Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masa depan suatu bangsa merupakan milik generasi muda namun

meskipun demikian, masa depan itu tidaklah berdiri sendiri karena merupakan kelanjutan dari dari masa lalu dan masa sekarang, artinya masa depan merupakan representasi dari masa lalu. Oleh karena itu perlu adanya penyampaian kepeloporan-kepeloporan yang pernah dilakukan oleh generasi pendahulu khususnya yang telah menghasilkan sesuatu yang berguna terhadap kehidupan bangsa dan negara. Menurut teori Geertz seperti yang dikutip Burhan Magenda (2001:49-56) bahwa diperlukan lembaga-lembaga persatuan melalui state building sehingga ketika the founding fathers sudah meninggal, negara bangsa tetap bertahan dan tidak pecah. Adapun lembaga-lembaga tersebut diantaranya : birokrasi sipil dan militer, partai politik, sistem pendidikan nasional, serta kemajuan komunikasi dan transportasi serta identitas nasional yang merujuk pada karakter kolektif bangsa dan dasar historis-kulturalnya. Setiap bangsa dianggap memiliki kaitan dengan suatu budaya historis yang khas, cara tunggal dalam berpikir, bertindak, dan berkomunikasi yang menjadi milik bersama bagi semua anggota bangsa (paling tidak secara potensial) dan tidak dimiliki oleh non-anggota, karena non-anggota tidak dapat memilikinya dan apabila budaya khas itu dilupakan atau tenggelam, maka ia harus ditemukan, diingat dan dimunculkan kembali (Smith,2003:33-34).

Jadi sejarah nasional berfungsi untuk melambangkan identitas bangsa serta untuk melegitimasikan eksistensi negara nasional (Kartodirdjo,1999:29). Paskhas merupakan pasukan yang berciri khas matra udara dan merupakan bagian integral dan TNI AU yang bersama-sama Satuan lain di jajaran TNI AU maupun jajaran TNI pada umumnya, terus mengemban tugas-tugas sejak kelahirannya sampai sekarang. Prajurit-prajurit Paskhas yang dibekali dengan kualifikasi Para Komando, disamping dituntut harus mampu dalam hal kedirgantaraan (seperti pengoperasian pangkalan udara), juga dituntut mampu berolah yudha dalam tiga media (Trimedia: di darat, laut dan udara). Hal ini telah dibuktikan selama melaksanakan latihan dan tugas-tugas operasi bersama-sama Satuan lain. Sebagai pasukan yang berciri khas matra udara dan berkemampuan Para Komando, berarti prajurit-prajurit Paskhas bukan saja dituntut mampu dalam olah fisik, tetapi juga harus mampu berolah pikir untuk dapat memahami hal-hal yang berkaitan dengan teknologi kedirgantaraan. Paskhas adalah Pasukan Para Komando Udara. Sebutan ini didasari atas tugas dan kualifikasi yang dimiliki oleh Paskhas yaitu disamping sebagai prajurit yang dituntut menguasai tentang kematra-udaraan juga dituntut untuk dapat bergerak sebagai pasukan Komando sesuai dengan kualifikasinya. Prajurit Para Komando Udara dituntut mampu memasuki daerah belakang lawan untuk mencapai posisi-posisi elemen Air Power lawan dengan berbagai cara dan media. Paskhas mempunyai ciri khusus tugas tambahan yang tidak dimiliki oleh pasukan lain di lingkungan TNI yaitu Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara Depan (OP3UD) yaitu merebut dan mempertahankan pangkalan

dan untuk selanjutnya menyiapkan pendaratan pesawat dan penerjunan pasukan kawan. Korpaskhas terbagi dalam beberapa Spesialisasi yaitu : 1) Anti Teror (Den Bravo '90) Detasemen Bravo 90 (disingkat Den Bravo-90) terbilang pasukan khusus Indonesia yang paling muda pembentukannya. Baru dibentuk secara terbatas di lingkungan Korps Pasukan Khas TNI-AU pada 1990, Bravo berarti yang terbaik. Konsep pembentukannya merujuk kepada pemikiran Jenderal Guilio Douchet: Lebih mudah dan lebih efektif menghancurkan kekuatan udara lawan dengan cara menghancurkan pangkalan/instalasi serta alutsista-nya di darat daripada harus bertempur di udara.1 2) Pengendali Tempur (Den Dalpur) dalam operasinya, tugas dan tanggung jawabnya infiltrasi didaerah musuh melaksanakan intelijen untuk selanjutnya menyiapkan bagi pendaratan pesawat kawan dan droping zone penerjunan, 3) Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) Paskhas yang tergabung dalam Batalyon Tim Pertempuran (BTP) merupakan pasukan infantri udara ditujukan untuk merebut dan mempertahankan pangkalan udara dari serangan musuh, melaksanakan serbuan ke daerah musuh yang menguasai wilayah NKRI yang kemudian melaksanakan penghancuran kekuatan musuh. 4) Pasukan Pertahanan Udara (Arhanud) Paskhas bertugas untuk

melaksanakan pertahanan udara di pangkalan-pangkalan TNI AU dan


1

http://tni-au.mil.id/content/detasemen-90-anti-teror-dan-pembajakan-udara-0 (diakses pada tanggal 10 Mei 2012, pukul 19.00 WIB).

obyek vital negara lainnya. Terdiri dari Batalyon Arhanud Mobile Paskhas dan Detasemen-detasemen Hanud (Den Hanud) Paskhas di setiap Pangkalan Udara Utama TNI AU serta Satuan Rudal (Sat Rudal) Paskhas jarak menengah di setiap Kosek Hanudnas.2 5) Kompi Matra, terdiri dari Tim Pengendali Pangkalan (Dallan) dan TIM SAR. Tim Dallan dalam operasinya melaksanakan tugas pengendalian pangkalan udara yang telah berhasil dikuasai kembali oleh Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) Paskhas yang tergabung dalam BTP (Batalyon Tim Pertempuran) dan Pasukan Arhanud Paskhas. Tugas Tim Dallan adalah mengaktifkan kembali Pangkalan Udara yang telah hancur akibat pertempuran yaitu antara lain kegiatan dukungan penerbangan meliputi :PLLU, Meteo, Banmin dan Zeni Lapangan untuk memperbaiki sarana prasarana Pangkalan Udara yang telah hancur. Berdasarkan pemikiran di atas, penulis tertarik untuk meneliti Skadron 461 Paskhas TNI-AU : Pasukan Komando Udara di Lanud Halim Perdanakusuma (1947-1989). Sampai saat ini, peneliti belum menemukan penelitian sejarah yang menulis tentang topik tersebut. Adapun penelitian sejarah mengenai sejarah militer TNI-AU ditulis dalam sebuah buku karya Budhy Santoso yang berjudul Baret Jingga : Pasukan Payung Pertama di Indonesia. Kemudian penelitian yang membahas tentang sejarah TNI-AU juga dilakukan oleh Humaidi yang berjudul Sikap AURI Dalam Konstelasi Politik (1965-1966), mahasiswa program studi Pend. Sejarah UNJ tahun 2002.
2

http://tni-au.mil.id/content/korpaskhasau-0 (diakses pada tanggal 10 Mei 2012, pukul 19.00 WIB).

Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Skadron 461 Paskhas TNI-AU : Pasukan Komando Udara Pertama di Lanud Halim Perdanakusuma (1947-1989) dalam perjalanan sejarah militer Indonesia.

Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat serta memberikan sumbangan untuk pengembangan tema-tema penulisan sejarah militer nasional, khususnya bagi mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta.

B.

Studi Pustaka Embrio Paskhas terbentuk mulai bulan Juli 1947, saat Gubernur

Kalimantan Ir. Pangeran Mohamad Noor mengirim surat kepada KSAU Suryadi Suryadarma agar menerjunkan pasukan payungnya di Kalimantan. Hal ini mendapatkan sambutan positif dari KSAU, yang langsung memerintahkan prajurit-prajurit AURI asli Kalimantan yang mengungsi ke Jawa untuk ikut dalam misi tersebut. Jumlah anggota yang dilatih adalah 12 prajurit asal Kalimantan dan 2 prajurit asal Jawa. Dalam operasi ini yang ditunjuk sebagai komandan adalah Mayor Tjilik Riwut. Mengingat singkatnya waktu persiapan, para prajurit hanya mendapatkan latihan di darat. Pesawat RI-002 yang membawa mereka segera berangkat pada pagi hari tanggal 17 Oktober 1947, dengan penerbang Bob Freeberg, kopilot Opsir Udara III Makmur Suhodo dan jumping master Opsir Muda Udara III Amir

Hamzah, Tjilik Riwut yang asli Kalimantan bertindak sebagai penunjuk ke arah titik penerjunan. Akhirnya hanya 13 prajurit yang melaksanakan penerjunan, karena satu prajurit mengundurkan diri. Semua prajurit berhasil mendarat dengan selamat

dan bergerilya. Setelah sebulan bergerilya, 3 prajurit gugur dalam pertempuran dan yang lainnya tertangkap Belanda. Ketiga prajurit yang gugur adalah Kapten Udara Anumerta Harri Hadisumantri, Letnan Udara II Anumerta Iskandar, dan Sersan Mayor Udara Anumerta Achmad Kosasih.3 Korps Pasukan Khas TNI AU disingkat Korpaskhasau, merupakan satu jenis pasukan (khusus) yang dimiliki TNI AU. Sama seperti satuan lainnya di TNI AD dan TNI AL, Paskhas merupakan satuan tempur darat berkemampuan tiga matra: laut, darat, udara. Hanya saja dalam operasi, tugas dan tanggungjawab, Paskhas lebih ditujukan untuk merebut dan mempertahankan pangkalan udara dari serangan musuh, untuk selanjutnya menyiapkan bagi pendaratan pesawat teman. Dalam buku bilingual (dua bahasa) Baret Jingga Pasukan Payung Pertama di Indonesia (1999) yang diterbitkan Korps Pasukan Khas TNI AU, kemampuan satu ini disebut Operasi Pembentukan dan Pengoperasi Pangkalan Udara Depan (OP3UD).4 Sejarah Paskhas sebagai pasukan payung pertama hampir setua Republik ini. Operasi penyusupan lewat udara oleh 14 paratroops pada 17 Oktober 1947 di Kotawaringin, Kalimantan, ditandai sebagai hari keramat kelahiran Paskhas. Di

Nana Nurliana Suyono dkk, Awal Kedirgantaraan di Indonesia : Perjuangan AURI 1945-1950, (Yayasan Obor Indonesia, 2008), hh. 116-117. 4 Budhy Santoso, Baret Jingga : Pasukan Payung Pertama di Indonesia, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1999), h. 51.

awal usia TNI AU (lahir 9 April 1946), pasukan payung ini disebut Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP). April 1952, kekuatan AURI diperkuat dengan dibentuk lagi Pasukan Gerak Tjepat (PGT). Tugas pokok yang diemban Skadron 461 Paskhas juga disesuaikan dengan status Paskhas sebagai Kotamabin TNI AU. Sejalan dengan tugas pokok tersebut, maka Skadron 461 Paskhas juga berkewajiban untuk menyelenggarakan fungsi sebagai satuan pemukul yang berkedudukan di Jakarta untuk mendukung tugastugas Korpaskhas, TNI AU dan TNI pada umumnya. Berdasarkan Keputusan Kasau Nomor : Kep/5/III/1999 tanggal 16 Maret 1999 terutama pada Pasal 2 Lampiran IV-4 dari Keputusan tersebut bahwa : Skadron Paskhas bertugas untuk mengamankan dan mempertahankan Pangkalan / Alutsista / Instalasi TNI Angkatan Udara, Pengendalian Tempur, Pengendalian Pangkalan, Pengendalian Udara Depan, Pengendalian Pangkalan Udara Depan, SAR Tempur serta tugas-tugas lain sesuai kebijakan Panglima TNI. Sesuai dengan tugas pokok tersebut, maka Skadron 461 Paskhas juga harus melaksanakan fungsi-fungsinya. Berdasarkan Keputusan Kasau Nomor : Kep/5/III/1999 tanggal 16 Maret 1999 terutama pada Pasal 3 Lampiran IV-4 dari Keputusan tersebut juga disebutkan bahwa : Dalam rangka pelaksanaan tugas tersebut pada Pasal 2 di atas, Skadron Paskhas menyelenggarakan fungsi-fungsi sebagai berikut : a) Menyusun rencana dan program rencana serta program pembinaan Skadron Paskhas berdasarkan rencana dan program Wing I Paskhas.

b) Menyiapkan

kemampuan

dan

kekuatan

Skadron

termasuk

alat

peralatannya untuk menjamin terlaksananya tugas pokok dengan melaksanakan latihan yang diprogramkan. c) Menyiapkan Satuan untuk tugas pengamanan dan pertahanan Pangkalan / Alutsista / Instalasi TNI Angkatan Udara. d) Melaksanakan operasi-operasi udara meliputi Pengendalian Tempur, Pengendalian Pangkalan, Pengendalian Udara Depan, Pengendalian Pangkalan Udara Depan dan SAR Tempur. e) Melaksanakan Operasi Perebutan dan Pengendalian Pangkalan Udara (OP3U). f) Melaksanakan operasi-operasi lain sesuai dengan kebijakan Panglima TNI baik dalam operasi Pertahanan maupun operasi Kamdagri serta tugas-tugas TNI lainnya. g) Melaksanakan koordinasi dan kerja sama dengan Komando Atas/Samping dan instalasi lain baik di dalam maupun di luar Wing Paskhas untuk kepentingan pelaksanaan tugasnya sesuai lingkup dan tingkat

kewenangannya. h) Mengajukan pertimbangan dan saran kepada Komandan Wing I Paskhas khususnya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan bidang tugasnya. Rencana mengembangkan Paskhas menjadi 10 Skadron di seluruh wilayah udara Indonesia dengan jumlah personel dua kali lipat dari sekarang, tetap menjadi energi bagi Paskhas untuk terus membenahi diri. Setidaknya sampai saat ini, pola penempatan Paskhas masih mengikuti pola penggelaran alutsista

TNI AU, dalam hal ini pesawat terbang. Konsep prajurit Para Komando TNI AU masa depan merupakan gabungan kekuatan kesamaptaan serta intelijensia prajurit dengan tetap mencarikan garis temu antara konsep konvensional dan inkonvensional.5

C.

Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah Penelitian ini difokuskan di Jakarta sebagai pusat komando militer dan pertahanan negara khususnya pertahanan udara nasional, mencakup masa 19471989. Batasan awal dari penelitian adalah tahun 1947 yang merupakan masa awal pembentukan Paskhas TNI-AU. Sedangkan sebagai batas akhir dari penelitian ini adalah tahun 1989 yang merupakan masa perkembangan organisasi Paskhas TNIAU khususnya masa pembentukan dan perkembangan Skadron 461 Paskhas TNIAU Lanud Halim Perdanakusuma.

2. Perumusan Masalah Adapun perumusan masalah dalam kajian penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Bagaimana proses pembentukan dan perkembangan organisasi Skadron 461 Paskhas TNI-AU Lanud Halim Perdanakusuma? b. Bagaimana prestasi Skadron 461 Paskhas TNI-AU Lanud Halim Perdanakusuma dalam perjalanan sejarah militer di Indonesia?

Ibid., h. 368.

10

c. Bagaimana strategi dan pengembangan postur ideal organisasi Skadron 461 Paskhas TNI-AU Lanud Halim Perdanakusuma di masa depan?

D.

Metode Penelitian Dalam penelitian ini menggunakan metode sejarah/historis dengan data

yang didapat dari hasil wawancara, disajikan secara deskriptif naratif yang lebih banyak menguraikan kajian dalam dimensi ruang dan waktu. Sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian sejarah, metode sejarah

mempunyai empat tahapan yaitu heuristik atau pengumpulan sumber yang berkaitan dengan penelitian, kritik, interpretasi dan penulisan atau historiografi. Penelitian ini berkaitan dengan langkah-langkah sebagai berikut : Pertama, tahap heuristik dimana peneliti mencari sumber-sumber yang berkaitan dengan Paskhas TNI-AU, upaya dalam mengumpulkan sumber penelitian yaitu melalui buku-buku, artikel, majalah, dan surat kabar yang relevan dengan topik permasalahan dalam penelitian yang merupakan sumber sekunder. Dalam penelitian ini pun juga diambil sumber primer melalui wawancara dengan pihak terkait. Kedua, dalam tahap kritik akan dilakukan pengujian terhadap sumber yang didapat. Langkah ini dilakukan dengan dua cara, yaitu kritik intern dan ekstern. Ketiga, pada tahap interpretasi, fakta-fakta yang telah didapat selanjutnya dianalisis berdasarkan pemahaman dan logika penelitian.

11

Terakhir, pada tahap penelitian mengungkapkan hasil penelitian dalam bentuk tulisan yang sistematik, logis dan jelas sesuai dengan kaidah penelitian ilmiah.

E.

Bahan Sumber Penelitian ini menggunakan sumber primer dan sekunder. Sumber primer

yang digunakan diambil dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Sumber sekunder yang digunakan berasal dari buku-buku, maupun artikel internet.

F. Buku

Daftar Pustaka Sementara

A.H. Nasution. Sekitar Perang Kemerdekaan, Jilid II, Sejarah Angkatan Darat. Bandung : Penerbit Angkasa, 1979. Bakrie, Conny Rahakundini, Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2007. Santoso, Budhy. Baret Jingga : Pasukan Payung Pertama Indonesia. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1999. Sutrisno Kutoyo, Marsekal TNI Suryadi Suryadarma, Departemen P&K, Jakarta, 1985. Suyono, Nana Nurlaiana.dkk. Awal Kedirgantaraan di Indonesia : Perjuangan AURI 1945-1950. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2008. Trihadi. Sejarah Perkembangan Angkatan Udara, Departemen Pertahanan dan Keamanan, Pusat Sejarah ABRI, Jakarta, 1971. Yahya A. Muhaimin, Perkembangan Militer dalam Politik Indonesia, Jogyakarta : UGM Press, 1982.

12

Dokumen / Arsip Arsip Sekretariat Negara RI No.969, tentang Laporan Pendaratan Tentara Payung di Kalimantan. Arsip Nasional Republik Indonesia. Arsip Kabinet Presiden RI No.2137, tentang Surat Rentjana Latihan Bahaja Udara Fase ke II Pada tanggal 3 Juli 1958. Arsip Nasional Republik Indonesia. Arsip Kabinet Presiden RI No.389, tentang Laporan Peristiwa AURI di P.U. Halim Perdanakusuma pada tanggal 12 Januari 1956. Arsip Nasional Republik Indonesia.

Artikel Internet http://tni-au.mil.id/content/detasemen-90-anti-teror-dan-pembajakan-udara (diakses pada tanggal 10 Mei 2012, pukul 19.00 WIB). http://tni-au.mil.id/content/korpaskhasau (diakses pada tanggal 10 Mei 2012, pukul 19.00 WIB).

13

DAFTAR LAMPIRAN

Arsip Sekretariat Negara RI No.969, tentang Laporan Pendaratan Tentara Payung di Kalimantan. Arsip Nasional Republik Indonesia. Arsip ini menjelaskan tentang laporan yang disusun oleh pihak Kementrian Pertahanan melalui Mabes TNI-AU yang ketika itu melaporkan operasi pendaratan tentara payung di Kalimantan pada bulan Juli 1947. Operasi pendaratan tentara payung ini dilakukan dalam rangka membantu Gubernur Kalimantan Ir. Pangeran Mohamad Noor setelah mengirim surat kepada KSAU Suryadi Suryadarma agar menerjunkan pasukan payungnya di Kalimantan. Hal ini mendapatkan sambutan positif dari KSAU, yang langsung memerintahkan prajurit-prajurit AURI asli Kalimantan yang mengungsi ke Jawa untuk ikut dalam misi tersebut. Jumlah anggota yang dilatih adalah 12 prajurit asal Kalimantan dan 2 prajurit asal Jawa. Dalam operasi ini yang ditunjuk sebagai komandan adalah Mayor Tjilik Riwut. Melalui dokumen ini dapat dikatakan sebagai sumber tertulis yang menjelaskan operasi pendaratan tentara payung sekaligus menjadi embrio pembentukan pasukan payung pertama yang nantinya bernama Paskhas TNI-AU.

Arsip Kabinet Presiden RI No.2137, tentang Surat Rentjana Latihan Bahaja Udara Fase ke II Pada tanggal 3 Juli 1958. Arsip Nasional Republik Indonesia. Arsip ini menjelaskan tentang isi surat bahwa akan dilaksanakan kegiatan latihan bahaya udara fase ke II tanggal 3 Juli 1958. Arsip ini juga menggambarkan situasi ketika itu dalam menghadapi ancaman keamanan negara terutama yang dilakukan oleh Belanda. Oleh karena itu pihak Mabes TNI-AU ketika itu

14

merencanakan untuk melaksanakan latihan bahaya udara untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi segala kemungkinan bahaya yang mengancam keamanan dan kedaulatan negara khususnya bahaya serangan udara. Melalui dokumen arsip ini dapat diketahui bahwa pada 3 Juli 1958, pihak AURI telah merencanakan suatu latihan bahaya udara untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai kemungkinan ancaman terhadap keamanan negara. Periode itu juga disebut masa revolusi mempertahankan kemerdekaan Indonesia pasca Proklamasi. Oleh karena itu dengan adanya arsip ini menjadi suatu petunjuk tentang adanya upaya pertahanan yang dilakukan AURI untuk pertahanan negara.

Arsip Kabinet Presiden RI No.389, tentang Laporan Peristiwa AURI di P.U. Halim Perdanakusuma pada tanggal 12 Januari 1956. Arsip Nasional Republik Indonesia. Arsip ini menjelaskan tentang laporan peristiwa AURI di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma pada 12 Januari 1956, yang berisi bahwa Pasukan Gerak Tjepat (PGT) dan Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) adalah alat negara dan bukan alat Laksamana Suryadi Suryadarma dan Mayor Wijadinat. Kemudian adanya tuntutan agar menggagalkan pelantikan Komodor Mayor Udara (KMU) H. Soejono. Maksud dari isi arsip ini adalah dengan dibuatnya surat ini untuk menghindari pertumpahan darah diantara sesama pasukan dan agar Mayor Udara Wirjadinata dipindahtugaskan dari Pangkalan Udara (PU) Husein Sastranegara.