Anda di halaman 1dari 166

Darul Hadits Dammaj Semoga Alloh Menjaganya- | 15 Ramadhan 1433H

SERI
LENGKAP
APEL MANA LAGI BUAT CAK MALANGI

ISNAD.Net

1




Mengingat Kembali
Kebusukan Abdul Ghofur Al Malangi












Ditulis oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsy Al Jawy Al Indonesy
-semoga Alloh memaafkannya-







Darul Hadits Dammaj
Yaman
-Semoga Alloh menjaganya-


2

Pengantar Penulis

:
Sesungguhnya Alloh taala telah menjadikan hati manusia beraneka ragam, ada
lembut dan mudah menerima kebenaran, ada sangat keras dan tidak bermanfaat baginya Al
Quran, tidak bisa tunduk luluh kecuali setelah dilebur dalam Jahannam. Di antara dua jenis
hati tersebut ada sekian banyak tipe hati.
Alloh taala berfirman kepada Bani Isroil:

/[

74 ]
Kemudian hati kalian menjadi kaku setelah itu. Maka hati kalian seperti batu atau lebih
kaku lagi. Dan sesungguhnya di antara bebatuan itu ada batu yang memancar darinya
sungai-sungai. Dan di antara bebatuan itu ada juga yang pecah lalu mengalir darinya air.
Dan di antara bebatuan itu ada juga yang jatuh karena takut pada Alloh. Dan Alloh itu
tidak lalai terhadap apa yang kalian kerjakan.
Al Imam As Sadiy berkata: Kemudian hati kalian menjadi kaku setelah itu yaitu:
menjadi keras dan tebal, sehingga tidak berpengaruh padanya nasihat. setelah itu yaitu
setelah Alloh memberikan kenikmatan pada kalian dengan berbagai kenikmatan yang
agung, dan memperlihatkan pada kalian tanda-tanda kebesaran-Nya, dan tidak sepantasnya
untuk hati kalian itu menjadi kaku, karena perkara yang kalian saksikan itu termasuk perkara
yang mengharuskan lunaknya hati dan ketaatannya. Kemudian Alloh menggambarkan
kekauan hati-hati mereka dengan: seperti batu atau lebih kaku lagi yang mana batu itu
lebih kaku daripada besi, karena besi dan timah itu jika dileburkan di dalam api, dia akan
melebur, berbeda dengan bebatuan. Firman Alloh atau lebih kaku lagi yaitu: hati kalian
tidak kurang kakunya dibandingkan dengan kakunya bebatuan. Dan bukanlah makna atau
di sini adalah bahkan. Kemudian Alloh menyebutkan keutamaan bebatuan daripada hati-
hati Bani Isroil tadi, dengan berfirman: Dan sesungguhnya di antara bebatuan itu ada
batu yang memancar darinya sungai-sungai. Dan di antara bebatuan itu ada juga yang
pecah lalu mengalir darinya air. Dan di antara bebatuan itu ada juga yang jatuh karena
takut pada Alloh maka dengan perkara-perkara inilah bebatuan tadi lebih utama daripada
hati kalian. Kemudian Alloh taala mengancam mereka dengan ancaman yang paling keras:
Dan Alloh itu tidak lalai terhadap apa yang kalian kerjakan bahkan Alloh itu mengetahui
amalan kalian dan mengawasinya, baik amalan yang besar ataupun yang kecil, dan Dia akan
membalasi kalian berdasarkan itu dengan balasan yang paling sempurna dan paling cukup.
(Taisirul karimir Rohman/hal. 55).
Itu kisah Bani Isroil, dan kita dilarang untuk menyerupai mereka atau meniru jejak
mereka. Al Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini berkata: Oleh karena
itulah Alloh melarang kaum Mukminin untuk menyerupai keadaan mereka. Alloh taala
berfirman:

3

/[ 16 ] .
Apakah belum tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk hati-hati mereka itu
tunduk kepada peringatan Alloh dan kepada kebenaran yang telah turun? Dan jangan
sampai mereka menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelum mereka, lalu masa
yang panjang berlalu atas mereka sehingga hati mereka menjadi kaku, dan kebanyakan
mereka itu fasiq.
(Tafsirul Quranil Azhim/1/hal. 304).
Demikian itulah keadaan seorang hizbiy pengekor hawa nafsu semacam Abdul
Ghofur Al Malangiy, yang hatinya penuh dengan kesombongan, tak mau tunduk kepada
kebenaran setelah runtuhnya argumentasi dan dakwaannya oleh hujjah-hujjah yang kokoh,
tajam dan bercahaya. Dia lebih suka memperpanjang perdebatan, jika kalah di suatu medan,
tidak mau mengikuti kewajiban dari Robbul alamin untuk rujuk dan mengaku kalah, tapi
melompat ke perkara yang lain. Aisyah berkata: Nabi bersabda:
.
Sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Alloh Alloh adalah orang yang suka
bertengkar dan paling suka berpindah-pindah. (HR. Al Bukhoriy (2457) dan Muslim (6951)).
Al Imam An Nawawiy berkata:() adalah orang yang sangat keras
perkengkarannya. Istilah ini diambil dari lafazh ( ) yaitu dua tepi lembah, karena
orang ini setiap kali kalah debat dengan suatu argumentasi, dia akan mengambil sisi yang
lain lagi. Adapun () adalah orang yang mahir bertengkar. Dan yang tercela adalah
pertengkaran dengan memakai kebatilan, dalam rangka menghilangkan kebenaran, atau
menetapkan kebatilan. Wallohu alam. (Al Minhaj/An Nawawiy/ 16/hal. 219).
Maka tipe orang macam ini jika tidak dirohmati Alloh, dirinya akan terus tercebur ke
dalam kebatilan dan hancur bersama dengan hancurnya kebatilan tadi. Al Khothib Al
Baghdadiy berkata: Wajib bagi setiap orang yang telah terbantah dengan kebenaran untuk
menerimanya dan tunduk padanya, dan janganlah berlama-lamanya dia dalam
pertengkaran dan perdebatan membawanya untuk masuk ke dalam kebatilan padahal dia
tahu hal itu. Alloh taala telah berfirman:

[ : 18 ]
Bahkan Kami melemparkan kebenaran kepada kebatilan sehingga kebenaran
menghancurkan kebatilan, maka tiba-tiba saja kebatilan itu sirna.
. (Al Faqih Wal Mutafaqqih/2/hal. 113/Maktabatut Tauiyatil Islamiyyah).
Orang yang mencermati tulisan-tulisan Abdul Ghofur malang ini, sepanjang tahun-
tahun pembelaannya terhadap hizbiyyin fujjar Mariyyin Luqmaniyyin dan upaya kerasnya
untuk merusak Salafiyyin, -dan sampai pada hari-hari ini- di bulan suci Romadhon 1433H-
akan mendapati benarnya apa yang saya paparkan barusan.
Sebagai contoh kecil, saya akan mengajak para pembaca mengingat kembali
kejahatan dan kebatilan orang ini di dalam tulisan dirinya Hampir-hampir Mereka Jantan
dan alur bantahan saya terhadapnya dengan judul Apel Manalagi Buat Cak Malangi
dengan sedikit perbaikan.
Pembaca yang mendapatkan taufiq dari Alloh taala akan bisa melihat betapa halus
dan lembutnya langkah yang saya tempuh di awal-awal seri, dengan hujjah yang sangat kuat
dan disertai dengan ketawadhuan, demi meninggikan kalimat Alloh dengan cara yang lebih

4
baik, dan demi menyadarkan si Dul dari kesesatannya. Akan tetapi seiring dengan waktu,
semakin nyatalah bagi saya akan kuatnya cengkeraman setan dan hawa nafsu di benak
orang ini, dan nampak sekali kesombongannya sehingga pada seri-seri berikutnya saya
terpaksa menampilkan tamparan dan cakaran, dan sebagiannya saya membalikkan kosa-
kata keji yang dipakai orang zholim ini sendiri terhadap Ahlussunnah.
Dan di akhir risalah akan saya tampilkan rangkuman catatan poin-poin keburukan
Abdul Ghofur Al Hizbiy, insya Alloh.
Taufiq saya hanyalah datang dari Alloh semata. Selamat menyimak.

Dammaj, 15 Romadhon 1433 H.


5

Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 1)






KESIAPAN UNTUK MENGIKUTI KEBENARAN
MESKIPUN PAHIT DAN MENYAKITKAN






Korektor:
Abu Turob Saif bin Hadhor Al Jawy Al Indonesy
-semoga Alloh memaafkannya-


Ditulis oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsy Al Jawy
Al Indonesy
-semoga Alloh memaafkannya-



Darul Hadits Dammaj
Yaman
-Semoga Alloh menjaganya-


6


Kata Pengantar Seri Satu


:
Telah datang kepada kami naskah tulisan dari seorang Muslim yang
beridentitas Abu Dzulqornain Abdul Ghofur dari kota Malang, yang berisi penuh
dengan caci-makian kepada Salafiyyin Dammaj dan yang bersama dengan
mereka. Juga berisi kesalahpahaman dan pengkaburan fakta. Namun ada juga
koreksian terhadap kesalahan yang dilakukan oleh sebagian ikhwan kita. Maka
sebagian dari ikhwan meminta ana -waffaqoniyallohu- untuk menanggapi surat
tersebut, menjawab pertanyaannya, dan menjawab kritikannya, dan meluruskan
perkara-perkara yang salah.
Berhubung banyaknya sisi yang dibidik, maka ana -waffaqoniyallohu- pun
membagi tulisan ini dalam beberapa seri ( ). Dan berhubung ini adalah awal
tegur sapa ana -waffaqoniyallohu- dengan Cak Dul Ghofur -waffaqohullohu-, ana
akan berusaha untuk menempuh gaya bahasa yang halus ( ).
Ana berharap jawaban ini bisa bermanfaat untuk beliau, dan keumuman
Muslimin-Salafiyyin. Hanya kepada Alloh kita mohon taufiq dan kelurusan.

Bab Satu: Kita Diciptakan Untuk Beribadah Kepada Alloh
taala Semata

Pada seri yang pertama ini penulis mengajak seluruh pembaca untuk
mengingat kembali bahwasanya kita diciptakan dan dihadirkan di dunia bukanlah
untuk main-main, ataupun banyak mengobrol, ataupun menghabiskan waktu
dengan nongkrong di internet.
Alloh ta'ala berfirman:
/[

115 ]
"Maka apakah kalian mengira bahwasanya kami menciptakan kalian untuk
kesia-siaan belaka, dan bahwasanya kalian tak akan dikembalikan kepada Kami?"
(QS. Al Mukminun: 115).
Justru kita semua diciptakan untuk suatu amanah yang agung, yang banyak
makhluk yang perkasa takut untuk memikulnya. Alloh ta'ala berfirman:



7
"Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah ini kepada langit-langit, bumi
dan gunung-gunung, tapi semuanya enggan untuk memikulnya dan takut
terhadapnya. Dan amanah itu dipikul manusia. Sesungguhnya dia itu sangat
zholim lagi sangat bodoh. Ini Alloh lakukan dalam rangka menyiksa para munafiq
yang laki-laki maupun yang perempuan, dan juga orang musrik yang laki-laki
maupun yang perempuan, dan agar Alloh menerima tobat orang-orang yang
beriman yang laki-laki maupun yang perempuan. Dan Alloh itu Ghofur (Maha
Pengampun) dan Rohim (Maha Menyayangi para hamba)." (QS. Al Ahzab: 72-73).
Al Imam Ibnu Katsir rohimahulloh- setelah menyebutkan beberapa
pendapat tentang makna amanah di sini, beliau berkata:

.
"Seluruh pendapat ini tadi bertemu dan kembali kepada makna pembebanan, dan
penerimaan perintah dan larangan disertai dengan syaratnya. Syarat tersebut
adalah: jika dia melaksanakannya sebagaimana mestinya, maka dia akan diberi
pahala. Tapi jika dia meninggalkannya, maka dia akan dihukum. Maka manusia
menerima amanah tadi dalam keadaan dia itu lemah, bodoh, dan zholim, kecuali
orang yang diberi taufiq oleh Alloh ta'ala. Hanya kepada Alloh sajalah kita mohon
pertolongan." ("tafsirul Qur'anil 'Azhim"/6/hal. 489).
Dan beban syariat kembali kepada makna ibadah, yang untuk itu kita
diciptakan. Alloh ta'ala berfirman:
/[

56 ]
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah
kepada-Ku." (QS. Adz Dzariyat: 56).
Dunia ini merupakan medan ujian untuk membuktikan siapakah yang
terbaik amalannya. Alloh ta'ala berfirman:
/[

7 ]
"Dan sungguh kami menjadikan apa saja yang di atas bumi itu sebagai perhiasan
untuk kami menguji mereka siapakah yang terbaik amalannya." (QS. Al Kahfi: 7).
Dan sungguh ujian itu amat dahsyat, berhasil memisahkan orang yang jujur
dan yang tidak jujur dalam memikul amanah tadi. Alloh ta'ala berfirman:


/[ 2 3 ]
"Apakah manusia mengira bahwasanya mereka itu dibiarkan mengatakan "Kami
beriman" dalam keadaan mereka itu tidak diuji? Sungguh Kami telah menguji
orang-orang sebelum mereka sebelum mereka sehingga Alloh mengetahui orang-
orang yang jujur dan mengetahui para pendusta." (QS. Al 'Ankabut: 2-3).
Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berkata:


8
"Ujian dan cobaan itu akan menampakkan jati diri orang-orang. Maka alangkah
cepatnya orang yang mengaku-aku itu terbongkar keasliannya." ("Badai'ul
Fawaid"/3/hal. 751).
Dan dengan ujian beban syariat dengan berbagai konsekuensinya tadi
terpisahlah manusia menjadi tiga kelompok: Mukminin, Munafiqin, dan Musyrikin.
Kaum Mukminin dikarenakan kesetiaan mereka kepada Alloh, maka merekapun
mendapatkan rohmat-Nya. Dan rohmat yang terbesar adalah ridho Alloh dan
Jannah-Nya. Memang jarang ada yang sempurna dalam melaksanakan amanah tadi.
Tapi Alloh telah menyiapkan ampunan-Nya buat para Mukminin yang punya usaha
untuk memenuhi tugasnya.
Adapun kaum Musyrikin, dikarenakan pembangkangan mereka terhadap
amanah dari Alloh tadi, maka merekapun disiksa. Demikian pula para Munafiqin
yang secara lahiriyah mengaku bersama Mukminin, tapi secara batiniyah justru
bersama Musyrikin. (lihat kembali tafsir Ibnu Katsir, dan lainnya terhadap akhir
surat Al Ahzab).
Jadi kesimpulannya: kita diciptakan untuk beribadah kepada Alloh ta'ala,
baik itu berupa amalan hati, lisan ataupun anggota badan. Ucapan Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyyah -rohimahulloh- dalam bab ini telah terkenal.
Dan amalan yang terbesar adalah: Iman kepada Alloh 'Azza Wajalla. Abu
Huroiroh -rodhiyallohu 'anhu- berkata:
- - : : . : : . :
: .
Rosululloh -shollallohu 'alaihi wasallam- ditanya: Amalan apakah yang paling
utama? Beliau menjawab,Iman kepada Alloh. Lalu penanya berkata,Lalu apa?
beliau bersabda: Jihad di jalan Alloh. Lalu penanya berkata,Lalu apa? beliau
bersabda: Haji yang diterima. (HR. Al Bukhory dan Muslim).
Lalu perlu kita ketahui bersama bahwasanya keimanan seseorang itu itu
tidak sempurna sampai dia itu mencintai sesuatu karena Alloh, dan membenci pun
karena Alloh. Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:
.
Barangsiapa mencintai karena Alloh, membenci karena Alloh, memberi karena
Alloh, dan menahan pemberian karena Alloh, maka sungguh dia telah
menyempurnakan keimanannya. (HR. Abu Dawud (4/354), Al Imam Al Albany -
rohimahullohu- berkata: shohih dengan gabungan jalannya. (Ash Shohihah no.
380)
Maka dari sinilah kita tahu bahwasanya manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah
AL WALA (loyalitas) WAL BARO (dan kebencian) itu merupakan inti dari agama
ini. Seseorang yang mengaku cinta kepada Alloh ta'ala, maka dia wajib untuk
mencintai apa yang dicintai-Nya, dan mencintai para wali-Nya. Dia juga wajib
membenci apa yang dibenci-Nya, dan membenci para musuh-Nya. Dan ini
membutuhkan mental kuat untuk melaksanakannya karena seringkali akan

9
berbenturan dengan kesenangan pribadi. Dan di sinilah kekuatan iman tentara
Alloh dibuktikan. Alloh ta'ala berfirman:

/[

22 ]
"Tidaklah engkau akan mendapati suatu kaum yang beriman pada Alloh dan hari
Akhir itu saling mencintai dengan orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya,
meskipun mereka itu ayah mereka, atau anak mereka, atau saudara mereka, atau
kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah Alloh tetapkan keimanan ke
dalam hati mereka, dan Alloh perkuat mereka dengan pertolongan dari-Nya. Dan
Alloh akan memasukkan mereka ke dalam Jannah-jannah yang di bawahnya
mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, Alloh ridho kepada mereka, dan
mereka pun ridho kepada-Nya. Mereka itulah tentara Alloh. Ketahuilah
bahwasanya tentara Alloh itu yang beruntung." (QS. Al Mujadilah: 22).

Bab Dua: Kesiapan Memikul Konsekuensi

Jadi perkara agama ini bukan ringan? Memang. Alloh ta'ala berfirman:
/[

5 ]
"Sungguh Kami akan menurunkan kepadamu ucapan yang berat." (QS. Al
Muzzammil: 5).
Alloh subhanahu berfirman:


"Andaikata Kami turunkan Al Qur'an ini kepada suatu gunung, pastilah kamu
akan melihatnya merunduk dan pecah karena takut kepada Alloh. Dan permisalan
tersebut Kami adakan buat manusia agar mereka berpikir." (QS. Al Hasyr: 21).
Zaid bin Tsabit rodhiyallohu 'anhu- menceritakan kisah turunnya ayat:

/[ 95 ]
Beliau berkata:

"Waktu itu paha beliau ada di atas pahaku, maka terasalah beratnya paha beliau
sampai-sampai aku khawatir pahaku akan retak." (HR. Al Bukhory).

Bukannya penulis bermaksud membikin susah ataupun menakut-nakuti.
Alloh telah menjelaskan bahwasanya agama itu ringan, dan bahwasanya setiap
hamba itu dibebani sesuai dengan kemampuannya. Hanya saja penulis perlu
mengingatkan agar semuanya memiliki kesiapan mental untuk memikul agama ini
sebagaimana mestinya, karena sudah banyak orang yang mengaku beriman, atau

10
dia itu Salafy, atau Sunny, tapi di tengah jalan bertumbangan dan lari dari shirothol
mustaqim manakala dia mendapati berbagai konsekuensi yang tak terduga.
Di antara konsekuensi tersebut adalah manakala seseorang itu semakin
memahami Islam, dan semakin paham halal dan harom, terkadang dia mendapati
bahwasanya apa yang dilakukannya kemarin adalah salah. Maka sanggupkah dia
untuk bertobat dan memperbaiki jalan yang kemarin ditempuhnya, dalam keadaan
orang-orang menganggapnya aneh karena merubah jalan yang biasa ditempuh?
Atau mungkin dia di atas kebenaran, tapi orang-orang yang dicintainya
menyelisihinya, menentangnya dan bahkan memusuhinya. Maka sanggupkah dia
menegakkan cinta dan benci karena Alloh, bersatu dengan orang yang setia kepada
Alloh, dan berpisah dengan orang yang memusuhi syari'at-Nya? Rosululloh -
shollallohu alaihi wasallam- bersabda:
... : .
Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Alloh di bawah naungan-Nya pada hari
yang saat itu tiada naungan selain naungan-Nya: dua orang yang saling cinta
karena Alloh, berkumpul karena Alloh, dan berpisah pun karena-Nya.. (HR. Al
Bukhory dan Muslim dari Abu Huroiroh -rodhoyallohu 'anhu-).
Dan dia juga harus siap untuk dikoreksi berdasarkan dalil dan bukti, jika
mengalami kekeliruan.
Dan masih banyak konsekuensi yang lain yang akan dia temui di sepanjang
jalan hidupnya.
Akan tetapi hendaknya dia berbesar hati, bahwasanya semakin dia bertekad
mengikuti jalan Alloh dan berusaha istiqomah di atasnya, maka semakin banyak
pertolongan dan curahan kasih sayang dari Robbnya. Alloh ta'ala berfirman:

/[

69 ]
"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari jalan Kami, pastilah kami
akan menunjuki mereka jalan-jalan keridhoan Kami. Dan sungguh Alloh bersama
orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Al 'Ankabut: 69).


11
Bab Tiga: Sedikit Kesalahan Pada Judul

Pada sampul buku Cak Dul Ghafur tergambar Sepatu PDL yang gagah, lalu
di sampingnya ada sepatu hak tinggi perempuan berwarna merah muda, dan juga
gambar dua kuntum mawar merah jambu. Judulnya: Hampir-hampir Saja
Mereka Jantan. Lalu dibawahnya ditulis dengan bahasa Arab: ) (
Sepertinya pada kesempatan ini ana ingin mengajak Cak Dul untuk sedikit
murojaah masalah nahwu, biar nggak jenuh ngurusi hizbiyyin melulu. ()
merupakan fiil yang menunjukkan makna hampir-hampir, amalannya adalah
me-rofa-kan isimnya, dan me-nashob-kan khobarnya, karena memang dia itu
dalam hal ini seperti ( ). Al Imam Ibnu Malik -rohimahullohu- berkata:

Al Makudiy -rohimahullohu- berkata:
)( : )( )(

Yaitu: bahwasanya ( ) dan ( ) itu seperti ( ) dalam keadaannya me-rofa-kan
isimnya, dan me-nashob-kan khobarnya. Hanya saja khobar ( ) dan ( )
seringnya hanyalah berupa fiil mudhori. (Syarhul Makudiy alal Alfiyah/hal. 69).
Jika memang demikian, maka hukum isim () dan khobarnya -yang
berbentuk fiil mudhori- itu sama dengan hukum asli mubtada dan khobar, yaitu
dari sisi harus ada robith (pengikat) pada khobar yang menggandengkannya dengan
mubtadanya. Muhammad Al Ahdal -rohimahullohu- berkata tentang khobar yang
berbentuk jumlah:
.
Dan jumlah tadi harus diiringi dengan suatu robith yang mengikatnya dengan
dengan mubtada. Jika tidak demikian maka jadilah jumlah tadi adalah sesuatu yang
asing dari mubtadanya sehingga tidak sah untuk menjadi khobar baginya. Lalu
beliau menyebutkan perincian yang lain. (rujuk Al Kawakibud Durriyyah/hal.
186).
Lalu beliau -rohimahullohu- berkata:

Kemudian pada asalnya: robith (pengikat) tadi itu berbentuk dhomir, baik dia itu
tersebutkan ataupun terhapuskan. (Al Kawakibud Durriyyah/hal. 186).
Demikian pula isim ( ) dan khobarnya, harus ada pengikat antara khobar
dan isimnya. Dan seringkali pengikat tersebut adalah dhomir pada khobar yang
kembali pada isimnya. Contohnya adalah pada firman Alloh taala:

: [

42 ]

12
Khobarnya adalah jumlah filiyyah ( ). Pengikatnya dengan isimnya adalah
dhomir mustatir pada fiil tersebut yang taqdirnya adalah ( ), dia kembali pada
isim ( ) yaitu ( ) juga.
Demikian pula firman Alloh taala:
: [

20 ]
Khobarnya adalah jumlah filiyyah (). Pengikatnya dengan isimnya adalah
dhomir mustatir pada fiil tersebut yang taqdirnya adalah ( ), dia kembali pada
isim ( ) yaitu ( ) dan ini cocok karena dia itu mufrod.
Demikian pula firman Alloh taala:
: [

71 ]
Khobarnya adalah jumlah filiyyah (). Pengikatnya dengan isimnya adalah
wawul jamaah pada fiil tersebut, dia kembali pada isim ( ) yaitu wawul jamaah
juga.
Demikian pula pada firman Alloh taala:
: [

73 ]
Khobarnya adalah jumlah filiyyah (). Pengikatnya dengan isimnya adalah
wawul jamaah pada fiil tersebut, dia kembali pada isim ( ) yaitu wawul jamaah
juga.
Demikian pula pada firman Alloh taala:
: [

19 ]
Khobarnya adalah jumlah filiyyah (). Pengikatnya dengan isimnya adalah
wawul jamaah pada fiil tersebut, dia kembali pada isim ( ) yaitu wawul jamaah
juga.
Dengan penjelasan ini semua, berarti Cak Dul perlu mengoreksi judul
tersebut menjadi: ( )
Cak Dul, bukannya ana hendak cari-cari kesalahan kecil. Andaikata
kesalahan tadi ada di sela-sela pembahasan yang ada di perut buku, mungkin ana
tak akan mempermasalahkan. Tapi berhubung kesalahan tadi cukup nyata, ada
pada halaman cover, maka sebaiknya segera diumumkan koreksiannya biar tidak
malu-maluin.
Jika Cak Dul melaksanakan nasihat ana ini, maka Cak Dul cukup jantan,
tapi jika tidak, maka tolong dipakai sendiri sepatu merah jambunya beserta dua
kuntum mawarnya.
O ya satu lagi, tapi bukan dalam rangka menyalahkan. Antum menulis judul
tadi: ) (. Antum menjadikan () untuk me-nashobkan khobar ( ). Ana
tidak menyalahkan, hanya penggunaannya itu amatlah jarang di kalangan Arab.
Coba lihat contoh-contoh di Al Quran yang mana dia merupakan bahasa Arab yang
paling fasih. Untuk menyingkat waktu, ana persilakan Antum merujuk Alfiyah Ibnu
Malik dan seluruh syarohnya. Misalnya: (Syarhul Makudy alal Alfiyah/hal. 69).

13
Ini sekedar faidah, bukan menyalahkan. Dan semoga sebelum risalah ini
sampai kepada Cak Dul, sudah ada perbaikan.

Bab Empat: Kasus Ucapan: "Dijamin Kebenarannya"

Di antara kritikan pedas yang dilontarkan oleh Cak Dul Ghofur Al Malangiy
kepada Asy Syaikh An Nashihul Amin Yahya bin Ali Al Hajury hafizhohulloh-
adalah bahwasanya beliau menyatakan bahwasanya tulisan-tulisan dari Dammaj
yang menjelaskan hizbiyyah Abdurrohman Al 'Adany telah dijamin
kebenarannya. Berdasarkan ucapan yang disangkanya diucapkan oleh Asy Syaikh
Yahya inilah maka Cak Dul menyerang dan mencaci-maki beliau habis-habisan,
menggambarkan bahwasanya beliau menyelisihi firman Alloh ta'ala:

/[

147 ]
"Kebenaran itu dari Robbmu, maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-
orang yang meragukannya." (QS. Al Baqoroh: 47)
Dan juga firman Alloh ta'ala:

/[

3 4 ]
"Dan tidaklah apa yang diucapkan itu berasal dari hawa nafsunya. Ucapannya itu
tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan." (QS. An Najm: 3-4).
Dan membawakan hadits:

"Setiap anak Adam itu banyak salah. Dan sebaik-baik orang yang salah adalah
orang-orang yang banyak bertobat." (HR. At Tirmidzy (2499) dari Anas bin Malik
rodhiyallohu 'anhu-).
Jawaban ana adalah sebagai berikut:
Jawaban Pertama: ucapan "dijamin kebenarannya" bukanlah dari Syaikhuna
Yahya hafizhohulloh-. Ucapan yang asli adalah:

yang pendekatan artinya adalah: "Malzamah-malzamah yang keluar dari sisi kami,
malzamah-malzamah yang telah ditsiqohkan (bisa dipercaya)."
Tapi teman kami (Akhuna Muhammad Irham (Demak) hafizhohulloh- ) salah
dalam mengartikan sehingga menuliskan: "malzamah-malzamah yang telah dikoreksi
dan dijamin kebenarannya". Terdapat perbedaan yang besar antara kedua makna tadi,
dan ana berharap Cak Dul tidak memaksakan diri untuk menyamakannya.
Kami bisa memaklumi jika Cak Dul menyatakan bahwa penerjemahan yang
pertama tadi punya konsekuensi yang berat, seakan-akan Syaikhuna Yahya
hafizhohulloh- menyombongkan diri dan menjadikan malzamah-malzamah dari
Markiz Salafiyyah Dammaj melampaui karya tulis manusia, atau bahkan sejajar
dengan Kitabulloh dan kalam Nabi -shollallohu 'alaihi wasallam-. Namun beban

14
kesalahan ini adalah di pundak sang penerjemah, bukan di pundak beliau. Maka
wajib bagi sang penerjemah untuk meralatnya. Dan ( ) Akhuna Irham
hafizhohulloh- adalah orang yang senang menerima nasihat. Dan beliau
menyatakan sudah siap untuk meralatnya. Kami juga turut memikul kesalahan
karena belum sempat memeriksanya.
Jawaban kedua: sebagaimana Cak Dul Ghofur menembak kami dengan
hadits: ( ), maka dengan hadits ini pula kami berdalil. Akhuna Irham (dan
kami semua masih dari keturunan Adam, makanya wajar saja jika terjatuh di dalam
kesalahan walau telah berhati-hati-
(1)
. Dan kasus ini -demi Alloh- bukanlah karena
kesengajaan. Dan tidaklah masuk akal bahwasanya beliau (dan kami semua) sengaja
untuk merubah lafazh dan makna ucapan Syaikhuna Yahya hafizhohulloh- untuk
disejajarkan dengan Kitabulloh ataupun Sunnah Nabi -shollallohu 'alaihi wasallam-.
Dan perkara ketidaksengajaan, Rosululloh -shollallohu 'alaihi wasallam- telah
bersabda:

"Tidaklah aku mengkhawatirkan terhadap kalian kemiskinan, akan tetapi aku
mengkhawatirkan kalian berlomba-lomba dalam memperbanyak keduniaan. Dan
tidaklah aku mengkhawatirkan terhadap kalian kesalahan yang tak disengaja,
akan tetapi aku mengkhawatirkan terhadap kalian kesalahan yang disengaja."
(HR. Ahmad (8060) dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu 'anhu-, dihasankan oleh Al
Imam Al wadi'iy -rohimahulloh- dalam "Ash Shohihul Musnad" (1349)).
Meskipun demikian tetap saja kesalahan yang terjadi itu mengundang
keprihatinan dan kesedihan kami. Makanya kami ucapkan sebagaimana kandungan
firman Alloh ta'ala:

/ [ 147 ]
"Dan tiada ucapan mereka selain berkata,"Wahai Robb kami, ampunilah kami
dosa-dosa kami dan sikap kami yang melampaui batas dalam urusan kami,
kokohkanlah telapak kaki kami." (QS Ali 'Imron: 147).
Maka dengan risalah ini kami umumkan kekeliruan tersebut dan sekaligus
ralatnya. Demikian pula Akhuna Irham hafizhohulloh- akan menulis ralat tersebut
( ).
Dan semoga kami masuk ke dalam kandungan hadits yang jauh lebih shohih
daripada hadits yang dipakai Cak Dul Ghofur. Rosululloh -shalallohu 'alaihi wa
sallam- meriwayatkan dari Robbnya 'Azza wajalla yang berfirman:



(1)
Termasuk di antaranya adalah salah duganya Akhunal fadhil al ghoyur Abu Turob Al Jawy -
hafizhohulloh- tentang Ahmad Khodim. Beliau berkata kepada kami bahwasanya beliau selama ini
mengira dan mendengar bahwasanya Ahmad Khodim adalah dari Al Jamiatul Islamiyyah Madinah,
ternyata cuma TKI yang memanfaatkan sebagian waktu untuk menimba ilmu di Madinah. Dengan
ini maka kesalahan telah diperbaiki ( ).

15
"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan di waktu malam
dan siang. Dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya. Maka mohonlah kalian
ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian." (HR. Muslim (6737)
dari Abu Dzarr rodhiyallohu 'anhu).
Maka kami mohon ampun kepada Alloh atas seluruh kesalahan kami,
semoga Alloh mengampuni kami, sebagaimana akhir dari hadits di atas.
Dan kami bersyukur kepada pihak-pihak yang menunjukkan kepada kami
kesalahan-kesalahan kami, meskipun dengan cara keras. 'Umar ibnul Khoththob -
rodhiyallohu 'anhu- berkata dalam suratnya yang terkenal:

"Dan rujuk kepada kebenaran itu lebih baik daripada berlama-lama di dalam
kebatilan." (HR. Al Baihaqy (20324), Ibnu 'Asakir (32/hal. 70) dan yang lainnya. Al
Imam Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berkata: "Ini adalah kitab (surat) yang agung,
yang telah diterima oleh umat." ("I'lamul Muwaqqi'in" (1/hal. 110). Syaikhuna Yahya
hafizhohulloh- berkata: "Para ulama telah bersepakat untuk menerima surat 'Umar
ini.")
Semoga Alloh menjadikan Akhuna Irham -hafizhohulloh- (dan kami semua)
menjadi orang-orang yang bertaqwa, masuk dalam kandungan firman Alloh ta'ala :
/[

201 202 ]
"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu jika tertimpa gangguan dan godaan
dosa dari setan mereka segera ingat dan sadar lalu bertobat. Maka tiba-tiba saja
mereka jadi sehat dan lurus kembali
(1)
." (QS. Al A'rof: 201-202).
Dan tidak diamnya Alloh ta'ala terhadap kesalahan yang kami lakukan
semoga menjadi suatu pertanda besarnya perhatian dan pemeliharaan Alloh buat
kami.
Jawaban ketiga: kami tahu Cak, bahwasanya Antum adalah pengikut hizby
Luqmaniyyah-Mar'iyyah. Dan salah satu karakter hizby ini (dan keumuman
hizbiyyun) adalah: keras kepala dan tidak tunduk kepada kebenaran walaupun
disertai dengan hujjah yang terang. Maka sampai kapankah Antum Cak Dul- ikut-
ikutan bersombong di muka bumi dan tidak mau mengikuti hujjah yang amat
terang yang dilengkapi dengan dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunnah dengan
manhaj Salaf, hanya karena taqlid (teriak: Syaikh Fulan dan Imam Fulan belum
bicara!)? Kapankah Antum mau mengikuti hadits yang Antum sukai:

Cak, seperti inikan jauh dari ketaqwaan?
Untuk apa berlama-lama dalam kebatilan?
Perhatikanlah, Cak. Hadits Antum dan dalil kami sekarang menghantam Antum
semua.

(1)
Lihat tafsir Ibnu katsir -rohimahullohu- terhadap ayat ini

16
Jawaban keempat: di antara karakter hizby Luqmaniyyah adalah: marah
terhadap orang yang mengkritik dengan keras, meskipun isi kritikannya benar.
Mereka teriak: "Harus pakai uslub!", "Uslub kalian keras, pantasan semuanya lari."
( ) pihak kami Salafiyyun di Dammaj dan semisalnya- telah membuktikan
kepada Alloh bahwasanya kami telah menerima kritikan yang benar sekalipun
pedas dan jahat caranya, dan kami tidak mau menjadi orang sombong. Cak Dul juga
jadi saksi, ya.
Dan ( ) pihak kami juga telah membuktikan bahwasanya para hizbiyyun
tadi sangat keras kepala dan sombong terhadap kebenaran sekalipun dimulai
penyampaiannya dengan cara yang halus, sampai cara yang keras. Sama saja.
Para pembaca yang jujur dan adil ( ) bisa menilai siapakah dari dua
pihak ini yang lebih terbimbing jalannya: Salafiyyun di Dammaj dan yang bersama
mereka, ataukah para hizbiyyun tadi. Bukan begitu, Cak?
Jawaban kelima: salah satu senjata terbesar hizbiyyun (termasuk hizby
Luqmaniyyah-mar'iyyah) adalah syi'ar "harus tatsabbut dan tabayyun!" terhadap
berita orang yang tsiqoh. Dalil yang mereka pakai adalah firman Alloh ta'ala:

"Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan
suatu berita, maka carilah kejelasan." (QS Al Hujurot: 11).
Padahal mereka melanggar ayat ini dari dua sisi.
Sisi pertama: mafhum dari ayat ini.
Mafhum ayat ini menunjukkan bolehnya menjadikan berita orang tsiqoh sebagai
dasar untuk bertindak dan sebagainya. Tentang ayat ini Syaikhul Islam
rohimahulloh berkata:

..
"..Karena Alloh menyebutkan motif perintah tabayyun tadi dengan: jika datang
pada kita orang yang fasiq yang membawa berita. Bahkan dalil-dalil ini jelas
menunjukkan tidak terlarangnya menimpakan hukuman dengan berdasarkan berita
dari satu orang yang adil secara mutlak ("Majmu'ul Fatawa"/15/307).
Imam Al Wadi'i rohimahulloh berkata:
: .
"Mafhum dari ayat ini adalah jika datang kepada kita orang yang adil, kita ambil
beritanya. Dan keadilan itu mencakup laki-laki dan perempuan, karena pada
asalnya adalah keumuman pensyariatan." ("Al Makhroj Minal Fitnah")
Syaikh Robi' -hafizhahulloh- berkata: "Agama kita berdiri di atas berita orang-
orang adil, di antara kaidah-kaidahnya adalah berita dari orang-orang adil. Maka
jika seorang yang adil menukilkan kepadamu suatu perkataan, maka pada asalnya
berita itu adalah shohih, dan wajib untuk engkau membangun hukum di atasnya.
Dan Alloh telah memperingatkan dari berita orang fasik. Maka jika ada orang yang

17
dikenal kefasikannya dan mendatangimu dengan suatu berita, jangan kau dustakan
dia. Telitilah dulu karena ada kemungkinan bahwasanya si fasik ini jujur dalam
berita tersebut. Tatsabbut nggak apa-apa. Adapun sekarang: adil disusul dengan
adil, adil disusul dengan adil, menulis dan bersaksi ucapannya justru tidak diterima.
Dia menukilkan ucapan orang yang sesat dengan hurufnya ternyata persaksiannya
tidak diterima. Mereka justru berkata: haqid (dendam). Ini adalah termasuk uslub-
uslub (metode) ahlul bida' wal fitan pada zaman ini kita mohon pada Alloh
keselamatan-yang tidak dikenal oleh khowarij ataupun rofidhoh ataupun ahlul bida'
pada masa-masa silam. Orang-orang itu mendatangi umat dengan metode, kaidah,
manhaj, fitnah dan musykilah yang jika kau kumpulkan itu semua demi Alloh- tak
ada yang tersisa dari agama ini sedikitpun. jika kau kumpulkan metode dan kaidah-
kaidah mereka itu, mereka tidak menyisakan Islam ini sedikitpun. Di antaranya
adalah berita orang-orang yang adil. Mereka ingin menggugurkannya dst" ("Al
Mauqifush Shahih"/ Syaikh Robi' Al Madkkholi/hal. 22).

Sisi yang kedua: manthuqul ayat.
Ayat ini dari sisi pengucapannya saja telah menunjukkan bahwasanya berita orang
fasiq itu harus ditatsabbut dulu sebelum diterima dan dibangun suatu hukum
berdasarkan berita tadi. Dan para hizbiyyun tadi telah menyelisihi ayat ini dari sisi
ini. Kenapa? Karena mereka itu sendiri selama ini telah menyatakan bahwasanya
Hajuriyyah-Turobiyyah (dan kami berlepas diri kepada Alloh dari istilah jahiliyyah
ini) adalah pembawa fitnah, pembohong, tak bisa dipercaya, tukang pecah-belah
(walau bukan pedagang keramik), dsb.
Kami jawab: jika memang demikian dalam pandangan kalian, berarti kami ini
memang telah kalian hukumi sebagai kaum yang fasiq. Al Imam Ibnul 'Utsaimin -
rohimahulloh- berkata:

"Yang telah diketahui bersama di kalangan para ulama adalah bahwasanya satu
dosa besar saja bisa menjadikan pelakunya itu fasiq, selama dia belum bertobat
darinya." ("Liqoatul Babil Maftuh"/hal. 447).
(1)

Kalau memang berita dari kami adalah berita para fussaq, berarti ayat tadi
mewajibkan Antum untuk tabayyun dulu. Jangan begitu membaca terjemahan salah
seorang dari kami langsung ditelan mentah-mentah dan membangun konsekuensi
darinya:
"Al-Hajuri hanya memberikan satu-satunya pilihan kepada semua orang (termasuk
di dalamnya adalah para Masyayikh Dakwah) bahwa DIRINYALAH YANG
BENAR!! Dan bahkan (sekali lagi) dia jamin kebenarannya!!" (hal. 12).
"AL-HAJURI, OOOOH MEMANG DIA ITU SIAPA?" (hal. 12).

(1)
Sengaja ana tampilkan ucapan beliau -rohimahulloh- karena sebagian hizby Luqmaniyyah bilang:
"Kembali ke ulama Saudi!", "Thoriqoh Su'udiyyah lebih cocok diterapkan di Indonesia daripada
Thoriqoh Yamaniyyah!"

18
"Kebenaran itu adalah milik Allah, tetapi bagi Al-Hajuri dakwah adalah
miliknya!! Jaminan Kebenaran itu adalah milik Al-Hajuri, oleh sebab itu adakah
para pembelanya termasuk orang-orang yang ragu? Duhaisiapakah
sesungguhnya Al-Hajuri dan wahyu dari manakah yang dia dakwahkan? Dengan
Jaminan Kebenaran malzamah-malzamah fitnah yang telah diikrarkannya, Pastilah
Tanpa Ragu dirinya telah meletakkan diri jauh dan jauuuuh di atas seluruh para
ulama Mujtahidin yang masih memiliki kemungkinan Ijtihadnya keliru (walaupun
dengannya telah mendapatkan satu pahala). Adapun sesuatu yang telah berani
menjamin kebenaran malzamah-malzamah fitnahnya? Bukankah dia tidak layak lagi
disebut sebagai Mujtahid? Allah, Allah Ooooh. siapakah kiranya dirinya, manusia
atau apa?" (hal. 13).
Wahai para pembaca hafizhokumulloh- tolong para hizbiyyun disabarkan
sedikit. Suruh mereka menerapkan kaidah mereka sendiri: "Tatsabbut" agar tidak
asal tuduh. Syaikhuna Yahya hafizhohulloh- cuma bilang "Malzamah-malzamah
yang keluar dari sisi kami, malzamah-malzamah yang telah ditsiqohkan (bisa
dipercaya)."
Jelas semua ulama yang mengeluarkan jarh terhadap seseorang dengan
berdasarkan bukti-bukti yang kuat dan saksi-saksi yang terpercaya di sisinya, beliau
boleh untuk mengatakan seperti itu. Tapi tidak sampai berkata: "Ini dijamin
kebenarannya."
Maafkan ana ya Cak, ternyata Antum membangun hukum dan caci-makian
terhadap Syaikh Yahya hafizhohulloh- tadi tanpa penelitian yang cukup, dan
bahkan menyelisihi keadilan dalam menjalankan kaidah hizbiyyah kalian. Ini
menyelisihi ayat Al Qur'an yang kalian pakai untuk berhujjah selama ini jika datang
hantaman dari Salafiyyun Dammaj yang tidak menguntungkan kalian.
Kami bersyukur kepada Alloh ta'ala, ternyata dalil tatsabbut yang mereka
pakai berbalik menghantam mereka sendiri. Ada faidah cantik, Cak. Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahulloh- berkata:

"Dan demikianlah ahlul bida', hampir-hampir tak pernah mereka itu memakai suatu
argumentasi dari ayat/hadits ataupun dari akal, kecuali dalil tadi saat direnungkan
merupakan argumentasi yang menghantam mereka sendiri, bukan untuk
mendukung mereka." ("Majmu'ul Fatawa"/6/hal. 254).
Jawaban keenam: sekedar penguat dari yang sebelumnya. Harap Antum
tahu, Cak, bahwasanya salah satu ciri hizbiyyah adalah: menerapkan kaidah dan
meninggalkannya sesuai dengan hawa nafsu, bukan berdasarkan keadilan.
Contohnya ya kasus di atas. Manakala ada berita yang bisa dipakai untuk
menyerang lawan debat, langsung diambil tanpa menerapkan kaidah "Tabayyun"
yang mereka gembar-gemborkan. Padahal sebelumnya jika ada persaksian-
persaksian yang merugikan mereka, langsung mereka teriak-teriak: "Tatsabbut
dulu!" Tampak sekali mereka itu memang mengekor hawa nafsu. Alloh ta'ala
berfirman:

19

/[ 26 ]
"Maka tegakkanlah hukum di antara manusia dengan kebenaran, dan janganlah
engkau mengikuti hawa nafsu sehingga menyesatkan dirimu dari jalan Alloh." (QS.
Shod: 26).
Intinya apa sih, Cak? Intinya adalah bahwasanya hizbiyyun itu tidak adil dan
konsekuen dalam menerapkan kaidah mereka: "Tabayyun-tatsabbut."
Oya, Cak. Apa benar bahwasanya Antum dulu getol memerangi Quthbiyyah-
Sururiyyah? Wah, itu bagus sekali, Cak. Sayang kita dulu di Indonesia belum
sempat kenalan. Masih ingat nggak Cak, akan ucapan Syaikh Abu Ibrohim bin
Sulthon Al 'Adnani -hafizhahulloh- berkata tentang metode Al Quthbiyyah yang
ketiga: "Tidaklah seorang pembantah membantah mereka dengan apa saja yang
mereka kerjakan kecuali mereka akan berkata kepadanya dengan sangat ramah dan
tenang: "Tatsabbut." Syiar ini juga menjadi senjata penggempur kepada seseorang,
atau kelompok, atau kitab, atau kaset, atau suatu anggaran dasar yang hendak
mereka hantam. Maka tidaklah yang mereka kerjakan kecuali dengan mencercanya
walaupun dengan tanpa bayyinah-, maka akhirnya jatuhlah dia walaupun benar,
karena mereka telah menanamkan di dalam jiwa mereka bahwasanya mereka itu
ahli tatsabbut." ("Al Quthbiyyah"/ hal. 116).
Cak Dul, tinggalkan saja Luqmaniyyun-Mar'iyyun, karena mereka itu
hizbiyyun, dan banyak kemiripan dengan Quthbiyyun-Sururiyyun yang kabarnya
dulu Antum gemar memerangi mereka. Ingat nggak, Cak, ketika sebagian kecil
ulama hafizhohumulloh- menghantam Sururiyyin dengan hujjah-hujjah yang jelas,
tapi justru ekor-ekor mereka di Indonesia teriak: "Kita menunggu ulama!" Maka
dengan mantapnya si Askari membantah prinsip "Menunggu ulama tersebut." Tapi
sekarang si Askari sendiri jatuh pada lubang yang sama.
Jawaban ketujuh: di antara bukti upaya pihak kami untuk berhati-hati dan
jujur dalam menyampaikan berita (meskipun tetap saja mengalami ketergelinciran),
bahwasanya kami di samping mengirimkan fatwa Syaikh yahya hafizhohulloh- di
atas dengan bahasa Indonesia, kami juga (bahkan lebih dulu) mengirimkan naskah
bahasa Arabnya, agar bisa diperiksa lafazh aslinya. Dan buat maestro chatting kayak
Antum, mudah saja bagi Antum untuk membandingkan kedua naskah tadi. Tapi
memang hizbiyyah itu membikin malas orang untuk mencari kebenaran. Apa yang
sesuai dengan hawa nafsunya itulah yang langsung disambar tanpa pakai prinsip
"Tabayyun" yang mereka kibarkan.
Jawaban kedelapan: Dalam naskah nasihat Syaikh Yahya hafizhohulloh-
buat mutawaqqifun tersebut beliau menyampaikan banyak sekali kebatilan-kebatilan
Mar'iyyun yang cukup menjadi dalil bahwasanya mereka itu adalah hizbiyyun.
Padahal jika Antum rajin membaca kitab-kitab Syaikh Robi' hafizhohulloh-, Antum
akan dapati ( ) bahwasanya seringkali beliau dalam menghukumi seseorang
itu sebagai hizby tidak sampai sepanjang itu pemaparan ciri-ciri hizbiyyah orang
tadi. Tapi kok bisa ya sekian banyak pemaparan hujjah Syaikh Yahya tadi tak

20
bermanfaat bagi Antum. Justru satu lafazh (salah terjemah) "Dijamin kebenarannya"
itulah yang justru menarik hati Antum untuk dikonsumsi.
Afwan, Cak. Hal itu cukup mengganjal di hati, karena Imam Ibnul Qoyyim
rohimahulloh berkata:



"Dan di antara manusia ada yang tabiatnya tabiat babi. Dia melewati rizqi yang
baik-baik tapi tak mau mendekatinya. Justru jika ada orang bangkit dari kotorannya
(selesai buang hajat), didatanginya kotoran tadi dan dimakannya hingga habis.
Demikianlah kebanyakan orang. Mereka mendengar dan melihat darimu sebagian
dari kebaikanmu yang berlipat-lipat daripada kejelekanmu, tapi dia tidak
menghapalnya, tidak menukilnya dan tidak mencocokinya. Tapi jika dia melihat
ketergelinciran atau ucapan yang cacat, dapatlah dia apa yang dicarinya dan
mencocokinya, lalu dijadikannya sebagai buah santapan dan penukilan."
("Madarijus Salikin" 1/hal. 403).
Sekali lagi 'afwan, Cak. Bukannya ana menyamakan Antum dengan makhluk
tadi, hanya saja: jangan sampai Antum menirunya.

Bab Lima: Kasus Firman Hidayat

Di dalam surat Cak Dul Ghofur, beliau banyak sekali menyerang Salafiyyun
Dammaj dan yang bersama mereka berdasarkan kasus orang yang bernama Firman
Hidayat. Disebutkan bahwasanya dia itu berumur 31 tahun dan mendukung
Hajuriyyin. Lalu ditampilkan sekian banyak data yang menggambarkan
bahwasanya Firman hidayat ini punya sepak terjang yang tidak sedap, seperti:
1- membanggakan statusnya sebagai mantan Laskar Jihad,
2- mengancam orang untuk membunuhnya,
3- gampang mengumbar laknat dan caci-makian yang sangat banyak dan tidak tidak
terkontrol,
4- loncat sana-sini dan menyusup kesana kemari,
5- memperbanyak debat dengan hizbiyyin tanpa mengikuti adab syari'at,
6- menuduh adanya ikhtilath dalam dauroh kalian tanpa bukti,
7- menuduh sebagian Luqmaniyyin rebutan kotak infaq,
8- punya beberapa identitas samaran,
9- Jawaban ngawur terhadap pernyataan baro' dari Akhunal Fadhil Abu Hazim
hafizhohulloh-.
Cak Dul, jawaban ana adalah sebagai berikut, wabillahit taufiq:
Jawaban pertama: ana pribadi belum pernah berhubungan langsung dengan
orang yang bernama Firman Hidayat. Juga tak pernah melihat situs dia (belum tentu

21
juga ana ke internet walau sebulan sekali). Juga tak menyangka jika dia membantu
menyebarkan tulisan-tulisan Salafiyyin Dammaj dan yang bersama mereka. Maka
yang dia perbuat itu tadi secara umum di luar sepengetahuan kami. Dan kami juga
tidak ridho adanya kebatilan, siapapun yang melakukannya, entah dari pihak
hizbiyyin ataupun dari Salafiyyin. Yang salah ya harus disalahkan dan dinasihati,
sebagaimana yang benar harus dikatakan benar dan didukung. Semuanya wajib
berhukum kepada Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh -shollallohu 'alaihi wasallam-.
Maka pada asalnya bukan kami yang turut memikul dosanya. Alloh ta'ala
berfirman:
/[

164 ]
"Dan tidaklah orang yang berdosa itu akan memikul dosa orang lain." (QS. Al
An'am: 164).
Jawaban kedua: Jika benar apa yang Antum paparkan di atas, maka kami
menyatakan tidak ridho dengan kebatilan macam itu ataupun yang lainnya. Dan
kami berlepas diri dari yang demikian itu. Dan kami menyatakan pengingkaran dan
peperangan terhadap kebatilan macam itu.
Jawaban ketiga: beberapa waktu yang lalu ada banyak SMS yang masuk ke
sebagian HP teman kami di sini sambil memperkenalkan diri dengan nama Firman
Hidayat, dan menyatakan dukungan terhadap dakwah dan perjuangan kami.
Barangkali akhuna inilah yang Cak Dul maksudkan. Makanya begitu ada tulisan
dari Cak Dul yang sampai kepada kami tersebut ana minta kepada Akhuna Shiddiq
Al Bughisiy hafizhohulloh- untuk mengkonfirmasikan hal itu pada si Firman
Hidayat, karena dia mengirimkan beberapa SMS ke Akhuna Shiddiq
hafizhohulloh-.
Maka pada hari itu juga beliau mengirimkan SMS ke Akhuna Firman Hidayat
yang isinya kurang lebih: AFWAN DI MALZAMAH ABDUL GHOFUR AL
MALANJI (hampir hampir mereka jantan) menyebutkan kesalahan-kesalahan
antum (firman hidayat), kalo tidak benar antum bantah, kalo benar ahsannya
antum sebar taruju/taubat jazakamallah khairan. Dari ABU TUROB, & ABU
FAIRUZ.
Cak Dul, inilah bukti bahwasanya kami tidak diam terhadap kesalahan,
meskipun yang berbuat adalah misalnya- teman sendiri.
Jawaban keempat: pada hari berikutnya (tanggal 16 Rojab 1431 H) datanglah
jawaban dari Akhuna Firman Hidayat yang isinya adalah bahwasanya dia telah
mengumumkan taroju' terhadap kesalahan tersebut, dan sekaligus bantahan
terhadap apa yang pantas untuk dibantah, silakan lihat:
www.Salafyindependent.wordpress.com
(1)


(1)
Jika ada kesalahan dalam menulis alamat mohon dimaafkan, tapi memang alamat inilah yang kami
buka dari situs Akhuna Firman. Dan juga ana akan memberikan sedikit perbaikan buat bahasa yang
dipergunakan oleh beliau, tanpa merusak keaslian ( ). Kalimat aslinya silakan dilihat sendiri
di situs beliau. Dan memang ada beberapa ucapan beliau yang perlu diberi catatan kaki.

22
Makanya ana (Abu Fairuz waffaqoniyalloh-) bersama Akhuna Abul Jauhar
Adam Al Ambony hafizhohulloh- pada hari itu juga berangkat ke internet
(meskipun warnet bukanlah tempat yang kami sukai). Kami buka alamat tersebut
dan kami dapatkan sebagai berikut (setelah menyebutkan muqoddimah):
Berawal sms dari duat qodim di darul hadits dammaj berisi : AFWAN DI
MALZAMAH ABDUL GHOFUR AL MALANJI (hampir hampir mereka jantan)
menyebutkan kesalahan kesalahan antum (firman hidayat), kalo tidak benar
antum bantah, kalo benar ahsannya antum sebar taruju/taubat jazakamallah
khairan. dari al fadhil ABU TUROB hafidhohulloh, & al fadhil ABU FAIRUZ
hafidhohulloh
Sebelumnya kita mendapati artikel dengan kualitas tulisan rendah mudah di bantah,
karena mendesak perkara ini harus di selesaikan di media umum seperti ini.
Dengan ini ana mengakui kesalahan2 ana di masa lalu di bawah ini :
1. menjadi RAPPER (bukan penyanyi karena rap bukan nyanyian) adapun orang
menyangka bahwa rap itu nyanyian, ana tetap meyakini RAP bukan nyanyian
karena ana tidak bisa nyanyi. (mungkin orang yang masih tuduh ana rapper mereka
bisa nyanyi, tapi prinsip ana masa lalu mereka tidak bisa di jadikan hujjah untuk
membela diri ana)
(1)
.
Pada tahun 2005, ana kembali ke Jakarta menjalani hidup seperti orang awam.
bergaul dengan orang orang fasiq jauh dari majelis-majelis talim. Karena ana
meyakini waktu itu tidak ada yang layak DUAT di Indonesia diambil majelisnya
(2)
.
Sibuk dengan dunia seperti mencari nafkah menjual PULSA, HP SECOND dll,
karena ana hobby dunia HIP HOP yang notabene dunianya orang kulit hitam urban
Amerika yang penuh glamour.
Lalu ana terjun langsung ke dunia hip hop, seperti membuka toko baju hip hop.
Lalu ana membuat lagu RAP,waktu itu seingat ana awal tahun 2008 koloborasi artist
terkenal non muslim SAYKOJI. Berangsur angsur sedikit demi sedikit sudah ana
tinggalkan.
Lalu muncul-lah perasaan
(3)
di waktu bulan ramadhan, lalu ana mendatangi MASJID
FATAHILLAH (markiz hizbi jadid marieyyun).
Hidayah ana belum mencapai titik ketenangan, banyak kejangalan-jangalan yang
ada pada mereka (hizbi jadid). Saat itu ana belum ada niat mencari tahu, kondisi ana
saat itu membaca situasi dan kondisi belum bisa mengambil kesimpulan.
(4)


(1)
Perlu tambahan beberapa kata agar maksud Akhuna Firman bisa dipahami dengan mudah.
(2)
Walaupun sebenarnya ada. Shaikhuna Yahya Al Hajury -hafizhohulloh- menyemangati para
Salafiyyin untuk berusaha menebarkan kebaikan kepada saudara-saudaranya semampunya,
walaupun dari sisi dasar-dasar lughoh, atau Al Ushuluts Tsalatsah dan sebagainya. Yang penting -
kata beliau:- jangan sampai bicara tanpa ilmu atau yang tidak merasa mantap di dalamnya. Dan jika
ada problem hendaknya mencari ilmunya kepada ulama.
(3)
Perasaan apa? Barangkali yang beliau maksudkan adalah perasaan gersang dengan kehidupan
yang jauh dari nilai-nilai agama ( ).
(4)
Perlu tambahan beberapa kata agar maksud Akhuna Firman bisa dipahami dengan mudah.

23
Tapi ada rada ANEH setelah kedatangan ana di depok, situasi panas mencekam
tidak menerima atas kedatangan (wallahu aalam apa mereka sudah tahu karakter
ana ??? TIDAK KENAL GENTAR MENAMPAKKAN AL HAQ SECARA
FRONTAL
(1)
).
Pada saat itu ada acara DAUROH DI BANTUL tahun 2009, alhamdulillah dengan
rejeki ana membawa uang cukup sekaligus mencari pendamping setelah acara
dauroh tersebut.
Lalu ana mengikuti acara tersebut, bertemulah dengan temanteman lama. Tapi
aneh sikap sikap mereka ada yang disembunyikan ? ? ?
Sampailah ana bertemu kembali seorang DUAT yang ana percaya untuk membabat
habis LUQMAN BAABDUH dan ASKARY pada tahun 2004 yaitu seorang yang
terkenal pada saat ini DZULKARNAIN dari akasar berpelukanlah ana dengan
fulan ini.
Lalu tibanya selesai dari acara DAUROH HIZBI NASIONAL BANTUL, ana ke
SOLO mengikuti informasi ikhwah ikhwah.
Sampai di SOLO ana disuguhi FITNAH-FITNAH
(2)
yang menurut ana perkara ini
sudah selesai. ternyata masih lanjut sepertinya..
Lalu ana di antar ke masjid Jajar SOLO AL MADINAH, karena mereka belum tahu
mauqif ana maka ana mendatangi kedua kubu itu untuk mendapatkan bukti bukti
ana mendatangi AL GHUROBA juga.
Tapi memang tandzim itu lebih CANGGIH daripada jaringan internet, sedikit tahu
mereka tentang ana. Mulai menampakkan suatu ucapan2 yang dikirim dari alam
ghaib para luqmaniyyun.
Lalu ana pergi ke NGAWI di sana datangi 2 mahad sampai ke gunung gunung.
Lalu ana kembali ke Jakarta tidak membawa hasil, terkecuali PERMUSUHAN ana
kepada orang-orang hizbi di FATAHILLAH.
Lalu ana tutup toko baju (hip hop), kembali ke rumah ana disibukkan dalam perkara
dunia.

(1)
Sebaik-baik jalan adalah jalan Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-. Ada waktunya untuk
lembut dan inilah asal metode dakwah Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-. Dan ada waktunya
untuk keras. Semuanya harus dikembalikan kepada syariat. Demikianlah berkali-kali ditekankan
oleh Syaikhuna Yahya Al Hajury -hafizhohulloh-.
(2)
Sepertinya yang dimaksud oleh Akhuna Firman adalah fitnah di antara sebagian duat di sana.

24
Setelah ana mulai mendapatkan info tentang uslub dawah di Magetan yang dibawa
oleh Al Ustad Abu Hazim Muhsin Muhammad Al Bashory hafidhohulloh.
Lalu ana bergegas mencari tahu tentang beliau, ana melihat ada kesamaan
pandangan tentang yayasan dawah adalah muhdats.
Tibalah puncaknya DAUROH JARH WAT TADIL bertema Mengenang dawah
imam Muqbil bin Hadi al Wadii rahimahullah
Lalu ana merekam kajian beliau tepatnya di masjid kampus Muhammadiyah jogja.
Sebelomnya memang ana sudah membuat blog sebelom ana mendatangi
beliau.www.salafyindependent.wordpress.com ana sudah berniat di hadapan
LUQMANIYYUN blog ini untuk menghantam mereka LUQMAN BAABDUH dan
ASKARY.
Sebelum ana membuat blog ini ana mendapatkan website sejalan dan semanhaj
dengan ana ALOLOOM.NET
(1)
. Sebagian artikel ana masukan ke blog ana untuk
membabat abis mereka.
Sampai di Jakarta ana UPLOAD KAJIAN JOGJA yang di bawakan ustad Abu
Hazim, lalu ana sebar kajian beliau sampai ana tayangkan di RADIO SALAFY
streaming kepunyaan ana.
Lalu ada kajian di masjid Kali Malang bekasi, lalu ana kenal lebih dengan beliau
setelah beliau menanyakan blog ana tentang malzamah-malzamah dari Dammaj.
Waktu berlalu sampailah terjadilah malapetaka yang dibawa ahlu fittan
kontemporer (ABDUL GHOFUR AL MALINGI) membuat tuduhan tuduhan yang
sudah ana tinggalkan di masa lalu (futur).
Sangat disayangkan perkara itu tembus ke Magetan, ajaib memang kok bisa tembus?
Ana terheran-heran padahal tuduhannya bukan perkara (manhajiyyah) tapi perkara
keFASIQan
(1)
itupun kurang cukup bukti dan saksi.

(1)
Kita semua wajib untuk kembali kepada Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman Salaful
Ummah. Tidak ada di antara kita yang sempurna, tapi ( ) situs ALOLOOM. ASSALAFIYAH
adalah situs Salafy, mendakwahkan manhaj Salaf, mengajari umat ilmu-ilmu syariah, memerangi
kristenisasi, rofidhoh, komunisme, Shufiyyah, Ikhwanul Muslimin, sekuler, dan bahkan malpraktek
yang ada di rumah sakit, dan juga hizbiyyah. Ini terbukti dari risalah-risalah yang ditampilkan. Jadi
tidak seperti yang dituduhkan oleh Cak Dul Ghofur bahwasanya situs itu tidaklah dibuat kecuali
untuk merusak dakwah Salafiyah atau ucapan yang senada dengan itu. Semoga Cak Dul segera
mengumumkan rujuknya dengan jantan. Jika tidak ya silakan memakai sendiri sepatu merah
jambunya dengan dua kuntum mawarnya. Dan tuntutan di akhirat bisa amat menakutkan.

25
Perlu di pahami pada saat itu ana sedang labil, tidak adalagi tempat dan orang
untuk di tanyakan dalam perkara ini. (lalu ana berkata lancang seperti ini). Tapi
alhamdulillah tidak ada kalimat di atas, kalimat celaan terhadap Darul Hadits
Dammaj.
Gerakan adu domba dari dalam wallahu aalam (bukan hanya ana saja di antara lain
memang terjadi seperti itu), atau karena memang situasi tidak mendukung untuk
ana terekspos maju ke depan. Karena pada saat itu tidak ada yang mengenal ana,
secara berangsur-ansur berulang-ulang. Karena pada saat itu tidak ada satupun
orang yang mengenal ana secara baik keseluruhan dan sebagian.
Alhamdulillah semua keadaan menjadi baik beransur ansur,hubungan ana dengan
AL USTAD ABU HAZIM MUHSIN MUHAMMAD AL BASHORY hafidhohulloh
taala mulai membaik. ANA MINTA MAAF (ghuluw), lancang, dan suudzon
kepada AHLU HAQ yang tidak pantas ana lakukan.
Adapun ana pernah konflik dengan al akh Achmad Djunaidi, memang saat itu
sangat dahsyat antara perbedaan karakter mauqifnya ihkwah-ihkwah pembela
Dammaj dengan ana. Ana secara prinsip TIDAK YAKIN PERCAYA TAUBAT
SEORANG MUSLIM DARI MENCELA AL ALLAMAH AN NASHIH AL AMIN
YAHYA ALI ALHAJURY hafidhohulloh
(2)

Walaupun waktu itu ana keadaan futur (mendekati kefasiqan), hati ini masi
tersimpan nama yang mulya setelah syaikh Albani, syaikh Bin Baz dan syaikh
Muqbil yaitu AL ALLAMAH AN NASHIH AL AMIN YAHYA ALI ALHAJURY
hafidhohulloh dari tahun 2002 setelah mendengar rekaman kajian beliau.
Bagaimana mungkin mereka (hizbi jadid marieyyun), begitu dasyat berani
membinasakan diri diri mereka mencela ULAMA RABBANIYYUN. Tanpa ada rasa
pertimbangan bahan hanya bersumber dari kalam ustadz ustadz mereka ?
(3)


(1)
Jika berita-berita tentang kesalahan masa lalu Akhuna Firman itu salah, maka semoga punggung
Cak Dul cukup kuat untuk memikul dosa BUHTAN. Dan jika kesalahan tadi benar adanya dan
tersebar, tapi Akhuna Firman telah mengumumkan tobatnya, maka dosa BUHTAN juga akan
dipanggul oleh Cak Dul. Jika memang belum ditobati, ya memang harus ditobati. Sama saja, dosa
manhaji atau tidak, dosa itu merusak muruah dan berbahaya buat pelakunya, di dunia ataupun di
akhirat. Dan seorang rowi hadits bisa ditolak haditsnya karena kefasiqan. Demikian pula seorang
saksi. Maka kami bersyukur kepada Akhuna Firman, ataupun siapa saja yang mau merunduk di
hadapan Alloh bertobat dan mengakui kesalahannya. Tobat yang sejati merupakan bukti kejujuran,
keikhlasan dan sekaligus kejantanan. Semoga Cak Dul Ghafur pun demikian. Jika tidak, ya sepatu
merah jambunya tolong dipakai sendiri. Jangan lupa bunga mawarnya.
(2)
Tobat yang jujur diterima, meskipun dari kekufuran dan kesyirikan. Yang penting syarat-syarat
dari Alloh dan Rosul-Nya dipenuhi. Alloh itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(3)
Baik ustadz yang diluar negri ataupun yang di dalam negri, ataupun yang di dalam hati. Alloh
ta'ala berfirman:

26
Jadi ini alasan ana MENJAUHI TOTAL X LUQMANI,SURURI atau IM (karena
memang ana bukan mantan hizbi), jadi perbedaan pandangan para pembela
Dammaj pada saat itu agak menjurang.
Alhamdulillah keadaan mulai membaik, tangan mulai merangkul kembali. Tapi
sikap ana masi berhati hati HATI HATI HAMBA DI JEMARI JEMARI ALLAH
azza wa jalla hari ini kawan, besok menjadi lawan. (ana melihat sebagian asatidz di
arah timur merangkul tangan (dengan kubu Dzulkarnain makasar) ana blom
mendapatkan bukti mauqifnya)
Pada hakekatnya AL HAQ itu di perjuangkan di pundak masing masing, taawun
untuk membela kebenaran harus di rajut kembali.
2. kalimat takfir sembarangan (lalu mencantumkan gambar yang disebutkan oleh
Cak Dul Ghofur).
Artikel kalimat ini benar itu kalimat ana jahil waktu tahun sekitar akhir tahun 2007
atau 2008 afwan ana lupa kira kira seperti itu. Dan ana menyatakan TAUBAT
DARI PERKATAAN YANG MELAMPAUI BATAS karena ana melihat dan
menduga orang yang memusuhi ana itu non muslim, alasan ana berkata demikin
ana mencoba mengira fulan itu Muslim dengan memakai kata MURTAD ??? jika dia
Muslim maka dia tidak terima perkataan ana MURTAD itu. Lalu fulan ini berkata
jangan kamu musuhi saudaramu maka perkataan itu ana cabut di bawah tulisan di
atas.
Jadi kronologisnya tidak sama yang di sampaikan ABDUL GHOFUR AL MALINGI
3. mendatangi dauroh hizbi sururi
Ana menyatakan ANA BERTAUBAT KARENA MENDATANGI DAUROH
MEREKA ATTUROUTIYYUN
Perlu di ketahui kronologisnya bagaimana ana mendatangi acara tersebut. Pada saat
itu ana blom mengetahui bagaimana hukumnyaa menghadiri acara itu? yang ana
anggap ULAMA ahlu sunnah ?
Ucapan Abu Fairuz (-waffaqoniyallohu-): Cak Dul Ghafur, inilah yang
disampaikan oleh Al Akh Firman Hidayat, tentu saja ada beberapa perkataan yang
perlu dikomentari. Tapi pada intinya dia telah menyatakan tobat. Berhubung Antum

/[

121 ]
"Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menurunkan wahyu kepada para wali mereka untuk
mendebat kalian. dan jika kalian menaati mereka sungguh kalian itu benar-benar orang yang
musyrik." (QS Al An'am 121)

27
yang banyak chatting, Antum lebih tahu daripada ana tentang Al Akh Firman
Hidayat. Jika ada yang perlu diluruskan ya sampaikan kepadanya dengan baik-baik.
Jawaban kelima: Cak Dul Ghofur, demikianlah yang ditulis oleh Akhuna
Firman Hidayat waffaqohulloh- setelah kami memintanya untuk berbicara. Antum
bisa lihat sendiri bahwasanya kami ( ) tidak diam terhadap kebatilan, (sebisa
mungkin) meskipun dari pihak yang membantu kami sendiri. Antum sendiri tahu
bahwasanya kami tidak diam terhadap kesalahan yang dilakukan sahabat seiring
yang utama seperti Akhunal Fadhil Abu Hazim, Akhunal Fadhil Abu Arqom,
Akhunal Fadhil Fajar, Akhunal Fadhil Ahmad, Akhunal Fadhil Haamdani dan
Akhunal Fadhil Abu Arbah hafizhohumullohu jami'an- (dan siapa sih yang tak
punya salah?).
(1)

Maka bagaimana mungkin kami sengaja diam terhadap kesalahan Akhuna
Firman Hidayat yang barusan memperkenalkan diri kepada kami beberapa waktu
yang lalu? Ini jika kami tahu kesalahan tersebut. Dan kami mohon ampun pada
Alloh atas kekurangan kami dalam menegakkan nasihat terhadap diri sendiri
maupun terhadap yang lain.
Dan ( ) para teman dan sahabat kami tersebut senang dan bangga
punya saudara yang peduli terhadap mereka dan tidak diam terhadap kekurangan-
kekurangan mereka, dan tidak menunggu sampai selesainya peperangan melawan
ahlul bida (kapan juga selesainya? Jangan-jangan kami sudah mati sebelum
menyampaikan nasihat gara-gara ditunda-tunda).
( ) kami bukan hizbiyyun yang salah satu cirinya adalah lemah dalam
mengingkari kemungkaran teman sendiri karena takut temannya akan marah dan
meninggalkannya. Antum Cak, termasuk saksi kami di hadapan Alloh ta'ala
nantinya bahwasanya teman sendiripun kami nasihati sesanggup kami, dari cara
yang halus sampai agak keras.

(1)
- Akan tetapi kami tidak pernah mendapatkan dari Cak Dul dan konco-konconya adanya nasehat
atas kekeliruan yang sangat jelas dan gambalang dari sisi syari ataupun adab sopan-santun, bahkan
yang ada adalah bagaimana memperkokoh kesalahan mereka dengan cara memaksakan dalil untuk
digunakan sebagai pendukung, diantara perkara besar yang tidak mereka nasehatkan apalagi
ditarojuI adalah seperti dosa tasawwul plus dengan yayasannya, bermudah-mudah dalam
menggunakan jasa perbangkan dalam posisi tidak dhoruri dan masih banyak jalan seperti yang
mereka pampangkan di logo Dauroh Nasional mereka ketika mereka ngemis, membiarkan teman-
teman majahil berteriak bisu tanpa teguran, seperti Abu Mahfudh,Abu Umar, Dammaj Habibah dst,
bahkan saling bahu- membahu dalam mengkonsumsi dosa,padahal mereka dibawah ketiak para
pembesar yang mereka elu-elukan, ataukah itu semua kalian anggap remeh yang penting kita
bersama para pembesar.

/[

67 ]
Sementara kesalahan yang wajar dan bukan diatas kesengajaan dari lawan mereka bawa
kelobang sempit untuk menjepit, sementara kesengajaan kesalahan ustadz-ustadz dan para pendekar
sok jantan mereka dibiarkan tetap bercokol di kalangan mereka, kalau memang ucapan kami ini salah
tolong sebutkan kepada kami sikap nasehat atau tobat salah seorang dari mereka dalam masalah
salah yang sudah kita maklumi bersama.[Abu Turob]

28
Jawaban keenam: faidah cantik Cak, yang menunjukkan bahwasanya kami
tidak seperti yang Antum tuduhkan. Syaikhul Islam -rahimahulloh- berkata perihal
terjadinya perselisihan di antara para pengajar atau para thullab dan semisalnya:


:

[( 49 : .)]

.
"Maka apabila terjadi persengketaan dan perselisihan antar pengajar, atau antar
murid, atau antara pengajar dan murid, tidak boleh bagi seorangpun untuk
menolong satu pihak sampai dia tahu yang benar. Maka tak boleh baginya untuk
saling menolong dengan kebodohan dan hawa nafsu. Akan tetapi dia harus
memperhatikan perkara tersebut. Apabila jelas baginya kebenaran, dia harus
menolong pihak yang benar untuk menghadapi pihak yang berbuat batil, sama
saja apakah pihak yang benar itu dari temannya ataukah bukan. Dan sama saja
apakah pihak yang batil itu dari temannya ataukah bukan. Maka jadilah tujuannya
itu ibadah kepada Alloh semata dan ketaatan kepada Rosul-Nya, dan mengikuti
kebenaran. Alloh ta'ala berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian
sebagai orang yang menegakkan keadilan, sebagai saksi untuk Alloh walaupun
terhadap diri kalian sendiri atau terhadap orang tua dan sanak kerabat. Kalau dia
itu orang kaya ataupun miskin, maka Alloh itu lebih utama daripada mereka
berdua. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga tidak berbuat adil.
Dan jika kalian membolak-balikkan kata (untuk berbohong) atau berpaling maka
sesungguhnya Alloh maha mengetahui apa yang kalian kerjakan."
Dikatakan: () yaitu: memberikan kabar secara bohong. Dan () adalah
menyembunyikan al haqq, karena sesungguhnya orang yang diam terhadap al haqq
adalah setan yang bisu. Dan barangsiapa condong bersama temannya, sama saja
apakah kebenaran bersamanya ataupun melawan dirinya, maka sungguh dia itu
telah berhukum dengan hukum jahiliyyah dan keluar dari hukum Alloh dan
Rosul-Nya." ("Majmu'ul Fatawa"/28 /hal. 17).
Jawaban ketujuh: dengan penjelasan ini semua ( ) runtuhlah tuduhan
palsu dan jahat Cal Dul terhadap kami bahwasanya kami sengaja membiarkan
Firman Hidayat berbuat batil karena dia bersama kami.
Nasihat ana buat Antum, Cak Dul waffaqokallohu-: segeralah Antum
mengumumkan permohonan maaf pada Salafiyyin di Dammaj dan yang bersama
mereka, atas tuduhan palsu tadi. Antum bilang sebagai berikut:
"Sesungguhnya, dari sisi akhlaq apalagi dari segi manhaj dirinya yaitu Firman
Hidayat- tidaklah berharga bagi Hajuriyah. Hanya saja dia bisa bersama kumpulan

29
mereka karena sejalan dalam mencabik-cabik kehormatan para ulama, para duat
dan melancarkan fitnah keji serta mengadu domba. Maka dia amat berharga di
sisi Hajuriyah, minimal sebagai tukang pos gratis !!!" (hal. 30).
(1)

Jika Antum, Cak merasa tinggi hati dan tak mau mengumumkan pencabutan
ucapan tadi dan minta maaf, bisa jadi Antum perlu banyak berdoa keselamatan.
Alloh taala berfirman:
/[

61 ]
"Dan sungguh celakalah orang yang membikin-bikin."
Antum juga bilang: "Pantaskah seorang Fattan Khabits yaitu Firman
Hidayat- seperti bukti di atas memiliki nilai di sisi dakwah paling murni sedunia?
Tetapi demikianlah kenyataannya. Tidaklah memiliki nilai keutamaan di sisi mereka
kecuali hanyalah sebagai keledai tunggangan pengangkut beban fitnah yang mau
pergi kemanapun tuannya mengarah. Sejatinya bahwa seekor keledai tidaklah
memiliki rasa malu, hanyasanya sang penggembalalah yang pantas kita tuding:
Demikiankah manhaj kalian dalam memurnikan dakwah dengan cara membuang
jauh-jauh sifat malu dengan membiarkan fattan pendusta berkeliaran atas nama
dakwah paling murni sejawat?
(2)
" (hal. 31).
Jika Antum, Cak, merasa tinggi hati dan tak mau mengumumkan pencabutan
berbagai tuduhan kotor ini dan minta maaf, bisa jadi Antum perlu banyak
memperbanyak pahala, karena mungkin lebih dari tiga puluh orang akan menuntut
haknya dalam masalah ini dari Antum di hari Kiamat. Abu Huroiroh -rodhiyallohu
'anhu- berkata: Rosululloh -shollallohu 'alaihi wasallam- bersabda:
.
Pastilah hak-hak itu akan ditunaikan kepada orang yang berhak mendapatkannya
pada hari kiamat, sampai-sampai kambing yang tak bertanduk akan dibalaskan
haknya terhadap kambing yang bertanduk. (HR. Muslim).
Antum juga bilang: "Selain keledai, sesungguhnya akal sehat manusia yang
berakal akan mengingkari semua lenguhan keledai di atas, hanya saja demikianlah
letak perbedaan akal manusia dan akal keledai (yang sengaja dibiarkan hidup
berkeliaran oleh tuannya) untuk mengacaubalaukan ukhuwah imaniyah yang
selama ini dijaga." (hal. 37).
Jika Antum, Cak, merasa tinggi hati dan tak mau mengumumkan pencabutan
ucapan ini dan minta maaf, bisa jadi Antum butuh masker dan seragam anti polusi

(1)
- Cak, kata-kata awalmu dengan akhirnya kok berlawanan, diawal kamu katakan dia tidak
berharga, dan diakhir kamu mengatakan amat berharga, ini menunjukkan bahwa ketetapan dari
pengamatanmu kurang akurat, dan kamu sudah mengakui bahwa kami (dan kami tidak rela kalau
dinisbahkan kepada Hajuriyin atau yang lainnya yang bukan syariy karena ini bukan akhlaq salaf )
tidak menerima orang-orang yang tidak jelas dari segi manhaj dan akhlaqnya, dan kami hanya
menerima orang yang tsiqoh dan berani bertanggung jawab atas usahanya, akan tetapi mengapa
engkau paksakan celah yang kamu sendiri telah tahu posisi kami untuk menjepit kami?? Sungguh ini
suatu kedholiman yang harus segera ditaubati.[Abu Turob]
(2)
Mungkin maksud Cak Dul: sejagat

30
di akhirat. Abdulloh bin Umar -semoga Alloh meridhoi keduanya- berkata: Aku
mendengar Rosululloh -shollallohu 'alaihi wasallam- bersabda:

.
" dan barangsiapa berkata tentang seorang mukmin dengan suatu perkara yang
tidak ada pada dirinya, maka Alloh akan menjadikan dia tinggal di dalam
rodghotul khobal (perasan penduduk neraka) sampai dia keluar dari apa yang
diucapkannya." (HR. Abu Dawud (3592) dan dishohihkan Imam Al Wadi'y -semoga
Alloh merohmatinya- dalam "Ash Shohihul Musnad" (755)).
Antum juga bilang: "Tidaklah mengherankan jika si keledaipun terus
dibiarakan hidup walaupun dia melenguh dengan lenguhan-lenguhan KHABITS
yang sungguh tidak pantas didengarkan dan seharusnyalah bagi setiap orang tua
Muslim untuk menjauhkan ANAK-ANAKnya dari kekejian lisannya yang pastilah
diingkari oleh fitrah kaum mukminin yang masih memiliki rasa malu dan menjaga
kehormatan dirinya apalagi menjaga kemuliaan agamanya." (hal. 39).
Demikianlah Cak, terus-terusan Antum menuduh kami membiarkan
kebatilan Firman, dalam keadaan kami selama ini tidak mengenalnya dan tidak tahu
sepak terjangnya. Antum benar-benar mencemarkan kehormatan kami, Cak. Maka
ana berharap Antum segera mengumumkan pencabutan ucapan tersebut dan minta
maaf pada kami semua. Tahu nggak, Cak, bahwasanya riba itu hukumannya berat,
di antaranya adalah
(1)
:
(1) pelakunya akan diperangi Alloh dan Rosul-Nya -shollallohu 'alaihi
wasallam- (mungkin di dunia, ataupun di akhirat).
(2) Pelakunya disuruh renang di sungai darah sambil dilempari batu, di alam
kuburnya.
(3) Pelakunya terlaknat.
(4) Barokahnya rusak.
(5) Pelakunya kesurupan setan.
Sekarang Cak, bagaimana jika Antum terjatuh ke dalam riba yang terbesar?
Rosululloh -shollallohu 'alaihi wasallam- bersabda:
.
"Sesungguhnya termasuk riba yang terbesar adalah panjang lisan (menuduh atau
mencaci) terhadap kehormatan Muslim tanpa kebenaran." (HR. Abu Dawud
(13/222) dan dishohihkan Al Imam Al Wadi'iy -rohimahulloh- dalam "Al Jami'ush
Shohih" (3598)).
Cak Dul, bukannya ana hendak mempermalukan antum di depan umum,
dengan terjatuhnya Antum ke dalam pelanggaran nyata terhadap dalil-dalil di atas.
Sungguh Cak, beberapa hizbiyyin di sini jika ana atau sebagian teman ditonjok di
wajahnya, mereka senang dan mengejek. Tapi pada saat satu teman mereka terbakar

(1)
Sengaja ana tidak menuliskan dalil-dalilnya karena sudah terkenal, dan sebagiannya telah ana tulis
di syair ketiga perbaiki Bekal Hari Pembalasan.

31
muka dan sebagian anggota badannya, kami tidak merasa senang dan juga tidak
mengejek. Tapi kami juga tak mau menjenguknya karena bagi kami dia itu hizby.
Jawaban kedelapan: o ya Cak, gambar sampulmu bagus juga: Sepatu PDL
yang gagah, lalu di sampingnya ada sepatu hak tinggi perempuan berwarna merah
muda, dan juga gambar dua kuntum mawar merah muda. Judulnya: Hampir-
hampir Saja Mereka Jantan. Ana paham maksud Antum.
( ) kami dengan jantan mengakui terjadinya salah penerjemahan dalam
kasus Dijamin kebenarannya. Nah sekarang telah terbukti kedustaan tuduhan
Antum yang bertubi-tubi, bahwasanya kami sengaja membiarkan Akhuna Firman
Hidayat berbuat kebatilan. Sekarang Antum mau nggak, Cak untuk mengumumkan
permintaan maaf pada kami semua. Jika Antum telah mengumumkannya, maka
Antum memang jantan. Tapi jika tidak berani mengumumkan, maka ya sepatu
merah Antum cantik juga untuk Antum pakai. Jangan lupa dua kuntum
mawarnya taruh di rambutmu.
Jawaban kesembilan: coba perhatikan, Cak. Berita-berita dari Antum tidak
kami tolak mentah-mentah, ataupun kami sikapi dengan bengis. Bahkan kami
berusaha untuk menyikapinya sesuai dengan syariat semampu kami, karena
kebenaran itu memang di atas segalanya. Syaikh Robi hafizhohulloh- berkata:
. .
( " " / 86 .)
Kebenaran itu wahai Abdurrohman, lebih besar daripada langit dan bumi, dan
lebih besar daripada kelompok-kelompok yang kamu bela. Kebenaran itu lebih kami
cintai daripada anak, dan keluarga. (Jamaah Wahidah/hal. 86).
Sekarang Antum sendiri bagaimana, Cak? Kami sampaikan kepada kalian
sisi-sisi kebatilan si majhul Abu Mahfut dan Abu Umar, beserta dalil-dalil yang
menunjukkan bahwasanya mereka tadi telah keluar dari prinsip-prinsip
Ahlussunnah Wal Jamaah. Dan hingga kini kalian tak sanggup mematahkan hujjah-
hujjah kami sebagaimana kaidah-kaidah ilmiah-syariyyah yang berlaku di dalam
perdebatan. Ana yakin para ustadz kalian juga tahu kedustaan, dan kelemahan
argumentasi orang-orang majhul tadi. Tapi mana pengingkaran mereka
terhadapnya? Mana penjelasan mereka kepada para Salafiyyin (yang tertipu)
bahwasanya argumentasi teman-teman mereka tadi (Abu Mahfut dan Abu Umar)
lemah?
Lalu bagaimana, Cak? Kebatilan Abu Mahfut dan Abu Umar (dan yang
lainnya) tadi telah tersebar di mana-mana, dan telah kami tunjukkan sisi kebatilan
tersebut dengan dalil-dalilnya, dan kalian tak sanggup membantahnya. Maka mana
pengingkaranmu terhadap mereka? Apakah Antum memang meridhoi sikap
mereka tadi? Awas, Cak, Antum bisa memikul jenis dosa yang sama tanpa Antum
capek-capek berbuat, karena orang yang ridho terhadap kebatilan itu sejenis dengan
orang yang melakukannya. Al Imam Al Qurthuby -rohimahullohu- di dalam tafsir (
) menyebutkan:

32
.
Yaitu: sesungguhnya ridho terhadap kemaksiatan merupakan kemaksiatan juga.
Oleh karena itulah makanya pelaku kemaksiatan dan yang meridhoinya dihukum
dengan hukuman perbuatan maksiat hingga mereka semua binasa. (Al Jami Li
Ahkamil Quran/5/hal. 418).
Lihat juga tafsir As Sady rohimahumalloh-.
Kalo Antum bilang: Ana belum paham syariat dan kaidah-kaidahnya.
Maka jawab ana: kami telah menjelaskan kebatilan mereka lengkap dengan dalil-
dalilnya dari Al Quran dan As Sunnah dengan manhaj Salaf, dengan bahasa yang
terang. Bagaimana Antum masih tidak paham, dan justru menyerang Salafiyyin di
Dammaj dan yang beserta mereka, dengan berbagai caci-makian dan kedustaan
serta kengawuran, yang Syaikh Robi -hafizhohulloh- saja tidak melakukannya?
Katanya kalian nunggu Syaikh Robi karena beliau adalah Imam jarh wat Tadil?
Jika Antum memang jujur dengan pengakuan kebodohan Antum, maka ada
ungkapan Arab yang cocok:
...
Maka tinggalkanlah tulis-menulis, karena engkau belum pantas menjadi ahlinya,
meskipun kamu kotori wajahmu dengan tinta. (Subhul Asya/2/hal. 502).
Afwan, Cak jika terlalu kasar. Tapi mungkin itu lebih baik daripada Antum
tambah dosa berbicara terhadap banyak Muslimin dengan batil, dan menyesatkan
banyak orang. Ini sekedar nasihat, Cak, walaupun agak kasar semoga diterima.
Antum sendiri sudah melihat bahwasanya ucapan-ucapan keji dan kotor dari
Antum jika memang mengandung kebenaran ana terima. lillahi ta'ala, Cak.
Jawaban kesepuluh: masih ada beberapa poin jawaban yang ana simpan,
yang sebenarnya bisa membikin wajah Antum benjol bagai apel Manalagi. Tapi
risalah ini sudah cukup panjang. Para pembaca yang serius mencari kebenaran dan
bersikap adil ( ) akan bisa menilai siapakah yang lebih jujur dan lebih dekat
kepada kebenaran.

Bab Enam: Istilah Pusat Dakwah Salafiyyah Paling Murni
Sedunia

Sungguh, Cak, ana sebenarnya tak suka ungkapan-ungkapan yang
menggambarkan kebanggaan diri atau kelompok, dan semisalnya. Hanya saja di
zaman ini makin banyak markiz Salafiyyah yang mengabaikan thoriqotus Salaf
dalam menyeleksi murid. Banyak yang membiarkan para murid campur aduk
dengan para pembawa pemikiran bidah di markiznya. Padahal Antum sendiri tahu
Cak, bahwasanya jarang sekali orang sehat jika ngumpuli orang sakit, lalu si sakit
jadi ketularan sehat. Yang terjadi justru sebaliknya. Makanya syariat Alloh taala
mengajarkan pemisahan, kecuali bagi para dokter atau perawat yang bertugas
mengobati si sakit. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam- bersabda:

33
.
Tidak boleh orang yang sakit itu dimasukkan kepada orang yang sehat. (HR. Al
Bukhory dan Muslim, dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu 'anhu-).
Makanya mengingat berbagai bahaya yang mungkin timbul dari akibat
masuknya pembawa syubhat ke tempat pengajaran Salafiyyah, makanya para
Salafpun menerapkan sikap tamyiz-tamayyuz (penyeleksian dan pemisahan diri).
Imam Ahmad bin Yunus rohimahulloh berkata:
: : :
: : : .
"Aku melihat Zuhair bin Mu'awiyah mendatangi Zaidah bin Qudamah, lalu
mengajaknya bicara tentang seseorang agar beliau mau memberinya hadits. Maka
Zaidah berkata,"Apakah dia dari Ahlussunnah?" Maka dia berkata,"Saya tidak
mengetahui dia terkena kebid'ahan." Maka Zaidah berkata,"Tidak bisa. Apakah dia
dari Ahlussunnah?" Maka Zuhair berkata,"Sejak kapan orang-orang seperti ini?"
Zaidah berkata,"Kapankah orang-orang mencaci-maki Abu Bakr dan Umar?"
(1)
("Al
Jami' Li Akhlaqir Rowi"/2/hal. 353).
Imam An Nadhr bin Syumail rohimahulloh berkata:
:

"Dulu Sulaiman At Taimy jika ada orang dari penduduk Bashroh yang
mendatanginya tapi dia tidak mengenalnya, maka beliau berkata,"Apakah engkau
bersaksi bahwasanya orang yang celaka itu celaka di perut ibunya, dan bahwasanya
orang yang beruntung itu adalah yang bisa mengambil pelajaran dengan orang
lain?" Jika dia mengakuinya akan diberinya hadits. Tapi jika tidak bersaksi demikian
beliaupun tidak memberinya hadits." ("Al Jami' Li Akhlaqir Roqi"/2/hal. 348).
Imam Sufyan Ats Tsaury rohimahulloh berkata:
.
"Ujilah oleh kalian penduduk Maushil dengan Al Mu'afa Imam Al Mu'afa bin
'Imron-." ("Siyar A'lam"/9/hal. 82).
Al Imam Al Wadiiy -rohimahullohu- berkata:

.

(1)
Perkataan Zaidah bin Qudamah -rohimahullohu- ini merupakan pengingkaran terhadap
pertanyaan Zuhair -rohimahullohu-. Manakala orang mulai terjatuh ke dalam bidah Tasyayyu dan
yang sezaman dengan itu, mulailah para Imam Salaf menerapkan seleksi seperti ini. Dan mereka
punya dalil-dalil dari Quran dan Sunnah. Maka bagaimana perkara ini terlewatkan oleh Zuhair?

34
Dan kami menasihati Ahlussunnah untuk tamayyuz (memisahkan diri dari
Ahlul bida) dan membangun masjid-masjid untuk diri mereka sendiri
sekalipun dari batu lempung ataupun dari pelepah kurma, karena mereka tak
akan sanggup menyebarkan sunnah Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-
kecuali dengan cara tamayyuz. Jika tidak demikian, maka ahlul bida itu tak
akan membiarkan mereka menebarkan As Sunnah. (Tuhfatul Mujib/hal.
208).
Asy Syaikh Robi Al Madkholiy hafizhohulloh- berkata:
... : "
" ( . " " 303 )
Asy Syaikh Muqbil dan para murid seniornya, karena mereka itu sejak dulu dan
senantiasa memandang harusnya memboikot pelaku hizbiyyah dan memisahkan
diri dari mereka. Bahkan Asy Syaikh Muqbil berkata: Inilah dakwahku, dan inilah
jalanku yang membedakan diriku dari orang-orang bodoh itu. (Intiqod Aqody
Manhajiy ala Abil Hasan/hal. 303).
Manakala banyak markiz yang meninggalkan thoriqotus Salaf tadi, dan justru
di kemudian hari banyak menjadi tempat penampungan hizbiyyin, dan
pengelolanya menjadi pembela mereka, jadilah Syaikhuna Abu Hamzah
Muhammad bin Husain Al Amudiy -hafizhohulloh- menyuruh ana untuk
menampilkan istilah: Markiz Dakwah Salafiyyah yang Murni di Dunia
sebagaimana bentuk syukur kepada nikmat Alloh ta'ala, dan nasihat buat yang
lainnya. Ya memang resikonya adalah para ahlil bida' jengkel.
Kemudian, Cak, ana melihat bahwasanya sebagian hizbiyyin yang suka
berdalam-dalam akan memprotes walaupun ngawur-: Jika markiz kalian murni,
berarti yang lain kalian tuduh tidak murni, dong!? Makanya meskipun ana punya
jawabannya yang sesuai dengan bahasa dan usul fiqh, ana memilih untuk lebih
melunakkan istilah menjadi: Markiz Dakwah Salafiyyah yang Paling Murni di
Dunia, barangkali agak mengurangi protes karena istilah tadi bermakna: yang lain
juga ada yang murni, hanya saja yang di Dammaj lebih murni daripada yang
lainnya.
Tetap saja hizbiyyun banyak yang terbakar dan gatal-gatal. Dasar memang
tukang hasad, ya Cak.
Nah, sekarang ada berita gembira buat kalian semua, Cak. Beberapa waktu
yang lalu pada saat ana menyerahkan naskah kitab yang menyingkap Kristenisasi ke
Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-. Beliau menyetujuinya dan bahkan memberikan
kata pengantar. Tapi juga ternyata beliau mencoret beberapa kata di sampul depan
yang menggambarkan keagungan markiz Dammaj, dan yang tersisa hanyalah:
Darul hadits di Dammaj-Yaman.
Semoga Alloh taala merohmati beliau dan mengangkat derajat beliau atas
sikap rendah hati tersebut.

35
Dan semoga kalian semua pandai bersyukur pada Alloh taala atas nikmat
ini: hilangnya sebagian bara kedongkolan dari dalam hati. Cak Dul, buang sajalah
bara hasad itu, karena dia itu lebih panas daripada bara sate Malang.
Maka berdasarkan apa yang ana sebutkan di atas, sejak saat ini ana tidak lagi
mencantumkan lafazh Markiz Dakwah Salafiyyah yang Murni di Dunia ataupun
yang sejenis dengan itu, ( ).

Bab Tujuh: Akhunal Fadhil Muhammad Bin Umar -
hafizhohulloh- Tidak Ngibul

Di dalam tulisan Cak Dul Ghofur Al Malangi, beliau menyebutkan
bahwasanya Akhunal Fadhil Muhammad bin Umar -hafizhohulloh- ngibuli Akhuna
Abu Huroiroh perihal Ubaid Al Jabiry hadahulloh-. Cak Dul bilang:
Terkait penghinaan Hajury dan Hajuriyun terhadap Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri
hafizhahullah, bak keledai independent (maksudnya adalah Abu Huroirah Firman)
memamerkan keakrabannya dengan para sopir dakwah paling murni sejawat
(1)

(lalu Cak Dul Ghofur menukilkan tulisan Abu Huroirah):

Kemudian Cak Dul menukilkan tulisan dari Aloloom As Salafiyyah):


(1)
Barangkali yang dimaksud Cak Dul Ghofur adalah: sejagat, bukan sejawat

36

Dengan perbedaan fatwa tersebut Cak Dul Ghofur berulang-kali menuduh Akhuna
Ibnu Umar telah mengibuli Abu Hurairah.
Jawaban pertama dari Abu Fairuz afallohu anhu-: Akhunal Fadhil
Muhammad bin Umar Al Acehy -hafizhohulloh- pulang ke Indonesia beberapa
bulan yang lalu, setelah meredanya krisis Rofidhoh pada tahun ini, dan jalan ke
Shona terbuka luas. Beliau pulang dalam keadaan membawa fatwa lama dari
Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- yang intinya bahwasanya Syaikh Ubaid Al Jabiry
itu salah dan membela hizby jadid.
Belum didapati adanya fatwa tegas dari Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-
bahwasanya dia itu hizby. Makanya wajar saja jika Akhuna Ibnu Umar -
hafizhohulloh- menjawab sesuai dengan apa yang beliau tahu. Belumlah sampai
kabar pada beliau bahwasanya Ubaid Al Jabiry berkali-kali memperbaharui
serangan cacian kepada Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- dan tahdzir terhadap
Dammaj. Kami yang di sini mengetahui langsung apa yang tidak diketahui Akhuna
-hafizhohulloh-. Sampai akhirnya Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- pada tanggal 16
Jumadits Tsaniyyah 1431 H (dalam catatan ana) pada waktu antara Mahgrib dan
Isya di dars am (pelajaran untuk seluruh pelajar) ditanya tentang keadaan Ubaid Al
Jabiriy, maka beliau menjawab dengan jawaban yang panjang dan sebagiannya agak
terulang-ulang, yang di antaranya adalah:

Ubaid Al Jabiriy itu hizby pembikin kedustaan.
.
Bukanlah hidayah dan sunnah yang membawanya kepada perbuatan itu
(1)
. Yang
membawanya kepada perbuatan itu adalah sifat hizbiyyahnya dia, dan
keinginannya untuk mengobarkan fitnah dan fanatisme kepada para hizbiyyin.

Dia berjuang mati-matian untuk membela hizbiyyah. Dan ini merupakan karakter
para hizbiyyin.
Yang ana tuliskan di sini hanyalah sebagian dari ucapan beliau -hafizhohulloh-,
sebagaimana yang tertulis di Aloloom Assalafiyyah pun demikian.

(1)
Yaitu: perbuatannya mentahdzir umat dari markiz Dammaj dan caciannya terhadap Syaikhuna
Yahya -hafizhohulloh-.

37
Makanya yang terjadi pada Akhuna Ibnu Umar -hafizhohulloh- itu bukanlah
pengibulan, tapi penyebutan hukum sesuai dengan apa yang beliau tahu. Paham
nggak Cak, bedanya. Jika Antum nggak paham, ana nasihatkan untuk banyak-
banyak belajar dan memperdalam syariat Islam ini dengan serius dan niat ikhlas
agar semakin punya pemahaman yang lurus dan mendalam dan semakin punya
rasa takut pada Alloh. Kurangilah nongkrong di layar internet, Cak. Ini nasihat yang
tulus, Cak, bukan ejekan.
Jawaban kedua: jawaban di atas cocok untuk kasus penukilan berita.
Misalnya: jika posisi Akhuna Ibnu Umar -hafizhohulloh- pada waktu itu adalah
sedang menukil berita dari Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-. Maka kita katakan
bahwasanya beliau menyampaikan berita sesuai dengan apa yang beliau tahu
langsung dari Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- sebelum pulang ke Indonesia. Dan
beliau tidak tahu bahwasanya pada pekan-pekan berikutnya terjadi serangan-
serangan yang menyebabkan Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- memperkeras
hukum terhadap Syaikh Ubaid. Maka tinggal kita perbarui pengetahuan yang ada
pada Akhuna Ibnu Umar -hafizhohulloh-. Dan sama sekali Antum ataupun yang
lainnya- tidak berhak untuk mengatakan bahwasanya beliau mengibuli Abu
Hurairah.
Tapi jika kita melihat lahiriyah dari jawaban beliau kepada Abu Hurairah,
kita dapati bahwasanya beliau (Akhuna Ibnu Umar -hafizhohulloh-) tidak sedang
menisbatkan hukum tadi kepada Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-. Maka jika
terjadi perbedaan hukum yang dilontarkan oleh Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-
dan Akhuna Ibnu Umar -hafizhohulloh-, lebih pantas lagi untuk tidak dikatakan
bahwasanya beliau mengibuli Abu Hurairah. Paham nggak, Cak? Jika nggak paham
ya banyak-banyak doa, Cak.
Jawaban ketiga: Tahu nggak, Cak bahwasanya termasuk syiar terbesar dari
hizbiy Mariyyin adalah Kalian mutasarriun dan mustajilun (tergesa-gesa) dalam
menghukumi!. Ini teriakan Syaikh Antum Abdulloh bin Umar bin Mariy pada
saat sibuk membela-bela Abul Hasan Al Mishry. Ini juga teriakan para pengikut
Syaikh Antum Abdurrohman bin Umar bin Mariy untuk berkelit dari vonis
Salafiyyun dalam fitnah ini. Bahkan ini juga syiar Jamaah Tabligh (lihat Al Qoulul
Baligh/hal. 106), Al Ikhwanul Muslimin (lihat Ar Roddul Muhabbar/hal. 188),
dan Jamiyatul Hikmah (lihat Qomul Muanid/1/hal. 63-64), dan tokoh pembela
Jamiyathul Ihsan (lihat Nubdzatun Yasiroh/hal. 76-78), dan Abul Hasan (Lihat
Majmuur Rudud/hal. 459).
Yang ana inginkan di sini, Cak penjelasan bahwasanya kedua Syaikh Antum
itu hizby, syiar mereka sama dengan syiar para hizbiyyin terdahulu.
Tapi sekalipun demikian, mbok ya yang adil dalam menerapkan syiar.
Teriak-teriak: Kalian mutasarriun dan mustajilun (tergesa-gesa) dalam
menghukumi!. O ternyata mereka sendiri tergesa-gesa dan ngawur dalam
menimpakan vonis. Contohnya ya Cak Dul sekarang ini.
Jawaban keempat: Syiar Mariyyin juga: Tabayyun dan tatsabbut sebelum
menyimpulkan! Tapi mbok ya yang adil dalam menerapkan syiar. Contohnya ya

38
Cak Dul sekarang ini. Berikut ini adalah faidah, Cak,: Ibrohim At Taimy -
rohimahullohu-berkata:

Tidaklah aku sodorkan perkataanku kepada perbuatanku, kecuali aku takut akan
didustakan (dianggap sebagai pendusta). (Shohihul Bukhory/kitab Badil
Wahyi/Bab Khoufil Mumin).
Jawaban kelima: setelah terbukti ngawurnya tuduhan tadi, coba kita hitung
sejenak kejahatan Antum pada Akhuna Ibnu Umar, dan apa ancaman kerugian buat
diri Antum sendiri.
Antum bilang: Ya ustadz Ibnu Umar hadahullah, demikiankah atsar ilmu
luas dan dalam yang didapatkan dari Al-Hajuri ? Baru pulang dari sana sudah
MENGIBULI hanya karena HARTANYA adalah ASSET BERHARGA 24 karatan
(yaitu: Abu Hurairah) yang harus dibiarkan hidup berkeliaran walaupun dia bak
seekor keledai yang memanggul kitab? (hal. 34).
Sudah jelas bahwasanya beliau tidak mengibuli Abu Hurairah. Ingat nggak,
Cak Dul bahwasanya dengan ini Antum terancam masuk ke rodghotul khobal
(perasan penduduk neraka)?
Lalu Antum mengulang lagi tuduhan tadi dengan berkata: Dikaupun
begitu tega mengelabui Abu Hurairah? Iya, sekarang si bocoralus (yaitu: Abu
Hurairah) telah melakukan operasi face-off untuk kesekian kalinya dengan topeng
barunya sebagai Abu Hurairah. (hal. 35).
Sudah jelas bahwasanya beliau tidak mengibuli Abu Hurairah. Ini tuduhan
palsu, Cak. Ingat nggak Cak hadits Abu Huroiroh -rodhiyallohu 'anhu-:
- - . .


.
Bahwasanya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bertanya: Tahukah kalian
siapa itu orang yang bangkrut? Mereka menjawab,Orang yang bangkrut di
kalangan kami adalah orang yang tak punya uang ataupun barang. Maka beliau
bersabda: Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang
datang pada hari kiamat dengan pahala sholat, puasa, dan zakat. Tapi dia datang
dalam keadaan telah mencaci si ini, menuduh si itu, makan harta orang ini,
menumpahkan darah orang itu, dan memukul si dia. Maka si ini diberi
kebaikannya, si itu diberi kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum dia
membayar seluruh kewajibannya, diambillah dari kejelekan mereka lalu dipikulkan
ke punggungnya, lalu dilemparkanlah dirinya ke dalam neraka. (HR. Muslim).
Antum juga ulangi tuduhan, Cak dengan perkataan: Kita katakan kepada
Abu Hurairah Firman, baginda telah dikibulin! (hal. 35).

39
Beliau tidak mengibuli Abu Hurairah, Cak. Antum yang dusta dan membikin
dosa. Maka perbanyaklah doa keselamatan, karena Alloh taala berfirman:

/(

7 )
"Dan kecelakaanlah untuk setiap pendusta lagi pendosa." (QS. Al Jatsiyah: 7).
Pantun Cak Dul berikut ini adalah tuduhan yang kesekian: Naik gunung
membeli jati Berhenti dekat pohon pepaya Pakcik Agung kibuli si jakarti
Bagaimana umat akan percaya Kucing orang dielus-elus Sambil berbaring di
kasurnya Keledai orang diakal bulus Sambil berbaring di kasurnya Tega nian dikau
(hal. 35).
Ingat, Cak, hukuman terhadap riba apa saja? Bagaimana dengan riba yang
terbesar -menuduh seorang Muslim tanpa kebenaran-?
Ternyata terus-terusan Antum ulang tuduhan palsu tadi. Alangkah ngerinya
kobaran api kebencian di hatimu. Waspadalah Cak, jangan sampai dia membakar
dirimu sendiri. Antum bilang: Sepantasnya kita memperbanyak istighfar kepada
Allah. Sekian tahun menimba ilmu di bawah bimbingan langsung Al Imam Jarh wa
Tadil Yaman, pulang-pulang membuka dakwah dengan mengibuli orang. (hal.
35).
Ini termasuk mencari-cari kekurangan seorang Muslim (sampai-sampai yang
bukan dosapun dicatat dan diberi stempel: Ngibul). Awas, Cak, balasan itu sesuai
dengan amalan. Bisa jadi Alloh akan balas mencari-cari kekurangan Antum, maka
jangan harap bisa sembunyi di kebun Apel Manalagi di Batu Malang, ataupun di
kawah gunung Bromo. Nafi -rohimahullohu- berkata:
:



Dari Ibnu Umar -rodhiyallohu 'anhuma- yang berkata: Rosululloh -shollallohu
alaihi wasallam- pernah naik ke mimbar, lalu berseru dengan suara yang tinggi
seraya berkata: Wahai orang-orang yang masuk Islam dengan lidahnya, tapi iman
itu belum menembus ke dalam hatinya, janganlah kalian mengganggu Muslimin,
dan jangan mencaci mereka, dan jangan mencari-cari kekurangan mereka, karena
barangsiapa mencari-cari kekurangan saudaranya Muslim, maka Alloh akan
mencari-cari kekurangannya. Dan barangsiapa dicari-cari kekurangannya oleh
Alloh, pastilah Alloh akan membongkarnya sekalipun dia bersembunyi di tengah
rumahnya.
Pada suatu hari Ibnu Umar -rodhiyallohu 'anhuma- memandang ke Al Baitul
Harom, atau ke Kabah, lalu berkata: Alangkah agungnya engkau, dan alangkah
agungnya kehormatanmu. Tapi Mukmin itu lebih agung kehormatannya daripada

40
engkau. (HR. At Tirmidzy (6/180), dihasankan oleh Al Imam Al Wadiiy -
rohimahullohu- dalam Al Jamiush Shohih (3601)).
Cak, masih juga Antum mengulang tuduhan itu sambil mengejek dengan
berkata: Wa yang lebih kejam lagi, dikau mengibulinya sambil berbaring di
tempat tidurnya. (hal. 35).
Ittaqillah, Cak, Akhuna Ibnu Umar -hafizhohulloh- walaupun Antum
remehkan beliau, beliau itu mengerjakan sholat Shubuh. Kejahatan terhadap orang
yang shalat Shubuh bukanlah kejahatan yang enteng. Rosululloh bersabda:
.
"Barangsiapa sholat Shubh maka dia itu ada dalam jaminan Alloh. Maka
perhatikanlah wahai anak Adam jangan sampai Alloh menuntutmu sedikitpun dari
jaminan-Nya." (HSR Muslim dari Jundub bin Sufyan).
Masih juga Antum belum puas dengan tuduhan palsu yang bertubi-tubi tadi.
Antum melanjutkan proses merusak wajah dan menyakiti hati beliau: wa yang
sangat menggemaskan dikau mengibulinya sambil memegang kucingnya.
Astaghfirullahal adzim. Allahummaghfirlahu. Betapa malang nasibmu wahai Abu
Hurairah Firman, benar-benar dikau bagaikan keledai fitnah yang memanggul
kitab. (hal. 35).
Tobat, Cak, sebelum datangnya balasan yang pastilah sesuai dengan
amalan. Anas meriwayatkan bahwa Rosululloh bersabda:
: :

"Ketika aku dinaikkan ke langit aku melewati suatu kaum yang punya kuku-kuku
dari tembaga, mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka sendiri.
Kutanyakan,"Siapakah mereka itu wahai Jibril?" Jawabnya,"Mereka adalah
orang-orang yang memakan daging manusia dan merusak kehormatan mereka."
(HSR Abu Dawud (4880). dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi'i rahimahulloh-
dalam "Al jamiush Shohih" (3600)).
Jawaban keenam: nasihat ana buat Antum, Cak, untuk segera
mengumumkan pencabutan tuduhan yang berulang-ulang tadi. Jika ini Antum
lakukan maka kami merasa salut pada kejantanan Antum. Lagi pula itu hak diri
Antum terhadap Antum sendiri: menyelamatkan diri dari kerugian. Tapi jika
ternyata Antum pengecut, maka silakan ambil kembali sepatu merah jambu
Antum, dan tolong dipakai sambil jalan-jalan. Jangan lupa taruh bunga mawar
Antum di kedua telinga Antum. Barangkali Cak Dul setelah itu butuh operasi face
off kayak ucapannya pada Abu Hurairah -waffaqohullohu-.
Ana yakin Antum masih punya jiwa jujur dan ksatria untuk mengakui
kesalahan sebagaimana mestinya. Rosululloh -shalallohu 'alaihi wa sallam-
bersabda:


41
"Sejelek-jelek sifat yang ada pada seorang lelaki adalah sifat kikir yang penuh
dengan keluhan, dan sifat penakut yang amat sangat." (HSR Ahmad dan At
Tirmidzy dari Abi Huroiroh rodhiyallohu 'anhu. Lihat "Al Jami'ush Shohih" 5/131
karya Imam Al Wadi'y -rahimahulloh-).
Setelah Antum melihat kejujuran dan kejantanan kami dalam menyikapi
kesalahan sendiri, maka ana nasihatkan buat Antum untuk berbuat serupa atau
yang lebih baik. Bukan dalam rangka Antum tunduk pada musuh, tapi demi nama
baik Antum sendiri di mata Alloh taala. dan ( ) suatu saat Antum akan tahu
bahwasanya nasihat orang yang Antum musuhi ini jauh lebih berharga daripada
pujian dan sanjungan para pendukung Antum.
Antum sendiri telah lihat bahwasanya nasihat ana ini ( ) sesuai dengan
dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunnah. Maka jika Antum mengambilnya,
sebenarnya Antum menaati Alloh dan Rosul-Nya, bukan merunduk pada sang
penyampai yang Antum benci ini. Suatu saat nanti kita akan melihat kebenaran
firman Alloh taala:

: [

27 - 29 ]
Dan pada hari di mana orang yang zholim itu menggigit kedua tangannya sambil
berkata: Aduh, andaikata aku mengambil jalan bersama Rosul. Aduh, celakalah
aku, andaikata aku tidak mengambil si Fulan sebagai teman akrab. Sungguh dia
telah menyesatkan aku dari peringatan setelah peringatan itu datang kepadaku."
(QS. Al Ahzab: 27-29).
Tulisan ini merupakan awal dari dialog ana dengan Cak Dul. Semoga cukup
halus dan tidak sekasar tulisan Cak Dul. Dan semoga bermanfaat dan
menumbuhkan kesadaran pada beliau dan orang-orang yang tertipu olehnya. Dan
ana ucapankan ( ) kepada Akhuna Abu Yusuf Al Ambony dan yang
lainnya atas seluruh bantuan yang diberikan.
( ) tulisan ini akan disambung pada seri yang kedua.
. .
.

Dammaj, 20 Rojab 1431 H
Ditulis oleh Al Faqir Ilalloh taala
Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsiy
Al Indonesiy


42
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 2)






KELUARNYA SESEORANG DARI AS SUNNAH,
MUNGKINKAH? DAN KAPANKAH?





Korektor:
Abu Turob Saif bin Hadhor Al Jawy Al Indonesy
-semoga Alloh memaafkannya-





Ditulis oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsy Al Jawy
Al Indonesy
-semoga Alloh memaafkannya-






Darul Hadits Dammaj
Yaman
-Semoga Alloh menjaganya-


43


Kata Pengantar Seri Dua


:

Sepekan telah berlalu, dan hingga kini belum ada kabar bahwasanya Cak Dul
Ghofur Al Malangiy mengumumkan permohonan maaf atas beberapa tuduhannya
yang terbukti palsu, sebagaimana ana uraikan di risalah ana yang pertama. Di
sinilah para pembaca yang cerdas dan adil bisa melihat kadar kejantanan sang
penulis Hampir-hampir Mereka Jantan. Dan mereka -hafizhohumulloh- bisa
melihat bahwasanya Cak Dul itulah yang pantas memakai sepatu merah
jambunya lengkap dengan atribut mawarnya.
Ini adalah risalah kedua sebagai jawaban dari cacian yang bertubi-tubi dari
Cak Dul Ghafur Al Malangiy di dalam tulisannya tersebut. Cak Dul bilang:
TRAGEDI BERANTAI NAN MEMILUKAN: PENGHINAAN KEJI TERHADAP
PARA ULAMA DAKWAH SALAFIYYAH (hal. 2).
Lalu dia menyebutkan sikap Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau -
hafizhohumulloh-: Tetap pada keputusan bahwa Asy Syaikh Abdurrahman dan
orang yang bersamanya adalah hizbi. Sehingga halal mencela Asy Syaikh
Abdurrahman, halal mencela Asy Syaikh Abdullah Mari, (hal. 20).
Intinya adalah bahwasanya Cak Dul -waffaqohullohu- tidak menerima vonis
hizbiyyah terhadap kedua anak Mariy tersebut, dan menjadikan hal itu sebagai
bentuk cercaan dan penghinaan terhadap ulama Dakwah Salafiyyah.
Maka dari itu pada kesempatan ini ana akan menjawab perkataan tersebut
dengan beberapa jawaban, -wabillahit taufiq-:
Bab Satu: Kedangkalan Ilmu Pemilik Sepatu Merah Jambu

Jawaban pertama: Para Salafiyyun yang punya kecemburuan kepada Agama
Alloh taala telah berulang kali menyebarkan hujjah-hujjah tentang hizbiyyah
Abdurrohman bin Umar Al Mariy dan saudaranya: Abdulloh. Dan termasuk hujjah
yang terlengkap dan amat mencukupi ada di dalam Mukhtashorul Bayan. Akan
tetapi barangkali dikarenakan kerasnya klakson hizbiyyah di telinga Cak Dul,
dan tebalnya asap pengkaburan yang menutup mata beliau, dan berlapisnya
selubung yang menutupi hatinya jadilah seluruh hujjah tadi tidak bisa diambil
manfaat olehnya. Sungguh ana berharap Cak Dul tidak meniru ucapan orang yang
disebutkan oleh Alloh taala:

44

/[

5 ]
Dan mereka berkata: Hati kami ada di dalam penutup yang tebal terhadap apa
yang kamu serukan, dan di telinga kami ada penutup yang membikin tuli, dan di
antara kami dan kamu ada penghalang. Maka beramallah kamu, karena
sesungguhnya kami juga beramal. (QS. Fushshilat: 5).
Sungguh benar, setelah bayyinah dari Ahlussunnah terhadap hizbiyyah
kedua anak Mariy tidak bermanfaat, maka masing-masing beramal sesuai dengan
karakternya. Ahlussunnah menyebarkan nasihat dan bayyinah dengan penuh
kejujuran dan hujjah, sementara Hizbiyyun berusaha menghalangi malzamah-
bayyinah kami yang harusnya disebar agar umat bisa menimbang sesuai dengan
dalil-dalil yang ada. Hizbiyyun juga tidak malu-malu menempuh kedustaan demi
membatalkan hujjah lawannya dan menghancurkan namanya jika sanggup.
Di samping risalah Hampir-hampir Mereka Jantan tadi menunjukkan
lemahnya pemahaman Cak Dul, isinya juga benar-benar menggambarkan
dangkalnya ilmu Cak Dul tentang manhaj Aimmatus Sunnah dalam menyikapi
kesalahan seorang Ahlussunnah. Dalam keadaan seperti itu justru dia menuduh
kami sebagai: Seekor katak dalam tempurung (hal. 3).
Maka cocok untuk beliau ungkapan Arab berikut ini:

Dia itu menuduh diriku dengan penyakitnya sendiri, dan berusaha membersihkan
dirinya dari penyakit tadi. (Majmaul Amtsal/1/hal. 125).

Bab Dua: Kami Mencela Para Mubtadiah, Bukan Mencela
Ulama Ahlussunnah

Jawaban kedua: Bagaimana pendapat Cak Dul tentang Mabad Al Juhaniy,
Amr bin Ubaid, Washil Bin Atho, Imron bin Hiththon, Bisyir Al Marisiy, Nafi Al
Azroq, dan semisal mereka?
Jika Cak Dul bilang: Mereka itu ulama Ahlussunnah maka katak dan
tempurungnya buat Cak Dul saja.
Jika Cak Dul bilang: Mereka adalah ahli bidah. Berarti Cak Dul mencela
ulama, dong. Coba baca biografi mereka, ternyata mereka adalah para ulama.
Tentu Cak Dul langsung bilang: Mereka memang punya ilmu, tapi mereka
adalah ulama ahlul bida.
Kenapa Cak Dul mengatakan bahwasanya mereka itu ulama ahlul bida dan
bukannya ulama Ahlussunnah? Tentunya Cak Dul bilang: Karena mereka
menyelisihi sebagian prinsip Ahlussunnah.
Ana katakan: Demikian pula Syaikhuna Al Allamah Yahya bin Ali Al
Hajuriy, Asy Syaikh Muhammad bin Hizam Al Ibbiy, Asy Syaikh Abu Amr Al
Hajuriy, Asy Syaikh Abu Bilal Al Hadhromiy, Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy,

45
Asy Syaikh Muhammad Al 'Amudy, Asy Syaikh Abu Muadz Husain Al Hathibiy,
Asy Syaikh Said Daas Al Yafiiy, dan Asy Syaikh Muhammad bin Husain Al
Amudiy -hafizhohumulloh- (semuanya di markiz Dammaj) saat menghukumi
kedua anak Mariy sebagai hizbiy, bukanlah mereka tadi mencela ulama
Ahlussunnah, tapi mencerca masyayikh Ahlul bidah.
Demikian juga Syaikhunal Walid Muhammad bin Mani' di markiz Shon'a,
Asy Syaikh Ahmad bin 'Utsman di markiz 'Adn, Asy Syaikh Hasan bin Qosim Ar
Roimy (murid Imam Al Albany -rahimahulloh-) di markiz Ta'iz, Asy Syaikh
Abdulloh Al Iryaniy di markiz Baidho, Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal di
markiz Hadhromaut, dan Asy Syaikh Abu 'Ammar Yasir Ad Duba'iy di Mukalla.
Asy Syaikh Abdurrozaq An Nahmi di Damar, Semuanya -hafizhahumulloh- saat
menghukumi kedua anak Mariy sebagai hizbiy, bukanlah mereka tadi mencela
ulama Ahlussunnah, tapi mencerca masyayikh Ahlul bidah.
Maka dengan ini tidak pantas Cak Dul menuduh para ulama dan yang
bersama mereka tadi sebagai orang-orang yang merobek-robek kehormatan ulama
Dakwah Salafiyyah, karena kedua anak Mariy tadi bukan Salafiy. Kok bisa?
Karena keduanya telah keluar dari sebagian pokok-pokok Salafiyyah dan
prinsip-prinsip Ahlussunnah Wal Jamaah. Kok bisa keduanya dikeluarkan dari
Salafiyyah dan menjadi mubtadi? jawabannya adalah berikut ini:

Bab Tiga: Siapakah Dari Umat Muhammad -shollallohu alaihi
wasallam- Yang Ma'shum?

Jawaban kedua: Tiada dari manusia yang terjaga dari kesalahan selain Nabi
dan Rosul -alaihimush sholatu wassalam-. Demikian pula seluruh umat
Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- tiada seorangpun dari mereka yang
terbebas dari kesalahan, setinggi apapun derajatnya. Tidak ada satu dalilpun yang
menjamin bahwasanya mereka senantiasa berada di atas fithroh sampai matinya.
Demikian pula tiada jaminan baginya untuk senantiasa bisa setia kepada Alloh dan
Rosul-Nya -shollallohu alaihi wasallam- dan jalan para Salaf -rohimahumullohu-
sampai akhir hayatnya.
Dalil yang mendukung pernyataan ana di atas adalah sebagai berikut:
1. Dalil Al Quran dan As Sunnah
Alloh taala berfirman:

: [

217 ]
Dan barangsiapa dari kalian (Muslimin) murtad dari agamanya lalu dia mati
dalam keadaan kafir. Maka mereka itulah orang-orang yang amalannya

46
terhapuskan di dunia dan akhirat. Dan mereka itulah penduduk neraka, mereka
kekal di dalamnya selamanya. (QS. Al Baqoroh: 217).
Sisi pendalilannya adalah: jika seorang Muslim saja bisa murtad dari agamanya,
apalagi sekedar pindah dari As Sunnah ke bidah. Dan dalil yang senada ini banyak.
Alloh taala berfirman menukilkan doa orang-orang yang mendalam akalnya:

: [

8 ]
Wahai Robb kami, janganlah Engkau menyimpangkan hati-hati kami setelah
Engkau memberi Kami hidayah, dan berilah kami rohmat dari sisi-Mu. Sungguh
Engkaulah Al Wahhab (Maha Memberi karunia). (QS. Ali Imron: 8)
- -
. - -
.
Abdulloh bin Amr ibnul Ash -rodhiyallohu 'anhuma- berkata bahwasanya beliau
mendengar rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: Sesungguhnya
seluruh hati anak Adam itu ada di antara kedua jari dari jemari Ar Rohman
bagaikan satu hati, Alloh membolak-balikkannya sekehendaknya. Kemudian
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- berdoa: Wahai Alloh Yang membolak-
balikkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan kepada-Mu. (HR. Muslim).
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- juga bersabda:

.
)
Sesungguhnya ada seseorang dari kalian yang mengerjakan amalan penduduk
Jannah hingga tiada jarak antara Jannah dengan dirinya kecuali satu jengkal saja,
lalu catatan taqdirnya mendahuluinya sehingga dia mengerjakan amalan penduduk
neraka sehingga masuk neraka. Dan sungguh ada seseorang dari kalian yang
mengerjakan amalan penduduk Neraka hingga tiada jarak antara Neraka dengan
dirinya kecuali satu jengkal saja, lalu catatan taqdirnya mendahuluinya sehingga
dia mengerjakan amalan penduduk Jannah sehingga masuk Jannah. (HR. Al
Bukhory dan Muslim, dari Ibnu Masud -rodhiyallohu 'anhu-).
Dalil-dalil di atas nyata sekali menunjukkan bahwa seseorang itu bisa saja
menyimpang setelah sekian lama berada di atas ilmu dan ketaatan secara lahiriyah.
Maka untuk apa sengaja menutup mata dan telinga jika ada bukti-bukti tentang
penyimpangan seseorang dari al haq yang selama ini secara lahiriyyah dia ada di
atasnya?
Tidakkah Cak Dul membaca firman Alloh taala:

47

"Dan bacakanlah pada mereka berita tentang orang yang Kami beri dia ayat-ayat
Kami, lalu dia lepas darinya sehingga diikuti setan sehingga jadilah dia termasuk
orang-orang yang sesat. Seandainya Kami kehendaki tentulah Kami angkat dirinya
dengan ayat-ayat itu, akan tetapi dia lebih condong kepada dunia dan mengikuti
hawa nafsunya. Maka permisalannya adalah seperti anjing .." al ayat (QS Al A''rof
175-176)
Alloh taala memberikan permisalan ini bukan sekedar permainan, bahkan
sebagai isyarat bahwasanya ini bisa saja terjadi pada kita semua. Orang tadi telah
diberi Alloh taala ilmu, tapi akhirnya menyimpang sesuai dengan keinginan batil
yang tersembunyi di dalam hatinya.
2. Dalil kenyataan
Berikut ini adalah sebagian kecil dari kisah tersesatnya seseorang setelah
sebelumnya berada di atas hidayah.
a. Kisah Imron bin Hiththon
Al Imam Adz Dzahabiy -rohimahullohu- berkata:
. : - :
: .
Imron bin Hiththon bin Zhobyan As Sadusiy dan Bashriy, termasuk tokoh
ulama, tapi dia termasuk kepala Khowarij sampai dengan ucapan beliau:- Dari
Ibnu Sirin yang berkata: Imron menikah dengan seorang perempuan khorijiyyah
(yang berakidah pemberontak) dan berkata: Aku akan mengembalikannya dari
madzhabnya. Tapi ternyata perempuan itu yang memalingkannya ke madzhab
perempuan itu (Khowarij). (Siyar Alamin Nubala/4/hal. 214).

b. Kisah Bisyir bin Ghiyats Al Marisiy
Al Imam Adz Dzahabiy -rohimahullohu- berkata:
- : - - : -
.
Bisyir bin Ghiyats bin Abi Karimah Al Adawiy sampai dengan ucapan
beliau:- dulu Bisyir itu termasuk tokoh besar fuqoha sampai dengan ucapan
beliau:- lalu dia mempelajari ilmu kalam dan kalah, hingga akhirnya keluar dari
sikap waro dan taqwa, dan dia terang-terangan mengatakan bahwasanya Al Quran
itu makhluq, dan menyeru manusia kepada pemikiran ini, hingga akhirnya menjadi
pimpinan dan ulama Jahmiyyah di zamannya. Maka diapun dibenci para ulama,
dan sebagian mereka mengkafirkannya. (Siyar Alamin Nubala/4/hal. 199-110).

c. Ucapan Al Imam Ibnu Baththoh -rohimahullohu-

48
Setelah menyebutkan hadits syubuhat Dajjal, berkatalah Al Imam Ibnu
Baththoh -rohimahullohu-:

: (
)


.
Ini adalah ucapan Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, dan beliau itu orang
yang jujur dan dibenarkan. Maka bertaqwalah pada Alloh wahai Muslimun, jangan
sampai rasa baik sangka pada diri sendiri dan juga ilmu yang dimiliki tentang
bagusnya madzhab dirinya membawa salah seorang dari kalian untuk
melangsungkan perdebatan dengan agamanya di dalam acara duduk-duduk
dengan ahlul ahwa, seraya berkata: Aku akan masuk ke tempatnya dan kuajak dia
berdebat, atau kukeluarkan dirinya dari madzhabnya. Mereka itu sungguh lebih
dahsyat fitnahnya daripada Dajjal, ucapan mereka lebih lengket daripada kurap,
dan lebih membakar daripada gejolak api. Sungguh aku telah melihat sekelompok
orang yang dulunya mereka itu melaknati ahlul ahwa dan mencaci mereka. Lalu
mereka duduk-duduk dengan mereka tadi dalam rangka mengingkari dan
membantah mereka. Tapi mereka terus-terusan di dalam obrolan, dan makar musuh
tersamarkan dari mereka, dan kekufuran yang lembut tersembunyi dari mereka,
hingga akhirnya mereka pindah ke madzhab ahlul ahwa tadi. (Al Ibanatul
Kubro/dibawah no. (480)).

d. Kisah Abdurrohman bin Abdil Kholiq
Al Imam Al Wadiiy -rohimahullohu- berkata Abdurrohman bin Abdil Kholiq:

: - :

" "
( . " " 195 - 196 )
Dia pada awal kisahnya itu menyeru manusia kepada Al Kitab dan As
Sunnah, dan melalui dirinya Alloh memberikan manfaat kepada penduduk Kuwait.
Dan dulunya terjadi banyak pergulatan antara dirinya dengan Ikhwanul Muslimin,
dia mencerca mereka, dan mereka juga mencerca dirinya. Kemudian tampaklah dari
dirinya perkara-perkara yang mungkar sampai pada ucapan beliau:- lalu dia
menulis kitab Al Wala wal Baro dan dia itu adalah kitab yang paling buruk, yang
tidak ditulis oleh seorang Sunny ataupun Salafy. Dan seterusnya. (Tuhfatul
Mujib/hal. 195-196).

e. Kisah Al Qoshimiy

49
Al Imam As Sadiy -rohimahullohu- berkata: Aku telah melihat suatu kitab
yang ditulis oleh Abdulloh bin Ali Al Qoshimiy yang dinamainya: Hadzi Hiyal
Aghlal, ternyata kitab tadi berisi pembuangan agama, seruan untuk membuang
agama, dan lepas darinya dari segala sisi. Padahal orang ini dulunya sebelum
menulis dan memunculkan kitab tadi dia terkenal sebagai orang orang berilmu dan
condong kepada madzhab As Salafush Sholih. Tulisan-tulisan dia dulunya penuh
dengan pertolongan untuk kebenaran, dan bantahan terhadap ahli bid'ah dan ilhad,
sehingga dengan itu jadilah dia punya kedudukan di mata manusia, popularitas
yang bagus. Tapi orang-orang belum lagi keluar dari tahun ini, tiba-tiba saja mereka
dikejutkan dengan apa yang ada di dalam kitab ini. kitab ini menghapus dan
membatalkan seluruh apa yang dulunya dia tulis tentang agama ini. Setelah
sebelumnya kitab-kitabnya itu menjadi penolong kebenaran, berbaliklah dalam
kitabnya ini menjadi pembuang agama yang terbesar. Maka orang-orang merasa
heran dengan kejutan yang aneh itu karena melihat masa lalunya yang bagus.
(Muqoddimah Tanzihud Din/As Sadiy/ hal. 31)

Cak Dul dan seluruh pembaca -hafizhokumulloh-, berdasarkan dalil-dalil
samiy dan waqiiy di atas semakin jelaslah bagi kita semua akan mahalnya nilai
istiqomah. Dan jangan sampai seseorang itu merasa sudah hebat ilmunya, dan kuat
manhajnya sehingga merasa aman dari ketergelinciran dan penyimpangan. Alloh
taala berfirman:

: [

99 ]
Maka apakah mereka merasa aman dari makar Alloh? Tidaklah merasa aman dari
makar Alloh kecuali kaum yang merugi. (QS. Al Arof: 99)
Dan juga berdasarkan dalil-dalil di atas, tidak sepantasnya bagi seorang
Salafy untuk bersikap fanatik mati-matian membela seorang ulama yang di
kemudian hari terbukti menyimpang dan keluar dari Ahlussunnah?
Berarti pertanyaannya sekarang adalah: Apa itu As Sunnah, dan kapankah
seseorang itu dihukumi keluar darinya?

Bab Empat: Pengertian As Sunnah dan Seruan Untuk
Memegangnya Dengan Kokoh

Jawaban empat: perlu diingat kembali akan makna As Sunnah agar diketahui
siapakah Ahlussunnah, untuk kemudian ana akan membuktikan bahwasanya kedua
anak Mariy telah keluar dari As Sunnah dan Ahlussunnah.
Pasal Satu: Pengertian As Sunnah
Jika kita berkata: Ahlussunnah Wal Jamaah, Ikutilah As Sunnah, maka
bukanlah yang dimaksudkan dengan As Sunnah di sini adalah sesuatu yang
derajatnya di bawah wajib dan di atas mubah. Tapi As Sunnah di sini adalah jalan

50
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, sebagaimana yang dimaksudkan oleh
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-:
.
Maka barangsiapa membenci sunnahku, maka dia itu bukan dari golonganku.
(HR. Al Bukhory (5063) dan Muslim (1401) dari Anas -rodhiyallohu 'anhu-).
Badrud Din Al Ainiy -rohimahullohu- berkata:
: .
Dan yang dimaksud dengan As Sunnah di sini adalah Thoriqoh, dan dia itu lebih
umum daripada kewajiban dan tambahan. Bahkan dia itu mencakup seluruh
amalan dan keyakinan. (Umdatul Qori/20/hal. 65).
Ibnu Hajar -rohimahullohu- berkata:
.
Dan yang dimaksud dengan As Sunnah di sini adalah Thoriqoh, bukan yang
maksudnya berhadapan dengan kewajiban, (yaitu: mustahab) (Fathul Bari/9/hal.
133).
Pasal Dua: Seruan Untuk Memegang Teguh As Sunnah
Manakala rasa cinta pada Alloh taala itu wajib, mencintai Rosul-nya -
shollallohu alaihi wasallam- dan mengikuti Sunnahnya juga wajib, karena yang
demikian itu merupakan realisasi dari cinta tersebut. Alloh taala berfirman:

/ [ 31 ] .
Katakanlah: Jika kalian mencintai Alloh, maka ikutilah aku, niscaya Alloh akan
mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Alloh itu Ghofur (Maha
Pengampun) dan Rohim (Maha Menyayangi para hamba). (QS. Ali Imron: 31).
Al Imam Ibnu Katsir -rohimahullohu- berkata:


:

: .
Ayat yang mulia ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengaku
cinta pada Alloh, tapi dia tidak berada di atas jalan Muhammad -shollallohu alaihi
wasallam- , karena dia itu sungguh pada hakikatnya telah berdusta di dalam
pengakuannya, sampai dia itu mau mengikuti syariat Muhammad -shollallohu
alaihi wasallam- dan agama Nabi di dalam seluruh ucapan dan keadaannya,
sebagaimana telah tetap di dalam Ash Shohih dari Rosululloh -shollallohu alaihi

51
wasallam- yang bersabda: Barangsiapa mengerakan suatu amalan yang bukan dari
urusan agama kami maka amalannya itu tertolak.
Oleh karena itulah Alloh berfirman: (yang artinya:) Katakanlah: Jika kalian
mencintai Alloh, maka ikutilah aku, niscaya Alloh akan mencintai kalian Yaitu
kalian akan mendapatkan sesuatu yang melebihi apa yang kalian cari, yaitu
diakuinya cinta kalian pada-Nya. Yang akan kalian dapatkan adalah: Alloh cinta
pada kalian, dan itu lebih agung daripada yang pertama. sebagaimana sebagian
orang bijak berkata: "Bukanlah yang penting itu kalian mencintai, tapi yang penting
adalah: kalian dicintai. (Tafsirul Quranil Azhim"/1/hal. 494-495).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahullohu- berkata:


.
.
Dan hanyalah kesempurnaan rasa cinta pada beliau dan pengagungannya
itu ada pada mutabaah (mengikutinya), taat dan mengikuti perintahnya,
menghidupkan sunnah-sunnahnya yang lahiriyyah dan bathiniyyah, menyebarkan
syariat yang beliau diutus dengannya, menegakkan jihad untuknya dengan hati,
tangan dan lisan. Maka inilah jalan para As Sabiqunal Awwalun dari kalangan
Muhajirin dan Anshor dan yang mengikuti mereka dengan baik. (Iqtidhoush
Shirothol Mustaqim/2/hal. 124).
Dalil yang menunjukkan beruntungnya para pengikut As Sunnah dan
celakanya orang yang menyelisihinya itu banyak. Di antaranya adalah dalil di atas
dan yang berikut ini:
Dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu 'anhu- yang berkata:
: . :
: .
Bahwasanya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: Seluruh umatku
akan masuk Jannah, kecuali yang enggan. Mereka berkata: Wahai Rosululloh,
siapakah yang enggan? Beliau menjawab: Barangsiapa menaatiku, maka dia akan
masuk Jannah. Tapi barangsiapa mendurhakaiku, maka dia telah enggan masuk
Jannah. (HR. Al Bukhhory (7280)).
Amr ibnul Ash -rodhiyallohu 'anhuma- berkata: Rosululloh -shollallohu alaihi
wasallam- bersabda:
.
Setiap amalan itu punya masa semangat, dan setiap masa semangat itu punya
masa kelesuan. Maka barangsiapa kelesuannya itu mengarah kepada sunnahku,
maka sungguh dia telah beruntung. Tapi barangsiapa kelesuannya itu mengarah
kepada yang lain, maka dia pasti celaka. (HR. Ahmad (6905) dan dishohihkan oleh
Al Imam Al Wadiiy -rohimahullohu- dalam Ash Shohihul Musnad (802)).

52
Jabir -rodhiyallohu 'anhu- berkata:
: : :


( . ( 14441 )
" " ( ( 245 ) / ) ) .
Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda kepada Kab bin Ujroh: Semoga
Alloh melindungimu dari pemerintahan orang-orang yang tolol. Maka dia
bertanya,Apa itu pemerintahan yang tolol? Beliau menjawab: Pemerintah
sepeninggalku yang tidak berpedoman dengan jalanku, dan tidak menempuh
sunnahku. Barangsiapa membenarkan mereka di dalam kedustaan mereka dan juga
membantu mereka di dalam kezholiman mereka, maka mereka itu bukan dari
golonganku, dan aku bukan dari golongan mereka. Dan mereka tidak akan
mengunjungiku di telagaku. Tapi barangsiapa tidak membenarkan mereka di dalam
kedustaan mereka dan juga tidak membantu mereka di dalam kezholiman mereka,
maka mereka itu adalah dari golonganku, dan aku pun dari golongan mereka. Dan
mereka akan mengunjungiku di telagaku. Al hadits. (HR. Ahmad (14441) dan
dihasankan oleh Al Imam Al Wadiiy -rohimahullohu- dalam Ash Shohihul
Musnad (245)).
Maka tidak ada yang beruntung bisa minum dari telaga Rosululloh -
shollallohu alaihi wasallam- pada hari kehausan yang terbesar kecuali orang yang
setia dengan Sunnah beliau -shollallohu alaihi wasallam- . sudah lewat beberapa
kali di dalam risalah ana ucapan Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahullohu-, tapi tetap
akan ana ulang di sini karena amat penting, dan karena cepatnya kelalaian manusia.
Beliau -rohimahullohu- berkata:

.
. . .
.
..

.
"Dan bahwasanya kedatangan manusia ke telaga tersebut, dan minumnya mereka
darinya pada hari kehausan yang terbesar adalah sesuai dengan kunjungan mereka
kepada sunnah Rosululloh -shalallohu 'alaihi wa sallam- dan kadar minumnya
mereka dari sunnah tersebut. Maka barangsiapa mengunjunginya, meminumnya
dan meneguknya di dunia ini, dia akan mengunjungi telaga tersebut di sana
meminumnya dan meneguknya. Maka Rosululloh -shalallohu 'alaihi wa sallam-
punya dua telaga yang besar. Telaga di dunia, dan dia itu adalah sunnah beliau dan

53
syariat yang beliau bawa. Dan telaga di akhirat. Maka orang-orang yang minum dari
telaga ini di dunia, merekalah yang akan meminum dari telaganya pada hari kiamat.
Maka ada yang minum, ada yang terlarang, ada yang minumnya banyak, dan ada
yang minumnya sedikit. Dan orang-orang yang diusir oleh beliau dan para malaikat
dari telaganya hari kiamat adalah orang-orang yang mengusir dirinya sendiri dan
para pengikutnya dari sunnah beliau, dan lebih mengutamakan ajaran yang lain
daripada sunnah beliau. Maka barangsiapa kehausan dari sunnah beliau di dunia ini
dan tiada urusan dengan sunnah beliau, maka dia di hari kiamat akan lebih
kehausan, dan hatinya lebih kepanasan." dst ("Ijtima'ul Juyusy Al Islamiyyah" hal.
85-86).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahullohu- berkata:
.
Maka makhluq yang paling beruntung, paling agung kenikmatannya dan
paling tinggi derajatnya adalah makhluq yang paling besar mutabaahnya (sikap
ikutnya) dan kesesuaiannya dengan beliau (Rosululloh -shollallohu alaihi
wasallam-) baik secara ilmu maupun amalan. (Majmuul Fatawa/4/hal. 26).
Bab Lima: Kapankah Seseorang Dihukumi Telah Keluar dari
Ahlussunnah?

Jawaban kelima: Setelah kita mengingat kembali keagungan As Sunnah dan
wajibnya mengikuti As Sunnah, maka tibalah saatnya untuk mengetahui kapankah
seseorang itu divonis keluar dari As Sunnah dan berhak untuk diboikot dan
dimusuhi. Ana dalam pembahasan ini akan sangat banyak mengambil manfaat dari
tulisan Asy Syaikh Said bin Daas Al Yafiiy, dan yang lainnya -hafizhohumulloh-.
Pasal Satu: Seseorang Dihukumi Menjadi Mubtadi Jika
Menyelisihi Kaidah Umum, atau Banyak Menyelisihi Perkara
Cabang
Al Imam Asy Syathiby -rohimahullohu- berkata:

: -
.
Bahwasanya kelompok-kelompok pecahan itu memang menjadi pecahan
dikarenakan dirinya menyelisihi Al Firqotun Najiyah di dalam suatu nilai yang
bersifat umum di dalam agama, dan dalam suatu kaidah dari kaidah-kaidah
syariah, bukan karena menyelisihi mereka dalam suatu perkara yang bersifat
parsial, - sampai pada ucapan beliau:- Akan tetapi perkara parsial yang banyak pun
akan berlaku seperti suatu kaidah umum. Yang demikian itu dikarenakan seorang

54
mubtadi itu jika banyak mengadakan perkara-perkara baru yang bersifat cabang,
yang seperti itu akhirnya akan balik menentang syariat, sebagaimana kaidah umum
yang dibikin dia juga akan balik menentang syariat. (Al Itishom/2/hal. 200).
Kesimpulannya: seseorang itu menjadi mubtadi jika dia menyelisihi Al
Firqotun Najiyah. Dan dia itu menyelisihi Al Firqotun Najiyah jika menyelisihi
suatu kaidah umum atau aturan pokok dari pokok-pokok syariah. Atau juga
dikarenakan dirinya memperbanyak penyelisihan di dalam perkara furu (cabang),
karena gabungan dari penyelisihan terhadap perkara-perkara cabang pada akhirnya
akan menyebabkan dirinya menentang syariah.
Syaikhunal allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy -hafizhohulloh- ditanya:
Kapankah seseorang itu dihukumi keluar dari ahlussunnah? Beliau menjawab:

Jika dia menyelisihi salah satu dari pokok-pokok As Sunnah atau menyelisihi
banyak perkara cabang.
Kemudian perlu diketahui bahwasanya penyelisihan itu bisa berupa
penambahan, ataupun pengurangan terhadap syariah. Al Imam Ibnul Wazir -
rohimahullohu- berkata:



Maka ketahuilah bahwasanya tempat tumbuhnya mayoritas bidah itu kembali
kepada dua perkara yang kebatilannya jelas. Maka perhatikanlah dia dengan adil,
dan kuatkan kedua tanganmu untuk menghadapinya. Kedua perkara yang batil ini
adalah:
- penambahan terhadap agama dengan cara menetapkan apa yang tidak
disebutkan oleh Alloh dan para Rosul-Nya alaihimus salam- yang berupa
urusan agama yang besar yang wajib,
- ataupun juga pengurangan dari urusan agama, dalam bentuk meniadakan
sebagian dari apa yang disebutkan oleh Alloh taala dan Rosul-Nya dengan
suatu penawilan yang batil
(1)
.
(Itsarul Haqq alal Kholq/hal. 85).
Pasal Dua: Pengertian Perkara Pokok
Jika sudah jelas bagi kita bahwasanya seseorang bisa keluar dari
Ahlussunnah dan menjadi Ahli bidah. Maka apa itu pengertian dari perkara pokok?
Al Imam Asy Syathiby -rohimahullohu- berkata:


(1)
Catatan dari Abu Fairuz -waffaqohullohu-: andaikata tanpa tawil niscaya pelakunya bisa
dikafirkan sebagaimana kasus orang orang Asyairoh, ( )

55
Perintah-perintah yang diagungkan oleh syariat, maka perkara itu termasuk
pokok dari agama. Adapun perkara yang dijadikan oleh syariat lebih rendah dari
itu, maka dia itu termasuk cabang agama dan penyempurnaannya. (Al
Muwafaqot/1/hal. 338).
Al Imam Ibnu Abi Zaid Al Qoirowaniy -rohimahullohu- telah
mengisyaratkan yang demikian itu di dalam kitab beliau Al Jami (hal. 106) saat
menyebutkan pokok-pokok As Sunnah:
...
Maka termasuk dari perkara-perkara yang umat ini telah bersepakat di atasnya
yang berupa urusan-urusan keagamaan dan bagian dari sunnah-sunnah, yang mana
penyelisihannya itu menjadi bidah dan kesesatan adalah sebagai berikut (lalu
beliau menyebutkan pokok-pokok aqidah Salaf).
Al Imam Ibnul Wazir -rohimahullohu- telah mengisyaratkan bahwasanya
perkara pokok tadi adalah:

termasuk dari perkara-perkara agama yang besar yang bersifat wajib.
Al Imam Abul Muzhoffar As Samaniy -rohimahullohu- berkata:
.
Setiap perkara yang termasuk pokok-pokok agama, maka dalil-dalilnya itu terang
dan jelas, dan orang yang menyelisihi dalam perkara tadi adalah pembangkang
yang menentang perkara yang dalilnya nyata. Dan wajib untuk menghukumi orang
tadi sebagai orang yang sesat, dan disyariatkan untuk berlepas diri darinya.
(Qowathiil Adillah (5/hal. 13)).
Al Imam Ath Thufiy -rohimahullohu- berbicara tentang makna pokok agama
yang umum adalah:

Perkara-perkara pasti yang dalil-dalilnya itu sesuai dengan lahiriyahnya yang
dikenal oleh setiap orang yang berakal.
Dan beliau -rohimahullohu- menambahkan:

Sekalipun kelemahan seseorang yang awam itu menghalanginya untuk
mengungkapkan perkara pasti tersebut. (rujuk Mukhtashorur Roudhoh)
Kesimpulan dari pendapat ini semua: bahwasanya perkara pokok ( )
adalah:

Setiap perkara yang diagungkan oleh syariat, sementara dalil-dalil dan
argumentasi juga ditancapkan untuk menunjukkannya yang menyebabkan perkara
itu jadi pasti, nyata dan diketahui. (Al Burhanul Manqul/hal. 9/Asy Syaikh Said
bin Daas Al Yafiiy -hafizhohulloh-).

56
Pasal Tiga: Agama memang bertingkat-tingkat
Bukan Berarti Kita mengikuti para Ahlul bidah yang membagi agama itu jadi
usul dan furu dengan tujuan meremehkan sebagian urusan agama. Tapi yang
diinginkan di sini adalah sebagaimana istilah yang sering diucapkan ulama Salaf:
Ashulus Sunnah, Ashlus Sunnah, Syarhu Ushul Itiqod Ahlis Sunnah,
Ushulus Sunnati indana , Al Ushuluts Tsalatsah, Al Ushulus Sittah dan
sebagainya. Yang demikian itu dikarenakan agama Islam ini memang bertingkat
tingkat, ada yang posisinya tinggi dan tertinggi, ada yang posisinya rendah dan
terendah, sebagaimana hadits cabang-cabang keimanan. Ada yang penting, ada
yang lebih penting, tapi tidak ada yang tidak penting.
Makanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahullohu- di samping beliau
membantah para ahlu bidah yang membagi agama itu jadi usul dan furu, beliau
sendiri sering berkata: Ini adalah pokok dari agama, Di antara pokok-pokok
agama adalah Misalnya adalah beliau berkata:

...
Makanya di antara perkara-perkara pokok yang disepakati oleh para Shohabat dan
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik adalah: Tiada seorangpun yang
diterima penentangannya terhadap Al Quran, baik dengan rasionya, perasaannya,
hasil akalnya, ataupun qiyasnya, (Majmuul Fatawa/13/hal. 28).

Bab Enam: Penyelisihan Kedua Anak Al Mariy dan
Pengikutnya Terhadap Kewajiban Menjaga Persatuan

Jawaban keenam: Inilah salah satu inti persengketaan Salafiyyun di Dammaj
dan yang bersama mereka dengan pihak-pihak yang masih juga tidak paham
kebatilan Abdurrohman bin Umar bin Mariy Al Adniy. Salah satu pokok Islam dan
Sunnah yang diselisihi orang ini adalah: kewajiban menjaga persatuan di atas As
Sunnah.
Sudah jelas bahwasanya persatuan sesama Muslimin amat dijunjung tinggi di
dalam syariat agama ini. Dia merupakan salah satu pokok As Sunnah. Dan dalil-
dalilnya amatlah terang dan pasti. Alloh taala berfirman:

/ [

103 ]
"Dan berpegangteguhlah kalian semua dengan tali Alloh dan janganlah kalian
bercerai-berai." (QS Ali 'Imron 103)
Alloh taala berfirman:

* : [

31 32 ]

57
Dan janganlah kalian termasuk golongan Musyrikin, termasuk orang-orang yang
memecah-belah agama mereka dan mereka berkelompok-kelompok, setiap golongan
bangga dengan apa yang ada pada mereka. (QS. Ar Rum: 31-32).
Alloh taala berfirman:

/ [

105 ]
Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih
setelah datang dalil-dalil kebenaran, dan mereka itu orang-orang yang berhak
mendapatkan siksaan yang besar. (QS. Ali Imron: 105).
Alloh taala berfirman:

/[

159 ]
Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka
berkelompok-kelompok, engkau itu tidak termasuk dari mereka sedikitpun. (QS. Al
Anam: 159)
Abu Huroiroh -rodhiyallohu 'anhu- berkata: Rosululloh -shollallohu alaihi
wasallam- bersabda:
(
)
Sesungguhnya Alloh meridhoi untuk kalian tiga perkara, dan membenci untuk
kalian tiga perkara. Dia ridho untuk kalian: kalian itu beribadah pada-Nya dan
tidak menyekutukan dengan-Nya sesuatu apapun. Dan ridho untuk kalian
semuanya berpegangteguh dengan tali Alloh dan tidak bercerai-berai. Dan
membenci untuk kalian penyebaran berita yang tidak jelas, banyak bertanya, dan
penyia-nyiaan harta. (HR. Muslim (4481)).
Dalam merapikan barisan sholat jamaah beliau -shollallohu alaihi wasallam-
bersabda:

Luruskan barisan, dan jangan saling berselisih yang menyebabkan hati-hati kalian
berselisih (HR. Muslim (972) dari Abu Masud -rodhiyallohu 'anhu- )
Dan masih banyak dalil yang menunjukkan pengagungan persatuan dan
larangan berpecah-belah.
Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahullohu- berkata:

: .
Dan pertengkaran dan perselisihan itu adalah perkara yang paling berat bagi
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-. Dulu beliau jika melihat ada perselisihan
ringan di kalangan Shohabat dalam memahami nash tampaklah kebencian di wajah
beliau sampai-sampai seakan-akan di wajah beliau bermunculan biji-biji delima dan
berkata: Untuk inikah kalian diperintahkan? (Ilamul Muwaqqiin/1/hal. 354).

58
Para Salaf banyak menyebutkan perkara ini dalam pokok-pokok
Ahlussunnah Wal Jamaah. Di antara mereka adalah Abu Jafar Ath Thohawiy
dalam Al Aqidah Ath Thohawiyyah (2/755/syarh Ibnu Abil Izz), Abdurrohman
Al Muallimy dalam Al Qoid Ila Tashihil Aqoid (hal. 241), Abu Amr Ad Daniy
dalam Ar Risalatul Wafiyyah (hal. 67), dan Ibnu Abi Zamanain dalam Ushulus
Sunnah (hal. 35), Al Barbahariy dalam Syarhus Sunnah (hal. 65), serta Al Khollal
dalam As Sunnah (1/hal. 617) dan yang lainnya -rohimahumullohu-.
Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahullohu- berkata:

Maksud dari pembahasan ini adalah bahwasanya perselisihan itu meniadakan apa
yang dengannya Alloh mengutus Rosul-Nya. (Ilamul Muwaqqiin/1/hal. 259).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahullohu- berkata:

Perpecahan dan perselisihan ini menyebabkan timbulnya kesyirikan dan
meniadakan tauhid yang mana dia itu adalah pemurnian agama semuanya untuk
Alloh." (Qoidatun fil Mahabbah sebagaimana dalam Jamiur Rosail (2/229)).
Abu Sulaiman Al Khoththobiy -rohimahullohu- berkata:
.

Adapun perpecahan di dalam pendapat dan agama, maka yang demikian itu
terlarang berdasarkan akal, dan harom berdasarkan pokok-pokok agama, karena
yang demikian itu akan menyeru kepada kesesatan, dan menyebabkan penyia-
nyiaan. Seandainya manusia dibiarkan bercerai berai pastilah akan terjadi percerai-
beraian pendapat dan pemikiran, dan pastilah berbagai agama dan aliran
kepercayaan akan menjadi banyak, dan pengutusan para Rosul tidak lagi
berfaidah. (Al Uzlah/hal. 57).
Demikian pula disinggung oleh Al Imam As Samaniy -rohimahullohu-
dalam Al Intishor Li Ashabil Hadits (hal. 42).
Dengan seluruh penjelasan di atas, maka jadilah perpecahan itu alamat
keluarnya seseorang dari Ahlussunnah dan masuk ke dalam kebidahan.
Al Imam Asy Syathibiy -rohimahullohu- berkata:
: . :
: : -
. :
Maka mereka memiliki ciri khas dan alamat yang dengannya mereka diketahui,
yaitu ada dua macam: Alamat global, dan alamat terperinci. Adapun alamat yang
global ada tiga: yang pertama: Perpecahan, yang telah diperingatkan oleh Alloh
taala lalu beliau menyebutkan beberapa dalil, lalu berkata:- pemecah-belahan ini
sebagaimana tersebut sebelumnya dia itulah yang membuat satu kelompok menjadi
berbagai kelompok, dan membuat satu golongan menjadi banyak golongan.

59
Sebagian ulama berkata: mereka menjadi pecahan-pecahan karena mengikuti hawa
nafsu mereka. Dan dengan menyelisihi agama jadilah hawa nafsu mereka beraneka
ragam sehingga merekapun bercerai berai. (Al Itishom/2/hal. 231).
Catatan penting: Yang dimaksudkan dengan persatuan di sini adalah
persatuan di atas As Sunnah. Adapun jika suatu masyarakat hidup rukun di atas
suatu kesalahan dan penyimpangan, lalu ada seorang dai yang menyeru mereka
untuk memperbaiki kesalahan tadi, lalu terjadi perpecahan, maka bukanlah sang
penyeru yang bersalah, tapi yang bersalah adalah kelompok yang tidak mau tunduk
pada kebenaran sehingga tidak turut bersatu di atas Ash Shirothol mustaqim
bersama kelompok yang tunduk kepada kebenaran tadi.
Demikianlah keadaan para Nabi -shollallohu alaihim wasallam-, ketika
mereka membawa kebenaran terpecahlah masyarakatnya antara yang menerima
dan yang menentang. Alloh taala berfirman:

/[

45 ]
Dan sungguh Kami telah mengutus kepada Tsamud saudara mereka Sholih yang
menyeru: Beribadahlah kalian kepada Alloh maka tiba-tiba saja mereka menjadi
dua kelompok yang yang bersengketa. (QS. An Naml: 45).
Dalam hadits Jabir bin Abdillah -rodhiyallohu 'anhuma-:
- -
Dan Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- itu memisahkan di antara
manusia. (HR. Al Bukhoriy)
Mala ali Al Qoriy -rohimahullohu- menukilkan maknanya:

Maknanya adalah: Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- itu pemisah antara
orang yang beriman dan orang yang kafir, orang yang sholih dan orang yang fasiq.
(Mirqotul Mafatih/1/hal. 496).
Adapun permasalahan yang kita bahas sekarang ini adalah seseorang yang
membawa perkara baru di dalam syariat sehingga menyebabkan perpecahan.
Sekarang, apa yang dilakukan oleh Abdurrohman bin Umar Al Adaniy?
Berikut ini adalah sepercik gambaran bagaimana dia dan pengikutnya
membikin kekacauan di markiz dakwah Salafiyyah di Dammaj, dan di barisan
Salafiyyah Yaman secara umum.
Ini adalah ringkasan dari ucapan Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin
Husain Al Amudiy
(1)
-hafizhohulloh-:
Sesungguhnya awal fitnah yang dibuat oleh Abdurrohman Al Mariy di Darul
Hadits Was Sunnah [Dammaj] adalah kasus pencatatan nama calon pembeli tanah di
markiz yang masih belum dibangun di Fuyusy. Maka yang terjadi di Dammaj
adalah sebagai berikut:

(1)
Beliau aslinya dari Hadhromaut, tapi tinggal lama di Adn

60
1- Abdurrohman Al Mariy menempuh metode baru yang belum dikenal oleh para
ulama Sunnah di Yaman, bahkan bukan metode Salafush Sholih, dan bukan bagian
dari sifat mereka yang terpuji ataupun akhlaq mereka yang agung.
2- untuk mendukung bala (malapetaka ini) dia meminta bantuan orang-orang yang
dikenal memiliki dendam, kebencian dan kedengkian terhadap pemegang Darul
Hadits Dammaj.
Berikut ini adalah langkah-langkah yang ditempuh oleh Abdurrohman Al
Mariy di Darul Hadits di Dammaj:
Ketika Abdurrohman Al Mariy mengumumkan permulaan pencatatan nama
tersebut, dia menebarkan berita di tengah-tengah penuntut ilmu bahwasanya
tenggang waktu pencatatan tidak lebih dari empat hari saja, dan bahwasanya
pembangunan tanah tersebut akan selesai dalam tempo satu tahun. Tentu saja
tempo yang amat sempit dan pembatasan yang telah dirancang tadi menunjukkan
padamu besarnya bahaya impian dan makar tadi. Orang ini tidak memberikan
kesempatkan yang cukup bagi pelajar untuk memikirkan tadi bahaya, efek dan
akibat dari urusan ini. Dan dia tidak tahu tipu daya tadi. Tapi Alloh taala
berfirman:

/[ 30 ]
Mereka membikin tipu daya, dan Alloh membalas tipu daya mereka. Dan Alloh itu
sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS. Al Anfal: 30).
Maka yang terjadi sebagai akibat dari tenggang waktu yang cukup mencekik
tersebut adalah: banyak pelajar yang tertimpa kesusahan. Sebagian dari mereka
akhirnya harus membuang rasa malu untuk mengemis dalam mencari uang. Ada
sebagiannya yang sibuk berpikir dan goncang hatinya dikarenakan waktu tidak
mengizinkan untuk terlambat.
Keadaan ekonomi para pelajar sudah diketahui bersama, dan jumlah uang
yang harus dibayarkan untuk membeli tanah itu tidak dimiliki oleh mayoritas
mereka
(1)
. Tentu saja kondisi seperti ini telah benar-benar diketahui oleh
Abdurrohman Al Mariy. Tapi dia memanfaatkan kelemahan ekonomi para pelajar
tersebut. Oleh karena itulah dia menawarkan kepada mereka harga yang menurut
orang lain cukup murah tersebut. Akibatnya sebagian dari pelajar bagaikan orang
gila yang goncang dalam upayanya mendapatkan dana senilai harga tersebut.
Mestinya yang wajib dilakukan oleh Abdurrohman Al Mariy dalam kondisi
seperti ini adalah untuk tidak membuat sempit para pelajar, dan tidak membikin
pembatas waktu yang menjerumuskan mereka ke dalam kesusahan. Ini jika kita
menerima bahwasanya perbuatannya tadi benar
(2)
.

(1)
Walaupun relatif murah menurut kalangan menengah.
(2)
Jika dia memang ikhlas hendak memajukan kualitas Yaman wilayah selatan dalam bidang ilmu
dan akhlaq dan sebagaimana, mengapa dengan jalan mengobrak-abrik ketenangan belajar para
pelajar di Dammaj (markiz Salafiyyah terbesar di Yaman wilayah utara, dan bahkan se-Yaman secara
mutlak) dan merayu mereka agar menjual kamar dan rumah mereka yang di Dammaj. Bahkan ada
sebagian pelajar asli Abyan didatangi mereka sambil berkata,Wahai Akhuna Fulan, bergabunglah,

61
Engkau bisa melihat sebagian pelajar menjual emas istrinya, ada juga yang
berutang, ada juga bisa engkau lihat dia itu sedih karena tidak mendapatkan uang
untuk membeli tanah tadi, terutama dengan sempitnya waktu. Ada juga dari
mereka yang menghasung sebagian pelajar untuk menjual rumahnya yang di
Dammaj sehingga bisa memiliki dana untuk membeli tanah yang di kota
perdagangan Fuyusy. Akibatnya sebagian pelajar ada yang terjerumus ke dalam
jebakan tadi, ada yang tertimpa kesempitan, ada juga yang kesusahan.
Adapun orang yang telah membeli tanah tadi, mulailah dia setelah itu
memikirkan pembangunannya, dan darimana mendapatkan dana agar bisa
mendirikan bangunan di atas tanah tadi. Maka terjatuhlah orang tadi ke dalam
kesusahan, yang meyebabkan sebagiannya berkurang semangat belajarnya dan
mulai condong kepada dunia.
Ribuan pelajar Darul Hadits di Dammaj rumah mereka terbangun dari bata
dan tanah liat, serta ranting dan dahan dari pohon Atsl dan sebagainya. sekalipun
demikian mereka berada di dalam ketenangan dan ketentraman dalam proses jihad
menuntut ilmu. Kamu dapati kehidupan mereka dekat dengan kehidupan para
Salafush Sholih -rohimahumullohu- dalam masalah zuhud di dunia, dan cinta
akhirat.
Tapi bagaimana pendapat kalian jika mereka pindah ke kota perdagangan
Fuyusy dan mendapati masyarakatnya saling membanggakan bangunan dan
perumahan? Apakah para pelajar tadi akan berpikir untuk membangun rumah
dengan harga murah sebagaimana keadaan mereka di Darul Hadits Dammaj?
Apakah hati mereka akan rela dan senang dengan yang demikian itu dalam kondisi
mereka melihat rumah-rumah megah dan pondasi-pondasi yang gagah?
Tidak diragukan bahwasanya jiwa itu senang dengan ketinggian dan tidak
menyukai kerendahan. Maka kamu dapati sebagian dari mereka mulai melongok
dan menginginkan untuk melakukan apa yang diperbuat oleh orang lain
(1)
. Pastilah
mereka berusaha untuk mencari pekerjaan agar bisa mengumpulkan dana senilai
bangunan di dusun Fuyusy.
(2)
Dan hal ini membutuhkan umur dan waktu yang
panjang, dan kamu tahu kondisi reyal Yaman. Bahkan barangkali sebagian dari
mereka akan pergi sampai bisa mengumpulkan dana sesuai dengan apa yang
dimudahkan oleh Alloh. Dan ini sukar untuknya, dan menjadi beban baginya.
Barangkali dia akan menjual rumahnya di Dammaj karena sempitnya waktu. Dan

barangkali engkau termasuk calon pasukan Aden-Abyan yang dijanjikan Rosululloh -shollallohu
alaihi wasallam-. Kalaupun perbuatannya tadi bisa dibenarkan, mengapa setelah berhasil merayu
sebagian pelajar dari Dammaj lalu dia membuat kesempitan terhadap mereka?
(1)
Jangankan di dusun perdagangan Fuyusy, ana Abu Fairuz- telah melihat langsung ada sebagian
pelajar di Dammaj yang berlomba-lomba mempermegah kamarnya, dalam keadaan lingkungan yang
masih cukup sederhana. Bagaimana jika mereka pindah ke lingkungan perkotaan seperti yang beliau
ceritakan?
(2)
Kecuali jika penyandang dananya telah menyediakan kompleks asrama buat mereka dan
sebagainya. Apalagi akhir-akhir ini telah terkuak bahwasanya banyak kucuran dana dari Qothor
untuk mendukung mereka. Lihat buku : Asy Syihabul Qodih hal. 5 karya Nashir bin Muhammad
Al Abyaniy Al Adaniy -hafizhohulloh-.

62
memang inilah yang diinginkan oleh Abdurrohman Al Mariy yang untuk itu dia
mengumumkan impian ini, yaitu memalingkan pelajar dari kebaikan dan besar ini
(Markiz Dammaj yang telah berdiri lebih dari tiga puluh tahun), dan menghalangi
mereka darinya. Hal ini telah banyak terjadi. Berapa banyak pelajar yang menjual
rumahnya dengan harga murah, padahal sebelumnya dia berhasrat untuk bisa
mendapatkan harga tinggi saat menjualnya. Sampai-sampai engkau mendapati
sebagian iklan penjualan yang digantungkan di dinding di situ tertulis rangsangan
untuk cepat membelinya:

!
Barangsiapa ingin membeli rumah sangat murah sekali di mazroah (nama salah
satu kompleks perumahan di Dammaj), di sampai pompa air, maka silakan
menelpon nomor ini ( ). Manfaatkan kesempatan!
Dan kebanyakan pelajar yang terjatuh ke dalam efek buruk dari urusan ini
dan menjadi objek terkaman dan sajian siap santap Abdurrohman Al Mariy adalah
para pelajar dari Adn. Banyak dari mereka yang menjadi korban fitnah ini, dan
Abdurrohman Al Mariy berhasil mengumpulkan ke dalam barisannya angka
maksimal yang mungkin dicapai. Dan itu telah dia lakukan. Rahasianya adalah:
kebanyakan dari saudara kita yang berasal dari Adn kehidupan dan kondisi rumah
mereka sudah terkenal. Sebagian dari mereka berangan-angan bahwasanya di Adn
itu untuk bisa memiliki sekedar rumah sederhana yang bisa menaungi dirinya dan
keluarganya. Yang demikian itu adalah dikarenakan telah sempitnya perumahan di
Adn, ditambah lagi dengan adanya beberapa kemungkaran dan penyelisihan
syariat di sebagian tempat
(1)
.
Maka manakala ada pelajar Adaniy yang ditawari tanah seluas (12 x 12)
dengan harga cukup murah
(2)
, kamu dapati air liurnya menetes dan akalnyapun
goyang. Maka Abdurrohman Al Mariy dengan perbuatannya tadi telah menyihir
mereka sehingga mereka menjadi lalai dan goyang. Andaikata engkau melihat
langsung keadaan sebagian dari mereka tentulah engkau mengira dia itu gila
dikarenakan hebatnya penawaran. Sampai bahkan engkau bisa melihat sebagian
dari mereka membolak-balikkan HP-nya melihat nama-nama yang ada di dalam
HP, barangkali dia lupa mengingatkan sebagian dari mereka untuk turut membeli
tanah di dusun perdagangan Fuyusy. (risalah Tadzkirun Nubaha Wal
Fudhola/Asy Syaikh Muhammad Al Amudiy Al Hadhromiy Al Adniy/hal. 3-9).
Akhunal Mustafid Abu Usamah Adil As Siyaghiy Ash Shonaniy -
hafizhohulloh- menyebutkan tahapan hizbiyyah Abdurrohman Al Mariy adalah:
menghasung sebagian pelajar untuk membeli kapling-kapling tanah murah. Dan
terkadang mereka (para makelar Abdurrohman Al Mariy) mendatangi sebagian
pelajar asing dan menjanjikan buat mereka surat izin tinggal dan berbagai

(1)
Namanya saja kota besar. Makanya pengumuman akan dibukanya kompleks Salafiyyin dan Darul
Hadits di kota Fuyusy amatlah menggiurkan.
(2)
Cukup murah untuk keumuman orang, apalagi orang Adn. Adapun untuk keumuman pelajar
Salafiyyin ya sebagaimana penjelasan di atas.

63
kemudahan. Inilah sebagian dari berita dari Akhunal fadhil Abu Huroiroh pelajar
dari Pakistan. (risalah As Suyufusy syahiroh/hal. 2).
Kesimpulan dari ini semua adalah sebagaimana ucapan Asy Syaikh
Muhammad Al Amudiy Al Hadhromiy Al Adniy -hafizhohulloh-:

Bahwasanya Abdurrohman Al Mariy Al Adniy telah membuat kegegeran besar di
markiz induk (Dammaj) dengan proyek pencatatan nama dan penjaringan pelajar
lewat tawaran yang menggoda angan-angan. (Silsilatuth Tholiah/3/hal. 12).
Silakan rujuk kembali kabar fitnah dan kegoncangan tersebut di Zajrul
Awi (1/hal. 10), Silsilatuh Tholiah (4/hal. 12 dan 25), Al Muamarotul Kubro
(Abdul Ghoni Al Qosyamiy/hal. 18), Haqoiq Wa Bayan (Kamal Al Adaniy/ha.
31), dan Nashbul Manjaniq (Yusuf Al Jazairiy/hal. 79).
Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal -hafizhohulloh- (pengajar di salah satu
masjid di Hadhromaut) berkata: Di antara berita yang tersebar dan diketahui
bersama adalah bahwasanya Asy Syaikh Abdurrohman Ashlahahulloh- punya
para wakil yang menjalankan proyek pencatatan nama-nama orang yang ingin
membangun di tanah markiz Lahj (Fuyusy). Dia sebelum itu punya iklan dan
pengumuman besar yang tiada tandingannya, bahkan menelpon si fulan dan si
fulan di sana dan di sini, yang mana kejadian tersebut membuat tersentaknya orang-
orang yang berakal. Yang demikian itu dikarenakan markiz-markiz Ahlussunnah
tidak didirikan dengan karakter dan gaya seperti itu, seperti yang diinginkan Asy
Syaikh Abdurrohman Ashlahahulloh- dalam mendirikan markiz Lahj.
Semua orang tahu secara pasti bahwasanya tiada seorangpun pada zaman
Syaikhunal Imam Al Wadiiy -rohimahullohu- bisa tinggal di Dammaj sambil
mencatat para pelajar yang ingin pindah ke markiz barunya yang sampai sekarang
masih berupa tanah kosong!
(1)
Padahal dulu markiz-markiz itu didirikan setelah itu
barulah orang yang diwakilkan untuk mengajar di situ pindah ke markiz tersebut.
Terkadang pada permulaannya Syaikhuna -rohimahullohu- diminta untuk
menentukan orang yang akan mengajar di situ.
Maka mengapa perkara yang seperti ini terjadi di Darul Hadits di Dammaj
dalam keadaan pengganti bapak kita ada tapi tidak dimintai musyawarahnya !!?
apakah kalian pandang seperti ini bentuk bakti, bantuan dan pertolongan buat
markiz Syaikhuna -rohimahullohu-, ataukah hal itu merupakan suatu bentuk
kedurhakaan dan permusuhan !!?
Aku merasa kagum dengan kecerdasan sebagian saudara kita dari pelajar
asing manakala dia bertanya kepada seorang teman: Andaikata Asy Syaikh Muqbil
masih hidup, mungkinkah Asy Syaikh Abdurrohman melakukan perkara seperti ini,
yaitu mencatat nama pelajar Dammaj yang mau pindah ke Fuyusy? Nama teman
tadi menjawab: Nggak bisa. Maka dia berkata,Berarti ini nggak benar.
(Mulhaqun Nadhor/hal. 13).

(1)
Risalah ini beliau sebarkan pada awal fitnah, sekitar tiga tahun yang lalu. Adapun sekarang
markiz Fuyusy telah berdiri.

64

Walaupun sebagian masyayikh Yaman tidak bisa menghukumi
Abdurrohman Al Mariy sebagai hizbiy, tapi mereka dalam sidang awal di Dammaj
telah menetapkan bahwasanya dirinya bersalah dengan perbuatan tadi. (Lihat Al
Barohinul jaliyyah/hal. 9).
Bahkan Asy Syaikh Abdulloh bin Utsman Adz Dzamariy -hafizhohulloh-
dalam sidang itu berkata pada Abdurrohman Al Mariy:
) (
Fitnah ini menyebar dari bawah telapak kakimu. (Haqoiq wa Bayan/hal.
36/Kamal bin Tsabit Al Adniy -hafizhohulloh-).
Demikian pula Asy Syaikh Yahya -hafizhohulloh- memberitakan kepada
kami di dars am.
Dan Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- berkata:
.
Abdurrohman bin Mariy Al Adniy telah memecah-belah kesatuan Salafiyyin di
Yaman dan di luar Yaman.
Beliau -hafizhohulloh- juga berkata dalam selebaran yang berjudul Ma
Syahidna Illa Bima Alimna:
...


. : .
kekacauan yang dibikin oleh Abdurrohman Al Adniy dan para pengikutnya
yang fanatik itu mirip dengan pengacauan Abul Hasan Al Mishriy dan para
pengikutnya yang fanatik. Tidak mungkin ditafsirkan selain bahwasanya perbuatan
tersebut adalah hizbiyyah seperti hizbiyyah yang terdahulu, yang berkobar
menyerang kami di Dammaj, lalu tersingkaplah hakikatnya sedikit demi sedikit
sampai akhirnya menjadi jelas bagi seorang Salafiy yang jauh dari kekacauan dan
dari upaya untuk menebarkan benih-benih perpecahan di tengah-tengah dakwah
Salafiyyah dengan cara-cara yang tidak sepantasnya masih tersamarkan oleh orang
yang telah melihat permisalan-permisalan, dan tahu praktek-praktek percobaan dari
hizbiyyah yang terdahulu. Dengan Alloh sajalah kita akan mendapatkan taufiq.
Ditulis oleh Yahya bin Ali Al Hajuriy.
Di antara bukti perpecahan yang dibikin oleh Abdurrohman Al Adniy dan
para pengikutnya adalah upaya mengadu domba para ulama di Yaman dan bahkan
dengan yang di Saudi.
Syaikhuna Al Allamah Yahya Al Hajuriy -hafizhohulloh- berkata kepada
Ubaid Al Jabiriy hadahulloh-:

65
!!
.
Apakah termasuk dari bagusnya duduk-duduk adalah upaya untuk mengadu
domba di antara Ahlussunnah!!!? Perkara ini telah terbukti ada pada mereka:
pindah dari sini ke sana, telpon sana-sini di masyayikh Sunnah di Yaman dan yang
lainnya, sampai hampir-hampir mereka berhasil membuat fitnah di antara kami di
Yaman, akan tetapi Alloh menyelamatkan. Sesungguhnya Alloh Mahatahu apa yang
ada di dalam isi hati. (At Taudhih Lima Jaa fit Taqrirot/hal. 9).
Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- juga berkata padanya:


:

.
( " " 10 - 11 ) .
Dan aku tidak lupa untuk mengingatkan anda wahai Syaikh, bahwasanya
kebanyakan orang-orang yang membikin fitnah dan kegoncangan di dalam Dakwah
Salafiyyah di Yaman, jika mereka telah terbongkar di tempat kami merekapun
bergegas lari ke ulama Saudi, bergaya di hadapan mereka sampai-sampai ada di
kalangan Ahlussunnah yang berkata karena tertipu-: Kenapa kalian tidak
bersapakat saja dengan Az Zindaniy, bersama saudara kalian dari Jamiyyah ini dan
itu? Dan mereka punya udzur atas ucapan tadi, sebagaimana anda sebutkan di
dalam jawaban anda tersebut. Akan tetapi pujian mereka dan baik sangkanya
mereka kepada orang-orang tadi tidak bisa membersihkan orang-orang tadi dari
kasus yang mereka perbuat di sisi orang yang tahu perbuatan mereka tadi. Bahkan
perbuatan mereka tadi (bergaya di hadapan ulama Saudi agar mendapatkan
tazkiyah) justru semakin memperkuat pengetahuan mereka (Ahlussunnah yang
tahu jati diri orang-orang tadi), bahwasanya mereka itu cuma pelaris fitnah, bukan
orang-orang yang tenang dan bertobat kepada Alloh Azza Wajalla dari kejahatan
mereka tadi. (At Taudhih Lima Jaa fit Taqrirot/hal. 10-11).
Maka perbuatan Abdurrohman Al Adniy dan pengikutnya tadi adalah
sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-:
. ( " " / 3 ) .
Perluasan area perselisihan di kalangan Ahlussunnah. (At Tanbihatul
Mufidah/Asy Syaikh Yahya/hal. 3).
Bahkan ini pula yang dilihat oleh Asy Syaikh Hasan bin Qosim Ar Roimiy -
hafizhohulloh- (pemegang dakwah Salafiyyah di Taiz). Lihat kitab beliau Ar
Roddul Qosimiy/hal. 3.
Saking terkenalnya perbuatan mereka dalam memecah-belah ulama dan
Ahlussunnah sampai-sampai terabadikan di dalam Tanbihus Salafiyyin (9-17),

66
Zajrul Awi (3/hal. 34), Nashbul Manjaniq (hal. 134-139), Iqozhul Wisnan (hal. 5
dan 29), Al Barohinul Jaliyyah (hal. 31-32), dan Al Qoulush Showab.
Sungguh orang yang berakal dan berilmu akan sulit mengingkari bukti-bukti
upaya adu domba dan perpecahan disebabkan dan dilakukan oleh Abdurrohman
Al Adniy dan para pengikutnya. Satu poin pokok ini saja cukup membahayakan
Salafiyyah mereka. Mereka terancam keluar dari Ahlus Sunnah.
Al Imam Asy Syathibiy -rohimahullohu- berkata:
.
Dan perpecahan merupakan sifat yang paling khusus dari ahli bidah karena dia
itu keluar dari hukum Alloh dan menyelisihi jamaah Ahlul Islam. (Al
Itishom/hal. 88).
Cak Dul, jangan ngantuk ya, kita sekarang sedang perang hujjah. Termasuk
perkara yang memperbesar retaknya persatuan Salafiyyin adalah gigihnya para
pengikut Abdurrohman Al Adaniy untuk merebut kepengurusan masjid-masjid
Ahlussunnah. Akhunal fadhil Al Mustafid Abul Hasan Ihsan Al Lahjiy -
hafizhohulloh- telah mencatat operasi keji mereka dalam mengambil alih
kepengurusan masjid-masjid Ahlussunnah di wilayah selatan, di kitab beliau
Tahdzirus Sajid
Coba lihat hal. 16-17 di kitab tadi bagaimana mereka merebut masjid Al Imam Al
Albaniy.
Lalu di hal. 18-19 gambaran kebengisan hati mereka dalam mengambil masjid
Umar ibnul Khoththob dari Al Akh Husain bin Muhammad Az Zughoir -
hafizhohulloh-. Di situ diceritakan bagaimana akhuna yang miskin ini
mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli lahan lalu membangun
masjid di atasnya untuk diwaqofkan buat ikhwan Salafiyyin Lahj yang dia kenal,
tapi ternyata anak buah ibnu Mariy merampasnya lewat wuzaroh auqof (semacam
departemen agama di Yaman).
Di hal. 20 diceritakan cara keji yang mereka praktekkan dalam mengambil alih
masjid Al Anshor.
Di hal. 23 diceritakan upaya mereka untuk menguasai khothbah di masjid aparat
Najdah yang selama ini dipegang oleh sang penulis. ( ) mereka gagal.
Di hal. 24 diceritakan kelancangan salah satu tokoh mereka dalam berupaya
mengambil alih masjid Al Imam Al Wadiiy. ( ) mereka gagal.
Di hal. 24-25 diceritakan teror yang amat besar terhadap imam masjid Al Bukhoriy
agar dia melepaskan jabatan buat mereka.
Serombongan tamu yang datang dari Aden juga menceritakan kejahatan-
kejahatan tadi di depan umum.
Syaikhuna Yahya Al Hajuriy -hafizhohulloh- di dalam risalah beliau At
Tanbihatul Muhimmah hal. 3 menyebutkan gerakan-gerakan tadi secara global.
Beliau juga berkata di depan umum:
.

67
Tidak diragukan lagi bahwasanya ini adalah hizbiyyah.
Setelah menyebutkan berbagai kejahatan mereka, beliau -hafizhohulloh-
berkata dalam kesempatan lain:
.
Jika seperti ini bukan hizbiyyah, maka kami tidak tahu apa itu hizbiyyah.
Mana pengumuman pengingkaran kedua anak Mariy terhadap kejahatan
terbuka kawan mereka itu? Jika Cak Dul dalam rangka melindungi kejahatan
dirinya senang memamerkan ucapan Asy Syaikh Robi Al Madkholiy -
hafizhohulloh-, maka kami bangga menyebutkan perkataan beliau dalam
menghantam kebatilan. Ucapan beliau -hafizhohulloh- terhadap Haddadiyyun
berikut ini pantas diarahkan kepada anak Mariy:
. .
( . " " 91 )
Sungguh aku ingin melihat perkataan mereka terhadap Al Haddad, terhadap Ba
Syumail, terhadap Sayyid Quthb, terhadap kepala-kepala Quthbiyyah, terhadap
pimpinan-pimpinan Al Ikhwan. Aku ingin mereka punya perkataan terhadap
mereka. Aku mengira mereka tak sanggup untuk mengucapkannya karena
mereka itu telah saling damai dengan mereka. (Kalimatun fit Tauhid/hal. 19).
Akhunal fadhil Abu Anas Yunus Al Lahjiy roahulloh- menuliskan:
Alhamdulillah washsholatu wassalam ala man la nabiyya badahu. Amma badu:
Al Akh Al Amudiy telah meminta padaku untuk menceritakan hakikat peristiwa
yang terjadi di masjid Al Bukhoriy yang ada di propinsi Lahj di desa Mahallah.
Yang demikian dikarenakan ana ada ketika berlangsungnya peristiwa tersebut.
berikut ini hakikat dari kejadian tersebut:
Kami berangkat dari masjid Akhunal fadhil Abu Harun menuju masjid Akhunal
fadhil Abdul Aziz yang di situlah terjadi peristiwa tersebut. Dan muhadhoroh
(ceramah) akan diberikan oleh Akhuna Abdul Aziz, imam dari masjid tersebut.
Ketika kami sampai di masjid sebelum maghrib, kami mendapati masjid tersebut
terkunci. Kemudian dibukalah masjid tersebut, dan kami tidak tahu bahwasanya
sebagian orang-orang bodoh yang fanatik pada Ibnu Mariy beserta orang-orang
awam dari penduduk desa tersebut akan melakukan kegaduhan terhadap masjid
ini. Dan kami tidak tahu bahwasanya pemerintah akan mengunci masjid ini.
Maka kamipun masuk ke area masjid dan berwudhu, kemudian kami keluar
menuju masjid. Dan hal itu sebelum adzan maghrib. Ketika kami dalam keadaan
demikian kami mendengar ada suara-suara keras dan kegaduhan besar dari
sebagian mutaashshibun (orang-orang yang fanatik pada Ibnu Mariy) beserta orang-
orang awam yang didorong-dorong oleh sebagian hizbiy Abdurrohman
hadahumulloh-. Mereka masuk, mengunci pintu dan mematikan lampu. Pengeras
suara dirampas.
Dalam keadaan seperti itu berdirilah sang imam masjid seraya mengumandangkan
adzan dalam keadaan yang sedemikian gaduhnya. Kemudian beberapa

68
mutaashshibun datang dengan polisi untuk mengambil Akhuna Abdul Aziz dalam
keadaan beliau menyampaikan ceramah. Mereka juga mendatangkan tentara untuk
mengambil beliau. Hanya saja sang tentara lebih berakal daripada para hizbiyyin
yang fanatik. Para tentara berkata: Bagaimana mungkin kita menahan beliau dalam
keadaan beliau menyampaikan ceramah? Maka duduklah sang tentara dan mereka
mendengarkan ceramah, dalam keadaan para mutaashshibun terus membikin
kegaduhan.
Kemudian lewatlah sebagian mutaashshibun yang rencananya menghadiri ceramah
di masjid lain di desa yang sama. Manakala mereka melihat kegaduhan di masjid ini
datanglah mereka dan singgah di sini seraya menyempurnakan gangguan. Bahkan
sebagian ingin menantang adu pukul.
Seusai ceramah berangkatlah kami menuju kantor polisi. Ternyata kami dapati
mutaashshibun sudah ada di sana dan dikepalai oleh Muhammad Al Khidasyi
ashlahahulloh-. Sebagian saudara kita dimasukkan ke dalam penjara. Dan pada hari
yang lain berangkatlah Abdul Ghofur Al Lahjiy hadahulloh- (tangan kanan
Abdurrohman bin Mariy di propinsi tersebut. Dulunya adalah anggota jamiyyatul
Hikmah lalu jamiyyatul Ihsan, lalu jamiyyatul Birr). Kami diberitahu bahwasanya
dia berkata para polisi: Orang awamlah yang akan memutuskan siapa yang akan
menjadi imam masjid. Siapa yang mereka pilih jadi imam, jadilah dia imam. Pada
kami sudah tahu bahwasanya para mutaashshibun telah menghasung orang-orang
awam untuk menurunkan Akhuna Abdul Aziz hafizhohullohu wa saddadahu-
dari jabatan imam.
Ditulis oleh Abu Anas Yunus Al Lahjiy.
(Zajrul Awi/Asy Syaikh Muhammad Al Amudiy -hafizhohulloh-/3/hal. 24-25).
Berikut ini adalah berita yang ditulis oleh para tamu dari kabupaten Dis
Timur di Hadhromaut dan diajukan ke Syaikhuna Yahya Al Hajuriy -hafizhohulloh-
yang mengeluhkan kejahatan anak buah Abdulloh bin Mariy:
1- Nabil Al Hamr dan anak buahnya telah melakukan praktek pengkhianatan dalam
bentuk merusak Perpustakaan umum milik Salafiyyun di wilayah tersebut. Mereka
mengambil seluruh kitab dan memasukkan di atas truk pasir, sambil menghinakan
kehormatan masjid dan kekuasaan masjid di situ tanpa memperhatikan adab-adab
syariyyah ataupun akhlaq yang mulia, dan berbuat jahat terhadap dunia ilmu. Yang
demikian itu mereka lakukan demi menguasai perangkat dakwah yang menjadi
waqof buat Salafiyyin. Dan orang ini (Nabil Al Hamr) terkenal punya penyakit gila
kepemimpinan dan popularitas.
2- Orang ini (Nabil Al Hamr) juga melakukan perbuatan di luar adab-adab
syariyyah dan adab kemasyarakatan. Ketika salah seorang ikhwah akhuna Abu
Muhammad Sholih Al Hadhromiy- yang sudah Antum kenal menyampaikan
ceramah dan nasihat kepada masyarakat di dalam masjid. Beliau menyebutkan
sekelumit pujian ulama kepada Asy Syaikh Yahya dan menjelaskan bahwasanya
maksiat itu marupakan sebab tidak adanya taufiq kepada kebenaran. Maka
datanglah si Hamr dari luar masjid dan menyerang Akhuna Sholih dengan caci-
makian seraya berteriak-teriak untuk memutuskan ceramahnya tanpa menghormati

69
kahormatan masjid. Maka keluarlah orang-orang dari masjid dengan tercengang
akan perbuatan si Hamr, yang mana hal itu belum pernah dilakukan oleh Shufiyyah
ataupun Ikhwanul Muslimin di tempat kami.
3- Nabil Al Hamr yang terfitnah ini dan juga para pengikutnya melakukan praktek-
praktek makar untuk menyempitkan pelajaran-pelajaran yang diadakan oleh
Akhunal fadhil Abu Hamzah Hasan Ba Syuaib, padahal pelajaran yang dia berikan
itu ilmiyyah dan bermanfaat. Si Hamr yang terfitnah bersama anak buahnya
berusaha melarikan masyarakat dari Akhuna Hasan dan para Salafiyyun dengan
syubhat bahwasanya mereka itu melawan ulama.

9- Di sini ada Jamiyyah yang namanya Jamiyyatul Bandar untuk para nelayan.
jam'iyyah inlah yang terus menyokong fitnah ini dan berdiri bersama Nabil Al
Hamr yang terfitnah dalam rangka membantu kedua anak Mariy. Abdulloh bin
Mariy adalah mufti (juru fatwa) jamiyyah tersebut. Jamiyyah ini telah banyak
memecah belah dakwah salafiyyah dengan wala wal baro yang sempit dan
fanatisme. Mereka siap untuk menyakiti setiap yang berbicara tentang mereka
dengan meminta bantuan sebagian pejabat. Dst.
(Akhbar Min Tholabatil Ilmis Salafiyyin bi Manthiqotid Disy Syarqiyyah/talkhish
Abi Said Muhammad Ad Disiy Al Hadhromiy).
Abu Fairuz berkata: Akhunal fadhil Abu Said Muhammad Ad Disy -
hafizhohulloh- berkata langsung padaku bahwasanya Nabil Al Hamr dan anak
buahnya dengan bantuan panitia masjid telah mengusir Akhuna Abu Hamzah
Hasan Ba Syuaib -hafizhohulloh- dari rumah beliau dengan alasan bahwasanya
rumah tadi bukan rumahnya. Padahal rumah itu memang rumah pemberian
muhsinin untuk beliau.
Coba Cak Dul Ghofur perhatikan dengan adil dan jujur. Bagaimana mungkin
perbuatan di atas tidak menyebabkan perpecahan dan kebencian?
Bukankah berdasarkan kaidah-kaidah salafiyyah di atas terbukti bahwasanya
kedua anak Mariy dan pengikutnya telah keluar dari Ahlussunnah !? Berdasarkan
kaidah di atas cukup bagi Salafiy yang cerdas dan terbimbing untuk menyatakan
mereka itu tadi adalah hizbiyyun mubtadi'ah.
Maka cukup bagi Syaikhuna Al Allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy, Asy
Syaikh Muhammad bin Hizam Al Ibbiy, Asy Syaikh Abu Amr Al Hajuriy, Asy
Syaikh Abu Bilal Al Hadhromiy, Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy, Asy Syaikh
Muhammad Al 'Amudy, Asy Syaikh Said Daas Al Yafiiy, Asy Syaikh Abu Muadz
Husain Al Hathibiy dan Asy Syaikh Sadi Daas -hafizhohumulloh- (semuanya di
markiz Dammaj) untuk menjatuhkan hukuman pada kedua anak Mariy dan
pengikutnya.
Demikian juga Syaikhunal Walid Muhammad bin Mani' di markiz Shon'a,
Asy Syaikh Ahmad bin 'Utsman di markiz 'Adn, Asy Syaikh Hasan bin Qosim Ar
Roimy (murid Imam Al Albany -rahimahulloh-) di markiz Ta'iz, Asy Syaikh
Abdulloh Al Iryaniy di markiz Baidho, Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal di

70
markiz Hadhromaut, dan Asy Syaikh Abu 'Ammar Yasir Ad Duba'iy di Mukalla.
Cukup bagi semuanya -hafizhohumulloh- untuk menjatuhkan hukuman pada
kedua anak Mariy dan pengikutnya sebagai hizbiyyun. Dan hizbiyyun bukan
Ahlussunnah.

Bab Tujuh: Dua Pokok Pemahaman Dalam Menjatuhkan
Hukuman

Jawaban ketujuh: Tahukah Cak Dul bahwasanya di dalam menjatuhkan
hukuman itu diperlukan adanya dua pokok pemahaman? Al Imam Ibnul Qoyyim -
rohimahullohu- berkata:
: :
. :


: " "
- : - .
Dan tidak bisa seorang mufti atau hakim untuk berfatwa dan menghukum dengan
benar kecuali dengan memiliki dua jenis dari pemahaman: Yang pertama:
Memahami kenyataan yang terjadi, dan bagaimana bisa mengambil pengetahuan
dari hakikat kasus yang terjadi tersebut berdasarkan faktor penyerta dan alamat
serta tanda-tanda sampai bisa melingkupinya dengan ilmu.
Yang kedua: pemahaman hukum yang wajib dijatuhkan berdasarkan kenyataan
tadi. Yang kedua ini adalah pemahaman terhadap hukum Alloh yang dengannya
Dia menghukumi di dalam kitab-Nya atau melalui lisan Rosul-Nya terhadap
kejadian ini, lalu mencocokkan salah satunya kepada yang lainnya. Barangsiapa
telah mencurahkan kemampuannya untuk itu maka dia tidak akan kehilangan salah
satu dari dua pahala.
Maka orang berilmu adalah orang yang mempergunakan pengetahuannya
terhadap suatu kenyataan dan penelitian terhadap kasus tadi untuk mencapai
pengetahuan tentang hukum Alloh dan Rosul-Nya (untuk kasus tersebut),
sebagaimana saksi Nabi Yusuf -alaihissalam- mempergunakan robeknya baju gamis
dari belakang untuk mengetahui kejujuran dan bebasnya Yusuf dan tuduhan itu,
dan sebagaimana Nabi Sulaiman -shollallohu alaihi wasallam- mempergunakan
ucapannya Berikan aku pisau untuk membelah anak ini dan membaginya untuk
kalian berdua" untuk mengetahui sang ibu yang asli sampai pada ucapan beliau:-
Dan barangsiapa merenungkan syariat dan keputusan-keputusan para Shohabat
niscaya dia akan mendapatnya penuh dengan metode ini. Dan barangsiapa

71
menempuh selain jalan ini niscaya dia akan menyia-nyiakan hak-hak manusia.
(Ilamul Muwaqqiin/1/hal. 113-114).
Demikian pula di "Ath Thuruqul Hukmiyyah" (1/hal. 3).
( ) Cak Dul Ghofur paham perkara ini. Maka coba perhatikan: betapa
rincinya kasus anak Mariy yang dipaparkan oleh para Masyayikh Dammaj dan
yang bersama mereka, dan betapa jelinya pandangan mereka terhadap kasus
tersebut, seluk-beluknya, arahnya dan alamat-alamat adanya kelicikan dan makar di
balik selubungnya.
Kemudian coba lihat kekuatan dalil-dalil mereka dari Al Quran, As Sunnah
dan kaidah-kaidah Salaf.
Kemudian coba lihat mantapnya kecocokan hujjah mereka dengan kasus
tersebut yang menghasilkan hukum yang pas dan serasi.
Ana yakin hukum yang mereka tetapkan dalam kasus tersebut telah
mencapai kebenaran, bahwasanya kedua anak Mariy tadi dan pengikutnya adalah
hizbiyyun mubtadiah.
Kalaupun misalnya para ulama Dammaj dan yang ulama yang lainnya yang
menyertai mereka ternyata keliru dalam menjatuhkan vonis (dan ini jauh), maka
mereka adalah mujtahidun yang tidak luput dari satu pahala. Maka sama sekali
tidak pantas bagi Cak Dul untuk mencaci-maki para ulama tadi, dan juga menghina
pengikut mereka yang membantu mereka dengan hujjah-hujjah sebagai: Katak
dalam tempurung. Cak Dul sendiri mengakui bahwasanya dirinya Anak kemarin
sore yang belum berpengalaman. (hal. 3).
Ini ana sebutkan jika memang Cak Dul tahu kaidah dari Al Imam Ibnul
Qoyyim -rohimahullohu- tadi atau semisalnya. Adapun jika Cak Dul tak tahu ya
tolong tempurungnya buat Cak Dul saja. Dan jika ketemu katak bilanglah: Apa
kabarmu wahai saudaraku?

Bab Delapan: Pokok-pokok Salafiyyah Yang Lain Yang
Diselisihi Anak Al Mariy dan Pengikutnya

Jawaban kedelapan: Masih beberapa prinsip Ahlussunnah dan pokok
Salafiyyah yang diselisihi oleh Anak Mariy dan pengikutnya. di antaranya adalah:
1- Al Wala Wal Baro fillah (keharusan untuk cinta dan benci karena Alloh, bukan
karena yang lain)
2- Keharusan untuk menolong al haq dan ahlul haq saat dibutuhkan
3- Haromnya memerangi ahlul haq
Seandainya masing-masing dari poin di atas ana sebutkan secara rinci dalil-
dalilnya dan sekaligus bukti-bukti perbuatan mereka, maka berapa panjang risalah
ini?
( ) satu poin saja cukup sebagaimana penjelasan para ulama di atas. Dan
( ) atas hidayahnya kepada kami akan poin-poin prinsip yang lain yang

72
diselisihi oleh para hizbiyyun tadi. Bagi yang rajin membaca risalah para Salafiyyin
Dammaj dan yang bersama mereka, akan dia dapati ( ) bukti-bukti yang
banyak akan penyelisihan mereka terhadap prinsip-prinsip Ahlussunnah. Jika Cak
Dul tidak tahu maka sebenarnya beliau sedang mencaci dirinya dengan ucapannya:
Katak dalam tempurung. Jika ternyata beliau telah membacanya tapi ternyata
tidak paham, maka semoga Alloh segera memahamkannya. Jangan sampai Cak Dul
mengalami musibah seperti orang yang disebutkan oleh Alloh taala:

/[

16 ]
Dan di antara mereka ada orang yang memperhatikan bacaanmu, hingga di saat
mereka keluar dari sisimu berkatalah mereka kepada orang-orang yang diberi ilmu:
Apa sih yang dia ucapkan barusan? Mereka itulah orang-orang yang telah Alloh
berikan cetakan di atas hati-hati mereka dan mengikuti hawa nafsu mereka. (QS.
Muhammad: 16).
Ana berharap Cak Dul tidak sembrono mencaci saudaranya dengan ucapan:
Katak dalam tempurung, ataupun menuduh saudaranya itu pengecut dan pantas
mendapatkan sepatu perempuan berhak tinggi warna merah jambu.
Dengan penjelasan sangat ilmiah di atas ana berharap Cak Dul masih
memiliki kejantanan untuk mengumumkan pengakuan akan kedangkalan ilmunya
dan akan kesalahan-kesalahannya secara terperinci. Jika beliau mau, maka kami
salut, dan (lebih penting dari itu) Alloh itu Maha Pengasih lagi Maha Pengampun.
Tapi jika Cak Dul ternyata lebih mementingkan harga dirinya maka silakan para
pembaca yang adil menilai: jangan-jangan penulis buku Hampir-hampir Mereka
Jantan tak lebih daripada seekor katak yang memakai sepatu merah jambu berhak
tinggi dengan dua kuntum mawar merah muda. Aduh, cantiknya! Cepat Cak,
masuk ke tempurungmu!

Bab Sembilan: Sebagian Alamat Hizbiyyah Anak Al Mariy dan
Pengikutnya

Jawaban kesembilan: Bagaimana jika penyimpangan-penyimpangan
terhadap prinsip Salafiyyah tadi (dan yang belum ana sebutkan) ditambah dengan
sekian percabangan yang mana itu merupakan alamat hizbiyyah yang memang ada
pada mereka (kedua anak Mariy dan pengikutnya) seperti:
Pertama: Memuji ahlul bida dan hizbiyyin, atau mengangkat citra mereka
Kedua: menolong ahlul bida, membela mereka, dan merasa sakit dengan serangan
ahlussunnah terhadap mereka,
Ketiga: Banyak diam terhadap kebatilan hizbiyyin, dan lemah dalam mengingkari
kemungkaran mereka
Keempat: Cercaan yang batil terhadap ulama sunnah yang istiqomah

73
Bercabang darinya perkara berikut ini:
1- Merusak citra ahlul haq bahwasanya mereka itu memiliki pemikiran khowarij
dan pengkafiran.
2- Merusak citra ahlussunnah bahwasanya mereka itu penyebab perpecahan.
3- Berusaha untuk melekatkan citra fitnah kepada ahlussunnah yang
memberikan nasihat.
4- Menuduh ahlussunnah yang cemburu untuk agama Alloh, dan yang
menampakkan kebenaran, menuduh mereka sebagai orang yang tergesa-gesa
dan terburu-buru.
Kelima: Mendustakan sebagian saksi, mencela mereka, dan mencela orang-orang
yang menasihatinya dan menjelaskan kesalahannya.
Keenam: Meremehkan dan mengejek Ahlul haq.
Ketujuh: Membikin-bikin berita bohong, dan berdusta atas nama orang yang jujur
yang mengkritiknya dan menasihatinya.
Kedelapan: Mengangkat slogan-slogan, di antaranya adalah:
1- Slogan: Kalian harus lemah lembut, kalian punya sifat berlebihan dan
keras!
2- Slogan: Kalian suka mempopulerkan kesalahan orang!
3- Berlindung di balik slogan: mengambil manfaat dan menolak bahaya.
Untuk membela kesalahan diri.
4- Mengangkat slogan Harus baik sangka untuk meruntuhkan kritikan.
5- Mengangkat slogan Harus tatsabbut (cari kepastian) dan tabayyun (cari
penjelasan) dalam rangka menangkis kritikan.
6- Mengangkat slogan Kami dizholimi, kami butuh keadilan! untuk
memperburuk citra pemberi nasihat, dan menarik perasaan orang.
Kesembilan: memalingkan perhatian orang-orang dari inti perselisihan.
Kesepuluh: Memanfaatkan kejadian-kejadian yang ada untuk melancarkan hasrat
dan tujuan mereka yang busuk.
Kesebelas: Upaya menghindar dari Ahlul haq, menghalangi orang dari mereka, dan
melarikan orang dari kebenaran dan Ahlul haq.
Kedua belas: Tidak mau membantu para pembela manhajus Salaf dalam memerangi
para hizbiyyin.
Ketiga belas: Berdalilkan dengan diamnya sebagian ulama
Keempat belas: Bertamengkan dengan fatwa atau perbuatan sebagian ulama dalam
menyelisihi kebenaran.
Kelima belas: mereka berlebihan dalam meninggikan ulama atau pimpinan mereka
hingga mengangkat mereka ke tingkatan tak bisa dikritik
Keenam belas: Membentuk landasan dan pokok-pokok yang menyelisihi manhaj
Salaf untuk menolong kebatilan.
Ketujuh belas: Sedikitnya kesediaan untuk menerima nasihat yang benar.
Kedelapan belas: Teman dekat yang jelek, duduk-duduk dengan hizbiyyun, dan
berloyalitas dengan mereka.
Kesembilan belas: Sikapnya sering bertolak belakang, dan banyak berdusta.

74
Dan bercabang dari itu, atau mirip dengannya:
1- Membikin makar dan tipu daya
2- Penipuan dan pengkhianatan
3- Meniru Ikhwanul Muslimin dan cabang-cabang mereka dalam menempuh
metode lambat untuk menyamarkan gerakan.
4- Upaya berlepas diri secara politis dari kesalahan anak buahnya untuk
menghindari tanggung jawab.
5- Politik topeng, alih warna, bersembunyi, dan muka ganda.
6- Berpura-pura lemah lembut dan akhlak mulia.
7- Pemutarbalikan fakta
8- Khianat dalam menukil berita sehingga merubah makna
Kedua puluh: Pengkaburan, dan penyamaran antara kebenaran dan kebatilan.
Kedua puluh satu: Sibuk memperbanyak barisan, bukannya memperbaiki manhaj.
Kedua puluh dua: menebarkan tawaran-tawaran untuk menjaring mangsa,
membuat mereka terlena dengan angan-angan, pemberian dan sebagainya.
Kedua puluh tiga: Tidak rela dengan penyebaran kebenaran yang menyelisihi hawa
nafsunya.
Kedua puluh empat: kerakusan untuk mengumpulkan harta atas nama dakwah.
Dan bercabang darinya:
1- Meniru Ikhwanul Muslimin dengan cara meminta- minta harta setelah
menyampaikan ceramah.
2- Membuka jalan untuk mendirikan jamiyyah dan semisalnya atas nama
dakwah.
3- Memakai kotak dan semisalnya dalam mengumpulkan harta.
Kedua puluh lima: Banyak melakukan pesiar dan jalan-jalan untuk memperkuat
pondasi hizbnya.
Kedua puluh enam: Lemahnya perhatian kepada menuntut ilmu.
Kedua puluh tujuh: Mendekatkan diri dan menjilat, serta menyusup ke tengah-
tengah ulama dan para Salafiyyin.
Kedua puluh delapan: Pura-pura tobat, bergaya rujuk dari kesalahan, atau yang
semisalnya.
Kedua puluh Sembilan: Berupaya menimpakan kejelekan terhadap Ahlussunnah
melalui tangan penguasa.
Ketiga puluh: Bersatu dan berkumpul sesuai dengan hasrat dan tujuan pribadi dan
keduniaan. Dan terkadang meninggalkan teman-temannya jika kebutuhan telah
tercapai atau khawatir menjadi sasaran teriakan.
Ketiga puluh satu: Sengaja membikin gaduh masjid Ahlussunnah agar orang-orang
buyar.
Ketiga puluh dua: Menempuh prinsip Tujuan itu bisa menghalalkan segala cara.
Ketiga puluh tiga: Penakut-nakutan dan teror psikologis.
Ketigapuluh empat: Penggunaan lafadh-lafadh yang umum dan ungkapan yang
global.

75
Ketigapuluh lima: pertemuan-pertemuan rahasia untuk melangsungkan rencana
yang mencurigakan.
Ketigapuluh enam: penyia-nyiaan para pemuda yang tertipu oleh mereka, dalam
bentuk memalingkan mereka dari kebaikan.
Ketigapuluh tujuh: kelembekan manhaj dan upaya untuk melunturkan kekokohan
sikap.
Ketigapuluh delapan: sedikitnya sikap waro (menjauhi perkara yang
membahayakan akhiratnya).
Ketiga puluh sembilan: ridho dengan keikutsertaan para penulis yang tak dikenal
dalam upaya menghantam dakwah Ahlussunnah.
Keempat puluh: menyelisihi metode Salaf, baik secara ucapan ataupun secara
keadaan.
Keempat puluh satu: menempuh cara demokrasi dan suara terbanyak dalam
menentukan pilihan dan kebenaran.
Keempat puluh dua: Kedengkian yang jelas.
Keempat puluh tiga: Tidak adil dalam menerapkan kaidah mereka sendiri, dan
berbuat zholim dalam perselisihan.
Secara umum ana telah menyebutkan poin-poin hizbiyyah ini di buku yang
membahas Terbongkarnya Hizbiyyah Luqman, dan juga Mendobrak
Kesepakatan Yang Bertujuan Membungkam Kebenaran. Sekarang ana sebutkan
lagi dengan sedikit penyesuaian dengan bentuk perdebatan.
Cak Dul -waffaqokallohu-, ( ) ana punya catatan besar tentang poin-
poin ini yang secara umumnya lengkap dengan dalil-dalil Al Quran dan As Sunnah
dengan penjelasan ulama Salaf. Dan juga dilengkapi dengan bukti-bukti kongkret
akan terjatuhnya kedua anak Mariy dan pengikutnya ke dalam poin-poin hizbiyyah
di atas. Andaikata ana sebutkan seluruhnya di buku ini pastilah akan menjadi kitab
yang sangat tebal, dan Cak Dul akan kebingungan tapi juga sekaligus sadar
bahwasanya dirinya itu tertinggal jauuuh sekali dalam ilmu ini, dan sadar siapakah
sebenarnya yang pantas menyandang gelar: Katak Dalam Tempurung. ( ).
Afwan Cak, bukannya ana bermaksud membanggakan diri dengan ucapan
tadi. Tanpa pertolongan Alloh taala ana (dan kita semua) tak akan mampu berjalan
walau selangkah. Dan tidaklah kita diberi Alloh taala ilmu kecuali sedikit saja. Ilmu
tadi sudah ada di kitab-kitab para ulama Ahlussunnah dan bertebaran di
perpustakaan Islam. Kita semua dengan taufiq dari Alloh taala bisa
mendapatkannya.
Maka bertaqwalah wahai Abdul Ghofur, merunduklah di bumi Alloh, terima
kebenaran yang datang dengan dalil-dalilnya, akui kesalahan dengan ksatria, dan
jangan suka meremehkan manusia. Dan jika datang hukum yang dibangun dari Al
Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah lengkap dengan hujaj
dan bayyinat serta barohin maka wajib bagimu untuk menerimanya karena dia itu
adalah kebenaran. Adapun jika engkau sanggup mendatangkan hujjah yang lebih
kuat maka silakan tunjukkan.


76
Bab Sepuluh: Berbagai Perbuatan Kedua Anak Mariy dan
Pengikutnya Itu Merupakan Ihdats Terhadap Dakwah

Jawaban kesepuluh: Jika kita memperhatikan kembali berbagai perbuatan
dan makar yang dilakukan oleh kedua anak Mariy dan pengikutnya terhadap
dakwah Salafiyyah di Yaman, mestinya kita tidak ragu lagi bahwasanya mereka
telah melakukan ihdats.
Bagaimana tidak? Dakwah Salafiyyah
(1)
di Yaman sejak zaman Al Imam Al
Mujaddid Muqbil bin Hadi Al Wadiiy -rohimahullohu- sampai sekarang telah
berlangsung lebih dari tiga puluh lima tahun dengan pola yang diketahui bersama,
dan seluruhnya berpusat di markiz Dammaj. Tapi kemudian terjadi pengacauan
besar-besaran di pusat dakwah mereka selama ini
(2)
. dan setelah beberapa lama
berlangsung terbongkarlah rencana keji dari mulut Salim Ba Muhriz teman
sekongkol Abdulloh bin Mariy. Muhammad bin Said bin Muflih dan saudaranya
Ahmad- (keduanya adalah Salafiy dari wilayah Dis Timur pesisir Hadromaut)
berkata bahwasanya Salim Ba Muhriz pada mereka pada pertengahan tahun 1423 H:

Kita telah selesai dari Abul Hasan, sekarang giliran keruntuhan akan menimpa
Hajuriy. (Mukhtashorul Bayan/hal. 3).
Dan Abdurrohman Al Adaniy dalam sidang di Dammaj bersama para masyayikh
berkata:
:
Aku tak akan merahasiakannya dari kalian bahwasanya telah datang padaku
sekelompok orang seraya berkata: Al Bakriy telah jatuh, maka bangkitlah Anda
sekarang. (Al Muamarotul Kubro/Abdul Ghoni Al Qosyamiy -hafizhohulloh-
/hal. 16).
Amat terang sekali bahwasanya mereka telah membuat ihdats. Padahal
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:

Semoga Alloh melaknat orang yang menyembelih untuk selain Alloh, semoga
Alloh melaknat orang yang mencuri (riwayat yang lain: merubah) tanda-tanda di
bumi, semoga Alloh melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya, dan
semoga Alloh melaknat orang yang menaungi pelaku ihdats. (HR. Muslim dari Ali
bin Abi Tholib -rodhiyallohu 'anhu- dengan lafazh ini. Diriwayatkan Al Bukhoriy
dan Muslim juga dengan lebih panjang).

(1)
Tentu saja ada yang berdakwah ke manhaj Salaf sebelum itu, hanya saja yang kita bicarakan adalah
yang berlangsung sejak zaman Al Imam Al Wadiiy -rohimahullohu-.
(2)
Bukan untuk membanggakan markiz Dammaj dan menjadikannya sebagai penghias sampul
depan, tapi memang pada kenyataannya dari markiz Dammajlah bercabang markiz-markiz yang lain,
dan setiap tahun mereka berkumpul di Dammaj untuk menyatukan kalimat dan saling membagi
faidah. Ini yang berlangsung sampai awal-awal fitnah Mariyyah.

77
Makna Al Hadats dalam hadits di atas adalah: kemaksiatan dan kebidahan.
(Syarh Shohihil Bukhoriy/Ibnu Baththol/19/hal. 464).
Badrud din Al Ainiy -rohimahullohu- berkata:

Dia itu adalah perkara yang baru yang mungkar dan tidak biasa dilakukan, dan
tidak dikenal di dalam As Sunnah. (Umdatul Qori/16/hal. 165).
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:


. (
( 4594 ) .)
Kuwasiatkan kalian untuk bertaqwa pada Alloh, dan mendengar dan taat kepada
pemerintah, sekalipun dia itu adalah budak Habasyah, karena orang yang hidup di
antara kalian sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib
bagi kalian untuk memegang sunnahku dan sunnah Al Khulafaur Rosyidin yang
mendapatkan petunjuk. Pegang teguhlah dia dan gigitlah dia dengan geraham
kalian. Dan hindarilah setiap perkara yang muhdats karena yang muhdats itu
bidah, dan setiap bidah itu kesesatan. (HR. Abu Dawud (4594) dan lainnya
dihasankah oleh Al Wadiiy -rohimahullohu- dalam Ash Shohihul Musnad (921)).

Maka kami sudah meyakini dengan bayyinat sebanyak itu bahwasanya
kedua anak Mariy dan pengikutnya adalah hizbiyyun mubtadiah. Bukannya kami
sedang mencaci-maki ulama Ahlussunnah.

Bab Sebelas: Bayyinah-bayyinah Tadi Sampai Sekarang Tidak
Bisa Dipatahkan oleh Para Penentang Dengan Hujjah
Sebagaimana Mestinya

Jawaban kesebelas: Seluruh penjelasan dan bukti-bukti yang ana paparkan
di sini (tentang Anak Mariy dan pengikutnya) barulah sebagian kecil dari yang
tercatat di buku-buku para Masyayikh Dammaj dan yang bersama mereka. Dan
sampai sekarang tidak ada satu alimpun yang bisa meruntuhkannya dengan dalil-
dalil Quran dan Sunnah dan penjelasan Salaf sebagaimana mestinya. Padahal itu
yang wajib mereka lakukan jika ingin bukti-bukti dan tuduhan tadi batal. Tapi
ternyata yang muncul dari pihak mereka hanyalah seruan Jangan sibuk dengan
fitnah!, Tulisan-tulisan macam itu cuma bikin perpecahan!, Mereka cuma anak-
anak!, Diam kalian semua!
Atau paling-paling sekedar tulisan terbaru Syaikh Muhammad Al Imam yang
menyebutkan kaidah untuk tidak gampang-gampang menuduh sunniy sebagai
hizbiy, dan harus memahami kelemahan sebagian Salafiy, serta orang yang sudah
di-jarh itu jika men-jarh tidak lagi diterima jarh-nya. Dan beberapa kaidah lain yang

78
masih amat butuh perincian dan pembatasan, karena banyak Ahlul bida juga bisa
memakai kaidah tadi untuk mementahkan setiap jarh dari Ahlussunnah terhadap
mereka.
Tidak ada satupun penentang dari kalangan masyayikh yang merinci poin-
poin tuduhan Salafiyyin Dammaj terhadap si anak Mariy untuk kemudian
meruntuhkannya satu persatu dengan hujjah, dan membatalkan bayyinat yang
dipaparkan dengan dalil-dalil. Bahkan yang muncul dari lisan Syaikh Muhammad
Al Imam adalah:

"Kami tidak mengatakan bahwasanya ucapan Asy Syaikh Yahya itu batil."
Beliau juga berkata:

"Kami tidak menyalahkan Asy Syaikh Yahya secara global ataupun terperinci."
Kedua ucapan terakhir ini dinukilkan oleh Asy Syaikhul Fadhil Abu Abdillah
Muhammad Ba Jamal Al Hadhromy -hafizhahulloh- pemegang dakwah di masjid
Ibrohim (wilayah Sai'un/Hadhromaut) di dalam risalah beliau "Ad Dala'ilul
Qoth'iyyah 'ala Inhirofi Ibnai Mar'i .." hal. 9.
Maka ana sumpah Antum dengan nama Penguasa jagat, wahai Abdul
Ghofur: dengan Quran mana seluruh bayyinat (penjelasan-penjelasan) di atas bisa
digugurkan karena seruan macam di atas !?
Ana sumpah Antum dengan nama Pemegang ubun-ubun: dengan sunnah
Nabi yang mana semua barohin (bukti-bukti) di atas bisa diruntuhkan karena
teriakan seperti di atas !?
Ana sumpah Antum dengan nama Dzat Yang menurunkan syariat yang
terbaik: dengan manhaj Salaf yang mana segenap hujaj (argumentasi-argumentasi)
di atas bisa dibatalkan karena komando macam itu !?

Bab Dua Belas: Hukum Yang Dibangun Dengan Hujjah Yang
Kuat Tidak Boleh Dianggap Sebagai Cercaan Kepada Ulama
Ahlussunnah

Jawaban kedua belas: Setelah Antum tahu -wahai Cak Dul- akan kekuatan
hukum Salafiyyun Dammaj dan yang bersama mereka dikarenakan dibangun di
atas hujaj dan bayyinat serta barohin sebanyak dan sekuat tadi, maka sama sekali
tidak pantas untuk mencerca kami dengan ucapan: Mereka mencerca ulama
Ahlussunnah! lalu dengan sangat kasar Antum menggambarkan kami telah
berbuat amat zholim pada kedua anak Mariy. Jika Antum memang seorang Sunniy-
Salafiy harusnya Antum mengagungkan hukum yang dibangun dari Al Quran dan
As Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah lengkap dengan hujaj dan bayyinat

79
serta barohin. Dan harusnya Antum banyak belajar sebelum berbicara agar bisa
membedakan mana celaan yang benar, dan mana celaan yang zholim.
Ibnul Qoyyim -rahimahulloh- berkata:

"Barangsiapa mencela dengan disertai bukti maka dia itu bukanlah termasuk orang
yang zholim. Dan kezholiman itu adalah celaan seseorang dengan kedustaan." (Al
Kafiyyah/1/hal. 91).
Syaikh Al Harrosh -rahimahulloh- berkata:

"Sesungguhnya barangsiapa yang mencela lawan debatnya dengan dalil maka dia
itu bukanlah termasuk orang yang zholim. Dan bukan termasuk orang yang
meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Akan tetapi kezholiman itu adalah
celaan seseorang dengan kepalsuan dan kebohongan." (Syarh Nuuniyyah Ibnul
Qoyyim /2 /hal. 340).

Bab Tiga belas: Tantangan Buat Cak Dul Untuk Meruntuhkan
Bayyinah-bayyinah Tadi dengan Hujjah

Jawaban tiga belas: berhubung Cak Dul Ghofur telah menancapkan tenda
perlindungan buat kedua anak Mariy dan pengikutnya sambil sekaligus
mengibarkan bendera peperangan dengan Salafiyyin Dammaj dan yang bersama
mereka, maka sekarang ana tantang dia untuk menampilkan hujjah dari Al Quran
dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf yang dengannya bisa membatalkan hujaj
dan barohin serta bayyinat kami tentang hizbiyyah kedua anak Mariy dan
pengikutnya.
Tantangan dengan bentuk ini ana kumandangkan buatnya jika dia memang
beriman pada firman Alloh taala:

: [

59 ]
Maka jika kalian berselisih pendapat terhadap suatu perkara maka
kembalikanlah hal itu kepada Alloh dan Rosul-Nya, jika memang kalian itu
beriman kepada Alloh dan hari akhir. (QS. An Nisa: 59)
Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahullohu- berkata: Jika sikap mengembalikan
perselisihan itu kepada Alloh dan Rosul-Nya tidak dilakukan, maka pasti hilanglah
keimanan. (Ilamul Muwaqqiin/1/hal. 50).
Al Imam Ibnu Katsir -rohimahullohu- berkata: Ini adalah perintah dari
Alloh Azza Wajalla agar segala perkara yang manusia itu berselisih pendapat
padanya baik berupa pokok-pokok agama ataupun cabangnya itu dikembalikan
kepada Al Kitab dan As Sunnah, sebagaimana firman Alloh taala:



80
Dan perkara apapun yang kalian perselisihkan maka hukumnya itu kepada
Alloh. (QS. Asy Syuro: 10).
Maka apa yang dihukumi Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya dan disaksikan
oleh keduanya sebagai sesuatu yang sah, maka dia itu benar. Dan tidak ada setelah
kebenaran selain kesesatan. Karena itulah Alloh berfirman: Jika memang kalian itu
beriman kepada Alloh dan hari akhir. Maka ini menunjukkan bahwasanya
barangsiapa tidak berhukum dan kembali pada Al Kitab dan As Sunnah dalam
perkara yang diperselisihkan, maka dia itu bukan orang yang beriman pada Alloh
dan hari Akhir. (Tafsirul Quranil Azhim"/2/hal. 345-346).
Dan ana yakin orang macam Cak Dul tak akan bisa menampilkan hujjah dari
Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf yang dengannya bisa
membatalkan hujaj dan barohin serta bayyinat kami tentang hizbiyyah kedua anak
Mariy dan pengikutnya. Kenapa? Bukan karena ana hendak meremehkan manusia.
Akan tetapi tulisan dia Hampir-hampir menunjukkan rendahnya kadar
keilmuan, kejelian, kemapanan dan kejujuran dirinya. Maslamah bin Abdil Malik -
rohimahullohu- berkata:
.
Tidak pernah aku membaca suatu kitab karya seseorang kecuali aku tahu akalnya
dari kitab tadi. (Al Aqdul Farid/1/hal. 170).
Jika memang Cak Dul sanggup meruntuhkan dalil-dalil keluarnya kedua
anak Mariy dari Salafiyyah, maka silakan coba. Tentu saja dengan dalil-dalil pula
dari Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Jika dia tak sanggup,
maka silakan dirinya mengambil kembali cacian: Katak dalam tempurung. Biar
dipakai sendiri. Dan sekalipun jadi katak dalam tempurung hendaknya dia tetap
punya kejantanan untuk mengumumkan pengakuan akan ketidaksanggupannya
itu. Kalau tidak cukup jantan untuk itu, hendaknya sepatu merah jambunya dipakai
sendiri lengkap dengan kedua kuntum mawarnya. Oya jangan lupa, sebelum keluar
tempurung hendaknya ngaca dulu, sudah cukup cantik belum.
Semoga Alloh taala memaafkan ana atas ucapan yang pedas ini. Sungguh isi
tulisan Nyonya Dul Ghofur (Hampir-hampir ) itu amat busuk dan jauh dari
tatanan syariat, jika dia memang masih tunduk pada syariat.
Dan yang lebih menunjukkan kadar akal Cak Dul adalah jawaban ana berikut
ini:

Bab Empat Belas: Siapakah Sebenarnya Pihak Yang
Menyetarakan Fatwa Ulamanya Dengan Al Quran?

Jawaban keempat belas: sudah banyak hujaj dan barohin serta bayyinat yang
dikirimkan oleh para Salafiyyun Dammaj dan yang bersama mereka tentang
hizbiyyah kedua anak Mariy dan pengikutnya, dilengkapi dengan dalil dari Al

81
Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Ternyata semua itu dianggap
rontok dengan teriakan Cak Dul dan teman-temannya:
Kita semua kami dan antum sama-sama yakin Insya Allah kebenaran nasehat
yang diucapkan oleh Asy Syaikh Rabi untuk segenap salafiyyin, yang beliau
sampaikan pada 17 Rabiuts Tsani 1429 H bahwa :
Karena mereka bukanlah Ahlul Bidah. Demi Allah, kalau seandainya salah satu
pihak adalah mubtadi niscaya kami akan angkat suara dan kami jelaskan
kebidahannya. Namun tidak ada di antara mereka yang ahlul bidah. Tidak ada di
antara mereka dai kepada bidah. Tidak ada apa-apa di antara mereka. Pada mereka
hanya ada kepentingan-kepentingan pribadi.
Mereka semua adalah salafiyyun. Mereka semua adalah orang-orang yang
utama. Mereka semua insya Allah adalah para mujahidin. Barakallah fikum, (hal.
19).
Ana tanya kamu wahai Abdul Ghofur yang mengaku sebagai Salafiy: Di Al
Quran yang mana ada penjelasan bahwasanya suatu hukum yang dibangun di atas
hujaj dan barohin serta bayyinat dan dilengkapi dengan dalil dari Al Quran dan As
Sunnah dengan pemahaman Salaf itu bisa dibatalkan oleh sekedar ucapan seorang
Shohabi (misalkan): Aku tak yakin hukum tadi benar. Aku yakin si fulan itu masih
istiqomah tanpa mengemukakan hujjah yang diperkuat Al Quran dan As Sunnah
untuk membatalkan hujjah sang penuduh?
Ini seorang Shohabiy, yang tentu saja tidak mashum. Maka bagaimana
dengan ulama belakangan?
Cak Dul pantas untuk merenungi fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -
rohimahullohu-:


Akan tetapi jika salah satu pihak punya hujjah syariyyah maka wajib untuk
tunduk kepada hujjah-hujjah syariyyah jika telah muncul. Dan tidak boleh bagi
seorangpun untuk merojihkan suatu perkataan terhadap perkataan yang lain tanpa
dalil. Dan tidak boleh bersikap fanatik terhadap suatu ucapan dan memusuhi
ucapan yang lain, juga tidak boleh bersikap fanatik terhadap si pengucap dan
memusuhi si pengucap yang lain tanpa hujjah. (Majmuul Fatawa/35/hal. 233).

Cak Dul juga bilang: Apakah paduka mau tarajuk kepada fatwa Syaikh
Rabi terkait sikap JELAS DAN TEGAS beliau terhadap kedua Syaikh Al Mari?
(hal. 44).
Ana tanya kamu wahai Abdul Ghofur yang mengaku sebagai Sunniy: Di
sunnah Nabi -shollallohu alaihi wasallam- yang mana ada penjelasan bahwasanya
suatu hukum yang dibangun di atas hujaj dan barohin serta bayyinat dan
dilengkapi dengan dalil dari Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf
itu bisa dibatalkan oleh sekedar ucapan seorang Shohabi (misalkan): Aku tak yakin
hukum tadi benar. Aku yakin si fulan itu masih istiqomah tanpa mengemukakan

82
hujjah yang diperkuat Al Quran dan As Sunnah untuk membatalkan hujjah sang
penuduh?
Ini seorang sahabat Nabi, yang tentu saja masuk dalam keumuman hadits: (
). Maka bagaimana dengan ulama masa kini?
Tidak ingatkah Cak Dul ucapan Al Imam Al Albaniy -rohimahullohu-ketika
membantah seorang muqollid:
: . ...
. !
yang demikian itu adalah dikarenakan dirinya telah mensucikan pendapat ini
karena dia melihat bahwasanya pendapat tadi muncul dari salah seorang ulama
muslimin. Dan si alim ini tidak berbicara dengan hawa nafsu ataupun kebodohan.
Aku katakan bersamanya: Memang dirinya tidak berbicara dengan hawa nafsu
ataupun kebodohan. Tapi apakah dirinya itu mashum di dalam ijtihadnya yang di
situ dia menjauhi hawa nafsu ataupun kebodohan?! (At Tashfiyyah Wat
Tarbiyyah/hal. 21).

Cak Dul juga bilang: Dari hasil umroh di atas juga menunjukkan secara jelas
sikap tegas Asy Syaikh Rabi hafizhahullah yang menasehati secara keras sebagian
orang Indonesia yang meragukan kedua Syaikh Al Mari dan bahkan menuduh
hizbiyyahnya kedua Syaikh tersebut (hal. 45).
Ana tanya kamu wahai Abdul Ghofur yang menampakkan kecemburuan
pada agama: Di manhaj Salaf yang mana ada penjelasan bahwasanya suatu hukum
yang dibangun di atas hujaj dan barohin serta bayyinat dan dilengkapi dengan dalil
dari Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf itu bisa dibatalkan oleh
sekedar ucapan seorang Shohabi (misalkan): Aku tak yakin hukum tadi benar. Aku
yakin si fulan itu masih istiqomah tanpa mengemukakan hujjah yang diperkuat Al
Quran dan As Sunnah untuk membatalkan hujjah sang penuduh?
Ini seorang yang menimba ilmu langsung dari Nabi -shollallohu alaihi
wasallam-, yang tetap saja masuk dalam keumuman hadits: ( ). Maka
bagaimana dengan ulama sekarang?

Manhaj Cak Dul benar-benar goncang. Dia sungguh terjangkiti penyakit
taqlid hingga membuang dalil dan hujjah ke belakang punggungnya. Pantas bagi
dirinya untuk di-opname di Rumah Sakit Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahullohu-:


- -
.
dan bahwasanya seorang alim itu terkadang tergelincir. Dan itu pasti, karena dia
itu tidak mashum (tidak terjaga dari kesalahan). Maka tidak boleh menerima

83
seluruh yang diucapkannya dan menempatkannya pada posisi ucapan orang yang
mashum. Inilah perkara yang setiap ulama di muka bumi mencelanya dan
mengharomkannya (yaitu menerima seluruh ucapan si alim seakan-akan ucapannya
tadi bersumber dari orang yang mashum). Dan mereka juga mencela pelaku taqlid.
Dan sikap tadi merupakan sumber dari bencana dan fitnah orang yang taqlid,
karena mereka itu membebek pada si alim dalam perkara yang dirinya tergelincir di
situ dan juga di dalam perkara yang dia tidak tergelincir di situ. Dan mereka tidak
punya pemisahan terhadap kedua perkara tadi (perkara yang si alim bertindak
benar, dan perkara yang si alim tergelincir di situ). Akibatnya mereka (para ahli
taqlid) mengambil agama dengan salah. Dan itu pasti. Maka merekapun
menghalalkan apa yang diharomkan oleh Alloh, dan mengharomkan apa yang
dihalalkan oleh Alloh, dan mensyariatkan apa yang tidak disyariatkan-Nya. Dan
itu pasti mereka alami, karena kemashuman itu tidak ada pada orang yang mereka
taqlidi. Dan kesalahan itu pasti terjadi pada si alim itu. Tidak bisa tidak. (Ilamul
Muwaqqiin/2/hal. 295).

Cak Dul juga bilang: Sesungguhnya kita yang berada di Indonesia tidaklah
lebih tahu permasalahan fitnah ini daripada Asy Syaikh Rabi hafizhahullah yang
sejak awal fitnah telah terlibat langsung dan berupaya keras untuk memadamkan
api fitnahnya. Maka bagaimana mungkin segenap Salafiyyin yang ada di Indonesia
yang bersikap hati-hati di atas bimbingan Asy Syaikh Rabi untuk tetap mengakui
keSalafiyyahan kedua Asy Syaikh Al Mari (hal. 45).
Ucapan Cak Dul ini ada kemiripan dengan atsar berikut ini: Al Imam Ibnu
Abi Mulaikah -rohimahullohu- berkata:
: : :
: : : -
- :

Bahwasanya Urwah ibnuz Zubair berkata pada Ibnu Abbas: Anda menyesatkan
manusia. Beliau berkata: Apa itu wahai Uroyyah? Dia berkata: Anda
memerintahkan mereka untuk untuk berumroh pada sepuluh hari Dzul Hijjah,
padahal tak ada umroh di dalamnya. Beliau berkata: Kenapa engkau tidak
menanyakannya pada ibumu?
(1)
Urwah berkata: Sesungguhnya Abu Bakr dan
Umar tidak mengerjakannya. Maka Ibnu Abbas berkata: Inilah perkara yang
membinasakan kalian demi Alloh-. Aku tidak menganggap kecuali bahwasanya
Alloh akan menyiksa kalian. Kuberi kalian hadits dari Rosululloh -shollallohu alaihi
wasallam-, tapi kalian mendatangkan padaku Abu Bakr dan Umar. Maka Urwah

(1)
Karena ibunya Asma binti Abi Bakr- -rodhiyallohu 'anhuma- hadir bersama Rosululloh -
shollallohu alaihi wasallam- dan tahu bahwasanya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-
memerintahkan untuk memasukkan umroh ke dalam haji bagi orang yang tidak menggiring hadyu
(binatang sembelihan untuk ibadah haji).

84
berkata: Keduanya demi Alloh- lebih tahu tentang sunnah Rosululloh -shollallohu
alaihi wasallam- dan lebih mengikuti sunnah beliau daripada Anda. (diriwayatkan
oleh Al Khothib Al Baghdadiy -rohimahullohu- dalam Al Faqih Wal
Mutafaqqih/1/hal. 424).
Coba Cak Dul perhatikan mantapnya bantahan Ibnu Abbas -rodhiyallohu
'anhuma- terhadap Urwah dalam masalah yang seharusnya kembali ke dalil. Dan
ana yakin atsar ini dan yang sejenisnya banyak Antum (dan para Salafiyyun) pakai
untuk memerangi penyakit taqlid di masyarakat. Ternyata sekarang atsar tersebut
menghantam kalian sendiri. Dan kalian berkata mirip dengan ucapan Urwah:
(Fulan lebih tahu dari kamu). Dan cukuplah ucapan Al Khothib Al Baghdadiy -
rohimahullohu- setelah menyebutkan atsar di atas sebagai jawaban:
:

Aku katakan: memang Abu Bakr dan Umar itu sebagaimana yang disebutkan oleh
Urwah, akan tetapi tidak semestinya seseorang itu ditaqlidi dalam meninggalkan
perkara yang telah pasti di situ sunnah Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.

Wahai Cak Dul, Antum menuduh kami menjadikan perkataan Asy Syaikh
Yahya -hafizhohulloh- bagaikan sejajar dengan Al Quran. Dan telah kami bantah.
Sekarang bagaimana dengan kalian? Dengan sekedar ucapan Syaikh fulan
yang memberikan tadil mubham kalian hendak membatalkan jarh mufassar yang
dibangun di atas hujaj dan barohin serta bayyinat dan dilengkapi dengan dalil dari
Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Berarti siapakah yang
sebenarnya mengangkat ucapan ulama sederajat dengan Al Quran jika
demikian?
Engkau menyerang kami dengan ucapan: wahyu dari manakah yang dia
dakwahkan? (hal. 13)
Jawab ana: Asy Syaikh Yahya -hafizhohulloh- mendakwahkan Al Quran dan
As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Dan dalam menghukumi sesuatu beliau
berupaya untuk selalu berlandaskan kepada tiga prinsip Salafiyyah tadi. Sekarang
silakan kamu jawab sendiri: Apakah ucapan Syaikh Fulan itu wahyu dari langit
sehingga bisa membatalkan hujjah dan dalil?
Engkau juga nyindir Asy Syaikh Yahya -hafizhohulloh-: Allah, Allah
Ooooh. siapakah kiranya dirinya, manusia atau apa? (hal. 13).
Jawab ana: beliau masih manusia yang berusaha ikut dalil dan juga
menampilkan dalil dan hujjah. Syaikh Fulan sendiri masih manusia ataukah bukan
sehingga ucapannya kamu sejajarkan bagai wahyu yang mashum dan bisa
membatalkan hujjah dan dalil?
Engkau juga bilang: Pantaskah seseorang yang jika masih menyadari
bahwa dirinya adalah seorang bani Adam alaihissalam yang takkan mungkin lepas
dari kesalahan kemudian meninggikan suaranya di atas suara kenabian yang keluar
dari lisan Ar Rasul Muhammad. (hal. 13).

85
Jawab ana: kamu sendiri masih sadar ataukah tidak bahwasanya Syaikh fulan
itu masih dari keturunan Adam alaihissalam yang takkan mungkin lepas dari
kesalahan. Apa pantas kalian meninggikan suaranya di atas suara kenabian yang
keluar dari lisan Ar Rasul Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- ?
Cak Dul menyebutkan riwayat yang berbunyi: Sesungguhnya Allah
menjadikan kebenaran pada lisan Umar dan hatinya. (hal. 14).
Jawab ana: kamu sendiri masih sadar ataukah tidak bahwasanya Syaikh fulan
itu tidaklah lebih tinggi daripada Umar -rodhiyallohu 'anhu-. Apakah Alloh telah
menjamin hati dan lisannya untuk selalu di atas kebenaran, sehingga bisa
membatalkan hujjah dan dalil?
Kamu juga menyebutkan firman Allah mengenai Rosululloh -shollallohu
alaihi wasallam-:
__-`, "_`- | >| __>_s _L., !. __s !. >,>!._.!.
kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang
diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu
tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (hal. 14).
Jawab ana: apakah ucapan Syaikh Fulan sudah setingkat ucapan Rosululloh -
shollallohu alaihi wasallam- sehingga bisa membatalkan hujjah dan dalil?
Kamu juga menampilkan firman Allah taala:
__.,.- ,>> _._,.. .l> _. ,., _,, _. `_L.,l ,.!,
Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari
belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.
(QS. 41:42) (hal. 15)
Ana jawab: apakah ucapan Syaikh Fulan sudah setingkat Al Quran, Yang
tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari
belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji?
Akibatnya dengan itu seluruh hujjah dan dalil menjadi batal jika dia menentangnya?
Kamu juga menyebutkan bahwa Allah berfirman mengenai perilaku buruk
yang menimpa ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nashara:
< _: _. !,!, ..,>' >!,> .>
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan
selain Allah (QS. 9:31) (hal. 15)
Ana katakan: jangan-jangan kamu dan seluruh kru Dammaj Habibah telah
menjadikan para masyayikh dan asatidzah sebagai Robb-robb selain Alloh,
akibatnya dengan itu seluruh hujjah dan dalil menjadi batal jika mereka
memutuskan batal.
Kamu juga bilang: Bukankah watak dan perilaku jelek semacam Yahudi dan
Nashara harus dijauhi? Tidakkah kita takut terjatuh kepada kesyirikan sebagaimana
telah terjatuh padanya Ahlul Kitab ketika mentaati ulamanya dalam memaksiati
Allah subhanahu wataala-? Naudzubillah minasy syirk. (hal. 15)

86
Ana jawab: ( ) ana sudah mengumpulkan lebih dari lima puluh alamat
hizbiyyah. Dan mayoritas dari pola hizbiyyah tadi punya sumber dari perilaku
Yahudi dan Nashoro. Di antaranya ada mengangkat ulama mereka ke derajat
Rububiyyah sehingga harus diikuti walaupun tanpa hujjah. Sudah jelas bahwasanya
di antara perintah Alloh taala adalah: wajibnya mengikuti kebenaran. Dan
kebenaran itu diketahui dengan hujjah dan dalil dari Al Quran dan As Sunnah
dengan pemahaman Salaf. Tetapi para hizbiyyun menganggap itu semua batal
dengan adanya stempel dari ulama: Batal walaupun pembatalan tadi tanpa
hujjah. Apa kamu tidak takut terjatuh ke dalam kesyirikan, Cak Dul?
Perilaku kamu dan seluruh kru Dammaj Habibah benar-benar menunjukkan
bahwasanya kalian itu sakit keras dan amat menular, pantas dikarantina di tempat
khusus, dan diminumi tablet Salafiy Asli dan Murni.
Al Imam Al Albaniy -rohimahullohu-:
. !

.
Akan tetapi apakah termasuk hak seorang alim untuk kita itu mengangkatnya
sampai ke derajat kenabian dan utusan hingga kita memberinya ishmah dengan
praktek perbuatan kita?! Lisanul hal (praktek perbuatan) itu lebih bisa bercerita
daripada sekedar ucapan lidah. Jika kita wajib untuk benar-benar menghormati si
alim dan untuk mengikutinya jika dia menampilkan dalil pada kita, maka kita tidak
berhak untuk mengangkatnya dan meninggalkan ucapan Nabi alaihish sholatu
wassalam. (At Tashfiyyah/hal. 22-23).
Saking parahnya penyakit taqlid kalian sampai kamu kebingungan dan
berkata: Siapakah sesungguhnya yang taqlid buta? (hal. 15). Inilah kadar akalmu
yang nampak dari tulisanmu wahai Abdul Ghofur.
Maka dengan penjelasan ini semua terbongkar sudah kelemahan ilmumu dan
kesembronoanmu dalam membela mati-matian kedua anak Mariy di dalam
tulisanmu Hampir-hampir Mereka Jantan.
Sekarang umumkanlah dengan jantan akan kesalahanmu ini. Jika tidak,
maka kamu adalah seperti bentuk cacianmu sendiri: Katak memakai sepatu hak
tinggi merah jambu lengkap dengan dua kuntum mawar. Cepat-cepat saja masuk
tempurung Dammaj Habibah. Oh bukan. Dhofadi Habibah (kodok
kesayangan).

Bab Lima Belas: Siapakah Yang Berhak Menjadi Keledai?

Jawaban kelima belas: ini sekedar pelengkap dari sebelumnya. Cak Dul
berulang-kali mencaci Firman Hidayat dengan berkata: BAK SEEKOR KELEDAI
LIAR (BACA: INDEPENDENT) YANG MEMANGGUL KITAB (hal. 27).

87
Juga berkata: Tidaklah memiliki nilai keutamaan di sisi mereka kecuali
hanyalah sebagai keledai tunggangan pengangkut beban fitnah yang mau pergi
kemanapun tuannya mengarah. Sejatinya bahwa seekor keledai tidaklah memiliki
rasa malu, hanyasaja sang penggembalalah yang pantas kita tuding (hal. 31)
Juga berkata: Berlagak seekor keledaiindependent memanggul kitab yang
overweight (hal. 32).
Juga berkata: BENAR-BENAR BAK KELEDAI LIAR YANG MEMANGGUL
KITAB (hal. 34)
Juga berkata: Betapa malang nasibmu wahai Abu Hurairah Firman, benar-benar
dikau bagaikan keledai fitnah yang memanggul kitab. (hal. 35).
Juga berkata: Tidaklah mengherankan jika si keledaipun terus dibiarakan hidup
walaupun dia melenguh dengan lenguhan-lenguhan KHABITS (hal. 37).
Dan masih banyak pengulangan cacian keledai dalam buku Cak Dul tersebut.
Jawaban Abu Fairuz: ( ) sebagaimana telah ana paparkan pada risalah
seri satu, kami Salafiyyin Dammaj sebelum ini tidak tahu siapakah Firman Hidayat
dengan segala sepak terjangnya. Dan begitu kami mendapatkan info yang cukup
detail dari Cak Dul langsung kami bertindak semampu kami untuk memberikan
nasihat dan mengingkari kemungkaran yang dilakukan, sebagaimana Cak Dul lihat
sendiri.
Firman Hidayat atau siapapun dia- benar-benar harus banyak belajar
syariat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dan adab-adab Nabawiy. Juga
kami ucapkan: Jazahullohu khoiron atas bantuannya dalam menyebarkan tulisan-
tulisan kami.
Adapun yang hendak ana bidik dalam bab ini adalah bahwasanya Cak Dul
sedemikian seringnya mengumbar cacian keledai. Alloh taala berfirman:

/[

5 ]
Permisalan orang-orang yang dipikulkan kepada mereka Tauroh tapi mereka tidak
memikulnya sabagaimana mestinya adalah bagaikan keledai yang memikul kitab-
kitab besar. (QS. Al Jumuah: 5).
Al Imam Ibnu Katsir -rohimahullohu- berkata:
:


: {

}
Alloh taala berfirman mencela kaum Yahudi yang diberi Tauroh dan
dipikulkannya kepada mereka untuk diamalkan, tapi mereka tidak
mengamalkannya. Permisalan mereka dalam keadaan seperti itu adalah bagaikan
keledai yang memikul kitab-kitab besar. Yaitu: bagaikan keledai jika memikul kitab-
kitab dia tidak tahu apa yang ada di dalamnya, maka dia itu cuma memikulnya
secara lahiriyyah saja dan tidak tahu apa yang ada di atas punggungnya. Demikian

88
pula mereka dalam memikul kitab yang diberikan kepada mereka, mereka
menghapalkan lafazhnya tapi tidak memahaminya dan tidak mengamalkan
kandungan dan tuntutannya. Bahkan mereka mentawilkannya dan merubahnya.
Maka mereka itu lebih jelek daripada keledai, karena keledai itu tidak punya
kepahaman, sementara mereka punya kepahaman tapi tidak mempergunakannya.
Oleh karena itulah Alloh taala berfirman dalam ayat yang lain (yang artinya):
Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat jalannya. Mereka itulah
orang-orang yang lalai. (QS. Al Arof: 179). (Tafsirul Quranil Azhim/8/hal. 117).

Coba sekarang kita perhatikan bersama: Cak Dul sudah hapal firman Alloh
taala:
< _: _. !,!, ..,>' >!,> .>
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan
selain Allah (QS. 9:31).
Tapi kenyataannya Cak Dul dan seluruh kru DH telah menjadikan para
masyayikh dan asatidzah sebagai Robb-robb selain Alloh Akibatnya dengan itu
seluruh hujjah dan dalil menjadi batal jika mereka memutuskan batal.
Cak Dul juga membawakan firman Allah taala:
__.,.- ,>> _._,.. .l> _. ,., _,, _. `_L.,l ,.!,
Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari
belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.
(QS. 41:42)
Tapi prakteknya menunjukkan bahwasanya Cak Dul dan kru DH-nya menjadikan
ucapan Syaikh Fulan sudah setingkat Al Quran, Yang tidak datang kepadanya
kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb
yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Akibatnya dengan itu seluruh hujjah dan
dalil menjadi batal jika dia menentangnya.
Juga membawakan firman Alloh taala:
__-`, "_`- | >| __>_s _L., !. __s !. >,>!._.!.
Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang
diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu
tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
Tapi pada kenyataannya Cak Dul dan kru DH-nya menjadikan ucapan
Syaikh Fulan sudah setingkat ucapan Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-
sehingga bisa membatalkan hujjah dan dalil.
Ini menunjukkan bahwasanya Abdul Ghofur Al Malangiy dan segenap
kru DH-nya bagaikan keledai yang memikul kitab-kitab, atau lebih jelek dari itu.
Lalu siapakah yang lebih pantas jadi keledai sejati? Kandidat pertama:
Firman (versi Cak Dul) yang dengan jantan telah mengakui kesalahan-kesalahannya
dan menyatakan tobat secara terbuka. Kandidat kedua: Cak Dul dan kru DH-nya

89
(versi Abu Fairuz) yang sampai sekarang terus menyombongkan diri tak mau
dengan jantan telah mengakui kesalahan-kesalahannya dan menyatakan tobat
secara terbuka setelah terbongkar kebatilannya dalam Apel Manalagi (seri satu),
dan tak peduli di atas punggung-punggung mereka ada ayat-ayat ancaman bagi
orang yang sombong dan tinggi hati. Maka siapakah pemenangnya?

THE WINNER IS.. (pinjam kamus Cak Dul di hal. 32):
Cak Dul dan kru DH-nya (versi Abu Fairuz) !!!

Kok bisa? Iya karena mereka lebih mantap dalam penampilan (sesuai kamus
mereka sendiri): keledai dengan sepatu hak tinggi warna merah jambu, di mulutnya
ada dua kuntum mawar merah muda, tapi loncatnya gaya katak dalam tempurung.

Sampai di sini dulu seri dua ini. ( ) akan dilanjutkan pada seri
berikutnya. Dan semoga bermanfaat dan menumbuhkan kesadaran pada beliau dan
orang-orang yang tertipu olehnya. Dan ana ucapankan ( ) kepada Akhuna
Abu Yusuf Al Ambony dan yang lainnya atas seluruh bantuan yang diberikan.
. .
.

Dammaj, 1 Syaban 1431 H
Ditulis oleh Al Faqir Ilalloh taala
Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsiy
Al Indonesiy


90


Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 3)





Kesembronoan Abdul Ghofur Al Malangiy
Dalam Kasus Syaikh Salim Al Hilaliy









Ditulis oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsy Al Jawy
Al Indonesy
-semoga Alloh memaafkannya-




Darul Hadits Dammaj
Yaman
-Semoga Alloh menjaganya-


91


Kata Pengantar Seri Tiga


:
Ini adalah risalah ketiga dari rangkaian jawaban ana buat tulisan Hampir-
hampir Mereka Jantan karya Abdul Ghofur Al Malangiy yang isinya kritikan,
tapi juga caci-makian, tuduhan palsu, kedustaan, dan kengawuran terhadap Asy
Syaikh Al Ghoyur Yahya bin Ali Al Hajuriy dan seluruh Salafiyyin Dammaj juga
yang bersama mereka -hafizhohumulloh-.
Sebagaimana telah ana sebutkan pada seri sebelumnya bahwasanya perkara-
perkara yang terbukti bahwasanya kesalahan itu memang ada pada kami, kami
dengan jujur mengakuinya dan mengumumkannya. Kami tahu bahwasanya ini
merupakan kewajiban kami (dan kewajiban setiap orang yang paham
kesalahannya). Maka untuk apa menyombongkan diri di muka bumi sementara
ubun-ubun kami ada di tangan Alloh?
Adapun Cak Dul perbuatannya benar-benar membuktikan bahwasanya dia
ingin menjadikan para pembaca menjadi saksi akan kesombongannya untuk
mengakui kesalahannya yang telah nyata terbongkar pada jawaban ana pada seri
satu dan dua. Langkah lembut yang ana tempuh pada seri pertama ternyata tidak
bisa melunakkan hatinya. Demikian pula tahap berikutnya pada seri dua yang tetap
saja lebih lembut daripada tulisan Cak Dul, tetap saja tidak bisa menggerakkan
hatinya yang tampak membatu. Ana beriman pada firman Alloh taala:

/[


56 ]
Sesungguhnya engkau tidak bisa memberikan petunjuk kepada orang yang engkau
cintai, akan tetapi Alloh itulah yang memberi petunjuk kepada orang yang
dikehendaki-Nya, dan Dia itu lebih tahu tentang orang-orang yang mengikuti
petunjuk. (QS. Al Qoshshosh: 56).
Di dalam tulisan Cak Dul Hampir-hampir secara bertubi-tubi dia
menyerang Salafiyyin Dammaj melalui kasus Asy Syaikh Salim bin Id Al Hilaliy -
hafizhohulloh-. Inti kasus yang dituduhkannya adalah:
1- Masa lalu Asy Syaikh Salim bin Id Al Hilaliy -hafizhohulloh- yang sering
dakwah bersama Sururiyyin dan Turotsiyyin.
2- Pencurian karya Yusuf Al Qordhowiy kitab Ash Shobr
3- Penyalahgunaan dana dari Ihyaut Turots
Maka risalah ana ini akan membahasnya satu-persatu, -semoga Alloh
memberikan taufiq-Nya-. Cak Dul silakan bersiap-siap.


92
Bab Satu: Masalah Kebersamaan Asy Syaikh Salim Al Hilaliy -
hafizhohulloh- dengan Sururiyyin dan Turotsiyyin

Cak Dul berkata: Telah sama kita ketahui betapa besar peran Salim Al Hilaly
dalam mencabik-cabik dakwah Salafiyyah di Indonesia bersama Irsyadiyyun dan
Sururiyyun (dan bukan hanya Indonesia!) bahkan bertahun-tahun malang
melintang di berbagai penjuru dunia dengan peran besarnya sebagai gembong besar
beking Hizbiyyun Ihyaut Turats yang mendunia bersama Ali Hasan Al Halaby dkk.
atau yang lebih dikenal sebagai Masyayikh Urdun.
Masih tersimpan rekam jejak kejahatannya ketika dia memuji gembong Irsyadiyyun
Demokrathiyyun Chalid Bawazir sebagai si Tangan Putih. (hal. 46).

Abu Fairuz -waffaqohullohu- berkomentar:
Komentar pertama: Pada asalnya ana sangat menghormati dan mencintai Al
Imam Al Albaniy -rohimahullohu- (sejak mulai mengenal beliau sampai sekarang)
dan seluruh murid beliau. Dari berbagai kitab yang dikarang oleh para murid beliau
dan juga semangat para ustadz untuk menerjemahkan dan mengajarkan kitab-kitab
mereka tampaklah bagi ana bahwasanya para murid Al Imam Al Albaniy adalah
ulama Salafiyyun.
Komentar kedua: pada saat sengitnya pertempuran kita dengan Sururiyyun-
Quthbiyyin-Turotsiyyin di Indonesia ana amat ingin para ulama Ahlussunnah itu
bahu-membahu memerangi mereka, membantu sebagian kecil ulama yang
menegakkan kewajiban ini (melawan Sururiyyin). Tapi pada saat itu ana dapati
kenyataan yang menyedihkan: hanya sebagian kecil ulama yang menegakkan jihad
ini, sebagiannya diam, dan justru sebagiannya malah berbaik sangka terhadap para
hizbiyyun itu, dan membela mereka serta memenuhi undangan mereka. Akibatnya
para hizbiyyun benar-benar memanfaatkan keadaan ini untuk menyerang
Ahlussunnah. Di antara syubuhat mereka adalah:
Kami ini adalah Salafiyyun. Buktinya para masyayikh bersama kami!
Kita tunggu ulama kibar! (berhubung yang menyerang mereka cuma Asy Syaikh
Robi Al Madkholiy dan beberapa masyayikh saja, sementara para masyayikh
Sunnah yang saat itu bersama hizbiyyin karena tertipu oleh mereka- tidaklah
sedikit).
Kalau memang kami itu salah, niscaya para masyayikh tadi tidak diam terhadap
kami
(Catatan: pola syubuhat semacam ternyata dipakai juga oleh Mariyyin yang terus-
menerus dibela oleh Nyak Dul Ghofur).
Ini semua adalah syubuhat Sururiyyin-Quthbiyyin-Turotsiyyin yang juga
diwarisi oleh Mariyyun. Kamu paham wahai Katak dalam tempurung!?
Jangan kamu jadikan kasus Sururiyyun-Quthbiyyin-Turotsiyyin cuma
sebagai senjata untuk menyerang orang-orang yang kamu benci. Kamu juga
hendaknya mengambil pelajaran agar tidak terjatuh ke dalam jurang tersebut. Tapi

93
kenyataannya si katak Malang ini memang tidak puas sembunyi dalam tempurung
di kebun apel Malang, ternyata malah jalan-jalan dengan sepatu merah jambunya
sehingga terpeleset dan nyemplung di jurang sehingga wajahnya harus di Face-off.
Akhirnya menjadi kodok berkepala keledai yang telinganya ditusuk bunga mawar.
Komentar ketiga: Termasuk para masyayikh tipe tadi pada waktu itu adalah
Asy Syaikh Salim bin Id Al Hilaliy, Mashur Hasan Alu Salman, dan Ali Hasan
Abdil Hamid Al Halabiy. Pada waktu itu ana meskipun sedih- berusaha untuk
tetap menempuh jalan yang disyariatkan oleh Alloh taala dan Rosul-Nya -
shollallohu alaihi wasallam- dan Salafush Sholih: BAIK SANGKA PADA ULAMA
YANG PADA ASALNYA BERADA DI ATAS AS SUNNAH. Mengapa? Karena para
hizbiyyun memang pandai dan sengaja- bersandiwara di hadapan ulama
Ahlussunnah untuk mengambil hati mereka.
Syaikhuna Yahya Al Hajuriy -hafizhohulloh- berkata:
.
Para hizbiyyun sekarang gemar mengunjungi masyayikhus Sunnah, dalam bentuk
duduk-duduk dengan mereka, hadir di sisi mereka, mengerumuni dan
mengerubungi mereka. (Zajrul Awi/hal. 12/Asy Syaikh Al Amudiy).
Asy Syaikh Shofiyur Rohman bin Ahmad -rohimahullohu- menyebutkan kesamaan
firqotut Tabligh dengan Qodiyaniyyah:

.
Kedua firqoh ini mencurahkan kesungguhan mereka untuk menarik dan menjaring
serta mendekat ke para penguasa, orang-orang terpandang dan para pejabat agar
bisa menarik mereka ke dalam kelompok mereka (Al Qoulul Baligh/Asy
Syaikh Hamud At Tuwaijiriy/hal. 21).
Ini pula yang dilakukan oleh Mariyyun terhadap para masyayikh di Yaman
maupun di Saudi.
Ana berbaik sangka bahwasanya para masyayikh Yordan tadi pada waktu itu
hanyalah tertipu oleh kamuflase para hizbiyyun tadi.
Cak Dul Si Katak Dalam Tempurung coba-coba bergaya menyebut-nyebut
nama Al Imam Muqbil Al Wadiiy -rohimahullohu- untuk menghantam Asy Syaikh
Salim Al Hilaliy -hafizhohulloh-. Seberapa kitab Al Imam Al Wadiiy yang telah
ditelaah si katak dalam tempurung itu? Tahukah si Dul Apa hukum beliau terhadap
para ulama yang tertipu?
Al Imam Al Wadiiy -rohimahullohu- ditanya:

Apakah orang orang yang menisbatkan diri kepada jamaah-jamaah ini dari
kalangan orang-orang yang tidak tahu keadaan mereka sedikitpun berarti dia itu
termasuk dari kelompok mereka ataukah tidak?
Maka beliau menjawab:

94

( . " " / 2 / 34 / .)
Orang yang menisbatkan diri kepada mereka padahal tujuannya adalah untuk
menolong agama, dan dia itu tidak tahu keadaan mereka sedikitpun, maka dia itu
berdasarkan niatnya. Tapi setelah sampai kepadanya bahwasanya jamaah-jamaah
tadi adalah mubtadiah dan tidak boleh baginya untuk menisbatkan diri kepada
mereka maka telah tegak hujjah terhadapnya dan wajib baginya untuk menjauh dari
yang demikian ini. (Ghorotul Asyrithoh/2/hal. 34).

Komentar keempat: Ketika kitab-kitab yang membahas kebatilan
Sururiyyin-Quthbiyyin-Turotsiyyin makin banyak ditulis dan disebarkan, dan umat
makin banyak yang sadar kecuali yang telat mikir dsb- ternyata kita dapati Asy
Syaikh Salim bin Id Al Hilaliy, Mashur Hasan Alu Salman, dan Ali Hasan Abdil
Hamid Al Halabiy masih ikut acara-acara mereka dan menghadiri undangan-
undangan mereka. Maka kamipun mulai berubah pandangan terhadap ketiga orang
tadi, dan penghormatan kamipun terhadap mereka tidaklah seperti semula. Ana
malas untuk mempelajari buku-buku mereka ataupun menukil kitab-kitab mereka.
Begitu pula gaya Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy
saat ini. Sudah jelas bahwasanya Ikhwanul Muslimin itu hizbiyyun, demikian pula
Hasaniyyun, dan juga hizbul Ishlah. Tapi tetap saja dia rajin menghadiri undangan
mereka dengan alasan mendakwahi mereka agar tidak makin jauh-, makan-makan
bersama mereka meskipun mereka mensyaratkan pada dirinya untuk tidak
berbicara tentang kelompok-kelompok tadi saat ceramah. Bayangkan: bukan saja di
masjid-masjid Mariyyin yang Cak Dul buta (atau membutakan diri sampai ada
komando dari atasan untuk berobat) terhadap hizbiyyah mereka, bahkan kelompok-
kelompok yang para Salafiyyun telah sepakat atas kehizbiyyahan mereka pun rajin
juga dikunjungi oleh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy.
Gimana Cak Dul? Tulisan-tulisan tentang Al Wushobiy sudah kami sebar
banyak sekali. Juga ada di Aloloom As Salafiyyah yang kamu cari-cari
kekurangannya. Kenapa kamu teriaki mereka, tapi kamu bungkam terhadap yang
ini? Mana keadilan yang kalian gembar-gemborkan? Mana kejantanan yang kamu
suarakan? Pakai saja kaos kebanggaanmu: SAIF-SAIF DZULWAJHAIN (hal. 45).
Jika benar-benar kamu tidak tahu kejadian tersebut (padahal kasus itu
terulang lebih dari tigapuluh kali) maka dengan jantan pakailah kaos Dagadu kamu:
Katak Dalam Tempurung. Silakan rujuk kembali data-data yang amat
menjengkelkan dalam kasus itu di dalam malzamah: Adhror Nuzulisy Syaikh
Muhammad Al Wushobiy fi Masajidil Hizbiyyin karya mustafid Abu Zaid Muafa
Al Hudaidiy. Sekarang telah dicetak oleh Maktabah Al Falah menjadi kitab dengan
judul yang sama.
Kalau Abdul Ghofur Al Malangiy tidak cukup jantan untuk mengakui Gap-
Fornya (gagap informasinya) atau takut mengakui ketidakadilannya, maka untuk
apa menggambar PDL dan sepatu perempuan? Pakai sendiri saja sepatu female-mu

95
tadi, gantung saja PDL di lehermu, kibarkan bendera: Biarlah hamba menjadi
seorang yang penakut (pinjam pengakuan si Dul di hal. 45).
Komentar kelima: Ketika terbongkarnya hizbiyyah Abul Hasan Al Mishriy,
berbagai tahdzir dan bayan disebarkan oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy -
hafizhohulloh- beserta masyayikh Darul Hadits Dammaj, dan akhirnya didukung
oleh para ulama yang lain sampai terbuka mata umat bahwasanya Abul Hasan
bersama Jamiyyatul Birr itu hizbiyyun, ternyata Ali Hasan Al Halabiy gigih
membela Abul Hasan sampai sekarang-. Sementara Asy Syaikh Salim Al Hilaliy
tidak ketahuan suaranya. Kadar kebatilan memang bertingkat-tingkat, tapi tetap saja
para masyayikh Yordan tadi luntur pamornya di mata kami selama mereka tidak
mengumumkan baro terhadap para hizbiyyun di atas.
Komentar keenam: Pada awal-awal tahun 1430 H Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy -hafizhohulloh- ditanya tentang para masyayikh Yordan tadi, maka
beliaupun mengkritik mereka. Ternyata suara beliau langsung menyebar ke mana-
mana. Pada tanggal 13 atau 14 Robiul Awwal 1430 H sampailah ke Dammaj surat
dari Asy Syaikh Salim Al Hilaliy (yang telah diterjemahkan) sebagai berikut:

.
Dari Salim bin 'Ied Al Hilaaly.
Untuk saudaranya fillah Syaikh Yahya Al Hajury semoga Allah memberikan
kepadanya taufiq dalam segala kebaikan dan menjaganya dari setiap kejelekan dan
kejahatan dan juga untuk saudara-saudaranya para masyayikh da'wah salafiyyah di
negri Yaman yang bahagia semoga Allah membahagiakan mereka dengan kebaikan
dan menjaga mereka dari kemungkaran.

Kemudian daripada itu:
Setelah bertanya tentang keadaan dan kabar Anda, aku berharap kepada
Allah subhanahu wataala agar Anda dalam keadaan kebaikan dan keselamatan
baik agama maupun dunia serta keluarga dan juga saudara-saudara Anda para
masyayikh dan semua murid-murid Anda.
Saudaraku yang mulia, sesungguhnya menjaga hubungan di antara kita
termasuk sebab terbesar dalam menjelaskan kebanyakan permasalahan yang
terkadang tercampur di dalamnya penukilan, tergoncang di dalamnya ucapan, serta
dikacaukan oleh orang-orang yang memiliki tujuan yang dalam hati mereka ada
hasrat-hasrat.
Hal ini dengan karunia Allah kepada kita termasuk perkara yang paling jelas
sebagai dalil dan penguat, yang mana barangkali Anda ingat saat aku kirim surat
kepada Syaikh Muqbil: meminta musyawarah pada beliau tentang pembangunan
markiz Al Imam Al Albani : dan Andalah -semoga Allah membalas Anda dengan
kebaikan- yang menyampaikan jawaban beliau dan sikap beliau saat kita bertemu di
Inggris dalam pertemuan yang bersifat persaudaraan itu.

96
Saudaraku yang tercinta, -semoga Allah memuliakannya dengan ketaatan
dan menolongnya dengan sunnah-, sesungguhnya aku dengan karunia Allah dan
taufiq-Nya masih terus -dan juga sebelum itu- dengan idzin Allah mencintai da'wah
salafiyyah, menyeru kepadanya, kokoh di atasnya sebagaimana yang telah kami
pelajari dari para Masyayikh kami Syaikh Albani Syaikh ibnu Baaz, Syaikh Al
Utsaimin, Syaikh Muqbil rohimahumulloh jami'an saling menolong dengan salafiyyin
di setiap tempat dan waktu, kami berlepas diri kepada Allah dari ahlil bid'ah,
hizbiyyun dan orang-orang yang menempuh jalan mereka.
Maka untuk itu sikapku terhadap pergerakan hizbiyyah dan yang bercabang
atasnya atau darinya telah diketahui sebagaimana dalam kitabku "Al Jama'at Al
Islamiyyah Al Mu'ashiroh fi Dho'il Kitab was Sunnah bi Fahmi As Salafish Sholih"
yang aku tulis sejak tiga puluh tahun yang lalu.
Adapun mereka para da'i-da'i yang awal mulanya -yang nampak bagi kita-
di atas rel keumuman bersama salafiyyin kemudian berbalik haluan dari
salafiyyah dan para masyayikh kami dengan kasar seperti Ar'ur
1
, Al Magrowi
2
,
dan Al Ma'ribi
3
, maka aku bukanlah dari mereka sedikitpun, tidak di waktu
sekarang dan tidak pula di waktu mendatang sampai mereka kembali ke da'wah
yang berkah ini dan meninggalkan ahlal bid'ah, yang mana mereka memujinya
dan kembali dari ucapan-ucapan yang menyelisihi dasar-dasar da'wah salafiyyah
dan yang mengokohkannya.
Dan juga yang mengikuti mereka, dari kalangan berbagai Jam'iyyat
(Yayasan) di Kuwait, di Emirat, di Yaman yang zhohirnya salafiyyah tapi
batinnya hizbiyyah yang patut dibenci. Adapun Muhammad Hassan
4
dan Al
Huwaini
5
serta anak buahnya dari orang-orang Mesir sungguh telah aku jelaskan
keadaan mereka di sebagian kitab-kitabku dan di berbagai macam pelajaran-
pelajaranku maka mereka bukanlah salafiyyin sejak awal bahkan mereka
Quthbiyyun hingga akarnya.
Dan adapun siapa yang memuji mereka di negri kami, merekomendasinya,
memberikan berbagai udzur untuk mereka, maka mereka tidak ada hubungan
denganku sejak dua tahun yang lalu baik dekat maupun jauh.
Adapun permasalahan pemilu, itu menurutku rancangan iblis yang
dipergunakan oleh pedagang-pedagang da'wah sebagai batu loncatan, dan aku
tidak mendukungnya baik pangkal atau kulit arinya, dan telah aku jelaskan hal itu
dengan rinci dan asal muasalnya dan dalam kitabku "Manahij Al Harokat Al
Islamiyyah Al Mu'ashiroh Fi Taghyir 'Ardh wa Naqd".
Dan meskipun sedikitnya hubungan di antara kita, akan tetapi kami
senantiasa menyebutmu dengan baik dan kami menganjurkan Thullab setiap
kami diminta pendapat- untuk berhubungan dengan Darul Hadits di Dammaj.

1
Adnan Ar'ur, pembela Sayyid Quthb
2
Muhammad bin Abdurrohman Al Maghrowi, punya pemikiran takfiri
3
Abul Hasan Sulaiman Al Mishri, pelayan terbesar Ikhwanul Muslimin masa ini.
4
Akan dijelaskan oleh Syaikh Salim -hafizhahulloh- sendiri siapa dia dan orang yang setelahnya
5
Abu Ishaq Al Huwaini

97
Markiz ini telah dianggap sejak zaman Syaikh Muqbil : termasuk dari tempat-
tempat Salafiyyah yang benar di alam ini, dan aku berharap untuk tetap seperti itu.
Barangkali risalah ini bisa sebagai pembuka kebaikan untuk saling menolong
sesama kita dalam kebaikan dan taqwa dan untuk saling nasehat menasehati di
dalam kebenaran dan kesabaran, saling menyayangi, bertukar pendapat dalam
perkara yang membantu kita semuanya untuk istiqomah di atas manhaj salafy yang
benar, dan aku mengharap Anda dan juga para masyayikh di Negri Yaman yang
bahagia untuk mendapatkan setiap kebaikan dan Taufiq.
Aku memohon kepada Allah subhanahu wataala untuk menyatukan
kalimat kita di atas kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya dan di atas pemahaman
Shohabat yang mulia menyatukan lagi keretakan kita, mengkokohkan persatuan
kita, menolong da'wah kita, memberkahi perjuangan kita dan menjaga kita dan
kalian dari kejahatan orang-orang kafir, ahlul ahwa dan bid'ah serta tidak
menjadikan untuk mereka jalan untuk menyerang kita.


Saudaramu yang mencintai
Abu Usamah Al Hilaly
12/Robi'ul Awwal/1430

Komentar ketujuh: surat di atas cukup untuk menunjukkan pernyataan rujuk
beliau dari kesalahan-kesalahan di masa lalu.
Adapun jika perkataan si Dul: Asal dia datang ke Darul Hadits Dammaj,
menyatakan sikap idemnya, mengeluarkan pujiannya, tak perlu lagi bagi dirinya
untuk mengikuti syarat-syarat taubat yang sedemikian ketat sebagaimana syarat
yang diajukan kepada dai lokal Jafar Umar Thalib (hal. 48).
Terkesan bahwasanya Syaikh Salim -hafizhahulloh- cukup datang ke Darul
Hadits Dammaj, menyatakan sikap idemnya, mengeluarkan pujiannya, tak perlu
lagi bagi dirinya untuk mengikuti syarat-syarat taubat.
Jika benar inilah yang dimaksudkan oleh si Dul, maka tentunya si Dul salah
besar. Pernyataan rujuknya dari kesalahan di masa silam itu dikeluarkan kepada
kami sekian bulan sebelum beliau datang ke sini. Rentang waktu di antara dua
kejadian ini cukup untuk menilai apakah tokoh tadi konsekuen dengan pernyataan
rujuknya ataukah tidak. Kan tidak harus setahun, Dul untuk membuktikan
kejujuran rujuk itu.
Ibnu Hajar -semoga Alloh merohmatinya- berkata,"Adapun hukum yang
kedua yaitu kapankah jelasnya tobat pelaku maksiat?- maka para ulama itu
berselisih pendapat juga. Ada yang berkata,"dilihat kebersihannya selama setahun".
Ada yang berkata,"Enam bulan." Ada yang bilang,"Limapuluh hari sebagaimana
dalam kisah Ka'ab -bin Malik-." Ada yang bilang,"Tiada batasan yang tertentu.
Akan tetapi dia itu berdasarkan dengan ada faktor penyerta yang menunjukkan
kejujuran pengakuan tobatnya. Akan tetapi yang demikian itu tidak cukup satu
jam atau satu hari saja. Dan juga yang demikian itu berbeda-beda sesuai dengan

98
perbedaan kriminalitas dan pelakunya." Ad Dawudy membantah orang yang
membatasinya dengan lima puluh hari karena mengambil kisah Ka'b. Beliau
berkata,"Nabi -shollallohu 'alaihi wasallam- tidak membatasinya dengan lima puluh
hari. Namun beliau menunda berbicara dengan mereka sampai Alloh
mengidzinkannya." Yaitu: Kisah itu merupakan kejadian khusus, maka tidak bisa
dipakai untuk dalil umum.
An Nawawy berkata,"Adapun mubtadi' dan orang yang membikin suatu dosa besar
dan dia belum bertobat darinya, maka dia itu jangan disalami, dan jangan dijawab
salamnya, sebagaimana pendapat sekelompok ulama. Al Bukhory mendukung
pendapat tadi dengan dalil kisah Ka'b bin Malik."
Pembatasan pendapat tadi dengan ucapan beliau "bagi orang yang belum bertobat"
itu bagus. Akan tetapi pendalilannya dengan kisah Ka'b perlu diteliti lagi, karena
Ka'b telah menyesali perbuatannya dan bertobat. Namun Rosululloh -shollallohu
'alaihi wasallam- menunda berbicara dengannya sampai Alloh menerima
1
tobatnya.
Maka kasusnya adalah bahwasanya dia itu tidak diajak bicara sampai tobatnya itu
diterima
2
.
Bisa kita menjawab: bahwasanya mungkin saja kita mengetahui penerimaan tobat di
dalam kisah Ka'b. Adapun bagi orang-orang setelah Ka'b, maka cukuplah dengan
penampakan alamat penyesalan, berhenti dari kejahatannya, dan adanya tanda
kejujuran tobatnya."
(selesai penukilan dari "Fathul Bari"/17/hal. 485).
Apalagi, Dul, ternyata surat Asy Syaikh Salim Al Hilaliy tadi juga berisi berita
bahwasanya beliau telah lama baro dari para penjahat yang dulu bersamanya, dan
bahwasanya beliau telah menebarkan tulisan-tulisan yang berisi penjelasan
kebatilan mereka dan kemudian mentahdzir umat terhadap mereka. Jika Cak Dul
tak percaya silakan banyak-banyak chatting menelaah tulisan-tulisan tadi, jangan
jadi katak dalam tempurung.
Sekian bulan kemudian (tanggal 23-25 Jumadits Tsany 1430), datanglah Asy
Syaikh Salim Al Hilaliy -hafizhohulloh- ke Dammaj, dan ucapannya tidak melemah,
tapi bahkan bertambah mantap. Bukan sekedar tahdzir terhadap Jamiyyah Ihyaut
Turots saja, tapi mentahdzir seluruh jamiyyat, dan bahwasanya semuanya adalah
hizbiyyah. Saat ditanya:

Bagaimana keadaan jamiyyah-jamiyyah secara mutlak?
Maka beliau menjawab:

1
Dalam tulisan ana Tobat Mubtadiah ana menerjemahkan: (sampai Alloh menunda
tobatnya). Yang betul adalah: (sampai Alloh menerima tobatnya) dengan demikian kesalahan
telah diperbaiki.
2
Sampai Alloh menerima tobatnya, bukannya sampai mengaku tobat.

99



"Adapun Jam'iyyah maka yang aku tahu berdasarkan kenyataannya, walaupun
didirikan pada mulanya atas dasar tolong-menolong, namun dalam perjalannya
menuju hizbiyyah. Aku tidak melihat sebuah jam'iyyah pun kecuali dia itu
hizbiyyah. Walaupun tampak pada awalnya jauh dari hizbiyyah atau dia telah
berusaha untuk menyelamatkan diri dari hizbiyyah, namun taring-taring hizbiyyah
telah mencengkramnya. Maka semua jam'iyyah adalah hizbiyyah, kecuali yang
Alloh rahmati dan itu sangat sedikit. Ini sebatas pengetahuanku dan ilmuku serta
pendalamanku tentang jam'iyyah-jamiyyah tersebut.
Lalu beliau ditanya:
:
.
Syaikh yang mulia, Salim Al Hilaly Semoga Alloh meluruskan Anda-, Anda
mengatakan bahwa anda tidak mengetahui jam'iyyah melainkan ada hizbiyyahnya,
kecuali yang Alloh rahmati. Dan yang demikian itu yang jumlahnya sedikit. Apa
maksud dari perkataan ini?? Dan untuk siapakah pengecualian ini?? Jazakumullohu
Khoiron.
Maka beliau menjawab:
.
Maksudku dengan pengecualian ini adalah: Jika ada seseorang mengetahui bahwa
di sana ada sebuah jam'iyyah yang bukan hizbiyyah, maka beri tahukan kepadaku,
supaya aku mengubah sikap terhadap jam'iyyah-jam'iyyah (tersebut).

Komentar kedelapan: ( ) Salafiyyun Dammaj telah matang dengan
seidzin Alloh dan karunia-Nya- dengan pertempuran menghadapi para mubtadiah
dan berbagai tipe hizbiyyun, dan juga memperhatikan beraneka tipe watak
manusia. Al Imam Al Wadiiy -rohimahullohu- berkata:
( " " / . / 270 ) .
Setiap kali bertambah latihan seorang dai ilalloh terhadap suatu perkara,
bertambahlah bashiroh (ilmu yang dalam) dirinya terhadap perkara tersebut. (Al
Makhroj Minal Fitnah/hal. 170/cet. 5).
( ) kami bisa melihat kejujuran beliau, juga keberanian beliau untuk
menyelisihi kebanyakan ulama dalam masalah Jamiyyat, juga keberanian beliau
untuk mentahdzir tokoh-tokoh besar yang bisa saja anak buah mereka marah dan
menyakiti beliau. Berdasarkan ini semua dan qorinah-qorinah yang lain maka kami
merasa cukup untuk menerima rujuknya beliau. Lagi pula di tengah perjalanan
nanti ada yang perlu diperbaiki tinggal saling tegur dan nasihat.

100
Adapun si Dul pemegang panji Katak dalam Tempurung Yang Jauh dari
Kejantanan maka tentu saja semua ini tidak cukup. Dengan apa si Dul merasa
cukup sementara ilmunya terlalu dangkal, dan firasatnya terlalu lemah untuk
memahami perkara seperti ini. Dia sendiri bilang:
kami yang penuh kelemahan ini (hal. 2)
hamba yang penuh kelemahan ini (hal. 45)
Tentu saja seluruh manusia itu punya banyak kelemahan, hanya saja kami
sangat bersyukur atas bimbingan Alloh taala sehingga bisa melihat seringai taring-
taring serigala Mariyyah di balik tirai sutra. Beda dengan si Dul yang sok nulis tapi
bebal dengan bayyinah dan hujjah karena sembunyi di tempurung yang terlalu
tebal, ditambah lagi dengan tumpukan pupuk kandang yang dipakai para pekebun
untuk menyuburkan kebun apel semoga Alloh memberkahi dan membimbing
mereka- tapi juga menimbun tempurung si Kodok Malang itu. Bagaimana kemilau
surya hidayah masuk ke tempurung itu?
Di antara bukti kelemahan akal si Dul adalah dia menyamakan kasus Asy
Syaikh Salim Al Hilaliy -hafizhohulloh- dengan kasus Jafar Umar Tholib sang
politikus. Kamu sendiri sudah tahu -wahai pencaci yang zholim- bagaimana Jafar
merusak sendiri pernyataan tobatnya untuk kembali ke Salafiyyah dengan bekerja
sama dengan Yusuf Utsman Baitsa dan kelompoknya. Seperti ini tak ada dalam
kasus Asy Syaikh Salim.
Kamu sendiri telah paham paham kelihaian JUT dalam berpolitik dan
kelicinan lidahnya dalam berdebat. Bagaimana kamu samakan kasusnya dengan
kasus Asy Syaikh Salim? Di tempurung yang mana kamu taruh akalmu?
Sungguh tepat ucapan Abu Ali -rohimahullohu- :


Risalah-risalah seseorang itu di dalam kitab-kitabnya itu paling bisa menunjukkan
kadar akal dirinya, dan menjadi saksi yang paling jujur terhadap keadaan dirinya
yang tersembunyi darimu. (Al Bayan Wat Tabyin/1/hal. 67).
Sudah cukup puaskah engkau dengan bab ini, wahai Abdul Ghofur Malang?
Jika sudah, maka ( ) dan maafkan ana atas ucapan yang kasar. Sekedar sedikit
pembalasan dari ana, dengan banyak mengembalikan istilah-istilah kotormu. Tapi
jika engkau belum juga merasa ngeh (pinjam istilahmu) dengan penjelasan ini
semua, cari dulu akalmu yang barangkali ada di bawah pijakan sepatu merah
jambumu, baru kita lihat bersama: kamu sepadan atau tidak untuk adu hujjah
dengan para Salafiyyun yang jarang chatting.

Bab Dua: Tuduhan Pencurian kitab Ash Shobr

Adapun tuduhan Cak Dul yang kedua adalah bahwasanya Asy Syaikh Salim
Al Hilaliy -hafizhohulloh- mencuri kitab Ash Shobr karya si fajir Yusuf Al
Qordhowiy Al Ikhwaniy.

101
Cak Dul berkata: tidak sedang melakukan PENCURIAN hasil karya orang
lain (yang kemudian di atasnamakan sebagai tulisannya sendiri) sebagaimana
perbuatan orang licik dan tercela yang telah paduka sekalian beri jubah kemuliaan
dan kehormatan (Salim bin Ied Al Hilaly yang MENCURI (plagiat kitab
Sabar,red) ilmu SABARnya Gembong Besar Ikhwanul Muslimin Yusuf Al
Qaradhawi) hanya karena dia sejalan dengan paduka dan memuji dakwah paduka!!
(hal. 25)
Cak Dul juga menyuruh bagi yang belum ngeh (istilah dia) untuk merujuk
kepada Oleh-oleh Abu Karimah Askari dari Umroh. Di antara isinya adalah
penukilan ucapan Abdulloh Al Bukhoriy:
Salim Hilali diantaranya salah satunya yang mirip dengan Ali Hasan, beberapa
tahun sebelumnya beliau (Abdulloh Al-Bukhori-red) membaca satu kitab kecil yang
berjudul Ash-Shobru Bil Kitab wa Sunnah aw Fil Quran was Sunnah sabar dalam
Al-Quran dan As-Sunnah. Buku ini dikarang oleh Yusuf Al-Qordhowi, salah
seorang tokoh Ikhwanul Muslimin, yang saya kira bukan terlalu asing
mendengarkan namanya, ini tulisan buku Yusuf Al-Qordhowi , kemudian beberapa
tahun berikutnya ada keluar tulisan berjudul Ash-Shobr fi DhouI Al-Kitab was
Sunnah bersabar dalam cahaya Al-Kitab was Sunnah, maka saya membaca buku
ini. Ketika dibaca, kata beliau seakan-akan aku pernah membaca buku ini tapi
bingung dimana ini, setelah dingat lama, bukunya Yusuf Al-Qordhowi yang beliau
dapatkandi perpusyakaan beliau sendiri, setelah dicocokkan ternyata foto copy, apa
yan disebutkan didalam kitab Ash-Shobr fi Dhouul Kitab was Sunnah disitu tertulis
karya Salim Al-Hilali, ternyata itu adalah foto copy dari buku Yusuf Al-Qordhowi,
maka kata beliau bukunya Salim Al-Hilali saya masukkan ditengah-tengah buku
Yusuf Al-Qordhowi, karena itu adalah induknya dan itu berjalan sekian
lamabertahun-tahun lamanya kita biarkan seperti itu maka setelah sekian lama
maka karena bukunya Salim Hilali sudah balik, maka dipisahkan dari Ibunya .
[menit +34]
Selesai penukilan.

Tanggapan pertama: Kondisimu cukup mengkhawatirkan wahai katak
dalam tempurung yang panjang lidah. Buku kamu setebal 51 halaman sama sekali
tidak berisi bayyinah tentang kebenaran tuduhan tadi. padahal Rosululloh -
shollallohu alaihi wasallam- bersabda:

Seandainya manusia diberikan sesuai dengan dakwaan mereka pastilah
sekelompok orang akan mengaku-aku berhak atas darah orang dan harta mereka.
Akan tetapi orang yang menuduh wajib untuk memberikan bayyinah. Orang yang

102
mengingkari wajib bersumpah. (HSR. Al Baihaqiy (3/hal. 312) dalam As Sunan As
Sughro. Sebagiannya ada di Ash Shohihain).
Al Imam An Nawawiy -rohimahullohu- berkata:

.

.
Dan hadits ini adalah suatu kaidah yang besar dari kaidah-kaidah hukum-hukum
syariat. Di dalamnya ada penjelasan bahwasanya ucapan seseorang itu tidak
diterima tuduhannya dengan semata-mata dakwaan. Bahkan wajib untuk
mendatangkan bayyinah atau pembenaran dari si tertuduh. Boleh juga bagi sang
penuduh untuk menuntut sumpah dari si tertuduh. (Syarh Shohih Muslim/6/hal.
136).
Maka amatlah disayangkan: Cak Dul Ghofur dengan bangganya
menampilkan tulisan setebal 51 halaman dan disebarnya di berbagai penjuru
menuduh Asy Syaikh Salim Al Hilaliy -hafizhohulloh- tapi tanpa membawakan
bayyinah. Orang yang berakal mestinya paham bahwasanya perbuatan macam ini
bisa jadi akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Bumerang pertama: ketahuan rendahnya kadar IQ Cak Dul sampai-sampai tidak
mempertimbangkan adab-adab syariat dalam bertindak. Yahya bin Kholid -
rohimahullohu- berkata:

.
Ada tiga perkara yang menunjukkan akal pemiliknya: Kitab menunjukkan akal
penulisnya. Utusan menunjukkan akal sang pengutus. Hadiah menunjukkan akal
sang pemberi. (Al Aqdul Farid/1/hal. 170).
Bumerang kedua: Al Imam Ibnu 'Asakir -rahimahulloh- berkata:


...
"Dan ketahuilah wahai saudaraku semoga Alloh memberi kami dan engkau taufiq
kepada perkara yang diridhai-Nya, dan menjadikan kita termasuk orang yang takut
kepada-Nya dan bertaqwa kepada-Nya dengan sebenar-benar taqwa- bahwasanya
daging ulama itu beracun. Dan sudah diketahui bersama kebiasaan Alloh untuk
merobek tabir penutup orang-orang yang merendahkan mereka. Hal itu
dikarenakan celaan terhadap para ulama dengan suatu hal yang mereka itu berlepas
diri darinya itu perkaranya besar sekali. Dan mengusik kehormatan mereka
dengan kedustaan dan berita bohong itu adalah padang yang membahayakan. Dan
menyelisihi orang yang telah dipilih oleh Alloh untuk mengangkat ilmu adalah
merupakan akhlaq yang terceladst ("Tabyiin Kadzibil Muftari"/ Ibnu 'Asakir / 29).

103
Bumerang ketiga: dosa riba terbesar: panjang lisan (menuduh atau mencaci)
terhadap kehormatan Muslim tanpa kebenaran.
Bumerang keempat: masuk ke rodghotul khobal (perasan penduduk neraka)
Bumerang kelima: orang yang bangkrut: datang pada hari kiamat dengan pahala
sholat, puasa, dan zakat. Tapi dia datang dalam keadaan telah mencaci si ini,
menuduh si itu, makan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan
memukul si dia. Maka si ini diberi kebaikannya, si itu diberi kebaikannya. Jika
kebaikannya telah habis sebelum dia membayar seluruh kewajibannya, diambillah
dari kejelekan mereka lalu dipikulkan ke punggungnya, lalu dilemparkanlah dirinya
ke dalam neraka.
Waduh Cak, bumerang-bumerang sebanyak ini berseliweran mengancam
kepalamu. Seandainya kamu mau bertaqwa dan tidak menyombongkan diri
terhadap nasihatku, dan mau merundukkan kepala kepada Alloh, ana amat
berharap kamu selamat. Tapi ternyata ana dapati kamu memang bersikeras untuk
mendongakkan kepala dengan sombong. Ungkapan Arob:

Hidungnya ada di langit, sementara pantatnya ada di air.
Al Maidaniy -rohimahullohu- berkata:
.
Permisalan ini diberikan buat si hina yang sombong. (Majmaul Amtsal/1/hal.
7).
Waduh Cak, Cak. Ini cocok sekali buat katak macam kamu. Cepat Cak,
masuk dalam tempurung, keburu dihantam bumerang sendiri.
O ya mana si Abu Mahfut? Suruh bikin lawak: Bumerang Itu Kini Telah
Membikin Benjol Si Aborigin.
Tanggapan kedua: kamu mengambil berita dari Askariy, dan Askariy ambil
berita dari Abdulloh Al Bukhoriy yang mengatakan bahwasanya buku Asy Syaikh
Salim Al Hilaliy adalah fotokopi dari buku Ash Shobr punya si Qordhowiy. Maka
ana tuntut kalian untuk menunjukkan bayyinah bahwasanya buku Asy Syaikh
Salim Al Hilaliy adalah fotokopi dari buku Ash Shobr punya si Qordhowiy.
Halaman berapa saja? Coba tunjukkan gambarnya jika kalian masih punya sisa
kejujuran dan kejantanan. Jangan hanya bisa omong dan main tuduh. Berilah kami
bayyinah.
Tanggapan ketiga: sekalipun Cak kodok Dul sudah masuk tempurung,
ana akan tetap memburunya dan menyumpal mulutnya dengan sepatu merah
jambunya. Buka mulutmu, Cak:
Setelah kalian menyerahkan bukti pada kami tentang kesamaan kedua buku
tersebut, maka tunjukkanlah bayyinah lengkap dengan tanggal penulisan kedua
buku tersebut yang menunjukkan bahwasanya buku Asy Syaikh Salim Al Hilaliy
memang dikarang setelah buku si Qordhowiy.
Tanggapan keempat: carilah tempurung yang lebih dalam, Cak karena
sepatu merah jambumu masih terus mengincar kepalamu.

104
Jika memang kalian bisa membuktikan bahwasanya buku Asy Syaikh Salim
Al Hilaliy memang dikarang setelah buku si Qordhowiy, mana bukti bahwasanya
beliau memang mencurinya dari buku si Qordhowiy?
Adapun sekedar adanya kemiripan tulisan dan terakhirnya tanggal
pembuatan Asy Syaikh Salim, maka pertanyaan dariku adalah sebagai berikut:
manakah dalil dari Al Quran yang menerangkan bahwasanya data semacam itu
merupakan bayyinah yang cukup untuk menuduh? Kalian tak bisa jawab?
Sekarang tunjukkan dalil dari As Sunnah yang menjelaskan bahwasanya data
macam tadi cukup sebagai bayyinah dalam menuduh. Kalian tak bisa tunjukkan
dalil?
Kini berikanlah pada kami penjelasan dari para Shahabat atau tabiin atau
atbaut tabiin yang menyatakan bahwasanya data macam tadi cukup untuk
menggelari si fulan sebagai pencuri atau telah mencuri. Tak mampu menunjukkan?
Jika maka kalian tak sanggup, hendaknya Cak Dul membacakan tulisannya
sendiri pada dia dan teman-temannya: Sesungguhnya hamba yang penuh
kelemahan ini Allahummaghfirli- hanya ingin mengetuk rasa malu paduka dan
orang-orang yang sebarisan dengan paduka (hal. 45)
Ucapkanlah juga omonganmu sendiri: Kalaulah tidak memiliki rasa malu di
depan ummat, tidakkah paduka sekalian masih memiliki sisa-sisa rasa malu
terhadap diri sendiri (hal. 45).
Bagus juga kalian murojaah lagi ucapan si Dul: Masih pula memiliki muka
menampakkan diri dan bermegah-megah kepada ummat dengan berhiaskan nama
Asy Syaikh Rabi hafizhahullah untuk melariskan dagangan fitnah kalian? (hal. 45)
Catatan: bukannya ana hendak memotong-motong ucapanmu. Hanya saja
tulisan kamu itu kamu jadikan hidangan yang kamu sajikan pada kami. Dan ana
senang untuk mengembalikan sebagiannya padamu agar kamu juga turut
menikmatinya.
Tanggapan kelima: dengan jawaban-jawaban ana di atas, mestinya si Dul
masih punya malu untuk menjuluki omongan Abdullah Al Bukhari sebagai faidah
ilmiyah (hal. 49).
Dan tidak pantas baginya untuk mengelu-elukan tuduhan lembek kayak tadi.
Maka silakan sekarang si Dul mengeluh-eluhkannya (pinjam istilahmu hal. 49).
Coba perhatikan baik-baik: sekian banyak omonganmu jadi bumerang
terhadap kalian sendiri. Bahkan lafazh Bumerang (istilahmu di hal. 41) benar-
benar jadi bumerang buat dakwah kalian. Aborigin yang malang.
Tanggapan keenam: Misalkan kita menerima bahwasanya Asy Syaikh Salim
Al Hilaliy memang membaca buku Qordhowiy tadi. Lalu dia meringkasnya, dan
merapikannya, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada. Maka barangkali
beliau punya imam yang berpendapat bahwasanya yang seperti itu tidak mengapa
untuk dikatakan bahwasanya buku baru ini adalah jerih payah Salim Al Hilaliy.
Kamu tidak percaya bahwasanya beliau punya imam dalam hal ini? Jangan
kalian jadi katak dalam tempurung, Cak. Coba baca Al Badruth Tholi karya Al
Imam Asy Syaukaniy -rohimahullohu- pada bagian tarjumah As Suyuthiy -

105
rohimahullohu-. Setelah menyebutkan tuduhan yang bertubi-tubi dari Al Imam As
Sakhowiy -rohimahullohu- terhadap As Suyuthiy -rohimahullohu- bahwasanya
dirinya banyak mencuri karya para imam sebelumnya, Al Imam Asy Syaukaniy -
rohimahullohu- membelanya:


Ini memang menjadi kebiasaan para penulis, yaitu: penulis yang lain datang dan
mengambil faidah dari kitab-kitab penulis yang sebelumnya lalu diringkas atau
diperjelas atau ditentang dan sebagainya sesuai dengan tujuan-tujuan yang
mendorongnya untuk menulis tersebut. Dan siapakah orang yang mengambil
suatu bidang ilmu yang di situ orang-orang sebelumnya telah menulis ilmu di
bidang tadi lalu orang yang berikutnya tidak mengambil ucapannya? (Al
Badruth Tholi/1/hal. 316).
Coba Cak, kurangilah jam chattingmu. Buka Nailul Author, dan
bandingkanlah dengan Fathul Bari karya Ibnu Hajar. Apa kesimpulanmu?
Bukalah buku-buku fiqh Shiddiq Hasan Khon, dan bandingkanlah dengan
buku-buku fiqh Asy Syaukaniy. Apa kesimpulanmu?
Jika benar bahwasanya Asy Syaikh Salim Al Hilaliy memang membaca buku
Qordhowiy tadi, lalu dia meringkasnya, merapikannya, dan memperbaiki
kesalahan-kesalahan yang ada, lalu menisbatkan buku yang baru ini kepada dirinya,
maka barangkali Asy Syaikh Salim mengikuti madzhab Al Imam Asy Syaukaniy -
rohimahullohu- atau yang sejalan dengan beliau.
Tentu saja ana pribadi ingin setiap orang yang mengambil manfaat dari
tulisan orang lain dia menisbatkan faidah tadi pada pemiliknya, dan pandai
bersyukur dan menghargai jerih payah pemiliknya. Yakni: sebaiknya dia
menyebutkan darimanakah dia mengambil faidah tadi?
Tapi berhubung madzhab Asy Syaikh Salim memang ada imamnya mestinya
kalian menghormatinya dan tidak menyalahkannya, sebagaimana kaidah orang-
orang Mariyyun sendiri: Kita jangan saling mengkritik, karena masing-masing
pihak punya ulama juga. Sementara Asy Syaikh Salim bukan cuma punya ulama,
bahkan imam!
Wahai para pengekor Mariyyun, jangan cuma pandai bikin kaidah untuk
melindungi kebatilan kelompok sendiri. Hendaknya kalian juga adil dalam
menerapkannya.
Tanggapan ketujuh: kalo kalian belum ngeh juga dengan penjelasan di atas,
maka sekarang tiba waktunya untuk memperhatikan jawaban langsung dari Asy
Syaikh Salim Al Hilaliy -hafizhohulloh-, ana nukilkan dari Ar Roddul Matsaliy
Haulas Sariqotil Ilmiyyah Wa Hukmusy Syari fiha:
-

1 / / 1426
1 / 1 / 2006 :

106
Fadhilatusy Syaikh Salim bin Id Al Hilaliy -hafizhohulloh- ditanya dalam
pertemuan terbuka pada suatu hari yang telah disepakati dengan beliau pada
tanggal 1 Dzul Hijjah 1426 H (bertepatan dengan tanggal 1/1/2006 M):
:

- - - - - -




-
Ucapan si penanya: pertanyaan saya wahai Fadhilatusy Syaikh: tidaklah
tersembunyi dari pengetahuan Anda bahwasanya seseorang itu di tengah-tengah
penelaahan dan pembacaan kitab-kitab terkadang akan mengakar di benaknya
sebagian pemikiran. Dan dia tadi di tengah-tengah proses menyusun suatu kitab
terkadang lupa untuk menisbatkan pemikiran tadi kepada pemilik asal dari
pemikiran tadi. Maka akibatnya adalah bahwasanya orang ini akhirnya dinisbatkan
kepada pencurian ilmu yang telah disebutkan ataupun tidak disebutkan. Barangkali
Anda hafizhokumullohu taala- dengan luasnya pengetahuan Anda dalam bab ini
dan dengan ilmu yang Alloh karuniakan pada Anda dalam bab ini yang saya
maksudkan adalah bab tulis-menulis- berkenan untuk menghilangkan syubuhat ini,
terutama dikarenakan kami telah mendengar tuduhan terhadap para ulama kita
bahwasanya mereka itu adalah pencuri, maling dan semisalnya, yang mana yang
demikian itu merupakan masalah-masalah yang tidak kami duga ada pada mereka.
Dan kami tidak bermaksud mensucikan seseorang atas nama Alloh. Berilah kami
faidah, semoga Alloh taala memberikan umat manfaat dengan keberadaan Anda.
Semoga Alloh memberikan penghormatan pada Anda semuanya.
- - :
Maka Fadhilatusy Syaikh Salim bin Id Al Hilaliy -hafizhohulloh- menjawab:

:
-

: -


:
(setelah menyebutkan dzikir pembuka beliau berkata) semoga Alloh memberikan
balasan kebaikan buat saudara kita Abul Mundzir atas peringatannya terhadap
masalah ini. Dan permasalahan ini -yaitu: tuduhan pencurian ilmiyah- merupakan
salah satu tuduhan yang sangatlah luas yang dipergunakan oleh para hizbiyyun
untuk memerangi manhaj Salafy, dan memerangi para dai manhaj Salafiy. Mereka
dari waktu ke waktu keluar dengan membawa tuduhan-tuduhan ini. Maka kami
katakan:

107

Pertama: [jawaban kami yang pertama ini adalah] dalam bab ilzam (mengharuskan
lawan untuk menaati hujjahnya sendiri) dan bukan dalam bab taushif (penyifatan)
karena senjata yang paling utama dalam membantah lawanmu adalah: engkau
mengharuskan lawan untuk menaati hujjahnya sendiri. Dan ini bukanlah
menunjukkan lemahnya kami dalam menegakkan hujjah terhadap apa yang kami
katakan atau kami sebutkan. Akan tetapi ini hanyalah dalam bab mengharuskan
lawan untuk menaati hujjahnya sendiri jika dia memang meyakini kebenarannya.
Maka konsekuensi dari hujjah tadi merupakan konsekuensi dari keyakinannya tadi.
:


Maka kami katakan: jika memang kalian meyakini apa yang kalian sebutkan itu, dan
bahwasanya perkara yang kalian isyaratkan itu masuk dalam bab pencurian
ilmiyah, maka yang demikian itu akan cocok untuk diterapkan pertama kali kepada
kami, karena kami memang yang ditunjuk dengan tuduhan tadi. Dan tuduhan tadi
juga akan cocok untuk diterapkan kepada para ulama sebelum kami. Dan juga akan
cocok untuk diterapkan kepada masyayikh kalian dan pimpinan dakwah kalian.
Jika kalian mengakui itu, maka kita akan membahas masalah ini. Tapi jika kalian
membedakan permasalahannya, maka manakah dalil adanya perbedaan?
:

- - :


Jika mereka bilang: (Kami mengakui), maka kita akan mendatangkan buat mereka
belasan dan bahkan ratusan contoh yang dimulai dari zaman Shohabat sampai ke
masa kita sekarang ini, sama saja: dalam bentuk kecocokan pemikiran ataukah
kemiripan gaya bahasa, ataupun dalam judul kitab, atau yang seperti itu. Aku akan
menyebutkan satu contoh buat saudara-saudara kita para penuntut ilmu. Aku
katakan misalkan: khothbah Al Imam Ahmad dalam kitab beliau Ar Roddu alal
Jahmiyyah dia itu adalah khothbah dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib
sebagaimana ditakhrij oleh Al Wadhdhoh yakni: Ibnu Wadhdhoh- dalam Al Bida
wan Nahyu anha. Maka Al Imam Ahmad mengambilnya dan menjadikannya
sebagai permulaan kitab beliau, tanpa menisbatkannya kepada Ali. Benar-benar
sama persis hurufnya, katanya, dan kalimatnya. Lalu dari kalangan orang sekarang
yang mengambilnya adalah Asy Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitabnya Hilyah
Tholibil Ilm atau At Taalum, aku tidak ingat.

108
!
. .

. . . . . . .


.
Maka apa yang akan kalian katakan!? Jika kalian naik lagi satu tingkat dan berbagai
tingkatan, maka perhatikanlah contoh-contoh yang banyak di antara kitab-kitab
tafsir, kitab-kitab biografi, kitab-kitab pengobatan, kitab-kitab syaroh hadits.
Cukuplah kalian merenungkan Syaroh Shohih Muslim, kalian akan mendapati An
Nawawiy menukil dari Al Qodhi Iyadh, dan bahwasanya Al Ubbiy juga menukil
dari Al Qodhi Iyadh, dan , dan , dan , dan seterusnya. Apakah mereka
semuanya itu pencuri menurut pandangan kalian? Jika mereka itu belasan dan
ratusan ulama seperti itu, maka kami juga masuk ke dalam barisan kalian.
:

: -

- - ! :
:

) (

)(

Sekarang kita pindah ke syaikh mereka dan ulama mereka yang mereka banggakan.
Kita katakan: Ini Sayyid kalian, yang hidung-hidung kalian memerah karena marah
demi membela dirinya. Kemudian kalian tampak mengigau dengan perkara yang
menyakitkan dalam rangka menolong dirinya. Bandingkanlah antara kitab Sayyid
Quthb Azh Zhilal dan tafsir Ibnu Katsir Tafsirul Quranil Azhim, kalian akan
dapati dia itu menukil ratusan baris dan ratusan ungkapan. Bahkan terkadang dia
melakukan perubahan dalam takhrij hadits yang menyebabkannya tersungkur
sendiri, karena memang dia itu tidak pandai takhrij hadits. Semuanya dari tafsir
Ibnu Katsir. Syaikh mereka dan komandan mereka sendiri: Yusuf Al Qordhowiy di
situsnya telah mengisyaratkan yang demikian ini seraya berkata: Sesungguhnya
Sayyid Quthb menjelajahi kitab tafsir Ibnu Katsir. Dan kami katakan: Dia juga
menjelajahi kitab-kitabnya Al Maududiy, dan juga menjelajahi kitab-kitab Ibnu
Hazm, dan kitab-kitab yang lainnya. Ini namanya mencuri juga ataukah tidak !? jika
mereka menggelengkan kepala dan berkata: Tidak berarti tuduhan kalian
terbantahkan dengan ucapan dan dalil kalian sendiri. Dalil seperti ini dalam ilmu
perdebatan dinamakan Pembalikan hujjah, engkau membalikkan hujjah lawan
debatmu kepada diri mereka sendiri.

109
- : {

}
:

: )


Sebagaimana Alloh tabaroka wataala berfirman (yang artinya:) Maka angankanlah
kematian jika kalian itu jujur dalam ucapan kalian. Alloh taala menyeru mereka
untuk mengangankan kematian jika mereka memang jujur ucapannya (bahwasanya
Jannah itu hanya khusus untuk mereka saja). Dan mereka itu tidak jujur, makanya
mereka tidak mau mengangankan kematian tadi. Dan kami berkata: jika kalian
memang jujur maka akuilah. Aku katakan: kita semua terjemur di dalam
kegundahan. Kalian sendiri juga tidak selamat dari ini. Dan kukatakan: tiada
seorang alimpun yang selamat dari perkara ini, baik penisbatan tadi sedikit ataupun
banyak. Makanya kita tidak boleh menisbatan perbuatan tadi kepada Pencurian
Ilmiyah. Dan kita tidak boleh membicarakan kehormatan ulama.
) (

:( : )
Salah seorang dari mereka, Haddamus Sunnah (peruntuh sunnah) -demikianlah
Syaikh kita Al Imam Al Albaniy menamai orang tadi- menuduh dan menisbatkan
pencurian ilmiyah kepada Al Imam Muslim, juga pada Ibnul Qoyyim. Karena itulah
dia tidak malu dan tidak bertaqwa kepada Alloh dalam perkara kehormatan ulama.
Dan engkau jika melihat kitab-kitabnya engkau akan melihat semuanya itu hasil
curian. Mungkin dari syaikhnya sendiri Syuaib Al Arnauth, atau dari Syaikh kita
Al Imam Al Albaniy, atau yang seperti itu. Dan sebenarnya aku mengisyaratkan
perkara ini di dalam kitabku yang bernama: Al Kaukabud Durril Mutalali fir
Roddi alasy Syanil Qoli. Kitab itu telah dicetak sejak lama. (Di situ) aku
menjelaskan manhaj para ulama dalam menyusun karangan. Sebagian dari mereka
mencela kita karena kita mengumpulkan ucapan ulama lalu kita berkata: (Buku ini)
talif si fulan (yaitu: diri kita sendiri). Maka aku bantah si pencela dengan memakai
ucapan Al Bukhoriy di dalam Shohih beliau: Bab talif Abu Bakr terhadap Al
Quran. Yaitu: pengumpulan Al Quran.

- - -
-

.
Demi Alloh, mereka itu wahai saudaraku, tidak paham metode para ulama, dan
tidak tahu jalan orang-orang yang bijaksana. Mereka itu tidak sibuk menyusun

110
buku, ataupun mengarang kitab. Mereka tadi hanyalah sibuk memecah-belah umat
dan mencerai-beraikan barisan umat dalam rangka menolong masyayikh mereka
ketika mereka melihat masyayikh mereka menyimpang dari jalur yang lurus, dan
mereka melihat bahwasanya palu-palu Salafiyyah menyentuh mereka, dan
menjelaskan aib-aib mereka, mengusir mereka, menyebarluaskan hakikat mereka ke
segala penjuru. Maka tidaklah tersisa pasaran dakwah ilalloh tabaroka wataala-
tempat untuk mereka. Maka kita mohon pada Alloh subhanahu wataala agar
membimbing kita, mengajari kita, mengenalkan kita, dan memberi kita kalimat
taqwa, dan keadilan. Alloh sajalah yang mengurusinya dan yang mampu
melakukannya.
Selesai penukilan.
Tanggapan kedelapan: kalo kamu dan Askari belum juga ngeh dengan
penjelasan di atas, maka bacalah secara total kitab Al Kaukabud Durril Mutalali fir
Roddi alasy Syanil Qoli.
Bacalah kitab tadi dengan penuh seksama dan dalam tempo yang setenang-
tenangnya (pinjam istilah si Dul di hal. 49), sampai kalian merasa ngeh hingga
terengah-engah.
Para ikhwan yang tidak ikut-ikutan menuduh Asy Syaikh Salim Al Hilaliy,
tidak mengapa bagi mereka jika belum pernah membaca kitab ini. Tapi bagi Cak Dul
dan para majikannya (pinjam istilah si Dul di hal. 32) ana katakan pada mereka:
kitab tadi dicetak sebelum lima tahun yang lalu. Tapi kalian itu ketinggalan zaman,
kayak katak dalam tempurung (istilah dari si Dul). mestinya sebelum teriak-teriak
kalian itu cari info secukupnya dulu, biar tidak bikin malu sendiri. Bacalah buku
tadi, ( ) akan jelas bagi kalian dengan tuntas duduk perkara kasus ini dan yang
semisalnya.
Tanggapan kesembilan: sebenarnya sekarang ini jam untuk memperkuat
ilmu. Tapi si katak Dul bikin ana sibuk. Ya sudah, sembunyi yang baik, Cak. Ana
masih semangat berburu kodok.
Tuduhan bahwasanya sebagian ulama Ahlussunnah mencuri karya tulis,
merupakan senjata lama sekali dari Ikhwanul Muslimin. Dan sudah sempat
terkubur dari telinga Salafiyyun. Tapi ternyata si Dul dan para majikannya masih
suka mengais-ngais sampah basi karena kehabisan konsumsi segar bergizi. Kasihan.
Kalian telah menempuh metode para hizbiyyin dalam mengambil bantuan
dari senjata-senjata para hizbiyyin pendahulu, untuk memukul Ahlussunnah.
Seakan-akan aku teringat sebuah kisah bahwasanya penduduk Dammaj telah selesai
memakamkan jenazah di pekuburan mereka. Ketika mereka pulang datanglah
seekor binatang menggalinya lagi lalu mengambil mayat tadi dan memakannya.
Tanggapan kesepuluh: faktor begini saja sudah langsung kamu jadikan
bahan untuk mencaci-maki habis-habisan. Sementara kesalahan manhajiyyah yang
sedemikian banyak dari Mariyyun kamu bela habis-habisan. Dasar hizbiy fanatik,
menilainya dengan hawa nafsu dan kelompok. Habis itu masih main pantun lagi.
Yang cocok untuk kamu adalah ungkapan orang Arab:

111

"Mereka memandang dengan mata permusuhan. Seandainya dia itu adalah mata
keridhaan pastilah mereka akan menganggapnya bagus dan tidak menganggap
buruk." (Miftah Daris Sa'adah/hal. 176).
Tambah lagi:
...
Dan mata keridhoan lemah untuk melihat setiap kekurangan. Tapi mata kebencian
menampakkan berbagai kejelekan. (Al Aghoniy/3/hal. 369).
Tanggapan kesebelas: seluruh uraian di atas menunjukkan kedangkalan
ilmu si katak dalam tempurung. Bagaimana tidak, sementara bekalnya hanyalah
sekedar kecemburuan hati. Dia mengaku: Tidaklah tuts di keyboard ini diketikkan
untuk menyusun untaian kata demi kata kecuali dilandasi kecemburuan yang
bergejolak dan membuncah dari dalam dada (hal. 2).

Nasib Katak Sombong Yang Keras Kepala

Si Abdul Ghofur da- ri Malang bergaya
Bodoh, modalnya ke- cemburuan saja.
Nasihat yang lembut tidak dianggapnya.
Musuh diremehkan dan dipandang hina.
Lupa mengukur ke- kuatan yang ada.
Mulut ngoceh mantra: Hamba dan Paduka
Berubah jadi ka- tak cantik jelita
keluar tempurung dengan bersenjata
bumerang Abori- gin Australia.
Dilemparkan dengan gejolak di dada
ingin balik dapat dua kuntum bunga,
babak belur kena sepatu wanita,
juga Pe-De-El bi- kin benjol kepala.
Teringatlah dia Ambon yang membara.
Buku Jantan yang di- elukan ternyata
bikin penulisnya mengeluh merana.
Ingin orang mera- sa ngeh bersamanya,
justru dirinya ter- engah menderita.


Bab Tiga: Tuduhan Penyalahgunaan dana dari Ihyaut Turots

Cak Dul si katak Yang Tidak jantan berkata: Telah sama kita maklumi
bahwa setelah bertahun-tahun bahu membahu bersama Ihyaut Turats dan

112
jaringannya, Salim Al Hilaly pada akhirnya memiliki mauqif yang berbeda dengan
Ali Hasan terkait sikap mereka terhadap Ihyaut Turats. Atau mungkin yang lebih
tepat adalah Ihyaut Turats telah mengubah mauqifnya kepada Salim Al Hilaly
karena permasalahan yang timbul terkait kucuran dana untuk pembangunan
Markaz Al Albani. Tidak ada pilihan lain bagi Ihyaut Turats kecuali menceraikan
Salim Al Hilaly. Dan tidak ada pilihan lain bagi Salim Al Hilaly kecuali harus
menempuh satu-satunya pilihan, berlepas diri dari Ihyaut Turats. (hal. 48)
Tanggapan Abu Fairuz yang pertama: Abdul Ghofur Malang membangun
perkataan di atas dan menuduh bahwasanya Asy Syaikh Salim Al Hilaliy -
hafizhohulloh- berlepas diri dari Ihyaut Turots tidak ikhlas lillahi taala, akan tetapi
beliau melakukan itu karena diceraikan lebih dulu oleh mereka. Apakah si Dul ini
menuduh yang demikian berdasarkan bukti yang dimilikinya? Tunjukkanlah dan
tebarkanlah kepada umat bukti tadi sebagaimana kamu menebarkan tuduhan tadi.
Al Asyats bin Qois -rodhiyallohu 'anhu- berkata:
- -
Dulu aku punya sumur di tanah saudara sepupuku, lalu aku datangi Rosululloh -
shollallohu alaihi wasallam- maka beliau bersabda: Wajib atasmu untuk
mendatangkan bukti kamu, atau dia akan bersumpah untuk mengingkari. Al
hadits. (HR. Al Bukhoriy).
Tapi bagimana mungkin si katak dalam tempurung bisa mendatangkan
bukti?
Tanggapan kedua: jika memang si Dul itu gagal mendatangkan bukti atas
tuduhan tadi, maka semoga pihak yang berwenang menegakkan hukum Alloh
untuk mendera punggungnya secukupnya. Jika memang pemerintah tidak
menegakkan hukum itu, maka semoga Alloh yang menghukum si Dul Ghofur ini
sesuai keadilan-Nya.


113

Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 4)




Asy Syaikh Robi Al Madkholiy Alim Salafiy,
Adapun Abdulloh Alu Mari Itu Hizbiy







Dikoreksi Oleh:
Abu Turob Saif bin Hadhor Al Jawiy Al Indonesiy
-semoga Alloh memaafkannya-





Ditulis oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsy Al Jawy
Al Indonesy
-semoga Alloh memaafkannya-







Darul Hadits Dammaj
Yaman
-Semoga Alloh menjaganya-



114


Kata Pengantar Seri Empat


:
Pada tulisan Hampir-hampir Mereka Jantan Cak Dul memasukkan
Abdulloh bin Umar Al Mari Al Adniy ke dalam daftar para masyayikh dakwah
yang dicaci oleh pengikut Asy Syaikh yahya Al Hajuriy. Cak Dul berkata tentang
Salafiyyin Dammaj: Tetap pada keputusan bahwa Asy Syaikh Abdurrahman dan
orang yang bersamanya adalah hizbi. Sehingga halal mencela Asy Syaikh
Abdurrahman, halal mencela Asy Syaikh Abdullah Mari (hal. 5)
Tujuan Cak Dul amat jelas: untuk menampilkan di hadapan umat
bahwasanya Salafiyyun Dammaj benar-benar kelompok pencaci ulama
Ahlussunnah.
Maka jawaban ana adalah sebagai berikut:
Jawaban pertama: Sesungguhnya tulisan-tulisan tentang kebatilan Abdulloh
bin Umar Al Mari telah banyak kami sebarkan di Indonesia, baik dengan bahasa
Indonesia maupun dengan bahasa Arab. Maka silakan dirujuk kembali.
Jawaban kedua: Abdul Ghofur Al Malangiy memang hizbiy tulen, yang salah
satu ciri-cirinya adalah: mengetahui al haq lalu tapi membenci penyebarannya, dan
berusaha agar umat jangan sampai mengetahui al haq tadi, ditambah lagi dengan
fanatismenya yang sangat kental, makanya dia berusaha menjadikan tulisan-tulisan
tadi sekedar cercaan yang tidak tegak di atas kebenaran, sehingga tulisan tadi dan
segenap penulis dan penyebarnya pantas dimusuhi dan mendapatkan gelar:
PENCACI ULAMA.
Jawaban ketiga: ada kemungkinan kecil, yaitu bahwasanya Abdul Ghofur Al
Malangiy benar-benar jauh dari sifat JANTAN (pinjam kamusnya di hal. 1,4,7,10
dst.) sehingga tidak berani membaca tulisan-tulisan tadi karena takut melihat
kenyataan pahit akan kebusukan Syaikh yang sangat dicintainya dan dibelanya
dengan fanatik. Manakala dia sedemikian ketakutan untuk membaca tulisan-tulisan
tadi, akhirnya dia benar-benar tidak tahu kejahatan Syaikhnya tadi, dan jadilah dia
itu: katak dalam tempurung (pinjam kamusnya di hal. 3 dan 36).
Jawaban keempat: ana akan mengalah dan melayani Cak Dul ini dengan
menjelaskan kembali kejahatan Syaikhnya tadi. Barangkali juga ada sebagian
pembaca yang memang belum berkesempatan untuk membaca tulisan-tulisan yang
telah kami sebar sejak pertama meletusnya fitnah Mariyyah. Dan ( ) ana
punya banyak literatur dan sumber-sumber berita selain Mukhtashor Bayan. Jelas
Mukhtashor Bayan sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan hizbiyyah

115
Abdulloh Mari dan saudaranya beserta pengikut mereka. Akan tetapi berhubung
rendahnya IQ dan EQ Cak Dul dan kru DH (Dhofadi Habibah)-nya, tetap saja
mereka protes. Tulisan-tulisan mereka terus-menerus menyuarakan lemahnya akal
mereka dalam memahami hizbiyyah. Ats Tsalabiy -rohimahullohu- berkata:

Kitab seseorang merupakan alamat dari akalnya. Bahkan dia merupakan
timbangan kadar dirinya dan lisan keutamaannya. (Yatimatud Dahr/1/hal. 400).
Dan ( ) ana dalam kesempatan ini akan menukilkan sebagian berita-
berita dan tulisan-tulisan yang ana dapatkan sebelum lahirnya Mukhtashor
Bayan.

Bab Satu: Dukungan Abdulloh Al Mari terhadap Abul Hasan
Al Mishriy

Berikut ini aka ana nukilkan pembahasan yang bagus, yang di sela-selanya
ada pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang cerdas. Putra
Hadhromaut Syaikhunal fadhil Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al Amudiy
hafizhohulloh- berkata:

1413
1416
.
.
1413
1416
.
.
.
Sesungguhnya orang-orang yang merenungkan sikap Abdulloh bin Mari pada
masa fitnah Abul Hasan akan melihat perkara yang aneh dan mengherankan, yang
mana orang ini berbangga-bangga dan bersumpah dengan nama Alloh taala
bahwasanya dia adalah termasuk orang yang paling tahu tentang Abul Hasan, dan
bahwasanya dia pernah melakukan beberapa perdebatan dengan Abul Hasan pada
tahun 1413 H. bahkan dia mengaku pernah menelpon Syaikh Robi bin Hadi
roahulloh- dalam urusan tersebut, sampai bahkan pertemuan pertama yang panas
terjadi di rumah putra Syaikh Robi Muhammad Ash Shoghir- di Makkah pada
bulan Dzul Hijjah 1416 H. hadir pada pertemuan itu sekelompok dari masyayikh

116
dan penuntut ilmu. Perdebatan pada waktu itu berisi sekian banyak kasus, dan yang
termasuk paling penting adalah sikap Abul Hasan yang memasukkan Ikhwanul
Muslimin ke dalam Ahlussunnah.
Demikianlah pengaku-akuan orang ini Abdulloh Mari- bahwasanya dia
punya catatan lima puluh kesalahan Abul Hasan, sebagaimana yang diceritakan
Akhuna Muhammad Ba Roidy -hafizhohulloh- padaku pada Syaikh Abu Hamzah
Al Amudy-. Maka kamu akan lihat bahwasanya selang waktu ini -tahun 1413 H-
dia melakukan beberapa perdebatan dengan Abul Hasan. Akan tetapi sebagaimana
yang tampak dari alur pembicaraannya, perdebatan itu cukup tenang, lalu menjadi
keras dan panas pada tahun 1416 H. dan itu berlangsung di rumah putra Syaikh
Robi hafizhohulloh wa roahu-, di dalam majelis itu dilontarkanlah berbagai kasus
yang penting sebagai kritikan terhadap Abul Hasan, dan yang termasuk paling
penting adalah sikap Abul Hasan yang memasukkan Ikhwanul Muslimin ke dalam
Ahlussunnah. Dan pertempuran di majelis saat itu cukup panas.
Berdasarkan penjelasan di atas, tampaklah bahwasanya Abdulloh Mari itu
tahu tentang penyimpangan-penyimpangan dan penyelisihan Abul Hasan. Dia tahu
hal itu sejak dulu.

.

.

.
Jika demikian, maka keadaan Abul Hasan itu tidaklah tersembunyi dan tidak
asing bagi Abdulloh Mari. Namun yang aneh dan mengherankan adalah: Abul
Hasan pada saat fitnahnya itu muncul dan punya kekuatan dan hantaman, dan
dengan sebab itu banyak orang yang terfitnah, ternyata Abdulloh Mari tidak
punya saham yang pantas disyukuri dalam fitnah ini.
Para ulama telah berbicara yang menjelaskan keadaan Abul Hasan, dan
memperingatkan umat dari kesalahan-kesalahannya, pokok-pokoknya dan kaidah-
kaidahnya yang rusak. Dan yang pertama kali berseru terhadap kebatilan tadi
adalah Syaikh kita (Yahya Al Hajuriy) roahulloh- di Yaman, dan yang di luar
Yaman adalah Asy Syaikh Ahmad An Najmiy dan Asy Syaikh Robi bin Hadi Al
Madkholiy hafizhohumallohu taala-
(1)
kemudian berbicaralah para ulama Yaman
tentang Abul Hasan, sementara orang ini (Abdulloh Mariy) tidak mau
menggerakkan air yang tenang (diam saja), dan tidak sikap saling membantu dan
menolong buat Ahlussunnah khususnya di Yaman. Tapi orang ini hanyalah
bergumul dengan beberapa urusan pribadinya saja. Dan itulah yang terjadi,

(1)
Tulisan ini dikeluarkan sebelum wafatnya Asy Syaikh Ahmad An Najmiy rohimahulloh-.

117
khususnya setelah para ulama Madinah -yang dipimpin oleh Asy Syaikh Ubaid
hadahulloh- telah berbicara.
!!

!!


:
Maka di manakah perkara yang dia banggakan tadi? Dan di manakah
pengetahuannya tadi?!! Kenapa gaya panasnya tadi berubah jadi dingin? Dan di
manakah berbagai kasus dan kesalahan (Abul Hasan) yang banyak tersebut?
Kenapa sekarang ditutupi? Dan kenapa disembunyikan pada kondisi paling
dibutuhkan untuk dibeberkan?!! Yang lebih mengherankan lagi, dan bahkan lebih
berat dan pahit adalah bahwasanya orang ini secara lahiriyah senantiasa bersikap
diam. Dan jadilah sikap diamnya itu mengundang keraguan dan kebimbangan.
Penjelasannya ada beberapa sisi:
:

.


:
( : .)
Yang pertama: Sikap diamnya yang meragukan ini menimbulkan pengaruh yang
sangat mendalam terhadap dakwah, terutama di wilayah Syihr. Orang-orang
khusus Abdulloh bin Mari yang dinamakan sebagai orang kepercayaan yang
mengurusi masalah khotbah, pengajaran, adzan dan lain-lain justru menjadi orang-
orang yang pertama terjatuh di dalam fitnah tersebut. Sementara si pemilik
pengetahuan tentang Abul Hasan tidak memberikan nasihat pada mereka, dan tidak
mengarahkan mereka dalam keadaan dia melihat mereka berjatuhan ke dalam
fitnah Abul Hasan, dan dia diam saja tidak menggerak air yang tenang
(1)
.
Bukankah wajib baginya untuk menasihati mereka, mengarahkan mereka dan
membimbing mereka serta memperingatkan mereka dari kesalahan-kesalahan Abul
Hasan agar mereka itu berada di atas kejelasan dari perkara mereka. Mereka itu
adalah orang-orang khusus Abdulloh dan orang yang paling dekat dengannya.
Mereka adalah tonggak bagi dirinya, dia bertopang kepada mereka di masjidnya.
Bahkan kaset-kaset dan tulisan-tulisan Abul Hasan laris di kalangan sahabat
mereka. Si Abdulloh ini meskipun mengatakan melarang penyebaran apa-apa yang

(1)
Abu Fairuz berkata waffaqohulloh: dia itu (sebagaimana pengakuannya sendiri) telah tahu
kebatilan Abul Hasan. Jika memang dia itu membencinya (dan wajib baginya untuk membencinya)
kenapa membiarkan teman-teman dekatnya mengikuti Abul Hasan?

118
dikeluarkan oleh kedua belah pihak
(1)
akan tetapi ucapannya itu tidak bisa
menghilangkan keraguan dan kebimbangan darinya. Dia cuma ingin
menghilangkan dan menolak celaan terhadap dirinya. Seakan-akan kondisi dirinya
berkata: Engkaulah yang aku maksudkan, dan dengarlah wahai tetanggaku. Yang
lebih memperkuat kenyataan tadi adalah sebagai berikut:

.
:

:
.
Tidak diketahui darinya pengingkaran terhadap apa yang diperbuat oleh teman-
temannya yang terfitnah oleh Abul Hasan. Bahkan dia itu mengingkari para ikhwah
yang dilindungi oleh Alloh dari fitnah Abul Hasan, dia menuduh mereka telah
berbuat serampangan dan tergesa-gesa. Abdulloh mengingkari mereka dan
melarang mereka menyebarkan malzamah-malzamah yang menjelaskan keadaan
Abul Hasan, sambil mengemukakan alasan yang lemah. Saudara kita yang mulia
Abu Muhammad Sad Al Ghurobiy hafizhohullohu wa roah- berkata: Kami turun
dari Dammaj setelah Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memvonis
salahnya Abul Hasan di dalam beberapa poin kritikan terhadap dirinya. Lembaran-
lembaran vonis tadi ada bersamaku, dan ketika aku bertemu dengan Abdulloh Mari
kusodorkanlah padanya lembaran vonis tadi. Maka dia menjawab bahwasanya
dirinya tidak menginginkannya. Dia bilang menanti vonis tadi setelah tiba di Adn
pada hari-hari itu.
(Asy Syaikh Al Amudiy hafizhohulloh- berkomentar: Apa beda antara dirinya
mengambil vonis tadi dari tangan Akh Sad dengan datangnya vonis tadi
kepadanya jika dia telah sampai di Adn? Bukankah sama saja? Ini menunjukkan
bahwasanya dirinya sebenarnya tidak ridho dengan kritikan terhadap Abul Hasan,
yang mana dirinya tidak mau terbongkar isi hatinya, sehingga terpaksa untuk
memberikan alasan yang lemah seperti ini.)
Dia juga bilang: Aku tidak butuh pada vonis ini, dan tidak senang vonis ini
dikasihkan padaku ataupun disebar di masjidku, karena situasi di tempat akan
makin ruwet setelah itu. Dan dia tak mau mengambil vonis tadi dan melarang
menyebarnya di masjidnya.

(1)
Kata Abu Fairuz waffaqohulloh: harom baginya untuk melarang penyebaran tahdzir ulama
terhadap kebatilan Abul Hasan. Adapun penampilan dirinya untuk melarang tulisan-tulisan pihak
Abul Hasan, maka yang demikian itu hanyalah kamuflase belaka. Silakan ikuti terus pemaparan
Syaikh Al Amudiy agar makin jelas bagi kita bahwasanya Abdulloh itu termasuk Hasaniyyun.

119
:


.
Kukatakan (Asy Syaikh Al Amudiy): semoga Alloh memerangi kamu wahai orang
yang jahat. Kamu takut perkaranya jadi ruwet wahai ushuli
(1)
, sementara kamu tahu
tentang keadaan Abul Hasan dan penyelisihannya serta penyimpangannya.
Bersamaan dengan itu kamu melihat orang-orang yang paling dekat di sekitarmu
berjatuhan di dalam fitnah ini. Hikmah apa yang kamu ambil manfaatnya dari sikap
diammu. Fiqih apa yang kamu aku-akui (elu-elukan) wahai pemilik ilmu maslahat
dan mafsadah? Manakah pengingkaran terhadap kemungkaran? Apakah hal itu
cuma berlaku untuk sebagian orang saja? Manakah nasihat? Apakah nasihat itu
hanya khusus untuk sebagian orang saja? Demi Alloh, sungguh perbuatanmu ini
sangat meragukan. Sikap diammu ini sungguh aneh.

.
. .

! :
Tambah lagi sikap diamnya itu merupakan sebab menyelewengnya banyak sekali
ikhwan dari wilayah Syihr. Masjidnya jatuh terkapar, dan tiada yang selamat
darinya kecuali sangat sedikit sekali. Tidak lebih dari lima masjid yang tersisa. Ini
jika aku telah berlebihan dalam bilangan tadi. Demikian pula masjid Ibnu Baz
jatuh terkapar. Demikian pula mayoritas wilayah masjid Abdurrohim jatuh ke
tangan mereka. Tinggallah masjid tadi berada dalam keruwetan dan sengketa sekian
lama, dan bisa jadi kesudahannya akan kembali ke Hasaniyyun (pengikut Abul
Hasan). Berapa banyak orang-orang yang lenyap dan menyeleweng disebabkan oleh
sikap diam Abdulloh Mari yang meragukan ini, sampai-sampai satu orang awam
yang cinta sunnah mendatanginya seraya berteriak di mukanya dan berkata kasar:
Kamulah penyebab ini semua! Kenapa kamu tidak berbicara dan memberikan
penjelasan?!
(2)


(1)
Makna ushuliy: Ahli ushul fiqh. Ini diucapkan oleh Asy Syaikh Al Amudiy hafizhohulloh- karena
Abdulloh Mari dalam malzamahnya Miyar membangga-banggakan hikmah dan ilmu ushul
fiqhnya.
(2)
Abu Fairuz waffaqohulloh menjawab: karena Abdulloh demi syiar maslahat dan mafsadah
lebih memilih mengurusi bisnis dan mengemis atas nama dakwah, sebagaimana akan datang
penjabarannya dalam bab berikutnya.

120

. .

. .
Dan di antara keanehannya dalam fitnah Abul Hasan adalah: pada saat Asy Syaikh
Ahmad Ba Sufail saddadahulloh- menyampaikan ceramah di masjid Abdulloh
Mari, dan saat itu Abdulloh Mari tidak hadir sebagaimana adat kebiasaannya. Asy
Syaikh Ahmad Ba Sufail roahulloh- menyebutkan bahwasanya Abul Hasan itu
ditemani oleh sekitar delapan puluh orang, dan semuanya adalah anggota
Baroatudz Dzimmah. Dan setelah itu, Abdulloh Mari menyampaikan ceramah di
Qushoiar. Pada kesempatan itu dia mencaci Asy Syaikh Ahmad roahulloh-
dengan sangat keras. Memang dia hanya menyebut Asy Syaikh Ahmad
saddadahulloh- dengan global, akan tetapi orang-orang yang hadir tahu
maksudnya. Demikianlah Akh Abu Muhammad Al Ghurobiy roahulloh-
menceritakannya padaku.
-
- )!!!(
.
Dan di antara keanehannya dalam fitnah Abul Hasan adalah: ketika Abul Hasan
keluar ke Seiun (padahal para ulama Yaman telah melarang Abul Hasan untuk pergi
kesana-kemari, tapi memang orang itu keras kepala) datanglah kepada Abdulloh
Mari teman-temannya dan orang-orang khususnya yang terfitnah oleh Abul Hasan.
Mereka meminta padanya untuk ikut keluar juga. Maka dia mengemukakan udzur.
Lalu mereka minta idzin untuk mengambil bis dakwah, maka diidzinkannya
mereka untuk mengambilnya, sebagaimana Akh Muhammad Ba Roidiy Al Amudiy
hafizhohulloh- mengabariku.
:

: .
- .
Dan di antara keanehannya juga Akh fadhil Abu Mushab Al Hadhromiy
roahulloh- yang tinggal di Hami berkata: aku mendatangi Abdulloh Mari bersama
sekitar empat belas ikhwan. Abdulloh Mari dituntut untuk mengumpulkan teman-
teman dan orang-orang khususnya lalu menjelaskan kepada mereka keadaan Abul
Hasan. Dan kejadian itu berlangsung setelah Syaikhuna Yahya dan Asy Syaikh An
Najmiy roahumalloh- berbicara. Abu Mushab berkata padanya: Saya dan para
ikhwan semuanya telah satu hati dan di atas bayyinah tentang orang ini yaitu:
Abul Hasan-. Tapi Abdulloh Mari tidak mempedulikannya dan tidak mau

121
mendengarkan orang yang menasihatinya, ataupun menerima kabar darinya untuk
menasihati orang-orang yang ada di sekelilingnya.

. : - :


. .
Dan setelah fitnah itu sirna, justru Abdulloh dan Salim Ba Muhriz mencaci orang-
orang Hami tadi Abu Mushab dan teman-temannya, dan juga Sad dan Aqil-,
menuduh mereka telah tergesa-gesa dan mendahului ulama, dan berbagai tuduhan
kezholiman, kepalsuan dan kedustaan yang lain. Aku (Asy Syaikh Muhammad Al
Amudiy) katakan: kenapa kalian berbuat zholim seperti ini wahai Abdulloh kecil,
wahai Salim kecil, padahal para ikhwan tadi tahu keadaan Abul Hasan berdasarkan
penjelasan ulama. Cukuplah bagi mereka bahwasanya Alloh menyelamatkan
mereka dan menjaga mereka dari fitnah ini, dan kalian kalian berdua dan orang-
orang yang bersama kalian berdua- justru terbalik.
:
: .
. . .

- .
Dan di antara keanehannya juga dalam fitnah ini adalah: salah seorang sahabat
Abdulloh mari yang wajahnya terbakar api fitnah Abul Hasan yang bernama Nabil
Al Quaithiy, mencabut lembaran bayan para ulama yang berisi pemboikotan
terhadap Abul Hasan. Si Nabil ini merupakan salah satu orang dekat Abdulloh
Mari, satu sama lain saling menyanjung. Si Abdulloh memperkenalkan Si Nabil dan
mempercayainya, dan berkata: Kita mempercayainya untuk dakwah, dan
mempersilakannya untuk berbicara di masjid-masjid kita. Orang ini terpercaya di
sisi Abdulloh Mari. Dulunya si Nabil ini adalah salah satu tokoh besar pembela
Abdulloh Al Ahdal (fitnahnya sebelum fitnah Abul Hasan Al Mishriy). Demikian
pula salah seorang pengikut Abul Hasan mencabut lembaran Asy Syaikh Robi
roahulloh- yang berisi fatwa pemboikotan terhadap Abul Hasan Al Mishriy. Tapi
ketika orang-orang mengabari Abdulloh Mar'i tentang perbuatan orang
kepercayaannya dan yang lainnya dia tidak memerah wajahnya, tapi dia justru
dengan keras mengingkari ikhwan yang menempelkan lembaran-lembaran tadi.
: - -
:
)( .)( : )( :
.

122
.

Sisi kedua: bahwasanya Abdulloh Mar'i terlambat sekali dalam memulai untuk
berbicara tentang Abul Hasan Al Mishriy. Ketika dia mulai berbicara tentang orang
itu dengan penjelasan yang tidak begitu terang-, mulailah para fanatis yang
berjatuhan di fitnah Abul Hasan Al Mishriy mengingkarinya sampai-sampai mereka
berkata: Seret dia di lantai. Mereka menelponnya, ada yang bilang: pendusta,
ada yang bilang: Anjing, ada yang bilang: Pencuri. Dulu dia tak bisa melewati
sebagian jalan-jalan dikarenakan banyaknya pengingkaran orang-orang,
sebagaimana berita dari Akhunal fadhil Abu Muhammad Ba Roidiy Al Amudiy
roahulloh-. Berarti para pengikut Abul Hasan itu dulunya percaya bahwasanya
Abdulloh Mar'i itu ada di barisan mereka, dengan dalil dia itu memberi mereka
kesempatan dan tidak mengingkari mereka. Dan yang lebih menguatkan lagi adalah
kerasnya pengingkaran mereka terhadapnya, dan hal itu tidaklah terjadi kecuali
karena ada perkara yang besar sekali, dan hubungan yang erat di antara mereka.
Jika tidak demikian, maka apa faidah dari pengingkaran mereka tadi dan cercaan
mereka yang keras tadi padanya?
: .


:



:
.
( :
. : .)
.
. .
Sisi ketiga: dan ini lebih berat dan pahit. Akh yang utama Abu Ubaidah
Muhammad As Sumahiy hafizhohullohu wa roah- menuliskan surat padaku
sebagai berikut:
:
Ketika terjadi fitnah Abul Hasan Al Mishriy aku punya hubungan surat-menyurat
dengan Asy Syaikh Robi hafizhohulloh- di seputar kasus tersebut. Lalu datanglah
faks dari Asy Syaikh Robi yang berisi tahdzir terhadap Abul Hasan dan agar
jangan menghadiri durus dan ceramahnya. Maka kamipun menyebarkan faks
tersebut. Ternyata para pengikut Abul Hasan dan orang yang tertipu dengannya

123
dalam fitnah tadi kemudian menyerang kami, mentahdzir orang dari kami dan
melarang orang duduk-duduk dengan kami. Lalu kami pergi ke Syihr mengunjungi
Abdulloh Mar'i agar dia mau menasihati para ikhwah untuk tegar di atas kebenaran
yang telah mereka ketahui. Kami sampai ke tempatnya jam setengah delapan pagi.
Aku disertai Fahd bin Syithob, Adil Ba Laqih
(1)
, Hasan Ba Sholih, Majid Ba Rosyid
dan para pemuda yang lain. Teman-teman Abdulloh Mar'i mengabari bahwasanya
Akh Muhammad As Sumahiy dan sekelompok pemuda ingin mengunjungi Anda.
Lalu mereka membuka majelis. Kemudia Abdulloh Mar'i keluar menemui kami.
Mulailah kami berbicara seputar fitnah ini, dan kukabari dirinya tentang faks dari
Asy Syaikh Robi. Maka Abdulloh Mar'i berkata: Dalam fitnah ini mereka ingin
menjatuhkan Abul Hasan, padahal Abul Hasan itu gunung.
(2)
Maka aku
menjawab: Jika Alloh menghendakinya jatuh, Alloh akan menakdirkannya, maka
dia ataupun yang lain akan jatuh. Lalu kami berbicara seputar kesalahan-kesalahan
Abul Hasan. Abdulloh Mar'i mengabari kami bahwasanya pada malam sebelumnya
Mitsaq Al Adniy ada si sampingnya.
Kemudian kamipun keluar, dan kukatakan pada para teman bahwasanya
ucapan Abdulloh Mar'i ini kita carikan kemungkinan-kemungkinan baiknya. Inilah
yang berlangsung di majelis tadi.
:
.
.
Aku (Asy Syaikh Muhammad Al 'Amudiy hafizhohulloh-) berkomentar: perkara
ini tidak membutuhkan penjabaran karena penunjukannya telah jelas, bahwasanya
orang itu (Abdulloh Mar'i ) thoriqohnya adalah Hasaniy, tapi dia tersembunyi di
tengah-tengah barisan Ahlussunnah. Dia telah memberikan pelayanan yang besar
buat Abul Hasan Al Mishriy, menjadikan Syihr sebagai hidangan siap santap
buatnya. Hanya saja dia itu bergaya diam untuk melihat siapakah yang akan
menang dalam fitnah ini. Jika kemenangan itu diraih Ahlussunnah, maka dia telah
berlindung dengan sikap diamnya. Tapi jika kemenangan di tangan Abul Hasan Al
Mishriy maka diapun akan menyeringaikan taring dan menampakkan cakar-
cakarnya.
.


.

(1)
Demikianlah lafazhnya di Zajrul Awi/3/hal. 33. Adapun Abu Umar Ahmad Al Hadhromiy
hafizhohulloh- berkata: yang benar adalah Adil Ba Faqih. Wallohu alam.
(2)
Asy Syaikh Muhammad Al 'Amudiy hafizhohulloh- berkomentar: saudara dia Abdurrohman
Mari si ular belang juga berkata semacam ini.

124
Jika engkau keheranan, maka yang lebih mengherankan lagi adalah pengingkaran si
Abdulloh terhadap para ikhwah dari Hami, cercaannya pada mereka, dan
pembeberannya nama-nama mereka di depan umum, dan tuduhannya terhadap
mereka dengan kebatilan dan kemungkaran. Apa pendorongnya untuk membikin
pengingkaran dan cercaan pada mereka? Bukankah cukup baginya untuk bersyukur
pada mereka, memuji dan menyanjung mereka karena diselamatkan Alloh dari
fitnah ini? Bukankah ini yang wajib bagi dirinya kepada mereka? Akan tetapi
rahasianya adalah wallohu alam- si Abdulloh ini marah dengan kekokohan
mereka dan tidak terperosoknya mereka ke dalam fitnah ini sebagaimana
terperosoknya mayoritas orang-orang Syihr, terutama para sahabat dan kepercayaan
si Abdulloh. Jika tidak demikian, apa penafsiranmu wahai saudaraku yang mulia-
terhadap pengingkaran keras si Abdulloh ini? (selesai dari kitab Zajrul Awi/3/hal.
28-34/ Asy Syaikh Muhammad Al 'Amudiy hafizhohulloh-).
Kukatakan waffaqoniyallohu-: dengan penjelasan ini jelaslah bahwasanya
Abdulloh Mar'i itu dulunya adalah Hasaniy yang menyamar, kemudian dirinya di
akhir-akhir perseteruan fitnah ketika Abul Hasan Al Mishriy hampir tumbang
mulailah dirinya menampakkan kritikan pada Abul Hasan. Syaikhuna Yahya Al
Hajuriy hafizhohulloh- berkata:

Dulu saudara kita Abdulloh Mar'i itu bersama Abul Hasan, lalu dia rujuk
kembali. (kurang lebih demikian ucapan beliau).
Ternyata seiring dengan pergantian siang dan malam Alloh taala
menampakkan kekeruhan yang tersembunyi di dalam hatinya. Tampaklah
pemikiran Hasaniyyah-hizbiyyah yang tetap ada di dalam hatinya. Maka tepat
sekali ucapan Asy Syaikh Muhammad Al 'Amudiy hafizhohulloh-: Hanya saja
dia itu bergaya diam untuk melihat siapakah yang akan menang dalam fitnah ini.
Jika kemenangan itu diraih Ahlussunnah, maka dia telah berlindung dengan sikap
diamnya. Tapi jika kemenangan di tangan Abul Hasan Al Mishriy maka diapun
akan menyeringaikan taring dan menampakkan cakar-cakarnya.
Dari penuturan di atas kita bisa mengambil beberapa poin kebatilan
Abdulloh Mar'i dalam kasus Abul Hasan Al Mishriy sebagai berikut:
1- Abdulloh Mar'i tidak menerangkan pada umat kebatilan Abul Hasan pada saat
umat sangat membutuhkan penjelasannya. Tapi sekian tahun setelah fitnah selesai
dan terdengar kabar bahwasanya dirinya itu dulunya adalah Hasaniy buru-buru dia
mengaku-aku telah tahu kebatilan Abul Hasan Al Mishriy dan telah berbicara
sebelum yang lain-lain bicara. Abdulloh Mar'i telah berkhianat dan menipu umat.
Asy Syaikh Robi bin Hadi Al Madkholiy hafizhohulloh- berkata:
. ( " " / 28 - 29 ) .
Karena jika seseorang itu diam dari orang yang berhak untuk di-jarh dan ditahdzir,
maka sungguh dia itu adalah pengkhianat dan penipu terhadap agama Alloh dan
Muslimin. (Al Mahajjatul baidho/hal. 28-29)

125
Penipuan dan pengkhianatan merupakan salah satu ciri hizbiyyah, di
antaranya: Ikhwanul Muslimin. Asy Syaikh Abu Ibrohim bin Sulthon Al Adnaniy
hafizhohulloh- berkata pada Al Ikhwanul Muslimin yang menyembunyikan
kebatilan jamaah-jamaah:
.
Jika kalian mengetahui hal itu merupakan pengkhianatan besar dan penipuan
besar. Tidak boleh bagi kalian menyembunyikannya dari para pemuda umat ini
pada khususnya, dan dari manusia pada umumnya. (Al Quthbiyyah Hiyal
Fitnah/hal. 56).
Asy Syaikh Robi' -hafizhahulloh- berkata tentang Quthbiyyiin dan Ikhwaniyyin:
...
"Dakwah mereka berdiri di atas penipuan dan talbis terhadap anak baru yang
masih bodoh." ("Syarh Ushulis Sunnah Imam Ahmad" /hal. )
Asy Syaikh Ahmad An Najmi rohimahulloh berkata:

"Seluruh dakwah hizbiyyah dibangun di atas takattum (menyembunyikan suatu
rahasia), pengkhianatan, makar, kecurangan, dan talbis." ("Ar Roddul Muhabbir"
hal. 124).
2- Abdulloh Mar'i melarang penyebaran fatwa ulama yang berisi tahdzir terhadap
Abul Hasan Al Mishriy. Demikian pula para hizbiyyun berusaha agar al haq yang
menyelisihi hawa nafsunya tidak tersebar. Asy Syaikh Ahmad An Najmiy
rohimahulloh- berkata tentang Ikhwanul Muslimin:
( . " " / 254 ) .
Upaya mereka untuk membungkam setiap orang yang berbicara tentang hizbiyyah
mereka dan menerangkan kejelekan dan kekurangan mereka, dan menjadikannya
sebagai musuh bagi mereka. (Ar Roddusy Syari"/hal. 254).
Beliau rohimahulloh juga berkata pada Syaikh Ibnu Jibrin rohimahulloh yang
melarang beliau mencetak kitab bantahan terhadap hizbiyyin:
.
. :
"Aku mendengar bahwasanya sebagian hizbiyyin membeli sejumlah besar dari
kitab-kitab yang menyebutkan kejelekan mereka, lalu mereka membakarnya. Maka
apa beda antara orang yang membakar kitab setelah dicetak dengan orang yang
berkata,"Jangan dicetak!"" ("Roddul Jawab" hal. 62-63)
3- Abdulloh Mar'i melakukan beberapa penyamaran (tasattur). Demikianlah
hizbiyyun.
Imam Al Wadiy rohimahulloh berkata:

Sesungguhnya seseorang itu bersembunyi dan tidak menampakkan
kehizbiyyahannya kecuali setelah menguat otot-ototnya dan menyangka bahwanya

126
ucapan manusia sudah tidak lagi berpengaruh terhadap dirinya. (Ghorotul
Asyrithoh 2 hal. 14).
4- Abdulloh Mar'i merasa sakit dan sedih jika para hizbiyyin tadi diserang
Ahlussunnah, maka diapun bangkit membela mereka.
Syaikh Robi' -hafidhahulloh- berkomentar terhadap seorang hizbiy:
" "
"Maka penulis kitab "Al Mi'yar" dan hizbnya berusaha untuk membunuh manhaj
salafy dengan cara melumerkannya, dan meremehkan nilainya, dan mencoreng para
pembawanya, dan dengan pembelaan mereka terhadap ahlil bida', dan membalas
dendam untuk mereka." ("Bayan Fasadil Mi'yar" hal. 82).
Al Imam Al Wadiiy rohimahulloh- berkata tentang majalah Al Furqon milik
Sururiyyun:
)( )( :
.
( " " / 155 ) .
Dia menangis karena aku berbicara tentang Abdurrohim Ath Thohhan, dan kenapa
aku berbicara tentang Rosyid Al Ghonusiy, tentang Abdurrohman Abdul Kholiq,
tantang Hasan At Turobiy. Dan sungguh aku memuji Alloh karena Dia memberikan
taufiq pada Ahlussunnah untuk menjauhi hizbiyyah dan para hizbiyyin. (Tuhfatul
Mujib/hal. 155).
5- Abdulloh Mar'i mencaci dan mencerca Ahlussunnah yang mengkritik
hizbiyyin dengan benar. Demikianlah seorang hizbiy. Asy Syaikh Sholih As
Suhaimi -hafizhahulloh- berkata:



"Dan mereka melancarkan serangan gencar kepada orang yang menerangkan
kesalahan-kesalahan jama'ah-jama'ah itu, atau yang mengkritiknya, atau yang
membantahnya, atau yang menyerunya untuk membersihkan manhajnya dari
penyelisihan-penyelisihan yang tidak cocok dengan manhaj Ahlussunnah Wal
Jama'ah." (lihat "An Nashrul 'Aziz" /Syaikh Robi' -hafizhahulloh-/hal. 48)
6- Abdulloh Mar'i tak menerima nasihat yang sesuai dengan dalil syariat.
Demikianlah hizbiyyun. Al Imam Ibnu Baththoh rohimahulloh berkata:

"Kekaguman pengagung ro'yu dengan ro'yunya untuk memisahkan diri dan
memecah-belah tanpa mau menerima kebenaran, inilah sebab lahirnya kelompok-
kelompok (hizb-hizb)." ("Al Ibanatul Kubro"/ 1/hal. 26-27)
Asy Syaikh Robi Al Madkholiy hafizhohulloh- berkata:

( . " " / 87 - 88 .)

127
Dan sekarang para mubtadi itu wahai saudara, sama saja dia itu pemberontak
ataupun dari jenis manapun, dia tak mau kembali kepada kebenaran. Engkau
tegakkan padanya belasan dalil tentang suatu kasus, dia membawakan ucapan
ulama dan tidak mau kembali pada kebenaran. Ini adalah sifat pengekor hawa
nafsu. (Syarhu Ushulis Sunnah/hal. 87-88).
7- Abdulloh Mar'i diam terhadap kemungkaran hizbiyyin.
Ibnu 'Aqil -rahimahulloh- berkata:


"Maka manakah aroma iman darimu sementara engkau tidak berubah wajahmu
lebih-lebih lagi untuk mau berbicara- dalam keadaan penyelisihan terhadap Alloh
subhanahu wa ta'ala dilakukan oleh keluarga dan tetangga. Terus-menerus
kedurhakaan pada Alloh azza wa jalla dan kekufuran bertambah, garis batas syariat
dilanggar, tapi tiada pengingkaran dan tidak ada orang yang mengingkari, dan
tiada pula perpisahan diri dari orang yang melanggar syariat. Dan ini adalah
puncak dari kebekuan hati dan diamnya jiwa. Dan tiada lagi tersisa iman dari dalam
hati, karena kecemburuan adalah alamat cinta dan keyakinan yang paling kecil."
("Al Adabusy Syar'iyyah" 1/hal. 178)
Demikianlah hizbiyyun. Asy Syaikh Sholih As Suhaimiy hafizhohulloh- berkata:
.
Jamaah-jamaah hizbiyyah ini memandang bahwasanya amar maruf dan nahi
mungkar akan memecah belah barisan umat, dan merobek tatanannya. (Manhajus
Salaf fil Aqidah/hal. 54-55).
8- Abdulloh Mar'i melakukan takhdzil (tak mau membantu pada saat dibutuhkan)
terhadap Ahlussunnah. Demikianlah gaya munafiq dan hizbiy.
Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh- berkata:



.
Cukuplah bagi seorang hamba kebutaan dan ketertinggalan manakala dia melihat
para tentara iman dan pasukan sunnah dan Quran telah memakai pakaian perang
mereka, mempersiapkan perbekalan mereka, menempati barisan mereka, dan
berdiri di posisi-posisi mereka, tungku pertempuran telah memanas, roda
penggilingan telah berputar, peperangan semakin dahsyat, para sejawat saling
berteriak: Ayo turun, ayo turun! tapi orang ini masih saja ada di tempat
persembunyian, di lobang-lobang, dan bersembunyi di tempat masuk bersama para
perempuan yang tertinggal. Jika takdir membantunya dan dia bertekad untuk

128
keluar, duduklah dia di atas ketinggian bersama para penonton, sambil melihat
siapakah yang menang, agar dia bisa bergabung dengan mereka. Lalu diapun
mendatangi mereka sambil bersumpah dengan nama Alloh dengan sumpah yang
paling berat dan berkata: Sungguh aku ini bersama kalian, dan aku berangan-angan
bahwasanya kalian itulah yang menang. (Al Qoshidatun Nuniyyah/Ibnul
Qoyyim/1/hal. 8/syaroh Asy Syaikh Muhammad Kholil Harros).
Asy Syaikh Robi' -hafizhahulloh- membantah Abdurrohman Abdul Kholiq dan
berkata:


"Ahlussunnah tidak mengambil suatu manhaj tersendiri, hanya saja mereka
mendapati suatu manhaj yang terang dari para pemimpin umat ini di dalam
menghantam kebid'ahan dan ahlul bida', maka mereka berjalan di atas manhaj tadi.
Dan ternyata Abdurrohman menyendiri dari mereka, lalu memerangi orang-orang
yang menempuh manhaj tadi dengan jenis perang takhdziliyyah (tak mau
menolong) yang paling keras." ("Jama'ah Wahidah" hal. 10)
9- Abdulloh Mar'i memuji hizbiyyin. Demikianlah salah satu ciri hizbiyyin.
Samahatusy Syaikh Ibnu Baaz rohimahulloh telah ditanya di dalam syaroh beliau
terhadap kitab "Fadhlul Islam" yang teksnya sebagai berikut: "Orang yang memuji
ahlul bida' dan menyanjung mereka, apakah orang itu mengambil hukum mereka
juga? Maka beliau rohimahulloh menjawab:

"Iya. Tidak ada di dalamnya keraguan. Orang yang memuji ahlul bida' dan
menyanjung mereka, dia itu adalah penyeru manusia kepada mereka. Dia itu
menyeru manusia kepada mereka. Orang ini termasuk dari du'at mereka. Kita
mohon pada Alloh keselamatan." ("Ijma'ul Ulama 'alal Hajri wat Tahdzir Min Ahlil
Ahwa" karya Kholid Azh Zhofairi hal. 137)
Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi rohimahulloh- berkata pada Ibrohim bin
Hasan yang banyak membela hizbiyyin tapi marah saat digelari hizbiy:

.
Sesungguhnya pujianmu pada mereka, udzur yang kamu berikan pada mereka,
pengingkaranmu pada orang yang menerangkan penyelisihan mereka terhadap
syariat Islamiyah pada umumnya, dan manhaj salafiy pada khususnya, dan
cercaanmu terhadapnya termasuk dalil terbesar bahwasanya kamu adalah hizbiy
besar. (Dahrul Hajmah/hal. 19).


129

Bab Dua: Keahlian Mengambil Uang Orang Lain Dengan Batil
Atas Nama Dakwah

Semangat Abdulloh Mar'i untuk mengumpulkan harta atas nama dakwah
sudah terkenal, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy
hafizhohulloh- di berbagai durus beliau. Demikian pula Syaikhuna Abu Bilal Kholid
Al Hadhromiy hafizhohulloh- di risalah beliau Naqdhur Rodd hal. 11-12.
Syaikhuna Abu Bilal Kholid Al Hadhromiy hafizhohulloh- berkata pada Abdulloh
Mar'i :

:

.
Apa yang kalian sebutkan bahwasanya kalian berdiri bersama saudara-saudara kita
orang orang asing ini, kami tidak melihat hasil yang semestinya, sementara sebagian
dari saudara-saudara kita orang orang asing telah dikeluarkan dari Syihr, sebagian
lagi dimasukkan penjara di Shona dikarenakan kalian tidak memberikan pada
mereka surat idzin tinggal sebagaimana yang kalian janjikan. Bahkan salah satu dari
saudara-saudara kita orang-orang asing mengeluhkan beberapa perkara yang
mereka lihat. Dia berkata: Mereka (anak buah Abdulloh Mar'i) mengambil dari
setiap orang dari kami uang sebanyak tiga ratus dolar di muka untuk SPP enam
bulan, tapi sebagian dari kami tidak belajar di mahad (Mahadul Hasub Wal Lughot
yang ada di bawah pengawasan Abdulloh Mar'i) kecuali sekitar dua bulan saja,
sisanya (empat bulan) kami belajar di Darul Hadits (Darul Hadits Syihr yang
dipimpin Abdulloh Mar'i) dan kami tidak pergi ke mahad karena pemerintah
melarang pelajaran bahasa Arab di situ karena tiada surat idzin. Walaupun
demikian mereka (anak buah Abdulloh) tidak mengembalikan sisa uang kami.

!
- - . . :

.
Dan sebagaimana diketahui bersama dari penjabaran terdahulu- sebagaimana
perkataan dewan Mahad bahwasanya Mahadul Hasub Wal Lughot tidak punya
kaitan dengan Darul Hadits di Syihr. Lalu apakah yang membolehkan mereka

130
mengambil uang saudara-saudara kita orang-orang asing? Mana pelaksanaan dari
ucapan mereka berdiri bersama saudara-saudara kita orang-orang asing? kami
ingatkan dewan Mahad dengan hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu riwayat
Muslim: Bahwasanya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bertanya: Tahukah
kalian siapa itu orang yang bangkrut? Mereka menjawab,Orang yang bangkrut di
kalangan kami adalah orang yang tak punya uang ataupun barang. Maka beliau
bersabda: Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang
datang pada hari kiamat dengan pahala sholat, puasa, dan zakat. Tapi dia datang
dalam keadaan telah mencaci si ini, menuduh si itu, makan harta orang ini,
menumpahkan darah orang itu, dan memukul si dia. Maka si ini diberi
kebaikannya, si itu diberi kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum dia
membayar seluruh kewajibannya, diambillah dari kejelekan mereka lalu dipikulkan
ke punggungnya, lalu dilemparkanlah dirinya ke dalam neraka. (HR. Muslim).
(selesai penukilan dari Naqdhur Rodd/hal. 15).
Di antara kegiatan Abdulloh Mar'i dan anak buahnya adalah mengemis atas
nama dakwah, sebagimana penjabaran dari putra Syihr: Akhuna Abu Ibrohim
Muhammad bin Faroj Ba Roidiy Al Amudiy Asy Syihriy Al Hadhromiy
hafizhohulloh- di buku beliau At Tajawwul Fi Badhi Ma Inda Abdillah bin Mari
Minat Tasawwul, sebagai berikut:
. .
Abdulloh Mar'i memang ahli dalam mengemis, dan setahuku dia menempuh
beberapa metode yang tidak ditempuh oleh orang-orang Jamiyyat di Syihr (hal. 2).

.) ( .

(

. )
!
Di antaranya adalah: dia menyemangati para nelayan untuk berlayar pada hari
Jumat, dan uang yang nanti diperoleh dari hasil tadi digunakan untuk membayar
utang yang diambil Abdulloh Mar'i untuk membiayai dauroh tersebut (sebanyak
limaratus ribu real Yamaniy). Ini merupakan pemikiran yang belum dikenal di
pesisir Hadhromaut kecuali setelah datangnya Abdulloh Mar'i ke Syihr. Dan
kegiatan ini telah berlangsung dalam tahun-tahun yang panjang sampai-sampai
orang-orangpun merasa bosan dan lari dari Abdulloh Mar'i dan dakwahnya,
kecuali orang-orang yang menyerukan slogan tadi atau orang yang tertipu
dengannya. Mereka telah memperoleh uang yang banyak dengan slogan tadi
sehingga membikin mereka terkagum-kagum dan menilainya manis. Lalu
merekapun mengulang-ulang penyebutan: Dakwah punya tanggungan Limaratus
ribu. Seakan-akan uang yang mereka hasilkan dari berlayar tadi tidak berpengaruh
sama sekali terhadap utang tadi!

131
Catatan dari Abu Fairuz waffaqoniyallohu-: Muawiyah -rodhiyallohu 'anhu-
berkata: Aku mendengar Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam- bersabda:

.
Aku ini hanyalah penjaga harta. Barangsiapa aku beri harta tadi dengan senang
hati, maka dia akan diberkahi dalam harta tadi. Tapi barangsiapa aku beri karena
dirinya meminta dan rakus, maka dia itu bagaikan orang yang makan tapi tidak
kenyang. (HR. Muslim (1047)).
Lalu Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy hafizhohulloh- melanjutkan:

!
Dan berlanjutlah pelayaran tadi, yang mana seluruh uang yang dihasilkannya
menjadi milik dakwah, sampai datang dauroh yang kedua. Dan selalu saja
Limaratus ribu yang diambil dengan utang untuk dauroh pertama itu ada,
sementara pelayaran para nelayan selama setahun penuh tidak berpengaruh pada
utang tadi! (hal. 4).
Catatan Abu Fairuz waffaqoniyallohu-: Anas bin Malik -rodhiyallohu 'anhu-
berkata: Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam- bersabda:

.
Andaikata anak Adam memiliki dua lembah uang pastilah dia mencari lembah
yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi rongga anak Adam selain tanah.
Dan Alloh menerima tobat dari orang yang bertobat. (HR. Muslim (1048)).
Hakim bin Hizam rodhiyallohu 'anhu berkata:


"Aku meminta pada Rosululloh -shalallohu 'alaihi wa sallam- maka beliau
memberiku, lalu aku minta lagi padanya, maka beliau memberiku, lalu beliau
bersabda padaku: "Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau dan manis.
Barangsiapa mengambilnya dengan kedermawanan jiwa, dia akan diberi
keberkahan padanya. Tapi barangsiapa mengambilnya dengan keinginan dan
harapan jiwa, maka tak akan diberkahi untuknya. Seperti orang yang makan tapi
tidak kenyang. Dan tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah." Maka
aku berkata,"Wahai Rosululloh, Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran,
saya tak akan lagi mengurangi harta orang setelah Anda dengan permintaan
sedikitpun, sampai saya meninggalkan dunia. (HSR Al Bukhory (2750))
Imam Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin -rahimahulloh- berkata tentang
sabda Nabi -shalallohu 'alaihi wa sallam-: (Tapi barangsiapa mengambilnya dengan
keinginan dan harapan jiwa, maka tak akan diberkahi untuknya.) "Maka
bagaimana dengan orang yang mengambilnya dengan cara meminta? Tentunya

132
lebih jauh dan lebih jauh lagi dari keberkahan." ("Syarh Riyadhush Sholihin" di
bawah no. 524).
Lalu Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy hafizhohulloh- melanjutkan:
!! :
( )
Ketika para nelayan mengingkari mereka dengan perkataan: Sampai kapan
pelayaran ini sementara utang tidak terlunasi?!! anak buah Abdulloh Mar'i tidak
mempedulikannya. Hanya saja setelah sekian lama merekapun tidak lagi
menyebutkan pembatasan utang sebanyak limaratus ribu. Mereka cuma berkata:
Utang dakwah tanpa ada pembatasan dengan jumlah tertentu sampai sekarang
ini. (hal. 4-5).
Catatan Abu Fairuz waffaqoniyallohu-: Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu berkata:
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:

.
Barangsiapa meminta harta orang lain dalam rangka memperbanyak harta, maka
dia itu sebenarnya hanyalah meminta bara api. Maka silakan menyedikitkan atau
memperbanyak. (HR. Al Bukhoriy (2047) dan Muslim (1041)).
Qobishoh bin Mukhoriq Al Hilaliy -rodhiyallohu 'anhu- berkata:

- -

.
Aku pernah memikul suatu tanggungan, maka kudatangi Rosululloh shollallohu
'alaihi wasallam- untuk meminta beliau membantu melunasinya. Maka beliau
bersabda: Tinggallah di sini sampai datang shodaqoh, maka kami akan
memerintahkan mereka untuk memberikannya padamu. Lalu beliau bersabda:
Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk
salah satu dari tiga orang saja: Orang yang memikul suatu tanggungan, halal
baginya meminta sampai bisa membayarnya, lalu dia berhenti dari minta-minta.
Dan (yang kedua) orang yang tertimpa malapetaka yang menghabiskan hartanya,
halal baginya minta-minta sampai bisa tegak hidupnya. Dan (yang ketiga) orang
yang tertimpa kemiskinan sampai ada tiga orang berakal dari kaumnya berkata:
kemiskinan telah menimpa si Fulan. Maka halal baginya minta-minta sampai
bisa tegak hidupnya. Adapun minta-minta yang selain tiga jenis itu wahai
Qobishoh- dia itu adalah keharoman, pelakunya memakannya dengan harom.
(HR. Muslim (1044)).
Lalu Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy hafizhohulloh- melanjutkan:
- -

133
:
.
Dan Abdulloh Mar'i mengumumkan akan adanya ceramah di desa Miyanul
Masajidah- desa di Syihr wilayah atas-, ceramah tersebut direkam dalam kaset, tapi
kemudian mereka menyembunyikannya sejak hari pertama. Ketika sebagian orang
menanyakannya mereka menjawab: Asy Syaikh Abdulloh memenuhi kaset tadi
dengan tasawwul (meminta-minta)
(1)
. Setelah selang waktu dari ceramah tadi
pergilah Akh Abdulloh ke desa ini untuk membeli tanah yang akan menjadi markiz
miliknya. Dia meminta para pemilik tanah untuk untuk membantu dakwah
sehingga merekapun menjual tanah tadi dengan harga murah.
Catatan Abu Fairuz waffaqoniyallohu-: Anas bin Malik rodhiyallohu anhu berkata:
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:

.
Anak Adam menjadi renta tapi ada dua kondisi dirinya yang menjadi muda:
semangat mencari harta, dan semangat mendapatkan umur panjang. (HR. Muslim
(1047)).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahulloh- berkata:


( " " - ( 1 / 39 ))
"Maka nilai seorang hamba yang paling agung dan paling terhormat di sisi para
makhluk adalah jika dia tidak butuh sama sekali pada mereka. Jika engkau berbuat
baik pada mereka bersamaan dengan ketidakbutuhan kepada mereka, engkau
menjadi makhluk paling agung di sisi mereka. Dan kapan saja engkau butuh kepada
mereka meskipun seteguk air- berkuranglah nilaimu di sisi mereka sesuai dengan
kadar kebutuhanmu pada mereka. Dan ini adalah bagian dari hikmah Alloh dan
Rohmat-Nya agar ketundukan itu hanya diberikan untuk Alloh, dan tiada
sesuatupun yang disekutukan dengan-Nya dst ("Majmu'ul Fatawa" 1/39).
Sungguh Abdulloh Mar'i telah menghinakan dirinya, lalu sekaligus
menghinakan dakwah Salafiyyah dengan kegemarannya untuk mengemis. Dakwah
ini milik Alloh taala. Alloh telah memerintahkan kita untuk hanya meminta pada-
Nya saja, memerintahkan kita menjaga kehormatan diri dan agama-Nya, melarang
kita untuk mengemis. Tapi Abdulloh Mar'i dan para tokoh Jamiyyat selalu saja di
hadapan masyarakat menggambarkan dakwah Salafiyyah Islamiyyah berada dalam
posisi lemah, hina, dan sangat butuh uluran tangan.
Lalu Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy hafizhohulloh- melanjutkan:

(1)
Catatan Abu Fairuz waffaqoniyallohu-: anak buah Abdulloh Mar'i telah mahir mengemis dan
terbiasa dengan ajaran dari syaikhnya tersebut. Tapi entah seperti apa isi ceramah tadi sehingga
mereka malu untuk menyebarkan kasetnya.

134
: .
( . ! ! " " 5 )
Ketika wakil si Mari menyemangati mereka para nelayan- untuk berlayar bersama
pada hari itu, hanya dua orang saja yang menyetujui, sementara sisanya menolak.
Maka berkatalah sang wakil tadi di hadapan orang-orang: Di manakah kecintaan
mereka pada dakwah?! Apakah mereka mencintai dakwah?! Salam sejahtera buat
Shufiyyah, salam sejahtera buat hizbiyyah. (hal. 5).
Catatan Abu Fairuz waffaqoniyallohu-: Sahl Ibnul Handholiyyah rodhiyallohu
'anhu berkata:

- -

. -

. -

.
Rosululloh -shalallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Barangsiapa meminta-minta,
dan di sisinya ada sesuatu yang telah mencukupinya, maka dia itu hanyalah sedang
memperbanyak api." dalam riwayat lain: "Dari api Jahannam" Maka mereka
bertanya: "Wahai Rosululloh, apa itu sesuatu yang telah mencukupinya?" dalam
riwayat lain: "Apa itu kekayaan yang dengan tidak diperbolehkan meminta-minta?"
Beliau menjawab,"Sekadar makan siang, atau makan malam." dalam riwayat lain:
"Yang bisa mengenyangkannya sehari semalam." (HR Abu Dawud (5/hal. 177) dan
dishohihkan Al Imam Al Wadi'iy -rahimahulloh-).
- - :

.
.

Salah seorang dari Bani Asad berkata bahwasanya dirinya mendengar Rosululloh -
shalallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Barangsiapa dari kalian meminta-minta,
padahal dirinya memiliki satu uqiyyah atau yang semisal dengannya, maka
sungguh dia telah meminta dengan merengek-rengek. Maka berkatalah orang Bani
Asad ini: Aku sungguh memiliki onta betina yang tentu saja lebih baik daripada
satu uqiyyah. Dan satu uqiyyah adalah empat puluh dirham. (HR. Abu dawud
(5/hal. 175) dan dishohihkan Al Imam Al Wadiiy rohimahulloh-).
Terus-menerus Abdulloh Mar'i dan anak buahnya mengemis dengan
memakai dakwah. Apakah mereka pura-pura lupa dengan dalil-dalil di atas, yang
menunjukkan bahwasanya dakwah seperti itu menyelisihi jalan Rosululloh
shollallohu 'alaihi wasallam-? Anas bin Malik -rodhiyallohu 'anhu- menyebutkan
kisah pembangunan masjid Nabawy:
: . :
.
dan Rosululloh -shollallohu 'alaihi wasallam- memerintahkan untuk
membangun masjid. Maka beliau mengirimkan utusan kepada Bani Najjar seraya

135
berkata: Wahai bani Najjar, kasih aku harga untuk kebun kalian ini. Tapi mereka
berkata,Tidak, demi Alloh kami tidak meminta harganya kecuali kepada Alloh.
(HR. Al Bukhory dan Muslim).
Bahkan Abdulloh Mar'i dan pengikutnya telah menyelisihi jalan dakwah para
Nabi shollallohu 'alaihim wasallam-. Alloh taala berfirman menukil dari nabi Nuh
alaihis salam-:

: [

29 ]
Dan wahai kaumku, aku tidak meminta pada kalian dengan dakwah ini harta.
Tidaklah upahku kecuali tanggungan Alloh. (QS. Hud: 29).
Dan secara khusus mereka tidak minta upah atas dakwah mereka. Alloh
taala berfirman menukil dari nabi Hud alaihis salam-:
: [

51 ]
Wahai kaumku, aku tidak meminta pada kalian dengan dakwah ini upah.
Tidaklah upahku kecuali tanggungan Dzat yang menciptakan aku. Maka apakah
kalian tidak berpikir? (QS. Hud: 51).
Dan Alloh taala memerintahkan Nabi Muhammad -shollallohu 'alaihi
wasallam-:

: [

90 ]
Katakanlah: Aku tidak meminta pada kalian dengan dakwah ini upah. Tidaklah
dakwah ini kecuali peringatan untuk seluruh alam. (QS. Al Anam: 90).
Seakan-akan ciri khas ini tidak minta upah- telah melekat di dalam dakwah
para Nabi dan Rosul, dan menjadi alasan yang mendorong orang-orang berakal
untuk menerimanya. Alloh taala berfirman:

: [

20 21 ]
Dan datanglah seorang pria dari ujung kota itu dengan bergegas seraya berkata:
Wahai kaum, ikutilah para utusan itu. Ikutilah orang yang tidak meminta upah,
dan mereka itu mendapatkan petunjuk. (QS. Yasin: 20-21).
Anak buah Abdulloh Mar'i juga memanfaatkan rasa malu para nelayan untuk
menyumbangkan harta dengan jumlah yang sedikit. Demikian juga yang terjadi di
sekolah anak-anak yang mereka selenggarakan. Lihat secara lengkap dan terperinci
pada hal. 6 risalah At Tajawwul.
Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy hafizhohulloh- menyebutkan:


.
! ( . " " 6 )
Mereka telah menyiarkan di masyarakat pada awal penyelenggaraan sekolah
tersebut (sekolah anak-anak) bahwasanya pendidikan yang dilaksanakan di sekolah
tersebut akan BERSIFAT GRATIS. Ternyata di kemudian hari Abdulloh Mar'i

136
mengumpulkan orang tua anak-anak tadi, menasihati mereka, mengarahkan
mereka, dan kemudian menjelaskan pada mereka tentang kondisi dakwah,
kebutuhannya, dan hutang-hutang yang dipikulnya. Juga menjelaskan bahwasanya
para pengajar butuh gaji. Lalu dia menyodorkan ide pada mereka agar orang yang
mampu hendaknya membayar limaratus real Yamaniy tiap bulan per murid.
Mereka (Abdulloh Mar'i dan pengikutnya) memanfaatkan rasa malu sebagian orang
tua, karena sebagian dari mereka merasa malu untuk menyodorkan limaratus real
per bulan, makanya mereka menyodorkan lima ribu per bulan! Sebagian dari
mereka membayar empat ribu per bulan atas nama anaknya. (hal. 6).
Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy hafizhohulloh- menyebutkan:


Abdulloh bin Mar'i telah meminta kepala Jamiyyah Shoyyadil Khour (jamiyyah
nelayan yang ada di Khour) di Syihr agar Jamiyyah ini ikut ambil bagian
menyumbang pembangunan atap yang tinggi dari masjid At Taqwa, maka sang
kepala memberinya seratus ribu real.
Catatan Abu Fairuz waffaqoniyallohu-: telah lewat penyebutan dalil yang
menunjukkan bahwasanya perbuatan ini meskipun banyak yang melakukannya-
termasuk penyelisihan terhadap jalan dakwah Rosululloh saw. Al Imam Al Wadiiy
rohimahulloh berkata:

:

. : :

.
( . " " 217 )
Demikian pula dalam membangun masjid. Tidak boleh menghinakan diri,
menghinakan ilmu dan dakwah demi membangun masjid. Rosul shollallohu 'alaihi
wa alihi wasallam- ketika ingin membangun masjid bersabda: Wahai bani Najjar,
kasih aku harga untuk kebun kalian ini. Yaitu: beliau mau membangun masjid di
situ. Tapi mereka berkata,Tidak, justru kebun ini untuk Alloh dan Rosul-Nya.
Seseorang itu mungkin saja untuk membangun masjid dari tanah liat dan bata
dengan dana sekitar seratus ribu real Yamaniy. Dan waktu yang dipakainya untuk
meminta-minta bisa digunakannya untuk memakmurkan masjid, beramal di situ,
dan mengajak orang untuk bekerja dengan tangan-tangan mereka. Harta yang di
situ ada penghinaan terhadap ilmu dan dakwah ilalloh, atau dakwah kepada
hizbiyyah, atau menggunakan masjid-masjid untuk mengemis, maka kami tidak
membutuhkannya. (Dzammul Masalah/hal. 217).
Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy hafizhohulloh- menyebutkan:
.

137
( " " 6 - 7 )
Setelah mereka menerima uang tadi yang maunya dipakai untuk membangun atap
bangunan tinggi masjid, ternyata sampai saat ini (sekitar tahun 1428 H) mereka
tidak juga melaksanakan pembangunannya sedikitpun padahal sudah lewat hampir
tiga tahun. (hal. 6-7).
Catatan Abu Fairuz waffaqoniyallohu-: kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Semoga mereka tidak sampai terkena hadits Khoulah Al Anshoriyyah -rodhiyallohu
'anha-: Aku mendengar Nabi shollallohu 'alaihi wasallam- bersabda:


Sesungguhnya ada orang-orang yang mempergunakan harta Alloh tanpa alasan
yang haq, maka mereka berhak mendapatkan neraka pada hari kiamat. (HR. Al
Bukhoriy (3118)).
Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy hafizhohulloh- menyebutkan:
.
Mereka memanfaatkan rasa malu sebagian anggota jamiyyah Shoyyadil Khour di
Syihr dalam kasus pencatatan nama orang-orang yang mau menyumbang Darul
Hadits di Syihr dan memanfaatkan rasa takut mereka untuk dituduh sebagai orang
pelit. (hal. 7).
Catatan Abu Fairuz waffaqoniyallohu-: Mestinya dia dan semisalnya merasa
malu memakai nama besar Al Imam Muqbil Al Wadiiy rohimahulloh- tapi
menyelisihi ajarannya yang syariy-salafiy. Al Imam Al Wadiiy rohimahulloh-
berkata:
: :
: :

( . " " 1 483 )
Bahkan telah sampai padaku beberapa hari yang lalu uang sebanyak lima belas real
Suudiy. Kutanyakan: Ini dari mana? mereka menjawab,Dari sekelompok buruh
yang bekerja, lalu mengharuskan setiap orang Dari mereka untuk mengumpulkan
sumbangan seratus real per bulan. Kukatakan:Sampaikanlah salamku buat
mereka, dan katakan pada mereka: perbuatan seperti ini tidak disyariatkan. Uang ini
telah sampai kemari, tapi lain kali jangan lagi mereka melakukannya. Barangsiapa
dimudahkan punya uang dan berhasrat untuk membantu dakwah silakan
membantu. Adapun yang seperti ini tidaklah dulunya Nabi shollallohu 'alaihi
wasallam- melakukannya. Kami memuji Alloh subhanahu wataala atas apa yang
dipersiapkannya dan dimudahkan-Nya. (Ghorotul Asyrithoh/1/hal. 483).
Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy hafizhohulloh-
menyebutkan perbuatan Abdulloh Mar'i:
( " " 7 )

138
Mendaftar nama para pedagang untuk mengambil dana dari mereka atas nama
dakwah, bahkan para pedagang dari kawasan Teluk. (hal. 7).
Catatan Abu Fairuz waffaqoniyallohu-: Abdulloh bin Umar -rodhiyallohu
'anhuma- berkata: Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam- bersabda:

.
Senantiasa seseorang itu meminta pada orang lain sampai dia datang pada hari
kiamat dalam keadaan di wajahnya tiada potongan daging. (HR. Muslim (2445)).
Imam An Nawawy -rahimahulloh- berkata:

"Maksud dari bab ini dan hadits-haditsnya adalah larangan dari meminta-minta.
Dan para ulama telah bersepakat dalam larangan ini, jika bukan dalam keadaan
darurat. Adapun masalah orang yang mampu untuk bekerja tapi dia meminta-
minta, para sahabat kami Asy Syafi'iyyah- berselisih menjadi dua pendapat. Yang
paling shohih adalah dia itu harom, berdasarkan lahiriyah dari hadits-hadits
tersebut. Dan pendapat yang kedua: halal tapi dibenci, dengan tiga syarat: tidak
sampai dia merendahkan dirinya, tidak berbuat "ilhah" (merengek-rengek) dalam
meminta, dan tidak menyakiti atau mengganggu orang yang dimintai. Apabila salah
satu dari syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka dia itu harom secara kesepakatan.
Wallohu a'lam. ("Syarh Shohih Muslim" 3/488).
Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy hafizhohulloh- menyebutkan:


( . " " 7 )
Pada sebagian kesempatan pergilah Abdulloh Mar'i dan Abdulloh Ba Sad ke
sebagian orang yang mengirimkan uang padanya dari para saudagar Teluk. Lalu
keduanya setelah zhuhur berdiri di luar rumah pemilik uang tadi menunggunya,
meskipun harus berdiri di terik matahari. (hal. 7).
Catatan Abu Fairuz waffaqoniyallohu-: Wahb bin Munabbih rohimahulloh-
berkata pada Atho Al Khurosaniy:




Dulu para ulama sebelum kita merasa cukup dengan ilmu mereka dari dunia orang
lain. Dulu mereka tidak menoleh kepada dunia mereka. Makanya ahli dunia

139
mencurahkan dunianya untuk ulama tadi karena berhasrat mendapatkan ilmu
mereka. Sekarang jadilah ulama dari kalangan kita mencurahkan ilmu mereka
kepada ahlu dunia karena berhasrat kepada dunia mereka. Maka jadilah ahlu dunia
telah merasa tidak butuh kepada ilmu mereka karena melihat jeleknya posisinya di
sisi mereka. Maka hindarilah olehmu pintu-pintu para penguasa, karena sungguh
ada fitnah di pintu-pintu mereka, bagaikan tempat mendekamnya onta. Tidaklah
kamu mengambil dunia mereka sedikitpun kecuali mereka akan mengambil
semisalnya dari agamamu. (Asy Syariah/oleh Al Imam Al Ajurriy
rohimahulloh-/no. 70).
Lalu Al Imam Al Ajurriy rohimahulloh- berkata:


Jika dulunya ditakutkan pada para ulama pada zaman itu untuk terfitnah dengan
dunia, maka bagaimana dugaanmu pada zaman kita ini? Wallohul mustaan,
alangkah besarnya fitnah yang menimpa ulama dalam keadaan mereka
melalaikannya.
Catatan Abu Fairuz waffaqoniyallohu-: sesungguhnya fitnah dan kebatilan
itu datang perlahan-lahan. Jika Abdulloh Mar'i sudah siap untuk berdiri di bawah
terik matahari demi uang para saudagar padahal dia masuk dalam jajaran ulama-,
maka bukan mustahil suatu saat keadaannya bisa seperti yang diucapkan Al Imam
Al Wadiiy rohimahulloh- tentang keadaan sebagian hizbiyyin:
..

( . " " 151 )


dan khususnya jika engkau adalah seorang pedagang, maka dia siap untuk
mengambil sorbannya dan menghapus debu yang ada di kedua sandalmu. Atau jika
kamu punya sedikit kekuasaan, atau kamu adalah seorang pemimpin yang diikuti,
maka mereka siap untuk membuntutimu sampai bisa merekrutmu dan
menjaringmu. (Tuhfatul Mujib/hal. 151).
Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy hafizhohulloh- menyebutkan:
( . : " " 7 )
Terkadang Abdulloh Mar'i berutang kepada sebagian pedagang sampai ke batas
tertentu. Manakala tiba saat pembayaran dia berkata pada mereka: Jadikanlah
utangku tadi bagian dari zakatmu. (hal. 7).
Catatan Abu Fairuz waffaqoniyallohu-: bacalah di risalah At Tajawwul
hal. 8 tentang keunikan Abdulloh Mar'i dalam mengemis kaset dan tape recorder
yang baru dan lama di masjid At taqwa, dan juga masjid Abdurrohim di Syihr.
Al Imam Muqbil Al Wadiiy rohimahulloh- berkata:

140
:

(( .))


Ya Alloh, alangkah banyaknya dai besar yang menghapal ayat-ayat yang
mengandung penyemangatan untuk bershodaqoh, dia pindah dari masjid ini ke
masjid itu, membacakan: Dan kebaikan apapun yang kalian lakukan untuk diri
kalian sendiri, kalian akan mendapatkannya di sisi Alloh dengan yang lebih baik
dan lebih besar pahalanya. Dan berbaliklah si miskin ini dari posisi dai kepada
posisi pengemis. Sungguh benar Rosululloh shollallohu 'alaihi wa alihi wasallam-
ketika bersabda: Setiap umat itu punya fitnah, dan fitnah umatku adalah harta.
(Dzammul Masalah/hal. 218).
Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy hafizhohulloh- menyebutkan:
:


( . " " 9 )
Penyewaan bis dakwah untuk menghadiri ceramah-ceramah. Jika ada sisa uang
kembalian milik si penumpang seperti lima puluh, atau tiga puluh real dan
sebagainya. Maka berkatalah si penarik uang: Sisa uang bis dari penumpang
adalah untuk dakwah. Yaitu: tinggalkanlah uang kembalian tadi buat dakwah.
Maka si penumpangpun malu, meninggalkan uang sisa tadi, dan tidak
mengambilnya. (hal. 9).
Juga menyebutkan:
:
( . " " 9 )
Mereka memanfaatkan sisa dari uang pembeli sayur dan sebagainya seraya berkata:
Tinggalkanlah uang kembaliannya untuk dakwah. Maka sang pembelipun malu,
meninggalkan uang sisa tadi, dan tidak mengambilnya. Demikianlah hal itu
berlangsung sekian lama. Dan pada masa-masa terakhir dan setelah toko tadi
dirubah jadi perserikatan saham merekapun meninggalkan cara tadi. (hal. 9).
Inilah contoh ringkas dari proyek mengemis si Abdulloh Mar'i yang
dilakukannya dan anak buahnya di Syihr. Semuanya secara rinci berjumlah dua
puluh poin. Sebagiannya dilakukan di Syihr bagian atas. Belum lagi proyek minta-
minta yang dilakukannya di Saudi dan sebagian Negara Teluk sampai sekarang.
Para ulama Salaf -rohimahumulloh- sangat menjunjung tinggi nilai-nilai iffah
(kehormatan diri) sebagaimana yang diajarkan oleh Alloh taala, dan Rosul-Nya -
shollallohu alaihi wasallam-, dan tidak mau menghinakan diri dengan mengemis
kecuali jika terpaksa.
Abul 'Aliyah -rahimahulloh- berkata:

141

- -

- -

( .

. 5 / 195 )
"Dari Tsauban dan beliau adalah maula dari Rosululloh -shalallohu 'alaihi wa
sallamyang berkata: Rosululloh -shalallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
"Siapakah menjamin kepadaku untuk tidak meminta pada manusia sedikitpun, dan
aku menjamin untuknya dengan Jannah?" Maka Tsauban berkata,"Saya". Dan
Tsauban tak pernah meminta kepada seorangpun sesuatu apapun." (HSR Abu
Dawud/5/hal. 195 dan dishohihkan oleh Imam Al Wadi'y -rahimahulloh-)
'Auf bin Malik Al Asyja'iy rodhiyallohu 'anhu berkata:

- - :

: :

. :

. .


"Kami pernah ada di sisi Rosululloh -shalallohu 'alaihi wa sallam-, sembilan, atau
delapan atau tujuh orang. Maka beliau bersabda:"Berbai'atlah kalian kepada
Rosululloh", padahal kami baru saja membai'at beliau. Maka kami berkata,"Kami
telah membai'at Anda wahai Rosululloh." Lalu beliau bersabda:"Berbai'atlah kalian
kepada Rosululloh". Maka kami berkata,"Kami telah membai'at Anda wahai
Rosululloh." Lalu beliau bersabda:"Berbai'atlah kalian kepada Rosululloh". Maka
kami mengulurkan tangan kami seraya berkata," Kami telah membai'at Anda wahai
Rosululloh. Maka kami membai'at Anda untuk berbuat apa?" Beliau bersabda:"Agar
kalian beribadah pada Alloh dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
Dan untuk sholat lima waktu, dan agar kalian taat." Dann beliau berbicara dengan
lirih: "Dan agar kalian tidak meminta pada manusia sedikitpun." Maka sungguh
aku melihat sebagian dari rombongan tadi, cambuk dari salah seorang dari mereka
terjatuh. Maka dia tidak meminta pada seorangpun untuk mengambilkannya
untuknya." (HSR Muslim /1043)
Dari Ummud Darda' -rahimahalloh-, beliau berkata:
: : : :

"Abud Darda' rodhiyallohu 'anhu berkata padaku,"Janganlah engkau meminta
pada manusia sedikitpun." Maka aku bertanya,"Kalau aku berhajat?" Beliau
menjawab,"Jika engkau berhajat, maka ikutlah di belakang para tukang panen, lalu
lihatlah apa yang berjatuhan dari bawaan mereka, lalu pungutlah ia, masaklah dan
makanlah, dan jangan kau meminta pada manusia sedikitpun." ("Az Zuhd"/2/291/
Imam Ahmad -rahimahulloh-, dan dishohihkan Syaikhuna Yahya Al Hajury -
hafidzahulloh di tahqiq "As Sunanul Kubro" Imam Al Bauhaqy -rahimahulloh-)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh- berkata:


142
Hadits-hadits telah mutawatir bahwasanya Nabi shollallohu 'alaihi wasallam-
mengharomkan minta-minta pada manusia kecuali di saat darurat. (Majmuul
Fatawa/8/hal. 316).
Al Imam Al Hafizh Ibnul Qoththon Al Fasiy rohimahulloh- berkata:
( . " " / 7 / 3 / 397 .)
Para ulama telah sepakat bahwasanya meminta-minta itu harom. (Al Iqna Fi
Masailil Ijma/7/3/hal. 397).
Dan mengemis atas nama dakwah sudah menjadi sifat kebanyakan
hizbiyyun, bukan sifat Ahlussunnah Wal Jamaah. Al Imam Al Wadiiy
rohimahulloh- berkata:

- : -

:
.
- : -
.)) (( : : :
.

) (

.
Sebenarnya mereka itu sungguh telah memperburuk citra dakwah sampai ucapan
beliau:- niat-niat telah menjadi jelek karena dunia. Dulu orang-orang propinsi Ibb
mendatangiku dan berkata: Wahai Abu Abdirrohman, katakanlah pada Al Ustadz
Muhammad Al Mahdi agar mau duduk untuk kami di masjid dan mengajari kami
ilmu. Dulu aku berbaik sangka padanya. Demikian pula mereka berbaik sangka
padanya. Kukatakan padanya yang demikian itu tapi dia menolak. Kami tidak tahu
bahwasany dirinya itu gemar bepergian demi mengumpulkan dinar-dinar dan
harta. Tidaklah kamu dengar berita tentang dirinya kecuali dia itu sudah ada di
Negara Qothor, terkadang di Saudi, dan suatu kali di Amerika. sampai ucapan
beliau:- lalu datanglah Aqil (Al Maqthoriy) dan berkata: Rosululloh shollallohu
'alaihi wasallam- bersabda: Aku dan pengasuh anak yatim bagaikan kedua jari
ini. Dan datang Muhammad Al Mahdi dan berkata: Dan kebaikan apapun yang
kalian lakukan untuk diri kalian sendiri, kalian akan mendapatkannya di sisi
Alloh. Dan lihatlah majalah pengemis: Majalah Al Furqon. Apakah kalian
mendapatkan edisi yang di situ tidak ada sikap mengemis? (lihat lengkap di
Tuhfatul Mujib/hal. 75-79).

Bab Tiga: Teknik Khusus Hizbiyyun: Ceramah Lalu Mengemis

Di antara metode dakwah yang batil adalah meminta-minta setelah ceramah.
Ini merupakan gaya hizbiyyin dan beberapa kelompok ahlul bida'. Sudah banyak
fatwa Imam Al Wadi'iy -rahimahulloh- tentang hal itu. Beliau pernah ditanya:

143


"Ada seseorang yang datang ke Amerika dan menisbatkan dirinya kepada
Ahlussunnah. Di antara mereka adalah 'Aqil Al Maqthory. Dia berkhothbah di
beberapa masjid, dan setelah itu dia berdiri untuk mengumpulkan sumbangan buat
jam'iyyah. Maka apa hukum perbuatan itu?
Maka beliau menjawab:

: :
"Dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah materiil keduniaan, untuk
mengumpulkan harta. Pernah pada suatu hari kami keluar untuk berdakwah, dan
keluarlah bersama kami Abdulloh An Nahmy -rahimahulloh- -beliau telah terbunuh
di Afganistan- dan juga Abdul Wahhab besan Hizam Al Bahluly. Dan mereka
berkata,"Kami akan meminta sumbangan. Maka kami berkata,"Ini bukanlah alamat
Ahlussunnah." dst ("Tuhfatul Mujib" hal. 75 dst)
Al Imam Al Wadi'i rohimahulloh berkata dalam masalah minta-minta: "Dan
bukanlah kami mendakwahi manusia untuk mengambil harta mereka. Kalaupun
engkau pergi ke negri manapun dari negri-negri Islam engkau tak akan melihat
seorang sunni yang berdiri dan memberikan nasihat kepada manusia hingga
membikin mereka menangis, lalu setelah itu dia menggelar sorbannya di pintu
("Tuhfatul Mujib" hal. 75-76).
Beliau rohimahulloh juga berkata:
:


:
: . :
( . " " 147 )
Telah mengabariku seorang saudara yang datang dari Amerika bahwasanya
mereka itu (tokoh-tokoh hizbiyyun yang tersebut sebelumnya) berkeliling di
Amerika, menyampaikan ceramah-ceramah dan berkata (Menyebut sabda
Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam-): Aku dan pengasuh anak yatim bagaikan
kedua jari ini. Maka seseorang berdiri menghadap mereka -dan dia menginginkan
pengumpulan bantuan buat Bosnia dan Herzegovina- seraya berkata pada mereka,
Pengasuh yatim adalah orang yang benar-benar mengasuhnya, bukan orang yang
mengemis. Maka terjadilah pertengkaran di antara mereka karena dunia. Dakwah
jika dimasuki hasrat-hasrat duniawi itu kecil barokahnya. (Alloh taala berfirman
yang artinya:) Ketahuilah: Hanya milik Alloh sajalah agama yang murni. Dan
berfirman: Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar mereka beribadah
kepada Alloh dalam keadaan memurnikan agama kepada-Nya. (Tuhfatul
Mujib/hal. 147).

144
Masjid adalah rumah Alloh taala yang di situ wajib para hamba
mengagungkan Alloh taala, dan memuliakan agama-Nya. Adapun
mempergunakan masjid untuk sarana mengemis dan agar dakwah itu dikasihani,
maka ini merupakan pelanggaran dari tujuan di atas. Imam Al Wadi'iy -
rahimahulloh- di antara fatwanya adalah:
. .

"Ambil saja oleh kalian pengeras suara dan keluarlah ke jalan-jalan. Adapun rumah-
rumah Alloh, maka dia itu dibangun untuk dzikrulloh, dan bukan dibangun untuk
mengemis. Dan aku katakan: Orang ini, yang berdiri di masjid untuk mengemis dia
harus dikeluarkan dari masjid" dst ("Ghorotul Asyrithoh" 1/536-537)

Bab Empat: Abdulloh Mari Lebih Pantas Jadi Juragan
Daripada Menjadi Sosok Seorang Ulama dakwah Salafiyyah

Semula ana hendak merincikan sekian banyak proyek yang yang dikelola
oleh Abdulloh Mar'i , baik secara langsung ataupun secara perwakilan, sebagaimana
ditulis oleh Akhuna Muhammad Ba Roidiy Al Hadhromiy hafizhohulloh- dalam
kitab beliau Nubdzatun Mukhtashoroh. Akan tetapi manakala ana lihat
bahwasanya hampir semuanya telah tersebut di Mukhtashorul Bayan maka ana
tak perlu lagi mengulangnya. Apa yang disebutkan di situ telah sangat cukup
sebagai bukti bahwasanya orang ini adalah pecinta dunia, tapi berlindung di balik
jubah Demi Dakwah. Dan ini merupakan metode para hizbiyyin.
Syaikhuna Abu Bilal Kholid Al Hadhromiy hafizhohulloh- telah menasihatinya:


. ( " " 11 )
Lihatlah kenyataan para hizbiyyin, darimana masuknya kejelekan kepada mereka?
Dari mana mereka tertimpa musibah? Kepada musibah yang mana mereka
beranjak? Asy Syaikh Abdulloh Mar'i telah memperluas proyek-proyek, dan
memperbanyak alasan bahwasanya dakwah ini sedang butuh, tiada orang yang
membantu kita, dan udzur-udzur dingin yang lain. seseorang itu jika telah berhasrat
pada sesuatu dia akan menempuh jalan yang susah ataupun mudah. Untuk mencari
udzur yang membolehkan perbuatannya. (Naqdhur Rodd hal. 11).
Dikarenakan banyaknya kesibukan duniawi melemahlah perhatian Abdulloh
Mar'i terhadap majelis ilmu para muridnya dari kadar yang semestinya dia berikan
sebagai pemilik markiz dakwah, apalagi dia telah dimasukkan ke dalam jajaran
ulama dakwah Salafiyyah. Kecilnya perhatian dirinya untuk mengajari muridnya
secara rutin telah berkali-kali disebut oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy

145
hafizhohulloh-, dan juga dibahas oleh Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad Ba
Jammal Al Hadhromiy hafizhohulloh- di risalah beliau Al Manzhorul Kasyif hal.
4. Demikian pula dikatakan oleh Akhuna Abu Sholih Dzakwan Al Maidaniy Al
Indonesiy dan yang lainnya hafizhohumulloh- yang sempat belajar di markiz
Syihr.
Di dalam risalah Mulhaqun Manzhor hal. 8 Asy Syaikh Muhammad Ba
Jammal Al Hadhromiy hafizhohulloh- mengisyaratkan juga bahwasanya Abdulloh
Mar'i tersibukkan dari memperdalam ilmu, mencurahkan perhatian ke ilmu dan
penyebarannya karena proyek-proyek bisnis tadi.
Di antara buktinya adalah ketika dia datang ke pedalaman Hadhromaut
setelah Idul Adha pada tahun 1427 H, setelah menyampaikan ceramah pada hari
Kamis dan Hari Jumat diumumkanlah dua ceramah yang lain untuk hari Sabtu dan
Ahad, tapi ternyata dia tidak menghadirinya, dalam keadaam dia masih berada di
situ juga -pedalaman Hadhromaut-, ternyata penyebabnya adalah kesibukannya
untuk membeli sebuah mobil yang bersih. (Mulhaqun Manzhor hal. 4).
Kita tidak mengharomkan para hamba Alloh untuk berdagang. Hanya saja
banyaknya proyek bisnis Abdulloh Mar'i dan beraneka ragamnya metode mengemis
yang ditempuhnya, dan juga semangatnya jalan-jalan untuk merauh uang dari para
saudagar menunjukkan kerakusan jiwanya terhadap harta. Padahal dia dimasukkan
ke dalam jajaran ulama. Dia juga gemar membawa bendera Salafiyyah yang tidak
mungkin akan tegak kecuali dengan zuhud terhadap dunia. Sampai-sampai hampir
gelar Syahbandar Abdulloh mengalahkan julukan Asy Syaikh Abdulloh
dikarenakan banyaknya perdagangannya.
Makanya yang lebih pantas untuk dituduh merusak jalan dakwah Al Imam
Al Mujaddid Muqbil Al Wadiiy rohimahulloh- adalah Abdulloh dan saudaranya.
Adapun Syaikhuna Yahya Al Hajuriy hafizhohulloh- justru tokoh yang paling setia
dan tegar dengan Dakwah Salafiyyah yang dipancangkan oleh Imam
rohimahulloh- tersebut.

Bab Lima: Mengapa Asy Syaikh Robi hafizhohulloh- Tidak
Dijuluki Bagian Dari Mariyyin?

Di antara kengawuran Abdul Ghofur Al Malangiy adalah tuntutannya pada
kami untuk menggelari Asy Syaikh Robi Al Madkholiy hafizhohulloh- sebagai
Mariy atau Kibarul Mariyyin, karena beliau masih mengatakan Abdurrohman
Mariy itu Salafiy dsb. Dia bilang: Sikap tegas dan jelas dari Asy Syaikh Rabi (yang
jelas-jelas berlawanan dengan mereka) bahwa Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri, Asy
Syaikh Abdullah dan Abdurrahman Mari adalah SALAFY (dan bukan hizby!)
belum lagi mampu menumbuhkan kejantanan mereka sehingga berani menvonis
Asy Syaikh Rabi sebagai KIBAR MARIYYAIN! (hal. 20).

146
Jawaban pertama: Asy Syaikh Robi Al Madkholiy hafizhohulloh- tidak
memiliki pemikiran Mariyyah sehingga boleh dinisbatkan kepadanya. Sekian
banyak pemikiran batil Mariyyin tidak ada pada Asy Syaikh Robi Al Madkholiy
hafizhohulloh-, maka bagaimana beliau bisa dikatakan sebagai Mariy atau Kibarul
Mariyyin?
Jawaban kedua: jelas beliau salah dalam membela si Mariy, tapi yang
demikian itu bukanlah dikarenakan beliau menyetujui kejahatan si Mariy dan
antek-anteknya. Hanya saja kami memahami keadaan beliau yang terus-menerus
ditempel oleh Hani Buroik, Arofat dan lain-lain, mereka selama ini terus-menerus
tampil manis di hadapan beliau sehingga amat menyulitkan beliau untuk
mengetahui jati diri orang ini. Abu Malik Ali Al Baitiy Al Lahjiy hafizhohulloh-
(kepala Al Maktabatul Ammah Darul Hadits di Dammaj) bercerita pada ana
bahwasanya sebagian dari orang-orang tadi telah menempeli Asy Syaikh Robi Al
Madkholiy hafizhohulloh- sejak berlangsungnya perang komunis di Yaman (lebih
dari sepuluh tahun yang lalu). Asy Syaikh Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al
Badaniy hafizhohulloh- juga bercerita pada kami bahwasanya Hani Buroik itu
sangat dihormati oleh Asy Syaikh Robi Al Madkholiy hafizhohulloh-, dan dirinya
dipercaya untuk membacakan soal-soal yang ditujukan kepada beliau. Dan orang ini
termasuk yang selalu menghiasai berita-berita tentang Abdurrohman Al Adniy, dan
sekaligus menghasung Asy Syaikh Robi Al Madkholiy hafizhohulloh- untuk men-
jarh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy hafizhohulloh-. Makanya hingga kini kami terus-
menerus memberikan udzur pada Asy Syaikh Robi Al Madkholiy hafizhohulloh-.
Jawaban ketiga: Jasa yang luar biasa dari Asy Syaikh Robi Al Madkholiy
hafizhohulloh- di dalam menjaga dakwah Salafiyyah dari gempuran musuh, dan
sekaligus beliau puluhan tahun yang panjang menggempur para ahlul bida, sangat
tidak bisa disepelekan. Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh- berkata:













147
:
...
Termasuk dari kaidah-kaidah Syariat dan hikmah juga adalah bahwasanya jika
seseorang itu banyak dan besar kebaikannya, dan dia punya pengaruh baik yang
nyata terhadap Islam, maka dia itu mendapatkan udzur yang tidak didapatkan oleh
yang lain. Dimaafkan kesalahan darinya yang tidak bisa dimaafkan untuk orang
yang lain. Yang demikian itu adalah karena kemaksiatan adalah kotoran. Dan air itu
jika mencapai dua qullah tidaklah memikul kotoran. Beda dengan air yang sedikit,
yang dia itu tak bisa memikul sedikit saja kotoran. Termasuk dari bab ini adalah
sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam- kepada Umar: Tahukah engkau
wahai Umar, bisa jadi Alloh melihat kepada pasukan Badar dan berkata:
Beramallah kalian semau kalian, karena sungguh Aku telah mengampuni kalian.
inilah yang menghalangi Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam- membunuh
orang yang memata-matai beliau dan kaum Muslimin dan mengerjakan dosa besar
macam ini. Maka Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam- memberitakan
bahwasanya orang ini ikut dalam perang Badar. Ini menunjukkan bahwasanya
kesalahan yang menuntut dia dihukum itu ada, akan tetapi ikutnya dia dalam
peperangan yang agung itu menghalangi dilaksanakannya hukuman tadi. Maka
ketergelinciran yang besar tadi ditutup dengan kebaikan-kebaikannya. Ketika
Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam- menyemangati orang untuk bershodaqoh,
Utsmanpun mengeluarkan shodaqoh yang sangat besar. Maka bersabdalah Nabi
shollallohu 'alaihi wasallam-: Apa yang dikerjakan Utsman setelah ini tidaklah
membahayakannya. Beliau juga bersabda pada Tholhah ketika dirinya
merundukkan dirinya agar Nabi shollallohu 'alaihi wasallam- menaiki
punggungnya saat mendaki suatu batu besar (saat beliau shollallohu 'alaihi
wasallam- terluka di perang Uhud) maka beliau bersabda: Ini mengharuskan
Tholhah masuk Jannah. Ini juga Musa Kalimur Rohman azza wajalla. Dirinya
melemparkan lembaran-lembaran papan Taurot yang di situ ada kalamulloh yang
dituliskan untuknya. Dilemparkannya papan tadi ke tanah sampai pecah (saat
beliau marah karena melihat kaumnya menyembah patung anak sapi). Dan beliau
juga menempeleng mata malakul maut sehingga tercungkillah matanya. Beliau juga
sedikit mengkritik Robbnya di malam Isro tentang Nabi shollallohu 'alaihi
wasallam- dan berkata: Anak muda ini datang setelahku, tapi yang masuk Jannah
dari umatnya lebih banyak daripada orang yang masuk Jannah dari umatku.
Beliau juga mengambil jenggot Harun dan menariknya ke arahnya padahal Harun
adalah Nabi Alloh. Ini semua tidak mengurangi kadar beliau sedikitpun di sisi
Robbnya. Robbnya taala memuliakannya, mencintainya, karena perkara yang
ditegakkan Musa, dan musuh yang menantangnya, juga kesabaran yang dipikulnya,
serta gangguan yang beliau alami di jalan Alloh merupakan perkara yang tidak
terpengaruh oleh semisal perbuatan-perbuatan tadi, tidak merubah nilai beliau,
tidak menurunkan kedudukan beliau. Ini merupakan perkara yang telah diketahui
oleh manusia dan menetap di fitroh mereka, bahwasanya orang yang punya ribuan

148
kebaikan, dia itu dimaafkan karena satu atau dua kesalahan dan semisalnya, sampai
terjadi tarik-menarik antara penyeru hukuman karena kesalahan, dan penyeru
syukur karena kebaikan, hingga penyeru syukur mengalahkan penyeru hukuman,
sebagaimana dikatakan: Apabila sang kekasih melakukan satu dosa, datanglah
kebaikan-kebaikannya dengan seribu pemberi syafaat. (Miftah Daris
Saadah/1/hal. 176-177).
Demikianlah penilaian kami terhadap Asy Syaikh Robi Al Madkholiy
hafizhohulloh-, wallohu alam. Dan bukanlah beliau itu pengekor hawa nafsu,
ataupun tukang bidah dan penyelewengan. Dan keadaan serta sikap beliau
sangatlah beda dibandingkan dengan Ubaid Al Jabiriy ataupun Muhammad bin
Abdil Wahhab Al Wushobiy.
Jawaban keempat: Adapun Asy Syaikh Robi Al Madkholiy hafizhohulloh-
maka beliau adalah mujtahid, dan kita tahu bersama kejujuran beliau. Maka sama
sekali tidak pantas kamu dan para majikan kamu mengharuskan kami mengatakan
bahwasanya beliau itu adalah termasuk Mariyyin. Kita katakan bahwasanya beliau
itu tidak mashum. Kita tidak tahu isi hati beliau. Tapi jika beliau telah berijtihad
semampunya ternyata salah, maka ( ) beliau akan mendapatkan satu pahala
dan beliau diampuni. Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh- berkata kepada para
ahli taqlid:
.
: :
.

( . " " / 2 / 470 ) .
Memang beliau mendapatkan pahala karena ijtihadnya, sementara kamu
tidak mendapatkan pahala karena kamu tidak mendatangkan perkara yang
mengharuskan adanya pahala. Bahkan kamu telah bersikap kurang dalam
menjalankan ittiba (ikut dalil) yang wajib dilakukan, makanya kamu justru berdosa.
Jika dia berkata: Bagaimana Alloh memberi beliau pahala terhadap apa yang
difatwakannya, dan memujinya, tapi Alloh mencela orang yang memintanya fatwa
karena menerima fatwanya tadi? Apakah ini masuk akal? jawabannya adalah: Si
penanya jika dirinya kurang bersungguh-sungguh dalam mencari al haq padahal
dirinya mampu untuk mencarinya, maka dia itu pantas terkena cercaan dan
ancaman. Tapi jika dia telah mencurahkan kesungguhannya dan tidak bersikap
kurang dalam melaksanakan apa yang Alloh perintahkan untuk mencarinya, dan
dirinya telah bertaqwa pada Alloh semampunya, maka diapun mendapatkan pahala
juga. Adapun orang yang mutaashshub (fanatis) dan menjadikan ucapan orang
yang diikutinya itu sebagai timbangan Al Kitab, As Sunnah dan ucapan para
shohabat, dan dia itu menimbang semua itu dengan ucapan orang yang diikutinya,
yang cocok dengan ucapan orang yang diikutinya diterimanya, tapi yang tidak
cocok dengan ucapan orang yang diikutinya itu ditolaknya, maka orang macam ini

149
lebih dekat kepada celaan dan hukuman daripada pahala dan kebenaran. (Ilamul
Muwaqqiin/2/hal. 470).
Jawaban kelima: hizbiyyun itu memang tidak adil. Pada awal-awal fitnah ini
ketika ana mendapati sebagian dari mereka berjalan di atas kaidah yang batil, maka
ana mengkritik mereka dan berkata: Berarti kesimpulannya kalian itu begini,
begini, dan begini. Bingunglah mereka dalam menjawab dan berlindung di balik
kedustaan. Ternyata berteriaklah si Ihsan (salah ustadz kebanggaan mereka): Kok
sukanya pakai lazimul qoul, padahal lazimul qoul kan bukan qoul! dan didukung oleh
Mundzir (ustadz kebanggaan mereka juga) dengan memakai ucapan Al Imam Asy
Syaukaniy rohimahulloh- di As Sailul Jarror. Maka cukuplah ana surati si
Mundzir, ana tampilkan kaidah-kaidah yang benar di situ, dan bagaimana praktek
salaf dan zaman dulu sampai sekarang, dan ana jelaskan bahwasanya Al Imam Asy
Syaukaniy rohimahulloh- di As Sailul Jarror sedang bicara tentang pengkafiran
orang yang zhohirnya masih Muslim. Ana jelaskan pembahasan ini panjang lebar,
silakan dirinya dan si Ihsan bekerja sama untuk membantahnya secara ilmiyyah
sebagai seorang pengikut Al Quran, As Sunnah dengan manhaj salaf.
Semoga tulisan ini sampai kepada Mundzir dkk, dan silakan mereka
menampilkan surat ana tiga tahunan yang lalu itu di tempat-tempat yang bisa
dilihat oleh umat sehingga umat yang berakal bisa menilai siapakah yang berada di
atas dalil dan kebenaran, dan siapakah yang cuma pakai sepenggal-dua penggal
dalil atau atsar ternyata salah dalam penerapan. Wallohul muwaffiq. Dan sampai
sekarang mereka masih menyembunyikan surat jawaban Abul Abbas Luthfi As
Sulawesiy buat ana dengan alasan takut terjadi fitnah. Demikianlah alasan para
hizbiyyun sejak dulu. Ana yakin mereka takut akan tersingkapnya kelemahan
argumentasi si Luthfi tersebut jika sampai ke tangan ana. Di antara contoh
kelemahan si Luthfi (tapi bukan manhajiy dan bukan dari sisi argumentasi) adalah
bahwasanya Si Alimuddin Al Maidaniy Al Hizbiy (Abu Mahfut?) menyebutkan
bahwasanya Luthfi dalam surat tersebut berkata bahwasanya dirinya menjawab
surat Abu Fairuz (yang berbahasa Arab) dengan bahasa Indonesia karena tidak
lancar menulis dengan bahasa Arab. Kurang lebih demikian ucapannya.
Kita kembali ke inti pembahasan. Para hizbiyyun menuduh para Salafiyyun
dalam membeberkan dan meruntuhkan kebatilan mereka memakai lazimul qoul.
Padahal sekarang justru si Dul Malang justru pakai lazimul qoul dalam
menghantam kami. Seakan-akan dirinya bilang: Al Hajuriy menganggap
malzamah-malzamah dari Dammaj telah dijamin kebenaran. Berarti dia meyakini
telah lepas dari kesalahan. Berarti sejajar dengan sabda Nabi shollallohu 'alaihi
wasallam-. Berarti sama dengan Al Quran. Berarti berarti
Ini semua telah terbantah di Apel (seri 1).
Sekarang si Dul juga main-main dengan lazimul qoul. Seakan-akan dirinya
bilang: Kalian menuduh para ustadz itu Mariyyun. Berarti para masyayikh juga
Mariyyun. Berarti Asy Syaikh Robi menurut kalian juga Mariyyun! Berarti
Bukan demikian wahai aborigin yang bodoh (sering lempar bumerang
(pinjam kamus si Dul sendiri di hal. 41) tapi balik kena sendiri). Orang yang tidak

150
mengatakan kedua anak Mari itu hizbiy, bukan berarti dia juga anggota Mariyyin.
Tapi manakala para ustadz kamu itu membelanya habis-habisan, mencaci
Syaikhuna Yahya Al Hajuriy hafizhohulloh- dan yang bersama beliau,
memancangkan panji-panji permusuhan dengan Salafiyyin Dammaj, dan punya
beberapa pemikiran yang selaras dengan si Mari, maka memang mereka itu
Mariyyun. Adapun Asy Syaikh Robi hafizhohulloh- tidak sampai demikian. Jauh
sekali perbedaannya.
(
1
)

Banyaklah belajar dan mohon taufiq biar kamu paham dan tidak jadi katak
dalam tempurung (pinjam kamus si Dul sendiri hal. 3).
Sungguh memalukan, bahwasanya kamu punya banyak kitab-kitab salaf
ternyata kamu cuma bagaikan keledai yang memanggul kitab-kitab (pinjam kamus
si Dul sendiri hal. 34).
Banyaklah belajar dan jangan sibuk menjadi kolektor sepatu perempuan
(lihat cover buku si Dul).
Ternyata hizbiyyun memang tidak adil dalam menerapkan kaidah sendiri.
Caci-maki orang karena dianggap pakai lazimul qoul, ternyata mereka sendiri
melakukannya.
Ana cukupkan sampai di sini, dan semua ini cukup sebagai pelajaran bagi
orang-orang yang berakal dan mendapatkan taufiq. Dan ana ucapankan (
) kepada Akhuna Abu Yusuf Al Ambony dan yang lainnya atas seluruh bantuan
yang diberikan.

. .
.

Dammaj, tanggal revisi 6 Romadhon 1431 H
Ditulis oleh Al Faqir Ilalloh taala
Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsiy
Al Indonesiy


(
1
)
Bukti yang paling kongkrit dari masalah ini adalah bahwa Syaikh Robi hafidhohulloh- masih
menghormati Syaikh Yahya dan Darul Hadits Dammaj, tidak pernah kita dapatkan beliau menyebut
Syaikh Yahya dengan sebutan-sebutan miring model Mariyyin seperti si Dul ini, bahkan untuk
menyebut nama langsung beliau (Yahya tanpa julukan Syaikh) jarang kita dapatkan apalagi kalau
sampai mencacinya, demikian pula beliau masih menganjurkan para pelajar untuk rihlah ke Dammaj,
ini semua menunjukkan bahwa beliau sangat sayang terhadap keutuhan Darul Hadits dan benar-
benar usahanya adalah untuk membela manhaj dan dakwah dan ahlus sunnah bukan sekedar bantai-
membantai atau tahdzir-tahdziran atau banyak banyakan pengikut, atau berlaku nifaq dan
kedustaan, jelas sangat jauh perbedaan kondisi dan mauqif beliau dengan para Mariyyin, baik yang
di Yaman atau cabangnya di Indonesia yang terkordinir di dalam tempurung Dammaj Habibah, yang
penuh dengan sikap dan sifat kemunafikan dan kefasikan serta tidak adanya rasa taqwa yang
membawa kepada kejujuran dan inshof serta mengikuti fakta dan realita.[Abu Turob]

151

Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 5)





Kebatilan Ubaid Al Jabiriy Tidak Dipungkiri,
Yang Membongkarnya Justru Dimusuhi







Ditulis oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsy Al Jawy
Al Indonesy
-semoga Alloh memaafkannya-








Darul Hadits Dammaj
Yaman
-Semoga Alloh menjaganya-


152



Kata Pengantar Seri Lima


:

Abdul Ghofur Al Malangiy membuka tulisan Hampir-hampir Mereka
Jantan dengan pengumuman tahdzir Ubaid Al Jabiriy terhadap Salafiyyin Dammaj.
Dari sisi lain dia memasukkan Ubaid Al Jabiriy ke dalam daftar para masyayikh
dakwah yang dicaci oleh pengikut Asy Syaikh yahya Al Hajuriy.
Tujuan si Dul amat jelas: untuk menampilkan di hadapan umat bahwasanya
Salafiyyun Dammaj benar-benar kelompok pencaci ulama Ahlussunnah, Maka
mereka pantas untuk ditahdzir berdasarkan fatwa Ubaid tadi.
Maka jawaban ana adalah sebagai berikut:

Bab Satu: Abdul Ghofur Tidak Adil Dalam Memaparkan Kasus

Jawaban pertama: Jika Si Dul sudah tahu hujjah Salafiyyin Dammaj dalam
men-jarh Ubaid Al Jabiriy, tapi Si Dul sengaja tidak memaparkannya kepada umat,
maka ini adalah bagian dari ketidakadilan hizbiyyin, padahal mereka (terutama
hizbiy Mar'iyyin) getol meneriakkan syi'ar keadilan demi menggambarkan
kezholiman Salafiyyin Dammaj.
Sangat disayangkan Si Dul tidak memaparkan hujjah-hujjah Salafiyyin
Dammaj yang menyebabkan mereka merasa perlu untuk membeberkan kebatilan
'Ubaid Al Jabiriy hadahulloh di muka umat. Seharusnya Si Dul memberikan umat
kesempatan untuk mengetahui hujjah tersebut, sehingga mereka bisa menilai
apakah Salafiyyin Dammaj berada di jalan yang benar dalam kasus ini ataukah
tidak. Adapun langkah Si Dul menyembunyikan hujjah-hujjah tersebut maka ini
memang bagian dari makar aboriginnya untuk menyempurnakan gambaran
bahwasanya Salafiyyin Dammaj itu memang tukang caci ulama.
Alloh ta'ala berfirman:
(

) (

2 /[

) 1 - 3 ]
"Celakalah orang-orang yang berbuat curang, yang jika minta ditakarkan kepada
manusia mereka minta disempurnakan. Tapi jika mereka sendiri menakar atau
menimbang mereka membikin orang rugi."

153
Al Imam As Sa'diy rohimahulloh berkata:

( ] [ 6 ) ][

.
Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwasanya seseorang itu sebagaimana dia
mengambil apa yang menjadi haknya dari manusia yang lain, demikian pula dia
wajib memberikan kepada mereka semua perkara yangmenjadi hak mereka, baik
yang berupa harta, ataupun berbagai hubungan. Bahkan masuk juga di dalam
keumuman dalil ini: argumentasi dan perkataan. Yang demikian itu dikarenakan
adat kebiasaan yang berlaku di kalangan orang-orang yang sedang berdebat itu
masing-masing pihak berhasrat untuk menampilkan hujjah yang mendukung
dirinya. Maka wajib bagi dirinya untuk juga menjelaskan hujjah yang mendukung
lawannya yang tidak dia tahu, lalu wajib bagi dirinya untuk memperhatikan dalil-
dalil lawannya tadi sebagaimana dirinya memperhatikan dalil-dalil yang
dimilikinya. Dalam posisi inilah diketahui apakah orang tersebut adil ataukah
taashshub (fanatik) dan ngawur. Juga dengan ini diketahui apakah orang itu
tawadhu ataukah sombong, berakal ataukah tolol, dst. (Taisirul Karimir
Rohman/1/hal. 915).
Adapun tugas umat Islam yang disodorkan kepada mereka kasus ini mereka
wajib untuk memelihara sikap adil. Sebelum memutuskan siapakah yang benar
ataupun yang salah, hendaknya mereka melihat pihak manakah yang lebih kuat
hujjahnya, sesuai dengan Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman Salaful
Ummah.

Bab Dua: Si Dul Tergesa-gesa Menilai Sebelum Tahu Duduk
Permasalahan

Jawaban kedua: Adapun jika Si Dul sudah mencak-mencak dalam keadaan
dirinya memang tidak tahu kasus tersebut (padahal sudah disebarkan ke umat),
maka Si Dul itulah yang pantas memakai kaos bikinannya sendiri: "Katak Dalam
Tempurung".
Kemudian semestinya para hizbiyyun itu jangan cuma teriak-teriak "Kalian
tergesa-gesa menilai!" sebagaimana teriakan hizbiy Mar'iyyin. Pada kenyataannya
mereka sendiri ternyata tergesa-gesa menilai Salafiyyin Dammaj dalam kasus 'Ubaid
Al Jabiriy hadahulloh ini, tanpa memperhatikan ketepatan hujjah kami.
Maka dalam kessempatan ini ana nasihatkan buat Si Dul dan kru Dhofadi
Habibahnya (jika memang nasihat yang benar masih ada tempat di hati): jangan
buru-buru menentang perkara yang kamu belum tahu ilmunya, karena yang
demikian itu adalah kebiasaan Musyrikin. Alloh taala berfirman:

154
/[

11 ]
Dan manakala mereka tidak mendapatkan petunjuk dengannya mereka akan
berkata: Ini adalah kedustaan yang kuno. (QS. Al Ahqof: 11).
Alloh taala berfirman:

/[

39 ]
Bahkan mereka mendustakan perkara yang mereka belum punya ilmu tentangnya,
dan belum datang kepada mereka hasil akhirnya. Demikianlah orang-orang
sebelum mereka mendustakan, maka perhatikanlah bagaimana akibat dari orang-
orang yang zholim itu. (QS. Yunus: 39).
Al Munawy -rohimahulloh- berkata:


( . " " 3 / 11 )
Sesungguhnya barangsiapa tidak mengetahui sesuatu perkara dia akan
memusuhinya. Dan orang yang kurang itu, dikarenakan dia tidak memiliki
keutamaan, karena lemahnya dia untuk mencapai keutamaan mereka, dia ingin
mengembalikan mereka kepada derajat kekurangan dirinya, dikarenakan
kesombongan dirinya. Hal ini dikatakan oleh Al Mawardy. (Faidhul Qodir 3/hal.
11).
Al Mutanabbi -rohimahulloh- berkata:



Dan banyak sekali orang yang mencela perkataan yang yang benar, padahal asal
penyakitnya adalah dari pemahaman yang sakit. Akan tetapi telinga itu hanyalah
mengambil pemahaman sesuai dengan kadar tabiat dan ilmunya. (Syarh Diwanil
Mutanabbi/ hal. 392).

Bab Tiga: Ahmad Asy Syihhiy, Korban fatwa Ubaid Al Jabiriy

Jawaban ketiga: Sekarang tiba saatnya untuk memulai pemaparan kebatilan
'Ubaid Al Jabiriy hadahulloh, lengkap dengan hujjah kami terhadap kasus tersebut.
Dan hendaknya seluruh pihak siap melaksanakan firman Alloh ta'ala:
[

: 59 ]
Maka jika kalian berselisih pendapat terhadap suatu perkara maka
kembalikanlah hal itu kepada Alloh dan Rosul-Nya, jika memang kalian itu
beriman kepada Alloh dan hari akhir. (QS. An Nisa: 59)
Sengaja ana mengulang ayat ini (padahal sudah disebutkan pada seri dua)
agar kita terus ingat kewajiban yang terkandung di dalamnya. Kebenaran itu
diketahui berdasarkan hujjah-hujjah al Qur'an dan As Sunnah dengan pemahaman

155
Salaf, bukan sekedar fatwa orang yang tidak ma'shum: "Ini bukan hizbiyyah!", "Aku
tidak mendapati adanya hizbiyyah!", dan semisalnya.
Di dalam pemaparan ini ana akan mengawalinya dengan kasus Ahmad Asy
Syihhiy, salah seorang masyayikh dari UEA <Uni Emirat Arab> yang ana sukai,
yang terkenal dengan kitabnya: Hiwar Hadi maa Ikhwaniy. Kitab ini
mendapatkan pujian dan kata pengantar dari Al Imam Al Wadiiy rohimahulloh
dan penulisnya beliau gelari: SYAIKH.
Di dalam risalah Al Bayanus Salafiy Li Hali Ahmad Asy Syikhkhiy
berkatalah Muhammad Al Katsiriy Al Imarotiy, Abu Bakr Abdulloh bin Kholid bin
Hasan Adh Dhohiriy dll hafizhohumulloh:
Sesungguhnya sang dai yang aku menulis seputar dirinya ini adalah Ahmad
bin Muhammad Asy Syikhkhiy Al Imarotiy yang tinggal di wilayah Rosul
Khoimah. Saudara kita ini dulunya memulai dengan dakwah salafiyyah yang bagus,
dan kerajinan yang baik. Dia mengajari para ikhwah, mengadakan ceramah-
ceramah dan halqoh ilmiyyah yang beraneka ragam di berbagai daerah di Emirat.
Dan berkumpullah di sekelilingnya sejumlah penuntut ilmu yang cinta dan haus
akan ilmu syariy.
Akan tetapi pada tiga atau empat tahun belakangan ini berubahlah garis
perjalanan orang ini. Dia mulai mundur ke belakang sedikit demi sedikit hingga
akhirnya membikin lembek manhaj salafiy, menyia-nyiakan dan merusak
dakwahnya. Penyelewengan tersebut mulai terlihat ketika dirinya mulai mendekati
calon pemegang tampuk kehakiman di wilayah Rosul Khoimah, lalu menjadi teman
bermusyawarahnya. Lalu dia masuk ke kementrian waqof dan urusan Islam,
sebagai kepala kantor di wilayah Rosul Khoimah.
Padahal telah diketahui bersama bahwasanya kementrian waqof itu ada di
tangan orang-orang sufi dan hizbiyyin. Merekalah yang menguasai dan
mendominasinya. Sekarang, selang waktu kemudian, setelah Ahmad Asy Syikhkhiy
berubah dan dakwahnya mati, orang-orang sufi dan hizbiyyin melemparkannya dan
mengeluarkannya dari kementrian.
<Kembali ke awal-awal kisah> sejak Ahmad Asy Syikhkhiy mendapatkan dua
jabatan tadi, berubahlah jalan hidupnya, dan bergantilah dengan tamyii
<pelembekan manhaj>. Manhaj salafiy yang bersih berubah dan kemasukan asap.
Agar kita tidak dikatakan menuduh tanpa perincian dan penjelasan, maka
silakan sang pembaca untuk menelaah sebagian dari penyelewengannya berikut ini:
Yang pertama: masuknya Ahmad Asy Syikhkhiy ke jabatan pemerintahan
yang tersebut di atas dengan alasan untuk melakukan perubahan, dan bahwasanya
masuknya dirinya itu karena memperhatikan maslahat yang besar. Padahal
pandangan ini sama dengan sudut pandang Ikhwanul Muslimin yang masuk ke
jabatan-jabatan di parlemen dan majelis-majelis setan dengan hujjah ini <maslahat
yang besar>. Dan tidak tersembunyi bagi kita bahwasanya asal perubahan
kemungkaran dengan cara masuk ke pintu pemerintahan dan jabatan merupakan
manhaj Ikhwaniy yang paling mendasar. Dan bukanlah cara tadi bagian dari manhaj
salaf yang berdasarkan ilmu dan dakwah dalam merubah keadaan orang dan

156
masyarakat. Telah datang larangan dari Nabi shollallohu alaihi wasallam untuk
berusaha mendapatkan ataupun meminta jabatan.
Andaikata Asy Syikhkhiy berkata: Aku tidak berusaha menggapai jabatan
tadi, tapi pemerintahlah yang menawari aku, dan aku memilih untuk
menerimanya. Maka jawabku adalah: yang paling manisnya itu pahit. Usaha untuk
menggapai jabatan merupakan manhaj ikhwaniy. Adapun yang kedua: andaikata
kedua jabatan tadi ditawarkan kepada Asy Syikhkhiy, tidak boleh baginya untuk
menerimanya, karena masuknya dirinya ke jabatan tadi akan melembekkan manhaj
salafiy dan menyia-nyiakan dakwahnya, karena pemerintah itu -sebagaimana telah
diketahui oleh orang yang punya keadilan- adalah ahli dunia, dan mereka tidak
menerima orang yang mereka letakkan di posisi itu untuk merusak dunia mereka.
Maka dia harus: menolak jabatan tadi dan itu wajib baginya-, atau dia
menerimanya dan kemudian bersikap mengalah dan melembekkan jalan
dakwahnya agar tampil di hadapan mereka dengan penampilan orang yang
konsisten dan pertengahan. Wallohul mustaan.
Perubahan yang dimaksudkan oleh Ahmad Asy Syikhkhiy tadi adalah
perubahan dominasi sufiyah dan hizbiyyin di Negara ini agar kekuasaan berpindah
ke tangan salafiyyin. Telah diketahui bersama bahwasanya Emirat itu ada dikuasai
oleh orang-orang sufi, sementara dakwah salafiyyah itu lemah dan tidak diterima
oleh pemerintah.
Yang kedua: durus <jadwal-jadwal pelajaran> dirinya terhenti, kecuali satu
pelajaran tiap pekan. Itupun terkadang dia tidak hadir. Demikian pula ceramah-
ceramah dan halqoh ilmiyyahnya juga terhenti. Bahkan jika ada majelis ilmiyah
yang dihadiri para penuntut ilmu dirinya tidak membuka jam pertanyaan untuk
dijawab. Jika ada yang melontarkan pertanyaan sebelum diumumkannya larangan
bertanya marah dan jengkellah dirinya. Bahkan terkadang dia menghardik sang
penanya, sebagaimana terjadi di beberapa majelis.
Ketiga: masuknya Ahmad Asy Syikhkhiy ke dalam kementrian
menyebabkannya mercampur baur dengan orang-orang sufiy dan hizbiyyin yang
ada di situ sebagai teman sejawat dan kawan akrab. Dan dirinya tak bias
mengingkari kebatilan mereka, ataupun menghadapi mereka, dan ini termasuk
tamyii yang terbesar.
Ahmad Asy Syikhkhiy berkata di dalam kitabnya Al Washoyas saniyyah Lit
Taibin Ilas salafiyyah hal. 19: Engkau akan mendapati bahwasanya orang yang
tobat itu pada awalnya bersemangat untuk menjauh dari ahli bidah wal furqoh
sementara waktu. Tapi jika dia menfdengar suatu syubhat dari orang yang
berpakaian salafiyyah yang kesimpulan syubhatnya adalah: Bahwasanya menjauh
dari ahli bidah dan tidak bercampur dengannya adalah tidak benar, dan yang
demikian itu menghilangankan kemaslahatan yang banyak, dan tidak ada orang
yang masum sepeninggal Rosululloh shollallohu alaihi wasallam, dan bahwasanya
para shohabat itu salah engkau akan lihat dirinya itu tertimpa penyakit hati dan
telah meminum syubuhat tadi lebih cepat daripada minum air, lalu jadilah dirinya
tadi bercampur dan ahli bidah dan melembekkan prinsip-prinsip salafiyyah dengan

157
nama salafiyyah. Selesai penukilan. Mahasuci Robbku. Seakan-akan dirinya tengah
berkata tentang kondisi dirinya sendiri. Ahmad Asy Syikhkhiy ini dulunya jauh dari
ahli bidah wal ahwa sementara waktu, dan berpisah dari mereka. Namun dengan
musyawarah tokoh yang berbaju salafiy yang bernama: Ubaid Al Jabiriy diapun
bercampur baur dengan ahli bidah wal ahwa dengan hujjah maslahat yang banyak.
Maka diapun merosot dan menjadi orang yang melembekkan prinsip-prinsip
salafiyyah dengan nama salafiyyah.
Keempat: jadilah termasuk dari maslahat dakwah menurutnya adalah:
Janganlah engkau berkata bahwa dirimu itu salafiy
Yang aneh dan menggelikan adalah bahwasanya Ahmad Asy Syikhkhiy
memperbanyak dan mengulang-ulang dakwaan maslahat dan maslahat, dan yang
dimaksudkannya dengan kemaslahatan adalah: agar kekuasaan dan dominasi itu
kembali kepada dakwah salafiyyah di Emirat. Kekuasaan dan keunggulan apa sih
yang dimiliki suatu dakwah yang pemegangnya malu dan tidak berani untuk
menisbatkan diri padanya dan juga malu untuk berbangga dengannya? Sungguh ini
adalah perkara yang menggelikan.
Kelima: ketertipuan dengan dirinya sendiri, dan dia menganggap dirinya
sebagai orang yang paling tahu hakikat kejadian dan rahasia suatu perkara, dan
bahwasanya dirinya itu adalah orang yang tahu hikmah dan punya pandangan
yang tajam dan jauh. Dan dia mulai mencela dan membodoh-bodohkan para
pemuda salafiy yang tidak menyetujuinya dengan perjalanan tamyinya. Dia juga
menuduh mereka tidak memperhatikan maslahat dan mafsadah, dan bahwasanya
mereka itu angn-anginan dan tergesa-gesa, tak punya hikmah dan pandangan yang
jauh. Dan masih banyak tuduhan ngawurnya terhadap pemuda salafiy.
Di antara contoh pembodohan yang dilakukan Ahmad Asy Syikhkhiy
terhadap sebagian perbuatan orang yang tidak mencocoki jalannya adalah: ada
seseorang yang yang tidak dikenal menelpon Asy Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh
ketika terjadi fitnah pengguntingan jenggot para tentara di Emirat karena
pemerintah mewajibkan itu. Maka si penelpon bertanya pada Asy Syaikh Abdul
Aziz tentang hal itu, dan dijawab oleh beliau bahwasanya yang demikian itu tidak
boleh, dan wajib untuk tidak menaati perintah dari pemerintah tersebut, dst. Sang
penanya merekam dialog tadi, lalu tersebarlah dari telpon gerak ke telpon gerak
yang lain.
Maka Ahmad Asy Syikhkhiy mengkritik perbuatan ini dan mencerca
pelakunya karena dianggap sebagai kengawuran dan sikap yang jelek, dan
bahwasanya perbuatan tadi akan menghasung pemerintah di Emirat untuk
menentang dakwah salafiyyah. Kalaulah kita terima cercaan Ahmad Asy Syikhkhiy
tadi, masih tersisa keheranan: si penelpon tadi tidak dikenal siapa dirinya. Bias jadi
dia adalah seorang hizbiy. Tapi Ahmad Asy Syikhkhiy tidak mau kecuali
melemparkannya ke punggung pemuda salafiy dan menjadikan perbuatan tadi
sebagian dari ketololan salafiyyin.
Keenam: dia ingin sekali untuk memisahkan diri dari para ulama Yaman dan
Saudi, dan dia tidak senang menempel dengan mereka dengan alasan bahwasanya

158
pemerintah Emirat menganggap yang demikian itu sebagai bentuk pemberontakan
dan tidak loyal pada mereka. Bahkan dirinya menasihati para pemuda Emirat untuk
tidak bepergian ke ulama yaman ataupun Saudi dengan alasan yang rusak yang dia
katakan tadi. Jika dirinya ditanya tentang beberapa kejadian yang terkait dengan
dakwah salafiyyah di Negara lain dia menasihat sang penanya untuk lebih
mementingkan urusan dalam negerinya yaitu Emirat- dan meninggalkan urusan
dakwah di Negara lain karena yang demikian itu tidak penting dan tidak layak
diperhatikan.
Ketujuh: larinya dia dari manhaj jarh wat tadil, dan diamnya dirinya dari
ahlil ahwa dan takutnya dirinya untuk berseteru dan berdebat dengan mereka. Dia
telah mengajukan kepada sebagian ikhwan yang bertanya kepadanya lewat telpon,
agar mereka meninggalkan pertanyaan yang bersifat manhajiyah, terutama
pertanyaan tentang keadaan si fulan dan si fulan.
Andaikata engkau membaca ucapan Ahmad Asy Syikhkhiy di muqoddimah
kitabnya Hiwar Hadi Maa Ikhwaniy: Aku tidak akan ridho dan tak akan diam
terhadap orang-orang yang membikin pengkaburan terhadap pemuda muslim yang
hendak kembali kepada Alloh sehingga menjadikan pemuda itu kebingungan dan
tidak tahu manakah jalan yang benar, atau menjadi rusak disebabkan hizbiyyah
mereka yang pahit, sampai-sampai dia berloyalitas ataupun memusuhi berdasarkan
kelompok mereka. Dan engkau membandingkan ucapannya tadi dengan keadaan
dirinya pada hari ini. Aku kira andaikata bukan karena rasa malu yang masih tersisa
pada dirinya pastilah dia akan rujuk dari kitabnya Hiwar Hadi karena
bertabrakan dengan manhajnya yang baru.
Kedelapan: Ahmad Asy Syikhkhiy sekarang termasuk orang yang
membolehkan ikhtilath (campur baur pria dan wanita tanpa hijab) bahkan di
kementrian dirinya bekerja bersama para wanita di tempat yang sama, dan dia
adalah kepala kantor mereka, hadir dalam perkumpulan-perkumpulan bersama
mereka. Ketika diingkari perbuatannya tadi, dia menjawab: Ini bukanlah
percampuran jadi satu!!
Kesembilan: Ahmad Asy Syikhkhiy menjadi termasuk orang yang
membolehkan potret makhluk bernyawa. Dirinya berpotret di koran-koran dan
majalah-majalah dan bahkan berpotret di masjid-masjid. Bahkan berpotret duduk
berdampingan bersama para wanita, dan muncul di salah satu jaringan TV parabola
yang rusak akhlaknya untuk berbicara tentang sihir. Semua itu di bawah bab
maslahat yang besar!!
Kesepuluh: di salah satu jadwal pelajarannya yang harinya bersamaan
dengan acara peringatan bidah yaitu maulid nabi- Ahmad Asy Syikhkhiy
membatalkan pelajarannya, lalu berdiri dan menyampaikan ceramah total
berkenaan dengan acara maulid nabi tadi. Seusai ceramah, salah seorang ikhwah
mengingkarinya karena hal tersebut pada hakikatnya termasuk berjalan bersama
peringatan maulid tadi. Maka Ahmad Asy Syikhkhiy membantahnya dan berkata:
Ini bukanlah peringatan.

159
Inilah ringkasan dari penjelasan penyelewengan Ahmad Asy Syikhkhiy dari
rel salafiyyah dan perubahan jalannya. Aku nasihatkan kepada Ahmad Asy
Syikhkhiy untuk memperhatikan kondisi orang yang mendahuluinya menempuh
jalan tadi, yaitu: Hamdan Mazruiy, kepala urusan waqof saat ini. Dulunya dia
adalah salafiy yang lurus, manakala dirinya menempuh jalan seperti yang engkau
tempuh sekarang ini, keadaan akhirnya seperti itu dan berubah menjadi orang yang
paling keras memerangi dakwah salafiyyah dan menjadi musuh dakwah. Orang
yang beruntung adalah orang yang mengambil pelajaran dari yang lain.
Ahmad Asy Syikhkhiy berkata dalam muqoddimah kitab Hiwar Hadi Maa
Ikhwaniy: Dan termasuk faktor terpenting dalam menyukseskan dakwah
menurut Ikhwanul Muslimin di Yaman adalah mereka memasukkan drama dan
fragmen yang mengandung sasaran tertentu, dan juga shooting video di masjid-
masjid !! Sesesai penukilan. Lihatlah bagaimana dirinya menjadikan shooting
video di masjid-masjid termasuk faktor terpenting dalam menyukseskan dakwah
menurut Ikhwanul Muslimin. Dan dirinya meletakkan dua tanda seru di situ. Dan
itu betul. Akan tetapi masihkah dirinya sampai hari ini berpendapat seperti itu??
Karena shooting video di masjid-masjid menjadi faktor penyukses Ahmad Asy
Syikhkhiy sendiri!!
Di sini ada perkara penting yang menunjuki kita akan sebab penyelewengan
Ahmad Asy Syikhkhiy dan terjerumusnya dirinya ke dalam manhaj tamyiiy.
Tahukah anda wahai pembaca, siapakah yang menyampaikan Ahmad Asy
Syikhkhiy ke pada kemunduran ini? Dialah Asy Syaikh Ubaid Al Jabiriy
hadahulloh. Ketika Ahmad Asy Syikhkhiy ditanya: siapakah yang menasihatinya
dan mengisyaratkannya untuk masuk ke kedua jabatan tadi? Dia menjawab: Asy
Syaikh Ubaid Al Jabiriy.
Selesai penukilan dari risalah Al Bayanus Salafiy Li Hali Ahmad Asy
Syikhkhiy hal 1-3.
Mayoritas Salaf menasihati untuk jangan mendekati penguasa karena
besarnya fitnah di jiwa. Di antaranya adalah nasihat Al Imam Ibnul Mubarok
rohimahulloh kepada Ibnu Ulayyah rohimahulloh:
* * *
( * * 1 : )
( * 2 * )
Wahai orang yang menjadikan ilmu sebagai barang dagangan untuk menjaring
harta orang-orang miskin, diambil demi dunia dan kesenangannya. Dengan tipu
daya engkau menghilangkan agama, lalu engkau menjadi orang yang gila setelah
dulunya engkau adalah obat bagi orang-orang gila. Di manakah riwayat-riwayatmu
yang lampau dari Ibnu Aun dan Ibnu Sirin. Dan manakah ilmu yang kamu pelajari
dengan atsar-atsarnya yang berisi anjuran untuk meninggalkan pintu-pintu
penguasa? Kamu berkata: Aku terpaksa. Lalu apa? Demikianlah keledai ilmu

160
tergelincir di tanah liat yang basah. Janganlah kamu jual agama dengan dunia
sebagaimana perbuatan para rahib yang sesat. (Siyar Alamin Nubala/9/110).
Dan ternyata fatwa Ubaid Al Jabiriy cocok dengan hasrat hati Ahmad Asy
Syikhkhiy meskipun harus melanggar thoriqotus Salaf tapi dengan baju salaf.
Akhirnya benar-benar Ahmad Asy Syikhkhiy celaka sebagaimana pendahulunya
binasa.

Wallohu taala alam.
Walhamdu lillahi robbil alamin.

161
Kesimpulan Penting

Setelah menyimak ucapan-ucapan batil dan metode debat yang dipakai oleh
hizbiy hina Abdul Ghofur Al Malangiy, dapatlah kita ambil gambaran sebagai
berikut:

Catatan Perbedaan antara Abdul Ghofur Al Hizbiy dengan
Ahlussunah

No. Ahlussunnah Abdul Ghofur Al Hizbiy
1 Tawadhu mengakui kesalahan
setelah datangnya penjelasan
Sombong dan angkuh tak mau
mengakui kesalahan setelah datang
penjelasan
2 Teliti dalam menempatkan kritikan Sangat ceroboh dan ngawur dalam
menentukan objek yang dicerca
3 Tidak berlama-lama dalam kebatilan Suka membangkang dan berlama-lama
dalam kebatilan
4 Ikut dalil dan prinsip-prinsip
salafiyyah, dan tidak taqlid pada
orang yang tidak mashum
Taqlid kepada orang yang tidak
mashum, sekalipun bertentangan
dengan dalil dan prinsip salaf
5 Ucapan para ulama yang
bertentangan dengan sabda Nabi
maka ucapan mereka tertolak
Memposisikan sikap dan ucapan ulama
bagaikan wahyu dari langit, sehingga
mengalahkan seluruh hujjah
6 Berhujjah dengan dalil, dan sekaligus
taat dan melaksanakan dalil tersebut
Berhujjah dengan dalil, tapi dia sendiri
melanggar dalil itu
7 Berhujjah dengan suatu kaidah salaf,
dan sekaligus taat dan melaksanakan
kaidah tersebut
Berhujjah dengan suatu kaidah, tapi
dia sendiri melanggar kaidah itu
8 Sangat hormat pada ulama yang
kokoh di atas hujjah dan haq
Sangat kotor lidahnya terhadap ulama
yang kokoh di atas hujjah dan haq
9 Kecintaan yang mendalam pada
ulama yang kokoh di atas hujjah dan
haq, tanpa taqlid dan ghuluw
Kebencian yang mendalam pada ulama
yang kokoh di atas hujjah dan haq
10 Diberi taufiq oleh Alloh dalam
mengikuti dalil sehingga kuat
hujjahnya dan kokoh kakinya
Serampangan dalam berdalil, dan
tergesa-gesa mengikuti setan, sehingga
dalil-dalil yang dipakainya berkali-kali
menghantam dirinya sendiri
11 Mengikuti jejak Salaf dengan dalil-
dalilnya
Meniru kebiasaan hizbiyyun masa lalu,
sekalipun dulunya dirinya sendiri
memerangi hizbiyyin tersebut
12 Mengikuti akhlaq Nabi dan para
Shohabat yang hormat pada hujjah,
dan haus mengambil faidah-faidah
ilmiyyah
Ikut tabiat babi yang melewati rizqi
yang baik-baik tapi tak mau
mendekatinya. Justru jika ada orang
bangkit dari kotorannya (selesai buang
hajat), didatanginya kotoran tadi dan

162
dimakannya hingga habis. (rujuk
"Madarijus Salikin" 1/hal. 403).
13 tidak diam terhadap kesalahan,
meskipun yang berbuat adalah
misalnya- teman sendiri.
Berusaha tutup mata terhadap
kesalahan orang yang satu barisan
dengannya
14 Jantan dan kesatria dalam berkata
dan berbuat
Menuduh Ahlussunnah tidak jantan,
ternyata dirinya sendiri yang pengecut
tulen dan betina murni
15 Taat pada kebenaran yang telah
diketahui, sehingga Alloh memberkahi
ilmunya dan selalu memberikan
tambahan ilmu dan wawasan
Menuduh Ahlussunnah bagaikan katak
dalam tempurung, ternyata dirinya
sendiri yang sangat lemah pemahaman
terhadap manhaj aimmatus salaf, maka
dialah katak hijau di bawah tempurung
Dhofadi Habibah di rumpun kebun
apel Malang
16 Diberi taufiq dalam memilih kata-kata
sehingga jarang tergelincir pada sikap
tanaqudh (kata-katanya saling
bertentangan)
Ceroboh dalam mengikuti setan
sehingga sering mengalami tanaqudh
(kata-katanya saling bertentangan)
17 Berhati-hati dalam menuduh, dan
berusaha ikut bayyinah, dan suatu
saat tuduhan itu terbukti benar,
walaupun tertunda sementara
Mudah sekali tanpa ketaqwaan
mengumbar tuduhan-tuduhan keji dan
ngawur pada Ahlul Haq
18 Berbicara dengan definisi dan
batasan-batasan yang benar
Tidak sanggup membedakan antara
orang yang ngibul, dengan orang yang
berbicara sebatas ilmunya
19 Paham kriteria yang benar antara
ulama sunnah dengan kepala
mubtadiah
Tidak sanggup membedakan antara
ulama sunnah dengan kepala
mubtadiah
20 Waktunya tercurah untuk
memperdalam ilmu
Waktunya dibuang untuk
memperbanyak chatting di internet
21 Berusaha menjaga kehormatan
seorang sunniy
Bergampang-gampang merobek-robek
kehormatan seorang sunniy, maka
Alloh pun membalas dengan
membongkar aib-aibnya
22 Ahlussunnah adalah pencerminan
sosok insan yang berusaha meniru
Rosululloh dan
karakter gagah dan indah dari para
salafush sholih
Abdul Ghofur termakan caciannya
sendiri: keledai dengan dua kuntum
mawar di telinga dengan sepatu merah
jambu, dengan loncatan gaya katak
dalam tempurung.



Si Abdul Ghofur malang tidak lebih dari hizbiy pendusta yang banyak bergelimang
dengan kefasiqan, dan sesuai dengan firman Alloh taala:
/(

7 )

163
"Dan kecelakaanlah untuk setiap pendusta lagi pendosa." (QS. Al Jatsiyah: 7).
Maka orang hina dan busuk akhlaqnya macam ini tidak pantas diterima lagi kata-
katanya. Alloh taala berfirman:
/[

4 ]
Dan janganlah kalian menerima persaksian mereka selamanya, dan mereka itulah
orang-orang yang fasiq.

Wallohu taala alam.
Dammaj, 21 Romadhon 1433 H


164



Daftar Isi
Table of Contents
Pengantar Penulis...................................................................................................................... 2
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 1) ........................................................................... 5
KESIAPAN UNTUK MENGIKUTI KEBENARAN ............................................................................... 5
MESKIPUN PAHIT DAN MENYAKITKAN ...................................................................................... 5
Kata Pengantar Seri Satu .................................................................................................. 6
Bab Satu: Kita Diciptakan Untuk Beribadah Kepada Alloh taala Semata ................................. 6
Bab Dua: Kesiapan Memikul Konsekuensi ................................................................................. 9
Bab Tiga: Sedikit Kesalahan Pada Judul ................................................................................... 11
Bab Empat: Kasus Ucapan: "Dijamin Kebenarannya".............................................................. 13
Bab Lima: Kasus Firman Hidayat .............................................................................................. 20
Bab Enam: Istilah Pusat Dakwah Salafiyyah Paling Murni Sedunia ...................................... 32
Bab Tujuh: Akhunal Fadhil Muhammad Bin Umar -hafizhohulloh- Tidak Ngibul .................... 35
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 2) ......................................................................... 42
KELUARNYA SESEORANG DARI AS SUNNAH, ............................................................................. 42
MUNGKINKAH? DAN KAPANKAH? ......................................................................................... 42
Kata Pengantar Seri Dua ................................................................................................. 43
Bab Satu: Kedangkalan Ilmu Pemilik Sepatu Merah Jambu .................................................... 43
Bab Dua: Kami Mencela Para Mubtadiah, Bukan Mencela Ulama Ahlussunnah ................... 44
Bab Tiga: Siapakah Dari Umat Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- Yang Ma'shum? .. 45
1. Dalil Al Quran dan As Sunnah ............................................................................................. 45
2. Dalil kenyataan ..................................................................................................................... 47
Bab Empat: Pengertian As Sunnah dan Seruan Untuk Memegangnya Dengan Kokoh ........... 49
Pasal Satu: Pengertian As Sunnah............................................................................................ 49
Pasal Dua: Seruan Untuk Memegang Teguh As Sunnah .......................................................... 50
Bab Lima: Kapankah Seseorang Dihukumi Telah Keluar dari Ahlussunnah? ........................... 53
Pasal Satu: Seseorang Dihukumi Menjadi Mubtadi Jika Menyelisihi Kaidah Umum, atau
Banyak Menyelisihi Perkara Cabang ........................................................................................ 53
Pasal Dua: Pengertian Perkara Pokok ...................................................................................... 54
Pasal Tiga: Agama memang bertingkat-tingkat ....................................................................... 56
Bab Enam: Penyelisihan Kedua Anak Al Mariy dan Pengikutnya Terhadap Kewajiban
Menjaga Persatuan .................................................................................................................. 56
Bab Tujuh: Dua Pokok Pemahaman Dalam Menjatuhkan Hukuman ...................................... 70
Bab Delapan: Pokok-pokok Salafiyyah Yang Lain Yang Diselisihi Anak Al Mariy dan
Pengikutnya ............................................................................................................................. 71
Bab Sembilan: Sebagian Alamat Hizbiyyah Anak Al Mariy dan Pengikutnya ......................... 72
Bab Sepuluh: Berbagai Perbuatan Kedua Anak Mariy dan Pengikutnya Itu Merupakan Ihdats
Terhadap Dakwah .................................................................................................................... 76
Bab Sebelas: Bayyinah-bayyinah Tadi Sampai Sekarang Tidak Bisa Dipatahkan oleh Para
Penentang Dengan Hujjah Sebagaimana Mestinya ................................................................. 77

165
Bab Dua Belas: Hukum Yang Dibangun Dengan Hujjah Yang Kuat Tidak Boleh Dianggap
Sebagai Cercaan Kepada Ulama Ahlussunnah ......................................................................... 78
Bab Tiga belas: Tantangan Buat Cak Dul Untuk Meruntuhkan Bayyinah-bayyinah Tadi
dengan Hujjah .......................................................................................................................... 79
Bab Empat Belas: Siapakah Sebenarnya Pihak Yang Menyetarakan Fatwa Ulamanya Dengan
Al Quran? ................................................................................................................................ 80
Bab Lima Belas: Siapakah Yang Berhak Menjadi Keledai? ....................................................... 86
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 3) ......................................................................... 90
Kesembronoan Abdul Ghofur Al Malangiy ...................................................................... 90
Dalam Kasus Syaikh Salim Al Hilaliy ................................................................................ 90
Kata Pengantar Seri Tiga ................................................................................................. 91
Bab Satu: Masalah Kebersamaan Asy Syaikh Salim Al Hilaliy -hafizhohulloh- dengan
Sururiyyin dan Turotsiyyin ....................................................................................................... 92
Bab Dua: Tuduhan Pencurian kitab Ash Shobr ................................................................... 100
Bab Tiga: Tuduhan Penyalahgunaan dana dari Ihyaut Turots .............................................. 111
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 4) ....................................................................... 113
Asy Syaikh Robi Al Madkholiy Alim Salafiy, .................................................................. 113
Adapun Abdulloh Alu Mari Itu Hizbiy ........................................................................... 113
Kata Pengantar Seri Empat ........................................................................................... 114
Bab Satu: Dukungan Abdulloh Al Mari terhadap Abul Hasan Al Mishriy ............................. 115
Bab Dua: Keahlian Mengambil Uang Orang Lain Dengan Batil Atas Nama Dakwah ............. 129
Bab Tiga: Teknik Khusus Hizbiyyun: Ceramah Lalu Mengemis .............................................. 142
Bab Empat: Abdulloh Mari Lebih Pantas Jadi Juragan Daripada Menjadi Sosok Seorang
Ulama dakwah Salafiyyah ...................................................................................................... 144
Bab Lima: Mengapa Asy Syaikh Robi hafizhohulloh- Tidak Dijuluki Bagian Dari Mariyyin?
................................................................................................................................................ 145
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 5) ....................................................................... 151
Kebatilan Ubaid Al Jabiriy Tidak Dipungkiri, .................................................................. 151
Yang Membongkarnya Justru Dimusuhi ........................................................................ 151
Kata Pengantar Seri Lima .............................................................................................. 152
Bab Satu: Abdul Ghofur Tidak Adil Dalam Memaparkan Kasus ............................................ 152
Bab Dua: Si Dul Tergesa-gesa Menilai Sebelum Tahu Duduk Permasalahan ........................ 153
Bab Tiga: Ahmad Asy Syihhiy, Korban fatwa Ubaid Al Jabiriy ............................................... 154
Kesimpulan Penting ...................................................................................................... 161
Catatan Perbedaan antara Abdul Ghofur Al Hizbiy dengan Ahlussunah ......................... 161
Daftar Isi ...................................................................................................................... 164