar kesana seperti: 1- Adanya perempuan yang paling alimah sedunia yakni ummul mu`minin 'Aisyah rodhiallohu 'anha dan selainnya, tentunya modal satu ini sudah cukup untuk mendirikan TN dizaman itu, karena semua butuh kepada ilmunya bukan Cuma perempuan saja.

2- Banyaknya wanita yang perlu mendapat santunan dan perhatian, baik dari sisi ilmu atau lainnya seperti para muhaajiroh, para janda syuhada, anak-anak yatim mereka, atau selain mereka dari para wanita shohabat yang sangat butuh ilmu baik dari kalangan muhajirin atau anshor. 3- Dari sisi dana, sarana dan prasarana, dizaman mereka sangat memungkinkan untuk mendirikannya, diantara sumber dana tersebut adalah: ghonimah, rampasan perang Fai, zakat, shodaqoh dari para muhsinin yang tidak perlu di minta, hadiah untuk nabi shollallohu 'alaihi wasallam- dan seterusnya. 4- Bersihnya jiwa mereka dari kekotoran-kekotoran akhlaq yang membuat keamanan TN mereka terjaga, lebih - lebih kalau yang membimbing mereka adalah langsung pembawa syari'at shollallohu 'alaihi wasallam- . 5 Kondisi alam baik secara politik atau social, semua mendukung berdirinya TN di zaman itu. Akan tetapi semua faktor pendukung diatas tidak sedikitpun membawa mereka untuk bertindak lebih jauh dari tuntunan dan perintah nabi shollallohu 'alaihi wasallam- yang notebennya dari Alloh ta;ala, dengan perincian diatas kita sudah bisa memastikan bahwa yang rojih dalam masalah ini adalah pendapat yang mengatakan salahnya TN model yang ada di negri kita atau dengan bahasa yang lebih pedas bahwa TN adalah muhdats, karena kalau seandainya itu diperkenankan tentunya mereka (para salaf) dibarisan terdepan dalam mengadakannya sebagaimana kata Abu Huroiroh rodhiallohu 'anhu Dan perkataan Alloh dalam siyaq jawaban orang kafir : ]11/ [ Dengan keterangan diatas cukuplah bagi kita untuk bisa menilai suata pendapat yang keliru dan berseberangan dengan dalil, walaupun dari orang yang paling kita kagumi seperti para ulama yang telah sepakat kita akui keilmuannya, karena mereka juga mengajari kita untuk memegang dalil bukan membela pendapat mereka, dari situ kita bisa mengomentari dengan penuh rasa hormat perkataan Syaikh Muqbil dan Syaikh Bin Baaz rohimahumallooh atau para ulama yang lainnya yang dipahami bahwa mereka membolehkan atau tidak menganggap muhdats perkara TN, dari beberapa sisi: Ucapan mereka bukanlah :

]42/ [
Yang mengharuskan kita untuk berwala dan berbaro karenanya, akan tetapi perkataan yang perlu di teliti kembali dengan kacamata sunnah, walaupun mereka tetap mendapatkan pahala, salah ataupun benar. Ucapan mereka hanyalah sekedar jawaban atas pertanyaan ringkas karena kondisinya tidak memungkinkan untuk memaparkan masalah, kalau seandainya pertanyaan tersebut dirinci dan di beri catatan kaki atas program dan madhorot serta manfaat yang ada di TN barangkali jawabannya tidak seperti itu.

Jawaban mereka bukan sebagai jawaban boleh dan tidaknya berdirinya TN akan tetapi sekedar menjawab permasalahan individu yang kemungkinan tidak sampai terbayang kalau jawaban tersebut digunakan untuk dalil bolehnya TN. Praktek mereka sendiri tidak sesuai dengan jawaban mereka kalau memang arahnya ke TN, sebab kalau mereka beranggapan bolehnya kenapa mereka tidak mendirikannya. Jawaban tentang hukum sesuatu bukanlah mutlak untuk perkara diluar materi. Dari situ wahai saudaraku jelas sekali bahwa apa yang ada dibenak kita dalam masalah ini adalah keliru dan jauh dari tuntunan syar'i dengan berbagai pertimbangan: 1 Tidak adanya dalil yang bisa dijadikan pijakan. 2- Tidak adanya contoh dari rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam- dan para sahabat serta dari salaf. 3- Tak seorangpun dari ulama kita yang memilikinya atau mendirikannya , Syaikh Bin Baaz tidak memiliki TN, Syaikh Albani tidak mendirikannya, Syaikh Bin Utsaimin tidak punya, Syaikh Muqbil juga sama mereka, lantas ikut siapa kita?? Ataukah kita lebih baik dan lebih mempu mengurusi wanita daripada mereka?? Atau kita lebih memiliki iman rangkap yang bisa menahan nafsu dan fitnah mereka?? Ataukah kita lebih bisa mengantisipasi madhorrot yang timbul di TN daripada mereka?? Camkan baik-baik perkara ini, sungguh kami sangat sayang kepada antum, karena itulah ana tulis risalah ini, karena kalau kami biarkan kami khawatir akan kondisi antum yang semakin menghawatirkan, karena dosa kita yang telah memiliki sedikit ilmu kalau di ikuti oleh ummat akan semakin menambah getah dan noda bagi kita, maka mari kita membenahi diri sebelum saat penyesalan tiba.


hattaa stta a auu aammaD 1 1431