Anda di halaman 1dari 69

BUKTI-BUKTI PENYELISIHAN DZUL AKMAL HADAHULLOH TERHADAP SYARI'AT ISLAM

Kepada pembaca, sebelum membaca tulisan ini saya sarankan untuk membaca dulu tulisan saya sebelumnya yang berjudul Makar Dzul Akmal dan Luqmaniyyun Terhadap Masjid Jambi karena ada kaitannya dan juga banyak bualan-bualan Dzul Akmal dalam daurohnya di Jambi 19-20 Syawal 1432 H. Dan saya buat tulisan ini sebagai sambutan atas perkataannya pada Dauroh di Jambi. Dzul Akmal berkata dalam dauroh tersebut, Celaan kepada saya bacalah di internet, celaan kepada pribadi saya seluruhnya dibongkar, ...pribadi, seluruh kita punya masalah pribadi.... tidak ada manusia yang tidak punya masalah pribadi... kekurangan pribadi... masalah hutang piutang, masalah ini itu, begini begitu, begono... ente kalo bantah saya, manhaj saya dibantah... tunjukkan satu manhajnya begini-begini... kan begitu.

Dalam tulisan ini saya tidak memvonis Dzul Akmal Hadahullah tetapi menunjukkan bukti-bukti bahwa dia tergelincir dalam ucapannya sendiri dalam mentahdzir thullab Dammaj yang bersama Syaikh Yahya Al-Hajuri Hafidzohullah. Ibarat pepatah melayu, memercik air di dulang terpecik ke muka sendiri. Semoga ALLAH ta'ala memperbaiki kamu dan kita semua.. BAB 1 : KHOWARIJ Khowarij adalah orang-orang yang mengkafirkan pelaku maksiat keluar daripada ketaatan pemerintah muslimin dan jama'ah muslimin. Saya sebenarnya tidak menuduh dia (Dzul Akmal) khowarij tapi sekedar mengembalikan gaya tuduhan dia kepada orang lain. Contoh, ucapan Dzul Akmal sendiri menuduh ustadz Abdul Ahad Bagan Batu Riau. Dzul Akmal mentahdzir beliau sebagai khowarij takfiri alasannya ustadz Abdul Ahad mengambil tanah orang kampung (sedangkan menghalalkan harta kaum muslimin termasuk ciri-ciri khowarij). demonstrasi di Perawang, mengharamkan kartu nikah. Maka ustadz Abdul Ahad menjawab, Saya tidak pernah mengambil tanah orang, saya tidak ikut demonstrasi di Perawang, dan saya tidak mengharamkan kartu nikah. Saya sendiri punya KTP dan kartu nikah. Fakta sebenarnya, ada seorang perantau Madura datang ke Riau dan ikut talim dengan saya, kemudian mau menikah dengan seorang perempuan dari Bagan, lalu mau pulang lagi ke Madura untuk urus surat KUA dan lain-lain. Tapi tidak cukup (uang) transportasi pulang-pergi (ke Madura) dan akhirnya tetap menikah melalui petugas KUA, tapi dia tidak diberikan kartu nikah dari KUA melainkan hanya diberikan surat keterangan nikah.

Sekarang dengan surat pernyataan tersebut (notulen hasil Rapatnya) Dzul Akmal menekankan agar menguasai aset tanah dan bangunan masjid kepada Ponco, Hud Huda, Amir, dan Muhammad Surur,

1|Page

bahkan terus menerus menelpon. Padahal tanah masjid tersebut wakaf dari orang awam dan biaya pembangunan masjid bukanlah semata-semata dari mereka tetapi mayoritas dari orang yang masih talim. Ini berarti Dzul Akmal telah memerintahkan untuk mengambil tanah orang dan mesjid, padahal dia telah mentahzir ustadz Abdul Ahad sebagai khowarij, salah satunya karena mengambil tanah orang. Bukan berarti saya mengingkari bahwa diantara peserta tanda tangan juga ada yang shodaqoh atas masjid. BAB 2 : TAKFIRI (MENGKAFIRKAN ORANG). 1. Dzul Akmal menggelari Abu Turob sebagai Nabi baru pada talim ummahat. Wahai Dzul Akmal, Abu Turob tidak mengaku sebagai Nabi dan orang yang belajar dengan beliau pun tidak ada yang menyebutkannya sebagai Nabi atau ulama. Ini artinya engkau telah mengkafirkan Abu Turob. Celaan inipun tampak telah direalisasikan oleh salah seorang murid engkau asal Perawang dengan mengirim sms : ado keceknyo antum ndak menggadangkan aie do, o iyo ado keceknyo le, lah sujud antum ka Nabi antum? (ada kabarnya antum hendak membesarkan air lagi, o iya kabarnya antum sudah sujud ke nabi antum?) Ini sms Abu Amr asal Perawang tanggal 09 Juni 2011 kepada Utsman Pariaman. 2. Pengakuan Muhammad Batam yang sms saya: saya 2x dtlp Marhaen ktnya tdk usah baca2 internet nanti fitnah,saya baca isnad utk mngthi perkembangan dakwah,itu msk mencela ulama klu mati kita kafir. Sms ini saya terima tgl 14 Januari 2012. Komentar saya : Marhaen adalah Dzul Akmal. Ini artinya Dzul Akmal telah mengkafirkan pembaca isnad. BAB 3 : HADDADY Sesungguhnya haddadiyah merupakan sekte yang ekstrem yang disandarkan kepada Abu Abdillah Mahmud bin Muhammad Al Haddad. Lahir di Mesir tahun 1374 H, kemudian pergi ke Madinah Nabawiyah belajar ke Syaikh Robi' dan Masyaikh lainnya. Pada awalnya orang ini menampakkan kecemburuan kepada agama dan benci kepada kebid'ahan. Kemudian muncul darinya sikap ekstrem dan membid'ahkan sejumlah ulama yang tergelincir dalam perkara akidah seperti Ibnu Hajar, AnNawawi, Syaukani semoga Allah merahmati mereka. Dia melaknat mereka dan membid'ahkan orang yang mendo'akan rahmat kepada mereka. Dia juga memfatwakan untuk membakar Kitab Fathul Bari syarah Shohih Bukhory karya Ibnu Hajar. Juga mencela Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim dan Ibnu Abil 'Izzy semoga Allah merahmati mereka. Dia juga mencela ulama sunnah zaman ini seperti Imam Ibn Baz, Imam Albani, Imam Ibnu Utsaimin, Syaikh Sholih Fauzan, Syaikh Al Luhaidan dan yang lainnya, semoga Allah merahmati mereka. Dalam Bab ini saya menunjukkan bukti-bukti bahwa Dzul Akmal hadahulloh telah tergelincir ke dalam

2|Page

pemikiran haddady. Dalam Bab ini dan Bab selanjutnya,

pijakan saya adalah tulisan Karakter

Hadaddadiyah Dalam Diskusi Ilmiyyah (Komentar Terhadap Isi Kitab Aujuhusy Syibh Bainal Haddadiyyah wa Bainar Rowafidh dan Kitab Manhajul Haddadiyah dan ucapan As-Syaikh Robi al Madkholiy pada akhir tahun 1432 H), penulis Abu Fairuz Abdur Rahman al Qudsiy (sumber :
http://aloloom.net).

Dalam risalahnya, berikut ini adalah beberapa ciri-ciri haddadiyah dalam Kitab Aujuhusy Syibh Bainal Haddadiyah wa Bainar Rowafidh dan kaitannya dengan Dzul Akmal hadahullohu : Pasal ke Enam : Upaya untuk menjatuhkan ulama yang kokoh di atas kebenaran. Asy-Syaikh Robi' Al Madkholi wafaqohullahu berkata sisi ke enam, Usaha mereka untuk menjatuhkan ulama sunnah masa kini dan penghinaan mereka dan menolak hukum-hukum mereka yang tegak di atas dalil-dalil dan bukti-bukti dan pemberontakan mereka terhadap ulama tadi, cercaan terhadap mereka, manhaj dan prinsip-prinsip mereka yang tegak di atas Al Kitab, As Sunnah dan Manhaj As Salafus Sholeh. Komentar saya : Telah jelas dari ucapan-ucapan Dzul Akmal menjatuhkan, menghina, dan merendahkan Syaikh Yahya Al Hajuri. Padahal beliau mendapat pujian dan rekomendasi dari Asy Syaikh Muqbil rahimahulloh. Dan beliau lebih tahu tentang keadaan murid-muridnya, Siapa yang lebih berilmu dan yang lebih pantas menggantikan kedudukannya? Bahkan Dzul Akmal menolak hukumhukum beliau seperti masalah Yayasan dan larangan meminta atas nama dakwah, padahal prinsip Syaikh Muqbil rahimahulloh dan Syaikh Yahya sama dengan Syaikh Robi' dalam masalah tersebut. Pasal ke Tujuh : Bersembunyi dibalik sebagian ulama sunnah sambil menyusun makar terhadap sebagian ulama yang menampakkan kebenaran. Kemudian Asy Syaikh Rabi al Madkholi waffaqohullohu berkata sisi yang ke- tujuh : Mereka bersembunyi dibalik sebagian ulama sunnah sebagai makar dan tipu daya bersamaan dengan kebencian mereka pada ulama tadi dan penyelisihan mereka pada prinsip-prinsip, manhaj dan sikap mereka sebagaimana yang dilakukan oleh Rowafidh yang bersembunyi dibalik ahlu bait dalam keadaan mereka menyelisi manhaj dan prinsip ahlu bait dan membenci mayoritas ahlu bait, kenapa mereka melakukan ini? Komentar saya : Dzul Akmal bersembunyi di balik nama kebesaran Asy Syaikh Rabi al Madkholi dalam keadaan dia menyelisihi prinsip-prinsip salafiyyah yang beliau berada di atasnya. Berkata Abu Fairuz di Karakter Haddadiyah Dalam Diskusi Ilmiah Seri-2, Adapun Syaikh kami Yahya al Hajuri hafizhohulloh ditanya oleh saudara kita Mahir Ibn Ali Ash Shobahi hafizhohulloh, Apakah disyaratkan untuk setiap masalah ada salaf (pendahulunya)? Maka beliau hafizhohulloh menjawab, Setiap masalah ada salafnya. (Mukhtashorul Bayan halaman 63). Ini juga aqidah Syaikh Rabi al Madkholi waffaqohullohu karena

3|Page

beliau saat saudara kita tadi menyodorkan padanya soal terdahulu, beliau hafizhohulloh menjawab, Iya, setiap masalah harus ada salafnya, lalu beliau menyebutkan perkataan yang kesimpulannya adalah kita harus kembali kepada salaf pada masalah-masalah yang ada, karena masalah ini adalah jalan masuk yang darinya para pengekor kebidahan dan hawa nafsu. Lalu beliau menyebutkan ucapan yang panjang khusus bab ini. (Mukhtashorul Bayan hal. 63) Wahai Dzul Akmal, bertaqwalah kamu kepada Allah, kamu berkata dalam dauroh Jambi-mu, Pendapat aneh tidak ada ulama yang mendahului, jika tidak ada ulama yang berpendapat jangan mendahuluiPendapat nylenehaneh Kamu juga menukil ucapan Imam Ahmad, Hati-hatilah kalian tentang suatu perkara yang tidak ada pendahulu kalian dari salaf. Ittaqillah wahai Dzul Akmal, kamu ketua yayasan dan pembela yayasan, Siapakah salafmu? Apakah ada sahabat, tabiin, tabi tabiin menggunakan yayasan seperti yang kamu lakukan? Bukankah kamu selalu membawa nama besar Syaikh Rabi? Tahukah kamu sikap Syaikh Rabi terhadap yayasan? Apakah kamu sudah melaporkan (mengembalikan) permasalahan yayasan sejak yayasan Ubudiyyah sampai yayasan-mu sekarang (Tadzimussunnah) pada Beliau? Bukankah kamu yang menyerukan untuk kembali kepada ulama salaf sebagaimana daurohmu di Jambi (19-20 Syawal 1432 H)? Berikut Ini Fatwa Ulama Seputar Yayasan : 1. Fatwa Syaikh Muqbil , Berkata Abul Husain Muhammad al Jawiy dan Abu Abdirrahman Shiddiq al Bughisy dalam risalah Menyingkap Fikroh Hizbiyyah Di Balik Slogan Yayasan Salafiyyah. Adapun ini wahai Askariy fatwa dulu, setelah itu beliau berfatwa sebagai berikut : Artinya : Dan yayasan-yayasan ini yaa ikhwan merupakan wasilah (perantara) dan juga kotak-kota infaq, sungguh benar (itu merupakan) jalan menuju hizbiyyah dan perantara kepada hizbiyyah. -selesai- (dari as ilah Bani Bakr pada tahun 1421 H, setahun sebelum wafatnya al Imam al Wadi . Sebelumnya beliau berkata, Yayasan pada zaman Nabi sama sekali tidak ada, akan tetapi datangnya dari musuh-musuh Islam yang kemudian diikuti oleh sebagian kaum muslimin. Dan kebanyakan yayasan di dalamnya terdapat penyimpangan-penyimpangan.... sampai perkataan beliau, Betul, kita tidak mengharomkan bagi masyarakat apa yang Allah halalkan, akan tetapi yang kita takutkan ini hanyalah tipu muslihat saja. Sampai perkataan beliau, Yayasan-yayasan ini wahai ikhwah, dia adalah sarana, demikian pula kotak amal (kotak sedekah) jalan menuju hizbiyyah dan sarana menuju hizbiyyah. (disadur dari pertanyaan Bani Bakr di Yafi pada tahun 1421 H). 2. Fatwa Syaikh Rabi al Madkholi - -

4|Page

(1) Ditanyakan kepada Syaikh Robi, Apakah mendirikan yayasan untuk berdakwah kepada al Kitab dan As Sunnah dan menyandarkan diri kepadanya termasuk hizbiyyah dan memecah belah umat? Jawaban Syaikh, Mendirikan yayasan di negeri ini (Arab Saudi) tidak boleh, tidak boleh membuat yayasan dan tidak juga yang lainnya selama-lamanya karena negara ini adalah negara Islam yang tegak di atas kitab Allah dan di atas Sunnah Rasul-Nya. Manhaj negara ini mewujudkan adanya talim, dawah di masjid-masjid, di universitas-universitas, madrasahmadrasah dan setiap tempat. Dia (negara) tegak dengan urusan-urusan Islam seluruhnya yang para ulama bekerjasama dengan negara. Negara bersandar kepada ulama di dalam meletakkan manhaj-manhaj dan menyimpan harta. Bersandar kepada ulama dalam memilih guru-guru, imam-imam, dan yang semisalnya, negara tegak dengan urusan-urusan Islam. Adanya yayasan atau partai akan menyebabkan perpecahan ummat dan bertolak belakang dengan firman Allah :


Artinya : Berpeganglah dengan tali Allah dan jangan kalian berpecah-belah. (QS. Ali Imron :103) Engkau datang ke sebuah negeri yang menampakkan syiar sekularisme, berhukum dengan undang-undang buatan manusia dan berpisah dari Islam, bahkan terkadang memerangi Islam, maka apabila ada sebuah jamaah (perkumpulan) menyebarkan Islam dan mengajarkannya dan mengajak manusia kepada kebenaran, mereka berkumpul mengatur diri mereka sendiri baik harta dan talim maka tidak terlarang, tidak terlarang hal ini. Sebagaimana hal ini tidak dilakukan oleh kaum muslimin di India dan salafiyyun di India, maka Islam akan lenyap 100 persen. Negara kafir sekuler memerangi Islam. Maka mereka tegak dan berkumpul dalam bentuk yayasan-yayasan yang diakui oleh negara, kemudian mereka mendirikan sekolahsekolah, masjid-masjid, ribuan sekolah yang dengannya Allah taala menjaga Islam. Dan ini darurat, harus kaum muslimin menegakkan seperti ini. Kalau seandainya dunia Islam seluruhnya bersatu pada satu Imam, maka tidak boleh ditegakkan satu jamaah terpisah dari yang lain. Baarokallahu fiykum. Akan tetapi dunia Islam telah terpisah-pisah dan setiap negara memiliki aturan yang rusak, kecuali negara ini yang tegak di atas Quran dan Sunnah. Maka wajib setiap muslimin di manapun yang tidak menegakkan manhaj Islam yang benar, hendaklah mereka menegakkan Islam, lalu mendirikan satu yayasan atau beberapa yayasan, mengaturnya dengan pengaturan yang benar, dengan itu memungkinkan bagi mereka menyebarkan dakwah Allah, dan mendidik siapa saja yang mereka mampu dari anak-anak umat ini atas manhaj ini. (2) Penanya (Ali al Huzaifi) berkata, Syaikh Muqbil telah membangun dakwah salafiyyah di

5|Page

Yaman dengan penuh iffah (menjaga kehormatan diri) dan beliau telah menulis bagi penduduk Yaman suatu risalah yang beliau beri judul Dzamul Masalah (Tercelanya Meminta-Minta), Pertanyaan : Sebagian para dai terkadang meminta-minta harta kepada manusia dengan alasan dakwah? Beliau (Syaikh Rabi Ibn Hadi al Madkholi) menjawab : Kesimpulannya, semoga Allah taala merahmati Syaikh Muqbil dan kita memohon kepada Allah agar meninggalkan kebaikan kepada penduduk Yaman dan yang lainnya sepeninggal beliau. Sesungguhnya Syaikh Muqbil telah mengingatkan kita akan kezuhudan, kewaroan, keperkasaan, kemuliaan para salaf, keengganan (terhadap dunia) serta keberanian mereka dalam menyampaikan perkara yang haq. Dan telah menyebar dakwah salafiyyah merata di Yaman dan telah meninggalkan kebaikan bagi mereka. Semoga Allah memberikan keberkahan kepada murid-murid beliau dan menjadikan mereka orang-orang yang semisal dengannya. Demi Allah, sesungguhnya beliau adalah contoh permisalan dalam kezuhudan, waro dan menghinakan dunia. Dan benar-benar beliau seseorang yang memiliki pandangan jernih di saat menolak harta dan memperingatkan dari meminta-minta. Sehingga aku teringat saat beliau membantah habis-habisan orang-orang yang mengumpulkan harta dengan mengatasnamakan beliau. Betapa jauhnya beliau (dari perkara tercela itu). Semoga Allah memberkahi beliau. Imam Ahmad Ibn Hanbal rahimahulloh, apakah pernah menengadahkan tangannya untuk meminta harta dengan alasan dakwah? Bahkan beliau menolak harta ketika hendak diberikan harta. Dan benar-benar beliau contoh teladan di dalam kemuliaan (menjaga harga diri) dan keengganan (terhadap meminta-minta), yakni saat beliau melakukan perjalanan jauh (untuk mencari ilmu) kepada Abdurrozzaq dari Iraq menuju ke Sona. Kemudian di tengah perjalanan haji beliau dan temannya Yahya bin Main, Ibnu Main berkata kepada Ahmad bin Hanbal, Ini dia Abdurrozaq, Allah telah mempertemukannya dengan kita di sini, maka kita tidak perlu lagi safar (ke Shona). Berkata Imam Ahmad bin Hanbal, Sesungguhnya aku telah berniat melakukan perjalanan ke Shona, maka aku tidak mau menarik kembali niat tersebut. Kemudian beliau melanjutkan safar ke Shona dan kehabisan bekal di tengah perjalanan. Teman-teman beliau ketika mengetahui hal tersebut segera menawarkan bantuan harta kepada beliau, namun beliau menolaknya dan memilih menjadikan dirinya menjadi seorang pemikul barang-barang berat (di atas punggungnya) milik pengembala onta yang miskin yang tinggal di dusun padahal beliau adalah seorang Imam. Beliau berpendapat bahwasanya memikul barang-barang, bekerja dan makan dari hasil tangan sendiri seribu kali lebih utama daripada menerima pemberian manusia karena sesungguhnya tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan di bawah adalah tangan yang menerima pemberian. Imam Ahmad tidak mau tangannya di bawah (menerima pemberian). Oleh karenanya aku menasehati ulama dan penuntut ilmu untuk mengulang kembali kemuliaan para salaf dan hendaknya mereka

6|Page

mengetahui

bahwasanya

tama

terhadap

harta

merupakan

perkara

yang

sangat

membahayakan bagi dakwah salafiyyah. Sebagai bukti, bahwasanya fitnah yang menyala sekarang disebabkan harta. Disaat sebagian manusia mengulurkan tangannya untuk memintaminta kepada yayasan ini dan yayasan itu, maka kita kita meminta perlindungan kepada Allah dari fitnah tersebut. Demi Allah, sesungguhnya harta itu adalah fitnah. Demi Allah, penuntut ilmu yang jumlahnya sedikit, yang keluar dari sebuah masjid dalam keadaan mereka iffah (menjaga kehormatan diri), cerdas mereka lebih baik daripada jutaan pencari harta dan orangorang yang tamak pada harta. Kami menasehatkan pemuda salafi dan ulama mereka untuk mengulang kembali perjalanan hidup salaf sebagaimana salafush sholih telah mengangkat bendera as sunnah. Hendaknya mereka juga mengangkat bendera kemuliaan, keagungan, kezuhudan dan kewaroan serta kesucian jiwa dari keinginan-keinginan duniawi. Demi Allah, tidak ada yang mengganggu dakwah salafiyyah di Yaman kecuali karena tersebarnya harta dan haus terhadapnya sehingga menggiring kepada fitnah ini sampai sekarang. Harta itu memiliki saham besar dalam mengkobarkan api fitnah, maka hendaknya mereka bertaubat kepada Allah dan kembali kepada Allah, saling bersaudara. Dan kami nasehatkan kepada mereka agar saling menasehati kepada perkara haq dan dalam kesabaran atas segala kesulitan hidup.


Artinya : Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqoroh : 155). Dan demi Allah, sesungguhnya para salaf tidaklah membawa dakwah ini dengan kemewahan harta dan kendaraan akan tetapi mereka membawanya dengan zuhud, waro dan kesucian hati mereka. Kami nasehatkan kepada pengikut salaf di setiap tempat dan Yaman secara khusus yang Allah telah mengangkat di dalamnya bendera as sunnah agar mereka menjaga dakwah ini dan seandainya datang harta untuk merusak mereka, maka hendaknya mereka menendang dengan kaki-kaki mereka dan tetap di atas jalan mereka yang agung lebih mulia menyebarkan dakwah Allah yang mulia lagi suci. (Kaset pertanyaan pemuda Aden tentang Fitnah Abul Hasan), Mukhtashor Al Bayan hal. 81 dinukil dari risalah Al Jamiyyat Harokah bila Barokah karya Muhammad bin Muhyiddin Al Jawy hal. 123-125. (3) Dan Fatwa terbaru Syaikh Robi dari pertanyaan Hamid Ibnu Khomis Ibnu Robi al Junaiby, Ramadhan 1432 H yang sudah saya cantumkan dalam tulisan Makar Dzul Akmal dan Luqmaniyyun Terhadap Masjid Jambi. (4) Berkata Asy-syaikh Usamah bin Athoya -semoga Alloh menjaganya-:

7|Page

Saya hendak mengingatkan suatu perkara yang penting terkait dengan ucapan terakhir AsySyaikh Robi bin Hady Al-Madkholy -semoga Alloh menjaganya- dalam perkara Yayasan. Ketika terjadi suatu perbincangan antaraku dan Syaikh -semoga Alloh menjaganya- melalui telepon pada hari Sabtu malam Ahad, maka Asy Syaikh berbicara tentang perkara Yayasan, dan beliau -semoga Alloh menjaganya- menjelaskan padaku bahwa yang difatwakan oleh Asy Syaikh adalah larangan yayasan secara mutlaq, yang demikian itu karena banyak mafsadat (kerusakan) yang terkandung dalamnya atau akibatnya. Dan betapa banyak yayasan yang pada mulanya salafiyyah kemudian menjadi yayasan hizby dan bidah. Dan Asy Syaikh mengarahkan anak-anaknya agar mendirikan pelajaran-pelajaran, daurohdauroh, serta pertemuan-pertemuan ilmiyyah di dalam masjid. Kalaulah tidak memungkinkan maka didirikan di rumah-rumah mereka. Dan sungguh Syaikh telah bersungguh-sungguh untuk menjelaskan perkara ini, apalagi dengan adanya tuduhan-tuduhan yang dilemparkan oleh ahlul bidah dari kalangan Halabiyyah kepada Syaikh bahwa fatwanya bertentangan (bingung) dan sungguh ini adalah suatu kedustaan dan kenistaan terhadap syaikh, karena seorang alim bisa saja berfatwa tentang suatu perkara, kemudian jelas baginya ternyata kebenaran pada selainnya. Dan perkara yang maklum bahwa Al Imam Asy Syafiiy telah merubah kebanyakan dari ucapannya ketika beliau tiba dan tinggal di Mesir sebelum wafatnya. Maka beliaupun memiliki dua madzhab (pendapat) : pendapat lama dan baru, dan tidaklah seorang dari para ulama menuduhnya dengan linglung/bingung, demikian juga Imam Malik dan Ahmad pendapatpendapat mereka banyak dalam suatu permasalahan dan seorang yang berakal tidak menganggap perkara tersebut sebagai suatu kebingungan, sebagaimana yang disangka oleh pengelola situs Al Kholafiyyin -semoga Alloh menghinakan mereka-. Semoga Alloh menjaga Syaikh kita Asy-Syaikh Robi, dan seluruh Masyaikh sunnah, dan melindungi mereka dari segala keburukan, dan mengembalikan tipu daya/kejahatan di leher-leher pelakunya, dan melindungi kaum muslimin dari kejahatan mereka. -selesai- pada 24 Muharram 1433 H Diterjemahkan oleh: Abu Ubaid Fadhl (Luwu) pada hari Kamis 26 Muharrom 1433 H. Sumber: Syaikh Usamah bin Athoya (http://isnad.net/fatwa-syaikh-robi-yayasan-sarana-perpecahan-2) Wahai Dzul Akmal..., Sanggupkah kamu mempopulerkan 3 fatwa Syaikh Robi ini dan juga jawaban Syaikh Robi atas pertanyaan Syaikh Usamah Athoya di depan umat, mempraktekkan dan mencontohkan kepada pembeomu (cecunguk-cecunguk menurut istilah bahasamu) dimanapun kamu berada?? Bisakah kamu dan pembeomu bahkan Luqmaniyyun gegap gempita menyebarkan dan menerapkan 3 fatwa Syaikh Robi ini dan jawaban beliau kepada Syaikh Usamah Athoya?

8|Page

Alhamdulillah thullab Dammaj yang kamu caci-maki sebagai Haddadiyyun, Takfiriyyun telah mengamalkan fatwa ini dengan izin Allah taala. Sanggupkah kamu dan pembeomu membubarkan yayasan kalian, mencabut ucapan kotormu itu yang memfitnah thullab Dammaj yang bersama Syaikh Yahya membawa pendapat nyleneh, pendapat aneh, tidak ada ulama yang mendahului? (sebagaimana ucapanmu pada daurohmu di Jambi). Pasal Ke- Tiga Belas : Kedustaan, kebohongan terhadap Ahlusunnah, pengkhianatan dan pemotongmotongan kalimat. Kemudian Asy Syaikh Robi' Al Madkholi wafaqohullohu berkata Sisi kesembilan : bahwasanya mereka berdusta atas nama Asy Syaikh Robi' dan orang yang menolong beliau di dalam kebenaran dari kalangan Ulama dan anggota jaringan Sahab As-Salafiyah bahwasanya mereka adalah jenis lain dari jenis-jenis Murji'ah. Mereka berdusta demi Rabb langit dan bumi secara global dan rinci...... Komentar saya : sifat Haddadiyah yang ketiga belas adalah kedustaan, kebohongan dan pengkhianatan terhadap Ahlusunnah. Berkata Dzul Akmal dalam dauroh, Bohong itu Ro'sul Zunub, bohong itu puncak segala dosa. Sampai hari ini saya sangat takut dengan bohong..... Dzul Akmal berkata, "Tulisan mereka di Internet celaan Dzul Akmal Kadzab (Pendusta), kadzab Subhanallah kapan saya punya masalah khusumah pribadi dengan thaghut Bengkulu, tidak ada jama'ah rohimakumulloh." BUKTI-BUKTI DZUL AKMAL HADAHULLAH PENDUSTA BESAR/PEMBOHONG BESAR Dzul Akmal berkata dalam daurohnya di Jambi (19-20 Syawal 1432 H) : (1) Bukan dalil yang menuntunnya, tapi yang menuntunnya Syaikh Yahya... Syaikh Yahya... tidak ada Syaikh Robi. (2) Lihat tulisan-tulisan mereka tidak ada dalil... hanya perkataan Syaikh Yahya.. Syaikh Yahya.. (3) Lihat kelompok kedua... lihat Dammaj... tidak ada bertanya kepada ulama besar.. (4) Apapun kebenaran yang datang dari Syaikh Robi, Syaikh Muhammad bin Hadi ditolaknya, tidak akan diterima ya syabab... Jawaban saya : Betapa beraninya Dzul Akmal membuat kedustaan terhadap orang banyak. 1. Telah berlalu di bagian atas tentang 3 fatwa Syaikh Robi dan jawaban beliau kepada Syaikh Usamah Athoya mengenai permasalahan yayasan dan alhamdulillah para duat yang bersama Syaikh Yahya telah melaksanakannya, berarti telah mengikuti tuntunan Syaikh Robi dan mengambil kebenaran yang datang dari syaikh Robi. 2. Kalau orang-orang yang membaca tulisan-tulisan duat dari Dammaj seperti Abu Turob, Abu Fairuz dan yang lainnya maka dapat dilihat di dalamnya penuh dengan dalil-dalil Al Quran dan Sunnah dan pendapat-pendapat ulama selain Syaikh Yahya. Apakah kamu tidak pernah baca? Bahkan apakah ini merupakan cara kamu membual dengan kedustaan-kedustaan untuk

9|Page

melariskan omong kosongmu. Orang yang sudah membaca tulisan-tulisan mereka di isnad.net dan aloloom.net muak dengan bualan kamu ini. 3. Bahkan Syaikh Yahya pun pernah bertanya kepada ulama besar yaitu Syaikh Robi dalam Masalah Al Mumaasah. Keterangan fadhilatusy Syaikhina Yahya hafizhohullohu taala berkaitan dengan masalah ini (naskah aslinya berjudul : bisa anda dapatkan di situs aloloom assalafiyyah atau yang lainnya karena masalahnya sudah sangat gamblang). Kalimat Syaikh Yahya ini beliau tujukan kepada Syaikh Robi hafizhohullohu taala untuk memberi tarjih dalam masalah itu, setelah beliau menyebutkan makalah yang berkaitan dengan perkara di atas, bahwa secara dzhohir dari ucapan salaf ada dua pendapat.


Sebagai puji bagi Allah Robb sekalian alam. Adapun setelahnya : Sebagian ikhwan kita yang mulia para penuntut ilmu di Daarul Hadits Dammaj -semoga Allah menjaga mereka dan merahmati pendirinya- telah mengumpulkan kesimpulan ini dari pendapat-pendapat salaf kita yang sholeh rohimahumulloh di dalam masalah ini dan kemudian mereka angkat permasalahan ini kepada saya, tatkala dalam permasalahan ini ada perbedaan sebagaimana yang disebutkan saudara-saudara kita hafizhohumulloh. Saya isyaratkan kepada mereka agar menyerahkan pentarjihan masalah ini kepada antum yang mulia (yaitu Syaikh Robi`) semoga Allah memberikan taufiq (kecocokan) kepada antum dengan setiap kebaikan, dan menolak dari kami dan antum setiap kejelekan dan bahaya. Kami akan mengambil faedah darinya dan kami akan berikan faedah tersebut kepada saudara-saudara kami. Bersamaan dengan itu kami mengharapkan kepada antum yang mulia pengarahan terhadap apa yang antum anggap itu benar dan bermanfaat. Untuk antum kebaikan dari kami dan doa yang baik dengan kehendak Allah. Ditulis oleh saudara antum dan anak-anak antum: Yahya bin Ali Al-Hajury Pada tanggal 4 Rajab 1423 H Penjelasan Dan Pengarahan Dari Asy Syaikh Robi' Bin Hadi Al Madkholi hafizhohulloh Dari Robi bin Hadi Umair Al-Madkholi Kepada saudaranya fillah Asy-Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuri hafizhohulloh wa waffaqoh Telah sampai kepadaku pembicaraan kalian yang kami muliakan, permasalahan yang berkaitan tentang istiwa Allah di atas arsy-Nya dan apa-apa yang berkaitan tentang masalah "bersentuhan". (kemudian Syaikh Robi` menjelaskan dan memperinci permasalahan yang di perselisihkan dan di akhir pembahasan beliau berkata) :

10 | P a g e

Yang benar adalah mencukupkan dengan Al Kitab dan As Sunnah, dan apa-apa yang berada di atasnya salaful ummah di dalam seluruh permasalahan agama ini terlebih lagi di dalam permasalahan nama-nama dan sifat-sifat Allah taala. Kita tidak menetapkan kecuali sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Kitab Allah taala dan Sunnah Rasul-Nya shalallahu alaihi wa sallam dan tidak kita tiadakan kecuali sebagaimana yang telah ditiadakan oleh Kitab Allah taala dan Sunnah Rasul-Nya shalallahu alaihi wa sallam. Ini adalah asas ahlus sunnah, dengannya kita membantah ahli hawa dan ahli bidah sebagaimana dengannya kita membantah kesalahan-kesalahan para salaf yang mulia seperti dalam masalah ini. Ingatlah ucapan Ummu Salamah, Robiah dan Malik -rohimahumulloh-: Istiwa-nya Allah telah diketahui maknanya, dan bagaimananya Allah beristiwa tidak diketahui, adapun bertanya tentangnya bidah. Adapun yang terakhir, ambillah ucapan Asy-Syaikh Abdul Lathiif dan Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim dan Asy-Syaikh Utsaimin rohimahumulloh dalam masalah ini karena itu benar dan

sesuai dengan Al Kitab dan As Sunnah serta manhaj salaf. Dan saya harapkan dari kalian -yang dimuliakan- untuk berpaling dari masalah ini, dan jangan kalian katakan bahwa ahlussunnah dari kalangan pendahulu dan yang belakangan ada dua pendapat dalam masalah ini, karena As Salaf dari orang-orang zaman yang dimuliakan (sahabat, tabiin dan atbaut tabiin), zaman Al-Imam Ahmad dan yang setingkat beliau

(sezamannya), zaman murid-muridnya Imam Ahmad seperti Al-Bukhori, Abu Daud, Abdullah bin Ahmad, Sholeh, Abu Zurah, Abu Hatim dan yang semisal mereka dan orang-orang setelah mereka dari imam-imam sunnah dan hadits tidak ada yang berbicara tentang masalah ini hingga setelah menyebarnya Al-Asyariyah di alam Islam kemudian masuklah asap ini (kesalahan ini) sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnu Taimiyah kepada sekelompok dari ahli fiqh dan hadits, mereka taqlid kepada Ibnu Kullab, Al-Qolanisy dan Al-Asyari serta selain mereka dari ahli kalam. Permasalahan ini tidak ada timbangannya di sisi ahlussunnah, dan tidak boleh kita katakan bahwa ahlussunnah ada dua pendapat di dalam masalah ini, karena masalah ini tidak ada nilainya, tidak tegak di atas ilmu, ataupun di atas petunjuk dan kitab yang terang (AlQuran), tidak pernah diangkat untuk dibahas secara luas oleh ahlussunnah. Untuk lebih menguatkan bahwa permasalahan ini termasuk dari aqidahnya Asyariyah, saya nukilkan untuk kalian ucapan Al-Ghozaly sebagai berikut: katanya: Diantara konteks peniadaan yang digunakan oleh Asyariyah dan Al-Jahmiyyah adalah: Bahwasanya Allah taala beristiwa di atas arsy-Nya sesuai yang Dia (Allah taala) katakan dengan arti yang Dia taala inginkan, istiwa yang disucikan dari bersentuhan, menetap, menempati, bersatu dan berpindah. ("AlIhya" 1/134), disebarkan oleh muassasah Al-Halaby dan serikatnya. Saya juga berharap agar kalian berusaha dengan sekuatnya untuk menghilangkan syubhat ini dari pikiran murid-murid kalian dan orang-orang yang kalian cintai dan agar kalian dan saudara-saudara kalian menjauhi dari pergolakan seperti masalah ini yang akan mengarah

11 | P a g e

kepada katanya dan katanya bahkan mengarah kepada fitnah. Semoga Allah azza wajalla mengangkat kedudukan kalian dan menolong dengan kami dan dengan kalian agama-Nya dan sunnah Nabi-Nya. (-selesai- dari Syaikh Robi) Tanggapan Asy Syaikh Yahya Al Hajuri hafizhohulloh Terhadap Penjelasan Asy Syaikh Robi' hafizhohulloh : Pembahasan ini dan juga surat dari kami telah dibaca secara lengkap oleh Asy-Syaikh yang mulia orang tua kita Robi bin Hadi -semoga Allah taala menjaganya-. Dan ini direkam di dalam kaset, kami berpendapat sebagaimana yang telah beliau tetapkan (di dalam masalah ini) dan pendapat beliau ini juga pendapat syaikh kami Al-Wadii rohimahulloh (Syaikh Muqbil) pada pertemuan khusus sebagaimana yang dikhabarkan oleh saudara yang mulia Ahmad bin Arbash Al-Wadii kepada saya. Semoga Allah taala membalas kebaikan Syaikh Robi , sesungguhnya permasalahan ini tidak ada dalilnya sebagaimana yang beliau katakan

(masalah bersentuhan atau tidak bersentuhan) hanya saja kami segan untuk menyelisihi orang-orang yang disebutkan dalam masalah ini dari imam-imam sunnah, padahal mereka berpendapat bahwa Allah taala terpisah dari makhluk-Nya dan arsy-Nya adalah makhlukNya. Sampai akhirnya Syaikh Robi hafizhohulloh menjelaskan kepada kami bahwa sebagian dari mereka telah tergelincir (salah) di dalam masalah ini (masalah "bersentuhan") rohimahumulloh, semoga Allah taala memaafkan kami dan mereka. (Selesai terjemahan). [lihat secara rinci dalam risalah terjemah : Permasalahan Istiwa Allah di atas Arsy-Nya Bersentuhan atau Tidak Bersentuhan? Diterjemahkan oleh: Abu Abdillah Muhammad bin

Umar Al Lansy Al Acehy Al Indonesy 'afallohu 'anhu] Dari penukilan di atas, jelaslah bahwa tuduhan mereka terhadap Syaikh Yahya bahwa

beliau terjatuh kedalam kekeliruan yang fatal dari sisi aqidah, adalah tuduhan yang tidak berpatokan pada sumber yang akurat bahkan bisa dikatakan tuduhan yang semena-mena, landasan tuduhan tersebut adalah suudhdhon (buruk sangka) belaka, dan terpedaya dengan bualan para pendusta. Oleh karena tidak selayaknya untuk mengangkat permasalah yang sudah nyata keterangan dan kebenarannya, dan tidaklah membuka lagi masalah ini dengan keliru kecuali orang yang dalam hatinya penuh dengan kekotoran dan kedengkian terhadap beliau. Wallohul musta`aan. Ini menunjukkan Syaikh Yahya tawadhu mau bertanya kepada Syaikh Robi, malah masalah ini dijadikan fitnah hizbiyyun bahwa Syaikh Yahya tidak faham aqidah atau Syaikh Yahya berpendapat bahwasanya masalah istiwa Allah di atas Arsy-ya tidak bersentuhan. Padahal faktanya adalah sebagian tholabah yang bertanya, kemudian Syaikh Yahya mengisyaratkan agar

12 | P a g e

mereka bertanya kepada Syaikh Robi. (5) Dzul Akmal Berkata : "Lihat orang haddady memuji imam mereka... imam tsaqolain... yang sudah dibantah ulama... mereka mensucikan ulama." Jawaban saya : Lagi-lagi Dzul Akmal membuat kedustaan, faktanya penyair tersebut sudah rujuk taubat. (Lihat dalam tulisan saya Makar Dzul Akmal dan Luqmaniyyun Terhadap Masjid Jambi) (6) Dzul Akmal berkata : Syaikh Rabi mengatakan Syaikh Yahya Haddadi. Jawaban Saya: Sudah Populer jika Syaikh Rabi mentahzir atau membantah sebuah pemikiran lewat muhadhoroh atau tulisan, sementara secara fakta tidak ada muhadhoroh atau tulisan beliau seperti itu. Bahkan Syaikh Rabi' pada masa blokade Rafidhoh terhadap Dammaj, beliau beberapa kali melakukan peneleponan ke Dammaj, bahkan beliau juga telah memberikan pelajaran pada muhadhoroh via telpon di Dammaj. Dan hari Jum'at sebelum magrib Syaikh Yahya memberikan tausiyah singkat di majlis syaikh Robi' via telpon, tanggal 26 Shofar 1433 H atau 20 Januari 2012 atas anjuran dan permintaan Asy Syaikh Robi' sebelumnya. (7) Dzul Akmal berkata : "Syaikh Yahya Haddadi". Jawaban saya : Terbongkarlah kedustaan si Pendusta ini. Berikut ini fatwa terbaru Syaikh Muhammad bin Hadi : Kemudian saya bertanya kepada Asy Syaikh, tentang apa yang dinukilkan pada sebagian situs-situs internet . Bahwa Syaikh taroju (menarik ucapan) dari mentabdi dan menuduh Asy-Syaikh Yahya Al-Hajury dengan Haddadiyah ? Maka Syaikh kita menjawab : Demi Alloh saya tidak pernah mendengar ucapan ini kecuali dari kamu berdua sekarang. Saya tidak (pernah) mentabdi beliau dan saya tidak mengatakan bahwa beliau Haddady , bagaimana saya akan taroju? Allohul mustaan ini adalah dusta, Demi Alloh saya tidak pernah mendengarkannya kecuali sekarang. Sebarkan dariku perkara ini . selesaiDitulis oleh muridnya : Abdurrohman bin Muhammad Al-Umaisan Terjemah : Abu Ubaid Fadhl bin Muhammad Arsyad Thalib Mangkutana, Senin 1 Shofar 1433 H Sumber : http://aloloom.net (8) Dzul Akmal berkata: Tidak boleh belajar dengan ustad Muhammad Ja'far, ini fatwa Syaikh Muhammad bin Hadi dan Syaikh Robi' karena berpemikiran Haddadiyah.... Jawaban saya :

13 | P a g e

Wahai Dzul Akmal tunjukan teks fatwa Syaikh Robi' dan Syaikh Muhammad Bin Hadi sebagaimana bualan kamu terhadap saya. Syaikh Muhammad bin Hadi saja mengingkari berita yang beredar tentang perkataan beliau bahwa Syaikh Yahya adalah haddadi, sebagaimana yang sudah diungkap di atas. Bukankah kamu sudah mengatakan bahwa saya belum pernah ketemu Syaikh Muhammad, hajipun belum, kedua syaikh tersebut belum dengar nama saya, sama seperti nama Abu Turob yang tidak di kenal namanya, ataukah kamu saja yang membuat bualan di depan syaikh Robi? (9) Dengan tertawa mengejek saya (Muhammad Ja'far), Dzul Akmal berkata, Muhammad Ja'far itu hajipun belum pernah dia. Jawaban saya : Lagi-lagi Dzul Akmal membuat kedustaan. Apakah kamu sudah bangga sudah bisa naik haji dari Indonesia? Kalaupun seandainya saya belum haji itupun bukan dosa ataupun kesalahan, karena salah satu syarat haji adalah mempunyai kemampuan sebagaimana firman Allah subhanahu wataala :


Artinya : Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap ALLAH, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS. Ali Imran : 97) Alhamdulillah saya sudah dua kali Haji dan satu kali Umroh, yaitu Haji tahun 2000 dan 2001, dan Umroh akhir tahun 2000 dari Sudan. Tahun 1999 saya ikut Muqobalah ke Saudi Arabia dan Sudan di Jakarta. Ternyata setelah beberapa bulan ujian keluar pengumuman saya diterima di Universitas Khurtum Sudan. Sementara itu saya sangat ingin belajar di Madinah agar dapat bermajelis dengan para ulama salaf. Setelah musyawarah dengan keluarga, keluarga menyarankan untuk berangkat dulu ke Sudan, jika keluar pengumuman, saya diterima di Madinah maka segera pindah ke Saudi. Oleh karenanya Syawal 1421 H/Januari 2000, saya berangkat ke Sudan. Dan pada bulan Dzulqo'dah berangkat Haji dengan sebagian mahasiswa Indonesia di Sudan. Alhamdulillah saya bertemu dengan keluarga, tetangga RW 03 Sukajadi Pekan Baru, orang kampung Bangkinang dan Airtiris. Pertengahan tahun 2000 saya mencari berita kelulusan muqobalah, ternyata saya tidak lulus ujian (tidak diterima). Tahun 2001 saya berangkat Haji bersama sebagian mahasiswa Indonesia dari Sudan, diantaranya Dzul Khairi mantan ustad bantumu di ponpes Al Furqon dan pernah antum bawa dia Muqobalah ke Madinah di Degolan Jogja. Saya juga bertemu dengan tetangga orang tua di Pekan Baru, Orang kampung Bangkinang dan Air Tiris. Sepanjang Haji saya mencurahkan perhatian untuk berdoa kepada Allah agar dapat dimudahkan untuk menuntut Ilmu di Darul Hadits Dammaj, dalam keadaan pada waktu itu saya sama sekali tidak mengetahui jalan untuk menuju ke sana. Alhamdulillah Allah

14 | P a g e

berkehendak mempertemukan saya dengan Ja'far Sholeh Jakarta di halaman Masjid Haram Mekkah, saya sudah lupa dengan wajahnya (dulu sudah pernah kenal di Jakarta karena rumah kontrakan saya hanya jarak sekitar 50 meter dari rumah orang tuanya). Ja'far Sholeh-lah yang duluan menyapa saya kemudian kami berpelukan, kemudian duduk berbincang sambil makan. Saya utarakan niat ingin ke Dammaj dan saya sampaikan bahwa saya tidak tahu jalan untuk menuju ke sana. Lalu Ja'far Sholeh memberikan informasi. Setelah haji saya kembali ke Sudan kemudian setelah itu berangkat ke Dammaj, Alhamdulillah. (10) Dzul Akmal berkata : Abdullah Cawas itu Dajjal dari Dabo... sinting dia sekarang... asalnya orang takfiriyyun juga.. Alamus Sunnah Bogor pondok tahun 1990-an sudah ada... penyokong dananya Abdul Karim Al Katsiry dari Riyadh, sururi tulen takfiri... itu pondoknya... sekarang balik ke habitatnya... di Dabo menyebarkan pemikiran

takfiriyyun....lari dari pondok sunnah, pergi tanpa salam wala kalam. Murid kalau lari 'aib tapi kalau guru lari lebih dari 'aib... Jawaban saya : Saya sudah bertanya kepada Abdullah Cawas, beliau tidak pernah belajar di pondok Alumus Sunnah Bogor melainkan belajar di Nurussunnah Semarang 2 tahun, kemudian pondok Al Furqon Gresik 1 bulan, kemudian ikut LJ. Wahai Dzul Akmal bagaimana kamu membangun tuduhan takfiri kepada Abdullah Cawas dan dasar latar belakang pendidikan belajar di Alumus Sunnah Bogor, padahal faktanya dusta? Ini juga bukti bahwa kamu tukang fitnah orang. Bagaimana kamu ini, memvonis orang takfiri dengan fakta dusta? Kalau seandainya di terima, mengalah dalam pembicaraan, (bukan membenarkan kedustaan kamu ), bukankah Abdullah Cawas guru bantu utama di pondokmu? Berarti sebelum ini kamu juga takfiri karena mempunyai pendamping dan guru bantu takfiri. Saya sudah tanya kepada Abdullah Cawas kenapa dia meninggalkan pondok kamu itu? Abdullah Cawas menerangkan bahwa dia meninggalkan pondokmu karena 'aib-'aibmu yang 'Abdullah tidak tahan lagi. Fakta sebenarnya adalah Abdullah Cawas pernah lebih dari satu kali menyampaikan kepada kamu secara baik-baik bahwa dia ingin pindah dari pondokmu ke Dabo, akan tetapi kamu malah marah-marah terus. Dan Abdullah sebelum meninggalkan pondokmu sudah memberi tahu orang dekatmu yaitu Bapak Nurijas. (11) Dzul Akmal berkata : Abu Mas'ud Lamongan khawarij, Lamongan sarang teroris di Indonesia ini setelah Solo. Imam Atlantik itu dari mana dia? Yang sudah mati itu masih keluarga dengan dajjal tersebut. Jawaban saya : Saya sudah bertanya kepada Abu Mas'ud dan dia mengatakan, Saya tidak mempunyai hubungan darah/nasab dengan imam tersebut, dia asli Banten dan saya asli Lamongan. Saya

15 | P a g e

tidak kenal dengan dia dan tidak pernah bertemu sekalipun. Wajarlah Abu Mas'ud menggelarimu Pendusta. (12) Dzul Akmal berkata: "Sekarang perempuan, akhwat tidak boleh belajar ikut taklim sama ustadnya. Padahal masa Rasulullah punya majelis khusus di satu rumah, sekarang dilarang. Lihat di Bagan Batu.... Pada kalilmat lain berkata: Ustadz Fauzan beserta istrinya belajar ke Dammaj, Syaikh Muqbil tidak ada melarang." Jawaban saya: Lagi-lagi Dzul Akmal membuat kedustaan dan fitnah. Thullab (pelajar-pelajar) yang bersama Syaikh Yahya tidak ada yang melarang wanita ikut taklim sama ustadnya baik di Bagan Batu (Riau), Bengkulu, Jambi atau ditempat lainnya. Para wanita bisa dengar taklim dibelakang hijab, di dalam masjid atau diruangan khusus dan dihubungkan dengan loudspeaker, sehingga para wanita bisa dengar taklim langsung. Para wanita ikut taklim dan kemudian setelah taklim selesai kembali ke rumahnya masing-masing. Fakta sebenarnya adalah permasalahan apa hukum wanita tanpa mahram diasramakan dipondok seperti istilah di Indonesia Tarbiyatun Nisa (TN), yang mana pola tersebut tidak ada contoh dari Rasulullah dan para Salaf. Adapun Istri Fauzan jelas belajar di Dammaj bersama suaminya. Karena yang dipermasalahkan sekarang adalah hukum seorang wanita yang belajar dipondok pesantren, diasramakan dengan tidak adanya mahram bersamanya. Kemana akalmu wahai Dzul Akmal? Wahai Dzul Akmal, saya sudah bertemu denganmu sejak tahun 1995. Kamu suka sekali menggelari orang Dajjal, Syaithan, dari bukti-bukti di atas, yang baru sebagian kecil dari permainan lisanmu, maka gelar tersebut adalah cerminan dirimu sendiri. Hanya pembeo-pembeomu saja (cecunguk-cecunguk, kosa katamu dalam dauroh), yang menganggapmu sebagai seorang yang jujur. Karena saya tahu watak kamu seperti ini, sehingga jika kamu berbicara, saya selalu mengatakan kepada kamu, Antum tahu dari mana? Siapa yang memberitahu antum? Sehingga pernah suatu ketika dalam via telpon, kamu memarahi saya, seraya berkata, "Ente kalau tidak percaya omongan ana (saya), tinggalkan ana sekarang juga. Dusta/Bohong Definisi dusta/bohong adalah mengatakan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan atau memberitakan sesuatu yang berbeda dengan keadaan sebenarnya. Seseorang yang menceritakan seluruh apa yang ia dengar adalah termasuk kebohongan, sebagaimana disebutkan dalam hadist (Muqoddimah Shohih Muslim) :

16 | P a g e

: . . . . : . . ." : " .. . : . : : : : . . : . : . : . : : .
Bab Larangan Untuk Memberitakan/Menceritakan Segala [Berita] Yang Didengar. Telah bercerita kepada kami Ubaid bin Muadz Al Anbariy, telah bercerita kepada kami bapakku (perpindahan sanad), telah bercerita kepada kami Muhammad bin Mutsnna, telah bercerita kepada kami Abdurrohman bin Mahdi : keduanya (Muadz dan Abdurrohman bin Mahdi) berkata : telah bercerita kepada kami Syubah dari Khubaib bin Abdirrohman dari Hafsh bin Ashim dari Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu beliau berkata : Rosululloh shallallahu alaihi wasallam bersabda : Cukup seseorang [dikatakan sebagai] pendusta [jika] ia menceritakan segala [berita] yang ia dengar. Telah bercerita kepada kami Ibnu Abi Bakr bin Abi Syaibah, telah bercerita kepada kami Ali bin Hafsh, telah bercerita kepada kami Syubah dari Khubaib bin Abdurrohman dari Hafsh bin Ashim dari Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan semisal di atas. Telah bercerita kepada kami Yahya bin Yahya, telah memberitakan kepada kami Husyaim dari Sulaiman At Taimi dari Abu Utsman An Nahdi, beliau berkata : telah berkata Umar bin Khotthob rodhiyallohu anhu : cukup seseorang [dikatakan] berdusta [jika] ia menceritakan segala [berita] yang ia dengar.

17 | P a g e

Dan telah bercerita kepada kami Abu Thohir Ahmad bin Amr bin Abdillah bin Amr bin sarh, beliau berkata : telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahb, beliau berkata : telah berkata kepadaku Malik : ketahuilah! Bahwasanya tidaklah diterima seorang yang menceritakan segala berita yang ia dengar, [orang seperti ini] tidak akan bisa menjadi imam (panutan) selamanya selama ia menceritakan segala [berita] yang ia dengar. Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Mutsanna, dia berkata : telah bercerita kepada kami Abdurrohman, dia berkata : telah bercerita kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Abul Akhwash dari Abdulloh, dia berkata : cukuplah seseorang [dikatakan] berdusta [jika] ia menceritakan segala [berita] yang ia dengar. Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Mutsanna, dia berkata : saya pernah mendengar Abdurrohman bin Mahdi berkata : tidaklah seseorang akan menjadi imam (panutan) yang dicontoh kecuali ia menahan [untuk tidak menceritakan] sebagian [berita] yang ia dengar. -Shohih Muslim Syarh An-Nawawi halaman 68-70--

Berkata Al Imam An Nawawy pada halaman 71 :

: ( ) . :
Perkataan : cukup seseorang [dikatakan] berdusta, yaitu dengan cara mensukun sin ( ,) maknanya adalah cukup hal itu [dikatakan] berdusta, karena terlalu seringnya [melakukan hal itu]. Adapun makna hadist dan atsar yang tersebut dalam bab, maka maknanya adalah larangan keras untuk menceritakan segala berita yang didengar seseorang karena tentunya secara umum ia mendengar berita benar dan juga mendengar berita yang dusta, sehingga apabila ia menceritakan semua berita yang ia dengar maka ia telah berdusta karena telah mengkhabarkan perkara yang tidak ada [kenyataannya]. Sedangkan telah terdahulu [penjelasannya] bahwa pendapat ahlul haq adalah bahwa dusta merupakan pemberitaan tentang suatu perkara yang bertolak belakang dengan kenyataan, dan tidak disyaratkan adanya unsur kesengajaan, karena unsur kesengajaan merupakan syarat seseorang itu berdosa [atau tidaknya]. Wallohu alam. Dari hadist di atas di ambil beberapa hukum di antaranya : 1. Seseorang yang menceritakan segala berita yang dia dengar adalah kedustaan. 2. Orang yang suka menceritakan segala berita yang ia dengar, maka ia tidak bisa menjadi imam (pemimpin atau panutan).

18 | P a g e

3. Keutamaan tidak menceritakan sebagian berita apa yang ia dengar. Berkata Al Imam Al Bukhory :

.: : : : : : .) : ( : : : : .) : ( : : : .) : ( : : .) : (
Bab : Berdosa Orang Yang Berdusta Atas Nabi shallallahu alaihi wasallam Telah bercerita kepada kami Ali bin Jad : telah memberitakan kepada kami Syubah, dia berkata : telah memberitakan kepadaku Mashur, beliau berkata : saya telah mendengar Ribi bin Harrosy berkata : saya mendengar Ali berkata : Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda : Jangan kalian berdusta atasku karena barangsiapa berdusta atasku maka ia masuk api neraka. Telah bercerita kepada kami Abul Walid, dia berkata : telah bercerita kepada kami Syubah dari Jami bin Syaddad dari Amir bin Abdulloh bin Zubair dari bapaknya (Abduloh bin Zubair), dia berkata : saya berkata kepada Zubair : Sesungguhnya saya tidak pernah mendengarmu menceritakan hadist dari Rosululloh shallallahu alaihi wasallam sebagaimana fulan dan fulan bercerita hadist?, dia menjawab : Adapun saya, bukan berarti saya menyempal [dari]nya, akan tetapi saya mendengar beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang berdusta atasku maka siapkanlah tempat duduknya dari api neraka. Telah bercerita kepada kami Abu Mumar, dia berkata : telah bercerita kepada kami Abdul Warits dari Abdul Aziz : berkata Anas : sesungguhnya yang menghalangiku untuk bercerita hadist terlalu banyak adalah bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa bersengaja berdusta atasku maka siapkanlah tempat duduknya dari api neraka. Telah bercerita kepada kami Makki bin Ibrohim, dia berkata : telah bercerita kepadaku Yazid bin Abi Ubaid, dari Salamah, dia berkata : saya pernah mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam

19 | P a g e

bersabda

Barangsiapa

berkata

[disandarkan]

kepadaku

perkara

yang

aku

tidak

mengatakannya, maka siapkanlah tempat duduknya dari api neraka. Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar :

Dalam sikap konsistennya Az Zubair terhadap hadist ini berdasarkan pendapat beliau untuk memilih sedikit bercerita hadist, merupakan dalil (bukti) [bahwa] yang paling benar dalam masalah dusta adalah memberitakan sesuatu secara bertolak belakang dengan kenyataannya, baik sengaja maupun tidak sengaja. Sedangkan yang tidak sengaja walaupun menurut kesepakatan tidak berdosa, akan tetapi Zubair takut untuk memperbanyak terjatuh dalam kesalahan sedangkan ia tidak sadar (sengaja). Berkata Al Imam An Nawawy:

:
Telah terdahulu [penjelasannya] bahwa pendapat ahlul haq adalah bahwa dusta merupakan pemberitaaan tentang sesuatu berbeda dengan kenyataan. Berkata Al Imam Muslim:

. : : . . .
Bab : Perintah Kepada Penduduk Madinah Untuk Ihrom Dari Sisi Masjid Dzul Hulaifah Telah bercerita kepada kami Yahya bin Yahya, dia berkata : saya telah membacakan kepada Malik dari Musa bin Uqbah dari Salim bin Abdillah sesungguhnya dia mendengar bapaknya ('Abdullah) rodhiyallohu anhu berkata : Tampak yang kalian dustakan atas Rosululloh shallallahu alaihi wasallam. Tidak pernah Rosululloh shallallahu alaihi wasallam bertahlil kecuali dari sisi masjid, yaitu dzul Hulaifah. Berkata Al Imam An Nawawy :

20 | P a g e

. .

Mereka dinamakan orang-orang berdusta oleh Ibnu Umar, karena mereka memberitakan sesuatu yang berbeda dengan kenyataan. Telah berlalu di awal kitab penjelasan ini dalam muqodimah Shohih Muslim, bahwa dusta menurut ahlussunnah adalah mengkhabarkan sesuatu yang berbeda dengan kenyataan, baik disengaja maupun tidak disengaja, atau lupa. Salaf Terkadang Menamai Sebatas Kesalahan Dengan Nama Dusta Berkata Syaikh Robi hafidzohulloh dalam kitab beliau Al Mahajjatul Baidho halaman 52 :

: .

(( )) .
Dahulu sebagian salaf apabila datang suatu pernyataan maka diingkari kepada yang mengatakannya, seraya berkata : fulan telah berdusta. Juga seperti ini perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam Abus Sanabil telah berdusta, tatkala datang kepada beliau shallallahu alaihi wasallam bahwa ia berfatwa : seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya apabila dalam keadaan hamil tidaklah halal (belum selesai masa iddahnya) dengan melahirkan kecuali sampai empat bulan sepuluh hari. Berkata Al Imam Muslim dalam Bab Min Fadhoili Khodhir alaihis salam :

. : : . . : : . :

Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Abdul Alaa Al Qoisiy, telah bercerita kepada kami Mutamir bin Sulaiman At Taimi dari bapaknya dari Roqobah dari Abu Ishaq dari Said bin Jubair, dia berkata : ada yang berkata kepada Ibnu Abbas rodhiyallohu anhu : sesungguhnya Naufan menyangka bahwa Musa yang pergi menuntut ilmu [kepada Khidir] bukan Musa bani Isroil. Ibnu Abbas pun berkata : apakah kamu benar-benar mendengarnya? Wahai Said!, Aku pun menjawab : benar. Lantas beliau berkata : Nauf telah berdusta. Berkata Al Imam An Nawawy:

21 | P a g e

: " "

Perkataan beliau (Ibnu Abbas) Nauf telah berdusta, hal itu selaras dengan pendapat temanteman kami (satu madzhab), yaitu bahwa dusta adalah mengkhabarkan tentang sesuatu berbeda dengan kenyataan baik secara sengaja ataupun lupa (tidak sengaja). Hal ini berbeda dengan .pendapat kolompok mutazilah Dan termasuk dalam bab ini, apa yang dinukil oleh Syaikh Robi dalam kitab Al Mahajjatul Baidho :halaman 78, menukilkan dari Al Imam Ibnu Adiyy

: (( )). : (( : )). : : : .

: (( )) : (( )).

: - : : (( : )). . : (( )). : (( )). :

: . : : )). )). : ((

22 | P a g e

. : :

: . .

: . :

( : (( : )). .)79-78
Sikap Ibnu Adi : Berkata Ibnu Adi rohimahulloh : Penyebutan orang yang membolehkan memvonis pendusta kepada seorang yang jelas-jelas berdusta, dari kalangan para sahabat, tabiin, dan orang-orang setelah mereka sampai hari kita ini, secara satu persatu. Kemudian beliau berkata : Dari kalangan para sahabat yaitu : Umar bin Khotthob, Ali bin Abi Tholib, Abdulloh bin Abbas. Kemudian dia meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Said bin Jubair, beliau berkata : aku berkata kepada Ibnu Abbas : sesungguhnya Nauf Al Bakali menyangka bahwa Musa yang bersama bani Isroil itu bukan [Musa] yang bersama Khidir. Lantas beliau berkata : telah berdusta musuh Alloh. Dan beliau menyebutkan perkataan Basyir bin Kaab : Kami dahulu menghafal hadist, sedangkan hadist itu dihafal dari Rosululloh shallallahu alaihi wasallam sampai apabila kalian menempuh kesulitan dan letih maka sangat jauh sekali (sulit menghafal). Kemudian beliau berkata : Abdulloh bin Salam. Dan beliau memaparkan sebuah sanad sampai kepada Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu, bahwa dia berkata : aku mendatangi gunung Thur, kemudian aku mendapati Kaab Al Ahbar. -lalu disebutkan kisah panjang- kemudian aku berjumpa dengan Abdulloh bin Salam, lalu aku paparkan kepadanya bahwa aku berkata kepada Kaab : bersabda Rosululloh shallallahu alaihi wasallam : sesungguhnya di dalam hari Jum'at terdapat waktu yang tidaklah seorang mukmin menempuhnya sedangkan ia dalam keadaan sholat seraya meminta sesuatu kepada Alloh kecuali Dia akan memberinya, kemudian dia (Kaab) berkata : itu merupakan hari dalam setiap tahun. Lantas Abdulloh bin Salam berkata : telah berdusta Kaab.(lalu beliau menyebutkan sampai akhir kisah). Kemudian beliau berkata : Abu Muhammad telah berdusta. Kemudian dia meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Muhairiiz : bahwa seorang laki-laki dari bani Kinanah berjumpa dengan seorang laki-laki dari Anshor yang biasa dipanggil Abu Muhammad, lantas bertanya tentang witir, lalu dia (Abu Muhammad) menjawab : [sholat] witir itu

23 | P a g e

wajib. Lalu berkata seorang dari bani Kananah tersebut : lalu aku berjumpa Ubadah bin Shomit, lalu aku menyebutkan hal itu kepada beliau, lantas beliau berkata : Abu Muhammad telah berdusta. Kemudian beliau berkata : Anas bin Malik Kemudian beliau meriwayatkan dengan sanadnya kepada Ashim, dia berkata : aku pernah bertanya kepada Anas bin Malik tentang qunut : sebelum rukuk atau setelah rukuk?, dia menjawab : sebelum rukuk. Dia [melanjutkan perkataannya] : karena ada fulan yang memberitankan kepadaku tentang engkau bahwa engkau pernah berkata : setelah rukuk. Lalu dia berkata : dia telah berdusta, Rosululloh shallallahu alaihi wasallam hanyalah qunut setelah rukuk selama satu bulan saja. Lalu dia menyebutkannya. Kemudian dia berkata : dan dari kalangan para tabiin yang termasuk berbicara tentang mereka adalah Said bin Musayyib. --Selesai diambil dari kitab Al Mahajjah Al Baidho fii Himayatis Sunnah
Al Gharo halaman 78-79--

Oleh karena itu prasangka yang tidak berdasarkan bukti dinamakan dusta, karena tidak sesuai dengan kenyataan. Berkata Al Imam Al Bukhory :

7175 - : : : ( .)

Telah bercerita kepada kami Basyr bin Muhammad : telah memberitakan kepada kami Abdulloh : telah memberitakan kepada kami Mamar dari Hammam bin Munabbih dari Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda : Hati-hatilah kalian dari prasangka, karena prasangka merupakan pernyataan yang paling dusta, dan janganlah kalian saling menyelidiki, janganlah kalian saling memata-matai, janganlah saling dengki mendengki, janganlah saling bermusuhan dan janganlah kalian saling membenci, jadilah kalian hamba Alloh saling bersaudara. Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar :


Perkataan karena prasangka merupakan pernyataan yang paling dusta, dianggap janggal prasangka dinamakan pernyataan, namun bisa dijawab [dengan jawaban] bahwa yang

24 | P a g e

dimaksudkan adalah ketidaksesuaian dengan kenyataan baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan Alloh berfirman :

]:[

Artinya : Tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) selain Dia (Alloh), sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kalian di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah? (QS. An Nisa : 87)

]:[

Artinya : Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selamalamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah? (QS. An Nisa :122) Berkata Al Imam Ibnu Katsir :

: . " : ."
Maksudnya : tidak ada seorangpun yang lebih jujur secara perkataan maupun pemberitaan dari padaNya, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali hanya dia saja, dan tidak ada Robb (pencipta, pengatur, pemberi rizki) selain Dia. Rosululloh shallallahu alaihi wasallam selalu berkata dalam khutbahnya : Sesungguhnya paling jujurnya pernyataan adalah perkataan Alloh, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wasallam, sejelek-jelek perkara adalah perkara baru yang diada-adakan, setiap perkara baru adalah bidah, setiap bidah adalah sesat, dan setiap kesesatan di dalam neraka. Ada Dua Jenis Dusta Yakni Dusta Dalam Perkataan Dan Dusta Dalam Perbuatan Allah ta'ala berfirman : [:]

Artinya : Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itulah orang-orang pendusta. (QS. An Nahl : 105) Allah ta'ala berfirman :

25 | P a g e

[:]

Artinya : Dan jauhilah oleh kalian ucapan dusta. (QS. Al-Hajj : 30) Allah ta'ala berfirman : [:]

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS. Az-Zumar : 3) Allah ta'ala berfirman : [:]

Artinya : Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong. (QS. Al Qomar : 26) Allah ta'ala berfirman : [:]

Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungghuhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. Al-Isro' : 36) Allah ta'ala berfirman : [:]

Artinya : Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaf : 18) Allah ta'ala berfirman : [:]

Artinya : Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al Hujarat : 6) Kedustaan itu akan menggiring pelakunya kepada kefajiran, sebagaimana di dalam AshShahihain dari hadits Abdullah bin Mas'ud, sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :


26 | P a g e

Artinya : Berlaku jujurlah kalian, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing menuju surga. Sesungguhnya seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka dia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Waspadalah kalian dari kedustaan, karena kedustaan itu akan menggiring kepada kejahatan, dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke dalam neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan memelihara kedustaan, maka dia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah. (HR. Al-Bukhari no. 89 dan Muslim no. 58)

( (
Artinya : Dari Bahz bin Hakim, bahwa bapaknya telah bercerita kepadanya dari kakeknya, ia berkata, aku telah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Celakalah bagi orang yang berbicara dengan satu pembicaraan agar menjadikan tertawanya kaum, maka ia berdusta, celakalah baginya, celakalah baginya. (HR At-Tirmidzi, hadits hasan).

: )

" "

Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib sibthi (cucu laki-laki dari anak perempuan) dan kesayangan beliau rahdiyallahu 'anhuma, berkata : Aku hafal dari Rasulullah : Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu. (HR. At-Tirmidzi dan berkata Tirmidzi : hadits hasan shohih) Hadits ini juga ada di Arbain Nawawi no. 11. Abdullah bin Umar berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :


Artinya : Barang siapa yang mengucapkan pada seorang mukmin suatu perkara yang tidak ada pada dirinya, Allah ta'ala akan menetapkannya di kerak penduduk neraka sampai dia keluar apaapa yang dia ucapkan (terhadap saudaranya). (HR. Abu Dawud 3592 dishohihkan oleh Syaikh Muqbil di Shohih Al-Musnad no. 755). Abdullah bin 'Amr berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah datang ke rumah kami, waktu itu aku masih kecil, akupun keluar untuk bermain. Ibuku kemudian memanggil Wahai Abdullah, kemarilah, nanti akan ibu beri sesuatu. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, Apa yang akan kamu berikan? Dia menjawab, Saya akan memberikan korma. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Seandainya engkau tidak melakukan (apa yang engkau katakan) berarti telah dicatat atasmu satu kedustaan. (HR. Abu Dawud : 4991)

27 | P a g e

Dari dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa berbohong/berdusta merupakan dosa besar yang akan diminta pertanggungjawaban. Bahkan dusta merupakan 'aib pada masa jahiliyah, bahkan sampai Abu Sufyan berbicara jujur tentang perkara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di depan penguasa Ruum (Heraklius), tatkala ditanya tentang berita Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam Shahih Al Bukhori (Bab 6 no. 7): Kemudian berkata penguasa Ruum kepada penterjemahnya, Katakan pada mereka sesungguhnya aku bertanya kepada orang ini ( Abu Sufyan) jika dia berdusta kepadaku kalian dustakanlah dia. (Berkata Abu Sufyan), Maka demi Allah kalau seandainya tidak karena malu mereka mendustakanku sungguh aku berdusta kepada dia (penguasa Ruum). Berkata Ibnu Hajar dalam Fathul Bari jilid I Hal. 48, Dan bahwasanya mereka (orang jahiliyah) dulu menganggap buruk kebohongan baik perkara tersebut diambil dari syari'at yang lalu ataupun dari kebiasaan. Dan ucapan ( )bukan ( )dalil sesungguhnya Abu Sufyan tsiqoh (terpercaya) dikalangan mereka (jahiliyah), tidak mempunyai sifat bohong. Seandainya Abu Sufyan Shokhor bin Harb berbohong, tentulah dia sudah berbuat karena memusuhi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Akan tetapi dia meninggalkan bohong tersebut karena malu nanti akan diperbincangkan manusia sebagai pembohong. Berkata Imam Nawawi di dalam Syarah Muslim, Ini penjelasan bahwasanya kebohongan adalah keburukan pada masa jahiliyah dan sebagaimana keburukan di dalam Islam. Berkata Ibrohim At Taimy rohimahulloh : Tidaklah aku dihadapkan perkataanku pada perbuatanku kecuali aku takut akan didustakan (dianggap sebagai pendusta). Berkata Imam Dzahabi di Mizanil I'tidal dalam Miqdari ar- Rijaal 1/113, Demikian juga saya tidak menyebutkan dalam kitabku ini, dari kalangan imam-imam seorangpun yang dipanuti dalam masalah-masalah cabang karena kemuliaam mereka dalam islam, dan besarnya mereka di hatihati, seperti Abu Hanifah, Asy Syafi'i, dan Al Bukhori. Kalaulah saya menyebutkan salah seorang dari mereka, maka saya akan menyebutkannya dengan adil, dan itu tidak akan

membahayakannya di sisi ALLAH dan tidak juga di sisi manusia. Yang akan membahayakan seseorang hanyalah kedustaan dan terus-menerus dalam banyak kesalahan, melakukan pengkaburan, dan kebatilan karena itu merupakan sebuah pengkhianatan dan kriminalitas. Seorang muslim cocok terhadap segala sesuatu kecuali khianat dan dusta. Faktor-Faktor Pendorong Berbuat Bohong/Dusta Motif yang mendorong orang-orang yang memiliki jiwa nista ini untuk suka melakukan kebohongan cukup banyak, diantaranya :

28 | P a g e

1. Sedikitnya rasa takut kepada Allah ta'ala dan tidak adanya perasaan bahwa Allah ta'ala selalu mengawasi setiap gerak-geriknya, besar maupun kecil, 2. Upaya mengkaburkan fakta baik untuk mendatangkan keuntungan duniawi, menyombongkan diri dan merendahkan orang lain, 3. Mencari perhatian manusia dengan membawa cerita-cerita palsu, 4. Tidak ada rasa tanggungjawab dan berusaha lari dari kenyataan baik dalam kondisi sulit ataupun kondisi lainnya, 5. Terbiasa bohong sejak kecil, 6. Merasa bangga dengan berbohong, dia beranggapan bahwa kebohongan itu menunjukkan kefasihan dan tingginya daya nalar. Terapi Dan Obat Penyakit Bohong/Dusta 1. Pemahaman si pelaku tentang keharoman perbuatan bohong dan begitu dahsyatnya siksa yang akan diperoleh. Dan itu selalu diingat ketika berbicara ataupun berkumpul dengan orang lain, 2. Intropeksi diri dan berhati-hati terhadap apa yang dibicarakan, 3. Menyadari bahwa berbohong adalah salah satu tanda-tanda kemunafikan, 4. Menjaga mulut agar jujur dalam perkataan baik kecil maupun besar bahkan dalam masalah sepele sekalipun, 5. Mendidik anak untuk terbiasa jujur sejak kecil, 6. Bersuri tauladan dengan akhlak salaf yang senantiasa jujur, 7. hendaknya orang yang gemar berbohong menyadari bahwa kepercayaan orang lain padanya akan hilang karena menyaksikan atau mengetahui kebohongannya, 8. Menyadari bahwa kebohongan adalah jalan yang mengantarkan kepada kejahatan, sementara kejujuran mengantarkan pelakunya ke surga. Orang Orang Yang Tidak Boleh Diambil Ilmunya Abdurrahman bin Mahdi rohimahulloh berkata, Ada tiga golongan yang tidak boleh diambil ilmunya yakni : 1. Seseorang yang tertuduh dengan kedustaan/kebohongan, 2. Ahlul bid'ah yang mengajak manusia kepada kebid'ahannya, 3. Seseorang yang dirinya didominasi oleh keragu-raguan dan kesalahan-kesalahan. Al-Imam Malik rahimahullah berkata, Tidak boleh seseorang mengambil ilmu dari 4 jenis manusia dan boleh mengambil dari selain mereka yaitu : 1. Ilmu tidak diambil dari orang-orang bodoh, 2. Tidak diambil dari pengekor hawa nafsu yang menyeru manusia kepada hawa nafsunya,

29 | P a g e

3. Tidak pula dari seorang pendusta/pembohong yang biasa berdusta/berbohong dalam pembicaraan-pembicaraan manusia meskipun tidak tertuduh berdusta pada hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. 4. Tidak pula dari seorang Syaikh yang memiliki keutamaan, kesholehan serta ahli ibadah tetapi dia tidak lagi mengetahui apa yang tengah dibicarakan (An-Nubaz fi adabi tholabil 'ilmy). Wahai Dzul Akmal bertaqwalah kamu kepada ALLAH, bukti- bukti diatas menunjukkan bahwa kamu adalah seorang pembohong besar, pendusta dan pembual pasaran. DENGAN DALILDALIL DI ATAS TIDAK BOLEH MENGAMBIL ILMU DAN BERGAUL DENGAN KAMU DAN ORANG SEMISAL KAMU, HUKUM ASAL UCAPAN-UCAPANMU TERTOLAK, WAJIB UNTUK MEMERIKSA SETIAP UCAPAN KAMU DENGAN BUKTI-BUKTI ATAU SAKSI-SAKSI. Pasal ke Empat Belas : Banyak sifat nifaq di kalangan hizbiyyin, kemudian As-Syaikh Robi AlMadkholi berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata setelah menyebutkan kekejian rowafidh yang diantaranya adalah loyalitas mereka kepada orang-orang kafir untuk menentang muslimin. Maka mereka itu lebih besar bahayanya terhadap Agama ini, dan pemeluknya, dan lebih jauh dari syariatsyariat Islam daripada Khowarij Haruriyah. Oleh karena itulah mereka menjadi sempalan umat yang paling pendusta, maka tiada pada kelompok-kelompok yang menisbatkan diri ke kiblat Kabah yang lebih banyak kedustaan, pembenaran terhadap kedustaan, pendustaan terhadap kejujuran daripada mereka, lebih-lebih lagi kemunafikan pada mereka lebih jelas daripada kemunafikan pada seluruh manusia dan mereka itulah yang disabdakan Nabi shallallahu alaihi wa sallam :


"Tanda-tanda munafiq ada tiga; jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika diberi amanat dia khianat". (HR. Al Bukhori : 33 dan Muslim : 106). Dalam suatu riwayat :


"Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanat dia khianat, jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika bertengkar dia berbuat fajir". (HR. Al Bukhori : 34) Komentar saya : Dzul Akmal termasuk banyak berbuat demikian, berbicara dusta sebagaimana fakta di atas, berjanji mengingkari dan jika bertengkar dia berbuat fajir, (dan muridnya sendiri juga sudah menulis tulisan degan judul Membongkar Kebobrokan Dzul Akmal, Dzul Akmal : Undercover #1 dan Dzul Akmal :

30 | P a g e

Under Cover #2). Pasal keLima Belas : Membenarkan kedustaan kemudian Asy Syaikh Robi Al Madkholi berkata, Maka orang-orang Haddadiyyah itu menyerupai rowafidh dalam berdusta, pembenaran terhadap kedustaan, dan pendustaan terhadap kejujuran. Ada perkataan-perkataan dan ucapan yang jujur dan tegak di atas Al Kitab dan As Sunnah mereka mendustakan kandungannya, menolaknya. Diantaranya adalah perkataan yang telah diteliti oleh para tokoh ulama dalam kasus keimanan dan masalah prinsipil, haddadiyyun justru membantahnya dan menolaknya. Tapi ada ucapan-ucapan dan kebatilan serta penyelewengan yang justru mereka dukung dan mereka tolong. Betapa banyak mereka itu berbuat fajir dalam persengketaan mereka terhadap Ahlussunnah, ini digabung lagi dengan sifat-sifat mereka yang telah lewat. Komentar saya : Surat pernyataan tersebut (hasil rapat pada saat dauroh Jambi) jadi bukti, karena Dzul Akmal, Muhammad Surur, Abdurrahman Mahdi berarti membenarkan kedustaan dengan mencantumkan nama Sholihin dan Dr. Siswadi dari Sei. Tapa sebagaimana telah lewat pembahasannya. Pasal ke enam belas Berubah-rubah warna dan melancarkan makar mereka dengan bertahap. Kemudian Asy Syaikh Robi' Al Madkholi wafaqohullahu berkata, Sisi ke sepuluh, makar bertahap berdasarkan metode batiniah, walaupun kami tidak berpendapat bahwasanya mereka itu bathiniyah akan tetapi kami berpendapat bahwasanya mereka menyerupai, mereka dalam memiliki banyak wajah dan melancarkan makar mereka dengan bertahap. Komentar saya : Dzul Akmal dan pembeonya telah melakukan perbuatan ini : membuat surat pernyataan hasil rapat yang di dalamnya terdapat kedustaan terkait dengan lembar tanda tangan peserta rapat, meminta kunci masjid dengan bahasa diplomatis pinjam pada hakekatnya mengambilalih masjid, mencari dukungan untuk memulangkan saya ke Pekanbaru, mengadakan rapat yang di dalamnya membahas rencana untuk membuat yayasan dengan tujuan menguasai aset tanah dan masjid, mendatangi pemilik tanah agar tanah/sertifikat diberikan kepada mereka dan rapat tertutup peserta dauroh ustadz Tirmidzi dari Prabumulih (bulan November) di Desa Purwodadi, Tungkal dengan peserta rapat diantaranya adalah Pak Ponco, Pak Amir yang pada intinya membicarakan agar masjid jatuh ke tangan mereka. Pasal ke dua puluh : Sikap saling menolong di kalangan mereka dalam dosa dan permusuhan, kemudian Asy Syaikh Robi Al Madkholi berkata, Sisi kesebelas, sikap saling tolong-menolong di kalangan mereka dalam dosa, permusuhan, kedzoliman dan baku tolong dalam kedustaan, kejahatan dan pembentukan dasar-dasar yang batil.

31 | P a g e

Komentar saya : Apa yang dilakukan Dzul Akmal dan peserta tanda tangan hasil rapat, termasuk dalam perkara ini. Juga pemalsuan dan kedustaan dengan memasukkan nama Sholihin Sei.Tapa dan Dr. Siswadi Sei.Tapa sebagaimana dalam tulisan Makar Dzul Akmal Dan Luqmaniyyun Terhadap Masjid Jambi. Termasuk dalam masalah masjid Jambi, terhadap saya pribadi yang mana Dzul Akmal menyuruh ikhwan untuk memulangkan saya. ALLAH ta'ala berfirman :

]:[

Artinya : Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan ) kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kamu kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH amat berat siksaNya. (QS. Al Maidah : 2) Dan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan adalah perbuatan Yahudi. Sebagaimana dalam firman ALLAH :


Artinya : Kemudian kamu (Bani Isroil ) membunuh dirimu (saudara sebangsa ) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan. (QS. Al Baqoroh : 85) Pasal kedua puluh empat : Pura-pura menangis dan pengakuan dusta untuk menipu manusia. Kemudian Asy Syaikh Robi al Madkholi berkata, Maka jangan sampai memperdaya kalian wahai salafiyyin, tangisan bohong mereka dan pengakuan bathil mereka yang telah dibongkar sendiri oleh perkataan mereka, prinsip-prinsip mereka, sikap dan akhlak mereka, serta kedustaan mereka yang nyata dan tersingkap bagi orang yang punya niat hati dan pengetahuan yang paling rendah sekalipun. Komentar saya : Adapun pengikut/fans Dzul Akmal di Kota Jambi, memberikan pengakuan via telpon, sms kemudian dibongkar sendiri oleh perkataan, sikap dan akhlaknya. Diantaranya Abu Phasa tuan rumah, yang menerima Dzul Akmal, sebelum dauroh sempat telpon saya, yang intinya hanya mau talim saja dan tidak mau ikut-ikutan dalam perselisihan (fitnah) yang ada. Bahkan sms ke sebagian ikhwan : Bismillah, Afwan ikhwan-ikhwan ana yang bertaqwa, ana berlepas diri dari permasalahan antar ustadz, ana hanya mau talim saja. Adapun para ustadz selalu nginap di tempat ana, ini sebagai taawwun seperti lazimnya ikhwan-ikhwan lain nginap di tempat ana (kabar hanya untuk ikhwanikhwan ana yang tsiqoh saja) Barokallohufiikum. Benarlah perkataan Al Imam Ibnul Qayyim rohimahulloh berkata, Ujian dan cobaan itu akan menampakkan jati diri orang-orang, maka alangkah cepatnya orang yang mengaku-ngaku itu

32 | P a g e

terbongkar keasliannya. (Badaiil Fawaid 3/ hal. 751) Al Imam Al Wadiiy rohimahulloh menyisir penggalan bait : Dan barang siapa bergaya bukan dengan sifat aslinya, saksi-saksi ujian akan menyingkapkan jati dirinya. (Ghorotul Asyrithoh/1/ hal.537). -Dinukil dari tulisan Abu FairuzKemudian terbongkar sendiri dengan perkataan, prinsip, sikap dan akhlaq serta kedustaan yang nyata. Yaitu Abu Phasa terlibat dalam penandatanganan pernyataan hasil rapat (dalam lembar tanda tangan peserta, tertulis namanya Ponco W Abu Phasa) bahkan terkait dengan penyerahan kunci masjid sebagaimana disebutkan dalam surat pernyataan di atas. Bahkan sebelum dauroh, ustadz Zuher Syarif Bengkulu, Abu Phasa Ponco pun mengirim sms diantaranya : Bismillah saudaraku seiman seaqidah alhamdulillah ustadz Zuher Syarif sudah di rumah ana dan pagi jam 9 berangkat ke Purwodadi talim Sabtu dan Ahad di sana (infokan kesaudarasaudaraku seiman seaqidah) Barokallahufiikum. - Bismillah, saudaraku seiman dan seaqidah semoga talim selanjutnya di Jambi dapat ustadz yang lebih adil, baik, bijak dengan dasar qoidah adab tholabul ilmi manhaj salaf (amanah tidak disebarkan) Barokallahufiikum. Adapun dauroh ustadz Zuher Syarif Bengkulu diadakan di daerah Trans Purwodadi, Kec. Tebing Tinggi, Kab. Tanjung Jabung Barat tanggal 8 dan 9 Oktober 2011 (hari Sabtu dan Ahad). Kemudian ikut rapat tertutup pada dauroh Tirmidzi dari ma'had Prabumulih (pernah mondok di ma'had ustadz Abu Hazim Muhsin). Wahai Abu Phasa.., Apakah antum sekarang maupun yang telah berlalu beradab terhadap diri sendiri, terhadap sesama teman talim dan terhadap saya sebagai gurumu yang kemarin? Pasal ke dua puluh tujuh : Berlebihan dalam menyanjung orang yang bersama mereka, manakala dirinya meninggalkan mereka maka merekapun berlebihan dalam mencercanya. Kemudian Asy Syaikh Robi al Madkholi berkata, Maka keadaan mereka seperti keadaan Yahudi bersama Abdullah bin Salam, salah seorang ulama Bani Israil yang dimuliakan dengan Islam. Al Bukhari meriwayatkan dalam shohihnya (3151) dengan sanad sampai ke Anas, berkata : Artinya : Sampai kepada Abdullah bin Salam berita kedatangan Rasulullah ke Madinah, maka dia pun mendatangi beliau seraya berkata, Sesungguhnya saya ingin menanyai anda tentang tiga perkara yang tidak diketahui kecuali oleh seorang Nabi : Apa awal tanda kiamat? Apa awal makanan ahlul jannah? Dari manakah seorang anak itu menjadi mirip dengan ayahnya? Dan dari manakah dia mirip dengan paman-pamannya? Maka Rasulullah menjawab : Jibril telah mengabarkan akan hal itu barusan. Maka Abdullah berkata, Dia musuh Yahudi dari kalangan malaikat. Lalu Rasulullah bersabda : Adapun awal tanda kiamat adalah api yang menggiring manusia dari timur ke barat, adapun awal makanan ahlul jannah adalah hati ikan paus, adapun kemiripan pada seorang anak, maka seorang itu jika menggauli istrinya lalu air maninya mendahului air mani istrinya, maka anaknya menjadi mirip dengannya. Tapi jika air mani istrinya mendahului air maninya, maka anaknya menjadi

33 | P a g e

mirip dengan istrinya. Maka Abdullah berkata, Saya bersaksi bahwasanya anda adalah Rasulullah. Kemudian ia berkata, Wahai Rasulullah sesungguhnya Yahudi adalah kaum pendusta. Jika mereka mengetahui bahwasanya saya telah masuk Islam sebelum anda menanyai mereka tentang saya, mereka pasti akan berdusta tentang saya, mereka pasti akan berdusta tentang saya di hadapan anda. Maka datanglah Yahudi, sementara Abdullah masuk ke dalam rumah. Maka Rasulullah bersabda, Bagaimana kedudukan Abdullah bin Salam di sisi kalian? Mereka menjawab, Dia adalah orang yang paling berilmu diantara kami, anak dari orang yang paling berilmu diantara kami. Dia juga orang yang paling baik di antara kami, anak dari orang yang paling baik di antara kami. Maka Rasulullah bersabda : Bagaimana pendapat kalian jika ia masuk Islam? Mereka menjawab, Semoga Allah melindungi mereka dari yang demikian. Maka Abdullah bin Salam keluar kepada mereka seraya berkata, Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan selain Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah. Mereka berkata, Dia adalah orang yang paling jelek diantara kami, anak dari orang yang paling jelek diantara kami. Dan mereka mencacinya. Al Hafidz dalam Al Fath (7/hal 298) dalam Syarh Hadist (3911) berkata dalam riwayat Yahya bin Abdillah maka kukatakan wahai Rasulullah, bukankah saya telah memberitahu anda bahwasanya mereka adalah kaum pendusta, orang-orang yang mengkhianati perjanjian, berbohong dan jahat? Dalam suatu riwayat mereka menghinakannya. Maka dia berkata inilah yang saya takutkan wahai Rasulullah. Sisi pendalilan dari hadist ini adalah bahwasanya Yahudi manakala mengira bahwasanya Abdullah bin Salam akan tetap di atas kesesatan mereka dan kebatilan mereka, mereka pun memujinya dan berkata : dialah orang yang paling baik diantara kami, anak orang yang paling baik diantara kami, manakala beliau mengumumkan kebenaran, berbaliklah mereka dengan segera mencaci beliau dengan berkata : dia adalah orang yang paling jelek diantara kami, anak dari orang yang paling jelek diantara kami. Dan mereka mencacinya dan demikianlah perbuatan haddadiyyah terhadap para tokoh utama ahlusunnah wal haq, berulang kali mereka menyanjungnya demi tujuan dan maksud yang telah mereka rencanakan dari diri mereka, manakala para tokoh utama tadi menghadapi kebatilan mereka dan menyelisihi mereka, mereka pun mencacinya satu persatu dan memerangi tokoh utama tersebut. Setiap kali para ulama menambahkan penjelasan tentang kebatilan mereka, mereka pun bertambah melampaui batas, bertambah dusta dan bohong kepadanya dan jahat dalam memeranginya sampai kepada perbuatan dan ucapan yang banyak yang setiap kelompok-kelompok yang sesat merasa malu untuk melakukannya. Komentar saya : Adapun Dzul Akmal, ketika orang-orang bersamanya, dia pun memujinya. Akan tetapi ketika tidak bersamanya, lalu Dzul Akmal mencaci-maki satu persatu, seperti mengatakan : 1. Ustadz Abdullah Cawas dajjal, bahasa arab Ahmad dan Abu Anas lebih daripada Abdullah

34 | P a g e

Cawas, Abdullah Cawas takfiriyyun sinting, 2. Usman Thowil Pariaman sebagai dajjal dan anjing dan murid-murid yang lainnya digelari dajjal. Pijakan Saya Selanjutnya Adalah Risalah Asy Syaikh Robi Al-Madkholi Manhajul Haddadiyah Dinukil Dari Karakter Haddadiyah Dalam Diskusi Ilmiah Bagian Sembilan (Penulis Abu Fairuz). Dalam bab ini saya menunjukkan bukti-bukti ketegelinciran Dzul Akmal hadahullah dalam sebagian manhajul haddadiyah, Pasal enam : Permusuhan Yang Keras Terhadap Salafiyyin Yang Membela Sunnah Kemudian Asy Syaikh Robi Al-Madkholi berkata : Permusuhan yang keras terhadap salafiyyun sekalipun telah mencurahkan kerja keras untuk mendakwahkan salafiyah dan membelanya, dan sekalipun telah mencurahkan kerja keras untuk menghadapi bidah, hizbiyyah dan kesesatan. Komentar saya : Permusuhan (kerasnya) Dzul Akmal kepada Syaikh Yahya dan murid-muridnya sudah sangat jelas terdengar dalam muhadhoroh sepulang dari umroh bulan Syaban kemarin di mahadnya dan dauroh di Kota Jambi bulan Syawal 1432 H ini. Pasal tiga belas : Kesombongan, Penentangan dan Penolakan Terhadap Kebenaran. Kemudian Asy Syaikh Robi Al-Madkholi berkata : Kesombongan dan penentangan yang menyebabkan mereka menolak kebenaran sebagaimana seluruh ahlul bida. Maka seluruh apa yang disampaikan oleh Ahlu Madinah yang berupa penjelasan tentang penyimpangan al Haddad dari manhaj salaf, dan mereka tolak maka dengan perbuatan seperti ini menjadi termasuk sempalan Islam yang paling jelek secara akhlaq dan pengelompokan. Komentar Abu Fairuz : Sesungguhnya orang yang kenal Allah dengan sebenar-benarnya dia akan merendahkan diri kepada Allah. Ibrohim rohimahullah berkata : Aku bertanya kepda al Fudhail : Apakah tawadhu itu? Beliau menjawab, Yaitu engkau menunduk kepada kebenaran dan menaatinya, sekalipun engkau mendengarnya dari anak kecil, engkau terima kebenaran tadi darinya. Dan sekalipun engkau mendengar dari orang yang paling bodoh, engkau terima kebenaran tadi darinya. (Hilyatul Auliya Biografi al Fudhail bin Iyadh/3/halaman 392/Dar Ummil Qura/atsar hasan) Al Imam Ibnu Rojab berkata : Oleh karena itulah maka dulunya para imam salaf yang ilmu dan keutamaan mereka telah disepakati mereka menerima kebenaran dari orang yang mendatangkannya kepada mereka sekalipun dia adalah anak kecil, dan mereka juga berwasiat kepada para sahabat dan pengikut mereka untuk menerima kebenaran, jika kebenaran tadi muncul dari selain ucapan mereka. (Al Farqu bainan Nashihah wat Tayiir/ Majmuur Rosail 2/halaman 404/ cet. Al Faruq) Komentar saya : Adapun Dzul Akmal seorang yang sombong menolak kebenaran yang di sampaikan, saya secara pribadi berkali-kali menasehati Dzul Akmal dalam banyak hal dan waktu yang

35 | P a g e

berbeda tetapi selalu marah, juga pengkuan Abu Haris Jafar dalam tulisannya Dzul Akmal

Undercover #2.
Pasal kedua belas : Bermudah-mudahan dalam Mengkafirkan Orang. Kemudian Asy Syaikh Robi' Al Madkholi wafaqohulloh berkata : Dan datanglah Al Haddad kepada perbuatan yang benar atau salah seraya berkata : Ini adalah zandaqah (kemunafikan secara i'tiqodi). yang memberikan kesan bahwasanya orang ini takfiry yang memakai kedok. Komentar saya : Telah berlalu di bagian atas bab ke 2 Takfiri (Mengkafirkan Orang), dalam bab tersebut menunjukkan bahwa Dzul Akmal telah tergelincir dalam mengkafirkan orang. BAB 4 : FENOMENA DZUL AKMAL HADAHULLAH MENEPUK AIR DIDULANG, TERPERCIK MUKA SENDIRI Dalam bab ini saya mengembalikan bualan Dzul Akmal ke mukanya sendiri, karena bualan, tuduhan dan fitnahnya, sebenarnya merupakan cerminan kepribadianya. 1. Ustadz Preman Bahasa Preman, Teriak Ustadz Preman Bahasa Preman, Dzul Akmal berkata terhadap Abu Mas'ud Lamongan, Kapan dia ditazkiyah jadi Salafy, kapan? Siapa yang mentazkiyahnya? Abu Mas'ud takfiry, Abul Ahad takfiry. Kalo antum dengar bahasanya, dia itu bahasa preman ustadz preman bukan Pariaman... Preman tulen Kakaknya sudah mati Abu Uqbah. Bukti-Bukti Dzul Akmal Ustadz Preman Berbahasa Preman 1) Kasus masjid Jambi : Dzul Akmal memerintahkan Muhammad Surur untuk membawa tukang kunci untuk menjebol pintu masjid, 2) Memerintahkan peserta rapat pada saat daurohnya di Jambi untuk memulangkan saya ke Pekanbaru atau keluar dari Jambi, Wahai Dzul Akmal, saya menetap di Jambi tidak dibawah kekuasaanmu dan tidak juga tinggal di rumah kontrakan pembeo-pembeomu di Jambi seperti Abu Phasa Ponco, Hud Huda, Dzulkifli, Yuda Abu Ihsan dan Umar Tebing Tinggi. Dan Alhamdulillah selama ini tidak ada minta-minta kepada pembeo-pembeo mu. Dan ALLAH Maha Pemberi Rizki. 3) Bercerita kepada saya, Zubair Perawang : Ketika dauroh ustadz Faishol Medan di Perawang dua tahun lalu, Dzul Akmal memerintahkan ikhwan mengambil hijab masjid pada malam hari, 4) Bercerita kepada saya, Zubair Perawang tentang Tragedi Perawang Kabupaten Siak, Riau tahun 2002, ketika hari raya Iedul Fitri, Dzul Akmal memerintahkan ikhwan meletakkan kotak infaq di masjid, ternyata tidak diizin oleh pengurus. Kemudian Dzul Akmal menelpon pengurus masjid, mengancam dan mencaci maki, jika tidak diterima kotak-kotak infaq maka akan dikirim

36 | P a g e

pasukan Laskar Jihad. Mendengar perkataan Dzul Akmal itu, pengurus masjid marah dan bercerita kepada manusia selesai sholat. Maka bangkitlah pemuda-pemuda menyerang dan melempar mobil-mobil dan rumah-rumah ikhwan. Bercerita kepada saya ustadz Ayip Solo ketika di Dammaj, Setelah kejadian itu Dzul Akmal minta damai dengan perantara ketua partai PBB dan PPP Riau dan saya sebagai wakil dari Dzul Akmal. 5) Tragedi Kubang Pekanbaru (sekitar bulan Juni tahun 2000), Saya sudah mengetahui tragedi ini sejak akhir tahun 2000 (ketika masih belajar di Sudan) kemudian semakin kuat beritanya dengan pengakuan langsung dari para pelaku, baik yang berada di luar masjid maupun yang di dalam masjid. Sumber berita saya sangat banyak sekali. Awalnya, Dzul Akmal mendirikan sebuah masjid di desa ini. Dikarenakan akhlak Dzul Akmal dan sebagian muridmuridnya yang buruk dan kasar maka sebagian orang kampung menyerang masjid. Atas kejadian penyerangan masjid tersebut maka Dzul Akmal meminta bantuan Laskar Jihad untuk memberikan pelajaran kepada orang-orang kampung yang diduga telah melakukan penyerangan terhadap masjid. Bantuan Laskar Jihad ini datang dari beberapa daerah yaitu dari Medan, Jambi, Padang Kota dan dari Jawa. Setelah sholat shubuh mereka menculik orang-orang kampung (yang diduga menyerang masjid) dengan membawa senjata tajam lalu dibawa ke dalam masjid, bahkan bom molotov pun sudah dipersiapkan. Orang-orang yang diculik tadi ada yang berpakaian bantol dan ada yang masih pakai kain sarung. Pasukan LJ dipencar, mayoritas berpencar di luar masjid dan ada juga yang di dalam masjid. Adapun nasib tawanan di dalam masjid sudah ana dengar sejak tahun 2000. Tentu para korban yang diculik tersebut bercerita kepada keluarganya dan orang-orang kampung lainnya sehingga kejadian ini tersebar sampai ke sebagian penduduk Pekanbaru. Setelah saya berada di Indonesia ada pelaku yang menceritakan keadaan tawanan dalam masjid sama seperti yang saya dengar pada tahun 2000. Kejadian di dalam masjid, tidak perlu saya tulis terperinci di sini karena sangat aib sekali, mudah-mudahan kamu dan pelaku-pelaku yang lainnya tentu masih ingat apa yang kalian lakukan terhadap tawanan di dalam masjid. Cukuplah bahasa global sebagaimana ungkapan salah satu pelaku yang bercerita kepada saya dengan mengatakan, Kami dulu di Kubang Pekanbaru, seperti komunis tidak ingat dosa lagi. Kemudian setelah agak siang, tawanan dikirim ke Rumah Sakit Polisi dalam keadaan babak belur. Selanjutnya pasukan LJ berpencar menyebar mulai dekat LANUD sampai dekat persimpangan Desa Teratak Buluh, kurang lebih sepanjang 2-3 KM. Mendengar kejadian ini maka marahlah para pemuda kampung sehingga mereka keluar membawa senjata tajam mengepung pasukan LJ yang saat itu sebagian mereka memblokir pintu gerbang bagian utara Kota Pekanbaru dan menurunkan setiap penumpang serta menginterogasi mereka dengan senjata tajam. Alhamdulillah datanglah pasukan Brimob menyelamatkan pasukan LJ diantara mereka ada

37 | P a g e

yang luka dan cacat. Kemudian MUI Pekanbaru menjadi perantara perdamaian dengan penduduk Desa Kubang, Kampar (pinggiran Kota Pekanbaru), masjid harus ditinggalkan dari Desa tersebut dan juga beberapa rumah ikhwan. Akibat perbuatan Dzul Akmal yang saat itu merupakan pimpinan ponpes Al Furqon, Jalan Duyung Pekanbaru, diantara wali murid sampai ada yang pindah rumah ke Sumatera Barat karena ketakutan akan ada serangan balasan dari orang kampung. Akibatnya juga, rusaklah citra Salafy di Pekanbaru dan sekitarnya, rusaklah citra orang berjenggot dan berjubah, rusaklah nama Ponpes Al Furqon, rusaklah nama Universitas Madinah. Bahkan setelah kejadian itu, pernah lewat rombongan Jama'ah Tabligh di desa tersebut kemudian disiksa sampai sekarat sama orang kampung walaupun orang JT itu teriak Kami bukan orang LJ. Dan orang melayu Riau hanya beberapa orang yang belajar dengan Dzul Akmal, banyak diantara mereka memilih belajar dengan da'i-da'i Yayasan Ubudiyyah. Dan lebih khusus lagi rusaklah nama Dzul Akmal di Riau, sehingga Dzul Akmal kesulitan untuk membuat ta'lim rutin di masjid-masjid Pekanbaru pada saat itu. Saya pernah mengusahakan ta'lim rutin di masjid dekat rumah orang tua saya. Setelah talim rutin mulai berjalan, kemudian dilarang oleh pengurus masjid dengan alasan karena Dzul Akmal berkasus di Kubang dan kasus-kasus lainnya. Adapun saya tetap diperbolehkan mengisi ta'lim rutin di Masjid Al Mubin Jalan Paus - Marpoyan Damai. Ketika ana sampaikan hal ini kepada Dzul Akmal agar dia jangan isi ta'lim lagi, sebagaimana ucapan pengurus masjid, Dzul Akmal malah berkata kepada saya Antum juga berhenti isi ta'lim di Masjid Al Mubin. Dimanapun antum isi ta'lim, anapun harus ikut bergantian. Akhirnya ta'lim di Masjid Al Mubin saya bubarkan. Bahkan ketua RT di lingkungan pondok Dzul Akmal Rimbo Panjang, masih

mempermasalahkan kasus Kubang. Fakta ini saya ketahui langsung karena ketua RT sempat berbincang langsung dengan saya, ketika saya masih di Pekanbaru. Saya sudah bertanya kepada orang-orang yang pernah dekat dengan Dzul Akmal seperti Utsman Pariaman, Abu Ibrohim, Bang Anto Riau, Abdullah Cawas (Padang), Muhammad Umar Armen Aceh, seorang ikhwan Perawang Riau. Semuanya mengatakan tidak pernah mendengar bahwa Dzul Akmal menyatakan taubat dari tragedi Kubang. Begitu juga Abu Hanun sudah bertanya kepada Bapak Dasrul Riau dan berkata hal yang sama (tidak pernah dengar Dzul Akmal menyatakan taubat), hanya pernah dengar menyatakan taubat dari LJ. Wahai Dzulakmal ! apa-apa yang kamu lakukan terhadap tawanan di dalam masjid, tidakkah itu menyerupai perbuatan premanisme atau khowarij atau komunisme atau semuanya sekaligus ???? 6) Telah bercerita kepada saya Utsman Pariaman, telah bercerita Abu Fatimah Padang Kota (penanggung jawab ta'lim), Dulu kami telah mendirikan Tahfidzul Qur'an di Padang Kota dengan pengajar dua orang wanita yaitu Husna dan Mar. Kami kontrakkan mereka sebuah

38 | P a g e

rumah dan mengajar anak-anak kami disana kemudian ustadz Dzul Akmal pada suatu malam memerintahkan abang Ujang, menjemput mereka ke Padang dan membawa mereka ke Pekanbaru tanpa sepengetahuan kami sebagai pengurus tahfidz Padang. Saya bertanya kepada Afni (kakaknya Husna di Bukit Tinggi), apakah abang Ujang ada singgah di Bukit Tinggi membawa mahrom untuk Husna? Dia berkata, Tidak ada, kami hanya tahu Husna sudah sampai ke Pekanbaru. (Ini kejadian pada tahun 2001) 2. Dzul Akmal Dungu Dan Bongak Dalam Bicara, Tidak Berilmu Serta Emosi Dikedepankan Teriak Kepada Orang : Dungu Dan Bongak Dalam Bicara, Tidak Berilmu Serta Emosi Dikedepankan. Dzul Akmal berkata: "Di Syiar A'lam an-Nubala', Imam Dzahabi jika disampaikan kepada dia oleh seorang alim, apakah diminta mana kasetnya?..... Pernah mereka demikian.. mana kasetnya ?..... Tidak ada di zaman a'immah salaf bertanya kepada imam fulan, syaikh fulan mana kaset mana rekaman.. Kalau begitu para hadadiyyun jangan pergunakan internet.. tidak ada di zaman Rasulullah sahabat dan tabiin.. Kadang-kadang nampak dungu dan bongak dalam bicara, emosi, tidak berilmu itu akibatnya.. Emosi dikedepankan. Masalah rumah pakai keramik tidak boleh ghuluw.. Rumah masyaikh di Saudi bertingkat, dua tingkat hingga tiga tingkat itu ghuluw katanya tidak mengerti makna ghuluw.. Ghuluw itu dalam makna ibadat manhaj, aqidah dan akhlak.. Nggak seluruhnya.. Jadi orang naik mobil ghuluw?..... Jadi jalan kaki?..... Dari Pekanbaru ke sini jalan ghuluw jalan kaki ghuluw namanya. Komentar Saya : Bongak dalam bahasa Pekanbaru artinya bodoh. Bukti-bukti Dzul Akmal dungu dan bongak dalam bicara, tidak berilmu, serta emosi dikedepankan : 1) Wahai Dzul Akmal!! Di zaman Imam Dzahabi belum ada kaset, komputer, handphone dan peralatan teknologi lainnya. Jelas tidak ada diminta kaset, 2) Mereka orang yang tsiqah (terpercaya), jujur, zuhud dan waro' sementara kamu pendusta, pembual pasaran dan peminta-minta (lihat bagian di atas), 3) Justru kamulah yang mengedepankan emosi. Bukan hanya emosi dalam bicara tapi sudah terkenal bahwa kamu seorang pemarah, egois dalam berbicara.. seperti kereta api terhadap lawan bicara, bermulut runcing dan berakal licik cerdik buruk, 4) Pakai keramik ataupun tidak terhadap sebuah rumah adalah masalah dunia. Yang jadi masalah, apakah rumah itu berasal dari hasil keringat sendiri ataukah hasil dari meminta kesana kemari sampai orang-orang yang mendengarnya pun merasa malu. Yang menjadi pokok persoalan, apakah meminta-minta itu adalah suatu amalan yang syar'i???, 5) Lagi-lagi Dzul Akmal membuat fitnah, apakah kamu pura-pura dungu dan bongak atau sengaja

39 | P a g e

membuat kedustaan lagi? Tampak kamu memotong-motong pembicaraan, bahwa rumah bermarmer adalah guluw. Padahal pada teks tulisan saya (Tanggapan Terhadap Muhadhoroh Abul Mundzir Dzul Akmal -hadahulloh-) berkenaan dengan oleh-oleh umrohmu Sya'ban 1432 H adalah sindiran terhadap kamu yang berbunyi : APAKAH MEMBANGUN SEBUAH MESJID LALU DI BANGUN DI DEKATNYA RUMAH BESAR PENJAGA MESJID JAUH LEBIH MEGAH, BERMARMER DARIPADA MESJID, BAHKAN RUMAH TERSEBUT DARI HASIL MEMINTA- MINTA ADALAH SYAR'I?? ATAU GHULUW?? Jadi pokok pembicaraannya

adalah MINTA-MINTA BUKAN BERMARMER. Dasar kamu tidak punya malu, sedangkan orang-orang banyak yang merasa malu melihat dan mendengar penggalangan dana untuk rumahmu. Kenapa kalender ma'hadmu pada tahun-tahun pertama tidak ditampilkan rumah besar lagi mewahmu? Sementara yang ditampilkan adalah gambar mesjid yang belum sempurna dan asrama santri sederhana dari papan? Sungguh menyolok sekali bagi orang yang menyaksikan langsung! 3. Dzul Akmal -hadahulloh- Tidak Beradab Teriak Kepada Orang Harus Beradab Dzul Akmal berkata : Saya bilang belajar adab, menuntut ilmu tidak cukup ilmu saja, belajar adab. Adab dengan Ulama', adab dengan sesama teman-teman belajar........ adab dengan kitab...... belajar adab. Adab bukan hanya kepada guru saja, dengan teman-teman juga, dengan kitab yang kita pelajari. Adab dengan dzumala' kita yang sepantaran. Adab sangat penting bagi kita terutama terhadap ulama. Sesama dzumala' kita. Sepantaran kita sesama penuntut ilmu atau sesama du'at sepantaran kita..... sesama du'at yang lebih tua, beradab. Jika kita tidak beradab, orang-orang pun tidak akan beradab pada kita. Komentar saya: Telah bercerita kepada saya Azmi Aceh : Pernah dia ikut ta'lim dengan Dzul Akmal beberapa tahun lalu di rumah kontrakan untuk Tadribud Duat (TD) Pekanbaru. Sebelum mulai ta'lim, Dzul Akmal menepuk kepala seorang bapak-bapak yang berada di dekatnya seraya berkata, Mano aia den (Mana air untuk saya). Bapak tersebut gugup dan terkejut sementara ikwan tersenyum tertawa-tawa. Kata Azmi, ''Sejak saat itu saya tidak taklim dengan Dzul Akmal lagi. Wahai Dzul Akmal kamu berbicara adab, adakah kamu mempraktekan ucapan kamu? Mana adab kamu terhadap mesjid? Mana adab utusanmu? (hasil kesepakatan rapatmu pada saat kamu mengadakan dauroh di Jambi). Apa yang kamu lakukan terhadap ummat Islam di dalam Mesjid Kubang Pekanbaru tahun 2000?? Dan apa yang kamu lakukan terhadap Mesjid Jambi? Kamu berlagak seperti orang beradab bahkan takut dari bohong dan dusta pahahal fakta yang sebenarnya menunjukkan kebalikannya. ALLAH berfirman :

40 | P a g e

]:[ ]:[
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi ALLAH bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Ash Shof : 2-3 ) Dan firman ALLAH tentang Nabi Syu'aib :


Artinya : Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan ) apa yang aku larang. (QS. Huud : 88) Berkata 'Atahiyah Asy-Syaa'ir : Engkau mensifati taqwa seakan-akan engkau pemilik taqwa, padahal aroma busuk kesalahanmu menghempaskannya( taqwa). Dan berkata Abul Aswad Ad Duwali : Jangan kamu melarang akhlaq yang buruk, sedangkan kamu yang mendatanginya, sungguh kehinaan atasmu kalau sampai kamu perbuat. Tapi, mulailah dengan dirimu dan larang nafsumu dari kejahatannya. Maka jika engkau bisa berbuat demikian engkaulah sang bijak. Dari situ akan diterima jika engkau mencurahkan nasehat dan di ikuti dengan ucapanmu dan di sana bermanfa'at ta'limmu. Berkata Ibnu Qudhamah Al Maqdisi dalam kitab Mukhtashor Minhajul Khosidin menyebutkan banyak adab di antaranya adab makan, berkumpul untuk makan dan bertamu. Kitab adab bekerja mata pencarian dan keutamaanya, dalam bab ini Ibnu Qudhamah menyebutkan keutamaan bekerja dan anjuran atasnya baik dalam al Quran dan juga perilaku para anbiya' (Halaman 7576). Tidak ada para nabi itu meminta-minta pada manusia. Dan bukankah kamu sudah terkenal sebagai seorang peminta-minta? Dalam kitab ini juga dijelaskan mengenai adab pergaulan persaudaraan dan berhubungan dengan manusia. Di bab ini halaman 89 menyebutkan : Keutamaan berakhlak mulia diantaranya hadits Abu Darda' radhiyallohu'anhu dari nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda : Tidak ada sesuatu yang paling berat pada timbangan seorang mukmin di hari kiamat dibandingkan dengan akhlak yang baik. (Riwayat Tirmidzi no. 2003, Ahmad no. 26971 dishohihkan Albani) Nabi shallallahu alaihi wasallam ditanya : Perkara apakah yanga paling banyak memasukan manusia ke surga? Beliau menjawab : Taqwa kepada Alloh dan berakhlak yang baik. (Sanad Hasan dikeluarkan Tirmidzi no. 2004, Ahmad no. 9403 dihasankan Albani) Ibnu Qudamah dalam kitabnya tersebut juga membahas Kitab Adab 'Uzlah (Menjauh Dari Pergaulan Manusia) dan Mukholathoh (Bercampur Dengan Manusia) halaman 102-109.

41 | P a g e

Selain itu juga disebutkan tentang Adab Safar, Kitab Adab Mata Pencarian Dan Akhlaq Kenabian. (halaman 110-112) Berkata ibnu Qudhamah pada halaman 134 : Ketahuilah sesungguhnya adab dzohir (penampilan) alamat dari adab batin. Dan gerak-gerik anggota tubuh merupakan buah dari perasaan dan amal-amal merupakan buah dari akhlaq. 4. Dzul Akmal hadahullah- Meremehkan Masalah Pribadi Kezholiman Dengan Manusia Bukan Manhaj Dzul Akmal berkata : Seluruh kita punya pribadi..... Tidak ada manusia yang tidak punya masalah pribadi..... Kekurangan pribadi.. Masalah hutang piutang..... Masalah ini dan itu..... Begini begitu..... Begono.. Ente kalau bantah saya..... Manhaj saya bantah.. Tunjukkan, satu..manhajnya begini kan begitu.. Komentar saya: Benar setiap orang mempunyai kekurangan pribadi dan kesalahan pribadi akan tetapi apakah terus menerus berbuat demikian dan menjadi kebiasaan sehingga dia terkenal dengan watak tersebut? Bukankah kamu menerangkan orang mukmin itu saksi saksi Alloh di muka bumi? Mereka menyaksikan aqidah, akhlaq dan adabnya ? Dan bagaimana dengan banyaknya manusia yang telah menyaksikan, mendegar langsung ucapan dan tindak tanduk kamu? Apakah kamu mau memperbaiki diri? Apakah sudah hilang rasa malu di mukamu? Bukankah dulu sekitar tahun 1997 kamu berkelahi terus dengan orang sekitar kamu di Yayasan Ubudiyyah, lalu datanglah Abdul Hakim Abdat ke Pekanbaru mengumpulkan kamu dan orang sekitarmu ternyata semua permasalahan kembali pada lisan kamu. Kamu mencaci maki ini itu, menuduh ini itu, seterusnya. Sehingga kalian dinasehati, bertangisan lalu maaf-maafan. Kemudian datanglah Ja'far Umar Tholib ke Pekanbaru memberikan pilihan, masalah pribadi selesai, masalah manhaj belum selesai, ikut saya atau Abdul Hakim Abdat. Kemudian kamu memilih bersama Ja'far Umar Tholib sehingga orang-orang yang sudah terlanjur sakit hati dengan lisanmu lari dari kamu. Bukankah Armen Halim Naro Lc. Al Minangkabawi rahimahulloh ketika masa LJ dulu pernah membongkar kebobrokan kamu bahkan mulai dari kamu kecil sampai jadi ustadz salafi saat itu? Dan juga dua orang muridmu Abdul Qodir Fauzi dan Harist Abu Ja'far telah menulis tentang dirimu pada tulisan mereka yang berjudul : Dzul Akmal Undercover #1 dan Dzul Akmal : Undercover #2 yang juga mengungkap tentang kebobrokanmu? Ucapanmu itu menunjukkan bahwa kamu secara tidak langsung mengakui apa yang ditulis oleh mantan murid-muridmu dan apa yang dikatakan oleh manusia, adakah kamu memperbaiki diri? Tidak dipungkiri manusia mempunyai kekurangan, akan tetapi apabila kekurangan pribadi tadi berkaitan dengan kebiasaan mendzolimi manusia padahal sudah dinasehati, diingatkan dan

42 | P a g e

dibicarakan namun tidak juga berubah dan bertaubat bahkan terus berlanjut dengan volume terus membesar apakah boleh dibiarkan/ditolerir? Bahkan dibela dengan kedok itulah masalah pribadi? Kalau seandainya dibawa ke ranah hukum bisa jadi jatuh hukuman, lalu bagaimana dengan kedzoliman yang akan dimintai pertanggungjawaban nanti di akherat? Ini berarti kamu mengangap akhlaq prilaku bukan dari pada dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan salaf pendahulumu, padahal pada daurohmu di Jambi kamu menekankan pentingnya masalah adab. Lantas kenapa kamu jarh (cela) Dzulqornain Bengakalis sebagai Dajjal padahal kasusnya sama dengan kamu kedzoliman harta manusia? Bukankah kamu telah mendzolimi Abu Umamah Jakarta, dan lainnya?? Jika masalah pribadi berkaitan dengan kurang baiknya urusan-urusan yang mubah, tidak ada kaitan dengan agama misalnya tersinggung dalam sebuah ungkapan, canda dan lain-lain maka tidak boleh mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam. Hadist Abu Ayyub, bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :


Artinya : Tidak halal bagi seseorang mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam, keduanya bertemu lalu ini berpaling dan yang itu juga berpaling, dan yang terbaik dari keduanya adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam. (Bukhori no. 6077 dan Muslim no. 2560) Oleh karena itu hukum asal memboikot (mendiamkan saudaranya) adalah haram dan termasuk dosa besar jika lebih dari tiga malam. Dari Ibnu Umar sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :


Artinya : Tidak halal bagi seorang mu'min memboikot saudaranya lebih dari tiga hari. (HR. Muslim no. 2561) Dari Abu Huroiroh sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :


Artinya : Dibuka pintu-pintu surga setiap hari Senin dan hari Kamis, maka diampuni setiap hamba yang tidak berbuat syirik kepada ALLAH sedikitpun, kecuali seseorang yang diantara diri dia dan saudaranya ada permusuhan, maka diucapkan : perhatikanlah dua orang ini sehingga keduanya berdamai, perhatikanlah dua orang ini sehingga keduanya berdamai, perhatikanlah dua orang ini sehingga keduanya berdamai. (HR. Muslim no. 2565)

43 | P a g e

Dari Abu Huroiroh berkata, Bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :


Artinya : Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari tiga hari, barangsiapa yang memboikot lebih dari tiga hari lalu meninggal, maka dia masuk neraka. (HR. Abu Daud : 4916, dan dishohihkan oleh Imam Albani) Dari Abi Khirasy As Sulami sesungguhnya dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :


Barang siapa yang memboikot saudaranya selama setahun, maka seperti menumpahkan darahnya. (HR. Abu Daud no. 4917, dishohihkan Imam Albani di Ash Shohihah no. 928) Dalam Al Adabul Mufrod Imam Al Bukhori no. 402 dari hadist Hisyam ibn Amir Al Anshori (sepupu Anas ibn Malik) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan muslim yang lainnya lebih dari tiga malam, karena keduanya menyimpang dari kebenaran selama masih dalam sikap mendiamkan. Adapun yang pertama kembali, maka kembalinya yang lebih dahulu itu menjadi penebusnya. Jika mereka berdua meninggal dunia dalam keadaan tetap saling mendiamkan, maka semuanya tidak akan masuk surga selamanya. Jika salah satunya telah mengucapkan salam kepada yang lain, tetapi yang lain enggan untuk menerima ucapan dan salamnya, maka malaikat yang akan menjawab salamnya, sedangkan yang lain dijawab oleh syaithan. (Shohih Al Irwa' 7/95 dan As Shohihah 1246) Diriwayatkan oleh 'Abdullah ibn Mubarak dalam Kitab Az Zuhud dengan sanad shohih dari Abul 'Aliyah, dia berkata : Aku banyak mendengarkan hadits-hadits tentang dua orang yang saling memutus hubungan, semuanya keras dan yang paling ringan dari apa yang aku dengar adalah : keduanya senantiasa menjauh dari kebenaran selama dalam keadaan demikian. (Hadits no. 728) Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan hadist riwayat Bukhori no. 6077 : Hadits-Hadits ini dijadikan sebagai dalil atas siapa yang berpaling dari saudaranya muslim, tidak mau berbicara dengannya, mengucapkan salam padanya maka dia berdosa. Karena menolak kehalalan menunjukkan haramnya dan orang yang melakukan perkara harom berdosa. (Fathul Baari Jilid 10 hal. 609) Maka perkara-perkara pribadi yang tidak berkaitan agama, seperti kurang baiknya urusan-urusan duniawi yang mubah, lebih utama memberikan ma'af atau 'uzur. Maka tidak sepantasnya bagi seorang muslim hanya disebabkan oleh ketersinggungan

44 | P a g e

dalam permasalah mubah, duniawi yang tidak ada kaitannya dengan hukum permasalahan agama lantas membuat makar, menebar fitnah dan kekejian, mencaci-maki dan namimah, bergaul dengan pelaku ma'siat, pelaku kedholiman, kefasikan, dan lain sebagainya bahkan yang seperti ini merupakan cerminan dari jiwa yang kerdil, picik dan hina-dina. Adapun hikmah diperbolehkan masalah di atas, memboikot tiga hari dan tidak boleh lebih dari tiga hari adalah sebagaimana perkataan Al Hafidz Ibnu Hajar : Zhohirnya diperbolehkan boikot selama tiga hari dan itu termasuk kelembutan, karena Bani Adam mempunyai emosi, perilaku jelek dan semisalnya, sehingga emosi itu sirna atau berkurang dalam tiga hari. Berkata Imam Nawawi : Harom boikot diantara ummat Islam lebih dari tiga malam sesuai

dengan nash dan dibolehkan boikot tiga hari sesuai dengan mafhum hadits. Sesungguhnya di maafkan yang demikian karena Bani Adam mempunyai emosi, maka ditoleransi dengan ukuran tersebut agar sirna kekesalannya/ emosinya. Hajr (Boikot) adalah lawan dari Washal (Menyambung), Tahajur (Saling melakukan hajr/ boikot) maknanya saling memutus hubungan. Imam Ibnu Hajar berkata : Hajr (boikot) seseorang tidak berbicara dengan yang lain tatkala berteman. Imam Al 'Aini berkata Hajr adalah tidak berbicara dengan saudaranya sesama mumin tatkala bertemu, dan masing-masing dari keduanya berpaling dari yang lain tatkala berkumpul. (Umdatul Qori 22/141) Adapun apabila masalah pribadi tadi berkaitan dengan hak-hak manusia (kedzolimankedzoliman) maka bisa diseret di ranah hukum di dunia. Dan apabila terkait dengan bid'ah, kekufuran, kesyirikan dan kemaksiatan maka pelakunya diboikot terus hingga dia menyatakan taubat. Berikut ini merupakan dalil-dalil larangan mendzolimi manusia :

]:[

Artinya : Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. (QS. Asy Syura : 42) Dari Abu Huroiroh dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda : Artinya : Barangsiapa di sisinya ada kedzoliman terhadap saudaranya baik pada urusan harta atau kehormatan maka hendaklah dia mendatanginya minta penghalalan (kedzoliman) dari saudaranya sebelum dihukum dan dia tidak mempunyai dinar dan dirham, maka jika dia (orang dzolim) memiliki kebaikan-kebaikan, diambil kebaikan-kebaikannya lalu diberikan kebaikan

45 | P a g e

tersebut kepada sudaranya (yang terdzolimi) dan apabila kebaikannya habis maka diambil kejelekan-kejelekan saudaranya (yang didzolimi) lalu dilemparkan kepadanya (orang dzolim) kemudian dia dilemparkan ke neraka. (HR. Bukhori no. 6534) Dari Abu Huroiroh sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Artinya : Apakah kalian tahu siapakah orang yang bangkrut itu? Mereka menjawab : Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak mempunyai dirham dan harta perhiasan. Beliau menjawab : Orang bangkrut adalah orang yang datang dengan membawa pahala sholat, zakat, puasa, sementara itu dia juga telah mencaci-maki orang ini menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu dan memukul orang ini, maka diberikan kebaikankebaikannya kepada orang yang ia dzolimi. Dan terhadap orang ini (dari kebaikan-kebaikanya), tatkala kebaikan-kebaikanya habis sebelum diputuskan urusan-urusan atasnya diambil dari kesalahan-kesalahan mereka (orang yang didzolimi) lalu kesalahan tersebut dilempar kepadanya, kemudian ia dilempar ke dalam neraka. (HR. Muslim no. 2581)

Berkata Syaikh Kholid Adz Dzufairi Dalam Buku Ijma' Al Ulama' 'Ala Hajri Wa Tahdzir Min Ahlul Ahwa' Halaman 139 (Ijma' Ulama' Atas Pemboikotan Dan Peringatan Terhadap Ahlul Hawa)
Ucapan Al Imam Ibnu Abdil Barr (wafat 463 H), berkata rohimahulloh, Ulama ijma bahwasanya tidak boleh bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari 3 hari, kecuali dikhawatirkan dari pembicaraan dan hubungan dia dengannya (saudara) akan merusak agamanya atau menimbulkan kepada dirinya bahaya pada urusan agama atau urusan duniawinya, maka jika demikian keadaannya, diberi keringanan untuk terus menjauhinya (saudara). Aku berkata (Syaikh Kholid) : Telah datang hadits-hadits shohih tentang ancaman dan larangan pemboikotan seorang muslim terhadap saudaranya lebih dari 3 malam. Sebagaimana dalam Shohihain dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda:


Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam, keduanya bertemu yang ini berpaling dan yang itu berpaling maka yang paling terbaik antara keduanya adalah yang lebih dahulu memberi salam. (HR. Bukhori no. 6077 dan Muslim no. 2560)

46 | P a g e

Pemboikotan yang disebutkan dalam hadits ini adalah karena emosi terhadap sebuah urusan mubah yang tidak ada kaitan dengan agama. Adapun pemboikotan ahlul bid'ah maka tidak termasuk dalam hadits ini, karena ada nash-nash lain tentang pemboikotan ahlul bid'ah, dan pelaku maksiat serta ijma'ulama atas pemboikotan ahlul bid'ah selamanya. Berkata Al Imam Al Baghowi rohimahulloh : Dan larangan tentang pemboikotan diatas 3 hari adalah karena kejadian diantara dua orang yang bermula dari kekurangan dalam hak-hak pergaulan dan muamalah, bukan karena dari sisi agama. Sesungguhnya pemboikotan ahlul hawa dan bida' wajib sepanjang waktu selama belum tampak taubat darinya dan ruju'. (lihat hal 133-134) Perkataan Abul 'Abbas al Qurtubi (wafat 656 H), Berkata Abul 'Abbas Ahmad bin 'Umar al Qurtubi setelah penyebutan pengharoman boikot diatas 3 hari : Dan pemboikotan yang kami sebutkan adalah berkaitan dengan emosi terhadap sebuah urusan mubah yang tidak ada kaitan dengan agama. Adapun pemboikotan karena maksiat dan bid'ah maka wajib terus menerus sampai dia tobat dari perbuatan tersebut, dan tidak ada perbedaan dalam perkara ini. (Al Mufhim 6/534) -Lihat buku Ijma' Ulama Ala Hajri Wa Tahdzir Min Al Ahwa' halaman 139Adapun dalil tentang memboikot pelaku ma'siat adalah : Hadist Ka'ab bin Malik yang mengisahkan dirinya tidak ikut serta dalam perang Tabuk bersama dua orang temannya tanpa uzur (disebutkan dalam Shohih Bukhori no. 4418 dan Muslim no. 2769)

- - - - - - - - - - -
47 | P a g e

- - - - - - - . - - - - - - . . . - - . - - - - - - . . . - - . - - - -
48 | P a g e

. . - - - - . . . . - - - - . . - - . . - - - - - - - - - .
49 | P a g e

- - . - - - - - . . - - . - - . - - - - - - ( ) ( ) - - ( ) ( ) . - - - - ( ) . 7572 7492 8492 9492 0592 8803 6553 9883 1593 3764 6764 7764 8764 5526 0966 5227 - 13111 - 9/6
Berkata al Hafidz Ibnu Hajar dalam Kitab Fathul Bari Jilid 8 Halaman 156 : Dalam hadits tersebut, bolehnya meninggalkan salam atas orang yang berbuat dosa dan boleh memboikotnya lebih dari 3 hari. Adapun larangan memboikot di atas 3 hari diberlakukan .)untuk pemboikotan yang terjadi karena bukan alasan yang syari (agama

50 | P a g e

Dalam Shohih Bukhori Kitabul Adab (78) Bab (63) :

- . ( 36 ) - - - .
Apa-Apa Yang Diperbolehkan Dari Pemboikotan Orang Yang Berbuat Ma'siat Dan Berkata Kaab bin Malik Saat Tidak Ikut Perang Tabuk Bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam Melarang Kaum Muslimin Berbicara Dengan Kami Dan Dia Menyebutkannya Selama 50 Malam. Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar di Fathul Bari 10/610 : Ini penjelasan boikot yang diperbolehkan karena keumuman larangan dikhususkan bagi orang yang tidak memiliki sebab syar'i terhadap boikotnya. Maka jelaslah bahwa boikot yang diperbolehkan adalah karena maksiat, maka diperbolehkan bagi yang mengetahuinya untuk memboikotnya. Berkata Ibnu Muflih dalam Al Adab Asy Syar'iyyah 1/247 : Disunnahkan memboikot pelaku maksiat yang melakukan dengan terang-terangan, baik dengan perbuatan, ucapan dan keyakinan. Lalu beliau menyebut pasal tentang : Memboikot Orang-Orang Kafir, Fasiq dan Ahli Bid'ah Yang Menyeru Kebid'ahannya, Yang Menyesatkan dan Lainnya 1/255. Dalilnya firman ALLAH taala :

]:[
Artinya : Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zholim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada ALLAH, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. (QS. Huud : 113) Berkata Al-Qurtuby dalam Al Jami' 9/108 : Ayat ini menunjukkan diboikotnya orang-orang kafir, pelaku maksiat dan ahli bid'ah dan selain mereka, karena sesungguhnya bergaul dengan mereka adakalanya merupakan kekufuran atau kemaksiatan, sebab pergaulan tidak terjalin melainkan kecintaan. Dan firman ALLAH ta'ala :

]:[

Artinya : Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithon menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang

51 | P a g e

yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). (QS. Al An'am : 68) Berkata At-Thobari dalam tafsirnya 5/255 : Ayat ini dalil yang jelas tentang larangan duduk-duduk bersama dengan ahlul bathil dari berbagai jenis, ahlul bid 'ah, orang fasiq, tatkala mereka tenggelam dalam kebatilan. Adapun taubat itu wajib pada setiap dosa. Jika dosa-dosa itu terkait dengan hubungan antara seorang hamba dengan Allah ta'ala, tidak ada berkaitan dengan manusia maka dengan tiga syarat : 1) Melepaskan diri dari maksiat tersebut, 2) Menyesal atas perbuatan tersebut, 3) Bertekad tidak mengulangi perbuatan tersebut selama-lamanya, Jika hilang salah satu dari pada tiga syarat ini, maka tidak sah taubatnya. Adapun jika dosa-dosa yang berkaitan dengan hak manusia maka tiga syarat di atas ditambah syarat yang keempat : 4) Melepaskan diri daripada hak manusia. Jika berkaitan hak harta maka dikembalikan kepadanya. Jika berkaitan kehormatan maka minta maaf/ penghalalannya. 5. Mentahdzir Karena Masalah Agama Bukan Karena Khusumah (Pertengkaran) Pribadi Dzul Akmal berkata : Tulisan mereka di internet celaan Dzul Akmal kadzab.. Kadzab Subhanallah kapan saya punya khusumah pribadi dengan Thagut Bengkulu. Tidak ada jama'ah rohimakumulloh. Jawaban saya : Kadzab artinya pendusta, Khusumah artinya pertengkaran. Adapun masalah kedustaan, sudah saya paparkan di atas, bukti-bukti Dzul Akmal pembohong besar/ pendusta besar. Kemudian sudah saya paparkan juga di atas antara boikot terlarang, yaitu dalam masalahmasalah mubah duniawi yang tidak berkaitan dengan agama dan boikot syar'i dalam masalah pelaku maksiat, bid'ah, kesyirikan dan kekufuran sampai pelakunya taubat. Jujurlah wahai Dzul Akmal, Apakah Abu Turob dan selainnya mentahdzir kamu karena pertengkaran pribadi yang mubah, tidak berkaitan dengan agama? Ataukah mentahdzir kamu murni karena permasalahan agama? Sekarang saya kembalikan kepada kamu, kamu banyak mentahdzir manusia baik da'i dan bukan da'i, apakah ada pertengkaran pribadi mubah keduniawian dengan kamu ataukah berkaitan masalah hukum agama?? Ataukah sudah menjadi kebiasaan kamu bertengkar dan berselisih dengan manusia? Sehingga kamu sudah menduga ditahdzir (diperingatkan) karena ada perselisahan pribadi?? Atau beginikah caramu dalam menjatuhkan lawanmu bukan dengan hujjah Al Quran dan Sunnah? Ya Dzul. jangan sampai ummat salah asuhan memahami hukum agama karena bualanmu yang penuh dengan hawa nafsu. Kalau begitu, sekarang siapakah sesungguhnya yang dungu, bongak dan mengedepankan emosi?? Makanya ya Dzul sebelum berbicara

52 | P a g e

bercerminlah dulu, karena yang kamu bualkan cerminan dirimu sendiri. 6. Dzul Akmal hadahullah Memperolok Sho Nabawiyah Dzul Akmal berkata: Ini pulang umroh yang dibawa Sho Nabawi.. Tau gak kalian gantang beras itu.. Pulang dari umrah itu ketemu syaikh ini, syaikh ini.. Komentar saya: Wahai Dzul kamu mengejek Abu Turob yang pergi umrah namun tidak bertemu dengan seorang syaikhpun juga, dan oleh-olehnya hanya Sho Nabawi. Ini menunjukkan kesombongan kamu lagi membanggakan diri bertemu ulama. Apakah menurut kamu merupakan sebuah pelanggaran syar'i apabila ada seseorang yang ingin mengetahui Sho Nabawi secara langsung? Justru dengan memiliki Sho Nabawi tersebut, seorang muslim bisa memperaktekkan secara langsung takaran/ukuran yang lebih mendekati sunnah dalam pembayaran fidyah maupun zakat fitr. Dalam hal ini kamu juga memfitnah Abu Turob menghubungkan Sho Nabawiyah dengan penolakan fatwa Syaikh Utsaimin tentang takaran berapa kilogram per Sho. Ulama saja berbeda pendapat tentang takaran satu Sho itu berapa Kilogram. 7. Dzul Akmal hadahullah Meramal Atau Buruk Prasangka? Dzul Akmal berkata: Nanti kasih ni.. Ini kasetnya Ustadz.. Kaset suara Syaikh Muhammad.. Nanti dia bilang, Tanya lagi tu! Ini bukan suara Syaikh Muhammad. Ditanya lagi, Mana suaranya! Nanti dibilang lagi, Ini bukan suara Syaikh Muhammad. (Dzul Akmal tertawa). Dia tahu gak Syaikh Muhammad? Pernah gak ente ketemu Syaikh Muhammad? Muhammad Ja'far kapan ketemu Syaikh Muhammad? Keluar pun baru dia. Iya nggak? Dia ke Dammaj tu rahimakumullah, dari Dammaj juga pulang ke Indonesia, Haji pun belum pernah dia. Orang seperti ini ada iblis di belakangnya, yang kasih kepada dia bahan-bahan yang aneh, supaya apa? Menolak kebenaran.. Ujungnya menolak.. Apapun kebenaran yang datang dari Syaikh Rabi', Syaikh Muhammad bin Hadi ditolaknya.. tidak akan diterima Ya syabab Komentar Saya: Wahai Dzul Akmal.. saya berlindung kepada Allah ta'ala dari godaan, gangguan iblis dan syaithon terkutuk. Saya dan orang-orang yang bersama saya berlindung kepada Allah ta'ala dari makar dan hasadmu serta pembeo-pembeomu. Wahai Dzul Akmal dari mana kamu tahu di belakang saya ada iblis? Apakah kamu sekarang bisa meramal? Atau kamu bisa mengetahui sesuatu yang ghaib? Atau apa??? Wahai Dzul Akmal dari mana kamu tahu seperti itu, sehingga kamu membuat dialog yang menggambarkan seakan-akan dialog akan terjadi antara saya dan pemberi kaset, sehingga saya tidak percaya itulah suara Syaikh Muhammad. Wahai Dzul Akmal.. Saya percaya yang kamu bacakan itu adalah Fatwa Syaikh Muhammad. Bukankah sebagiannya sudah kamu sampaikan sepulang dari umroh bulan Sya'ban kemarin?

53 | P a g e

Adapun ejekan kamu kepada saya mengenai permasalah haji, sudah saya jelaskan pada pembahasan sebelumnya. 8. Dzul Akmal hadahullah Sombong Lagi Membanggakan Diri Dzul Akmal berkata terhadap Abu Turob : Menemui Syaikh Rabi seperti mau menemui bapaknya atau kakaknya. Rumah Syaikh Rabi gak tahu dia. Telepon Syaikh Rabi gak tahu dia. Siapa murid terdekat Syaikh Rabi yang bisa dihubungi gak tahu dia.. Komentar saya : Wahai Dzul Akmal tampak sekali kamu sombong membanggakan diri. Apakah pantas bagi seseorang yang mengaku dekat dengan Syaikh Rabi seperti kamu lantas dengan dengan bangga menghina dan mengejek orang yang belum berkesempatan untuk bertemu beliau hafizhohulloh? Wahai Dzul Akmal sadarlah bahwa itu semua semata-mata keutamaan dan izin dari Allah ta'ala bukan karena kepintaran dan kehebatan seseorang. Allah ta'ala berfirman tentang orang yang sombong dan membanggakan diri :

]:[ ...
Artinya : Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. An-Nisa : 36)

]:[

Artinya : Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman : 18)

]:[
Artinya: Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. AlHadid : 23) 9. Dzul Akmal hadahulloh Mentazkiyah (Merekomendasi) Dirinya Sendiri. Dzul Akmal berkata : Sampai hari ini belum ada Syaikh yang mengatakan saya hizbi. Dzul Akmal juga menyebutkan ucapan Syaikh Usamah Athoya, Laa Yadhurruka (tidak membahayakan engkau). Tatkala beliau membaca tulisan yang disebutkan Abul Mundzir, jam'iyyin, mutassawil (orang yayasan dan peminta-minta). Dzul Akmal juga menyebutkan ucapan Syaikh Kholid Arroddadi tatkala ada orang Indonesia yang menceritakan keburukan Dzul Akmal kepada beliau dan beliau tidak percaya. Komentar saya : Saya sudah bertemu denganmu semenjak tahun 1995. Kamu membanggakan diri sebagai ustad

54 | P a g e

salafi karena banyaknya surat tazkiyah (rekomendasi) dari masyaikh Saudi sementara ustadustad lain satu pun tidak punya padahal sebenarnya itu surat syafaat untuk mohon bantuan dana kepada donatur. Wahai Dzul Akmal apakah semua yang kamu banggakan itu bisa menjadi surat sakti dan penjamin bahwasanya kamu tidaklah termasuk orang yang menyimpang atau mengikuti hawa nafsu? Berkata Syaikh Sholeh Fauzan dalam bukunya Syarh Syarhus Sunnah, halaman 12 : Seorang manusia hendaknya memohon kekokohan kepada Allah walaupun dia sudah mengetahui perkara hak dan mengamalkannya, dan meyakininya, maka tidak ada jaminan bagi dia untuk menyimpang dan terfitnah. Akan datang fitnah-fitnah dan menyelimutinya, dan dia sesat dari jalan Allah ta'ala oleh karena inilah Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :


Artinya : Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hatiku di atas agama engkau. (Shohih, Dikeluarkan Tirmidzi No. 2140, Ibnu Majah No. 3834, dan Ahmad 3/112, 257) Dan berkata Al Kholil Nabi Ibrohim alaihi sholatu wasallam di dalam doanya :

]:[
Artinya : Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata : Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhalaberhala. (QS. Ibrohim : 35)

]:[

Artinya : Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ibrohim : 36) Beliau takut terhadap diri sendiri (terkena fitnah), demikianlah semakin kuat iman seseorang kepada Allah, maka sesungguhnya dia semakin takut, dan tidak ada jaminan aman dari fitnahfitnah, dan janganlah dia mentazkiyah (merekomendasi) dirinya sendiri, tetapi memohon kekokohan kepada Allah, penutupan yang baik, terus-menerus dan selama-lamanya dan takut dari su'ul khotimah (penutupan yang buruk) dan takut dari fitnah-fitnah, takut dari penyimpangan dan kesesatan, dan dari da'i yang jelek. Dan pada halaman 30 Syaikh berkata : Barang siapa yang mengikuti hawanya sesungguhnya

55 | P a g e

dia keluar dari agama dan walaupun pada masa yang masih jauh, tahapan pertama peremehan terhadap penyelisihan syar'i dan hawa, kemudian membesar mengikuti hawa sampai keluar dari agama maka hawanya menjadi agamanya sebagaimana firman Allah ta'ala :

]:[
Artinya : Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. Al Jaatsiyah : 23) Maka hawa merupakan sesembahan yang lain, dan syirik tidaklah terbatas pada penyembahan patung atau berhala saja, akan tetapi di sana ada sesembahan lain yaitu hawa. Seorang manusia bisa jadi dia tidak menyembah patung, pohon-pohon, batu-batu, dia tidak menyembah kuburan, akan tetapi mengikuti hawanya maka seperti ini budak bagi hawanya maka hendaklah bagi seorang manusia untuk berhati-hati dan janganlah dia mengikuti kecuali apa-apa yang sesuai dengan Al Kitab dan As Sunnah. Tidak ada hujjah bagi orang yang menyelisihi dan mengikuti hawanya, sesungguhnya dia sesat setelah penjelasan (setelah ilmu),


Artinya : Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya. (QS. Al Jaatsiyah : 23) Dia bukan orang bodoh, bahkan dia mengetahui Al Kitab dan Sunnah, mengetahui ucapan Ahlu Ilmi, akan tetapi itu semua tidak mencocoki hawanya, maka dia meninggalkannya dan mengambil apa-apa yang cocok dengan hawanya saja, maka inilah kesesatan. Dan perlindungan hanyalah kepada Allah. Maka mengikuti hawa adalah berbahaya sekali, hendaklah seorang manusia berhati-hati mengikuti hawa. Allah jalla wa'ala berfirman kepada nabi-Nya Daud alaihis sholatu wasallam :

]:[

Artinya : Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang

56 | P a g e

sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. Shood : 26) Ibnul Jauzi memiliki kitab berjilid besar yakni Zammul Hawa (Celaan Hawa), menyebutkan di dalamnya dalil-dalil dan ucapan ahlul ilmi dan hikmah-hikmah yang memperingatkan dari mengikuti hawa. Maka wajib bagi manusia untuk berhati-hati dari hawa, sesungguhnya seseorang bisa selamat dari penyembahan patung, batu-batu, pohon-pohonan dan kuburan, dia mengetahui tauhid dan sunnah, akan tetapi tidak selamat dari mengikuti hawanya dan inilah musibah besar. Maka hendaklah seorang muslim berhati-hati dari mengikuti hawanya dan hendaklah hawanya mengikuti apa-apa yang dibawa Rasul shollallahu alaihi wasallam sebagaimana dalam hadist beliau bersabda : Artinya : Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian sehingga hawanya mengikuti apa-apa yang kubawa. (Arbain An Nawawi Hadits No. 41) 10. Dzul Akmal pencela ulama teriak mencela ulama. Dzul Akmal berkata : Fitnah..fitnah jangan kita orang awam begini.. kalau datang fitnah.. ulama dibikin sinting olehnya.. seluruh ulama bingung dibuatnya.. Komentar saya: Disini Dzul Akmal telah mencela seluruh ulama dengan mensifati mereka sebagai sinting. Wahai Dzul apakah ulama menjadi sinting karena fitnah ini? 11. Dzul Akmal Hubbu Zuhur (Cinta Popularitas) Teriak Hubbu Zuhur. Dzul Akmal berkata: Imam Tsaqolain itu dipuji.. dia senyum senyum saja.. dia hubbu zuhur.. ingin melebihi Syaikh Robi. Syaikh Yahya muncul setelah Syaikh Muqbil meninggal. Ittaqillah orang yang hubbu zuhur.. punggungmu akan di hancurkan oleh ALLAH azza wajalla. Komentar saya: Kamu mencela Syaikh Yahya hubbu zuhur artinya cinta popularitas atau cinta tampil. Dari

manakah kamu mengetahui bahwasanya Syaikh Yahya itu hubbu zuhur? Berhubungan dengan permasalahan Imam Tsaqolain sudah pernah saya bahas pada tulisan saya sebelumnya Makar Dzul Akmal dan Luqmaniyyun Terhadap Masjid Jambi (bahwa orang yang memuji Syaikh Yahya dengan pujian seperti itu telah menyatakan rujuk setelah dinasehati). Bahkan kamulah sesungguhnya yang hubbu zuhur itu. Ini berkaitan dengan akhlak salaf sementara kamu tampak meremehkan masalah ahklak dan tidak memasukannya ke dalam manhaj ahlussunnah wal jamaah. Dalam Kitab Aina Nahnu Min Akhlak As-Salaf karya Abdul Aziz bin Naashir dan Baha'uddin bin Fatih Aqil halaman 23 Bab : As-Salaf dan Kebencian Mereka Terhadap Popularitas, disebutkan :

57 | P a g e

Dari Habib bin Ali Tsabit berkata: Ibnu Masud pernah keluar suatu hari, lalu manusia mengikutinya (dari belakang), maka Ibnu Mas'ud berkata kepada mereka, Apakah kalian mempunyai kebutuhan? mereka menjawab, Tidak ada, akan tetapi kami hanya ingin berjalan bersama engakau. Ibnu Masud berkata, Pulanglah, sesungguhnya hal demikian merupakan kerendahan bagi yang diikuti dan fitnah bagi yang mengikuti. Dari Bisthom bin Muslim berkata, Bahwasanya Muhammad bin Sirin apabila ada seorang laki-laki berjalan bersamanya, dia berhenti dan bertanya : Apakah engkau ada kebutuhan? Wahai Dzul Akmal bukankah kamu hubbu zuhur (cinta popularitas)? Bukankah jika safar untuk ta'lim, kamu maunya pakai mobil pribadi bahkan sekarang meningkat, maunya naik mobil mewah, mengajak ikhwan-ikhwan ikut? Sehingga menambah pembiayaan anggaran makan bersama oleh panitia pengundang. Sudah populer di Riau kalau kamu datang maunya dijamu dengan masakan Padang dan lauk enak beraneka ragam dan juga buah-buahan bahkan sampaisampai ummahat (ibu-ibu) Jawa di Perawang Riau harus latihan masak masakan Padang agar dapat bergilir menjadi juru masak ketika jadwal ta'lim kamu. 12. Dzul Akmal hadahullah Menggelari Utsman Thowil Pariaman Anjing Ini pernyataan Utsman kepada saya via telepon, Utsman Pariaman dulunya adalah orang dekat Dzul Akmal. Dia diajak pindah ke Pekanbaru untuk menjadi pendamping dan juru masak di mahad Dzul Akmal. Kemudian Utsman belajar ke Bengkulu, tiba-tiba ditahzir oleh Dzul Akmal sebagai Dajjal. Kemudian ditambahkan lagi dengan kata-kata Anjing ketika Utsman kerja di sebuah rumah makan di Pekanbaru sejak bulan Syawal. Pada waktu itu Dzul Akmal sempat mengirim sms kepada majikan tempat Utsman kerja, yang isi smsnya Assalamualaikum Warohmatullah, Abu Intan baa ceto anjiang tu? Ndak biso nyo antum kaluakan, tolong anak antum yang di tahfizh ndak usah di antakan belajar juo dulu ka tahfizh bisa?(Artinya : Abu Intan bagaimana cerita anjing itu? nggak bisa ya kamu mengeluarkannya, tolong anak kamu yang di tahfizh tidak lagi diantarkan belajar ke tahfizh bisa?). ---sms Dzul Akmal ke Abu Intan tanggal 13 September 2011--Komentar saya : Telah bercerita Utsman Thowil Pariaman kepada saya via telpon dan juga saat bertemu saya di Bengkulu : "Tahun 2002 Dzul Akmal memberikan hadiah beberapa kitab dari Saudi kepada Ustadz Bukhori di Padang (sekarang beliau di Prabumulih Sumatera Selatan). Kemudian pada tahun 2003, kitab-kitab tersebut diambil lagi oleh Dzul Akmal tersebut tanpa sepengetahuan Ustadz Bukhori. Saat ditanyakan kepada Dzul Akmal tentang perkara tersebut, dia menjawab "Boleh menurut Imam Asy Syaukani."" Berkaitan dengan perbuatan yang semisal itu ada larangan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi

58 | P a g e

wasallam sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :

: - - : ((

. )) . : : (( )) . . )) ((
Artinya : Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu 'anhuma sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Orang yang kembali pada hibahnya seperti anjing yang kembali pada muntahnya. (Muttafaqun 'alaihi) Dalam riwayat lain : Perumpamaan orang yang kembali pada shodaqohnya seperti anjing muntah kemudian kembali pada muntahnya lalu dia memakannya. Dalam riwayat lain: Orang yang kembali pada hibahnya seperti kembali pada muntahnya.

- - : ((

- - : . )) .

Dari 'Umar bin Khattab rodhiyallohu 'anhu berkata : Aku menshodaqohkan seekor kuda fisabilillah, lalu penerimanya menyia-nyiakan kuda di sisinya, maka aku ingin untuk membelinya dan aku menyangka sesungguhnya dia menjual kuda tersebut dengan harga murah, lalu aku bertanya kepada Nabi shollallahu 'alaihi wasalam beliau bersabda : "Jangan engkau membelinya dan jangan engkau kembali kepada shodaqoh engkau walaupun dia memberikan engkau dengan dirham. Sesungguhnya orang yang kembali kepada shodaqohnya seperti orang yang kembali kepada muntahnya." (Muttafaqun alaihi) Penyebutan Anjing dalam Al-Quran Al-Quran membuat perumpamaan seorang alim yang menyimpang sebagai anjing. Kecintaannya kepada dunia, mengikuti hawa nafsu dan perasaan tidak pernah puas akan menggelincirkannya. Allah taala befirman :

]:[ ]:[
Artinya : Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan (derajat) nya dengan ayatayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demkian inilah perumpamaan orang-orang

59 | P a g e

yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat dzalim. (QS. Al Araf : 176-177) Terkait dengan sebab turunnya ayat ini, dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan : "Ulama berbeda pendapat siapa orang alim tersebut : 1. Menurut Ibnu Masud, dia adalah seorang dari Bani Israil bernama Balam bin Baauro. 2. Menurut Ibnu 'Abbas, dia adalah Shifi bin ar Rohib, Berkata Qotadah dan berkata Kaab : "Dia seorang dari penduduk Balqo yang mengajarkan isim akbar dan menetap di Baitul Maqdis bersama penguasa. 3. Menurut Abdullah bin Amr, dia adalah Umayyah bin Abi ash Sholt Mayoritas berpendapat bahwa dia adalah Balam, ulama Bani Israil yang hidup di masa Nabi Musa 'alaihis sallam. Menurut Ibnu Abbas, Balam ini ahli ibadah dan diberikan Alloh taala 3 (tiga) doa mustajab. Menurut Syaikh As Sadi dalam tafsirnya, dalam ayat-ayat ini terdapat beberapa pelajaran : 1. Motivasi beramal dengan ilmu, sesungguhnya dengan sikap demikian mendapat derajat tinggi di sisi Allah taala dan perlindungan dari godaan syaithan, 2. Ancaman beramal tanpa ilmu yang menyebabkan tergelincir ke derajat paling rendah dan dikuasai syaithan, 3. Bahwasanya mengikuti hawa nafsu menyeret pelakunya kepada syahwat sehingga menjadi sebab kehinaan. BAB 5 : GHURUR (TERTIPU, TERBUAI, TERLENA) BENCANA BAGI ORANG BERILMU Banyak sekali ucapan-ucapanmu pada dauroh oleh-oleh umrohmu bulan Sya'ban 1432 H kemarin dan dauroh Jambi Syawal 1432 H kamu membanggakan diri, mengaku dekat dengan Masyaikh, melecehkan Abu Turob yang tidak bertemu dengan Masyaikh di Saudi. Tidak ketinggalan juga kamu menyebutkan keutamaan-keutamaan umroh ke umroh selanjutnya yang menghapus dosa-dosa. Komentar saya : Wahai Dzul Akmal semoga kita semua dilindungi oleh Allah ta'ala daripada penyakit jiwa, seperti ghurur (tertipu/ terbuai), 'ujub, sombong dan lagi membanggakan diri. Berkata Ibnu Qoyyim di buku Ad Da'u Wad Dawa' (Penyakit dan Obatnya) halaman 20 : Dan seperti ghurur (tertipu/ terbuai)-nya sebagian mereka (orang-orang bodoh) tentang keutamaan shaum (puasa) 'Asyuro dan Arofah sehingga sebagian mereka berkata : shaum hari 'Asyuro menghapus dosa-dosa setiap tahunnya dan shaum Arofah sebagai tambahan pahala. Dan orang ghurur (tertipu/ terbuai) tidak mengetahui, bahwa shaum Romadhon dan sholat lima waktu lebih

60 | P a g e

agung, lebih mulia daripada shaum hari 'Asyuro dan Arofah, yaitu menghapus dosa-dosa diantara kedua hari tersebut apabila menjauhi dosa-dosa besar. Maka Romadhon ke Romadhon selanjutnya dan Jum'at ke Jum'at selanjutnya tidaklah bisa untuk penghapusan dosa-dosa kecil kecuali masuk di dalamnya menjauhi dosa-dosa besar, maka jadilah berkumpul dua perkara tersebut untuk penghapusan dosa-dosa tersebut. Maka bagaimana shaum tathowwu' bisa menghapus setiap dosa besar yang dikerjakan seorang hamba sementara dia terus-menerus melakukan dosa tidak taubat darinya. Ini mustahil, sesungguhnya tidaklah tertolak bahwasanya shaum Arofah dan Asyuro menghapus seluruh dosa-dosa setahun atas keumumannya dan termasuk dari nash-nash janji yang mempunyai syarat-syarat, penghalang-penghalang, sehingga terus-menerus dia di atas dosa-dosa besar menjadi penghalang daripada penghapusan dosa-dosa. Apabila seseorang tidak terus-menerus melakukan dosa besar, maka pahala shaumnya dan sikap tidak terus-menerus dalam dosa besar tersebut, kedua amalan tersebut membantu untuk mendapatkan keumuman penghapusan dosa-dosa, sebagaimana shoum Romadhon dan sholat lima waktu, apabila diiringi dengan menjauhi dosa-dosa besar kedua amalan tersebut akan mendukung penghapusan dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Allah ta'ala telah berfirman :

]:[
Artinya : Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. An Nisa' : 31) Berkata Asy Syaikh Sa'di dalam tafsirnya : Dan ini merupakan keutamaan ALLAH dan ihsan-Nya atas hamba-Nya mukminin, telah menjanjikan untuk mereka, apabila mereka menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang maka diampuni bagi mereka seluruh dosa-dosa dan kejelekan. Dan memasukkan mereka ke tempat yang mulia, banyak kebaikan yaitu surga. Selesai. Menurut Ibnu Taimiyyah definisi dosa besar adalah setiap perbuatan yang ada hudud di dunia, atau ancaman diakhirat, penolakan iman, dapat laknat dan kemurkaan. Pada buku yang sama ibnul Qoyyim berkata di halaman 21-22 : Dan telah berkata Abu Umamah bin Sahal bin Hanif : Aku dan Urwah bin Zubair masuk kepada 'Aisyah rodhiyallohu anha maka dia berkata : Seandainya kalian berdua melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada sakit beliau sementara di sisiku ada enam atau tujuh dinar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkanku untuk membagikannya. Berkata 'Aisyah : Sakitnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyibukkanku sehingga Allah menyembuhkan beliau, kemudian beliau bertanya kepadaku tentangnya (dinar). Beliau bertanya : Apa yang telah engkau perbuat? Apakah engkau telah membagikan enam dinar? Aku jawab, Tidak, demi Allah sungguh sakit engkau telah

61 | P a g e

menyibukkanku. Berkata 'Aisyah : Beliau memintanya (dinar) lalu meletakkan di telapak tangannya, seraya bersabda Apa dugaan Nabi Allah jika dia bertemu dengan Allah sementara uang ini masih di sisinya? Dan di riwayat lain Apa dugaan Muhammad dengan Rabb-Nya seandainya menemui Allah dan harta ini masih di sisinya. -Shohih, (HR.Ahmad 6 /104)Maka demi Allah, apa dugaan pelaku dosa-dosa besar dan kezholiman terhadap Allah, jika mereka menemui Allah sementara kezholiman-kezholiman terhadap manusia masih ada di sisinya? Maka jika ucapan mereka berbaik sangka dengan Allah itu bermanfaat, Allah tidak mengazab orang zholim dan orang fasik, maka silahkan seorang hamba berbuat apa yang dia kehendaki dan hendaklah dia melakukan dosa setiap apa yang dilarang Allah ta'ala terhadapnya, dan silahkan berbaik prasangka terhadap Allah, bahwa api neraka tidak akan menyentuhnya sama sekali. Maka Subhanallah betapa sifat ghurur (tertipu/terbuai) telah mencapai puncaknya pada seorang hamba. (Ad Da'u wad Dawa' hal.21-22). Kesimpulannya: Nabi shallallahu alaihi wasallam saja sangat takut meninggal sementara belum menyampaikan hak manusia, beliau benar-benar takut menzholimi manusia. Kita berlindung kepada Allah ta'ala daripada sifat ghurur (tertipu/ terbuai), dzholim sehingga terusmenerus melakukan dosa dan menzholimi manusia dengan kedok, Itukan masalah pribadi, tidak apa-apa, dan sepele. Tidak ada manusia yang terlepas dari masalah pribadi, bukan masalah manhaj, yang penting manhaj bersih. Penyakit ghurur ini adalah sebuah kebodohan yang membuat seseorang menilai yang buruk, jelek menjadi sesuatu yang baik dan kesalahan menjadi suatu kebenaran. Sehingga menipu dan membuai pelakunya. Berkata Ibnu Qudamah dalam bukunya Mukhtashoru Minhaajul Qosyidin Kitab Ghurur Pembagian dan Derajat- Derajatnya : Pasal penjelasan golongan-golongan yang ghurur : Penyakit ghurur kebanyakan terjadi pada empat golongan manusia : yaitu ulama, ahli ibadah, golongan sufi dan hartawan. Golongan pertama : Ulama (Orang-orang yang berilmu), yang ghurur diantara mereka beberapa kelompok : Diantara mereka, ada yang menekuni ilmu-ilmu syar'i, akan tetapi mereka melalaikan pengawasan dan penjagaan anggota badan mereka dari maksiat-maksiat, lalai membiasakan diri dalam keta'atan. Mereka ghurur (tertipu, terbuai dan terlena) dengan ilmu mereka dan menyangka mereka sudah mempunyai kedudukan di sisi ALLAH. Seandainnya mereka (orang-orang berilmu) melihat dengan basyiroh (ilmu) mereka, tentulah mereka mengetahui bahwa ILMU TIDAKLAH DIMAKSUDKAN DENGANNYA KECUALI AMAL , KALAULAH BUKAN DIIRINGI TERSEBUT TIDAK BERHARGA/ BERNILAI). AMAL TENTULAH ILMU

62 | P a g e

ALLAH taala telah berfirman :

]:[
Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan dirinya (QS. Asy- Syams : 9) ALLAH tidaklah berfirman : Telah beruntung orang-orang yang mempelajari bagaimana cara mensucikan dirinya. Orang yang terkena penyakit ghurur ini, bila syaithan membisikkan kepadanya keutamaan-keutamaan orang-orang berilmu, maka hendaknya dia mengingat ayat-ayat yang menerangkan tentang orangorang berilmu fajir (berilmu tapi senantiasa berbuat dosa), seperti firman ALLAH ta'ala :

]:[
Artinya : Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajatnya)dengan ayat- ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menggulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. Al A'rof : 176) Dan firman ALLAH ta'ala :

]:[
Artinya : Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat ALLAH itu. Dan ALLAH tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim. (QS. Al Jumu'ah : 5) Dan kelompok lain dari mereka : sekelompok yang menekuni ilmu dan amal zhohir (lahiriyah ), tapi tidak mengawasi qolbu (hati) mereka, agar membersihkan diri mereka dari sifat-sifat yang tercela seperti sombong, iri hati/ dengki, riya' (dalam amal), suka tampil dan tinggi (dari orang lain), mencari popularitas. Mereka telah menghiasi penampilan mereka, akan tetapi melalaikan perbaikan bathin mereka, dan lupa sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam :


Artinya : Sesungguhnya ALLAH tidak melihat kepada penampilan-penampilan kalian dan harta benda kalian, akan tetapi ALLAH melihat kepada qolbu (hati) dan amal kalian. (HR. Muslim no. 2564

63 | P a g e

dan Ibnu Majah no. 4143 dan Ahmad no. 7768) Mereka memeperhatikan amal zhohir (lahiriyah) dan tidak memperhatikan urusan qolbu (hati), padahal hati adalah pondasi, tidaklah selamat kecuali orang yang datang kepada ALLAH dengan hati selamat. Perumpamaan mereka seperti seseorang menanam tanaman, kemudian tumbuh dan tumbuh juga di sela-selanya rerumputan yang merusaknya, maka diperintahkan untuk mencabut rerumputan tersebut, maka dia memotong batang dan cabangnya dan tidak mencabut akarnya, maka senantiasa akarnya tumbuh lagi. Dan sekelompok lain : Sesungguhnya akhlaq-akhlaq bathin tersebut tercela (sombong, dengki, iri hati, suka tampil dan tinggi dari orang lain, dan lain-lain). Tetapi karena sifat 'ujub (bangga diri) pada diri mereka, mereka merasa telah bebas dari sifat-sifat tercela tersebut. Mereka merasa lebih tinggi di sisi ALLAH untuk diujikan pada mereka sifat-sifat itu. Bahkan menurut mereka yang tertimpa sifat-sifat itu adalah orang awam bukan orang yang mencapai kedudukan ilmu. Apabila muncul dalam diri mereka percikan kesombongan dan kepimpinan, maka berkatalah salah seorang dari mereka : Ini bukan kesombongan, bahkan ini adalah demi kemuliaan agama, dan menampakkan kemuliaan ilmu, menolong agama ALLAH, dan merendahkan ahlul bid'ah, sesungguhnya jika aku berpakaian rendahan, dan duduk di majlis rendahan, maka musuh-musuh agama akan mencelaku, gembira dengan kerendahanku, dan pada kerendahanku merupakan kerendahan pada islam. Mereka tertipu dan terlena, mereka menggodanya untuk berbuat seperti ini. Dalilnya yakni bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para shahabatnya rodhiyallahu anhum tawadhu dan mengedepankan kefakiran dan kesederhanaan (Mukhtashor Minhajul Qosyidin halaman 224-225). lupa dengan penyakit ghurur. Sesungguhnya iblislah yang

BAB 6 : KEDUDUKAN AKHLAK DALAM ISLAM Akhlak adalah perangai atau tabiat dan merupakan gambaran batin seorang manusia. Dan di antara tujuan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam: shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana sabda Rasulullah


Artinya : Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (Shohih, dikeluarkan Ahmad Jilid II hal. 381, Al Hakim di Mustadrak Jilid II hal. 613 dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani di Ash Shohihah hal. 45) Oleh karena itu akhlak tidak bisa dipisahkan dari Islam, barangsiapa yang baik keislamannya tentu

64 | P a g e

baik pula akhlaknya dan barangsiapa yang buruk akhlaknya maka itu tidak terlepas karena buruknya keislamannya. Sebagaimana sabda beliau shallallahu alaihi wasallam :


Artinya : Seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka. (Shohih Riwayat Abu Dawud No. 4684, At Tirmidzi No. 1195) Karena gambaran Islam itu ada pada pribadi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Allah ta'ala telah memuji beliau dengan firman-Nya :

]:[

Artinya : Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al Qolam : 4)
Di sisi lain Allah ta'ala telah banyak mensifati Al Qur'an di antaranya :

]:[
Artinya :

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (QS. Al Isra : 9)

]:[

Artinya : Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. An Nahl : 64) Jadi barangsiapa yang ingin mengetahui bagaimana praktek Al Qur'an secara sempurna, maka hendaklah memperhatikan kepribadian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang telah digambarkan oleh istri beliau Aisyah radhiyallahu 'anha, Sa'ad bin Hisyam bin Amir bertanya kepada Aisyah radhiyallahu 'anha : Wahai Ummul Mukminin, beritahukanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Aisyah menjawab : Bukankah engkau membaca Al Qur'an? Aku menjawab : Ya. Aisyah menjawab : Sesungguhnya akhlak Nabi Allah adalah Al Qur'an. (HR. Muslim) Kesimpulannya adalah mempelajari dan berhias dengan akhlak mulia merupakan sikap teladan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Sementara meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam merupakan manhaj salaf. Firman Allah ta'ala :

65 | P a g e

]:[
Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzaab : 21)

Berkata Abdul 'Aziz bin Nasir Jalil pengarang buku Aina Nahnu Min Ahlaq Salaf (Dimana Kedudukan Kita Dibandingkan Akhlah Salaf), sesungguhnya bukan sesuatu yang tersembunyi bagi setiap muslim yang menginginkan keselamatan bagi dirinya di dunia dan di akhirat untuk berpegang teguh dengan kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam dengan pemahaman salafush sholeh yang merupakan bahtera keselamatan bagi orang yang menginginkan keselamatan bagi dirinya. Sebagaimana sesuatu yang tidak tersembunyi juga bagi setiap penuntut ilmu yang menginginkan perkara al haq, bahwasanya istilah salafush sholeh adalah generasi-generasi utama yang dipimpin oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan generasi setelah beliau, para shahabat mulia dan para tabi'in. Akan tetapi di sana ada perkara penting di dalam manhaj salaf yang belum maksimal diperhatikan, dan dididik di atasnya padahal sangat penting dan termasuk pondasi manhaj salaf yaitu apa yang berkaitan dengan akhlak dan perilaku salaf. Sesungguhnya perkara yang sudah diketahui tatkala kita membicarakan manhaj salaf tidaklah yang kita maksudkan semata adalah sebatas ilmu dalam pemikiran saja, akan tetapi manhaj salaf menyeluruh sisi aqidah, ibadah, perilaku dan akhlak. Dan sesungguhnya orang yang memperhatikan kehidupan kita, segenap ahlussunnah pada masamasa belakangan ini, menyimpulkan adanya perbedaan jauh dan bentuk keterpisahan yang besar, baik yang menganggap banyak maupun sedikit antara sisi ilmu teoritis dengan sisi akhlak budi pekerti. Dimana termasuk hal yang biasa, seseorang terkadang melihat pada dirinya atau sebagian saudaranya dari para da'i sangat jauh dari akhlak salaf dan perilaku mereka. Maka termasuk sebuah keharusan ketika menjelaskan manhaj salaf dan mendakwahkannya, adalah juga dengan menjelaskan aqidah, fiqh, perilaku dan akhlak mereka. Maka sebagaimana seseorang tidak boleh hanya berpegang dengan akhlak salaf saja dengan meninggalkan akidah salaf. Maka demikian juga, seseorang tidak boleh sebatas memahami akidah salaf tanpa berpegang dengan prilaku dan akhlak salaf. Kalau seandainya kita kembali menelisik perjalanan salafush sholeh benar-benar kita mendapatkan suri tauladan terhadap manhaj salaf yang lengkap ini. Maka apabila kita tidak sempurna mengetahui perkara ini dan berpegang teguh dengannya, maka perkara tersebut akan tersembunyi dari kehidupan kita dengan izin Allah ta'ala. Ya, tidak akan ditemukan lagi seseorang di atas akidah salaf dalam tauhid uluhiyyah, asma' dan sifat,

66 | P a g e

memerangi bid'ah kemudian pada waktu yang bersamaan menyelisihi prilaku salaf dengan melakukan kedzholiman, kedustaan, ghibah, dengki dan mengikuti hawa nafsu. Dan dengan ungkapan lain, bahwasanya mempraktekkan manhaj salaf yang sempurna ini, harus menghilangkan kekeliruan yang kita maksudkan dalam pemaparan sekarang. Dan diantara hal yang menguatkan sisi akhlak pada manhaj salaf, adalah para ulama' telah menghimpun pembahasan masalah ahklak pada kitab-kitab yang mereka tulis dari dasar-dasar ahlussunnah wal jama'ah seperti Aqidah Al Wasithiyyah, Aqidah Ath Thohawiyyah dan lainnya. Dan diantara contoh itu semua ucapan imam Ash Shobuni ketika menerangkan akidah salaf di buku Aqidah Salaf Ashabul Hadits. (Aina Nahnu Min Ahlaqis Salaf halaman 4-5). BAB 7 : TITIP SOAL KEPADA ABUL MUNDZIR DZUL AKMAL HADAHULLOH Wahai Dzul Akmal selama ini kamu sudah dikenal mudah bertemu dengan syaikh Robi ataupun Syaikh Muhammad bin Hadi. Bahkan kamu suka mengadukan ustadz-ustadz yang tidak kamu senangi kepada mereka. Coba kamu tanyakan kepada Syaikh berkenaan dengan perilaku-perilaku dai dengan konteks pertanyaan sebagai berikut : 1. Apakah nasehat Syaikh berkenaan dengan seorang dai yang suka meminta-minta harta kepada manusia dengan dalih sebagai berikut : 1) Hadits yang dia berikan tidak bisa dinilai dengan dunia dan isinya. Berapakah harta yang mereka berikan? Bahkan dai ini jika ditolak, marah dan menjarh orang yang diminta hartanya sebagai bakhil, 2) Jika da'i bekerja atau punya usaha akan menghilangkan wibawanya karena zaman sekarang bukan seperti zaman Imam Ahmad lagi dan berkurang waktu untuk muroja'ah, persiapan ta'lim dan menyibukkan dari mengajar, 3) Tidak semua dai bisa bekerja atau berdagang dengan alasan tidak punya kemampuan, tidak ada kenalan atau tidak punya jiwa berdagang, 4) Tidak mungkin bekerja atau berusaha di luar rumah karena banyak ma'siat, 5) Da'i boleh meminta-minta jika ada di luar kebutuhan tetapnya seperti anak sakit atau istri sakit atau istri melahirkan, apalagi dia diundang untuk ngajar, 6) Jika da'i berhutang dengan murid-muridnya bagaimana bisa bayar sementara gaji bulanannya tidak cukup, lantas apakah hutangnya di wariskan kepada anak-anaknya?, 7) Da'i yang bisa iffah (tidak minta-minta ) hanya yang mempunyai kebun dan semisalnya, 2. Apakah nasehat Syaikh berkenaan dengan dai yang suka marah-marah dengan kaum lakilaki tapi ketika berbicara dengan ummahat, suaranya dibuat-buat lembut dan mesra? 3. Bagaimanakah dengan dai yang sudah memiliki anak istri, namun ketika di luar rumah, ia suka bermesraan via telpon dengan gadis anak orang sampai tengah malam bahkan sampai memberikan cindera mata?

67 | P a g e

4.

Apakah nasehat Syaikh terhadap seoarang dai pemarah yang suka berbicara cabul, kotor, porno seperti, Si fulan itu, pantatnya dekat masjid tapi masih suka terlambat ke masjid. (Ini hanya sebagai contoh saja, karena banyak bahasa cabul, kotor, porno yang lainnya yang memalukan untuk disebutkan semuanya)?

5. Bagaimanakah nasehat Syaikh tentang permasalahan Yayasan untuk sarana dakwah tanpa ada kondisi daruroh? 6. Bagaimanakah nasehat Syaikh dengan seseorang yang membuat radio dakwah tanpa izin pemerintah? Saya kira cukuplah sampai di sini tulisan saya berkaitan dengan tingkah laku dan kedustaanmu yang tanpa pikir panjang baik tentang Syaikh Yahya, Dammaj, Thulab Dammaj dan orang-orang yang bersama mereka. Adapun kedustaanmu mengenai manhaj ulama kibar, insya Alloh akan ada dalam judul tersendiri. Semoga nasehat-nasehat dan kritikan-kritikan yang sudah banyak ditulis oleh saudara-saudara kamu bisa menjadi bahan renungan untuk mengoreksi tindak-tanduk kamu dan memperbaiki lisan kamu yang buruk. Semoga Allah taala senantiasa memberikan taufik dan hidayahnya kepada kita semua.


Selesai ditulis tanggal 14 Rabiul Akhir 1433 H, di Kota Jambi Abu Abdillah Muhammad Jafar Al Kampari

68 | P a g e